2.Layanan Bimbingan dan Kematangan Karir.
Program bimbingan di SMA merupakan bagian integral dalam kurikulum. Program lni
secara resmi berlaku sejak Kurikulum SMA 1975 (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1975), bukan sekedar layanan tambahan (Gysbers, 1998). Kurikulum SMA 1994 lebih
menitikberatkan pada pengembangan materi afektif belajar, yaitu pengembangan sikap, nilai dan
kepribadian (Munandir, 1996). Esbroek dan Watts (1998) membedakan bimbingan ke dalam
tiga jenis, yakni bimbingan karir, pribadi dan pendidikan. The Isle of Wight County School
Board (1996) membagi layanan ke dalam bimbingan akademik, karir, pribadi dan sosial
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1996) mengadopsi bimbingan dan membedakan ke
dalam bimbingan pribadi sosial, belajar dan karir. Layanan bimbingan di sekolah diyakini
berpengaruh terhadap kematangan karir. Hal ini didukung oleh studi Abdullah (1985),
Abimanyu (1990), Partino (1990), Pritchard (1984), Pavlak dan Post kammer (1995). Hasil-hasil
penelitian tersebut menemukan bahwa layanan bimbingan berhubungan secara signifikan
dengan kematangan karir. Hal ini sesuai dengan teori Super(1994 ). Persepsl Penjurusan dan
Kematang
3.Pengalaman Pribadi dan Kematangan Karir.
Hammel (2001) menegaskan bahwa ritwayat hidup atau pengalaman pribadi merupakan
suatu gambaran individu yang relatlf lengkap, mencakup semua pengalaman di sekolah dan luar
sekolah, karakteristik dirinya, dan hubungannya dengan keluarga. Hammel (2001) merinci
riwayat hldup ke dalam pengataman masa kanak-kanak dan remaja, terutama pada masa SD-
SMA. Kegiatan berorganisasi, olahraga, kesenian dan bermain baik di lingkungan tempat tinggal
maupun di sekolah merupakan bagian dari riwayat hidup (Hammel, 2001 ). Partisipasi kegiatan
di sekolah dan di luar sekolah berflubungan secara pasitif dan bermakna dengan kematangan
karir (Super dan Overstreet dalam Oslpow, 1983). Bolles (1993) menyatakan bahwa individu
dapat memanfaatkan riwayat hidupnya dengan mengidentifiksikan aspek aspek menjadi dirinya
sebagai bahan pertimbang an dalam mengambil keputusan karirny a jadi pengalaman pribadi
diyakini turut serta dalam menentukan arah karir individu.4
4 Sumber, H.R partino, kematanagn karir sisw SMA , universiats cendrawasi
11
KESIMPULAN
Jadi dapat di ambil kesimpulanya yaitu:
Perkembangan karir merupakan usaha terorganisir dan terrencana yang terdiri atas aktifitas atau
proses yang terstruktur yang menghasilkan usaha perencanaan karir timbal balik antara pegawai
atau organisasi. menurut umam suherman: individu berbeda dalam kamampuan kemampuan,
minat- minat dan kepribadian-kepribadianya, dengan sifat sifat yang berbeda individu
mempunyai kewenangan untuk melakukan sejumblah perkerjaan, masing masing pekerjaan
menutut diapola khas kemauan sifat sifat keperibadian dll. Super membagi tahap
perkembangangan karir remaja menjadi lima tahapan Fase pengembangan (growth), Fase
eksplorasi (explorasion), Fase pemantapan atau pendirian (establisment), Fase kemunduran
(decline), Fase pembinaan (maintance) Adapun menurut suherman indikator kematangan karir
remaja ada 7 aspek yaitu: Aspek perencanaan karir ( career planing), Aspek eksplorasi karir
(carear exploration), Pengetahuan tentang membuat keputusan karir ( world of work
information), Aspek pengetahuan tentang kelompok perkerjaan yang lebih di sukai (knowledge
of prepered occupational grup), Apek realisme keputusan karir (realism), Aspek orientasi karir
(carear orientation) Dalam perkembangan karir remaja ada beberapa teori yaitu: Teori
perkembangan Ginzberg, Teori konsep diri, Teori tipe kepribadian holland.
Sebuah pekerjaan (job) seperti tukang jahit hobi seperti pebulutangkis; profesi seperti dokter atau
guru; dan dapat diperoleh melalui peran hidup seperti pemimpin masyarakat. Pengertian
Kematangan karir di kemukan oleh beberapa ahli yaitu, Super (Ilfiandra, 1997:53) Dillard
(1985:32), Super (Ilfiandra, 1997:53), Dillard (1985:32), Crites (Manrihu, 1986) ) membagi dua
fungsi yaitu, fungsi penelitian dan fungsi praktis, Super (Manrihu, 1986), Crites dalam
(Supraptono, 1994:19) merumuskan kematangan karir kedalam empat dimensi, yaitu: Dimensi
Konsistensi, Dimensi Realisme, Dimensi Kompetensi, Dimensi Sikap. Bimbingan konseling ini
juga berperan sebagi salah satu pendewasaan seorang anak, pperkembangan bimbingan karir ini
juga akan membentuk karakteristik remaja baik itu jenjang pendidikan SMP/SMA, faktor faktor
yang mempeengaruhi kematangn karir y aitu: Faktor Bio-sosial, Faktor Lingkungan, Faktor
Kepribadia, Faktor Vokasional, dn Faktor Prestasi individu Dalam Osipow (1983:161), Super
12
mengemukakan komponen- komponen kematangan karir sebagai berikut: Orientasi pilihan
karir, Informasi dan perencanaan, Konsistensi, Kristalisasi sifat, Kebijakan pilihan karir, Esbroek
dan Watts (1998) membedakan bimbingan ke dalam tiga jenis, yakni bimbingan karir, pribadi
dan pendidikan. The Isle of Wight County School Board (1996) membagi layanan ke dalam
bimbingan akademik, karir, pribadi dan sosial Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1996)
mengadopsi bimbingan dan membedakan ke dalam bimbingan pribadi sosial, belajar dan karir.
Layanan bimbingan di sekolah diyakini berpengaruh terhadap kematangan karir.dan Hammel
(2001) menegaskan bahwa ritwayat hidup atau pengalaman pribadi merupakan suatu gambaran
individu yang relatlf lengkap, mencakup semua pengalaman di sekolah dan luar sekolah,
karakteristik dirinya, dan hubungannya dengan keluarga
13
DAFTAR PUSTAKA
Slideshere co.id di akses pada tanggal 14 Oktober 2020
Sumber, Indah Lestari, Meningkatkan Karier Remaja Melaluli Bimbingan Karir Berbasis life
Sumber, H.R partino, kematanagn karir sisw SMA , universiats cendrawasi skils, Universitas
Muria Kudus, di terima April 2017, di setujui Mei 2017, dipublikan Juni 2017, di akses pada
tanggal 14 Oktober 2020
14
MAKALAH BIMBINGAN KONSELING KARIR
PERKEMBANGAN DAN KEMATANGAN KARIER DEWASA
Disusun Oleh Kelompok III :
Danty Angir Lintang (1911080049)
Ely Irnawati (1911080305)
Resta Maya Safira (1911080171)
Kelas A Semester 3
Dosen Pengampu : Belardo Farjantoky, M.Pd
BIMBINGAN KONSELING PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2020/2021
0
KATA PENGANTAR
Puji syukur Kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena telah memberikan
kesehatan dan kesempatan bagi kami sebagai penulis untuk menyelesaikan tugas
berupa makalah ini. Atas rahmat dan hidayahnya lah kam sebagai penulis mampu
menyelsaikan tugas berupa makalah yang berjudul “Perkembangan dan
Kematangan Karier Dewasa” dengan tepat waktu. Makalah “ Perkembangan dan
Kematangan Karier Dewasa” ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
“Bimbingan dan Konseling Karier” yang di ampu oleh bapak Belardo Fajrantoky
M.Pd. Selain itu kami sebagai penulis berharap agar makalah ini dapat menambah
wawasan bagi pembaca.
Kami sebagai penulis mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada bapak Belardo Fajrantoky, M.P.d selaku dosen pengampu mata
kuliah Bimibngan dan Koseling Karier yang telah memberikan tugas kepada
kami selaku penulis dan kami selaku penulis juga mengucapkan banyak
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan
makalah ini hingga selesai tepat waktu.
Kami selaku penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kami selaku penulis mngharapkan kritik dan saran
yang membangunn guna kesempurnaan makalah ini.
Lampung Tengah, 20 Oktober 2020
Penulis
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................3
A. Latar Belakang.........................................................................3
B. Rumusan Masalah....................................................................3
C. Tujuan Masalah........................................................................3
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................
A. Karakteristik Perkembangan Dewasa......................................4
B. Karakteristik Perkembangan Karier Dewasa...........................9
C. Indikator Kematangan Dewasa...............................................11
BAB III PENUTUP.................................................................................12
A. Penutup
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 13
.
2
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dewasa ini pertumbuhan penduduk di Indonesia semakin bertambah,
teknologi semakin canggih serta ilmu pengetahuan semakin berkembang. Seiring
perkembangan itu banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat .
Perubahan yang paling terasa adalah perubahan dalam bidng perekonomian,
perindustrian dan pendidikan. Dalam masa globalisasi yang terjadi di segala aspek
kehidupan masyarakat manusia tidak dapat lagi menghindarkan diri dari
persaingan kerja demi kelangsungan hidupnya. Saat ini seseorang dihadapkan
dengan permasalahan dan keadaan yang mengharuskan seseorang untuk
memilih, mempertimbangkan dan memprediksi sesuatu yang di inginkan.
Sehingga dalam hal ini diperlukan persiapan diri untuk meraih sesuatu yang lebih
baik dalam hal pemilihan karier. Sehingga dengan pemilihan karier yang tepat
seorang individu diharapkan mampu untuk mencapai kematangan karier yang
lebih baik.
B.Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakteristik perkembangan dewasa?
2. Bagaimana perkembangan karier dewasa?
3. Apa saja indikator-indikator kematangan dewasa?
C.Tujuan Masalah
1. Mengetahui bagaimana karakteristik perkembangan dewasa
2. Mengetahui bagaimana perkembangan krier dewasa
3. Mengetahui macam-macam indikator kematangan dewasa
3
BAB II
PEMBAHASAN
A.Karakteristik Perkembangan Dewasa
Masa dewasa adalah masa dimana seorang individu telah menyelesaikan
pertumbuhannya baik pada aspek fisiologis, psikologis dan sosiologis. Setiap
individu yang normal akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini
dimulai sepanjang rentang kehidupan dari sejak masa dikandungan hingga
kelahiran bayi, kemudian tumbuh kembang sebagai anak-anak, remaja, dewasa
dan sampai menemui ajalnya yakni kematian. Dibandingkan masa-masa
sebelumnya, masa dewasa merupakan masa yang paling lama dalam rentang
hidup manusia. Dikatakan demikian karena masa dewasa ditandai dengan
pembagiannya menjadi tiga fase, yaitu:
a) Masa Dewasa Dini (Early Adulthood) usia 20-40 tahun
b) Masa Dewasa Madya (Middle Adulthood) usia 40-65 tahun
c) Masa Dewasa Akhir (Late Adulthood) usia 65 tshun ke atas
Indikator seorang disebut dewasa berarti bahwa pertumbuhan dan perkembangan
aspek fisiologis (fisik) telah mencapai puncak1 Masa dewasa yaitu telah
menyelesaikan pertumbuhan fisiknya dan telah memiliki kesiapan untuk
berkecimpung dalam masyarakat dan orang dewasa lainnya. Individu yang telah
matang dan sempurna kedewasaannya akan selalu di butuhkan oleh maasyarakat
dalam setiap zaman. Ada dua aspek yang telah dimiliki oleh individu dewasa yaitu
aspek fisiologis dan sosiologis.
Pendapat ahli lainnya adalah dewasa merupakan masa transisi secara fisik,
transisi secara intelektual serta transisi peran sosial. Dapat dikatakan sebagai
individu dewasa peran dan tanggung jawab seseorang akan bertambah.
Kedewasaan memiliki nilai lebih dari pandangan psikologis, seseorang dikatakan
telah dewasa jika sudah mampu memikul beban tanggung jawab bagi dirinya
sendiri dan orang lain yang di percayakan kepadanya2. Berbagai pengalaman baik
itu pengalaman yang berhasil ataupun pengalaman yang gagal dalam menghadapi
suatu masalah akan dapat dijadikan pelajaran berharga bagi hidupnya guna
membentuk seorang pribadi yang matang, tangguh dan bertanggung jawab.
1Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan. Jakarta:Prenadamedia Group,2015, h. 244
2Nurhadi M, Pendidikan Kedewasaan dalam Perspektif Psikologi Islam. Yogyakarta:Deepublish,
2014. h. 5
4
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dewasa adalah keadaan sampai
umur akil baligh (bukan anak-anak atau remaja lagi) padanan kata yang sering di
gunakan untuk kedewasaan adalah “telah mencapai kematangan” dalam
perkembangan fisik dan psikologis, kelamin, pikiran, pertimbangan dan
pandangan. Padanan kata yang lain adalah mandiri yakni keadaan dimana seorang
individu dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Pendewasaan
adalah proses, cara, perbuatan, menjadikan dewasa dan kedewasaan adalah
keadaan telah dewasa3. Masa dewasa menurut seorang ahli psikolog Santrock
masa dewasa merupakan merupakan masa transisi baik transisi secara fisik
(Psycally trantition), transisi secara intelektual (Cognitive Trantition), serta
transisi peran sosial (Social Role Trantition).
Para ahli psikologi perkembangan membagi masa dewasa menjadi tiga
fase, yakni: ( Masa dewasa dini, masa dewasa madya dan masa dewasa akhir)
1. Masa Dewasa Dini (Early Adulthood, usia 20-40 tahun)
Masa dewasa dini adalah masa awal seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap
pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa dini
dkatakan masa penyesuaian diri karena pada masa ini seseorang di tuntut untuk
memulai kehidupannya, memainkan peran baru seperti peran suami atau istri,
orang tua sebagai pemimpin rumah tangga serta peran karier dalam dunia kerja.
Di Indonesia, usia 20 memasuki 21 tahun dianggap sebagai memasuki
kedewasaan, karena usia ini adalah usia dimana seseorang mendapatkan hak-
haknya sebagai warga negara, dengan itu seorang individu dapat melakukan
kewajiban tertentu serta bertanggung jawab perbuatan-perbuatannya sendiri4.
Karakteristik Masa Dewasa Dini
a) Masa pencarian kemantapan atau masa pengaturan dimana
seseorang pada masa ini akan mencoba segala sesuatu untuk
menentukan mana yang paling cocok untuk memberi kepuasan
permanen.
b) Masa usia produktif dimana pada rentang usia ini adalah masa
yang cocok untuk menentukan pasangan hidup. Di masa ini organ
reproduksi wanita sangat produktif dan akan mengalami penurunan
pada masa dewasa madya, sedangkan pada laki-laki sampai pada
masa akhir dewasa dini kemampuan reproduksinya tetap optimal
dan akan menurun pada usia dewasa madya atau usia lanjut.
c) Masa yang penuh masalah, pada periode ini merupakan periode
penyesuaian pada peran baru, yakni peran ganda sebagai orang
tua, suami atau istri serta karyawan disuatu instansi.
3Purwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, http:// bahasa. Kemendiknas.go.id
4Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung, PT Remaja Rosda Karya, 2010, hlm. 234
5
d) Masa ketegangan emosional, ketika berumuran dua puluhan
kekhawatiran pada masa dewasa ini adalah biasanya menyangkut
personal pelerjaan, jabatan perkawinan dan keuangan.
e) Masa isolasi sosial, perkembangan masa dewasa dini ditandai
dengan penemuan isolasi baru5. Artinya pada masa ini seseorang
tidak dapat menyesuaikan dengan keadaan baru yang dihadapi
masa seseorang itu akan merasa terasa terisolasi dari kelompok
sosial.
f) Masa komitmen, pada masa ini seorang individu mulai sadar akan
pentingnya sebuah komitmen dan tanggung jawab untuk
membentuk suatu pola hidup yang lebih baik.
g) Masa ketergantungan, misalnya ketergantungan pada orang tua.
Karena pada masa ini seseorang masih tergantung pada kedua
orang tua.
h) Masa perubahan nilai-nilai, nilai-nilai yang dimiliki seseorang pada
masa dewasa dini berubah seiring dengan pengalaman dan
interaksi sosial yang secara perlahan seseorang akan menyesuaikan
diri.
i) Masa kreativitas pada masa ini seseorang bebas untuk berbuat apa
yang di inginkan sesuai dengan potensi serta minat dan bakat yang
dimiliki.
j) Masa penyesuaian diri pada hidup yang baru, pada masa ini di
tuntut untuk lebih bertanggung jawab karena sudah memiliki peran
ganda.
Adapun tahap perkembangan masa dewasa dini, yakni:
a) Perkembangan fisik, masa dewasa dini ditandai dengan adanya
perubahan fisik.
b) Perkembangan intelektual, menurut anggapan Piaget bahwa kapasitas
kognitif memasuki dewasa dini tergolong Operasional Formal. Taraf
ini menyebabkan dewasa dini mampu memecahkan masalah yang
kompleks dengan kapasitas berfikir yang abstrak, logis dan rasional.
c) Perkembangan peran sosial, pada masa ini seseorang mulai serius
menemukan calon pasangan hidup, meniti karier serta hidup terpisah
dengan orang tua.
2. Masa Dewasa Madya ( Middle Adulthood) usia 40-65 tahun
Masa dewasa madya merupakan masa yang penuh tantangan masa
ini di tandai oleh adanya perubahan-perubahan jasmani maupun
psikologis6. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan
kekuatan fisik yang di iringi penurunan daya ingat.
5Loc.Cit.F.J.Monks-A.M.P Knoers. Siti Rahayu Haditono Iswati
6Op.cit.Ramayulis,hlm. 319
6
Karakteristik Masa Dewasa Madya
a) Masa yang menakutkan, karena pada masa ini kondisi fisik
seseorang mengalami penurunan. Bagi perempuan akan mengalami
masa Monopouse yakni potensi mengandung dan melahirkan tak
memungkinkan lagi, sedangkan bagi laki-laki mereka merasa
menghadapi kenyataan bahwa dirinya menjadi tua. Pada masa ini
mereka seolah-olah merasa ingin menerem laju pertambahan usia
mereka.
b) Masa transisi, pada masa ini seseorang mengalami peralihan yang
tidak dapat lagi disebut muda namun juga belum dikatakan
menjadi tua.
c) Masa stress, karena pada usia ini misalnya dalam hal karier sudah
memasuki masa pensiun sehingga merasa bahwa dipandang lemah.
d) Usia yang berbahaya, karena pada masa ini lebih sering mengalami
gangguan fisik maupun mental. Misalnya kondisi fisik pada usia
ini berbagai penyakit mulai menghampiri. Sedangkan, dari segi
psikologis mereka menjadi lebih mudah tersinggung.
e) Usia canggung, karena individu dewasa madya kurang pantas
disebut dewasa dini namun belum juga disebut tua. Sehingga
terkadang pada situasi seperti ini muncul rasa canggung pada
individu.
f) masa sepi, dikatakan masa sepi misalnya pada usia dewasa madya
anak-anak mereka mulai meninggalkan mereka untuk hidup
dengan pasangan hidupnya.
g) Keseimbangan dan tidak keseimbangan, pengertian keseimbangan
dan tidak keseimbangan ini mengacu pada kemampuan
menyesuaikan diri terhadap terjadinya perubahan fisik dan
psikologis yang dialami dewasa madya7.
7Ibid.Ramayulis, hlm. 320
7
Adapun tahap perkembangan masa dewasa madya yakni:
a) Perkembangan fisik, perkembangan ini umumnya terjadi antara
usia 45 sampai 65 tahun, perubahan yang terlihat misalnya rambut
mulai beruban,kulit mulai mengerut, penurunan ketajaman
penglihatan dan masalah pendengaran biasany terjadi pada periode
ini.
b) Perkembangan inteleltual, perubahan kognitif pada masa dewasa
imadya jarang terjadi kecuali karena sakit atau terauma.
c) Perkembangan psikososial, pada masa dewasa madya meliputi
kejadian perpindahan anak dari rumah, peristiwa perpisahan dan
lain sebagainya yang terkadang mengakibatkan stress dan
mempengaruhi kesehatan.
2. Masa Dewasa Akhir (Lansia)
Adapun karakteristik masa dewasa akhir yakni:
a) Merupakan periode kemunduran, pada masa dewasa akhir
kemunduran fisik dan mental terjadi secara perlahan dimana
seseorang menjadi tua. Penyebab kemunduran fisik adalah sel-sel
tubuh yang ikut menua, yang mana kemunduran ini juga terjadi
pada aspek psikologis yang merasa tidak senang pada diri senidiri.
b) Perbedaan individu pada efek menua, proses menua akan
memengaruhi orang-orang secara berbeda-beda. Hal ini disebabkan
karena memiliki sifat bawaan yang berbeda, sosio ekonomi yang
berbeda, pendidikan yang berbeda. Perbedaan juga akan terjadi
pada laki-laki dan wanita perbedaan inilah yang menyebabkan satu
orang dengan orang lainnya akan berbeda dalam menyikapi proses
menua usia tua dinilai dengan kriteria berbeda. 8
8
8
Tahapan usia akhir ini oleh Rasullah Saw dinamakan masa
“pergulatan maut” yakni masa-masa usia enam puluhan hingga
tujuh puluhan. Rasullah Saw bersabda yang artinya:
“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun dan sedikit orang
yang bisa melampaui umur terebut” (HR.Muslim dan Nasai) 9
B.Karakteristik Perkembangan Karier Dewasa
Dalam teori rentang hidup (life-span) dari teori Super, perkembangan
karir masa dewasa menggunakan dua konsep utarna: peranan dan tahapan dalam
kehidupan. Bagi Super, beberapa peranan penting seorang individu adalah belajar
(studying), bekerja (working), pelayanan masyarakat (community service),
aktivitas di rumah dan keluarga (home and family), dan aktivitas di waktu luang
(leisure activities) yang dijabarkan :
Pertama, belajar (studying), meliputi sejumlah aktivitas yang mungkin
berlangsung sepanjang rentang kehidupan. Aktivitas selama sekolah rneliputi
pergi ke sekolah, mengikuti kursus, dan belajar di rumah atau di perpustakaan.
Sebagian orang dalarn kehidupan mereka mungkin melanjutka.n pendidikannya
pada masa-masa selanjutnya.
Kedua, bekerja (working)„ dapat dirnulai sejak masa kanak-kanak ketika
anak rnenolong orangtua mereka di rurnah, atau membantu mengjaga anak anak
mereka dirumah . Banyak orang yang bekerja di satu atau beberapa tempat dalarn
hidup mereka.
Ketiga, pelayanan masyarakat (community services), meliputi aktivitas
sebagai sukarelawan di bidang sosial, politik atau keagarnaan. Mereka umumnya
melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti kerja bakti, rnembersihkan lingkungan,
membantu menangani bencana alam, dan sebagainya.
Keempat, aktivitas di runialt data keluarga (home and family), peran ini
bervariasi tergantung usia individu. Anak-anak mungkin diberi tugas
mernbersihkan kamarnya atau membereskan rnainannya. Remaja tersebut
memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan kompleks dibandingkan ketika
mereka rnasih kanak-kanak. Selanjutnya sebagai orang dewasa yang telah
berkeluarga, mereka bertanggung jawab atas anak-anak mereka, dan mungkin
juga merawat orangtua mereka yang telah lanjut usia. 10
9
10 Saikhoni “BK karir-STKIP Muhuammadiyah Pringsewu” (http://bk.satkipmpringsewu-
lpg.ac.id/wp-content/uploads/2015/08/1.-BK-Karir.pdf/ diakses pada 23 Oktober 2020,17:04
9
Kelima, aktivitas di waktu prang (leisure activity) umumnya aktivitas ini
sangat berrnakna pada saat usia kanak-kanak atau remaja, seperti aktivitas
berrnain, mengikuti kegiatan olah raga, meno
nton televisi, membaca komik, atau novel. Pada orang dewasa, aktivitas ini
menjadi lebih bersifat intelektual seperti mengikuti seminar-seminar, bergabung
dalam kelompok untuk mendiskusikan buku-buku ilmiah, masalah sosial atau
keagamaan.
Di dalam teori Super, bentuk peranan berhubungan dengan pandangan
terhadap tahapan dasar perkembangan karir seperti :
Tahap eksplorasi mencakup sub-tahap kristalisasi, spesifikasi, dan
implementasi.
Tahap penetapan, mencakup tugas-tugas konsolidasi, dan kelanjutannya.
Tahap ketidakterikatan mencakup perlambatan, perencanaan pensiun, dan
kehidupan pensiun. Aspek kunci dari teori Super adalah tahap-tahap ini
sama sekali tidak terkait dengan usia. Individu dapat mengulang atau
mengalanii kembali siklus atau tahap-tahap ini di berbagai waktu dalam
Nevil dan Super (sharf 1992 : 176-179) rnengemukakan bahwa tidak hanya
pentingnya perubahan selama hidup seseorang, tetapi juga sifat alamiah dari
perubahan keterlibatan itu. Keterlibatan itu dapat diukur melalui partisipasi,
kornitrnen, pengetahuan, dan harapan-harapan nilai-nilai yang dijabarkan ke
dalarn indikator-indikator salience dalam peran-peranan kehidupan.
Super (Sharf, 1992 :175) percaya bahwa setiap orang berbeda dalam
rnemaknai pentingnya bekerja di dalam kehidupannya. Pekerjaan dapat
mempunyai arti dan kepentingan yang berbeda untuk setiap individu. Pada
kenyataannya, menurut data normatif dari Salience Inventory (Nevin dan Super
dalam Sharf, 1992 : 175) menunjukkan bahwa orang-orang pada usia yang
berbeda, budaya yang berbeda, menilai pekerjaan secara berbeda. Sebagai contoh,
para siswa sekolahmenengah di Amerika Serikat cenderung untuk rnenghargai
pekerjaan, rumah, dan kesenangan lebih rendah dari peneitian dan pelayanan
masyarakat. Urnumnya, ini juga benar untuk para siswa perguruan tinggi
bagaimanapun, orang dewasa di Amerika Serikat cenderung untuk merighargai
pekerjaan dan keluarga lebih dari studi, pelayanan masyarakat, atau kesenangan.
Tidak aneh, terdapat perbedaan-perbedaan individu di semua usia.
Peran kehidupan yang diukur oleh Salience Inventory (belajar, bekerja,
pelayanan masyarakat, rumah dan keluarga, serta aktivitas di waktu luang). Peran-
peran hidup tersebut diaplikasikan ke dalam beberapa aktivitas.
Ketika konseling menggunakan teori Super, konselor kadang kadang dapat
menydiakan salience inventory bagi konseli sehingga mampu menilai peran peran
penting dan harapan harapan bagi konseli untuk dapat melakukan hal ini konselor
10
dapat menggunakan value scule. Senada dengan uraian tersebut (Manhiru,1992)
menyebutkan siklus kehidupan karir menjadi 4 tahap yaitu:
entry,socialization,nidcareer dan late career. 11
C. Indikator Kematangan dan Masalah-masalah Karir Dewasa
Kematangan karir pada masa dewasa ditandai dengan stabilisasi dalam pekerjaan,
kemajuan dalam pekerjaan, inovasi dalam pekerjaan, dan perbaikan dalam
pekerjaan. ( Super dalam Sharf, 1992).
Menurut Super (Sharf, 1992) munculnya post power syndrome dan
disengagement merupakan ketakutan orang dewasa saat datangnya masa pensiun.
Disengagement
Didalam tahap pemeliharaan, jika individu tidak memperbaharui pengetahuan
mereka dan membuat beberapa usaha inovasi, mereka dalam bahaya kehilangan
pekerjaan. Super (Sharf, 1992) mula-mula menunjuk tahap ini sebagai
“kemunduran” (decline), tetapi mengubah labelnya karena konotsi negatifnya
untuk banyak orang.
Sub tahap Disengagement-decelerating, Retirement planning, dan Retirement
living dapat dilihat sebagai tugas-tugas orang dewasa akhir, tetapi tidak selalu
harus dipertimbangkan.
Decelerating
Perlambatan tanggung jawab karena seseorang. Gambaran dari permasalahan
yang sulit pada pekerjaan dan keinginan untuk menghindari tekanan batas waktu
adalah tanda-tanda dari Decelerating.
Retirement Living
Tahap ini umumnya untuk orang-orang usia akhir 60-an, yang sering kali
mengalami perubahan dalam peran kehidupan. Penggunaan waktu luang, aktivitas
dirumah dan keluarga dan pelayanan masyarakat menjadi lebih penting,
sedangkan pekerjaan akan menjadi kurang penting. Aspek penting Retirement
living adalah tempat dimana seseorang tinggal dan penggunaan waktu luang. 12
11 Saikhoni “BK karir-STKIP Muhuammadiyah Pringsewu” (http://bk.satkipmpringsewu-
lpg.ac.id/wp-content/uploads/2015/08/1.-BK-Karir.pdf/ diakses pada 23 Oktober 2020,17:04
12
11
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Masa dewasa adalah masa dimana seorang individu telah menyelesaikan
pertumbuhannya baik pada aspek fisiologis, psikologis dan sosiologis. Setiap
individu yang normal akan mengalami pertumbuhan perkembangan, hal ini
dimulai sejak rentang kehidupan dari sejakk masa dikandungan, anak-anak,
remaja, dewasa dan sampai menemui ajalnya. Dibandingkan masa-masa
sebelumnya, masa dewasa merupakan masa yang paling lama dalam rentang
hidup manusia. Dikatakan demikian karena masa dewasa ditandai dengan
pembagiannya menjadi tiga fase, yaitu: (Masa Dewasa Dini (Early Adulthood)
usia 20-40 tahun, Masa Dewasa Madya (Middle Adulthood) usia 40-65 tahun,
Masa Dewasa Akhir (Late Adulthood) usia 65 tshun ke atas).
Dalam teori rentang hidup (life-span) dari teori Super, perkembangan karir masa
dewasa menggunakan dua konsep utarna: peranan dan tahapan dalam kehidupan.
Bagi Super, beberapa peranan penting seorang individu adalah belajar (studying),
bekerja (working), pelayanan masyarakat (community service), aktivitas di rumah
dan keluarga (home and family), dan aktivitas di waktu luang (leisure activities).
Kematangan karir pada masa dewasa ditandai dengan stabilisasi dalam pekerjaan,
kemajuan dalam pekerjaan, inovasi dalam pekerjaan, dan perbaikan dalam
pekerjaan. ( Super dalam Sharf, 1992). Menurut Super (Sharf, 1992) munculnya
post power syndrome dan disengagement merupakan ketakutan orang dewasa saat
datangnya masa pensiun.
12
DAFTAR PUSTAKA
Purwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, http:// bahasa.
Kemendiknas.go.id
1Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung, PT Remaja Rosda Karya, 2010.
Saikhoni “BK karir-STKIP Muhuammadiyah Pringsewu” (http://bk.satkipmpringsewu-
lpg.ac.id/wp-content/uploads/2015/08/1.-BK-Karir.pdf/ diakses pada 23 Oktober 2020,
17:03.
13
14
MAKALAH BIMBINGAN KONSELING KARIR
TEORI KARIR DARI HOLLAND
Disusun Oleh Kelompok 6 :
Dea Amelia (1911080050)
Farida Ariyani (1911080308)
Puja Dwi Irma Putri (1911080360)
Kelas A Semester 3
Dosen Pengampu : Belardo Farjantoky, M.Pd
BIMBINGAN KONSELING PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur Kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena telah memberikan kesehatan dan
kesempatan bagi kami sebagai penulis untuk menyelesaikan tugas berupa makalah ini. Atas
rahmat dan hidayahnya lah kam sebagai penulis mampu menyelsaikan tugas berupa makalah
yang berjudul “Teori dari Holland” dengan tepat waktu. Makalah “ Teori dari Holland” ini
disusun guna memenuhi tugas mata kuliah “Bimbingan dan Konseling Karier” yang di ampu
oleh bapak Belardo Fajrantoky M.Pd. Selain itu kami sebagai penulis berharap agar makalah ini
dapat menambah wawasan bagi pembaca.
Kami sebagai penulis mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
bapak Belardo Fajrantoky, M.P.d selaku dosen pengampu mata kuliah Bimibngan dan Koseling
Karier yang telah memberikan tugas kepada kami selaku penulis dan kami selaku penulis juga
mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan
makalah ini hingga selesai tepat waktu.
Kami selaku penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangunn guna
kesempurnaan makalah ini.
Bandar Lampung, 30 Oktober 2020
penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................3
Latar Belakang.........................................................................3
Rumusan Masalah....................................................................3
Tujuan Masalah........................................................................3
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................
Teori John Holland...................................................................4
Kelebihan dan kekurangan Teori John Holland....................4
BAB III PENUTUP.............................................................................5
Penutup
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 6
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG MASALAH
Untuk membantu anak dalam mengembangkan diri secara optimal sehingga dapat merencanakan
pencapaian pekerjaan sebagai landasan karier yang seslla dengan kemampuan, bimbingan karier sebagai
salah satu bidang layanan bimbingan konseling sangat dibutuhkan. Karena bimbingan karier merupakan
bimbinganyang mencakup kegiatan bimbingan kepada siswa dari memilih, menyiapkan diri, mencari dan
menyesuaikan diri terhadap karier (Aryatmi Siswohardjono, 1990: 457). Dengan layanan bimbingan
karier yang sudah diberikan diharapkan siswa dapat memahami karakteristik dirinya dalam hal minat,
nilai-nilai, kecakapan dan ciri-ciri kepribadian serta dapat rnengidentifikasikan bidang pekerjaan yang
luas, yang mungkin lebih cocok bagi rnereka selanjutnya diharapkan siswa dapat menemukan karier dan
melaksanakan karier yang efektif serta memberikan kelayakan hidup.
Bimbingan karier merupakan salah satu aspek bimbingan perkembangan, sehingga sangat
diperlukan sepanjang perkembangan anak, lebih baik jika bimbingan itu diberikan ke anak sejak
rnasa kanak-kanak bahkan sebelun masuk sekolah, yang diteruskan di masa sekolah dasar, di sekolah
lanjutan dan di perguruan tinggi, bahkan mungkin masih diperlukan sewaktu seseorang sudah
memasuki dunia kerja, dengan harapan bahwa dengan bimbingan yang diberikan akan membantu
dalam penyesuaian diri dengan sifat dan situasi kerja.
Dari berbagai tori tentang penentuan karir individu, maka didalam makalah ini akan membahas
bagaimana teori Holland dalam menentukan karir individu yang sesuai dengan lingkungan, latar belakng
pribadi, dan situasi kerja.
B.Rumusan Masalah
1. Pengertian teori Holland?
2. Mengetahui bagaimana teori Holland dengan melihat kebutuhan siswa?
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan teori Holland?
BAB II
PEMBAHASAN
TEORI KARIER JOHN HOLLAND
Teori bimbingan karier John Holland mencoba untuk memaparkan bagaimana siswa atau individu
memilih karier yang sesuai dengan tipe, sifat, dan karakteristik psikologis (kepribadian) dengan model
lingkungan yang mencakup lingkungan: realistis; intelektual; sosial; konvensional; usaha; dan artistik
(Afandi, 2011). Winkel & Hastuti (2005:634-635) menjelaskan bahwa pandangan Holland mencakup tiga
ide dasar, yaitu:
a. Semua orang dapat digolongkan menurut patokan sampai berapa jauh mereka mendekati salah satu
di antara enam tipe kepribadian, yaitu : Tipe Realistik (The Realistic Type), Tipe Peneliti/Pengusut (The
Investigative Type), Tipe Seniman (The Artistic Type), Tipe Sosial (The Social Type), Tipe Pengusaha (The
Enterprising Type), dan Tipe Orang Rutin (Conventional Type). Semakin mirip seseorang dengan salah
satu di antara enam tipe itu, makin tampaklah padanya ciri-ciri dan corak perilaku yang khas untuk tipe
bersangkutan.
b. Berbagai lingkungan yang di dalamnya orang hidup dan bekerja, dapat digolongkan menurut patokan
sampai berapa jauh suatu lingkungan tertentu mendekati salah satu model lingkungan (a model
environment), yaitu : Lingkungan Realistik (The Realistic Environment), Lingkungan
Penelitian/Pengusutan (The Investigative Environment), Lingkungan Kesenian (The Artistic Environment),
Lingkungan Pengusaha (The Enterprising Environment), Lingkungan Pelayanan Sosial (The Social
Environment), Lingkungan Bersuasana Kegiatan Rutin (The Conventional Environment). Semakin mirip
lingkungan tertentu dengan salah satu di antara enam model lingkungan, makin tampaklah di dalamnya
corak dan suasana kehidupan yang khas untuk lingkungan bersangkutan. Masing-masing model
lingkungan hidup, termasuk lingkungan okupasi, didominasi oleh : orang yang bertipe kepribadian
tertentu.
c. Perpaduan antara tipe kepribadian tertentu dan model lingkungan yang sesuai menghasilkan
keselarasan dan kecocokan okupasional (occupational homogeneity), sehingga seseorang dapat
mengembangkan diri dalam lingkungan okupasi tertentu dan merasa puas. Perpaduan dan pencocokan
antara tiap tipe kepribadian dan suatu model lingkungan memungkinkan meramalkan pilihan okupasi,
keberhasilan, stabilitas seseorang dalam okupasi yang dipangku. Sebagai sebuah contoh: seseorang
diketahui paling mendekati tipe sosial, akan lebih cenderung memasuki okupasi dalam lingkungan
pelayanan sosial karena okupasi itu diketahui paling sesuai dengan kepribadiannya sendiri dan paling
memuaskan baginya, sedangkan orang lain yang diketahui paling mendekati tipe orang rutin, akan lebih
cenderung memangku okupasi dalam lingkungan yang bersuasana kegiatan rutin, seperti pegawai di
kantor, resepsionis, akuntan, dan pegawai perpustakaan. Sebaliknya, orang yang memasuki lingkungan
okupasi yang jauh dari tipe kepribadian yang paling khas baginya akan mengalami konflik dan tidak akan
merasa puas, sehingga cenderung untuk meninggalkan lingkungan okupasi itu dan mencari lingkungan
lain yang lebih cocok baginya.
KELEBIHAN TEORI KARIER JOHN HOLLAND
Para pakar psikologi vokasional mengakui bahwa teori karir Holland adalah teori yang komprehensif,
karena teori tentang jabatan ini telah mewakili seluruh pola dan aspek kehidupan individu yang
berkaitan dengan kajiannya tentang model tipe, sifat, dan karakteristik individu dengan enam model
lingkungan yaitu : lingkungan realistik, intelektual, sosial, konvensional, usaha dan artistik (Afandi, 2011).
KEKURANGAN TEORI KARIER JOHN HOLLAND
Kelemahan dalam teori ini adalah kurang ditinjau dari proses perkembangan yang melandasi
keenamtipe kepribadian dan tidak menunjukkan fase-fase tertentu dalam proses perkembangan itu,
serta akumulasi rentang umur. Mengenai tahapan atau tingkatan yang akan dicapai oleh seseorang
dalam bidang okupasi tertentu, Holland merujuk pada taraf inteligensi yang memungkinkan tingkat
pendidikan sekolah tertentu.
A. Konsep Dasar Teori Holland
Pada tahun 1966, Holland berpendapat bahwa lingkungan-lingkungan okupasional itu adalah realistik,
intelektual, artistik, sosial, pengusaha dan konvensional demikian juga tipe kepribadian yang diberi
nama yang sama. Tingkatan orientasi kepribadian individu menetukan lingkungan yang dipilihnya,
semakin jelas tingkatan orientasi model pribadi (suatu proses perkembangan yang ditentukan melalui
pembawaan dan riwayat hidup yang bereaksi dengan tuntutan lingkungan) individu menetukan
lingkungan maka semakin efektif pencarian lingkungan yang sesuai. Pengetahuan individu tentang diri
dan lingkungan diperlukan untuk menetapkan pilihan yang sesuai.
Pada tahun 1973 teori Holland direvisi bahwa tipe-tipe kepribadian dan okupasi lingkungan itu realistik,
investigatif, artistik, sosial, pengusaha, dan konvensional. Dan holland juga mnegakui bahwa
pandanganya berakar dalam psikologi diferensial, teutama penelitian dan pengukuran terhadap minat,
dan tradisi psikologi kepribadian yang mempelajari tipe-tipe kepribadian. Dari dua sumber tersebut
Holland mengasumsikan bahwa orang yang memiliki minat yang berbeda-beda dan bekerja dalam
lingkungan yang berlainan sebenarnya adalah orang yang berkepribadian lain-lain dan mempunyai
sejarah hidup yang berbeda. Manrihu 1992 (dalam creater-development-theory-and enviroment-
models.California.state.uversity.scenario.www.wsus.edu/cereectcentre.).
Menurut Holland (dalam Ketut Sukardi 1994:50), pilihan karir ialah suatu ekspresi atau suatu perluasan
kepribadian dalam dunia kerja yang diikuti oleh identifikasi berikutnya dengan stereotipe pekerjaan
yang spesifik. Perbandingan antara diri (self) dengan persepsi terhadap suatu pekerjaan dan penerimaan
atau penolakan adalah penentu utama dalam pilihan karir. Keseuaian antara tinjauan diri (self)
seseorang dengan penetapan pemilihan pekerjaan ialah berhubungan dengan model gaya pribadi.
B. HOLLAND
Holland menyusun teorinya yang terdiri atas sebelas pokok pikiran sebagai berikut :
1. Pemilihan suatu jabatan merupakan pernyataan suatu kepribadian seseorang.
2. Inventory minat merupakan inventory kepribadian. Minat merupakan ekspresi kepribadian,
inventory minat merupakan inventory kepribadian.
3. Streotipe vokasional mempunyai makna psikologis dan sosiologis yang penting dan dapat dipercaya.
Kita dapat menduka seseorang berdasarkan teman-teman, pakaian, dan prilakunya, apa yang menjadi
pekerjaannya. Pengalaman kita sehari-hari seringkali menunjukkan pengetahuan yang tidak tepat, tetapi
tampaknya dapat memberikan pengetahuan yang bermanfaat terhadap berbagai pekerjaan yang
dilakukannya. Misalnya, seorang aktor mempunyai sifat yang berorientasi pada diri sendiri ( self-centerd)
seorang penjaga (selesman) bersifat persuasif, seorang akuntan bersifat teliti, ilmuan bersifat tidak
sosial, dan sebagainya.
4. Individu-individu dalam suatu jabatan atau pekerjaan memiliki kepribadian yang serupa dan
kesamaan sejarah perkembangan pribadinya. Jika individu memasuki satu jenis pekerjaan tertentu
disebabkan riwayat dan kepribadian tertentu, sejalan dengan itu setiap jabatan atau pekerjaan akan
menarik bagi orang yang mempunyai kepribadian yang serupa.
5. Karena dalam satu rumpun pekerjaan memiliki kepribadian yang serupa, mereka akan menanggapi
terhadap berbagai situasi dan masalah dengan cara yang serupa, dan mereka akan membentuk
lingkungan hubungan antar pribadi tertentu.
6. Kepuasan, kemantapan dan hasil kerja tergantung atas kongruensi antara kepribadian individu
dengan lingkungan (yang sebagian besar terdiri atas orang-orang lain) dimana individu itu bekerja.
7. Pengetahuan kita tenang kehidupan vokasional adalah tidak tersusun dan seringkali terpisah dari
batang tubuh pengetahuan psikologis dan sosiologis.
8. Di dalam masyarakat kita, kebanyakan orang digolongkan ke dalam salah satu daripada enam tipe,
yaitu : Realistik, Intelektual, Sosial, Konvensional, Usaha (interprising), dan Artistik.
9. Terdapat enam jenis lingkungan ( Realistik, Intelektual, Sosial, Konvensional, Usaha, dan Artistik).
Masing-masing lingkungan dikuasai oleh satu tipe kepribadian tertentu, dan masing-masing lingkungan
ditandai oleh keadaan fisik yang menimbulkan tekanan dan masalah tertentu, misalnya lingkungan
realistic dikuasai.
10. Seseorang mencari lingkungan dan jabatannya yang memungkinkan dapat melaksanakan
kemampuan dan keterampilannya, menyatakan sikap dan nilai mereka, mengambil peranan dan
masalah yang dapat disetujui, dan menghindari peranan dan persoalan yang tak mereka setujui.
Akibatnya tipe realistic mencari lingkungan realistic, tipe intelektual mencari lingkungan Intelektual, dan
seterusnya.
11. Perilaku seseorang dapat diterangkan melalui bagaimana interaksi pola kepribadiannya dan
lingkungannya. Dengan kata lain, jika kita mengetahui pola kepribadian seseorang dan pola
lingkungannya, pada dasarnya kita dapat menggunakan pengetahuan kita mengenal tipe kepribadian
dan model lingkungan untuk meramalkan hasil daripada pasangan yang demikian.
Holland melengkapi sebelas pokok pikirannya dengan mengemukakan :
1. Karakteristik enam tipe kepribadian ( Realistik, Intelektual, Sosial, Konvensional, Usaha, Artistik).
2. Karakteristik enam model lingkungan (Realistik, Intelektual, Sosial, Konvensional, Usaha, Artistik).
C. Tipe-tipe kepribadian
1. Realistik
Tipe model ini bersifat jantan, kuat jasmani, tidak sosial, agresif, mempunyai kecakapan dan koordinasi
motorik yang baik, kurang memiliki kecakapan verbal, dan hubungan antar pribadi. Lebih menyenangi
masalah yang kongkrit daripada masalah yang abstrak, menganggap bahwa dirinya sebagai seorang yang
bersifat agresif dan jantan, dan mempunyai nilai-nilai ekonomi dan politik yang konvensional. Orang-
orang yang memilih dan menyenangi pekerjaan berikut ini mirip tipenya, misalnya, pengawas bangunan,
ahli mesin kapal udara, ahli listrik, operator radio, ahli survei, dan lainnya.
2. Intelektual
Tipe model ini bersifat berorientasi-tugas, tidak sosial, lebih menyukai dan memikirkan terlebih dahulu
daripada langsung bertindak terhadap pemecahan masalah yang dihadapi, membutuhkan pemahaman,
menyenangi tugas-tugas pekerjaan yang kabur sifatnya, memiliki nilai-nilai dan sikap yang tidak
konvensional.
3. Sosial Tipe model ini bersifat sosial, bertanggungjawab, kewanitaan, kemanusiaan, keagamaan,
membutuhkan perhatian, memiliki kecakapan verbal, dan hubungan antar pribadi, menghindari
pemecahan masalah secara intelektual aktivitas fisik, dan kegiatan-kegiatan yang sangat teratur rapi,
menyukai pemecahan masalah, melalui perasaan, dan pemanfaatan hubungan antar pribadi.
4. Konvensional
Tipe model ini menyenangi bahasa yan tersusun baik, dan kegiatan yang berhubungan degan angka,
konformis, menghindari situasi yang kabur, dan masalah-masalah yang melibatkan hubungan
antarpribadi dan kecakapan fisik, mengerjakan secara efektif terhadap tugas pekerjaan tersusun baik,
mengidentifikasikan dirnya dengan kekuasaan, memberikan nilai yang tinggi atas status, dan kekyaan
materi.
5. Usaha
Tipe model ini memiliki kecakapan lisan untuk berjualan, mengusai dan menggiring, menganggap dirinya
sebagai orang kuat, menghindari dari penggunaan bahasa yang memerlukan intelektual dalam jangka
waktu yang lama, mudah menyesuaikan diri, berbeda dengan tipe konvensional. Tipe ini menyukai
tugas-tugas sosial yang kabur, dia memiliki perhatian yang besar terhadap kekuasaan, status,
kepemimpinan, dan bertindak agresif dalam bentuk lisan.
6. Artistik
Tipe model ini bersifat tidak sosial, menghindari masalah yang sudah dapat tersusun, atau yang
memerlukan kecakapan fisik yang besar, serupa dengan tipe intelektual, sukar menyesuaikan diri dan
tidak sosial.
D. Model Lingkungan
Perilaku manusia tergantung atas dua hal, yaitu kepribadian dan lingkungan tertentu tempat manusia
yang bersangkutan hidup. Pengertian tentang model ini akan memberikan informasi yang berguna
mengenai manusia, tetapi informasi ini tidak akan memadai apabila kita tidak dapat merumuskan ciri-
ciri lingkungan maupun manusianya. Oleh karena itu, untuk melengkapi tipe-tipe model kepribadian,
Holland menyampaikan enam model lingkungan, yang menandai lingkungan fisik dan sosial yang sama
dalam budaya Amerika.
Lingkungan model selalu sesuai dengan tipe kepribadian, karena itu setiap tipe kepribadian berada
dalam lingkungan yang berkaitan. Kita dapat menilai orang yang nyata dengan cara membandingkannya
dengan tipe kepribadian, demikian pula kita dapat menilai lingkungan yang nyata dengan cara
membandingkannya dengan model lingkungan, yakni penjabaran lingkungan yang bersifat hipotesis.
Model lingkungan dan tipe kepribadian bersumber dari konsepsi yang sama. “Enam tipe kepribadian
diatas, mencerminkan preferensi vokasional, sebaliknya, model lingkungan, dapat dinyatakan sebagai
suatu situasi/suasana yang diciptakan oleh individu/manusia yang menguasai suatu lingkungan tertentu.
Karena tipe kepribadian dan model lingkungan memiliki suatu perangkat konstruksi yang sama, maka hal
ini memungkinkan mengelompokkan orang dan lingkungan dalam istilah yang sama, dan yang
memungkinkan untuk membandingkan hasil pemasangan orang dan lingkungan. Lebih jelasnya untuk
meramalkan apa yang terjadi apabila seseorang berada di dalam satu lingkungan tertentu.
1. Lingkungan Realistik
Lingkungan realistik ditandai oleh tugas-tugas yang konkrit, fisik, eksplisit, yang memberikan tantangan
bagi penghuninya. Untuk mendapatkan pemecahan yang efektif seringkali memerlukan kecakapan
mekanik, ketahanan, dan gerakan fisik untuk berpindah-pindah, yang seringkali berada di luar gedung.
Lingkungan realities hanya menuntut secara minimal kecakapan hubungan antar pribadi, sebab
kebanyakan dari tugas-tugas dapat diselesaikan dengan hubungan yang sekali dan tidak mendalam dan
bahkan seringkali menuntut tuntutan-tuntutan lingkungan membuat keberhasilan dan kegagalan yang
langsung tampak jelas.
2. Lingkungan Intelektual
Lingkungan intelektual ditandai dengan tugas-tugas yang memerlukan kemampuan yang absrtak dan
kreatif, bukan tergantung pada kemampuan pengamatan pribadinya. Untuk pemecahan yang efektif
memerlukan imajinasi, inteligensi, dan kepekaan terhadap masalah-masalah yang bersifat intelektual
dan fisik. Keberhasilan biasanya dicapai secara bertahap, yang terjadi dalam suatu periode waktu yang
lama, meskipun kriteria keberhasilan dapat bersifat objektif, dan dapat diukur. Masalah-masalah yang
terdapat dalam lingkungan ini berbeda dalam tingkat kesukarannya, pemecahan masalahan sederhana
seringkali dapat diperoleh dengan menggunakan secara langsung hasil pendidikan yang lalu, sedangkan
pemampuan imajinalitasnya. Alat-alat dan perlengkapan memerlukan kecakapan intelektual daripada
kecakapan manual. Kemampuan menulis sering mutlak diperlukan.
3. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial ditandai dengan masalah-masalah yang memerlukan kemampuan mengintarpretasi,
dan mengubah perilaku manusia dan minat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pada umumnya
situasi bekerja dapat menimbulkan rasa harga diri dan kedudukan.
4. Lingkungan Konvensional
Lingkungan konvensional ditandai dengan tugas-tugas, masalah-masalah yang memerlukan pemrosesan
informasi verbal dan sistematis. Keberhasilan pemecahan masalah relatif jelas dan terjadi dalam satu
periode waktu yang relatif singkat. Masalah-masalah yang lebih rumit di dalam lingkungan itu
memerlukan pengaturan kegiatan-kegiatan orang lain.
5. Lingkungan Usaha
Lingkungan usaha ditandai dengan tugas-tugas yang mengutamakan kemampuan verbal yang
dipergunakan untuk mengarahkan atau memengaruhi orang lain.
6. Lingkungan Artistik
Lingkungan artistik ditandai dengan tugas-tugas dan masalah-masalah yang memerlukan interpretasi
atau kreasi bentuk-bentuk artistik malalui cita rasa, perasaan, dan imajinasi. Lingkungan artistik
memerlukan kemampuan untuk mengarahkan semua pengetahuan seseorang, intuisi, dan kehidupan
emosinya di dalam pemecahan masalah, yang berlawanan dengan lingkungan realitas, intelektual, dan
konvensional yang seringkali kurang menuntut penggunaan sumber keseluruhan pribadi.
E. Aplikasi Teori Holland Disekolah
Pandangan holland sangat relevan bagi bimbingan karir pada jenjang pendidikan awal dan pendidikan
tinggi. Penekanan yang diberikan pada tingkat pemahaman diri sehubungan dengan beberapa kualitas
bombingan yang dimiliki konselor untuk informasi yang akurat mengenai lingkungan okupasi,
menyandarkan lembaga bimbingan akan tugasnya membantu individu menal dirinya dan lingkungan hal
ini sangat diperlukan untuk memilih okupasi yang matang. Selanjutntya Holland juga mengembangkan
alat untuk individu dalam pemilihan karir yaitu the occupations finder dan the self-directed search, yang
manyakan kagiatan/aktivitas yang diminati, dan dievalusi diri dalam bebrapa ketrampilan, harus
dicocokan dengan sistem klasifikasi okupasi yang berlandasan pada teori yang sama, dengan demikian
individu dapat menemukan sejumlah alternatif pilihan okupasi untuk pertimbangan lebih lanjut.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari barbagi penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Holland mengemukakan individu terbagi
menjadi 6 tipe kepribadian diantaranya realistik, intelektual, konvensional, enterprising, artistik, dan
sosial. Perkembangan tipe kepribadian tersebut akibat dari interaksi dengan lingkungan dan yang
menentukan dari tipe kepribadian adalah faktor bawaan diri sendri dan lingkungan.
Individu dapat menetukan karir secara gemilang apabila tipe kepribadian yang khas diterima didalam
suatu lingkungan kerja, selanjutnya minat yang dimiliki individu yang besar dan sosial yang mendukung
utuk bekerja.
KELEBIHAN TEORI KARIER JOHN HOLLANDPara pakar psikologi vokasional mengakui bahwa teori karir
Holland adalah teori yang komprehensif, karena teori tentang jabatan ini telah mewakili seluruh pola
dan aspek kehidupan individu yang berkaitan dengan kajiannya tentang model tipe, sifat, dan
karakteristik individu dengan enam model lingkungan yaitu : lingkungan realistik, intelektual, sosial,
konvensional, usaha dan artistik (Afandi, 2011).
KEKURANGAN TEORI KARIER JOHN HOLLANDKelemahan dalam teori ini adalah kurang ditinjau dari
proses perkembangan yang melandasi keenamtipe kepribadian dan tidak menunjukkan fase-fase
tertentu dalam proses perkembangan itu, serta akumulasi rentang umur. Mengenai tahapan atau
tingkatan yang akan dicapai oleh seseorang dalam bidang okupasi tertentu, Holland merujuk pada taraf
inteligensi yang memungkinkan tingkat pendidikan sekolah tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
journal.iainlangsa.ac.id/index.php/enlighten P-ISSN 2622-8912, E-ISSN 2622-8920
https://media.neliti.com/media/publications/40429-ID-tipe-keribadian-dan-model-
lingkungan-dalam-perspektif-bimbingan-karier-john-holl.pdf
MAKALAH BIMBINGAN KONSELING KARIER
TEORI TRAIT DAN FACTOR
Dosen Pengampu : Belando Farjan Toky,M.Pd
Disusun oleh :
Kelompok 7
Eny Khoirun Nikmah 1911080081
Erma Liana 1911080306
Sheny Khoirunnisa 1911080204
Kelas A
BIMBINGAN DAN KONSELING PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
TA 2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
berupa kenikmatan, kesehatan, keselamatan kepada penulis dalam menyusun makalah ini dengan
judul “ teori trait and factors ”. Dalam menyusun makalah ini, penulis mengucapkan terimakasih
kepada bapak Belando Farjan Toky,M.Pd selaku dosen mata kuliah bimbingan konseling karier
yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Apabila makalah ini belum
lengkap dan belum sempurna baik isi maupun sistematika penyajian, penulis mohon maaf dan
kepada Allah SWT penulis mohon ampun. Penulis sangat menghargai kritik dan saran yang
bersifat membangun dan penulis sangat menghargai masukan yang diharapkan untuk
kesempurnaan gagasan yang telah dibuat.
Bandar Lampung, 5 November 2020
Penyusun,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN......................................................................
A. Latar Belakang...............................................................................
B. Rumusan Masalah .........................................................................
C. Tujuan Masalah ............................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Teori trait and factors ................................................
B. Pendekatan Perkembangan Karir Trait dan Factor .............
C. Tujan Bimbingan dan Konseling Trait and Factor .............
D. Asumsi Dasar Teori Trait-Factor .......................................
E. Proses Konseling dalam Teori Trait-Factor...........................
F. Keunggulan dan Keterbatasan Teori Trait and Factor ........
1. Keunggulan ...........................................................................
2. Keterbatasan .........................................................................
BAB III...................................................................................................
KESIMPULAN ....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA............................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dari sekian banyak tokoh terkenal yang selalu diasosiasikan dengan teori trait-
faktor adalah E.G. Williamson. Ini dikarenakan pandangan dan konsepnya yang telah
banyak dipublikasikan dalam berbagai artikel dalam jurnal dan buku-buku. Teori trait
and factor sering pula disebut sebagai konseling direktif atau konseling yang berpusat
pada konselor. Teori ini telah berkembang secara dinamis, yang pada mulanya berupa
pendekatan konseling vocational, yang kemudian berkembang ke dalam lingkung
yang lebih luas yang tidak hanya pada segi vokasional, akan tetapi mencakup aspek
perkembangan secara keseluruhan.
Menurut Winkel istilah trait-factor counseling sulit digantikan dengan istilah
bahasa Indonesia yang mengena, paling-paling dapat dideskripsikan dengan
mengatakan : corak konseling yang menekankan pemahaman diri melalui testing
psikologis dan penerapan pemahaman itu dalam memecahkan beraneka ragam
problem yang dihadapi, terutama yang menyangkut pilihan program studi dan/atau
bidang pekerjaan. Dalam buku Vocational Counseling, Williamson menguraikan
sejarah perkembangan bimbingan jabatan dan proses lahirnya konseling jabatan yang
berpegang pada teori trait-faktor dan kemudian teori ini berkembang dalam berbagai
aspek kehidupan yang labih komprehensif.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan teori trait and factors ?
2. Bagaimana pendekatan teori tersebut ?
3. Bagaimana tujuan teori trait and factors ?
4. apa keungulan dan keterbatasan teori tersebut?
C. Tujuan Masalah
1. untuk mengetahui teori trait and factors
2. untuk mengetahui tentang pendekatan teori trait and factors
3. untuk mengetahui tujuan trait and factors
4. untuk mengetahui keunggulan dan keterbatasan teori trait and factors.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Teori trait and factors
Secara bahasa trait dapat diartikan dengan sifat, karakteristik seorang individu.
Sedangkan factor berarti tipe-tipe, syarat-syarat tertentu yang dimilki oleh sebuah
pekerjaan atau suatu jabatan. Teori Trait and factor memberikan asumsi bahwa
kecocokan antara trait dengan factor akan melahirkan kesuksesan dalam suatu karir yang
dilalui oleh seseorang dan begitu sebaliknya kegagalan dalam mencocokkan Trait dengan
factor akan menimbulkan kegagalan dalam sebuah pekerjaan.(Hadiarni Irman, 89-90:
2009), Teori Trait-Factor adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian
seseorang dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikan sejumlah ciri, sejauh tampak dari
hasil testing psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu.
Konseling trait-facot berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan alat tes
psikologis untuk menganalisis atau mendiagnosis seseorang mengenai ciri-ciri atau
dimensi/aspek kepribadian tertentu yang diketahui mempunyai relevansi terhadap
keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam memangku jabatan dan mengikuti suatu
program studi Williamson (WS. Winkel, 1997: 338).1
. MenurutWinkel (2010) Istilah konseling Trait and Factor dapat
dideskripsikansebagai corak konseling yang menekankan pemahaman diri melalui testing
psikologis dan penerapan pemahaman itu dalam memecahkan beraneka problem/masalah
yang dihadapi, terutama yang menyangkut pilihan program studi/bidang pekerjaan.Dari
penjabaran diatas dapat dirangkum bahwa teori trait and factor yang diadposi dalam
konseling trait and factor menekankan pemilihan karirindividu berdasarkan hasil-hasil
tes psikologi yang digunakan untukmenggambarkan kemampuan atau kepribadian
tertentu yang berkaitandengan keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam suatu karir2
B. Pendekatan Perkembangan Karir Trait dan Factor
Dalam pendekatan trait dan faktor, individu tersebut telah mengerti pola dari
perilaku seperti ketertarikan, tingkah laku, pencapaian, dan karakteristik kepribadian,
yang dikenal melalui maksud yang objektif, seperti biasanya tes psikologi ataupun
inventori, dan profil yang mewakili potensi dari si individu tadi. Pendekatan trait dan
faktor ini beranggapan kesamaan pekerjaan, hal inilah merupakan terdiri dari faktor yang
dibutuhkan dalam kesuksesan performa kerja yang bisa diprofilkan berdasarkan kepada
banyak trait yang dibutuhkan individu tadi.Menurut CH Miller (1974, p. 238) dia
memberikan asumsi yang membawahi pendekatan trait dan faktor terdiri dari:
1. Pilihan dilakukan untuk mencapai yang telah direncanankan
1 Jumadi Mori Salam Tuasikal, Teori dan Perkembangan Karir; teori trait and factors,
dosen.ung.ac.id
2 Agung Pratama Putra & Sarining PribadiPascasarjana, Trait and Factors dalam
konseling, academia.edu
2. Pilihan okupasi adalah even yang tersendiri.
3. Dimana adnya satu tujuan untuk setiap orang dalam pemilihan.
4. Satu orang bekerja dalam setiap pekerjaan. Ini sama halnya dengan koin
bermata dua.
5. Adanya pemilihan kerja yang tersedia untuk setiap individu.
Secara unsur sejarah, studi trait dan faktor telah menyediakan pondasi teksnis
untuk menjelaskan tiga proses langkah dari bimbingan yang didasarkan oleh F. Parsons
(1909). Asumsi dari parsons yang mana pendekatan trait dan faktor berorientasikan
kepada okupasi yang secara spesifik atau khusus, atau tugas yang sebagai kriteria kepada
variabel seperti perilaku, kemampuan mental, sosioekonmi, ketertrikan atau gaji,
menifestasi dari kepribadian.Perkembangan karir sebenarnya tidak hanya mengenai
pemilihan okupasi tetapi juga mengenai proses seperti pemilihan secara tertuju dan
terintegrasi dalam bentuk pilihan yang tertata, yang sesuai dengan kebutuhan dan sesuai
dengan mengertinya antara perilaku dalam pekerjaan. Menurut Krumboltz (1994), dia
berpendapat diantara adanya teori trait dan faktor bahwasanya “hal itu tidak membantu
kita memahami pemerolehan emosional dan skill yang dibutuhkan dalam pencarian kerja,
hal ini pula tidak menginformasikan kita tentang adanya pekerjaan dan phobia kerja, juga
tidak menjelaskan bagaimana menangani keluarga yang memiliki dual pekerjaan,
bagaimana perencanaan pensiun dan hal lainnya da ini berkaitan dengan konseling karir.
Oleh karena itu trait dan faktor teori, merupakan gambaran dari perkembangan karir dan
pembuatan pemilihan dalam pekerjaan saja yang sesuai dengan aptitudes dan skill yang
dimiliki individu. Chartrand (1991) menyimpulkan bahwa pertama, orang akan
digambarkan mampu dalam membuat pilihan yang rasional. Ini tidak berarti bahwa
proses perilaku bisa dihilangkan. Kedua, orang akan bekerja dalam lingkungan yng
berbeda dalam kereliabelan, bermakna dan cara yang konsisten, ini bukan berarti bahwa
satu tipe orang bekerja dalam satu pekerjaan. Ketiga, semakin besar kongruen antara
karakteristik pribadi dan persyaratan pekerjaan, maka semakin tingginya kecendrungan
kesuksesan. Ini berarti bahwa pengetahuan seseorag dan pola lingkungannya bisa
digunakan untuk memberitahukan orang tentang kemungkinan dari kepuasan dan
peningkatan dalam perbedaan pendidikan dan seting pekerjaan.
C. Tujan Bimbingan dan Konseling Trait and Factor
Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir dalamrambu-
rambu penyelenggaraan bimbingan dan konseling dalam jalurPendidikan formal oleh
pemerintah (Direktorat Jendral Peningkatan MutuPendidikan dan Tenaga Kependidikan,
2007) adalah sebagai berikut:
1. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yangterkait
dengan pekerjaan.
2. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir
yangmenunjang kematangan kompetensi karir.
3. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerjadalam
bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi
dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
4. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran)
dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang
menjadi citacita karirnya masa depan.
5. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan
caramengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang
dituntut,lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan
kesejahteraankerja.
6. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancangkehidupan
secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuaidengan minat,
kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
7. Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir.Apabila
seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka diasenantiasa harus
mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yangrelevan dengan karir
keguruan tersebut.
8. Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan
ataukenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan
danminat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlumemahami
kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa diamampu, dan
apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebu
9. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.
Hal yang diyakini oleh pendukung trait and factor adalah orang yang
memilih sebuah ocupation, bukan hanya job, akan menjadi pekerja bahagia
dan lebih produktif (Thomason, 1999). Pendekatan Parson menggunakan
pendekatan yang disebut konseling “trait and factor” atau “pencocokan orang
terhadap pekerjaan” dan “pencocokan terhadap lingkungan. Pendekatan ini
bertujuan mencocokkan individu dengan pekerjaan yang sesuai berdasar
faktor dan keunikan yang dimiliki individu. Tujuan konseling Trait and Factor
dijelaskan oleh Sayekti (2002) sebagai berikut:
1. Individu dibantu merasa lebih baik dengan menerima dirinya
sendiri dan berpikir lebih jernih dalam memcahkan masalah dan
mengontrol perkembangannya secara rasional.
2. Keseimbangan antara pengaktifan dan pemahaman sifat-sifat
sehingga dapat bereaksi secara wajar dan stabil.
3. Sifat-sifat subjektif dan kesalahan dalam penilaian diri (konsep
diri) diperbaiki dengan menggunakan metode atau cara ilmiah.
Lebih lanjut menurut Riyadi (2010) konseling menggunakan pendekatan Trait
and Factor dimaksudkan untuk:
1. Membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai
aspek kehidupan manusia.
2. Membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan
mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan
kelamahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-
tujuan hidup dan karir.
3. Membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, tidakmampuan,
dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi
kepribadian.
4. Mengubah sifat-sifat subyektif dan kesalahan dalam penilaian diri
dengan mengggunakan metode ilmiah.
D. Asumsi Dasar Teori Trait-Factor
Williamson dalam (Winkel & Hastuti, 2013) berpendapat bahwa terdapat empat
asumsi dasar dalam konseling trait and factor sebagai berikut:
1. Setiap individu mempunyai kemampuan dan potensi yang membentuk suatu pola
khas yang melekat pada individu itu sendiri.
2. Pola kemampuan dan potensi setiap individu menunjukan hubungan yang berlainan
terhadap keterampilan dan kualifikasi yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
3. Kesesuaian antara minat dan kemampuan siswa dengan pola kualifikasi tertentu akan
mempermudah siswa untuk mengikuti program studi yang disusun dalam suatu
rancangan pendidikan (kurikulum), serta mencapai hasil yang memuaskan.
4. Setiap individu mampu, berkeinginan dan berkecenderungan untuk mengenal diri
sendiri dan memaksimalkan pemahaman diri dalam kehidupan dengan sebaik-
baiknya.
5. Williamson (dalam Sayekti, 1998) memiliki pandangan tentang manusia sebagai
berikut :
6. Manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik atau buruk
7. Makna hidup adalah mencari kebenaran dan berbuat baik serta menolak kejahatan.
Menjadi manusia seutuhnya tergantung pada hubungan dengan orang lain. Maka
seorang konselor mestilah optimis dan percaya bahwa manusia dapat menyelesaikan
masalah-masalahnya, terlebih lagi jika manusia belajar menggunakan
kemampuannya.3
8. Diri manusia hanya berkembang di dalam masyarakat dan pada hakikatnya manusia
tidak dapat hidup sepenuhnya diluar masyarakat.
3 Muslim Afandi, (Teori trait and factors),Jurnal sosial budaya,Vol.5.No.1 Januari-Juni
2008.
9. Manusia ingin mencapai kehidupan yang baik, sebenarnya usaha kearah itupun sudah
menunjukkan dan merupakan kehidupan yang baik.
E. Proses Konseling dalam Teori Trait-Factor
Dari pemahaman teori trait and factor banyak hal yang bias dilakukan oleh
seorang konselor dalam penerapannya dilapangan. Secara garis besar, setidaknya ada
empay langkah yang diterapkan konselor, yaitu:a. Mengenal klien, dengan data yang
akurat dan lengkap sehingga data kien menjadi modal awal bagi konselor untuk
melakukan proses preventif, kuratif dan diploment.b. Mengadakan peninjauan
terhadap berbagai pekerjaan yang ada, dilengkapi dengan pengenalan sifat pekerjaan,
keahlian yang dibutuhkan pekerjaan dan prasyarat lainnya, sehingga seorang konselor
betul memiliki referensi, wawasan luas dan sempurna tentang pekerjaan dan jabatan
yang ada.c. Mencocokan potensi (bakat, minat, kecendrungan, keahlian dan kondisi
objektif lainnya) yang dimiliki oleh klien dengan pekerjaan dan jabatan yang ada.d.
Melakukan konseling dengan klien dan mendiskusikan perihal sehubunggan dengan
data diri dan pekerjaan, untuk melakukan pilihan, keputusan diri dan berbagai solusi
terhadap masalah yang dialami klien. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa
konseling karir mencocokkan kedua factor ini, yaitu diri dan okupasional. Dengan
bertambahnya pengalaman, maka proses penyesuaian menjadi lebih efisien.
Williamson (Issacson 1977: 38), menunjukkan konseling melibatkan enam langkah
antara lain:a. Analisis, mengumpulkan data tentang individu, dapat dilakukan dengan
wawancara, catatan harian, otobiografi dan tes psikologi.b. Sintesis: Merangkum,
menggolongkan dan menghubungkan data yang diperoleh sehingga memperoleh
gambaran tentang kelemahan dan kelebihan individu.c. Diagnosis: Masalah dan sebab-
sebabnya dikemukakan. Menarik kesimpulan logis atas dasar gambaran, pribadi
individu yang diperoleh dari hasil analisis dan sintesisd. Prognosis: kemungkinan
keberhasilan setiap pilihan diperiksa.e. Konseling: Konselor membantu klien untk
memahami, menerima dan menggunakan informasi tentang diri dan okupasi-okupasi.f.
Tindak lanjut: Pengecekan dilakukan mengenai kesesuaian keputusan-keputusan dan
kebutuhan akan bantuan lanjutan.
F. Keunggulan dan Keterbatasan Teori Trait and Factor
Keunggulan
Setiap teori tentu memiliki kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Trait and
Factor Theory memiliki beberapa keunggulan dalam pelaksanaan layanan karir yang
menurut Hadiarni dan Irman, (2009) sebagai berikut:
a. Konseli mendapatkan data yang akurat dan valid tentang dirinya, yang diperoleh
melalui tes psikologi dan non tes yang dikerjakan oleh konselor secara ilmiah.
b. Konseli mendapatkan berbagai informasi dunia kerja dan berbagai persyaratan
yang mesti dimiliki untuk dimasuki dunia kerja tersebut.
c. Konseli mendapatkan berbagai tawaran terhadap pilihan pekerjaan, kepuasan
karir, dan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapinya.
d. Konseli akan lebih puas apabila mendapatkan karir sesuai dengan analisis sifat
dan factor. Kemungkinan tingkat keberhasilan dan kesuksesan dalam mengeluti
karir akan lebih tinggi.
Dalam teori ini bimbingan karir dapat dilakukan dengan basis data hasil tes sebagai
acuan pemilihan karir, bahkan cenderung direktif sehingga konselor dapat dengan
mudah menangani banyak siswa. Konseli juga memiliki pilihan berdasar anaisis atau
hasil dari tes yang memberikan gambaran pilihan karir ideal untuk dirinya.
Keterbatasan
Trait and factor theory membuat suatu pilihan karir menjadi sederhana dan sangat
praktis. Teori ini memandang bahwa minat dan kemampuan seseorang dapat berubah
dari waktu ke waktu, sebagai pembelajaran baru terjadi sewaktu-waktu. Namun, hal
yang menarik adalah Brown dalam Thomason (1999) trait dalam vocational dianggap
sebagai suatu yang relatif stabil.
Tes merupakan salahsatu bantuan yang dapat digunakan dalam pemilihan karir,
tetapi tidak cukup untuk memprediksi apakah individu-individu tertentu akan berhasil
dalam pekerjaan yang tersebutkan dalam tes atau tidak.
Pandangan trait and factor dianggap terlalu optimis karena setiap orang
diasumsikan memiliki satu pekerjaan paling ideal dan tepat untuk dirinya. Meskipun
mungkin benar terdapat pekerjaan yang setiap orang berpotensi memilihnya. Seperti
doketer, tantara, guru, polisi. tetapi ada banyak faktor lain yang membatasi pilihan
pada pekerjaan tersebut. Faktor-faktor seperti pilihan geografis, cacat, tingkat
pekerjaan dan gaji, nilai-nilai pribadi dan kebutuhan, dan sebagainya diabaikan dalam
trait and factor (Thomason, 1999). meskipun begitu keputusan pekerjaan yang akan
diambil tetap sepenuhnya diserahkan pada siswa.
BAB III
KESIMPULAN
Simpulan dari makalah ini adalah analisis pribadi, analisis jabatan, dan pencocokan
melalui pemikiran rasional sebagai dasar pengambilan pilihan pekerjaan sangat
ditekankan dalam trait and factor theory. Siswa perlu harus memahami diri sendiri,
termasuk kekuatan dan kelemahan. Kemudian mereka harus mendapatkan informasi.
Pada kondisi untuk sukses dalam berbagai pekerjaan. Akhirnya, mereka membuat pilihan
yang rasional karir berdasarkan semua informasi yang tersedia.
Pelopor pengembangan corak konseling trait and factor yang paling terkenal adalah
E.G. Williamson. Dasar teori ini adalah adanya testing sebagai alat ukur kemampuan
siswa yang kemudian diarahkan untuk mengambil pekerjaan tersebut. Pandangan tentang
Trait and Factor ini mempunyai relevansi bagi bimbingan dan konseling karir di institusi
pendidikan. Data tentang diri peserta didik sendiri menjadi bahan pertimbangan dalam
merencanakan karir. Data tentang kualifikasi yang dibutuhkan dalam suatu jabatan
merupakan sebagian dari data yang harus ikut dipertimbangkan lui berbagai macam cara
baik tes psikologi, tes wawancara dan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Jumadi Mori Salam Tuasikal, Teori dan Perkembangan Karir; teori trait and factors,
dosen.ung.ac.id
Agung Pratama Putra & Sarining PribadiPascasarjana, Trait and Factors dalam konseling,
academia.edu.
zMuslim Afandi, (Teori trait and factors),Jurnal sosial budaya,Vol.5.No.1 Januari-Juni
2008.
MAKALAH
Bimbingan Konseling karir
Teori-teori Karir: Teori Myer Bright Type Indikator (MBTI)
Dosen: Belardo Farjan Toky M.Pd
Disusun Oleh
Kelompok 8
1. Afriawan 1911080246
2. Putri Liani 1911080362
3. Rahma Afrela 1911080364
Kelas :A
Prodi : BKPI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
TA 2010/2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat kehadirat Tuhan yang Maha Esa kerena atas berkat dan
rahmat-Nyalah, maka makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Konseling Karir
dengan Judul “ TEORI MBTI (Myers-Briggs Type Indicator)”, karena terbatasnya ilmu yang
kami miliki maka makalah ini jauh dari sempurna untuk itu saran dan kritik yang membangun
sangat kami harapkan.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Belardo Farjan Toky M.Pd selaku
dosen pembimbing. Adapun makalah ini kami buat berdasarkan informasi yang ada.
Demikianlah kiranya makalah ini penulis buat dengan besar harapan agar dapat
bermanfaat bagi kita semua dan dapat pula bermanfaat dalam proses pembelajaran.
Penulis
Bandar Lampung, 31 oktober 2020
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................................................
KATA PENGANTAR..............................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................................
BAB I..........................................................................................................................................
PENDAHULUAN.....................................................................................................................
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
BAB II.........................................................................................................................................
PEMBAHASAN........................................................................................................................
A. Kajian Teori
B. Empat Skala Kecenderungan
C. Manfaat MBTI
D. Kelebihan dan Kekurangan
BAB II.......................................................................................................................................
KESIMPULAN........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator mengenal tipe kepribadian adalah sebuat alat yang
mempunyai cukup banyak kegunaan. Pekerjaan yang luas mengidentifikasi tipe kepribadian di
awal 1900-an oleh Psikiater Swiss Carl G. Jung menegaskan bahwa individu memiliki preferensi
mental atau psikologis untuk melakukan tugas-tugas tertentu. Banyak proses mental manusia
tidak sadar tapi tetap mendikte berbagai sifat-sifat pribadi dan pilihan (misalnya, pola
komunikasi yang disukai, kebiasaan belajar, cara relaksasi, stres). Jung menggunakan
pengetahuan ini dalam menangani pasien, siswa, dan orang-orang dengan siapa ia datang ke
dalam kontak, dan ia menulis dan berceramah tentang teori preferensi kepribadian.
Dua mahasiswa Jung, Isabel Briggs Myers dan ibunya, Katherine C. Briggs-melakukan
penelitian di awal 1940-an tentang bagaimana mengukur preferensi kepribadian dan
mengundang Jung untuk berpartisipasi dalam penelitian mereka. Jung menolak untuk terlibat
dalam penelitian karena usianya, proyek lain yang dikonsumsi titmie, dan jarak geografis antara
dia dan peneliti. Rupanya, namun Jung mengakui potensi bahwa pekerjaan mereka ditawarkan
untuk membantu memindahkan teorinya jenis ke dalam aplikasi praktis, karena ia mendorong
pasangan ibu-anak untuk maju dengan penelitian mereka. Selanjutnya, sebagai hasil dari
penelitian dan pengembangan, Myers dan Briggs (1943/1976).
Tujuan mereka adalah satu: untuk membantu orang memahami diri mereka sendiri dan satu
sama lain sehingga mereka mungkin bekerja di bidang pekerjaan yang cocok dengan jenis
kepribadian mereka.
B. Rumusan Masalah
Kajian Teori tentang MBTI ( Myers-Briggs Type Indicator ) didasarkan pada Carl Jung?
Empat skala Kecenderungan yang berlawanan pada individu dalam menentukan karir?
Apakah manfaat dari MBTI ( Myers-Briggs Type Indicator )?
Kelebihan dan kekurangan dari MBTI ( Myers-Briggs Type Indicator )?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kajian Teori
Myers-Briggs Type Indicator (MBTI IB Myers Briggs & KC, 1943/1 976) adalah instrumen
kepribadian dengan berbagai aplikasi. Tipe ini dapat dimanfaatkan dalam proses konseling karir.
MBTl telah terbukti berguna untuk para profesional dalam konseling dan strategi dengan klien
tentang preferensi klien psikologis, keluarga karir yang optimal, dan peluang pekerjaan yang
potensial.
Tipe kepribadian, sebagaimana gaya kognitif, tipe kepribadian juga merujuk pada konstruk-
konstruk yang telah digunakan untuk menjelaskan kesamaan dan pebedaan dalam modus
pemikiran, persepsi dan prilaku yang disukai oleh individu. Pada dasarnya, tipe-tipe kepribadian
adalah kategori-kategori yang dirumuskan oleh konfigurasi dua atau lebih ciri atau atribut
tertentu. Sebagai penjelasan untuk perilaku manusia, tipologi memiliki sejarah untuk prilaku
manusia, tipologi memiliki sejarah yang panjang. Sistem-sistem tipologi kerap kali memiliki
daya tarik populer yang luar biasa karena sistem-sistem ini menawarkan basis pemahaman yang
relatif sederhana namun kuat dan bisa menjelaskan prilaku seseorang atau orang lain.
Salah satu kualifikasi tipologis yang paling bertahan dirancang oleh C.G Jung (1921-1971).
Dimana MBTI Myers-Briggs Type Indicator ini didasarkan pada pemikiran C.G Jung (1921-
1971) mengenai persepsi, judgment dan sikap yang digunakan oleh setiap tipe yang berbeda dari
individu. Persepsi adalah kemampuan psikologis individu untuk sadar pada hal-hal, orang-orang
dan ide-ide. Judgment melibatkan berbagai cara untuk menyimpulkan apa yang telah
dipersepsikan individu tersebut. Kalau orang berbeda satu sama lain ketika mempersepsikan
sesuatu juga ketika melakukan judgment, maka perbedaan ini juga mempengaruhi minat,
ketrampilan, nilai-nilai serta reaksi mereka.1
B. Empat Skala Kecenderungan
MBTI bersandar pada empat dimensi utama yang saling berlawanan (dikotomis). Walaupun
berlawanan sebetulnya kita memiliki semuanya, hanya saja kita lebih cenderung / nyaman pada
salah satu arah tertentu. Seperti es krim dan coklat panas, mungkin kita mau dua-duanya tetapi
1 Mudrika, N. 2004. “Membaca Kepribadian Menggunakan Tes MBTI (Myer Briggs Type Indicator)”.
Psikologi UGM Press. Yogyakarta