cenderung lebih menyukai salah satunya. Masing-masing ada sisi positifnya tapi ada pula sisi
negatifnya. Nah, seperti itu pula dalam skala kecenderungan MBTI.
Berikut empat skala kecenderungan MBTI :
The MBTI® attempts to describe individual’s personality in terms of four dichotomous indices:
Extraversion (E) – Introversion (I); Sensing (S) – Intuition (N); Thinking (T) – Feeling (F);
Judgement (J) – Perception (P)
Extrovert (E) vs. Introvert (I)
Dimensi EI melihat orientasi energi kita ke dalam atau ke luar. Ekstrovert artinya tipe
pribadi yang suka dunia luar. Mereka suka bergaul, menyenangi interaksi sosial, beraktifitas
dengan orang lain, serta berfokus pada dunia luar dan action oriented. Mereka bagus dalam hal
berurusan dengan orang dan hal operasional. Sebaliknya, tipe introvert adalah mereka yang suka
dunia dalam (diri sendiri). Mereka senang menyendiri, merenung, membaca, menulis dan tidak
begitu suka bergaul dengan banyak orang. Mereka mampu bekerja sendiri, penuh konsentrasi
dan focus. Mereka bagus dalam pengolahan data secara internal dan pekerjaan back office.
Sensing (S) vs. Intuition (N)
Dimensi SN melihat bagaimana individu memproses data. Sensing memproses data
dengan cara bersandar pada fakta yang konkrit, praktis, realistis dan melihat data apa adanya.
Mereka menggunakan pedoman pengalaman dan data konkrit serta memilih cara-cara yang
sudah terbukti. Mereka fokus pada masa kini (apa yang bisa diperbaiki sekarang). Mereka bagus
dalam perencanaan teknis dan detail aplikatif. Sementara tipe intuition memproses data dengan
melihat pola dan hubungan, pemikir abstrak, konseptual serta melihat berbagai kemungkinan
yang bisa terjadi. Mereka berpedoman imajinasi, memilih cara unik, dan berfokus pada masa
depan (apa yang mungkin dicapai di masa mendatang). Mereka inovatif, penuh inspirasi dan ide
unik. Mereka bagus dalam penyusunan konsep, ide, dan visi jangka panjang.2
Thinking (T) vs. Feeling (F)
Dimensi ketiga melihat bagaimana orang mengambil keputusan. Thinking adalah mereka
yang selalu menggunakan logika dan kekuatan analisa untuk mengambil keputusan. Mereka
cenderung berorientasi pada tugas dan objektif. Terkesan kaku dan keras kepala. Mereka
2 Mudrika, N. 2004. “Membaca Kepribadian Menggunakan Tes MBTI (Myer Briggs Type Indicator)”.
Psikologi UGM Press. Yogyakarta
menerapkan prinsip dengan konsisten. Bagus dalam melakukan analisa dan menjaga
prosedur/standar. Sementara feeling adalah mereka yang melibatkan perasaan, empati serta nilai-
nilai yang diyakini ketika hendak mengambil keputusan. Mereka berorientasi pada hubungan dan
subjektif. Mereka akomodatif tapi sering terkesan memihak. Mereka empatik dan menginginkan
harmoni. Bagus dalam menjaga keharmonisan dan memelihara hubungan.
Judging (J) vs. Perceiving (P)
Dimensi terakhir melihat derajat fleksibilitas seseorang. Judging di sini bukan berarti
judgemental (menghakimi). Judging diartikan sebagai tipe orang yang selalu bertumpu pada
rencana yang sistematis, serta senantiasa berpikir dan bertindak teratur (tidak melompat-lompat).
Mereka tidak suka hal-hal mendadak dan di luar perencanaan. Mereka ingin merencanakan
pekerjaan dan mengikuti rencana itu. Mereka bagus dalam penjadwalan, penetapan struktur, dan
perencanaan step by step. Sementara tipe perceiving adalah mereka yang bersikap fleksibel,
spontan, adaptif, dan bertindak secara acak untuk melihat beragam peluang yang muncul.
Perubahan mendadak tidak masalah dan ketidakpastian membuat mereka bergairah. Bagus dalam
menghadapi perubahan dan situasi mendadak.
Masing-masing tipe diidentifikasi dengan 4 huruf seperti ENFJ. Metode ini sangat
populer, sehingga dapat menemukannya pada pribadi seseorang. Dengan menggabungkan
dimensi yang berlainan, Myers dan briggs mengidentifikasi 16 jenis kepribadian yang berbeda,
setiap kepribadian dengan kelebihan dan minatnya sendiri. Dengan menjelaskan sebagai berikut :
ISTJ ISFJ INFJ INTJ
ISTP ISFP INFP INTP
ESTP ESFP ENFP ENTP
ESTJ ESFJ ENFJ ENTJ
ISTJ (Introverted sensing with thinking)
Perasaan introvert dengan berfikir. Mereka ini adalah tulang punggung kekuatan. Mereka
saling berusaha mengubah pasangan atau orang lain. Mereka cocok menjadi praktisi bank,
auditor, akuntan, analis pajak, pengawas perpustakaan, dan rumah sakit, pebisnis, dan
sebagainya.3
ISFJ (Introverted sensing with feeling)
3 Journal . “The Myers-Briggs Type Indicator and Career Obstacles”. Charles C. Healy Georffrey A.
Woodward
Pengindraan introvert dengan perasaan. Orang ini senang melayani dan pekerja keras.
Mereka tidak menyenangi waktu luang dan akan berusaha mencari-cari masalah apabila tidak
ada yang akan dikerjaan. Mereka cocok menjadi perawat, guru, sekretaris, pustakawan, manager,
dan ibu rumah tangga.
INFJ (Introverted intuiting with feeling)
Pengintuisian introvert dengan perasaan. Tipe ini adalah pelajar atau pekerja serius yang
benar-benar ingin punya andil. Mereka suka menyendiri dan mudah tersinggung. Mereka bisa
menjadi pasangan yang baik dan seara fisik sangat menyenangkan. Mereka dianggap mampu
memahami aspek kejiwaan orang lain. Mereka dapat menjadi terapis, pengabdi masyarakat dan
menteri yang baik.
INTJ (Introverted intuiting with thinking)
Pengintuisian dengan berfikir. Ini adalah tipe yang paling independen dibanding tipe-tipe
yang lain. Mereka menyenangi logika dan gagasan baru serta mau terjun kedalam penelitian
ilmiah. Tapi tidak jarang diantara mereka menjadi orang yang picik. Mereka cocok dalam
pekerjaan analisis komputer, insinyur, hakim, pengacara, ilmuwan, ilmuan sosial.
ISTP (Introverted thinking with sensing)
Berpikir introvert dengan mengindra. Orang semacam ini menyenangi tindakan, tidak
memiliki rasa takut dan selalu ingin gembira. Mereka akan sangat impulsif dan berbahaya
apabila dihentikan. Mereka lebih menyenangi perkakas, alat-alat dan senjata, dan biasanya cocok
sebagai ahli teknik. Mereka tidak senang berkomunikasi dan kerap didiagnosis sebagai orang
yang hiperaktif. Biasanya orang semacam ini tidak pintar disekolah.
ISFP (Introverted feeling with sensing)
Perasaan introvert dengan mengindra. Mereka ini adalah orang yang pemalu dan cepat
lelah, tidak suka bicara tapi senang pekerja fisik. Mereka cocok jadi pelukis, pematung,
komposer, dan penari (seni seara umum), dan mereka mencintai alam. Mereka ini tidak terlalu
peduli dengan komitmen.
INFP (introverted feeling with intuiting)
Perasaan intreovert dengan intuisi. Mereka ini adalah orang-orang yang idealis, mau
mengorbankan dirinya, sangat dingin dan mampu menahan diri. Mereka lebih mementingkan
keluarga, tapi dengan cara yang santai. Anda akan menemukan mereka berkiprah dibidang
psikologi, arsitekturm, agama tapi tidak dalam bisnis.4
4 Journal . “Using the myers-briggs type indicator® in career counseling”. R. Bryan Kennedy D. Ashley
Kennedy
INTP (introverted thinking with intuiting)
Berpikir introvert dengan intuisi. Orang ini dapat dipercaya, selalu berpikir masak-masak,
dan pemaaf serta sangat mencintai buku. Mereka cenderung sangat hemat dengan bahasa yang
dipakai, menyenangi logika dan matematika. Mereka cocok jadi filosof atau ilmuan teoritis, tapi
tidak tepat menjadi penulis atau sales.
ESTP (Extroverted sensing with thinking)
Mengindra extrovert dengan berpikir. Tipe ini adalah orang yang berorientasi pada
tindakan, kadang canggih, kadang sembrono, seperti James Bond. Sebagai pasangan, orang ini
sangat menyenangkan dan hangat, tapi mereka lemah pada soal komitmen. Mereka dapat
menjadi pengusaha atau artis yang baik.
ESFP (Extroverted sensing with feeling)
Mengindra ekstrovert dengan perasaan. Orang ini bersifat impulsif, mereka tidak tahan
dengan kecemasan. Mereka cocok sebagai sosok yang tampil kedepan karena sangat menyenangi
publi relation dan sangat senang dengan telepon. Mereka tidak akan pernah menyenangi hal-hal
akademis, terutama sains. Mereka cocok dalam pekerjaan penitipan anak, insinyur pertambangan,
sekertaris dan supervaisor.
ENFP (Extroverted Intuiting With Feeling)
Pengintuisian extrovert lewat perasaan. Tipe orang ini suka hal-hal yang baru dan kejutan.
Mereka sangat dikuasai oleh perasaan dan ekspresi. Mereka sangat peka dengan perubahan tubuh
dan mempunyai kesadaran diri yang baik. Mereka cocok menjadi sales, politisi, dan actor.
ENTP (Extroverted Intuiting With Thinking)
Pengintuisian ekstrovert dengan berpikir. Tipe ini adalah orang yang hidup dan
bersemangat, tidak cuek, dan tidak pula rapi. Sebagai pasangan, mereka sedikit tidak
menyenangkan, khususnya secara ekonomi. Mereka cocok menjadi analis dan entertainer.
Mereka juga cenderung ingin mengedepankan diri.
ESTJ (Extroverted thinking with sensing)
Berfikir ekstrovert dengan mengindra. Mereka adalah pasangan yang bertanggung jawab,
orang tua yang baik dan pekerja yang loyal. Mereka bersifat realistis dan menyayangi tradisi
yang berlaku. Mereka cocok menjadi administrator, manajer keuangan, pengawas.5
5 Journal . “Using the myers-briggs type indicator® in career counseling”. R. Bryan Kennedy D. Ashley
Kennedy
ESFJ (Extroverted Feeling With Sensing)
Perasaan ekstrovert dengan mengindra. Tipe ini adalah orang yang menyukai harmoni.
Mereka bisa tegas untuk menyatakan “ya atau tidak”. Mereka cenderung tergantung, terutama
pada orang tua dan kemudian pada keluarga. Mereka mengabdikan hati dan hidupnya untuk
orang lain. Mereka cocok menjadi pekerja kesehatan, manajer kantor, sekertaris dan guru.
ENFJ (Extroverted Feeling With Intuting)
Perasaan extrovert lewat intuisi. Tipe orang ini adalah suka bicara. Mereka cenderung
melebih-lebihkan kawannya. Mereka akan menjadi orang tua yang baik, tapi cenderung
membiarkan diri mereka dimanfaatkan oleh orang lain. Mereka cocok menjadi Ahli terapi, guru,
eksekutif perusahaan dan sales.
ENTJ (Extroverted Thinking With Intuiting)
Berfikir ekstrovert dengan intuisi. Tipe kepribadian ini adalah orang yang suka dirumah
dan berkumpul dengan keluarga. Mereka menyenangi organisasi dan struktur yang tertata. Tipe
ini sangat cocok untuk eksekutif perusahaan dan administrator.
Myers-Briggs Type Indicator dapat digunakan bagi pendidik untuk memahami
banyaknya ragam cara yang dapat dilakukan peserta didik untuk merasakan dan menilai
informasi saat belajar.
Di dalam kajian Myers-Briggs Type Indicator, bahwasanya :
“Psychometrics and personality tests can be hugely beneficial in improving knowledge of self
and other people, example : motivations, strengths, weaknesses, preferred thinking and working
styles, and also strengths and preferred styles for communications, learning, management, being
managed, and team-working”
Akan tetapi menurut Jung, sebagian dari kita extraverts (McGuire dan Hull 1997: 213).
Ekstravert adalah preferensi Jung. Semua kutipan adalah untuk McGuire dan Hull, bahwasanya
mereka lebih dipengaruhi oleh lingkungan mereka daripada niat mereka sendiri. ekstravert
adalah orang yang pergi oleh pengaruh dunia luar , misalnya masyarakat atau rasa persepsi.
Namun hasil-haisl MBTI Myers-Briggs Type Indicator, tidak seperti hasil dari inventori
kepribadian lainnya, terutama dimaksudkan untuk digunakan oleh responden dan disajikan
dalam cara yang tidak menilai. Dua dari premis paling dasar yang digunakan dalam menaksirkan
hasil-hasil MBTI adalah (a) bahwa semua tipe itu berharga dan niscaya serta memiliki kekuatan
dan kelemahan tertentu, (b) bahwa individu lebih terampil dalam fungsi , proses, dan sikap yang
mereka sukai. Ciri-ciri itu telah meningkatkan popularitas MBTI dan aplikasinya untuk berbagai
maksud, termasuk bimbingan karir, konseling, dan selektif tim serta pengembangan tim.
C. Manfaat MBTI
1. Bimbingan Konseling
MBTI sangat berguna di dunia pendidikan dan pengembangan karir. MBTI bisa digunakan
sebagai panduan untuk memilih jurusan kuliah sampai dengan profesi yang cocok dengan
kepribadian.
2. Pengembangan Diri
Dengan MBTI kita bisa memahami kelebihan (Strength) diri kita sekaligus kelemahan
(Weakness) yang ada pada diri sendiri. Kita bisa lebih fokus mengembangkan kelebihan kita
sekaligus mencari cara memperbaiki sisi negatif kita.
Memahami Orang Lain Dengan Lebih Baik.
MBTI membantu memperbaiki hubungan dan cara pandang kita terhadap orang lain. Kita
bisa lebih memahami dan menerima perbedaan. Tidak semua orang berfikir, bersikap dan
berperilaku seperti cara kita berprilaku. Jadi terimalah perbedaan yang ada.
D. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
Individu lebih mudah dipahami melalui tes kepribadian karena hanya ada 2 pilihan alternatif
yaitu “Ya atau Tidak”. Dengan metode ENFJ dalam MBTI memudahkan individu untuk
menyesuaikan pribadinya dengan pekerjaan yang di sukainya. Individu menggunakan minat,
bakat, kemampuan, dan niat dalam dirinya untuk memilih karir yang sesuai dengan
kepribadiannya tanpa ada paksaan dari luar.
Tujuan dari MBTI dibuat untuk mempelajari tipe kepribadian berdasarkan teori Jung.
Individu mencoba menggunakan logika dan kekuatan analisa untuk mengambil keputusan
karirnya berdasarkan fakta yang ada dilingkungannya. Dengan MBTI kita bisa memahami
kelebihan (Strength) diri kita sekaligus kelemahan (Weakness) yang ada pada diri sendiri.6
Kekurangan:
6 Journal . “Using the myers-briggs type indicator® in career counseling”. R. Bryan Kennedy D. Ashley
Kennedy
Individu cenderung merasa terpaksa atas pilihannya, karena harus memilih salah satu pilihan
yang keduanya dianggap sesuai dengan kemampuannya. Individu lebih dituntut atas niat dalam
dirinya saja, tanpa melihat faktor pendukung lain yang berada dilingkungannya.
BAB III
KESIMPULAN
Dari penjabaran diatas, Myers-Briggs Type Indicator adalah instrumen kepribadian
dengan berbagai aplikasi. Tipe ini di manfaatkan dalam proses konseling karir. Di lain sisi MBTI
(Myers Briggs Theory Indicator) sangat berguna dalam dunia pendidikan dan pengembangan
karir. MBTI bisa digunakan sebagai panduan untuk memilih jurusan kuliah sampai dengan
profesi sampai pada pemilihan pekerjaan yang cocok dengan kepribadian. Dengan ini, kita dapat
mengembangkan diri menjadi lebih baik dan lebih mengenal diri kita sendiri. Dengan MBTI kita
bisa memahami kelebihan (Strength) diri kita sekaligus kelemahan (Weakness) yang ada pada
diri sendiri. Kita bisa lebih fokus mengembangkan kelebihan kita sekaligus mencari cara
memperbaiki sisi negatif kita. Dan dengan MBTI membantu memperbaiki hubungan dan cara
pandang kita terhadap orang lain. Kita bisa lebih memahami dan menerima perbedaan.
DAFTAR PUSTAKA
Mudrika, N. 2004. “Membaca Kepribadian Menggunakan Tes MBTI (Myer Briggs Type
Indicator)”. Psikologi UGM Press. Yogyakarta
Journal . “The Myers-Briggs Type Indicator and Career Obstacles”. Charles C. Healy Georffrey
A. Woodward
Journal . “Using the myers-briggs type indicator® in career counseling”. R. Bryan Kennedy
D. Ashley Kennedy
MAKALAH
TEORI DONALD E. SUPER
DISUSUN OLEH
Kelompok IX :
1. Adinda Febi Aulia 1911080244
2. Bagus Fajarudin 1911080040
3. Putri Ogdalina 1911080241
Mata Kuliah : Bimbingan dan Konseling Karir
Dosen : Belardo Farjantoky, M.Pd
KELAS A
PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TERBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
TAHUN 2019/2020
1
Kata Pengantar
Assalamualaikum wr.wb.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi kami kekuatan dan petunjuk untuk
menyelesaikan tugas ini. Tanpa pertolongan-Nya kami tidak akan dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik.
Makalah ini memuat tentang “Teori Donald E Super”, tema yang diambil
berdasarkan pilihan dosen kami untuk kami pelajari lebih dalam. Butuh waktu yang sangat
panjang untuk mendalami materi ini sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik dan tepat waktu.
Kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen
pembimbing. Semoga makalah yang kami buat ini dapat dinilai dengan baik dan dihargai
oleh pembaca. Meski makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, kami sebagai
penyusun makalah ini mohon untuk kritik dan sarannya. Terima kasih.
Kotabumi, 20 Oktober 2020
Penyusun
2
Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................................................................................2
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................................4
B. Rumusan Masalah............................. .....................................................................4
C. Tujuan.................................................. ..................................................................4
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Teori Perkembangan Karier Donald E. Super.......................................................5
B. Tahapan Perkembangan Karier Donald E. Super................................................11
C. Status Dan Aplikasi Teori Perkembangan Karier...............................................15
BAB 3 PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................................18
Daftar Pustaka..................................................................................................................19
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Manusia adalah makhluk yang oaling sempurna dan setiap manusia itu mempunyai
potensi yang besar, oleh karena itu manusia bisa melakukan banyak hal meskipun sering
berjalan di temppat jika tanpa ada yang mengarahkan dan membantu individu, daam hal ini
bimbingan karir sangat diperlukan untuk mengarahkan dan membantu individu untuk
menemukan potensi yang ia miliki. Dalam pelayanan bimbingan dan konseling banyak
masalah konseling yang salah satunya berkaitan dengan masalah karir, yang mana karir ini
dijalankan seorang individu selama rentang hidupnya.
Donald E Super merupakan pandangan rentang kehidupan yang paling banyak dikenal
dari pengembangan kariri lainnya. Teori perkembangan mengenai perubahan yang orang
pergi melalui saat jatuh tempo, dan mereka menekankan pendekatan rentang hidup dengan
pilihan karir dan adaptasi. Teori ini biasanya di bagi dalam kehidupan kerja yang bertahap,
dan mereka mencoba untuk menentukan perilaku kejuruan yang khas pada setiap tahap.
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan tentang Teori Karier Donald E. Super!
2. Jelaskan tentang Tahapan Perkembangan Karier Donald E. Super!
3. Jelaskan tentang Status Dan Aplikasi Teori Perkembangan Karier!
C. Tujuan Penulisan
1) Untuk memperluas wawasan
2) Untuk mengetahui dan memahami tentang teori Donald E. Super
4
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Teori Perkembangan Karier Donald E. Super
Petunjuk1 dasar teori ini adalah penelitian Super di bidang pengembangan karier
beberapa tahun setelah diluncurkannya buku pernyataan pertama teoretisnya. Super terdorong
ke dalam pernyataan pertama teoretisnya oleh upaya berteori dari Ginzberg dan rekan-
rekannya. Menurut Super teori Ginzberg memiliki kelemahan serius, salah satunya adalah
kegagalan untuk memperhitungkan manusia sangat signifikan terhadap informasi tentang
perkembangan pendidikan dan vokasional.
Donald E Super2 memberikan suatu pandangan bahwa perkembangan karir merupakan
suatu yang luas, karenna mencakup berbagai faktor, baik dalam dirinya sendiri maupun
faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan karir. Faktor dalam diri yaitu bisa
mencakup sifat-sifat kepribadiannya, intelektual dan diluar diri individu bisa faktor keluarga,
sosial serta budaya, tetapi titik berat nya berada pada faktor dalam diri individu itu sendiri.
Teori Donald E. Super ini lebih menekankan tentang self concept, unsur yang paling
mendasar dari teori Super ini ialah konsep diri atau gambaran diri sehubung dengan
pekerjaan yang akan di lakukannya dan dipegangnya. Gambaran diri ini merupakan suatu
dorongan internal untuk mengantarkan seseorang ke suatu bidang pekerjaan untuk mencapai
kesuksesan dan merasakan kepuasan tersendiri. Dengan gambaran ini maka individu bisa
mewujudkan atau mengekspresikan dirinya melalui suatu pekerjaan tertentu.
Berikut ini beberapa prinsip dasar dari teori Donald Super:
1. Setiap orang mempunyai potensi
2. Setiap orang mempunyai Konsep Dii (Self Concept)
1 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia di
https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
2Tatang Supriadi, “Teori Donald Super” (On-line), tersedia di
http://tatangsupriadi.blogspot.com/2013/04/makalah-teori-donald-super.html?m=1 (05 November
2020)
5
3. Pengembangan kariri adalah kehidupan panjang dan terdiri dari lima tahapan utama
kehidupan: Growth, Exploration, Establishment, Maintence and Disengagement
4. Ada lima tahapan berurutan. Seseorang melalui siklus dari masing-masing tahapan
ketika mereka mulai memasuki transisi karir
5. Seseorang memainkan peran yang berbeda sesuai dengan kehidupannya termasuk
peran sebagai pekerja.
Dalam sebuah ekstensi yang lebih baru dari teorinya, Super (1963) mengelaborasi konsep
kematangan vokasional. Kematangan vokasional memungkinkan pengamat untuk menilai
laju dan tingkat perkembangan individu sehubungan dengan hal karier. Hal ini bisa diduga
bahwa perilaku vokasional yang matang akan menganggap bentuk yang berbeda tergantung
pada konteks yang diberikan oleh tahap kehidupan individu. Usia vokasional empat belas
tahun yang matang akan peduli dengan penilaian minat pribadi dan kemampuan untuk
mencapai tujuan menentukan rencana pendidikan, sementara usia vokasional empat puluh
lima tahun yang matang akan peduli dengan cara-cara untuk mempertahankan status karier
dalam menghadapi persaingan dari para pekerja muda.
Hal penting lain3 dalam teori Super adalah perbedaan antara psikologi pekerjaan dan
psikologi karier. Psikologi pekerjaan terutama didasarkan pada psikologi diferensial dan pada
asumsi bahwa kecocokan individu dan karier bertahan selamanya. Di sisi lain, psikologi
karier, yang berasal dari psikologi perkembangan, bertumpu pada asumsi bahwa
perkembangan karier sesuai dengan prinsip-prinsip umum perkembangan manusia, yang pada
dasarnya adalah evolusi. Psikologi vokasional adalah jangka waktu memilih untuk
menyatakan bidang pekerjaan yang dihasilkan dua aliran pemikiran tersebut. Karena metode
dan alat konseling vokasional saat ini lebih cocok untuk mempelajari psikologi pekerjaan
dibanding psikologi karier, Super menegaskan bahwa yang terakhir telah diabaikan dalam
mendukung sebelumnya.
Kerangka teori Super didasarkan pada tiga bidang psikologis. Yang pertama adalah
bidang psikologi diferensial. Penelitian yang berkaitan dengan psikologi diferensial telah
3 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia di
https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
6
mencapai kematangan dan telah memberikan kontribusi banyak untuk psikologi vokasional.
Berdasarkan data yang ada, Super menarik asumsi bahwa setiap orang memiliki potensi
tertentu untuk sukses dan kepuasan dalam berbagai pengaturan pekerjaan. Pengaruh
psikologis kedua pada teori Super ini berasal dari teori konsep diri. Super mengusulkan agar
vokasional mengembangkan konsep diri berdasarkan pengamatan anak-anak dan identifikasi
dengan orang dewasa yang terlibat dalam pekerjaan. Pengaruh ketiga adalah prinsip-prinsip
psikologi perkembangan. Konsep tahapan kehidupan yang disarankan oleh Buehler dalam
Osipow (1983) menyebabkan Super mengusulkan bahwa modus penyesuaian seseorang pada
satu periode kehidupan mungkin akan prediktif, digunakan untuk menyesuaikan di lain
waktu.
Konsep4 perkembangan juga menyebabkan gagasan Super tentang pola karier. Dari karya
Miller dan Formulir (1951) dan Davidson dan Anderson (1937), dalam Osipow (1983) Super
memperluas konsep pola karier. Perilaku karier orang mengikuti pola-pola umum yang yang
teratur dan dapat diprediksi. Pola-pola ini merupakan hasil akumulasi dari berbagai aspek
psikologis, faktor fisik, situasional, dan sosial. Konsep pola karier menunjukkan bahwa siklus
kehidupan membebankan tugas vokasional yang berbeda pada orang di berbagai waktu
kehidupan. Perhatian terhadap pilihan karier sebagai keputusan yang terjadi pada masa
remaja hanya mencerminkan segmen perilaku vokasional penting dalam kehidupan individu.
Untuk memahami sepenuhnya kehidupan vokasional seseorang, seluruh siklus harus
diperhatikan. Super juga mencatat peran yang berbeda dari lingkungan dan faktor keturunan
dalam pematangan dan perhatian terhadap aspek-aspek lingkungan yang dapat dimanipulasi
untuk memfasilitasi kematangan vokasional.
Teori Super dinyatakan dalam bentuk proposisi. Pada mulanya, tahun 1953, Super
menghasilkan sepuluh (10) proposisi. Kemudian tahun 1957, bersama Bachrach
dikembangkan menjadi dua belas (12) dan tahun 1990 dikembangkan lagi menjadi empat
belas proposisi yaitu:
4 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia di
https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
7
1. Setiap5 orang memiliki perbedaan individual dalam kemampuan, kepribadian,
kebutuhan, nilai, minat, sifat, dan konsep diri. Berbagai karakteristik pribadi sangat
bervariasi dalam setiap individu di antara individu. Walaupun kebanyakan dari kita
kurang lebih seperti orang lain dalam banyak sifat, keunikan setiap orang jelas dalam
kombinasi kekuatan dan kelemahan individual.
2. Berdasarkan karakteristik tersebut, setiap individu masing-masing memiliki
kecakapan untuk sejumlah pekerjaan. Berbagai kemampuan, karakteristik
kepribadian, dan sifat-sifat lainnya begitu luas sehingga setiap orang mempunyai
kemungkinan untuk berhasil dalam dalam banyak bidang pekerjaan. Penelitian di
bidang rehabilitasi telah menunjukkan meskipun individu penyandang cacat terdapat
sejumlah pekerjaan yang dapat dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan. Untuk
orang tanpa gangguan fisik atau emosional yang serius, terbentang luas kemungkinan
untuk berhasil dalam berbagai jenis pekerjaan.
3. Setiap pekerjaan membutuhkan pola karakteristik kemampuan dan kepribadian yang
cukup luas sehingga bagi setiap orang tersedia beragam pekerjaan dan setiap
pekerjaan terbuka bagi bermacam-macam orang. Untuk setiap kemampuan atau sifat
yang diperlukan dalam kinerja suatu pekerjaan tertentu, orang mungkin berharap
untuk menemukan kuantitas modal yang paling sesuai dengan sifat pekerjaan.
4. Pilihan vokasional dan kompetensi, situasi-situasi di mana orang hidup dan bekerja,
serta konsep diri akan mengalami perubahan karena waktu dan pengalaman, karena
itu membuat pilihan pekerjaan dan penyesuaiannya merupakan suatu proses yang
kontinyu. Seseorang melatih kecakapan-kecakapan tertentu yang dimilikinya atau
mengembangkan ke tingkat yang lebih tinggi memerlukan penyaluran dalam
pekerjaan yang dapat memberikan kesempatan untuk mempergunakan kecakapannya
yang telah berkembang.
5. Proses perkembangan itu dapat kita simpulkan dalam serangkaian tahap-tahap
perkembangan kehidupan manusia, yaitu pertumbuhan, eksplorasi, pembentukan,
pemeliharaan, dan kemunduran, dan dibagi lagi menjadi: (a) fantasi , fase tentatif,
5 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia di
https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
8
dan realistis dari tahap eksplorasi dan (b) fase uji coba (trial) dan fase stabil (stable)
dari tahap pembentukan.
6. Pola karier seseorang ditentukan oleh tingkat sosial ekonomi orangtua, kemampuan
mental, pendidikan, keterampilan, karakteristik kepribadian (kebutuhan, nilai,
kepentingan , sifat, dan konsep diri), dan kematangan karier serta kesempatan yang
terbuka bagi dirinya.
Semua faktor6 di belakang pengalaman individu berkontribusi terhadap sikap dan
perilaku. Beberapa faktor jelas berkontribusi lebih signifikan daripada yang lain.
1. Perkembangan orang dalam melewati tahap-tahap dapat dipandu dengan bantuan
untuk pematangan kemampuan dan minat dan dengan bantuan untuk melakukan uji
realitas (reality-testing) serta untuk mengembangkan konsep diri (self-concept).
Individu dapat dibantu untuk bergerak ke arah pilihan pekerjaan yang memuaskan
dalam dua cara: (a) dengan membantu seseorang untuk mengembangkan kemampuan
dan minatnya; (b) dengan membantu seseorang untuk memperoleh pemahaman
tentang kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga dapat membuat pilihan yang
memuaskan.
2. Proses perkembangan karier pada dasarnya adalah pengembangan dan implementasi
konsep diri. Konsep diri adalah perpaduan antara kemampuan dasar yang diwariskan,
kesempatan untuk memainkan berbagai peranan dirinya, dan evaluasi atau penilaian
orang lain terhadap usaha memainkan peranan tersebut. Selama masa pendidikan,
sebelum seseorang benar-benar memasuki dunia kerja, seseorang sudah
membayangkan jabatan atau peranan yang kelak akan dilakukan dan ini merupakan
bagian daripada perkembangan konsep dirinya.
3. Proses kompromi antara faktor individu dan sosial, antara konsep diri dan realitas,
adalah permainan peranan dalam berbagai latar dan keadaan (pribadi, kelompok,
pergaulan, hubungan kerja). Karena dunia kerja sedemikian kompleks sifatnya dan
persyaratan masuk demikian sukarnya, maka kecil kemungkinannya untuk mencoba
6 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia di
https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
9
benar-benar berpartisipasi dalam situasi pekerjaan yang nyata/realistis. Ini menuntut
perlunya pencocokan konsep diri dan tuntutan terhadap pekerjaan yang tawarkan
dalam situasi yang pada dasarnya abstrak.
4. Kepuasan kerja dan kepuasan hidup tergantung pada sejauh mana individu dapat
menyalurkan kemampuan, nilai, minat, karakter kepribadian, dan konsep dirinya.
Selain itu, bergantung usaha pada jenis pekerjaan, situasi kerja, dan cara hidup di
mana individu bisa memainkan jenis peran pertumbuhan, dan eksplorasi pengalaman.
Individu yang menemukan kenikmatan dan kepuasan melakukannya karena posisi
yang dimiliki memungkinkan orang memainkan peranan yang dinilai cocok dan
patut.
5. Kesuksesan dalam menghadapi tuntutan lingkungan dalam setiap tahap kehidupan
karir diberikan tergantung pada kesiapan individu untuk mengatasi tuntutan tersebut
(kematangan karir). Super mengidentifikasi kematangan karir sebagai kelompok
karakteristik fisik, psikologis, dan sosial yang merupakan kesiapan individu dan
kemampuan untuk menghadapi dan menangani masalah perkembangan dan
tantangan.
6. Kematangan karier adalah konstruksi hipotetis. Penelitian awal Super (Studi Pola
Karier) membahas konsep diri yang terkait dengan karier atau masalah
perkembangan vokasional. Super dan rekan kerja mencari cara untuk mendefinisikan
dan menilai konsep ini.
Dari upaya ini7 muncul Inventori Perkembangan Karier Super.
1. Tingkat kepuasan yang diperoleh dari pekerjaan itu selaras dengan penerapan konsep
diri.
Hubungan situasi kerja dengan peran individu harus dianggap dalam arti luas. Profesi
dan posisi manajerial yang lebih tinggi mungkin memberikan peluang terbesar,
seperti yang dilihat oleh kebanyakan orang, untuk kepuasan intrinsik yang berasal
dari pekerjaan itu sendiri. Tapi banyak individu mendapatkan kepuasan besar dari
7 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia di
https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
10
pekerjaan yang kelihatannya membosankan dan monoton. Hal ini memberikan
kesempatan untuk menjadi jenis orang yang diinginkan, melakukan hal-hal yang
ingin dilakukan, dan menganggap diri seperti yang dipikirkan .
2. Bekerja dan pekerjaan merupakan titik pusat organisasi kepribadian bagi kebanyakan
orang, sedangkan bagi segolongan orang lagi yang menjadi titik pusat adalah hal lain,
misalnya pengisian waktu luang dan kerumah tanggaan. Pada dasarnya, proposisi ini
mengatakan bahwa kebanyakan orang dewasa adalah cerminan dari pekerjaan dan
peran utama yang dilakukan.
B. Tahapan Perkembangan Karier Donald E. Super
Super mengusulkan gagasan8 bahwa orang berusaha untuk menerapkan konsep dirinya
dengan memilih untuk masuk pekerjaan dianggap yang paling mungkin untuk
memungkinkan ekspresi diri. Pilihan karier adalah soal mencocokkan (matching). Di dalam
irama hidup orang, terjadi perubahan-perubahan dan ini berpengaruh pada usahanya untuk
mewujudkan konsep diri itu. Teori perkembangan menerima teori matching (teori konsep
diri), tetapi memandang bahwa pilihan kerja itu bukan peristiwa yang sekali terjadi dalam
hidup seseorang (misalnya waktu tamat pendidikan dan mau meninggalkan sekolah). Orang
dan situasi lingkungannya berkembang, dan keputusan karier itu merupakan rangkaian yang
tersusun atas keputusan yang kecil-kecil.
1. Tahap Perkembangan Karier
a. Tahap Pertumbuhan (Growth): 0 – 14 tahun
Adanya pertumbuhan fisik dan psikologis. Pada tahap ini individu mulai membentuk
sikap dan mekanisme tingkah laku yang kemudian akan menjadi penting dalam konsep
dirinya. Bersamaan dengan itu, pengalaman memberikan latar belakang pengetahuan tentang
dunia kerja yang akhirnya digunakan dalam pilihan pekerjaan mulai yang tentatif sampai
dengan final.
8 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia di
https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
11
b. Tahap Eksplorasi (Exploratory): 15 – 24 tahun
Dimulai sejak individu menyadari bahwa pekerjaan merupakan suatu aspek dari
kehidupan manusia. Pada awal masa ini atau masa fantasi, individu menyatakan pilihan
pekerjaan sering kali tidak realistis dan sering erat kaitannya dengan kehidupan
permainannya.
c. Tahap Pembentukan (Establishment): 25 – 44 tahun
Berkaitan9 dengan pengalaman seseorang pada saat mulai bekerja. Pada masa ini individu
dengan cara mencoba-coba ingin membuktikan apakah pilihan dan keputusan pekerjaan yang
dibuat pada masa eksplorasi benar atau tidak. Sebagian masa ini adalah masa try-out.
Individu mungkin menerima pekerjaan dengan perasaan pasti bahwa ia akan mengganti
pekerjaan jika merasa tidak cocok. Apabila ternyata individu mendapat pengalaman yang
positif atau keuntungan dari suatu pekerjaan, pilihannya menjadi mantap, dan dia akan
memasukkan pilihan pekerjaan itu sebagai aspek dari konsep dirinya serta kesempatan
terbaik untuk mendapatkan kepuasan kerja.
d. Tahap Pemeliharaan (Maintenance): 45 – 64 tahun
Individu berusaha untuk meneruskan atau memelihara situasi pekerjaan. Pekerjaan yang
dilakukan dan konsep diri (self-concept) mempunyai hubungan yang erat. Keduanya terjalin
oleh proses perubahan dan penyesuaian yang kontinyu. Pada intinya individu berkepentingan
untuk melanjutkan aspek-aspek pekerjaan yang memberikan kepuasan, dan merubah atau
memperbaiki aspek-aspek pekerjaan yang tidak menyenangkan, tetapi tidak sampai individu
itu meninggalkan pekerjaan tersebut untuk berganti dengan pekerjaan yang lain.
e. Tahap Kemunduran (Decline): di atas 65 tahun
Tahap menjelang berhenti bekerja (preretirement). Pada tahap ini perhatian individu
dipusatkan pada usaha bagaimana hasil karyanya dapat memenuhi persyaratan out-put atau
9 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia di
https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
12
hasil yang minimal sekalipun. Individu lebih memperhatikan usaha mempertahankan prestasi
kerja daripada upaya meningkatkan prestasi kerjanya.
Kelima tahap ini dipandang sebagai acuan bagi munculnya sikap-sikap dan perilaku yang
menyangkut keterlibatan dalam suatu jabatan, yang tampak dalam tugas-tugas perkembangan
vokasional (vocational developmental tasks).
2. Tugas Perkembangan Vokasional
Menurut Super dalam Osipow (1983) tugas perkembangan vokasional meliputi:
a. Kristalisasi (Crystallization): 14 – 18 tahun
Kristalisasi10 dari preferensi vokasional mengharuskan individu untuk merumuskan ide-
ide tentang pekerjaan yang sesuai untuk dirinya sendiri. Hal ini juga mensyaratkan
perkembangan pekerjaan dan konsep diri yang akan membantu memediasi pilihan vokasional
yang bersifat sementara individu dengan cara pengambilan keputusan pendidikan yang
relevan. Sementara tugas kristalisasi dapat terjadi pada semua usia, demikian juga semua
tugas perkembangan vokasional, paling biasanya terjadi selama 14 – 18 tahun.
b. Spesifikasi (Specification): 18 – 21 tahun
Spesifikasi dari preferensi vokasional. Di sini, individu diharuskan untuk mempersempit
arah karier umum menjadi satu tertentu dan mengambil langkah yang diperlukan untuk
melaksanakan keputusan tersebut.
c. Pelaksanaan (Implementation): 21 – 25 tahun
Tugas vokasional ketiga adalah pelaksanaan preferensi vokasional. Tugas ini
mengharuskan individu untuk menyelesaikan beberapa pelatihan dan mulai bekerja yang
relevan. Yang dibutuhkan sikap dan perilaku untuk panggilan tugas, pengakuan individu akan
kebutuhan berguna untuk merencanakan pelaksanaan preferensi dan pelaksanaan rencana ini.
d. Stabilisasi (Stabilization): 25 – 35 tahun
10 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia
di https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
13
Stabilisasi adalah tugas perkembangan karier yang keempat. Tugas ini diwakili oleh
perilaku menetap dalam bidang pekerjaan dan penggunaan bakat seseorang sedemikian rupa
untuk menunjukkan kesesuaian keputusan karier buat sebelumnya. Hal ini bisa diduga bahwa
perubahan posisi individu selama periode stabilisasi ada tapi jarang perubahan pekerjaan.
Sikap yang diperlukan dan perilaku sangat serupa dengan tugas-tugas pelaksanaan dan
stabilisasi.
Adapun menurut Super dalam Munandir11 (1996) tugas perkembangan vokasional
meliputi:
1. Preferensi pekerjaan (14 – 18 tahun)
2. Spesifikasi preferensi (18 – 21 tahun)
3. Implementasi preferensi (21 – 25 tahun)
4. Stabilisasi dalam suatu pekerjaan (25 – 35 tahun)
5. Konsolidasi status dan kemajuan (masa akhir usia 30-an dan usia 40-an).
Berkaitan dengan tugas-tugas perkembangan karier, Super mengembangkan konsep
kematangan vokasional (career maturity; vocational maturity) yang menunjuk pada
keberhasilan individu menyelesaikan semua tugas perkembangan vokasional yang khas bagi
tahap perkembangan tertentu. Indikasi relevan bagi kematangan vokasional adalah misalnya
kemampuan untuk membuat rencana, kerelaan untuk memikul tanggung jawab, serta
kesadaran akan segala faktor internal dan eksternal yang harus dipertimbangkan dalam
membuat pilihan jabatan atau memantapkan diri dalam suatu jabatan. Beraneka indikasi ini
dapat dijabarkan lebih lanjut pada rnasing-masing tahap perkembangan vokasional, lebih-
lebih selama masa remaja dan masa dewasa muda. Berkenaan dalam rangka meneliti dan
menilai kematangan vokasional telah dikembangkan alat tes yang dikenal dengan
nama Career Development Inventory, Career Maturity Test, dan Vocational Maturity Test.
Konsep kematangan 12karir yang dikembangkan oleh Super itu mempunyai implikasi
yang besar bagi program pendidikan karir dan konseling karir. Fase-fase kematangan karir
11 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia
di https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
14
merupakan titik dimana kita dapat mengidentifikasi dan mengakses sikap dan kompetensi
yang terkait dengan pertumbuhan karir yang efektif. Lebih jauh, gambaran tentang sikap dan
kompetensi yang diharapkan dicapai dalam setiap tahap itu memungkinkan kita menentukan
tujuan instruksional dan konseling yang dirancang untuk membantu perkembangan
kematangan karir.
C. Status Dan Aplikasi Teori Perkembangan Karier
1. Status Teori
Pada saat kematiannya13 pada tahun 1994, Super telah menulis hampir 200 artikel, buku,
bab buku, monograf, dan publikasi lainnya. Murid-muridnya dan lain-lain juga telah
memberikan kontribusi puluhan, jika bukan ratusan, publikasi terhadap literatur profesional,
semua distimulasi oleh teorinya. Menurut pengakuannya, teori Super tidak dibangun dengan
baik karena berbagai segmen tidak mengukuhkan bersama-sama. Ini mungkin adalah alasan
bahwa banyak studi penelitian dirangsang fokus pada beberapa konstruksi (misalnya,
kematangan karier) yang terdapat dalam teori tetapi bertentangan dengan pengujian asumsi
secara langsung.
Crites (1981) membandingkan pendekatan untuk konseling karier dari perspektif teoritis
yang berbeda, menjelaskan langkah-langkah yang terlibat dalam konseling perkembangan
karier. Tahap diagnostik adalah fase penilaian yang mencoba untuk menangani tiga bidang
perilaku: masalah, orang, dan prognosis. Pengujian berbagai jenis dan persediaan dari
berbagai jenis akan sangat diandalkan untuk menghasilkan data untuk tahap diagnostik.
Salah satu ciri teori Super adalah aplikasi kepedulian untuk konseling tentang masalah
pekerjaan dan pribadi. Super beralasan bahwa meskipun konsep diri cenderung menjadi
fungsi dari pengaruh genetik pada faktor fisik, seperti struktur kelenjar, dan faktor psikologis,
seperti bakat, ia beroperasi dalam kombinasi dengan variabel lingkungan, seperti kondisi
sosial dan ekonomi. Dengan demikian, suatu bagian tertentu dari konsep diri terbuka
terhadap intervensi luar. Intervensi seperti ini mungkin yang paling efektif dalam membentuk
konsep diri selama masa remaja awal, karena konsep tumbuh lebih stabil selama masa remaja
12 Tatang Supriadi, “Teori Donald Super” (On-line), tersedia di
http://tatangsupriadi.blogspot.com/2013/04/makalah-teori-donald-super.html?m=1 (05 November
2020)
13 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia
di https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
15
dan dewasa. Konselor, dengan demikian, memiliki akses ke anak-anak selama tahun
perkembangan terbesar dari konsep diri.
Teori perkembangan karier Super memiliki beberapa keuntungan yaitu: (a)
mempertimbangkan bahwa individu berubah dari waktu ke waktu; (b) membantu siswa
memperjelas konsep diri; (c) kerangka yang jelas tentang pemahaman berbagai tahap
perkembangan karier.
2. Aplikasi Teori Perkembanga Karier dalam Bimbingan dan Konseling
Bimbingan karier 14merupakan salah satu layanan bimbingan yang berusaha memberikan
bantuan kepada peserta didik untuk memecahkan masalah penyesuaian diri dan pemecahan
masalah karier yang dihadapi. Dalam program bimbingan dan konseling komprehensif,
bimbingan karier terdapat dalam perencanaan individual yaitu layanan yang diberikan
konselor untuk membantu peserta didik dalam mempersiapkan diri memasuki masyarakat
yang lebih kompleks.
Teori Super (1990) memiliki sejumlah aplikasi. Sebagai contoh, telah digunakan sebagai
kerangka kerja untuk program perkembangan karier untuk anak-anak dan remaja.
Pertumbuhan adalah tahap perkembangan untuk sekolah menengah dan dipecah menjadi rasa
ingin tahu, fantasi, minat, dan kapasitas (berfokus pada kemampuan). Tahap eksplorasi
dimulai pada sekitar usia 14 dan berlanjut sampai usia 18, pada saat pilihan yang mengkristal.
Tahap ini jelas perkiraan, tetapi mereka dapat berguna saat merancang program
pengembangan karier.
Teori ini juga dapat 15digunakan sebagai dasar untuk konseling karier. Tujuan dari proses
konseling karier akan menjadi perkembangan kematangan karier, yang dapat dipecah menjadi
beberapa komponen yang diukur oleh Inventori Pengembangan Karier (CDI) (Super,
Thompson, Jordaan, & Myers, 1984). Ini adalah:
1. Perencanaan karier (CP). Kematangan karier individu secara aktif terlibat dalam
proses, perencanaan dan menganggap diri mereka menjadi begitu terlibat. Skala
14 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia
di https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
15 Bambang Dibyo Wiyono, “Teori Perkembangan Karier Donald E.Super” (On-line), tersedia
di https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-e-super/ (05
November 2020)
16
perencanaan karier adalah skala yang efektif yang mengungkapkan bagaimana orang
menganggap diri mereka dalam kaitannya dengan proses perencanaan.
2. Eksplorasi karier (CE). Kematangan individu berhubungan dengan kesediaan klien
untuk terlibat dalam karier eksplorasi, yaitu kesediaan mereka untuk menggunakan
bahan. Skala ini dikombinasikan dengan skala CP untuk menghasilkan sikap
pengembangan karier (CDA) skala.
3. Pengambilan keputusan (DM). Kematangan karier individu mengetahui bagaimana
membuat keputusan dan memiliki keyakinan pada kemampuan untuk melakukannya.
4. Informasi dunia kerja. Komponen yang paling jelas dari skala ini melibatkan
informasi yang akurat memiliki tentang pekerjaan. Super percaya bahwa para
pengambil keputusan harus memiliki beberapa pengetahuan tentang waktu,
perkembangan berbicara, di mana orang harus memperoleh informasi penting tentang
pekerjaan.
5. Pengetahuan tentang pekerjaan yang disukai (PB). Setelah, CDI, 20 orang memilih
pekerjaan dan menjawab pertanyaan tentang pekerjaan dan kualifikasi yang
diperlukan untuk memasukkan pekerjaan tertentu.
6. Orientasi karier (COT). COT adalah skor total pada CDI, dengan pengecualian dari
PO. Dalam arti ini dapat dianggap sebagai ukuran global kematangan karier.
17
BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Donald E Super memberikan suatu pandangan bahwa perkembangan karir merupakan
suatu yang luas, karenna mencakup berbagai faktor, baik dalam dirinya sendiri maupun
faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan karir. Faktor dalam diri yaitu bisa
mencakup sifat-sifat kepribadiannya, intelektual dan diluar diri individu bisa faktor keluarga,
sosial serta budaya, tetapi titik berat nya berada pada faktor dalam diri individu itu sendiri.
Tahap Perkembangan Karier yaitu, Tahap Pertumbuhan (Growth): 0 – 14 tahun, Tahap
Eksplorasi (Exploratory): 15 – 24 tahun, Tahap Pembentukan (Establishment): 25 – 44 tahun,
Tahap Pemeliharaan (Maintenance): 45 – 64 tahun, Tahap Kemunduran (Decline): di atas 65
tahun. Kemudian Tugas Perkembangan Vokasional menurut Super dalam Osipow meliputi:
Kristalisasi (Crystallization): 14 – 18 tahun, Spesifikasi (Specification): 18 – 21 tahun,
Pelaksanaan (Implementation): 21 – 25 tahun, Stabilisasi (Stabilization): 25 – 35 tahun Super
dalam Munandir tugas perkembangan vokasional meliputi: Preferensi pekerjaan (14 – 18
tahun), Spesifikasi preferensi (18 – 21 tahun), Implementasi preferensi (21 – 25 tahun) ,
Stabilisasi dalam suatu pekerjaan (25 – 35 tahun), dan Konsolidasi status dan kemajuan
(masa akhir usia 30-an dan usia 40-an).
Kemudian Status Dan Aplikasi Teori Perkembangan Karier ada hal yang membahas
tentang Status Teori dan Aplikasi Teori Perkembanga Karier dalam Bimbingan dan
Konseling.
Daftar Pustaka
18
Bambang Dibyo Wiyono, Teori Perkembangan Karier Donald E.Super (On-line), tersedia di
https://bambangdibyo.wordpress.com/2013/04/10/teori-perkembangan-karier-donald-
e-super/ (05 November 2020)
Tatang Supriadi, Teori Donald Super (On-line), tersedia di
http://tatangsupriadi.blogspot.com/2013/04/makalah-teori-donald-super.html?m=1 (05
November 2020)
19
MAKALAH BIMBINGAN KONSELING KARIR
PEMAHAMAN DIRI : POTENSI DIRI,ARAH PILIH KARIR, TEKNIK PENGUKURAN POTENSI DIRI DAN
MENGUKUR KEPUTUSAN KARIR
Disusun Oleh
Kelompok 10
Adinda Ratna Liana (1911080002)
Aria Wiradinata (1611080301)
Elfania Vanessa (1911080078)
Kelas A
Semester 3
Dosen Pengampu : Belardo Farjan toky , M.Pd
BIMBINGAN KONSELING PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur Kehadirat tuhan yang maha esa karena telah memberikan kesehatan dan
kesempatan bagi kami sebagai1 penulis untuk menyelesaikan tugas berupa makalah ini. Atas
rahmat dan hidayahnya lah kami sebagai penulis mampu menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul “Pemahaman diri : Potensi diri,arah pilih karir, Teknik pengukuran karir dan mengukur
keputusan karir“ ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah “Bimbingan dan Konseling
Karier” yang diampu oleh bapak Belardo Farjan Toky”,M.Pd . Selain itu kami sebagai penulis
berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca.
Kami sebagai penulis mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar – besarnya kepada
bapak Belardo Farjan Toky , M.Pd. Selaku dosen Mata Kuliah Bimbingan Dan Konseling Karier
yang telah memberikan tugas kepada kami selaku penulis dan kami selaku penulis juga
mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan
makalah ini hingga selesai tepat waktu.
Kami selaku penulis menyadari najwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna . Oleh
karena itu, kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna
kesempurnaan makalah ini.
Bandar Lampung,06 November 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………1
DAFTAR ISI ……………………………………………………2
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………3
A. Latar Belakang Masalah ……………………………………3
B. Rumusan Masalah …………………………………………3
C. Tujuan Masalah ……………………………………………3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Potensi Diri ………………………………….4
B. Arah Pilih Karier …………………………………………5
C. Teknik Pengukuran Potensi Diri …………………………6
D. Mengukuir Keputusan Karier …………………………….7
BAB III Kesimpulan
A. Penutup ……………………………………………………….8
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………9
\
BAB I PENDAHULiUAN
A. Latar Belakang
Bimbingan Dan Konseling adalah kegiatan yang hanya dilakukan oleh ahlinya untuk
membantu individu dalam mengatasi masalah atau membantu mereka dalam membentuk
pilihan baik itu pekerjaan,pendidikan maupun masalah pribadi. Bimbingan dan konseling
bukan hanya diberikan kepada individu melainkan juga dapat diberikan kepada
kelompok.Bimbingan dan konseling kini sangat dibutuhkan,terutama dikalangan sekolah.
Bimbingan dan konseling sangat membantu para guru dalam menangani siswa mereka,
bukan hanya siswa yang bermasalah ataupun kesulitan dalam belajar melainkan juga
membantu mereka dalam cara bersosialisasi yang baik serta prilaku baik antar sesame
Salah satu peran bimbingan dan konseling juga untuk membekali individu dengan
berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenali
diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar,anggota keluarga
dan masyarakat. Pemahaman yang diperoleh melalui layanan bimbingan dan konseling
digunakan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan kegiatan dan prestasi belajar,
mengembangkan cita – cita menyelenggarakan kehidupan sehari – hari dan mengambil
keputusan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemahaman diri siswa sebelum dilakukan nya layanan informasi?
2. Bagaimana pemahaman diri siswa sesudah dilakukan nya layanan informasi?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui diri siswa sebelum dilakukan layanan informasi
2. Untuk mengetahui pemahaman diri siswa sesudah layanan informasi
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Potensi Diri
Secara harfiah, kata potensi berasal dari bahasa inggris to potent yang berarti keras atau kuat.
Budianto (2004) mengartikan kata potensi berarti kemampuan,kekuatan daya baik yang belum
terwujud maupun yang sudah terwujud tetapi belum optimal. Dalam kamus bahasa Indonesia
dikemukakan bahwa potensi adalah kemampuan – keampuan atau kualitas – kualitas yang
dimiliki seseorang namun belum dipergunakan secara maksimal
Potensi diri adalah kemampuan, kekuatan yang terpendam pada diri setiap individu (pribadi) ,
baik yang belum terwujud maupun sudah terwujud tetapi belum sepenuhnya terlihat atau
dipergunakan secara maksimal terkadang membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui
potensi diri individu. Secara umum,potensi dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Kemampuan
dasar, seperti tingkat intelegensi, kemampuan abstraksi,logika dan daya tangkap , etos kerja
seperti ketekunan,ketelitian,efisiensi kerja dan daya tahan terhadap tekanan. Kepribadian, yaitu
pola menyeluruh semua kemampuan,perbuatan, serta kebiasaan seseorang, baik
jasmaniah,rohaniah,emosional maupun social yang ditata dalam cara khas dibawah aneka
pengaruh luar.
Menurut Howard Gardner, potensi yang terpenting adalah intelegensi, yaitu sebagai berikut :
intelegnsi linguistic, intelegensi yang menggunakan dan mengolah kata – kata, baik lisan
maupun tulisan, secara efektif. Intelegensi ini antara lain dimiliki oleh para sastrawan, editor, dan
jurnalis. Intelegensi matematik – logis,kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan
bilangan pada kepekaan mengenai bentuk dan benda secara tepat serta kemampuan menangkap
dunia visual secara cepat. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh para arsitek,decorator dan
pemburu.
Secara umum potensi diri yang ada pada setiap manusia dapat dibedakan menjadi 5 macam yaitu
1. Potensi fisik merupakan potensi manusia yang dapat diberdayakan sesuai fungsinya
untuk berbagai kepentingan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup. Misalnya mata
untuk melihat, kaki untuk berjalan, telinga untuk mendengar dan lain- lain
2. Potensi mental intelektual merupakan potensi kecerdasan yang ada pada otak manusia
(terutama otak sebelah kiri). Fungsi potensi tersebut adalah untuk merencanakan sesuatu,
menghitung dan menganalisis.
3. Potensi social emosional merupakan potensi kecerdasan yang ada pada otak manusia
(terutama otak sebelah kanan) fungsinya antara lain adalah untuk mengendalikan amarah
, bertanggung jawab, motivasi dan kesadaran diri.
4. Potensi mental spiritual merupakan potensi kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam
diri manusia yang berhubungan dengan jiwa sadar atau kerifan diluar ego. Secara umum
spiritual merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan keimanan dan akhlak mulia.
5. Potensi daya juang merupakan potensi kecerdasan manusia yang bertumpu pada bagian
dalam diri manusia yang berhubungan dengan keuletan,ketangguhan, dan daya juang
tinggi. Melalui potensi diri, seseorang mampu mengubah rintangan dan tantangan
menjadi peluang
Pentingnya mengenali potensi diri adalah langkah awal dan penting bagi keberhasilan hidup
seseorang . tanpa mengenali potensi diri seseorang mungkin akan menghadapi masalah seperti :
1. Tidak tahu bahwa dirinya berpotensi 2. Tidak tahu bahwa dirinya tidak berpotensi di bidang
tertentu tetapi berpotensi di bidang lainnya.
Manusia yang berhasil adalah manusia yang mampu mengelola dirinya sendiri (self regulation)
karena dia tahu bahwa dirinya berpotensi di bidangnya dan tau bagaimana cara mengembangkan
nya . orang yang tidak mengetahui potensi dirinya biasanya tidak akan mengamnbil keputusan
yang tepat. Cara yang paling efesien untuk mengenali potensi sejak awal yaitu berinteraksi
dengan orang tua disertai sikap keterbukan untuk menerima umpan balik dari orang lain. Krna
dalam proses berinteraksi itulah manusia dapat menemukan dirinya termasuk potensi yang
dimiliki melalui perasaan ,persepi,pendapat, dan sikap orang lain trhadap kita
Langkah berikutnya setelah kita menerima umpan balik dari orang lain adalah menyusun
kerangka analisis :
1. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki orang dapat mengetahui kekuatannya setelah ia
berbuat dengan sungguh – sungguh dan hasulnya mendapatkan apresiasi dari orang lain.
2. Menaksirkan dukungan (support), rintangan dan hambatan (barriers) dan lingkungan
yang mungki dapat menghalangi kita. Misalnya seseorang berbakat dalam melukis dan
akan tetapi masyarakatnya tidak menyukai lukisan nya bahkan mengharamkan. Sikap
masyarakat ini merupakan wujud tidak adanya dukungan dan bahkan menjadi rintangan.
3. Mencari solusi untuk mengatasi kelemahan dirinya, tiadanya dukungan dan bahkan
hambatan dari masyarakat.
B. Arah pilih karier
Menurut Ali (2013), membangun kesiapan siswa dari sejak SMK merupakan salah satu aspek
penentu terciptanya lulusan yang kompetitif di dalam maupun di luar negeri. Bimbingan karir
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal potensi diri dan mengetahui kesempatan
kerja yang tersedia di pasar tenaga kerja, sehingga siswa dapat mulai merencanakan karirnya.
Peningkatan kemampuan dalam mengambil keputusan karir yang merupakan bagian dari proses
perencanaan karir merupakan solusi yang akan mendukung siswa mencapai kesiapan kerja sesuai
dengan pilihan karir yang diambilnya, dengan demikian siswa dapat lebih kompetitif dalam
unjuk kerja.
Karir diperoleh melalui sebuah proses pengambilan keputusan yang terjadi disepanjang rentang
kehidupan seseorang dan menjadi bagian dari perkembangan dirinya. Istilah karir menurut
Winkel & Hastuti (2012) merujuk pada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini
sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta
mewarnai seluruh gaya hidup seseorang. Karir bukan hanya sekedar pekerjaan yang telah dijabat
seseorang, melainkan suatu pekerjaan atau jabatan yang benar-benar sesuai dan cocok dengan
potensi diri, sehingga seseorang tersebut merasa senang dengan pekerjaan yang dijabatnya dan
akan berusaha semaksimal mungkin meningkatkan prestasi serta mengembangkan potensi diri.
Berdasarkan tujuan bimbingan karir di SMK, siswa SMK dituntut untuk mulai merencanakan
masa depan (Supriatna & Budiman, 2009). Siswa pada tingkat SMK sudah lebih dekat dengan
masa penetapan pilihan pekerjaan atau masa pencarian pekerjaan (Prayitno & Amti, 2008).
Dengan demikian, siswa SMK perlu belajar memandang pekerjaan dengan lebih realistik dan
harus mulai memikirkan masa depan secara sungguhsungguh. Pemahaman tentang pekerjaan
akan memberikan informasi lebih banyak kepada siswa, sehingga dapat dijadikan dasar dalam
mengambil keputusan mengenai karir. Hanya saja, kondisi empiris menunjukkan bahwa masih
banyak siswa yang mengalami kebingungan dalam mengambil keputusan karir. Studi
pendahuluan pada bulan Februari 2015 melalui kegiatan wawancara dengan guru BK SMK
Negeri 4 Semarang diketahui bahwa kemampuan siswa dalam mengambil keputusan karir masih
kurang. Hal tersebut nampak jelas ketika guru BK melakukan pendampingan di kelas X dan
menanyakan tentang keputusan karir masa depan, siswa masih bingung dan belum tahu apa yang
terbaik untuk masa depannya. Berdasarkan data IKMS (Instrumen Kebutuhan dan Masalah
Siswa) yang telah guru BK susun untuk kelas X Teknik Gambar Bangunan 1 dan X Teknik
elektronika Industri 1, menunjukkan hasil dari 72 siswa terdapat 27 (19,44%) siswa memerlukan
pengenalan tentang pekerjaan dan 11 (7,92%) siswa belum tahu cara memilih pekerjaan. Hasil
tersebut mengindikasikan bahwa sebagian siswa belum memiliki kemampuan mengambil
keputusan karir, dimana bagian dari syarat pengambilan keputusan karir diantaranya adalah
pengetahuan tentang dunia kerja dan pemahaman tentang menentukan pilihan kari
Sumber dari informasi adalah data. Data diartikan sebagai segala fakta, angka, statistik yang
dikumpulkan, disimpan, diproses yang dari data-data tersebut dapat diambil kesimpulan. Adapun
informasi adalah data yang diolah, sehingga memiliki manfaat (Sutabri, 2012). Informasi dapat
juga diartikan sebagai data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan berarti bagi
penerimanya (Hutahaean, 2015). Adapun menurut Griffin dan Ebert (2006), informasi adalah
interpretasi data yang berarti dan berguna untuk membuat keputusan. Menurut Anton M.
Moeliono (1988), informasi adalah penerangan, keterangan, pemberitahuan, kabar atau berita.
Informasi juga merupakan keterangan atau bahan nyata yang dapat digunakan sebagai dasar
kajian analisis dan kesimpulan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa informasi adalah suatu data
yang telah didapatkan dari media yang yang diolah sebagai dasar untuk membuat sebuah
keputusan. Ketersediaan informasi merupakan hal penting bagi konselor untuk melengkapi ruang
layanan bimbingan dan konseling dengan bahan informasi yang selengkap mungkin dan yang
beraneka ragam. Bahan tersebut terutama informasi tentang pendidikan dan informasi tentang
pekerjaan. INDONESIAN JOURNAL OF EDUCATIONAL COUNSELING 2019, 3(3), 243-
252 246
Menurut Tyler (dalam Munandir, 1996, p. 191) bahan informasi karier sebaiknya memiliki ciri
akurat dan bersifat kebaruan (update). Keakuratan berkenaan dengan andal atau dapat dipercaya.
Informasi yang akurat tidak mengandung prasangka, bias dan sumber informasi berasal dari
sumber yang berwenang. Informasi yang dimuat hendaknya baru, jika tidak baru akan
menyesatkan, tidak ada gunanya dan memberikan informasi yang tidak mutakhir untuk
keperluan perencanaan karier.
Menurut Persons (dalam Winkel & Hastuti, 2006), ada tiga aspek yang harus dipenuhi dalam
membuat suatu perencanaan karier, yaitu:
1) Pengetahuan dan pemahaman diri sendiri, yaitu pengetahuan dan pemahaman akan bakat,
minat, kepribadian, potensi, prestasi akademik, ambisi, keterbatasa-keterbatasan dan
sumbersumber yang dimiliki;
2) Pengetahuan dan pemahaman dunia kerja, yaitu pengetahuan akan syarat-syarat dan kondisi-
kondisi yang dibutuhkan untuk akses dalam rugian, kompensasi, kesuatu pekerjaan, keuntungan
dan kesempatan dan prospek kerja diberbagai bidang dalam dunia kerja
3) Penalaran yang realistis akan hubungan pengetahuan dan pemahaman diri sendiri dengan
pengetahuan dan pemahaman dunia kerja, yaitu kemampuan untuk membuat suatu penalaran
realistis dalam suatu perencanaan atau memilih bidang kerja dan/ atau pendidikan kelanjutan
yang mempertimbangkan pengetahuan dan pemahaman diri yang dimiliki dengan pengetahuan
dan pemahaman dunia kerja yang tersedia.
C. Teknik Pengukuran Potensi Diri
Cara – cara untuk mengukur potensi diri di antara lain : Penilaian diri yang dimaksud dengan
penilaian diri ini adalah menilai diri sendiri . ada juga yang mengatakan intropeksi. Sebagian
orang mengatakan bahwa dengan cara ini penilaian yang dilakukan sangat subyektif ,karena
orang umum tidak mau melihat kelemahan – kelemahan yang dimilikinya. Tapi pendapat lain
mengatakan bahwa yang paling kenal diri anda adalah anda sendiri.
Pengukuran diri melalui feedback orang lain (umpan balik) merupakan komunikasi yang
ditujukan kepada seeorang yang akan memberikan informasi kepada orang yang bersangkutan,
bagaimana orang lain terkena dampak olehnya ,bagaimana kesan yang ditimbulkan pada orang
lain dengan tingkah laku yang ditunjukkannya. Feed back membantu seseorang untuk menelaah
dan memperbaiki tingkah lakunya dan dengan demikian dia akan lebih mudah mencapai hal –
hal yang diinginkan nya. Ffed back terbaik adalah orang tua kita. Sebab, mereka akan jujur
mengatakan yang sebenarnya tentang keadaan kita.
Tes kepribadian merupakan salah satu instrument untuk pengenalan diri sendiri, beberapa tes
kepribadian untuk pengukuran potensi diri, yaitu : kepercayaan terhadap diri sendiri , tingkat
kehati – hatian, daya tahan menghadapi cobaan , tingkat toleransi , dan pengukuran ambisi.
Teknik field trip ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat
atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau
pabrik sepatu, bengkel mobil, toko serba ada, peternakan, perkebunan, lapangan bermain dan
sebagainya (Roestiyah, 2001, p. 85). Berbeda halnya dengan tamasya di mana seseorang pergi
untuk mencari hiburan semata, field trip sebagai teknik belajar mengajar lebih terikat oleh tujuan
dan tugas belajar. Sedangkan menurut Sagala (2006, p. 214) teknik field trip ialah pesiar
(ekskursi) yang dilakukan oleh para peserta didik untuk melengkapi pengalaman belajar tertentu
dan merupakan bagian integral dari
D. Mengukur Keputusan Karier
Upaya dalam meningkatkan kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa perlu
melihat beberapa faktor yang berkontribusi, diantaranya minat jurusan, kualitas layanan
informasi karir, dan pemahaman karir. Hasil penelitian Betz (dalam Liu, dkk, 2014)
menunjukkan bahwa minat jurusan memberikan kontribusi terhadap pengambilan pilihan karir.
Menurut Djaali (2012), minat jurusan adalah kecenderungan seseorang untuk memiliki prospek
pekerjaan atau jabatan tertentu yang sesuai dengan karakteristik kepribadiaannya. Dengan
demikian, minat jurusan membuat siswa terdorong untuk sungguh belajar, mengeksplorasi
jurusan tersebut dengan berusaha mencari informasi dari berbagai sumber melalui berbagai
aktivitas kegiatan, termasuk mencari tahu tentang karir, sehingga diperoleh pemahaman terhadap
karir yang memperkuat kemampuan siswa dalam mengambil keputusan karir yang relevan ke
depannya.
Menurut Gladding (2012), informasi karir yang cukup dan kredibel dapat mendukung siswa
dalam pengambilan keputusan karir. Siswa akan menilai baik kualitas layanan informasi karir
jika layanan yang diberikan melebihi harapan atau setara dengan yang diharapkan siswa
(Tjiptono, 2006). Kualitas layanan informasi karir didefinisikan sebagai mutu atau
kebermanfaatan layanan informasi karir yang dirasakan oleh siswa sebagai penerima layanan.
Penilaian yang baik dari siswa akan mendorong siswa untuk memanfaatkan layanan informasi
karir, sehingga sekolah dapat mencapai fungsi dan tujuan yang sudah ditetapkan dalam
pemberian layanan informasi karir yaitu menjadikan siswa lebih cermat dalam memilih jurusan
dan memiliki kemantapan dalam pemilihan satu bidang karir masa depannya (Manrihu dalam
Wandari & Satiningsih, 2013). Dengan demikian, kualitas layanan informasi karir yang
diberikan oleh sekolah akan berdampak pada kemampuan siswa dalam mengambil keputusan
karir. Gladding (2012) juga berpendapat bahwa keputusan karir yang bagus tidak dapat dibuat
tanpa adanya pemahaman terhadap karir. Hal tersebut karena pemahaman terhadap karir
merupakan gambaran yang kuat tentang dunia kerja dan tentang informasi pengambilan
keputusan karir (Hawkins, dkk dalam Ferrari, dkk, 2015).
Dengan demikian, pemahaman karir menggambarkan tentang penguasaan siswa terhadap
berbagai informasi karir dan dunia kerja, sehingga pemahaman yang tinggi tentang karir akan
digunakan oleh siswa untuk menunjang kemampuannya dalam membuat keputusan karir.
Berdasarkan uraian tersebut, diharapkan kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa
SMK Negeri 4 Semarang merupakan suatu penawaran bagi sekolah untuk mempersiapkan mutu
pendidikan yang lebih baik dan lebih memadai bagi siswa, dilihat dari segi penjaringan siswa
sesuai dengan minat jurusan, pemberian layanan informasi karir yang berkualitas, dan
memfasilitasi peningkatan pemahaman karir siswa. Melandasi harapan tersebut, tujuan dari
penelitian ini adalah menguji secara empiris di SMK Negeri 4 Semarang tentang 1) kontribusi
minat jurusan, kualitas layanan informasi karir, dan pemahaman karir secara simultan terhadap
kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa, 2) kontribusi minat jurusan terhadap
kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa, 3) kontribusi kualitas layanan informasi
karir terhadap kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa, serta 4) kontribusi
pemahaman karir terhadap kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa.
BAB III KESIMPULAN
A. Penutup
Faktor minat jurusan, kualitas layanan informasi karir, dan pemahaman karir berkontribusi
positif terhadap kemampuan mengambil keputusan karir, baik secara simultan maupun secara
parsial. Semakin baik minat jurusan, kualitas layanan informasi karir, dan pemahaman karir maka
semakin baik pula kemampuan mengambil keputusan karir pada siswa. Sumbangan efektif minat
jurusan, kualitas layanan informasi karir, dan pemahaman karir secara simultan relatif sedang,
sehingga perlu diperhitungkan dan dioptimalkan penerapannya untuk meningkatkan kemampuan
mengambil keputusan karir siswa. Sementara itu, secaraparsial besaran sumbangan efektif untuk
minat jurusan relatif kecil, kualitas layanan informasi karir relatif sangat kecil, dan pemahaman karir
relatif sedang.
DAFTAR PUSTAKA
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jubk
Hurlock,E.2004.Psikologi Perkembangan.Jakarta : Erlangga Press
Prayitno,Ermanamati.2004.Dasar –dasar bimbingan Konseling.PT.Renika Cipta : Jakarta
MAKALAH BIMBINGAN KONSELING KARIR
PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH
Disusun oleh Kelompok 11
Diah Jayanti 1911080287
Nur Halimah 1911080151
Kelas A Semester 3
Dosen : Belardo Farjantoky, M.Pd
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya berupa kenikmatan, kesehatan, keselamatan kepada penulis
dalam menyusun makalah ini dengan judul “Bimbingan Konseling di Sekolah”.
Dalam menyusun makalah ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak
Belardo Farjantoky. M.pd selaku dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan yang
telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Apabila makalah ini belum lengkap dan belum sempurna baik isi maupun
sistematika penyajian, penulis mohon maaf dan kepada Allah SWT penulis
mohon ampun. Penulis sangat menghargai kritik dan saran yang bersifat
membangun dan penulis sangat menghargai masukan yang diharapkan untuk
kesempurnaan gagasan yang telah dibuat.
Bandar Lampung, 05 November 2020
Penyusun,
1
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................................
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................ 3
A. Latar Belakang ................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 3
C. Tujuan Masalah .................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................
A. Pengertian Bimbingan Konseling karir di sekolah.............................................. 5
B. Dasar-dasar bimbingan Karir di Sekolah........................................................ 6
C. Tujuan bimbingan Karir di Sekolah……………………………………... 7
D. Bimbingan konseling karir di SMA/SMK ..................................................... 8
E. Pentingnya Pelaksanaan Bimbingan Karir bagi Siswa di
Sekolah………………………………………………………………… 9
BAB III KESIMPULAN............................................................................................. … 11
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………... 12
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Minat adalah salah satu faktor yang turut menentukan atau
mempengaruhi keinginan seseorang dalam melakukan atau
menentukan sesuatu hal yang ingin dia lakukan. Menurut Djamarah
minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau
aktifitas tanpa ada yang menyuruh. Pendapat tersebut bisa dipahami
bahwa minat merupakan ketertarikan atau keinginan individu yang
timbul dan bisa mengarahkan individu kepada pilihan, baik terhadap
orang,benda, situasi maupun terhadap suatu kegiatan tanpa adanya
paksaan atau pamrih. Adanya minat dalam diri individu akan
menyebabkan individu tersebut berhubungan secara aktif dengan objek
yang diamatinya. Pada kenyataannya, masih banyak siswa sekolah
menengah pertama dan sekolah menengah atas yang masih rendah
minat melanjutkan studinya, bahkan ada yang tidak berminat sama
sekali. Rendahnya minat melanjutkan studi, khususnya ke perguruan
tinggi justru akan berdampak nantinya pada pemilihan jurusan atau
pekerjaan apa yang cocok atau sesuai dengan minat dan bakatnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Bimbingan Konseling Karir di sekolah?
2. Apa Saja Dasar-Dasar Bimbingan Konseling Karir Disekolah?
3. Apa Tujuan Bimbingan Karir di Sekolah?
4. Bagaimana Bimbingan Konseling Di Sekolah Menengah Atas?
5. Bagaimana Pentingnya Pelaksanaan Bimbingan Karir bagi Siswa di
Sekolah?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian Bimbingan Konseling
Karir di sekolah.
3
2. Untuk mengetahui dan memahami dasar-dasar bimbinga karir di
sekolah.
3. Untuk mengetahui dan memahami tujuan bimbingan karir di sekolah.
4. Untuk mengetahui dan memahami Bimbingan Konseling di
SMA/SMK.
5. Pentingnya Pelaksanaan Bimbingan Karir bagi Siswa di Sekolah
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bimbingan Konseling Karir Di Sekolah
Menurut Sukardi mendefinisikan bimbingan karir adalah layanan
bantuan yang diberikan kepada individu-individu untuk memilih,
menyiapkan, menyesuaikan, dan menetapkan dirinya dalam pendidikan
maupun pekerjaan yang sesuai serta memperoleh kebahagiaan dari
padanya. Sedangkan menurut Sukardi bimbingan karier adalah suatu
perangkat, lebih tepat nya suatu program sistematis, proses, layanan atau
lebih tepat nya suatu layanan yang dimaksudkan untuk membantu individu
memahami dan berbuat atas dasar pengenalan diri dan pengenalan
kesempatan-kesempatan dalam pekerjaan, pendidikan, waktu luang serta
mengembangkan ketrampilan- ketrampilan mengambil keputusan sehingga
yang bersangkutan dapat menciptakan dan mengelola perkembangan
karernya. Berkaitan dengan sekolah, bimbingan karir dapat di pandang
sebagai suatu proses perkembangan yang berkesinambungan yang
membantu terutama dalam hal perencanaan karir, pembuatan keputusan,
perkembangan ketrampilan/ keahlian, informasi karir, dan pemahaman
diri.1
Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa bimbingan
konseling karir merupakan suatu aktivitas berupa bimbingan yang
dilakukan oleh konselor terhadap konseli dengan tujuan membantu
memecahkan masalah karier siswa serta memfasilitasi perkembangan karir
siswa melalui pendidikan karir/jabatan baik sekarang maupun masa yang
akan datang. Bimbingan karir bukan hanya memberikan bimbingan
jabatan, tetapi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu suatu proses bantuan,
layanan, pendekatan terhadap individu agar dapat mengenal dan
memahami dirinya, mengenal dunia kerja, merencanakan masa depan yang
1 Sitti Rahmaniar Abubakar,’’ Pelaksanaan Bimbingan Karir Bagi Siswa Sma Sebagai
Persiapan Awal Memasuki Dunia Kerja’’, Jurnal bimbingan konseling, bimbingan karir, dunia
kerja, Vol. 1, No. 34 (Tahun XVI Desember 2011), h.141.
5
sesuai dengan bentuk kehidupan yang diharapkannya, mampu menentukan
dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab atas
keputusan yang diambilnya itu sehingga mampu mewujudkan dirinya
secara bermakna.2
B. Dasar-Dasar Bimbingan Karir di Sekolah
Dalam pelaksanaan layanan bimbingan karir di sekolah kepada
setiap pendidik di tuntut untuk memahami dengan mendalam dan seksama
mengenai dasar-dasar, atau pokok-pokok pikiran yang melandasi
pelaksanaan layanan bimbingan karir di sekolah.
Dasar-dasar, atau pokok pikiran yang melandasi bimbingan karir di
sekolah, di antaranya:
1. Perkembangan anak didik menuntut kemampuan melaksanakan
tugas-tugas perkembangan.
2. Sebagian besar hidup manusia berlangsung dalam dunia kerja.
3. Bimbingan karir diperlukan agar menghasilkan tenaga
pembangunan yang cukup dan terampil dalam melakukan
pekerjaan untuk pembangunan.
4. Bimbingan karir diperlukan didasarkan bahwa setiap pekerjaan
atau jabatan menuntut persyaratan tertentu untuk melaksanakannya.
Pekerjaan atau jabatan itu pun menuntut persyaratan-persyaratan
tertentu dari individu-individu yang melaksanakannya.
5. Bimbingan karir di laksanakan di sekolah atas dasar kompleksitas
masyarakat dan dunia kerja
6. Manusia mampu berfikir secara rasional.
7. Bimbingan karir di landaskan pada nilai-nilai dan norma-norma
yang tercakup dalam falsafah pancasila.
2 Ibid
6
8. Bimbingan karir menjunjung tinggi nilai-nilai martabat manusia
baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.3
C. Tujuan Bimbingan Karir di Sekolah
Tujuan bimbingan karir adalah membantu individu memperoleh
kompetensi yang diperlukan agar dapat menemukan perjalanan hidupnya
dan mengembangkan karir ke arah yang di pilihnya secara optimal dan
memberikan gambaran yang utuh tentang persyaratn suatu jabatan tertentu
sehingga siswa dapat memahami diri, mampu menentukan arah pilihan
karir dan pada akhirnya membantu siswa dalam merancang masa
depannya. Selain itu siswa dapat siap kerja dan memiliki sikap
kemandirian yang dapat diandalkan mampu untuk menghadapi persaingan
era globalisasi dan tantangan masa depan karier serta mencetak tenaga
terampil untuk mempersiapkan diri dalam memasuki dunia kerja dengan
pemenuhan kompetensi di berbagai pengembangan. Menurut Abu Ahmadi
tujuan Umum Bimbingan karir di sekolah adalahmembantu peserta didik
agar memperoleh pemahaman dan penyesuaian diri dalam hubungannya
dengan masalah-masalah pekerjaan.
Adapun tujuan khusus dari bimbingan karir untuk Sekolah
Menengah adalah
1. Siswa dapat membedakan lebih terinci sifat-sifat kepribadiannya
(kemampuan, bakat khusus, minat, nilai, dan sifat-sifat kepribadiannya)
dan mampu melihat perbedaannya dengan orang lain. Selanjutnya ia
dapat mengidentifikasikan daerah dan tingkatan pekerjaan yang luas
yang mungkin sesuai dengan dirinya.
2. Siswa dapat membedakan bermacam-macam dunia pendidikan yang
tersedia, yang dapat memberikan latihan persiapan untuk pekerjaan
3 Hanif Nurfauziah,’’Layanan Bimbingan karir Dalam Menumbuhkan Minat Melanjutkan ke
Perguruan Tinggi Siswa Kelas XII Madrasah Aliyah Nurul Huda di Desa Sedati Sidoarjo’’, (Skripsi
Program Sarjana Jurusan kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel,
Surabaya, 2015), h. 18.
7