mendatang. Informasi ini dapat meliputi sifat serta tujuan setiap
pendidikan yang tersedia, kesempatan mendapatkannya, dan perkiraan
tentatif mengenai apa yang tersedia baginya sebagai kemungkinan
pilihan pekerjaannya di kemudian hari.
3. Siswa mampu mengidentifikasikan keputusan mendatang yang harus
ia putuskan dengan maksud untuk mencapi tujuan-tujuan tertentu yang
berbeda
4. Siswa dapat membedakan di antara banyak pekerjaan dalam pengertian:
a. Sejumlah jenis pendidikan yang di butuhkan untuk persiapan
memasuki dunia pekerjaan.
b. Isi, alat, letak, produksi atau pelayanan pekerjaan – pekerjaan
itu.
c. Nilai pekerjaan itu bagi masyarakat.
5. Siswa dapat memilih atau menyelesaikan pendidikan atau latihan
dengan dasar pilihan karirnya.4
D. Bimbingan Konseling Karir Di Sekolah Menengah Atas/Kejuruan
Di dalam setting sekolah, bimbingan karir dipandang sebagai
proses perkembangan yang berkelanjutan dalam upaya membantu individu
mempersiapkan karir melalui intrvensi kurikuler yang berkaitan dengan;
perencanaan karir, pengambilan keputusan, pengembangan keterampilan
mengatasi masalah, informasi karir dan pemahaman diri, pemahaman
sikap positif terhadap semua jenis pekerjaan, serta mengembangkan
kebiasaan hidup yang positif.5
4 Ibid
5 Siti Rahmaniar Abubakar,’’ Pelaksanaan Bimbingan Karir Bagi Siswa Sma Sebagai Persiapan
Awal Memasuki Dunia Kerja’’, Jurnal bimbingan konseling, bimbingan karir, dunia kerja, Vol. 1,
No. 34 (Tahun XVI Desember 2011), h.138.
8
E. Pentingnya Pelaksanaan Bimbingan Karir bagi Siswa di Sekolah
Keberadaan bimbingan karir sebagai bagian dari layanan
bimbingan konseling di SMA mengandung konsekuensi terhadap peran
dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap
siswanya.Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing
siswa dalam menentukan pilihan-pilihan karirnya, tetapi dituntut pula
untuk membimbing siswa agar dapat mmahami diri dan
lingkungannyadalam rangka perencanaan karir dan penetapan karir pada
kehidupan masa mendatang. Setiap siswa di sekolah menengah akan
sampai pada tingkat kematangan karir yang berbeda melalui rute yang
berbeda (lancar atau tidak lancar) aktivitas bimbingan karir harus memiliki
tiga penekanan: mendorong perkembangan karir, menyediakan
perlakuan,dan membantu penempatan (mengacu kepada perpindahan
pelajar ke tingkat pendidikan selanjutnya atau ke kehidupan pekerjaan).
Kegiatan (aktivitas) bimbingan karir pada sekolah menengah harus bisa
mengantar setiap pelajar untuk menanggulangi tugas perkembangan
menuju perkembangan karir, dan membimbing pelajar kepada kreasi dan
prestasi dari seperangkat pilihan dan rencana yang akan ditetapkan.
Penekanan-penekanan utama dalam aktivitas aktivitas bimbingan karir
untuk berbagai individu haruslah didasarkan pada intensitas perencanaan,
kesiapan berpartisipasi dalam kehidupan sebagai pribadi yang independent,
dan keterarahan individu-individu kepada tujuan.
Dengan demikian, dapat direkomendasikan tujuan-tujuan untuk
aktivitas-aktivitas bimbingan karir di sekolah menengah sebagai berikut:
1. Siswa mengembangkan kesadaran akan perlunya implementasi yang
lebih khusus dari tujuan-tujuan karier.
2. Siswa mengembangkan rencana-rencana yang lebih khusus guna
mengimplementasikan tujuan-tujuan karier.
3. Siswa melaksanakan rencana-rencana untuk dapat memenuhi syarat-
syarat memasuki pekerjaan dengan mengambil mata pelajaran di
tingkat sekolah lanjutan, dengan latihan dalam jabatan, atau dengan
9
mengejar latihan lebih lanjut di perguruan tinggi atau pendidikan pasca
sekolah lanjutan yang mengantar pada kualifikasi-kualifikasi untuk
suatu okupasi khusus (Daku, 2009).
Terdapat empat kegiatan bimbingan karir, yaitu sebagai berikut:
1. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karir
yang hendak dikembangkan
2. Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umumnya, khususnya
karir yang hendak dikembangkan
3. Pemantapan pengembangan diri untuk pengambilan keputusan
pemilihan karir sesuai dengan potensi yang dimilikinya
4. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh
penghasilan untuk memenuhi kepentingan hidup, orientasi dan
informasi terhadap pendidikan yang lebih tinggi, khususnya sesuai
dengan karir yang hendak dikembangkan.
Selain itu terdapat pengenalan diri dan lingkungan serta pengembangan
diri dan karir, di antaranya sebagai berikut:
1. Siswa mengenal dan memahami siapa dirinya
2. Siswa mengenal dan memahami lingkungannya, meliputi lingkungan
keluarga, tetangga, sekolah, sosial, budaya dan masyarakat.
3. Pengenalan dan pemahaman terhadap diri sendiri dan lingkungan itu
dikerahkan untuk pengembangan diri siswa dalam segenap aspek
pribadinya, termasuk pegembangan arah karir yang hendak diraihnya di
masa yang akan datang (Hermayanti, 2008).6
6 Ibid
10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
bimbingan konseling karir merupakan suatu aktivitas berupa
bimbingan yang dilakukan oleh konselor terhadap konseli dengan tujuan
membantu memecahkan masalah karier siswa serta memfasilitasi
perkembangan karir siswa melalui pendidikan karir/jabatan baik sekarang
maupun masa yang akan datang. Bimbingan karir bukan hanya
memberikan bimbingan jabatan, tetapi mempunyai arti yang lebih luas,
yaitu suatu proses bantuan, layanan, pendekatan terhadap individu agar
dapat mengenal dan memahami dirinya, mengenal dunia kerja,
merencanakan masa depan yang sesuai dengan bentuk kehidupan yang
diharapkannya, mampu menentukan dan mengambil keputusan secara
tepat dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya itu sehingga
mampu mewujudkan dirinya secara bermakna.
Keberadaan bimbingan karir sebagai bagian dari layanan
bimbingan konseling di SMA mengandung konsekuensi terhadap peran
dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap
siswanya.Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing
siswa dalam menentukan pilihan-pilihan karirnya, tetapi dituntut pula
untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya
dalam rangka perencanaan karir dan penetapan karir pada kehidupan masa
mendatang.
11
DAFTAR PUSTAKA
Siti Rahmaniar Abubakar, Pelaksanaan Bimbingan Karir Bagi Siswa Sma Sebagai
Persiapan Awal Memasuki Dunia Kerja, Jurnal bimbingan konseling,
bimbingan karir, dunia kerja, Vol. 1, No. 34 Tahun XVI Desember 2011.
Hanif Nurfauziah, Layanan Bimbingan karir Dalam Menumbuhkan Minat
Melanjutkan ke Perguruan Tinggi Siswa Kelas XII Madrasah Aliyah
Nurul Huda di Desa Sedati Sidoarjo, Skripsi Program Sarjana Jurusan
kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel,
Surabaya, 2015.
12
MAKALAH BIMBINGAN KONSELING KARIR
INFORMASI dan PERENCANAN KARIR
Disusun Oleh Kelompok 12
1. Lani Wati Harahap (1911080119)
2. Ulfa Fiana (1911080412)
3. Wulantika (1911080421)
Kelas A Semester 3
Dosen : Belardo Farjantoky, M.Pd
BIMBINGAN KONSELING PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-
Nya berupa kenikmatan, kesehatan, keselamatan kepada penulis dalam menyusun makalah
ini dengan judul “INFORMASI dan PERENCANAN KARIR ”. Dalam menyusun makalah
ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Belardo Farjantoky, M. Pd selaku dosen
mata kuliah Bimbingan Konseling Karir yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Apabila makalah ini belum
lengkap dan belum sempurna baik isi maupun sistematika penyajian, penulis mohon maaf
dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun. Penulis sangat menghargai kritik dan saran
yang bersifat membangun dan penulis sangat menghargai masukan yang diharapkan untuk
kesempurnaan gagasan yang telah dibuat.
menggala, 29 November 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................
DAFTAR ISI……………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………….
A. Latar Belakang……………………………………………………….
B. Rumusan Masalah……………………………………………………
C. Tujuan Penulisan……………………………………………………..
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………..
A. Dunia Kerja...................................…………………………………..
B. Studi lanjut....................................................………………………...
C. Urgensi Bimbingan Karir……………………………………………..
BAB III PENUTUP…………………………………………………………
A. Kesimpulan…………………………………………………………...
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perencanan karier merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan karir
individu. Kecakapan dalam mengambil keputusan, merupakan tujuan dari
perencanaan karir yang telah ditempuh oleh setiap individu. Namun dalam
perencanaan karir kemampuan siswa dalam mempersiapkan karirnya masih rendah
dan bingung. Hal ini dapat menjadi isyarat bagi dunia pendidikan untuk
mengembangkan karir, baik dalam kegiatan intruksional maupun dalam kegiatan
bimbingan dan konseling. Konseling adalah suatu upaya bantuan yang dilakukan
dengan empat mata atau tatap muka, antara konselor dengan siswa yang berisi
usaha yang langsung dan manusiawi yang dilakukan dalam suasana keahlian dan
didasarkan atas norma-norma yang berlaku serta informasi sangatlah penting bagi
siswa untuk melangkah ke jenjang kedepannya.
Berikut akan di jelaskan tentang dunia kerja,studi lanjut dan pengertian perencanaan
karir dan konseling karir.
B. Rumus Masalah
1. Pengertian dunia kerja?
2. Pengertian studi lanjut
3. Pengertian perencanaan karir dan konseling karir
C. Tujuan
1. Mengetehui apa itu seperti apa dunia kerja
2. Mengetahui bagaiman studi lanjut
3. Mengetahui perencanan karir dan konseling karir
BAB II
PEMBAHASAN
A. DUNIA KERJA
1. Apa Itu Dunia Kerja
Pengertian Dunia Kerja – Kesiapan adalah segala sesuatu yang harus dipersiapkan
dalam melaksanakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk itu kesiapan memasuki
dunia kerja diperlukan pengetahuan tentang gambaran orang-orang bekerja pada suatu
bidang pekerjan tertentu, Smyth dan Cerbner di kutip Wright (1985) memberikan batasan
dunia kerja pada kelompok kerja seperti: eksekutif bisnis, pejabat, pegawai kantor, guru,
hakim, jaksa, pengacara, wartawan, dokter, ilmuwan, petugas kepolisian, personel militer,
artis, mandor, perawat, penjual, pekerja setengah ahli dan tidak memiliki keahlian,
penjahit, penghibur, petani, nelayan, pelayan, dan ibu rumah tangga.
Menurut Harjono (1990:23) mengemukakan bahwa: Kesiapan peserta didik untuk
memasuki dunia kerja adalah segala sesuatu yang harus di siapkan dalam melaksanakan
sesuatu untuk mencapai suatu tujuan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesiapan
lulusan kelompok belajar paket C untuk memasuki dunia kerja seperti: motivasi kerja,
kemampuan kerja, kemampuan beradaptasi dengan pekerjaan, kemampuan beradaptasi
dengan lingkungan, kemampuan berkomunikasi, penguasaan informasi tentang dunia
kerja, persepsi tentang prospek karir, peluang untuk mendapatkan kesempatan kerja, dan
gambaran pekerjaan yang dikerjakan di dunia kerja.1
2. Pentingnya Informasi Dalam Dunia Kerja
Pokok penting dari pentingnya dunia kerja yaitu pentingnya informasi pekerjaan,
macam-macam informasi pekerjaan, dan ciri-ciri informasi pekerjaan. Di sekolah-sekolah
kita yang mikskin informasi, mutlak perlu adanya bimbingan karir, khususnya
perencanaan karir siswa.
Pemahaman dunia kerja perlu adanya layanan bimbingan dengan informasi yang
andal, lengkap, dan selalu diperbaharui. Perpaduan antara pemahaman diri dan
pemahaman dunia kerja dengan segala sifat dan tuntutannya merupakan syarat penting
1 .hwrangsadam,”Dunia Kerja”.( http://hwarangsadam002.blogspot.com/2014/05/dunia-kerja.html),diakses
pada tanggal 5 Desember 2020.pukul 22.15.
bagi siswa dalam membuat rencana pekerjaan. Pemahaman atas kenyataan lingkungan ini
lebih-lebih penting artinya bagi para siswa menengah atas. Mengingat usia mereka yang
pada akhir masa remaja, sedang menginjak perkembangan yang dituntut kebudayaan
untuk lebih peduli dan mulai serius memikirkan hidup masa depannya. Masa depan berarti
kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat, dan ini selanjutnya berarti bekerja.
Informasi karier dibedakan menjadi dua menurut sifatnya, yaitu informasi kuantitatif
dan informasi kualitatif. Informasi kuantitatif berisi angka atau jumlah, seperti penyebaran
pekerjaan, arah kecenderungan, dan data banyaknya lowongan pekerjaan. Sedangkan
informasi kualitatif bercerita tentang sifat pekerjaan yang dilakukan, persyaratan yang
dituntut pada pekerjaan tertentu, imbalan, keadaan, dan kondisi kerja. Selain informasi
kuantitatif dan kualitatif, bisa juga diadakan penggolongan atas informasi pokok
(kekarieran) dan informasi lain seperti informasi sosial budaya dimana suatu pekerjaan
atau industri bertempat atau beroperasi.
a) Informasi Kuantitatif
statistik ketenagakerjaan, data ini berisi klasifikasi jabatan dan informasi
mengenai jumlah pekerjaan, jumlah tenaga kerja sekarang, arah kecenderungan
kebutuhan tenaga di waktu yang akan datang, gambaran mengenai perkembangan
penduduk dalam kerangka perkembangan ekonomi akan memberikan gambaran
mengenai dunia kerja dan lingkungan masyarakat pada umumnya. Adanya informasi
pekerjaan yang legkap dan terorganisasi dengan baik sangat membantu kerja konselor
dalam membimbing siswa menyusun perencanaan kerja.
Dalam pelaksanaan bimbingan dan karier di sekolah, konselor membutuhkan
data statistik ketenagakerjaan. Data ini dapat diperoleh dari biro statistik, biri sensus,
dan Departemen Tenaga Kerja.
Dari Biro Statistik, konselor bisa memperoleh informasi mengenai penyebaran
berbagai tenaga kerja dari tahun ke tahun secara berkala. Dari statistik seperti itu
siswa dapat mempelajari bidang-bidang jabatan yang memiliki banyak kesempatan,
proporsi jumlah ereka, bagaimana arah kecenderungan diwaktu yang lalu dan
prakiraannya diwaktu mendatang. Bimbingan karier membantu mereka agar
memeriksa kembali cita-cita dan rencananya dengan memperhatikan statitik yang ada.
Data yang diterbitkan secara nasional kurang bisa dijadikan pegangan, karena ada
perbedaan pada setiap daerah. Oleh karena itu konselor perlu berusaha memperoleh
data serupa dari kantor Departemen Tenaga kerja atau kantor Statistik daerah
setempat.
Situasi ketenagakerjaan tidak lepas dari situasi kependudukan biro sensus
setempat dapat memberikan data jumlah penduduk dan penyebarannya menurut
sejumlah ciri seperti usia, kelamin, agama, suku, pendidikan, pendapatan, pekerjaan,
dan informasi mengenai kedudukan sosial ekonomi penduduk. Jika kita mempunyai
buku semacam Occupational Outlook HandBook (OOH) yang diterbitkan oleh
Departemen Perburuhan Amerika maka ini sangat membantu konselor dalam
tugasnya membantu siswa dalam perencanaan kariernya.
b) Informasi Kualitatif
Klasifikasi Jabatan Indonesia (KJI). Di Indonesia Departemen Tenaga Kerja
adalah lembaga yang merupakan sumber utama data dan informasi mengenai
pekerjaan. Biro statistik dan biro sensus menyediakan laporan dari waktu ke waktu
mengenai kependudukan dan juga data ketenagakerjaan. Departemen Tenaga Kerja
telah menyusun satu sistem klasifikasi jabatan. Sistem klasifikasi itu termuat dalam
Klasifikasi Jabatan Indonesia (KJI) yang berguna untuk referensi ketenagakerjaan.
Klasifikasi jabatan ini meliputi seluruh jabatan baku yang dilakukan oleh tenaga kerja
sipil. Struktur Klasifikasi Jabatan KJI. Klasifikasi disusun menurut persamaan dalam
pelaksanaan pekerjaan berdasarkan tingkatannya (atau tahapannya). Struktur
klasifikasi ini terdiri dari empat tingkatan atau tahapan dan ini merupakan
penyempurnaan dari penstrukturan sebelumnya. Dengan penstrukturan baru dan
pengkodeannya maka ini sangat membantu dan memperjelas untuk keperluan
pelaksanaan bimbingan karier.2
B. STUDI LANJUT
1. Pengertian Merencanakan Studi Lanjutan
Wajib belajar 9 tahun di Indonesia disosialisasikan sekitar tahun 1995. dan hanya
sampai pada tingkatan menengah pertama atau setelah tamat dan lulus dari sekolah dasar,
akan tetapi bukan tidak mungkin bahwa beberapa siswa yang akan melanjutkan sekolah
pada jenjang yang lebih tinggi sehingga mampu menunjang inteligensi dan kompetensi
yang dimilikinya.
Pada zaman globalisasi seperti ini tidak menutup kemungkinan bahwa setiap
pekerjaan membutuhkan tenaga yang profesional di bidangnya, untuk mewujudkan semua
2 .izza21. “Dunia Konseling:BK Karir”.( http://izza21konseling.blogspot.com/2015/06/bk-karir-memahami-
dunia-kerja.html).di akses 4 desember 2020,pukul 09.08.
itu maka individu harus memiliki kompetensi yang cukup. Berbicara tentang pekerjaan
tampaknya sulit untuk dipisahkan dari yang namanya persekolahan, sebab sekolah sebagai
wadah untuk mempersiapkan diri masuk pada kehidupan riil di masyarakat, oleh karena
itu sekolah harus bisa mempersiapkan peserta didiknya sesuai dengan apa yang
dibutuhkan masyarakat.
Oleh karena itu untuk memilih dan menentukan studi lanjutan suatu pekerjaan maka
dipandang perlu untuk melakukan suatu perencanaan, atau dalam suatu organaisasi biasa
disebut dengan planning yaitu merencanakan sesuatu sebelum suatu kegiatan itu
dilakukan. Hal ini dilakukan agar sesuai dengan apa yang diimpikan dan dicita-citakan.
Maka dari itu maksud dari perencanaan studi lanjutan ialah menyusun dan
mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum memasuki sekoalah pada jenjang
selanjutnya.
2. Langkah-langkah Dalam Merencanakan Dan Memilih Studi Lanjutan
Untuk memilih suatu sekolah tak lepas dari prospek masa depan individu yang dapat
menunjang cita-citanya. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ada semacam perbedaan
sekolah lanjutan antara sekolah umum dan sekolah kejuruan, yang mana sekolah umum
mempersiapkan siswanya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Sedangkan sekolah
kejuruan mempersiapkan siswanya untuk masuk dunia kerja atau siap kerja.
Siswa sebagai peserta didik bila ditinjau dari segi usia, mereka tergolong pada usia
remaja, yang mana pada masa tersebut mempunyai karakteristik, kebiasaan, harapan, cita-
cita, kebutuhan tersendiri. Selain itu mengingat pada usia tersebut biasa disebut dengan
masa perkembangan. Kadang kala mereka dirisaukan pada suatu pilihan tentang
pendidikan keberhasilan belajar dan kelanjutan studi dan pekerjaan setelah mereka tamat.
Untuk mengatasi semua itu diperlukan suatu bimbingan yang biasa disebut dengan
bimbingan karir. Oleh karena itu perlu adanya bimbingan karier di sekolah agar siswa
dapat memperoleh gambaran tentang berbagai jenis pekerjaan yang ada di masyarakat,
serta jenis-jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan siswa, dan mengetahui
bagaimana cara menempuh atau memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Hal ini dapat
dilakukan dengan memilih terlebih dahulu sekolah lanjutan yang diinginkan dan sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki.
Pada umumnya bimbingan karier memang diberikan untuk anak sekolah menengah
Atas (SMA), sebagai bimbingan untuk menentukan dan memilih suatu pekerjaan, akan
tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa siswa SMP juga memerlukan adanya bimbingan
karier sebagai usaha untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah khususnya untuk
sekolah lanjutan, karena dalam menentukan sekolah lanjutan individu harus memahami
sekolah yang akan dimasuki dengan bakat minat serta cita-citanya.
Oleh sebab itu sudah menjadi tugas konselor untuk menyampaikan informasi tentang
hal tersebut sehingga siswa dapat memilih dan menentukan pilihannya sesuai dengan
dirinya. Dalam hal ini konselor tidak dapat mengerjakan sendiri karena membutuhkan
pemikiran dan waktu yang cukup, sehingga konselor dapat bekerja sama dengan berbagai
fihak dalam menyampaikan informasi ini. Karena itu tidak dapat dipungkiri lagi bahwa
informasi ini sangatlah penting dan bermanfaat bagi siswa dan orang tua siswa.
Untuk dapat merencanakan studi lanjutan setelah SMP perlu adanya pertimbangan
serta langkah-langkah yang berkaitan dengan keadaan dirinya dan masa depannya, antara
lain :
a) Menyesuaikan dengan bakat minatnya
Dengan siswa menyesuaikan studi lanjutan dengan bakat dan minatnya maka siswa
akan merasa senang dan puas atas segala sesuatu yang mereka impikan. Dan hasilnya
pun akan lebih maksimal dibandingkan dengan pilihan orang lain yang tidak sesuai
dengan apa yang ada dalam dirinya.
b) Kemampuan fisik, akademis dan sosial ekonomi
Hal ini dipandang perlu, untuk dapat menentukan pilihan maka siswa harus bisa
memandang keadaan serta kemampuan yang ada dalam dirinya. Misalnya siswa yang
cacat berkeinginan untuk masuk TNI maka hal ini tidak mungkin karena dalam
pendidikan TNI banyak menggunakan gerakan fisik. Sehingga hal ini perlu untuk
melihat dan mempertimbangkan keadaan dirinya, baik secara fisik, kemampuan dan
ekonomi.
c) Keadaan sekolah lanjutan.
Dalam memilih sekolah lanjutan, pasti tidaklah sembarangan. Oleh karena itu perlu
kita melihat keadaan sekolah bukan hanya secara fisik akan tetapi juga secara
administrasi.
d) Kesempatan dan peluang yang tersedia
Kesempatan dan peluang yang tersedia, setelah siswa melihat apakah sekolah lanjutan
yang diinginkan sesuai dengan bakat dan minatnya, maka harus melihat adakah
peluang atau adakah program yang siswa inginkan sehingga benar-benar sesuai
dengan yang diinginkan.
e) Prospek ke depan
Sekolah lanjutan merupakan batu loncatan untuk kita meraih masa depan, sehingga
dalam memilih sekolah lanjutan hendaknya yang memiliki prospek ke depan, yang
mendukung masa depan yang dicita-citakan.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan studi lanjutan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perencanaan studi lanjutan antara lain:
Faktor-faktor yang bersumber pada diri sendiri dan Faktor-faktor sosial
a. Faktor-faktor yang bersumber pada diri sendiri
1) kemampuan intelegensi
Secara luas diakui bahwa ada suatu perbedaan kecepatan dalam
memecahkan masalah, sehingga hal itu memperkuat bahwa seseorang
yang memiliki taraf intelegensi yang tinggi akan lebih cepat dalam
memecahkan masalah dibandingkan dengan seseorang yang memiliki
intelegensi yang sedang-sedang saja atau bahkan intelegensi di bawah rata-
rata.
2) Bakat
Bakat adalah suatu kualitas yang dimiliki individu untuk berkembang di
masa yang akan datang. Sehingga perlu adanya penanaman bakat sejak
dini sehingga seseorang dapat berkembang dengan baik, sesuai dengan
bakat yang dimiliki.
3) Minat
Minat adalah seperangkat mental yang dimiliki oleh individu sehingga
dapat mengarahkan individu pada pilihan tertentu. Minat sangat
berpengaruh dalam pilihan karier atau sekolah lanjutan. Karena tidak akan
pernah berkembang seseorang apabila mereka tidak memiliki minat akan
suatu pekerjaan. Sama halnya dengan pemilihan studi lanjut, apabila siswa
sudah tidak berminat dengan sekolah atau jurusan itu maka itu akan
membahayakan diri siswa tersebut.
4) Sikap
Sikap adalah suatu kesiapan individu terhadap hal-hal tertentu. Dengan
sikap yang dimiliki maka individu mempunyai kecenderungan yang relatif
stabil dalam mereaksi terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.
5) Kepribadian
Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda dari orang lain, bahkan
tidak ada seorangpun yang sama. Maka dalam memilih sekolah
lanjutanpun akan berbeda dengan kepribadiannya yang dipengaruhi oleh
keadaan fisik maupun psikis, lingkungan keluarga dan lingkungan
masyarakat.
6) Nilai
Nilai sebagai patokan untuk seseorang melakukan tindakan, individu yang
memiliki nilai moral yang tinggi maka akan lebih bertanggung jawab atas
pilihannya dan mengerti konsekuensi dari pilihannya.
7) Prestasi
Kegemaran pada suatu pelajaran di sekolah akan mempengaruhi siswa
dalam memilih sekolah lanjutan. Misalnya siswa yang senang pada
pelajaran eksak maka dia lebih memilih pada sekolah lanjutan umum, atau
siswa yang gemar pada pelajaran sosial yang berhubungan dengan
seseorang maka dia akan memilih sekolah kejuruan dengan jurusan yang
sesuai dengan bakat dan minatnya.
8) Faktor-faktor sosial
Dalam faktor sosial ini individu dapat di pengaruhi oleh keadaan keluarga
(orang tua, kakak ataupun adik) serta keadaan lingkungan masyarakatnya.3
C. PERENCANAAN KARIR dan KONSELING KARIR
1. Perencanaan Karir
a. Pengertian perencanaan karir
Perencanaan Karir (career planning) terdiri atas dua suku kata, yaitu
perencanaan dan karir. perencanaan didefinisikan sebagai proses penentuan
rencana atau kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang.
sedangkan karir adalah semua pekerjaan yang dilakukan seseorang selama masa
kerjanya yang memberikan kelangsungan, keteraturan dan nilai bagi kehidupan
seseorang.
Karier merupakan suatu rangkaian kata yang sering diungkapkan untuk
menunjukkan posisi atau jabatannya. Homby (dalam Walgito, 2010: 201)
3.RochmadHadi.”karir studi lanjut”.( http://rochmadhadi15.blogspot.com/2011/02/sekolah-
lanjutan.html).diakses .4 desember 2020,pukul 22.15
menyatakan bahwa “karier adalah merupakan pekerjaan, profesi”. Seseorang akan
bekerja dengan senang, dengan penuh kegembiraan bila apa yang dikerjakan itu
memang sesuai dengan keadaan dirinya, sesuai dengan kemampuannya, sesuai
dengan minatnya.
Winkel (2004: 682) menyatakan bahwa “perencanaan yang baik disebut juga
perencanaan yang matang menuntut pemikiran tentang segala tujuan yang hendak
dicapai dalam jangka waktu panjang (long-range goals) dan dalam jangka waktu
pendek (short-range goals)”. Parsons (dalam Winkel & Hastuti, 2004: 626-623)
merumuskan perencanaan karier sebagai proses yang dilalui sebelum melakukan
pemilihan karier. Proses ini mencakup tiga aspek utama yaitu pengetahuan dan
pemahaman akan diri sendiri, pengetahuan dan pemahaman akan pekerjaan, serta
penggunaan penalaran yang benar antara diri sendiri dan dunia kerja.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan perancanaan karier
adalah kecakapan atau kesanggupan siswa dalam menentukan langkah yang akan
dilakukan dalam karier untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan
kemampuan dan persyaratan yang meliputi pengetahuan dan pemahaman akan diri
sendiri, pengetahuan dan pemahaman akan pekerjaan, serta penggunaan penalaran
yang benar antara diri sendiri dan dunia kerja. Melalui perencanaan karir (career
planning) setiap individu mengevaluasi kemampuan dan minatnya sendiri,
mempertimbangkan kesempatan karir alternative, menyusun tujuan karir, dan
merencanakan aktivitas-aktivitas pengembangan praktis.4
b. Tujuan Perencanaan Karier
Menurut Winkel (2004: 682), “perencanaan yang matang menuntut pemikiran
tentang segala tujuan yang hendak dicapai dalam jangka panjang (long-range
goals) dan semua tujuan yang hendak dicapai dalam jangka pendek (short-range
goals)”. Secara ideal, tujuan jangka pendek menjadi tujuan intermediar yang
semakin mendekatkan siswa kepada tujuan jangka panjang. Gaya hidup (life style)
yang ingin dicapai termasuk tujuan dalam jangka panjang misalnya, dan nilai-nilai
kehidupan (values) yang ingin direalisasikan dalam hidup. Sertifikat, ijazah yang
4 . Drs.J.Tanzil&Associates. “perencanaan
karir”.(https://www.jtanzilco.com/blog/detail/413/slug/perencanaan-karir).di akses. 4 desember 2020.pukul
22.24.
dipersiapkan untuk memegang suatu rencana pekerjaan di masa depan, termasuk
tujuan dalam jangka pendek.
Sedangkan menurut Dillard (1985) memaparkan tujuan perencanaan karier
sebagai berikut:
1) Memperoleh kesadaran dan pemahaman diri (acquiring self awareness)
Penilaian kekuatan dan kelemahan pada diri siswa merupakan langkah
penting dalam perencanaan karier. Salah satu penilaian memungkinkan
siswa untuk lebih memahami diri sendiri yang berhubungan dengan tujuan
dan rencana karier. Hasil penilaian ini akan memungkinkan siswa untuk
realistis dalam mengevaluasi diri sendiri dan membantu atau menerapkan
karier secara tepat.
2) Mencapai kepuasan pribadi
Mencapai kepuasan karier secara pribadi adalah salah satu tujuan
dalam perencanaan karier. Siswa harus memilih karier yang menghasilkan
keuntungan tertinggi dalam kepuasan pribadi. Siswa mungkin lebih suka
dalam kegiatan karier yang mirip dengan minat atau yang memberikan
perasaan emosional dan kesenangan fisik. Untuk memperoleh kepuasan,
siswa harus memahami persyaratan karier dan mengenali minat beserta
keinginannya. Ketika siswa merasa puas, siswa akan cenderung untuk
mengekspresikan sikap positif.
3) Mempersiapkan diri untuk memperoleh penempatan dan penghasilan yang
sesuai (preparing for adequate placement)
Selama perencanaan karier, siswa mungkin ingin menghindari daerah-
daerah yang memberikan peluang terbatas atau tidak sesuai dengan
minatnya. Hal ini sama pentingnya untuk menginvestasikan waktu dan
energi ini dengan karier siswa, mengidentifikasi tanpa melampaui batas
kemampuan siswa. Sepanjang perencanaan karier, fokus perhatian adalah
pada karier yang sesuai untuk siswa. Menilai aset dan kewajiban serta
membandingkannya dengan persyaratan untuk berbagai jenis karier.
Pendekatan seperti ini akan membantu siswa menemukan karier dan siap
menerima karier tersebut.
4) Efisiensi usaha dan penggunaan waktu (efficiently using time and effort)
Tujuan lain perencanaan karier adalah untuk memungkinkan siswa
untuk secara sistematis memilih karier. Perencanaan sistematis akan
membantu menghindari metode uji coba dan membantu menghabiskan
lebih banyak waktu bekerja ke arah tujuan lain. Siswa dapat menggunakan
waktu secara efisien untuk mempelajari diri sendiri dalam kaitannya
dengan berbagai pilihan karier. Siswa yang telah berpartisipasi dalam
perencanaan karier lebih puas dengan karier mereka dan tetap aktif bekerja
lebih lama daripada mereka yang tidak melakukan perencanaan karier.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dari
perencanaan karier di masa depan adalah untuk meminimalkan
kemungkinan dibuat kesalahan yang berat dalam memilih alternatif-
alternatif yang tersedia. Seandainya siswa hanya memikirkan tujuan
jangka pendek saja, tanpa jelas menghubungkan dengan suatu tujuan
jangka panjang, terdapat kemungkinan bahwa suatu tujuan jangka pendek
yang telah dicapai ternyata tidak selaras dengan tujuan jangka panjang.5
c. Elemen Utama Perencanaan Karir (Career Planning)
Pada dasarnya perencanaan karir terdiri atas 2 (dua) elemen utama yaitu :
1) Perencanaan Karir Individual (Individual Career Planning)
Perencanaan karir individual terfokus pada individu yang meliputi latihan
diagnostic, dan prosedur untuk membantu individu tersebut menentukan
“siapa saya” dari segi potensi dan kemampuannya.Perencanaan karir
individual meliputi :
a) Penilaian diri untuk menentukan kekuatan, kelemahan, tujuan, aspirasi,
preferensi, kebutuhan, ataupunjangka karirnya (career anchor)
b) Penilaian pasar tenaga kerja untuk menentukan tipe kesempatan yang
tersedia baik di dalam maupun di luar organisasi
c) Penyusunan tujuan karir berdasarkan evaluasi diri
d) Pencocokan kesempatan terhadap kebutuhan dan tujuan serta
pengembangan strategi karir
e) Perencanaan transisi karir.
2) Perencanaan Karir Organisasional (Organizational Career Planning)
5 . eprints.uny.ac.id.”BAB II KAJIAN PUSTAKA TEORI PERENCANAAN
KARIR”.(http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:v01cZ04PB8sJ:eprints.uny.ac.id/65531/3/B
AB%2520II.pdf+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id).di akses 4 desember 2020,pukul 19.08
Perencanaan karir organisasional mengintegrasikan kebutuhan SDM dan
sejumlah aktivitas karir dengan lebih menitikberatkan pada jenjang atau
jalur karir (career path).
Tujuan program perencanaan karir organisasional adalah :
a) Pengembangan yang lebih efektif tenaga berbakat yang tersedia.
b) Kesempatan penilaian diri bagi karyawan untuk memikirikan jalur-
jalur karir tradisional atau jalur karir yang baru.
c) Pengembangan sumber daya manusia yang lebih efisien di dalam
dan di antara divisi dan/atau lokasi geografis
d) Kepuasan kebutuhan pengembangan pribadi karyawa
e) Peningkatan kinerja melalui pengalaman on the job training yang
diberikan oleh perpindahan karir vertical dan horizontal
f) Meningkatkan loyalitas dan motivasi karyawan
g) yang dapat menyebabkan berkurangnya perputaran karyawan Suatu
metode penentuan kebutuhan pelatihan dan pengembangan
d. Tahapan Perjalanan Karir
Secara umum, tahapan perjalanan karir seseorang dapat dikelompokkan ke dalam 5
(lima) tahapan yang didasarkan pada usia, yaitu :
pertumbuhan (<15 tahun)
1) penjajakan (15-24 tahun)
2) pemantapan (25-44 tahun)
3) pemeliharaan (45-65 tahun)
4) kemunduran (>66 tahun)
e. Langkah- Langkah Perencanaan Karir
Proses atau langkah-langkah yang akan ditempuh untuk menyusun rencana karir
terdiri atas hal-hal berikut ini :
1) Menilai Diri Sendiri
Hal utama dalam memulai perencanaan karir adalah bertanya atau
memahami diri sendiri. Mengenali peluang-peluang, kesempatan-
kesempatan, kendala-kendala, pilihan-pilihan, konsekuensi-konsekuensi,
keterampilan, bakat dan nilai berhubungan pada kesempatan karir.
2) Menetapkan Tujuan Karir
Setelah orang dapat menilai kekuatan, kelemahan, dan setelah mendapat
pengetahuan tentang arah dari kesempatan kerja, maka tujuan karir dapat
diidentifikasi dan kemudian dibentuk.
3) Menyiapkan Rencana-Rencana
Rencana tersebut mungkin dibuat dari berbagai macam desain kegiatan
untuk mencapai tujuan karir.
4) Melaksanakan Rencana- Rencana
Untuk mengimplementasika satu rencana kebanyakan diperlukan iklim
organisasi yang mendukung. Artinya bahwa manajemen tingkat atas harus
mengajak semua tingkatan dari manajemen untuk membantu bawahan
mereka dalam meningkatkan karir mereka.6
2. Konseling Karir
a. Pengertian Konseling Karir
Sebagaian telah diketahui konseling adalah wawancara yang melibatakan dua
pihak, konselor dan konseli, dalam memahami dan merumuskan masalah mencari
jalan keluar dan melaksanakan jalan keluar tersebut.
Konseling karir merupakan teknik bimbingan karir melalui pendekatan
individual dalam serangkaian wawancara penyuluhan (counseling interview).
Penyuluhan merupakan pengkhususan kegiatan penyuluhan dalam masalah khusus
yaitu masalah karir.
konseling karir adalah suatu perangkat, lebih tepatnya suatu program yang
sistematik, proses-proses, teknik-teknik, atau layanan-layanan yang dimaksudkan
untuk membantu individu memahami dan berbuat atas dasar pengenalan diri dan
pengenalan kesempatan-kesempatan pekerjaan, pendidikan, dan waktu luang serta
mengembangkan ketrampilan-ketrampilan mengambil keputusan sehingga yang
bersangkutan dapat menciptakan dan mengelolah karirnya. menurut penjelasan di
atas seorang konselor harus mengetahui proses dan teknik-teknik pelayan
konseling agar proses konseling berjalan dengan baik dan di sini peneliti ingin
menggali konseling yang dilakukan oleh pembimbing pada kliennya di Liponso.
6 ibid
b. Tujuan Konseling Karir
Tujuan bimbingan konseling karir menurut Muhammad Thayeb Manrrihu,
adalah fasilitasi pilihan dan implementasi pekerjaan dalam kehidupan seseorang.
Bila orang tersebut memilih suatu pekerjaan, maka orang tersebut sebenarnya
memilih suatu rangkaian hal-hal selain dari isi dan tugas-tugas pekerjaan untuk
dilaksanakan. Jadi, sebelum konselor menentukan karir seseorang untuk bekerja,
maka penting seorang konselor untuk melakukan konseling terhadap klien, karena
apabila klien menepati pekerjaan itu maka klien itu harus mau melakukan
pekerjaan dan tugas-tugas dalam tempat kerja tersebut dan harus mampu
melakukannya. Pentingnya seorang konselor untuk mengetahui bakat dan
kemampuan seorang klien yang akan menempati suatu pekerjaan itu sangat
dibutuhkan, sehingga konselor bisa memberikan arahan kepada klien agar klien
dapat menentukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang dia miliki.
Menurut Mohammad Surya, tujuan konseling karir dapat dibagi menjadi 3
tatanan.
1) Konseling karir sebagai proses pengesahan atau penguatan pilihan yang
telah dibuat oleh klien, banyak klien telah melakukan suatu tindakan
2) menilai dirinya sendiri, menilai kesempatan yang ada, dan membuat pilihan
tentantif sebagai hasil pengalaman orang tua dan gurunya. Dalam konseling
karir tindakannya itu lebih dimantapkan.
3) Proses memperjelas tujuan-tujuan vocasional. Seseorang mengumpulkan
informasi tentang karir dan kepribadiannya sepanjang waktu, akan tetapi
mereka sering menghadapi kesulitan dalam menafsirkan data dan mulai
membuat pilihan dalam konteks perencanaan perjalanan hidupnya. Di sini
konselor bertujuan untuk dapat membantu klien dalam mempersepsi secara
lebih jelas.
4) Membantu klien dalam menemukan fakta tentang dirinya dan dunia kerja
yang belum diketahui sebelumnya. Dengan cara ini klien dapat membuat
perencanaan dan pemilihan secara lebih tepat.
5) Konseling karir adalah tugas dari psikologi terapeutik. Psikologi terapeutik
adalah merupakan batang tubuh pengetahuan yang mengumpulkan data
dari berbagai bidang profesi yang bersangkutan, yang seluruhnya bisa
menegakkan fungsi-fungsi bantuan. Fungsi-fungsi bantuan yang ditegakkan
oleh psikologi terapeutik adalah sumber pada berbagai disiplin ilmu yang
melandasi profesi ini, seperti psikologi sekolah, psikologi klinis, psikologi
konseling, psikologi pastoral, psikiatri dan pekerjaan sosial.
6) Menurut pendapat Barmer dalam bukunya Dewa Ketut, tujuan konseling
karir ialah suatu proses membantu klien dalam menemukan fakta tentang
dirinya dan dunia kerja yang belum diketahui sebelumnya. Sedangkan
menurut Syamsu Yusuf Juntika, konseling karir untuk membantu individu
dalam merencanakan, pengembangan masalah-masalah karir.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan karir seorang
Bekerja merupakan hal yang utama dalam citra kita dan masyarakat. Bekerja
merupakan satu-satunya pangkal tolak bagi setiap manusia yang ingin mencari
nafkah untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari-hari, bagi dirinya sendiri
maupun keluarganya.
Secara khusus sebenarnya banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam bekerja. Faktor tersebut dibagi
menjadi 2 golongan yaitu:
1) Faktor-faktor dari dalam diri sendiri (interen)
a) Kecerdasan
Kecerdasan memegang peranan yang sangat penting dalam berhasil
tidaknya seorang melaksanakan tugas-tugasnya. Dalam pengertian suatu
tugas bertambah tinggi kecerdasan yang diperlukan untuk
melaksanakannya. Kecerdasan di bawah normal hanya cocok bagi
pekerjaan sederhana yang rutin. Apabila seseorang yang cerdas (apalagi
yang sangat cerdas) harus melaksanakan tugas-tugas yang sangat sederhana
dan monoton, dia akan cepat merasa bosan, tidak puas, bahkan menderita.
b) Keterampilan dan kecakapan
Seringkali kita melihat seseorang berhasil di suatu bidang atau usaha. Lalu
kita ikut-ikutan dalam bidang tersebut, meskipun kita tidak menyukainya,
akhirnya tidak akan berhasil. Kita hanya melihat setelah dia berhasil, dalam
menjalankan proses inilah yang memerlukan keterampilan dan kecakapan.
Untuk berhasil dalam usaha, kerja, atau kehidupan, kita tidak perlu meniru-
niru, karena kita melihat banyak orang berhasil dalam hidupnya diberbagai
macam bidang.
c) Bakat
Langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum kita mempunyai pekerjaan
tetap atau meneruskan belajar ialah menemukan bakat yang ada pada diri
sendiri dan mempraktikannya. Bakat memiliki pengaruh dalam karir
khususnya dalam kesesuaian bakat dengan pilihan jabatan atau karir.
Banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan bakat atau kemampuan
yang sesuai pada dirinya, akibatnya banyak di antara mereka yang gagal di
tengah jalan, atau tidak berhasil.di dalam bekerja. Dengan bekerja manusia
dapat mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada pada dirinya.
d) Kemampuan dan Minat
Syarat untuk mendapatkan ketenangan bekarja bagi seseorang adalah tugas
dan jabatan yang dipegangnya harus sesuai dengan kemampuan dan
minatnya. Tugas dan jabatan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan
minat banyak memberikan hambatan bagi kesuksesan dalam kerja. Minat
adalah kencenderungan konseli untuk tertarik pada suatu kegiatan tertentu
dalam hal ini pekerjaan.
e) Motivasi
Dalam mencapai keberhasilan kerja, perlu adanya motifasi-motifasi sebagai
berikut: motif kreatif, motif mencari efisiensi, motif mencapai sesuatu,
motif bekerja. Pemberian dorongan agar mencapai kesuksesan.
f) Kesehatan
Di dalam bekerja semboyan “ Men sana in corpore sano” (dalam badan
yang sehat terdapat jiwa yang sehat) adalah sangat berguna. Kesehatan
sangat membantu proses kerja seseorang dalam menyelesaikan segala
tugas-tugasnya. Jika kesehatan terganggu, maka pekerjaan pun akan ikut
terganggu. Sehingga memelihara kesehatan adalah langkah yang berguna
untuk meraih kesuksesan dalam pekerjaan.
g) Kebutuhan psikologis
Secara umum kebutuhan psikologis merupakan keadaan, stuasi yang
bersifat kejiwaan15. Hal ini berhubungan dengan kehidupan emosional
seseorang. Meskipun seseorang sudah terpenuhi kebutuhan materialnya,
tetapi bila kebutuhan psikologis tidak terpenuhi, maka dapat
mengakibatkan dirinya merasa tidak senang dengan kebutuhannya.
h) Cita-cita dan tujuan dalam bekerja
Jika cita-cita dan tujuan seseorang sudah sesuai dengan sistem nilainya,
maka di dalam mencapainya pun disertai dengan usaha yang sungguh-
sungguh dan tekad yang tinggi.
Dari berberapa faktor di atas, maka seseorang dapat dikatakan berhasil dalam
bekerja apabila orang tersebut cerdas dalam memilih pekerjaan, memiliki
suatu ketrampilan, bisa menemukan bakat yang dia miliki, orang berminat dan
memiliki kemampuan pada pekerjaan tersebut, memiliki tekad untuk maju
dalam bekerja, orang tersebut sehat jasmani dan rohani itu sangat penting
dalam melakukan suatu pekerjaan apabila sakit maka pekerjaan itu akan
terhambat.
2) Faktor-faktor dari luar diri sendiri (eksteren)
a) Lingkungan keluarga (rumah)
b) Keadaan keluarga mempengaruhi berhasil tidaknya seseorang yang sedang
bekerja. Ketegangan dalam kehidupan keluarga dapat menurunkan gairah
kerja juga pekerjaan yang dikerjakan akan terganggu. Dan apabila
lingkungan keluarga penuh dengan keharmonisasian dan kebahagiaan,
keadaan akan sangat menunjang bagi keberhasilan pekerja dalam bekerja.
Jadi anggota keluarga yang mendorong dan mendukung kerja seseorang
sangat turut membantu secara mental dan spritual dalam keberhasilan kerja.
c) Lingkungan tempat kerja
Stuasi kerja sangat mempengaruhi keadaan diri pekerja, karena setiap kali
seseorang bekerja maka iapun harus memasuki stuasi kerja tersebut. Tentu
saja stuasi yang menyenangkan akan mendorong seseorang untuk bekerja
dengan senang dan giat. Seperti job scurity (rasa aman dalam bekerjanya),
kesempatan untuk mendapatkan kemajuan, rekan kerja, hubungan dengan
pimpinan dan gaji. Jadi, keberhasilan seorang bukan ditentukan oleh
dirinya sendiri, tetapi juga oleh lingkungannya di mana ia berada. Tidak
ada sesuatu yang dapat berhasil dengan baik, yang diperoleh tanpa usaha
yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu tanamkan pada diri kita masing-
masing, bahwa keberhasilan membutuhkan usaha yang keras dan kemauan
yang kuat.
d) Proses Konseling Karir
Konseling karir pada umumnya mengacu suatu proses yang teratur, dimulai
dari proses pengembangan hubungan sampai dengan proses tindak lanjut
dan perubahan-perubahan rencanya yang lebih pontensial.
Menurut menurut Lawrence M. Brammer dan Everett L.Shostrom dalam
bukunya Dewa Ketut, mengemukan tujuh langkah yang bisa dilalui dalam
Proses Konseling:
Mengenai Perumusan dan Penetapan Suatu Kebutuhan untuk Membantu,
tujuan proses ini agar klien, memungkinkan dapat merumuskan mengenai
masalahnya
1) Penetapan Hubungan (Establishingt the Relationship), tujuan utama
proses ini adalah membangun suatu hubungan dengan klien (rapport).
2) Penentuan tujuan dan eksplorasi alternatif (Determinating goals and
exploring alternatuves), yaitu mengulas kembali dari proses
konseling. Menanyakan kepada klien tentang pendapatnya.
3) Memecahkan tentang berbagai masalah dan tujuan (working on
problems and goals).
4) Mempermudah kesadaran, kesadaran diartikan pengetahuan diri (self-
knowledge) dari apa yang dilihat, dan didengarkan dan dirasakan
seseorang. Yang dimaksud di sini adalah mengenali kemampuan dari
sendiri yang sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, pendidikan
yang dia peroleh.
5) Merencanakan arah kegiatan, pada intinya pada langkah ini adalah
membantu klien dalam menemukan ide-ide yang baru.
6) Menilai hasil dan tidakan akhir atau hasil akhir pada proses
konseling. Jadi, dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi klien
pentingnya konselor untuk memiliki ketrampilan konseling sebagai
model pemilihan karir seseorang. 7
7. Digilib.uinsby.ac.id.”BAB II BIMBINGAN KONSELING KARIR”
.(http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:IMT8VAZo2vUJ:digilib.uinsby.ac.id/5021/5/Bab%2
5202.pdf+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id). diakses 7 desember 2020,pukul 08.25.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bimbingan karir diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan konselor di berbagai
lingkungan dengan tujuan menstimulasi dan memfasilitasi perkembangan karir
seseorang, aktivitas ini meliputi bantuan dalam perencanaan karir, penembalian
keputusan dan penyesuaian diri.
Pemahaman dunia kerja perlu adanya layanan bimbingan dengan informasi yang
andal, lengkap, dan selalu diperbaharui. Perpaduan antara pemahaman diri dan
pemahaman dunia kerja dengan segala sifat dan tuntutannya merupakan syarat
penting bagi siswa dalam membuat rencana pekerjaan. Pemahaman atas kenyataan
lingkungan ini lebih-lebih penting artinya bagi para siswa menengah atas. Mengingat
usia mereka yang pada akhir masa remaja, sedang menginjak perkembangan yang
dituntut kebudayaan untuk lebih peduli dan mulai serius memikirkan hidup masa
depannya. Masa depan berarti kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat, dan
selanjutnya berarti bekerja.
Untuk itu kesiapan memasuki dunia kerja atau karir diperlukan pengetahuan tentang
gambaran orang-orang bekerja pada suatu bidang pekerjan tertentu, hal ini dilakukan
agar sesuai dengan apa yang diimpikan dan dicita-citakan.
DAFTAR PUSTAKA
Muandir. 1996. Program Bimbingan Karir Di Sekolah. Jakarta: Jalan Pintu Satu,
Senayan
Sukardi,Dewa Ketut. 1989. Bimbingan Karir Di Sekolah-Sekolah. Jakarta:Ghalia
Indonesia
Drs. J. Tanzil.2016.perencanaan
karir.(https://www.jtanzilco.com/blog/detail/413/slug/perencanaan-karir)