KEMENTERIAN KEUANGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN
KAJIAN FISKAL REGIONAL
Tahun 2020
Provinsi Kalimantan Selatan
"Anggaran yang dikelola dengan baik tidak hanya
mencerminkan kualitas ekonomi yang baik, tapi
mencerminkan martabat suatu bangsa yang baik"
-Sri Mulyani Indrawati
TIM PENYUSUN
Pengarah
Sulaimansyah - Kepala Kanwil
Penanggungjawab
Giri Susilo - Kepala Bidang PPA II
Penyusun
Yenie Purnomoratih - Kepala Seksi PPA II B
Fahd Faisal Afriza
Layouter dan Fotografer
Safira Nurdianah Ramadhani
Syarifatul Hidayati
Anggota
Suwatno - Kepala Seksi PPA II A
Dwi Supriyatno - Kepala Seksi PPA II C
Endah Rahmiati
Asparajidi
Saniansyah
Akhmad Sumadi
Kata Pengantar
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Puji syukur senantiasa kita
panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan yang Maha Esa, karena berkah,
rahmat, dan karunia-Nya, Kajian Fiskal Regional Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020 ini
dapat kami susun dan selesaikan tepat waktu. Kajian Fiskal Regional Provinsi Kalimantan
Selatan Tahun 2020, disusun dalam rangka evaluasi dan mengukur bagaimana kebijakan
strategis di bidang fiskal yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah
Daerah dapat dilaksanakan dan memberikan pengaruh positif terhadap tingkat pertumbuhan
ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan.
Tahun 2020 merupakan tahun yang sangat krusial, ancaman pandemi Covid-19 telah
memberikan tekanan terhadap seluruh aspek kehidupan manusia sehingga muncul krisis
global dan tentunya berimbas terhadap kehidupan di Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam
kondisi krisis multidimensional tersebut, peranan APBN dan APBD sebagai perangkat
kebijakan fiskal pemerintah menjadi sangat penting. Di tengah ketidakmampuan sumber-
sumber ekonomi swasta/privat untuk mendorong perekonomian akibat krisis
multidimensional, maka peran APBN dan APBD untuk menjadi mesin pengerak ekonomi,
perangkat jaring pengaman social, dan untuk penanganan masalah Kesehatan menjadi satu
sumber utama yang diandalkan. Menyadari peran penting kebijakan fiskal pemerintah untuk
antisipasi dan pengelolaan krisis global agar tidak berpengaruh terlalu dalam terhadap
perkonomian, kondisi social, dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia pada umumnya dan
Provinsi Kalimantan Selatan pada khususnya, diawal tahun 2020 pemerintah telah dilakukan
refocusing APBN dan APBD untuk penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional
(PEN). Sampai dengan akhir tahun 2020 alokasi anggaran fiscal pemerintah untuk
penanganan Covid-19 dan PEN di Provinsi Kalimantan Selatan adalah : 1. Sektor Kesehatan
sebesar Rp33,17 Milyar; 2. Sektor Usaha sebesar Rp488,43 Milyar; 3. Sektor
ketenagakerjaan Rp714,8 Milyar; dan 4. Sektor Perlindungan Sosial sebesar Rp4,46 Triliun.
i
Penyesuaian strategi kebijakan fiscal pemerintah dalam penanganan krisis
multidimensi akibat Covid-19 yang tepat, memberikan dampak positif dimana pengaruh krisis
terhadap perekonomian Indonesia hanya berkontraksi sebesar 2,07 persen atau lebih kecil
dibandingkan perhitungan World Bank yang berkotraksi sebesar 2,2 persen.
Pandemi Covid-19 sampai dengan akhir tahun 2020 belum berakhir, dan kebijakan
fiskal tahun 2021 masih menjadi ujung tombak dalam penanganan dampak pendemi tersebut
terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Penyempurnaan sistem, kebijakan
dan eksekusi serta kesinambungan program penanganan Covid-19 dan PEN kiranya perlu
menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh masyarakat. Penyatuan arah dan langkah
kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan kebijakan sector riil, kiranya akan mampu membawa
pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan kehidupan social masyarakat di
Provinsi Kalimantan Selatan menjadi lebih baik.
Kami berharap Kajian Fiskal Regional ini dapat menjadi masukan dan media informasi
yang bernilai strategis bagi mitra kerja Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan
Selatan baik di Kementerian Negara /Lembaga maupun Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota se-Kalimantan Selatan dalam penyusunan kebijakan fiskalnya yang
lebih paripurna. Dalam proses penyusunan kajian ini, kami menggunakan data yang diperoleh
dari berbagai pihak, yakni satuan kerja perangkat daerah di lingkungan Pemerintah
Provinsi/Kabupaten/Kota se-Kalimantan Selatan, Badan Pusat Statistik Provinsi Kalsel, Bank
Indonesia Perwakilan Kalimantan Selatan, media online, akademisi dan sumber-sumber lain
yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Kami menyampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan kajian ini.
Kami Menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan kajian ini. Oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan masukan membangun penyempurnaan hasil kajian
ini di masa yang akan datang.
Banjarmasin, Februari 2021
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Provinsi Kalimantan Selatan
Sulaimansyah
ii
Halaman ini sengaja dikosongkan
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................. i
DAFTAR ISI......................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................ vii
DAFTAR GRAFIK ............................................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................... xiii
RINGKASAN EKSEKUTIF ................................................................................................ xiv
DASHBOARD.........................................................................................................................
BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH
1.1 TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH ................................................... 1
1.1.1 Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka/Menengah Daerah...................... 2
1.1.2 Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah ............................................... 3
1.2 TANTANGAN DAERAH .................................................................................................. 5
1.2.1 Tantangan Ekonomi Daerah ............................................................................... 5
1.2.2 Tantangan Sosial Kependudukan ....................................................................... 5
1.2.3 Tantangan Geografi Wilayah .............................................................................. 6
1.2.4 Tantangan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional .............. 6
BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL
2.1 INDIKATOR EKONOMI MAKRO FUNDAMENTAL ......................................................... 7
2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto............................................................................ 7
2.1.2 Suku Bunga.......................................................................................................... 14
2.1.3 Inflasi.................................................................................................................... 15
2.1.4 Nilai Tukar ............................................................................................................ 16
2.2 INDIKATOR KESEJAHTERAAN ................................................................................... 17
2.2.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)................................................................... 17
2.2.2 Tingkat Ketimpangan (Rasio Gini) ........................................................................ 21
2.2.3 Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran .......................................... 22
2.2.4 Nilai Tukar Petani ................................................................................................. 24
2.3 EFEKTIVITAS KEBIJAKAN MAKRO EKONOMI DAN PEMBANGUNAN REGIONAL... 25
BAB III PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN TINGKAT REGIONAL
3.1 APBN TINGKAT PROVINSI.......................................................................................... 27
3.2 PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL ..................................... 29
3.2.1 Penerimaan Perpajakan ....................................................................................... 29
3.2.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak......................................................................... 32
3.3 BELANJA PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL.............................................. 33
3.3.1 Perkembangan Pagu dan Realisasi Berdasarkan Organisasi (Bagian Anggaran /
Kementerian / Lembaga) ....................................................................................... 33
3.3.2 Perkembangan Pagu dan Realisasi Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi ................. 34
3.3.3.Perkembangan Pagu dan Realisasi Berdasarkan Klasifikasi Fungsi..................... 35
3.4 TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA ............................................................... 35
iii
DAFTAR
ISI
3.4.1 Dana Transfer Umum ........................................................................................... 36
3.4.2 Dana Transfer Khusus.......................................................................................... 37
3.4.3 Dana Desa ........................................................................................................... 38
3.4.4 Dana Insentif Daerah............................................................................................ 39
3.5 ANALISIS CASH FLOW APBN TINGKAT REGIONAL.................................................. 40
3.5.1 Arus Kas Masuk (Penerimaan Negara) ................................................................ 40
3.5.2 Arus Kas Keluar (Pengeluaran Negara)............................................................... 40
3.5.3 Surplus/Defisit ...................................................................................................... 41
3.6 PENGELOLAAN BLU PUSAT....................................................................................... 42
3.6.1 Profil dan Jenis Layanan Satker BLU Pusat ......................................................... 42
3.6.2 Perkembangan Pengelolaan Aset, Pendapatan, dan Belanja BLU Pusat ............. 42
3.6.3 Kemandirian BLU ................................................................................................. 42
3.6.4 Profil dan Layanan Satker PNBP.......................................................................... 43
3.7 PENGELOLAAN MANAJEMEN INVESTASI PUSAT .................................................... 43
3.7.1 Penerusan Pinjaman ............................................................................................ 43
3.7.2 Kredit Program ..................................................................................................... 44
3.8 PERKEMBANGAN DAN ANALISIS BELANJA WAJIB (MANDATORY SPENDING) DAN
BELANJA INFRASTRUKTUR PUSAT DI DAERAH ..................................................... 45
3.8.1 Mandatory Spending di Daerah ............................................................................ 45
3.8.2 Belanja Infrastruktur ............................................................................................. 47
BAB IV PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD
4.1 APBN TINGKAT PROVINSI (KONSOLIDASI PEMDA) ................................................. 48
4.2 PENDAPATAN DAERAH .............................................................................................. 50
4.2.1 Dana Transfer/Perimbangan ................................................................................ 50
4.2.2 Pendapatan Asli Daerah....................................................................................... 52
4.2.3 Pendapatan Lain-lain............................................................................................ 54
4.3 BELANJA DAERAH ...................................................................................................... 55
4.3.1 Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan................................................... 55
4.3.2 Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Fungsi ................................................... 55
4.3.3 Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Ekonomi/Jenis ....................................... 56
4.4 PERKEMBANGAN BLU DAERAH ................................................................................ 57
4.4.1 Profil dan Jenis Layanan Satker BLU Daerah....................................................... 57
4.4.2 Perkembangan Pengelolaan Aset, Pendapatan BLUD dan APBD ....................... 58
4.4.3 Analisis Legal ....................................................................................................... 59
4.5 SURPLUS/ DEFISIT APBD........................................................................................... 60
4.6 PEMBIAYAAN............................................................................................................... 61
4.6.1 Penerimaan Pembiayaan ..................................................................................... 61
4.6.2 Pengeluaran Pembiayaan .................................................................................... 62
4.7 ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH ...................................... 63
4.7.1 Analisis Horizontal dan Vertikal ............................................................................ 63
4.7.2 Analisis Kapasitas Fiskal Daerah ......................................................................... 65
4.8 PERKEMBANGAN BELANJA WAJIB DAERAH............................................................ 66
4.8.1 Belanja Daerah Sektor Pendidikan ....................................................................... 66
4.8.2 Belanja Daerah Sektor Kesehatan........................................................................ 67
4.8.3 Belanja Infrastruktur Daerah................................................................................. 68
iv
DAFTAR
ISI
BAB V PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN ANGGARAN
KONSOLIDASIAN (APBN DAN APBD)
5.1 LAPORAN REALISASI ANGGARAN KONSOLIDASIAN............................................... 69
5.2 PENDAPATAN KONSOLIDASIAN................................................................................ 70
5.3 BELANJA KONSOLIDASIAN ........................................................................................ 72
5.3.1 Analisis Proporsi dan Komposisi .......................................................................... 72
5.3.2 Analisis Perubahan .............................................................................................. 73
5.3.3 Perhitungan Belanja Konsolidasian per Kapita (spending per citizen) .................. 73
5.4 SURPLUS/DEFISIT KONSOLIDASIAN......................................................................... 74
5.5 ANALISIS DAMPAK KEBIJAKAN FISKAL AGREGAT .................................................. 75
BAB VI KEUNGGULAN DAN POTENSI EKONOMI SERTA TANTANGAN FISKAL
REGIONAL
6.1 SEKTOR UNGGULAN DAERAH .................................................................................. 81
6.1.1 Sektor Pertambangan dan Penggalian ................................................................. 81
6.2 SEKTOR POTENSIAL DAERAH................................................................................... 83
6.2.1 Potensi Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan .......................................... 83
6.2.2 Potensi Sektor Industri.......................................................................................... 86
6.2.3 Potensi Sektor Kepariwisataan ............................................................................. 87
6.3 TANTANGAN FISKAL REGIONAL DALAM MENDORONG POTENSI EKONOMI
DAERAH ...................................................................................................................... 89
6.3.1 Optimalisasi Kapasitas Fiskal Daerah ................................................................ 89
6.3.2 Perluasan Pembangunan Infrastruktur ................................................................. 91
BAB VII ANALISIS TEMATIK
7.1 PENDAHULUAN ........................................................................................................... 93
7.2 PROFIL PROGRAM PEN TAHUN 2020 DI KALIMANTAN SELATAN .......................... 94
7.2.1 Program Penanggulangan COVID-19 : KLASTER KESEHATAN ......................... 95
7.2.2 Program Pemulihan Ekonomi Nasional : KLASTER PERLINDUNGAN SOSIAL... 95
7.2.3 Program Pemulihan Ekonomi Nasional : KLASTER SEKTORAL K/L DAN PEMDA
........................................................................................................................................... 96
7.2.4. Program Pemulihan Ekonomi Nasional : KLASTER UMKM DAN
PERLINDUNGAN USAHA .................................................................................. 98
7.2.5. Program Pemulihan Ekonomi Nasional : INSENTIF DUNIA USAHA................... 98
7.3. SINERGI PEMERINTAH DAERAH KALIMANTAN SELATAN DALAM
PENANGGULANGAN COVID-19 DAN PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL ............ 101
7.4. KINERJA PROGRAM PEN TAHUN 2020 DALAM MENOPANG PEREKONOMIAN
KALIMANTAN SELATAN ........................................................................................... 102
7.5. KINERJA PROGRAM PEN TAHUN 2020 DALAM MENAHAN LAJU PENGANGGURAN
KALIMANTAN SELATAN ........................................................................................... 105
7.6. PUBLIKASI KEBIJAKAN PROGRAM PEN TAHUN 2020 DI KALIMANTAN SELATAN
......................................................................................................................................... 109
v
DAFTAR
ISI
BAB VIII PENUTUP
8.1 KESIMPULAN............................................................................................................. 111
8.2 REKOMENDASI.......................................................................................................... 114
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................
LAMPIRAN .............................................................................................................................
vi
DAFTAR
TABEL
Tabel 1.1 Sasaran Makro Pembangunan Jangka Menengah Pusat – Daerah
Provinsi Kalimantan Selatan ................................................................ 2
Tabel 1.2 Sinkronisasi Prioritas Pembangunan Nasional dan Provinsi
Kalimantan Selatan ................................................................................... 4
Tabel 3.1 Ringkasan APBN Provinsi Kalimantan Selatan Tahun Anggaran 2020
(Dalam Miliar Rp) .................................................................................... 28
Tabel 4.1 Ringkasan APBD Agregat Provinsi Kalimantan Selatan (Dalam Miliar
Rupiah) ................................................................................................... 49
Tabel 4.2 Profil dan Layanan BLUD di Provinsi Kalimantan Selatan (Dalam
Miliar Rp) ................................................................................................ 57
Tabel 4.3 Analisis Legal BLUD Kalimantan Selatan ............................................ 60
Tabel 4.4 Sepuluh Capaian Output Strategis Belanja APBD Pada Sektor
Pendidikan di Provinsi Kalimantan Selatan 2020 ............................... 67
Tabel 4.5 Sepuluh Capaian Output Strategis Belanja APBD Pada Sektor
Kesehatan di Provinsi Kalimantan Selatan 2020 ................................ 67
Tabel 4.6 Tabel… Sepuluh Capaian Output Strategis Belanja APBD Pada
Sektor Infrastruktur di Provinsi Kalimantan Selatan 2020................. 68
Tabel 5.1 Laporan Realisasi Anggaran Konsolidasian Provinsi Kalimantan
Selatan.................................................................................................... 70
Tabel 5.3 Laporan Operasional Statistik Keuangan Pemerintah Provinsi
Kalimantan Selatan ............................................................................... 75
Tabel 6.1 Peta Daya Saing Digital Nasional Berdasarkan Indeks Daya Saing
Digital ..................................................................................................... 89
Tabel 6.2 Peta Kapasitas Fiskal Daerah Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan
................................................................................................................................. 90
Tabel 7.1 Jumlah Penduduk Usia Kerja yang Terdampak COVID-19 Kalimantan
Selatan pada Agustus 2020 ................................................................ 107
Tabel 7.2 Penduduk Usia Kerja yang Terdampak COVID-19 di Kalimantan
Selatan s.d. Agustus 2020 .................................................................. 108
vii
DAFTAR
GRAFIK
Grafik 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Dunia Tahun 2020 ...................................................... 8
Grafik 2.2 Laju Pertumbuhan PDRB Indonesia dan Kalimantan Selatan ........................ 9
Grafik 2.3 Sumber Pertumbuhan PDRB menurut Lapangan Usaha 2020...................... 10
Grafik 2.4 Sumber Pertumbuhan PDRB C to C Kalimantan Selatan ............................. 11
Grafik 2.4 Kontribusi Komponen Pembentuk PDRB Sisi Permintaan Kalimantan
Selatan 2020.................................................................................................... 11
Grafik 2.5 Realisasi Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan
Penanaman Modal Asing (PMA) 2020........................................................... 12
Grafik 2.6 Komoditi Ekspor Kalimantan Selatan 2020................................................... 13
Grafik 2.7 Komoditi Impor Kalimantan Selatan 2020 ...................................................... 13
Grafik 2.8 Perkembangan Pendapatan Per Kapita Nasional dan Provinsi Kalimantan
Selatan 2015-2020........................................................................................... 14
Grafik 2.9 BI 7-Day (Reverse) Repo Rate Tahun 2020 ................................................... 15
Grafik 2.10 Laju Inflasi Kalimantan Selatan dan Nasional Tahun 2020 ........................ 16
Grafik 2.11 Pergerakan Mata Uang USD terhadap Rupiah 2020 ................................... 16
Grafik 2.12 Pergerakan Neraca Perdagangan Kalimantan Selatan................................ 17
Grafik 2.13 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Kalimantan Selatan ................... 17
Grafik 2.14 Indeks Pembangunan Manusia per Kabupaten/Kota .................................. 19
Grafik 2.15 Perkembangan Kemiskinan di Kalimantan Selatan..................................... 19
Grafik 2.16 Garis Kemiskinan Perdesaan dan Perkotaan (Dalam Rp/Kapita/Bulan) .... 19
Grafik 2.17 Indeks Kedalaman Kemiskinan..................................................................... 20
Grafik 2.18 Perkembangan Gini Ratio di Kalimantan Selatan ........................................ 21
Grafik 2.19 Jumlah Angkatan Kerja dan Pengangguran di Kalimantan Selatan........... 22
Grafik 2.20 TPT Berdasarkan Jenjang Pendidikan di Kalimantan Selatan.................... 23
Grafik 2.21 Penduduk Usia Kerja yang Terdampak COVID-19 di Kalimantan Selatan
Kondisi Agustus 2020 .................................................................................. 23
Grafik 2.22 Pergerakan Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Selatan 2018-2020 ......... 24
viii
DAFTAR
GRAFIK
Grafik 2.23 Perbandingan Target dan Capaian Indikator Makro Ekonomi Kalimantan
Selatan dan Nasional Tahun 2020 ................................................................. 25
Grafik 2.23 Pergerakan Komponen Pembentuk IPM Kalimantan Selatan ..................... 26
Grafik 3.1 Penerimaan Perpajakan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020.............. 29
Grafik 3.2 Realisasi Netto Pajak Sektoral 2020 ............................................................... 30
Grafik 3.3 Penerimaan Pajak Sektoral dan Pajak Periodik (tidak akumulatif)............... 30
Grafik 3.4 Tax Ratio Kalimantan Selatan 2015-2019 ....................................................... 31
Grafik 3.5. Penerimaan Negara Bukan Pajak Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020
........................................................................................................................................... 32
Grafik 3.6. Penerimaan Negara Bukan Pajak Fungsional Kalimantan Selatan Tahun
2020 ................................................................................................................. 33
Grafik 3.7 Pagu dan Realisasi 10 Satker K/L dengan Pagu Terbesar di Kalimantan
Selatan............................................................................................................. 34
Grafik 3.8 Pagu dan Realisasi 10 Satker K/L dengan Pagu Terbesar di Kalimantan
Selatan Tahun 2020 ........................................................................................ 34
Grafik 3.9 Belanja Pempus per Fungsi di Kalimantan Selatan tahun 2020 ................... 35
Grafik 3.10 Pagu dan Realisasi Dana Alokasi Umum Agregat Provinsi Kalimantan
Selatan 2020.................................................................................................... 36
Grafik 3.11 Proporsi Penyaluran DBH Agregat Provinsi Kalimantan Selatan 2020...... 37
Grafik 3.12 Penyaluran DAK Fisik Per Bidang Provinsi Kalimantan Selatan................ 37
Grafik 3.13 Penyaluran DAK Non Fisik Per Bidang Provinsi Kalimantan Selatan ........ 38
Grafik 3.14 Penyaluran Dana Desa Provinsi Kalimantan Selatan .................................. 39
Grafik.3.15 Penyaluran Dana Desa Insentif Daerah Provinsi Kalimantan Selatan........ 39
Grafik 3.16 Arus Kas Masuk Provinsi Kalimantan Selatan............................................. 40
Grafik 3.17 Arus Kas Keluar Provinsi Kalimantan Selatan............................................ 41
Grafik 3.18 Arus Kas Keluar Provinsi Kalimantan Selatan............................................ 41
Grafik 3.19 Perkembangan Aset, Pendapatan dan Belanja BLU RS Bhayangkara....... 42
Grafik 3.20 Realisasi PNBP Satuan Kerja Di Kalimantan Selatan 2020 ......................... 43
ix
DAFTAR
GRAFIK
Grafik 3.21 Penyaluran KUR di Provinsi Kalimantan Selatan 2020 ............................... 44
Grafik 3.22 Subsidi Bunga Untuk Kredit Non KUR 11 Penyalur Tertinggi Di Kalimantan
Selatan 2020.................................................................................................. 45
Grafik 3.23 Penyaluran UMi di Kalimantan Selatan ........................................................ 45
Grafik 3.24 Pergerakan pagu 4 Program Terpilih Belanja Sektor Pendidikan (Dalam
Juta Rp)......................................................................................................... 46
Grafik 3.25 Pergerakan Pagu 8 Program Terpilih Belanja Sektor Kesehatan ............... 47
Grafik 3.25 Pergerakan pagu 4 Program Terpilih Belanja Sektor Infrastruktur ............ 47
Grafik 4.1 Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020 .... 50
Grafik 4.2 Realisasi Dana Transfer APBD Provinsi Kalimantan Selatan ....................... 51
Grafik 4.3 Ruang Fiskal Provinsi Kalimantan Selatan 2020 dan 2019 ........................... 51
Grafik 4.4 Rasio Pendapatan Transfer terhadap total Pendapatan APBD 2020............ 52
Grafik 4.5 Proporsi Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun
2020 ................................................................................................................. 52
Grafik 4.6 Penerimaan Pajak Daerah Provinsi Kalimantan Selatan............................... 53
Grafik 4.7 Rasio PAD Provinsi Kalimantan Selatan terhadap Belanja Daerah.............. 54
Grafik 4.8 Realisasi Pendapatan Hibah Provinsi Kalimantan Selatan ........................... 54
Grafik 4.9 Sepuluh Klasifikasi Belanja Daerah Berdasarkan Urusan Tertinggi Provinsi
Kalimantan Selatan ........................................................................................... 55
Grafik 4.10 Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Fungsi Provinsi Kalimantan
Selatan............................................................................................................. 55
Grafik 4.11 Belanja Daerah berdasarkan Klasifikasi Ekonomi Provinsi Kalimantan
Selatan ............................................................................................................... 56
Grafik 4.12 Rasio Belanja Klasifikasi Ekonomi Terhadap Total Belanja Daerah .......... 57
Grafik 4.13 Perkembangan Aset BLUD Kalimantan Selatan .......................................... 58
Grafik 4.14 Perkembangan PNBP BLUD Kalimantan Selatan ........................................ 59
Grafik 4.15 Rasio Pendapatan BLUD terhadap Belanja BLUD di Kalimantan Selatan . 59
Grafik 4.16 Perkembangan Surplus/Defisit APBD Provinsi Kalimantan Selatan .......... 60
x
DAFTAR
GRAFIK
Grafik 4.17 Rasio Surplus/Defisit Terhadap Pendapatan APBD 2020 ........................... 61
Grafik 4.18 Proporsi Penerimaan Pembiayaan APBD 2020............................................ 61
Grafik 4.19 Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah Provinsi Kalimantan Selatan......... 62
Grafik 4.20 Proporsi Pengeluaran Pembiayaan APBD 2020 .......................................... 63
Grafik 4.21 Perbandingan Horizontal Pendapatan APBD 2020 ...................................... 63
Grafik 4.22 Perbandingan Horizontal Belanja APBD 2020 ............................................. 64
Grafik 4.23 Perbandingan Vertikal Pendapatan dan Belanja Operasional .................... 65
Grafik 5.1 Komposisi Pendapatan Konsolidasian Provinsi Kalimantan Selatan 2020 . 71
Grafik 5.2 Perubahan Pendapatan konsolidasian Provinsi Kalimantan Selatan 2018-
2020 ................................................................................................................. 71
Grafik 5.3 Perkembangan Tax Ratio Konsolidasian Provinsi Kalimantan Selatan....... 72
Grafik 5.4 Perbandingan Belanja Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi Kalimantan
Selatan 2020.................................................................................................... 73
Grafik 5.5 Perubahan Belanja Konsolidasian 2020 dan 2019........................................ 73
Grafik 5.6 Komposisi Surplus dan Defisit Konsolidasian Kalimantan Selatan............. 74
Grafik 5.7 Rasio Surplus/defisit terhadap PDRB............................................................ 75
Grafik 6.1 Distribusi PDRB Kalimantan Selatan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2020
........................................................................................................................................... 78
Grafik 6.2 Hasil Analisis LQ dan Analisis Rasio Pertumbuhan Potensi Ekonomi
Provinsi Kalimantan Selatan.......................................................................... 79
Grafik 6.3 Produksi dan Pemasaran Batubara Kalimantan Selatan Januari – Juli 2020
........................................................................................................................................... 82
Grafik 6.4 Produksi Bahan Tambang Kalimantan Selatan (dalam ton) ......................... 83
Grafik 6.5 Persentase Penduduk Yang Bekerja Menurut Sektor dan Klasifikasi Tempat
Tinggal Tahun 2020........................................................................................... 84
Grafik 6.6 Hasil Produksi Pertanian di Provinsi Kalimantan Selatan (dalam ton) ........ 85
Grafik 6.7 Hasil Produksi Perikanan di Provinsi Kalimantan Selatan (dalam ton)........ 85
Grafik 6.8 Nilai Ekspor Barang Kalimantan Selatan (s.d. November 2020) ................... 86
xi
DAFTAR
GRAFIK
Grafik 6.9 Laju Pertumbuhan Usaha Industri (dalam persen) Besar dan Sedang (a) dan
Pertumbuhan Usaha Industri Kecil dan Mikro (b) Provinsi Kalimantan
Selatan............................................................................................................. 87
Grafik 6.10 Pagu dan Realisasi DAK Fisik Bidang Pertanian dan Bidang Pariwisata
2020 ................................................................................................................. 92
xii
DAFTAR
GAMBAR
Gambar 4.1 Indeks Kapasitas Fiskal Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan
Selatan 2020 ...................................................................................... 66
Gambar 6.1 Hasil Analisis LQ - MRP dan Keputusan Kebijakan Pemda .......... 81
Gambar 7.1 Penyesuaian Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Provinsi
Kalimantan Selatan s.d. awal Triwulan IV Tahun 2020 ................ 101
Gambar 7.2 Prognosis Konsumsi Masyarakat (C) di Provinsi Kalimantan
Selatan Dengan Asumsi Jika Tidak Ada Program PEN ............... 103
Gambar 7.3 Prognosis Belanja Konsumsi Pemerintah (G) di Provinsi
Kalimantan Selatan(Asumsi Tidak Ada Alokasi Anggaran Program
PEN) ................................................................................................. 104
Gambar 7.4 Perbandingan Tingkat PDRB Provinsi Kalimantan Selatan,
Prognosis dan Eksisting Tahun 2020 (dalam Miliar Rupiah)....... 105
Gambar 7.5 Prognosis TPT Dengan Asumsi Tidak Adanya Program PEN di
Kalimantan Selatan ......................................................................... 108
xiii
EXECUTIVE SUMMARY
Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Selatan secara kumulatif pada tahun
2020 mengalami kontraksi sebesar 1,81 persen secara C to C, jauh lebih rendah
dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 sebesar 4,08 persen.
Penyumbang kontraksi terbesar di Kalimantan Selatan terjadi pada komponen ekspor yaitu
sebesar 10,81 persen. Dalam struktur PDRB Kalimantan Selatan 2020, pembentuk PDRB
dari sisi pengeluaran atau permintaan terbesar adalah Konsumsi Rumah Tangga, yaitu
48,90 persen. Sedangkan dari sisi penerimaan atau penawaran, sebesar 92,7 persen nilai
PDRB Kalimantan Selatan 2020 disumbang oleh kategori lapangan usaha di bidang
pertambangan dan penggalian; pertanian, kehutanan, dan perikanan; dan industri
pengolahan.
Ditengah kondisi pandemi COVID-19, secara umum kinerja Pemerintah Daerah
Kalimantan Selatan di tahun 2020 sangat berat untuk mencapai target yang telah
ditetapkan. Dilihat dari capaian atas target makro ekonomi tahun 2020, kinerja Pemerintah
Daerah dapat dilihat sebagai berikut: 1) Pertumbuhan ekonomi tahun 2020 terkontraksi
menjadi 2,94 persen, jauh dari target yang ditetapkan dan lebih rendah dari capaian
Nasional yang juga terkontraksi hingga di level 2,19 persen; 2) Tingkat inflasi 0,79 persen,
sangat jauh dibawah target 5 persen yang ditetapkan untuk mendorong kinerja
perekonomian. Beberapa kebijakan telah ditempuh Pemerintah Daerah Kalimantan
Selatan untuk mejaga tingkat inflasi, seperti bantuan alat tangkap perikanan, bantuan bibit
dan pakan ikan, bantuan bebek petelur, bantuan benih tanaman holtikultura, hingga
penyaluran kredit gerbang emas; 3) Nilai IPM mencapai 70,91 , meski masih dibawah
target namun meningkat 0,19 poin dari tahun sebelumnya; 4) Angka tingkat kemiskinan
4,83 persen, melampaui batas maksimal level kemiskinan yang ditargetkan; 5) Tingkat
Pengangguran Terbuka berada pada 4,74 persen, melampaui batas maksimal tingkat
pengangguran yang ditargetkan.
Secara konsolidasian realisasi pendapatan negara di wilayah Kalimantan Selatan
tahun 2020 sebesar Rp17,62 triliun naik 16,59 persen dari pendapatan tahun sebelumnya.
Sedangkan realisasi belanja konsolidasian tahun 2018 sebesar Rp35,05 triliun naik 15,76
persen dari tahun sebelumnya. APBD Kalimantan Selatan tahun 2020 terjadi peningkatan
pendapatan terutama pada komponen PNBP sebesar 4,47 persen dan Hibah sebesar
10,39 persen. Adapun lonjakan kenaikan dana transfer lebih banyak diakibatkan adanya
perubahan mekanisme pencatatan/pengakuan dana transfer pada Laporan Keuangan
xiv
Pemerintah Daerah Konsolidasian, dan sebagian kenaikan tersebut juga ditujukan untuk
penanggulangan COVID-19.
Berdasarkan dominasi share terhadap PDRB tahun 2020, terdapat 2 (dua) sektor
unggulan Kalimantan Selatan yaitu sektor pertambangan sebesar 18,71 persen dan sektor
pertanian kehutanan dan perikanan sebesar 14,36 persen. Berdasarkan overlay analis LQ
dan Rasio Pertumbuhan (MRP), 7 (tujuh) sektor potensial untuk dikembangkan di
Kalimantan Selatan. Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan menetapkan 3 (tiga)
diantaranya sebagai sektor potensial sekaligus menjadi sektor target shifting dari sektor
pertambangan, sebagaimana tertuang dalam dokumen RPJMD 2016 – 2021, yaitu sektor
pertanian kehutanan dan perikanan, sektor industri, serta sektor pariwisata. Dan untuk
mewujudkan hal tersebut, Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan dihadapkan pada
tantangan optimalisasi kapasitas fiskal serta perluasan pembangunan infrastruktur daerah.
Menangani dampak pandemi COVID-19, Pemerintah Daerah di Provinsi
Kalimantan Selatan melakukan realokasi dan refocusing APBD 2020. Total anggaran
belanja dalam APBD 2020 yang diralokasikan ke dalam kelompok Belanja Tidak Terduga
sebesar Rp321,50 miliar, yang telah direalisasikan sebesar Rp287,29 miliar atau 89,36
persen. Sedangkan dukungan alokasi anggaran belanja APBN untuk penanggulangan
dampak COVID-19 di Provinsi Kalimantan Selatan secara keseluruhan sebesar
Rp31.797,07 miliar, serta dukungan dalam bentuk insentif pada dunia usaha di Kalimantan
Selatan berupa insentif dan keringanan pajak sebesar Rp244,35 miliar.
Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2020 di Provinsi Kalimantan
Selatan efektif menopang pertumbuhan ekonomi masyarakat dari kejatuhan yang lebih
dalam. Implementasi program PEN secara positif mendorong tingkat PDRB regional
Kalimantan Selatan hingga berada di level -2,61 persen pada Triwulan II, -4,68 persen
pada Triwulan III, dan -2,94 persen pada Triwulan IV. Kondisi tersebut jauh lebih baik
dibandingkan proyeksi kondisi tanpa diimplementasikannya program PEN, yang terpuruk
hingga di titik -4,28 persen pada Triwulan II dan -6,89 persen pada Triwulan III, dan -5,30
persen pada Triwulan IV 2020. Selain itu, implementasi program PEN juga efektif menahan
laju pertambahan angka pengangguran terbuka di regional Provinsi Kalimantan Selatan
sebesar 0,45 persen hingga ke titik 4,74 persen di Agustus 2020, dibandingkan proyeksi
kondisi tanpa diimplementasikannya program PEN yaitu di titik yang lebih tinggi yaitu 5,19
persen.
xv
COVIDKasus Kumulatif -19 per 31 Desember 2020
Kalimantan Selatan 15.300 Kasus Positif 15.300
Pasien Dlm Perawatan 909
13.170 Pasien Sembuh
10.348 11.856 Meninggal Dunia 13.806
585
8.288
6.098
3.148
918
170
1
Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
COVIDDampak -19 dan Program PEN Di Kalimantan Selatan
ANCAMAN KESEHATAN Pelemahan Sektor Usaha Kontraksi Pertumbuhan
MASYARAKAT Ekonomi
Dirawat
Meninggal 5.9% Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
3,82% Dirawat Y on Y 2,97 %
5,94%
Sembuh Transport Perdagangan Industri -2,07% tw 1 tw 2 tw 3 tw 4
90,24% dan Pengolahan C to C
-2,19%
ReaSleismasbiuPhenanganan COVID-19 Pergudangan -7,26% -5,32% -3,49%
90.B2i%dang Kesehatan -7,84%
-8,37%
1. Insentif Tenaga Medis
Rp 25,24 M Realisasi PEN Sektor UMKM Pertumbuhan Ekonomi Kalsel
2. Klaim Rumah Sakit 1. BPUM Rp 391,98 M Y on Y -1,81%
Rp 7,93 M 4,17 %
2. Subsidi Bunga Non KUR Rp 1,44 M
C to C
3. Subsidi Bunga KUR Rp 95,01 M
4. PPh Final PP 23 Rp 7,38 M tw 1 tw 2 tw 3 tw 4
5. PPh 22 Impor Rp 1,51 M
6. PPh Pasal 25 Rp 173,59 M -2,63% -2,94%
-4,68%
Peningkatan Angka Peningkatan Angka
Pengangguran Kemiskinan 4,83 %
4,74 % 4,47 %
4,31% DANA PEN
2019 sektoral pemda
2020
2019
2020
Realisasi PEN Sektor Ketenagakerjaan Realisasi PEN Sektor Perlinsos Dana Insentif Rp474,62 Miliar
Daerah
1. Padat Karya Tunai
1. PKH Rp 343,16 M
Kemenhub Rp 23,71 M
Kemen PUPR Rp 173,85 M 2. BPNT Rp 419,16 M
Kementan Rp 49,51 M
3. Bansos Tunai Rp 273,03 M
4. PKH Beras 4.293 Ton
5. Subsidi Upah Rp 461,19 M
2. Kartu Pra Kerja 6. Disc. Listrik Rp 288,46 M
Rp 467,93 M
7. BLT Dana Desa Rp 387,88 M
8. DTP PPh 21 Rp 61,45 M
EFEKTIFITAS PROGRAM PEMULIHAN EKONOMI
NASIONAL (PEN)
PENGUATAN PEREKONOMIAN
Prognosis Tanpa Dana PEN Eksisting
Q2 Q2 Q3 Q3 Q4 Q4
-2,61 % -4,68 % -2,94% Program PEN dapat
-4,28% -6,94 % -5,30% menahan pelemahan
perekonomian
Kalimantan Selatan
sebesar -2,63%
DAYA BELI MASYARAKAT (dalam Miliar)
Prognosis Tanpa Dana PEN Eksisting
Melalui program PEN 22,4 M 22,5 M 22,8 M
Tahun 2020 tingkat 21,7 M 22,1 M 21,8 M
daya beli masyarakat
meningkat sebesar
4,62%
Q2 Q2 Q3 Q3 Q4 Q4
PENGANGGURAN TERBUKA
Prognosis Tanpa Dana PEN Eksisting
FEB 2.248.595 Orang Program PEN dapat
2019 menahan laju kenaikan
pengangguran sebesar
AGT 2.135.100 Orang 0,45% hingga ke titik
2019 4,74% pada Agustus
2020.
FEB 2.259.106 Orang
2020
AGT 2.186.967 Orang
2020
"Akselerasi Daya Saing melalui Inovasi dan Penguatan Kualitas SDM"
PENDAPATAN BELANJA
TARGET REALISASI PAGU REALISASI
11.06 M 13.03 M 32.12 M
10.66 M 29.47 M
26.67 M
96,41% 8,97 M 25.81 M
68,81% PAJAK 96,76% FUNGSI
PNBP EKONOMI
91,73%
2019 2020 2019 2020
PERPAJAKAN TKDD
PPh: 4,65 T DAU: 7,58 T
PPN : 2,63 T DBH: 4,92 T
DID : 823,19 M
Perdagangan Dana Desa : 1,51 T
Internasional: 83,19 T DAK Fisik : 1,01 T
PNBP DAK Non Fisik : 2,33 T
Jasa Kepelabuhan :
324,13 M
Jasa Pendidikan :
295 M
Penyaluran KUR UMi Penyaluran
3,2 T Debitur 2019 : Debitur 2019: 20,3 M
2,59 T 82.262 Orang 2.980 Orang
Debitur 2020 : Debitur 2020: 9,8 M
24 % 98.463 Orang 5.148 Orang
Tahun 2020 di
2019 2020 dominasi oleh Penyalur terbesar 108 %
Perdagangan 2020 : Rp 8,41 M
Besar dan Eceran : 2019 2020
48, 59%
APBD PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
2017 21,58 T BELANJA DAERAH
2018 24,40 T
2019 27,25 T 2017 22,46 T
2018 19,53 T
2020 24,3 T 2019 21,95 T
2020 25,2 T
PAJ2A,9K7DTAERAH Penerimaan Pajak
Daerah terbesar ialah PER FUNGSI
Pajak Kendaraan
Bermotor PELAYANAN
UMUM
Penerimaan Retribusi RETR1IB6U5,S7I7DMAERAH
terbesar ialah retribusi PENDIDIKAN
kebersihan sebesar KESEHATAN
17,69 M
KYEAKNAGY1DA7IA7PN,I5SN8AETHGKAARNA Laba atas PER JENIS
penyertaan modal
pada PDAM dan
PT BPD
LAASILNI-DLAAEIN1R,PA8EH7NTYDAANPGASTAAHN BELANJA BELANJA
PE9G,9A6WTAI B6A,R1A8NTG
DANA PERIMBANGAN 15,478 T BMELOADNAJLA BANTUAN
DANA INSENTIF DAERAH 748 T 3,97 T KEUANGAN
DANA DESA 606,93 T 1,857 T
BAGI HASIL 1,623 T
HIBAH 588,96 T
PENDAPATAN LAINNYA
145,9 T
BAB 1
Menara Pandang Siring
SASARAN
PEMBANGUNAN DAN
TANTANGAN DAERAH
Visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2016-2021
yaitu : "Kalsel Mapan (Mandiri dan Terdepan)
Lebih Sejahtera, Berkeadilan, Berdikari dan
Berdaya Saing"
Tema pembangunan Provinsi Kalimantan
Selatan Tahun 2020 adalah Memacu Daya
Saing Perekonomian yang didukung Sumber
Daya Manusia yang Berkualitas.
POIN UTAMA BAB I
• RPJMD Provinsi SASARAN PEMBANGUNAN DAN
Kalimantan Selatan TANTANGAN DAERAH
Tahun 2016-2021
disusun berdasarkan 1.1 TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
RPJMD Teknokratik,
telah diselaraskan Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan
dengan Visi dan Misi sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas dalam
Gubernur terpilih RPJMD yang selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan
arsitektur kinerja pembangunan secara keseluruhan.
• Visi Pemerintah Provinsi Tujuan dan Sasaran pembangunan Provinsi Kalimantan
Kalimantan Selatan Selatan, dirumuskan dari permasalahan pembangunan
Tahun 2016 – 2021 yang terpotret dalam gambaran umum daerah. Peraturan
yaitu: “Kalsel Mapan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 3
(Mandiri dan Terdepan) Tahun 2019 tentang Perubahan RPJMD Tahun 2016 –
Lebih Sejahtera, 2021, telah memverifikasi dan memotret potensi peta
Berkeadilan, Berdikari permasalahan pembangunan Provinsi Kalimantan Selatan
dan Berdaya Saing”. yang meliputi:
• Tema pembangunan 1) Sumber Daya Manusia yang belum berdaya saing,
Provinsi Kalimantan yang dilihat dari Rata-rata Lama Sekolah belum
Selatan Tahun 2020 merata, angka partisipasi sekolah masih rendah,
adalah “Memacu Daya Angka Harapan Hidup paling rendah se-pulau
Saing Perekonomian Kalimantan, rendahnya daya saing tenaga kerja;
Yang Didukung Sumber
Daya Manusia Yang 2) Belum kuatnya struktur perekonomian daerah, yang
Berkualitas” dilihat dari belum meratanya investasi di setiap
wilayah, dominasi sektor pertambangan dalam
• Sasaran dan Prioritas struktur perekonomian daerah, pengeluaran
RKPD Provinsi konsumsi masyarakat cukup rendah, tingkat
Kalimantan Selatan produktivitas dan pengelolaan hasil yang belum
Tahun 2020 optimal;
diselaraskan dengan
pencapaian 5 (lima) 3) Pengelolaan lingkungan hidup yang belum optimal,
prioritas Pembangunan yang dilihat dari potensi banjir di beberapa wilayah,
Nasional (PN). menurunnya kualitas air, potensi kabut asap;
• Tantangan
pembangunan di
Provinsi Kalimantan
Selatan dapat yaitu
Tantangan Ekonomi
Daerah, Sosial
Kependudukan dan
Geografi Wilayah
1
4) Pembangunan infrastruktur yang belum merata dan berkualitas antar wilayah;
5) Budaya masyarakat belum mencerminkan revolusi mental, yang dilihat dari rendahnya
upaya mempertahankan karakteristik budaya lokal;
6) Belum efektifnya reformasi birokrasi pemerintah daerah, yang dilihat dari belum
terwujudnya pelayanan prima sesuai standar pelayanan minimal, belum terwujudnya
opimalisasi prosedur pengawasan terhadap penyimpangan administrasi, serta
kapasitas dan akuntabilitas aparatur Negara masih perlu ditingkatkan.
Berdasarkan 6 (Enam) peta permasalahan pembangunan, Pemerintah Daerah Provinsi
Kalimantan Selatan menetapkan Tujuan dan Sasaran Pemerintah Daerah di tahun 2020
dalam RPJMD 2016-2021 yang kemudian dipertajam dalam RKPD 2020
1.1.1 Berdasarkan RPJMD 2016 – 2021
RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2016-2021 merupakan dokumen
perencanaan tahap ketiga dari pelaksanaan RPJPD Provinsi Kalimantan Selatan.
Berpedoman pada arah pembangunan daerah Provinsi Kalimantan Selatan, sebagaimana
yang termuat dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2016-2021 dengan
mempertimbangkan berbagai capaian pembangunan periode 2010-2015, potensi, kondisi,
permasalahan dan peluang serta isu-isu strategis, maka diperlukan kesinambungan
pembangunan yang sekaligus mengakomodasi berbagai tuntutan perubahan kebutuhan
secara dinamis (sustain and change) menuju Provinsi Kalimantan Selatan yang lebih baik dan
sejahtera. Selain sinkronisasi terhadap capaian RPJMD tahap 1 dan 2, sinkronisasi juga
dilaksanakan antara sasaran RPJMN dan RPJMD untuk periode yang sama agar
pencapaiannya optimal.
Sinkronisasi sasaran pembangunan Tahun 2020 antara Pemerintah Pusat–
Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan sebagaimana tergambarkan dalam
RPJMN/D adalah sebagai berikut :
Tabel 1.1 Sasaran Makro Pembangunan Jangka Menengah Pusat – Daerah
Provinsi Kalimantan Selatan
Indikator Target RPJM
APBN 2020 - 2024 APBD 2016 - 2021
Pertumbuhan Ekonomi 5,3% 4,5% - 5,03%
Inflasi 2% - 4% 5,0%
Pengangguran 4,0% – 4,6% 3,6%
Kemiskinan 6,5% - 7,0% 3,96% – 4,01%
Rasio Gini 0,370 – 0,374 0,286
IPM 75,54 71,80
2
Sumber: Bappenas dan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2019
Sebagaimana RPJMN, RPJMD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2016-2021
disusun berdasarkan RPJMD Teknokratik dan telah diselaraskan dengan Visi dan Misi
Gubernur terpilih ditetapkan sebagai visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD
Provinsi Kalimantan Selatan) Tahun 2016 – 2021 yaitu: “Kalsel Mapan (Mandiri dan
Terdepan) Lebih Sejahtera, Berkeadilan, Berdikari dan Berdaya Saing”.
1. MANDIRI: Adalah terwujudnya kemampuan atau keberdayaan yang dapat
membangun, dan memelihara kelangsungan hidup, berlandaskan kekuatannya
sendiri. Upaya peningkatan kesejahteraan rakyat haruslah dijalankan bersamaan
dengan peningkatan kemandirian baik secara ekonomi dan sosial, yang dapat dilihat
a.l.: Kemandirian dari segi pembiayaan pembangunan, Kemandirian dari segi
ketahanan pangan, Kemandirian dari segi ketahanan energi.
2. TERDEPAN, menunjukkan semangat bagaimana Provinsi Kalimantan Selatan yang
selama ini di anomimkan dengan kata (kalah selalu), untuk bangkit menjadi salah
satu provinsi termaju di regional Kalimantan, bahkan juga tentunya di harapkan
secara nasional. Untuk ini diperlukan adanya semangat dan kerja yang luar biasa,
dari seluruh komponen aparat pemerintah daerah, serta seluruh komponen
masyarakat lainnya untuk secara bersama-sama mendukung. Terdepan dapat
diartikan dan dilihat dengan tingkat pencapaian indikator-indikator pembangunan
daerah yang dapat diraih minimal mendekati rata-rata nasional, dan bahkan
diharapkan kedepannya bisa berada di atas rata-rata nasional.
Untuk melaksanakan visi tersebut, pemerintah daerah memiliki misi:
1) Mengembangkan Sumber Daya Manusia Yang Agamis, Sehat, Cerdas Dan Terampil;
2) Mewujudkan Tata kelola Pemerintahan Yang Professional Dan Berorientasi Pada
Pelayanan Publik;
3) Memantapkan Kondisi Sosial Budaya Daerah Yang Berbasiskan Kearifan Lokal;
4) Mengembangkan Infrastruktur Wilayah Yang Mendukung Percepatan Pengembangan
Ekonomi Dan Sosial Budaya;
5) Mengembangkan Daya Saing Ekonomi Daerah Yang Berbasis Sumberdaya Lokal,
Dengan Memperhatikan Kelestarian Lingkungan.
1.1.2 Berdasarkan RKPD 2020
Tema pembangunan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020 adalah “MEMACU
DAYA SAING PEREKONOMIAN YANG DIDUKUNG SUMBER DAYA MANUSIA YANG
BERKUALITAS”. Tujuan dan sasaran prioritas pembangunan daerah Provinsi Kalimantan
3
Selatan Tahun 2020 disusun dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain RPJPD
Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2005-2025, RPJMD 2016-2021, dan RKP Tahun 2020,
serta juga memperhatikan permasalahan yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan.
Sinkronisasi Prioritas Pembangunan Nasional dan Provinsi Kalimantan Selatan
adalah sebagaimana berikut.
Tabel 1.2 Sinkronisasi Prioritas Pembangunan Nasional dan Provinsi Kalimantan Selatan
Prioritas Nasional Prioritas Pembangunan Bidang Prioritas Pembangunan
Provinsi Kalimantan Selatan Provinsi Kalimantan Selatan
Pembangunan Manusia Peningkatan kualitas SDM • Peningkatan Angka Rata-rata
dan Pengentasan Lama Sekolah,
Kemiskinan
• Penurunan prevalensi stunting,
Infrastruktur dan Peningkatan Sarana dan • Peningkatan nilai investasi,
Pemerataan Wilayah Prasarana yang Berkualitas • Peningkatan daya saing tenaga
Nilai Tambah Sektor Riil, Peningkatan daya saing kerja,
Industrialisasi, dan ekonomi dengan • Peningkatan daya dukung SDA
Kesempatan Kerja memperhatikan pelestarian
lingkungan hidup dan daya tampung lingkungan
Ketahanan Pangan, Air, Peningkatan daya saing • Peningkatan sarana dan
Energi, dan Lingkungan ekonomi dengan prasarana dasar,
Hidup memperhatikan pelestarian
lingkungan hidup • Peningkatan sarana dan
Stabilitas Pertahanan prasarana pendukung
dan Keamanan Tata Kelola pemerintahan perekonomian untuk
yang baik pemerataan pembangunan,
• Peningkatan daya saing tenaga
kerja,
• Peningkatan penanganan pra
dan pasca bencana,
• Peningkatan daya dukung SDA
dan daya tampung lingkungan,
• Pengembangan dan
pengelolaan infrastruktur TIK
dan persandian.
• Peningkatan kontribusi sektor
industri, perdagangan, dan jasa,
• Peningkatan kontribusi sektor
pertanian,
• Peningkatan kontribusi sektor
pariwisata
• Peningkatan kemandirian
pangan,
• Peningkatan kontribusi sektor
pertanian
• Peningkatan kualitas pelayanan
publik,
• Pelaksanaan PILKADA Kalsel.
Sumber : RKPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2020
4
1.2 TANTANGAN DAERAH
Guna mencapai target pembangunan daerah yang optimal dan efisien, dilakukan
pengkajian terhadap berbagai isu-isu yang berkembang menjadi isu-isu strategis. Isu strategis
Kalimantan Selatan disusun untuk dapat memberikan manfaat/pengaruh terhadap daerah di
masa yang akan datang. Perumusan isu strategis tersebut sekaligus sebagai perumusan atas
hal-hal yang akan ditangani dalam jangka 5 (lima) tahun ke depan oleh Kepala Daerah terpilih.
Berdasarkan pemetaan permasalahan yang sudh tersaji sebelumnya, tantangan
pembangunan di regional Kalimantan Selatan dapat dikategorikan sebagaimana berikut.
1.2.1 Tantangan Ekonomi Daerah
Secara umum, tantangan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan berupa belum
kuatnya struktur perekonomian daerah. Proksi yang dapat dijadikan acuan dalam melihat
tantangan ekonomi tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut.
1) Dominasi kontribusi sektor pertambangan dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor
Pertambangan merupakan sektor lapangan usaha yang menggunakan sumber daya
yang tidak dapat diperbaharui dan proses eksploitasinya sangat mempengaruhi kualitas
lingkungan.
2) Tingkat investasi yang belum merata di setiap wilayah, terutama di daerah tidak memiliki
sumber daya alam (tambang) dan aksesibilitas wilayah yang rendah.
3) Pembangunan infrastruktur yang belum merata dan berkualitas antar wilayah.
4) Tingkat produktivitas dan pengelolaan hasil belum optimal untuk menghasilkan
pertumbuhan ekonomi yang diinginkan.
5) Pengeluaran konsumsi masyarakat masih cukup rendah.
1.2.2 Tantangan Sosial Kependudukan
Di bidang sosial kependudukan terdapat 3 tantangan yang dihadapi oleh Provinsi
Kalimantan Selatan yaitu:
1) Sumber Daya Manusia yang belum berdaya saing, yang dilihat dari Rata-rata Lama
Sekolah belum merata, angka partisipasi sekolah masih rendah, Angka Harapan Hidup
paling rendah se-regional Kalimantan, rendahnya daya saing tenaga kerja.
2) Budaya masyarakat belum mencerminkan revolusi mental, yang dilihat dari rendahnya
upaya mempertahankan karakteristik budaya lokal.
3) Belum efektifnya reformasi birokrasi pemerintah daerah yang ditandai dengan belum
terwujudnya pelayanan prima sesuai dengan standar pelayanan minimal, belum
5
terwujudnya optimalisasi prosedur pengawasan terhadap penyimpangan administrasi,
serta kapasitas dan akuntabilitas kinerja aparatur Negara yang masih perlu ditingkatkan.
1.2.3 Tantangan Geografi Wilayah
Secara geografis Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi Sumber Daya
Alam yang kaya, namun demikian untuk mencapai sasaran pembangunan Pemerintah
Kalimantan Selatan memiliki tantangan yang antara lain berupa:
1) Pembangunan infrastruktur yang belum merata dan berkualitas antar wilayah. Hal ini
dikondisikan oleh beberapa permasalahan yaitu jumlah kondisi jalan baik yang
menurun, moda transportasi antar wilayah belum terkoneksi dengan baik, belum
cukupnya kuantitas dan kualitas energi serta jaringan telekomunikasi yang belum
menjangkau kawasan terpencil.
2) Pengelolaan lingkungan hidup yang belum optimal.yang dapat dilihat dari meningkatnya
potensi banjir, menurunnya kualitas air, dan meningkatnya kabut asap.
1.2.4. Tantangan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional
Perkembangan jumlah kasus kumulatif COVID-19 yang menyebar di Kalimantan
Selatan sangat cepat dan masiv, diawali 1 (satu) orang terkonfirmasi positif COVID-19 pada
Maret hingga menjadi 15.300 orang pada akhir Desember 2020. Secara lebih detil, data
statistik dari satgas COVID-19 menunjukkan bahwa per 31 Desember 2020 terdapat 13.806
orang pasien sembuh, 909 orang pasien dalam perawatan, dan 585 orang meninggal dunia.
Dengan berdasarkan pada rasio penularan dan jumlah orang yang sudah melakukan test,
Kalimantan Selatan dinyatakan sebagai salah satu daerah epicentrum penularan COVID-19
di Indonesia, selain beberapa daerah/kota di Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi terutama Kota
Makasar.
Kondisi sebagaimana tersebut memang belum menjadi bagian agenda rencana
pembangunan wilayah Kalimantan Selatan, baik yang tercantum dalam RKPD 2020 atau
bahkan RPJMD 2016 – 2021. Hal tersebut menjadi suatu tantangan tersendiri bagi pemerintah
daerah Kalimantan Selatan yang menuntut perhatian lebih, karena dampak pandemi tersebut
telah secara nyata mengancam keselamatan nyawa dan bahkan dampak ikutannya terhadap
kondisi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Selatan. Pemerintah
daerah mau tak mau dituntut untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian rencana kerjanya
demi untuk menangani dampak dari pandemi COVID. Penyesuaian-penyesuaian target dan
sasaran kinerja pemerintah daerah Kalimantan Selatan dilakukan melalui refocusing dan
realokasi beberapa pos anggaran belanja dalam APBD tahun 2020.
6
BAB 2
Kantor Bakeuda Banjarbaru
PERKEMBANGAN
DAN ANALISIS
EKONOMI REGIONAL
Dampak pandemi terhadap kondisi perekonomian
sangat besar, terutama pada kemiskinan dan tingkat
kesejahteraan masyarakat. Kontraksi ekonomi global
berpotensi mempengaruhi kinerja makroekonomi,
tingkat kemiskinan, serta pendapatan masyarakat
miskin dan rentan. Sektor informal yang besar, ruang
fiskal yang terbatas, serta tata kelola dalam
pemerintahan yang masih terdapat banyak
permasalahan dinyatakan oleh World Bank (2020)
membuat negara-negara berkembang menjadi
rentan terhadap dampak pandemi.
POIN UTAMA BAB 2
• Pandemi COVID-19 PERKEMBANGAN DAN ANALISIS
menyebabkan ekonomi EKONOMI REGIONAL
Indonesia mengalami
kontraksi sebesar 2,07 2.1 INDIKATOR EKONOMI MAKRO FUNDAMENTAL
persen c to c dengan 2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto
PDB Atas Dasar Harga
Berlaku (ADHB) Awal tahun 2020 dibuka dengan optimisme adanya
mencapai Rp15.434,2 kesepakatan damai atas perang dagang fase I Amerika
triliun Serikat dan Tiongkok. Kesepakatan ini diharapkan menjadi
awal yang baik setelah kedua Negara tersebut terlibat
• PDRB Provinsi perang dagang yang memberikan dampak luar biasa bagi
Kalimantan Selatan perekonomian global. Sementara itu, Brexit telah memasuki
Tahun 2020 mengalami masa transisi pada 31 Januari 2020. Selama masa tersebut,
kontraksi sebesar 1,81 Inggris akan tetap bekerja sama dengan Uni Eropa dalam
persen hal hubungan dagang. Kedua peristiwa tersebut
memberikan angin segar bagi perekonomian Indonesia di
• Indeks Pembangunan awal tahun 2020 di mana pertumbuhan ekonomi Nasional
Manusia (IPM) Provinsi didongkrak oleh ekspor komoditas.
Kalimantan Selatan
mencapai 70,91 di tahun Namun demikian, kinerja ekonomi yang positif di
2020 triwulan I tahun 2020, mulai terganggu dengan berita dari
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang secara resmi
• Penduduk usia kerja di mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi global pada
Provinsi Kalimantan Maret 2020 dan di saat itulah tantangan ekonomi global di
Selatan yang terdampak tahun 2020 dimulai. Virus ini pertama kali menyebar di kota
COVID-19 mencapai 400 Wuhan, China pada Desember 2019 dan dengan cepat
ribu orang atau 12,68 menyebar di seluruh Asia, Eropa bahkan Amerika.
persen.
• Negara Tiongkok
merupakan Negara
tujuan utama ekspor
Provinsi Kalimantan
Selatan sebesar
US$1,68 miliar
“Pandemi COVID-19 telah membawa dunia ke dalam krisis ekonomi terburuk sejak The
Great Depression. Akibat pandemi tersebut, ekonomi dunia pada tahun 2020
diproyeksikan 6 hingga 7 persen lebih rendah, dengan 90 persen negara mengalami
tingkat pertumbuhan negatif (IMF 2020a). Kontraksi tajam diperkirakan akan
mempengaruhi sebagian besar aspek kegiatan ekonomi, termasuk perdagangan dan
tenaga kerja. Volume perdagangan global diperkirakan menurun antara 13 dan 32
persen pada tahun 2020 (WTO 2020). Tenaga kerja global, diukur dengan jam kerja,
diproyeksikan turun 10,5 persen pada kuartal kedua tahun 2020, penurunan yang setara
dengan 305 juta pekerja penuh waktu (UN 2020) “
– World Bank Group, Research and Policy Brief No.35, 15 Mei 2020
7
Penyebaran pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, namun juga
berdampak pada sektor ekonomi dan sosial di hampir seluruh Negara di dunia.
Dampak pandemi terhadap kondisi perekonomian sangat besar, terutama pada
kemiskinan dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Kontraksi ekonomi global berpotensi
mempengaruhi kinerja makroekonomi, tingkat kemiskinan, serta pendapatan masyarakat
miskin dan rentan. Sektor informal yang besar, ruang fiskal yang terbatas, serta tata kelola
dalam pemerintahan yang masih terdapat banyak permasalahan dinyatakan oleh World Bank
(2020) membuat negara-negara berkembang menjadi rentan terhadap dampak pandemi.
Lebih lanjut dinyatakan bahwa tantangan bagi negara-negara berkembang dalam
menghadapi pandemi adalah menyelamatkan nyawa masyarakat bersamaan dengan
dilaksanakannya kebijakan ekonomi sesuai dengan realitas di masing-masing Negara
berkembang.
Grafik 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Dunia Tahun 2020
6 4,48
4 1,92,6 1,6
2
0 UK GER FRA CHN JPN KOR SGP VIE PHI IND INA
-2 USA -1,9-1,4 -1,5
-4 -2,5 -2,07
-6 -4,3 -3,9 -5 -5,3-5,8 -3,8
-6 -6 -7,5
-8 -8,3-8,3
-10 -8,6 -10,3
-9,8 -9,8
-12
Proyeksi IMF Nilai Pertumbuhan Ekonomi
Sumber: imf.org dan tradingeconomics (diolah)
Indonesia dinyatakan mulai terjangkit pandemi COVID-19 pada bulan Maret 2020
sehingga pemerintah menetapkan peraturan tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar
(PSBB) dan penetapan kedaruratan kesehatan masyarakat. Pandemi COVID-19
menyebabkan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen c to c dengan
PDB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mencapai Rp15.434,2 triliun. Dari sisi produksi,
kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 15,04
persen. Hal ini disebabkan dibatasinya aktivitas penerbangan pada saat libur panjang di tahun
2020 sebagai bentuk pencegahan atas penyebaran pandemi COVID-19 di tanah air.
Perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2020 yang diukur berdasarkan
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku secara kumulatif mencapai
Rp179,15 triliun. PDRB Provinsi Kalimantan Selatan mengalami kontraksi sebesar 1,81
persen. Struktur PDRB Provinsi Kalimantan Selatan menurut lapangan usaha atas dasar
8
harga berlaku pada 2020 didominasi oleh Pertambangan dan Penggalian, Pertanian,
Kehutanan dan Perikanan, Industri Pengolahan dan Perdagangan Besar dan Eceran
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor. Total peran keempat sektor tersebut mencapai 56,66
persen, sementara sisanya terbagi untuk 13 sektor lainnya.
a. Laju Pertumbuhan Ekonomi
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I s/d IV Tahun 2020
mengalami kontraksi sebesar 1,81 persen C to C. Dari sisi produksi, pertumbuhan terendah
dicapai oleh Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan dengan kontraksi sebesar 5,32
persen. Selain itu Sektor Pertambangan dan Penggalian juga mengalami kontraksi sebesar
4,47 persen dan Sektor Perdagangan Besar dan Eceran Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
yang mengalami kontraksi sebesar 3,38 persen.
Dari sisi pengeluaran, Seluruh komponen pengeluaran terkontraksi dengan kontraksi
terdalam C to C dialami oleh komponen ekspor yakni 10,81 persen. Turunnya kinerja ekspor
luar negeri yang terjadi selama tahun 2020 dibandingkan tahun 2019 menjadi salah satu faktor
utama kontraksi yang terjadi di tahun 2020. Komoditas utama ekspor Provinsi Kalimantan
Selatan yaitu batubara mengalami penurunan signifikan hingga lebih dari 20 persen dibanding
tahun 2019. Pandemi COVID-19 dan Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar turut
berpengaruh pada kegiatan perekonomian maupun konsumsi masyarakat. Di sisi
transportasi, penurunan signifikan tercatat pada angka penumpang pesawat udara pada
empat bandara di Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun ini hingga lebih dari separuh
dibandingkan tahun sebelumnya.
Grafik 2.2 Laju Pertumbuhan PDRB Indonesia dan Provinsi Kalimantan Selatan (C to C)
6 5,28 5,17
5,07 5,08
5 5,01 4,88 5,03 5,02
4 4,84 4,4 4,08
3 3,82
2
1
0 2015 2016 2017 2018 2019 2020
-1 2 0 1 4 -1,81
-2 -2,07
-3 Pertumbuhan PDRB Kalsel C to C Pertumbuhan PDB Indonesia C to C
Sumber: BPS Nasional dan BPS Kalsel (diolah)
9
b. Nominal PDRB
1) PDRB sisi penawaran/Lapangan Usaha
PDRB dari sisi penawaran dibentuk dari jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-
faktor produksi yang dipakai/terlibat dalam proses produksi di suatu daerah dalam jangka
waktu tertentu/satu tahun. PDRB sisi penawaran menunjukkan perkembangan peran atau
kontribusi sektor-sektor usaha yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi regional.
PDRB Provinsi Kalimantan Selatan Atas Dasar Harga Berlaku sebesar Rp179.151,11 miliar
dan Atas Dasar Harga Konstan 2010 sebesar Rp130.865,59. Struktur PDRB Provinsi
Kalimantan Selatan menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada triwulan IV-2020
masih didominasi oleh empat kategori utama, yaitu Pertambangan dan Penggalian sebesar
18,29 persen; Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 14,39 persen; Industri
Pengolahan sebesar 13,52 persen; dan Perdagangan Besar dan Eceran Reparasi Mobil dan
Sepeda Motor sebesar 10,46 persen.
Grafik 2.3 Sumber Pertumbuhan PDRB menurut Lapangan Usaha 2020 (Dalam Persen)
6 5,09 4,08 -0,13 6
5 0,53 0,5 2020 -1,12 5
4 1,07 -0,43-0,12 4
3 0,57 0,37 3
0,19 -1,80 2
2 1
2,92 3,02 0
-1
1 2019 -2
Industri Pengolahan -3
0 Pertanian
-1 2018
-2 Lainnya
Pertambangan
-3 PDRB
Sumber: BPS Kalsel (diolah)
Ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan triwulan IV-2020 dibandingkan triwulan IV-2019
(y on-y) mengalami kontraksi sebesar 2,94 persen. Kondisi ini turun dibanding pertumbuhan
y-on-y triwulan IV-2019 yang sebesar 3,91 persen. Lapangan usaha yang mengalami
kontraksi terdalam adalah Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,37 persen; diikuti
kontraksi Perdagangan Besar dan Eceran Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 7,84
persen; dan kontraksi Industri Pengolahan sebesar 7,26 persen.
2) PDRB sisi permintaan/Pengeluaran
PDRB sisi permintaan dihitung berdasarkan pendekatan pengeluaran yaitu dengan
menjumlahkan pengeluaran agregat seluruh pelaku ekonomi berupa konsumsi rumah tangga
10
(C), investasi (I), konsumsi Pemerintah (G) serta neraca perdagangan (ekspor dikurangi
impor). PDRB sisi permintaan ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut
= + + + ( − )
Secara kumulatif, PDRB sampai dengan akhir tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar
1,81 persen. Seluruh komponen pengeluaran terkontraksi dengan kontraksi terdalam dialami
oleh komponen ekspor yakni sebesar 10,81 persen. Jika dilihat berdasarkan sumber
pertumbuhannya, kontraksi pada tahun 2020 ini disumbangkan oleh komponen konsumsi
rumah tangga sebesar 0,12 persen, PMTB -0,32 persen dan Net Ekspor sebesar -0,74
persen. Sementara komponen lainnya secara total memberikan sumbangan sebesar -0,63
persen.
Grafik 2.4 Sumber Pertumbuhan PDRB C to C Provinsi Kalimantan Selatan (Dalam Persen)
dan Grafik Kontribusi Komponen Pembentuk PDRB Sisi Permintaan Provinsi Kalimantan
Selatan 2020
5 5 12,68%
4,08
4 0,04%
4
3 48,90%
3 1,87
2 25,04%
2 12,25%
1,43 1
1 -0,63 0 1,08%
0,74 2020 -1
-2 Konsumsi Rumah Tangga
0 0,04 -0,74 -3 Konsumsi LNPRT
2019 -0,32 Konsumsi Pemerintah
-0,12 PMTB
-1
-1,81
-2
Net Ekspor
-3 PKRT
Lainnya
PMTB
Sumber: BPS Kalsel (diolah)
a) Konsumsi
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) merupakan pengeluaran atas
barang dan jasa oleh rumah tangga untuk tujuan konsumsi atas berbagai jenis barang
dan jasa yang tersedia di dalam suatu perekonomian. Pelemahan aktivitas konsumsi
masyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan terjadi selama tahun 2020 akibat
penyebaran pandemi COVID-19 dan pemberlakuan PSBB di sejumlah wilayah.
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2020
memberikan kontribusi terbesar pada PDRB Provinsi Kalimantan Selatan yaitu 48,90
persen dengan laju pertumbuhan mengalami kontraksi 0,26 persen C to C.
Salah satu Sektor yang paling terpengaruh akibat menurunnya konsumsi
masyarakat adalah transportasi udara. Jumlah penumpang yang berangkat melalui
11
bandara di Provinsi Kalimantan Selatan pada bulan Desember 2020 sebanyak 75.081
orang atau turun 55,47 persen dibandingkan bulan Desember 2019 yang sebanyak
168.607 orang. Penurunan jumlah penumpang bandara yang sangat signifikan
diakibatkan oleh kebijakan pemerintah dalam pembatasan akses lintas daerah untuk
pencegahan penyebaran Covid-19 antar wilayah dan sekaligus efisiensi belanja
perjalanan pemerintah untuk realokasi anggaran penanganan Covid-19.
b) Investasi
Nilai investasi Provinsi Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2020 tercermin
pada nilai Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar Rp44,86 triliun ADHB
dan Rp30,07 triliun ADHK. PMTB berkontribusi 25,04 persen terhadap total PDRB di
Provinsi Kalimantan Selatan dan mengalami kontraksi 1,42 persen dibandingkan
tahun 2019. Pelemahan ekonomi akibat pandemic COVID-19 mendorong korporasi
melakukan pengurangan investasi dan rasionalisasi biaya operasional, seperti
pengurangan tenaga kerja.
Grafik 2.5 Realisasi Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman
Modal Asing (PMA) 2020
45,13%
54,87%
PMDN PMA
Sumber: Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kalsel (diolah)
c) Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran konsumsi Pemerintah pada PDRB Provinsi Kalimantan Selatan
ADHB Tahun 2020 sebesar Rp21,95 triliun atau 12,25 persen dari total PDRB Provinsi
Kalimantan Selatan. Laju pertumbuhan komponen pengeluaran konsumsi Pemerintah
adalah -2,63 persen dibandingkan tahun 2019. Kontraksi ini disebabkan adanya
refocusing atau realokasi belanja Pemerintah sebagai respon atas penyebaran
pandemi COVID-19 di Provinsi Kalimantan Selatan.
12
d) Neraca Perdagangan (Ekspor-Impor)
Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dan agen
pertumbuhan ekonomi dalam perekonomian sebuah Negara. Perdagangan
internasional akan menciptakan keuntungan dengan memberikan peluang setiap
Negara untuk mengekspor barang-barang yang diproduksinya menggunakan sumber
daya yang langka dari Negara tersebut sehingga menciptakan gains from trade
(Ackerman,2005).
Nilai ekspor pada PDRB Provinsi Kalimantan Selatan ADHB Tahun 2020 sebesar
Rp100,65 triliun. Pada tahun 2020, terjadi kontraksi atas nilai ekspor di Provinsi
Kalimantan Selatan sebesar 17,43 persen YoY yang disebabkan pemberlakuan
karantina wilayah atau lockdown di sejumlah Negara akibar penyebaran pandemic
COVID-19. Sementara itu, kelompok bahan bakar mineral (HS 27) memberikan
kontribusi terbesar yaitu US$ 3,96 miliar atau 66,73 persen terhadap total ekspor
Provinsi Provinsi Kalimantan Selatan. Negara Tiongkok merupakan Negara tujuan
utama ekspor Provinsi Kalimantan Selatan sebesar US$1,68 miliar
Grafik 2.6 Komoditi Ekspor Provinsi Grafik 2. 7 Komoditi Impor Provinsi
Kalimantan Selatan 2020 Kalimantan Selatan 2020
2,20% 11,37% 1,96% 0,89% 0,23% 6,52%
4,56% 4,56%
12,29%
13,18%
66,73% 75,52%
Bahan Bakar Mineral Bahan Bakar Mineral
Lemak dan Minyak Hewan/Nabati Mesin-mesin/ Pesawat Mekanik
Kayu, Barang dari kayu Kapal Laut
Karet Garam, Belerang, Kapur
Perhiasan/Permata Bubur Kayu/Pulp
Lainnya Lainnya
Sumber: BPS Kalsel (diolah)
Sementara itu, Impor didefinisikan sebagai nilai barang dan jasa yang diberi
dari Negara lain. Nilai impor pada PDRB Provinsi Kalimantan Selatan ADHB Tahun
2020 sebesar Rp77,93 triliun. Pada tahun 2020, kelompok Bahan Bakar Mineral
memberikan kontribusi terbesar pada impor tahun 2020 sebesar US$394,49 juta atau
75,52 persen terhadap total impor di Provinsi Kalimantan Selatan. Negara Singapura
merupakan Negara asal impor terbesar di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar
US$223,34 juta atau 42,75 persen terhadap total.
13
Neraca perdagangan merupakan catatan yang berisi nilai barang-barang yang
diekspor maupun diimpor oleh suatu Negara. Neraca perdagangan diperoleh dari
selisih antara nilai ekspor dengan impor. Pada tahun 2020, neraca perdagangan
Provinsi Kalimantan Selatan senilai Rp22,72 triliun dan berkontribusi 12,68 persen
terhadap total PDRB Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2020.
c. PDRB per Kapita
Angka PDRB per kapita menunjukkan pendapatan rata-rata penduduk di
suatu daerah yang diperoleh dari hasil pembagian PDRB terhadap jumlah penduduk.
PDRB per kapita Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2020 sebesar Rp41,62 juta,
lebih rendah dari PDB per kapita Nasional sebesar Rp57,25 juta. Pada tahun 2020,
terjadi kontraksi pendapatan per kapita baik Nasional maupun Provinsi Kalimantan
Selatan. Perubahan pola konsumsi dan aktivitas ekonomi masyarakat sepanjang
tahun 2020 mempengaruhi penurunan pendapatan per kapita.
Grafik 2.8 Perkembangan Pendapatan Per Kapita Nasional dan Provinsi
Kalimantan Selatan 2015-2020
Dalam Juta Rupiah 70,00 45,10 47,98 52,00 56,17 59,32 57,25
60,00 34,34 36,08 38,76 41,11 42,59 41,62
50,00
40,00
30,00
20,00
10,00
-
2015 2016 2017 2018 2019 2020
PDRB Per Kapita Kalsel PDRB Per Kapita Indonesia
Sumber: BPS Nasional dan BPS Kalsel (diolah)
2.1.2 Suku Bunga
Bank Indonesia melakukan penguatan kerangka operasi moneter dengan
mengimplementasikan suku bunga acuan atau suku bunga kebijakan baru yaitu BI 7-Day
Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang berlaku efektif sejak 19 Agustus 2016 menggantikan BI
Rate. Pada awal tahun 2020, Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk
mempertahankan BI7DRR sebesar 5 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,25
persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,75 persen. Kebijakan moneter tetap
akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran,
14
stabilitas eksternal yang terjaga, serta upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi
domestik. Strategi operasi moneter terus ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas dan
mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.
Grafik 2.9 BI 7-Day (Reverse) Repo Rate Tahun 2020
6,00% 4,50% 4,50% 4,25% 4,00%
5,00% 5,00% 4,75% 4,50%
4,00% 4,00% 4,00%
4,00%
3,00% 3,75% 3,75%
2,00%
1,00% BI 7-Day Rate
0,00%
Sumber: Bank Indonesia (diolah)
Pergerakan BI7DRR mengalami tren menurun sepanjang tahun 2020. Pada
pertengahan tahun 2020, Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menurunkan BI7DRR
menjadi 4 persen, suku bunga Deposit Facility menjadi 3,25 persen dan suku bunga Lending
Facility menjadi 4,75 persen. Keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap
rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan sebagai langkah lanjutan untuk mendorong
pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.
2.1.3 Inflasi
Pada bulan Desember 2020, Inflasi terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 0,79
persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,94 pada November 2020
menjadi 106,77 pada Desember 2020. Inflasi di Provinsi Kalimantan Selatan bulan Desember
2020 terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada beberapa kelompok pengeluaran,
yaitu kelompok transportasi sebesar 4,63 persen, diikuti kelompok makanan, minuman dan
tembakau sebesar 1,15 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,32 persen.
Komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi di Provinsi
Kalimantan Selatan, antara lain angkutan udara, telur ayam ras, cabai rawit, cabai merah, dan
ikan gabus.
15
Grafik 2.10 Laju Inflasi Provinsi Kalimantan Selatan dan Nasional Tahun 2020
1,00
0,80
0,60
0,40
0,20
0,00
-0,20
-0,40
-0,60
Kalimantan Selatan Kotabaru Tanjung Banjarmasin INDONESIA
Sumber: BPS Kalsel dan BPS Nasional (diolah)
Pengendalian inflasi di Provinsi Kalimantan Selatan dilakukan oleh Tim Pengendalian
Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Kalimantan Selatan, baik level provinsi maupun
kabupaten/kota. Pengendalian inflasi secara rutin dilakukan antara lain melalui rapat
koordinasi (rakor) dan program lapangan. Dalam rangka menjaga keterjangkauan harga,
beberapa TPID seperti TPID Kota Banjarmasin, TPID Kab. Tabalong dan Kab. Tanah Laut
melakukan operasi pasar bahan pangan strategis di pasar tradisional serta pasar yang
bekerjasama dengan Bulog. TPID Kab. Tabalong juga menyerahkan bantuan alat tangkap
perikanan, bantuan bibit dan pakan ikan, bantuan bebek petelur, bantuan benih tanaman
hortikultura dan penyaluran kredit gerbang emas sebagai implementasi Program PEN dalam
menghadapi pandemi COVID-19.
2.1.4 Nilai Tukar
Indonesia menerapkan sistem Kurs Mengambang Bebas (Free Floating Rate). Sistem
nilai tukar ini menyerahkan seluruhnya kepada pasar untuk mencapai kondisi equilibrium.
Apabila permintaan terhadap dollar US meningkat, secara otomatis nilai dollar terhadap mata
uang lainnya menguat. Beberapa alasan yang menyebabkan dollar AS menguat adalah
kebutuhan impor, penjualan barang dan jasa dalam bentuk valuta asing dan pembayaran
utang Luar Negeri yang jatuh tempo.
Grafik 2.11 Pergerakan Mata Uang USD terhadap Rupiah 2020
20.000,00
15.000,00
10.000,00 KURS JUAL
5.000,00 KURS BELI
-
16 Sumber : Bank Indonesia (diolah)
Pandemi COVID-19 memberikan dampak besar pada pasar keuangan Indonesia.
Pada kuartal pertama 2020, terjadi capital outflow yang jumlahnya mencapai Rp159,3 triliun.
Sebagian besar merupakan Surat Berharga Negara (SBN) Rp143,5 triliun (91 persen), saham
Rp11,8 triliun (7,4 persen), SBI Rp3,3 triliun (2,1 persen) dan obligasi korporasi Rp0,6 triliun
(0,4 persen). Capital outflow dari investor asing selalu menimbulkan volatilitas yang tinggi baik
pada pergerakan kurs Rp/USD maupun pergeakan indeks saham saat krisis. (The Indonesian
Journal of Development Planning Vol. IV No.2 – Juni 2020).
Grafik 2.12 Pergerakan Neraca Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan
10000 8000
8000 7000
6000 6000
4000 5000
2000 4000
0 3000
2000
1000
0
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Ekspor (Juta USD) Impor (Juta USD) Neraca (Juta USD)
Sumber: BPS Kalsel(diolah)
Sementara itu, kegiatan ekspor dan impor juga terdampak COVID-19 yang diakibatkan
pemberlakuan lockdown atau karantina wilayah di sejumlah Negara di dunia. Total ekspor di
Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2020 mengalami kontraksi 5,28 persen YoY.
Kontraksi terbesar terjadi pada kelompok barang Bahan Bakar Mineral yang turun sebesar
29,54 persen YoY. Penurunan ekspor di kelompok barang ini terjadi akibat menurunnya harga
komoditas batu bara di pasar Internasional. Penurunan harga komoditas batu bara juga dipicu
kebijakan Cina dan India yang memprioritaskan penggunaan batu bara produksi dalam
negeri.
2.2 INDIKATOR KESEJAHTERAAN
2.2.1 Indeks Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting untuk mengukur
keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia. IPM menjelaskan bagaimana
penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan,
pendidikan dan sebagainya. IPM diperkenalkan oleh United Nations Development
Programme (UNDP) pada tahun 1990.
IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and
healthy life), pengetahuan (knowledge) dan standar hidup layak (decent standard of living).
Umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh Umur Harapan Hidup (UHH) yaitu jumlah
17
tahun yang diharapkan dapat dicapai oleh bayi yang baru lahir untuk hidup, dengan asumsi
bahwa pola angka kematian menurut umur pada saat kelahiran sama sepanjang usia bayi.
Pengetahuan diukur melalui indikator Rata-rata Lama Sekolah dan Harapan Lama Sekolah.
Standar hidup yang layak digambarkan oleh pengeluaran per kapita disesuaikan, yang
ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (purchasing power parity).
Grafik 2.13 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Kalimantan Selatan
72
71 70,17 70,72 70,91
70
69,65
69 69,05
68,38
68
67 67,17 67,63
66 65,89 66,68
65 65,2
64
63
62
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Sumber: BPS (diolah)
Pembangunan manusia di Provinsi Kalimantan Selatan terus mengalami kemajuan
yang ditandai dengan terus meningkatnya IPM Provinsi Kalimantan Selatan. Pada tahun
2020, IPM Provinsi Kalimantan Selatan telah mencapai 70,91. Angka ini meningkat sebesar
0,19 poin atau tumbuh sebesar 0,27 persen dibandingkan dengan tahun 2019. Selama
periode tahun 2010 hingga tahun 2020, rata-rata pertumbuhan IPM Provinsi Kalimantan
Selatan sebesar 0,88 persen per tahun. Sejak tahun 2018, IPM Provinsi Kalimantan Selatan
sudah mencapai angka di atas 70 dan telah berstatus “tinggi”.
Peningkatan IPM di tingkat Provinsi juga tercermin pada sebagian besar
kabupaten/kota. Selama periode 2019 hingga 2020, tercatat tiga kabupaten dengan kemajuan
pembangunan manusia paling cepat yaitu Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, dan
Kabupaten Tanah Laut. Kemajuan pembangunan manusia di ketiga kabupaten tersebut lebih
didorong oleh dimensi pendidikan. Sementara itu, tiga kabupaten meliputi Kota Banjarbaru,
Kabupaten Kotabaru dan Kota Banjarmasin mengalami penurunan pembangunan manusia,
karena dipengaruhi oleh turunnya pengeluaran per kapita, sementara peningkatan pada
dimensi lainnya tidak cukup mampu mengangkat IPM secara agregat.
18
Grafik 2.14 Indeks Pembangunan Manusia per Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan
Selatan
100 2019 2020 Pertumbuhan IPM (%) 0,80%
80 0,57% 0,63% 0,60%
0,49% 0,40%
0,35% 0,26% 0,30% 0,20%
60
40
20 0,07% 0,06% 0,00%
-0,03% -0,03% -0,08%
0 -0,13% -0,15-0%,20%
Sumber: BPS (diolah)
Pandemi COVID-19 menyebabkan perubahan perilaku, aktivitas ekonomi dan
pendapatan penduduk yang berdampak pada peningkatan angka pengangguran dan
kemiskinan. Sebanyak 29,12 juta penduduk usia kerja di Indonesia juga terdampak COVID-
19. Hal ini menyebabkan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan September 2020
mengalami peningkatan menjadi 27,55 juta orang atau naik 1,13 juta orang terhadap Maret
2020. Tingkat kemiskinan secara Nasional tercatat sebesar 10,19 persen atau naik 0,41 poin
terhadap Maret 2020.
Penduduk miskin di Provinsi Kalimantan Selatan pada September 2020 tercatat
sebesar 206,92 ribu orang atau bertambah 19,1 ribu orang dibandingkan Maret 2020. Jumlah
tersebut setara dengan 4,83 persen dari total penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan.
Capaian tersebut merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Pemerintah
telah melakukan upaya penyaluran bantuan sosial sebagai jaring pengaman sosial bagi
masyarakat terdampak COVID-19.
Grafik 2.15 Perkembangan Kemiskinan di Provinsi Kalimantan Selatan
210 206,92 4,9
4,85
205 4,834,8
200 195,7 4,73 4,7 4,65 4,7
195 4,6
193,92 194,56 4,54195,01 192,48 4,5
190 190,29
4,52 189,03
4,55 187,87
4,47
185 184,16 4,38 4,4
180 4,3
175 4,2
170 4,1
Mar-16 Sep-16 Mar-17 Sep-17 Mar-18 Sep-18 Mar-19 Sep-19 Mar-20 Sep-20
Penduduk Miskin (Ribu Orang) Tingkat Kemiskinan (%)
Sumber: BPS Kalsel (diolah)
19
Penduduk miskin di Provinsi Kalimantan Selatan yang tinggal di kawasan perdesaan
berjumlah 128,08 ribu orang yang setara dengan 5,76 persen dari total penduduk di
pedesaan. Sedangkan penduduk miskin di perkotaan tercatat berjumlah 78,84 ribu orang atau
setara dengan 3,83 persen dari total penduduk di kawasan perkotaan. Selama periode Maret-
September 2020, terjadi peningkatan kemiskinan baik perkotaan maupun pedesaan, di mana
peningkatan kemiskinan di pedesaan (meningkat 0,68 persen) lebih tinggi daripada di
perkotaan (meningkat 0,22 persen).
Grafik 2.16 Garis Kemiskinan Perdesaan dan Perkotaan (Dalam Rp/Kapita/Bulan)
Garis Kemiskinan Perkotaan Garis Kemiskinan Perdesaan
600.000 161.445 165.897 167.122 600.000 116.394 119.592 121.152
500.000 500.000
400.000 400.000
300.000 300.000
200.000 200.000
100.000 100.000
0 0
Sep-19 Mar-20 Sep-20 Sep-19 Mar-20 Sep-20
Makanan Makanan
Bukan Makanan Bukan Makanan
Sumber: BPS Kalsel (diolah)
Garis kemiskinan di Provinsi Kalimantan Selatan pada September 2020 sebesar
Rp.503.686,00 perkapita perbulan. Garis pemisah penduduk miskin dan tidak miskin ini
mengalami kenaikan 1,29 persen dibandingkan Maret 2020 yang sebesar Rp.497.262,00
perkapita perbulan. Garis kemiskinan wilayah perkotaan September 2020 adalah sebesar
Rp.508.852,00 perkapita atau lebih tinggi dibandingkan Garis kemiskinan wilayah pedesaan
yang sebesar Rp.495.715,00 perkapita perbulan.
Grafik 2.17 Indeks Kedalaman Kemiskinan
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
1 0,3
0,8 0,659 0,699 0,77 0,2 0,153 0,157 0,182
0,6 0,1
0,4 0 Mar-20 Sep-20
0,2 Sep-19
0 Mar-20 Sep-20 Perkotaan
Sep-19 Perdesaan
Perkotaan+Perdesaan
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
Sumber: BPS Kalsel (diolah)
20
2.2.2 Ketimpangan (Gini Ratio)
Pengukuran ketimpangan/kesenjangan pengeluaran penduduk menggunakan
indikator Gini Ratio dan Distribusi pengeluaran menurut World Bank. Koefisien Gini
didasarkan pada kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang
membandingkan distribusi dari nilai pengeluaran konsumsi dengan distribusi uniform
(seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk. Gini Ratio dihitung dengan
persamaan:
= 1 − ∑( − −1)( + −1)
=1
Di mana, G = Koefisien Gini (Gini Ratio); Xk = Proporsi kumulatif dari penduduk untuk k =
0,1,2,.., n dengan X0=0 dan X1=1; Yk = Proporsi Kumulatif dari pengeluaran untuk k = 0,1,2,..,n
dengan Y0=0 dan Y1=1.
Pada September 2020, Gini Ratio Provinsi Kalimantan Selatan tercatat sebesar 0,351,
naik dibandingkan dengan kondisi Maret 2020 maupun kondisi September 2019, di mana
kenaikannya masing-masing sebesar 0,019 poin dan 0,017 poin. Gini Ratio Provinsi
Kalimantan Selatan selama 2011-2020 mengalami fluktuasi. Penurunan Gini Ratio di Provinsi
Kalimantan Selatan mengalami hambatan oleh penyebaran pandemi COVID-19.
Grafik 2.18 Perkembangan Gini Ratio di Provinsi Kalimantan Selatan
0,4 0,355
0,35 0,351 0,3510,35
0,3 0,347 0,347 0,345
0,344 0,34
0,25
0,34
0,2
0,15 0,332 0,334 0,334 0,335
0,1 0,332 0,33
0,05 0,325
0 0,32
Mar-16 Sep-16 Mar-17 Sep-17 Mar-18 Sep-18 Mar-19 Sep-19 Mar-20 Sep-20
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
Sumber: BPS Kalsel (diolah)
Selain Gini Ratio, indikator ketimpangan lain yang sering digunakan adalah
persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal
dengan ukuran Bank Dunia. Berdasarkan ukuran ini tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3
kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk
40 persen terbawah angkanya di bawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya
21
berkisar antara 12-17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada di atas 17
persen.
Pada September 2020, persentase pengeluaran penduduk kelompok 40 persen
terbawah adalah sebesar 19,26 persen yang berarti ada pada kategori ketimpangan rendah.
Angka ini mengalami penurunan sebesar 1,22 poin dibandingkan dengan kondisi Maret 2020
yang sebesar 20,48 persen, dan turun sebesar 1,21 poin dibandingkan dengan kondisi
September 2019 yang tercatat sebesar 20,47 persen. Hal ini berarti bahwa telah terjadi
peningkatan ketimpangan selama periode September 2019–September 2020 di Provinsi
Kalimantan Selatan. Pandemi Covid-19 lebih berdampak pada turunnya pendapatan
penduduk kelompok 40 persen terbawah, apalagi dengan diterapkannya kebijakan PSBB
yang menghambat aktivitas ekonomi masyarakat sehingga menyebabkan tingkat
pengeluaran menurun.
2.2.3 Kondisi Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran
Kondisi ketenagakerjaan memperoleh dampak yang signifikan akibat pandemi
COVID-19. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Provinsi Kalimantan
Selatan menyebabkan perubahan aktivitas sosial ekonomi masyarakat seperti berkurangnya
aktivitas perbelanjaan, rekreasi dan hiburan. Beberapa sektor seperti layanan kesehatan,
pengolahan dan perdagangan makanan, e-commerce dan teknologi informasi dan komunikasi
berpotensi menjadi pemenang, sedangkan sektor pariwisata, transportasi dan konstruksi
menjadi sektor yang berpotensi kalah.
Grafik 2.19 Jumlah Angkatan Kerja dan Pengangguran di Provinsi Kalimantan Selatan
5.000.000
4.000.000
3.000.000 2.128.466 2.186.967
2.000.000
1.000.000 91.730 103.648
- 2016 2017 2018 2019 2020
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Pengangguran/Mencari Kerja (Jiwa)
Angkatan Kerja Kalsel (Jiwa) Penduduk Kalsel (Jiwa)
Sumber: BPS Kalsel (diolah)
Pada bulan Agustus 2020, jumlah angkatan kerja di Provinsi Kalimantan Selatan
mencapai 2,19 juta orang. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 2,43 poin atau terjadi
penambahan 51,87 ribu orang dibanding keadaan Agustus 2019. Jumlah Penduduk yang
bekerja dan jumlah pengangguran berpengaruh terhadap angka Tingkat Partisipasi Angkatan
Kerja (TPAK). Pada kondisi Agustus 2020, TPAK Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 69,33
22
persen atau naik 0,56 poin. Kenaikan ini disumbang oleh kenaikan TPAK perempuan sebesar
1,45 poin.
Grafik 2.20 TPT Berdasarkan Jenjang Pendidikan di Provinsi Kalimantan Selatan
14,00%
12,00%
10,00%
8,00%
6,00%
4,00%
2,00%
0,00%
SD ke bawah SMP Se-derajat SMA SMK Diploma Universitas
Agustus 2018 Agustus 2019 Agustus 2020
Sumber: BPS (diolah)
Angka pengangguran dapat dilihat dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yaitu
perbandingan antara jumlah pengangguran terhadap penduduk angkatan kerja. TPT Provinsi
Kalimantan Selatan pada Agustus 2020 adalah 4,74 persen. Indikator ini mengalami
peningkatan sebesar 0,56 poin dibandingkan keadaan Agustus 2019 sebesar 4,18 persen.
Tingkat TPT terendah terjadi pada kelompok Pendidikan SD ke bawah dikarenakan tenaga
kerja pada kelompok tersebut merupakan tenaga kerja kasar/serabutan yang bisa masuk di
semua jenis lapangan usaha.
Penduduk usia kerja di Provinsi Kalimantan Selatan pada Agustus 2020 mencapai
3,15 juta, terdapat 400 ribu orang yang terdampak COVID-19 atau 12,68 persen.
Pengurangan jam kerja adalah dampak COVID-19 yang paling dominan dirasakan penduduk
usia kerja. Jumlah penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja yaitu 332.585
orang atau 83,14 persen.
Grafik 2.21 Penduduk Usia Kerja yang Terdampak COVID-19 di Provinsi Kalimantan
Selatan Kondisi Agustus 2020
6,93% 2,83% 7,10%
Pengangguran Karena COVID-19
83,14% Bukan Angkatan kerja Karena COVID-19
Sementara Tidak Bekerja Karena COVID-19
Penduduk Bekerja yang Mengalami Pengurangan Jam
Kerja Karena COVID-19
Sumber: BPS (diolah)
23
2.2.4 Nilai Tukar Petani (NTP)
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani (IT)
dengan indeks harga yang dibayar petani (IB) yang dinyatakan dalam persentase. NTP juga
menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang
dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, relatif semakin kuat pula
tingkat kemampuan/daya beli petani.
Grafik 2.22 Pergerakan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Kalimantan Selatan 2018-2020
106 Jul Agt Sept Okt Nov Des
104 2020
102
100
98
96
94
Jan Feb Mar Apr Mei Jun
2018 2019
Sumber: BPS (diolah)
Pada Desember 2020, NTP Provinsi Kalimantan Selatan tercatat sebesar 105,37 atau
naik 1,78 persen jika dibandingkan NTP November 2020. Kenaikan NTP ini disebabkan
indeks IT naik sebesar 2,08 persen, sementara indeks IB naik hanya sebesar 0,30 persen. Di
mana indeks konsumsi rumah tangga naik 0,36 persen dan indeks BPPBM naik 0,14 persen.
NTP tertinggi pada Jenis Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 112,55. Sementara itu, pada
subsektor perikanan, NTNP (subsektor perikanan) mencapai 98,99 atau naik 0,52 persen.
NTNP tertinggi diperoleh dari kelompok budidaya ikan mencapai 99,33 atau naik 0,84 persen.
Kenaikan ini disebabkan adanya kenaikan indeks IT sebesar 0,86 persen yang dipengaruhi
oleh kelompok budidaya ikan air tawar.
Pada kelompok penangkapan Ikan, Nilai Tukar Nelayan mencapai 98,90 atau naik
0,44 persen. Kenaikan NTN karena indeks yang diterima (It) naik 0,67 persen, sedangkan Ib
naik sebesar 0,23 persen. Kenaikan It karena kelompok penangkapan di perairan umum naik
1,76 persen dan kelompok penangkapan di laut naik sebesar 0,40 persen. Kenaikan pada
indeks Ib dikarenakan indeks harga kelompok KRT naik 0,46 persen dan kelompok BPPBM
turun 0,03 persen. Indeks It kelompok penangkapan ikan lebih kecil dari indeks Ib sehingga
NTN di bawah 100.
24
2.3 EFEKTIVITAS KEBIJAKAN MAKRO EKONOMI DAN PEMBANGUNAN
REGIONAL
Efektivitas kebijakan makro ekonomi dan pembangunan Provinsi Kalimantan Selatan
dapat diketahui dengan membandingkan antara target dan pencapaian dari setiap indikator
yang ditetapkan dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA). Realisasi Pertumbuhan Ekonomi
di Provinsi Kalimantan Selatan adalah -1,81 persen (c to c) jauh di bawah target yang
ditetapkan sebesar 5,30 persen. Namun demikian, capaian pertumbuhan ekonomi di Provinsi
Kalimantan Selatan masih lebih baik daripada capaian pertumbuhan ekonomi Nasional yang
sebesar -2,07 persen (c to c). Tidak tercapainya target tersebut disebabkan atas melemahnya
aktivitas masyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan akibat pandemi COVID-19.
Capaian tingkat inflasi Provinsi Kalimantan Selatan juga berada di bawah target KUA.
Provinsi Kalimantan Selatan juga mengalami deflasi pada bulan Maret, April, Juli dan
September 2020. Deflasi tersebut disebabkan adanya penurunan harga pada kelompok
transportasi seperti angkutan udara sebesar 1,4 persen di bulan April 2020. Deflasi pada
angkutan udara disebabkan karena permintaan penerbangan domestik yang belum pulih di
tengah kondisi perekonomian yang masih dalam fase menurun. Upaya Pemerintah
mengizinkan aktivitas bepergian dengan tetap menerapkan protokol kesehatan COVID-19
belum dapat meningkatkan permintaan angkutan udara secara signifikan.
Grafik 2.23 Perbandingan Target dan Capaian Indikator Makro Ekonomi Provinsi
Kalimantan Selatan dan Nasional Tahun 2020
8,00% 4,01% 7,07% Indeks Pembangunan
6,00% 5,30% 5,20% 4,74% 73 Manusia
4,00%
72,51
2,00% 0,45%0,79% 0,00% 72,5
0,00%
-2,00% Pertumbuhan Tingkat Inflasi Tingkat TPT 71,94
-4,00% 72
Eko-n2o,c0m)7i%(c-1t,o81% Kemiskinan
71,5
Target dalam KUA Capaian Nasional 2020 Capaian Kalsel 2020 71 70,91
70,5
70
IPM
Sumber: BPS Kalsel dan BPS Nasional (diolah)
Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami
peningkatan dari 70,72 di tahun 2019 menjadi 70,91 di tahun 2020. Meski mengalami
peningkatan, namun capaian tersebut masih di bawah target yang ditetapkan dalam KUA.
Capaian pembangunan manusia diukur dengan memperhatikan tiga aspek esensial, yaitu
umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan dan standar hidup layak. Peningkatan IPM juga
disertai dengan peningkatan hampir di seluruh komponen pembentuknya. Peningkatan
25