ii
ii ii 09 20 29 43 TATALI PARANTI KARUHUN (ATURAN LOKAL MASYARAKAT ADT KASEPUHAN Henriana Hatrawijaya SEKAM PADI PADA BATA di KOMPLEKS PERCANDIAN BATUJAYA: TINJAUAN DARI SISI PHYSICOCHEMICAL Audio Mega Cahya Ramadhan SWARA JALAWARA HAWARA: SUARA UNTUK PADI Rizal Mahfud dan Nanda Ghaida CALUNG RENTENG WADITRA TINA AWI WULUNG Fajar Satya Burnama DAFTAR Poto ilustrasi: Freepik.com
iii 56 84 100 68 GEREJA SION: GEREJA PORTUGIS DI LUAR BENTENG DAN MASYARAKAT BATAVIA SAAT ITU Adita Nofiandi MENGULIK PERMAINAN TRADISIONAL DI KOTA SERANG Dewi Puspito dan Rini Rennisa Anggraeni PENDEKATAN VALUE BASE MANAGEMENT SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN GEDUNG B GALERI NASIONAL INDONESIA (GNI) Yanuar mandiri WARNA ETNIS CINA PADA CAGAR BUDAYA DI BANTEN LAMA Yuni Rahmawati iii ISI :
IViviv
v TERBIT PERTAMA kali tahun 1999 tanpa ISSN dan selanjutnya selama beberapa tahun tidak terbit, hingga kemudian pada 2013, Buletin Kalatirta kembali hadir dengan format baru dilengkapi dengan ISSN. Syukur Alhamdulillah, sejak 2013 sampai 2023, setiap tahun Buletin Kalatirta selalu hadir di hadapan pembaca. Tak terasa di tahun 2023 ini Buletin Kalatirta genap satu dekade. Patut kami syukuri, di tengah dinamika pekerjaan teknis yang cukup menyita waktu, akhirnya volume 11 kembali menyapa. Sebagai informasi, sejak 2022 nomenklatur Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten berganti menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII dengan wilayah kerja Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta. Meskipun wilayah kerja berkurang, namun tugas fungsi bertambah, tidak hanya pelestarian cagar budaya namun juga pelestarian objek pemajuan kebudayaan. Sesuai dengan tugas fungsi yang baru, Buletin Kalatirta volume 11 kali ini menyajikan materi tulisan yang secara garis besar temanya dapat dikategorikan dalam dua tema, yaitu tulisan yang menyajikan tentang cagar budaya dan objek pemajuan kebudayaan. Tema yang mengusung cagar v SALAM REDAKSI budaya ditulis oleh Yanuar Mandiri, yang membahas nilai penting dan pendekatan value base management dalam upaya pelestarian Gedung B Galeri Nasional Indonesia. Adita Nofiandi dan Yuni Rahmawati mencoba menelisik tinggalan budaya berdasarkan data arkeologis dan sumber tertulis. Tulisan lain yang tidak kalah menarik dipaparkan oleh Audio Mega Cahya Ramadhan, yang mencoba menjelaskan fungsi sekam pada bata penyusun percandian Batujaya. Menarik karena dapat memancing peneliti lain untuk lebih lanjut mengungkap objek yang ditulis. Adapun tulisan yang mengusung tema objek pemajuan kebudayaan ditulis oleh Fajar Satya Burnama, Dewi Puspito Rini, dan Renisa Anggraeni. Henriana Hatrawijaya menulis tentang Tatali Paranti Karuhun, yakni aturan lokal masyarakat adat kasepuhan. Rizal Mahfud berbagi pengalaman tentang karyanya, Swara Jalawara Hawara yang didukung oleh Dana Abadi Kebudayaan. Mengakhiri salam dari redaksi Buletin Kalatirta volume 11, tim redaksi berharap semoga apa yang disajikan dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi pelestarian warisan budaya. Selamat Membaca.
vi VI VIVI
vii VII DITERBITKAN OLEH : BALAI PELESTARIAN KEBUDAYAAN WILAYAH VIII KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI Pelindung Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII Penanggung Jawab Kepala Sub. Bagian Umum Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII Redaktur Maharani Qadarsih Penyunting Swedhi Hananta Desain dan Layout Alpi Syahri Fotografi Hendri Prasetyo Sekretariat Ernawati Alamat Redaksi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII Jl. Letnan Djidun (Komplek Perkantoran) Kepandean, Kota Serang, Banten 42115 No. Tlp/Fax: 0254 203428 Email: [email protected] DIPENERBITKAN BPK WILAYAH VIII Tahun 2023
0808
09 Provinsi Banten, tepatnya di Kabupaten Lebak, terdapat dua entitas masyarakat adat, yaitu Masyarakat Adat Suku Baduy dan Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul. Berbeda dengan Masyarakat Adat Suku Baduy yang membatasi diri dari pengaruh budaya luar, Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul yang wilayahnya berada di desadesa tradisional dan setengah tradisional, bersedia menerima dan menyaring teknologi modern meskipun mereka juga masih menjalankan adat istiadat yang diwariskan oleh leluhurnya. Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul tersebar di beberapa daerah di Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat bagian selatan. Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2015 yang mengatur tentang Pengakuan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan. Pada peraturan tersebut tercatat 522 kasepuhan yang sudah teridentifikasi sebagai masyarakat hukum adat. Kasepuhan terbagi menjadi dua kelompok, yakni kasepuhan induk atau kasepuhan besar, dan kasepuhan kecil seperti kaolotan, yang tersebar di beberapa wilayah. Terdapat enam pupuhu kasepuhan atau kasepuhan induk, di antaranya Wewengkon Citorek, Kasepuhan Guradog, Kasepuhan Bayah, Wewengkon Kasepuhan Sajira, Kasepuhan Cicarucub, dan Kasepuhan Cisungsang. Sebagian wilayah kasepuhan berada di Oleh: Henriana Hatrawijaya TATALI PARANTI KARUHUN "Aturan Lokal Masyarakat Adat Kasepuhan"
10 wilayah Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebagian besar kondisi wilayahnya merupakan pegunungan dan perbukitan. Masyarakat adat menggantungkan kehidupan pada alam. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani secara tradisional. Mereka meyakini bahwa konsep keseimbangan hidup damai dan makmur adalah dengan tidak mengorbankan alam. Hal itu sudah tertanam dalam Tatali Paranti Karuhun. Tatali Paranti Karuhun dapat diartikan sebagai pedoman
11 kehidupan Masyarakat Adat Kasepuhan, yang dalam proses implementasinya terelaborasi dalam tiga kategori, yaitu mokaha, nagara, dan sara. Masyarakat Adat Kasepuhan memegang prinsip nyanghulu ka hukum (sara), nunjang ka nagara (nagara), mupakat ka balarea (mokaha). Ketiga sumber aturan yang terbungkus dalam Tatali Paranti Karuhun tersebut berjalan berdampingan, saling melengkapi, dan tidak pernah terjadi pertentangan dalam pelaksanaannya di komunitas adat kasepuhan. Ketiga unsur ini selaras dengan ajaran Islam, yakni hablumminallah (hubungan dengan Allah), hablumminannas (hubungan dengan manusia), dan hablumminal’alam (hubungan dengan alam). Mokaha mengandung arti aturan yang bersumber dari tradisi leluhur, yang masih terjaga dan dipatuhi oleh seluruh anggota masyarakat adat. Aturan ini diwariskan secara turun temurun menggunakan tradisi lisan. Mokaha berisi tentang tata aturan dan nilai-nilai tradisi yang mengatur larangan, pantangan, kewajiban, konsep pengelolaan nagara (nagara), mupakat ka balarea (mokaha). Ketiga sumber aturan yang terbungkus dalam Tatali Paranti Karuhun tersebut berjalan berdampingan, saling melengkapi, dan tidak pernah terjadi pertentangan dalam
1212 Penyerahan hasil bumi berupa Padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam leuit / lumbung MEMULIAKAN PADI
13
14
15 wilayah adat, proses ritual, aturan yang berkaitan dengan siklus kehidupan, pertanian, dan tata cara pengambilan keputusan melalui musyawarah adat. Mokaha mengatur hubungan antar sesama anggota masyarakat adat, mengatur hubungan dengan leluhur melalui ritual, mengatur serta melaksanakan pola dan konsep pertanian tradisional, mengatur pengelolaan wilayah maupun hutan adat berdasarkan zonasi dan pengaturan tradisional, serta mengatur kelembagaan adat dan tugas-tugas pemegang jabatan di struktur lembaga adat. Sara, yaitu aturan serta nilainilai dalam Islam yang bersumber dari Alquran dan hadist, yang dianut oleh seluruh anggota Masyarakat Adat Kasepuhan di Banten Kidul. Aturan agama ini menjadi landasan peribadatan dalam berhubungan dengan Allah SWT, Tuhan Sang Pencipta. Tidak berbeda dengan muslim lainnya, Masyarakat adat kasepuhan juga melaksanakan kewajiban dan larangan yang mengatur tata kehidupan beragama seperti aturan peribadatan, aturan perkawinan, maupun hak waris. Dalam hal ini, Masyarakat Adat Kasepuhan harus berprinsip dan memegang teguh pada syariat agama yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan. Nagara, yakni aturan yang bersumber pada aturan penguasa saat ini, atau aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masyarakat Adat Kasepuhan juga merupakan penduduk Indonesia yang mempunyai hak dan kewajiban sama dengan penduduk lainnya di Indonesia. Konsep nunjang ka nagara mengandung arti bahwa Masyarakat adat kasepuhan mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia, patuh dan tunduk terhadap kebijakan serta peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Aturan kependudukan, pertanahan, pendidikan, layanan kesehatan, KUHP, perpajakan, kehutanan dan lingkungan hidup, maupun aturan-aturan lain yang disahkan negara. Semua berlaku sama dan setara terhadap Masyarakat Adat Kasepuhan. Ketiga konsep itulah yang hingga saat ini berlaku dan berjalan seimbang serta beriringan dalam kehidupan Masyarakat adat kasepuhan, tanpa adanya benturan atau saling bertabrakan. Konsep Tatali Paranti Karuhun yang diwariskan dari para leluhur selalu menjadi pedoman bagi mereka dalam menjalankan hidup yang damai dan saling menyayangi. Bukan hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga antar manusia
16 PAWAI SEREN TAUN
17
18 18 HIBURAN DI TRADISI SEREN TAUN
19 Seren Taun dilaksanakan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam, dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional. KESENIAN TRADISIONAL
20 ANGKLUNG BUHUN
21
22 dengan alam. Tatali Paranti Karuhun harus terus dijaga, ditaati, ditradisikan, dan diwariskan kepada generasi selanjutnya agar masyarakat, khususnya pemuda adat, terhindar dari perilaku ekstrim, intoleran, dan radikalisme. Sebagai contoh, ketika pandemi Covid-19 tengah melanda seluruh dunia, Masyarakat adat kasepuhan melakukan caranya sendiri untuk menangkal dan melindungi warga adat, yaitu dengan melaksanakan ritual Tolak Bala. Selain itu, secara bersama-sama berdoa kepada Allah SWT agar pandemi segera berakhir, serta menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Pelaksanaan ritual tolak bala dan ritual Ngaraksa Lembur merupakan contoh dari aturan mokaha. Berdoa bersama kepada Allah SWT merupakan perilaku dari aturan sara. Adapun menerapkan protokol kesehatan merupakan bukti patuh terhadap aturan Pemerintah (nagara). Masyarakat adat selalu menjalankan adat istiadat dan tradisi tanpa mengesampingkan hubungan dengan Tuhan serta aturan perundangan-undangan yang berlaku. Bagi mereka, adat istiadat harus berjalan beriringan dengan kepercayaan yang dianut, yakni ajaran agama Islam. Karena keduanya sama-sama mengajarkan kebaikan dan melarang adanya kejahatan. Meskipun beragama Islam, Masyarakat adat kasepuhan tetap menjalankan adat tradisi atau tatali paranti yang telah diwariskan oleh leluhur mereka, seperti memberikan sesajen, membakar kemenyan, mengadakan ritual adat, ataupun tradisi-tradisi lain di luar ajaran Islam. Salah satu ritual adat yang dilaksanakan adalah ritual adat Seren Taun, yakni perayaan panen padi yang diadakan setiap satu tahun sekali. Ritual Seren Taun merupakan bentuk rasa syukur atas berkah yang Tuhan berikan melalui panen yang melimpah. Masyarakat Adat Kasepuhan sangat memuliakan padi. Menjual padi, beras, maupun olahan dari beras merupakan pantangan bagi Masyarakat adat kasepuhan. Seren Taun dilaksanakan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam, dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional. Saat pandemi Covid-19, ritual Seren Taun dilakukan secara sederhana dan terbatas, hanya diikuti oleh para tetua adat. Hal ini membuktikan kepatuhan masyarakat adat terhadap aturan nagara, namun tetap melaksanakan aturan mokaha. Kearifan lokal di Kasepuhan Banten Kidul yang bernuansa moderasi beragama juga termuat
23 dalam Tatali Paranti Karuhun. Norma-norma adat yang menjadi dasar kehidupan mereka yaitu tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh (tiga sejenis, dua serupa, satu itu-itu juga). Norma tersebut mengandung makna meskipun Masyarakat adat kasepuhan memiliki berbagai macam keinginan, perilaku, dan sifat, namun pada hakikatnya semua berasal dari satu sumber, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Konsep aturan dasar itulah yang mengendalikan seluruh perilaku Masyarakat adat aasepuhan. Konsep dasar tersebut juga menurunkan tiga aturan yang harus berjalan beriringan dengan kehidupan masyarakat adat, yakni sara, nagara, mokaha (agama, negara, adat). Meskipun adat istiadat di Masyarakat adat kasepuhan masih sangat kental, agama merupakan bagian penting yang harus ada di kehidupan mereka. Hal itu dibuktikan dengan adanya madrasah dan pondok pesantren yang tersebar di wilayah kasepuhan. Banyak anak-anak dan pemuda yang bersekolah di madrasah, pondok pesantren, ataupun sekolah dan bekerja di luar wilayah adat kasepuhan. Namun demikian tidak membuat mereka menjadi pribadi yang anti budaya dan fanatik terhadap agama tertentu. Justru dengan menjalankan agama yang beriringan dengan menjaga adat dan tradisi, membuat mereka memiliki sifat moderat. Ritual Seren Taun Masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang (Dokumentasi pribadi)
24
25 SEKAM PADI PADA BATA DI KOMPLEK PERCANDIAN BATUJAYA: TINJAUAN DARI SISI PHYSICOCHEMICAL Oleh: Audio Mega Cahya Ramadhan
26 Kawasan Batujaya merupakan kompleks percandian yang terbesar di Jawa Barat. Lebih dari 20 reruntuhan candi, ditemukan tersebar di area seluas sekitar 5 Km2 Tinggalan arkeologi masa klasik di wilayah Jawa Barat, khususnya bangunan candi, amatlah sedikit jika dibandingkan dengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tinggalan berupa sisa-sisa bangunan atau struktur, sebagian besar ditemukan dalam kondisi tidak utuh dan sangat sulit untuk direkonstruksi. Salah satu tinggalan yang sangat dikenal masyarakat adalah temuan struktur CANDI BLANDONGAN
27 candi di Batujaya, Karawang. Situs Batujaya merupakan kompleks percandian yang terbesar di Jawa Barat. Lebih dari 20 reruntuhan candi, ditemukan tersebar di area seluas sekitar 5 Km2 . Reruntuhan candi ditemukan dalam kondisi terkubur di dalam tanah, membentuk bukit-bukit kecil di tengah persawahan penduduk. Masyarakat setempat menyebutnya “unur”. Bangunan candi di Batujaya berbahan dasar bata. Kompleks percandian yang berumur lebih tua dari Candi Borobudur ini memiliki sesuatu yang khas. Pada pembangunannya, masyarakat di masa itu telah mengenal teknologi stucko. Bata yang ditemukan di kompleks percandian Batujaya memiliki keunikan yang khas, yaitu terdapat banyak campuran sekam (kulit padi). Beberapa artikel bahkan menyebut terdapat juga campuran arang sekam. Menurut beberapa sumber, mencampur sekam dan tanah liat untuk membuat bata, diyakini dapat mematangkan bagian dalam bata saat proses pembakaran. Temuan bata dengan campuran sekam ini menunjukkan kemajuan teknologi yang dikembangkan oleh masyarakat pada masa itu, meskipun kompleks percandian Batujaya memiliki predikat sebagai candi tertua di Indonesia. Proses pembuatan bata, mulai dari pencampuran bahan, pencetakan, hingga proses pembakaran, tidak lepas dari adanya perubahan fisis dan perubahan kimia. Salah satu subbidang keilmuan yang mempelajari hubungan antara fisika dan kimia adalah physicochemical, yang dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai fisikokimia. Secara umum, fisikokimia merupakan suatu keadaan dimana perubahan fisis dan kemis terjadi dalam waktu yang relatif sama. Proses perubahan tersebut akan selalu terjadi
2228 DETAIL BATA
29 pada pembuatan bata. Studi kasus bata yang ditemukan di Batujaya, bulir-bulir sekam yang tampak pada bata perlu ditinjau secara fisikokimia. Sehingga akan didapatkan keterangan mengenai kelebihan dan kekurangan bata di Batujaya, sebagai bahan pertimbangan tindakan rekontruksi dan konservasinya. Bata merupakan bagian dari bangunan, terbuat dari tanah liat yang diolah menjadi bentuk balok-balok kecil. Pengolahan tanah liat menjadi bata melalui proses sintering, yaitu pembakaran di dalam tanur pada suhu tertentu. Penyinteran merupakan teknik memadatkan dan membentuk suatu massa material melalui panas atau tekanan, tanpa melelehkan massa material tersebut hingga titik cairnya. Proses penyinteran tersebut, mampu memadatkan tanah liat yang lunak dan liat menjadi bata yang kering dan keras. Bata memiliki karakter alami mudah menyerap air. Hal ini dikarenakan bata memiliki pori-pori yang cukup banyak dengan ukuran cukup besar, jika menggunakan skala mikro. Kemampuan bata menyerap air sangat ditentukan dari proses pembuatannya, termasuk di dalamnya material bahan baku dan proses penyinteran. Permasalahan yang sering terjadi pada proses produksi bata yaitu prosedur selama proses pembuatan dilakukan secara manual dengan fluktuasi konsistensi. Detail bata candi di kompleks percandian Batujaya (sumber: Wikimedia Commons)
30 Pada umunya, analisis kandungan unsur dalam bata terdiri dari Silikon Dioksida, Aluminium Dioksida, dan Besi Oksida. Unsur yang mempengaruhi kekerasan bata adalah Silikon Dioksida, adapun Aluminium Dioksida dan Besi Oksida membuat bata berwarna merah setelah proses penyinteran. Sejauh pengetahuan penulis, belum ada kajian mendalam mengenai bata di kompleks percandian Batujaya. Apakah bata di Batujaya hanya bercampur dengan sekam padi saja, atau ditambahkan pula abu sekam di dalam campurannya? Beberapa hasil studi kasus di beberapa tempat di berbagai negara menunjukkan karakter yang berbeda antara bata biasa (tanpa campuran sekam dan/ atau abu sekam), bata dengan campuran sekam, dan bata dengan campuran abu sekam. Karakter yang dimaksud berupa karakter fisis dan kemis dari bata itu sendiri, mulai dari suhu yang tepat untuk proses penyinteran, porositas, kekerasan, hingga analisis kimia secara mendalam. Secara umum, bata dianggap Bata yang ditemukan di kompleks percandian Batujaya memiliki keunikan yang khas, yaitu terdapat banyak campuran sekam (kulit padi)
31 baik bila memiliki daya serap air kurang dari 20%. Menurut hasil penelitian Sudibyo, Al. Santoso dan P. Santoso (2008), menyebutkan bahwa nilai rata-rata kandungan air bata dari beberapa situs di Indonesia adalah 24,21%. Artinya, bata di Batujaya juga memiliki daya serap air sekitar 24,21%. Hal tersebut dapat dimaklumi karena porositas bata yang telah bercampur dengan sekam pasti akan lebih tinggi daripada bata tanpa campuran sekam. Ketika porositas suatu material tinggi, maka bulk density material tersebut akan berbanding terbalik dengan porositasnya. Dengan demikian, berdasarkan kalimat di atas, bata di Batujaya yang bercampur dengan sekam padi memiliki karakter lebih mudah menyerap air dan lebih memiliki banyak pori karena bulk density yang lebih rendah. Beberapa peneliti di Kuban State Technological University, Rusia pernah melakukan penelitian tentang karakter fisis dan kemis antara tanah liat dan tanah liat bercampur sekam. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan karakter kedua materi tersebut, yang dapat dilihat pada tabel berikut: Hasil uji oleh Tatyana Germanovna et al. pada tabel di atas merupakan bahan mentah sebelum dilakukan penyinteran. Pada tabel disebutkan bahwa suhu proporsional untuk penyinteran tanah liat bercampur sekam yaitu pada 1.100°C. Penelitian lain juga pernah dilakukan di Suandusit Rajaphat University, Thailand, yang membandingkan bata bercampur sekam dengan bata bercampur abu sekam. Hasil dari penelitian tersebut diketahui bahwa komposisi terbaik bata adalah 2% wt abu sekam padi dengan memperoleh uji tekan 6,20
32 MPa dan 15,2% daya serap air. Berikut merupakan grafik bulk density dan kuat tekan bata pada bata bercampur sekam dan bata bercampur abu sekam yang diuji oleh J. Sutas et al. Grafik di atas menunjukkan bahwa penggunaan abu sekam padi sebagai bahan campuran (filler) bata merah, memiliki efek positif dibandingkan dengan bata yang bercampur sekam padi. Jika membandingkan keadaan riil di lapangan dengan data-data penelitian di atas, akan muncul beberapa pertanyaan. Mengapa bata di Batujaya dicampur sekam? Apakah hanya sekam yang digunakan sebagai campuran tanah liat, atau juga menggunakan abu sekam sebagai bahan campuran? Jika melihat fisik bata Batujaya seperti pada gambar di atas, bulir-bulir sekam pada permukaan bata tampak masih utuh. Sekam bersifat mudah terbakar, terlebih lagi pada saat kondisi kering. Bata tersebut dapat bertahan lama dibandingkan bata jaman sekarang. Padahal berdasarkan hasil penelitian, adanya campuran sekam akan menurunkan kuat tekan bata itu sendiri. Untuk itu diperlukan penelitian lebih dalam dan berkelanjutan dari berbagai aspek yang memungkinkan. Penulis berpendapat bahwa sebenarnya sekam pada lapisan luar bata Batujaya sudah sempat menjadi abu dan menyatu dengan tanah liat yang masih basah di bawahnya. Kondisi tersebut akan meningkatkan Silikon Dioksida sebagai bahan mineral yang mampu memperkeras tanah liat selama proses penyinteran.
33 Kemungkinan masyarakat pembuat bata pada masa itu memiliki cara tertentu dalam proses penyinteran, baik dari segi teknik penyusunan bata maupun bahan pembakarnya, sehingga masih terdapat bulir-bulir sekam yang utuh seperti yang terlihat pada foto di atas. Hipotesis penulis tersebut perlu adanya pembuktian secara ilmiah untuk memecahkan masalah yang ada. Dengan demikian, duplikasi bata untuk keperluan rekontruksi candicandi di Batujaya dapat mendekati karakter bata aslinya, baik secara fisis maupun kemis. Selain itu juga dapat menjadi bahan pertimbangan pengkondisian lingkungan sekitar candi untuk memudahkan upaya pelestariannya. “At it’s best, preservation engages the past in a conservation with the present over a mutual concern for the future” Daftar Pustaka: Djafar, Hasan. 2010. Kompleks Percandian Batujaya; Rekonstruksi Sejarah Kebudayaan Daerah Pantai Utara Jawa Barat. Bandung: Kiblat Buku Utama. Sutas, J., A. Mana, dan L. Pitak. 2011. Effect of Rice Husk and Rice Husk Ash to Properties of Bricks. Thailand: Suandusit Rajaphat University. Available from: www. sciencedirect.com Sudibyo, Al. Santoso dan P. Santoso. 2008. Laporan Kajian Karakteristik Material Benda Cagar Budaya dari Bata. Magelang: Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Tatyana Germanovna Korotkova, Svetlana Jurevna Ksandopulo, Aleksandr Pavlovich Donenko, Svyatoslav Andreevich Bushumov, dan Aleksandra Sergeevna Danilchenko. 2016. Physical Properties and ChemicalComposition of the Rice Husk and Dust. Rusia: Kuban State Technological University. Available from: www. orientjchem.org
34 28
35 Bambu, tanaman jenis rumputrumputan yang mempunyai rongga dan ruas pada batangnya, di Indonesia memiliki beberapa sebutan antara lain bulur, aur, awi, buluh, eru, dan aur. Kekuatan dan kelenturan bambu menjadi salah satu faktor utama yang tidak dimiliki oleh bahan lainnya, seperti kayu, sehingga banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Selain menjadi sumber pangan bagi manusia dan hewan pada bagian tunasnya (rebung), bambu juga memiliki manfaat di antaranya dibuat menjadi peralatan rumah tangga seperti bakul nasi, tampah, besek, topi bambu, dan berbagai kerajinan anyaman lain. Bambu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi seperti dinding rumah, jembatan, dan penopang struktur awal pada saat pengecoran rumah. Manfaat lainnya, bambu bisa dijadikan sebagai alat bela diri, rakit, alat permainan tradisional, dan sebagainya. Apabila ditelisik lebih mendalam, bambu sudah melekat dengan kehidupan sehari-hari manusia. Bahkan telah menjadi satu identitas sekaligus ikon budaya rural komunitas. Masyarakat di Nusantara telah lama memakai bambu untuk berbagai keperluan, tidak terkecuali sebagai sarana penghiburan, yaitu melalui alat musik. Musik bambu bisa dijumpai di berbagai tempat Oleh: Fajar Satya Burnama CALUNG RENTENG WADITRA TINA AWI WULUNG "Calung dimainkan bersama alat musik tradisional lainya sebagai ritual penghormatan terhadap Dewi Sri"
3036 https://www.freepik.com/free-photo/ beautiful-landscape-bamboo-grove-forestarashiyama-kyoto_3500995.htm#query
37 dengan berbagai ragam ekspresinya. Dari sinilah tercipta kultur musik tersendiri, yakni budaya musik bambu. Instrumen bambu dalam khazanah musik cukup mendominasi, baik secara keseluruhan maupun hanya sebagai pendukung. Hal ini dikarenakan alam telah menyediakan berbagai jenis bambu di berbagai wilayah tropis maupun subtropis. Menurut Elizabeth Widjaja, peneliti LIPI, ada kurang lebih 1.500 jenis bambu di seluruh dunia, 157 di antaranya tumbuh di Indonesia. Bahkan, 88 jenis di antaranya adalah bambu endemik Indonesia. Dengan demikian, menjadikan bambu sebagai alat musik merupakan bagian dari konstektual kehidupan itu sendiri. Alat musik dari bambu telah disepakati menjadi aset budaya yang sangat penting bagi Indonesia. Berbagai alat musik berbahan bambu telah lama dikenal di banyak daerah di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Terdapat kurang lebih 25 jenis alat musik di Indonesia yang berbahan dari bambu, di antaranya angklung, calung, seruling Sunda, karinding, celempung, bambu jitak, gambang Sunda (arumba), genggong, dan basek (bambu gesek) yang berasal dari Jawa Barat dan Banten. Kemudian saluang, bansi dan sarunai dari Sumatera Barat, taktok trieng dari Aceh, gamolan dari Lampung, rindik berasal dari Bali, tatali dan tutuban dari
38 Sulawesi Tenggara, sasando dan foy doa dari Nusa Tenggara Timur, pa’pompang dari Sulawesi Selatan, serta gong sebul dari Yogyakarta. Bambu bukan hanya dimanfaatkan sebagai alat musik tradisional semata, tetapi di Cimahi Jawa Barat, bambu juga dapat diolah menjadi alat music modern seperti biola, gitar dan drum. Meskipun hanya dari bambu, tetapi suara yang Bambu juga dapat diolah menjadi alat musik modern seperti biola, gitar dan drum. (Sumber foto nasional.tempo.co)
39 dihasilkan tidak kalah dengan alat musik dari bahan kayu. Hanya saja pengaruh alat musik modern mulai menggeser keberadaan alat musik tradisional, khususnya alat musik dari bambu. Hal ini dikarenakan generasi muda lebih meyukai menggunakan alat musik modern dalam berkarya dan perform. Masih banyak yang menganggap kuno alat musik bambu, atau susah untuk dimainkan. Bicara tentang salah satu alat musik tradisional yang ada di Indonesia, adalah calung. Alat musik ini awalnya berkembang di masyarakat Sunda, cukup popular selain angklung. Bahkan calung sering disebut sebagai prototipe dari angklung. Sejauh ini belum ada catatan pasti tentang awal mula alat musik calung dibuat atau diperkirakan ada untuk pertama kalinya. Bentuk dan ukurannya pun tidak banyak berkembang, hanya fungsinya yang berbeda. x Syair yang dilantunkan berisi puji-pujian terhadapnya. Namun kemudian calung digunakan juga sebagai seni pertunjukan yang bersifat penyuluhan informasiX dan hiburan. Istilah calung berasal dari kata ca = maca (baca), lung = linglung (bingung). Di masa lampau, waditra calung disajikan sebagai alat mandiri (tunggal) dan biasa dimainkan di tempat-tempat sepi oleh orang-orang yang sedang menunggu padi di ladang ataupun sawah. Bagi orang yang memainkannya, calung merupakan musik pelipur lara atau pelipur hati yang sedang bingung (haté nu keur liwung). Terdapat dua bentuk calung yang dikenal masyarakat, yakni calung jinjing dan calung rantay. Calung jinjing berbentuk deretan bambu bernada, yang disatukan dengan sebilah kecil bambu (paniir).
3440 Calung renteng dimainkan dengan cara dipukul pada bilah atau ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la untuk masyarakat Sunda, dan ji-ro-lu-manem untuk masyarakat Banyumas). Sumber foto: indonesiakaya.com
41 DIMAINKAN DENGAN CARA DIPUKUL
42 PEMBUATAN CALUNG RENTENG
43 Proses pembuatan Calung Renteng: Tahap selanjutnya adalah tahap pelarasan atau tuning nada, yaitu tuning tabung dan tuning wilayah bilah
44 Calung jinjing terdiri atas empat atau lima calung, yakni calung kingking (terdiri dari 12 tabung bambu), calung panepas (5 /3 dan 2 tabung bambu), calung jongjrong(5 /3 dan 2 tabung bambu), dan calung gonggong (2 tabung bambu). Pada perkembangannya, saat ini ada yang hanya menggunakan satu calung kingking, dua panempas dan satu calung gonggong, tanpa menggunakan calung jongjrong. Jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal secara umum yaitu calung jinjing. Calung jinjing adalah jenis alat musik yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Sunda, misalnya pada masyarakat Sunda di daerah Sindang Heula–Brebes, Jawa Tengah, dan bisa jadi merupakan
45 pengembangan dari bentuk calung rantay. Cara memainkannya pun sudah mulai ditambah dengan beberapa alat musik lain, seperti kosrek, kacapi, piul (biola) dan bahkan ada yang melengkapi dengan keyboard dan gitar. Adapun calung rantay, untuk daerah Banten, lebih dikenal dengan sebutan calung renteng. Bilah tabungnya dideretkan dengan tali kulit waru (lulub) dari yang terbesar sampai yang terkecil, berjumlah 7 wilahan (7 ruas bambu) atau lebih. Komposisi alatnya ada yang satu deretan dan ada juga yang dua deretan (calung indung dan calung anak/ calung rincik). Untuk membuat calung renteng yang bagus diperlukan beberapa tahapan. Pemilihan bambu menjadi bagian terpenting dari proses awal. Jenis bambu yang dipakai untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), tetapi ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu ater, berwarna putih). Bambu yang dipilih untuk calung diutamakan lurus, dan ditebang saat musim kemarau. Untuk mendapatkan hasil maksimal, lebih sering menggunakan bambu yang mati di pohon terlebih dahulu (orang Sunda menamakan pancar monyet). Hal ini karena proses pengeringannya lebih cepat. Apabila bambu yang ditebang belum mati maka proses pengeringan dilakukan dengan menyimpan dalam posisi tegak agar air cepat turun. Proses pembuatan calung renteng selanjutnya adalah ngabakalan yaitu bambu dipotong sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan. Ukuran calung renteng tergantung nada dasar yang akan dipakai. Biasanya nada rendah berada di angka 55 – 60 cm, sedangkan nada tinggi di kisaran 15 – 20 cm. Sementara itu diameter calung bervariasi dari 3 cm hingga 8 cm. Tahap selanjutnya adalah tahap pelarasan atau tuning nada, yaitu tuning tabung dan tuning wilayah bilah. Untuk membantu proses pelarasan, biasanya menggunakan alat musik saron atau keyboard sebagai patokan nada. Selain itu digunakan alat bantu tuner untuk mencocokkan nada. Pelarasan dengan cara diraut hingga menemukan suara yang pas. Setelah setiap nada pada bilah dilaras, selanjutnya dilakukan perakitan ke ancak atau kayu secara vertikal dengan menggunakan tali yang sekarang lebih sering menggunakan tali tambang. Berbeda dengan dulu yang menggunakan tali dari serat kayu pohon waru. Jarak bilah satu dengan yang lain berkisar antara 1 – 1,5 cm. Langkah terakhir dalam pembuatan calung renteng adalah bambu diamplas agar terlihat rapi dan estetik. Bahkan jika diperlukan, bambu divernis supaya lebih awet. xx. Biasanya calung diikat di pohon atau bilik rumah (Banjaran-
46 Bandung dan Kanekes-Baduy). Ada juga yang dibuatkan ancak, yakni dudukan khusus dari bambu atau kayu, seperti calung tarawangsa di Cibalong dan Cipatujah, Tasikmalaya. Teknik menabuhnya antara lain dimelodi, dikeleter, dikemprang, dikempyung, diraeh, dirincik, dirangkep (diracek), salancar, kotrek, dan solorok. Masyarakat Banten Kidul biasa memainkan calung renteng di sela-sela upacara yang berkaitan dengan ritual pertanian. Umumnya, calung renteng dimainkan secara berkelompok, terdiri atas 4-8 orang yang memainkan calung. Calung renteng menjadi instrumen kalangenan yang kerap dimainkan di sela-sela berladang huma dan merupakan warisan budaya agraris masyarakat Sunda lama. Calung renteng pada awalnya dimainkan untuk menghibur diri sendiri dan mengusir hama. Anak SANG MAESTRO
47 laki-laki masyarakat Banten Kidul sering memainkan calung renteng saat para ibu sedang memanen padi dan memisahkan bulir padi dari kulitnya dengan alat tradisional yang disebut lesung. Namun, seiring perkembangan zaman, alat musik tradisional ini tidak hanya dimainkan saat upacara tradisional. Calung kini sering dipadukan dengan berbagai alat musik modern. Bahkan, belakangan ini banyak bermunculan komunitas pemusik calung yang membuat kreasi musikal. Hal yang unik pada calung renteng terletak pada susunan bilah bambu secara vertikal, digantung di satu sisi adapun sisi lain diikat pada kaki pemain. Keunikan lain adalah cara memainkannya, yaitu kedua tangan menjalankan peran dengan porsi yang sama. Calung renteng memiliki nada pentatonis salendro, mengharuskan tangan kiri bermain melodi, sedangkan bass berada di tangan kanan, hal yang jarang terjadi di alat musik lain. Calung renteng di Banten ABAH KALIMI
48 berbeda dengan daerah lain. Bilah bambu calung renteng Banten berjumlah 12. Hal ini dipengaruhi oleh lagu-lagu yang ada di daerah tersebut. Keunikan lain yaitu mayoritas permainan calung tidak memiliki lirik. Hanya beberapa lagu yang dilengkapi oleh lirik. Lirik-lirik tersebut juga merupakan bentuk dari pantun Melayu yang mengisahkan perihal romansa, nasionalisme, ataupun pengalaman berkesan masyarakat setempat. Calung renteng kebanyakan berlaras salendro, lagu-lagunya antara lain, Buncis, Bungur, Rangray, Cimplung, Lutung Luncat, dan Mulung Muncang yang dapat ditemukan di masyarakat Baduy di Kanekes, Kabupaten Lebak, di kampung Ciptarasa, Kabupaten Sukabumi, di Priangan terdapat di Banjaran, Kabupaten Bandung dan Kecamatan Ciwidey, Kabupeten Bandung. Apakah saat ini masih ada yang melestarikan calung sebagai jenis musik tradisional? Terlepas dari bermunculannya komunitas pemusik calung yang memadukan dengan alat musik modern, ternyata masih ada masyarakat yang mempertahankan permainan calung renteng secara tradisional. Selain masyarakat Baduy, beberapa masyarakat di Jawa Barat juga masih mempertahankannya. Untuk kategori perorangan, Abah Kalimi, warga Kampung Sukapura, Desa Malangnengah, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten menjadi salah satu pelestari calung renteng. Abah Kalimi yang lahir tahun 1938 merupakan seorang yang konsisten berkesenian memainkan calung renteng sejak usia muda. Cibitung saat itu masih berada di wilayah kecamatan Cibaliung. Calung renteng dimainkan hampir di setiap kampung. Bahkan di desa Sukapura terdapat banyak pemain musik calung renteng karena menjadi media hiburan yang paling digemari setelah lelah menjalani aktivitas berhuma. Abah Kalimi mempelajari calung renteng dari guru yang juga pamannya. Di usia yang senja, Abah Kalimi yang tetap berkesenian memainkan calung renteng. Tak salah jika beliau dinobatkan sebagai maestro seni tradisi calung renteng dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia tahun 2021. Lagu favorit Abah Kalimi dalam permainan calung adalah Kokoromongan yang merupakan lagu yang ia mainkan untuk pertama kalinya. Selain Kokoromongan, Abah Kalimi juga menguasai lagu Adem Ayem, Kebo Leungit, Wawayangan, Rereogan, Renggong, Gerong, Pagipagi, Genjreng dan Waled. Menurut Abah Kalimi, tak ada larangan atau aturan-aturan khusus untuk memainkan calung. Kecuali saat malam Jumat dianjurkan untuk tidak memainkannya karena malam
49 suci tersebut butuh ketenangan dan kekhusyukan beribadah. Terlepas dari ada atau tidaknya aturan, permainan calung renteng sejak dahulu hanya dimainkan oleh laki-laki. Mari, terus eksplor lebih banyak tentang calung renteng. Tidak hanya menganggapnya sebagai alat musik, tetapi juga sebagai media yang dapat bermanfaat untuk masyarakat dari beberapa aspek kehidupan. Jadikan calung renteng yang merupakan salah satu kekayaan yang bersumber dari kebudayaan agraris nusantara ini sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Salah satu wasiat budaya yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Daftar Pustaka Dransfield, S. and E. A. Widjaja. (1995). “Plant Resources of South-East Asia No Bamboos” Leiden: Prosea Foundation Bogor. Ganjar, Kurnia, 2003. Deskripsi kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat, Bandung. Graha, Oho. 1996. Seni Kerajinan Bambu. Bandung : Penerbit Angkasa. Ubun Kubarsah R., Drs. Buku Waditra Mengenal Alat-Alat Kesenian Daerah Jawa Barat
4250 Oleh: Rizal Mahfud dan Nanda Ghaida Swara/Svara/Sada/Sora/Suara Swara atau svara adalah kata dalam bahasa Sansekerta yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia sebagai ‘suara’. Dalam bahasa Sunda disebut sada atau sora. Kata swara tercatat dalam kitab Natyasastra, yakni kitab tentang seni pertunjukan klasik India yang disusun oleh Bhatara Bhumi pada abad 2 M. Suara mengacu pada konsep nada, vokal, hingga notasi musik yang terdiri dari oktaf atau saptaka. Lebih komprehensif, suara berarti konsep tentang dimensi lengkap nada musik. Tentang Padi dan Seisinya Jalawara Hawara merupakan varietas padi yang berasal dari Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Varietas padi lokal ini merupakan padi yang ditanam dengan sistem huma atau ladang kering. Sejak tahun 2018, padi Jalawara Hawara telah terdaftar sebagai varietas padi Kabupaten Pandeglang di Pendaftaran Varietas Lokal, Kementerian Pertanian Indonesia dengan nomor pendaftaran 336/8R/PVL/11/2018. Padi Jalawara Hawara merupakan salah satu varietas padi yang penting dalam kehidupan masyarakat agraris, khususnya di wilayah Banten Selatan. Sebagaimana diketahui, masyarakat " Karya kreatif inovatif Rizal Mahfud yang didukung oleh Dana Abadi Kebudayaan dalam platform Dana Indonesiana tahun 2022 " SWARA JALAWARA HAWARA: SUARA UNTUK PADI