The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

nuku kalatirta tentang kebudayaan dan seni tradisi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alfi.sbn3, 2024-02-07 06:29:41

buku kalatirta

nuku kalatirta tentang kebudayaan dan seni tradisi

Keywords: #buku#seni#kebudayaan

51


52 Varietas padi lokal ini merupakan padi yang ditanam dengan sistem huma atau ladang kering


53 Sunda, terutama di wilayah Banten Selatan dikenal sebagai masyarakat dengan wilayah huma paling luas, seperti yang tercatat dalam buku Hoema’s, hoemablokkenen boschreserves in deresidentie Bantam (1935). Hingga kini, masyarakat Banten Selatan masih melestarikan tradisi ngahuma (berhuma) dan bergantung pada padi untuk kehidupan sehari-hari. Dalam konteks kebudayaan, ada banyak aktivitas kebudayaan yang lahir dari tradisi ngahuma, mulai dari sastra lisan dalam bentuk pupulih (dongeng atau ungkapan edukatif), wawangsalan, susualan, sisindiran, hingga jangjawokan (mantra-mantra untuk keselamatan dan tolak bala). Sastra lisan tersebut memuat pengetahuan tradisional dan dilantunkan dalam konteks ritual, hingga seni pertunjukan. Salah satu yang menarik adalah kebiasaan masyarakat agraris di Banten Selatan, yaitu ngareremokeun (memuliakan) Nyi Pohaci lewat ritual dan seni pertunjukan sebagai media persembahan bagi Nyi Pohaci (Dewi Padi). Padi dan sosok Nyi Pohaci Sanghyang Sri (Dewi Padi) sangat erat kaitannya. Masyarakat pehuma meyakini bebunyian sebagai hal yang disukai Nyi Pohaci. Oleh karena itu banyak alat musik yang hadir sebagai media untuk memuliakan Nyi Pohaci, mulai dari calung renteng, toleat, calintu, angklung buhun, dogdoglojor, hatong, lesung, hingga omprang. Meskipun dari awal kemunculannya alat-alat tersebut tidak diperuntukkan untuk seni pertunjukan dalam konteks hiburan bagi masyarakat umum, tetapi lebih kepada media komunikasi transendental yang menghubungkan masyarakat pehuma dengan Nyi Pohaci. Sastra dan Musik dari Para Pehuma Sastra dan musik, keduanya melekat erat dalam kehidupan masyarakat pehuma di Banten Selatan. Sastra sebagai media edukasi disampaikan dengan media musik yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya memiliki kekuatan untuk menggugah hati siapapun yang mendengarnya. Salah satu yang diyakini masyarakat adalah bagaimana tabuhan alu pada lesung yang mengiringi juru kawih dalam gondang lesung merupakan salah satu ritual untuk ngondang Sri (mengundang Nyi Pohaci) untuk turun ke huma pada saat pare beukah (masa sebelum panen padi huma). Selain itu, kawih atau kidung yang didendangkan dengan iringan Jalawara Hawara merupakan varietas padi yang berasal dari Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Varietas padi lokal ini merupakan padi yang ditanam dengan sistem huma atau ladang kering


54 calung renteng yang dimainkan saat rambay pipit (saat padi setinggi betis) juga memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk ngareremokeun Nyi Pohaci. Dua contoh tersebut menggambarkan betapa sastra dan musik memiliki peran yang penting bagi masyarakat pehuma. Dampak Modernisasi, Perubahan Sosial, dan Kultural Saat ini, pola pertanian padi huma di wilayah Cibaliung semakin tergeser seiring maraknya pola Salah satu yang diyakini masyarakat adalah bagaimana tabuhan alu pada lesung yang mengiringi juru kawih dalam gondang lesung merupakan salah satu ritual untuk ngondang Sri (mengundang Nyi Pohaci) untuk turun ke huma pada saat pare beukah (masa sebelum panen padi huma).


55 pertanian sawah yang dipepengaruhi revolusi hijau (1950—1980) dan transmigrasi masyarakat Jawa di wilayah Cibaliung. Peralihan pola pertanian tradisional huma (lahan kering) ke pola yang lebih modern dan dianggap produktif juga berakibat pada menyempitnya ruang hidup bagi instrumen musik tradisional. Pupuk dan pestisida dianggap lebih efektif bagi kesuburan padi di sawah. Penggilingan telah menggantikan alu dan lesung. Kendaraan bermotor membuat para petani tidak lagi menghadirkan tradisi rengkong. Tidak dapat dipungkiri bahwa pola pertanian tradisional memegang peranan penting dalam kebudayaan masyarakat Sunda, karena telah mengakar kuat dalam keyakinan spiritual dan telah menjadi bagian besar dari budaya mereka selama beberapa generasi. Musik dan bunyi juga merupakan bagian tak terpisahkan dari pertanian tradisional masyarakat Sunda. Musik digunakan untuk


56 PENGHORMATAN UNTUK DEWI PADI Dewi Pohaci pada tokoh wayang golek masyarakat Sunda


57 mengekspresikan penghormatan dan rasa syukur kepada Nyi Pohaci. Musik juga merupakan wahana untuk terhubung dengan lingkungan serta dalam melindungi lahan pertanian dari hama seperti babi hutan atau burung. Selain itu, musik juga merupakan media untuk berkomunikasi dan sarana hiburan individu maupun kolektif. Oleh karena itu, banyak instrumen musik tradisional masyarakat Sunda yang eksistensinya berkaitan dengan keberadaan huma sebagai semesta yang menaunginya. Salah satu instrumen musik tradisional yang eksistensinya berkaitan dengan huma adalah calung renteng. J.J. Meijer (1890), seorang kontrolir berkebangsaan Belanda mencatat keberadaan calung renteng sebagai instrumen musik yang selalu dibawa oleh para petani huma di wilayah Banten Selatan selama musim berhuma dimulai. Setiap kali berhuma, petani di wilayah Banten Selatan memiliki kebiasaan untuk meninggalkan kampung dan tinggal di saung huma hingga berbulanbulan. Oleh karena itu, para petani biasanya membawa serta calung renteng untuk menghibur diri dengan memainkannya usai seharian bekerja. Saat ini, kontras dengan pernyataan Meijer (1890), eksistensi calung renteng mulai sulit ditemukan. Rekacipta Sastra Musik Padi, Membangkitkan Memori Masyarakat pehuma yang masih menjaga tradisi ngareremokeun pare (memuliakan Padi) dan ngondang Sri (ritual mengundang Nyi Pohaci) sudah berusia di atas 80 tahun. Musik dan bunyi juga merupakan bagian tak terpisahkan dari pertanian tradisional masyarakat Sunda. Musik digunakan untuk mengekspresikan penghormatan dan rasa syukur kepada Nyi Pohaci.


5058 Namun, tidak banyak generasi muda yang mewarisi tradisi huma, bahkan, banyak masyarakat Cibaliung yang tidak lagi mengenal huma dan segala kekayaan yang lahir darinya, terutama generasi muda. Berangkat dari permasalahan tersebut, Swara Jalawara Hawara lahir dalam bentuk rekacipta sastra dan musik yang lahir dari tradisi CALUNG RENTENG


59 TRADISI HUMA huma yang memadukan lintas disiplin seni. Dari aspek muatan sastra, saya memadukan puisi Sunda yang berhasil saya inventarisasi sejak tahun 2016 dari narasumber Abah Kalimi (maestro calung renteng), Mak Juha (juru kawih), Rasudin (juru angklung), dan Ayah Anirah (Ki Pantun). Muatan sastra lisan yang terhimpun dalam berbagai bentuk, mulai dari pupulih, wawangsalan, sisindiran, susualan, kidung, dan pantun akan menjadi sumber referensi utama karya kreatif inovatif bertajuk Swara Jalawara Hawara: Suara Untuk Padi. Saya menggunakan instrumen musik yang lahir dari tradisi huma, seperti calung renteng, gondang, omprang, dogdog (dodod), hatong, toleat, suling kumbang (toleat


60 52 ARANSEMEN MODERN


61 panggul), dan angklung sebagai instrumen musik utama karya ini. Sebagai pendukung, karya ini juga melibatkan instrumen musik modern, monolog, dan unsur visual yang diwakili gerak tubuh dari tari kontemporer, pantomim, serta unsur rupa berupa instalasi bambu. Luaran utama dari karya kreatif inovatif ini adalah satu lagu karya baru yang ditampilkan dalam bentuk pertunjukan kolaboratif lintas disiplin seni. Selain itu terdapat tiga lagu tradisi yang diaransemen dengan musik modern dan dipertunjukkan. Terdapat pula luaran pendukung berupa video musik, musik digital, booklet atau katalog karya yang mendukung pendistribusian karya sebagai upaya untuk menyebarluaskan


62


63


64 karya sebagai bentuk publikasi hasil karya. Tujuan lain dari pembuatan karya kreatif inovatif ini adalah untuk mengembangkan warisan tradisi yang lahir dari huma sebagai objek pemajuan kebudayaan yang penting untuk terus dilestarikan, tanpa melupakan konteks zaman. Semakin hilang dan tergerusnya pola pertanian huma dan warisan tradisinya di masyarakat, serta kurangnya minat generasi muda untuk mempelajarinya dari para pelakunya yang kini semakin renta, menjadi salah satu masalah yang mendasari konsep karya inovatif ini. Melalui rekacipta tradisi lama ke dalam bentuk baru yang lebih relevan bagi generasi muda dapat membantu warisan tradisi huma untuk tetap hadir sebagai seni pertunjukan, tanpa mengesampingkan muatan edukasi yang dapat menjadi 54


65 sumber pengetahuan mengenai huma. Seperti pupulih, karya ini dapat hadir sebagaimana fungsi yang diyakini masyarakat pendukungnya “magahan budak, ngerencep-rencep budak pangpagaheun kana kaelmuandunya, ngalancarkeun kana hate,” dengan kata lain menjadi sarana edukatif berisi ilmu pengetahuan kehidupan yang meresap lekat di hati. Daftar Pustaka: Kools, J.F. 1935 Hoemablokkenenboschreserves in de residentie Bantam. Wageningen: Veenman. Meijer, J.J. 1890. Proeve van ZuidBantenschePoezie. Bijdragen tot de Taal-. Land- enVolkenkunde van Nederlandsch-Indie. Deel 39. 4de Afl., [5e Volgreeks. 5e Deel], hlm. 469-503. KITLV.


66 Oleh: Adita Nofiandi 56 GEREJA SION GEREJA PORTUGIS DI LUAR BENTENG DAN MASYARAKAT BATAVIA SAAT ITU


67 De Nieuwe Portugueesche Buitenkerk, demikian masyarakat Batavia menyebutnya pada akhir abad ke-17. Gereja tersebut menggantikan Portugueesche Buitenkerk di dalam tembok kota Batavia, yang terbakar habis. Menarik, bahwasannya disebut sebagai gereja Portugis namun tidak ada orang Portugis yang menggunakannya. Tradisi “kekristenan” sangat kental di gereja itu, berbanding lurus dengan bangsa Portugis yang cenderung dikenal sebagai Katolik sejati. Gereja Portugis di luar benteng saat ini bernama Gereja Sion1 , berada di Jalan Pangeran Jayakarta RT 009/ RW 004, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Secara astronomis terletak pada koordinat 6° 9’ 1.4” LS - 106° 35’ 37.6” BT. Penamaan De Nieuwe Portugueesche Buitenkerk bermula dari banyaknya tawanan Portugis miskin serta para budak yang dibeli di India. Mereka tinggal di luar Kota (benteng kota) sebelah timur tembok, di sekitar Gereja Sion sekarang. Para tawanan dan budak tersebut menyandang nama Portugis, yang didapatkan dari wali baptis. Mereka adalah orang-orang India, Bengal, dan Sri Lanka. VOC pada masa itu, rutin menyerang pos dan rute pelayaran Portugis di seluruh Asia untuk merebut benteng, bandar atau ‘kota’ Portugis dimana pun, seperti di India, Sri Lanka, Maluku, dan Tiongkok. Dari pesisir India, khususnya dari pantai Koromandel dan Malabar, serta Bengal dan Arakan, kapal-kapal Belanda membawa banyak tawanan ke Batavia. Tahun 1658 misalnya, 400 orang berbahasa Portugis dari Sri Lanka dikirim ke Batavia. Sudah barang tentu, orang-orang Portugis dan peranakannya tersebut beragama Katolik. Namun VOC tidak mengizinkan mereka mengamalkan agamanya ke dalam wilayah kekuasaannya selama abad ke-17 dan 18 (Heuken, 2003. 54-55). Para penyandang nama Portugis tersebut dijanjikan oleh Belanda akan dibebaskan, dengan syarat bersedia menjadi anggota Gereja Reformasi, yang artinya melepaskan keyakinan 1. Gereja Portugis di Luar Benteng berubah nama sejak tahun 1950, ketika bergabung dengan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB). Sion merujuk pada suatu bukit di Palestina yang melambangkan keselamatan bangsa Israel kuno.


68 Katolik mereka dan menjadi orang Protestan. Oleh karena itu, mereka disebut sebagai mardijker atau “orang yang dimerdekakan” (Daus, 1989). Para budak dan masyarakat miskin mendominasi jumlah penduduk Batavia pada abad ke-17. Mereka didatangkan dari pesisir India, Bengal dan Sri Lanka dengan nama Portugis. Hal ini berakibat pada bahasa yang Gereja Portugis di luar kota, seperti dilukis oleh J.Rach pada akhir abad ke-18 Sumber: Loos-Haaxman, 1928


69 digunakan dalam percakapan seharihari. Bahasa keseharian di Batavia adalah bahasa Portugis, disusul bahasa Melayu yang merupakan etnis “pribumi” yang didatangkan dari berbagai pulau di Nusantara. Umat Kristen di Batavia pada abad ke-17 yang masuk dalam naungan Gereja Reformasi, dibagi menurut bahasa yang dipergunakan, yakni umat berbahasa Belanda, Portugis, dan Melayu, serta berdasarkan status sosial, yakni dari kelompok masyarakat Eropa yang kaya raya sampai bekas budak yang miskin. Namun demikian umat yang berbahasa Belanda tidak begitu banyak dan aktif. Umat berbahasa Portugislah yang terbesar jumlahnya. Mereka menggunakan tiga gereja, antara lain Gereja Portugis di dalam Kota, Gereja Portugis di luar Kota, dan Gereja Tugu. Meskipun begitu, pada akhirnya penggunaan bahasa Belanda pada Gereja Portugis di Luar Kota menjadi hal utama, seiring dengan berkurangnya umat Kristen berbahasa Portugis di pertengahan abad ke-18 di Batavia2 . Pada tahun 1675, dibangun pondok di atas tanah kuburan sebagai tempat pembelajaran agama, dilengkapi lonceng untuk memanggil orang-orang mempelajari katekismus3 . Lonceng yang dibuat di Batavia tahun 1675 tersebut hingga saat ini masih tergantung di halaman samping gereja. Seiring waktu semakin banyak umat yang datang mengikuti 2. Semakin sedikitnya jumlah umat Kristen berbahasa Portugis di Batavia antara lain dikarenakan berkurangnya kedatangan budak yang berasal dari India yang berbahasa Portugis, digantikan dengan budak-budak yang berasal dari Bali dan Makassar yang berbahasa Melayu. Sejak 1760, terdapat peraturan yang menyatakan bahwa budak yang telah dibaptis tidak boleh diperjualbelikan. Hal ini tentu berpengaruh pada pemilik yang merasa rugi jika memiliki budak Kristen. 3. Katekismus merupakan perangkat pembelajaran sederhana, berupa tanya jawab mengenai pengajaran Kristen maupun doktrin yang bersumber dari Alkitab.


70 pelajaran, maka dibangunlah gereja dari batu untuk menampung jemaat. Gereja baru dibangun di atas 10.000 tiang pancang dari kayu, dirancang oleh Ewout Verhagen dari Rotterdam. Laporan pemberkatan gereja dalam bahasa Belanda ditulis pada papan peringatan di Gereja Sion, dengan terjemahan sebagai berikut: Batu pertama gereja ini diletakkan pada tanggal 19 Oktober 1693 oleh Peter van Hoorn yang muda itu. Gereja ini dibangun atas perintah Yang Mulia Pemerintah Negeri ini di bawah wewenang ‘Presiden Gereja’ (Kerkmeester) yaitu Joan van Hoorn yang terhormat. Direktur Jenderal dan Tuan Joan Lammertse Radder yang terhormat, Wakil Presiden Dewan Kota ini. Dalam gereja ini khutbah pertama disampaikan pada hari Minggu, 23 Oktober 1695, sebelum tengah hari dalam bahasa JermanRendah oleh Pendeta terhormat Theodorus Zas, yang memilih teks dari Kitab I Raja-raja, bab 8, ayat 29-30: ‘Kiranya mataMu terbuka terhadap Kondisi sekarang iInterior gereja dilengkapi mimbar dengan langgam Barok dan ilustasi interior "Gereja Portugis di luar kota" seperti dilukis oleh J.C. Rappard sebagai ilustrasi untuk buku Perelaer, M.T.H. 1988


71 rumah ini siang dan malam, terhadap tempat yang Kau janjikan: NamaKu akan tinggal di sini. Dengarkanlah doa yang hambaMu panjatkan di tempat ini. Dan dengarkanlah permohonan hambaMu dan umatMu Israel yang akan mereka panjatkan di tempat ini; supaya Engkaulah yang mendengarnya di surga, tempat kediamanMu; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.’ Gereja Sion merupakan gereja bangsal (Hall Church) yang membentuk satu ruang panjang dengan tiga bagian langit-langit kayu yang sama tingginya dan melengkung. Langit-langit ini awalnya disangga enam tiang kayu, namun pada tahun 1725 dipertebal dengan batu bata yang diplester dan dicat putih. Gereja berdenah persegi empat dengan atap limasan. Hiasan dua tiang bergaya klasik menopang segitiga (fronton) yang sedikit menonjol, terdapat di pintu-pintu masuk. Lantai berupa material batu andesit yang disusun persegi. Interior gereja dilengkapi mimbar dengan langgam Barok, yang dirancang oleh H. Bruyn. Kanopi yang sangat besar berasal dari Gereja Kubah dalam Kota yang dibongkar tahun 1808. Bangku gubernur jenderal berasal dari pertengahan abad ke-17, yakni tiga deret bangku dibuat tahun 1660 untuk bangku yang tertinggi, INTERIOR GEREJA


72 dan tahun 1664 untuk bangku yang terendah. Bangku tersebut berasal dari gereja lain yang berada di dalam Kota. Di atas bangku yang tertinggi terdapat tulisan ‘Kenangan akan Sersan milisi Anthonij Colle senior. Anno 1695’. Beliau adalah warga Batavia yang banyak menyumbang untuk gereja. Interior gereja juga dilengkapi kursi dengan ukiran yang raya, serta ukiran-ukiran di serambi dalam tempat orgel yang berasal dari abad ke-18 ditempatkan. Pada bagian ini terdapat tulisan dengan bahasa Latin yang berarti “ Pada 1 Agustus 1860 orgel direparasi atas usaha sendiri (dan) diletakkan pada tempatnya yang lazim oleh E. F. Dijkmans, ahli orgel gereja kota ini”. Empat kandelar, yakni tempat kandil untuk lilin besar terbuat dari tembaga, dilengkapi dengan pemantul cahaya dalam bentuk perisai yang dihiasi lambang Batavia. Beberapa atribut yang menempel pada dinding gereja antara lain perisai-perisai kayu lambang keluarga seperti perisai bekas komandan Malabar (India) Barent Ketel tot Hacfort, nisan Gubernur Jenderal Carel Renierz (1650-1653) dan istrinya yang merupakan penyumbang lahan dalam pembangunan Gereja Portugis di dalam Kota, dan batu sederhana yang berupa peringatan atas kapten titular Christoffel Thomas yang meninggal tahun 1766. Gereja ini dibangun di tanah


73 Interior gereja juga dilengkapi kursi dengan ukiran yang raya, serta ukiran-ukiran di serambi dalam tempat orgel yang berasal dari abad ke-18 DETAIL KURSI


74 DETAIL NISAN


75 Dua batu nisan di halaman Gereja Sion: Nisan Ragel Titise, istri T. Anthonyse yang keduanya lahir di bengak (India)


76 pemakaman yang sangat luas. Tercatat sekitar 2.381 orang dimakamkan di area ini tahun 1790, 2.230 di antaranya adalah pegawai dan tentara VOC yang ditempatkan di Batavia, tak terhitung jumlah makam budak dan orang miskin (Heuken, 2003. 63). Banyak orang yang meninggal di Batavia disebabkan karena kurangnya kebersihan kota pada abad ke18. Tak terkecuali di tangsi-tangsi militer, wisma pegawai, maupun kampung-kampung yang sangat tidak higienis. Hal ini diperburuk oleh mendangkalnya kali-kali dalam kota sehingga drainase tidak berjalan dengan lancar, serta malaria. Kini hanya tersisa sekitar 10 nisan saja yang masih ada di pekarangan Gereja Sion, makammakam yang lain dipindahkan ke sekitar Tanah Abang pada tahun 1800. Beberapa di antaranya, sama seperti atribut tulisan-tulisan di dalam gereja, mencerminkan masyarakat Batavia kalangan atas masa itu, karena MAKAM DI HALAMAN GEREJA


77 yang dapat dimakamkan di halaman gereja terutama di dekat pintu masuk adalah orang-orang yang berpengaruh di lingkungan pemerintahan, kota, maupun donatur besar yang menyejahterakan gereja. Nisan yang paling bagus adalah nisan Gubernur Jenderal Henric Zwardecroon (1718-1725), yang rupanya merupakan salah satu penyumbang lahan di sekitar gereja. Dimakamkan di halaman gereja ini karena keinginannya untuk dimakamkan di antara orang-orang biasa. Namun demikian upacara penguburannya dilakukan secara besar-besaran. Nisan lain dengan ornamen yang raya adalah nisan pasangan suami isteri Titis Anthonyse dan Ragel Titise yang merupakan pedagang di Batavia sekitar tahun 1700-an. Pasangan yang banyak menyumbangkan uang untuk gereja ini, berasal dari India. Nisan lain yang tersisa adalah nisan Frederik Ribalt, anak dari Francois Ribalt, yang menjadi ahli bedah di Batavia sekitar tahun 1700-an. Satu makam orang terhormat yakni Komisaris Jenderal S. J. Frijkenius yang meninggal pada 7 Juli 1797, F. de Haan (1898) menyebut Frijkenius adalah pelaut jujur yang gugur waktu berjuang dengan siasia melawan korupsi di Batavia, ia ingin dikuburkan tanpa kebesaran apapun di antara orang-orang biasa, makamnya hanya bertanda batu sederhana dengan tulisan LANO 56 KK. Gereja Portugis di Luar Kota yang kini bernama Gereja Sion menampilkan perjalanan tata sosial masyarakat Batavia pada abad 17- 18, dengan awal mula sebagai media pembelajaran ajaran Kristen yang sederhana bagi para mardijkers di luar benteng kota, hingga peningkatanpeningkatan fasilitas gereja yang


78 disumbang oleh orang-orang kaya yang berpengaruh di Batavia saat itu. Dari lingkungan gereja yang tersisa dan arsip-arsip sejarah dapat diketahui bahwa Batavia telah menelan nyawa ribuan orang. Beberapa orang kaya dan berpengaruh yang meninggal mungkin tercatat. Namun dapat dibayangkan berapa jumlah para budak dan masyarakat lapisan bawah yang tidak beruntung, tentunya jauh lebih banyak lagi dikarenakan keadaan kota saat itu sangat kotor dan menjadi penyebab wabah merebak. Sehingga pada abad ke-19, Gubernur Jenderal Daendels melakukan perubahan total kota Batavia. Daftar Pustaka Haan, F. de. 1898. Uit Batavia: De Portugueesche Buitenkerk. Weltevreden. Heuken, Adolf. 2003. Gereja-gereja Tua di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Karya. Daus, R. 1989. Portugueese Eurasian Communities in Southeast Asia. Singapore.


79


80 Oleh: Dewi Puspito Rini Rennisa Anggraeni MENGULIK PERMAINAN TRADISIONAL DI KOTA SERANG Sumber foto: www.id.pinterest.com


81 Keberagaman kebudayaan daerah merupakan kekayaan dan identitas bangsa yang sangat diperlukan untuk memajukan kebudayaan nasional. Langkah strategis untuk memajukan kebudayaan nasional yakni melalui upaya pemajuan kebudayaan. Kalimat tersebut tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan disebutkan sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. Beberapa waktu lalu, tim Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII melakukan pendataan permainan tradisional di Kota Serang, yakni di Kampung Prisen dan Kampung Kepuren. Dipilihnya kedua kampung ini sebagai lokasi pendataan karena kedua kampung ini dikenal sebagai kampung seni dan masih melestarikan tradisi leluhur. Kampung Kepuren terletak di Kelurahan Kepuren, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Provinsi Banten tepatnya pada koordinat 6°06’55.2” Lintang Selatan - 106°13’23.9” Bujur Timur. Adapun Kampung Prisen terletak di Kelurahan Kiara, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Provinsi Banten. Letak astronomi Kampung Prisen pada 6°07’55.8” Lintang Selatan - 106°13’40.2” Bujur Timur. Kenapa harus dilakukan pendataan permainan tradisional? Saat ini, sangat jarang dijumpai anakanak yang memainkan permainan tradisional. Televisi, gawai, dan alat permainan elektronika sudah menggantikan sifat kebersamaan dari permainan tradisional. Alat-alat elektronika tersebut menjadikan anak-anak sebagai pribadi yang individualis. Namun demikian, tentu tidak boleh mengesampingkan perubahan serta hak azasi anakanak untuk bermain sesuai yang mereka suka. Tetapi tidak benar juga membiarkan ragam permainan tradisonal hilang begitu saja tanpa ada upaya pelestariannya. Menurut Herry Yogaswara (2014), permainan tradisional


82 atau permainan rakyat merupakan representasi dari kebudayaan yang ada dalam suatu masyarakat. Permainan tradisional dianggap mempunyai berbagai fungsi, mulai dari fungsi edukasi, fungsi rekreasi, fungsi psikologi, nilai kesenangan, nilai demokrasi, pertemanan, nilai kebersamaan, nilai tanggung jawab, nilai kepatuhan, kreativitas, dan sportivitas. Permainan tradisional merupakan bagian dari kebudayaan yang disebarkan secara turuntemurun di antara masyarakat pendukungnya, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak atau alat bantu. Hal-hal yang disebutkan di atas menjadi alasan perlu dilakukannya pendataan permaian tradisonal. Permainan tradisional di Kota Serang yang berhasil didata pada kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: Gundu Lowangan (Lenglengan) Lenglengan atau Gundu Lowangan merupakan salah satu permainan yang dimainkan anak-anak di Kampung Kepuren. Permainan ini sudah hampir punah, tidak banyak atau hampir tidak ada anak-anak yang memainkannya di saat ini. Sejarah permainan ini belum diketahui secara pasti sejak kapan beredar di Kampung Kepuren. Lenglengan atau Gundu Lowangan merupakan salah satu permainan yang dimainkan anak-anak di Kampung Kepuren. Sumber foto: www.id.pinterest.com GUNDU LAWANGAN


83 Dahulu anak-anak memainkan permainan Lenglengan untuk meluangkan waktu bersama temantemannya. Permainan ini dimainkan dengan menggunakan gundu (kelereng) yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Permainan lenglengan memiliki aturan yang khusus, biasanya pemain akan melubangi tanah sesuai dengan besar kelereng kemudian membuat garis start sebagai tempat para pemain memulai permainan dengan menembak kelereng agar masuk ke dalam lubang. Apabila salah satu pemain kelerengnya tidak ada yang masuk ke lubang maka yang akan jalan atau menembak kelereng lawan terlebih dahulu adalah pemain yang kelerengnya lebih dekat dengan lubang dibandingkan dengan kelereng lawan. Pemain


84 akan menembak kelereng lawan, apabila mengenainya maka pemain lawan akan kalah, tetapi kalau tidak kena, maka lawan harus memasukan kelereng itu ke dalam lubang agar bisa menembak kelereng lawan tersebut. Siapapun kelereng yang mengenai lawan maka akan dianggap menang. Permainan ini berfungsi melatih fokus seorang anak, bagaiman bisa memfokuskan mata dan tenaga yang dikeluarkan harus sesuai agar kelereng yang ditembakan bisa masuk atau mendekati lubang, sehingga dapat nilai dan bisa menembak ke kelereng lawan. Peletokan atau Tembak-Tembakan memiliki nama yang berbeda di beberapa daerah, seperti ceteran, cetoran. Sumber foto: https://myagusssblog. blogspot.com


85 Seseruwetan Seseruwetan adalah salah satu permainan anak-anak Kepuren yang dahulu sering dimainkan,untuk meluangkan waktu. Permainan yang sudah punah ini adalah permainan angkat beban dengan objek manusia yang diangkat oleh empat orang pemain dengan satu jari. Permainan seseruwetan biasanya dimainkan oleh lima orang. Permainan ini diawali dengan ritual atau amalan dan keyakinan yang diteguhkan di dalam hati para pemain, sehingga beban seberat apapun terasa ringan dan dapat diangkat cukup menggunakan satu jari saja. Permainan diawali dengan hompimpa, pemain yang menang akan menjadi orang yang diangkat oleh pemain lain. Amalan yang digunakan oleh anak-anak terbilang cukup aman dan tidak berpengaruh atau tidak ada efek sampingnya, seperti amalan ritual pada umumnya. Biasanya amalan berupa shalawat serta doa-doa untuk keyakinan di dalam hati anak. Permainan ini akan berhasil ketika empat pemain yang mengangkat memiliki keyakinan yang kuat, apabila ada salah satu pemain yang tidak yakin, maka permainan akan sulit untuk dimainkan. Permainan seseruwetan melatih keyakinan atau penguatan tauhid, sehingga anak memilik keyakinan yang kuat apabila menginginkan sesuatu, tetapi tetap menggunakan kuasa Allah SWT. Peletokan atau Tembak-Tembakan Permainan ini memiliki nama yang berbeda di beberapa daerah, seperti ceteran, cetoran, atau


86 tembak-tembakan. Alat pendukung permainan peletokan atau tembaktembakan ini berupa bambu kecil yang diambil bagian tengahnya agar memiliki dua lobang untuk memasukkan dan menembakkan peluru. Permainan peletokan biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih. Untuk pelaksanaannya mereka mengatur sendiri di mana tempat persembunyiannya. Pemain dinyatakan menang apabila tembakannya bisa mengenai lawan. Peluru yang digunakan biasanya menggunakan kertas basah. Tetapi di beberapa tempat seperti Kepuren, peluru atau peletokannya menggunakan biji deroak, yang ketika peluru mengenai pemain lawan akan terasa sakit atau perih. PERMAINAN CONGKLAK


87 Biji deroak berasal dari tanaman yang tumbuh di sekitar Kelurahan Kepuren, memiliki buah yang berbentuk seperti biji dan keras. Biji tersebut berbentuk bulat, berwarna merah, berukuran sebesar lubang bambu kecil. Permainan peletokan atau tembak-tembakan berfungsi melatih motorik anak untuk berkreasi sesuai kemauan anak. Selain itu dapat melatih fokus terhadap ketajaman mata dan melatih kemampuan berpikir untuk menyusun strategi perang agar dapat memenangkannya. Congklak Congklak/congkak/daku/dakon adalah permainan tradisional yang biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan di kampung Kepuren. Alat pendukung permainan congklak berbentuk seperti perahu kecil, beberapa orang menyebutnya dakon. Biasanya dakon berbahan kayu atau plastik yang memilliki 16 lekukan bundar sebagai tempat meletakkan biji ataupun kewuk (kulit kerang). Badan congklak terdiri dari lekukan besar dan lekukan kecil. Terdapat dua lekukan besar yang disebut indung (induk), terletak di bagian tengah ujung dakon. Adapun lekukan kecil Congklak/congkak/daku/ dakon adalah permainan tradisional yang biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan di kampung Kepuren. Sumber foto: www.id.pinterest.com


88 berjumlah 14, yang terbagi menjadi dua deret, disebut anak. Lekukan ini biasanya diisi dengan biji sawo/kulit kerang/batu/biji-bijian. Setiap lekukan kecil diisi tujuh biji kewuk, adapun dua lekukan indung dikosongkan. Permainan dilakukan oleh dua orang, duduk saling berhadapan. Masing-masing pemain mempunyai tujuh lekukan anak dan satu lekukan indung yang terletak di sebelah kirinya. Saat permainan dimulai, kedua pemain bersama-sama mengambil kewuk dari salah satu lekukan anak yang dimilikinya, lalu dibagikan ke setiap lekukan dan indung (kecuali indung lawan) secara merata. Jika kewuk terakhir jatuh pada lekukan yang kosong, maka si pemain harus berhenti sebab dianggap mati. Jika mati ditempat lekukan miliknya dan kebetulan lekukan dihadapannya (milik musuhnya) berisi kewuk, maka kewuk milik musuhnya itu menjadi haknya dan disimpan di indungnya. Kejadian itu disebut nembak. Permainan selesai jika semua kewuk yang semula terdapat di lekukan anak pindah ke lekukan indung masingmasing. Yang mendapat kewuk lebih


89 banyak menjadi pemenang. Jika permainan akan diteruskan, maka kewuk dibagi-bagikan lagi pada lekukan-lekukan anak. Yang jumlah kewuknya kurang, harus menutup lekukan yang tidak kebagian kewuk yang dianggap pecak (buta). Yang menang mendapat giliran pertama untuk membagikan kewuk. Lekukan yang pecak harus dilewati (tidak diisi). Permainan selesai jika salah seorang tidak sanggup lagi meneruskan permainan karena kewuknya kurang dari tujuh. Permainan congklak adalah permainan untuk mengembangkan sel motorik otak anak, dengan strategi penjumlahan yang pas atau sesuai agar dapat memenangkan permainan. Selain itu permainan ini bisa melatih anak untuk belajar berhitung dengan suasana yang asyik karena bermain dengan teman sebaya. Bentengan Bentengan adalah permainan tradisional yang hingga saat ini masih dimainkan oleh anak-anak di Kampung Kepuren. Bentengan dimainkan oleh dua kelompok, masing-masing terdiri dari empat hingga delapan orang. Masingmasing kelompok memilih satu tempat sebagai markas. Biasanya berupa tiang, batu, tumpukan bata, atau pilar yang dijadikan benteng. Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih benteng lawan dengan menyentuh tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan menawan seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penawan dan yang tertawan ditentukan dari waktu terakhir saat si penawan atau tertawan menyentuh benteng mereka masing-masing. Pemain yang paling dekat waktunya ketika menyentuh benteng, berhak menjadi penawan dan bisa mengejar serta menyentuh anggota lawan untuk menjadikannya tawanan. Tawanan biasanya ditempatkan di sekitar Permainan bentengan merupakan permainan yang dapat melatih ketangkasan dan kekuatan pikiran, karena harus menyusun strategi untuk dapat menguasai atau mengalahkan benteng musuh.


90 benteng musuh. Tawanan juga bisa dibebaskan bila rekannya dapat menyentuh dirinya. Dalam permainan ini, masing-masing anggota mempunyai tugas yang berbeda, seperti penyerang, matamata, pengganggu, dan penjaga benteng. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari dan juga kemampuan strategi yang handal. Pemain bisa dikatakan menang apabila dapat mengambil atau menginjak benteng musuh atau lawan. Permainan bentengan merupakan permainan yang dapat melatih ketangkasan dan kekuatan pikiran, karena harus menyusun strategi untuk dapat menguasai atau mengalahkan benteng musuh. Untuk itu perlu ada ketua atau pemimpin yang dapat mengatur pergerakan pasukannya, agar dapat memenangkan permainan. Permainan ini dapat untuk melatih kekompakan dan solidaritas antar kelompok. Ayam-ayaman Permainan ayam-ayaman adalah salah satu permainan tradisional yang dahulu sering dimainkan oleh anak-anak di Kampung Kapuren. Permainan ini merupakan permainan tebaktebakan. Permainan ayam-ayaman biasanya diawali dengan melakukan hompimpa untuk menentukan para pemain yang menebak dan pemain yang bersembunyi di dalam kain atau sarung. Dalam bermain ayamayaman, pemain terbagi menjadi dua kelompok yang masing-masing akan dipimpin oleh satu orang. Pemain yang bertugas menebak harus menjawab nama pemain yang ada di balik sarung. Jika jawabannya benar maka penjaga akan mendapatkan pemain yang berhasil ditebaknya. Namun jika tidak berhasil menebak maka pemain yang bertugas untuk menebak dinyatakan kalah. Permainan ayam-ayaman dapat melatih ingatan atau merangsang otak untuk berpikir dan fokus pada para pemain yang bersembunyi di dalam sarung agar pemain dapat menebaknya dengan tepat, apabula tidak tertebak maka pemain dinyatakan kalah. Gunungan (Permainan Karet Gelang) Permainan tradisional yang sudah punah ini dahulu pernah


91 dimainkan anak-anak di Kampung Kapuren. Gunungan dimainkan oleh dua orang atau lebih. Pemain terlebih dulu menyiapkan masingmasing 20 karet gelang untuk dimainkan. Untuk menentukan siapa yang lebih dulu main, para pemain melakukan gamsut atau suit, yaitu cara yang kerap dilakukan untuk menentukan pemenang. Gamsut atau suit dilakukan dengan mengadu jari sebagai salah satu cara pengundian untuk menentukan pemenang. Setelah itu karet gelang dikumpulkan untuk dilempar ke lantai. Pemain pertama harus menembak dengan salah satu jarinya agar karet gelangnya mengenai karet gelang yang tadi dilemparkan ke lantai, dengan posisi menumpuk. Apabila berhasil membuat semua karet gelang menumpuk, maka pemain berhak memiliki karet gelang lawan dan dianggap menang. Tumpukan karet gelang menyerupai gunung itulah yang menjadikan permainan ini dinamakan gunungan. Permainan gunungan dapat meningkatkan daya ingat, melatih ketangkasan tangan dan fokus mata. Hal ini dikarenakan permainan gunungan mengandalkan jari-jari tangan dan mata, agar karet gelang yang ditembakkan berhasil menumpuk pada karet gelang lawan. Top-Topan Permainan top-topan adalah salah satu permainan tradisional yang hingga saat ini masih sering dimainkan oleh anak-anak di Kampung Prisen. Permainan toptopan juga disebut dengan istilah ucing-ucingan, udag-udagan atau lari-larian. Permainan ini tidak memiliki aturan yang khusus, seperti jumlah pemain atau pun media permainan. Sebelum bermain, para pemain melakukan undian Cang Kacang Panjang, yaitu lagu yang biasa dinyanyikan sebelum memulai permainan top-topan atau ucing-ucingan. Lagu ini bisa dipakai untuk mengiringi undian menentukan orang yang nantinya akan jadi “kucing”. Bisa juga dengan melakukan hompimpa atau hompimpah, yakni cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan telapak tangan, yang dilakukan oleh minimal tiga peserta. Pemain yang kalah akan menjadi kuncing untuk menangkap pemain lain. Pemain yang dikejar diperbolehkan berlindung untuk


92 cimit (meminta pertolongan) dengan cara jongkok, yang nanti akan diselamatkan oleh pemain lain sehingga pemain yang cimit tersebut dapat melarikan diri dari pemain yang menjadi kucing. Permainan ini membutuhkan ketangkasan dan kekuatan, karena harus menghindar dari pemain yang menjadi kucing agar tidak tertangkap. Top-topan memiliki nilai positif karena mengajarkan kerjasama dan tolongmenolong. Hal ini dapat dilihat dari para pemain yang membebaskan pemain lain dari cimit. Rumah Hantu Permainan Rumah Hantu adalah permainan tradisional yang hingga saat ini masih ada di Kampung Prisen. Permainan ini sejenis permainan kejar-kejaran tetapi para pemain memiliki nama-nama yang mereka suka, seperti nama buahbuahan, sayur-sayuran, hingga kendaraan. Pemain yang mengejar harus menghafal atau menyebutkan nama pemain yang telah disepakati lewat undian ‘rumah kosong’. Tidak ada aturan khusus pada permainan rumah hantu, seperti jumlah pemain, karena terkadang 15 anak dapat memainkan rumah hantu. Sebelum bermain, biasanya menentukan siapa pemain yang akan jaga dan mengejar pemain lain. Dapat ditentukan dengan undian yang biasanya diiringi dengan lagu Rumah Kosong, sebagai berikut, “Ada rumah kosong belum ada isinya mari kita isikan dengan nama jagoan misalnya apa”. Ketika lagu ini berhenti ke pemain (misal bernama Wulan), maka dia berhak untuk memilih nama buah (misal anggur). Kemudian lagu akan dinyanyikan lagi dengan lirik sebagai berikut, “Ma.. Si Wulan minta ‘A’ lamalama menjadi Anggur”. Siapapun yang ditunjuk ketika lagu berhenti maka nama pemain berubah dengan sebutan anggur sesuai dengan apa yang diminta Wulan. Lagu ini akan dimainkan terus-menerus hingga pemain memiliki nama. Adapun pemain yang tidak memiliki nama akan menjadi penjaga untuk mengejar pemain lain. Namun, sebelum pemain lari, para pemain terlebih dahulu berkenalan dengan pemain penjaga (dengan bersalaman) untuk mengingat nama pemain satu persatu. Setelah selesai berkenalan maka penjaga harus mengejar para


93 pemain lain hingga mengenainya. Permainan ini dapat meningkatkan daya ingat anak, karena harus mengingat nama semua pemain. Selain itu dapat melatih ketangkasan dan kecepatan, serta daya tahan tubuh, karena dalam permainan ini lebih banyak aktivitas berlari. Engklek (Jinglon) Engklek atau jinglon merupakan permainan tradisional di Kampung Prisen. Engklek dimainkan di atas bidang, berupa gambar delapan kotak dan satu gambar gunung. Gambar sebagai bidang permainan tersebut dibuat di lantai, jalanan, tanah lapang, atau tempat datar lainnya. Biasanya gambar dibuat dengan kapur tulis, arang, atau kayu jika dibuat di atas tanah. Permainan ini disebut engklek karena harus melompat dengan satu kaki. Engklek berarti melompat dengan satu kaki. Namun ada juga yang menyebut permainan ini dengan istilah taplak PERMAINAN ENGKLEK


94 gunung, gatrik, atau sundamanda. Engklek dimainkan oleh beberapa pemain. Untuk menentukan urutan pemain, dilakukan dengan hompimpa atau suit (gamsut). Permainan ini menggunakan gaco atau gacuk, yaitu berupa potongan genteng atau batu yang pipih. Gaco dilempar pada kotak pertama, setelahnya pemain mulai melompat-lompat dengan satu kaki dari satu kotak ke kotak lain secara berurutan, kecuali kotak tempat gaco. Kemudian pemain kembali ke tempat asal tetap dengan cara melompat dengan satu kaki, sambil mengambil gaco. Selanjutnya pemain akan melempar gaco ke kotak kedua, ketiga, dan seterusnya sampai selesai. Jika pemain sudah menyelesaikan semua kotak, pemain harus melempar gaco ke gunung dan mengambilnya dengan badan membelakangi gunung. Kalau berhasil mengambilnya, artinya permainan sudah selesai, pemain berhak mendapat satu kotak yang diberi tanda bintang dan tidak boleh diinjak pemain lain. Pergantian pemain terjadi jika gaco masuk ke kotak yang salah atau pemain menginjak batas-batas kotak yang lumayan sempit. Pemenang dalam permainan ini adalah pemain yang memiliki bintang terbanyak. Permainan engklek tidak hanya menyenangkan anak-anak, permainan ini juga memiliki manfaat untuk tumbuh kembang anak. Salah satunya dapat meningkatkan kesadaran saraf tubuh anak. Manfaat ini diperoleh dengan pemberian input rangsangan raba, rangsangan sendi, dan rangsangan perpindahan posisi yang menunjang kemampuan untuk fokus maupun konsentrasi. Selain itu, dapat melatih koordinasi mata, tangan, dan kontrol gerak, melatih keseimbangan dan postur tubuh untuk menunjang kemampuan duduk tenang saat belajar, serta melatih kemampuan visual spasial dengan memperhatikan setiap bentuk, ruang, dan garis saat melompat. Dampu (Rok Sodor) Dampu atau rok sodor adalah salah satu jenis permainan ketangkasan yang dahulu sering dimainkan oleh anak-anak Kampung Prisen. Permainan menggunakan batu berbentuk pipih yang ditumpuk. Permainan dilakukan secara berpasangan. Setiap pasangan atau


95 regu terdiri dari satu, dua, tiga orang atau lebih. Dampu biasanya dimainkan oleh anak lelaki, mulai usia enam tahun sampai remaja. Bahkan orang dewasa pun terkadang memainkan permainan ini. Dampu dimainkan di tanah lapang dengan membuat garis-garis di permukaan tanah. Untuk melakukan permainan ini, para pemain terlebih dahulu melakukan sukat-sukatan guna menentukan siapa yang akan bermain terlebih dulu. Caranya dengan melemparkan batu dari garis awal (garis ketiga) ke garis pertama. Batu yang terdekat dengan garis, maka yang akan bermain terlebih dahulu. Selain sukat-sukatan, untuk menentukan siapa yang bermain lebih dahulu juga bisa dilakukan dengan mengadu jari tangan atau gamsut. Pihak yang kalah gamsut atau kalah dalam sukat-sukatan, memasang batu dalam posisi berdiri di garis pertama. Dari garis awal (garis ketiga), pemain melemparkan batunya ke arah batu lawan yang dipasang berdiri di garis pertama. Jika berhasil mengenai batu lawan sampai terjatuh, dia dapat melanjutkan ke babak berikutnya (gampar). Jika batu lawan yang terpasang di garis pertama tidak berhasil dijatuhkan (dikenai) pada lemparan pertama, maka pemain bisa melakukan lemparan berikutnya dengan cara: berjongkok di tempat batu terjatuh, lalu melemparkan batu melalui selangkangan ke arah batu lawan. Bila batu berhasil dikenai dan terjatuh, maka para pemain yang mengenai batu lawan itu bersembunyi dan pemain yang berjaga berusaha menyusun tumpukan batu tersebut. Permainan dampu dapat juga menggunakan bambu seperti yang biasa dilakukan oleh masyarakat Prisen. Ketika penjaga tidak mampu menemukan lawan yang sedang bersembunyi, dan lawan berhasil menendang susunan batu atau bambu, maka lawan kembali untuk bersembunyi. Permainan dampu memiliki manfaat untuk tumbuh kembang anak, salah satunya dapat melatih kekuatan otot dan rangsangan kaki dengan cara melemparkan batu atau bambu agar mengenai batu atau bambu yang telah tersusun rapih. Selain itu dapat meningkatkan konsentrasi anak terhadap kepekaan mata agar tepat sasaran. Rok-rokan


96 Rok-rokan adalah permainan tradisional yang hingga saat ini masih bertahan di kalangan anakanak Kampung Prisen. Permainan ini mengandalkan strategi gerilya untuk bersembunyi dan menguasai wilayah lawan. Permainan rok-rokan diawali dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang berjaga. Yang kalah akan bertugas sebagai penjaga. Pemain lain bersembunyi mengintai untuk menguasai wilayah penjaga. Sebelumnya, terlebih dulu semua pemain menetapkan benteng yang akan digunakan untuk si penjaga. Semua pemain yang menjaga akan menutup mata dan menghitung mundur, sementara itu permain lain harus mencari tempat untuk bersembunyi. Setelah hitungan selesai, penjaga mulai mencari pemain yang bersembunyi. Pemain dinyatakan menang jika dapat memegang benteng dan meneriakkan nama pemain atau kata ‘hong’ sebelum si penjaga sampai ke benteng. Apabila penjaga lebih dulu mencapai benteng, maka si pemain dianggap kalah dan harus berjaga di permainan berikutnya. Permainan rok-rokan dapat melatih otak untuk berkonsentrasi dalam membangun strategi mengalahkan atau menguasai benteng lawan. Selain itu, permainan ini membuat anak-anak bergerak aktif menjaga kebugaran tubuh dan memainkan kreativitasnya, karena untuk memenangkan permainan mereka harus berlari dengan cepat dan membaca situasi lawan atau penjaga. Permainan tradisional yang disebutkan di atas, mungkin saja ditemukan di daerah lain dengan nama yang berbeda. Hasil pendataan yang telah dilakukan masih jauh dari sempurna, masih banyak informasi yang harus digali dari suatu permainan tradisional. Bagaimana lingkungan yang melatarbelakangi munculnya suatu permainan? Apakah permainan tradisional yang tumbuh di lingkungan pantai sama jenisnya dengan permainan di lingkungan pertanian? Apa dampak yang mungkin terjadi jika permainan tradisional hilang? Masih banyak pertanyaan lain yang harus dijawab dan dicari solusinya. Pastinya, pendataan permainan tradisional di Kota Serang merupakan langkah awal yang perlu diikuti dengan langkah selanjutnya.


97 Daftar Pustaka Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII. 2023. Laporan Pendataan Permainan Tradisional dan Pengetahuan Tradisional di Kota Serang, Provinsi Banten. Yogaswara, Herry. 2014. “Kearifan Tradisional Sebagaimana yang tergambar dalam Permainan Tradisional Anak-anak”. Permainan Tradisional Anak Masyarakat Banten. Serang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.


98 Pendahuluan Cagar budaya sebagai sumber daya budaya memiliki sifat rapuh, unik, langka, terbatas, dan tidak terbarui. Sifat ini menyebabkan jumlahnya cenderung berkurang sebagai akibat dari pemanfaatan akan kebutuhan masa kini yang tidak memperhatikan upaya pelindungannya. Kondisi ini banyak terjadi pada bangunan cagar budaya yang bersifat living monument baik itu tempat ibadah, tempat tinggal, bahkan terjadi pula pada bangunan yang difungsikan sebagai penyimpanan koleksi, baik itu sebagai museum atau galeri. Salah satu bangunan cagar budaya yang mengalami permasalahan ini adalah bangunan Galeri Nasional Indonesia (GNI). Galeri Nasional Indonesia (GNI) merupakan museum seni


99 rupa modern dan kontemporer yang dikelola oleh pemerintah di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Fungsi GNI adalah melaksanakan pengkajian, pengumpulan, registrasi, perawatan, pengamanan, pameran dan publikasi karya seni rupa berupa lukisan, sketsa, grafis, patung, keramik, desain grafis, ilustrasi, fotografi, seni kriya, seni instalasi, dan media alternatif lainnya. Karya seni rupa yang menjadi koleksi GNI berjumlah 1.898, yang sebagian dipamerkan secara periodik, baik pada pameran tetap (permanent exhibitions), pameran temporer (temporary exhibitions), maupun pameran keliling (travelling exhibitions). Terdapat permasalahan yang dihadapi oleh GNI, terutama di Gedung B, di antaranya adalah kebutuhan ruang storage dan ruang Oleh: Yanuar Mandiri


100 pamer yang terbatas. Selain itu akses masuk dan keluar menuju dan dari lantai dua Gedung B hanya satu akses, sehingga tidak ada akses emergency exit jika terjadi kebakaran. Atas dasar itu, maka Galeri Nasional Indonesia merencanakan “renovasi” terhadap Gedung B pada awal tahun 2023. Istilah renovasi digunakan karena pada awalnya pihak GNI maupun pihak konsultan perencana tidak mengetahui bahwa Gedung B merupakan bangunan cagar budaya. Selanjutnya seiring pekerjaan konsultan perencana berjalan, barulah diketahui bahwa Gedung B merupakan Cagar Budaya dan sudah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menbudpar Nomor: PM.13/PW.007/ MKP/05 tahun 2005 dan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993. Karena berstatus Cagar Budaya tentu saja perencanaan untuk menambah fungsi bangunan sebagai media pamer, penambahan akses bagi disabilitas, serta standar prosedur dalam evakuasi bencana kebakaran bagi pengunjung tidak bisa dilakukan secara sembarangan, dan harus Tampak depan Galeri Nasional Indonesia


Click to View FlipBook Version