101 berpedoman pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Melihat kondisi eksisiting bangunan dan fungsinya sebagai ruang pamer, rencana penambahan ruang aksesbilitas pengunjung harus menjadi pertimbangan untuk dilakukan karena menyangkut keselamatan pengunjung dan koleksi. Namun demikian, perencanaan renovasi Gedung B GNI harus tetap memperhatikan keselamatan bangunan cagar budayanya, dan yang terpenting mempertahankan nilai penting yang dimiliki. Sebagai upaya pelestarian, maka dipandang perlu dilakukan penentuan nilai penting melalui pendekatan Value Base Management untuk mengidentifikasi, mempertahankan, dan mengembangkan nilai penting yang dimiliki oleh Gedung B GNI agar dalam rencana renovasi tersebut tidak mendegradasi nilai penting dari bangunan itu sendiri. Tipologi Nilai Penting Dalam Pengelolaan Warisan Budaya Upaya pelestarian warisan Tampak samping Gedung B Galeri nasional Indonesia
102 budaya selalu dimulai dengan mengetahui nilai dari warisan tersebut, yang sering disebut dengan cultural significance atau nilai penting dari warisan budaya (Mason, 2008). Tahap penentuan nilai penting ini menjadi sangat strategis, karena hasilnya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah-langkah yang akan diambil dalam proses pengelolaan selanjutnya. Apabila tidak ada penentuan nilai penting, tidak mungkin ditentukan tindakan atau perlakuan untuk pemugaran dan pelestariannya, termasuk pengelolaannya. Karena pada hakikatnya, tujuan pelestarian adalah mempertahankan nilai penting benda cagar budaya agar tidak hilang atau pun berkurang (Pearson dan Sullivan, 1995; McGimsey dan Davis, 1977 dalam Tanudirjo, 2004). Pengelolaan warisan budaya memperhatikan apa yang harus dilestarikan dari masa lalu, serta bagaimana peninggalan tersebut akan digunakan untuk kepentingan masa kini hingga masa yang akan datang (Lipe, 1984). Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Darvill (1987) bahwa pengelolaan warisan budaya pada hakikatnya memiliki tiga tujuan utama, yaitu: 1) menjaga keanekaragaman sumber daya arkeologi agar bisa tetap lestari dalam jangka waktu yang panjang, 2) memberi akses kepada masyarakat umum untuk memanfaatkannya, dan 3) menangani permasalahan konflik pemanfaatan sumber daya arkeologi. Untuk mencapai tujuan ideal tersebut, berbagai pendekatan dikembangkan dalam upaya pengelolaan sumber daya arkeologi. Salah satu pendekatan yang berkembang sejak 1990-an adalah value base management atau pelestarian berbasis nilai penting. Pendekatan pengelolaan berbasis nilai penting dapat didefinisikan sebagai pendekatan yang berusaha untuk mengidentifikasi, mempertahankan dan mengembangkan nilai penting. Nilai penting dianggap merupakan keseluruhan nilai dalam suatu sumber daya arkeologi. Pendekatan ini menekankan bagaimana suatu warisan budaya dinilai, dan penyusunan nilai terpenting dalam usaha memutuskan langkah pelestarian yang paling tepat (Klark, 2014; Fredheim dan Khalaf, 2016). Lipe (1984) menyatakan
103 bahwa nilai yang dimiliki oleh benda arkeologi sifatnya tidak dapat diwarisi, melainkan hasil pembelajaran, ditemukan, dan sangat tergantung kepada kelompok masyarakat yang memaknainya. Akibatnya nilai akan sangat dipengaruhi oleh budaya, intelektual, sejarah, dan psikologis masingmasing individu atau kelompok. Lipe kembali menekankan bahwa persepsi tentang mengenai nilai sangat tergantung konteks waktu. Sangat mungkin nilai yang dimiliki suatu benda arkeologi sangat berbeda dari waktu ke waktu. Nilai di masa depan bisa jadi berbeda dengan nilai benda tersebut saat ini, dan hampir pasti tidak sesuai dengan nilai asli benda tersebut pada masa lalu. Upaya-upaya telah dilakukan oleh para ahli dalam mempermudah melakukan identifikasi nilai penting sumber daya arkeologi melalui tipologi. Agar efektif, tipologi harus dilakukan secara netral dan disetujui oleh semua stakeholders (R. Mason, 2002). Tipologi akan membantu dalam mengkategorisasikan nilainilai dalam sumber daya arkeologi dan menjadi sarana komunikasi antar stakeholder yang terlibat dalam upaya pelestarian. Upaya melakukan identifikasi nilai tersebut telah dimulai setidaknya pada 1902 oleh Riegl (Foster dan Ghirardo, 1982), yang mengelompokkan nilai benda arkeologi ke dalam lima jenis nilai : age, historical, commemorative, use, dan newness. Darvill (1995) dalam Value Systems In Archaeology membedakan nilai penting berdasarkan tiga kategori sistem nilai, yaitu nilai kegunaan (use value), nilai pilihan (option value), dan nilai keberadaan (existence value). Nilai kegunaan menekankan pada bagaimana kita sekarang dapat memanfaatkan warisan tersebut, dalam artian sistem nilai ini didasarkan pada tuntutan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat sekarang. Sifat yang mendasarinya adalah sifat konsumsi, khususnya konsumsi yang kreatif. Nilai kedua menurut Darvill, yakni nilai pilihan (option value), lebih menekankan pada tekad untuk menyelamatkan warisan budaya sebagai simpanan untuk generasi mendatang. Asumsinya, warisan budaya harus ada untuk masa mendatang, meskipun saat ini belum tahu kebutuhannya di masa
104 mendatang. Nilai ini mendukung adanya fossilizing beberapa sumber daya budaya saat ini. Jargon yang diusung pada option value adalah: “Don’t do anything now because it might effect the future” (Darvill, 1995). Tujuannya adalah untuk mempertahankan sumber daya budaya yang ada, dalam bentuk yang asli, original, dan tidak dieksploitasi. Nilai ketiga adalah nilai keberadaan (existence value) yang berkaitan erat dengan perasaan puas atau senang jika warisan itu masih tetap ada, walaupun kegunaannya tidak dirasakan sama sekali. Pendukung nilai ini merasa puas kalau bisa mendapatkan kepastian bahwa sumber daya itu akan bertahan (survive) atau tetap eksis (in existence). Menurut Darvill perasaan tersebut disebut feel-good factor. Tipologi nilai lain dirumuskan oleh Lipe yang dikategorikan dalam empat tipe, yaitu assosiative/ symbolic, informational, aesthetic, dan economic. Nilai assosoative/ symbolic (asosiatif/simbolik) dapat dikatakan merupakan jantung dari sumber daya arkeologi dengan kemampuan mereka menampilkan tinggalan kebendaan yang menghubungkan masa kini dan masa lalu. Nilai informasi dari sumber daya arkeologi dapat dipahami sebagai segala informasi mengenai masa lalu yang dapat diperoleh dari benda tersebut. Contoh paling jelas ditunjukkan melalui hasil penelitian yang bersifat formal, seperti arkeologi, sejarah, arsitektur dan geografi dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan. Nilai estetika merupakan pemikat yang sangat kuat bagi publik untuk mengagumi keindahan suatu monumen, yang jika tidak dikendalikan dapat menepikan nilai asosiatif/simbolik dan nilai informasi yang dimiliki. Tipe terakhir, yakni nilai ekonomi, merupakan pemikiran baru yang diperkenalkan kepada sumber daya arkeologi. Perkembangan dunia yang demikian cepat membuat sumber daya arkeologi menjadi ‘beban’ untuk ruang, waktu, dan energi dari manusia yang mengelolanya. Dengan demikian setiap keputusan, penelitian, pelestarian, restorasi, pembiaran, atau penghancuran pasti memiliki dimensi ekonomi di dalamnya. Sumber daya arkeologi dapat dikelola untuk menghasilkan pendapatan ekonomi sebagai
105 ‘imbalan’ dari akses yang diberikan kepada publik untuk memperoleh nilai informasi, estetika, dan asosiatif/simbolik. Lipe (1984) juga mengingatkan bahwa sumber daya arkeologi yang hanya digunakan sebagai alat untuk mendapatkan pemasukan ekonomi, akan memunculkan resiko kerusakan fisik, atau hilangnya nilai penting lain yang dimilikinya. Sementara itu, UndangUndang Nomor 11 Tahun 2010 telah memberikan panduan berkaitan dengan penetapan cagar budaya berdasarkan nilai penting yang terdiri dari nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1 ayat (1). Berangkat dari hal tersebut, maka dalam rencana renovasi Gedung B GNI haruslah terlebih dahulu mengidentifikasi nilai penting dengan cara melakukan assessment of significance (asesmen nilai penting). Hal ini dilakukan untuk menentukan bentuk pelestariannya, agar Gedung B GNI selain bisa menyesuaikan dengan kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang, tetapi juga dapat bertahan dan lestari tanpa mendegradasi nilai penting yang dimiliki bangunan tersebut. Assessment of significanceGedung B Galeri Nasional Indonesia (GNI) Galeri Nasional Indonesia (GNI) secara administratif terletak di Jalan Merdeka Timur Nomor 14, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. GNI merupakan kompleks bangunan yang terdiri dari empat gedung yang dibangun pada masa kolonial, yaitu Gedung Utama (Gedung A) yang terletak di tengah kompleks Galeri Nasional, Gedung B yang terletak di utara Gedung Utama, Gedung C terletak di selatan Gedung Utama, dan Gedung Serbaguna yang terletak di timur Gedung Utama. Gedung A dan gedung serbaguna adalah gedung awal yang dibangun dan difungsikan sebagai rumah tinggal. Adapun gedung B dan C merupakan gedung yang dibangun setelahnya, yaitu ketika fungsi dari kompleks gedung ini telah beralih, yang semula difungsikan sebagai rumah tinggal menjadi sarana pendidikan (sekolah). Gedung B saat ini difungsikan
106 sebagai storage dan ruang pamer, baik pameran tetap maupun temporer. Gedung A merupakan salah satu bangunan tertua di Medan Merdeka Timur, yang masih berdiri hingga sekarang. Bangunan ini didirikan tahun 1817, sebagai rumah tinggal dengan langgam Indische Woonhuis. Walaupun sudah sedikit berubah, namun bangunan ini merupakan salah satu Indische Woonhuis di Medan Merdeka yang masih berdiri hingga kini. Adapun Gedung B dibangun pada 1913, dirancang oleh biro arsitekter besar pada masa itu, yaitu Cuypers en Hulswit, dan diselesaikan pembangunanya oleh kontraktor dari firma Les en Peters (Purwestri, 2015). Gedung B merupakan bangunan berlantai dua yang berada di sebelah utara Gedung Utama (Gedung A) dan memiliki denah memanjang dari barat – timur dengan façade menghadap ke arah selatan. Pada bagian depan terdapat arcade, berupa Gedung B saat ini difungsikan sebagai storage dan ruang pamer, baik pameran tetap maupun temporer.
107 selasar terbuka yang ditopang oleh pilar-pilar persegi berprofil. Jendelajendela di lantai dua berupa jendela dengan bagian atasnya melengkung atau setengah lingkaran. Terdapat masing-masing satu jendela di antara pilaster-pilaster berprofil. Gedung B dahulu difungsikan sebagai sekolah lanjutan pelajar perempuan berbasis agama di Batavia, atas prakarsa A.S. Carpentier Alting. Berdasarkan hasil data yang dikumpulkan, baik hasil observasi dan diskusi langsung, serta dari penelusuran data lama (arsip, buku, foto, laporan, peta), Gedung B GNI setidaknyaa memiliki nilai penting sebagaiberikut: a. Nilai Penting Sejarah Nilai sejarah, merujuk pada peran sumber daya budaya dalam suatu peristiwa sejarah yang cukup menentukan, berkaitan dengan tokoh sejarah tertentu, atau berperan penting dalam tahapan tertentu dalam perkembangan suatu bidang
108 kajian (Burra Charter, Worthing and Bond, 2006). Dikatakan memiliki nilai penting sejarah karena gedung ini merupakan gedung sekolah perempuan pertama yang dibangun Belanda di Indonesia di bawah naungan gereja. Berkaitan dengan tokoh, Gedung B GNI tidak dapat dipisahkan dari tokoh arsitek ternama Belanda E. Cuypers lewat biro arsiteknya yang bernama Hulswit, Fermont. Ed. Cuypers merancang sekaligus membangun Gedung B GNI. Biro konsultan arsitektur F.D. Cuypers & Hulswit telah beroperasi di Indonesia sejak sebelum tahun 1910, dan menjadi biro arsitek terbesar di Hindia Timur. Firma ini merupakan cabang dari kantor arsitek yang berpusat di Amsterdam, Belanda. Sepanjang karirnya di Indonesia hingga tahun 1928, arsitek Cuypers, Hulswit, dan kolega-koleganya telah membangun sekitar 90 bangunan. Di antaranya merancang dan membangun De Javasche Bank , yang sekarang menjadi Gedung Bank Indonesia, di seluruh Wilayah Hindia Belanda. Bangunanbangunan tersebut tersebar di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Malang, Yogyakarta dan Cirebon. Besar kemungkinan Gedung B GNI merupakan karya satu-satunya dari pendiri biro F.D Cuypers & Hulswit yang dikhususkan untuk bangunan sekolah. Pada masa kemerdekaan, Gedung B GNI juga menjadi saksi perjalanan sejarah Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, tahun 1942, gedung ini digunakan oleh Jepang untuk memobilisasi perang Jepang. b. Nilai Asosiatif/Simbolik dan Nilai Informasi Gedung B GNI berlokasi di kawasan Medan Merdeka, yang pada masa kolonial merupakan tempat elit (welterveden), menjadikan bangunan ini tidak bisa dilepaskan dari lanskap dan lingkungannya (landscape and environtment). Gedung yang berada di kompleks GNI tak terkecuali Gedung B, dapat memberikan gambaran serta memahami lanskap dan perubahannya di masa lalu. Keberadaan bangunan dapat menjadi penghubung masa lalu dan masa sekarang, sekaligus sebagai sumber informasi perkembangan suatu kota.
109 Weltevreden sebelum menjadi kawasan elit di Batavia, awalnya merupakan kawasan perkebunan dan pertanian yang luas. Di bagian Selatan kawasan Weltevreden terdapat lapangan luas yang kemudian dikenal dengan Koningsplein. Pada pertengahan abad 17, lapangan ini merupakan tempat orang berburu harimau dan banteng. Pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels, lapangan luas ini diratakan tanahnya dan dibuatkan jalan keliling, kemudian diberi nama Champ de Mars. Lapangan tersebut digunakan untuk tempat latihan militer. Sejak 1818, saat Gubernur Jendral mulai tinggal di istana yang terletak di sebelah Utara Champ de Mars, lapangan luas ini diberi nama Koningsplein. Selanjutnya Koningsplein mulai berkembang menjadi kawasan elit bagi orang Eropa. Rumah-rumah besar dibangun disekelilingnya, salah satunya adalah gedung utama Galeri Nasional Indonesia (Gedung A) yang kemudian difungsikan sebagai asrama sekolah wanita pada saat Gedung B GNI difungsikan sebagai sekolah. Kompleks bangunan yang berada di Galeri Nasional dapat memberikan informasi mengenai perkembangan sejarah kota Jakarta, khususnya di wilayah Medan Merdeka, terutama mengenai sejarah pemukiman elit masa kolonial Belanda. Daerah Welterveden atau Koningsplein dahulu merupakan kawasan perkebunan dan pertanian yang kemudian berubah. Seiring pemindahan ibukota Batavia, kawasan ini menjadi kawasan elit dengan dibangunnya sarana dan prasarana pemerintahan, tempat ibadah, pasar, pemukiman hingga sarana pendidikan. Dengan demikian, keberadaan Gedung B ini sangat penting untuk dipertahankan sebagai bagian tak terpisahkan dari bangunan yang berada di kawasan tersebut, sekaligus sebagai penanda perkembangan kota Jakarta. Uraian di atas jelas menunjukkan bahwa Gedung B GNI memiliki nilai penting, sehingga harus dijaga kelestariannya. Dalam praktik pelestarian, yang harus menjadi target pelestarian adalah bagaimana setiap tindakan yang
110 diambil dapat semakin melestarikan keaslian (otentisitas) dan nilai penting atau signifikansi dari Gedung B GNI. Menurut Tanudirjo (2004), dalam konteks pelestarian, upaya untuk menemukan nilai penting (significance) menjadi tahapan yang amat menentukan. Apalagi ketika warisan budaya harus berhadapan dengan berbagai kepentingan lain, yang sering bertentangan dengan upaya pelestarian. Nilai penting akan menentukan keberlanjutan keberadaan warisan budaya itu. Pada kenyataannya, memang tidak semua warisan budaya dapat diselamatkan, hanya warisan budaya yang mempunyai nilai penting tertentu yang dapat dilestarikan. Nilai penting ini menggambarkan derajat nilai tertentu yang menjadi atribut dan dimiliki oleh suatu warisan budaya (Pearson dan Sullivan, 1995). Dengan mengetahui nilai penting, maka dapat ditentukan kebijakan dan langkah yang tepat untuk pelestariannya. Pada umumnya, dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur pelestarian cagar budaya, tidak menyatakan secara spesifik elemen atau bagian mana saja yang harus dilestarikan. Sejatinya, keseluruhan wujud dari cagar budaya itu sendiri mengandung otentisitas dan nilai penting yang harus dilestarikan. Akan tetapi dalam praktiknya, penyesuaian-penyesuaian tentu saja dibutuhkan oleh banyak bangunan cagar budaya untuk memenuhi beragam kebutuhan baru, agar tetap hidup dan relevan dengan jaman. Batasan sejauh mana penyesuaian ini boleh dan tidak boleh dilakukan memang tidak jarang dihasilkan dari ruang-ruang dialog dan negosiasi, dengan mempertimbangkan norma kepantasan dan tingkat darurat yang berlaku, saat tindakan pelestarian tersebut hendak dilakukan. Melihat kondisi eksisiting bangunan B GNI yang sudah banyak mengalami intervensi di hampir semua elemen bangunan akibat dari renovasi dan pengembangan yang dilakukan di masa lalu, sehingga pada saat ini kondisi bangunan yang menampakkan elemen asli hanya sekitar 40-50 persen. Yang masih terjaga keasliannya terutama terlihat pada tampilan fasad atau tampak depan luar bangunan. Fasad eksterior bangunan menjadi citra utama bangunan yang menonjolkan
111 karakteristik khas dari gaya bangunan yang sejaman gedung B GNI. Karena itulah, tampak depan Gedung B harus dipertahankan dan menghindari penambahan elemen-elemen baru dan intrusif yang bisa mendegradasi nilai penting bangunan ini. Mengenai rencana renovasi Gedung B GNI, pemenuhan kebutuhan fasilitas baru berupa peningkatan aksesibilitas dan sarana mobilitas bagi penyandang disabilitas adalah hal yang mendesak dan tentu saja diperbolehkan. Adapun mengenai lokasi fasilitas ini dapat memperhatikan aspek keharmonisan dalam perancangan, dan sebisa mungkin tetap menjaga citra tampak depan atau fasad bangunan dengan tata cara perancangan yang memisahkan sekaligus membaurkan elemen tambahan tersebut. Selain itu, tambahan baru dalam bangunan cagar budaya sebisa mungkin harus terpisah dan berjarak dengan bangunan asli. Hal ini bertujuan untuk dapat membedakan bagian yang baru dan lama, serta supaya struktur baru tidak membebani atau tidak mengaliri beban berat struktural ke struktur lama yang cenderung lebih rentan karena faktor usia. Gedung B GNI memiliki nilai penting sejarah, yakni merupakan gedung sekolah wanita pertama berbasis agama Kristen yang dibangun Belanda di Indonesia. Mengingat fungsinya dulu sebagai sekolah, tentu saja dalam rencana renovasi Gedung B GNI harus tetap mempertahankan denah ruangan yang terdiri dari lokal-lokal kelas meskipun fungsi sekarang dijadikan sebagai ruang pamer koleksi galeri. Jangan sampai karena kebutuhan kurator untuk menampilkan koleksi malah mengorbankan elemen penting dari bangunan ini, misal harus membongkar dinding lokallokal ruangan agar terlihat lebih estetik untuk memamerkan koleksi galeri. Karena kalau kepentingan estetika ruang pamer yang terlalu mendominasi hal tersebut akan menyebabkan nilai-nilai lain (nilai sejarah) dapat berkurang, bahkan berpotensi merusak bangunan Gedung B GNI itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII. 2023. Laporan : Studi Teknis Pemugaran
112 Gedung B Galeri Nasional Indonesia. Serang. Darvill, T. 1987. Ancient Monuments in the Countryside: An Archaeological Management Review. London: English Heritage --------------. 1995. “Value Systems in Archaeology”. Dalam Cooper, M.A., et al (Ed). Managing Archaeology (pp. 38-47.). London: Routledge Geus, A De. 1927. Gedenkboek van de CarpentierAltingStichting 1902-1927. Welterveden: Visser & Co. Heuken, Adolf, SJ. 2007. Historical Sites of Jakarta. Jakarta: Cipta Loka Caraka Hermawan, Iwan dan A, Ocataviadi Juli. 2020. “Pola Tata Ruang Weltevreden dan Fungsi Ruang Kota”. Jurnal Panalungtik. Lipe, W. D. 1984. “Value and Meaning in Cultural Resorces.” Dalam Henry Cleere(Ed.) Approaches to the Archaeological Heritage. Cambridge: Cambridge University Press. Halaman 1-11. Mahendara, Jarot. 2017. “Sudut Pandang Baru Terhadap Revitalisasi dan Adaptasi Kompleks Gedung Galeri Nasional Indonesia”. Dalam Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 1. Halaman 247-254. Mason, R. 2008. “Assessing Value in Conservation Planning, Methodological Issues and Choices.” Dalam The Heritage Reader. Graham Fairclough, Rodney Harrison, John H. Jameson Jnr., John Schofield (Eds.). London & New York: Routledge. Halaman 99-124. Pearson, Michael dan Sharon Sullivan. 2006. Looking After Heritage Places: The Basic of Heritage Planning for Managers, Landowners and Administrator. Melbourne: Melbourne Univesity Press. Pertiwi, Ummu Indra. 2018. “Laporan Hasil Survey PKCB, 2018”. Pusat Data Arsitektur. Purwestri, Nadia. 2015. “Laporan
113 Penelitian Arsitektur dan Sejarah”. Dalam Penelitian Gedung Cagar Budaya Galeri Nasional Indonesia. Pusat Dokumentasi Arsitektur. Peraturan Perundangan: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2022 Tentang Register Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya Sumber Internet: Weltevreden, TempatWisataPertama Masyarakat Kolonial Belanda di Jakarta | kumparan.com diakses Maret 2023 https://www.collectienederland.nl/ search/?q= Volksraad https://id.pinterest.com/ pin/6485887838 Delpher - Boeken Kranten Tijdschriften. www.delpher.nl Galeri Nasional Indonesia. www.galeri-nasional.or.id KITLV Digital Media Library. www. media-kitlv.nl Nationaal Archief Nederland. www. nationaalarchief.n
114 Tidak banyak yang tahu bahwa etnis Cina telah memberikan banyak warna di Banten Lama. Ciri khasnya hadir di banyak sudut Banten Lama, dari dulu hingga kini. Ciri khas etnis Cina hadir dalam bentuk cagar budaya dan kebudayaan lainnya yang masih lestari hingga kini. Beberapa cagar budaya saksi eksistensi masyarakat Cina di Banten pada masa Kesultanan Banten, dapat dengan mudah ditemui di Banten Lama. Kita dapat menemukan lebih dari lima cagar budaya yang bercirikan etnis Cina di Banten Lama. Sejarah Etnis Cina di Banten Catatan sejarah menyatakan bahwa Cina pada masa Dinasti Han (206 SM-220 M) telah membuka jalur lalu lintas dengan negara-negara Asia Tenggara, India, dan Srilanka. Jawa dan Sumatera termasuk dalam jalur lalu lintas pelayaran ini. Di masa selanjutnya, yaitu pada masa Nanchao, Dinasti Selatan (420- 587 M), hubungan antara Cina Oleh: Yuni Rahmawati
115 dan Nusantara berkembang lebih pesat. Pada masa itu agama Budha sedang berjaya di kedua negara. Kesamaan agama saling mempererat tali persaudaraan. Setelah abad ke5, lalu lintas laut antara Nusantara dan Cina semakin mudah. Kondisi tersebut telah menciptakan landasan yang kokoh terhadap hubungan antara Cina dan Nusantara (Hembing Wijaya Kusuma, 2005). Kapan tepatnya Cina menginjakkan kaki di tanah Banten masih harus dikaji lebih jauh. Yang pasti, kedatangan etnis Cina ke Banten terjadi jauh sebelum Kesultanan Banten berdiri. Hasil ekskavasi arkeologis di Situs Banten Girang, yaitu kerajaan di Banten yang diperkirakan berdiri pada abad 10, ditemukan beberapa artefak asal Cina seperti manik-manik, uang, dan keramik dalam jumlah yang relatif banyak, mencapai puluhan ribu fragmen. Hal ini membuktikan bahwa etnis Cina sudah datang ke Banten jauh sebelum Sunan Gunung Jati menyebarkan Agama Islam Pedagang di Banten Sekitar Tahun 1498 (Sumber: atlasopmutualheritage.nl)
116 di Banten. Kedatangan etnis Cina ke Banten tersebut kemungkinan dilatarbelakangi oleh pemburuan rempah khususnya lada Banten yang memang terkenal istimewa. Persebaran etnis Cina di Banten makin kentara di masa Kesultanan Banten. Sejak Malaka ditaklukan oleh Portugis pada tahun 1511, Banten menjadi kota kosmopolitan dan kota pelabuhan penting di Pulau Jawa. Jangkauan kekuasaan Banten mencapai wilayah Sumatera Selatan, hal ini menyebabkan kota Banten ramai dikunjungi oleh bangsa asing (Retno Winarni, 2009). Salah satu bangsa asing yang memiliki peranan penting dalam memajukan perekonomian Banten adalah etnis Cina. Kehadiran etnis Cina di masa Kesultanan Banten memberikan pengaruh yang cukup besar. Menurut Meilink-Roelofsz, etnis Cina di Banten banyak yang bekerja sebagai perantara, syahbandar, penulis, akuntan, penerjemah, juru timbang dan negosiator atau penengah antara pihak Banten dan Belanda di Batavia. Selain itu, di antara mereka juga ada yang bekerja sebagai tukang besi, tukang bangunan, tukang kayu, ahli melapisi barang dengan emas, pembuat garam, petani, penyuling tebu dan arak. Eksistensi etnis Cina di Banten tidak hanya dalam bidang perekonomian, namun juga dalam bidang politik dan arsitertur. Pada tahun 1678, tiga kantor dinas yaitu kantor bea cukai, kantor timbang, dan kantor syahbandar dipimpin oleh orang-orang Cina. Dalam Sajarah Banten Rante-rante, pupuh LIII disebutkan bahwa banyak orang Cina yang menjadi orang penting di Kesultanan Banten. Tokoh-tokoh tersebut yakni Souw Beng Kong, Lim Lacco, Jan Con (Gouw Tjay), Kyai Ngabehi Kaytsu dan Kyai Ngabehi Cakradana. Hal ini menunjukan bahwa kepercayaan sultan bersifat mutlak kepada mereka. Sultan Ageng Tirtayasa cenderung menyerahkan jabatan penting bagi kejayaan Kesultanan Banten kepada orangorang Cina tersebut. Alasannya? Perlu kajian lebih lanjut. Warna Etnis Cina pada Cagar Budaya di Banten Lama Pada awalnya orang Cina yang datang ke Nusantara di masa lalu hanya bertujuan untuk kepentingan
117 dagang. Begitu pula di Banten, tujuan awal mereka bukan untuk menetap, namun hanya sekedar singgah sebentar untuk berdagang dan mencari uang. Akan tetapi, suasana kekeluargaan minim konflik yang berhasil dihadirkan oleh Kesultanan Banten membuat mereka akhirnya menetap dan menjalin kekerabatan dengan penduduk setempat. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menikah dengan penduduk lokal. Beberapa di antaranya juga akhirnya memutuskan untuk memeluk agama yang mayoritas dianut oleh penduduk lokal. Jejak eksistensi etnis Cina pada masa Kesultanan Banten dapat terlihat melalui beberapa cagar budaya yang masih lestari hingga kini. Bukan hanya lewat rumah milik seorang warga keturunan Cina, jejak kehadiran mereka juga melekat pada menara Masjid Pacinan Tinggi, Menara Masjid Banten Lama, nisan, keramik dan mata uang Cina yang berserakan di Banten Lama. Rumah Abad ke-18 Narasi kesejarahan menceritakan bahwa etnis Cina di Banten pada masa Kesultanan tidak hanya memberikan pengaruh dalam bidang ekonomi, namun juga dalam bidang Kondisi rumah abad ke-18 saat ini
118
119 lainnya yang cukup vital. Walaupun banyak memegang peranan penting dalam pemerintahan dan perdagangan, hampir tidak ada cerita konflik yang berarti antara penduduk lokal dengan orang Cina saat itu. Semuanya berbaur dengan manis. Beberapa menikah dengan warga lokal, lalu menetap dengan membuat rumah untuk tempat tinggal. Setelah ratusan tahun berlalu, tersisa satu rumah Cina yang diperkirakan berasal dari abad ke-18. Rumah ini milik keluarga Pak Benjol, berukuran 155,45 m2 . Secara administrasi berada di Kampung Pabean, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Letaknya di antara Masjid Pacinan Tinggi dan Benteng Speelwijk. Sebelah utara berbatasan dengan jalan Banten Kramatwatu; sebelah selatan, timur, dan barat berbatasan dengan pemukiman. Secara keseluruhan rumah ini belum banyak mengalami perubahan. Ciri khas rumah Cina di bagian atap dan selasarnya masih bisa terlihat. Walaupun kondisinya saat ini cukup memprihatinkan, namun keberadaaanya sangat vital, dapat menjadi saksi bahwa cerita kemajemukan di masa Kesultanan bukan hanya floklor belaka tanpa bukti yang nyata. Masjid Agung Banten Berdirinya Kesultanan Banten tidak dapat dipisahkan dari proses penyebaran Agama Islam oleh Sunan Gunung Jati. Di awal kedatangannya, masjid kemungkinan merupakan bangunan pertama yang Masjid tampak atas Lukisan Mesjid Agung Banten Abad ke-19
120 dibangun untuk memudahkan proses penyebaran agama Islam. Ada beberapa pendapat mengenai indikasi tentang adanya masjid di Kawasan Banten Lama sebelum kawasan ini menjadi pusat ibukota Kesultanan Banten (Djayadiningrat, 1983; Michrob, 1993; Mundardjito dkk, 1978; Ambari, t.t). Dasar penafsiran ini adalah peta Banten tahun 1596 yang memuat gambar satu masjid di daerah Pelabuhan Karangantu. Kawasan pelabuhan Karangantu memiliki masjid berdasarkan catatan Tome Pires yang mengunjungi Banten tahun 1513. Selain masjid di Karangantu, diketahui pula adanya masjid di daerah pemukiman Cina (Pecinan) yang lebih dikenal dengan nama Masjid Pecinan Tinggi. Selain itu, ada juga masjid di Kasunyatan yang juga diduga merupakan masjidmasjid awal yang berdiri di Banten. Sejarah pendirian Masjid Agung Banten berawal dari instruksi Sunan Gunung Jati kepada anaknya, Hasanuddin. Konon, Sunan Gunung Jati memerintahkan kepada Hasanuddin untuk mencari sebidang tanah yang masih suci sebagai tempat pembangunan Kerajaan Banten. Setelah mendapat perintah ayahnya tersebut, Hasanuddin kemudian bermunajat kepada Allah agar diberi petunjuk tentang tanah untuk mendirikan kerajaan. Di lokasi itulah kemudian Hasanuddin mulai mendirikan Kerajaan Banten beserta sarana pendukung lainnya, seperti masjid, alun-alun, dan pasar. Perpaduan empat hal, yakni istana, masjid, alun-alun, dan pasar merupakan ciri tradisi kerajaan Islam di masa lalu (Uka Tjandrasasmita, 2009). Masjid merupakan salah satu produk arsitektur Islam. Gaya dan bentuk masjid sangat terpengaruh oleh budaya, suku, dan etnis pada daerah sekitar tempat di mana masjid itu dibangun pada masanya. Masjid Agung Banten merupakan masjid dengan perpaduan tiga budaya arsitektur yang berbeda, budaya Cina salah satunya. Pengaruh budaya Cina terlihat dari bentuk atap bangunan utama Masjid Agung Banten. Rancangan atap masjid bersusun lima, serupa dengan pagoda Cina. Hal ini menjadi sesuatu yang menarik dan keunikan tersendiri. Banyak pendatang Eropa mengagumi masjid tersebut dan menyebutnya sebagai temple atau
121 kuil (Moh. Ali Fadillah, 2005). Atap masjid ini merupakan karya arsitek Cina yangbernama Tjek Ban Tjut. Karena jasanya itulah Tjek Ban Tjut memperoleh gelar Pangeran Adiguna (Lukman Hakim, 2006). Menara Masjid Pacinan Tinggi Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa Etnis Cina yang datang pada masa Kesultanan Banten awalnya hanya bertujuan untuk berdagang. Suasana kekeluargaan yang berhasil diciptakan oleh sultan, membuat banyak orang Cina yang datang ke Banten akhirnya memutuskan untuk menetap. Beberapa dari mereka menikah dengan penduduk pribumi dan memeluk agama Islam yang sedang berkembang kala itu. Masjid Pacinan Tinggi adalah bukti bahwa jumlah orang Cina yang akhirnya memeluk Islam tidaklah hanya dalam hitungan jari. Jumlahnya tentu lebih dari itu. Desa Pacinan, nama desa tempat sisa reruntuhan masjid ini beradapun adalah bukti yang menguatkan narasi bahwa Banten kala itu sangat memberi ruang untuk semua suku dan etnis bangsa untuk hidup dengan tentram, termasuk etnis Cina salah satunya. Masjid Pacinan Tinggi saat ini hanya tersisa beberapa bagiannya saja, yakni mihrab, pondasi bangunan masjid, dan menara dengan alas berbentuk persegi empat. Bangunan ini terbuat dari bata dan batu karang sabagai bahan pondasinya. Tidak jauh dari masjid ini, terdapat makam Cina yang makin menguatkan narasi bahwa etnis Cina yang datang ke
122 Koin Cina Keramik Mainan
123 Banten kala itu bukan hanya berdagang, namun menetap dan memberikan warna dalam waktu yang lama hingga nyawa tak lagi dalam raga. Keramik, Koin , dan Nisan Cina Jejak kehadiran etnis Cina di masa Kesultanan Banten tidak hanya hadir melalui cagar budaya berupa struktur dan bangunan yang besar, namun juga terlacak lewat artefak kecil namun masif seperti keramik, koin, dan nisan. Temuan keramik di Banten Lama didominasi oleh keramik dari Cina. Bentuknya beraneka ragam, mulai dari piring, mangkuk, kotak kecil, gentong, vas bunga, cangkir, kendi, wadah teh (teko), sendok dan ornamen-ornamen berbentuk kepala burung atau hewan lainnya. Keramik-keramik ini beberapa masih utuh, sisanya hanya berupa pecahan. Keramik-keramik ini berasal dari empat dinasti, yakni Dinasti Song (960-1279), Dinasti Yuan (1279-1368), Dinasti Ming (1368-1644) dan Dinasti Qing (1644-1912). Hasil pengklasifikasi secara kronologis temuan keramik di Banten Lama memperlihatkan Nisan Cina Piring Keramik
124 bahwa banyak keramik yang berasal dari masa Dinasti Qing. Temuan koin Cina (uang picis) di Banten Lama cukup masif. Koleksi koin Cina di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (MSKBL) saja mencapai ratusan jumlahnya. Di masa lalu, para pedagang Cina membawa uang picis ke Banten sebagai pengganti mata uang tembaga Chien yang jauh lebih mahal harganya. Mata uang picis terutama dipakai sebagai alat pembayaran sehari-hari seperti dalam jual beli lada. Menjelang tahun 1596, mata uang picis yang beredar di Asia Tenggara semakin meningkat karena perluasan baru perdagangan Cina di seberang lautan. Permintaan yang berlebih terhadap picis membuat uang tersebut dipalsukan. Seringkali tanpa melalui proses percetakan, melainkan membentuknya dengan cara memotongnya saja. Mata uang palsu ini dibuat di Lung-shi, provinsi Hokkian (Fujian) dan Hsin-ning di Guangzhou, Provinsi Guangdong. Temuan beberapa nisan Cina di Banten Lama membuktikan narasi bahwa banyak orang Cina yang tidak hanya berdagang di Banten, namun juga menetap bahkan sampai wafat. Setidaknya terdapat 14 nisan Cina yang menjadi koleksi MSKBL. Selain itu, ada juga nisa Cina yang berada di lokasi aslinya (in situ). Nisan Cina yang berada di MSKBL berasal dari Dinasti Qing yang merupakan dinasti terakhir yang berkuasa dari tahun 1644 sampai dengan1911. Setelah akhir pemerintahan Dinasti Qing, pemerintahan kekaisaran Cina berganti menjadi republik. Penutup Cerita kemajemukan di Banten Lama adalah suatu yang nyata. Banten Lama sudah majemuk semenjak dahulu kala. Etnis Cina adalah salah satu warna kemajemukan yang ada. Mereka adalah saudara kita yang juga turut membangun Banten menuju masa kejayaannya di masa lalu. Buktinya jelas. Ada banyak jejak keberadaan etnis Cina Di Banten Lama. Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri dengan kunjungi, lindungi, dan lestarikan berbagai cagar budaya dengan corak etnis Cina di Banten Lama.
125 DAFTR PUSTAKA Gustiana, Nita (2019) Eksistensi dan Peranan Etnis Cina Pada Masa Kesultanan Banten Tahun 1596- 1682, SPI/Ushuluddin dan Adab/ UIN SMH Banten. Diploma atau S1 thesis, UIN SMH BANTEN. Indriastuti, Hanifa Riski dkk. (2020). Bangunan Masjid Agung Banten sebagai Studi Sosial dan Budaya. Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan Vol. 7 no 2. Ragam Pusaka Budaya Banten. 2005. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten. Supratikno Rahardjo, et al., Kota Banten Lama: Mengelola Warisan Masa Depan, (Banten: Wedatama Widya Sastra, 2011), p. 84 Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, Jakarta : PT. Gramedia, Cet. ke-1, 2009, h. 115. Laporan Kajian Inskripsi Batu Nian Cina Koleksi MSKBL. 2017. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten. Laporan Kajian Mata Uang Cina Koleksi MSKBL. 2017. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten.
126 KALATIRATA 2023