tidak hanya oleh posko tetapi juga publik, termasuk media massa.
Oleh sebab itu, materi „Manajemen Informasi‟ yang disusun
dalam modul ini dapat mendukung penyelenggaraan penanganan
darurat bencana.
A. Definisi
Manajemen informasi adalah pengelolaan data dan
informasi yang digunakan secara tepat waktu untuk
mengantisipasi perubahan kondisi dan memahami
dampak terhadap operasi yang sedang berlangsung.
Manajemen informasi dibutuhkan oleh pos komando,
pendukung, pendamping maupun pusdalops untuk
mendukung perencanaan yang dilakukan oleh pos
pendamping maupun operasi penanganan darurat posko.
Dalam suatu perencanaan, common operation picture
atau gambaran situasi operasi membantu untuk
memahami dan menganalisis situasi di lokasi bencana.
Oleh karena itu, manajemen informasi sangat penting
karena ini dapat meningkatkan kecepatan dan akurasi
informasi sebagai referensi yang memungkinkan
pengambil kebijakan untuk berkoordinasi dan
merencanakan langkah-langkah pada masa tanggap
darurat. Di samping itu, manajemen informasi
menghasilkan produk informasi untuk kepentingan
komunikasi publik.
B. Prinsip
Manajemen informasi direkomendasikan berprinsip pada
beberapa nilai sebagai landasan penyelenggaraan.
Prinsip tersebut merujuk pada panduan manajemen
informasi yang disusun oleh Kantor Koordinasi Urusan
Pusdiklat BNPB Page 148
Kemanusiaan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNOCHA).
Beberapa prinsip tersebut antara lain:
Aksesibilitas.
Data dan informasi harus dapat diakses oleh
semua pelaku operasi penanganan drurat bencana
dengan menerapkan format yang disetujui oleh
posko ataupun pusdalops dengan menyajikan
informasi dalam bahasa umum. Data dan informasi
yang disebarluaskan harus melalui proses
persetujuan individu yang telah ditujuk oleh
pemerintah.
Inklusivitas
Pengelolaan dan pertukaran informasi harus
didasarkan pada kolaborasi, kemitraan, dan
berbagi kepada para pelaku operasi penanganan
darurat, termasuk kementerian/lembaga dan
pemerintah daerah serta pihak-pihak sebagai mitra
pemerintah.
Interopabilitas
Semua data dan informasi yang tersedia untuk
publik harus dalam format yang dapat diakses
secara mudah.
Akuntabilitas
Tim manajemen informasi bertanggung jawab
terhadap konten yang diolah, disusun dan
disajikan kepada publik.
Terverifikasi
Pusdiklat BNPB Page 149
Informasi bersifat akurat, konsisten dan
berdasarkan pada metodologi serta validasi dari
sumber eksternal dan dianalisis secara tepat.
Relevan
Informasi harus praktis, fleksibel, responsif, dan
didorong oleh kebutuhan operasional untuk
mendukung pengambilan keputusan di seluruh
fase krisis. Data yang tidak relevan tidak boleh
dikumpulkan.
Imparsialitas
Informasi yang disajikan harus berkonsultasi
dengan berbagai sumber ketika mengumpulkan
dan menganalisis informasi sehingga mampu
untuk memberikan perspektif yang bervariasi dan
seimbang untuk mengatasi masalah dan solusi
yang direkomendasikan.
Keberlanjutan
Data dan informasi yang dikumpulkan akan
disimpan dan diarsipkan sehingga data dan
informasi dapat diambil di waktu yang akan datang
untuk keperluan kesiapsiagaan, analisis,
pembelajaran dan evaluasi.
Keandalan
Tim manajemen informasi dapat mengevaluasi
keandalan dan kredibilitas data dan informasi
dengan mengetahui sumber dan metode
pengumpulan. Keandalan ini prasyarat untuk
memastikan validitas dan verifikasi.
Pusdiklat BNPB Page 150
C. Tahapan
Manajemen informasi yang menghasilkan produk
informasi berupa laporan situasi, peta tematik, dan
infografik harus melalui empat tahapan, yaitu
pengumpulan data, pemrosesan dan kolasi, analisis
dan penyebaran. Berikut ini diagram proses manajemen
informasi:
Pengumpulan data – tahapan untuk mendapatkan data
primer maupun sekunder. Data primer dapat diperoleh
dari berbagai sumber. Salah satu contoh data primer yang
dapat digunakan yaitu pencatatan selama rapat koordinasi
(notulensi) di tingkat posko. Notulensi rapat ini dapat
digunakan sebagai pendekatan untuk memperoleh data
dan informasi sektor lintas. Posko memiliki agenda rutin
rapat koordinasi setiap hari, pagi dan sore hari.
Sementara itu, data-data sekunder dapat diperoleh dari
berbagai sumber, seperti kementerian/lembaga:
Pusdiklat BNPB Page 151
No Jenis Data Sumber
Badan Pusat Statistik (BPS),
1 Kependudukan Kementerian Dalam Negeri
(Kemendagri)
2 Peta dasar Badan Informasi Geospasial (BIG)
administrasi
Ancaman dan
3 risiko, historis BNPB
bencana
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
4 Gunung api Bencana Geologi (PVMBG), Badan
Geologi
5 Cuaca, Gempa Badan Meteorologi, Klimatologi dan
bumi dan
tsunami Geofisika (BMKG)
Kebakaran Kementerian Lingkungan Hidup dan
6 hutan dan Kehutanan (KLHK), BMKG
lahan
7 Kejadian Pusat Pengendali Operasi
bencana (Pusdalops) BPBD
Provinsi/Kabupaten/Kota/BNPB
Data juga dapat diperoleh dari kementerian/lembaga dan
organisasi-organisasi yang bekerja dalam penanganan
darurat, seperti: Kementerian Sosial, Kementerian
Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian
Pariwisata, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral, TNI, Polri, Badan Nasional
Pusdiklat BNPB Page 152
Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Palang Merah
Indonesia (PMI), Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB),
ASEAN Coordinating Centre For Humanitarian Assistance
(AHA Centre) dan organisasi non pemerintah lain yang
dapat mendukung penyediaan data dan informasi seperti
Humanitarian Openstreetmap Team (HOT), lembaga-
lembaga studi dan perguruan tinggi.
Pemrosesan data dan kolasi – Tahapan ini terdiri dari
proses teknis yang mengubah data mentah (misal angka)
ke dalam format yang dapat dengan mudah digunakan
atau dikombinasikan dengan data lain dalam persiapan
untuk analisis lebih lanjut. Ini termasuk kegiatan seperti
'Pembersihan', kompilasi dari berbagai sumber, dan
menggunakan struktur penyimpanan dan pengarsipan.
Analisis – Tahapan yang dilakukan untuk mengevaluasi
data menggunakan pendekatan analisis dan logika
terhadap setiap komponen data yang telah dkumpulkan
sebelumnya.
Penyebaran – Penyebaran ini bertujuan untuk
menyampaikan produk informasi berdasarkan skala
prioritas, yaitu posko, pos pendukung, pos pendamping,
pusdalops dan kemudian publik. Pada tahap ini, sajian
produk informasi memperhatikan beberapa aspek yaitu
verifikasi, target audien, sederhana, sumber informasi,
gambaran secara umum, menarik secara visual dan
mudah diakses. Aspek-aspek ini bertujuan produk
Pusdiklat BNPB Page 153
informasi dapat dipahami dengan baik serta dapat diakses
dengan tepat sehingga membantu pengambilan
keputusan baik di tingkat posko dan pospennas. Pada
tahap ini penyebaran produk informasi sebatas internal
bagi dukungan operasi penanganan darurat bencana.
Sementara itu, apabila tahapan di atas telah dilakukan,
tahapan selanjutnya dapat dilakukan untuk keperluan
publik. Di bawah ini alur fungsi dan informasi keterkaitan
dari manajemen informasi hingga penyebaran informasi
kepada publik (informasi publik). Pada tahapan informasi
publik, informasi yang telah disusun mengandung pesan
dan menjangkau publik secara luas, termasuk media
massa. Secara teknis, penyebaran informasi dapat
dilakukan dengan berbagai kanal, seperti media sosial
(twitter, Instagram, facebook), whatsapp, website, siaran
pers, maupun konferensi pers.
Sumber: UNOCHA
Dalam konteks kejadian bencana yang melibatkan pihak
luar, informasi juga dibutuhkan oleh komunitas
Pusdiklat BNPB Page 154
internasional, khususnya di bawah koordinasi ASEAN
Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on
Disaster Management (AHA Centre) dan United Nations
Office for the Coordination of Humanitarian Affairs
(UNOCHA). Informasi dari posko atau pusdalops dapat
diakomodasi melalui mekanisme WebEOC atau Virtual
On-Site Operations Coordination Centre (VOSOCC).
VOSOCC ini dapat diakses melalui website
https://vosocc.unocha.org/. Informasi yang dibagikan akan
membantu para pelaku dari komunitas internasional
dalam memberikan gambaran dan kebutuhan dukungan
yang diharapkan oleh wilayah terdampak. Dalam konteks
bantuan internasional, Pemerintah dapat menentukan
jenis dan jumlah bantuan yang dibutuhkan sesuai dengan
kondisi nyata di lapangan.
Pusdiklat BNPB Page 155
PRODUK MANAJEMEN INFORMASI
Indikator keberhasilan – Setelah mengikuti pembelajaran
ini, peserta diklat diharapkan dapat menjelaskan dan
menghasilkan produk-produk informasi
Keluaran dari manajemen informasi yang dilakukan oleh sebuah
tim di bawah posko, pos pendukung, pos pendamping maupun
pusdalops ini adalah produk-produk informasi sebagai berikut:
a) Laporan situasi
b) Infografik
c) Peta tematik
d) Talking points/siaran pers
e) Daftar kontak
A. Laporan Situasi adalah laporan komprehensif sebagai
dokumen yang mendukung koordinasi penanganan darurat.
Laporan ini menyajikan kejadian, dampak dan kebutuhan,
kesenjangan (gaps) dan upaya yang dilakukan. Beberapa
terminologi yang perlu mendapatkan perhatian seperti warga
terdampak, target penerima manfaat, warga yang telah
tersentuh penanganan, kesenjangan dan tantangan.
Misalnya dalam menjelaskan total warga yang mengalami
kesenjangan yaitu total jumlah warga dengan kebutuhan
dikurangi upaya yang telah dilakukan.
Laporan situasi terbagi ke dalam beberapa poin, yaitu
kejadian dan dampak, upaya penanganan, kebutuhan,
Pusdiklat BNPB Page 156
kesenjangan, analisis, daftar kontak, serta dukungan
lampiran – lampiran terkait. Format laporan harus standar;
pada bagian depan mencantumkan nama laporan, tanggal
penyusunan dan nomor laporan, serta disahkan oleh
koordinator seperti dari tim reaksi cepat, posko, pos
pendukung, pos pendamping atau pun pusdalops.
Laporan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran
terkini upaya yang telah dilakukan dan sumber daya yang
tersedia pada saat operasi dilakukan. Informasi yang tersaji
membantu pospennas untuk melakukan perencanaan
sehingga operasi dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
Di samping itu, laporan bermanfaat untuk memberikan
penjelasan terhadap upaya yang dilakukan oleh posko, pos
pendukung, pos pendamping maupun pusdalops.
B. Infografik merupakan tampilan grafis berupa gambar, foto,
angka, peta, maupun huruf yang menjelaskan informasi
secara tematik. Infografik dapat dimanfaatkan untuk
memberikan penjelasan secara garis besar dan
memudahkan pihak yang berkepentingan maupun publik
memahami konteks situasi terkait kejadian, dampak,
penanganan.
C. Peta Tematik adalah peta – peta yang dibutuhkan dalam
analisis dan dukungan operasional dan pengambilan
kebijakan di tingkat posko, pos pendukung, pos pendamping
maupun pusdalops. Produk peta sangat membantu secara
visual dalam memetakan kondisi lapangan sehingga
perencanaan operasi penanganan darurat berjalan secara
Pusdiklat BNPB Page 157
efektif. Produk tematik tersebut harus disajikan dengan
format standar seperti judul peta, skala, logo
kementerian/lembaga, tanggal pembuatan (tanggal, bulan,
tahun), dan legenda. Beberapa produk peta tematik antara
lain:
Kejadian bencana
Wilayah terdampak
Distribusi penduduk terdampak
Distribusi pos penampungan
Distribusi gudang logistik
Titik entry point (pelabuhan, bandara, stasiun, akses
darat) yang mendukung jalur distribusi logistik
Wilayah atau titik yang berpotensi terdampak
susulan
Peta tematik merupakan salah satu bagian dalam
pengelolaan data kebencanaan. Perkembangan teknologi
saat ini memungkinkan semua database kebencanaan dan
peta tematik dapat disajikan secara online. Melalui aplikasi
DIBI dan geospasial, semua orang dapat mengakses
informasi tersebut untuk kepentingan yang lain, seperti
penelitian maupun bahan pendukung dalam kegiatan
penanggulangan bencana.
Peningkatan kompetensi dan kemampuan petugas
pusdalops dalam hal peta tematik dan database menjadi
bagian yang harus ditingkatkan agar penyajian data bencana
lebih maksimal. Dalam pembuatan peta tematik, seseorang
dapat menggunakan software khusus seperti ArcGis maupun
QuantumGIs. Sebagai pendukung dalam pembuatan peta
tematik saat ini sudah ada beberapa aplikasi geospasial yang
Pusdiklat BNPB Page 158
dapat digunakan seperti Indonesia All-hazards Warning and
Risk Evaluation (InAWARE). Aplikasi ini memungkinkan TRC
atau pun petugas pusdalops secara cepat dapat menyajikan
data bencana dalam bentuk spasial.
Melalui InAWARE yang dapat diakses melalui tautan
http://inaware.bnpb.go.id, kita dapat memanfaatkan salah
satu fasilitas untuk menggambar dengan peta dasar yang
sudah tersedia pada aplikasi tersebut. Fasilitas dengan
menampilkan beberapa alat membutuhkan sekali klik untuk
memulai gambar dan dobel klik untuk berhenti (misal Garis,
Jarak). Alat lain (misal Garis Bentuk Bebas, Daerah
Lingkaran, Buffer), gunakan teknik klik-tarik- lepas untuk
menyelesaikan gambar.
Untuk menggambar melalui aplikasi ini, peserta
terlebih dahulu mengenal lebih dekat menu yang ada di
InAWARE, khususnya Gambar & Anotasi. Di bawah ini
beberapa ikon yang dapat dimanfaatkan untuk membuat peta
tematik.
Pusdiklat BNPB Page 159
MEMBUAT GAMBAR DAN ANOTASI
Fungsi Gambar dan Anotasi memungkinkan para pengguna untuk menambahkan berbagai fitur dan
anotasi/keterengan pada peta, dan termasuk fungsi pengukuran yaitu alat buffer, kalkulasi luas, dan
jarak.
Klik pada ikon Gambar pada palette Peralatan untuk mengakses peralatan Gambar & Anotasi.
Fungsi Gambar dan Poligon
Anotasi Poligon Bebas
Anotasi
Pilih Placemark
Hapus Satu Bagian Citra
Hapus Semua Buffer
Titik Jarak
Kotak Poligon Daerah
Garis Daerah Lingkaran
Garis Bentuk Bebas
Coba bereksperimen denan beberapa fungsi peralatan
Gambar & Anotasi. Setelah satu atau lebih gambar
diselesaikan, akan tampil pada tab layers dalam palette40
Gambar & Anotasi.
Pusdiklat BNPB Page 160
Dalam palette Layers, terdapat opsi untuk mengedit,
menyembunyikan, mengekspor atau menghapus
gambar yang telah dibuat. Klik pada salah satu
gambar yang terdapat dalam daftar Layers untuk
menggunakan fungsi edit dalam gambar tersebut.
Gunakan fungsi edit dalam tab Layers untuk
mengubah ukuran dan warna gambar, menyesuaikan
transparansi, atau menambahkan Tip Peta. Jika alat
gambar menggunakan fungsi mengukur, Anda dapat
memilih untuk menggunakan unit metrik atau imperial.
Alat Anotasi dapat digunakan untuk
menampilkan sebuah kotak teks pada peta. Klik pada
tombol Anotasi, klik pada lokasi di peta, dan ketik
informasi yang diinginkan ke dalam kotak dialog yang
muncul.
Pusdiklat BNPB Page 161
Ada beberapa alat yang dapat dipakai untuk mengukur jarak dan
luasan daerah.
Gunakan Alat Daerah untuk mengukur antara
dua atau lebih titik. Mohon perhatikan bahwa satu klik
akan memulai alat gambar dan dapat digunakan
untuk mengukur bagian lainnya, sementara dobel klik
akan menghentikan gambar.
Gunakan Alat Buffer untuk menggambar
sebuah lingkaran mengelilingi suatu titik yang
diinginkan menggunakan teknik klik-tarik-lepas.
Mohon perhatikan bahwa ukuran buffer atau radius
keliling dari lingkaran tersebut akan tetap sesuai
dengan gambar
Pusdiklat BNPB Page 162
D. Talking points/Siaran pers
Talking points atau siaran pers merupakan nilai tambah bagi
tim reaksi cepat yang bekerja di lapangan. Tim inilah yang
mengetahui secara komprehensif situasi lapangan. Oleh
karena talking points atau siaran pers yang dihasilkan TRC
akan membantu pusdalops maupun pejabat di tingkat
manajemen penanganan darurat untuk menyampaikan
pesan kepada publik.
Talking points atau beberapa poin merupakan pesan utama
yang akan disampaikan kepada publik atau media massa.
Beberapa poin tersebut dapat dielaborasi ke dalam narasi
berbentuk siaran pers. Siaran pers diperlukan oleh
manajemen penanganan darurat sebagai upaya:
Menginformasikan kepada publik bahwa pemerintah
bekerja. Negara hadir di tengah masyarakat.
Mengarahkan pemberitaan yang lebih positif di media
massa
Mengantisipasi kesalahan yang ditimbulkan wartawan
dalam penulisan berita
Membangun kepercayaan dengan wartawan/media
massa maupun mengedukasi publik
Meng-counter hoaks
Dalam siaran pers, peserta akan belajar mengenai mind
mapping untuk menggali isu dan sudut pandang dalam
penyampaian pesan serta teknik umum penulisan seperti:
Nomor siaran pers, tanggal, tempat, kop/logo, kontak
person (nama, jabatan, nomor kontak)
Judul yang menarik (maksimal 9 kata) – Judul
merupakan kalimat aktif
Pusdiklat BNPB Page 163
Teras berita (lead) - Paragraf pertama dan terpenting,
biasanya 30 – 35 kata. Penulisan dengan pendekatan
piramida terbalik dengan komposisi informasi sangat
penting pada paragraph paling awal, kemudian disusul
informasi yang penting lainnya dan terakhir informasi
pelengkap.
Minimal 3 dari unsur 5 W dan 1 H dimaksukan dalam
teras berita
5W (who, when, where, what, why) 1 H (how)
Kalimat sederhana (subyek-predikat-obyek-
keterangan). Contoh: Helikopter menjatuhkan air
melalui bucket di wilayah Pulang Pisau.
Kalimat aktif. Contoh: BPBD setempat melaporkan
api dari kebakaran telah menjalar dan mendekati jalan
raya mengarah ke tol Kanci.
Tata bahasa baku – Dia telah mengubah kata sandi
komputer itu. [www.kbbi.web.id/
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/site
s/default/files/PUEBI.pdf]
Sumber data/informasi, sumber data lain (DIBI, BPS,
InAWARE, InaRISK, dll.)
E. Daftar Kontak
Daftar kontak merupakan daftar yang terdiri dari nama,
jabatan di dalam struktur organisasi posko, pos pendukung,
pos pendamping maupun pusdalops, jabatan dalam instansi,
nomor telepon, dan email. Daftar kontak juga menyajikan
informasi kontak pihak-pihak lain di luar struktur organisasi
Pusdiklat BNPB Page 164
tetapi masih memiliki keterkaitan dalam operasi tanggap
darurat bencana.
Daftar kontak akan membantu para pelaku untuk
terhubung dengan cepat di berbagai tingkatan, bai kantar
TRC, pusdalops maupun posko.
Pusdiklat BNPB Page 165
PEMANFAATAN PLATFORM KOMUNIKASI BERSAMA
Indikator keberhasilan – Setelah mengikuti pembelajaran
ini, peserta diklat diharapkan dapat menjelaskan dan
mengakses platform komunkasi bersama.
Komunitas penanggulangan bencana di kawasan regional
dan internasional memiliki platform komunikasi bersama.
Platform tersebut dimanfaatkan untuk berkomunikasi dan
berkoordinasi serta bertukar data maupun informasi. Platfrom
tersebut dapat diakses dengan menggunakan username dan
password yang sebelumnya telah diverifikasi oleh administrator
pengelola plaftrom komunikasi.
Platform komunikasi yang dimaksud yaitu WebEOC dan
VOSOCC. WebEOC merupakan platform komunikasi yang
dikembangkan oleh AHA Centre, khususnya untuk
berkomunikasi antar sesama anggota ASEAN ERAT. WebEOC
dapat dimanfaatkan dalam penanganan tanggap darurat dalam
kawasan Asia Tenggara.
Login untuk WebEOC dapat diakses pada tautan berikut
ini:
https://webeoc.ahacentre.org/eoc7/default.aspx
Sementara itu, VOSOCC atau virtual on-site operations
coordination centre merupakan platform komunikasi yang
dikembangkan oleh UNOCHA. Platform ini berada di dalam
dashboard Global Disaster Alert and Coordination System
(GDACS)
Pusdiklat BNPB Page 166
Platform ini memungkinan para pelaku di tingkat
internasional untuk berkomunikasi dan berkoordinasi serta
bertukar dokumen. Misal, saat penanganan darurat pascagempa
dan tsunami di Sulawesi Tengah yang melibatkan pelaku
internasional. Para pelaku tersebut dapat mengakses berbagai
data dan informasi yang dibutuhkan agar penanganan berjalan
efektif. Para pelaku akan mengetahui kebutuhan yang benar-
benar diminta oleh negara terdampak sehingga tidak terjadi
duplikasi atau pun bantuan yang sia-sia. Seperti halnya
WebEOC, individu harus melakukan registrasi terlebih dahulu
sehingga akan memperoleh username dan password sehingga
dapat akses pada VOSOCC.
Login untuk VOSOCC dapat diakses pada tautan berikut ini:
https://vosocc.unocha.org/
Pusdiklat BNPB Page 167
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses belajar yang efektif adalah proses pembelajaran
yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah
direncanakan dalam pembelajaran. Proses tersebut adalah
menjalankan serangkaian komponen – komponen
pembelajaran dari mulai tujuan, materi, dan evaluasi.
Proses pembelajaran mata pelatihan Manajemen
Informasi adalah proses mengkondisikan dimana peserta
diklat Manajemen Informasi dapat memperoleh sejumlah
pengalaman dalam proses pembelajaran sebuah mata diklat.
Pengalaman belajar tersebut berhubungan dengan materi
yang akan disampaikan dan pada akhirnya dapat mendukung
penyelenggaraan tugas yang mendukung penyelenggaraan
manajemen informasi.
Modul mata diklat Manajemen Informasi berisi materi: 1)
Teknologi Komunikasi/Informasi Pendukung; 2) Konsep
Manajemen Informasi mencakup definisi, prinsip dan tahapan,
3) Produk Manajemen Informasi mencakup Laporan Situasi,
Infografik, Peta Tematik, Talking points/siaran pers dan daftar
kontak; serta 4) Pemanfaatan Platform Komunikasi Bersama.
Masing – masing telah diuraikan dalam setiap bab.
Kehadiran Modul ini diharapkan dapat dijadikan acuan
pengajaran bagi fasilitator dan praktisi penanggulangan
bencana dan agar setiap peserta diklat mampu memahami
tujuan pembelajaran dan memenuhi indikator keberhasilan
yang semestinya dicapai. Dalam konteks pemutakhiran modul
Pusdiklat BNPB Page 168
diklat, modul ini ini terbuka untuk revisi dan masukan
konstruktif. Modul ini diharapkan untuk ditinjau secara periodik
untuk perubahan dan menjawab kebutuhan diklat teknis
terkait manajemen informasi.
B. Tindak Lanjut
Terkait pembahasan peta tematik, elaborasi mengenai materi
diklat perlu dilakukan oleh tim yang memiliki kompetensi
terkait.
Pusdiklat BNPB Page 169
MODUL VI
PETA TEMATIK DAN DATABASE
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bencana yang terjadi di wilayah Indonesia silih
berganti, mulai dari hidrometeorologi hingga bencana
geologi. Berbagai bencana yang terjadi
membutuhkan upaya pencegahan, mitigasi dan
rehabilitasi serta rekonstruksi. Bencana banyak yang
menyebabkan korban dan kerusakan, mulai dari
korban meninggal, hilang, luka, menderita,
mengungsi, kerusakan rumah, fasilitas umum dan
kerusakan pada sektor lainnya. Bencana banjir,
tanah longsor, dan puting beliung meningkat saat
musim penghujan, sedangkan kebakaran hutan dan
lahan dan kekeringan meningkat saat musim
kemarau.
Bencana yang terjadi di berbagai wilayah
Indonesia membutuhkan penanganan yang serius
baik dalam masa darurat mapun sebelum dan
sesudah bencana. Bencana memiliki siklus
perulangan walaupun tidak dapat dipastikan kapan
akan terjadi kembali. Beberapa wilayah ada yang
mengalami bencana banjir setiap tahunnya. Hal ini
membutuhkan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dari
semua pemangku kepentingan yang tergabung
dalam penanggulangan bencana.
Pusdiklat BNPB Page 170
Pusat kendali operasi (Pusdalops)
penanggulangan bencana yang setiap hari
memantau kejadian bencana, akan lebih maksimal
kerjanya jika memiliki sebuta database bencana yang
lengkap dan dapat diakses dengan mudah. Database
ini mencakup seluruh kejadian bencana yang terjadi
di wilayah Indonesia baik dalam hal dampak korban
maupun kerusakan. Fungsi dari database ini adalah
untuk memudahkan dalam Analisa lebih lanjut terkait
dengan kebencanaan. Semakin lengkap dan panjang
series data bencana dapat dipergunakan untuk
berbagai Analisa kebencanaan sehingga
menghasilkan kesimpulan yang dapat mengurangi
risiko bencana.
Peta merupakan salah satu bentuk visual data
yang dapat memberikan kejelasan mengenai lokasi
dari sebuah bencana. Peta tematik kebencanaan
berguna untuk memudahkan orang dalam
memberikan gambaran terhadap apa,
bagaimana,dampak serta informasi lainnya terkait
dengan bencana. Penyajian peta tematik
kebencanaan dapat memberikan
perbandingan/komparasi dari bencana yang terjadi di
wilayah Indonesia. Pusdalops PB dengan
kemampuan personil yang memahami tentang
pembuatan serta penyajian peta tematik kebencanan
mampu untuk menginformasikan bencana dengan
lebih baik dan menarik.
Pusdiklat BNPB Page 171
B. Deskripsi Singkat
Modul tentang peta tematik dan database pada
pusdalops PB mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Tersedianya panduan tentang peta tematik dan
database dalam pusdalops PB.
2. Tersedianya panduan bagi personil pusdalops
dalam bagaimana mengelola dan menganalisa
data kebencanaan.
3. Tersedianya panduan dalam pembuatan peta
4. Penggunaan aplikasi geospasial kebencanaan.
C. Manfaat Modul
Modul ini sebagai bahan bacaan peserta Diklat
Pusat Pengendalian Operasional Penanggulangan
Bencana (Pusdalops PB) yang memuat materi peta
tematik dan database. Setelah mempelajari modul,
diharapkan peserta lebih memahami bagaimana
mengelola database bencana dan peta tematik
kebencanaan.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Hasil Belajar
Peserta dapat memahami peta tematik kebencanaan
dan database dalam Pusdalops PB dengan baik dan
benar.
Pusdiklat BNPB Page 172
2. Indikator Hasil Belajar
a. Peserta mampu mengupdate data bencana ke
dalam database.
b. Peserta mampu membuat peta tematik
kebencanaan.
c. Peserta mampu mengoperasikan aplikasi terkait
geosapsial kebencanaan.
E. Petunjuk Belajar
1. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan
bahan ajar ini, hingga memahami tujuan
pembelajaran.
2. Membaca dengan cermat bagian demi bagian dan
temukan kata kata kunci dan kata–kata yang
peserta diklat anggap baru. Kemudian cari dan
baca pengertian kata–kata kunci dalam daftar
Singkatan Modul ini atau dalam kamus Bahasa
Indonesia.
3. Mengerjakan tugas-tugas dalam modul baik individu
maupun kelompok dengan baik.
Pusdiklat BNPB Page 173
MATERI PEMBELAJARAN
A. Peta Tematik Kebencanaan
1. Pengertian Peta Tematik
Peta adalah sebuah gambaran datar mengenai
permukaan Bumi yang dituangkan dalam kertas
atau bidang datar lainnya. Peta ada banyak sekali
jenisnya, dan salah satu jenis peta adalah peta
tematik. Peta tematik disebut juga sebagai peta
statistik atau peta tujuan khusus. Dilihat dari
namanya, peta tematik ini dibuat dengan tujuan
tertentu. Pengertian peta tematik adalah peta yang
menyajikan patron penggunaan ruangan pada
tempat tertentu sesuai dengan tujuan tertentu pula.
Bisa dikatakan bahwa peta tematik merupakan peta
yang hanya menggambarkan satu tema saja,
seperti peta yang dibuat khusus untuk
menggambarkan kepadatan penduduk, persebaran
jenis tanaman tertentu, data perubahan iklim, dan
lain sebagainya.
2. Ciri- ciri Peta Tematik
Berbagai jenis peta telah disusun, untuk
mengetahui suatu peta tergolong jenis peta yang
mana, bisa dilihat dari ciri- ciri yang dimiliki oleh
peta tersebut. Salah satu yang kita perlu ketahui
adalah ciri- ciri yang dimiliki oleh peta tematik. Peta
tematik memiliki ciri- ciri yang tidak kita temukan
pada jenis peta lain. Beberapa ciri peta tematik
antara lain sebagai berikut:
a. Memiliki tema khusus
Pusdiklat BNPB Page 174
Dari pengertiannya kita telah
mengetahui bersama bahwa peta tematik
merupakan peta yang telah dibuat
berdasarkan tujuan khusus. Karena dibuat
berdasarkan tema tertentu, maka peta
tematik memiliki tema khusus. Tema yang
dimiliki oleh peta tematik ini misalnya
persebaran batu bara di Indonesia
(baca: negara penghasil batu bara terbesar),
jadi peta tematik yang disajikan ini akan
menampilkan wilayah Indonesia dengan
keterangan yang termuat hanya sebatas
persebaran batu bara di wilayah Indonesia.
Selain peta persebaran batu bara, contoh
tema lain adalah perubahan cuaca yang ada
di Indonesia. Dengan tema ini maka peta
yang disajikan adalah peta wilayah
Indonesia yang dilengkapi dengan
keterangan cuaca yang terjadi di setiap
wilayahnya.
b. Datanya berasal dari berbagai peta yang telah
di overlay
Ciri- ciri dari peta tematik lainnya adalah
datanya berasal dari berbagai peta yang
telah di overlay. Karena peta tematik ini
merupakan peta khusus, maka keterangan
yang termuat di dalamnya pun lebih sedikit
namun detail. Data- data yang mendetail ini
berasal dari berbagai peta lain yang telah
diolah kemudian disajikan ulang sehingga
tampak lebih rapi dan mudah untuk dibaca
dan juga dipahami.
Pusdiklat BNPB Page 175
c. Informasi yang disajikan hanya terbatas pada
tema yang telah dipilih
Ciri- ciri selanjutnya yang dimiliki oleh
peta tematik adalah menyajikan data- data
yang terbatas hanya pada tema yang dipilih.
Sebagai contoh adalah peta tematik
mengenai persebaran jenis tanaman kelapa,
maka yang disajikan hanyalah mengenai
pohon kelapa di wilayah yang bersangkutan
dan tidak menyajikan informasi mengenai
pohon mangga, pohon jati dan lain
sebagainya. Hal inilah yang membatasi peta
tematik sehingga disebut sebagai peta
khusus. Nah itulah beberapa ciri yang
dimiliki oleh peta tematik. Peta tematik
merupakan peta khusus yang memiliki
beberapa ciri. Ciri- ciri yang dimiliki oleh
peta tematik belum tentu dimiliki oleh peta
lainnya sehingga ciri- ciri tersebut hanya
akan kita temukan pada peta tematik saja.
3. Jenis- jenis Peta Tematik
Peta yang merupakan suatu gambaran
daerah yang dituangkan dalam suatu bidang
datar terdiri dari berbagai macam jenis. Jenis-
jenis peta ini ternyata dibagi menjadi beberapa
jenis lagi, termasuk juga peta tematik. Peta
tematik yang merupakan peta khusus dibagi
menjadi beberapa jenis lagi. Beberapa jenis dari
peta tematik antara lain sebagai berikut:
a. Peta curah hujan (isohyet)
Pusdiklat BNPB Page 176
Jenis dari peta tematik yang pertama
adalah peta curah hujan atau yang disebut
dengan peta isohyet. Peta tematik mengenai
curah hujan ini merupakan peta khusus
yang menampilkan mengenai informasi
persebaran curah hujan (baca: proses
terjadinya hujan) yang ada di suatu wilayah,
misalnya di Indonesia. Peta curah hujan ini
menampilkan persebaran curah hujan
secara mendetail di suatu wilayah. Peta
curah hujan ini hanya akan berisikan
mengenai curah hujan saja dan tidak ada
hal- hal lainnya yang todak berhubungan
dengan curah hujan.
b. Peta kepadatan penduduk
Jenis peta khusus yang selajutnya
adalah peta mengenai kepadatan penduduk.
Peta kepadatan penduduk merupakan peta
yang menggambarkan perbandingan jumlah
penduduk di suatu wilayah dengan luas
daerahnya. Peta kepadatan penduduk
biasanya dibuat untuk kepentingan dinas
sosial. Peta kepadatan penduduk hanya
akan menampilkan mengenai jumlah
penduduk saja, sehingga kita bisa melihat
dengan jelas daerah- daerah mana saja
yang memiliki jumlah penduduk tinggi dan
daerah mana saja yang memiliki penduduk
yang rendah (baca: penyebab kepadatan
penduduk). Dan juga kita akan mengetahui
daerah mana saja yang kepadatan
penduduknya tinggi dan daerah mana saja
yang kepadatan penduduknya rendah.
Pusdiklat BNPB Page 177
c. Peta penyebaran hasil tambang
Jenis dari peta tematik selanjutnya
adalah peta mengenai persebaran hasil
tambang. Peta persebaran hasil tambang ini
menyajikan suatu jenis tambang tertentu
yang ada di suatu wilayah negara. Hasil
tambang ini misalnya batu bara. Jadi dalam
peta khusus mengenai batu bara akan kita
melihat wilayah suatu negara (baca: julukan
negara di dunia) dengan icon- icon yang
menggambarkan batu bara di dalamnya,
sehingga kita akan mengetahui daerah
mana saja yang memiliki tambang batu bara
terbanyak dan yang paling sedikit.
d. Peta hasil pertanian
Selain penyebaran hasil pe
pertambangan, jenis lain dari peta tematik
adalah peta persebaran hasil pertanian.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa
sektor pertanian masih menjadi sektor
andalan bagi perekonomian Indonesia
(baca: pegunungan di Indonesia), maka dari
itulah pastinya ada banyak daerah di
Indonesia yang memiliki hasil pertanian.
Peta tematik menyajikan persebaran hasil
pertanian tertentu, misalnya adalah hasil
pertanian berupa jagung, maka peta yang
akan ditampilkan adalah daerah- daerah
yang memanen jagung yang berada di suatu
wilayah. Dengan demikian kita akan
mengetahui dengan jelas daerah mana saja
yang menghasilkan jagung dan yang tidak.
Pusdiklat BNPB Page 178
Lebih akurat lagi kita akan mengetahi
berapa jumlah jagung telah dipanen.
e. Peta Kebencanaan
Peta Tematik Kebencanaan merupakan
peta untuk menggambarkan lokasi atau
tempat yang sering mengalami atau
diperkirakan akan mengalami bencana
seperti banjir, kekeringan, longsor, maupun
bencana alam lainnya. berbeda dengan peta
rupa bumi pada yang menyajikan informasi
topografis dan batas administratif, Peta
Tematik Kebencanaan berupa peta yang
menyajikan satu atau sejumlah informasi
tematik.
Pembuatan Peta Tematik Kebencanaan
merupakan salah satu aspek dari mitigasi
dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Fungsi Peta Tematik Kebencanaan di
antaranya adalah untuk menentukanan
perencanaan terhadap suatu wilayah yang
berpotensi terkena dampak bencana.Selain
itu Peta Tematik Kebencanaan akan
menyediakan berbagai informasi tentang
masalah kebencanaan pada satu wilayah
sebagai dasar bagi pemerintah dan
masyarakat dalam kegiatan pengurangan
risiko bencana.
Peta Tematik Kebencanaan dibuat
dengan mempertimbangkan sejumlah
variabel seperti jumlah penduduk, tingkat
kepadatan, dan frekuensi kejadian bencana.
Dalam pemanfaatan peta tematik
Pusdiklat BNPB Page 179
kebencanaan petugas pusdalops PB dapat
menggunakan aplikasi yang sudah ada.
Pembuatan peta dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa software pemetaan
seperti ArcGis ataupun QuatumGis. Semua
data kebencanaan disajikan dalam bentuk
peta yang dapat memebrikan gambaran
spasial terhadap suatu bencana yang
terjadi. Penggunaan software ini
membutuhkan keahlian khusus agar dapat
menghasilkan peta tematik kebencanaan
yang baik dan benar.
Beberapa Peta Tematik Kebencanaan
yang sudah ada dalam Perpres 9/2016
tentang Kebijakan Satu Peta, yaitu: Peta
Geologi, Peta Kawasan Rawan Bencana
Gunung Api, Peta Kawasan Rawan
Bencana Gempa Bumi, Peta Kawasan
Rawan Bencana Tsunami, dan Peta Zonasi
Kerentanan Gerakan Tanah. Peta
kebencanaan tersebut sudah terdapat
dalam Geoportal Kebijakan Satu Peta.
B. Database Kebencanaan
Menangani bencana adalah sebuah pekerjaan
yang tidak mudah. Sering kali diperlukan koordinasi
berlapis-lapis dan komunikasi antara berbagai
organisasi bahkan berbagai negara untuk dapat
memberikan bantuan dengan efektif. Permasalahan
ini masih ditambah lagi dengan keadaan wilayah
yang rusak setelah tertimpa bencana alam, dan
Pusdiklat BNPB Page 180
putusnya jalur-jalur komunikasi akibat kerusakan
infrastruktur. Di beberapa negara berkembang,
infrastruktur ini tidak memadai bahkan kadang tidak
tersedia sama sekali. Pemerintah biasanya
memegang peranan penting dalam mengatasi
tantangan-tantangan logistik semacam ini, akan
tetapi beberapa tahun belakangan ini ada lagi hal
penting yang terbukti sangat membantu
penanganan bencana, yaitu adanya usaha
pemerintah untuk mendukung kebebasan
penggunaan dan penyebaran data sesudah
kejadian-kejadian darurat.
Inisiatif untuk menyediakan database
kebencanaan dan mendukung pengembangan
teknologi baru terkait data, terbukti telah
menyelamatkan banyak jiwa. Mulai dari bencana
gempa bumi tahun 2010 di Haiti sampai dengan
gempa bumi di Nepal tahun 2015. Pembuat
kebijakan di seluruh dunia perlu melihat contoh-
contoh nyata tersebut untuk dapat meningkatkan
dukungan mereka dalam hal penanggulangan
bencana, maupun untuk lebih mempersiapkan diri
menghadapi kemungkinan adanya bencana di
masa yang akan datang.
Database telah menjadi salah satu alat yang
paling bermanfaat dalam membantu para relawan
dan pekerja tanggap darurat, dengan memberikan
informasi geospasial yang terkini dan akurat, dan
memberikan informasi yang sangat diperlukan
untuk melakukan perencanaan dan penentuan
prioritas dalam pengambilan keputusan bagi
organisasi kemanusiaan maupun pemerintah.
Pusdiklat BNPB Page 181
Platform data geospasial semacam
OpenStreetMap, yaitu sebuah project pemetaan
yang bersifat open source, memungkinkan para
relawan untuk memperkirakan tingkat kerusakan
dengan cepat, dan memonitor pelaksanaan
penanggulangan bencana.
Sesudah super taifun Haiyan melanda Filipina
pada bulan November 2013, Palang Merah
Internasional dan para relawan online berkolaborasi
dalam melakukan lebih dari 1.5 juta update pada
OpenStreetMap dalam waktu 6 hari saja, dengan
menggabungkan laporan yang bersifat crowdsource
dari berbagai pekerja lapangan dengan data dari
lembaga geospasial Amerika serta data dari
pemerintah Filipina.
Selain menyediakan data yang penting,
pemerintah juga dapat berperan penting dalam
mendukung inovasi teknologi yang dapat
membantu para relawan. Sebagai contoh, sesudah
Badai Sandy melanda New York, dilakukan upaya
penanggulangan bencana menggunakan teknologi
analytics yang dibuat oleh Palantir, sebuah
perusahaan yang dimulai dari pendanaan CIA,
untuk memprediksi lokasi-lokasi yang mungkin
paling memerlukan obat-obatan, makanan, dan
pakaian, serta mengkoordinasikan usaha untuk
mengatasinya. Di Nepal, para relawan bencana
berhasil menyelamatkan empat korban yang
terjebak dalam reruntuhan dengan menggunakan
sensor canggih dari NASA dan U.S. Department of
Homeland Security, yang dapat mendeteksi detak
jantung di balik timbunan reruntuhan. Dan baru-
Pusdiklat BNPB Page 182
baru ini U.S. National Science Foundation bersama
Lembaga Sains dan Teknologi Jepang menjalin
kerja sama untuk mengembangkan teknologi
tanggap darurat yang bersifat data-driven, mulai
dari sistem penyampaian informasi yang context-
aware sampai dengan algoritma pencarian yang
dapat mengenali bau, untuk mendeteksi polutan
dan bahan berbahaya menggunakan jaringan
sensor dalam air maupun udara.
Tentunya tidak hanya pemerintah yang
berperan penting dalam hal penanggulangan
bencana, sektor swasta pun dapat
menyumbangkan data yang penting untuk kejadian-
kejadian darurat. Ketika gempa bumi dan tsunami
Tohoku memporak porandakan Jepang pada 11
Maret 2011, pemerintah Jepang meminta pabrikan
mobil semacam Toyota dan Honda untuk
mengaktifkan GPS tracking di kendaraan yang
mereka buat. Perusahaan-perusahaan ini
menggunakan data perjalanan pengguna mobil
mereka, yang menunjukkan di mana para
pengemudi memutar arah akibat kerusakan jalan,
kecelakaan dan hambatan lainnya, untuk membuat
peta yang akurat tentang jalur-jalur yang aman dan
masih dapat dilalui dalam waktu hanya 24 jam
setelah terjadinya bencana.
Jenis-jenis data tools ini telah terbukti sangat
membantu aksi tanggap darurat dan dapat
menyelamatkan banyak jiwa. Dukungan yang terus
menerus dari pemerintah sangat mendukung
kesuksesan upaya semacam ini. Meyadari hal ini,
para pembuat kebijakan hendaknya mengetahui
Pusdiklat BNPB Page 183
cara-cara untuk dapat mendukung secara proaktif
pengembangan dan penggunaan teknologi data
bagi penanggulangan bencana, dan melakukan
upaya pencegahan terhadap potensi masalah yang
bisa muncul, tanpa menunggu datangnya keadaan
darurat. Sebagai contoh, sebagian besar data
geospasial yang sangat penting bagi kegiatan
tanggap darurat sumbernya adalah dari
pemerintah, akan tetapi tanpa komitmen yang
mengikat secara hukum bagi pemerintah dan
lembaganya untuk membuka akses terhadap open
data, data krusial ini bisa jadi tidak terakses oleh
para relawan.
Penanggulangan bencana yang efektif di
Indonesia perlu dukungan ketersediaan data dan
informasi tentang kejadian dan dampak bencana
secara cepat dan akurat. Untuk itu diperlukan
pengelola data dan informasi bencana yang
kompeten dengan menggunakan format data
standar yang dikoordinasikan oleh BNPB, BPBD
provinsi dan BPBD kabupaten/kota. Kebijakan
pengelolaan data dan informasi bencana adalah
satu data satu pintu untuk menjamin keakuratan
dan konsistensi. Kebijakaan satu data satu pintu
yang dimaksud adalah data dan informasi yang
dikeluarkan oleh BNPB, BPBD provinsi,
kabupaten/kota setelah dilakukan verifikasi dan
validasi pada kurun waktu tertentu. Kebijakan ini
dilakukan untuk menghindari duplikasi, kerancuan
atau kesimpangsiuran data dan informasi bencana
bagi pengambilan keputusan.
Pusdiklat BNPB Page 184
Strategi pengelolaan data dan informasi bencana
adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan data dilakukan oleh BPBD
kabupaten/kota menggunakan format
data standar.
2. Verifikasi data dilakukan oleh BNPB,
BPBD provinsi, kabupaten/kota
berkoordinasi dengan
kementerian/lembaga, Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) terkait.
3. Penyediaan sarana pendukung yang
memadai berupa komputer, printer dan
jaringan koneksi internet.
Pengumpulan data yang dimaksudkan dalam
pedoman ini adalah data statis, meliputi data
kejadian bencana, korban, kerusakan dan taksiran
kerugian. Format data yang digunakan dalam
pengumpulan data statis terdapat pada lampiran.
Jenis analisis yang dapat dihasilkan dari
pengolahan data, adalah :
1. Analisis komposisi yaitu analisis yang
membandingkan nilai kejadian atau lokasi
bencana dengan dampak yang dipilih.
Analisa komposisi berguna untuk
menunjukkan topologi bencana, dampak
pada manusia (strategi kesiapsiagaan),
dampak pada perumahan (strategi
pembangunan), dampak pada
perekonomian dan dampak pada
infrastruktur.
2. Analisis temporal yaitu analisis yang
menunjukkan aktivitas variabel dampak
yang berbeda dari waktu ke waktu. Analisa
Pusdiklat BNPB Page 185
temporal berguna untuk menunjukkan pola
dan korelasi.
3. Analisis statistik yaitu analisis yang
ditampilkan dalam bentuk statistik. Analisa
statistik berguna untuk menunjukkan
keterkaitan antar variabel dampak bencana
serta hubungan sebab-akibat.
4. Analisis spasial yaitu analisis yang
ditampilkan dalam bentuk pemetaan.
Analisa spasial berguna untuk
menunjukkan sebaran kejadian maupun
dampak bencanaa. Analisis ini dapat
dilakukan dengan menggunakan aplikasi
DIBI.
Penyajian data bencana dapat berupa tabel,
diagram dan peta. Informasi yang disajikan antara
lain pola sebaran kejadian bencana, korban bencana
dan kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana,
serta data rinci tentang kejadian bencana di suatu
wilayah tertentu. Penyebaran informasi dapat
dilakukan secara „online‟ melalui „website‟.
Gambar 1. Alur Pengelolaan Data Bencana
Pusdiklat BNPB Page 186
Pusdiklat BNPB Page 187
Pusdiklat BNPB Page 188
RANGKUMAN
Peta tematik dan database merupakan salah satu bagian
dalam pengelolaan data kebencanaan. Melalui peta maka
informasi spasial dari kejadian bencana dapat di sajikan dan
dengan database yang baik data kejadian bencana dapat
dianalisa lebih lanjut. Perkembangan teknologi saat ini
memungkinakn semua database kebencanaan dan peta tematik
dapat disajikan secara online. Melalui aplikasi DIBI dan
geospasial semua orang dapat mengakses informasi tersebut
untuk kepentingan yang lain seperti penelitian maupun bahan
pendukung dalam kegiatan penanggulangan bencana.
Peningkatan kompetensi dan kemampuan petugas
pusdalops dalam hal peta tematik dan database menjadi bagian
yang harus ditingkatkan agar penyajian data bencana lebih
maksimal. Dalam pembuatan peta tematik seseorang dapat
menggunakan software khusus seperti ArcGis maupun
QuantumGIs. Sebagai pendukung dalam pembuatan peta
tematik saat ini sudah ada beberapa aplikasi geospasial yang
dapat digunakan seperti InAWARE. Aplikasi ini memungkinkan
petugas Pusdalops PB secara cepat dapat menyajikan data
bencana dalam bentuk spasial.
Pusdiklat BNPB Page 189
DAFTAR PUSTAKA
Bahan Ajar ASEAN ERAT Level II – Information Management
(2018)
Bahan Ajar Bidang Data – Pusat Data, Informasi dan Humas
BNPB (2018)
http://www.businessdictionary.com/definition/coordination.html
Modul Training InAWARE
Moshtari M, Gonçalves J, editors. Understanding the drivers and
barriers of coordination among humanitarian organizations.
23rd Annual Conference of the Production and Operations
Management Society; 2012.Perka BNPB Nomor 9 Tahun
2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat
Pamudji. 1984. Praktek Organisasi dan Metode (O dan M).
Jakarta: Institut Ilmu Pemerintahan. Hlm 40Perka BNPB
Nomor 8 Tahun 2011 tentang Standarisasi Data dan
Informasi Kebencanaan.
Pedoman Pengkaijan Cepat Awal
Pedoman Pengkajian Cepat Situasi dan Kebutuhan
Perka BNPB Nomor 9 Tahun 2008 tentang Prosedur Tetap
TRC.
Perka BNPB Nomor 8 Tahun 2011 tentang standarisasi Data dan
Informasi Kebencanaan.
Pedoman Pengkaijan Cepat Awal.
Pedoman Pengkajian Cepat Situasi dan Kebutuhan.
Peraturan Kepala BNPB No 7 Tahun 2012 tentang Pedoman
Pengelolaan Data dan Informasi Bencana Indonesia
Peraturan Kepal BNPB No 8 Tahun 2011 tentang Standardisasi
Data Kebencanaan
Pusdiklat BNPB Page 190