6) Melaksanakan pendirian dapur umum;
7) Melaksanakan pendistribusian permakanan;
8) Pengerahan tenaga aparat Pemda, TNI, Polri, SAR, Tagana, relawan, masyarakat dll;
9) dan lain-lain.
d. Sumber daya yang tersedia di lokasi bencana.
e. Tabel Rincian Bantuan (dibutuhkan/diterima/disalurkan/persediaan/ kekurangan)
f. Kendala/hambatan
g. Kebutuhan mendesak sesuai urutan prioritas.
h. Rencana tindak lanjut Satkorlak PB/BPBD Provinsi/Satlak PB/BPBD Kabupaten/Kota
3. Analisa singkat sementara
a. Korban
b. Pengungsi
c. Pemenuhan Kebutuhan Minimum
d. Kerusakan
1) Rumah
2) Sarana dan Prasarana Umum
3) Lahan/sawah/kebun/tanaman/ternak
4. Rencana Aksi Tim
5. Kesimpulan dan Rekomendasi
6. Penutup
Ketua TRC BNPB,
(............................... )
Pusdiklat BNPB Page 98
Format – 11
LAPORAN TRC BNBP
HARI …………… TANGGAL …………. JAM ……….
(sore hari pertama dan hari berikutnya)
1. Tim Reaksi Cepat BNPB
a. Tim Reaksi Cepat BNPB terdiri dari ………… Sub Tim melaksanakan peninjauan lapangan
terhadap lokasi bencana di ……….., ……….., ……… dan ……….
b. Membantu Satkorlak PB/Satlak PB/BPBD;
1) Mengaktivasi Posko Satkorlak PB/Satlak PB/BPBD;
2) Memperlancar koordinasi dengan sektor terkait melalui rapat koordinasi dalam
mendukung penanganan darurat bencana
3) Kegiatan Press Release kepada Mass Media cetak/elektronika.
2. Bencana
a. Kejadian : .................................................................
1) Jenis kejadian : (hari……. tanggal …….. jam ……..)
2) Waktu kejadian : (Desa/Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten)
3) Lokasi kejadian : .................................................................
4) Penyebab bencana
: ...... orang (meninggal dunia, luka berat, luka
b. Kondisi Mutakhir ringan,hilang/hanyut dengan rinciannya)
1) Korban : ....... jiwa/ ....... kk (dengan rincian di
2) Mengungsi Desa/Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten)
3) Kerusakan (jumlah)
: (rumah, kantor, fasilitas kesehatan/ pendidikan/
4) Dampak bencana umum, sarana ibadah, jembatan, jalan,
tanggul,
sawah, lahan pertanian, dll)
: (bencana susulan, kegiatan masyarakat, kondisi
Kamtibmas, dll)
Pusdiklat BNPB Page 99
c. Upaya Penanganan yang telah dilakukan oleh Satkorlak PB/BPBD Provinsi/Satlak
PB/BPBD Kabupaten/Kota.
1) Gubernur/Bupati/Walikota pada tanggal ..................... jam .......... telah meninjau lokasi
bencana;
2) Telah mendirikan Posko Satkorlak PB/Satlak PB/BPBD;
3) Melaksanakan rapat koordinasi dengan Dinas/Instansi/Lembaga terkait;
4) Melaksanakan penyelamatan/evakuasi korban bencana;
5) Melaksanakan pelayanan kesehatan;
6) Melaksanakan pendirian dapur umum;
7) Melaksanakan pendistribusian permakanan;
8) Pengerahan tenaga aparat Pemda, TNI, Polri, SAR, Tagana, relawan, masyarakat dll;
9) dan lain-lain.
d. Sumber daya yang tersedia di lokasi bencana.
e. Tabel Rincian Bantuan (dibutuhkan/diterima/disalurkan/persediaan/ kekurangan)
f. Kendala/hambatan
g. Kebutuhan mendesak sesuai urutan prioritas.
h. Rencana tindak lanjut Satkorlak PB/BPBD Provinsi/Satlak PB/BPBD Kabupaten/Kota
3. Analisa singkat sementara
a. Korban
b. Pengungsi
c. Pemenuhan Kebutuhan Minimum
d. Kerusakan
1) Rumah
2) Sarana dan Prasarana Umum
3) Lahan/sawah/kebun/tanaman/ternak
4. Rencana Aksi Tim
5. Kesimpulan dan Rekomendasi
6. Penutup
Ketua TRC BNPB,
( ......................................... )
Pusdiklat BNPB Page 100
B. Laporan Tertentu
Laporan berkala disusun setiap hari dan apabila terjadi
insiden yang bersifat khusus. Laporan perkembangan meliputi
data dan informasi mengenai kebutuhan mendesak pencarian,
penyelamatan dan evakuasi korban bencana dan kebutuhan
mendesak penampungan sementara. Laporan perkembangan
tersebut menggunakan format 4 dan 6 yang tertuang dalam
Peraturan Kepala BNBP Nomor 9 Tahun 2008 tentang Prosedur
Tetap Tim Reaksi Cepat BNPB, yang telah dibahas pada bab
„Pengumpulan Data dan Informasi‟.
C. Laporan akhir penugasan
Laporan akhir merupakan laporan lengkap yang disusun
setelah akhir penugasan. Laporan ini berisi data dan informasi
mengenai:
a. Dasar membuat laporan
b. Tujuan membuat laporan
c. Kebencanaan, meliputi kejadian bencana, kondisi
mutakhir, upaya penganan yang telah dilakukan oleh
Satkorlak PB/BPBD Provinsi/Satlak PB/BPBD
Kabupaten/Kota, Sumber daya yang tersedia di lokasi
bencana, Tabel Rincian Bantuan
(dibutuhkan/diterima/disalurkan/ persediaan/
kekurangan), Kendala/hambatan, Kebutuhan
mendesak sesuai urutan prioritas, dan Rencana tindak
lanjut Satkorlak PB/BPBD Provinsi/Satlak PB/BPBD
Kabupaten/Kota.
Pusdiklat BNPB Page 101
Format yang digunakan dalam laporan akhir penugasan
adalah format 12 berdasarkan Perka Nomor 9 Tahun 2008
tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat BNBP.
Format – 12
LAPORAN PELAKSANAAN TUGAS
TIM REAKSI CEPAT BNPB
BENCANA …… KABUPATEN/KOTA/PROVINSI ……..
TANGGAL …………. S.d ………..20….
1. Dasar : .................................................................
: (hari……. tanggal …….. jam ……..)
2. Tujuan : (Desa/Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten)
: .................................................................
3. Bencana
: ...... orang (meninggal dunia, luka berat,
a. Kejadian luka ringan, hilang/hanyut dengan
1) Jenis kejadian rinciannya)
2) Waktu kejadian : ....... jiwa/ ........ kk (dengan rincian di
3) Lokasi kejadian Desa/Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten)
4) Penyebab bencana : (rumah, kantor, fasilitas
kesehatan/pendidikan/ umum, sarana
b. Kondisi Mutakhir ibadah, jembatan, jalan, tanggul, sawah,
1) Korban lahan pertanian, dll)
: (bencana susulan, kegiatan masyarakat, kondisi
2) Mengungsi Kamtibmas, dll)
3) Kerusakan (jumlah)
4) Dampak bencana
Pusdiklat BNPB Page 102
d. Upaya Penanganan yang telah dilakukan oleh Satkorlak PB/BPBD Provinsi/Satlak
PB/BPBD Kabupaten/Kota.
1) Gubernur/Bupati/Walikota pada tanggal ..................... jam .......... telah meninjau lokasi
bencana;
2) Telah mendirikan Posko Satkorlak PB/Satlak PB/BPBD;
3) Melaksanakan rapat koordinasi dengan Dinas/Instansi/Lembaga terkait;
4) Melaksanakan penyelamatan/evakuasi korban bencana;
5) Melaksanakan pelayanan kesehatan;
6) Melaksanakan pendirian dapur umum;
7) Melaksanakan pendistribusian permakanan;
8) Pengerahan tenaga aparat Pemda, TNI, Polri, SAR, Tagana, relawan, masyarakat dll;
9) dan lain-lain.
d. Sumber daya yang tersedia di lokasi bencana.
e. Tabel Rincian Bantuan (dibutuhkan/diterima/disalurkan/persediaan/ kekurangan)
f. Kendala/hambatan
g. Kebutuhan mendesak sesuai urutan prioritas.
h. Rencana tindak lanjut Satkorlak PB/BPBD Provinsi/Satlak PB/BPBD Kabupaten/Kota
4. Analisa singkat sementara
a. Korban
b. Pengungsi
c. Pemenuhan Kebutuhan Minimum
d. Kerusakan
1) Rumah
2) Sarana dan Prasarana Umum
3) Lahan/sawah/kebun/tanaman/ternak
5. Rencana Aksi Tim
6. Kesimpulan dan Rekomendasi
7. Penutup
………………..,
tanggal – bulan – tahun
Ketua TRC BNPB,
( ......................................... )
Lampiran dan Dokumentasi Foto
Pusdiklat BNPB Page 103
PENYAJIAN DATA DAN INFORMASI HASIL KAJI CEPAT
A. Data/informasi kejadian dan dampak
Secara umum terdapat dua jenis data, yaitu data sekunder
dan data primer. Data sekunder adalah data yang sudah
tersedia, yang sebelumnya tidak dikumpulkan secara khusus
untuk kajian tersebut, dan data tersebut dikumpulkan oleh orang
lain selain pelaku kajian. Sedangkan data primer adalah data
yang dikumpulkan secara khusus untuk keperluan kajian, dan
data tersebut dikumpulkan sendiri oleh pelaku kajian.
Data Sekunder meliputi:
Peta dasar (provinsi, kebupaten): Peta Tata Ruang, Peta
kontur, dll
Peta ancaman (provinsi, kabupaten), contoh : kawasan
rawan gempabumi
Data demografi (provinsi, kabupaten)
Lokasi dan karekateristik sistem pendukung, misalnya
air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi
Lokasi, kepemilikan, dan jumlah ketersediaan
sumberdaya material yang dapat digunakan untuk
bantuan darurat;
Struktur administrasi (provinsi, kabupaten)
Pengumpulan data dan informasi meliputi pengumpulan
data dan informasi yang diperlukan dalam kaji kerusakan
dan kaji kebutuhan. Secara umum pengumpulan data dan
informasi yang diperlukan dalam kaji kerusakan antara lain:
• Besar dan skala bencana, penyebaran dampaknya;
• Prakiraan jumlah korban meninggal, orang hilang, dan
jumlah penduduk yang selamat;
Pusdiklat BNPB Page 104
• Kerusakan dan tidak berfungsinya infrastruktur dan
sistem pendukung, fasilitas umum, akses transportasi,
dan telekomunikasi;
• Sistem peringatan dini;
• Rute evakuasi;
• Kemungkinan penyebaran ancaman baru (misalnya:
penyakit).
Sedangkan pengumpulan data dan informasi dalam kaji
kebutuhan secara umum antara lain adalah:
1. Search and Rescue
Data dan informasi yang dikumpulkan tergantung
pada jenis ancaman. Sebagai contoh terjadinya
gempabumi, maka data dan informasi yang
dikumpulkan adalah dimana lokasi gedung-gedung
yang runtuh, dan dimana lokasi fasilitas umum
terdapat, seperti sekolah, rumah sakit, dan fasilitas
umum lainnya.
2. Lokasi komunitas terkena dampak
Informasi yang dikumpulkan antara lain:
dimana lokasi tersebut,
berapa banyak,
apakah mereka mengungsi?
apabila ya, bagaimana kondisi shelternya? untuk
apabila tidak, dimana mereka tinggal
sementara? Bagaimana kondisinya?
3. Akses menuju lokasi bencana
Informasi yang dikumpulkan antara lain:
Kondisi dan keamanan akses darat, laut dan
udara;
Pilihan akses yang paling memungkinkan
Pusdiklat BNPB Page 105
4. Perbaikan infrastruktur penting dan fasilitas umum
agar dapat kembali berfungsi
Informasi yang dikumpulkan antara lain:
Fasiltas apa saja yang masih dapat berfungsi;
Dimana lokasinya?
Apa yang dibutuhkan agar dapat membuat fasilitas
tersebut kembali berfungsi?
5. Kebutuhan dasar
Informasi yang dikumpulkan antara lain:
Pangan: tipe pangan, tersediaan, pasar,
kemampuan beli warga setempat, pasar;
Air bersih dan sanitasi: tingkat kerusakan fasilitas
penyedia air bersih, kuantitas dan kualitas air
bersih, penyimpanan dan transportasi untuk air
bersih, fasilitas MCK.
6. Kondisi kesehatan, keamanan, dan keselamatan;
Informasi yang dikumpulkan antara lain:
Tingkat kerusakan fasilitas kesehatan;
Akses masyarakat setempat pada fasilitas
kesehatan;
Kemungkinan penyebaran HIV;
Kondisi kesehatan reproduksi;
Kondisi kesehatan setempat (apakah ada penyakit
endemik atau penyakit lainnya);
Kajian kondisi kesehatan mental masyarakat
setempat, apakah mengalami shock akibat
bencana tersebut?
Kondisi keamanan dan keselamatan wilayah
setempat.
7. Shelter
Informasi yang dikumpulkan antara lain:
Pusdiklat BNPB Page 106
Kebutuhan Shelter
Kondisi shelter yang sudah tersedia
Kebutuhan perlengkapan rumahtangga yang
mendesak , misal: perlengkapan masak dan
kebutuhan perlengkapan rumah tangga lainnya.
8. Perlindungan kelompok rentan
Informasi yang dikumpulkan antara lain:
bayi, anak-anak, perempuan hamil, difable, lanjut
usia; dimana mereka, berapa banyak, bagaimana
kondisinya, dan kebutuhan khusus apa yang perlu
dilakukan untuk menyokong kelompok ini.
Didalam mengumpulkan data dan informasi untuk kaji
kerusakan dan kaji kebutuhan, BNBP telah memiliki
format baku yang tertuang dalam Peraturan Kepala BNBP
Nomor.9 Tahun 2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi
Cepat BNPB. Format yang tertuang dalam Perka tersebut.
B. Format Data/Informasi Kejadian dan Dampak Bencana.
Data/informasi yang dikumpulkan pada format tersebut
sebagai berikut:
1. Kejadian Bencana
a. Informasi umum mengenai kejadian bencana, meliputi
jenis bencana yang terjadi, kapan bencana tersebut
terjadi dan lokasi terjadinya bencana.
b. Jumlah korban jiwa yang diidentifikasi per
kelurahan/desa di kecamatan tertentu, meliputi jumlah
korban jiwa yang hilang, jumlah korban jiwa yang luka
berat dan ringan, jumlah korban jiwa yang
mengungsi, serta jumlah korban jiwa yang meninggal
dunia.
Pusdiklat BNPB Page 107
c. Jumlah kerusakan pemukiman dan fasilitas umum,
infrastruktur, dan sarana lainnya, meliputi:
Jumlah unit rumah yang rusak, baik rusak ringan
maupun rusak berat disetiap kelurahan/desa di
kecamatan tertentu, dan taksiran kerugian (Rp)
yang ditimbulkan akibat kerusakan tersebut.
Jumlah sanitasi drainase lingkungan yang
menjadi tidak berfungsi akibat bencana, meliputi
air bersih (m3), saluran air (m2), MCK umum dan
lain-lainnya di setiap kelurahan/desa di
kecamatan tertentu.
Jumlah kerusakan fasilitas umum yang rusak,
baik rusak ringan maupun rusak berat di setiap
kelurahan/desa di kecamatan tertentu dan
taksiran kerugian (Rp) yang ditimbulkan akibat
kerusakan tersebut, meliputi fasilitas pendidikan,
fasilitas kesehatan, fasilitas ibadah, fasilitas
sosial, infrastruktur, fasilitas pemerintahan,
jaringan listrik, telekomunikasi, air bersih, dan
gas, fasilitas pelayanan publik, hutan, lahan dan
tanaman pertanian, hewan ternak, sarana
prasarana kelautan dan perikanan.
2. Upaya penanganan yang telah dilakukan terhadap
korban dan kerusakan.
3. Sumber daya yang diperlukan dalam penanganan
bencana, meliputi sarana prasarana, sumber daya
manusia, logistik, dan dana.
4. Kendala yang dihadapi
5. Kebutuhan darurat yang diperlukan untuk
penanganan bencana, meliputi:
Pusdiklat BNPB Page 108
(1) Pencarian, Penyelamatan dan Evaluasi
(Sumber Daya Manusia, Peralatan, Logistik,
Dana)
(2) Tempat Penampungan Sementara (Tenda,
Barak, Veltbed, Bangunan Fasilitas
Umum/Sosial). Catatn: perlu adanya
perhatian khusus pasutri, perempuan dan
anak untuk penampungan dan penggunaan
MCK
(3) Kebutuhan Dasar Pangan (Makanan Pokok,
Makanan Siap Saji, Makanan Tambahan,
Makanan Pelengkap, MP ASI, Air
Minum/Bersih)
(4) Kebutuhan Dasar Sandang (Kits
Keluarga/family kits), Selimut, Sarung, Daster,
Pakaian Dewasa/Anak, Handuk, Pembalut
wanita, Perlengkapan mandi, Alas tidur)
(5) Kesehatan (Sumber Daya Manusia,
Peralatan,Obat-obatan, bahan habis pakai
dan kesehatan lingkungan.
(6) Air bersih dan Sanitasi (MCK/Sanitasi, Jerigen
Air, Air Bersih)
(7) Sarana Angkutan (Kendaran darat/air/udara,
hewan, SDM/kurir, BBM)
(8) Utilitas (BBM, Listrik, Telekomunikasi, PAM)
(9) Lain – lain
6. Potensi bencana susulan
Format Data/Informasi Kejadian dan Dampak Bencana
sesuai dengan format 3 Peraturan Kepala BNBP Nomor.9
Tahun 2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat
BNPB sebagai berikut.
Pusdiklat BNPB Page 109
Format 3
DATA/INFORMASI
KEJADIAN DAN DAMPAK BENCANA
I. KEJADIAN BENCANA : ……………………………………………………
1. Umum : ……………………………………………………
a. Jenis : ……………………………………………………
b. Tanggal/Waktu : …………………………………………………….
c. Lokasi
d. Keterangan ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
2. Korban Jiwa
No Kecamatan Kelurahan/Desa Jumlah (jiwa)
Hilang Luka Luka Pengungsi MD*)
Berat Ringan
1.
2.
Dst TOTAL
*) MD = Meninggal Dunia
3. Kerusakan JUMLAH (unit) Taksiran Kerugian
No a. Pemukiman (Rp)
Rumah Rusak Rusak
Ringan Berat
Lokasi
(Kec/Kel/Desa)
1.
2.
Dst.
total
Pusdiklat BNPB Page 110
Sanitasi Drainase Lingkungan (yang menjadi tidak berfungsi akibat
bencana)
No Lokasi JUMLAH (/satuan)
(Kec/Kel/Desa) Air Saluran MCK Lain-
Bersih Air (m2) Umum lain
(m3) (unit)
1.
2.
Dst.
TOTAL
Catatan: yang menjadi standar sapras yang rusak
b. Fasilitas Pendidikan
c. Fasilitas Kesehatan
d. Fasilitas Ibadah
e. Fasilitas Sosial
f. Infrastruktur
g. Fasilitas Pemerintahan
h. Jaringan Listrik, Telekomunikasi, Air Bersih, Gas
i. Fasilitas Pelayanan Publik
j. Hutan, Lahan dan Tanaman Pertanian, Hewan Ternak
k. Sarana Prasarana Kelautan dan Perikanan
No Jenis Lokasi JUMLAH (unit) Fungsi Taksiran
Kerugian
(Kec/Kel/Desa) Rusak Rusak
Ringan Berat (Rp)
1.
2.
Dst.
total
Tabel Pendataan Kerusakan Fasilitas Pendidikan (point b) hingga Sarana Prasarana
Kelautan (poin k)
Pusdiklat BNPB Page 111
II. UPAYA PENANGANAN YANG TELAH DILAKUKAN
1. Terhadap Korban: : .……………………………………………………………
: .……………………………………………………………
Meninggal : ..……………………………………………………………
Luka Berat
Luka Ringan
Hilang : ..……………………………………………………………
Pengungsi : …..…………………………………………………………
2. Terhadap Kerusakan:
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
III. SUMBER DAYA
1. Sarana Prasarana
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
2. Sumber Daya Manusia
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
3. Logistik
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
4. Dana
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
IV. KENDALA
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
V. KEBUTUHAN DARURAT (Jumlah, Sumber)
1. Pencarian, Penyelamatan dan Evaluasi (Sumber Daya Manusia, Peralatan, Logistik,
Dana)
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………
2. Tempat Penampungan Sementara (Tenda, Barak, Veltbed, Bangunan Fasilitas
Umum/Sosial). Catatn: perlu adanya perhatian khusus pasutri, perempuan dan anak
untuk penampungan dan penggunaan MCK
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
3. Kebutuhan Dasar Pangan (Makanan Pokok, Makanan Siap Saji, Makanan
Tambahan, Makanan Pelengkap, MP ASI, Air Minum/Bersih)
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
Pusdiklat BNPB Page 112
4. Kebutuhan Dasar Sandang (Kits Keluarga/family kits), Selimut, Sarung, Daster,
Pakaian Dewasa/Anak, Handuk, Pembalut wanita, Perlengkapan mandi, Alas tidur)
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
Sesuaikan dengan sektor yang memiliki panduan lampiran.
5. Kesehatan (Sumber Daya Manusia, Peralatan,Obat-obatan, bahan habis pakai dan
kesehatan lingkungan.
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
6. Air bersih dan Sanitasi (MCK/Sanitasi, Jerigen Air, Air Bersih)
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
7. Sarana Angkutan (Kendaran darat/air/udara, hewan, SDM/kurir, BBM)
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
8. Utilitas (BBM, Listrik, Telekomunikasi, PAM)
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
9. Lain – lain
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
VI. POTENSI BENCANA SUSULAN
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Catatan :
Pengisian form disesuaikan dengan perkembangan kemampuan Tim dan jenis/macam bencana di
lapangan
Pusdiklat BNPB Page 113
Format Kebutuhan Mendesak Pencarian, Penyelamatan dan
Evakuasi Korban Bencana
C. Format tersebut mengumpulkan data/informasi sebagai
berikut:
1. Rekapitulasi jumlah korban yang meninggal, jumlah
korban yang luka berat dan ringan, jumlah korban yang
hilang, dan jumlah korban yang mengungsi berikut
upaya penanganan yang telah dilakukan.
2. Rekapitulasi kebutuhan sumber daya manusia, antara
lain dokter umum, dokter spesialis, dan perawat; sarana
dan prasarana, antara lain kendaraan jeep, truk, dezor
dan beco; dan dana yang diperlukan , baik dilihat dari
unsur pemerintah daerah, TNI, POLRI, Basarnas, PMI
dan unsir lainnya.
3. Rekapitulasi kebutuhan logistik, meliputi:
a) Pangan, antara lain beras, ikan asin, kecap, mie
instan dan kebutuhan pangan lainnya.
b) Sandang, antara lain kain sarung, selimut, kaos
dewasa dan anak-anak, seragam sekolah untuk laki-
laki dan perempuan, dan kebutuhan sandang lainnya.
c) Peralatan, antara lain tandu, tenda, veltbed, dauser,
beco, cangkul, skop dan peralatan lainnya.
d) Obat-obatan dan Alat Kesehatan, antara lain infus,
perban, kapas, betadine, antibiotika serta obat-obatan
dan alat kesehatan lainnya.
Format Kebutuhan Mendesak Pencarian, Penyelamatan
dan Evakuasi Korban Bencana sesuai dengan format 4
Peraturan Kepala BNBP Nomor. 9 Tahun 2008 tentang
Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat BNPB sebagai berikut.
Format – 4
Pusdiklat BNPB Page 114
KEBUTUHAN MENDESAK
PENCARIAN, PENYELAMATAN DAN EVAKUASI KORBAN BENCANA
Hari/Tanggal/Jam : ………………………………………………………
Lokasi (Kec/Kab/Kota/Prov) : ………………………………………………………
a. Tabel Rekapitulasi Korban
No Korban Jiwa Jumlah Upaya Penanganan Keterangan
(jiwa)
1. Meninggal
2. Luka Berat
3. Luka Ringan
4. Hilang
5. Mengungsi
b. Tabel Rekapitulasi Sumber Daya
N Uraian Kebutuhan Keterangan
o Diperlukan Kekurangan
Tersedia
I. Pemerintah Daerah
1 SDM (Sumber Daya
. Manusia)
- Dokter umum
- Dokter Spesialis
- Perawat dll
2 Srana dan Prasarana
.
- Kendaraan jeep
- Kendaraan truk
- Dozer
- Beco dll
3 Dana
.
II. TNI Page 115
1 SDM (Sumber Daya
. Manusia)
- Dokter umum
Pusdiklat BNPB
- Dokter Spesialis Page 116
- Perawat dll
2 Srana dan Prasarana
.
- Kendaraan jeep
- Kendaraan truk
- Dozer
- Beco dll
3 Dana
.
III. POLRI
1 SDM (Sumber Daya
. Manusia)
- Dokter umum
- Dokter Spesialis
- Perawat dll
2 Srana dan Prasarana
.
- Kendaraan jeep
- Kendaraan truk
- Dozer
- Beco dll
3 Dana
.
IV. BASARNAS
1 SDM (Sumber Daya
. Manusia)
- Dokter umum
Pusdiklat BNPB
- Dokter Spesialis
- Perawat dll
2 Srana dan Prasarana
.
- Kendaraan jeep
- Kendaraan truk
- Dozer
-
- Beco dll
3 Dana
.
Pusdiklat BNPB Page 117
Uraian Kebutuhan Keterangan
No Diperlukan Kekurangan
Tersedia
V. PMI
1. SDM (Sumber Daya Manusia)
- Dokter umum
- Dokter Spesialis
- Perawat dll
2. Srana dan Prasarana
- Kendaraan jeep
- Kendaraan truk
- Dozer
- Beco dll
3. Dana
VI. Dan Lain-Lain
c. Tabel Rekapitulasi Logistik Kebutuhan Keterangan
No Logistik Diperlukan Kekurangan
Tersedia
I. Pangan
1. Beras
2. Ikan asin
3. Kecap
4. Saos Sambal
5. Mie instan
dll
II. Sandang
1. Kain Sarung
2. Selimut
3. Kaos Dewasa
4. Kaos anak-2
5. Seragam SD Lk
6. Seragam SD Pr
dll
III. Peralatan
1. Tandu
2. Tenda
3. Veltbeth
4. Beco
5. Dauser
Pusdiklat BNPB Page 118
6. Cangkul
7. Skop
dll
IV. Obat dan Alkes
1. Infus
2. Perban
3. Kapas
4. Betadine
5. Anti Biotika
- Tablet/kapsul
- Cair/ampul
6. Tandu
7. Bidak dll
Pusdiklat BNPB Page 119
D. Format Kebutuhan Mendesak Pemenuhan Kebutuhan
Dasar
Format tersebut mengumpulkan data/informasi sebagai
berikut:
a. Jumlah pengungsi dan kebutuhan sarana dan
prasarana, antara lain meliputi pangan, sandang, air
bersih/sanitasi, pelayanan kesehatan serta sarana dan
prasarana lainnya di tingkat kecamatan.
b. Jumlah pengungsi dan kebutuhan sarana dan
prasarana, antara lain meliputi pangan, sandang, air
bersih/sanitasi, pelayanan kesehatan serta sarana dan
prasarana lainnya di tingkat kabupaten/kota.
c. Jumlah pengungsi dan kebutuhan sarana dan
prasarana, antara lain meliputi pangan, sandang, air
bersih/sanitasi, pelayanan kesehatan serta sarana dan
prasarana lainnya di tingkat provinsi.
Format Kebutuhan Mendesak Pemenuhan Kebutuhan
Dasar sesuai dengan format 5 Peraturan Kepala BNBP Nomor.9
Tahun 2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat BNPB
sebagai berikut.
Pusdiklat BNPB Page 120
Format – 5
KEBUTUHAN MENDESAK
PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR
Hari/Tanggal/Jam : ……………………………………………………………..
: ……………………………………………………………..
1. Kecamatan
No Uraian Kebutuhan Tersedia Kekurangan Keterangan
1. Jumlah Pengungsi
2. Sarana dan Prasarana
a. Pangan
b. Sandang
c. Air Bersih/Sanitasi
d. Pelayanan Kesehatan
dll
2. Kabupaten/Kota : ……………………………………………………………..
No Uraian Kebutuhan Tersedia Kekurangan Keterangan
1. Jumlah Pengungsi
2. Sarana dan Prasarana
a. Pangan
b. Sandang
c. Air Bersih/Sanitasi
d. Pelayanan Kesehatan
dll
3. Provinsi : ………………………………………………………………..
No Uraian Kebutuhan Tersedia Kekurangan Keterangan
1. Jumlah Pengungsi
2. Sarana dan Prasarana
a. Pangan
b. Sandang
c. Air Bersih/Sanitasi
d. Pelayanan Kesehatan
dll
Pusdiklat BNPB Page 121
E. Format Kebutuhan Mendesak Penampungan
Sementara
Format tersebut mengumpulkan data/informasi sebagai
berikut:
a. Jumlah pengungsi dan kebutuhan sarana dan
prasarana, antara lain meliputi tenda, alas tidur, genset,
MCK, dapur umum serta sarana dan prasarana lainnya
di tingkat kecamatan.
b. Jumlah pengungsi dan kebutuhan sarana dan
prasarana, antara lain meliputi tenda, alas tidur, genset,
MCK, dapur umum serta sarana dan prasarana lainnya
di tingkat kabupaten/kota.
c. Jumlah pengungsi dan kebutuhan sarana dan
prasarana, antara lain meliputi tenda, alas tidur, genset,
MCK, dapur umum serta sarana dan prasarana lainnya
di tingkat provinsi.
Format Kebutuhan Mendesak Penampungan Sementara
sesuai dengan format 6 Peraturan Kepala BNBP Nomor.9 Tahun
2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat BNPB sebagai
berikut.
Pusdiklat BNPB Page 122
Hari/Tanggal/Jam Format – 6
KEBUTUHAN MENDESAK
PENAMPUNGAN SEMENTARA
: ……………………………………………………………
1. Kecamatan : ……………………………………………………………
No Uraian Kebutuhan Tersedia Kekurangan Keterangan
1. Jumlah Pengungsi
2. Sarana dan Prasarana
a. Tenda
b. Alas Tidur
c. Genset
d. MCK
e. Dapur Umum
dll
2. Kabupaten/Kota : ………………………………………………………………
No Uraian Kebutuhan Tersedia Kekurangan Keterangan
1. Jumlah Pengungsi
2. Sarana dan Prasarana
a. Tenda
b. Alas Tidur
c. Genset
d. MCK
e. Dapur Umum
dll
Pusdiklat BNPB Page 123
3. Provinsi : ……………………………………………………………
No Uraian Kebutuhan Tersedia Kekurangan Keterangan
1. Jumlah Pengungsi
2. Sarana dan Prasarana
a. Tenda
b. Alas Tidur
c. Genset
d. MCK
e. Dapur Umum
dll
Pusdiklat BNPB Page 124
F. Format Kebutuhan Mendesak Perlindungan Kelompok
Rentan
Format tersebut mengumpulkan data/informasi sebagai
berikut:
1. Rekapitulasi jumlah korban jiwa kelompok rentan,
meliputi anak bayi, anak balita, ibu hamil/menyusui,
lansia, dan cacat, serta upaya penanganan terhadap
kelompok rentan tersebut.
2. Rekapitulasi kebutuhan sumber daya yang diperlukan
bagi kelompok rentan, yaitu:
a. Anak bayi, antara lain: susu bubuk, tepung bubur,
botol susu, perlengkapan bayi, pampers, dan
kebutuhan anak bayi lainnya.
b. Anak balita, antara lain: susu bubuk, tepung bubur,
pakaian anak balita, MP Asi, dan kebutuhan balita
lainnya.
c. Ibu hamil/menyusui, antara lain: susu bubuk, sarung,
pakaian/daster, dan kebutuhan ibu hamil/menyusui
lainnya.
d. Lansia, antara lain: susu bubuk, tongkat, biskuit,
pampers, makanan suplemen dan kebutuhan lansia.
e. Penyandang Cacat, antara lain: susu bubuk,
tongkat/peralatan lainnya, biskuit, pampers, makanan
suplemen dan kebutuhan penyandang cacat lainnya.
Format Kebutuhan Mendesak Perlindungan Kelompok
Rentan sesuai dengan format 7 Peraturan Kepala BNBP
Nomor.9 Tahun 2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat
BNPB sebagai berikut.
Pusdiklat BNPB Format – 7
Page 125
KEBUTUHAN MENDESAK
PERLINDUNGAN KELOMPOK RENTAN
Hari/Tanggal/Jam : ……………………………………………………………
Lokasi (Kec/Kab/Kota/Prov) : ……………………………………………………………
a. Tabel Rekapitulasi Korban Jumlah Upaya Keterangan
No Korban Jiwa Penanganan
1. Anak Bayi
2. Anak Balita
3. Ibu Hamil/menyusui
4. Lansia
5. Cacat
b. Tabel Rekapitulasi Sumber Daya Kebutuhan Keterangan
No Uraian Diperlukan Kekurangan
Tersedia
I. Anak Bayi
1. Susu Bubuk
2. Tepung Bubur
3. Botol Susu
4. Perlengkapan Bayi
5. Pampers
6. dll
II. Anak Balita
1. Susu Bubuk
2. Tepung Bubur
3. Pakaian Anal Balita
4. MP Asi
5. dll
III. Ibu
Hamil/Menyusui
1. Susu Bubuk
2. Sarung
3. Pakaian/Daster
4. dll
IV. Lansia
Pusdiklat BNPB Page 126
1. Susu Bubuk
2. Tongkat
3. Biskuit
4. Pampers
5. Makanan Suplemen
dll
V. Cacat
1. Susu Bubuk
2. Tongkat/peralatan
lainnya
3. Biskuit
4. Pampers
5. Makanan Suplemen
Pusdiklat BNPB Page 127
G. Format Kebutuhan Mendesak Pemulihan Darurat
Sarana Prasarana Vital
Format tersebut mengumpulkan data/informasi sebagai
berikut:
a. Jenis dan tingkat kerusakan sarana prasarana vital,
serta apakah kerusakan tersebut telah atau belum
ditangani, meliputi jalan dan jembatan, saluran dan
tanggul, fasos dan fasum, bangunan pemerintahan,
utilitas, dan sarana prasarana vital lainnya di tingkat
kecamatan.
b. Jenis dan tingkat kerusakan sarana prasarana vital,
serta apakah kerusakan tersebut telah atau belum
ditangani, meliputi jalan dan jembatan, saluran dan
tanggul, fasos dan fasum, bangunan pemerintahan,
utilitas, dan sarana prasarana vital lainnya di tingkat
kabupaten/kota.
c. Jenis dan tingkat kerusakan sarana prasarana vital,
serta apakah kerusakan tersebut telah atau belum
ditangani, meliputi jalan dan jembatan, saluran dan
tanggul, fasos dan fasum, bangunan pemerintahan,
utilitas, dan sarana prasarana vital lainnya di tingkat
provinsi.
Format Kebutuhan Mendesak Pemulihan Darurat Sarana
Prasarana Vital sesuai dengan format 8 Peraturan Kepala BNBP
Nomor.9 Tahun 2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat
BNPB sebagai berikut.
Pusdiklat BNPB Page 128
Format – 8
KEBUTUHAN MENDESAK
PEMULIHAN DARURAT SARANA PRASARANA VITAL
Hari/Tanggal/Jam : ………………………………………………………………
1. Kecamatan : ……………………………………………………………
No Jenis Kerusakan Lokasi Satuan Volume
1. Jalan & Jembatan Kerusakan Telah Belum Keterangan
- Jalan ditangani ditangani
- Jembatan
2. Saluran dan Tanggul
- Saluran
- Tanggul
- Bendung
3. Fasos & Fasum
- Pasar
- T. Ibadah
- Pendidikan
4. Bangunan
Pemerintahan
- Kantor
- RS/Puskesmas
- Gudang
5. Utilitas
- Listrik
- Komunikasi
- Air Bersih
6. dll
Pusdiklat BNPB Page 129
2. Kabupaten/Kota : ………………………………………………………………
No Jenis Kerusakan Lokasi Satuan Volume
Kerusakan Telah Belum Keterangan
ditangani ditangani
1. Jalan & Jembatan
- Jalan
- Jembatan
2. Saluran dan Tanggul
- Saluran
- Tanggul
- Bendung
3. Fasos & Fasum
- Pasar
- T. Ibadah
- Pendidikan
4. Bangunan
Pemerintahan
- Kantor
- RS/Puskesmas
- Gudang
5. Utilitas
- Listrik
- Komunikasi
- Air Bersih
6. Dll
Pusdiklat BNPB Page 130
3. Provinsi : ………………………………………………………………
No Jenis Kerusakan Lokasi Satuan Volume
1. Jalan & Jembatan Kerusakan Telah Belum Keterangan
- Jalan ditangani ditangani
- Jembatan
2. Saluran dan Tanggul
- Saluran
- Tanggul
- Bendung
3. Fasos & Fasum
- Pasar
- T. Ibadah
- Pendidikan
4. Bangunan
Pemerintahan
- Kantor
- RS/Puskesmas
- Gudang
5. Utilitas
- Listrik
- Komunikasi
- Air Bersih
6. dll
Pusdiklat BNPB Page 131
PENUTUP
A. Rangkuman
Laporan awal kaji cepat bencana berisi data dan informasi
mengenai gambaran secara umum tentang bencana yang terjadi
setelah tiba di lokasi dan bertemu dengan pejabat daerah,
kemudian dilanjutkan dengan laporan tertulis secara formal.
Tertuang dalam Peraturan Kepala BNBP Nomor 9 Tahun 2008
tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat BNPB.
Pengumpulan data dan informasi dalam kaji cepat secara
umum antara lain adalah:
1. Search and Rescue
2. Lokasi komunitas terkena dampak
3. Akses menuju lokasi bencana
4. Perbaikan infrastruktur penting dan fasilitas umum agar
dapat kembali berfungsi
5. Kebutuhan dasar
6. Kondisi kesehatan, keamanan, dan keselamatan;
7. Shelter
8. Perlindungan kelompok rentan
B. Latihan
1. Peserta menjelaskan laporan awal kaji cepat, laporan
tertentu dan laporan akhir penugasan kaji cepat
bencana!
2. Peserta menyusun laporan awal kaji cepat bencana!
Pusdiklat BNPB Page 132
MODUL 5
MANAJEMEN INFORMASI
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kinerja organisasi salah satunya sangat ditentukan
oleh manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam
organisasi tersebut. Manajemen SDM yang berintegritas
dan handal dalam suatu organisasi diharapkan mampu
menghadapi tantangan dan persaingan, baik dari
lingkungan internal maupun eksternal organisasi. Terkait
dengan persaingan, SDM yang mempunyai kompetensi
akan mampu menghadapi persaingan tadi.
Dalam upaya memperoleh SDM handal dan
kompeten, pemerintah telah mengesahkan Undang –
Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (ASN), dan mengamanatkan kepada setiap
instansi pemeritah wajib menyusun rencana
pengembangan kompetensi tahunan yang tertuang dalam
rencana anggaran tahunan instansi masing – masing.
Dalam melakukan pengembangan kompetensi ASN dapat
dilakukan melalui beberapa cara yaitu Pendidikan dan
Pelatihan (diklat) maupun non Diklat.
Berkaitan dengan hal tersebut, Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Penanggulangan Bencana, Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) memandang perlu
menyelenggarakan Diklat Koordinasi dan Kaji Cepat
Bencana (K2B). Salah satu materi yaitu „Manajemen
Pusdiklat BNPB Page 133
Informasi.‟ Agar materi Manajemen Informasi dapat
dipahami dan diimplementasikan di pada saat tanggap
darurat, Modul Diklat Koordinasi dan Kaji Cepat dengan
sub tema „Manajemen Informasi‟ ini disusun oleh penulis.
B. Deskripsi Singkat
Modul diklat ini dimaksudkan sebagai panduan
bagi pengajar untuk menyampaikan materi Manajemen
Informasi sehingga peserta mampu untuk meningkatkan
pemahaman dan kompetensi dalam menjalankan tugas
pokok dan fungsi secara profesional. Hal – hal yang
dibahas meliputi konsep manajemen informasi, produk
informasi, teknologi komunikasi atau informasi pendukung
dan pemanfaatan platform komunikasi bersama.
C. Manfaat Modul Bagi Peserta
Modul ini sangat penting untuk peserta Pelatihan
Teknis Koordinasi dan Kaji Cepat Bencana, sebab secara
umum setelah mempelajari materi dari modul ini, peserta
pelatihan akan dapat memahami mengenai Manajemen
Informasi dengan baik.
Secara lebih detail, peserta pelatihan akan dapat
menjelaskan konsep manajemen informasi, produk-
produk informasi dan teknologi komunikasi atau informasi
pendukung dan pemanfaatan platform komunikasi
bersama.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Indikator hasil belajar
Pusdiklat BNPB Page 134
Setelah selesai membaca modul ini, pengajar dapat
menyampaikan materi sehingga peserta diharapkan
mampu untuk memahami dan menerapkan
manajemen informasi dengan baik.
2. Indikator keberhasilan
Setelah membaca modul ini, peserta diharapkan
dapat:
a. Menjelaskan konsep manajemen informasi
b. Menjelaskan produk informasi
c. Menghasilkan produk-produk informasi yang
dibutuhkan saat tanggap darurat
d. Menjelaskan manfaat teknologi komunikasi atau
informasi pendukung serta memahami platform
komunikasi bersama.
E. Materi Pokok
Manajemen informasi
F. Sub Materi Pokok
1. Konsep Manajemen Informasi (definisi dan prinsip)
2. Tahapan
3. Produk informasi berupa laporan situasi, infografik,
peta tematik, talking points/ siaran pers, daftar kontak
4. teknologi komunikasi atau informasi pendukung
berupa alat navigasi, telepon pintar (HP) dan handheld
transceiver atau biasa dikenal dengan handy talky
(HT) serta drone.
5. Platform komunikasi bersama yaitu WebEOC dan
VOSOCC.
Pusdiklat BNPB Page 135
G. Petunjuk Belajar
Mata diklat teknis penanggulangan bencana penting
diberikan kepada peserta Diklat K2B untuk memberikan
pemahaman dan penjelasan terkait manajemen informasi.
Sebelum materi ini diberikan, Pusat diklat BNPB
mengharapkan peserta terlebih dahulu membaca
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan
Nomor 9 Tahun 2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi
Cepat (TRC), Perka BNPB Nomor 8 Tahun 2011 tentang
Standarisasi Data dan Informasi, Pedoman Pengkajian
Cepat Awal, serta Pedoman Pengkajian Cepat Situasi dan
Kebutuhan.
Sementara itu, bagi fasilitator (widyaiswara atau
pengajar), modul ini dirancang untuk membantu peserta
pelatihan dalam proses belajar dari mulai merancang,
menjelaskan, mengorganisir, membimbing, mengarahkan,
membantu, sampai dengan mengevaluasi hasil belajar
peserta pelatihan. Oleh sebab itu, peran sebagai fasilitator
adalah:
Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan
modul ini, sampai fasilitator memahami betul apa,
untuk apa, dan bagaimana mempelajari modul ini.
Membantu peserta pelatihan dalam proses belajar
Membimbing peserta pelatihan melalui tugas –
tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap
belajar
Pusdiklat BNPB Page 136
Membantu peserta pelatihan dalam menentukan
dan mengakses sumber tambahan lain yang
diperlukan untuk belajar
Mengorganisasikan kegiatan kelompok
Merancang pendampingan widyaiswara/pengajar
atau praktisi lain, jika diperlukan
Mencatat kemajuan belajar peserta pelatihan
Melaksanakan penilaian kepada peserta pelatihan.
Pusdiklat BNPB Page 137
TEKNOLOGI KOMUNIKASI/INFORMASI PENDUKUNG
Indikator keberhasilan – Setelah mengikuti pembelajaran
ini, peserta diklat diharapkan dapat memahami teknologi
komunikasi atau informasi pendukung.
A. Alat Navigasi dan Pemetaan: Global Positioning System
(GPS)
Navigasi dalah penentuan posisi dan arah perjalanan
baik di medan sebenarnya atau di peta, oleh sebab itu
pengetahuan tentang peralatan serta teknik penggunaannya
harus dimiliki dan dipahami. Sementara itu, alat navigasi
digunakan untuk menentukan arah yang berupa sebuah
panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya
dengan medan magnet bumi secara akurat.
Alat navigasi dan pemetaan salah satunya berupa global
positioning system (GPS) sangat dibutuhkan dalam
manajemen informasi, khususnya terkait dengan produk
informasi berupa peta tematik. GPS sendiri adalah sistem
untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan
penyelarasan sinyal satelit.
Pada materi ini, fitur dasar GPS diperkenalkan seperti
fitur yang ada pada perangkat GPS. Di samping itu, materi
selanjutnya terbatas pada bagaimana mengaktifkan dan
menonaktifkan perangkat serta bagaimana mendapatkan
sinyal satelit sehingga perangkat ini siap untuk digunakan.
Fungsi perangkat GPS yang diperkenalkan, antara lain:
Pusdiklat BNPB Page 138
1. Penunjuk arah. Setelah mendapatkan sinyal satelit dan
kalibrasi, perangkat GPS dapat menunjukkan arah utara,
selatan, barat dan timur.
2. Alat navigasi ini dibutuhkan untuk mendapatkan titik
koordinat sehingga dapat diplotkan pada peta digital.
Koordinat adalah suatu titik yang didapatkan dari hasil
perpotongan dari garis latitude (lintang) dengan garis
bujur (longitude) sehingga akan menunjukan lokasi pada
suatu daerah.
Koordinat terbagi menjadi 2 komponen:
X = Longitude/Bujur; terbagi 2 yaitu Bujur Timur (BT) dan
Bujur Barat (BB)
Y = Latitude/Lintang; terbagi 2 yaitu Lintang Utara (LU) dan
Lintang Selatan (LS)
Berikut ini beberapa bentuk penulisan koordinat:
Degrees Minutes Seconds
106° 52‟ 13.33” BT
6° 39‟ 17.86” LS
Degrees Decimal Minutes
106° 52.222‟ BT
6° 39.298‟ LS
Decimal Degrees
106.8703544° BT
6.6549315° LS
Pusdiklat BNPB Page 139
3. Alat ini juga mampu untuk menentukan dan mencatat
rute (tracker) yang telah dilalui sehingga dapat
terpetakan pada peta digital.
4. Pencarian lokasi. Melalui koordinat yang diinput pada
perangkat atau nama lokasi yang diinput akan
diteruskan secara sistem oleh perangkat. Kemudian
lokasi tersebut bisa dilacak dengan memonitor
perangkat.
Sementara itu, peta adalah suatu gambaran dari unsur-
unsur alam atau buatan manusia, yang berada di atas
maupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada
suatu bidang datar dengan skala tertentu. Jenis peta ada dua
yaitu peta rupa bumi dan peta tematik. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam membaca peta yaitu: skala peta,
simbol, sistem koordinat, dan arah utara.
Skala adalah angka perbandingan antara dua titik di atas
peta dengan jarak titik tersebut di permukaan bumi. Contoh:
Peta dengan skala 1: 50.000, ini berarti jarak di lapangan
adalah
3 cm di peta = 3 x 50.000
= 150.000 cm
= 1.500 meter
= 1,5 kilometer di lapangan
Simbol terdiri atas titik, garis dan area, sedangkan beberapa
terminologi informasi yang perlu diketahui yaitu:
Buatan manusia
Perairan
Unsur Alam
Bangunan
Pusdiklat BNPB Page 140
Koordinat
Sistem Proyeksi
Garis Kontur
Batas Administrasi
Di samping itu, beberapa pengetahuan yang perlu diketahui
mengenai kontur. Kontur adalah garis khayal untuk
menggambarkan semua titik yang mempunyai ketinggian
yang sama di atas atau di bawah permukaan datum tertentu
yang disebut permukaan laut rata-rata.
B. Peralatan Komunikasi HP dan HT
Perangkat yang biasa digunakan secara umum untuk
berkomunikasi yaitu telepon gengam atau handphone (HP).
Selama di lokasi ada jaringan komunikasi, telepon gengam
merupakan alat paling dikenal oleh semua pihak.
Selain sebagai perangkat komunikasi, telepon genggam
dapat dimanfaatkan untuk pengambilan foto atau video
(dokumentasi). Salah satu fitur yang dapat dimanfaatkan oleh
telepon genggam pintar atau smartphone yaitu aplikasi yang
dapat diunduh pada Google Store, yaitu Open Camera.
Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mendapatkan koordinat
dari lokasi foto atau video yang diambil melalui telepon.
Cara melakukan setting Open Camera dapat dilihat pada
tautan berikut ini:
https://opencamera.sourceforge.io/help.html#settings
Sementara itu, terkait dengan frekuensi handheld transceiver
atau HT ada beberapa jenis frekuensi sebagai berikut:
Pusdiklat BNPB Page 141
High Frequency yang selanjutnya disingkat dengan HF
adalah radio komunikasi yang gelombangnya bekerja
pada frekuensi 2 Mhz sampai 24 Mhz. Frekuensi ini
biasanya dipergunakan untuk jarak jauh, karena sifat
gelombangnya dapat memantul dan tidak ada efek
hambatan pada objek atau lawan komunikasi, frekuensi
ini dapat memantul ionosper. Radio komunikasi ini masih
tergantung pada propagasi.
Very High Frequency yang selanjutnya disingkat dengan
VHF adalah radio komunikasi yang gelombangnya
bekerja pada Frekuensi 100 Mhz sampai 300 Mhz,
frekuensi ini biasanya dipergunakan untuk jarak dekat.
Gelombang radio yang dipancarkan arahnya berbentuk
garis lurus (horizontal).
Ultra High Frequency yang selanjutnya disingkat dengan
UHF adalah radio komunikasi yang gelombangnya
bekerja pada frekuensi 300 Mhz sampai 3000 Mhz
(3Ghz), frekuensi UHF tidak memiliki kemampuan untuk
memanfaatkan apa yang dibawa sepanjang ionosfer,
frekuensi dapat terpantul dari partikel – partikel
bermuatan rendah ketitik lain di bumi untuk mencapai
jarak yang lebih jauh.
Alokasi frekuensi radio yang tersedia untuk penanggulangan
bencana adalah sebagai berikut:
1. Frekuensi Radio HF/SSB. Frekuensi Radio HF yang
dialokasikan Kementerian Komunikasi dan Informatika
untuk BNPB adalah 11.473.5 MHz. Penggunaan
frekuensi diperuntukan BNPB dan BPBD.
Pusdiklat BNPB Page 142
2. Frekuensi Radio VHF. Frekuensi Radio VHF yang
dialokasikan Kementerian Komunikasi dan Informatika
untuk BNPB adalah 171.300 MHz, dengan frekuensi
repeater 170.300 MHz untuk RX dan 165.300 MHz untuk
TX dengan Tone TX 123. Penggunaan frekuensi
diperuntukkan BNPB dan BPBD. Saat kondisi darurat
dan mesti dilakukan pembangunan stasiun radio di
posko lapangan, BPBD provinsi/kabupaten kota
bertanggung jawab dan dapat melakukan koordinasi ke
dinas komunikasi dan informatika setempat dalam
pengalokasian frekuensi sementara yang akan
digunakan.
3. Frekuensi Radio UHF. Sesuai dengan alokasi yang
diberikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Kode Komunikasi Kebencanaan. Pada komunikasi antar
operator radio, terdapat beberapa kode yang digunakan
untuk menyingkat perkataan agar memudahkan dalam
berkomunikasi, diantaranya adalah kode 11, kode 10, kode Z
dan kode Q. Kode 11 digunakan sebagai kode dalam
komunikasi kebencanaan dan operator BNPB dan BPBD
wajib menguasai kode tersebut. Sedangkan untuk kode 10,
kode Z dan kode Q operator BNPB dan BPBD cukup
mengetahui saja. Sementara itu, bahasa yang digunakan
dalam berkomunikasi kebencanaan yaitu bahasa Indonesia.
Ini bertujuan agar tidak terjadi kesalahan interpretasi
terhadap pertukaran data dan informasi antara operator radio
satu dengan lain.
Jaring komunikasi pada saat tanggap darurat sebagai
berikut:
Pusdiklat BNPB Page 143
Pada perangkat komunikasi yang digunkana, standard
minimum perangkat harus dimiliki supaya perangkat tadi
dapat bekerja dengan baik pada jaringan komunikasi
bencana. Setiap perangkat radio komunikasi yang digunakan
pada jaringan radio komunikasi bencana harus memenuhi
kriteria standar minimum perangkat. Ini dimaksudkan
perangkat komunikasi yang digunakan bersifat
interopabilitas.
Pusdiklat BNPB Page 144
C. Peralatan Pemantauan Pengenalan Drone
Pesawat tanpa awak atau Pesawat nirawak (Unmanned
Aerial Vehicle/UAV atau drone) adalah sebuah mesin
terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot
atau mampu mengendalikan dirinya sendiri, menggunakan
hukum aerodinamika untuk mengangkat dirinya, bisa
digunakan kembali dan mampu membawa muatan baik
senjata maupun muatan lainnya. Penggunaan dalam bidang
kebencanaan digunakan untuk pemetaan, fotografi dan
videografi.
Pusdiklat BNPB Page 145
KONSEP MANAJEMEN INFORMASI
Indikator keberhasilan – Setelah mengikuti pembelajaran
ini, peserta diklat diharapkan dapat memahami
manajemen informasi.
Pada kondisi krisis atau penanganan darurat bencana
kementerian/lembaga atau pun lembaga di daerah
kabupaten/kota maupun provinsi, khususnya Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD), akan memberikan dukungan sumber
daya kepada Pemerintah maupun pemerintah daerah. Sejauh ini
beberapa indikator digunakan kementerian/lembaga dan lembaga
daerah sebagai landasan dukungan kepada pemerintah daerah,
baik di tingkat provinsi, kabupaten dan kota.
Skala dan kekuatan bencana menjadi indikator utama
bagaimana kementerian/lembaga maupun lembaga daerah akan
memberikan dukungan dengan tingkatan berbeda kepada
pemerintah di tingkat yang berbeda-beda. BNPB dan BPBD
sesuai dengan mandatnya dalam Undang Undang Nomor 24
Tahun 2007 akan memobilisasi sumber daya berupa personel,
peralatan, perlengkapan, bantuan logistik, dan dana untuk
mendukung penyelenggaraan penanganan darurat bencana yang
dipimpin oleh pemerintah daerah. Representasi kehadiran BNPB
dan BPBD di lapangan yaitu pembentukan manajemen
penanganan baik tim reaksi cepat (TRC), pos komando, pos
pendukung, pos pendamping maupun pusdalops dengan tujuan
Pusdiklat BNPB Page 146
penyiapan sumber daya, penyelenggaraan koordinasi dan
manajemen informasi.
Pada fase krisis maupun darurat, situasi kacau sering
dihadapi oleh pemerintah. Karakteristik yang dijumpai yaitu
sebaran maupun banyak informasi maupun data-data dari
berbagai sumber. Data dan informasi tadi sangat dibutuhkan
dalam menganalisis situasi dan kebutuhan mendesak serta
mendukung perencanaan di tingkat taktis operasional atau pos
komando. Manajemen informasi menjawab tantangan pada
konteks tersebut.
Sementara itu, belajar dari pengalaman bencana selama
ini, Pos Komando (Posko) Penanganan Darurat Bencana belum
memiliki tim yang secara spesifik mengerjakan tugas-tugas terkait
dengan manajemen informasi. Sejauh ini, manajemen informasi
pada masa tanggap darurat tidak dilakukan secara khusus oleh
sebuah tim yang memiliki kompetensi terkait manajemen
informasi. Demikian juga pada tim kaji cepat dan pusat
pengendali operasi (pusdalops), khususnya saat tanggap darurat
bencana. Manajemen informasi belum didefinisikan secara
spesifik dalam penyelenggaraan penanganan darurat di bawah
suatu pos, termasuk tim reaksi cepat (TRC) atau pusdalops.
Keluaran dari manajemen informasi tersebut dapat berupa produk
informasi seperti laporan situasi, peta tematik ataupun infografik.
Pemikiran untuk menghasilkan produk-produk manajemen
informasi berkembang setelah belajar dari penanganan darurat
gempa Nusa Tenggara Barat (2018) dan gempa-tsunami-
likuifaksi Sulawesi Tengah (2018). Saat itu, posko membutuhkan
produk-produk manajemen informasi seperti laporan situasi yang
komprehensif, peta tematik maupun infografik yang dibutuhkan
Pusdiklat BNPB Page 147