The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

RIPB 2015 - 2045 disusun guna mendorong penyelenggaraan pembangunan nasional yang mempertimbangkan faktor - faktor risiko bencana secara terencana, terpadu dan menyeluruh, serta dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan strategis yang dinamis dan multidimensi.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ruswan.bks, 2021-03-31 20:54:26

Recana Induk Penanggulangan Bencana 2015 - 2045

RIPB 2015 - 2045 disusun guna mendorong penyelenggaraan pembangunan nasional yang mempertimbangkan faktor - faktor risiko bencana secara terencana, terpadu dan menyeluruh, serta dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan strategis yang dinamis dan multidimensi.

Keywords: RIPB 2015 - 2045

Kementerian Pertanian ke dalam setiap grid menggunakan Indeks Jasa Ekosistem Penyedia Bahan
Pangan (IJEPBP) sebagai bobot pendistribusian.

Tabel 3. Potensi Jiwa terpapar Akibat Multibahaya Bencana 2015-2045.

Wilayah Pulau Jiwa terpapar (x1000)

Jawa-Bali 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045
Sumatera 142,495 149,777 156,056 161,090 164,710 169,849 175,148
Sulawesi
Kalimantan 54,912 58,945 62,478 65,491 68,029 70,152 72,340
Nusa Tenggara 18,179 19,349 22,736 23,446
Papua 15,016 16,411 20,398 21,299 22,049 20,499 21,139
Maluku 12,041 12,416
Total 9,268 9,924 17,695 18,849 19,879
3,698 4,061 5,161 5,322
2,672 2,919 10,548 11,133 11,676 3,709 3,825
246,241 261,386 304,148 313,637
4,406 4,722 5,005

3,157 3,382 3,597

274,737 285,967 294,946

Gambar 16. Hubungan Jumlah Penduduk dan Ketersediaan EBP di Pulau Jawa.

Pada Gambar 16, dapat dilihat bahwa jumlah penduduk dan ketersediaan EBP berbanding terbalik,
artinya semakin tinggi jumlah penduduk di suatu wilayah, ketersediaan EBP di wilayah tersebut akan
rendah, demikian sebaliknya. Dengan model matematis berupa persamaan regresi, dapat dihitung
perubahan ketersediaan EBP selama 1 tahun di setiap grid dengan menghitung selisih ketersediaan
EBP di tahun-(n+1) dengan ketersediaan EBP di tahun-n. Kemudian, ketersediaan EBP di tahun yang
diprediksi (2030 dan 2045) dihitung secara iteratif dengan mengurangkan ketersediaan EBP tahun-n
dengan nilai perubahan di masing-masing grid. Perubahan ketersediaan EBP di setiap grid tidak sama
karena dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang ada di grid tersebut. Setelah mengetahui ketersediaan
EBP di tahun yang diprediksi (2030 dan 2045), maka dapat diketahui jenis penutup lahan setiap grid
di tahun tersebut berdasarkan referensi jenis penggunaan lahan yang ditentukan dari rentang nilai
ketersediaan EBP di tahun inisial (tahun-n). Hasil prediksi jenis penutup lahan tahun 2030 dan 2045
di setiap grid kemudian digunakan untuk menentukan bobot distribusi penduduk setiap grid di tahun
tersebut. Perhitungan jumlah penduduk tahun 2030 dan tahun 2045 kemudian dilakukan dengan
menggunakan persamaan (i).

RENCANA INDUK

34 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Metode pemodelan ini menghasilkan peta proyeksi penduduk Pulau Jawa tahun 2030 dan 2045 di
setiap grid dengan resolusi 30”x30”. Peta distribusi penduduk divisualisasikan berupa peta choropleth,
yaitu peta yang menggunakan perbedaan warna untuk mengindikasikan unsur atau kuantitas tertentu
di wilayah tersebut. Pada peta proyeksi penduduk Pulau Jawa tahun 2030 dan 2045 yang dihasilkan,
jumlah penduduk di setiap grid divisualisasikan dengan warna kuning ke merah. Semakin merah warna
grid pada peta merepresentasikan jumlah penduduk semakin tinggi, sebaliknya semakin kuning warna
grid pada peta merepresentasikan jumlah penduduk yang semakin rendah. Hasil proyeksi penduduk
Pulau Jawa tahun 2030 dan 2045 merepresentasikan keadaan peningkatan jumlah penduduk yang
ditunjukkan dengan perubahan warna yang semakin merah pada peta. Peningkatan jumlah penduduk
terjadi secara menyebar di daerah sekitar atau di daerah penyangga kota-kota besar di Pulau Jawa,
seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan warna merah
yang semakin luas di kota-kota besar tersebut pada peta proyeksi penduduk Pulau Jawa.

Gambar 17. Peta Populasi Penduduk Pulau Jawa Tahun 2016, Proyeksi 2030 dan 2045.

Sumber: Nengsih, S. R. (2015). Pembangunan model distribusi populasi penduduk resolusi tinggi untuk wilayah
Indonesia dengan menggunakan sistem grid skala ragam. Jurnal Ilmiah Geomatika, 31-36.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 35

3.1.2. Proyeksi Kerugian Ekonomi Dampak Multibahaya Bencana 2015-2030-2045

Kementerian PPN/Bappenas menyusun skenario pertumbuhan ekonomi 2016-2045 ke dalam 3 (tiga)
kategori, yaitu dasar (5,1% per tahun), SEDANG (5,7% per tahun), dan TINGGI (6,4% per tahun).
Dalam skenario pertumbuhan ekonomi tinggi, Indonesia akan menjadi negara pendapatan tinggi (ke
luar dari middle income trap) pada 2034 dan menjadi negara dengan PDB terbesar ke-4 pada 2045.
Penggerak ekonomi dalam skenario pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut antara lain oleh investasi,
termasuk infrastruktur, industri manufaktur, ekspor barang dan jasa, termasuk pariwisata, dengan
produktivitas tenaga kerja dan inovasi yang lebih besar dalam penciptaan nilai tambah. Ketiga skenario
pertumbuhan ekonomi 2016-2045 itu akan kurang dapat tercapai apabila terjadi kejadian bencana.
Upaya penyelenggaraan penanggulangan bencana yang sesuai dengan kaidah-kaidah dalam UU No.
24/2007 akan dapat sangat mendukung upaya pencapaian skenario pertumbuhan ekonomi tersebut.

Proyeksi Kerugian Ekonomi Dampak Multibahaya Bencana 2015-2030-2045 secara total pada 2015
mencapai Rp. 431,542 Milyar, tahun 2030 ada Rp. 510,247 Milyar, dan tahun 2045 ada Rp. 545,803
Milyar. Ada kenaikan jumlah kerugian dari 2015-2030 sebesar Rp. 78,705 Milyar dan 2030-2045
sebesar Rp. 35.556 Milyar. Proyeksi kerugian ekonomi atas Dampak Multibahaya Bencana tersebut
semakin meningkat dalam kurun waktu 15 tahun, dengan proyeksi peningkatan jumlah penduduk
yang secara otomatis juga peningkatan pembangunan Infrastruktur dan lahan produksi, selain itu
konsentrasi penduduk yang berada di wilayah perkotaan dengan tingkat pembangunan infrastruktur
meningkat dan asumsi bahwa daya dukung lingkungan sebagai sumber kehidupan juga melemah.

Proyeksi peningkatan kerugian ekonomi sebagai dampak multibahaya Bencana dari tahun 2030
hingga 2045 memang masih di bawah peningkatan dari periode 2015 ke 2030, proyeksi ini terjadi
karena proyeksi tersebut mengikuti dinamika kepadatan penduduk, luas lahan pertanian yang bisa
jadi berkurang akibat bencana sebelumnya sekaligus persebaran penduduk yang semakin tersebar
dibanding periode sebelumnya, jika merunut dari data BPS maka disebutkan bahwa: secara perlahan
persentase penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa terus menurun dari sekitar 57,4% pada
tahun 2010 menjadi 54,7% pada 2035. Sebaliknya persentase penduduk yang tinggal di pulau-pulau
lain meningkat, seperti, Pulau Sumatera naik dari 21,3% menjadi 22,4%, Kalimantan naik dari 5,8%
menjadi 6,6% pada periode yang sama.

Secara menyuluruh dapat diperhatikan pada proyeksi kerugian dampak multi bahaya bencana di
Indonesia terbanyak berada di Sumatera pada 2015 ada Rp. 150,599 Miliar, tahun 2030 ada Rp.
216,259 Miliar, dan tahun 2045 ada Rp. 239,153 Miliar. Selain karena tingkat kepadatan penduduk
dan konsentrasinya Hal ini juga terkait dengan beberapa kejadian Gempa sebagai rentetan gempa dan
tsunami di tahun tahun sebelum 2015. Selain itu, penggunaan data proyeksi juga dilakukan dengan
penghitungan bahaya bencana yang konstan terhadap perkembangan penyebaran dan pertumbuhan
penduduk. Jika diperhatikan pada paparan di dalam peta Gambar 17, kepadatan penduduk
terkonsentrasi pada wilayah-wilayah pembangunan, maka kecenderungan jiwa terpapar yang tinggi
ada di wilayah wilayah, Sumatera, Jawa-Bali, Sulawesi Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

Namun demikian, Proyeksi Kerugian Ekonomi Dampak Multibahaya Bencana 2015-2030-2045 ini, juga
berdampak di wilayah Kalimantan Timur misalnya, meskipun konsentrasi jumlah penduduk berbeda
dengan sumatera. Hal ini terjadi selain karena jumlah penduduk, juga laju pertumbuhan ekonomi yang
meningkat di daerah tersebut dengan cukup baik. Namun secara menyeluruh, wilayah Sumatera, Jawa
Bali masih mendominasi potensi kerugian dampak ekonomi akibat multi bahaya.

RENCANA INDUK

36 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Gambar 18. Perbandingan Peta Proyeksi Kerugian Ekonomi Dampak Multibahaya Bencana Tahun 2015-2030-2045.

Dengan demikian, proyeksi potensi peningkatan kerugian ekonomi sebagai dampak multibahaya
Bencana dari tahun 2030 hingga 2045 di seluruh Indonesia karena pergerakan perekonomian diwilayah
tersebut yang cukup tinggi, disertai dengan kepadatan penduduk yang terkonsentrasi di wilayah

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 37

tertentu (umumnya perkotaan), kualitas infrastruktur yang belum tentu disesuaikan dengan proyeksi
kebencanaan (Amdal, ataupun kualitas infrastruktur tidak tahan gempa misalnya), atau kualitas
pembangunan fisik lainnya yang tidak sesuai dengan alam di sekitarnya dan kerusakan lingkungan
yang terus menerus rusak akibat tangan manusia (kerusakan hutan, pencemaran lingkungan dll).

Tabel 4. Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Multihazard di Masing-Masing Wilayah.

Wilayah Pulau Potensi Kerugian Ekonomi (Rp Miliar)

Jawa-Bali 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045
Sumatera 180,599 194,090 206,024 216,259 224,901 231,918 239,153
Sulawesi 136,131 142,392 159,782 164,767
Kalimantan 147,765 152,020 154,948
Nusa Tenggara 51,356 54,801 64,875 66,899
Papua 42,630 47,229 57,917 60,624 62,913 61,295 63,208
Maluku 11,575 12,384 14,971 15,438
Total 51,602 55,674 59,441
6,480 7,093 9,064 9,347
2,772 3,050 13,149 13,861 14,518 3,898 4,020
431,542 461,040 545,803 562,831
7,686 8,251 8,790

3,315 3,559 3,780

487,458 510,247 529,290

3.1.3. Proyeksi Kerugian Fisik Dampak Multibahaya Bencana 2015-2030-2045

Proyeksi Kerugian Fisik Multibahaya pada tahun 2015 mencapai Rp. 611,975 Miliar, tahun 2030
mencapai Rp. 726,238 Miliar, dan pada tahun 2045 mencapai Rp. 802,034 Miliar. Terdapat kenaikan
jumlah kerugian fisik dari 2015-2030 sebesar Rp. 144,34 Miliar dan 2030- 2045 sebesar Rp. 75,719 Miliar.
Proyeksi Kerugian Fisik Tersebut semakin meningkat dalam kurun waktu 15 tahun dengan proyeksi
peningkatan jumlah pembangunan infrastruktur meningkat sementara daya dukung lingkungan
sebagai sumber kehidupan juga melemah. Proyeksi ini juga menggarisbawahi bahwa pembangunan
fisik/Infrastrukur juga memperhatikan, data dan kondisi wilayah potensi bencana, seperti data daerah
rawan banjir – data derah rawan longsor – data daerah rawan gempa – data daerah rawan tsunami –
data daerah rawan air pasang – data daerah rawan kekeringan dan kebakaran. Hal ini sudah tentu akan
mempertimbangkan pembangunan fisik di wilayah terjadinya potensi bahaya terutama multi bahaya.

Proyeksi peningkatan kerugian fisik dari tahun 2030 hingga 2045 memang masih di bawah peningkatan
dari periode 2015 ke 2030, proyeksi ini terjadi karena mengikuti dinamika kepadatan penduduk,
luas daerah pembangunan fisik terutama yang menyertai lahan produksi yang bisa jadi berkurang
akibat bencana sebelumnya sekaligus persebaran penduduk yang semakin tersebar dibanding
periode sebelumnya, jika merunut dari data BPS maka disebutkan bahwa: secara perlahan persentase
penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa terus menurun dari sekitar 57,4% pada tahun 2010
menjadi 54,7% pada 2035. Sebaliknya persentase penduduk yang tinggal di pulau-pulau lain meningkat,
seperti, Pulau Sumatera naik dari 21,3% menjadi 22,4%, Kalimantan naik dari 5,8% menjadi 6,6% pada
periode yang sama.

Secara menyeluruh dapat diperhatikan pada proyeksi Kerugian Fisik akibat Dampak Multibahaya
Bencana tahun 2015-2030-2045 di Indonesia terbanyak berada di Pulau Jawa- Bali. Hal ini terkait dengan
jumlah kepadatan penduduk yang terkonsentrasi di Pulau Jawa- Bali. Sekaligus dapat diperhatikan di
dalam Gambar 19. Perbandingan Peta Proyeksi Kerugian Fisik Dampak Multibahaya Bencana Tahun
2015 dan 2045, bahwa dengan penghitungan bahaya bencana yang konstan sementara kepadatan
penduduk terkonsentrasi pada wilayah- wilayah pembangunan fisik, maka kecenderungan proyeksi
kerugian Fisik yang tinggi ada di wilayah; Jawa-Bali, diikuti Sumatera, Banten Jakarta, Sulawesi, Papua,
Kalimantan, Nusa Tenggara dan Maluku. Sementara untuk wilayah dengan tingkat pembangunan fisik

RENCANA INDUK

38 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

yang rendah seperti Nusa Tenggara dan Maluku cenderung sedikit terpapar kerentanan multibahaya
bencana.

Gambar 19. Perbandingan Peta Proyeksi Kerugian Fisik Dampak Multibahaya Bencana Tahun 2015 dan 2045.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 39

Dengan demikian, kerugian fisik akibat multibahaya di seluruh Indonesia karena jumlah pembangunan
fisik di wilayah tersebut berbeda dan jika diperhatikan dari Gambar 19. Perbandingan Peta Proyeksi
Kerugian Fisik Dampak Multibahaya Bencana Tahun 2015 dan 2045 maka umumnya daerah perkotaan
dengan tingginya pembangunan fisik jauh lebih berdampak. kesadaran atas kebencanaan dan kesiapan
kualitas bangunan fisik terhadap potensi bahaya di wilayahnya menjadi sangat krusial, dan sudah
seharusnya kualitas pembangunan fisik disesuaikan dengan potensi bahaya di wilayah tersebut. Yang
menarik dari Gambar 19. Perbandingan Peta Proyeksi Kerugian Fisik Dampak Multibahaya Bencana
Tahun 2015 dan 2045, adalah Potensi bahaya fisik di wilayah Papua terutama Papua bagian Timur.
Meskipun potensi kerugian fisik masih didominasi oleh wilayah Jawa-Bali dan Sumatera, namun perlu
dilihat bagaimana pertumbuhan Fisik di Papua juga bisa berdampak tinggi. 3 Hal utama yang perlu
dipertimbangkan adalah, jumlah pembangunan Infrastruktur yang sudah selayaknya tahan terhadap
potensi bencana, keberadaan data yang akurat terhadap peta potensi bencana sekaligus kekuatan
masyarakat yang memang sadar bencana, sehingga masyarakatpun sadar untuk selalu menjaga
lingkungan di daerahnya.

Tabel 5. Potensi Kerugian Fisik Akibat Multibencana Secara Nasional 2015, 2030 dan 2045.

Wilayah Pulau Kerugian Fisik (Rp Miliar)

Jawa-Bali 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045
Sumatera 191,555 201,489 210,103 217,084 222,210 229,142 236,291
Sulawesi 185,941 199,367 236,370 243,745
Kalimantan 211,097 221,006 229,219
Nusa Tenggara 66,469 70,836 83,557 86,164
Papua 61,607 67,687 74,773 78,174 81,029 86,144 88,832
Maluku 44,476 48,527 60,301 62,183
Total 37,512 40,111 73,468 78,774 83,538 48,353 49,861
24,415 26,669 33,901 34,959
611,975 654,687 52,237 55,551 58,477 777,769 802,034

42,554 44,814 46,890

28,846 30,912 32,876

693,078 726,315 754,238

3.1.4. Proyeksi Kerusakan Lingkungan Dampak Multibahaya Bencana 2015-2030-2045

Secara total pada 2015 mencapai 65,719 (X1000 ha), tahun 2030 mencapai 82,272 (x 1000 ha), dan
tahun 2045 terdapat 93,791 (x1000 ha). Terdapat kenaikan sebesar 17,553 (x1000 ha) pada tahun
2015-2030 dan kenaikan sebesar 10,519 (x1000 ha) pada tahun 2030-2045. Proyeksi Dampak
Lingkungan tersebut semakin meningkat dalam kurun waktu 15 tahun, Jika diasumsikan pada kurun
waktu 15 tahun dari tahun 2015 ke tahun 2030 kerusakan lingkungan yang menjadi dampak bencana,
sementara tahun berikutnya kenaikan dampak lingkungan tidak sebesar sebelumnya, maka yang harus
diperhatikan adalah kondisi pemulihan wilayah akibat kerusakan lingkungan sebelumnya, dimana
lahan yang terpapar bencana belum sepenuhnya pulih akibat bencana terdahulu, dan kemudian
terkena dampak lagi di 15 tahun berikutnya. Tentu saja luasan lahan yang terkena dampak kelihatan
lebih kecil dari sebelumnya, namun yang harus di waspadai adalah wilayah yang terkena dampak lagi
dan masa pemulihan yang sudah dapat dipastikan memakan waktu sangat lama.

Secara menyeluruh dapat diperhatikan pada proyeksi kerusakan Lingkungan sebagai Dampak
Multibahaya Bencana dari tahun 2015-2030-2045 di Indonesia terdapat di wilayah Kalimantan pada
tahun 2015 sebesar 21,297 (x1000 ha), dan pada tahun 2030 meningkat menjadi 27,857 (x1000
ha) dan pada tahun 2045 sebesar 31.629 (X1000 ha). Jika diperhatikan secara menyeluruh maka
kerusakan dampak lingkungan terbesar justru berada di Kalimantan dan Papua. Mengapa demikian,
bisa dipastikan bahwa dampak lingkungan terjadi di wilayah wilayah yang saat ini memang memiliki

RENCANA INDUK

40 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

luasan lahan dengan lingkungan dan lahan dengan kualitas yang masih baik. Luasan hutan, kualitas
vegetan, serta udara yang cukup memadai. Namun demikian tingkat kerawanan yang cukup tinggi
akibat, cuaca, kebakaran hutan, dan potensi bencana lainnya masih harus terus diwaspadai. Biasanya
untuk wilayah hutan ini, potensi terbesar ada pada bencana kebakaran hutan, serta kerusakan
lingkungan akibat tangan manusia sendiri. Oleh karenanya potensi kerentanan tersebut juga harus
diikuti dengan data potensi bencana sekaligus kualitas peningkatan pemahaman masyarakat sekitar
untuk tetap menjaga lingkungannya.

Selanjutnya, jika diperhatikan bahwa dampak terendah terdapat di Pulau Jawa dan Bali, bukan berarti
dampak lingkungan akibat bencana multi bahaya tidak besar, akan tetapi penghitangan ini juga karena
luasan lahan dengan kualitas vegetasi, air dan udaranya masih baik jauh lebih sedikit dibandingkan
Kalimantan dan Papua.

Jika diakumulasikan, maka potensi proyeksi dampak Lingkungan di seluruh Indonesia akan sama saja
akibatnya, mempengaruhi luasan lahan dengan lingkungan baik, berkurangnya potensi penyanggah
kehidupan manusia, bahkan dunia, serta mengurangi ketahanan dan daya hidup secara menyuluruh
di negeri ini. Data proyeksi bencana di setiap titik potensi, data luasan lahan lingkungan yang masih
baik dan dikombinasikan dengan kesadaran masyarakat terhadap kebencanaan dan lingkungan hidup
menjadi sangat penting untuk mencegah terus meningkatnya kerusakan lingkungan yang ada.

Tabel 6. Potensi Keruskan Lingkungan Akibat Multibencana 2015, 2030, dan 2045.

Wilayah Pulau Kerusakan lingkungan (x1000 Ha)

Kalimantan 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045
Papua 21,297 23,608 25,809 27,857 29,744 30,672 31,629
Sumatera 17,494 19,261 24,677 25,447
Sulawesi 11,570 12,521 20,951 22,514 23,930 15,246 15,721
Maluku
Nusa Tenggara 7,257 7,807 13,376 14,128 14,784 9,467 9,762
Jawa-Bali 4,523 4,942 6,286 6,482
Total 2,697 2,899 8,317 8,775 9,180 3,577 3,689
1,029 1,061
882 921 5,346 5,730 6,095 90,953 93,791
65,719 71,959
3,097 3,287 3,469

954 980 998

77,851 83,272 88,201

3.2. PROYEKSI ANCAMAN DAN DAMPAK MENURUT JENIS BAHAYA BENCANA

3.2.1. Proyeksi Bahaya Bencana Gempabumi

Secara geografis Indonesia terletak pada rangkaian cincin api yang membentang sepanjang lempeng
Pasifik yang merupakan lempeng tektonik paling aktif di dunia. Zona ini memberikan kontribusi sebesar
hampir 90% dari kejadian gempa di bumi dan hampir semuanya merupakan gempa besar di dunia.
Indonesia menempati zona tektonik yang sangat aktif karena tiga lempeng besar dunia dan beberapa
lempeng kecil lainnya saling bertemu di Indonesia.

Banyak gempa besar sudah terjadi di Indonesia selama dekade terakhir yang menyebabkan dampak
yang buruk terhadap populasi penduduk dan bangunan-bangunan yang ada di Indonesia.

Kejadian gempa dirasakan semakin sering terjadi dan mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan
infrastruktur yang signifikan. Termasuk pada bangunan sarana dan prasarana umum (seperti sekolah,

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 41

tempat ibadah, puskesmas, rumah sakit dan lain - lain), bangunan hunian dan rumah tinggal, dan
bangunan perkantoran dan pertokoan. Belum ada suatu panduan yang lengkap dan sesuai dengan
tingkat kegempaan yang ada pada wilayah terkait untuk perencanaan bangunan nonengineered.
Belum ada suatu panduan yang lengkap untuk mengevaluasi kerawanan suatu bangunan serta untuk
merancang bentuk-bentuk perkuatan yang sesuai untuk meningkatkan keamanan bangunan yang ada
terhadap gempa.

Gambar 20. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 Peta Percepatan Puncak di Batuan Dasar untuk
Probabilitas Terlampau 2% dalam 50 Tahun.

Sumber: PuSGeN, Januari 2018.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 diluncurkan oleh Kementerian PUPR
(KemenPUPR) pada 4 September 2017 di Jakarta. Peta ini merupakan hasil pemutakhiran Peta
Gempa Tahun 2010 untuk semakin mampu memahami risiko, memperkuat tatakelola, berinvestasi
dalam ketahanan, dan meningkatkan kesiapan menghadapi bencana. Peta itu juga berguna untuk
mempersiapkan mitigasi risiko untuk bandara yang berada di lokasi sesar. Tak hanya risiko gempa
bumi, namun juga telah mempertimbangkan risiko terjadinya tsunami.
Penyusunan pembaharuan Peta Gempa 2017 mengacu konsep Probabilistic Seismic Hazard Analysis
(PSHA) dan Deterministic Seismic Hazard Analysis (DSHA) dengan menggunakan semua data dan
informasi serta metode terkini untuk wilayah Indonesia. Dasar pemutakhiran adalah dengan
pertimbangan antara lain peta telah berumur > 5 tahun; adanya identifikasi sumber kegempaan yang
baru dari sisi geologi, seismologi, dan geodesi; peningkatan keakuratan estimasi parameter penting
dalam mengkonstruksi peta gempa; dan pendetailan sumber gempa background, menggunakan

RENCANA INDUK

42 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

persamaan atenuasi gelombang gempa terkini. Tersusunnya Peta Sumber dan Bahaya Gempa
Indonesia Tahun 2017 akan dilanjutkan dengan revisi SNI yang terkait dengan keamanan dan
keselamatan konstruksi bangunan.

Untuk melaksanakan pemutakhiran itu KemenPUPR bekerjasama dengan BNPB, BMKG, Badan
Geologi, LIPI, BIG, BPPT, ITB, dan UGM membentuk organisasi yang dinamakan PuSGeN
(Pusat Studi Gempa Nasional). Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman (Puskim) Balitbang
KemenPUPR ditunjuk untuk memfasilitasi kegiatan PuSGeN meliputi koordinasi dan sinkronisasi
kegiatan kegempaan, meneliti, mengembangkan, mendiseminasikan, serta mempromosikan ilmu
pengetahuan dan teknologi terkait bencana gempa.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 menambahkan 214 sesar atau patahan aktif. Pada
peta serupa keluaran 2010 baru tercatat 81 sesar, sehingga kini totalnya mencapai 295 patahan
aktif. Penambahan jalur sesar aktif itu kebanyakan berada di zona lautan. Penambahan sesar aktif
itu seperti Andaman di perairan utara Aceh yang terbagi dalam beberapa segmen. Dengan laju
pergerakan antara 0,75-10 milimeter per tahun, potensi maksimal gempanya terhitung antara
magnitudo 7-8.

Khusus pada segmen subduksi megathrust Aceh-Andaman yang terkunci dan bergerak sekitar 4-6
sentimeter per tahun, berpotensi menghasilkan gempa maksimal bermagnitudo 9,2. Itu potensi
gempa yang diperkirakan paling besar se-Indonesia.

Di daratan Aceh, terdapat tambahan sesar yaitu Pidie Jaya dan Lhokseumawe yang masing- masing
sama bergerak 1 milimeter per tahun dengan potensi gempa maksimal magnitudo 6,5. Kemudian
Sesar Oreng (M=6,9), dan Sesar Batee yang segmennya berkisar magnitudo 6,9-7,0. Adapun di
perairan barat Sumatera memanjang segmen megathrust Mentawai (M=8,2) hingga segmen
Enggano (M=7,6), dengan laju pergerakan 5 milimeter per tahun.

Di Pulau Jawa sumber-sumber gempa baru dari patahan di darat. Umumnya berada di kawasan utara
Jawa. Mulai dari Sesar Subang (M=6,5) dengan pergerakan 0,1 milimeter per tahun. Sesar Cirebon
(M=6,2-6,5) dengan pergerakan 0,5-1 milimeter per tahun, Sesar Brebes (M=6,5), Sesar Ajibarang
(M=6,5), Sesar Tegal (M=6,5), Pemalang (M=6,3) dan Pekalongan (M=6,5). Ada juga patahan yang
melintasi Semarang dengan pergerakan 0,1 milimeter per tahun dengan potensi maksimal gempa
bermagnitudo 6,5. Sesar Ungaran (M=6,0), Muria (M=6,2), Merapi-Merbabu (M=6,0), Rawapening
(M=6,5), Purwodadi (M=6,5), Cepu (M=6,5), Blumbang (M=6,6), Waru (M=6,5). Kemudian Patahan
Surabaya (M=6,5) dengan laju pergerakan 0,05 milimeter per tahun. Ada pula tercatat sesar di
Pasuruan, Probolinggo, dan Wonorejo, namun belum diketahui potensi gempa dan pergerakannya.
Selain itu, sesar Lembang yang sebelumnya memiliki Mmaks 6.5 kini menjadi M6.8 dengan slip rate
2 mm/tahun.

Di zona subduksi atau megathrust selatan Jawa, ada tiga lokasi seismic gap atau daerah yang belum
terjadi gempa besar. Di wilayah Selat Sunda ada potensi seismic gap bermagnitudo 8,7, kemudian
di wilayah selatan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah (M=8,8) dan segmen Jawa Timur-Bali
(M=8,8). Tidak menutup kemungkinan bahwa segmen-segmen ini melepaskan akumulasi energy
gempanya sekaligus sehingga berkekuatan mencapai magnitudo 9 atau lebih. Gempa dari wilayah
subduksi itu berpotensi tsunami. Adapun seismic gap di Sumatera dari segmen Mentawai hingga
Enggano.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 43

Bertambahnya sesar aktif bukan berarti pembangunan infrastruktur akan terhambat. Proyek
infrastruktur tetap bisa dilakukan tapi dengan memperhatikan tata-ruang aman jalur gempa dan
struktur tahan gempa yang memadai sesuai dengan zonasinya. Oleh karena itu peraturan harus
ditambah atau diperbaharui agar pembangunan menjadi lebih aman dari bahaya goncangan gempa
dan deformasi sesar aktif.

Peta gempa ini diharapkan bisa dijadikan masukan dan batasan untuk para perencana, terlebih
saat ini pembangunan infrastruktur di Indonesia menjadi prioritas. Diluncurkannya peta ini untuk
membantu semakin memahami risiko, memperkuat tatakelola, berinvestasi yang berketahanan,
dan meningkatkan kesiapan menghadapi bencana. Pemutakhiran Peta Gempa setiap lima tahun
yang menjadi acuan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan bangunan gempa. Setelah itu,
dilanjutkan dengan revisi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang terkait dengan keamanan dan
keselamatan konstruksi bangunan.

Gempabumi sudah dapat sangat merusak pada percepatan goncangan 0.1 g, yaitu setara dengan
intensitas VI MMI. Klasifikasi kerentanan populasi dibuat menjadi empat kelas yakni, rendah; sedang;
tinggi; dan sanggat tinggi, berdasarkan nilai PGA dan jumlah populasi per grid, sesuai matriks yang
ditunjukkan Gambar 21. Pada perhitungan risiko jiwa terpapar, risiko rendah dikategorikan apabila
percepatan gempa kurang dari 0.1 g, dan jumlah penduduk per grid kurang dari 2000 jiwa. Risiko
tinggi didefiniskan pada saat percepatan goncangan 0.1 g (VI MMI) dan jumlah populasi per grid
lebih dari 7000 jiwa, juga pada saat percepatan goncangan lebih dari 0.5 g (IX MMI). Penjelasan
skala intensitas diberikan pada Gambar 23. Dengan mentumpang-tindihkan peta bahaya goncangan
percepatan puncak di batuan dasar (SB) untuk probabilitas 10% pada 50 tahun, maka ditemukan
bahwa sejumlah 216.816.932 (77%) penduduk di Indonesia terpapar bahaya gempa lebih dari 0.1
g, Dari 216 juta jiwa tersebut, 4 jt (1.5%) diantaranya tinggal pada jarak 1 Km dari sesar (Gambar
22). Risiko tinggi karena goncangan yang tinggi (>0.5 g) diestimasi pada wilayah Sumatera, Sulawesi,
Maluku dan Papua yang diberi warna merah. Sedangkan wilayah berisiko tinggi dengan bahaya
goncangan lebih dari 0.1 g dan memiliki densitas populasi tinggi yaitu pada Ibukota Jakarta, Bandung,
Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sumatera Utara, Sumatra Barat dan Aceh.

Penduduk terbanyak yang terdampak oleh gempa bumi adalah wilayah Pulau Jawa dan Bali,
yakni sekitar 50% penduduk Indonesia, tepatnya sejumlah 129.548.325 orang. Selanjutnya, Pulau
Sumatera dan Pulau Sulawesi menempati urutan kedua dan ketiga jumlah penduduk terdampak
gempa bumi tertinggi, yaitu 47.591.906 orang dan 20.714.832 orang. Kemudian, diikuti Kepulauan
Nusa Tenggara yang memiliki jumlah penduduk terdampak gempa bumi sejumlah, 7.078.626
orang; Kepulauan Maluku sejumlah 5.964.062 orang; dan Pulau Papua sejumlah 3.782.871 orang.
Sementara, Pulau Kalimantan memiliki jumlah penduduk terdampak gempa bumi paling sedikit,
yakni 2.136.310 orang.

Kerugian fisik dianalisi pada fasilitas umum yaitu fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dan fasilitas
transportasi. Fasilitas pendidikan meliputi Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah
Menengah Atas, serta Sekolah Luar Biasa. Fasilitas Kesehatan meliputi Rumah Sakit dan Puskesmas,
kemudian fasilitas transportasi meliputi terminal, stasiun kereta api, pelabuhan, serta analisis ruas
jalan provinsi, jalan tol dan jalur kereta api yang melewati sesar aktif. Analisis dilakukan pada jumlah
fasum terpapar di zona sesar dengan buffer 1 Km, serta jumlah fasum terpapar Bahaya goncangan
gempa.

RENCANA INDUK

44 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Gambar 21. Jiwa Terpapar Bahaya Gempabumi 2015.

Sumber: PuSGeN, Maret 2018.
Gambar 22. Peta Distribusi Populasi Terpapar pada Zona Buffer 1 Km dari Sesar Aktif.

Sumber: PuSGeN, Maret 2018.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 45

Sejumlah 140.821 unit bangunan sekolah berpotensi terdampak oleh hazard gempa bumi percepatan
puncak di batuan dasar untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun. Bangunan sekolah ini
meliputi tingkat dasar, menengah pertama, dan menengah atas serta sekolah luar biasa. Bangunan
sekolah yang paling banyak terdampak berada di Pulau Jawa dan Bali dengan jumlah 81.195 bangunan.
Setelah Pulau Jawa dan Bali, Pulau Sumatera merupakan pulau yang memiliki jumlah sekolah
terdampak hazard gempa bumi terbanyak kedua, yaitu sejumlah 27.177 unit bangunan. Selanjutnya,
sebanyak 18.125 bangunan sekolah di Sulawesi berpotensi terdampak oleh hazard gempa bumi dan
menjadikannya sebagai pulau dengan jumlah sekolah terbanyak ketiga. Sementara untuk jumlah
sekolah yang berpotensi terdampak hazard gempa bumi di Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, dan
Papua sudah sangat berkurang dibandingkan dengan ketiga pulau sebelumnya, yaitu 5.375, 4.626, dan
4.313 unit bangunan secara berurutan. Jumlah bangunan sekolah paling sedikit berpotensi terdampak
hazard gempa bumi ditemukan di Pulau Kalimantan, yaitu sejumlah 389 unit bangunan sekolah. Selain
itu terdapat 2,890 Sekolah pada zona Buffer 1 Km dari sesar, 1,134 di Pulau Jawa & 1,055 di Pulau
Sumatera. Sebagian besar adalah SD.

Gambar 23. Peta Distribusi Fasilitas Pendidikan terhadap Percepatan Puncak Batuan Dasar.

Sumber: PuSGeN, Maret 2018.

RENCANA INDUK

46 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Gambar 24. Peta Distribusi Fasilitas Pendidikan Terpapar Bahaya 1 Km dari Sesar.

Sumber: PuSGeN, Maret 2018.

Total bangunan fasilitas kesehatan terdampak oleh hazard gempa bumi berupa percepatan puncak di
batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun pada kelas PGA lebih dari 0,1 di
Indonesia sebesar 7.422 unit. Fasilitas kesehatan yang dipetakan meliputi rumah sakit dan puskesmas.
Sebagian besar bangunan terdampak terdapat di Pulau Jawa Bali sebesar 3.152 unit dan Pulau
Sumatera sebesar 2.038 unit. Selanjutnya disusul oleh Pulau Sulawesi sebesar 966 unit, Pulau Nusa
Tenggara sebesar 515 unit, Pulau Papua sebesar 420 unit, dan Pulau Maluku sebesar 301 unit. yang
terakhir, total terdampak paling kecil terletak di Pulau Kalimantan yaitu 30 unit dikarenakan sebagian
besar bangunan terdampak pada kelas PGA dibawah 0,1. Selain itu, terdapat 266 Fasilitas Kesehatan
(RS & Puskesmas) pada zona Buffer 1 Km dari sesar 61 di Pulau Sumatera & 56 di Pulau Jawa (25 RS di
Pulau Jawa, terutama Surabaya).

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 47

Tabel 7. Indikasi Program Penanggulangan Bencana Bahaya Gempabumi.

Strategi Umum Fokus Prioritas
1. Mengembangkan Peta
1. Penelitian dan pengkajian sumber gempa dan parameter bahaya (hazard)nya
Sumber dan Bahaya Gempa secara multidisiplin (geologi, geodesi, seismologi, sipil), khususnya meneliti
Wilayah Indonesia secara keberadaan sumber-sumber gempa yang belum diketahui atau masih kurang
komprehensif, terintegrasi dan datanya. Prioritas dapat diberikan untuk jalur/sumber gempa yang dekat
berkesinambungan dengan wilayah padat/perkotaan, seperti Jalur Sesar Baribis Kendeng yang
melewati Kota Jakarta, Cirebon, Semarang, dan Surabaya
2. Mengembangkan peta
mikrozonasi untuk kota-kota 2. Pengembangan pengetahuan/teknologi kegempaan, termasuk:
besar di Indonesia mengembangkan Fungsi Atenuasi Indonesia, Fungsi Fragilitas Bangunan, dll.

3. Menurunkan risiko bencana 3. Memberi insentif pendanaan untuk riset dan pendidikan di bidang
likuifaksi dan gerakan tanah kegempaan, termasuk untuk mengembangkan program dan beasiswa pasca
terkait gempa sarjana di perguruan-perguruan tinggi.

4. Memutakhirkan/ 4. Menyelenggarakan Program Updating Peta Sumber dan Bahaya Kegempaan
Mengembangkan Peta Risiko Wilayah Indonesia setiap 5 tahun sekali oleh Tim Nasional lintas instansi dan
Bencana Gempa Indonesia keilmuan

5. Penguatan dan Pengembangan 1. Pendetilan jalur-jalur sesar aktif dan Karakterisasi tanah/kondisi geologi
Sistem Peringatan Dini Gempa setempat
dan Tsunami
2. De-Agregasi dan Pembuatan Sintetik Ground Motion di batuan dasar
6. Pengembangan teknologi mandiri
3. Pembuatan peta mikrozonasi untuk kota-kota besar di Indonesia
7. Pengembangan Pusat Riset
Nasional 1. Identifikasi dan kajian bahaya liquifaksi dan gerakan tanah terkait gempa

2. Analisis bahaya dan risiko liquifaksi dan gerakan tanah terkait gempa pada
bangunan dan infrastruktur

3. Pembuatan peta zonasi likuifaksi dan gerakan tanah terkait gempa

1. Mengembangkan Peta Risiko Bencana Gempa untuk Seluruh Wilayah
Indonesia secara komprehensif dan berkelanjutan.

2. Pembuatan Peta Risiko Bencana Gempa untuk Level Provinsi

3. Pembuatan Peta Risiko Bencana Gempa untuk Level Kota hingga level Desa
dan RW.

1. Pengembangan Sistem Peringatan Dini Gempa
2. Pemutakhiran Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS)

1. Pengembangan Sistem Peringatan Dini Gempa
2. Pemutakhiran Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS)
3. Pengembangan Instrumentasi Teknologi kegempaan

1. Pengembangan riset
2. integrasi hasil kajian dari berbagai lembaga
3. Kajian kejadian gempabumi signifikan
4. Pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa secara periodic
5. Penguatan kapasitas SDM
6. Edukasi dan Outreach
7. Pengembangan materi edukasi dan sosialisasi

Sumber: PuSGeN, Januari 2018.

Untuk fasilitas transportasi, terdapat 11 Pelabuhan, 21 Terminal, 2 Stasiun, 237 ruas (652,3 km) Jalan
Provinsi, 15 ruas (20,1 km) Jalan Tol, 31 ruas (83,3 km) Jalur Kereta Api. 384 Km diantaranya berada di
Pulau Sumatera. Total bangunan terdampak oleh hazard gempa bumi berupa percepatan puncak di
batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun pada kelas PGA lebih dari 0,1 di
Indonesia sebesar 8.992 unit. Fasilitas tersebut meliputi pelabuhan, stasiun, dan terminal. Sebagian
besar bangunan terdampak terdapat di Pulau Jawa dan Bali sebanyak 8.070 unit. Kemudian disusul
oleh pulau lainnya dengan jumlah terdampak yang sangat sedikit. Total bangunan terdampak di Pulau

RENCANA INDUK

48 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Sumatera sebesar 455 unit, Pulau Nusa Tenggara sebesar 179 unit, Pulau Sulawesi sebesar 148 unit,
Pulau Papua sebesar 86 unit, Pulau Kalimantan sebesar 40 unit dan Pulau Maluku sebesar 14 unit.
Sedikitnya total bangunan terdampak pada kelima pulau tersebut dikarenakan keterbatasan data
fasilitas transportasi yang di peroleh.

Tabel 8. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik dan Kerugian Ekonomi Dampak Gempabumi
Tahun 2015, 2030, dan 2045.

Wilayah Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar)
Pulau
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Jawa-Bali
Sumatera 43.143,2 49.383,5 53.904,2 153.406,1 175.232,0 191.200,8 37.317,4 42.135,3 45.817,6
Sulawesi
Nusa 24.210,5 28.245,4 30.955,5 151.506,3 177.902,8 195.380,8 90.174,0 105.714,3 116.073,8
Tenggara
Papua 8.888,2 10.511,7 11.608,2 58.565,9 69.395,0 76.678,5 42.519,2 50.373,3 55.653,0
Maluku
Kalimantan 5.042,2 5.953,9 6.590,6 26.659,7 31.619,8 35.069,3 6.991,3 8.271,7 9.164,1
Total
2.997,3 3.821,9 4.305,6 53.165,0 67.899,3 76.536,0 2.250,8 2.905,1 3.286,8
1.960,8 2.489,1 2.817,2 23.359,3 29.593,5 33.473,6 2.869,2 3.618,8 4.087,7

5,1 6,8 7,9 27,6 37,2 42,7 63,3 85,5 98,1
86.247,3 100.412,3 110.189,1 466.689,8 551.679,6 608.381,7 182.185,2 213.103,9 234.181,1

3.2.2. Proyeksi Bahaya Bencana Tsunami

Indonesia adalah negara yang rawan tsunami, karena merupakan daerah pertemuan tiga lempeng
tektonik utama dunia, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sejumlah
daerah di pulau-pulau yang berhadapan langsung dengan zona penunjaman antar lempeng ini, seperti
bagian barat Pulau Sumatra, selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara, bagian utara Papua, serta Sulawesi
dan Maluku merupakan kawasan yang sangat rawan tsunami.

Catatan sejarah tsunami di Indonesia menunjukkan bahwa kurang lebih 172 tsunami yang terjadi
dalam kurun waktu antara tahun 1600–2012.6 Berdasarkan sumber pembangkitnya diketahui bahwa
90% dari tsunami tersebut disebabkan oleh aktivitas gempabumi tektonik, 9% akibat aktivitas vulkanik
dan 1% oleh tanah longsor yang terjadi dalam tubuh air (danau atau laut) maupun longsoran dari
darat yang masuk ke dalam tubuh air.

Antara tahun 1990–2010 terjadi sedikitnya sepuluh kejadian bencana tsunami di Indonesia. Sembilan
di antaranya merupakan tsunami yang merusak dan menimbulkan korban jiwa serta material, yaitu
tsunami di Flores (1992); Banyuwangi, Jawa Timur (1994); Biak (1996); Maluku (1998); Banggai;
Sulawesi Utara (2000); Aceh (2004); Nias (2005); Jawa Barat (2006); Bengkulu (2007); dan Mentawai
(2010). Dampak yang ditimbulkan tsunami tersebut adalah sekitar 170 ribu orang meninggal dunia.

6BNPB (2012). Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.
RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 49

Gambar 25. Lokasi Kejadian Gempabumi dan Tsunami di Indonesia.

Sumber: BNPB (2012). Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.

Daerah dengan ancaman tsunami yang sangat tinggi dan tinggi tersebar pada hampir seluruh wilayah
Indonesia, mulai dari pantai Barat Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, selatan Jawa, Nusa Tenggara,
Sulawesi bagian tengah dan utara, Maluku dan Maluku utara serta Papua bagian barat dan utara. Pada
“Gambar 26: Peta Risiko Tsunami Indonesia” menyajikan peta risiko tsunami di Indonesia7.

Gambar 26. Peta Risiko Tsunami Indonesia.

Sumber: BNPB (2012). Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.
7BNPB (2012). Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.

RENCANA INDUK

50 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Hampir seluruh Kabupaten/Kota di garis pantai pada “Gambar 25: Lokasi Kejadian Gempabumi dan
Tsunami di Indonesia” masuk dalam tingkat risiko Sangat Tinggi dan Tinggi karena perkiraan tinggi
gelombang di atas tiga meter. Karena itu, maka jumlah penduduk yang terpapar adalah 5.031.147
jiwa, berdasarkan data dari Masterplan Tsunami.

Berdasarkan hasil analisis risiko, teridentifikasi empat kawasan utama yang memiliki risiko dan
probabilitas tsunami tinggi. Keempat kawasan tersebut adalah Megathrust Mentawai, Megathrust
Selat Sunda dan Jawa bagian selatan, Megathrust selatan Bali dan Nusa Tenggara, serta Kawasan Papua
bagian utara. Bagian berikut menyajikan tabel-tabel yang memuat Kabupaten/Kota mana saja yang
akan terdampak jika terjadi tsunami di kawasan tersebut beserta jumlah jiwa terpapar dan tingkat
kerawanannya8.

Tabel 9. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik dan Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tsunami
Tahun 2015, 2030, 2045.

Wilayah Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Kerusakan Lingkungan
Pulau Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045
Sulawesi 876,0 1.014,4 1.112,5 14.826,0 17.227,1 18.908,8 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Jawa-Bali 832,7 11.706,6 13.101,8 14.217,0 668,9 770,7 843,8 17,7 21,2 23,6
Sumatera 798,4 963,5 1.055,3 13.714,4 16.476,2 18.221,6 4.150,4 4.678,1 5.086,6 6,1 6,8 7,4
Maluku 605,1 946,8 1.043,1 11.067,4 14.031,6 15.874,9 1.949,9 2.313,5 2.548,9 32,1 37,2 40,7
Nusa 764,1 863,4 224,7 288,8 328,0 30,0 37,9 42,9
Tenggara
Papua 462,9 545,5 603,2 12.144,6 14.300,4 15.809,8 980,0 1.165,1 1.293,5 15,4 18,5 20,7
Total
127,6 167,5 190,6 8.035,8 10.389,9 11.762,5 2,5 3,3 3,7 18,6 24,4 27,7

3.702,7 4.401,8 4.868,2 71.494,8 85.527,0 94.794,6 7.976,4 9.219,3 10.104,6 119,7 146,1 163,0

Ada 3,7 juta jiwa yang berpotensi terpapar bahaya bencana tsunami pada 2015, pada 2030 jadi 4,4
juta jiwa (naik 19% atau 0,7 juta jiwa) dan pada 2045 jadi 4,9 juta jiwa (31% atau 1,2 juta jiwa). Potensi
kerugian fisik sebagai dampak bahaya bencana tsunami pada 2015 mencapai Rp71.494,8 Miliar, pada
2030 jadi Rp85.527,0 Miliar (naik 20% atau Rp14.032,1 Miliar), dan pada 2045 Rp94.794,6 Miliar (naik
33% atau Rp23.299,8 Miliar). Potensi kerugian ekonomi sebagai dampak bahaya bencana tsunami
pada 2015 mencapai Rp7.976,4 Miliar, pada 2030 jadi Rp9.219,3 Miliar (naik 16% atau Rp1.243,0
Miliar), dan pada 2045 menjadi Rp10.104,6 Miliar (naik 27% atau Rp2.128,2 Miliar). Potensi kerusakan
lingkungan sebagai dampak bahaya bencana tsunami pada 2015 mencapai 119,7 Ribu Ha, pada 2030
jadi 146,1 Ribu Ha (naik 22% atau 26,4 Ribu Ha), dan pada 2045 menjadi 163,0 Ribu Ha (naik 12% atau
43,3 Ribu Ha).

Dari “Gambar 27: Kabupaten/Kota yang Berhadapan Langsung dengan Bahaya Tsunami di Indonesia”
dapat diketahui bahwa ada 146 kabupaten/kota di Indonesia yang berhadapan langsung dengan
bahaya tsunami. Ada 36 kabupaten/kota dengan bahaya sangat tinggi (H>8 meter), 57 kabupaten/
kota dengan bahaya tinggi (8m>H>4m), 37 kabupaten/kota dengan bahaya sedang (4m>H>1m), dan
16 kabupaten/kota dengan bahaya rendah (H<1m). Selain itu ada 16 ibukota provinsi yang berhadapan
langsung dengan bahaya tsunami, yaitu sangat tinggi (Banda Aceh, Padang, Denpasar, Ternate), tinggi
(Mataram, Kupang, Manado, Ambon, Manokwari, dan Jayapura), sedang (Lampung, Palu, Makassar,
Kendari, dan Mamuju), serta rendah (Jakarta).

8BNPB (2012). Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 51

Gambar 27. Kabupaten/Kota yang Berhadapan Langsung dengan Bahaya Tsunami di Indonesia.

Sumber: Hamzah Latief, Grup Riset Tsunami, Program Studi Oseanografi, Pusat Penelitian Mitigasi Bencana, Institut
Teknologi Bandung, Bandung, 11 Januari 2018.

Pertamina adalah badan usaha milik negara yang sangat strategis dalam menyediakan pasokan energi.
Dalam hal ini Pertamina memiliki sejumlah besar asset, misalnya pelabuhan dan lokasi pengolahan,
yang berada di kawasan rawan bencana tsunami. Dari “Tabel 10: Aset- Aset Pertamina yang Memiliki
Potensi Gempa dan Tsunami” dan “Gambar 28: Lokasi Fasilitas Pengolahan dan Pelabuhan Pertamina
terhadap Tingkat Bahaya Tsunami Indonesia”

Tabel 10. Aset-Aset Pertamina yang Memiliki Potensi Gempa dan Tsunami.

No Nama Kode Koordinat Tsunami Level of Hazard

1 Badas BDS Lat. Long. Tinggi Waktu Tiba VERY HIGH
2 Benoa BNO -8.465 117.378 11.43 4.70 VERY HIGH
3 Bitung BTG -8.747 115.208 VERY HIGH
4 Donggala DGL 1.439 125.189 10.90 21.60 VERY HIGH
5 Gunung Sitoli GUS -0.783 119.797 VERY HIGH
6 Krueng Raya KRR 1.199 97.675 9.75 22.70 VERY HIGH
7 Lhok Nga 5.600 95.517 VERY HIGH
8 Mentawai MTW 5.473 95.241 8.05 8.90 VERY HIGH
9 Meulaboh MEL -2.778 100.198 VERY HIGH
10 Namlea NAM 4.134 96.140 9.80 10.40 VERY HIGH
11 Pagerungan Marine Terminal -3.270 127.089 VERY HIGH
-6.971 115.956 10.17 15.00

12.36 15.00

12.89 0.10

10.62 15.00

9.23 2.10

8.10 0.07

RENCANA INDUK

52 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

No Nama Kode Koordinat Tsunami Level of Hazard

12 Pulau Baai PBI Lat. Long. Tinggi Waktu Tiba VERY HIGH
13 Reo REO -3.904 102.290 10.11 20.00 VERY HIGH
14 Sabang SAB -8.278 120.456 VERY HIGH
15 Simeulue 5.886 95.312 20.88 8.87 VERY HIGH
16 STS Teluk Semangka XTS 2.468 96.390 VERY HIGH
17 Ternate TNT -5.571 104.613 10.24 15.00 VERY HIGH
18 TT. Manggis TTM 0.758 127.309 VERY HIGH
19 TT. Teluk Kabung TLK -8.511 115.509 13.78 14.80 VERY HIGH
-1.067 100.403
10.49 21.20

12.36 15.80

8.09 33.07

10.50 20.10

Sumber: Hamzah Latief, Grup Riset Tsunami, Program Studi Oseanografi, Pusat Penelitian Mitigasi Bencana, Institut
Teknologi Bandung, Bandung, 11 Januari 2018.

Gambar 28. Lokasi Fasilitas Pengolahan dan Pelabuhan Pertamina terhadap Tingkat Bahaya Tsunami Indonesia.

Sumber: Hamzah Latief, Grup Riset Tsunami, Program Studi Oseanografi, Pusat Penelitian Mitigasi Bencana,
Institut Teknologi Bandung, Bandung, 11 Januari 2018.

Upaya untuk melakukan analisis terhadap bahaya bencana tsunami antara lain9:
1. Melakukan validasi sejarah tsunami (literatur dan bukti-bukti di lapangan, sedimen paleo
tsunami-tsunami block, dan lain-lain) serta mendokumentasikannya dengan baik.

2. Karakteristik sumber tsunami (gempa, vulkano, gerakan tanah) dan analisis terhadap sumber
tersebut (very near, near, far-field) dengan metoda PTHA, DTHA dan lain-lain.

3. Kajian bahaya tsunami beserta dampak ikutannya (peta rendaman tsunami, tinggi dan kecepatan
arus tsunami).

4. Analisis parameter kerentanan (khususnya proxi yang dapat menarik minat orang-orang untuk
bermukim), seperti:
a. Kerentanan fisis : geomorfologi pesisir, misal: topografi, slope topografi, sungai, badan air
lainnya yang ada di pesisir, dll.

9Hamzah Latief, Grup Riset Tsunami, Program Studi Oseanografi, Pusat Penelitian Mitigasi Bencana, Institut Teknologi
Bandung, Bandung, 11 Januari 2018.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 53

b. Perameter kerentanan sosial: demografi, permukiman, tingkat kesejahteraan, dan lain-lain.
c. Parameter kerentanan (keterpaparan) ekonomi:

i. Jalan (sebagi proxi tempat bermukim dan kegiatan ekonomi).
ii. Ibu Kota provinsi, kabupaten/kota (yang memiliki fasilitas standar minimum).
iii. Pelabuhan laut (72) , fery (28), perikanan (542), bandara (239/16-20).
iv. Infrastruktur dan Fasilitas perminyakan, kelistrikan/power plan, dan lain-lain.
v. Wilayah khsusus : daerah industri, daerah wisata, dan lain-lain.
vi. Masing-masing parameter kerentanan di atas perlu dikaji tingkat ketegasannya.
d. Pengembangan skenario kajian risiko dan kolateralnya. Kajian dan upaya pengurangan risiko
e. Peninjauan tata ruang wilayah pesisir
f. Sistem peringatan dini tsunami (Tsunami Early Warning System/TEWS), jalur dan rambu
evakuasi, tempat evakuasi sementara (TES) dan gladi tsunami.
g. Hard measure:
i. Pembuatan pemecah gelombang, tembok laut, dan lain-lain.
ii. Penanaman dan pemeliharaan magrove dan hutan pantai.
iii. Pemeliharaan gumuk pasir (sand dune) dan koral.

5. Berdasarkan kajian-kajian di atas maka perlu melakukan skala prioritas dan pentahapan untuk
aksi dan intervensi yang akan dilakukan sampai dengan tahun 2045 (peta jalan dan rencana
utama jangka menengah dan jangka panjang).

Strategi untuk mengimplementasikan analisis terhadap bahaya bencana tsunami antara lain10:
1. Peningkatan kapasitas kesiapsiagaan dan PRB melalui penyusunan perencanaan penanggulangan
bencana, peningkatan pemahaman dan pengetahuan, diseminasi informasi secara cepat,
penelitian, serta pendidikan dan pelatihan penanggulangan bencana secara berkala.
2. Peningkatanperansertaduniausaha,perguruantinggidanmasyarakatmelaluikegiatanpenelitian
dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kebencanaan, kerjasama pemerintah dan
dunia usaha dalam pemanfaatan bangunan dan gedung sebagai tempat evakuasi, pelibatan
masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan perencanaan dalam mengatasi bahaya
tsunami.
3. Penyediaan sistem peringatan dini melalui dukungan peralatan peringatan dini, teknologi
informasi dan komunikasi, serta dukungan operasional yang andal.
4. Penyediaan TES tsunami melalui dukungan pembangunan TES tsunami, jalur evakuasi, serta
sarana dan prasarana penyelamatan yang memadai.

Tsunami dapat melanda daerah yang berada di kawasan rawan tsunami dengan cepat dan menimbulkan
dampak sangat dahsyat. Waktu yang tersedia untuk menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat
agar segera melakukan evakuasi juga sangat singkat, dan ini masih diperburuk lagi dengan kurangnya
infrastruktur dan sistem penyampaian peringatan dini sampai ke tingkat masyarakat. Mengingat
potensi kejadian tsunami yang begitu cepat dan potensi dampaknya yang ekstrim, perlu dilakukan
estimasi kejadian bencana tsunami dengan skenario yang paling buruk. Estimasi tersebut akan
membantu pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam merancang langkah-langkah antisipasi
dan pengurangan risiko semaksimal yang dapat dilakukan. Skenario terburuk juga akan mendorong
semua pihak untuk terus mengupayakan langkah-langkah PRB yang intensif dan terencana.

10BNPB (2012). Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.

RENCANA INDUK

54 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Berdasarkan skenario terburuk yang diperkirakan, daerah-daerah di kawasan prioritas dengan risiko
tsunami tinggi dapat menjadi lumpuh akibat terkena tsunami. Kejadian tsunami Aceh tahun 2004
memperlihatkan bagaimana penyelenggaraan pemerintahan di daerah yang terlanda tsunami tidak
dapat berfungsi sampai waktu yang lama. Ada 4 (empat) kawasan untuk skenario terburuk dalam
menghadapi bahaya tsunami ini, antara lain: (1) Kawasan Megathrust Mentawai, (2) Kawasan Selat
Sunda dan Jawa Bagian Selatan, (3) Kawasan Selat Sunda dan Jawa Bagian Selatan, dan (4) Kawasan
Papua Bagian Utara 11.

3.2.3. Proyeksi Bahaya Bencana Erupsi Gunungapi

Indonesia merupakan negara kepulauan, terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, yaitu
Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia. Ketiga lempeng ini bergerak terus
saling bertumbukan. Proses penunjaman atau subduksi mengakibatkan pelelehan batuan kerak bumi,
bagian batuan meleleh ini mempunyai berat jenis lebih kecil dengan batuan sekitarnya, bergerak
mengapung menuju permukaan, dan kemudian membentuk gunungapi. Proses penunjaman dan
pelelehan batuan kerak bercampur batuan mantel bagian demi bagian berjalan secara menerus
mengakibatkan terjadinya erupsi secara periodik dari gunungapi.

Di Indonesia tersebar sebanyak 127 gunungapi (sekitar 13% gunungapi di dunia). Gunungapi tersebut
membentuk busur kepulauan yang membentang dari ujung barat sampai timur, yaitu dari pulau
Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi bagian utara, dan Kepulauan
Sangir Talaud. Sebanyak 76 gunungapi dinyatakan sangat aktif ditandai pernah erupsi sejak tahun 1600
sampai sekarang disebut sebagai Gunungapi Tipe-A, tiga di antaranya berada di bawah laut (Buana
Wuhu/Sangir, Hobal dan Emperor of China /Flores), hingga saat ini hanya 68 gunungapi dipantau
secara menerus melalui 75 pos pengamatan gunungapi, sebagai salah satu mitigasi erupsi gunungapi.
Erupsi gunungapi dapat menyebabkan bencana bagi penduduk di sekitarnya, tidak kurang dari 5 juta
jiwa bermukim dan beraktivitas di sekitar gunungapi aktif, sehingga risiko bencana erupsi gunungapi
sangat besar12.

Tabel 11. Gunungapi Aktif di Indonesia.

No Daerah Penyebaran Jumlah Gunungapi Aktif Jumlah

1 Sumatera Tipe A Tipe B Tipe C 30
2 Jawa 13 11 6 34
3 Lombok
4 Bali 19 10 5 1
5 Sumbawa 2
6 Flores 1- - 2
7 Laut Banda 25
8 Sulawesi 2- - 9
9 Kepulauan Sangir 13
10 Halmahera 2- - 5
6
Jumlah 17 3 5 127

72 -

62 5

5- -

51 -

77 29 21

Sumber: Renas PB 2015-2019.

11BNPB (2012). Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.
12Laman PVMBG (http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/aktivitas-gunungapi/2105-laporan- evaluasi-tingkat-
aktivitas-gunungapi-bulan-maret-2018). Diakses pada 10 April 2018).

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 55

Selain letusan-letusan besar seperti letusan gunung Tambora yang menewaskan lebih dari 92 ribu
jiwa dan Krakatau lebih dari 36 ribu orang pada abad XIX, berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ada beberapa kejadian letusan lain yang menimbulkan korban
jiwa besar, antara lain letusan Gunung Kie Besi di Maluku Utara pada tahun 1760 yang menewaskan
2.000 korban jiwa, letusan Gunung Galunggung tahun 1822 yang menewaskan 4.011 korban jiwa dan
letusan Gunung Papandayan tahun 1772 yang menewaskan 2.951 korban jiwa di Jawa Barat. Di Jawa
Timur letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 mengakibatkan 5.190 korban jiwa dan letusan tahun
1966 dengan 210 korban jiwa.

Gambar 29. Sebaran Gunungapi Aktif di Indonesia.

Sumber: PVMBG (per April 2018).

Di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah pada tahun 1983 terjadi letusan dahsyat Gunung Colo yang
mengakibatkan hancurnya sumbat lava serta membumihanguskan sekitar 2/3 wilayah Pulau Una-Una
tempat lokasi Gunung Colo. Sedangkan di wilayah Yogyakarta letusan Gunung Merapi tahun 1930
mengakibatkan 1.369 orang korban jiwa dan letusan tahun 1972 menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Gambar 29 yang menunjukkan Sebaran Gunungapi Aktif di Indonesia memperlihatkan sebaran
gunungapi di Indonesia. Dalam beberapa tahun ke depan potensi risiko bencana gunungapi yang
perlu mendapat perhatian ada 70 gunungapi diantaranya adalah Gunung Merapi, Soputan, dan Lokon.
Berdasarkan sejarah, Gunung Merapi di Yogyakarta mempunyai perulangan letusan cukup pendek.
Letusan tersebut memiliki pola yang sama yaitu pertumbuhan kubah lava, kubah lava runtuh dan
menghasilkan awan panas yang melanda daerah sekitar Gunung Merapi. Sedangkan kawah gunungapi
yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kawah Gunung Ijen dan Dempo.

Tabel 12. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik dan Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Erupsi
Gunungapi 2015-2045.

Wilayah Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Pulau (X1000 Jiwa) (Rp Miliar)
(Rp Miliar) (X1000 Ha)
Jawa-Bali 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Sumatera 2.784,6 3.132,6 3.403,1 1.865,4 2.104,5 2.289,9 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Sulawesi 11,8 13,0 14,0 62,1 68,3 73,7
365,1 428,1 470,2 446,4 532,7 587,6
359,8 402,2 435,3 186,1 208,5 225,8 0,5 0,6 0,6 33,0 39,2 43,2

0,2 0,2 0,2 15,4 17,5 19,0

RENCANA INDUK

56 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Wilayah Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Pulau (X1000 Jiwa) (Rp Miliar)
(Rp Miliar) (X1000 Ha)
Nusa 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Tenggara 331,9 412,3 466,5 175,9 219,9 249,5 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Maluku 0,1 0,1 0,1 19,7 24,4 27,5
Total
69,4 89,4 101,7 21,6 27,9 31,8 0,0 0,0 0,0 9,4 12,1 13,8

3.910,8 4.464,7 4.876,8 2.695,4 3.093,5 3.384,5 12,6 13,9 15,1 139,7 161,5 177,2

3.2.4. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir

Banjir dapat disebabkan oleh kondisi alam yang statis (seperti geografis, topografis, dan geometri
alur sungai), peristiwa alam yang dinamis (seperti curah hujan yang tinggi, pembendungan dari laut/
pasang pada sungai induk, amblesan tanah dan pendangkalan akibat sedimentasi), serta aktivitas
manusia yang dinamis seperti adanya tata guna di lahan dataran banjir yang tidak sesuai (mendirikan
pemukiman di bantaran sungai, kurangnya prasarana pengendalian banjir, amblesan permukaan tanah
dan kenaikan muka air laut akibat pemanasan global).

Pengelolaan banjir di Indonesia, satu mata uang, dengan pengelolaan sumber daya air. Pengelolaan
tidak dapat dibatasi oleh wilayah administrasi, tetapi pengelolaan dalam wilayah sungai. Wilayah
Sungai ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2012 tentang Penetapan Wilayah
Sungai (Keppres No. 12/2012). Seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari 5 (lima)
wilayah sungai lintas negara, 29 wilayah sungai lintas provinsi, 29 wilayah sungai strategis nasional, 53
wilayah sungai lintas kabupaten/kota, dan 15 wilayah sungai kabupaten/kota.

Tabel 13. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik dan Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir
Tahun 2015, 2030, 2045.

Wilayah Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Pulau (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (Ribu Ha)

Jawa-Bali 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Sumatera 61.934,0 69.433,0 75.292,1 64.891,3 71.918,3 77.745,8 57.733,4 64.931,3 70.501,5 47,5 53,9 58,7
Kalimantan
Sulawesi 20.757,4 24.813,2 27.423,8 52.837,5 64.362,5 71.567,7 61.330,7 73.466,6 81.238,9 2.362,5 2.922,4 3.266,7
Nusa
Tenggara 8.247,8 10.296,1 11.526,2 40.753,2 50.883,0 56.947,1 11.618,8 14.525,6 16.270,4 4.415,4 5.708,7 6.456,2
Papua
Maluku 6.602,8 7.701,6 8.465,4 5.357,6 6.220,8 6.827,2 7.472,1 8.939,0 9.914,4 120,0 146,7 163,7
Total
1.838,5 2.166,5 2.396,0 6.335,3 7.338,5 8.053,3 1.129,1 1.369,6 1.533,9 30,5 37,4 42,1

1.025,8 1.312,4 1.480,2 5.014,6 6.361,8 7.153,9 442,6 556,7 624,0 4.992,7 6.334,1 7.122,9
408,4 517,0 584,6 1.140,5 1.428,4 1.610,0 793,7 993,6 1.119,8 167,4 209,8 236,5
176.329,8 208.513,4 229.905,0 140.520,4 164.782,4 181.202,9
100.814,7 116.239,9 127.168,4 12.136,0 15.413,0 17.346,7

3.2.5. Proyeksi Bahaya Bencana Tanah Longsor

Bahaya gerakan tanah atau dikenal sebagai tanah longsor merupakan fenomena alam yang dikontrol
oleh kondisi geologi, curah hujan dan pemanfaatan lahan pada lereng. Dalam beberapa tahun terakhir,
intensitas terjadinya bencana gerakan tanah di Indonesia semakin meningkat, dengan sebaran wilayah
bencana semakin luas. Hal ini disebabkan oleh makin meningkatnya pemanfaatan lahan yang tidak
berwawasan lingkungan pada daerah rentan gerakan tanah, serta intensitas hujan yang tinggi dengan
durasi yang panjang, ataupun akibat meningkatnya frekuensi kejadian gempa bumi.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 57

Tabel 14. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik dan Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tanah
Longsor 2015-2030-2045.

Wilayah Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Pulau (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)

Jawa-Bali 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Sumatera 6.886,2 774,1 863,0 934,8
Sulawesi 7.808,0 8.500,9 28.062,3 31.757,2 34.557,5 49.316,0 55.423,7 60.189,2
Nusa
Tenggara 1.894,6 2.228,7 2.451,7 11.587,6 13.674,6 15.055,6 14.527,0 17.028,9 18.691,3 7.495,8 8.978,1 9.922,0
Papua
Maluku 1.755,3 2.058,4 2.267,3 10.937,9 12.814,1 14.110,5 8.030,2 9.437,5 10.399,5 7.102,4 8.575,5 9.535,8
Kalimantan
Total 1.574,6 1.943,5 2.192,7 9.728,8 12.044,8 13.606,4 1.682,2 2.034,3 2.275,4 1.872,6 2.273,7 2.547,4

1.469,2 1.855,9 2.083,7 13.957,5 17.733,3 19.951,8 991,4 1.247,4 1.398,5 11.514,1 14.809,9 16.735,7
306,0 385,9 435,9 1.547,6 1.951,1 2.203,7 193,3 245,8 278,3 2.242,3 2.838,0 3.209,1
245,8 310,0 348,2 2.458,1 3.184,6 3.606,8 1.130,2
75.870,3 1.469,4 1.666,0 10.336,3 13.467,2 15.277,5
14.131,5 16.590,4 18.280,4 78.279,8 93.159,8 103.092,4 86.887,1 94.898,2 41.337,7 51.805,3 58.162,4

3.2.6. Proyeksi Bahaya Bencana Gelombang Ekstrim dan Abrasi

Abrasi disebabkan oleh beberapa faktor yang secara umum dapat digolongkan menjadi 2 (dua)
kelompok yaitu faktor alam dan faktor aktivitas manusia. Faktor alam yang mengakibatkan abrasi
dipicu oleh perubahan cuaca atau iklim, seperti pelapukan batuan, perubahan arus global, siklus
vegetasi, perubahan suplai sedimen serta perubahan arah dan tinggi gelombang. Sedangkan aktivitas
manusia adalah seluruh kegiatan manusia yang dapat menyebabkan hilangnya keseimbangan alamiah
wilayah pantai seperti merusak perlindungan alami pantai, perubahan fungsi lahan, pembangunan di
wilayah sempadan pantai serta pengambilan material yang berakibat pengurangan suplai sedimen di
daerah hilir ataupun hulu sungai.

Tabel 15. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik dan Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak
Gelombang Ekstrim dan Abrasi Tahun 2015, 2030, dan 2045.

Wilayah Pulau Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan
(X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
Sulawesi
Jawa-Bali 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Sumatera 4.497,7 5.394,8 5.984,2 274,6 318,3 349,1 72,2 87,7 97,7
Maluku 1.274,9 1.525,6 1.691,2 551,1 624,4 680,2 18,5 20,5 22,2
Nusa Tenggara 342,0 411,3 454,8
Kalimantan 1.049,8 1.163,9 1.257,9 2.177,4 2.397,0 2.589,0 6,6 115,7 147,5 167,0
Papua 104,9 8,6 9,7 65,9 83,3 94,2
Total 891,0 1.122,6 1.266,2 4.370,7 5.366,0 5.970,3 9,3 121,1 132,7 36,5 44,1 49,4
2,3 63,4 81,7 92,3
791,3 1.002,5 1.134,0 2.774,8 3.579,5 4.070,9 11,8 13,2 87,9 115,7 131,8
1.290,8 3,1 3,6
373,1 452,3 506,5 174,8 201,9 221,2 460,3 580,6 654,5
1.498,5 1.643,3
290,8 366,3 411,3 2.562,2 3.114,8 3.459,7

246,5 320,6 363,6 5.484,8 7.191,0 8.180,4

4.917,3 5.953,8 6.630,7 22.042,4 27.245,1 30.475,8

3.2.7. Proyeksi Bahaya Bencana Cuaca Ekstrim

Kajian mengenai cuaca ekstrim semakin mendapat sorotan di berbagai penjuru dunia khususnya
dikaitkan dengan perubahan iklim, dimana para ahli memperkirakan bahwa terjadinya bencana cuaca
ekstrim merupakan salah satu gejala perubahan iklim yang semakin nyata. Menurut Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC4) 2012, bukti-bukti terkait kejadian cuaca dan iklim ekstrim yang ada
di dunia antara lain adalah kekeringan, curah hujan ekstrim, banjir, dan gelombang panas. Sedangkan
untuk tornado dan badai, masih sedikit digunakan untuk menjadi bukti kejadian cuaca dan iklim
ekstrim di dunia.

RENCANA INDUK

58 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Istilah cuaca dan iklim secara ilmiah memiliki pengertian yang tidak sama meskipun unsur- unsurnya
(komponen) sama, antara lain suhu udara, hujan, angin, kelembaban udara, evaporasi, radiasi matahari,
dan sebagainya. Secara konseptual, cuaca pada umumnya mengacu pada kondisi atmosfer yang selalu
berubah-ubah sebagai akibat dari rotasi bumi, memiliki nilai yang mutlak, berlangsung dalam periode
waktu yang singkat (pendek) dan pengaruhnya (dampak) bersifat langsung. Sedangkan konsep iklim
mengacu kepada kondisi atmosfer rata-rata yang relatif tetap (tidak berubah) sebagai akibat dari
posisi lintang permukaan bumi, berlangsung dalam periode waktu yang lama dan pengaruhnya tidak
langsung. Proses meteorologis dan kondisi cuaca dikaji dalam ilmu meteorologi, sedangkan kondisi
iklim merupakan materi kajian bidang klimatologi.

Perbedaan antara kejadian cuaca ekstrim dan kejadian iklim ekstrim tidaklah nyata (presisi), tetapi
lebih terkait dengan spesifikasi skala (periode) waktunya. Suatu kejadian cuaca ekstrim secara tipikal
berasosiasi dengan pola-pola cuaca dalam rentang (skala) waktu kurang dari satu hari sampai beberapa
minggu. Sedangkan kejadian iklim ekstrim berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dapat
merupakan akumulasi dari beberapa kejadian cuaca (ekstrim dan non-ekstrim), contohnya kondisi
kekeringan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkategorikan bahwa cuaca termasuk
ekstrim untuk kondisi dan kejadian di Indonesia apabila terjadi salah satu atau beberapa kejadian
berikut: (1) suhu udara permukaan lebih dari 35°C atau di bawah 15°C (untuk wilayah dataran rendah/
pantai), (2) kecepatan angin lebih dari 25 knots atau 45 km/jam, (3) curah hujan dalam satu hari ≥ 50
mm, atau (4) terjadi kelembaban udara di bawah 40%.

BMKG mendefinisikan cuaca ekstrim sebagaimana tertuang dalam Peraturan BMKG Nomor Kep.009
Tahun 2010 tentang Prosedur Standar Operasional Pelaksanaan Peringatan Dini, Pelaporan, dan
Diseminasi Informasi Cuaca Ekstrim sebagai “kejadian cuaca yang tidak normal, tidak lazim, yang
dapat mengakibatkan kerugian terutama keselamatan jiwa dan harta”. Kata kunci dari definisi tersebut
adalah “tidak lazim” dan “mengakibatkan kerugian”. Tidak lazim berkaitan dengan nilai mutlak dari
unsur cuaca yang tercapai ketika berlangsung kejadian cuaca ekstrim. Sedang Menimbulkan kerugian
berkaitan dengan dampak atau akibat dari kejadian kondisi atmosfer tersebut yang cenderung
menimbulkan bencana.

Peraturan BMKG Nomor Kep.009 Tahun 2010 tersebut lebih jauh mengungkapkan bahwa cuaca
ekstrim dapat berupa: (1) fenomena global seperti kejadian El Nino/La Nina dan kejadian Dipole
Mode, (2) fenomena regional seperti kejadian siklon tropis, aktivitas monsoon, peristiwa Madden
Julian Oscillation (MJO) dan pembentukan awan aktif, dan (3) fenomena lokal seperti labilitas udara,
liputan awan, kondisi suhu dan kelembaban udara.

Selanjutnya BMKG melalui peraturan Kepala BMKG Nomor Kep. 009 Tahun 2010 menerjemahkan bencana
alam cuaca ekstrim sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang diakibatkan oleh cuaca ekstrim sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Secara ringkas BMKG menyatakan bahwa wujud atau kejadian cuaca ekstrim di daratan adalah angin
puting beliung, angin kencang, hujan lebat, hujan lebat disertai petir/angin kencang, hujan es dan jarak
pandang mendatar akibat kabut atau asap. Adapun kejadian cuaca ekstrim di lautan adalah siklon tropis,
angin kencang gelombang laut ekstrim, gelombang pasang, hujan lebat, hujan lebat disertai angin
kencang/petir dan jarak padang mendatar akibat kabut atau asap.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 59

BNPB melalui Peraturan Kepala BNPB Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian
Risiko Bencana menyebutkan bahwa cuaca ekstrim berkaitan dengan kejadian luar biasa yang
berpotensi menimbulkan bencana, yaitu meliputi kejadian angin tornado, badai siklon tropis dan
angin puting beliung. Khusus untuk wilayah Indonesia, BNPB menetapkan cuaca ekstrim hanya
angin puting beliung saja. Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana, angin puting beliung didefinisikan sebagai angin kencang yang datang
secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50
km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat (3-5 menit).

Tabel 16. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik dan Kerugian Ekonomi Dampak Cuaca Ekstrim
Tahun 2015, 2030, dan 2045.

Wilayah Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp
Pulau Miliar)
2015 2030 2045 2015 2030 2045
Jawa-Bali 142.331,5 160.911,9 174.956,6 1.808,1 2.037,1 2.212,3 2015 2030 2045
Sumatera 2.278,5 2.832,1 3.169,6 2.553,4 2.808,2 3.027,7
Sulawesi 54.662,0 65.198,5 72.019,1
Kalimantan 18.227,1 21.363,3 23.519,8 386,8 451,8 496,9 140,8 165,4 181,7
Nusa 14.980,6 18.800,9 21.083,4 1.960,5 2.516,2 2.839,9 103,8 123,0 135,9
Tenggara 10.324,1 11.499,1 119,3 142,3 156,9
Papua 8.620,7 20,7 24,3 26,8
Maluku 5,5 6,6 7,4
Total
2.904,4 3.717,0 4.192,9 5.473,4 6.853,8 7.670,7 165,1 206,5 231,0
2.569,5 3.252,2 3.677,6 44,7 56,1 63,3 1,1 1,4 1,6
244.295,8 283.568,0 310.948,6
11.972,7 14.771,4 16.479,6 3.088,9 3.453,3 3.742,2

3.2.8. Proyeksi Bahaya Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan13

Konsentrasi CO2 dunia telah meningkat hingga 30 persen dalam 100 tahun terakhir, dan hal ini
mengakibatkan peningkatan suhu permukaan bumi antara 0.3-0.6°C. Peningkatan suhu permukaan
bumi ini mengakibatkan fenomena El-Nino Southern Oscilation (ENSO) di kawasan Asia Tenggara lebih
sering terjadi yang berakibat pada peningkatan intensitas kejadian curah hujan yang ekstrim, baik curah
hujan yang sangat rendah yang berakibat kekeringan yang berkepanjangan, ataupun curah hujan yang
sangat besar yang berakibat banjir.

Perubahan iklim global yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di Indonesia lebih sering terjadi
dalam 10 tahun terakhir ini menjadi salah satu faktor pemicu kebakaran hutan dan lahan, yang diperparah
dengan lebih kerapnya kejadian ENSO. Pada dasarnya kebakaran hutan bukanlah bencana alam karena
hampir 99 persen kejadian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia disebabkan oleh faktor manusia, baik
karena kesengajaan maupun kelalaian.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menjadi kejadian rutinitas tahunan dan menjadi isu
lingkungan terutama sejak kejadian kebakaran hutan pada tahun 1982/1983 yang menghanguskan
sekitar 3,5 juta Ha hutan di Kalimantan Timur. Pada tahun 1997/1998 di dunia mengalami kejadian ENSO
yang berdampak pada meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan luas mencapai 20 juta

13KLHK, Kemen PPN/Bappenas dan Kemenko Ekonomi menyusun “Grand Design Pencegahan Kebakaran Hutan, Kebun dan
Lahan 2017-2019”. Dalam dokumen ini istilah yang digunakan adalah kebakaran hutan, kebun dan lahan (karhutbunla).
Untuk kepentingan konsistensi dengan peraturan di bidang penanggulangan bencana maka istilah yang digunakan dalam
dokumen RIPB adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla)..

RENCANA INDUK

60 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Ha dan Indonesia termasuk negara yang mengalami musibah kebakaran hutan dan lahan tersebut yaitu
mencapai luasan 9,75 Ha. Pasca kejadian kebakaran hutan dan lahan yang parah pada tahun 1997/1998,
kejadian kebakaran hutan dan lahan senantiasa terjadi setiap tahun dengan intensitas yang beragam.
Kebakaran merupakan permasalahan yang terus berulang di Sumatera dan Kalimantan, dan Indonesia
secara umum. Melihat data historis antara tahun 2001 sampai 2012, Sumatera mengalami rata-rata
sekitar 20.000 peringatan titik api setiap tahunnya (dengan tingkat keyakinan deteksi lebih dari 30%).
Peningkatan titik api biasanya muncul cukup banyak di sekitar bulan Juni hingga September setiap
tahunnya, atau pada saat terjadinya musim kemarau. Enam puluh persen titik api yang diobservasi setiap
tahunnya muncul pada periode waktu 4 bulan tersebut. Kecenderungan musim kebakaran yang hampir
sama ditemukan pula di Kalimantan dengan puncak musim kebakaran terjadi diantara bulan Agustus dan
September.

Gambar 30. Titik Panas di Kalimantan dan Sumatera (2001 - Agustus 2016).

Sumber: KLHK, Kemen PPN/Bappenas, Kemenko Ekonomi. Grand Design Pencegahan Kebakaran Hutan, Kebun dan
Lahan 2017-2019.

Gambar 31. Penggunaan Lahan dan Jumlah Titik Panas di Kalimantan dan Sumatera Setiap Tahun (2000-2015).

Sumber: KLHK, Kemen PPN/Bappenas, Kemenko Ekonomi. Grand Design Pencegahan Kebakaran Hutan, Kebun dan
Lahan 2017-2019.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 61

Luasnya areal hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia hingga saat ini dipengaruhi pula oleh
karakteristik biofisik lahannya. Sebagian besar kejadian kebakaran hutan dan lahan pada 10 tahun
terakhir terjadi di lahan gambut. Lahan gambut secara alami merupakan lahan basah yang tidak
mudah terbakar, tetapi jika lahan gambut kering karena adanya drainase yang berlebihan, maka
sangat rentan terbakar. Lahan gambut yang kering juga dapat berubah sifatnya sehingga tidak dapat
kembali ke awal sehingga tingkat kerentanan terbakar semakin tinggi.Dengan demikian, aspek
kondisi lahan dan iklim menjadi aspek penting yang berpengaruh terhadap kejadian kebakaran saat
ini.

Meskipun dampak kebakaran hutan dan lahan dapat dinilai secara ekonomi, namun akibat dan risiko
yang dirasakan oleh masyarakat yang terkena dampak lebih berat dan dapat bersifat lintas generasi
seperti dampak terhadap kesehatan dan kehilangan pekerjaan. Menurut Kementerian Lingkungan
Hidup dan UNDP, kejadian kebakaran hutan dan lahan tahun 1997/1998 berdampak pada kesehatan
seperti kematian, Atsma, Bronkitis dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sementara itu dampak
kebakaran hutan dan lahan terhadap lingkungan terutama perannya dalam perubahan iklim menjadi
motor bagi munculnya dampak politik yang salahsatunya akibat dari adanya polusi kabut asap lintas
negara sehingga ada kesepakatan negara-negara ASEAN untuk mengendalikannya dalam sebuah
kesepakatan Transboundary Haze Polution.

Tabel 17. Luas Areal Terbakar dan Rerata Titik Panas di Dalam dan Luar Konsesi
Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Penggunaan Lahan Luas Rerata Titik Panas
Ha
Di dalam konsesi dan IUPHHK-HA 12,501,285 % Jumlah %
korporasi (34% luas 8,443,633 12 545 4
lahan; 45% titik panas) 8,951,386
HTI 2,791,974 8 3,297 23
Di dalam konsesi dan 2,374,943 9
korporasi (66% luas Kebun kelapa Terletak di APL 29,876,742 3 1,589 11
lahan dan 55% titik sawit (KKS) Terletak di kawasan hutan 36,851,699 2
panas) 29 750 5
Jumlah Total 101,791,661 36
Tumpang-tindih 260 2
100
APL (di luar KKS) 4,963 21

Kawasan hutan (di luar konsesi HTI dan KKS) 3,057 34

14,459 100

Sumber: KLHK, Kemen PPN/Bappenas, Kemenko Ekonomi. Grand Design Pencegahan Kebakaran Hutan, Kebun dan
Lahan 2017-2019.

Meningkatnya kekeringan memicu kasus kebakaran hutan meskipun hampir seluruh kasus kebakaran
hutan lebih disebabkan oleh faktor manusia. Kebakaran hutan meningkat tajam apabila terjadi hari
tanpa hujan di atas seminggu. Pada tahun-tahun terjadinya El Nino, kasus kebakaran lahan dan hutan
juga meningkat tajam. Sebaliknya, pada tahun-tahun La Nina atau kemarau basah, kebakaran hujan
menurun. Jumlah titik api (hot spot) di Pulau Kalimantan dan Sumatera berkolerasi kuat dengan tingkat
intensitas El Nino yang terjadi di Samudra Pasifik yang diwakili oleh suhu muka laut di wilayah Nino 3.
Besaran kolerasi meningkat pada paruh setengah tahun kedua antara Juli dan Desember.

BMKG mencatat, kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera akibat kemarau panjang terjadi pada
tahun-tahun El Nino, yakni 1997, 2002, 2004, dan 2006. Hutan gambut di Kalimantan misalnya, secara
alami mudah terbakar ketika kemarau panjang melanda kawasan tersebut.

RENCANA INDUK

62 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Potensi kerugian ekonomi sebagai dampak bahaya bencana karhutla pada 2015 mencapai Rp59.036,8
Miliar, pada 2030 jadi Rp74.468,7 Miliar (naik 26% atau Rp15.431,9 Miliar), dan pada 2045 menjadi
Rp83.795,6 Miliar (naik 42% atau Rp24.758,8 Miliar).

Potensi kerusakan lingkungan sebagai dampak bahaya bencana karhutla pada 2015 mencapai 41,9
Juta Ha, pada 2030 jadi 53,0 Juta Ha (naik 27% atau 11,2 Juta Ha), dan pada 2045 menjadi 59,7 Juta
Ha (naik 43% atau 17,9 Juta Ha).

Tabel 18. Potensi Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kebakaran Hutan dan
Lahan Tahun 2015, 2030, dan 2045

Wilayah Pulau Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan (X1000 Ha)

Sumatera 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Kalimantan 47.589,4 60.011,1 67.500,9 6.678,5 8.301,6 9.293,3
Sulawesi
Nusa Tenggara 6.158,7 7.800,1 8.770,4 10.443,0 13.610,7 15.436,8
Jawa-Bali
Maluku 4.848,3 6.142,3 6.955,8 5.263,8 6.424,2 7.167,6
Papua
Total 181,4 218,0 243,3 2.213,1 2.684,1 3.005,9

176,2 192,0 206,6 548,5 596,2 641,0

50,5 64,1 72,5 3.234,4 4.090,6 4.624,5

32,3 41,0 46,2 13.475,0 17.324,0 19.573,6

59.036,8 74.468,7 83.795,6 41.856,3 53.031,5 59.742,7

Areal karhutla mencakup wilayah di dalam kawasan hutan dan luar kawasan hutan (areal penggunaan
lain/APL), di dalam konsesi dan di luar konsesi, serta di lahan mineral dan gambut. Walaupun karhutla
terjadi hampir di seluruh daerah Indonesia, namun rata-rata frekuensi kejadian tertinggi ditemukan
di 8 (delapan) provinsi rawan karhutla, yaitu Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kalsel dan
Kaltara, yang mencakup 63 kabupaten/kota dan 731 desa14.

Berdasarkan perhitungan yang ada, kerugian finansial akibat kebakaran pada tahun 2013 diperkirakan
lebih dari Rp20 triliun. Selanjutnya, kawasan hutan dan lahan yang terbakar pada tahun 2014 seluas
60.000 ha dan lebih dari 60.000 jiwa menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta kerugian
ditaksir lebih dari Rp50 triliun. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis total kawasan
hutan dan lahan yang terbakar pada tahun 2015 seluas 2,61 juta ha. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan
mencapai Rp221 triliun (sekitar USD16 miliar), serta menyebabkan sekitar 600 ribu jiwa menderita infeksi
saluran pernafasan akut (ISPA) dan lebih dari 60 juta jiwa terpapar asap (World Bank, 2015).

Berdasarkan analisis prediksi, diperoleh gambaran bahwa titik panas pada tahun 2017-2020 berkisar
pada angka 15.000, atau separuh dari angka pada tahun 2015. Kisaran 15.000 ini disebut sebagai
business as usual (BAU). Untuk skenario penurunan karhutla dalam Grand Design ini akan memakai
dua pendekatan. Pendekatan tersebut yaitu: (1) Memastikan areal kerja gambut BRG seluas 2,4 juta
hektar tidak terbakar; dan (2) Memastikan 731 desa yang diidentifikasi oleh KLHK sebagai desa rawan
kebakaran tidak terbakar. Penurunan titik panas dengan intervensi pencegahan kebakaran di areal
prioritas BRG seluas 2,4 juta ha, maka api berkurang di wilayah Sumatera dan Kalimantan sebagai areal
utama kerja BRG. Secara total, upaya pencegahan yang dilakukan BRG akan menurunkan titik panas
sebesar 37,69%. Sementara, penurunan titik api dengan intervensi pencegahan di 585 desa yang berhasil
dicegah terjadinya kebakaran, maka titik panas dapat diturunkan sebesar 32,01% dari BAU 2017. Jika

14KLHK, Kemen PPN/Bappenas, Kemenko Ekonomi. Grand Design Pencegahan kebakaran hutan, kebun dan lahan 2017-
2019.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 63

kedua ‘Pendekatan tapak’ ini, yaitu intervensi BRG dan pencegahan kebakaran di desa rawan karhutla
disatukan maka akan menghasilkan penurunan titik panas sekitar 49,35% dari BAU 2017.

Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran
Hutan dan Lahan, penanganan karhutla mencakup 3 (tiga) aspek, yaitu pencegahan, penanggulangan
dan pemulihan. Aspek pencegahan menjadi sesuatu yang sangat penting, karena apabila telah terjadi
kebakaran sulit untuk dipadamkan dan menimbulkan kerugian yang besar. Berdasarkan hasil analisis
permasalahan dan prediksi ke depan, arah kebijakan pencegahan karhutla pada tahun 2017-2019
adalah menurunkan kejadian karhutla yang dituangkan dalam dokumen rencana dan anggaran yang
permanen/tidak ad hoc, lintas sektor, terpadu, komprehensif, cepat dan responsif, dan tepat sasaran.
Permanen berarti kebijakan yang diterapkan harus bertujuan agar fenomena karhutla tidak terulang.
Lintas sektor, yaitu harmonisasi kebijakan dan regulasi antar sektor baik ekonomi, lingkungan, sosial
maupun hukum. Terpadu mengacu bahwa kebijakan harus mencerminkan tata hubungan dan
koordinasi antar tingkat pemerintahan, baik pemerintah pusat (kementerian dan lembaga) hingga
pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) bahkan sampai ke tingkat pemerintahan terendah.
Komprehensif yaitu kebijakan yang disusun harus menawarkan solusi yang terintegrasi dan sistemik.
Cepat dan responsif berarti kebijakan penanganan karhutla harus efektif dan diselesaikan dalam
waktu cepat agar tidak menimbulkan banyak kerugian. Tepat sasaran bermakna bahwa pencegahan
dilakukan dengan menyasar pada aktor kunci dari jaringan karhutla.

3.2.9. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Bandang

Banjir bandang (flash flood) merupakan aliran air dalam jumlah besar yang mengalir dari hulu sungai
(sebagai pengirim) ke hilir (sebagai penerima) dengan kecepatan yang tinggi. Banjir bandang dibedakan
dari jenis banjir lainnya karena mempunyai arus aliran yang sangat cepat, mempunyai daya rusak
yang besar, genangan airnya cepat hilang dan membawa material lumpur yang banyak (viskositas
tinggi) serta sering disertai dengan material batu dan pepohonan. Faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya banjir bandang adalah (1) terbentuknya bendung (DAM) pada aliran sungai bagian hulu,
baik bendung yang dibentuk oleh alam, maupun oleh manusia, (2) hujan deras dengan intensitas tinggi
serta durasi waktu yang cukup lama (biasanya > 2 hari berturut-turut) di bagian hulu, (3) geometri DAS
yang menunjang (lembah sempit, gradien sungai terjal) antara bagian hulu dan hilir.

Banjir bandang merupakan banjir yang terjadi secara tiba-tiba pada wilayah dataran rendah yang
dipicu oleh curah hujan tinggi atau terdapat bendungan alam/buatan yang jebol. Kondisi ini terjadi
jika tanah menjadi sangat jenuh dengan air dan volume air tersebut tidak dapat diinfiltrasikan ke
dalam tanah, sehingga menyebabkan terjadinya luapan air dengan cepat pada sisi tebing yang akan
menyapu berbagai macam material yang terdapat di sepanjang daerah aliran. Keadaan yang terjadi
secara tiba-tiba tersebut menyebabkan peristiwa banjir bandang sangat membahayakan. Prakiraan
cuaca tentang kemungkinan terjadinya banjir perlu diperhatikan dengan seksama.

Banjir bandang dibedakan dengan banjir pada umumnya oleh kecepatan arus air, waktu genangan
yang relatif cepat hilang yaitu kurang dari 6 jam, viskositas aliran tinggi. Pada laporan Kementerian
Pekerjaan Umum dan Japan International Cooperation Agency (JICA) 2012, dan National Weather
Service Weather Forecast Office (2009) banjir yang datang tiba- tiba, umumnya terjadi di dataran
rendah dan diakibatkan oleh hujan deras terus menerus, tinggi genangan (gelombang air) antara
3-6 m (tergantung volume air di hulu dan gadien sungai, membawa material lumpur, kerikil batu
dan pepohonan serta apa saja yang disapunya dalam perjalanan air dari hulu ke hilir, serta wilayah
terdampak lebih sempit dari banjir biasa.

RENCANA INDUK

64 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Tabel 19. Potensi Jiwa Terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir Bandang
Tahun 2015, 2030, dan 2045

Wilayah Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Pulau (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)

Jawa-Bali 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Sumatera 4.475,3 5.053,9 5.494,9 18.847,0 21.255,2 23.102,4 11,2 12,5 13,5
Sulawesi 2.417,3 2.851,1 3.136,0 13.224,9 15.625,8 17.195,4 5.831,3 6.570,4 7.139,4
Nusa 146,1 175,3 193,9
Tenggara 724,5 851,3 938,2 5.000,5 5.959,1 6.603,1 4.771,6 5.587,7 6.132,9 143,0 173,2 192,7
Kalimantan 550,4 651,1 721,3 3.290,6 3.934,4 4.379,0
Papua 3.268,4 3.819,7 4.199,8 79,3 96,0 107,5
Maluku
Total 1.065,4 1.279,1 1.426,2

208,6 259,6 290,4 2.247,1 2.886,0 3.259,9 167,6 217,2 246,1 244,3 315,7 357,2
160,3 207,5 235,0 1.446,3 1.859,1 2.100,4 67,7 88,7 100,8 305,5 398,4 452,4
100,7 128,2 145,2 264,7 127,1 161,1 182,2
8.637 10.003 10.961 623,2 793,1 898,3 185,9 234,4 19.509,9 1.056,4 1.332,1 1.499,4
44.679,5 52.312,8 57.538,5 15.358,0 17.797,1

3.2.10. Proyeksi Bahaya Bencana Kekeringan

Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana alam yang terjadi secara perlahan, berlangsung lama
sampai musim hujan tiba, berdampak sangat luas dan bersifat lintas sektor (ekonomi, sosial, kesehatan,
dan pendidikan). Kekeringan merupakan bencana yang kompleks dan ditandai dengan kekurangan air
berkepanjangan.

Kekeringan merupakan salah satu problem yang sangat serius di Indonesia. Penyebab kekeringan
adalah menurunnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfer dan
laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut yang terjadi di Indonesia dan sekitarnya, di
antaranya adalah fenomena El Nino, IOD (Indian Ocean Dipole) positif, dan siklus monsun. Kekeringan
di Indonesia biasanya berhubungan dengan kejadian anomali iklim seperti El Nino dan IOD positif. Dari
43 kejadian kekeringan di Indonesia antara tahun 1884 - 1998, hanya 6 kejadian kekeringan yang tidak
berhubungan dengan fenomena El Nino yang terjadi di Samudera Pasifik.

Kekeringan di Indonesia juga dipengaruhi oleh IOD positif yang merupakan fenomena iklim regional
di Samudera Hindia. Kejadian El Nino dan IOD positif mengakibatkan berkurangnya produksi awan
dan jumlah hujan di atas wilayah Indonesia sebagai akibat dari menurunnya suhu permukaan laut di
Indonesia dan sekitarnya.

Datangnya bencana kekeringan belum dapat diperkirakan secara teliti, namun secara umum berdasarkan
statistik, terlihat adanya fenomena terjadinya kekeringan kurang lebih setiap empat atau lima tahun
sekali. Bahkan akibat semakin seringnya siklus kejadian El Nino bisa mengakibatkan semakin seringnya
terjadi kekeringan. Bencana kekeringan dapat disebabkan antara lain oleh curah hujan yang jauh dibawah
normal pada areal yang airnya telah dimanfaatkan secara maksimal atau pada musim kemarau panjang.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 65

Tabel 20. Potensi Jiwa Terpapar, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kekeringan
Tahun 2015, 2030, dan 2045.

Wilayah Pulau Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan (X1000
Ha)
Jawa-Bali
Sumatera 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Nusa Tenggara
Kalimantan 18.723,9 20.718,0 22.400,8 56.768,3 61.432,4 65.983,5 52,7 58,2 63,0
Sulawesi
Maluku 12.984,6 15.336,9 16.882,5 69.975,3 83.258,7 91.871,6 1.735,0 2.088,2 2.312,7
Papua
Total 5.294,4 6.368,3 7.106,5 9.092,3 10.924,4 12.185,0 2.109,0 2.573,0 2.888,7

4.932,4 6.515,1 7.420,9 34.628,1 45.950,7 52.415,4 16.429,1 21.786,0 24.836,7

3.947,6 4.561,8 4.993,2 15.719,7 18.228,1 19.978,6 2.051,3 2.435,8 2.691,8

2.308,7 2.923,7 3.306,6 6.473,2 8.242,4 9.337,4 3.876,6 4.920,2 5.568,3

300,0 393,2 447,2 60,2 79,9 91,3 3.566,8 4.713,2 5.376,0

48.492 56.817 62.558 192.717,0 228.116,7 251.862,7 29.820,3 38.574,5 43.737,2

3.3. PROYEKSI ANCAMAN DAN DAMPAK BENCANA MENURUT WILAYAH
DAN DAERAH

3.3.1. Proyeksi Ancaman dan Dampak Bencana Pulau Sumatera
3.3.1.1. Proyeksi Multibahaya Bencana Pulau Sumatera

Gambar 32. Peta Risiko Multi Bahaya Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

RENCANA INDUK

66 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

3.3.1.2. Proyeksi Bahaya Bencana Gempabumi Pulau Sumatera

Gambar 33. Peta Pola Ruang dan Struktur Ruang dalam Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera.

Tabel 21. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak
Gempabumi di Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Kerugian Ekonomi (Rp Miliar)
Kota 2015 2030 2045 Miliar)
2015 2030 2045
2015 2030 2045

1 Sumatera Kota Medan 2,160.74 2,443.80 2,649.72 7,525 8,510 9,227 2.75 3.11 3.37
Utara

2 Sumatera Deli 1,560.46 1,764.88 1,913.59 7,294 8,250 8,945 1,044.20 1,180.99 1,280.50

Utara Serdang

3 Sumatera Kota 902.26 1,036.31 1,131.91 7,381 8,477 9,259 101.97 117.11 127.92

Barat Padang

4 Sumatera Langkat 726.93 822.16 891.43 2,524 2,855 3,096 2,552.93 2,887.37 3,130.66
Utara

5 Sumatera Agam 476.78 547.61 598.13 3,061 3,515 3,840 2,443.59 2,806.63 3,065.55
Barat

6 Aceh Pidie 417.02 519.19 579.91 1,650 2,054 2,295 242.11 301.43 336.69

7 Sumatera Pesisir 450.00 516.85 564.53 2,879 3,306 3,611 4,436.55 5,095.67 5,565.75

Barat Selatan

8 Riau Rokan Hulu 349.33 475.91 548.20 1,454 1,981 2,282 2,460.19 3,351.65 3,860.81

9 Aceh Aceh Besar 391.17 487.01 543.97 9,834 12,243 13,675 440.68 548.66 612.83

10 Sumatera Mandailing 430.45 486.83 527.86 3,008 3,402 3,688 3,864.22 4,370.45 4,738.71

Utara Natal

Tumbukan miring antar Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia di pantai barat Sumatra dengan
kecepatan rata-rata 52 mm/tahun telah menyebabkan wilayah Sumatra menjadi salah satu zona
gempa paling aktif di dunia. Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017, di
wilayah Sumatra terdapat 55 sesar aktif yang tersebar baik di darat maupun di perairan sekitar Pulau
Sumatra. Kecepatan pergerakan (slip rate) sesar-sesar tersebut berkisar antara 0.1 – 18 mm/tahun,
dengan kisaran magnitudo gempa maksimum yang dapat dihasilkan adalah 6.5 hingga 8.2. Selain zona
sesar, wilayah Sumatra juga terancam oleh zona subduksi megathrust yang sangat aktif. Terdapat 7
zona subduksi aktif di wilayah Sumatra yang membentang sepanjang jalur pertemuan lempeng Indo-

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 67

Australia dan Eurasia di pantai barat Sumatra. Ancaman gempa dari zona-zona subduksi tersebut
berkisar antara magnitudo 7.8 sampai 9.2.
Dalam catatan sejarah selama 100 tahun terakhir, banyak gempa besar telah terjadi, baik di zona
Sesar Sumatra maupun zona subduksi megathrust. Beberapa gempa signifikan yang pernah terjadi di
wilayah Sumatra adalah gempa dan tsunami Aceh 2004 M9.1, gempa Nias 2005 8.6, gempa kembar
Bengkulu 2007 M8.5 dan M7.9, gempa Padang 2009 M7.4, gempa dan tsunami Mentawai 2010 M7.8,
dan gempa Pidie Jaya 2016 M6.5. Gempa-gempa tersebut telah menghancurkan banyak rumah dan
bangunan lainnya serta berakibat banyak korban jiwa.

Gambar 34. Peta Sumber Gempa, Subduksi, Tektonik, Katalog Gempa Wilayah Sumatera.

Sumber: PuSGeN, 2018

Bencana gempa menjadi ancaman paling tinggi di wilayah Pulau Sumatera. Ada 24.210,55 juta jiwa
terpapar bahaya gempa di seluruh Pulau Sumatera pada 2015. Dari 2015 ke 2030 ada kenaikan sebesar
0,17 % (28.245,38 juta jiwa ) dan pada 2045 naik sebesar 0,10% (30.955,54juta jiwa).
Kerugian fisik akibat bahaya gempa diperkirakan mencapai total Rp151.506 Milyar pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,17% (Rp177.903 juta jiwa dan pada 2045 jadi 0,10% (Rp 195.381milyar).

RENCANA INDUK

68 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Sejalan dengan jumlah jiwa terpapar ini, maka bisa dilihat juga tingkat kerugian fisik yang menyertainya.
Fisik disini juga berarti perumahan, infrastruktur sebagai fasilitas umum dan infrastruktur yang
berkaitan dengan sistem perekonomiannya. Secara umum, pembangunan fisik di sumatera mengikuti
pertumbuhan jumlah manusia.

Gambar 35. Peta Distribusi Penduduk terhadap Percepatan Puncak di Batuan Dasar (SB) untuk Probabilitas
Terlampaui 10% dalam 50 Tahun Pulau Sumatera.

Sumber: PuSGeN, 2018

Kerugian ekonomi akibat bahaya gempa diperkirakan mencapai total Rp90.174,02 Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,17 % (Rp 105.073,27 Milyar), dan pada 2045 jadi 0,10% (Rp 116.073,77
Milyar). Komponen ekonomi tersebut sejalan juga dengan perubahan persebaran penduduk, jumlah
penduduk, dan pusat pusat pertumbuhan ekonomi yang semakin menyebar, serta kebijakan kebijakan
perbaikan atas perekonomian.
Khusus mengenai kerusakan lingkungan akibat bahaya gempa tidak terdapat perkiraan pasti karena
data yang tidak tersedia. Adapun kota dan kabupaten yang kelihatan berpotensi dan mengalami risiko
bencana gempa lebih besar antara lain: (1) Kota Medan, (2) Deli Serdang, (3) Kota Padang, (4) Langkat,
(5) Agam, (6) Pidie, (7) Pesisir Selatan, (8) Rokan hulu, (9) Aceh Besar, dan (10) Mandailing Natal. Hal
ini diperhatikan dari kecenderungan kejadian gempa yang sebelumnya.
3.3.1.3. Proyeksi Bahaya Bencana Tsunami Pulau Sumatera
Bencana tsunami menjadi ancaman paling besar di wilayah Pulau Sumatera, khususnya di kawasan
Megathrust Mentawai15.
Megathrust Mentawai adalah bagian dari zona penunjaman Sumatera yang merupakan pertemuan antara
Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Kawasan ini merupakan daerah yang memiliki tingkat
seismisitas yang sangat tinggi dan menjadi sumber dari beberapa gempabumi besar dengan magnitudo
lebih dari 8 SR — bahkan hingga mencapai 9,3 SR — dengan periode ulang ratusan tahun. Dalam dua
abad terakhir tercatat ada empat gempabumi besar yang terjadi di zona penunjaman Sumatra, yakni

15BNPB (2012). Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 69

pada tahun 1833 dengan magnitudo 8,8–9,2 SR; pada tahun 1861 dengan magnitudo 8,3–8,5 SR; pada
tahun 2004 dengan magnitudo 9,0–9,3 SR; dan pada tahun 2005 dengan magnitudo 8,7 SR.

Beberapa penelitian terakhir mengindikasikan bahwa segmen Mentawai dari Megathrust Sumatera
kemungkinan besar akan mengalami peruntuhan (rupture) dalam beberapa dekade ke depan, karena
energi yang tertumpuk di lokasi ini sudah terlalu besar. Peruntuhan pada zona penunjaman ini dapat
memicu gempabumi besar yang berpotensi menimbulkan kerusakan parah di sebagian besar kota-kota
di Sumatera dan memicu bencana tsunami. Bencana tsunami ini akan mengancam beberapa Kabupaten/
Kota terutama di pesisir barat seperti Kota Sibolga, Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Agam,
Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Bengkulu.

Ada 798,44juta jiwa terpapar bahaya tsunami di seluruh Pulau Sumatera pada 2015. Dari 2015 ke 2030
ada kenaikan sebesar 0,19% (946,83 juta jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,10 % (1.043,12 juta jiwa).

Kerugian fisik akibat bahaya tsunami diperkirakan mencapai total Rp13,714.42 Milyar pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,20%% (Rp16,476,17 Milyar), dan pada 2045 jadi 0,11% (Rp 18.221,62). Kerugian ekonomi
akibat bahaya gempa diperkirakan mencapai total Rp1.949,89 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi
0,19% (Rp2.313,46 Milyar) dan pada 2045 jadi 0,10 % (Rp2.548,86 ). Kerusakan lingkungan akibat bahaya
tsunami diperkirakan mencapai total 32,06 Ha pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,16 % (37,17 Ha), dan
pada 2045 jadi 0,9 % (40,67Ha).

Beberapa kota di dalam data yang berpotensi dampak tsunami yang lebih tinggi antara lain: (1) Kota
Padang, (2) Pesisir Selatan (3) Aceh Besar (4) Aceh Selatan (5) Tapanuli tengah (6) Aceh Barat (7) Kota
Banda Aceh (8) Simeuleu (9) Kepulauan Mentawai dan (10) Padang Pariaman.

Tabel 22. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tsunami
di Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) Lingkungan
(X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2015 2030 2045

1 Sumatera Kota Padang 101.34 116.39 127.13 2,776.15 3,188.59 3,482.74 4.89 5.62 6.14 0.12 0.13 0.14
Barat

2 Sumatera Pesisir 62.77 72.10 78.75 289.81 332.86 363.57 211.23 242.61 265.00 2.78 3.20 3.49

Barat Selatan

3 Aceh Aceh Besar 45.93 57.19 63.87 2,415.40 3,007.22 3,358.92 24.03 29.92 33.41 0.11 0.13 0.15

4 Aceh Aceh Selatan 45.63 56.81 63.45 233.41 290.60 324.59 69.78 86.88 97.04 0.09 0.11 0.12

5 Sumatera Tapanuli 49.76 56.28 61.02 378.54 428.13 464.20 96.90 109.60 118.83 1.59 1.80 1.95

Utara Tengah

6 Aceh Aceh Barat 42.17 52.50 58.64 215.42 268.20 299.57 26.98 33.59 37.52 0.01 0.02 0.02

7 Aceh Kota Banda 40.62 50.57 56.49 150.00 186.76 208.60 - - -- - -

Aceh

8 Aceh Simeulue 37.81 47.08 52.58 527.61 656.88 733.71 308.66 384.29 429.24 2.73 3.40 3.79

9 Sumatera Kepulauan 28.53 32.77 35.80 431.17 495.22 540.91 85.36 98.04 107.09 9.08 10.43 11.39

Barat Mentawai

10 Sumatera Padang 27.13 31.15 34.03 116.82 134.17 146.55 6.60 7.58 8.28 - - -

Barat Pariaman

3.3.1.4. Proyeksi Bahaya Bencana Erupsi Gunungapi Pulau Sumatera
Bencana erupsi gunung api menjadi ancaman besar di wilayah Pulau Sumatera. Ada 365.087 juta

RENCANA INDUK

70 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

jiwa terpapar bahaya erupsi gunung api di seluruh Pulau Sumatera pada 2015. Dari 2015 ke 2030 ada
kenaikan sebesar 0,173% (428.107 juta jiwa) dan pada 2045 naik sebesar 0,098% (470.202 juta jiwa).

Kerugian fisik akibat bahaya erupsi gunung api diperkirakan mencapai total Rp 446.414 Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,193% (Rp532.659 Milyar), dan pada 2045 jadi 0,103% (Rp587,593 Milyar).

Kerugian ekonomi akibat bahaya erupsi gunung api diperkirakan mencapai total Rp0,513 Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,152% (Rp 0,591 Milyar), dan pada 2045 jadi 0,092% (Rp0,645 milyar).

Kerusakan lingkungan akibat bahaya erupsi gunung api diperkirakan mencapai total 33,043 Ha pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,187% (39,217 Ha), dan pada 2045 jadi 0,102% (43,219Ha).

Adapun kota kota yang kemungkinan terpapar lebih besar akibat erupsi gunung berapi di Sumatera
antara lain (1) Solok (2) Bener Meriah (3) Tanah Datar (4)Agam (5) Rejang Lebong (6) Karo (7) Empat
Lawang (8) Aceh Besar (9) Samosir (10) Kota Solok.

Tabel 23. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Erupsi Gunung
Api di Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) Lingkungan
(X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2015 2030 2045

1 Sumatera Solok 60.944 69.998 76.456 33.797 38.818 42.399 0.134 0.154 0.168 2.428 2.789 3.046
Barat

2 Aceh Bener 47.378 58.987 65.885 225.919 281.274 314.170 0.004 0.005 0.006 4.127 5.138 5.739
Meriah

3 Sumatera Tanah Datar 44.043 50.586 55.253 6.027 6.922 7.561 0.038 0.044 0.048 4.004 4.599 5.023
Barat

4 Sumatera Agam 40.447 46.456 50.742 4.843 5.563 6.076 0.030 0.034 0.038 2.417 2.776 3.032
Barat

5 Bengkulu Rejang 37.173 44.894 49.769 1.167 1.409 1.562 0.021 0.025 0.028 1.404 1.696 1.880
Lebong

6 Sumatera Karo 32.292 36.522 39.600 137.190 155.162 168.237 0.135 0.153 0.166 1.731 1.958 2.123
Utara

7 Sumatera Empat 22.026 25.563 27.955 22.001 25.534 27.923 0.021 0.024 0.027 1.052 1.221 1.335
Selatan Lawang

8 Aceh Aceh Besar 14.044 17.485 19.530 3.300 4.109 4.589 0.019 0.024 0.026 4.618 5.750 6.422

9 Sumatera Samosir 9.899 11.196 12.139 6.546 7.404 8.027 0.017 0.019 0.021 0.899 1.017 1.102
Utara

10 Sumatera Kota Solok 9.225 10.596 11.573 - - - - - - - - -
Barat

3.3.1.5. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Pulau Sumatera

Bencana banjir menjadi ancaman paling besar di wilayah Pulau Sumatera. Tidak sedikit kerugian jiwa
dan materil yang diperkirakan memiliki risiko bencana.

Secara mendasar bencana banjir berisiko pada terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 7,2 juta jiwa
terpapar bahaya banjir di seluruh Pulau Sumatera pada 2015. Dari 2015 ke 2030 terdapat kenaikan
sebesar 0,173% atau menjadi 8,5 juta jiwa) dan pada 2045 naik sebesar 0,059% atau menjadi 9,3 juta
jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir harus serius untuk ditangani, mengingat juga pada
perkembangan peningkatan jumlah penduduk kedepannya.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 71

Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir di wilayah Sumatera diperkirakan mencapai total
Rp22.271.456,551 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,186% atau menjadi Rp26.409.691,653
Milyar, dan pada 2045 jadi 0,102% dan menjadi Rp29.104.053,462 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya
berdampak langsung pada fasilitas sarana dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim
area perembesan air dan pengaturan infrastruktur pengairan di wilayah padat penduduk.

Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total Rp410.392,420 Milyar pada 2015,
pada 2030 naik jadi 0,197% atau menjadi Rp491.392,420 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,106% atau menjadi
Rp543.749,209 Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain
akses pada pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar dan
pusat-pusat kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat-pusat industri yang bergerak
cukup mendasar di wilayah tersebut, seperti industri, pabrik juga termasuk kawasan pertanian.

Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total 132.010,715 Ha pada 2015,
pada 2030 naik jadi 0,279% atau menjadi 168.817,736 Ha, dan pada 2045 jadi 0,133% atau menjadi
191.247,634 Ha. Persoalan lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada
lahan-lahan produktif, namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat
ketidaktepatan pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja
bahaya bencana yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan
iklim dan lainnya.

Secara menyeluruh di wilayah Sumatera risiko terbesar ada di wilayah Indra Giri Hilir (tampak menyolok)
dengan potensi risiko bencana banjir. Selanjutnya disusul oleh sepuluh daerah yang paling berisiko
terhadap bahaya banjir di wilayah Sumatera antara lain: (1) Indra Giri Hilir, (2) Tulang Bawang, (3)
Banyuasin (4) Ogan Komering Ilir, (5) Mesuji, (6) Labuhan Batu, (7) Labuhan Batu Utara, (8) Musi Banyu
Asin, (9) Muaro Jambi, dan (10) Pelalawan.

Tabel 24. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir di Pulau
Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten Jiwa Terpapar (X1000 Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan
1 Riau /Kota Jiwa) (X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045
Indragiri 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Hilir 596.40 812.50 935.93 7,789.93 10,612.62 12,224.82 8,868.06 12,081.41 13,916.74 126.55 172.40 198.59

2 Lampung Tulang 161.66 179.76 193.48 651.18 724.09 779.35 7,657.07 8,514.43 9,164.23 41.07 45.67 49.16
Bawang

3 Sumatera Banyuasin 572.25 664.14 726.29 2,021.58 2,346.17 2,565.72 5,068.77 5,882.63 6,433.13 253.91 294.67 322.25
Selatan

4 Sumatera Ogan 404.29 469.20 513.11 966.53 1,121.72 1,226.69 4,268.97 4,954.41 5,418.04 567.43 658.53 720.16
Selatan Komering
Ilir

5 Lampung Mesuji 71.74 79.77 85.86 380.18 422.75 455.02 3,327.10 3,699.64 3,981.99 16.30 18.12 19.51

6 Sumatera Labuhan 241.64 273.29 296.32 329.90 373.12 404.55 2,798.13 3,164.69 3,431.35 5.89 6.67 7.23

Utara Batu

7 Sumatera Labuhan 163.82 185.28 200.89 345.35 390.60 423.51 2,747.81 3,107.78 3,369.64 7.84 8.87 9.62

Utara Batu Utara

8 Sumatera Musi 233.78 271.31 296.70 419.20 486.51 532.03 2,327.41 2,701.11 2,953.88 105.72 122.69 134.17

Selatan Banyuasin

9 Jambi Muaro 106.38 129.53 143.74 2,374.46 2,891.08 3,208.32 1,967.21 2,395.22 2,658.05 75.57 92.01 102.11
Jambi

10 Riau Pelalawan 96.85 131.94 151.99 85.04 115.85 133.45 1,555.98 2,119.79 2,441.82 186.62 254.24 292.86

RENCANA INDUK

72 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

3.3.1.6. Proyeksi Bahaya Bencana Tanah Longsor Pulau Sumatera

Bencana tanah longsor menjadi ancaman paling besar di wilayah Pulau Sumatera. Ada 1.894,58
juta jiwa terpapar bahaya tanah longsor di seluruh Pulau Sumatera pada 2015. Dari 2015 ke 2030
ada kenaikan sebesar 0,18% menjadi 2.228,69 juta jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,10 % menjadi
(2.451,73juta jiwa).

Kerugian fisik akibat bahaya tanah longsor diperkirakan mencapai total Rp11.587,59 Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,18% atau menjadi (Rp13.674,56 Milyar), dan pada 2045 jadi 0,10%
(Rp15.055,58 Milyar).Kerugian ekonomi akibat bahaya tanah longsor diperkirakan mencapai total
Rp14.527,01Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,17% atau menjadi (Rp17.028,93), dan pada 2045
jadi 0,10% (Rp18.691,27). Kerusakan lingkungan akibat bahaya tanah longsor diperkirakan mencapai
total 7.495,85Ha pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,20% atau menjadi(8.978,10Ha), dan pada 2045 jadi
0,11% (9.922,03Ha).

Kondisi daerah yang tampak menyolok dengan potensi risiko bencana tanah longsor. Berada di Aceh
Tengah dan Selanjutnya disusul oleh Solok. Sepuluh daerah yang paling berisiko terhadap bahaya
tanah longsor di wilayah Sumatera antara lain: (1) Aceh Tengah, (2) Solok, (3) Mandailing Natal, (4)
Nias Selatan, (5) Tapanuli Selatan, (6) Kepulauan Anambas, (7) Gayo Luwes, (8)TangGamus, (9) Dauri,
dan (10) Tapanuli Utara

Tabel 25. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tanah Longsor
di Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Sumatera
Utara Mandailing 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Natal 78.17 88.41 95.86 561.79 635.38 688.92 333.97 377.72 409.55 251.34 284.26 308.21
2 Sumatera Nias Selatan
Utara 83.36 94.27 102.22 513.69 580.99 629.94 156.14 176.59 191.47 21.43 24.24 26.28
Aceh
3 Aceh Tengah 49.17 61.21 68.37 485.80 604.84 675.57 1,361.46 1,695.05 1,893.29 309.42 385.23 430.28
Solok
4 Sumatera 90.77 104.26 113.87 474.95 545.51 595.84 763.65 877.10 958.02 161.72 185.75 202.88
Barat Kepulauan
Anambas 32.11 45.06 52.80 377.41 529.57 620.49 25.84 36.25 42.48 23.47 32.93 38.59
5 Kepulauan Tapanuli
Riau Utara 43.16 48.82 52.93 341.17 385.86 418.38 381.58 431.57 467.93 89.59 101.32 109.86
Tanggamus
6 Sumatera Gayo Lues 57.85 64.33 69.24 320.95 356.88 384.12 461.08 512.71 551.84 73.03 81.20 87.40
Utara Dairi 27.56 34.31 38.32 294.97 367.24 410.19 218.29 271.78 303.56 430.33 535.78 598.43
40.84 46.19 50.08 278.23 314.68 341.20 417.71 472.43 512.24
7 Lampung Tapanuli 54.11 61.19 66.35
8 Aceh Selatan
9 Sumatera 41.09 46.47 50.39 259.58 293.58 318.32 524.09 592.75 642.69 157.41 178.03 193.03

Utara
10 Sumatera

Utara

3.3.1.7. Proyeksi Bahaya Bencana Gelombang Ekstrim dan Abrasi Pulau Sumatera

Bencana gelombang ekstrim dan abrasi menjadi ancaman paling besar di wilayah Pulau Sumatera.
Diperkirakan 135.224,51 juta jiwa terpapar bahaya gelombang ekstrim dan abrasi di seluruh Pulau
Sumatera pada 2015. Dari 2015 ke 2030 ada kenaikan sebesar 0,16%% (156.323,48juta jiwa) dan pada
2045 naik sebesar 0,09% (170.591,09 juta jiwa).

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 73

Kerugian fisik akibat bahaya gelombang ekstrim dan abrasi diperkirakan mencapai total Rp4.370,70
Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,23% (Rp5.366,02), dan pada 2045 jadi 0,11% (Rp5.970,31).
Kerugian ekonomi akibat bahaya gelombang ekstrim dan abrasi diperkirakan mencapai total Rp
342.03Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,20% (Rp411.26 Milyar), dan pada 2045 jadi 0,11%
(Rp454,79 Milyar).

Kerusakan lingkungan akibat bahaya gelombang ekstrim dan abrasi diperkirakan mencapai total
225,62Ha pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,25% (281,94 Ha), dan pada 2045 jadi 0,12% (316,48 Ha).
Secara mencolok potensi risiko bencana gelombang ekstrim dan abrasi terdapat di aceh Sekatan,
selanjutnya disusul oleh Simeuleu.

Sepuluh daerah yang paling berisiko terhadap bahaya gelombang ekstrim dan abrasi di wilayah
Sumatera antara lain: (1) Aceh Selatan, (2) Simeuleu, (3) Pesisir Barat, (4) Nias Selatan, (5) Kepulauan
Mentawai, (6) Aceh Jaya, (7) Pesisir Selatan, (8) Aceh Besar, (9) Aceh Singkil, dan (10) Seluma.

Tabel 26. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Gelombang
Ekstrim dan Abrasi di Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)

1 Aceh Simeulue 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
10.61 13.21 14.76 92.27 114.88 128.31 120.03 149.44 166.92 4.40 5.48 6.12
2 Lampung Pesisir Barat 21.61 24.03 25.86 133.01 147.90 159.19 1.04 1.15 1.24
13.14 15.87 17.59 45.96 51.10 55.00 0.00 0.00 0.00
3 Bengkulu Seluma 1.91 2.31 2.56 93.64 107.55 117.47 32.03 38.68 42.88
15.49 17.79 19.44 31.86 36.59 39.97 10.34 11.88 12.97
4 Sumatera Kepulauan

Barat Mentawai

5 Sumatera Pesisir 14.55 16.71 18.26 60.42 69.40 75.80 24.60 28.25 30.86 1.95 2.24 2.45

Barat Selatan

6 Aceh Aceh Selatan 22.60 28.14 31.43 193.18 240.51 268.64 17.00 21.16 23.63 0.40 0.49 0.55
6.08 7.57 8.45 42.00 52.30 58.41 13.24 16.48 18.41 1.38 1.72 1.92
7 Aceh Aceh Besar 6.38 7.94 8.87 37.12 46.21 51.61 11.83 14.72 16.45 2.64 3.29 3.68
4.78 5.95 6.64 53.80 66.98 74.81 11.82 13.20 0.51 0.63 0.71
8 Aceh Aceh Singkil 9.49 11.09 12.54 13.60
17.04 19.27 20.89 107.12 121.16 131.36 5.78 6.53 7.08
9 Aceh Aceh Jaya

10 Sumatera Nias Selatan
Utara

3.3.1.8. Proyeksi Bahaya Bencana Cuaca Ekstrim Pulau Sumatera

Bencana cuaca ekstrim menjadi ancaman paling besar di wilayah Pulau Sumatera. Ada 17.839.030,82
juta jiwa terpapar bahaya cuaca ekstrim di seluruh Pulau Sumatera pada 2015. Dari 2015 ke 2030 ada
kenaikan sebesar 0,20 % ( 21.440.752,46juta jiwa) dan pada 2045 naik sebesar 0,10 % (23.768.055,42
juta jiwa). Kerugian fisik akibat bahaya cuaca ekstrim diperkirakan mencapai total Rp 9.190,55 Milyar
pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,19% (Rp 11.004,05Milyar), dan pada 2045 jadi 0,10% (Rp12.161,19
Milyar.).

Kerugian ekonomi akibat bahaya cuaca ekstrim diperkirakan mencapai total Rp17.148,76Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,15% (Rp19.741,93 Milyar), dan pada 2045 jadi 0,08% (Rp21.517,71).

Sepuluh daerah yang paling berisiko terhadap bahaya cuaca ekstrim di wilayah Sumatera antara lain:
(1) Indragiri Hilir, (2) Rokan Hilir, (3) Banyuasin,(4) Rokan Hilir,(5) Musi Banyuasin,(6) Indra Giri Hulu (7)
Pidie (8) Tebo, (9) Tapanuli Tengah dan (10) Batang Hari.

RENCANA INDUK

74 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Tabel 27. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Cuaca Ekstrim
di Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar)
Kota
1 Riau 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Indragiri Hilir 697.19 949.82 1,094.11 345.90 471.23 542.82 5.46 7.44 8.57
2 Riau Rokan Hilir
Tapanuli 639.00 870.54 1,002.79 264.74 360.67 415.46 1.08 1.47 1.69
3 Sumatera Tengah
Utara Kota 336.55 380.64 412.71 252.74 285.85 309.94 0.72 0.82 0.89
Palembang
4 Sumatera Batang Hari 1,579.31 1,832.89 2,004.41 143.70 166.77 182.37 0.00 0.00 0.00
Selatan Musi Banyuasin
259.51 315.97 350.64 110.79 134.90 149.70 0.18 0.22 0.24
5 Jambi Banyuasin
607.76 705.34 771.35 105.14 122.02 133.44 2.38 2.77 3.02
6 Sumatera Tebo
Selatan Pidie 810.65 940.81 1,028.86 92.35 107.17 117.20 2.96 3.44 3.76
Indragiri Hulu
7 Sumatera 329.96 401.75 445.84 69.28 84.35 93.61 1.13 1.38 1.53
Selatan
416.78 518.90 579.59 59.46 74.03 82.69 0.07 0.09 0.10
8 Jambi
408.74 556.84 641.44 52.04 70.89 81.66 0.42 0.57 0.66
9 Aceh

10 Riau

3.3.1.9. Proyeksi Bahaya Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Pulau Sumatera

Bencana karhutla menjadi ancaman paling besar di wilayah Pulau Sumatera. Di dalam perhitungannya,
maka tidak didapat kerugian jiwa akibat Karhutla. Demikian juga dengan data kerugian fisik yang
umumnya penghitungan pada bangunan Insfrastruktur.

Kerugian ekonomi akibat bahaya karhutla diperkirakan mencapai total Rp47.589,45Milyar pada 2015,
pada 2030 naik jadi 0,26% (Rp60.011,10), dan pada 2045 jadi 012 % (Rp67,500,86 Milyar ).

Kerusakan lingkungan akibat bahaya karhutla diperkirakan mencapai total 6.678,53 Ha pada 2015,
pada 2030 naik jadi 0,24 % ( 8.301,65Ha), dan pada 2045 jadi 0,12 % ( 9.293,33 Ha).

Sepuluh daerah yang paling berisiko terhadap bahaya karhutla di wilayah Sumatera antara lain: (1)
Indra Giri Hilir, (2) Muara Jambi, (3) Rokan Hilir, (4) Palalawan, (5) Labuhan Batu, (6) Indragiri Hulu, (7)
Labuhan Batu Utara, (8) Bengkalis, (9) Labuhan Batu selatan, dan (10) Siak.

Tabel 28. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kebakaran
Hutan dan Lahan di Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Kota Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan (X1000 Ha)

1 Riau Indragiri Hilir 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Jambi Muaro Jambi 8,811.47 12,004.32 13,827.93 185.37 252.53 290.90
3 Riau Rokan Hilir
4 Riau Pelalawan 4,311.38 5,249.41 5,825.43 99.89 121.62 134.96
5 Sumatera Utara Labuhan Batu
6 Riau Indragiri Hulu 3,280.54 4,469.25 5,148.19 263.18 358.54 413.00
7 Sumatera Utara Labuhan Batu Utara
8 Riau Bengkalis 2,835.83 3,863.40 4,450.30 249.94 340.50 392.23
9 Sumatera Utara Labuhan Batu Selatan
10 Riau Siak 3,485.24 3,941.82 4,273.96 8.98 10.16 11.02

2,517.40 3,429.58 3,950.58 155.28 211.55 243.69

2,639.42 2,985.19 3,236.73 21.77 24.62 26.69

1,573.22 2,143.27 2,468.86 216.56 295.03 339.85

1,912.25 2,162.76 2,345.00 5.91 6.69 7.25

1,276.21 1,738.65 2,002.77 149.43 203.57 234.50

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 75

3.3.1.10. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Bandang Pulau Sumatera

Bencana banjir Bandang menjadi ancaman paling besar di wilayah Pulau Sumatera. Yang
mengakibatkan kerugian jiwa dan materil yang diperkirakan memiliki risiko bencana. Secara mendasar
bencana banjir berisiko pada terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 2,4 juta jiwa terpapar bahaya
banjir bandang di seluruh Pulau Sumatera pada 2015. Dari 2015 ke 2030 ada kenaikan sebesar
0,18% (2,9 juta jiwa) dan pada 2045 naik sebesar 0,10% (3,3 juta jiwa).

Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total Rp13.224,85
Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,18% (Rp17.145,38), dan pada 2045 jadi 0,10% (Rp17.145,38
Milyar). Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada fasilitas sarana dan prasarana fisik di
wilayah yang padat penduduk, minim area perembesan air dan pengaturan infrastruktur pengairan
di wilayah padat penduduk.

Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total Rp4,771,63 Milyar
pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,17% (Rp5.587,68 Milyar), dan pada 2045 jadi 0,09% (Rp6.137.87
Milyar). Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain akses pada
pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar dan pusat
pusat kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat pusat Industri yang bergerak
cukup mendasar di wilayah tersebut, seperti Industri, Pabrik juga termasuk kawasan pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total 146,07 Ha pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,20% (175,29 Ha), dan pada 2045 jadi 0,10% (193,91 Ha).

Persoalan lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan
lahan produktif, namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat
ketidaktepatan pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja
bahaya yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan
iklim dan lainnya. Secara menyeluruh di Sumatera risiko terbesar ada di (1) Kota Medan tampak
menyolok dengan potensi risiko bencana banjir bandang lebih tinggi dari lain lainnya. Selanjutnya
disusul oleh (2) Kota Padang, (3) Pesisir Selatan, (4) Deli Serdang , (5) Pidie, (6) Tapanuli tengah, (7)
Toba Samosir, (8) Muara Enim, (9) Aceh Tenggara dan (10) Lampung Barat.

Tabel 29. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir
Bandang di Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
No. Provinsi (X1000 Jiwa)
2015 2030 2045
2015 2030 2045 2015 2030 2045 0.11 0.12 0.13 2015 2030 2045

1 Sumatera Kota Medan 221.66 250.70 271.83 965.60 1,092.10 1,184.12 -- -
Utara

2 Sumatera Kota Padang 164.18 188.57 205.96 613.33 704.45 769.44 16.99 19.52 21.32 0.60 0.68 0.75
Barat

3 Sumatera Pesisir 103.84 119.26 130.27 508.38 583.91 637.78 309.97 356.02 388.86 4.00 4.60 5.02

Barat Selatan

4 Sumatera Deli Serdang 86.25 97.55 105.77 360.83 408.10 442.49 48.59 54.95 59.58 0.16 0.18 0.19
Utara

5 Aceh Pidie 50.54 62.93 70.29 289.97 361.02 403.24 24.00 29.88 33.37 0.40 0.49 0.55
289.38 327.28 354.86 132.25 149.58 162.18 1.75 1.98 2.14
6 Sumatera Tapanuli 36.04 40.76 44.20

Utara Tengah

7 Sumatera Toba 3.14 3.55 3.85 278.22 314.67 341.19 9.84 11.13 12.07 0.47 0.53 0.57

Utara Samosir

RENCANA INDUK

76 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi (Rp Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar)
No. Provinsi 2015 2030 2045 Miliar) (X1000 Ha)
58.47 67.86 74.21
8 Sumatera Muara Enim 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Selatan 29.16 36.31 40.55 276.06 320.39 350.37 9.79 11.36 12.43 0.53 0.62 0.67

9 Aceh Aceh 4.92 5.48 5.89 272.08 338.75 378.37 33.84 42.13 47.06 0.15 0.19 0.21
Tenggara

10 Lampung Lampung 271.83 302.27 325.34 79.94 88.90 95.68 0.45 0.50 0.54
Barat

3.3.1.11. Proyeksi Bahaya Bencana Kekeringan Pulau Sumatera

Bencana kekeringan menjadi ancaman paling besar di wilayah Pulau Sumatera. Ada 47.204.34 juta jiwa
terpapar bahaya kekeringan di seluruh Pulau Sumatera pada 2015. Dari 2015 ke 2030 ada kenaikan
sebesar 0,21 % (57.216.02 juta jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,11 % (63.457,42 juta jiwa). Tidak
terdapat data Kerugian fisik akibat bahaya kekeringan di sematera.

Kerugian ekonomi akibat bahaya kekeringan diperkirakan mencapai total Rp69.957,32 Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,19% (Rp91.871,60 Milyar), dan pada 2045 jadi 0,10% (Rp91,871,60 ).
Kerusakan lingkungan akibat bahaya kekeringan diperkirakan mencapai total 2.248,46 Ha pada 2015,
pada 2030 naik jadi 0,25% (2.808,68Ha), dan pada 2045 jadi 0,12% (3.156,91 Ha).

Sepuluh daerah yang paling berisiko terhadap bahaya karhutla di wilayah Sumatera antara lain: (1)
Tulang Bawang, (2) Kampar, (3) Siak, (4) Simalungun, (5) Deli Serdang, (6) Mesuji, (7) Ogan Komering
Iir, (8) Banyu Asin, (9) Seluma, dan (10) Dharma Sraya.

Tabel 30. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kekeringan
di Pulau Sumatera Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan (X1000 Ha)
Kota
1 Lampung 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Tulangbawang 281.75 313.29 337.20 48.49 53.92 58.03
2 Riau Kampar 13,578.55 15,098.95 16,251.26
Siak
3 Riau Simalungun 602.14 820.32 944.94 8,424.38 11,476.96 13,220.46 22.59 30.78 35.46

4 Sumatera 164.28 223.80 257.80 2,784.66 3,793.68 4,369.99 5.75 7.83 9.02
Utara
467.00 528.18 572.68 3,391.18 3,835.44 4,158.62 48.92 55.32 59.98
5 Sumatera
Utara Deli Serdang 1,844.16 2,085.75 2,261.50 2,905.05 3,285.62 3,562.47 25.63 28.99 31.43

6 Lampung Mesuji 46.47 51.67 55.62 2,700.10 3,002.44 3,231.57 4.41 4.90 5.27
109.05 126.56 138.40 2,468.11 2,864.39 3,132.45 285.76 331.64 362.68
7 Sumatera Ogan Komering
Selatan Ilir 131.11 152.16 166.40 2,135.93 2,478.88 2,710.85 67.66 78.53 85.88

8 Sumatera Banyuasin
Selatan
Seluma 120.63 145.68 161.50 1,938.42 2,341.01 2,595.23 83.95 101.38 112.39
9 Bengkulu Dharmasraya 52.07 59.81 65.32 2,035.76 2,338.21 2,553.91 11.28 12.95 14.15

10 Sumatera
Barat

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 77

3.3.2. Proyeksi Ancaman dan Dampak Bencana Pulau Jawa-Bali
3.3.2.1. Proyeksi Multibahaya Bencana Pulau Jawa Bali

Gambar 36. Peta Risiko Multi Bahaya Wilayah Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.

RENCANA INDUK

78 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

3.3.2.2. Proyeksi Bahaya Bencana Gempabumi Pulau Jawa Bali

Gambar 37. Peta Pola Ruang dan Struktur Ruang dalam Rencana Tata Ruang Pulau Jawa Bali.

Pola subduksi pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia dari yang semula miring di
barat Pulau Sumatra berubah menjadi hampir tegak lurus di selatan Pulau Jawa dan Pulau Bali. Hal
ini menyebabkan tatanan tektonik wilayah Jawa dan Bali tidak sekompleks wilayah Sumatra. Namun,
berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 wilayah Jawa dan Bali mengalami
peningkatan dalam jumlah sesar aktif dalam kurun waktu satu windu ke belakang, yaitu dari yang
semula hanya 5 sesar menjadi 37 sesar. Kecepatan pergerakan (slip rate) sesar-sesar tersebut berkisar
antara 0.1 – 2 mm/tahun dan dapat berpotensi menimbulkan gempa dengan magnitudo berkisar
antara 6.5 hingga 6.8.

Rekaman seismisitas di zona subduksi wilayah Jawa dan Bali menunjukkan bahwa wilayah ini lebih
tenang dibandingkan dengan Sumatra, walaupun gempa besar yang mengakibatkan tsunami juga
pernah terjadi di wilayah Jawa, di antaranya gempa Mw 7.8 di Jawa Timur pada tahun 1994 dan Mw
7.8 di Pangandaran pada tahun 2006. Selain itu juga terdapat peristiwa gempa dangkal merusak yang
bersumber dari darat salah satunya adalah Gempa Yogyakarta 2006 M5.9. Disebabkan padatnya
permukiman di Jawa, gempa-gempa ini menimbulkan dampak yang cukup merusak.

Tabel 31. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Gempabumi
di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar)
Kota
1 Jawa Barat 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Jawa Barat Kota Bandung 20.19 23.85 26.26
3 Jawa Barat Bandung 2,478.28 2,928.42 3,223.65 14,171.29 16,745.32 18,433.47
4 Banten Sukabumi
5 Jawa Barat Tangerang 2,089.32 2,468.82 2,717.71 6,369.78 7,526.77 8,285.57 828.32 978.77 1,077.44
6 Jawa Barat Cianjur
7 Banten Bandung Barat 1,988.80 2,350.04 2,586.95 6,707.42 7,925.74 8,724.76 2,589.45 3,059.79 3,368.26
8 Banten Kota Tangerang
Kota Tangerang 1,594.66 2,027.71 2,274.11 4,032.90 5,128.08 5,751.25 226.29 287.74 322.71
9 Daerah Selatan
Istimewa Bantul 1,376.89 1,626.98 1,791.00 3,900.95 4,609.51 5,074.21 1,225.17 1,447.70 1,593.65
Yogyakarta
Kediri 1,179.98 1,394.31 1,534.88 3,760.99 4,444.13 4,892.16 340.09 401.86 442.37
10 Jawa Timur
982.31 1,249.07 1,400.85 2,546.56 3,238.11 3,631.60 -- -

820.13 1,042.85 1,169.58 2,016.63 2,564.27 2,875.88 0.19 0.25 0.28

915.76 1,050.42 1,150.94 3,004.69 3,446.50 3,776.32 436.68 500.89 548.82

1,004.66 1,062.33 1,131.03 2,608.67 2,758.40 2,936.80 826.24 873.67 930.17

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 79

Gambar 38. Peta Sumber Gempa Darat, Sumber Gempa Subduksi, Tektonik, Katalog Gempa Wilayah Jawa Bali.

Sumber: PuSGeN, 2018
Gambar 39. Peta Risiko Distribusi Penduduk terhadap Percepatan Puncak di Batuan Dasar di Pulau Jawa

dan Peta Risiko Penduduk Terpapar Bahaya 1 Km dari Sesar Permukaan di Wilayah Jawa Bali.

Sumber: PuSGeN, 2018
RENCANA INDUK

80 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

Gambar 40. Peta Risiko Distribusi Penduduk terhadap Percepatan Puncak di Batuan Dasar di Pulau Jawa dan Peta
Risiko Distribusi Penduduk terhadap Percepatan Puncak di Batuan Dasar untuk Determinastik Sesar Pulau Jawa.

Sumber: PuSGeN, 2018

3.3.2.3. Proyeksi Bahaya Bencana Tsunami Pulau Jawa Bali
Kawasan Selat Sunda dan Jawa Bagian Selatan16
Selat Sunda terletak pada kawasan transisi antara segmen Sumatera dan segmen Jawa dari Busur
Sunda, yang juga merupakan daerah di Indonesia yang sangat aktif dalam hal aktivitas vulkanik,
kegempaan dan pergerakan tektonik vertikal. Letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883
terjadi di tengah Selat Sunda dan memicu tsunami di pesisir Lampung bagian selatan serta bagian
utara dan barat Banten. Sementara itu, dalam hal zona penunjaman di selatan Pulau Jawa, segmen
Jawa dari Busur Sunda yang memanjang dari Selat Sunda sampai Cekungan Bali di Timur. Tercatat
tiga gempabumi besar terjadi di zona ini pada tahun 1840, 1867, dan 1875. Dalam tiga ratus tahun
terakhir belum ada gempabumi Megathrust dengan skala sebesar gempabumi tahun 1833 dan 1861
di Sumatra yang terjadi di kawasan ini.
Bila terjadi gempabumi besar di segmen Megathrust Selat Sunda, daerah yang paling terancam
tsunami adalah kawasan industri di Kota Cilegon. Bila kawasan industri di kota ini terkena tsunami,
dikhawatirkan akan terjadi bencana susulan dalam bentuk kegagalan teknologi seperti penyebaran
bahan kimia berbahaya yang dapat mengancam masyarakat. Sementara itu, gempabumi besar yang
terjadi di zona penunjaman di Jawa bagian selatan dikhawatirkan akan memicu tsunami yang dapat
menimpa daerah Pantai Pangandaran, daerah Cilacap dengan kilang-kilang minyaknya, dan pantai-
pantai lain di selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

16BNPB (2012). Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami.

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 81

Daerah-daerah yang termasuk dalam Provinsi Bali juga memiliki tingkat aktivitas gunungapi dan
gempabumi yang tinggi. Pada tahun 1816 tercatat ada kejadian gempabumi dan tsunami di Bali yang
menelan korban 10.253 korban tewas dan berulang kembali pada tahun 1917 dengan korban lebih
dari 1.300 jiwa.

Tabel 32. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tsunami
di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)

2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
26.67 30.61 33.55 2.08 2.38 2.61 0.10 0.11 0.12
1 Bali Kota 2,515.63 2,886.72 3,164.34
Denpasar

2 Jawa Cilacap 86.15 93.74 100.95 2,664.11 2,898.98 3,121.92 352.14 383.18 412.65 0.98 1.07 1.15
Tengah

3 Jawa Banyuwangi 97.74 103.35 110.03 2,669.64 2,822.87 3,005.44 273.45 289.15 307.85 0.94 0.99 1.06
Timur

4 DKI Kepulauan 15.21 16.90 18.21 839.30 932.66 1,004.88 591.82 657.65 708.58 0.06 0.07 0.07

Jakarta Seribu

5 Banten Pandeglang 107.37 136.52 153.11 524.46 666.88 747.92 181.01 230.16 258.13 1.00 1.27 1.42
56.87 65.25 71.53 419.46 481.33 527.62 91.41 104.89 114.98 0.16 0.18 0.19
6 Bali Buleleng 43.34 51.21 56.38 352.23 416.20 458.16 98.93 116.89 128.68 0.03 0.04 0.04

7 Jawa Sukabumi
Barat

8 Banten Kota Cilegon 13.31 16.93 18.99 272.64 346.68 388.80 0.76 0.97 1.08 0.01 0.01 0.02
9.97 10.54 11.22 280.75 296.86 316.06 42.43 44.86 47.76 0.00 0.00 0.00
9 Jawa Pacitan
Timur

10 Jawa Pangandaran 20.72 24.48 26.95 186.99 220.95 243.23 31.71 37.46 41.24 0.08 0.10 0.11
Barat

3.3.2.4. Proyeksi Bahaya Bencana Erupsi Gunungapi Pulau Jawa Bali

Tabel 33. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan
Lingkungan Dampak Erupsi Gunung Api di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Jawa
Tengah Boyolali 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
70.44 76.65 82.55 223.48 243.18 261.88 0.53 0.57 0.62 0.48 0.53 0.57
2 Bali Karang Asem
Magelang 150.87 173.12 189.77 199.88 229.36 251.42 1.31 1.51 1.65 3.30 3.79 4.15
3 Jawa 135.97 147.95 159.33 194.77 211.94 228.24 2.01 2.18 2.35 0.62 0.67 0.73
Tengah Cianjur
Bogor 114.02 134.73 148.31 193.38 228.50 251.54 0.28 0.33 0.37 2.46 2.90 3.20
4 Jawa Barat Garut 111.73 132.02 145.33 182.15 215.24 236.94 0.08 0.09 0.10 3.05 3.60 3.96
Temanggung 455.33 538.03 592.28 173.02 204.45 225.06 0.43 0.51 0.56 2.17 2.57 2.82
5 Jawa Barat 196.60 213.93 230.38 152.55 166.00 178.76 0.43 0.47 0.50 2.26 2.46 2.65
Sleman
6 Jawa Barat 54.26 62.24 68.19 117.68 134.99 147.91 0.78 0.89 0.98 0.46 0.52 0.57
Wonosobo
7 Jawa 166.83 181.53 195.49 93.95 102.23 110.09 0.52 0.57 0.61 1.54 1.68 1.81
Tengah Banjarnegara 25.69 27.96 30.11 57.90 63.01 67.85 0.09 0.09 0.10
0.06 0.07 0.07
8 Daerah
Istimewa
Yogyakarta

9 Jawa
Tengah

10 Jawa
Tengah

RENCANA INDUK

82 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045

3.3.2.5. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Pulau Jawa Bali

Untuk wilayah Jawa dan Bali, bencana banjir menjadi ancaman paling besar di daerah Indramayu, Tidak
sedikit kerugian jiwa dan materil yang diperkirakan memiliki risiko bencana banjir, juga di beberp wilayah
lainnya. Secara mendasar bencana banjir berisiko pada terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 62,0
juta jiwa terpapar bahaya banjir di seluruh Pulau Jawa dan Bali pada 2015. Dari 2015 ke 2030 terdapat
kenaikan sebesar 0,12% atau menjadi 69,4 juta jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,08% atau menjadi
75,2 juta jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir harus serius untuk ditangani, mengingat
juga pada perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.

Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir di Jawa Bali diperkirakan mencapai total Rp64.891,
27 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,11% atau menjadi Rp71.918,34 Milyar, dan pada 2045 jadi
0,08% atau menjadi Rp77.745.80 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada fasilitas
sarana dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air dan pengaturan
infrastruktur pengairan di wilayah padat penduduk.

Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total Rp57.733,36 Milyar pada 2015,
pada 2030 naik jadi 0,12% atau menjadi Rp64.931,34 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,09% atau menjadi
Rp70.501,52 Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain
akses pada pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar dan
pusat-pusat kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat-pusat industri yang bergerak
cukup mendasar di wilayah tersebut, seperti industri, pabrik juga termasuk kawasan pertanian.

Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total 47,53 Ha pada 2015, pada 2030
naik jadi 0,13% atau menjadi 53.92 Ha, dan pada 2045 jadi 0,09% atau menjadi 58,69 Ha. Persoalan
lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan-lahan produktif,
namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat ketidaktepatan
pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja bahaya bencana
yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan iklim dan lainnya.
Secara menyeluruh di Jawa Bali risiko terbesar ada di wilayah (1) Indramayu (tampak menyolok) disusul
dengan (2) Sidoarjo dengan potensi risiko bencana banjir. Selanjutnya disusul oleh (3) Karawang (4) Kota
Surabaya, (5) Bekasi, (6) Cirebon, (7) Tanggerang, (8) Kota jakarta Utara, (9) Kota Jakarta Barat, dan (10)
Kota Jakarta Timur.

Tabel 34. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir
di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.

No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
(X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)

2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
49.29 52.12 55.49 0.02 0.02 0.02
1 Jawa Timur Kota Surabaya 2,684.90 2,839.00 3,022.62 5,548.59 5,867.05 6,246.50

2 Jawa Barat Bekasi 2,232.60 2,638.12 2,904.08 1,838.62 2,172.58 2,391.61 2,938.38 3,472.10 3,822.13 4.35 5.14 5.66

3 Banten Tangerang 2,122.28 2,698.61 3,026.54 1,704.63 2,167.54 2,430.94 640.25 814.12 913.06 0.77 0.98 1.10

4 Jawa Timur Sidoarjo 2,101.56 2,222.18 2,365.90 8,215.58 8,687.12 9,248.95 357.45 377.97 402.41 0.61 0.64 0.68

5 DKI Jakarta Kota Jakarta Barat 1,990.51 2,211.91 2,383.19 549.63 610.77 658.06 0.06 0.07 0.07 -- -

6 Jawa Barat Karawang 1,901.43 2,246.80 2,473.31 2,090.63 2,470.36 2,719.41 5,283.52 6,243.20 6,872.60 7.46 8.81 9.70

7 DKI Jakarta Kota Jakarta Utara 1,621.01 1,801.31 1,940.80 983.17 1,092.53 1,177.13 3.50 3.89 4.19 -- -

8 Jawa Barat Cirebon 1,575.27 1,861.40 2,049.05 1,429.01 1,688.57 1,858.81 1,988.96 2,350.23 2,587.16 0.00 0.00 0.00

9 Jawa Barat Indramayu 1,568.70 1,853.64 2,040.51 2,235.08 2,641.05 2,907.30 7,720.47 9,122.80 10,042.50 6.43 7.60 8.37

10 DKI Jakarta Kota Jakarta Timur 1,535.15 1,705.90 1,838.00 734.00 815.65 878.81 0.61 0.68 0.74 -- -

RENCANA INDUK

PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 83


Click to View FlipBook Version