3.3.2.6. Proyeksi Bahaya Bencana Tanah Longsor Pulau Jawa Bali
Tabel 35. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tanah Longsor
di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045
463.54 547.73 602.95 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
56.19 66.40 73.09
1 Jawa Garut 342.98 405.28 446.14 1,904.22 2,250.09 2,476.93 3,285.54 3,882.31 4,273.70
Barat Cianjur
Sukabumi 340.15 401.94 442.46 1,483.92 1,753.46 1,930.23 3,829.56 4,525.15 4,981.34 28.42 33.58 36.97
2 Jawa Tasikmalaya
Barat Bogor 269.49 318.44 350.54 1,280.23 1,512.77 1,665.28 1,862.16 2,200.39 2,422.22 20.32 24.01 26.43
Pacitan
3 Jawa Bandung 302.49 357.44 393.47 1,223.45 1,445.68 1,591.42 1,337.67 1,580.64 1,739.99 17.82 21.06 23.18
Barat Barat
Bandung 243.89 257.89 274.57 1,051.00 1,241.90 1,367.10 1,077.48 1,273.19 1,401.55 28.78 34.01 37.43
4 Jawa Trenggalek
Barat Lebak 285.49 337.34 371.35 1,145.04 1,210.76 1,289.06 1,156.94 1,223.35 1,302.47 0.11 0.12 0.12
5 Jawa 282.58 333.91 367.57 978.72 1,156.50 1,273.09 595.96 704.20 775.20 11.35 13.41 14.76
Barat
213.96 226.24 240.88 903.86 1,068.03 1,175.70 1,124.01 1,328.18 1,462.07 27.26 32.21 35.46
6 Jawa
Timur 150.53 191.41 214.67 934.49 988.13 1,052.04 811.59 858.17 913.67 12.77 13.51 14.38
7 Jawa 692.51 880.57 987.58 2,198.47 2,795.50 3,135.20 10.83 13.77 15.44
Barat
8 Jawa
Barat
9 Jawa
Timur
10 Banten
3.3.2.7. Proyeksi Bahaya Bencana Gelombang Ekstrim dan Abrasi Pulau Jawa Bali
Tabel 36. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan
Lingkungan Dampak Gelombang Ekstrim dan Abrasi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) Lingkungan
(X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
1 Jawa Rembang 43.66 47.51 51.16 407.86 443.82 477.95 2.54 2.76 2.97 - --
Tengah
2 Jawa Jepara 16.63 18.10 19.49 284.80 309.91 333.75 16.72 18.19 19.59 1.19 1.29 1.39
Tengah
3 Jawa Gresik 20.72 21.91 23.33 288.03 304.57 324.26 7.19 7.60 8.09 0.09 0.10 0.10
Timur
4 Jawa Batang 3.02 3.29 3.54 261.43 284.48 306.35 10.43 11.35 12.23 0.32 0.35 0.38
Tengah
5 Bali Buleleng 36.85 42.28 46.35 148.00 169.83 186.16 34.67 39.79 43.61 0.42 0.48 0.53
6 Jawa Sumenep 102.58 108.47 115.48 79.18 83.72 89.14 24.79 26.22 27.91 3.43 3.63 3.86
Timur
7 Jawa Bangkalan 44.08 46.61 49.63 70.41 74.45 79.27 15.77 16.68 17.76 0.23 0.24 0.25
Timur
8 Jawa Cilacap 12.70 13.82 14.88 58.68 63.86 68.77 32.99 35.90 38.66 0.40 0.43 0.47
Tengah
9 Banten Lebak 10.16 12.92 14.49 47.80 60.78 68.17 38.30 48.70 54.62 0.01 0.02 0.02
10 Jawa Tegal 12.55 13.66 14.71 53.09 57.77 62.21 9.00 9.79 10.55 0.01 0.01 0.01
Tengah
RENCANA INDUK
84 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.2.8. Proyeksi Bahaya Bencana Cuaca Ekstrim Pulau Jawa Bali
Tabel 37. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Cuaca Ekstrim
di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp
Miliar)
1 Banten Tangerang
2 Jawa Pati 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
3,452.71 4,390.34 4,923.86 267.58 340.25 381.60 3.81 4.84 5.43
Tengah Karawang 1,193.93 1,299.19 1,399.10 300.38 326.86 352.00
3 Jawa Barat Kota Jakarta 19.57 21.30 22.93
4 DKI Jakarta Utara
Demak 2,268.56 2,680.61 2,950.85 168.71 199.35 219.45 590.38 697.62 767.95
5 Jawa 1,742.50 1,936.32 2,086.26 149.20 165.79 178.63 0.43 0.48 0.51
Tengah Gresik
Sidoarjo 1,113.85 1,212.05 1,305.26 87.00 94.67 101.95 15.11 16.45 17.71
6 Jawa Timur Kota Surabaya
7 Jawa Timur Bekasi 1,220.36 1,290.40 1,373.86 67.68 71.57 76.19 528.88 559.24 595.41
8 Jawa Timur Bojonegoro 2,116.91 2,238.41 2,383.17 61.67 65.21 69.42 7.56 7.99 8.51
9 Jawa Barat 2,846.65 3,010.04 3,204.71 54.92 58.07 61.83
10 Jawa Timur 3,245.55 3,835.06 4,221.68 41.99 49.61 54.62 19.12 20.22 21.52
1,154.47 1,220.73 1,299.68 47.84 50.59 53.86 100.37 118.60 130.55
17.68 18.70 19.90
3.3.2.9. Proyeksi Bahaya Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Pulau Jawa Bali
Tabel 38. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kebakaran
Hutan dan Lahan di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp
Miliar)
1 Jawa Timur Banyuwangi
2 Bali Buleleng 2015 2030 2045 2015 2030 2045
3 Jawa Timur Jember 26.01 27.50 29.28 70.93 75.00 79.85
4 Jawa Timur Bondowoso 21.52 24.69 27.06
5 Jawa Tengah Semarang 23.45 24.80 26.40 39.52 45.35 49.71
6 Jawa Timur Malang 13.77 14.56 15.50
7 Jawa Barat Purwakarta 53.72 56.80 60.48
8 Jawa Timur Sampang 6.36 6.92 7.45
9 Bali Karang Asem 6.23 6.58 7.01 25.18 26.63 28.35
10 Jawa Timur Bangkalan 4.96 5.86 6.46
5.53 5.85 6.23 2.20 2.39 2.57
4.84 5.55 6.08
5.35 5.65 6.02 45.71 48.34 51.46
3.60 4.26 4.69
0.51 0.54 0.57
10.92 12.53 13.73
1.06 1.12 1.19
3.3.2.10. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Bandang Pulau Jawa Bali
Untuk wilayah Jawa dan Bali, bencana banjir bandang menjadi ancaman paling besar di daerah
Bandung, Tidak sedikit kerugian jiwa dan materil yang diperkirakan memiliki risiko bencana Banjir,
juga di beberapa wilayah lainnya.
Secara mendasar bencana banjir bandang berisiko pada terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 42,7
juta jiwa terpapar bahaya banjir di seluruh Pulau Jawa dan Bali pada 2015. Dari 2015 ke 2030 terdapat
kenaikan sebesar 0,12% atau menjadi 48,2 juta jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,08% atau menjadi
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 85
52,4 juta jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir bandang cukup serius untuk ditangani,
mengingat juga pada perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.
Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir di wilayah Jawa Bali diperkirakan mencapai total
Rp176.266,41 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,13% atau menjadi Rp199.987,61 Milyar, dan
pada 2045 jadi 0,08% atau menjadi Rp217.780,73 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak
langsung pada fasilitas sarana dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area
peresapan air dan pengaturan infrastruktur pengairan di wilayah padat penduduk. Kerugian ekonomi
akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total Rp207.375,58 Milyar pada 2015, pada 2030 naik
jadi 0,14% atau menjadi Rp238.364,64 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,09% atau menjadi Rp260,317,15
Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain akses pada
pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar dan pusat pusat
kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat pusat Industri yang bergerak cukup
mendasar di wilayah tersebut, seperti Industri, pabrik juga termasuk kawasan pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total 1.006,21 Ha pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,09% atau menjadi 1.098,12 Ha, dan pada 2045 jadi 0,07% atau menjadi 1.182,10
Ha. Persoalan lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan
lahan produktif, namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat
ketidaktepatan pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja
bahaya yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan iklim
dan lainnya.
Secara menyeluruh di wilayah Jawa Bali risiko banjir bandang terbesar ada di wilayah (1) Bandung
disusul oleh (2) Garut dengan potensi risiko bencana banjir bandang yang cukup tinggi. Selanjutnya
disusul oleh (3) Kota Bandung(4) Brebes, (5) Jember, (6) Bodor, (7) Lebak, (8) Cirebon, (9) Sukabumi,
dan (10) Kota Bekasi.
Tabel 39. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir Bandang
di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
1 Jawa Bandung 314.18 371.24 408.67 1,145.49 1,353.55 1,490.01 71.67 84.69 93.23 0.05 0.06 0.06
Barat
2 Jawa Garut 244.00 288.32 317.38 1,017.65 1,202.49 1,323.72 234.07 276.59 304.47 1.18 1.39 1.53
Barat
3 Jawa Bogor 198.96 235.10 258.80 667.28 788.48 867.97 110.12 130.13 143.24 0.28 0.33 0.36
Barat
4 Jawa Jember 218.42 230.95 245.89 788.59 833.85 887.78 321.16 339.59 361.56 0.20 0.21 0.22
Timur
5 Jawa Brebes 208.55 226.94 244.39 796.51 866.73 933.39 287.84 313.21 337.30 0.02 0.02 0.02
Tengah
6 Jawa Kota 167.75 198.22 218.21 850.74 1,005.26 1,106.60 - - - - - -
Barat Bandung
7 Banten Lebak 122.00 155.13 173.99 498.12 633.39 710.36 191.90 244.02 273.67 0.14 0.17 0.19
8 Jawa Cirebon 123.63 146.09 160.82 473.67 559.70 616.13 20.54 24.28 26.72 0.03 0.03 0.03
Barat
9 Jawa Sukabumi 122.95 145.28 159.93 470.93 556.46 612.56 144.12 170.29 187.46 0.12 0.14 0.15
Barat
10 Jawa Kota Bekasi 115.98 137.05 150.86 457.91 541.08 595.63 - - -- - -
Barat
RENCANA INDUK
86 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.2.11. Proyeksi Bahaya Bencana Kekeringan Pulau Jawa Bali
Tabel 40. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kekeringan
di Pulau Jawa-Bali Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Ekonomi Kerusakan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) Lingkungan
(X1000 Ha)
Tuban
1 Jawa 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Timur 820.31 867.39 923.49 6,706.86 7,091.81 7,550.47 0.83 0.88 0.94
2 Jawa Pati 1,133.04 1,232.93 1,327.74 5,759.84 6,267.63 6,749.63 0.07 0.08 0.08
Tengah
3 Jawa Blora 850.67 925.67 996.86 5,696.36 6,198.56 6,675.24 1.83 1.99 2.14
Tengah
4 Jawa Bojonegoro 1,037.99 1,097.57 1,168.55 5,664.79 5,989.93 6,377.32 0.04 0.05 0.05
Timur
5 Jawa Rembang 618.86 673.42 725.20 5,325.76 5,795.29 6,240.96 2.30 2.50 2.69
Tengah
6 Jawa Grobogan 1,046.41 1,138.66 1,226.22 3,614.05 3,932.67 4,235.10 0.26 0.29 0.31
Tengah
7 Jawa Demak 771.69 839.73 904.31 3,589.63 3,906.10 4,206.49 - - -
Tengah
8 Jawa Wonogiri 694.97 756.24 814.39 2,639.29 2,871.97 3,092.83 6.84 7.44 8.01
Tengah
9 Jawa Sragen 878.80 956.28 1,029.82 2,000.29 2,176.64 2,344.03 0.09 0.09 0.10
Tengah
10 Jawa Ngawi 474.79 502.05 534.51 1,919.46 2,029.63 2,160.90 3.22 3.41 3.63
Timur
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 87
3.3.3. Proyeksi Ancaman dan Dampak Bencana Pulau Nusa Tenggara
3.3.3.1. Proyeksi Multibahaya Bencana Pulau Nusa Tenggara
Gambar 41. Peta Risiko Multi Bahaya Wilayah Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
RENCANA INDUK
88 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.3.2. Proyeksi Bahaya Bencana Gempabumi Pulau Nusa Tenggara
Tabel 41. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Gempabumi di
Pulau Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar)
1 Nusa Tenggara Barat Lombok Timur 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Nusa Tenggara Barat Lombok Tengah
3 Nusa Tenggara Barat Kota Mataram 1,142.81 1,319.64 1,446.09 3,455.93 3,990.66 4,373.04 753.91 870.56 953.98
4 Nusa Tenggara Barat Sumbawa
5 Nusa Tenggara Barat Bima 438.00 505.77 554.23 4,084.04 4,715.95 5,167.83 519.03 599.34 656.77
6 Nusa Tenggara Timur Sumba Barat Daya
7 Nusa Tenggara Barat Lombok Barat 419.96 484.94 531.41 1,218.94 1,407.54 1,542.41 7.14 8.24 9.03
8 Nusa Tenggara Timur Flores Timur
9 Nusa Tenggara Timur Alor 393.70 454.62 498.18 3,119.10 3,601.71 3,946.83 1,793.71 2,071.25 2,269.72
10 Nusa Tenggara Barat Dompu
350.56 404.80 443.59 1,431.30 1,652.76 1,811.12 950.38 1,097.43 1,202.58
274.14 342.78 388.81 956.86 1,196.46 1,357.11 86.92 108.68 123.28
306.27 353.66 387.55 1,009.06 1,165.18 1,276.83 168.50 194.57 213.22
210.58 263.31 298.67 989.66 1,237.48 1,403.64 107.22 134.07 152.07
191.88 239.92 272.14 1,847.17 2,309.72 2,619.85 108.95 136.23 154.53
212.12 244.94 268.41 832.72 961.56 1,053.70 525.31 606.59 664.72
Wilayah Nusa Tenggara merupakan zona tumbukan 3 lempeng aktif, yaitu lempeng Indo- Australia,
Eurasia, dan Pasifik. Di wilayah ini terdapat susunan tektonik yang unik yaitu berupa perbatasan zona
subduksi dan kolisi di sekitar daerah Sumba. Tatanan tektonik yang kompleks ini tampak mempengaruhi
sebaran struktur-struktur yang terbentuk. Sesar-sesar aktif yang dapat teridentifikasi, baik di darat dan
di perairan sekitar wilayah Nusa Tenggara, berjumlah 31 segmen sesar. Selain itu, di selatan wilayah
Nusa Tenggara juga terdapat 2 zona subduksi aktif dengan potensi gempa sebesar M8.7 di sebelah barat
dan M8.5 di zona sebelah timur. Beberapa gempa besar pernah terjadi di wilayah Nusa Tenggara dan
beberapa juga diikuti dengan terjadinya tsunami di antaranya yaitu gempa dan tsunami Sumba tahun
1977 dengan magnitudo M7.0 dan gempa dan tsunami Laut Banda tahun 1938 dengan magnitudo M8.5.
Gambar 42. Peta Sumber Gempa Darat, Sumber Gempa Subduksi, Tektonik, Katalog Gempa
Wilayah Nusa Tenggara.
Sumber: PuSGeN, 2018
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 89
Gambar 43. Peta Distribusi Penduduk terhadap Percepatan Puncak di Batuan Dasar untuk Probabilitas Terlampau 10%
dalam 50 Tahun Wilayah Nusa Tenggara.
Sumber: PuSGeN, 2018
3.3.3.3. Proyeksi Bahaya Bencana Tsunami Pulau Nusa Tenggara
Daerah-daerah yang termasuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur juga
memiliki tingkat aktivitas gunungapi dan gempabumi yang tinggi. Tsunami Flores pada 12 Desember
1992 menelan hingga 2.500 korban jiwa.
Tabel 42. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tsunami
di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Nusa Tenggara Barat
2 Nusa Tenggara Barat Sumbawa 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
3 Nusa Tenggara Barat Lombok Barat 55.50 64.09 70.23 135.50 156.47 171.46 3.95 4.56 4.99
4 Nusa Tenggara Timur Kota Bima 45.33 52.34 57.35 2,905.12 3,354.62 3,676.06 126.17 145.70 159.66 0.45 0.52 0.57
5 Nusa Tenggara Barat Kota Kupang 27.11 31.31 34.31 - --
6 Nusa Tenggara Barat Lombok Timur 2,579.63 2,978.77 3,264.20 0.54 0.62 0.68 - --
7 Nusa Tenggara Barat Lombok Utara 7.19 9.00 10.20 -- - 1.10 1.27 1.39
8 Nusa Tenggara Barat Bima 35.82 41.36 45.32 2,264.80 2,615.23 2,865.82 0.04 0.04 0.05
9 Nusa Tenggara Timur Sumbawa Barat 25.87 29.88 32.74 36.37 42.00 46.02 0.58 0.67 0.73
10 Nusa Tenggara Barat Sumba Timur 72.64 83.87 91.91 2,213.88 2,768.25 3,139.96 35.99 41.56 45.55 0.34 0.39 0.43
Kota Mataram 15.63 18.05 19.78 222.39 256.80 281.41 0.37 0.46 0.52
346.80 400.46 438.83 20.95 24.19 26.50 - --
1.54 1.93 2.18
60.20 69.52 76.18 345.98 399.51 437.79 2.91 3.64 4.13
11.40 13.16 14.42
336.67 388.76 426.01
309.19 357.03 391.24
253.92 317.50 360.13
123.87 143.04 156.75
RENCANA INDUK
90 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.3.4. Proyeksi Bahaya Bencana Erupsi Gunungapi Pulau Nusa Tenggara
Tabel 43. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan
Lingkungan Dampak Erupsi Gunung Api di Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) Lingkungan
1 Nusa (X1000 Ha)
Tenggara Ende 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Timur 91.65 114.60 129.99 2.87 3.59 4.07 --- 2015 2030 2045
2 Nusa 1.43 1.79 2.03
Tenggara
Timur Flores 62.43 78.06 88.54 53.39 66.76 75.72 0.02 0.02 0.03 5.94 7.43 8.43
Timur
3 Nusa
Tenggara Manggarai 43.56 54.47 61.79 19.65 24.56 27.86 0.00 0.00 0.00 0.01 0.01 0.02
Timur
Nagekeo 41.04 51.32 58.21 23.55 29.45 33.41 0.04 0.06 0.06 1.42 1.78 2.01
4 Nusa
Tenggara Ngada 22.86 28.58 32.42 17.20 21.51 24.39 0.01 0.01 0.01 1.26 1.57 1.78
Timur
Lombok 15.91 18.37 20.13 - - - - - - 0.02 0.02 0.02
5 Nusa Tengah 15.53 19.41 22.02 19.52 24.41 27.68 0.00 0.00 0.00 2.09 2.61 2.96
Tenggara
Timur Sikka
6 Nusa Lembata 15.44 19.31 21.90 37.18 46.49 52.73 0.01 0.01 0.01 3.34 4.18 4.74
Tenggara
Barat Manggarai 10.04 12.56 14.25 2.53 3.16 3.59 0.00 0.00 0.00 0.43 0.54 0.61
Timur
7 Nusa
Tenggara Lombok 7.90 9.12 10.00 - - - - - - 1.54 1.77 1.94
Timur Timur
8 Nusa
Tenggara
Timur
9 Nusa
Tenggara
Timur
10 Nusa
Tenggara
Barat
3.3.3.5. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Pulau Nusa Tenggara
Untuk wilayah Nusa Tenggara, bencana banjir menjadi ancaman paling besar di daerah Lombok Tengah,
sementara untuk wilayah lainnya jauh lebih kecil. Baik kerugian Jiwa fisik, ekonomi dan lingkungan,
relatif sangat berbeda dengan Lombok Tengah. Berikut adalah risiko bencana banjir di wilayah Nusa
Tenggara secara menyeluruh. Secara mendasar bencana banjir berisiko pada terpaparnya korban jiwa,
antara lain ada 1,8 juta jiwa terpapar bahaya banjir di seluruh Nusa Tenggara pada 2015. Dari 2015
ke 2030 terdapat kenaikan sebesar 0,18% atau menjadi 2,2 juta jiwa dan pada 2045 naik sebesar
0,11% atau menjadi 2,4 juta jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir harus serius untuk
ditangani, mengingat juga pada perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.
Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir di Jawa Bali diperkirakan mencapai total Rp6.335
Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,16% atau menjadi Rp7.339 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,10%
atau menjadi Rp8.053 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada fasilitas sarana
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 91
dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air dan pengaturan
infrastruktur pengairan di wilayah padat penduduk.
Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total Rp1.129 Milyar pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,21% atau menjadi Rp1.370 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,12% atau menjadi Rp1.543
Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain akses pada
pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar dan pusat-pusat
kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat-pusat industri yang bergerak cukup
mendasar di wilayah tersebut, seperti industri, pabrik juga termasuk kawasan pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total 30 Ha pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,23% atau menjadi 37 Ha, dan pada 2045 jadi 0,13% atau menjadi 42 Ha. Persoalan
lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan- lahan produktif,
namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat ketidaktepatan
pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja bahaya bencana
yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan iklim dan
lainnya.
Secara menyeluruh di Nusa Tenggara risiko terbesar ada di wilayah (1) Lombok Tengah (tampak
menyolok) dan di wilayah wilayah lainnya cenderung kecil (2) Kota Mataram, (3) Lombok Barat, (4)
Malaka, (5) Sumbawa, (6) TTS, (7) Sumba Timur, (8) Nagekeo, (9) Bima dan (10) Lombok Utara.
Tabel 44. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir
di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi (Rp Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) Miliar) (X1000 Ha)
1 Nusa Tenggara
Barat Lombok 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Tengah 0.16 0.19 0.20
2 Nusa Tenggara 213.13 246.10 269.69 5,678.49 6,557.11 7,185.42 228.25 263.56 288.82
Barat Kota - --
Mataram 365.89 422.50 462.98 236.20 272.75 298.88 5.74 6.63 7.26
3 Nusa Tenggara 0.26 0.30 0.33
Barat Lombok 235.25 271.65 297.68 63.84 73.71 80.78 36.50 42.15 46.18
Barat 3.29 4.11 4.66
4 Nusa Tenggara 74.13 92.70 105.14 48.90 61.15 69.36 196.78 246.06 279.10
Timur Malaka
5 Nusa Tenggara Sumbawa 156.50 180.71 198.03 46.50 53.70 58.84 93.51 107.97 118.32 3.78 4.37 4.79
Barat
Sumba 57.43 71.80 81.45 38.76 48.47 54.98 53.56 66.97 75.97 3.44 4.30 4.88
6 Nusa Tenggara Timur 36.71 45.90 52.06 36.34 45.44 51.54 105.34 131.71 149.40 1.37 1.72 1.95
Timur
Timor 18.78 23.48 26.63 32.73 40.93 46.42 79.92 99.93 113.35 0.49 0.61 0.70
7 Nusa Tenggara Tengah
Timur Utara
8 Nusa Tenggara Nagekeo
Timur
Bima 101.20 116.85 128.05 24.15 27.89 30.56 42.46 49.02 53.72 0.46 0.53 0.58
9 Nusa Tenggara
Barat Lombok 40.39 46.64 51.10 24.01 27.73 30.38 2.55 2.94 3.23 0.07 0.08 0.09
Utara
10 Nusa Tenggara
Barat
RENCANA INDUK
92 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.3.6. Proyeksi Bahaya Bencana Tanah Longsor Pulau Nusa Tenggara
Tabel 45. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tanah Longsor
di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
No. Provinsi (X1000 Jiwa)
2015 2030 2045 2015 2030 2045
2015 2030 2045 2015 2030 2045
1 Nusa Timor 196.44 245.63 278.61 1,563.77 1,955.34 2,217.90 65.87 82.36 93.42 115.64 144.60 164.01
Tenggara Tengah
Timur Selatan
2 Nusa Manggarai 166.37 208.03 235.96 933.77 1,167.59 1,324.37 146.77 183.52 208.16 65.35 81.71 92.69
Tenggara Timur
Timur
3 Nusa Manggarai 157.33 196.73 223.14 834.35 1,043.28 1,183.36 25.59 32.00 36.30 41.20 51.52 58.43
Tenggara
Timur
4 Nusa Ende 105.75 132.23 149.98 709.34 886.96 1,006.06 23.40 29.26 33.18 114.11 142.68 161.84
Tenggara
Timur
5 Nusa Sikka 93.88 117.39 133.15 597.47 747.08 847.40 57.77 72.23 81.93 73.65 92.09 104.46
Tenggara
Timur
6 Nusa Manggarai 88.40 110.53 125.38 438.34 548.10 621.70 206.40 258.09 292.74 86.56 108.24 122.77
Tenggara Barat
Timur
7 Nusa Bima 74.71 86.27 94.54 399.64 461.47 505.69 307.73 355.35 389.39 170.30 196.65 215.49
Tenggara
Barat
8 Nusa Flores 74.36 92.98 105.46 328.32 410.53 465.65 54.70 68.39 77.58 54.54 68.20 77.35
Tenggara Timur
Timur
9 Nusa Alor 64.96 81.23 92.14 428.88 536.28 608.29 42.41 53.03 60.16 115.75 144.73 164.17
Tenggara
Timur
10 Nusa Belu 57.49 71.89 81.54 319.82 399.91 453.61 54.43 68.06 77.19 26.36 32.96 37.39
Tenggara
Timur
3.3.3.7. Proyeksi Bahaya Bencana Gelombang Ekstrim dan Abrasi Pulau Nusa Tenggara
Tabel 46. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Gelombang
Ekstrim dan Abrasi di Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
(Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
No. Provinsi Kabupaten/Kota (X1000 Jiwa)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
1 Nusa Tenggara Barat Bima 27.70 31.99 35.05 53.18 61.41 67.29 29.66 34.25 37.53 4.39 5.07 5.56
2 Nusa Tenggara Barat Kota Mataram 11.69 13.49 14.79 39.94 46.12 50.54 2.41 2.79 3.05 - - -
3 Nusa Tenggara Barat Lombok Timur 31.88 36.81 40.34 39.24 45.31 49.66 2.35 2.72 2.98 0.99 1.14 1.25
4 Nusa Tenggara Barat Lombok Barat 16.11 18.61 20.39 23.11 26.69 29.24 9.15 10.56 11.58 1.23 1.41 1.55
5 Nusa Tenggara Barat Lombok Tengah 3.41 3.93 4.31 10.20 11.78 12.91 15.13 17.47 19.14 0.64 0.74 0.81
6 Nusa Tenggara Barat Lombok Utara 12.13 14.01 15.35 7.60 8.77 9.61 4.22 4.88 5.34 0.05 0.05 0.06
7 Nusa Tenggara Barat Sumbawa 25.10 28.99 31.76 0.91 1.05 1.15 40.19 46.40 50.85 6.47 7.47 8.19
8 Nusa Tenggara Barat Dompu 6.64 7.66 8.40 0.54 0.62 0.68 0.44 0.51 0.56 1.20 1.38 1.52
9 Nusa Tenggara Barat Sumbawa Barat 3.67 4.24 4.65 0.10 0.12 0.13 1.33 1.53 1.68 1.07 1.24 1.36
10 Nusa Tenggara Alor 38.48 48.12 54.58 - - - - - - 2.36 2.95 3.35
Timur
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 93
3.3.3.8. Proyeksi Bahaya Bencana Cuaca Ekstrim Pulau Nusa Tenggara
Tabel 47. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan
Lingkungan Dampak Cuaca Ekstrim di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Kerugian Ekonomi (Rp
Miliar) Miliar)
1 Nusa Tenggara Barat Bima 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Nusa Tenggara Barat Lombok Tengah 460.25 531.47 582.39 11.09 12.80 14.03 0.93 1.08 1.18
3 Nusa Tenggara Timur Ende
4 Nusa Tenggara Timur Timor Tengah Utara 896.77 1,035.53 1,134.75 3.41 3.94 4.31 0.71 0.82 0.90
5 Nusa Tenggara Timur Sumba Timur
6 Nusa Tenggara Barat Lombok Barat 137.09 171.42 194.44 1.09 1.36 1.54 - --
7 Nusa Tenggara Barat Sumbawa
8 Nusa Tenggara Barat Sumbawa Barat 120.98 151.28 171.59 0.72 0.90 1.02 0.15 0.19 0.21
9 Nusa Tenggara Timur Kupang
10 Nusa Tenggara Timur Rote Ndao 238.99 298.83 338.95 0.62 0.77 0.88 1.52 1.90 2.16
648.83 749.22 821.01 0.59 0.69 0.75 0.10 0.12 0.13
424.83 490.57 537.57 0.51 0.59 0.64 0.36 0.41 0.45
130.41 150.59 165.01 0.42 0.48 0.53 0.24 0.28 0.30
265.13 331.52 376.03 0.26 0.32 0.36 0.03 0.03 0.04
122.84 153.60 174.23 0.24 0.30 0.34 0.11 0.13 0.15
3.3.3.9. Proyeksi Bahaya Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Pulau Nusa Tenggara
Tabel 48. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kebakaran
Hutan dan Lahan di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan (X1000 Ha)
1 Nusa Tenggara Timur Sumba Timur 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Nusa Tenggara Barat Bima 28.47 35.60 40.38 145.00 181.31 205.66
3 Nusa Tenggara Barat Sumbawa
4 Nusa Tenggara Timur Ngada 25.10 28.98 31.76 208.56 240.83 263.90
5 Nusa Tenggara Barat Dompu
6 Nusa Tenggara Timur Manggarai Timur 24.95 28.80 31.56 322.02 371.85 407.48
7 Nusa Tenggara Barat Lombok Barat
8 Nusa Tenggara Barat Lombok Tengah 19.48 24.36 27.63 41.84 52.31 59.34
9 Nusa Tenggara Timur Sumba Barat
10 Nusa Tenggara Timur Sumba Barat Daya 16.05 18.54 20.31 119.39 137.87 151.08
9.68 12.11 13.73 68.24 85.33 96.79
9.52 11.00 12.05 36.49 42.14 46.18
6.35 7.33 8.04 21.74 25.11 27.51
6.34 7.92 8.98 20.81 26.02 29.51
4.04 5.05 5.73 60.89 76.14 86.36
3.3.3.10. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Bandang Pulau Nusa Tenggara
Untuk wilayah Nusa tenggara, bencana banjir bandang menjadi ancaman paling besar di Sumbawa
Timur, dan mengikuti berurutan wilayah-wilayah lainnya di Nusa Tenggara. Kerugian yang terjadi pada
jiwa terpapar, kerugian fisik, kerugian ekonomi dan kerusakan lingkungan, relatif sangat berbeda
dengan Lombok Tengah.
Secara mendasar bencana banjir bandang berisiko pada terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 550
ribu jiwa terpapar bahaya banjir di seluruh Nusa Tenggara pada 2015. Dari 2015 ke 2030 terdapat
kenaikan sebesar 0,18% atau menjadi 651 ribu jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,11% atau menjadi
721 ribu jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir cukup serius untuk ditangani, mengingat
juga pada perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.
RENCANA INDUK
94 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir bandang di Nusa Tenggara diperkirakan mencapai
total Rp3.291 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,20% atau menjadi Rp4.379 Milyar, dan pada
2045 jadi 0,11% atau menjadi Rp4.379 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada
fasilitas sarana dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air dan
pengaturan infrastruktur pengairan di wilayah padat penduduk.
Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total Rp1.065 Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,20% atau menjadi Rp1.279 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,12% atau menjadi
Rp1.426 Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain akses
pada pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar dan pusat
pusat kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat pusat industri yang bergerak
cukup mendasar di wilayah tersebut, seperti industri, pabrik juga termasuk kawasan pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total 79 Ha pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,21% atau menjadi 96 Ha, dan pada 2045 jadi 0,12% atau menjadi 107 Ha. Persoalan
lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan lahan produktif,
namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat ketidaktepatan
pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja bahaya yang
terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan iklim dan lainnya.
Secara menyeluruh di Nusa Tenggara risiko terbesar ada di wilayah (1) Sumba Timur dan selanjutnya
(2) Sumbawa, (3) Bima, (4) Ende, (5) Lombok Timur, (6) Lombok Barat, (7) Dompu, (8) Sumbawa Barat,
(9) Lombok Utara, dan (10) Kota Bima. Jika diperhatikan maka perlu waspada di wilayah Lombok,
karena 3 bagian wilayah tersebut berpotensi banjir bandang, juga Bima dan Kota Bima.
Tabel 49. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir Bandang
di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Nusa Tenggara
Barat Sumbawa 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
68.52 79.12 86.70 354.78 409.68 448.93 138.05 159.41 174.69 10.45 12.06 13.22
2 Nusa Tenggara
Timur Sumba 33.07 41.35 46.90 351.36 439.34 498.34 58.53 73.19 83.01 6.66 8.33 9.45
Timur 63.12 72.89 79.87 342.50 395.49 433.39 147.80 170.66 187.02 8.93 10.32 11.30
3 Nusa Tenggara
Barat Bima
4 Nusa Tenggara Lombok 70.61 81.54 89.35 289.64 334.46 366.50 79.71 92.04 100.86 3.06 3.54 3.87
Barat Timur 6.03 7.54 8.55 286.38 358.09 406.18 41.59 52.00 58.98 1.49 1.86 2.11
5 Nusa Tenggara Ende
Timur
Lombok 51.37 59.32 65.01 207.07 239.11 262.02 21.26 24.55 26.90 1.07 1.23 1.35
6 Nusa Tenggara Barat 35.54 41.03 44.97 205.09 236.82 259.52 102.43 118.28 129.61 3.24 3.74 4.10
Barat
Dompu
7 Nusa Tenggara
Barat Sumbawa 32.02 36.98 40.52 169.30 195.49 214.22 11.30 13.05 14.30 3.23 3.73 4.09
Barat
8 Nusa Tenggara
Barat Lombok 25.10 28.98 31.75 123.09 142.13 155.75 30.94 35.73 39.16 1.56 1.80 1.98
Utara
9 Nusa Tenggara
Barat Kota Bima 26.14 30.18 33.07 120.99 139.71 153.10 9.61 11.09 12.16 0.23 0.26 0.29
10 Nusa Tenggara
Barat
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 95
3.3.3.11. Proyeksi Bahaya Bencana Kekeringan Pulau Nusa Tenggara
Tabel 50. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kekeringan
di Pulau Nusa Tenggara Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
1,828.76 311.84 360.09 394.60
1 Nusa Tenggara Barat Sumbawa 353.05 407.68 446.74 1,445.23 1,668.85
16.13 18.62 20.41
2 Nusa Tenggara Barat Lombok 718.09 829.20 908.65 1,435.48 1,657.59 1,816.42
Tengah
3 Nusa Tenggara Timur Sumba Timur 245.76 307.29 348.56 921.10 1,151.74 1,306.39 204.54 255.76 290.10
647.95 810.20 918.98 81.51 101.92 115.60
4 Nusa Tenggara Timur Manggarai 159.90 199.94 226.78
Barat
5 Nusa Tenggara Timur Malaka 180.24 225.37 255.63 620.51 775.89 880.07 34.62 43.28 49.10
608.01 702.09 769.36 47.10 54.39 59.60
6 Nusa Tenggara Barat Lombok Barat 654.42 755.67 828.08 455.51 569.57 646.05 156.25 195.37 221.60
7 Nusa Tenggara Timur Timor Tengah 244.51 305.73 346.79
Utara
8 Nusa Tenggara Barat Lombok Timur 155.19 179.20 196.37 363.28 419.48 459.68 46.79 54.02 59.20
353.25 407.91 447.00 125.34 144.73 158.60
9 Nusa Tenggara Barat Bima 50.98 58.87 64.51 316.80 396.13 449.32
30.05 37.58 42.62
10 Nusa Tenggara Timur Manggarai 298.01 372.63 422.67
3.3.4. Proyeksi Ancaman dan Dampak Bencana Pulau Kalimantan
3.3.4.1. Proyeksi Multibahaya Bencana Pulau Kalimantan
Gambar 44. Gambar Proyeksi Risiko Multi Bahaya Pulau Kalimantan.
RENCANA INDUK
96 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.4.2. Proyeksi Bahaya Bencana Gempabumi Pulau Kalimantan
Gambar 45. Peta Pola Ruang dan Struktur Ruang dalam Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan.
Tabel 51. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik dan Kerugian Ekonomi Dampak Gempabumi di Pulau Kalimantan
Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar (X1000 Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp
Kota Jiwa) Miliar)
2015 2030 2045
1 Kalimantan Timur Berau 2015 2030 2045 15.19 20.52 23.53 2015 2030 2045
2 Kalimantan Timur Kutai Timur 2.803 3.787 4.344 12.37 16.71 19.16 10.89 14.72 16.88
2.264 3.059 3.508 52.40 70.79 81.20
Pulau Kalimantan merupakan pulau besar di Indonesia dengan aktivitas seismik paling jarang.
Akan tetapi, pada 5 Juni 2015 terjadi gempa dengan magnitudo 6 di daerah Ranau, Sabah, yang
mengakibatkan korban jiwa sebanyak 19 orang, longsoran di Gunung Kinibalu, dan kerusakan
bangunan di Kota Ranau. Berdasarkan catatan BMKG, sebelum kejadian tersebut pernah juga
terekam adanya kejadian gempa dengan magnitudo 5.7 pada 25 Februari 2015 dengan pusat gempa
berjarak 413 km timur laut Kota Tarakan. Tiga zona sesar utama yang telah diidentifikasi di Pulau
Kalimantan yaitu sesar Tarakan, sesar Mangkalihat, dan sesar Meratus. Sesar-sesar tersebut dapat
berpotensi menimbulkan gempa dengan magnitudo 7. Sedangkan zona subduksi sama sekali tidak
ada di sekitar wilayah Kalimantan.
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 97
Gambar 46. Peta Sumber Gempa Darat, Sumber Gempa Subduksi, Tektonik dan Wilayah Kalimantan.
Sumber: PuSGeN, 2018
Gambar 47. Peta Distribusi Penduduk terhadap Percepatan Puncak di Batuan Dasar untuk Probabilitas
Terlampau 10% dalam 50 Tahun Wilayah Kalimantan.
Sumber: PuSGeN, 2018
RENCANA INDUK
98 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.4.3. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Pulau Kalimantan
Untuk wilayah Kalimantan, bencana banjir menjadi ancaman paling besar di daerah Kubu Raya, dan
disusul oleh Kota Waringin Timur, Banjarmasin, dan Sambas. Keempat kota ini, terbilang cukup tinggi
risikonya dibanding kota-kota lain di wilayah Kalimantan pada umumnya. Secara risiko, sama saja
kerugian jiwa diikuti oleh kerugian fisik dan ekonomi. Sementara lingkungan hampir mirip dengan
Sumatera dimana persoalan pemanfaatan lahan menjadi sangat mendasar berdampak pada berbagai
risiko bencana termasuk banjir. Berikut adalah dampak kerugian jiwa, fisik, ekonomi dan lingkungan
di wilayah Kalimantan.
Secara mendasar dan menyeluruh di wilayah Kalimantan, bencana banjir berisiko pada terpaparnya
korban jiwa, antara lain ada 8,2 juta jiwa terpapar bahaya banjir di seluruh Kalimantan pada 2015. Dari
2015 ke 2030 terdapat kenaikan sebesar 0,25% atau menjadi 10,3 juta jiwa dan pada 2045 naik sebesar
0,12% atau menjadi 11,5 juta jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir harus serius untuk
ditangani, mengingat juga pada perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.
Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir Kalimantan diperkirakan mencapai total Rp40.753,16
Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,25% atau menjadi Rp50.882,99 Milyar, dan pada 2045 jadi
0.12% atau menjadi Rp56.947,14 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada fasilitas
sarana dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air dan pengaturan
infrastruktur pengairan di keempat kota tersebut , keempat kota ini terlihat jauh lebih menonjol
wilayah padat penduduk.
Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total Rp11.618,84 Milyar pada 2015,
pada 2030 naik jadi 0,25% atau menjadi Rp14.525,47 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,12% atau menjadi
Rp16.270,42 Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain
akses pada pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar
dan pusat-pusat kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat-pusat industri
yang bergerak cukup mendasar di wilayah tersebut, seperti industri, pabrik juga termasuk kawasan
pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total 4.415,38 Ha pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,29% atau menjadi 5.708,72 Ha, dan pada 2045 jadi 0,13% atau menjadi 6.456,22
Ha. Persoalan lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan-
lahan produktif, namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat
ketidaktepatan pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu
saja bahaya bencana yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada
perubahan iklim dan lainnya.
Secara menyeluruh di Kalimantan risiko terbesar ada di wilayah (1) Kubu Raya, (2) Kota Waringin
Timur, (3) Banjarmasin, dan (4) Sambas. Keempat wilayah ini relatif sama pada tataran risiko bencana
banjir. Dan sisanya yang juga berisiko namun tidak setinggi keempat wilayah tersebut berada di (5)
Barito Kuala, (6) Kota Pontianak, (7) Kutai Karta Negara, (8) Kota Kapuas (9) Kota Banjar, dan (10) Kota
Samarinda.
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 99
Tabel 52. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik dan Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir
di Pulau Kalimantan Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045
674.59 813.97 901.89 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
20.09 24.25 26.86 -- -
1 Kalimantan Kota 590.81 700.55 771.03 4,912.14 5,927.12 6,567.30
-- -
Selatan Banjarmasin 447.18 530.23 583.58
211.52 250.80 276.04
2 Kalimantan Kota 441.59 523.61 576.29 1,424.42 1,688.98 1,858.92 6.55 7.77 8.55
29.81 35.34 38.90
Barat Pontianak 426.13 575.73 660.35
0.89 1.20 1.37
3 Kalimantan Kubu Raya 395.86 534.84 613.45 6,686.40 7,928.30 8,725.98 1,160.74 1,376.33 1,514.81
Barat 301.09 406.80 466.59
375.93 453.60 502.59
4 Kalimantan Sambas 3,265.23 3,871.70 4,261.24 750.87 890.33 979.91 7.45 8.99 9.96
Barat 296.83 389.46 442.09
377.74 495.62 562.60
5 Kalimantan Kota 295.87 357.01 395.57 985.07 1,330.90 1,526.52 125.65 169.76 194.71
19.18 23.14 25.64
Timur Samarinda 292.47 383.73 435.59
208.01 272.92 309.79
6 Kalimantan Kutai 270.53 320.78 353.05 954.98 1,290.26 1,479.90 1,012.24 1,367.61 1,568.62
267.44 317.11 349.02
Timur Kartanegara
7 Kalimantan Banjar 1,179.66 1,423.41 1,577.15 1,224.94 1,478.04 1,637.68
Selatan
8 Kalimantan Kapuas 1,059.43 1,390.04 1,577.87 705.48 925.64 1,050.71
Tengah
9 Kalimantan Barito Kuala 1,312.43 1,583.61 1,754.65 1,878.07 2,266.13 2,510.89
Selatan
10 Kalimantan Kotawaringin 5,017.29 6,583.01 7,472.54 381.02 499.92 567.47
Tengah Timur
11 Kalimantan Ketapang 564.19 668.98 736.28 583.33 691.67 761.26
Barat
3.3.4.4. Proyeksi Bahaya Bencana Tanah Longsor Pulau Kalimantan
Tabel 53. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tanah Longsor
di Pulau Kalimantan Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Kalimantan
Timur Kota 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Samarinda 26.952 36.414 41.766 70.18 94.81 108.75 3.43 4.63 5.31 0.48 0.65 0.74
2 Kalimantan Nunukan
Utara 17.083 23.080 26.473 677.17 914.91 1,049.38 98.23 132.72 152.23 578.62 781.76 896.66
3 Kalimantan Sanggau 14.235 16.879 18.577 67.09 79.55 87.55 38.70 45.89 50.50 38.77 45.97 50.60
Barat
Sintang 13.123 15.560 17.126 74.80 88.70 97.62 24.23 28.73 31.62 427.52 506.93 557.93
4 Kalimantan
Barat Bengkayang 13.037 15.458 17.014 74.14 87.91 96.75 11.79 13.98 15.39 47.03 55.77 61.38
5 Kalimantan Malinau 11.692 15.797 18.119 264.82 357.79 410.37 91.55 123.69 141.87 2,597.43 3,509.34 4,025.13
Barat
Landak 11.481 13.613 14.983 53.09 62.94 69.28 29.12 34.52 38.00 36.20 42.93 47.25
6 Kalimantan
Utara Melawi 10.937 12.968 14.273 68.77 81.54 89.74 26.01 30.84 33.94 249.09 295.36 325.07
7 Kalimantan Kapuas Hulu 9.901 11.740 12.921 76.07 90.20 99.27 20.60 24.42 26.88 990.01 1,173.89 1,292.00
Barat
Ketapang 8.525 10.108 11.125 68.35 81.05 89.20 62.85 74.53 82.03 341.39 404.79 445.52
8 Kalimantan
Barat
9 Kalimantan
Barat
10 Kalimantan
Barat
RENCANA INDUK
100 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.4.5. Proyeksi Bahaya Bencana Gelombang Ekstrim dan Abrasi Pulau Kalimantan
Tabel 54. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Gelombang
Ekstrim dan Abrasi di Pulau Kalimantan Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Kalimantan 2015 2030 2045
Selatan Kota Baru 48.25 58.22 64.51 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
0.12 0.15 0.16 7.07 8.53 9.45
2 Kalimantan Nunukan 28.03 37.87 43.44 2,330.36 2,811.87 3,115.58
Utara 1.09 1.47 1.69 3.49 4.71 5.41
Tanah Laut 7.63 9.20 10.20 46.08 62.25 71.40
3 Kalimantan 0.23 0.28 0.31 0.98 1.18 1.31
Selatan Kutai 15.52 20.96 24.04 38.81 46.83 51.89
Kartanegara 0.60 0.82 0.94 6.18 8.36 9.58
4 Kalimantan Tanah 11.79 14.22 15.76 34.88 47.12 54.04
Timur Bumbu 1.36 1.65 1.82 0.49 0.59 0.65
Berau 6.63 8.96 10.27 31.98 38.58 42.75
5 Kalimantan 0.65 0.88 1.01 8.12 10.96 12.58
Selatan Kota Tarakan 10.60 14.32 16.43 25.19 34.03 39.03
--- 0.29 0.40 0.46
6 Kalimantan Kota 4.34 5.86 6.73 20.84 28.15 32.29
Timur Balikpapan --- 0.07 0.09 0.11
Kutai Timur 7.54 10.18 11.68 11.62 15.70 18.01
7 Kalimantan 0.09 0.12 0.13 3.25 4.39 5.04
Utara Penajam 1.72 2.32 2.66 9.92 13.41 15.38
Paser Utara 1.47 1.99 2.28 0.15 0.20 0.22
8 Kalimantan 6.04 8.16 9.36
Timur
9 Kalimantan
Timur
10 Kalimantan
Timur
3.3.4.6. Proyeksi Bahaya Bencana Cuaca Ekstrim Pulau Kalimantan
Tabel 55. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak
Cuaca Ekstrim di Pulau Kalimantan Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar)
1 Kalimantan Timur
Kutai 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Kalimantan Tengah Kartanegara 688.675 163.924 221.474 254.026 0.055 0.074 0.085
3 Kalimantan Tengah Barito Selatan 930.454 1,067.210
4 Kalimantan Barat Kapuas
5 Kalimantan Tengah Sanggau 130.394 171.085 194.203 137.685 180.652 205.062 0.016 0.021 0.024
Kotawaringin 339.360 445.262 505.428 124.127 162.863 184.869 0.590 0.774 0.879
6 Kalimantan Tengah Timur 436.556 517.640 569.721 128.522 152.393 167.726 0.104 0.123 0.136
7 Kalimantan Timur Katingan 414.377 543.689 617.155 111.141 145.824 165.529 0.175 0.230 0.261
Kota
8 Kalimantan Tengah Samarinda 154.190 202.307 229.644 106.025 139.112 157.909 0.428 0.562 0.637
9 Kalimantan Tengah Pulang Pisau 810.489 1,095.035 1,255.979 101.884 137.653 157.885 0.005 0.007 0.008
10 Kalimantan Barat Barito Utara
Kapuas Hulu 124.631 163.524 185.620 98.421 129.135 146.584 0.102 0.134 0.152
117.793 154.552 175.436 80.166 105.183 119.396 0.106 0.139 0.158
235.536 279.283 307.383 91.400 108.376 119.280 0.377 0.447 0.492
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 101
3.3.4.7. Proyeksi Bahaya Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Pulau Kalimantan
Tabel 56. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kebakaran
Hutan dan Lahan di Pulau Kalimantan Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan (X1000
Ha)
1 Kalimantan Timur
2 Kalimantan Tengah 2015 2030 2045 2015 2030 2045
3 Kalimantan Barat
4 Kalimantan Barat Kutai Kartanegara 1,370.17 1,851.20 2,123.29 911.63 1,231.68 1,412.71
5 Kalimantan Barat
6 Kalimantan Barat Kotawaringin Timur 677.41 888.80 1,008.90 331.30 434.69 493.43
7 Kalimantan Tengah
8 Kalimantan Barat Kubu Raya 708.88 840.54 925.11 197.82 234.56 258.16
9 Kalimantan Barat
10 Kalimantan Utara Ketapang 544.82 646.02 711.01 516.90 612.91 674.57
Kayong Utara 411.94 488.45 537.60 113.11 134.12 147.61
Bengkayang 339.47 402.52 443.02 29.76 35.29 38.84
Seruyan 260.63 341.96 388.17 527.98 692.74 786.35
Sambas 276.43 327.77 360.75 53.90 63.92 70.35
Sintang 225.34 267.19 294.07 50.61 60.01 66.05
Tana Tidung 160.34 216.64 248.48 68.80 92.95 106.61
3.3.4.8. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Bandang Pulau Kalimantan
Untuk wilayah Kalimantan, bencana banjir bandang menjadi ancaman paling besar di daerah Malinau.
Daerah Malinau ini terbilang cukup tinggi risikonya dibanding kota-kota lain di wilayah Kalimantan pada
umumnya. Secara risiko, sama saja kerugian jiwa diikuti oleh kerugian fisik dan ekonomi. Sementara
lingkungan hampir mirip dengan Sumatera dimana persoalan pemanfaatan lahan menjadi sangat
mendasar berdampak pada berbagai risiko bencana termasuk banjir bandang. Berikut adalah dampak
kerugian jiwa, fisik, ekonomi dan lingkungan di wilayah Kalimantan.
Secara mendasar dan menyeluruh di wilayah Kalimantan , bencana banjir bandang berisiko pada
terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 208,6 ribu jiwa terpapar bahaya banjir bandang di seluruh
Kalimantan pada 2015. Dari 2015 ke 2030 terdapat kenaikan sebesar 0,24% atau menjadi 259,6 ribu
jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,12% atau menjadi 290,4 ribu jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa
ancaman banjir cukup serius untuk ditangani, mengingat juga pada perkembangan peningkatan
jumlah penduduk setiap tahunnya.
Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir bandang di wilayah Kalimantan diperkirakan mencapai
total Rp2.247,08 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,28% atau menjadi Rp2.886,02 Milyar, dan
pada 2045 jadi 0.13% atau menjadi Rp3.259,87 Milyar . Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung
pada fasilitas sarana dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air
dan pengaturan infrastruktur pengairan di keempat kota tersebut , keempat kota ini terlihat jauh lebih
menonjol wilayah padat penduduk.
Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total Rp167,59 Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,30% atau menjadi Rp217,20 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,13% atau
menjadi Rp246,05 Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian,
selain akses pada pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir bandang, juga akses
pada pasar dan pusat pusat kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat-pusat
industri yang bergerak cukup mendasar di wilayah tersebut, seperti industri, pabrik juga termasuk
kawasan pertanian.
RENCANA INDUK
102 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total 244,32 Ha pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,29% atau menjadi 315,69 Ha, dan pada 2045 jadi 0,13% atau menjadi
357,17 Ha. Persoalan lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada
lahan lahan produktif, namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi
akibat ketidak tepatan pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu
saja bahaya yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan
iklim dan lainnya.
Secara menyeluruh di wilayah Kalimantan risiko banjir bandang terbesar ada di wilayah (1) Malinau,
wilayah ini paling berisiko dibandingkan wilayah lainnya. Selanjutnya urutan risiko ada di wilayah (2)
Murung Raya, (3) Hulu Sungai Tengah, (4) Mahakam Hulu, (5) Kapuas Hulu, (6) Hulu Sungai Selatan, (7)
Gubung Mas, (8) Melawi, (9) Blangan, dan (10) Sintang.
Tabel 57. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir Bandang
di Pulau Kalimantan Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar (X1000 Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Kerusakan Lingkungan
Kota Jiwa) Miliar) (X1000 Ha)
1 Kalimantan Utara
2 Kalimantan Tengah Malinau 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
9.53 12.88 14.77 724.94 979.44 1,123.40 15.49 20.92 24.00 30.33 40.98 47.01
3 Kalimantan Selatan Murung
Raya 20.57 26.99 30.64 194.83 255.63 290.17 4.16 5.46 6.20 27.21 35.70 40.53
4 Kalimantan Timur
Hulu Sungai 35.96 43.40 48.08 205.08 247.46 274.19 7.02 8.47 9.38 0.72 0.87 0.97
5 Kalimantan Barat Tengah
6 Kalimantan Selatan 7.46 10.08 11.57 85.52 115.55 132.53 4.96 6.70 7.69 29.27 39.55 45.36
Mahakam
7 Kalimantan Tengah Hulu 11.34 13.45 14.80 96.07 113.91 125.38 3.58 4.25 4.68 23.36 27.70 30.48
8 Kalimantan Barat 14.94 18.02 19.97 90.60 109.32 121.12 0.76 0.92 1.02 0.10 0.11 0.13
9 Kalimantan Selatan Kapuas Hulu
10 Kalimantan Barat 7.11 9.33 10.59 70.58 92.61 105.12 0.10 0.13 0.14 6.47 8.49 9.64
Hulu Sungai 10.65 12.62 13.89 77.22 91.56 100.77 3.31 3.93 4.32 8.30 9.84 10.83
Selatan 12.09 14.59 16.17 71.11 85.80 95.07 0.86 1.04 1.15 1.15 1.39
10.98 13.02 14.33 70.64 83.76 92.19 4.65 5.51 6.06 10.96 12.99 1.54
Gunung Mas 14.30
Melawi
Balangan
Sintang
3.3.4.9. Proyeksi Bahaya Bencana Kekeringan Pulau Kalimantan
Tabel 58. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kekeringan
di Pulau Kalimantan Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
(X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Kalimantan Timur Kutai Kartanegara 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Kalimantan Timur Kutai Timur 716 967 1,109 9,792 13,230 15,174 1,775 2,399 2,751
3 Kalimantan Timur Paser
4 Kalimantan Tengah Kotawaringin Timur 212 287 329 4,143 5,598 6,421 1,094 1,479 1,696
5 Kalimantan Timur Penajam Paser Utara
6 Kalimantan Timur Berau 205 278 318 3,881 5,243 6,014 486 657 754
7 Kalimantan Barat Sanggau
8 Kalimantan Timur Kutai Barat 202 265 300 3,719 4,880 5,539 657 862 978
9 Kalimantan Utara Nunukan
10 Kalimantan Timur Kota Samarinda 147 199 228 2,947 3,982 4,567 161 218 249
117 158 182 1,383 1,869 2,144 846 1,143 1,311
327 388 427 1,621 1,922 2,115 217 258 283
86 116 133 1,236 1,670 1,916 707 955 1,096
141 190 218 928 1,254 1,438 750 1,014 1,163
813 1,098 1,259 665 899 1,031 18 24 27
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 103
3.3.5. Proyeksi Ancaman dan Dampak Bencana Pulau Sulawesi
3.3.5.1. Proyeksi Multibahaya Bencana Pulau Sulawesi
Gambar 48. Peta Risiko Multi Bahaya Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
3.3.5.2. Proyeksi Bahaya Bencana Gempabumi Pulau Sulawesi
Tabel 59. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Gempabumi
di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar)
Kota 2015 2030 2045
1 Sulawesi Utara 390.24 436.19 472.02 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Sulawesi Tengah Kota Manado 225.53 272.87 303.52 114.09 127.53 138.00
3 Sulawesi Tengah Toli-Toli 368.04 445.30 495.31 4,155.95 4,645.27 5,026.85
4 Sulawesi Barat Kota Palu 421.29 541.22 616.08
Polewali 3,893.86 4,711.29 5,240.43 1,359.83 1,645.29 1,830.08
5 Gorontalo Mandar
6 Sulawesi Selatan Gorontalo 2,675.00 3,236.56 3,600.06 13.76 16.64 18.51
7 Sulawesi Tengah Luwu Timur
8 Sulawesi Selatan Parigi Moutong 2,436.91 3,130.62 3,563.64 449.59 577.57 657.46
9 Sulawesi Tengah Pinrang
10 Sulawesi Selatan Donggala 368.28 445.30 494.22 2,338.36 2,827.41 3,138.02 2,600.87 3,144.82 3,490.29
Luwu Utara 275.12 307.46 332.92 2,159.99 2,413.85 2,613.80 3,109.47 3,474.93 3,762.78
442.67 535.60 595.75 2,159.10 2,612.35 2,905.75 2,158.76 2,611.94 2,905.29
350.47 391.66 424.11 2,043.36 2,283.51 2,472.67 2,325.92 2,599.29 2,814.60
289.48 350.25 389.58 1,822.03 2,204.53 2,452.12 1,523.19 1,842.95 2,049.94
273.35 305.48 330.79 1,758.94 1,965.67 2,128.49 1,290.74 1,442.44 1,561.93
Pulau Sulawesi tersusun oleh tatanan tektonik yang kompleks. Struktur-struktur yang teridentifikasi
di Sulawesi hingga saat ini masih aktif bergerak dan sering menghasilkan gempa. Pulau Sulawesi ini
tersusun atas tatanan sesar-sesar yang aktif bergerak dengan kecepatan pergeseran yang berbeda-
beda. Jumlah sesar darat dan di sekitar perairan Sulawesi adalah sebanyak 48 sesar. Selain itu, di
sebelah utara Pulau Sulawesi terdapat zona subduksi aktif North Sulawesi Megathrust yang berpotensi
menghasilkan gempa dengan magnitudo sebesar M8.5.
RENCANA INDUK
104 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
Dengan tatanan tektonik seperti di atas, tidak heran jika di wilayah Sulawesi seringkali terjadi gempa.
Sejumlah gempa signifikan tercatat pernah terjadi di wilayah Sulawesi, yaitu di antaranya gempa
Palukoro tahun 1909 (Mw7) dan 2009 (Mw5.9), gempa Matano tahun 2011 (Mw6.1) dan 1980
(Mw6.1), gempa Ambelang tahun 2000 (Mw7.6), serta gempa subduksi utara Sulawesi tahun 1905
(M8.4), 1939 (M8.6), 1990 (M7.4), dan 1992(7.2). 5.3.5.3. Proyeksi Bahaya Bencana Tsunami Pulau
Sulawesi.
Gambar 49. Peta Sumber Gempa Darat, Sumber Gempa Subduksi, Tektonik, Katalog Gempa Wilayah Sulawesi.
Sumber: PuSGeN, 2018
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 105
Gambar 50. Peta Distribusi Penduduk terhadap Percepatan Puncak di Batuan Dasar untuk Probabilitas
Terlampau 10% dalam 50 Tahun Wilayah Sulawesi.
Sumber: PuSGeN, 2018
3.3.5.3. Proyeksi Bahaya Bencana Tsunami Pulau Sulawesi
Tabel 60. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tsunami
di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Sulawesi 2015 2030 2045
Selatan Kota 63.73 71.22 77.12 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Makassar 1.80 2.01 2.17 0.02 0.02 0.02
2 Sulawesi 61.90 69.17 74.90 1,237.98 1,383.48 1,498.09
Selatan Kepulauan 123.25 137.74 149.15 1.54 1.72 1.86
Selayar 60.34 67.44 73.02 845.66 945.05 1,023.34
3 Sulawesi 58.03 64.85 70.22 0.19 0.21 0.23
Selatan Takalar 202.11 225.87 244.58
4 Sulawesi Mamuju 49.83 64.01 72.87 295.82 380.03 432.59 56.34 72.37 82.39 1.84 2.37 2.69
Barat
Bulukumba 55.15 61.63 66.73 422.08 471.69 510.76 81.52 91.10 98.64 0.14 0.16 0.17
5 Sulawesi
Selatan Jeneponto 54.93 61.38 66.47 702.85 785.46 850.52 52.91 59.13 64.03 0.00 0.00 0.00
6 Sulawesi Kepulauan 46.13 51.56 55.80 500.22 559.11 605.04 14.41 16.11 17.43 0.46 0.52 0.56
Selatan Talaud
7 Sulawesi Pangkajene 42.53 47.52 51.46 1,335.47 1,492.43 1,616.05 9.21 10.30 11.15 0.46 0.51 0.55
Utara & Kepulauan
8 Sulawesi Kota Bitung 38.10 42.58 46.08 2,277.45 2,545.59 2,754.69 0.71 0.80 0.86 0.02 0.02 0.02
Selatan
Banggai 31.96 38.67 43.01 2,351.07 2,844.63 3,164.12 47.10 56.99 63.39 1.45 1.75 1.95
9 Sulawesi
Utara
10 Sulawesi
Tengah
RENCANA INDUK
106 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.5.4. Proyeksi Bahaya Bencana Erupsi Gunungapi Pulau Sulawesi
Tabel 61. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Erupsi Gunung
Api di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
1 Sulawesi Utara Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2 Sulawesi Utara
3 Sulawesi Utara Kota 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
4 Sulawesi Utara Tomohon 78.483 87.724 94.929 23.403 26.158 28.307 0.011 0.012 0.013 0.451 0.504 0.546
5 Sulawesi Utara
Minahasa 62.896 70.301 76.076 0.123 0.137 0.149 0.006 0.007 0.007 1.457 1.629 1.762
6 Sulawesi Utara 49.791 55.653 60.225 21.051 23.530 25.462 0.029 0.032 0.035 2.114 2.363 2.557
7 Sulawesi Utara Kota Bitung 31.662 35.390 38.297 0.015 0.017 0.018 1.490 1.665 1.802
- - -
8 Sulawesi Utara Minahasa
9 Sulawesi Utara Tenggara 31.351 35.042 37.921 49.619 55.461 60.017 0.033 0.037 0.040 1.822 2.037 2.204
10 Sulawesi Utara
Siau 29.066 32.488 35.157 68.198 76.228 82.489 0.070 0.078 0.085 2.542 2.841 3.075
Tagulandang 27.386 30.610 33.125 17.208 19.234 20.814 0.020 0.022 0.024 0.832 0.930 1.006
Biaro
23.989 26.813 29.016 --- --- ---
Kepulauan 12.166 13.598 14.715 0.345 0.386 0.417 0.001 0.001 0.001 1.810 2.023 2.189
Sangihe
6.925 7.740 8.376 0.404 0.452 0.489 0.001 0.001 0.001 0.024 0.027 0.029
Bolaang
Mongondow
Timur
Kota Manado
Minahasa
Selatan
Bolaang
Mongondow
3.3.5.5. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Pulau Sulawesi
Untuk wilayah Sulawesi, bencana banjir menjadi ancaman paling besar di daerah Kota Makasar, bahkan
jauh melampaui kota kota lain di Sulawesi yang diperkirakan mengalami risiko bencana banjir. Tidak
sedikit kerugian jiwa dan materil diperkirakan memiliki risiko bencana banjir, juga di beberapa wilayah
lainnya.
Secara mendasar dan menyeluruh di wilayah Sulawesi, bencana banjir berisiko pada terpaparnya korban
jiwa, antara lain ada 6,6 juta jiwa terpapar bahaya banjir di seluruh Sulawesi pada 2015. Dari 2015 ke
2030 terdapat kenaikan sebesar 0,17% atau menjadi 7,7 juta jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,10%
atau menjadi 8,5 juta jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir harus serius untuk ditangani,
mengingat juga pada perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya. Sementara itu
kerugian fisik akibat bahaya banjir di wilayah Sulawesi diperkirakan mencapai total Rp5.367,61 Milyar
pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,16% atau menjadi Rp6.220,85 Milyar, dan pada 2045 jadi 0.10% atau
menjadi Rp6.827,15 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada fasilitas sarana dan
prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air dan pengaturan infrastruktur
pengairan di wilayah padat penduduk.
Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total Rp7.427,08 Milyar pada 2015,
pada 2030 naik jadi 0,20% atau menjadi Rp8.938,98 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,11% atau menjadi Rp
9.914,37 Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain akses
pada pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar dan pusat-
pusat kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat-pusat industri yang bergerak cukup
mendasar di wilayah tersebut, seperti industri, pabrik juga termasuk kawasan pertanian.
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 107
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total 120,04 Ha pada 2015, pada 2030
naik jadi 0,22% atau menjadi 146,67 Ha, dan pada 2045 jadi 0,12% atau menjadi 163,67 Ha. Persoalan
lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan-lahan produktif,
namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat ketidaktepatan
pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja bahaya bencana
yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan iklim dan lainnya.
Secara menyeluruh di Sulawesi risiko terbesar ada di wilayah (1) Kota Makassar. Hal ini jauh melampaui
daerah-daerah yang berdampak risiko banjir di seluruh Sulawesi. Selanjutnya pebandingan risiko bencana
menjadi hampir sama dengan wilayah wilayah lainnya, seperti (2) Bone, (3) Pinrang, (4) Parigi Moutong,
(5) Gowa, (6) Luwuk Utara, (7) Marros, (8) Pangkajene Kepulauan (9) Polewali Mandar, dan (10) Takalar.
Tabel 62. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir
di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Kerusakan Lingkungan
Kota Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
5.59 6.24 6.76 0.05 0.06 0.07
1 Sulawesi Kota 1,186.58 1,326.04 1,435.89 1,656.06 1,850.69 2,004.00
Selatan Makassar
2 Sulawesi Gowa 316.05 353.19 382.45 178.05 198.97 215.46 63.66 71.14 77.04 0.04 0.04 0.04
Selatan
3 Sulawesi Polewali 197.17 253.30 288.34 85.62 110.00 125.21 60.31 77.47 88.19 0.32 0.41 0.47
Barat Mandar
4 Sulawesi Parigi 200.17 242.19 269.39 95.89 116.02 129.05 294.09 355.83 395.79 2.67 3.23 3.59
Tengah Moutong
5 Sulawesi Pinrang 219.42 245.21 265.52 82.45 92.13 99.77 371.28 414.92 449.29 0.17 0.19 0.20
Selatan
6 Sulawesi Bone 212.08 237.00 256.63 98.93 110.55 119.71 438.60 490.14 530.75 3.34 3.73 4.04
Selatan
7 Sulawesi Luwu Utara 190.26 212.62 230.23 210.55 235.29 254.78 259.84 290.37 314.43 5.77 6.45 6.98
Selatan
8 Sulawesi Maros 189.52 211.80 229.34 284.14 317.54 343.84 219.75 245.57 265.91 0.14 0.16 0.17
Selatan
9 Sulawesi Pangkajene 185.00 206.75 223.87 224.24 250.60 271.35 143.01 159.81 173.05 0.42 0.47 0.51
Selatan & Kepulauan
10 Sulawesi Takalar 184.00 205.62 222.66 108.90 121.70 131.78 108.40 121.14 131.17 0.50 0.56 0.61
Selatan
3.3.5.6. Proyeksi Bahaya Bencana Tanah Longsor Pulau Sulawesi
Tabel 63. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tanah Longsor
di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Sulawesi 2015 2030 2045
Selatan Tana Toraja 121.99 136.32 147.61 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
218.80 244.51 264.77 103.22 115.35 124.91
2 Sulawesi Toraja Utara 101.01 112.88 122.23 917.54 1,025.38 1,110.32
Selatan 454.59 508.02 550.10 49.66 55.49 60.09
Mamasa 79.86 102.59 116.78 683.22 763.52 826.77
3 Sulawesi 182.73 234.75 267.22 150.30 193.08 219.79
Barat Enrekang 93.06 103.99 112.61 674.90 867.02 986.95
220.93 246.90 267.35 71.30 79.68 86.28
4 Sulawesi Gowa 90.79 101.46 109.87 596.41 666.50 721.71
Selatan 372.51 416.29 450.78 33.33 37.25 40.33
491.94 549.75 595.29
5 Sulawesi
Selatan
RENCANA INDUK
108 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
6 Sulawesi Majene 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Barat 63.63 81.75 93.05 273.81 351.75 400.40 26.92 34.59 39.37 44.66 57.38 65.31
7 Sulawesi Banggai 62.48 75.60 84.09 319.38 386.43 429.83 260.21 314.83 350.19 373.02 451.33 502.02
Tengah
8 Sulawesi Kepulauan 65.56 73.28 79.30 349.32 390.45 422.52 40.77 45.57 49.31 9.24 10.33 11.18
Utara Sangihe
9 Sulawesi Sinjai 59.33 66.30 71.80 390.61 436.52 472.68 98.56 110.15 119.27 8.64 9.66 10.46
Selatan
10 Sulawesi Polewali 43.78 56.24 64.01 250.70 322.07 366.62 132.77 170.57 194.16 65.42 84.05 95.67
Barat Mandar
3.3.5.7. Proyeksi Bahaya Bencana Gelombang Ekstrim dan Abrasi Pulau Sulawesi
Tabel 64. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Gelombang
Ekstrim dan Abrasi di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Sulawesi Tengah
2 Sulawesi Tengah Banggai 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
44.53 53.88 59.93 426.09 515.54 573.44 31.90 38.59 42.93 3.60 4.36 4.85
3 Gorontalo Banggai
4 Sulawesi Utara Kepulauan 44.00 53.24 59.22 342.45 414.33 460.87 19.38 23.45 26.08 2.12 2.56 2.85
5 Sulawesi Tenggara Bone Bolango 10.95 13.23 14.69 315.33 381.28 423.17 1.23 1.49 1.65 0.07 0.08 0.09
6 Sulawesi Utara 25.97 29.03 31.41 290.02 324.16 350.79 4.72 5.28 5.71 0.40 0.45 0.49
Minahasa
7 Sulawesi Tengah Selatan 4.42 5.72 6.50 284.36 368.35 418.35 0.08 0.10 0.11 0.10 0.13 0.15
8 Sulawesi Tengah 34.73 38.82 42.00 265.36 296.60 320.96 12.56 14.04 15.20 0.85 0.95 1.03
9 Sulawesi Utara Konawe
26.59 32.17 35.79 210.00 254.08 282.62 4.74 5.73 6.37 6.49 7.85 8.73
10 Sulawesi Tengah Kepulauan 31.89 38.58 42.92 203.62 246.36 274.03 7.27 8.80 9.78 11.32 13.70 15.24
Talaud 25.14 28.10 30.41 180.51 201.76 218.34 10.13 11.32 12.25
0.90 1.00 1.08
Banggai Laut
35.33 42.75 47.55 156.72 189.62 210.92 15.30 18.51 20.59 1.70 2.05 2.29
Tojo Una-Una
Kepulauan
Sangihe
Toli-Toli
3.3.5.8. Proyeksi Bahaya Bencana Cuaca Ekstrim Pulau Sulawesi
Tabel 65. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Cuaca Ekstrim
di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi
(X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar)
1 Sulawesi Selatan Kota Makassar
2 Sulawesi Selatan Bone 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
3 Sulawesi Selatan Gowa 1,441.94 1,611.41 1,744.89 58.76 65.66 71.10 1.33 1.49 1.61
4 Sulawesi Barat Polewali Mandar 18.14 20.27 21.95 7.22 8.07 8.74
5 Sulawesi Tengah Parigi Moutong 740.53 827.57 896.12 23.78 26.57 28.77 4.79 5.35 5.80
6 Sulawesi Tenggara Kota Kendari 15.25 19.59 22.30 0.80 1.02 1.16
7 Sulawesi Utara Kota Manado 718.22 802.63 869.12
8 Gorontalo Gorontalo 1.46 1.77 1.97 14.94 18.08 20.11
9 Sulawesi Selatan Bulukumba 421.43 541.40 616.28 3.10 4.01 4.55 - --
10 Sulawesi Tengah Kota Palu - --
441.33 533.98 593.96 ---
0.47 0.56 0.63 0.01 0.01 0.01
345.34 447.34 508.07 5.45 6.09 6.60 7.52 8.40 9.10
0.31 0.37 0.41
418.86 468.18 506.64 - --
369.03 446.21 495.23
408.68 456.71 494.55
364.46 440.97 490.50
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 109
3.3.5.9. Proyeksi Bahaya Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Pulau Sulawesi
Tabel 66. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak
Kebakaran Hutan dan Lahan di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Kota Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan (X1000
Ha)
1 Sulawesi Barat Mamuju Utara 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2,793 3,588 4,084 87 111 127
2 Sulawesi Barat Mamuju Tengah 619 795 905 108 138 157
442 535 596
3 Sulawesi Tengah Morowali Utara 365 441 491 234 284 315
320 411 468
4 Sulawesi Tengah Donggala 207 250 279
39 47 53
5 Sulawesi Barat Mamuju 32 36 39 187 240 274
22 28 32
6 Sulawesi Tengah Toli-Toli 13 17 19 123 149 166
14 16 18
7 Sulawesi Selatan Bone 65 73 79
8 Sulawesi Tenggara Kolaka Utara 105 136 155
9 Sulawesi Tenggara Konawe Utara 190 246 280
10 Sulawesi Tengah Banggai 345 417 464
3.3.5.10. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Bandang Pulau Sulawesi
Untuk wilayah Sulawesi, bencana banjir bandang menjadi ancaman paling besar dan mencolok
terdapat di Mamuju, bahkan jauh melampaui kota kota lain di Sulawesi yang diprkirakan mengalami
risiko bencana banjir bandang. Tidak sedikit kerugian jiwa dan materil diperkirakan memiliki risiko
bencana banjir, juga di beberapa wilayah lainnya. Secara mendasar dan menyeluruh di wilayah Sulawesi,
bencana banjir bandang berisiko pada terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 724,50 ribu jiwa
terpapar bahaya banjir bandang di seluruh Sulawesi pada 2015. Dari 2015 ke 2030 terdapat kenaikan
sebesar 0,18% atau menjadi 851,30 ribu jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,10% atau menjadi 938,24
ribu jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir cukup serius untuk ditangani, mengingat
juga pada perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.
Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir bandang di Sulawesi diperkirakan mencapai total
Rp5.000,54 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,19% atau menjadi Rp5.959,14 Milyar, dan pada
2045 jadi 0.11% atau menjadi Rp6.603,06 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada
fasilitas sarana dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air dan
pengaturan infrastruktur pengairan di wilayah padat penduduk.
Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total Rp3.326,36 Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,17% atau menjadi Rp3.819,65 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,10% atau
menjadi Rp4.199,83 Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian,
selain akses pada pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada
pasar dan pusat pusat kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat pusat Industri
yang bergerak cukup mendasar di wilayah tersebut, seperti Industri, Pabrik juga termasuk kawasan
pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total 142,95 Ha pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,21% atau menjadi 173,16 Ha, dan pada 2045 jadi 0,11% atau menjadi
192,73 Ha. Persoalan lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada
lahan lahan produktif, namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi
RENCANA INDUK
110 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
akibat ketidak tepatan pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu
saja bahaya yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan
iklim dan lainnya.
Secara menyeluruh di wilayah Sulawesi risiko terbesar banjir bandang ada di (1) Mamuju. Hal ini jauh
melampaui daerah-daerah yang berdampak risiko banjir di seluruh Sulawesi. Selanjutnya pebandingan
risiko bencana menjadi hampir sama dengan wilayah-wilayah lainnya, seperti (2) Polewali Mandar; (3)
Parigi Moutong, (4) Poso, (5) Luwu Utara, (6) Luwu, (7) Toli Toli, (8) Sigi, (9) Toraja Utara, dan (10) Kota
Manado.
Tabel 67. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir Bandang
di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Sulawesi Tengah
Parigi 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Sulawesi Barat Moutong 37.22 45.03 50.09 179.81 217.56 242.00 108.27 131.00 145.72 5.49 6.64 7.39
Polewali
3 Sulawesi Tengah Mandar 32.19 41.35 47.07 179.63 230.77 262.69 11.95 15.35 17.48 1.36 1.75 1.99
4 Sulawesi Utara Poso
5 Sulawesi Barat Kota Manado 29.47 35.66 39.66 167.51 202.68 225.44 97.67 118.17 131.44 10.43 12.61 14.03
6 Sulawesi Selatan Mamuju 29.89 33.40 36.15 106.99 119.59 129.41 - - - - - -
7 Sulawesi Tengah Luwu 22.20 28.52 32.46 379.50 487.53 554.97
8 Sulawesi Selatan Toli-Toli 24.96 27.89 30.20 136.29 152.31 164.92 21.90 28.13 32.02 3.98 5.11 5.81
9 Sulawesi Tengah Luwu Utara 21.38 25.87 28.77 116.77 141.28 157.14 28.21 31.52 34.13 0.95 1.07 1.15
10 Sulawesi Selatan Sigi 23.40 26.15 28.32 158.01 176.58 191.21 78.82 95.36 106.07 3.25 3.93 4.37
Toraja Utara 20.86 25.24 28.07 108.73 131.55 146.32 99.44 111.13 120.34 8.23 9.20 9.96
22.79 25.47 27.57 108.28 121.01 131.03 68.67 83.08 92.41 8.79 10.63 11.83
20.25 22.63 24.50 0.61 0.68 0.73
3.3.5.11. Proyeksi Bahaya Bencana Kekeringan Pulau Sulawesi
Tabel 68. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak
Kekeringan di Pulau Sulawesi Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
(X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Sulawesi Utara Bolaang Mongondow
2 Sulawesi Tengah Banggai 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
3 Gorontalo Pohuwato 193.23 215.98 233.72
4 Gorontalo Gorontalo 233.00 260.43 281.82 5,572.79 6,228.93 6,740.60
5 Sulawesi Tengah Parigi Moutong 94.03 113.77 126.54
6 Sulawesi Tengah Toli-Toli 52.34 63.33 70.44 978.07 1,183.39 1,316.30 63.22 76.45 84.84
7 Sulawesi Tengah Poso 28.81 34.83 38.66
8 Sulawesi Utara Minahasa Selatan 103.54 125.19 138.95 971.30 1,174.44 1,303.46 88.36 106.91 118.92
9 Sulawesi Utara Bolaang Mongondow 68.51 82.89 92.20
Timur 263.16 318.20 353.16 932.78 1,127.86 1,251.77 210.39 254.56 283.15
10 Sulawesi Utara Minahasa 40.68 45.47 49.21
131.63 159.27 177.16 703.31 850.96 946.53 47.54 53.14 57.50
56.79 68.71 76.43 599.45 725.29 806.75 15.43 17.25 18.66
134.51 162.74 181.02 572.00 692.08 769.81
204.80 228.91 247.71 596.02 666.20 720.92
68.63 76.71 83.01 524.05 585.76 633.87
328.69 367.39 397.57 424.37 474.33 513.30
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 111
3.3.6. Proyeksi Ancaman dan Dampak Bencana Kepulauan Maluku
3.3.6.1. Proyeksi Multibahaya Bencana Pulau Maluku
Gambar 51. Peta Risiko Multi Bahaya Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
3.3.6.2. Proyeksi Bahaya Bencana Gempabumi Pulau Maluku
Tabel 69. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Gempabumi
di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar)
1 Maluku 2015 2030 2045
2 Maluku Kota Ambon 361.10 450.53 507.23 2015 2030 2045 2015 2030 2045
295.20 368.31 414.66 0.75 0.85
3 Maluku Utara Maluku 8,168.61 10,191.76 11,474.20 0.60
4 Maluku Utara Tengah 209.20 269.87 306.92
178.15 229.82 261.37 2,241.70 2,796.91 3,148.85 991.01 1,236.46 1,392.05
5 Maluku Utara Kota Ternate
153.21 197.65 224.78 1,695.30 2,186.99 2,487.19 0.67 0.86 0.98
6 Maluku Utara Halmahera 1,865.45 2,406.48 2,736.82 91.45 117.97 134.16
Utara 109.98 141.88 161.36
7 Maluku Utara 1,842.91 2,377.41 2,703.75 127.33 164.26 186.81
Halmahera 84.10 108.49 123.39
8 Maluku Selatan 1,659.89 2,141.31 2,435.24 28.51 36.78 41.83
9 Maluku Utara 86.95 108.48 122.13
Halmahera 73.55 94.88 107.90 774.77 999.48 1,136.67 537.33 693.17 788.32
10 Maluku Barat
74.88 93.42 105.18 546.48 681.82 767.62 783.84 977.97 1,101.03
Halmahera 1,067.79 1,377.48 1,566.56 43.94 56.69 64.47
Timur
335.51 418.60 471.27 106.90 133.37 150.16
Buru
Kepulauan
Sula
Seram
Bagian Barat
Laut Maluku terletak di pertemuan tiga lempeng utama dunia yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Laut
Filipina, dan Lempeng Australia. Zona penunjaman antara Lempeng Laut Maluku ke timur di bawah
Halmahera dan ke barat di bawah Sangihe Arc menciptakan zona subduksi ganda (double subduction)
RENCANA INDUK
112 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
yang berpotensi menghasilkan gempa dengan magnitudo sebesar M8.2. Selain itu, wilayah Maluku
juga didominasi dengan aktivitas dari sesar darat dan juga sesar perairan sebanyak 37 segmen sesar.
Gempa historik yang terjadi akibat subduksi ganda ini adalah gempa pada 14 Maret 1913 di Lempeng
Barat Laut Maluku dengan skala M7.9 dan gempa pada 14 Mei 1992 dengam M8.1 di Lempeng Timur
Laut Maluku.
3.3.6.3. Proyeksi Bahaya Bencana Tsunami Pulau Maluku
Tabel 70. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tsunami
di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan
1 Maluku Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) Lingkungan
(X1000 Ha)
Maluku 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Tengah 106.68 133.10 149.85 15.69 19.58 22.04 2015 2030 2045
1,535.69 1,916.04 2,157.13
2.23 2.78 3.13
2 Maluku Halmahera 70.06 90.37 102.78 1,677.12 2,163.53 2,460.52 195.61 252.34 286.98 5.72 7.38 8.39
Utara Selatan
3 Maluku Seram Bagian 68.03 84.88 95.56 579.59 723.14 814.13 4.82 6.01 6.77 1.64 2.05 2.31
Barat
4 Maluku Kota Ternate 43.43 56.02 63.71 1,167.12 1,505.61 1,712.29 0.04 0.05 0.06 0.08 0.11 0.12
Utara
5 Maluku Seram Bagian 40.11 50.04 56.34 229.69 286.58 322.64 1.16 1.45 1.63 1.78 2.21 2.49
Timur
6 Maluku Maluku 35.35 44.11 49.66 185.67 231.66 260.81 0.51 0.64 0.72 4.47 5.58 6.28
Tenggara
Barat
7 Maluku Maluku Barat 35.17 43.88 49.41 241.25 300.99 338.87 1.15 1.43 1.61 1.45 1.80 2.03
Daya
8 Maluku Kota Ambon 27.22 33.97 38.24 2,300.53 2,870.31 3,231.49 0.03 0.03 0.04 0.01 0.01 0.01
9 Maluku Buru Selatan 25.91 32.33 36.40 142.24 177.47 199.80 0.55 0.68 0.77 0.12 0.15 0.17
10 Maluku Kota Tidore 22.96 29.62 33.68 94.31 121.66 138.36 0.21 0.27 0.31 0.47 0.61 0.69
Utara Kepulauan
3.3.6.4. Proyeksi Bahaya Bencana Erupsi Gunungapi Pulau Maluku
Tabel 71. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Erupsi Gunung
Api di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
1 Maluku Utara Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
Halmahera 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
Selatan 9.33 12.03 13.68 11.99 15.47 17.60 0.01 0.01 0.01 2.87 3.70 4.21
2 Maluku Utara Kota Ternate 31.02 40.02 45.51 7.28 9.39 10.68 0.00 0.00 0.00 1.54 1.98 2.25
3 Maluku Utara Halmahera 27.38 35.32 40.17 2.37 3.06 3.48 0.01 0.01 0.02 4.83 6.23 7.09
Barat
4 Maluku Maluku Tengah 1.64 2.05 2.30 - - - - - - 0.18 0.22 0.25
3.3.6.5. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Pulau Maluku
Untuk wilayah Maluku, bencana banjir menjadi ancaman paling besar di daerah Maluku Tengah dan
Buru, Tidak sedikit kerugian jiwa dan materil yang diperkirakan memiliki risiko bencana banjir, juga di
beberapa wilayah lainnya.
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 113
Secara mendasar bencana banjir berisiko pada terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 408 ribu jiwa
terpapar bahaya banjir di seluruh Maluku pada 2015. Dari 2015 ke 2030 terdapat kenaikan sebesar
0,27% atau menjadi 517 ribu jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,13% atau menjadi 585 ribu jiwa.
Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir harus serius untuk ditangani, mengingat juga pada
perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.
Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir di Maluku diperkirakan mencapai total Rp140 Milyar
pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,25% atau menjadi RP 1.428 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,13% atau
menjadi Rp1.610 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada fasilitas sarana dan
prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air dan pengaturan infrastruktur
pengairan di wilayah padat penduduk.
Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total Rp794 Milyar pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,25% atau menjadi Rp994 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,13% atau menjadi Rp1.120
Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain akses pada
pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar dan pusat-pusat
kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat- pusat industri yang bergerak cukup
mendasar di wilayah tersebut, seperti industri, pabrik juga termasuk kawasan pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total 167 Ha pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,25% atau menjadi 210 Ha, dan pada 2045 jadi 0.13% atau menjadi 236 Ha. Persoalan
lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan-lahan produktif,
namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat ketidaktepatan
pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja bahaya bencana
yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan iklim dan
lainnya.
Secara menyeluruh di Maluku risiko terbesar ada di wilayah (1) Maluku Tengah (tampak menyolok)
disusul dengan (2) Buru dengan potensi risiko bencana banjir. Selanjutnya disusul oleh (3) Halmahera
Timur (4) Seram Bagian Barat,(5) Halmahera Utara, (6) Halmahera Selatan, (7) Halmahera Tengah, (8)
Seram Bagian Timur, (9) Pulau Taliabu dan (10) Kota Tidore Kepulauan. Perlu diperhatiikan Wilayah
Halmahera karena hampir seluruh wilayah Halmahera berpotensi bencana banjir
Tabel 72. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir
di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
(X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Maluku Maluku Tengah
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Maluku Buru 45.39 56.63 63.76 111.03 138.53 155.96 401.65 501.13 564.19 16.51 20.60 23.20
36.60 45.66 51.41 260.51 325.03 365.93
3 Maluku Utara Halmahera Timur 26.09 33.65 38.27 66.27 82.69 93.09 5.52 6.88 7.75
33.23 41.45 46.67 19.37 24.99 28.42 68.77 88.72 100.89 4.65 5.99 6.81
4 Maluku Seram Bagian Barat 32.49 41.91 47.66 51.82 64.66 72.79 1.39 1.73 1.95
24.84 32.04 36.44 9.04 11.27 12.69 3.77 4.86 5.53
5 Maluku Utara Halmahera Utara 10.33 13.33 15.16 19.27 24.86 28.27 3.15 4.06 4.62 5.15 6.65 7.56
24.35 30.37 34.20 26.10 33.67 38.30 2.74 3.53 4.02 1.67 2.15 2.45
6 Maluku Utara Halmahera Selatan 12.70 16.38 18.62 22.26 28.72 32.66 1.97 2.55 2.90 14.50 18.09 20.37
22.29 28.75 32.70 65.41 81.61 91.88 1.76 2.20 2.48 3.94 5.08 5.77
7 Maluku Utara Halmahera Tengah 0.38 0.49 0.56 0.63 0.82 0.93
5.78 7.46 8.48 0.33 0.42 0.48
8 Maluku Seram Bagian Timur 7.23 9.33 10.61
9 Maluku Utara Pulau Taliabu
10 Maluku Utara Kota Tidore
Kepulauan
RENCANA INDUK
114 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.6.6. Proyeksi Bahaya Bencana Tanah Longsor Pulau Maluku
Gambar 52. Peta Sumber Gempa Darat dan Sumber Gempa
Subduksi Gempa Wilayah Maluku.
Sumber: PuSGeN, 2018
Gambar 53. Peta Distribusi Penduduk terhadap Percepatan Puncak di Batuan Dasar untuk
Probabilitas Terlampau 10% dalam 50 Tahun Wilayah Maluku.
Sumber: PuSGeN, 2018
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 115
Tabel 73. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan
Lingkungan Dampak Tanah Longsor di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota
No. Provinsi (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
1 Maluku Kota Ambon 81.44 101.61 114.39 245.71 306.56 345.13 0.92 1.14 1.29 5.50 6.86 7.72
2 Maluku Maluku 49.87 62.22 70.05 244.53 305.10 343.49 40.06 49.98 56.26 339.21 423.23 476.48
Tengah
3 Maluku Seram 27.21 33.95 38.23 182.57 227.79 256.45 21.60 26.95 30.34 219.91 274.37 308.90
Bagian Barat
4 Maluku Maluku 12.96 16.16 18.20 138.21 172.44 194.14 7.39 9.22 10.37 138.56 172.87 194.63
Barat Daya
5 Maluku Utara Kota Ternate 29.01 37.42 42.55 99.52 128.38 146.00 1.09 1.40 1.59 4.47 5.77 6.56
6 Maluku Buru 18.18 22.68 25.53 101.02 126.04 141.90 7.75 9.67 10.88 236.68 295.30 332.46
7 Maluku Utara Kepulauan 16.55 21.34 24.27 83.87 108.19 123.04 18.55 23.93 27.21 50.13 64.67 73.55
Sula
8 Maluku Buru 9.02 11.26 12.67 84.32 105.21 118.44 6.55 8.17 9.20 232.12 289.60 326.05
Selatan
9 Maluku Utara Halmahera 11.78 15.20 17.28 73.32 94.59 107.57 11.52 14.86 16.90 235.89 304.31 346.08
Selatan
10 Maluku Utara Kota Tidore 10.47 13.51 15.37 55.28 71.32 81.11 3.34 4.30 4.89 54.14 69.85 79.43
Kepulauan
3.3.6.7. Proyeksi Bahaya Bencana Gelombang Ekstrim dan Abrasi Pulau Maluku
Tabel 74. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Gelombang
Ekstrim dan Abrasi di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
1 Maluku Utara Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2 Maluku Utara 2015 2030 2045
3 Maluku Utara Kota 27.60 35.60 40.49 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
4 Maluku Utara Ternate 0.72 0.93 1.05
5 Maluku Utara 44.41 57.29 65.16 939.79 1,212.36 1,378.77 0.09 0.12 0.14
6 Maluku Utara Kepulauan
7 Maluku Utara Sula 115.79 149.38 169.88 611.27 788.55 896.80 0.38 0.49 0.56 1.49 1.93 2.19
8 Maluku Utara
9 Maluku Utara Halmahera 21.78 28.10 31.96 392.78 506.69 576.24 2.22 2.86 3.25 10.72 13.83 15.73
10 Maluku Utara Selatan
25.25 32.57 37.04 339.18 437.56 497.62 0.36 0.46 0.53 3.68 4.74 5.40
Halmahera
Tengah 40.37 52.08 59.23 135.27 174.51 198.46 1.51 1.94 2.21 1.66 2.14 2.43
Pulau 29.09 37.53 42.68 127.89 164.98 187.63 1.25 1.61 1.83 1.26 1.62 1.84
Morotai
10.60 13.67 15.55 122.40 157.89 179.57 0.07 0.09 0.10 0.54 0.69 0.79
Halmahera
Utara 27.07 34.92 39.71 42.66 55.03 62.59 0.46 0.60 0.68 1.15 1.49 1.69
Kota Tidore 18.61 24.01 27.31 37.71 48.65 55.33 0.21 0.27 0.31 1.46 1.88 2.14
Kepulauan
25.82 33.30 37.88 0.08 0.11 0.12 2.36 3.04 3.46
Halmahera
Barat
Halmahera
Timur
Pulau
Taliabu
RENCANA INDUK
116 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.6.8. Proyeksi Bahaya Bencana Cuaca Ekstrim Pulau Maluku
Tabel 75. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan
Lingkungan Dampak Cuaca Ekstrim di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi
(X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar)
1 Maluku Kota Ambon
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Maluku Maluku Tengah 402.25 501.88 565.03 0.42 0.53 0.60 -- -
330.58 412.45 464.35 2.93 3.65 4.11
3 Maluku Utara Kota Ternate 201.77 260.29 296.02 0.16 0.20 0.23 0.69 0.86 0.97
198.16 255.63 290.72 1.99 2.57 2.92 0.00 0.00 0.00
4 Maluku Utara Halmahera Selatan 177.05 228.40 259.75 1.07 1.38 1.57 0.12 0.15 0.17
158.77 198.09 223.02 5.39 6.73 7.58 0.01 0.01 0.01
5 Maluku Utara Halmahera Utara 114.78 143.21 161.23 0.04 0.04 0.05 0.00 0.00 0.01
109.63 141.43 160.84 0.10 0.13 0.15
6 Maluku Seram Bagian Barat -- -
94.10 121.39 138.05 --- 0.00 0.00 0.00
7 Maluku Buru 90.88 113.39 127.66 0.99 1.24 1.39
-- -
8 Maluku Utara Halmahera Barat 0.00 0.00 0.00
9 Maluku Utara Kota Tidore Kepulauan
10 Maluku Maluku Tenggara Barat
3.3.6.9. Proyeksi Bahaya Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Pulau Maluku
Tabel 76. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan
Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
(Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Maluku Utara Halmahera Selatan
2 Maluku Buru 2015 2030 2045 2015 2030 2045
3 Maluku Seram Bagian Timur 21.99 28.37 32.26 347.80 448.68 510.27
4 Maluku Maluku Tengah 16.37 20.43 23.00 241.19 300.93 338.79
5 Maluku Utara Halmahera Timur 241.89 301.80 339.78
6 Maluku Seram Bagian Barat 3.47 4.33 4.87 337.37 420.93 473.90
7 Maluku Utara Halmahera Utara 3.46 4.32 4.87 284.07 366.46 416.76
8 Maluku Utara Pulau Taliabu 1.18 1.52 1.73 209.46 261.34 294.22
9 Maluku Utara Kepulauan Sula 1.06 1.32 1.48 110.79 142.92 162.54
10 Maluku Maluku Barat Daya 0.77 1.00 1.14 152.96 197.33 224.41
0.75 0.97 1.10
0.34 0.44 0.50 74.24 95.77 108.91
0.21 0.26 0.30 175.68 219.19 246.77
3.3.6.10. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Bandang Pulau Maluku
Untuk wilayah Maluku, bencana banjir bandang menjadi ancaman paling besar di daerah Halmahera
Selatan dan Maluku Tengah. Tidak sedikit kerugian jiwa dan materil yang diperkirakan memiliki risiko
bencana banjir bandang ini, juga di beberapa wilayah lainnya.
Secara mendasar bencana banjir bandang berisiko pada terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 101
ribu jiwa terpapar bahaya banjir di seluruh Maluku pada 2015. Dari 2015 ke 2030 terdapat kenaikan
sebesar 0,27% atau menjadi 128 ribu jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,13% atau menjadi 145 ribu
jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir cukup serius untuk ditangani, mengingat juga
pada perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 117
Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir bandang di wilayah Maluku diperkirakan mencapai
total Rp623 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,27% atau menjadi Rp793 Milyar, dan pada 2045
jadi 0,13% atau menjadi Rp898 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada fasilitas
sarana dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air dan pengaturan
infrastruktur pengairan di wilayah padat penduduk.
Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total Rp186 Milyar pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,26% atau menjadi Rp234 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,13% atau menjadi
Rp265 Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain akses
pada pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir bandang, juga akses pada
pasar dan pusat pusat kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat pusat Industri
yang bergerak cukup mendasar di wilayah tersebut, seperti Industri, pabrik juga termasuk kawasan
pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total 127 Ha pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,27% atau menjadi 161 Ha, dan pada 2045 jadi 0,13% atau menjadi 182
Ha. Persoalan lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan
lahan produktif, namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat
ketidaktepatan pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja
bahaya yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan iklim
dan lainnya.
Secara menyeluruh di wilayah Maluku risiko terbesar ada di wilayah (1) Halmahera Selatan dan (2)
Maluku Tengah, keduanya berpotensi cukup tinggi dibanding wilayah-wilayah lainnya. Selanjutnya
potensi risiko bencana banjir bandang diikuti oleh wilayah (3) Kota Ternate, (4) Halmahera Utara, (5)
Halmahera Barat, (6) Bima, (7) Seram Bagian Barat, (8) Halmahera Timur, (9) Maluku Barat Daya, dan
(10) Kota Tidore Kepulauan.
Tabel 77. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir Bandang
di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
Jiwa Terpapar (X1000 Kerugian Fisik (Rp Kerugian Ekonomi (Rp Kerusakan Lingkungan
Miliar) Miliar) (X1000 Ha)
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2015 2030 2045 95.48 123.17 140.08 2.61 3.36 3.82 8.27 10.67 12.14
1 Maluku Utara Halmahera 10.46 13.49 15.35
Selatan
2 Maluku Maluku Tengah 13.77 17.18 19.34 94.73 118.19 133.06 69.37 86.55 97.44 22.72 28.34 31.91
66.28 85.50 97.24 0.16 0.21 0.24 0.11 0.14 0.16
3 Maluku Utara Kota Ternate 12.50 16.12 18.33 65.46 84.45 96.04 2.93 3.78 4.30 4.82 6.21 7.07
56.49 72.87 82.87 2.62 3.38 3.84 3.56 4.59 5.22
4 Maluku Utara Halmahera Utara 12.14 15.66 17.81 56.70 70.74 79.64 7.07 8.82 9.93
46.19 57.63 64.88 21.67 27.04 30.44 9.61
5 Maluku Utara Halmahera Barat 11.09 14.30 16.26 36.07 45.00 50.67 11.99 13.50
6 Maluku Buru 13.55 16.90 19.03
7 Maluku Seram Bagian 8.02 10.00 11.26
Barat
8 Maluku Utara Halmahera Timur 5.87 7.57 8.61 31.58 40.74 46.33 45.45 58.63 66.68 27.34 35.27 40.11
30.03 37.46 42.18 0.87 1.08 1.22 7.63 9.52 10.72
9 Maluku Maluku Barat 2.40 2.99 3.37
Daya
10 Maluku Utara Kota Tidore 4.28 5.52 6.27 25.10 32.38 36.83 1.07 1.37 1.56 3.34 4.31 4.91
Kepulauan
RENCANA INDUK
118 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.6.11. Proyeksi Bahaya Bencana Kekeringan Pulau Maluku
Tabel 78. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak
Kekeringan di Pulau Maluku Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar (X1000 Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan
Jiwa) (X1000 Ha)
1 Maluku Utara Halmahera Selatan 2015 2030 2045
2 Maluku Buru 2015 2030 2045 2,882.59 3,718.63 4,229.07 2015 2030 2045
3 Maluku Maluku Tengah 87.08 112.33 127.75 1,124.41 1,402.90 1,579.43 258.60 333.60 379.39
4 Maluku Utara Halmahera Timur 127.82 159.48 179.55 1,088.91 1,358.60 1,529.56 353.82 441.45 497.00
5 Maluku Seram Bagian Barat 267.65 333.94 375.96 346.01 431.71 486.03
6 Maluku Seram Bagian Timur 85.09 109.77 124.84 608.54 785.03 892.79 538.40 694.55 789.89
7 Maluku Utara Pulau Taliabu 141.62 176.70 198.93 185.43 231.35 260.46 252.16 314.62 354.21
8 Maluku Utara Halmahera Utara 72.96 91.03 102.48 121.42 151.49 170.55 453.60 565.95 637.16
9 Maluku Utara Kepulauan Sula 42.08 54.28 61.73 104.30 134.56 153.03 219.14 282.70 321.50
10 Maluku Utara Halmahera Tengah 179.63 231.72 263.53 103.18 133.10 151.37 206.26 266.08 302.60
95.19 122.80 139.66 111.13 126.38 119.14 153.70 174.80
48.62 62.72 71.32 86.14 186.07 240.03 272.98
43.36 55.94 63.62
3.3.7. Proyeksi Ancaman dan Dampak Bencana Pulau Papua
3.3.7.1. Proyeksi Multibahaya Bencana Pulau Papua
Gambar 54. Peta Risiko Multi Bahaya Pulau Papua Tahun 2015, 2030, dan 2045.
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 119
3.3.7.2. Proyeksi Bahaya Bencana Gempabumi Pulau Papua
Tabel 79. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan
Dampak Gempabumi di Pulau Papua Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
282.87 353.83 395.85 225.42 281.96 315.45
1 Papua Kota Jayapura 225.51 310.53 359.08 4,099.20 5,127.45 5,736.39
2 Papua Barat Kota Sorong 205.57 257.14 287.68 23.50 32.36 37.42
3 Papua Jayawijaya 201.55 252.10 282.04 3,485.58 4,799.82 5,550.12 69.29 86.67 96.97
4 Papua Mimika 157.86 217.38 251.36 31.01 38.78 43.39
5 Papua Barat Manokwari 177.71 222.29 248.69 1,194.83 1,494.54 1,672.03 319.36 439.77 508.51
6 Papua Yahukimo 168.34 210.56 235.57 178.24 222.95 249.43
7 Papua Lanny Jaya 164.20 205.39 229.78 2,738.27 3,425.14 3,831.90 30.45 38.08 42.60
8 Papua Paniai 119.41 149.36 167.10 21.39 26.75 29.93
9 Papua Jayapura 114.81 143.61 160.66 3,452.21 4,753.87 5,496.99 285.94 357.66 400.14
10 Papua Nabire 43.03 53.82 60.21
3,304.32 4,133.19 4,624.04
1,086.70 1,359.29 1,520.72
1,581.81 1,978.59 2,213.57
7,192.27 8,996.38 10,064.79
1,338.21 1,673.88 1,872.67
Papua merupakan salah satu pulau di Indonesia dengan struktur tektonik yang sangat kompleks.
Papua berdekatan dengan zona subduksi antara Lempeng Australia dengan Lempeng Pasifik. Ditambah
terdapat dua blok yang melintasi pulau ini yaitu Blok Maoke dan Blok Kepala Burung. Interaksi
antarlempeng ini mengakibatkan Papua memiliki banyak sesar darat yang cukup kompleks. Terdapat
51 sesar aktif yang ada di wilayah Papua dan sekitarnya. Sesar-sesar tersebut berpotensi menghasilkan
gempa dengan kekuatan 6.5 hingga 8.6 di masa yang akan datang. Selain itu Lempeng Pasifik yang
mensubduksi lempeng Australia pada bagian utara Papua juga menghasilkan 2 zona subduksi aktif
yang berpotensi menghasilkan gempa dengan magnitudo 8.7 di masa yang akan datang.
Dengan kondisi tektonik yang kompleks, kejadian gempa menjadi tidak jarang terjadi di wilayah Papua.
Gempa dengan magnitudo >7 pernah terjadi pada 1979 di bagian tengah Pulau Yapen, 1985 di sebelah
barat Pulau Yapen, 1996, 1947, dan 1941 di sebelah timur Pantai Biak. Selain itu, dilaporkan terjadi
gempa pada 1957 dan 1972 yang terjadi di sebelah utara dan selatan bagian timur Pulau Yapen. Gempa
pada tahun 1979 di Pulau Yapen dilaporkan menyebabkan tsunami. Kegempaan di area Kepala Burung
juga memperlihatkan sejarah gempa dengan magnitudo lebih dari 6. Salah satu gempa terkini adalah
gempa 24 September 2015 yang berlokasi di 31 km sebelah barat Kota Sorong. Gempa ini berkekuatan
M6.3 yang menyebabkan 62 orang luka-luka dan lebih dari 200 rumah rusak berat (BNPB, 2015). Pada
3 Januari 2009, gempa kembar (doublet) dengan magnitudo M7.6 dan M7.4 terjadi di sebelah barat
Kota Manokwari dengan 4 orang korban meninggal, 500 orang luka-luka, dan 2.000 bangunan rusak.
3.3.7.3. Proyeksi Bahaya Bencana Tsunami Pulau Papua
Kawasan Papua juga memiliki sejarah panjang dalam hal ancaman gempabumi dan tsunami. Pada
tahun 1864 terjadi gempabumi besar yang diikuti dengan tsunami di Teluk Cendrawasih yang menelan
korban sekitar 250 orang tewas.
Tahun 1914 terjadi tsunami di Pulau Yapen yang menelan korban beberapa orang tewas. Data terakhir
menunjukkan bahwa pada tahun 1996 terjadi tsunami di Biak yang menelan korban 107 orang tewas.
Bila terjadi tsunami di kawasan ini, kota yang paling terancam adalah Kota Sorong dan Kota Jayapura
yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi.
RENCANA INDUK
120 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
Gambar 55. Peta Distribusi Penduduk terhadap Percepatan Puncak di Batuan Dasar untuk Probabilitas
Terlampau 10% dalam 50 Tahun Wilayah Papua.
Sumber: PuSGeN, 2018
Tabel 80. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Tsunami
di Pulau Papua Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar (X1000 Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi Kerusakan
Jiwa) (Rp Miliar) Lingkungan (X1000
1 Papua Barat Kota Sorong
2 Papua Biak Numfor 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 Ha)
3 Papua Barat Manokwari 28.93 39.83 46.06 74.06 101.98 117.92 0.08 0.11 0.13
4 Papua Kota Jayapura 30.02 37.54 42.00 3,131.13 3,502.98 0.06 0.08 0.09 2015 2030 2045
5 Papua Sarmi 19.09 26.29 30.40 2,503.22 3,103.83 3,589.01 0.51 0.71 0.82 0.24 0.33 0.38
6 Papua Kepulauan Yapen 10.21 12.77 14.29 2,253.97 3,090.83 3,457.89 1.17 1.46 1.63
7 Papua Barat Raja Ampat 11.04 12.35 2,471.00 354.75 396.89 - - - 0.27 0.37 0.43
8 Papua Barat Teluk Wondama 8.82 10.97 0.69 0.86 0.96 0.14 0.17 0.19
9 Papua Barat Sorong 7.84 9.81 283.61 45.05 50.40 0.46 0.57 0.64 0.57 0.71 0.80
10 Papua Nabire 5.71 7.87 9.10 36.02 404.01 467.16 0.04 0.06 0.07 1.68 2.10 2.35
3.19 4.40 5.08 0.02 0.02 0.03 3.89 5.36 6.19
3.15 4.33 5.01 293.39 14.11 16.31 0.02 0.02 0.02 0.84 1.16 1.34
2.88 3.60 4.03 10.25 37.46 43.31 0.03 0.04 0.04 0.93 1.28 1.48
27.20 18.52 20.72 1.01 1.26 1.41
14.80
3.3.7.4. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Pulau Papua
Untuk wilayah Papua, bencana banjir menjadi ancaman paling besar di daerah Merauke dan Mappi.
Tidak sedikit kerugian jiwa dan materil yang diperkirakan memiliki risiko bencana banjir, juga di
beberapa wilayah lainnya.
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 121
Secara mendasar bencana banjir berisiko pada terpaparnya korban jiwa, antara lain ada 1,0 juta jiwa
terpapar bahaya banjir di seluruh Papua pada 2015. Dari 2015 ke 2030 terdapat kenaikan sebesar
0,28% atau menjadi 1,3 juta jiwa dan pada 2045 naik sebesar 0,13% atau menjadi 1,5 juta jiwa.
Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir harus serius untuk ditangani, mengingat juga pada
perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.
Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir di Papua diperkirakan mencapai total Rp5.015 Milyar
pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,27% atau menjadi Rp6.326 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,12% atau
menjadi Rp7.154 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung pada fasilitas sarana dan
prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air dan pengaturan infrastruktur
pengairan di wilayah padat penduduk.
Kerugian ekonomi akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total Rp443 Milyar pada 2015, pada
2030 naik jadi 0,26% atau menjadi Rp557 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,12% atau menjadi Rp624
Milyar. Komponen ekonomi disini mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain akses pada
pendidikan dan kesehatan yang juga terlemahkan akibat banjir, juga akses pada pasar dan pusat-pusat
kehidupan perekonomian pada umumnya, secara khusus pusat-pusat industri yang bergerak cukup
mendasar di wilayah tersebut, seperti industri, pabrik juga termasuk kawasan pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir diperkirakan mencapai total 4.993 Ha pada 2015, pada 2030
naik jadi 0,27% atau menjadi 6.334 Ha, dan pada 2045 jadi 0,12% atau menjadi 7.123 Ha. Persoalan
lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan-lahan produktif,
namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat ketidaktepatan
pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja bahaya bencana
yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan iklim dan
lainnya.
Secara menyeluruh di Papua risiko bencana banjir terbesar ada di wilayah (1) Merauke dan (2) Mappi
(tampak menyolok) dengan potensi risiko bencana banjir cukup tinggi. Selanjutnya disusul oleh (3)
Teluk Bintuni, (4) Kota Jayapura, (5) Jaya Wijaya, (6) Sorong, (7) Jayapura, (8) Keerom, (9) Dogiyai, dan
(10) Manokwari.
Tabel 81. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan
Dampak Banjir di Pulau Papua Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
1 Papua Merauke 167.56 209.59 234.48 2,795.80 3,497.10 3,912.42 257.17 321.68 359.88 1,174.57 1,469.20 1,643.68
2 Papua Kota 35.20 44.03 49.26 26.97 33.73 37.74 90.26 112.90 126.31 2.08 2.60 2.91
Jayapura
3 Papua Keerom 17.46 21.83 24.43 51.47 64.38 72.03 38.67 48.38 54.12 40.98 51.26 57.35
4 Papua Mappi 41.53 51.94 58.11 67.10 83.93 93.90 16.40 20.52 22.96 587.53 734.91 822.18
5 Papua Manokwari 25.85 35.60 41.17 25.05 34.49 39.88 13.87 19.10 22.09 3.00 4.12 4.77
Barat
6 Papua Jayapura 31.55 39.47 44.16 57.11 71.43 79.91 7.31 9.14 10.22 71.74 89.74 100.40
7 Papua Teluk 19.60 26.99 31.21 67.29 92.66 107.15 4.76 6.55 7.58 284.02 391.10 452.24
Barat Bintuni
8 Papua Dogiyai 21.48 26.86 30.05 28.44 35.58 39.80 3.93 4.91 5.50 6.07 7.59 8.49
9 Papua Sorong 41.07 56.55 65.39 67.57 93.05 107.60 2.61 3.59 4.16 77.55 106.79 123.49
Barat
10 Papua Jayawijaya 95.34 119.25 133.41 46.14 57.72 64.57 1.95 2.43 2.72 2.47 3.09 3.46
RENCANA INDUK
122 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
3.3.7.5. Proyeksi Bahaya Bencana Tanah Longsor Pulau Papua
Tabel 82. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Longsor
di Pulau Papua Tahun 2015, 2030, 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
Kota (X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
155.74 194.81 217.94 181.89 227.51 254.53 767.77
1 Papua Yahukimo 2,385.28 2,983.61 3,337.94 960.36 1,074.42
2 Papua Pegunungan 49.98 62.52 69.94 150.84 188.67 211.08
Bintang 1,700.41 2,126.94 2,379.53 879.37 1,099.95 1,230.58
3 Papua Tolikara
4 Papua Lanny Jaya 123.36 154.30 172.62 1,420.65 1,777.00 1,988.04 56.98 71.28 79.74 182.02 227.68 254.72
5 Papua Kota 134.01 167.62 187.53 810.56 1,013.88 1,134.29 43.88 54.89 61.41 160.35 200.58 224.40
Jayapura 133.67 167.20 187.06 595.19
6 Papua Pegunungan 744.49 832.90 2.53 3.16 3.54 17.48 21.87 24.47
Barat Arfak
Puncak 22.30 30.70 35.50 412.56 568.11 656.92 4.48 6.17 7.13 269.38 370.95 428.93
7 Papua Tambrauw
8 Papua 91.09 113.94 127.47 457.89 572.74 640.76 38.61 48.30 54.03 445.76 557.58 623.80
Paniai 7.59 10.46 12.09 382.31 526.46 608.75 18.84 25.95 30.00 873.39 1,202.70 1,390.71
Barat Puncak Jaya
9 Papua 85.56 107.02 119.73 434.81 543.88 608.47 18.37 22.98 25.71 350.01 437.81 489.80
10 Papua 102.63 128.37 143.62 413.46 517.18 578.60 58.11 72.69 81.32 234.29 293.06 327.86
3.3.7.6. Proyeksi Bahaya Bencana Gelombang Ekstrim dan Abrasi Pulau Papua
Tabel 83. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak
Gelombang Ekstrim dan Abrasi di Pulau Papua Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
(X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
1 Papua Biak Numfor 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
59.33 74.21 83.02 293.03 366.53 410.06 - -- 3.05 3.82 4.27
- -- 1.13 1.41 1.58
2 Papua Kota Jayapura 30.33 37.93 42.44 2,257.45 2,823.71 3,159.05 0.39 0.54 0.62
0.14 0.19 0.22 1.24 1.71 1.98
3 Papua Barat Kota Sorong 25.01 34.44 39.82 108.22 149.03 172.33 0.87 1.20 1.39 5.31 7.31 8.45
0.30 0.41 0.48 5.06 6.33 7.08
4 Papua Barat Manokwari 21.20 29.20 33.76 103.03 141.87 164.05 8.27 11.39 13.17
- --
5 Papua Barat Fakfak 20.21 27.83 32.18 2,327.84 3,205.55 3,706.64 - -- 15.03 20.69 23.92
0.05 0.06 0.07 3.70 4.63 5.18
6 Papua Kepulauan Yapen 20.58 25.75 28.80 - - - - -- 1.43 1.78 2.00
0.31 0.38 0.43
7 Papua Barat Kaimana 12.66 17.44 20.16 2.59 3.57 4.13
8 Papua Barat Raja Ampat 9.31 12.82 14.83 25.88 35.64 41.21
9 Papua Nabire 10.32 12.91 14.44 - - -
10 Papua Sarmi 9.28 11.61 12.99 294.23 368.03 411.74
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 123
3.3.7.7. Proyeksi Bahaya Bencana Cuaca Ekstrim Pulau Papua
Tabel 84. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Cuaca Ekstrim
di Pulau Papua Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Fisik (Rp Miliar) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
44.33 55.45 62.04 42.00 52.53 58.77
1 Papua Boven Digoel 1,234.47 1,544.13 1,727.51
2 Papua Nabire
3 Papua Asmat 98.08 122.68 137.25 1,104.01 1,380.94 1,544.94 51.68 64.64 72.31
4 Papua Mappi
5 Papua Pegunungan Bintang 86.15 107.76 120.56 893.02 1,117.02 1,249.68 0.19 0.24 0.26
6 Papua Mimika
7 Papua Deiyai 72.32 90.45 101.20 761.65 952.70 1,065.84 1.65 2.06 2.30
8 Papua Mamberamo Raya
9 Papua Jayapura 24.80 31.02 34.70 710.83 889.13 994.72 68.89 86.18 96.41
10 Papua Merauke
179.08 224.00 250.60 285.11 356.63 398.98 -- -
42.14 52.71 58.97 260.64 326.02 364.74 -- -
12.12 15.16 16.96 49.00 61.29 68.57 -- -
95.78 119.81 134.03 34.79 43.51 48.68 0.00 0.01 0.01
205.75 257.36 287.93 32.09 40.13 44.90 0.04 0.05 0.05
3.3.7.8. Proyeksi Bahaya Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Pulau Papua
Tabel 85. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak
Kebakaran Hutan dan Lahan di Pulau Papua Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan (X1000 Ha)
1 Papua Nabire 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Papua Merauke 9.62 12.03 13.46 409.96 512.80 573.70
3 Papua Jayapura
4 Papua Barat Manokwari 8.72 10.90 12.20 1,652.94 2,067.56 2,313.10
5 Papua Mappi
6 Papua Mimika 4.01 5.01 5.61 566.50 708.60 792.75
7 Papua Barat Sorong
8 Papua Barat Manokwari Selatan 2.52 3.47 4.01 68.69 94.59 109.37
9 Papua Keerom
10 Papua Barat Teluk Bintuni 2.63 3.29 3.69 664.14 830.73 929.39
1.90 2.37 2.65 599.03 749.29 838.27
1.19 1.64 1.89 208.76 287.47 332.41
1.08 1.48 1.71 99.87 137.52 159.02
0.27 0.33 0.37 282.40 353.24 395.19
0.10 0.14 0.17 664.77 915.42 1,058.52
3.3.7.9. Proyeksi Bahaya Bencana Banjir Bandang Pulau Papua
Untuk wilayah Papua, bencana banjir bandang menjadi ancaman paling besar di daerah Kota Jayapura,
Tidak sedikit kerugian jiwa dan materil yang diperkirakan memiliki risiko bencana banjir bandang ini,
juga di beberapa wilayah lainnya. Secara mendasar bencana banjir bandang berisiko pada terpaparnya
korban jiwa, antara lain ada 160 ribu jiwa terpapar bahaya banjir di seluruh Papua pada 2015. Dari
2015 ke 2030 terdapat kenaikan sebesar 0,29% atau menjadi 207 ribu jiwa dan pada 2045 naik sebesar
0,13% atau menjadi 235 ribu jiwa. Hal ini menggambarkan, bahwa ancaman banjir bandang cukup
serius untuk ditangani, mengingat juga pada perkembangan peningkatan jumlah penduduk setiap
tahunnya. Sementara itu kerugian fisik akibat bahaya banjir bandang di wilayah Papua diperkirakan
mencapai total Rp1.446 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,29% atau menjadi Rp1.859 Milyar,
dan pada 2045 jadi 0,13% atau menjadi Rp2.100 Milyar. Kerugian fisik ini biasanya berdampak langsung
pada fasilitas sarana dan prasarana fisik di wilayah yang padat penduduk, minim area peresapan air
dan pengaturan infrastruktur pengairan di wilayah padat penduduk. Kerugian ekonomi akibat bahaya
banjir bandang diperkirakan mencapai total Rp86 Milyar pada 2015, pada 2030 naik jadi 0,31% atau
RENCANA INDUK
124 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
menjadi Rp89 Milyar, dan pada 2045 jadi 0,14% atau menjadi Rp101 Milyar. Komponen ekonomi disini
mempengaruhi berbagai aspek perekonomian, selain akses pada pendidikan dan kesehatan yang juga
terlemahkan akibat banjir bandang, juga akses pada pasar dan pusat pusat kehidupan perekonomian
pada umumnya, secara khusus pusat pusat industri yang bergerak cukup mendasar di wilayah tersebut,
seperti industri, pabrik juga termasuk kawasan pertanian.
Kerusakan lingkungan akibat bahaya banjir bandang diperkirakan mencapai total 305 Ha pada
2015, pada 2030 naik jadi 0,30% atau menjadi 398 Ha, dan pada 2045 jadi 0,14% atau menjadi 452
Ha. Persoalan lingkungan sebagai dampak risiko bencana banjir umumnya berdampak pada lahan
lahan produktif, namun kadangkala berlaku sebaliknya, bahwa risiko bencana ini juga terjadi akibat
ketidaktepatan pemanfaatan lahan dan hutan yang berakibat pada bencana lanjutannya. Tentu saja
bahaya yang terjadi tidak hanya struktur lahan dan alam yang ada namun juga pada perubahan iklim
dan lainnya. Secara menyeluruh di Papua risiko terbesar ada di wilayah (1) Kota Jayapura dan (2) Kota
Sorong, keduanya berpotensi cukup tinggi dibanding wilayah-wilayah lainnya. Selanjutnya potensi
risiko bencana banjir bandang diikuti oleh wilayah (3) Jayapura, (4) Nabire, (5) Manokwari, (6) Paniai,
(7) Jaya Wijaya, (8) Pegunungan Bintang, (9) Mamberamo Raya, dan (10) Sorong.
Tabel 86. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Banjir Bandang
di Pulau Papua Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/Kota Jiwa Terpapar Kerugian Fisik Kerugian Ekonomi Kerusakan Lingkungan
(X1000 Jiwa) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (X1000 Ha)
2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
1 Papua Kota Jayapura 6.25 7.82 8.74 281.32 351.89 393.68 0.03 0.04 0.05 0.74 0.93 1.04
2 Papua Barat Kota Sorong 31.44 43.29 50.05 130.18 179.27 207.29 1.08 1.48 1.71 1.09 1.50 1.74
3 Papua Jayapura 9.30 11.64 13.02 96.78 121.06 135.44 3.82 4.78 5.34 13.24 16.55 18.52
4 Papua Nabire 10.58 13.23 14.81 85.05 106.39 119.02 4.76 5.95 6.66 14.44 18.06 20.20
5 Papua Barat Manokwari 11.90 16.39 18.95 59.93 82.53 95.43 12.93 17.81 20.59 4.49 6.18 7.14
6 Papua Paniai 15.34 19.18 21.46 66.66 83.38 93.28 0.88 1.10 1.23 6.85 8.57 9.59
7 Papua Jayawijaya 16.57 20.73 23.19 62.58 78.28 87.57 2.55 3.18 3.56 1.70 2.13 2.38
8 Papua Pegunungan 4.31 5.40 6.04 61.40 76.80 85.92 1.71 2.13 2.39 10.67 13.34 14.93
Bintang
9 Papua Mamberamo Raya 3.53 4.42 4.94 58.74 73.48 82.20 - - - 17.74 22.18 24.82
10 Papua Barat Sorong 1.69 2.32 2.69 41.67 57.38 66.35 5.68 7.82 9.04 16.37 22.54 26.06
3.3.7.10. Proyeksi Bahaya Bencana Kekeringan Pulau Papua
Tabel 87. Potensi Jiwa terpapar, Kerugian Fisik, Kerugian Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Dampak Kekeringan
di Pulau Papua Tahun 2015, 2030, dan 2045.
No. Provinsi Kabupaten/ Jiwa Terpapar (X1000 Jiwa) Kerugian Ekonomi (Rp Miliar) Kerusakan Lingkungan (X1000 Ha)
Kota
1 Papua Barat 2015 2030 2045 2015 2030 2045 2015 2030 2045
2 Papua Sorong 4.28 5.90 6.82 19.92 27.43 31.72 37.47 51.60 59.67
3 Papua Barat Biak Numfor
4 Papua Fakfak 38.41 48.04 53.75 12.68 15.85 17.74 122.96 153.80 172.06
5 Papua Barat Kepulauan Yapen
6 Papua Teluk Wondama 70.56 97.16 112.35 9.58 13.20 15.26 837.97 1,153.93 1,334.31
7 Papua Barat Boven Digoel
8 Papua Raja Ampat 69.57 87.02 97.36 4.91 6.14 6.87 101.88 127.43 142.56
9 Papua Mimika
10 Papua Merauke 18.68 25.72 29.74 4.61 6.34 7.34 56.46 77.75 89.90
Sarmi
3.46 4.33 4.84 3.24 4.06 4.54 104.43 130.62 146.13
43.47 59.86 69.22 2.51 3.46 4.00 657.77 905.79 1,047.38
3.20 4.00 4.47 1.21 1.52 1.70 262.29 328.09 367.05
1.71 2.14 2.39 0.77 0.96 1.07 11.34 14.19 15.87
0.69 0.86 0.96 0.56 0.70 0.78 43.15 53.98 60.39
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 125
3.4. TANTANGAN UMUM PENANGGULANGAN BENCANA
Tidak dapat dipungkiri bahwa umur bumi semakin tua, dan jumlah penduduk di bumi terus meningkat,
dan itu juga terjadi di Indonesia, yang sampai dengan tahun 2045 diproyeksikan jumlah penduduk di
Indonesia mencapai lebih dari 330 juta jiwa yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau dari Sabang sampai
Merauke. Pertumbuhan penduduk sangat erat kaitannya dengan ruang sebagai tempat aktivitas,
melalukan interaksi dan melakukan berbagai kegiatan yang diarahkan pada pencapaian kesejahteraan
sebagai salah satu tujuan hidup.
Pertumbuhan penduduk, dan tujuan pencapaian kesejahteraan tersebut, berimplikasi pada
meningkatnya ruang untuk melakukan aktivitas dan interaksi, menyebabkan adanya kegiatan konversi
tata guna lahan yang terus bertambah, yang disadari atau tidak menyebabkan efek yang saling
keterkaitan berupa perubahan ekosistem dan ekologi lingkungan termasuk perubahan iklim. Ditambah
lagi dengan posisi geografis yang terletak pada pertemuan lempeng bumi aktif yang menyebabkan
fenomena geologi.
Kondisi saling terkait antara pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan ruang dalam
mencapai kesejahteraan tersebut perlu dipahami sebagai pijakan awal, bahwa tantangan kedepan yang
dihadapi dalam pembangunan termasuk dalam hal penanggulangan bencana, di mana peningkatan
pemanfaatan ruang berpotensi menurunkan kualitas lingkungan dan kemampuan lingkungan
beradaptasi terhadap fenomena iklim, yang menyebabkan bencana hidrometeorologi, ditambah
dengan fenomena geologi yang menjadi bencana gempabumi, tsunami, dan gangguan akibat erupsi
gunung api. Fenomena yang kemudian menjadi bencana, karena adanya pertumbuhan penduduk di
dalam ruang, yang menyebabkan jatuhnya korban, timbulkan kerusakan dan kerugian, serta gangguan
dalam berbagai proses pembangunan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan kesejahteraan.
Bencana adalah kejadian fenomena iklim dan fenomena geologi yang terjadi pada ruang dan lahan
dimana terdapat pertumbuhan penduduk didalamnya, yang mengakibatkan korban jiwa, kerusakan,
kerugian, dan gangguan terhadap seluruh kegiatan di dalam ruang. Artinya, fenomena iklim dan
fenomena geologi sudah terjadi sejak lama sebagai sebuah aktivitas alam tidak akan disebut sebagai
bencana ketika tidak ada manusia dan aktivitas di dalam sebuah ruang, dan akan tetap dan terus
disebut sebagai sebuah fenomena alam.
Ke depan sampai 2045 dengan analisis dan proyeksi jumlah penduduk mencapai 317.270.000 jiwa
dibandingkan dengan tahun 2015 yang berjumlah 255.460.000 jiwa, maka ketersediaan ruang yang
tetap akan mengalami perubahan tata guna lahan yang signifikan, yang artinya berpotensi menurunkan
kualitas lingkungan hidup yang ada, akibat pemanfaatan lahan yang terus meningkat. Bertambahnya
ruang dan lahan yang dimanfaatkan, berkurangnya tutupan lahan untuk memenuhi kebutuhan lahan
budidaya, pada akhirnya akan menyebabkan kerentanan ruang terhadap fenomena iklim dan fenomena
geologi yang menjadi sebuah ancaman terjadinya sebuah bencana. Tidak hanya iklim dan geologi,
pertumbuhan penduduk, meningkatnya aktivitas dan interaksi yang tidak sehat akan menimbulkan
kerentanan penyakit yang menyebabkan epidemi dan zoonosis sebagai bencana kesehatan, yang
kesemuanya itu akan menjadi gangguan terhadap hasil dan terhentinya proses pembangunan dalam
mencapai kesejahteraan sebagai konsep dasar kehidupan manusia.
Dengan memperhatikan tantangan utama tersebut, serta upaya analisis dan proyeksi berbagai faktor
yang menjadi permasalahan ikutan akibat pertumbuhan penduduk dan pemanfaatan ruang, yang
dikaitkan dengan faktor-faktor kejadian fenomena iklim dan fenomena geologi, yang menyebabkan
RENCANA INDUK
126 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
bencana, maka tantangan yang akan dihadapi dalam penanggulangan bencana Indonesia sampai
tahun 2045 meliputi:
Pertama, peningkatan jumlah penduduk Indonesia sampai tahun 2045, berkorelasi pada peningkatan
jumlah penduduk terpapar bencana, baik hidrometeorologi, geologi, maupun bencana non alam.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa, penduduk sebagai pelaku dari pencapaian tujuan kesejahteraan,
dan pelaku aktivitas dan interaksi dalam pemanfaatan ruang, dan terus bertambahnya alih fungsi lahan
untuk budidaya yang berpotensi pada menurunnya kualitas daya dukung lahan terhadap fenomena
iklim, serta gangguan akibat fenomena geologi, dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengelola
pemanfaatan dan tata guna lahan, peka terhadap risiko dari setiap kegiatan pemanfaatan lahan untuk
aktivitas dan interaksinya, serta kemampuan untuk mengantisipasi kejadian fenomena iklim, geologi,
dan non alam yang berpotensi menjadi bencana.
Dengan kondisi tersebut, maka membangun budaya kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi
bencana, merupakan bagian utama dalam pembangunan sumber daya manusia dan penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa dalam upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia,
harus disertai dengan peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap kebencanaan, kemudian
membangun kesadaran yang kuat, melatih kesiapsiagaan secara berkesinambungan, yang kemudian
sampai pada terbangunnya sebuah kebudayaan dan moralitas kesiapsiagaan dan ketangguhan
bencana di berbagai bidang pembangunan, yang mengiringi upaya peningkatan kapasitas sumber
daya manusia di bidang ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi yang dimanfaatkan sebagai
modal pembangunan yang berkelanjutan.
Kedua, dalam rangka pencapaian tujuan kesejahteraan, ekonomi menjadi fokus dalam pembangunan
dimana aktivitas dan interaksi penduduk hampir keseluruhannya diarahkan pada peningkatan
pertumbuhan ekonomi serta pencapaian kebutuhan kemakmuran yang berkelanjutan, yang akan
dibarengi dengan peningkatan pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur secara masif,
pemanfaatan sumber daya alam yang eksploitatif yang berpotensi pada peningkatan kerentanan
terhadap ancaman dan potensi bencana, apabila tidak dibarengi dengan ketahanan ekonomi yang
kuat.
Maka pembangunan ekonomi keberlanjutan yang dicanangkan oleh Pemerintah, dihadapkan pada
tantangan membangun struktur perekonomian masyarakat, daerah, dan nasional yang kuat, mengarah
kepada ketahanan ekonomi yang berdaya lenting, yang disertai dengan peningkatan kualitas hidup
masyarakat yang kreatif dan berdaya saing, dengan kemampuan beradaptasi terhadap fenomena
serta perubahan lingkungan strategis, yang berwawasan pengurangan risiko bencana.
Ketiga, pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia bearti terkait kembali dengan potensi dan
kencenderungan terhadap peningkatan kebutuhan ruang dan alih fungsi lahan untuk aktivitas
dan interaksi pencapaian tujuan kesejahteraan, yang diiringi dengan pola pergerakan penduduk
kepada ruang pusat pertumbuhan, peningkatan pembangunan infrastruktur, yang berpotensi pada
perubahan kondisi lingkungan termasuk perubahan iklim, dan penurunan kualitas lingkungan hidup
dan kemampuan adaptasinya terhadap fenomena iklim yang terjadi, dan antisipasi dalam menghadapi
fenomena geologi, serta kualitas kesehatan, yang akan menjadi ancaman bencana.
Maka tantangan yang dihadapi kedepan yang akan mengiringi upaya pemerataan pembangunan
ekonomi berkelanjutan guna mencapai Visi Indonesia terhadap kondisi kebencanaan adalah,
menurunnya tutupan lahan pada jumlah ruang yang tidak berubah, perlu dibarengi dengan pengendalian
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 127
pemanfaatan dan pengaturan terhadap pola ruang, membangun konsistensi dalam pemanfaatan lahan
dan kelestarian sumber daya alam, melaksanakan pembangunan yang beradaptasi, ramah lingkungan,
dan aman bencana. Kemudian membangun perekonomian wilayah berbasis keunggulan lokal untuk
mencapai pemerataan, disertai dengan menjawab tantangan pembangunan sumber daya manusia
yang berkualitas yang memiliki budaya dan moralitas kesiapsiagaan dan ketangguhan bencana.
Keempat, sebagai Negara yang berdaulat, dengan segala potensi dan keunggulan yang dimiliki,
ketahanan nasional dalam rangka menjaga eksistensi dan kedaulatan NKRI, akan dihadapkan pula
dengan tantangan ketahanan terhadap kejadian bencana, yang akan menjadi salah satu titik masuk bagi
gangguan terhadap keamanan dan kedaulatan Negara, yang berpotensi menjadi ancaman terhadap
ketahanan nasional. Maka dari itu penanggulangan bencana menghadapi tantangan kepada bagaimana
membangun ketahanan terhadap ancaman bencana, kemandirian dalam penanganan bencana, serta
memantapkan pemenuhan kebutuhan layanan penanggulangan bencana bagi seluruh warga Negara,
yang disertai dengan kapasitas dan kemampuan yang memadai dalam menghadapi bencana.
Tantangan lain yang dihadapi ke depan, dengan kemajuan teknologi dan revolusi industri yang terus
berkembang kearah digital dan otomasi dalam berbagai bidang kehidupan berpotensi menggerus
budaya dasar bangsa dalam hal bekerjasama, saling membantu dan gotong royong, ke arah lahirnya
kelompok-kelompok kecil di dalam masyarakat yang mandiri dalam konsep ekonomi dan pemenuhan
kebutuhannya sendiri, yang akan mempengaruhi tingkat kepedulian terhadap sesama dan lingkungan
sekitar, maka penanggulangan bencana juga dihadapkan pada tuntutan untuk mampu beradaptasi
dengan perubahan lingkungan strategis tersebut berbasis pada teknologi dan industrialisasi
kebencanaan nasional yang mandiri.
Selain itu, dalam kaitannya dengan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, akan dihadapkan
pada tantangan memantapkan proses-proses penyelenggaraan penanggulangan bencana yang
diarahkan kepada profesionalisme Aparatur Sipil Negara sebagai regulator dan fasilitator yang bersih
dan berintegritas terhadap pelayanan publik untuk penanggulangan bencana. Di sisi lain, tata kelola
pemerintahan yang baik juga dihadapkan pada upaya penegakan hukum yang dibarengi dengan upaya
harmonisasi regulasi menjadi one gate policy penanggulangan bencana.
3.5. TANTANGAN PENANGGULANGAN BENCANA WILAYAH PULAU
Dengan memperhatikan proyeksi pertumbuhan ekonomi wilayah dan rencana pengembangan wilayah
yang tertuang dalam Visi Indonesia 2045, tantangan utama nasional di bidang penanggulangan
bencana, serta didukung dengan analisa dan proyeksi kebencanaan sampai 2045, maka tantangan
yang dihadapi ke depan untuk masing-masing wilayah dijabarkan berikut ini.
3.5.1. Tantangan Wilayah Pulau Sumatera
Pulau Sumatera yang akan menjadi pintu gerbang kawasan Asia serta pusat produksi dan pengolahan
hasil bumi, dengan proyeksi terhadap potensi ancaman dan dampak bencana ke depan tertinggi
berupa kerugian ekonomi akibat bencana dihadapkan pada tantangan:
1. Ancaman bencana dan potensi peningkatan intensitas kejadian bencana sesuai dengan proyeksi
sampai dengan tahun 2045;
2. Pengendalian pemanfaatan ruang secara optimal sebagai antisipasi pertumbuhan kawasan
produksi dan pengolahan hasil bumi;
3. Pemantapan sistem peringatan dini secara merata di seluruh wilayah rawan bencana di Pulau
RENCANA INDUK
128 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
Sumatera sebagai antisipasi meningkatnya aktivitas pergerakan manusia sebagai gerbang
kawasan Asia;
4. Pemantapan kesadaran dan budaya bencana masyarakat, yang dibarengi dengan kemandirian
dalam kesiapan dalam menghadapi ancaman bencana;
5. Peningkatan partisipasi dunia usaha dan masyarakat dalam investasi penanggulangan bencana
melalui transfer risiko terhadap potensi pertumbuhan investasi;
6. Pembangunan, penguatan dan pemeliharaan infrastruktur produksi dan pengolahan, serta
infrastruktur pendukung yang aman dan berketahanan, disertai proteksi terhadap dampak
lingkungan;
7. Pemantapan ketahanan ekonomi wilayah yang berdaya lenting sebagai antisipasi dampak
bencana.
3.5.2. Tantangan Wilayah Pulau Jawa
Pulau Jawa diarahkan untuk dijaga sebagai pusat industri dan jasa nasional, serta penghubung antara
kegiatan pertanian dan kegiatan non pertanian, dengan proyeksi terhadap potensi ancaman dan
dampak bencana ke depan tertinggi berupa jumlah jiwa terpapar bencana dan kerugian fisik yang
menunjukkan bahwa Pulau Jawa masih akan menjadi pusat konsentrasi pergerakan penduduk yang
dibarengi dengan pertumbuhan infrastruktur yang tinggi, akan dihadapkan pada tantangan:
1. Ancaman bencana dan potensi peningkatan intensitas kejadian bencana sesuai dengan proyeksi
sampai dengan tahun 2045;
2. Pemantapan kesadaran dan budaya bencana secara berkesinambungan sebagai implikasi dari
potensi tingginya pergerakan manusia dengan mobilitas tinggi dalam kegiatan industri dan jasa,
yang dibarengi dengan kemandirian dalam kesiapan dalam menghadapi ancaman bencana;
3. Pemantapan sistem peringatan dini secara merata di seluruh wilayah rawan bencana di Pulau
Jawa-Bali dengan mengedepankan partisipasi para pelaku industri dan jasa;
4. Pemantapan sistem pemantauan dan pengendalian dampak lingkungan untuk antisipasi potensi
dampak industri;
5. Pengendalian pemanfaatan ruang untuk kawasan industri dan jasa untuk mengurangi potensi
dampak bencana;
6. Partisipasi pelaku industri dan jasa dalam investasi penanggulangan bencana melalui transfer
risiko yang membarengi peningkatan investasi ekonomi dan bisnis;
7. Pembangunan, penguatan dan pemeliharaan infrastruktur kawasan, serta infrastruktur
pendukung yang aman dan berketahanan, disertai proteksi terhadap dampak lingkungan;
8. Pemantapan ketahanan ekonomi wilayah yang berdaya lenting sebagai antisipasi dampak
bencana.
3.5.3. Tantangan Wilayah Pulau Kalimantan
Visi Indonesia 2045 mengarahkan Pulau Kalimantan didorong untuk berdaya saing sebagai beranda
negara, pusat pertambangan dan dan kehutanan, yang pada saat bersamaan diproyeksikan
berpotensi mengalami dampak kerusakan lingkungan tertinggi di antara wilayah pulau lainnya
akibat bencana dan aktivitas tambang sebagai penggerak ekonomi wilayah, akan dihadapkan pada
tantangan:
1. Ancaman bencana dan potensi peningkatan intensitas kejadian bencana sesuai dengan proyeksi
sampai dengan tahun 2045;
2. Pengendalian pemanfaatan ruang untuk kawasan pertambangan dan kehutanan yang
berwawasan pelestarian lingkungan agar tidak menjadi sumber ancaman bencana baru;
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 129
3. Pemantapan sistem pemantauan dan pengendalian dampak lingkungan untuk antisipasi potensi
dampak pengelolaan pertambangan dan kehutanan;
4. Pemantapan kesadaran dan budaya bencana masyarakat, yang dibarengi dengan kemandirian
dalam kesiapan dalam menghadapi ancaman bencana;
5. Peningkatan partisipasi dunia usaha dan masyarakat dalam investasi penanggulangan bencana
melalui transfer risiko terhadap potensi pertumbuhan investasi;
6. Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur kawasan, serta infrastruktur pendukung yang
aman dan berketahanan, disertai proteksi terhadap dampak lingkungan;
7. Pemantapan ketahanan ekonomi wilayah yang berdaya lenting sebagai antisipasi dampak
bencana.
3.5.4. Tantangan Wilayah Pulau Sulawesi
Pulau Sulawesi sebagai pulau yang diproyeksikan sebagai pintu masuk Kawasan Timur Indonesia
dalam kerangka pembangunan Visi Indonesia 2045, sekaligus sebagai pusat industri pangan penggerak
ekonomi, sumber kebudayaan Indonesia, dan sumber kenakeragaman hayati Indonesia, dari sisi
proyeksi ancaman bencana dan potensi dampak bencana secara nasional masih di bawah Pulau Jawa
Bali dan Pulau Kalimantan.
Namun faktanya, kejadian bencana di Sulawesi Tengah adalah bukti bahwa tantangan yang dihadapi ke
depan untuk wilayah Sulawesi dengan ancaman gempabumi tidak dapat diabaikan, sehingga tantangan
wilayah Pulau Sulawesi dalam pembangunan dan penanggulangan bencana di antaranya adalah:
1. Ancaman bencana dan potensi peningkatan intensitas kejadian bencana sesuai dengan proyeksi
sampai dengan tahun 2045;
2. Pengaturan tata ruang berbasis pengurangan risiko bencana, serta pengendalian pemanfaatan
ruang kawasan industri dan pelestarian lingkungan dari potensi dampak industri pangan;
3. Pemantapan sistem peringatan dini secara merata di seluruh wilayah rawan bencana di Pulau
Sulawesi dengan mengedepankan partisipasi para pelaku industri pangan penggerak ekonomi;
4. Pemantapan kesadaran dan budaya bencana secara berkesinambungan sebagai implikasi potensi
tingginya pergerakan manusia dengan mobilitas tinggi dari konsep gerbang Kawasan Timur
Indonesia, yang dibarengi dengan kemandirian dalam kesiapan dalam menghadapi ancaman
bencana;
5. Pemantapan sistem pemantauan dan pengendalian dampak lingkungan untuk antisipasi potensi
dampak industri dan memastikan seluruh sumberdaya hayati terjaga kelestariannya;
6. Peningkatan partisipasi dunia usaha dan masyarakat dalam investasi penanggulangan bencana
melalui transfer risiko terhadap potensi pertumbuhan investasi;
7. Pembangunan, penguatan dan pemeliharaan infrastruktur kawasan, serta infrastruktur
pendukung yang aman dan berketahanan, disertai proteksi terhadap dampak lingkungan;
8. Pemantapan ketahanan ekonomi wilayah yang berdaya lenting sebagai antisipasi dampak
bencana.
3.5.5. Tantangan Wilayah Kepulauan Maluku
Sebagai wilayah kepulauan, dalam Visi Indonesia 2045 diarahkan untuk memiliki daya saing ekonomi
di bidang pendayagunaan sumberdaya kelautan, daratan, serta pengembangan kawasan perbatasan
yang berwawasan lingkungan, yang dengan sifat kepulauannya dihadapkan pada tantangan:
1. Ancaman bencana dan potensi peningkatan intensitas kejadian bencana sesuai dengan proyeksi
sampai dengan tahun 2045;
RENCANA INDUK
130 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
2. Pemantapan kesadaran dan budaya bencana secara berkesinambungan, yang dibarengi dengan
kemandirian dalam kesiapan dalam menghadapi ancaman bencana wilayah kepulauan;
3. Pengaturan dan pengendalian pemanfaatan tata ruang daratan dan tata ruang laut berbasis
pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari pembangunan daya saing ekonomi kewilayahan;
4. Pembangunan, penguatan dan pemeliharaan infrastruktur wilayah kepulauan, serta infrastruktur
pendukung yang aman dan berketahanan, serta konektivitas antar pulau untuk kesiapsiagaan
dan kecepatan respon penanganan bencana;
5. Pemantapan sistem peringatan dini secara merata di seluruh wilayah rawan bencana di Kepulauan
Maluku dengan mengedepankan partisipasi masyarakat;
6. Pengelolaan sumberdaya kelautan dan daratan berwawasan konservasi sebagai antisipasi
sumber ancaman bencana baru;
7. Peningkatan partisipasi dunia usaha dan masyarakat dalam investasi penanggulangan bencana
melalui transfer risiko;
8. Pemantapan ketahanan ekonomi wilayah yang berdaya lenting sebagai antisipasi dampak
bencana.
3.5.6. Tantangan Wilayah Kepulauan Bali Nusa Tenggara
Visi Indonesia 2045 mengarahkan Kepulauan Bali Nusa Tenggara memiliki daya saing sebagai sentra
pertanian, peternakan, perikanan dan pusat pariwisata utama, namun tetap memiliki proyeksi
ancaman dan potensi dampak bencana tingginya dari sisi ekonomi atas aset-aset usaha dan sarana
dan prasarana pariwisata sebagai salah satu sumber ekonomi wilayah Bali Nusa Tenggara. Dengan
kondisi tersebut, tantangan yang dihadapi adalah:
1. Ancaman bencana dan potensi peningkatan intensitas kejadian bencana sesuai dengan proyeksi
sampai dengan tahun 2045;
2. Peningkatan sistem peringatan dini secara merata terutama kawasan pariwisata sebagai kawasan
konsentrasi pergerakan dan mobilitas manusia di dalam kawasan;
3. Pemantapan kesadaran dan budaya bencana secara berkesinambungan, yang dibarengi dengan
kemandirian dalam kesiapan dalam menghadapi ancaman bencana;
4. Pemantapan ketahanan ekonomi wilayah yang berdaya lenting sebagai antisipasi dampak
bencana;
5. Peningkatan partisipasi dunia usaha dan masyarakat dalam investasi penanggulangan bencana
melalui transfer risiko;
6. Pengaturan dan pengendalian pemanfaatan tata ruang kawasan untuk menjaga keseimbangan
pengelolaan potensi ekonomi sacara optimal;
7. Pembangunan, penguatan dan pemeliharaan infrastruktur, serta infrastruktur pendukung yang
aman dan berketahanan.
3.5.7. Tantangan Wilayah Pulau Papua
Visi Indonesia 2045 menetapkan Pulau Papua sebagai sentra perikanan, pertanian, perkebunan,
industri agro dan pangan, pariwisata bahari dan alam, serta pertambangan, yang pada saat bersamaan
diproyeksikan berpotensi mengalami dampak kerusakan lingkungan, kerusakan fisik, dan kerugaian
ekonomi dihadapkan pada tantangan:
1. Ancaman bencana dan potensi peningkatan intensitas kejadian bencana sesuai dengan proyeksi
sampai dengan tahun 2045;
2. Pengendalian pemanfaatan ruang secara optimal sebagai antisipasi pertumbuhan sentra-sentra
ekonomi baru;
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 131
3. Pembangunan, penguatan dan pemeliharaan infrastruktur, akses, serta infrastruktur pendukung
yang aman dan berketahanan, termasuk kapasitas sistem logistik kewilayahan untuk arus barang
jasa, dan kecepatan respon penanganan bencana;
4. Pemantapan kesadaran dan budaya bencana secara berkesinambungan, yang dibarengi dengan
kemandirian dalam kesiapan dalam menghadapi ancaman bencana;
5. Peningkatan sistem peringatan dini secara merata;
6. Peningkatan partisipasi dunia usaha dan masyarakat dalam investasi penanggulangan bencana
melalui transfer risiko;
7. Pemantapan ketahanan ekonomi wilayah yang berdaya lenting sebagai antisipasi dampak
bencana.
RENCANA INDUK
132 PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045
Bab 4
VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN,
ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI
PENANGGULANGAN BENCANA
2015-2045
RENCANA INDUK
PENANGGULANGAN BENCANA 2015-2045 133