The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Nama : Ayu Lestari
Npm : 190202008

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lestariayu81880, 2021-06-30 09:12:00

PORTOFOLIO MIKROBIOLOGI

Nama : Ayu Lestari
Npm : 190202008

FORTOFOLIO MIKROBIOLOGI

NAMA : AYU LESTARI

NIM : 190202008

SEMESTER : 4

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PUANGRIMAGGALATUNG
2021

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas fortofolio ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan
tugas fortofolio ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah mikrobiologi. Selain itu, tugas
fortofolioini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak Ahmad Yani, S.Pd., M.Pd., selaku dosen mata
kuliah mikrobiologi yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan
wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.Saya juga mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas
fortofolio ini.
Saya menyadari, tugas fortofolio yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan tugas fortofolio ini.

Sengkang, 29 Juni 2021

Ayu Lestari

i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................................ii
PENDAHULUAN..................................................................................................................................1
Analisis Artikel 1 Jenis-Jenis Lichen .....................................................................................................2
Analisis Artikel 2 Kelompok 5...............................................................................................................8
Analisis Artikel 3 Kelompok 6.............................................................................................................11
Analisis Artikel 4 Kelompok 10...........................................................................................................15
Analisis Artikel 5 Bahasa Inggris..........................................................................................................18
Refleksi Diri Tentang Artikel................................................................................................................20
Identitas Makalah Kelompok.................................................................................................................21
Naskah Makalah ....................................................................................................................................22
Power Point............................................................................................................................................61
Refleksi Diri Tentang makalah..............................................................................................................80
Identitas Praktikum................................................................................................................................81
Metode dan Hasil Praktikum.................................................................................................................82
Video praktikum WFH ..........................................................................................................................86
Refleksi Diri Tentang Praktikum...........................................................................................................87
Refleksi Diri Akhir Semester.................................................................................................................88

ii

PENDAHULUAN

Portofolio berasal dari bahasa Inggris “Portfolio”yang artinya dokumen atau surat- surat atau
sebagai kumpulan kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu. Model pembelajaran ini bersifat
generic-pedugogis, dan materinya disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara. Pembelajaran
Portofolio di Indonesia pertama kali berkembang di Jawa Barat melalui perintisan di enam SLTP
sejak tahun 2000 yang dilaksanakan oleh kantor dinas pendidikan Jawa Barat dan bekerja sama
dengan Centerfor Indonesia Education (CICET) dan Center For Civic Education(CCE). Pada tahun
2001 Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat mengembangkan model pembelajaran ini untuk kepala
sekolah, pengawas dan guru SLTP se Jawa Barat. Pada tahun 2002 kegiatan yang sama di propinsi
Jawa Barat yang dilaksanakan oleh Departmen Pendidikan Nasional mengalami perkembangan
ketingkat SMU. Tahun 2003 model pembelajaran ini sudah berkembang melalui program peningkatan
kualitas oleh Departemen Pendidikan Nasional dengan memberi pelatihan kepada Dinas Pendidikan,
Kepala Sekolah, guru-guru SD, SLTP dan SMA dan bahkan sekarang sudah diterapkan dalam jenjang
Perguruan Tinggi.1 Dalam pendidikan zaman sekarang model pembelajaran portofolio hendaknya
dapat membawa perubahan yang lebih baik karena merupakan suatu inovasi yang dirancang untuk
membantu siswa memahami teori secara mendalam melalaui belajar praktik, empirik dan menjadikan
program pendidikan yang mendorong kompetensi tanggung jawab partisipasi siswa, belajar menilai
dan mempengaruhi tujuan umum.

Mikrobiologi merupakan mata kuliah wajib semester 4 di program studi Pendidikan Biologi.
Mata Kuliah ini mengkaji sejarah perkembangan mikrobiologi, mikroorganisme dan karakteristiknya,
peranan mikroorganismme dalam kehidupan,metabolisme dan pertumbuhan mikroba, aktivitas
biokimia vbvakteri serta fermmentasi makanan. Setelah mengikuti mata kuliah mikrobiologi
mahasiswa diharapkan memiliki wawasan dan pengetahuan tentang konsep kajian miikrobiologi dan
mikroorganisme serta memiliki keterampilan dan aktivitas terkait mikroorganisme.

Tujuan fortofolio mikrobiologi ini adalah untuk mengetahui kemajuan mahasiswa dalam
mempelajari dan memahami materi Mikrobiologi. Fortofolio ini dibuat dalam beberapa bagian, setiap
bagian akan membantu mahasiswa untuk menyelesaikan dan mengelola aspek-aspek yang dipelajari.

1

ANALISIS PERTAMA
Artikel 1 : https://jurnal.uns.ac.id/prosbi/article/view/5908
Artikel 2 : http://jurnal.unimor.ac.id/JBE/article/view/730
Artikel 3 : https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/biosains/article/view/9715

ARTIKEL 1

JUDUL Identifikasi Lumut Kerak (Lichen) di Area Kampus Universitas Muhammadiyah
PENELITIAN Surakarta
Efri Roziaty
NAMA
PENULIS Lichen dapat digunakan sebagai bioindikator pencemaran udara. Lichen
MENGAPA merupakan salah satu organisme yang memiliki potensi sebagai bioindikator
DILAKUKAN (Usuli, Uno, & Baderan, xxxx). Hal ini disebabkan secara morfologi thalus
PENELITIAN Lichen tidak memiliki kutikula. Tidak memiliki klorofil karena Lichen
merupakan asosiasi antara alga dan jamur atau jika ada pun jumlahnya
TUJUAN sangat rendah. Kondisi organisme seperti ini yaitu akumulasi klorofil
PENELITIAN rendah, tidak memiliki kutikula, mengabsorbsi air dan nutrien secara
langsung dari udara dan dapat mengakumulasi berbagai material tanpa
METODE seleksi serta bahan yang terakumulasi tidak akan terekskresi lagi (Usuli, Uno,
PENELITIAN & Baderan, xxxx). Adanya kuantitasi jumlah polutan di udara
DESKRIPSI menyebabkan terhambatnya pertumbuhan lumut kerak dan penurunan
HASIL YANG jumlah jenis (Treshow & Anderson, 1989). Sehingga jika di suatu wilayah
DIPEROLEH dengan tingkat polutan tinggi atau kualitas udara rendah maka keragaman
lichen menjadi sangat rendah dan tidak bervariasi. Kandungan senyawa
yang terdapat pada polutan khususnya yang terdapat pada zat – zat emisi
kendaraan. Beberapa jenis Lichen diketahui sering berada di wilayah yang
tercemar ringan misalnya Parmotrema austrosinensi

Untuk mengidentifikasi dan mengetahui jenis-jenis Lichen di kampus
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Metode Deskriptif eksploratif dengan teknik survei

Berdasarkan penelitian ini ditemukan sekitar lokasi penelitian,spesies yang

secara umum ditemukan ada dalam seluruh stasiun pengambilan sampel

adalah spesies Dirinaria spp., Lecidella elaeochroma, Arthonia illicina, A.

rubrocincta, dan Graphis spp. Dari keempat jumlah spesies tersebut hanya

Dirinaria spp yang memiliki sebaran thalus paling banyak dalam setiap

pohon inang. Lichen yang ditemukan ada 2 jenis tipe thalus yaitu crustose

(thalus kerak) dan foliose (thalus seperti berdaun). Famili dari Dirinaria spp

adalah Physciaceae. Secara umum, dalam famili ini terdapat 3 genus yang

seringkali hidup bersama yaitu Genus Dirinaria, Physcia dan Pyxine.

Karakteristik ketiga genus tersebut hampir sama dan saling berdekatan

satu dengan yang lain. Terkadang masih terdapat kebingungan

untuk membedakannya secara morfologo. (Rindita,2014). Adapun

karakteristik dari lichen ini adalah thalus lichen termasuk tipe foliose.

Permukaan atas thalus berwarna hijau keabuan, putih ke abuan,

berbentuk tidak teratur. Morfologi thalus cenderung membundar. Subsrat

tempat tumbuh biasanya kulit batang pohon, kayu, batu yang bersifat asam

atau lumut. Physciaceae adalah famili yang memiliki thalus foliose

berbentuk orbicular dantersebar tidak beraturan. Lobus atas dan bawah

2

KESIMPULAN corticate dan lapisan bawah berwarna gelap ataupun hitam. Persentase lichen
yang didapat paling tinggi di stasiun 4 yaitu Pemukiman 1 (Ds. Gonilan)
BIOBLIGARIFI 48.3 % dan terendah 16.3 % di stasiun 5(Pemukiman 2 sekitar
PENULIS lapangan bola Ds. Gonilan). Diameter koloni lichen yang paling rendah
yaitu 4.6 cm berada di stasiun 1 (Kampus 1) dan yang tertinggi 5.3
cm di Pemukiman 2 (sekitar lapangan bola Ds. Gonilan).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut : a.Persentase lichen yang didapat paling tinggi di stasiun 4 yaitu
Pemukiman 1 (Ds. Gonilan) 48.3 % dan terendah 16.3 % di stasiun
5(Pemukiman 2 sekitar lapangan bola Ds. Gonilan). Diameter koloni
lichen yang paling rendah yaitu 4.6 cm berada di stasiun 1 (Kampus 1)
dan yang tertinggi 5.3 cm di Pemukiman 2 (sekitar lapangan bola Ds.
Gonilan).
b.Spesies lichen yang di temui berasal dari genus Dirinaria yaitu Dirinaria
picta dan D. applanata; Physcia; Xanthomendoza; Pyxine cocoes.
Sedikitnya jumlah lichen yang ditemui mengindikasikan bahwa di daerah
tersebut sudah terjadi pencemaran udara.
Roziaty, E. (2016). Identifikasi Lumut Kerak (Lichen) di Area Kampus
Universitas Muhammadiyah Surakarta. In Proceeding Biology Education
Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning (vol. 13, No. 11, pp.
770-776).

ARTIKEL 2

JUDUL Keanekaragaman Lichen di Hutan Mangrove Desa Tomoli, Kabupaten Parigi

PENELITIAN Moutong

NAMA Ari Pratama
PENULIS
MENGAPA Lichen selain dapat mempengaruhi komponen ekosistem lainnya juga
DILAKUKAN keberadaannya sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, misalnya tingkat
PENELITIAN pencemaran udara pada suatu wilayah. Oleh karena itu, Lichen dapat dijadikan
sebagai bioindikator pencemaran udara pada suatu lingkungan. Semakin jauh dari
TUJUAN sumber polusi, keragaman Lichen semakin bertambah dan spesies-spesies yang
PENELITIAN ditemukan akan berubah (Misra, 1978: 66-72; Mahawati, 2011: 130-137). Dalam
hidupnya, Lichen merupakan organisme yang terbentuk dari hasil asosiasi
METODE simbiosis antara jamur dan alga atau disebut sebagai simbiosis mutualistik dan
PENELITIAN helotisme yang dapat membentuk kesatuan morfologi yang berbeda dengan
DESKRIPSI spesies lain dari komponen penyusunnya. Alga memiliki karakteristik berupa
HASIL YANG klorofil yang berfungsi dalam proses fotosintesis sedangkan fungi akan
DIPEROLEH mengambil air dan mineral lainnya dari suatu lingkungan. Sedangkan helotisme
maksudnya sifat parasit fungi terhadap alga dikarenakan hanya fungi yang
mempunyai alat perkembangbiakan berupa badan buah atau thallus (Muzayyinah,
2005: 34-39; Murningsih & Mafaza, 2019: 20-29).
Untuk menentukan tingkat keanekara-gaman jenis Lichen yang tumbuh pada
hutan mangrove, di Desa Tomoli ,Kabupaten Parigi Moutong.
Metode survey dan teknik pengambilan sampel menggunakan metode plot dengan
cara purposive sampling
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Hutan Mangrove Desa Tomoli
Kabupaten Parigi Moutong ditemukan 10 jenis lichen yang terdiri atas 6 genus, 5
famili, 7 ordo, dan 4 kelas, yang terbagi atas dua kelompok berdasarkan tipe
thallus yaitu lichen crustose dan foliose. Kelompok lichen crustose yaitu
Aspicilia calcarea (L.) Mudd., Aspicilia sp., Pyrenula sp., Pyrenula

3

KESIMPULAN dermatodes (Borrer) Schaer, Pyrenula santensis (Nyl) Mull. Arg, Cryptothecia
striata (Ehrenb) G. Thor, Phaeographis sp., Graphis scripta (L.) Ach.,
BIOBLIGARIFI Verrucaria sp. Sedangkan kelompok lichen foliose yaitu Flavoparmelia
PENULIS caperata (L.) Hale. Beberapa jenis
lichen yang mampu hidup pada pohon Avicennia marina (Forssk) Vierh.,
ARTIKEL 3 Sonneratia alba J. Sm. dan Rhizophora mucronata Lam. dan ada pula yang tidak
dapat hidup pada salah satu jenis pohon. Selanjutnya Melanstica (2016: 40-48)
menjelaskan bahwa lichen dapat ditemukan di dalam ekosistem alami, misalnya
kulit kayu pohon berbeda-beda Keasamannya, maka lichen yang berbeda
toleransinya terdapat pada pohon-pohon yang berbeda. Pada penelitian ini jenis
lichen Aspicilia calcarea (L.) Mudd., Aspicilia sp., dan Flavoparmelia caperata
(L.) Hale dapat ditemukan pada semua jenis pohon mangrove walaupun
lingkungan ekosistem mangrove telah terpapar uap air garam, hal ini
dikarenakan tingkat toleransi terhadap kondisi lingkungan berbeda dengan
tingkat toleransi pada jenis lichen lainnya. Menurut Hadiyanti (2013: 12-17),
bahwa ketahanan tumbuhan terhadap kadar garam secara fisiologi yaitu
terakumulasinya beberapa senyawa yang dikenal dengan sebutan pelindung
osmosis. Berdasarkan hasil penelitian pada kedua stasiun pengamatan ditemukan
jenis yang sama pada tiap plot. Hal tersebut
disebabkan oleh faktor fisik kimia lingkungan yang normal. Adapun hasil
pengukuran Kondisi fisik kimia lingkungan yaitu suhunya 32,60C,
kelembaban 67,40% dan itensitas cahaya 1200 (Cd). Selain substrat, suhu juga
merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap penyebaran
lichen di alam. Hasil pengukuran suhu pada ekosistem mangrove di Desa Tomoli
yaitu 32,60C. Menurut Istam (2007: 32), lichen dapat hidup baik pada suhu yang
sangat rendah atau pada suhu yang sangat tinggi yang berkisar antara 18-30C.
Hasil pengukuran kelembaban tempat ditemukannya lichen pada
ekosistemmangrove yaitu 67,40%, kelembaban sangat dipengaruhi oleh suhu
udara. Menurut Istam (2007: 33), lichen dapat hidup baik pada kelembaban
yang berkisar antara 40-89%. Lichen akan segera menyesuaikan diri bila
keadaan lingkungannya kembali normal. Walaupun lichen tahan terhadap
kekeringan dalam jangka waktu yang cukup panjang, namun lichen akan
tumbuh secara optimal apabila lingkungan tersebut memiliki karakteristik
yang lembab (Ronoprawiro, 1989: 71-77). Hasil pengukuran kondisi fisik
tersebut merupakan kisaran toleransi bagi pertumbuhan dan perkembangan
lichen. Artinya, lichen yang dapat tumbuh dan berkembang pada kondisi tersebut
adalah lichen yang dapat beradaptasi dengan kondisi fisik demikian.
Keanekaragaman pada setiap jenis makhluk hidup sangat dipengaruhi oleh
faktor fisik kimia lingkungan yang ada pada setiap komunitas seperti suhu,
intensitas cahaya, pH tanah, uap air garam dan kelembaban. Faktor tersebut
sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan jenis lichen.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan nilai indeks
keanekaragaman lichen yang didapatkan di hutan mangrove Desa Tomoli sebesar
2.225 yang menunjukkan bahwa keanekaragaman sedang yang terdapat pada
kriteria 1 ≤ H’ ≥ 3. Bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang
berada di pegunungan, hutan maupun perkebunan yang merupakan daerah
yang lembab sangat beragam jenis yang ditemukan berbeda dengan penelitian
kali ini yang berada di hutan mangrove lebih sedikit. Hal ini dikarenakan
lokasi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, keanekaragaman lichen yang
didapatkan di Hutan Mangrove Desa Tomoli menunjukkan tingat
keanekaragaman dalam kategori sedang (H’=2.225).

Pratama, A., & Trianto, M. (2020). Keanekaragaman Lichen di Hutan Mangrove
Desa Tomoli Kabupaten Parigi Moutong. Jurnal BIO-EDU, 5(3), 140-150.

4

JUDUL Eksplorasi Lichenes pada Tegakan Pohon Di Area Taman Margasatwa (Medan

PENELITIAN Zoo) Simalingkar Medan Sumatra Utara .

NAMA Ashar Hasairin
PENULIS
MENGAPA Lichenes banyak memiliki manfaat yang berguna bagi masyarakat diantaranya
DILAKUKAN yaitu untuk pewarna, pemantauan polusi, parfum, dekorasi dan untuk tujuan obat.
PNELITIAN Pemanfaatan lichenes dalam bidang kesehatan khususnya bahan obat berhubung
dengan substansi yang terkandung di dalamnya. Dan substansi tersebut
TUJUAN dimanfaatkan untuk antibiotik, antijamur, antivirus, antiinflamasi, analgesic,
PENELITIAN antipiretik, antiproliferatif dan efek sitoksik. Dengan demikian lichenes memiliki
manfaat baik bagi masyarakat (Septiana, 2011) Berdasarkan hasil observasi yang
METODE dilakukan di kebun binatang medan zoo simalingkar didapatkan banyak lichenes
PENELITIAN yang tumbuh pada tegakan pohon yang berada di area medan zoo tersebut dan
DESKRIPSI juga tumbuh pada bebatuan, permukaan tanah, dinding bahkan tumbuh pada
HASIL YANG permukaan-permukaan benda buatan manusia seperti patung hewan yang berada
DIPEROLEH di area medan zoo tersebut. Dan di Medan Zoo simalingkar belum banyak yang
melakukan penelitian tentang flora dan faunya sehingga dapat dilakukan
penelitian seperti lichenes dan sebagainya (Roziaty, 2016). Bahan dan Metode
Penelitian ini di lakukan.
Untuk mengetahui keanekarag-aman Lichenes pada tegakan pohon Mahoni
(Swietenia mahagoni), pohon Saga (Adenanthera pavonina), pohon Ketapang
(Terminalia catappa), dan pohon Palem Raja (Roystonea regia) yang terdapat di
Area Taman Margasatwa (Medan Zoo) Simalingkar Medan Sumatera Utara.
Metode Purposive Sampling

Diperoleh total talus sebesar 2626 lichenes dan total rata-rata talus 469,7 lichenes.
Rata-rata talus tertingi pada pohon I Mahoni (Swietenia mahagoni), diikutui
pohon II, IV, dan III. Lichenes yang ditemukan dalam penelitian bervariasi.
Pohon I Mahoni (Swietenia mahagoni) jumlah lichenes yang ditemukan 9 jenis
lichenes dengan 2 tipe talus. Jenis terbanyak Lepraria sp (2) tipe talus Crustose
dan terendah jenis Rimelia reticulata (9) tipe talus Foliose. Pohon II Saga
(Adenanthera pavonina) jumlah lichenes yang ditemukan 5 jenis lichenes dengan
2 tipe talus. Jenis terbanyak Parmelia saxatilis (6) tipe talus Foliose dan terendah
Parmelia caperata 5) tipe talus foliose. Pohon III Ketapang (Terminalia catappa)
jumlah lichenes yang ditemukan 5 jenis dengan 2 tipe talus. Jenis terbanyak
Ochrolechia tartarea (1) tipe foliose dan terendah Parmelia saxatilis (6) tipe
talus foliose. Pohon IV Palem Raja (Roystonea regia).
Jumlah talus terbanyak pada pohon I sebanyak 944 talus, diikuti pohon II, IV dan
III, sedangkan rata-rata talus tertinggi terdapat pada pohon I sebesar 35,34 diikuti
pohon II,IV dan III. Dari keempat pohon penelitian terdapat nilai rata-rata JT/
1m2 LPBP tertinggi yaitu pada pohon II dan pohon IV keduanya memiliki nilai
rata-rata JT/ 1m2 LPBP 4,68 kemudian diikuti oleh pohon I dan III. Rata-rata LT
(cm2)/ 1m2 LPBP tertinggi diperoleh pada pohon I (Mahoni) dengan nilai 0,08
sedangkan nilai terendah dimiliki pada Pohon III (Ketapang).
Indeks Nilai Penting (INP) diperoleh dari data KR, FR dan DR yang dimiliki
masing-masing lichenes di pohon penelitian. Pada pohon I lichenes yang
memiliki INP tertinggi adalah Ochrolechia tartarea (1) yaitu mencapai 0,59 %.
Pada pohon II lichenes yang memiliki INP tertinggi adalah Ochrolechia tartarea
(1) yaitu mencapai 2,42 % ini adalah nilai INP terttimggi dari ketiga pohon
tersebut. Pada pohon III lichenes yang memiliki INP tertinggi adalah Ochrolechia
tartarea (1) yaitu mencapai 0,72 %. Sedangkan pada pohon IV lichenes yang
memiliki INP tertinggi adalah Lepraria sp (2) yaitu 0,79 %. Dari keempat pohon
penelitian didapatkan nilai INP tertinggi pada pohon II diikuti pohon IV, III dan

5

II. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan di Taman Margasatwa (Medan
Zoo) Simalingkar Medan Sumatera Utara telah didapatkan 11 jenis lichenes
dengan 8 genus yaitu Ochrolechia, Lepraria, Parmelia, Lecanora, Graphis,
Rimelia, Phrrhorpora Dan Baemyces. Lichenes yang ditemukan pada lokasi
penelitian yaitu lichenes tipe Foliose dan Crustose sedangkan tipe frutiose dan
squamulosa tidak ditemukan dalam penelitian ini karena kedua tipe lichenes
tersebut sangat susah tumbuh , tipe tersebut biasanya tumbuh pada suhu yang
tinggi seperti suhu pada di Hutan Wisata Tahura yang telah didapatkan (Desry,
2017) tetapi berlaku pada tipe Frutiose. Ciri-ciri makroskopik yang paling mudah
kita amati dan dibedakan adalah bentuk dan warna talus (Januardania, 1995). Hal
tersebut memungkinkan talus lichenes dapat dianalisis secara deskriptif. Lichenes
dengan tipe talus foliose ditemukan dalam penelitian ini sebanyak 6 talus dan tipe
talus crustose ditemukan 5 talus. Hal ini dikarekan bahwa kedua tipe talus
tersebut sangat mudah tumbuh. Menurut Yurnaliza (2002), lichenes crustose
memiliki talus yang berukuran kecil, datar, tipis dan selalu melekat erat pada
substratnya dan pada tipe talus foliose tidak menempel erat pada substratnya
tetapi hanya menempel saja pada substratnya. Hal ini menyebabkan lichenes tipe
ini sulit untuk dipisahkan dari substratnya tanpa merusak substratnya. Menurut
Pratiwi (2006), tipe talus crustose paling efesiens dibandingkan dengan tipe talus
lainnya. Tipe talus crustose dapat terlindung dari potensi kehilangan air dengan
bertahan pada substratnya. Tipe ini memiliki tipe jaringan talus homoimerus yaitu
keadaan phycobion (alga) berada di sekitar hifanya. Lichenes dengan tipe talus
foliose ditemukan sebanyak 6 jenis yaitu Ochrolechia Tartarea, Parmelia
Plumbea, Parmelia Caperata, Parmelia Saxatilis Rimelia Reticulata dan
Baemyces Rufus. Tipe talus foliose memiliki tipe tjaringan talus heteromerus,
sehingga talus ini terdiri dari beberapa lapisan. Tipe talus ini dapat memelihara
kelembaban yang dilakukan pada lapisan medula. Dalam terbentuknya suatu
lichenes dipengaruhi oleh sifat dan kondisi dari kulit batang pohon yang secara
langsung akan mempengaruhi bentuk dan keadaan talus yang berkembang
disebabkan oleh perbedaan kondisi permukaan tempat tumbuh dari talus tersebut
(Pratiwi, 2006). Bentuk talus lichenes yang ditemukan di Taman Margasatwa
(Medan Zoo) sangat bervariansi, terdiri atas bentuk memanjang, membulat dan
tidak beraturan. Tegakan pohon dalam penelitian ini adalah empat pohon yaitu
pohon Mahoni (Swietenia mahagoni), pohon Saga (Adenanthera pavonina),
pohon Ketapang (Terminalia catappa), dan pohon Palem Raja (Roystonea regia).
Yang pertama kita bahas adalah pohon I Mahoni (Swietenia mahagoni) didalam
pohon mahoni terdapat 9 jenis lichenes dari jumlah total lichenes 11 jenis, 9 jenis
lichenes tersebut adalah Ochrolechia tartarea, Lepraria incana, Parmelia
plumbea, Parmelia caperata, Parmelia saxatilis, Rimelia reticulata, Phrrhospora
quena dan Baemyces rufus. Kesembilan lichenes ini mudah tumbuh pada substrat
yang masih subur dan memang lichenes ini tumbuh pada substrat yang keras dan
sedikit mengelupas.
Faktor fisika-kima sangat berpengaruh keberaddan lichenes salah satunya adalah
faktor kelembaban jika suhunya tinggi makan batang pohon tersebut lembab
sehingga sangat mudah untuk pertumbuhan lichenes dengan baik sehingga pada
pohon mahoni sangat banyak dijumpai jenis lichenes yang tumbuh pada pohon
tersebut dengan total lichenes 599 spesies ini adalah jumlah yang paling tertinggi
dibandingkan dengan total jumlah lichenes di pohon II, pohon III dan pohon IV.
Diantara semua jenis lichenes yang tidak memiliki syarat tumbuh tinggi yaitu
genus Parmelia karena jenis ini tumbuh pada semua pohon yang telah ditentukan
dan jenis lichenes yang memiliki syarat tumbuh yang khusu terdapat pada 4 jenis
lichenes dengan genus Graphis, Rimelia, Pyrrhospora dan Baemyces. Graphis
scipta hanya tumbuh pada pohon yang memiliki tekstur kasar dan memiliki
diameter yang bulat yaitu pada pohon palem raja karena jenis lichenes ini tidak
terdapat pada pohon mahoni, pohon saga dan pohon ketapang. Sedangkan 3 jenis

6

KESIMPULAN lainnya yaitu Rimelia reticulata, pyrrhorpora quena dan Baemyces rufus hanya
tumbuh pada pohon mahoni yang sedikit mengelupas dan tidak dijumpai pada
BIOBLIGARIFI pohon saga, pohon ketapang dan pohon palem raja.
PENULIS
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka secara implasi dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Indeks keanekaragaman di Taman Margasatwa (Medan Zoo) Simalingkar
Medan Sumatera Utara tergolong tinggi dengan nilai = 23,29 2. Hasil dari analisis
vegetasi menunjukan bahwa INP tertinggi didapatkan pada pohon II dengan nilai
4,26 % dan disusul oleh pohon IV, I dan II.
3. Pola distribusi lichenes pada lokasi penelitian bersifat seragam
4. Kondisi fisika kimia habitat yang mendukung pertumbuhan dan perkembagan
lichenes di Kebun Binatang Medan Zoo Simalingkar suhu berada pada suhu 32 -
35 kelembaban 68 % - 80 % dan intensitas cahaya 31 cd – 32 cd.

Hasairin, A. EKSPLORASI LICHENES PADA TEGAKAN POHON DI AREA
TAMAN MARGASATWA (MEDAN ZOO) SIMALINGKAR MEDAN
SUMATERA UTARA. JURNAL BIOSAINS, 4(3), 145-153.

7

ANALISIS KEDUA

Artikel 1 : https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/view/235

Artikel 2 : https://jurnal.akfarsam.ac.id/index.php/jim_akfarsam/article/view/29

ARTIKEL 1

JUDUL Uji Efektivitas daun pepaya ( Carica papaya L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri
PENELITIAN Escherichia Coli dan Staphylococcus Aureus
Maria Tuntun
NAMA
PENULIS Daun pepaya mengandung senyawa senyawa kimia yang bersifat antiseptik,
MENGAPA antiinflamasi, antifungal, dan antibakteri. Senyawa antibakteri yang terdapat
DILAKUKAN dalam daun pepaya diantaranya tanin, alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan saponin
PENELITIAN (Duke, 2009). Selain itu daun pepaya mengandung zat aktif seperti alkaloid
carpaine, asam-asam organik seperti lauric acid, caffeic acid, gentisic acid, dan
TUJUAN asorbic acid, serta terdapat juga β- sitosterol, flavanoid, saponin, tannin, dan
PENELITIAN polifenol (Duke, 2009). cherichia coli dan Staphylococcus aureus. Manfaatnya
daharapkan mejadi database tentang kemampuan antibakteri yang terdapat dalam
METODE ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri
PENELITIAN Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara invitro.
DESKRIPSI Untuk mengetahui kemampuan ekstrak daun pepaya ( Carica Papaya L.) dalam
HASIL YANG menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus
DIPEROLEH dan mengetahui konsentrasi ekstrak daun pepaya (Carica Papaya L.) yang
efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan
Staphylococcus aureus.
Metode penelitian bersifat eksperimen. Uji daya hambat menggunakan metode
difusi agar cara Kirby Bauer
Ekstrak daun pepaya konsentrasi 10% dan 20% belum dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, sedangkan pada konsentrasi 30-
100% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan
rata-rata diameter zona hambat 7,9 mm sampai dengan 13,2 mm. Hasil uji
ANOVA didapat hasil F hitung yaitu 28,93. Artinya F hitung ˃ F tabel dengan
taraf kesalahan 5% dan 1%, hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya
(Carica papaya L.) berpengaruh terhadap
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, sehingga dilanjutkan pada uji beda
nyata terkecil. Hasil uji BNT ekstrak daun pepaya terhadap bakteri
Staphylococcus aureus didapatkan bahwa masing-masing konsentrasi berbeda
sangat nyata dalam menghambat pertumbuhan bakteri, kecuali konsentrasi 10%
dan 20%. Ekstrak daun pepaya konsentrasi 10% belum dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Escherichia coli, sedangkan pada konsentrasi 20% sampai
100% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan rata rata
diameter zona 6,5 mm sampai dengan 9,1 mm. Hasil uji ANOVA didapat hasil F
hitung yaitu 316,4, artinya F hitung ˃ F tabel dengan taraf kesalahan 5% dan 1%.
Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.)
berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli, sehingga dilanjutkan
pada uji beda nyata terkecil. Hasil uji BNT ekstrak daun pepaya terhadap bakteri
Escherichia coli didapatkan bahwa masingmasing konsentrasi berbeda sangat
nyata dalam menghambat pertumbuhan bakteri, kecuali konsentrasi 10%. Hasil
penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Anggraini (2013), yaitu tidak ada
zona hambat pada konsentrasi 10%, dan didapatkan zona hambat pertumbuhan
bakteri Escherichia coli oleh ekstrak daun pepaya mulai dari konsentrasi 25-
100%. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun pepaya, maka semakin besar

8

KESIMPULAN zona hambat yang terbentuk. Besarnya diameter zona hambat yang terbentuk

BIOBLIGARIFI disebabkan kandungan zat antibakteri yang lebih banyak pada konsentrasi yang
PENULIS lebih tinggi.

Simpulan dari penelitian yaitu ekstrak dau pepaya ( carica papaya L.) dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia Coli pada konsentrasi 20% sampai
100% dengan rata – rata diameter zona 6,5 mm sampai dengan 9,1% mm.
Sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dapat menghambat
pertumbuhan pada konsentrasi 30% sampai 100% dengan rata – rata diameter
zona 7,9 mm sampai dengan 13,2 mm.
Tidak didapatkan konsentrasi ekstrak daun pepaya ( Carica Papaya L.) yang
efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, bila
dibandingkan dengan rata – rata diameter zona hambat kontrol positif (antibiotik
Chlorampenicol 30 mcg).

Tuntun, M. (2016). Uji Efektivitas daun pepaya ( Carica papaya L.) Terhadap
Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Jurnal

Kesehatan, 2016, 7.3: 497-502.

ARTIKEL 2

JUDUL Isolasi dan Identifikasi Bakteri Asam Laktat (BAL) Dari Buah Mangga
PENELITIAN (Mangifera indica L.)
Arsyik Ibrahim, Aditya Fridayanti, Fila Delvia
NAMA
PENULIS Bakteri asam laktat adalah bakteri yang memiliki kontribusi yang besar dalam
MENGAPA dunia pangan. Bakteri asam laktat selain biasanya digunakan sebagai pangan
DILAKUKAN fungsional juga sering digunakan sebagai pengawet alami dari suatu produk
PENELITIAN pangan fermentasi. Penggunaan bakteri asam laktat sebagai pengawet alami
dengan metode biopreservatif telah banyak dikembangkan dengan menggunakan
TUJUAN bakteri asam laktat secara langsung atau menggunakan metabolitnya sebagai agen
PENELITIAN antimikroba. Penggunaan BAL ini dikarenakan bakteri asam laktat disebut
sebagai food grade microorganisms yang merupakan mikroba yang tidak beresiko
METODE terhadap kesehatan karena tidak menghasilkan racun berbahaya pada bahan
PENELITIAN pangan melainkan mempunyai fungsi sebaliknya yang baik bagi kesehatan. Hal
ini karena bakteri asam laktat dapat menghambat secara alami mikroba
DESKRIPSI patogen(1).
HASIL YANG Berdasarkan kemungkinan adanya bakteri asam laktat yang terdapat pada buah
DIPEROLEH mangga (Mangifera indica L.) dan besarnya manfaat yang dihasilkan dari bakteri
asam laktat. Maka dilakukan penelitian untuk mengisolasi bakteri asam laktat dari
buah mangga (Mangifera indica L.) serta mengidentifikasi karakteristik bakteri
asam laktat (BAL) yang diperoleh.
Untuk mengisolasi bakteri asam laktat yang terdapat pada buah mangga
(Mangifera Indica L.) dan mwngetahui karakteristik isolat bakteri asam laktat
(BAL) mangga (Mangifera indica L.).
Metode yang digunakan adalah teknik membusukkan buah mangga (Mangifera
indica L.) dan isolasi menggunakan media selektif MRS Broth ddan MRS Agar.
Isolat identifikasi bakteri asam laktat (BAL) yang digunakan metode secara
makroskopis dan mikroskopis dengan pewarnaan tidak langsung, pewarnaan
gram dan biokimia bekas dengan pengujian katalase.
Isolasi bakteri merupakan sebuah teknik untuk mendapatkan koloni tunggal suatu
bakteri. Proses isolasi dilakukan proses plating. Dari hasil isolasi yang dilakukan
diperoleh koloni tunggal dari buah mangga kuweni yang disebut sebagai isolat.
Identifikasi bakteri bertujuan untuk menentukan karakteristik khusus yang
dimiliki oleh isolat yang diperoleh yang mempunyai karakteristik sama dengan

9

KESIMPULAN bakteri yang diinginkan. Beberapa cara yang digunakan untuk mengidentifikasi
BAL pada penelitian ini yaitu dilakukan secara makroskopik, mikroskopik dan uji
BIOBLIGARIFI katalase. Dari hasil identifikasi secara makroskopik memperlihatkan hasil berupa
PENULIS isolat yang mempunyai warna putih susu, bentuk bulat, tepi entire, permukaan
halus dan elevasi yang cembung. Hasil ini selanjutnya di sesuaikan dengan
standar BAL hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya (1), BAL hasil isolasi
dari buang mangga kuweni. Uji katalase dilakukan dengan meneteskan larutan
H2O2 3% pada kultur muda (umur 24 jam). Uji katalase menunjukkan bahwa
isolat bakteri asam laktat (BAL) yang diuji menunjukkan hasil uji berupa katalase
negatif dimana tidak terbentuknya gelembung pada object glass yang terdapat
cairan H2O2 saat diolesi dengan bakteri. Hal ini dikarenakan bakteri asam laktat
tidak memproduksi enzim katalase yang dapat mengubah hidrogen peroksida
menjadi air dan oksigen dan berkaitan dengan kemampuan bakteri asam laktat
yang hanya membutuhkan sedikit oksigen untuk dapat hidup.
1. Isolat bakteri asam laktat dari buah mangga mempunyai karakteristik secara
makroskopik yaitu warna putih susu, bentuk bulat, tepi entire, permukaan halus
dan elevasi cembung.
2. Hasil identifikasi bakteri asam laktat dari buah mangga kweni (Mangifera
odorata) menunjukkan hasil reaksi negatif terhadap uji katalase, merupakan
bakteri gram positif bentuk bulat bergandengan/berantai (Streptococcus).
Ibrahim, A., Fridayanti, A., & Delvia, F. (2017). Isolasi dan identifikasi bakteri
asam laktat (BAL) dari buah mangga (Mangifera indica L.). Jurnal Ilmiah
Manuntung, 1(2), 159-163.

10

ANALISIS KETIGA

Artikel 1 : https://science.e-journal.my.id/cjbs/article/view/22
Artikel 2 : https://repository.unpak.ac.id/tukangna/repo/file/files-20201208112200.pdf

ARTIKEL 1

JUDUL Isolasi dan Karakterisasi Jamur pada Daun Kakao Klon 45 yang Terserang
PENELITIAN Penyakit
Jumriani
NAMA
PENULIS Jamur penyebab penyakit pada tanaman kakao antara lain Colletotrichum
MENGAPA gloeosporioides yang menyebabkan penyakit antraknosa, Oncobasidium
DILAKUKAN theobromae yang menyebabkan penyakit vasular treak diebak , Rhizopus
PENELITIAN stolonifer dan Botrytis cinerea yang menyebabkan busuk buah, serta Phitophtora
palmivora yang menyebabkan busuk buah, kanker batang, dan hawar daun [2],
TUJUAN [3], [4], [5]. Penyakit pada tanaman kakao di Desa Bumi Harapan Kecamatan
PENELITIAN Baebunta Kabupaten Luwu Utara adalah adanya bercak-bercak yang menyerupai
penyakit antraknosa.
METODE Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi jamur yang
PENELITIAN terdapat pada daun kakao klon 45 yang mengalami bercak-bercak dari Luwu
DESKRIPSI Utara. Karakterisasi jamur meliputi karakter morfologi, baik secara makroskopis
HASIL YANG maupun mikroskopis. Jamur yang diisolasi akan dibandingkan dengan jamur
DIPEROLEH penyebab penyakit antraknosa, yaitu Colletotrichum gloeosporioides .
Untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi jamur pada daun kakao klon 45 yang
terserang penyakit dari perkebunan Luwu Utara
Metode penelitian identifikasi secara makroskopis dan mikroskopis

Berdasarkan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis, ditemukan 5 jenis
isolat jamur yang memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi warna
miselium, arah pertumbuhan, struktur miselium dan hifa . Kelima isolat jamur
yang ditemukan menunjukkan karakteristik yang berbeda. Isolat jamur ke I
miselium berwarna putih kusam, arah pertumbuhan ke atas dan ke bawah,
struktur miselium agak kasar dan hifanya tidak terlihat, Isolat jamur ke II
miselium berwarna putih, arah pertumbuhan ke kanan dan ke kiri, struktur
miselium agak kasar dan hifanya tidak terlihat, isolat jamur III miselium

11

berwarna putih, arah pertumbuhan ke atas dan ke bawah, struktur miselium halus

dan hifanya tidak terlihat, Isolat jamur ke IV miselium berwarna putih kusam,

arah pertumbuhan ke atas, ke bawah dan ke kiri, struktur miselium agak kasar dan

hifanya tidak terlihat, dan isolat jamur ke V miselium berwarna putih kusam, arah

pertumbuhan ke atas, ke bawah dan ke kiri, struktur miselium halus dan hifanya

tidak terlihat.

Pada pengamatan mikroskopis digunakan untuk mengamati morfologi hifa jamur.

Hifa adalah struktur fungi berbentuk seperti tabung yang terbentuk dari

pertumbuhan spora atau konidia. Kumpulan hifa dapat membentuk massa yang

dikenal dengan miselum ( mycelium, jamakmycelia ). Hifa dapat dengan mudah

dilihat dengan mata bila telah membentuk miselium [6] Struktur berbentuk mirip

payung yang biasa dikenal orang sebagai jamur tidak lain hanyalah alat

reproduksi yang dikenal sebagai karpus atau tubuh buah, yang muncul hanya

sewaktu-waktu. Isolat jamur ke I miselium tidak ada dan hifa bercabang, tidak

lurus dan berwarna agak gelap, isolat jamur ke II miselium tidak ada dan hifa

bercabang, lurus dan berwarna hijau, isolat jamur ke III miselium tidak ada dan

hifa bercabang, tidak lurus dan berwarna agak gelap, isolat jamur ke IV miselium

tidak ada dan hifa bercabang, tidak lurus dan berwarna agak gelap, isolat jamur

ke V warna miselium, arah pertumbuhan, struktur miselium tidak ada dan hifa

bercabang, tidak lurus dan berwarna kekuningan. Pada penelitian ini, digunakan

isolat pembanding, yaitu jamur C. gleosporioides InaCC LIPI. Jamur C.

gleosporioides InaCC LIPI merupakan salah satu jamur yang menyebabkan

penyakit pada beberapa tanaman inang, baik pada fase pembibitan, budidaya dan

fase pasca panen. C. gleosporioides InaCC LIPI mempunyai miselium yang

jumlahnya agak banyak, hifa bersepta tipis, mula-mula terang kemudian gelap.

Isolat jamur C. gleosporioides InaCC LIPI memiliki miselium berwarna putih dan

hijau lumut, arah pertumbuhan ke atas dan ke bawah, struktur miselium agak

kasar dan hifanya tidak terlihat, miselium tidak ada dan hifa bercabang, dan

berwarna agak hitam. Karakteristik setiap isolat jamur yang ditemukan berbeda

dengan isolat jamur C. gleosporioides InaCC LIPI.

KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima isolat jamur pada daun kakao
BIOBLIGARIFI klon 45 yang terserang penyakit. Isolat yang diperoleh tidak memiliki karakter
morfologi yang menyerupai jamur Colletotrichum gleosporiodes InaCC LIPI
yang umumnya menyebabkan penyakit antraknosa pada kakao. Kelima isolat
yang ditemukan perlu dilakukan uji postulat Koch untuk menentukan isolat jamur
yang menjadi penyebab penyakit pada daun kakao klon 45 di Luwu Utara.
Jumriani, J. (2020). Isolasi dan Karakterisasi Jamur pada Daun Kakao Klon 45

PENULIS yang Terserang Penyakit. Cokroaminoto Journal of Biological Science, 2(1), 1-5.

12

ARTIKE 2 Isolasi dan Identifikasi Jamur Endofit pada Umbi Talas (Colocasia esculenta (L.)
JUDUL Schoot)
Fitria Dewi Sulistiyono dan Siti Mahyuni
PENELITIAN
NAMA Jamur endofitik adalah jamur yang hidup dan berasosiasi di dalam jaringan
tanaman inang. Asosiasi yang terjadi umumnya bersifat mutualisme. Kemampuan
PENULIS mikroorganisme endofitik memproduksi senyawa metabolit sekunder sesuai
MENGAPA dengan tanaman inangnya merupakan peluang yang sangat baik. Pemanfaatan
DILAKUKAN mikroorganisme endofit diharapkan dapat melestarikan tanaman inangnya yang
PENELITIAN membutuhkan waktu untuk tumbuh dan berkembang. Tujuan dari penelitian ini
adalah mengisolasi dan mengidentifikasi jenis-jenis jamur endofit yang terdapat
TUJUAN pada umbi talas. Metode yang digunakan adalah identifikasi secara mikroskopis
PENELITIAN dan makroskopis. Hasil identifikasi dengan pengamatan secara makroskopis dan
mikroskopis diperoleh genus Aspergillus, Sclerotium, Fusarium, Mucor dan
METODE Rhizopus.
PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi dan mengidentifikasi jenis-jenis
DESKRIPSI jamur endofit yang terdapat pada umbi talas
HASIL YANG Metode yang digunakan adalah identifikasi secara mikroskopis dan makroskopis
DIPEROLEH
Isolasi jamur endofit umbi talas diperoleh dari umbi talas yang diambil dari
kabupaten Bogor yaitu daerah Ciapus dan Tanah Baru. Berdasarkan hasil isolasi
isolat jamur endofit umbi talas yang berasal dari daerah Bogor, diperoleh lima
isolat.

1. Isolat 1 tumbuh pada media MEA dengan menghasilkan warna isolat
bening pada pertumbuhan awal, dan isolat berubah warna mejadi
kehitaman pada pertumbuhan hari ke-7, membentuk beberapa benang
miselia yang tumbuh ke udara dengan ukuran 0,5 cm pada pertumbuhan
hari ke-5, bagian tepi bergelombang, dan teksur seperti kapas.
Pengamatan secara mikroskopis menunjukkan adanya hifa bersekat.
Berdasarkan ciri secara makroskopis dan mikroskopis seperti yang
tampak pada Gambar 1 dan mengacu pada Pitt and Hocking, 1995), maka
dapat diketahui bahwa isolat 1 termasuk kedalam genus Asperghillus.

2. Isolat 2 tumbuh pada media MEA dengan menghasilkan warna isolat
putih, bagian tepi rata, dan teksur seperti kapas. Sedangkan dari
pengamatan secara mikroskopis tampak hifa tidak bersekat. Berdasarkan
ciri secara makroskopis dan mikroskopis seperti yang tampak pada
Gambar 2 dan mengacu pada Pitt and. Hocking (1995), maka dapat
diketahui bahwa isolate 2 termasuk kedalam genus Sclerotium.

13

3. Isolat 3 tumbuh pada media MEA dengan menghasilkan warna isolat
putih, bagian tepi rata, dan membentuk radian lingkar. Sedangkan dari
pengamatan secara mikroskopis tampak hifa bersekat, dan menghasilkan
spora dengan bentuk oval. Berdasarkan ciri secara makroskopis dan
mikroskopis seperti yang tampak padaGambar 3 dan mengacu pada John
I. Pitt and Ailsa D. Hocking (1995), maka dapat diketahui bahwa isolat
En.J.P.C termasuk kedalam genus Fusarium.

4. Isolat 4 tumbuh pada media MEA dengan menghasilkan warna isolat
putih, bagian tepi rata, dan teksur seperti kapas. Sedangkan dari
pengamatan secara mikroskopis tampak hifa tidak bersekat, dan
menghasilkan sporangium dengan bentuk bulat pada ujung hifa.
Berdasarkan ciri secara makroskopis dan mikroskopis seperti yang
tampak pada Gambar 4 dan mengacu pada (Pitt and Hocking, 1995),
maka dapat diketahui bahwa isolat En.B.P.TB termasuk kedalam genus
Mucor.

5. Isolat 5 tumbuh pada media MEA dengan menghasilkan warna isolat
putih, bagian tepi rata, dan teksur tebal seperti kapas. Sedangkan dari
pengamatan secara mikroskopis tampak hifa bersekat, dan menghasilkan
sporangium dengan bentuk bulat pada ujung hifa. Berdasarkan ciri secara
makroskopis dan mikroskopis seperti yang tampak pada Gambar 5 dan
mengacu pada John I. Pitt and Ailsa D. Hocking (1995), maka dapat
diketahui bahwa isolat B.S.TB termasuk kedalam genus Rhizopus.

KESIMPULAN Hasil identifikasi dengan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis
diperoleh genus Aspergillus, , Sclerotium, Fusarium, Mucor, dan Rhizopus.

BIOBLIGARIFI Sulistiyono, F. D., & Mahyuni, S. (2019). Isolasi Dan Identifikasi Jamur Endofit
PENULIS Pada Umbi Talas (Colocasia esculenta (L.) Schoot). Jurnal Sains Natural, 9(2),
66-70.

14

ANALISIS KEEMPAT

Artikel 1 : https://journal.ipb.ac.id/index.php/ipthp/article/view/34440

Artikel 2 : file:///C:/Users/ASUS/Downloads/34440-Article%20Text-126219-1-10-
20210205%20(3).pdf

ARTIKEL 1

JUDUL Penggunaan Bakteriosin yang Diproduksi oleh Lactobacillus plantarum sebagai

PENELITIAN Pengawet Alami untuk Daging Ayam yang Disimpan di Suhu Ruang

NAMA Y. Nurraifah, I. I. Arief, & N. Ulupi
PENULIS
MENGAPA Residu bahan kimia yang tertinggal di dalam tubuh dapat memicu timbulnya
DILAKUKAN berbagai macam penyakit diantaranya kanker. Untuk mengatasi hal tersebut maka
PENELITIAN pemanfaatan bahan pengawet alami (biopreservasi) sangat potensial untuk
diaplikasikan dalam pengawetan pangan karena dapat mengontrol pertumbuhan
bakteri patogen secara alami dan aman (Mataragas et al. 2003). Pemanfaatan
bahan pengawet alami salah satunya yaitu dapat menggunakan bakteriosin.
Bakteriosin dapat digunakan sebagai agen biopreservatif karena mampu
mencegah pembusukan pangan dengan menghambat pertumbuhan bakteri
patogen. Daging perlu diawetkan untuk menghindari kerusakan dengan
memperhatikan persyaratan keamanan pangan (Usmiati 2010).

TUJUAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efek pemberian pengawet
PENELITIAN alami yaitu bakteriosin yang diproduksi oleh Lactobacillus plantarum pada
daging dada ayam dengan perlakuan perbedaan taraf bakteriosin dan lama
penyimpanan.

METODE Metode yang digunakan adalah metode spray
PENELITIAN
DESKRIPSI Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat perbedaan interaksi yang nyata
HASIL YANG antara penggunaan bakteriosin 10% dan kontrol serta perbedaaan lama
DIPEROLEH penyimpanan terhadap daging dada ayam (P<0.05). Ambang batas maksimum
cemaran mikroba pada daging ayam yaitu 1x106 cfu g-1 (SNI 2009). Perlakuan
bakteriosin 10% mampu mempertahankan kualitas daging dada ayam segar pada
ambang batas maksimum cemaran mikroba hingga jam ke-20. Perlakuan
bakteriosin 0% hanya mampu mempertahankan kualitas daging dada ayam segar
pada ambang batas maksimum cemaran hingga jam ke-5. Hal tersebut dapat
disebabkan karena bakteriosin merupakan bahan pengawet alami yang bersifat
bakterisidal atau bakteriostatik sehingga dapat membunuh atau menghambat
berkembangnya mikroba pada daging ayam. Bakteriosin merupakan molekul
protein atau peptida ekstraseluler yang mempunyai aksi bakterisidal atau
bakteriostatik terhadap bakteri yang mempunyai kekerabatan dekat. Mekanisme
antimikroba bakteriosin plantarisin dimulai dengan masuknya ke dalam sel
sasarannya dengan cara membentuk pori pada membran sel yang sensitif dan
menurunkan potensial atau gradien pH yang menyebabkan rusaknya material
seluler sehingga mampu menghambat pertumbuhan sel target.

15

KESIMPULAN Pemberian bakteriosin 10% mampu mempertahankan kondisi daging ayam lebih
baik sampai 20 jam penyimpanan pada suhu ruang. Terjadi penurunan kualitas
daging ayam pada perlakuan kontrol (bakteriosin 0%) dilihat dari pH, kadar air,
aktivitas air, total mikroba dan uji organolepik meliputi warna, aroma, serta
lendir.

BIOBLIGARIFI Nurraifah, Y., Arief, I. I., & Ulupi, N. (2021). Penggunaan Bakteriosin yang
PENULIS Diproduksi oleh Lactobacillus plantarum sebagai Pengawet Alami untuk Daging
Ayam yang Disimpan di Suhu Ruang. Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil
Peternakan, 9(1), 7-14.

ARTIKEL 2 Identifikasi Bakteri Bioremediasi Pendegradasi Total Ammonia Nitrogen (TAN)

JUDUL Ramaita Ajizah Yuka, Agus Setyawan, Supono
PENELITIAN
Eksplorasi dan identifikasi bakteri bioremediasi dapat digunakan sebagai salah
NAMA satu cara untuk mengenalkan potensi dan keragaman bakteri bioremediasi di
PENULIS wilayah Indonesia. Selain itu dapat menambah koleksi bakteri bioremediasi
MENGAPA pendegradasi TAN yang berasal dari isolat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk
DILAKUKAN mengisolasi, menapiskan serta mengidentifikasi bakteri bioremediasi
PENELITIAN pendegradasi limbah tambak udang. Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan
identifikasi bakteri bioremediasi dari tambak udang di Lampung Timur.

TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri bioremediasi pendegradasi
PENELITIAN limbah tambak udang.

METODE Metode yang digunakan adalah identifikasi secara mikroskopis dan makroskopis
PENELITIAN
Pada penelitian ini ditemukan isolat bakteri yang mampu menurunkan kandungan
DESKRIPSI total ammonia nitrogen (TAN) sebesar 84,6 %. Bioaktivitas bakteri tersebut lebih
HASIL YANG baik jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya oleh Susanti (2014) yang
DIPEROLEH hanya menurunkan kandungan TAN sebesar 60 %. Hal ini diduga karena bakteri
yang berhasil di isolasi jenisnya berbeda. Masing masing bakteri memiliki
karakteristik yang berbeda termasuk aktivitasnya dalam mendegradasi limbah
budidaya. Pada penelitian ini isolat bakteri terbaik dalam menurunkan TAN
diidentifikasi sebagai bakteri B. megaterium. Bacillus megaterium merupakan
salah satu bakteri yang biasa ditemukan di tanah, termasuk bakteri endofit dan
merupakan agen hayati yang sangat potensial. Bakteri B. megaterium adalah
salah satu bakteri heterotrof (Adharani et al., 2016), yang mebutuhkan karbon
organik dan nitrogen anorganik sebagai sumber energi. Bakteri heterotrof juga
mampu memanfaatkan amonium dan nitrat sebagai sumber nitrogen. Selain
menguraikan bahan organik bakteri heterotrof juga mampu memperbaiki kualitas
air dan menurunkan kadar amonia dalam perairan (Ernawati, 2014). Bakteri
heterotrof akan mengasimilasi amonia-nitrogen langsung menjadi protein bakteri
(Supono, 2019). Kemampuan bakteri B. megaterium tersebut dapat dimanfaatkan
pembudidaya tambak udang untuk mendegradasi limbah yang dihasilkan selama
proses produksi.

16

KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpukan bahwa jumlah
isolat bakteri yang terpilih adalah 12 isolat. Semua isolat bakteri tersebut dapat
menurunkan total ammonia nitrogen (TAN). Isolat terbaik mampu menurunkan
TAN sebesar 0,404 mg/L. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa isolat tersebut
merupakan bakteri Bacillus megaterium.

BIOBLIGARIFI Setyawan, A., Supomo, S., & Yuka, R.A. (2021). Identifikasi Bakteri

PENULIS Bioremediasi Pendegradasi Total Ammonia Nitrogen (TAN). Jurnal Kelautan:

Indonesian Journal of Marine Science and Technology, 2021, 14.1: 20-29.

17

ANALISIS KELIMA
Artikel dalam bahasa inggris : https://smujo.id/biodiv/article/view/6373

ARTIKEL DALAM BAHASA INGGRIS

RESEARCH Profiling indigenous lead-reducing bacteria from Tempe Lake, South Sulawesi,
TITLE Indonesia as bioremediation agents

WRITER`S AHMAD YANI, MOHAMAD AMIN, FATCHUR ROHMAN, ENDANG
NAME SUARSINI, WIRA EKA PUTRA
WHY The water quality test results of the Tempe Lake reported by the Wajo District
Regional Environment Agency indicated that some physicochemical parameters
RESEARCH had exceeded the maximum threshold. In contrast, heavy metals exceeded
standards for cadmium, copper, and zinc (Pance et al. 2014). Besides, the
booming Eichhornia crassipes population in Lake Tempe is a biological indicator
that heavy metals are contaminants of the aquatic environment. Primarily, lead is
one of the metalloid compounds that often pollute the environment, especially
waters. Due to the environmental problems of Lake Tempe, mostly the Pb
contaminated water, a concrete solution is needed to overcome these problems.
Furthermore, to maintain the water quality in its natural state, it is necessary to
control pollution wisely. An alternative solution to overcome these problems is to
use bacteria as bioremediation agents. However, it is required to start measuring
the metal content and isolating bacteria from the polluted area. Therefore, this
study begins by measuring the concentration of heavy metal (Pb, Cd, and Cu) in
Lake Tempe's waters, isolating bacteria that reduce the lead metal content and
screened potential bacteria to lead reduction.

RESEARCH The study aimed to evaluate the content of heavy metals, isolation, and identify a
PURPOSES lead reduction of indigenous bacteria as candidates for bioremediation agents.

RESEARCH The reduction test to Pb was measured using Atomic Absorption Spectrometry
METHODS (AAS), and the research data were analyzed using One-Way ANOVA with the
Duncan advanced method.

DESCRIPTION The results of the isolation showed four bacteria resistant to Pb (NO3)2., Which
OF THE grow on media with Pb 7,475 ppm. Furthermore, laboratory-scale tests showed
RESULTS that the four isolates of native bacteria decreased the heavy metal values to 3,488
ppm, and were tested for seven days. Based on the test results from day 1 to day 7,
OBTAINED there was a difference in the ability to affect the lead reduction of each isolate.
Compared to other strains, isolate D had the highest percentage of Pb degradation
efficiency (53.35%). The differences influence the ability of each isolate to reduce
Pb in the mechanism and knowledge of each bacterium to detoxify heavy metals.
As suggested by Theiman and Palladino (2013), bacteria have a different
influence on the ecological compatibility of pollutants, depending on the type, the
element, and the polluted environmental conditions. According to Dey et al.
(2016), when a microbial community remains under selective stress, such as a
high concentration of heavy metals, for a very long time, some mechanism must
be formed to detoxify it and resolve the growth constraint. As a result, four
bacteria isolated from Lake Tempe have been able to thrive on Pb metal-enriched
media and have been able to reduce Cd metal levels. Researchers announced other
results that differences in bacterial cell walls (grams) affect the ability to detoxify
contaminants (Mary et al. 2018) Morphologically, the most potent isolates (isolate
D) are Gram-negative, 2 µm abundant Bacillus bacteria based on the Bergey

18

CONCLUSION Manual (Krieg and Holt 1984). According to Sowmya and Hatha (2017), Gram-
negative bacteria bind heavy metals because the cell walls contain
lipopolysaccharide, oleic acid, and polychromic acid as binders for heavy metals.
Some studies also reported that Gram-negative bacteria are tolerant of heavy
metals because their cell walls are a barrier, while the surface structure interacts
and detoxifies metal ions (Bennisse et al. 2004; Junior et al. 2017).
Microorganisms have developed mechanisms of resistance and detoxification of
metals in contaminated environments (Igiri et al. 2018). This mechanism includes
several biochemical and molecular activities (Yang et al. 2015). As reported by
Sowmya and Hatha (2017), bacteria prevent the entry of toxic metals into cells
after their chemical composition had been changed. A similar finding was
reported by Naik and Dubey (2013) that the Pb resistance mechanism used by
bacteria led to an efflux mechanism, extracellular sequestration, biosorption,
precipitation, alteration of cell morphology, increasing siderophore production,
and intracellular bioaccumulation. Furthermore, they tolerate concentrations of
heavy metal toxicity, such as lead, by incorporating intracellular or extracellular
absorption surface absorption, ATPasemediated efflux, and conversion to non-
toxic forms (Naik et al. 2013). Generally, microbes have different resistance
mechanisms against the toxicity of heavy metals by forming intracellular
compounds with ions in eukaryotes or reducing the accumulation following the
removal of active cations in prokaryotes (Igiri et al. 2018). The phenotypic
characterization of the most Pbresistant bacteria showed compatibility with the
genus Comamonas based on Bergey's Manual of Systematic Bacteria (Krieg and
Holt 1984). This is consistent with the results obtained from molecular
Identification. Based on 16s rDNA sequences, C. testosteroni species isolated had
99% similarity. This specie is a Gram-negative bacteria with aerobic properties,
which is generally located in various habitats such as activated sludge, swamps,
lakes, and seas, plant as well as animal tissues (Black et al. 2014; Orsini et al.
2014). The results of the study by Ghane et al. (2013) stated that Comamonas sp.
HM_AF12 obtained from industrial waste reduces the heavy metal chromium (Cr)
by 80%. This was conducted over the original value for one hour, assuming that
the high resistance and the great potential act as a bioremediation agent. Similarly,
Siunova et al. (2009) stated that Comamonas sp. BS501, Comamonas sp.
HM_AF12 and C. testosteroni TDKW are resistant to cobalt and manganese,
heavy metals such as Cu and C, and Cr, Hg, Zn, and Cu respectively. In this
study, the profile of bacteria from Pb-reduction Tempe Lake in South Sulawesi as
a candidate for a bioremediation agent was identified.
In conclusion, four isolates were obtained from the Tempe Lake water. However,
among the four strains, only one isolate had the highest potency for reducing Pb
(Isolate D) with the degradation of 53.35%. The most potent bacterial species
based on the 16s rDNA gene analysis had a 99% similarity to C. testosteroni
strain S-2 of the Neighbor-Joining phylogenetic tree with 1000 bootstraps.
Therefore, it is reasonable to conclude that C. testosteroni strain S-2 in Tempe
Lake reduces heavy metals lead as a bioremediation agent. However, further
investigations on a molecular basis should be conducted to empirically
demonstrate the C. testosteroni strain S-2 reduction of the lead.

AUTHOR Yani, A., Amin, M., Rohman, F., Suarsini, E., & Putra, W.E. (2020). Profiling
BIOBLIGARY indigenous lead-reducing bacteria from Tempe Lake, South Sulawesi, Indonesia
as Bioremediation Agents. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 2021,
21.10: 4778-4786.

19

Refleksi Diri tentang Artikel
Setelah menganalisis beberapa artikel, maka yang saya dapatkan yaitu saya dapat mengetahui
beberapa artikel yang telah disusun mahasiswa di beberapa universitas di Indonesia dimana tugas
analisis ini dapat memberikan pengenalan yang nyata kepada mahasiswa mengenai beberapa jurnal.
Selain itu, dapat menambah wawasan dan menambah kemampuan saya dalam menganalisis jurnal
yang terkait dengan penelitian serta mampu menemukan kelemahan dan kelebihan dari jurnal yang di
analisis.
Disini saya menganalisis sebanyak 10 jurnal dimana pada saat pertama kali menganalisis jurnal
tersebut saya mengalami kesulitan dibagian menganalisis biobligrafi penulis. Akan tetapi, setelah
diberikan arahan oleh dosen pengampu mata kuliah mikrobiologi yang saya tekuni ini maka saya
mendapatkan wawasan sehingga saya dapat menganalisis jurnal selanjutnya lebih baik dari
sebelumnya.

20

MAKALAH

Genetika Mikroba, Immunolgi, Flora Normal Tubuh Manusia, dan Cara
Masuk Mikroba ke Dalam Tubuh Manusia

Disusun Oleh Kelompok Tujuh:
Rani Sengka (190202029) Ayu Lestari (190202008) Muh. Fadryansah

(190202018)

Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Puangrimaggalatung
2021

21

RINGKASAN
Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat turun temurun sifat
induk dan variasi sifat karakteristik mikroba. Mikroba atau mikroorganisme
dapat ditemukan di semua tempat yang memungkinkan terjadinya kehidupan.
Mereka ada di dalam tanah, di lingkungan akuatik,atmosfer (udara), makanan,
dan karena beberapa hal mikroorganisme tersebut dapat masuk secara alami ke
dalam tubuh manusia, tinggal menetap dalam tubuh manusia atau hanya
bertempat tinggal sementara. Mikroorganisme ini dapat menguntungkan
inangnya tetapi dalam kondisi tertentu dapat juga menimbulkan penyakit.
Mikroorganisme yang mendiami tubuh manusia sehat ini sering dikatakan
sebagai flora normal pada tubuh manusia. Oleh karena itu, kami pun menyusun
makalah ini dengan tujuan untuk memahami bagaimana perpindahan DNA pada
bakteri, kekebalan spesies dan ras, pertahanan mekanis dan kimiawi, mekanisme
sistem kekebalan tubuh, penggolongan flora normal, kekhususan flora normal,
macam – macam flora normal berdasarkan tempatnya padaa tubuh manusia, serta
cara masuknya mikroba ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan,
saluran pencernaan dan saluran genitouriner.

22

DAFTAR ISI
RINGKASAN..................................................................................................................... 2
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................... 2

A. Pemindahan DNA Pada Bakteri ................................................................................ 2
B. Kekebalan Species atau Ras....................................................................................... 4
C. Pertahanan Mekanis dan Pertahanan Kimiawi........................................................... 5
D. Mekanisme Sistem Kekebalan Tubuh ....................................................................... 6
E. Penggolongan Flora Normal .................................................................................... 14
F. Kekhususan Flora Normal........................................................................................ 14
G. Macam-Macam Flora Normal Berdasarkan Tempatnya (P).................................... 19
H. Cara Masuk Mikroba ke Dalam Tubuh Melalui Saluran Pernafasan ...................... 29
I. Cara Masuk Mikroba ke Dalam Tubuh Melalui Pencernaan .................................... 30
J. Cara Masuk Mikroba melalui Saluran Genitouriner ................................................. 31
BAB III KESIMPULAN .................................................................................................. 32
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 34

23

24

BAB I PENDAHULUAN
Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat turun temurun sifat induk
dan variasi sifat karakteristik mikroba. Mikroba contohnya bakteri mempunyai
populasi yang berkembang cepat dan beraneka ragam variasinya. Bakteri untuk
memperoleh variasi yang beragam dapat melalui mutase. Peristiwa seksual yang
semula diduga tidak terjadi, dapat dibuktikan oleh para ahli. Bahkan, perpindahan
bahan genetik (DNA) dapat didemonstrasikan dari satu mikroba ke mikroba lain.

Mikroba atau mikroorganisme dapat ditemukan di semua tempat yang
memungkinkan terjadinya kehidupan. Mereka ada di dalam tanah, di lingkungan
akuatik,atmosfer (udara), makanan, dan karena beberapa hal mikroorganisme
tersebut dapat masuk secara alami ke dalam tubuh manusia, tinggal menetap
dalam tubuh manusia atau hanya bertempat tinggal sementara. Mikroorganisme
ini dapat menguntungkan inangnya tetapi dalam kondisi tertentu dapat juga
menimbulkan penyakit. Mikroorganisme yang mendiami tubuh manusia sehat ini
sering dikatakan sebagai flora normal pada tubuh manusia.

Berdasarkan urain diatas, kami pun menyusun makalah ini dengan tujuan untuk
memahami bagaimana perpindahan DNA pada bakteri, kekebalan spesies dan ras,
pertahanan mekanis dan kimiawi, mekanisme sistem kekebalan tubuh,
penggolongan flora normal, kekhususan flora normal, macam – macam flora
normal berdasarkan tempatnya padaa tubuh manusia, serta cara masuknya
mikroba ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan
dan saluran genitouriner.

25

BAB II PEMBAHASAN
A. Pemindahan DNA Pada Bakteri

1. Konjugasi

Konjugasi merupakan mekanisme perpindahan informasi genetik (DNA)
dari sel donor ke sel resipien yang terjadi akibat adanya kontak sel dengan sel.
Konjugasi bakteri pertama kali ditemukan oleh Lederberg dan Tatum pada tahun
1946. Mereka menggabungkan dua galur mutan Escherichia coli yang berbeda
yang tidak mampu mensintesis satu atau lebih faktor tumbuh esensiil dan
memberinya kesempatan untuk kawin.

Jika suatu sel E.coli mengandung faktor F yang berupa badan terpisah dari
kromosom utama, maka ia dinyatakan berkelamin jantan. Namun, jika tak
mengandung F pada sel tersebut, maka dinyatakan berkelamin betina. Transfer
materi genetik dari sel E.coli jantan ke sel E.coli betina didahului terbentuknya
pasangan konjugasi antara kedua sel. Pasangan konjugasi ini terbentuk melalui
perlekatan suatu pilus kelamin jantan pada permukaan suatu sel kelamin betina.

Menurut Watson (1987), pilus yang berlekatan di atas, merangsang suatu
rangkaian kejadian yang mendorong terjadinya replikasi DNA faktor F yang
membawa transfer DNA faktor F (hasil replikasi) kepada sel F-. Hanya DNA
faktor F (hasil replikasi) yang ditransfer. Transfer materi genetik faktor F
mengakibatkan seluruh sel kelamin betina (F-) di sekitarnya segera berubah
menjadi sel kelamin jantan (F+).

26

Gambar 2.1 perlekatan suatu pilus kelamin jantan pada permukaan suatu
sel kelamin betina

Gambar 2.2 mekanisme konjugasi pada bakteri

2. Tranformasi

Transformasi pertama kali ditemukan oleh Frederick Griffith pada tahun
1928. Dia mempelajari transformasi satu tipe Streptococcus pneumoniae
menjadi tipe yang berbeda. S. Pneumoniae dibagi menjadi 100 tipe lain yang
berbeda atas dasar perbedaan kimia pada kapsulnya. Jadi, tipe 1 menghasilkan
kapsul yang berbeda dengan tipe 2, dan seterusnya. Transformasi ialah proses
pemindahan DNA bebas sel yang mengandung sejumlah informasi genetik
(DNA) dari satu sel ke sel lainnya. DNA tersebut diperoleh dari sel donor
melalui lisis sel alamiah atau dengan cara ekstraksi kimiawi. Begitu fragmen
DNA dari sel donor tertangkap oleh sel resipien, maka terjadilah rekombinasi.

Manfaat yang didapatkan dari transformasi gen pada bakteri adalah:

• Sarana penting dalam rekayasa genetik
• Memetakan kromosom bakteri
• Bermanfaat dalam penelitian-penelitian genetik bakteri di laboratorium

3. Transduksi

Beberapa jenis virus berkembang biak di dalam sel bakteri. Virus-virus
yang inangnya adalah bakteri seringkali disebut bakteriofage atau fage. Pada
waktu fage menginfeksi bakteri, fage memasukkan DNA-nya ke dalam bakteri
tersebut. DNA fage ini kemudian bereplikasi di dalam sel bakteri atau
berintegrasi dengan kromosom bakteri. Inilah yang dikenal dengan transduksi.
Jadi, transduksi adalah proses perpindahan gen dari suatu bakteri ke bakteri lain
oleh bakteriofage lalu oleh bakteriofage tersebut plasmid ditransfer ke populasi
bakteri. Transduksi ditemukan oleh Norton Zinder dan Joshua Lederberg pada

27

tahun 1952. Pada waktu DNA fage dikemas di dalam pembungkusnya untuk
membentuk bakteribakteri fage baru, DNA fage tersebut dapat membawa
sebagian dari DNA bakteri yang telah menjadi inangnya. Selanjutnya, bila fage
menginfeksi bakteri lainnya, maka fage akan memasukkan DNA-nya yang
mengandung sebagian dari DNA bakteri inang sebelumnya. Dengan demikian,
fage tidak hanya memasukkan DNA-nya sendiri ke dalam sel bakteri yang
diinfeksinya, tetapi juga memasukkan DNA dari bakteri lain yang ikut terbawa
pada DNA fage. Jadi, secara alami fage memindahkan DNA dari satu sel bakteri
ke bakteri lainnya.

Ada dua tipe transduksi, yaitu:

a) Transduksi terbatas
Pada proses ini tidak semua gen dapat ditransfer. Transduksi terbatas
terjadi saat profage telah terintegrasi pada kromosom bakteri. Gen-gen
bakteri yang mengalami transduksi terbatas adalah yang berdekatan
dengan profage yang terintegrasi.

b) Transduksi umum

Gambar 2.3 Proses Transduksi pada Sel Bakteri
Transduksi umum terjadi bila suatu fage memindahkan gen dari
kromosom bakteri atau plasmid. Pada saat fage memulai siklus litik,
enzimenzim virus menghidrolisis kromosom bakteri menjadi potongan-
potongan kecil DNA. Setiap bagian dari kromosom bakteri tersebut dapat
digabungkan dengan kepala fage selama perakitan fage. Fage yang telah
berisi DNA sel bakteri dapat menginfeksi sel lain dan mentransfer gen
bakteri di dalam sel resipien DNA bakteri dan bergabung dengan
rekombinasi homolog menggantikan gen dalam sel resipien. Transduksi ini
terjadi pada bakteri gram positif dan gram negatif.

B. Kekebalan Species atau Ras
1. Kekebalan Ras

28

Lima ilmuwan dari Universitas Simon Fraser, British Colombia, Kanada,
berhasil memecahkan kode genetik yang sangat kompleks. Kode tersebut
menyingkap bahwa etnis seseorang memengaruhi seberapa kuat seseorang
mampu menangkis beberapa penyakit, seperti pilek (common cold) dan HIV.

Sebanyak 425 orang dengan latar belakang keturunan Asia, Afrika serta
Eropa, menjadi objek. Dari penelitian ini ditemukan keterkaitan antara ras
dengan daya tubuh seseorang.

Corey Watson, salah satu dari tim peneliti mengungkapkan bahwa kondisi
gen antibodi yang berbeda-beda pada setiap orang mungkin disebabkan oleh
kondisi lingkungan atau paparan patogen tertentu. Oleh karena itu, beberapa
kelompok etnis tertentu dapat memerangi penyakit dengan cara yang berbeda.

Contoh: Statistik membuktikan bahwa orang berkulit berwarna lebih peka
terhadap penyakit TB dari pada kulit putih.

2. Kekebalan Species

• Penyakit lepra dan gonorea secara alam hanya terdapat pada manusia dan
tidak ditemukan pada hewan.

• Penyakit tetanus yang terdapat pada manusia tidak terdapat pada burung.

C. Pertahanan Mekanis dan Pertahanan Kimiawi
1. Pertahanan Mekanis

Pertahanan mekanis dilakukan oleh rambut dan silia. Rambut hidung berfungsi
menyaring udara yang dihirup dari partikel-partikel berbahaya maupun
mikroorganisme. Sementara itu, silia yang terdapat pada trakea berfungsi
menyapu partikel-partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir agar
keluar bersama ludah.

2. Pertahanan Kimiawi
Pertahanan kimiawi dilakukan oleh cairan sekret yang dihasilkan oleh kulit

dan membran mukosa. Cairan sekret tersebut mengandung zat-zat kimia yang
dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Contohnya, minyak dan
keringat. Kedua cairan sekret tersebut memberikan suasana asam sehingga
mencegah pertumbuhan mikroorganisme di kulit. Sementara itu, air liur
(Saliva), air mata, dan sekresi mukosa mengandung enzim lisozim yang dapat

29

membunuh bakteri. Enzim tersebut menghidrolisis dinding sel patogen sehingga
sel kemudian pecah dan mati.

D. Mekanisme Sistem Kekebalan Tubuh
Pada umumnya, mekanisme sistem kekebalan tubuh digolongkan menjadi 2,

yaitu:

(1) Pertahanan Nonspesifik (Alamiah)

Pertahanan Nonspesifik merupakan imunitas bawaan sejak lahir, berupa
komponen normal tubuh yang selalu ditemukan pada individu sehat dan siap
mencegah serta menyingkirkan dengan cepat antigen yang masuk ke dalam
tubuh. Pertahanan nonspesifik meliputi pertahanan fisik, kimia, dan mekanis
terhadap agen infeksi; fagotosit; inflamasi; serta zat antimikroba nonspesiif yang
diproduksi tubuh.

a. Pertahanan Fisik, Kimia, dan Mekanis Terhadap Mekanisme Terhadap
Agen Infeksi
• Kulit yang sehat dan utuh, menjadi garis besar pertahanan pertama
terhadap antigen. Sebaliknya, kulit yang rusak atau hilang akan
meningkatkan resiko infeksi.
• Membran mukosa, yang melapisi permukaan bagian dalam tubuh,
menyekresikan mukus sehingga dapat memerangkap antigen, serta
menutup jalannya ke sel epitel.
• Cairan tubuh yang mengandung zat kimia antimikroba.
• Pembilasan oleh air mata, saliva dan urine.

b. Fagositosis
Fagositosis merupakan garis pertahanan ke- 2 bagi tubuh terhadap

agen infeksi. Fagositosis meliputi proses penelaan dan pencernaaan
mikroorganisme dan toksin yang berhasil masuk ke dalam tubuh, ini
dilakukan oleh jenis sel darah putih tertentu. Sel darah putih (leukosit)
terdiri atas monosit, neutrofil dan eousinofil. Neutrofil adalah sel darah
yang terbanyak dalam leukosit, yaitu sekitar 70%. Neutrofil bekerja
dengan memasuki jaringan yang telah terinfeksi, kemudian memakan dan
merusak mikroba yang terdapat di sana. Sel-sel yang terinfeksi oleh
mikroba akan mengeluarkan sinyal kimiawi sehingga menarik neutrofil
untuk datang. Proses tersebut disebut dengan kemotaksis.

30

Monosit hanya menyusun 5% dari leukosit. Cara kerja monosit
hampir sama denga neutrofil. Perbedaanya, monosit akan menjadi
makrofag setelah masuk ke dalam jaringan. Makrofag merupakan sel
fagotosis yang terbesar. Sel makrofag ini memilikki kaki semu
(pseudopodia). Pseudopodia ini berfungsi untuk melekatkan diri pada
mikroba. Mikroba yang menempel pada pseudopodia ini akan ditelan dan
kemudian dirusak oleh enzim-enzim lisosom mikrofag.
Makrofag dapat dibedakan menjadi bebrapa jenis, yaitu:

• Makrofag jaringan ikat (histiosit) merupakan makrofag yang
menetap atau berkeliaran.

• Markofag dan psekursornya (monosit) yang berdifusi untuk
membentuk sel raksaa asing (sel multilateral) sebagai pertahanan di
anttara massa benda asing yang besar dan jaringa tubuh.

• Sistem fagosit mononukleus yang merupakan kombinasi antara
monosit fagositik, makrofag bergerak dan makrofag jaringan tetap.
Makrofag jaringan tetap contohnya, makrofagg alveulus, sel
kupffer dalam hati, sel langerhans pada epidermis, mikrogilia pada
saraf pusat, sel mesangial pada ginjal, dan sel retikuler dalam
limpa, nodus limfa, timus, serta sumsum tulang.
Eosinofil bekerja melawan parasit yang ukurannya lebih
besar, seperti cacing darah. Eosinofil dapat melepaskan enzim-
enzim untuk merusak dinding eksternal parasit.

c. Inflamasi
Pembengkakan Inflamasi adalah reaksi lokal jaringan terhadap infeksi

atau cedera. Inflamasi dapat bersifat akut dan kronik. Tanda-tanda respons
inflamasi, yaitu kemerahan, panas, , nyeri, atau kehilangan fungsi. Efek
inflamsi menyebabkan demama (suhu tubuh tinggi abnormal). Demam itu
sendiri merupakna respons tubuh terhadap radang. Selain itu, sel leukosit
tertentu akan memproduksi moleku yang bernama pirogen. Pirogen ini
dapat menyebabkan suhu tubuh menjadi tinggi. Suhu tubuh yang tinggi
dapat membantu pertahanan tubuh dengan cara menghambat pertumbuhan
bebrapa mikroba. Selain itu, demam dapat mempermudah fagositosis dan
perbaikan jaringan.

31

Mekanisme pertahanan tubuh secara inflamasi dapat dilihat pada gambar
berikut.

Berdasarkan gambar diatas mekanisme pertahanan tubuh secara
inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut.

• Jaringan mengalami luka dan merangsang pengeluaran histamin.
• Histamin menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh darah serta

peningkatan aliran darah yang menyebabkan permeabilitas
pembuluh darah meningkat, hal ini menyebabkan perpindahan
selsel fagosit (neutrofil, monosit, dan eosinofil)
• Sel-sel fagosit kemudian memakan patogen.
Setelah infeksi tertanggulangi, neutrofil dan sel-sel fagosit akan mati
seiring dengan matinya sel-sel tubuh dan patogen. Sel-sel fagosit yang
hidup atau mati serta sel-sel tubuh yang rusak akan membentuk nanah.
Inflamasi mencegah infeksi ke jaringan lain serta mempercepat proses
penyembuhan.
d. Protein Antimikroba

Protein antimikroba ini sering juga disebut sitem komplemen, sistem
ini terdiri atas 20 protein. Protein ini normalnya dalam keadaan non aktif.
Tetapi, apabila mikroba masuk ke dalam tubuh, glikoprotein dari
permukaan sel tersebut akan mengaktifkan sistem komplemen ini.
Berikut ini beberapa fungsi dari komplemen yang sudah aktif.

• Menghasilkan opsonin, yaitu suatu zat yag melekatkan mikroba
pada leukosit sehingga memudahkan proses fagositosi

• Menyebabkan pelepasan histamin oleh mastosit. Histamin
menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan
meningkatakan permebilitas kapiler terhadap protein.

• Menimbulkan suatu reaksiterhadap membran sel mikroba berupa
munculnyalubang pada membran. Pristiwa ini akan memtikan bagi
mikroba.

32

Aktivitas komplemen yang menghancurkan mikroorganisme atau
antigen asing, terkadang dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh
sendiri. Selain komplemen, terdapat kumpulan protein sebagai pertahanan
non spesifik yaitu interferon (IFN), interferon ini diproduksi oleh sel-sel
yang terinfekksi virus. Kemudian inteferon tersebut akan berikatan dengan
resptor membran plasma pada sel-sel yang sehat. Sel-sel sehat yang telah
terikat dengan interferon tersebut akan membentuk suatu protein antivirus
yang berfungsi untuk menghalangi multiplikasi virus. Interferon tertentu
akan langsung membunuh dan menghancurkan sel-sel yang telah
terinfeksi virus.

e. Sel Natural Killer (sel NK)
Sel NK berjaga di sistem peredaran darah dan limfatik. Sel NK

merupakan sel pertahanan yang mampu melisis dan membunuh sel-sel
kanker serta sel tubuh yang terinfeksi virus sebelum diaktifkannya sel
kekebalan adiptik. Sel NK tidak bersifat fagositik. Sel ini membunuh
dengan cara menyerang membran sel target dan melepaskan senyawa
kimia yang disebut perforin.

(2) Pertahanan Spesifik ( Adaptik)

Pertahanan Spesifik merupakan sistem kompleks yang memberikan respon
imun terhadap antigen spesifik. Pertahanan spesifik mampu mengenal benda
asing bagi dirinya dan memiliki memori terhadap kontak sebelumnya dengan
suatu aagen tertentu. Sistem ini bekerja apabila antigen asing telah melewati
pertahanan tubuh nonspesifik. Sistem pertahanan tubuh spesifik disebut juaga
sistem kekebalan tubuh dan menjadi garis pertahanan yang ketiga dari tubuh.

Ciri-cirinya :

• Bersifat selektif

33

• Tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing
• Mampu mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya
• Melibatkan pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia (antibodi)
• Perlambatan waktu antara eksposur dan respons maksimal

Sistem Pertahanan Spesifik ini dibedakan menjadi 2, yaitu:

a) Sistem Imun Spesifik Humoral
Yang paling berperan pada sistem imun spesifik humoral ini ada Sel

B atau Limfosit B. Sel B ini berasal dari sumsum tulang dan akan
menghasilkan sel Plasma lalu menghasilkan Antibodi. Antibodi inilah
yang akan melindungi tubuh kita dari infeksi ekstraselular, virus dan
bakteri, serta menetralkan toksinnya.
Struktur antibodi :

• Pada umunya berbentuk seperti huruf Y.
• Dua rantai berat dan 2 rantai ringan yang dihubungkan jembatan

disulfida.

• Daerah variabel anatar molekul memiliki rangkaian asam amino
yang berbeda dan embentuk suatu reseptor untuk antigen spesifik.

• Daerah konstan (C) menstabilkan sisi pengikat antigen.
• Daerah hinge (engsel) memungkinkan kedua lengan Y dapat

membuka atau menutup untuk mengkomodasi pengikatan terhadap
dua determinan antigen yang terpisah pada jarak tertentu seperti
yang ditemukanpada permukaan bakteri.

Antibodi merupakan protein plasma yang disebut imunoglobulin (Ig).
Terdapat lima kelas imunoglobin, yaitu;

• Ig M, berperan sebagai reseptor permukaan sel B dan disekresi
pada tahap awalrespons sel plasma.,serta mengaktivitaskan
komplemen dan memperbanayk fagosistosis.

• Ig G, Ig G terbanyak di darah, diproduksi jika tubuh berespons
terhadap antigen yg sama, Ig M dan IgG berperan jika terjadi
invasi bakteri dan virus serta aktivasi komplemen

• Ig E ,melindungi tubuh dari infeksi parasit dan merupakan
mediator pd reaksi alergi; melepaskan histamin dari basofil dan sel
mast

34

• Ig A ,ditemukan pada sekresi sistem perncernaan, pernapasan, dan
perkemihan. Ig A, berfungsi untuk melawan mikroorganisme yang
masuk ke dalam tubuh. ( contoh : pada airmata dan ASI)

• Ig D terdapat pada banyak permukaan sel B; mengenali antigen
pada sel B.

Terdapat beberapa cara antibodi dalam menghadapi antigen yaitu :
• Netralisasi, yaitu antibodi memblokir tempat-tempat dimana
antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu antibodi
menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian
beracunya sehingga makrofag dapat dengan mudah
memfagositnya.
• Penggumpalan atau aglutinasi patogen atau antigen sehingga
memudahkan makrofag dalam menjalankan aktivitas fagositnya
terhadap patogen.

• Pengendapan, yaitu dilakukan pada antigen terlarut oleh antibodi
yang menyebabkan antigen terlarut tidak dapat bergerak sehingga
mudah ditangkap makrofag.

• Antibodi bekerja sama dengan protein komplemen dimana antibodi
berikatan dengan antigen akan mengaktifkan protein komplemen
untuk membentuk pori atau lubang pada sel patogen.

Setelah infeksi berakhir sel B plasma akan mati, sedangkan sel B
pengingat akan tetap hidup dalam waktu yang lama. Masuknya antigen
atau patogen pertama kali dan serangkaian respon imun awal ini disebut
respon kekebalan primer.

Seringkali antigen yang sama masuk kedua kalinya dalam tubuh, hal
ini direspon sel B pengingat yang selanjutnya akan menstimulasi
pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi, respon
untuk kedua kalinya ini disebut respon kekebalan sekunder dimana dalam
prosesnya antibodi dalam menghadapi antigen berlangsung lebih cepat dan
lebih besar dari respon kekebalan primer, hal ini dikarenakan adanya
memori imunologi dalam hal ini adalah sel B pengingat, memori
imunologi adalah kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang
pernah masuk ke dalam tubuh.

35

b) Sistem Imun Spesifik Selular
Pada sistem imun ini, sel T atau Limfosit T yang paling berperan. Sel

ini juga berasal dari sumsum tulang, namun dimatangkan di Timus. Fungsi
umum sistem imun ini adalah melawan bakteri yang hidup intraseluler,
virus, jamur, parasit dan tumor. Sel T nantinya akan menghasilkan
berbagai macam sel, yaitu sel CD4+ (Th1, Th2), CD8+, dan Ts (Th3).
Antibody akan menyerang bakteri atau virus sebelem pathogen tersebut
masuk ke dalam sel tubuh. Antibody dihasilkan oleh limfosit B dan
teraktivasi bila mengenali antigen yang terdapat pada permukaan sel
pathogen, dengan bantuan sel limfosit T.
Terdapat 3 jenis sel limfosit B yaitu:

• Sel B plasma : Mensekresikan antibody ke system sirkulasi tubuh.
Setiap antibody sifatnya spesifik terhadap satu antigen patogenik.

• Sel B memori : Sel yang diprogram untuk mengingat suatu antigen
yang spesifik dan akan merespon dengan sangat cepat bila terjadi
infeksi kedua.

• Sel B pembelah : Berfungsi untuk menghasilkan lebih banyak lagi
sel-sel limfosit B.

Apabila kemudian antibodi menang melawan antigen mak morang
tersebut akan sehat dan memiliki sel memori untuk melawan antigen yang
sama di waktu yang akan datang. Oleh karena itu, jika suatu saat orang
tersebut dimasuki oleh antigen (kuman) berjenis sama, tubuh orang
tersebut akan mengaktifkan sel-sel memori yang telah terbentuk
sebelumnya. Waktu untuk menanggapi dan melawan kuman tersebut
cenderung lebih pendek di bandingkan respons pertahanan primer. Hal ini
disebut respons pertahanan sekunder.
Imunitas yang diperantarai sel, melibatkan sel dalam menyerang organism
asing. Terdapat 3 jenis sel T.

36

• Sel T pembantu : Membantu atau mengontrol komponen respon
imun spesifik lainnya. Mengaktivasi makrofag untuk segera
bersiap memfagosit pathogen dan sisa-sisa sel.

• Sel T pembuluh : Menyerang sel tubuh yang terinfeksi dan sel-sel
pathogen yang relative besar secara langsung.

• Sel T supreso : Berfungsi untuk menurunkan dan menghentikan
respon imun. Mekanisme tersebut diperlukan ketika respon imun
sudah mulai lebih dari yang diperlukan, atau ketika infeksi sudah
berhasil diatasi.

Mekanisme Respons Imunitas Seluler
• Ekstraseluler
 Antigen ditelan oleh makrofag.
 Makrofag membentuk molekul MHC kelas II, dan molekul
tersebut bergerak menuju ke permukaan makrofag.
 MHC kelas II menangkap peptida antigen dan
membawanya ke permukaan serta memperlihatkannya ke
sel T penolong.
 Sel T penolong akan mengaktivitaskan makrofag untuk
menghancurkan mikroorganisme yang ditelan.
‡Intraseluler
 Antigen menginfeksi sel tubuh.
 Sel tubuh membentuk molekul MHC kelas I dan bergerak
ke permukaan sel
 MHC kelas I menangkap peptida virus dan membawanya
ke permukaan sel, serta memperlihatkannya ke sel T
pembuluh (CTL).
 Sel T pembuluh akan teraktivitasi oleh kompleks MHC
kelas I, peptida virus pada sel yang terinfeksi dan sel T
penolong. Sel T pembuluh kemudian terdiferensiasi
menjadi sel pembunu aktif yang akan menghancurkan sel
terinfeksi.
 Sel T pembuluh yang tidak terdiferensiasi akan menjadi sel
T memori.

37

 Sel T memori berfungsi dalam respons imunitas sekunder
jika terjadi pajanan antigen berulang.

E. Penggolongan Flora Normal
Flora normal tubuh manusia berdasarkan bentuk dan sifat kehadirannya

digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu:

(1) Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous)

Mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya ditemukan pada bagian tubuh
tertentu pada usia tertentu. Keberadaan mikroorganisme akan selalu tetap, baik
jenis ataupun jumlahnya, jika ada perubahan akan kembali seperti semula. Flora
normal lainnya bersifat mutualisme. Flora normal ini akan mendapatkan
makanan dari sekresi dan produk-produk buangan tubuh manusia, dan butuh
memperoleh vitamin atau zat hasil sintesis dari flora normal. Mikroorganisme
ini umumnya dapat lebih bertahan pada kondisi buruk dari lingkungannya.

Contoh: Streptococcus viridans, S faecalis, Pityrosporum ovale, Candila
albicans.

(2) Mikroorganisme sementara (trasient flora)

Yaitu mikroorganisme nonpatogen atau potensial patogen yang berada di
kulit dan selaput lendir/mukosa selama kurun waktu beberapa jam, hari, atau
minggu. Keberadaan mikroorganisme ini ada secara tiba-tiba (tidak tetap) dapat
disebabkan oleh pengaruh lingkungan, tidak menimbulkan penyakit dan tidak
menetap. Flora sementara biasanya sedikit asalkan flora tetap masih utuh, jika
flora berubah, maka flora normal akan melakukan kolonisasi, berbiak dan
menimbulkan penyakit.

Contoh: Escherichia coli, Salmonella sp, Shigella sp, Clostridium perfringens,
Goardia lamblia, virus Norwalk, dan Hepatitis A.

F. Kekhususan Flora Normal
Mikroorganisme yang secara tetap terdapat pada permukaan tubuh bersifat

komensal. Pertumbuhan pada bagian tubuh tertentu bergantung pada faktor-faktor
biologis seperti suhu, kelembapan dan tidak adanya nutrisi tertentu serta zat-zat
penghambat. Keberadaan flora tersebut tidak mutlak dibutuhkan untuk kehidupan
karena hewan yang dibebaskan (steril) dari flora tersebut, tetap bisa hidup.
(Dwijoseputro, 1990)

38

Flora yang hidup di bagian tubuh tertentu pada manusia mempunyai peran
penting dalam mempertahankan kesehatan dan hidup secara normal. Beberapa
anggota flora tetap di saluran pencernaan mensintesis vitamin K dan penyerapan
berbagai zat makanan. Flora yang menetap diselaput lendir (mukosa) dan kulit
dapat mencegah kolonialisasi oleh bakteri patogen dan mencegah penyakit akibat
gangguan bakteri. Mekanisme gangguan ini tidak jelas. Mungkin melalui
kompetisi pada reseptor atau tempat pengikatan pada sel penjamu, kompetisi
untuk zat makanan, penghambatan oleh produk metabolik atau racun,
penghambatan oleh zat antibiotik atau bakteriosin (bacteriocins). Selain itu,
diperkirakan bahwa stimulasi antigenik dilepaskan oleh flora adalah penting untuk
perkembangan sistem kekebalan tubuh normal.

Sebaliknya, flora normal juga dapat menimbulkan penyakit pada kondisi
tertentu. Berbagai organisme ini tidak bisa tembus (non-invasive) karena
hambatanhambatan yang diperankan oleh lingkungan. Jika hambatan dari
lingkungan dihilangkan dan masuk le dalam aliran darah atau jaringan, organisme
ini mungkin menjadi patogen.

Spesies Bacteroides merupakan flora tetap yang paling sering dijumpai di
usus besar dan tidak membahayakan pada tempat tersebut. Tetapi jika masuk ke
rongga peritoneum atau jaringan panggul bersama dengan bakteri lain akibat
trauma, mereka menyebabkan supurasi dan bakterimia. Terdapat banyak contoh
tetapi yang penting adalah flora normal tidak berbahaya dan dapat bermanfaat
bagi tubuh inang pada tempat yang seharusnya atau tidak ada kelainan yang
menyertainya. Mereka dapat menimbulkan penyakit jika berada pada lokasi yang
asing dalam jumlah banyak dan jika terdapat faktor-faktor predisposisi.

Streptococcus viridians, bakteri yang tersering ditemukan di saluran nafas
atas, bila masuk ke aliran darah setelah ekstraksi gigi atau tonsilektomi dapat
sampai ke katup jantung yang abnormal dan mengakibat kan subacute bacterial
endocarditis. Bacteroides yang normal terdapat di kolon dapat menyebabkan
peritonitis mengikuti suatu trauma Spesies Bacteroides merupakan flora tetap
yang paling sering dijumpai di usus besar dan tidak membahayakan pada tempat
tersebut. Tetapi jika masuk ke rongga peritoneum atau jaringan panggul bersama
dengan bakteri lain akibat trauma, mereka menyebabkan supurasi( proses
pembentukan nanah akibat proses radang.) dan bakterimia (terdapatnya bakteri di
dalam aliran darah). Terdapat banyak contoh tetapi yang penting adalah flora

39

normal tidak berbahaya dan dapat bermanfaat bagi tubuh inang pada tempat yang
seharusnya atau tidak ada kelainan yang menyertainya. Mereka dapat
menimbulkan penyakit jika berada pada lokasi yang asing dalam jumlah banyak
dan jika terdapat faktorfaktor predisposisi.

Pada kenyataannya, tidak banyak yang diketahui tentang hubungan antara
manusia dan flora normal mereka, tetapi mereka dianggap sebagai interaksi. Baik
host dan bakteri sama-sama bertujuan untuk memperoleh manfaat satu sama
lain.Flora normal berasal dari host yang kaya akan pasokan nutrisi, lingkungan
yang stabil, dan lain-lain. Host memperoleh manfaat tertentu dari flora normal
seperti dalam proses pencernaan makanan, stimulasi dari kegiatan pembangunan
sel tubuh, sistem imun, dan perlindungan diri untuk melawan kolonisasi dan
infeksi oleh mikroba patogen.

Sebagian dari flora normal adalah parasit (hidup menumpang pada
hostnya), dan beberapa bersifat patogen (mampu menghasilkan penyakit).
Penyakit yang dihasilkan oleh flora normal pada hospes mereka dapat disebut
penyakit endogen. Kebanyakan endogen bakteri penyakit infeksi oportunistik.
Contoh dari infeksi oportunistik adalah bronkitis kronis pada perokok dimana
bakteri flora normal dapat menyerang paru-paru yang melemah.

Sebagian besar anggota flora bakteri normal lebih memilih untuk menjajah
jaringan tertentu yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan kecocokan tempatnya
.Kekhususan jaringan biasanya disebabkan oleh sifat-sifat baik dari tuan rumah
dan bakteri.Berikut ini adalah mekanisme bakteri dalam menentukan kekhususan
pada hostnya (Dwijoseputro, 1990):

(1) Tropisme jaringan
Tissue tropism adalah bakteri preferensi atau kesukaan bakteri pada

jaringan tertentu untuk pertumbuhannya. Salah satu penjelasan untuk
jaringan tropism ini adalah bahwa tuan rumah (host) menyediakan nutrisi
penting untuk faktor pertumbuhan bakteri, selain itu kesesuaian akan
oksigen, pH, dan suhu juga merupakan faktor penting yang untuk
pertumbuhan juga dapat dijadikan faktor kekhususan . Contoh :
Lactobacillus acidophilus, atau yang dikenal sebagai “Doderlein’s
bacillus” adalah bakteri yang hidup berkoloni di vagina karena dihasilkan

40

glikogen yang menyediakan bakteri sumber gula yang dapat mereka
memfermentasi untuk asam laktat.
(2) Spesifik kepatuhan

Kebanyakan bakteri dapat menjajah suatu jaringan tertentu karena
mereka dapat mematuhi cara tertentu yang melibatkan interaksi kimia
yang saling melengkapi antara dua permukaan. Pada biokimia, kepatuhan
melibatkan interaksi antara komponen permukaan bakteri (ligan atau
adhesins) dan molekul reseptor sel inang. Komponen bakteri yang
menyediakan molekul adhesins adalah bagian dari kapsul, fimbriae, atau
dinding sel mereka. Reseptor pada sel manusia atau jaringan molekul
glikoprotein biasanya terletak pada host permukaan sel atau jaringan.
Khusus kepatuhan melibatkan interaksi kimia yang saling melengkapi
antara sel inang dan permukaan bakteri.
(3) Pembentukan Biofilm

2.4 Gambar Pembentukan Biofilm

Biofilm adalah kumpulan sel mikroorganisme, khususnya bakteri,
yang melekat di suatu permukaan dan diselimuti oleh pelekat karbohidrat
yang dikeluarkan oleh bakteri. Biofilm terbentuk karena mikroorganisme
cenderung menciptakan lingkungan mikro dan relung (niche) mereka
sendiri. Biofilm memerangkap nutrisi untuk pertumbuhan populasi
mikroorganisme dan membantu mencegah lepasnya sel-sel dari permukaan
pada sistem yang mengalir.Permukaan sendiri adalah habitat yang penting
bagi mikroorganisme karena nutrisi dapat terjerap pada permukaan
sehingga kandungan nutrisinya dapat lebih tinggi daripada di dalam
larutan.Konsekuensinya, jumlah dan aktivitas mikroba pada permukaan
biasanya lebih tinggi daripada di air.

Pembentukan biofilm dimulai dengan menempelnya
mikroorganisme yang mengambang bebas ke suatu permukaan. Koloni
pertama ini melekat secara lemah pada permukaan. Adhesi reversibel

41

melalui gaya van der Waals . Jika koloni ini tidak segera lepas dari
permukaan, mereka dapat membuat jangkar sendiri lebih permanen
menggunakan sel adhesi, yaitu suatu struktur seperti pili.
Koloni pertama memfasilitasi kedatangan sel lain dengan menyediakan
lebih beragam tempat untuk adhesi dan memulai untuk membangun matrik
yang dapat berpegangan bersama-sama di dalam biofilm. Beberapa spesies
tidak dapat melekat permukaan sendiri tetapi seringkali mampu mengkait
diri dengan suatu matrik atau langsung ke koloni sebelumnya. Selama
kolonisasi ini, sel mampu berkomunikasi melalui quorum
sensing(mekanisme untuk memastikan jumlah sel mencukupi sebelum
suatu spesies melakukan respon biologi khusus). Setelah kolonialisai
dimulai, biofilm tumbuh melalui kombinasi dari pembelahan sel dan
pengambilan. Tahap akhir pada pembentukan biofilm dikenal sebagai
perkembangan dan merupakan tahap di mana biofilm dibangun untuk
dapat berubah dalam bentuk dan ukurannya. Perkembangan biofilm
memungkinkan untuk pembentukan koloni agregat sel (koloni) yang akan
semakin tahan terhadap antibiotik.
Ada lima tahap perkembangan biofilm yaitu sebagai berikut:

Gambar 2.5 Tahapan Biofilm
1. Penempelan awal
2. Perlekatan irreversible
3. Pematangan I
4. pematangan II
5. Penyebaran
Penyebaran sel dari koloni suatu biofilm merupakan tahap penting dari
siklus hidup biofilm. Penyebaran memungkinkan biofilm untuk tersebar
dan mengkoloni permukaan yang baru. Enzim yang dapat mendegradasi

42

matriks ekstraselular biofilm, seperti B dispersin dan deoxyribonuclease
mungkin memainkan peran dalam penyebaran biofilm.

G. Macam-Macam Flora Normal Berdasarkan Tempatnya (P)

Gambar 2.6 Flora Normal Pada Tubuh Manusia

Flora normal biasanya ditemukan di bagian-bagian tubuh manusia yang
kontak langsung dengan lingkungan misalnya kulit, hidung, mulut, usus, saluran
urogenital, mata, dan telinga.

1. Kulit

Gambar 2.7 Flora Normal Kulit (Propionibacterium acnes)

Kulit secara konstan berhubungan dengan bakteri dari udara atau dari
bendabenda, tetapi kebanyakan bakteri ini tidak tumbuh pada kulit karena kulit
tidak sesuai untuk pertumbuhannya (Michael J. Pelczar, Jr. dan E.C.S Chan,
Dasar-Dasar Mikrobiologi, 2008). Kulit manusia terlihat lebih mudah pecah
atau rusak bila dibandingkan dengan kulit hewan, seperti badak, gajah, dan kura
-kura. Namun kulit manusia memiliki sifat sebagai pertahanan (barier) yang
sangat efektif terhadap infeksi. Dalam kenyataanya, tidak ada bakteri yang dapat
menembus kulit utuh yang telanjang tanpa pelindung.

43

Kulit bersifat sedikit asam dengan pH 5 % dan memiliki temperatur kurang
dari 37°C. Lapisan sel-sel yang mati akan membuat permukaan kulit secara
konstan berganti sehingga bakteri yang berada dibawah permukaan kulit
tersebut akan juga dengan konstan terbuang dengan sel mati. Lubang -lubang
alami yang terdapat di kulit, seperti pori-pori, folikel rambut, atau kelenjar
keringat memberikan suatu lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri.
Namun lubang -lubang tersebut secara alami dilindungi oleh lisozim (enzim
yang dapat merusak peptidoglikan bakteri yang merupakan unsur utama
pembentuk dinding sel bakteri gram positif) dan lipida toksik.

Pelindung lain terhadap kolonialisasi kulit oleh bakteri patogen adalah
mikroflora normal kulit. Mikroflora tersebut merupakan suatu kumpulan dari
bakteri nonpatogen yang normal berkolonisasi pada setiap area kulit yang
mampu mendukung pertumbuhan bakteri. Bakteri patogen yang akan
menginfeksi kulit harus mampu bersaing dengan mikroflora normal yang ada
untuk mendapatkan tempat kolonisasi serta nutrien untuk tumbuh dan
berkembang. Mikroflora normal kulit terutama terdiri dari bakteri gram positif.
Tetapi bakteri gram negatif seperti Escherichia coli yang habitatnya ada di
dalam usus manusia, juga bisa terdapat pada kulit manusia karena adanya
kontaminasi kotoran manusia.

Walaupun ada pertahanan tersebut di atas, beberapa bakteri patogen dapat
berkolonisasi sementara pada kulit dan dapat mengambil manfaat dari luka yang
ada pada permukaan kulit untuk memperoleh jalan masuk ke jaringan yang ada
di bawah kulit. Di bawah kulit, mereka akan menghadapi sejumlah sel yang
telah terspesifikasi yang disebut dengan skin -associated lymphoid tissue
(SALT). Fungsi SALT adalah mencegah bakteri patogen tidak sampai ke area
yang lebih jauh di bawah kulit dan mencegah mereka tidak sampai ke aliran
darah. Relatif sedikit yang diketahui tentang sel -sel yang menyusun SALT.
Salah satu tipe selnya adalah sel yang memaparkan antigen yang terspesialisasi
yang membantu tipe sel yang lain, specialized skin- seeking lymphocyte, untuk
memproduksi antibodi. Sel -sel limfosit tersebut juga memproduksi sitokin,
protein yang merangsang sel -sel dari sistem imun dan memiliki sejumlah efek
lain. Komponen SALT yang lain adalah keratinosit yang banyak terdapat pada
lapisan epidemis dan bertanggung jawab untuk memelihara lingkungan

44

mikrokulit yang bersifat asam. Keratinosit memproduksi sitokin dan juga
mampu untuk ingesti dan membunuh bakteri.

Pentingnya pertahanan kulit ini diilustrasikan paling baik dengan pengaruh
luka bakar yang parah, yang akan mengeliminasi semua bentuk pertahanan kulit
termasuk SALT. Seseorang yang mengalami luka bakar tingkat dua dan tiga
yang ekstensif dan orang yang bertahan hidup dari trauma inisial yang
berhubungan dengan luka bakar masih belum terbebas dari bahaya. Banyak
korban luka bakar mati karena infeksi bakterial yang terjadi sebelum kulit
terbakar mengalami penyembuhan. Hilangnya pertahanan kulit dan
tereksposnya lapisan jaringan di bawah kulit yang basah dan kaya nutrien
merupakan hal yang ideal untuk kolonisasi bakteri pada area yang terbakar.
Penyebab yang paling umum pada infeksi kulit yang terbakar adalah
Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus, dua spesies bakteri yang
terdapat di mana-mana pada lingkungan rumah sakit. Kedua spesies juga
dikenal resisten terhadap antibiotik. Antibiotik paling efektif bila aksi
antibakterial mereka didukung dengan aktivitas pembunuhan oleh sistem imun.
Efek kombinasi dari kerusakan SALT dan resistensi alami bakteri telah
membuat infeksi luka bakar sulit untuk ditangani dengan efektif. Infeksi tersebut
merupakan suatu penyebab utama kematian di antara penderita luka bakar.
Bahkan, bila tidak bersifat fatal, infeksi bakterial pada jaringan yang terbakar
meningkatkan jumlah kerusakan jaringan dan mencegah penyembuhan area
kulit yang terbakar.

Pada umumnya beberapa bakteri yang ada pada kulit tidak mampu bertahan
hidup lama karena kulit mengeluarkan substansi bakterisida. Sebagai contoh,
kelenjar keringat mengekskresikan lisozim, suatu enzim yang dapat
menghancurkan dinding sel bakteri. Kelenjar lemak mengekskresikan lipid yang
kompleks, yang mungkin diuraikan sebagian oleh beberapa bakteri; asam-asam
lemak yang dihasilkannya sangat beracun bagi bakteri-bakteri lain.

Kebanyakan bakteri kulit di jumpai pada epitelium yang seakan-akan
bersisik (lapisan luar epidermis), membentuk koloni pada permukaan sel -sel
mati. Kebanyakan bakteri ini adalah spesies Staphylococcus dan sianobakteri
aerobik, atau difteroid. Jauh di dalam kelenjar lemak dijumpai bakteri-bakteri
anaerobik lipofilik, seperti Propionibacterium acnes, penyebab jerawat.
Jumlahnya tidak dipengaruhi oleh pencucian. Staphylococcus epidermidis yang

45

bersifat nonpatogen pada kulit namun dapat menimbulkan penyakit saat
mencapai tempat -tempat tertentu seperti katup jantung buatan dan sendi
prostetik (sendi buatan). Bakteri ini lebih sering ditemui pada kulit
dibandingkan dengan kerabatnya yang bersifat patogen yaitu Staphylococcus
aureus. Secara keseluruhan ada sekitar 103-104 mikroorganisme/cm2 yang
kebanyakan terletak pada stratum (lapisan) korneum.

Faktor-faktor yang berperan menghilangkan flora sementara pada kulit
adalah pH rendah, asam lemak pada sekresi sebasea dan adanya lisozim.
Berkeringat yang berlebihan atau pencucian dan mandi tidak menghilangkan
atau mengubah secara signifikan flora tetap. Jumlah mikroorganisme permukaan
mungkin berkurang dengan menggosok secara kuat setiap hari dengan sabun
yang mengandung heksakloforen atau desinfektan lain, namun flora secara cepat
muncul kembali dari kelenjar sebasea dan keringat, meskipun tidak ada
hubungan secara total terhadap kulit bagian lain maupun lingkungan.
Penggunaan tutup rapat pada kulit cenderung menyebabkan populasi mikrobiota
secara keseluruhan sangat menin gkat dan dapat menimbulkan perubahan
kualitatif flora kulit.
2. Hidung dan Nasofaring (nasopharynx)

Gambar 2.8 Flora Normal Hidung (Staphylococcus aureus)
Flora utama hidung terdiri dari korinebakteria, stafilokokus dan streptokokus
(Jawetz, Melnick, daan Adelbergs, Mikrobiologi Kedokteran (Medical
Microbiology), 2005: 280). .Dalam hulu kerongkongan hidung, dapat juga
dijumpai bakteri Branhamellacatarrhalis (suatu kokus gram negatif) dan
Haemophilus influenzae(suatu batang gram negatif).

46

Pemusnahan flora normal faring dengan penisilin dosis tinggi dapat
menyebabkan over growth: bakteria negatif Gram seperti Escherichia coli,
Klebsiella, Proteus, Pseudomonas atau jamur.
3. Mulut

Gambar 2.9 Flora Normal Mulut (Streptococccus sp.)
Kelembapan yang paling tinggi, adanya makanan terlarut secara konstan
dan juga partikel-partikel kecil makanan membuat mulut merupakan lingkungan
ideal bagi pertumbuhan bakteri. Mikrobiota mulut atau rongga mulut sangat
beragam; banyak bergantung pada kesehatan pribadi masing -masing individu.
(Michael J. Pelczar, Jr. dan E.C.S Chan, Dasar-Dasar Mirobiologi, 2008: 549).
Diperolehnya mikrobiota mulut. Pada waktu lahir, rongga mulut pada
hakikatnya merupakan suatu inkubator yang steril, hangat, dan lembap yang
mengandung sebagai substansi nutrisi. Air liur terdiri dari air, asam amino,
protein, lipid, karbohidrat, dan senyawa-senyawa anorganik. Jadi, air liur
merupakan medium yang kaya serta kompleks yang dapat dipergunakan sebagai
sumber nutrien bagi mikrobe pada berbagai situs di dalam mulut. (Michael J.
Pelczar, Jr. dan E.C.S Chan, Dasar-Dasar Mirobiologi, 2008: 549-550).
Beberapa jam sesudah lahir, terdapat peningkatan jumlah mikroorganisme
sedemikian sehingga di dalam waktu beberapa hari spesies bakteri yang khas
bagi rongga mulut menjadi mantap. Jasad-jasad renik ini tergolong ke dalam
genus Streptococcus, Neisseria, Veillonella, Actinomyces,dan Lactobacillus.
(Michael J.Pelczar, Jr. dan E.C.S Chan,Dasar-Dasar Mirobiologi, 2008: 551).
Jumlah dan macam spesies ada hubungannya dengan nutrisi bayi serta
hubungan antara bayi tersebut dengan bayinya, pengasuhnya, dan benda-benda
seperti handuk serta botol-botol susunya. Spesies satu-satunya yang selalu
diperoleh dari rongga mulut, bahkan sedini hari kedua setelah air, ialah
Streptococcus.

47


Click to View FlipBook Version