diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri,
mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat
penting dalam pengembangan intelektual. Proses
pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi
yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan
ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi
berpikirnya. Karena itu, tugas dan peran guru dalam
tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan - pertanyaan
yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari
informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan
berinkuiri adalah manakala siswa tidak apresiatif terhadap
pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya
ditunjukkan oleh gejala - gejala ketidak gairahan dalam
belajar. Manakala guru menemukan gejala – gejala
semacam ini, maka guru hendaknya secara terus - menerus
memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui
penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata
kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk
berpikir.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban
yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi
yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang
terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat
keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan, menguji
hipotesis berarti juga mengembangkan kemampuan
44 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
berpikir rasional yaitu kebenaran jawaban yang diberikan
bukan hanya berdasarkan argumentasi tetapi didukung
oleh data yang ditemukan dan dapat
dipertanggungjawabkan. Selain itu,Setelah berkutat
dengan beragam sumber belajar (sumber informasi) yang
tersedia dan sumber data yang ada, siswa kemudian akan
diajak untuk memproses data dan informasi yang diperoleh.
Mereka dapat belajar mengorganisasikan data ke dalam
tabel - tabel, daftar - daftar, atau ringkasan yang akan
mempermudah mereka dalam menguji kebenaran hipotesis
yang telah mereka susun dilangkah sebelumnya. Di sini
mungkin saja terjadi semacam perbedaan antara informasi
yang baru mereka peroleh dengan informasi yang telah
mereka miliki sebelumnya. Proses berpikir kreatif, kritis,
dan analitis akan dibutuhkan pada tahap ini, sehingga
mereka dapat menguji hipotesis.
6. Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses
mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil
pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan
gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi,
karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan
kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus pada masalah
yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai
kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu
menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
45 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Pada akhir langkah model pembelajaran inkuiri, siswa
kemudian akan dapat membuat kesimpulan mereka
masing-masing tentang hasil pengujian hipotesis yang telah
dilakukan. Bisa saja dari pembelajaran yang baru mereka
lakukan mereka ternyata mendapati bahwa informasi lama
yang telah mereka sebenarnya informasi yang keliru, atau
dapat pula sebaliknya, di mana informasi baru yang
mereka peroleh semakin memperkuat informasi yang telah
mereka miliki itu. Atau dengan kata lain, mereka dapat
lebih dalam memahami hal tersebut dibanding sebelumnya.
Proses pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran inkuiri ini memungkinkan siswa
mempunyaikedalaman pemahaman akan suatu hal yang
mereka pelajari, dan ini terjadi secara kontsruktif di mana
mereka membangun sendiri pengetahuan baru di atas
fondasi pengetahuan yang sebelumnya telah mereka punyai.
E. Upaya Pemecahan Kasus Pembelajaran Inkuiri
Dalam pemecahan suatu masalah ataupun kasus
mengenai pembelajaran, maka kita harus tahu terlebih dahulu
apa saja masalah yang terjadi dalam penerapan pemelajaran
inkuiri dan kesulitan - kesulitannya sebagai berikut.
inkuiri dalam pembelajaran dilandasi pandangan
konstruktivisme. Menurut pandangan konstruktivistik, belajar
merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan.
Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa. Ia harus aktif
melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan
46 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
memberi makna tentang hal - hal yang sedang dipelajari. Guru
memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata
lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya
belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan
terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri.
Dengan istilah ini, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali
belajar sepenuhnya ada pada siswa.
Karakteristik dari pendekatan inkuiri ini adalah guru
tidak mengkomunikasikan pengetahuan, tetapi membantu
siswa untuk belajar bagi mereka sendiri, kemudian topik,
masalah yang dipelajari, dan metode yang digunakan untuk
menjawab permasalahan dapat ditentukan oleh siswa, dapat
ditentukan oleh guru, dan dapat ditentukan bersama oleh
siswa dan guru. Pembelajaran inkuiri memberi tekanan pada
ide-ide konstruktivis dari belajar. Kemajuan belajar terbaik
terjadi dalam situasi kelompok.
Pembelajaran inkuiri ini menekankan kepada proses
mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan
secara langsung, peran siswa dalam strategi ini adalah mencari
dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru
berperan sebagai fasilitator dan membimbing siswa untuk
belajar. Dengan kata lain untuk siswa yang pintar maka akan
cepat dan mengerti dalam pembelajaran, tetapi untuk siswa
yang daya tangkapnya kurang akan menimbulkan
kebingungan dan akan tertinggal jauh pengetahuannya. Dalam
47 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) terdapat
beberapa kesulitanyakni:
1. SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan
kepada proses berpikir yang bersandarkan kepada dua
sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil
belajar.
2. sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa
belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran
dari guru dengan demikian bagi mereka guru adalah
sumber belajar yang utama.
3. berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap
tidak konsisten. Misalnya sistem pendidikan menganjurkan
bahwa proses pembelajaran sebaiknya menggunakan pola
pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan
berpikir melalui pendekatan student active learning atau
yang kita kenal dengan CBSA.
4. Penerapan strategi pembelajaran inkuiri ini cukup susah
diterapkan pada kelas yang siswanya kurang aktif,
memiliki daya tangkap yang rendah, terlalu banyak peserta
didik, dan memerlukan proses yang cukup lama dalam
perubahan pola pikir siswa dari hanya menerima informasi
dari grur secara apa adanya.
Upaya yang dilakukan untuk pemecahan kasus dalam
Strategi Pembelajaran Inkuiri, pada pelaksanaannya antara
lain :
48 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
1. Guru wajib melakukan efektifitas waktu jam pelajaran
berlangsung, agar selalu tepat pada waktunya.
2. Guru mampu menyampaikan gambaran materi kepada
siswa yang memiliki masalah, agar siswa wajib
melakukan pengamatan serta mampu menemukan
masalah dan pemecahannya.
3. Guru wajib mempersiapkan diri secara matang dan harus
menguasai setiap materi yang akan diajarkan.
4. Guru wajib mendorong semua siswa dalam kelas untuk
selalu berperan aktif dalam aktifitas belajarnya.
Dari setiap langkah upaya untuk menjalankan strategi
Pembelajaran Inkuiri, maka peran penting guru yang sangat
dibutuhkan dalam rangka mendorong setiap siswa untuk selalu
aktif serta berpartisipasi penuh dalam melakukan pengamatan
serta mencari dan menemukan masalah, kemudian harus
mampu memecahkan masalah yang telah didapatinya. Guru
dituntut untuk selalu menguasai setiap materi serta langkah –
langkah secara cermat dan tepat dalam melaksanakan proses
pembelajaran di kelas.
49 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
BAB 3
STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN
UPAYA PEMECAHANNYA
A. Pengertian Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
Pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak
zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91)
belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus
dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan
lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada siswa
berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak
berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga
masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis,
serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari
bahasa Inggris Problem-based Learning adalah suatu
pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan
suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu siswa
memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya.
Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem-
based learning/PBL) adalah konsep pembelajaran yang
membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang
dimulai dengan masalah yang penting dan relevan (bersangkut-
paut) bagi siswa, dan memungkinkan siswa memperoleh
pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata).
50 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Pembelajaran Berbasis Masalah melibatkan siswa dalam
proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada
siswa, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah
dan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk
menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam
lingkungan yang bertambah kompleks sekarang ini.
Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan
melakukan kerja kelompok antar siswa. Siswa menyelidiki
sendiri, menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan
masalahnya di bawah petunjuk fasilitator (guru).
Pembelajaran Berbasis Masalah menyarankan kepada
siswa untuk mencari atau menentukan sumber-sumber
pengetahuan yang relevan. Pembelajaran berbasis masalah
memberikan tantangan kepada siswa untuk belajar sendiri.
Dalam hal ini, siswa lebih diajak untuk membentuk suatu
pengetahuan dengan sedikit bimbingan atau arahan guru
sementara pada pembelajaran tradisional, siswa lebih
diperlakukan sebagai penerima pengetahuan yang diberikan
secara terstruktur oleh seorang guru.
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based learning),
selanjutnya disingkat PBL, merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar
aktif kepada siswa. PBL adalah suatu model pembelajaran
vang, nielibatknn siswa untuk memecahkan suatu masalah
melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat
mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
51 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk
memecahkan masalah.
Untuk mencapai hasil pembelajaran secara optimal,
pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Berbasis
Masalah perlu dirancang dengan baik mulai dari penyiapan
masalah yang yang sesuai dengan kurikulum yang akan
dikembangkan di kelas, memunculkan masalah dari siswa,
peralatan yang mungkin diperlukan, dan penilaian yang
digunakan. Pengajar yang menerapkan pendekatan ini harus
mengembangkan diri melalui pengalaman mengelola di
kelasnya, melalui pendidikan pelatihan atau pendidikan formal
yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, pengajaran berdasarkan masalah
merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses
berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa
untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya
dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia
sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk
mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
Menurut Arends (Nurhayati Abbas, 2000: 12)
menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah
adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran
siswa pada masalah autentik, sehingga siswa dapat menyusun
pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan
yang lebih tinggi, memandirikan siswa, dan meningkatkan
kepercayaan diri sendiri.
52 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Menurut Ward, 2002: Stepien, dkk., 1993 menyatakan
bahwa model Pembelajaran Berbasis Masalah adalah suatu
model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk
memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode
ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki
keterampilan untuk memecahkan masalah
B. Karakteristik Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
Ada beberapa karakteristik dalam strategi pembelajaran
berbasis masalah antara lain yaitu :
1. Strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan
rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam
pembelajaran ini tidak mengharapkan siswa hanya sekedar
mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi
pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran
berbasis masalah siswa aktif berpikir, berkomunikasi,
mencari dan mengolah data dan akhirnya
menyimpulkannya.
2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan
masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah
menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses
pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada
proses pembelajaran.
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan
pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan
53 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir
deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara
sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah
dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan
empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan
pada data dan fakta yang jelas.
C. Kelebihan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Berbasis
Masalah
1. Kelebihan
Sebagai suatu strategi pembelajaran, strategi
pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapa
keunggulan, di antaranya:
a. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup
bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan
siswa serta memberikan kepuasan untuk menentukan
pengetahuan baru bagi siswa.
c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas
pembelajaran siswa.
d. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana
mentrasfer pengetahuan mereka untuk memahami
masalah dalam kehidupan nyata.
e. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan
54 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka
lakukan.
f. Melalui pemecahan masalah dianggap lebih
menyenangkan dan disukai siswa.
g. Pemecahan masalah dapat mengembangkan
kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan
mengembangkan kemampuan mereka untuk
menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
h. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan
pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang
mereka miliki dalam dunia nyata.
i. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa
untuk secara terus menerus belajar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi
pembelajaran berbasis masalah harus dimulai dengan
kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada
tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya
kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau
lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa,
pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau
menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena
yang ada.
2. Kelemahan
55 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Di samping memiliki keunggulan, strategi pembelajaran
berbasis masalah juga memiliki beberapa kelemahan
diantaranya:
a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk
dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk
mencoba.
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk
memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka
tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
D. Dasar Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran
Berbasis Masalah
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan
informasi dan kemampuan baru. Ketika kberfikir informasi dan
kemampuan apa yang harus dimiliki oleh siswa, maka pada
saat itu juga semestinya berpikir strategi apa yang harus
dilakukan agar semua itu dapat terwujud secara efektif dan
efisien. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah Prinsip umum
penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua
strategi pembelajaran itu cocok digunakan untuk mencapai
semua tujuan dan semua keadaan. Oleh karenanya dalam
pemilihan strategi pembelajaran terdapat prinsip-prinsip
penggunaan strategi pembelajaran yang dapat digunakan
56 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
sebagai dasar pertimbangan dalam pemilihan strategi
pembelajaran, adalah sebagai berikut :
a. Berorientasi pada tujuan
Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen
yang utama. Segala aktivitas guru dan siswa,mestilah harus
diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Oleh karenanya keberhasilan siswa mencapai tujuan
pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu
strategi yang harus digunakan guru. Hal ini sering dilupakan
guru. Guru yang yang senang berceramah, hampir setiap
tujuan menggunakan strategi penyampaian, seakan-akan dia
berpikir bahwa segala jenis tujuan dapat dicapai dengan
strategi yang demikian.
b. Aktivitas
Srategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas
peserta didik ini baik untuk digunakan karena dasar
pertimbangan prinsip aktivitas karena kegiatan belajar itu
bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar
adalah berbuat; memperoleh pengalaman tertentu sesuai
dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi
pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas
tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi
juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas
mental. Guru sering lupa dengan hal ini. Banyak guru yang
terkecoh oleh sikap siswa yang pura-pura aktif padahal tidak.
c. Individualitas
57 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu
siswa. Walaupun mengajar pada sekelompok siswa, namun
pada hakikatnya yang ingin dicapai adalah perubahan perilaku
setiap siswa. Oleh karena itu, dilihat dari segi jumlah siswa
sebaiknya standar keberhasilan guru ditentukan setinggi-
tingginya. Semakin tinggi standar keberhasilan ditentukan,
maka semakin berkualitas proses pembelajaran.
d. Integritas
Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan
seluruh siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan
kemampuan kognitif saja, akan juga meliputi pengembangan
aspek afektif dan aspek psikomotorik. Oleh karena itu, strategi
pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek
kepribadian siswa secara terintegrasi. Penggunaan metode
diskusi misalnya, guru harus dapat merancang strategi
pelaksanaan diskusi tak hanya terbatas pada pengembangan
aspek intelektual saja, tetapi harus mendorong siswa agar
mereka bisa berkembang secara keseluruhan, seperti
mendorong agar siswa dapat menghargai pendapat orang lain,
berani mengeluarkan gagasan atau ide orisinil, bersikap jujur,
dan lain-lain. Disamping itu, bab IV pasal 19 peraturan
pemerintah No. 19 tahun 2005 dikatakan bahwa proses
pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
58 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik.
Sesuai dengan isi peraturan pemerintah diatas, maka ada
sejumlah prinsip khusus dalam pengelolaan pembelajaran,
sebagai berikut :
1. Interaktif
Prinsip interaktif mengandung makna bahwa mengajar
bukan hanya sekadar menyampaikan pengetahuan dari guru
ke siswa akan tetapi mengajar dianggap sebagai proses
mengatur lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk
belajar. Melalui proses interaksi, memunggkinkan
kemampuan siswa akan berkembang baik mental maupun
intelektual.
2. Inspiratif
Proses pembelajaran adalah proses inspiratif, yang
memungkinkan siswa untuk mencoba dan melakukan
sesuatu.berbagai macam informasi dan proses pemecahan
masalah dalam pembelajaran bukan harga mati yang
bersifat mutlak, tetapi merupakan hipotesis yang
merangsang siswa untuk mau dan mencobanya.
3. Menyenangkan
Proses pembelajaran adalah proses yang dapat
mengembangkan seluruh potensi siswa yang dapat
terwujud jika siswa terbebas dari rasa takut, dan
menegangkan. Proses pembelajaran yang menyenangkan
dapat dilakukan dengan, pertama, dengan menata ruangan
59 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
yang apik dan menarik,yang memenuhi unsur kesehatan
seperti pengaturan cahaya, adanya ventilasi, serta
memenuhi unsur keindahan misalnya cat tembok yang
bersih, bebas dari debu, dan sebagainya. Kedua, melalui
pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni
dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media,
dan sumber belajar yang relevan serta gerakan-gerakan
guru yang mampu memberikan motivasi belajar siswa.
Proses pembelajaran merupakan proses yang
menantang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan
berfikir. Kemampuan tersebut dapat dikembangkan
melalui rasa ingin tahu siswa. Apapun yang dilakukan dan
diberikan guru harus dapat merangsang siswa untuk
berfikir dan melakukan. Untuk itu dalam hal-hal tertentu
sebaiknya guru memberikann informasi yang “meragukan”
sehingga karena keraguan itulah siswa terangsang untuk
membuktikannya.
4. Motivasi
Motivasi adalah aspek yang sangat penting untuk
membelajarkan siswa. Tanpa adanya motivasi, tidak
mungkin siswa memiliki kemampuan untuk belajar. Oleh
karena itu, membangkitkan motivasi merupakan salah satu
peran dan tugas guru dalam setiap proses pembelajaran.
Dari pemaparan prinsip-prinsip penggunaan strategi
pembelajaran dalam konteks standar proses pendidikan
tersebut diatas strategi pembelajaran yang berorientasi pada
60 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
aktivitas peserta didik dapat memenuhi prinsip-prinsip diatas
sehingga strategi pembelajaran yang berorientasi pada
aktivitas peserta didik dapat digunakan untuk kegiatan
pembelajaran yang sifatnya banyak membutuhkan peran serta
siswa atau aktivitas siswa seperti pembelajaran berdasarkan
pemecahan masalah, contohnya diskusi dan lainnya.
E. Langkah-langkah Pelaksanaa Strategi Pembelajaran
Berbasis Masalah
Ada lima langkah dalam model pembelajaran berbasis masalah,
yaitu:
1. Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa
terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
2. Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas yang berhubungan dengan
masalah tersebut.
3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru membimbing siswa untuk mengumpulkan informasi
yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan
menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan video dan
61 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
model dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan
temannya.
5. Menganalisis dan mengevaluasi
Guru membantu siswa untuk melakukan evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka
gunakan
Berikut ini Langkah-Langkah penerepan Pembelajaran
Berbasis Masalah (langkah-langkah Problem-based Learning)
yang umum dilakukan, yakni:
1. Klarifikasi Permasalahan. Kegiatan yang termasuk
langkah ini antara lain:
Guru menyajikan fenomena yang mengandung masalah
yang sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator.
Bentuknya bisa berupa gambar, teks, video, vignettes,
fenomena riil, dan sebagainya.
Peserta didik melakukan identifikasi terhadap fenomena
yang ditampilkan guru untuk menmukan masalah dari
fenomena yang ditampilkan.
Peserta didik melakukan klarifikasi terhadap masalah
yang ditemukan
2. Brainstorming. Kegiatan yang termasuk langkah ini
antara lain:
Peserta didik mengidentifikasi masalah dan
melakukan brainstorming dengan fasilitasi guru
62 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Guru memfasilitasi Peserta didik untuk
mengklarifikasi fakta, konsep, prosedur dan kaidah
dari masalah yang ditemukan.
Peserta didik melakukan brainstorming dengan cara
sharing information, klarifikasi informasi dan data
tentang masalah yang ada, melakukan peer learning
dan bekerjasama (working together)
Peserta didik mendapatkan deskripsi dari masalah,
apa saja yang perlu dipelajari untuk menyelesaikan
masalah, deskripsi konsep yang sudah dan belum
diketahui, menemukan penyebab masalah, dan
menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah.
Peserta didik mengembangkan alternatif penyelesaian
masalah
Peserta didik menyusun dan mengembangkan action
plan untuk penyelesaian masalah.
3. Pengumpulan Informasi dan Data. Kegiatan yang
termasuk langkah ini antara lain:
Peserta didik melakukan kegiatan pengumpulan data
dan informasi terkait dengan penyelesaian masalah,
perpustakaan, web, dan berbagai sumber data yang lain
serta melakukan observasi.
Peserta didik secara mandiri mengolah hasil
pengumpulan informasi/data untuk dipergunakan
sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah.
63 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
4. Berbagi Informasi dan Berdiskusi untuk Menemukan
Solusi Penyelesaian Masalah. Kegiatan yang
termasuk langkah ini antara lain:
Peserta didik kembali melakukan brainstorming,
klarifikasi informasi, konsep dan data terkait dengan
permasalahan yang ada dan menemukan solusinya,
melakukan peer learning dan bekerjasama (working
together).
Peserta didik merumuskan dan menetapkan solusi
(pemecahan masalah).
Peserta didik menyusun laporan hasil diskusi
penyelesaian masalah
5. Presentasi Hasil Penyelesaian Masalah. Kegiatan yang
termasuk langkah ini antara lain:
Peserta didik mempresentasikan hasil
brainstormingnya tentang solusi yang dikemukakan
untuk penyelesaian masalah.
Peserta didik mempresentasikan hasil kerjanya di
depan kelas.
Peserta didik mereviu, menganalisis, mengevaluasi dan
refleksi terhadap pemecahan masalah yang ditawarkan
beserta reasoningnya dalam diskusi kelas.
Peserta didik melakukan perbaikan berdasarkan hasil
diskusi
6. Refleksi, Kegiatan yang termasuk langkah ini antara
lain:
64 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Peserta didik mengemukakan ulasan terhadap
pembelajaran yang dilakukan.
Guru dan Peserta didik memberikan apresiasi atas
partisipasi semua pihak.
Guru dan Peserta didik melakukan merefleksi atas
kontribusi setiap orang dalam proses pembelajaran.
Guru dan Peserta didik merayakan.
Peran guru, siswa dan masalah dalam pembelajaran berbasis
masalah dapat digambarkan sebagai berikut :
Siswa Masalah sebagai
Guru sebagai pelatih sebagai problem awal tantangan
solver dan motivasi
* Asking about * peserta yang aktif * menarik untuk
thinking ( bertanya * terlibat langsung dipecahkan
tentang pemikiran) dalam * menyediakan
* memonitor pembelajaran kebutuhan yang
pembelajaran * membangun ada
* probbing ( menantang pembelajaran hubungannya
siswa untuk berfikir ) dengan
* menjaga agar siswa pelajaran yang
terlibat dipelajari
* mengatur dinamika
kelompok
* menjaga
berlangsungnya proses
65 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
F. Upaya Pemecahan Kasus Pembelajaran Berbasis Masalah
Dari setiap langkah upaya untuk menjalankan strategi
Pembelajaran berbasis masalah, maka peran penting guru
yang sangat dibutuhkan dalam rangka mendorong setiap
siswa untuk selalu berpartisipasi penuh dalam melakukan
pengamatan serta mencari dan menemukan masalah,
kemudian harus mampu memecahkan masalah yang telah
didapatinya. Guru dituntut untuk selalu menguasai setiap
materi serta langkah – langkah secara cermat dan tepat
dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.
Maka Upaya yang dilakukan dalam pemecahan kasus strategi
pembelajaran berbasis masalah yaitu :
1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran materi yang
akan disampaikan yaitu pembelajaran yang berbasis
masalah.
2. Guru mengajukan permasalahan yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari.
3. Guru meminta siswa mempelajari dan menyelesaikan
masalah tersebut. Siswa diminta mempresentasikan hasil
jawabannya, guru memberikan respon dan membimbing
seperlunya menuju jawaban yang benar.
4. Guru memberikan Lembar Latihan pada siswa.
5. Guru meminta siswa mengemukakan idenya bagaimana
cara memecahkan masalah tersebut.
66 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
6. Guru membimbing/mengamati siswa dalam menyelesaikan
masalah yang ada dalam Lembar Latihan yang diberikan.
7. Guru mendorong siswa menyajikan hasil pemecahan
masalah dan membimbing bila menemui kesulitan.
8. Guru membimbing peserta didik untuk memberikan
pertanyaan-pertanyaan kritis dengan mencari jawaban
terkait dengan masalah yang diberikan
9. Guru membimbing siswa untuk melakukan analisis
terhadap pemecahan masalah.
10. Guru melakukan evaluasi pembelajaran mengenai materi
yang telah dipelajari siswa
67 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
BAB 4
STRATEGI PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN
BERPIKIR (SPPKB) DAN UPAYA PEMECAHANNYA
A. Pengertian
Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan
Berpikir (SPPKB) merupakan strategi pembelajaran yang
bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir
siswa melalui telaah fakta – fakta atau pengalaman anak
sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajukan.
Dalam SPPKB, materi pelajaran tidak disajikan begitu saja
kepada peserta didik. Akan tetapi, peserta didik dibimbing
untuk menemukan sendiri melalui proses dialog dengan
memanfaatkan pengalaman peserta didik.
Menurut Zubaidah (2007:35) dengan memberdayakan
kemampuan berpikir melalui pertanyaan, di samping siswa
aktif menjawab pertanyaan ternyata hal tersebut memicu
timbulnya pertanyaan – pertanyaan baru. Pertanyaan –
pertanyaan yang timbul dalam pikiran siswa tersebut
menunjukkan bahwa semakin berkembangnya penalaran
siswa.
Sedangkan menurut Wahyana (1986:62) salah satu
bentuk komunikasi adalah bentuk verbal, memberi
informasi, bertanya dan mendengar. Dengan suatu
pertanyaan guru, siswa dapat belajar berpikir dengan cara
berpikir, memperoleh kesempatan untuk belajar kreatif
68 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
supaya menjadi kreatif, dan menjadi sensitif karena
kemampuannya.
Terdapat beberapa hal yang terkandung dalam pengertian
di atas :
SPPKB adalah model pembelajaran yang bertumpu pada
pengembangan kemampuan berpikir, artinya tujuan
yang ingin dicapai oleh SPPKB adalah bukan sekedar
siswa dapat menguasai sejumlah materi pelajaran, akan
tetapi bagaimana siswa dapat mengembangkan gagasan-
gagasan dan ide-ide melalui kemampuan berbahasa
secara verbal.
Telaah fakta-fakta sosial atau pengalaman sosial
merupakan dasar pengembangan kemampuan berpikir,
artinya pengembangan gagasan dan ide-ide didasarkan
kepada pengalaman sosial anak dalam kehidupan sehari-
hari atau berdasarkan kemampuan anak untuk
mendeskripsikan hasil pengamatan mereka terhadap
berbagai fakta dan data yang mereka peroleh dalam
kehidupan sehari-hari.
Sasaran akhir SPPKB adalah kemampuan anak untuk
memecahkan masalah-masalah sosial sesuai dengan
taraf perkembangan anak.
Strategi pembelajaran kemampuan berpikir merupakan
model pembelajaran yang bertumpu pada proses perbaikan
69 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
dan peningkatan kemampuan berpikir siswa. Strategi
tersebut bukan hanya sekedar model pembelajaran yang
diarahkan agar peserta didik dapat mengingat dan
memahami berbagai data,fakta atau konsep, akan tetapi
bagaimana data, fakta dan konsep tersebut dapat dijadikan
sebagai alat untuk melatih kemampuan berpikir siswa
dalam menghadapi dan memecahkan masalah. Jadi dapat
disimpulkan bahwa Strategi Pembelajaran Peningkatan
Kemampuan Berpikir adalah strategi pembelajaran yang
menekankan kepada kemampuan berpikir siswa dengan
pemberian pertanyaan – pertanyaan yang memacu anak
untuk berpikir sehingga dapat menemukan konsep sendiri.
B. Karakteristik
SPPKB menekankan kepada keterlibatan siswa secara
penuh dalam belajar. Hal ini sesuai dengan hakikat SPPKB
yang tidak mengharapkan siswa sebagai obyek belajar yang
hanya duduk mendengarkan penjelasan guru, kemudian
mencatat yang berhubungan dengan penguasaan materi
pelajaran dan mencatat untuk dihafalkan.
Sebagai strategi pembelajaran yang diarahkan untuk
mengembangkan kemampuan berpikir, SPPKB pada
dasarnya memiliki tiga karakteristik utama, yaitu sebagai
berikut:
a. Proses pembelajaran melalui SPPKB menekankan
kepada proses kekuatan mental siswa secara maksimal.
70 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
SPPKB bukan model pembelajaran yang membiarkan
siswa untuk pasip atau sekedar mendengar dan
mencatat apa yang disampaikan oleh guru, tetapi
menginginkan agar siswa aktif dalam aktivitas proses
berpikir. Setiap kegiatan belajar yang berlangsung
disebabkan dorongan mental yang diatur oleh otak.
Karena Pembelajaran disini adalah peristiwa mental
bukan peristiwa behavioral yang lebih menekankan
aktivitas fisik.
Berkaitan dengan karakteristik tersebut, maka dalam
proses implementasi SPPKB perlu diperhatikan hal-hal :
1. Jika belajar tergantung pada bagaimana informasi
diproses secara mental, maka proses kognitif siswa
harus menjadi kepedulian pertama para guru.
2. Guru harus mempertimbangkan tingkat
perkembangan kognitif siswa ketika merencanakan
topik yang harus dipelajari serta metode apa yang
digunakan.
3. Siswa harus mengorganisasi yang mereka pelajari.
Dalam hal ini guru harus membantu agar siswa
belajar untuk melihat hubungan antarbagian yang
dipelajari.
4. Guru harus dapat membantu siswa belajar dengan
memperlihatkan bagaimana gagasan baru
berhubungan dengan pengetahuan yang telah mereka
miliki.
71 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
5. Siswa harus secara aktif merespons apa yang mereka
pelajari.
b. SPPKB dilaksanakan dalam situasi dialogis dan proses
tanya jawab secara terus- menerus. Proses pembelajaran
melalui dialog dan tanya jawab itu diarahkan untuk
mengembangkan daya pikir siswa akan masalah yang
diajukan, sehingga siswa menjadi memiliki pandangan
tersendiri atas solusi atau cara pemecahan masalah yang
telah diberikan, yang pada gilirannya kemampuan
berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh
pengetahuan yang mereka konstruks sendiri.
c. SPPKB menyandarkan akan dua masalah pokok, yaitu
sisi proses dan hasil belajar. Proses belajar diarahkan
untuk meningkatkan kemampuan berpikir, sedangkan
sisi hasil belajar diarahkan untuk mengkonstruksi
pengetahuan atau penguasaan materi pembelajaran baru.
C. Kelebihan Dan Kekurangan
Setiap strategi pasti memiliki kelebihan dan kekurangan,
begitu juga dengan SPPKB. Karena sebuah strategi tidak
dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Adapun
kelebihan dan kekurangan dalam SPPKB adalah sebagai
berikut:
a. Kelebihan SPPKB
1. Melatih daya pikir siswa dalam penyelesaiaan
masalah yang ditemukan dalam kehidupannya.
72 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
2. Siswa lebih siap menghadapi setiap persoalan yang
disajikan oleh guru.
3. Siswa diprioritaskan lebih aktif dalam proses
pembelajaran.
4. Memberikan kebebasan untuk mengeksplor
kemampuan siswa dengan berbagai media yang ada.
b. Kekurangan SPPKB
1. SPPKB yang membutuhkan waktu yang relatif
banyak, sehingga jika waktu pelajaran singkat maka
tidak akan berjalan dengan lancar.
2. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir rendah
akan kesulitan untuk mengikuti pelajaran, karena
siswa selalu akan diarahkan untuk memecahkan
masalah-masalah yang diajukan.
3. Guru atau siswa yang tidak memiliki kesiapan akan
SPPKB, akan membuat proses pembelajaran tidak
dapat dilaksanakan sebagai mana seharusnya,
sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak dapat
terpenuhi.
4. SPPKB hanya dapat diterapkan dengan baik pada
sekolah yang sesuai dengan karakteristik SPPKB itu
sendiri.
73 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
D. Dasar Pertimbangan Pemilihan SPPKB
Berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan dalam
memilih strategi pembelajaran yang akan dilakukan
diantaranya pertimbangan yang berhubungan dengan :
a. Tujuan yang ingin dicapai
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan
berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai. diantaranya
apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
berkenaan dengan aspek kognitif, afektif atau
psikomotor? bagaimana kompleksitas tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai, apakah tingkatnya
tinggi atau rendah? Apakah untuk mencapai tujuan itu
memerlukan keterampilan akademis? Jika pelajaran
yang hanya mementingkan pembentukan fisik seperti
pelajaran olah raga, maka tidak sesuai dengan tujuan
dari SPPKB.
b. Bahan atau materi pembelajaran
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan
berkaitan dengan bahan atau materi pembelajaran
diantaranya apakah materi pelajaran itu berupa fakta,
konsep, hukum atau teori tertentu?, apakah untuk
mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan
prasyarat tertentu atau tidak? apakah tersedia buku-
buku sumber untuk mempelajari materi itu?
c. Siswa
74 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan
berkaitan dengan siswa diantaranya apakah strategi
pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan siswa?,
apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan minat,
bakat dan kondisi siswa? Apakah strategi pembelajaran
itu sesuai dengan gaya bahasa belajar siswa?
E. Tahapan Pelaksanaan SPPKB
Adapun tahap pelaksanaan SPPKB ini memiliki 3 garis
besar tahapan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan
kegiatan akhir. Untuk lebih jelasnya akan di jabarkan
sabagai berikut:
a. Kegiatan awal
1. Tahap orientasi
Pada tahap ini guru mengondisikan siswa
pada posisi siap untuk melakukan
pembelajaran Tahap orientasi dilakukan dengan,
pertama penjelasan tujuan yang harus dicapai, baik
tujuan yang berhubungan dengan penguasaan materi
pelajaran, maupun tujuan yang berhubungan dengan
proses pembelajaran atau kemampuan berpikir yang
harus dimiliki oleh siswa. Kedua, penjelasan proses
pembelajaran yang harus dilakukan siswa dalam
setiap tahapan proses pembelajaran.
2. Tahap Pelacakan
Tahap pelacakan adalah tahapan penjajakan
untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar
75 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
siswa sesuai dengan tema atau pokok persoalan yang
akan dibicarakan. Melalui tahapan inilah guru
mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk
mengungkap pengalaman apa saja yang telah dimiliki
siswa yang dianggap relevan dengan tema yang akan
dikaji. Dengan berbekal pemahaman itulah
selanjutnya guru menentukan bagaimana ia harus
mengembangkan dialog dan tanya jawab pada
tahapan-tahapan selanjutnya.
b. Kegiatan Inti
1. Tahap Konfrontasi
Tahap konfrontasi adalah tahapan
penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai
dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa.
Untuk merangsang peningkatan kemampuan siswa
pada tahapan ini, guru dapat memberikan persoalan-
persoalan yang dilematis yang memerlukan jawaban
atau jalan keluar. Persoalan yang diberikan sesuai
dengan tema atau topic itu tentu saja persoalan yang
sesuai dengan kemampuan dasar atau pengalaman
siswa.Pada tahap ini guru harus dapat
mengembangkan dialog agar siswa benar-benar
memahami persoalan yang harus dipecahkan.
2. Tahap inkuiri
Tahap inkuiri adalah tahapan terpenting dalam
Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan
76 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
berpikir. Pada tahap inilah siswa belajar berpikir
yang sesungguhnya. Melalui tahapan inkuiri siswa
diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi.
Oleh sebab itu guru harus memberikan ruang dan
kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan
gagasan dalam upaya penecahan persoalan.
c. Kegiatan akhir
1. Tahap Akomodasi
Tahap akomodasi adalah tahapan
pembentukan pengetahuan baru melalui proses
penyimpulan. Pada tahap ini siswa dituntut untuk
dapat menemukan kata-kata kunci sesuai dengan
topik atau tema pembelajaran. Pada tahap ini melalui
dialog guru membimbing agar siswa dapat
menyimpulkan apa yang mereka temukan dan
mereka pahami sekitar topik yang dipermasalahkan.
2. Tahap Treatment
Tahapan dimana guru mengadakan
perbaikan pada siswa yang belum bisa menyimpulkan
hasil kegiatan inkuiri.
3. Tahap Transfer
Tahap transfer adalah tahapan penyajian
masalah baru yang sepadan dengan masalah yang
disajikan. Tahap transfer dimaksudkan agar agar
siswa mampu menstransfer kemampuan berpikir
setiap siswa, untuk memecahkan masalah-masalah
77 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
baru. Pada tahap ini guru memberikan tugas-tugas
yang sesuai dengan topic pembahasan.
F. Upaya Pemecahan Masalah SPPKB
Pemecahan masalah bisa dilakukan dengan meningkatkan
neokorteks peserta didik.
a. Meningkatkan daya neokorteks
Neokorteks adalah bagian dari otak manusia yang
dikenal dengan otak berpikir. Neokorteks terbagi atas
dua bagian yaitu otak kiri dan kanan. Neokortek adalah
bagian otak yang menyimpan kecerdasan yang lebih
tinggi seperti, penalaran, berpikir secara intelektual,
pembuat keputusan, bahasa, perilaku yang baik, kendali
motorik sadar dan penciptaan
gagasan. Neokorteks merupakan bagian dari otak
mansuia yang memiliki manfaat luar biasa dalam
kehiduan manusia. Neokorteks yang banyak menyimpan
berbagai macam kecerdasan tidak sepenuhnya
digunakan manusia. Dan di dalam neokorteks tempat
informasi yang diterima oleh panca indra manusia,
misalnya ketika mata melihat sebuah sesuatu hal yang
aneh neokorteks akan bekerja untuk menganalisisnya.
b. Meningkatkan Kecerdasan Mutiple intelegensi
Mutiple intelegensi (MI) Dalam Frames of Mind
Mendifinisikan enam jenis intelegensi atau kerangka
pikiran yang masing-masing berbeda,dapat di telusuri
hingga bagian terpisah dari otak manusia.Sebelumnya di
78 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
kenal dengan bakat,kecakapan,kapasitas, kemampuan,
atau kekuatan manusia,tetapi tidak di sebut intelegensi
(kecerdasan).
79 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
BAB 5
STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN UPAYA
PEMECAHANNYA
A. Pengertian Dan Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian pembelajaran kooperatif
Pembelajara kooperatif atau cooperative learning
merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa
belajar dengan menggunakan sistem pengelompokkan atau
tim kecil, dimana anggotanya terdiri dari dua sampai lima
anak, dengan bertujuan untuk saling bekerjasama antar
anggota satu sama lain dalam mempelajari materi
pelajaran. Setiap siswa yang ada dalam kelompok
mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (ada
yang tinggi, sedang dan rendah).
Menurut Nurul Hayati bahwa pembelajaran kooperatif
adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi
siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi.
(Nurul Hayati, 2000: 25) Di mana siswa belajar secara
bersama dengan anggotanya. Artinya siswa memiliki
tanggung jawab, bahwa mereka belajar untuk dirinya
sendiri dan juga membantu sesama anggota kelompok
untuk belajar.
2. Karakteristik pembelajaran kooperatif
80 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi
pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat
dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada
proses kerja sama dalam kelompok, tujuan yang ingin
dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam
penegertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga
adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi
tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas
dari pembelajaran kooperatif. Dengan demikian
karakteristik pembelajaran kooperatif dijelaskan sebagai
berikut:
a. Pembelajaran secara tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara
tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan.
Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap
siswa belajar. Semua anggota tim harus saling
membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk
itulah kriteria keberhasilan pembelajaran di tentukan
oleh keberhasilan tim.
b. Didasarkan pada manajemen kooperatif
Sebagaimana pada umumnya, menejemen
mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungsi
perencanaaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan,
dan fungsi kontrol. Demikian juga dalam pembelajaran
koopertaif. Fungsi perencanaan menunjukkan bahwa
pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang
81 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif,
misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana
cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk
mencapai tujuan itu dan lain sebagainya. Fungsi
pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran
koopertif harus dilaksanakan sesuai dengan
perencanaan, melalui langkah-langkah pembelajaran
yang sudah ditentukan termasuk ketentuan-ketentuan
yang sudah disepakati bersama. Fungsi organisasi
menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah
pekerjaan bersama antar setiap anggota kelompok, oleh
sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap
anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa
dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria
keberhasilan baik melalui tes maupun non tes.
c. Kemampuan untuk bekerja sama
Keberhasilan pembelajaran koopertif ditentukan
oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu,
prinsip bekerja sama perlu ditentukan dalam proses
pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok
bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab
masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya
saling membantu. Misalnya, yang pintar perlu
membantu yang kurang pintar.
d. Keterampilan untuk bekerja sama
82 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian
dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang
tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama.
Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan
sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan
anggota lain. Siswa perlu dibantu mengatasi berbagai
hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi,
sehingga setiap siswa dapat menyampaikan ide,
mengemukakan pendapat, memberikan kontribusi
kepada keberhasilan kelompok.
B. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif yaitu model pembelajaran yang
menggunakan sistem belajar secara berkelompok yang
bertujuan siswa bisa mencapai tujuan pembelajaran yaitu
sebagai berikut:
a. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif lebih unggul dalam membantu
peserta didik dalam memahami konsep-konsep sulit dan
meningkatkan nilai peserta didik pada proses
pembelajaran. Dalam proses pembelajaran kooperatif
dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok
bawah maupun kelompok atas yang bekerja sama
menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu
83 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda
berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, dan ketidak
mampunya peserta didik dalam memahami materi.
Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa
dari berbagai latar belakang dengan saling bergantung
pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur
penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai
terhadap perbedaan individu satu sama lain.
c. Perkembangan keterampilan sosial.
Tujuan penting ketiga dalam pembelajaran kooperatif
yaitu mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja
sama dan kolaborasi. Bekerja sama dengan teman satu
kelompok dalam menyelasaikan tugas dan masalah
terkait pembelajaran. Agar peserta didik dapat melatih
ketrampilan sosialnya, ketrampilan dalam berinteraksi
dan bersosialisasi dengan sesamanya.
C. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Menurut (Hamdayama, 2016:147) terdapat empat prinsip
dasar pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut:
a. Prinsip ketergantungan positif
Untuk tercipta kelompok kerja yang efektif, setiap
anggota kelompok masing-masing perlu membagi tugas
sesuai dengan tujuan kelompoknya. Tugas tersebut tentu
saja disesuaikan dengan kemampuan setiap anggota
kelompok.Inilah hakikat ketergantungan positif, artinya
84 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
tugas kelompok tidak mungkin diselesaikan manakala
ada anggota yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya,
dan semua ini memerlukan kerja sama yang baik dari
masing-masing anggota kelompok. Anggota kelompok
yang mempunyai kemampuan lebih diharapkan mau dan
mampu membantu temannya untuk menyelesaikan
tugasnya.
b. Tanggung jawab perseorangan
Prinsip ini merupkan kosekuensi dari prinsip yang
pertama. Oleh karena itu, keberhasilan kelompok
tergantung pada setiap anggota sehingga setiap anggota
kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan
tugasnya. Setiap anggota harus memberikan yang
terbaik untuk keberhasilan kelompoknya. Untuk
mencapai hal tersebut, guru perlu memberikan penilaian
terhadap individu dan juga kelompok, penilaian individu
bisa berbeda tetapi penilaian kelompok harus sama.
c. Interaksi tatap muka
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan
yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk
bertatap muka saling memberikan informasi dan saling
membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan
pengalaman yang berharga kepada setiap anggota
kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap
perbedaan, memanfaatkan kelebihan masingmasing
anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing.
85 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
d. Partisipasi dan komunikasi
Pembelajaran kooperatif melatih siswa ntuk mampu
berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini
sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di
masyarakat kelak. Oleh sebab itu sebelum melakukan
kooperatif guru perlu membekali siswa dengan
kemampuan berkomunikasi. Misalnya, kemampuan
mendengarkan dan kemampuan berbicara, cara
menyatakan ketidak setujuan atau cara menyanggah
pendapat orang lain secara santun, tidak memojokkan,
cara menyampaikan gagasan dan ide-ide yang
dianggapnya baik serta berguna.
D. Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Pada prinsipnya, prosedur pembelajaran kooperatif terdiri
atas empat tahap yaitu sebagai berikut:
a. Penjelasan materi
Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian
pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar
dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini adalah
pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran
b. Belajar dalam kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang
pokok-pokok materi pelajaran. Selanjutnya siswa
diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing
yang telah dibentuk sebelumnya.
86 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
c. Penilaian
Penilaian dalam model pembelajaran kooperatif bisa
dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan
baik secara individual maupun kelompok. Tes individual
nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap
siswa, dan tes kelompok akan memberikan informasi
kemampuan setiap kelompok. Hasil akhir setiap siswa
adalah penggabungan keduanya dan di bagi dua. Nilai
setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya
yang merupakan hasil kerjasama setiap anggota
kelompok.
d. Pengakuan kelompok
Pengakuan kelompok adalah penetapan kelompok mana
yang dianggap paling menonjol atau kelompok mana
yang paling berprestasi,yang layak diberikan hadiah
atau reward. Pengakuan dan pemberian penghargaan
tersebut diharapkan dapat memotivasi kelompok untuk
terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi
kelompok lain untuk lebih mampu meningkatkan
prestasi mereka.
E Kelebihan Dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
1. Kelebihan pembelajaran kooperatif
a. Melalui pembelajaran kooperatif siswa tidak terlalu
menggantungkan pada guru, akan tetapi
dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir
87 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
sendiri, menemukan informasi dari berbagai
sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
b. Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan
kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan
kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan
ide-ide orang lain.
c. Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan
menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima
segala perbedaan.
d. Dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk
lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e. Melalui pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan
kemampuan siswa untuk menguji ide dan
pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa
dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut
membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat
adalah tanggung jawab kelompoknya
f. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat
meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan
untuk berpikir.
2. Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif terdapat beberapa
kekurangan yaitu sebagai berikut:
a. Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas
yang diberikan oleh pemimpin kelompok atau tidak ikut
88 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
aktif dalam menyelesaikan tugas kelompok. Cara
mengatasi hal ini dengan membagi tugas kelompok yang
jumlahnya menyesuaikan dengan jumlah anggota
kelompok, sehingga setiap anggota kelompok bisa diberi
tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang
hasilnya akan dipertanggung jawabkan kepada kelompok.
b. Model pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang
cukup panjang, sementara waktu yang tersedia untuk
setiap matapelajaran adalah terbatas.
Cara mengatasinya dengan menerapkan metode ini pada
materi-materi yang tidak terlalu luas cakupannya.
c. Pengetahuan guru tentang pengelompokan itu kadang-
kadang masih belum mencukupi. Cara mengatasinya
guru haruslah berusaha memperoleh pengetahuan yang
luas dalam hal cara menyusun kelompok, baik melalui
buku atau dengan bertanya kepada mereka yang telah
berpengalaman.
F. Dasar Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran
Kooperatif
Pembelajaan kooperatif dikembangkan berdasarkan teori
perkembangan kognitif Vygotsky. Dalam teorinya, Vygotsky
percaya bahwa anak aktif dalam menyusun pengetahuan
mereka. Menurut Santrock, ada tiga klaim dalam inti
pandangan Vigotsky, yaitu (1) keahlian kognitif anak dapat
dipahami apabila dianalisa dan diinterpretasikan secara
developmental; (2) kemampuan kognitif dimediasi dengan
89 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
kata, bahasa dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai
alat psikologis untuk membantu dan mentransformasikan
aktivitas mental; dan (3) kemampuan kognitif berasal dari
relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
Implementasi teori Vygotsky untuk pendidikan anak
mendorong pelaksanaan pengajaran yang menggunakan
strategi pembelajaran kolaboratif atau pembelajaran
kooperatif.
Sistem pembelajaran dipandu oleh kode genetik dan
dipengaruhi oleh input lingkungan dalam membentuk pola
respons. Aspek genetik merupakan aspek bawaan dan bersifat
permanen sedangkan input lingkungan yang paling kuat
adalah pola pengasuhan dalam hal ini orang tua dan guru.
Struktur dalam pembelajaran kooperatif, memberikan
peluang yang sangat tinggi dalam mengembangkan lima
sistem pembelajaran primer anak, yaitu emosional, sosial,
kognitif, fisik dan reflektif.
Menurut Given : untuk meningkatkan efektivitas belajar,
guru perlu menciptakan iklim kelas yang kondusif bagi
keamanan emosional dan hubungan pribadi untuk siswa.
Guru yang memupuk sistem emosional berfungsi sebagai
mentor bagi siswa dengan menunjukkan antusiasme yang
tulus terhadap anak didik, dengan menemukan hasrat untuk
belajar, dengan membimbing mereka mewujudkan target
pribadi yang masuk akal, dan mendukung mereka dalam
90 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
upaya menjadi apapun yang bisa mereka capai. Jika
pembelajaran memenuhi kriteria ini, maka kecemasan
akademis diperkecil dan sistem emosional siswa siap untuk
belajar
Kecenderungan alamiah sistem pembelajaran sosial
adalah hasrat untuk menjadi bagian dari kelompok, dihormati
dan menikmati perhatian dari yang lain. jika sistem
emosioanl bersifat pribadi, berpusat pada diri dan internal,
maka sistem sosial berfokus pada interaksi dengan orang lain
atau pengalaman interpersonal. Kebutuhan sosial siswa
menuntut sekolah dikelola menjadi komunitas pelajar, tempat
guru dan siswa bisa bekerja sama dalam pengambilan
keputusan dan pemecahan masalah yang nyata. Dengan
berfokus pada kelebihan siswa dalam konteks kelas, kita
menerima perbedaan sebagai berkah individual untuk
dihormati, dan bukan sebagai perbedaan yang harus
diperbaiki. Cara ini dapat memaksimalkan perkembangan
sosial melalui kerja sama tulus anta-individu, perbedaan di
antara mereka justru menciptakan petualangan kreatif dalam
pemecahan masalah.
Menurut Given, sistem pembelajaran kognitif otak
berhubungan dengan mendengarkan, berbicara, membaca,
menulis, dan perkembangan kecakapan akademis lainny.
Sistem kognitif mengandalkan input sensoris, dan
berfungsinya perhatian, pemrosesan informasi, dan beberapa
91 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
subsistem memori secara memadai untuk mengontsruksi
pengetahuan dan kecakapan. Perhatian pada sistem kognitif
menempatkan guru pada peran fasilitator pembelajaran dan
siswa pada peran pemecah masalah dan pengambil keputusan
nyata. Sistem kognitif berfungsi paling baik jika sistem lain
yakni emosional, sosial, fisik dan reflektif tidak bersaing
dalam menarik perhatian. Jika sistem emosional dan sosial
tertekan, sistem kognitif kehilangan kemampuan untuk
memusatkan perhatian pada upaya mengatasi masalah dan
membuat keputusan akademis. Dengan demikian,
memperoleh kecakapan dan pengetahuan menjadi prioritas
kedua dan ketiga dalam sistem operasi majemuk pikiran.
Pembelajaran juga sangat tergantung pada kebutuhan
sistem pembelajaran fisik untuk melakukan banyak hal, serta
kecenderungan siswa untuk terlibat dalam pembelajaran.
Meskipun sebagian siswa menghindari pembelajaran tactual
dan kinestetik, namun siswa lain bisa menikmati
pembelajaran hanya jika modalitas ini dilibatkan. Sistem
pembelajaran fisik menyukai tugas akademik yang
menantang yang mirip olah raga, dan perlu terlibat aktif
karena sistem ini tidak bisa memproses informasi secara pasif.
Sedangkan sistem pembelajaran reflektif melibatkan
pertimbangan pribadi terhadap pembelajarannya sendiri.
Sistem ini menuntut siswa untuk memahami diri sendiri, dan
ini bisa dikembangkan dengan pelbagai cara pembelajaran.
92 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Sebagai contoh, menyimpan catatan prestasi dan interpretasi
kemajuan siswa bisa menjadi petunjuk tentang sistem dan
subsistem pembelajaran yang paling efektif untuk anak
tertentu. untuk mengoptimalkan perkembangan sistem
pembelajaran reflektif, otak perlu mendapatkan instruksi
eksplisit dalam pemantauan diri dan analisis kinerja.
Disinilah peran guru dalam bertindak sebagai pencari bakat
yang mengenali kelebihan siswa, kemudian membimbing dan
memupuk kelebihan itu menjadi bakat nyata.
Aspek penting lain yang dapat mempengaruhi efektivitas
sistem kognitif di kelas adalah guru. Guru harus
menunjukkan minat dan memahami dengan baik kandungan
materi yang diajarkan. Jika siswa merasa bahwa guru
antusias terhadap materinya, antusiasme itu menular karena
dapat mendorong hasrat kuat untuk belajar dan meraih
prestasi akademis. Guru pun harus menunjukkan penerimaan
dan penghargaan terhadap siswa berdasarkan kelebihan dan
gaya belajar yang disukai masing-masing.
Pembelajaran kooperatif dirancang untuk dapat
mengakomodasi kelima sistem pembelajaran yang terdapat
dalam kompleks korteks otak. Dengan rancangan
pembelajaran berkelompok dalam kelas, siswa mendapat
peluang mengembangkan kemampuan dan potensi diri
melalui aktivitas individual dan kolaboratif yang proporsional.
Menurut Slavin, pembelajaran kooperatif merupakan strategi
93 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a