The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul Strategi Pembelajaran Matematika Tahun 2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by iravahlia56, 2022-03-12 21:06:45

Modul Strategi Pembelajaran Matematika Tahun 2021

Modul Strategi Pembelajaran Matematika Tahun 2021

yang efektif untuk meningkatkan prestasi terutama jika
disediakan penghargaan tim atau kelompok dan tanggung
jawab individual.

Penghargaan atau pengakuan diberikan kepada kelompok
sehingga anggota kelompok dapat memahami bahwa
membantu orang lain adalah demi kepentingan mereka juga.
Sedangkan tanggung jawab individual merupakan bentuk
akuntabilitas individu di mana setiap orang memiliki
kontribusi yang penting bagi tim atau kelompok. Metode
pembelajaran kooperatif telah sering digunakan oleh para
guru di sekolah selama bertahun-tahun dalam bentuk
kelompok laboratorium, kelompok tugas, kelompok diskusi
dan sebagainya. Namun, penelitian terakhir di Amerika dan
beberapa negara lain telah menciptakan metode-metode
pembelajaran kooperatif yang sistematis dan praktis yang
ditujukan unutk digunakan sebagai elemen utama dalam pola
pengaturan di kelas.

G. Langkah-Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran
Kooperatif
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam
pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut:

Fase-1, Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru
menyampaikan semua tujuan yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.

94 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

Fase-2, Menyajikan informasi Guru menyampaikan informasi
kepada siswa dengan jalan lewat demonstrasi atau bahan
bacaan.

Fase-3, Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok
kooperatif Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara
membentuk kelompok belajar dan membenntuk setiap
kelompok agar melakukan transisi secara efesien.

Fase-4, Guru membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru
membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan
tugas.

Fase-5, EvaluasiGuru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari atau meminta setiap kelompok
untuk mempresentasikan hasil kerja mereka.

Fase-6, Memberikan Penghargaan Guru mencari cara-cara
untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu
dan kelompok.

Adapun dalam mengemukakan secara lebih rinci tentang
langkah-langkah model pembelajaran kooperatif sebagai
berikut :

a. Pada awal pembelajaran, guru mendorong peserta didik untuk
menemukann dan mengekpresikan ketertarikan mereka
terhadap subjek yang akan dipelajari.

b. Guru mengatur peserta didik kedalam kelompok heterogen
yang terdiri 4-5 peserta didik.

95 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

c. Guru membiarkan peserta didik memilih topik untuk kelompok
mereka.

d. Tiap kelompok membagi topiknya untuk membuat pembagian
tugas di antara anggota kelompok. Anggota kelompok didorong
untuk saling membagi referensi dan bahan pelajaran.

e. Setelah para peserta didik membagi topic kelompok mereka
menjadi kelompok-kelompok kecil, mereka akan bekerja secara
individual. Mereka akan bertanggung jawab terhadap topic
kecil masing-masing karena keberhasilan kelompok bergantung
pada mereka. Persiapan topik kecil dapat dilakukan dengan
mengumpulkan referensi-referensi yang terkait.

f. Para peserta didik didorong untuk memadukan semua topik
kecil dalam presentasi kelompok .

g. Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya pada topik
kelompok. Semua anggota kelompok bertanggung jawab
terhadap presentasi kelompok.

h. Evaluasi, evaluasi dilakukan pada tiga tingkatan, yaitu pada
saat prsentasi kelompok dievaluasi oleh kelas, kontribusi
individual terhadap kelompok dievaluasi oleh teman satu
kelompok, presentasi kelompok dievaluasi oleh semua peserta
didik.

96 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

H. Upaya Memecahkan Kasus Pembelajaran Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif dapat terjadi beberapa
kasus. Untuk itu dilakukan uapaya-upaya pemecahan
permasalahan antara lain sebagai berikut:
1. Perlu adanya kerja sama tim.
2. Memilki kemampuan untuk mengusai dan mempelajari
materi yang diberikan.
3. Harus mampu memahami , mendengarkan dan
menyimak dalam penyampaian materi
4. Guru harus mampu menjadi fasilitator untuk memahami
karakter semua siswa agar dapat memberikan nilai yang
objektif terhadap masing-masing siswa.

97 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

BAB 6
KASUS STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL)
DAN UPAYA PEMECAHANNYA

A. Pengertian dan Karakteristik Strategi Kontekstual (CTL)
Kata contextual berasal dari kata context yang berarti

“ hubungan, konteks, suasana, atau keadaan”. Dengan
demikian contextual diartikan “ yang berhubungan dengan
suasana (konteks)”, sehingga CTL dapat diartikan sebagai
suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana
tertentu.

Pembelajaran Kontekstual melibatkan para siswa dalam
aktivitas penting yang membantu mereka mengaitkan
pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang
mereka hadapi. Beberapa pendapat tentang pembelajaran
kontekstual adalah sebagai berikut :
a) Wina Sanjaya (2008: 120) menyatakan bahwa Contextual

Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan
pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi
kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan mereka
b) Rusman (2009: 240) mengatakan pendekatan Kontekstual
adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran
dengan kehidupan nyata. Untuk mengaitkannya bisa

98 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

dilakukan berbagai cara, selain karena memang materi
yang dipelajari secara langsung terkait dengan kondisi
faktual, juga bisa disiasati dengan pemberian ilustrasi atau
contoh, sumber belajar, media, dan lain sebagainya yang
memang baik secara langsung maupun tidak diupayakan
terkait atau ada hubungan dengan pengalaman hidup nyata.
Dengan demikian, pembelajaran selain akan lebih menarik,
juga akan dirasakan sangat dibutuhkan oleh setiap siswa
karena apa yang dipelajari dirasakan langsung manfaatnya
c) Elaine B. Johnson (2007: 65) memaparkan bahwa CTL
(Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah sistem
yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang
saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama
lain, maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil
yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah
d) Menurut Jonhson CTL adalah sebuah proses pendidikan
yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa
melihat makna didalam materi akademik yang mereka
pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek
akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian
mereka.
e) Menurut Akhmad Sudrajat Contextual Teaching and
Learning (CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang
holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami
makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan
mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan

99 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural)
sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang
secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu
permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran kontekstual merupakan suatu model
pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa
untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar
yang lebih bersifat konkret (terkait dengan kehidupan nyata)
melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba,
melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian,
pembelajaran tidak sekadar dilihat dari sisi produk, tetapi yang
terpenting adalah proses.

Dalam pembelajaran kontekstual siswa tidak hanya
menjadi peserta pasif yang hanya menerima materi dari
seorang guru tetapi lebih dari itu interaksi yang terjadi antara
guru dan siswa sangat membantu terhadap siswa dalam
menyerap pelajaran dan menerapkannya lebih mudah dalam
kegiatan nyata sehari-hari. Tentu hal ini lebih banyak
memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan,
mencoba dan mengalami sendiri, tidak hanya sekedar
mendapat ceramah dari guru dan kondisi siswa pada waktu
dikelas menjadi pasif.

Menurut Johnson dalam Nurhadi (2003 : 13), ada 8
komponen yang menjadi karakteristik dalam pembelajaran
kontekstual, yaitu sebagai berikut :

100 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

1. Melakukan hubungan yang bermakna (Making
Meaningfull Connection).
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah
jantung dari pembelajaran kontekstual. Ketika siswa dapat
mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik tertentu
dengan pengalaman mereka sendiri, mereka menemukan
makna dan makna memberikan alasan untuk belajar.
Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang
membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan
inilah inti dari CTL.

2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing
significant work).
Siswa membuat hubungan-hubungan antar sekolah
dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata
sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.
Jadi pembelajaran harus memiliki arti bagi siswa.

3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning).
Pembelajaran yang diatur sendiri merupakan

pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan
yang menghubungkan masalah dengan kehidupan sehari-
hari dengan cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran
yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada
siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4. Bekerja sama (collaborating).

Siswa dapat bekerja sama. Guru dan siswa bekerja
secara efektif dalam kelompok, guru membantu siswa

101 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan
saling berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking).

Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang
lebih tinggi secara kritis dan kreatif. Berpikir kritis adalah
suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan
sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik
keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan
pencairan ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan
mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman
pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the
individual).

Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya
mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan
keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian seperti
integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin,
motif berprestasi, dan sebagainya. Guru dalam
pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor
dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan
siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan
kemampuannya.
7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standar).

Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa
berkembang secara optimal, mencapai keunggulan
(excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan tersebut,

102 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

asalkan dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi
dan kekuatannya.
8. Menggunakan penilaian autentik (using authentic
assessment).

Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam
konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna.
Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademis
yang telah mereka pelajari untuk dipublikasikan dalam
kehidupan nyata. Penilaian autentik memberi kesempatan
kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik
mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka
pelajari.

B. Kelebihan Dan Kekuranganya
Adapun beberapa keunggulan dari pembelajaran

Kontekstual adalah:
a. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya

siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara
pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat
mengorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan
berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang
dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa,
sehingga tidak akan mudah dilupakan.

103 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

b. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan

penguatan konsep kepada siswa karena metode

pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme,

dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan

pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis

konstruktivisme siswa diharapkan belajar

melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.

c. Kontekstual adalah model pembelajaran yang

menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik

maupun mental

d. Kelas dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai

tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai

tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di

lapangan

e. Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa,

bukan hasil pemberian dari guru.

f. Penerapan pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan

suasana pembelajaran yang bermakna.

Sedangkan kelemahan dari pembelajaran Kontekstual
adalah sebagai berikut:
g. Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses

pembelajaran Kontekstual berlangsung.
h. Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat

menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif

104 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

i. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam
metode CTL, guru tidak lagi berperan sebagai pusat
informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan
pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa.
Siswa dipandang sebagai individu yang sedang
berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan
dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan
pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran
guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang
memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing
siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap
perkembangannya.

j. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan
mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar
menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk
belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru
memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra
terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan
apa yang diterapkan semula.

k. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan
berbeda-beda dan tidak merata.

C. Dasar Pertimbangan Pemilihan Strategi.
Tiga hal yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan

strategi yaitu: Pertama,CTL menekankan kepada proses

105 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses
belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar
siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari
dan menemukan sendiri materi pelajaran.

Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan
hubunganya antara materi yang di pelajari dengan situasi
kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat
menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah
dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan
dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan
bermakna secara fungsional, akan tetapi materi yang
dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa,
sehingga tidak akan mudah dilupkan.

Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya
mengharapkan siswa dapat memahami materi yang di
pelajarinya, kn tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat
mewarnai prilakunya dalam khidupan sehari-hari. Materi
pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk di tumpuk di otak
dan kemudian dilupakan, akan tetapi sebagai bekal mereka
dalam mengurangi kehidupan nyata.

106 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

D. Langkah-langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran
Contextual Teaching Learning
Sebelum masuk ke langkah – langkah pembelajaran
sang guru harus mengetahui prinsip – prinsip dari strategi CTL
sebagai berikut:
1. Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir
(filosofis) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,
yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan
tidak seakan-akan. Pengetahuan bukanlah seperangkat
fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil dan
diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu
dan memberi makna melalui pengamatan nyata, karena
pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman
nyata.
2. Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan
berbasis CTL. Metode inquiry merupakan metode yang
mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk
melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat
apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri,
serta menghubungkan penemuan yang satu dengan
penemuan yang lain, membandingkan apa yang
ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain.

107 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

3. Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan strategi utama dalam

pembelajaran berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya
berguna untuk menggali informasi, menggali pemahaman
siswa, membangkitkan respon kepada siswa, mengetahui
sejauh mana keingintahuan siswa, mengetahui hal-hal
yang sudah diketahui siswa, memfokuskan perhatian pada
sesuatu yang dikehendaki guru, serta membangkitkan lebih
banyak lagi pertanyaan dari siswa untuk menyegarkan
kembali pengetahuannya.
4. Masyarakat belajar (learning community)

Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil
pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.
Guru dalam pembelajaran kontekstual (CTL) selalu
melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok
yang anggotanya heterogen. Siswa yang pandai mengajari
yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu ke yang belum
tahu, dan seterusnya. Sehingga kelompok siswa bisa sangat
bervariasi bentuknya, keanggotaannya, jumlah bahkan bisa
melibatkan siswa di kelas atasnya atau guru melakukan
kolaborasi dengan mendatangkan ahli ke kelas.
5. Pemodelan (modeling)

Proses pembelajaran keterampilan atau pengetahuan
tertentu perlu ada model yang bisa ditiru. Tugas guru
memberi model tentang bagaimana cara bekerja. Guru
bukan satu-satunya model dalam pembelajaran CTL

108 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

karena model dapat juga didatangkan dari luar untuk
dihadirkan di dalam kelas. Pemodelan disini adalah bahwa
sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru oleh
para peserta didik.
6. Refleksi (reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru
dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah
kita lakukan dimasa yang lalu. Siswa mendapatkan apa
yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang
baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari
pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon
terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru
diterima (Depdiknas, 2003).

Refleksi dilakukan ketika pembelajaran berakhir,
siswa merenung tentang kesalahannya dalam belajar lalu
dia memperbaiki kesalahan tersebut dengan pengetahuan
yang baru dia ketahui.
7. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)

Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data
yang dapat memberikan perkembangan belajar siswa.
Gambaran perkembangan belajar perlu diketahui oleh guru
agar bisa mengetahui bahwa siswa mengalami proses
pembelajaran dengan benar. Gambaran proses dan
kemajuan belajar siswa perlu diketahui sepanjang proses
pembelajaran. Karena itu penilaian tidak hanya dilakukan
pada akhir periode sekolah, tetapi dilakukan bersama

109 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan
pembelajaran. Focus penilaian adalah pada penyelesaian
tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian
dilakukan terhadap proses maupun hasil.

Langkah langkah yang harus dilakukan oleh seorang guru
dalam melaksanakan strategi pembelajaran kontekstual
adalah :

a. Pendahuluan.
1. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai
serta manfaat dari proses pembelajaran dan
pentingnya materi pelajaran yang akan di pelajari.
2. Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL :
 Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai
dengan jumlah siswa.
 Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan
observasi misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan
observasi ke pasar tradisional, dan kelompok 3
dan 4 melakukan observasi ke pasar swalayan.
 Melalui observasi siswa di tugaskan untuk
mencatat berbagai hal yang ditemukan di pasar –
pasar tersebut
3. Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang
harus dikerjakan oleh setiap siswa.

b. Inti
Di lapangan

110 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

1. Siswa melakukan observasi ke pasar sesuai dengan
pembagian tugas kelompok.

2. Siswa mencatat hal – hal yang mereka temukan di
pasar sesuai dengan alat observasi yang telah
mereka temukan sebelumnya.

Di dalam kelas
1. Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai

dengan kelompoknya masing masing.
2. Siswa melaporkan hasil diskusi.
3. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang

diajukan oleh kelompok yang lain.
Penutup.
1. Dengan banrtuan guru siswa menyimpulkan hasil

observasi sekitar masalah pasar sesuai dengan
indicator hasil belajar yang harus dicapai.
2. Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan
tentang pengalaman belajar mereka dengan tema
“pasar”

E. Upaya Pemecahanya
Dalam menggunakan pendekatan pengajaran konekstual

seorang guru perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut ;
1. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran
perkembangan mental siswa (developmentally
appropriate)

111 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

2. Membentuk group belajar yang saling ketergantungan

(interdependent learning group)

3. Menyediakan lingkungan yang mendukung

pembelajaran mandiri (self regulated learning) yang

mempunyai karakteristik : kesadaran berfikir,

penggunaan strategi, dan motivasi berkelanjutan.

4. Mempertimbangkan keragaman siswa (disversity of

student)

5. Memperhatikan multi-intelegensi siswa (mltiple

intelligences), spasial-verbal, linguistic-verbal,

interpersonal, musikal ritmik, naturalis, badan-

kinestetika, intrapersonal, dan logismatematis. (Gardner,

1993)

6. Menggunakan teknik-teknik bertanya yang

meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan

pemecahan masalah dan keterampilan berfikir tingkat

tinggi.

7. Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment).

Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama. Kelas

dikatakan menerapkan CTL jika menerapkan ke tujuh

komponen tersebut dalam pembelajarannya. Secara garis besar

langkah-langkah penerapatan CTL dalam kelas sebagai berikut.

1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih

bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan

sendiri dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan

keterampilan barunya

112 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk
semua topik

3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok)
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai

cara

113 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

BAB 7
STRATEGI PEMBELAJARAN INDUKTIF DAN
PEMBELAJARAN DEDUKTIF SERTA IMPLEMENTASINYA

A. Pengertian dan Karakteristik

1. Pembelajaran Induktif

Menurut Hilda Taba, proses pembelajaran

merupakan aktivitas yangkompleks. Proses

pembelajaran mencakup banyak variabel, yaitu

variabeltujuan, guru, siswa, proses belajar, dan susunan

pembelajaran. Untukmengembangkan strategi

pembelajaran, variabel-variabel penting tersebutdi atas,

perlu dipertimbangkan. Oleh karena itu, Strategi

pembelajaran menurut Hilda Taba adalah pola dan

urutan tingkah laku guru untukmenampung semua

variabel-variabel pembelajaran secara sadar

dansistematis, (Suprihadi, 1993: 93).Strategi

pembelajaran merupakan bagian dari keseluruhan

komponen pembelajaran. Strategi pembelajaran

berhubungan dengan cara-cara yangdipilih guru untuk

pencapaian tujuan pembelajaran. Cara-cara itu,

mencakup sifat, ruang lingkup dan urutan kegiatan yang

berwujud pengalamanbelajar bagi siswa.

Strategi pembelajaran induktif adalah sebuah

pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif

untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan

114 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis.
Pada pembelajaran induktif guru langsung memberikan
presentasi informasi-informasi yang akan memberikan
ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari
siswa, selanjutnya guru membimbing siswa untuk
menemukan pola-pola tertentu dari ilustrasi-ilustrasi
yang diberikan tadi.

Strategi pembelajaran induktif dirancang

berlandaskan teori konstruktivisme dalam belajar.

pembelajaran ini membutuhkan guru yang terampil

dalam bertanya (questioning) dalam penerapannya.

Melalui pertanyaan-pertanyaan inilah guru akan

membimbing siswa membangun pemahaman terhadap

materi pelajaran dengan cara berpikir dan membangun

ide. Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif ini,

jadinya-sangat tergantung pada keterampilan guru

dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran,

dimana guru harus menjadi pembimbing yang akan

membuat siswa berpikir.

Pada pendekatan induktif dimulai

denganmemberikan bermacam-macam contoh. Dari

contoh-contoh tersebut siswa mengerti keteraturandan

kemudian mengambil keputusan yang bersifat

umum.Pendekatan induktif adalah suatu strategi yang

direncanakan untuk membantu sisiwamengembangkan

115 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

kemampuan berpikir tingkat tinggi dan kreatif melalui

observasi,membandingkan, penemuan pola, dan

menggeneralisasikannya. Guru biasanya

menciptakansuasana aktif belajar dengan mendorong

siswa mengadakan pengamatan dan

memfokuskan pengamatan melalui pertanyaan-

pertanyaan. Pada pendekatan induktif ini seorang siswa

haruslebih aktif. Biasanya pembelajaran dilakukan

dengan cara eksperimen, diskusi, dan demonstrasi.

Struktur sosial dalam pembelajaran menjadi ciri

lingkungan kelas yang sangat dibutuhkan untuk belajar

melalui strategi pembelajaran induktif. pembelajaran

induktif mensyaratkan sebuah lingkungan belajar yang

mana di dalamnya siswa merasa bebas dan terlepas dari

resiko takut dan malu saat memberikan pendapat,

bertanya, membuat konklusi dan jawaban. Mereka harus

bebas dari kritik tajam yang dapat menjatuhkan

semangat belajar. strategi ini dikembangkan atas dasar

beberapa postulat sebagai berikut:

 Kemampuan berpikir dapat diajarkan.
 Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara

individu dengan data.Artinya, dalam seting kelas, bahan-
bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk
mengembangkan operasi kognitif tertentu.
 Proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang
beraturan (lawful). Artinya, agar dapat menguasai

116 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus
dikuasai terlebih dahulu, dan urutan tahapan ini tidak
bisa dibalik. Oleh karenanya, konsep tahapan beraturan
ini memerlukan strategi pembelajaran tertentu agar
dapat mengendalikan tahapan-tahapan tersebut.
Jenis pendekatan induktif :
c. Membentuk satu generalisasi daripada contoh-contoh
tertentu. Misalnya mencari cirri-ciri yang sama dari
berbagai jenis pasar.
d. Membentuk satu prinsip dari uji kajian tertentu.
e. Membentuk satu hukum dari pernyataan-pernyataan
tertentu. Misalnya mendapat hukum permintaan dan
penawaran dari analisis pasar dan pedagang.
f. Mendapat satu teori dari urutan suatu pemikiran.
Ciri-ciri dari strategi pembelajaran induktif adalah :
1. Penekanan pada keterampilan berpikir dan tujuan-

tujuan afektif
2. Berstruktur rendah
3. Penggunaan waktu yang kurang efisien
4. Memberi kesempatan yang banyak untuk belajar

sewaktu-waktu

2. Pembelajaran Deduktif
Pembelajaran deduktif merupakan imbangan yang

sangat dekat bagi model pembelajaran induktif.
Keduanya dirancang untuk mengajarkan konsep dan

117 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

generalisasi, mengandalkan contoh dan bergantung pada
keterlibatan guru secara aktif dalam membimbing siswa.
Perbedaan terletak pada urutan kejadian selama
pembelajaran, keterampilan berpikir, cara memotivasi
dan waktu yang diperlukan serta biasanya pada
pembelajaran pendekatan deduktif seorang guru harus
lebih aktif daripada siswanya. Pembelajaran dilakukan
dengan metode ceramah, tanya jawab dan simulasi.

Dalam strategi pembelajaran deduktif pesan
diolah mulai dari hal yang umum kepada hal yang
khusus, dari hal abstrak kepada hal yang nyata, dari
konsep-konsep yang astrak kepada contoh-contoh yang
konkrit, dari sebuah premis menuju ke kesimpulan yang
logis.

Langkah-langkah dalam strategi deduktif meliputi tiga
tahap:

5. pengajar memilih pengetahuan untuk diajarkan.

6. pengajar memberi pengetahuan kepada peserta didik.

7. pengajar memberikan contoh-contoh dan

membuktikannya kepada peserta didik. Misalnya, bila

diambil contoh untuk pengajaran tentang kalimat

tunggal, maka pengajar memulai dengan definisi kalimat

tunggal, contoh-contoh kalimat tunggal, dan dilanjutkan

dengan penjelasan ciri-ciri kalimat tunggal. Teknik

118 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

penyajian pelajaran yang paralel dengan straegi
pembelajaran deduktif adalah teknik ceramah.

Dapat dikatakan juga strategi deduktif, pesan
atau materi pelajaran diolah mulai dari yang umum,
generalisasi atau rumusan konsep atau rumusan aturan,
dilanjutkan kepada yang khusus yaitu penjelasan
bagian-bagiannya atau atribut-atributnya (ciri-cirinya)
dengan menggunakan berbagai ilustrasi atau contoh.
Strategi belajar mengajar deduktif antara lain dapat
digunakan pada pelajaran mengenai konsep “terdefinisi”.
Pembelajaran deduktif terdiri dari empat tahap:
5. guru mulai dengan kaidah-kaidah konsep (conceot rule)
atau pernyataan yang mana dalam pembelajaran
diupayakan untuk pembuktiannya,
6. guru memberikan contoh-contoh yang menunjukkan
pembuktian dari konsep,
7. guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk
mendapatkan atribut/ciri dan bukan esensi dari konsep-
konsep,
8. siswa memberikan beberapa kategori dari contoh yang
diberikan oleh guru

Ciri-ciri pembelajaran deduktif adalah sebagai berikut :
4. Berorientasi pada siswa
5. Berstruktur tinggi
6. Penggunaan waktu yang lebih efisien.

119 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

7. Kurang memberi kesempatan untuk belajar sewaktu-
waktu

Sintak pembelajaran deduktif adalah :
d. Menyatakan abstraksi
e. Memberi ilustrasi
f. Aplikasi
g. Penutup

B. Kelebihan dan Kekurangan
1. Kelebihan dan kekurangan Pembelajaran Induktif
d. Kelebihan yang menonjol dan mudah dipahami
diantaranya :
 Pada model pembelajaran induktif guru langsung
memberikan presentasi informasi-informasi yang
akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik
yang akan dipelajari siswa, sehingga siswa
mempunyai parameter dalam pencapaian tujuan
pembelajaran.
 Ketika siswa telah mempunyai gambaran umum
tentang materi pembelajaran, guru membimbing
siswa untuk menemukan pola-pola tertentu dari
ilustrasi-ilustrasi yang diberikan tersebut
sehingga pemerataan pemahaman siswa lebih luas

120 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

dengan adanya pertanyaan-pertanyaan antara
siswa dengan guru.
 Model pembelajaran induktif menjadi sangat
efektif untuk memicu keterlibatan yang lebih
mendalam dalam hal proses belajar karena proses
Tanya jawab tersebut.

e. Kelemahan Model Pembelajaran Induktif

 Model ini membutuhkan guru yang terampil
dalam bertanya (questioning) sehingga kesuksesan
pembelajaran hamper sepenuhnya ditentukan
kemampuan guru dalam memberikan ilustrasi-
ilustrasi.

 Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif
ini, jadinya-sangat tergantung pada keterampilan
guru dalam bertanya dan mengarahkan
pembelajaran, dimana guru harus menjadi
pembimbing yang akan untuk membuat siswa
berpikir.

 Model pembelajaran ini sangat tergantung pada
lingkungan eksternal, guru harus bisa
menciptakan kondisi dan situasi belajar yang
kondusif agar siswa merasa aman dan tak
malu/takut mengeluarkan pendapatnya. Jika
syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tujuan

121 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

pembelajaran tidak akan tercapai secara

sempurna. berlangsung dengan
 Saat pembelajaran

menggunakan model pembelajaran induktif, guru

harus telah menyiapkan perangkat-perangkat

yang akan membuat siswa beraktivitas dan

mengobarkan semangat siswa untuk melakukan

observasi terhadap ilustrasi-ilustrasi yang

diberikan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang

diberikan oleh guru. Dengan metode ini maka

kemandirian siswa tidak dapat berkembang

optimal.
 Guru harus menjaga siswa agar perhatian mereka

tetap pada tugas belajar yang diberikan, sehingga

peran guru sangat vital dalam mengontrol proses

belajar siswa.

 Kesuksesan proses belajar mengajar dengan

menggunakan model pembelajaran induktif

bergantung pada contoh-contoh atau ilustrasi yang

digunakan oleh guru.
 Pembelajaran tidak dapat berjalan bila guru dan

muridnya tidak suka membaca, sehingga tidak

mempunyai pilihan dalam proses induktif.

2. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Deduktif

122 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

f. Kelebihan model Pembelajaran Deduktif
 Cara yang mudah untuk menyampaikan isi
pelajaran
 Pendekatan ini sesuai untuk digunakan dalam
proses pembelajaran, guru memberikan penerangan
sebelum memulai pembelajaran.

g. Kelemahan pembelajaran Deduktif
 Keaktifan siswa dalam mengeplorasikan kemampuan

masih terbatas
 Dalam menarik kesimpulan dari konteks umum yang

diberikan guru siswa dibatasi konteks tersebut.

C. Dasar Pertimbangan Pemilihan Strategi
Strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru

selayaknya didasari pada berbagai pertimbangan sesuai

dengan situasi, kondisi dan lingkungan yang akan

dihadapinya. Pemilihan strategi pembelajaran

umumnya bertolak dari

a) rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan,
b) analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik

yang dihasilkan, dan
c) jenis materi pelajaran yang akan dikomunikasikan.

Kriteria pemelihan strategi pembelajaran yang dapat
digunakan dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu:
 Berorientasi pada tujuan pembelajaran

123 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

 Pilih teknik pembelajaran sesuai dengan
keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki saat
bekerja nanti (dihubungkan dengan dunia kerja).

 Gunakan media pembelajaran yang sebanyak
mungkin memberikan rangsangan pada indera
peserta didik.

Atas beberapa pertimbangan mengenai pemilihan
strategi pembelajaran di atas maka alasan untuk
memilih pembelajaran induktif dan deduktif adalah
sebagai berikut :

Dengan Strategi Induktif materi atau bahan
pelajaran diolah mulai dari yang khusus (sifat, ciri atau
atribut) ke yang umum, generalisasi atau rumusan.
Strategi Induktif dapat digunakan dalam mengajarkan
konsep, baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi.
Dengan Strategi Deduktif materi atau bahan pelajaran
diolah dari mulai yang umum, generalisasi atau rumusan,
ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian. Bagian itu
dapat berupa sifat, atribut atau ciri-ciri. Strategi
Deduktif dapat digunakan dalam mengajarkan konsep,
baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi.

124 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

D. Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran
1. Pada Pembelajaran Induktif

Strategi pembelajaran ini menghendaki

penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang

kongkrit sebanyak mungkin. Semakin banyak fakta

semakin mendukung hasil simpulan. Langkah-langkah

yang harus tempuh dalam strategi pembelajaran dengan

pendekatan induktif yaitu:

h. guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan

disajikan dengan pendekatan induktif

i. guru menyajikan contoh-contoh khusus, prinsip, atau

aturan yang memungkinkan siswa memperkirakan

sifat umum yang terkandung dalam contoh,

j. guru menyajikan bukti yang berupa contoh tambahan

untuk menunjang atau mengangkat perkiraan.

k. menyimpulkan, memberi penegasan dari beberapa

contoh kemudian disimpulkan dari contoh tersebut

serta tindak lanjut.

Postulat yang diajukan Taba di atas menyatakan

bahwa keterampilan berpikir harus diajarkan dengan

menggunakan strategi khusus. Menurutnya, berpikir

induktif melibatkan tiga tahapan dan karenanya ia

mengembangkan tiga strategi cara

mengajarkannya.Taba mengidentifikasi tiga

keterampilan berpikir induktif:

125 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

a) Konsep pembentukan (belajar konsep)

Tahap ini mencakup tiga langkah utama:

item daftar (lembar, konsep), kelompok barang

yang sama secara bersama-sama, beserta label

tersebut (dengan nama konsep).

Langkah-langkah:

 Membuat daftar konsep.

 Pengelompokkan konsep berdasarkan

karakteristik yang sama.

 Pemberian label atau kategorisasi.

b) Interpretasi data
Strategi kedua ini merupakan cara

mengajarkan bagaimana menginterpretasi dan
menyimpulkan data. Sama halnya dengan strategi
pertama (pembentukan konsep), cara ini dapat
dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan tertentu.
Langkah-langkah:
 mengidentifikasi dimensi-dimensi dan hubungan-
hubungannya.
 menjelaskan dimensi-dimensi dan hubungan-
hubungannya.
 membuat kesimpulan.

c) Penerapan prinsip-prinsip

126 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

Strategi ini merupakan kelanjutan dari
strategi pertama dan kedua. Setelah siswa dapat
merumuskan suatu konsep, menginterpretasikan dan
menyimpulkan data, selanjutnya mereka diharapkan
dapat menerapkan suatu prinsip tertentu ke dalam
suatu situasi permasalahan yang berbeda.. Atau
siswa diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip
untuk menjelaskan suatu fenomena baru.

Langkah-Langkah:
3. Membuat hipotesis, memprediksi konsekuensi.
4. Menjelaskan teori yang mendukung hipotesis atau

prediksi.
5. Menguji hipotesis/prediksi

2. Pada Pembelajaran Deduktif
Dalam strategi belajar mengajar deduktif,

pesan atau materi pelajaran diolah mulai dari yang
umum, generalisasi atau rumusan konsep atau
rumusan aturan, dilanjutkan kepada yang khusus
yaitu penjelasan bagian-bagiannya atau atribut-
atributnya (ciri-cirinya) dengan menggunakan
berbagai ilustrasi atau contoh. Strategi belajar
mengajar deduktif antara lain dapat digunakan pada
pelajaran mengenai konsep “terdefinisi”.
Pembelajaran deduktif terdiri dari empat tahap:

127 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

 guru mulai dengan kaidah-kaidah konsep (conceot
rule) atau pernyataan yang mana dalam
pembelajaran diupayakan untuk pembuktiannya,

 guru memberikan contoh-contoh yang menunjukkan
pembuktian dari konsep,

 guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk
mendapatkan atribut/ciri dan bukan esensi dari
konsep-konsep,

 siswa memberikan beberapa kategori dari contoh
yang diberikan oleh guru
Contoh penggunaannya pada pembelajaran
konsep terdefinisi: Bahan pelajaran : konsep
pasar.Tujuan pembelajaran : “siswa dapat
menjelaskan ciri-ciri pasar”. Rumusan konsep:
pasar ialah tempat bekumpulnya penjual dan
pembeli, terjadi transaksi, barang dan jasa”.
Proses pembelajaran:

 Mula-mula guru menuliskan rumusan konsep
tersebut pada papan tulis .

 Siswa diminta mengidentifikasi atribut-atributnya,
yaitu: memerlukan makanan, bergerak, tumbuh,
berkembang biak, dan bernafas. Setiap atribut yang
dikemukakan siswa ditulis di papan tulis (di bawah
rumusan konsep).

 Siswa diminta menjelaskan berbagai atribut dengan
menggunakan berbagai contoh. Guru melengkapi

128 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

atau menjelaskan lebih jauh pendapat siswa. Dalam
hal ini akan lebih baik jika digunakan alat peraga.
 Siswa diminta mengidentifikasi jenis-jenis makhluk
hidup dan atribut-atributnya.
Strategi belajar mengajar deduktif digunakan bila
siswa belum memiliki pengalaman yang berkaitan
dengan konsep yang diajarkan atau waktu
mengajar relatif sedikit.

Langkah-langkah yang dapat Anda tempuh
dalam model pembelajaran dengan pendekatan
deduktif dijelaskan sebagai berikut
 guru memilih konsep, prinsip, Inisiasi aturan yang
akan disajikan,
 guru menyajikan aturan, prinsip yang berifat umum,
lengkap dengan definisi dan contoh-contohnya,
 guru menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa
dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus
dengan aturan prinsip umum yang didukung oleh
media yang cocok,
 guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang
atau menolak kesimpulan bahwa keadaan umum
itu merupakan gambaran dari keadaan khusus,

129 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

E. Upaya Pemecahan Kasus Pembelajarannya
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya,

strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi
pembelajaran deduktif dan strategi pembelajaran induktif.
Strategi pembelajaran deduktif adalah strategi
pembelajaran yang dilakukan dengan mempelajari konsep-
konsep terlebuh dahulu untuk kemudian dicari kesimpulan
dan ilustrasi-ilistrasi atau bahan pelajaran yang dipelajari
dimulai dari hal-hal yang abstrak. Kemudian secara
perlahan-perlahan menuju hal yan konkrit.strategi ini
disebut juga strategi pembelajaran dari umum kekhusus.

Sebaliiknya dengan strategi induktif, pada strategi ini
bahan yang dipelajari dimulai dari hal-hal yang konkrit
atau contoh-contoh yang kemudian secara perlahan siswa
dihadapkan pada materi yang komplek dan sukar. Strategi
ini kerap dinamakan strategi pembelajaran dari umum
kekhusus.Pembelajaran deduktif, umum-khusus, abstrak-
konkrit: guru menyampaikan aturan, prinsip baru diberi
contoh-contohnya pada siswa.

Pembelajaran deduktif, dimana proses pembelajarannya
dimulai dari definisi dan diikuti dengan contoh-contoh dan
yang bukan contohnya Pembelajaran induktif, dimulai dari
contoh lalu membahas definisinya. Selain ragam dan
macam strategi pembelajran induktif dan pembelajaran
deduktif. Pembelajaran deduktif dikembangkam oleh
Filosof Perancis Bacon yang menghendaki penarikan

130 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang konkrit
sebanyak mungkin. Semakin banyak fakta semakin
mendukung hasil simpulan.pada abad pertengahan, system
induktif ini disebut juga sebagai dogmatif, artinya langsung
mempercayai begitu saja tanpa berfikir rasional.

Deduktif, sebagai kebalikan induktif adalah prosses
penalaran yang beranjak dari umum ke yang khusus atau
dari suatu premis menujuk ke suatu konklusi logis.
Kesimpulan-kesimpulan tenyang suatu kasus tertentu
dapat dideduksi dari suatu prinsip umum yang berlaku bagi
semua kasus yang semacam. Dictionary of Education
mendefinisikan pola deduktif sebagai suatu pola dalam
mengajar yang beranjak dari aturan-aturan atau
generalisasi kecontoh-contoh dan kemudian sampai padaa
konklusu-konklusi atau penerapan dari generalisasi-
generalisasi.
F. Pemanfaatan Sumber Belajar Dalam Strategi Pembelajaran

strategi deduktif, pesan atau materi pelajaran diolah
mulai dari yang umum, generalisasi atau rumusan konsep atau
rumusan aturan, dilanjutkan kepada yang khusus yaitu
penjelasan bagian-bagiannya atau atribut-atributnya (ciri-
cirinya) dengan menggunakan berbagai ilustrasi atau contoh.
Strategi belajar mengajar deduktif antara lain dapat digunakan
pada pelajaran mengenai konsep “terdefinisi”.

131 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

Contoh penggunaannya pada pembelajaran konsep
terdefinisi: Bahan pelajaran : konsep makhluk hidup. tujuan
pembelajaran : “siswa dapat menjelaskan ciri-ciri makhluk
hidup”.
Rumusan konsep: makhluk hidup ialah makhluk yang
memerlukan makanan, bergerak, tumbuh,berkembang biak,
dan bernafas”.
Proses pembelajaran:
a) Mula-mula guru menuliskan rumusan konsep tersebut
pada papan tulis .
b) Siswa diminta mengidentifikasi atribut-atributnya, yaitu:
memerlukan makanan, bergerak, tumbuh, berkembang biak,
dan bernafas. Setiap atribut yang dikemukakan siswa ditulis di
papan tulis (di bawah rumusan konsep).
c) Siswa diminta menjelaskan berbagai atribut dengan
menggunakan berbagai contoh. Guru melengkapi atau
menjelaskan lebih jauh pendapat siswa. Dalam hal ini akan
lebih baik jika digunakan alat peraga.
d) Siswa diminta mengidentifikasi jenis-jenis makhluk hidup
dan atribut-atributnya.
Strategi belajar mengajar deduktif digunakan bila siswa belum
memiliki pengalaman yang berkaitan dengan konsep yang
diajarkan atau waktu mengajar relatif sedikit.
Srategi belajar mengajar induktif Dalam strategi belajar
mengajar induktif, pesan atau materi pelajaran diolah mulai
dari yang khusus, bagian atau atribut, menuju yang umum

132 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

yaitu generalisasi atau rumusan konsep atau aturan. Model
pembelajaran induktif dipelopori oleh Taba (Joyce & Weil;
2002:127), model yang didesain untuk meningkatkan
kemampuan berpikir.

Taba (Joyce dkk, 2002) membangun model ini dengan
pendekatan yang didasarkan atas tiga asumsi, yaitu:
a) Proses berpikir dapat dipelajari. Mengajar seperti yang
digunakan oleh Taba berarti membantu siswa mengembangkan
kemampuan berpikir induktif melalui latihan (practice).
b) Proses berpikir adalah suatu transaksi aktif antara
individu dan data. Ini berarti bahwa siswa menyampaikan
sejumlah data dari beberapa domain pelajaran. Siswa
menyusun data ke dalam sistem konseptual, menghubungkan
poin-poin data dengan data yang lain, membuat generalisasi
dari hubungan yang mereka temukan, dan membuat
kesimpulan dengan hipotesis, meramalkan dan menjelaskan
fenomena.
c) Mengembangkan proses berpikir dengan urutan yang “sah
menurut aturan”. Postulat Taba bahwa untuk menguasai
keterampilan berpikir tertentu, pertama seseorang harus
menguasai satu keterampilan tertentu sebelumnya, dan urutan
ini tidak bisa dibalik.

Contoh sederhana dari pembelajaran induktif adalah
menentukan dua atau lebih garis yang sejajar (guru

133 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

menggunakan konsep tangent geometri, yang mana guru
memberikan contoh beberapa garis).
Contoh penggunaannya: Seperti halnya seperti contoh di atas
(penggunaan strategi belajar mengajar deduktif), rumuskan
dulu: bahan pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan rumusan
konsepnya.

134 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

BAB 8
STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI ERA
REVOLUSI INDUSTRI 4.0

A. Blended Learning
Blended learning menjadi salah satu solusi untuk model –
model pembelajaran virtual (virtual learning) yang telah
dikembangkan untuk menutupi kelemahan-kelemahan yang
terjadi dari model pemebelajaran tersebut (Harahap P Homa,
2008). Untuk melaksanakan proses pembelajaran blended
learning diperlukan LSM (Learning Management System)
untuk membantu staf dan siswa dalam proses pelaksanaannya
(Wijayanti Winda, Maharta Nengah dan Suana Wayan. 2017).
Sebelum digunakan LSM mempunyai bebrapa persyaratan
salah satunya adalah pendidik dan peserta didik harusnya
terkoneksi dengan internet saat proses pembelajaran dengan
berbagai fitur didalamnya seperti forum diskusi,tugas, kuis
pengelolaan data peserta didik, jenis informasi akademik,
kurikulum sumber belajar, jenis informasi akademik dan lain
sebagainya (Wijayanti Winda, Maharta Nengah dan Suana
Wayan. 2017). Berkembangnya pendidikan seiringnya waktu
menuntut pemebelajran juga ikut berkembang pada generasi
alpha, pembelajaran matematika pun seperti itu dengan
memanfaatkan internet yaitu pembelajaran blended learning.
Blended learning merupakan salah satu solusi pembelajaran
matematika bagi generasi alpha

135 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

Komponen Blended
Learning Gambar 1. Komponen Blended Learning
(Sumber:http://lpmpjogja.org/implementasiblended-learning-
dalam-pembelajaran-padapendidikan-dasar-dan-menengah)
Didalam blended learning terdapat beberapa komponen seperti
pada gambar 1 sebagai beikut: a. Independent learning atau
online learning Independent learning atau belajar mandiri
adalah peserta didik secara mandiri dapat belajar dengan
mengakses informasi atau materi pelajaran melalui internet
secara online (Istiningsih Siti dan Hasbullah,2015). b.
Pembelajaran tatap muka (face to face learning) Pembelajaran
tatap muka merupakan pembelajaran konvensional yang
sampai saat ini masih digunakan berpusat pada peserta didik,
penyampaian informasi atau pengetahuan dilakukan dalam
suatu ruang kelas (Istiningsih Siti dan Hasbullah,2015). c.
Collaboration (Kolaborasi dari online learning dan face to face
learning) Collaboration merupakan gabungan pembelajran
tatap muka dengan pembelajaraan mandiri atau biasa kita
sebut blended learning (Sihkabuden, Adi Puromo Eka dan
Husna Arafah). Blended learning merupakan model
pembelajaran yang berpusat pada siswa, pembelajran di dalam
kelas dengna metode yang lebih fleksibel untuk peserta didik
menggunakan multimedia pendekatan secara online berbasis
web terutama yang berkolaboratif yang dapat
mengimplementasikan keuntungan stategi tersebut dalam
sistem pendidikan (Sugandi Eko,2018). Ada beberapa model

136 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

pembelajaran blended learning diantaranya sebagai berikut
dalam Horn B Michael dan Staker Heater : 2011: 4-6 : a. Face to
face driver Pendidik mengajarkan informasi atau pengetahuan
sesuai kurikulum yang ada kepada peserta didik secara online
walaupun sering kali dilakukan di dalam kelas atau labotorium
teknologi. b. Rotation Terdapat perubahan model dari biasanya,
dari pembelajran tradisional berubah atau mengalami
pergeseran menjadi pembelajaran online. c. Flex Program
dengan model flex memiliki platform online yang
menginformasikan sebagian besar kurikulum yang akan
diajarkan, dimana pendidik memberikan dukungan di tempat
secara flexible dan adaptif sesuai kebutuhan peserta didik
melalui sesi bimbingan langsung dan sesi grup kecil. d. Online
Lab Online lab atau laboratorium online memiliki karakteristik
yaitu mengandalkan platform online untuk mengangkut
seluruh kursus atau pembelajaran dalam lingkungan
laboratorium bata dan mortir,terkadang partisipasi peserta
didik menggunakan pembelajaran tradisional dan memiliki
jadwal blok yang khas. e. Self-Blend Model ini hampir sama
seperti yang diimplementasikan di sekolah menengah atas
Amerika Serikat, peserta didik diberikan kebebasan untuk
memilih satu atau lebih kursus / pembelajaran untuk
melengkapi katalog sekolah tradisional mereka. f. Online
Driver Model driver online melibatkan platform online dan
guru memberikan semua kurikulum dan didalamnya
menyangkut sebagian besar tugas yang harus dikerjakan.

137 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

Tahapan Blended Learning Dan blended learning menjadi
salah satu solusi untuk model –model pembelajaran virtual
(virtual learning) yang telah dikembangkan untuk menutupi
kelemahankelemahan yang terjadi dari model pemebelajaran
tersebut. Dalam blended
learning terdapat empat level (Harahap P Homa ,2008) :
1. Tahap 1 Dukungan Lingkungan Kinerja Pembelajaran pada
tahap ini dimulai dengan membangun sistem bantuan online
(online help system) yang dirujuk atas pedoman dan protokol
(internet).
2. Tahap 2 Lingkungan Pembelajaran Mandiri Pendidik pada
tahap ini merancang program dan materi bahan ajar berbasis
web atau komputer (progammed learning material) mulai dari
materi, tugas, kuis dan lain sebagainya.
3. Tahap 3 Lingkungan Belajar Virtual Pendidik memulai
pembelajaran pada tahap ini dengan membangun sistem
interaktif berbasis web (synchronous webbased)
menghubungkan kepada media pendukung whiteboard
(whiteboard devices interface) dan membangun media dan
komunikasi server (media and communication server).
4. Tahap 4 Lingkungan Tatap Muka Pembelajaran ini biasa
kita sebut sebagai pembelajran tatp muka atau konvensional
yang biasanya dilakukan antara pendidik dan peserta didik di
dalam ruang kelas. Terdapat juga kerangka segi delapan khan’s
atau Khan’s Octagonal Framework, kerangka ini
memungkinkan kita untuk memilih bahan yang tepat dalam

138 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

melaksankan proses blended learning serta berfungsi juga
sebagai panduan dalam merencanakan, mengembangkan,
menyampaikan, mengelola, mengevaluasi, mengukur strategi
keefektifan proses implementasi blended learning dalam
pembelajaran (Ramakrisna Prasama,dkk, 2012).

B. Potensi Blended Learning pada Era Generasi Alpha
Blended learning memiliki potensi dan berkemungkinan di
laksanakan pada era generasi Alpha karena sebagai berikut
(Horn B Michael and Staker Heater, 2011) :  Pedagogi
pendidik lebih konsisten dan memungkinkan peserta didik
untuk bekerja secara mandiri dan membantu peserta didik
merasakan sukses dalam pembelajaran di sekolah Dengan
memanfaatkan perkembangan IPTEK (Ilmu Penetahuan dan
Teknologi) memciptakan peserta didik yang mandiri dan
mempunyai kecepatan tersendiri, menggunakan model
pembelajaran yang disukai serta tepat waktu dalam
melaksanakan suatu pembelajaran.  Model blended learning
membutuhkan lebih sedikit guru yang telah terspesialisasi dan
ruangan yang lebih efisien Mengubah model pembelajaran
sekolah tradisional menjadi model pembelajaran dimana
mengefisiensikan tenaga pendidik dan ruang kelas. Penerapan
model pembelajaran blended learning dalam matematika
Pembelajaran matematiak berkembang seiring berkembangnya
zaman menjadi pembelajaran yang interaktif dan
menyenangkan sehingga menghilangkan paradigma

139 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

matematika selama ini yaitu matematika adalah sesuatu yang
sulit, membingungkan dan cenderung tidak disukai bahkan
dibenci oleh peserta didik (Sugandi Eko,2018).

C. Blended learning dalam pembelajaran Matematika
Melalui proses ini akan memancing keingintahuan atau rasa
ingin tahu yang lebih terhadap informasi atau materi yang
dipelajari saat proses pembelajaran berlangsung,dengan
menggunakan media komputer, laptop diharapkan dapat
menjadi sebuah kebutuhan bagi peserta didik dengan mencari
informasi atau pengetahuan dengan internet dan pembelajaran
menjadi tidak membosankan(Pohan Saribumi Sutan,2016).
Apalagi didukung dengan generasi peserta didik yang telah
mengenal dan melek teknologi yaitu generasi alpha. Tidak
hanya itu penerapannya juga akan membantu
mengakomodasikan gaya belajar masing – masing peserta didik.

D. Kelebihan dan Kelemahan Blended Learning bagi Era Generasi
Alpha
Terdapat kelebihan dan kelemahan dalam proses pelaksanaan
blended learning bagi generasi alpha (Pohan Saribumi
Sutan,2016) : Kelebihan Blended Learning
a. Peserta didik sedini mungkin sudah dikenalkan dengan
teknologi komputer menjadi generasi yang melek teknologi
seperti ciri khas dari generasi alpha

140 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

b. Permasalahan atau soal dalam materi pembelajaran yang
sulit dipecahkan menjadi dengan mudah dapat dipatahkan oleh
peserta didik dengan mencari informasi melalui internet
c. Memacu peserta didik menjadi cerdas dan aktif karena
pembelajarna dapat dilakukan dari berbagai arah.
d. Memberikan pembelajaran yang menyenangkan dengan
bantuan media yang telah disediakan
e. Keterpaduan antara peserta didik dengan media. Media
dapat dijadikan sebagai sumber belajar Kelemahan blended
learning

a. Penyelenggaraan blended learning terutama di Indonesia
masih dirasakan memerlukan dana yang besar
b. Pendapat peserta didik cenderung mengungkapkan
pendapatnya berasal dari hasil mengakses di internet
bukan berdasarkan data empirik atau pengalaman belajar
mereka
c. Pendidik sulit mengatur jam efektif karena
pembelajaran tergantung dengan jaringan internet
d. Daya tarik peserta didik terhapad kegiatan membaca
buku kurang diminati sehingga perpustakaan kurang
diperdayagunakan
e. Menambah beban kerja pendidik

141 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

BAB 9
STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
MENYENANGKAN SISWA BERBASIS METODE PERMAINAN,
TEKA-TEKI DAN CERITA MATEMATIS

A. Pengertian dan Karakteristik

Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses

interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar

pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan

bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi

proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, perubahan sikap

dan perilaku, serta pembentukan kepercayaan pada

peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah

proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar

dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat

seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan

kapanpun.

Metode permainan diartikan sebagai metode

pembelajaran matematika yang menitik beratkan pada

pemahaman anak akan konsep dasar matematika yang

benar. Metode permainan menggunakan berbagai macam

permainan seperti simbol, angka dan bilangan sehingga

menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan bagi

anak. Karena pembelajaran yang dilakukan dengan hati

yang riang gembira akan meninggalkan kesan yang

mendalam sehingga anak akan lebih mudah memahami

142 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a

pelajaran yang diberikan. Permainan matematika adalah
sesuatu kegiatan yang menyenangkan yang dapat
menunjang tujuan instruksional dalam pengajaran
matematika baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Kita perlu membatasi penggunaan permainan yang hanya
sekedar permainan yang membuat orang senang, ketawa,
dan lain- lain, tetapi tidak menunjang tujuan instruksional
dalam pengajaran matematika. Permainan matematika itu
supaya dipergunakan secara berencana, tujuan
instruksionalnya jelas, tepat penggunaannya, dan tepat pula
waktunya. Bila demikian permainan matematika itu akan
merupakan alat yang efektif untuk belajar. Karakteristik/
ciri-ciri metode permainan: 1). Peserta didik dalam kelompok
menyelesaikan materi belajar dengan bermainsesuai
kompetensi dasar yang akan dicapai, 2). Kelompok bermain
dibentuk dari peserta didik yang memiliki kemampuan yang
berbeda, 3). Penghargaan lebih menekankan pada kelompok
dari pada masing-masing individu.

Metode teka -teki adalah strategi pembelajaran untuk
meninjau ulang materi- materi yang sudah disampaikan.
Teka-teki matematika penting untuk diterapkan sebagai
sebuah metode pembelajaran dalam kelas matematika.
Permainan teka-teki dapat melatih kemampuan berpikir
dan bernalar siswa terhadap sebuah permasalahan
matematika maupun lainnya. Pemahaman konsep
matematika siswa dengan menerapkan strategi teka-teki

143 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a


Click to View FlipBook Version