silang lebih baik daripada pemahaman konsep
matematika siswa yang menerapkan pembelajaran
konvensional. Dengan demikian, strategi teka teki silang
dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa (Edriati,
Handayani, & Sari, 2017). Karakteristik/ciri- ciri metode
teka-teki : 1). Mengeksplorasi dan memecahkan masalah
untuk menciptakan,menggabungkan dan menggeneralisasi
pengetahuan, 2). Berpusat pada peserta didik, 3). Kegiatan
untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan
yang sudah ada.
Metode bercerita adalah cara penyampaian
atau penyajian materi pembelajaran secara lisan dalam
bentuk cerita dari guru kepada anak didik. Dalam
kegiatan pelaksanaannya metode bercerita dilaksanakan
dalam upaya memperkenalkan, memberikan keterangan,
atau penjelasan tentang hal-hal baru dalam rangka
menyampaikan pembelajaran yang dapat
mengembangkan berbagai kompetensi dasar, Dhieni dalam
(Tambak & Muhammad, 2016). Metode bercerita yaitu
menampilkan cerita-cerita matematis yang isnpiratif dan
menarik pada kelas pembelajaran matematik di kelas
sekolah. Hal ini penting diberikan kepada siswa, agar
mereka termotivasi belajar matematika dan tidak
melupakan sejarah ataupun keindahan-keindahan dari
hikmah mempelajari matematika itu sendiri. Ada sekian
banyak cerita-cerita matematis yang mungkin dapat
144 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
diceritakan kepada siswa sebagai stimulis proses
pembelajaran di kelas matematika. Cerita-cerita tersebut
bisa dikemas sedemikian menarik dan lucu sehingga
siswa merasa terhibur. Memberikan cerita-cerita matematis
pada siswa dapat menarik perhatian dan merangsang otak
mereka sehingga bekerja dengan baik. Karena dengan
mendengarkan cerita, siswa akan merasa senang
sekaligus menyerap nilai-nilai /hikmah inspiratif dari
cerita-cerita itu. erita tentang kisah-kisah yang
mengandung hikmah sangat efektif untuk menarik
perhatian anak dan merangsang otaknya agar bekerja
dengan baik, bahkan metode ini dianggap yang terbaik dari
cara-cara yang lain dalam mempengaruhi pola bantu anak
(Tambak & Muhammad, 2016). Karakteristik/ciri-ciri metode
cerita yaitu dalam pengajaran yang menggunakan metode
cerita, perhatian terpusat pada guru, sedangkan murid
hanya menerima secara pasif.
B. Kelebihan dan Kekurangan
1. Metode Permainan
Kelebihan metode permainan diantaranya:
1. Melatih keberanian peserta didik
2. Menarik perhatian peserta didik sehingga kelas terasa
hidup
3. Mempermudah peserta didik untuk mengambil
kesimpulan sesuai pemahaman masing-masing
145 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
4. Melatih peserta didik menyusun pikiran yang teratur
5. Dapat menimbulkan minat dan motivasi siswa
6. Siswa menjadi aktif, berpikir logis dan kritis
7. Kemampuan menemukan dan memecahkan masalah
meningkat
Kelemahan metode permainan diantaranya:
1. Tidak semua topik dapat disajikan melalui permainan.
2. Memerlukan banyak waktu
3. Penentuan kalah menang dapat berakibat negatif.
4. Mengganggu ketenangan belajar kelas lain.
2. Metode Teka-Teki
Kelebihan metode teka-teki diantaranya:
1). Membantu peserta didik mengembangkan atau
memperbanyak penguasaan ketrampilan dan proses
kognitif peserta didik
2). Membangkitkan gairah belajar bagi peserta didik
3). Memberi kesempatan pada peserta didik untuk
bergerak lebih maju sesuai dengan kemampuannya
sendiri
4). Membantu memperkuat pribadi peserta didik dengan
bertambahnyakepecayaan pada diri sendiri.
Kekurangan metode teka-teki diantaranya
1). Peserta didik harus memiliki kesiapan dan
kematangan mental
146 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
2). Peserta didik harus berani dan berkeinginan untuk
mengetahui dengan baik
3). Metode ini kurang berhasil digunakan di kelas besar
3. Metode Cerita Matematis
Kelebihan metode cerita matematis diantaranya:
1. Dapat mengaktifkan dan membangkitkan semangat anak
didik.
2. Mengarahkan semua emosi sehingga menyatu pada satu
kesimpulan.
3. Cerita selalu memikat, karena mengundang untuk
mengikuti peristiwanya dan merenungkan maknanya.
Kelemahan metode cerita matematis diantaranya:
1. Pemahaman anak didik akan menjadi sulit ketika cerita
telah terakumulasi oleh masalah lain.
2. Bersifat monolong dan dapat menjenuhkan anak didik.
3. Sering terjadi ketidakselarasan isi cerita dengan konteks
yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit
diwujudkan
C. Dasar Pertimbangan Pemilihan Strategi
Untuk memotivasi siswa menyukai matematika
dapat diterapkan strategi pembelajaran matematika
menyenangkan siswa (MMS) berbasis metode permainan,
teka-teki matematis, dan cerita-cerita matematika yang
menarik, menantang dan menghibur. Dengan demikian,
147 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
pembelajaran di kelas matematika menjadi nyaman, dan
tidak kaku. Selain itu, melalui metode-metode tersebut
dapat merangsang siswa tertarik belajar matematika dan
merangsang otak mereka untuk berpikir kreatif. Belajar
menjadi terhibur, dan persepsi siswa terhadap matematika
yang selama ini negatif karena dipandang rumit, jelimet,
terlalu serius dan membosankan menjadi persepsi positif
yakni matematika itu asyik, mudah, banyak manfaatnya,
menghibur dan menyenangkan.
Strategi ini sangat tepat digunakan dalam
pembelajaran matematika di kelas sekolah, baik sekolah
dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah
atas serta sejenisnya. Melalui penerapan strategi
matematika menyenangkan siswa, belajar matematika
menjadi menarik, asyik dan menyenangkan serta
bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
D. Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran
Langkah-langkah dalam Metode Bermain
1) Tahap Persiapan
a. Merumuskan tujuan yang hendak dicapai
b. Guru menjelaskan manfaat dari permainan yang akan
dilakukan
c. Menentukan macam kegiatan bermain
d. Menentukan ruang dan tempat bermain
148 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
e. Mempersiapkan bahan, alat atau media yang digunakan
dalam bermain
2) Tahap pelaksanaan
Dalam tahap ini ada tiga langkah yang harus dilakukan,
yaitu :
a. Tahap Pembukaan. Pada tahap ini guru memberikan
arahan kepada murid apa yang harus dilakukan dan
bagaimana melakukannya
b. Tahap Pelaksanaan. Pada tahap ini para murid
memainkan permainan yang sudah ditentukan dengan
mengikuti rambu-rambu yang telah ditentukan pula.
c. Tahap Penutupan. Pada tahap ini guru memberikan
reward kepada murid-murid yang telah melakukan
permainan dengan baik dan benar. Selain memberi reward
guru memberikan arahan kepada anak yang belum baik
dan benar dalam bermain dan menyuruh mengulangi lagi
sampai bisa melakukan dengan baik dan benar
Langkah-langkah metode teka-teki sebagai berikut:
1. Mencurahkan gagasan teka-teki yang ingin diberikan
kepada siswa
2. Susunlah teka teki tersebut sekreatif dan semenarik
mungkin, atau paling tidak terbaru yang masih belum
banyak diketahui siswa
3. Bagikan teka-teki kepada siswa baik secara individu
maupun kelompok diskusi
149 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
4. Mintalah siswa untuk menyelesaikan teka-teki tersebut
secara cepat
5. Tentukan batasan waktu. Serahkan hadiah kepada
individu atau kelompok siswa yang paling cepet dan paling
tepat menyelesaikan teka-teki tersebut.
Langkah-langkah metode cerita matematis sebagai berikut:
1. Menentukan topik cerita
2. Menyusun kerangka cerita dengan mengumpulkan bahan-
bahan
3. Mengembangkan kerangka cerita
4. Menyusun teks cerita
E. Upaya Pemecahan Kasus Pembelajaran
Dengan permainan matematika sesuatu kegiatan akan
menyenangkan yang dapat menunjang tujuan instruksional
dalam pengajaran matematika baik aspek kognitif, afektif,
maupun psikomotor. Karena pembelajaran yang dilakukan
dengan hati yang riang gembira akan meninggalkan
kesan yang mendalam sehingga anak akan lebih mudah
memahami pelajaran yang diberikan.
150 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
DAFTAR PUSTAKA
Suyanti, Retno Dwi. 2010. Strategi Pembelajaran Kimia. Graha
Ilmu: Yogyakarta.
Gulo, W. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Gramedia
Widiasarana
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi
Standar Proses Pendidikan. Jakarta:Kencana
Prenadamedia Group.
Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem
Pembelajaran. Jakarta:Prenadamedia Group.
Dwiyan Geby, Model Pembelajarn Inkuiri,
Abidin, yunus. 2014. Desain Sistem Pembelajaran Dalam
Konteks Kurikulum 2013. Bandung:PT Rafika Aditama.
Sani, ridwan abdullah. 2014. Pembelajaran saintefik untuk
Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta:PT Bumi Aksara.
Sanjaya,Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi
Standar Proses Pendidikan. Jakarta Kencana Prenada
Media Group.
H.Fernando,Hutasoit. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah.
Kepulauan Riau, Universitas Karimun.2018.
Karwono.2011.Strategi Pembelajaran.Metro:Universitas
Muhammadiyah Metro.
Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.Pd. 2006. Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta.
Tohri, A. 2011.Metode SPPKB
(StrategiPembelajaranPeningkatanKemampuan Berpikir)
151 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
DalamMeningkatkanPrestasiBelajarSosiologiSiswa. Jurna
lEducatio, 6(1), 104-128.
Nurohman, A . 2014.
PeningkatanKemampuanBerpikirKritisdalamPemecahan
MasalahFisikaMenggunakan Model Think Talk Write
BerbasisStrategiPembelajaranPeningkatanKemampuanBe
rpikir. Radiasi: JurnalBerkalaPendidikanFisika, 5(1), 15-
19.
Suriyanti,
A..2020. PengaruhPenggunaanStrategiPembelajaranKema
mpuan
Berpikir (SPPKB)
TerhadapHasilBelajarKewirausahaanSekolahMenengahK
ejuruan Telkom PekanBaru.(Doctoral dissertation,
Universitas Islam Negeri Sultan SyarifKasim Riau).
Zuardey .2012.StrategipembelajaranpeningkatanKemampuanB
erpikir.
http://zuardey.blogspot.com/2012/05/strtegi-pembelajaran-
peningkatan.html
(Diaksespadatanggal 5 Oktober 2020, pukul 14:47)
Masri, Zainal .2012.
StrategipembelajaranpeningkatanKemampuanBerpikir.
http://zainalmasrizaina.blogspot.com/2012/09/strategi-
pembelajaran-peningkatan.html
Nurul Hayati2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa
University Press.
152 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Lie, Anita. 2005. Cooperative Learning: Mempraktikkan
Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta :
Grasindo.
Nur, M. 2000. Strategi-Strategi Belajar. Surabaya : University
Press.
Nurul, Maghfiroh. 2012. Strategi Pembelajaran
Kooperatif. http://nurulmaghfirohq.blogspot.com/2012/09/s
trategi-pembelajaran-kooperatif.html. Diakses pada
Selasa, 29 April 2014.
Sanjaya, Wina. (2011). Strategi Pembelajaran Berorientasi
Standar ProsesPendidikan. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group
Aprilio, M, F. Pembelajaran Kooperatif, (Online), (www.
muhfida. com/pembelajaran-cooperative-learning.html),
diakses 2 November 2011.
Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta :
Departemen Pendidikan Nasional.
Nurhadi. 2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta : Departemen
Pendidikan Nasional.
Majid, Abdul. Dian Andayani. 2005Pendidikan Agama Islam
Berbasis Kompetensi. Bandung: RosdaRusman. 2009.
Manajemen kurikulum; Seri Maanajemen Sekolah
Bermutu. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
153 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Suprijono, Agus. 2014. Cooperative Learning: Teori Dan
Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran Dalam Implementasi
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Fajar
Interpratama Offset
154 | S t r a t e g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a
Strategi atau metode mengajar merupakan salah satu komponen
yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran karena untuk
mencapai tujuan pembelajaran diperlukan adanya suatu metode
yang efektif yang dapat menciptakan terjadinya interaksi antara
siswa dengan guru sehingga proses pembelajaran dapat
dilakukan secara maksimal. Dalam modul ini menguraikan dan
mengidentiifikasi Strategi Pembelajaran Matematika secara
menyeluruh yang bisa membuat mahasiswa dapat mencapai
kompetensi dasar yang diharapkan.
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH
15M5 | ES tTrRa tOe g i P e m b e l a j a r a n M a t e m a t i k a