dalam tayangan berita, jadi penayangan berita yang bagus berarti pemasukan uang
bagi stasiun televisi tersebut.
Siaran televisi sesuai dengan sifatnya yang dapat diikuti secara audio dan visual
(suara dan gambar) secara bersamaan oleh semua lapisan masyarakat maka suatu
siaran televisi tidak dapat memuaskan semua lapisan masyarakat.
Siaran televisi dapat membuat kagum dan memukau penontonnya, tetapi
sebaliknya, siaran televisi dapat membuat jengkel dan rasa tidak puas penonton.
Suatu program acara mungkin disukai oleh kelompok masyarakat terdidik, namun
program acara itu akan ditinggalkan kelompok masyarakat lainnya.
Untuk itu pengelola televisi harus tahu siapa pemirsanya dan apa
kebutuhannya? Beberapa stasiun televisi di Indonesia saat ini memiliki target
kelompok pemirsa tertentu. Bila suatu stasiun televisi ingin pemirsanya anak muda,
maka stasiun tersebut akan memilih lebih banyak berita yang berhubungan dengan
kelompok umur tersebut, misalnya musik atau fashion. Bila sebuah stasiun ingin lebih
menargetkan laki-laki, maka stasiun tersebut akan memilih lebih banyak berita
mengenai olahraga. Bila sebuah stasiun televisi ingin menargetkan perempuan, maka
stasiun itu akan memilih lebih banyak berita mengenai gaya hidup dan kesehatan.
Bila sebuah stasiun melakukan siaran pada siang hari, maka stasiun itu akan
menghindari berita yang tidak sesuai dengan anak-anak (kriminal, kekerasan, dan
lain-lain). Bila sebuah stasiun ingin menargetkan kelompok sosial atau etnis tertentu,
maka stasiun itu akan menyusun program khusus untuk kebutuhan dan
kesejahteraan mereka.
B. Radio Jaringan
Menyusul keberhasilan Frank Conrad membangun stasiun radio pertama,
stasiun radio lainnya bermunculan di berbagai wilayah di Amerika. Stasiun radio
menyiarkan program informasi dan hiburan kepada masyarakat di wilayahnya
(stasiun lokal). Pada umumnya berbagai stasiun radio itu memproduksi sendiri
programnya.
Awalnya stasiun radio tidak terlalu mempersoalkan biaya produksi
programnya, namun lama-kelamaan mereka merasakan bahwa anggaran untuk
46
produksi program menjadi beban yang semakin berat. Kondisi ini menimbulkan
gagasan untuk membangun siaran radio dengan sistem jaringan.
Perusahaan penyiaran National Broadcasting Company (NBC) adalah yang
pertama kali membangun sistem jaringan ini pada tahun 1926. Dengan sistem
jaringan, NBC menawarkan program kepada berbagai stasiun radio di berbagai
wilayah yang bersedia menjadi anggota jaringan (stasiun afiliasi). Dengan demikian,
berbagai stasiun radio saling terhubung satu sama lain sehingga membentuk jaringan.
Ditinjau dari perspektif ekonomis dan bisnis, sistem ini dinilai lebih
menguntungkan. Melalui sistem jaringan, sejumlah stasiun radio secara bersama-
sama menanggung biaya produksi program dan menyiarkannya secara bersama-
sama pula. Biaya yang harus dikeluarkan dengan cara ini akan jauh lebih murah
daripada memproduksi program secara sendiri-sendiri.
Sistem jaringan ini juga lebih menarik bagi pemasang iklan karena bisa
mendapatkan audien yang secara geografis lebih luas. Dana yang diperoleh dari iklan
memungkinkan radio jaringan memproduksi program bermutu dengan mengundang
artis-artis terkenal pada masanya untuk berpartisipasi memproduksi program radio
(penjelasan lebih lanjut lihat bab mengenai sistem jaringan).
Munculnya Radio FM
Pertengahan tahun 1930-an, Edwin Howard Armstrong, berhasil menemukan
radio yang menggunakan frekuensi modulasi (FM). Radio penemuan Armstrong
berbeda dengan radio yang banyak di pasaran ketika itu yang menggunakan
frekuensi AM (amplitudo modulasi). Radio FM memiliki kualitas suara yang lebih
bagus, jernih, dan bebas dari gangguan siaran (static).
Armstrong kemudian mendemonstrasikan penemuannya itu kepada David
Sarnoff, pimpinan perusahaan Radio Corporation America (RCA) yang merupakan
perusahaan pembuat pesawat radio sistem AM, agar dapat dikembangkan lebih
lanjut. Namun RCA ternyata lebih tertarik untuk mengembangkan televisi. Karena
ditolak, Armstrong kemudian menjual hak atas temuannya itu kepada beberapa
perusahaan lain.
Sarnoff yang menyadari kekeliruannya berusaha kembali mendekati
Armstrong dan menawarkan satu juta dollar, suatu jumlah yang sangat besar ketika
47
itu untuk membeli hak atas radio FM. namun karena merasa kecewa Armstrong
menolaknya. Sayangnya penemuan Armstrong itu belum sempat dikembangkan
secara sempurna karena meletusnya Perang Dunia II.
Selain karena perang, pengembangan radio FM juga tertunda karena kalangan
industri ketika itu lebih tertarik untuk mengembangkan televisi. Radio FM baru
muncul di masyarakat pada awal tahun 1960-an seiring dengan dibukanya beberapa
stasiun radio FM. Stasiun radio FM memanfaatkan keunggulan suara FM dengan
memutar musik rock karena dinilai lebih cocok dengan frekuensi FM.
Peran radio jaringan mulai menurun seiring dengan munculnya televisi
sebagai salah satu bentuk baru media massa. Jumlah stasiun radio lokal yang
berafiliasi dengan stasiun radio jaringan turun tajam menjadi 50 persen pada tahun
1955 dari sebelumnya 97 persen pada Lahun 1947. Stasiun radio lokal semakin banyak
yang meninggalkan stasiun jaringannya ketika peran televisi sudah semakin nyata
sebagai media massa baru dengan cakupan siaran yang luas. Terlebih lagi. stasiun
televisi ketika itu juga mulai menerapkan sistem jaringan.
Pemasang iklan kini memindahkan dana iklannya ke televisi. Pada tahun 1960,
seluruh program yang dibuat oleh radio jaringan dan sangat terkenal pada masa
jayanya dahulu, seperti program komedi dan drama yang dimainkan oleh bintang
terkenal secara resmi berakhir.
Stasiun radio mulai memproduksi acaranya sendiri dan berkonsentrasi untuk
mendapatkan iklan dari pemasang iklan lokal. Stasiun radio ketika itu berupaya
mencari cara, bagaimana agar mereka dapat hidup berdampingan dengan televisi.
Salah satu stasiun radio di Midwest, Amerika Serikat (AS) bereksperimen dengan
mengamati volume penjualan album rekaman pada sejumlah toko penjualan album
dan kemudian memutar lagu-lagu yang paling banyak dibeli orang di stasiun
radionya.
Hasil eksperimen ini sangat bagus. Pendengar sangat menyukai lagu-lagu
yang disiarkan dan lahirlah format siaran radio pertama yaitu, Top 40. Keberhasilan
ini kemudian melahirkan berbagai format siaran lainnya yang ternyata juga sukses.
48
C. Penyiaran di Indonesia
Tahun 1925, pada masa pemerintahan Hindia-Belanda Prof. Komans dan Dr.
Dc Groot berhasil melakukan komunikasi radio dengan menggunakan stasiun relai
di Malabar, Jawa Barat. Kejadian ini kemudian diikuti dengan berdirinya Batavia
Radio Vereniging dan NIROM.
Tahun 1930 amatir radio di Indonesia telah membentuk organisasi yang
menamakan dirinya NIVERA (Nederland Indische Vereniging Radio Amateur) yang
merupakan organisasi amatir radio pertama di Indonesia. Berdirinya organisasi ini
disahkan oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Masa penjajahan Jepang, tidak banyak catatan kegiatan amatir radio yang
dapat dihimpun. Kegiatan radio dilarang oleh pemerintah jajahan Jepang, namun
banyak di antaranya yang melakukan kegiatannya di bawah tanah secara sembunyi-
sembunyi dalam upaya mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Tahun 1945 tercatat seorang amatir radio bernama Gunawan berhasil
menyiarkan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan menggunakan
perangkat pemancar radio sederhana buatan sendiri. Tindakan itu sangat dihargai
Pemerintah Indonesia. Radio milik Gunawan menjadi benda yang tidak ternilai
harganya bagi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan sekarang disimpan di
Museum Nasional Indonesia.
Akhir tahun 1945 sudah ada sebuah organisasi yang menamakan dirinya PRAI
(Persatoean Radio Amatir Indonesia). Dan pada periode tahun 1945 hingga 1949
banyak para amatir radio muda yang membuat sendiri perangkat radio transceiver
yang dipakai untuk berkomunikasi antara Pulau Jawa dan Sumatera tempat
pemerintah sementara RI berada. Antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1950
amatir radio juga banyak berperan sebagai radio laskar.
Periode tahun 1950 hingga 1952 amatir radio Indonesia membentuk
PARI(Persatuan Amatir Radio Indonesia). Namun pada tahun 1952, pemerintah yang
mulai represif mengeluarkan ketentuan bahwa pemancar radio amatir dilarang
mengudara kecuali pemancar radio milik pemerintah dan bagi stasiun yang
melanggar dikenakan sanksi subversif. Kegiatan amatir radio terpaksa dibekukan
49
pada kurun waktu antara tahun 1952-1965. Pembekuan tersebut diperkuat dengan
UU No. 5 Tahun 1964 yang mengenakan sanksi terhadap mereka yang memiliki radio
pemancar tanpa seizin pihak yang berwenang. Namun di tahun 1966, seiring dengan
runtuhnya Orde Lama, antusias amatir radio untuk mulai mengudara kembali tidak
dapat dibendung lagi.
Tahun 1966 mengudara Radio Ampera yang merupakan sarana perjuangan
kesatuan-kesatuan aksi dalam perjuangan Orde Baru. Muncul pula berbagai stasiun
radio laskar Ampera dan stasiun radio lainnya yang melakukan kegiatan penyiaran.
Stasiun-stasiun radio tersebut menamakan dirinya sebagai radio amatir. Pada periode
tahun 1966-1967, di berbagai daerah terbentuklah organisasi-organisasi amatir radio.
Pada 9 Juli 1968, berdirilah Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI).
Rapat yang dihadiri para tokoh yang sebelumnya aKtif mengoperasikan
beberapa stasiun radio Jepang sepakat mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI)
pada tanggal 11 September 1945 di enam kota. Rapat juga sepakat memilih Dokter
Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama. Selain itu, rapat
juga menghasilkan suatu deklarasi yang terkenal dengan sebutan Piagam 11
September 1945, yang berisi 3 butir komitmen tugas dan fungsi RRI yang kemudian
dikenal dengan Tri Prasetya RRI yang antara lain merefleksikan komitmen RRI untuk
bersikap netral tidak memihak kepada salah satu aliran, keyakinan, partai atau
golongan.
Dewasa ini, RRI mempunyai 52 stasiun penyiaran dan stasiun penyiaran
khusus yang ditujukan ke luar negeri dalam 10 bahasa. Kecuali di Jakarta, RRI di
daerah hampir seluruhnya menyelenggarakan siaran dalam 3 program yaitu,
Programa Daerah yangmelayani segmen masyarakat yang luas sampai pedesaan,
Programa Kota (Pro II) yang melayani masyarakat di perkotaan dan Programa III (Pro
III) yang menyajikan Berita dan Informasi (News Chanel) kepada masyarakat luas.
50
D. Televisi
Munculnya Televisi
Prinsip televisi ditemukan oleh Paul Nipkow dari Jerman pada tahun 1884,
namun baru tahun 1928 Vladimir Zworkyn (Amerika Serikat) menemukan tabung
kamera atau iconoscope yang bisa menangkap dan mengirim gambar ke kotak
bernama televisi. Iconoscope bekerja mengubah gambar dari bentuk gambar optis ke
dalam sinyal elektronis untuk selanjutnva diperkuat dan ditumpangkan ke dalam
gelombang radio. Zworkvn dengan bantuan Philo Farnsworth berhasil menciptakan
pesawat televisi pertama yang dipertunjukkan kepada umum pada pertemuan
World's Fair pada tahun 1939.
Kemunculan televisi pada awalnya ditanggapi biasa saja oleh masyarakat.
Harga pesawat televisi ketika itu masih mahal, selain itu belum tersedia banyak
program untuk disaksikan. Pengisi acara televisi pada masa itu bahkan meragukan
masa depan televisi, mereka tidak yakin televisi dapat berkembang dengan pesat.
Pembawa acara televisi ketika itu, harus mengenakan make-up biru tebal agar dapat
terlihat normal ketika muncul di layar televisi. Mereka juga harus menelan tablet
garam untuk mengurangi keringat yang membanjir di badan karena intensitas cahaya
lampu studio yang sangat tinggi, menyebabkan para pengisi acara sangat kepanasan.
Perang Dunia ke-2 sempat menghentikan perkembangan televisi. Namun
setelah perang usai, teknologi baru yang telah disempurnakan selama perang,
berhasil mendorong kemajuan televisi. Kamera televisi baru tidak lagi membutuhkan
terlalu banyak cahaya sehingga para pengisi acara di studio tidak lagi kepanasan.
Selain itu, layar televisi sudah menjadi lebih besar, terdapat lebih banyak program
yang tersedia dan sejumlah stasiun televisi lokal mulai membentuk jaringan. Masa
depan televisi mulai terlihat menjanjikan.
Awalnya di tahun 1945, hanya terdapat delapan stasiun televisi dan 8000
pesawat televisi di seluruh AS. Namun sepuluh tahun kemudian, jumlah stasiun
televisi meningkat menjadi hampir 100 stasiun sedangkan jumlah rumah tangga yang
memiliki pesawat televisi mencapai 35 juta rumah tangga atau 67 persen dari total
rumah tangga.
51
Perkembangan industri televisi di AS mengikuti model radio untuk
membentuk jaringan. Stasiun televisi lokal selain menayangkan, program lokal juga
bekerja sama dengan tiga televisi jaringan yaitu CBS, NBC, dan ABC. Sebagaimana
radio, ketiga televisi jaringan itu menjadi sumber program utama bagi stasiun
afiliasinya.
Semua program televisi pada awalnya ditayangkan dalam siaran langsung
(live). Pertunjukan opera di New York menjadi program favorit televisi dan disiarkan
secara langsung. Ketika itu, belum ditemukan kaset penyimpan suara dan gambar
(videotape). Pengisi acara televisi harus mengulang lagi pertunjukannya beberapa kali
agar dapat disiarkan pada kesempatan lain. Barulah pada tahun 1956, Ampex
Corporation berhasil mengembangkan videotape sebagai sarana yang murah dan
efisien untuk menyimpan suara dan gambar program televisi. Pada awal tahun 1960-
an hampir seluruh program, yang pada awalnya disiarkan secara langsung, diubah
dan disimpan dalam videotape.
Pesawat televisi berwarna mulai diperkenalkan kepada publik pada tahun
1950-an. Siaran televisi berwarna dilaksanakan pertama kali oleh stasiun televisi NBC
pada tahun 1960 dengan menayangkan program siaran berwarna selama tiga jam
setiap harinya.
Siaran televisi di Indonesia
Siaran televisi di Indonesia dimulai pada tahun 1962 saat TVRI menayangkan
langsung upacara hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-17 pada tanggal 17
Agustus 1962. Siaran langsung itu masih terhitung sebagai siaran percobaan. Siaran
resmi TVRI baru dimulai 24 Agustus 1962 jam 14.30 WIB yang menyiarkan secara
langsung upacara pembukaan Asian Games ke-4 dari stadion utama Gelora Bung
Karno.
Sejak pemerintah Indonesia membuka TVRI, maka selama 27 tahun penonton
televisi di Indonesia hanya dapat menonton satu saluran televisi. Barulah pada tahun
1989, pemerintah memberikan izin operasi kepada kelompok usaha Bimantara untuk
membuka stasiun televisi RCTI yang merupakan televisi swasta pertama di Indonesia,
disusul kemudian dengan SCTV, Indosiar, ANTV, dan TPI.
52
Gerakan reformasi pada tahun 1998 telah memicu perkembangan industri
media massa khususnya televisi. Seiring dengan itu, kebutuhan masyarakat terhadap
informasi juga semakin bertambah. Menjelang tahun 2000 muncul hampir secara
serentak lima televisi swasta baru (Metro, Trans, TV7, Lativi, dan Global) serta
beberapa televisi daerah yang saat ini jumlahnya mencapai puluhan stasiun televisi
lokal. Tidak ketinggalan pula munculnya televisi berlangganan yang menyajikan
berbagai program dalam dan luar negeri.
Setelah Undang-Undang Penyiaran disahkan pada tahun 2002, jumlah televisi
baru di Indonesia diperkirakan akan terus bermunculan, khususnya di daerah, yang
terbagi dalam empat kategori yaitu, televisi publik, swasta, berlangganan dan
komunitas. Hingga Juli 2002, jumlah orang yang memiliki pesawat televisi di
Indonesia mencapai 25 juta. Kini penonton televisi Indonesia benar-benar memiliki
banyak pilihan untuk menikmati berbagai program televisi.
Televisi merupakan salah satu medium terfavorit bagi para pemasang iklan di
Indonesia. Media televisi merupakan industri yang padat modal, padat teknologi dan
padat sumber daya manusia. Namun sayangnya kemunculan berbagai stasiun televisi
di Indonesia tidak diimbangi dengan tersedianya sumber daya manusia yang
memadai. Pada umumnya, televisi dibangun tanpa pengetahuan pertelevisian yang
memadai dan hanya berdasarkan semangat dan modal yang besar saja.
E. Sifat Penyiaran
Media penyiaran sebagai salah satu bentuk media massa memiliki ciri dan sifat
yang berbeda dengan media massa lainnya, bahkan di antara sesama media
penyiaran, misalnya antara radio dan televisi terdapat berbagai perbedaan sifat.
Media massa televisi meskipun sama dengan radio dan film sebagai media massa
elektronik, tetapi mempunyai ciri dan sifat yang berbeda, terlebih lagi dengan media
massa cetak seperti surat kabar dan majalah. Media cetak dapat dibaca kapan saja
tetapi televisi dan radio hanva dapat dilihat sekilas dan tidak dapat diulang.
Upaya menyampaikan informasi melalui media cetak, audio dan audiovisual,
masing-masing memiliki kelebihan tetapi juga kelemahan. Penyebabnya adalah sifat
fisik masing-masing jenis media seperti terlihat pada tabel di bawah ini:
53
Jenis Media SIFAT
Cetak Dapat dibaca, di mana dan kapan saja.
Radio Dapat dibaca berulang-ulang
Daya rangsang rendah
Televisi Pengolahan bisa mekanik, bisa elektris
Biaya relatif rendah
Daya jangkau terbatas
Dapat didengar bila siaran
Dapat didengar kembali bila diputar kembali
Daya rangsang rendah
Elektris
Relatif murah
Daya jangkau besar
Dapat didengar dan dilihat bila ada siaran
Dapat dilihat dan didengar kembali, bila
diputar kembali
Daya rangsang sangat tinggi
Elektris
Sangat mahal
Daya jangkau besar
Televisi dan radio dapat dikelompokkan sebagai media yang menguasai ruang
tetapi tidak menguasai waktu, sedangkan media cetak menguasai waktu tetapi tidak
menguasai ruang. Artinya, siaran dari suatu media televisi atau radio dapat diterima
dimana saja dalam jangkauan pancarannya (menguasai ruang) tetapi siarannya tidak
dapat dilihat kembali (tidak menguasai waktu). Media cetak untuk sampai kepada
pembacanya memerlukan waktu (tidak menguasai ruang) tetapi dapat dibaca kapan
saja dan dapat diulang-ulang (menguasai waktu). Karena perbedaan sifat inilah yang
menyebabkan adanya jurnalistik televisi, jurnalistik radio dan juga jurnalistik cetak,
namun semuanya tetap tunduk pada ilmu induknya, yaitu ilmu komunikasi.
54
Siaran televisi sesuai dengan sifatnya yang dapat diikuti secara audio dan
visual (suara dan gambar) secara bersamaan oleh semua lapisan masyarakat, maka
siaran televisi tidak dapat memuaskan semua lapisan masyarakat. Siaran televisi
dapat membuat kagum dan memukau sebagian penontonnya, tetapi sebaliknya
siaran televisi dapat membuat jengkel dan rasa tidak puas bagi penonton lainnya.
Suatu program mungkin disukai oleh kelompok masyarakat terdidik, namun
program itu akan ditinggalkan kelompok masyarakat lainnya.
Dalam ilmu komunikasi dikenal sejumlah saluran komunikasi, yaitu
bagaimana orang berkomunikasi untuk menyampaikan pesan kepada orang lain.
Upaya manusia untuk menyampaikan pesan ini secara garis besar terbagi atas dua,
yaitu komunikasi tanpa media yaitu secara langsung (tatap muka) dan komunikasi
dengan media.
Penyampaian informasi dengan menggunakan media ini terbagi lagi atas dua,
yaitu: melalui media massa dan nonmedia massa. Saluran komunikasi melalui media
massa terbagai lagi atas dua yaitu media massa periodik (surat kabar, majalah,
televisi, radio, dan lain-lain) dan media massa nonperiodik (rapat, seminar, dan lain-
lain). Periodik berarti terbit secara teratur pada waktu-waktu yang telah ditentukan
sebelumnya. Media massa nonperiodik dimaksudkan media massa yang bersifat
sementara (eventual) tergantung pada peristiwa yang diselenggarakan. Setelah event
selesai, maka usailah penggunaannya. Media massa nonperiodik dapat dibedakan
atas manusia, misalnya juru kampanye dan benda (poster, spanduk, leaflet dan lain-
lain).
Media massa periodik terbagi atas dua jenis, yaitu media massa elektronik dan
media massa cetak. Media massa elektronik dapat dibagi lagi menjadi media massa
penyiaran (televisi, radio) dan media massa nonpenyiaran (film, VCD, Internet).
Untuk lebih jelasnya dimanakah posisi media penyiaran sebagai saluran komunikasi
massa, dapat dilihat pada bagan berikut ini:
55
Langsung/ - Pertemuan
Tatap muka - Forum
- Diskusi panel
- Ceramah
- Simposium
- Seminar
Saluran Elektronik Media Penyiaran
Komunikasi (Radio, televisi)
Periodik Media Non-Penyiaran
(Film, internet)
Media Massa Cetak
(Surat kabar, Majalah)
Non-Periodik
Denga Manusia (Juru kampanye)
n
media Benda (Spanduk)
Manusia (kurir)
Non-Media Elektronik (telepon, faks)
Massa Non-Elektronik
Bend
a
Gambar Skema Saluran Komunikasi
Perkembangan media komunikasi modern dewasa ini telah memungkinkan orang di
seluruh dunia untuk dapat saling berkomunikasi. Hal ini dimungkinkan karena
adanya berbagai media (cbannet) yang dapat digunakan sebagai sarana penyampaian
pesan. Media penyiaran, yaitu radio dan televisi merupakan salah satu bentuk media
massa yang efisien dalam mencapai audiennya dalam jumlah yang sangat banyak.
Karenanya media penyiaran memegang peranan yang sangat penting dalam ilmu
komunikasi pada umumnya dan khususnya ilmu komunikasi massa.
56
BAB V
JURNALISME RADIO
A. Menulis Untuk Radio
HASAN Asy'ari Oramahi, penyiar berita terbaik RRI dan TVRI, mengeluarkan
dalil yang tak terbantah: menulis untuk radio adalah menulis untuk telinga. Katanya,
tulislah berita yang ingin disiarkan sambil bicara (membacanya). Bahkan, tulislah
kalimat-kalimat yang dapat didengar secara baik (laik telinga). Karena batas waktu
yang amat ketat, apa yang hendak disiarkan melalui radio haruslah tertulis. Kendati
demikian, gunakanlah kalimat dengan ragam lisan. Artinya, apa yang diucapkan itu
haruslah bahasa lisan yang ditulis. Seorang penulis berita radio, redaktur radio,
hendaknya sadar bahwa mata dapat menangkap satu kalimat utuh seketika, namun
telinga hanya dapat menyimak kata demi kata yang terangkum dalam satu kalimat
(Oramahi, 2003:36). Hasan Oramahi benar. Menulis untuk radio, dalam beberapa hal
berbeda dengan menulis untuk surat kabar atau majalah. Sebagaimana surat kabar
dan majalah, radio juga memiliki karakteristik lain. Namun demikian, penulisan
berita suratkabar dan penulisan berita radio, terikat dengan kaidah bahasa jurnalistik.
Kita bahkan bisa mengatakan, bahasa jurnalistik berlaku umum, sedangkan bahasa
jurnalistik surat kabar atau bahasa jurnalistik radio, berlaku khusus.
Bab ini, mengajak kita untuk bertamasya ke dunia radio, dengan cara
mengenali karakteristik dunia radio siaran, bahasa jurnalistik radio, asas-asas
penulisan berita radio, dan kiat menulis untuk radio. Di dunia radio siaran, kita diajak
menjelajahi sifat-sifat radio siaran dan sifat-sifat pendengar radio siaran. Di dunia
bahasa jurnalistik radio siaran, kita dipandu untuk mempelajari bentuk dan susunan
kalimat khas untuk telinga. Di dunia asas penulisan berita radio, kita diajak untuk
memahami lebih jauh karakieristik radio. Sedangkan dalam kiat sukses menulis
untuk radio, kita diingatkan untuk menguasai radio dengan sudut pandang radio,
bukan dari sudut pandang yang lain. Tetapi karena sudah cukup banyak buku yang
secara khusus mengupas jurnalistik radio, maka uraian dalam bab ini hanya serba
sekilas.
57
B. Karakteristik Radio Siaran
Guru saya mengingatkan, apa yang disajikan untuk dibaca belum tentu dapat
dimengerti apabila dihidangkan melalui radio siaran. Susunan berita untuk surat
kabar tidak akan mencapai tujuannya apabila dibacakan di depan mikrofon radio
siaran. Susunan kata untuk pidato dalam rapat di alun-alun tidak akan sukses jika
dibacakan di depan corong radio. Untuk radio siaran terdapat gaya tersendiri, yakni
yang disebut gaya radio (radio style). Gaya radio timbul karena dua hal: sifat radio
siaran, dan sifat pendengar radio (Effendy, 1978:84-85).
1. Sifat Radio Siaran
Jurnalistik media elektronik auditif atau jurnalistik radio siaran, lebih banyak
dipengaruhi dimensi verbal, teknologikah dan fisikal. Verbal. berhubungan dengan
kemampuan menyusun kata, kalimat, dan paragraf secara efektif dan komunikatif.
Teknologikah berkaitan dengan teknologi yang memungkinkan daya pancar radio
dapat ditangkap dengan jelas dan jernih oleh pesawat radio penerima. Fisikal, erat
kaitannya dengan tingkat kesehatan fisik dan kemampuan pendengaran khalayak
dalam menyerap dan mencerna setiap pesan kata atau efek suara yang disampaikan
(Sumadiria, 2005:5). Sifat radio siaran meliputi tiga hal: auditif. mengandung
gangguan, dan akrab. (Effendy, 1978: 86-87):
Auditif
Sifat radio siaran adalah auditif, untuk didengar. Karena hanya untuk
didengar, maka isi siaran yang sampai di telinga pendengar hanya sepintas lalu saja.
Ini lain dengan sesuatu yang disiarkan melalui media surat kabar, majalah, atau
media dalam bentuk tulisan lainnya yang dapat dibaca, diperiksa dan ditelaah
berulang-ulang. Pendengar yang tidak mengerti sesuatu uraian dari radio siaran tak
mungkin meminta kepada pembicara agar mengulanginya lagi. Ia tidak melihat si
pembicara dan apa yang diuraikan berlalu seperti angin. Begitu tiba di telinganya,
begitu hilang lagi.
58
Mengandung gangguan
Setiap komunikasi dengan menggunakan saluran bahasa dan bersifat masai
akan menghadapi dua faktor gangguan. Gangguan yang pertama apa yang disebut
semantic noise factor dan yang kedua ialah channel noise factor atau kadang-kadang
disebut mechanic noise factor. Radio siaran tidak merupakan media sepurna.
Komunikasi melalui radio siaran tidak akan sesempurna komunikasi antara dua
orang secara berhadapan. Kalau tidak bersifat alamiah, maka gangguan itu bersifat
teknis.
Akrab
Radio siaran sifatnya akrab, intim. Seorang penyiar radio seolah-olah berada
di kamar pendengar yang dengan penuh hormat dan cekatan menghidangkan acara-
acara yang menggembirakan kepada penghuni rumah. Demikian pula seorang
penceramah. Ia seakan-akan datang di kamar pendengar dan memberikan uraian
yang berguna kepada penghuni rumah sekeluarga. Setiap suara yang keluar dari
pesan radio seolah-olah diucapkan oleh orang yang ada di situ. Bagaikan seorang
tamu yang datang beranjang-sana. Sifat itu tidak dimiliki oleh media lainnya, kecuali
televisi (Effendy, 1978: 86-87).
Begitulah. Karena sifatnya yang auditif, mengandung gangguan, dan akrab,
radio siaran yang di Amerika Serikat diperkenalkan untuk pertama kali oleh David
Sarnoff pada 1915 itu, sampai detik ini tetap sangat disukai ratusan juta pendengar di
seluruh dunia. Radio siaran tidak kalah pamor oleh televisi yang datang kemudian
Setiap media baru boleh saja datang dan pergi setiap tahun, tetapi radio siaran tetap
eksis dan melekat di hati khalayak pendengar. Fakta sejarah ini membuktikan, tidak
setiap kehadiran teknologi komunikasi ban: mematikan teknologi komunikasi
sebelumnya. Justru yang sering terjadi, kehadiran teknologi komunikasi baru hanya
bersifat melengkapi serta menyempurnakan teknologi komunikasi yang datang lebih
dulu.
59
Selintas
Pemberitaan radio punya daya jangkau yang seketika, langsung membekas di
benak khalayak. Dalam kejapan waktu sesaat, orang langsung menyimpulkan apa
yang terjadi. Berbagai fakta dan peristiwa yang dilaporkan langsung memberi
gambaran apa yang terjadi.
Akibatnya fatal bila terjadi kesalahan. Orang agak kesulitan merubah apa yang
barusan didengarnya. Gambaran peristiwa yang telah terjalin agak sulit untuk direka
ulang. Tidak ada waktu lagi, tidak ada alat lagi, tidak ada upaya lagi untuk
merombaknya. Karena itulah, gaya pengulangan seperti para "rapper" diperlukan
dalam pemberitaan radio. Ralat atau perbaikan kesalahan yang telah dilakukan mesti
terus diulang-ulang agar pendengar yang telah menyimpulkan apa yang terjadi dapat
segera menangkap kembali kesalahan persepsinya. Pada sisi inilah, pemberitaan atau
informasi radio dikemas dengan gaya keringkasan yang amat pendek, tegas, dan
menghindari bias. Keselintasan pendengar menyimak radio menuntutnya.
Imajinatif
Faktor imaji ini dibangun dari "suara-suara" yang disampaikan penyiar. Ketika
penyiar menyampaikan sebuah kendaraan telah "nyemplung" ke dalam parit, dan
teronggok menunggu "derekan" mobil mengangkutnya ke pinggir jalan, maka
bayangan pendengar dipenuhi oleh banyak gambaran kejadian yang terjadi.
Hal ini menyebabkan adanya daya pukau lain dari radio. Orang akan lebih
terpaku saat mendengar berita radio. Orang telah menaruh pikiran dan perasaannya
pada segala ucapan penyiar radio. Iring-iringan demo, dari para aktivis yang
berteriak-teriak dan mengacungkan spanduk protes, muncul melalui "suara-suara"
penyiar yang coba menggambarkan rentetan peristiwanya.
Imajinasi virtual pun membayang di saat pemberitaan radio menyiarkan
suasana pertunjukan musik, dengan berbagai efek "mixer". Lengkingan vokal
penyanyi, dilatarbelakangi gemuruh penonton di bawah panggung, dapat dibuat
dramatis melalui peralatan sound digital tertentu. Yang sampai ke pendengar bukan
lagi hanya lagu tapi telah bercampur dengan imaji-imaji lain.
60
Daya Dengar Khalayak
Khalayak radio memiliki kendala psikologi-sosial dalam menangkap pesan.
Para pendengar mudah jenuh, bosan, dan mencari gelombang radio lain. Orang
redaksi kerap melupakan bagaimana siarannya ditolak pendengarnya. Jurnalis radio
mesti menghindari redundansi dengan meningkatkan lebih banyak informasi yang
berguna bagi khalayaknya. Pesan harus membuat khalayak terfokus pada elemen-
elemen kunci dari materi yang tengah disiarkan, dan juga menyertakan konsep-
konsep kompleks, nama-nama tidak familiar, istilah-istilah, yang mesti dikenali
khalayak sepersis yang dikehendaki.
Terutama, dalam siarang langsung, atau "live". Bahasa "tutur" jurnalistik radio,
walau tanpa teks, tanpa persiapan, muatan informasi mesti dijaga. Inilah yang disebut
"the texture of a broadcast' dalam jurnalisme radio. Texture ini yang mengantarkan
segala sound di udara yang langsung diterima pendengar. Bahannya dirajut dari
karakteristik dunia penyiaran. Persepsi pendengar dirajut di sini pula. Entah
dipersiapkan sebelum siaran, entah telah diperhitungkan di saat siaran.
Dalam siaran dialog langsung, jurnalis radio mengembangkan kecakapannya
menghadapi lawan bicaranya melalui kebiasaan bercakap-cakap selama ini.
Narasumber handal, yang direkam suaranya, telah terbiasa, secara otomatis,
membangun pembicaraan yang tidak redundan.
Dari sisi persepsi pendengar, jurnalis kerap memperhitungkan siaran kata-kata
informatifnya. Perlunya memperhitungkan tahap ambang batas atau krisis
"perhatian" pendengar. Maka, percakapan yang dibangun lewat pembacaan teks
kerap dihindari. Percakapan langsung, selama itu bisa, lebih diburu. Dialog dan
liputan saat kejadian, dengan mengajak bercakap-cakap pelaku yang terkait dengan
sebuah peristiwa, lebih diutamakan.
Ambang krisis perhatian menjadi hal penting. Pendengar tidak akan
melanjutkan perhatiannya pada saat tidak ada lagi informasi tambahan yang mesti
diperhatikan. Pertama, krisis perhatian pendengar mulai terjadi, mudah terputus,
khususnya setelah 3 atau 5 menit pertama ia mengikuti siaran. Ini krisis yang tidak
terhindarkan. Krisis kedua, datang pada 8,5-9 menit dari awal siaran mengudara.
Upaya mengatasinya, texture siaran mesti lebih mendekati situasi natural dan penuh
61
aktifitas, yang terasa langsung dan penuh dialog.
Krisis ketiga, terjadi setelah 14 menit siaran berlangsung. Pada saat ini, fexture
siaran mesti menampilkan gambaran-gambaran aktif, melalui emosi-emosi aktif dari
sudut pandang orang-orang yang terlibat percakapan. Percakapan mesti berisi emosi,
membangun diskusi yang penuh pertentangan, dalam ekspresi-ekspresi langsung
kekaguman atau kejengkelan. Bisa juga disisipkan musik yang tepat.
Pada menit ke-28 muncul krisis perhatian paling kuat tatkala khalayak mulai
lelah, khususnya dalam mengikuti siaran yang lemah, lesu, tidak bersemangat. Ini
saat siaran tidak mampu dikembangkan lebih lanjut. Berbagai fakta pun tak mampu
menyedot perhatian. Ini bukan saat membuat pendalaman analisis, sebab yang terjadi
adalah mutu siaran yang semakin membosankan, tanpa letupan dinamika, dan
pendengar sudah habis kesabaran untuk mengikutinya.
Dinamis dan ringkas adalah ekspresi siaran yang kini lebih didengar khalayak.
Terutama, dalam pemilihan fakta-fakta dan detil-detilnya. Terutama, dalam siaran-
siaran TV dan radio. Umumnya, standar penyajian berita radio dan televisi ialah 100
detik. Selama 3 menit, praktis merupakan siaran yang mengemukakan kelengkapan
peristiwa disertai pemberian berbagai komentar. Siaran 10 menit ialah waktu untuk
menjelaskan segala sisi permasalahan dengan sisipan para koresponden dan sketsa.
Program 14-15 menit ialah ruang untuk observasi, analisis, dan sorotan pada tema-
tema sosial politik dan moral. Program 28 menit lebih cocok untuk siaran dokumenter
atau sandiwara. Tentu saja akan ada bagian-bagian yang membosankan. Namun,
sebagai sebuah perkecualian, untuk waktu menjelaskan sesuatu yang tidak biasa.
Perhatian khalayak bersifat mobile. Khalayak tertarik oleh tema-tema dan
permasalahan yang exciting, dukungan pada tema-tema yang menurutnya penting,
dengan penyiaran fakta-fakta yang gamblang, dan keputusan-keputusan kreatif yang
menarik.
2. Sifat Pendengar Radio
Pendengar adalah sasaran komunikasi massa melalui radio siaran. Komunikasi
dapat dikatakan efektif, apabila pendengar terpikat perhatiannya, tertarik terus
minatnya, mengerti, tergerak hatinya dan melakukan kegiatan apa yang diinginkan
pembicara. Sifat pendengar radio siaran yang menentukan gaya bahasa radio,
62
mencakup empat hal yakni heterogen, pribadi, aktif, dan selektif (Effendy, 1978: 88-
90):
Heterogen
Pendengar adalah massa, sejumlah orang yang sangat banyak yang sifatnya
heterogen, terpencar-pencar di berbagai tempat; di kota dan di desa, di rumah, pos
tentara, asrama, warung kopi. Mereka berbeda dalam jenis kelamin, umur, tingkat
pendidikan dan taraf kebudayaan. Ada pria dan wanita. Ada yang tua, muda, dan
anak-anak. Selain itu, pendengar berbeda dalam pengalaman dan keinginan tabiat
dan kebiasaan, yang kesemuanya itu menjadi dasar pula bag: gaya bahasa radio
sebagai penyalur pesan kepada pendengar.
Pribadi
Sesuatu uraian disampaikan kepada pendengar yang berada di rumahnya
secara pribadi. Pembicara radio seolah-olah bertamu dan memberikan uraian kepada
seseorang dalam suatu rumah tangga Dalam situasi seperti itu tidak mungkin si
pembicara dalam memberikan uraiannya berbicara dengan semangat dan berapi-api
seperti pidato kepada massa rakyat yang berkumpul di lapangan. Ia harus berbicara
seperti bicaranya seorang teman yang datang bertamu. Sudah tentu dengan ramah-
tamah, sopan-santun, dan tanpa kata-kata bombastis.
Aktif
Pada mulanya para ahli komunikasi mengira bahwa pendengar radio sifatnya
pasif. Ternyata tidak demikian. Hal ini telah dibuktikan oleh hasil penelitian Wilbur
Schramm, Paul Lazarsfeld dan Raymound Bauer. Para pendengar radio apabila
menjumpai sesuatu yang menarik dari sebuah stasiun radio, aktif berpikir, aktif
melakukan interpretasi. Mereka bertanya-tanya pada dirinya, apakah yang
diucapkan oleh seorang penyiar atau seorang penceramah radio atau pembaca berita,
benar atau tidak.
Selektif
Pendengar sifatnya selektif. Ia dapat dan akan memilih programa radio siaran
yang disukainya. Setiap pesawat radio dilengkapi dengan alat yang memungkinkan
mereka melakukan pilihannya itu. Begitu banyak stasiun radio siaran, dengan aneka
jenis acara siarannya yang masing-masing berlomba untuk memikat perhatian
63
pendengar (Effendy, 1983: 88-90).
3. Bahasa Jurnalistik Radio
Berdasarkan sifat-sifat radio siaran yang auditif, mengandung gangguan, dan
akrab, maka menurut guru saya penulisan bahasa radio siaran (radio rewriting) harus
memenuhi lima syarat: kata-kata yang sederhana, angka-angka yang dibulatkan,
kalimat-kalimat yang ringkas, susunan kalimat vang rapi, dan susunan kalimat yang
bergaya percakapan. Sedangkan aerdasarkan sifat pendengar radio yang heterogen,
pribadi, aktif, dan selektif, maka penulisan bahasa radio siaran harus terdiri atas: kata-
kata yang umum dan lazim dipakai, kata-kata yang tidak melanggar resopanan, kata-
kata yang mengesankan, pengulangan kata-kata yang ting, dan susunan kalimat yang
logis (Effendy, 1983:81).
Kata-kata sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat rang
paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak umum yang sangat heterogen, baik
dilihat dari tingkat intelektualitasnya maupun -arakteristik demografis, geografis,
dan psikografisnya seperti status sosial ekonomi, pekerjaan atau profesi, tempat
tinggal, suku bangsa, dan budaya serta agama yang dianutnya. Kata-kata dan kalimat
yang rumit, yang hanya dipahami maknanya oleh segelintir orang, tabu digunakan
dalam bahasa jurnalistik (Sumadiria, 2004:127).
Angka-angka dibulatkan
Telinga hanya memiliki kemampuan mendengar sesuatu secara selintas
Penyajian angka yang sangat perinci seperti dalam bahasa laporan, perbankan atau
sensus penduduk, hanya akan menyiksa sekaligus mengundang protes keras
khalayak pendengar. Gunakanlah cara pembulatan agar mudah disebutkan sekaligus
mudah untuk diingat. Sebagai contoh, 751.265.411,25 rupiah sukar dibaca dan
didengar. Angka itu harus dibulatkan dan disingkat menjadi 751 juta rupiah.
Kalimat-kalimat ringkas
Karena dibatasi waktu dan daya tangkap telinga sangat terbatas, maka
kalimat-kalimat dalam bahasa jurnalistik radio harus disajikan secara ringkas.
Kalimat-kalimat panjang tidak boleh muncul dalam bahasa jurnalistik radio.
Kalaupun naskah asli terdiri atas kalimat-kalimat panjang, maka naskah itu harus
64
diedit dan ditulis kembali (rewriting). disesuaikan dengan kaidah penulisan bahasa
radio. Hindari penggunaan anak-anak kalimat.
Susunan kalimat rapi
Susunan kalimat bahasa jurnalistik radio harus rapi. Rapi berarti sistematis,
runtut, beraturan, tidak meloncat-loncat. Bagaikan air yang mengalir dari hulu ke
hilir. Rapi juga berarti tertib, menggunakan kata-kata yang tepat, kata-kata yang
terpilih, kata-kata yang mampu menyentuh hati khalayak pendengar.
Susunan kalimat bergaya percakapan
Hindari penggunaan kalimat yang kaku, formal, lurus, kering, monoton.
Sesuai dengan sifatnya, bahasa radio harus akrab, tidak mengesankan jarak psikologis
antara penyiar dan pendengar. Jadi, bayangkanlah percakapan dua orang yang
sedang duduk berhadapan di kafe, atau duduk bersebelahan dalam pesawat terbang.
Kalimat bergaya percakapan membuat pendengar terlena. Kalimat bergaya paparan
seperti sedang dibacakan membuat pendengar tersiska. Menurut Hasan A. Oramahi,
kiat mudah menulis untuk telinga (writing for the ears), adalah menulis sambil bicara,
seakan-akan kita sedang menyiarkan berita yang kita tulis. Gunakan kalimat ujaran
atau bahasa lisan (Oramahi, 2003:37).
Kata umum dan lazim dipakai
Khalayak pendengar radio berada tersebar di berbagai tempat, di gunung dan
di lembah, di kota dan di desa, di sungai dan di rawa-rawa, di 'aratan dan di lautan,
diayun-ayun ombak dan gelombang pasang. Mereka terdiri atas berbagai macam
suku, budaya, kelompok usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan.
Heterogen, beraneka ragam. Jadi, tulislah kata-kata umum dan kata-kata yang lazim
dipakai, yang paling mudah dipahami maksudnya oleh khalayak pendengar yang
sangat majemuk. Hindari penggunaan kata-kata yang aneh-aneh.
Kata tidak melanggar kesopanan
Bahasa jurnalistik terikat kepada situasi dan nilai-nilai sosiologis. Dalam etika
berbahasa jurnalistik, radio tidak boleh menyiarkan kata-kata yang tidak sopan, kata-
kata vulgar, kata-kata berisi sumpah serapah, kata-kata hujatan dan makian yang
sangat jauh dari norma sosial budaya agama, atau dengan sengaja menggunakan
pilihan kata pornografi dan berselera rendah lainnya dengan maksud untuk
65
membangkitkan asosiasi serta fantasi seksual khalayak pendengar (Sumadiria.
2004:132).
Kata-kata yang mengesankan
Secara naluriah dan manusiawi, pendengar radio lebih menyukai kata-kata
indah daripada kata-kata sumpah serapah. Kata-kata yang enak didengar, meresap di
hati, gampang diingat, kata-kata yang membangkitkan motivasi, kata-kata yang
membangunkan inspirasi, sangat dianjurkan untuk terus diperdengarkan. Kita
mendengarkan siaran radio untuk memetik pengalaman yang menyenangkan dan
menikmati hiburan yang menggairahkan. Jadi, sajikanlah kata-kata yang
mengesankan.
Pengulangan kata-kata penting
Karena sifatnya yang selintas, maka bahasa radio dibolehkan melakukan
pengulangan terhadap kata-kata penting. Sifat dan fungsinya sebagai penegasan atau
penekanan untuk membantu pendengar memperoleh informasi terpenting. Di
samping itu, kata-kata yang sudah diudarakan beberapa detik atau beberapa menit
sebelumnya, belum tentu sudah didengar dan diketahui pula oleh pendengar lain
yang baru bergabung dengan radio siaran kita. Setiap saat orang bisa bergabung
dengan siaran radio. Tetapi setiap saat pula orang bisa mematikan radio siaran, atau
memindahkannya ke saluran (channel) yang lain. Hitungannya bukan menit lagi,
tetapi sudah dalam detik.
Susunan kalimat logis
Apa pun pesan informasi yang ditulis dan disiarkan untuk khalayak
pendengar, sudah tentu haruslah logis. Logis berarti sesuai dengan pertimbangan
akal sehat. Kalimat logis adalah kalimat yang menunjuk kepada hukum sebab-akibat.
Tidak logis jika dikatakan, Intan, murid kelas tiga SMA di Kota Bandung, tewas
setelah digigit tikus ketika membersihkan kelas di sekolahnya, kemarin. Kita
bertanya, tikusnya sebesar apa, dan apakah tikus di sekolah itu berbisa seperti ular?
Dalam pikiran kita, tidak ada tikus sebesar harimau, dan tidak ada pula tikus berbisa
seperti ular.
66
4. Asas Penulisan Berita Radio
Hasan A. Oramahi menyebutkan, terdapat lima asas yang senantiasa harus
diingat bila menulis untuk telinga, yakni diucapkan (it's spoken), sekarang dan bersifat
langsung (it's immediate), antarorang [it's person to person}. terdengar hanya satu kali
(it's heard only once), dan hanya merupakan bunyi (it's sound) (Oramahi, 2003:37-43):
a. Diucapkan (it's spoken)
Berita radio adalah sesuatu yang diucapkan untuk didengar. Naskah berita
yang belum disiarkan belum dikatakan berita radio. Dia baru menjadi berita radio,
apabila sudah diucapkan atau dibaca penyiar untuk disiarkan kepada pendengar.
Contoh bukan berita radio:
Pelaksanaan program pelestarian lingkungan, yang akan diluncurkan pada
semester pertama tahun ini, akan memberi penekanan pada penyelesaian masalah-
masalah pencemaran, perpindahan penduduk dari desa ke kota, rusaknya sumber
daya alam, dan perubahan ekonologi.
Contoh berita radio:
Pemerintah menetapkan akan menangani secara sungguh-sungguh masalah
pencemaran. Proyek tersebut akan dimulai pada semester pertama tahun ini. Prioritas
akan ditujukan pada masalah pencemaran, perpindahan penduduk dari desa ke kota,
dan semakin menipisnya sumber daya alam.
b. Langsung (it's immediate)
Radio adalah media sekarang, bukan media kemarin, atau media esok.
Kelebihan utama radio terhadap surat kabar adalah ciri sekarang tersebut. Ciri ini akan
mudah dikenal pada stasiun radio berbahasa nggris, karena kalimat-kalimat yang
disiarkan sebagian besar dalam bentuk present tense atau "bentuk kini". Sesuatu yang
disiarkan melalui radio, harus sampai di telinga pendengar dan memberi kesan
bahwa hal itu terjadi sekarang.
c. Antarorang (it's person to person)
Radio adalah media aku dan kau (person to person). Kendatipun jumlah
pendengar radio tak terbatas, komunikasi yang dibangun adalah oleh penyiar dengan
hanya satu orang pendengar. Dengan lain perkataan, pendengar radio selalu tunggal
67
adanya. Karena karakter radio, selain sebagai media satu arah, juga karena pendengar
radio jumlahnya tak "batas dan tidak kelihatan serta terpisah oleh jarak, maka dengan
dirinya komunikasi yang dibangun juga berupa komunikasi satu arah. krunya, pesan
yang disampaikan tidak serta-merta dapat ditanggapi oleh pendengar, kecuali dalam
phone-in program, ketika terjadi hubungan interactive antara penyiar dan pendengar
melalui piranti teknis canggih, oleh karena itu, sekali lagi perlu diingat bahwa pesan
tersebut harus singkat, padat, dan jelas.
d. Terdengar hanya sekali (it's heard only once)
Radio adalah media sekali pakai atau tepatnya sekali dengar. Artinya
pendengar hanya memiliki satu kesempatan untuk mendengar pesan yang kita
sampaikan. Pendengar tidak punya kesempatan untuk meminta kita mengulang
pesan tersebut. Karena itu, clarity has top priority, artinya kejelasan merupakan
prioritas utama. Clarity atau kejelasan dalam berita radio, bukan hanya bergantung
pada kata per kata, atau kalimat per kalimat, melainkan juga pada isi (content) dan
gagasan (ide) dari berita tersebut. Jangan membuat pendengar bingung.
Contoh bukan berita radio:
Indonesia dan Australia sepakat untuk sama-sama mengembangkan dan
meningkatkan hubungan timbal-balik kedua negara, yang memungkinkan Australia
ikut ambil bagian secara lebih aktif dalam pembangunan kembali kawasan timur
Indonesia.
Contoh berita radio:
Indonesia dan Australia sepakat mengembangkan hubungan timbal-balik
kedua negara. Hal itu akan meningkatkan peran Australia untuk ikut membangun
kawasan timur Indonesia.
e. Hanya bunyi (it's sound only)
Kata-kata adalah jembatan antara redaktur berita radio dan pendengar. Kata-
kata itu hanya dapat didengar karena radio adalah media audio. Radio bekerja hanya
dengan bunyi, it's sound only. Ini merupakan kelemahan radio, tetapi juga sekaligus
merupakan kekuatan radio. Pentas imajinasi pendengar dapat dengan mudah
dirangsang bunyi dan suara. Ada tugas lain lagi bagi reporter radio, yakni dia harus
mampu merangsang pentas imajinasi pendengarnya. Alat yang tepat adalah pilihan
68
kata, dan kemampuan untuk mendramatisirkannya bagi pendengar (Oramahi,
2003:37-43).
C. Kiat Menulis Radio
Walter K. Kingson, Rome Cowgill, dan Ralph Levy dalam Broadcasting.
Television and Radio (1955), mengemukakan tiga kiat sukses menulis untuk naskah
siaran berita radio (script), yakni kejelasaan (clarity). kelincahan (vividness), dan
keanekaragaman (variety) (Effendy, 1978:92-93). Penguasaan ketiga unsur ini tidak
saja dicapai melalui kuliah di kampus tetapi juga melalui tempaan latihan keras dan
pengalaman di pangan selama bertahun-tahun. Dalam dunia profesi, tak ada satu pun
yang sifatnya instant atau langsung jadi. Begitu pula di dunia radio siaran.
a. Kejelasan (Clarity)
Setiap pesan yang hendak disiarkan melalui radio harus memenuhi unsur
kejelasan: sumbernya, perincian peristiwanya, akurasinya, susunan rialimatnya, dan
pilihan katanya. Sumbernya, menunjuk kepada narasumber, siapa komunikator atau
orang yang memberikan keterangan atau pernyataan. Perincian peristiwanya,
berkaitan dengan penyampaian kronologi peristiwa yang disiarkan sehingga
terdengar logis dan sistematis. .Akurasinya, menyangkut aspek data dan detail
informasi yang disiarkan, memang sudah dicek ulang dengan teliti dan terbukti
benar. Susunan kalimat dan pilihan katanya, menunjuk kepada pola penyajian pesan
dalam ihasa jurnalistik radio yang khas, ringkas, akrab, personal, dan benar-benar
memanjakan telinga. Enak didengar.
b. Kelincahan (Vividness)
Dalam dunia flora dan fauna, kijang dilukiskan sebagai bintang yang cerdik
dan lincah, sedangkan gajah digambarkan sebagai binatang bertubuh raksasa tetapi
lamban. Dalam dunia sepak bola, pemain lincah adalah penyerang yang pandai
membawa bola, piawai mengecoh lawan, lari meliuk-liuk, dan akhirnya mampu
menggetarkan jala gawang lawan dengan tendangannya yang keras dan akurat.
Lantas, bagaimana dengan seorang penyiar radio yang lincah, apakah dia juga harus
meliuk-liuk membawa bola?
69
Memang, seorang penyiar radio tidaklah berbeda dengan seorang striker sepak
bola. Ia harus pandai menguasai bola, membawa bola, mengecoh lawan, dan sangat
terlatih melakukan tendangan keras akurat ke gawang lawan untuk menghasilkan
gol. Bagi seorang penyiar, bola itu adalah kata-kata. Kata-kata itu harus tersusun rapi
dalam kalimat-kalimat pendek. Dengan kelincahan mengolah, memilih, dan
menembakkan kata-kata, seorang penyiar radio akan senantiasa ditunggu dan
dirindukan pendengar. Ia dinilai sebagai penyiar radio atau pembaca berita (news
caster) berkarakter.
c. Keanekaragaman (Variety)
Keanekaragaman berarti penyiar haruslah orang yang pandai menulis
sekaligus lincah bicara. Ia terampil menulis naskah radio siaran dengan merujuk
kepada rumus ELF. ELF adalah singkatan dari easy listening formula (formula enak
didengar). Artinya, apa pun kata atau kalimat yang diucapkan penyiar harus enak
didengar. Pendengar saat itu juga langsung dapat mencerna setiap kata atau kalimat
yang diucapkan penyiar. Berbeda dengan bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa
jurnalistik radio yang sifatnya selintas, hanya memberikan satu kali kesempatan
kepada pendengar untuk menyimak setiap kata yang diucapkan penyiar. Untuk
semua ini, penyiar harus bisa menyajikannya dengan lincah dan penuh daya tarik.
Variatif.
Selain kejelasan, kelincahan, dan keanekaragaman itu, kawan saya, seorang
penyiar radio senior di Bandung, menambahkan lima unsur lagi: bahasa tutur, KISS,
global, imajinatif, dan bercerita (Romli, 2003:77, 81-83). Dengan demikian semuanya
menjadi delapan unsur. Kedelapan unsur itu akan menentukan kualitas penyajian
dan kualitas materi isi berita radio. Berikut petikan uraian tambahan kelima unsur itu.
d. Bahasa tutur
Gunakan bahasa tutur {spoken language, conversational language), yakni bahasa
percakapan, informal, atau kata-kata dan kalimat yang biasa dikemukakan dalam
kalimat percakapan sehari-hari.
70
e. KISS
KISS adalah singkatan dari keep U. simple and short. Gunakan kata-kata dan
kalimat yang sederhana dan singkat sehingga mudah dimengerti. Kalimat panjang,
selain menyulitkan pengucapan oleh penyiar, juga biasanya sulit dicerna. Sebaliknya,
kalimat pendek akan mudah diucapkan penyiar dan dipahami pendengar.
f. Global
Hindari sedapat mungkin detail yang tidak perlu, sederhanakan fakta.
Pendengar hanya perlu inti berita dan waktu penyiar pun terbatas. Misalnya,
informasi tentang sebuah sidang pengadilan, tidak perlu mengungkap secara detail
pasal-pasal dan ayat KUHP yang dinilai telah dilanggar terdakwa, tetapi cukup
dengan mengemukakan dinilai melakukan tindak pidana.
g. Imajinatif
Naskah harus mampu mengembangkan imajinasi pendengar hanya dengan
kekuatan kata-kata, suara, dan dukungan musik. Ingat, radio adalah theatre of mind.
Karena itu, gunakan pancaindra. Hadirkan gambaran, bau, atmosfer suasana, hal-hal
yang terasa, dan lintasan-lintasan pemikiran yang muncul di lokasi. Buatlah
gambaran, misalnya dengan mendeskripsikan warna, ukuran, bentuk, dan detail-
detail yang relevan.
h. Bercerita
Gunakan kalimat tidak langsung atau hindari penggunaan kalimat langsung.
Naskah harus bercerita, yakni menceritakan orang berbicara apa, di mana, bagaimana,
mengapa. Contoh: "Saya siap menjadi presiden," katanya. Kalimat itu diubah menjadi:
dia menyatakan siap menjadi presiden. Saya tidak mau berkomentar, takut orang
salah persepsi," tegasnya. Kalimat itu diubah menjadi: ia tidak mau berkomentar
karena takut menimbulkan salah persepsi (Romli, 2003:77, 81-83).
D. Format Penyiaran
Pekerja radio modern mengartikan format sebagai programa acara radio yang
ingin menyenangkan khalayak pendengarnya. Musik biasanya menjadi ciri
pentingnya. Tapi, musik bukan acuan utama format radio. Sebab, radio juga
mengkarakterisasi format pemberitaan, percakapan yang bersifat obrolan (colloquial),
71
dan hiburan.
"Format" adalah kerangka kerja, konseptualisasi dari sebuah stasiun siaran.
Format siaran radio merupakan variasi - sekaligus distributor - programa siaran
informasi, musik, dan iklan. Setiap radio merancang format siarannya untuk target-
target tertentu, yaitu: hiburan khalayak, peringkat rating, profesionalisme memproses
informasi-auditif, dan memasok persepsi masyarakat akan informasi tertentu, serta
merebut perhatian khalayak.
Berbagai radio memiliki format penyiaran yang berbeda satu sama lainnya.
Namun, umumnya, terbagi ke dalam pengolongan sebagai berikut:
Siaran informasi. Format ini dipakai oleh stasiun radio yang memakai informasi
sebagai materi utama siarannya. Informasinya selalu diaktualisasikan, berdasar
perkembangan peristiwa yang baru terjadi. Iklan menyusup sesekali, mengiringi
sajian informasi. Talk-show dipakai sebagai sisipan lain yang memperjelas
pemberitaan. Jenis penyiaran ini berkembang di AS dan Eropa Barat. Siaran
musik-informasi. Format ini menekankan musik sebagai targetnya. Dalam
komposisi 60-70% musik dan 30-40% informasi, format siaran radio ini mengisi
kebutuhan masyarakat akan hiburan lewat radio.
Siaran informasi-musik. Format siaran ini memakai perbandingan 60-70%
informasi dan 30-40% musik. Siaran informasinya menyisipkan musik, sebagai
selingan, namun dengan titik berat pada unsur informasi sebagai target
siarannya.
Siaran musik. Format siaran radio ini mencirikan stasiun radio yang menekankan
musik sebagai piranti utamanya. Jumlah siaran informasi, termasuk programa-
programa informasi singkat dan siaran berita, tidak melebihi 10-20% waktu
siaran. Selebihnya, 80-90% diisi dengan siaran musik.
72
E. Proses Siaran
Ruang lingkup kajian jurnalisme radio, menurut Lozhnikova, meliputi
beberapa hal, yang terdiri dari:
Materi siaran,
Tema,
Masalah,
Metode kerja jurnalis,
Bentuk-bentuk dialog dengan pendengar,
Serta penerimaan dan cara mempengaruhi pendengar.
Semua itu berhubungan dengan berbagai hal. Perkembangan di bidang siaran,
temuan-temuan para praktisi sounding journalism, perkembangan media elektronik
(internet), serta perkembangan yang bersifat teknis (seperti, pengiriman pesan, atau
request, melalui model "SMS-handphone"): adalah diantara hal-hal yang
mempengaruhi perkembangan jurnalisme radio. Perkembangan teknologi radio
siaran di bidang perekaman dokumenter (auditif), atau perekaman suara (sound
recording), misalnya, melandasi perkembangan.
Radio-reporting (pelaporan berita radio),
Radio-essay (siaran esai-radio),
Radio-sketch (siaran sketsa-radio),
dan lain-lain.
Proses kerja jurnalis radio terbagi menjadi dua tahap: sebelum dan selama
siaran. Ada perbedaan antara persiapan awal siaran dengan pelaksanaan siaran.
Persiapan siaran adalah metode kerja yang telah lama berlaku di kalangan
jurnalis radio. Tapi pelaksanaan siaran adalah jenis baru jurnalisme radio modern. Ini
merupakan proses yang sulit dan kreatif. Proses ini tergantung pada teknologi.
Metode kerja dasar jurnalisme radio, sebenarnya, berawal dari proses tersebut.
Pada dasarnya, proses siaran radio adalah sebagai berikut:
Perekaman suara,
Montase perekamannya,
Bacaan yang bersifat dokumentatif,
Pengukuran terhadap kualitas auditif,
73
Speech intercourse (penggabungan berbagai "suara"), dan
Pengontrolan.
Berbagai tahapan itu, bila dikaitkan dengan proses pengerjaan sebuah siaran
jurnalisme radio, bagi Abdilzhadllkisi Zhidegul, meliputi kerja:
Perekaman suara dengan tape: a) Dengan bantuan reporter; b) di studio.
Penataan rekaman tersebut (montase) hingga layak siaran.
Penataan fakta-fakta yang hendak disiarkan.
Penataan musik yang mendukung siaran tersebut.
Persiapan naskah secara lengkap, utuh, dan padu.
Perekaman semua bahan siaran.
Persiapan siaran secara lengkap, dari awal sampai akhir.
F. Fungsi Radio
Perkembangan teknologi radio akhirnya meningkatkan fungsi radio sebagai
media jurnalisme. Keberadaan radio, kemudian, terkait dengan berbagai kepentingan
masyarakat, seperti: kebutuhan-kebutuhan kehidupan modern akan pengaruh opini
publik, dengan fungsi jurnalisme radio dalam sistem komunikasi massa, dengan
kreasi-kreasi dari dunia publikasi, dengan sajian feature yang bersifat auditif, dengan
berbagai aturan perhubungan sosial lainnya.
Jurnalisme radio membawa beberapa tugas penting jurnalistik. Jurnalisme
radio bertugas melaporkan fakta-fakta. Juga, membuat estimasi, analisis, interpretasi
terhadap berbagai fakta, berbagai peristiwa, dan fenomena. Dan, selanjutnya, tugas
merepresentasikan fakta-fakta, kejadian-kejadian, dan fenomena.
Ringkasnya, jurnalisme radio membawahi fungsi-fungsi: informasi, analitis,
dan dokumentari artistik.
Informasi: yang muncul dalam programa siaran-siaran informasi, laporan radio,
ulasan-radio, wawancara-radio, dan peliputan radio, serta korespondensi radio
(information radio-correspondence).
Analitis: yang menyajikan analisis-analisis melalui wawancara-radio, peliputan
radio, korespondensi-radio, ulasan-radio, surat-menyurat, ulasan terhadap surat-
surat, percakapan-radio (radio-conversation), komentar-radio, diskusi-radio,
74
pembicaraan-radio, investigasi jurnalistik-radio.
Dokumentari-artistik: ialah komposisi-radio, sketsa-radio, esai-radio, dan radio-
feuilleton.
Berbagai fungsi itu dapat dipilah ke dalam bentuk-bentuk siaran sebagai
berikut:
Monologue genres: informasi yang muncul lewat radio-message, the radio note; the
radio-review, the radio-report, radio-comment, radio-conversation, radio-speech, dan
radio-sketch.
Dialogic genres: melalui radio-conversation, radio-interview, dan radio-discussion.
The synthetic genres (yang berarti memberdayakan seluruh sound broadcasting di
dalamnya): bisa berbentuk melalui acara radio-note, radio-review, radio-report, radio-
composition, radio-correspondence, radio reporting, radio-sketch, radio-essay, dan radio-
feuilleton.
Spesifikasi bentuk penyiaran ini, dalam perkembangannya, menjadi tidak
mutlak. Berbagai stasiun radio kerap mengombinasikannya. Ada yang merancang
programa siarannya di antara, misalnya, orientasi informasi dengan analitikal. Pun
untuk kerangka penyampaian komunikasinya (sounding fragments), dengan
mengombinasikan teknik siaran radio-report, sound illustrations, radio-note, radio-review,
dan radio-sketch.
75
BAB VI
JURNALISME TELEVISI
Televisi saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Banyak orang yang menghabiskan waktunya lebih lama di depan pesawat televisi
dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk ngobrol dengan keluarga atau
pasangan mereka. Bagi banyak orang TV adalah teman, TV menjadi cermin perilaku
masyarakat dan TV dapat menjadi candu. TV Membujuk kita untuk mengkonsumsi
lebih banyak dan lebih banyak lagi. TV memperlihatkan bagaimana kehidupan orang
lain dan memberikan ide tentang bagaimana kita ingin menjalani hidup ini.
Ringkasnya, TV mampu memasuki relung-relung kehidupan kita lebih dari yang lain.
Dalam perekonomian yang sehat, stasiun televisi dapat menjadi tambang emas
bagi pemiliknya, namun dalam perekonomian yang lemah stasiun televisi hanya akan
menghabiskan dana pemiliknya. Menjalankan stasiun TV memerlukan imajinasi dan
gairah, karenanya para pengelola TV haruslah terdiri dari orang-orang yang kaya
gagasan dan penuh energi. Selain itu, TV menggunakan gelombang udara publik,
sehingga TV mempunyai tanggung jawab kepada pemirsanya melebihi bisnis lainnya
dalam masyarakat.
Menurut Peter Herford, Wakil Presiden stasiun TV CBS News selama 13 tahun
dan profesor jurnalistik di Columbia University, pengalaman di bidang televisi
bukanlah jaminan seseorang sukses mengelola stasiun televisi. Barangkali Anda
orang baru di dunia TV, atau bisa juga Anda punya pengalaman puluhan tahun di
bidang ini. Tapi struktur pengelolaan TV dan cara mengelolanya akan menentukan
apakah suatu stasiun TV memiliki peluang besar untuk sukses atau sebaliknya,
memiliki resiko tinggi untuk gagal.
Menjalankan stasiun televisi di kota besar seperti Jakarta ataupun di sebuah
kota kecil di daerah pada dasarnya menuntut kemampuan yang sama. Perbedaanya
hanya terletak pada jumlah pegawai, ukuran gedung, biaya operasional dan jenis
program yang akan ditayangkan.
Menurut Peter Herford, setiap stasiun televisi dapat menayangkan berbagai
program hiburan seperti film, musik, kuis, talk show, dan sebagainya, tetapi siaran
76
berita merupakan program yang mengidentifikasi suatu stasiun TV kepada
pemirsanya. Program berita menjadi identitas khusus atau identitas lokal yang
dimiliki suatu stasiun TV. Dengan demikian, stasiun TV tanpa program berita akan
menjadi stasiun tanpa identitas setempat. Program berita juga menjadi bentuk
kewajiban dan tanggung jawab pengelola TV kepada masyarakat yang menggunakan
gelombang udara publik.
Program berita membutuhkan reporter atau jurnalis untuk menjalankannya,
maka dari sini muncul jurnalistik televisi sebagai salah satu cabang ilmu di bidang
komunikasi. Pada hakekatnya, jurnalistik televisi lahir karena perkembangan
teknologi dalam mengirim suara dan gambar. Bermula dengan ditemukannya
electrisce telescope sebagai perwujudan gagasan seorang mahasiswa dari Berlin, Paul
Nipkow, untuk mengirim gambar melalui udara dari satu tempat ke tempat lain. Hal
ini terjadi antara tahun 1883-1884. Prestasi Nipkow ini menjadikan ia diakui sebagai
'Bapak Televisi'. Sekarang, setelah masa lebih dari 100 tahun, media televisi telah
berkembang dengan sangat pesat, dan bahkan telah menggeser media massa lainnya
dalam hal keunggulannya.
Siaran televisi adalah pemancaran sinyal listrik yang membawa muatan
gambar proyeksi yang terbentuk melalui pendekatan sistem lensa dan suara.
Pancaran sinyal ini diterima oleh antena televisi untuk kemudian diubah kembali
menjadi gambar dan suara. Untuk menyelenggarakan siaran televisi maka diperlukan
tiga komponen yang disebut trilogi televisi, yaitu studio dengan berbagai sarana
penunjangnya, pemancar atau transmisi, dan pesawat penerima yaitu televisi.2
Sejak pemerintah membuka Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada tanggal
24 Agustus 1962 maka selama 27 tahun penonton televisi di Indonesia hanya dapat
menonton satu saluran televisi. Namun, dalam waktu beberapa tahun belakangan ini
industri pertelevisian di Indonesia telah berkembang dengan sangat pesat. Bermula
dari hanya satu stasiun televisi milik pemerintah, kini telah berkembang menjadi
belasan televisi swasta yang berada di Jakarta dan daerah.
Pada tahun 1989, pemerintah memberikan izin operasi kepada kelompok
usaha Bimantara untuk membuka stasiun televisi TPI yang merupakan televisi swasta
pertama di Indonesia, disusul kemudian dengan RCTI, SCTV, Indosiar, dan ANTV.
77
Sejak tahun 2000 muncul hampir secara serentak lima televisi swasta baru (Metro,
Trans, TV-7, Lativi, dan Global) serta beberapa televisi daerah, antara lain Jawa TV,
Bali TV, dan Riau TV.
Di Indonesia, televisi merupakan medium terfavorit bagi para pemasang iklan,
dan karena itu mampu menarik investor untuk membangun industri televisi. Kalau
sebelum tahun 1998 jumlah stasiun televisi swasta hanya ada enam maka sejak tahun
2000 jumlah televisi swasta telah menjadi 11. Kini penonton televisi Indonesia
memiliki banyak pilihan dalam menikmati berbagai program acara televisi.
Media televisi merupakan industri yang padat modal, padat teknologi dan
padat sumber daya manusia. Gerakan reformasi Indonesia tahun 1998 telah memicu
perkembangan industri televisi. Seiring dengan itu, kebutuhan masyarakat terhadap
informasi juga semakin bertambah.
Namun sayangnya, kemunculan berbagai stasiun televisi di Indonesia tidak
diimbangi dengan tersedianya sumber daya manusia yang memenuhi syarat. Meski
lulusan sarjana komunikasi mencapai ribuan orang setiap tahunnya, tidak berarti
dunia jurnalistik televisi memperoleh sumber daya manusia yang mencukupi. Salah
satu persoalannya adalah penguasaan ilmu dasar dari tempat asal kuliah yang lemah
ditambah dengan etos kerja yang rendah dan mental ingin cepat populer menjadikan
kualitas SDM jurnalis televisi sangat memprihatinkan.
Kualitas SDM jurnalis televisi yang rendah ini menyebabkan stasiun-stasiun
televisi baru berupaya untuk membajak tenaga pertelevisian dari stasiun televisi yang
sudah ada. Jumlah SDM jurnalis televisi yang sangat terbatas menyebabkan stasiun
televisi menarik wartawan media cetak untuk terjun ke dunia televisi. Hal ini
dilakukan dengan pertimbangan, daripada tidak ada sama sekali maka lebih baik
mengambil wartawan cetak.
Jadi, walau banyak televisi swasta bermunculan di Indonesia, namun belum
satupun yang menunjukkan profesionalismenya. Pertumbuhan televisi ini juga belum
ada aturan mainnya, sehingga televisi swasta tumbuh menurut keinginannya sendiri,
tanpa mengikuti standar sebenarnya dari sebuah stasiun televisi. Undang-undang
penyiaran yang dikeluarkan pada akhir tahun 2002 tidak otomatis langsung bisa
diterapkan. Sebagian besar ketentuan dalam undang-undang masih harus dijabarkan
78
dalam peraturan pelaksana yang lebih rinci oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
yang dibentuk setahun kemudian setelah undang-undang penyiaran mulai berlaku.
Sumber daya manusia yang mampu melahirkan televisi yang profesional
hanyalah orang-orang yang mendapatkan pendidikan pertelevisian dan telah
mempraktikannya dalam periode yang cukup. Pada umumnya, yang terjadi di
Indonesia bahwa televisi dibangun tanpa pengetahuan pertelevisian yang memadai
dan hanya berdasarkan semangat dan modal yang besar. Ketika televisi swasta
pertama berdiri di Indonesia, belum ada pendidikan tentang broadcasting, sehingga
yang terjadi adalah pembajakan SDM dari TVRI.
Tahun 2003 ini, setelah undang-undang penyiaran disahkan, jumlah televisi
baru di Indonesia diperkirakan akan terus bermunculan, khususnya di daerah, yang
terbagi dalam empat kategori, yaitu TV publik. TV swasta, TV berlangganan, dan TV
Komunitas.
Media massa televisi meskipun sama dengan radio dan film sebagai media
massa elektronik, tetapi mempunyai ciri dan sifat yang berbeda, terlebih lagi dengan
media massa cetak seperti surat kabar dan majalah, untuk itulah dalam
menyampaikan pesan-pesannya juga mempunyai kekhususan. Media cetak dapat
dibaca kapan saja, tetapi untuk televisi dan radio hanya dapat dilihat sekilas dan tidak
dapat diulang.
Upaya menyampaikan informasi, baik melalui media cetak, audio dan
audiovisual masing-masing memiliki kelebihan, tetapi juga kelemahan. Penyebabnya
adalah sifat fisik masing-masing jenis seperti terlihat pada penjelasan di bawah ini.
A. Bahasa Televisi
Stasiun televisi adalah tempat kerja yang sangat kompleks yang melibatkan
banyak orang dengan berbagai jenis keahlian. Juru kamera, editor gambar, reporter,
ahli grafis, dan staf operasional lainnya harus saling berinteraksi dan berkomunikasi
dalam upaya untuk menghasilkan siaran yang sebaik mungkin.
Suasana kerja pada stasiun televisi terkadang penuh ketegangan, khususnya
menjelang suatu program akan ditayangkan, sehingga diperlukan kesigapan dan
kecepatan kerja karena dikejar-kejar tenggat waktu (deadline). Komunikasi yang cepat
79
adalah hal vital dalam pemberitaan TV. Harus tercipta saling pengertian dari setiap
orang yang bekerja dalam proses kreatif ini.
Dunia televisi memiliki banyak istilah yang harus dimengerti oleh setiap orang
yang bekerja di televisi agar komunikasi antara orang-orang dari berbagai jenis
keahlian itu dapat berjalan lancar. Tanpa istilah ini, maka komunikasi itu akan
terputus. Perkembangan teknologi digital yang berkembang pesat belakangan ini
telah memberikan istilah-istilah baru untuk menjelaskan proses kerja baru.
Masing-masing stasiun televisi mungkin mempunyai istilah sendiri untuk
menjelaskan suatu hal yang sama atau suatu proses yang sama. Hal ini menjadi
masalah yang penting, setiap anggota stasiun televisi menggunakan istilah yang sama
agar tidak menimbulkan kebingungan. Setiap anggota tim menggunakan terminologi
atau istilah yang sama. Berikut ini akan dibahas istilah-istilah dasar dalam
pemberitaan televisi yang terbagi dalam beberapa kelompok.
B. Format Berita
Dalam dunia televisi dikenal sejumlah istilah yang terkait dengan format yang
digunakan dalam menyajikan suatu berita. Kelompok istilah ini melihat pada format
yang berbeda yang digunakan untuk jenis berita yang berbeda. Kekuatan televisi
dibandingkan dengan media lainnya adalah kemampuannya untuk membawa
penonton ke lokasi kejadian dengan menggunakan gambar. Gambar yang
dikombinasikan dengan suara alami adalah faktor yang membuat televisi
memberikan pengaruh atau dampak yang sangat kuat kepada penonton. Dikatakan
bahwa gambar dapat bercerita jauh lebih banyak dibandingkan dengan kata-kata.
Salah satu tantangan yang dihadapi para pengelola program berita adalah mencari
cara atau format terbaik dalam menyajikan setiap berita.
Reader
Ini adalah cara yang paling dasar untuk menyajikan sebuah berita. Presenter di studio
hanya membaca isi berita tanpa ada gambar pendukung. Format seperti ini biasanya
hanya digunakan jika sebuah berita penting terjadi pada saat program berita masih
‘on air’. Tentu saja belum ada gambar yang tersedia karena tim liputan belum dikirim
ke tempat kejadian tetapi informasi penting itu harus segera dilaporkan, setidaknya
80
pada fakta-fakta dasarnya saja. Dikenal istilah lain seperti 'berita copy' dan “in vision
only" yang memiliki pengertian yang sama dengan reader.
Laporan dalam format reader dapat dimulai dengan kata-kata: "Berita yang baru saja
kami terima ..." atau "Kami baru saja menerima laporan bahwa sebuah pesawat baru
saja jatuh..." Format berita reader ini biasanya diakhiri dengan kata-kata:"... Kami akan
menyampaikan perkembangan selanjutnya segera setelah kami menerima informasi
terakhir."
Grafis
Format berita grafis biasanya digunakan jika sebuah berita penting baru saja terjadi
dan stasiun televisi belum mendapatkan akses untuk mengambil gambar dan
merekamnya dalam kaset video. Untuk menggantikan gambar video yang belum ada
maka digunakan grafis. Pada banyak kasus, terutama jenis berita bencana, maka
grafis yang dibutuhkan adalah berupa peta yang menunjukkan di mana lokasi
bencana itu terjadi. Grafis dapat pula muncul dalam bentuk foto seseorang, misalnya
dalam menyampaikan berita bahwa seseorang yang terkenal meninggal dunia atau
mengundurkan dari suatu jabatan.
Dalam format berita grafis, pertama-tama presenter muncul membacakan intro (lead
berita) dan kemudian muncul gambar grafis sementara, suara presenter terdengar
membacakan kelanjutan berita tersebut.
Voice Over
Video atau gambar pendek (biasanya sekitar satu menit) yang diiringi dengan
kata-kata penyiar. Format berita ini biasanya digunakan untuk menceritakan sebuah
topik dalam waktu yang singkat. Jika stasiun televisi telah menerima gambar video
dari suatu peristiwa, maka cara tercepat untuk menyampaikan gambar dan berita itu
adalah dengan menggunakan format voice over (VO).
Naskah berita untuk VO dibacakan oleh presenter. Dalam format ini presenter
muncul di depan kamera untuk membacakan intro dan diikuti oleh pemutaran
gambar video yang biasanya berlangsung sekitar 45 detik, sementara suara si
presenter atau VO terdengar membaca berita mengiringi gambar. Istilah lain untuk
VO ini adalah out of vision (OOV) atau underlay.
81
Paket
Paket adalah laporan berita lengkap dengan narasi yang direkam kedalam pita
kaset. Narasi dalam paket dibacakan oleh seorang pengisi suara atau dubber yang
biasanya adalah reporter atau penulis berita (writter). Jadi, berbeda dengan format VO
di mana narasi dibacakan oleh presenter di studio. Kebanyakan berita televisi
dihadirkan dalam format ini. Biasanya rata-rata durasi sebuah paket dalam suatu
program berita adalah 1.45 menit hingga 2.5 menit. Tentu saja ada paket yang
berdurasi lebih lama, misalnya 5 menit atau bahkan 30 menit untuk sebuah laporan
khusus.
Paket ditulis oleh reporter dan harus di-copy edit oleh koordinator bidang
untuk gaya penulisan dan isi. Dvalam sebuah paket biasanya mengandung bagian-
bagian sebagai berikut: gambar, narasi, suara alami, kutipan langsung narasumber,
grafis dan laporan reporter di depan kamera (stand up). Paket selalu dimulai dengan
presenter membacakan intro.
Laporan Langsung (Live)
Jika suatu peristiwa yang mengandung nilai berita masih berlangsung,
sementara program berita masih ‘on air’ maka stasiun televisi dapat menyampaikan
berita dengan format laporan langsung (live report). Hal ini dimungkinkan karena
komunikasi dapat dilakukan melalui hubungan satelit atau microwave. Dalam format
seperti ini, presenter akan langsung berbicara dengan reporter yang berada di lokasi
yang sedang meliput suatu peristiwa; seperti pertemuan politik yang penting atau
sebuah kebakaran besar dan peristiwa penting lainnya. Format seperti ini disebut juga
sebagai dua arah (two way). Laporan langsung akan dimulai dengan layar yang
terbagi dua memperlihatkan presenter di studio pada bagian kiri layar dan reporter
dari lokasi berita pada bagian kanan layar.
Jika stasiun televisi atau reporter tidak mendapatkan kesempatan untuk
melakukan laporan langsung secara visual, maka presenter dapat mewawancarai
reporter dari lokasi melalui telepon yang dikenal dengan istilah laporan langsung
melalui telepon live by phone (LBP) atau phono. Dalam format seperti ini, presenter
akan tampil bersama dengan grafis yang memperlihatkan foto reporter yang sedang
menyampaikan laporan atau sebuah peta atau gambar lokasi yang sudah terkenal di
82
mana si reporter menyampaikan laporannya, misalnya, gambar Menara Eiffel jika si
reporter melaporkan dari Paris, Prancis, atau gambar Gedung Putih jika reporter ada
di Washington DC, Amerika Serikat.
Dalam suatu laporan langsung, narasumber tidak selalu harus reporter, tetapi
bisa saja salah seorang yang benar-benar terlibat dalam berita, yang tentu saja akan
memberikan kredibilitas yang lebih baik dari pada sekedar laporan wartawan.
Sebagai contoh, dalam peristiwa kebakaran besar pada sebuah pabrik, laporan
langsung dapat dilakukan dari studio ke lokasi dan presenter di studio berbicara
secara langsung dengan pemilik pabrik.
Kadang-kadang wawancara langsung dilakukan reporter dari lokasi
sebagaimana presenter di studio. Dalam format ini presenter akan menghubungkan
diri dengan reporter yang akan mengenalkan tamu di lokasi kepada penonton dan
mereka melakukan wawancara.
Live Studio
Pada suatu berita besar, stasiun televisi mungkin akan memutuskan untuk
mengundang narasumber datang ke studio untuk wawancara secara langsung.
Pengelola program berita menilai wawancara studio akan lebih efektif untuk
mendapatkan lebih banyak informasi. Dalam program berita, wawancara studio
biasanya digunakan untuk memperoleh keterangan dari mereka yang berpengaruh
atau pengambil keputusan seperti menteri, pemimpin perusahaan atau politikus.
Orang-orang ini bertanggung jawab kepada publik dan perlu diwawancarai secara
lebih intensif dibandingkan dengan narasumber biasa.
Jika narasumber ini hanya terdiri atas satu orang, maka format ini dikenal
dengan istilah "one-plus-one" (satu tambah satu). Pada kesempatan lain, stasiun
televisi ingin mempertemukan menteri perhubungan dengan pemimpin serikat
pekerja transportasi yang mengecam kebijakan baru pemerintah. Format ini dikenal
sebagai "studio one-plus-two" (satu adalah sebagai pembawa acara).
83
Klip
Klip adalah petikan langsung pernyataan seseorang (soudbite) yang
ditampilkan secara berdiri sendiri pada suatu program berita yang didahului dengan
intro yang dibacakan presenter.
Breaking Story
Berita yang mulai terjadi ketika suatu program siaran berita masih
berlangsung.
Soundbite on Tape (SOT)
Suara dari narasumber atau cuplikan dari wawancara panjang. Istilah lain
untuk SOT adalah sync (baca "sing"). SOT sebaiknya diusahakan pendek dan fokus
sehingga bisa membantu memberikan efek dramatis dari berita yang dibacakan
sebelumnya. SOT dapat ditempatkan setelah VO atau dalam sebuah paket berita.
Panjang SOT biasanya antara 10-30 detik.
Butted Soundite
Dua soundbite yang diedit berturut-turut yang digunakan untuk mengkontraskan
sesuatu. Contoh: menurut A kenaikan harga BBM tidak perlu, tetapi B berpendapat
sebaliknya.
Stand-up
Reporter berbicara dengan mengarahkan diri menghadap ke kamera dari
tempat lokasi pemberitaan dalam suatu siaran langsung (live) atau sebagai salah satu
bagian dalam paket beritanya. Istilah lain untuk ini adalah piece to camera.
In-house Package (Inhouser)
Paket yang ditulis oleh penulis berita (writter) dan kemudian diedit oleh
redaktur. Pengisi suara bagi in-house package ini bisa penulis berita (writter) atau
produser yang sudah lolos tes suara. Paket ini panjangnya maksimal 2.5 menit.
Natural Sound Package (Nat PKG)
Paket yang tidak memakai narasi dari presenter atau reporter, tetapi
mengandalkan kekuatan video dan suara natural, seperti bunyi angin atau suara
tangisan atau suara orang tertawa dan musik.
84
Open
Dua atau tiga VO singkat yang diedit berturut-turut sebagai pembuka program
berita yang bertujuan untuk menarik perhatian pemirsa untuk mengikuti program
berita. Open ini biasanya diikuti oleh open billboard atau open animation. Video yang
dipakai harus mencekam pemirsa dan disertai musik pembuka acara (show) yang
dinamis. Panjang open biasanya 30 detik, tiap VO diambil 10 detik saja.
Teaser
Cuplikan singkat berita (VO singkat) yang akan disampaikan setelah jeda
iklan. Jadi teaser adalah VO yang diedit untuk menarik perhatian pemirsa agar tetap
menonton. Fungsi teaser adalah untuk membuat pemirsa tidak berpindah saluran dan
terus mengikuti program yang muncul setelah iklan.
Teaser yang tidak produktif adalah teaser on camera yang mengajak pemirsa
untuk tetap bersama suatu program berita, namun presenter tidak memberitahukan
apa informasi menarik selanjutnya. Pemirsa dibiarkan menebak informasi apa
selanjutnya yang akan muncul sesudah jeda iklan. Panjang naskah teaser biasanya
antara 15 sampai 25 detik .
Format teaser adalah presenter muncul didepan kamera dan mengatakan:
"Sesaat lagi kita akan mengikuti informasi mengenai..." atau "Jangan ke mana-mana
dulu karena setelah iklan kami akan kembali dengan berita..." Gambar segera muncul
dengan narasi dari presenter yang bersangkutan.
Sync
Kata-kata yang diucapkan pembicara ketika ia tampil di layar televisi. Bentuk-
bentuk sync antara lain: wawancara, soundbite, standup, dan vox pop.
Promo
Informasi mengenai suatu acara yang akan disampaikan, misalnya suatu
wawancara khusus yang menarik dengan tokoh terkenal atau pemberitahuan
mengenai rencana penayangan liputan khusus. Promo adalah perpaduan antara
grafik animasi (grafik yang bergerak dengan warna yang menarik), musik, foto, dan
atau video.
85
Promo dibuat oleh departemen promo atas pesanan redaksi. Produser bisa
menggunakan promo sebagai pengisi acara (filler) jika acaranya tidak mencapai target
waktu yang ditentukan.
Angle
Sudut pandang atau tema yang diangkat dan ditulis pada intro (lead) berita
dari suatu perkembangan terakhir dari suatu peristiwa atau isu yang masih berjalan.
Intro
Kata-kata yang diucapkan oleh presenter untuk mengantarkan sebuah berita.
Istilah lain untuk intro adalah 'link' atau 'cue’
Top Line
Kalimat pertama dari suatu intro.
As Live
Sebagaimana siaran langsung (live), namun sebenarnya direkam terlebih
dahulu untuk memberikan kesan seolah-olah siaran langsung.
Running Story
Suatu berita yang berkembang selama beberapa hari, berminggu-minggu,
bahkan berbulan-bulan.
Vox Pops
Voice of the people atau vox populi yaitu komentar-komentar singkat dari
masyarakat yang berada di jalan Untuk merefleksikan opini publik tentang suatu
berita. Setiap orang menjawab pertanyaan yang sama yang diajukan reporter yang
kemudian memilih soundbite singkat dari beberapa jawaban (tiga atau empat jawaban)
sebagai bagian dari paket beritanya.
C. Memilih Berita Televisi
Redaksi berita suatu stasiun televisi setiap harinya menerima puluhan, bahkan
ratusan informasi yang berasal dari berbagai sumber. Ruang redaksi berita (newsroom)
akan terus-menerus diserang oleh informasi dari dalam negeri dan seluruh penjuru
dunia. Para redaksi harus benar-benar cermat dalam menentukan berita mana yang
dibutuhkan atau menarik bagi pemirsanya. Berbagai informasi tersebut harus
86
disaring untuk menentukan berita mana yang layak ditayangkan. Pekerjaan memilih
berita ini ternyata tidak selalu mudah, terlebih lagi bagi wartawan pemula.
Peristiwa atau pendapat yang pantas disajikan sebagai berita adalah yang
memiliki news value atau nilai berita. Nilai berita diartikan sebagai nilai penting atau
menarik atau gabungan keduanya bagi penonton TV. Selain penting dan menarik,
apakah suatu berita itu harus baru (aktual)? Beberapa ahli mengatakan, suatu
peristiwa atau pendapat itu akan memiliki nilai berita jika peristiwa atau pendapat
itu masih baru, namun sebagian lainnya menilai masalah aktual itu tidak penting.
Menurut pendapat yang terakhir ini, selama ada peristiwa dan peristiwa itu menarik,
maka dapat menjadi berita. Contoh kasus ini adalah berita human interest atau berita
ringan yang sifatnya tidak harus segera siarkan, sehingga berita-berita semacam ini
merupakan berita time less yang artinya tidak terikat waktu.
Lantas, apa saja kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan informasi
yang baik itu? Secara sederhana dapat dikatakan, berita yang dapat diambil untuk
disiarkan itu harus memenuhi sejumlah persyaratan, yaitu sebagai berikut.
a. Penting (Important)
Suatu berita dapat dikatakan penting jika berita itu memiliki dampak terhadap
penonton. Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih cerita adalah menilai seberapa
luas dampak suatu berita terhadap penonton. Semakin banyak pemirsa yang terkena
dampaknya, maka lemakin penting berita tersebut. Semakin langsung dampaknya
bagi pemirsa, maka akan semakin besar pengaruh yang dimiliki berita tersebut. Berita
terbaik biasanya adalah berita yang bersentuhan langsung dengan kehidupan
pemirsa. Ada sejumlah patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berita seperti
apa yang memiliki dampak paling besar, yaitu berikut ini.
b. Keamanan
Nyawa adalah harta paling berharga yang dimiliki manusia. Berita mg paling
kuat adalah berita yang memberikan informasi kepada penonton bahwa nyawa
mereka terancam Peristiwa semacam pemboman, bencana alam atau kerusuhan
massa-terlebih lagi jika peristiwa itu terjadi di kota di mana pemirsa Anda berada-
akan Menimbulkan perasaan bahwa peristiwa itu akan dapat mengancam jiwa
mereka.
87
c. Uang
Berita yang memiliki pengaruh terhadap kondisi keuangan masyarakat adalah
berita yang sangat penting. Uang membuat dunia perputar. Pemirsa akan mengikuti
secara serius dan mencatat bila mendengar bahwa harga beras naik dua kali lipat atau
harga BBM melonjak. Berita-berita semacam ini akan memperlemah daya beli mereka,
dan mereka sangat concern dengan berita semacam ini.
d. Gangguan
Penonton juga akan terpengaruh dengan berita tentang hal-hal yang lapat
mengganggu aktivitas kehidupan mereka. Pemirsa akan memperhatikan secara
serius berita yang akan membuat hidup mereka tidak nyaman atau mempengaruhi
kelancaran hidup. Berita mengenai kekurangan air, demonstrasi yang mengganggu
kelancaran lalu lintas atau pemogokan guru akan mengganggu kenyamanan hidup
pemirsa Anda.
D. Jenis Berita
Pada dasarnya penonton televisi yang mengikuti suatu program berita ingin
mengetahui tentang semua masalah yang berpengaruh pada hidup mereka. Ada
banyak kejadian di masyarakat yang dapat diberitakan selain masalah politik, konflik
sosial, kejahatan, korupsi, atau berita kontroversi. Jangan beranggapan bahwa
pemirsa hanya tertarik pada masalah politik, banyak yang tidak. Penonton
menginginkan suatu program berita dapat menyajikan menu berita yang beragam,
jadi harus ada percampuran yang tepat antara berbagai tipe atau jenis berita yang
ingin ditayangkan. Terdapat beberapa tipe atau jenis berita yang dapat iisiarkan
dalam suatu program berita.
Keadaan Darurat
Berita-berita seperti gempa bumi, perang, kerusuhan, kejahatan, kebakaran
atau kecelakaan merupakan berita yang masuk dalam tipe atau jenis berita keadaan
darurat. Tipe berita seperti ini memperlihatkan bahaya atau petualangan, dan akan
menarik perhatian serta menimbulkan kekhawatiran pemirsa. Keadaan darurat akan
menciptakan drama dan emosi. Berita tipe ini akan menimbulkan emosi penonton
88
dan mereka ingin tahu lebih banyak tentang para korban, penyelamatan, dan
hasilnya.
Bila keadaan darurat tersebut terjadi di kota yang sama dengan suatu
kelompok penonton, maka mereka akan merasa lebih khawatir lagi karena mungkin
mengenali seseorang yang terlibat dengan keadaan darurat itu. Kebutuhan mereka
akan informasi menjadi bertambah besar. Mereka ingin tahu mengapa kejadian itu
terjadi dan apa yang telah dilakukan untuk mencegah terjadinya kejadian serupa.
Pengadilan
Kejahatan besar akan berujung kepada sidang yang besar. Jika kejahatannya
menarik, maka sidang pengadilannya pun begitu. Cukup banyak contoh peristiwa
kriminal besar yang terus diikuti oleh stasiun televisi sejak peristiwa tersebut terjadi
hingga digelarnya sidang pengadilannya seperti: kasus putera mantan presiden
Suharto, Tommy Suharto, peristiwa bom Bali, dan lain-lain.
Pemerintahan
Keputusan pemerintah yang dapat mempengaruhi hidup masyarakat
merupakan berita, namun harus dijelaskan kepada pemirsa bagaimana tepatnya
keputusan itu mempengaruhi mereka. Bila tidak ada pengaruhnya, maka tidak ada
berita. Ingatlah, keputusan pemerintah adalah keputusan politisi yang sedang
berkuasa dan politisi ingin terpilih lagi di masa datang. Jadi, belajarlah untuk
membedakan berita yang sebenarnya dengan kampanye terselubung (vote-catching
rhetoric).
Mintalah pandangan atau komentar kelompok oposisi terhadap keputusan
pemerintah tersebut; bila pandangan mereka tidak disajikan, maka berita tersebut
tidak akan berimbang.
Ekonomi
Krisis ekonomi di Indonesia memberikan implikasi yang luas kepada
masyarakat, dari mulai kenaikan biaya hidup hingga susahnya mencari lowongan
pekerjaan, bahkan kemampuan pemerintah untuk menyediakan pelayanan dasar,
seperti memelihara jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit menjadi berkurang. Berita-
berita yang terkait dengan hal-hal semacam ini diperlukan oleh pemirsa, dan bila
keadaan mulai membaik masyarakat juga ingin tahu.
89
Pendidikan
Sebagian besar masyarakat memiliki anggota keluarga, seperti anak,
keponakan, atau cucu. Berita apapun mengenai sekolah akan menyentuh sebagian
besar pemirsa televisi. Pemirsa akan merasa khawatir jika ada berita tentang
pemogokan guru. Pemirsa akan bertanya siapa yang akan mendidik anak mereka di
sekolah jika guru mereka tidak mengajar karena sedang mogok mengajar. Jika
pemirsa televisi adalah orang-orang yang memiliki karir dan keluarga, maka berita-
berita yang terkait dengan cara mengasuh anak bagi orang tua bekerja akan sangat
menarik mereka. Penonton memerlukan pandangan terhadap masalah siapa yang
akan menjaga anak selama orang tua bekerja.
Tren Dan Musim
Stasiun TV harus mencermati tren atau pola perubahan yang terjadi pada
masyarakat, ini dapat berupa angka pengangguran, tingkat kejahatan atau gaya
hidup. Namun, stasiun TV harus menjelaskan faktor-faktor yang menjadi latar
belakang dari timbulnya suatu tren atau pola perubahan ersebut.
Perayaan
Perayaan khusus seperti Idul Fitri, Natal, atau upacara keagamaan dan
kebudayaan lainnya sangat penting bagi komunitas masyarakat tertentu dan harus
ditampilkan dalam program berita televisi, juga karena mereka merupakan sumber
gambar yang bagus.
Cuaca
Musim hujan dapat menimbulkan perubahan besar yang beresiko banjir atau
badai. Cuaca dapat mempengaruhi cara hidup kita. Merupakan tugas stasiun TV
untuk memperingatkan pemirsa tentang cuaca yang akan terjadi dan apa akibatnya
bagi kehidupan mereka.
Kesehatan
Kesehatan merupakan masalah hidup dan mati dan karena itu menarik bagi
semua pemirsa. Program berita TV harus memperingatkan masyarakat bila timbul
penyakit, bagaimana menghindari penyakit tersebut dan bila terjangkiti bagaimana
menyembuhkannya. Masyarakat juga perlu mengetahui bila pelayanan kesehatan
90
tidak berfungsi dengan benar sehingga penanganan suatu penyakit tidak dapat
dilakukan. Berita kesehatan juga membantu mendidik masyarakat tentang cara
melindungi diri mereka sendiri. Penonton ingin mengetahui penyakit baru yang
mungkin timbul atau ditemukannya pengobatan baru.
Lingkungan
Stasiun TV seharusnya mengangkat berita tentang polusi, kebakaran hutan,
pembuangan limbah, konservasi sumber alam, dan lain-lain. Hutan Indonesia adalah
hutan nomor dua terbesar setelah Amazon, dan saat ini lenyap dengan cepatnya
karena berbagai sebab, antara lain penebangan liar. Berita mengenai lingkungan
semakin penting belakangan ini di Indonesia dan menarik perhatian masyarakat
internasional.
Olahraga
Berita olahraga pada umumnya telah memiliki pemirsanya sendiri dan
sebagian besar stasiun televisi telah membuat program khusus berita olahraga.
Namun demikian, berita olahraga tetap perlu dimasukkan dalam program berita
umum sehingga penonton tetap akan mendapatkan informasi terakhir tentang klub
olahraga favorit mereka.
Berita Ringan
Banyak program berita berakhir dengan berita ringan untuk membantu
penonton pindah dari sesuatu yang serius ke program hiburan yang biasanya
mengikuti suatu program berita. Berita-berita ringan ini biasanya berupa sesuatu
yang lucu atau aneh. Berita ringan ini juga dapat berupa kehidupan atau hasil yang
telah dicapai orang terkenal (selebriti). Berita-berita mengenai artis atau gosip tentang
mereka memiliki tempat tersendiri dalam program berita.
E. Menulis untuk Televisi
Penulis naskah berita adalah salah satu pekerjaan utama seorang reporter
televisi. Naskah berita televisi sering disebut dengan istilah narasi berita, naskah, atau
skrip berita. Bagi sebagian reporter televisi, menulis naskah untuk televisi merupakan
tantangan terbesar, khususnya bagi mereka yang belum berpengalaman. Menulis
berita pada dasarnya adalah proses merangkum dan memilih sejumlah fakta
91
terpenting yang akan membatu reporter atau penulis naskah (writter) untuk
mengungkapkan atau menceritakan suatu peristiwa.
Beberapa prinsip jurnalistik yang diterapkan di radio atau media cetak
terkadang dapat menjadi penghalang bagi mereka yang belum berpengalaman
menulis untuk televisi. Banyak reporter yang ternyata sulit untuk meninggalkan gaya
menulis koran ketika ia pindah bekerja di televisi. Menulis untuk televisi jelas berbeda
dengan menulis untuk koran ataupun media lainnya. Menulis naskah televisi yang
baik memerlukan keahlian yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk
menguasainya. Beberapa reporter televisi bahkan tidak pernah mampu mencapainya.
Perbedaan utama seorang reporter televisi dengan reporter media lainnya
dalam menulis naskah berita terletak pada faktor gambar, atau visual yang harus
diperhitungkan seorang reporter televisi ketika ia menulis naskah berita. Seorang
reporter televisi harus mempertimbangkan gambar-gambar yang akan digunakannya
sebelum ia menulis naskah berita. Gambar-gambar itu akan menentukan cara reporter
menulis berita untuk televisi, dan hal ini tidak ditemui pada reporter media lainnya.
Jadi, narasi atau skrip berita itu hanya sebagian dari berita televisi, sedangkan
sebagian lainnya adalah gambar keduanya sama pentingnya dan saling isi mengisi.
Seorang reporter televisi harus menulis berdasarkan gambar (write to video).
Adanya gambar atau visual ini sebenarnya sangat membantu pekerjaan reporter
ketika menulis naskah berita. Reporter televisi tidak perlu menjelaskan segala
sesuatunya dengan terlalu rinci, karena sebagian besar fakta telah dijelaskan dengan
gambar. Karena itu, penting bagi reporter televisi untuk menghindari pembebanan
naskah yang terlalu panjang atau penggunaan bahasa yang rumit. Inilah salah satu
perbedaan prinsip antara jurnalisme televisi dan jurnalisme media lainnya.
Prinsip utama ketika menulis naskah berita televisi adalah bahasa yang
sederhana. Pada pokoknya, semakin sederhana suatu naskah berita maka akan
semakin baik. Bahasa yang sederhana akan dimengerti oleh semua orang. Buatlah
berita yang dapat diterima pikiran orang kecil namun juga dapat diterima oleh
kalangan professor, dengan begitu, reporter yang menulis berita telah membuat
keduanya senang. Televisi CNN menyatakan bahwa berita itu harus: "to be understood
by the truck driver while not insulting the professor's intelligence." (berita itu harus aapat
92
dimengerti oleh sopir truk namun tanpa harus merendahkan kecerdasan sang
profesor). Pada pokoknya, reporter dan penulis naskah renta harus berusaha menulis
narasinya semenarik mungkin sesuai dengan isi dan esensi berita yang disampaikan.
Penonton televisi menggunakan dua inderanya sekaligus, yaitu mata dan
telinga ketika menonton berita televisi. Tidak demikian halnya dengan media lainnya
yang hanya menggunakan salah satu dari kedua indera tersebut. Pada saat menonton
televisi, mata menerima gambar yang muncul di layar dan telinga menangkap suara
apapun yang keluar dari televisi. Apa yang diterima oleh mata dan apa yang diterima
oleh telinga pada prinsipnya harus sinkron, seiring sejalan, saling isi mengisi, dan
saling menjelaskan. Jika apa yang diterima kedua indera tersebut tidak cocok atau
saling bertentangan, maka akan menimbulkan kebingungan. Jika apa yang
disebutkan dalam naskah tidak sesuai dan tidak sejalan dengan gambar yang dilihat,
maka hal itu merupakan gangguan bagi penonton.
Naskah berita televisi terdiri atas tiga bagian, yaitu intro, badan narasi (main
body), dan penutup atau kalimat akhir. Reporter atau penulis naskah berita harus
memahami fungsi atau tujuan dari masing-masing bagian ini. Dan harus diingat,
jangan pernah mengulang apa-apa informasi yang sudah diungkapkan pada bagian
sebelumnya.
Sebelum memulai menulis, ada baiknya setiap reporter menjawab pertanyaan
mengenai berita yang akan ditulisnya, yaitu mengenai apa berita yang akan ditulis
itu? Kenapa berita ini penting untuk disampaikan? Apa yang baru dalam berita ini?
Dan bagaimana menyampaikannya seefektif mungkin? Untuk menjawab pertanyaan
semacam ini, maka reporter perlu menghayati bahan-bahan sumber berita dengan
baik serta menggarisbawahi poin-poin yang dapat diangkat. Cari pula esensi, benang
merah dan sudut pandang dari berita tersebut sehingga menemukan angle yang akan
diangkat. Setelah reporter mendapat jawabannya, maka ia dapat memulai menulis
naskah berita itu.
Cobalah untuk selalu merasa tertarik dengan apapun yang akan ditulis. Jangan
pernah merasa bahwa berita yang sedang dikerjakan itu adalah berita yang
membosankan. Jika reporter merasa bosan, maka hampir pasti ia akan menghasilkan
berita yang membosankan penonton. Reporter merasa bosan karena ia gagal
93
mendapatkan sisi yang menarik dari berita itu. Lihatlah kembali hal-hal yang belum
terungkap atau aspek yang dapat memberikan dimensi yang lebih luas dan lebih
relevan untuk pemirsa. Pikirkan pembukaan berita yang kuat dan langsung pada
sasaran, dan jika ini berhasil dilakukan, kalimat-kalimat selanjutnya akan mengalir
lancar.
Intro Berita
Intro atau lead merupakan bagian terpenting dari suatu berita. Berita televisi
selalu dimulai dengan intro (lead) yang dibacakan oleh penyiar di studio. Intro
merupakan rangkuman dari seluruh unsur terpenting dari suatu berita dengan latar
belakang dan konteks yang diperlukan.
Intro sebisa mungkin harus mengandung hampir seluruh unsur terpenting
suatu berita yang mencakup 5 W, yaitu what, where, when, why dan who, sedangkan
badan berita berfungsi untuk menguraikan unsur how yang belum dijelaskan pada
intro. Jadi intro adalah tulang punggung dari suatu berita.
Dengan demikian, fungsi utama intro adalah untuk menjual berita tersebut
kepada pemirsa. Intro berfungsi untuk menarik perhatain penonton agar menyimak
berita bersangkutan sampai akhir. Intro harus disusun sedemikian rupa, sehingga
bisa membuat penonton merasa perlu mengikuti beritanya sampai akhir, namun
harus tetap objektif, tidak sensasional, atau bombastis.
Intro yang ditulis dengan baik akan dapat menahan pemirsa untuk tidak
beranjak dari tempat duduknya, sedangkan intro yang yang ditulis dengan buruk
akan mendorong penonton pindah saluran untuk nonton acara goyang ngebor Inul.
Intro adalah hal pertama yang harus ditulis reporter dan bukan sebaliknya.
Intro haruslah sesuatu yang sangat kuat yang mampu menarik perhatian penonton.
Pada umumnya, penulis naskah berita menghabiskan waktu terbesar mereka ketika
menulis intro. Kalimat atau paragraf selanjutnya harus menjawab atau menjelaskan
hal-hal yang belum dijelaskan pada kalimat atau paragraf sebelumnya.
Intro adalah bagian yang tidak terpisahkan dari badan dan penutup berita.
Semuanya menjadi satu rangkaian cerita yang sambung-menyambung dari awal
hingga akhir, dari intro hingga penutup. Dengan demikian, apa yang sudah
94
dijelaskan pada intro tidak boleh diulang kembali pada badan berita ataupun paragraf
penutup.
Dalam banyak kasus, ternyata tidak mudah bagi penulis pemula untuk
menulis intro pada kesempatan pertama, dan karena itu reporter menulis intro pada
kesempatan terakhir ketika seluruh badan berita dan penutupnya telah selesai dibuat.
Cara ini sebenarnya akan menyulitkan reporter itu sendiri, karena ia kemungkinan
besar akan mengulangi apa yang sudah ditulisnya di badan atau penutup berita pada
intro.
Reporter yang menulis naskah dimulai dari badan berita cenderung akan
menghabiskan seluruh informasi yang ada sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk
menulis intro. Selain itu, penulisan yang dimulai dengan mtro terlebih dahulu akan
membantu produser program berita untuk meng tahui pada kesempatan pertama
mengenai apa yang ditulis reporternya dan mempersiapkan penempatan berita itu di
dalam program beritanya.
Reporter dapat menggunakan intro untuk menyampaikan fakta yang tidak ditunjang
dengan gambar pendukung. Misalnya berita mengenai aksi unjuk rasa mahasiswa
menentang kenaikan harga BBM yang terjadi di sejumlah kota di Indonesia. Stasiun
televisi terkadang tidak memiliki reporter dan juru kamera untuk meliput seluruh
aksi demonstrasi yang ada di setiap kota. Gambar yang tersedia hanya aksi unjuk rasa
di Jakarta, maka berita ini dapat ditulis seperti contoh di bawah ini.
Presenter in vision (INTRO)
MAHASISWA DI BEBERAPA KOTA DI
INDONESIA HARI INI KEMBALI TURUN KE
JALAN MENENTANG KENAIKAN
BBM//DI YOGYAKARTA 5000
MAHASISWA BERUNJUK RASA
MENENTANG KEBIJAKAN PEMERINTAH
ITU/SEDANGKAN DI MAKASSAR LEBIH
DARI 2000 MAHASISWA JUGA BERUNJUK
RASA//
95