The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan SMK Telkom Banjarbaru, 2023-03-16 23:23:37

antologi cerpen lara

antologi cerpen lara

i Lara 19_20


ii Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal 1: 1. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan. Pasal 9: 2. Pencipta atau Pengarang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 memiliki hak ekonomi untuk melakukan a. Penerbitan Ciptaan; b. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya; c. Penerjemahan Ciptaan; d. Pengadaptasian, pengaransemen, atau pentransformasian Ciptaan; e. Pendistribusian Ciptaan atau salinan; f. Pertunjukan Ciptaan; g. Pengumuman Ciptaan; h. Komunikasi Ciptaan; dan i. Penyewaan Ciptaan. Sanksi Pelanggaran Pasal 113 1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100. 000. 000, 00 (seratus juta rupiah). 2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak C ipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500. 000. 000, 00 (lima ratus juta rupiah).


iii Suryanti, S.S., M.Pd. Muhammad Rizki Pratama, S.Pd. Lara 19_20 Penerbit Lakeisha 2023


iv Lara 19-20 Penulis: Suryanti, S.S., M.Pd. Muhammad Rizki Pratama, S.Pd. Editor: Andriyanto, S.S., M.Pd. Layout: Yusuf Deni Kristanto, S.Pd. Desain Cover: Tim Lakeisha Cetak I Februari 2023 15,5 cm × 23 cm, 121 Halaman ISBN: 978-623-420-625-8 Diterbitkan oleh Penerbit Lakeisha (Anggota IKAPI No.181/JTE/2019) Redaksi Srikaton, RT 003, RW 001, Pucangmiliran, Tulung, Klaten, Jawa Tengah Hp. 08989880852, Email: [email protected] Website: www.penerbitlakeisha.com Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.


v KATA PENGANTAR Puji Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penyusunan buku Antologi Cerpen: Lara 19-20 selesai tepat pada waktunya. Buku ini hadir untuk mengapresiasi hasil karya para penulis dan dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia di masa pandemi covid-19. Dalam buku ini, berisikan tulisan-tulisan cerpen para penulis. Meskipun wabah covid-19 tengah melanda, namun tidak mengurangi kreativitas dan inovasi dari para penulis. Mudah-mudahan dalam penerbitan antologi cerpen ini diharapkan mampu menjadi inspirasi dan motivasi serta bisa menularkan virus menulis khususnya di kalangan generasi milenial saat ini. Akhirnya pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam upaya penyelesaian buku ini dan kepada pengguna buku atas kesediaan memberikan saran dan kritik dalam penyempurnaan buku ini. Penulis berharap buku ini dapat berkontribusi dalam upaya meningkatkan kreativitas generasi muda maupun masyarakat luas. Banjarbaru, Desember 2022 Penulis


vi SAMBUTAN KEPALA SMK TELKOM BANJARBARU Dr. Eko Suhartono, Drs., M.Si. Assalamualaikum Wr. Wb Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penerbitan antologi cerpen ”Lara 19_20” para penulis dari SMK Telkom Banjarbaru bisa terwujud. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan berperan dalam penerbitan antologi cerpen ini. Tradisi membaca dan menulis merupakan kegiatan kreatif yang perlu terus dikembangkan dan dibudidayakan baik di kalangan guru, peserta didik, warga sekolah, maupun masyarakat luas. Bahkan saat ini pemerintah sudah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015 dengan tujuan memperkuat budi. Salah satu faktor yang menentukan penguasaan ilmu pengetahuan adalah seberapa besar minat dan kemauan seseorang untuk membaca dan sekaligus menulis. Semakin banyak membaca, tentu semakin banyak yang diketahui dan dipahami serta semakin banyak pula karya yang bisa diciptakan. Dalam penerbitan antologi cerpen ini diharapkan mampu menjadi inspirasi dan motivasi serta bisa menularkan virus menulis khususnya di kalangan generasi milenial saat ini. Teruslah bekerja dan berkarya untuk membuat kita berharga Wassalamualaikum Wr. Wb.


vii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................................. v SAMBUTAN KEPALA SMK TELKOM BANJARBARU................... vi DAFTAR ISI......................................................................................... vii Lara Oleh : Suryanti, S.S., M.Pd.....................................................................................1 Perpisahan Oleh : Muhammad Rizki Pratama, S.Pd. ...............................................................5 Nyepi Assasination Oleh: Muhammad Achyadi Rahmat ........................................................................9 Sebuah Penyesalan Oleh : Adelia Fitriani........................................................................................... 14 Aku, Kamu dan Kehilangan Oleh : Annisa Anggraini ...................................................................................... 17 Di rumah Aja, Pusing!!! Oleh: Assyfa Maharani Hernoto .................................................................... 21 Lekas Sembuh Indonesia Ku! Oleh: Davin Rafael Saputra ................................................................................. 24 Musuh Tak Terlihat Oleh : Hanugrah Nur Muharrani Putri ......................................................... 27 Sahabat Tersayang di Era Covid-19 Oleh: Nadhia Isnawati Humaera.......................................................................... 31


viii Virus yang Menjadi Takdir Oleh: Najwa Salma Nabilla................................................................................. 34 Di Rumah Aja Oleh : Diah Novitasari......................................................................................... 40 Hello Panda Oleh : Paula Carolina Natalia ............................................................................. 43 COVID-19 Oleh: Raditha Ariyani.......................................................................................... 56 Mengapa…??? Oleh: Satriya Yoga Madhasatya............................................................................ 58 Karantina Oleh : Syifa Azzara Diyanti ................................................................................ 61 Sebelum Virus itu Tiba Oleh: Wahyu Eka Septian Anwar....................................................................... 64 Mencoba Hal Baru Oleh: Yeni Angraini ............................................................................................. 67 Sisi Lain dari Pandemi Covid-19 Oleh: Adristi Tazkia Putri................................................................................... 70 Untung Bukan Corona Oleh : Muhammad Akbar Luthfia Azwin........................................................... 73 Cinta yang Terpisahkan Oleh : Akmal Bahana Putera............................................................................... 76 Berita Tentang Corona Oleh: Muhammad Akram Rifqiy ......................................................................... 79 Profesor Corona Oleh : Putra Maulana Sutrisno............................................................................. 82 Enjoy D’life Guys Oleh : Dicky Nurrohman Harianto...................................................................... 85 Akibat Menyepelekan Covid-19 Oleh : Muhammad Azra Syafi'i ........................................................................... 88


ix Covid-19 Ulah Fremasmas Oleh: Yosia Marvel Setiawan................................................................................ 91 Pandemi COVID-19 Oleh: Wery Holanta Mangera............................................................................... 94 Menjaga Kesehatan Itu Penting Oleh: Virgi Atha Raditya .................................................................................... 97 Pandemi Virus Corona Oleh : Andry Rionesfan Tloen............................................................................. 101 Kebaikan di Tengah Pandemi Oleh : Muhammad Fajar Shadiq Redhani .......................................................... 105 Mudik yang Hampir Membawa Covid-19 Oleh : Fakhir Mustafa Afdal ............................................................................. 108 Dunia Sedang Berpuasa Oleh : Faris Anshori........................................................................................... 111 Covid-19 Sebagai Wadah Untuk Berkarya Oleh: Muhammad Najin .................................................................................... 114 Lemas Seketika Oleh: Rohmad Hidayat....................................................................................... 117 Sebuah Penyesalan Oleh : Zahwa Ananda........................................................................................ 120


x


Lara 19-20 1 Lara Oleh : Suryanti, S.S., M.Pd. Covid…..??? Siapa sih, yang ga tau! Musim penghujan di pertengahan Januari 2019 lalu, virus itu menular dengan cepat bak roket yang melambung, menjadi pandemi yang menguasai seluruh jagad. Pemerintah Indonesia kini waspada memutus rantai penyebaran virus covid-19 itu. Semua aktifitas lumpuh, suasana mencekam, ketakutan melanda seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Berita kematian….kematian, dan kematian yang setiap hari ku dengar. Kematian yang telah merenggut sahabat, teman sejawat, dan bahkan kerabat. Sore ini lagi dan lagi, senja menggantung di cakrawala, menyebarkan cahaya keemasan bercampur merah, menunjukkan siapa yang paling bertahta di bumi ini. Angin yang menyapu sisa-sisa debu kota ke setiap helai kain yang menempel di baju kerja, membisikkan sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh orang lain. Perasaanku selalu sama. Merindukan kampung halaman. Sudah satu tahun terakhir aku tidak pulang ke kampung halaman. Hampir tiga setengah tahun aku merantau menyeberang pulau. Ya, setelah lulus kuliah, aku mengadu nasib di rantau orang. Aku bekerja pada sebuah perusahaan di kota Sendawar, perusahaan yang cukup besar lah menurutku. Hampir tiap tahun aku selalu cuti pulang kampung. Ini adalah tahun ketiga aku di rantau orang, dan tahun pertama aku tidak bisa pulang kampung….. ini semua terjadi akibat virus corona yang sedang naik daun. Biasanya yang naik daun artis, tapi ini si corona…hehehe. Aku hanya bisa gigit jari dan menahan rindu, ketika perusahaanku tempat bekerja melarang karyawannya untuk pulang


2 Lara 19-20 kampung. Hal itu dilakukan dengan alasan keamanan dan keselamatan anggota keluarga karyawan. Meskipun begitu saya tetap bersyukur, karena bisa melampiaskan rinduku lewat panggilan video call dengan keluarga di kampung. Perusahaan tempatku bekerja bergerak di bidang ekspor dan impor, yang sedikit banyak mewajibkan bertemu dengan orang-orang dari luar perusahaan. Ada rasa was-was ketika ada karyawan yang bertemu dengan orang-orang dari luar kota. Rasa takut jika karyawan ada yang terjangkit virus itu. Dan benar saja, sehari setelah bertemu dengan orang dari luar perusahaan, Asisten Manager di perusahaan kami mengalami gejala yang menunjukkan gejala covid. Sore harinya beliau langsung melakukan swab, dan hasilnya posistif. Langsung himbauan kepada seluruh karyawan untuk melakuakn swab secara serentak saat itu juga. Dan hasilnya sangat mencengangakan, dari sekitar 80 karyawan ada 37 yang dinyatakan positif. Salah satunya adalah Nina, teman baikku di perusahaan ini. Nina memiliki riwayat asma. Setiap hari dia selalu membawa inhaler untuk meredakan asmanya jika kambuh. Sore ini, langit terlihat suram. Aku, menatapi serpihan air yang turun dari gelapnya langit. Dengan secangkir susu cokelat panas, aku duduk di teras kamar kosku. Apalagi yang lebih baik dari ini? Lamunanku kian menari mengingat masa kecilku di kampung halaman. Begitu bahagianya masa kanak-kanakku dulu. Kring…kring…. Suara dering telpon sontak membuyarkan lamunanku. Terlihat nama Nina memanggil di layar gawaiku. “Hallo, iya Nin” jawabku. “Ini, ibunya Nina nak”….dengan suara yang begitu lemah hampir tak terdengar. “Owh, iya tante…ada apa?”. “Nina dibawa ambulans ke Rumah Sakit, demamnya tinggi dan sesak nafas, tapi kami tidak diperkenankan ikut” sahut ibunya. “Tante yang sabar ya, nanti Echa coba hubungi Nina, tante jangan khawatir…tante harus tenang ya” sahutku. “Makasih, ya nak. Tolong bantu Ibu ya”. “Iya tante, pasti Echa bantu”. “Ya sudah Ibu tutup dulu ya nak”. “Iya tante” Pungkasku. Hari ini, tepat satu minggu Nina berada di Rumah Sakit. “Nin, bagaimana kabarmu pagi ini” ku kirim pesan ke whatsapp Nina. “Sudah mendingan Cha, tapi kadang-kadang demamku kaya jalangkung, tiba-tiba


Lara 19-20 3 datang tanpa ku undang heheheh…. kalau asmaku kambuh juga aku harus pake selang oksigen’. “Kamu yang sabar ya Nin, kamu harus tetap semangat untuk sembuh ya. Aku di sini hanya bisa mendoakanmu, semoga kamu segera sehat dan pulih, cepet berkumpul lagi dengan keluargamu. Amin”. “ Makasih, ya Cha. Kamu harus jaga diri baik-baik ya, harus jaga kesehatan”. “Iya..iya, makanya kamu cepet sembuh ya. Ya udah Nin, q mau lanjut ngerjakan data dari Pak Andi dulu ya, daaaa…..”. “Ok Cha” balasnya. Bak petir di siang bolong, pagi tadi aku baru menanyakan kabar lewat whatsapp tentang kondisi Nina. Ternyata setelah kami saling menanyakan kabar, kondisi Nina drop dan sore ini aku mendengar kabar bahwa Nina sudah meninggal dunia, meninggalkan kami untuk selamalamanya. Tak terasa air mataku menetes, bagaimana tidak sahabat yang sangat ku sayangi telah pergi untuk selamanya. Ternyata percakapan lewat whatsapp pagi tadi adalah komunikasiku yang terakhir dengannya…Ya Tuhan, Karenina Handoyo sahabat baikku sejak lima tahun terakhir. Semua proses dan prosedur pemakaman di lakukan oleh pihak Rumah Sakit, dan dilakukan pada malam harinya. “Nina, maafkan aku ya, aku hanya bisa mengantar dan melihatmu dari jauh…Aku yakin kamu pasti sudah bahagia di surga, kamu sudah tidak sakit lagi. Ayah dan Ibunya sangat terpukul dengan kepergian Nina. Hampir satu bulan terakhir berita kematian selalu berseliweran lewat pesan whatsapp. Tetangga di deket kostku dalam satu bulan terakhir, ada tiga orang yang meninggal karena covid 19. Delapan hari yang lalu, Bapak Dhani Kepala Keuangan di kantorku juga meninggal karena covid-19. Dua hari kemudian istrinya juga menyusul. Sudah sembilan orang teman di kantorku yang meninggal karena covid-19, salah satunya Nina teman sekaligus sahabat terbaikku. Rata-rata mereka meninggal karena kormobid. Ada yang hipertensi, asma, jantung, diabetes dan lainlain. Sebulan, dua bulan keadaan semakin tidak baik-baik saja, protokol kesehataan semakin diperketat dan pemerintah mengeluarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan hampir 100% pegawaipegawai pemerintah maupun swasta harus bekerja dari rumah (WFH).


4 Lara 19-20 Sudah hampir dua bulan perusahaan kami juga menerapkan WFH, ada rasa bosan sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, kita harus menaaati peraturan pemerintah dan juga perusahaan. Aku bersyukur ketika banyak teman-temanku yang karena covid mereka harus dirumahkan, aku masih dipercaya untuk bekerja meskipun dari rumah. Rasanya belum kering air mataku, belum sembuh lara karena kepergian teman sejawat dan sahabat aku dikejutkan lagi dengan berita kepergian tanteku beserta anaknya di kampung halaman. “Dek, tante Sari meninggal”. Isi pesan whatsapp dari Kakakku. Langsung aku telpon Kakakku untuk memastikan kebenaran kabar ini. Ya, tanteku meninggal sebelum melahirkan anaknya, karena penanganan yang lama dan prosedur yang cukup rumit tanteku dan anaknya tidak tertolong. Setelah muncul covid 19, sebelum melahirkan harus diswab dulu, padahal tanteku sudah mau melahirkan dan air ketuban sudah pecah…karena harus mengikuti prosedur Rumah Sakit, akhirnya nyawa tanteku dan anaknya tak tertolong lagi. Ya Tuhan, kabar apa lagi ini….Kepergian orang-orang yang aku sayang dan dekat denganku, tapi aku tidak bisa mengantarkannya. Sesak rasanya dada ini…hanya bisa menangis dan menangis…Hanya doa yang mengantarkan kepergian mereka. Teman sejawat, sahabat, dan bahkan kerabatku turut menjadi korban covid 19. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan ini, aku harus bangkit dan bersemangat dalam menjalani hari-hari ke depannya. Semoga derita dan lara ini segera berlalu dari jagad raya, kita semua diberi kesehatan.. Amin.


Lara 19-20 5 Perpisahan Oleh : Muhammad Rizki Pratama, S.Pd. Pagi itu aku terbangun dari tidurku, ku lihat jam menunjukan pukul 07.13. Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk sekolah online. Memang sudah kebiasaanku mandi tepat waktu. Setelah mandi aku menelpon Ayu tapi tidak diangkat. Aku menyalakan laptopku dan mulai masuk ke dalam zoom meeting mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sambil membuka laptop dan menunggu pembelajaran dimulai, aku masih mencoba menelpon Ayu. Keterangan pada handphoneku berdering tapi tak kunjung diangkat oleh Ayu. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya aku berhenti untuk menelponnya. Pembelajaranpun dimulai aku fokus pada pembelajaran, pelajaran pada hari ini adalah membuat puisi. Aku suka membuat puisi, terkadang waktu kosong ku habiskan untuk menulis puisi. Bu guru mulai menjelaskan cara-cara menulis puisi dengan detail. Sampai akhirnya handphoneku berbunyi, ku lihat Ayu menelponku dan langsung ku angkat. “Halo Radit, kenapa kamu engga bangunin aku” dengan nada kesal Ayu menelponku. “Aku udah telpon kamu beberapa kali, coba aja liat daftar panggilan di handphone kamu” “Iya bener tapi seandainya kamu coba terus pasti aku bakalan bangun” “Ya udah maaf, sekarang udah bangunkan? Cepet sana join zoom tadi nama kamu dipanggil sama Bu guru”.


6 Lara 19-20 Sambungan telepon kami terputus. Aku kembali mendengarkan penjelasan dari Bu guru. Akhirnya pembelajaran Bahasa Indonesia pun selesai, namun Bu guru memberikan tugas untuk membuat puisi dengan tema bebas. Karena deadlinenya masih 2 Minggu ke depan akhirnya aku masih bisa bersantai. Aku membuka chat di handphoneku, terlihat pesan Ayu masuk. Akupun langsung membukanya, alangkah terkejutnya aku ketika membacanya. Ketika dia dengan panjang lebar berkata bahwa hubungan yang kami jalani selama 1 tahun ini harus berakhir karena alasan LDR. Maklum sekarang sedang Covid-19 dan angka penyebarannya kian hari semakin meningkat. Ayu berada di Kotabaru dan aku berada di Tanjung, dua kota yang sangat berjauhan dan tepat di ujung Provinsi Kalimantan Selatan. Ayu beralasan bahwa akibat Covid-19 ini kami jadi tidak bisa bertemu, jika biasanya sekolah offline kami bisa sharing secara langsung sekarang tidak bisa lagi. Hatiku sangat hancur mendengar alasan Ayu, memang Covid-19 ini membuat kami terpisah kurang lebih 1 tahun. Aku tidak bisa menerima semua ini aku mencoba untuk mencari jalan keluar namun keputusan Ayu sudah bulat dan kami harus berpisah. Satu minggu aku dirundung duka hatiku sangat merana. Setiap waktu aku selalu memikirkan kenangan bersama Ayu, aku tidak tahu kapan Covid19 ini akan berakhir yang aku tahu kami tidak akan bertemu kecuali nanti ketika kami telah lulus SMK. Aku teringat akan tugas Bahasa Indonesia membuat puisi, aku berpikir untuk mencurahkan isi hati ini ke dalam puisi tersebut. Tanpa pikir panjang aku mulai menulis puisi untuk dikumpulkan mengingat deadline semakin dekat. Pagi itu aku memulai pembelajaran online Bahasa Indonesia kembali. Bu guru mulai memberikan pembuka mengenai pembelajaran, tak lama kemudian Bu guru memanggil namaku. “Raditya Pratama”. Dengan terkejut dan masih dalam keadaan mengantuk aku membalas panggilan tersebut “Iya Bu, hadir”.


Lara 19-20 7 “Raditya, saya suka sekali puisimu sangat bagus” dengan nada memuji. Sontak aku pun terkejut mendengar hal itu. Terlebih lagi Bu guru memintaku untuk membacakan puisi tersebut di zoom meeting. “Sekarang saya minta kamu untuk membacakan puisi yang kamu buat” “Iya Bu, siappp” dengan jantung yang berdebar aku mencoba membaca puisi tersebut Kenangan dalam duka Mungkin sebuah jalan menuju cerita Dalam dunia yang penuh luka Dari dua orang yang saling mencinta Lama tak berjumpa Membuat hati selalu nestapa Dirundung duka yang ada dalam jiwa Dalam hati yang penuh dusta Mengapa kau meninggalkan luka? Dari sebuah jarak dan cerita Apakah ini yang dinamakan cinta? Tak terlihat tapi berasa luka Janjimu yang selalu bersama Dikalahkan oleh virus corona Dari yang dekat selalu bersama Kini jauh bagaikan tata surya


8 Lara 19-20 Jangan sampai duka ini menjadi derita Untuk jiwa raga kita berdua Cukup dunia ini berduka Jangan lagi engkau tambahkan dengan duka cinta Memang kita dalam wabah derita Namun jika kita bersama Ada cerita indah untuk berdua Menjalani derita menjadi sebuah cerita.


Lara 19-20 9 Nyepi Assasination Oleh: Muhammad Achyadi Rahmat “Siapa pembunuhnya?” “Tidak diketahui Tuan.” “Jaga dirimu.” Baru saja aku mendapatkan laporan dari Baron, salah satu anak buahku. Menurut informasi yang dikatakan oleh Baron, telah terjadi kasus pembunuhan misterius di sebuah desa kecil bernama Morir. Tepatnya berada di pesisir Mata angin barat. Dengan adanya laporan dari Baron yang kebetulan sedang bertugas di situ, aku jadi mempunyai alasan untuk sejenak meninggalkan berkas-berkas menumpuk yang harus segera ditandatangani. Besok, tanggal 23 Maret 2020 aku memutuskan untuk segera berangkat dari kediamanku menuju pesisir mata angin barat. Estimasi waktu perjalanan berkisar dua jam dari pusat kota mata angin selatan menggunakan angkot pribadiku. Aku sudah menghubungi Pak Arka Aksara untuk menjemputku tepat pada pukul 16.00 waktu mata angin selatan, sehingga dengan estimasi waktu tersebut aku akan tiba tepat pada saat senja tengah menyelimuti separuh mata angin barat. Sudah lama aku ingin menikmatinya. “Bagaimana malamnya Tuan?” “Buruk. Sangat Buruk. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya orang bisa mati secara tiba-tiba setelah keluar dari rumahnya.”


10 Lara 19-20 “Kalau boleh tahu, laporan dari siapa Tuan?” tanya Pak Arka gemetar. “Baron.” Tidak ada percakapan lagi yang terjadi selama perjalanan menuju Mata angin barat. Sudah cukup mungkin Pak Arka Aksara mendengar untuk terakhir kalinya nama Baron di hidupnya. Baron terkenal dengan Informasinya yang selalu Valid. Dulu, saat pertama kali aku bertemu dengan Baron di angkotnya Pak Arka. Dia masih belum menjadi anak buahku, dia masih menjadi pencopet ulung yang ingin naik jabatan dengan merampok sebuah angkot tua. Aku lalu menghentikan aksinya. Singkat cerita, dia lalu menjadi anak buahku untuk mencari informasi apapun yang terjadi di manapun dia berada. Dan Pak Arka Aksara menjadi sopir angkot pribadiku sebagai balas budi karena telah menyelamatkannya. Terkadang kita tidak tahu, di mana kita bisa menemukan teman atau orang-orang yang dapat dipercaya sepenuhnya. Matahari mulai meninggalkan timur. Keemasan mulai terpampang hebat di ujung pesisir. Menyilaukan mata, memunafikkan segala yang nyata. Andai saja aku memiliki kekuatan seperti Seno Gumira Ajidarma untuk mencuri senyumnya senja hanya untuk diberikan kepada pacarnya. Dengan kesementaraannya, senja pun redup, membawaku pada kasus nyata yang sudah ada di depan mata. “Aku harap itu bukan senja terakhir Tuan,” cemas Pak Arka. “Semua senja bisa dicuri, tidak abadi.” Aku telah tiba di Desa Morir. Membaca kembali laporan yang diberikan oleh Baron. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa mati hanya dengan keluar dari rumah? Sangat tidak masuk akal bagiku. Tuhan tidak sekeji itu. “Tuan, tolong baca ini sebelumnya.” “Peraturan?” “Mohon ditaati.”


Lara 19-20 11 Terpampang dari kertas yang diberikan Baron bahwa ada dua peraturan yang baru dikeluarkan oleh kepala desa. Pertama, jangan keluar rumah pada malam hari. Kedua, tidak boleh keluar pada hari Rabu, 25 Maret 2020 dari pukul 06.00 waktu mata angin barat sampai dengan besok harinya. Hari pertama, tidak ada yang aneh, para warga melakukan kegiatan mereka seperti biasa. Kegiatan para warga desa tidak jauh dari: berkebun dan berternak pangan. Desa ini menurutku sangat damai, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pikirku. Sedari pagi aku hanya duduk di bawah rindangnya pepohonan. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 waktu mata angin barat. Jangan harap ada senja di sini. Aku baru tahu bahwa Morir artinya mati dalam bahasa Spanyol yang mereka ambil sebagai gambaran desa mereka yang tidak ada matahari dari pagi hingga sore. Sirene mulai berbunyi. Semua warga yang tengah melakukan kegiatannya mulai berbondong-bondong lari ke dalam rumah mereka masing-masing. “Tuan sudah saatnya,” ajak Baron mengulurkan tangan. Aku hanya mengangguk menaggapi Baron. Segera kuraih uluran tangannya. “Aku akan berada di luar malam ini.” “Tapi Tuan, itu sangat beresiko. Kita masih belum punya data siapa yang pantas untuk dicurigai sebagai pembunuh.” “Dia akan muncul, percayalah.” Aku berdiri di atas atap salah satu rumah warga, mengamati wilayah sekitar desa. Menurut laporan, hasil dari otopsi mayat korban tidak terdapat satupun luka bekas kekerasan, hanya terdapat kerusakan yang parah pada paru-paru sang korban. Sangat ganjil. Aku melihat satu orang datang dari gerbang desa.


12 Lara 19-20 Aku segera menghampirinya. “Apakah anda warga desa sini?” Aku membuka topik. Perawakannya tinggi dengan baju yang berantakan. Dia terlihat sseperti sedang flu dengan nafas tersengal. “Bukan, saya hanya pesuruh dari selatan,” jawabnya. “Apa kepentingan anda?” “Menyampaikan pesan.” “Apa anda tidak tahu bahwa ada aturan di desa ini.” “Saya tahu, saya yang membagikan selembaran peraturan itu kemarin.” “Apa yang anda bawa?” Aku curiga apa yang berada di tangan kanannya. “Brosur untuk tetap berada di rumah pada saat nyepi. Bisakah bantu saya untuk menyebarkannya?” “Baiklah.” “Baiklah saya akan pergi, maafkan saya sudah menggangu anda.” Dia menundukkan kepala dan mengulurkan salaman. Aku menjabat tangannya. Esok harinya di Hari Raya Nyepi. “Apa anda menemukan pembunuhnya Tuan.” “Aku tidak yakin dia pembunuhnya.” “Setelah membagikan brosur tersebut Tuan pergi ke mana?” “Menemui kepala desa.” Aku telah menemui kepala desa untuk membahas kasus ini. Menyampaikan bahwa desa ini sangat damai dan tidak mungkin ada pembunuh. Kepala desa mengizinkan kita untuk meninggalkan desa ini dan menutup kasus ini. Besok kita akan pergi meninggalkan desa ini, bersiaplah Baron.


Lara 19-20 13 Entah siapa pembunuhnya, tidak ada yang tahu setelah setengah dari warga desa mati dengan hasil otopsi terdapat kerusakan paru-paru yang sangat parah. Aku Raul, dan aku adalah Carrier.


14 Lara 19-20 Sebuah Penyesalan Oleh : Adelia Fitriani Sudah tiga bulan Indonesia dilanda penyakit mematikan yang disebabkan virus corona. Aku adalah salah satu orang yang dinyatakan positif corona, dan harus kehilangan orang-orang yang kusayang. Semua itu karena keegoisanku yang tidak mau mematuhi dan mendengarkan aturan pemerintah untuk melakukan semua kegiatan di rumah. Aku tidak memperdulikan apa kata pemerintah dan menganggap wabah virus ini hanyalah hal yang sepele. Dan itu adalah suatu kesalahan yang tidak pernah terlupakan bagiku. Februari 2020 tepatnya tanggal 14, virus ini dinyatakan sudah masuk ke Indonesia dan menginfeksi 2 orang asal Jakarta. Berita tersebut membuat sebagian masyarakat Indonesia panik. Hari demi hari korban semakin bertambah banyak. Padahal alat untuk para medis sangat terbatas. Mendengar hal tersebut tidak membuatku takut sedikit pun. Sama halnya dengan teman-temanku namun hanya sebagian. Karena virus ini belum masuk ke daerahku, Aku dengan teman-temanku pun asik berkelana ke sana kemari tanpa ada rasa khawatir sedikit pun. “Hey jalan yuk, di dekat taman hijau katanya ada rumah makan baru buka....laper nih” kata Arfa di sebuah aplikasi chat. “Ayo aku juga laper banget” jawabku dengan semangat. “Tapi bukannya disuruh di rumah aja ya jangan kemana-mana” kata Maemunah.


Lara 19-20 15 Aku membalas “Halah sama virus aja kok kamu takut sih mae, lagian virus nya kan belum sampai sini”. “Iya….sih tapi kan...” “Udah ikut aja daripada di rumah terus” kataku memotong omongan maemunah. Seperti yang kukatakan, waktu itu virus corona belum masuk ke daerahku jadi masyarakat di sana masih ramai dan melakukan aktifitas seperti biasa. Rumah makan, cafe dan tempat-tempat umum lainnya masih banyak pengunjung. Begitu pun dengan kami yang menghabiskan hari libur ini untuk nongkrong dan bersenang-senang. Hingga suatu hari aku mendengar berita bahwa virus corona sudah masuk ke daerahku dengan 5 orang positif sekaligus. Orang tuaku yang khawatir, melarangku untuk keluar rumah. Tentu saja aku tidak setuju. Mengingat diriku orang yang suka bepergian dan bersenangsenang. “Del kamu jangan kemana-mana ya, di rumah saja virusnya sudah menyebar sampai ke tempat kita” kata ibuku. “Aduh bu... ibu kan tahu Dela itu anaknya sangat aktif, ya gak bisa dong di rumah terus” jawabku. “Ayah setuju dengan ibumu nak. Virus ini sangat berbahaya dan menular dengan sangat cepat” jelas ayahku. “Benar kata ayahmu nak, mending di rumah saja dulu. Paling tidak sampai ada pemberitahuan aman dari pemerintah” “Itu cuma virus bu. Lagipula Dela sehat aja kok”. Ibuku membalas “Emang benar nak kamu sehat-sehat saja. Tapi kamu bakal nularin ke orang-orang yang imunnya lemah seperti kami dan nenekmu.” “Ihh ibu sama ayah cerewet banget sih”. Aku masuk ke kamar meninggalkan orang tuaku yang masih memberikan nasihat. Aku tetap keras kepala dan tidak mau mengikuti perkataan ibu maupun ayah. Aku tetap bepergian ke sana kemari walaupun sering


16 Lara 19-20 dilarang orang tuaku. Sampai suatu hari dimana aku merasa tidak enak badan dan pilek ringan. Aku tahu bahwa ini adalah gejala-gejala awal corona. Namun aku tidak memperdulikannya. Semakin hari rasa sakit ini makin menjadi-jadi. Akhirnya aku memeriksakan diri untuk tes Covid-19 . Dan benar, aku positif corona. Aku dirawat kurang lebih hampir dua minggu. Tiba-tiba aku mendengar kabar kedua orang tuaku dan nenek juga positif. Takut, khawatir tidak karuan dihatiku. Aku sadar semua ini pasti gara-gara aku tidak mendengarkan perkataan mereka. Entah berapa hari kumenunggu kabar lebih lanjut mengenai kondisi keluargaku. Sepuluh hari kemudian aku sembuh, dan sudah boleh pulang ke rumah. Namun kabar tentang keluargaku masih belum kudapati. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pihak rumah sakit menghubungiku. Memberikan kabar duka yang membuatku kaget setengah mati. Ibuku dan nenekku meninggal dunia, dan ayahku masih dirawat dengan keadaan kritis. Bukan hanya itu, teman-temanku juga dinyatakan positif dan sedang dirawat. Aku tidak menyangka akan hal ini. Perasaanku bercampur aduk. Orang-orang yang kusayang, satu persatu pergi tanpa bisa kulihat wajahnya untuk terakhir kali. Sebuah penyesalan yang tidak pernah kulupakan. Dari kejadian itu aku sadar, bahwa mendengarkan seseorang itu penting. Dampaknya bukan hanya kepada diri sendiri tetapi kepada orang lain juga.


Lara 19-20 17 Aku, Kamu dan Kehilangan Oleh : Annisa Anggraini Pagi ini aku termenung melihat hujan. Hujan yang sangat deras turun membasahi tanah. Suara hujan yang membuatku rindu akan hadirnya seseorang di sampingku. Sebulan yang lalu aku masih bersama dengannya. Pagi itu aku bersiap siap untuk pergi ke sekolah. Aku dijemput oleh seseorang yang aku sayangi. Dia Adrian.... “Raina! Ayo cepat nanti telat “ teriaknya dari luar. Aku berlari mendatanginya dan berkata “Ini baru jam 6 Adrian!”. “Ya sudah ayo pasang helmnya biar cepet sampai ke sekolah” kata Adrian. Di perjalanan kita hanya diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Sesampainya di sekolah, kami menuju kelas masing-masing. Adrian kelas A dan aku kelas D. Bel istirahat pun tiba, aku pun bergegas menuju kantin untuk makan bersama Adrian. Adrian yang tak kunjung datang membuatku bosan. Tiba-tiba “Dorrrrrr..... nungguin ya?” Adrian datang dengan wajah yang gembira dan aku hanya terkejut dengan teriakannya. “Kamu lama banget sih Adrian” kataku sambil memonyongkan bibir. “Oh itu? Aku mendapatkan beasiswa kuliah ke universitas yang aku impikan Rainaaaa” jawabnya sambil senyum-senyum. “Ya udah, kamu mau makan apa Raina”? tanya Adrian. “Apa saja yang membuatku kenyang” jawabku. Selesai makan kami pun kembali ke kelas masing-masing. Entah kenapa hari ini seperti ada yang berbeda dengan Adrian. Tapi aku tak peduli dengan hal itu.


18 Lara 19-20 Pak Randy datang dengan wajah yang berbeda. Pak Randy berkata “Anak-anak, mulai besok kalian libur terlebih dahulu ya sampai dikeluarkannya jadwal untuk kelas online. Virus corona sudah masuk ke Indonesia, jadi kalian harus berhati-hati. Gunakan masker apabila ingin berpergian dan selalu cuci tangan. Kalian harus jaga jarak minimal 1 meter. Dan 1 hal lagi, kalian harus makan-makanan yang bergizi seperti buah dan sayur”. Mendengarkan pengumuman tersebut kami senang sekali. Tidak ada tugas sekolah dan hanya rebahan. Pak Randy melanjutkan pelajarannya hingga waktu bel pulang berbunyi. Aku dijemput oleh Adrian di kelasku. Dia menggandengku hingga parkiran dan memasang kan helm di kepalaku. Adrian memulai pembicaraan “Kita besok libur ya, berarti kita jarang ketemu nanti ya?” kata Adrian dengan sedih. “Oh iya, jaga diri baik baik ya kamu di rumah. Jangan kemana-mana nanti kamu kenapa-kenapa” jawabku sambil khawatir. Sesampainya di rumah aku langsung mengirimkan pesan untuknya “Adrian, kalo sudah sampai kabarin aku ya”. Satu jam kemudian Adrian membalas pesan yang aku kirimkan “Aku sudah sampai di rumah nih Raina”. Dengan kesal aku menjawab “Bukannya langsung pulang ke rumah, kamu malah jalan-jalan. Kalau ada apa-apa gimana?”. Adrian pun menjawab “Tadi dari nganter kamu aku langsung ke supermarket buat beli bahan makanan untuk di rumah. Dan tadi aku juga pergi ke cafe Serupa buat beli kopi sebentar”. Setelah mengirimkan pesan yang sangat panjang kami pun beristirahat hingga pagi pun tiba. Adrian yang tak ada kabar pagi itu membuatku khawatir dan bertanya-tanya, ke manakah dia pergi? Jam makan siang pun tiba, tapi balasan pesan dari Adrian belum ada sama sekali di layar ponselku. Aku terus memikirkan Adrian sampai akhirnya ada pesan masuk yang mengejutkanku dan ternyata itu mamah. Mamah mengajak aku untuk pergi ke Mall untuk membeli bahan makanan untuk karantina di rumah. Di perjalanan menuju Mall aku terus memikirkan Adrian yang tak kunjung membalas pesan dariku. Sesampainya di Mall aku melihat Adrian duduk di cafe bersama dengan


Lara 19-20 19 teman temannya. Aku izin ke mamah untuk menemui Adrian sebentar. Aku menghampirinya dengan wajah marah “Kan sudah aku bilang, kamu jangan kemana-mana! Bisa gak sih kamu di rumah aja? Pantes aja pesan aku gak dibalas dari tadi”. Adrian langsung menarik tanganku dan membawaku keluar dari cafe tersebut. Adrian berkata “Maafin aku, aku baru aja sampe disini. Aku diajakin temen temen minum kopi sebentar lalu pulang ke rumah lagi”. Aku menjawabnya “Mulai sekarang terserah kamu mau gimana. Aku capek ngatur anak kecil yang bandel”. Adrian pun kembali ke dalam untuk mengambil barang-barangnya lalu mengikutiku untuk ke tempat mamah. Sesampainya di tempat mamah, mamah bertanya “Loh, Raina ngajakin kami ke sini? Seharusnya jangan nak Adrian. Nanti kamu kenapa-kenapa”. Lalu Adrian menjawab “Oh bukan tante, hanya kebetulan saja saya lagi mau belanja disini”. “Dia lagi nongkrong sama temen temennya di cafe Serupa di dekat sini mah” kataku sambil melipat tangan. Selama tiga hari ini, kami tidak saling mengirimkan pesan seperti kemarin-kemarin. Tapi ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. “Raina, Adrian positif Corona. Ibu gak tau harus menghubungi siapa. Hanya nomormu yang ada di ponsel ibu” pesan itu dikirim langsung oleh mamahnya Adrian. Disitu aku sangat hancur, aku hanya bisa melihat foto-foto kami berdua yang ada di ponselku. Aku takut Adrian meninggalkanku. Tak lama kemudian pesan itu masuk lagi “Nak Raina, Adrian semakin parah kata Dokternya. Ibu ga bisa melihat Adrian secara langsung nak”. Aku pun membalas pesan tersebut “Ya sudah Bu, kita sama sama berdoa saja. Gimana pun hasilnya kita harus ikhlas”. Tapi dalam hatiku, aku belum ikhlas kalau harus kehilangan orang yang aku sayangi. Aku yang harus tetap di rumah saja merasa gelisah dan sedih. Malam pun tiba, aku terus kepikiran tentang Adrian. Aku tak bisa tidur sampai pagi hari. Makanan terasa hambar di mulut dan malas untuk melakukan kegiatan lainnya. Ponselku berdering dengan sangat kencang. Mamahnya Adrian menelponku “Nak Raina, maafkan kesalahan Adrian selama ini kepada nak Raina. Ibu sudah ikhlas melepasnya. Adrian tidak bisa dilihat lagi untuk terakhir kalinya”. Aku menangis sekeras-kerasnya. Air mata


20 Lara 19-20 terus berjatuhan dan masih tidak menyangka bahwa Adrian akan meninggalkanku secepat ini. Tak terasa sudah seminggu Adrian meninggalkan kami semua. Berita yang tersebar di grup sekolah hanya tentang kepergian Adrian. Beasiswa kuliah yang didapatkan oleh Adrian sekarang digantikan oleh Anton. Dalam hatiku berkata “Adrian, kamu sedikit lagi bisa kuliah ditempat yang kamu inginkan selama ini. Kamu harus kembali” Berita di televisi hanya berisi tentang virus corona. Tentang pencegahannya, tentang jumlah korban yang bisa diselamatkan, tentang jumlah orang yang positif, tentang jumlah korban yang meninggal dunia dan tentang kurangnya alat pelindung diri yang disediakan oleh pemerintah. Kini aku sadar, bahwa semuanya telah diatur oleh Yang Mahakuasa. Kita hanya bisa bersabar dan selalu berdoa agar dijauhkan dari berbagai macam penyakit. Kita juga harus menjaga jarak antar sesama manusia dan selalu mencuci tangan setelah melakukan pekerjaan apapun.


Lara 19-20 21 Di rumah Aja, Pusing!!! Oleh: Assyfa Maharani Hernoto Pertama kali aku mendengar kabar corona sudah memasuki Indonesia, aku merasa heran dengan berbagai rumor yang membuatku semakin berfikir kritis. Rumor yang kudengar “katanya” virus tidak bisa masuk ke negara yang ber-iklim tropis. Hmm, memang beberapa orang mengatakan hal tersebut, namun aku juga bingung apakah suhu di iklim tropis bisa menahan virus yang diam-diam membahayakan ini? Satu lagi mungkin pertanyaan yang paling sakral menurutku, karena jarang orang menanyakannya. Apakah masa sekolahku akan terus begini? Sementara belum tentu aturan yang dikeluarkan pemerintah akan membuat siswa yang diliburkan senang? Pasti kalian bertanya mengapa demikian? Bukannya kita sangat menantikan libur sekolah panjang? Menurutku pribadi bukannya mempermasalahkan libur, anggap saja menjadi bonus kita di tahun 2020 ini, Hihihi... aku sangat geli jika terus memikirkan hal ini. Sementara libur yang kita bilang libur ini juga tetap menjalankan rangkaian aktivitas, namanya saja yang unik, yaitu “Work From Home, or Study At Home.” Nah dari kalimat ini saja sudah membuat libur sebagian siswa menjadi tidak menyenangkan. Selain harus tetap berada di rumah untuk menghindari penyebaran virus, kita juga diberi kewajiban mengikuti program pemerintah. Awalnya aku bakal mengira “Wahh... belajar di rumah, asyik nih lebih santai aja gitu.” Tapi pada akhirnya aku mendengarkan keluh kesah mereka yang sudah beberapa hari merasakan. Alih-alih aku belum merasakan karena sekolahku adalah sekolah kejuruan, dan posisiku baru saja menyelesaikan praktik kerja lapangan atau magang.


22 Lara 19-20 “Ah, yang kita kira belajar di rumah bakal lebih seru, tapi malah makin lesu.” Ucap salah satu dari mereka. Hmm, fikiranku pun bergejolak bertanya-tanya. Ada apa sih sebenarnya? Apa sih yang mereka jadikan keluhan? Bukannya kita engga harus pergi ke sekolah, mandi pagi-pagi, dan engga harus mikir kalo ketinggalan buku pelajaran. Oh iya, kan kita juga engga harus ketahuan lupa mengerjakan PR hahahaha... siapa nih yang kebiasaan lupa ngerjakan pr, trus minta contekan ke orang pintar di kelas, ngaku aja ya... Tapi akhirnya aku sadar apa yang mereka keluhkan. Ya, lebih tepatnya harus selalu stand by didepan laptop, gabisa kemana-mana, apalagi kalo dapat tugas negara di rumah, eh.... tugas nyapu-nyapu misalkan atau tugas cuci piring. Maksudku begitu gaes, hehehe. Pasti berat kan buat nge-bagi semuanya. “Tapi-tapi, bukannya ada juga istirahatnya?” Pertanyaan itulah yang selalu aku tanyakan ketika mendengarkan keluh kesah mereka. Setelah mendengarkan beberapa dari mereka yang bercerita, mungkin aku bisa menarik kesimpulan bahwa tidak semuanya enak, apalagi kalau jaringan susah. Terlebih lagi harus mendengarkan penjelasan guru yang putus-putus dan kecil kemungkinan penjelasan itu diulang, menurutku itulah salah satu hambatannya. Memang ya, kadang hidup tidak bersahabat. Itu salah satu kalimat anak-anak muda zaman sekarang. Tapi kebayang ga sih, karena corona kita harus membagi waktu, dari hal kecil saja, misalkan mengerjakan tugas. Untuk masalah tugas, semakin cepat kita mengerjakan, semakin ringan pula beban kita. Tapi kalau kita semakin terbuai waktu, ya pada akhirnya tugas-tugas itu pasti menumpuk. Nah salah satu cara ini mungkin banyak ditentang siswa yang belajar di rumah. “Tapi kan kak, tetap saja setiap hari ada 8-10 mata pelajaran. Sedangkan tiap mata pelajaran diberi tugas dan deadline nya di akhir mata pelajaran.” Ucap mereka. “Mungkin ini yang menjadi pertimbangan, bagaimana cara kalian membagi waktu.” Semudah itu ya aku menjawab, hihihihi.... padahal aku belum pernah merasakannya. Apalagi tidak semua siswa langsung memahami penjelasan guru tersebut. Kalau menurutku tergantung bagaimana cara kalian memahami sistem pembelajaran yang diberikan.


Lara 19-20 23 Aku akan memberikan sedikit solusi, dan menurutku ini adalah salah satu cara me-manage waktu kalian. Sederhananya begini, malam sebelum menanti besok, wuiss kata-kataku keren juga ya. Hahaha... maksudku sebelum kalian tidur alangkah baiknya persiapkan diri kalian untuk menghadapi pelajaran yang akan dibahas besok, iyaaaa.... belajarlah sedikit supaya mudah memahami di esok harinya. Atau berikan konteks yang mudah saja, seperti searching google sebelum memasuki pembelajaran. Kalau bisa... Intinya jangan menunda tugas sih, dan ingat yaa teman-teman, pengalaman belajar di rumah menjadikan kalian lebih rajin lagi loh... Hah? Lebih rajin? Iyadong. Maksudnya kalian jadi banyak bergerak karena membagi waktu antara tugas rumah dan tugas sekolah. oh iya satu lagi, jangan lupa makan yang teratur dan beristirhat yang cukup yaa teman-teman. Corona memang berbahaya, namun corona juga yang menjadikan kita lebih disiplin lagi. Disiplin waktu dan kebiasaan hidup sehat tentunya. Selalu berdoa juga yaa agar wabah semakin berkurang dan pada akhirnya terlepas dari negara kita ini, iya si corona (bacanya pake huruf c) hahaha...


24 Lara 19-20 Lekas Sembuh Indonesia Ku! Oleh: Davin Rafael Saputra Namaku Fredo, aku anak kedua dari dua bersaudara, aku duduk di bangku kelas 7 SMP, aku sekolah di SMPN 1 Banjarbaru. Kakakku duduk di bangku kelas 12 di SMK Telkom Banjarbaru, ibuku seorang ibu rumah tangga dan ayahku seorang pekerja kantoran. “FREDOOO CEPAT BANGUN SUDAH JAM 8 PAGI, KAMU MAU SEKOLAH APA TIDAK!!” ucap ibuku di setiap pagi. “Iyaaa mah” jawabku sambil memaksakan diri untuk pergi ke kamar mandi. Setiap pagi aku selalu dibangunkan ibuku agar bisa berangkat ke sekolah, mungkin jika ibu tidak ada, aku tidak akan pernah sampai di sekolah tepat waktu. Sebelum berangkat sekolah biasanya ibu menyiapkan sarapan pagi untukku. “Nih habisin dulu baru berangkat” ucap mamaku sambil memberikan semangkok bubur. “Mana sempat keburu telat, Edo makan sebagian aja ya, itu udah ditungguin koko di depan” jawabku sambil cepat-cepat makan. Pergi ke depan rumah, memasang sepatu, minta uang saku lalu salim sebelum berangkat, ibuku selalu berpesan “hati - hati di jalan ya de”. Sesampainya di sekolahan aku langsung bergegas lari ke kelas karena sudah tidak sabar bertemu dengan teman-temanku. Sesampainya di kelas teman-temanku sedang membicarakan tentang virus Covid - 19 atau yang lebih di kenal virus corona yang telah


Lara 19-20 25 menyebar luas di China. Tidak lama kemudian bel jam pelajaran pertama berbunyi pertanda pelajaran akan segera di mulai. Tiga jam berlalu, istirahatpun tiba setelah jam pelajaran pertama selesai, temanku mengajakku ke kantin untuk berbelanja. “Do ayoo ke kantin, temenin aku beli jajan” kata Dodit. “Ayoo Do” sahut temanku yang lainnya. “Ya ya ya, sabar aku bereskan bukuku dulu” jawabku sambil memasukkan buku ke dalam tas. Di sekolah sebenarnya tidak memperbolehkan membawa makanan ke kelas, tapi karena kami bekerja sama satu kelas, jadi kami pasti berhasil membawa makanan ke kelas…hehehe. Sore hari telah tiba, sangat senang rasanya karena jam pelajaran di sekolah telah selesai. Dengan cepat aku langsung menggambil handphone ku untuk menghubungi kakakku agar segera menjemputku di sekolah. “Koooo, Edo udah pulang, cepettt jemput di sekolah!!” kataku sambil duduk di taman sekolah. “Iyaaa sebentar lagi koko pulang sekolah juga” jawabnya dalam suasana masih dalam kelas. Tidak lama kemudian kakak menjemputku. Saat sudah sampai rumah aku langsung masuk rumah tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu karena tidak sabar ingin bermain di komplek. Aku langsung bergegas mengganti bajuku lalu pamit dengan ibuku. “Maaaa, Edo keluar dulu mau main sama temen.” Kataku di depan teras rumah. “Ga makan dulu dek?” sahut mamaku sambil memasak. “Nanti aja habis main” jawabku. Karena terlalu asik bermain di luar, sampai lupa jika sudah adzan maghrib, ibu pun tentunya sudah menunggu di rumah. Sesampainya di rumah aku langsung disuruh untuk mandi dan siap - siap makan malam.


26 Lara 19-20 Sembari menunggu ayah pulang bekerja aku, mamaku dan kakakku menonton televisi terlebih dahulu. Kami menonton berita Tentang wabah virus corona yang telah masuk ke Indonesia. “Mah kalo Corona masuk Indonesia kita gimana ya?” Tanyaku sambil menatap muka mama. “Ya ga kenapa - kenapa, yang penting jaga kesehatan” sahut kakakku, sambil bercanda. “Tetap harus waspada, walaupun penyebarannya belum luas” sahut mamah. “Ya tentunya harus jaga kesehatan dan makan makanan yang bergizi, ayo makan papah udah laper nih” sahut papah yang sudah pulang dari kantor. dua hari berlalu, ibu mendapat surat dari sekolah karena sekolah akan diliburkan selama dua minggu, pembelajaran dilakukan secara online dengan cara tugas yang dikirimkan langsung kepada siswa dan kebijakan dari pemerintah akan Lockdown di rumah. Virus corona telah menyebar ke Indoneisa dengan cepat. Dalam dua minggu Lebih dari 3000 masyarakat telah terjangkit virus ini. Masyarakat yang terkena virus ini berasal dari warga yang ingin pulang kampung. Masyarakat sudah dihimbau agar tetap di rumah saja jika tidak ada keperluan yang penting dan selalu menggunakan masker jika ingin keluar rumah, agar penyebaran ini tidak semakin parah. Aku jadi merasa sangat bosan karena tidak bisa keluar rumah. Padahal aku ingin bermain dengan teman-temanku, tetapi kebijakan pemerintah menyarankan agar tetap di rumah saja. Mau tidak mau kita harus mengikuti aturan yang sudah dianjurkan. Tetapi dibalik peristiwa ini, ada hal positif yang dapat diambil yaitu Pengurangan sampah 600 ton perhari di Indonesia, dan lapisan ozon di bumi juga semakin membaik. Semoga Negara kita cepat pulih dari wabah virus corona ini agar kita semua dapat kembali beraktifitas seperti biasa lagi.


Lara 19-20 27 Musuh Tak Terlihat Oleh : Hanugrah Nur Muharrani Putri Ini ceritaku. Aku yang sedang melawan musuh yang tak terlihat. Maret 2020 ini semua dimulai. Pagi itu semua berubah, ia datang, kedatangannya sungguh tidak terduga, membawa kepanikan dan kekhawatiran di seluruh semesta. Covid-19 , nama yang saat ini berada di seluruh media massa. Kedatangannya merubah segalanya, membuat seluruh kota panik, membuat manusia mengisolasi diri di rumah membuat seluruh kota benar-benar seperti tiada kehidupan lagi. Namaku Zenile Nesya Putri, biasa dipanggil Zeline, aku tinggal di Jakarta bersama keluargaku, tempat tinggal kami berada dia daerah perkotaan yang sangat ramai, bisa dibilang terlalu ramai dan sering terjadi macet. Aku bersekolah di suatu SMK ternama di Jakarta. Senin, 16 Maret 2020 semua itu dimulai ada banyak sekali suara bising di jalanan. Aku tidak tahu ada apa di luar sana, disaat aku tengah berdiri di depan pintu sambil mendengarkan lagu. Tiba-tiba tetanggaku berlari tergesa-gesa dari arah kantornya dalam keadaan menggunakan masker dan sarung tangan seakan tak mau tersentuh apapun. Aku menyapanya,”Bu Mira, ada apa?” Wanita paruh baya itu hanya menoleh sesaat tapi tak ada satu jawaban yang keluar dari mulutnya. Ia bergegas dengan cepat masuk kedalam rumahnya. Aku kebingungan, ayah dan ibuku sedang tidak ada di rumah mereka pergi bekerja jadi aku memutuskan untuk keluar rumah memastikan apa yang sedang terjadi di luar sana.


28 Lara 19-20 Aku berjalan keluar rumah hanya di sekitar kompleksku. Aneh sekali tak ada satu orang pun yang kulihat berada di luar rumah padahal biasanya setiap pagi banyak warga yang berolahraga pagi. Ingin rasanya aku menelpon ayah dan ibuku untuk menanyakan keadaan saat ini, tapi aku takut mengganggu pekerjaan mereka. Saat aku ingin masuk ke dalam rumah, tiba-tiba bu Mira tetangga yang tadi ku lihat, kembali dari jalanan menuju rumahnya dengan berlari kencang. Ketika ia melewatiku ia berhenti sejenak lalu berkata agak keras. “Zeline!!! Jangan keluar dari rumahmu. Masuk! Dan pakai maskermu!” Aku bingung mendengar perkataannya. Tapi melihat dari raut wajahnya yang tampak sangat tegang aku yakin pasti telah terjadi sesuatu. Akupun segera menuruti kata-katanya. Aku segera masuk ke dalam rumah. Sampai ayah dan ibu datang dari kantor mereka jam 14.00 WIB, ini bahkan bukan waktu jam pulang tapi mereka sudah tiba di rumah. Ayah dan ibuku begitu mengkhawatirkanku. Ayah bertanya kepadaku ”Sayang, apa kamu tidak apa-apa?” “Yah, tentu yah memang ada apa sih yah?” tanyaku kembali. “Coba kita lihat berita di televisi, suatu virus masuk ke negara kita, virus itu sangat berbahaya dan sangat mudah penularannya” sahut Ayah. Kami semua menyalakan televisi dan sangat terkejut melihat penyebaran virus ini yang begitu hebat. Pemerintah menghimbau seluruh rakyatnya untuk tetap tenang dan tidak keluar dari rumah. Diperbolehkan keluar hanya untuk yang berkepentingan saja. Kami dihimbau agar selalu menggunakan masker dan selalu mencuci tangan. Wabah ini memberikan perubahan 180 derajat kepada kami semua. Aku, ayah dan ibu dihadapkan dengan kenyataan bahwa siap tidak siap kami harus melawan musuh ini. Sudah seminggu sejak wabah ini menyerang kediamanku. Lewat saluran televisi, aku kini paham Bahwa ternyata, wabah itu telah menyebar di seluruh dunia dan ini bukanlah hal sepele. Wabah ini menyebar luas disekitar area Jabodetabek. Pemerintah pusat telah


Lara 19-20 29 mengumumkan bahwa kawasan Jabodetabek telah dikarantina dan ditutup sementara seluruh akses keluarnya, hal ini bertujuan untuk mencegah meluasnya wabah penyakit tersebut. Diberitahukan kepada para penduduk dikawasan yang terinfeksi virus, agar mengisolasai diri dalam rumah masing-masing dan tetap memantau perkembangan virus ini melalui saluran televisi. “Ayah, sampai kapan wabah ini berlangsung, sebulan? Dua bulan?” tanyaku pada ayah. “Wabah seperti ini tak ada yang tahu kapan selesainya Zeline, pilihan kita sekarang hanya menjaga diri atau terpapar virus” sahut ayah serius. Ini hari ke 10 semenjak kami hanya berdiam diri di rumah. Ayah dan ibu berkerja melalui rumah menggunakan sistem daring, berlaku juga denganku yang belajar menggunakan daring. Harus di rumah saja perlu persiapan yang banyak, kebutuhan pangan kami sudah habis, mau tidak mau harus keluar rumah untuk pergi ke supermarket dan membeli berbagai keperluan. Akhirnya ibuku keluar untuk membelinya. Supermarket sangat sesak banyak orang mengantri dan menimbun sembako dan keperluan lainnya, akhirnya ibu berdesak-desakkan padahal hal ini lah yang sangat tidak diperbolehkan namun orang-orang sekitar ini masih sangat rendah kesadarannya dan malah menganggap peringatan itu hanya lelucon semata. Semua berjalan baik, sampai suatu ketika ibuku merasakan ada yang salah dengan tubuhnya, ibu mulai batuk-batuk seakan tak ada hentinya, ibu demam kami pun bingung itu adalah hari ke5 setelah ia pergi ke supermarket. Kami pun memastikan keadaan ibu dengan membawanya ke rumah sakit. Ya benar ibu positif Covid-19 , ya Tuhan aku seperti tersambar petir mendengar berita tersebut. “Nyonya Miranda harus dirawat di rumah sakit saat ini, sampai keadaan beliau membaik dan diperbolehkan pulang” Kata dokter di rumah sakit itu. Aku pun pulang bersama ayahku karena tidak boleh berada terlalu lama di rumah sakit, karena keadaan yang tidak memungkinkan ini. Saat aku berada di rumah sakit aku menghitung orang orang di sekitarku yang menunggu pemeriksaan test corona ini begitu kewalahan


30 Lara 19-20 rumah sakit menanganinya, beruntung ibuku dapat ditangani dengan cepat. Sekarang aku dan ayah hanya bisa merasa kecewa dan bersedih di kamar kami masing-masing. Pihak rumah sakit hanya bisa berharap tak ada pertambahan pasien mengingat perlengkapan dan ruang isolasi sangat terbatas, jadi kami harus mengisolasi diri dan tidak bertemu orangorang. Andaikan aku bisa mengulang waktu, takkan ku biarkan ibuku pergi ke tempat yang sangat padat itu. Sayangnya andaikan hanyalah kata penyesalan. Aku cukup sedih dengan kesadaran masyarakat ini, kuharap kejadian seperti ibuku ini tak kan terulang lagi. Wabah ini bukan hal sepele. Kuharap semua masyarakat akan lebih sadar kenyataan itu.


Lara 19-20 31 Sahabat Tersayang di Era Covid-19 Oleh: Nadhia Isnawati Humaera Dari kejauhan kulihat langkahmu kian pasti, menuju tempatmu bekerja… tak ada kepedihan. Kulihat di wajahmu terang berbinar jernih. Sudah 2 tahun sahabatku Vivi bekerja sebagai perawat di salah satu Rumah Sakit di kota Banjarbaru. Berbanding terbalik dengan yang aku rasakan saat ini. Di mana awal masuknya Covid-19 di Indonesia dan juga sudah masuk ke wilayah Banjarbaru. Kami sudah bersahabat sejak sekolah tingkat pertama, dan lulus SMA kami memilih kuliah yang berbeda dan juga memilih pekerjaan sesuai jurusan masing-masing. Aku bekerja di PT Telkom Akses Banjarmasin dan Vivi bekerja di Rumah Sakit Banjarbaru. Kami selalu saling sapa walaupun hanya melalui telepon atau WhatsApp, dan hari ini Vivi yang duluan menelepon aku, dia bilang hari ini ada pasien yang masuk ruang isolasi karena suspect dan positif corona. Aku sebagai sahabatnya mulai merasa cemas aku menjadi was-was dan bilang kepada Vivi agar selalu berhati-hati menangani pasien corona, selalu memakai APD (Alat Pelindung Diri). Aku semakin cemas ketika satu jam yang lalu aku mencoba menelepon Vivi, aku khawatir akan keadaannya. Aku merasa takut dengan makhluk jahat yang tak terlihat menyamar bersama angin, menempel di tiap logam, bereaksi dengan cepat pada batuk serta bersin-bersin yang keluar secara alami tanpa bisa di tahan. Bersin yang keluar secara alami tanpa bisa ditahan. Semoga virus jahat ini tidak suka dengan tubuhmu Vivi. Setelah berkali-kali di telpon aku telpon akhirnya Vivi memberi kabar bahwa dirinya baik-baik


32 Lara 19-20 saja. Tetapi tetap saja aku merasa cemas walaupun Vivi memberi kabar bahwa dia baik-baik saja. Setelah sekian lama aku dan Vivi tidak bertemu karena kesibukan masing-masing aku mencoba untuk menemui Vivi di rumahnya setelah pulang kantor. Setelah sampai aku memanggil Vivi di depan pagar rumah dan ternyata yang keluar bukan Vivi melainkan ibunya, ibunya mengatakan bahwa Vivi sedang tidak ada di rumah. Vivi masih menangani pasien di rumah sakit dan baru bisa pulang kira-kira pukul 21.00. Alhasil pertemuan aku dan Vivi pun hari ini gagal, padahal sudah sekitar 3 Minggu kami tidak bertemu. Aku pun pulang dan menginap di rumah tanteku. Pemerintah sudah mengigatkan agar masyarakat selalu berhati-hati untuk tidak keluyuran atau di rumah saja. Aku mencoba untuk jaga jarak dengan orang-orang di sekitar. Setiba di rumah tante, aku langsung mandi agar terhindar dari virus corona. Tante pun langsung menanyakan keadaanku, aku bilang baik-baik saja. Tante dan keluargaku juga Alhamdulillah sehat dan tidak ada yang terkena virus corona. Akan tetapi tanteku mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan atau membeli masker. Aku menyarankan kepada tante untuk membuat masker sendiri yaitu masker kain. Stok masker saat ini sangat langka untuk di dapatkan. Aku juga bilang tante bahwa tanaman sirih juga bisa dijadikan handsanitizer alami. Caranya yaitu merebus 12 lembar daun sirih, setelah direbus ambil air sirih yang sudah direbus tadi, masukan air sirih ke dalam botol semprot. Aku juga tidak lupa untuk membawakan keluargaku di Banjarmasin dan tentu saja untuk sahabatku tersayang siapa lagi kalau bukan Vivi. Keesokan harinya aku mencoba untuk menemui Vivi sahabatku di tempat dia bekerja. Aku mencoba untuk menghubunginya, ketika aku menelepon Vivi berkali-kali dia tidak mengangkat teleponku entah dia masih sibuk dengan pekerjaannya atau mungkin dia sakit, tapi tidak mungkin karena dia bilang bahwa dia baik-baik saja. Ketika itu aku ingin tau keadaanya, tetapi tidak juga mengangkatnya. Aku bertanya-tanya? bagaimana keadaanya. Aku pun langsung langsung saja pergi ke ruangan


Lara 19-20 33 dia bekerja. Akhirnya aku mendapat laporan bahwa Vivi mengalami demam dan panas tinggi. Sekarang dia dirawat di ruang isolasi, aku pun merasa sangat sedih. Aku tidak diperbolehkan untuk menjenguk Vivi. Dengan langkah gontai aku pulang ke rumah, dengan perasaan sedih kuceritakan pengalamanku dengan keluargaku. Ibuku pun menyuruh untuk berdoa saja agar sahabatku dalam keadaan baik-baik saja mungkin hanya demam biasa dan karena kecapean saja. Aku merasa sedikit lega karena ibuku memberikan perhatian juga kepada sahabatku. Besoknya aku mendapat pesan whatssap dari Vivi dia mengatakan kepadaku bahwa dia hanya demam biasa dan hanya butuh istirahat yang cukup. Aku pun merasa lega mendengar kabar itu, akhirnya Vivi pun diperbolehkan pulang ke rumah aku pun berencana untuk mengunjunginya pada esok hari. Marilah samasama kita menjaga dan tetap menerapkan protokol kesehatan.


34 Lara 19-20 Virus yang Menjadi Takdir Oleh: Najwa Salma Nabilla Virus corona, begitulah sebutan untuk sebuah wabah yang sedang terjadi saat ini. Dunia darurat virus corona. Saking menularnya, virus ini sudah menyebar ke lebih dari 95% negara di dunia. Sekolah diliburkan, pemerintah menetapkan kepada seluruh masyarakat untuk tetap di rumah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus ini. Belajar di rumah, itulah yang sedang para siswa lakukan saat ini. Tidak hanya itu, berbagai kegiatan juga mereka usahakan untuk dilakukan di rumah . Seperti halnya dengan dua orang sahabat yang sudah lama berteman, mereka adalah Dina dan Putri. Mereka bersahabat selama kurang lebih 6 tahun, mereka juga selalu satu sekolah dari awal masuk SMP sampai SMA kelas 3 sekarang. Mereka juga berencana ingin masuk Universitas yang sama dan satu jurusan juga. Walaupun Pemerintah menetapkan semua sekolah di Indonesia termasuk sekolah mereka untuk belajar di rumah karena virus corona ini mereka tetap bertemu setiap hari dan mengerjakan tugas sekolah bersama-sama. Ya, mereka bertemu sambil mengerjakan tugas di salah satu rumah mereka secara bergantian. Sinar mentari pagi telah menerobos masuk ke celah jendela kamar gadis itu. Dengan mata yang terlihat masih mengantuk, ia beranjak dari tempat tidurnya. Dia adalah Putri, gadis periang, cantik, dan pintar. Akan tetapi ia juga sedikit jail, dan itu sangat menyebalkan bagi temantemannya. Pagi ini Putri berencana untuk berolahraga. Putri pun berlarilari kecil menuju taman yang jaraknya cukup dekat dengan rumahnya.


Lara 19-20 35 “Puttt…” sapa seorang gadis. “Eh Dina, kamu di sini juga?” ujar Putri kepada gadis bernama Dina itu. “Iya nih. Oh iya put, nanti siang aku ke rumah kamu ya. Kita belajar bareng.” “Iya, aku tunggu kedatanganmu.” Ucap Putri sambil tersenyum hangat. Setelah cukup berolahraga untuk hari ini, Putri pun pulang ke rumahnya. Terlihat ibunya yang sedang sibuk memasak di dapur. Lalu Putri menghampiri ibunya sambil menuang air putih ke dalam gelas kesayangannya itu. “Mah, Dina mau main ke sini nanti siang, katanya dia mau belajar bareng. Bolehkan mah?” ucap Putri kepada ibunya. “Ya boleh dong sayang” jawab ibu Putri sambil mencubit pipi gembul anak kesayangannya itu. “Loh Put badan kamu kok panas, kamu habis olahraga apa tadi kok tibatiba bisa panas?” tanya ibu Putri dengan cemas. “Ngga tau nih mah, aku tiba-tiba ngga enak badan padahal habis olahraga tadi” ujar Putri dengan lesu “Ya udah kamu istirahat aja dulu ya setelah ini mamah siapin makan ya” “Iya, mah kalau begitu Putri mau bersih-bersih badan dulu soalnya habis olahraga” “Iya, nak” Setelah Putri selesai bersih-bersih badan, ibunya datang dengan membawa nampan yang berisikan makanan ke dalam kamar Putri. “Ini sayang makan dulu, supaya badan kamu agak enakan” ucap ibu Putri “Iya mah, Putri makan sendiri aja ya, Putri masih bisa kok” kata Putri . “Put badan kamu semakin panas, kita ke dokter aja ya periksa” “Iya deh mah, Putri takutnya terjangkit virus corona soalnya Putri tadi juga batuk-batuk dan sakit tenggorokan”


36 Lara 19-20 “Ya udah, kamu bilangin ke Dina, kamu ngga bisa belajar bareng hari ini di rumah ya, nanti kasian dia dating ke rumah kita, kitanya ngga ada dirumah” “Iya mah, ini mau aku whatsapp Dina” Tak lama kemudian setelah selesai makan, tiba-tiba Putri merasakan sesak napas hingga tidak sadarkan diri. Ibu Putri yang mengetahui hal tersebut pun langsung bergegas keluar dari rumah dan langsung membawa Putri ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Putri pun langsung di bawa ke ruang ICU dan langsung ditangani dokter. Ibu Putri tanpa henti-hentinya menangis melihat anak perempuannya tak sadarkan diri. “Dok, bagaimana keadaan anak saya.” Tanya Ibu Putri sambil menghapus air matanya. “Mohon maaf bu, anak ibu saat ini sudah terjangkit virus corona, dan virus yang ada dalam tubuhnya ini lumayan parah dan kemungkinan hidup anak ibu hanya 35 % saja lagi” ucap dokter menjelaskan. Duarrrr hati ibu Putri seperti di serang petir yang sangat kencang, ketakutan yang di bilang anaknya tadi nyata terjadi, kini anaknya sedang terbaring lemah di dalam ruangan ICU. Kini ia tidak bisa berbuat apa-apa selain terus berdoa kepada Tuhan agar di berikan yang terbaik untuk putri kesayanganynya itu. “Dok bolehkah saya masuk menjenguk anak saya?” Tanya Ibu Putri yang tak henti-hentinya meneteskan air mata. “Maaf bu, untuk pasien yang terkena virus corona tidak diperbolehkan untuk dijenguk. Karena virus ini sangat berbahaya bu, bisa menjangkit ke siapa saja, jadi kami mohon sama ibu, ibu yang sabar ya, kami tim medis akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan pasien dan ibu harus tenang karena di rumah sakit ini sudah ada obat khusus untuk pasien yang terkena virus corona, tapi kami tidak bisa menjamin apakah anak ibu bisa sembuh atau tidak” jelas dokter itu panjang lebar sambil menenangkan Ibu Putri.


Lara 19-20 37 “Iya dok, saya minta tolong dengan penuh harapan kepada dokter untuk bisa menyembuhkan putri saya” mohon ibu Putri dengan tersedu. “Iya bu, kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin” ucap dokter. Setelah beberapa lama kemudian Putri di bawa ke sebuah ruangan yang sangat tertutup dan tidak ada yang boleh masuk ke ruangan tersebut selain tim medis yang menanganinya. Tak lama kemudian, Dina datang karena syok mendengar kabar bahwa sahabatnya itu masuk rumah sakit. Dia mendengar kabar dadakan itu dari Ibu Putri melalui telepon. “Tanteeee…. Gimana keadaan Putri tan, dia sakit apa tan, dia sudah sadarkan diri atau belum tan, sekarang Putri ada di ruangan mana tan? Begitulah pertanyaan Dina yang bertubi-tubi setelah ia sampai di rumah sakit dan menemui ibunya Putri. “Putri Din, putri terkena virus corona, sampai sekarang dia belum sadarkan diri dan dia sedang diisolasi di ruangan tertutup dan tidak ada yang boleh masuk selain tim medis Din” ucap Ibu Putri. “Apa tan… Putri….Putri terkena virus corona….ngga mungkin ini tan…astaga Putri….” Kata Dina sahabatnya sambil terduduk dan menangis sejadi-jadinya. “Lalu gimana kata dokter tan, apakah kemungkinan Putri bisa sembuh ?” Tanya Dina kembali. “Kata dokter kemungkinan Putri untuk sembuh sangat rendah Din, makanya tante sedih banget dan ngga tau lagi harus berbuat apa” ucap Ibu Putri. “Huhuhuuuuu….Putriiii kenapa kamu harus sakit begini Put, kamu harus kuat Put, kamu ngga boleh ninggalin aku sendirian, ngga ada sahabat yang perhatiannya kaya kamu Put, aku mohon kamu bisa sembuh kamu bisa melewati cobaan ini semua Puttt” ucap Dina memohon sambil menangis tersedu. Setelah melewati hari demi hari keadaan Putri tetap sama saja seperti awal tidak ada perubahan sama sekali, malahan kini keadaan dia dapat di


38 Lara 19-20 katakan semakin memburuk. Sekarang Ibunya dan sahabatnya tetap setia menjenguk Putri dan menunggu kabar baik dari dokter walaupun dari luar ruangan saja. Mereka hanya bisa berdoa dan terus berdoa agar Tuhan dapat memberikan mukjizat untuk Putri. Hingga pada suatu hari, “Tutttt…tuttt..tutttt ( dering telepon berbunyi)” “Halo, Dina” Sahut Ibu Putri di seberang sana. “Halo tan, tante di mana, aku mau ke rumah sakit nih tan, tante mau bareng kaya biasanya ngga nanti aku jemput ke rumah tente ?” Jawab Dina “Putri..Din…Putri” ucap ibu Putri terisak. “Putri kenapa tante ?” ujar Dina dengan perasaan yang tidak enak. “Putri udah ngga ada, dia udah meninggal” Ibu Putri menangis. “Apaaaaa…ngga mungkin tante…Putri ngga mungkin ninggalin aku tan…tuttt” ucap Dina yang langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas menuju rumah sakit sambil mengeluarkan air mata yang tak henti-hentinya. Sesampainya di rumah sakit Dina langsung berlari-lari dengan air mata yang terus keluar menghampiri ruangan Putri di tangani, dan terlihat di sana ibu Putri terduduk di luar ruangan sambil menangis terisak. “Tante di mana Putri, aku mau bertemu dengan dia untuk yang terakhir kalinya tan” “Di sana Din, tapi kamu ngga boleh masuk, kamu hanya boleh melihatnya dari luar kaca jendela ruangan saja Din” Ujar ibu Putri sambil menunjuk kaca jendela tersebut. Lalu dengan berlari Dina menghampiri luar ruangan Putri, dan terlihat Putri yang tertutup kain putih yang bersih yang di bukakan sedikit wajahnya agar terlihat. Dan di situlah Dina menangis sejadi-jadinya tanpa


Lara 19-20 39 menghiraukan orang lain. Kemudian ibu Putri datang menghampiri dan memeluk Dina. “Sudah Din, ikhlaskan dia, mungkin ini yang terbaik untuk Putri, Tuhan sudah menyusun skenario khusus untuk umatnya masing-masing dan mungkin sekarang ini sudah takdir Putri untuk meninggalkan dunia ini, tante juga sedih banget dan juga terpuruk banget karena harus menerima kenyataan ini, tapi mau bagaimana lagi ini yang terjadi, kita harus ikhlas menerima semua ini” nasehat ibu Putri, tak lupa juga mata beliau sudah bengkak karena sedari tadi menangis tak henti. “Iya tan, aku sudah ikhlas menerima semua ini, ini yang terbaik untuk Putri” Sahut Dina. “Putri, kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku, kau adalah pelangi yang mewarnai hidupku. Doa ku selalu menemani tidur panjangmu.” Ucap Dina dengan air mata yang terus menetes diwajahnya. Ia tidak dapat membendung air matanya lagi. Bagi Dina, sahabat adalah sesuatu yang sangat berharga. Ia pun akan selalu mengenang dan mendoakan Putri. Ia tidak akan pernah lupa kebaikan sahabatnya itu.


Click to View FlipBook Version