The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan SMK Telkom Banjarbaru, 2023-03-16 23:23:37

antologi cerpen lara

antologi cerpen lara

40 Lara 19-20 Di Rumah Aja Oleh : Diah Novitasari Segala sesuatu tampak berbeda setelah virus covid-19 menjadi bagian dari histori Indonesia. Virus ini mematikan. Seakan-akan menyerang siapa pun yang bertemu dengannya. Langit yang seharusnya cerah mulai menggelap tanda akan datang hujan. Aku teringat dengan Pak Bambang yang tinggal bersebelahan. Sudah seperti rutinitas untuk mengunjunginya, bahkan hanya sekedar berbincang santai. Ia menyambutku dengan senyum di wajahnya dan kursi roda yang didudukinya. Terdengar suara gemuruh bercampur dengan sayup-sayup suara dari kejauhan yang menghimbau warganya untuk berdiam diri di rumah masing-masing. Tapi aku tidak peduli. “Saya percaya manusia akan mati di tangan Tuhan dan saya hanya takut pada-Nya. Saya tidak takut dengan virus itu. Status saya sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP). Diberikan pemerintah secarik kertas untuk memantau keadaan diri. Dan saya tidak merasakan gejala-gejala yang mereka sebutkan. Oleh karena itu, saya yakin Tuhan melindungi saya agar virus tidak bisa menyerang,” ujarku. “Keputusan ajal sudah ditentukan. Kita hanya mengikuti alur jalan cerita yang diberikan Tuhan. Tapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati dan melakukan himbauan pemerintah. Semua itu demi kebaikan bersama,” jawab Pak Bambang. Embun belum ingin pergi bersama hawa dingin yang menyelimutiku seakan tidak ingin aku beranjak memulai hari. Ku lihat sepucuk surat di depan pintu datang dari rumah sakit teruntukku. Seakan


Lara 19-20 41 Tuhan mendengar dan menjawab perkataanku. Tertuliskan pernyataan aku positif mengidap virus Covid-19 . Bagai tersambar petir di siang hari yang terik. Air mata ini meronta ingin mengalir deras. Orang bilang mulutmu harimaumu. Itulah penggambaran keadaanku sekarang. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kedua kaki ini bergetar. Langkah kaki mulai terasa berat. Ku yakinkan diriku untuk tetap melangkah menuju rumah sakit dengan membawa sepucuk surat yang aku terima pagi ini di tangan yang lemas. Bau khas rumah sakit terasa asing di hidung. Tempatnya yang bersih menyejukan mata tapi tidak dengan hati. Seseorang yang memakai Alat Perlindungan Diri (APD) datang menghampiri. Dokter memberi kabar baik dan buruk. Tentu saja telinga ini ingin mendengar kabar baik terlebih dahulu. “Anda tidak menampakan gejala virus, tapi hasil menunjukan positif. Anda akan baik-baik saja setelah karantina selama 14 hari di rumah sakit.” “Syukurlah.” “Kabar buruknya kami mendapati hasil tes virus Covid-19 atas nama tetangga anda yaitu Pak Bambang menunjukan positif terjangkit. Pak Bambang juga akan di karantina selama 14 hari di rumah sakit. Karena umur beliau di atas 50 tahun dan riwayat penyakit jantung yang dideritanya virus ini cepat berkembang dan kemungkinan terburuknya adalah kematian.” Seperti tersambar petir kedua kalinya. Pak Tua yang sudah seperti ayahku itu tertular virus karena aku. Kebahagiaan seketika tergantikan dengan rasa sedih dan khawatir. Semua telah terjadi. Tuhan sedang menegurku karena bersikap angkuh. Dan keangkuhanku membawa petaka bagi orang lain. Setelah 14 hari di karantina, dokter datang memakai Alat Perlindungan Diri (APD) berkata, “Hasil tes anda menunjukan negatif. Tapi anda tetap harus siaga dan di rumah saja sampai perkembangan


42 Lara 19-20 virus ini mereda. Dan juga kami tidak bisa menghubungi wali dari Pak Bambang untuk mengurus jasadnya.” “Pak Bambang meninggal?!” tanyaku sangat terkejut. “Betul. Saat matahari belum tampak Pak Bambang sudah menghembuskan napas terakhirnya.” Aku tercengang berusaha menelan apa yang dokter katakan. Sakit tertampar kenyataan tapi tidak terungkap. Terlintas di pikiranku perkataan Pak Bambang. Ia berkata sambil tersenyum dan menatap langit, “Saya sudah tua. Jika Tuhan ingin saya pulang, maka saya akan pulang. Tidak akan ada penyesalan dan dendam di hati saya. Saya akan siap menerima segala keputusan Tuhan akan hidup ini.” Aku melihat keluar jendela dan tidak ada lagi Pak Bambang yang biasa tersenyum padaku. Aku tidak ingin lagi membuat orang lain seperti Pak Bambang karena keangkuhanku. Aku berjanji. Aku terkejut saat membuka mata dan berada di tempat yang sangat familiar. Tempat yang membuatku terlelap. Tempat istirahat di malam hari. Air mataku mengalir begitu saja. Apakah semua itu mimpi? Aku mencoba menjawab pertanyaan itu. Ku lihat Pak Tua itu sedang duduk menatap langit dengan segelas kopi di tangannya. Tuhan memberiku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Dan aku akan tetap di rumah demi kebaikan semua orang.


Lara 19-20 43 Hello Panda Oleh : Paula Carolina Natalia Tahun 2020 adalah tahun yang ditunggu-tunggu oleh seorang gadis. Wajar saja, tahun sebelumnya di 2019, segala sesuatu benar-benar luar biasa. Setidaknya untuk gadis itu. Segala sesuatunya berjalan dengan sangat baik. Berturut-turut ia memenangkan beberapa lomba yang diikutinya. Delapan, yach ada delapan lomba. Ia semakin tidak sabar lagi ketika dentingan jam berbunyi, tepat pada jam 00.00 WIB pada saat itu. Ia segera berdoa “Ya Tuhan. Aku saaangat bersyukur untuk penyertaan-Mu sepanjang 2019 ini. Sekarang Tahun yang baru sudah datang. Semoga di tahun ini Engkau tetap memberkati aku dan menyertai aku dalam tiap hal yang aku lakukan. Aku siap ya Tuhan, untuk kejutan yang indah dan luar biasa lainnya!” doanya di dalam hati. Senyum kecil terukir di wajahnya. Wah, jelas terlihat di mukanya bahwa ia benar-benar mengaminkan doa itu. Entah dengan 8 bulan selanjutnya, tapi ini adalah cerita tentang betapa kacaunya 4 bulan pertama di 2020 kebanggaan Micholla Roe. *************** Micholla Roe. Panggilannya Yola. Ia adalah seorang murid di SMK Telkom Banjarbaru. Setelah bersekolah selama 1 tahun di SMA 1 Kurun, ia memutuskan untuk pindah dan kembali sekolah dari awal lagi di SMK Telkom Banjarbaru. Atas saran mama, memang. Tapi ia juga benar-benar benci ilmu eksak. Sejak SMP ia bertekad untuk masuk jurusan Bahasa. Namun sialnya, tepat pada waktu angkatannya masuk


44 Lara 19-20 SMA 1 Kurun menutup jurusan Bahasa yang akhirnya membuatnya berakhir di jurusan MIPA padahal hampir semua materinya adalah ilmu eksak. Itu juga menjadi alasan mengapa ia setuju saat ditawari untuk pindah sekolah. Banyak yang perlu ia korbankan. Relasi yang sudah ia bangun sejak lama, teman-teman yang sangat ia sayang, sahabat-sahabat yang sudah seperti keluarganya, bahkan cita-citanya untuk mengibarkan Bendera Pusaka di hadapan Bapak Bupati. Lebih dari itu, ia harus berpisah dengan kekasihnya, Geraldo. Geraldo A.K.A Aldo, adalah cinta pertama Yola. Mereka sempat berpisah karena berselisih paham, namun akhirnya mereka menyelesaikan kesalahpahaman itu dan memutuskan untuk kembali bersama. Aldo adalah sosok yang benar-benar tidak mudah untuk dilupakan untuk Yola. Sifatnya yang terkadang aneh, clingy, bacot, juga lucu. Ia juga seorang yang setia kawan, tapi ia tetap bisa menjaga dirinya untuk tidak ikut pengaruh buruk dari sekitarnya, entah itu seperti merokok, atau terjerumus narkoba. Kecuali satu main game. Yups…ia memang maniak game online. Terlepas dari semua itu, ia anak yang berpikiran dewasa dan sederhana. Itulah yang membuat Yola jatuh hati padanya. Jatuh hati kemudian tak pernah sedikitpun perasaan itu bergerak meninggalkan tempatnya. Sekarang Yola berada di tahun kedua pendidikannya di SMK Telkom Banjarbaru. Tahun kedua, semester kedua adalah waktu di mana mereka harus menjalankan program Praktik Kerja Lapangan selama 3 bulan. Gadis ini mendapat kesempatan untuk menjalani PKL nya di salah satu kantor perusahaan penyedia layanan internet di Banjarbaru. Ya …. saat teman-teman yang lain memilih untuk pergi ke luar pulau, ia malah menghabiskan waktunya di Banjarbaru saja dan tidak kemana-mana. Alasannya… “Males ah, bayar fasilitasnya double. Mending Banjarbaru ajadah, sambil cari duit gua. Sambil ikut lomba juga hihi.” Hfffftttt Tahun 2020 diawali dengan bencana banjir besar di Jakarta. Banjir yang mencatatkan dirinya sebagai banjir terparah dalam sejarah.


Lara 19-20 45 “Wow, it’s a bit terrifying. Baru kemarin dah perasaan tahun baru huft.. ” Komplainnya dalam hati. 6th January 2020 “Wahh! Hari pertama magang! Ngga sabaaar banget!! Pasti seru dehh!! :D” Hari pertamanya sebagai anak magang. Ia mengenakan almamater merahnya, seragam putih dan rok hitam semata kaki, lengkap dengan sepatu hitam, kaos kaki dan dasi. Benarbenar rapi. Ditempatkan di bagian Costumer Service, “Mendebarkan. Hihihi” pikirnya. “Ngerasa ga siiiii, kita kaya anak kantoran beneran! Yakan! Yakan Mel!!” dicoleknya Amelia, rekan magangnya. “Iya Yol iyaa, semangat banget dah luu” Jawab Amel sembari tertawa kecil “Iya niih Ka Yola semangat banget ga paham lagi dah” timpal Rena. Iya benar, Ka. Hampir satu angkatan memanggilnya dengan sebutan ‘Ka’ karena orang tahu ia adalah murid yang mengulang di kelas satu lagi. “Hihihihihihihihiiiiii, kalian kok bisa bisanya b aja. asik tauk! I’m so exciteddd!!” …. “Tapi aku sedih..” Tambah Yola. “Kenapa?” sahut Rena dan Amel hampir bersamaan. “Ini lo kenapa kita dari tadi belum dikasih kerjaan ya. Ini aku sudah siap ini sudah siaappp” “hadeeeeeeehhhhhhh” Jawab keduanya. Tidak lama, masuklah Ka Jeje pembimbing lapangan mereka, kemudian membagi-bagikan tugas. Benar-benar bersemangatlah ia. Tapi itu hanya bertahan selama satu bulan.


46 Lara 19-20 Satu bulan kemudian.. “Makan siang apa ya kita hari ini” tanya Yola. “Aku pulang ke rumah kak” sahut Amel “Aku juga kak” sahut Rena “Kamu Dro?” Matanya mengarah ke satu-satunya laki-laki di antara ke 4 anak magang itu. Fedro. “Rocket …” “Ahh Rocket Chiken lagi, jelas,” potongnya. “Ngga ada pilihan lain emang ya ni satu bulan full dah perasaan makan itu mulu, ni perut isinya junkfood semua. Ngga heran emang makin buncit setiap hari. Ayodah pegi dah kita” setelah mengomel panjang lebar, akhirnya ia tetap nurut untuk pergi ke Rocket Chiken. “Gimana sih tadi ngomel-ngomel” keluh Fedro sambil menaikkan satu sisi bibirnya dan mutar bola matanya, kemudian mengejar Yola yang sudah berjalan dengan cepat meninggalkannya jauh di depan. Tiga bulan penuh perut Yola diisi dengan junkfood setiap hari…. Ya setiap hari. Tidak terasa waktu berlalu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Namun lama kelamaan ada yang mengganjal hati. Sejak awal Maret dikabarkan bahwa ada virus yang mulai menyerang Indonesia. Berawal dari salah satu tamu dari Jepang yang tinggal di sebuah penginapan, ternyata ia adalah pasien terinfeksi yang akhirnya menularkan pemilik penginapan dan si ibu. Turis Jepang tersebut datang untuk pergi ke sebuah pesta. Orang-orang baru mengetahui ia terinfeksi setelah ia sudah pergi ke Malaysia dan pemilik penginapan tadi pun disiarkan ke seluruh karena menjadi kasus pertama di Indonesia.


Lara 19-20 47 Nama virus itu adalah Covid-19 . Penyebarannya yang sangat cepat benar-benar membuat pemerintah kewalahan. Penanganan yang terlambat akhirnya membuat angka terinfeksi menjadi terus dan terus bertambah hingga membuat pemerintah memutuskan untuk meliburkan siswa dan menjalankan program belajar dari rumah. Baik itu bagi pelajar, maupun mahasiswa. Begitu juga Yola dan rekan-rekan magangnya. Mereka diliburkan secara tiba-tiba yang akhirnya membuat mereka kalang kabut menyelesaikan bahan laporan. “Eh, jurnal gimana jurnall!! Udah di isi belom?! Hari terakhir magang nih! Cepat isi giih biar kita minta TTD kak Jeje!” Ucap Yola panik sambil berlari kecil ke arah kursinya dan dengan segera membuka laptopnya. “Iya inii lagi pada diisiin.. Sedih banget ya kita harus selese magang sebelum waktunya.. tapi ngga papa deh bisa ngedrakor” timpal Rena “Iyaa iyaa.. Drama Koreaaaa terus kamu yaa.” Amel memutar matanya. “Harusnya kita selesai tanggal 31 Maret kan ya? Ini baru tanggal 22 loh… Ka Yola, ini liburnya agak panjang nih. Kakak mau kemana? Di asrama aja apa pulang ke Kurun nih?” tanya Amel Yola sempat terdiam sesaat. ‘Aldo.’ ‘Akhirnya bisa ketemu lagi.’ ‘Eh tapi…’ “Ngga. Kayanya di Banjarbaru aja dehh..males nih balik hehehhee” jawabnya dengan mata yang seketika berubah menjadi sendu. “Percuma. Ngga ada artinya” Yola menghela nafas. Menatap nanar langit-langit, dan beranjak pergi. “Mau kemana kak?” Tanya keduanya “Beli batagor, laper….mau?” “Nitiiiiipp” kata Rena sambil kedua telapak tangannya disatukannya di depan dada


48 Lara 19-20 “Aku juga kaaaa!” timpal Amel. “Fedro mau ga?” tanya Yola “Aku sudah jajan” diangkatnya satu kantong plastik hitam yang dipenuhi oleh roti dan keripik favoritnya. “Ya udah deh, bentar yaaa” Yola pun pergi. Notes: Bersamaan dengan habisnya tahun 2019, semoga segala rasa yang tak lagi seharusnya ada juga turut berakhir. Tidak lagi menangis tersedu saat mendengarkan lagu sedih, Tidak lagi menatap nanar plafon kamar sambil memutar memoar lama, Tidak lagi sembunyi-sembunyi mendengarkan rekaman telepon berdurasi 1.33 detik yang isinya percakapan berisi kerinduan Tidak lagi merasakan dada yang sesak dan jantung yang seperti ingin melompat setiap kali melihat sosoknya Tidak lagi termenung lirih setiap mengunjungi tempat yang pernah kita duduki bersama Tidak lagi bergelut dengan penyesalan dan cinta yang hangat yang tak mampu ku sampaikan Kita tau betul, tak ada rasa biasa yang bisa dipaksa. Begitu juga dengan memulai ataupun berhenti untuk mencinta. Maka dari itu sayang, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Entah yang mana yang akan kutemui lebih dahulu pada akhirnya. Cinta yang berhasil padam? Atau


Lara 19-20 49 Kamu yang membawa seberkas sinar untuk menghidupkan kembali segala kehangatannya? Semua masih jadi misteri. Biar semuanya kuserahkan pada pemilik hidup. -la Last edited by Yola, 31st December 2019 “Naaak, apa yang kamu kerjakan?” ucap seorang wanita paruh baya melalui sepotong benda persegi panjang yang berada digenggaman Yola “Ngga ada mahh. Tiduuur ja trus. Sudah seminggu ni kami selesai magang, bolak-balik ranjang jaa. Tapi mah, mahh.. Aku masak terus lhoooo.. Huhuuy. Enak ja ampi makananku. Masih manusiawi, bisa dimakan” jawab Yola centil. (Ampi : Bahasa Dayak Ngaju ‘Ternyata, sepertinya’) “Pintarnya, anakku.. Ngga mau ke sini pulang kamu nak?” tanyanya lagi. Yola terdiam sebentar, menarik nafas. “Mmm, bahaya mah. Takut nanti kenapa-kenapa di jalan.. malas juga. Katanya mau ditutup pang jalannya ni. Entahlah, belum tau juga” ucapnya. Padahal itu hanyalah alasan lainnya. Bahaya… hahaha. Bahaya untuk hatinya. Tak lama seusai menelpon sang Bunda, notif whatsapp pun masuk. Diliriknya, terlihat nama sebuah grup dari masa SMP nya. “7.8.9’1”. Kumpulan anak-anak yang dulunya menghabiskan 3 tahun masa Sekolah Menengah Pertamanya di kelompok ruang 1.


50 Lara 19-20 Roni : Gaaiiss!! Jangan lupa yaah hari ini perayaan ulang tahunku! Di rumaah. Makan-makan aja si. Jangan lupa yaa yang di Kurun, khususnya! Stella : Oh iya Ron, sip nanti datang! Reza : Ok Tama : Sippp Aldo : Maaf Ron, ngga bisa ni.. Aldo : Lagi ngga enak badan, *deg* “…..” Membacanya, Yola hanya terdiam. Ingin bertanya langsung, tapi tidak mungkin. “Aku harus apa….” Keesokkan harinya, terdengar dering telpon di seberang sana. “Mah, besok Yola ke Kurun” Terdengar lucu. Tapi keragu-raguannya untuk pulang akhirnya termantapkan hanya karena kalimat ‘Aku ngga enak badan’. Padahal ia sendiri tahu ia takkan bisa berbuat apa-apa untuk Aldo. Hanya saja, berada di kota yang sama membuatnya setidaknya sedikit lebih tenang. *********** “Akhirnya hhhhh……..” Desahnya panjang. Wajar saja, 12 jam perjalanan dan 5 kali *maaf* muntah bukanlah hal yang menyenangkan. Tentu saja.


Lara 19-20 51 Hari demi hari berlalu. Dan benar saja, Yola tidak melakukan apapun di sana. Selain memang karena surat edaran Social Distancing dari pemerintah, ia memang tak punya ide dan keberanian untuk melakukan apapun untuk Aldo. Dan, selalu saja berakhir begitu. ---- Taman Kota, 22 Desember 2019. 09.28 WIB “Duluan ya” Suara yang tidak asing. Yola mengangkat kepalanya dan hanya menganga, tanpa berkata apa-apa. Wajah yang biasanya hanya dapat ia lihat sebagai rupa potongan kenangan dalam benaknya, sekarang hadir sebagai sosok.. Menyapanya, dan berjalan melewatinya dengan begitu saja. Sedangkan ia? Yang bisa ia lakukan hanya mematung dan tetap mematung hingga sosok itu hilang dari pandangan matanya. Segera ia tersadar. Cepat ia menutup kembali mulutnya, matanya seketika was-was ke sekitar. Takut ada mata yang menangkap momen absurd itu. ‘mimpi kali ya gua?’ ‘kok bisa ..’ ‘kok gua nganga doang, kaga ngomong apa-apa…’ Ayam penyet favoritnya pun ikut diabaikannya. ---- Ya. Selalu begitu. Mereka tidak akan pernah bertemu jika bukan karena ‘ketidaksengajaan’. Orang lain mungkin akan berkata “ya jelaslah bisa ketemu. Kuala Kurun ini toh kecil’. Meski berkali-kali mendengar respon dari orang-orang bahkan sahabat-sahabatnya yang selalu saja isinya hampir sama setiap kali ia bercerita tentang hal-hal itu, tetap di hatinya yang ia yakini adalah satu. “Mungkin ini.. takdir” Meskipun hanya untuk memnyenangkan diri sendiri.


52 Lara 19-20 ***** Waktu berlalu, dan akhirnya tak lama lagi tanggal 11 April. Ulang tahun Aldo. Yola memutar otak dan berpikir, apa yang harus diberi ataupun dilakukannya. “Jam? Ah tidak sepertinya ia akan jarang memakai jam” “Alat olahraga? Ah mau cari di mana?! Kenapa ngga kepikiran waktu di Banjarbaru kemarin yaa” “Mmm, Coklat? Snack Box? Jangan bercanda. Ia sedang ketat-ketatnya persiapan masuk sekolah kedinasan dan membentuk badan.” ‘Baju? Tidak-tidak.’ ‘Boneka? Ah tidak.’ ‘DIY? Aku bukan manusia yang cukup kreatif dan bertalenta untuk melakukan hal sejenis itu.’ …. …. Sepertinya ia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berfikir. Akhirnya, ia bertanya kembali kepada dirinya sendiri. “Apa yang akan menjadi tujuanku setelah segala sesuatu yang kulewati ini?” Yola merebahkan kepalanya. Pada saat itu pula, entah darimana, suatu pemikiran muncul di kepalanya. The world is on chaos. Others will say, "confess your feeling to your crush". But I think I’m disagree with it. If the world is on chaos already, then i wont add any pressure for you with my presence. Imagine my presence just will ended up with disturbing you. Oh no. I wont.


Lara 19-20 53 But even so, i cant lie that i really want and miss you. I still remember the warm feeling when you holds my hand on a Korakora rides. hihi. Its the very first time, but for nowadays i think its going to be our last too. But however, it would be eternal in my memories. I'll keep it for my own. Do, i think i'll gonna keep my feelings for my own too. No need to worry. I'll keep it with all the memories that always haunted me for years. A beautiful memories about us. I'll keep it save. Until the day that i becoming a very better woman to come and standing next to you. I really hope so. Then, start from now on, Im going to focused myself on whats have values for me. I’ll struggling to get the very better version of me, make my parents proud, then later I can come to you proudly too. You just almost graduated, and I even haven’t reach my 3rd Grade of High School. We are even too young to start a relationship again. I wont do the same mistakes. We all have journey, and lets do our best through it, live happily as long as we struggling for our future, pray a lot, and eat properly. We might get sick, so take care for our ownself well. I love you, but our future are the most necessary thing upon it. I really hope you all the best in everything. See you when I see you. God Bless! Rentetan kalimat yang akhirnya menghentikan pemikiran rumitnya yang mengatasnamakan cinta. 11 April, 2020 21.14 Micholla sent a message to Geraldo Aldo “Happy Birthday, Friend! Wish You All The Best, yaa. Semangat mengejar mimpinya. GBU!”


54 Lara 19-20 Ditutup dengan kata Amiin, percakapan yang sangat singkat itu pun berakhir. Beberapa waktupun tak terasa berlalu. Terdengar kabar bahwa Pandemi COVID-19 pun mulai menghilang. Aktifitas berangsur kembali seperti seia kala, sekolah-sekolah mulai dibuka kembali dan begitu pula anak-anak rantau yang berada di kampung halamannya pun juga satu per satu kembali ke daerah perantauan masing-masing dan memulai perjuangan mereka kembali. Begitu pun Yola. Banyak lomba yang sebelumnya tertunda akhirnya dijadwalkan untuk diikuti kembali. Ia benar-benar menyibukkan dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, seperti janjinya kepada dirinya sendiri. Berterimakasih kepada cinta yang besar dan logika yang bersahabat, ia memutuskan untuk menjalani hidupnya ke depan dengan banyak cinta dan logika yang tetap kuat. Kisah Yola tetap tinggal dan disirami dengan hangatnya semangat dan ketulusan untuk bertemu sebagai dua orang yang lebih baik di suatu masa di depan hari nanti. Cerita inipun berakhir dengan bahagia. Kadang, seperti Hello Panda. Biskuit berisi krim yang selalu diidamkan oleh pencintanya. Ada yang lebih indah dari pada sekedar tampilan luar yang indah dan menarik, tetapi juga kejutan di dalamnya. Entah apa yang kamu temukan, rasa manis yang terlalu manis, hingga membuat kita terlalu muak untuk menghabiskannya sendiri? Rasa gurih tetapi asin yang tidak cocok dengan lidah penikmatnya? ataupun rasa yang belum pernah bisa kamu bayangkan sebelumnya? Namun di atas semuanya itu, pemilihan waktu juga berpengaruh dengan kebahagiaamu. Seenak apapun sebuah biskuit, jika kamu memakannya untuk waktu yang terlalu lama, cepat atau lambat kamu akan merasakan bosan bahkan muak untuk sekedar melihatnya. Jika kamu mengabaikan rasa sabar dan memilih menyantapnya bahkan pada saat kamu tahu biskuit itu belum matang, bukannya nikmat yang kamu dapat, tetapi sakit perut dan aktivitasmu yang malah menjadi terganggu.


Lara 19-20 55 Dalam dosis yang terlalu banyak, sama seperti cinta, itu hanya akan mengundang penyakit! Untuk tubuh adalah diabetes, dan untuk hati adalah patah hati.


56 Lara 19-20 COVID-19 Oleh: Raditha Ariyani Siang itu langit Banjarbaru tampak cerah seperti biasa, aku tengah menyantap makanan dari rumah makan yang tengah aku singgahi. Sambil bermain ponsel, mataku terpaku pada salah satu berita yang terdapat di lini masa akun medsosku. Tertulis, "Kalsel: 3 orang pasien dalam pemantauan..." Seketika lauk yang tengah kukunyah terasa amat hambar di lidahku. Tanpa berlama-lama aku pun segera menghabiskan sisa makananku dan kembali pulang ke kos. Keadaan jalanan yang ramai dan inisiatif masyarakat dalam penanganan Covid-19 masih rendah membuatku tambah waspada dalam perjalanan pulang. Minggu ini adalah minggu yang cukup berat. Keadaan pandemik Covid-19 terus meluas di dunia maupun di Indonesia, tidak terkecuali Kalsel. Aku menjadi lebih khawatir dan ekstra hati-hati di tengah keadaan genting seperti ini. Dalam keadaan seperti ini aku hanya dapat berdiam diri di kosan dalam upaya memutus rantai virus corona. Kegiatan PKL yang bertepatan dengan pandemik ini pun harus terpaksa dipercepat untuk menyesuaikan dengan keadaan dan kesehatan para peserta didik. Berangsur-angsur keadaan di Banjarbaru mulai terlihat lebih baik, sekolah-sekolah telah diliburkan, jalanan lengah oleh penduduk dan kewaspadaan masyarakat telah meningkat. Pemerintah juga telah menyerukan seruan untuk masyarakat tetap berdiam diri di rumah masing-masing dan diharapkan untuk tidak meninggalkan rumah jika tidak terlalu penting. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang egois dan hanya memperdulikan diri sendiri. Seperti saat aku hendak pergi ke


Lara 19-20 57 apotek untuk membeli masker dan mendapati bahwa keadaan di Banjarbaru saat ini tengah krisis masker, sementara itu di internet terdapat banyak oknum penjual masker yang menimbun barang vital seperti itu dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi. Dengan keadaan yang tidak memungkinkan ini, semua aktivitas mulai dilakukan secara daring. Kelas-kelas yang tertunda kini dialihpindahkan ke kelas-kelas online yang dilaksanakan dari rumah. Tugas-tugas yang tertinggal juga mulai diberikan oleh para guru melewati jejaring sosial. Hari-hariku saat berdiam diri di rumah dalam masa karantina ini dipenuhi dengan tugas dan kelas-kelas online. Tapi sayang keefisienan belajar dari rumah tidak begitu membawa banyak manfaat bagiku yang lebih suka belajar secara bertatap muka. Selain itu ujian PKL juga mau tidak mau harus dilakukan secara daring, ini menjadi salah satu pengalaman baru yang aku rasakan selama pandemik. Libur panjang yang nampaknya belum akan selesai dalam waktu dekat ini juga membuatku menjadi begitu malas untuk melakukan sesuatu. Aku terus-terusan berbaring di ranjang nyamanku dan kadang kerap kali membiarkan tugasku terbengkalai. Kebosanan yang menyerang juga tak berdampak baik bagi diriku yang tak tahu harus mengisi liburan ini dengan kegiatan apa. Padahal nyatanya ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan dalam masa karantina seperti bercocok tanam dan memasak, tapi keadaan kos yang tidak memungkinkan membuatku cenderung lebih memilih untuk diam di kamar terus menerus. Aku hanya berharap pandemik ini akan segera selesai dan aku dapat bisa beraktivitas seperti biasa lagi dan berjumpa dengan temantemanku. Aku juga berharap masyarakat dapat patuh pada seruan seruan yang telah diserukan tentang pentingnya kita untuk berdiam diri dirumah guna memutus rantai penyebaran virus corona dan menjaga kesehatan. Karena cara terbaik untuk menghentikan pandemik ini harus datang dari kesadaran diri masing-masing masyarakat terlebih dahulu. Semoga Tuhan melindungi kita semua.


58 Lara 19-20 Mengapa…??? Oleh: Satriya Yoga Madhasatya Boma termenung di halaman rumah, memandangi umbul-umbul janur kuning yang seakan-akan menari diterpa angin. Gelas-gelas dan piring sudah diangkat Shinta ke dalam rumah untuk dicuci. Kini rumah sudah sepi karena hanya dihadiri oleh keluarga dekat Boma dan Shinta. Rangkaian acara pernikahan telah selesai dan masih diselimuti suasana duka cita. “mmm mas ngapain ngelamun?” tanya Shinta. “iya dek kepikiran aja susahnya nikah di tengah-tengah pandemi ini,” jawab Boma dengan muka murung. “ngapain sih takut virus corona, sama rokok aja gak takut padahal udah jelas dibungkusnya ada tulisan merokok dapat membunuhmu! hehehe” canda Shinta. “haduhhh, dek Shinta kok malah bercanda sih,” ucap Boma. Cahaya matahari yang mulai termakan gelapnya malam menandakan hari sudah senja. Kini Boma masuk ke ruang tengah untuk duduk dan beristirahat bersama Pak Ferdy, bapak Boma sedangkan Shinta ke dapur untuk menyiapkan makan malam. “Bom, udah ngerencanain mau bulan madu kemana?” tanya Pak Ferdy. “Bapak gimana sih boro-boro kepikiran ke situ!, pergi keluar rumah aja dilarang pemerintah,” jawab Boma dengan rasa kesal. “iya Bom, soalnya kita harus melakukan physical distancing atau jaga jarak demi keamanan kita,” nasihat Pak Ferdy. “iya pak, tapi kalau gak keluar rumah kita gak bisa makan,” jelas Boma. Sreng sreng…, suara Shinta yang sedang memasak nasi goreng, tak lama kemudian nasi goreng buatan Shinta sudah siap disajikan kepada


Lara 19-20 59 Boma dan Pak Ferdy untuk makan malam. “nasi goreng buatanmu emang enak dek,” pujian Boma kepada Shinta. “ehem ehem, makin mesra aja mentang-mentang pengantin baru,” ejek Pak Ferdy kepada Boma dan Shinta. “enggak kok pak” elak Shinta dengan tersipu malu. “Shinta, kamu udah resign dari tempat kerjamu di Jakarta?” tanya Boma untuk mengalihkan pembicaraan. “ya mau gimana lagi keuangan mas Boma sekarang kan sulit apalagi semenjak diPHK,” jawab Shinta dengan nada pasrah. “Maaf nyusahin kamu dan gak bisa jadi tulang punggung keluarga, tapi aku yakin kok sebentar lagi keuangan kita akan stabil” katakata Boma untuk meyakinkan Shinta. “udah mas gak usah terlalu dipikir, untuk sementara biar aku yang balik ke Jakarta untuk bekerja supaya kita tetep bisa menjalani hidup” jawab Shinta. “Jakarta itu daerah zona merah, kamu yakin?” tanya Boma kepada Shinta. “yakin seratus lima puluh persen mas, malah tu virus yang takut sama aku,” jawab Shinta. Tak terasa waktu cepat berlalu jarum jam menunjukan pukul 22.00 WIB. “Udah malam gak baik pengantin baru tidur larut malam,” tegur Pak Ferdy. ”iya pak,” jawab Boma dan Shinta dengan kompak. Kemudian Boma dan Shinta berjalan menuju kamar mereka. Satu minggu telah berlalu kini saatnya Shinta untuk kembali ke Jakarta. “Mas anterin aku ke stasiun,” bisik Shinta. “udah kebawa semua barangnya?, udah pakai masker? udah bawa handsenitizer?” tanya Boma dengan rasa cemas. “Udah mas, ayo “. Sesampainya di stasiun Boma merasa resah dengan kepergian istrinya ke Jakarta yang jelas-jelas zona merah penyebaran virus covid 19. Lamunan Boma buyar ketika Pak Ferdy memanggil namanya “Boma ….” panggilnya keras. Boma membalik dan mendekati Pak Ferdy “ada apa pak?”. Pak Ferdy memberikan handphone kepada Bimo, tak lama kemudian Boma lemas mendengar kabar bahwa Shinta positif corona dan diminta segera mejemputnya agar segera melakukan isolasi mandiri di rumah. “Astagfirullah, cobaan apa lagi yang kau berikan kepada keluarga hamba ya Allah” rintihan dan tangisan Boma. Pak Ferdy menyadarkan Bimo untuk bersabar dan menuju Jakarta menjemput Shinta.


60 Lara 19-20 Sesampainya di rumah Shinta terus menangis dan menyesal karena terlalu percaya bahwa dirinya tidak akan tertular dan dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menusukan pisau ke dalam perutnya dari pada harus merepotkan suami serta bapak mertuanya. “Jlebb….,” darah mengucur perlahan, tubuh mulai memucat dan akhirnya Shinta menghembuskan nafas terakhirnya di dalam kamar. Di sisi lain Boma telah menggunakan alat pelindung diri untuk merawat Shinta. Dia mengetuk pintu kamar Shinta tetapi tidak ada suara yang terdengar “Shinta…..Shinta…..Shinta,” panggilan Boma dengan nama semakin keras. Bimo membuka pintu dan mendapati istrinya yang telah tergeletak dengan darah dimana-mana. “Astaga Shintaaaaaaaa…..,” tangisan Boma dengan nada lemah.


Lara 19-20 61 Karantina Oleh : Syifa Azzara Diyanti Mau tahu hal apa yang paling membuatku malas selain bangun dari tempat tidur kala di luar rintik hujan sedang membasahi bumi? Membalas pesan dari Daffi Kim. Oke, pertama-tama biar kujelaskan kondisiku saat ini sebelum lompat ke perihal Daffi Kim. Aku sedang menjalankan karantina diri setelah mendapat telepon dari Velzen Park pagi ini bahwa semua kelas ditiadakan hingga dua pekan ke depan karena wabah Covid-19 di kota kami sudah memasuki stase di mana sekolah, kampus, dan tempat bekerja harus diliburkan serta penduduk dihimbau untuk tetap diam di rumah demi meminimalisir penyebaran. Aku sebenarnya sudah memprediksi hal ini akan terjadi, tetapi aku tidak menyangka akan secepat ini. Tetapi ini tidak menjadi masalah besar untukku, toh, aku ini tipe orang yang suka menghabiskan waktu dengan bergelung di kasurku sepanjang hari daripada pergi jalan-jalan ke luar. (Sebenarnya alasanku tak suka pergi jalan-jalan karena seringkali kondisi finansialku tidak memungkinkan, hiks.) Ditambah lagi, minggu ini yang seharusnya menjadi minggu yang cukup hectic buatku karena deadline dari tugas-tugasku kebanyakan ada di minggu ini dan bahkan ada ujian di beberapa pelajaran di minggu-minggu ini. Sialnya, akibat kelas ditiadakan mulai hari ini, membuatku berlehaleha dan tidak melakukan hal apapun selain merebahkan diriku di kasurku setelah menerima telepon dari Velzen Park. Dan sialnya lagi,


62 Lara 19-20 sekarang perutku lapar, kepalaku pusing karena kebanyakan tidur, dan pesan dari si menyebalkan Daffi Kim juga belum kubalas. Daffi Kim? Ya, Daffi Kim, pacarku. Entah bagaimana awalnya dia bisa jadi pacarku, tetapi akhirnya kuakui juga makhluk bermulut manis itu adalah pacarku yang menyebalkan. Dan semakin menyebalkan ia setelah pekan lalu ia mendapat tugas projek dari dosennya. Ayolah, setelah mendapat tugas projek tersebut, ia menghabiskan waktunya 24/7 untuk hal itu. Bukan, bukannya aku tak mau mengerti dengan keadaannya atau bagaimana. Tidak masalah bila Daffi Kim mengerjakan tugas projeknya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai yang baik, tetapi masalahnya ia sama sekali tidak menyisakan waktunya untuk sekedar mengabari atau membalas pesanku, padahal ia sempat online. Ditambah lagi, dalam pengerjaan tugas projeknya tersebut, ia berada di kelompok yang sama dengan Obbi Jeon. Iya, Obbi Jeon, mantan gebetannya Daffi Kim! Lagi-lagi, aku bukannya cemburu tanpa alasan. Aku bukannya cemburu tanpa alasan. Aku tidak sposesif itu pada Daffi, bahkan ia memiliki banyak sahabat perempuan seperti Yeji Hwang atau Sebin Shin, dan aku tidak mempermasalahkannya sama sekali. Hanya saja, aku sedikit sensitif dengan gadis bernama Obbi Jeon ini. Karena; pertama, ia jauh lebih cantik dariku dan aku mengakuinya. Kedua, aku tahu betul kalau Daffi paling tidak bisa menahan bibir tebalnya itu untuk tidak meloloskan kata-kata manis ada gadis secantik Obbi, apalagi Obbi adalah mantan gebetannya. Ketiga, ketampanan Daffi agaknya tidak wajar sehingga besar sekali probabilitas para gadis yang mudah jatuh cinta, termasuk Obbi, jatuh dalam pesonanya. Menyebalkan, bukan? Dan tiba-tiba, si menyebalkan itu mengirimkan pesan setelah sekian lama kami tidak bertukar pesan, yang isinya: “bitna-ya~” “udah lupa ya kalo masih punya pacar?”


Lara 19-20 63 SEBALL SEKALII. Dia nggak punya kaca, ya? Ponselku kembali bergetar, satu lagi pesan masuk. Namanya Daffi menghiasi notifikasiku sekarang. Biklah, kali ini akan kubalas pesannya. “kelas nggak ada sampai 2 minggu ke depan kan? Main yuk?” ‘gila ya Daffi Kim’ ‘mau kena convid apa?’ balasku. “akhirnya dibales juga hehe” “terus gimana? Kangennnnn:<” ‘gimana apanya?’ ‘just enjoy sama karantinamu dengan projek tercintamu’ balasku lagi. “ngambek ya?” “di sana lagi nggak ada siapa-siapa kan?” “aku kesana sekarang! See u princess! <3” ‘EEHHH- APAAN’ ‘nggak, nggak bolehh! dijalan banyak virus!’ (dibaca) ‘DAFII!!!!!!’ balasku terakhir karna dia hanya membaca pesanku, huftAku mengerucutkan bibirku, nggak mungkim kan Daffi ke sini? Yang ada dia ditangkap polisi karena tidak melakukan protokol dari pemerintah. Dan kalaupun dia sampai di depan pintu apartemenku, tidak akan kubukakan pintu untuknya. Biarkan saja!


64 Lara 19-20 Sebelum Virus itu Tiba Oleh: Wahyu Eka Septian Anwar Sang penguasa pagi muncul, cahayanya sampai menyilaukan mataku. Melewati jendela kamar dan membuatku terbangun. “Ah sialan! Siapa yang membuka gorden jendelaku?” Ucapku dengan kesal. “Oh iya, aku lupa menutupnya tadi malam”. Dengan keadaan masih mengantuk, aku pun berusaha bangkit dari tempat tidurku yang berhamburan itu. Melihat sekitar dan ternyata jam sudah menunjukan pukul 06.00 Wita. Mengetahui itu, aku pun berlari menuju kamar mandi dan tidak melihat kalau ibuku sedang membuatkanku sarapan. Setelah mandi dan bersiap - siap, aku pun menikmati sarapan yang sudah disajikan oleh ibuku. Setelah sarapan selesai aku pun berangkat ke sekolah atas izin dan restu ibuku. “Assalamualaikum, berangkat dulu ya bu” Kataku sambil berlari. “Waalaikumsalam, oy ini kasurmu ga dirapikan dulu?” Tanya ibuku. “Ehehe..” Jawabku sambil meninggalkan ibuku dengan muka marahnya. Sekolahku memang tidak terlalu jauh dari rumah sehingga aku hanya berjalan kaki. Aku pun berpikir jalan kaki ke sekolah juga lebih sehat, bisa dibilang sekalian olahraga. Sekolahku merupakan salah satu sekolah unggulan di kota ini, dengan fasilitas dan tenaga pengajar yang berkualitas juga pastinya.


Lara 19-20 65 “Perkenalkan, namaku Wahyu Yusuf, aku biasa dipanggil dengan sebutan Yuyu. Aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Ayahku meninggal ketika aku dilahirkan, tidak memiliki adik dan juga kakak. Seharusnya sih aku bilang itu di awal cerita ini dimulai, tapi karena cahaya matahari tadi aku jadi lupa…Tunggu, aku bicara dengan siapa?”. Sesampainya di sekolah aku melihat banyak guru dan murid yang mengenakan masker. Aku bingung, karena setauku tidak ada kebocoran gas berbahaya di sini. Ketika aku menaiki tangga menuju kelasku, aku bertemu dengan Made. Dia adalah siswa terpintar di angkatan kami dan dia juga adalah salah satu temanku. “Pagi Made” Ucapku sambil menghampirinya. “Pagi juga Yu” Jawabnya. “Ada apa ini ya? Kok banyak orang yang pakai masker?” Tanyaku penasaran. “Wah…Yuyu tidak menonton berita ya? Sekarang ini kan lagi ada wabah virus Covid-19 . Jadi semua orang kalau mau keluar rumah wajib menggunakan masker” Jawabnya. “Covid-19 ? Apa hubungannya dengan masker?” Tanyaku kembali. “Menurut berita beredar, Covid-19 adalah virus yang mudah menular sehingga masyarakat dianjurkan untuk menggunakan masker ketika ingin keluar rumah, Yaa walaupun aku sendiri tidak memakainya karena merepotkan” Jawabnya. “Oh iya, ada satu berita lagi nih” Sambungnya. “Afaan toh?” Candaku. “Akibat Covid-19 ini besok sekolah bakal diliburkan loh, bukan libur sih lebih tepatnya Home Learning atau belajar dari rumah secara online, serta melakukan Sosial Distancing atau semacam tidak keluar rumah untuk bersosialisasi seperti biasa” Jelasnya. “Ah, palingan nanti banyak tugas” Jawabku. “Hahaha…kalau itu pasti” Jawabnya sambil tertawa.


66 Lara 19-20 Setelah obrolan singkat kami selesai, bel berbunyi dan kami pun langsung menuju kelas untuk melaksanakan pembelajaran seperti biasa. Jam pertama diisi oleh sejarah, pelajaran yang paling membuatku mengantuk dan membuatku tertidur tanpa diketahui oleh Pak Adi, mungkin inilah salah satu kehebatanku yang bisa aku banggakan. Setelah jam menunjukan pukul 09.30 bel istirahat pun berbunyi, sontak membuatku semangat kembali dan bergegas menuju ke kantin bersama dengan Isal, dia adalah orang yang duduk disebelahku. Kemudian kami memesan nasi goreng kesukaanku dan menunggu untuk dimasak. Sambil menunggu, aku dan Isal ngobrol dan bercanda. “Eh Sal, Besok kamu mau ngapain libur?” Tanyaku dengan nada bercanda. “Hmm…Kayaknya aku bakal di rumah aja seharian” Jawabnya. “Wah ternyata siswa pintar seperti Isal pun tau soal Covid-19 dan sosial distancing ini”dalam hatiku. “Karena ada virus kan?” Tanyaku kembali. “Hah? Virus apa?” Jawabnya. “Loh? Ku kira kamu tau soal virus yang lagi rame ini sampai-sampai kamu mau di rumah seharian” Tanyaku. “Haha…..Kan aku kalau libur memang selalu di rumah” Jawabnya. “Heehh…Aku lupa kalau dia anak rumahan” Batinku. Setelah makanan dihidangkan kami segera menyantap makanan tersebut, kemudian kembali ke kelas dan melanjutkan pembelajaran. Para guru juga mengingatkan untuk tidak keluar rumah terlebih dulu serta mengerjakan tugas – tugas yang sudah diberikan. Bel berbunyi, bertanda seluruh siswa diperbolehkan untuk kembali ke rumahnya masing – masing.


Lara 19-20 67 Mencoba Hal Baru Oleh: Yeni Angraini Kami sudah kehabisan akal. Mengulang kegiatan yang sama selama berminggu -minggu membuatku kehilangan selera. Terlalu bosan untuk nonton youtube setiap hari, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, sangat membosankan. Terlalu malas untuk mendengar ocehan adik laki - lakiku ini. Lelaki itu tak punya kemampuan untuk membaca emosi. Apa saja yang bersarang di kepalanya, ia keluarkan. Tak peduli lawan bicaranya sedang malas dan muak. “Tahu - tahu aku kalau sekolah pasti sudah ketemu sama temen.” kata dia. “Yah kan kalau kamu ke sekolah dalam situasi seperti ini emang kamu tidak takut terjangkit virus apa!.” Kataku. Dia tampak tidak terima. Ia kesal jika orang lain mendahului ceritanya, bahkan jika orang itu tahu setiap detail kejadiannya. “Aku bosan” katanya. “Apa kamu gak bosan nonton youtube sepanjang hari sampai matamu merah.” Sambungnya. “Yah sebenarnya sih aku bosan juga, soalnya aku bingung mau ngapain” kataku. “Gini aja, mau enggak bikin cemilan yang seperti tiktok ini” katanya sambil nunjukin hp nya. “Yang mana?” tanyaku bingung. “Kita ada susu, oreo, sama campuran agar-agar ga ya?” Tanya dia.


68 Lara 19-20 “Kayaknya sih ada, kamu emang mau bikin apa?” Tanyaku. “Iya sama kamu, dari pada kamu nonton youtube yang engga penting itu mendingan kamu bantuin aku” katanya. “Ya udah aku siapin alat dan bahannya tapi kamu yang bikin sampai selesai aku engga tau caranya” kataku. Setelah perbincangan ini selesai aku segera mencari bahan dan alat yang akan digunakan sedangkan dia mencari tahu cara membuat agar-agar oreo di internet. Setelah semuanya siap aku hanya melihat dia membuat cemilan itu. Merebus air dan agar-agarnya, mencampuranya dengan susu, menghancur kan orea sampai bubuk, sungguh lincah sekali. Setelah selesai agar-agar orea nya didinginkan dulu di kulkas selama setengah jam. Selama menunggu agar-agar oreo dingin kita berdua asik menonton film Frozen 2 di youtube . Durasi film nya selama 2 jam. Yah cukup lah nunggu oreonya dingin. Setelah satu setengah jam berlalu durasi filmnya tinggal dikit lagi “Widih Elsanya keren juga kalau begini” kata dia. “Kerenan Frozen satu juga” kata aku. “Masa sih, perasaan aku keren Frozen yang ini” tambah dia lagi. “Terserah kamu” ucapku nyerah. “Mendingan kamu cek gih orea nya beku apa belum, kalau udah beku kita makan aja” suruh dia. “Enak aja nyuruh-nyuruh yang tua” kataku. “Kamu yang enak udah aku juga yang bikin, situ tinggal makan aja. cepet ambil tuh” kata dia. “Ya udah iya…iya”kataku Berlajan ke kulkas mengecek oreonya udah beku apa belum. Ternyata sudah beku. Terus aku mengambil 2 sendok dan kembali di


Lara 19-20 69 sofa dan mencicipi agar - agar oreo yang kita bikin. Bukan kita sih, dia doang yang bikin aku tinggal makan aja hahaha. “Kayanya nih kurang manis deh” ucapku setelah mencoba satu sendok. “Alah kamu kan tinggal makan doang engga usah banyak komen” kata dia. “Idih sensi amat dah” ucapku “Yaudah entar lain kali aku bikin sendiri yang enak dari pada ini” ucapku. “Emang kamu bisa, yang gini kamu gak bisa” kata dia. “Kan mencoba gak masalah dong” ucap aku. Dia akhirnya menghabiskan agar-agar oreo itu, aku cuma makan dikit aja engga manis soalnya.


70 Lara 19-20 Sisi Lain dari Pandemi Covid-19 Oleh: Adristi Tazkia Putri Takut, khawatir, cemas, sedih dan entah kata apalagi yang bisa kupakai untuk menggambarkan perasaanku akhir-akhir ini. Sejak merebaknya virus corona yang melanda hampir di seluruh belahan dunia, ketenangan dan kenyamanan seperti tercabik-cabik. Bagaimana tidak, virus corona atau yang juga disebut dengan Covid-19 itu terkenal begitu cepat penyebarannya dan banyak korban meninggal dunia, ditambah pula belum ada vaksin untuk menangkalnya. Berita-berita yang tersebar menambah rasa ketakutanku. Himbauan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah, bekerja dari rumah, belajar di rumah, dan berusaha untuk menghindari kerumunan dianggap salah satu cara untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ini. Itu artinya aku tidak akan bertemu teman-teman juga guruguru pengajarku. Terbayang olehku betapa tidak berwarnanya hari yang bakal kulewati. Pasti akan ada rindu pada suasana sekolah. Rindu pada senyum manis guru idola, bahkan rindu pada marahnya guru yang mungkin dengan marah itulah cara beliau untuk menunjukan perhatian pada muridnya. Ah! Aku rindu….. Aku berusaha melakukan banyak kegiatan di rumah sekedar untuk sedikit mengalihkan kecemasan akan Covid-19 ini. Bagaimanapun harus kusadari bahwa kepanikan dan ketakutan yang berlebihan adalah separuh dari penyebab munculnya penyakit, sementara ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah permulaan dari kesembuhan. Terkadang aku mengisi waktu dengan mencoba menu masakan atau


Lara 19-20 71 merubah tatanan perabotan di rumah pokoknya apa saja lah, yang penting kepenatan hati dan pikiran bisa terobati. Pikiranku yang sedikit liar melahirkan pandangan yang lain tentang Covid-19 . Sepertinya Covid-19 ini virus buat manusia tapi obat buat yang lain. Covid -19 setidaknya mengirimkan pesan pada kita untuk tidak memakan hewan-hewan buas atau yang di larang terutama bagi umat islam. Bumi yang sudah kelelahan menanggung begitu banyak beban setidaknya bisa sedikit beristirahat. Udara yang sudah tercemar dan tidak bagus lagi buat pernapasan disebabkan polusi pabrik dan asap kendaraan, sementara waktu ini bisa membersihkan diri. Alam yang rusak oleh cakar tangan manusia pun kiranya bisa rehat hanya dengan mengurung manusia di rumah saja lah satu-satu nya yang dapat membuat bumi, alam, dan udara bisa berbenah memperbaiki diri. Intinya ini cara Tuhan untuk mengistirahatkan bagian lain dari ciptaan-Nya selain manusia. Terkadang pikiranku merasa Covid-19 yang datang ini seperti tangan yang menepuk bahu kita semua. Kita yang sudah dengan sombongnya berjalan seolah tidak memerlukan rambu dan aturan. Kita yang merasa mampu melakukan apa saja bahkan mungkin menganggap diri kita dewa. Betapa ternyata kita ini begitu lemah dan tidak punya kekuatan apa-apa. Maafkan kami Tuhan yang mungkin terlalu sedikit menyediakan waktu untuk mengingatmu, untuk sujud di hadapan-Mu. Manusia terlalu sibuk dan lupa diri. Berlomba tak kenal waktu untuk mengumpulkan harta. Banyak anak yang belajar bicara dan tumbuh besar dalam asuhan asisten rumah tangga. Anak remaja yang lebih banyak bercerita dengan teman atau berkeluh kesah di media sosial karena kehadiran orang tua disisi mereka adalah sesuatu yang langka. Ini satu lagi cara Tuhan untuk mengembalikan suasana atau keadaan rumah tangga dan keluarga sebagaimana seharusnya. Suami ada untuk istri begitupun sebaliknya. Orang tua hadir di sisi anak-anaknya. Memberikan telinganya untuk mendengarkan cerita, membuka hati untuk mengerti yang di rasakan mereka. Jujur, momen berkumpul keluarga ini juga aku alami dan amat sangat membuatku bahagia.


72 Lara 19-20 Meskipun di sisi lain ada kesedihan dan rasa tidak adil terhadap para dokter dan perawat yang berada di garda terdepan dalam menangani Covid-19 . Mereka yang terpaksa tidak bisa pulang ke rumah karena khawatir keluarganya terkena virus yang mereka bawa. Ada yang hanya melihat anaknya dari kejauhan. Menggunakan pakaian Alat Pelindung Diri yang pasti tidak nyaman. Kurang tidur, bahkan kalaupun tidur, tidak rebahan di kasur empuk, sambil menyandar di dinding, duduk di kursi atau menaruh kepala di meja. Doaku semoga Tuhan melindungi dan menjaga mereka dan seluruh keluarganya. Pergilah Covid-19 . PULANGLAH ke asalmu. Bukankah kami sudah memberikan kamu waktu dan tempat untuk kamu jalan-jalan di bumi kami. Tugasmu untuk mengobati bumi dan udara negeri persada kami sudah selesai. Dan kamu sudah pula mengembalikan kasih sayang ke dalam banyak keluarga.


Lara 19-20 73 Untung Bukan Corona Oleh : Muhammad Akbar Luthfia Azwin Ada persahabatan yang beranggotakan 5 orang yaitu Andre, Bara, Budi, Jihan, dan Nana. Mereka suka berkeliling kota untuk mencari sesuatu yang baru seperti makanan, baju, dan, tempat nongkrong untuk mengerjakan tugas. Jihan biasanya bersama Andre untuk mencari tempat nongkrong yang baru, Budi dan Nana mencari tempat makanan yang enak karena mereka bercita-cita menjadi food vlogger, dan Bara biasanya mencari tempat baju yang cocok dengan gaya mereka karena dia kuliah jurusan fashion. Jihan dan Andre bertemu pertama kali saat SMA karena mereka teman sekelas, Budi dan Nana kenal karena dijodohkan oleh Bara karena mereka memiliki hobi yang sama, yaitu makan. Budi dan Bara sering disebut anak kembar karena mereka mirip dan sering pergi berbarengan, mereka berlima bertemu karena masuk satu kuliah yang sama dan teman satu regu saat ospek. Mereka sering berkumpul di kantin untuk membahas kegiatan apa yang sedang dilakukan atau hanya untuk menunggu jam masuk kuliah. Hari ini Jihan dan Andre sedang mencari tempat nongkrong karena mereka mendapat tugas yang banyak dan mengajak teman-teman yang lain untuk membantu mengerjakan tugasnya. “Han, kita kan ada tugas tuh gimana kalo kita minta bantuan ama temen-temen yang lainnya?” ucap Andre mengajak Jihan. “Wah boleh tuh sekalian cari tempat nongkrong baru buat kita” ucap Jihan mengiyakan. “Coba chat mereka di grup” ucap Jihan menyuruh Andre. “Cuy aku sama Jihan ada tugas nih gimana kalo kita nyari tempat nongkrong buat ngerjain


74 Lara 19-20 tugasnya?” Andre mengirimkan pesan di grup. “Gimana kalo di tempat aku aja, soalnya aku lagi kurang enak badan nih” Bara menyarankan. “Wah boleh tuh” Jihan dan Andre pun menyetujui saran dari Bara. “Gimana Budi dan Nana setuju nggak?” tanya Andre. “Setuju!!!” Budi dan Nana membalas dengan semangat. “Gimana kalo kita langsung aja sekarang ke rumah Bara?” tanya Andre. “Ayo” balas Budi dan Nana. Bara segera mengirimkan lokasi rumahnya ke grup mereka. Tak lama setelah itu mereka berempat pun sampai di rumah Bara, Budi berteriak memanggil Bara untuk membukakan pagar rumahnya agar mereka bisa masuk ke dalam rumah. “Bara, kami udah nyampe nih” ucap Budi sambil berteriak. “Ehh kalian udah nyampe, cepet juga ya, biasanya kalian ngaret dulu” ucap Bara sambil bercanda. Mereka pun masuk ke rumah Bara dan duduk di sofa ruang tamu. Andre pun menjelaskan tugas yang hendak dikerjakan yaitu membuat survei tentang kebersihan lingkungan sekitar, mereka pun berdiskusi, “Jadi tugas kali ini disuruh melakukan survei tentang kebersihan lingkungan sekitar, supaya enak kita ambil lingkungan kampus aja, aku udah ngebagi timnya sih jadi aku sama Jihan di sekitar kantin kampus, Budi dan Nana di sekitar kelas kampus, dan Bara di sekitar lapangan parkir kampus, setelah terkumpul semua hasilnya nanti kita balik lagi ke rumah Bara untuk jadiin satu dalam file, gimana menurut kalian?’ ucap Andre panjang lebar. “Setuju aja sih, tapi aku agak telat ya berangkatnya, masih kurang enak badan aku” ucap Bara. “Oke kalo begitu kita langsung menuju TKP ya” ucap Andre. “Okeeee” ucap Budi dan Nana berbarengan. Mereka pun langsung pergi meningalkan rumah Bara, tapi Andre yang tidak tega melihat sahabatnya sedang sakit segera menuju apotek terdekat untuk membeli obat, sekalian membeli masker untuk berjagajaga. Setelah membeli obat, Andre pun menyuruh Bara untuk meminum obat itu dan beristirahat sebentar. “Nih obat buat kamu Bar, istirahat aja dulu, kalo udah agak enakan susul kita yak ke kampus” ucap Andre. “Oke Dre” ucap Bara lesu. Setelah merasa agak enakan dia segera menyusul temantemannya di kampus dan menuju lapangan parkir kampus untuk melihat kebersihannya. Setelah mereka semua selesai, mereka pun berkumpul di


Lara 19-20 75 kantin untuk membicarakan hasil survei tadi. “Gimana tadi hasil survei udah kalian catat kan?” tanya Andre kepada Budi dan Nana. “Udah kok Ndre tenang aja” ucap Nana. “Kalo kamu Bar, udah survei?” tanya Andre kepada Bara. “Udah Ndre, kayanya aku langsung pulang aja deh soalnya kepala aku agak pusing nih” ucap Bara. “Owh yaudah kalo gitu kita barengan aja pulangnya, soalnya kita ngerjain di rumah kamu Bar” Ucap Jihan. “Kalo gitu sekarang aja kita perginya mumpung Bara belum terlalu pusing, aku yang bonceng Bara nanti kamu bawa motor aku” ucap Bara kepada Jihan. “Aku sama Nana nyari makan dulu ya, udah laper nih hehe” ucap Budi sambil bercanda. “Yaudah cepet ya” ucap Jihan. Budi dan Nana pun segera pergi mencari makan untuk mereka berlima. Setelah mencari makan, Budi dan Nana segera menuju ke rumah Bara dengan membawa makanan yang banyak. “Nih kita makan dulu biar semangat” ucap Budi. “Wah makasih ya Bud, Na udah beliin kita makanan” ucap mereka kompak. Melihat Bara yang lesu, Budi pun bertanya, “Bar, kamu kenapa lesu gitu dari tadi?”. Bara pun membalas “Nggak tau nih mungkin kelelahan aja abis minggu kemaren nongkrong sama anak-anak jurusan”. “Dengar-dengar sih anak jurusan kamu ada yang kena corona tuh Bar si David, waktu kamu nongkrong ada David nggak Bar?” tanya Andre. “Ada dia sih, waktu itu dia batuk-batuk gitu waktu kami nongkrong, ya kami becandain dong “batuk pa haji” kata kami” ucap Bara. “Waduh gawat juga sih kalo ada orang batuk-batuk gitu, mana lagi rame virus corona juga” Ucap Nana. “Gimana kalo kita cek ke Rumah Sakit? takutnya kamu kena corona Bar” Nana melanjutkan. “Owh iya bener tuh Bar” ucap Andre. Bara pun segera mengiyakan dan mereka pun pergi ke Rumah Sakit terdekat untuk mengecek keadaan mereka masing-masing. Untungnya hasil cek kami semua negatif. Kami pun diberitahu oleh dokter untuk dirumah saja kalau tidak ada kepentingan untuk keluar rumah, kalaupun ingin keluar rumah dianjurkan memakai masker, juga diingatkan untuk jaga jarak satu sama lain dan menjaga kebersihan. Setelah dari Rumah Sakit kami pun kembali ke rumah Bara untuk menyelesaikan tugas kami tadi dan segera memprintnya agar besok sudah bisa dikumpulkan.


76 Lara 19-20 Cinta yang Terpisahkan Oleh : Akmal Bahana Putera Haii perkenalkan nama ku Linda, aku seorang mahasiswi Fakultas Hukum di sebuah Universitas yang ada di Jakarta, aku tinggal bersama orang tuaku di daerah Jakarta Selatan. Aku punya pacar namanya Roy, dia juga satu kampus dengan ku, dia di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Kami pacaran sudah cukup lama, sekitar 3 tahun sudah kami menjalani hubungan ini. Kami berdua juga menjalani kuliah sambil bekerja, aku bekerja menjadi barista di sebuah cafe, dan pacarku sambil menjalani bisnis yang diturunkan dari keluarga nya, hitung-hitung cari duit jajan tambahan. Selama kami mejalani hubungan ini, kami menjalaninya dengan santai dan baik-baik saja, ya walaupun kadang ada saja ribut kecil diantara kita berdua. Seperti hari-hari yang rutin kita jalani berdua, setiap ada kuliah pagi di kampus, Roy selalu menjemput ku di rumah untuk berangkat bareng ke kampus, kami setiap pagi selalu sarapan bubur yang ada di pinggir jalan yang setiap pagi kita lewati. Sesampainya ke kampus kami menjalani kuliah seperti biasa. Waktu menunjukan pukul 14.00, dimana kami berdua sudah selesai kelas yang ada di kampus. Rutinitas yang kami lakukan saat pulang dari kampus biasanya kami menyempatkan untuk makan siang berdua di warung makan atau restoran yang ada di sekitaran kampus, jika dia tidak ada sibuk tugas


Lara 19-20 77 kuliah atau kerjaan kantor, dan selesai makan siang Roy mengantarku pulang ke rumah. Rutinitasku setiap malam menjadi barista di sebuah caffe. Desember 2019 aku mendengar berita bahwa terjadi wabah penyakit di Wuhan, Cina yang bernama Corona atau Covid-19 yang penularannya melalui hewan. Kami berdua masih menggangap hal itu seperti biasa, terjadi wabah penyakit di negara lain, seperti terjadi wabah penyakit Ebola di beberapa negara di Afrika Barat pada tahun 2014 yang lalu. Kami berpikir bahwa wabah itu tidak akan menyebar ke Indonesia, yaa kita masih menganggap penyakit itu sebagai hal yang enteng yang tidak akan terjadi di Indonesia, karena masyarakat banyak beranggapan bahwa orang Indonesia tidak akan tertular virus tersebut dan negara yang terjangkit jauh dari Indonesia. Seperti hari-hari biasa, rutinitasku ke kampus dan malam hari bekerja di coffe. Setelah beberapa bulan berjalan virus tersebut mulai menyebar di beberapa negara yang ada di Asia dan Eropa, dan aku masih mengganggap itu hal sepele yang tidak terlalu aku pikirkan. Sampai pada awal Bulan Maret 2020 bahwa ada kasus yang tertular virus Covid-19 di Indonesia, dan itu kasus pertama yang tertular. Aku dan Roy tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Setelah beberapa Minggu berlalu virus tersebut semakin merajalela di Indonesia. Pemerintah sudah menghimbau untuk melakukan sosial distancing untuk menekan penyebaran virus. Aku tetap bersikeras untuk tetap menemui Roy, karena aku merindukan bertemu dengannya. Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar kalau Roy, demam tinggi disertai dengan sesak nafas, dan dokter memvonis Roy tertular penyakit Covid-19 dan harus diisolasi di Rumah Sakit. Mendengar kabar tersebut aku sedih dan cemas dengan kondisinya. Beberapa Minggu dirawat di Rumah Sakit kondisi Roy semakin memburuk, dan akhirnya Roy tidak mampu untuk bertahan. Roy sudah berpulang, dan meninggalkan cintanya untukku. Aku sangat kehilangan, menyesal kenapa Aku dan Roy tidak pernah mengikuti himbauan


78 Lara 19-20 Pemerintah dan mengabaikan protokol kesehatan. Bagaimanapun, penyesalan tidak akan bisa mengembalikan waktu. Biarlah ini menjadi pelajaran untukku, agar aku mengikuti himbauan pemerintah dan selalu menjaga protokol kesehatan. Bukan hanya untukku, tapi untuk orang-orang di sekitarku juga. Berharap semoga pandemi ini segera berlalu, dan Indonesia bahkan dunia kembali sehat. Amin..


Lara 19-20 79 Berita Tentang Corona Oleh: Muhammad Akram Rifqiy Virus Corona sudah sampai ke Kota Banjarmasin. Memang virus ini menjangkiti negara Cina. Walau di sana sudah diantisipasi warganya, tentu penyebarannya tak bisa dielakkan karena mobilitas manusia yang begitu cepat di era modern ini. Dan banyak berita yang simpang siur tentang virus ini membuat banyak masyarakat bingung, karena entah berita mana yang benar dan mana yang salah. Ketakutan itu membuat suasana kota mencekam. Semua orang saling mencurigai satu sama lain, kalau ada yang batuk atau sesak nafas. Aktivitas mereka sehari-hari selalu menggunakan masker. Bahkan mencangkul di sawah mereka tertib menggunakan masker. Agar tubuh mereka sehat, mereka harus mengeluarkan kocek sedikit besar untuk membeli buah-buahan. Katanya buah-buahan ini banyak vitamin yang bisa jaga kesehatan. "Kapan sih penyakit ini hilang. Lama sekali. Tahu gak uangku lama-lama habis buat beli buah-buahan," kata pak Ahmad. "Iya, semua takut kena corona yang mematikan itu." "Tapi apa benar mematikan?" "Lah, katanya berita sih begitu. Baca saja di media sosial." "Aduh, kalau begini terus hidup kita bagaiamana ya?" Begitulah semua warga merasa kebingunan dengan virus corona ini. Mereka takut dengan apa yang diberitakan di media sosial.


80 Lara 19-20 Beberapa orang yang terkena batuk sudah diisolasi. Beberapa sembuh tapi yang batuk semakin banyak. Ini meresahkan warga. Semua yang terkena batuk terus isolasi di kamar dan tak boleh keluar. Tiba-tiba saja hampir di setiap rumah ada saja yang batuk. Dan semakin paniklah warga. "Ini sudah wabah loh." "Ini azab, artinya kota ini penuh dengan orang-orang berdosa dan pantas diazab." Aku duduk dan menatap televisi yang sedang menyiarkan berita tentang corona. Gubernurku pak Anies pun memberikan perintah untuk meliburkan sekolah selama dua minggu. Dia berharap agar masyarakat menjauhi tempat-tempat ramai, dan membatasi interaksi dengan orang lain. Bahkan ada juga salah satu berita di daerah lain kulihat untuk sementara di larang sholat berjamaah di masjid. Takutnya ada penyebaran virus corona. Begitu hebatnya menurutku wabah penyakit ini. Sampai masalah ibadah saja harus di usik. Tapi namanya demi keselamatan, itu ada baiknya juga. Walau kupikir masih ada yang kurang. Mungkin aku yang belum membaca berita atau kabar? Seharusnya bukan hanya tempat ibadah, tapi tempat-tempat hiburan malam juga. Setidaknya dengan adanya virus corona berdampak baik pada kemaksiatan. Haha ... Sembari menikmati berita pagi, aku mulai menyeruput secangkir kopi yang sudah dari tadi ku buat. Aku tak ingin berita di ganti, walau di pagi hari ini ada film kesukaan ibuku di channel lain. "Bu lihat? Corona makin menggila?" "Iya apa nak." Ibuku yang sehabis goreng pisang pun langsung duduk di sebelahku. "Iya bu. Bukan hanya masjid, sekolah di liburkan, dan mekah juga tutup" jawabku. "ooo ia nak. Astagfirrullah. Tanda-tanda kiamat nak. Mangkanya cepetan tobat. Kamu juga jangan lupa sholat."


Lara 19-20 81 "Mau sholat gimana bu, kalo di masjid aja dilarang? Hehe" jawabku sambil ketawa "Ah kamu. Ya di rumah kan bisa." Ibu yang kesel "Iya-iya. Hmm.... tapi rugilah bu. Biasanya dapet 25-27 derajat pahalanya kalo jamaah di masjid. Terus itungan langkah kaki menuju masjid juga berimbas pahala. Eh sekarang ilang." Ngelesku. "Ah kamu! Bisa saja. Ya udah ibu mau goreng pisang lagi. Terusin nonton beritanya? Biar gak kena si corona. " jawab ibu sembari tersenyum pergi ke dapur. Sebenarnya ada apa dengan corona? Apakah dia ingin menunjukkan kehebatannya? Apakah dia ingin menunjukkan keangkuhannya? Apakah ia ingin menantang kita sebagai mahluk yang paling sempurna di mata Tuhan. Atau apakah dia adalah imbas dari setiap kesombongan-kesombangan, keangkuhan-keangkuhan yang sering kita lontarkan. Semoga kita terhindar dari corona.


82 Lara 19-20 Profesor Corona Oleh : Putra Maulana Sutrisno China adalah salah satu negara yang dikenal karena ilmu pengobatannya, China memiliki banyak ilmuan dan profesor ternama, salah satunya adalah Luis Corona, atau yang sering disapa Profesor Corona. Corona terlahir sebagai anak kaya raya, ayahnya bernama Abraham yaitu saudagar asal Jerman dan ibunya bernama Li Wei Mei seorang dokter terkenal di China. Pada umur 10 tahun corona sudah tertarik dengan ilmu kedokteran dan orang tua corona selalu mendukung apa yang dilakukan Corona. Pada usia 13 tahun ayah dan ibu corona meninggal dunia karena dibunuh oleh orang yang tidak dikenal. Corona sangat dendam akan hal tersebut apalagi kepolisian tidak bisa menemukan siapa pelakunya. Saat itu kehidupan corona berubah, ia tinggal bersama pamanya di kota Wuhan. Corona adalah orang yang berprestasi, ia selalu mendapat beasiswa di setiap sekolah hingga dapat melanjutkan sekolah di Fakultas Ilmu Kedokteran ternama di China. Karena kepintaran dan kegigihannya, akhirnya corona berhasil lulus dari Fakultas tersebut. Pada usia 21 tahun ia dikenal sering bereksperimen dengan menggabungkan ilmu pengobatan tradisional China dan pengobatan modern. Pengobatan tersebut selalu berhasil dan pada akhirnya saat usia 34 tahun corona mendapatkan gelar profesor. Profesor Corona telah menikah dan memiliki 2 orang anak. Setiap harinya Profesor Corona bekerja meneliti kasus penyakit yang belum di temukan vaksin dan obatnya.


Lara 19-20 83 Pada suatu hari Profesor Corona terjatuh tanpa sebab pada saat hendak pergi bekerja, lalu ia dilarikan ke rumah sakit terdekat, setelah dirawat 3 hari di rumah sakit dokter mengakatan Profesor Corona mengidap penyakit langka, sejenis kanker darah tetapi lebih parah dan belum ada vaksin untuk penyakit tersebut. Setelah 1 bulan dirawat dokter pun menyerah dan hanya memberikan obat antibiotik. Karena penyakit tersebut kehidupan Profesor Corona menjadi berubah, fisik ia menjadi lebih mudah lemas dan akhirnya diberhentikan dari pekerjaannya. Profesor Corona pun ditinggalkan oleh keluarga dan dikucilkan oleh semua orang karena penyakitnya tersebut. Hal tersebut membuat Profesor Corona selalu dendam kepada setiap orang. Hari demi hari hidup Profesor Corona sangatlah menyedihkan, ia hidup sebatang kara ia selalu mengurung diri di rumahnya. Hal itu membuat ia sedikit gila, ia pun bertekad membuat vaksin untuk dirinya sendiri. Ia mengubah ruang tengah rumahnya menjadi laboratarium ilegal. Ia mengambil sampel darah dirinya sendiri dan bereksperimen menggabungkan darahnya dengan darah hewan, eksperimen telah dilakukan selama 18 kali namun tidak ada darah hewan yang cocok, namun Profesor Corona tidak menyerah untuk mencari vaksin tersebut. Pada eksperimen yang ke 19 Profesor Corona mengambil sampel mengunakan darah kelelawar, tidak diduga darah kelelawar tesebut berhasil menghilangkan penyakit langka tersebut. Tanpa pikir panjang Profesor Corona langsung menyuntikkan darah kelelawar tersebut ke dalam tubuhnya, tubuhnya pun kembali normal seperti manusia biasa. Profesor Corona pun kembali mucul dihadapan publik, dokter dan ilmuwan di kota Wuhan sangat binggung, namun Profesor Corona merahasiakan vaksin yang ditemukannya, akhirnya profesor Corona di pekerjakan kembali menjadi dokter di salah satu Rumah Sakit di kota Wuhan, setelah 3 Minggu bekerja keanehan pun mulai terjadi dimana setiap pasien yang di tangani oleh Profesor Corona selalu meninggal, pasien selalu mengeluhkan sesak nafas dan sakit tenggorokan sebelum akhirnya meninggal. Karena hal tersebut Profesor Corona di berhentikan dari pekerjaannya, hal itu membuat ia menjadi tambah frustasi.


84 Lara 19-20 Setelah kejadian tersebut Profesor Corona selalu dibayangbayangi oleh rasa dendam selama hidupnya, ia pun mulai merasakan hal aneh ditubuhnya, tenggorokan ia selalu merasa gatal dan apabila merasakan sinar matahari jatungnya berdetak kencang dan dirinya merasa gelisah, profesor pun kembali melakukan penelitian di ruang bawah tanahnya, ia mengambil sampel air liurnya sendiri, setelah ia teliti ia menemukan bahwa ada virus yang ditimbulkan dalam dirinya, ia sekarang sadar bahwa darah kelelawar tersebut sudah menunjukan efek samping, ia pun berfikir kematian pasien dirumah sakit dikarenakan mereka teltular virus di dalam dirinya. Mengetahui hal tersebut pikiran Profesor Corona menjadi jahat ia ingin membalas dendam atas kehidupan yang ia hadapi, ia pun mulai menyebarkan virus tersebut, ia selalu pergi ke tempat umum dan selalu menyentuh benda-benda di sekitarnya. Ia pun membuat virus tersebut dalam bentuk gas lalu ia sebarkan di seluruh kota Wuhan. Akhirnya banyak warga kota Wuhan terjangkit virus tersebut, para dokter di Wuhan pun mulai mencurigai Profesor Corona karena semenjak ia kembali ke publik virus itu mulai berkembang, mereja juga berfikir Profesor Corona bisa sembuh dari penyakit tersebut karena ia melalukan eksperimen ilegal di rumahnya. Kepolisian Wuhan pun mendatangi rumah Profesor Corona, sesampainya di sana Profesor Corona ditemukan telah meningal dunia, polisi menemukan foto hewan kelelawar yang telah ia uji coba lengkap dengan nomor eksperimen tersebut (19) di balik foto kelelawar tersebut terdapat tulisan “this is my kingdom come” (inilah kerajaan saya datang), polisi Wuhan tidak bisa memastikan Profesor Corona menjadi tersangka karena sebagian barang bukti telah hilang. Virus yang dibuat oleh Profesor Corona pun menjadi pandemi, virus ini menyebar ke seluruh dunia karena penularanya yang sangat cepat. Word Health Organization (WHO) telah memberikan nama resmi virus ini Covid-19 (Corona Virus Disaese 19) akibat dari virus ini miliaran orang meninggal dunia), sampai sekarang virus ini belum di temukan vaksinnya, dan virus ini akan masih membunuh miliran orang di seluruh dunia.


Lara 19-20 85 Enjoy D’life Guys Oleh : Dicky Nurrohman Harianto Hallo teman teman perkenalkan namaku adalah Abdul Kholik tapi teman temanku kerap menyapaku dengan nama Alex yaa nama yang cukup keren sih buat orang indo hehehehe….. O…iyaa sedikit tentangku, Aku tinggal di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Aku bukan anak orang kaya, ayahku bekerja di salah satu Bank di Banjarbaru bagian administrasi. Ibuku hanya ibu rumah tangga biasa yang ramah senyum dan juga cantik. Aku anak tunggal, sebagaimana kebiasaan anak tunggal selalu dimanja oleh orang tuanya. Aku sekolah di salah satu sekolah favorit di Banjarbaru yang berbasis IT dengan akreditasi A, yaa….kalian benar SMK Telkom Banjarbaru. Mungkin sebagian orang memandangku sebagai anak “beruntung” hmmm…tapi menurutku itu cuma omong kosong, yaa….. asal kalian tau walaupun aku hidup di tengah keluarga yang cukup akan materi tapi aku tinggal di lingkungan yang cukup mengkhawatirkan. Warga desaku hampir seluruhnya adalah preman bahkan tak jarang anakanak kecil di desaku dididik dengan cara preman, bahkan Aku sendiripun termasuk dalam didikan preman itu hehehe. Saat aku menginjak bangku SMP hanya nama Alex yang sering terdengar disuara micropon untuk memasuki ruang BK, hmmm…wajar sih karena yaa aku memang dikenal sebagai si pembuat onar bahkan Alex adalah orang paling ditakuti di sekolahan. Orang tuaku pun kebingungan mengahadapi kelakuan anak semata wayangnya ini. Mereka pun memasukkan aku ke SMK Telkom dengan akreditasi A, mereka berharap Aku bisa beubah menjadi lebih baik. Tahun Pelajaran pertama aku hampir membuat sekolah tawuran


86 Lara 19-20 dengan sekolah lain hmmm….kejadian yang sama terulang lagi, berkalikali aku masuk ruang BK. Guru BK itu hampir angkat tangan dengan segala kenakalanku. Hari ini, 14 Maret 2019 adalah kesalahanku yang terakhir yang aku buat. Ketika itu aku berkelahi dengan temanku dan berhasil membuatnya duduk dikursi roda untuk beberapa Minggu dengan satu jahitan di lengan kiri dan tiga tulang rusuk patah. Aku hampir dikeluarkan dari sekolah itu, kembali di masa SMP dimana aku masih merasa bangga dengan gelarku sebagai orang paling ditakuti di sekolah. Keesokan harinya “Panggilan kepada Abdul Kholik agar bisa ke ruang BK” bunyi bel dari ruang guru. Aku sadar ini adalah hari terakhirku di ruang BK tiba dimana saat pembicaraan guru BK hanya tersenyum dan bilang “sifatmu akan turun ke anakmu” sontak aku terkejut dan tiba-tiba aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku ketika mendengar hal ini. Aku merenungi setiap untaian kata dari guru itu sampai di rumah entah kenapa air mataku mengalir begitu saja…. Satu hari, satu Minggu, satu Bulan, bahkan satu tahun aku berhasil untuk tidak membuat keonaran di sekolah. Aku mencoba meredam semua emosi dengan selalu mengingat apa yang diucapkan oleh guru BK. Tentu hal ini adalah suau kebanggan untuk orang tuaku dan tentunya guru-guru di SMK Telkom. Aku memulai hidup baru dengan damai berkat untaian kata-kata itu. Aku mecoba menata kembali kehidupanku bersama seorang wanita, Jesica namanya. Aku bersyukur karena Dia mau menerima aku apa adanya. Dialah yang membantuku menata ulang kehidupanku dari 0, bak bidadari tak bersayap jujur aku sempat berfikir untuk melamarnya suatu hari nanti hehehehe…. 15 Mei 2020 adalah hari kelulusanku tak terasa aku bisa lulus dengan nilai yang lumayan bagus dan aku merencanakan untuk kuliah di Universitas yang sama dengan Jesica. Di pagi yang cerah aku sarapan sambil menonton berita di salah satu saluran televsi, ada satu wabah yang menyerang kota Wuhan, China. Dalam waktu beberapa minggu kota


Lara 19-20 87 China berhasil dilumpuhkan oleh wabah ini. Wabah ini bernama Covid19 atau virus corona. Pemerintah menghimbau warga Indonesia untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan selalu menggunkan masker ketika hendak bepergian. Tapi aku tidak menghiraukan hal itu. Aku berpendapat tidak mungkin virus itu bisa sampai ke Indonesia. Ternyata pendapatku salah besar dan benar saja dalam waktu beberapa Minggu wabah ini hampir melumpuhkan seluruh dunia termasuk Indonesia. Pemerintahpun menghimbau untuk tidak berpergian ke luar rumah kecuali mendesak. Selalu mencuci tangan dengan sabun dan selalu menggunkan masker ketika hendak bepergian. Suatu hari aku ingin mengajak Jesica jalan-jalan ke mall tanpa menggunakan maker, tiba tiba kami ditabrak oleh seorang cleaning service sambil terbatuk-batuk dia meminta maaf dengan kami yaa…..kami menganggap itu hal biasa dan tidak memikirkan hal aneh lainnya. Ternyata dari situlah awal bencana terjadi. Dua minggu setelah kejadian itu Jesica demam parah, dia tidak berhenti batuk dan selalu kesulitan dalam bernafas. Orang tua Jesica membawanya ke dokter, betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui Jesica terpapar virus corona. Dokter pun langsung menghubungi pihak medis dan membawa Jesica ke rumah sakit. Jesica dirawat di ruang isolasi. Sadar nyawa Jesica diambang kamatian aku pun tak kuasa membendung air mata hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk kesembuhan Jesica. Dua Minggu sejak isolasi tersebut Jesica dinyatakan sembuh, aku sangat bahagia. Hari pertama keluar rumah sakit aku langsung memeluknya dan mengatakan pada Jesica “Kita akan hidup bahagia selamanya…….”. Waktu demi waktu kami lalaui bersama, tak terasa lima tahun sudah berlalu. Benar saja setelah lulus S1 aku melamar Jesica dan hidup bahagia bersamanya. Di sini aku yakin kadang disaat pikiran negatifku berkata bahwa pemerintah itu egois, hanya memakan uang rakyat, janji palsu, dan lain lain aku harus tetap berada pada pikiran positif dimana pemerintah tau apa yang terbaik untuk rakyatnya. “….Enjoy D’life guys….”


88 Lara 19-20 Akibat Menyepelekan Covid-19 Oleh : Muhammad Azra Syafi'i Di suatu kota ada anak laki-laki bernama Doni Salmanan. Doni remaja yang berusia 17 tahun yang terlahir dari keluarga yang kaya raya. Doni adalah anak yang cukup terkenal di Instagram, diikuti oleh 100 ribu orang. Dia dikenal sebagai anak yang nakal dan tidak penurut. Saat ini di Indonesia sedang dilanda wabah Covid-19 . Pemerintah menghimbau masyarakat untuk berdiam diri di rumah dan menggunakan masker saat di luar rumah. Doni yang mendengar pengumuman itu tertawa dan menyepelekan himbauan pemerintah tersebut. Doni mengajak teman-temannya untuk berkumpul di sebuah cafe. Temantemannya menolak ajakan tersebut karena takut terkena virus Covid-19 . Doni anak orang kaya, dia bilang kepada teman-temannya, "Ngapain takut, gue bayarin deh apapun yang kalian mau". Mendengar omongan itu teman-teman Doni akhirnya menerima ajakannya. Doni pun memberitahu teman-temannya untuk berkumpul di cafe Nostalgia pada jam 8 malam. Pukul 19.40 Doni pun bergegas pergi ke cafe, tanpa menggunakan masker. Padahal cafe itu penuh orang-orang yang tidak dikenal dan sangat rentan untuk terkena virus. Sesampainya Doni di cafe, terlihat teman-temannya sudah berkumpul di meja paling ujung. Doni pun bergabung dengan teman-temannya dan menyapa mereka. "Wiih, udah pada ngumpul aja nih" ucap Doni. "Yoi bro, kalo urusan ditraktir pasti cepat lah hahahaa" jawab Rio. Doni dan teman-


Lara 19-20 89 temannya pun tertawa. Rio pun bertanya. "Bro, lu kok gak pake masker? Emang gak takut terkena Virus Corona?". Doni yang mendengar pertanyaan itu langsung tertawa dan menjawab. " Hahahaha ngapain takut, udah gak usah ngebahas yang gak penting. Lu pesen deh makanan sepuasnya gue yang bayar". Teman-temannya menjawab serentak "SIAP SULTAN". Mereka pun asyik ngobrol sambil makan tanpa memperdulikan virus Covid-19 . Saat Doni akan membayar di kasir, pelayan cafe itu ternyata sedang batuk dan flu. Waktu Doni menyerahkan uang, tidak sengaja pelayan tersebut bersin dan mengenai tangan Doni. Doni yang tidak peduli dengan virus Corona pun mengabaikannya. Dia tidak langsung mencuci tangannya dan beraktivitas seperti biasa. Siang ini Doni berbaring di kamarnya, sudah dua hari dia batukbatuk dan flu. Mama Doni yang khawatir dan ingin membawa Doni ke rumah sakit tapi Doni tidak mau dan berkata, "Ini cuma sakit biasa, bentar juga sembuh gak usah lebay deh Mah". Beberapa hari kemudian, Doni demam tinggi, sesak nafas dan tidak nafsu makan. Mama Doni pun merasa khawatir karena kesehatan Doni semakin memburuk. Lalu Mamanya membawa Doni ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit Doni dan Mamapun masuk ke ruang periksa. Dokter pun menanyakan keluhan Doni, "Apa yang kamu rasakan?". "Batuk, pilek, sesak nafas, demam tinggi, tidak nafsu makan Dok" jawab Doni. Doni pun diperiksa oleh dokter. Setelah selesai, dokter pun menyampaikan ke Mama Doni kalau Doni positif Covid-19 . Virus corona atau Covid-19 ini saat ini sedang melanda negeri kita. Virus ini menyerang bagian pernapasan manusia dan sudah banyak orang meninggal karena virus ini. Mama Doni pun terkejut mendengar ucapan dokter. Doni yang awalnya menyepelekan Covid-19 , hanya bisa menangis dan menyesal. Lalu dokter pun menyuruh Doni untuk rawat inap supaya segera ditindak lanjuti. Hari demi hari Doni di rumah sakit, Alhamdulillah keadaan Doni semakin membaik. Dua Minggu di rumah sakit akhirnya Doni dinyatakan sembuh.


Click to View FlipBook Version