90 Lara 19-20 Setelah kejadian itu Doni pun memberitahukan kepada teman-- temannya di media sosial tentang Covid-19 . Covid-19 sangat berbahaya dan Doni sangat bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup. Doni bercerita tentang caranya melawan Covid-19 . Selama di rumah sakit, Ia mendapatkan perawatan maksimal. Selain mengonsumsi obatobatan dari dokter Doni juga mengonsumsi Vitamin C untuk menaikkan imunitas tubuh, mengatur pola makan, dan istirahat yang cukup. Donipun menuruti semua perintah dokter. Doni menghimbau kepada teman-temannya di media sosial, untuk selalu mencuci tangan, tidak berada di kerumunan banyak orang, selalu menggunakan masker jika keluar rumah, makan-makanan yang sehat, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, berdiam diri di rumah. Apabila sakit, karantina mandiri di rumah, konsumsi vitamin C, tetap menggunakan masker saat keluar, menjaga jarak agar orang lain tidak tertular, mengonsumsi makanan yang sehat, istirahat yang cukup, selalu mencuci tangan. Jika keadaan tidak semakin membaik, harus segera ke dokter. Semoga wabah ini segera berlalu dari Indonesia, kita selalu dalam keadaan sehat. Amin….amin.
Lara 19-20 91 Covid-19 Ulah Fremasmas Oleh: Yosia Marvel Setiawan Pada akhir 2019 dan sekarang memasuki tahun 2020, ada sebuah virus yang menyerang dunia. Virus ini disebut corona atau bahasa kerennya covid-19. Pada awalnya virus ini menyerang salah satu kota di Tiongkok, yaitu Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei. Menurut penelitian virus ini adalah evolusi baru dari virus corona, yang mana virus ini lebih kuat. Setelah diselidiki, virus ini menginfeksi manusia lewat hewan. Untuk kasus di Wuhan sendiri itu disebabkan oleh masyarakat yang suka memakan daging hewan-hewan liar yang ada di Pasar Huanan. Ditambah kebiasaan buruk masyarakat yang suka mengonsumsinya dalam kondisi mentah. Lalu virus yang ada di dalam hewan-hewan liar itupun akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia, dari manusia yang terinfeksi akhirnya menularkan virusnya ke manusia yang lain. Begitu seterusnya sampai menyebar ke seluruh dunia. Sebenarnya virus corona sudah ada sejak 1960. Tapi, virus yang ada di tahun 2020 ini sudah mendapat modifikasi. Ya, kami lah orang-orang yang ada di dalam organisasi Fremasmas yang menciptakan virus ini. Rencana ini dicetuskan pemimpin Fremasmas yaitu Van Hohenheim yang dimulai pada tahun 1720 dan berlanjut di seratus tahun berikutnya. Wabah atau pandemi yang sudah kami ciptakan antara lain the great pleague of Marseille(1720), cholera pandemi(1820), Spanish flu(1920) dan sekarang coronavirus (2020). Pada tahun 1720 kami mengirim bakteri ke Marseille, Prancis lewat lalat-lalat yang sudah kami siapkan. Lalat-lalat ini kami lepas ke Marseille dan akhirnya membuat puluhan ribu orang terinfeksi dan akhirnya meninggal. Lalu pada seratus tahun kemudian kami kembali membuat sebuah bencana, yaitu cholera pandemi. Penyebab pandemi ini masih sama yaitu bakteri,
92 Lara 19-20 yang berbeda adalah media transmisinya. Jika sebelumnya disebabkan oleh lalat, maka kali ini disebabkan oleh air yang terkontaminasi dan akhirnya menyebar lewat orang-orang yang terinfeksi. Tak berhenti di situ, seratus tahun kemudian kamipun kembali membuat bencana. Yaitu spanish flu atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut flu spanyol. Kamipun masih melanjutkan rencana kami, dan akhirnya pada 2019 akhir kami meluncurkan virus buatan kami yaitu coronavirus. Sebenarnya sebelumnya kami sudah pernah meluncurkan virus corona ini, tapi di tahun 2020 kami sudah melakukan modifikasi pada virus buatan kami ini agar menjadi lebih mematikan dan susah untuk ditangani. Menyebarkannya lewat pasar hewan liar di Wuhan, lalu membuat virus ini akhirnya tersebar ke seluruh dunia. Ilmuan yang kami miliki pun bukan sembarang ilmuan, karena untuk menangani hal-hal yang seperti ini kami memiliki ilmuan jenius yang sangat hebat. Beliau adalah Doktor Schugel, seorang ilmuan yang sudah hidup berabad-abad. Ya, beliau sudah hidup berabad-abad, semua itu berkat penelitian dan modifikasi yang beliau lakukan pada tubuh beliau sendiri. Dan beliau saat ini sedang menikmati permainan virus yang beliau buat ini. Tentunya seratus tahun mendatang kami akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah kami lakukan seblumnya dan yang sekarang. Tujuan kami melakukan hal ini adalah untuk mengurangi populasi manusia di bumi. Mungkin kalian para pembaca bertanya-tanya kenapa kami ingin mengurangi populasi manusia. Itu kami lakukan karena bumi kita ini sudah sangat rusak, lapisan ozon berlubang yang disebabkan polusi udara dan gas cfc yang dihasilkan oleh pabrik dan bahan kimia seperti semprotan nyamuk. Dengan mengurangi populasi manusia, kami percaya manusia lain akan melihat itu sebagai teguran karena manusia sudah merusak bumi. Hasilnya mulai terlihat dimana lapisan ozon mulai pulih akibat physical atau social distancing dan karantina mandiri yang dilakukan. Pada 2120 mendatang, jika keadaan bumi menjadi makin buruk, kami pasti akan mengirimkan bencana yang lebih mematikan. “Sepertinya sudah cerah”, sayapun akhirnya terbangun dari mimpi saya itu. Tapi saya sadar pandemi coronavirus ini bukan sekedar mimpi, ini nyata dan sedang terjadi. Himbauan untuk tetap di rumah saja pun sudah dikeluarkan pemerintah. Saya sedang mengkarantina diri sendiri di rumah. Tapi tetap saja saya
Lara 19-20 93 harus menyelesaikan tugasku, yaitu membuat laporan pkl. Tak lama kemudian Tanya menghubungiku untuk menanyakan kabar laporanku yang ingin direvisi. “El, laporan kamu sudah direvisi kah?” ucap Tanya di wahsap. “Aku belum ngecek eh, tapi kata pak Rerugen pas video conference kemarin sudah sih. Tinggal download sama liat komen di wordnya aja” ucapku sembari mengumpulkan mana sehabis bangun tidur. “Ok deh, nanti aku tanya pak Rerugen lagi. Makasih bro” Tanya pun mengakhiri percakapan di pagi hari itu. Setelah itu aku mandi dan makan, lalu memperbaiki kembali laporanku yang sudah diperiksa pembimbing. Aku sangat menikmati hari karantina ini karena rasanya seperti libur saja, tapi tetap saja, mendapat libur karena bencana itu tidak menyenangkan. Saya berharap pandemi ini cepat selesai. Dan saya berharap masyarakat Indonesia bisa lebih terdidik lagi untuk sadar akan kondisi yang sedang terjadi dan mengindahkan himbauan pemerintah untuk di rumah saja.
94 Lara 19-20 Pandemi COVID-19 Oleh: Wery Holanta Mangera Suatu sore aku duduk di depan televisi sambil menikmati teh panas dan bakpao kesukaanku, tiba-tiba handphoneku mulai berdering terus menerus, awalnya aku mengabaikannya namun, semakin lama semakin ramai. Aku pun membuka hp ku ternyata isinya adalah tentang pengumuman libur, aku sangat senang sekali. “Akhirnya aku bisa tidur lebih siang lagi”gumamku sambil senyum melihat pesan yang ada di hp ku. Ternyata sekolah ku di liburkan karena adanya virus Covid-19 yang sekarang sudah banyak melanda dunia. Saat aku membaca pesanku, senyumku mulai memudaar dikarenakan banyak tugas yang diberi oleh guruku. “Ah ku kira, aku bisa bersantay-santay di rumah” ujarku dengan kesal. “Kamu kenapa ivan?” tanya ayah yang bingung melihatku. “Ada pemberitahuan libur dari sekolah, yang menganjurkan belajar dirumah, aku kira aku bisa santay di rumah ternyata guruku memberi banyak tugas yah” Sahutku dengan nada agak kesal. “ooh itu bagus lah nak, hitung hitung untuk menabah ilmu mu lagi” Ujar ayah sambal mengusap kepalaku. Aku pun menghabiskan teh dan bakpaoku lalu masuk ke kamar. Saat aku berbaring di tempat tidurku tiba-tiba ada suara rebut dari luar rumah seperti ada penyampaian pengumuman. Aku pun segera mengintip dari jendela kamarku, ku dengar juga suara hentakan kaki yang sedang berlari. “Pasti itu ibu ygang lari keluar rumah” gumamku dalam hati. “ Assalamualaikum bapak/ibu, saudara-saudari sekalian mohon maaf mengganggu waktunya sebentar, ada sedikit pemberitahuan. Sehubungan dengan berita yang sedang beredar inni yaitu tentang virus
Lara 19-20 95 Covid-19 ini, di anjurkan untuk para warga untuk tidak keluar rumah dulu jika tidak ada kepentingan yang mendesak, jika keluar rumah diharapkan untuk memakai masker dan membawa hand sanitiezer. Jauhi tempat ramai seperti pasar, mall dan lain lain. Di anjurkan utuk menjaga kebersihan rumah dan tubuh kita. Apabila pulang dari luar, diharapkan langsung mengganti baju dan mandi atau mencuci tangan terlebih dahulu. Sekian pengumuman dari saya, ini adalah penyampaian dari Pusat di mohon untuk warga sekalian untuk memperhatikannya dengan baik. Terimakasih” Ucap orang yang memberi pengumuman. “wadooooh, gak bisa keluar rumah ini, pasti bosan banget. Terus banyak tugas lagi. Hidupku kog gini amat ya” Ujarku, sambal membanting tubuhku ke tempat tidur. Tak terasa waktu cepat berlalu dan sudah sore hari. “Ivan ivaan, mandii nak ini sudah sore” Teriak ibu dari luar kamarku. Aku pun bangun dengan malasnya, “tidur bentar lagi aja lah, lagian masih jam 5 juga” gumamku dalam hati sambal melirik jam yang menempel di dinding kamarku. “Ayah, ivan belum bangun kah yah?” ucap ibu, “Sepertinya belum bu” ujar ayah sambal menonton berita. “Tolong bangunin ivan dulu yah ini udah mau malam dia belum mandi nanti masuk ngin lagi kalua mandi malam” ujar ibu sambal sibuk memasak. “ Vani, tolong bangunin kakak mu dulu sana” ujar ayah. “ Ih ayah aja, vani males ah.” Ujar vani. “Aduh ayah lagi sibuk nonton berita, ini penting tentang Covid-19” Ujar ayah. Vani pun dengan langkah kesal menghampiri kamarku. Tok tok tok tok terdengar suara ketukan pintu kamarku dan teriakan dari luar. “ Kak ivaaan bangun ini sudah mau malam, kata ibu cepet mandi kalua gak ibu siram air dingin” Ujar Vani adik ku sambal terkekeh. Aku pun akhirnya bangun dan bergegas mandi. Waktu makan malam pun tiba, saat aku hendak mengambil lauk di atas meja ibu menepis tanganku “ cuci tangan dulu nak, kamu gak mendengar himbauan untuk mencuci tangan terlebih dahulu untuk menghindari virus Covid-19” Ujar ibu sambal memegan centongan sayur. Aku pun bergegas mencuci tangan dan makan setelah itu aku mengerjakan tugas yang diberikan oleh guruku. Hari demi hari pun berlalu aku mulai merasa boan dirumah karena virus Covid-19 ini aku
96 Lara 19-20 jadi tidak bisa keluar rumah, segala sesuatu dikerjakan di dalam rumah. Ayah sudah mulai bekerja di rumah. Sampai suatu waktu aku merencanakn sesuatu dengan temanku, kami berencana untuk pergi ke tempat tongkrongan secara diam-diam, aku Bersama teman-teanku pun berhasil keluar dari rumah kami masing-masing. “ Doni, kamu yakin nih kita pergi ke tempat tongkrongan” Ujarku dengan sedikit gugup dan dengan perasaan yang tidak tenang. “Iya yakin lah tenang aja kemarin aku dan yang lain aman aja saat pergi” Sahut Doni dengan santainya. Kami pun akhirnya pergi, namun saat di tengah jalan kami sangat kaget karena ada banyak polisi yang sedang berpatroli untuk melihat warga-warga agar tidak keluar rumah. Jantungku mulai berdegup kencang, kami semua langsung kabur berhamburan. Polisi engejar kami dari belakang. “Wah gawat in lalo sampai ketangkep pasti ayah sama ibu bakal marah banget sama aku” gumamku dalam hati sambal berusaha kabur. “ Hey kalian berhenti, kalian anak-anak nakal ya tidak mendengarkan anjuran yang telah disampaikan. Inikan juga demi kesehatan kalian agar kalian tidak terkena virus Covid-19” Ujar polisi yang mengejar kami dengan menggunakan toak. Aku pun akhirnya sampai dirumah dan tidak tertangkap polisi sambil terengah-engah. “loh Ivan kamu kenapa?” Tanya Ayah. “Irvan kamu darimana?!” Tanya ibu dengan nada tinggi. Aku pun menjelaskan semua kejadian sambal meminta maaf kepada ayah dan ibu. Setelah kejadian itu aku sudah kapok untuk tidak keluar rumah lagi. Dn aku selalu mencuci tanganku dengan bersih dan juga aku menjaga jarak dengan orang lain yang ada berkunjung ke rumah. Aku mulai sadar dan mulai banyak memakan vitamin dan berolahraga di rumah agar terhindar dari virus Covid-19.
Lara 19-20 97 Menjaga Kesehatan Itu Penting Oleh: Virgi Atha Raditya Jaya adalah anak pertama dari Ibu Mei dan Bapak Nobit. Jaya memiliki 2 adik bernama Nawa dan Hudof. Jaya adalah anak yang manja, ia ingin semua permintaannya dituruti dan suka membantah perintah kedua orang tuanya. Kejadian ini terjadi sekitar 1 bulan yang lalu. Pada saat itu Jaya Baru saja pulang dari Wuhan, China. Pada saat itu sedang marak-maraknya virus yang bernama corona. Virus tersebut menyerang system pernafasan manusia. Gejala yang ditimbulkan dari corona ini hamper mirip dengan gejala demam. Waktu itu Jaya dan temannya diminta oleh Kementrian Kesehetan untuk melakukan karantina di Kepulauan Natuna. Semua teman-teman Jaya melakukan karantina tersebut tapi Jaya malah memilih untuk tidak ikut dan pulang ke kota asalnya di Surabaya. “Jaya, kenapa kamu malah pulang bukannya ikut karantina di Natuna?” tanya ibu dengan nada yang halus “Gapapa bu, Jaya males ikut-ikut seperti itu” Balas Jaya dengan nada yang sedikit keras “Kalau satu komplek kena corona bagaimana jaya!” Sahut ayah dengan nada yang keras “Daripada Jaya karantina selama 2 minggu mending dirumah yah!” balas Jaya dengan nada yang keras “Kamu lebih mementingkan diri sendiri ya Jaya daripada orang lain” Ujar ayah
98 Lara 19-20 “Yaudah, bersihkan badan kamu dan mandi sana Jaya” kata ibu Setelah bersih-bersih barang bawaan dan mandi kemudian Jaya masuk ke Dalam kamarnya untuk beristirahat. Tidak lama Jaya pun tertidur pulas. Mentari pagi pun datang Jaya merasakan badannya tidak enak setelah bangun tidur. Ia bersin terus menerus hingga ibu datang ke kamarnya “Kamu kenapa Jaya?” tanya ibu “Gapapa kok bu cuma bersin-bersin doang, lagian aku masih sehat kok bu” ujar Jaya Kemudian ibu memegang badan jaya “Lah kok badan kamu panas nak? Coba minum obat Pereda demam ini nak siapa tau besok sudah enggak panas” kata ibu “Iya bu sini obatnya Jaya minum” ujar Jaya Keesokan harinya, Jaya malah tambah parah yang awalnya hanya bersinbersin dan demam kini juga sesak napas. “Jaya kok badan kamu tambah panas? Ayo nak kerumah sakit” Ucap ibu dengan rasa khawatir Kemudian ayah, ibu dan jaya menuju rumah sakit terdekat. Kemudian Jaya dilarikan ke Unit Gawat Darurat untuk ditangani. Dengan menggunakan peralatan yang lengkap dan baju apd, kemudian Jaya dimasukan kedalam ruang isolasi. Keesokan harinya ibu dan ayah kembali datang kerumah sakit untuk menjenguk Jaya. “Gimana keadaan anak saya dok?” Tanya ayah dengan cemas “Anak bapak masih dalam pengawasan kami, sebelumnya saya mau nanya anak bapak ini habis dari mana ya?” Tanya dokter “Anak saya ini 2 hari yang lalu baru pulang dari Wuhan dok” Ujar ayah “Oh, gitu ya pak, kemungkinan anak bapak ini terjangkit corona virus. Soalnya di wuhan sana lagi marak-maraknya virus ini. Tapi bapak dan ibu
Lara 19-20 99 jangan kawatir kami akan melakukan semaksimal mungkin” ucap dokter kepada ibu dan ayah “Jadi apa yang harus saya lakukan agar saya dan keluarga saya tidak terjangkit virus tersebut dok?” Tanya ibu “Yang harus ibu lakukan sekarang adalah mengurangi koneksi dengan orang-orang yang ada dilingkungan ibu, kemudian banyak-banyak cuci tangan apa lagi setelah melakukan kegiatan diluar rumah dan yang paling penting janngan keluar rumah jika tidak penting, mending dirumah saja. Kemudian jika ada keluarga ibu yang demam kemudian bersin-bersin dan sesak napas langsung hubungi call center kami agar kami jemput nanti kerumah” Ujar dokter “Oh, begitu ya dok. Jadi kapan anak saya ini bias pulang ya ok? Tanya ibu “Kemungkinan 2 minggu lagi bu, masalahnya anak ibu ini masih dalam pengawasan kami” Ujar dokter Dua minggu kemudian ibu, ayah, Nawa, dan Hudof menuju rumah sakit untuk menengok keadaan Jaya sekarang. Kemudian ibu menanyakan dengan dokter yang sedang bertugas tersebut “Bagaimana keadaan Jaya ya dok?” Tanya ibu “Keadaan mulai membaik, hari ini jaya diperbolehkan untuk pulang” Kata dokter “Ini serius kan dok?” Tanya ibu dengan Bahagia “Iya bu, itu jaya sedang berkemas. Ibu tunggu aja disini.” Kata dokter Dengan senyum Bahagia Jaya keluar dari kamar untuk menemui ibu,ayah,Hudof, dan Nawa “Maafkan jaya ya bu, gara-gara jaya kalian semua jadi susah” Kata jaya dengan sedih “Iya nak ibu maafkan, jangan diulangi lagi ya nak. Ikuti apa yang disuruh oleh orang tua jangan sekali-kali kamu membantah ya nak, itu semua untuk kebaikan kamu juga kok.” Ujar ibu
100 Lara 19-20 Setelah kejadian tersebut jaya menjadi anak yang penurut dan selalu mengikuti apa yang disuruh oleh orang tuanya. Selesai.
Lara 19-20 101 Pandemi Virus Corona Oleh : Andry Rionesfan Tloen Virus corona, kata tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita dan yang selalu terlintas di pikiran kita pada tahun 2020 ini, banyak sekali media cetak maupun media elektronik yang selalu memuat mengenai virus ini karena virus ini berbahaya dan berdampak bagi seluruh negara di belahan dunia. Penyebaran yang begitu cepat tentunya diakibatkan karena dampak era modern saat ini. Akibat pandemi yang berkepanjangan ini sampai-sampai pelajar, pekerja, pedagang tidak dapat beraktifitas seperti biasa dikarenakan social distancing guna memutus rantai penyebaran Virus Corona ini, para pelajar di tuntut untuk belajar dari rumah, pekerja harus bekerja dari rumah, pedagang juga harus bisa memanfaatkan era modern ini dengan menggunakan online shop sebagai media penjualan barang yang mereka jual. Dampak demi dampak banyak di akibatkan Virus corona ini dimana para pelajar yang harus menambah biaya untuk membeli paket internet guna mengikuti pembelajaran online, karyawan yang tidak dapat berkerja dari rumah atau pekerja sektor lapangan yang membuat mereka harus di PHK dan dirumahkan, pedagang yang belum mampu menggunakan media online shop dimana para pedagang tidak dapat menjual barang mereka untuk menghasilkan uang sehingga ekonomi tiap keluarga menjadi tidak stabil. Begitu pula Bayu, orang tuanya harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli paket internet guna belajar online. Sampai-sampai untuk satu minggu orang tuanya harus mengisi paket internet sebanyak enam
102 Lara 19-20 kali dalam seminggu karena pembelajaran online membutuhkan paket internet yang banyak atau dapat dikatakan boros dalam pemakaian paket internetnya. Satu Bulan setelah ada kebijakan social distancing dari pemerintah membuat ekonomi keluarga Bayu menjadi menjadi tidak stabil dapat dikatakan keuangan yang menipis. “Bu, belikan paket internet lagi untuk belajar online besok! Paket internet Bayu sudah habis.” Pernyataan Bayu kepada Ibunya. “Bayu, Ibu sudah tidak punya uang lagi nak! Untuk membelikan kamu paket internet.” Pernyataan Ibu Kepada Bayu. “Bayu tidak bisa belajar online dong! Besok.” Pernyataan Bayu Kepada Ibu. “Mau gimana lagi nak! Keuangan kita menipis sejak pandemi corona ini berlangsung, Ibu sudah tidak bisa berjualan lagi dan Ayah kamu juga di rumahkan. Lagipula Ayah kamu hanya dapat gaji pokok yang cukup untuk makan sehari-hari saja.”Pernyataan Ibu Kepada Bayu. “Ya sudah Bu, besok Bayu rebahan saja. Bayu sudah tidak ada mood untuk belajar besok.” Pernyataan Bayu Kepada Ibu. “Ya jangan begitu. Walaupun kamu tidak bisa belajar online, setidaknya kamu belajar melalui buku-buku pelajaran dari sekolah Nak!” Jawab Ibu menyanggah. “Sudahlah Bu, Bayu sudah malas.” Melihat gelagat dari anaknya, Ibunya tidak ingin Bayu kesal sehingga besok paginya Ibunya mengajak Ayahnya untuk berjualan walaupun harus menentang kebijakan pemerintah, hari demi hari Ibu serta Ayah Bayu mendapatkan pundi-pundi rezeki berupa uang tambahan untuk menambah biaya kehidupan sehari-hari serta dapat membelikan anaknya paket internet untuk belajar online. Dalam keseharian berjualan sering kali Ibu serta Ayah Bayu dagangannya harus dibubarkan oleh aparat yang bertugas. Ini semua di akibatkan orang tua Bayu yang tidak dapat berjualan menggunakan media online shop
Lara 19-20 103 sehingga rela berjualan di tengah pandemi corona yang dapat mengancam keselamatan Ibu serta Ayah Bayu. Hari ketiga setelah berjualan Ibu serta Ayah Bayu dapat membelikan paket internet untuk Bayu guna dapat belajar online seperti biasanya, dalam pikiran Ibu Bayu yang terpenting anaknya dapat belajar di tengah pandemi yang berlangsung ini, walaupun Ibu serta Ayahnya harus mengorbankan nyawanya. Ini semua dikarenakan orang tua Bayu ingin Bayu sukses agar tidak seperti Ibu dan Ayahnya walaupun terdapat virus berbahaya rela berjualan mengorbankan nyawanya demi anak dan kebutuhan hidup sehari-hari. “Nak, ini mama belikan paket internet full agar kamu tidak perlu beli-beli terus. Rajin belajarnya ya!.”Pernyataan Ibu Kepada Bayu. “Wah, Terima Kasih Bu… paket internetnya. Bayu janji bakal rajin belajar!.”Pernyataan Bayu Kepada Ibu. “Iya nak, rajin belajarnya ya… agar kamu kelak bisa jadi orang sukses tidak seperti Ibu dan Ayah.”Pernyataan Ibu Kepada Bayu. Setelah satu minggu berlalu Ibunya Bayu harus jatuh sakit akibat memaksakan diri berjualan di tengah wabah virus corona yang mematikan. “Maaf Pak, Istri anda sudah terpapar virus corona yang mematikan, kami memastikan istri anda tidak akan lama lagi berada di dunia ini diakibatkan daya tahan tubuh istri anda tidak kuat atau mudah lelah sehingga virus corona ini dapat menginfeksi Istri anda.” Pernyataan Dokter Kepada Ayah Bayu. “Apa benar Dok, selama ini Istri saya tidak memberikan ciri-ciri terinfeksinya virus corona namun beliau sering mengeluh badannya yang pegal-pegal saja.” Pernyataan Ayah Bayu Kepada Dokter. Beberapa waktu kemudian Bayu datang mengunjungi Ayah Serta Ibunya di Rumah Sakit, setelah sampai di sana ia dikabarkan berita tentang Ibunya yang terinfeksi Virus Corona. Disitu bayu merasa terpukul karena ia tahu virus corona adalah virus yang mematikan serta terpukul karena ia dapat saja kehilangan Ibunya.
104 Lara 19-20 Setelah beberapa hari kemudian Ibu Bayu meninggal dengan diagnosis terinfeksi virus corona. Bayu beserta Ayahnya sangat sedih akibat kepergian ibunya, serta tidak dapat melihat secara langsung pemakaman ibunya dikarenakan pemakaman tersebut sesuai prosedur penanganan yang hanya boleh dilakukan oleh tim medis sehingga Bayu dan Ayahnya tidak dapat melihat pemakaman Ibunya. Di situ Bayu dan Ayahnya sangat terpukul terlebih Bayu, karena ia pikir ini semua akibatnya yang terlalu menuntut sehingga Ibunya rela mempertaruhkan nyawanya demi Bayu. Kemudian Bayu jadi sadar dan akhirnya Bayu jadi sosok yang rajin dalam belajar tanpa menuntut menyusahkan orang tuanya. Serta Bayu juga jadi sadar bahwa virus corona ini sangat berbahaya sampai menghilangkan salah satu anggota keluarganya. “Akibat peristiwa ini Aku jadi sadar, meskipun tidak dapat belajar online seperti biasa Aku harus tetap belajar tanpa menuntut orang tua tetapi menciptakan suatu pembelajaran memanfaatkan media yang ada seperti buku-buku sekolahku.” Gumamnya dalam hati.
Lara 19-20 105 Kebaikan di Tengah Pandemi Oleh : Muhammad Fajar Shadiq Redhani Pada saat pandemi yang mewabah dunia saat ini masyarakat sedang melakukan physical distancing sebagai cara pencegahan untuk menghentikan penyebaran atau sekedar memperlambat penyebaran virus ini. Masyarakat harus tetap di rumah dan mengurangi kontak fisik dengan orang yang dari luar. Namun gerakan physical distancing ini tidak dapat diterapkan pada seluruh masyarakat Indonesia, pekerja yang gajinya didapat dengan kerja harian seperti pedagang kaki lima atau ojek daring tetap harus keluar rumah dan bekerja demi kelangsungan hidupnya dan keluarganya. Mereka – mereka ini sangatlah rentan terjangkit oleh virus covid-19. Karena ini Dika dan Dina terketuk hatinya untuk membantu meringankan beban para pekerja ini. Ibu Dika dan Dina memiliki usaha rumah makan. Dina menyarankan Ibunya untuk memberikan makanan gratis kepada Ojek daring. “Ibu, Dina ingin sekali berbuat baik ditengah Pandemi yang sedang terjadi ini. Dina ingin meringankan beban orang orang yang terpaksa bekerja disaat wabah ini menyerang” “Ibu setuju saja. Tapi apa yang mau kamu lakukan ?” “Bagaimana jika kita membagikan makanan gratis kepada ojek daring yang biasa lewat di depan jalan rumah kita bu ?” “Ide yang bagus Din! ibu setuju. Lagipula di saat physical distancing ini, rumah makan ibu sepi. Kebetulan kita ada rezeki lebih juga nak. Baiklah kamu bantu ibu membuat makanannya ya”
106 Lara 19-20 “Siap ibuku sayang hahaha” Disaat Dina membicarakan ide berbuat baik, Dika mendengarkan pembicaraan Ibu dan Dina. Dika adalah anggota organisasi sosial di daerahnya. Setelah mendengarkan pembicaraan dia langsung menghubungi ketua organisasinya. “Hey Gibran !” Dika menelpon Gibran. “Iya ada apa Dika ?” “Saat ini kan sedang terjadi Pandemi. Bagaimana jika kita membuat Penggalangan dana ? Nanti kita buat melalui website organisasi kita dan sebarkan di media sosial. Bagaiman menurutmu ?” “Wah ide yang bagus tuh. Setuju banget. Nanti Penggalangan dana ini dapat berupa Masker atau Uang sukarela.” “Yap benar sekali” “Baiklah kalo begitu kamu dan Bima yang membuatnya diwebsite ya. Aku dan yang lain akan membagikannya di media sosial” “Okedeh. Segera ku hubungi Bima” Dika langsung membuat Penggalangan Dana di website organisasinya dengan bantuan Bima. Setelah selesai mereka langsung membagikannya di media sosial mereka masing – masing. Seminggu telah berlalu, Dana yang terkumpul semakin banyak Dika dan temannya pun merasa sangat senang. Besoknya mereka membeli masker tambahan namun mereka harus memesan terlebih dahulu dikarenakan kelangkaan masker disaat pandemi ini. Selama seminggu ini Dina dan Ibunya telah membagikan makanan kepada ojek daring yang lewat didepan rumah mereka. Dina dan Ibu juga dibantu ayah saat membagikan makanan makanan tersebut. Beberapa hari kemudian, Dika dan teman temannya telah menerima masker yang dipesan. Masker yang dipesan ini merupakan Masker kain yang diklaim oleh WHO dapat melindungi kita setidaknya 70% dari virus Covid-19. Mereka juga membeli makanan untuk
Lara 19-20 107 dibagikan kepada yang membutuhkan. Mereka pun segera membagikan masker – masker dan makanan tersebut kepada ojek-ojek daring, pedagang kaki lima dan orang orang yang membutuhkan. Setelah selesai Dika langsung berpamitan denga teman-temannya dan segera pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah Dika langsung membersihkan badannya dan mencuci pakaiannya sebelum bertemu keluarganya dirumah. Hal ini dilakukannya agar menghindari keluarganya terkena virus karena Dika baru saja dari luar Rumah bertemu banyak orang. Setelah itu Dika langsung bercerita kepada Ayah dan Ibunya tentang apa yang telah dilakukannya. Dina juga turut menceritakan kegiatan dia bersama Ayah dan Ibu. “Ayah dan Ibu sangat bangga kepada kalian nak. Kalian ini memiliki hati yang sangat baik membantu orang orang diluar sana yang terpaksa bekerja ditengah wabah ini.” “Iya, Ibu sangat senang sekali karena kalian bisa terdorong hatinya untuk membantu orang – orang ini. Jangan pernah bosan berbuat baik kepada sesama ya nak.” “Iya bu kita seperti ini tentunya karena didikan ibu dan ayah dong hehe” Ungkap Dina. “Kelak nanti Dika ingin membuat Organisasi sosial sendiri dan mengumpulkan lebih banyak orang – orang baik seperti kita untuk bergabung yah” “Ayah sangat setuju nak. Jadilah salah satu pelopor kebaikan ya hahaha” “Iya ayah hehe” “Baiklah mari kita makan dahulu, ibu sudah buatkan makanan tuh” “Baik ibu, Dina bantu siapkan piringnya” “tau aja Ibu Dika lagi laper sekali hahaha” “Iyadong hahaha” Setelah itupun mereka makan dan tertawa bersama menikmati kebersamaan disaat pandemi ini.
108 Lara 19-20 Mudik yang Hampir Membawa Covid-19 Oleh : Fakhir Mustafa Afdal Di tahun 2020, seluruh dunia digemparkan oleh virus yang sangat berbahaya bagi seluruh manusia. Virus tersebut dinamakan dengan Covid-19 atau corona virus. Pada awal bulan Maret Presiden Indonesia Ir. Joko Widodo mengumumkan bahwa Indonesia telah menemukan orang yang telah terjangkit covid-19. Pada saat itu Presiden Ir. Joko Widodo mengumumkan bahwa Indonesia telah memasuki masa siaga covid-19 dan menghimbaukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk belajar dan bekerja di rumah mulai sekarang. Pada hari senin, aku bergegas pergi ke kampus karena ada kelas pagi saat itu. Aku hampir terlambat masuk kelas karena setelah mandi aku menonton berita tentang covid-19 sampai melupakan waktu pada saat itu. Setelah sampai kampus aku langsung masuk kelas, dan sepertinya aku beruntung karena dosenku belum datang saat itu. Aku pun langsung duduk di samping Awan yang merupakan sahabatku sejak masuk kuliah. “Wajahmu kenapa seperti sedang dikejar sama Ibu kost yang sedang menagih uang kost haha”candanya. “Aku hampir terlambat masuk kelaslah, makanya aku buru-buru ke kampus dengan cepat”ucapku. “Ya lain kali jangan begini lagi,hampir saja kamu terlambat, kalau ada kelas pagi bangun pagi juga lah kamu ini “ucap Awan. “Aku begini bukan karena bangun kesiangan, ini karena aku menonton berita sampai lupa waktu tadi pagi” ucapku. “Memangnya kamu nonton berita apa? Sampai lupa waktu begitu” tanyanya. “Aku menonton berita tentang covid-19 tadi pagi dan katanya virus ini sangat berbahaya” ucapku. “Dan kudengar-dengar virus ini menularnya melalui benda yang dipegang serta kita tidak boleh terlalu sering menyentuh wajah kita karena virusnya bisa
Lara 19-20 109 terbang ke wajah kita” ucap Awan. “Pemerintah pun sudah menghimbaukan kepada masyarakat agar belajar dan bekerja di rumah saja” ucapku. “Tapi kampus kita belum ada pengumuman untuk kuliah online” ucap Awan. “Mungkin hari ini akan ada pengumuman untuk kuliah online”ucapku. Setelah itu dosen kami pun masuk ke kelas dan melaksanakan pelajaran seperti biasa, akan tetapi sebelum kelas berakhir dosen kami ingin mengumumkan sesuatu. “Semuanya, mulai besok kalian tidak perlu datang ke kampus lagi sampai waktu yang ditentukan”ucap dosen kami. “Kenapa pak?” tanya Awan. “Karena Indonesia sekarang dalam masa siaga covid-19 dan menghimbaukan untuk semuanya tetap di rumah saja”ucap dosen. “Artinya mulai besok kami akan kuliah online pak”? tanyaku. “Iya nak, bapak harap dengan kuliah online kalian mengurangi aktifitas di luar rumah selama siaga covid-19 ini kalaupun ingin keluar hanya dalam keadaan yang sangat penting saja”ucap dosen. “Baik pak”semuanya menjawab. “Bapak tutup kelasnya untuk hari ini, sampai ketemu nanti di kuliah online” pamit dosen. Kelas pun dibubarkan dan aku pun langsung pulang ke kostku. Setelah sampai kost aku pun langsung menelpon Orang tuaku untuk memberitahu mereka bahwa mulai besok aku kuliah online dan ingin mudik pada hari sabtu nanti. Orang tuaku khawatir dengan mudik ini,mereka bilang kepadaku untuk tetap di kost sampai keadaan di luar sana membaik, akan tetapi aku tetap memaksa untuk tetap mudik kepada Orang tuaku. Akhirnya Orang tuaku pun setuju agar aku mudik dan aku pun mulai bersiap-siap untuk berangkat nanti. Esok hari aku pergi ke rumah Awan untuk pamit ke dia.”Wan, sabtu ini aku bakal mudik” ucapku. “Ha?! Beneran kamu mau pulang saat keadaan diluar sana terkena virus corona” ucap Awan yang khawatir. “Gak papa wan, aku bisa jaga diri kok lagi pula yang positif masih sedikit ”ucapku “Tapi kan kita harus tetap waspada terhadap covid-19”. “Kau bisa tinggal di tempatku untuk sementara waktu kalau kau mau”ucap Awan. “Aku gak bisa wan, aku sudah ngerepotin kamu selama ini”. “Aku gak mau makin ngerepotin kamu khawatirnya aku malah bisa jadi beban buat kamu nantinya”tolakku terhadap tawaran Awan. “Baiklah Mus, aku gak bisa maksa kamu juga jadi kamu hati-hati saja nanti di jalan, kabarin aku kalau
110 Lara 19-20 kamu mau berangkat nanti” ucapnya. Sehabis dari rumah Awan, aku pulang ke kost dan menyiapkan barang-barangku. Pada hari Sabtu, sebelum berangkat aku sudah menelpon kedua orang tuaku dan Awan. Dan tak lupa juga aku pamit kepada Ibu kostku. Aku pulang menggunakan mobil, dan diperjalanan aku berhenti sejenak di sebuah toko untuk istirahat. Keadaan di tempat ini begitu sepi hampir tidak ada orang yang keluar. Aku pun bertanya kepada penjaga toko “Permisi Pak, apakah keadaan di tempat ini memang selalu sepi?”. “Nggak dek, sekarang jadi sepi karena kemarin ada berita bahwa ada 1 orang telah terjangkit covid-19” jawabnya. Setelah mendengar kabar itu, aku pun cepat-cepat melanjutkan perjalanan ke rumah. Setelah melewati perjalanan yang panjang akhirnya aku sampai rumah, orang tuaku sudah menunggu kedatanganku. Saat itu aku langsung bergegas membersihkan diri dan mandi terlebih dahulu. Setelah mandi aku pun membereskan barang-barang bawaanku dan tidur. Keesokan harinya rumahku di temui oleh pak RT setempat untuk memberitahu kepada orang tuaku agar aku tidak keluar rumah selama 14 Hari, statusku saat ini menjadi ODP karena aku baru saja datang dari luar kota, yang dimana tempat yang kulewati telah terdapat pasien yang positif. Aku menjalani hari-hariku dalam kamar saja dan menghindari kontak fisik dengan yang lain sampai masa ODP ini berakhir. Suatu hari, ibuku menemuiku dan memberitahuku untuk melihat berita sekarang. Aku terkejut karena berita yang kulihat adalah ada pasien positif di tempat yang pernah ku lewati dulu, yang lebih mengejutkan adalah pasien positif tersebut adalah penjaga toko yang pernah ku ajak bicara. Aku pun takut kalau nantinya aku terjangkit covid19. Mulai saat itu aku mengurung diri di kamar agar keluargaku tidak terjangkit covid-19. 14 Hari telah berlalu dan aku tetap sehat tidak ada gejala dari covid-19, aku sangat bersyukur karena tidak terjangkit. Mulai saat itu aku pun mulai berhati-hati dalam segala hal.
Lara 19-20 111 Dunia Sedang Berpuasa Oleh : Faris Anshori Memprihatinkan keadaan dunia saat ini, bencana seolah tak pernah hilang dari muka bumi. Seluruh dunia sekarang ini sedang berperang, namun bukan berperang untuk mengusir penjajah. Namun berperang melawan virus yang bernama Covid 19, makhluk tuhan yang sangat kecil tapi dapat membuat perubahan pada seluruh dunia. Makhluk tuhan yang berupa virus jenis baru ini pertama kali muncul di kota Wuhan, China. Kemudian menyebar dengan kecepatan luar biasa ke seluruh dunia, telah menimbulkan korban sakit dan meninggal dunia dengan jumlah yang tidak sedikit. Layar handphone memperlihatkan dengan jelas betapa parahnya kondisi dunia akibat virus ini. Destinasi wisata yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan sekarang mendadak sepi. Pusat-pusat transportasi dan jalan-jalan utama yang sebelumnya merupakan tempat tersibuk didunia kini benar benar kosong lantaran para warga diperintahkan mengisolasi diri dirumah masing masing sehingga virus Corona/Covid 19 tidak semakin menyebar. Rumah sakit diseluruh dunia kewalahan menghadapi pasien yang setiap harinya bertambah karena terjangkit virus. Bahkan tenaga medis ada yang bekerja 24 jam untuk menangani pasien. Perlahan aku mulai termenung, memikirkan apakah dunia sudah kiamat? Melihat ribuan orang meninggal karena sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tiba-tiba ibu datang membawa secangkir teh dan gorengan “Makan dulu gorengan nya, nak” kata ibuku. “Iya bu” ibuku juga melihat keadaan dunia saat ini. “Dunia seperti sedang berpuasa ya, nak” kata ibuku. “Maksud ibu?” aku yang tak paham
112 Lara 19-20 dengan ucapan ibuku. “Entah sampai kapan wabah ini terus berlanjut, ibu sebenarnya sedih melihat orang yang terkena wabah corona”. ”Tapi separah apapun keadaannya, ibu yakin pasti ada manfaat dan kebahagiaan setelahnya” Aku makin tidak paham dengan ucapan ibuku. “Ibarat kita sedang berpuasa, siang hari kita merasakan lapar dan dahaga yang menyiksa, tapi kemudian lapar dan dahaga itu akan hilang dan berganti dengan rasa lega pada saat waktunya berbuka” lanjut ibuku. “Aku gak paham sama apa yang ibu omongin” keluhku. “Nanti kamu akan paham, nak” jawab ibuku singkat dan kemudian meninggalkanku. Setelah pembicaraan yang tidak kumengerti dengan ibuku, aku merebahkan diri di atas kasurku dan memikirkan apa yang ibuku bicarakan tadi. “Ada manfaat dan kebahagiaan? Apanya yang bahagia melihat ribuan orang meninggal?” tanyaku pada diri sendiri. “Ah pusing, mending main HP aja lah”. Kemudian aku membuka HP ku, saat aku menscroll beranda instagramku aku melihat postingan yang menarik perhatianku. Postingan itu berjudul “Dibalik hebihnya corona virus menjemput nyawa manusia, ternyata ada hal luar biasa setelahnya” aku pun mengerutkan dahi “Hal luar biasa setelahnya?” aku mulai membaca keseluruhan postingan itu. Setelah membaca keseluruhan aku tersadar akan ucapan ibu tadi. Ternyata setiap bencana pasti ada manfaatnya seperti corona virus saat ini. Tanpa aku sadari bahwa corona, ternyata mampu membuat bumi merefresh diri. Selama virus corona meraja rela diseluruh penjuru dunia, polusi udara yang diakibatkan kendaraan bermotor berkurang, dibalik sepinya jalan jalan utama ada udara yang bersih dan sehat. Corona menutup bar, klub malam, kasino dan tempat tempat orang biasa melakukan maksiat. Dengan ada nya social distancing dan mengisolasi diri akibat corona, mengajarkan kita agar tidak mudah bersentuhan dengan yang buka mahram, membawa kita kembali bersama keluarga didalam rumah dan melakukan akitivitas rumah bersama. Tuhan juga menegur beberapa orang yang sombong dengan kekuasaannya, hanya satu saja tentara yang tuhan turunkan yaitu virus kecil yang berukuran 150 nano bisa mengalahkan miliyaran manusia yang hidup dimuka bumi ini.
Lara 19-20 113 Selama ini kita hanya melihat secara keseluruhan saja bagaimana dampak corona pada dunia tanpa memperhatikan hal kecil. Mungkin tuhan menurunkan virus ini karena kebanyakan orang sudah lupa siapa tuhannya. Dengan virus ini manusia bisa menyadari hanya tuhan lah berkuasa, tidak ada hal yang bisa disombongkan dari manusia. Dan dengan ini manusia bisa kembali kepada tuhannya dan bertaubat atas kesalahannya agar segera mendapat kebahagiaan. Seperti kata ibuku “Dunia Sedang Berpuasa” setelah kesulitan dihadapi pasti ada perasaan lega setelahnya.
114 Lara 19-20 Covid-19 Sebagai Wadah Untuk Berkarya Oleh: Muhammad Najin Indonesia sedang dilanda pandemi yang menyerang seluruh dunia, yaitu covid-19 atau bisa disebut juga dengan virus corona. Pandemi ini sudah berlangsung selama 1 bulan, dihitung sejak Presiden Ir. Joko Widodo mengumumkan bahwa pada tanggal 2 maret 2020, ada 2 WNI yang pertama terjangkit virus corona setelah bepergian dari negara luar. Oleh karena itu pemerintah menetapkan peraturan social distancing yaitu hindari berkomunikasi dengan orang banyak dan berdiam diri dirumah selama 2 minggu jangan keluar karena Pemerintah yakin dengan diterapkannya social distancing akan memutus rantai virus covid-19. Pemerintah bekerja sama dengan tenaga medis di garda terdepan dalam melawan virus covid-19 ini. Pada suatu sore, ada dua orang penyanyi muda yang sedang asik berbicara melalui video call.“Udah seminggu nih di rumah aja tidak ada kerjaan enaknya ngapain ya?” kata Fajar. “iya nih, aku aja rindu nyanyi di atas panggung karena sudah lama ngga, soalnya selama pandemi ini beberapa konser aku yang seharusnya diadakan jadi ditiadakan.” Sahut Neta. Fajar dan Neta merupakan seorang penyayi muda yang sedang naik daun. Mereka baru saja merilis lagu pertama mereka yang berjudul Biasa Saja. “bikin lagu kayanya bisa nih buat menghilangkan rasa bosan hahaha” kata Fajar, “lagu tentang apa memangnya?” Tanya Neta. “Indonesia sekarang kan lagi dilanda pandemi, kalau menurutku sih lagunya tentang himbauan agar selalu menjaga kebersihan, tapi judul sama liriknya belum dapat sih” kata Fajar. “wah bagus itu, jadi tiap kali orang mendengar lagu itu akan teringat agar selalu menjaga kebersihan.
Lara 19-20 115 Tumben kamu pintar jar, biasanya aku yang ngasih saran kalo bikin lagu hahaha” ledek Neta. Karena kebijakan pemerintah yaitu berdiam diri di rumah selama 2 minggu, membuat 2 penyanyi muda itu bosan tidak ada kerjaan dan kepikiran membuat lagu baru. Jam dinding menunjukan pukul 10 malam, mereka masih asik mencari ide dan referensi untuk mencari judul dan membuat lirik lagu. “tring…..tring….tring” suara yang tidak lain berasal dari notif hp Fajar. “Jar coba liat foto screenshoot dari komen salah satu orang di postingan lagu kita yang kemarin, yang baru saja kukirim lewat line” suruh Neta, “iya tunggu, aku cek dulu” kata Fajar. “wah bagus juga nih sarannya dari orang itu ta. judul dan lirik lagu kita yang Biasa Saja dibikin versi yang beda yaitu liriknya tentang himbauan agar rajin-rajin mencuci tangan sehabis melaksanakan aktivas dan judul lagunya pun diubah jadi Cuci Tangan” Kata Fajar. “kalau aku sih setuju, kamu setuju tidak?” Tanya Neta. “setuju aja sih kalaunya aku, berarti tinggal buat liriknya saja kan judulnya sudah dapat yaitu Cuci Tangan” kata Fajar, “iya, lanjut besok aja bahas liriknya udah malam juga nih ngantuk aku” sahut Neta, “iya nih sama aku ngantuk juga hahaha”. Pada besoknya di siang hari, Fajar sedang melamun dikamarnya memikirkan lirik untuk lagu baru mereka yang berjudul Cuci Cangan. Lumayan lama Fajar melamun sejam memikirkan seperti apa liriknya. Sampai-sampai Fajar terkejut saat mendengar nada dering hpnya yang tidak lain adalah panggilan dari Neta, lalu Fajar pun mengangkatnya “halo, kenapa ta?” Tanya Fajar. “gimana lirik lagu ada kepikiran tidak?” Tanya balik Neta. “belum nih, kamu sendiri gimana ada?” kata Fajar. “udah kuduga kamu pasti belum dapat hahaha, aku ada kepikiran sih. Itu kukirim ke email kamu file liriknya” kata Neta. “oke, aku cek dulu” sahut Fajar. “Gimana nyambung ngga liriknya sama judul lagu kita?” Tanya Neta . “cocok kok, nyambung sama judul lagu kita” “kapan mau rekaman nya?” Tanya Fajar. “Malam ini gimana?, kebetulan malam ini aku lagi gak sibuk” balas Neta. “Oke siap bos, nanti malam aku telepon lagi ya” kata Fajar. “oke, sampai nanti malam” kata Neta. Mereka pun mematikan telepon dan siap siap untuk nanti malam rekaman.
116 Lara 19-20 Setelah 2 hari mereka merilis lagu yang berjudul ‘Cuci Tangan” yang memiliki makna agar selalu menjaga kebersihan dengan cara selalu cuci tangan sehabis melakukan aktivitas supaya tidak terkena virus corona. mereka pun banyak mendapat respon yang positif dari orang orang yang mendengarkan lagu mereka. Dan lagu mereka pun menjadi trending no 1 di sebuah platform musik. Hal itu merupakan penghargaan bagi Fajar dan Neta karena lagu mereka bermanfaat dan dapat diterima oleh orang banyak.
Lara 19-20 117 Lemas Seketika Oleh: Rohmad Hidayat Namaku Manda Ananda Putri sering di panggil Manda, aku tinggal di Banjarlama Kalimantan Selatan. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan saat ini aku duduk di kelas 11 SMK Bolt. Hari ini adalah minggu ke delapan bulan kedua, hari Sabtu semenjak aku magang di awal semester 2 ini. Hari - hari kujalani seperti biasa. Namun saat Senin aku terkejut saat membuka twiter dan ada hastag menjadi top trending adanya virus mematikan disebut corona yang bermula di kota Wuhan China. Saat ini sudah ada 900 orang yang positif corona di kota Wuhan, China. Di Indonesia kasus ini malah dijadikan bahan candaan di banyak medsos. Aku berpikir sejenak bagaimana jika ada orang asing masuk Indonesia yang sudah tertular virus corona dan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Aku sangat takut. Selang dua bulan berlalu ternyata virus ini sudah sampai di Indonesia. Awalnya di Jakarta hanya 2 orang yang positif 186 ODP (Orang Dalam Pengawasan) dan 19 PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Negara - negara lain yang belum terjangkit virus ini sudah menetapkan social distancing. Namun di Indonesia ini masih belum ada tindakan serius hanya mengisolasi yang suspect virus ini. Belum ada sistem lockdown di daerah yang ada kasus terpapar yaitu Jakarta. Dua bulan lebih dua minggu sudah berlalu, pemerintah sudah mulai menangani virus ini dengan menyemprotkan disinfektan di jalan - jalan, rumah - rumah, sampai wajib menggunakan masker saat keluar
118 Lara 19-20 rumah, baik yang sakit maupun tidak. Di tempat tinggalku sudah ada 3 kasus positif corona. Ini kasus pertama di Kalimatan Selatan tepat nya di Banjarmasin. Pemerintah Kalimantan Selatan cepat tanggap, langsung menerapkan lockdown di Banjarmasin pusat. Beberapa hari kemudian……… Aku berlari keluar rumah menuju suara mama yang histeris, ku buka pagar ku lihat ada seorang laki - laki tergeletak di dekat rumahku menggunakan motor dan jaket kulit dengan wajah pucat pasi. Aku dan mama berteriak “tolonggg….tolongg…..” selang beberapa menit ada sekumpulan bapak - bapak yang datang “ada apa ini? “ini pak ada yang tergeletak di jalan, apa kita angkat ke mobil terus antar ke rumah sakit?” “Jangan bu, lebih baik kita panggil pihak rumah sakit, takutnya dia positif corona bu…” Mamaku langsung menganggukkan kepalanya. Bapak itu langsung cepat - cepat mengeluarkan smartphone dan menelpon rumah sakit terdekat. Selang 15 menit ada petugas menggunakan mobil ambulan dan memakai baju APD seperti hazmat di film - film zombie. Di belakang itu ada seorang yang menggunakan baju biasa dan menggunakan neck tube berteriak “tolong… untuk warga agar mundur jangan mendekat radius 7 meter, saya ulangi tolong… untuk warga agar mundur jangan mendekati radius 7 meter dari TKP”. Tanpa menunggu lama korban langsung diperiksa oleh orang yang menggunakan pakaian hamzat dari rumah sakit itu. Selang 30 menit dapat laporan bahwa orang tersebut memang terinfeksi virus corona yang sudah dinyatakan positif. Setelah itu ada pengumuman orang yang tadi di sekitar yang melihat dan di sekitar korban tadi harus juga diperiksa, dikarenakan virus ini menular lewat udara bisa jadi ada yang terkena juga. Kami yang melihat dan juga orang orang di sekitar korban tersebut langsung dilarikan menggunakan ambulan. Sesampainya di rumah sakit aku sangat takut bila mama ataupun aku juga bisa terkena corona. “kita berdoa aja Man, semoga kita tidak tertular” kata mama. Lalu ada dokter yang mendatangi kami dan mengatakan bahwa kami harus dirawat inap di rumah sakit ini selama 7 hari, agar tahu jika ada
Lara 19-20 119 terinfeksi virus corona. Seminggu berlalu kami semua menjalani pemeriksaan satu persatu, dari bapak bapak tadi, tak lama kemudian giliran aku diperiksa ternyata tidak ada tanda tanda dan ciri ciri positif corona, lalu mamaku masuk ke ruangan dan diperiksa. Tak lama dokter keluar dan membuka masker “ manda ya?? ” sahut aku “ iya saya manda dok ” dokter berkata “ mohon bersabar nak manda ibu kamu menjadi PDP ”, aku jadi sangat pucat dan tubuh ku tiba tiba lemas saat mendengar bahwa mama telah dikonfirmasi PDP (Pasien Dalam Pengawasan), mamaku harus dirawat 14 hari di ruang isolasi, aku tidaktau ingin berkata kata apa karena hanya mama yang ada di rumah dan yang kumiliki satu satu nya di keluarga ku, semoga Tuhan memberi jalan yang terbaik…..Seminggu sudah mama dirawat di rumah sakit aku masih lemas dirumah, harus merawat rumah seorang diri. Aku bersander di dinding dan merenung “andai hari itu tidak keluar rumah hanya melihat dari dalam pasti mama tidak seperti ini”. Hari hari berlalu sudah 14 hari mama sudah dirawat di rumah sakit, aku segera kerumah sakit di pagi hari. Aku pun langsung mencari dokter dan diberi kabar, “Kamu boleh menghela nafas dulu nak manda” ujar dokter “hmmmmm…. Hahhhhh… kenapa dok??” dokter berkata “mama kamu sudah lepas dari PDP dan boleh pulang” aku berbahagia dan langsung memeluk dokter tersebut dan berkata “saya sangat senang dok….. terimakasih dok…… terimakasih lagi” aku sangat bahagia mendengar suara dokter jika mama boleh pulang. Aku hanya bisa berdoa untuk mama dan semua orang untuk menjaga diri, memberi peringatan, dan menjaga imun tubuh agar tidak tertular penyakit ini yaitu Covid-19. Dan juga para dokter, perawat, sister dan tenaga medis yang berada di garda depan untuk melawan Covid-19 agar semangat dan berharap virus ini cepat berlalu.
120 Lara 19-20 Sebuah Penyesalan Oleh : Zahwa Ananda Luna tidak bisa kemana-mana sekarang. Dikarenakan kota nya yang sekarang dalam masa karantina, ini semua disebabkan oleh virus Covid-19. Luna hanya bisa berbaring di kasurnya. Ini sudah memasuki minggu kedua karantina dan Luna sudah bosan dengan kegiatan yang ia lakukan. Bangun tidur, mandi, makan, kembali ke kasur, main handphone, makan, tidur lagi, begitu seterusnya. “aku bosan, dan rindu sekolah, mungkin diwaktu sekarang aku masih duduk dikantin.” Ucap lirih sambil tersenyum lirih. Masalahnya, Luna tidak bisa kembali ke sekolah lagi. Ia bisa dikatakan sudah lulus, satu minggu yang lalu dia mendapatkan kabar bahwa ujian nasional tahun ini ditiadakan. Ia senang, tapi Luna juga sedih. Pasalnya, Luna dan teman-temannya sudah membuat banyak rencana yang harus dilakukan sesudah ujian nasional selesai. Tapi, rencana itu usai sudah. Padahal, rencana-rencana tersebut mereka gunakan untuk membuat memori, memori sebelum mereka berpisah. Dan Luna menyesal sekarang. Menyesal karena tidak mengucapkan salam perpisahan kepada teman-teman dan para guru waktu itu, Luna sangat senang hari itu, semua teman sekelas nya hadir, tidak ada pelajaran di hari itu, jadi yang mereka lakukan hanyalah bercanda, bercanda, dan bercanda. Andai saja Luna tau, kalau hari itu adalah hari terakhir ia memijakkan kaki di sekolah, mungkin dia tidak akan pulang lebih awal dan memilih untuk tetap di sekolah untuk mengulur waktu.
Lara 19-20 121 Tapi, ia lebih memilih untuk pulang lebih awal hari itu. Luna bahkan hanya sempat mengambil beberapa foto bersama teman-teman nya. Karena ia pikir mereka akan bertemu lagi. Namun takdir berkata lain, mereka tidak tau mereka akan bertemu kapan, dikarenakan pandemi ini seperti tidak ada ujungnya. Luna sedih, apalagi setelah mendengar kabar bahwa beberapa teman nya sudah pergi keluar kota. “gagal sudah rencananya.” Ucap Luna waktu itu. Luna memainkan handphonenya sambil berbaring, sesekali ia akan membuka galeri handphone nya untuk meliat foto teman-teman nya yang ia ambil di hari sekolah waktu itu. “baru dua minggu udah kangen begini, bagaimana nanti kalau aku kuliah ya?” gumamnya lagi. Luna pun menghela nafasnya lagi. Ia hanya bisa berdo’a sekarang agar virus ini hilang dari muka bumi. Ia sedih, karena Luna merasa perpisahannya dengan teman-teman nya dua minggu lalu itu tidaklah indah, sebuah memori yang mungkin akan ia lupakan. Dia merasa berpisah tidak dengan cara yang baik, dia bahkan tidak tau apakah ia akan kembali atau tidak ke sekolah nanti. Yang Luna ingin kan sekarang hanyalah bertemu dengan temantemannya, mengunjungi sekolah, meminta maaf kepada guru-guru, dan berpamitan dengan cara yang baik. Luna selalu berdo’a agar virus ini segera hilang, ia bosan, dan juga rindu dengan teman-teman nya. Luna kadang menangis kala ia berdo’a, bukan hanya karena ia rindu dan tidak bisa menyampaikan salam perpisahan dengan baik, tapi juga dikarenakan ia merasa iba dengan orang masih harus bekerja dalam keaadan seperti ini. Ia juga sering berdo’a agar semua orang yang masih bekerja di luar sana diberi kesehatan, dan ia berharap agar semua ini berakhir. Semoga virus ini segera berhenti, Luna merasa menyesal, karena belum menyampaikan salam perpisahan dengan benar. Semoga semua ini cepat berakir agar Luna bisa membuat memori-memori perpisahan yang baik. Semoga perasaan penyesalan ini cepat menghilang.