The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

052_Kajian Pengembangan Wisata Syariah_2015_201

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by soedito, 2018-07-08 04:54:11

052_Kajian Pengembangan Wisata Syariah_2015_201

052_Kajian Pengembangan Wisata Syariah_2015_201

Pada gambar di atas, menunjukkan 37% responden berpendapat
bahwa untuk mengembangkan wisata syariah, maka perlu perbaikan sarana
dan prasarana penunjang wisata syariah, 19% berpendapat bahwa wisata
syariah harus lebih dikembangkan lagi, 13% berpendapat promosi wisata
syariah sebaiknya dikemas lebih kreatif dan menarik, 8% menyarankan
informasi tentang wisata syariah harus diperbanyak, dan 7% responden
menyarankan agar wisata syariah harus dikembangkan dengan benar-benar
menerapkan prinsip syariah,bukan hanya sekedar nama atau slogan.

4.2.3. Hasil FGD dan Wawancara Pengembangan Wisata Syariah di Aceh
Beberapa poin penting dalam FGD dan wawancara sebagai berikut:

1. Terminologi Wisata Syariah
Dari hasil FGD dan wawancara penggunaan istilah “wisata syariah”

dinilai belum jelas batasannya, akan terkesan ekstrim/fanatik dan dapat
mempersulit Aceh dalam melakukan promosi karena target pasar yang
diperoleh nantinya hanya wisatawan muslim saja. Sebaiknya konsep wisata
membuat wisatawan merasa “welcome” di destinasi wisata. Benchmark
syariah di dalam masyarakat Aceh sendiri sulit diterima, karena hal tersebut
berarti hukum syariah yang berlaku dan diterapkan sehingga masih ada
ketakutan sendiri di masyarakat apalagi wisatawan. Label syariah bukan
hanya sekedar kata tetapi maknanya sangat dalam.

Berdasarkan hasil diskusi dan wawancara, branding “halal” menjadi
pilihan utama dalam branding pariwisata Aceh dibandingkan penggunaan
branding “syariah”, atau Islamic tourism. Jika branding syariah digunakan,
dikhawatirkan akan menghilangkan konsep syar’i itu sendiri, yang ada malah
hanya akan menghidupkan wisata konvensional saja. Dapat dilihat pula
melalui media internet, jika di google dengan menggunakan keywords “halal
tourism” diperoleh ± 13 juta hint lebih banyak dibandingkan dengan “syariah
tourism” hanya 338 ribu hint. Untuk Aceh dapat menggunakan branding
“Serambi Mekah Halal Tourism”. Dengan demikian, konten halal yang harus
dihidupkan mulai dari produk makanan hingga sarana/fasilitas pendukung
pariwisata.

2. Kesiapan Destinasi (Daya Tarik Wisata)
Kesiapan Aceh menjadi destinasi wisata syariah dapat dilihat melalui

beberapa indikator utama yaitu: daya tarik wisata, hotel dan restoran, biro
perjalanan wisata dan pramuwisata, dan SPA. Dari keempat indikator
tersebut forum menyimpulkan bahwa Aceh mempunyai potensi yang luar
biasa untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata syariah karena
mempunyai daya tarik wisata yang cukup beragam baik nature based (Pantai
Ulee Lheu, Pantai Lhok Nga, Pantai Lhampuuk), culture based (Rumah Cut

- 95 -

Nyak Dhien, Masjid Raya Baiturrahman, Makam Sultan Iskandar Muda,
Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Kawasan Kuliner Peunayong), maupun man
made based (Kuburan massal Ulee Lheu, Replika Pesawat Seulawah di Blang
Padang, Taman Sari, Kapal Apung Lampulo, Kapal PLTD Apung). Potensi daya
tarik tersebut telah didukung dengan ketersedian amenitas yang muslim
friendly seperti tempat ibadah di masing-masing daya tarik wisata.
Wisatawan muslim tidak terlalu sulit untuk menemukan tempat ibadah
(sholat) selama melakukan aktivitas wisata di Aceh. Namun masih banyak
yang perlu dibenahi jika menerapkan konsep syariah dalam pariwisata Aceh,
diantaranya sarana prasarana wisata yang mendukung syariah tidak jelas.
Sebagai contoh di pinggir pantai masih ada yang menyediakan kursi hanya
untuk berdua saja, padahal jika menggunakan konsep syar’i ada aturan yang
melarang orang yang tidak muhrim/lain jenis kelamin untuk berkhalwat
(berdua-duaan). Tidak semua daerah di Provinsi Aceh menerapkan konsep
syar’i secara utuh dan berbeda-beda.

Aspek kesiapan masyarakat dan fasilitas pendukung masih menjadi
kendala dalam pengembangan pariwisata Aceh. Berbeda dengan kondisi
pariwisata di Bali melihat wisatawan asing menggunakan pakaian minim
seperti bikini sudah menjadi pemandangan yang biasa. Lain halnya di Aceh,
hal itu menjadi seperti “tontonan” dan membuat wisatawan menjadi tidak
nyaman. Dan masih banyak tokoh masyarakat (para ulama) Aceh yang masih
menolak konsep pariwisata, karena menurut mereka kata “wisata” identik
dengan maksiat, sehingga mereka lebih memilih kata “rekreasi” yang hanya
identik dengan hiburan/pengisi waktu luang dengan keluarga.

3. Aksesibilitas
Berdasarkan hasil diskusi, sejauh ini aksesibilitas di Aceh baru

tersedia dua direct flight penerbangan internasional dari Malaysia yaitu Air
Asia dan Firefly. Jadwal penerbangan 4 kali dalam seminggu dari Kuala
Lumpur dengan Air Asia, dan 3 kali dalam seminggu dari Pulau Penang
dengan menggunakan Firefly. Demikian pula kondisi ketersediaan
infrastruktur dan jalan juga sudah cukup baik. Kendala aksesibilitas masih
ditemui di daya tarik wisata alam. Penerbangan domestik dengan Garuda
Airlines hanya memiliki jadwal penerbangan dua kali dalam sehari.

Aksesibilitas dari segi ketersediaan informasi dapat diperoleh melalui
media internet yang disediakan baik oleh pemerintah daerah maupun pelaku
usaha wisata. Pemerintah daerah menyediakan website yang memberikan
informasi tempat-tempat wisata seperti: bandaacehkota.go.id,
bandaacehtourism.com. Sementara pelaku usaha wisata seperti:
acehexplorer.com, inbandaaceh.com, inaceh.com, wisataaceh.com,

- 96 -

seputaraceh.com, visitaceh.id, selain itu juga membuat page di facebook
seperti NTA tour and Travel, acehexplorer, dan lain-lain.

4. Akomodasi (Hotel dan Tempat Menginap Lainnya)
Pada umumnya ketersediaan akomodasi pada sebagian besar hotel

dan tempat menginap lainnya di Aceh sudah menerapkan konsep syariah
baik dari segi produk, pelayanan, dan pengelolaannya. Dari segi produk,
misalnya toilet hotel sudah tersedia penyekat antar bilik dan menyediakan
air mengalir selain tissue; pada setiap kamar di hampir sebagian besar hotel
sudah menyediakan sajadah, arah kiblat, tidak tersedia akses pornografi,
tidak tersedia minuman beralkohol di mini bar setiap kamar, dll. Dari segi
pelayanan diantaranya melakukan seleksi terhadap tamu yang datang
berpasangan, tidak ada fasilitas hiburan yang mengarah kepada
pornografi/asusila, dll. Dan dari segi pengelolaan, diantaranya seluruh
karyawan dan karyawati memakai seragam yang sopan, karyawati pada
umumnya menggunakan jilbab, dll. Namun, Sebagaimana tercantum dalam
Permen Parekraf No. 2 tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha
Hotel Syariah, seluruh hotel yang ada di Aceh belum memperoleh sertifikat
Hilal 1 maupun Hilal 2. Sehingga, dalam akomodasi yang mendukung wisata
syariah masih memerlukan standardisasi yang jelas dan sosialisasi kebijakan
dalam Permen tersebut. Kendala dalam penyediaan akomodasi yakni kualitas
dan pelayanan (hospitality) yang masih belum maksimal.

Untuk usaha SPA, dari hasil FGD, menyatakan bahwa praktik SPA di
Aceh belum ada yang secara khusus membuka usaha spa, kalaupun ada
masih menyatu dengan usaha hotel dan salon. Kondisi salon yang ada di Aceh
pada umumnya memang sudah khusus diperuntukkan hanya untuk
muslimah.

5. Restoran dan Usaha Penyedia Jasa Makanan Minuman
Secara umum, restoran dan penyedia jasa makanan minuman di Aceh

dalam pengolahan dan penyajiannya sudah menerapkan prinsip halal.
Namun, berdasarkan hasil diskusi perlu dikaji kembali mengenai
pemotongan hewan ternak seperti ayam yang masih belum sepenuhnya
menggunakan konteks islami/halal. Menurut peserta FGD mengenai
standardisasi label halal pada produk makanan dan minuman dinyatakan
belum siap. Perlu dibuat suatu standard yang menjadi pedoman bagi
restoran dan penyedia jasa makanan minuman di Aceh. Selain itu, perlu
adanya pengawasan dan sosialisasi dari hulu ke hilir mengenai produk
makanan yang terjamin halal.

6. Kondisi Biro Perjalanan Wisata dan Pramuwisata

- 97 -

Kondisi pramuwisata yang sudah tersertifikasi sudah ada sekitar 100
orang dan sebagian besar adalah muslim. Di Aceh, secara umum belum
terdapat BPW (tours and travel) yang mengkhususkan penyediaan paket
wisata syariah. Karena menurut HPI, daya tarik wisata yang ada di Aceh
sudah mencerminkan konsep islami. Bahkan daftar akomodasi dan restoran
sudah ada yang sesuai kriteria syariah. Untuk pramuwisata juga belum
terdapat pramuwisata (tour guide) yang khusus untuk melayani tamu atau
wisatawan muslim. Sayangnya masih ditemukan pramuwisata/driver yang
tidak mencerminkan sikap islami, contohnya pada waktu sholat mereka tidak
ikut sholat. Sehingga, masih banyak yang perlu dibenahi lagi pada BPW dan
pramuwisata yang ada di Aceh.

7. Kelembagaan dan Sistem Sertifikasi Halal
Pemberlakuan Aceh menetapkan syariat Islam dalam kehidupan

bermasyarakat dilakukan sejak tahun 2000. Pemberlakuan syariat Islam
hanya khusus diberlakukan untuk warga muslim. Pasca penetapan syariat
Islam banyak pantai yang ditutup untuk wisata karena dikhawatirkan dapat
merusak akidah, sebagai contoh kawasan pantai di Aceh Barat.

Dalam konteks pariwisata, belum ada PERDA khusus yang mengatur
wisata syariah di Aceh, akan tetapi program dan aktivitas wisata syariah
sudah dikembangkan seperti paket wisata kurban Idul Adha, paket wisata
Ramadhan, ziarah ke masjid dan makam, dll. Demikian pula kebijakan khusus
“halal” dalam pariwisata, karena selama ini di Aceh masih dalam konteks
produk makanan dan obat saja. Bahkan Kota Banda Aceh sudah menetapkan
branding pariwisata tahun 2015 yaitu “World Islamic Tourism” yang di
launching oleh Menteri Pariwisata pada bulan Maret 2015 bersama dua
destinasi lainnya yaitu NTB dan Sumatera Barat.

Konteks halal maupun syariah sudah ada dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat Aceh. Namun label “halal” dapat menjadi hal yang sensitif di
kalangan pelaku usaha atau masyarakat, karena dalam persepsi mereka halal
maupun syar’i sudah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari dan mereka
akan mengukur SDM yang melakukan penilaian halal. Sertifikasi halal di Aceh
diperoleh melalui Majelis Permusyawaratan Umat (MPU). Dalam proses
sertifikasi hotel, restoran dan penyedia jasa makanan minuman masih
terkendala aspek kesehatan. Masih ditemukan kurangnya kontrol pada
proses penjagalan hewan yang tidak menggunakan cara islami. Selama ini
MPU lebih banyak memberikan label halal hanya pada produk kemasan
seperti kopi dan dendeng sapi buatan Aceh. Pembiayaan sertifikasi halal pada
tahun lalu sempat diberikan secara gratis. Namun, dikarenakan MPU
memperoleh pembiayaan proses sertifikasi halal dari MUI Pusat membuat

- 98 -

mereka memiliki keterbatasan dalam memberikan sertifikasi halal pada
industri makanan minuman yang ada di Aceh.

4.2.4. Analisis Hasil Penelitian di Aceh (Strategi Kebijakan/SWOT)
Berdasarkan pembahasan beberapa subbab sebelumnya terkait

kondisi eksisting, peluang, dan kendala pengembangan wisata syariah di
Aceh, maka analisis SWOTdan kemungkinan strategi yang dapat digunakan
dapat dijabarkan dalam tabel berikut ini:

Tabel 4.4. Analisis SWOT dan Kemungkinan Strategi Pengembangan

Wisata Syariah di Aceh

 Faktor Internal KEKUATAN (S) KELEMAHAN (W)

1. Aceh memiliki beragam 1. Sebagian besar pelaku
potensi untuk menjadi industri di Aceh belum
salah satu destinasi mencantumkan label
wisata syariah yang halal yang bersertifikasi
strategis bukan karena dari MPU
aksesibilitas, melainkan
karena ketersediaan 2. Belum siapnya SDM
sarana seperti pilihan Aceh dalam
akomodasi serta atraksi mengembangkan
wisata alam, budaya, wisata syariah
religi serta minat khusus. terutama dalam
pelayanan (hospitality),
2. Pascatsunami, Aceh
muncul sebagai salah satu walaupun di Aceh ada
destinasi wisata yang istilah “peu meulia jame
diincar wisatawan adat geutanyo”
mancanegara (wisman) (memuliakan tamu
maupun wisatawan adalah adat kita), tapi
nusantara (wisnus). dari sektor itu dilihat
masih ada
3. Syariat Islam atau produk kekurangannya,
halal sudah menjadi misalnya:
bagian dalam kehidupan - Pramuwisata yang
sehari-hari masyarakat
Aceh belum sepenuhnya
menerapkan
4. Sudah berlakunya Qanun prinsip-prinsip
di Aceh dan adanya Polisi islami dalam
Syariah mendampingi

5. Aceh sudah mulai wisatawan
mengadakan even-even misalnya tidak
tahunan yang berbasis mendampingi
religi dan tradisi sholat
jumat/berjamaah
6. Banda Aceh juga telah - Para supir travel
memiliki bandara dan bus. Baik dari
internasional yang aspek tingkat
terhubung secara kebersihan,
langsung dengan Kuala kerapian dan
Lumpur (Malaysia) ketertiban, seperti
kebiasaan
menerobos lampu
merah.

- 99 -

 Faktor Eksternal - Pandangan negatif
dari
masyarakat/tokoh
masyarakat/ulama
bahwa pariwisata
hanya menekankan
pada sun, sand, sea,
smile, and sex

3. Beberapa keluhan
wisatawan saat
berkunjung ke Aceh
adalah masih
kurangnya fasilitas
pariwisata, seperti MCK

serta mushalla, harga
barang dan makanan di
pasar belum standar,
karena di setiap lokasi
berbeda-beda
harganya.

PELUANG (O) Strategi SO Strategi WO

1. Indonesia merupakan 1. Pengemasan paket wisata 1. Memberikan

negara dengan syariah yang lebih menarik insentif/donasi dari

penduduk muslim sesuai target pasar. pemerintah baik pusat
terbesar di dunia dan Misalnya Pasar Malaysia maupun daerah,

banyak objek wisata dengan paket wisata misalnya kemudahan

alam bernuansa sejarah dan religi. pengajuan dan
syariah seperti situs- 2. Mengembangkan fasilitas- pembiayaan gratis

situs peninggalan fasilitas pariwisata sertifikasi halal,

kerajaan Islam dan berstandar syariah seperti penyediaan shuttle bus
pusat pesantren hotel, restoran, spa gratis khusus bagi

Islam. 3. Branding pariwisata Banda wisatawan untuk

2. Potensi devisa yang Aceh tahun 2015 yaitu mengantar ke setiap
bisa dihasilkan “World Islamic Tourism” atraksi wisata

negara dari wisata harus dibuat Juknis yang 2. SDM: Pembinaan

syariah juga cukup jelas bagi pelaku usaha kelompok sadar wisata

besar wisata di Aceh, dan bersifat (Pokdarwis)
3. Industri halal dan informatif bagi halal/muslim friendly, ,

kesadaran akan wisatawannya mulai dari mengadakan seminar

pentingnya produk jenis produk, jadwal, harga, dengan tema
halal terus aksesibilitas, akomodasi “kesehatan dan

bertumbuh, ditandai dan lainnya. syariah”, dan adanya

dengan semakin sanksi bagi pelaku
meningkatnya usaha yang tidak

permintaan sertifikasi mempunyai sertifikasi

halal ke badan halal

LPPOM MUI 3. Penciptaan sistem
4. Kelas menengah di sertifikasi produk halal

Indonesia disinyalir yang mapan dan

kian meningkat. Hal transparan di bawah
ini berdampak pada MPU Aceh.

tingkat konsumsi

secara signifikan,
khususnya dari kelas

menengah untuk

- 100 -

membelanjakan
uangnya terutama di
sektor-sektor
konsumtif seperti
kuliner, fashion dan

gaya hidup.

ANCAMAN (T) Strategi ST Strategi WT

1. Belum adanya 1. Inventarisasi/audit/quick 1. Tetap memperhatikan

kejelasan konsep assessment setiap dan mempertahankan
wisata syariah yang destinasi, produk, karakteristik keaslian

dapat diterapkan di restoran yang diberikan dan keunikan Aceh

Aceh dan di Indonesia sertifikasi halal, kesiapan 2. Peningkatan promosi

pada umumnya. sarana dan prasarana, wisata dan penyediaan
2. Perkembangan serta unsur pendukung informasi wisata

Wisata syariah di lain. serta kebutuhan berbasis teknologi

Indonesia masih wisata syariah secara komunikasi yang
kalah cepat dibanding konkret di Aceh mengerti kebutuhan

negara lain yang 2. Meningkatkan koordinasi wisatawan (customer-

sudah lebih dulu dan sosialisasi wisata friendly)
menggarap industri syariah dengan 3. Mendorong para pelaku

wisata syariah. menggandeng kalangan bisnis wisata di Aceh

diantaranya Thailand, masyarakat dan lembaga untuk mempelajari

Jepang, China, Korea lain. bahasa Inggris, Arab
Selatan, Filipina, dan 3. Melakukan kerja sama dan bahasa asing

sejumlah negara di dengan negara lain dan lainnya untuk

Eropa dan Amerika lembaga internasional menggaet pasar
4. Belum adanya yang memiliki perhatian wisatawan dari negara

regulasi dalam dalam mengembangkan yang mayoritas muslim.

bentuk perundang- wisata syariah seperti
undangan secara CrescentRating dan atau

nasional terkait PATA untuk

wisata syariah. mengembangkan promosi
Birokrasi yang lambat bersama sehingga Banda

menjadi ciri khas Aceh menjadi wisata

Indonesia, ikut tingkat dunia.

memperlambat 4. Kerjasama dengan
pengembangan Malaysia dalam

wisata syariah. Belum pengemasan paket wisata

adanya regulasi juga
membuat pelaku

usaha gamang dalam

menerapkan wisata
syariah.

5. Promosi wisata yang

berkaitan dengan

wisata syariah belum
begitu segencar

wisata

umum/konvensional
6. Kurangnya sosialisasi

dan koordinasi

tentang wisata
syariah di Indonesia

- 101 -

5BAB

HASIL DAN PEMBAHASAN
KAJIAN PENGEMBANGAN WISATA SYARIAH

MANADO

5.1. Kondisi Umum Pariwisata di Manado
5.1.1 Potensi Daya Tarik Wisata Kota Manado (Jenis Daya Tarik

Wisata: Alam, Budaya, Man Made)
Nama Manado berasal dari bahasa Minahasa “Manadou” atau
“Wanazou” yang berarti “diujung pantai”. Hal ini disebabkan lokasi kota
Manado yang memang memiliki banyak wilayah pantai (Colours, 2015).
Kondisi geografis dan topografi Kota Manado yang cukup lengkap merupakan
salah satu faktor pendukung beragamnya daya tarik wisata di Manado. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa Manado memiliki daya tarik wisata yang
cukup lengkap baik berbasis alam (nature), budaya (culture) maupun buatan
manusia (man made).

1. Daya Tarik Wisata Berbasis alam (Nature Based)
a. Taman Nasional Bunaken

Tidak dapat dipungkiri Taman Nasional Bunaken merupakan daya tarik
wisata utama yang menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke
Manado. Bunaken merupakan taman laut pertama di Indonesia. Lokasinya
berada di Teluk Manado, tepatnya di utara Pulau Sulawesi dan secara
administratif bagian dari Kota Manado. Resmi didirikan pada 1991, Taman
dengan laut sekira 8,08 km² ini adalah bagian dari Taman Nasional termasuk
laut sekitar Pulau Manado Tua yaitu Siladen dan Mantehage.
(http://indonesia.travel). Pada Tahun 2015 UNESCO menetapkan Taman Laut
Bunaken sebagai salah satu situs warisan dunia karena kaya akan biota laut
dan terumbu karang yang indah. Keindahan taman laut ini dapat dijumpai
pada spot-spot yang bernama Lekuan 1, Lekuan 2, Lekuan 3, Fukui, Mandolin,
Tanjung Prigi, Ron’s Point, Sachiko Point, Pangalisang, Muka Kampung, dan
Bunaken Timur. Aktivitas wisata yang dapat dilakukan di Taman Nasional ini
antara lain berkeliling dengan menggunakan katamaran (perahu berkasa),
snorkeling, diving, foto bawah laut, dan berjemur (sun bathing).

- 102 -

Gambar 5.1. Taman Nasional Bunaken

Sumber: Hasil Observasi Penelitian

b. Pantai Malalayang
Pantai Malalayang berjarak 4 km dari Kota Manado. Selain memiliki

daya tarik untuk menyelam, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan
matahari terbenam dan kuliner pisang goreng dengan sambal khas Manado.

Gambar 5.2. Pantai Malalayang

Sumber: Hasil Observasi Penelitian

c. Arum Jeram Sawangan
Arum jeram ini memiliki arus yang cukup deras. Panjang lintasan

sungai 9 km. Perjalanan arum jeram ini dimulai di Resort River Park, Desa
Sawangan.

- 103 -

d. Air Terjun Kima Atas
Terletak di Kelurahan Kima Atas, sekitar 15 km dari pusat Kota

Manado, tepatnya berada di Kecamatan Mapanget. Meski belum terekspose,
tetapi air terjun ini menjanjikan pesona yang cukup memikat. Hawa sejuk
dan kondisi alam dengan pepohonan yang masih rimbun menciptakan
suasana yang menenangkan.

e. Danau Tondano
Merupakan danau vulkanik yang dihasilkan dari letusan gunung purba.

Danau yang terletak di ketinggian 600 meter diatas permukaan laut ini
memiliki pulau di tengahnya, dan memiliki luas 4.000 hektar yang diapit oleh
gunung Tampusu, Gunung Kawean, dan Gunung Masarang.

f. Taman Wisata Tandurusa
Taman ini berada di kecamatan Aertembaga. Di taman ini banyak

terdapat binatang khas Sulawesi mulai babirusa, monyet hitam, tarsius dan
berbagai jenis burung. Tarsius merupakan hewan yang tubuhnya
menyerupai monyet tapi tubuhnya sekitar 15 cm, dengan tangan dan kakinya
yang berukuran panjang dari tubuhnya. Ciri yang mencolok adalah matanya
yang bulat besar dan berukuran hamper setengah dari wajahnya.

g. Kota Bunga Tomohon
Terletak 22 km dari kota Manado terdapat kota bunga Tomohon,

berada di kaki gunung Lokon. Disini banyak terdapat bunga warna-warni.
Pada bulan Juni-Agustus biasanya diadakan festival bunga hias, acara ini
mempertunjukkan parade bunga dan seni di sepanjang jalan kota
(anekatempatwisata.com). Daftar daya tarik wisata alam di Manado secara

lengkap dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.1. Daftar Daya Tarik Wisata Berbasis Alam Kota Manado

NO LOKASI DAYA TARIK

1 Pulau Bunaken-Kecamatan Bunaken Taman Laut Bunaken

2 Pulau Siladen-Kecamatan Bunaken Pantai Pasir Putih Siladen

3 Pulau Manado Tua-Kecamatan Bunaken Pendakian Hutan Lindung-Pulau Manado

Tua

4 Desa Meras dan desa Tongkaina - Gunung Tumpa

Kecamatan Bunaken

5 Desa Kima atas-Kecamatan Bunaken Air Terjun Kima

6 Desa Malalayang Dua Pantai Malalayang

Sumber: BPS Kota Manado, 2015

- 104 -

2. Daya Tarik Wisata Budaya dan Buatan
1. Gereja Katolik Katedral Hati Tersuci Maria Manado.

Tempat ibadah yang indah dan megah ini di kalangan
masyarakat Manado dikenal dengan sebutan Gereja Katedral.
Bangunannya berdiri kokoh di atas lahan seluas 2000 meter persegi. Pertama
kali dibangun pada tahun 1932 dan ditahbiskan pada bulan Mei 1933. Saat
itu sebutannya bukan Gereja Katolik Katedral, tapi Gereja Katolik Manado.
Katedral ini memiliki gaya arsitektur bangunannya merupakan gabungan
atau campuran dari 3 (tiga) arsitektur dunia, yaitu Byzantium,
Romanesque dan Gothic. Langgam atau gaya arsitektur gothic merupakan
puncak arsitektur Gereja Katolik. Arsitektur langgam gothic memiliki filosofi
“istana Surga,” yaitu bangunan gedung gereja dibuat seperti istana yang
megah dan menjulang tinggi ke langit (http://manadokota.go.id).

2. Klenteng Ban Hin Kiong,
Klenteng Ban Hin Kiong dibangun pada tahun 1819 dan merupakan

klenteng tertua di Kota Manado. Terletak di kampung Cina di Jl. DI Panjaitan.
Kata Klenteng bukan berasal dari bahasa Tionghoa, tetapi merupakan bunyi
suatu instrumen sembahyang, yang berbentuk seperti lonceng genta, yang
mengeluarkan bunyi “teng.” Dari bunyi “teng” inilah kata Klenteng (Temple)
berasal. Sedangkan Ban Hin Kiong berasal dari bahasa Tionghoa. Ban artinya
banyak, Hin artinya berkat yang melimpah atau kelimpahan berkat, dan
Kiong artinya istana. Jadi, Ban Hin Kiong artinya istana/rumah atau tempat
ibadah yang kelimpahan banyak berkat.

Setiap tahun pada bulan Februari, areal di sekitar 3 (tiga) Klenteng ini
dipadati dan disesaki puluhan ribu manusia. Orang-orang tampak menyemut
menyaksikan arak-arakan peserta pawai Cap Go Meh yang menampilkan
berbagai atraksi memukau, yang ditampilkan setiap tahun dalam rangka hari
raya Imlek. Pada saat pelaksanaan pawai Cap Go Meh, di kampung Cina
terutama lokasi di sekitar 3 (tiga) Klenteng yang berdekatan berubah
menjadi lautan manusia. Puluhan ribu orang datang untuk menyaksikan dari
dekat prosesi Goan Siau atau Cap Go Meh, yang diikuti oleh seluruh Klenteng
di Kota Manado. Masing-masing klenteng mengutus peserta festival untuk
berparade di sepanjang kawasan kampung Cina. Pada saat pelaksanaan
festival Cap Go Meh, budaya-budaya di Minahasa juga ikut berpartisipasi. Di
depan parade misalnya ditempatkan tari dan musik tradisional Minahasa
seperti tari kabasaran, musik bambu, dan musik Bia (kerang) ikut berbaur
bersama parade etnis Cina yang tampil dengan ornamen dan pakaian khas
(http://manadokota.go.id).

- 105 -

3. Makam Ratu Sekar Kedaton.
Makam permaisuri dan putra mahkota yang dibuang oleh

Pemerintahan Hamengkubuwono VII ini berada di samping persekolahan
Yayasan Eben Haezar Manado, Jl. Diponegoro, Kelurahan Mahakeret Timur,
Kecamatan Wenang. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di tempat ini,
adalah melihat dan mengenal sejarah Keluarga Hamengkubuwono V.
Berjarak sekitar 700 meter dari pusat Kota (Pasar 45/Taman Kesatuan
Bangsa) Manado dan dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dengan
menggunakan transportasi darat, atau bisa juga jalan kaki sambil menikmati
pemandangan dan udara sejuk kota Manado (http://manadokota.go.id).

4. Bukit kasih
Bukit Kasih berada di desa kanonang atau sekitar 55 km dari pusat Kota

Manado. Bukit Kasih merupakan simbol kerukunan beragama di Manado. Di
bukit ini terdapat rumah ibadah dari lima agama di Indonesia. Di dekat pintu
masuk terdapat Tugu Toleransi, sebuah monumen berbentuk segi lima yang
di setiap sisinya terdapat simbol masing-masing agama dengan kutipan ayat
dari kitab sucinya.

5. Museum Negeri Sulawesi Utara
Museum ini terletak di Jl. WR. Supratman Kota Manado. Di museum ini

terdapat miniatur rumah adat, pakaian adat, alat menangkap ikan, peralatan
rumah tangga, sampai benda peninggalan pahlawan daerah. Total ada sekitar
2.810 buah koleksi. Di museum ini kita juga dapat melihat budaya asli
masyarakat Manado yaitu suku Minahasa.

6. Kawasan Kuliner Wakeke
Jalan Wakeke merupakan salah satu pusat kuliner tradisional di

Manado. Di kawasan yang mempunyai panjang kurang lebih 1 Km ini,
wisatawan dapat menikmati berbagai kuliner tradisional khas Manado atau
Sulawesi Utara. Tinutuan merupakan makanan tradisional yang paling
populer di kawasan ini. bubur yang dicampur dengan aneka macam sayur-
mayur ini menjadi primadona bagi wisatawan maupun penduduk lokal untuk
sarapan di pagi hari.

- 106 -

Gambar 5.3. Kawasan Wisata Kuliner Wakeke

Sumber: hasil Observasi Penelitian

7. Ragam Wisata Kuliner
Kota Manado sangat kaya dengan wisata kuliner lokal. Mulai dari yang

berbahan dasar kelapa seperti Klappertaart, kemudian ada Tinutuan atau
bubur tradisional manado yang merupakan perpaduan berbagai macam
sayur-mayur, ada juga pisang goreng sambal, kemudian yang berbahan dasar
ikan laut seperti ikan woku belanga, ikan rica-rica, cakalang fufu, (cakalang
asap), mie cakalang, dan nasi kuning seroja.
8. Kawasan Boulevard

Terletak di sepanjang jalan Piere Tendean, kawasan ini merupakan
landmark yang juga merupakan tempat berkumpul anak-anak muda Kota
Manado. Di kawasan ini terdapat mall dan pusat perbelanjaan. Pada malam
hari kawasan ini menjadi pusat kuliner, disini banyak terdapat café, restoran,
dan tempat-tempat makanan yang menyajikan makanan khas Manado. Daftar
lengkap daya tarik wisata budaya dan buatan Kota Manado dapat dilihat
pada tabel berikut:

- 107 -

Tabel 5.2. Daya Tarik Wisata Budaya dan Buatan Kota Manado

No Lokasi Daya tarik
1 Jl. Asia Afrika (Kampung Cina) Klenteng Ban Hin Kiong
2 Kayuwatu Lapangan Golf Kayuwatu
3 Komo Dalam Museum Provinsi
4 Komo Luar Tugu Toar Lumimuut
5 Pusat Kota Tugu Pendaratan Batalion Worang
6 Ranotana Tugu Sam Ratulangi
7 Komo Luar Tugu Walanda Maramis
8 Kelurahan Bahu Tugu Wolter Monginsidi
9 Kelurahan Bahu Tugu Piere Tendean
10 Jl. Ahmad Yani Sario Gelanggang Sario
11 Jl. Piere Tendean Boulevard
12 Pusat Kota Teater Terbuka Dotu Lolonglasut–TKB
13 Kelurahan Pakowa Taman Budaya
14 Komplek Gereja Sentrum, Pusat Kota Tugu Perang Dunia II
15 Komplek Kubur Teling Tugu Tentara Jepang
16 Malalayang Barat n Situs Budaya Batu Kounga
17 Malalayang I Situs Batu Buaya
18 Malalayang I Situs Batu Ni’opo
19 Tikala Ares Situs Batu Sumanti
20 Jl. Rike Veld Box
21 Kel. Titiwungen Veld Box
22 Dendengan Luar Veld Box
23 Singkil Goa Jepang
Sumber: BPS Kota Manado, 2015

5.1.2 Potensi Amenitas (Infrastruktur Pendukung Pengembangan
Wisata Syariah: Jumlah Hotel, Resto/Kuliner)

1. Masjid (Tempat Ibadah)
Kota Manado merupakan kota yang memiliki motto “torang samua

basudara” yang berarti kita semua bersaudara. Motto tersebut yang membuat
kerukunan umat beragama di Manado tetap terjaga dengan baik sampai
sekarang. Meski Islam bukan agama mayoritas masyarakat Manado, bukan
berati daerah tersebut tidak mempunyai potensi untuk dikembangkan
menjadi destinasi wisata halal atau syariah. Secara umum penduduk Kota
Manado menganut enam agama dengan distribusi sebagai berikut:

Tabel 5.3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Yang Dianut

NO AGAMA JUMLAH

1 Islam 128.483

2 Kristen 254.912

3 Katolik 20.603

4 Hindu 692

5 Budha 2.244

6 Konghucu 499

Sumber : BPS Kota Manado, 2012

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Islam merupakan agama terbesar kedua

- 108 -

di Manado dengan jumlah penganut mencapai 128.483 orang atau 31,53% dari
total penduduk Kota Manado. Dengan jumlah penganut terbesar kedua, maka
jumlah tempat ibadah umat Islam atau masjid menjadi salah satu infrastruktur
amenitas penting dalam mengembangkan Manado sebagai destinasi wisata
syariah. Menurut data Kanwil Kementerian Agama, distribusi tempat ibadah di
Kota Manado sebagai berikut:

Tabel 5.4. Jumlah Tempat Ibadah Di Manado JUMLAH
187
NO Tempat Ibadah 39
1 Masjid 21
2 Mushola 523
3 Gereja Protestan 3
4 Gereja Katolik 18
5 Pura
6 Vihara

Sumber : Kanwil Departemen Agama Kota Manado, 2013

2. Akomodasi dan Usaha Pariwisata Lainnya
Manado memiliki amenitas akomodasi, restoran dan jenis usaha

pariwisata lainnya sebagai pendukung dalam pengembangan wisata syariah.
Amenitas dan usaha pariwisata diantaranya terdiri dari hotel, jasa makanan
dan minuman, jasa perjalanan wisata, diving, penyelenggaraan kegiatan
hiburan dan rekreasi, dan SPA. Jumlah usaha penyedia jasa akomodasi yang
meliputi hotel dan tempat menginap lainnya s.d tahun 2015 berjumlah 119
yang terdiri dari hotel dengan klasifikasi bintang lima, bintang empat,
bintang tiga dan hotel non bintang. Lebih jelas dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 5.5. Jumlah Usaha Akomodasi Kota Manado

NO KLASIFIKASI JUMLAH JUMLAH KAMAR

1 Hotel Bintang 5 3 561

2 Hotel Bintang 4 6 838

3 Hotel Bintang 3 8 483

4 Hotel Bintang 2 --

5 Hotel Bintang 1 --

6 Hotel Non Bintang 102 2.221

7 Penginapan Remaja --

8 Pondok Wisata --

TOTAL 119 4.103

Sumber: BPS Kota Manado, 2015

Untuk usaha jasa penyedia makanan dan minuman, pada tahun 2015
sebanyak 417 unit usaha yang terdiri dari restoran sebanyak 114 unit dan

- 109 -

rumah makan sebanyak 303 unit. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 5.6. Jumlah Usaha Restoran dan Rumah Makan Kota Manado

NO KLASIFIKASI JUMLAH

1 Restoran 114

2 Rumah Makan 303

TOTAL 417

Sumber: Dinas Pariwisata Kota manado, 2015

Selain hotel dan restoran juga terdapat usaha pariwisata lainnya di Kota
Manado, yang meliputi usaha hiburan, karaoke, jasa perjalanan wisata
(BPW), operator diving dan SPA dan pijat. Lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel berikut:

Tabel 5.7. Jumlah Usaha Pariwisata Lainnya

NO KLASIFIKASI JUMLAH

1 Hiburan 22

2 Karaoke 13

3 Jasa Perjalanan Wisata 157

4 Diving 22

5 Spa dan Pijat 81

Sumber: Dinas Pariwisata Kota manado, 2015

5.1.3. Potensi Aksesibilitas (Transportasi, Penerbangan, Informasi)
1. Transportasi

Hasil survei terhadap beberapa wisatawan yang berkunjung ke
Manado di Tahun 2015 menunjukkan bahwa aksesibilitas di Kota Manado
yang meliputi akses jalan menuju daya tarik wisata dinilai baik. Akses jalan di
Kota Manado terbagi menjadi tiga ketegori yaitu jalan negara, jalan provinsi
dan jalan kota. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.8. Panjang Jalan Menurut Pemerintahan yang Berwenang

NO STATUS JALAN PANJANG JALAN

1 Jalan Negara 46.40

2 Jalan Provinsi 40.4

3 Jalan Kota 540.68

Total 626.489

Sumber: BPS Kota Manado, 2014

- 110 -

Sarana transportasi dalam Kota Manado cukup lengkap dengan tersedianya
angkutan umum seperti angkot dan taksi. Taksi merupakan salah satu jenis
angkutan umum yang menjadi pilihan wisatawan untuk mobilitas selama
kunjungan di Kota Manado. Beberapa armada taksi yang beroperasi di
Mando dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.9. Banyaknya Angkutan Taksi Beroperasi di Manado
Sekitarnya Tahun 2014

No Nama taksi Jumlah unit

1 Blue Bird 250

2 Celebrity 46

3 Kokapura 48

4 Dian Taxi 51

Total 395

Sumber: BPS Kota Manado, 2015

2. Penerbangan
Maskapai domestik yang melakukan penerbangan dari dan ke Manado

adalah Garuda Indonesia, Lion air, Citilink, Batik air, Wing Air dan Sriwijaya
air. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.10. Penerbangan Domestik dari dan ke Manado

NO MASKAPAI RUTE

1 Garuda Indonesia Jakarta-manado, Makassar-Manado, Bali-Manado,

Ternate-Manado, Balikpapan-Manado

2 Citilink Jakarta-Manado, Makassar-Manado,

3 Lion Air Jakarta-Manado, Makassar-Manado, Denpasar-Manado,

Ternate-Manado, Balikpapan-Manado

4 Batik Air Jakarta-Manado

5 Sriwijaya Air Jakarta-Manado, Denpasar-Manado, Ternate-

ManadoBalikpapan-Manado

6 Wings Air Makassar-Manado, Ternate-Manado

Sumber: Diolah Dari Berbagai Sumber

5.1.4. Potensi Market Wisatawan (Jumlah Kunjungan Wisman Dan
Wisnus 3 – 5 Tahun Terakhir)

Kunjungan wisman dan wisnus ke Kota Manado periode 2010 – 2014
mengalami pertumbuhan yang cukup fluktuatif. Untuk angka kunjungan
wisman mengalami lonjakan sebesar 206,36% pada tahun 2011. Tetapi
trend-nya terus menurun s.d tahun 2014 dengan rata-rata pertumbuhan
sebesar 56,54%. Kunjungan wisnus mengalami lonjakan tertinggi pada tahun

- 111 -

2012 sebesar 22,31% tetapi trend-nya juga terus menurun dengan rata-rata
pertumbuhan 6,97%.

Tabel 5.11. Pertumbuhan Wisman dan Wisnus Kota Manado

TAHUN WISMAN PERT (%) WISNUS PERT (%)

2010 13,678 537,237

2011 41,904 206.36 510,493 -4.98

2012 50,120 19.61 624,387 22.31

2013 50,197 0.15 682,231 9.26

2014 50,210 0.03 691,120 1.30

Sumber: BPS Kota Manado, 2015 (diolah)

Kunjungan wisman ke Manado melalui pintu masuk Bandara Sam Ratulangi
selama periode 2010 – 2014 terus menunjukkan trend menurun dengan rata-
rata pertumbuhan sebesar -3,64%. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 5.12. Kunjungan Wisman Melalui Bandara Sam Ratulangi

TAHUN JUMLAH KUNJUNGAN PERTUMBUHAN (%)

2010 20,220

2011 20,074 -0.72

2012 19,111 -4.80

2013 19,917 4.22

2014 17,279 -13.24

Sumber: Kemenpar, 2015 (diolah)

5.1.5. Dampak Pariwisata (terhadap PAD/tenaga kerja/masyarakat)
1. Sumbangan Pariwisata Terhadap PDRB Kota Manado

Secara spesifik terdapat kesulitan untuk menghitung berapa besar
sumbangan sektor pariwisata terhadap PDRB Kota Manado. Hal ini
disebabkan belum terincinya bidang-bidang usaha pariwisata dalam
perhitungan PDRB di Kota Manado. Data yang terdapat pada BPS Kota
Manado hanya menghitung PDRB dari usaha rumah makan dan jasa
akomodasi. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

- 112 -

Tabel 5.13. PDRB Penyedia Akomodasi dan makan Minum Atas Dasar
Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Kota Manado Tahun

2012 – 2014

NO USAHA 2012 TAHUN 2014
717.228,2 213 929.934,5
1 Penyedia Akomodasi 235.590,9 284.133,0
2 Penyediaan Makan Minum 952.819,1 806.171,7 1.214.067,5
249.558,9
Total 1.055.730,5
Sumber: BPS Kota Manado, 2015

2. Tenaga Kerja
Menurut tabel penduduk Kota Manado berumur 15 tahun keatas yang
bekerja menurut jenis kelamin dan lapangan kerja, usaha rumah makan dan
jasa akomodasi ketika digabung dengan perdagangan menyumbang sebesar
59.686 tenaga kerja. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan dengan
sektor-sektor usaha lainnya seperti pertanian, pertambangan, listrik dan
konstruksi. Lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.14. Penduduk Kota Manado Berumur 15 Tahun Keatas Yang Bekerja
Menurut Jenis Kelamin dan Lapangan Pekerjaan Utama Tahun
2014

No Uraian Jenis Kelamin Jumlah

Laki-Laki Perempuan

(1) (2) (3) (4) (5)

1 Pertanian, Perkebunan, 5.218 765 8.983

kehutanan, Perburuan dan

Perikanan

2 Pertambangan dan - --

Penggalian

3 Industri 5.362 1.930 7.292

4 Listrik Gas, Air - --

5 Konstruksi 18.263 - 18.263

6 Perdagangan, Rumah 27.784 31.985 59.686
Makan dan Jasa Akomodasi

7 Transportasi, Pergudangan 18.559 1.615 20.174

dan Komunikasi

8 Keuangan, Real Estate, 7.837 2.084 9.921
Persewaan&Jasa Perusahaan

9 Jasa Kemasyarakatan, 24.975 22.045 47.020

Sosial&Perorangan

Sumber: BPS Kota Manado, 2015

Ketika dihitung per jenis usaha pariwisata seperti hotel, restoran, rumah
makan, hiburan, karaoke, jasa perjalanan wisata, dining/wisata tirta, dan SPA
dan pijat jumlah tenaga kerja sebanyak 5.394 orang. Rinciannya dapat dilihat
pada tabel berikut:

- 113 -

Tabel 5.15. Jumlah Tenaga Kerja Bidang Pariwisata Kota Manado

No Usaha Jumlah

1 Hotel 2.687

2 Restoran 559

3 Rumah Makan 774

4 Hiburan -

5 Karaoke 230

6 Jasa Perjalanan Wisata 568

7 Diving/Wisata Tirta 57

8 SPA dan Pijat 519

Total 5.394

Sumber: BPS dan Dinas Pariwisata Kota Manado, 2015

5.1.6. Kebijakan Pemerintah Daerah Manado Terkait Pariwisata
Kebijakan daerah yang terkait dengan pengembangan kepariwisataan

di Manado merujuk pada Peraturan Daerah (PERDA) yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Provinsi (pemprov) Sulawesi Utara. Ada beberapa PERDA terkait
Pariwisata, yaitu PERDA tentang Kawasan Bunaken, dan PERDA mengenai
Rencana Tata Ruang Provinsi Sulawesi Utara. Pada tahun 2000, Pemprov
Sulawesi Utara megeluarkan Peraturan Daerah Nomor 14 tahun 2000
tentang Pungutan Masuk Pada Kawasan Taman Nasional Bunaken. Peraturan
ini bertujuan untuk menghasilkan pendapatan asli daerah dengan membuat
pungutan masuk Taman Nasional Bunaken bagi para wisatawan baik
domestik mau mancanegara.

Selanjutnya pada tahun 2014 Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara
membuat peraturan Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2014-2034. Salah satu tujuan tata
ruang dalam peraturan ini adalah meningkatkan potensi, sumber daya,
aksesibilitas pemasaran produksi dan kualitas sumberdaya manusia di
bidang kelautan, perikanan, pariwisata dan pertanian. Dengan
dikeluarkannya PERDA tersebut, pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sangat
memperhatikan kepariwisataan dengan membuat fasilitas dan tata ruang
guna menunjang kepariwisataan di Provinsi Sulawesi Utara.
(https://www.pu.go.id).

- 114 -

5.2 Hasil Penelitian Manado
Pengumpulan data Penelitian Kajian Pengembangan Wisata Syariah di

Manado dilakukan dengan tiga cara yaitu survei atau pengumpulan data
dengan kuesioner, Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara. Survei
dengan penyebaran kuesioner dilaksanakan terhadap 100 responden yang
terdiri dari wisatawan nusantara (wisnus) yang berkunjung ke Manado dari
tanggal 28 Oktober s.d 1 November 2015. Survei dilaksanakan di beberapa
daya Tarik wisata di Kota Manado seperti: Pantai Paal, Pantai Batu Nona,
Pantai Malalayang, Pelabuhan Bunaken, Gunung Kakewang, Bukit kasih, dan
tempat penjualan souvenir di Kota Manado.
5.2.1 Profil Demografi/Sosio Ekonomi Responden

Gambar 5.4. Kebangsaan Responden (N=100)

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Dari aspek kebangsaan (nationality), seluruh responden berkebangsaaan
Indonesia.

- 115 -

Gambar 5.5. Asal Responden

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Dari aspek domisili (asal responden) cukup beragam. Hasil survei
menunjukkan responden berasal dari 23 provinsi di Indonesia. Lima provinsi
berasal dari Pulau Jawa, lima provinsi berasal dari Pulau Sulawesi, provinsi
lainnya berasal dari Pulau Kalimantan, Sumatera, Maluku dan Papua. Lima
besar berasal dari DKI Jakarta dengan 22%, disusul Sulawesi Selatan dengan
12%, Jawa Timur dengan 9%, Sulawesi Tengah dan D.I Yogyakarta masing-
masing menyumbang sebanyak 8%.

- 116 -

Untuk variabel jenis kelamin, didominasi laki-laki sebesar 57% dan
perempuan sebesar 43%.

Gambar 5.6. Usia dan Jenis
Kelamin Responden (N=100)

Sumber: Hasil penelitian, 2015

Usia responden cukup beragam. 33% berusia antara 26-35 tahun, 24%
responden berusia 36-45 tahun, 18% responden berusia 15-25 tahun, 10%
berusia 46-55 tahun, 7% berusia 56-65 tahun dan 8% responden tidak
memberikan jawaban.

Gambar 5.7. Tingkat Pendidikan Responden (N=100)

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Hasil survei menunjukkan 44% responden berpendidikan sarjana (S1), 40
responden berpendidikan SMA, 3% responden berpendidikan master (S2)
dan 12% responden tidak menjawab.

- 117 -

Gambar 5.8. Pekerjaan Utama Responden (N=100)

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Pekerjaan utama responden cukup beragam. 33% responden merupakan
PNS, 30% merupakan pelajar/mahasiswa, professional/swasta sebanyak
25%, ibu rumah tangga 6%, TNI/POLRI sebanyak 4% dan pensiunan
sebesar 2%. Besarnya jumlah responden yang berprofesi PNS berkaitan
erat dengan berlaku efektifnya APBN 2015 mulai pertengahan tahun 2015.
Hal tersebut membuat aktivitas MICE terutama untuk meeting yang
melibatkan stakeholder di bidang pariwisata. Manado merupakan salah satu
kota di Indonesia, khususnya di Sulawesi Utara yang banyak memiliki venue
MICE yang cukup representatif, sehingga dipilih sebagai lokasi kegiatan.

5.2.2 Persepsi Wisatawan Terhadap Kesiapan Destinasi Wisata Syariah
di Manado

1. Daya Tarik Wisata Manado
Enam pertanyaan untuk menguji kesiapan tarik wisata Manado sebagai

destinasi wisata syariah dari persepsi wisatawan yang berkunjung.
Pertanyaannya sebagai berikut:
Apakah Manado memiliki daya tari wisata:
a. Yang meliputi wisata alam, wisata budaya dan wisata buatan.
b. Berbagai produk seperti wisata belanja, kuliner, sightseeing, atraksi

budaya dll.
c. Makanan dan minuman halal di destinasi wisata mudah diperoleh.
d. Pertunjukan seni budaya yang diselenggarakan tidak bertentangan dengan

kaidah syariah.
e. Yang menyediakan tempat ibadah layak dan suci dan dilengkapi dengan

sarana bersuci memadai di destinasi wisata.

- 118 -

f. Sanitasi dan kebersihan lingkungan di destinasi wisata terjaga dengan
baik.

Hasil survei sebagai berikut:
a. Manado memiliki DTW meliputi wisata alam, wisata budaya dan

wisata buatan
Untuk pertanyaan pertama distribusi frekuensi jawaban responden

seperti pada gambar berikut:

Gambar 5.9. Persepsi Terhadap Jenis DTW

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

70% responden menjawab baik, 15% menjawab sangat baik dan 15%
sisanya menjawab netral. Skoring jawaban pada pertanyaan pertama
dengan menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 400. Jadi untuk
pertanyaan pertama berada pada kategori baik. Skor bisa dilihat pada
gambar berikut:

Gambar 5.10. Skor Persepsi Terhadap DTW

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 119 -

b. Manado Memiliki Berbagai Produk Wisata Belanja, Kuliner,
Sightseeing, Atraksi Budaya
Untuk pertanyaan kedua berkaitan dengan atraksi wisata di Manado,

distribusi frekuensi jawaban responden seperti pada gambar berikut:

Gambar 5.11. Persepsi Terhadap Atraksi/Produk WIsata Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

77% responden menjawab baik, 7% menjawab sangat baik dan 7%
menjawab netral. Skoring jawaban pada pertanyaan kedua dengan
menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 391. Jadi untuk pertanyaan
kedua berada pada kategori baik. Skor bisa dilihat pada gambar berikut:

Gambar 5.12. Skor Terhadap Atraksi/Produk WIsata

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

c. Makanan dan Minuman Halal di Destinasi Wisata Mudah Diperoleh
- 120 -

Untuk pertanyaan ketiga berkaitan dengan ketersediaan makanan
halal di destinasi wisata, distribusi frekuensi jawaban responden sebagai
berikut:

Gambar 5.13. Persepsi Terhadap Kemudahan Memperoleh Makanan dan
Minuman Halal di Destinasi Wisata

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

67% responden menjawab baik, 23% menjawab netral, 6% menjawab tidak
baik dan 4% manjawab sangat baik. Skoring jawaban pada pertanyaan kedua
dengan menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 369. Jadi untuk
pertanyaan kedua berada pada kategori baik. Skor bisa dilihat gambar
berikut:

Gambar 5.14. Skor Persepsi Terhadap Kemudahan Memperoleh Makanan
dan Minuman Halal di Destinasi Wisata

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 121 -

d. Pertunjukan seni budaya yang diselenggarakan tidak bertentangan
dengan kaidah syariah
Pertanyaan keempat berkaitan dengan seni dan budaya yang

dipertontonkan. Distribusi frekuensi jawaban responden seperti pada
gambar berikut:

Gambar 5.15. Persepsi Terhadap Pertunjukan Seni Budaya di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

52% menjawab baik, 43% menjawab netral dan 5% menjawab sangat baik.
Skoring jawaban pada pertanyaan keempat dengan menggunakan skala
Likert menghasilkan nilai 362. Jadi untuk pertanyaan kedua berada pada
kategori baik. Skor dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 5.16. Skor Persepsi Terhadap Pertunjukan Seni Budaya di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 122 -

e. Manado memiliki DTW yang menyediakan tempat ibadah layak dan
suci dan dilengkapi dengan sarana bersuci yang memadai di
destinasi wisata
Pertanyaan kelima berkaitan dengan ketersediaan tempat ibadah yang

layak di daya tarik wisata. Distribusi frekuensi jawaban responden seperti
pada gambar berikut:

Gambar 5.17. Persepsi Terhadap Ketersediaan Tempat Ibadah di DTW

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

68% responden menjawab baik, 18% menjawab netral, 10% menjawab tidak
baik dan 4% menjawab sangat baik. Skoring jawaban pada pertanyaan
kelima dengan menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 366, atau
berada berada pada kategori baik. Skor dapat dilihat pada gambar berikut:

Manado memiliki DTW yang menyediakan tempat ibadah layak
dan suci dan dilengkapi dengan sarana bersuci yang memadai di

destinasi wisata

SKOR 366

100 180 260 340 420 500

Gambar 5.18. Skor Persepsi Terhadap Ketersediaan Tempat Ibadah di DTW

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 123 -

f. Sanitasi dan kebersihan lingkungan di destinasi wisata terjaga
dengan baik
Pertanyaan keenam berkaitan dengan sanitasi pada destinasi wisata di

Manado. Distribusi frekuensi jawaban responden seperti pada gambar
berikut:

Gambar 5.19. Persepsi Terhadap Sanitasi DTW

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

75% responden menjawab baik, 21% manjawab netral, 3% menjawab sangat
baik dan 1% menjawab tidak baik. Skoring jawaban pada pertanyaan kelima
dengan menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 380, atau berada berada
pada kategori baik.

Sanitasi dan kebersihan lingkungan di destinasi wisata terjaga
dengan baik

SKOR 380

100 180 260 340 420 500

Gambar 5.20. Skor Persepsi Terhadap Sanitasi DTW

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Distribusi frekuensi jawaban untuk kelompok pertanyaan yang berkaitan
dengan daya tarik wisata di Manado: Jawaban baik sebanyak 68%, netral

- 124 -

sebanyak 23%, sangat baik sebanyak 6%, tidak baik 3% dan sangat tidak baik
0%.

Gambar 5.21. Akumulasi Persepsi Terhadap DTW Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Skoring dengan menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 2286, atau
berada berada pada kategori baik.

Gambar 5.22. Skor Akumulasi Persepsi Terhadap DTW Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Nilai yang tinggi untuk kategori baik (2268) menunjukkan bahwa dari
persepsi wisatawan yang berkunjung ke Kota Manado, sebagian besar
menilai Manado dari aspek daya tarik wisata siap menjadi destinasi wisata
syariah atau tujuan bagi wisatawan yang beragama Islam (muslim). Jika
dilihat dari aspek demografi responden yang 44% diantaranya

- 125 -

berpendidikan sarjana (S1), maka jawaban yang diberikan cukup rasional
meski hanya pada tataran persepsi. Hal ini bisa dimaklumi karena bagi
sebagian masyarakat muslim yang berwisata belum memahami sepenuhnya
mengenai konsep wisata syariah. Bagi sebagian responden, ketika pada suatu
destinasi atau daya tarik wisata terdapat tempat ibadah (mushola) mereka
menganggap bahwa destinasi tersebut telah memenuhi kriteria wisata
syariah, terlepas dari kondisinya layak atau tidak. Padahal konsep wisata
syariah tidak sesederhana itu. Kelayakan tempat ibadah dapat dinilai dari
kebersihannya dan harus dilengkapi dengan ketersediaan air yang cukup
sebagai sarana bersuci (ablution).

Dalam hukum Islam, status wisatawan yang melakukan perjalanan
(traveling) dapat dikategorikan sebagai musafir. Hal ini memudahkan mereka
dalam melaksanakan ibadah (sholat), karena boleh menjamak atau
menggabungkan 2 waktu sholat dalam satu waktu dan bahkan boleh
meringkas (qasar) jumlah rekaatnya. Sehingga jika di lokasi wisata tidak
terdapat tempat ibadah yang dilengkapi dengan sarana bersuci yang layak,
mereka bisa menunda terlebih dahulu sampai tiba kembali di hotel atau
penginapan. Hal ini membuat persyaratan adanya tempat ibadah di daya
tarik wisata menjadi standar minimal dalam persepsi wisatawan. Ketika
sudah terpenuhi secara fisik akan dianggap baik dan destinasi tersebut sudah
memenuhi kriteria syariah.

.
2. Akomodasi Wisata Syariah di Manado

Untuk kategori akomodasi wisata syariah terdapat 5 pertanyaan.
a. Tersedia tempat ibadah yang layak di hotel dan tempat menginap lainnya.
b. Tersedia sarana bersuci yang layak di hotel dan tempat menginap lainnya.
c. Tersedia makanan dan minuman yang halal di hotel dan tempat menginap

lainnya.
d. Suasana hotel aman, nyaman dan kondusif untuk keluarga dan keperluan

bisnis.
e. Sanitasi dan kebersihan lingkungan hotel terjaga dengan baik.

Hasil survei sebagai berikut:
a. Tersedia tempat ibadah yang layak di hotel dan tempat menginap

lainnya
Pertanyaan pertama berkaitan dengan ketersediaan pada destinasi

wisata di Manado. Distribusi frekuensi jawaban responden seperti pada
gambar berikut:

- 126 -

Gambar 5.23. Persepsi Terhadap Ketersediaan Tempat Ibadah di Hotel

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

75% responden menjawab baik, 14% responden menjawab netral dan 11%
menjawab sangat baik. Skoring jawaban pada pertanyaan pertama dengan
menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 397, atau berada berada pada
kategori baik.

Gambar 5.24. Skor Persepsi Terhadap Ketersediaan
Tempat Ibadah di Hotel

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 127 -

b. Tersedia Sarana Bersuci Yang Layak di Hotel dan Tempat Menginap
Lainnya

Gambar 5.25. Skor Persepsi Terhadap Kelayakan Sarana Bersuci di Hotel

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

81% responden menjawab baik, 10% responden menjawab sangat baik, 8%
responden menjawab netral dan 1% yang menjawab tidak baik. Skoring
jawaban pada pertanyaan pertama dengan menggunakan skala Likert
menghasilkan nilai 400, atau berada berada pada kategori baik.

Gambar 5.26. Skor Persepsi Terhadap Kelayakan Sarana Bersuci di Hotel

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

c. Tersedia makanan dan minuman yang halal di hotel dan tempat
menginap lainnya.
- 128 -

Pertanyaan ketiga berkaitan dengan ketersediaan makanan dan
minuman halal di akomodasi di Manado. Distribusi frekuensi jawaban
responden seperti pada gambar berikut:

Gambar 5.27. Persepsi Terhadap Ketersediaan Makanan Halal di Hotel

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

82% responden menjawab baik, 9% responden menjawab sangat baik, 7%
responden menjawab netral, dan 2% menjawab tidak baik. Skoring jawaban
pada pertanyaan pertama dengan menggunakan skala Likert menghasilkan
nilai 398, atau berada berada pada kategori baik.

Gambar 5.28. Skor Persepsi Terhadap Ketersediaan
Makanan Halal di Hotel

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 129 -

d. Suasana hotel aman, nyaman dan kondusif untuk keluarga dan
keperluan bisnis
Pertanyaan ketiga berkaitan dengan suasanan hotel atau tempat

menginap lainnya di Manado. Distribusi frekuensi jawaban responden seperti
pada gambar berikut:

Gambar 5.29. Persepsi Terhadap Suasana Hotel di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

81% responden menjawab baik, 12% responden menjawab sangat baik dan
7% responden menjawab netral. Skoring jawaban pada pertanyaan ketiga
dengan menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 405, atau berada
berada pada kategori baik.

Gambar 5.30. Skor Persepsi Terhadap Suasana Hotel di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 130 -

e. Sanitasi dan kebersihan lingkungan hotel terjaga dengan baik
Pertanyaan ketiga berkaitan dengan sanitasi (kebersihan) hotel atau

tempat menginap lainnya di Manado. Distribusi frekuensi jawaban
responden seperti pada gambar berikut:

Gambar 5.31. Persepsi Terhadap Sanitasi Hotel di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

82% responden menjawab baik, 12% menjawab sangat baik dan 5%
menjawab netral. Skoring jawaban pada pertanyaan ketiga dengan
menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 408, atau berada berada pada
kategori baik.

Gambar 5.32. Skor Persepsi Terhadap Sanitasi Hotel di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 131 -

Secara kumulatif distribusi frekuensi jawaban responden untuk kelompok
pertanyaan yang berkaitan dengan akomodasi syariah di Kota Manado
seperti pada gambar berikut:

Gambar 5.33. Akumulasi Persepsi Terhadap Akomodasi di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Jawaban baik sebesar 80%, sangat baik 11%, netral 8% tidak baik 1% dan
sangat tidak baik 0%. Skoring dengan menggunakan skala Likert
menghasilkan nilai 2008, atau berada berada pada kategori baik.

Gambar 5.34. Skor Persepsi Terhadap Akomodasi di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Hal tersebut menunjukkan bahwa menurut persepsi responden, usaha
penyedia jasa akomodasi dalam hal ini hotel telah siap menjadi
penyelenggara wisata syariah di Kota Manado. Seperti halnya pada kelompok
pertanyaan pertama mengenai DTW, responden juga belum memahami

- 132 -

kriteria hotel yang sesuai dengan wisata syariah. Atau jawaban dalam
kategori baik tersebut merupakan bentuk dukungan wisatawan terhadap
pengembangan hotel di Kota Manado menjadi hotel yang menerapkan
prinsip-prinsip syariah. Hasil FGD, observasi dan wawancara menunjukkan
bahwa belum ada hotel di Manado yang mempunyai status syariah baik hilal
satu maupun hilal dua. Bahkan belum ada restoran hotel di Manado yang
mendapatkan sertifikasi halal dari MUI.
3. Usaha Penyedia Makanan dan Minuman di Manado

Untuk variable yang berkaitan dengan restoran atau usaha penyediaan
makanan dan minuman terdapat 2 pertanyaan sebagai berikut:
c. Terdapat Restoran yang menyediakan makanan dan minuman yang

terjamin kehalalannya dengan sertifikasi halal dari MUI.
d. Sanitasi dan kebersihan lingkungan restoran dan penyedia jasa makanan

dan minuman terjaga dengan baik.
Hasil survei sebagai berikut:
a. Terdapat restoran yang menyediakan makanan dan minuman yang

terjamin kehalalannya dengan sertifikasi halal dari MUI
Pertanyaan pertama berkaitan dengan ketersediaan restoran dengan

serttifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Distribusi frekuensi
jawaban responden seperti pada gambar berikut:

Gambar 5.35. Persepsi Terhadap Ketersediaan Restoran Halal di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

62% responden menjawab netral, 27% responden menjawab siap, 7%
responden menjawab sangat tidak siap, 2% responden menjawab sangat siap

- 133 -

dan 2% menjawab tidak siap. Skoring dengan menggunakan skala Likert
menghasilkan nilai 315, atau berada berada pada kategori netral.

Gambar 5.36. Skor Persepsi Terhadap Ketersediaan Restoran Halal di
Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

b. Sanitasi dan kebersihan lingkungan restoran dan penyedia jasa
makanan dan minuman terjaga dengan baik
Pertanyaan kedua untuk menguji kesiapan restoran dari aspek sanitasi

atau kebersihan. Distribusi frekuensi jawaban responden seperti pada
gambar berikut:

Gambar 5.37. Persepsi Terhadap Sanitasi Restoran di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

60% responden menjawab netral, 31% responden menjawab siap, 8%
responden menjawab sangat siap, 1% responden menjawab tidak siap dan

- 134 -

0% responden menjawab sangat tidak siap. Skoring dengan menggunakan
skala Likert menghasilkan nilai 346, atau berada berada pada kategori netral.
skor bisa dilihat pada gambar berikut:

Gambar 5.38. Skor Persepsi Terhadap Sanitasi Restoran di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Secara kumulatif distribusi frekuensi jawaban responden untuk kelompok
pertanyaan yang berkaitan dengan restoran dan usaha penyedia jasa
makanan dan minuman di Kota Manado seperti pada gambar berikut:

Gambar 5.39. Persepsi Terhadap Restoran di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Jawaban netral sebesar 61%, jawaban siap sebesar 29%, jawaban sangat siap
sebesar 5%, sangat tidak siap 4% dan tidak siap 1%. Skoring dengan
menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 661, atau berada berada pada
kategori netral.

- 135 -

Gambar 5.40. Skor Persepsi Terhadap Restoran di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

4. SPA, Sauna dan Massage di Manado
Kelompok pertanyaan keempat untuk menguji kesiapan usaha SPA,

sauna dan massage di Manado. Terdapat 4 pertanyaan sebagai berikut:
a. Tersedia terapis pria untuk pelanggan pria, dan terapis wanita untuk

pelanggan wanita.
b. Praktik SPA, sauna, dan massage tidak mengandung unsur pornoaksi dan

pornografi.
c. Menggunakan bahan yang halal dan tidak terkontaminasi babi dan produk

turunannya.
d. Tersedia sarana yang memudahkan untuk beribadah di tempat SPA, sauna

dan massage.
Hasil survei sebagai berikut:
b. Tersedia terapis pria untuk pelanggan pria, dan terapis wanita untuk

pelanggan wanita
Pertanyaan pertama untuk menguji terapis pada usaha SPA atau

massage, distribusi frekuensi jawaban responden seperti pada gambar
berikut:

Gambar 5.41. Persepsi Terhadap Terapis SPA di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 136 -

52% responden menjawab netral, 19% responden menjawab sangat tidak
siap, 15% menjawab siap, 8% menjawab sangat siap dan 6% menjawab tidak
siap. Skoring dengan menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 287, atau
berada berada pada kategori netral.

Gambar 5.42. Persepsi Terhadap Terapis SPA di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

c. Praktik SPA, sauna, massage tidak mengandung unsur pornoaksi dan
pornografi
Pertanyaan kedua untuk menguji apakah praktik SPA mengandung

unsur pornografi atau pornoaksi. Distribusi jawaban responden seperti pada
gambar berikut:

Gambar 5.43. Persepsi Terhadap Praktik SPA Mengandung Unsur Pornografi
Atau Pornoaksi.

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

46% responden menjawab netral, 31% menjawab sangat tidak siap, 11%
menjawab tidak siap, 6% sangat siap, 5% siap dan 1% tidak menjawab.
Skoring jawaban dengan skal Likert menghasilkan nilai 241 atau berada pada
kategori tidak siap. Skor dapat dilihat pada gambar berikut:

- 137 -

Gambar 5.44. Skoring Persepsi Terhadap praktik SPA Mengandung Unsur
Pornografi Atau Pornoaksi.

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

d. Praktik SPA, Sauna, Massage Menggunakan Bahan Yang Halal dan
Tidak Terkontaminasi Babi dan Produk Turunannya
Pertanyaan ketiga untuk menguji bahan-bahan yang dipergunakan

dalam praktik SPA, sauna atau massage. Distribusi frekuensi jawaban
responden sebagai berikut:

Gambar 5.45. Persepsi Terhadap Praktik SPA Menggunakan Bahan Halal

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

48% responden menjawab netral, 30% menjawab siap, 7% responden
menjawab sangat siap 7% tidak siap, 7% sangat tidak siap dan 1% tidak
menjawab. Skoring jawaban dengan skal Likert menghasilkan nilai 320 atau
berada pada kategori netral.

- 138 -

Gambar 5.46. Skoring Persepsi Terhadap Praktik SPA Menggunakan
Bahan Halal

Sumber: Hasil Penelitian, 2015
e. Tersedia Sarana yang Memudahkan untuk Beribadah di Tempat SPA,

Sauna, dan Massage
Pertanyaan keempat untuk menguji ketersediaan tempat ibadah pada
tempat SPA, sauna atau massage. Distribusi jawaban responden seperti
pada gambar berikut:

Gambar 5.47. Persepsi Terhadap Ketersediaan Tempat ibadah
di Tempat SPA

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

37% responden menjawab netral, 25% menjawab tidak siap, 18% menjawab
sangat tidak siap, 12% menjawab siap, 7% menjawab sangat siap dan 1%
tidak menjawab. Skoring jawaban dengan menggunakan skala Likert
menghasilkan nilai 262 atau pada kategori netral.

- 139 -

Gambar 5.48. Skoring Persepsi Terhadap Ketersediaan Tempat ibadah di
Tempat SPA

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Secara kumulatif distribusi frekuensi jawaban responden untuk kelompok
pertanyaan yang berkaitan dengan SPA, sauna dan massage di Kota Manado
dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 5.49. Persepsi Praktik SPA di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Jawaban netral sebesar 46%, jawaban sangat tidak siap sebesar 19%,
jawaban siap sebesar 15%, tidak siap 12%, sangat siap 7% dan tidak
menjawab 1%. Skoring dengan menggunakan skala Likert menghasilkan nilai
1110, atau berada berada pada kategori netral.

Gambar 5.50. Total Skoring Persepsi Praktik SPA di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 140 -

5. Biro Perjalanan Wisata Syariah di Manado
Kelompok pertanyaan kelima untuk menguji kesiapan Biro Perjalanan

Wisata di Manado. Terdapat tiga pertanyaan sebagai berikut:
d. Menyediakan paket wisata yang sesuai dengan kriteria pariwisata syariah.
e. Memiliki daftar akomodasi yang sesuai dengan panduan umum akomodasi

pariwisata syariah.
f. Memiliki daftar usaha penyedia makanan dan minuman yang sesuai

dengan panduan umum usaha penyedia makanan dan minuman
pariwisata syariah.
Hasil survei sebagai berikut:
a. Menyediakan Paket Wisata yang Sesuai Dengan Kriteria Pariwisata
Syariah
Pertanyaan pertama untuk menguji ketersediaan paket wisata syariah.
Distribusi frekuensi jawaban responden sebagai berikut:

Gambar 5.51. Persepsi Terhadap Paket Wisata Yang Sesuai Dengan Kriteria
Pariwisata Syariah

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

38% responden menjawab siap, 34% menjawab netral, 15% menjawab tidak
siap, 11% menjawab sangat tidak siap, 1% menjawab sangat siap dan 1%
menjawab tidak menjawab. Skoring jawaban dengan menggunakan skala
Likert menghasilkan nilai 300 atau pada ketegori netral.

Gambar 5.52. Skoring Persepsi Terhadap Paket Wisata Yang Sesuai Dengan
Kriteria Pariwisata Syariah

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 141 -

b. Perjalanan Wisata Syariah: Memiliki Daftar Akomodasi yang Sesuai
Dengan Panduan Umum Akomodasi Pariwisata Syariah
Pertanyaan kedua berkaitan dengan daftar akomodasi syariah.

Distribusi frekuensi jawaban responden sebagai berikut:

Gambar 5.53. Persepsi Terhadap Ketersediaan Daftar Akomodasi
Pariwisata syariah

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

41% responden menjawab siap, 37% menjawab netral, 13% menjawab tidak
siap, 8% menjawab sangat tidak siap dan 1% tidak menjawab. Skoring
jawaban dengan menggunakan skala Likert menghasilkan nilai 300 atau pada
ketegori netral.

Gambar 5.54. Skoring Persepsi Terhadap Ketersediaan Daftar Akomodasi
Pariwisata syariah

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

c. Memiliki Daftar Usaha Penyedia Makanan dan Minuman yang Sesuai
Dengan Panduan Umum Usaha Penyedia Makanan dan Minuman
Pariwisata Syariah
Pertanyaan ketiga berkaitan dengan daftar usaha penyedia makanan

dan minuman. Distribusi frekuensi jawaban responden seperti pada gambar
berikut:

- 142 -

Gambar 5.55. Persepsi Terhadap Ketersediaan Daftar Penyedian Makanan
dan Minuman Halal di BPW

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

47% responden menjawab siap, 41% menjawab netral, 5% menjawab tidak
siap, 5% menjawab sangat tidak siap, 1% menjawab sangat siap dan 1%
tidak menjawab. Skoring dengan menggunakan skala Likert menghasilkan
nilai 332 atau pada kategori netral.

Gambar 5.56. Skoring Persepsi Terhadap Ketersediaan Daftar Penyedian
Makanan dan Minuman Halal di BPW

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Secara kumulatif distribusi frekuensi jawaban responden untuk kelompok
pertanyaan yang berkaitan BPW di Kota Manado seperti pada gambar
berikut:

Gambar 5.57. Persepsi BPW di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 143 -

Jawaban siap sebesar 42%, netral 37%, tidak siap 11%, sangat tidak siap 8%,
sangat siap 1% dan tidak menjawab 1%. Skoring dengan menggunakan skala
Likert menghasilkan nilai 941 atau pada kategori netral.

Gambar 5.58. Total Skoring Persepsi Terhadap BPW di Manado

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

6. Pramuwisata
Kelompok pertanyaan keenam untuk menguji kesiapan pramuwisata

Kota Manado dengan 4 pertanyaan sebagai berikut:
e. Memahami dan mampu melaksanakan nilai-nilai syariah dalam

menjalankan tugas.
f. Berakhlak baik, komunikatif, ramah, jujur dan bertanggung jawab.
g. Berpenampilan sopan dan menarik sesuai dengan nilai etika Islam.
h. Memiliki kompetensi kerja sesuai dengan standar profesi yang berlaku.
Hasil survei sebagai berikut:
a. Pramuwisata Syariah memahami dan mampu melaksanakan nilai-

nilai syariah dalam menjalankan tugas.
Pertanyaan pertama untuk menguji pemahaman pramuwisata terhadap

nilai-nilai syariah. Distribusi frekuensi jawaban responden seperi pada
gambar berikut:

Gambar 5.59. Persepsi Terhadap Pemahaman Pramuwisata Terhadap Nilai-
Nilai Syariah.

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

- 144 -


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Demo
Next Book
_OceanofPDF.com_Love_Her_Wild__Poems_-_Atticus