i Computational Thinking (CT) salah satu mata kuliah yang mengajarkan tentang proses berpikir dalam pemecahan masalah (problem solving). Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja mahasiswa dari pengalaman belajarnya selama periode waktu tertentu. Dalam mata kuliah Computational Thinking, portofolio yang dihasilkan adalah kumpulan hasil belajar selama satu semester untuk menggambarkan learning progression mahasiswa. Artefak pembelajaran yang sudah dihasilkan kemudian di kumpulkan dan direstrukturisasi menjadi sebuah portofolio. Dalam mata kuliah Computational Thinking ini, objek-objek yang disusun adalah kumpulan artefak yang telah dibuat semenjak awal perkuliahan sampai dengan akhir perkuliahan dalam waktu satu semester. Tujuan dari restrukturisasi ini adalah mahasiswa melakukan refleksi mengenai perkembangan diri selama proses belajar dalam mata kuliah Computational Thinking. Bentuk dari restrukturisasi portofolio ini adalah laporan akhir yang berisi kumpulan artefak pembelajaran yang sudah direstrukturisasi (disusun dan diperbaiki) serta lampiran infografis sebagai abstraksi dari seluruh isi laporan. Pada laporan akhir memuat kumpulan artefak atau hasil belajar mata kuliah Computational Thinking mulai dari Topik 1 Pendalaman Pemahaman Computational Thinking, Topik 2 CT dalam Kurikulum, Topik 3 CT dalam Problem Solving, Topik 4 Ujian Tengah Semester, Topik 5 CT dan Proyek, serta Topik 6 Integrasi CT dalam Mata Pelajaran. Di dalam 6 topik tersebut, terdapat kumpulan artefak atau hasil belajar mahasiswapada setiap masing-masing topik yang terdiri dari kegiatan Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi, dan Aksi Nyata. Lampiran infografis berisi gambar visualisasi tentang isi laporan dari topik 1, topik 2, topik 3, topik 4, topik 5, dan topik 6 mata kuliah Computational Thinking. Kata Kunci: Computational Thinking,Portofolio, Restrukturisasi. dan Infografis ABSTRAK i
ii Abstrak ............................................................................................................................. i Daftar Isi........................................................................................................................... ii Pendahuluan..................................................................................................................... 1 Infografis........................................................................................................................... 3 Topik 1 Pendalaman Pemahaman Computational Thinking........................................ 5 Topik 2 CT dalam Kurikulum........................................................................................ 14 Topik 3 CT dalam Problem Solving ............................................................................... 27 Subtopik 1 .................................................................................................................... 27 Subtopik 2 .................................................................................................................... 38 Subtopik 3 .................................................................................................................... 63 Ujian Tengah Semester ..................................................................................................... 67 Topik 4 CT dan Proyek..................................................................................................... 79 Topik 5 Integrasi CT dalam Mata Pelajaran ................................................................. 95 Post-Restrukturisasi Portofolio ....................................................................................... 126 Penutup.............................................................................................................................. 130 DAFTAR ISI ii
1 Computational Thinking atau yang disingkat dengan CT adalah proses berpikir dalam memformulasikan persoalan dan berstrategi dalam memilih solusi yang paling efektif, efisien, optimal untuk dikerjakan oleh agen pemroses informasi. Agen informasi ini dapat berupa manusia atau komputer (perangkat keras, perangkat lunak atau kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak). Saat ini, CT yang dinyatakan sebagai literasi baru abad ke-21 yangdi Indonesia diimplementasikan dalam Kurikulum Merdeka. Dasar dari CT adalah berbagai konsep dalam bidang. Berkembangnya ilmu Informatika berdampak pada semakin banyaknya persoalan yang dapat diselesaikan dengan bantuan komputer. Komputer terlihat pintar karena dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan. Kepintaran komputer ini sebenarnya disebabkan karena adanya para computer scientist yang bekerja di belakang layar. Computer scientist bekerja sedemikian rupa sehingga komputer dapat menyelesaikan berbagai persoalan dengan efektif, efisien, dan optimal. Pola pikir computer scientist inilah yang mendasari CT. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa CT itu bukan mengajarkan manusia berpikir seperti komputer karena computer scientist adalah seorang manusia yang terus berlatih menyelesaikan berbagai persoalan. Computational Thinking adalah proses berpikir yang hasilnya tidak selalu berakhir dengan membuat program komputer. Computational Thinking (CT) merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah (problem solving). Computational thinking mencoba pemecahan masalah dari sudut pandang komputasi. Pemikiran komputasi adalah proses berpikir yang memanfaatkan unsur-unsur dekomposisi, pengenalan pola, abastraksi dan algoritma dalam mengembangkan solusi dari permasalahan yang ditemukan. Dekomposisi merupakan keterampilan memecahkan masalah kompleks menjadi masalah yang lebih sederhana. Pengenalan Pola adalah pengamatan atau analisis terhadap berbagai kesamaan yang ada di antara persoalan-persoalan. Jika seseorang telah berkalikali menyelesaikan persoalan, diharapkan dapat menemukan pola dari persoalan-persoalan sejenis dan juga pola dari solusi-solusi yang dirancang/diimplementasikan. Abstraksi adalah proses eliminasi bagian-bagian yang tidak relevan dari suatu persoalan. Dengan abstraksi, dapat dibuat suatu blueprint penyelesaian persoalan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sejenis. Algoritma adalah langkah-langkah terurut untuk menyelesaikan suatu persoalan. Algoritma harus disusun dengan jelas, runtut, PENDAHULUAN 1
2 lengkap, efisien dan tidak menyalahi btasan-batasan dalma persoalan. Melalui Computational Thinking kita akan terbiasa untuk berpikir secara sistematis dan menemukan solusi yang efektif, efisien dan optimal dalam menghadapi persoalan baik yang sederhana maupaun yang kompleks, Kemampuan ini penting untuk dimiliki oleh pendidik dan diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga tidak hanya memberikan manfaat kepada pendidik, namun juga pada peserta didik. Oleh karerna itu, Computational Thinking menjadi salah satu mata kuliah bagi calon guru profesional agar dapat diimplementasikan ketiak menjadi seorang guru. Portofolio ini merupakan hasil hasil kerja mahasiswa dari pengalaman selama satu semester pada mata kuliah Computational Thinking. Portofolio yang dihasilkan dugunaka untuk menggambarkan learning progression mahasiswa. Objek-objek yang disusun adalah kumpulan artefak yang telah dibuat sejak awal perkuliahan sampai dengan akhir perkuliahan dalam waktu satu semester. Portofolio ini digunakan sebagia bahan refleksi mengenai perkembangan diri selama proses belajar dalam mata kuliah Computational Thinking. 2
3 3
4
5 TOPIK 1 PENDALAMAN PEMAHAMAN COMPUTATIONAL THINKING A. Mulai dari Diri 1. Pertanyaan 1 Nama/Jenjang/Mapel yang akan diajar: Jawab: Nama : Atikah Trisna Sari Jenjang : PGSD Mata Pelajaran yang akan diajar adalah semua mata pelajaran di sekolah dasar kecuali PAI dan PJOK. Mata pelajaran tersebut antara lain Bahasa Indonesia, IPAS, Matematika, PPKn, Muatan Lokal Daerah, dan Bahasa Inggris. 2. Pertanyaan 2 Saat ini, komputer cukup banyak digunakan untuk membantu manusia dalam melakukan berbagai hal, misalnya belanja online (daring) atau mencari jalur untuk menuju suatu tempat. Menurut Anda, bagaimana cara komputer ‘berpikir’ sehingga dapat membantu manusia melakukan berbagai kegiatan? Jawab: Komputer bekerja dengan memecah data menjadi bagian yang lebih kecil, mengenali pola untuk membuat prediksi atau penyajian data. Komputer memiliki algoritma dimana memiliki pola pikir yang sistematis, sehingga langkah demi langkah yang dilakukan berjalan sesuai dengan algoritma yang telah ditentukan. 3. Pertanyaan 3 Apakah Anda pernah mendengar/mengetahui tentang CT? Jika pernah, uraikan dengan ringkas apa yang Anda ketahui tentang CT! Jawab: Belum pernah 4. Pertanyaan 4 Jika belum pernah mendengar tentang CT dan saat ini Anda mengambil mata kuliah ini, apa motivasi Anda dalam mengambil mata kuliah ini? Jawab: 5
6 Motivasi saya mengikuti mata kuliah ini adalah agar dapat menerapkan computational thinking dalam kehidupan sehari-hari terutama pada saat menjadi guru. Sehingga dapat mengimplementasikan pada peserta didik sesuai dengan perkembangan zaman. B. Eksplorasi Konsep 1. Manfaat apa sajakah yang Anda peroleh setelah mempelajari CT? Jawab: Setelah mempelajari CT saya mengetahui bahwa dalam menemukan solusi atas suatu permasalahn sangat perlu untuk berpikir secara sistematis, sehingga solusi yang didapatkan adalah solusi yang efektif, efisien dan optimal untuk memecahkan masalah tersebut. Hal ini tentunya akan sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, dimana permasalahan akan selalu timbul. Kemampuan pemecahan masalah akan sangat dibutuhkan , dengan CT maka solusi dari permasalahan yang timbul dapat teratasi, baik permasalahan sederhana sampai dengan permasalahan yang kompleks. 2. Menurut Anda, apakah Anda sudah dapat memahami apa itu CT dan 4 fondasi CT? Jelaskan apa itu CT dan 4 fondasi dasarnya berdasarkan pemahaman Anda! Jawab: Saya sudah memahami apa itu CT dan 4 fondasi dari CT. CT adalah proses berpikir untuk membuat strategi pemecahan masalah yang efektif, efisien dan optimal untuk dikerjakan oleh agen pemroses informasi baik itu manusia maupun komputer. 4 dimensi CT : a. Dekomposisi : memecah masalah menjadi lebih sederhana. b. Pengenalan Pola : Analisis terhadap berbagai kesamaan yang ada diantara persoalan-persoalan. c. Abstraksi : proses eliminasi terhadap bagian yang tidka relevan dengan persoalan atau permasalahan. Algoritma : Langkah-langkah sistematis untuk menyelesaikan sautu persoalan 3. Lembar Kerja Mahasiswa a. Sampai saat ini, Anda sudah mendapatkan contoh-contoh implementasi CT dalam kehidupan sehari-hari. Dalam contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa CT dapat diterapkan dengan ataupun tanpa menggunakan “komputer”. Tuliskanlah hal atau persoalan apa yang zaman sekarang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT! Jawab: 6
7 Persoalan dalam kehidupan sehari-hari yang membutuhkan CT tapi tidak membutuhkan komputer adalah sebagai berikut. 1) Memasak nasi dan memasak makanan lainnya. 2) Mengatasi motor mogok. 3) Mencuci pakaian. 4) Membuat jus buah. 5) Mengatasi Ban mobil atau motor yang bocor 6) Memilih tiket penerbangan saat akan pergi b. Tuliskan dan jelaskan minimal satu contoh penerapan untuk masing-masing fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari! Contoh yang Anda berikan dapat mengandung lebih dari satu fondasi. Jawab: Contoh persoalan zaman sekarang yang tidak memakai komputer namun membutuhkan CT adalah memasak nasi 1) Dekomposisi, pada tahap ini kita mengidentifikasi jenis beras yang akan dimasak sehingga dapat menetukan jumlah air dan cara memasak yang cocok agar menghasilkan nasi yang pulen. 2) Pengenalan Pola, kita dapat mengumpulan informasi mengenai jenis beras yang akan dimasak dan cara memasak yang tepat, terutama pada takaran air sehingga dapat menentukan pola dalam memasak nasi yang benar. 3) Abstraksi, pada tahap ini kita sudah tahu mengenai jenis beras yang akan dimasak sehingga dapat menentukan takaran air dan cara memasak yang tepat. 4) Algoritma, melakukan langkah-langkah memasak nasi, mulai dari mencuci beras hingga pada nasi matang. C. Ruang Kolaborasi Nama/No. Kelompok: 1. Atikah Trisna Sari 2. Raden Rara Devi. H.S 3. Sinta Mardikawati No Induk/ Nama Mahasiswa 1. Atikah Trisna Sari (23100260018) 2. Raden Rara Devi. H.S (23100260138) 3. Sinta Mardikawati (23100260017) 7
8 Hasil Diskusi secara umum : Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT. 1) Memasak nasi. 2) Mengatasi motor mogok. 3) Mencuci pakaian. 4) Membuat jus buah. 5) Memasak bubur ayam. 6) Mengatasi Ban mobil atau motor yang bocor 7) Memilih tiket penerbangan saat akan pergi 8) Menanam tanaman Penerapan fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari. Jawaban yang sudah tepat 1. Mencuci pakaian dapat menggunakan empat fondasi CT dalam menyelesaikan pemecaham persoalan tersebut antara lain: a. Dekomposisi, dekomposisi yang dapat digunakan dalam persoalan mencuci pakaian yaitu pada awal ini kita dapat menentukan hingga mengelompokkan pakaian berbagai jenis sendiri yang akan kita cuci nantinya, kemudian kita dapat menyiapkan alat cuci hingga ember dan memahami proses pencucian dengan baik. b. Pengenalan pola, kita harus dapat mengetahui pola dalam mencuci pakaian itu seperti apa dari memilah pakairan untuk dicuci dan kita juga dapat memperkirakan detergen dan air yang akan dibutuhkan. c. Abstraksi, setelah kita mengetahui berbagai macam pakaian yang kotor dan yang sudah kita pilah tadi selanjutkan kita dapat memahami pakaian yang kotor, menyatukan pakaian hingga mencucinya dan menjemurnya dengan baik. d. Algoritma, setelah mengetahui langkah-langkah di atas dari pemecahan mencuci pakaian dari cara memilah pakaian dengan benar, menyiapkan alat, kemudian mencuci pakaian dan menjemurnya dengan benar. 2. Contoh persoalan yang dapat diselesaikan dengan CT adalah memasak nasi 8
9 5) Dekomposisi, pada tahap ini kita mengidentifikasi jenis beras yang akan dimasak sehingga dapat menetukan jumlah air dan cara memasak yang cocok agar menghasilkan nasi yang pulen. 6) Pengenalan Pola, kita dapat mengumpulan informasi mengenai jenis beras yang akan dimasak dan cara memasak yang tepat, terutama pada takaran air sehingga dapat menentukan pola dalam memasak nasi yang benar. 7) Abstraksi, pada tahap ini kita sudah tahu mengenai jenis beras yang akan dimasak sehingga dapat menentukan takaran air dan cara memasak yang tepat. 8) Algoritma, melakukan langkah-langkah memasak nasi, mulai dari mencuci beras hingga pada nasi matang. 3. Contoh permasalahan : “Ibu Mira bekerja di Jakarta, mendapatkan tugas rapat ke Bali esok hari.” a. Fase Dekomposisi, Ibu Mira akan mebuat daftar mode transportasi yang tersedia di Jakarta berdasar jalur yang akan ditempuh. Hasil yang diperoleh adalah Bus (jalur darat), kapal (jalur laut) serta pesawat terbang (jalur udara). b. Fase Pengenalan Pola, Ibu mira telah bekerja pada perusahaan tersebut, telah memahami seberapa penting rapat tersebut, sehingga ia harus segera memutuskan mode transportasi tercepat guna tepat waktu sampai pada kota Bali. c. Fase Abstraksi, Ibu Mira tidak perlu lagi memikirkan perihal biaya karena biaya yang akan dibutuhkan sudah di sediakan oleh perusahaan. d. Fase Algoritma, Ibu Mira perlu menyusun langkah-langkah untuk mendapatkan tiket pesawat, seperti via online, atau datang ke bandara, mempersiapkan segala jenis dokumen keberangkatan dan dokumen rapat, mengecek jadwal keberangkatan dan jadwal sampai ke bandara serta cara berangkat dari rumah menuju ke bandara, dari bandara ke tempat rapat. Hal tersebut perlu di susun rapi agar agenda rapatnya berjalan dengan baik. B. Jawaban yang kurang tepat Tidak ada, karena sudah menerapkan 4 fondasi CT 9
10 D. Demonstrasi Kontekstual Nama/No. Kelompok: 1. Atikah Trisna Sari 2. Raden Rara Devi. H.S 3. Sinta Mardikawati No. Induk / Nama Mahasiswa: 1. Atikah Trisna Sari (23100260018) 2. Raden Rara Devi. H.S (23100260138) 3. Sinta Mardikawati (23100260017) Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi: 1. Apakah CT penting bagi kita di kehidupan seharihari? CT penting bagi kita di kehidupan sehari-hari karena dengan menggunakan CT kita dapat menyelesaikan masalah dengan efektif, efisien, dan optimal dan dengan CT akan meningkatkan kemampuan berpikir kita dalam memecahkan masalah. 2. Bagaimana cara anda dalam mengimplementasikan CT kepada peserta didik? Dalam menerapkan CT kepada peserta didik, kita harus membiasakan diri terlebih dahulu untuk menerapkan CT dalam memecahkan persoalan di kehidupan sehari-hari. Guru harus mampu memahami dan terbiasa menggunakan CT sebelum menginplementasikannya kepada peserta didik. CT diajarkan dengan cara ditularkan melalui cara berpikir guru dalam menyelesaikan masalah atau sebuah persoalan. Jika guru sudah memahami dan terbiasa dengan CT maka akan mudah mengimplementasikan CT dalam mata pelajaran dan membiasakan siswa untuk menggunakan CT dalam kehidupan sehari-hari. 3. Apakah manfaat CT dalam kehidupan seharihari? Manfaat CT dalam kehidupan sehari-hari yaitu dapat memudahkan kita dalam menyelesaikan masalah dengan cara yang sederhana dan menghasilkan pemecahan masalah yang efektif dan efisien. 10
11 4. Mengapa kita membutuhkan CT? Karena dapat membantu menyelesaikan persoalan, baik yang sederhana maupun yang komplek pada kehidupan sehari-hari. E. Elaborasi Pemahaman Untuk mempertajam pemahaman Anda tentang CT, buatlah pertanyaan-pertanyaan tentang konsep-konsep CT yang masih belum Anda pahami! Setelah itu, diskusikanlah pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan dosen, maupun rekan mahasiswa lainnya! Jawab: 1. Bagaiaman cara implementasi CT yang efektif kepada peserta didik? 2. Apakah CT dapat diintegrasikan pada semua mata pealajaran di sekolah dasar? F. Koneksi Antar Materi 1. Tuliskan contoh-contoh hubungan CT dengan kehidupan sehari-hari Anda! Jawab: Contoh penerapan CT dalam kehidupan sehari-hari adalah pada saat akan memasak nasi, meskipun sederhana namun dalam memasak nasi kita dapat menggunakan CT dengan menggunakan 4 fondasi CT, mulai dari menyiapkan alat dan bahan memasak nasi, mengidentifikasi pola, sampai pada melakukan langkah-langkah memasak nasi. 2. Menurut pendapat Anda, dapatkah CT diterapkan pada mata pelajaran yang akan Anda ajar? Penerapan CT dapat dilakukan baik pada metode atau bentuk pengajaran, soal-soal, atau aktivitas lainnya di dalam kelas. Jawab: CT dapat diterapkan pada mata pelajaran yang akan diajarkan pada peserta didik di sekolah dasar, sebelum mengajarkan atau mengintegrasikan CT kepada peserta didik, guru harus mampu memahami dan terbiasa menggunakan CT. CT diajarkan dengan cara ditularkan melalui cara berpikir guru dalam menyelesaikan masalah atau sebuah persoalan. CT dapat diterapkan di setiap mata pelajaran yang ada di sekolah dasar. G. Aksi Nyata 1. Apa harapan/target Anda dalam mengikuti mata kuliah ini Jawab: Harapan atau target saya dalam mengikuti mata kuliah ini adalah dapat memahami dengan baik CT sehingga dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan 11
12 demikian saya akan terbiasa untuk menggunakan CT dalam memecahkan suatu persoalan yang ditemukan. Hal ini akan memudahkan saya dalam mengimplementasikan kepada pesera didik ketika mengajar kelak. 2. Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari CT? Jawab: Pemahaman baru yang saya dapatkan adalah mengenai CT itu sendiri, CT merupakan hal baru yang sebelumnya belum pernah saya ketahui. Pemahaman baru yang saya temukan adalah bahwa CT merupakan suatu proses berpikir yang bertujuan untuk menemukan solusi atas suatu persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan empat fondasi yaitu dekomposisi, pengenalan pola abstraksi dan algoritma. Dekomposisi merupakan pemecahan masalah menjadi lebih sederhana, dimana pada hal ini dilakukan identifikasi masalah 3. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT dalam kehidupan Anda? Jawab: Keberadaan CT dalam kehidupan sangat penting karena dapat membantu saya dalam proses menyelesaikan persoalan baik persolan sederhana hingga persoalan yang kompleks. 4. Bagaimana perasaan Anda setelah belajar mengenai CT? Jawab: Perasaan saya sangat senang karena dapat mengetahui CT yangsebelumnya tidak saya pahami. Dengan memahami CT saya dapat mulai menerapkan CT dalam menghadapi berbagai persoalan yang saya temukan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dengan terbiasa menerapkan CT maka saya dapat mengaplikasikannya pada peserta didik. 5. Apa potensi kendala yang mungkin akan Anda alami selama mengikuti kuliah ini? Jika ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengantisipasinya? Jawab: Potensi kendala yang mungkin akan saya alami dalam menghadapi kuliah ini adalah pada pengerjaan tugas, banyaknya tugas yang dikerjakan bersamaan dengan tugas dari mata kuliah yang lain membuat saya cukup sulit dalam membagi waktu. Maka tindakan yang saya lakukan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan membuat jadwal dan rencana pengerjaan tugas agar semua tugas dapat terlaksana dengan baik. 12
13
14 TOPIK 2 CT DALAM KURIKULUM A. Mulai dari Diri 1. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT di dalam Kurikulum Merdeka? Jawab : Keberadaan CT sangat relevan dengan Kurikulum Merdeka saat ini. Pada pelaksanaannya CT dapat diaplikasikan dalam setiap muatan pelajaran yang terdapat pada kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka mengajarkan peserta didik untuk mampu berpikir kritis terutama dalam pemecahan masalah dan pembuatan projek. Pada kurikulum ini diharapkan pembelajaran menggunakan model Project Based Learning, pada model ini sangat sesuai jika diintegrasikan dengan konsep CT. Dengan integrasi CT pada pembelajaran diharapkan peserta didik akan terbiasa menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep CT dalam kehidupan sehari-hari. 2. Karena CT berada dalam kurikulum, CT dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipelajari oleh peserta didik. Menurut Anda, mengapa CT tidak diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri? Jawab : CT adalah adalah suatu proses berpikir, sehingga akan lebih tepat jika diintegrasikan pada setiap mata pelajaran, bukan berdiri sebagai mata pelajaran. Jika CT hanya sebagai satu mata pelajaran akan ada kemungkinan CT hanya dianggap sebagai suatu teori tanpa implementasi. Pada kurikulum saat ini, setiap muatan akan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga sangat sesuai untuk implementasi CT dan pembiasaan CT pada peserta didik. 3. Pada saat Anda membaca referensi-referensi yang ditugaskan oleh dosen Anda, bagian mana yang: a. Paling menarik untuk Anda? mengapa? Jawab: Paling menarik untuk saya adalah mengenai CT dalam Kurikulum Merdeka. Hal ini menjadi menarik dikarenakan relevan dengan situasi pendidikan saat ini. Kurikulum Merdeka yang masih baru diintegrasikan dengan CT yang 14
15 juga belum lama saya ketahui. Sehingga, menarik bagi saya untuk memahami lebih jauh mengenai implementasi CT dalam kurikulum merdeka. b. Paling sulit untuk diajarkan? Mengapa? Jawab: Paling sulit untuk diajarkan adalah pembiasaan CT dalam pemecahan masalah dan Penerapan CT dalam pembelajaran. Memecahkan persoalan dengan menggunakan CT memerlukan pembiasaan, termasuk guru. Sehingga sebelum mengajarkan dan mengimplementasikan CT, guru harus mampu menerapkannya terlebih dahulu. Hal ini cukup sulit bagi saya, karena CT juga merupakan hal yang baru bagi saya. B. Eksplorasi Konsep 1. Bagi calon guru kelas I sampai VI. Ceritakan dengan kata-kata Anda sendiri terkait peningkatan capaian yang ada pada fase A sampai C. Apakah Anda dapat melihat peningkatan capaian dari fase A-C? Jelaskan jawaban Anda Jawab: Pada fase A penyelesaian masalah atau persoalan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengurutkan objek yang konkrit dengan satu solusi permasalahan pada tahap ini solusi yang dihasilkan adalah solusi sedewrhana yang efektif. Kemudian pada fase B terdapat peningkatan kemampuan pada penyelesaian masalah dimana tidak lagi mengurutkan objek konkrit sederhana tetapi mengurutkan data dari hasil abstraksi objek konkrit, dimana pada fase B akan menggunakan berbagai cara untuk dapat menghasilkan beberapa solusi, sehingga pada fase B ini tidak hanya ada satu solusi namun terdapat beberapa pilihan solusi dalam satu permasalahan. Pada fase B solusi yang didapatkan adalah solusi yang efektif. Pada fase C, data hasil abstraksi objek konkrit akan lebih banyak dan kompleks sehingga perlu menghasilkan lebih banyak alternatif solusi, pada fase c ini solusi yang didapatkan adalah solusi yang efektif dan efisien. 2. Menurut Anda, bagaimana posisi CT di Indonesia jika dibandingkan keberadaannya di beberapa negara lain yang sudah berupaya terlebih dahulu untuk memasukkan CT ke dalam kurikulumnya? 15
16 Jawab: Menurut saya keberadaan CT di Indonesia masih termasuk baru jika dibandingkan negara lain, terutama negara maju. Saat ini CT baru mulai diterapkan oleh beberapa lembaga pendidikan, termasuk dalam kurikulum di Indonesia. Hal ini menunjukkan posisi CT di Indonesia dianggap penting, dimana pemerintah sudah memasukkannya dalam kurikulum nasional. Berbeda dengan negara-negara lain yang telah menerapkan CT jauh sebelum Indonesia, mereka sudah memiliki peengetahuan yang matang baik dari segi sumber daya, pelatihan guru, dan juga struktur kurikulum yang sudah di integrasikan dengan CT. Meski begitu Indonesia memiliki keinginan untuk maju dengan mengadopsi pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan kondisi zaman. Indonesia berupaya untuk dapat mengintegrasikan antara CT dengan kurikulum yang berlaku, salah satunya adalah dengan memasukkan CT sebagai salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa Pendidikan Profesi Guru, sebagai langkah awal pembiasaan CT pada tenaga pendidik, sehingga dapat mengimplementasikan dengan baik kepada peserta didik. 3. Lembar Kerja Mahasiswa Tuliskan hasil yang Anda dapat dari menelaah CP CT fase A-C pada lembar kerja berikut.Tuliskan dan jelaskan minimal satu contoh penerapan untuk masing-masing fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari! Contoh yang Anda berikan dapat mengandung lebih dari satu fondasi. Jawab: Nama/ NIM Atikah Trisna Sari Fase (A/B/C/D/E/F) A, B dan C Tuliskan kata-kata kunci yang membedakan masing-masing fase: Fase A: Objek konkrit, solusi efektif Fase B: abstraksi benda konkrit, menghasilkan beberapa solusi, solusi efektif Fase C: kompleks, banyak alternatif solusi, solusi efektif dan efisien Setelah memperhatikan dengan lebih seksama kata kunci pembeda pada tiap Fase, tuliskan peningkatan kompleksitas capaian fase A-C: Pada fase A penyelesaian masalah atau persoalan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengurutkan objek yang konkrit dengan satu solusi permasalahan pada tahap ini solusi yang dihasilkan adalah solusi sedewrhana yang efektif. 16
17 Kemudian pada fase B terdapat peningkatan kemampuan pada penyelesaian masalah dimana tidak lagi mengurutkan objek konkrit sederhana tetapi mengurutkan data dari hasil abstraksi objek konkrit, dimana pada fase B akan menggunakan berbagai cara untuk dapat menghasilkan beberapa solusi, sehingga pada fase B ini tidak hanya ada satu solusi namun terdapat beberapa pilihan solusi dalam satu permasalahan. Pada fase B solusi yang didapatkan adalah solusi yang efektif. Pada fase C, data hasil abstraksi objek konkrit akan lebih banyak dan kompleks sehingga perlu menghasilkan lebih banyak alternatif solusi, pada fase c ini solusi yang didapatkan adalah solusi yang efektif dan efisien. C. Ruang Kolaborasi Diskusikan pemahaman Anda terkait keunikan CP CT untuk masing-masing fase A, B, dan C. Diskusikan juga terkait peningkatan kompleksitas CP tersebut untuk masing-masing fase. Tuliskan dalam format lembar kerja yang sama dengan Lembar Kerja Mahasiswa pada 2.4. Jawab: Nama/NIM anggota 1: Nama/NIM anggota 2: Nama/NIM anggota 3: Sinta Mardikawati/ 23100260017 Atikah Trisna Sari/ 23100260018 Sheren Viona/ 23100260019 Fase (A/B/C/D/E/F) A CP Pada akhir fase A, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari yang dialami dengan mengidentifikasi, membandingkan, memilih, memilah, mengelompokkan, dan mengurutkan objek konkrit. Istilah dan makna dari kata-kata yang sudah disepakati oleh kelompok: 1. Mengidentifikasi, memiliki makna proses mengenali, menentukan dan menetapkan identitas (orang, benda, dan sebagainya) 17
18 2. Membandingkan, memiliki makna memadukan dua benda (hal atau sebagainya) untuk mengetahui perdsamaan atau selisihnya. 3. Memilih, memiliki makna menentukan sesuatu yang dianggap sebagai kesukaan. 4. Mengelompokkan, memiliki makna membagi dalam beberapa kelompok. 5. Mengurutkan objek konkrit, memiliki makna mengurutkan objek konkret menurut sifat tertentu. Kata-kata yang dipahami sebagai makna yang berbeda oleh anggota kelompok. Diskusikan lebih lanjut tentang perbedaan makna tersebut! Diskusikan juga dengan konsep pada saat eksplorasi konsep! 1. Mengidentifikasi adalah mengumpulkan data atau informasi yang relevan dan kemudian menggunakan pengetahuan dan pemahaman untuk membedakan, menggolongkan, atau memahami sesuatu dengan lebih baik. 2. Membandingkan adalah memadukan atau menyamakan dua benda dan sebagainya untuk mengetahui persamaan, perbedaan, dan selisihnya. 3. Memilih adalah menentukan sesuatu yang dianggap sesuai dengan kesukaan. 4. Mengelompokkan adalah memisahkan dan menempatkan sesuatu menjadi satu bagianbagian. 5. Mengurutkan Objek Konkrit adalah mengurutkan suatu benda yang benarbenar dapat terlihat oleh mata. Tuliskan pemaknaan mengenai CP yang dibahas di kelompok, sesuai pemahaman bersama seluruh anggota kelompok! Berdasarkan hasil diskusi kelompok kami, CP atau Capaian Pembelajaran merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai murid pada setiap fase perkembangan, yang dimulai dari fase A sampai C. Capaian Pembelajaran mencakup sekumpulan kompetensi dan lingkup materi, yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi. Pada fase A kata kerja operasional kemampuan kognitif yang terdapat pada CP masih pada tahap LOTS (Lower Order Thinking Skills) yaitu mengidentifikasi, memilih, mengelompokkan, membandingkan dan mengurutkan. Sehingga pada fase ini masih pada tahap berpikir sederhana. Peserta 18
19 didik diharapkan dapat berpikir komputational dan menyelesaikan persoalan secara efektif dengan menemukan setidaknya satu solusi permasalahan. Nama/NIM anggota 1: Nama/NIM anggota 2: Nama/NIM anggota 3: Sinta Mardikawati/ 23100260017 Atikah Trisna Sari/ 23100260018 Sheren Viona/ 23100260019 Fase (A/B/C/D/E/F) B CP Pada akhir fase B, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari dengan membandingkan, memilih, memilah, menyusun, mengelompokkan, dan mengurutkan himpunan data kecil hasil abstraksi benda konkrit menggunakan berbagai cara untuk menghasilkan beberapa solusi dengan memanfaatkan perkakas yang disediakan. Bahasa Indonesia, IPAS, SBdP, dan PKN. Istilah dan makna dari kata-kata yang sudah disepakati oleh kelompok: 1. Membandingkan 2. Memilih 3. Memilah 4. Menyusun 5. Mengelompokkan 6. Mengurutkan Kata-kata yang dipahami sebagai makna yang berbeda oleh anggota kelompok. Diskusikan lebih lanjut tentang perbedaan makna tersebut! Diskusikan juga dengan konsep pada saat eksplorasi konsep! 1. Membandingkan adalah memadukan atau menyamakan dua benda dan sebagainya untuk mengetahui persamaan, perbedaan, dan selisihnya. 19
20 2. Memilih adalah menentukan sesuatu yang dianggap sesuai dengan kesukaan. 3. Memilah adalah menentukan sesuatu yang dianggap sesuai, memisahmisahkan mana yang baik. 4. Menyusun adalah mengatur sesuatu secara baik dan sesuai. 5. Mengelompokkan adalah memisahkan dan menempatkan sesuatu menjadi satu bagian-bagian. 6. Mengurutkan Objek Konkrit adalah mengurutkan suatu benda yang benarbenar dapat terlihat oleh mata. Tuliskan pemaknaan mengenai CP yang dibahas di kelompok, sesuai pemahaman bersama seluruh anggota kelompok! Pemaknaan CP pada fase B masih menggunakan kata kerja yang sama dengan fase namun ada peningkatan komplektisitas pada objek yang diurutkan. Pada fase B peserta didik mengurutkan himpunan kecil dari hasil abstraksi objek konkret dengan tujuan menemukan beberapa solusi permasalahan. Jika pada fase A setidaknya menemukan satu solusi, pada faseb B peserta didik mampu berpikir komputasional untuk mendapatkan beberapa solusi dengan menggunakan alat atau perkakas yang telah disediakan. Nama/NIM anggota 1: Nama/NIM anggota 2: Nama/NIM anggota 3: Sinta Mardikawati/ 23100260017 Atikah Trisna Sari/ 23100260018 Sheren Viona/ 23100260019 Fase (A/B/C/D/E/F) C CP Peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari dengan membandingkan, menyusun, mengelompokkan, dan mengurutkan himpunan data hasil abstraksi benda konkrit yang lebih banyak dan kompleks dengan menggunakan berbagai cara untuk menghasilkan lebih banyak alternatif solusi yang mengintegrasikan berpikir 20
21 komputasional dalam memanfaatkan perkakas yang digunakannya. Istilah dan makna dari kata-kata yang sudah disepakati oleh kelompok: 1. Membandingkan adalah memadukan atau menyamakan dua benda dan sebagainya untuk mengetahui persamaan, perbedaan, dan selisihnya. 2. Menyusun adalah mengatur sesuatu secara baik dan sesuai 3. Mengelompokkan adalah memisahkan dan menempatkan sesuatu menjadi satu bagian-bagian. 4. Mengurutkan himpunan data hasil abstraksi benda konkrit adalah Kata-kata yang dipahami sebagai makna yang berbeda oleh anggota kelompok. Diskusikan lebih lanjut tentang perbedaan makna tersebut! Diskusikan juga dengan konsep pada saat eksplorasi konsep! 1. Membandingkan adalah memadukan atau menyamakan dua benda dan sebagainya untuk mengetahui persamaan, perbedaan, dan selisihnya. 2. Memilih adalah menentukan sesuatu yang dianggap sesuai dengan kesukaan. 3. Memilah adalah menentukan sesuatu yang dianggap sesuai, memisahmisahkan mana yang baik. 4. Menyusun adalah mengatur sesuatu secara baik dan sesuai. 5. Mengelompokkan adalah memisahkan dan menempatkan sesuatu menjadi satu bagian-bagian. 6. Mengurutkan objek konkrit adalah mengurutkan pengalaman atau kejadian dengan runtut dan logis dalam bahasa sehari-hari Tuliskan pemaknaan mengenai CP yang dibahas di kelompok, sesuai pemahaman bersama seluruh anggota kelompok! Pada fase C peserta didik dapat berpikir secara komputational dengan mengurutkan objek konkret yang lebih kompleks, sehingga dapat menemukan berbagai macam alternatif solusi. Contohnya adalah pada pembelajaran Bahasa Indonesia, sebagai beriikut. Peserta didik mampu membaca kata-kata dengan berbagai pola kombinasi huruf dengan fasih dan indah serta memahami informasi dan kosakata baru yang memiliki makna denotatif, literal, konotatif, dan kiasan untuk mengidentifikasi 21
22 objek, fenomena, dan karakter. Peserta didik mampu mengidentifikasi ide pokok dari teks deskripsi, narasi dan eksposisi, serta nilai-nilai yang terkandung dalam teks sastra (prosa dan pantun, puisi) dari teks dan/atau audiovisual. D. Demontrasi Kontekstual Nama/NIM: Atikah Trisna Sari/23100260018 Fase Istilah yang baru diketahui maknanya Makna dari istilah C Integrasi Mengintegrasikan adalah proses mengaitkan antar sub sistem sehingga data dari satu siswa secara rutin dapat melintas, menuju atau diambil oleh satu atau lebih sistem yang lain. C Kompleks Kompleks adalah suatu kesatuan yang terdiri dari sejumlah bagian khususnya yang memiliki bagian yang saling berhubungan dan saling tergantung A/B/C Remixing Pengalaman remixing mengacu pada pemanfaatan objek atau komponen objek untuk digunakan dalam objek lain atau untuk tujuan lain. Pengalaman ini melibatkan suatu objek dan memodifikasi atau mengadaptasinya dalam beberapa cara dan/atau menyematkannya di dalam objek lain untuk tujuan yang berbeda secara substansial. 22
23 A/B/C Unplugged Pengalaman unplugged berfokus pada aktivitas CT yang diimplementasikan tanpa menggunakan komputer. Tuliskan pemahaman yang Anda dapat dari presentasi rekan Anda mengenai CP CT pada fase yang berbeda dari fase yang Anda kerjakan dalam kelompok! Fase Pemaknaan CP A Capaian Pembelajaran merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai murid pada setiap fase perkembangan, yang dimulai dari fase A sampai C. Capaian Pembelajaran mencakup sekumpulan kompetensi dan lingkup materi, yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi. Pada fase A kata kerja operasional kemampuan kognitif yang terdapat pada CP masih pada tahap LOTS (Lower Order Thinking Skills) yaitu mengidentifikasi, memilih, mengelompokkan, membandingkan dan mengurutkan. Sehingga pada fase ini masih pada tahap berpikir sederhana. Peserta didik diharapkan dapat berpikir komputational dan menyelesaikan persoalan secara efektif dengan menemukan setidaknya satu solusi permasalahan. B Pemaknaan CP pada fase B masih menggunakan kata kerja yang sama dengan fase namun ada peningkatan kompleksitas pada objek yang diurutkan. Pada fase B peserta didik mengurutkan himpunan kecil dari hasil abstraksi objek konkret dengan tujuan menemukan beberapa solusi permasalahan. Jika pada fase A setidaknya menemukan satu solusi, pada fase B peserta didik mampu berpikir komputasional untuk mendapatkan beberapa solusi dengan menggunakan alat atau perkakas yang telah disediakan. C Pada fase C peserta didik dapat berpikir secara komputational dengan mengurutkan objek konkret yang lebih kompleks, sehingga dapat menemukan berbagai macam alternatif solusi. 23
24 E. Elaborasi Pemahaman Jika masih ada pertanyaan seputar CT dalam Kurikulum Merdeka dan posisi CT dalam tatanan global, tuliskan pertanyaan-pertanyaan tersebut! Setelah itu, diskusikanlah pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan dosen, maupun rekan mahasiswa lainnya! Jawab: Izin bertanya berkaitan dengan CP CT dan pembelajaran di sekolah dasar, menurut teman-teman apakah ada cara efektif yang dapat dilakukan guru dalam implementasi CT pada setiap CP mata pelajaran? Kemudian pada kegiatan apa dalam pembelajaran kita dapat menerapkan CT? F. Koneksi Antar Materi Tuliskan kaitan antara CP mata pelajaran yang Anda ampu dengan CP CT untuk fase yang akan Anda ampu! Jawab: NO CP CT CP Matematia Fase A Elemen Bilangan Keterkaitan CP CT dengan CP 1 Pada akhir fase A, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari yang dialami dengan mengidentifikasi, membandingkan, memilih,memilah, mengelompokkan, dan mengurutkan objek konkrit. Pada akhir fase A, peserta didik menunjukkan pemahaman dan memiliki intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah sampai 100, mereka dapat membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, serta melakukan komposisi (menyusun) dan dekomposisi (mengurai) bilangan. Pada CP CT fase A peserta didik mampu berpikir komputational dengan mengidentifikasi, membandingkan, memilah, mengelompokkan dan mengurutkan objek konkret, Hal ini dapat diimplementasikan pada CP Matematika Fase A elemen bilangan. Dimana pada fase ini peserta didik menunjukkan pemahaman mengenai bilangan cacah sampai 100. Sesuai dengan CP CT dimana peserta didik dapat mengurutkan objek 24
25 konkret, maka pada saat mengentukan nilai bilangan peserta didik dapat mengurutkannya dengan menggunakan benda konkret sejumalh nilai bilangan G. Aksi Nyata 1. Bagaimana perasaan Anda saat menelaah lebih lanjut mengenai CP CT dalam pertemuan kuliah ini? Jawab: Saya merasa pengetahuan saya bertambah, dan hal ini membuat saya menjadi lebih bersemangat untuk mempelajari CT lebih jauh. Dengan mengetahui CP CT maka saya dapat mencoba untuk mengintegrasikan dengan CP pada mata pelajaran yang saya ampu. 2. Tuliskan pengetahuan-pengetahuan baru yang Anda dapatkan dari pertemuan ini Jawab: Pengetahuan baru yang saya temukan di topik 2 ini cukup banyak, terutama CT pada kurikulum merdeka. Saya mengetahui CP CT pada tiap fase terutama pada fase A. B dan C sesuai dengan fase yang saya ampu nantinya. Pada bab ini saya juga mengetahui bagaimana tingkat kompleksitas pada tiap fase, mulai dari fase A hingga fase C. Selain itu, saya juga mendapatkan cotoh penerapan capaian CT mata muatan pembelajaran di SD fase A,B dan C, sehingga dapat menjadi gambaran saya mengenai penggunaan CT pada pembelajaran. 25
26
27 TOPIK 3 CT DALAM PROBLEM SOLVING A. Subtopik 1 1. Mulai dari Diri a. Pernahkah Anda mengerjakan soal Bebras sebelum masuk ke Topik 3? Jawab: Sebelum memasuki topik 3, saya mengerjakan soal bebras hanya sebatas saat diskusi di kelas pada mataa kuliah Computational Thinking. b. Apa pendapat Anda mengenai soal Bebras? Jawab: Setelah beberapa kali mengerjakan soal bebras pada topik sebelumnya, menurut saya soal bebras sangat menarik dan menantang. Soal bebras memicu untuk dapat berpikir kritis dan kreatif untuk menyelesaikannya. c. Latihan CT apa saja yang pernah Anda kerjakan selain soal Bebras? Apa nama situs/sumber Anda mengerjakan latihan CT? Jawab: Selain soal bebras saya pernah mengerjakan soal yang membutuhkan CT pada saat mengikuti SKD CPNS khususnya pada soal TIU dan pada saat membimbing ANBK siswa kelas V pada saat mengajar. d. Pernahkah Anda mendapat informasi mengenai Tantangan Bebras? Jawab: Tantangan bebras baru saya ketahui saat saya mengikuti mata kuliah Computational Thinking, sebelumnya saya belum pernah mendengar tentang tantangan bebras. e. Pernahkah Anda membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan CT (dengan soal Bebras atau soal CT lainnya)? Jika pernah, bagaimana pengalaman Anda ketika membimbing siswa? Jawab: Saya pernah membimbing siswa kelas V untuk persiapan ANBK dimana beberapa soal perlu untuk berpikir secara komputational. Saya merasa sangat kesulitan dalam mengajarkan soal-soal tersebut dikarenakan siswa masih belum terbiasa menyelesaikan soal ANBK terutama pada soal numerasi. Selain itu, saat 27
28 itu aaya belum menemukan cara yang efektif untuk mengajarkan kepada siswa sehingga membuat saya sendiri kesulitan dalam memberikan pemahaman. 2. Eksplorasi Konsep a. Tuliskan hal baru apa sajakah yang Anda dapatkan dari mempelajari CT melalui aktivitas problem solving menggunakan soal Bebras! Jawab: Hal baru yang saya dapatkan dari mempelajari CT melalui aktivitas problem solving menggunakan soal Bebras adalah mengenai cara berpikir dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Soal Bebras dapat meningkatkan kemampuan analisis, berpikir kritis, logis dan kreatif dikarenakan dalam menyelesaikan soal perlu mengunakan penalaran yang tinggi. Selain itu dalam menyelesaikan soal Bebras kita diharapkan dapat menuliskan dan mengkomunikasikan solusi yang didapatkan sehingga tidak hanya terlatih untuk menyelesaikan masalah tetapi juga terlatih untuk mengkomunikasikan penyelesaian kepada orang lain. b. Menurut pengalaman Anda mengajar atau saat Anda menjadi siswa, apakah soal Bebras yang digunakan untuk contoh soal memiliki kompleksitas yang sesuai dengan jenjang yang ditargetkan dan bidang pelajaran Anda? Jika tidak, berikan alasannya dan usulkan jenjang serta bidang apa yang sesuai untuk soal tersebut! Jawab: Berdasarkan pada soal Bebras yang disajikan menurut saya kompleksitas soal sudah sesuai dengan tingkatan peserta didik baik SD, SMP maupun SMA. Pada jenjang sekolah dasar persoalan yang disajikan masih sederhana dengan perintah dan syarat soal yang juga sederhana, hal ini sesuai dengan tingkatan kompleksitas pada jenjang sekolah dasar. Soal juga memiliki pilihan jawaban yang disajikan dengan gambar yang berwarna, hal ini memudahkan peserta didik dalam membayangkan dan menemukan solusi penyelesaian soal Bebras. Sesuai dengan usia sekolah dasar, dimana peserta didik akan lebih mudah memahami jika disajikan dalam bentuk yang konkret. Pada jenjang SMP kompleksitas soal sudah sesuai dengan tingakatan peserta didik, dimana pada peserta didik SMP sudah mampu berpikir abstrak dan dapat menganalisis masalah untuk menemukan solusi. Soal pada tingkat SMP disajikan lebih kompleks daripada soal pada tingkat SD, sehingga penyelesaian juga lebih sulit sesuai dengan tahapan 28
29 perkembangan pada tingkat SMP. Pada soal SMA kompleksitas juga sudah sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik pada tingkat SMA, dimana termasuk dalam tahapan operasional formal, sehingga sudah dapat berpikir secara abstrak dan memiliki kemampuan analisis yang baik. Pada soal SMA tingkat kesulitan soal lebih tinggi jika dibandingkan dengan tingkat SMP. c. Lembar Kerja Memindahkan Dadu Nama/NIM Jenjang/Mata Pelajaran yang diampu Judul Soal : Atikah Trisna Sari : PGSD : Memindahkan Dadu No Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk masing-masing soal! 1. Pada jenjang SD, posisi awal permukaan dadu adalah 6, dadu bergerak kedepan sebanyak 3 kemudian kesamping kanan 2 kali hingga berhenti pada titik akhir dengan hasil akhir 5 sebagai titik atas permukaan dadu. 2. Pada jenjang SMP, posisi awal permukaan dadu adalah 6, dadu bergerak sebanyak 7 kali dan berhenti pada titik akhir dengan titik permukaan 3. 3. Pada jenjang SMA, posisi titik awal permukaan dadu adalah 6 dan bergerak sebanyak 9 kali dan berhenti pada titik akhir dengan titik permukaan adalah 4. 2 Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari masing-masing soal! Jika Anda menggunakan lebih dari satu cara berpikir, tuliskan pada jenjang mana Anda menggunakan cara berpikir tersebut! Dalam proses menyelesaikan soal dadu untuk mendapatkan hasil yang akurat kita dapat menggunakan sebuah dadu atau sebuah benda yang diibaratkan seperti sebuah dadu. Benda yang digunakan diharapkan berbentuk kubus untuk kemudian kita tuliskan titik pada permukaannnya sesuai dengan yang tertera pada dadu. Titik di sesuaikan dengan gambar pada soal memindahkan dadu. Jika sudah, kita dapat membuat gambar petak seperti pada soal sebagai acuan dalam menggerakan dadu, atau kita cukup menggerakkan dadu sesuai pada soal, baik kedepan, belakang, kanan atau kiri disesuaikan soal. Berdasarkan pada jenjang, maka langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. SD 29
30 a. Gulirkan dadu kedepan atau maju sebanyak 3 kali dengan posisi awal 6 sebagai titik permukaan, maka pada gerakan pertama dadu titik permukaan dadu adalah 5, kemudian gerakan kedua adalah 1 dan pada gerakan 3 adalah 2. b. Selanjutnya gulirkan dadu ke kanan sebanyak 2 kali dengan titik permukaan 2, pada gerakan pertama titik permukaan dadu adalah 4, dan pada langkah terakhir titik permukaan dadu adalah 5 Jadi, titik permukaan dadu pada jenang SD adalah 5 2. SMP a. Dadu bergerak sebanyak 7 kali dengan arah yang bervariatif. Sampai pada titik gerakan ke 5 langkah yang dilakukan sama dengan langkah pada jenjang SD. Gulirkan dadu kedepan atau maju sebanyak 3 kali dengan posisi awal 6 sebagai titik permukaan, maka pada gerakan pertama dadu titik permukaan dadu adalah 5, kemudian gerakan kedua adalah 1 dan pada gerakan 3 adalah 2. b. Selanjutnya gulirkan dadu ke kanan sebanyak 2 kali dengan titik permukaan 2, pada gerakan pertama titik permukaan dadu adalah 4, dan pada langkah ke lima titik permukaan dadu adalah 5. c. Sampai pada titik 5 dadu digulirkan belok kanan sebanyak satu kali dari posisi 5, sehingga titik permukaannya adalah 1. d. Dadu bergulir belok ke kanan sebanyak satu kali sehingga permukaan dadu adalah 3. Jadi, titik permukaan dadu pada jenjang SMP adalah 3 3. SMA a. Dadu bergerak sebanyak 9 kali dengan arah yang bervariatif. Sampai pada 30
31 titik gerakan ke 7 langkah yang dilakukan sama dengan langkah pada jenjang SMP. Gulirkan dadu kedepan atau maju sebanyak 3 kali dengan posisi awal 6 sebagai titik permukaan, maka pada gerakan pertama dadu titik permukaan dadu adalah 5, kemudian gerakan kedua adalah 1 dan pada gerakan 3 adalah 2. b. Selanjutnya gulirkan dadu ke kanan sebanyak 2 kali dengan titik permukaan 2, pada gerakan pertama titik permukaan dadu adalah 4, dan pada langkah ke lima titik permukaan dadu adalah 5. c. Sampai pada titik 5 dadu digulirkan belok kanan sebanyak satu kali dari posisi 5, sehingga titik permukaannya adalah 1. d. Dadu bergulir belok ke kanan sebanyak satu kali sehingga permukaan dadu adalah 3. e. Dadu berbelok kembali ke kanan sebanyak 2 kali gerakan, dengan gerakan pertama adalah 2, dan gerakan terakhir 4 sebagai titik permukaannya. Jadi, titik permukaan dadu pada jenang SMP adalah 4 3 Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan persoalan ini! a. Dekomposisi, pada tahap ini memahami soal dengan baik dan menemukan bahwa dadu harus digerakkan sesuai dengan sesuai dengan petak yang terdapat pada soal. b. Mengenal pola, pada tahap ini kita mengenali pola dari dadui yaitu posisi titik pada dadu yang saling berlawanan yait 1 berlawanan dengan 6, 5 dengan 2, dan 3 dengan 4 c. Abstraksi, pada tahap ini kita mengabaikan hal yang tidak penting, fokus pada menggulirkan dadu dan memerhatika arah gerak dadu hingga menenemukan titik permukaan dadu pada akhir gerakan. 31
32 d. Algoritma, penerapan fase algoritma pada persoalan ini ditunjukkan dengan menentukan angka yang akan muncul sesuai dengan arah jalan bergulirnya dadu (ke depan, belakang, kiri, atau kanan. Ketika dadu digulir kedepan atau kebelakang, ke kanan atau kekiri, dua sisi lainnya akan tetap. Sehingga pada proses penyelesainnya kita hanya memperhatikan bagian yang digulirkan saja. 4 Adakah contoh pada kehidupan sehari-hari yang mengimplementasikan konsep yang ada pada soal ini? Pada kehidupan sehari-hari kita dapat mengimplementasikan konsep yang ada pada soal saat akan bepergian pada suatu tempat. Sebelum kita pergi, kita akan menentukan tujuan dari perjalanan kita. Kemudian kita akan menentukan jalan dan cara untuk mencapai tujuan tersebut. Tentunya ada beberapa jalan dan cara untuk mencapai tujuan, kita dapat menentukan jalan yang palong mudah dengan cara yang paling efektif untuk sampai ke tempat tersebut. 5 Tuliskan perbedaan kompleksitas persoalan untuk masing-masing jenjang yang terdapat di soal ini. Perbedaan kompleksitas pada soal memindahkaan dadu adalah sebagai berikut: a. Pada jenjang sekolah dasar dadu digulirkan sebanyak 5 petak dengan melewati 2 arah dalam mencapai titik akhir. b. Pada jenjang SMA dadu digulirkan sebanyak 7 kali dengan melewati 4 arah yang berbeda dalam mencapai titik akhir. c. Pada jenjang SMP dadu digulirkan sebanyak 9 kali dengan melewati 5 arah yang berbeda. 3. Ruang Kolaborasi NIM/ Nama Mahasiswa 1. Sheren Viona/ 23100260019 2. Sinta Mardikawati/ 23100260017 3. Atikah Trisna Sari/ 23100260018 Penilaian dari teman kelompok Kriteria Penilaian Anggota 1 Anggota 2 Anggota 3 Apakah cara mengerjakan soal yang dituliskan dan dipahami? A A A 32
33 Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? A A A Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan? A A A Apakah 4 pondasi CT yang ditulis benar? A A A Apakah 4 fondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? A A A Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? A A A Perbaikan yang perlu dilakukan Nomor Soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan 1 Cara menguraikan langkah-langkah berpikir supaya bahasanya lebih mudah untuk dipahami Menggunakan Bahasa yang lebih sederhana 2 Pemahaman tentang 4 fondasi CT dalam memaparkan satu contoh permasalahan Banyak berlatih dalam menerapkan 4 fondasi 3 Pemberian contoh masalah sehari-hari Diusahakan untuk sesuai dengan jurusan yang diampu 4. Demontrasi Kontekstual Soal Bebras Ruang Kolaborasi 33
34 Jawab: Nama/NIM Jenjang/mata pelajaran yang diampu Kode soal Judul soal : : : : Atikah Trisna Sari/23100260018 PGSD - Soal Bebras (Menentukan Kota) No Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk soal ini! Kota yang bukan dari planet B adalah pilihan pilihan jawaban B dimana pilihan jawaban b tidak sesuai dengan syarat “tidak ada objek yang berubah posisi” hal ini mengacu pada aturan nomor dua dimana seharusnya satu rumah menjadi pohon dan apartemen dimana posisi pohon ada sebelah kiri apartemen. 2 Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini! Langkah-langkah yang dilakukan dalam menemukan solusi permasalahan adalah sebagai berikut. a. Mengikuti cara yang pertama yaitu mulai dari satu rumah. b. Kemudian memperhatikan cara kedua dimana satu rumah dapat diubah seperti pada aturan a, b dan c. c. Jangan lupa dengan syarat “tidak ada objek yang berubah posisi” d. Membandingkan susunan pada pilihan jawaban dengan aturan yang tersedia. 34
35 e. Jika susunan sesuai dengan aturan maka kemungkinan kota tersebut ada di kota B, seperti pada pilihan jawaban a,c,dan d dengan penjelasan sebagai berikut. 1) Pilihan jawaban A benar sesuai dengan aturan 2 dan 3 dimana satu rumah dapat kembangkan menjadi satu pohon dan satu apartemen, kemudian mengkuti aturan yang ketiga dimana satu apartemen dapat menjadi 2 apartemen dan seterusnya, pada pilihan A tidak ada posisi yang berubah sehingga kota A kemungkinan benar ada di planet B. 2) Pilihan jawaban B tidak sesuai dengan aturan dan tidak memenuhi syarat “tidak ada objek yang berubah”, seharusnya terdaat apartemen di sebelah kanan pohon, sedangkan pada pilihan B tidak ada. Sehingga kota B bukan merupakan kota di planet B 3) Pilihan C benar dikarenakan sesuai dengan aturan pada nomor satu dimana satu rumah dapat berkembang menjadi dua rumah. Sehingga Kota C benar berada di planet B 4) Pilihan jawaban D benar sesuai dengan aturan pada nomor 2 dan no 3, dimana satu rumah dapat diubah menjadi 1 pohon dan 1 apartemen. Kemudian 1 apartemen dapat diubah menjadi 2 dan seterusnya. Jika 35
36 diubahn menjadi bentuk rumah lagi, maka terdapat 6 rumah pada pilihan jawaban D, sehingga kota D kemungkinan benar berada di planet B. 3 Identifikasi 4 fondai CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini! 4 Fondasi CT yang saya gunakan dalam menyelesaikan masalah adalah: a. Dekomposisi, saya melakukan pemahaman pada persoalan yang harus dipecahkan. Hal ini saya lakukan dengan membaca soal secara terliti dan memahami aturan dan syarat dalam menyelesaaikan persoalan. b. Pengenalan Pola, tahap ini dilakukan dengan memerhatikan aturan 1,2 dan 3. Sleain itu juga dilkukan dengan menganalisis contoh yang disajikan pada soal. c. Abstraksi, pada tahapan ini dilakukan dengan mengabaikan hal-hal yang dirasa tidak perlu, misalnya pada pilihan jawaban C hal tersebut dapat dipastikan benar tanpa menganalisis lebih jauh dikarenakan jelas memenuhi aturan no 1. d. Algoritma, pada tahap algoritma dilakukan langkah demi langkah dalam menentukan solusi dari persoalan yang disajikan, yaitu menemukan kota yang tidak sesuai dengan Planet B. Pada tahap ini dilakukan pembandingan antara pilihan jawaban dengan aturan dan syarat yang teredapat pada soal. Kemudian menemukan gambar yang tidak sesuai 36
37 dengan aturan dan syarat. Pola yang tidak sesuai dengan aturan dan syarat merupakan kota yang bukan berasal dari planet B 4 Adakah contoh pada kehidupan sehari-hari yang mengimplementasikan konsep yang ada pada soal ini? Contoh penerapan pada kehidupan sehari-hari adalah saat menentukan warna cat rumah. Menentukan warna cat rumah saat ini tidak hanya warna-warna dasar, tetapi banyak warna baru yang bisa dilakukan dengan mencampur warna tersebut sehingga menghasilkan warna yang baru yang indah. Penentuan cat juga tidak hanya mempertimbangkan keindahan, namun disesuaikan dengan kondisi, bentuk rumah dan esetetika. Kondisi yang dimaksud kaitannya dengan suhu, tingkat kecerahan dan situasi. Ada beberapa warna yang memberikan efek cerah, dingin dan luas ada pula sebaliknya. Misalnya saat ingin membuat warna pastel, pada tahap dekomposisi maka dapat dilakukan dengan mencari informasi mengenai campuran-campuran warna yang bisa menghasilkan warna pastel. Kemudian pada tahap pengenalan pola dilakukan dengan menentukan campuran warna beserta takaran yang pas untuk menghasilkan warna pastel tersebut. Pada tahap abstraksi mulai mempertimbangkan situasi rumah, keadaan seperti apa yang diharapkan, kemudian mengabaikan hal-hal yang tidak diperlukan. Selanjutnya pada tahap Algoritma dilakukan pencampuran warna sesuai dengan takaran yang telah ditentukan hingga mendapatkan warna yang sesuai dengan harapan. Hal ini 37
38 seperti pada soal, dimana keasalaha dalam mencampur warna akan mengakibatkan hasil dari warna baru yang tidak sesuai, di soal jika kita salah pola maka akan menghasilkan bentuk yang salah. B. Subtopik 2 1. Mulai dari Diri a. Apakah Anda pernah mendengar AKM? Apa yang Anda ketahui tentang AKM? Jawab: Saya sudah pernah mendengar AKM sebelumnya pada saat mengajar di sekolah dasar, dimana AKM merupakan singkatan dari Asesmen Kompetensi Minimum dan merupakan program evaluasi sistem pendidikan pada jenjang dasar dan menengah. Pada AKM terdapat dua kompetensi yang diujikan yaitu kemampuan literasi dan kemampuan numerasi peserta didik. Pada jenjang sekolah dasar AKM diujikan pada peserta didik kelas V, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan literasi dan numerasi peserta didik dalam suatu satuan pendidikan. AKM tidak berpengaruh pada nilai dan kelulusan peserta didik, namun menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dimana hasil AKM akan diinput pada raport pendidikan (sekolah). b. Pernahkah Anda membimbing siswa yang akan menghadapi AKM? Jawab: Saya sudah pernah membimbing AKM pada saat mengajar di sekolah dasar, kebetulan saat itu saya adalah wali kelas V sehingga membimbing untuk persiapan AKM. c. Apakah Anda pernah mendengar tentang tes PISA? Apa yang Anda ketahui tentang tes PISA? Jawab: Saya belum pernah mendengar tentang tes PISA sebelumnya, saya baru mendengar mengenai PISA pada saat saya mengikuti perkuliahan CT dimana PISA merupakan sebuah program asesmen internasional yang digunakan untuk mengukur kemampuan membaca, matematika dan sains dari siswa berusia 15 tahun. 38
39 d. Apakah Anda pernah mengerjakan soal AKM/PISA? Jika pernah, bagaimana pendapat Anda mengenai soal AKM/PISA? Apakah siswa Indonesia akan kesulitan dalam mengerjakan soal sejenis AKM/PISA? Jawab: Saya pernah mengerjakan soal AKM, menurut saya soal AKM membutuhkan penalaran yang tinggi dimana soal yang disajikan dalam kategori soal HOTS. Berdasarkan pada pengalaman saat membimbing persiapan AKM, siswa kesulitan dalam menyelesaikan soal, terutama pada kemampuan numerasi. Siswa harus memahami konsep secara matang, mampu menganalisis soal dengan baik dan menentukan penyelesaian dengan tepat. Hampir semua siswa kehabisan waktu dalam mengerjakan soal AKM, siswa yang saya bimbing masing belum terbiasa dalam menyelesaikan soal kompleks seperti soal AKM, dimana membutuhkan beberapa penyelesaian dalam satu soal. 2. Eksplorasi Konsep a. Tuliskan hal baru apa sajakah yang Anda dapatkan dari mempelajari CT melalui aktivitas problem solving soal-soal literasi! Jawab: Hal baru yang saya dapatkan setelah mempelajari CT melalui aktivitas problem solving adalah soal-soal literasi dapat membantu saya dalam meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah dengan CT secara efektif, efisien dan optimum. Melalui aktivitas problem solving soal literasi saya dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, logis dan terstruktur dengan menerapkan 4 fondasi CT yang nantinya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. b. 02.04.01 Lembar Kerja Mahasiswa 1 (Literasi Membaca pada tes PISA) Nama/NIM: Atikah Trisna Sari/23100260018 Literasi Membaca Mengapa literasi membaca dibutuhkan oleh siswa? Dalam memahami sebuah bacaan seseorang harus mampu menganalisis dan memahami isi dari sebuah bacaan sehingga literasi membaca sangat dibutuhkan siswa agar siswa mampu berpikir kritis dan mengembangkan pola pikir dalam memahami informasi dari bacaan yang dibacanya. Sehingga kemampuan membaca siswa tidak hanya sampai tahap mengerti tapi mampu memahami isi dari sebuah bacaan. 39
40 Pengertian dari literasi membaca pada tahun 2018 adalah kemampuan untuk mengerti, menggunakan, merefleksikan teks untuk suatu tujuan. Literasi membaca juga mencakup siswa memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam konteks literasi membaca? 1. Mengerti teks: Mengerti teks artinya dapat memahami atau mengetahui isi dari sebuah bacaan. 2. Menggunakan teks: Dapat menerapkan informasi yang didapat dari sebuah teks, misalnya pada teks prosedur dimana pembaca dapat memanfaatkan teks tersebut untuk menggunakan sesuatu. 3. Merefleksikan teks: Mengaitkan informasi yang didapat pada teks dengan pengalaman pada diri pembaca. 4. Memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks: Adanya keinginan untuk mengetahui lebih jauh informasi berkaitan dengan teks yang dibaca. Apa saja jenis teks yang digunakan pada tes PISA untuk literasi membaca? Jenis teks yang digunakan dalam tes PISA adalah argumentasi, eksposisi, deskripsi, dan narasi. Pada tes PISA literasi membaca disajikan juga teks yang memuat grafik, denah dan formulir. Adapun ragam tes yang digunakna adalah pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, uraian singkat, esau tertutup dan esai terbuka. Terdapat 6 level progress pada reading literacy. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level 1b diberikan sebagai contoh. Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1b Siswa dapat menemukan sebuah informasi yang mudah didapat dari sebuah teks sederhana. Informasi yang dicari biasanya sering diulang di dalam teks. Informasi yang dicari juga bisa dinyatakan dalam gambar dan grafik sehingga memudahkan siswa menemukan informasi tersebut. 1a Siswa dapat menemukan satu atau lebih informasi dari sebuah teks yang dinyatakan secara eksplisit. Siswa dapat mengetahui topik utama, tujuan penulis dalam membuat teks, atau membuat keterkaitan sederhana antara teks dengan kehidupan sehari-hari. Siswa diarahkan untuk dapat memilah informasi yang relevan dengan yang dia butuhkan. 2 Siswa dapat menentukan informasi yang tersirat seperti siswa dapat menentukan gagasan utama, membuat kesimpulan dari informasi yang disajikan secara tersirat. Pada tahapan ini siswa dapat membandingkan antara informasi yang didapat pada 40
41 teks dengan informasi yang dia ketahui di luar bacaan. 3 Siswa dapat menyusun kesimpulan, membandingkan, membuat hubungan dan prediksi dari sebuah teks. Pada tahap ini siswa juga dapat menafsirkan atri dari sebuah kata atau frasa, dan mengaitkan informasi yang didapatkan dengan kehidupan sehari-hari. 4 Siswa dapat menilai kualitas teks informasi yang dibaca berdasarkan pada pengalaman pribadinya dalam membaca teks. 5 Siswa dapat menilai kesesuaian pemilihan warna, tata letak dan pendukung visual lainnya seperti grafik, diagram, tabel, gambar dan lain-lain dalam menyampaikan informasi dalam teks. 6 Siswa dapat merefleksikan pengetahuan baru yang diperoleh dari teks terhadap informasi yang dimilikinya. c. 02.04.02 Lembar Kerja Mahasiswa 2 (Literasi Matematika pada tes PISA) Nama/NIM: Atikah Trisna Sari/23100260018 Literasi Matematika Mengapa literasi matematika dibutuhkan oleh siswa? Literasi matematika dibutuhkan karena menekankan pada kemampuan analisis siswa, mengkomunikasikan ide yang efektif pada suatu persoalan matematis yang mereka temui. Persoalan matematika tentunya akan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, sehingga literasi matematika diharapkan dapat membiasakan siswa dalam menemukan solusi matematika yang efektif. Pengertian dari literasi matematika 2012 juga digunakan pada tahun 2015 dan 2018. Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk memformulasikan sebuah situasi secara matematika, menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika, dan menginterpretasikan hasil matematika untuk berbagai konteks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam literasi matematika? 1. Memformulasikan sebuah situasi secara matematika: Memformulasikan sebuah situasi secara matematika dapat diartikan sebagai merumuskan model matematika pada sebuah situas, dimana mampu merancang penyelesaian untuk masalah yang disajikan dalam bentuk kontekstual. Dalam proses merumuskan situasi secara matematis, kita dapat menerjemahkan dari masalah 41
42 yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari ke dalam model matematika dan dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan struktur matematis, dan dalam bentuk representasi. 2. Menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalaran matematika: menerapkan matematika konsep, fakta, prosedur, dan penalaran untuk memecahkan masalah yang diformulasikan matematis untuk memperoleh kesimpulan secara matematika. Pada proses menggunakan konsep matematika, fakta, prosedur dan alasan untuk memecahkan masalah, siswa dapat melakukan prosedur matematika yang diperlukan untuk mendapatkan hasil dan menemukan solusi matematika terhadap suatu permasalahan yang disajikan. 3. Menginterpretasikan hasil matematika: Kata menginterpretasikan pada literasi matematika berfokus pada kemampuan siswa untuk memikirkan solusi matematika terhadap permasalahan dalam kehidupan nyata. Kemudian mengevalusi solusi matematika atau penalaran kedalam masalah sehari-hari apakah seusai dan masuk akal dengan konteks masalah atau tidak. Terdapat 6 level progress pada literasi matematika. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1 Siswa mampu menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan konteks yang umum dimana semua informasi yang relevan pertanyaan tersedia dengan jelas. Siswa mampu mengidentifikasi informasi dan menerima semua petunjuk berdasarkan perintah yang jelas pada situasi tertentu. Mampu menunjukkan suatu tindakan yang sesuai dengan stumulus yang diberikan. 2 Siswa mampu mengartikan dan mengenali situasi dengan konteks yang memerlukan kesimpulan langsung, memilah informasi yang relevan dari sumber yang tunggal dan menggunakan cara penyajian tunggal, mampu mengerjakan algoritma dasar, menggunakan rumus, melaksanakan prosedur atau kesepakatan dalam memecahkan masalah dan mampu menyimulkan secara tepat dari hasil penyelesaiannya 3 Siswa mampu melaksanakan prosedur dengan jelas, mampu memilih dan menerapkan strategi pemecahan masalah sederhana. Pada level ini siswa mampu menginterpretasikan dan menggunakan representasi berdasarkan informasi yang berbeda dan mampu memaparkan hasil interpretasi yang disertai dengan alasan yang jelas. 4 Siswa mampu menerapkan metode tertentu secara efektif dalam situasi yang kompleks dan konkret dimana mungkin melibatkan hambatan atau Siswa 42
43 Mampu memilih dan menggunakan representasi yang berbeda termasuk pada simbol, menggunakan keterampilan dan pengetahuannya pada konteks yang jelas dan mampu menjelaskan pendapatnya berdasarkan pada pemahaman, alasan dan rumusan. 5 Siswa mampu mengembangkan dan bekerja dengan model matematika untuk situasi yang kompleks, mengidentifikasi masalah dan menetapkan hipotesis. Mampu memilih, membandingkan dan mengevaluasi strategi pemecahan masalah yang kompleks berhubungan dengan model matematika. Siswa juga mampu menggunakan pemikiran dan penalarannya dalam menghubungkan representasi simbol matematika dengan situasi yang sedang dihadapi, sampai pada siswa memaparkan dan merumuskan hasil pekerjannya. 6 Siswa mampu membuat konsep, generalisasi dan menggunakan informasi berdasarkan penelaahan dalam situasi yang kompleks, menghubungkan dan menerjemahkan sumber informasi berbeda, Menerapkan pemahamannya, mengembangkan strategi dan pendekatan baru dalam menghadapi situasi baru dan mampu merumuskan hasil pekerjaannya dengan tepat. d. 02.04.03 Lembar Kerja Mahasiswa 3 (Literasi Sains pada tes PISA) Nama/NIM: Atikah Trisna Sari/23100260018 Literasi Sains Mengapa literasi sains dibutuhkan oleh siswa? Literasi sains sangat dibutuhkan oleh siswa, dimana berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Literasi sains dapat membantu siswa dalam mengembangkan pola pikir, perilaku siswa, serta karakter yang peduli, bertanggung jawab terhadap dirinya, masyarakat, dan alam semesta. Literasi sains juga dibutuhkan siswa agar mereka lebih memahami isu-isu sains, manfaat dan risiko dari sains, memahami permasalahan sosial dan lingkungan yang dihadapi masyarakat saat ini, sehingga siswa mampu berpikir kritis terutama dalam hal kecakapan penyelesaian masalah. Literasi sains adalah kemampuan untuk terlibat aktif dalam masalah dan ide yang berhubungan dengan sains. Kompetensi yang diperlukan oleh seseorang yang memiliki literasi dalam sains adalah kemampuan untuk menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah, dan menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah. Jelaskan masing-masing kompetensi di bawah ini! 1. Menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah: Siswa diharapkan dapat meemahami pengetahuan ilmiah dan menerapkannya atau 43
44 membuat prediksi sederhana disertai dengan pembuktiannya, selain itu siswa dapat menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya dilihat dari berbagai aspek dan mengaitkan fenomena tersebut dengan keterampilan yang dimilikinya. Siswa juga diharapkan dapat menjelaskan implikasi ilmu pengetahuan bagi masyarakat. 2. Mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah: Siswa dapat menentukan dan mengikuti prosedur yang tepat untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu pertanyaan ilmiah, siswa mengidentifikasi pertanyaan dalam sebuah penelitian ilmiah, selian itu siswa juga dapat membedakan pertanyaan yang akan digunakan dalam penyelidikan ilmiah, mengusulkan dan mengevaluasi pertayaan ilmiah. 3. Menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah: Kompetensi menginterpretasi data dan bukti-bukti ilmiah meliputi siswa mampu menganalisis dan menginterpretasikan kemudian menarik kesimpulan yang tepat. Siswa mampu mengidentifikasi hipotesis, bukti dan penalaran dalam satu teks sains, membedakan argumen yang didasarkan pada bukti ilmiah dan teori yang didasarkan pada pertimbangan. Siswa juga dapat menerjemahkan data dan bukti dari berbagai sumber untuk membangun sebuah argumen dan mempertahannya dengan penjelasan ilmiah. Terdapat 6 level progress pada literasi sains. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1b Siswa dapat mengunakan pengetahuan ilmiah dasar untuk mengenlai sebuah fenomena yang sederhana, dimana mereka mampu mengidentifikasi pola sederhana pada sebuah data, mengenali istilah ilmiah dasar dan mengikuti intruksi yang jelas dalam melakukan suatu prosedur ilmiah. Pada level ini siswa dapat memahami fenomena yang terjadi dengan baik. 1a Siswa mampu mengenali dan mengidentifikasi denga baik mengenai penjelasan ilmiah sederhana dari fenomena yang terjadi. Mereka dapat menyusun pertanyaan ilmiah maksimal dua variabel. Siswa pada level ini dapat menangkap dengan baik fenomena yang terjadi dan dapat menyimpulkan berkaitan dengan fenomena yang terjad dengan sederhana. 2 Pada level ini siswa mempu mengidentifikasi pertanyaan ilmiah dan melakukan penyelidikan ilmiah. Siswa dapat memanfaatkan pengetahuan dasar ilmiah dalam kehidupan sehari-hari untuk mengidentifikasi, menginterpretasi dan melakukan percobaan sederhana sesuai dengan pertannyaan ilmiah yang akan dipecahkan. 3 Siswa dapat memanfaatkan berbagai isu ilmiah dalam berbagai konteks untuk 44
45 mengidentifikasi dan mebuat penjelasan dari fenomena disekitar. Fenomena yang terjadi bukan hal umum yang diketahui oleh siswa, sehingga mereka dapat mencari sumber yang relevan berkaitan dengan fenomena yang terjadi. Pada level ini siswa dapat membedakan masalah ilmiah, non-ilmiah dan mengidentifikasi bukti yang mendukung klaim ilmiah. 4 Siswa dapat menghubungkan situasi pada suatu masalah yang melibatkan fenomena sehinga dapat membuat kesimpulan berdasarkan pengetahuan dan teknologi. Pada level ini siswa dapat menginterpretasikan data yang didapatkan dari konteks yang tidak umum nagi siswa, kemudian menarik kesimpulan berdasarkan data dan memberikan penjelasan mengenai kesimpulan yang dibuat. 5 Siswa dapat mengevaluasi cara dalam mengeksplorasi pertanyaan ilmiah dan mengidentifikasi batasan dari interpretasi data yang dikumpulkan, sumber dan ketidakpastian data ilmiah. Pada level ini siswa memiliki kemampuan cukup baik dalam mengidentifikasi fenomena yang terjadi. 6 Siswa memiliki kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi dan menjelaskan fenomena ilmiah menggunakan pengetahuan konseptual dan prosedural secara konsisten. Pada level ini siswa juga dapat melakukan evaluasi pada eksperimen yang kompleks, dan membedakan antara informasi yang relevan dan tidak relevan, antara argumen yang berdasarkan pada teori dan argumen yang berdasarkan pertimbangan. e. 02.04.04 Lembar Kerja Mahasiswa 4 (Literasi Finansial pada tes PISA) Nama/NIM: Atikah Trisna Sari/23100260018 Literasi Finansial Mengapa literasi finansial dibutuhkan oleh siswa? Literasi finansial dibutuhkan siswa karena memberikan pengetahuan dan pengalaman mengenai pengelolaan keuangan sehingga dapat membentuk karakter yang baik dimasa yang akan datang. Dengan mengenal makna dan keguaan uang siswa akan mengetahui pentingnya mengelola keuangan dengan membiasak diri untuk menabung, hingga pada mendahulukan kebutuhan dibandingkan keuangan. Hal ini dikarenakan literasi keuangan merupakan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas untuk menangani tuntutan keuangan dalam kehidupan sehari-hari dan masa depan. Seseorang yang memiliki literasi finansial adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan 45
46 pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial. Selain itu, dia juga memiliki kemampuan, motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahamannya untuk membuat keputusan yang efektif pada berbagai konteks masalah-masalah finansial. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat. Literasi finansial juga memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi. Jelaskan apa makna dari istilah-istilah berikut ini: 1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial: Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai suatu konsekuensi yang akan dihadapi dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan finansial. 2. Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial: Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial adalah kondisi dimana seseorang meiliki kemampuan unukt memproses pengetahuan informasi finansial yang telah diperoleh, kemudian aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya saat membuat keputusan dan perencanaan keuangan. 3. Motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial: Pada literasi keuangan tidak hanya pengetahuan, pemahaman dan keterampilan untuk menangani masalah finansial, tetapi juga menumbuhkan motivasi untuk terlibat dalam kegiatan keuangan, hingga memiliki kepercayaan diri dalam melakukannya. Selain itu, memiliki keinginan dan keyakinan untuk menggunakan dan membuat keputusan yang berkaitan dengan keuangan probasi seseorang. 4. Berbagai konteks masalah-masalah finansial: Berbagai konteks masalah finansia adalah berbagai hal yang berkaitan dengan masalah keuangan seerta hal yang menjadi dampak negatif pada keuangan dilihat dari berbagai sudut pandang. 5. Meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat: Meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupaun masyarakat adalah dapat membuat masyarakat memiliki hidup yang sejahtera, aman, nyaman, makmur, dan terbebas dari berbagai masalah keuangan. 6. Memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi: Literasi finansial menekankan pada pentingnya peran individu sebagai anggota masyarakat. Dengan memiliki kemampuan finansial yang baik dapat memungkinkan seseorang untuk turut serta dalam kegiatan ekonomi. f. 02.04.05 Lembar Kerja Mahasiswa 5 (Latihan soal tes PISA) 46
47 Nama/NIM : Atikah Trisna Sari/23100260018 Jenjang/mata pelajaran yang diampu : Sekolah Dasar Unit/no.unit : Reading/3 Judul soal : Graffiti No. Pertanyaan Jawaban 1. Tuliskan solusi untuk soal ini! Untuk menjawab soal graffiti kita perlu untuk membaca dan memahami teks dan soal yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Teka menggunakan Bahasa Inggris sehingga sebelum memahami kita perlu untuk mengartikan teks terlebih dahulu. Kemudian memahami soal dan mencari jawaban berdasarkan teks yang disediakan. Adapun jawaban dari teks graffiti adalah sebagai berikut. Question 3.1 Pertanyaan yang diajukan adalah mengenai tujuan dari surat pada teks Graffiti. Jawaban B yaitu present an opinion about graffiti. Teks menunjukkan opini dari dua orang yang mengenai graffiti dimana Helga kontra dengan graffiti dan menganggap bahwa graffiti seharusnya tidak dilakukan, sedangkan Shopia beranggapan bahwa graffiti tidak ada bedanya dengan iklan seperti baliho dan poster, hanya saja graffiti tidak legal. Question 3.2 Pertanyaan yang diajukan adalah Why does Sophia refer to advertising? Jawaban dari pertanyaan ini adalah Shopia menganggap bahwa graffiti tidak ada bedanya dengan iklan hanya saja tidak legal, dengan kata lain graffiti adalah iklan yang illegal. Menurut shopia, graffiti dan iklan sama saja tidak 47