The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Med Wist, 2022-08-02 23:54:22

Romansa Mediterranean

Romansa Mediterranean

Romansa Mediterranean

MedWist Publishing

Penulis: Adik Wibowo
Ide Cerita: Irwan Hambali
Desain Grafis: Danang Setyo Nugroho
Percetakan: Yoling Book – Citra Inti Solo

Antara Venice-Barcelona ditempuh 12 hari
perjalanan dengan mampir-mampir di
beberapa kota Eropa lainnya dengan kata
lain One Cruise of Mediterranean Romance.
Aku meminta Adik Wibowo untuk duduk
bersebelahan dan mendengarkan ide
ceritaku. Di antara Venice-Barcelona itulah
karya ini digarap.

Aku bangga dengan mas Adik yang total
mencurahkan energinya untuk karya ini
yang 12 hari hanya kusediakan Nestea dan
Twix sebagai konsumsinya.

Karya ini tetap sebagai bahan
medokumentasikan perjalanan pribadi yang
diharap pengalamam perjalanan itu tidak
hilang ditelan masa begitu saja. Terima
kasih kepada keluarga besar Holland
America Line, dan rekan-rekan di Bogor
Hotel Institute. Kalian semua salah satu
sumber inspirasi. Tak lupa ingin kuambil
kesempatan untuk mengucapkan Syukur ke

4

hadirat Allah SWT yang telah
mengkaruniakan makna dari setiap
peristiwa. Aku sangat antusias untuk
mengucapkan terima kasih kepada kedua
orang tuaku dan keempat saudaraku di
rumah, kalian semua memiliki perhatian
yang banyak terhadapku. Juga tidak lupa
aku berterima kasih kepada anda semua
yang sudi membaca kisah.

Selamat Membaca !

Irwan Hambali

Istanbul Turkey, 30 September 2010

Catatan Penulis

“Adakah sebuah tempat dimana kita
bisa berbelanja partner, seolah-olah
orang yang tepat dapat dicari dan
diperlakukan sesuai dengan standar
kita” – The Path Of Love book

Nama Lita dan beberapa orang di buku ini
adalah nama samaran dan panggilan akrab
seseorang yang diangkat oleh Irwan
sebagai orang yang cukup mengusik
hatinya.

Foto yang menghiasi bagian depan
buku hanya ungkapan untuk
mengilustrasikan bahwa perjalanan
yang panjang telah ditempuh Irwan
serta mengandung pesan makna
tersembunyi bahwa sejauh itu nama
Lita telah memberi warna baginya.

Adik Wibowo

6

Teruntuk Lita

Daftar isi

1. Sekali Ketemu – 9
2. Pulsa Meningkat – 26
3. Keep In Touch – 36
4. Curhat Yang Tersirat – 41
5. Hadiah Yang Tersembunyi – 50
6. Kertas Bar Bill – 54
7. Everything Is About Blue – 60
8. Easy Night – 75
9. Momen Indah Tercepat – 81
10. Unek - Unek Di Atas Laut – 90
11. Puisi Greece – 94
12. Dunia On Line – 96
13. The Big Day Will Come – 100
14. When September End - 102

9

copyrightyolingbook

Sekali Ketemu

Pagi itu hujan rintik membasahi kota Bogor.
Dilihat dari arah barat sebelah timur Bogor
justru terang benderang menandakan tiada
hujan di daerah sana. Irwan tidak berapa
lama berteduh di balik tembok sebuah
swalayan karena Ia pikir hujan tak akan
berhenti-berhenti pagi itu. Sebenarnya ia
sudah membatin kalau rencana ke bekas
kampusnya akan kehujanan. Dasarnya ia
cowok yang nggak suka ragu-ragu kalau
ingin jalan maka kehujanan pagi itu menjadi
sebuah konskuensi yang harus diterimanya.
Setiap kali mau jalan ia jarang
mempertimbangkan nanti itu bagaimana. Ia
lebih cenderung berprinsip “gimana
nantilah”. Kehujanan hanya sebuah tragedi
kecil untuk langkahnya. Jarang sekali ia
terlihat begitu kesal atau marah-marah jika
kehujanan, justru ia seperti mempunyai
fantasi tentang hujan di perjalanan.

11

Menurutnya ketika ia berteduh di pinggir
jalan sambil melihat hujan menjadi sensasi
tersendiri yang mungkin jarang dimiliki
oleh orang lain. Irwan sangat tertarik
melihat air hujan yang saat mengenai jalan
raya. Timbul percikan-percikan indah yang
yang dapat dilihat. Seolah-olah ada molekul
air yang akan mewujud menjadi kristal-
kristal mirip diamond lalu buyar dan tidak
jadi. Sesekali ia akan terlihat menyalakan
batang rokok sebagai sahabat dalam
mengagumi karya Tuhan tentang air hujan
itu. Hanya karena air hujan pikirannya bisa
menerawang hingga jauh sekali. Ia
menganggap bahwa air hujan yang turun
saat ini merupakan air bumi yang sejak
puluhan tahun lalu terproses. Bukan air
yang baru kemarin hari menguap lalu turun.
Proses yang menurutnya panjang yang
terjalani tanpa melawan kehendak. Semua
menuruti aturan. Sedang manusia yang
mendapatkan anugrah air hujan itu yang
terkadang aneh-aneh. Air hujan kadang

12

ditolak atau disingkirkan karena mentang-
mentang ada hajat. Sebagian lagi
mengadakan ritual bersama agar
disegerakan hujan. Selalu ada rasa seperti
tidak terima. Sudah dikasih malah menolak,
tidak dikasih meminta. “Hemm … dasar
manusia!!!”, begitulah otaknya bekerja
kalau ia sedang menerawang jauh
memikirkan hujan. Sebagai pengagum
hujan Irwan mempunyai perilaku yang
boleh dibilang unik. Ia akan tampak
berkomat-kamit kalau tidak membatin
untuk menyebut kesempurnaan Tuhannya.

“Subhanallah … Maha Suci
Engaku … ya Allah Engkau telah
menciptakan hujan, sehingga tumbuh-
tumbuhan dan beberapa makhlukmu
merasakan manfaatnya”.

“Ya … Allah jangan Engkau
biarkan hujan ini berlama-lama karena aku
ingin melanjutkan perjalanan”. Sangat unik
memang, satu sisi mengagumi kekuasaan-
Nya, satu sisi ternyata ada pamrih”.

13

Sudah menjadi tradisi turun temurun
kalau anak-anak BHI pada nongkrong di
den haag cafe di dalam Hotel salak.
Suasana memang menjadikan orang ingin
balik ke tempat tersebut. Hot Spot, Counter
Bar, Food Counter, dan fasilitas yang lain
mendukung acara ngerumpi jadi tambah
asyik. Tidak ada rencana untuk berkunjung
ke bekas kampusnya, apalagi ada semacam
perasaan yang konyol andai dirinya nongol
di sana. Perasaan yang mengatakan bahwa
bekas dosen akan menyindir atau mungkin
saja menagih oleh-oleh dari luar negeri.

Memang Irwan termasuk salah satu
siswa yang berhasil masuk ke Holland
America Line yaitu salah satu perusahaan
besar kapal pesiar. Seperti sudah menjadi
tradisi bahwa orang yang berhasil berangkat
ke kapal pesiar akan digolongkan siswa
yang sukses. Ternyata target untuk bisa
kesana bukan hanya menjadikan sebuah
kebanggaan pribadi saja. Pihak kampus pun
menikmati kebanggaan itu. Mungkin akan

14

menjadikan nilai lebih di kemudian hari
bagi kampus tersebut. Bahasa bisnisnya
akan semakin menaikkan citra sekolahan
dimana sekolahan berhasil mendidik orang-
orang yang berkualitas. Mungkin dari hal
itu akan banyak murid baru yang tertarik
untuk bergabung di sekolah tersebut.

Suasana pagi menuju siang semakin
menampakkan sisi terangnya. Meski tadi
awan hitam menggelapi seantero langit
lambat laun warna hitam tersebut pudar
karena sudah banyak air tumpah ke bumi.
Irwan mendapati bajunya yang sudah kering,
lalu ia langkahkan kaki ke dalam kafe.

Kafe Den haag sedikit ramai dengan
sebagian pengunjung siswa siswi BHI.

Irwan melihat BHI masih megah
berdiri. Ibarat second home, BHI membuat
Irwan betah untuk berlama-lama. Hanya
saja sepulang dari kapal kemarin baru
sekarang Irwan menginjakkan kaki ke sana.
Itupun hari ini dikarenakan menemani

15

Bhebhe yang ingin mengikuti walk in
interview untuk sebuah hotel.

Siang itu Irwan merasa bahwa
bekas kampus itu seperti menjadi tempat
yang cocok untuk menumpahkan rindu akan
masa perjuangan dulu. Rindu akan masa di
mana keinginan untuk bisa keliling dunia
diawali. Setiap hari orang-orang tidak
menyangka bahwa di dalam diri Irwan
bergejolak rasa ingin bisa pergi ke Amerika,
atau mengililingi dunia dengan kapal pesiar.
Secara umum orang hanya akan tahu bahwa
Irwan di sekolah tersebut hanya belajar
bahasa Inggris dan ilmu perhotelan. Dalam
dirinya ada motivasi yang begitu kuat yang
tiap hari berteriak, “aku harus segera
bekerja”. Memang terkadang cita-cita lebih
banyak tersimpan dalam hati. Jarang ada
yang berani menyuarakan dengan lantang
bahwa keinginan atau cita-citanya itu tinggi
sekali. Alasan pertama tidak ingin dikatakan
terlalu muluk-muluk. Alasan kedua tidak
tahu sama sekali bagaimana harus

16

menstimulasi dirinya sendiri bagi cita-
citanya.

“Sialan, gue tadi nekat kehujanan
cuman biar gak terlambat aja sampai sini,
eh … malah lu yang ternyata selalu
terlambat dari pada gue”. Irwan
melontarkan kata-kata itu pada Bhebhe
yang ternyata baru datang sepuluh menit
setelah dirinya.

Irwan segera menggeser tempat
duduk tepat di depannya yang terhalang
oleh meja kafe. Bhebhe cuma tersenyum
sambil meletakkan bokongnya di kursi
tersebut, sambil ia membuka mulutnya.

“He he he … kau ini kalau merasa
lebih dulu datang selalu merasa yang paling
disiplin aja. Emangnya janjian jam berapa?”,
Bhebhe membalas dengan pertanyaan.

“Tuh … yang bikin janji aja lupa,
gimana mo bisa tepat waktu. Eh kalau lu
kerja ama orang bule, lu udah kena warning
tahu gak”, ekspresi Irwan seperti tidak
terima.

17

“Iye … iye ... Gue ngangku salah.
sekarang mo minum apa?” ucap Bhebhe
sambil melangkahkan kakinya menuju food
& bar counter. Hitung-hitung sebagai
permintaan maaf atas keterlambatan
pikirnya.

“Coce aja dech, jangan lupa pakai
lemon ya, … please!”. Sebatang marlboro
light segera Irwan keluarkan dari sakunya
selagi menunggu minuman dari bhebhe
datang. Cringg … Zippo warna kuning
dengan gambar lubang peluru dinyalakan.
Suara zippo itu cukup membuat ruangan
yang hening sedikit terusik. Terlihat
beberapa orang yang tengah duduk
membelakangi Irwan menoleh seperti ingin
tahu apakah zippo itu asli atau tidak.

“This is your coce sir, anything else
you’d like to order?” Tampak Bhebhe sudah
duduk di tempatnya lagi sambil
menyodorkan coca-cola yang saat itu
disajikan menggunakan gelas tipe high ball

18

berwarna abu-abu tua bertuliskan merk
minuman itu sendiri “coca cola”.

“Doa’in interview hari ini diterima
ya!”, Pinta Bhebhe dengan sungguh-
sungguh. Tersirat ketegangan pada
wajahnya. Maklum saja menghadapi walk
in interview itu ibarat seperti perang
bharatayuda. Semua keahlian akan
dikeluarkan demi untuk menjawab
pertanyaan yang tidak lebih dari tiga puluh
buah.

“Jailah … lu gak minta di doa’in aja
udah gue doa’in selalu. Moga lancar rejeki,
moga enteng jodoh”. Sambil bercanda
Irwan berucap. Bhebhe sudah terlihat
berusaha untuk tidak menunjukkan
kegugupannya siang itu.

“Heh … kok malah melamun”,
bentak Bhebhe ketika mendapati mata
Irwan yang kosong.

“Ngomongin masalah interview,
BHI telah berhasil meng-upgrade diriku
untuk sedikit mengerti bahasa Inggris.

19

Karenanya pula aku berhasil lolos dalam
interview di SBI tahun lalu”. Irwan
berhenti sebentar dalam ucapannya. Sambil
mengeluarkan nafas lega Irwan berucap.
“Tanpa sekolah di BHI mungkin angan-
angan ke kapal pesiar gak jelas kedapat”.
SBI adalah Sumber Bakat Insani yang
menjadi agen recruiting Holland America
Line”.

Teringat interview yang akan
dihadapi Bhebhe pun ingat dirinya sendiri.
Tampak ia mulai mempersiapkan segala
sesuatunya demi interview test hari ini.

Siang itu satu persatu tanpa
disengaja berkumpul teman-teman irwan
yang juga seangkatan di kampus dulu.
Mereka berkumpul dengan tema yang
spontan. Tidak ada yang banyak
diperbincangkan saat itu kecuali canda-
canda kecil yang menyelingi nasehat-
nasehat jitu Irwan ke Bhebhe tentang
bagaimana menghadapi interview.

20

Dari arah lain terlihat seseorang
berkata sedikit teriak “Pak! Pak! Ini Irwan
alumni BHI! Baru aja dia pulang dari kapal
pak!”. Seorang cewek bernama Miema
berusaha memberitahu keberadaan Irwan di
di situ pada seorang lelaki yang kebetulan
juga sedang di dalam kafe. Lelaki itu segera
menoleh dan mendekat ke arah Irwan

“Hei … kalian dah lama disini”.
“Apa kabar wan? Gimana Wan … selamat
datang dech di Indonesia. Baru pulang dari
kapal ya”. Ucapan itu ditujukan ke Irwan.
Lelaki itu tampaknya sudah mengenal
Irwan pula. Dia adalah pak Upuk yaitu
bekas dosen Irwan. Sekarang masih
mengajar di BHI.

“Kebetuluan bapak dan adik-adik
kelasmu ada di sini,, ayo sempatin buat
sharing pengalaman. Jarang-jarang ada
alumni sukses mau mampir”. Pak Upuk
berusaha mengajak Irwan untuk sedikit
berbagi pengalaman kepada adik kelasnya
yang kebetulan bersama pak Upuk di dalam

21

kafe. Pak Upuk juga terlihat antusias atas
pemberitahuan Miema.

“Thanks Pak Upuk. Kebetulan
kesini antar teman. Sharing nya lain waktu
aja ya pak, saya tidak ada persiapan sama
sekali”. Irwan menyanggah permintaan
laki-laki itu.

“Udahlah, cuman acara santai ini,
ayo aku antar ke sana! … please! Biar adik-
adik kelasmu semangat”. Pak Upuk
berusaha meyakinkan Irwan. Tangan laki-
laki itu menggapai tangan Irwan untuk
diajak berlalu dari situ. Teman yang lain tak
memberi komentar apa-apa. Mereka masih
melanjutkan dengan tema spontan-spontan
yang dibahas. Irwanpun akhirnya beranjak
meninggalkan sekawanan temannya di
tempat termasuk Bhebhe sambil memberi
kata-kata execuse sebentar.

“Bentar ya … kalian enjoy aja!”.
Irwan mohon diri sambil kedua pundah
diangkat dan tanganya menengadah ke atas
seperti mengangkat sesuatu.

22

Siang itu memang tidak ada yang
special di Kafe Den haag. Pengunjung
masih seperti biasa. Beberapa orang sedang
main netbook. Maklum adanya hotspot
menarik perhatian para bloggger maupun
facebooker untuk berselancar di situ.
Mereka berselancar ke dunia maya. Dunia
yang penuh ruang dan seperti tidak ada
keterbatasan. Sebagian dari mereka ada
yang terlihat berkali-kali order capuccino
maupun hot drink lainnya. Memang
begitulah secangkir kopi dan rokok menjadi
partner yang tak pernah komplen meski di
ajak berpetualang ke dunia maya berjam-
jam. Justru terkadang kelakuan orang-orang
itu yang menjadikan jemu waiter atau
waitres. Order makanan ringan dan kopi
saja bisa menyita tempat dan waktu yang
lumayan lama. Sudah menjadi konskuensi
kalau fasilitas hotspot itu menarik
pengunjung tapi satu sisi terkadang hanya
memenuhi tempat, soalnya mereka cuma

23

sekedar mengambil fasilitas free internet

saja, sedang untuk order makanan atau

minuman ringan hanya untuk formalitas.

Irwan mengimbangi antusias pak Upuk.
Dengan semangat ia menjelaskan bahwa
bekerja di kapal pesiar itu total berbeda
dengan seperti apa yang dibayangkan. Akan
ada hari-hari yang tidak selalu indah. Itu
bukan karena tidak bisa bekerja, tetapi
karena rutinitas yang tiap hari dijalani selalu
sama dan sama. Tidak ada hari libur.
Kejenuhan itu yang sekali tempo
menjadikan suasana hati kusut. Ada
beberapa sisi positifnya dan tentu saja topik
klasik yaitu dollar. Keliling dunia … ya …
itu juga menjadi salah satu anugrah dan
bagian dari perjalanan waktu di kapal pesiar.
Irwan mengulas tentang pengalamannya
bekerja di kapal pesiar.

“Emang pacarnya nggak kangen ka,
kalau ditinggal lama gitu?”. Cewek yang
sejak tadi paling serius memperhatikan
ulasan tampak mengangkat bicara dan
mengajukan pertanyaan yang tak disangka
oleh Irwan. Cewek itu duduk di dekatnya.

24

“Aku yakin cewek itu akan tidak
terima kalau kutinggal lama, dan aku yakin
susah sekali meyakinkannya bahwa aku
berangkat ke kapal itu untuk kembali dan
untuk sementara, tapi yang jadi soal
ceweknya itu yang gak ada … he he he”.
Sekenanya Irwan menjawab.

Panjang lebar perbincangan siang itu. Kafe
Den haag sedikit asing bagi Irwan siang itu
karena banyak orang-orang dari BHI yang
tergolong baru. Mereka adalah orang-orang
yang sangat antusias untuk bisa pergi ke
kapal pesiar. Persis seperti yang
dirasakannya sewaktu di BHI dulu. Cewek
yang duduk di samping Irwan itu bernama
Lita. Ia yang tampak paling serius
memperhatikan penjelasan-penjelasannya
tadi. Lita merupakan sisiwi BHI yang
terlihat tekun dalam setiap pelajaran atau
setiap kegiatan kampus. Bahkan banyak
acara non formil di hotel Salak yang dapat
diikuti Lita untuk tambahan materi tentang
ilmu hotelnya. Tak heran keahlian juggling
dikuasai oleh Lita yang belum tentu teman-
temannya bisa. Itu buah dari ketekunannya
belajar.

25

Lita cenderung cewek yang supel dan aktif.
Menurutnya segala sesuatu itu perlu
dipelajari. Bukan hanya untuk komersil
semata melainkan bisa untuk fun. Siang itu
Lita memang terlihat paling antusias. Ia
diajak oleh pak Upuk secara tidak sengaja
karena kebetulan Lita sering berada di
kampus.

Ada yang menjadi kesan mendalam dari
kejadian den haag café siang tadi. Irwan
merasa sebuah keberhasilan itu akan dirasa
ketika langkah yang diambil itu sedikit
lebih dulu dari pada yang lain. Langkah
yang lebih dulu paling tidak memberi
pengalaman yang nyata yang bisa dirasa.
Karena ia lebih dulu dapat bekerja di kapal
pesiar dibanding rekan-rekannya itulah
seolah menjadikannyaa paling depan dan
tampak lebih dulu sukses. Perasaan
mendalam Irwan siang itu bukan hanya
masalah ia dianggap sebagai orang sukses,
tetapi ada cewek yang mau serius bertanya
tentangnya, tentang perjalanannya, tentang
hari-harinya di kapal. Pokoknya siang itu
hal unik untuk hari setelahnya.

26

Singkat sepele dan tak di rencana
pertemuan siang itu menjadi perjumpaan
pertama kali dengan Lita.

“Ka Irwan, Lita bisa minta no telp
gak, ntar Lita pengen konsultasi lebih detail
tentang Holland America Line, boleh gak?”.
Sambil mengeluarkan hp Lita memohon.
Keduanya lalu bertukar nomer telepon.

“Ok dech”. Irwan segera
mengejakan no telpnya sekaligus me-record
nomer Lita. Setelah berpamit diri Irwan
segera beranjak dari situ sebab Bhebhe
sudah menunggu di warung seberang kafe
Den haag.

Lita bersama temannya yang lain
pun menyalami Irwan. “Makasih ka, keep in
touch ya …!”. Seru Lita terakhir.

“Ok dech … thanks semuanya, pak
Upuk thanks!”. Sambil melambaikan tangan
tanda pergi Irwanpun berlalu.

Pulsa Meningkat

Kota Bogor terlihat padat apalagi jalanan.
Pada jam berangkat kantor atau jam pulang
kantor kendaraan mirip semut bertebaran.
Situasi paling tidak kusukai ketika lagi
enak-enaknya jalan di trotoar adanya
kendaraan roda dua yang nyelonong
menggunakan lajur yang sebenarnya khusus
pedestrian. Mungkin maksud mereka untuk
menghindari macet pada jalanan utama.
Dengan mengambil jalan pintas menurutnya
akan segera sampai tujuan. Tindakan yang
demikian yang tentunya menjadi nilai
kesadaran hukum rendah. Masing-masing
mementingkan dirinya sendiri. Tidak ada
pemberian kesempatan kepada yang lain.
Aku mencoba flash back bagaimana
kunikmati jalanan di negara orang lain.
Seketika pejalan kaki mau menyeberang
jalan secara otomatis kendaraan akan
mengalah memberi kesempatan. Kendaraan
akan menunggu sampai si pejalan benar-
benar telah berlalu. Sebuah sikap yang
sangat perfect menurutku.

28

Aku ingat bagaimana situasi konyol ketika
harus beradaptasi dengan lain budaya.
Frame ku sebagai orang Indonesia ketika
menyeberang jalan adalah menunggu
kendaraan lewat makanya ketika berada di
peradaban seperti Amerika apa yang terjadi
aku menunggu mobil lewat sedangkan
mobil tersebut juga menungguku untuk
menyeberang. Nah yang jadi masalah ketika
aku sudah di kota sendiri seperti ini.
Terpaksa harus ada penyesuaian lagi dalam
hal menyeberang sebab aku tidak mau mati
konyol gara-gara kendaraan yang
pengemudinya edan-edanan.

Siang hari Bogor juga panas bukan main.
Istilah kota hujan untuk Bogor menurutku
bukan hujan air tetapi hujan sinar ultra
violet yang dapat membakar kulit. Siang itu
terlihat penjaja koran dan beberapa asongan
yang lain menawarkan dagangannya. Begitu
rambu lalu lintas berwarna merah mereka
seperti dikomando untuk segera mendekat
ke mobil-mobil untuk target marketingnya
hari itu. Trotoar yang kulewati itupun
tampak penuh dengan tenda-tenda kaki lima.

29

Jadi aku harus berusaha mencari posisi
terbaik agar tidak terhimpit antara tenda
dengan kendaraan roda dua yang terkadang
nyelonong naik ke trotoar.

Aku mencoba untuk berhenti sebentar di
penjual minuman dingin. Minuman itu
hanya ditempatkan di sebuah kotak cambro
dengan es batu sebagai pendingin. Udara
yang sedikit enak untuk sejenak beristirahat
dan menikmati pemandangan 360 derajat
berkebalikan dengan suasana depan hard
rock café Barcelona. Aku duduk di sebuah
papan yang disediakan oleh si penjual
minuman.

“Pak … Pocari Sweat kaleng donk,
terima kasih!”. Ucapku pada si penjual
minuman itu. Aku salut dengan laki-laki tua
yang kaosnya bertuliskan FBI yang tak lain
adalah si penjual minuman.

“FBI kalau di Indonesia ternyata
hanya jualan minuman dingin di pinggir
jalan”, pikiran konyol dalam hatiku. Si
penjual itu seperti sudah bersatu dengan
alam. Ia tidak terlihat sumpek atau muak
dengan suasana. Memang tempatku duduk
dan sekitarnya tampak lebih rindang dan

30

angin segar masih bersemilir. Aku berada di
bawah pohon akasia besar. Akasia itu
mungkin salah satu pohon yang berhasil di
tanam oleh program sejuta pohon jaman
Pak Harto dulu. Ternyata program itu
sangat bermanfaat sekali. Dan akupun
menikmatinya.

“Pak, ada pulsa XL nggak?”,
tanyaku menyela setelah satu tegukan
pocari sweat itu berhasil meringankan
dahaga hausku.

“Ada mas, yang berapaan?”, pak
FBI itu balik bertanya.

“Yang seratus ribu aja”. Jawabku
singkat. Memang sejak pertemuan dengan
Lita beberapa waktu lalu menjadikan
konsumsi pulsa meningkat. Ada semacam
kegiatan yang membuat sedikit orang iri.
Aku terlihat sibuk menjawab SMS dan
telepon. Aku cukup menghargai teman-
temanku di rumah dengan persepsinya
bahwa orang punya uang banyak atau relasi
banyak itu akan sibuk. Mentang-mentang
aku pulang dari kapal mereka
menganggapku begitu. Sebentar-sebentar
telepon berdering, lalu nada penerima pesan
bunyi. Begitulah terkadang kelihatan sibuk

31

itu juga dapat mengusik kenyamanan
sekitar. Waktu-waktuku liburan dari kapal
dengan teman di rumah atau dengan semua
isi keluarga menjadi seperti terenggut. Ada
yang merasa telahku lupakan. Ada yang
merasa “wah sekarang Irwan sombong
setelah jadi orang berduit sampai-sampai
kita-kita gak diajak main”. Masih banyak
lagi statemen yang bernada tidak puas.
Dalam hati kadang aku berfikir bahwa
memang tidak selamanya kita akan kumpul
pada sebuah sosial itu-itu terus. Terkadang
harus ada perubahan untuk lebih banyak
bergaul dengan sosial yang lain. Ketika
dunia pekerjaan atau bisnis telah ditekuni
satu persatu relasi akan bertambah. Dari
relasi itu akan tercipta hubungan yang
mengarah kepada hubungan apa saja,
sehingga pada suatu saat kita tidak akan
bisa lagi menemani sosial yang telah lama
kecuali hanya sekedarnya saja. Sebagai
gantinya kita akan menerima resiko untuk
diperbincangkan entah itu sisi buruk atau
sisi baik diri kita. Padahal kalau mau dibalik
keadaannya, mengapa kalian tidak juga
berubah? mengapa kalian tidak mau maju?
mengapa kalian hanya seia sekata saja

32

padahal tidak ada tindakan pada kalian
untuk memulai hal baru?

Hari itu sengaja aku jalan keluar
rumah hanya untuk menghilangkan penat
dari rutinitas liburan di rumah. Liburan
ternyata kegiatan yang membuat suntuk
juga, soalnya tidak ada kerjaan. Di bawah
pohon akasia di tempat dudukku aku
berguman “sewaktu bekerja bosen, giliran
sudah liburan bosen juga”. Dasar
manusia!!!”.

Tak berapa lama dari itu sebuah
pesan sms masuk. Pesan dari Lita memang
yang paling banyak memenuhi inbox.
Beberapa pesan yang terkadang menjadi
kata-kata menarik sengaja aku simpan di
aplikasi notes. Itu cuma iseng saja
kulakukan.

“Ka, jadi berangkat lagi kapan nich,
kapal apa next contract?”. Sms dari Lita
yang barusan masuk begitu bunyinya.

Aku ceritakan bahwa aku akan
berangkat lagi ke Oosterdam. Jujur saja
sewaktu liburan pertanyan yang paling aku
benci adalah pertanyaan “kapan berangkat
lagi ke kapal?”. Mungkin suasana liburan
ini aku tidak mau mendengar tentang istilah

33

kapal lagi. Pada intinya pertanyaan “kapan
lagi balik lagi ke kapal” tidak hanya Lita
saja yang menanyakan. Tapi buat Lita
seperti ada ekstra tenaga yang
mendorongku untuk memberi jawaban apa
saja pertanyaannya.

Aku masih sedikit berlama-lama di
tempat pak FBI penjual minuman. Tempat
tersebut dapat membuatku tertambat
sejanak untuk beberapa jam lamanya.
Karena angin semilir yang terus membelai
kulit dan minuman dingin yang tersaji lebih
menjanjikan nyaman untukku saat itu
daripada aku harus berjalan lagi menyusuri
trotoar.

Demikianlah hari-hari ku makin
diwarnai dengan kehadiran Lita yang pada
prinsipnya ia merasa mempunyai orang
yang bisa dipercaya keabsahannya tentang
informasi dunia kapal pesiar. Iphone yang
menjadik asisten pribadiku bertambah
fungsinya sebagai ruang konsultasi. Hampir
tiap hari ada saja tanya jawab tentang
bagaimana kapal pesiar itu sedang aku
sendiri tahu kenapa enak aja menemukan
Lita dengan kondisinya seperti itu.

34

Liburan empat bulan itu ibarat
empat minggu saja kurasakan. Semua
berjalan cepat sekali. Padahal kalau di kapal
bisa saja aku merasakan empat minggu itu
seperti empat bulan. Inilah lagi-lagi
penyakit tidak puas diri manusia.
Menikmati enak itu selalu kurang sedang
mendapati hal yang kurang enak seperti
enggan. “Dasar manusia!!!”, Irwan justru
mengutuk keadaan dirinya dengan bahasa
khasnya “dasar manusia!!!”.

Kota bogor dengan trotoar yang tak
lebar lagi karena pengaruh warung tenda
tetap mempunyai tempat untuk easy
evening ku. Aku memang lebih suka untuk
bernuansa dengan alam, melihat ke sekitar,
ke jalanan yang orang-orang menunjukkan
berbagai wajah perjuangan mereka. Sesaat
aku rindu akan suasana trotoar depan hard
rock café Barcelona. Gambaran yang ada
persis seperti yang kulihat sore itu. Bedanya
ada pada fisik. Aku lihat dari lampu merah
beberapa rombongan pengamen yang
beberapa di antaranya hanya menggunakan
tabung aqua yang kalau dipukul tanpa ada
nada. Kalau di depan hard rock café
Barcelona orang mengamen pakai alat

35

musik lengkap. Ada bas betot, gitar, perkusi,
flute dan penampilan musisi jalanan itu rapi
memakai jas. Ada yang berdasi tapi tidak
dikenakan resmi. Pengamen yang kulihat
dari lampu merah itu mengenakan kaos
lusuh bergambar Bung Karno, pada leher
ada tato kecil, rambut dibuat model punk
yang menunjukkan karakter orang bebas
berkehendak. Seni yang ditunjukkan tidak
kutangkap justru imej seram yang
kutangkap. Permukaan trotoar disini sama
dengan trotoar seputar hard rock café
Barcelona. Lantai trotoar bermotif segi
enam warna merah. Bedanya disini
terpasang tenda-tenda yang tiap hari
mengeluarkan restribusi ke pemda di mana
di balik tenda itu terdapat rekreasi kuliner
yang transaksinya habis makan terus bayar.
Sedang di Barcelona bisa dilihat kafe-kafe
yang tata letaknya dikoordinir rapi. Bahan
tenda terbuat dari besi, di bawah telah di set
up meja-meja menggunakan table cloth
lengkap dengan cutleries. Beberapa orang
tengah duduk menikmati segelas
chardonnay sambil tangan kanannya
memegang buku, sedang orang lain dengan
aktifitasnya tidak mengganggu si pembaca.

36

Tidak ada yang siul-siul menggoda atau
mengomentari pejalan yang lain.

Sore itu aku ingin bisa
menambahkan penjelasan yang demikian ke
Lita bahwa budaya luar negeri itu ada yang
bermanfaat juga contohnya saling
menghargai orang lain ketika berada di
jalanan.

“Have a nice evening Lita”. Sms ku
ke Lita mengakhiri aktifitas di trotoar sore
itu.

Keep In Touch

Sekawanan burung laut yang tak kukenal
nama jenisnya melayang meniti angin
bergerak kian kemari mengikuti laju kapal.
Sesekali merendah mendekati buih putih air
laut yang timbul karena pengaruh
propheller. Langit cerah. Matahari bersinar
terik. Andai bukan di tengah laut udara
mungkin tak sesegar ini. Kapal Oosterdam
tidak berbeda jauh dengan kapal jenis kelas
vista lainnya. Ia termasuk salah satu dari
keempat belas kapal Holland America Line.
Jika dilihat dari luar kapal tampak berwarna
biru di bawah dan putih di atasnya. Jumlah
penumpang kapal kelas vista kurang lebih
2.500 an orang termasuk crew nya.
Beberapa menit sebelumnya, Oosterdam
berlalu meninggalkan dermaga San Diego -
California. Kira-kira 7 knot kecepatan kapal.
Laju kapal ke tengah laut hanya diiringi
sekawanan burung-burung tadi. Nampaknya
buih-buih putih di belakang kapal itu yang
menarik perhatian burung. “Akankah ada
makanan di balik buih putih itu?”, jelas

38

segala sesuatu telah diatur oleh Yang Maha
Kuasa. Rejeki setiap makhluk dijamin oleh
Allah.

Kontrak kedua ini aku masih
menyisakan rasa berat untuk meninggalkan
Indonesia. “Pihak agen yaitu SBI terlalu
cepat menyuruhku sign on”. Kekesalanku
pada SBI mengawali langkah ketika mau
menerima paspor dan tiket pesawat cathay
pacific. Perjalanan yang melelahkan badan.
Dari bandara Soekarno Hatta menuju LA
harus kutempuh sebagai wujud kepatuhanku
untuk menjadi karyawan Holland America
Line. Untung saja penerbangan tidak
langsung satu tujuan melainkan dua kali
transit sehingga masih ada variasi dalam
perjalanan. Berangkat dari bandara
Soekarno Hatta transit di Hongkong
kemudian dilanjut ke LA. Tiba di LA
menginap di hotel Ramada baru paginya
dijemput untuk masuk ke Oosterdam yang
sedang berlabuh di San Diego. Perjalanan
dari LA ke San Diego ditempuh 4 jam
menggunakan bus.

Berlalunya kapal dari dermaga San
Diego kali ini awal dari perjalanan baru
sekaligus kontrak baru. Akan ada rutinitas

39

lama yang terulang. Semua sudah di depan
mata. Aku menempatkan beberapa alasan
hingga aku terproses demikian. Pertama
tetap pada alasan klasik bahwa di
Oosterdam ini aku bekerja untuk mencari
uang sebagai modal untuk mimpiku yang
lain, kedua mengikuti irama tanggung
jawab di keluarga. Bagi keluargaku aku
harus bisa memaksimalkan kesempatan
dalam menghasilkan materi di pekerjaan ini
walaupun pada akhirnya keluargaku
menerima aku dan karyaku apapun adanya.

Satu sisi ada ganjalan yang masih
belum terperikan bahwa aku masih ingin
bisa melihatnya sekali lagi. Seseorang yang
masih membekas dalam ingatanku dan
terbawa sampai ke dalam Oosterdam ini.
Seseorang yang tiba-tiba saja memberi
warna hari-hari liburan kemarin. Seseorang
itu adalah Lita. Memang sangat konyol
untuk mengakui bahwa aku mempunyai
rasa suka padanya.

Angin laut berhembus sedikit kencang.
Ombak terbelah terkena badan kapal.
Deburan ombak yang spontan tercipta dari
laju kapal terdengar rendah mengimbangi

40

deru mesin kapal itu sendiri. Helaan nafas
Irwan yang berkali-kali menciptakan
suasana pribadi untuk mencari keselarasan.
Perpaduan angin laut, suara deburan ombak,
deru mesin kapal serta helaan nafas tersebut
seolah menjadi harmoni sore itu bagi
Oosterdam. Sengaja Irwan naik ke deck 3
atau dengan istilah lain promenade deck
untuk melihat daratan San Diego yang akan
ditinggal. Tiga puluh menit lalu usai sudah
pekerjaan shift ke 2 hari itu. Seperti ada
yang mau dicari selain melihat daratan yang
ditinggal. Mungkin mengharap adanya
suasana selingan yang lebih renyah dan
ringan. Irwan bergegas mengeluarkan
iphone dari kantongnya. Tangannya cekatan
membuka messages yang terdapat sederet
nama pengirim. Seperti ada yang dipilah
pilih dan tampak ekspresi yang tak jelas
namun sedikit menandakan bahwa ia hanya
teringat oleh seseorang dan ingin membaca
kembali sebuah pesan yang sempat dikirim
olehnya. “hati-hati di perjalanan ya ka!”.
Sejenak Irwan melayangkan pandangannya
ke depan. Tak ada yang dituju pada
pandangan matanya, tetapi hatinya yang
mantap menatap arah depan yang seolah

41

ada harapan untuk menuju ke sana. Tangan
kirinya yang sedari tadi menempel di hand
railing terangkat kemudian diayunkan
kebawah sambil jari-jarinya menggenggam
pasti. Gerakan tangan itu seperti mengiringi
sebuah keputusan baru yang muncul.

“Lita, aku tersanjung untuk
mendapat kesempatan mendengarmu, dan
aku berterima kasih selama ini engkau pun
telah mendengar bagaimana keadaanku
sebenarnya, Ok aku akan selalu keep in
touch denganmu. Aku akan terus
menghubungimu meski sekarang terentang
jarak yang demikian jauh, semoga Tuhan
selalu memberi kesempatan pada kita untuk
tetap berkomunikasi”. Demikian Irwan
mendengar sesuatu dari hatinya sendiri.

Curhat Yang Tersirat

Oosterdam terdiri dari sebelas deck. Urut
dari yang paling bawah yaitu c, b, a, 1, 2, 3
sampai dengan 11. Masing masing angka 1,
2, 3 dan seterusnya ada sebutan yang lain.
Untuk 1 adalah main deck, 2 adalah lower
promenade deck, 3 promenade deck dan
seterusnya hingga deck paling atas disebut
sport deck. Hari pertama datang aku
langsung menempati kamar B 130. Satu
kamar terdiri dari 2 orang. Setiap kapal
tempat tidur dibuat bertingkat. Kebetulan
aku menempati yang paling bawah. Masing-
masing tempat tidur dilengkapi dengan
korden. Apabila ingin tidur korden dapat
ditarik menutup. Minggu pertama aku
langsung berusaha menyesuaikan diri
dengan keadaan sekitar. Tidak ada perasaan
asing hanya untuk tinggal di sebuah kamar
di kapal karena kontrak pertama sudah
pernah terjalani. Dinding kapal yang terbuat
dari besi steinless bercat kuning berada
tepat di sampingku dan terasa sangat dingin
jika kusentuh. B 130 menjadi tempat

43

peraduan terindah setelah aku berhasil
menyesuaikan. Tiap kali habis kerja
kutumpahkan semua keluh kesah di dalam
korden. Tak ada yang tahu pikiranku
kemana. Tak ada yang menyaksikan
bagaimana mataku hanya menatap papan
kayu yang menjadi alas tempat tidur di
atasku. Kala anganku menerawang
menembus semua yang ada di depan mata
hanya kudengar suara ac kamar yang
mengalun lembut dengan suaranya yang
khas, mendesah stabil. Beberapa hiasan
yang tertempel di dinding sebelahku rebah
hanya souvenir berbentuk orang-orangan
bertuliskan costa maya. Costa Maya adalah
salah satu kota di Mexico yang sempat
dikunjungi beberapa waktu lalu. Souvenir
itu tertempel karena magnet di belakangnya.
Ada keinginan untuk mengganti souvenir
itu dengan sebuah foto yang kuingini. Foto
yang menghiasai dinding tempat tidur.
Seperti tempat tidur rekan-rekanku yang
lain yang mana terpampang foto keluarga,
foto istri, foto anak maupun foto seseorang
yang tengah menunggu di rumah. Tak ada
yang tahu betapa aku iri dengan atribut

44

tempat tidur seperti itu. Benakku pun
mentertawai kondisi diri sendiri,

“Nah lu mau nempel foto siapa?
keluarga? Ibu? atau siapa?”.

“Foto orang yang kuingini”. Aku
membela diri sendiri. “Aku ingin fotonya,
foto yang baru saja memberi warna hari-
hariku”.

“Aha … pacar maksudmu?”, suara
yang mengejek tadi kembali tanya.

“Orang yang kuingini !!!” pacar ???
tidak secepat itu statusnya, tidak secepat itu
yang kurasa”. Orang yang kuingini itu
orang yang telah berhasil memberi warna
dengan sikapnya yang mau mendengarku.
Orang itu bahkan memberi kepercayaan
padaku sebagai teman curhat. Kamu
mungkin tidak tahu beberapa waktu silam
aku selalu meluangkan waktu untuknya.
Memberi jawaban setiap kali pertanyaan ia
ajukan. Aku tidak pelit untuk sekedar
memberi informasi baik itu pekerjaan
maupun dunia seperti kapal ini. Dunia yang
dapat merenggut seseorang dari seseorang.
Dunia yang akan merentangkan jarak.
Dunia yang di dalamnya berisi segudang
fenomena yang andai tidak hati-hati hanya

45

akan menyeret ke arus bawah, kehidupan
glamour dan budaya barat yang kompleks.
Dunia yang ternyata hanya memiliki
ruangan terbaik namun kecil tertutup
korden untuk orang yang ingin mengadukan
diri atas kepenatan”. Demikian maksudku
menjelaskan.

Malam itu seperti biasa aku rebah
dalam kondisi seperti orang pesakitan.
Mungkin tempat tidur di atasku itu berisi
orang yang sama. Apa yang tengah
dipikirkan saja yang tak sama. Aku yakin
bahwa orang yang di atas tempat tidurku itu
sedang mengadu, sedang berkomat-kamit
meminta sesuatu yang lebih baik daripada
situasi saat ini pada Tuhannya. Di antara
kami setiap kali mau beranjak tidur hanya
ada sedikit obrolan tetapi tidak berhadapan.
Masing-masing dari kami berada di tempat
tidurnya masing-masing. Masing-masing
dari kami dengan kesukaannya yaitu kamar
bercahaya redup sewaktu mau tidur. Waktu
menunjukkan pukul 3 pagi. Orang lain di
kapal sudah pada pertengahan mimpinya.
Aku baru saja selesai kerja jam 1 malam.
Kebetulan pekerjaanku pada bagian shift
malam. Entah sudah yang ke berapa kali

46

aku dengan kibiasaanku mengotak atik
notebook sambil tengkurap. Tetapi tidak
malam itu. Aku hanya rebah dengan
maksud mendapatkan energi yang lebih
nyaman. Satu minggu di kapal badan masih
belum terbiasa dengan rutinitas pekerjaan.
Terutama kakiku. Kakiku sakit karena
sepatu safety. Safety shoes yang ujung
dalamnya terdapat besi pelindung sedikit
lebih berat dari pada sepatu pada umumnya
memang membuat kulit telapak kaki
menebal. Biasanya tiga mingguan baru
kondisi akan menjadi lebih baik.

“Menurutku kerja di kapal itu nggak
terlalu berat-berat amat wan, pikiran yang
berat”. Kata temanku pada suatu malam
menjelang tidur. Hanya terdengar suaranya
saja yang datar agak sedikit parau.

“Yang dirasa gimana mas”, suaraku
berusaha menembus papan tempat tidur
menuju padanya.

“Rutinitas pekerjaan itu hanya
sekedar aktifitas yang tetap bisa dijalani,
dan aku pikir pekerjaan di kapal siapapun
bisa menjalani. Kalau dulu sewaktu di
pendidikan perhotelan terbayang betapa
sulitnya mengikuti standar pekerjaan di

47

hotel berbintang lima, taunya pekerjaan itu
bisa diikuti dalam masa sosialisasi yang
tidak lebih dari dua jam. Masalah pikiran
wan yang ternyata lepas dari pengamatan.
Mungkin memang tidak bisa dijelaskan
ya … karena kondisi itu hanya akan dapat
dirasa justru ketika kita sudah berada di sini.
Keberadaan yang jauh dari keluarga, dari
orang terdekat yang dicintai menjadikan
pikiran terkadang ngelantur dan berontak
untuk tidak mau mengakui bahwa di sini itu
kita harus survive. Inginnya segera kembali
ke rumah, menikmati waktu bersama
keluarga atau dengan orang yang dicintai.
Satu hal lagi pikiran kita yang susah
menerima keberadaan seperti sekarang ini
karena ditambah tekanan manajemen untuk
pencapaian target. Aku tahu bagaimana pun
juga masalah pekerjaan tidak bisa disangkut
pautkan, tetapi setidak-tidaknya menjadikan
keruh hati”. Edy yang dengan kata-kata
beruntun meluapkan unek-uneknya. Unek-
unek itu ibarat beban yang ia jatuhkan dari
tempat tidurnya ke bawah. Seperti bantal
yang hampir tiap malam ia jatuhkan secara
tidak disadari. Dan aku memungutnya lalu
mengembalikan ke tempat tidurnya dengan

48

sedikit menyingkap korden. Mungkin
luapan pikiran temanku ibarat bantal yang
jatuh. Setiap kali terjatuh ada lagi yang
mengembalikan yang mau tidak mau harus
ia kenakan lagi.

Begitulah malam itu obrolan kami hanya
sampai disitu. Tidak ada ujungnya. Aku
sendiri tidak ingat kapan obrolan itu
berakhir sebab kami sudah dalam lelap yang
tidak disengaja. Kami terlelap dalam
pemikiran tentang keadaan hati kita masing-
masing.

Pada dasarnya aku sudah pada kondisi yang
sudah kutebak sebelumnya. Kehidupan di
kapal akan seperti itu. Pengalaman kontrak
pertama sudah menjadikanku biasa dengan
keadaan. Aku sudah dengan persiapan
untuk menjalani kontrak di Oosterdam.
Hanya saja aku tak mempersiapkan pergi
dengan meninggalkan seseorang yang
sanggup mencuri hati. Inilah yang
membedakan antara kontrak lalu dengan
sekarang. Bagaimana aku menjalani
kedepannya? Aku hanya bisa pasrah pada
kehendak Yang Kuasa. Aku ikut dengan

49

sistem alam yang telah diaturnya. Aku
harus menyadarinya bahwa aku saat ini
bukan untuk diri sendiri tetapi untuk sebuah
perjuangan demi taraf hidup keluarga dan
perjuangan mencari jati diri.

Cinta !!! … itu kata-kata yang sesaat aku
dengar dari Lita beberapa waktu sebelum
aku diberangkatkan ke kapal. Aku hanya
sedikit bertukar pandangan tentangnya. Aku
tak memahami makna yang terkandung,
baik yang manjadi statemennya maupun apa
yang aku coba ungkapkan. Yang kutangkap
hanyalah beberapa ungkapan sedikit realita
masa lalu. Masa di mana ia dalam keraguan
atas sebuah hubungan dengan orang lain.
Masa yang sempat ia ceritakan sebagai
kenyataan yang membuatku ingin
melengkapi kekuranganya. Kalau saat itu ia
merasa ada yang menyakiti aku seperti
ingin memberikan tindakan untuk
menyembuhkan. Kalau ada hari-harinya
yang membuatnya suntuk aku seolah ingin
datang dan menghiburnya. Kalau ia
mengagumi hal-hal indah aku ingin
menyatakan bahwa semua itu tepat
untuknya.

50

Apa yang aku ungkap kepadanya
pun seperti tidak pernah sampai karena pada
keadaan tertentu justru aku masih terlihat
konyol. Pengakuanku ingin menyayanginya
mungkin saja justru menambah beban baru
baginya. Benarkah ia telah menutup hatinya
untuk orang lain karena sebuah masa lalu?

Sejak hari itu aku mengaku bodoh untuk
sebuah rasa baru yang makin hari makin
tumbuh. Semakin kuingat dirinya semakin
berkembang rasa baru itu. Dan saat ini tak
ada tempat lain lagi kecuali tempat tidur B
130 yang menampung. Andai perasaan baru
itu kucoba ungkapkan pada orang lain
perasaan itu berbalik arah kembali padaku
seperti juga cerita bantal rekanku.

Hadiah Yang Tersembunyi

Sampai sekarang mungkin aku termasuk
orang yang masih kawatir akan sebuah
hubungan. “Apakah aku ini sudah
mendapatkan partner yang tepat? Apakah
aku sudah jujur dengan diri sendiri? Apakah
aku sudah memberikan yang terbaik untuk
diri sendiri?”. Berkecamuk rasa seperti itu
hingga aku dipahamkan pada bentuk
pernyataan bahwa seolah-olah ada tempat
dimana aku bisa mencari orang tepat untuk
bisa diapakan saja menurut keinginan hati.
Duniaku berbeda dengan yang dimiliki
orang di sekitarku saat ini. Aku rasakan itu
hanya karena misi yang dibawa ke kapal ini
bertambah. Sebenarnya bukan misi tetapi
lebih tepatnya perasaan. “Aku ingin
mengenal cinta sejati”. “Jujurkah aku pada
diri sendiri tentang hal itu?”. Logikaku
belum memberi jawaban yang pasti. Suatu
ketika logikaku hanya memberi petunjuk
yang tak kupahami kebenarannya.


Click to View FlipBook Version