52
Cinta sejati itu sesuatu yang
spektakuler. Ia akan lebih tahu apa
yang kau rasa. Ia akan mengetahui
dirimu dan lebih mengetahui daripada
kau sendiri.
Butuh suatu keberanian untuk
mengungkapkannya. Butuh tindakan.
Jujur itu modal untuk
merealisasikannya.
Tapi konskuensinya apabila kau telah
mengakui dan menyatakan cinta boleh
diibaratkan engkau telah membiarkan
singa lepas dari kandangnya.
Hari berganti hari kujalani pekerjaan demi
pekerjaan dengan tidak terlalu kuambil
pusing. Kuwarnai hari-hari di kapal dengan
berbaur dengan canda tawa bersama teman.
Ada kalanya kusempatkan diri keluar ke
beberapa kota yang dikunjungi. Memang
ada saat yang terkadang aku ingin
menyendiri di sela-sela kesibukan. Saat
itulah saat dimana orang di sekelilingku
tidak bisa membuatku enjoy. Mereka hanya
53
akan mengusik suasana hatiku yang ingin
sejenak diam.
Suatu ketika aku melihat sepasang
penumpang kapal yang tengah berjalan
beriringan. Masuk ke dalam toko souvenir
dan memilih apa yang disenangi lalu
keduanya keluar dengan senyum yang
menebar iri bagi orang yang melihatnya.
Itulah momen yang ternyata membuat aku
gelisah untuk membuat pilihan berupa
“hadiah apa yang pantas aku berikan kepada
orang yang aku cintai”. Statusku sebagai
orang yang bekerja di kapal pesiar?
Atributku sebagai orang yang gajinya dollar
Amerika? Pengalamanku keliling dunia?
Materi? Ataukah keadaan apa adanya diri
ini yang masih banyak kekuranganya.
Akhirnya aku pada kata hatiku sendiri. Aku
ingin membuat hadiah unik untuk orang
yang saat ini mengusik jiwaku. Hadiah
itupun tidak akan aku tunjukkan secara
buru-buru. Hadiah itu akan kupersiapkan di
dalam hati seiring dengan kebenaran yang
akan aku terima yaitu kebenaran cinta sejati.
Aku yakin suatu saat problem cinta sejati
54
tidak hanya tampak dipermukaan saja,
tetapi akan aku ketahui lebih dalam, lebih
mengenai maknanya sehingga aku akan
hidup di dalamnya.
Kertas Bar Bill
Aku terlalu lelah untuk mendengar
pembicaraan teman-teman yang saat itu
tengah ngumpul di kamarku sejak sore. Aku
sampai di kamar jam 1.30 malam.
Kedatanganku terlambat untuk sekedar ikut
nimbrung dalam obrolan. Hanya sapaan
bernada basa-basi yang bisa mereka
ucapkan begitu aku masuk ke kamar.
“Hei bro, baru klar nich?”, ucap
salah satu dari mereka yang saat itu juga
semua terdiam menghentikan canda tawa
yang sebelumnya sempat kudengar.
“Iya … agak rame tadi, tumben
biasanya menjelang last call pengunjung
bar sepi”. Ucapku basa-basi pula. Aku
segera merenggut handuk yang tergantung
di depan lemari yang gantungannya terbuat
dari hanger kawat. “Sory, aku mandi dulu
ya”. Sambil melangkahi ruang kosong di
tengah ke empat orang tadi aku mohon diri.
“Yoi … bro, kita enjoy sebentar
di sini ya, tadi Edy ngajak begadang kita
sich”. Terdengar suara rekan yang lain. Ia
56
mencoba menjelaskan sedikit detail
keberadaan disitu cuma untuk menghindari
rasa tidak enak karena kamar sudah dipakai
buat ajang nongkrong. Aku cukup
menghargai perasaannya yang tak enak atas
kedatanganku sebagai pemilik kamar.
“No problem bro, have fun”,
Jawabku sambil tangan memberi isyarat
mempersilahkan. Lalu aku masuk ke kamar
mandi yang hanya berada di samping kamar.
Air hangat shower memberi sentuhan yang
membuat tubuhku lebih nyaman. Semprotan
air kusetel model satu titik sehingga ketika
air mengenai badan kurasakan seperti
terjadi pijitan teknik shiatsu. Sehabis
seharian kerja pilihan mandi air yang sedikit
panas terkadang menjadi hal yang
menyenangkan. Hal itu bisa sedikit
menenangkan suasana hati kesal dengan
suasana pekerjaan. Aku kedapatan bekerja
di bagian bar yang diperuntukkan untuk
crew. Tiap hari aku dihadapkan pada
kenyataan untuk memberi service, menjual
produk bar yang sudah ditentukan
perusahaan, serta pekerjaan tambahan yaitu
mendengarkan mereka yang datang.
57
Sebagai bartender dituntut harus bisa
menjadi seperti bapak untuk anak-anaknya.
Semua pengunjung ibarat seperti anak-anak
yang setiap kali ingin diperhatikan, ingin
didengar keluh kesahnya dan ingin
mendapatkan sesuatu yang dapat
menghiburnya. Malam ini aku bisa
mendapatkan keluhan tentang seseorang
yang dirundung susah karena faktor
komplen dari tamu, malam berikutnya aku
mendapati orang-orang yang lepas kontrol
untuk menuruti jiwa berontak yang
munculnya karena pengaruh alkohol, dan
aku harus menggertak keras orang-orang
yang kelakuannya mengganggu pengunjung
yang lain. Pada kesempatan yang lain aku
harus menahan emosi kepada pengunjung
yang tiap kali minum inginnya ditraktir
temannya. Kemudian sebagai seorang
bartender aku harus bisa menjaga rahasia
ketika malam yang lalu si A dan Si B telah
having fun dan spending the night together.
Kemudian aku harus rela memberi hiburan
atau nasehat ketika pengunjung datang
dengan suasana hati yang suntuk, atau
sekedar memilihkan musik. Disinilah letak
sisi manusiawiku yang berbeda dengan
58
orang lain. Aku harus bisa mengorbankan
perasaanku sendiri untuk orang lain. Bisa
saja aku berperangai konyol membuat
suasana bar tidak nyaman, tetapi hal itu
justru akan membuat orang sakit hati lebih
banyak.
Last call merupakan panggilan
terakhir untuk order minuman di bar.
Sepuluh menit sebelum tutup biasanya aku
sudah teriakkan kata-kata itu. Mereka akan
serentak antri untuk mendapatkan minuman
terakhirnya malam itu. Seolah-olah sudah
tidak akan dijumpainya lagi malam yang
lain. Itulah dunia mereka dalam
pandanganku. Dunia yang dia butuhkan
untuk mencari fantasi dan sensasi ujung hari.
Dan hari itu aku benar-benar lelah dengan
kelakuan mereka. Kelakuan yang tak peduli
bahwa di belakang bar counter sang
bartender dengan perasaannya yang tak
pasti akan sebuah harapan. Semua itu hanya
tersimpan dan tak kuasa untuk dibagikan
karena harapan yang tak pasti itu adalah
pendambaan seseorang di jauh sana.
Malam tadi bar sepi. Baru pada
menit terakhir justru orang serentak
memenuhi kursi-kursi yang berjejer di
59
depan counter. Aku sempat membuat
sebuah coretan sederhana di balik kertas
bekas bar bill sebelum mereka datang.
Lita … akankah aku dikuasakan
kemampuan untuk lebih mengenalmu?
Akankah aku juga akan bimbang
sepertimu dengan segala yang cepat ini?
Akankah diri ini terus kubohongi
tentangmu?
Semua di luar nalar …
Aku takut untuk semakin disalahkan
oleh diriku sendiri dan juga yang lain
Sedang kata terus terang cinta hanya
terlihat bodoh dan konyol untuk status
facebookku …
Namun demikian kucoba hibur diri …
Bahwa kesempatan itu bukanlah
tujuanku …
Tetapi memberanikan diri untuk
ungkapkan itulah sejatinya …
Itulah kelelahan hari itu. Ungkapan isi hati
yang tiba-tiba terhenti oleh aktifitas pokok
bar. Aktifitas yang mengharuskanku tampil
perdana di malam itu untuk orang lain.
Orang-orang yang baru datang di menit
60
terakhir tetap anak-anak yang
mengharapkan bapaknya memberi yang
terbaik. Anak-anak yang tak begitu
memikirkan beban apa yang sebenarnya
diderita sang bapak. Itulah kelelahan yang
dengan air shower kucoba hilangkan.
Harapanku satu … aku ingin lebih segar
untuk hadapi hari esok dan menghadapi lagi
apa yang menjadi cita dan cintaku.
Everything is About Blue
Terlihat alat berat pengungkit container
bergerak setiap beberapa menit.
Memindahkan container dari darat ke atas
galangan kapal Nieuw Amsterdam yang
masih dalam tahap finishing. Sejak 17 Juli
2010 aku berstatus crew baru di kapal itu.
Aku ditransfer dari kapal Oosterdam yang
saat itu masih di cruise Mexico. Aktifitas
kontraktor dan loading team memberi
pemandangan nyata sebuah kerjasama
profesional. Aku melihat kemegahan kapal
yang masih belum jadi. Tetapi menurutku
sudah dapat dipastikan bahwa kapal baru itu
lebih elegan dibanding dengan Oosterdam.
Tak jauh dari tempatku duduk sekarang ini
berderet vending machine snack dan soft
drink ala Italy. Jika ingin membeli beberapa
barang di dalamnya tinggal masukin koin
euro atau semacam usb flash yang dapat
dibeli di lokasi setempat. Usb flash
mempunyai sistem prabayar. Kita bisa
mengisinya sesuai dengan kehendak
misalnya 5 euro atau 10 euro.
62
Sore yang cukup ringan di minggu-minggu
pertama kapal baru ini. Situasi kapal belum
boleh ada yang merokok di dalam kapal.
Semua yang ingin merokok diberi tampat
khusus yaitu di luar kapal. Tampak lalu
lalang orang keluar masuk kapal yang setiap
keluar harus mengenakan helm yang telah
menjadi safety procedure standart. Bagi
orang yang ingin jauh keluar tidak perlu
mengenakan helm seperti itu tetapi harus
membawa ID khusus Fincantieri.
Fincantieri merupakan tempat di Italy yang
telah banyak memproduk kapal-kapal besar.
Nama daerahnya sendiri adalah Marghera.
Dari tempat ini kita dapat pergi ke kota
Venice, Mestre atau Verona dengan naik
bus umum. Kapal masih diperkirakan
berlayar sepuluh hari kedepan. Edy yang
menjadi sobat baru di Niuew Amsteram ini
lebih sering menghabiskan sore antara jam
tujuh sampai jam sembilan di lokasi
merokok. Kita berdua berbaur dengan
banyak orang. Hanya saja kita memiliki
tempat favorit yaitu di sudut yang terlihat
sepi. Bermodalkan beberapa bungkus
marlboro light dan segelas hot chocolate
63
dari vending machine aku duduk di sudut
yang sepi bersama Edy sore itu. Kami
menggunakan helm sebagai tempat duduk.
Tindakan menjadikan helm sebagai tempat
duduk sementara ini pun banyak dilakukan
oleh orang-orang di sekitar.
“Yakin kapal ini siap jalan?”,
Perkataan Edy di sela obrolan ringan sore
itu. Matanya terpancang pada badan kapal
di hadapan kami. Dari nadanya ucapan itu
tak lebih dari sekedar memberi pernyataan
kagum atas Nieuw Amsterdam yang terlalu
besar menurut ukurannya. Belum juga aku
mengomentari pernyataannya Edy sudah
kembali ia nerocos. “Luar biasa sekali
bro … galangan besi yang ditumpuk-
tumpuk dipadu dengan perangkat elektronik
dan kayu bisa membentuk bangunan hotel.
Lalu hotel tersebut akan diapungkan di
samudra yang begitu luas. Ia akan terapung
dan berlayar. Subhanallah … sungguh
manusia dianugerahi kemampuan untuk
membuat sesuatu yang spektakuler oleh
Tuhan”.
“Memang sangat besar mas, gw
bisa bayangkan bagaimana jika ia bersandar
bareng dengan Prinsendam”, ucapku
64
menyeloroh. Prisendam kapal terkecil milik
Holland America Line. Kontrak pertama
aku di dalamnya. Yang menarik di
Prisendam adalah cruise nya. Ia selalu
diagendakan untuk mengikuti around the
world cruise. Ia yang telah membawaku
keliling dunia justru di kontrak pertama.
Jarang-jarang orang mendapatkan around
the world cruise di kontrak pertama.
“Wan … apa yang menarik buat
sampean tentang Damship?”. Edy bertanya
tanpa melihat ke arahku. Damship sebutan
untuk semua kapal Holland America Line.
Karena nama-nama kapal banyak memakai
nama dam di belakangnya maka seringkali
disebut dengan istilah sleng “damship”.
Nama-nama kapal Holland America Line
antara lain Rotterdam, Veendam, Maasdam,
Zaandam, Prisendam, Oosterdam, Eurodam,
Voolendam, Zuiderdam, Noordam, Nieuw
Amsterdam, Ryndam.
“Jujur nich mas, gw suka
warnanya. Warna biru itu unik. Warna biru
itu mengingatkanku pada seseorang.
Seseorang yang kalau boleh diistilahkan
suka dengan apa-apa yang berwarna biru.
“Everything is about blue”. Kalau kerjaan
65
dan suasana di kapal itu relatif mas”.
Kalimat itu yang menjadi jawabanku.
“Sampean itu … syok romantis
aja bro. Sebentar … sebentar … aku lihat
dari auranya sampean itu lagi nandang
asmoro ceritanya bro”. Nandang asmoro
istilah jawa untuk orang yang lagi kasmaran.
Edy dengan gayanya seakan-akan
mendeteksi keadaanku layaknya seorang
paranormal yang dengan tangannya
dijulurkan ke arah wajahku. Kelima Jarinya
direntangkan sambail wajahnya sedikit
ditundukkan seolah menahan sesuatu dan
akan diungkapkan. Aku tahu maksudnya
cuma bercanda. Dia memang orang yang
selalu ngebanyol dalam situasi apapun.
“Wah … murid ki Joko Bodo
sampai Italy juga”, candaku menyela.
Tapi jujur saja everything is about blue
sebuah sisi Lita yang baru saja kutemukan.
Suatu ketika keinginanku untuk lebih
mengenal siapa diri Lita menjadikan aku
nekat untuk mencari tahu dari siapa saja.
Media facebook memang aku akui sebagai
media yang membantu. “Dasar manusia!”.
66
Ketika merasa sesuatu ada manfaatnya baru
ia mengatakan semua itu membantu dan
berguna. Satu sisi ada orang yang
mengatakan bahwa facebook hanya
menjadikan sarana selingkuh, membuat
pecah rumah tangga dan sebagainya hingga
ada pernyataan facebook tidak berguna.
“Dasar manusia!”.
Suatu ketika sedang on line tak
disengaja aku mendapat teman dari Lita
yang ku add di halaman teman. Sebut saja
Esty. Dari dialah aku mendapat sedikit
informasi tentang Lita. “She loves blue and
everything’s about blue”. Melenceng sedikit,
satu sisi yang lain yang kupahami tentang
lita dia ingin bisa keliling dunia. Dia ingin
dapat berkesempatan untuk kerja di kapal
pesiar, meski dalam hati aku seperti tidak
rela jika ia harus menjalani kehidupan di
kapal yang nantinya akan tergolong
minoritas. Maksudku minoritas adalah
jumlah wanita yang tidak banyak di kapal.
Aku masih dengan persepsiku kalau wanita
bekerja di kapal pesiar akan mendapat
godaan yang lebih dahsyat dibanding
dengan godaan yang diterima pria pada
umumnya.
67
“… menurutku … kapal yang
biru … sebenarnya mewakili Lita. Dia
sudah keliling dunia, menyeberangi luasnya
samudra, berkunjung ke satu tujuan dari
belahan bumi yang satu ke belahan bumi
yang lain … “. HEH … sampean ini kok
malah melamun !!!”. Suara Edy
mengagetkanku. Aku hanya bisa tersenyum
dengan sobat satu itu. Memang dia yang
lebih banyak menerima curhatku selama di
kapal ini. Bagaimanapun juga setiap kali
ada unek-unek ada enaknya kalau unek-
unek itu aku share ke yang lain. Meskipun
lebih sering segala sesuatu itu kupendam
dalam hati.
“Sorry mas intermezzo nich…
menurut mas apakah sebuah keinginan
mencintai seseorang itu hanya berlaku bagi
orang yang sudah lama mengenal? Apakah
orang yang baru saja ketemu itu tidak ada
potensi untuk mencintai?”. Gara-gara
dibentak pertanyaan ngelantur mengikuti
gerak hati. Aku melihat ekspresi mas Edy
yang dengan cepat menatapku. Padahal
sedari tadi pandangannya lebih sering
tertuju pada mesin pengungkit container.
68
“Bener-bener sampean itu lagi
nandang asmoro mas … mas …”, ucapnya
sambil kepala ia geleng-gelengkan seperti
tidak setuju dengan kenyataan. Setelah
menghisap rokok surya enam belas yang
sempat ia bawa dari Indonesia kembali ia
berkata.
“Cinta itu tergantung dari sudut
mana memandang. Seorang cowok bisa saja
jatuh cinta pada cewek meski baru
pandangan pertama. Syah-syah saja
dikatakan kok terlalu cepat. Cinta itu
sesuatu yang tahu-tahu hadir di relung
hatinya. Sebenarnya yang sampean sebut itu
baru awal dari cinta mas. Itu bisa dianggap
hanya sebatas “tertarik”. Tertarik disini pun
karena suatu sebab. Contohnya disebabkan
oleh fisik yang dilihat atau karena melihat
sisi lainnya seperti beban hidup dan
sebagainya. Awalan yang berwujud
ketertarikan itulah yang banyak orang
dengan sungguh-sungguh mengikutinya
bahkan memperjuangkannya. Contohnya
ada usaha untuk bisa memberi hiburan,
ingin bisa mengayomi, ingin bisa
melengkapi, ingin bisa mewarnai, ingin bisa
hadir di setiap kali kesempatan, atau ingin
69
memberi yang terbaik dengan perjuangan.
Nah keinginan yang demikian itu
dinamakan memperjuangkan cinta. Jadi
kalau kau tertarik sama Lita meski baru
ketemu sekali bukan berarti cinta. Bisa jadi
kau hanya tertarik”. Mas Edy menghentikan
sebentar kata-katanya sambil tangannya
menepuk-tepuk punggungku.
“Semua orang tidak semuanya
bijak dalam memahami cinta mas. Rata-rata
yang diperdebatkan hanya “kenapa sich
suka? Kenapa sich kok saya? Kenapa kok
terlalu cepat? Jarang ada yang membiarkan
seseorang semakin tertarik. Jarang ada yang
mau mengakui bahwa dirinya mampu
menimbulkan orang lain tertarik. Yang
disalahkan adalah kenapa orang lain itu
menaruh hati dan tertarik. Pada
kenyataannya tertarik itu akan muncul
begitu saja. Tanpa ada paksaan. Jadi
seketika kau jatuh cinta pada cewek
mungkin bagimu kau telah mengikuti kata
hati yang jujur. Sebenarnya itu yang benar.
Memperjuangkan cinta itu ibarat kau
memperjuangkan diri sendiri. Siapa yang
anda cintai saat ini adalah refleksi dirimu.
70
Jika kau menemukan kesalahan pada
dirinya berarti kau ditunjukkan kelemahan
yang ada pada dirimu, ketika kau dapati
kesedihannya kau akan disadarkan pada
nasibmu sendiri. Semua itu bergerak
mengikuti naluri alam dan cinta itu sendiri”.
Kembali Edy menghembuskan asap rokok.
Bau tembakau rokok buatan kota Kediri itu
memberi aroma tersendiri di salah satu
pelabuhan di Italy sore ini. Lalu ia
melanjutkan perkataanya.
“Kau pasti sadar kemungkinan
ada seorang cewek yang jika diberi tahu
bahwa “hei aku mencintaimu”, apakah kau
akan mencintaiku?”. Dia akan langsung
menyangkal. Itu wajar mas. Penyangkalan
itu hanyalah bentuk proteksi yang spontan.
Pada dasarnya ia akan tetap terusik jiwanya,
mungkin saja merasa berbunga-bunga,
kemungkinan besar lagi marah-marah.
Semua itu hanya bentuk proteksi. Dan
itulah kelebihan makhluk hawa. Dia tidak
akan menunjukkan dirinya cepat jatuh hati.
Menurutku cewek akan menyatakan ia
setuju untuk dicintai dengan melihat semua
perjuangan cinta itu sendiri. Bukan berpatok
pada kata-kata semata. Menurutnya cinta
71
yang diperjuangkan itu adalah cinta sejati.
Dan itu yang menjadi dambaan cewek.
Menurutku begitu”. Edy masih tampak
bersemangat dengan uraian itu sambil
tangannya menggapai gelas berisi hot
chocolate yang terletak di bawah antara
kami. “Bro join ya”. Akupun hanya
mengangguk sambil masih dalam penasaran
ingin mengetahui uraiannya.
“Lantas kau sendiri ada pacar
sekarang?”. Uraian yang kutunggu justru
berubah jadi pertanyaan darinya.
“Nggak tahu mas, gw bilang
punya mungkin belum, bilang tidak ada
padahal cewek yang kucinta memang ada”.
Jawabku sekenanya. Lalu sesaat aku
membatin.
“Sudahkah aku memperjuangkan
cinta itu? Perasaanku masih mengatakan
bahwa aku terlalu banyak kata-kata”. Kami
diam beberapa saat …
“Tau ach gelap!!!”. Demikian aku
dalam kebimbangan. Bukan karena
bimbang aku tidak mampu bertahan tetapi
bimbang karena sebuah respon cinta yang
tak kunjung datang”. Mataku menatap
72
badan kapal yang warna birunya kembali
mengingatkanku pada Lita.
“Itulah bro … menurutku pacaran
itu hanya kelanjutan dari masa perkenalan.
Kau baru bisa katakan ia itu pacarmu andai
kau sudah mengenalnya. Mengenal itu apa?
Yaitu mengetahui kekurangan dan
kelebihan. Bullshit lah kalau tanpa
mengetahui kekurangan maupun kelebihan
akan berlanjut ke pacaran. Malah
menurutku jangan mudah kau anggap pacar
terlebih dahulu jika mengenal saja belum
lengkap. Mintalah kesempatan padanya
untuk lebih dekat mengenal begitu juga
sebaliknya kau akui dengan jujur siapa dan
apa dirimu tanpa ada yang disembunyikan.
Buatlah hubungan yang fair dan berbatas
norma. Baru setelah mengenal kau bisa ke
tahap berikutnya yaitu mencintai. Mencintai
itu apa? Yaitu menerima kekurangan dan
kelebihan itu sendiri. Masih menurutku ini
bro … Usia seperti sampean itu harusnya
memang sudah tidak lagi mencari cewek
yang kedewasaan berpacaran sebatas hura-
hura. Atau berpacaran yang motifnya hanya
untuk ditampilkan di muka umum. “Ini lho
pacarku, cantik kan?”. Tetapi pacaran yang
73
sudah harus ada makna sesungguhnya.
Menurutku memang harus ada tawar
menawar bro dan itu jelas sekali”. Edy
berdiam sejenak untuk menyalakan rokok
lagi. Akupun sempat melemparkan canda
“kompornya dinyalakan lagi nich he he
he?”. Edy cuma tersenyum ringan lalu
berkata lagi.
“Lanjut lagi bro, tanggung”.
Sambil mata melirik ke arah jam tangan.
“Lelaki itu bebas memilih.
Menurutku hal ini sudah menjadi prinsip.
Makanya kalau kau tahu-tahu tertarik pada
seorang cewek meski baru pertama ketemu
itu wajar. Berarti kau telah menjatuhkan
pilihan. Hanya saja akan tetap kau
perjuangkan tidak semua itu. Atau hanya
kau jatuhkan pilihan itu lalu tanpa ada aksi
sama sekali. Cewek tetap pada kondisi
prinsipnya yaitu berhak menentukan.
Setelah kau berjuang sekuat mungkin untuk
mendekat dan mengenal lalu kau buktikan
semua ucapanmu cewek tersebut berhak
saja menolak. Dialah penentu. Dia bisa saja
menolak karena alasan sudah mempunyai
suami atau pacar, bisa saja menolak karena
orang tua, bisa saja menolak karena kau
74
sendiri jelek menurutnya he he he …
Apapun bisa dijadikan alasan. Prinsipnya
ceweklah yang menentukan.
“Wah … wah … sampean kok
bisa begitu itu dulunya bagaimana mas”.
Kataku dengan logat dan gaya ucapan
seperti mas Edy sambil kuacungkan jempol
ke arahnya. Meskipun uraian itu semrawut
dan membuat bingung tetapi ada sedikit
yang bisa aku tangkap dan pahami.
“Betul sekali mas!”. “Aku tertarik
sama dia, dan saat ini akupun tengah
berjuang untuk membuktikan bahwa aku
ingin mengenalnya lebih jauh. Ingin bisa
memberi warna”. Ucapanku tertahan
sebentar untuk melambaikan beberapa
rekan yang sedang lewat lalu kulanjutkan
apa yang ingin aku sampaikan ke mas Edy.
“Tidak tahu kenapa intinya semua
hari-hariku itu ingin ada dia gitu aja mas”.
Ucapku meyakinkan.
“Begitulah. Keadaan cinta dan
pacaran. Aku menganggap semua itu
tergantung kedewasaan berfikir. Ada cinta
yang hanya menuruti nafsu daya rendah dan
itulah yang paling banyak dijumpai. Yang
demikian selalu ada pamrih yang kadang
75
sangat tidak pantas. Dia akan puas apabila
lawannya memberi yang dia ingini. Dia
akan kecewa jika lawannya tidak
memberikan yang diingini. Nafsu daya
rendah identik mementingkan ego.
Mementingkan si Aku. Padahal cinta itu
sendiri sesuatu yang unik yang datang dari
bisikan hati. Bukan ego. Cinta yang sejati
justru sanggup melawan hawa nafsu yang
banyak pamrih. Cinta sejati itu tidak
menuntut. Dialah yang memberi”. Mas Edy
akhirnya menyudahi wacana tersebut sambil
berkata kepadaku. “Kalau aku ngomong
begini kayak siapa bro?”. Senyum khasnya
mengakhiri.
“Gila … sampean itu gila …
mas!!!”. Kataku begitu saking bingungnya
sanjungan bagaimana yang cocok untuk
wacana luar biasa seperti itu bagiku.
Sore itu aku akhiri intermezzo
dengan mas Edy karena jam 9 aku harus
masuk kerja lagi. Aku masuk kapal dengan
pemahaman unik tentang cinta. Aku berlalu
meninggalkan mas Edy sendiri. Sambil
melambaikan tangan kami pun berpisah
sementara. “I’ll see you later bro !”.
Easy Night
“Malibu pineapple??? Bacardi Coce??? …
nggak … nggak”. Kepalaku menggeleng.
Mataku terlihat merah. Terlihat pada
pantulan bayanganku sendiri di kaca jendela
kapal. Kaca jendela yang kumaksud itu
lubang jendela dengan kaca tembus
pandang. Lalu menjadi seperti cermin sebab
keadaan di luar gelap dan dari tempatku
berdiri terang.
Jam 1.30 malam di tempat kerjaku sepi
sekali. Dentuman musik R&B masih
meninggalkan bekas suasana semangat
pengunjung bar. Aku coba taruh lagu-lagu
slow untuk mengiringi pekerjaan terakhir
yaitu membersihkan area sekitar bar. Lagu
itu mengganti musik R&B yang nyaris
membuat telingaku pekak. Kini aku
termangu di belakang bar counter sambil
mata memilih-milih komposisi cocktail
yang tepat. Ada keraguan untuk
melakukannya. Suasana hatiku tidak
menentu. Aku ingin teriak aku ingin
77
memecahkan botol-botol yang kini tepat
berada di depanku. Ada rasa yang membuat
dada terasa sesak. Ada perasaan gemas.
Aku melirik ke desktop sebelah locker
minuman. Desktop tersebut hanya berfungsi
sebagai billing system. Alat tersebut
menggunakan sistem database Fidelio. Jika
orang ingin belanja minuman di bar tinggal
menyebutkan nama account dengannya aku
charge. Mereka akan mendapat tagihan
setiap minggu yang harus dibayar sebelum
minggu berikutnya dimulai.
“Anjrit … sialan … goblok”.
Suara itu muncul dari benak. Tak tahu
ditujukan pada siapa sumpah serapah itu
tetapi seperti tepat untuk diriku sendiri.
Terlihat Irwan menggapai botol
Jagermeister. Kira-kira 3 sloki ia tuang ke
dalam gelas model old fashion. Diraihnya
gelas itu lalu digenggamnya. Ia tampak
keluar dari counter bar lalu memilih tempat
duduk di sudut bar. Irwan menikmati
kesendirian. Raut mukanya menunjukkan
ada beban yang tersembunyi. Pelan namun
pasti minuman itu diteguk. Sejurus
kemudian matanya terpejam seperti ingin
78
menghilangkan sesuatu yang berada di
otaknya. Ia tampak mengeluarkan notebook
yang sedari tadi sudah ia siapkan. Tak
berapa lama dia sudah on line dan ujung
jarinya cekatan memainkan touch pad. Ia
masuk ke dunia facebook. Baginya
facebook adalah ruang bebasnya untuk
memberi ekspresi. Beberapa kata yang
sempat diketik ia hapus lagi. Ia tidak jadi
meng-update statusnya. Ia dengan keraguan
yang tak jelas. Sepertinya kata yang akan di
share hanya akan menjadi feedback tidak
enak.
“Aku muak dengan di sini. Aku
ingin pulang … Aku ingin kembali ke
belaian ibu yang mungkin bisa memberiku
ketenangan …”.
Benar … kata itu yang kutulis dan kuhapus.
Aku bersyukur kata itu tidak sampai
menjadi statusku waktu itu. Kalau sampai
itu ter upload mungkin aku semakin terlihat
cengeng dengan kenyataan. Bagaimanapun
juga aku dengan keterbatasanku sebagai
manusia. Sebagai Irwan. Aku sadar aku
masih labil dengan sebuah ujian yang
mungkin bagi orang lain sepele. Semua itu
79
hanya kupendam. Aku suntuk … aku butuh
teman yang memberiku cinta … dan
kasih … yang mau berbagi. Aku ingin dapat
sedikit saja perhatian.
“Dibeli aja perhatian itu!”.
Sebuah suara yang kukira berasal dari dunia
maya ternyata bukan. Suara itu berasal dari
dalam diriku lagi.
“Memang bisa? Aku minta
perhatian yang tidak ada hubungannya
dengan materi. Aku ingin perhatian itu
muncul dari ketulusan. Kalau ada yang
instan dan bisa dibeli aku tidak percaya
semua itu akan membahagiakan”. Irwan
mengomentari suara konyol itu. Tanganya
hanya menggeser-geser cursor tapi tidak
jelas tindakannya. Konsentrasinya pecah. Ia
sedang perang batin. Ia berada di satu sisi
lelaki yang terpojok.
“Heh … tunjukkan kalau begitu,
perhatian yang bisa kubeli!”. Anjrit …
sial … tanyaku lantang.
“Dimana-mana itu …!! perhatian
yang tulus itu susah dicari kecuali kau hibur
diri kau sendiri. Kau sendiri yang bisa
80
menetralisir kegundahanmu”. Suara itu
menerangkan pilihan.
“Ok … ok … inilah solusinya”.
Irwan menenggak jagermeisternya
kemudian gelas ia letakkan di counter
dengan gerakan membanting.
“Oho … bukan seperti itu. Kalau
pilihanmu kau lampiaskan kepada alkohol
atau sesuatu yang lebih negatif justru kau
akan lebih penasaran. Tidak akan
ketemu … cukup tenangkan hatimu dengan
mengakui kenyataan. Selami jiwamu sendiri.
Ketenangan itu bisa kau dapatkan jika
engkau bergerak mengikuti arus. Jangan
melawan arus. Ibarat air dech. Ia akan
mengikuti kemana aliran. Sekarang kau
dalam situasi merantau … sekaligus kau
membawa sebuah rasa baru yaitu cinta
bukan? Ikutilah semua itu. Jangan kau
lompati atau kau lawan arusnya.
Tumbuhkan saja. Masalah dapat atau tidak
itu nanti. Masalah diperhatikan itu nanti.
Perjuangan saja belum ada kok sudah
menuntut”. Suara itu justru menasehati.
“Tau ach gelap … aku juga nggak
minta kalau aku bisa emosi seperti ini. Aku
juga baru sadar kalau dia itu bisa juga
81
membuatku emosi!!!”. Balasku. “Aku
hanya ingin berbagi dengannya … itu saja”.
“Yeah … lagi … lagi kau
menuntut. Kalau kau ingin dia itu
mendengarmu ya bicaralah! Tidak ada yang
tidak fair, mind set mu saja yang harus
dirubah. Positive Thingking lah. Jangan
menganggap orang lain itu harus menuruti
kehendakmu tetapi kaulah yang harus
menyesuaikan. Tekanlah keinginanmu!
Justru kau akan dihantarkan pada bahagia
yang sesungguhnya.
“Anjrit … sial … pergi sana …!”.
Terlihat perang batin itu seperti tidak
berkesudahan. Tiba-tiba rona wajah Irwan
berubah dan senyum tampak pada wajahnya
ketika satu pesan di facebook baru muncul.
“Where re u nw ka?”
sebuah pesan dari Lita yang akhirnya
sanggup mencairkan kegelisahan. Sedikit
perhatiannya ternyata membuat malam ini
jadi easy.
Momen Indah Tercepat
Matahari merangkak ke sore hari di Venice.
Warna keemasannya menerangi penjuru
kota. Sejenak aku berdiri di depan The
Grand Canal Hotel. Kuperhatikan rakit ala
Venice atau yang disebut sebagai gondola
beraneka warna dan bentuk berbaur dengan
water taxi. Seperti ada dua konsep
pemandangan yang dipadu. Satu sisi terlihat
klasik satu sisi terlihat sangat modern.
Gondola didayung pasti sesekali mengejar
rakit bermotor yang hendak menurunkan
penumpang lalu beberapa rakit bermotor
melewatinya lagi. Venice mempunyai canal
atau sungai yang berjumlah kurang lebih
seratus lima puluhan dan jembatan yang
dibangun mencapai empat ratusan buah.
Aku berjalan santai menyusuri pinggir
canal. Bayanganku tentang orang bule yang
memiliki ukuran tubuh besar-besar ternyata
keliru. Nyatanya ketika berbaur dengan
mereka banyak juga tubuh-tubuh ukuran
sedang dan kecil.
83
Sore itu aku tidak ingin menikmati
perjalanan air. Minggu sebelumnya aku
sudah puas dengan water taxi. Waktu itu
aku hanya membayar enam euro. Niat dari
awal memang ingin berjalan santai. Aku
berusaha memisahkan diri dari keramaian.
Usaha itu gagal karena saking banyaknya
orang. Canal itu sudah dengan aktifitasnya
sejak ratusan silam. Bangunan-bangunan
yang memagari jalur sungai entah sejak
kapan telah berdiri. Setelah beberapa menit
menyusuri kembali pinggiran sungai aku
berhenti lagi di depan bangunan tembok
besar dengan pintu gerbang warna abu-abu.
Pada tembok tersebut terdapat papan
bertuliskan “Fundamento Del Monastero,
yang jelas bukan “awas ada anjing galak”.
Kalau tulisan “awas ada anjing galak”
menurutku hanya ada di daerah yang
orangnya masih sering diliputi rasa curiga
ke orang lain. Kalau di Venice ini tampak
raut orang setempat yang tak ada curiga
sama sekali. Mereka sangat “welcome”.
Mungkin itu suatu sikap untuk memberi
sambutan kepadaku atau kepada siapa saja
yang saat itu hendak menikmati indahnya
suasana. Aku dengan langkah kecil dan
84
ringan meskipun ada tas punggung yang
sedikit berat. Tas itu berisi botol minuman
ukuran 250ml jenis vitamin water revive
dan roti jenis croissant sebagai bekal
menunggu buka puasa. Waktu itu
pertengahan bulan puasa 2010. Untuk buka
puasa aku hanya berpatok pada alam Venice
yang pada jam 20.10 langit baru saja gelap.
Tidak ada tanda buka puasa yang dapat
kuikuti selain itu. Tidak ada suara adzan
magrib.
Di sebuah taman sebelah kanan hotel
Bellini aku memilih bangku dari batu
semacam marmer untuk tempat duduk.
Tempat itu yang paling nyaman yang juga
mas Edy setujui. Mas Edy memang menjadi
temanku sejak tadi. Dia tidak ubahnya
sepertiku yang sepanjang jalan ingin difoto.
Dia sobat yang unik yang selama di kapal
lebih banyak mendengar keluh kesahku
meskipun dia sendiri juga memiliki beban
tersendiri. Satu hal yang membedakan
antara aku dan dia yaitu masalah status. Dia
sudah berkeluarga dengan dua orang anak.
Off course satu istri sedangkan aku masih
single dan offcourse belum tahu pacarnya.
85
Cara berfikir kami sangat beda. Mas Edy
lebih bijak daripada aku. Dan aku punya
kesempatan untuk lebih banyak belajar
tentang banyak hal padanya.
“Mas pasangan bule itu kalau lagi
pacaran cuek gitu ya”. Kataku sambil
mataku memberi kode kepada mas Edy
untuk melihat pemandangan di sudut taman
yang lain. Kebetulan ada sepasang muda-
mudi yang tengah duduk di bangku seperti
tempatku duduk tepat di depanku tapi agak
jauh. Sang cowok sedang memangku
ceweknya dengan canda tawanya yang tak
terusik dengan orang lain di situ.
“Yeahh … kalau orang sini
jangan dibahas lah, pusing sendiri mending
sampean lihat aja”. Mas Edy menjawab
sekenanya sambil menikmati roti yang
tinggal setengah karena sudah sejak lalu ia
mulai membatalkan puasanya. Aku hanya
tersenyum konyol kepada mas Edy.
“Iri aku mas melihatnya”. Aku
mengulang bicara sambil bertambah rasa
penasaran. Membayangkan bagaimana aku
benar-benar punya pacar. Apakah juga akan
seperti mereka yang menganggap orang
disekitarnya itu patung.
86
“Benar nggak sich mas, kalau
orang lagi pacaran itu merasa dunia milik
mereka berdua, kok sampai orang lain itu
seperti nggak dianggap ada?”. Memang
pertanyaan ini konyol tapi justru itulah yang
membuatku ingin lebih tahu.
“Menurutku bukan mereka nggak
tahu bro, juga bukan karena menganggap
orang lain di sekitar itu tidak ada. Matanya
bisa saja melihat, hatinya bisa saja merasa
tapi nafsunya itu bro yang membuatnya
begitu. Itu menurutku lho bro”. Kata itu
diucapkan mas Edy dengan tanpa ekspresi.
“Dulu mas juga begitu nggak
waktu pacaran?”. Aku mulai iseng
menanyakan keadaan mas Edy.
“Nah … kalau aku dulu beda, aku
itu nggak pakai nafsu bro, tapi dikit,
nekatnya yang banyak … he he he he”.
Sambil membakar rokok kesayanganya mas
Edy mulai membanyol. Dikeluarkanya satu
batang rokok lagi lalu disodorkannya
padaku.
“Thanks, ini aku ada”. Aku juga
nggak mau ketinggalan menyalakan rokok
sebelum korek yang dipegang mas Edy
padam.
87
“Sampean serius mas sama itu …
e … Lita?”. Pertanyaan mas Edy sama
sekali tidak kuduga. Disebut namanya juga
aku malah gelagapan untuk menjawabnya.
“Lho … kok malah nanya mas!!!,
belum juga cerita bagaimana mas nekat
waktu pacaran”. Aku membela diri sebagai
ganti tidak ingin bercerita banyak, karena
merasa nggak ada yang perlu untuk
diceritakan. Dalam hati aku berfikir “Ya ...
aku ingin serius tetapi bingung mau
kumulai dari mana sebab sejauh ini aku
belum tahu apakah pertemuan yang sekali
itu sudah bisa dikatakan kenal.
“Bingung mas !!! sepertinya mas
sudah tahu juga kan kalau pertemuanku
sama dia itu baru sekali. Jujur nich mas,
kadang aku menyalahkan keadaan.
Kesempatanku untuk bertatap muka
demikian cepat karena buru-buru aku
berangkat ke sini”.
“Sampean ini bro … bro, mbok
yang disalahkan itu dia atau kamu sendiri,
jangan keadaan! Kenapa juga sampean
tertarik sama dia? Kenapa dia itu menarik
buat sampean?”. Sengaja mas Edy ingin
menghentikan obrolan semacam ini,
88
makanya omongannya bernada
menyadarkan.
“Iya juga sich mas. Memang
semua itu muncul dari dalam diriku. Itu
kuakui dech. Kalau dia mampu membuatku
menarik itu sebenarnya sederhana mas.
Pertama dia itu cewek”.
“Lha iyalah, masak sampean mo
suka sama cowok, kayak cica yang dikapal
aja”. Mas Edy memotong. Cica adalah laki-
laki yang suka sama sesama jenis.
“Kedua karena dia cantik
menurut seleraku. Alasan berikutnya setelah
bertukar nomor hp dan seringkali tanya
jawab dan sedikit curhat tentang diri kita
masing-masing aku merasakan dia itu
seperti cocok menjadi partnerku berbagi
mas. Alasan yang lain nggak tahu sich
mas … pokoknya tahu … tahu … aku suka
aja”. Alasan semua itu kuungkap apa
adanya.
“Ok bro … bercanda nich.
Menurutmu sejauh ini yang paling romantis
di dia itu yang mana sich?”. Tanya mas Edy
penasaran disertai dengan gaya khasnya
ngebanyol.
“Malu mas ngomongnya”.
89
“Walah … sampean ini kok masih punya
malu lho”. Sambil senyam senyum mas Edy
berkata.
“Waktu pertemuan pertama di
den haag café mas. Dia antusias bertanya
tentang pengalamanku. Trus bagian yang
paling romantis adalah di saat ia menggeser
tempat duduknya sedikit lebih mendekat ke
arahku mas. Aku merasa adem he he he …
lantas ada juga bagian yang lain yaitu di
saat ia memberikan nomor telpon trus
dengan kata-katanya “keep in touch ya ka”.
“Ha … ha … ha …”. Akhirnya
aku baru dapatkan kesimpulan bener bro.
Lengkap sudah survey ku. Bahwa cinta itu
memang membuat orang pandai jadi
bodoh … ha … ha … ha … wan … wan …
sampean ini kok nggak mutu itu dulunya
gimana”. Mas Edy terpingkal dengan
statemen nya sendiri. Dihisapnya rokok
kesukaanya itu dan ia tetap terpingkal tak
serius.
“Sialan … kena gw”. “Tapi aku
setuju mas … cinta itu memang membuat
orang pandai jadi bodoh, tetapi yang satu ini
beda mas, cinta membuat orang bodoh jadi
90
semakin tidak mengerti he he he …”. Habis
berkata aku tersenyum menyeriangi.
Sore yang indah ternyata begitu saja berlalu.
Sangat cepat sekali. Obrolan yang tidak
panjang seperti tadi masih kalah cepat
daripada waktu sorenya Venice yang baru
saja berlalu. Perasaan aku baru saja
mengambil gambar di jembatan depan hotel
Benilli terus duduk ditaman tahu-tahu kota
sudah berubah gelap. Momen yang indah
itu ternyata berlalu sangat cepat. Seperti
juga perjumpaanku dengan Lita di
Indonesia waktu dulu. Itu menjadi momen
indah tercepat tahun kemarin di Indonesia.
“I miss you Lita”. Batinku
berucap sambil mengiringi langkah kami
meninggalkan taman tersebut untuk kembali
menuju kapal.
Unek-Unek Di Atas Laut
Kalau saat ini yang kupikirkan adalah diriku
sendiri mungkin aku sudah akan pulang dan
menghabiskan waktu tiduran di kamarku di
rumah. Untuk memikirkan diri sendiri
kadang aku bisa saja lebih konyol daripada
itu. Prinsip sederhana kalau cuma untuk
memikirkan diri sendiri bisa saja “yang
penting ada rokok dan makan ya sudah”.
Aku bersyukur sekali ternyata Tuhan
memberiku pikiran yang makin lama makin
bisa dewasa. Tadinya aku hanya
memikirkan diri sendiri tapi makin lama
aku diberi anugrah yang lain yaitu
kemampuan untuk mewujudkan cita-cita
orang tua termasuk cita-cita diri sendiri.
Memang pada akhirnya semua itu aku
kembalikan lagi kepada kenyataan bahwa
semaksimal apapun usaha kita sebagai
manusia tetap memiliki keterbatasan. Tetapi
setidak-tidaknya manusia diberi kesempatan
untuk memberikan yang terbaik.
92
Aku dibesarkan oleh kedua orang tua
dengan keadaan ayahku sendiri seorang
koki diperusahaan pelayaran luar negeri.
Yeah … dengan kata lain juga seorang
pelaut sepertiku. Mungkin beliau juga
nggak mau dikatakan sebagai pelaut.
Mungkin memilih kata bahwa ia orang
hotelier. Bagi ibuku hotelier atau pelayaran
atau apa saja baginya ayah dan aku
hanyalah seorang perantau. Ibuku sebagai
ibu rumah tangga biasa. Keempat saudaraku
adalah laki-laki semua hanya satu yaitu
adikku kandung pas telah lebih dulu
meninggalkan dunia. Tidak ada yang lebih
untuk diceritakan. Tidak begitu spesial
untuk menjadi ungkapan yang
menimbulkan orang simpatik. Lagian aku
tidak ingin orang memberi sesuatu atau
perhatian padaku karena rasa simpatiknya
karena masa laluku yang pahit atau
semacamnya. Aku sangat menginginkan
sebuah penghargaan atau perhatian itu hadir
dengan ketulusan atau berdasarkan
perjuanganku. Jujur saja aku tumbuh di
keluarga yang sejarahnya seperti tidak ingin
kuulangi. Ayah yang bekerja sebagai koki
di perusahaan kapal asing menjadikan aku
93
jarang ketemu dengannya sewaktu kecil.
Bahkan sampai sekarangpun bisa dikatakan
seperti main petak umpet. Ketika aku
pulang ayah berangkat ke kapal. Ketika
ayah pulang aku di kapal. Aku selalu
berharap semoga di antara kami atau dua-
duanya akan bisa survive di darat sehingga
dapat menemani ibu yang mungkin saja ibu
sudah lelah dengan statusnya single fighter
at home. Aku mulai memahami apa itu
perjuangan justru sewaktu aku sudah harus
dituntut untuk mandiri. Akhirnya aku tidak
lagi mempermasalahkan masa kecilku yang
takut untuk menyebut nama “ayah” hanya
karena jarang ketemu denganya. Aku tahu
bahwa ayah itu dengan pengorbanannya
untuk menghidupi keluarga. Memintarkan
anak-anaknya. Itulah perjuangan dan
pengorbanan yang telah beliau lakukan.
Hari ini aku dalam kontrak untuk
mengabdikan diriku dalam pengorbanan itu
sendiri. Aku memberi semangat atas diriku
untuk membuktikan bahwa aku bisa seperti
yang diharap oleh ibuku yaitu mandiri.
Tetapi hari ini ada sesuatu yang ingin
kuungkap. Dalam cerita ini aku tak
94
menyesal jika ungkapan ini hanya akan
menjadi bahan tertawaan, atau sesuatu yang
bersifat menyepelekan. Hari ini aku yakin
bahwa pengorbanan itu tidak pernah akan
sia-sia.
Hari ini genap sepuluh bulan aku di kapal.
Tidak ada penyesalan untuknya. Hari ini
aku ditengah laut. Hari ini aku di atas kapal
dan terombang-ambing ombak dan berusaha
menuju ke daratan. Aku diberi pelajaran
bahwa menuju daratan itu juga sebuah
perjuangan. Menyelesaikan kontrak ini juga
perjuangan. Mempersiapkan diri untuk
menemui keluarga dan Lita di Indonesia
juga perjuangan. Hari ini aku punya unek-
unek. Hari ini aku juga manusia biasa yang
ingin berbagi. Hari ini ada perasaan yang
mungkin sama dirasa oleh ayahku
sebelumnya. Rasa seorang perantau yang
ingat penunggunya di rumah.
Puisi Greece
Ada yang ingin kusembunyikan …
Tetapi alam menangkapnya
Aku berkunjung ke acropolis untuk melihat
Justru alam tersenyum karena melihatku
membawa cinta …
Aku ingin menyaksikan keajaibanya
Bangunan ribuan tahun masih di atas bukit
Athena
Bergugus batu marmer dan semua nyata
kulihat
Di saat aku terpesona batu ciptaan-Nya
Alam tersenyum dengan warna yang
kukenakan
Alam menangkap yang kusembunyikan …
Warna biru … ya … warna pakaianku …
Aku malu untuk berkata “ini kusengaja”
Memang aku dengan membayangkan dia
Untuk bisa bergandeng melihat sudut
bangunan
Memang aku menggunakan birunya …
Biru kesukaannya … sebagai ilustrasi
rasaku
Sebagai rasa ketidak mampuanku mengajak
96
Greece … yunani … sama saja
Hanya terjemahannya yang membedakan
Artinya sama …
Dia … biru … sama saja
Hanya wujudnya yang berbeda
Pesonanya sama …
Ya Tuhan … makhlukmu berbeda-beda
Akankah cinta menyatukannya ???
Yunani for Lita
Dunia On Line
Aku seperti memaksakan diri untuk
mengungkapkan cerita ini. Satu persatu apa
yang menjadi perasaanku dikupas.
Diceritakan lalu ditulis. Untuk apa?
Membuat simpati orang lain? Komersial?
Pertama yang menjadi pikiranku bahwa
semua ini perlu dicurigai. Sebenarnya aku
takut untuk keadaan seperti ini. Apa yang
kutakutkan adalah bergesernya motivasi
yang ingin berusaha jujur untuk berbagi.
Mengapa berbagi? Sesuatu yang mendorong
dari dalam. Ingin didengar, diperhatikan,
ditumpahkan, dan sebagainya. Ia
menuntutku. Tidak bisa aku tekan dan
pendam begitu saja. Ia tak rela jika tidak
ada karya yang dihasilkan dan harapannya
tertelan masa begitu saja. Jika pada kondisi
seperti ini aku hanya bisa menggapai
notebook kesayangan yang dengannya aku
diajak pergi untuk melihat sebuah dunia
yang bebas untuk berekspresi. Dunia On
Line. Sepertinya dunia on line yang
memberi ruang untuk melihat keadaan lain
98
di sudut bumi ini. Aku bisa melihat
seseorang yang kuinginkan. Tidak seperti
dunia di sini yang saat ini seolah
menghimpit yang tak memberi kesempatan
untuk melihat orang-orang pilihanku.
Jam 1.15 setelah dini hari. Aku bergegas
pulang ke kamar yang menjadi rumah
pribadi di dalam kapal ini. Orang
melihatnya aku seperti sedang tergesa-gesa
mengejar sesuatu. Tak ada kesempatan yang
kuberikan kepada orang lain untuk
menghentikan dan bertanya. Ya … aku
bergegas ganti pakaian kerja lalu naik ke
tempat tidur kemudian log in ke akun
facebook. Dengan perasaan sedikit cemas,
harap, dan senang aku mulai melihat
template biru khas facebook. Di pojok kiri
atas terlihat tanda baru messages dterima.
Aku buka beberapa di antaranya.
“Hemm … aku mulai cemas. Jika
orang melihatku aku akan tampak seperti
sekoci kecil yang tengah dihempas ombak
kesana kemari. Ia terlihat seperti
dipermainkan oleh keadaan”. Demikian
yang terpikir olehku. Dunia on line yang
telah memberi warna pun pada waktu
99
tertentu justru memberi kebimbangan.
Ketika aku memberi suatu pesan untuk
mengucapkan kata indah tentangnya … kata
itu akan berbalik menjadi realita yang
kalau dikonotasikan “siapa elu?”. Ketika
aku memberanikan diri untuk menyatakan
apa yang ada dihati … akan ada comment
yang cukup bervariasi. “Kasihan dech lu”
comment demikian yang paling banyak.
Aku sadar pada saat seperti ini memang aku
seperti seorang anak yang apabila bermain
kelereng ingin paling menang. Inginnya
seseorang harus bisa memberi reply yang
sesuai dengan kehendakku. Tapi apa daya
ketika maksud hati itu pada dasarnya susah
mendapatkan tempat di luar hatiku sendiri.
Malam terus merayap menghampiri pagi.
Untuk bermain di dunia on line aku harus
menggunakan kartu internet. Kartu internet
kapal seharga $40 hanya cukup untuk 460
menit. Kuhabiskannya untuk mencari
sedikit kesenangan. Kurelakan untuk
melihat comment yang sesungguhnya
tentangku. Comment yang jujur. Apa yang
kudapat dari semua itu selain evaluasi diri?
Aku sendiri pun tidak tahu. Sebab hari ini
100
aku tidak puas dengan reply yang kudapat.
Besok lagi aku masih ingin mendapatkan
reply yang berbeda. Mirip seperti anak kecil
yang selalu mengharapkan menang
dipermainan, padahal dia tak layak menang.
Anak kecil itu hanya memiliki harapan. Ada
kalanya aku juga seperti anak kecil dalam
berfikir. Itulah aku hari ini.
The Big Day Will Come
Berkecamuk perasaan sejak aku terbangun
siang ini. Jam 11 siang menjadi awal waktu
untuk setiap aktifitasku. Pekerjaan di mulai
jam 11 sampai dengan jam 13.00. Itu shift
pertama. Jam 17.00 sampai dengan 19.00
shift kedua dan 21.00 sampai 01.00
merupakan shift terkahir. Pada prinsipnya
begitu tetapi pada prakteknya aku bekerja
minimal sepuluh jam setiap hari. Bukan
karena semangatku yang seperti orang
Jepang yang lebih banyak membenamkan
diri di suatu pekerjaan atau work - acholic
tetapi karena standar yang harus diikuti di
hotel terapung ini demikian. Ini menjadi
semacam konskuensi untuk kontrak yang
kutanda tangani.
Berlalunya waktu sembilan bulan
kebelakang memberi arti sendiri pada tahun
ini. Namun tiba-tiba saja aku bosan. Aku
bosan. Kepulangan makin dekat. Target
yang kubuat justru menjadi semacam
“nightmare”. Apa yang akan aku
persembahkan untuk yang di rumah atas
kepulangan nanti? Beginikah dilema orang