102
perantau? Ribut sendiri kalau sudah mau
pulang. Apa yang akan dihadapi masih
tanda tanya. Hanya ada keberanian untuk
tetap mendapatkan apapun nanti. The big
day will come di saat kepulangan tiba. Aku
ingin melihat seseorang yang selama ini
berpisah jarak.
Semakin hari aku menyadari kebutuhan dan
ketergantungan pada Allah sedemikian
besar. Aku pasrahkan semua kenyataan
nantinya. Hanya pasrah yang ternyata dapat
memberi kelegaan pada hati. Akhir dari
perjalanan selama kontrak di kapal ini aku
mencoba untuk membuat suatu kesimpulan
bahwa;
Di antara sekian banyak pertanyaan
dalam perjalanan ini diri inilah satu-
satunya jawaban.
Dari sekian banyak masalah yang
muncul di hadapan selama perjalanan
ini diriku lah solusinya.
Dari sekian orang yang kukenal diriku
sendirilah orangnya
103
Diantara orang-orang yang
mencintaiku diriku sendirilah yang
lebih mencintai
When September End
Ada suatu keterkaitan antara warna biru,
Lita dan diriku yang ternyata susah untuk
diterjamahkan dalam literatur maupun
ilustrasi menarik. Apa yang kuusahakan
untuk ditulis seperti dalam buku ini
sebenarnya hanya memperindah ungkapan
hati saja.
Menyusuri sudut kota, menangkap makna
yang tersembunyi, melihat bayangan Lita,
menyaksikan nikmat-Nya, merasakan
perhatian orang lain, keresahan jiwa tatkala
bersendiri, terpampangnya aib dan dosa saat
ku bermunajad - semua itu menjadi satu.
Seberapa erat kaitannya semua itu dengan
diriku juga susah untuk kuterjemahkan
sendiri. Kalaupun semua itu diusahakan
diungkap dan ditulis hanya untuk
memperjelas saja bahwasannya diri ini
masih jauh dari sempurna.
Hari ini aku telah dengan kepastian pulang.
Flight scedhule sudah aku terima. Segudang
105
rencana kian bertambah justru saat
kepulangan itu sudah di depan mata. Gerak
naluri sang penunggu pun sudah hangat
sambutannya sedang yang ditunggu belum
mesti wujud. Hanya Allah yang tahu
kesempatan selanjutnya apakah aku akan
melihat warna biru yang nyata dan Lita
yang sesungguhnya. Apakah aku akan
selamat sampai disana … sekali lagi Allah
Yang Maha Mengetahui.
Hari ini siang tak menampakkan
mataharinya dengan penuh. Awan dingin
bulan september menyelimuti Istanbul
Turki dan sebentar kemudian mulai turun
rintik hujan. Kapal tertambat di Istanbul di
mana laut hitam atau black sea berada di
samping kanan kapal. Terbentang kian luas
sedang arah depan kapal nun jauh di sana
terbentang pula laut Aegean. Berkali-kali
kapal berkunjung ke sini hanya baru kali ini
aku menyempatkan diri untuk keluar.
Itupun menunggu malam tiba sekalian aku
selesaikan pekerjaan terakhirku. Aku berlari
kecil dari tenda pemberhentian depan kapal
menuju ke pintu keluar penjagaan
pelabuhan hanya untuk meminimalis
106
pakaian agar tidak basah lebih dulu. Kira-
kira empat ratusan meter dari arah gangway
kapal taksi sudah menunggu.
“Berapa untuk menuju ke Blue
Mosqoue?”, tanyaku pada sopir taksi
dengan bahasa Inggris. Ia menjawab
sepuluh Euro. Sopir membawaku ke dekat
Blue Mosqoue hanya saja sampai di
depannya hujan bertambah lebat. Kameraku
tidak bisa menangkap jelas masjid biru
karena pengaruh derasnya air hujan. Tetapi
dokumentasi itu tetap bisa terambil
meskipun tidak begitu jelas gambarnya.
“Kenapa tidak ke night club?”,
Tanya si sopir taksi padaku.
“Tidak aku mau melihat blue
mosqoue”. Jawabku. Lagi-lagi aku kesal
dengan stigma pelaut jika keluar kapal yang
ditawarkan hiburan dan wanita.
Dengan taksi aku melanjutkan untuk
mencari makan. Kebab restoran yang
menjadi tujuan. Dari balik kaca mobil
terlihat air hujan yang tidak lagi deras
begitu menawan terkena sorotan lampu kota.
Aku suka dengan rintik hujan di waktu
107
malam. Titik-titik air hujan yang mengenai
kaca mobil pun sama dengan air hujan di
Bogor. Ia seperti pecahan-pecahan molekul
yang berusaha membentuk diamon tetapi
sebentar kemudian buyar dan tidak jadi.
Jam digital di stereo mobil dekat dengan
perangkat argo menunjukkan angka 02.00
dengan tanggal 30 september.
Teringat tanggal itu aku tertuju pada sebuah
pesan pendek di akun facebookku dari Lita.
“just wake me up when september end!”.
Sebelumnya aku merencanakan untuk
datang padanya akhir september tetapi apa
daya kepulanganku jatuh pada tanggal 6
bulan oktober. Proses yang tak kumengerti
tentang semua ini. Pesannya “wake me up
when september end” terkias dalam sekali.
Aku mencoba untuk melihat makna
sesungguhnya. Jika saja malam ini masjid
biru itu tidak ditutup Ya … Allah ingin
sekali aku memasukinya untuk bisa
bersujud. Untuk memantabkan hatiku pada
kiasan-kiasan yang amat membingunkan ini.
September telah berakhir…
108
Maaf Lita … aku belum bisa hadir …
Namun kusuruh rasa cinta ini …
Untuk datang membangunkanmu …
Sedang di sini aku hanya mampu
melihat rintik hujan Istanbul Turki …
Tanpa bisa menuruti pesanmu …
To wake you up when september end …
*** …
NB: Untuk Cover Belakang
Keberangkatan ke kapal pesiar menjadi
awal Irwan dalam masa mencari jati
diri dan memahami makna cinta.
Ketika pertemuan dengan Lita di
Indonesia yang tergolong cepat
membuat kebimbangan di masing-
masing pihak. Sesuatu yang
diungkapkan oleh Irwan sewaktu
berlayar adalah perasaan ingin
mendapatkan sedikit perhatian.
Perhatian yang sedikit ternyata
mempunyai pengaruh yang hebat ketika
dalam perantauan. Dilema kepulangan
pun mewarnai akhir dari perjalanan.
Akankah pertemuan yang cepat dengan
Lita dulu ibarat garis mulai sebuah
perjalanan sehingga ia masih dapat
melanjutkan ke perjalanan berikutnya.
Makna cinta yang semakin tidak
mengerti menjadi oleh-oleh unik
kepulangan Irwan yang dia sendiri
juga tidak tahu keculai cukup dijalani
saja.