The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BUKU Mapel SKI Kelas X untuk jenjang Madrasah Aliyah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Roudlon Fauzani, 2024-06-13 18:46:32

BUKU SKI X

BUKU Mapel SKI Kelas X untuk jenjang Madrasah Aliyah

Keywords: SKI

Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 93 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E A. SEJARAH LAHIRNYA DAULAH UMAYYAH DI DAMASKUS Daulah Umayyah merupakan dinasti Islam pertama yang didirikan Mu’awiyah bin Abu Sufyan tahun 40 H. Berdirinya daulah ini mengalami proses cukup panjang sejak akhir masa pemerintahan khalifah ke-4 Khulafaur Rasyidin, Ali bin Abi Thalib. Pemerintahan Ali bin Abi Thalib diketahui menanggung beban berat setelah Khalifah Usman bin Affan dibunuh. Gejolak terjadi di mana-mana, termasuk gejolak yang timbul akibat gerakan dimotori Gubernur Syam, Mu’awiyah bin Abu Sufyan untuk menuntut pengusutan pelaku pembuhunan Usman bin Affan. Konflik antara kubu Mu’awiyah dan kubu Ali bin Abi Thalib akhirnya berjung pada perang Siffin yang menelan banyak korban kedua belah pihak. 1. Perang Siffin Perang Siffin merupakan peperangan antara kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan kubu Mu’awiyah bin Abu Sufyan di daerah Siffin tahun 36 H. Perang ini terjadi akibat ketidakpuasan kubu Mu’awiyah atas sikap Ali bin Abi Thalib terhadap para pembunuh Usman bin Affan. Konflik makin panas karena Ali bin Abi Thalib justru mencopot Mu’awiyah bin Abu Sufyan sebagai gubernur Syam. Mu’awiyah tidak mau melepaskan jabatannya sebagai gubernur Syam sebelum Khalifah Ali bin Abi Thalib menghukum para pembunuh Usman, sementara Ali sebagai khalifah menganggap berhak memecat Mu’awiyah dan belum saatnya menghukum para pelaku dengan alasan meredam gejolak umat Islam sedang dalam masa transisi. Masing-masing pihak tetap bersikukuh dengan sikapnya hingga terjadilah perang siffin. Perang siffin sendiri berlangsung selama beberapa hari pada bulan Dzulhijjah tahun 36 H. Saat itu pasukan Khalifah Ali dipimpin Asytar an-Nakha’i menunjukkan tanda-tanda kemenangan. Tercatat, sebanyak 45.000 pasukan Mu’awiyah terbunuh, sementara kubu Ali bin Abi Thalib hanya sekitar 25.000 pasukan gugur. Kubu Mu’awiyah yang sudah kalah itu melakukan siasat. Mereka mengangkat mushaf Al-Quran sebagai tanda ajakan damai. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kubu Ali menerima tawaran damai atau yang dikenal sebagai tahkim. 2. Tahkim Tahkim merupakan perdamaian antara kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan kubu Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam perang Siffin. Kedua belah pihak bersepakat untuk mengembalikan keputusan kepada kitabullah dan menunjuk


94 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E utusan masing-masing pihak untuk mengadakan perundingan. Masing-masing kubu membawa 400 pasukan. Mereka berkumpul di sebuah tempat bernama Daumatul Jandal, tepatnya di Adzruh. Dari pihak Ali bin Abi Thalib ditunjuk Abu Musa al-Asy’ari sebagai juru bicara perundingan dan dari pihak Muawiyah ditunjuklah Amr bin Ash. Mereka bersepakat membuat perjanjian damai (tahkim), yang salah satu keputusannya adalah sepakat genjatan senjata dan memutuskan untuk mengembalikan persoalan umat kepada kitabullah. Atas pertimbangan senioritas, Abu Musa Al-Asy’ari diberi kesempatan lebih dulu oleh Amr bin Ash untuk menyampaikan hasil tahkim di hadapan pasukan: “saudara-saudara kami telah mengkaji persoalan ini, maka kami tidak melihat keputusan paling tepat dan paling bisa menghindarkan kekacauan sekarang ini yang sama-sama disepakati olehku dan oleh Amr selain satu saja, kita mencopot Ali dan Muawiyah dari jabatannya. Hadapilah urusan ini dan angkatlah orang yang menurut kalian berhak menjadi kepala Negara kalian” Abu Musa mundur dari mimbar dan kemudian Amr bin Ash maju dan berdiri di mimbar, lalu menyampaikan pidatonya: “Abu Musa telah menyampaikan pernyataan seperti yang telah kalian dengar tadi, dia telah mencopot sahabatnya (Ali bin Abi Thalib), dan akupun mencopot sahabatnya itu seperti yang dia lakukan. Dan aku kokohkan kedudukan sahabatku, karena dialah ahli waris Usman, dan pihak yang paling berhak menggantikan kedudukan Usman,” tegas Amr bin Ash. Sikap Amr bin Ash tersebut membuat tahkim tidak dapat memuaskan kedua belah pihak terutama dari pihak Ali bin Abi Thalib dan para pendukungnya. Namun begitu, pihak Muawiyah tetap bersikeras meski tidak mendapatkan dukungan dari kubu Ali. Dan seiring waktu berjalan, kubu Mu’awiyah terus menggalang kekuatan dan semakin kuat. Bahkan penduduk Syam membaiat Muawiyah sebagai khalifah dan berturut-turut terus mencari dukungan dari Mesir dan memberangkatkan pasukan ke beberapa wilayah yang dikuasai Ali bin Abi Thalib. Sementara kubu Ali bin Abi Thalib justru terpecah menjadi tiga golongan. Sebagian milih keluar dari barisan Ali yang kemudian dikenal sebagai kelompok Khawarij. Sementara sebagian tetap setia mendukung apapun sikap Ali bin Abi Thalib yang dalam perkembangannya kelompok ini menjelma sebagai kelompok Syi’ah. Adapun sebagian lagi memilih bersikap netral atau murji’ah.


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 95 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 3. Amul Jamaah Setelah Ali bin Abi Thalib wafat atas kekejaman Khawarij, maka dibai’atlah Hasan bin Ali menjadi Khalifah selanjutnya. Hasan bin Ali memiliki pandangan yang tepat terkait beberapa kondisi saat itu. Dia melihat tentaranya tidak bisa dipercayainya, musuhnya sedemikian kuat watak dan tekadnya. Selain itu Hasan sendiri tidak menyukai kekacauan dan lebih menginginkan persahabatan dan perdamaian bagi kaum muslim. Maka dia tidak memiliki pilihan yang lebih bijak untuk diri dan umatnya selain turun dari jabatannya, membuat perjanjian damai dengan sejumlah syarat yang dapat disetujui oleh kedua belah pihak. Dia menuliskan pembai’atannya pada Muawiyah, dan menyerahkan kota Kufah kepada Muawiyah pada akhir Rabi’ul awal tahun 41 H. Ketegangan pun mereda dan kaum muslim menyebut tahun itu sebagai Amul Jamaah (tahun persatuan). a. b. c. d. B. KHALIFAH-KHALIFAH BERPRESTASI DAULAH UMAYYAH DI DAMASKUS Masa pemerintahan Daulah Umayyah berlangsung kurang lebih 90 tahun. Selama kurun waktu itu, Daulah Umayyah dipimpin 14 khalifah. Mereka adalah: Langkah Khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan mendirikan Daulah Umayyah di Damaskus secara sepihak merupakan bagian dari ijtihad beliau dalam mensikapi situasi yang ada. Daulah Umayyah ini akhirnya mampu membawa umat Islam membangun kemajuan dan peradaban Islam bahkan Islam bisa menyebar ke penjuru dunia termasuk ke wilayah Eropa (Andalusia). Tugasmu sebagai penerus umat Islam adalah menyebarkan ajaran Islam sebagaimana jejak yang sudah ditauladankan para pendahulu tersebut supaya agama Islam tetap menjadi rahmatan lil alamin. Dimensi : Kreatif Nilai RA : Keteladanan (Qudwah) Penguatan P5-PPRA


96 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Silsilah Daulah Umayyah di Damaskus 1. Muawiyah Bin Abu Sufyan (661-680 M) 2. Yazid bin Muawiyah (680-683 M) 3. Muawiyah bin Yazid (683-683 M) 4. Marwan bin Hakam (683-685 M) 5. Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) 6. Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) 7. Sulaiman bin Abdul Malik (715-717 M) 8. Umar bin Abdul Aziz (717-719 M) 9. Yazid bin Abdul Malik (719 - 723 M) 10. Hisyam bin Abdul Malik (723-742 M) 11. Walid bin Yazid (742-743 M) 12. Yazid bin Walid (743-744 M) 13. Ibrahim bin Walid (744-750 M) 14. Marwan bin Muhammad (745-750 M) Dari ke-14 khalifah tersebut, tidak semua merupakan khalifah cakap dan sukses. Di antara khalifah yang dianggap sukses dan membawa kepada kemajuan Daulah Umayyah di Damaskus adalah: Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, Khalifah Abdul Malik bin Marwan, Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Umayyah


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 97 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 1. Muawiyah bin Abi Sufyan Muawiyyah bin Abu Sufyan lahir pada 15 tahun sebelum Hijriyah dan masuk Islam pada peristiwa Fathu Makkah bersama keluarga dan penduduk Makkah lainnya. Nama aslinya adalah Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah. Setelah masuk Islam, ia menjadi sahabat Rasulullah Saw dan menjadi salah satu juru tulis wahyu Al-Qur’an. Muawiyah menjabat sebagai khalifah Daulah Umayyah selama kurang lebih 20 tahun. Beberapa kebijakan Muawiyah bin Abu Sufyan: a. Menjadikan Damaskus, Suriah sebagai ibukota kekhalifahan Daulah Umayyah b. Membangun administrasi pemerintahan dan menetapkan aturan jawatan pos c. Mengatur urusan tentara dengan mengacu kepada aturan tentara Bizantium d. Menciptakan sistem pemilihan khalifah dengan cara monarchi hereditas e. Mengubah fungsi baitul mall dari harta kekayaan rakyat pada masa khulafaurrasyidin menjadi harta kekayaan keluarga raja f. Membentuk Diwanul Hijabah g. Membentuk Diwanul Barid h. Membentuk Diwanul Kharraj 2. Abdul Malik bin Marwan Abdul Malik mulai menjadi khalifah pada tahun 65 H. Namun wilayah kekuasaan Abdul Malik bin Marwan hanya Syam dan Mesir, karena umat Islam di sebagian besar wilayah lainnya lebih memilih membaiatkan diri pada Abdullah ibnu Zubair sebagai khalifah. Namun Abdullah Ibnu Zubair akhirnya berhasil ditumpas. Kekuasaan Daulah Umayyah pun berhasil dipulihkan lagi. Abdul Malik berkuasa sekitar 21 tahun. Pada saat Muawiyah menjadi Khalifah, Abdul Malik pernah diangkat sebagai gubernur di Madinah meski saat itu ia baru berusia 16 tahun. Beliau belajar agama dari para Fuqaha, ulama dan ahli Zuhud, pernah meriwayatkan hadits darii Jabir, Abu Sa’id al Khudri, Abu Hurairah dan Ibnu Umar. Banyak orang yang belajar dan mengambil ilmu darinya karena kefaqihannya. Abdul Malik adalah orang yang kokoh pendiriannya dan tidak mudah goyah dalam keadaan apapun. Ia mengatur roda pemerintahan dengan penuh amanah dan selalu menjaga stabilitas keamanan, pada masanya kehidupan kaum muslimin berada dalam kedamaian, banyak negeri yang berhasil ditaklukkan. Di antara beberapa kebijakan Abdul Malik bin Marwan adalah:


98 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E a. Mencetak mata uang dinar menggantikan uang Byzantium dan Sasania b. Melakukakan Arabisasi. Arsip-asrip dan catatan administrasi Negara dari bahasa Persia dan Yunani diubah ke dalam Bahasa Arab. 3. Walid bin Abdul Malik Walid bin Abdul Malik adalah putra dari Abdul Malik bin Marwan. Beliau merupakan anak tertua yang mendapat giliran pertama menduduki kursi khalifah setelah ayahnya meningeal dunia. Dia diangkat jadi khalifah pada tahun 86 H. Walid memiliki daerah kekuasaan sangat luas karena mewarisi kekuasaan Abdul Malik bin Marwan. Dia banyak melakukan ekspansi ke beberapa wilayah. Beberapa kebijakan dan strateginya dalam memimpin, di antaranya: a. Penaklukan Andalusia dibawah pimpinan Gubernur Musa bin Nusair, panglima perang Tharif, dan juga panglima perang Thariq bin Ziyad b. Penaklukan wilayah Kashgar di bawah komando pimpinan Khurasan, Qutaibah bin Muslim al-Bahili yang pernah menjabat gubernur Iraq, Persia, dan Khurasan. c. Penaklukan Negeri Sind di bawah komando Muhammad bin Qasim atsTsaqafi. d. Mengembangkan seni kebudayaan sehingga menjadi karya seni bercorak Islam dan menjadi kebudayaan tertinggi kala itu e. Membangun rumah sakit, panti jompo, panti asuhan, dan gedung pemerintahan serta mendirikan madrasah-madrasah. f. Merenovasi Masjidil Haram, mengadakan perbaikan makam Rasulullah Saw, serta merenovasi masjid Nabawi dan masjid Umawy di Damaskus. 4. Umar bin Abdul Aziz Umar bin Abdul Azis dilahirkan di Halwan, Mesir pada 61 H. Dari garis silsilahnya, dia tercatat masih merupakan cicit Khalifah Khulafaurrasyidin, Umar bin Khathab. Sejak kecil ia sering mendengar kisah tentang kehebatan kakeknya yaitu Umar bin Khathab. Hal itu menginspirasi dirinya untuk bisa seperti sang kakek. Umar bin Abdul Aziz awalnya menolak didaulat menjadi khalifah, namun dikehendaki masyarakat, hingga dilakukan pemilihan umum (pemilu).Dan inilah satu-satunya pemilu yang pernah digelar di era Daulah Umayyah. Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah selama kurang lebih 2 tahun 5 bulan. Beberapa kebijakan-kebijakan Umar bin Abdul Aziz:


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 99 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E a. Melakukan terobosan pengumpulan (kodifikasi) hadits dan menunjuk Imam Muslim bin Syihab az-Zuhri sebagi koordinatornya. Berkat usaha ini, tercapailah pembukuan hadits. b. Menghentikan pemungutan pajak dari Mualaf dan memangkas pajak dari orang Nasrani. Kebijakan ini membuat orang-orang berbondong untuk memeluk Islam c. Menghidupkan kembali ajaran al-Qur’an dan as-Sunah d. Menetapkan hukum berdasarkan Syari’at Islam dengan tegas e. Memindahkan sekolah kedokteran dari Iskandariah (Mesir) ke Antioka dan Harran (Turki) f. Mengutus delegasi untuk mengawasi kinerja para gubernur di berbagai daerah agar selelu menerapkan keadilan dan kebenaran dalam memimpin. g. Mengganti kedudukan gubernur yang tidak taat agama. C. PERKEMBANGAN PERADABAN DAN ILMU PENGETAHUAN DAULAH UMAYYAH DI DAMASKUS Daulah Umayyah merupakan dinasti pertama Islam berpusat di Damaskus, Syiriah dipimpin 14 khalifah sejak 661 M hingga 750 M. Dalam perjalanannya, daulah ini mencatat sejarah besar dalam peradaban Islam. Prestasi daulah ini bukan hanya dari luasnya daerah taklukan, tetapi juga kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan yang dibangun. Kemajuan ilmu pengetahuan yang dibangun di era ini bisa dikatakan merupakan pondasi dasar bagi kemajuan peradaban Islam yang nanti mencapai puncak kejayaannya di era daulah selanjutnya, yakni Daulah Abbasiyah sebagai masa The Golden Age of Islam. Kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan daulah ini sendiri telah terlihat sejak khalifah pertama, Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Berbagai kebijakan yang diambil semasa pemerintahan Daulah Umayyah sedikit banyak berdampak pada kemajuan berbagai bidang. Sehingga, Mu’awiyah dan keturunannya tidak saja dikenal sebagai pahlawan dalam ekspansi besar-besaran dunia Islam, tapi juga dikenal sebagai pembaharu, baik dalam bidang politik, ekonomi, kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan. Sesuai catatan sejarah, kemajuan peradaban daulah Umayyah terjadi mulai pemerintahan Khalifah pertama Mu’awiyah bin Abu Sofyan hingga khalifah ke-10, Hisyam bin Abdul Malik. Namun puncak kejayaan daulah ini terlihat sekali terjadi pada masa khalifah ke-6, al-Walid bin Abdul Malik hingga khalifah ke-8 Umar bin Abdul Aziz. Di era Al-Walid itulah, wilayah Andalusia (Spanyol) berhasil ditaklukan dan di era Umar bin Abdul Aziz berhasil dilakukan kodifikasi hadits.


100 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Kemajuan-kemajuan tersebut meliputi berbagai bidang, yakni mulai dari : 1. Bidang Ilmu Pengetahuan Di bidang Ilmu pengetahuan makin terlihat berkembang setelah bangsa-bangsa Persia, Syiria, hingga Yunani masuk Islam. Terjadi akulturasi budaya dan perkawinan silang di antara mereka. Ditambah adanya Gerakan penerjemahan, membuat perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat. Gerakan penerjemahan buku-buku daerah taklukan seperti Yunani ke dalam Bahasa Arab yang digalakkan di era itu membuat dua aspek ilmu pengetahuan berkembang pesat, yakni ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. Kedua disiplin ilmu itu makin berkembang setelah daulah ini berhasil menguasai Afrika Utara, Semenanjung Arabia, Andalusia hingga daerah Rusia dan kepulauan yang terdapat di Laut Tengah, Chyprus, Rhoders dan sebagian Sicillia. 2. Bidang Ekonomi dan Adminitrasi Pemerintahan Bidang ini berkembang sebagai dampak meluasnya wilayah taklukan. Eksploitasi potensi ekonomi dan sumber daya alam pun ikut dilakukan. Keadaan itu berimbas pada semua biaya operasional di setiap provinsi dipenuhi dari pemasukan lokal, seperti untuk urusan adminstrasi lokal, belanja tahunan Negara, gaji pasukan, dan berbagai bentuk layanan masyarakat. Untuk menunjang perkembangan bidang ini, daulah ini sejak Khalifah pertama Mu’awiyah bin Abu Sufyan membentuk sejumlah organisasi ketetanegaraan meliputi: a. An-Nidhamus Siyasi; yaitu organisasi politik. Pembentukan organisasi politik inilah yang akhirnya membuat kekhalifahan berubah dari sistem syura’ jadi sistem monarki, meniru system Kerajaan Persia dan Romawi. Dan untuk memperkuat keberadaan organisasi politik ini, dibentuk sejumlah lembaga pendukung lainnya, seperti Al-Kitabah atau sekretaris Negara terdiri dari Kitabur Rasail, Kitabul Kharraj, Kitabul Jundi, Kitabus Syurtah dan al-Hijabah (pengawal khalifah). b. An-Nidzamul Idari; Organisasi Tata Usaha Negara terdiri dari AdDawawin, yaitu kantor pusat yang bertugas mengurus tata usaha negara yang terdiri dari Diwanul Kharraj, Diwanul Rasail, Diwanul Mustagilat alMutanawiyah dan Diwanul Katibi. c. An-Nidzamul Mal; organisasi keuangan d. An-Nidzamul Harbi; organinasi pertahanan e. An-Nidzamul Qadha’i; organisasi kehakiman


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 101 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 3. Bidang Pembangunan Kota Pusat peradaban Daulah Umayyah di Damaskus terletak di beberapa kota sebagai berikut: a. Kota Damaskus Damaskus menjadi ibukota pemerintahan Islam sejak masa kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Pada masa itu Damaskus menjadi kota paling besar dan paling megah di wilayah pemerintahan Islam. Kota Damaskus memiliki delapan pintu gerbang yang dilengkapi menara tinggi, sehingga jika akan mengunjunginya, menara-menara itu sudah terlihat dari kejauhan. Pada masa Al-Walid, kota Damaskus dipercantik lagi dengan berbagai fasilitas umum sehingga menjadi buah bibir pada masa itu. b. Kota Qairawan Kota Qairawan dibangun oleh gubernur Afrika Utara Uqbah bin Nafi al-Fihri yang diangkat oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Uqbah membangun Qairawan sebagai benteng perlindungan bagi pasukan tentara kaum muslimin dan harta kekayaannya dari serangan musuh, Qairawan yang letaknya jauh dari pantai menjadikan kaum muslimin merasa aman dari serangan tentara Romawi. 4. Bidang Pendidikan Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Kedokteran Ahli kedokteran pada masa Daulah Umayyah adalah Abu al-Qasim al Zahrawi. Beliau dikenal sebagai ahli bedah, perintis ilmu penyakit telinga, dan pelopor ilmu penyakit kulit. Karyanya yang terkenal berjudul al- Ta’rif li man ‘Ajaza ‘an al Ta’lif yang pada abad XII diterjemahkan oleh Gerard of Cremona dan dicetak ulang di Genoa (1497M). Buku tersebut menjadi rujukan di universitas-universitas terkemuka di Eropa. Di dunia Barat, Abu al Qasim dikenal dengan sebutan Abulcasis. b. Sejarah Di Antara tokoh terkenal dalam bidang sejarah adalah Abu Bakar bin Umar atau nama lainnya ibn Qithiyah, memiliki karya berjudul Tarikhh iftitah alAndalus. Selain itu juga ada Abu Marwan Abdul Malik bin Habib, memiliki karya terkenal berjudul al-Tarikh.


102 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E c. Bahasa dan Sastra Tokoh terkenal bidang Bahasa dan Sastra antara lain; Abu Amir Abdullah, karyanya dalam bentuk prosa berjudul Risalah al Awabi wa al Zawawi, Kasyf al Dakk wa Azar alSyakk dan Hanut Athar. Ali al_Qali, karyanya yang terkenal al-Amali dan alNawadir. Abu Amr Ibn Muhammad dengan karyanya al ‘Aqd al Farid. d. Kimia Ahli kimia terkenal pada masa ini adalah Abu al-Qasim Abbas ibn Famas. Beliau mengembangkan ilmu kimia murni dan kimia terapan yang merupakan dasar bagi ilmu farmasi yang erat kaitannya dengan ilmu kedokteran. e. Ilmu-ilmu Naqli Ilmu-ilmu Naqli ini meliputi: ilmu Qira’at, ilmu Tafsir, ilmu hadits, ilmu fikih, dan ilmu nahwu. Dalam ilmu Qira’at pada masa itu, berkembang tujuh bacaan al-Qur’an atau terkenal dengan istilah Qira’ah Sab’ah yang kemudian ditetapkan jadi dasar bacaan, yaitu cara bacaan yang dinisbatkan kepada cara membaca dari tujuh ahli Qira’at. Ketujuh imam yang dijadikan rujukan tersebut adalah Nafi' bin Abd al-Rahman ibn Abu Nu'aim (Imam Nafi’) dari Madinah, Abdullah bin Katsir al-Dariy (Imam Ibnu Katsir) dari Mekkah, Abdullah al-Yashibiyn (Imam Ibnu Amir al-Dimasyqi) dari Syam, Zabban ibn al-Ala bin Ammar (Imam Ibnu Amr) dari Bashrah, dan tiga imam lagi dari Kuffah. Mereka adalah Ibnu Abi al-Najud al-Asadly (imam ‘Ashim), Ibnu Habib al-Zayyat (Imam Hamzah), dan imam Al-Kisai. Sementara ahli ilmu Tafsir pada masa ini adalah Ibnu Abbas, ahli ilmu Hadits Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Hasan Basri. Sedangkan ahli ilmu Nahwu adalah Abu Aswad adDualy. Beliau belajar kepada Ali bin Abi Thalib sehingga beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa bapak ilmu nahwu adalah Ali bin Abi Thalib. Pada akhir periode Umayyah melahirkan sejumlah mujtahid dan muncul dua tokoh imam madzhab yaitu Imam Abu Hanifah di Kuffah dan Imam Malik di Madinah. Sementara Imam Syafi’i dan Imam Hambali lahir pada masa pemerintahan Abbasiyah.


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 103 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 5. Bidang Arsitektur Perkembangan bidang seni arsitektur juga ikut berkembang pesat di era ini. Salah satu kemajuan seni arsitektur yang dicapai adalah berdirinya masjid Umayyah di Damaskus dan pembangunan masjid kubah emas As Sakhrah di kompleks Baitul Maqdis atau yang lebih dikenal dengan Dome of the Rock (Kubah Batu) didirikan di era Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Di samping itu beberapa peninggalan seni arsitektur menunjukan ketinggian peradaban di masa itu, misalnya; Masjid Agung di Kufah, Masjid Batu Karang, Istana Aljaferia di Saragosa dan lain lain. 6. Bidang Militer Pada masa ini kemajuan militer bangsa Arab telah mencapai kemajuan signifikan. Mereka mempelajari berbagai ilmu kemiliteran dari banyaknya ekspedisi militer yang meraka lakukan termasuk dari metode militer Romawi. Muawiyah melakukan perubahan besar dan menonjol di dalam pemerintahannya dengan mengandalkan angkatan daratnya yang kuat dan efisien. D. KEMUNDURAN DAULAH UMAYYAH DI DAMASKUS Pemerintahan Daulah Umayyah mulai menunjukkan kemunduran sepeninggal Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dilanjutkan Yazid bin Abdul Malik. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam kenyamanan, ketentraman dan kedamaian berubah menjadi kacau. Masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abdul Malik yang cenderung hidup dalam kemewahan dan kurang memperhatikan kepentingan rakyat. Kekacauan ini terus berlanjut hingga khalifah terakhir Daulah Umayyah, Marwan bin Muhammad. Di era kepemimpinanya terjadi gerakan Abbasiyah hingga khalifah ditangkap dan meninggal di Mesir. Meninggalnya Marwan bin Muhammad jadi penanda berakhirnya kekuasaan Daulah Umayyah dan digantikan oleh Daulah Abbasiyah. Sesuai referensi, ada banyak beberapa faktor runtuhnya Daulah Umayyah antara lain: 1. Ketidakpuasan pemeluk Islam non-Arab (Mawali). Kaum ini beri bangkitr memberikan dukungan terhadap gerakan Abbasiyah melawan Daulah Umayyah karena selama ini merasa dimarginalkan.


104 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 2. Penerapan sistem pemilihan khalifah melalui garis keturunan (monarchi heredities), termasuk mengangkat keturunan orang-orang Arab sebagai pemimpin di seluruh wilayah taklukkan. Ini sering menyebabkan terjadinya persaingan tidak sehat untuk berebut kekuasaan di kalangan keluarga, dan juga menimbulkan kecemburuhan bagi kelompok Islam non Arab (Mawali). 3. Terjadinya persaingan antara kelompok suku Arab Mudariyah (Arab Utara) dan suku Arab Himyariyah (Arab Selatan). Daulah Umayyah cenderung memebela kepada salah satu pihak tersebut 4. Adanya pemberontakan kelompok Syi’ah dan Khawarij yang terus mengganggu pemerintahan ikut memperparah kehancuran Daulah Umayyah 5. Munculnya gerakan Abbasiyah dari keturunan Bani Hasyim. Gerakan ini didukung kelompok yang selama ini berseberangan dengan Daulah Umayah seperti Mawali, Syi’ah dan khawarij


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 105 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Negara Suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Lalu tiba-tiba putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu. ”Untuk urusan apa putraku datang ke sini? urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar. ”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak. Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap. ”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran. ”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar. Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam. ”Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah.” Begitulah perangai pejabat sejati. Ternyata, puncak kejayaan di berbagai bidang tak lantas membuat Umar bin Abdul Aziz terperdaya. Meski prestasinya banyak dipuji, pemimpin berjuluk ”khalifah kelima” khulafaurrasyidin tetap bersahaja, amanah, dan sangat hati-hati mengelola aset negara. Semoga kelak banyak yang akan lahir di masa kini dan masa depan pemimpin yang seperti Umar Bin Abdul Aziz, yang jujur dan zuhud yang peduli pada negaranya. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. (*) Sumber : https://griyayatim.com/kisah-umar-bin-abdul-aziz-dan-lampu-negara/ Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P5-PPRA)


106 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Kepribadian yang ditauladankan Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu memberikan gambaran jelas sebagai sosok pemimpin muslim yang amanah, penuh hikmah, dan ketauladanan. Sikap itulah yang diharapkan menjadi sumber simpati dari masyarakat untuk memeluk agama Islam. Tugas kalian adalah bagaimana cara lain yang bisa kalian lakukan di lingkungan Anda dalam menyebarkan agama Islam? Sebutkan langkah-langkah yang bisa Anda lakukan? No. Pernyataan Jawaban 1. Kemukakan pendapatmu tentang sejarah Daulauh Umayyah di Damaskus! 2. Terangkan bagaimana proses berdirinya Daulah Umayyah di Damaskus! Kamu telah mempelajari materi Daulah Umayyah. Untuk memperdalam pemahamanmu, buatlah peta konsep materi Daulah Umayyah di Damaskus. Dan agar lebih jelas, perhatikan langkah-langkah berikut: 1. Bentuklah kelompok terdiri atas 4-5 peserta didik 2. Tentukan materi dan makalah menganai Daulah Umayyah di Damaskus untuk presentasi 3. Analisalah latarbelakang berdirinya Daulauh Umayyah hingga runtuhnya daulauh tersebut 4. Bacalah beberapa literatur untuk mendukung kegiatanmu 5. Sajikan hasil analisamu dalam bentuk slide power point Aktivitas 10 Aktivitas 11


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 107 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 3. Kemukakan pendapatmu tentang khalifahkhalifah Daulah Umayyah di Damaskus yang berprestasi! 4. Kemukakan pendapatmu tentang sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz! 5 Kemukakan pendapatmu tentang kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan Daulah Umayyah di Damaskus! 6 Kemukakan pendapatmu tentang factor-faktor runtuhnya Daulah Umayyah di Damaskus! 7 Kemukakan pendapatmu tentang Hikmah pelajaran yang bisa diambil dari Daulah Umayyah di Damaskus !


108 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Catatan :


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 109 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E BAB VII PERADABAN ISLAM DAULAH UMAYYAH II DI ANDALUSIA


110 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E : a. b. c. d. Halo, pelajar Indonesia …. Sebagai pelajar Indonesia, kita harus berkarakter dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang rahmatan lil alamin. Selain belajar di kelas, kita juga harus belajar dari lingkungan sekitar. Kita harus mengamati dan memikirkan jalan keluar terhadap permasalahan di lingkungan sekitar. Kita berusaha ya …. Berusaha menjadi pelajar yang bermanfaat untuk lingkungan kita, baik keluarga, masyarakat, maupun Negara. Kita berusaha menjadi pelajar yang berprofil Pancasila dan rahmatan lil alami Menjadi Sukses Berkat P5-PPRA Perhatikan Gambar Berikut! • Berdasarkan dua gambar tersebut, bagaimana pendapat kalian ? • Dapatkah menganalisis makna dan pesan apa yang terdapat dalam gambar-gambar tersebut? Jelaskan pendapat kalian !!! tulis di kolom yang disediakan ! Dimensi : Kreatif Elemen : Memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternative solusi permasalahan Penguatan P5-PPRA


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 111 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E A. SEJARAH LAHIRNYA DAULAH UMAYYAH II DI ANDALUSIA Daulah Umayyah II di Andalusia merupakan dinasti Islam didirikan keluarga Daulah Umayyah I, yakni Abdurrahman Ad-Dakhil. Beliau merupakan putra dari Mu’awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik, yang berhasil lolos dari kejaran tentara Bani Abbasiyah yang menaklukan Daulah Umayyah di Damaskus. Abdurrahman berhasil masuk ke Andalusia dan mengambil kekuasaan di Andalusia pada masa Gubernur Yusuf al-Fihr. Lalu, memproklamirkan berdirinya Daulah Umayyah II di Andalusia sebagai kelanjutan dari Daulah Umayyah I di Damaskus. Oleh ahli sejarah periode ini disebut dengan periode kedua pemerintahan Daulah Umayyah, terhitung antara tahun 756-1031 M. Sebelum Daulah Umayyah II berdiri, Islam sudah lama masuk dan berkembang di daratan Andalusia. Masuknya Islam di daerah ini jadi angin segar bagi perkembangan Islam sekaligus menjadi awal masuknya Islam ke beberapa wilayah lainnya seperti Cordoba, Granada, dan Toledo, ibukota pemerintahan Spanyol. Penaklukkan Andalusia ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) yang merupakan khalifah ke-6 Daulah Umayyah di Damaskus. Jatuhnya Andalusia dan beberapa kota penting di negeri itu, membuka jalan baru bagi upaya umat Islam untuk menyebarkan Islam ke seluruh Eropa. Secara singkat dapat dijabarkan proses lahirnya Daulah Umayyah II di Andalusia sebagai berikut: 1. Penaklukan Andalusia Sebelum membebaskan Andalusia, umat muslim telah menguasai wilayah Afrika utara. Wilayah ini menjadi batu loncatan bagi umat Islam untuk menguasai wilayah Andalusia. Penguasaan wilayah Afrika dimulai sejak Khalifah Umar bin Khatab dengan membebaskan bumi Mesir di bawah pimpinan Amr bin Ash, lalu dilanjutkan oleh khalifah pertama Daulah Umayyah, Muawiyah bin Abu Sufyan. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara terjadi pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M). Pada perkembangan selanjutnya, pemerintahan pusat Daulah Umayyah menunjuk Musa bin Nusair sebagai gubernur di Afrika Utara. Di bawah pimpinan Musa bin Nusair, Afrika Utara yang dulunya jadi daerah basis kekuasaan Kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothic berhasil dibebaskan. Setelah Afrika Utara benar-benar dapat dikuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatian untuk membebaskan Andalusia. Proses penaklukan Andalusia melalui tahapan yang sangat panjang. Musa bin Nusair lebih dulu mengutus Tharif bin Malik untuk menyelidiki keadaan Andalusia saat itu. Tharif membawa 500 pasukan berkuda dan melintasi selat yang terletak di antara Maroko dan Benua Eropa. Dalam ekspedisi ini Tharif dibantu oleh Raja Julian dengan menaiki empat buah kapal milik Raja Julian, dan sukses tanpa perlawanan yang berarti.


112 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Melihat keberhasilan Tharif bin Malik dan pasukannya, maka Musa Bin Nusair kembali melakukan ekspedisi ke Spanyol dengan membawa pasukan dalam jumlah lebih besar, yaitu 7000 ribu pasukan di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Pasukan Thariq bin Ziyad sebagian besar terdiri dari suku Barbar yang didukukng oleh Musa bin Nusair dan orang-orang Arab yang dikirim oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik. Tahriq bin Ziyad membawa pasukannya menyebrangi selat yang kemudian terkenal dengan selat Gibraltar (Jabal Thariq). Thariq berhasil dengan gemilang dan berturut-turut berhasil menaklukan berbagai wilayah penting di Eropa seperti Cordoba, Granada dan Toledo (ibukota kerajaan Gothic saat itu). Dengan ditaklukkannya Andalusia, maka periode pertama Pemerintahan Daulah Umayyah Andalusia dimulai, dengan pusat pemerintahan di Damaskus. Periode pertama ini Andalusia berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Daulah Umayyah yang masih berpusat di Damaskus. Pada periode pertama ini, situsai politik dan perekonomian belum tertata dengan baik. Sering terjadi konflik internal yang mengakibatkan melambatnya kemajuan di segala bidang. Konflik internal yang terjadi disebabkan antara lain oleh perbedaan etnis dan golongan juga terdapat perbedaan pandangan antara khalifah yang berpusat di Damaskus dengan Gubernur Afrika Utara. Periode pertama ini, Islam di Andalusia belum memasuki kegiatan pembangunan dalam bidang peradaban dan kebudayaan. 2. Peran Abdurrahman I Di tengah terjadi gerakan Abbasiyah meruntuhkan Daulah Umayyah I di Damaskus, terdapat satu di Antara keturunan Daulah Umayyah yang selama. Beliau bernama Abdurrahman bin Mu’awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik, pemuda berusia 19 tahun. Dia lari menyeberangi gurun Sinai ke Mesir, lalu melewati beberapa wilayah Afrika menuju daratan Eropa di Andalusia yang telah ditaklukkan nenek moyangnya dari Daulah Umayyah. Abdurrahman lolos dari kejaran tentara Abbasiyah dan berhasil menaklukkan Daulah Umayyah di Andalusia. Atas keberhasilan itu, Abdurrahman dapat julukan ad-Dakhil. Di bawah kepemimpinan Abdurrahman ad-Dakhil, Islam di Andalusia mengalami babak baru. Abdurrahman mengambil kekuasaan di Andalusia pada masa Gubernur Yusuf al-Fihr. Ia memproklamirkan berdirinya Daulah Umayyah di Andalusia sebagai kelanjutan dari Daulah Umayyah di Damaskus. Oleh ahli sejarah periode ini disebut dengan periode kedua pemerintahan Daulah Umayyah, periode kedua ini terjadi antara tahun 756-912 M. Pada periode ini umat Islam di bawah kekuasaan para Amir dan mulai memperoleh kemajuan, baik dalam bidang politik maupun peradaban. Amir pertama pada periode kedua ini adalah Abdurrahman ad-Dakhil. Ia berhasil membawa


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 113 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E kegemilangan Islam dan sukses mendirikan masjid Cordoba dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Andalusia. a. b. c. d. B. KHALIFAH-KHALIFAH BERPRESTASI DAULAH UMAYYAH II DI ANDALUSIA Masuknya Islam ke Andalusia memberikan berkah tersendiri bagi penduduk setempat karena membawa wilayah ini mengalami kemajuan, khususnya setelah Abdurrahman ad-Dakhil datang mendirikan Daulah Umayyah II tahun 756 M. Abdurrahman ad-Dakhil sebagai pendiri Daulah Umayyah II berhasil meletakkan sendi dasar kokoh bagi tegaknya Daulah Umayyah II di Andalusia. Selama kurang lebih 32 tahun masa pemerintahnya, Andalusia mencapai pertumbuhan ekonomi paling tinggi, suatu kemajuan yang belum pernah dicapai Andalusia sebelumnya. Cordoba sebagai ibukota Daulah Umayyah II bahkan menyaingi Konstantinopel, ibukota Kerajaan Bizantium (Romawi Timur) dan Baghdad, ibukota Daulah Abbasiyah dari segi kemegahan, kemewahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan seni. Cordoba dikenal sebagai Pengantin Andalusia dan Permata Dunia. Dalam catatan sejarah, Islam berkuasa di Andalusia selama kurang lebih 7,5 abad lamanya. Namun kemajuan wilayah ini baru mulai terlihat semenjak Abdurrahman ad-Dakhil datang mendirikan Daulah Umayyah II. Banyak kemajuan dan prestasi dicapai Daulah Umayyah II, bahkan pengaruhnya meluas membawa kemajuan wilayah Eropa dengan amir-amir sebagai berikut: 1. Abdurrahman Ad-Dakhil (756-788 M) Keputusan Abdurrahman ad-Dakhil untuk lari dari kejaran tentara Abbasiyah melintasi benua, dari benua Asia ke benua Eropa (Andalusia) merupakan keberanian luar biasa. Dan apa yang diikhtiarkan Abdurrahman ad-Dakhil ternyata mendatangkan hikmah luar biasa. Selain berhasil menjadi penguasa Andalusia, kehadiran beliau juga menjadikan Islam berkembang pesat di bumi Eropa (Andalusia). Tugasmu sebagai penerus umat Islam adalah menyebarkan ajaran Islam secara kreatif dan penuh semangat tanpa mengenal putus asa yang sudah ditauladankan Abdurrahman ad-Dakhil supaya agama Islam tetap menjadi rahmatan lil alamin. Dimensi : Kreatif Nilai RA : Tathawur wa Ibtikar (Dinamis dan Inovatif) Penguatan P5-PPRA


114 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 2. Hisyam bin Abdurrahman (788-796 M) 3. Al-Hakim bin Hisyam (796-822 M) 4. Abdurrahman al-Ausath (822-852 M) 5. Muhammad bin Abdurrahman (852-886 M) 6. Munzir bin Abdurrahman (886-912 M) 7. Abdurrahman an-Nasir (912-961 M) 8. Hakam al-Muntasir (961-976 M) 9. Hisyam II (976-1009 M) 10. Muhammad II (1009-1010 M) 11. Sulaiman (1013-1016 M) 12. Abdurrahman IV (1016-1018 M) 13. Abdurrahman V (1018-1023 M) 14. Muhammmad III (1023-1025 M) 15. Hisyam III (1027-1031 M) Amir-amir tersebut berkuasa dengan pembagian beberapa periode, dimana periode pertama di mulai sejak Andalusia dikuasai pada masa Daulah Umayyah berpusat di Damaskus. Penguasa Andalusia pada periode kedua adalah, Abdurrrahman Ad-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman al-Ausatth, Muhammad bin Abdurrahman, Munzir bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad. Pada periode kedua ini, Daulah Umayyah mengalami kemajuan dalam berbagai bidang. Periode ketiga berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar an-Nasir. Pada periode ini penguasa mulai memakai gelar Khalifah, khalifah yang memimpin pada periode ketiga ini adalah Abdurrahman an-Nasir, Hakam II dan Hisyam II. Pada perode ini Daulah Umayyah Andalusia mengalami puncak kejayaan menyaingi peradaban Daulah Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman an-Nasir membangun universitas Cordoba dilengkapi dengan perpustakaan yang mempunyai koleksi ribuan buku, pembangunan kota berlangsung sangat cepat, masyarakat mendapatkan kesejahteraan dan kemakmurannya. Periode keempat terjadi antara tahun 1013-1086 dimana mulai terlihat melemah karena terpecah-pecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil (Mulk at Thawaif) di bawah pemerintahan raja-raja golongan yang berpusat di Seville. Munculnya Mulk at Thawaif ini sangat berpengaruh terhadap eksistensi Daulah Umayyah. Periode kelima berlangsung dari tahun 1086-1248, pada periode ini muncul kekuatan yang dominan yaitu Daulah Murabithun yang berasal dari Afrika Utara yang sedikit banyak membantu umat Islam di Andalusia dari serangan orang-orang Kristen. Periode keenam berlangsung dari tahun 1248-1492, pada periode ini kekuasaan Islam hanya di daerah Granada yaitu di bawah kekuasaan Bani Ahmar. Peradaban ini


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 115 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E dibangun kembali sehingga sempat mengalami kemajuan seperti pada pemerintahan Abdurrahman an-Nasir. Namun secara politik jangkauan daulah ini hanya berkuasa di wilayah yang sangat kecil, sehingga berakhirlah kekuasaan Daulah Umayyah di Andalusia pada periode keenam. Selama kurang lebih tujuh setengah abad Daulah Umayyah di Andalusia (Spanyol) berkuasa, banyak prestasi dan kemajuan yang sudah dicapai, bahkan pengaruhnya membawa Eropa kepada kemajuan. Puncak kejayaan Islam di Andalusia terjadi pada periode ketiga (912-1013 M) dimulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang brgelar an-Nasir, pada periode ini Islam di Andalusia mencapai puncak kejayaan dan kemajuan, menyaingi kejayaan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Kemajuan-kemajuan tersebut antara lain: 1. Ilmu Pengetahuan dan Sains Di bidang ini mengalami kemajuan sangat pesat, khususnya dunia Pendidikan dan intelektual. Bahkan, masa kekuasaan Abrurrahman III bergelar an-Nasir, berdirilah Universitas Cordoba termasyhur dan menjadi kebanggaan umat Islam. Banyak pelajar, bahkan pendeta dari berbagai wilayah di Eropa berbondong-bondong datang menimba ilmu dari dunia Islam. Dari universitas inilah, Barat menyerap ilmu pengetahuan. Semua masyarakat Andalusia tanpa mengenal latar belakang agama dan suku bisa menimmati kemajuan yang dicapai saat itu. Tak ada diskriminasi juga tidak ada pemaksaan harus memeluk agama Islam. Justru yang terjadi, kala itu penguasa Islam benar-benar mengayomi semua warganya yang memang hiterogen, yang menghuni Andalusia mulai keturunan Romawi, Visigoth, Vandal, Spanyol, Barbar, Arab, hingga orang-orang Slav (berasal dari Eropa Tengah). Komunitas mereka juga beragam, mulai komunitas al-Muwalladun (orang Spanyol masuk Islam), Arab, Barbar (orang Islam asal Afrika Utara), ash-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Burgaria), juga Yahudi dan Kristen Muzareb berbudaya Arab. Dari sisi agama, masyarakat Andalusia menganut agama Islam, Yahudi, dan Kristen. Semua komunitas juga memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Spanyol. Kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang dicapai pada masa ini, antara lain: a. Filsafat Disiplin ini berkembang pesat. Perkembangan filsafat ini terjadi atas inisiatif Khalifah Hakam II untuk mengimpor karya-karya ilmiah dan filsafat dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordoba dengan perpustakaan dan universitasnya yang lengkap mampu menyaingi kemajuan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Tokoh pertama dalam sejarah Filsafat Andalusia adalah Abu Bakar Muhammad ibn as-Sayigh yang lebih dikenal sebagai Ibnu Bajah. Beliau tinggal di Granada dengan karyanya terkenal tadbir al-Mutawahid. Pada masa


116 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E itu, di wilayah Timur atau Daulah Abbasiyah muncul juga ahli filsafat terkenal seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Tokoh kedua adalah Abu bakar Ibnu Tufail dari Wady, sebuah kota kecil di Timur Granada. Beliau banyak menulis filsafat, astronomi juga kedokteran. Karya filsafatnya terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan. Tokoh filafat lain yang juga muncul di era ini adalah Ibu Rusyd dari Cordoba. Yang menjadi ciri khas Ibnu Rusyd adalah kecermatannya dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Di antara karya-karya terkenalnya adalaha karya berjudul Mabadi Falasifah, Kulliyat, Tafsir Urjuza, Kasfu Afillah. Selain ahli filsafat, Ibnu Rusyd juga seorang ahli Fikih dengan karya besarnya berjudul Bidayah al-Mujtahid, dan karya di bidang kedokteran berjudul al-Hawi. b. Sains Sains berkembang pesat. Banyak bermunculan disiplin ilmu-ilmu seperti kedokteran, matematika, kimia, astronomi, dan geografi. Abbas ibn Fams terkenal sebagai ahli ilmu kimia dan astronomi sekaligus sebagai orang pertama kali menemukan pembuatan kaca dari batu. Ahmad bin Ibas, ahli dalam bidang obat-obatan. Di bidang ilmu Geografi, ilmuwan terkenal adalah Ibu Jubair yang menulis tentang Negeri-negeri Muslim Mediterania dan Sicilia. Ibnu Batutah juga salah satu ilmuwan terkenal hingga Samudra Pasai dan Cina. Ia dikenal sebagai penjelajah dunia paling andal dari Maroko. Di bidang matematika, melalui buku terjemahan karya Ibrahim al-Fazari, seorang pakar matematika bernama Nasawi berhasil memperkenalkan angka-angka India seperti 0,1,2 hingga 9, hingga angka-angka India di Eropa lebih dibanding angka Arab. Para ahli dalam bidang kedokteran antara lain: 1) Thabib ibn Qurra’ ia dianggap sebagai bapak ilmu Kimia 2) Ar-Razi atau Razes. Karya terkenalnya dalam bidang penyakit campak dan cacar yang diterjemahkan dalam bahasa latin 3) Ibnu Sina, di Eropa disebut dengan Avicena. Selain sebagai filosof juga seorang dokter dan ahli musik. Karya terkenalnya adalah Shafa, Najat, Sadidiya, Danes Nomeh dan al-Qanuun fi at-Thib c. Fikih Di bidang fikih, Islam di Spanyol menganut Madzhab Maliki yang diperkenalkan pertama kali oleh Ziyad bin Abd ar-Rahman. Dalam perkembangannya dipegang oleh seorang Qadhi, yakni Ibnu Yahya. Ahli-ahli Fiqh lainnya adalah Abu Bakar ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Said al-Baluthi dan Hazm.


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 117 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E d. Sejarah Orang pertama kali mengemukakan teori perkembangan sejarah adalah Ibnu Khaldun melalui karyanya berjudul Muqaddimah. Buku ini menjadi tumpuan studi ilmuwan-ilmuwan barat, beliau juga merupakan perumus filsafat sejarah. Karya-karya Ibu Khaldun memberikan sumbangan dan pengaruh dalam pemikiran-pemikiran ilmuwan barat. Ahli sejarah lainnya adalah Yahya bin Hakam, seorang penyair yang dikenal sebagai al-Gazzal, juga Abu Bakar Ibn Muhammad yang terkenal sebagai Ibn al-Quthiyah dengan karyanya berjudul Tarikh Iftitah al-Andalus. Karya ini memiliki nilai tersendiri, karena penafsirannya mengenai peristiwa-peristiwa di Spanyol yang sebelumnya tidak diketahui oleh orang Arab 2. Peradaban dan Pembangunan Pesatnya perkembangan di bidang ini terlihat dari bangunan-bangunan berarsitektur megah yang bermunculan. Ketika malam tiba, jalan-jalan di kota hingga keluar kota diterangi lampu hias cantik nan anggun. Di antara kota yang dibangun dan menjadi pusat peradaban adalah: a. Cordoba Cordoba merupakan ibukota Daulah Umayyah II. Kota ini dibangun dan diperindah lagi ketika dikuasai Islam. Taman dan jembatan dibangun dengan indah di atas sungai mengalir di tengah kota. Di sekitar ibukota berdiri istanaistana megah makin mempercantik kota Cordoba. Di Cordoba dibangun masjid raya Cordoba, ada juga Istana Damsyik di sana. Cordoba juga dihiasi Istana AzZahra yang indah, menjadi kota satelit di bukit Sierra Monera. Kota ini dilengkapi masjid tanpa atap dan air mengalir di tengah masjid sangat unik dan indah, hingga menjelma sebagai kota bercahaya. Kota ini didirikan Kalifah Abdurahman III dan dilanjutkan Khalifah Al-Hakam II. Keindahan Cordoba semakin nyata manakala fasilitas-fasilitas umum dibangun dengan rapi dilengkapi saluran air yang panjangnya mencapai 80 km. Terdapat juga Al-Qasr al-Kabir, kota satelit yang di dalamnya terdapat gedunggedung, juga istana megah Rushafat, sebuah Istana dikelilingi taman berada di sebelah barat laut Cordoba. b. Granada Granada merupakan pusat pertahanan terakhir Islam di Andalusia. Arsitektur bangunannya sangat terkenal di seluruh Eropa. Di sana terdapat Istana al-Hambra yang indah dan megah, menjadi pusat dan puncak ketinggian arsitektur di Andalusia kala itu. Kisah tentang kemajuan seni arsitektur terlihat


118 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E juga dengan bangunan istana-istana megah lainnya seperti, Istana al-Gaza dan Menara Girilda. Sayang, masa kejayaan itu tidak berlangsung terus dan harus berakhir tragis. Daulah Umayyah II di Spanyol pun runtuh akibat pertikaian dan perebutan, hingga akhirnya umat Islam terusir dari Spanyol tahun 1492 M dengan Granada sebagai benteng terakhirnya. Ini setelah kerajaan Castila serta Aragon bersatu di bawah kendali Isabel dan Ferdinand menyerang kekuasaan Islam yang masih tersisa di Granada Kemajuan yang dicapai di Andalusia bukan datang dengan tiba-tiba, melainkan banyak faktor yang menjadi pendukungnya, yaitu: a. Heterogenitas. Keberagaman masyarakat Andalusia justru mendorong terciptanya iklim intelektual yang maju. Islam datang dengan semangat toleransi tinggi, dengan semangat itu mengakhiri kezaliman keagamaan yang sudah berlangsung sebelumnya. b. Adanya semangat kesatuan budaya Islam yang timbul pada pemikiran ulama dan para ilmuwan. c. Persaiangan antara Mulk at-Tawaif (kerajaan-kerajaan kecil) justru menyebabkan perkembangan peradaban di sekitar Cordoba. Semuanya bersaing ingin menandingi Cordoba dalam hal ilmu pengetahuan, satra, seni, dan kebudayaan. d. Adanya dorongan dari para penguasa yang mempelopori kegiatan ilmiah, sehingga muncul ilmuwan-ilmuwan yang kompeten di bidangnya C. KEMUNDURAN DAULAH UMAYYAH II DI ANDALUSIA Masa kejayaan Daulah Umayyah II di Andalusia tidak berlangsung terus dan harus berakhir tragis. Daulah Umayyah II di Spanyol pun runtuh akibat pertikaian dan perebutan, hingga akhirnya umat Islam terusir dari Spanyol tahun 1492 M dengan Granada sebagai benteng terakhirnya. Ini setelah kerajaan Castila serta Aragon bersatu di bawah kendali Isabel dan Ferdinand menyerang kekuasaan Islam yang masih tersisa di Granada. Namun lepas dari apapun, hancurnya kekuasaan Islam di Andalusia paling tidak memberi pelajaran berharga bagi kita sebagai generasi penerus. Ternyata, masyarakat Andalusia masih menganggap kehadiran Islam di Negara mereka merupakan ancaman juga penjajah bagi mereka, meski kedatangan Islam telah memberikan kemajuan dan kejayaan untuk Andalusia. Dan akhirnya setelah kurun waktu tujuh setengah abad, Daulah Umayyah II runtuh. Beberapa factor yang menjadi penyebab runtuhnya Daulah Umayyah II di Andalusia adalah :


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 119 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 1. Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan Tidak adanya peraturan pemilihan dan pengalihan kepemimpinan menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Sistem monarki membuat masing-masing ahli waris merasa berhak menjabat sebagai pemimpin setiap ada kekosongan kepemimpinan. Karena faktor itulah muncul kerajaan-kerajaan dan kekuatan kecil di sekitar Andalusia atau yang lebih dikenal sebagai masa Muluk at-Tawaif. Islam kian terdesak hingga tersisa di Granada sebagai pusat kekuasaan Islam terakhir di Andalusia. Itupun akhirnya jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella. 2. Tidak adanya Ideologi Pemersatu Orang-orang pribumi enggan menerima para muallaf menjadi bagian dari mereka. Akibatnya kelompok etnis non Arab seperti etnis Salvia dan Barbar sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosial dan ekonomi negeri tersebut. Ini menunjukan tidak adanya idiologi yang memberi makna persatuan, di samping juga tidak adanya figur yang menjadi pengaut idiologi tersebut. 3. Keterpurukan Ekonomi Kegigihan para penguasa mengembangkan ilmu pengetahuan dan sedikit mengabaikan perkembangan perekonomian mengakibatkan timbul kesulitas ekonomi yang memberatkan dan berpengaruh terhadap perkembangan politik dan militer. 4. Terpencil tak terperhatikan Islam di Andalusia bagaikan negeri kecil terpencil dan terasing. Ia jarang mendapat perhatian dan bantuan kecuali dari Afrika Utara. Hal ini mengakibatkan tidak ada yang membantu membendung kebangkitan Kristen di wilayah Andalusia. Kekuatan Kristen inilah yang lambat laun mulai menggerogoti Islam di Andalusia. D. HIKMAH PEMBELAJARAN 1. Para khalifah Daulah Umayyah di Andalusia mampu melanjutkan estafet kekhalifahan Daulah Umayyah di Damaskus dengan semangat pengabdian dan keuletan. 2. Semangat para ilmuwan pada masa Daulah Bani Umayyah di Andalusia menjadi kunci kemajuan peradaban pada masa itu.


120 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Ibnu Sina, Bapak Kedokteran Namanya Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin al-Hasan bin Ali bin Sina. Dia lahir di Afshana, sebuah desa dekat Bukhara tahun 980 Masehi. Ketika itu, desanya termasuk wilayah kerajaan Samaniah. Kini, desa tersebut berada di negara Uzbekistan. Ayahnya bernama Abdullah seorang pejabat kerajaan. Ibunya bernama Setareh, berasal dari Bukhara. Sejak kecil, beliau mendalami ilmu agama, sebab orang tuanya ingin medahulukan pendidikan agama bagi sang anak. Beliau belajar agama dengan sungguh-sungguh dan berhasil menghafal 30 juz Al-Qur'an diusia 10 tahun. Meskipun otaknya cerdas, beliau ternyata sempat mengalami kesulitan dalam belajar. Saat itu, beliau membaca buku Metaphysic karya Plato sebanyak lima kali tapi belum juga dapat memahaminya. Suatu ketika saat ia berjalan-jalan ke pasar, seorang pedagang buku menawarkan sebuah buku. Buku itu ternyata karya ilmuan termasyhur Al-Farabi yang membahas tentang Metaphysic. Beliau mempelajari buku itu dengan sungguhsungguh dan akhirnya dapat memahami mengenai Metaphysic. Beliau belajar kepada guru-guru yang hebat dan mempelajari berbagai bidang keilmuan. Beliau belajar bahasa pada Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Barqi Al-Khawarizmi. Sedangkan gurunya dalam ilmu kedokteran adalah Abu Sahal AlMasihi dan Abu Manshur Al-Hasan bin Nuh. Kemudian belajar aritmatika kepada Ali Natili. Selebihnya beliau belajar otodidak. Beliau baru mempelajari ilmu kedokteran pada usia 16 tahun. Tak hanya teori, ia pun membuka praktek pada saat itu. Itulah sosok beliau. Berkat kegigihan dan keuletannya membawa beliau sebagai bapak kedokteran. Itulah Ibnu Sina, ilmuan muslim ternama hingga kini. Orang Eropa mengenal beliau sebagai Avicena. Beliau bukan hanya terkenal di kalangan muslim tetapi juga dipuja di Eropa (*) Sumber: http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islamdigest/16/06/01/o825cs313-di-usia-10-tahun-ibnu-sina-sudah-hafal-alquran Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P5-PPRA)


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 121 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Kepribadian yang ditauladankan Ibnu Sina memberikan gambaran jelas sebagai sosok ilmuan muslim yang bukan hanya cerdas, tetapi juga gigih, ulet, dan pekerja keras. Sikap itulah yang diharapkan menjadi wajah generasi muslim. Tugas kalian adalah bagaimana cara lain yang bisa kalian lakukan untuk menghadirkan generasi muslin di lingkungan seperti sosk Ibnu Sina? Sebutkan langkah-langkah yang bisa Anda lakukan? No. Pernyataan Jawaban 1. Kemukakan pendapatmu tentang sejarah Daulauh Umayyah II di Andaluasia! 2. Terangkan bagaimana proses berdirinya Daulah Umayyah II di Andalusia! 3. Kemukakan pendapatmu tentang khalifah-khalifah Daulah Umayyah II di Andalusia yang berprestasi! Kamu telah mempelajari materi Daulah Umayyah II di Andalusia. Untuk memperdalam pemahamanmu, buatlah peta konsep materi Daulah Umayyah II di Andalusia. Dan agar lebih jelas, perhatikan langkah-langkah berikut: 1. Bentuklah kelompok terdiri atas 4-5 peserta didik 2. Tentukan materi dan buatkan peta konsep Daulah Umayyah II di Andalusia 3. Analisalah latarbelakang berdirinya Daulah Umayyah II di Andalusia hingga runtuhnya daulah tersebut 4. Bacalah beberapa literatur untuk mendukung kegiatanmu 5. Sajikan hasil analisamu dalam bentuk slide power point Aktivitas 12 Aktivitas 13


122 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 4. Kemukakan pendapatmu tentang sosok Khalifah Abdurrahman ad-Dakhil ! 5 Kemukakan pendapatmu tentang kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan Daulah Umayyah II di Andalusia! 6 Kemukakan pendapatmu tentang factor-faktor runtuhnya Daulah Umayyah II di Andalusia! 7 Kemukakan pendapatmu tentang Hikmah pelajaran yang bisa diambil dari Daulah Umayyah II di Andalusia !


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 123 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E BAB VIII PERADABAN ISLAM ABBASIYAH


124 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E : a. b. c. d. Halo, pelajar Indonesia …. Sebagai pelajar Indonesia, kita harus berkarakter dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang rahmatan lil alamin. Selain belajar di kelas, kita juga harus belajar dari lingkungan sekitar. Kita harus mengamati dan memikirkan jalan keluar terhadap permasalahan di lingkungan sekitar. Kita berusaha ya …. Berusaha menjadi pelajar yang bermanfaat untuk lingkungan kita, baik keluarga, masyarakat, maupun Negara. Kita berusaha menjadi pelajar yang berprofil Pancasila dan rahmatan lil alamin Menjadi Sukses Berkat P5-PPRA Perhatikan Gambar Berikut! • Berdasarkan dua gambar tersebut, bagaimana pendapat kalian ? • Dapatkah menganalisis makna dan pesan apa yang terdapat dalam gambar-gambar tersebut? Jelaskan pendapat kalian !!! tulis di kolom yang disediakan ! Dimensi : Mandiri Elemen : Pemahaman diri dan situasi yang dihadapi Penguatan P5-PPRA


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 125 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E A. SEJARAH BERDIRINYA DAULAH ABBASIYAH Daulah Abbasiyah lahir dari gerakan perlawanan terhadap kekuasaan Daulah Umayyah. Dan gerakan ini awalnya lahir dari kegiatan pengajian kecil-kecilan di daerah Hamimah, Yordania, terjadi pada tahun 100 H ketika Daulah Umayyah dipimpin Khalifah ke-8 Umar bin Abdul Aziz. Gerakan perlawanan terhadap Daulah Umayyah menemukan momentumnya ketika para tokoh pemrakarsa Daulah Abbasiyah di antaranya Muhammad bin Ali, menjadikan kota Kuffah sebagai pusat kegiatan rintisan kekuasaan yang baru. Gerakan Muhammad bin Ali mendapat dukungan dari kelompok Mawali yang selalu ditempatkan sebagai masyarakat strata dua. Selain itu, juga dukungan kuat dari kelompok Syi’ah yang sejak dari awal tidak berpihak kepada Daulah Umayyah. Penguasa Daulah Umayyah sudah bersikap tegas menindak dengan menangkap pimpinan gerakan Abbasiyah, Ibrahim al-Imam.Namun saudara kandung Ibrahim bernama Abdullah bin Muhammad atau dikenal sebagai Abul Abbas As-Shofa turun tangan memimpin gerakan kakaknya. Strategi yang dipakai Abul Abbas adalah menggandeng Abu Salamah Al-Khalal, seorang tokoh dari garis keturunan Ali bin Abi Thalib yang banyak didukung kelompok Syi’ah dan menjadikan rumah Abu Salamah di Kuffah sebagai markas gerakannya. Dari rumah itulah, semua rencana dan operasi dikendalikan, hingga berhasil menguasai wilayah Khurasan di bawah pimpinan Abu Muslim al-Khurasani dan dilanjut ke wilayah Irak. Abul Abbas keluar dari persembunyian dan dimanfaatkan pendukungnya untuk membaiat Abul Abbas sebagai khalifah di masjid Kuffah, Irak tahun 132 H/ 749 M. Penguasa Daulah Umayyah tidak tinggal diam. Khalifah ke-14, Marwan bin Muhammad pun menyiapkan balatentara untuk menggempur kekuatan Abbasiyah di kawasan Irak. Pertempuran antar dua kekuatan itupun tidak terelakkan lagi, hingga terjadi perang Al-Zab di Irak sebagai perang puncak antara pasukan Abbasiyah dan Umayyah. Perang ini dimenangkan pasukan Abbasiyah, Khalifah Marwan bin Muhammad melarikan diri ke Damaskus, namun terus dikejar hingga ke Mesir dan tertangkap di daerah Bushir, Fustat, Mesir pada 132 H/705 M. Dengan demikian secara de facto kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah berdiri. Daulah Abbasiyah berkuasa selama hampir enam abad (132-656 H/750-1258 M). Khalifah pertama sekaligus tercatat sebagai pendirinya adalah Abul Abbas As Saffah. Sejumlah tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam pendirian daulah ini di antaranya adalah Abu Muslim Al Khurasani, seorang panglima Muslim yang berasal dari Khurasan, Persia yang selama ini membantu keluarga Abbas. Selain itu juga adik kandung Abul Abbas, yakni Abu Ja’far Al Manshur. Nama Abbasiyah dalam pemerintahan ini diambil dan dinisbatkan kepada nama paman Rasulullah SAW, Abbas bin Abdul Muthalib. Daulah ini berkuasa cukup lama hingga 509 tahun atau lima abad lebih, mulai tahun 750 M hingga 1.258 M. Pada


126 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E masa pemerintahan inilah, Islam mengalami kemajuan luar biasa dan menjadi puncak jaya-jayanya Islam hingga disebut sebagai The Golden Age of Islam atau Masa Keemasan Islam. Abul Abbas membangun Daulah Abbasiyah berbeda dengan system pemerintahan daulah sebelumnya, Daulah Umayyah. Khalifah menggunakan gelar di belakang nama, juga menambah jabatan baru dalam pemerintahannya, yakni jabatan Wazir (Perdana Menteri). Dan orang yang ditunjuk sebagai perdana menteri pertama adalah Khalid bin Barmak, tokoh bangsa Persia yang merupakan perwakilan kelompok Mawali juga sebagai bentuk hadiah yang selama ini setia mendukung gerakan Abbasiyah. Pada mulanya, Daulah Abbasiyah menjadikan Al-Anbar (Al-Hasyimiyah) sebagai pusat pemerintahan pada masa-masa permulaan, setelah beberapa lama ibukota dipindahkan ke Baghdad dan dijadikan ibukota sekaligus sebagai pusat kegiatan dalam menjalankan roda pemerintahan. Pada masa khalifah Al-Mahdi, wilayah Islam sangat luas, meliputi wilayah yang sebelumnya dikuasai Daulah Umayyah, Jazirah Arab, Afrika dan sebagain wilayah Asia sampai perbatasan China sebelah barat. B. KHALIFAH-KHALIFAH BERPRESTASI DAULAH ABBASIYAH Pemerintahan Daulah Abbasiyah berkuasa selama 509 tahun mulai tahun 750 M hingga 1258 M, terbagi dalam lima periode. Pada era daulah ini, Islam mengalami puncak kejayaan hingga disebut sebagai the golden age of Islam. Selama lima abad lebih itu, pemerintahan Daulah Abbasiyah dipimpin oleh 37 orang khalifah. Berikut ini adalah para khalifah yang memberikan peranan penting dalam perjalanan panjang Daulah Abbasiyah 1. Abul Abbas As-Saffah (750-754 M) Nama asli Abu Abbas adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Beliau lebih dikenal dengan nama Abul Abbas, memiliki garis nasab yang menisbatkan dirinya kepada Hasyim, buyut Nabi Muhammad Saw. As-Saffah sendiri merupakan gelar yang disematkan kepada Abu Abbas, sehingga namanya menjadi Abul Abbas As-Saffah. Abul Abbas adalah seorang revolusioner yang bisa menaungi kaum nonMuslim dan non-Arab, sangat berbeda dengan Daulah Umayyah yang menolak pasukan dari dua golongan itu. Bahkan orang-orang Yahudi, Kristen Nestorian, dan Persia diberi tempat secara baik di pemerintahannya dalam meneruskan administrasi pemerintahan Daulah Abbasiyah. Namun beliau tidak meneruskan ibukota Daulah Umayyah di Damaskus sebagai ibukota Daulah Abbasiyah, tetapi memilih Anbar, kota tua di dekat sungai eufrat, Irak. Nama kota ini kemudian diubah jadi Al-


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 127 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Hasyimiyah sebagai ibukota Daulah Abbasiyah. Dalam masa pemerintahan AsSaffah juga didirikan pabrik kertas pertama di Samarkand. 2. Abu Ja’far Al-Manshur (754-775 M) Abu Ja’far Al-Manshur merupakan khalifah kedua Daulah Abbasiyah menggantikan kursi kakak kandungnya, Abul Abbas. Selain sebagai saudara Abul Abbas, Ja’far al-Manshur selama perjuangan menggulingkan Daulah Umayyah menjadi tangan kanan dari Abul Abbas. Maka tak heran bila Ja’far menjadi orang kuat dan berpengaruh di lingkungan Daulah Abbasiyah. Tatkala Abul Abbas naik jadi khalifah, Ja’far Al-Manshur didaulat menjadi gubernur Armenia dan Azarbaijan. Dengan modal politik tersebut, Abu Ja’far Al-Manshur begitu dibaiat menjadi khalifah pada 136 H/754 M langsung melakukan langkah-langkah, mengatur politik dan siasat pemerintahan. Jalur-jalur pemerintahan ditata rapi dan cermat, sehingga pada masa pemerintahannya terjalin kerjasama erat antara pemerintah pusat dan daerah. Begitu juga antara lembaga-lembaga lain yang ada pada waktu itu. Khalifah Abu Ja’far al-Manshur memutuskan memindahkan ibukota Daulah Abbasiyah dari kota tua Anbar (Hasyimiyah) ke daerah Baghdad pada 136 H. Letaknya di tebing, dikelilingi sungai Dajlah, sehingga sangat strategis. Inilah yang menjadi pertimbangan, membuat ibukota Daulah Abbasiyah aman sehingga membuat perkembangannya cepat. Saking cepatnya perkembangan ibukota Daulah Abbasiyah, membuat tak ada sejengkal tanah pun tidak terbangun, hingga menjadikan kota Baghdad menjadi kota bundar. Setelah sukses membangun Baghdad, Ja’far al-Manshur menyusun strategi baru untuk mengamankan kekuasaannya dari incaran musuh. Yakni membangun kota baru bernama Kota Karkh. Kota ini dibangun dengan tujuan sebagai kota bayangan Baghdad sebagai kota pusat pemerintahan, sehingga bila sewaktu-waktu ibukota Baghdad diserang musuh, maka akan ada kota lain, Karkh sebagai kota penggantinya. Strategi inilah yang membuat keberlangsungan Daulah Abbasiyah bisa tetap terjaga. Maka selama masa kepemimpinannya, kehidupan masyarakat berjalan tenteram, aman, dan makmur. Perkembangan Daulah Abbasiyah pun berlangsung sangat cepat. Stabilitas politik dalam negeri cenderung aman dan terkendali, tidak ada gejolak politik dan cenderung stabil. Di penghujung tahun 774 M, Khalifah Abu Ja’far Al Manshur berangkat ke Makkah menunaikan ibadah haji. Namun dalam perjalanan beliau jatuh sakit lalu meninggal dunia. Ia wafat di usia 63 tahun dan menjadi Khalifah selama 22 tahun. Jenazahnya dibawa pulang dan dikebumikan di Baghdad.


128 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 3. Muhammad Al-Mahdi (158 H/775 M-169 H/785 M) Muhammad Al-Mahdi bin al-Mansur dibaiat menjadi khalifah sesuai dengan wasiat ayahnya pada tahun 158 H/775 M. Muhammad Al-Mahdi dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan dan pemurah. Pada masa pemerintahannya, kondisi dalam negeri saat itu sangat stabil, dan tidak ada satu gerakan penting dan signifikan di masanya. Muhammad Al-Mahdi berhasil mencapai kemenangan-kemenangan atas orangorang Romawi. Dibantu anaknya, Harun Ar-Rasyid adalah panglima Penakluk Romawi. Dia sampai ke pantai Marmarah dan berhasil melakukan perjanjian damai dengan Kaisar Agustine yang bersedia untuk membayar jizyah pada tahun 166 H/ 782 M. Muhammad Al-Mahdi meninggal pada tahun 169 H/785 M. Muhammad AlMahdi tercatat memerintah selama 10 tahun beberapa bulan. 4. Harun Al-Rasyid (170 H/786 M-193 H/809 M) Harun Al-Rasyid bin al-Mahdi adalah mutiara sejarah Daulah Abbasiyah. Harun Al-Rasyid dikenal sebagai sosok yang sangat pemberani. Meski berasal dari Daulah Abbasiyah, Harun Al-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmak dari Persia (Iran). Pada masa ke-khalifahan Harun Al-Rasyid, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam), di mana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia. Perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid yang begitu besar terhadap kesejahteraan rakyat serta kesuksesannya mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, tekonologi, ekonomi, perdagangan, politik, wilayah kekuasaan, dan peradaban Islam. Harun Al-Rasyid memimpin selama 23 tahun (786 M-809 M). Dalam kepemimpinannya Harun Al-Rasyid mampu membawa daulah yang dipimpinnya ke puncak kejayaan. Ada banyak hal yang patut ditiru para pemimpin Islam di abad ke21 ini dari sosok khalifah besar ini. Sebagai pemimpin, dia menjalin hubungan yang harmonis dengan para ulama, ahli hukum, penulis, qari, dan seniman. Pada masa Harun Al-Rasyid bermunculan para ilmuwan-ilmuwan muslim yang hebat yang mempengaruhi dunia sains, diantaranya adalah Al-Khawarizmi yang menulis kitab Al-Jabar dan Jabir Ibn Hayyan seorang pakar ilmu kimia (bapak kimia). Harun Al-Rasyid menjadi khalifah saat berusia cukup muda, yaitu 22 tahun, dan wafat dalam usia yang juga masih muda, yaitu 45 tahun. Saat dia wafat pada tahun 193 H/809 M negara dalam keadaan makmur dengan memiliki kekayaan 900 juta dirham.


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 129 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E C. PERIODESASI KEPEMIMPINAN DAULAH ABBASIYAH Daulah Abbasiyah berkuasa selama 509 tahun mulai tahun 750 M hingga 1.258 M. Selama lima abad lebih itu, pemerintahan Daulah Abbasiyah dipimpin oleh 37 khalifah. Dan dalam perkembangannya, pemerintahan dan kepemimpinan daulah ini mengalami lima fase atau periode. Dalam setiap periode tersebut terjadi perubahan pemegang kekuasaan, sistem pemerintahan, dan kebijaksanaan militer. 1. Periode Pertama Periode pertama Daulah Abbasiyah mulai tahun 132 H atau 750 M sampai tahun 232 H atau 847 M. Sejak awal berdiri sampai pemerintahan ke-9, Abu Ja’far AlWatsiq, periode ini disebut juga fase Persia I. Hal itu karena pemerintahan Daulah Abbasiyah dipengaruhi dengan sangat kuat oleh keluarga dari bangsa Persia, yaitu keluarga Barmak. Usaha militer merupakan kebijakan yang terus menerus dilakukan para khalifah Daulah Abbasiyah sejak pertama hingga khalifah terakhir periode ini. Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode pertama adalah sebagai berikut: a. Abu Abbas As-Saffah (132 H/750M-136 H/754 M) b. Abu Ja’far Al-Mansur (136 H//754 M -158 H/775 M) c. Muhammad Al-Mahdi (158 H/775 M-169 H/785 M) d. Musa Al-Hadi (169 H/785 M-170 H/786 M) e. Harun Ar-Rasyid (170 H/786 M-193 H/809 M) f. Muhammad Al-Amin (193 H/809 M-198 H /813 M) g. Abdullah Al-Makmun (198 H/813 M-218 H/833 M) h. Abu Ishaq Al Mu’tashim Billah (218 H//833 M-227 H/842 M) i. Harun Al-Watsiq (227 H/842 M-232 H/847 M) Dalam sejarah, periode pertama tercatat sebagai masa keemasan dan kejayaan Daulah Abbasiyah. Walaupun demikian, bibit kemunduran daulah ini sudah muncul pada akhir periode ini. Khalifah Al-Watsiq merupakan khalifah terakhir pada periode pertama. Kebijakan paling krusial adalah mengangkat wakil dari seorang perwira Turki bernama Asyam. 2. Periode Kedua Periode ini berlangsung tahun 232 H – 334 H (847M - 945M). Pada periode ini dikenal sebagai fase Saljuk I (Turki I) karena sejak khalifah Al-Mutawakkil berkuasa, pengaruh orang-orang Turki sangat mendominasi pemerintahan. Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode kedua ini adalah : a. Ja’far Al-Mutawakil (232 H/847 M-247 H/861 M) b. Muhammad Al-Muntshir (247 H/861 M-248 H/862 M) c. Ahmad Al-Mus`tain (248 H/862 M-252 H/866 M)


130 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E d. Muhammad Al-Mu`taz (252 H/866 M-255 H/869 M) e. Muhammad Al-Muhtadi (255 H/869 M-256 H/870 M) f. Ahmad Al-Mu`tamid (256 H/870 M-279 H/892 M) g. Ahmad bin Thalhab Al-Mu`tadhid (279 H/892 M-289 H/902 M) h. Ali Al-Muktafi (289 H/902 M-295 H/908 M) i. Ja’far Al-Muqtadi (295 H/908 M-320 H/932 M) j. Muhammad Al-Qohir (320 H/932 M-322 H/934 M) k. Muhammad Ar-Rodhi (322 H/934 M-329 H/ 940 M) l. Ibrahim Al-Muttaqi (329 H/940 M-333 H/944 M) m. Al-Muktafi (333 H/944 M-334 H/946 M) Pada periode ini, orang-orang Turki banyak mendominasi pemerintahan, sehingga peran khalifah mulai berkurang. Demikian halnya dengan kegiatan keagamaan, kegiatan kajian keilmuan sudah mulai berkurang, tidak seperti pada masa periode pertama. 3. Periode Ketiga Periode ketiga Daulah Abbasiyah dimulai tahun 334 H/945 M-447 H/1055 M. Periode ini disebut juga fase Persia II. Disebut demikian karena pada waktu ini golongan dari bangsa Persia kembali berperan penting dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah, yaitu Daulah Buwaihiyah. Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode ketiga: a. Al-Fadhl Al-Muti (334 H/946 M-362 H/974M) b. Abdul Karim At-Tho`i (362 H/974 M-381 H/991M) c. Ahmad Al-Qodir (381 H/991 M-422 H/1031M) Pada periode ini kondisi politik sering tidak stabil karena sering terjadi kemelut dalam pergantian kepemimpinan di antara para penguasa Daulah Buwaihiyah. Pada masa itu, para khalifah bahkan kehilangan legitimasi keagamaannya. Posisi mereka sebagai khotib salat Jum’at banyak diserahkan kepada orang-orang dari kalangan Buwaihiyah. 4. Periode Keempat Periode keempat Daulah Abbasiyah berlangsung dari tahun 447 H/1055 M590 H/1194 M. Periode ini disebut sebagai fase Saljuk II (Turki II) karena orang-orang dari bangsa Turki kembali berperan penting dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah, yakni Daulah Saljuk. Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode keempat: a. Abdullah Al-Qoyyim (422 H/1031 M-467 H/1075M) b. Abdullah Al-Muqtadi (467 H/1075 M-487 H/1094M)


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 131 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E c. Ahmad Al-Mustazhir (487 H/1094 M-512 H/1118M) d. Al-Fadhl Al-Musytarsid (512 H/1118 M-529 H/1135M) e. Manshur Al-Rasyid (529 H/1135 M-530 H/1136M) f. Muhammad Al-Mustafi (530 H/1136 M-555 H/1160M) g. Yusuf Al-Mustanjid (555 H/1160 M-566 H/1170 M) h. Al-Hasan Al-Mustadi (566 H/1170 M-575 H/1180M) i. Ahmad An-Nashir (575 H/1180 M-622 H/1124M) Periode ini merupakan akhir dari Daulah Saljuk, Khawarizm Syah telah mengakhiri Daulah ini. Para khalifah Daulah Abbasiyah memiliki kekuasaan penuh dalam bidang politik dan keagamaan, hanya saja wilayah kekuasaannya tidak seluas masa sebelumnya, karena hanya meliputi wilayah Iraq dan sekitarnya. 5. Periode Kelima Periode ini di mulai tahun 590 H/1194 M-656 H/1258 M dan tidak lagi dipengaruhi oleh pihak manapun, namun kekuatan politik dan militer Daulah Abbasiyah sudah lemah sehingga kekuasaan mereka hanya meliputi wilayah Irak dan sekitarnya saja. Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode kelima: a. Muhammad Az-Zahir (622 H/1224 M -623 H/1226M) b. MAnshur Al-Mustanshir (623 H/1226 M-640 H/1242M) c. Abdullah Al-Musta`shim (640 H/1242 M-656 H/1258M) Di era Al-Mutashim, pemerintahan Daulah Abbasiyah berakhir seiring serangan Hulagu Khan pada tahun 1258 M. Pasukan Monggol menghancurkan Kota Bagdad dan berbagai peninggalan bersejarah. Selain serangan dari pasukan Monggol, melemahnya Daulah Abbasiyah juga disebabkan oleh faktor politik antar bangsa, yaitu berdirinya daulah-daulah lain di sekitar wilayah Daulah Abbasiyah. Di antara daulah-daulah lain yang berdiri di sekitar Daulah Abbasiyah adalah Daulah Umayyah di Andalusia, Daulah Thuluniyah, Daulah Ikhsyidiyah, Daulah Fathimiyah, dan Daulah Ayyubiyah di Mesir. D. PENYEBARAN WILAYAH ISLAM PADA MASA DAULAH ABBASIYAH Di era Daulah Abbasiyah terdapat dua poros penyebaran Islam, yakni penyebaran Islam di wilayah Timur dengan penyebaran Islam di wilayah Barat (Eropa). Penyebaran Islam di wilayah Timur dilakukan Daulah Abbasiyah, sementara di wilayah Barat (Eropa) dilakukan Daulah Umayyah II di Andalusia di bawah


132 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E pimpinan Abdurrahman Ad-Dakhil dan para penguasa keturunan Daulah Umayyah II. Daerah-daerah yang dibebaskan di era Daulah Abbasiyah dikembangkan menjadi pusat-pusat peradaban Islam, seperti Baghdad, Isfahan, Ghasnah, Tabaristan, Halab, Tunisia, dan Bukhara. Pada beberapa kota tersebut juga sering terdapat bangunan Istana para raja atau amir yang menguasai daerah tersebut. Daerah-daerah tersebut pun mengalami kemajuan cukup pesat, karena para penguasanya peduli terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahun. Apalagi khalifah Daulah Abbasiyah bukan hanya menguasai wilayah tertentu, tetapi juga menjadikan daerah kekuasaaanya sebagai pilar berkembanganya peradaban dan ilmu pengetahuan, sehingga bisa dirasakan kemajuan setelah dikuasai Islam dibandingkan masa sebelum kedatangan Islam. Fenomena yang terjadi di era Daulah Abbasiyah menarik dicermati karena wilayah-wilayah yang telah dikuasai mengalami kemajuan cukup pesat. Pembebasan sebuah wilayah tidak semata-mata karena ambisi memperluas wilayah kekuasaan, tetapi para khalifah lebih peduli terhadap negeri tetangga yang ditindas oleh penguasanya. Maka, khalifah terpanggil untuk menyelamatkan mereka sekaligus menguasai wilayah tersebut. Seperti halnya Kerajaan Ghana yang beralih ke pangkuan Daulah Abbasiyah pada tahun 1067 M, sehingga menjadi negeri yang makmur. Begitu juga ketika Daulah Abbasiyyah dipimpin Khalifah Harun Al-Rasyid (170 H/193 H-786 M/809 M), hubungan diplomatik terjalin baik dengan raja Charlemagne (Perancis). Hubungan kedua kerajaan tersebut pun terbangun harmonis. Khalifah Harun Al-Rasyid memberikan kebebasan dalam bentuk jaminan keamanan bagi orang-orang Nasrani yang ingin berziarah ke Bait al-Maqdis. Hubungan sangat baik terutama dalam muamalah dan saling menghormati dalam menjalankan ibadahnya masing-masing. Namun hubungan itu berubah ketika kekuasaan kekhalifahan dipegang oleh orang-orang Turki. Orang-orang Turki yang memegang kekuasaan dan mempunyai pengaruh di Istana, sangat benci terhadap orang-orang Nasrani. Mereka kurang memberi toleransi terhadap penganut agama lain (Nasrani). Hal tersebut disebabkan sempitnya pemahaman mereka terhadap agama. Mereka mempersempit ijin bagi kaum Nasrani yang akan berziarah ke Bait al-Maqdis, dengan cara meminta upeti cukup tinggi. Hubungan kurang baik inilah yang kelak menjadi salah satu factor timbulnya benih-benih munculnya perang Salib.


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 133 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E E. PERKEMBANGAN PERADABAN DAN ILMU PENGETAHUAN ERA ABBASIYAH Selama lima abad lebih Daulah Abbasiyah berkuasa telah berhasil membawa umat Islam mencapai puncak kejayaan atau lebih popular disebut The Golden Age of Islam. Berbagai kemajuan terjadi di hampir semua bidang dan lini. Salah satu kunci kemajuannya adalah gerakan penerjemahan, sebuah gerakan penerjemahan naskahnaskah kuno Romawi atau Yunani, Persia, dan India yang juga pernah dilakukan di era sebelumnya, Daulah Umayyah. Gerakan penerjemahan diakui menjadi embrio lahirnya kemajuan yang dicapai Daulah Abbasiyah. Dan gerakan tersebut tidak lepas dari peranan Khalifah ke-2 Daulah Abbasiyah, Abu Ja’far al-Manshur yang mempelopori gerakan penerjemahan buku-buku kuno warisan peradaban pra Islam. Khalifah Al-Mansur juga menimbang buku seharga emas, sehingga melahirkan para penggiat ilmu pengetahuan dari berbagai kalangan. Ulama dan ilmuan dari berbagai daerah pun didatangkan untuk mengajari pelajar. Dengan demikian gerakan pembukuan (tasnif) dan kodifikasi (tadwin) ilmu tafsir, hadis, fikih, sastra serta sejarah mengalami perkembangan cukup pesat. Pada masa sebelumnya, para pelajar dan ulama dalam melakukan aktivitas keilmuan hanya menggunakan lembaran-lembaran yang belum tersusun rapi. AlMansur merupakan khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu-ilmu kuno pra-Islam. Kebijakan khalifah Abu Ja’far Al-Manshur memindah ibukota dari wilayah Anbar atau Hasyimiyah ke Baghdad juga memberi dampak besar terhadap kemajuan daulah karena kondisinya jadi aman, sehingga seluruh energy bisa dicurakan untuk membangun Daulah Abbasiyah dengan cepat. 1. Faktor Kemajuan Peradaban Daulah Abbasiyah: a. Faktor Politik 1) Pindahnya ibu kota negara dari Al-Anbar (Al-Hasyimiyah) ke Bagdad yang dilakukan oleh Khalifah al-Mansur. 2) Banyaknya cendekiawan yang diangkat menjadi pegawai pemerintah dan istana. b. Faktor Sosiografi 1) Meningkatnya kemakmuran umat Islam 2) Luasnya wilayah kekuasaan Islam menyebabkan banyak orang Romawi dan Persia yang masuk Islam dan kemudian menjadi Muslim yang taat. 3) Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.


134 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 4) Adanya gerakan penerjemahan buku filsafat dan ilmu dari peradaban Yunani dalam Bait al-Hikmah sehingga menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual. 2. Indikator Kemajuan Peradaban Daulah Abbasiyah a. Perkembangan Ilmu Keagamaan Perkembangan ilmu keagaman menunjukkan perkembangan pesat bahkan di era ini telah mulai dilakukan sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir, Hadits, dan Fiqih. Khususnya sejak tahun 143 H, para ulama mulai menyusun buku dalam bentuk yang sistematis, baik di bidang ilmu tafsir, hadits, maupun fiqh. Di antara ulama yang terkenal adalah adalah Ibnu Juraij (w. 150 H) yang menulis kumpulan hadis di Mekah, Malik bin Anas (w. 171 H) yang menulis Al-Muwatta’ nya di Madinah, Al-Awza`i di wilayah Syam, Ibnu Abi `Urubah dan Hammad bin Salamah di Basrah, Ma`mar di Yaman, Sufyan alTsauri di Kufah, Muhamad bin Ishaq (w. 151 H) yang menulis buku sejarah (AlMaghazi), Al-Layts bin Sa’ad (w. 175 H) serta Abu Hanifah. Di era ini ilmu tafsir menjadi ilmu mandiri, terpisah dari ilmu Hadis. Buku tafsir lengkap dari al-Fatihah sampai al-Nas juga mulai disusun. Pertama kali yang melakukan penyusunan tafsir lengkap adalah Yahya bin Ziyad al-Dailamy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Farra. Tapi luput dari catatan Ibnu al-Nadim bahwa `Abd al-Razzaq bin Hammam al-San`ani (w.211 H) yang hidup sezaman dengan Al-Farra juga telah menyusun sebuah kitab tafsir lengkap yang serupa. Ilmu fikih pada zaman ini juga mencatat sejarah penting, dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazhab fikih hidup pada era tersebut, yaitu Abu Hanifah (w.150 H), Malik bin Anas (w. 179 H), Imam As-Syafi`i (w.204 H) dan Ahmad bin Hanbal (w. 241 H). Ilmu Hadis juga mengalami masa penting khususnya terkait dengan sejarah penulisan hadis-hadis Nabi yang memunculkan tokoh-tokoh yang telah disebutkan di atas seperti Ibnu Juraij, Malik bin Anas, juga al-Rabi` bin Sabih (w. 160 H) dan Ibnu Al-Mubarak (w. 181 H). Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga, muncul kecenderungan baru penulisan hadis Nabi dalam bentuk musnad. Di antara tokoh yang menulis musnad antara lain Ahmad bin Hanbal, `Ubaidillah bin Musa al-`Absy al-Kufi, Musaddad bin Musarhad al-Basri, Asad bin Musa al-Amawi dan Nu`aym bin Hammad al-Khuza`i. Perkembangan penulisan hadis berikutnya, muncul tren baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan hadis, yaitu munculnya kecenderungan penulisan hadis yang didahului oleh tahapan penelitian dan


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 135 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E pemisahan hadis-hadis sahih dari yang dha`if sebagaimana dilakukan oleh AlBukhari (w. 256 H), Muslim (w. 261 H), Ibnu Majah (w. 273 H), Abu Dawud (w. 275 H), At-Tirmizi (w. 279 H), serta An-Nasa’i (w. 303 H). Disiplin keilmuan lain yang juga mengalami perkembangan cukup signifikan pada era Abbasiyah adalah ilmu sejarah yang dipelopori oleh Ibnu Ishaq (w. 152 H) dan kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Hisyam (w. 218 H). Selanjutnya muncul pula Muhamad bin `Umar al-Waqidi (w. 207 H) yang menulis buku berjudul At-Tarikh al-Kabir dan Al-Maghazi. Buku yang pertama dinyatakan hilang, meski isinya masih direkam oleh sejarawan Ath-Thabari (838-923 M). Sejarawan lain yang datang berikutnya adalah seperti Muhamad bin Sa’ad (w. 230 H) dengan At-Tabaqat al-Kubra-nya serta Ahmad bin Yahya al-Baladzuri (w. 279 H) yang menulis Futuh al-Buldan. b. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Perkembangan Ilmu Pengetahuan umum di era Daulah Abbasiyah juga sangat pesat. Perkembangannya dimulai dari proses penerjemahan filsafat Aristoteles dan Plato. Maka, muncullah para filosuf muslim yang di kemudian hari menghiasi khazanah ilmu pengetahuan Islam. Di antara filosof yang terkenal di era ini adalah: 1) Abu Yusuf Ya'qub Ibnu Ishaq Al-Sabah Al-Kindi (811-874 M), yang memiliki karya sampai 236 judul karya 2) Abu Nasir al-Farabi (870-950 M), 3) Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Sina/Ibnu Sina (980-1037 M), 4) Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shayigh at-Tujibi bin Bajjah (1085-1138 M), 5) Abu Bakr Muhammad bin 'Abdul Malik bin Muhammad bin Thufail alQaisi (1105–1185 M), dan 6) Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (1058-1111 M). Sama seperti disiplin ilmu filsafat, ilmu kedokteran juga berkembang pesat era ini. Di antara ahli bidang kedokteran antara lain : 1) Ibnu Hayyan (721-815 M), juga disebut sebagai bapak Kimia dengan 500 karya. 2) Ibnu Sina (Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Sina (Avicena), 980- 1037 M) dengan bukunya Qanun fi Tibb 3) ‘Abu Ali Muhammad al-Hasan bin al-Haitham atau Ibnu Hazen (965- 1039 M), ahli mata dengan karya optics Ilmu kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum Muslimin di antara tokoh kimia yaitu Abu Musa Jabir


136 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E bin Hayyan Al-Kuffi As-Sufi (721-815 M). Dalam bidang Matematika dan Sains, ilmuwan terkenal sampai sekarang adalah : 1) Abu Ja'far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850 M), AlKhawarizmi dengan bukunya al-Jabr wa al-Mukabala yang merupakan buku pertama sesungguhnya ilmu pasti yang sistematis. Dari bukunya inilah berasal istilah aljabar dan logaritma dalam matematika. Bahkan kemajuan ilmu matematika yang dicapai pada masa ini telah menyumbangkan pemakaian angka-angka Arab dalam matematika. 2) Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Kathir al-Farghani (833-870 M) dan 3) Abu Raihan Al-Biruni (973- 1048 M). Dalam bidang sejarah, ulama yang terkenal antara lain: 1) Muhammad bin Ishaq bin Yasar (704-768 M), 2) Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam bin Ayyub Al-Himyari AlMuafiri Al-Basri (Ibnu Hisyam w. 834 M), 3) Abu Abdullah Muhammad bin Umar Al-Waqidi (747-823 M), 4) Abdullah bin Muslim bin Qutaibah al-Dainuri al-Marwazi (Ibnu Quthaibah, 828-889 M), 5) Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari (At-Thabari, 838-923 M). Dalam bidang ilmu bumi atau geografi ulama yang terkenal : 1) Ahmad bin Abi Ya'qub Ishaq bin Ja'far bin Wahab bin Waddih (alYakubi, w. 897 M) terkenal dengan karyanya al-Buldan, 2) Abul Qasim Ubaidullah bin Abdullah bin Khurdadzbih (Ibnu Kharzabah, k. 820–912 M) bukunya berjudul al-Mawalik wa al-Mawalik, 3) Abu al-Mundhir Hisham bin Muhammed bin al-Sa'ib bin Bishr al-Kalbi (Hisham al-Kalbi, 737-819 M) terkenal pada abad ke-9 M, khususnya dalam studinya mengenai bidang kawasan Arab. Di bidang Astronomi, tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad bin Ibrahim bin Habib bin Samra bin Jundab al-Fazari (Al Fazari, w. 796 M) dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Selain al-Fazani, ahli astronomi yang muncul di antaranya adalah al-Bathiani, al-Biruni, Abdurrahman as-Sufi Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, dan al-Farghani. Para ilmuwan muslim telah banyak meninggalkan warisan ilmu pengetahuan dan peradaban terhadap dunia. Hal tersebut tidak hanya dinikmati


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 137 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E umat Islam, namun juga umat manusia di seluruh dunia. Karya-karya ilmuwan muslim banyak yang diadopsi, diterjemahkan dan diambil manfaatnya untuk kemaslahatan umat manusia. c. Perkembangan Peradaban 1) Bidang Sosial Budaya Di antara kemajuan di bidang sosial budaya adalah terjadinya proses akulturasi dan asimilasi masyarakat. Seni arsitektur yang dipakai dalam pembangunan istana dan kota-kota, seperti pada istana Al-Qasrul Zahabi dan Qasrul Khuldi, sementara bangunan kota seperti pembangunan kota Baghdad, Samarra, dan lain-lainnya. Al-Qasr Az-Zahabi (Istana Emas), nama ini melambangkan keagungan dan kemegahan istana yang dibangun oleh Daulah Abbasiyah karena sebagian besar sisi istananya dihiasi dan dilapisi emas. Masyarakat merasakan keamanan dan ketertiban terjaga dengan baik. Kehidupan sosial dan masyarakat pada masa itu juga tertata dengan baik. Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra, bahasa dan seni musik. Pada masa ini lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal di antaranya adalah: a) Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami atau Abu Nawas (756-814 M), b) Abu Athahiyah (748-826 M), c) Al-Mutanabbi (915-965 M), d) Ibnu Muqaffa (720-756 M) dan lain-lainnya. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga sekarang, seperti kitab Kalilah wa Dimmah. Tokoh terkenal dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah a) Yunus bin Sulaiman (713-785 M); b) Khalil bin Ahmad (w. 791 M); c) Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh bin Uzlagh al-Farabi (870-950 M) pencipta teori musik Islam; dan d) Ishak bin Ibrahim Al Mausully (w. 850 M) yang telah berhasil memperbaiki musik Arab jahiliyah dengan sistem baru. Buku musiknya yang terkenal adalah kitab Alhan wa al-Angham (buku not dan irama). Beliau sangat terkenal dalam musik sehingga mendapat julukan Imam alMughanniyin (Raja Penyanyi).


138 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 2) Bidang Politik dan Militer Di bidang politik dan militer, Pemerintah Daulah Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan, yang disebut Diwanul Jundi. Departemen ini yang mengatur semua yang berkaiatan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. Pembentukan lembaga ini didasari atas kenyataan politik militer bahwa pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, banyak terjadi pemberontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Daulah Abbasiyah. Sistem politik Daulah Abbasiyah terbiang unik karena daulah ini melibatkan beberapa bangsa dalam pemerintahannya bahkan dalam periode tertentu jabatan Perdana Menteri atau wazir diberi kewenangan penuh melaksanakan tugas-tugas pemerintahan, sementara militer lebih banyak melibatkan orangorang dari Turki. Masing-masing bangsa berusaha bersaing dan berkuasa sehingga memunculkan beberapa periodesasi bangsa yang berbeda (fase) dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah. 3) Bidang Pembangunan dan Tempat Peribadatan Di antara kota pusat peradaban Islam di era Daulah Abbasiyyah yang cukup terkenal adalah Baghdad dan Samarra. Baghdad dirikan oleh Khalifah Abu Ja’far al-Mansur (754-775 M) terletak di tepi sungai Tigris. Samarra terletak di sebelah timur kota Tigris kurang lebih 60 km dari Bagdad. Suasana kota sangat nyaman, indah, dan teratur. Nama Samarra diberikan oleh Khalifah alMansur. Di antara bentuk bangunan yang dijadikan sebagai pusat-pusat pendidikan adalah: a) Madrasah (An-Nizamiyah); didirikan oleh Nizam al-Mulk, perdana menteri pada tahun 456-486 H. Madrasah banyak terdapat di kota-kota antara lain di Baghdad, Isfahan, Nisabur, Basra, Tabristan, Hara, dan Mosul b) Kuttab; merupakan lembaga pendidikan tingkat dasar sampai menengah c) Masjid; Masjid pada umumnya dijadikan sebagai tempat belajar tingkat tinggi dan takhasus, d) Majelis Munazarah; Merupakan tempat pertemuan para pujangga, ahli fikir, dan para sarjana untuk membahas masalah-masalah ilmiah. Majelis ini dapat dijumpai di kota-kota besar lainya, e) Baitul Hikmah; Tempat ini merupakan perpustakan pusat, yang dibangun oleh khalifah Harun al-Rasyid dan di lanjutkan oleh khalifah AlMakmun.


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 139 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E F. SISTEM PEMERINTAH DAULAH ABBASIYAH 1. Pimpinan Pemerintahan. Daulah Abbasiyah dibangun dengan sistem pemerintahan berbeda dengan sebelumnya, Daulah Umayyah. Khalifah menggunakan gelar di belakang nama, juga menambah jabatan baru dalam pemerintahannya, yakni jabatan Wazir atau Perdana Menteri. Dalam menjalankan pemerintahan, dibentuk Diwanul Kitabah yang dipimpin oleh Raisul Kuttab dan dibantu oleh beberapa sekretaris: a. Katibur Rasail (Sekretaris Urusan Pesuratan) b. Katibul Kharraj (Sekretaris Urusan Keuangan) c. Katibul Jundi (Sekretaris Urusan Tentara) d. Katibul Syurthah (Sekretaris Urusan Kepolisian) e. Katibul Qadha (Sekretaris Urusan Kehakiman) Dalam menjalankan pemerintahannegara, wazir dibantu beberapa Raisud Diwan. a. Diwan Al Kharraj, (Departemen Keuangan) b. Diwan Ad Diyah, (Departemen Kehakiman) c. Diwan Az Zimasu, (Departemen Pengawasan Urusan Negara) d. Diwan Jundi, (Departemen Ketentaraan) e. Diwan Al Mawalywal Ghilman, (Departemen Perburuhan) f. Diwan Al Barid, (Departemen Perhubungan) g. Diwan Ziman an Nafaqaat, (Departemen Pengawasan Keuangan) h. Diwan Ar Rasail, (Departemen Urusan Arsip) i. Diwan An Nadhar Fil Madhalim, (Departemen Pembelaan Rakyat Tertindas) j. Diwan Al Akhdas Wasy Syurthah, (Departemen Keamanan dan Kepolisian) k. Diwan Al ‘Atha’ Wal Hawarij, (Departement Sosial) l. Diwan Al Akhasyam, (Departement Urusan Keluarga) m. Diwan Al Akarah, (Departement Pekerjaan Umum dan Tenaga) 2. Wilayah. Tata usaha negara Daulah Abbasiyah diatur dengan system sentralisasi wilayah disebut juga An-Nidhamul Idary Al-Markazy. Wilayah negara dibagi dalam beberapa provinsi, yang dinamakan Imarat, dengan gubernurnya bergelar Amir atau Hakim. Imarat pada waktu itu ada tiga macam, yaitu Imarat al-Istikfa, Imarat al-Khassah, dan Imarat al-Istilau. Kepada wilayah hanya diberikan hak otonomi terbatas, yang mendapat hak otonomi penuh adalah desa yang disebut Al-Qurra dengan kepala desa bergelar Syekh Al-Quryah.


140 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E 3. Tanda Kebesaran dan Kehormatan. Daulah Abbasiyah membuat kebijakan menetapkan tanda kebesaran dan lambang kehormatan untuk menunjukan kebesaran khalifah. Tanda kebesaran meliputi; Al Burdah, Pakaian kebesaran; Al-Khatim yaitu Cincin atau Stempel dan Al-Qadhib atau semacam pedang. Lambang Kehormatan meliputi: Al-Khuthab, yaitu pembacaan doa bagi khalifah dalam khutbah jumat; As-Sikkkah, yaitu pencantuman nama khalifah atas mata uang dan Ath-Thiraz yaitu lambang khalifah yang harus dipakai oleh tentara, polisi dan para pejabat. 4. Angkatan Perang. Pada masa Daulah Abbasiyah, struktur kemiliteran sudah tertata di bawah Diwan Jundi, terdiri dari angkatan darat dan angkatan laut. Terdiri dari Al-Jundul Mustarziqah (tentara tetap dan bergaji) yang tinggal di asrama dan Al-Jundul Muthauwi`ah (relawan). Kesatuan tentara pada masa itu terdiri dari Arif (membawahi 10 prajurit), Naqib (membawahi 10 Arif), Qaid (membawahi 10 Naqib), dan Amir (membawahi 10 Qaid). 5. Baitul Maal. Baitul Maal berfungsi sebagai lembaga keuangan yang menopang segala kebutuhan pemerintahan. Baitul maal pada masa tersebut terbagi menjadi tiga diwan, yaitu Diwanul khazaanah yang mengurusi perbendaharaan negara, Diwanul Azra`u yang mengurusi kekayaan negara dan hasil bumi, dan Diwanul Khazainu as-Silah yang mengurusi perlengakapan perang 6. Kehakiman. Di era Daulah Abbasiyah, kekuasaan politik mencampuri urusan-urusan kehakiman. Akibatnya, para hakim tidak lagi berijtihad dalam memutuskan perkara, tetapi mereka berpedoman pada kitab-kitab mazhab empat atau mazhab-mazhab lain. Organisasi kehakiman juga mengalami perubahan, antara lain telah dibentuk jabatan penuntut umum (kejaksaan) di samping telah dibentuk instansi Diwan Qadhil Qudhah. Pada masa Daulah Abbasiyah terdapat tiga badan pengadilan, yaitu: a. Al-Qadha`u dengan hakimnya bergelar Al-Qadhi. Tugasnya mengurus perkaraperkara yang berhubungan dengan agama pada umumnya. b. Al-Hisbah dengan hakimnya bergelar Al-Muhtasib. Tugasnya menyelesaikan perkara-perkara yang berhubungan dengan masalah-masalah umum dan tindak pidana yang memerlukan pengurusan segera. c. An-Nadhar fil-Madhalim dengan hakimnya bergelar shahibul atau qadhil madhalim. Tugasnya menyelesaikan perkara-perkara banding dari kedua pengadilan pertama (Al-Qadhau dan Al-Hisbah).


Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E 141 Madrasah Aliyah Kelas X Fase E a. b. c. d. G. KEMUNDURAN DAULAH ABBASIYAH Kemunduran Daulah Abbasiyah dipengaruhui banyak factor. Selain kelemahan pribadi para khalifah Daulah Abbasiyah, situasi eksternal juga punya pengaruh dan masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Daulah Abbasiyah : 1. Faktor Internal a. Gaya hidup mewah di kalangan penguasa Pencapaian luar biasa dalam bidang peradaban dan kebudayaan yang dicapai Daulah Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung glamour, membuat para pengasa banyak terlena dan cenderung kurang memperhatikan urusan-urusan negara. Hal ini menjadi awal mula melemahnya kepemimpinan dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah b. Persaingan Antar Bangsa Perjalanan pemerintahan Daulah Abbasiyah seringkali diwarnai persaingan antar golongan dan bangsa. Orang-orang non-Arab, terutama dari bangsa Daulah Abbasiyah berkuasa selama 509 tahun mulai tahun 750 M hingga 1.258 M, di bawah kepemimpinan 37 khalifah. Selama lima abad lebih itu, daulah Abbasiyah berhasil membawa umat Islam mencapai puncak kejayaan atau lebih popular disebut The Golden Age of Islam. Berbagai kemajuan terjadi di hampir semua bidang dan lini. Salah satu kunci kemajuannya adalah gerakan penerjemahan, sebuah gerakan penerjemahan naskah-naskah kuno Romawi atau Yunani, Persia, dan India. Tugasmu sebagai penerus umat Islam adalah mengembangkan Islam penuh semangat tanpa mengenal putus asa yang sudah ditauladankan Daulah Abbasiyah supaya agama Islam tetap menjadi rahmatan lil alamin. Dimensi : Mandiri Nilai RA : Keteladanan (Qudwah) Penguatan P5-PPRA


142 Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X Fase E Madrasah Aliyah Kelas X Fase E Persia yang tidak puas dengan posisinya menginginkan punya peran lebih bahkan menginginkan sebuah daulah dengan khalifah dan pegawai dari Persia. Sementara bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh dirinya adalah darah istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. Setelah Al-Mutawakkil naik tahta, dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Daulah Abbasiyah sebenarnya telah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Daulah Buwaih, bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada Daulah Saljuk (Turki) pada periode keempat. c. Kemerosotan Ekonomi Daulah Abbasiyah mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran bidang politik. Akibat terjadinya kemunduran, pendapatan daulauh jadi menurun, sementara pengeluaran semakin meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan tersebut disebabkan oleh semakin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya kerusuhan dalam negeri mengganggu perekonomian rakyat, ditambah dengan banyaknya daulah-daulah kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. d. Konflik Keagamaan Persoalan fundamental dalam kegiatan keagamaan juga ikut berperan dalam menambah beban persoalan pemerintah. Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara Muslim dan zindik atau Ahlussunnah dengan Syi`ah saja, tetapi juga antar aliran dalam Islam. Munculnya perbedaan pendapat yang tidak terselesaikan memicu konflik yang berkepanjangan. 2. Faktor Eksternal Selain factor yang muncul dari dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah, ada juga faktor dari luar yang menyebabkan Daulah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Di Antara factor eksternal tersebut adalah: a. Perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Perang salib adalah perang yang dilancarkan oleh tentaratentara Kristen dari berbagai kerajaan di Eropa Barat terhadap umat Islam di Asia Barat dan Mesir. Dikatakan perang salib karena tentara Kristen membawa simbol salib dalam memerangi umat islam di berbagai wilayah. b. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.Pada sekitar tahun 1257, Hulagu Khan mengirimkan ultimatum kepada Khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok kota sebelah luar diruntuhkan. Tetapi Khalifah


Click to View FlipBook Version