C. Pertimbangan klinis
1. Adanya alergi apoteker harus mendapatkan informasi seluas-luasnya
tentang kondisi pasien, termasuk jika belum ada keterangan tentang alergi.
2. Efek samping
3. Interaksi obat
Menurut mekanismenya, interaksi obat dapat terjadi baik secara
farmasetis,farmakokinetik maupun farmakodinamik. Interaksi farmasetis
adalah interaksi yang terjadi saat obat belum sampai ke tubuh, yaitu pada
inkompatibilitas fisika dan kimia. Secara farmakokinetik, interaksi dapat terjadi
selama proses absorbsi,distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Secara
farmakodinamik, interaksi terjadi antara 2 atau lebih obat yang mengakibatkan
adanya kompetisi dalam pendudukanreseptor sehingga meniadakan salah satu
efek dari obat yang digunakan. contoh interaksi pada proses absorbsi misalnya
obat yang satu merubah kecepatan atau jumlah obat lain yang diabsorbsi. Pada
proses distribusi, mekanisme dapat terjadi karena terbatasnya protein plasma
darah yang dibutuhkan oleh obat untuk berikatan. pada proses metabolisme,
mekanisme vitamin C bersama aminophyllinakan menjadi L
askorbat(berwaarna coklat ) , sehingga tidak berkhasiat. 8 interaksi bisa berupa
inhibisi atau induksi enzim pemetabolisme obat. Pada proses ekskresi,misalnya
suatu obat menyebabkan perubahan pH urin sehingga merubah klirens obat
lainnya.
Efek dari interaksi obat :
a. Efek sinergis
b. Efek antagonis
c. Efek additive
Kesesuaian dosis, durasi, dan jumlah obat yang diminta dalam pengobatan
perlu dipastikan bahwa kadar obat selalu berada di atas KEM (konsentrasi efektif
minimum) dan di bawah KTM (konsentrasi toksis minimum) , sehingga perlu
aturan dosis yang mengatur dosis dan jarak waktu pemberian agar obat mencapai
konsentrasi terapi sesuai dengan yang dikehendaki. Aturan dosis dapat diberikan
dalam tiga dasar kategori :
33
1. Dosis pemeliharaan, yaitu pada konsentrasi efektif. Efek obat harus selalu
terpelihara pada jendela terapi.
2. Dosis terapi pada periode waktu tertentu. Dosis yang diberikan hanya
dalam waktu tertentu tingkat terapi yang diinginkan, seperti pada
pemberian antibiotika terhadap pengobatan infeksi dan obat-obat dengan
t1/2 pendek.
3. Dosis tunggal atau terapi jangka pendek. Dosis ini diberikan pada
keadaan efek obat yang diinginkan hanya untuk sesaat, seperti pada
pengobatan simptomatik.
Beberapa faktor yang memengaruhi dosis :
a) Usia
Bayi dan anak-anak sangat peka terhadap obat karena fungsi hati, ginjal,
dan sistem enzimnya belum sempurna. Begitu juga pada orang tua karena
fungsi hati dan ginjal yang telah menurun.
Dosis untuk orang tua :
1. 65-74 tahun : dosis biasa –100%
2. 75-84 tahun. : dosis biasa — 20%
3. >85 tahun. : dosis biasa —30 %
4. Bobot badan
5. Luas permukaan badan
6. Jenis Kelamin
7. Beratnya penyakit
Karena banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam memberikan dosis,
perlu dicek kembali apakah dosis yang diminta di resep sesuai dengan dosis
lazim anak atau dewasa, dan tidak melebihi dosis maksimal sesuai usia pasien.
Dosis lazim adalah jumlah obat yang sering digunakan dan merupakan dosis
terapi. Dosis maksimal adalah jumlah maksimal obat yang dapat diberikan
tanpa menimbulkan efek toksinya.
34
B. Adsministrasi Obat
1. PERENCANAAN
Tujuan dari perencanaan adalah agar proses pengadaan obat atau
perbekalan farmasi yang ada di apotek menjadi lebih efektif dan efesien sesuai
dengan anggaran yang tersedia . Faktor- faktor yang harus dipertimbangkan
dalam penyusunan perencanaan adalah :
a) Pemilihan Pemasok, kegiatan pemasok (PBF) ,service , (ketepatan waktu,
barang yang dikirim, ada tidaknya diskon bonus, layanan obat expire date
(ED) dan tenggang waktu penagihan) , kualitas obat, dan perbekalan
farmasi lainnya, ketersediaan obat yang dibutuhkan dan harga.
b) Ketersediaan barang atau perbekalan farmasi (sisa stok, rata- rata
pemakaian obat dan satu periode pemesanan pemakaian dan waktu
tunggu pemesanan, dan pemilihan metode perencanaan.
Adapun beberapa metode perencanaan, diantaranya :
a) Metode Konsumsi, memperkirakan penggunaan obat berdasarkan
pemakaian sebelumnya sebagai perencanaan yang akan datang.
b) Metode epidemiologi, berdasarkan penyebaran penyakit yang paling
banyak terdapat di lingkungan sekitar apotek
c) Metode Kombinasi, mengombinasikan antara metode konsumsi dan
metode epidemiologi
d) Metode Just In Time ( JIT ) ,membeli obat pada saat dibutuhkan.
2. PENGADAAN
a) Pengadaan merupakan proses penyimpanan obat yang di butuhkan oleh
unit pelayanan kesehatan yang di peroleh dari pemasok eksternal memaluli
pembelian dari manufaktur , distributor , atau Pedagang Besar Farmasi
(PBF) .Proses setelah melakukan seleksi atau perencanaan adalah proses
pengadaan.Pengadaan barang di lakukan untuk menyediakan obat dengan
jenis dan jumlah yang tepat , dengan mutu yang tinggi serta waktu yang
tepat. Yang perlu di perhatikan dalam pengadaan barang yaitu :
35
1. Pemilihan PBF
2. Penulisan surat pesanan barang atau kontrak hingga surat tersebut di
terima oleh PBF sampai item dan jumlah item berdasarkan
perencanaan yang sudah di buat .
3. Harga
4. Penyimpanan
5. Stok
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan
sediaan farmasi harus melalui jalur resmi ( Anonim , 1990 )
3. PENYIMPANAN
Penyimpanan merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi
menurut persyaratan undang- undang . Di apotek Bolon ketika barang yang
datang sudah di cek dan sesuai dengan SP (Surat Pesanan), kemudian disimpan
dan ditempatkan di tempat masing-masing dan di catat pada kartu stok.
Penyimpanan obat di bagian dalam dalam untuk obat golongan keras
penyimpanan berdasarkan bentuk sediaan , alfabetis , dan suhu pada ruangan
Over the counter (OTC) dan gudang obat berdasarkan bentuk sediaan dan
farmokologi. Metode penyimpanan dapat di lakukan berdasarkan kelas terapi
dengan menerapkan prinsip First In First Out (FIFO) Artinya, barang yang
paling mendekati masa kadaluarsa harus dikeluarkan pertama kali. Ada banyak
jasa sewa warehouse Jakarta yang menggunakan sistem satu ini. dan First
Expired First Out (FEFO) yaitu barang yang kadaluwarsanya cepat harus
keluar terlebih dahulu , untuk menghindari terjadinya obat yang sudah Expired
Date ( ED)
4. DISTRIBUSI
a) Proses distribusi dimulai sejak menerima barang , pengontrolan , persediaan
, penyimpanan sisa barang dan pengeluaran barang dari gudang .
b) Penyaluran barang atau obat di apotek dapat berlangsung beberapa
pengguna , antara lain konsumen yang datang langsung ke apotek baik obat
36
bebas maupun resep dan instansi lain , misalnya puskesmas , klinik , dan
lain-lain. .
Arus keluar barang di apotek dilakukan dengan prinsip FIFO (first in first
out) .Demikian halnya dengan obat- obat yang mempunyai waktu kadaluwarsa
lebih singkat disimpan paling depan yang memungkinkan di ambil terlebih
dahulu atau FEFO (first expired first out) .
C. Hasil Dan Pembahasan Pkl
Selama menjalankan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Apotek Bolon
Colomadu diperoleh gambaran bahwa apotek merupakan suatu tempat
dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi yang
dipimpin seorang APA, dimana didalamnya terdapat struktur yang komplek,
terpadu dan yang saling berhubungan. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa
Apotek Bolon telah berjalan sesuai dengan PP.25 tahun 1980. Hal ini dapat dilihat
dari kondisi fisik maupun kegiatan/operasional apotek serta kelengkapan tenaga
kerja yang ada di apotek itu sendiri.
Manfaat siswa Praktik Kerja Lapangan di Apotek Bolon Colomadu
adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam hal penyediaan, pendistribusian,
beserta pelayanan informasi kepada pasien. Perencanaan pengadaan obat di
Apotek Colomadu dilakukan dengan cara mengutamakan pengadaan untuk obat-
obatan yang cepat laku, untuk itu dilakukan pemantauan melalui kartu stok secara
cermat dan teliti. Pemeriksaan terhadap waktu kadaluwarsa obat juga harus
dilakukan, jadi obat yang masa kadaluwarsa lebih dahulu diusahakan keluar
terlebih dahulu.
Penjualan di Apotek Bolon dapat dilakukan secara tunai. Untuk
penjualan obat didalam etalase, OWA, alkes, peracikan obat dengan resep
dilakukan dengan tunai,. Pencatatan uang yang dilakukan terhadap semua barang
atau obat yang terjual dicatat setiap hari oleh seorang administrasi, dan setiap
bulan direkapitulasi untuk omset setiap bulan. Penjualan di apotek Bolon secara
tunai tidak menjual barang ke apotek, dokter atau bidan, kecuali ada permintaan
dari resep atau ada resep.
37
Penetapan penjualan di Apotek Bolon baik obat wajib apotek (OWA)
dan obat bebas (HV) diserahkan kepada APA. Kegiatan administrasi seperti
pembelian atau inkaso, keuangan, pencatatan dan pengelolaan resep dan OWA
dilakukan setiap hari. Pengelolaan keuangan dilakukan dengan sistem
komputerisasi. Kegiatan pelayanan resep dan penjualan obat bebas OWA
dilakukan dengan mengutamakan kepentingan konsumen. Laporan keuangan
harian, kemudian dilaporkan dalam laporan keuangan bulanan sehingga pada
akhir tahun dapat dibuat laporan keuangan tahunan.
Pengelolaan dapat dilakukan dengan administrasi yang sederhana.
Pencatatan yang dilakukan terhadap semua barang atau obat yang terjual, dicatat
dalam buku pemasukan harian dan setiap bulan direkapitulasi untuk menghitung
omset yang didapat setiap bulannya.
Apotek Bolon juga tidak lepas dari kewajiban untuk membayar pajak,
jenis - jenis pajak yang dikenakan pada Apotek Bolon yaitu PPN (Pajak
Pertambahan Nilai), PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), PPH Pasal 4 ayat 2 (Pajak
Penghasilan Perorangan), pajak reklame.
Apotek Bolon memberikan perhatian bagi kesejahteraan karyawannya
sehingga dapat memotivasi kerja dan meningkatkan loyalitas karyawan kepada
apotek, hubungan sosial yang harmonis dan kekeluargaan juga menjadi faktor
untuk meningkatkan kinerja karyawan apotek. Penanggung jawab ikut berperan
dalam meningkatkan kedisiplinan, profesional, integritas, dan kerja sama antar
karyawan. Pembagian shift kerja yang diterapkan di Apotek Bolon dapat
menjamin keberlangsungan pekerjaan kefarmasian dan manajemen apotek.
38
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Praktek Kerja Lapangan siswa farmasi di Apotek Bolon Colomadu berjalan
dengan baik, dari kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1. Persyaratan teknisi bangunan di Apotek Bolon sudah sesuai dengan
peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2002) terdiri dari :
a. Ruang tunggu pasien.
b. Ruang peracikan dan penyerahan obat.
c. Ruang administrasi.
d. Ruang penyimpanan obat.
e. Ruang swamedikasi kepada pasien
f. Ruang tempat pencucian alat.
g. Kamar kecil (WC).
2. Apotek Bolon sebagai bentuk sarana pelayanan sudah baik karena didalam
penyediaan dan penyaluran perbekalan farmasi telah memenuhi
persyaratan sebagai apotek. Baik itu tempat penyimpanan obat, gudang,
tempat peracikan obat, cara pelayanan kepada pasien, maupun cara
pengadaan obat di Apotek Bolon.
3. Praktek Kerja Lapangan ini telah memberikan informasi, pengetahuan, dan
pengalaman yang sangat baik bagi siswa sehingga nantinya para Asisten
Tenaga Teknik Kefarmasian yang berkualitas serta dapat menjalani
profesinya secara professional.
B. Saran
1. Pelayanan informasi obat perlu ditingkatkan dengan memberikan
informasi yang lebih luas dan beragam mengenai obat dan pengobatan
kepada pasien.
2. Penyediaan sumber-sumber tentang obat-obatan maupun tentang
kesehatan misalnya majalah, koran, atau buku-buku lebih ditingkatkan dan
39
diperbaruhi terus sehingga kepuasan pasien menjadi terjamin dan
memuaskan.
3. Ruang gudang perlu diperluas agar stok obat dapat tertampung dengan rapi
dan saat pengambilannyapun mudah, dan penataan obat- obatan masih
kurang rapi sehingga menyulitkan dalam pengambilan.
40
DAFTAR PUSTAKA
https://id.scribd.com/doc/188483084/Contoh-Laporan-Prakerin-Di-Apotek
https://allcanseeblog.wordpress.com/2007/03/31/laporan-praktek-kerja-lapangan-
smk-farmasi-di-apotek/
https://www.cademia.edu/32428062/LAPORAN_PRAKTEK_KERJA_LAPANG
AN_BIDANG_APOTEK
https://gudangartikels.blogspot.com/2018/06/contoh-laporan-pkl-praktek-
kerja.htm?m=1
Buku Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Program Farmasi Sekolah
Menengah Kejuruan Negeri 1 Sambi 2016.
Buku Panduan dan Jurnal Praktek Kerja Lapangan (PKL) Smk Negeri 1 Sambi
Tahun Pelajaran 2021/2022.
41
L
A
M
P
I
R
A
N
1
Lampiran 1. Faktur Penjualan Apotek
42
Lampiran 2. Nota Apotek
43
Lampiran 3. Copy Resep Apotek Bolon
44
Lampiran 4. Data Base Barang Datang Apotek
45
Lampiran 5. Etiket Apotek Bolon
46
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
(PKL)
ALUR PENGELOLAAN OBAT
DI APOTEK CINTA SEHAT
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Syarat
Untuk Menempuh Ujian Akhir Sekolah dan Nasional
Disusun Oleh :
1. Anggi Velia Putri 190907
2. Aulia Virda Anggraeni 190924
3. Wahyu Putri R 191165
PROGRAM STUDI KEAHLIAN FARMASI
SMKN NEGERI 1 SAMBI
BOYOLALI
TAHUN PELAJARAN 2021/2022
i
ii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, penulis
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, dihidayah,
dan inayah-Nya kepada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Praktek Kerja
Lapangan (PKL). Penyusunan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini diajukan untuk
memenuhi sebagian persyaratan menyelesaikan program pendidikan farmasi di SMK Negeri 1
Sambi.
Penulis laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini telah penulis susun dan dapat diselesaikan
dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak oleh karena itu penulis
menyampaikan rasa terima kasih kepada
1. Drs. Syamsudin ,. S.Tp., M.Si selaku sekolah SMK Negeri 1 Sambi yang memberikan
kesempatan kepada kami untuk mengekuti pendidikan di SMK Negeri Sambi
2. Sariyono S.Farm.Apt selaku Ka. Pro Farmasi SMK Negeri 1 Sambi dan yang
memberikan kesempatan pada penulis untuk mengikuti pendidikan farmasi dan
mengikuti kegiatan-kegiatan farmasi di SMK Negeri 1 Sambi.
3. Subhan Rosyad Abidin S.Farm.Apt. selaku apoteker di Apotek cinta sehat dan sebagai
pembimbing di Apotek
4. Staf dan karyawan Apotek cinta sehat
5. Serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu
dalam proses penyusunan laporan ini
Kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangannya oleh karena itu segala
saran dan kritik demi kesempurnaan sangat kami harapkan. Semoga laporan ini bisa bermanfat
bagi penulis dan pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Sambi,
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1
1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Tujuan Prakerin....................................................................................................... 2
C. Manfaat Prakerin..................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 3
A. Pengertian Apotek ................................................................................................. 3
B. Tugas dan Fungsi Apotek..................................................................................... 4
C. Ketentuan Umum dan Peraturan Perundang-undangan Tentang Apotek ............. 8
D. Persyaratan Apotek................................................................................................ 9
E. Tugas dan Tanggung jawab Apotek Pengelola Apotek ........................................ 11
F. Pengelolaan Apotek............................................................................................... 13
BAB III HASIL PELAKSANAAN PRAKERIN .............................................................. 13
A. Skrining Resep ...................................................................................................... 14
B. Administrasi Obat.................................................................................................. 14
15
3.1 Perencanaan Obat .......................................................................................... 15
3.2 Pengadaan Obat ............................................................................................. 16
3.3 Penerimaan Barang........................................................................................ 16
3.4 Penyimpanan Obat......................................................................................... 17
3.5 Distribusi Obat.............................................................................................. 25
C. Pengelolaan Obat................................................................................................... 25
BAB IV PEMBAHASAN MASALAH.............................................................................. 25
A. Tinjauan Mengenai Apotek.................................................................................... 26
1. Struktur Organisasi........................................................................................... 26
2. Lokasi dan Denah Apotek................................................................................ 26
3. Perlengkapan Apotek ....................................................................................... 30
B. Kegiatan Siswa di Apotek......................................................................................
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................
iv
A. KESIMPULAN ..................................................................................................... 30
B. SARAN ................................................................................................................. 30
LAMPIRAN........................................................................................................................ 31
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 34
v
DAFTAR LAMPIRAN
1. Resep………………………………………………………………………………………
2. Copy resep…………………………………………………………………………………
3. Etiket………………………………………………………………………………………
4. Faktur……………………………………………………………………………………...
5. Surat pesanan……………………………………………………………………………...
6. Nota…………………………………………………………………………………….....
7. Etalase obat…………………………….………………………………………………….
8. Etalase alkes……………………………………………………………………………….
vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan program khusus yang
harus dilaksanakan oleh Sekolah Menengah Kejuruaan (SMK) sesuai
dengan kurikulum SMK. Program ini dilaksanakan di luar sekolah dalam
bentuk praktek terjadi dunia usaha/ industri (instansi). Praktek Kerja
Lapangan (PKL) bermaksud untuk mendekatkan siswa kepada tuntunan
kerja, yang diharapkan mampu memberikan umpan baik kepada pihak
dunia usaha, , maupun sekolah sebagai lembaga pelaksanaan pendidikan
formal, sehingga diperoleh gambaran tentang standar kualifikasi lulusan
SMK sesuai kebutuhan di dunia usaha/industri serta masukan bagi
pengembang mutu pendidikan khususnya SMK Negeri 1 Sambi. Praktek
Kerja Lapangan (PKL) ini dijadikan sebagai tolak ukur siswa dalam
menerapkan teori dari sekolah dan memberikan pengetahuan kepada siswa
tentang proses yang terjadi di lapangan secara nyata.
B. Tujuan PKL
Penyelenggaraan Praktek Kerja Lapangan (PKL) bertujuan untuk:
1. Untuk menghasilkan tenaga teknis kefarmasian dari SMKN 1 sampai
yang profesional jujur dan bertanggung jawab dalam hal pelayanan
kefarmasian kepada masyarakat.
2. Agar siswa SMKN 1 sambi mengetahui dan memahami ruang lingkup
kerja dan tanggung jawab seorang teknisi kefarmasian di apotek.
3. Untuk menambah dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan
keterampilan tentang pembuatan, pengolah, peracikan pengubahan
bentuk, pencampuran penyimpanan dan penyerahan obat serta
pembekalan farmasi.
1
4. Meningkatkan sistem proses pendidikan dan pelatihan tenaga yang
berkualitas dan profesional.
5. Memberikan pemahaman mengenai tugas dan tanggung jawab seorang
asisten apotek.
6. Memberikan kesempatan untuk penempatan kerja sebagai bentuk
laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di apotek cinta sehat.
C. Manfaat SMKN 1 Sambi Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Apotek
Cinta Sehat
Penyelenggaraan smkn 1 sambi melakukan Praktek Kerja Industri (PKL)
memiliki beberapa manfaat yaitu;
1. Bagi pihak smkn 1 sambi sebagai tanggung jawab penulis dalam
melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) serta sebagai bahan
masukan mengenai perkembangan siswa dalam melaksanakan praktek
tersebut.
Bagi pihak apotek cinta sehat sebagai bukti pelaksanaan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) dan pertanggung jawab penulis.
2. Meningkatkan citra dan kemandirian siswa Farmasi SMKN 1 sambi
dalam profesi Asisten Apoteker.
3. Penulis dapat menambah pengetahuan pengalaman dan keterampilan
selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Apotek Cinta
sehat.
Penulis dapat membandingkan antara teori yang didapat di SMKN 1
sambi dengan Praktek Kerrja Industri (PKL)yang sebenarnya dia
apotik cinta sehat.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Apotek
Apotek merupakan salah saatu sarana pelayanan kesehatan dalam
membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat, selain itu juga sebagai tempat pengabdiaan dan praktek
profesi Apoteker dalam melakukan pekerjaan Kefarmasiaan.
Menurut peraturan pemerintah(PP) No. 26 tahun 1965 Apotek adalah
suatu tempat dimana dilakukan usaha-usaha dalam bidang Kefarmassian.
Kemudian dirubah dengan keluarga PP No. 25 tahun 1980 tentang
perubahan PP No. 26 tahun 1965 tentang Apotek menjadi suatu tempat
tertentu dilakukan pekerjaan Kefarmasian dan penyaluran obat kepada
masyarakat.
Menurut keputusan Menteri Kesehatan Repblublik Indonesia
(Kemenkes RI) No. 1332/MENKES/SK//X/2002, tentang perubahan atas
peraturan Menkes RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 mengenai ketentuan
dan tata cara pemberian izinn Apotek, yang dimaksud dengan Apotek
adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan Kefarmasian
menyalurkan perbekalan Farmasi kepada masyarakat.
B. Tugas dan Fungsi Apotek
Adapun tugas dan fungsi Apotek menurut peraturan No. 25 tahun
1980 yaitu sebagai berikut:
1. Tempat pengabdiaan profesi seorang Apoteker yang telah
mengucapkan Sumpah jabatan
2. Sarana Farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk dan
penyerahan obat atau bahan baku obat.
3
3. Sarana penyalur pembekalan Farmasi yang harus menyebarkan obat
yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.
C. Ketentuan Umum dan Peraturan Perundang-Undangan Tentang
Apotek
Di Indonesia peraturan perundang-undangan tentang perapotekan
telah beberapa kali mengalami penyesuaian dan penyempurnaan.
Peraturan perundang-undangan perapotekan berdasarkan pada PP No. 26
tahun 1965 tentang Apotek mengalami penyempurnaan dengan
dilakukannya PP No. 25 tahun 1980 tentang perubahan atas PP No. 26
tahun 1965 tentang Apotek. Sebagai pelaksanaan PP No. 25 tahun 1980,
Menteri kesehatan RI menetapkan peraturan dengan menerbitkan
Permenkes RI No. 26/Menkes/Per/1/1981 tentang pengelolaan dari
perizinan Apotek yang kemudian disempurnakan dengan Permenkes RI
No. 244/Menkes/SK/V/1990 tentang ketentuan dan Tata Cara pemberian
Izin Apotek.Berdasarkan pertimbangan kondisi Kefarmasian dikeluarkan
permenkes RI No. 922/ Menkes / Per/ X / 1993 / sebagai pengganti
Permenkes RI No. 244/ Menkes / SK / V / 1990 tentang ketentuan dan tata
cara pemberian izin Apotek. Kemudian, peraturan ini di perbaharuhi lagi
menjadi kepmenkes RI No. 1332 / Menkes / SK / X / 2002 tentang
perubahan Atas permenkes RI No. 922 / Menkes / Per / X / 1993, yang
diekeluarkan dengan pertimbangan bahwa kondisi Kefarmasian yang salah
satunya adalah Apotek pada saat ini tidak sesuai lagi. Selanjutnya,
Kepmenkes RI No. 1027 / Menkes / SK / IX / 2004 tentang standar
pelayanan Pelayanan Kefarmasiaan diApotek dikeluarkan dalam rangka
meningkatkan mutu dan efisiensi Pelayanan Kefarmasiaan yang
berdasarkan Pharmaceutical Care.
4
Ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam kepmenkes No. 1027 /
Menkes / SK / IX / 2004 antara lain sebagai berikut:
1. Apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan
Kefarmasiaan dan penyaluran sediaaan Farmasi, perbekalan kesehatan
lainnya kepada masyarakat.
2. Apotek adalah sarjana Farmasi yang telah lulus pendidikan dan telah
mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan yang berlaku dan berhak
melakukan pekerjaan Kefarmasiaan di Indonesia sebagai Apoteker.
3. Sediaan Farmasi adalah Obat, Bahan Obat, Obat Tradisional dan
Kosmetika.
4. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan
yang dieperlukan untuk Menyelenggarakan upaya Kesehatan
5. Alat kesehatan adalah bahan, instrument apparatus, mesin, implant yang
tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis
menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit serta
memulihkan kesehatan pada manusia dan atau untuk membentuk
struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.
6. Resep adalah permintaan tertulis dari Dokter, Dokter Gigi, Dokter
hewan, kepada Apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat
gigi pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
7. Perlengkapan Apotek adalah semua peralatan yang dipergunakan untuk
melaksankan kegiatan Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
8. Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) adalah bentuk pelayanan
dan tanggung jawab langsung profesi Apoteker dalam pekerjaan
Kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
9. Medication Record adalah cacatan pengobatan setiap pasien.
Medication Error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat
pemakaian obat . Obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan,
yang sebetulnya dapat dicegah.
5
10. Konseling adalah suatu proses komunitas dua arah yang sistematik
antara Apoteket dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan
masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatanya.
11. Konseling adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik
anatra Apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan
masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan
12. Pelayanan residensial (Home Care) adalah pelayanan Apoteker sebagai
CARE GIVER dalam pelayanan Kefarmasian di rumah – rumah
khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan
terapi kronis lainnya (Anonim,2004).
Peraturan terbaru yang mengatur tentang pekerjaan Kefarmasiaan
adalah PP No. 51 tahun 2009. Ketentuan yang berlaku sesuai dengan PP
No. 51 Tahun 2009 pasal 1 adalah sebagai berikut:
a. Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian
mutu sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan obat, pelayanan obat
atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat dan obat tradisional.
b. Sediaan Farmasi adalah Obat, Bahan Obat, Obat Tradisional dan
Kosmetika.
c. Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan
kefarmasian, yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kesehatan.
d. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan tanggung
jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan Farmasi dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien.
e. Apoteker adalah sarjana Farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker
dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.
f. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker
dalam menjalani pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana
Farmasi, Ahli Madya Farmasi , Analisis Farmasi dan Tenaga
mencegah Farmasi/ Asisten Apoteker.
6
g. Fasilitas Kesehatan adalah sarana yang di gunakan untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
h. Fasilitas Kefarmasian adalah sarana yang di gunakan untuk
melakukan pekerjaan Kefarmasian.
i. Fasilitas produksi sediaan Farmasi adalah sarana yang digunakan
untuk emproduksi obat, bahan baku obat, obat tradisonal, dan
kosmetika.
j. Fasilitas distribusi atau penyaluran Sediaan Farmasi adalah sarana
yang digunakan untuk mendistribusikan atau menyalurkan sediaan
Farmasi, yaitu pedagang besar Farmasi dan instalansi sediaan farmasi.
k. Fasilitas pelayanan kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk
Rumah sakit, Puskesmas, klinik, Toko Obat, atau praktek bersama.
l. Pedagang Besar Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum
yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran,
perbekalan farmasi dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan
perUndang-Undangan.
m. Apotek adalah sarana pelayanaan kefarmasian tempat dilakukan
praktek Kefarmasian oleh Apoteker.
n. Toko Obat adalah sarana yang memiliki izin untuk menyimpan obat-
obat bebas dan obat-obat bebas terbatas untuk dijual secara eceran.
o. Standar profesi adalah pedoman untuk menjalankan praktik profesi
Kefarmasian secara baik.
p. Standar Prosedur tertulis berupa petunjuk operasional tentang
Pekerjaan Kefarmasian.
q. Standar Kefarmasian adalah pedoman untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian pada fasilitas produksi, distribusi atau penyaluran dan
pelayanaan kefarmasian.
r. Asosiasi adalah perhimpunan dari perguruan tinggi Farmasi yang ada
di Indonesia.
s. Organisasi adalah perhimpunan para Apoteker di Indonesia.
7
t. Surat Tanda Registrasi Apoteker selanjutnya disingkat STRA adaah
bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri Kepada Apoteker yang telah
di registrasi.
u. Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian selanjutnya
disingkat STRTTK adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri
kepada Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah diregistrasi.
v. Surat izin Praktek Apoteker selanjutnya disingkat SIPA adalah surat
izin yang diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksankan
pekerjaan Kefarmasian pada Apotek atau instalasi Farmasi Rumah
Sakit.
w. Surat izin kerja selanjutnya disingkat SIK adalah surat izin yang
diberikan kepada Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian unntuk
dapat melaksankan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas produksi dan
fasilitas distribusi atau penyaluran.
x. Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
y. Rahasia kedokteran adalah sesuatu yang berkaitan dengan praktek
kedokteran yang tidak boleh diketahui oleh umum Rahasia
Kefarmasian adalah pekerjaan Kefarmasian yang menyangkut proses
produksi, proses penyaluran dan proses pelayanan dari sediaan Farmasi
yang tidak boleh diketahui oleh oleh umum sesuai dengan ketentuan
peraturan perunddang-undangan.
z. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya dibidang
kesehatan (Anonim,2009).
D. Persyaratan Apotek
Pendirian Apotek harus memenuhi ketentuan-ketentuan atau
persyaratan yang berlaku (undang-undang persyaratan Apotek dan harus)
dan dipenuhi guna mendapatkan izinn agar Apotek yang kita rencanakan
dapat beroperasi sesuai peraturan yang berlaku adapun persyaratan dalam
pendirian Apotek diantarannya:
8
1. Lokasi Apotek
a. Lokasi untuk Apotek baru atau perpindahan Apotek beserta jumlah
dan jarak minimal antara Apotek yang di perkenalkan untuk suatu
wilayah tertentu ditetepkan oleh Menteri.
b. Penentuan lokasi jumlah dan jarak apotek harus dipertimbangkan.
2. Bangunan
Sarana atau prasarana yang terdiri dari : ruang tunggu, ruang
racik, tempat cuci, ruang administrasi , ruang APA, toilet, ruang solat,
ventilase, penerang dan langit-langit. Kelengkapan seperti: Alat
pemadam kebakaran dan lampu cadangan sesuai peraturan.
a. Perlengkapan
Perlengkapan seperti alat pembuatan, pengolahan, peracikan dan
papa nama sesuai peraturan.
b. Papan Nama yang dimaksud harus memuat:
1) Nama Apotek
2) Nama Apoteker pengelola Apotek (APA)
3) Nomor Surat izin Apotek
3. Administrasi yang harus ada seperti:
1) Kartu Stock, nota penjualan, kwitansi, copy resep dan surat
pesanan (SP).
2) Buku-Buku (buku pembelian, buku penjualan, buku keuangan,
buku harian).
3) Buku-Buku wajjib Apotek (F . I,ISO,praturan perundang-
undangan, buku standar, IMO).
4. Tenaga Apotek seperti:
1) Apotek Pengelola Apotek (APA).
2) Apoteker Pendamping.
3) Asisten Apoteker.
E. Tugas dan Tanggung Jawab Apoteker Pengelola Apotek
Tugas dan tanggung jawab tersebut meliputi berbagai bidang yaitu:
9
1. Bidang Pengabdian Profesi
a. Melakukan penelitian seperlunya terhadao semua jenis obat dan
bahan obat yang dibeli secara kualitatif dan kuantitatif.
b. Mengadakan pengontrollan terhadap bagian pembuatan.
c. Mengadakan pengontrolan serta pengecekan terhadap pelaynan
atas resep yang telah dibuat dan diserahkan kepada pasien.
d. Memberikkan informasi tentang obat pada pasien, Dokter dan
sebagianya.
e. Menyelenggarakan komunikasi dengan mengusahakan segala
sesuatu agar dapat melancarkan hubungan keluar, masalah suvei
pasar, promosi dan publikasi.
2. Bidang Administrasi
a. Memimpin, mengatur, serta mengawasi pekerjaan tata usaha,
keuangan, dan perdagangan.
b. Membantu laporan-laporan keungan dan surat menyurat.
c. Mengadakan pengawasan, penggunaan dan pemeliharaan akte
perusahaan.
3. Bidang Komersial
a. Merencankan dan mengatur kebutuhan barang (Obat, alat
kesehatan dan lain-lain) untuk suatu periode tertentu sesuai aturan
yang berlaku.
b. Mengatur dan Mengawasi penjualan dalam bentuk resep maupun
penjualan bebas, langganan dan sebagian berikut.
c. Menentukan kalkulasi harga dan kebijakan harga.
d. Berusaha meningkatkan penjualan.
e. Memupuk hubungan baik dengan para pelanggan.
f. Menentukan kepada siapa dapat dilayani kredit atas pembelian
obat.
g. Mengadakan efisiensi dalam segala hal.
10
4. Bidang Tanggung Jawab dan Wewenang
a. Internal, bertanggung jawab mengenai segala aktifitas perusahaan
kepada PSA. Eksternal bertanggung jawab kepada departemen
departemen Kesehatan.
b. Memimpin dan mengelola karyawan dalam melakukan pengabdian
professinya.
c. Mengatur sisitem penerimaan pegawai dan sistem penggajian.
d. Mengatur sistem penerimaan pegawai dan sistem penggajian.
F. Tugas dan Tanggung Jawab Asisten Apoteker
Asisten Apoteker adalah profesi Pelayanan Kesehatan bidang
Farmasi yang bertugas sebagai pembantu tugas Apoteker dalam pekerjaan
Kefarmasiaan. Asisten Apoteker sering disebut sebagai Tenaga Teknis
Kefarmasian. Asisten wajib memiliki surat Tanda Registrasi Tenaga
Teknis Kefarmasian (STRTTK). STRTTK adalah buukti tertulis yang
diebrikan kepada Menteri Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah
diregistrasi, Asisten Apoteker juga memiliki surat izin kerja tenaga teknis
kesehatan atau SIKTTK.
1) Tugas Pekerjaan Asisten Apoteker:
a) Mengecek kesiapan Apotek sebelum operasional.
b) Menyusun produk racikan yang telah distribusikan dari gudang
Farmasi.
c) Ke Apotek.
d) Melakukn peracikan obat.
e) Melayani pembelian pasien.
f) Membuat copy resep.
g) Melakukan penyerahan produk kepada pasien.
G. Pengelolaan Apotek
Pengelolaan Apotek dibidang material meliputi:
11
1. Penyediaan, penyimpanan, penyerahan perbekalan Farmasi yang
bermutu baik dan kebahasaanya terjamin.
2. Penyediaan, penyimpanan, pemakain barang non perbekalan Farmasi,
misalnya rak obat, lemari, meja kursi pengunjungApotek, mesin
registrasi dan sebagainnya.
a. Pengelolaan Apotek dibidang ketenangan meliputi pembinaan,
pengawasan, pemberian inseftif maupun pemberian sanksi terhadap
karyawan Apotek agar timbul kegairahan, ketenaga kerja dan
kepastian masa depannya.
b. Pengelolaan Apotek dibidang lainnya berkaitan dengan tugas dan
fungsi Apotek meliputi pengelolaan dan penataan bangunan ruang
tunggu, ruang peracikan, ruang peracikan dan ruang kerja
Apoteker, tempat pencucian alat, toilet dan sebagainnya.
12
BAB III
PELAKSANAAN PRAKERIN
A. Skrining Resep
Skrining resep atau biasa dikenal dengan pengkajian resep merupakan
kegiatan apoteker dalam mengkaji sebuah resep yang meliputi pengkajian
administrasi farmasetik dan klinis sebelum resep di racik apa gunanya
apoteker melakukan skrining resep tujuannya tentunya untuk menjamin safety
dan kemajuan dari obat dalam resep ketika digunakan pasien serta
memaksimalkan tujuan terapi
a. Kajian administratif meliputi:
1. Informasi pasien nama pasien umur jenis kelamin berat badan alamat.
2. Informasi dokter penulisan resep nama dokter nama surat izin praktik
alamat nomor telepon dan paraf.
3. Tanggal penulisan resep
b. Kajian kesesuaian farmasetik meliputi:
1. Bentuk dan kekuatan sediaan.
2. Stabilitas
3. Kompatibilitas (ketercampuran obat).
c. Pertimbangan klinis meliputi:
1. Ketepatan indikasi dan dosis obat
2. Aturan, cara dan lama penggunaan obat
3. Duplikasi dan/atau polifarmasi
4. Reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat,
manifestasi klinis lain)
5. Kontra indikasi
6. Interaksi
13
B. Administrasi obat
Dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu
dilaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi : (1). Administrasi Umum
Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan dokumentasi
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3.1 Perencanaan Obat
Perencanaan merupakan suatu proses kegiatan seleksi obat dan
bahan medis habis pakai untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam
rangka pemenuhan kebutuhan. Dalam membuat perencanaan pengadaan
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai perlu
diperhatikan pola penyakit, pola konsumsi, budaya dan kemampuan
masyarakat (Permenkes RI, 2016).
Metode perencanaan yang digunakan dapat berupa pola
konsumsi, epidemiologi atau kombinasi metode konsumsi dan
epidemiologi yang disesuaikan dengan anggaran yang ada. Sebagai
acuan, perencanaan dapat digunakan DOEN dan Formularium Nasional,
gambaran corak resep yang masuk, kebutuhan pelayanan setempat,
penetapan prioritas dengan mempertimbangkan anggaran yang tersedia,
sisa stok, data pemakaian periode yang lalu, kecepatan perputaran
barang, dan rencana pengembangan (Permenkes RI, 2014).
Buku defecta harus dipersiapkan untuk mendaftar obat apa saja
yang habis stoknya atau menipis. Dari buku defecta inilah, seorang
apoteker mengambil keputusan untuk pemesanan barang. Metode yang
sering digunakan dalam perencanaan pengadaan :
a. Metode Epidemiologi
Perencanaan berdasarkan pola penyebaran penyakit dan pola
pengobatan penyakit masyarakat sekitar.
b. Metode Konsumsi
Perencanaan berdasarkan data pengeluaran barang periode
sebelumnya. Data ini kemudian diklasifikasikan menjadi kelompok
cepat beredar (fast moving) dan lambat beredar (slow moving).
14
c. Metode Kombinasi
Perencanaan berdasarkan pola penyebaran penyakit dan melihat
kebutuhan periode sebelumnya.
d. Metode Just in time
Perencanaan berdasarkan obat yang dibutuhkan berjumlah terbatas.
Perencanaan ini digunakan untuk obat-obat yang jarang dipakai atau
diresepkan serta harganya mahal dengan kedaluwarsa yang pendek.
3.2 Pengadaan Obat
Pengadaan obat merupakan suatu proses yang dimaksud untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Pengadaan obat yang efektif
dan efisien diharapkan dapat menjamin : tersedianya rencana kebutuhan
jenis dan jumlah obat yang sesuai dengan kebutuhan, tersedianya
anggaran pengadaan obat yang dibuthkan sesuai dengan waktunya,
terlaksananya pengadaan obat yang efektif dan efisien, terjaminnya
penyimpanan obat dengan mutu yang baik, terjaminnya pendistribusian
obat yang efektif dengan waktu tinggi (lead time)yang pendek,
terpenuhinya kebutuhan obat yang mendukung, tersedianya sumber daya
manusia dengan jumlah dan kualifikasi yang tepat, digunakannya obat
secara rasional sesuai dengan pedoman yang disepakati, dan tersedianya
informasi pengelolaan dan penggunaan obat yang benar.
3.3 Penerimaan barang
Penerimaan obat adalah suatu kegiatan dalam menerima obat-
obatan dari distributor ke bagian gudang atau logistik, bertujuan agar
obat yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan permintaan
yang diajukan. Dalam penerimaan obat harus dilakukan pengecekan
terhadap obat-obat yang diterima, mencakup jumlah kemasan, jenis dan
jumlah obat sesuai faktur pembelian (Muharomah, 2008).
Penerimaan harus dilakukan oleh petugas penanggung jawab,
bertujuan untuk menjamin perbekalan farmasi yang diterima agar sesuai
15
dengan kontrak baik spesifikasi mutu, jumlah dan waktu kedatangan.
Perbekalan farmasi yang diterima harus sesuai dengan spesifikasi kontrak
yang ditetapkan (Permana, 2013).
3.4 Penyimpanan Obat
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara
dengan cara menempatkan obat-obatan yang diterima pada tempat yang
dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat mengganggu
mutu obat.
Obat/ bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.
Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah
lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis
informasi yang jelas pada wadah baru. Wadah sekurang-kurangnya
memuat nama obat, nomor batch dan tanggal kedaluwarsa; semua
obat/bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehingga
terjamin keamanan dan stabilitasnya; tempat penyimpanan obat tidak
dipergunakan untuk penyimpanan barang lainnya yang menyebabkan
kontaminasi; sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan
bentuk sediaan dan kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis;
pengeluaran obat memakai sistem FEFO (First Expired Firs Out) dan
FIFO (First In First Out)(Permenkes RI, 2016).Pada tahap penyimpanan
ini seringkali menghadapi beberapa masalah yang cukup penting
diantaranya staf yang terbatas, kondisi gudang atau tempat penyimpanan
yang kurang memenuhi syarat, serta kegiatan pencatatan atau pelaporan
yang kurang baik (Quick., et al, 1993).
3.5 Distribusi Obat
Distribusi obat merupakan proses yang penting dalam menjaga
efikasi, keamanan, dan kualitas suatu obat setelah proses pembuatannya.
Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) perlu diterapkan pada fasilitas
16
distribusi termasuk apotek agar mutu obat dapat terjaga sampai obat
dikonsumsi oleh pasien.
Cara Distribusi Obat yang Baik, yang selanjutnya disingkat
CDOB, adalah cara distribusi/ penyaluran obat dan/ atau bahan obat yang
bertujuan memastikan mutu sepanjang jalur distribusi/penyaluran sesuai
persyaratan dan tujuan penggunaannya.
Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi
(Mis. vaksin; dll.), yang digunakan untuk memengaruhi atau menyelidiki
sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan
kontrasepsi untuk manusia. Sedangkan Bahan Obat adalah bahan, baik
yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat yang digunakan dalam
pengolahan obat dengan standar dan mutu sebagai bahan baku farmasi
termasuk baku pembanding.
Obat Palsu adalah Obat yang diproduksi oleh yang tidak berhak
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau produksi
obat dengan penandaan yang meniru identitas obat lain yang telah
memiliki izin edar.
C. Pengelolaan Obat
Pengelolaan obat merupakan hal yang sangat penting dilakukan di
apotek, karena peran apotek sebagai penyimpan obat-obatan dan melayani
kebutuhan pasien akan obat. Karena, di apotek tersebut banyak obat dan resep
obat yang masuk, baik obat bebas, bebas terbatas, keras, narkotika, maupun
psikotropika.
Maka dari itu, untuk keberlangsungan peran apotek tersebut sebagai
tempat penyimpan obat dan pelayanan resep yang baik, perlu diakukan
pengelolaan obat. Pengelolaan obat bertujuan untuk menjamin kelangsungan
ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan obat yang efisien, efektif, dan
rasional. Adanya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73
Tahun 2016 tentang: Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek bertujuan
17
untuk: meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian; menjamin kepastian
hukum bagi tenaga kefarmasian; dan melindungi pasien dan masyarakat dari
penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien
(patient safety). Standar pelayanan kefarmasian di Apotek meliputi standar:
a. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
yang dimaksud meliputi: perencanaan; pengadaan; penerimaan;
penyimpanan; pemusnahan; pengendalian; dan pencatatan dan pelaporan.
b. Pelayanan farmasi meliputi: pengkajian resep; dispensing; Pelayanan
informasi Obat (PIO); konseling; pelayanan kefarmasian di rumah (home
care); Pemantuan Terapi Obat (PTO); dan Monitoring Efek Samping
Obat (MESO) (Permenkes RI, 2016).
Dalam hal ini akan membahas rinci pada pengelolaan sediaan farmasi ,
alat kesehatan dan bahan medis habis pakai.
1.3.1 Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang bebas/dapat diperoleh tanpa resep dari
dokter, sehingga dapat dibeli langsung melalui Apotek, Toko Obat
Berizin, Toko Modern maupun warung kelontong. Cara mengenali
obat bebas adalah terdapat tanda logo lingkaran berwarna HIJAU
dengan garis tepi berwarna hitam pada kemasannya.
Logo:
Contoh Obat Bebas :
Parasetamol (penurun demam dan pereda sakit kepala)
Vitamin-Vitamin
Ferrosulfat (penambah darah)
Sediaan obat mengandung Calcium
Antasid (untuk sakit maag) Ex : promag, mylanta.
18
1.3.2 Obat bebas terbatas adalah obat yang dapat diperoleh tanpa resep
dokter, sehingga dapat dibeli langsung melalui Apotek maupun
Toko Obat Berizin namun memperolehnya dalam jumlah terbatas.
Terdapat sediaan Obat Bebas Terbatas adalah campuran obat bebas
dan obat keras. Cara mengenali obat bebas terbatas adalah terdapat
tanda logo lingkaran berwarna BIRU dengan garis tepi berwarna
hitam pada kemasannya.
Biasanya pada kemasan golongan obat ini terdapat peringatan-
peringatan berkaitan dengan pemakaian/penggunaannya yang
ditulis dalam kotak, supaya pasien/masyarakat dapat menggunakan
obat ini dengan benar.
Logo:
Ada 6 macam tanda peringatan antara lain :
P.No.1 Awas! Obat Keras, Bacalah Aturan Pemakaiannya
Contoh :
Sediaan Obat Pereda Flu / Pilek (Ex : Neozep, Ultraflu, Procold)
Sediaan Obat Batuk (Ex : OBH, Woods, Komix, Actifed)
P.No.2 Awas! Obat Keras, Hanya untuk kumur, jangan ditelan
Contoh:
Sediaan obat kumur mengandung Povidone Iodine (Ex : Betadine)
Sediaan obat kumur yang mengandung Hexetidine (Ex : Hexadol)
P.No.3 Awas! Obat Keras, Hanya untuk bagian luar dari
badan
Contoh : Betadine, Kalpanax, Albothyl
19
Sediaan salep/krim untuk penyakit kulit yang tidak mengandung
antibiotik
Sediaan tetes mata yang tidak mengandung antibiotik (Insto,
Braito)
P.No.4 Awas! Obat Keras, Hanya untuk dibakar
Contoh : Sediaan untuk obat asma (berbentuk rokok) à sudah tidak
ada
P.No.5 Awas! Obat Keras, Tidak boleh ditelan
Contoh : Sediaan obat Sulfanilamid puyer 5 g steril à antibiotik
untuk infeksi topikal/kulit termasuk untuk infeksi vagina
Sediaan ovula
P.No.6 Awas! Obat Keras, Obat wasir, jangan ditelan
Contoh : Sediaan suppositoria untuk wasir/ambeien
1.3.3 Obat Keras
Obat Keras adalah obat yang hanya boleh dibeli menggunakan
resep dokter. Tempat penjualan di Apotek.
a. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman, baik sintesis maupun semisintesis, yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam
golongan-golongan. (UU RI No.35 Tahun 2009 tentang
Narkotika).
20
Cara mendapatkan Obat Narkotika harus dengan resep dokter
dan obat dapat diserahkan melalui Apotek, Rumah sakit,
Puskesmas ataupun Klinik.
Logo obat narkotika adalah seperti tanda plus warna merah
dalam lingkaran warna putih dengan garis tepi warna merah.
Obat narkotika sangat bermanfaat dan diperlukan di bidang
ilmu pengetahuan maupun bidang kesehatan. Meskipun
demikian, masih ada yang menggunakan tidak sesuai dengan
standar pengobatan maupun sengaja disalahgunakan bahkan
disertai peredaran narkotika secara gelap. Penyalahgunaan
Narkotika serta Psikotropika merupakan kejahatan krimial
dikarenakan hal tersebut merupakan ancaman yang dapat
melemahkan ketahanan nasional dikarenakan dapat merusak
moral/mental masyarakat khususnya generasi muda penerus
bangsa. Pemerintah melakukan pengawasan dan pengendalian
peredaran obat narkotika dengan membuat Undang-undang
Nomor 22 Tahun 1997 yang diperbarui menjadi UU Nomor 35
Tahun 2009 tentang Narkotika. Berdasarkan potensi yang dapat
mengakibatkan ketergantungan, Narkotika digolongkan menjadi
3 (tiga) yaitu
1. Narkotika Golongan I
Hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak
digunakan untuk terapi kesehatan/pengobatan karena dapat
menyebabkan potensi sindrom ketergantungan yang sangat
tinggi.
Contoh : Tanaman Papaver Somniferum L, Opium mentah,
Opium masak, tanaman koka (Erythroxylum coca), daun
koka, kokain mentah, kokain, tanaman ganja, Heroin, THC
dll.
21
2. Narkotika Golongan II
Berkhasiat untuk pengobatan tetapi digunakan sebagai
pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau
untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Contoh : Morfin, Opium, Petidin, Ekgonin, Hidromorfinol
dll.
3. Narkotika Golongan III
Berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam
terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan.
Contoh : Kodein, Dihidrokodein, Etilmorfin, Doveri dll.
Kodein dan Doveri biasa digunakan untuk obat batuk yang
parah.
Dari penggolongan obat diatas kita hanya dapat membeli
obat dengan tujuan untuk pengobatan sendiri (self-medication) dari
golongan obat bebas, obat bebas terbatas serta obat wajib apotek
(OWA). Untuk memperoleh obat-obatan tersebut sebaiknya
membeli di Toko Obat Berizin atau Apotek, dikarenakan di sarana
tersebut mutu obat lebih terjaga (karena penyimpanan yang tepat,
pemeriksaan masa kadaluarsa yang rutin) serta terhindar dari obat-
obat palsu yang beredar. Adanya Tenaga Teknis Kefarmasian di
Toko Obat atau Apoteker di Apotek dapat kita mintai saran dan
informasi mengenai penggunaan dan keamanan obat yang akan
kita digunakan. Namun perlu diingat bahwa masa pengobatan
sendiri adalah 3 hari, jika selama 3 hari tidak sembuh maka harus
berobat ke dokter.
22
Jika kita tidak paham dengan obat yang diterima, kita wajib
mengetahui/bertanya kepada dokter / apoteker mengenai aturan
pakai, dosis, serta efek samping yang mungkin terjadi.
b. Obat Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun
sintesis bukan narkotika yang berkhasita psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan saraf pusat tyang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. (UU RI No.
5 Tahun 1997 tentang Psikotropika). Obat ini merupakan obat
yang digunakan untuk masalah gangguan kejiwaan/mental yang
biasanya disebut dengan obat penenang dan antidepresan.
Penggunaan obat ini dapat menyebabkan haliusinasi, depresi,
stimulasi (tidak mengantuk, tidak lapar), dan gangguan fungsi
motorik/otot (kepala bergerak naik turun/geleng-geleng).
Psikotropika termasuk dalam Obat Keras Tertentu
(OKT) yang logonya sama dengan obat keras yaitu lingkaran
berwarna MERAH dengan garis tepi berwarna hitam dan
terdapat huruf K (warna hitam) berada ditengah lingkaran dan
menyentuh pada garis tepi pada kemasannya sehingga untuk
mendapatkannya harus dengan resep dokter.
Dikarenakan obat golongan ini dapat menimbulkan
ketergantungan / kecanduan, pemerintah melakukan
pengawasan dengan ketat (regulasi dan sanksi hukum) supaya
tidak terjadi penyalahgunaan obat. Psikotropika digolongkan
menjadi 4 (empat) golongan berdasarkan potensi efek
ketergantungan :
1. Psikotropika Golongan I
Hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak
digunakan untuk terapi kesehatan/pengobatan karena dapat
23
menyebabkan potensi sindrom ketergantungan yang sangat
kuat. Contoh : DMA, MDMA, Meskalin dll
2. Psikotropika Golongan II
Digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berkhasiat
untuk pengobatan/terapi dan dapat menyebabkan potensi
ketergantungan yang kuat. Contoh : Amfetamin,
Metakualon, Sekobarbital dll
3. Psikotropika Golongan III
Digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berkhasiat
untuk pengobatan/terapi dan mempunyai potensi sedang
mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Contoh : Amobarbital, Flunitrazepam, Pentobarbital dll
4. Psikotropika Golongan IV
Digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berkhasiat
untuk pengobatan/terapi dan mempunyai potensi ringan
mengakibatkan sindrom ketergantungan. Psikotropika
golongan IV inilah yang banyak digunakan untuk
terapi/pengobatan dikarenakan efek ketergantungan yang
dihasilkan ringan.
Contoh : Diazepam, Lorazepam, Nitrazepam, Alprazolam,
Klordiazepoksid, Triazolam dll.
Penyerahan obat narkotika dapat dilakukan oleh Apotek,
Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik berdasarkan resep dokter
kepada pasien/pengguna langsung.
24
BAB IV
PEMBAHASAN MASALAH
A. Tinjauan Mengenai Apotek
1. Struktur organisasi
PSA
Apt. Muhammad Arif M, S.Farm
APA APING
Apt. Subhan Rosyad Abidi, S.Farm Apt. Rhinza Bagus P. S.farm
Tenaga Teknik Kefarmasian
1. Triya Choirin Nisa, A.md. Farm
2. Ari Purwaningsih, A.md. Farm
Administrasi
1. Yulia Kustini
2. Yuninda Maya R.
3. Devy Ayu
25
2. Lokasi dan denah apotek
3. Perlengkapan Apotek
a. Alat pembuatan, pengolahan dan peracikan obat seperti mortar dan
stemper.
b. Perlengkapan dan pembekalam Farmasi seperti: botol, lemari atau rak
penyimpanan obat dan lemari pendingin.
c. Wadah pengemas atau pembungkus antara lain: etiket, wadah
pengemas dan pembungkus dengan jenis ukuran yang sesuai dengan
kebutuhan.
d. Alat administrasi seperti: blanko pesanan obat, kartu stok obat, Salinan
obat, kwitansi, blanko faktur dan nota penjualan, buku pembelian,
buku penjualan, buku pengeluaran, dan pemasukan Apotek.
e. Buku standar yang ada seperti: ISO, MIMS, F.I, IONI, Buku
perundang-Undangan Apotek dan kamus Kedokteran.
B. Kegiatan Siswa Di Apotek
4.1 Kegiatan Manajerial
1.4.1 Perencanaan dan pengadaan obat
1) Perencanaan
Perencanaan merupakan dasar tindakan manajer untuk
dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dalam
26
perencanaan pengadaan sedian Farmasi seperti obat-obatan dan
alat kesehatan yang dilakukan adalah pengumpulan data obat-
obatan yang akan ditulis dibuku defekta. Sebelumperencanaan
ditetapkan, umumnya didahulukan oleh prediksi atau ramalan
tentang peristiwa yang akan datang.
Sesuai dengan peraturan Menkes No. 1027 tahun 2004,
dalam membuat perencanaan pengadaan sedian farmasi perlu
memperhatikan:
a. Pola Peresapan.
b. Pola penyakit.
c. Tingkat perekonomian masyarakat.
d. Budaya masyarakat.
e. Ketersediaan barangg atau perbekalan Farmasi
2) Pengadaan
Pengadaan biasannya dilakukan berdasarkan perencanaan
yang telah dibuat dan disesuaikan dengan anggaran keungan
yang ada. Pengadaan barang meliputi: pemesanan, cara
pemesanan, mengatasi kekosongan dan pembayaran.
a. Pemesanan barang atau order dilakukan oleh Asisten Apoteker
berdasarkan cacatan yang ada dalam buku habis berisi catatan.
Barang- barang yang hampir habis atau yang sudah habis di
Apotek. Sebelum dilakukan order, obat yang tertulis dalam
buku dicocokan dengan buku defecta.
b. Cara pemesanan obat dilakukan dengan menuliskan surat
pesanan (SP). Selain narkotika dan psikotropika meliputi
tanggal, nomor pesanan, kode supplie, nama barang, satuan
barang dan jumlah barang. SP akan diambil selesmen dari
masing-masing PBF, apabila selesmen PBF tidak datang order
bisa dilakukan melalui telepon ( untuk selain narkotika dan
psikotropika).
27
c. Mengatasi pemesanan obat akibat waktu antara pemesanan
dan kedatangan baarang yang lama.
d. Pembayran dapat dilakukan dengan cara COD ( Cast On
Delivery) atau kredit.
4.2 Kegiatan Pelayanan Kefarmasian
1.4.1 Pelayanan non resep
Penjualan meliputi obat bebas atau obat bebas terbatas, kosmetik,
alat kesehatan, serta barang yang lain yang dapat dijjual tanpa resep
Dokter.
Misalnya: jamu dan fitofarmaka.
Kriteria oabat yang dapat diberikan tanpa resep Dokter sesuai
permenkes No. 919/ Menkes/Per/X/1993 adalah sebagai berikut:
1) Tidak dikoordinasikan pada wanita hamil atau anak-anak dibawah
usia 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun.
2) Penggunaanya tidak menggunakan cara dan alat khusus yang
harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
3) Pengobatan sendiri dengan obat yang dimaksudkan tidak
memberikan resiko pada kelanjtan penyakit.
4) Penggunaannya dapat dilakukan dengan mudah untuk pasien.
5) Obat yang dimaksud memiliki rasio keamanan yang dapat
dipertanggung jawabkan untuk pengobatan sendiri.
6) Penggunaanya diperlakukan untuk penyakit yang prevalensinya
tinggi di Indonesia.
1.4.2 Pelayanan resep
Penjualan obat dengan resep dokter pada umumnya penjualan
terpenting atau tunai. Penjualan secara tunai untuk pembelian umum,
pembeli membayar langsung harga obat yang dibelinya.
28
1.4.3 Pelayanan KIE
Dimana kita sebagai ahli Farmasi mampu memberikan konseling
mengenai obat dengan benar dan tepat yang diberikan kepada pasien
atau pembeli, adapun konseling yang diberikan:
1. Kegunaan atau indikasi suatu obat.
2. Cara penggunaan atau aturan pakai.
3. Efek samping obat.
4. Kontra indikasi.
5. Interaksi obat sesuai kebutuhan pasien.
6. Pola hidup.
7. Kepatuhan pasien.
Setelah konseling dilakukan, maka obat dapat diserahkan kepada pasien
atau pelanggan yang membeli obat di Apotek.
29