Penulis : Fadillah Om, S. Ag Pen. jawab naskah : Fadillah Om, S. Ag Editor : Junaidi S.Pd Dt.Muncak Drs. Hamdan M.M Dt. Paduko Lelo Raja Putra Samad Layout/Design Cover : Yudi Saputra S.I.Kom Diterbitkan oleh CV.USAHA PUTRA RIAU Jl.Delima Ruko 1 Komplek Villa Taman Raya Raudhah Kelurahan Tobek Godang Kecamatan Binawidya, Pekanbaru, Riau Anggota IKAPI : 004/RAU/00 Cetakan Pertama : 2024 UNDANG – UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA PASAL 72 KETENTUAN PIDANA SANKSI PELANGGARAN 1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu Ciptaan atau memberikan izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan, dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau penjara pidana paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barang siapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
i Kata Pengantar Pada awal kata penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah swt, dimana dengan petunjuk dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan penulisan buku ini yang mungkin akan dapat bermanfaat bagi yang membacanya, terutama bagi semua generasi Kabupaten Kuantan Singingi dan bagi perantaunya yang sudah lama pergi merantau atau lama meninggalkan kampung halaman demi keluarga bangsa dan negara yang tercinta, sehingga tidak memahami dan mengetahui tentang masyarakat adat negerinya sendiri secara mendalam. Mungkin hal ini sudah biasa, dikarenakan mereka jarang mengikuti kegiatan yang dilakukan dalam masyarakat adat. Akan tetapi sangat ironis sekali, jika ia menatap dan berada dikampungnya dalam masyarakat adatnya dimana ia dilahirkan, ia berusaha sehari-hari tetapi tidak memahami apa itu masyarakat adat, apa itu sopan santun dan budaya yang terkandung dalam pesan-pesan adat istiadat dan budaya masyarakat adat tentu menjadi suatu tanda tanya bagi kita, kenapa bisa terjadi seperti itu ?. Tentu yang bisa menjawabnya para ninik mamak dan orang tua-tua masyarakat adat itu dalam desa itu sendiri. Melalui pengamatan dan analisa penulis sebelum menulis buku ini, banyak hal yang terjadi dan tidak sesuai lagi dengan adat istiadat itu sendiri dan pelaksanaannya hanya seremonial belaka, bahkan hanya sebagai tandanya saja lagi bahwa adat itu masih ada di masyarakat Kuantan Singingi, akan tetapi yang hakikatnya tidak ada, hal ini karena antara kelompok muda dengan kelompok tua atau orang-orang patut negeri, kurang berkomunikasi, kurang bersejarah kepada kelompok muda tentang adat budaya, tentang siapa kelompok keluarganya, siapa orang tuanya, bahkan mereka sama sekali tidak mengetahui silsilah keluarga kecilnya dan keluarga besarnya baik dari pihak ibu maupun bapaknya. Agar hal ini ke depan tidak terjadi lagi, kami sebagai penulis
ii buku ini, berharap kepada ninik mamak, orang-orang tua, ibu dan bapak berceritalah kepada anak, kemenakan, cucu. Apabila orang-orang tua bertemu dengan sekelompok anak-anak dan cucu kita siapa saja, sapa da ajaklah mereka berkomunikasi, tanyakan siapa mereka, siapa ayah, ibu dan siapa nenek dan datuknya. Ceritakan perihal hubungan keluarga, hubungan perteman dan lain sebagainya kepada mereka. Pendekatan secara personal melalui kekeluargaan dan pertemanan akan lebih bermanfaat daripada langsung menasehati mereka secara pribadi, sebab jika kita memberikan nasehat tanpa pendekatan secara personal akan membuat mereka merasa tidak senang, bahkan bisa saja mereka berkata hal-hal yang kurang baik dan menyenangkan kepada kita. Akhirnya marilah kita bersama-sama memelihara adat yang bersendikan syara’ dan syara’ bersendi kitabullah di Rantau Kuantan ini, semoga menjadi negeri yang aman damai, thayyibatun warabbun ghafur dan selalu diberkahi Allah Swt Amin. Pekanbaru 17 Ramadhan 1445 H 28 Maret 2024 H Penulis
iii Sekapur Sirih Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada penulis yang telah dapat menyelesaikan penulisan buku tentang Masyarakat Adat Kuantan Singingi, dimana menurut kami buku ini dapat memberikan pengajaran dan pemahaman tentang adat-istiadat Kabupaten Kuantan Singingi yang tak lapuk karena hujan dan tak lekang oleh panas, sehingga adat dan budaya masyarakat Kuantan Singingi tetap konsisten dalam menyusun masyarakatnya walaupun dilanda oleh bermacam kemajuan teknologi yang mau tak akan mempengaruhi kehidupan masyarakat itu sendiri, akan tetapi dengan adanya adat budaya, adat istiadat yang telah dilaksanakan secara turun temurun sejak dahulu kala akan tetap hidup dan disenangi oleh para generasi muda khususnya dan Masyarakat Adat Kuantan Singingi pada Umumnya. Setelah kami membaca, mengamati dan mempelajari buku ini sangat layak dan dapat dipergunakan sebagai sumber dan rujukan untuk menjadi tuntunan dan pedoman dalam menerapkan dan menegakan adat istiadat masyarakat Kuantan Singingi yang sangat banyak mendapat hambatan terutama budaya yang datang dari luar dan tidak sesuai dengan adat dan budaya masyarakat adat Kuantan Singingi. Etika dan budi pekerti merupakan cerminan pada diri seseorang yang beradat, etika dan budi pekerti jauh lebih tinggi dari ilmu dan hukum, maka dari itu setiap diri harus menjunjung dan mengamalkan etika dan budi pekerti, justru itu dalam hal ini kami berharap kepada ninik mamak, alim ulama, dan generasi muda masyarakat Kuantan Singingi agar membaca dan memahami isi buku ini, agar apa yang dikatakan “ Adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah” itu tidak keluar dari itu, maka salah satu untuk memahaminya memperdalamnya dengan membaca buku Masyarakat Adat Kuantan Singingi ini. Akhirnya marilah kita bersama-sama berserah diri kepada Allah Swt , semoga masyarakat adat Kuantan Singingi terus hidup rukun damai,
iv sejahtera lahir dan batin, sehingga tercipta masyarakat yang pandai bersyukur dan segala usaha diridhai-Nya. Amin . Teluk Kuantan, 12 Syawal 2445 H 22 Apr4il 2024 M Datu Muncak Suku Melayu Jurai Penghulu Junaidi S.Pd Datuk Muncak
v Setampuk Pinang Puji Syukur kita ucapkan kehadirat Allah Swt, yang telah melimpahkan rahmat, nikmat dan karunianya kepada kita semua, terutama kepada penulis dan penerbit buku yang berjudul “ Masyarakat Adat Kuantan Singingi“ yang merupakan suatu kemajuan prestasi yang baik bagi masyarakat Kuantan Singingi di bidang kebudayaan, dimana selama ini mungkin kita hanya dapat menemui buku tentang Budaya Melayu yang hanya dirangkum secara umum saja. Akan tetapi pada buku ini tersusun rapi semua adat istiadat dan budaya masyarakat Kuantan Singingi secara sistematis dan mudah untuk dipahami. Selanjutnya Lembaga Adat Nagori Kuantan Singingi menyambut dengan baik dan senang hati, karena buku ini ke depan dapat memberikan edukasi dan pemahaman tentang adat budaya masyarakat Kuantan Singingi, sehingga semua masyarakat adat Kuantan Singingi dapat mempergunakan sebagai pedoman acuan tentang adat istiadat masyarakat dan jika seandainya terdapat penyimpangan pada pelaksanaan adat istiadat tentang adat bersendikan syara’ dan syara bersendikan kitabullah dapat diluruskan kembali sesuai dengan tujuan semula, terutama dalam pemanfaatan harta pusaka rendah dan pusaka tinggi dalam masyarakat adat Kuantan Singingi sebagaimana kata pepatah ” jika tersesat di ujung jalan maka kembali ke pangkal jalan”. Masuknya budaya asing merupakan suatu gangguan dan ancaman pada budaya lokal, terutama budaya yang masuk tersebut tidak sesuai dengan syariat Islam, maka dengan diterbitkannya buku “Hamparan Budaya Masyarakat Adat Kuantan Singingi” ini dapat memberikan suatu pedoman dan pemahaman kepada masyarakat adat sebagai salah satu pencegah agar yang bengkok lurus kembali yang salah dibetulkan, sehingga generasi masyarakat adat tersebut tidak keluar dari adat dan budayanya sendiri.
vi Akhirnya kami atas nama masyarakat adat Kuantan Singingi mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak penulis dan penerbit, semoga segala niat baik dan usaha kita mendapat Ridha Allah Swt. Amiin Teluk Kuantan, 12 Syawal 2445 H 22 April 2024 M Lembaga Adat Nagori Kuantan Singingi ____________________________
vii Kata Sambutan Bupati Kuantan Singingi Puji Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Swt, dimana pada kesempatan ini kami telah diminta untuk memberikan kata sambutan pada buku yang berjudul Hamparan Budaya Masyarakat Adat Kuantan Singingi dan menyambut dengan senang hati, dimana sudah sekian lama secara turun temurun dari beberapa generasi barulah pada saat ini diterbitkan sebuah buku tentang adat istiadat, hukum adat, budaya dan segala yang berhubungan dengan hukum adat masyarakat Kuantan Singingi. Menurut kami buku ini sangat bagus dan patut diacungkan jempol dan pantas dihargai sebagai suatu karya tulis yang sangat berharga terutama bagi masyarakat Kuantan Singingi untuk memahami dan melestarikan budaya masyarakat Kuantan Singingi. Banyak aspek dan rincian yang harus dipahami dan dipelajari oleh para generasi muda tentang adat dan budaya dan yang harus dipertahankan, sehingga adat dan budaya tersebut tetap ada dan lestari, masyarakatnya harus tetap menjaganya, memahami serta mengamalkannya, sehingga menjadikan masyarakat yang beradat, berbudi luhur, berakhlak baik dan saling menghargai sesama. Sebagaimana telah kami sebutkan di atas, pemahaman dan pelestarian adat istiadat dan budaya, suatu hal yang harus dilaksanakan dan dilakukan oleh semua pribadi, unsur masyarakat Kuantan Singingi selalu memegang teguh adat istiadat dan budayanya sehingga mereka berkarakter budayanya sendiri. Akhirnya dengan mengucapkan terima kasih kepada pihak penerbit dan penulis, semoga buku ini dapat memberikan kontribusi yang baik dan berguna untuk memahami tentang adat istiadat dan budaya masyarakat adat Kabupaten Kuantan Singingi sebagai pengiring dan pedoman masa
viii depan masyarakat adat Kuantan Singingi, semoga segala yang kita perbuat menjadi amal shaleh, amin ya rabbal alamin. Teluk Kuantan 20 Syawal 1445 H 30 April 2024 H DR. Drs. Suhardiman. Amby. Ak.M.M Datuk Panglimo Dalam
Daftar Isi Kata Pengantar ...............................................................................................i Sekapur Sirih ........................................................................................................iii Setampuk Pinang Lembaga Adat Nagori ..................................................... v Kata Sambutan Bupati Kuantan Singingi ................................................... vii Daftar Isi BAB I Pendahuluan ............................................................................................1 BAB II Adat...........................................................................................................9 A. Terbentuknya Struktur Adat .........................................................9 1. Berdirinya Kerajaan Kuantan ....................................................9 2. Struktur Pemerintahan Adat ..................................................11 B. Konsep Adat ...................................................................................14 1. Adat Yang Sebenarnya .............................................................14 2. Adat Yang Diadatkan ................................................................15 3. Adat Yang Teradat ....................................................................15 4. Adat Istiadat ................................................................................16 C. Hukum Adat Sebagai Aspek Kebudayaan ...............................17 1. Kebudayaan Masyarakat Adat ...............................................17 2. Hukum Adat ...............................................................................19 3. Sumber Hukum Adat ................................................................19 D. Masyarakat Adat ............................................................................22 1. Lembaga Adat .............................................................................23 2. Penggantian Lembaga Adat ....................................................26 E. Sistim Nilai Dalam Masyarakat Adat ..........................................27 1. Sistim Nilai Yang Diberikan Agama .......................................27 2. Sistim Nilai Yang Diberikan Adat ...........................................28 3. Sistim Nilai Yang Diberikan Tradisi .......................................29
BAB III Kekerabatan Masyarakat Adat .......................................................31 A. Sistim Kekerabatan ........................................................................31 1. Kekerabatan Patrilenial (Ke-bapak-an) ................................31 2. Kekerabatan Matrilenial (Ke-ibu-an) ...................................32 3. Kekerabatan Persukuan ...........................................................33 4. Kekerabatan Bagito/Masuak Kampung ..............................34 5. Kekerabatan Urang Samando .................................................35 B. Hak Dan Kedaulatan Masyarakat Adat ....................................36 1. Kedaulatan Lembaga Adat.......................................................36 2. Kewajiban Lembaga Adat ........................................................37 3. Hak Masyarakat Adat................................................................38 BAB IV Kearifan Lembaga Adat Terhadap Lingkungan Hidup ............41 A. Rimba Simpanan/Larangan .........................................................42 B. Tanah Kebun Dan Peladangan ....................................................43 C. Rimba Kepungan Sialang .............................................................44 D. Tanah Pekarangan .........................................................................45 BAB V Harta Pusaka Masyarakat Adat ......................................................49 A. Sistim kekerabatan Dalam Harta Pusaka .................................49 1. Kekerabatan Ke-bapak-an.....................................................49 2. Kekerabatan Ke-ibu-an .........................................................49 3. Pertalian Perkawinan .............................................................50 B. Pembagian Harta Masyarakat Adat ...........................................51 1. Harta Pusako Rondah ............................................................52 2. Harta Pusako Tinggi ...............................................................55 3. Bentuk Harta Pusako .............................................................56 4. Ulayat masyarakat Adat.........................................................60 BAB VI Adat Dan Tradisi Masyarakat Adat ..............................................65 A. Adat Dan Tradisi Kelahiran ..........................................................65
1. Masa Bayi ....................................................................................66 2. Massa Kanak-Kanak ................................................................67 3. Masa Remaja ...............................................................................67 B. Adat Dan Tradisi Nikah Kawin ....................................................68 1. Merisik...........................................................................................69 2. Melamar .......................................................................................69 3. Antar Tanda dan Hantaran.......................................................71 4. Akad Nikah, Ijab Qabul..............................................................75 5. Hari Langsung, Bersanding, Walimah....................................77 6. Nikah/Kawin Baso ....................................................................79 C. Adat Tradisi Kematian ...................................................................80 D. Tradisi Masyarakat Adat ...............................................................82 1. Tradisi Doa Padang/Olek-Olek Padang ..............................82 2. Tradisi Pacu Jalur .......................................................................84 3. Tradisi Pencak Silat....................................................................86 4. Tradisi Baghandung ..................................................................88 5. Tradisi Maarak Anak Pancar ...................................................89 BAB VII Ragam Seni Budaya Dan Peninggalan Sejarah..........................91 A. Seni Budaya .....................................................................................91 1. Seni Pertunjukan .......................................................................91 2. Salung ...........................................................................................92 3. Kayat .............................................................................................92 4. Rabab ............................................................................................92 5. Seni Lukis, Pahat.........................................................................92 B. Permainan Rakyat ...........................................................................94 1. Main Ligu .....................................................................................94 2. Main Gasing ................................................................................95 3. Main Jalur-Jaluran .....................................................................96 4. Rewang-Rewang ........................................................................96 5. Galah Panjang .............................................................................97
xii 6. Main Lambuik .............................................................................97 7. Sondok-Sondoka-an .................................................................97 8. Main Rago Tinggi .......................................................................97 9. Main Serimbang .........................................................................97 C. Cerita Rakyat ...................................................................................98 1. Cerita Kak Kancil.........................................................................98 2. Rawang Takuluak........................................................................99 3. Limuno ..........................................................................................99 4. Datuk Lintah Jalang.................................................................100 5. Syekh Ahmad Bunda ..............................................................100 D. Peninggalan Sejarah ...................................................................100 1. Tugu Gajah Putih.....................................................................100 2. Tugu Kemerdekaan Republik Indonesia............................101 3. Tugu Elang Pulai.......................................................................101 4. Tugu Tembak............................................................................101 5. Tugu Darurat Pemerintah Indragiri.....................................102 6. Tugu Perjuangan .....................................................................102 7. Tugu Olang Pulai ....................................................................103 8. MasjidJami’ Dan Mimbar Masjid Koto Pangean .............103 E. Peninggalan Berupa Tak Benda ...............................................104 1. Silat Pangean ............................................................................104 2. Kayat/Dikir ...............................................................................104 3. Burdah/Baruda ........................................................................104 4. Pantun .......................................................................................104 5. Sembah Nasi ............................................................................104 6. Syair ............................................................................................105 7. Menandong ..............................................................................105 8. Bahasa ........................................................................................105 BAB VIII Ragam Makanan Dan Peralatan Tradisi .................................109 A. Makanan Pokok ...........................................................................109
xiii 1. Lauk Pauk ..................................................................................109 2. Penganan ..................................................................................110 3. Minuman ...................................................................................111 B. Perkakas Dan Peralatan .............................................................111 1. Peralatan Dapur ......................................................................111 2. Peralatan Pertukangan ..........................................................113 3. Peralatan Pertanian ................................................................114 4. Peralatan Tempat Hasil Pertanian.......................................114 5. Peralatan Alat Berburu...........................................................115 BAB IX Penutup .............................................................................................119 Kesimpulan .........................................................................................126 Daftar Bacaan ....................................................................................129 Riwayat Hidup Penulis .....................................................................131
xiv
1 BAB I Pendahuluan Masyarakat Kuansing adalah masyarakat adat yang tersusun dari bingkai adat yang telah ada sejak dahulu secara turun temurun dari masa ke masa sampai pada saat ini. Generasi yang berada dalam masyarakat itu harus memahami dan memeliharanya sehingga apa yang dikatakan dengan adat itu akan tetap ada dan terpelihara serta tidak tanggal dari akarnya. Setiap generasi harus diberikan edukasi dan pemahaman sehingga memahami tentang kehidupan dalam masyarakat adat itu. Generasi yang baik adalah generasi yang berintegritas serta mempunyai jati diri dari adat istiadatnya sendiri dan bukan mencontoh atau mengambil dari adat istiadat orang lain. Generasi muda yang mempunyai jati diri dari budayanya sendiri akan membentuk masyarakat yang damai, kuat dan bertanggung jawab kepada orangtua masyarakat nusa bangsa dan agamanya. Agar mereka memahami tentang masyarakat adat yang ada harus ada sumber dan acuan yang harus diikuti, sehingga apa yang dikatakan dengan adat itu murni adat istiadat masyarakatnya, akan tetapi tidak juga tertutup kemungkinan ada budaya luar yang masuk yang dapat diterima, tentu dengan ketentuan yang berlaku sesuai dengan petatah-petitih adat yaitu, masyarakat adat itu ramah dan menerima siapa saja, asal yang datang itu dengan maksud dan tujuan yang baik dan tidak bertentangan dengan nilai dan adat istiadat yang telah ada pada masyarakat selamanya, Masyarakat Kuantan Singingi adalah masyarakat yang suka merantau yaitu meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di negeri orang, mereka sebagian ada beristrikan/suami orang Kuantan Singingi dan ada juga orang di luar Kabupaten Kuantan Singingi, sehingga mereka telah lama hidup di rantau itu secara turun temurun,
2 akibatnya sebagian dari mereka telah lupa dan tidak memahami lagi tentang adat istiadat kampung halaman dan daerahnya sendiri, dalam hal ini bagaimanapun juga dan dimanapun mereka berada, mereka harus mengetahui, memahami dan mengenal adat istiadat leluhurnya. Bahkan jangankan anak kemenakan yang dirantau, mereka yang menetap di kampung pun banyak yang kurang paham dan mengerti tentang adat istiadat masyarakat adatnya. Ke depan hal ini jangan lagi terjadi, semua warga masyarakat Kuantan Singingi harus tahu dan mempunyai panduan dan pedoman tentang adat dan budaya kampung halamannya, mereka harus paham dan mengerti tentang adat istiadat kampung halamannya, sehingga mereka mengetahui posisi dan tempatnya dalam masyarakat adat negerinya. Jika mereka telah memahami serta menelusuri kesukuannya melalui kelompok, keluarga dan sebagainya jika ada yang kabur akan menjadi jelas dan timbul kembali sehingga ia akan terus berkontribusi pada persatuan dan kampung halamannya serta masyarakat adatnya.. Adat istiadat serta tradisi yang ada dalam masyarakat Kuantan Singingi adalah bersumber dari ajaran agama Islam berpegang kepada petuah yang berbunyi “ Adat bersendikan syara’, syara’ bersendi kitabullah, maka dalam hal ini semua adat istiadat dan tradisi tidak boleh keluar dari ajaran Islam, dalam hal ini jika ditelusuri dan perhatikan semuanya sesuai dengan ajaran Islam. Hanya saja mungkin pada saat ini ada yang keluar dari ketentuan adat itu sendiri seperti pengelolaan dan pembagian harta pusako rondah dan pusako tinggi, pengelolaan tanah ulayat yang merupakan sumber kehidupan masyarakat adat, bahkan sudah ada dikuasai oleh orang-orang diluar masyarakat adat. Pada umumnya masyarakat adat Kuantan Singingi masih
3 memegang teguh adat dan budaya yang ada sejak nenek moyangnya, akan tetapi mungkin sebagiannya tidak lagi memahami secara mendalam tentang adat itu sendiri, apa yang dikatakan pepatah adat “anak dipangku kemanakan dibimbing, sudah sulit untuk dilaksanakan, ini dikarenakan karena pemahaman dari dan oleh keponakan itu sendiri, ia menganggap mamak/paman tidak lagi berfungsi pada kemenakan. Sehingga adat dan tradisi menjelang mamak/paman pada hari baik bulan baik dan hari raya tidak lagi menjadi kewajiban bagi kemenakan terhadap mamak/paman. Karena kemenakan tidak lagi meletakan paman orang yang dihormati dalam keluarga besarnya. Hal ini terjadi disebabkan oleh para orang tua, para datuk, ninik-mamak, kurang memberikan pemaparan dan bersejarah tentang kekerabatan, hubungan keluarga persukuan kepada anak cucu dan kemenakan, hubungan timbal balik, sehingga para generasi muda sebagai penerus masyarakat adat tidak mampu lagi meletakan dan meneruskan sendi-sendi adat tersebut kepada anak-cucu dan kemenakan, fungsi dari para datuk, ninik mamak dirasakan sudah tidak diperlukan lagi oleh mereka, untuk diketahui mereka itu hidup dan tinggal pada warisan nenek moyang berupa pusako tinggi yang mereka sendiri tidak mengetahui asal muasal harta tersebut,siapa pemilik, ahli warisnya yang sebenar. Bahkan ada yang berbuat dan berani memperjual belikan harta pusako tinggi, terlaknat ,tercela dan terkutuk orang adat yang memperjual belikan harta pusako tinggi, karena harta itu bukan milik mereka, tetapi milik bersama asas manfaat untuk kepentingan keluarga ke-ibu-an bukan dipakai ahli waris pada kedudukan sebagai pusako rondah. Ada beberapa hal yang harus dilaksanakan untuk memelihara adat istiadat itu yaitu:
4 1. Mengembalikan adat tradisi yang mungkin sudah kurang diminati atau menarik dan sudah terlupakan seperti bergotong royong, batobo, saling mengunjungi pada hari baik, bulan baik, dengan hidupnya kembali tradisi tersebut di kalangan masyarakat adat Kuantan Singingi tentu akan memberikan kontribusi rasa kebersamaan dan persaudaraan yang tinggi kepada kehidupan generasi muda kedepan sebagai anggota masyarakat adat dan terutama dalam membentuk karakter daerah yang mungkin tidak ada pada daerah lain. Apabila dalam masyarakat terdapat kebersamaan dalam kehidupan yang tepo selero, tentu akan tercipta masyarakat yang harmonis, rasa aman dan saling menghormati dan jauh dari sifat iri dengki dan khianat dan akan dapat mensukseskan segala program pemerintah yang pada akhirnya hasilnya akan dirasakan oleh rakyat itu sendiri. 2. Memberi tahu tentang fungsi induak bako dan anak pancar, sehingga kedudukan mamak dan anak mamak menjadi terhormat bagi induak bako, sebab dalam pembagian harta pusoko rondah dalam masyarakat adat Kuantan Singingi jarang dibagi secara hukum faraid, akan tetapi dimusyawarahkan dalam keluarga besar untuk dijadikan harta pusako tinggi. sehingga pemilikan hak milik berpindah kepada yang bukan pewaris hak milik kepada saudara perempuan, tetapi menjadi hak pakai azaz manfaat persukuan yaitu pada saudara perempuan pihak ayah. 3. Menjaga dan memelihara hubungan silaturrahim dalam masyarakat adat dikarenakan adanya rasa keterkaitan satu sama lain, seperti kemenakan atau mansanak perempuan menjelang mamak atau masanak laki-laki, karena harta yang dipakai oleh saudara perempuan secara hakiki hak milik laki-laki menurut hukum syara’ (agama Islam) 4. Meluruskan antara hukum adat dan hukum syara’ dalam hal pembagian harta pusaka rondah dan pusako tinggi. Sebab jika hal ini terjadi berlarut-larut, maka ke depan terjadi jual beli harta pusako
5 tinggi, karena mereka beranggapan harta yang dibagikan kepadanya menjadi hak miliknya, akan tetapi tidak sama sekali karena ia hanya mempunyai hak manfaat saja pada harta pusako tinggi tersebut. 5. Dalam hal untuk mengangkat batang terendam berupa adat dan budaya yang terlupakan tersebut, seluruh masyarakat harus mendukung, dilaksanakan secara utuh tanpa ada sanggahan sedikitpun dari pihak mana saja sehingga apa yang diprogramkan oleh para datuak-datuak, ninik mamak dan Pemerintah Kuantan Singingi akan timbul dan terlaksana secara utuh sesuai dengan adat tradisi yang berlaku sejak nenek moyang Kuantan Singingi dan akan membuat masyarakat Kuantan Singingi masyarakat yang beradat dan harmonis baik dalam keluarga kecil maupun keluarga besar. 6. Tetap memberlakukan pergantian pemangku adat dengan sistem penggantian pemangku adat. Pemangku adat itu diganti bukan ditukar. Sebab dengan diganti terbuka peluang yang mengganti akan lebih baik dari yang digantikan. Sistem penggantian dengan ditunjuk yaitu menempat orang yang tepat menurut alur dan kepatutan, karena dalam mengisi kekosongan lembaga adat sudah ada sistemnya tersendiri yaitu Lembaga Adat Kenegerian ditentukan dalam persukuan menurut alur ke-ibu-an, Lembaga Adat Kecamatan diisi oleh pemangku adat kenegerian dari seluruh kenegerian dan Lembaga Adat Kabupaten diisi oleh pemangku adat dari kenegerian se kabupaten, sehingga Lembaga Adat yang ada telah mewakili masing-masing persukuan, kenegerian dan kecamatan. Mengembalikan keberadaan hak masyarakat adat yang terabaikan dan dipergunakan di luar ketentuan masyarakat adat, seperti pengelolaan tanah ulayat, tanah pugaan/bekas yang tidak terurus oleh masyarakat dikarenakan masa pertukaran musim tanam, umpama dari ladang padi ke tanaman keras, seperti karet, cengkeh dan lain-lain.
6 Adapun tujuan dari pengembalian segala hak masyarakat adat adalah agar masyarakat adat tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga kehidupannya menjadi terlindungi secara adat dan terjamin di segi ekonomi, karena sejak dikuasainya hak kekayaan masyarakat adat oleh para pebisnis banyak dalam masyarakat terjadinya ketimpangan ekonomi, tentu hal ini tidak dikehendaki oleh pemangku adat. Jika penguasaan hak masyarakat adat berada pada masyarakat itu sendiri, tentu akan menjadikan ekonomi masyarakat adat menjadi lebih baik dan terjamin dan akan merubah tatanan hidup dalam masyarakat ke arah yang lebih maju dan otomatis akan menjauhkan kejahatan dalam kehidupan masyarakat, karena segala kebutuhan kehidupannya telah terpenuhi dan akan tercipta tata sosial dan tata kekerabatan yang penuh dengan keharmonisan, akan tetapi dengan hilang kepemilikan hak adat dalam masyarakat tentu akan menimbulkan kehidupan individu antar pribadi, keluarga dan kelompok, maka sendirinya timbul hidup hanya mementingkan diri sendiri dan rasa sosial akan menipis dan bisa jadi akan hilang, dikarenakan kehidupan telah menjadi hidup yang materi dan kepentingan diri sendiri. Apabila masyarakat adat telah dapat mengambil kembali hak adat. Maka pemangku adat lah yang akan mengatur lintas pemanfaatannya kepada anak kemenakan secara adil dan tepat guna, sehingga manfaat dapat dirasakan oleh masyarakat terutama yang kehidupannya kurang jika dinilai dari segi materi.
7 Tunjuk Ajar Mellayu Kalau hidup hendak selamat Peljharalah sungai berikan banyak Peliharalah tanah berhutan lebat Dis itulah terkandung rezki dan Rahmat Di situlah terkandung tamsil ibarat Di situlah terkandung aneka nikmat Itu tanda negeri beradat Adat bersendikan syara’ Syara’ bersendi kitabullah Adat adalah syara’ semata Adat semata qur’an dan sunah Apa tanda Melayu beradat Hidup di dalam musyawarah mufakat Apa tanda Melayu bradat Hidup rukun dalam sepakat Karena tak jujur aib bertabur Karena tak jujur hilanglah mujur Karena tak jujur badan terkubur Karena tak jujur anak bini terkubur
8 Text Foto: Balai Adat Masyarakat Adat kenegerian Simandolah Kuantan Singingi Sumber: Pemkab Kuansing
9 BAB II Adat Kuantan Singingi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Riau yang dilalui oleh Batang Kuantan, dengan penduduknya mayoritas beragama Islam dan taat menjalankan syariat Islam dan masyarakatnya adalah masyarakat adat yang sangat teguh memegang adat istiadat, budaya serta tradisi yang ada dalam masyarakat Kuantan Singingi. Adapun batas-batas kabupaten Kuantan Singingi sebagai berikut: • Sebelah Utara berbatas dengan Kabupaten Kampar dan Pelalawan • Sebelah Selatan Berbatas Kabupaten Dharmasraya ( Sumatera Barat) • Sebelah Barat berbatas dengan kabupaten Sijunjung (Sumatera Barat) • Sebelah Timur Berbatas dengan Kabupaten Indragiri Hulu. Melihat kepada Sejarah perkembangan Masyarakat Adat Kuantan Singingi sudah sangat panjang dan sudah ada secara turun temurun sampai saat ini. Pada buku ini kami menjadikan perjalanan sejarah masyarakat adat Kuantan Singingi sebagai berikut: A. Terbentuknya Struktur Adat 1. Berdirinya Kerajaan Kuantan Kerajaan yang tertua di Riau adalah bernama Kerajaan Kandis, kerajaan ini berpusat di Padang Candi Kecamatan Kuantan Mudik, kemudian kerjaan ini pindah ke Sintuo di Teluk Pinang Sebatang dan namanya menjadi Kerajaan Kuantan
10 Peta Kabupaten Kuantan Singingi, pusat Kerajaan Kuantan Di Sintuo Kecamatan Kuantan Mudik Kerajaan Kuantan adalah kerajaan yang tidak mempunyai raja, akan tetapi kekuasaan berada pada pembesar kerajaan yaitu, Datuk Perpatih dan Ketemenggungan dimana masing-masing pembesar ini mempunyai daerah kekuasaan yang disebut dengan Luhak. Mereka sangat bersatu karena adat istiadatnya yang sama. Pada akhir abad ke 14 Masehi kerajaan Kuantan mendapat
11 kunjungan dari pewaris kerajaan Sriwijaya yang bernama Sang Sapurba. Karena Kerajaan Kuantan tak punya raja, maka atas kesepakatan Datuk Perpatih dan Ketemanggungan dinobatkanlah Sang Sapurba sebagai raja Kerajaan Kuantan. Untuk membangkitkan semangat Melayu Raya (Kerajaan Indragiri, Kerajaan Kuantan, Kerajaan Jambi dan Dharmasraya), maka Sang Sapurba mengajak dan menyuruh Datuk Perpatih dan Datuk Ketumanggungan mengunjungi Kerajaan Minangkabau yang masih di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Setelah berkunjung ke kerajaan Minangkabau kedua datuk ini (Perpatih dan Ketemenggungan) diangkat menjadi pembesar kerajaan Minangkabau oleh Adityawarman yang berkuasa dan mereka berdua ini sangat disegani dalam kerajaan Minangkabau. Setelah Sang Sapurba wafat ia digantikan oleh Adityawarman yang masih keturunan Dara Jingga Kerajaan Melayu Dharmasraya dan juga masih ada hubungan dekat dengan Sang Sapurba. Agar kerajaan Minangkabau menjadi besar dan maju, maka Adityawarman mengembalikan Datuk Perpatih dan Ketemenggungan kembali ke kerajaan Kuantan yang berpusat di Sintuo. Dengan kembalinya Datuk ini Perpatih dan Ketemanggungan muncul nama Rantau Nan Kurang Oso Duo Puluah ( daerah yang kurang dua puluh) kedatangan kedua Datuk ini disambut dengan gembira oleh rakyat Rantau Kuantan, karena mereka memang berasal dari Kuantan juga . 2. Struktur Pemerintahan Adat Pada tahun 1347 Adityawarman dikukuhkan menjadi Raja kerajaan Minangkabau, pengangkatan ini disetujui oleh Datuk Perpatih dan Ketemanggungan. Dengan adanya sistem pemerintahan kerajaan, maka Datuk Perpatih dan Ketemenggungan membentuk wilayah Adat istiadat menjadi 5 (lima) Luhak (daerah konfederasi) dan setiap Luhak terdiri dari beberapa kenegerian, Adapun daerah Luhak di Rantau Kuantan yaitu:
12 1. Luhak Empat Koto di Mudik, di bawah kekuasaan Urang Godang Datuk Rajo, berkedudukan di Lubuk Ambacang 2. Luhak Limo Koto Lubuk Jambi, di bawah kekuasaan Datuk Habibi berkedudukan di Lubuk Jambi 3. Luhak Limo Koto di Tengah berada di bawah kekuasaan Datu Mudo Bisai berkedudukan di Taluk Kuantan 4. Luhak Empat Koto di Hilir di bawah kekuasaan Datuk Dano Sakaro berkedudukan di Inuman 5. Luhak Cerenti, berkedudukan di Cerenti di bawah kekuasaan Datuk Dano Pulo Untuk Luhak Limo Koto di Tongah adalah 1. Kari 2. Toluak 3. Siberakun 4. Simandolak 5. Sibuaya Dengan terbentuknya luhak-luhak di beberapa daerah pemerintahan adat, maka terbentuk pula suku yaitu kelompok kekeluargaan (ke-ibu-an) yang terendah dalam Masyarakat Adat, setiap suku diperintah oleh seorang Penghulu, ada beberapa gelar untuk seorang penghulu, Struktur pemerintahan Koto Toluak berdasarkan 4 suku yang diperintah oleh penghulu yaitu:
13 1. Penghulu Suku Nan Tigo bergelar Datuk Bandaro 2. Penghulu Suku Nan Ompek bergelar Datuk Mudo Bisai 3. Penghulu Suku Nan Limo bergelar Datuk Sinaro Nan Putiah 4. Penghulu Suku Nan Onam Bergelar Datuk Sinaro Penghulu dan Monti dan Hulubalang mempunyai kekuasaan penuh untuk mengatur semua persoalan hidup dan kehidupan persukuan. Mereka inilah yang disebut dengan pepatah adat yang berbunyi: “ Biang kan mancabiak, gontiangkan mamutuih, tinggi tampak jauah, godang jolang tasongo, manggantuang tinggi mambuang jauah, menghitam memutihkan dengan kata lain memegang kato putuih. Kesatuan penghulu merupakan penguasa dalam kenegerian. Persoalan dan permasalahan yang terjadi, silang sengketa yang timbul anak kemenakan dan cucu dapat diselesaikan oleh penghulu. Kalau perselisihan itu terjadi antara suku dengan suku, diselesaikan oleh majelis penghulu suku, jika perselisihan terjadi antara kenegerian dapat diselesaikan oleh urang godang berkuasa pada tingkat Luhak. Uraian tentang nama suku, struktur dan gelar mungkin antara kenegerian di Kabupaten Kuantan Singingi tidak sama dan terdapat perbedaan, perbedaan ini disebabkan adanya penambahan nama suku karena adanya pendatang dari luar luhak dan hal ini tidak mengurangi dan menambah struktur pemerintahan adat. Meskipun hanya didukung oleh sejarah yang terputus-putus, seperti ekspansinya kerajaan Sriwijaya ke Pesisir Timur Pulau Sumatera dan Kerajaan Sriwijaya ke Sumatera bagian tengah dan barat, membuat eksodusnya penduduk Melayu Jambi ke Indragiri dan Dharmasraya ke kerajaan Kuantan itu menandakan bahwa pada masa itu
14 kerajaan Kuantan telah ada dengan struktur pemerintahan adatnya. Maka sejak berdirinya kerajaan Kuantan sejak itu pulalah adanya struktur pemerintahan adat yang akhirnya menjadikan masyarakatnya Masyarakat Adat yang sampai saat ini masih hidup dengan baik dengan struktur lembaga adatnya yang mengatur kehidupan Masyarakat Adat Kuantan. Karena Kerajaan Kuantan berada antara dua kerajaan yaitu kerajaan Minangkabau dengan kerajaan Indragiri, maka timbul istilah adat mengatakan Kerajaan Kuantan beradat ke Minangkabau dan beraja ke Indragiri. Karena beraja ke Indragiri dikarenakan dari berdirinya kerajaan Kuantan memang tidak mempunyai raja kekuasaan hanya berada di bawah kekuasaan petinggi kerajaan yaitu Datuk Perpatih dan Ketemanggungan serta beradat di Minangkabau karena adanya kesepakatan Melayu Raya dalam hal pembentukan Luhak-Luhak di Kerajaan Kuantan dan Kerajaan Minangkabau. B. Konsep Adat Adat adalah aturan yang lazim dituruti atau dilakukan secara turun temurun tanpa terputus yang telah ,menjadi kebiasaan berupa, kebudayaan yang berisi norma-norma, hukum dan aturan yang menjadi suatu sistem. Dalam tradisi Masyarakat Adat ada 4 macam pengertian adat yaitu: 1. Adat Yang Sebenarnya Adat Ini adalah adat yang asli berupa norma, atau hukum yang datang dari Allah Swt yang berlaku untuk semua jagad raya atau alam semesta yang telah menjadi hukum Allah Swt yang berwujud yaitu syara’ (hukum Islam) dan hukum alam itu sendiri.
15 Keberadaan Adat Sebenarnya Adat berupa adat asli dalam bentuk hukum Allah tidak layu di injak tidak mati diinjak. Jika hukum ini dirusak dan diubah maka akan memberikan akibat yang fatal berupa kehancuran pada kehidupan manusia itu sendiri. 2. Adat Yang Diadatkan Hukum ini adalah norma atau adat yang berasal dari buah pikiran leluhur manusia yang piawai (yang cakap,pandai dan mampu) yang kemudian dapat mengatur lalu lintas pergaulan kehidupan manusia. Meskipun berasal dari gagasan yang luhur dan bijaksana, namun tetap bisa rusak atau berubah oleh ruang dan waktu serta oleh selera manusia dalam zaman agar dapat menjawab tantangan kehidupan manusia. 3. Adat Yang Teradat Yaitu adat berupa konvensi masyarakat atau keputusan hasil musyawarah yang kemudian dikukuhkan menjadi adat atau aturan. Adat yang diadatkan lebih banyak merupakan aturan budi pekerti, sehingga membuat penampilan manusia yang berbudi bahasa. Adat yang teradat telah terpelihara dari zuriat (generasi) kepada zuriat berikutnya. Adat yang teradat dapat dilihat dari aturan panggilan dalam keluarga, masyarakat dan dalam istana.. etika berkomunikasi. Yang termasuk pada adat yang diadatkan adalah: • Kata mendaki yaitu bertutur kata terhadap orang tua-tua yang harus dihormati dan disegani. • Kata melereng yaitu berkata terhadap orang semenda (samondo), berkata dengan tidak secara langsung begitu saja, biasanya dipanggil dengan gelar dan memakai bahasa kiasan.
16 • Kata mendatar yaitu cara berkata atau berkomunikasi terhadap teman sebaya. Dalam berbicara terhadap teman sebaya boleh bebas memakai kata-kata atau bahasa mulai dari gaya terus terang dan bergurau. • Keempat kata menurun yaitu berkomunikasi kepada yang kecil seperti kepada adik dan kemenakan. Terhadap orang yang lebih kecil/muda kata-kata yang dipergunakan hendaklah memberi petunjuk, nasehat dan ajaran serta pesan -pesan yang mungkin akan selalu diingat, dikenang bahkan diturutinya. 4. Adat Istiadat Adat Istiadat yaitu berbagai ketentuan atau perilaku yang sebaiknya dilaksanakan dalam hidup bermasyarakat. Karena ketentuan atau adab itu dipandang baik, maka adat istiadat ini dilestarikan, sebab dapat merajut kehidupan manusia dengan alam semesta, hubungan manusia sesama manusia seperti tradisi mengikat binatang ternak pada musim tanam, jika ternak digembalakan tentu ternak tidak akan memakan tanaman, jika masuk hutan, sungai dan lainnya jangan takabur dan sombong. Adat yang diadatkan (hukum adat rancangan leluhur),adat yang teradat (adab budi pekerti), dan adat istiadat (tradisi memelihara alam) harus berdasarkan kepada adat sebenarnya adat yakni hukum Allah dan Rasul-Nya, karena itulah adat harus bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah dan sunnah rasul. Semua hukum buatan manusia hanya akan menjadi alat kekuasaan dan pemuas hawa nafsu belaka, sehingga akhirnya akan mendatangkan kehancuran dan malapetaka kepada umat manusia. C. Hukum Adat sebagai Aspek Kebudayaan
17 Hukum adat adalah salah satu aspek kebudayaan yang berasal dari kata bentuk jamak dari kata budi dan daya (akal) yang menimbulkan berupa cipta dan rasa, karsa dan karya bisa berupa benda dan bisa berupa tak benda atau non benda. Cipta adalah daya pikir, nalar dari otak manusia, daya pikir yang dapat menghasilkan filsafat dan ilmu pengetahuan, rasa meliputi jiwa manusia mewujudkan segala macam kaidah dan nilai-nilai kemasyarakatan yang diperlukan untuk mengatur masyarakat, karsa ialah kemauan dalam diri manusia yang menggerakan jiwa manusia untuk berperilaku, sedangkan karya adalah hasil dari budidaya tersebut yang berwujud bisa benda bisa juga tidak benda yaitu kebudayaan. Kebudayaan itu khususnya unsur rasa menghasilkan kaedahkaedah dan nilai-nilai normatif yang merupakan kebudayaan yang memberikan pedoman dan perilaku kelakuan masyarakat. Setiap masyarakat baik yang komplek maupun yang sederhana bentuknya mempunyai aktivitas-aktivitas yang berfungsi dalam lapangan sebagai pengendalian masyarakat dan kontrol sosial dan ditambah dengan ketentuan agama maka akan menjadi salah satu hukum adat dalam masyarakat. 1. Kebudayaan Masyarakat adat Setiap masyarakat bagaimanapun sederhana mempunyai normanorma atau kaidah-kaidah, untuk masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi mempunyai susunan masyarakat adat yang tersusun sejak dahulu secara turun temurun dan sampai saat masih dilaksanakan dan difungsikan sebagaimana mestinya, maka dari itu masyarakat “Kuantan Singingi adalah masyarakat adat”. Salah satu aspek dari kebudayaan masyarakat adat Kuantan Singingi ialah sistem sosial ini terkandung adatnya dan didalamnya terkandung filosofi : “ Adat bersendikan syara dan syara’ bersendikan kitabullah” disinilah terkandung makna syara’ = menata adat = memakai
18 yang menurut kelompok -kelompoknya Ungkapan adat itu ada tiga yaitu: a. Ungkapan Adat Sebenarnya Adat Adat berwaris kepada nabi Adat berkhalifah kepada Adam Adat berinduk kepada ulama Adat bersurat dalam kertas Adat tersirat dalam sunnah Adat dikungkung kitabullah Itulah adat yang tahan banding Itulah adat yang tahan asak b. Ungkapan Adat yang diadatkan. Adat yang diadatkan Adat yang turun dari raja Adat yang datang dari datuk Adat yang dibuat kemudian. c. Ungkapan Adat Istiadat Adat yang teradat Datang tidak bercerita Pergi tidak berkabar Adat disarung tidak berjahit Adat berkelindan tidak bersimpul Adat berjarum tidak berbenang Yang terbawa burung lalu Yang tumbuh tidak bertanam Yang kembang tidak berkuntum Yang bertunas tidak berpucuk Adat datang kemudian
19 Yang diseret jalan panjang Yang bertenggek di sampan lalu Yang berlabuh tidak bersauh Yang berakar berurat tunggang Adat yang dapat di alih-alih Ada yang dapat ditukar salin Dari ungkapan-ungkapan di atas tergambar bahwa adat itu sumbernya agama Islam. 2. Hukum Adat. Hukum adat adalah berasal dari bahasa Arab yaitu hukum dan adat dengan arti Hukum artinya ketentuan Adat artinya kebiasaan. Jadi hukum adat menurut bahasa artinya ketentuan kebiasaan, sedangkan menurut istilah ialah adanya tingkah laku yang terus menerus dilakukan oleh masyarakat, yang teratur, sistematis, mempunyai nilai sakral (suci) adanya keputusan pemuka dan pemangku adat, adanya sanksi /akibat hukum, tidak tertulis yang ditaati masyarakat. Pada pelaksanaannya hukum adat itu dikaitkan dengan agama dan jika ada penyimpangan, itu merupakan pengecualian. Dan jika bertentangan dengan agama Islam maka adat itu ditolak. 3. Sumber Hukum Adat. Sumber hukum adat dapat dibedakan atas sumber tidak tertulis dan sumber tertulis. a. Sumber tidak tertulis.
20 1. Adat Istiadat atau kebiasaan Adat istiadat atau kebiasaan merupakan tradisi rakyat, misalnya adat membangun rumah, adat berladang, berkebun, beternak, memelihara hutan, sungai,hutan, berumah tangga, tolong menolong/batobo dan sebagainya. Ada ungkapan mengatakan: sekampung tolong menolong, senegeri beri memberi, sesakit sama sakit, hati tungau sama dicicip, hati gajah sama dilapah 2. Kaidah Kebudayaan Yang dimaksud dengan kaidah kebudayaan adalah istilah pantang- larang yaitu dalam kehidupan masyarakat adat itu ada prilaku tidak boleh dikerjakan, misalnya anak gadis dilarang berjalan dengan orang lain yang bukan muhrimnya, dilarang duduk di tangga menjelang magrib. 3. Perasaan Keadilan Masyarakat Adat sangat peduli dengan keadilan, umpama dalam menentukan salah benar perilaku seseorang dengan ungkapan berbunyi:”tiba di perut jangan dikempiskan, tiba di mata jangan dipicingkan”. Salah di ujung jalan kembali ke pangkal jalan, raja alim raja disembah raja lalim (zalim) raja disanggah. Maksud ungkapan ini adalah untuk keadilan yang harus diikuti dan diamalkan bagi anggota masyarakat adat. Pepatah atau ungkapan adat sebagai tunjuk ajar. • Tanda Melayu beradat, sampai mati memegang syariat • Apa tanda Melayu berbudi, sampai mati terus berbakti
21 • Kelok paku kacang belimbing • Bawa ke surau lenggang-lenggangkan • Anak dipangku kemenakan dibimbing. • Urang kampuang dipatenggangkan • Tuah sakti hamba negeri • Esa bilang dua terbilang • Patah tumbuh hilang berganti • Takkan Melayu hilang di bumi Pepatah dan ungkapan tersebut, semuanya memberikan pengajaran, pedoman dan petunjuk untuk menegakan adat di tengahtengah masyarakat adat. b. Sumber Tertulis 1. Dokumen-dokumen yang masih hidup. Yaitu dokumen masih ada dan dapat dipergunakan sebagai dasar-dasar hukum adat seperti Gurindam Dua Belas, Tunjuk Ajar Melayu dan bisa juga berbentuk jampi-jampi. 2. Kitab yang dikeluarkan raja-raja • Al-Qawaid dari kerajaan Siak • Undang-undang adat Indragiri • Tarombo Sri Rokan • Tambo As Niko no 44
22 3. Doktrin Tentang Hukum Adat Misalnya: • Raja Alim Raja diSembah • Sesat di ujung jalan, Kembali ke pangkal jalan • Tiba di perut jangan dikempiskan, tiba di mata jangan dipejam/picingkan. D. Masyarakat Adat Masyarakat adat adalah masyarakat yang terpelihara dan tersusun oleh nilai-nilai adat. Masyarakat adat terbingkai oleh ketentuan adat sehingga susunan masyarakat adat terbagi oleh norma-norma adat. Sistem nilai-nilai adat dalam bentuk seperangkat norma dan sanksi menjadi panduan, sehingga lalu lintas sosial berjalan dengan harmonis, harmonis antar hubungan manusia dengan manusia dan harmonis dengan alam sekitar. Karena adat bersendikan kitabullah, maka keselarasan hubungan antar manusia serta hubungan dengan alam, berpunca pada hubungan Allah. Dengan cara ini manusia menunaikan tugasnya sebagai khalifah atau pemelihara di muka bumi dalam rangka beribadah kepada-Nya dan bukan sebagai penguasa yang hanya mencari kepentingan sesaat. Sistem nilai adat telah membuat masyarakat adat berada dalam satu bingkai yang terdiri dari Lembaga Adat dan anak kemenakan. 1. Lembaga Adat Lembaga Adat dikemudikan oleh 3 teraju adat yaitu: a. Malim/Ulama untuk teraju Agama yang paham dengan hukumhukum Agama di bidang hukum Fiqih, hukum faraid yang bisa
23 memberikan jawaban terhadap masalah pada Lembaga Adat. Malim menjadi lampu di waktu gelap, ia menerangkan sepanjang masa, dia yang memberikan penyuluhan kepada masyarakat adat tentang keselamatan dunia dan tentang kehidupan di akhirat yang abadi. Malim bukan hanya sekedar guru, tapi juga sebagai panutan, contoh yang ditiru, tingkahnya sebagai pedoman kehidupan perkataannya sebagai dayung dan Kompas untuk berjalan ke depan. b. Pemimpin Adat dikendalikan oleh Penghulu. Penghulu yaitu yang memegang hulu yaitu yang bertanggung jawab terhadap masyarakat adatnya, maka dari itu elok negeri oleh Penghulunya. Dalam menjalankan kepemimpinannya penghulu dibantu oleh: 1. Monti yaitu perangkat adat yang bertugas memelihara normanorma adat dalam Masyarakat adat 2. Hulubalang yaitu perangkat adat yang menyatakan adanya pelanggaran norma-norma adat dan agama untuk ditindaklanjuti atau tidak 3. Dubalang adalah perangkat adat yang bertugas mengambil tindakan/eksekusi terhadap pelanggaran adat dan agama c. Pembesar Lembaga Adat yang terdiri dari para cendikia dan didampingi oleh malim atau ulama yang tugasnya memberikan pertimbangan keadilan hukum syara’. Malim atau ulama inilah yang memberi cahaya, pedoman, suluh, terhadap dunia menuju akhirat. Orang alim atau ulama dengan panduan agama yang diberikannya, bagaikan pelita yang tak kunjung padam, terangnya sampai ke dunia dan cahayanya sampai ke akhirat. Satu kesatuan Masyarakat adat negeri terdiri dari beberapa suku
24 dengan dengan Lembaga adat terdiri dari: 1. Datuk Penghulu pimpinan Suku 2. Menti memelihara norma adat 3. Hulubalang hakim pengadilan adat 4. Dubalang yang mengeksekusi yang melanggar adat 5. Malin (ulama) penerang di waktu gelap, penyejuk di waktu panas membimbing ke jalan yang benar dari dunia menuju akhirat. Dalam satu kesatuan masyarakat adat ada terdiri dari beberapa kabupaten/kota ini untuk provinsi, ada beberapa kecamatan untuk Kabupaten/Kota, serta beberapa desa/kelurahan untuk kecamatan, dan beberapa puak suku/persukuan untuk tingkat kenegerian/desa/kampung. Tiap persukuan terdiri dari anak dan kemenakan dan anak cucu, anak adalah keturunan menurut garis darah sedangkan kemenakan adalah garis persukuan. Masyarakat Adat itu berjenjang naik bertangga turun, maksudnya bahwa setiap jenjang dan tingkat mempunyai fungsi dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan tingkatnya dan tidak bisa langsung dari tingkat bawah ke tingkat atas atau sebaliknya dari atas ke bawah. Dengan demikian susunan Masyarakat Adat itu dapat disederhanakan sebagai berikut:
25 Tingkat Provinsi Adat Provinsi Lembaga Adat Kabupaten/Kota Masyarakat Adat Puak Melayu Lembaga Adat Kabupaten Datuk/Monti/Dubalang Kenegerian Masyarakat Adat Kabupaten Lembaga Adat Kenegerian Penghulu, Monti, Dubalang Ulama Tanganai Masyarakat Adat Persukuan Lembaga Adat Persukuan Datuk/Monti/Dubalang, Malim Tanganai Masyarakat Adat Persukuan Dalam Lembaga adat berlaku asas berjenjang naik, bertangga turun. maksudnya untuk segala perkara atau aduan mengikuti asas berjenjang naik, yaitu suatu perkara diselesaikan pada tingkat yang lebih rendah yaitu pada persukuan.Jika tidak selesai barulah dinaikan kepada tingkat yang lebih tinggi. Dengan demikian tiap
26 lembaga adat mempunyai wewenang untuk menyelesaikan masalah masyarakat adatnya. 2. Penggantian Lembaga Adat Masyarakat adat juga mempunyai mekanisme pergantian pemangku adat. Pemangku adat itu diganti bukan ditukar. Sebab dengan diganti terbuka peluang yang mengganti akan lebih baik dari yang digantikan, sebaliknya jika dikatakan ditukar, berarti nilai tukar sama dengan penukarnya. Untuk penggantian pemangku adat merujuk kepada 4 perkara: 1. Lapuk yaitu sudah tua atau uzur dimakan usia 2. Lalim atau zalim yaitu melakukan kezaliman terhadap Masyarakat Adat dan lingkungannya 3. Meninggal dunia, kepemimpinan tak boleh terikat pada satu orang, maka jika pemangku adat yang meninggal harus diganti secepatnya. 4. Mengundurkan atas permintaan sendiri dari jabatan karena merasa tidak mampu atau karena alasan lain seperti kesehatan, atau karena pertimbangan keagamaan dan lain-lain. Dalam pergantian Pemangku Adat pada persukuan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, sehingga penggantian tersebut sesuai dengan alur dan kepatutan adat istiadat masyarakat, Adapun ketentuannya sebagai berikut: 1. Pengganti harus seibu-sebapak dari pihak ibu, ayah dan ibunya asli penduduk tempatan
27 2. Jika se-ibu saja, maka ayah yang menggantikan bukan ayah bagito/masuk kampung, tetapi suku asli kenegerian tersebut, jika ayahnya ayah gito/masuk kampung maka ia tidak berhak menjadi pemangku adat. 3. Pengganti harus laki-laki, Perempuan tidak dibolehkan menjadi pemangku adat 4. Jika pengganti dari pihak ibu bersangkutan tidak ada lagi, maka akan menyeberang kepada sepupu ibu yang laki-laki yang patut menurut persukuan seperti keilmuannya, kecerdasannya dan umurnya. 5. Jika pengganti masih di bawah umur, maka ia tetap ditunjuk dengan mendewasakannya dengan menunjuk orang terdekatnya untuk menjalankan tugasnya sampai ia dewasa/baligh dengan arti kata didewasakan. E. Sistem Nilai Dalam Masyarakat Adat. Sistem Nilai dalam Masyarakat ada 3 (tiga) yaitu: 1. Nilai yang diberikan oleh Agama Islam Peringkat nilai ini merupakan sistem nilai yang amat dipandang mulia oleh masyarakat. Nilai yang diberikan ajaran Agama Islam adalah nilai tinggi kualitasnya, paling elok dan ideal, karena itu untuk pelaksanaan nilai-nilai ini tidak memerlukan komando. Atau perintah dari pihak manapun. Setiap pribadi atau insan sewajarnya menyadari sendiri bahwa nilai-nilai yang agung itu untuk dipatuhi dan diamalkan dengan hati nurani yang ikhlas. Karena sistem nilai ajaran agama Islam diakui sebagai nilai yang
28 paling asasi bersumber dari kebenaran yang mutlak, dari Tuhan Yang Maha Esa Allah Swt, maka sistem nilai juga memberikan sanksi yang sifatnya juga supranatural, tidak dapat dilihat nyata dalam realitas akan tetapi akan dapat dirasakan oleh diri manusia itu sendiri sejauh mana ia menyadari, memahami dan merenungkannya. Sistem berjalannya bukan oleh tindakan suatu lembaga atau badan tertentu, tetapi lebih banyak ditentukan oleh faktor pribadi seseorang, nilai hadir bukan karena perintah yang memaksa, tetapi meminta kesadaran dan kerelaan atas kebenaran semata-mata. Sistem nilai agama dipandang sebagai sistem nilai yang vertikal, hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan pencipta dengan yang diciptakan dan disamping itu sebagai sistem nilai bersifat horizontal, yaitu nilai sistem sesama manusia. 2. Sistem Nilai yang diberikan Adat’ Sistem nilai ini merupakan sistem nilai dalam bentuk adat, sehingga lebih condong kepada tradisi saja. Sistem nilai ini hanya memberikan ukuran dan ketentuan terhadap bagaimana manusia itu berbuat dan bertingkah laku, serta dengan serangkaian sanksi yang cukup jelas. Sistem nilai yang diberikan oleh adat merupakan hasil pemikiran yang mendalam dari leluhur terdahulu tentang bagaimana sebaiknya kehidupan bermasyarakat dapat diatur. Sehingga kehidupan dapat berjalan dengan damai, bahagia dan harmonis, dengan maksud, bahwa sistem nilai adat bertujuan bersifat horizontal, yaitu memberikan keselarasan dan keseimbangan antara manusia dengan manusia, jika ada gerak vertikal hanya hubungan rakyat dengan penguasa atau raja, itu pun hanya bersifat keharmonisan sesama manusia. Dalam masyarakat adat orang yang tidak mengamalkan nilai-nilai adat disebut dengan manusia tidak beradat.
29 3. Sistem Nilai yang diberikan Tradisi. Jika sistem nilai adat merupakan sistem nilai yang mempunyai serangkaian kaedah beserta sanksi-sanksi yang tegas, maka system tradisi tidak memberikan sanksi yang dalam pelaksanaannya dari norma-norma yang diberikannya. Ketika sistem nilai adat membuat pola-pola keselarasan antara sesama masyarakat dengan penguasa, maka sistem nilai tradisi mencoba membuat keharmonisan antara manusia dengan alam. Ketika sistem nilai nilai agama bersandar kokoh kepada wahyu Tuhan dan sistem nilai adat mengandalkan kesejarahan para leluhur dan datuk-datuk masa silam, maka sistem nilai tradisi memberikan pembenaran kepada sistem melalui mitos-mitos, dalam hal ini kadang-kadang alam dipandang sejajar dengan manusia dan bisa juga dipandang lebih tinggi dari manusia. Berpangkal kepada pandangan terhadap ketiga sistem nilai tersebut, kelihatanlah sistem nilai agama paling tinggi, Adapun urutan sistem nilai itu adalah: Sistim Nilai Agama Sistim Nilai Adat Sistim Nilai Tradisi Pada gambar tingkatan di atas tergambar penjelasan tentang pemakaian sistem nilai dalam kehidupan masyarakat. Sistem nilai yang diberikan oleh tradisi adalah nilai-nilai yang banyak mewarnai tingkah laku kehidupan masyarakat adat di desa. Ini tidak mengherankan, nilai-
30 nilai tradisi relatif lebih mudah dan lebih dahulu dicernakan oleh pihak anggota masyarakat karena nilai-nilai inilah yang lebih awal diperkenalkan dalam perkembangan hidup bermasyarakat. Perangkat nilai ini selalu bersentuhan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Oleh posisi yang demikian maka sejumlah tingkah laku yang bersandar pada tradisi kadangkala telah mendesak nilai-nilai agama, misalnya sejumlah tradisi dalam bentuk berbagai upacara dalam masyarakat pedesaan masih diwarnai dengan animisme, sehingga ajaran agama Islam belum dapat menyingkirkannya.
31 BAB III Kekerabatan Masyarakat Adat Yang dimaksud kekerabatan dalam Masyarakat Adat Kuantan Singingi yaitu hubungan keluarga yang disebabkan oleh adanya pertalian darah dan persukuan sehingga kekerabatan dalam Masyarakat Adat Kuantan Singingi sebagai berikut: A. Sistem Kekerabatan Sistem kekerabatan sebenarnya yang diartikan sebagai persaudaraan hubungan darah (nasab) pada pihak bapak, dan persaudaraan persukuan pada pihak ibu. Kekerabatan merupakan hubungan perkawinan seorang laki-laki dan perempuan,. Orangtua (ibubapak) dan anak adalah satu kesatuan dari keluarga kecil yang ditarik dua keluarga besar, keluarga besar bapa dan keluarga besar ibu. Pada kebanyakan masyarakat seorang anak dipandang sebagai keturunan masyarakat dari orang tuanya, sehingga anak tersebut mempunyai hubungan kekerabatan baik melalui ayah maupun ibunya. Kekerabatan melalui pihak ayah disebut dengan patrilineal, Kekerabatan melalui pihak ibu disebut dengan matrilineal, yang dimaksud kekerabatan tersebut adalah: 1. Kekerabatan Patrilineal (Ke-bapak-an) a. Kedudukan anak. Dalam susunan kekerabatan patrilineal dimana sistem pertalian kewangsaan lebih dititik beratkan menurut garis keturunan laki-
32 laki, maka kedudukan anak laki-laki lebih diutamakan dari anak perempuan. Anak laki-laki sebagai penerus keturunan bapaknya. Sedangkan perempuan disiapkan menjadi orang lain yang akan memperkuat keturunan orang lain b. Pertalian Darah Dalam susunan kekerabatan yang pertalian darahnya lebih mengutamakan keanggotaan kerabat menurut garis keturunan laki-laki. c. Pertalian Perkawinan Kedudukan anak laki-laki terhadap orang tua dalam kekerabatan patrilineal dapat dilihat dari latar belakang perkawinan orang tuanya dan bentuk perkawinannya 2. Kekerabatan Matrilineal (Ke-ibu-an) a. Kedudukan anak. Kekerabatan matrilineal dimana system pertalian kewangsaan lebih dititik beratkan menurut garis keturunan ibu, maka yang lebih diutamakan adalah kedudukan anak perempuan. Maka yang lebih diutamakan adalah kedudukan anak perempuan daripada anak lakilaki. Anak perempuan adalah penerus keturunan ibunya yang ditarik dari satu ibu asal, sedangkan anak laki-laki seolah-olah berfungsi sebagai pemberi bibit keturunan. Karena itu apabila tidak ada anak perempuan dirasakan tidak ada penyambung keturunan. b. Pertalian Darah. Semua anak, baik laki-laki maupun perempuan dalam kekerabatan matrilineal adalah dalam kekerabatan ibu.
33 Kedudukan anak terhadap orangtua dan kerabat lingkungan kekerabatan matrilineal juga ditentukan oleh bentuk perkawinan orang tuanya. Apabila ibu si anak melakukan perkawinan dengan jujur, disitulah perkawinan menetap atau masuk dalam kekerabatan suami, kedudukan si anak mengikuti kedudukan ayahnya. Tetapi apabila ibu kawin dengan ayah dalam bentuk semenda, maka anak tetap termasuk dalam kekerabatan persukuan Dalam Masyarakat Adat Kuantan Singingi kekerabatannya adalah kekerabatan ke-bapak-an dan ke-ibu-an. Adapun kekerabatan kebapak-an adalah kekeluargaan berdasarkan pertalian darah (nasab) dengan mencantumkan nama bapak/ayah dibelakang anak, jika lakilaki dengan (bin) umpama Ahmad bin Khairul dan (binti) pada anak Perempuan umpama Khairunnisa’ binti Khaidir. 3. Kekerabatan Persukuan Masyarakat Adat Kuantan Singingi adalah Masyarakat persukuan menurut keturunan pihak ke-ibu-an). Jika persukuan pada garis keturunan ibu jika telusuri akan menemukan titik temu pada puncak keturunan. Masyarakat Adat Kuantan Singingi merupakan kumpulan kehidupan manusia yang terdiri dari individu, keluarga , Suku dan masyarakat pihak ibu dengan susunan anggota masyarakat adat sebagai berikut: a. Datuk Persukuan Datuk adalah orang yang dituakan dalam Lembaga Adat yang tugasnya memberikan Keputusan dalam pelanggaran adat yang di dalamnya terdapat perangkat Lembaga adat lainnya. b. Mamak
34 Mamak dalam Lembaga adat adalah para pemuka adat yang menjalankan tugas adat jika terjadi pelanggaran adat sesuai dengan tingkat pelanggarannya. c. Anak dan kemenakan Anak kemenakan keturunan keluarga dari pihak laki-laki dan Perempuan sebagai penerus keturunan. Anak adalah keturunan menurut garis darah (nasab) sedangkan kemenakan adalah keturunan menurut persukuan (pihak ibu) 4. Kekerabatan Bagito/Masuak kampung Masyarakat Adat Kuantan Singingi merupakan Masyarakat Adat Melayu dimana Masyarakatnya mempunyai sifat terbuka kepada siapa saja yang datang, asal maksud dan tujuannya baik dan tidak hanya sekedar menumpang hidup belaka. Bagi pendatang dari luar yang ingin tinggal bersama dalam masyarakat adat harus menyatu dengan melakukan masuk kampung atau bagito yaitu dengan memotong binatang ternak sesuai dengan kemampuan pada yang masuk kampung. Dalam kegiatan bagito adalah menumpang hidup pada suatu suku yang disebabkan oleh pernikahan dan numpang hidup dalam masyarakat adat. Jika bagito terjadi karena pernikahan, maka yang bergito memilih suku di luar suku perempuan yang dinikahinya, jika ia menikah dengan perempuan suku patopang, makai a bagito dengan suku selain suku patopang umpama suku melayu atau suku caniago. Kalua bagito masih bujangan, maka baginya disebut dengan masuk kampung, dimana ia menjadi anak pada satu keluarga dan ia telah menjadi bagian dari suku tempat ia bagito atau masuk kampung. Bagito atau masuk kampung secara adat dan tradisi dalam masyarakat Kuantan Singingi adalah kesepakatan seorang pendatang karena adanya pernikahan atau numpang hidup dalam masyarakat