The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bedah Buku Adat Simandolak Kuansing

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by najarispitayo, 2024-05-28 07:01:28

Buku Adat Kuansing

Bedah Buku Adat Simandolak Kuansing

Keywords: e-book,Bedah Buku Adat Simandolak Kuansing

35 adat . banyak hikmah dan keuntungan dengan pelaksanaan bagito tersebut, antara lain adalah : • Agar yang bagito/masuk kampung punya suku/persukuan sehingga ia sudah menjadi mansanak/saudara sesuku dan ia akan mendapat hak yang sama dalam kehidupan sosial dalam masyarakat tempat tinggalnya seperti perlindungan adat, sudah punya suku dan saudara sesuku • Jika yang bagito/masuk kampung melaksanakan pernikahan, maka apabila ia punya punya anak, maka anaknya punya induak bako dan si anak menjadi anak pancar si bako dan apabila ada kegiatan adat tentang si anak sudah ada yang mearaknya dan si anak akan mendapat pelayanan yang sama dengan anak pancar lainnya. • Setelah melaksanakan bagito/masuak kampung maka ia sudah menjadi anggota persukuan dan berhak mendapat pelayanan dan fasilitas persukuan umpama apabila yang bersangkutan meninggal dunia, maka ia juga berhak dikuburkan di tanah kuburan persukuan, berhak mengikuti kegiatan adat seperti pertemuan rumah godang dan mempergunakan tanah ulayat seperti untuk berkebun, berladang dan juga punya suara dalam musyawarah adat dalam persukuannya. 5. Kekerabatan Urang Samondo Kekerabatan urang samondo adalah kekerabatan seorang laki-laki yang menikahi saudara perempuan kita. Kekerabatan dengan orang samondo dalam keluarga adalah sebagai penyambung/pemberi keturunan pada keluarga dan persukuan di pihak perempuan, maka dari itu urang samondo dalam persukuan memegang peranan penting dalam memberikan keturunan, akan tetapi ada pula ungkapan adat


36 mengatakan:“Urang samondo adalah ibarat abu diateh tunggul” maksud dari ungkapan ini adalah dalam penguasaan harta pusako tinggi orang samondo tidak mempunyai kuasa sedikitpun dalam pusako tinggi, karena dalam status urang samondo hanya menumpang menanam saja dan tidak punya hak apa-apa atas harta pusako tinggi yang ia tepati. Secara adat ia hanya berhak menepati harta pusako tinggi selama menjadi urang samondo, jika ia bercerai dan menikah lagi, maka lepas semua haknya untuk mempergunakan harta pusako tinggi, bahkan semua yang diperbuat dan tanam pada pusako tinggi tidak boleh diambil, kecuali harta yang di luar dari itu yang ia dapat sendiri atau bersama istrinya selaku urang samondo. B. Hak dan Kedaulatan Masyarakat Adat Dalam kehidupan masyarakat adat yang terdiri dari puak-suku mempunyai hak dan kedaulatan atas keberadaannya sebagai suatu masyarakat dengan bersendikan agama Islam sebagai sistem nilai yang mengatur kehidupan mereka. Dalam hal ini perlulah dipertajam bagaimana hubungan dan peranan antara kedaulatan dan hak tersebut. 1. Kedaulatan Lembaga Adat Lembaga adat yang dikemudikan oleh pemangku adat punya kedaulatan atas masyarakat dan kekayaannya. Kedaulatan itu diatur oleh adat dan resam puak-suku tersebut. Dengan kedaulatan itu Lembaga adat berhak mengatur, memelihara dan memandu masyarakat adat sehingga dapat menjadi masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Kedaulatan itu dapat dilihat dalam wewenang yang dimainkannya. Lembaga adat mempunyai wewenang dalam lintas kehidupan masyarakat adat berupa perkara: • Nikah kawin


37 • Persengketaan dan kejahatan • Perkara hutan dan tanah • Perkara ternak, ladang dan kebun • Kasus kesusilaan mengenai adat dan agama. Dalam masalah nikah kawin, Lembaga adat mulai memainkan peranan dari tahap tunangan, pelaksanaan pernikahan, perjalanan rumah tangga, sengketa rumah tangga sampai dengan masalah perceraian. 2. Kewajiban Lembaga Adat Lembaga Adat punya kewajiban mengatur dan meningkatkan perekonomian masyarakat adat. Dalam hal ini yang amat menjadi perhatian yang diawasi adalah ternak, ladang dan kebun dan musim. Agar kepentingan peternak dan peladang tidak berseberangan, maka diatur musim turun ke ladang dan musim mengurung ternak. Agar terjadi hubungan yang harmonis antara petani dan peternak dengan adanya musim mengurung dan melepas. Pada musim mengurung ternak peternak tidak akan memakan tanaman dan pada musim melepas ternak akan menyuburkan kembali tanah yang telah dipakai akan menaburkan kotorannya pada tanah pertanian sebagai pupuk alami. Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Lembaga Adat juga membuat suatu kebijakan yang sering disebut adat mem-pedua-I, yaitu mempeduai ternak dan ladang/sawah, dimana yang kaya ternak menyuruh yang tak punya memelihara ternaknya dengan hasil bagi dua dari ternak yang di-pedua-i tersebut, begitu juga yang punya ladang/ sawah yang mencukupi dapat pula menyewakan ladang/sawahnya


38 kepada yang tak punya ladang /sawah dengan hasil dibagi dua juga. Dengan adanya cara ini dapat meningkatkan pendapatan para petani yang kurang, sehingga terjadi pemerataan penghasilan para petani masyarakat adat. 3. Masyarakat Adat Masyarakat Adat punya hak pada Lembaga Adat yaitu mendapat perlindungan jiwa dan harta bendanya. Lembaga Adat wajib melindungi jiwa dan harta masyarakat adat ketika masyarakat adat mendapat ancaman, baik terhadap jiwa maupun hartanya, mereka dapat mengadu kepada Lembaga Adat dan Lembaga Adat wajib untuk menindak lanjutinya serta melindungi, menangani dan menyelesaikannya, sampai selesai sehingga masyarakat adat merasa aman dan terlindungi. Sesuai dengan asas berjenjang naik, bertangga turun, maka tahap awal aduan disampaikan kepada lembaga adat tingkat persukuan, jika tidak selesai di tingkat itu perkara akan dilanjutkan ke tingkat kenegerian. Pergaulan antara warga masyarakat adat terkadang menimbulkan masalah, ketegangan, bahkan kerugian dari satu pihak, maka Lembaga Adat menyelesaikannya dengan cara: • Pertama berdamai yaitu, suatu persengketaan dapat diselesaikan dengan jalan berdamai dengan arti kata samasama bersalah dan saling memaafkan • Kedua diutangkan atau bayar denda yaitu jika suatu perkara ternyata ada satu pihak yang dirugikan atau bersalah, baik secara moral maupun material. • Ketiga bersumpah. Pertama bersumpah bahwa tidak dia yang melakukan kejahatan itu. Kedua bersumpah tidak lagi


39 melakukan kejahatan itu, ini dilakukan karena dicurigai tapi tidak ada saksi • Keempat diusir dari kampung halaman. Ini berlaku kepada terhadap kejahatan yang tidak hanya merugikan dirinya sendiri tetapi juga telah merugikan nama baik negeri/kampung dan persukuan • Yang kelima di eksekusi yaitu terhadap kejahatan perzinahan yang dilakukan seorang laki-laki yang punya istri dan seorang perempuan yang punya suami. Pasangan yang berzina ditenggelamkan dengan memasukkan ke dalam lukah dan membuangnya ke dalam sungai dengan dibekali pisau. Jika yang dieksekusi dapat menembus luka dengan pisau yang diberikan, maka selamatlah dan panjang umurnya. Karena pada saat ini Masyarakat Adat berada di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) negara hukum, maka ada penyelesaian perkara tidak dapat/bisa diselesaikan secara adat, maka penyelesaiannya harus diselesaikan melalui hukum dan undangundang negara NKRI yang berlaku seperti, menyelesaikan yang ke 5 (e), masalah pembunuhan, narkoba dan korupsi.


40 Situs Budaya Rumah Godang di Baserah, Kabupaten Kuantan Singingi Sumber : Pemkab Kuansing


41 BAB IV Kearifan Lembaga Adat Terhadap Lingkungan Hidup Pemegang teraju kepemimpinan masyarakat adat telah tergambar pada penggunaan dan pengelolaan hutan, tanah dan air sebagai tempat beraktivitas kehidupan di muka bumi, para dukun, orang pintar, pawang dan pemangku adat yang telah mengatur kehidupan sosial puak-suku telah mengatur penggunaan hutan tanah sebagai tempat usaha untuk memelihara kepentingan umat dengan ajaran agama Islam maka mereka ini dapat disederhanakan sebagai orang yang bijaksana dan orang patut. Mereka mempunyai peranan masing-masing dalam masalah melestarikan lingkungan hidup. Dari ajaran Islam puak-suku dalam masyarakat adat mengetahui bahwa setiap manusia dikawal dan diawasi oleh malaikat. Dari sinilah dukun membuat analogi, bahwa tiap makhluk hidup tentu juga ada yang mengawalnya. Maka makhluk hidup berupa pohon di hutan belantara dikawal mambang, tanah dikawal oleh jomblang, rimba belantara dikawal oleh orang bunian. Dari pandangan tradisional ini, maka tidak ada warga yang berani begitu saja mengambil apalagi merusak hutan (flora) dan hewan (fauna) , jika mereka merasa memerlukan, maka terpaksa meminta bantuan para dukun, sehingga mereka dapat merasa aman mengambilnya. Maka untuk memperkuat perlindungan alam dan lingkungan itu, hutan (flora ) dan hewan (fauna) tidak diperlakukan begitu saja oleh tangan-tangan yang ceroboh, maka para tetua masa silam membuat bermacam cerita mengenai binatang, burung, pohon, sungai dan laut. Sehingga benda apapun di alam ini apabila disentuh maka makhluk halus bisa bertindak melalui kekuatan gaibnya yang disebut dengan bertuah.


42 Pemegang teraju kepemimpinan puak-suku selanjutnya disebut pemangku adat. Jika orang patut telah punya kearifan memelihara hubungan manusia dengan alam, maka pemangku adat membuat hubungan yang harmonis antara warga masyarakat adat. Begitu pentingnya adat untuk mengawal kehidupan masyarakat sehingga ada timbul ungkapan adat mengatakan “ biar mati anak asal jangan mati adat” arti dari ungkapan ini adalah anak atau siapa saja tentu akan mati, tetapi akibat dari kematian seseorang jangan membuat adat tidak berlaku, sebab kematian adat (hukum) merusak kehidupan tatanan kehidupan masyarakat adat. Dalam masyarakat adat tanah, hutan dan air harus dijaga, jangan sampai tanah, hutan dan air sampai rusak binasa akibat oleh perbuatan tangan manusia itu sendiri. Dalam hal lingkungan hidup berupa hutan-tanah dan air adat telah membuat semacam tata ruang untuk menjaga alam, tanah dan air tersebut. Ada 4 cara cara pemuka adat membuat cara penggunaan alamtanah dan air sebagai penyelamat alam yaitu: A. Rimba Simpanan atau Rimba Larangan Rimba simpanan atau larangan adalah hutan belantara yang sengaja dibiarkan lestari dan berkembang tidak boleh diganggu dan diambil sembarangan yang ada di dalamnya berupa apa saja. Tidak boleh dijadikan hutan produksi, maka hutan ini disebut dengan hutan larangan. Tujuannya adalah agar semua kekayaan alam berupa tumbuhan, burung,hewan air yang ada di dalam tidak habis atau punah dan tetap lestari. Jika ada yang ingin mengambil hasil hutan tersebut harus seizin Lembaga Adat yakni Penghulu


43 Hutan Lindung di Kabupaten Kuantan Singingi Sumber : internet Masyarakat hanya boleh untuk mengambilnya sekedar kebutuhan dan tidak merusak kelestariannya, karena itu dalam pemeliharaan hutan dipandu dengan bidal “ kayu ditebang diganti kayu, rimba ditebang diganti rimba” jadi pengambilan hasi-hasil itu masih dalam batas kewajaran, sehingga hutan belantara tersebut tetap bertahan seperti semula, tidak jadi rusak binasa. Hutan larangan juga merupakan tempat penyimpanan air, sehingga pada musim kemarau tidak kekeringan dan musim penghujan dapat mencegah terjadinya banjir bandang. B. Tanah Kebun dan Perladangan Tanah kebun dan ladang merupakan tanah produksi untuk menghasilkan berbagai jenis bahan makanan sehari-hari serta bahan baku yang dapat dijual sebagai sumber pencaharian


44 Puak-suku, dengan berkebun dapat menghasilkan bermacam bahan produksi seperti, merica, karet, kelapa, gambir, tembakau dan cengkeh, sedangkan di tanah perladangan mereka menanam, padi, jagung, ubi, labu, dan berbagai jenis sayuran. Maka kebun dan ladang adalah tempat sumber kehidupan. C. Rimba Kepungan Sialang Rimba kepungan sialang atau lebih dikenal dengan rimba kepungan, yaitu rimba peliharaan masyarakat adat untuk menangkar terjadi banjir dan untuk memenuhi segala macam kebutuhan yang biasa terdapat di dalamnya. Rimba kepungan sebagai batas tanah ladang dan kebun. Gugus hutan ini dibiarkan sebagai sumber mata pencaharian, kayu pagar, kayu sialang tempat bersarangnya lebah, bermacam jenis akar dan rotan yang dipergunakan untuk bahan anyaman dan pengikat pagar kebun. Pohon sialang tempat bersarang lebah pada hutan-hutan kepungan Sumber www.flickr.com


45 D. Tanah Pekarangan Tanah pekarangan adalah tanah tempat bangunnan rumah atau tempat tinggal keluarga, Tanah pekarangan biasanya luas, karena pada tanah pekarangan ditanam bermacam jenis tanaman keras yang menghasilkan buah- buahan seperti jambu, kuini, mangga, durian, rambai, kelapa pisang, cempedak,manggis serta bermacam jenis tanaman obat-obatan yang disebut dengan apotik hidup. Pemangku adat adalah pemelihara kekayaan alamnya “ sehingga masyarakat adat dapat mengurus dirinya, tidak tergantung kepada pihak manapun juga”. Pemangku adat layak dijuluki orang arif bijaksana, karena dia pandai mengira dan membagikan, tahu membaca kias dan sindiran, dia tajam tapi tidak melukai, dia runcing tapi tidak mencucuk. Dialah yang mungungkung dan mengunci yang teguh bagi masyarakat adat yang ia pandu. Untuk keperluan hajat hidup, mereka dapat mengolah kebun dan ladang serta mengambil hasil- hasil hutan. danau dan sungai. Dari hasil hutan, sungai dan alam pemangku adat dapat memperoleh dana untuk membiayai dan memelihara Lembaga adat, serta membangun negerinya seperti membuat masjid, surau, madrasah, jalan sepanjang kampung, pelabuhan dan sebagainya. Pemangku adat puak-sekampung menyadari benar, jika tingkah laku dan perangai manusia jika tidak dikawal dengan adat, niscaya akan mendatangkan bencana. Maka dari itu orang adat mengatakan, “kekuasaan harus tunduk kepada adat, jika tidak maka kehidupan bermasyarakat tidak harmonis”dengan adanya kehidupan yang beradat mengantarkan masyarakat hidup damai, rukun sesama anggota masyarakat adat. Bagaimana tetua puak-negeri memberikan kearifan kepada anak


46 cucu dan keponakan, agar menjaga dan memelihara alam lingkungan telah terkumpul pada bidal, gurindam dan tunjuk ajar Melayu sebagai berikut: Kalau hidup hendak selamat Pelihara laut dengan selat Pelihara tanah berhutan lebat Di situlah terkandung rezki dan rahmat Di situlah terkandung tamsil ibarat Disitulah terkandung aneka nikmat Kalau terjaga tanah, hutan dan air Disitu banyak sekali rezeki yang cai Tanda orang menghargai alam dan bersyukur kepada Tuhan. Tanda orang memegang adat Alam dijaga petuah diingat Tanda orang memegang amanah Pantang merusak hutan dan tanah Tanda orang berpikiran panjang Merusak alam sangat berpantang Tanda orang berakal senonoh Menjaga alam hatinya kokoh Tanda orang ingat ke anak cucu Melihat alam rusak hatinya luluh


47 Tanda orang ingat ke hari tua Laut dijaga bumi dipelihara Tanda ingat ke hari kemudian Taat menjaga laut dan hutan Tanda ingat kepada Tuhan Menjaga alam ia utamakan Tanda ingat hidup akan mati Memanfaatkan alam hati-hati Tanda ingat adat lembaga Laut dikungkung hutan dijaga Siapa mengenang anak cucunya Bumi yang kaya tidak dirusaknya Siapa sadar dirinya khalifah Terhadap alam tak akan menyalah Apa tanda hidup beriman Tahu menjaga kampung halaman Apa tanda hidup berilmu Menjaga alam ia nya tahu Masyarakat adat telah mengambil Islam sebagai jalan hidupnya, melihat dengan arif, memegang erat hubungan keimanan dengan alam sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an “ telah timbul kerusakan di daratan dan di lautan akibat tingkah laku manusia” maka dari itu masyarakat adat sangat memegang firman Allah swt ini.


48 Rumah godang di Desa Wisata Koto Sentajo Sumber: Pemkab Kuansing


49 BAB V Harta Pusaka Masyarakat Adat A. Sistem Kekerabatan Dalam Harta Pusaka Dalam masyarakat adat Kuantan Singingi hubungan kekerabatan yang berlaku yaitu: 1. Kekerabatan Ke-bapak-an. Dalam susunan kekerabatan ke-bapak-an dimana system pertalian kewangsaan lebih dititik beratkan menurut garis keturunan laki-laki (pihak bapak/ayah), maka kedudukan anak laki-laki lebih diutamakan dari anak perempuan. Anak laki-laki sebagai penerus keturunan bapaknya. Sedangkan perempuan disiapkan menjadi orang lain yang akan memperkuat keturunan orang lain Dalam susunan kekerabatan yang pertalian darahnya lebih mengutamakan keanggotaan kerabat menurut garis keturunan lakilaki. Kekerabatan Patrilineal pada masyarakat Kuantan Singingi juga tidak bisa diabaikan, karena dalam nasab kekeluargaan hubungan darah tetap dipakai seperti menyebutkan bin atau binti dan menjadi wali nikah bagi si Perempuan, termasuk pembagian harta warisan menurut syariat Islam laki-laki lebih banyak daripada anak Perempuan, terkecuali ada musyawarah mufakat sesame ahli waris. 2. Kekerabatan Ke-ibu-an. Kekerabatan matrilineal dimana system pertalian kewangsaan lebih dititik beratkan menurut garis keturunan ibu, maka yang lebih diutamakan adalah kedudukan anak perempuan. Maka yang lebih


50 diutamakan adalah kedudukan anak perempuan daripada anak laki-laki. Anak perempuan adalah penerus keturunan ibunya yang ditarik dari satu ibu asal, sedangkan anak laki-laki seolah-olah berfungsi sebagai pemberi bibit keturunan. Karena itu apabila tidak ada anak perempuan dirasakan tidak ada penyambung keturunan. Semua anak, baik lakilaki maupun perempuan dalam kekerabatan matrilineal adalah dalam kekerabatan keibuan. 3. Pertalian Perkawinan. Kedudukan anak terhadap orangtua dan kerabat lingkungan kekerabatan matrilineal juga ditentukan oleh bentuk perkawinan orang tuanya. Apabila ibu si anak melakukan perkawinan dengan jujur, disitulah perkawinan menetap atau masuk dalam kekerabatan suami, kedudukan si anak mengikuti kedudukan ayahnya. Tetapi apabila ibu kawin dengan ayah dalam bentuk semenda , maka anak tetap termasuk dalam kekerabatan persukuan. Masyarakat adat Kuantan Singingi telah menetapkan agama Islam sebagai sumber segala hukum, sehingga yang dikatakan adat sebenarnya adat adalah hukum Allah yang ada dalam Al-Quran, sunah Rasul serta segala ketentuan Allah pada hukum alam., maka dalam hal kekerabatan pada masyarakat adatnya berlaku kedua kekerabatan Patrilineal (ke-bapak-an) dan kekerabatan Matrilineal (keibuan). Kekerabatan patrilineal (ke-bapak-an) merupakan hubungan darah (nasab) dengan mencantumkan nama orang tua laki-laki di belakang nama anak, bin jika laki-laki dan binti jika perempuan dan hubungan darah (nasab) menjadi wali nikah yang dimulai dari ayah (bapak) abang, adik laki-laki, abang sepupu laki-laki dari pihak ayah, adik sepupu laki-laki pihak ayah serta datuk (ayah dari bapak). Sedangkan untuk kekerabatan ke-ibu-an adalah kekerabatan dalam kesukuan dan jika ditelusuri akan bertemu pada pangkal kekerabatan ke-ibu-an seperti


51 kerucut segitiga yang bertemu pada puncak.nya sebagai awal dari kekerabatan pada persukuan. Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa masyarakat Kuantan Singingi merupakan kekerabatan ke-ibu-an dan ke-bapak-an. Kedua kekerabatan ini tidak bisa dipisahkan, karena satu sama lain saling menyatu, umpama kekerabatan ke-bapak-an, dalam pernikahan ayah tidak bisa lepas diri, tidak sah pernikahan tanpa wali, pembagian harta adanya harta yang disebut dengan harta pusako rondah (pusaka rendah) hak milik suami istri, penulisan nama bin untuk laki-laki dan binti untuk perempuan dan seluruh persukuan pihak bapak menjadi bako si anak, termasuk yang dapat menggantikan pemegang teraju atau pemangku adat adalah yang bapaknya harus persukuan asli bukan bagito/masuk kampung. Sedangkan untuk ke-ibu-an, pemegang pemangku adat dari pihak ibu, harta pusako (pusaka) tinggi menurut alur keibuan memakainya, turunan persukuan, induak (induk) bako, sehingga kekerabatan kebapak-an dan ke-ibu-an menyatu, menyatu dalam kekerabatan, menyatu dalam kegiatan adat istiadat, termasuk pembagian harta pusaka, harta pusaka rondah (rendah) bisa menjadi hak milik bagi ahli waris jika dipergunakan ilmu faraid (syara’) dan bisa menjadi pusako (pusaka) tinggi jika ahli waris bermusyawarah dan mufakat tidak membaginya, tetapi dijadikan pusako (pusaka tinggi, atau harta waris dibagi dua, sebagian dijadikan pusako (pusaka) tinggi dan sebagian lagi dibagi untuk ahli waris. B. Pembagian Harta Masyarakat Adat Sebagaimana telah dikemukakan uraian tentang rangkaian kata adat yang mengatakan: “Adat bersendikan Syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah” maka dalam pembagian harta pusaka masyarakat adat Kuantan Singingi tidak boleh keluar dari syariat Islam, dan jika keluar


52 dari syariat Islam maka adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah tidak berlaku lagi, haram hukumnya memakan hasil yang berasal dari harta pusaka tinggi yang bukan sesuai dengan tersebut. Agar pembagian harta pusaka pada masyarakat adat Kuantan Singingi, tetap berada pada syariat Islam maka harta itu terbagi dua yaitu: 1. Harta Pusaka (Rondah) Rendah. Pusaka rendah yaitu “harta yang didapat oleh suami istri. Ayah dan ibu) Dan menjadi warisan atau hak milik bagi anak-anaknya (ahli waris) apabila mereka meninggal dunia” harta ini adalah hak milik dan dapat disertifikatkan atau diperjual belikan oleh anaknya (ahli waris) sesuai dengan pembagian faraidh (hukum Islam). Pusaka rendah hanya sampai kepada tingkat cucu apabila harta tersebut sudah dibagi tingkat anak sesuai syariat dan musyawarah ahli waris maka kelompoknya ada 2 yaitu: a. Warisan (pusako rondah) yaitu harta yang akan dibagi. Cara pembagian harta pusako rondah (pusaka rendah). ada 3 yaitu: 1. Dibagi menurut hukum syar’I (faraid) yaitu pembagian untuk ahli waris laki-laki 2/3 dan untuk anak Perempuan 1/3 Jika ahli waris 1 laki-laki dan 1 perempuan. 2. Dibagi secara musyawarah dengan membagi sama rata atau setiap ahli waris mendapat hak yang sama banyaknya, atas beberapa pertimbangan umpama karena adanya ketimpangan ekonomi ahli waris 3. Dibagi secara musyawarah dengan tidak membaginya tetapi cara memakainya yang diatur, sesuai dengan waktu, tempat


53 dan keadaan ekonomi memakainya. Untuk point 1 dan 2 ahli waris dapat memiliki sepenuhnya dengan hak milik dengan mensertifikatkannya atau dengan memperjual belikannya. Sedangkan untuk point 3 masing-masing ahli waris tidak dapat memperjual belikannya baik sebagian maupun keseluruhan kecuali atas musyawarah semua ahli waris. b. Pewaris dan Ahli Waris Pewaris adalah orang yang mendapatkan (pemilik) harta umpama suami-istri ( ayah dan ibu). Maka pewaris mewariskan hartanya kepada ahli waris apabila meninggal dunia, sedangkan ahli waris orang yang berhak menerima warisan dari pewaris yang disebut harta warisan dengan ketentuan sebagai berikut: • Ahli waris laki-laki semua Jika ahli waris laki-laki semua maka harta warisan dapat dibagi rata, setiap ahli waris mendapat hak yang sama setelah semua melunasi semua kewajiban pewaris, umpama hutang atau amanah dan lain-lain. • Ahli waris Perempuan semua Jika ahli warisnya perempuan semua, maka pembagian dapat dilakukan pembagian sama rata, yaitu masing-masing ahli waris menerima hak yang sama setelah melunasi semua hutang amanah dan lain sebagainya. • Ahli waris terdiri dari laki-laki dan perempuan., Jika ahli waris terdiri dari laki-laki dan Perempuan, pembagiannya


54 harus menurut hukum syar’I (faraid) yaitu laki-laki mendapat 2/3 dari Perempuan. Akan tetapi dalam hal ini jika semua ahli waris sepakat dengan membagi harta warisan dengan membagi rata atau mendapat hak yang sama dibolehkan, karena atas beberapa pertimbangan, asal semua ahli waris menyetujuinya, tetapi jika ada satu saja ahli waris yang tidak menyetujui, maka pembagian harta warisan sesuai syar’I yaitu hukum faraid. • Jika Pewaris tidak punya anak. Apabila pewaris tidak mempunyai anak baik laki-laki atau Perempuan, maka yang menjadi ahli warisnya adalah orangtua,saudara kedua belah pihak (suami-istri). Tetapi apabila pewaris mempunyai anak, maka ahli waris (d) tidak berlaku atau terputus. Agar pembagian harta warisan yang baik dan benar, maka pembagiannya melalui pengadilan Agama daerah setempat.


55 Kebun karet berupa harta warisan. Harta warisan dapat diperjual belikan oleh ahli waris Sumber: halloriau.com 2. Harta Pusako Tinggi. Pusako tinggi adalah harta yang berasal dari hasil musyawarah ahli waris, bahwa harta tersebut tidak dibagikan kepada ahli warisnya sesuai dengan hukum syar’i, tetapi dimusyawarahkan agar harta tersebut disepakati secara bersama dalam keluarga besar pihak ibu. Dan diberikan terutama kepada keluarga Perempuan yang ada atau bagi yang memerlukannya, dikarenakan atau yang berdomisili di kampung, dan jika tidak berada di kampung akan dipedua dengan orang dengan kata lain bagi hasil. Pusako tinggi disuruh pakai karena: • Keadaan ekonomi yang berada pada area harta warisan, biasanya jika ladang dipakai Perempuan dan Perkebunan dikuasai laki-laki. • Untuk menjaga keselamatan harta tersebut agar tidak hilang, berkurang dan lain sebagainya. Sebagaimana disampaikan di atas bahwa: adat bersendikan syara’, Syara’ bersendikan kitabullah” maka segala ketentuan yang berlaku atas harta pusako tinggi adalah musyawarah mufakat, Pengalihan hak dari pusako rondah (pusaka rendah) untuk menjadi pusako (pusaka) tinggi adalah musyawarah para ahli waris, tanpa musyawarah maka hilanglah adat bersendi syara’ pada harta pusako tinggi tersebut, maka diragukan kehalalan yang diperoleh dari harta tersebut. karena timbul harta pusako tinggi adalah dari kesepakatan bersama ahli waris untuk menentukan kepemilikan dan pemakaian harta tersebut, apakah menjadi pusako rondah (pusaka rendah) atau pusako (pusaka) tinggi. Dalam hal pusako tinggi, tidak ada yang dikatakan dengan ahli waris


56 dan harta warisan, yang ada hanya suarang dan pemelihara suarang, penerus pemakai harta dan penyelamat harta suarang. Bagaimanapun tingginya pangkat, kedudukan seorang dalam masyarakat adat, dia tidak berhak untuk memiliki dan memperjual belikan harta pusako tinggi. Termasuk urang samondo, bagaimanapun kaya dan tinggi pangkat kedudukannya dalam pekerjaannya, orang samondo tidak berhak mengatur, menguasai harta pusako tinggi, meskipun dia telah menanam, merawat dan lain sebagainya selama ia menjadi orang samondo. Kemenakan hanya punya hak pakai. tidak ada petuah, pesan, amanah dan lain-lain dalam harta pusako tinggi untuk memilikinya. Jika terjadi jual beli pada pusako tinggi maka jual beli itu tidak sah dapat dibatalkan oleh ninik mamak, kerapatan adat atau ahli waris jika ia mengetahuinya. Segala resiko yang timbul akibat terjadi jual beli harta pusako tinggi ditanggung oleh pihak penjual dan pembeli. 3. Bentuk Harta Pusako. Masyarakat adat Kuantan Singingi mempunyai falsafah yang berbunyi “adat bersendi syara’ syara’ bersendi kitabullah” inilah pedoman dan panduan masyarakat adat Kuantan Singingi memegang dan menjalankan adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pengelolaan harta pusako, baik pusako rondah maupun pusako tinggi. Dalam Pusako rondah dapat diperjual belikan, karena yang mendapat bagian dari pusako rondah adalah ahli waris. Makanya dalam pembagian pusako rondah ninik-mamak sebagai penengah dan saksi tugas ninik mamak disini hanya memberikan masukan tentang silsilah keturunan jika pewaris mempunyai istri lebih dari satu atau mempunyai anak lebih dari satu ibu.


57 Sedangkan untuk pembagian pusako tinggi agar tidak keluar dari syari’at Islam. Maka kepemilikannya hanya hak pakai atas dasar asas manfaat. Sebab jika kita lihat, perhatikan dan bandingkan penguasaan harta pusako tinggi tidak sesuai syariat Islam, karena yang menguasai dan pemilikan dikuasai oleh bukan ahli waris tetapi orang yang tidak punya nasab dengan pewarisnya, yaitu kepada kemenakan dan cucu yang bukan ahli waris hubungan darah, tetapi telah berpindah kepada hubungan darah urang samondo. Dalam hal ini harus diingat, bahwa pemindahan dan penyerahan pusako tinggi ini bukan diserahkan begitu saja tetapi melalui musyawarah dan mufakat ahli waris sebelumnya, bahwa harta tersebut diserahkan secara musyawarah dan mufakat dengan catatan bahwa harta pusako tinggi merupakan hak pakai dengan asas manfaat bagi keluarga besar. jika ada pemegang harta pusako tinggi menjual belikan, maka perbuatan itu perbuatan tercela dan dapat dibatalkan oleh para ninikmamak melalui siding kerapatan adat oleh para datuk, kerugian yang timbul akibatnya ditanggung sendiri oleh si penjual dan si pembeli. Dalam pembagian harta pusako rondah dan pusako tinggi tidak boleh disatukan, tetapi harus dipisahkan, karena pusako rondah adalah hak milik dan dapat diperjualbelikan sedangkan pusako tinggi hak bersama atau hak pakai dengan asas manfaat.


58 Gambar Sawah atau ladang pusako tinggi, tidak boleh diperjual belikan Sumber : internet Yang termasuk kepada harta pusako rondah adalah semua harta baik bergerak, maupun tidak bergerak seperti kebun, sawah, ladang dan binatang ternak, sedangkan untuk pusako tinggi hanya harta yang tidak bergerak seperti kebun, sawah, ladang. Sebagaimana dikatakan pada perkara adat yaitu Adat yang sebenarnya adat adalah hukum Allah SWT dan sunnah Rasul dan petuah Melayu mengatakan “ Adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan Kitabullah” maka dalam pembagian harta pusako rondah dalam masyarakat harus berpedoman kepada Firman Allah Swt Surat Annisa’ ayat 11 yang artinya: Allah mensyariatkan (mewajibk kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua,


59 bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Untuk kedua orang tua, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua orang tuanya (saja), ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, ibunya mendapat seperenam. (Warisan tersebut dibagi) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan dilunasi) hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Maka berdasar Firman Allah Swt, dan penelusuran kami pada hukum faraid, mungkin untuk pembagian harta pusako rondah pada Masyarakat adat Kuantan Singingi perlu dikaji ulang oleh pemangku, para ulama dan cerdik pandai, karena pemilikan harta warisan secara musyawarah di luar ahli waris tidak ditemukan terkecuali sesama ahli waris. Mungkin dulunya pembagian harta pusako rondah pada masyarakat adat Kuantan Singingi bisa diterima, karena pada saat itu semua keluarga mempunyai harta yang cukup dan dapat dipergunakan untuk kehidupan, sehingga tidak menimbulkan masalah pada ahli warisnya, akan tetapi pada saat ini, berapa banyak ahli waris yang seharus mempunyai kehidupan yang layak dari harta orang tuanya, tetapi ia tidak bisa menikmatinya dikarenakan dikuasai oleh anak perempuan saja, sehingga yang mendapat penghasilan dari harta tersebut urang samondo (suami adik atau kakaknya). Jika hal ini berlarut-larut ke depan tentu akan membawa dampak buruk pada kehidupan anak pewaris, karena hak dia telah dipergunakan oleh orang yang bukan hak


60 miliknya., tetapi hak milik anak pewaris. Ada beberapa alasan untuk meluruskan tentang pembagian ini yaitu: • Firman Allah Swt, Surat An-Nisa’ ayat 11. Setiap ahli waris berhak untuk mendapat bagian tanpa ada ketergantungan ahli waris lainnya…dst • Qur’an mengatur pembagian warisan secara jelas. • Pembagian harta pada Masyarakat Adat Kuantan Singingi berdasarkan Adat Yang diadatkan yaitu berasal dari gagasan dan buah pikiran para leluhur yang piawai untuk mengatur lintas pergaulan dan kehidupan manusia. Pendapat dan gagasan yang luhur tersebut bisa dan dapat diubah apabila tidak sesuai dan tidak tepat lagi pada masanya. Karena cara dan pola kehidupan sudah berubah dari yang sebelumnya. • Untuk permasalahan yang sudah ada mungkin diluruskan secara musyawarah oleh para ahli waris dengan dimediasi dan disaksikan oleh ulama,ninik mamak dan pemangku adat persukuan. Dengan harapan yang sangat amat, maka marilah ke depan jika masih ada dalam Masyarakat Adat Kuantan Singingi ini yang belum sempurna mari kita sempurnakan dan diperbaiki sesuai dengan koridor hukum yang berlaku baik hukum syara’ maupun hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini. 4. Ulayat Masyarakat Adat Masyarakat adat telah menetapkan sebagian dari bumi dan air menjadi tanah ulayat, yaitu suatu kawasan tidak boleh dikuasai oleh pribadi, kelompok dan korporasi karena kawasan tersebut memberi manfaat


61 kepada orang banyak (masyarakat adat) untuk keperluan hidup yang bisa diambil sewaktu-waktu dengan tidak merusak dan apalagi memusnahkan isi dan kekayaan yang ada di dalamnya, ada beberapa kawasan yang menjadi ulayat masyarakat adat yaitu: • Kawasan aliran sungai, muara, danau dan pantai. Kawasan ini hanya boleh dikuasai oleh masyarakat adat, siapa saja dapat memanfaatkannya. Pada tempat ini puak-suku dapat memanfaatkannya seperti mencari ikan, kerang, udang, sebagai kebutuhan hidupnya. Alat penangkapnya pun yang ramah lingkungan, agar kekayaan yang ada tidak punah dan tetap terpelihara dengan baik. Aliran sungai salah satu ulayat masyarakat adat. Sumber: internet


62 • Padang penggembalaan, yaitu padang tanah ulayat yang menjadi milik masyarakat adat, adalah tanah padang. Tanah ini diperlukan tempat menggembalakan ternak besar seperti sapi dan kerbau. Ketika musim berladang padang ini tempat memberi makan ternak termasuk tanah kandang yaitu tanah yang diperuntukan bagi peternak (siapa saja tanpa tertentu) untuk membuat kandang , terutama peternak kerbau. Padang Penggembalaan Kerbau tanah ulayat masyarakat adat Sumber: korantempo.co • Tanah Koto, yaitu tanah ulayat yang diperuntukan untuk mendirikan rumah adat yang disebut dengan rumah koto. Rumah Koto adalah rumah adat tempat melaksanakan upacara persukuan adat atau pengukuhan pemangku adat.


63 Rumah Kota terletak di Tanah ulayat masyarakat adat Sumber Youtube.com Dalam masyarakat adat terdapat beberapa suku, maka masing-masing suku mempunyai rumah adat. Jadi rumah adat (koto) adalah tempat musyawarah adat persukuan. Di tanah koto juga didirikan masjid dan balai adat yaitu tempat bersidang Pemuka Adat jika ada suatu perkara yang akan diputuskan dan tempat ini juga tempat melaksanakan kegiatan silat. Tanah koto menjadi pusat segala kegiatan Lembaga Adat. Tanah ini ditempatkan pada tempat yang tinggi agar tidak dilanda banjir. • Tanah kuburan, setiap kenegerian atau kampung Masyarakat Adat Kuantan Singingi mempunyai tanah kuburan yaitu tanah yang diperuntukan untuk kuburan bagi yang meninggal. Lazimnya


64 pada tanah ulayat kuburan juga terdapat kelompok menurut suku yang ada pada negeri/kampung tersebut. Maka dari itu jika terjadi peristiwa kematian sebelum fardhu kifayah dilaksanakan musyawarah dimana si mayat dikuburkan. Tanah kuburan tanah ulayat masyarakat adat Sumber:www. fickr.com


65 BAB VI Adat Dan Tradisi Masyarakat Adat Masyarakat yang bermartabat adalah masyarakat yang tahu dengan identitas dirinya . Dia tidak hanya sekedar mencari dan mengumpulkan harta dalam hidupnya, tetapi ia juga berusaha mencari dan mendapatkan makna hidup. Untuk itu dia berusaha mengenal dan menghayati rangkaian nilai-nilai luhur yang mengalir dalam kehidupan masyarakat dan kelompoknya. Dia tidak menjadi kelompok peniru yang buta dan merasa rendah diri dengan nilai-nilai yang ia miliki. Tradisi kehidupan itu biasanya terbentuk setelah nilai-nilai itu diteruskan dan dipelihara paling kurang 3 generasi sekitar dalam waktu rentangan 75 – 100 tahun seterusnya. Kehidupan umat manusia telah terentang di dunia dari kelahiran sampai kematian. Kalau dilihat dari wujud jasmaninya, maka keberadaan manusia di dunia ini merupakan suatu lingkaran bermula dari ketiadaan, lalu menjadi berada dan kembali ketiadaan. Dalam rentang atau lingkaran itu terangkai 3 peristiwa penting perjalanan kehidupan manusia yaitu: A. Adat Tradisi Kelahiran Kelahiran seorang anak dipandang oleh puak-suku sebagai suatu berkah dari pada Allah Swt. Anak dipandang sebagai penyambung zuriat. Kelakuan anak yang bernada jenaka dan lucu akan menjadi penghibur dan pelipur lara hati, sedangkan perangainya yang berakhlak mulia akan menyejukan pandangan mata. Ketika ibunya mengandung banyak kebaikan yang dianjurkan serta ada larangan yang harus dihindarkan, semua ini tujuannya agar anak yang dilahirkan kelak menjadi anak yang sehat jasmani dan rohani serta tahu berbakti kepada ibu-bapak, taat menjalan agama Islam. Ibu yang hamil dilarang


66 mencela orang, dia harus rajin beribadah dan menjaga tingkah lakunya dari tabiat buruk. Jika ia mengidam maka idamannya itu harus dipenuhi, karena pengalaman itu bukan keinginan ibu semata, tetapi adalah permintaan anak yang ada dalam kandungan. Ibu yang sedang mengandung harus banyak berhubungan dan berkomunikasi dengan bidan agar ia selalu mendapat bimbingan dari bidan tentang kandungannya. Manusia dipandang oleh masyarakat adat puak-suku berasal dari Allah dan kembali kepada Allah, maka dari itu dalam pertumbuhan anak mulai dari 0 tahun – 18 tahun ada adat tradisi yang dilalui oleh anak-anak masyarakat adat puak-suku yaitu: 1. Masa Bayi Setelah anak selamat dilahirkan lalu dibaringkan di tempat tidur, kemudian sang ayah akan membacakan azan di telinga kanan dan iqamah di sebelah kiri, sehingga ia mendengar pertama kali adalah asma Allah dan Rasulullah Saw. Setelah anak berumur satu minggu diadakan upacara turun mandi. Pada acara turun mandi bayi dimandikan di sungai dan juga pada acara ini dibacakan do’a selamat, agar ia menjadi anak yang shaleh/ah Hampir tidak ada beda antara anak laki-laki dan perempuan. Anak yang baru lahir diberi nama yang baik dan diberi susu badan sampai umur 2 tahun agar ia tumbuh dengan baik dan sehat.


67 Upacara turun mandi, anak pancar diarak induak bako Sumber : internet 2. Masa Kanak-kanak Apabila anak usia 2 tahun ia berhenti menyusu badan ia menjadi perhatian keluarga dan pada usia ini sebelum anak tertidur disajikan bermacam dongeng-dongeng atau cerita-cerita yang disampaikan oleh nenek/tino atau kakek atau datuknya, seperti cerita kak kancil, cerita buaya dengan kancil, cerita datuk gergasi, serta cerita-cerita nabi, serta shalawat nabi dan lagu-lagu bernada Islami 3. Masa Remaja Apabila anak berumur 6 atau 7 tahun anak- mulai diajar mengaji. Tempat mengaji adalah surau atau masjid, dalam mengaji juga


68 diajarkan cara shalat, rukun Islam, rukun iman, Shalat berjama’ah, shalat jenazah, cerita para nabi dan rasul. Kelompok mengaji bersifat khaloqah yaitu duduk dan berkelompok menurut umur dan jenjang surat yang dibaca juz amma, qur’an dan lain-lain Pada usia ini anak-anak juga bersekolah, Anak-anak pagi hari sekolah dan malam harinya mengaji.. Pelajaran mengaji biasanya biasa diselesaikan sekitar 3- 4 tahun, yaitu pada usia 10 atau 12. Apabila bacaan qurannya baik dan tepat, maka tahap berikutnya adalah mempelajari ilmu tajwid, makhraj dan lagu Al-qur’an. Pada saat anak menyelesaikan pendidikan sekolah anak telah pandai membaca Al-Qur’an dan juga telah mengikuti khatam qur’an, agar ilmunya berkah dan selalu ingat membaca Al-qur’an Pada usia belasan tahun, maka anak laki-laki sunat rasul yang merupakan ajaran agama Islam yang hukumnya wajib setiap lakilaki muslim. Pada usia 18 tahun anak-anak masyarakat adat puaksuku suku telah pandai mengaji, shalat, serta menamatkan jenjang Pendidikan di tingkat sekolah menengah atas. B. Adat Tradisi Nikah Kawin Setelah menamatkan jenjang pendidikan tingkat atas, Sebagian anak akan melanjutkan ke perguruan tinggi, sebagiannya pergi merantau dan ada juga menatap di kampung membantu orang tua bekerja, sehingga mereka mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk masa depannya. Setelah mereka merasa punya kemampuan untuk berumah tangga, tentu akan disampaikannya dalam keluarga kecilnya seperti kepada ayah atau ibu atau orang yang dekat dengannya. Dalam hal memilih jodoh sebagai keluarga kecil tentu memberikan masukan dan pandangan sikap yang sebaiknya menjadi jodoh anaknya. Nikah kawin tentu saja berawal dari sentuhan pandang memandang


69 yang berkemungkinan dari pandangan antara anak laki-laki (bujang) dengan anak perempuan (gadis) atau bisa jadi pandangan ibu-bapak, atau kaum kerabat yang berminat untuk mencarikan jodoh anaknya. Untuk melaksanakan nikah-kawin ada beberapa penelusuran atau tahapan yang dilakukan yaitu: 1. Merisik. Merisik yaitu suatu menyiasati secara hati-hati tanpa sepengetahuan pihak manapun, karena tujuannya dari pada merisik adalah menyelidiki keadaan yang sebenarnya tentang pribadi si gadis yang akan dijadikan istri oleh laki-laki, sebab tidak boleh tahu oleh pihak perempuan agar tidak merasa malu, baik oleh pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Dalam merisik yang menjadi perhatian benar adalah keturunan, sifat-sifatnya, pergaulan dan kerabatnya. Dan yang sangat penting adalah bahwa si perempuan belum bertunangan atau belum berjanji dengan lakilaki lain, atau dengan siapa ia bergaul (berpacaran), jika hubungan masih longgar atau sekedar bermain tidak apa-apa, tapi kita sudah berjanji tidak mungkin lagi diganggu. 2. Melamar Hasil merisik dibawa ke dalam musyawarah keluarga, jika hasilnya tidak ada yang menghalangi, maka dilanjutkan dengan melamar atau meminang kepada pihak perempuan sebelum meminang, pihak laki-laki akan datang ke rumah pihak perempuan untuk menetapkan waktu dan hari pelaksanaan pelamaran, tepat waktu disepakati maka pihak laki-laki yang terdiri dari orang tua-tua dan perempuan datang ke rumah pihak perempuan dengan membawa” tepak sirih” yang berisikan kelengkapan daun sirih, kapur sirih, gambir, pinang dan sedikit tembakau. Dengan mengucapkan salam, rombongan dipersilahkan naik dan duduk


70 pada tempat yang telah disediakan tuan rumah dan disambut pula oleh tua-tua pihak perempuan dan hajat pun disampaikan pihak laki-laki. Pihak laki-laki. Assalamu alaikum kata dibuka Pohon rendah dahannya rendah Bertebar ke bumi buah bidara Makan sudah, sirih pun sudah Jerami di ladang harus dibabat Supaya tanaman banyak buahnya Kami datang membawa hajat Hajat orang kami disampaikan. Pihak Perempuan. Waalaikum salam jawaban salam Mengapa binti terbangnya rendah Supaya senang menangkap ikan Makan sudah, sirih pun sudah Khabar apa silah khabarkan Pihak laki-laki Batang pinang hendak dipanjat Tali sabut jangan diputuskan Kami datang membawa hajat Hajat dibawa harus disampaikan Batang kuini jangan dipanjat


71 Kalau dipanjat patah dahannya Datang kami membawa hajat Bunga di taman siapa yang punya Kalau masih belum berpunya Gementar hati selalu terkesan Kamilah wakil datang bertanya Kalau belum hendak berbesan Pihak perempuan. Dari Tembilahan sampai ke ke Cerenti Naik kapal kecil sampai ke Teluk Kuantan Sungguh senang rasa perasaan di hati Kecil tapak tangan, nyiru ditampungkan Lubuk jambi kota yang lama Kecamatan Benai baru berdiri Besarlah hati kami terima Punya dia dirinya sendiri. Dengan diterimanya lamaran tersebut, dibuatlah perundingan dengan menetapkan pertemuan berikutnya. 3. Antar Tando dan Hantaran Antar tando (tanda) dan belanja dilaksanakan pada hari yang telah disepakati bersama. Pada antar tando/belanja yang dibawa adalah “ tapak sirih sejuta pesan” dan bunga rampai serta sebentuk cincin sebagai lambang pengikat pertunangan dan sebagai tanda bagi yang lain agar tidak dipinang atau diganggu orang lagi karena sudah memakai cincin sebagai pengikat tanda bertunangan


72 Adat dan tradisi masyarakat antar belanja Sumber: Internet Pada antar belanja juga biasanya diserahkan berupa hantaran yang telah disepakati bersama pada waktu bertunangan. Dan ada juga hantaran tersebut diserahkan sesudah bertunangan, ini tergantung kepada kesepakatan kedua belah pihak. Pada acara antar tanda/ tunangan juga terjadi dialog sebagai berikut: Pihak Perempuan Dari mana hendak kemana Ada bekal dalam rantang besi Kalau boleh hamba bertanya Apa hajat awak datang kema Pihak Laki-laki Sungai Kuantan sungai bertuah Airnya keruh semenjak dini


73 Kedatangan kami membawa madah Karena ingin menepati janji Encik Saleh menyunting bunga Bunga disunting untuk Fatimah Kalau boleh hamba bertanya Siapa agaknya wakil tuan rumah. Orang berkemah di batas kota Duduk bersantai di tengah balai Bismillah kata awal dibuka Perundingan kita dapat dimulai Encik Saleh menyunting bunga Bunga disunting untuk Fatimah Kalau boleh hamba bertanya Siapa agaknya wakil tuan rumah. Orang berkemah di batas kota Duduk bersantai di tengah balai Bismillah kata awal dibuka Perundingan kita dapat dimulai Pihak Perempuan Kalau berjalan sampailah ke hulu Agar semua nya dapat kita amati Kalaulah niat hati sudah begitu Kami terima dengan senang hati Pihak laki-laki Piring tembaga aslinya padat


74 Dibuat pencetak kue bolu Kalau begitu kata sepakat Sirih setipak kami serahkan Pihak Perempuan Pinang bulat ujungnya lancip Pisau tajam terletak di atas para Sirih pinang sudah dicicip Hajat hati sampaikan juga. Pihak laki-laki Alhamdulilah kalau begitu kedatangan kami telah direstui dan disetujui, maka kami akan menepati janji yang kita buat sebelumnya yaitu perundingan tentang anak kemenakan kita. Pagi dan petang pergi memikat Pergi memikat burung kuaran Sesuai janji dengan mufakat Kami serahkan seperangkat hantaran Banyak orang memakan ketan Ketan dimakan di pagi hari Jumlah uang kami serahkan Tolong dihitung tuan sendiri Jalan ke tepian jalannya licin Kalau terjatuh sakitan badan Kami serahkan sebentuk cincin Sebagai tanda pengikat tunangan Pihak Perempuan Kebun di pagar dengan aur betung


75 Supaya tanaman dapat terselamatkan Uang tuan tak berani kami menghitung Jika tidak tuan yang menyaksikan. Pilinlah kapas agar jadi benangan Sarung dipakai untuk keluarga Cincin emas tanda bertunangan Sah sudah menurut adat Lembaga Setelah semua hantaran diserahkan, maka dilanjutkan dengan kesepakatan penetapan hari pelaksanaan ijab qabul, termasuk hari langsung atau upacara pesta pernikahannya dan segala yang berhubungan dengan pelaksanaan ijab qabul tersebut. Sebelum pelaksanaan pernikahan ijab qabul biasanya dilaksanakan berinai, tujuan dari berinai adalah untuk memberitahu, bahwa dia akan melaksanakan pernikahan ijab qabul yang akhirnya sebagai tanda ia telah bersuami untuk pengantin perempuan dan beristri bagi mempelai laki-laki. 4. Akad Nikah/Ijab Qabul Tepat pada hari yang telah ditetapkan, maka calon mempelai lakilaki datang ke rumah calon pengantin perempuan dengan diiringi oleh keluarga besar pihak laki-laki, ninik mamak, handai tolan, karib kerabat dan lengkap dengan dengan ulamanya, yang terlebih dahulu mengadakan doa di rumah laki-laki dan minta izin kepada kedua orang tuanya, sebagai keredhaan orangtua kepada anaknya untuk berumah tangga. Ijab qabul merupakan syariat yang harus dipenuhi sesuai dengan rukun nikah, jika tidak terpenuhi rukun, maka pernikahan tersebut tidak sah. Adapun rukun nikah adalah:


76 1. Shighat/ Ijab qabul 2. Ada mempelai laki-laki 3. Ada pengantin perempuan 4. Adanya wali (dari pihak Perempuan) 5. Adanya dua orang saksi 6. Adanya mahar/mas kawin Pelaksanaan Ijab Kabul pada pernikahan Sumber: internet Dengan terpenuhi semua rukun nikah maka pelaksanaan pernikahan tersebut sah menurut syariat dan undang-undang perkawinan. Setelah selesai ijab kabul, dilanjutkan dengan khutbah nikah


77 yaitu nasehat perkawinan, yang biasanya disampaikan oleh ulama atau ustaz dan penyerahan mahar oleh mempelai laki-laki kepada pengantin perempuan serta penyerahan surat nikah dari petugas sebagai bukti pernikahan sah menurut undang-undang Perkawinan. 5. Hari Langsung/Bersanding/Walimah. Pelaksanaan hari sanding atau pesta perkawinan dilaksanakan sesuai kesepakatan kedua belah pihak, pelaksanaan hari langsung adalah sebagai pemberitahuan kepada sanak saudara, handai taulan, orang sekampung, bahwa mereka telah resmi menjadi suami istri, sehingga tidak menimbulkan fitnah, biasanya pelaksanaan hari langsung dilaksanakan di rumah pengantin perempuan, tetapi ada juga setelah itu dilaksanakan di rumah mempelai laki-laki, ini tergantung kepada kesepakatan atau kemampuan ekonomi pihak mempelai laki-laki. Pada hari sanding pengantin perempuan dihiasi dengan memakai pakaian pengantin di rumahnya, demikian pula dengan mempelai laki-laki yang biasanya dipakaikan di rumah induak bako (keluarga Perempuan pihak ayah laki-laki), selesai berpakaian dibawa kembali ke rumah orangtuanya. Sebelum berangkat kerumah pengantin perempuan para ninik-mamak berunding memberi gelar kepada mempelai laki-laki sebagai panggilan bagi pihak mertuanya kepada menantunya. Gelar biasanya diberikan sesuai dengan keahliannya, jika ia seorang faham tentang agama maka diberi gelar pakih, jika ia pandai membaca al-quran, maka diberi gelar qari, begitulah seterusnya. Setelah pemberian gelar, maka atas kesepakatan keluarga perempuan melalui utusannya penjemput mempelai lakilaki ke rumahnya dengan diiring induak bako dengan iringan rarak berangkat menuju rumah pengantin perempuan. Setelah rombongan sampai di rumah pihak perempuan sebelum masuk


78 ke rumah dihalangi oleh kain panjang yang direntang sebagai penghalang yang disebut palang pintu. Wakil dari mempelai lakilaki dan pengantin Perempuan berhadapan dan akan berpantun: Ketua rombongan pengantin laki-laki mengucapkan salam. Assalamualaikum warrohmatullahiwabarakatuh. Dijawab oleh tuan rumah: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang tuan dan puan, selamat datang untuk semua rombongan. Pihak laki-laki. Anak ayam mati di kandang Mati di kandang ditimpa batu Kenapa kain batik dibentang Raja nak masuk bukakan pintu Hujan lebat baru kan teduh Kami berhenti sambil tertawa Soal kunci janganlah digaduh Kemana pergi tetap kami bawa Jangan dipakai barang yang lapuk Nanti banyak barang berserakan Kalau lah boleh kami ini masuk Nyawa dan badan kami serahkan Kaca di meja jangan dipecahkan Kalau pecah nanti luka tangan Pembuka pintu kami serahkan


79 Assalamualaikum kami ucapkan. Pada waktu itulah terjadi lempar-lemparan dengan beras kunyit dan akhirnya kain penutup pintu dibuka dengan terlebih dahulu menyerahkan buntil/kucungan yang berisi uang logam sebagai kunci pembuka palang pintu. Dan akhirnya kedua mempelai menduduki singgasana permaisuri dan raja dan dilanjutkan dengan sembah nasi dari ninik mamak kedua mempelai dan disini pula disampai gelar untuk mempelai laki-laki sebagai panggilan orangorang tua dari pihak Perempuan. Setelah selesai sembah nasi maka selesailah acara nikah-kawin kedua mempelai secara adat dan budaya dan dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat dari semua sanak saudara, handai tolan, dan semua undangan dari kedua belah pihak. Orang yang baru nikah disebut urang jolong atau sering disebut pengantin baru 6. Nikah/Kawin Baso Kawin baso adalah seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dimana perempuan yang dinikahi itu sesuku dengan istri sebelumnya. Kawin baso terjadi disebabkan antara lain: • Seorang laki-laki menikah lagi karena istrinya meninggal dunia, disebut dengan cerai mati • Seorang laki-laki menikah lagi karena bercerai dengan istrinya, karena adanya talak 1, 2, atau 3. • Seorang laki-laki menikah lagi karena ia mampu untuk beristri lebih dari 1 (poligami) Dalam masyarakat Adat Kuantan Singingi apabila terjadi kawin baso, ada dua hal ketentuan yaitu:


80 1. Kawin baso tidak bisa di utang/denda apabila cerai mati. Kawin baso karena cerai mati antara suami dan istri (cerai mati) tidak ada yang disakiti, bahkan jika ada cerai mati dibolehkan menikah dengan saudara kandung yang meninggal yang disebut salin tikar. 2. Kawin baso dapat didenda apabila cerai hidup talak, 1,2, atau 3, atau karena nikah lebih dari 1 orang (poligami), Denda diberikan kepada yang menikahi perempuan yang dicerai hidup saudara sesuku. Denda diberikan apabila pihak laki-laki sesuku merasa disakiti dan meminta kepada yang menikahi jandanya dengan memotong ternak kaki empat. Apabila tidak memenuhi denda dapat dihukum dengan: • Mengeluarkan dari persukuan • Mengusir dari kampung karena dikhawatirkan terjadi pertumpahan darah akibat dendam kesumat berkelanjutan. Tujuan dari pemberian denda adalah sebagai perdamaian dari kedua belah pihak. C. Adat Tradisi kematian Masyarakat Adat Kuantan Singingi memandang kematian merupakan perjalanan menuju akhirat Ilahi rabbi, sebagaimana yang dibentangkan dalam sastra melayu “ akhirat adalah masa depan yang hakiki” maka dari itu puak-suku masyarakat adat memandang dunia ini sebagaI titian menuju akhirat. Siapa yang berlalai-lalai di tengah titian menuju akhirat itulah orang yang paling merugi, ia akan jatuh ke dalam jurang yang dalam (neraka)


81 Dalam keadaan sakaratul maut bacakan kalimat lailahaillallah “ Sumber: internet Kematian biasanya bersebab dengan penyakit, walaupun tanpa penyakit manusia itu tetap akan mati, sebab hidup dan mati dalam genggam Tuhan, sehingga nama sanjungan-Nya sebanyak Sembilan Puluh Sembilan Asmaul Husna untuk mengagungkannya. Dalam mengobati penyakit si sakit selalu menggunakan ramuan bermacam tumbuhan sekitarnya, ramuan ditawari dipandang menjadi obat, selalu dipergunakan untuk orang sakit. Dukun memandang penyakit tidak membunuh dan obat tidak tidak menyembuhkan, yang menyembuhkan dan membunuh bukan siapa-siapa, tetapi adalah Tuhan itu sendiri dan karena itu mereka percaya setiap penyakit ada obatnya, karena itu berobat adalah sebagai ikhtiar, sebab Tuhan memberikan potensi budaya berupa pikiran, perasaan, kehendak dan angan-angan serta tenaga untuk bertindak.


82 Apabila si sakit sudah kelihatan sudah mendekat ajal begitu parah, rapuh semakin tidak berdaya, nafasnya sudah sesak, maka dianjurkan banyak membaca ” lailahaillallah “ menyebut nama Allah, dan jika si sakit suara dan geraknya semakin hilang, maka dianjurkan agar keluarga membimbing dengan membisikan ke telinganya membaca “La Ilaha Illallah” dan jika sakaratul maut tiba, maka si sakit berubah menjadi mayat, tangan dilipat di dada , mulut dirapatkan dan diselimutkan di tengah ruangan rumah dan orang sekampung diberi tahu dengan membunyikan bedug atau tabuh. Dalam Masyarakat adat Kuantan Singingi tidak boleh meratapi mayat, jika menangis cukup menangis dengan kesedihan, jika diratapi akan menambah beban si mayat. Mayat diselenggarakan secara syariat atau ajaran Agama islam yaitu dimandikan, dikafankan, lalu dishalatkan dan dikuburkan di kuburan kampung. Sebelum diberangkatkan ke kuburan ahli waris akan memberikan kata sambutan untuk menghaturkan terima kasih dan maaf, serta jika ada utang piutang agar dapat diselesaikan dengan ahli warisnya. Kematian merupakan peristiwa besar yang tak dapat dihindarkan oleh siapapun. Dalam agama Islam kematian disebut dengan kiamat kecil, kematian adalah musibah yang paling berat menimpa manusia terutama para keluarga. Sebab suka tidak suka harus menerima nya. Ini adalah bagian dari qadar yang cukup berat untuk menguji manusia. D. Tradisi Masyarakat Adat 1. Tradisi Doa Padang/Olek-olek Padang Siklus dan pergantian antara kepentingan petani dengan peternak ini telah dibuat agar tanah perladangan terpelihara kesuburannya.


83 Pelaksanaan doa padang sebelum turun tanam Sumber: busernews24.com Sebab ketika padi selesai dituai , ternak dapat mencari makan di sana. Di situlah ternak merumput, kawin dan membuang kotorannya. Hasilnya, disamping ternak berkembang biak dengan baik, ladang padi juga mendapat pupuk alam dari kotoran ternak. Kemudian ada lagi kebiasaan tradisi masyarakat adat Kuantan Singingi mencegah kemalangan atau kerusakan yang bisa datang menimpa ladang, maka untuk mengatasi adalah: • Pemangku adat membuat ketentuan, turun ke ladang secara serentak. Untuk itu diadakan upacara turun ke ladang yang disebut dengan do’a padang atau olek-olek padang. Dalam upacara ini petani dan perangkat adat, pemerintah berkumpul


84 bersama pada suatu lapangan di pinggir ladang/sawah. Pada acara ini diadakan acara makan bersama serta do’a meminta kepada Tuhan minta agar pada masa musim tanam yang akan datang selamat dengan hasil yang memuaskan. • Kedua dibentuk organisasi tani, untuk mengerjakan ladang yang disebut dengan tobo (batobo). Kelompok ini bekerja secara bergiliran ke ladang yang dimiliki oleh anggota tobo. Dengan demikian ladang cepat selesai . Dengan adanya turun ke ladang secara serentak, termasuk mengerjakan ladang secara bersama-sama dapat mengurangi gangguan yang akan menimpa dan mengurangi hama yang akan menyerang, karena dapat ditanggulangi secara bersama-sama, sehingga kerugian peladang dapat diatasi dan berkurang jika terjadi musibah. 2. Tradisi Pacu Jalur Jalur sejenis perahu khusus yang terdapat di Kabupaten Kuantan Singingi yaitu untuk diperlombakan pada waktu tertentu, yaitu pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Idul Adha, ulang tahun desa dan lain-lain. Budaya pacu jalur sudah menjadi tradisi turun temurun. Karena itu pada umumnya setiap kampung atau desa di Kabupaten Kuantan Singingi ada mempunyai jalur. Bahkan jalur sudah menjadi simbol persatuan kegotong royongan suatu desa atau kampung. Semakin baik suatu jalur, maka itu melambangkan kampung tersebut mempunyai persatuan dan kegotongroyongan yang baik. Kegiatan pacu jalur sudah ada sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, dimana pada awalnya terciptanya pacu jalur adalah setelah


Click to View FlipBook Version