Acep Syahril Belajar dari Puisi i
ii Belajar dari Puisi Acep Syahril
Acep Syahril
BELAJAR DARI PUISI
Kumpulan Kritik Puisi
Acep Syahril Belajar dari Puisi i
Judul
Belajar dari Puisi
Penulis
Acep Syahril
ISBN:
Cetakan: Pertama, September 2022
Ukuran 14 x 21 Cm
Tebal halaman vi + 132 hlm
Penerbit: Teras Budaya Jakarta
Alamat
JL. Raya Lenteng Agung Timur,
Gg H Zakaria 1 No 32
Tlp 021-72737356/ WA: 081298960280
email: [email protected]
Jakarta Selatan
Copyright©
Hak cipta dilindungi undang-undang
ii Belajar dari Puisi Acep Syahril
Pengatar
Semua tulisan yang ada di buku ini ditulis sejak 1987, sebagian
besar buku yang menjadi sumbernya diperoleh langsung dari
penyairnya dari perjalanan selama belasan tahun, selain ada
yang dikirim melalui paket. Dan telah dimuat disejumlah
koran cetak seperti, Merdeka, Swadesi, Taruna Baru, Warta
Massa, Berita Yudha, Sinar Pagi, Ampera, independent, Mitra
Dialog, Radar Cirebon, Cakra Bangsa dan lain-lain.
Acep Syahril Belajar dari Puisi iii
iv Belajar dari Puisi Acep Syahril
Daftar Isi iii
vii
Pengantar
1
Daftar Isi 12
1. Kata dan Kebendaan yang Mengantar 20
24
Kematian(Serampas: Kumpulan Cerpen Asro Al 29
Murthawy) 38
2. Bejigar, Keliaran Imajinasi yang Verbal 44
3. Daun-Daun Tadarus Bercermin dan Keinginan 51
56
Untuk Pulang. 59
4. Norawi Haji Kata Bahasa Personal yang Hidup di 64
71
Luar Kecemburuan 75
5. Orasi Sunyi Yohanto A. Nugraha: Perih Yang 80
87
Tersimpan 1/2 Abad 92
6. Pelajaran Dari Dosa-Dosa Petualang (Catatan
Buku Puisi Chandra N Pangeran)
7. Rintihan Tajam: Junus Astradirdja Antologi Puisi
Pertama di Banten
8. Puisi-Puisi yang Tetap Hidup Setelah Kematian
9. Sri Sunarti dan Gen Bahasa di Pelataran Senja
10. Visualisasi Kata yang Mendera Koruptor
11. Dialektika Tekstual yang Berdiri di luar
Pantun
12. Faris Al Faisal: Antara Manifestasi Alam
dan Manusia
13. Dunia Aku dan Sajak: Catatan untuk Buku
Iriani R Tandi
14. M. Enthieh Mudakir dan Eksistensialisme yang
Utuh
15. Puisi dari Kepak Angsa Putih
16. Keinginan Menjadi yang Keras dari Dunia Maya
17. Supali Kasim, Impresionisme Sejarah Dalam
Acep Syahril Belajar dari Puisi v
Puisi 97
18. Narasi Cinta ke 54, Kijoen
19. Kisah-Kisah Peradaban dalam Kirab Bambang 105
Widiatmoko 110
20. Perlawanan dengan Gaya Romantik 115
21. Suharyoto Sastrosuwignyo Dalam Dialektika
Fundamental 119
22. Visualisasi Miris dari Kejengkelan 128
Syarifudin Arifin
Index 133
vi Belajar dari Puisi Acep Syahril
Kata dan Kebendaan
Yang Mengantar Kematian
(Catatan Atas Kumpulan Cerpen Asro Al-Murthawy)
Salah satu cerita rakyat yang sudah melekat di lidah
masyarakat Jambi, tentang perjuangan heroik seorang
raja diraja, adalah kisah Tiang Bungkuk. Dimana kisah
heroik serta pembangkangan Tiang Bungkuk terhadap
Raja Jambi di Kerajaan Melayu Jambi itu berakhir hanya
oleh tipu muslihat seorang ahli diplomat kerajaan,
cerdik cendekiawan jaris bijaksana, yakni Pangeran
Temanggung.
Kisah Tiang Bungkuk ini diolah Asro Al Murthawy
dalam cerpennya bertajuk “Lemang dan Kematian”,
tergabung dalam satu buku kumpulan cerita pendek
“Sarampas” yang memuat memuat 9 cerita pendek
lainnya Keris Sekin Medanggiri, Rahasia-rahasia Tuk
Tamol, Sang Titisan, Kruk, Penyair, Sarti, Batang Pinang,
dan Hati Yang Terbelah. Yang diterbitkan TS Publisher
tahun 2020 dengan ISBN 978-623-7902-54-6.
Serampas adalah satu wilayah (Kecamatan) yang
berbatasan dengan Kabupaten Kerinci dan Kabupaten
Merangin yang kemudian disebut sebagai Kerinci
Rendah. Di daerah ini memiliki akulturasi unik antara
agama (Islam) dengan budaya lama (animisme) yang
masih dipertahankan, selain kekuatan mistis yang tetap
menelikung dalam kehidupan masyarakatnya. Sementara
cerita perjuangan atau kisah-kisah kepahlawanan
dengan kesaktian serta kekuatan suppra yang paling
mendominasi di wilayah Kerinci dan sekitarnya seperti
Tiang Bungkuk selain akrab di lidah masyarakat juga
telah menjadi pelajaran untuk muatan lokal.
Acep Syahril Belajar dari Puisi 1
Asro Al Murthawy, lebih dikenal sebagai penyair
yang memilih domisili di Merangin – Jambi. Lahir
Temanggung, pada tanggal 6 November ( ), adalah
Ketua Umum Dewan Kesenian Merangin dan Anggota
Komite Sastra Dewan Kesenian Jambi. Karya- karyanya
terhimpun dalam Syahadat Senggama (k.puisi, 2017)
Equabilibrium Retak (2007), Lagu Bocah Kubu (puisi,
tanpa tahun), Kunun Kuda Lumping (k.Cerpen, 2016)
,Lenting Basmalah (k. puisi 2020) dan berbagai antologi
bersama sastrawan Indonesia lainnya. Karyanya yang
lain: Pangeran Sutan Galumat (2017), Pengedum Si
Anak Rimba (2018), Mengenal Lima Sastrawan Jambi
(2018), Katan dan Jubah Sang Raja Hutan (2019) Bujang
Peniduk (2019) dan Ujung Tanjung Muara Masumai
(2019) diterbitkan oleh Kantor Bahasa Jambi sebagai
Pemenang Sayembara.. Hadir dalam Temu Sastra
Indonesia I (2008), Pertemuan Penyair Nusantara VI
(2012) Jambi, MUNSI II (2017) Jakarta, Pertemuan
Penyair Asia Tenggara (2018) Padang Panjang,dan
Borobudur Writter And Cultural Festival.
Taktik dan Konflik
Tiga kali penyerangan yang dilakukan oleh para
penjaga keamanan istana (Dubalang) Raja Jambi dari
Kerajaan Melayu untuk menaklukkan Tiang Bungkuk
atau Mendugo Rajo berakhir sia-sia. Dari penyerangan
itu akibatnya banyak Dubalang yang gugur oleh senjata
pamungkas Tiang Bungkuk.
Tidak hanya itu, bahkan keberingasan Tiang Bungkuk
yang telah dibakar kebencian oleh sikap egois Raja
Jambi untuk menangkap Tiang Bungkuk agar tunduk
pada Kerajaan Melayu membuatnya semakin berang
2 Belajar dari Puisi Acep Syahril
dengan terus menyusun kekuatan untuk melawan dan
menghabisi lawan-lawannya.
Kemarahan ini bermula ketika Kerajaan Mataram
mengirimkan Kain Kebesaran kepada Tiang Bungkuk,
namun sebelum “empat helai kain kebesaran” tersebut
sampai ke tangan Tiang Bungkuk, diperjalanan tepatnya
di Rencong Telang (merupakan wilayah yang dibatasi
alam yang konon pada masa itu sulit dilintasi manusia
karena merupakan bagian dari kawasan yang permukaan
nya bergelombang, berbukit, bergunu ng, terdiri dari
dataran tinggi dan dataran rendah) utusan Kerajaan
Mataram dicegat oleh Raja Jambi dan mengambil kain
kebesaran itu deng an maksud pihak Kerajaan Melayu
yang mengantarkannya ke Tamiai. Mendengar berita ini
Tiang Bungkuk marah besar:
kalau berletuk (berjantung) pisang
menghadap daerah Jambi ditebasnya
kalau berkokok ayam
menghadap daerah Jambi
dipancungnya hidup-hidup.
Cerpen Lemang dan Kematian ini sebenarnya
memiliki kekuatan kisah dari konflik kekuasaan dan
politik terhadap suatu kekuasaan yang masih berpegang
teguh pada suatu keyakinan dan alam. Salah satu
konflik itu adalah taktik Raja Jambi yang menyarankan
Kerajaan Mataram untuk memberikan penghargaan
terhadap Tiang Bungkuk berupa kain suluk (kain
terbuat dari sutra) yang menjadi symbol kewibawaan
seorang laki-laki satria jika diikatkan dikepala, serta
beberapa benda lainnya. Karena pada saat itu Kerajaan
Acep Syahril Belajar dari Puisi 3
Mataram menginginkan kekuatan tambahan untuk
dapat membantu barisannya. Dan salah satu kekuatan
tambahan yang telah ditandai yakni Kerajaan Sungai
Ngiang dengan rajanya Tiang Bungkuk.
Namun konflik yang dibangun dari taktik Kerajaan
Melayu Jambi ini bias dalam cerpen Lemang dan kema
tian. Asro hanya menampilkan siasat Raja Jambi yang
kemudian mengambil empat helai kain suluk yang
dikirim dari Kerajaan Mataram. Dengan maksud kain
tersebut akan mereka serahkan sendiri kepada Tiang
Bungkuk sebagai salah satu upaya membujuk Kerajaan
Sungai Ngiang mau bergabung dengan Kerajaan Melalyu
Jambi, plus sebagai dukungan terhadap kekuatan
Mataram.
Persoalan ini cepat ditangkap oleh Tiang Bungkuk
sebagai siasat buruk yang dianggap menciderai
kepercayaan rakyatnya, sehingga dia tidak hanya
menolak pemberian dari Kerajaan Mataram tersebut,
tapi juga menolak untuk menerima kedatangan utusan
Kerajaan Melayu Jambi yang akan mengantarkan empat
helai kain suluk tadi.
Kisah pembangkangan dan per lawanan yang
dilakukan Tiang Bungkuk awalnya sempat membuat
Raja Jambi kewalahan, sebab puluhan dubalang yang
dia kirim untuk melumpuhkan Tiang Bungkuk nasib
mereka tidak diketahui. Konon semuanya mati terbunuh
oleh keris pusaka Tiang Bungkuk dan di kubur di
wilayah Tamiai. Sampai akhirnya Raja mulai kehabisan
akal untuk menangkap dan bahkan melenyapkan Tiang
Bungkuk yang tidak hanya ter kenal sakti itu, tapi juga
kuat dengan pendiriannya.
Sampai suatu waktu Raja Jambi mengumpulkan
4 Belajar dari Puisi Acep Syahril
sebagian orang penting di Istana Kerajaan Melayu
Jambi dan mencari orang yang dianggap mampu
menghabisi Tiang Bungkuk. Dari pertemuan itu muncul
lah seorang ahli diplomat kerajaan, cerdik cendekiawan
jaris bijaksana, yakni Pangeran Temanggung.
Dari sinilah kemudian terbetik ide licik Pangeran
Temanggung. Artinya kalau hanya dengan empat helai
kain suluk yang terbuat dari sutra saja Tiang Bungkuk
begitu berharap, apalagi jika ditawarkan hadiah lain
yang nilainya jauh lebih mewah, menggiurkan dan
harapan.
Maka disiapkanlah sebuah baju kebesaran kerajaan
terbuat dari sutera bersulamkan benang emas, sehingga
menyilaukan mata saat memandangnya. Selain itu
disiapkan juga dubalang-dubalang pilihan dan kuat.
Tibalah pada hari yang telah ditentukan, sebariasan
dubalang yang telah dipersiapkan dengan segala
perhitungan sesuai siasat yang telah direncanakan
menggiring keberangka tan Pengeran Temanggung.
Karuan diperjalanan mereka dicegat oleh pasukan
Tiang Bungkuk.
“Berapa orang lagi dubalang yang mau tewas, berapa
jenang lagi yang mau kalian korbankan?”. Teriakku
lantang. Memang dalam beberapa kali penyerangan
mereka, tak sekalipun mereka menang.
“Kami datang bukan hendak mengadakan cekak-
kelahi, kedatangan kali ini adalah hendak berunding.
Kami utusan Panembahan Rantau Kapas,raja Melayu
Jambi. Dilepas pergi dengan pelepasnya, balik dengan
penantinya. Jika pergi tampak punggung, jika datang
tampak muka.” (halaman 8-9).
Acep Syahril Belajar dari Puisi 5
Kekuatan Bahasa dan Kebendaan
Tipu muslihat itu hanya berupa kata- kata yang jauh
dari bahasa peradaban hirarki berikut kebendaan yang
juga jauh dari strata sosial di wilayah kekuasaan Tiang
Bungkuk sebagai Kerajaan Sungai Ngiang yang masih
berumah di dalam gua pada saat itu. Hal ini dibuktikan
dari hasil peneliti Paleontologi Indonesia E. Dubois di
Gua Tiangko Sungai Manau Kabupa ten Merangin yang
jauh sebelumnya dihuni ras manusia Australomela
nesid antara 6000 - 9000 tahun SM.
“Ini adalah baju kerajaan, yang kami sembahkan
untuk Tuan yang kami akui menjadi penguasa daerah ini,
Paduko Tiang Bungkuk Mendugo Rajo”.
Siapa yang takkan berbesar hati mendengar
pengakuan para utusan itu, maka jangan kalian salahkan
aku jika tanpa sadar baju itu kuambil dan langsung
kukenakan. Ketika ku sarungkan lengan baju dan tertutu
plah mataku oleh baju kebesaran itu, seseorang yang
kelak kutahu sebagai Pangeran Temenggung Kabul
Di Bukit, memberi isyarat kepada dubalang-dubalang
pilihan itu.(halaman 9).
“Tangkap!” suaranya mengguntur.
Aku didera rasa kaget yang teramat sangat. Belum
pulih kesadaranku, ketika sebuah jaring besi, tiba-tiba
telah menyungkup seluruh tubuhku. Kalian tahu, itulah
Jalo Suto Jalo Embun. Jala yang dibuat khusus untuk
menangkapku terbuat dari besi angkus sembilan biso
Oh, aku telah masuk dalam jebakan. Aku terperangkap
kini. Saat itu, kulihat maut mendekat. Tombak-tombak
runcing, seperti berlomba merajam tubuhku..... (halaman
-9).
Maka saat itu juga ditaklukanlah Tiang Bungkuk
6 Belajar dari Puisi Acep Syahril
menggunakan “Jalo Suto Jalo Embun” atau Jala yang
dibuat khusus untuk menangkap seseorang yang
memiliki kesaktian tinggi terbuat dari “besi angkus
sembilan biso”
(besi angkus dan sembilan bisa –hewan).
Perlawanan Tiang Bungkuk terhadap Raja Jambi
(Kerajaan Melayu) adalah suatu keniscayaan, selain
karena pelanggaran etika kompleksitas antara adat dan
adab juga otoritas kekuasaan dari Raja Jambi terhadap
wilayah kekuasaan Tiang Bungkuk (Kerinci) yang
berdaulat dan tunduk pada Kerajaan Pagarruyung.
“Mempertahankan bumi tumpah darah tugas
utamaku lahir di bumi Tuhan ini. Mereka boleh saja
mengu tukku, dan menganggapku sebagai pe Mberontak.
Atspi sadarkah mereka, bahwa sebenarnyalah mereka
yang salah?
Dari masa nenek puyang kita dahulu Kerinci adalah
wilayah yang berdaulat dan tidak tunduk kepada
kerajaan manapun. Wajarkah mereka memungut
uang jajah sementara belum sekalipun mereka datang
menyapa kami di negeri kami sendiri?” (halaman 10-11).
Aku tokoh dalam cerita pendek “Lemang dan
Kematian” Halaman 7 - 13 pada kumpulan cerpen
“Serampas” Asro Al Murthawy ini, menggunakan
persona sudut pandang orang pertama dengan gaya
“aku” narator. Dimana secara hermeneutik dapat
menguak banyak persoalan yang awalnya belum
sepenuhnya dipahami masyarakat. Termasuk proairetik
atau gaya otokratis Tiang Bungkuk yang kemudian
menjadi penandaan budaya heroik pada zamannya.
Aku menyadari setiap perjuangan memiliki resikonya
sendiri. Ketika aku memilih jalan pembangkangan ini, aku
Acep Syahril Belajar dari Puisi 7
paham betul kemungkinan dan segala konsekwensinya.
Apa yang kudapat kini, sudah terpikir sebelumnya. Aku
telah membunuh, sebentar lagi aku juga akan dibunuh.
Sebuah konsekuensi logis yang harus kuterima.
Tetapi perlulah kalian catat, aku membunuh bukan
karena aku menginginkannya. Aku membunuh karena
suatu hal yang lebih besar: harga diri.Ya, siapapun
sanggup menjadi pembunuh, bila harga dirinya telah
diinjak-injak.Setiap orang memiliki keyakinan masing-
masing.Dan aku yakin bahwa apa yang kulakukan itulah
yang terbaik. (halaman 10).
Dimana kode yang mengatur alur suatu cerita
(proairetik) dari serangkaian aksi yang saling berkaitan
satu sama lain dapat dipahami. Walaupun sebenarnya
masih ada beberapa konflik yang tidak diceritakan
secara teks. Namun dari alur cerita yang ditawarkan
Asro Al Murthawy bisa saja nyambung menjadi bagian
cerita Tiang Bungkuk yang sudah tidak asing lagi di
masyarakat Jambi.
Paling menarik dari cerpen Lemang dan Kematian
yang alur ceritanya lebih mendepankan konflik ini
endingnya berakhir atas kekuatan kata dan benda. Sebab
konflik fisik dari tiga kali penyerangan yang dilakukan
oleh pasukan Kerajaan Melayu Jambi untuk menangkap
Tiang Bungkuk, selalu berakhir dengan kematian yang
sia-sia.
Tapi ketika pada pertemuan keempat, datangnya
Diplomat Kerajaan Pangeran Temanggung melalui tutur
katanya yang terkesan tinggi dan menyanjung. Karena
kultur dan komunikasi yang tertata dan beradab,
moment ini seolah menjadi satu kesempatan bagi
Tiang Bungkuk untuk menerima kedatangan Pangeran
8 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Temanggung. Sebagai seorang petinggi Tiang Bungkuk
sangat memahami bahasa yang membuat hatinya
berbunga-bunga, namun secara taktik Tiang Bungkuk
yang tidak mengenal basa basi menerimanya sebagai hal
yang lumrah. Penghormatan seorang Dilomat Kerajaan
kepada seorang Raja.
“Kami datang bukan hendak mengadakan cekak-
kelahi, kedatangan kali ini adalah hendak berunding.
Kami utusan Panembahan Rantau Kapas, raja Melayu
Jambi. Dilepas pergi dengan pelepasnya, balik dengan
penantinya. Jika pergi tampak punggung, jika datang
tampak muka.”
Selain kekuatan bahasa, kebendaan menjadi suatu
symbol yang tidak bisa dipungkiri pengaruhnya pada
strata bawah. Apalagi benda yang ditawarkan berasal
dari sebuah kerajaan besar dengan pengaruhnya
yang luar biasa. Hal ini jelas membuat Tiang Bungkuk
merasa tersanjung, serta menyingkirkan segala dugaan
kasarnya atas perseteruannya dengan Raja Jambi.
Sementara kekuatan narasi dalam cerpen ini juga
mampu menjembatani bagian-bagian penting cerita
tentang perjuangan heroik Tiang Bungkuk. Dimana
sebagian orang ada yang beranggapan bahwa Tiang
Bungkuk. Dimana sebagian orang ada yang beranggapan
bahwa Tiang Bungkuk tidak lebih dari seorang
pecundang, namun pada cerpen Lemang dan Kematian
ini, Asro Al Murthawy mempertegas plot itu:
Aku menyadari setiap perjuangan memiliki resikonya
sendiri. Ketika aku memilih jalan pembangkangan ini, aku
paham betul kemungkinan dan segala konsekwensinya.
Apa yang kudapat kini, sudah terpikir sebelumnya. Aku
telah membunuh, sebentar lagi aku juga akan dibunuh.
Acep Syahril Belajar dari Puisi 9
Sebuah konse kuensi logis yang harus kuterima.
Tetapi perlulah kalian catat, aku membunuh bukan
karena aku meng inginkannya. Aku membunuh karena
suatu hal yang lebih besar: harga diri.Ya, siapapun
sanggup menjadi pembunuh, bila harga dirinya telah
diinjak-injak.Setiap orang memiliki keyakinan masing-
masing. Dan aku yakin bahwa apa yang kulakukan itulah
yang terbaik.
Perlakuan keji yang dilakukan para algojo terhadap
Tiang Bungkuk selama dalam penjara di Kerajaan Jambi
sangat tidak manusiawi selain merendahkan harkat
kemanusiaan seseorang. Hal inilah yang kemudian
membuat Tiang Bungkuk mulai putus asa. Sampai
suatu ketika dia menga jukan satu permohonan kepada
Raja Jambi, yakni “sebelum saya menghembuskan nafas
terakhir, saya ingin sekali mencicipi makanan dari
Kerinci”.
Permintaan Tiang Bungkuk kemudian disampaikan
kepada istri nya, Nai Meh Bulan. Oleh Nai Meh Bulan
dimasaklah lemang, di dalam lemang di masukkan keris
sakti, dan di buat lepat, di dalam lepat di isinya “pisau
rencong”. Konon pisau rencong ini dapat membunuh
orang sakti yang kebal terhadap senjata besi apapun.
untuk membunuh orang kebal (keramat).
Melalui lemang dan lepat yang dikemas rapi
diserahkanlah kiriman istri Tiang Bungkuk itu kepada
Raja Jambi. Raja Jambi yang mengetahui isinya, Tiang
Bungkuk pun dibawa menghadap Raja Jambi. Raja Jambi
awalnya curiga dengan kedua benda tersebut langsung
bertanya kepada Tiang Bungkuk.
Disitu Tiang Bungkuk menyatakan maksud dan
tujuannya, “itulah satu-satunya senjata yang mempan
10 Belajar dari Puisi Acep Syahril
membunuh saya, andaikan senjata itu kalau dapat saya
rebut darimu, Jambi Sembilan Lurah akan saya selesaikan,
dan sekarang saya relakan nyawa saya”.
Acep Syahril Belajar dari Puisi 11
Bejigar, Keliaran Imajinasi
yang Verbal
(Catatasn atas Novel DG Kumarsana)
Entah kapan tepatnya perkembangan penulisan
karya sastra Indonesia, khususnya novel, dan cerita
pendek dengan tema-tema local terus bermunculuan di
arus sastra Indonesia akhir-akhir ini. Jenis karya-karya
sastra tersebut selain ada yang hanya membaurkan
kosa kata daerah di dalamnya dengan mengangkat
tema-tema local, ada juga karya sastra yang sepenuhnya
menggunakan bahasa daerah (full local language).
Sementara karya-karya sastra berbahasa dan atau
dengan nuansa local termasuk sebagai salah satu produk
sosial yang mengandung nilai-nilai kehidupan aktual,
realitas imajiner maupun kisah-kisah local yang hidup
dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya,
tidak hanya sekedar menampilkan keunikan kisah. Tapi
juga sebagai pengetahuan dari keberagaman budaya
yang harus tetap hidup di era digital menghanyutkan
ini. Sebagaimana dicatatkan Chatcharee Naritoom
bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan (knowledge)
yang terakumulasi berupa pelajaran dari berbagai
situasi manyarakat dalam suartu wilayah.
Seperti Prosa Liris DG Kumarsana, “Bejigar”
menampilkan 23 kisah dalam satu cerita yang
mengangkat persoalan sosial dengan latar belakang
klenik, yakni ilmu pellet. Dimana persoalan ini
sebenarnya sejak lama ada dan berkembang di tengah-
tengah masyarakat Indonesia, termasuk juga ilmu
santet, babi ngepet dan lain-lain.
Namun Kumarsana dalam hal ini secara spesifik
12 Belajar dari Puisi Acep Syahril
lebih focus pada pengupasan sikap serta prilaku
seseorang yang tidak bisa menguasai dirinya atas
kekuatan senggeger yang dipelajarinya. Sehingga
energy si pemilik ilmu pellet atau senggeger ini lebih
dominan mengikuti keinginan-keinginan liar gaib yang
telah menguasai akal sehatnya.
Bejigar atau setara dengan kata umpatan “Bajingan”,
begitu sebutan bagi mereka yang berprilaku tidak
umum atau bahkan telah melanggar jauh norma-
norma kehidupan di masyarakat. Dimana kata bajingan
ini sudah sering digunakan dalam pergaulan anak-
anak muda di pulau Jawa dan Jogjakarta khususnya. Tapi
di Lombok atau di Bali kata Bejigar ternyata memikul
makna yang lebih berat dari pada bajingan.
Artinya walaupun bejigar dalam hal ini telah
menjadi bahasa pergaulan namun keberadaannya tetap
memiliki beban moral yang pernah hidup dan melekat
pada perilaku individu yang cenderung tidak baik.
Pada prosa liris bejigar karya DG Kumarsana dengan
23 kisah setebal 99 halaman ini merupakan sebuah
petualangan bejigar yang diolah mengalir secara retoris
dalam bahasa kiasan yang dihidupkan oleh diksi-diksi
local. Sehingga dapat membuat pembacanya penasaran
untuk mmemasuki pada kisah-kisah lainnya.
Plot yang dibangun Kumarsana dengan tokoh sentral
yang disebut Bejigar, adalah seorang bernama “Bajil”,
nama ini sebenarnya nama panggilan teman-teman
dimasa sekolahnya dulu, Bajil atau Tongbajil. Karena
bentuk fisiknya digambarkan dalam cerita ini bertubuh
pendek gempal dan berwajah bulat tak sepadan.
Sementara dalam keluarganya panggilan Kak
Tuan Bajil cukup membuat posisinya lebih terhormat,
Acep Syahril Belajar dari Puisi 13
apalagi setelah dia pergi naik haji, panggilan Haji
Bajil membuatnya lebih disegani dalam keluarga.
Sebagai tokoh utama Bajil juga adalah tokoh antagonis,
sedangkan Sahatun adalah tokoh Tirtagonis berbeda
dengan Ayu dan Rosalia yang berperan sebagai
protagonist.
Bajil berasal dari suatu desa pencil Titian Kembir,
adalah sosok laki-laki yang secara fisik memiliki
kekurangan, namun memiliki banyak kelebihan.
Selain bekerja sebagai tenaga pengajar di sebuah
sekolah menengah (SMP) dia sukses dalam mengelola
Pelatihan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
didaerah tinggalnya. Tidak hanya itu, dia juga berhasil
membuka usaha pembuatan seragam sekolah dengan
mempekerjakan banyak kaum ibu dan anak-anak gadis
sekitar untuk pekerjaan menjahit.
Kelebihan Bajil tidak banyak dimiliki orang
sekampungnya, dia bisa masuk keberbagai tingkatan
pergaulan di masyarakat termasuk celah-celah
kekuasaan setingkat Dinas Pendidikan. Sepak terjang
serta rayuannya untuk mempengaruhi cara berfikir
para pejabat ditingkat kecamatan itu tidaklah sulit
baginya, apalagi setelah dia menguasai ilmu pellet atau
senggeger yang diperoleh dari salah seorang dukun
senggeger terkenal di wilayah tinggalnya.
Berbekal senggeger inilah guru Bajil dapat
menguasai cara berfikir para pejabat itu untuk selalu
mengiyakan setiap keinginannya memalaui proposal
yang dia ajukan. Dengan terlebih dahulu memberikan
sejumlah uang pelican sebagai langkah awal untuk
memuluskan keinginannya, menyusul kemudian para
pejabat itu nantinya juga akan kebagian persentase dari
14 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Bajil ketika proposalnya sudah berhasil dicairkan.
Sedangkan kekurangan yang paling mencolok di
masyarakat dari Bajil adalah prilaku seksnya yang
tidak bisa terbendung, apalagi setelah dia menguasai
ilmu pelet siapapun perempuan yang pernah masuk
dalam daftar keinginan untuk dia tiduri, pasti akan dia
wujudkan. Dari mulai perempuan yang pernah menolak
cintanya, janda-janda, istri orang sampai ke murid-
muridnya yang masih perawan.
Termasuk untuk memenuhi keinginan-keinginan
seks para pejabat yang suka berselingkuh, semua itu
akan dia siapkan sebagai salah satu komitmen untuk
memuluskan segala keinginannya mengkorup uang
negara melalui proposal-proposal bodong yang dia
ciptakan.
Imajinasi yang Menderas
Bukusetebal99halamaninipalingtidakakanmenjadi
pengalaman tersendiri bagi penulisnya. Bagaimana
tidak. Karena dalam penulisannya Kumarsana seperti
tidak sabar untuk menurunkan keliaran imajinasinya
yang terus berkecamuk dalam berbagai konflik yang
diperankan tokoh sengtral yang dia beri stempel
sebagai “bejigar” itu. Sebab konflik yang dibangun
Kumarsana pada prosa lirisnya ini lebih dominan pada
hubungan bejigar dengan perempuan-perempuannya,
selain hubungannya dengan para pejabat untuk
mendapatkan proyek seragam dan bantuan-bantuan
dana, yang kemudian dibagi tiga dengan para pejabat
yang meloloskannya demi kelancaran PKBM yang dia
kelola. Sehingga kederasan imajinasi Kumarsana di sini
nyaris terjebak dalam penuturan verbal sebagaimana
Acep Syahril Belajar dari Puisi 15
pengekspresiannya pada saat bejigar bergumul
dengan perempuan-perempuan yang telah jatuh dalam
pelukannya.
Korban pertamanya adalah Sahatun, warga Titian
Kembir berparas cantik dan memikat, yang juga
sebagai pengelola Pelatihan Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM) di mana sebelumnya gagal dinikahi
Bajil. Selain karena ditolak sebelumnya, mereka juga
kemudian sibuk untuk memajukan karir di dunia
pendidikan. Namun setelah Bajil memiliki ilmu pellet,
maka niatnya untuk menguasai Sahatun pun sampai
kemudian mereka menikah. Padahal Sahatun adalah
kembang desa yang tidak mudah ditaklukan, termasuk
para pemuda di desa yang menginginkan, hanya Bejigar
lah yang mampu menguasai pikirannya. Tapi rumah
tangga mereka seringkali terguncang oleh banyak
hal termasuk prilaku buruk Bajil yang semakin menggila
menjajal ajimat senggegernya kepada anak-anak
gadis perawan yang sedang mekar di desanya, sampai
kemudian Sahatun minta diceraikan.
“Adalah Bejigar, lelaki kecil berkemauan besar.
Suka gonta-ganti pasangan dan matanya tak bisa lepas
menatap setiap tubuh wanita. Sering berkhayal telanjang
dengan pikiran-pikirannya yang telanjang pula. Menatap
lewat mata telanjang dengan dunianya yang telanjang
bulat. Bulat dunia yang bugil. Khayalan yang terwujud
dalam kenyataan”. (2. Keajaiban Asmara; Halaman 10).
Karena Sahatun telah menjadi bagian dari hidup
Bejigar Bajil, otomatis energy yang penuh ambisi itupun
tertular pada Sahatun khususnya dalam mengumpulkan
pundi-pundi uang dengan caranya sendiri:
16 Belajar dari Puisi Acep Syahril
“Membenahi cara menjual dan membeli.
Memperkenalkan teori dagang. Istilahnya, manajemen
dalam berbisnis, kendati sebuah bisnis kecil-kecilan. Yang
jelas sasarannya kena. Ibarat iklan; secuil mengeluarkan
energi dan otak namun hasilnya benar-benar dahsyat.
Dan setiap pedagang yang dikunjungi tentu akan
jelas dan paham apa maksud kedatangan Sahatun.
Dagang gendong yang sarat muatan semangat hidup
tinggi menggebugebu. Dan Sahatun menerapkan teori
manajemen itu. Memberi modal kepada setiap dagang
gendong yang melintas di rumah-rumah penduduk.
Hidup sinergis dalam hawa desa yang mutualis berwarna
kepolosan saling tolong 21 menolong sesama mahluk
hidup. Membentuk rantai kecil memanjang yang saling
membutuhkan. Saling menguntungkan satu sama lain.”
(6. Bukan Rentenir Konyol: Halaman 16-17).
Keliaran imajinasi Kumarsana disini tergambarkan
ketika dia benar-benar hanyut setelah menguasai
sepenuhnya peran sentral Bajil sebagai bejigar
yang melakukan petualangannya dengan ajimat
senggeger pada saat berganti-ganti perempuan
demi menuntaskan nafsu seksnya. Hamipr sebagian
besar kalimat-kalimat bersayap mengalir menderas,
berlari berkejaran dengan konflik yang dibangun
secara psikologis dari tokoh berwatak jahatnya itu.
Serta keliaran jiwa-jiwa rapuh yang menjadi korban
kerusakan moral bejigar dalam kalimat-kalimat kiasan
diwarnai diksi-diksi local yang diatur iramanya. seperti:
“Sebagaimana kelihaiannya memburu lubang-lubang
kegelapan setiap betina yang menjadi gelegak irama
senggamanya nan tak lepas-lepas. Tidak ada yang sisa.
Acep Syahril Belajar dari Puisi 17
Semua lubang menjadi pelarian. Para Keluarga yang siap
menghakimi melepas geram.” (Cinta ini Bukan Titah Air
Soma Para Dewa; Halaman 18-19).
Atau pada pengekspresiannya ketika Bajil berusaha
menyogok para pejabat dinas dengan perempuan demi
kelancaran tawaran proposal demi proyek yang dia
inginkan:
“Itu sih agar pejabat yang jadi angan dalam
keinginannya untuk menembus dinding proyek bernilai
jutaan, tidak mengecewakan manakala mengetahui
perempuan yang disodorkan ternyata hanya daging
lembek tak mengeluarkan uap birahi. Karena dia merasa
yakin, sosok wanita memiliki sepasang buah dada yang
indah. Selalu diburu yang gempal-gempal dan ranum.
Dengan bokong yang semok, tentunya. Dan pasti
kenikmatan di balik itu semua terletak pada sepasang
puting yang membuat sorot matanya menjadi ngial.” (14.
Dongeng Laki-Laki Pemuja Senggeger; Halaman 55-56).
Kekerasan verbal adalah kekerasan dalam bentuk
kata atau kalimat, hal ini nyaris tidak disadari karena
sifatnya tidak langsung, oleh sebab itu kekerasan verbal
jarang sekali dipersoalkan. Padahal secara psikologis
sifatnya sangat mengganggu, khususnya bagi pembaca
perempuan. Hal inilah yang menghanyutkan kreativitas
Kumarsana yang asyik dengan keliaran imajinasinya.
Keliaran imajinasi yang menghadirkan kata serta
kalimat-kalimat verbal yang mampu menyeret imajinasi
pembaca. Padahal “bahasa merupakan cerminan
masyarakat dan diimplikasikan secara kuat dalam
konstruksi dan pelestarian pembagian sosial dan
ketidaksetaraan, bahwa posisi yang menentukan dan
18 Belajar dari Puisi Acep Syahril
menunjukkan kehidupan sosial dan kepribadian dibentuk
oleh bahasa dan wacana yang melibatkan manusia.
Bahasa merefleksikan dan memproyeksikan bias
mengenai laki-laki dan perempuan. Proyeksi tersebut
muncul melalui tindak tutur, gestur, intonasi, dan pilihan
kata yang digunakan.” (David Graddol & Joan Swann
dalam bukunya Gender Voices).
Acep Syahril Belajar dari Puisi 19
Daun-daun Tadarus
Bercermin dan Keinginan Pulang
(Catatan atas buku kumpulan puisi Daun-Daun
Tadarus, Isbedy Stiawan ZS)
Even Sastra Bengkulu 12 – 13 Februari 1998 itu
adalah pertemuan terakhirku dengan kawan-kawan
penyair Sumatera, sebab tanggal 28 Februari mendatang
aku dan istri akan pindah ke Indramayu. Alhamdulillah
dari pertemuan itu aku dapat oleh-oleh banyak buku
kumpulan puisi dari kawan-kawan penyair, seperti
Ilhamdi Sulaeman, Dadan Bahtera, Azrul Thaib, dan
yang paling membanggakan buku kumpulan puisi
“Daun-Daun Tadarus” karya Isbedy Stiawan ZS yang
langsung diberikan penyairnya kepadaku di pelataran
Taman Budaya Bengkulu, Rabu, 11 Februari 1998.
Salah seorang penyair Indonesia yang cukup
diperhitungkan, dan puisi-puisinya sangat aku sukai
sejak mengenalnya 11 tahun lalu di Taman Budaya
Padang, pada kegiatan Temu Penyair Indonesia 1987.
Selain itu produktivitasnya juga sangat luar biasa,
hampir setiap minggu aku selalu membaca puisi-
puisinya di lembaran budaya surat kabar (kalau tidak)
di Berita Buana, Pelita, Jayakarta, Swadesi dan lain-lain.
Daun-Daun Tadarus dengan sampul berwarna
hijau serta ilustrasi tiga bangau terbang yang digarap
Ferdiansyah Semai, berikut tata letaknya ini dicetak
pertama 1997 dan diterbitkan Bingkai-Lampost.
Buku setebal 28 halaman ini memuat 20 puisi Isbedy
Stiawan ZS dengan pengantar Bambang Eka Wijaya,
selaku Pemimpin Redaksi surat kabar Lampung Post.
20 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Dalam pengantarnya yang padat terdiri dari 6
paragraf itu, Bambang Eka Wijaya menyoroti Isbedy
Stiawan ZS sebagai penyair “yang menghujat kefanaan”.
Walaupun secara teoritis Bambang tidak sampai
mengurai alasannya dengan detail, namun sebagai
pembaca yang baik aku percaya apa yang dikatakan
Bambang Eka Wijaya itu benar. Karena hampir sebagian
besar puisi-puisi Isbedy lebih pada pemujaan dunia
baqa dengan unsur-unsur kegamaan yang kuat.
Membaca puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS perasaan aku
tidak bisa menjauh dari Wahyu Prasetya, Fakhrunnas
MA Jabar, Taufiq Ikram Jamil, Ajamudin Tifani, Hamdi
Salad, Jamal D Rahman, Abdul Wachid BS, D Zawawi
Imron, Hijaj Yamani dan banyak lagi penyair yang sama.
Selain Abdul Hadi WM sebagai penular trending puisi-
puisi religius tersebut.
Dari 20 puisi Isbedy di Daun- Daun Tadarus, aku
membaca 8 puisi dengan tema sosial (Aku Jadi Rumah
Sakit, Jangan Usik Kami, Tragedi, Hanya Sandiwara,
Bukan Lirik Pop, Kupu-Kupu dan Kepompong itu, dan
Menatap Wajah Sendiri). Selebihnya puisi-puisi bertema
ke Tuhan-an yang terasa lebih khas pengolahannya.
Namun dari keseluruhan puisi di Daun-Daun Tadarus
ini secara transenden ada keinginan kuat penyairnya
“bercermin dan keinginan untuk pulang”, dengan
mengambil dua puisi yang kuanggap mewakilinya.
Yang paling aku suka sejak dulu dengan puisi-puisi
Isbedy Stiawan ZS adalah pada kejeliannya memilih
kata, pilihan kata pada puisi-puisinya cenderung hidup
dan tidak berdiri sendiri-sendiri. Seperti pada puisi
“Ekstase Batu” (Halaman 9): //Aku jadi batu. Diam di
air sungai yang gemuruh. Warna-warna daun jadi hijau
Acep Syahril Belajar dari Puisi 21
kembali:
berbunga dan wanginya/melayang ke rumah-Mu. Bukan
Cuma cinta, tapi kepasrahanku/telah pula kuserahkan ke
dalam tahajudku!//.
Batu merupakan kata benda kongkrit yang secara
imajeri visual sudah dapat dibayangkan wujudnya, lalu
bagaimana keberadaannya ketika berada di air sungai
yang “gemuruh”. Artinya diantara kehirukpikukan dunia
dan kesibukan tak bertara, si penyair tetap khusyu’ dan
lebur ketika sampai pada saatnya menyerahkan diri ke
Illahi Robbi.
Bahkan dari pengalaman tahajud itu si penyair
seperti tengah menceritakan perjalanan transendennya
kepada pembaca: /Seperti kapas, aku telah berangkat
dari sarangku yang pengap//. Pilihan kata kapas
membuat puisi tersebut menjadi lebih terasa hidup
bagaimana perjalanan ruh si penyair saat mengalami
peristiwa transeden dalam sujud dipertiga malam itu.
Atau pada puisi “Iktikaf” (Halaman 15), atau akafa
yang berarti berdiam diri di suatu tempat (bisa juga
masjid) untuk semata-mata beribadah dan berserah diri
kepada Allah SWT. Pada puisi ini si penyair sangat runut
menuliskan pengalaman religinya. //aku harus pulang
ke rumah sendiri/setelah lama kusetubuhi berbagai
warna capung…../.
Iktikaf di sini bisa jadi kata kerja sama halnya dengan
“pulang”, pulang yang bukan dalam pengertian verbal
(ke rumah) melainkan ke kekedalaman hati nurani
atau kekedalaman ruh. Setelah “pergi” ke dunia luas
dan melebur dikehiruk-pikukan dengan segala aktivitas
serta lebur dalam berbagai komunikasi menyejukkan
atau sebaliknya.
22 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Dari kata pergi sebagai kata kerja aktif, sudah
semesti
nya si penyair mendapatkan banyak hal baik yang
bersifat kebendaan maupun non kebendaan, dan sudah
barang tentu semuanya bermanfaat ketika dibawa
“pulang”. Artinya si penyair tidak hanya pulang ke
rumah(verbal), tapi juga pulang menemu dirinya yang
paling dalam untuk kemudian bercermin atas apa yang
dia dapatkan dari pergi tadi. Dan pulang adalah menjadi
titik awal perubahan atas segala sikap tabiat yang
selama ini membuatnya lupa diri. Sedangkan pulang
selanjutnya menemu diri sendiri, setelah itu “mati”.
Dalam pengasingan ini,
kueja nafas sungai.
Kurasakan
sakit hati lumpur dan
ranting. Juga lumut yang
Belum mau hijrah dari
nuraniku.
Inilah iktikaf itu, pulang dan bercermin “setelah
lama kusetubuhi berbagai warna capung/…..mengapa
tetap kauinginkan warna dosaku?//.
Indramayu, Juli 1999
Acep Syahril Belajar dari Puisi 23
Norawi Haji Kata
Bahasa Personal yang Hidup
di Luar Kecemburuan
(Catatan atas buku kumpulan puisi Penyair Malaysia
Norawi Haji Kata, Lelaki Yang Datang Dari Jauh)
Suatu kali dimusim penghujan tahun 2013 aku
mendatangi Norawi Haji Kata di sebuah hotel yang
kebetulan berkunjung ke Bandung dengan (empat) 4
kilo gram buah mangga gedong gincu. Salah seorang
penyair Malaysia yang aku kenal dengan cara berfikirnya
yang unik dan menggoda. Karena cara pandang serta
pengolahan idenya yang menarik untuk diwujudkan
dalam sebuah puisi. Artinya antara ucapan dengan karya
yang dia hasilkan, sama. Karena aku sudah membaca
sebagian besar karya-karya puisinya.
Tapi sayangnya pada pertemuan hari itu ada satu
percakapan terlewatkan, dan Norawi Haji Kata tidak
merekam sepenuhnya atas percakapan tersebut. Ketika
dia memuji rasa bauh mangga gedong gincu yang begitu
unik dan luar biasa dengan rasa manis, asam serta asin
yang seimbang.
Kukatakan kalau buah mangga di Indramayu
memiliki sejarah perdaban panjang pada masa
perkembangan Budha antara abad ke 4 dan 5. Karena
buah mangga disini merupakan salah satu jenis buah
yang dikonsumsi bagi para vegetarian pada saat itu,
sebagaimana juga pernah ditegaskan arkeolog Prof. Dr.
Agus Aris Munandar, M.Hum, dimana Indramayu pada
waktu itu menjadi salah satu pusat intelektual.
Artinya kalau saja percakapan kami saat itu terekam
24 Belajar dari Puisi Acep Syahril
dengan baik, aku yakin penyair ini pasti akan memiliki
gairah untuk mengekspresikan kata “manis, asam
dan asin” tersebut dengan segenap imajinasinya yang
dipersonifikasikan dalam sebuah karya kontemplatif.
Seperti membaca puisi-puisi yang ada di buku
Lelaki yang Datang dari Jauh (LYDDJ) ini, bagaimana
Norawi Haji Kata (Norawi) berusaha keras untuk
masuk ke dalam diri seseorang yang kemudian dia seret
sebegitu jauh dalam berbagai persoalan politik, sosial,
serta individual yang dia kocek habis sebagai sosok
yang “lengah, lalai, jatuh, sakit dan terhempas lepas”
dari berbagai atributnya sebagai seseorang yang pernah
berkuasa dan berani atas tahtanya.
Subjektivitas ini tentu sangat beralasan, sebab ada 13
puisi yang sepertinya dia sengaja untuk diekspresikan
sebagai sebuah pelajaran bagi pembacanya. Pelajaran
yang tidak hanya menggambarkan bagaimana sebuah
kekuasaan saat digenggam seseorang, tapi juga
pelajaran tentang hati ruh dan jiwa yang seringkali
dilupakan manusia sebagai makhluk Allah Azza Wajjala
yang lemah lalai dan pelupa.
Dia lelaki yang sering kulihat di kaca televisyen
di zaman aku mabuk cinta dan mentah bicara
namanya selalu disebut dan dibual bicara
kerana dia memang pun pernah bernama dan
ternama.
Namun takdir telah menjadikan dia demikian
apabila pada suatu ketika namanya didiamkan
sehingga aku hampir lupa dengannya.
Namun kini dia harus bangkit
Acep Syahril Belajar dari Puisi 25
tapi bukan gelojoh seperti sarigala menerkam
mangsa
dia harus tenang dan harus faham
hanya rakyat yang dapat mengembalikannya
seperti hari-hari sebelum ini.
(Lelaki yang Datang dari Jauh)
Masih dalam persoalan subjektif terhadap seseorang,
tapi subjektifitas ini tidak lebih sebagai pelajaran bagi
pembacanya. Bagaimana Norawi merekam cara berfikir
orang yang dia kenal dengan menyelami kekedalaman
rasa dan nalar yang tengah berkuasa. Bagaimana ketika
seseorang tadi senantiasa merindukan sanjungan pujian,
disitu dia harus mampu menciptakan trik yang mudah
ditiru orang yang kembali menyanjung dan memujinya.
Hal ini Norawi gambarkan seseorang tadi dengan ular
yang memiliki kesamaan bisa, dimana bisa bisa tersebut
dipersonifikasikan sebagai pujian yang sebenarnya
racun tanpa disadari telah melenakan dirinya.
Kaubebas berkata apa sahaja
kerana ular-ular di sana sedang merindui
setiap butiran kata yang kauterjemahkan
tak ada apa-apa yang perlu kaucurigaI
kerana lidahmu memang telah dimerdekakan
untuk menganugerahkan pujian dan kesakitan.
(Lidah Yang Dirindui Ular)
Pengilustrasian dunia ular disini dihidupkan oleh
26 Belajar dari Puisi Acep Syahril
majas yang secara hiperbol memberikan kesan
kuat
terhadap keberadaan seseorang yang dia gambarkan
telah keluar dari struktur kehidupan masyarakat biasa.
Yakni dunia dengan pergulatan tahta, harta, wanita dan
janji-janji yang terus dipropagandakan sebagai sebuah
harapan bagi masyarakatnya. Oleh Norawi pergulatan
hidup legislative atau bentuk jabatan lain yang
menyerempet pada kekuasaan atas pribadi-pribadi
yang tidak amanah dia katakan ular dengan bisa yang
telah menutup jalan pikiran mereka, sebab:
Memasuki dunia ular bukanlah tugas yang mudah
kauharus menelaah sifat dan kesukaannya
jika tidak, kerjamu hanya sia-sia.
(Memilih Dunia Ular)
Subjektifitas Norawi atas pengalaman yang dia
geluti dan dia rasakan diekspresikan dalam suatu
gambaran umum dari kegelisahan personal yang tidak
lagi berkesan kecemburuan. Tapi lebih pada penegasan
sosial atas prilaku-prilaku menyimpang para pejabat
yang dia kuliti dari mulai tingkah laku, sikap dan bahkan
ucapan yang lebih berharap pada pujian, sanjungan
serta janji-janji kosong menyakitkan.
Walaupun secara verbal ada kesan keliaran
personal pada puisi-puisinya, namun keliaran tersebut
dia bungkus dengan baik menggunakan diksi-diksi
pilihan yang membuat pembacanya akan senantiasa
mengkerenyitkan kening.
Puisi-puisi yang ditulis Norawi Haji Kata di buku
LYDDJ ini hampir sepenuhnya lahir dari kegelisahan
Acep Syahril Belajar dari Puisi 27
personal yang bertumpu pada suatu persoalan, yakni
persoalan social yang menjurus pada suatu penyakit
kejiwaan, skizofrenia. Gangguan mental yang terjadi
dalam jangka panjang, yang menyebabkan penderitanya
mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan
berpikir, dan perubahan perilaku.
Artinya bisa saja buku ini menjadi sebuah teraphi
soaial atau sebaliknya akan menjadi boomerang
bagi
penyairnya yang hidup di ranah melayu yang lebih
mendepankan tradisi sanjungan antara “hamba dan
rajanya”.
Sebab sampai hari ini aku belum pernah membaca
sebuah buku kumpulan puisi penyair Malaysia yang
isinya lebih focus dengan kritik social, yang tidak hanya
memotret kehidupan para pejabatnya tapi juga orang-
orang sekeliling mereka yang menjalani kehidupan
dengan tradisi saling menyanjung, menjilat, dan penuh
pujian.
Norawi Haji Kata boleh dibilang penyair pertama
yang berani melanggar pakem kesantunan dalam
berpuisi di Malaysia, yang selama ini lebih dibungkus
dengan kalimat-kalimat penuh basa basi untuk
mengkritik penguasa dan para pejabatnya.
28 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Orasi Sunyi Yohanto A. Nugraha:
Perih yang Tersimpan 1/2 Abad
(Dari buku kumpulan puisi Orasi Sunyi,
Yohanto A Nugraha)
MESKI tidak dilahirkan di jambi, tapi aku sangat akrab
dengan peta, tradisi, budaya, dan kultur masyarakatnya.
Karena aku pernah hidup belasan tahun di kota ini.
Orang tuaku (bapak) berasal dari Minang dan ibu dari
Cilimus, Kuningan, Jawa Barat. Mereka merantau ke
Jambi dan memilih tinggal di belakang gedung film
(bioskop Murni) tempat kumpulnya para preman dan
penjudi, pemabuk dan pemain perempuan disitu kami
hidup berbaur bersama masyarakat Tionghoa.
Meski kami hidup berbaur namun dari pergaulan
itu aku merasa ada batasan yang sulit untuk dimengerti,
apalagi dalam penggunaan bahasa. Mereka lebih memilih
bahasa mereka sendiri untuk komunikasi sehari-hari,
sehingga pada waktu SD aku sangat menguasai bahasa
Tionghua.
Tapi perkenalanku dengan Yahanto A Nugraha
di Indramayu, yang kebetulan Tionghoa ini, aku
menangkap perbedaan dua kutub “menggoda”. Terutama
dari falsafah hidupnya. Disatu sisi aku melihat keuletan
dan kegigihan teman-temanku di jambi, seperti At
Tiam, Tan Ling Kiong, Chiu Hang Poo atau Cung Meilan
yang lebih konsen berburu ekonomi dan harta, disatu
sisi aku tertegun oleh keuletan dan kegigihan Yohanto
menumpuk puisi dan rasa, bertaruh dengan ruang dan
waktu memilih dunia penyair sebagai jalan hidupnya.
Atas keseriusannya inilah ketertarikanku ingin
membaca pemikiran-pemikiran Yohanto melalui puisi-
Acep Syahril Belajar dari Puisi 29
puisi yang ditulisnya. Seperti keseriusan almarhum
kakeknya si pematung batu kubur, Lie Keng Bie itu.
Selain keunikan biografi yang dia bangun karena
tekanan ekonomi, Yohanto pernah jadi kemit (penjaga
malam) di salah satu Bank Perkreditan Rakyat di kota
kelahirannya. Beberapa tahun kemudian dia naik tahta
jadi Ketua Dewan Kesenian Indramayu pada periode
2004 – 2007.
Yohanto lahir di Indramayu dari ibu bernama Lie
Kiem Hwa, 18 Februari 1955. Diparuh 80-an bersama
seniman lainnya dia mendirikan Kreatifitas Sastra
Indramayu (Kreasi) sembari mengasuh siaran programa
sastra di Radio Cindelaras dan Radio Siaran Pemerintah
Daerah (RSPD).
Puisi-puisinya tidak begitu banyak terpublisir di
media cetak tapi pernah dimuat dibeberapa surat kabar
terbitan Cirebon, Bandung dan Jakarta, sedangkan
sebagian besar tergabung dalam buku kumpulan puisi
bersama penyair Indramayu lainnya seperti, Antologi
Penulis Indramayu (Kreasi, 1982), Tanah Garam (Kreasi,
1992), Kiser Pesisiran (Formasi, 1994), Jurang (Formasi,
1999), Negri Minyak (Dewan Kesenian Indramayu - DKI,
2001), Lagu Matahari (DKI, 2004), Antologi 9 Penyair
Jawa Barat (Budpar Jabar, 2005), serta kumpulan puisi
tunggalnya Orasi Sunyi (Formasi, 2005).
Orasi Sunyi merupakan buku kumpulan puisi
pertamanya, diterbitkan Forum Masyarakat Sastra
Indramayu (Formasi), pertengahan Januari 2005
memuat 71 puisi yang dia tulis dalam rentang waktu 30
tahun, antara 1974 – 2004.
Kumpulan puisi perdana yang sengaja dia
persiapkan dan dibacakan pada 18 Februari 2005, di
30 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Gedung Kesenian Panti Budaya Indramayu, sebagai
penandaan setengah abad (50 tahun) usianya. Dan
moment ini juga merupakan jawaban dari impiannya
selama bertahun-tahun untuk memiliki buku kumpulan
puisi pribadi yang mengemas puisi-puisinya.
Tapi membaca puisi-puisi Yohanto, aku seperti
tengah berhadapan dengan penyairnya yang memiliki
“keterbatasan” literatur, namun punya kekuatan insting
dalam membangun imajinasi. Imajinasi yang hanya
mampu menghidupkan kata-kata lalu dikonsfigurasi
menjadi irama berbeda tentang kehidupan dengan
banyak perih tersimpan di dalamnya.
Keterbatasan literatur di sini sangat kentara pada
wawasan puisi serta penggunaan diksi pembangkit atau
perangsang kalimat, seperti mengusung, penziarah,
masa silam, mengisyaratkan, menterjemahkan, mimpi-
mimpi, melayari sunyi, menyuling, burung-burung,
burung sikatan dan lain-lain yang kemudian bisa
ditemukan juga pada puisi-puisinya yang lain. Hal ini
berbeda dengan diksi umum seperti kemana, kapan,
dimana, mengapa, tidak, sebelum, sudah, yang, pada
atau sejenisnya.
Dengan memutar balik dan mengulang diksi
perangsang yang ada pada beberapa puisinya yang lain
saja Yohanto bisa menghidupkan irama dengan cerita
berbeda. Apalagi jika referensi kata atau diksi yang
dihasilkan dari pengalaman membaca, mungkin akan
terasa dahsyat makna puisi yang disuguhkannya.
Sementara dari sejumlah puisi pada Orasi Sunyi,
aku hanya menemukan satu puisi saja yang satu batang
tubuhnya bersih dari idiom-idiom seperti seringkali
dia gunakan pada puisinya yang lain. Yakni pada puisi
Acep Syahril Belajar dari Puisi 31
“angin dalam komposisi 5”.
“aku mencintaimu” bisik angin kepada laki-laki
berseragam yang berdiri di pertokoan sambil
membetulkan kaca mata hitam dan pistolnya
“sebab sejarah yang mengharuskan kita saling
bercinta” teriak matahari di ujung jalan
sambil menghitung sudah berapa banyak kendaraan
melanggar rambu-rambu atas nama kepentingan
“ayo kita galang ketertiban” teriaknya
di sela-sela angin menyuarakan peluit
‘stop ada penguasa lewat’ teriak orang-orang
Berseragam hitam sambil membawa bendera
Sayangnya puisi ini lepas dari rangkaian irama puisi-
puisinya yang bersifat imajis itu. Tapi sudahlah, yang
jelas pada Orasi Sunyi ini aku hanya ingin menikmati
kisah yang berbeda dari perih yang dia simpan sejak
lama, seperti:
suaramu mengantarkan impian tentang perjalanan
musa
dengan tongkatnya. Menciptakan surau-surau jiwa
pada bentangan sawah ladang dijanjikan dingin
subuh
membelah laut dan ikan-ikan sekarat menahan terik
matahari. Bersama gelombang membawa rahasia
batu karang tersekat ribuan pabrik berjajar
sepanjang pantai inikah laut yang membakar
amarah kanak-kanak
dari bau busuk. Aku ingin tidur sepanjang malam
lalu kuingat wewangian di sudut kantormu
32 Belajar dari Puisi Acep Syahril
maka bisa kupahami tentang janji-janji. Di sini
limbahmu menutupi segala keindahan laut.
(Sajak “Ombak” dari kumpulan puisi Orasi Sunyi.
Hal.46).
Laut, ikan-ikan, batu karang, ombak, gelombang,
pantai dan bentangan sawah ladang adalah idiom-idiom
penyadaran yang menarik dan tak habis-habis dia sajak
-
kan. Itu terlihat dari ketelatenanya mengurus kata,
menikahkan dan mengawin-ngawinkannya hingga
beranak pinak jadi keluarga puisi.
seperti selendang menggiringi ombak
bagaimana aku menangkap isyarat. Jika sujud
dan tangisan batin mencairkan doa doa
sepanjang pantai. Angin senantiasa menderukan
jutaan impian hingga pasir-pasir bergerak
menterjemahkan sajak-sajak bisu
aku terus mencari dan berlari
mengejar rahasia yang kau bawa. Bersama
aroma garam yang mengajarkan kebohongan
air mata. Menyeret ke lembah kesedihan
membakar cahaya cintamu
(Sajak “Nyanyian Fantai” dari kumpulan puisi Orasi
Sunyi. Hal.22).
Yang senantiasa bercerita tentang harapan, masa
depan, kekandasan atau kegagalan dari sebuah system
yang diciptakan kekuasaan. Aku terus berlari mengejar
rahasia yang kau bawa bersama aroma garam yang
Acep Syahril Belajar dari Puisi 33
mengajarkan kebohonga air mata.
Kepekaan, kejelian dan kesadaran terhadap ruang
dimana dia berada dengan penandaan sosial yang
dikomparasikan secara halus antara ekonomi politik
dan kekuasaan, cukup terasa tapi sayangnya Yohanto
tidak berusaha memperkaya puisi-puisinya dengan
wawasan yang lebih dahsyat:
sunyi yang menghadang di malam-malam. Di sini
menggusur kenangan dari jalan-jalan yang
membesarkan
kanak-kanak dan detak jantung menyisakan air mata
seperti peperangan di bumi moyangku
mengacaukan gerak-gerak tengki. Sepanjang pesisir
kita pun kehilangan anak saudara diberangus
amarah
seperti ternak-ternak kehilangan induk. Di sini
angin pantai menyempitkan nafas kerinduan
yang kita bangun diantara impian bertahun-tahun
aku terus hanyut bersama limbah-limbah pabrik
membaringkan sakit hati alam. Pada cahaya bulan
yang menterjemahkan kerinduanku padamu
tapi luka menggores wajah istriku terlanjur tumbuh
di setiap pori-pori. Membuatku tangkas menghitung
hari-hari mengantarkan irama pembusukan ini
seperti aura nelayan mengusung gelombang. Laut
aku pun bergegas menebar jarring serupa legenda
moyangku mencari pembenaran
(Sajak “Bigrafi Sunyi” dari kumpulan puisi Orasi Sunyi.
Hal.64).
34 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Pesan Moral
Membaca larik-larik puisi Yohanto, seperti membaca
surat-surat dengan pesan moral dan perih yang
tersimpan. Penuh keinginan, peringatan, keraguan,
kegamangan, ketakberdayaan serta “pemberontakan”
yang mengkristal. Dengan diksi-diksi khasnya yang
seringkali tampil berulang, namun tidak mengurangi
nilai pembangunan imajinasi yang hendak dia tawarkan.
Bangunan imajinasi yang melahirkan irama persoalan
hidup serta lingkungannya.
Akhirnya aku tersekat dalam kebingungan
yang ditawarkan televisi. Membayang darah
pabrik-pabrik menziarahi kubur-kubur moyangku
memagari jalan. Gelap tak ada kunang
kunang singgah menerangi beranda rumah dingin
menusuk-nusuk daun kersem sisa angin kemarau
menghisap aroma hujan. Menebar tangis
tanah garam terlindas seribu bulldozer
kemana suara burung dapat kudengar
selain gaungmu. Kengerian bagi rawa-rawa
yang menawarkan segala impian
berlari mengitari taman-taman kota. Hatiku
membayang cahaya dari kobaran apimu
dan ingin kupindahkan pohon
dalam hening. Aku sengsara berapa bon
menutup gedung yang menyimpan kerinduan
ketika kebohongan menggulung
harapan sepanjang malam dalam dingin subuh
seperti lukisan di kantormu. Memburu jejak sakral
terkubur
Acep Syahril Belajar dari Puisi 35
ribuan taun denga isyarat/purnama mengeja sorga
yang dijanjikan/isa pun kedinginan.
Membayangkan suluk
mengirimkan lakon kemiskinan sejarah yang kau
buat. Mencair kenangan menggapai intang
gelapnya mengubur mimpi sulaeman/.
(Sajak “Suluk Sunyi” dari kumpulan puisi Orasi Sunyi.
Hal.56-58).
Potensi besarYohantobaru kutangkap pada kekuatan
kontemplasinya dalam membangun idiom, sementara
idiom-idiom disitu belum sampai menawarkan ide-ide
besar dengan –pemikiran-pemikiran baru mengejutkan.
Namun melalui ide-ide sederhana yang dia tawarkan
untuk saat ini, bagi mereka yang baru mengenal dunia
sastra sudah pasti terperangah. Membaca konsfigurasi
kata yang dia bangun di lapangan terbuka, dengan
diksi-diksi gagah yang kekuatan kontempalisinya baru
sebatas persoalan kecil yang ada di sekitarnya. Padahal
sebenarnya persoalan kecil itu bisa saja menjadi
dahsyat dan luar biasa jika dibangun dengan wawasan
yang luar biasa juga. Seperti D. Zawawi Imron misalnya,
dia mengolah persoalan yang ada di lingkungan dirinya
yang tak jauh berbeda dengan Yohanto yang mengolah
persoalan seputar diri dan lingkungannya, tapi
kemudian hal itu jadi berbeda di tangan Zawawi seperti
puisi di bawah ini:
36 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Nenek Moyangku Airmata
”bisikkanlah kepada angin, perihal terompah kayu
yang diketemukan di gunung sejarah itu!” kata air
bah yang tak sampai menimbulkan banjir. Dahulu
di gunung itu terjadi perang antara mentimun
melawan durian.
Lewat luka mayat-mayat yang bergelimpangan,
tersabdalah sebuah firman, lantaran yang menang
kekuasaan.
dan kabar yang ramai tersiar, di gunung itu ada
bayang-bayang menabur kembang.
Acep Syahril Belajar dari Puisi 37
Pelajaran Dari
Dosa-dosa Petualang
(Catatan Buku Puisi Chandra N Pangeran)
Menulis puisi akhirnya benar-benar mendapat
tempat di masyarakat kita dan menjadi pilihan alternatif
untuk sebuah “aktivitas tambahan” atau menaikkan
“gengsi dan kepuasan” seseorang. Karena menulis puisi
bukanlah pekerjaan mudah, tidak semua orang mendapat
kesempatan untuk melakukan aktivitas satu ini.
Aktivitas menulis puisi tidak hanya digandrungi anak-
anak muda, bahkan orang-orang tua yang dulunya pernah
bersentuhan dengan dunia puisi, namun tenggelam
karena terlalu lama mengalami stagnan karena berbagai
alasan. Di era digital ini kemudian mereka kembali
bermunculan melalui facebook, tweeter, blog dan lain-
lain. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian dapat
tampil bersama penyair lainnya dalam penerbitan buku
pada even-even tertentu.
Atau anak-anak muda yang segera menyadari bakat
serta kemampuannya, mereka tidak ingin berlama-lama
tenggelam bersama gengsi dan kepuasan di dunia digital.
Berbagai informasi, pengetahuan serta isu seputar sastra
di internet kemudian menjadi santapannya. Sampai
kemudian melakukan terobosan kewilayah penerbitan
(koran) yang didalamnya ada tim redaksi yang menilai
layak atau tidak layaknya sebuah tulisan untuk
diterbitkan.
Kesadaransepertiiniadalahprosesyangmembutuhkan
kebijakan berfikir dengan penguatan mental tidak
mudah merasa puas dengan hasil yang dicapai. Sebab
38 Belajar dari Puisi Acep Syahril
tidak sedikit juga dari mereka setelah karyanya lolos
seleksi dan terpublikasi di koran, beranggapan bahwa
karya-karya selanjutnya mereka anggap sebagai karya-
karya refresentatif. Lantas menerbitkannya dalam buku
kumpulan puisi tunggal. Dan setelah itu hilang. Begitulah
fenomena proses kreatif dan timbul tenggelamnya dunia
kepengarangan di Indonesia.
Lepas dari apapun dan bagaimanapun prospek
mereka setelah memilih dunia menulis puisi sebagai
aktivitas tambahan, atau sebagai kegiatan rutin karena
tidak memiliki pekerjaan. Yang jelas aktivitas menulis
puisi ini telah berhasil menarik perhatian masyarakat,
dengan harapan diiringi bertambahnya minat baca.
Eksplorasi Buku Jiwa yang Dangkal
Candra N Pangeran adalah salah seorang pelaku
teater di Indramayu, beberapa tahun lamanya dia menulis
naskah lalu mementaskannya dari satu panggung teater
ke panggung teater lainnya di beberapa kota besar
Indonbesia. Entah mengapa 3 tahun belakangn (sejak
2013) aktivitas berteaternya kian menurun dan bahkan
mengalami stagnan.
Jauh sebelum mengalami stagnanasi di dunia teater,
Candra sudah menunjukkan aktivitas barunya. Ide-ide
dan gagasannya yang biasa di ekspresikan di pangung-
panggung tetaer saat itu tertuang dalam larik-larik
puisi. Beberapa media cetak Jakarta dan Jawa Barat
sempat mempublikasikan puisi-puisi yang ditulisnya.
Jenis puisi-puisi lirik naratif itu sepertinya mewakili
kesepian panggung yang telah dia tinggalkan. Seperti
pada puisinya “Lelaki Yang Ingin Pulang” (Hal. 128,
Acep Syahril Belajar dari Puisi 39
kumpulan puisi Romantisme Negeri Minyak).
jika saja sesuatu itu semakin Nampak
hanya serupa api yang kembali mendpatkan
oksigen rasa kehilangan semakin saja
taka da penawar sebagai mantra atau ramuan
leluhur mungkin hanya kau
Oktober 2011
Gagasan yang dipadatkan dalam bentuk naratif ini
sepertinya membutuhkan waktu guna meyakinkan
keinginannya untuk sampai pada pengucapan yang
pas, seperti ketika dia menemukan pijakan yang pas
menapak dari satu panggung teater ke panggung teater
lainnya.
Seperti olah tubuh dan olah vokal di dunia teater,
puisi tidak hanya selesai pada olah kata, olah fikir dan
olah imajinasi. Puisi juga membutuhkan kontemplasi
yang tinggi untuk merampungkan setiap gagasan
dengan kelenturan bahasa, rima dan ketekunan untuk
sampai ke pembacanya.
Pada buku kumpulan puisi “Dosa-Dosa Petualang”
dengan 72 puisi yang ditulis antara tahun 2015 – 2017,
terbitkan Natur Almedia, Februari 2019. Merupakan
pengakuan dosa penyair dan kejujuran yang tidak
bersifat basa basi. Ini benar sebuah kejujuran atas
berbagai kelemahan dan kekurangan yang terdapat
didalamnya. Kejujuran atas ketidak-konsistenannya
dalam pengucapan dan kejujuran atas kekurang-
40 Belajar dari Puisi Acep Syahril
mampuannya dalam mengolah gagasan. Berangkat dari
pemilihan diksi serta pengolahan bahasa yang terkesan
bombastis.
Dalam Sebuah Diary
malam beku dalam ruang temaram
membaca jejak luka sepanjang perjalanan
sisakan tanya pada jauh yang gelap, jiwa-jiwa
yang berebut pada luka berkaca
merah atau biru, hingga
kecamuk
menjadi perih menggores batas senja, saat
gerimis kehilangan irama
nyata bahwa kita
adalah aku
lebur pada bara
2015
Antara produktivitas dan intensitas pada puisi di
atas cukup menarik perhatian. Diary sebagai buku
jiwa dengan bab yang menyimpan banyak kisah serta
idiom-idiom segar didalamnya, oleh penyair yang paling
mudah dieksplorasi hanya luka. Padahal bab luka dengan
banyak kisah di buku jiwa ini jauh lebih dahsyat. Tapi si
penyair hanya puas dengan malam beku dalam ruang
temaram/…..jejak luka sepanjang perjalanan/sisakan
tanya…./ menjadi perih menggores batas senja,…./ nyata
bahwa kita/adalah aku/lebur pada bara//.
Bab luka yang hanya mengambil paragraf
kekalahan dengan diksi-diksi dangkal yang tak mampu
Acep Syahril Belajar dari Puisi 41
menawarkan penegasan soal. Keterjebakan penyair pada
eksplorasi romantic hanya menjadikan puisi ini tidak
lebih dari curhatan hati. Dengan imajeri rasa tak selesai
untuk menegaskan kita adalah aku sebagai buku jiwa
representatif. Berbeda dengan puisi “Di Ruang Tamu
Nat Ada Sepi yang Memelukku” (Halaman: 41). Puisi ini
sedikit lebih pasih dengan mengangkat bab cinta.
nat
dengan belati setajam
kata-kata akan kutorehkan senyum
termanismu pagi ini. ketika secangkir kopi
masih jadi pertimbangan. rindu yang tenggelam
atau terbang dengan sayap cinta.
nat
mengeja ruangruangmu aku
aku masih mencoba kenali sepimu yang terluka
melegam darah malam sebab menangis pun
tak lagi kau mampu. dan angin dengan
sepoi meremas hatimu.
nat
di ruang tamu ini
aku diam dalam segala heningmu. demikian
kosong kesunyian yang kau sajikan hanya
lukaluka yang kau serakan
di lantai dingin. terkelupas
dan beku darahnya.
nat
aku ingin menuliskan senyum
di bibirmu. malam nanti
42 Belajar dari Puisi Acep Syahril