The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Teras Budaya Jakarta, 2022-10-03 21:52:11

kritik

kritik

Keywords: sastra

/2016
Bab asmara di buku jiwa satu ini terasa lebih

konsen
dan dalam. Kata rindu tidak hanya sebagai diksi
tempelan, tapi benar diolah dan diberi ruh dengan peran
yang mampu menghidupkan persoalan di dalamnya.
/dengan belati setajam/kata-kata akan kutorehkan
senyum /termanismu pagi ini. ketika secangkir kopi/
masih jadi pertimbangan./.....

di ruang tamu ini
aku diam dalam segala heningmu. demikian
kosong kesunyian yang kau sajikan hanya
lukaluka yang kau serakan
di lantai dingin. terkelupas
dan beku darahnya

Artinya pada buku kumpulan puisi Dosa-Dosa
Petualang yang memuat 72 puisinya, Candra N
Pangeran seperti sedang meraba jalan dan pijakan
yang pas untuk melangkah ke depan. Ini menarik.
Sebab proses kreatif seseorang untuk menj adi, tidak
bergantung pada usia.

Acep Syahril Belajar dari Puisi 43

Rintihan Tajam: Junus Astradirdja
Antologi Puisi Pertama di Banten

Sebelum menurunkan tulisan ini aku sempat
beberapa kali menghubungi Aryani Isnamurti dari Pusat
Dokumentasi Sastra HB Yassin (PDS), yang mengaku
masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga besar
penyair, Junus Astradirdja di Serang, Banten. Selanjutnya
aku dihubungkan dengan saudaranya yang di Serang
bernama Affan, dari Affan aku baru dapat informasi dan
nomor kontak Tuti, istri Junus Astradirdja. Dari Tuti
aku baru mendapatkan informasi lengkap, kalau Junus
Astradirdja meninggal tahun 2004.

Kamis, 25 Juni 1981 adalah pertemuanku yang
pertama dengan Junus Astradirdja di rumahnya Jalan.45
Gang H. Tb.Tong Rt.01/22 No.12 Kauzon, Serang –
Banten. Kehadiranku sore itu dapat sambutan hangat
oleh Junus yang sudah duduk di kursi roda, tak berapa
lama Tuti istri Junus membawa dua cangkir teh yang
segera menemani obrolan kami.

Dari ekspresi Junus sore itu aku menangkap rona
bahagia, sebab menurutnya belum ada orang yang
datang berkunjung ke rumahnya apalagi bicara soal
puisi. Selain itu aku juga masih menangkap semangat
hidup yang menyala dari wajahnya yang saat itu
memasuki usia 38 tahun.

Junus Astradirdja dilahirkan di Serang, 2 Oktober
1943, menyelesaikan SMA Negeri Serang Bagian B
tahun 1963-1965. Kemudian melanjutkan kuliah
ke Akademi Teknik Nasional Jakarta, tahun 1965
mendapat kesempatan belajar di Uni Sovyet, pada

44 Belajar dari Puisi Acep Syahril

tahun yang sama dia masuk ke Fakultas Persiapan
Universitas Negeri Moskow (Universitas Lomonosov).
Pada tahun 1966-1967 masuk ketinghkat I di Institut
Bangunan Jalan Raya, Moskow sampai naik ke tingkat
II dengan nilai memuaskan. Namun pada musim dingin
ketika menyelesaikan ujian selanjutnya, Junus terserang
kelumpuhan, sehingga tidak bisa melanjutkan studynya.

Selama tiga tahun, sejak tahun 1968 – Juni 1971 dia
dirawat di empat Rumas Sakit di Moskow dan sekitarnya.
Dari sinilah kemudian kecintaan Junus terhadap puisi
ketika di SMA itu kembali hidup. Semangat juara menulis
puisi di tahun 1961 yang diselenggarakan Sanggar Sastra
Palembang itu juga mendongkrak semangat hidupnya
untuk terus menulis, dan puisi-puisinya banyak dimuat
di Majalah Putri Indonesia sepanjang tahgun 1978-1979
dan dibeberapa media masa lainnya.

Puisi-puisinya yang sederhana dengan ide-ide
sederhana terbangun oleh kondisi fisik sebagai
kenyataan hidup yang harus dia terima. Dan semangat
hidup itu seolah semakin terang ke depan ketika
Junus Astradirdja yang masih terbaring di salah satu
rumah sakit di Moskow, ketika masih terbaring itu dia
menyelesaikan puisi tentang nasib kedua putra terabik
Indonesia Usman dan Harus yang harus mati di tiang
gantungan Singapura pada 17 Oktober 1968.

60 puisi yang termuat di buku “Rintihan Tajam”
terbitan Balai Pustaka tahun 1981, dibagi dua episode,
episode I sejumlah 31 puisi yang ditulis ketika Junus
masih dirawat dibeberapa Rumah Sakit di Moskow,
antara tahun 1968-1971, selebihnya ditulis ketika dia
dipindah ke Rumah Sakit Sucipto Mangunkusumo

Acep Syahril Belajar dari Puisi 45

(RSCM) dan RC
“Prof Soharso” Solo, antara tahun 1971-1973.
Pada episode II ada 29 puisi yang ditulis ketika Junus
sudah dirawat di rumah pribadi di Serang, dengan titi
mangsa Tepian Cibanten 1974-1979.

Dari ke 60 puisi ini ditulis dengan gaya naratif
serta ide yang lebih mengekspresikan persoalan batin,
rasa gelisah, jeritan hati, sedih, semangat dan pasrah
atas segala keputusan Tuhan yang telah diberikan
kepadanya. Selain itu ada juga tema-tema sosial yang
energinya masih bisa dirasakan sampai hari ini.

Tema semangat pada puisi “Osman dan Harun”
(halaman 10) secara impresif mampu mendongkrak
keyakinannya. Semangat hidup, semangat perjuangan
dan ketegaran kedua Prajurit KKO-AL ini dalam
menghadapi tiang gantungan itulah yang membuat
Junus Astradirdja kembali semangat. Puisi “Osman dan
Harun” tersebut dia tulis beberapa bulan kemudian
ketika dia dirawat disalah satu Rumah Sakit di pinggiran
Kota Moskow, akhir Februari 1969.

Di pagi hari menjelang mentari berseri
Di detik-detik ini nyawamu akan terhenti
Setiap hati kami terpaku…..terpaku
oleh kebesaran dan pengorbananmu

Betapa tinggi dan agung nilaimu
Betapa jantan pengabdianmu
Semua ini kau serahkan kepada-Nya
Demi kejayaan Bangsa dan Negara

46 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Tiada kuasa yang lebih besar dari kuasa-Nya
Tiada jalan yang dapat membuka-Nya
Ajal bertahta memelukmu

Kami relakan kepergianmu

……………………..

Dikatakan Junus, ketika dia dirawat berpindah-
pindah dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain di
Moskow, setiap pagi dia selalu minta dibawakan surat
kabar untuk mengetahui informasi dan perkembangan
dunia waktu itu.

Informasi tentang perjuangan Usman dan Harun
menjadi salah satu penyemangat hidupnya. Dia berfikir,
disatu sisi dirinya juga tengah berjuang sebagai salah
satu putra terbaik Indonesia yang tengah menimba
ilmu di negeri orang, yang kelak ilmu tersebut akan
dipraktekkan di Indonesia. Namun apa nyana harapan
itu terputus di tengah jalan akibat kelumpuhan yang
dideritanya.

Disisi lain dengan jelas dia mengikuti perjalanan
perjuangan dua putra terbaik Indonesia, Usman
dan Harun yang mengemban tugas Negara untuk
menentang keinginan Federasi Malaya yang tidak sesuai
dengan perjanjian Manila Accord. Sebab pembentukan
Federasi Malaysia sebagai “boneka Inggris” merupakan
kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru
serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan
dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.

Acep Syahril Belajar dari Puisi 47

Tapi sayang setelah perjuangan mereka berhasil
menyabotase keinginan Federasi Malaya, namun mereka
gagal untuk keluar dari Singapura sampai akhirnya
tertangkap. Dan Pada tanggal 4 Oktober 1965 Usman
dan Harun dihadapkan ke depan sidang Pengadilan
Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J.
Chua
sebagai hakimnya, dengan vonis hukuman mati. Sampai
kemudian eksekusi itu dilaksanakan tepat pada tanggal
17 Oktober 1968 keduanya berakhir di tiang gantungan.

Rintihan, Tuhan dan Kepedulian Sosial
Rintihan yang terasa menghujam kedalam dari

puisi-puisi yang ditulis Junus Astradirdja, ketika dia
menuangkan segala rasa sedih, pedih, sesal dan ketak
berdayaan kepada ibunya saat terbaring di ranjang
rumah sakit di Moskow di awal musim bunga 1971.

Diriku

Semua harapan dan cita-citaku
begitu jauh dari jiwaku
Semua harapan dan cita-citaku
sudah tiga tahun berlalu

Tergeletak di pembaringan rumah sakit
Teringat diriku dan nasibmu Mamah
Ingin kuberikan sesuatu untukmu
Tapi, aku tak punya apa-apa

Hanya kerinduan dan air mata pahit

48 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Menghantu dan mencekam setiap saat
Penderitaan dan penyakit
begitu kejam membunuhku

Mamahku tercinta,
aku jauh dari rumah
Mamahku tersayang,
tunggu aku – anakmu yang malang

Selain rintihan dengan terus menyebut nama Tuhan,
Junus yang terbaring gelisah terus berusaha meyakinkan
dirinya kalau semuanya akan segera berlalu. Dari
keyakinannya terhadap peran Tuhan atas apa yang dia
rasakan, dia ingin agar Tuhan segera bersatu dengan
darahnya yang yang masih mengalir dan menggigil dan
menyatu bersama Dzat-Nya.

Tidak Banyak Yang Kuminta

Tidak banyak yang kuminta
Cuma satu.
Tembusi dada ini dengan sinar-Mu yang abadi
Biar kubisa berjalan lurus
dalam kelamnya malam
di tengah angin yang menghempas

Tidak banyak yang dapat kulakukan
Hanya satu – kepasrahan
dari darah yang masih mengalir
dari tubuh yang masih menggigil

Acep Syahril Belajar dari Puisi 49

Tidak banyak yang kuminta
Tujukan saja aku kepada-Mu
Lain tidak !

Tepian Cibanten, awal Desember 1975
(halaman 69)

50 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Puisi-Puisi yang Tetap Hidup
Setelah Kematian

Pagi Hari

ada mesti kucari bersiap menghitung
janji berkemas melangkah menitipkan
anak istri
Kau :
Tempat berpulang segala
daku pergi

Zifin

jerit jerit mengalir dari muara gambus
kerinduan macam mana boleh kunyanyikan
kecuali puisimu, berputar seperti gasing
dari satu kaki ke satu kaki
mengingatkan aku pada Rumi
meminum anggur dari cawan diam, kenapa
tak kau penggal saja leher kemanusiaanku
padahal nyanyian itu berulang-ulang
menenggelamkan hasrat pada kelengangan
cintamu

Acep Syahril Belajar dari Puisi 51

Pernah Jadi Penyair
Kartunis dan wartawan senior Jawa Pos Group

(Radar Indramayu), Utoyo Priachdi menyebut Fuzail
Ayad Syahbana (PAS) sebagai wartawan yang pernah
jadi penyair. Ini bukan guyon, sebab basicnya sebagai
orang yang pernah menggeluti dunia sastra akan
sangat berpengaruh pada produk tulisannya (berita).
“Dan paling kentara pada dialektikanya, beliau sangat
menguasai bahasa komunikasi berikut materi yang
dibicarakan,“ ujar utoyo.

Kata pernah jadi penyair ini tentu sangat beralasan,
walaupun sebenarnya tidak ada istilah pernah jadi
penyair dalam kamus sastra, tapi kenyataannya seperti
itu. FAS memang pernah jadi penyair dia hidup diantara
rimbun kata-kata, gramatikal, imajinasi, ide-ide brilian
yang kontekstual.

Kemudian dunia kata-kata yang memiliki kekuatan
sugesti itu dia tinggal pergi lalu menjinakan dunia
verbal melalui kata-kata propaganda, merdeka tanpa
simbol, faktual dan formal, itulah jurnalistik. Dunia yang
digerakan alam sadar dengan segala tuntutan melalui
varian informasi.

Jadi istilah wartawan yang pernah jadi penyair ini
tentu bukan sebuah sindirian, melainkan kenyataan.
Sebab ini tidak hanya dialami FAS, banyak juga penyair
diparuh 80 - 90-an yang melakukan hijrah profesi. Selain
menjadi jurnalis ada juga yang jadi pelukis, musisi atau
koreograf, bahkan ada juga yang menjadi paranormal,
dan itu bukanlah suatu hal yang profan. Tapi sebagai
pilihan. Seperti Ahmad Rich, Heru Emka (almrhm),
Untung Surendro, Ali Akbari dan banyak lagi yang lain.

Jadi dalam hal ini aku lebih menghargai proses

52 Belajar dari Puisi Acep Syahril

serta karya yang pernah dilahirkan. Walaupun hanya
beberapa puisinya saja yang aku simpan, tapi dari
beberapa puisi itu aku melihat kesungguhan dan bakat
besar FAS. Di Indramayu aku baru menemukan empat
nama selain Fuzail Ayad Syahbana, Dedi Apriasie
Raswin, Abdul Basyid dan Ali Akbari, yang memiliki
puisi dengan kekuatan diksi, ide, tema dengan idiom-
idiomnya yang khas.

perempuan dengan senja di lehernya
sendiri merangkai-rangkai malam

tanpa rembulan

menerawang masa silam bunga
....................

(Judul: Perempuan Malam, karya Ali Akbari: dari
buku kumpulan puisi Romantisme Negeri Minyak,
Halaman 104).

cermin langkah di hadapanku menjalin cercah

menyala diam
dan menggumpal ditiap paruh bayangku
baur dan keping-keping menjalani ngilu

sepi itu nyalang
....................

(Judul: Terasing, karya Abdul Basyit: dari buku
kumpulan puisi Romantisme Negeri Minyak, Halaman
54).

Acep Syahril Belajar dari Puisi 53

Menyisih dan lekuk kota yang semakin tua
bersama bait-bait puisi, lapis senja dan perasaan nyeri
kembali kususun perasaan manusiaku, irama yang
dihanyutkan
keping-keping luka. Seribu suluk melengking dalam
irama
pedih dan sunyi, seperti keraton yang ditinggalkan
……………….

(Judul: Aporia, karya Dedi Apriadie Raswin: dari
buku kumpulan puisi Romantisme Negeri Minyak,
Halaman 147).

ada mesti kucari bersiap menghitung
janji berkemas melangkah menitipkan
anak istri
Kau:
Tempat berpulang segala
daku pergi

(Judul: Pagi Hari, puisi Fuzail Ayad Syahbana: dari
buku kumpulan puisi Romantisme Negeri Minyak,
Halaman 162).

Selain Rest in Peace (R.I.P) seperti pada status
facebooknya yang dia unggah beberapa waktu sebelum
meninggal, jauh sebelumnya FAS juga sudah menuliskan
itu melalui puisinya yang berjudul Pagi Hari: janji
berkemas melangkah menitipkan/anak istri/Kau:/
Tempat berpulang segala/daku pergi//.

Kepada Kediaman

Akhirnya sampai juga
di sisi, lalang kembara

54 Belajar dari Puisi Acep Syahril

lupa pada apa harus berteduh
terik dan hujan
bergulir menggores luka di keningku
satu-satu, garis tua dalam
makin menampak kelelahan
dari jalanan ke jalanan, menghujam
hingga batas-batas kudusMu

Terngiang gema timbul
dari dinding-dindingMu
tawarkan lengang sampai
serambi belakang
meneduhkan rinduku
pada mimpi teramat panjang

1993

Artinya apa yang ditulis-tuangkan FAS dalam puisi-
puisinya adalah sebagai kegelisahan eksistensial murni,
menurut teori psikoanalitik Freud, sebagai akibat
ketidakseimbangan interaksi id, ego dan super ego.

Atau bisa juga dibaca pada kata-kata yang tertera di
status facebooknya: “Bagaimana dan kapan kamu akan
mati?” lalu pada gambar batu nisannya tertulis “R.I.P
Ayad Tanggal kematian 02-14-2084 Penyebab kematian
Meninggal karena cinta” yang ditulis 11 Juni 2020
pukul.16.05.

Acep Syahril Belajar dari Puisi 55

Sri Sunarti dan Gen Bahasa
di Pelataran Senja

Sri Sunarti, adalah salah seorang penyair dari
sejumlah nama penulis wanita Indramayu yang kini
mulai aktif lagi. Dari perjalanan panjang kepenyairannya,
beberapa tahun Sri Sunarti sempat mengalamai kepasifan
ketika disibukkan oleh dunia pendidikan, dengan jabatan
sebagai kepala sekolah.

Namun disela-sela kesibukannya dia masih sempat
menulis artikel pendidikan, cerpen dan puisi, walaupun
hasilnya kurang maksimal. Kesadaran Sri Sunarti tidak
hanya pada konsekwensinya sebagai seorang penulis,
tapi juga sebagai seorang wanita. Kesadaran yang
ditimbulkan gen bahasa atau FOXP2 pada otak manusia,
dimana gen bahasa tersebut lebih banyak dikeluarkan
wanita (20.000 kata per hari) sedangkan pria hanya 7.000
kata per harinya. Studi tentang FOXp2 ini salah satunya
dilakukan University of Mariland School of Medicine, yang
didanai oleh National Institute of Neurological Disorders
and Stroke dan National Institute of Mental Health yang
kemudian diterbitkan oleh Journal of Neuroscience.

Kesadaran menulis ini merupakan konsekuwensi yang
harus dia lakukan dalam bentuk apapun, selain karena
“kemampuan literasi” yang dia miliki juga kekuatan
estetik yang mumpuni. Sehingga bangunan kreativitas
yang telah berdebu sekalipun akan tetap dijaga pancaran
keindahan dan pilosofinya.

Sebab atas kesadarannya sebagai wanita tidak selesai
pada kecantikan, ketika gen bahasa serta kemampuan
literasi itu berjalan seiring dengan kekuatan estetik. Maka
semua menjadi terarah untuk menuangkan puluhan ribu

56 Belajar dari Puisi Acep Syahril

kata yang setiap hari dia lahirkan itu dalam wujud artikel,
catatan harian, cerpen, puisi atau gagasan dalam bentuk
metodologi kerja sekalipun sebagai penunjang karirnya.

Atas kesadaran kreatif ini juga tampak jelas upaya Sri
Sunarti ingin tetap eksis pada pilihannya, puisi sebagai
dunia kesendirian. Yang dia tekuni selama kurang lebih 30
tahun dan menghasilkan 108 puisi lalu dikemas menjadi
sebuah buku bertajuk “di Pelataran Senja” (dPS) dengan
pengantar Soni Farid Maulana yang terbit Oktober 2019.

Buku kumpulan puisi dPS ini selain bukti Sri Sunarti
untuk menebus kepasifannya selama beberapa tahun,
pilihan judul di pelataran senja itu juga bisa dijadikan
penanda bagi kreativitas selanjutnya. Yang dalam hal
ini mungkin saja kekuatan karyanya akan jauh lebih
menantang dari yang kita baca hari ini nantinya.

Keseriusan yang tetap harus dipertanggungjawabkan
untuk melahirkan karya-karya menantang. Karya-karya
menantang yang lahir dari ketekunan dan kesetiaan
seorang penyair tidaklah mudah, seperti telah dibuktikan
Dorotea Herliani, Acep Zam Zam Noer, Ahmadun
Yosi Herfanda, Isbedi Stiawan ZS, Gus Tf Sakai, Abdul
Wahid BS, Fahrunnas MA Jabar dan lain-lain. Yang pada
akhirnya oleh Pramoedya Ananta Toer dikatakan, bahwa
“kesusasteraan adalah revolusi seorang diri”. Revolusi
yang mampu menciptakan ideology kepengarangan
seseorang, dengan kekuatan karya sebagai cermin
dirinya.

Di bawah ini sengaja dikutif beberapa kekuatan kata
yang disuguhkan Sri Sunarti ddi buku dPS:

dengan ketakutan yang merobek perut bumi
engkau mengutuki luka atas tubuhku

Acep Syahril Belajar dari Puisi 57

dan dengan angkuh ditatapnya darahku bergantian
(puisi: sajak kematian, dPS Halaman:4)

Pengalaman surealism warisan Sigmund Freud ini,
merupakan pengalaman diluar logika yang memiliki
pengaruh kuat terhadap alam bawah sadar seseorang
yang pengimplementasian diksinya kadang lebih terasa
mistis; “kini darahku telah kupahat/pada gerimis yang
terakhir”. Atau pada puisi “Aceh” (dPS, Halaman10): /satu
demi satu/peti mati disiapkan/daun selasih menyiapkan
tanah basah/.

Sementara perjalanan transendent yang berusaha
keluar dari dzohirnya telah melahirkan pengalaman-
pengalaman relijius melalui sukmanya yang menyatu
/sebab itu/kerungkuh dan kupeluk dirimu/kumasuki
seribu masjid di pintu-pintu magfirah-Mu/. (puisi: Menuju
Magfirah-Mu, dPS Halaman 18-19).

Ada juga puisi suasana (puisi: Penantian, dPS,
Halaman 39) dengan pilihan diksi yang ketat walaupun
tidak klimaks, tapi untuk sebuah pesan puitik dia cukup
menarfik: //aku masih menunggu/ketika secangkir teh
hangat lewat di mataku/.

Kerewelan Sri Sunarti sebenarnya bisa jadi lebih
dahsyatketikabicarasoalkritiksosial,sebab kepekaannya
pada persoalan ini jauh lebih besar dari persoalan-
persoalan lainnya. Itu terlihat pada 30 puisinya yang
berteriak tentang berbagai persoalan, dari Aceh sampai
ke Palestina. Dari Nurani sampai ke Negeri Singa, dari
Penampungan (TKI) sampai ke Negeri Kaya tapi (Tak)
Berpunya, halaman 73).

58 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Visualisasi Kata yang
Mendera Koruptor

Ensiklopegila Koruptor, adalah satu dari empat
seri buku “Puisi Menolak Korupsi 4” ide cemerlang
penyair Sosiawan Leak yang berhasil mengumpulkan
ratusan penyair dan “penulis puisi” Indonesia beserta
karyanya. Yang mau tidak mau akhirnya menambah
khasanah baru kesusastraan Indonesia. dengan karya-
karya transparan, terbuka, bebas berekspresi melalui
kemerdekaan kata-kata. Sebagai genre gerakan sastra
menolak korupsi. Sebentuk perlawanan terhadap
kejahatan “koruptor” yang berimajinasi dalam
merancang kejahatan ekonomi, dengan karya verbalnya
berjudul “maling”.

Oleh sebab itu alangkah sangat tepatnya jika
karya imajinasi (puisi) ini yang berdiri di depan untuk
menguliti jam kerja imajinasi para koruptor tersebut.
Dan perang imajinasi ini juga akan lebih terasa ke
hati nurani mereka, ketika bahasa dan kata-kata para
penyair itu menjadi sesuatu yang rewel dan mengusik
sel-sel syaraf perangkat imajinasi yang biasa mereka
gunakan untuk merancang setiap rencana malingnya.

Tidak hanya itu, produksi idiom-idiom maling
yang biasanya muncul sebagai strategi baru yang
akan mereka praktekkan untuk mencuri itu, akan
terhenti seketika. Karena jalan darah dari setiap sel
syaraf fikir yang mereka fungsikan untuk berimajinasi
tadi eror. Sehingga inspirasi untuk meneruskan atau
mewujudkan gerakan maling melalui idiom-idiomnya
akan mengalami gangguan. Disebabkan rasa malu atau
perasaan bersalah. Ini hanya teori subjektif yang secara

Acep Syahril Belajar dari Puisi 59

psikologis bercermin dari rasa kemanusiaanku sebagai
orang normal.

Soalnya saudara-saudaraku yang koruptor itu,
saat ini tengah menjalani terapi perenungan kolektif
melalui gerakan (menolak koruspi) yang memang harus
terus disosialisakan secara revolusioner. Agar mereka
segera menyadari bahwa korupsi itu penyakit yang bisa
disembuhkan.

Sementara bagi para koruptor yang saat ini tengah
menjalani hukuman (baca: terapi moralitas) paling
banyak menginspirasi penyair atau penulis puisi yang
karya-karyanya termuat di empat seri buku Puisi
Menolak Korupsi. Hal ini tidak tertutup kemungkinan
akan berdampak positif bagi para koruptor yang telah
memiliki jam terbang lumayan di blantika maling
Indonesia lainnya, untuk segera menyadari kalau mereka
juga nantinya akan menjadi bulan-bulanan waktu
oleh situasi tertentu, jika tidak segera menghentikan
kejahatan moral atas kecerdasan busuk yang mereka
miliki. Seperti puisi “Setetes Akil Muchtar” karya Asmoro
Al Fahrabi (Puisi Menolak Korupsi 4, Hal.65):

Akulah hakim tertinggi
Hakim dari semua hakim di negeri ini
Aku ahli memonopoli kasus politisi
Kadang pula bisa memanipulasi

Hanya dengan transfer ATM pribadi
Semua bisa tuntas dan terkendali
Hanya dengan salam berlapis amplop tebal
Semua kasus bisa menang tanpa rasa bebal

Salam,

60 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Kasus beres,
Aku sukses
Sulit dibayangkan perasaan anak, istri, menantu,
mertua, tetangga, pembantu, tukang ngusrus kebunnya
atau anak buah Akil Muchtar yang selama ini dia
perlakukan sebagai jongos rendahan tapi ketika dia dapat
uang si jongos tidak kebagian uang hasil korupsinya.
Sudah jelas perasaan malu, sakit, lucu dan lucu sekali
akan terlintas dibenak dan hati nurani mereka.
Bagaimana tidak langsung terbayang di hati, di
fikiran orang-orang yang pernah dekat atau paling
tidak pernah mengenal nama dan jabatannya. Karena
sebagian dari kata-kata yang ada dalam puisi ini dekat
sekali dengan imaji visual. Seperti Akil Muchtar, hakim
tertinggi, ATM pribadi dan amplop tebal. Artinya
Akil Muchtar disini identik dengan Hakim Tertinggi
yang tinggi hati, rakus dan haus uang karena selalu
memonopoli dan memanipulasi kasus-kasus besar.
Atau seperti pada puisi Kurnia Fajar berjudul “Ratu
/C/Atut” (Puisi Menolak Korupsi 4, Hal.183-184):
................
Saking perkasanya hingga dua kasus sekali pikul
Sebuah sengketa di daerah Lebak, Banten dengan
harga 1 miliar
Ringan saja dijinjing dalam tas Hermes dari kulit
buaya
Yang konon katanya berharga sebesar suapnya
kepada Akil Muchtar
Bayangkan berapa ribu tas anak sekolah dapat ia
belikan dengan
satu tas itu
Hingga tak perlu ada anak putus sekolah di daerah

Acep Syahril Belajar dari Puisi 61

kekuasaannya
Siapa yang tidak kenal Ratu Atut, oleh Kurnia
Fajar
diplesetin jadi Ratu Catut, dan pada kata-kata di
puisi Kurnia Fajar ini rakyatnya atau siapapun bisa
menjabarkan, mengembangkan dan bahkan membayang
kan dahsyatnya kekuasaan, kerakusan, keserakahannya
ketika jadi Gubernur Banten. Nyaris seluruh keluarga
besarnya, yang terdiri dari anak, adik, sepupu, adik ipar
dan lain-lain, semuanya memiliki jabatan strategis. Luar
biasa memang.
Dan yang lebih menarik permainan kata-kata visual
puisi Dimas Arika Mihardja, Profesor puisi ini memang
luar biasa dia pandai sekali mempermainkan hati
pembacanya, coba saja baca puisinya berjudul “Uang
(P)Anas”, Kumpulan Puisi Ensiklopegila Koruptor, Puisi
Menolak Korupsi: Hal.108.

UANG (P)ANAS

Ini soal uag (P)anas yang urban ke pusat kota
Sejak muda telah pintar bicara dalam himpunan
Mahasiswa Fasih bicara demokrasi, ingin digantung
di tugu monas bila terbukti
Dan kitapun maklum, janji politikus-banyak tikus
selalu berendus
penciuman rakyat dan aparat
Hingga ada yang berucap dalam Nazar
“tangkaplah di Hambalang”
Di lumbung uang bernama Hambalang
Digelandanglah sang hulubalang dikenakan rompi
sakti masuk ke balik jeruji hingga kini

62 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Sejak Anas Urbaningrum manusia super takabur itu
muncul di layar tv dengan kata-kata visualnya, “kalau
anas
terbukti korupsi satu rupiah saja, gantung anas di tugu
monas”. Dari mulai tuna wisma, pemulung tukang becak,
maling kampret, tukang nyolong sendal, tukang lotek,
WTS, preman kampung dan terminal sampai ke mantan
Presiden SBY pun hapal kata-katanya.

Semua orang pintar tau, bahkan anak SD yang
mungkin sudah mengenal Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP)pun tau kalau Anas tidak mungkin
digantung di tugu monas. Karena di KUHP tidak diatur
hukum gantung di tugu monas bagi para koruptor,
kecuali dipenjara atau dihukum gantung di muka umum
kalau di negeri Cina.

Jadi kita bisa bayangkan, betapa dahsyatnya kata-
kata “gantung, di tugu monas, hambalang dan ke balik
jeruji” ini, jika diperdengarkan ke telinga istri, anak,
orang tua, kakak, adik saudara dan handaitoland nya
Anas Urbaningrum. Jelas fikiran mereka akan langsung
pada nasib dan prilaku buruknya sebagai koruptor.

Acep Syahril Belajar dari Puisi 63

Dialektika Tekstual yang Berdiri
di Luar Pantun

(Dari buku kumpulan puisi: Sabda Sunyi Dari Musim
Yang Hening, Mabulmaddin Shaiddin, Malaysia)

Bermula di Resort Eko Lake Membakut, Sabah,
Malaysia, Jum’at 10 Februari 2012 pada kegiatan
Mahrajan dan Persuratan Kesenian Islam Nusantara’
2012, aku mengenal Mabulmaddin Shaiddin. Penyair
Sabah asal Kampung Tamau Kota Belud yang saat itu
lebih intens dengan bidikan-bidikan kameranya. Serta
kebersahajaanya yang membuatku ingin kenal dia lebih
jauh. Setelah beberapa waktu menyodorkanku sebuah
buku kumpulan sajaknya bertajuk “Stensil Pari Pari”.

Dari ratusan sajak yang terangkum di buku kumpulan
sajak Stensil Pari Pari atau Buku kumpulan sajak
terbarunya “Do’a, Cinta dan Pohon Lilit” (DCPL) yang
kuperoleh dari google, Terbitan Institut Terjemahan &
Buku Malaysia Berhad, Tahun 2014. Di kedua buku ini aku
melihat ada perbedaan antara karya-karya Mabulmaddin
Shaiddin dengan sajak beberapa penyair Sabah lainnya.

Disitu aku membaca banyak harapan serta kekuatan
bahasa yang membuat sajak-sajaknya berenergi ganda
atas pergulatannya yang tak pernah diam di dunia sastra.
Dunia sastra yang tidak hanya hidup dan berkembang di
wilayah tinggalnya tapi juga bergerak sampai kebeberapa
belahan wilayah lainnya. Sehingga kekuatan bakat yang
dia miliki mampu menyerap kekuatan “bahasa” lainnya.

Dan sebagai konsekuensi alamiah dari proses
pergulatan di lingkungan sastra yang masih mendepankan

64 Belajar dari Puisi Acep Syahril

“kepatutan nilai”, serta pencarian jati diri yang
dilakukannya secara evolutif. Ada upaya Mabulmaddin
untuk menghindari kesan pembangkangan terhadap
kepatutan atau kebiasaan memantun yang santun itu.

Lalu berusaha masuk pada gaya penulisan sajak
mutakhir seperti yang terjadi di Indonesia, yang
sebenarnya juga berangkat dari pantun. Yang kemudian
secara sintesis tetap menghormati upaya-upaya dialektik
para sastrawannya sebagai konsekuensi yang secara
sintesa akan tetap terus berkembang.

20 Ogos

Pepohonan, undakan pasir, ombak dan segala
kewujudan di dunia mengaminkan doa, walau
sekecil mana pun doa kita.
Ketika lembayung ghaib
antara kegelapan, doa yang diaminkan itu
menyebar ke seluruh ruang semesta.

Matahari senja mengisi mangkuk-mangkuk sup,
angin laut berhenti sebentar untuk mengecap
manisan.

Lihatlah, pepasir begitu gelisah menampung
kasmaran.
Mungkin kami tenggelam dalam perasaan si buta-
gelap, pengap dan sangat berharap. Sekali angin
berdesir, dia mengkhayalkan ribuan tabir
berkobaran. Sekali renyai membasah dia
mengharapkan agar banjir seluruh desa.

Ini dapat dilihat pada sajak-sajak “status” yang selalu

Acep Syahril Belajar dari Puisi 65

meramaikan fb nya, atau pada bukunya DCPL. Disitu
kelihatan Mabulmaddin tidak hanya berhenti pada fase
keinginan untuk keluar dari kepatutan, tapi juga fase
yang berusaha menghormati gaya penulisan sajak para
pendahulunya.

Oleh sebab itu proses kreatif Mabulmaddin Shaiddin
tidak bisa “diteropong dari dekat”, untuk menghindari
kesan subjektif yang sewaktu-waktu dapat membuatnya
terpinggirkan dari dunia penulisan di Malaysia. Sebab
sastra atau sajak di Malaysia bukan hanya struktur kata-
kata bermakna, tapi juga sebagai salah satu alat budaya
yang memiliki peran penting dalam perkembangan
peradaban manusianya.

Trend Sajak Status
Berbeda dengan sajak-sajak status pengguna

fb (facebook) kebanyakan (masyarakat awam), di
Malaysia atau Indonesia, mereka lebih mendepankan
kata-kata indah dengan tema-tema pribadi dan umum
yang ditayangkan hanya untuk mendapatkan “like dan
coment” dari pengguna lainnya. Walaupun kemudian
tidak banyak dari mereka yang berusaha belajar dan
menekuni bakat barunya sebagai penulis sajak (untuk
tidak menyebut penyair). Jelas ini gejala baru yang
sangat menarik, sebab karya mereka tidak hanya untuk
dinikmati secara pribadi (individu). Tapi juga bisa
dinikmati pengguna lain dengan berbagai pemikiran
yang mereka tawarkan untuk meramaikan kesusastraan
Melayu.

Jadi berbeda dengan Mabulmaddin, dia disini
bukan sedang terjebak di dunia maya yang sangat
mudah membuat pengklaiman atas status seseorang.

66 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Tidak. Sekali lagi Mabulmaddin disini hanya sedang
melakukan
pembelajaran dan pemantapan jati diri dalam memilih
cara atau bentuk pada penulisan sajaknya. Di samping
karena tingkat produktifitas yang sangat tinggi. Dan
untuk mensosialisasikan setiap sajak yang dia tulis,
maka fb adalah pilihan paling tepat baginya untuk
mengaktualisasikan diri. Walaupun sebenarnya secara
mainstream dia punya kedekatan emosional dengan
sejumlah media cetak di Malaysia. Tapi mungkin fb
dianggapnya sebagai salah satu media sosial yang lebih
memiliki kedekatan dengan pembaca, yang langsung
bisa berinteraksi antara pengguna dan sekaligus
mengapresiasi setiap materi yang dia unggah.

Buktinya aku juga sempat mengumpulkan ratusan
“jempol” dan pemberi komentar yang jumlahnya luar
biasa. Dalam kurun waktu 3 tahun Mabulmaddin mampu
menulis lebih dari 500-an sajak yang menghiasi status
di fb-nya. Namun pada buku Sabda Sunyi Dari Musim
Yang Hening (SSDMYH) aku hanya menerima 329 sajak,
terhitung dari pertengahan Agustus tahun 2011 sampai
Desember 2012.

Dengan judul yang unik dari setiap sajaknya, yakni
menggunakan tanggal penayangan saat mengunggah,
seperti “11 Ogos atau 12 Ogos” dan seterusnya. Sebagian
besar puisi-puisi yang meyebar di fb tidak lepas dari
bentuk atau gaya penulisan seperti pada bukunya
terdahulu, baik Stensil Pari Pari maupun Do’a, Cinta dan
Pohon Lilit.

Upaya inilah yang kukira sangat menarik dari apa
yang dilakukan Mabulmaddin Shaiddin, jadi bukan
banyaknya jumlah jempol atau komentar pengguna

Acep Syahril Belajar dari Puisi 67

fb yang menjadi sorotanku di sini, tapi upaya gigihnya
yang telah berhasil menggiring masyarakat pembaca
untuk memberikan cap pada gaya penulisan sajaknya.

Walaupun bentuknya seperti sajak-sajak “siratan”.
Tapi
itu tetap menjadi bagian dari proses yang sedang dia
jalani. Seperti yang pernah dia tegaskan di fb-nya:
“saya menulis puisi atas apa yang saya rasai, betul atau
tidak, bagus atau jelek, itu lain halnya kepada saya.
yang penting saya telah menulis apa adanya. saya tidak
suka memperlambangkan bunga sebagai cinta, tetapi
bunga bisa menjadi apa sahaja dalam jiwa mereka
yang membacanya. ertinya saya tidak suka skema”.
(02/03/2015 16:47).

Siratan-siratan yang bicara banyak persoalan dengan
berbagai tema dan ide yang dibangun setiap harinya.
Aktual dan konseptual. ekspresip penuh gambaran
dengan kalimat-kalimat mencengangkan yang kadang
menyusup sampai ke aliran darah, tajam, imajis, bahkan
kadang terkesan naif. Sarat akan teguran, peringatan
dan himbauan baik bagi dirinya sendiri mau pun bagi
pembaca.

Melalui pemikiran sufisme Mabulmaddin seolah ingin
bermain sendiri dengan dunianya. Dunia sufisme yang
berusaha dia tembus melalui hakikat serta menawarkan
kekuatan ma’rifat yang diyakininya.

11 Ogos

Kau tahu di mana aku kini? Aku berada di atas
sebatang titian nan sempit dan rapuh, yang di

68 Belajar dari Puisi Acep Syahril

bawahnya bergemuruh air yang deras mengoyak
bumi. Tapi perasaanku tetap tenang, kerana kau
sentiasa bersama meskipun dalam diam dan
tersendiri.

Keberadaan Tuhan pada sajak bertajuk 11 Ogos
ini
tidak diobral untuk meyakinkan pengguna fb atau
pembaca. Mabulmaddin hanya meyakinkan bahwa
Tuhan terus berjaga di tujuh pojok pintu hatinya. Di satu
pintu hati (Qolbu) yang suci bersih, dan di enam pojok
pintu hati yang takabur, amarah, sirik, munafik, hewani
dan serakah itu pun, Tuhan ada di sana. Menjaga langkah,
bahasa serta pandangannya sehingga perasaanku tetap
tenang/kerana kau sentiasa bersama, katanya.

Atau pada sajaknya 28 Ogos yang diolah secara naratif
melalui pandangan subjektif untuk meyakinankan
keberadaan Tuhan yang bermetamorfosa pada beberapa
objek dengan mengerahkan kekuatan imajinasinya.
Di situ Mabulmaddin seolah menjadi bagian penting
dari sebuah peristiwa untuk menyatakan bahwa Tuhan
tengah menunjukkan bukti kemisteriusannya.

28 Ogos

Aku yakin kau berada di seberang kabus sana,
tidak jauh dariku. Sebab putik kecil yang tiba-tiba
berkembang menyatakan kehadiranmu. Harumnya
malah meleburkan seluruh misteri ketiadaanmu.

‘Apa khabar?’ Kutanyai keindahan yang perlahan-
lahan menjalar bagai pohon labu air, pada suatu

Acep Syahril Belajar dari Puisi 69

hari. ‘baik,’ ujarnya segan-segan, ‘cuma aku kini
bercampur sedikit dengan mimpi...’

Sementara aku menunggu suaramu, aku merelai
buah rumput yang telah coklat kehitaman setelah
terbiar lama di tangkainya. Aku hampir hiba melihat
kesepian yang membawa kepada kematiannya.

Dan yang lebih menarik dari ke 329 sajak Mabulmadin
Shaiddin ini, ketika ruh beberapa penyair Indonesia,
seperti Chairil Anwar, Gunawan Muhammad atau Sapardi
Djoko Damono itu dia seret ke lambah-lembah agama
yang kemudian terkesan sangat rewel di mana-mana.

Atau ruh Jalaluddin Rumi yang begitu kentara ditiap
tarikan nafas sajak bergaya sufistik yang dia olah secara
aktraktif. Untuk berusaha keluar dari kekuatan pantun
sebagaimana penulisan sajak yang dilakukan para
penyair Malaysia selama ini. Mabulmaddin sepertinya
ingin berdiri di luar tradisi pantun yang kuat itu, melalui
dialektika tekstual yang dia lakukan secara kontinyu
dengan membubuhkan pandangan lain dalam gaya
penulisan sajakya.

3 September

Kegelapan ini bagaikan sebuah taman. Khayalanku
sering berkembang, tempat mimpiku melayang-
layang. Kubayangkan kau adalah keindahan yang tak
terperi, namun sukar didekati.

70 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Faris Al Faisal:
Antara Manifestasi Alam

dan Manusia

Kalau puisi-puisi Afrizal Malna selama ini dianggap
menyimpang dari kebiasaan penulisan puisi yang ada
dengan wawasan estetika menyimpang. Ditambah
kepiawaiannya yang mampu menggali mengolah
berbagai idiom-idiom modern disertai memberi tempat
bermain yang pas pada kata-kata tersebut. Itulah yang
membedakannya dengan penyair-penyair lain.

Sebaliknya Faris Al Faisal yang menderas dengan
diksi-diksinya seperti kebiasaan penulisan puisi yang
sudah ada, dia sudah ditetapkan sebagai warga penyair
baru yang tidak membedakannya dengan warga penyair
lama. Kecuali pada semangatnya yang luar biasa dalam
bereksplorasi dengan manifestasi alam dan manusia.
Disitu berbagai idiom berlompatan, berlarian dan
berkejaran dengan ruang bermain yang pas dan wajar.

Tidak ada penegasan apapun bahwa menulis puisi
harus begini dan harus begitu, semuanya dia tulis tanpa
prasangka. di manakah kau sembunyi sedalam lubuk
cimanuk aku mencari wujudmu yang dipenuhi sisik-
sisik berkilauan liat berlendir dengan insang memerah
sepanjang bantaran jaringku terulur menjerat hilir
mudik mengingat ke hulu betapa air di sana begitu
jernih dengan ikan-ikan seperti dalam kisah kolam kaca
sulaiman membuat balqis mengangkat betis. (Sedalam
Lubuk Cimanuk, Halaman 13. Kp. Dari Lubuk Cimanuk
Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian).

Acep Syahril Belajar dari Puisi 71

Karena tradisi penulisan puisi bergaya naratif seperti
ini sudah ada sejak dulu, seperti halnya menanak nasi
dan membuat sayur asem. Yang membedakannya, Faris
seolah ingin lepas bebas menulis, dari mulai memilih
tema sampai mengolah ide-idenya. Dia benar-benar
ingin menulis sepuas-puasnya menulis, perduli orang
mau ngomong apa. Ini menarik.

Hampir seluruh diksi yang dibangun dari berbagai
aktivitas budaya Indramayu dalam bentuk naratif,
secara sosiologi dan antropologi sastra jelas terlihat.
Dari sosiologi sastra hampir sebagian besar puisi-puisi
Faris berkaitan dengan masyarakat, intensitas rangkaian
peristiwa dan kejadian. dimana unsur-unsur kejiwaan
dalam hubungan ini tokoh dan penokohannya sangat
jelas, seperti pada puisi Sintren (Halaman 33, Kp: Dari
Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian).

Sintren

~ Membaca Kisah Cinta Sulasih dan Sulandana

Tembikar, gambyung dan kipas ditabuh. Kau
menari tanpa berpeluh. Pada jiwa yang pergi
berlabuh. Asap gaharu menebal memanggil
sesepuh. Repuh sepenuh

Turun sintren sintrene widadari
nemu kembang yun ayunan
nemu kembang yun ayunan
kembange putri mahendra
widadari temuruna

72 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Sayup pada malam angin bertiup. Roh
Dewi Lanjar masuk merasup. Perawan suci
menghias dalam cangkup. Melepaskan hambatan
pada dada yang mendegup. Cerup derup

Sih sulasih sulandana
menyan putih pegundang dewa
ala dewa saking sukma
widadari temuruna

Untuk itulah aku ada dalam iringanmu. Balangan
kain selendangmu rubuh tubuhmu. Pertemuanku
denganmu dalam alam sadarmu. Dibawa ke tujuh
titian langit biru. Seru memburu

Sejumput waktu menjelma dalam irama
perpisahan. Bunyi gamelan condong memelihara
kerinduan. Menguap asap putih kemenyan. Kusaksikan
cintamu
tiada lapuk dimakan zaman. Seabadian kenangan

Indramayu, 2018

Selain itu pada proses penulisan puisi Faris
yang masih panjang ini penegasan naratif seperti
diinginkannya belum final. Artinya dia baru membuat
penegasan atas puisi-puisinya sebagai hasil aktivitas
kultural yang didedahkan secara tematik. Dan tidak lebih
sebagai momen yang memang harus dia rekam jejaknya.
Yang sama sekali tidak ada hubungan dengan pola ucap
yang tengah dia yakini sebagai pijakan kedepan.

Acep Syahril Belajar dari Puisi 73

Tapi sebagai catatan selanjutnya, apa yang dilakukan
Faris Al Faisal adalah sesuatu yang luar biasa bagi
perkembangan sastra di Indramayu khususnya dan
Indonesia umumnya. Karena melalui catatan-catatan
sederhananya itu ada upaya keras untuk menggiring
pembaca lebur pada ratusan karya yang ada di buku,
“Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut
Impian”. 71 puisi, Bagian I Dari Lubuk Cimanuk, 21 puisi,
Bagian II Ke Muara Kerinduan, dan 27 puisi, Bagian III
Ke Laut Impian. 119 puisi yang hampir sebagian besar
merupakan manifestasi alam dan manusia dengan
segala keterdedahan serta aktivitasnya, menjadi sesuatu
yang menarik untuk dibaca. Seperti karya rupa dengan
aktivitasnya sebagai pewarna yang medegradasi dalam
setiap ide dan tema yang diusung.

74 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Dunia Aku dan Sajak:
Catatan untuk Buku Iriani R Tandi

Saya mengenal Iriani R Tandi, 10 tahun lalu ketika
pertama mengumpulkan sejumlah nama penyair Jambi
untuk persiapan membuat Antologi 11 Penyair Jambi
“Riak-Riak Batanghari” (1987).

Berkenalan dengan Iriani R Tandi (Iriani) tidak beda
ketika saya berkenalan dengan teman-teman pribumi
lainnya, meskipun Iriani Tionghua keturunan. Saya
katakana demikian sebab di Jambi saat itu teman-teman
“non pribumi” hampir sebagian besar punya jarak
pergaulan dengan teman-teman pribumi.

Oleh Iif Ranupane hal ini sempat diabadikan dalam
puisinya “Lanskap II”:

……
terdengar bincang mereka seperti Hongkong kedua
di sepanjang pasar aku saksikan gedung dan took-toko
berdiri
membelakangi pribumi
yang tergantung di atas tiang-tiang rapuh
di atas genangan air hitam

Iriani R Tandi lahir di Jambi, 9 Juli 1960, adalah
satu-satunya penyair wanita jambi, sejak 22 tahun lalu
memulai dunia penulisan puisi. Pertengahan 1970-an
puisi-puisinya banyak dimuat di majalah Zaman, Hai,
Cemerlang dan Koran Haluan Padang. Oleh Korie
Layun
Rampan dia dikategorikan sebagai salah satu dari 111

Acep Syahril Belajar dari Puisi 75

penyair wanita Indonesia dalam kurun waktu 1920 –
1995.

Sebagai seorang penyair, istri dan ibu dari kedua
putrinya, Iriani tidak beda dengan wanita-wanita
lain yang menempatkan kodrat kewanitaannya yang
berusaha mengangkat harkatnya sebagai kaum Hawa
yang memiliki keinginan berekspresi.

Kelembutan, kesabaran, ketelatenan dan
ketekunannya pada saat mengamati setiap persoalan
disekitar cukup tergambar dalam baris-baris sajaknya.
Sehingga perasaan gelisah, harapan, cita-cita,
kekecewaan serta keempatiannya terhadap lingkungan,
orang tua, suami dan kedua anaknya menjadi sesuatu
yang bernyawa dalam gaya naratif, impresif dan
imajinatif. Dengan ungkapan-ungkapan sederhana serta
pilihan diksi yang menarik untuk disimak, seperti pada
sajak “Dunia Aku dan Sajak” yang dia pilih sebagai judul
buku kumpulan sajak tunggalnya yang pertama dengan
20 sajak pilihan.

Dunia Aku dan Sajak

Aku tengah memintal
kesunyian dan kesendirian
Memisahkannya dari jangkuan
hura-hura dan desing yang hingar binger

Aku bicara sendiri,
ketika semuanya
kembali pada kelasik dan jadi purba
Bapakku adalah matahari

76 Belajar dari Puisi Acep Syahril

bulan itu adalah ibuku
atap rumahku, langit
ialah hamparan rumput menghijau
Tempatku menaruh kantukku, berbaring

Walau, semua orang lalulalang
sebab tak terbesit gubris
Tidak meninggalkan simpul senyum
pada berjuta-juta baris sajakku

Antara dunia, aku dan sajak di atas merupakan hasil
daripertemuanantaradunianyatadanduniakontemplasi
yang masing-masing memiliki keseimbangan, antara
keyakinan dan rasa pesimisnya sebagai penyair yang
hidup di tengah-tengah masyarakat yang nota bene
masih belum menyadari fungsi karya sastra. //Walau,
semua orang lalulalang/sebab tak terbesit gubris/Tidak
meninggalkan simpul senyum/pada berjuta-juta baris
sajakku//.

Membaca Hari Esok
(Untuk anak-anakku)

Ketika engkau telah pintar
menyelipkan geraian helei-helai rambutku
di balik daun telingaku
membaca air mataku
berdiri,
telanjang kaki
di cadas sukma dan raga

Saat itu,

Acep Syahril Belajar dari Puisi 77

Akupun rindukan engkau
seperti pohon rindang dan
berbuah lebat membalas tiap
lemparan-lemparan batu
dengan buah-buah yang manis ranum

Keyakinan bukanlah sesuatu yang mudah untuk
dimiliki seseorang tanpa membaca (kekurangan atau
kelebihan) yang ada pada dirinya, contoh kecil seperti
yang dilakukan Iriani pada puisi di atas. Dia seolah
mampu membaca yang tersirat atas gerakan-gerakan
kecil sekalipun dari setiap pertumbuhan dan pikiran
serta tindakan anak-anaknya yang dia yakini sebagai
harapan manis untuk hari esok.

Yang tergambar dari isi sajak-sajak Iriani
sebenarnya bukan hanya bentuk keyakinan terhadap
segala persoalan hidup yang dia yakini selalu ada jalan
keluar dan menghadapinya secara legowo untuk tetap
bisa meniupkan nafas dengan lega, tapi juga adalah
kearipannya dalam mengatasi berbagai persoalan hidup
itu sendiri. Dengan gaya naratif, impresif dan imajinatif.

Hal ini nampak pada usaha yang menjadi ciri dalam
sajak-sajaknya, yakni dengan acap kali menggunakan
awalan me yang berarti aktif. Seperti memisahkannya,
membaca, membalas dan lain-lain. seperti pada sajaknya
“Cinta di Museum Kalbu”.

Semoga saja musim-musim setia menemani
perjalanan diantara perdu, ilalang yang subur
berjengkal-jengkal tanah hasrat
yang telah kita gambar

78 Belajar dari Puisi Acep Syahril

mengusut petak-petak hari depan

Aku terbiasa sudah
menyimpul kebenaran diantara deritamu
sebagai lagu nina bobo, agar lukaku
tak perlu parah

Dari ketiga sajak di atas rasanya tidaklah mengada-
ada kalau dikatakan “inilah dunia, inilah aku dan inilah
sajakku,” yang secara keseluruhan mewakili dunia dalam
dan dunia luar atas pergulatan Iriani yang membentuk
konfigurasi pengucapannya yang khas.

Jambi 1997

Acep Syahril Belajar dari Puisi 79

M. Enthieh Mudakir dan
Eksistensialisme yang Utuh

(Dari buku kumpulan puisi, M. Ethieh Mudakir :
Anjing Ingin Pulang )

Saya belajar pada banyak hal, karena saya sadar
sekolah tidak akan menyelesaikan keinginan saya
untuk menjadi. Oleh sebab itu sekolah bagi saya adalah
bagaimana awalnya mengenal logika. Logika dari
mengenal benda-benda serta fungsinya, mengenal
huruf, membaca dan menyimak segala sesuatu yang
saya ikuti dalam berbagai perkembangan di dunia. Dan
logika mengenal angka, menjumlah serta berhitung.
Berhitung yang kemudian saya kembangkan tidak hanya
selesai pada angka tapi juga pada pencapaian keinginan
(nalar).

Saya juga sadar kalau kelak saya akan berhadapan
dengan banyak masalah, khususnya pada persoalan
tanggungjawab, kebenaran menurut umum yang
dibentuk dari cara berfikir seseorang yang kemudian
diyakini sebagai sesuatu yang bisa dijadikan rujukan
berfikir. Antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

Dari pengetahuan saya mendapat banyak pelajaran,
dari mulai mengatasi lapar dengan sedikit uang tapi bisa
bertahan hidup dengan gizi standar, walaupun hidup
di jalan. Dengan begitu otak saya masih bisa bekerja
dengan baik serta logika berfikir untuk menyelesaikan
tugas-tugas masa depan.

Berdasarkan pengalaman saya belajar pada banyak
orang, saya lebih banyak belajar pada kelalaian orang-

80 Belajar dari Puisi Acep Syahril

orang disekeliling saya.
Bentuk-bentuk kelalaian ini muncul dari ego yang

tidak terkontrol, seperti merendahkan orang lain,
menghina, memojokkan, tidak bisa menerima pendapat
orang, paling kaya, paling hebat, paling cerdas, paling
pintar dan pokoknya saya tidak ada arti apa-apa dimata
mereka. Maka orang-orang ini saya jadikan guru. Disitu
saya belajar pada kelalaian mereka, bagaimana caranya
saya tidak merendahkan orang lain, karena saya adalah
orang yang paling sangat merasakan atas kekurangan
saya di mata mereka.

Namun tidak sedikit juga orang-orang yang baik,
rendah hati dan menghargai orang lain yang saya
temukan, termasuk seluruh benda-benda, waktu, jarak,
tempat dan lain-lain. Mereka juga adalah guru-guru
saya.

Sebagai murid yang penuh dengan kekuaangan saya
harus “belajar”, dengan pergi membaca kedahsyatan
guru-guru saya. Setelah itu saya “pulang”, tapi bukan
ke rumah. Karena puluhan tahun saya hidup di jalan
tanpa rumah, jadi kalau pulang saya “kedalam”. Setiap
kali pulang saya selalu membawa sesuatu, sesuatu yang
menurut saya sebuah perubahan.

Kata “pulang” disini saya kembangkan dari filsafat
rantau yang ada di minang, karena ayah saya orang
Bukittinggi dengan suku Sikumbang. Kata “rantau”
disini saya maknakan sebagai “pergi”, dan pergi
menurut pengetahuan saya adalah kata kerja aktif. Jadi
ketika mereka pergi artinya mereka sedang dan akan
melakukan serta mencari sesuatu. Lalu sampai pada
waktunya “pulang” mereka harus membawa sesuatu,
sesuatu yang saya katakan sebagai perubahan.

Acep Syahril Belajar dari Puisi 81

Sementara Ilmu Pengetahuan yang saya miliki saat
ini hanya berlaku bagi diri saya pribadi, karena istilah
pulang bagi saya bukanlah ke rumah. Pulang bagi saya
adalah introspeksi. Sebab berdasarkan pengalaman dan
logika berfikir saya, hampir sebagian besar guru-guru
saya yang setiap hari mengatakan pulang (ke rumah).
Sampai hari ini saya hanya sedikit melihat perubahan
sikap mental pada diri mereka.

Karena selama ini kepulangan mereka hanya terjadi
pada perubahan fisik, benda dan finansial, sedikit sekali
perubahan nilai yang merubah sikap mentalnya.

Kesadaran Eksistensialism
Dulu ketika saya diberi buku kumpulan puisi

“Malam Begini Bening” oleh M. Ethieh Mudakir
tanggal 3 September 1993 di Tegal, penyair ini masih
menggunakan Honda Bebek tahun 70-an warna merah.
Lalu 27 tahun kemudian untuk kedua kalinya penyair
ini kembali memberi saya buku kumpulan puisi “Anjing
Ingin Pulang”, tanggal 27 April 2020 di depan alun-alun
Indramayu dengan mengendarai Mobil Brio putih.

Dari rentang waktu 27 tahun itu saya melihat
banyak perubahan dalam diri penyair ini, perubahan
mental spiritual serta perubahan material. Namun dari
perubahan tersebut ada yang paling menarik menurut
saya. Yakni perubahan menyerahkan seluruh profesinya
sebagai penyair kepada waktu, tidak seperti dulu. Dia
begitu menggebu, menulis puisi dengan pamrih.

Sementara frasa idiomatik Anjing Ingin Pulang yang
dijadikan judul buku disini adalah kesadaran subjektif
yang menurutnya lebih tepat sebagai media introspeksi
dan sekaligus retropeksi dari kekerasan dan keliaran

82 Belajar dari Puisi Acep Syahril

hidup. Introspeksi atas kelalaian dan kerasnya hidup
yang dia jalani, serta retrospeksi yang bisa dijadikan
alat penyadaran dalam bentuk puisi.

Seperti pada bukunya Anjing Ingin Pulang (AIP),
ada keinginan-keinginan besar yang ingin disampaikan
Enthieh Mudakir (Enthieh) di dalamnya. Keinginan-
keinginan besar yang menjadi pesan-pesan filosofis
dari peristiwa retropeksi. Disitu berbagai pengalaman
yang pernah dilaluinya menjadi asam garam kehidupan,
seperti: //Meretas waktu/dunia tanpa wajah baru/
sebilah pisau menyayatku// (Waktu: Halaman 43).

Puisi ini diolah menggunakan rasio dan kekuatan
imajinasi subjektif dengan bangunan aku lirik serta
pesan fundament yang kuat. Sebab rasionalitas waktu
adalah gerak dan berkembang, sedangkan keterhentian
gerak adalah stagnan. Ketiadaan gerak ini akan
menimbulkan kefakuman, artinya “dunia tanpa wajah
baru” dan disitu berbagai persoalan siap menunggu,
“sebilah pisau menyayatku”.

Sebagai karya retropeksi dengan narasi batin
semestinya banyak hal dramatik yang mampu
menggiring emosi pembaca karena nilai-nilai kehidupan
di dalamnya, namun kenyataannya tidak. Sebab sebagian
besar puisi-puisi tersebut dibangun antiklimaks sebagai
romantisme yang lebih membutuhkan susunan diksi
dengan irama yang mengalir, seperti pada puisi “Lapar”
(halaman 8 – 9).

Sahabat dekatku dulu bernama lapar
namun aku selalu ikhtiar dalam perjuangan
makan sekali pukul dua belas siang
selebihnya mengaji dan sholat

Acep Syahril Belajar dari Puisi 83

……………

Tuhan ada dan selalu menjaga
menjinakkan musabab adalah keyakinan
raga berihktiar mengenali lekuknya
menyihir segala kepongahan yang ada

Romantisme yang dipilih sebagai media untuk
mengekspresikan keliaran hidup menuju jalan pulang.
Pulang ke hati nurani berkaca bercermin, belajar
pada kelalaian, belajar pada kealpaan, belajar pada
kesia-siaan, belajar pada umbaran segala keinginan,
kesombongan, ketakaburan untuk kemudian sampai
pada kesadaran sebagai manusia.

Aku Anjing Ingin Pulang

Aku anjing
yang paling anjing adalah diriku

Aku manusia
yang bukan manusia adalah diriku

Aku binatang
yang hina dan sengsara adalah diriku

Aku tidal lain
yang merupa syahdan adalah diriku

Aku menggongong yang meminta ampunan
adalah diriku

84 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Kesadaran eksitensialism ini dibangun
berdasarkan pengalaman hidup yang telah dijalani
untuk kemudian bercermin pada pengalaman tersebut
untuk membebaskan segala beban demi mencapai
kejelasannya sebagai manusia

Seperti gagasan masyhur Martin Heidegger
dari konsep “Being-in-the-world”, bahwa manusia
merupakan entitas yang bernaung di dalam dunia.
Untuk memahami sang manusia, kita harus memahami
bagaimana manusia mempersepsikan dunianya dan
bertingkah laku berdasarkan persepsi tersebut.

Kesadaran eksistensialism inilah yang dihidupkan
M. Enthieh Mudakir dalam puisi-puisinya, yang lebih
terasa jujur, mengalir apa adanya tanpa pamrih. Dimana
dalam puisi-puisi tersebut dia berusaha semaksimal
mungkin mempersepsikan dirinya sebagai manusia yang
ingin kembali pada dirinya. Pulang dengan membawa
perubahan, pemikiran cara pandang hidup yang baru
serta menjaga lingkungan tempatnya bersosialisasi dan
berinteraksi.

Ladang

Kadang saat malam saya sulit memejamkan mata
Pikiran berkelana menjumpai pertemuan tanpa rencana,
siang hingga petang
di tempat tidur saya mencatat ulang
Kadang mendadak tergeragap menjadi cemas
Ada kata yang menurut saya menyakitkan atas kata
perbuatan khilaf
Meski tidak sengaja kerucut ngomong
Saya tidak mampu tidur sebelum cepat maupun lambat

Acep Syahril Belajar dari Puisi 85

Terselesaikan
………………………….
(Halaman 81)

Buku puisi Anjing Ingin Pulang M. Enthieh Mudakir
ini memuat 149 puisi yang ditulis antara tahun 2010
– 2019 dan diterbitkan Kosa Kata Kita pertengahan
April 2020, dengan pengantar Adri Darmaji Woko. M.
Enthieh Mudakir adalah penyair Indonesia, kelahiran
Tegal – Jawa Tengah 24 April 2020. Puisi-puisinya
kecuali tersebar di media masa, juga diterbitklan dalam
kumpulan puisi tunggal seperti, Malam Begini Bening
(1993), Koor Zaman (2002), Cemas Belum Menyerah
(2005), Angin Perlawanan (2010) dan terakhir Anjing
Ingin Pulang (2020). Selain itu puisi-puisinya juga
banyak tergabung dalam sejumlah buku kumpulan puisi
penyair Indonesia laiinya.

86 Belajar dari Puisi Acep Syahril

Puisi dari Kepak Angsa Putih

(catatan untuk: Antologi puisi mahasiswa FKIP

jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,

Universitas Negri Jambi)

Jambi, Setengah kilo gram gula batu, satu pak kecil
Teh Cap Tang dan sederet cerita budaya kusodorkan ke
Mang Alloy. Kedatanganku ke rumah kerjanya selain
mengantar pesanannya tadi, aku juga sengaja ingin tau
produk baru penyair di kota ini. Sebab sejak 18 tahun
lalu Mang Alloy sudah dipercaya oleh teman-teman
penyair untuk membidani penerbitan buku-buku sastra,
khususnya urusan editing, mengolah cover sekaligus
penggandaannya.

Lalu pagi itu dari tangannya kuterima sebuah buku
kumpulan puisi dengan tampilan lux bertitel “Kepak
Angsa Putih” (KAP), terbitan Bengkel Puisi Swadaya
Mandiri Jambi. Antologi puisi mahasiswa Fakultas
Kejuruan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Bahasa dan
Sastra Indonesia, Universitas Negri Jambi (Unja), yang
ditulis 28 mahasiswa semester IV angkatan 2009. Berisi
142 Puisi dengan pengantar Dr.Sudaryono,M.Pd, sebagai
dosen pengampu matakuliah penulisan puisi.

Dalam pengantarnya Sudaryono atau Dimas
Arika Mihardja menuliskan, bahwa “angsa putih
bagi komunitas sastra merupakan simbolisasi cinta,
romantika, petualangan, kesetiaan, keanggunan,
keyakinan, kesucian dan lainnya. Puisi yang dihasilkan
oleh penggubahnya dan dimuat dalam buku ini secara
metaforis serupa dengan angsa putih yang tak letih
meniti buih kehidupan penuh kerinduan dan keharuan”.

Dan aku tak tau buku yang ada di tanganku pagi

Acep Syahril Belajar dari Puisi 87

itu entah terbitan keberapa dari banyak buku sastra
yang dikerjakan Mang Alloy selama ini. Sementara
membaca 142 puisi yang terselip di di dalamnya, aku
jadi teringat puisi-puisi siswa SMP dan SMA yang hampir
setiap minggunya ku kumpulkan dari tiap sekolah yang
kudatangi seusai kegiatan apresiasi.

Di situ aku selalu membawa pulang berikat-ikat
puisi cinta, patah hati, harapan, ayah ibu, protes sosial,
ketuhanan, lingkungan dan atau yang bercerita soal
alam, pagi malam dan petang. Mereka menuliskannya
dalam bahasa verbal konvensional nyaris tanpa
perenungan dan kering wawasan, namun jika dibaca
ulang berulang kadang jadi menarik. Aku seolah sedang
belajar dari kepolosan dan kejujuran mereka.

Hal itu juga kurasakan dari kesetiaan Sudaryono
atau Dimas Arika Mihardja yang bertahun-tahun dengan
ketelatenannya mengasuh dan mendidik mahasiswanya
soal kesetiaan pada hidup, keyakinan, kepekaan serta
fikiran-fikiran kritis melalui media penulisan puisi ini.

Seperti dituliskan Nur Juliana pada puisinya
“PILKABA (Pemilihan Kepala Rimba) atau Gambaran
Pilkada Indonesia” (KAP, Hal: 94), yang dituliskannya
secara verbal itu paling tidak bisa jadi pelajaran bagi
para politisi yang sok sosialis dan moralis.

“Ular dari Partai Damai Istirahat
sampaikan misi tak tidur sebelum rakyat makmur
ah ngota
nyatanya habis makan molor
tutup mata lihat kasus century
ngantuk dengar cerita TKI”
atau

88 Belajar dari Puisi Acep Syahril

“Singa dari Partai Kenyang Selalu

teriakkan janji dijamin rakyat gemuk
alah tu kan katamu
buktinya pasokan sembako ludes kau grogoti
senyum sumringah lihat tangis pengemis
terbahak saksika busung lapar”

Sementara Putri Rahayu melalui kamera
imajinasinya memotret berbagai peristiwa yang
terjadi di daerahnya, Jambi. Suatu permasalahan sosial
beruntun yang dia rekam dan dia tuliskan dengan satu
tarikan nafas.
konstitusi dilelang
angso duo ramai
sepanjang kota baru – Arizona
berlari menentang jarum jam

sedang telanai
sibuk melahirkan cendekiawan
’tukbertemu leninisme.
(Puisi: Tayangan Kecil Negriku, KAP, Hal.108).

Rahayu dalam KAP ini boleh dibilang salah satu
calon penyair berbakat, melalui kekuatan imajeri
visualnya dia mampu mengekspresikan permasalahan
dibalik tembok gedung yang berlatar belakang
sosial politik itu secara hiperbol. Permasalahan para
pemimpin dalam mengambil keputusan dan kebijakan
yang hanya melahirkan kekecewaan di hati masyarakat.
Atau telanaipura yang sejak lama dipersiapkan demi
kelahiran para cendikia yang diharapkan mampu
membagun daerah serta berpihak pada masyarakatnya.
Tapi sayang mereka lupa jalan pulang, sebaliknya

Acep Syahril Belajar dari Puisi 89

menjemput faham lain demi kepentingan pribadi dan
kelompoknya. Begitu kata Rahayu.

Namun ada yang lebih menarik dan lebih berbakat,
yakni Randa Gusmora dengan Sajak Terang Bulan
Di Mendalo Yang Hilang (KAP, Hal. 121). Meski pada
gayanya sedikit berbau Gunawan Muhammad, tapi
sebagai langkah pencarian hal ini sangat menarik.
Karena penulisan puisi tidak cukup hanya dengan
mengandalkan kekuatan inspirasi, kepekaan insting atau
beretorika dengan kata-kata. Tidak. Semuanya harus
dimulai dengan membaca, mencari dan meraba untuk
menawarkan dunia baru pada pembacanya dengan
berbagai pengalaman, atau melalui proses kognitif yang
mampu mengkomparasi persoalan menjadi sebuah
luapan yang berisi: //emosi ini berperan di waktu pikiran
buyar/sajakku hilang//.

Sehingga dunia kata-kata yang dibangun
berdasarkan imajeri visual serta kekuatan konstruksi
jiwa penyairnya, bisa menawarkan aktifitas baru
kedalaman otak pembaca, seperti: //dimana bulan
sejengkal dari atas/hadir lebih awal sebelum natal//.

Selain Nur Juliana, Putri Rahayu, Randa Gusmora,
ditemukan juga Syukria. Sementara Ummi Kalsum
tengah belajar konsisten dengan gayanya yang
sederhana. Pemula satu ini sepertinya benar-benar
menawarkan sesuatu yang utuh, yang belum tampak
pada rekan--rekannya yang lain. Sebuah tawaran
menarik dari pemikiran jernih dan dingin seperti
ungkapan-ungkapan lirisnya yang penuh dan berisi.

Ibu Acep Syahril
90 Belajar dari Puisi

Karena rindu pada bijakmu
Tiap saat kusunting do’a dari nadiku
Senyummu yang mempesona lewat bingkai usang

Membuat hulu dan muaraku menyatu di taman syurga

Tertirahlah yang damai disi-Nya

(KAP, Hal. 148)
Ow..ow, manis dan padat sekali do’a ini. Kerinduan

dan do’a untuk sosok ibu dari senyum mustajabnya di
bingkai yang usang. Do’a yang setiap malam dan siang
mengalir dari ruang-ruang latifa paling dalam. Ibu
“tertirahlah yang damai disisi-Nya”.

Kata-kata pilihan yang sederhana dengan
personifikasi yang lebih sederhana pula, begitu ke lima
puisi yang disajikan Ummi Kalsum di KAP ini. Meski
untuk sementara ide dan tema yang ditawarkannya
masih berkisar diseputar persoalan keseharian serta
persoalan batin. Tapi dari kesederhanaanya itu ada
konsistensi yang berbeda dari yang lainnya.

Indramayu 2009

Acep Syahril Belajar dari Puisi 91

Keinginan Menjadi yang Keras
dari Dunia Maya

Udin Sape Bima, begitu kemudian aku menyapa
pemuda ini setelah perkenalannya denganku di Face
Book (fb), 10 Desember 2012 lalu. Beberapa hari
setelah perkenalan itu aku sudah menjastisnya sebagai
anak muda yang rewel dan selalu ingin tahu banyak hal.
Dugaanku tidak meleset. Karena kurang puas dengan
jawaban-jawabanku via inbox, akhirnya dia minta nomor
ponsel. Setelah itu kami sering komunikasi, namun
celakanya anak muda ini kalau sudah komunikasi tidak
cukup lima atau sepuluh menit. Wah repot juga fikirku.

Selain rewel anak muda ini juga lurus dan lugu, itu
yang kusuka darinya. Melalui kronologinya di fb dia tidak
hanya menjadikan fb sebagai wahana komunikasi tapi
juga dia manfaatkan sebagai media promosi puisi atau
pancingan pemikiran melalui status yang dibagikannya.
Bahkan kadang banyak hal yang semestinya tak perlu
diunggah, tapi di fb ini dia tampilkan dengan percaya
diri. Sampai-sampai aku pernah menegurnya agar dia
tidak terlalu jor-joran dan terjebak dalam propaganda
murahan menyesatkan., “kamu jangan sampai
terjebak dalam kepuasan-kepuasan sesaat dengan
mengumpulkan jempol dan pujian. Setelah itu kamu
sulit untuk nulis puisi,” kataku.

Proses menjadi “penyair” yang dijalani Udin Sape
Bima tidak jauh beda dengan proses “ingin menjadi”
yang dijalani anak - anak muda lainnya selaku
pesbuker.

92 Belajar dari Puisi Acep Syahril


Click to View FlipBook Version