Perbedaannya hanya pada “belajar”, serta “keteguhan”
mengolah untuk kemudian sampai pada seleksi alam.
Dari hampir sebagian besar pesbuker yang
tergabung dalam kelompok atau grup dengan nama-
nama aneh, baik pada grup mau pun nama pesbukernya.
Sudah terkesan tidak serius, ketika keberadaan mereka
hanya sekedar ingin tampil dan menyalurkan uneg-uneg
semata.
Meskipun tidak sedikit diantara mereka punya
keinginan menjadi, namun keinginan tersebut kadang
lebih didominasi pada hal-hal aneh dan tidak jelas.
Seperti menyembunyikan nama asli, mempertontonkan
bahasa alay dan mengumbar status sebagai warga
pemuda Indonesia yang galau. Baik dalam bentuk
puisi mau pun kata-kata indah murahan yang menurut
mereka juga puisi.
Prilaku semacam ini jarang sekali kutemukan di
halaman fb Udin Sape Bima atau beberapa nama lain
yang juga kemudian lolos secara alamiah dan berjibaku
di dunia kepenyairan Indonesia, seperti Ekohm Abiyasa,
Abdullah Mubaqi dan lain-lain.
Sekarang karya-karya Udin Sape Bima sudah tembus
batas tergabung dalam sejumlah buku kumpulan puisi
bersama penyair Indonesia diberbagai angkatan. Dia
sudah bukan lagi anak muda yang ingin menjadi dan
galau di dunia maya. Udin telah menemukan jalan
kreatifitasnya, Udin juga telah menemukan jenis tulisan
khas (baca: puisi) untuk kemudian dia ekspresikan dan
dia sumbangkan ke khalayak Indonesia.
Sumbangan pemikiran yang khas dengan kerewelan,
kegelisahan, kegamangan dan kecemasannya terhadap
berbagai hal yang dia tangkap dan dia ekspresikan
Acep Syahril Belajar dari Puisi 93
secara puitik melalui bahasa puisi. Berbagai hal dari
yang tersirat
sampai ke yang tersurat, dari yang imajis sampai ke
yang verbal, dari yang tradisi sampai ke yang modern
sehubungan dengan sosio kultur yang terus berkembang
dimana dia berdiam, di Sape Bima.
Seperti direkam Udin secara jelas pada “Bunga
Desa Bima”, betapa peradaban tempat dia dibesarkan
mulai kikis oleh derasnya budaya asing yang merembes
perlahan namun pasti. Kemudian membuat generasi di
daerah itu tidak lagi mengindahkan budaya lama yang
dulu pernah hidup sebagai simbol-simbol peradaban
lama. Tak ada lagi irama tutu kandei yang dipukul ibu-
ibu sebagai ritual adat yang mengingatkan suatu zaman,
dan kontrol perdaban dimasa itu.
Bunga desa berteriak seperti kehilangan induk
menjelma gugup sebelum senja telah tiba
berdendang lagu suku yang mengiringi *tutu kandei
rupanya ada sebuah pesan dibalik perut lopi
hingga bunga desa layu disesupi oleh budaya
Waktu diamdiam menikung jendela kehidupan
dan anak berlari makai serahu mengelilingi museum kota
sebab diranjang ada bayi mungil menangis tanpa dosa
di luar sana lelaki desa sedang sibuk mencangkul rahim
gelegak doa-doa merentang barisan dana mbojo
Kerewelan anak muda ini bukan tidak beralasan
ketika filter peradaban di bumi tempatnya berpijak
kian menipis dan tak mampu sepenuhnya menyaring
modernisasi yang menelikung dalam sampai ke sendi-
sendi budaya di tanah kelahirannya. Bahkan alampun
seperti mulai tidak kompromi.
94 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Kota ke Desa
Dari belukar kota ke belukar desa
aku melihat banyak wajah yang pecah
seperti baru saja usai perang di massa Rasulullah
dan setumpuk rambut tersenyum luka dalam barisan
keringat telah berlinang diselapang baju
di hamparan tikar terdengar detakkan jantung jam
yang menggelisahkan punggung sulthan *Mbojo
Dari ampenan ke sape
tidak ada lagi pohon berdiri kokoh dengan masa lalu
semua runtuh di telan masa yang merogoh kesulthanan
tidak ada lagi kebongkahan hati menyeruak
kemanusiaan
arloji yang dipakai untuk menghitung waktu
hanya dapat meruntuhkan seonggok daging dan tulang
pintu nurani telah di kunci dengan asas kekuasaan
Jendela kampung *Mbojo semakin riak oleh tawuran
tak henti-hentinya aroma sengak yang mengkikis waktu
rontakkan rambut pun tak mengenal ujung
dan udara semakin tak baraturan dalam musim apapun
semuanya kian memerih duka di persimpangan
kampung
dan tanah subur di atas buramnya *Dana Mbojo
seakan-akan tak ada lagi rasa kebersamaan
Ya Tuhan hamba *lingi ade labo Mbojo mantoi
rindu dengan kedamaian yang penuh rasa nasionalisme
Atau pemikiran-pemikiran lugu dan lucu dengan
pilihan diksi sederhana yang sepertinya memang harus
Acep Syahril Belajar dari Puisi 95
dia sampaikan ketika pada kenyataannya persoalan
sosial itu sudah berlangsung lama di negeri ini: Nak!
apakah di negeri ini tak pantas dengan semua gelar yang
diperoleh itu? kok sepertinya engkau hidup melarat.
Padahal ini kan negerimu pula. (Kakek Berkata II).
Anak muda ini, Udin Sape Bima telah membuktikan
kalau dia bisa “menjadi penyair”, walaupun harapan
menjadi itu masih harus terus diperjuangkan untuk
lebih mempertajam pemikiran-pemikirnnya ke depan.
Indramayu 2017
96 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Supali Kasim, Impresionisme
Sejarah Dalam Puisi
(Catatan atas buku kumpulan puisi: Pergi ke Masa
Silam, Pulang ke Masa Depan)
Sejak lama saya sudah tidak lagi mengatakan
“pulang” jika hendak ke rumah, tapi pergi ke rumah.
Sebab pulang bagi saya adalah beban, beban terhadap
diri saya sendiri selaku individual yang membawa-bawa
ruh, hati, jiwa dan akal.
Pulang bagi saya adalah hasil dari suatu tindakan
certain dan menjadi kepastian bagi diri saya untuk
segera merubah dari yang sebelumnya tidak bermanfaat
menjadi bermanfaat. Dari sebelumnya lalai menjadi tidak
lalai, sebelumnya berprilaku kurang baik, tapi ketika
pulang menjadi sedikit baik. Sebab kata pulang disitu
adalah cerminan yang dalam bagi kehidupan saya untuk
senantiasa merubah hal-hal yang kurang baik menjadi
sedikit baik dan selanjutnya menjadi lebih baik.
Sebagai makhluk sempura dan individu yang
memiliki keterbatasan saya sulit untuk kompromi dengan
diri saya sendiri, ketika saya ingin pergi ke rumah dengan
mengatakan pulang. Sementara dalam diri saya masih
ada sifat-sifat buruk yang bermanfaat bagi diri saya
sendiri tapi tidak bermanfaat bagi orang lain. Saya malu.
Sebab pengalaman “pergi” dan pengalaman “pulang”
adalah sebuah penandaan bagi seseorang yang masih
hidup, seperti halnya judul buku Supali Kasim,“Pergi ke
Masa Silam, Pulang ke Masa Depan” (Sehimpun Puisi
Sejarah). Artinya pegiat sejarah, penyair dan sekaligus
guru ini memiliki segudang pengalaman hidup
Acep Syahril Belajar dari Puisi 97
yang secara akademik dan empirik sulit dibantah ketika
pengetahuan seseorang yang berhadapan dengannya
pas-pasan.
Apalagi ketika Supali menyuguhkan seikat
pengalaman batinnya yang dicetak dalam sebuah buku,
buku yang bercerita tentang banyak hal yang dia katakan
sebagai puisi sejarah, saya yakin Supali telah melakukan
banyak hal untuk bercermin dari banyak teks tersebut
yang kemudian dituangkan secara impresif dalam puisi-
puisinya.
Dari ke-Pergi-(an) ke Masa Silam, Pulang ke Masa
Depan (PMSPMD) Supali Kasim menghasilkan 48 puisi
dalam rentang waktu antara 2021 – 2022 sesuai titi
mangsa yang terdapat dalam setiap akhir puisi. Karena
disitu Supali Kasim sudah benar-benar berusaha pergi
ke masa silam kemudian pulang ke masa depan dengan
membawa banyak perubahan. Hal ini saya yakini sebagai
tindakan kognitif yang berhasil menggugah kepekaannya
sekaligus tindakan sempit (narrow action) yang
memuluskannya untuk menyublimasi setiap ide atau
gagasannya dalam bentuk puisi.
Tindakan sempit yang tidak hanya membutuhkan
inspirasi sekelebatan tapi juga efek dari getaran akal
setiap kali menangkap pernyataan atau keganjilan dari
suatu peristiwa masa lalu yang secara imajinatif mampu
menyadarkan intuisi kepenyairannya.
Dari batu jadi alat
jadi alat hasil mengamat
hasil mengamat dari mata
juga hati dan otak
98 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Hati dan otak tak membatu
dari batu berpijar api
pijar api muncul besi
besi tak lagi batu
Tapi batu bolong bergua
gua bergambar-gambar
gambar-gambar hasil menghayat
meski hanya batu terlihat
Terlihat batu untuk tak terlihat
tak terlihat alam di bawah kubur
alam kubur tak terlihat
sulit ajar manusiapun tersesat
Dari batu jadi logam
dari logam jadi sinyal
sinyal kita kembali tersesat
kau dan aku berkepala batu
2021
Repetisi dalam puisi “Kembali Zaman Batu”
(halaman 93-94; PMSPMD) jika sekilas dibaca sulit
untuk sampai pada apa yang diinginkan penyairnya,
kecuali kalau dibaca lebih cepat dengan suara padat,
maka yang dirasakan adalah mantra.
Puisi ini memiliki amanat peringatan dengan beban
moril serta gambaran prilaku manusia antara zaman
batu dan zaman sinyal. Dimana pada kenyataannya
semakin terang dunia semakin tersesat manusia dan
Acep Syahril Belajar dari Puisi 99
semakin jauh dari zaman batu semakin keras manusia
dan bahkan semakin berkepala batu, kata Supali Kasim.
Terlihat batu untuk tak terlihat
tak terlihat alam di bawah kubur
alam kubur tak terlihat
sulit ajar manusiapun tersesat
Neologisme dalam sebuah mantra adalah hal yang
lazim digunakan, sekalipun bentuknya acak, seperti
//terlihat batu/untuk tak/terlihat tak/terlihat alam/
di bawah kubur/alam kubur/tak terlihat/sulit ajar/
manusiapun tersesat//. …../kau dan aku berkepala
batu//.
Puisi Tetap Menghidupi Indramayu
Menarik memang, lama saya merindukan penyair
Indramayu yang saya ketahui lebih jeli dalam berkarya
dan bahkan lebih jeli lagi dalam menilai atau menyambar
lawan-lawan diskusinya. Dan itu sudah berlangsung sejak
lama sampai kini. Artinya geriap kepenyairan Indramayu
tidak pernah mati walaupun ada dikotomi di dalamnya,
namun proses berkarya dan diskusi tetap memberikan
warna dunia kesusastraannya.
Supali Kasim salah seorang penyair Indramayu yang
memiliki akar kuat dalam dunia kepenyairannya. Dia tidak
hanya menyimpan magma kata pada perpuisian, tapi juga
sebagai pegiat sejarah, bahasa daerah dan budaya.
Hanacaraka ke Tenggara
Angin musim dan pelayaran
arah tenggara
100 Belajar dari Puisi Acep Syahril
kemarau membakar khatulistiwa
hujan dan gerimis menyubur tropis
semenanjung, teluk, laut, samudra
tapak india
jejak prasejarah
Angin musim dan pelayaran
juga dari tenggara
dayung diayun Indochina
perahu dilaju nusantara
pulau ke pulau, pesisir ke pesisir
menapak India
jejak siapa
Ajisaka mengawang hanacaraka
Dora dan Sembada mengeja datasawala
berdua padajayanya
menyusuk batu, tulang, logam
angin musim dan pelayaran
persahabatan dan peradaban
ikan-ikan memburu magabathanga
Angin musim dan pelayaran
di tenggara
layar-layar terus berkibar
ke K’un-lun, Dvipantara atau Melayu pantai
layar bertulis aksara
si Sumatera, Sunda Jawa, Bali, Madura
2021
Acep Syahril Belajar dari Puisi 101
Narasi padat dengan irama yang kuat pada puisi ini
lebih mendepankan reportase sejarah masuknya aksara
pallawa ke Indonesia, selain puisi yang ditulis Ajisaka
setelah kematian dua orang abdinya Dora dan Sembada
yang tewas dalam pertarungan atas perselisihan mereka
sebelum mengantarkan pusaka Ajisaka. Puisi itu //
Hanacaraka: ada dua utusan/Datasawala: keduanya
terlibat perselisihan/Padhajayanya: mereka sama-sama
berjaya dalam perselisihan itu/Maga bathanga: dan
keduanya pun sama-sama menjadi mayat.// (INDONESIA.
GO.ID-Fortal Informasi Indonesia. Perjalanan Huruf
Palawa menjadi Aksara Jawa; Senin, 10 Agustus 2020).
Sementara keberadaan Ajisaka sendiri sampai kini
masih jadi pertanyaan para sejarawan karena belum
bisa mengungkap sosok sesungguhnya. Akhirnya
banyak yang berkesimpulan kalau Ajisaka serta puisi
yang ditulisnya masih dianggap mitos.
Kemahiran Supali Kasim dalam mengurai objek,
gagasan serta pilihan diksi menjadikan setiap puisinya
memiliki rangkuman data dari setiap persoalan yang
dia usung. Sehingga pembaca dalam hal ini selain bisa
diajak menikmati puisi-puisi impresifnya tentang
berbagai sejarah dunia pembaca juga dapat memetik
sumber bacaan dari sederet nama-nama orang, nama-
nama negara, nama-nama tempat yang berhubungan
dengan catatan masa lalu.
Berbeda dengan penyair Amerika, James Mercer
Langston Hughes, yang lebih dikenal dengan puisi-
puisi sejarah dengan gaya naratifnya yang tidak hanya
mengangkat tema deportasi dan warisan, tapi juga
tentang sejarah panjang diskriminasi budak kulit hitam.
102 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Sebagai sebuah perjuangan kemanusiaan melalui
kekuatan kata untuk mengangkat keterpurukan orang-
orang kulit hitam.
Orang Negro
Dengan terompet di bibirnya
Memiliki bulan-bulan kelelahan yang gelap
Di bawah matanya
Dimana memori membara
Dari kapal budak
Berkobar sampai retakan cambuk
Tentang barang-barangnya
Orang Negro
Dengan terompet di bibirnya
Memiliki kepala rambut yang cerah
Dijinakkan, Paten
-
kulit sekarang
Sampai bersinar
Seperti jet
Apakah jet adalah mahkota?
Musik
Dari terompet di bibirnya
Apakah madu?
Dicampur dengan
cairan api
Ritme
(Puisi: Pemain Terompet)
Acep Syahril Belajar dari Puisi 103
Puisi dengan tema sejarah Hughes kemudian menjadi
sumber inspirasi bagi masyarakat kulit hitam Afrika –
Amerika yang mampu mengangkat harkat kehidupan
mereka. Dengan menelanjangi sejarah panjang orang-
orang kulit hitam dari zaman kuno untuk menunjukkan
bahwa Negro telah menjadi budak sejak lama, serta hal-
hal luar biasa yang dibangun oleh mereka di masa lalu.
(kumparan.com/potongan-nostalgia: Langston Hughes,
Sastrawan Pecinta Kehidupan Orang Afro-Amerika, 17
Desember 2020).
Artinya setiap karya sastra (puisi) masing-masing
memiliki kekuatan isi dengan pilihan tema serta daya
ungkap yang mampu mewakili diri si penyairnya.
Jika Supali Kasim secara impresif memaparkan
cuplikan-cuplikan sejarah perjalanan panjang dunia
tentang zaman dan peradaban manusia dengan
berbagai penandaan waktu, angka, benda-benda, nama-
nama orang, nama-nama negara, nama-nama kerajaan,
laut dan pulau-pulau. Maka Hughes melalui puisi-puisi
naratifnya menjadi sebuah perjuangan dengan harga
mati untuk menunjukkan keberadaan warga kulit hitam
ke mata dunia.
104 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Narasi Cinta ke 54, Kijoen
Setelah itu tak pernah lagi bertemu Kijoen sejak
pertemuanku dengannya di Jambi pada pukul 15.24 Wib,
7 Maret 1991. Waktu itu Kijoen datang ke rumahku di
Belakang Bioskop Murni, kami sempat ngobrol kurang
lebih 25 menit. Kemudian Kijoen menyodorkan 6 keping
kayu kapuk dengan ornamen khas Kalimantan. Tapi
aku cuma ditinggalkan 3 keping seharga Rp.5 ribu per
kepingnya, dengan harapan Kijoen bisa mendapatkan
tambahan uang buat ongkos ke Bengkulu bersama teman-
temannya. Namun sayangnya saat itu aku tak punya canel
untuk mendapatkan uang buat membantu Kijoen.
Sungguh, aku sangat merasa bersalah karena tak bisa
membantunya, apalagi ketika Kijoen mengatakan kalau
selama ini sebagian besar perjalanan berkeseniannya
dibiayai dari menawarkan berbagai karya kreatif yang
dibuat komunitasnya.
Lalu 7 tahun setelah pertemuan itu, aku kembali
mendengar nama Kijoen di peta kepenyairan Jawa
Barat, ketika aku hijrah ke Indramayu. Nama yang
tak asing di lidahku. 22 tahun kemudian kembali aku
dipertemukan dengan penyair ini, 3 Desember 2013.
Juga dengan cerita yang sama, dan masih berkesenian
dengan membiayai sendiri pembuatan antologi puisi
tunggalnya, tanpa ISBN, sederhana, apik, artistik dan
menarik. “Sajak Cinta Dunia Maya” 54 Sajak Kijoen,
begitu judul di sampulnya. Buku ini rencananya akan di
launching tanggal 8 Desember 2013, di Gedung Kesenian
Panti Budaya Indramayu.
Acep Syahril Belajar dari Puisi 105
Dari judul buku ini imej yang muncul difikiranku
adalah dunia maya sebangsa tweeter, face book,
wechat, BBM, google plus, blog dan lain-lain. Artinya
sajak-sajak ini dipastikan beredar di salah satu media
tersebut. Jujur, selama ini aku tak pernah mengikuti
Kijoen di dunia maya, tapi melalui kumpulan puisi ini
aku jadi penasaran untuk menyusuri kebenaran cinta
seperti yang dijudulkan Kijoen pada bukunya. Cinta
yang sepenuhnya kuyakini tumbuh akibat gesekan
perasaan, romantisme dari dan atau kepada seseorang
melalui kekuatan kata, kekuatan waktu yang berkejaran
dikotak-kotak teknologi itu, sampai kemudian menjadi
sihir rindu. //peron mana lagi yang mesti kusinggahi/
ketika semua bentangan jarak/menyisakan gelisah?//
(Sajak: tiga baris – kepada diri sendiri, hal.6). Atau pada
sajak:
episode pengakuan
-kepada yang jauh
II
menerima sapamu, aku seperti pejalan
yang menemukan telaga
dan memuaskan dahaga perjalanan
kemudian, sempurnalah kegelisahan
ketika malam pun memeluk gerimis
seperti mengekalkan waktu penantian
seperti, pelita yang kita nyalakan dalam impian
kita pun merasakan kehangatan
: dan mimpi tak beranjak pergi
106 Belajar dari Puisi Acep Syahril
walau cuma mimpi
Sajak ini dibagikan kepada publik google plus pukul
20.48 - 12 Apr 2013 kemudian dikomentari “Yanti Emi”
pada tanggal 12 April 2013;
kegelisahan pun sirna
ketika kau datang menyapa
dmalam yang sunyi
biar itu cuma dalam mimpi
tapi sungguh terasa nyata
dan penantian ini rasanya tidak sia-sia
Komentar yang mengalir menderas, emosional,
bergelora dengan peluit panjang tanpa alat peredam itu,
membuktikan kalau Kijoen berhasil memancing sudut
hati pembaca istimewanya di tengah malam tandang,
tanpa harus mempertanyakan sah atau tidak ketika
penyair mengobral kata di dunia maya.
Selain itu ketelanjangan bahasanya yang seksi penuh
gairah dan ber-energi itu juga masih membuktikan ciri
majis dalam sajak-sajaknya. Karena dia benar-benar
sadar menciptakan sajak-sajak cinta ini, yang dia
kumpulkan dan kemudian dikemas tepat di usia ke 54
nya. Sajak cinta yang tidak main-main, mengarah dengan
mata panah tepat pada sasaran ketika Midlife Crisis itu
datang mengepung usia dan waktunya:
memahamimu, seperti mengeja hikayat
dalam lembaran cerita
separuh malam nyaris kita tuntaskan
dengan berulang-ulang menuang kopi
Acep Syahril Belajar dari Puisi 107
pada gelas yang buram warnanya
masih saja, engkau bicara mata hati
sementara kita kehilangan peta
karena jarak rindu menjadi semakin jauh
(sajak memahamimu, seperti mengeja hikayat, hal.46)
di bagikan kepada publik di google plus pukul 22.47 13
Juni 2013. Paling menarik dari sajak-sajak Kijoen adalah,
ketika dia dengan intens menarik dan meniupkan nafas
bahasanya melaui metafor-metafor ringan, sehingga
pembaca aktif dan pasif pun masih bisa menikmatinya.
Disitu pengalaman-pengalaman empirik dan batinnya
seolah ingin berbagi dengan pembaca.
sore hari, memandangi puing-puing
dan reruntuhan hatinya,
lelaki itu mendesahkan kegundahan
mungkin mendung.
(aku masih sibuk, hal.41).
Tanpa menawarkan air mata namun tetap intens dengan
pilihan kata yang kuat dan majis yang menjadi ciri
khasnya. Itulah kelebihan Kijoen. Memang kalau dilihat
dari waktu ke waktu sajak-sajak Kijoen tidak banyak
perubahan, Kijoen lebih memilih bernarasi dengan
muatan-muatan peristiwa yang bermain di wilayah
batinnya. Dengan ungkapan-ungkapan metaforik
sederhana yang sesekali menyeret hati pembaca ke
wilayah-wilayah sanubari.
108 Belajar dari Puisi Acep Syahril
episode perpisahan
selamat tinggal, katamu menjelang malam
gaun hitam mengibaskan duka yang dalam
purnama baru separuh tumbuh
awan hitam seperti menambah kelam
: selalu ada yang menangisi perjalanan
Indramayu 2013
Acep Syahril Belajar dari Puisi 109
Kisah-kisah Peradaban
dalam Kirab
Bambang Widiatmoko
Saya mengikuti kepenyairan Bambang Widiatmoko
sejak tahun 1985, waktu itu saya seringkali menemukan
puisi-puisinya disejumlah surat kabar Jogjakarta dan
Jakarta. Selain sering membacanya di bulletin UII
Muhibah, saya juga membacanya dari beberapa buku
kumpulan puisi bersama penyair Indonesia lainnya.
Disitu saya seolah sudah sangat akrab sekali dengan
penyair ini. Walaupun kemudian baru bertemu secara
fisik ditahun 2011. Dan yang paling menarik dari
kepenyairan Bambang Widiatmoko adalah bahasa
puisinya yang khas, sederhana dan bertahan. Gaya
naratif yang begitu kuat sebagai keciriannya. Seolah
dengan cara bertutur seperti ini Bambang Widiatmoko
menjadi lebih leluasa menuangkan segala idenya untuk
dituangkan dalam puisi.
Apalagi dari sekian banyak puisinya yang saya
temukan sebagian besar adalah puisi-puisi epik
berwawasan dan menawarkan pengalaman sebagai
karya sastra yang sangat berpengaruh pada nilai-nilai
peradaban. Yang menyimpan banyak hal dan kisah
tentang sejarah, hidup dan kehidupan kepahlawanan,
legenda, kisah-kisah tutur yang dipercaya masyarakat
dan lain-lain.
Dengan karakter puisi yang memiliki kekuatan rasa,
teatrikal serta daya tarik yang kuat bagi pembacanya.
Puisi-puisi naratif ini bisa ditemukan sepenuhnya di
buku
110 Belajar dari Puisi Acep Syahril
“Kirab” Kumpulan Puisi Bambang Widiatmoko, yang
diterbitkan Interlude (2021) baru-baru ini, memuat 57
puisinya.
Seperti seorang pesilat kata-kata dalam puisi
Bambang Widiatmoko berkelebatan kesana kemari
dengan jurus-jurusnya. //Dengan kekuatan Syahadat,
Surat Alkaustar, Asma’ul Husna/Yang dituangkan dalam
seratan emas di selembar kain wulung/Sejak masa Sri
Sultan Hamengku Buawana 1 sampai kini/Dan diarak saat
pandemic menyelimuti negeri kami/Antara keyakinan
dan doa berjalan seperti tubuh dan bayangan// (Puisi:
Kirab Kyai Tunggul Wulung; Hal.1-2).
Kata-kata yang mudah dipahami dengan gaya
bercerita yang tentunya menarik untuk terus dibaca,
tidak seperti novel sejarah selain mengabaikan tradisi
puitik juga membutuhkan waktu lama untuk terus
menelisik jalan kisahnya. Ini menarik.
Khususnya untuk menumbuhkan minat baca di
dunia pendidikan, puisi Bambang Widiatmoko bisa
menjadi pancingan siswa untuk mengetahui lebih
komplek soal sejarah atau legenda serta kepercayaan
yang hidup dan berkembang di masyarakat kita. Seperti
pada puisi “Hikayat Batu Badan” (halaman 10-11).
Telah dikisahkan bagaimana Sultan Ibrahim
Anak raja tarusan, dalam silsilah Raja-raja di hilir
Berselisih dengan ayahnya, Sultan Muhammad Syah
Perselisihan timbul tersebab serangan ikan-ikan todak
Yang tak henti mengusik kerajaan.
Para menteri dan prajurit kebingungan
Acep Syahril Belajar dari Puisi 111
Tak mampu menemukan cara menghalau
ikan-ikan todak
Yang menyerang dan ,menusuk semua orang
Jika berani mendekati tepian laut
Nyawa terancam dan jenazahnya lantas hanyut.
Tampillah Si Bodak, teman kesayangan anak raja
Disusulkannya dipergunakan pokok-pokok
batang pisang
Sebagai tameng perdeam serangan
Moncong panjang ikan-ikan todak
Akan tertancap dan tak bisa kembali lepas.
…………………..
Dari mulai pemilihan diksi sampai kepenuturannya
puisi-puisi Bambang Widiatmoko bisa cair di tangan
para siswa. Saya bisa meyakinkan hal ini karena
pengalaman keluar masuk sekolah di Indonesia
selama puluhan tahun sampai hari ini, siswa lebih suka
mengkonsumsi puisi-puisi naratif dengan tema-tema
sejarah, kepahlawanan, legenda atau yang berhubungan
dengan cerita-cerita kepercayaan yang hidup dan
berkembang di lingkungannya.
Seperti puisi “Jembatan Ratapan Ibu” (Halaman 32-
33).
Di ujung jembatan ratapan ibu
Kuyut menungguiku sambil menjaga waktu
Menelusuri jejak sejarah yang tercetak dalam kalbu
Terus mengalir seakan hanyut dari hulu ke hilir
Semesta pun terdiam seolah telah ikut btersihir.
112 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Jembatan tampak kokoh melintasi sungai Batang Agam
Batu merah direkat dengan semen dan keringat pekerja
paksa
Dicetak dengan darah dan air mata, diperkuat dengan
tulang-belulang
Menyimpan kisah pedih dalam bentangan setengah
lingkaran
Tetap bergeming meski beban kehidupan menindih
tubuhnya.
Paling menarik pada puisi-puisi naratif seperti
ditangani Bambang Widiatmoko adalah, kekuatan diksi
yang mampu mengikat tema atau gagasan objek yang
diangkatnya, sehingga disana amat terasa objektiftas
cerita serta pendramatisiran kisah yang kadang klimaks.
Selain itu ada kekuatan lain yang ditawarkan dari
gaya naratif ini yakni, objek kisah yang sebelumnya
hilang di masyarakat oleh Bambang Widiatmoko
kemudian dilansir kedalam puisinya “Punden Batu”
(halaman 7 – 8).
Punden Batu atau bangunan yang terbuat dari
batu yang ada di Desa Tanjung Tanah, Kecamatan
Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi.
Dimana Kerinci yang kaya akan sejarah melayunya
dengan kedahsyatan alam yang disuguhkan, oleh
penyair Kerinci Gozali Burhan Rijodja dituliskan dalam
puisinya, “Kerinci, sekepal tanah surga yang terlempar ke
dunia”. Salah satu kekayaannya peninggalan prasejarah
yakni megalitik atau bangunan batu yang secara luas
belum banyak diketahui masyarakat. Oleh Bambang
Widiatmoko dihidupkannya dalam puisi bertajuk
“Punden Batu”.
Acep Syahril Belajar dari Puisi 113
Setelah suntuk mengelilingi perkebunan teh Kayu Aro
Aku turun untuk melacak jejak yang ditinggalkan Uli
Kozok
Ketika menemukan Kitab Tanjung Tanah – naskah
Melayu tertua
Lantas menuju tepian Danu Kerinci – ditumbuhi
enceng gondog
Di atas jalan berundak berdirimuseum sedang
ditata koleksinya
Deretan pohon cengkih tua menanggalkan daun kering
dan bunga
Menuju tepian sungai Kemuan, menandkan peradaban
Kerinci tua
Situs batu silindrik, seolah menghadap ke arah bukit
Adam
Pahatan batu-batu geometris pada sisi-sisinya
Mengingatkan kehidupan pada zaman batu baru
Roh nenek moyang mereka tearasa mengusap sekujur
tubuhku
……………….
Indramayu 2021
114 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Perlawanan dengan
Gaya Romantik
(Catatan untuk Antologi Puisi Edy Samudra Kertagama)
Keberadaan buku kumpulan sajak di negeri ini,
posisinya sampai sekarang masih sama seperti dulu. Dia
berada ditempat khusus dengan pembaca khusus yang
dime ngerti dan difahami oleh orang-orang khusus.
Walau untuk membuka setiap lembarannya tidak
dibutuhkan alat khusus, tapi bukan itu persoalannya. Dia
hanya korban “pilihan” dari setiap calon pembaca yang
keluar masuk toko buku dan perpustakaan. Mungkin ini
bisa sedikit dijadikan alasan Edy Samudra Kertagama
memberi judul kumpulan sajaknya “Mantra Sang Nabi”.
Sebuah upaya mengalihkan perhatian calon pemba
canya untuk memilih. Namun hal ini tentulah belum
selesai kalau belum membuka dan menelusuri, mantra
nabi siapa saja yang ada di buku kumpulan sajaknya.
Menarik memang.
Dari 82 sajak yang terangkum di buku ini, ternyata
hanya ada satu nama nabi saja, yakni Ibrahim, pada sajak
Bermula Dari Detik, halaman 27. Dan nama Ibrahim
pun pada sajak ini ternyata yang dimaksud bukanlah
Nabi Ibrahim, melainkan nama seseorang, yakni teman
penyairnya Ibrahim Gaffar.
Bermula Dari Detik
Senja memberi salam pada Belajar dari Puisi 115
tebing yag curam sedang
malam yang datang selalu
Acep Syahril
membawa kenangan
untuk menatap bulan dan bintang
yang dipagari ilalang
Kota Kediri menyimpan cerah pagi
Daun-daun tebu menari bagai kenari
Demikian Ibrahim mengunci diri
Dengan sajadah dan tasbih
Tapi ini bukanlah pengecohan melainkan diversion
of the mind terhadap objek atas kondisi minat baca
masyarakat Indonesia saat ini. Sehingga persoalan pilihan
tadi akan memberi ruang bagi calon pembaca untuk
mempertimbangkan pilihannya. Selain persoalan isi yang
tentunya akan sangat menentukan pilihan seseorang
memiliki buku ini (Mantra Sang Nabi).
Seperti Abdullah bin Rawahah, Edy Samudra
Kertagama juga seperti sahabat Nabi Muhammad yang
tengah berjihad dengan kata-katanya memperjuangkan
nasib orang-orang lemah dan teraniaya. Dan oleh
Rasulullah Nabi Muhammad SWA pernah menasehati
Umar Bin Khatab yang marah ketika ketika Abdullah
bin Rawahah ingin membacakan puisinya sebelum
berperang.
“Wahai Umar, ketahuilah bahwa kata-kata dalam
syair itu akan lebih dulu sampai kepada musuh di sana
sebelum pedang kita sendiri” kata Rasulullah. Jadi
seluruh puisi dengan struktur kata-kata bernilai estetik,
imajinatif serta idiom-idiom bersahaja yang berusaha
menyarikan ber bagai persoalan dibuku ini juga memiliki
getaran sama dengan apa yang pernah dilakukan
Abdullah bin Rawahah dimasa-masa peperangan beliau
mendampingi Rasulullah.
116 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Tanah Sembah
:teater nol ukm sbi iain
Sudah berapa juta kali
wajahmu mencium bumi
adakah kau rasa bau luka
di dahi laki-laki dan perempuan
yang tersungkur dan patah tulang
hingga air mata ibu yang lama tak mengalir
kini jadi sungai
bagi jutaan takbir mahasiswa.
Wahai, ayam jantan yang berkokok
jika kau telah memecah ribuan telur dari betinamu
datanglah, ada tetesan lendir, darah dan air mata
karena kokok kesombonganmu
Sebuah perjuangan atas nilai-nilai kehidupan yang
terus mengalami pergeseran, yang kemudian tidak
hanya disarikan menjadi suatu informasi terkini, tapi
juga disi kapi menjadi sebuah perlawanan dengan gaya
romantik. Sehingga lebih terasa santun. Artinya buku
kumpulan puisi Mantra Sang Nabi karya Edy Samudra
Kertagama ini latyak untuk dibaca, sebab dia tidak
hanya menyimpan persoalan tempat dimana dia berdiri.
Tapi juga berbagai persoalan tak terduga yang mungkin
tak sampai kita fikirkan, seperti pada sajak “Fohn”
(halaman 60) misalnya.
Fohn atau bisa juga disebut angin fohn yang berhembus
keringdisertaihawaagakpanasyangbisamengakibatkan
kerusakan pada lahan pertanian, manusia dan bahkan
bisa sampai terjadi kebakaran pada hutan.
Acep Syahril Belajar dari Puisi 117
Fohn
Fohn ingin
bersiul pada lembah
namun suaranya terlalu kering dan penat
hingga menggantung pada ranting
dan daun-daun
Aku tidak bicara
segala kejadian dan ceritaku
hanya sampai pada hari,
jam, menit, detik
pada waktu
dan segala yang dekat
.......................
Indramayu 2018
118 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Suharyoto Sastrosuwignyo
Dalam Dialektika Fundamental
Suharyoto Sastrosuwignyo merupakan salah satu
penyair Indonesia yang bertahun-tahun pernah hidup
di jalan. Karya-karya puisinya hampir sebagian besar
ditulis dan dibacakan dijalanan, atau di gedung-gedung
pertunjukkan dengan cara “nyerobot” pada kegiatan
sastra atau kegiatan tetaer orang lain. Dari pada dimuat
di media-media cetak. Diparuh tahun 90-an dia baru
mau mengirimkan karya-karya puisi serta beberapa
jenis tulisan lainyanya ke surat kabar.
Sikapnya yang tertutup dengan penampilan urakan
bahkan terkesan kampungan jika berdandan, kelihatan
sangat kaku. Namun gagasan serta pemikirannya yang
brilian saat diekspresikan dalam bentuk tetaer dan
kegiatan sastra tidak sedikit membuat orang marah dan
benci padanya. Sebab panggung baginya tidak harus
diruang tertutup, ruang terbuka baginya jauh lebih
familiar untuk berekspresi, sebagai ruang publisitas dan
berkomunikasi dalam bentuk karya. Mungkin ini juga
yang membuatnya terkesan sebagai penyair kesepian.
Sekarang dia memilih hidup dipemukiman transmigran,
Desa Laboi Jaya, Bangkinang Sebrang, Kampar, Riau.
Dan telah melahirkan sebuah novel Metanusantara
(2016), dan beberapa buku lainnya yang masih dalam
penyusunan.
Puisi-puisi Suharyoto Sastrosuwignyo, adalah
magma (tumpukan persoalan) yang sudah semestinya
dimuntahkan. Muntah yang benar-benar muntah
dengan pemberhendaan kata yang sangat dekat dengan
Acep Syahril Belajar dari Puisi 119
bahsa pasar yang tidak sulit dicerna masyarakat seperti
mengerling, sinting, membual, menor, bolakbalik,
gimbalnya dan lain-lain..
hatiku seruwed lalulintas kotamu yang semrawut
dan kusut kendaraan yang saling berebut ingin
duluan dan..brakk..sebuah mobil menyerempet
becak dan mendapat hadiah cacimaki
seperti durian runtuh
Menggiring setiap persoalan secara subjektif, tumpah
tanpa bait, apa adanya serta pilihan diksi liar namun
selektif dengan pencitraan yang timbul tenggelam, cair
dan sugestif. /aku menyingkir agak jauh, kau baru
sampai/tanjung pura atau stabat atau binjai../ahh..
masih berapa lama lagi/di dekat pasar arah klambir
seorang bob marley / berganti kelamin menjadi
betina agak sinting/berteiakteriak kepada polisi
kepada seorang/ibu muda yang menor melintas/dan
mengerling rambut gimbalnya/aku lebih sinting lagi
berputar bolakbalik/seperti tong setan kesorean/masih
berapa lama lagi/kemana aku melabuhkan rindu yang/
tersimpan sejak 24 jam yang lalu/mencari/tempat
untuk berteduh/menunggu dan kencing sembari
membual/aku memesan pisang bakar/dan jus kueni
seporsi lagi/total jendral sebelas ribu rupiah/dan aku
keliru mengulurkan/dua lembar uang seribu/entah
kenapa..!//
Selain liar dan mengalir, tifograpi puisi-puisi
Suharyoto juga nyaris tidak berbait, dia seperti
ingin terus bicara menyampaikan berbagai persoalan
yang bergerak dan bergejolak disekitarnya. Persoalan
120 Belajar dari Puisi Acep Syahril
kemiskinan, kejahatan, disorganisasi keluarga, korupsi
dan lain-lain. Dalam bentuk bentuk komunikasinya
kepada masyarakat sebagai kontrol terhadap jalannya
suatu system sosial atau proses bermasyarakat.
Berdasarkan pendapat Peter L. Berger yang
membagi teori fundamental pada tiga tahapan,
seperti objektivitas, internalisasi dan eksternalisasi.
Dalam hal ini Suharyoto tengah berdiri diantara tiga
tahapan itu, yakni eksternalisasi, suatu pencurahan
kedirian manusia secara terus menerus ke dalam
dunia, baik dalam aktivitas fisik maupun mentalnya.
Dalam pembangunan dunia, manusia karena aktifitas-
sktifitasnya menspesialisasikan dorongan-dorongannya
dan memberikan stabilitas pada dirinya sendiri. Karena
secara biologis manusia tidak memiliki dunia-manusia
maka dia membangun suatu dunia manusia. Manusia
menciptakan berbagai jenis alat untuk mengubah
lingkungan fisik dan alam dalam
kehendaknya. Manusia juga menciptakan bahasa dimana
melalui bahasa manusia membangun suatu dunia
simbol yang meresapi semua aspek kehidupannya.
Seperti puisi-puisi Suharyoto Sastrosuwignyo
dengan konsistensinya dalam menyoroti simpul-
simpul kontradiksi yang terjadi di negeri ini, karena
system yang mengakibatkan terjadinya kesenjangan
sosial antara birokrasi dan masyarakat yang tidak
seimbang. Dan dalam bahasa puisinya yang konstan
itu, antara dirinya sebagai penyair dengan system yang
menimbulkan berbagai persoalan sosial tumplek bleg
di dalamnya. Suharyoto lebih menitikberatkan pada
konflik pertentangan tersebut terhadap satu persoalan,
yakni ketidakadilan. Menggunakan bahasa lisan yang
Acep Syahril Belajar dari Puisi 121
terasa dekat dengan berbagai lapisan masyarakat.
kamu menipu rakyat yang tak mengerti urusan listrik
dan memeras pelanggan yang tak berdaya ah, apa jadinya
apa saja bisa terjadi dalam gelap gulita
maling sapi rampok pencoleng
jambret copet semakin leluasa
ketika kucoba mencari korek api dan lilin
meraba dan meraba
kepalaku membentur dinding
bagaimana kalo menginjak kobra, kalajengking, lipan..?!
di dapur aku bertubrukan dengan bapak
di jalanan mobil bertabrakan dengan mobil
dengan sepeda motor dengan truk
bahkan menyenggol pejalan kaki
kenapa? karena traficlight pun ikut mati
wahai, PENIPU LISTRIK NEGARA!
kamu berkhianat pada Thomas Alpha Edison
dan berdosa kepada rakyat!
pagi siang sore malam
hidup mati tak menentu
membuat hati yang sabar
jadi bringas
yang bringas jadi murka
yang murka jadi gelap mata
dan memilih bahasa BATU
atau..BOIKOT!!!
mustika hatiku... (Puisi: Terkutuklah PLN).
Indramayu 2018
122 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Oktober
senja baru saja pergi
baru beberapa menit
rokok dan kopi belum habis
aku baru tau kalo kau sudah
.....!
ini bukan puisi seperti biasanya
tapi sebuah pengakuan
kehilangan
sebagai putra oktober, aku slalu ragu, harus kuakui,
entah bagaimana menyampaikan sebuah
perasaan yang terpendam
kepadamu
tak tau bunga apa yang harus kuberikan
bungaku callendula dan bungamu apa
malam baru saja tiba mengantar
sayur asem dan tempe goreng tepung
dan sebotol bir sisa tadi malam
sudah tak berbuih
di malam pertama
setelah sekian lama menghilang
dalam bulanbulan sebelumnya
tapi percayalah aku terlalu cinta
pada puisi
meski cintaku tak sempurna!
Menunggu
senja kemaren terlalu cepat datang dan menjadi redup
oleh gerimis menunggumu di simpang kampung lalang
diantara becak dan sudaco
seperti tukang ojek yang menunggu rezeki untuk
dibawa pulang kepada anak istri
Acep Syahril Belajar dari Puisi 123
hatiku seruwed lalulintas kotamu yang semrawut
dan kusut kendaraan yang saling berebut ingin
duluan dan..brakk..sebuah mobil menyerempet
becak dan mendapat hadiah cacimaki
seperti durian runtuh
aku menyingkir agak jauh, kau baru sampai
tanjung pura atau stabat atau binjai..
ahh..masih berapa lama lagi
di dekat pasar arah klambir seorang bob marley
berganti kelamin menjadi betina agak sinting
berteiakteriak kepada polisi kepada seorang
ibu muda yang menor melintas
dan mengerling rambut gimbalnya
aku lebih sinting lagi berputar bolakbalik
seperti tong setan kesorean
masih berapa lama lagi
kemana aku melabuhkan rindu yang
tersimpan sejak 24 jam yang lalu
mencari tempat untuk berteduh
menunggu dan kencing sembari membual
aku memesan pisang bakar
dan jus kueni seporsi lagi
total jendral sebelas ribu rupiah
dan aku keliru mengulurkan
dua lembar uang seribu
entah kenapa..!
.....
Penyair Yang Dihukum Puisinya
sendiri
di hutan yang mulai jarang
wajahnya mirip denganku namun tak begitu jelas
124 Belajar dari Puisi Acep Syahril
tertutup bayangan hitam
membaca halamanhalaman buku
tertunduk menyamping ke kiri
seorang lelaki bermain badminton sendirian
di halaman buku puisi
bertelanjang dada memukul suttelcook
lalu mengejarnya sendiri
menerobos jaring mengejar
terjerembab disudut garis
lalu bangkit dan mengejar lagi
dengan seringai yang aneh
sinar matahari menerobos dedaunan siang
ular melata bagai tukang pijit buta
melintas depan rumahmu menawarkan jasa
aku hampir tak mengenal lagi
pemain badminton membuang raket
dan berganti wajah menjadi kusir pedati
sapisapi memenuhi halaman demi halaman buku
kamera berputar mengitari penyair
menyorot punggung kaos abu-abu
dan rambut yang berlumut
setiap benda minta diberi nyawa
setiap cinta ingin diberi nama-apapun-
setiap puisi minta dituliskan
seperti seorang anak
yang meminta kasihsayang.
Terkutuklah PLN Belajar dari Puisi 125
tanpa ragu kukatakan
:kamu penipu dan pemeras!!
Acep Syahril
membuat saibun tak bisa mengelas
robet tak bisa mengelas sukris tak bisa mengelas
membuatku tak bisa menulis puisi
tak bisa ngecas hp tak bisa nonton berita korupsi di tv
alangkah teganya kamu
membuat orangorang tak bisa bekerja
dan bayibayi menangis kepanasan
anakanak tidak bisa mengerjakan pe-er
astaga!
dan ketika pulang rumah
gelap gulita seperti zaman purba
membuat aku marah pada ibu
dan ibu menjerit histeris
karena ikan di akuarium pada mati
aku tak bisa mandi karena pompa air tak hidup
dan ketika masuk kamar, astaga, menginjak paku
kamu menipu rakyat yang tak mengerti urusan listrik
dan memeras pelanggan yang tak berdaya
ah, apa jadinya
apa saja bisa terjadi dalam gelap gulita
maling sapi rampok pencoleng
jambret copet semakin leluasa
ketika kucoba mencari korek api dan lilin
meraba dan meraba
kepalaku membentur dinding
bagaimana kalo menginjak kobra, kalajengking, lipan..?!
di dapur aku bertubrukan dengan bapak
di jalanan mobil bertabrakan dengan mobil
sepeda motor dengan truk
bahkan menyenggol pejalan kaki
kenapa? karena traficlight pun ikut mati
wahai, Penipu Listrik Negara!
126 Belajar dari Puisi Acep Syahril
kamu berkhianat pada Thomas Alpha Edison
dan berdosa kepada rakyat!
pagi siang sore malam
hidup mati tak menentu
membuat hati yang sabar
jadi bringas
yang bringas jadi murka
yang murka jadi gelap mata
dan memilih bahasa Batu
atau..Boikot!!!
Acep Syahril Belajar dari Puisi 127
Visualisasi Miris dari Kejengkelan
Syarifudin Arifin
Sebelum bergerak ke Taman Budaya Padang, Rabu
25 November 1987, pukul 10.35 aku datang ke rumah AA
Navis. Dipertemuan singkat (5 menit) itu aku menangkap
beberapa patah kata dari si pengarang Robohnya Surau
Kami ini, terkesan ganjil dan membuatku buru-buru
pamit.
Setelah itu aku langsung bergerak ke Yamaha Musik
Padang, menemui karibku Defrizal, Gitaris Klasik, lalu
langsung ke Taman Budaya Padang. Disitu aku bertemu
Hardian Rajab (Teaterawan Padang). Dan kukatakan
kalau aku ingin bertemu Syarifudin Arifin, oleh Hardian
Rajab aku disarankan menunggu sebab penyair itu
setiap hari pasti ke sini (maksudnya Ke Taman Budaya).
Beberapa jam menunggu akhirnya aku bertemu
dengan Syarifudin Arifin. Belum lagi hilang kata-kata
yang dilontarkan AA Navis tadi, sekarang aku bertemu
lagi dengan penyair yang bahasanya juga kadang
terkesan nyeleneh (mungkin hanya perasaanku saja).
20 tahun kemudian kalau tidak salah pada pada
kegiatan Temu Penyair Nusantara di Jambi tahun 2008,
aku baru bertemu lagi dengan Syarifudin Arifin.
Tapi jauh sebelumnya aku sudah sering membaca
puisi-puisi Syarifudin Arifin dibeberapa surat kabar dan
terakhir aku mendapatkan buku kumpulan puisinya
“Maling Kondang”.
Seperti puisi-puisi penyair lainnya, Isbedi Stiawan
ZS, Ahmad Rich, Wahyu Prasetya, Afizal Malna, Adri
Darmadji
128 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Woko, Fahrunnas MA Jabbar, Gus TF, Aming Aminudin,
Ajamuddin Tifani, Tan Lio Ie, Ahmadun Yosi Herfanda,
Acep Zam Zam Noer dan lain-lain. Seperti itu jugalah
aku membaca puisi-puisi Syarifudin Arifin, ketika masih
hidup di jalanan. Aku hanya ingin menikmati dan
berusaha mencecap habis pemikiran-pemikiran mereka
melalui puisi-puisinya sampai kemudian aku merasa
menjadi manusia paling guoblog.
Seperti pada kejengkelan sosial yang digambarkan
Syarifudin pada puisinya “Hamil Tikus” di buku
kumpulan puisi Maling Kondang (halaman 72). Dia
tengah berusaha keras memuarakan kejengkelannya
untuk tidak sekedar mempermalukan mereka dengan
gaya dan bahasanya sendiri. Tapi juga berusaha
memvisualisasikannya secara teatrikal dengan sangat
miris.
diam-diam sperma tikus nyangkut
di rahim istrinya. Perutnya membusung
bagaikan zeplin tersandar
di dinding ngarai
Penandaan sperma tikus nyangkut di rahim istrinya
tidak sekonyong-konyong menjadi pertanda, sebab
konotasi tikus bagi koruptor telah disepakati masyarakat
sebagai hukum atas perbuatannya.
Dan Iif Syarifudin seolah tidak puas kalau para
koruptor itu hanya sampai ke ruang KPK dan berakhir
di penjara tapi juga dia ingin menggambarkan, kalau
uang-uang haram itu nantinya akan menjadi momok
lain dalam kehidupan keluarganya.
Acep Syahril Belajar dari Puisi 129
Momok itu pembuahan sperma tikus di rahim istri
si koruptor yang berasal dari uang-uang haram yang
dicurisuaminya. Lalu perut istrinya menggelembung
seperti zeplin atau balon besar yang terbang
dan tersandar di dinding ngarai menjadi tontonan
masyarakat.
Hamil Tikus
hamil? kata sabay terlonjak dan memeluk istrinya
akhirnya istriku hamil, dia tidak mandul, lanjutnya
dan ia kabarkan pada setiap orang
diam-diam sperma tikus nyangkut
di rahim istrinya. perutnya membusung
bagaikan zeplin tersandar
di dinding ngarai
suatu pagi, tiba-tiba perut itu kempes
“kau taruh di mana bayi kita, sayang?”
dengan senyum, sang istri menunjuk lemari
“kembar 45, mencericit seperti tikus,” jelasnya
dan berloncatanlah tikus-tikus itu ke pangkuannya;
papa, papa gendong aku ya
aku makan mata papa
aku suka hidung papa
telinga papa gurih
bibir dan lidah papa tak bertulang
sabay terkapar di depan lemari Acep Syahril
130 Belajar dari Puisi
yang menyimpan rahasia hidupnya
“jangan habisin papa, nak”
amat lirih suaranya
(Padang, 2012)
Tidak selesai sampai di situ, imajinasi penyair ini
terus mengumbar kejengkelannya untuk menyeret
pembaca pada visualisasi kata-kata yang mendera si
koruptor dengan pilihan kata yang mampu membawa
orang lain benar-benar masuk ke dunia teatrikal yang
dia ciptakan.
Dunia teatrikal yang tumbuh dari kegelisahan
sosial dan mengendap menjadi suatu kegeraman lalu
diekspresikan sebagai terapi psikologis yang sifatnya
tidak sekedar menakut-nakuti.
Sugestivitas penyair disini tidak hanya melalui
kekuatan kata tapi juga kajian kasualitas prilaku busuk
koruptor. Yang secara patologi sangat memungkinkan
berimbas pada gangguan sel atau jaringan tubuh
berawal dari perasaan cemas dan asupan makanan yang
diperoleh dari uang-uang haram itu.
Walaupun selama ini belum ada orang yang
mengalami kehamilan dengan mengandung puluhan
tikus. Tapi dampak konotatif terhadap seorang koruptor
telah menghukum psikologi keluarganya sebagai
keluarga tikus.
suatu pagi, tiba-tiba perut itu kempes
“kau taruh di mana bayi kita, sayang?”
dengan senyum, sang istri menunjuk lemari
“kembar 45, mencericit seperti tikus,” jelasnya
Acep Syahril Belajar dari Puisi 131
dan berloncatanlah tikus-tikus itu ke pangkuannya;
papa, papa gendong aku ya
aku makan mata papa
aku suka hidung papa
telinga papa gurih
bibir dan lidah papa tak bertulang
132 Belajar dari Puisi Acep Syahril
Index Nama-Nama Belajar dari Puisi 133
AA Navis
Abdul Basyid
Abdul Hadi WM
Abdul Wachid BS
Abdullah bin Rawahah
Abdullah Mubaqi
Acep Zam Zam Noer
Adri Darmaji Woko
Affan
Afrizal Malna
Ahmad Rich
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajamudin Tifani
Ajisaka
Akil Muchtar
Ali Akbari
Anas Urbaningrum
Aryani Isnamurti
Asmoro Al Fahrabi
Asro Al Murthawy
At Tiam
Atut
Ayu
Azrul Thaib
Bajil
Bambang Eka Wijaya
Bambang Widiatmoko
Bob Marley
Chairil Anwar
Chandra N Pangeran
Acep Syahril
Chatcharee Naritoom Acep Syahril
Chiu Hang Poo
Cung Meilan
D Zawawi Imron
Dadan Bahtera
David Graddol
Dedi Apriasie Raswin
Defrizal
DG Kumarsana
Dimas Arika Mihardja
Dora
Dorotea Herliani
Dr. Sudaryono, M.Pd
E. Dubois
Edy Samudra Kertagama
Ekohm Abiyasa
Fakhrunnas MA Jabar
Faris Al Faisal
Fuzail Ayad Syahbana
Gunawan Muhammad
Gus Tf Sakai
Hamdi Salad
Hardian Rajab
Harun
HB Yassin
Heru Emka
Hijaj Yamani
Ibrahim
Ibrahim Gaffar
Iif Ranupane
Ilhamdi Sulaeman
Iriani R Tandi
134 Belajar dari Puisi
Isbedy Stiawan ZS Belajar dari Puisi 135
Jamal D Rahman
Joan Swann
Kijoen
Korie Layun Rampan
Kurnia Fajar
Lie Kiem Hwa
M. Enthieh Mudakir
Mabulmaddin Shaiddin
Mang Alloy
Martin Heidegger
Mendugo Rajo
Muhammad
Nai Meh Bulan
Nat
Nazar
Norawi Haji Kata
Nur Juliana
Osman
Pangeran Temanggung
Peter L. Berger
Pramoedya Ananta Toer
Rahayu
Randa Gusmora
Rosalia
Rumi
Sahatun
Sapardi Djoko Damono
Sembada
Sosiawan Leak
Sri Sunarti
Suharyoto Sastrosuwignyo
Acep Syahril
Sultan Ibrahim
Sultan Muhammad Syah
Supali Kasim
Syarifudin Arifin
Tan Ling Kiong
Taufiq Ikram Jamil
Thomas Alpha Edison
Tiang Bungkuk
Tongbajil
Udin Sape Bima
Umar Bin Khatab
Ummi Kalsum
Untung Surendro
Utoyo Priachdi
Wahyu Prasetya
Yahanto A Nugraha
136 Belajar dari Puisi Acep Syahril