The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BOOK CHAPTER_INOVASI PEMBELAJARAN BERMAKNA BAHASA INDONESIA KELAS II SEKOLAH DASAR_ROMBEL 3_GENAP 2021 - newwwww

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by chitrasintarani67, 2024-04-04 21:19:59

BOOK CHAPTER_INOVASI PEMBELAJARAN BERMAKNA BAHASA INDONESIA KELAS II SEKOLAH DASAR_ROMBEL 3_GENAP 2021 - newwwww

BOOK CHAPTER_INOVASI PEMBELAJARAN BERMAKNA BAHASA INDONESIA KELAS II SEKOLAH DASAR_ROMBEL 3_GENAP 2021 - newwwww

Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 1


ii Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Inovasi Pembelajaran Bermakna Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar COVER Ida Zulaeha, Panca Dewi Purwati, Kurnia Selvyana, Nur Aini Alfi Ulyatin, Utik Puji Lestari [dan 7 lainya] ; editor, Ida Zulaeha Panca Dewi Purwati, Utik Puji Lestari, Evy Sofianingsih Riska Septianita


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar iii Inovasi Pembelajaran Bermakna Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar TIM PENULIS : Ida Zulaeha Panca Dewi Purwati Kurnia Selvyana Nur 'Aini Alfi Ulyatin Utik Puji Lestari Livia Eunike Paut Evy Sofianingsih Muhammad Habib Ramadhani Nida Alvi Iswara Ega Krisna Pradita Julien Chintya Riska Septianita Penyunting: Ida Zulaeha Panca Dewi Purwati Utik Puji Lestari Evy Sofianingsih Riska Septianita Desain Sampul dan Layout: Muhammad Habib Ramadhani Penerbit: Gedung Prof. Dr. Retno Sriningsih Satmoko, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229 Email [email protected]


iv Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar PRAKATA Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran kelas II sekolah dasar yang termuat dalam Kurikulum 2013. Pembelajaran Bahasa Indonesia mengajarkan peserta didik untuk mampu berkomunikasi sesuai aturan penggunaan bahasa yang benar serta berpikir secara kritis dan kreatif. Keterampilan yang diajarkan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar mencakup menulis, menyimak membaca dan berbicara. Pembelajaran mencakup kegiatan perencaan, pelaksanaan dan penilaian. Guru menyusun perangkat pembelajaran termasuk menyiapkan materi dan evaluasi sebelum melaksanakan pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang disusun kemudian dilaksanakan dalam pembelajaran. Dalam menyusun perangkat pembelajaran, guru melakukan analisis materi agar materi yang disampaikan sesuai dengan kompetensi dasar agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik. Materi Bahasa Indonesia yang terdapat pada buku guru dan buku siswa belum sepenuhnya memiliki keterkaitan isi materi. Terdapat ketidaksesuaian antara isi materi ajar Bahasa Indonesia pada buku guru dan buku siswa. Ketidaksesuaian isi materi pada buku guru dan buku siswa berdampak pada kegiatan penilaian pembelajaran yang dilakukan. Oleh sebab itu, kami menyusun buku Inovasi Pembelajaran Bermakna: Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia. Kami berharap buku ini bisa menjadi referensi bagi guru untuk melaksanakan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia yang bermakna. Saran dan kritik membangun sangat kami perlukan sebagai bahan perbaikan untuk meningkatkan kualitas buku ini dikemudian hari. Semarang, 26 Mei 2022 Tim Penulis


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar v DAFTAR ISI COVER........................................................................................................ ii Tim Penulis ............................................................................................... iii PRAKATA................................................................................................... iv DAFTAR ISI ................................................................................................. v DAFTAR TABEL ......................................................................................... vii DAFTAR GAMBAR ................................................................................... viii DAFTAR DIAGRAM.................................................................................... ix MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK-GAYA BELAJAR DALAM PENGEMBANGAN BAHASA ANAK FASE OPERASIONAL KONKRET Ida Zulaeha ................................................................................................1 PENGEMBANGAN E-MODUL UNTUK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS HURUF TEGAK BERSAMBUNG PADA SISWA KELAS II Panca Dewi Purwati.................................................................................16 E-MODUL BERBANTUAN GAMBAR BAHASA INDONESIA TEMA 1 HIDUP RUKUN KELAS II SEKOLAH DASAR Kurnia Selvyana .......................................................................................28 PENGEMBANGAN E-MODUL BERBASIS PENDEKATAN STEAM PADA MUATAN PELAJARAN BAHASA INDONESIA TEMA 2 KELAS II Nur ‘Aini Alfi Ulyatin ................................................................................38 PENGUATAN KARAKTER PROFIL PELAJAR PANCASILA MATERI AJAR BAHASA INDONESIA TEMA 3 KELAS II SEKOLAH DASAR Utik Puji Lestari........................................................................................49 PENGEMBANGAN MODUL BELAJAR SISWA BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MATERI BAHASA INDONESIA TEMA 4 KELAS II SEKOLAH DASAR Livia Eunike Paut......................................................................................59 PENILAIAN AUTENTIK PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS II SEMESTER GASAL BERBASIS MEDIA QUIZIZZ DAN TEKNIK PORTOFOLIO Evy Sofianingsih.......................................................................................69


vi Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KESANTUNAN DENGAN METODE METAKOGNITIF PADA TEMA 5 KELAS II SEKOLAH DASAR Muhammad Habib Ramadhani ...............................................................81 PENGEMBANGAN E-MODUL LATIHAN MENULIS HURUF TEGAK BERSAMBUNG MELALUI PENDEKATAN ANALISIS ISI TEMA 6 KELAS II Nida Alvi Iswara.......................................................................................91 E-MODUL DONGENG FABEL DAN KATA SAPAAN PADA BUKU TEMA 7 KELAS II SEKOLAH DASAR Ega Krisna Pradita .................................................................................103 PENGEMBANGAN E-MODUL PENGGUNAAN HURUF KAPITAL DAN TANDA BACA PADA BUKU TEMA 8 KELAS II SEKOLAH DASAR Julien Chintya.........................................................................................114 JURNAL AUTENTIK BERBASIS SPREADSHEET SEBAGAI MODEL PENILAIAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS II SEMESTER GENAP Riska Septianita .....................................................................................123 GLOSARIUM...........................................................................................133 INDEKS ...................................................................................................142


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar vii DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Penilaian Pretest dan Posttest …………………………………………….… 7 Tabel 1.2 Hasil kemampuan berpikir gaya belajar visual …………………... 10 Tabel 1.3 Hasil kemampuan berpikir gaya belajar auditori ……………….. 12 Tabel 1.4. Hasil kemampuan berpikir gaya belajar kinestetik …………... 14 Tabel 3.1 KD Kelas II tema 1 …………………………………………………………………. 32 Tabel 3.2 Hasil Analisis Kesesuaian Materi Tema 1 kelas II ……………… 34 Tabel 5.1 Nilai Profil Pelajar Pancasila Pada Buku Siswa Tema 3 Kelas II ……………………………………………………………………………………… 54 Tabel 6.1 Pemetaan Kompetensi Dasar Materi Bahasa Indonesia Tema 4 Kelas II ………………………………………….………………………..….. 62 Tabel 6.2 Perbandingan KD 3.4 dalam Buku Guru dan KD dalam Permendikbud No. 37 Tahun 2018 ……….…………………..………… 64 Tabel 6.3 Perbaikan Materi …………………………………….……………………………… 65 Tabel 8.1 Kompetensi Dasar Materi Bahasa Indenesia Kelas II Tema 5 Pengalamanku ……………………………………………….……………………….. 83 Tabel 9.1 Kompetensi Dasar Tema 6 Kelas II …………….……………………….. 94 Tabel 10.1 Kompetensi dasar buku guru tema 7 Kelas II, Permendikbud No. 37 Tahun 2018 …………………………………………………………… 107 Tabel 10.2 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Subtema 1 ………….. 108 Tabel 10.3 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Subtema 2 ………….. 109 Tabel 10.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Subtema 3 ………….. 109 Tabel 10.5 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa Subtema 4 ………….. 110 Tabel 11.1 Pemetaan Kompetensi Dasar Muatan Pembelajaran Bahasa Indonesia ……………………………………………………………………………. 118 Tabel 11.2 Pemetaan Inovasi Materi Ajar Bahasa Indonesia …………. 119 Tabel 12.1 Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia Kelas II Semester Genap …………………………………………………………………………………. 127


viii Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar DAFTAR GAMBAR R Gambar 1.1 Hasil Menulis Surat Undangan Siswa Gaya belajar Auditori ………………………………………………………….……………………. 11 Gambar 1.2 Hasil Menulis Surat Undangan Siswa Gaya Belajar Kinestetik ……………………………………………………………………………. 13 Gambar 2.1 Desain Prototipe Media Modulis Hutesa ……………….……….. 22 Gambar 3.1 Tampilan e-modul berbantuan gambar ………………….….…… 35 Gambar 4.1 Sampul e-modul ……………………………………………………….……….. 46 Gambar 4.2 Isi Materi e-modul ……………………………………………………….…….. 46 Gambar 4.3 Isi Kegiatan Siswa pada e-modul ……………………………….……. 47 Gambar 5.1 Perbaikan Materi Ajar Bahasa Indonesia Melengkapi Kalimat Rumpang …………………………………..………………..……….. 55 Gambar 5.2 Penguatan Nilai Profil Pelajar Pancasila Subtema 2 Pembelajaran 2 …………………………………………………………….……. 56 Gambar 5.3 Penguatan Profil Pelajar Pancasila Subtema 4 Pembelajaran 2 …………………………………………………………………………………………… 56 Gambar 5.4 Penguatan Profil Pelajar Pancasila Materi Ajar Bahasa Indonesia Tema 3 Kelas II …………………………………………………. 57 Gambar 6.1 Sampul Modul Belajar Siswa Berbasis Kearifan Lokal .…. 67 Gambar 6.2 Isi Dari Modul Belajar Siswa Berbasis Kearifan Lokal ….… 67 Gambar 7.1 Akun Quizizz Sebagai Guru ……………………………………………….. 77 Gambar 8.1. Contoh Desain Pendekatan Metakognitif dengan Prinsip Kesantunan (Materi Bahasa Indonesia Kelas II SD Tema 5 Pengalamanku Subtema 1 Pengalamanku di Rumah Pembelajaran 1) ………………….…… 88 Gambar 9.1 Perbaikan Kegiatan Latihan Menulis Tegak Bersambung ……………………………………………………………………….. 97 Gambar 9.2 Perbaikan Contoh Teks Puisi …………………………………………….. 97 Gambar 9.3 Penjelasan Tentang Ketentuan Menulis Tegak Bersambung ……………………………………………………………………….. 98 Gambar 9.4 Penambahan Kegiatan Latihan Menulis Tegak Bersambung ……………………..………………………………………………… 98 Gambar 9.5 Penambahan Kegiatan Menullis Tegak Bersambung ……. 99 Gambar 9.6 Penambahan Kegiatan Latihan Menulis Tegak Bersambung ………………….……………………………………………………. 99


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar ix Gambar 9.7 Penambahan Penjelasan Tentang Aturan Penggunaan Tanda Titik …………….…………………………………………………….….…… 99 Gambar 9.8 Penambahan Latihan Menulis Tegak Bersambung …….… 100 Gambar 9.9 Cover E-Modul Latihan Menulis Tegak Bersambung …... 100 Gambar 9.10 E-Modul Latihan Menulis Tegak Bersambung ……………. 101 Gambar 10.1 Sampul dan Materi E-Modul Subtema 1 ……………………… 111 Gambar 10.2 Materi E-Modul Subtema 2 ……………………………………………. 112 Gambar 10.3 Materi E-Modul Subtema 3 dan 4 …………………………………. 112 Gambar 11.1 Sampul E-modul ……………………………………………………………… 120 Gambar 11.2 Isi Materi E-modul …………………………………………………………… 121 Gambar 11.3 Latihan Soal E-modul ……………………………………………………… 121


x Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar DAFTAR DIAGRAM Diagram 1.1 Hasil Penilaian Pretest ……………………………………………………….. 6 Diagram 1.2 Data Penilaian Posttest ……………………………………..……………….. 7 Diagram 1.3 Penilaian Berdasarkan Gaya Belajar ……………………………….… 8


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 1 B MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK-GAYA BELAJAR DALAM PENGEMBANGAN BAHASA ANAK FASE OPERASIONAL KONKRET Ida Zulaeha Universitas Negeri Semarang [email protected] Abstrak Komunikasi anak pada fase operasional konkret menjadi fase yang penting dalam perkembangan bahasa. Karena kemampuan berkomunikasi merupakan bagian dari aspek kecerdasan kognitif. Dalam mengomukasikan informasi yang diberikan kepada anak atau siswa di dalam kelas hendaknya memperhatikan bahwa setiap anak memiliki cara atau gaya belajarnya masing-masing. Daya tangkap dan indikator penerimaan ini perlu disesuaikan dalam model pembelajaran yang digunakan di kelas. Model pembelajaran berbasis proyek-Gaya Belajar mengolaborasikan model pembelajaran berbasis proyek dengan penyesuaian gaya bahasa untuk mengetahui bagaimana konsep pembelajaran yang optimal pada perkembangan bahasa siswa fase operasional konkret. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen pada 28 siswa kelas V SD Negeri Gabus 01. Model pembelajaran berbasis proyek dengan penyesuaian gaya belajar anak tipe visual, auditori, dan kinestetik menghasilkan perubahan yang signifikan pada perkembangan kemampuan bahasa anak fase operasional konkret. Kata kunci: model pembelajaran, gaya belajar, fase operasional konkret Bagian 1


2 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar PENDAHULUAN Perkembangan kognitif merupakan perkembangan aspek intelektual pada cakupan kemampuan berpikir, seperti kemampuan mengingat yang baik, kemampuan bernalar, kemampuan mencetuskan ide, berfikir kreatif, berimajinasi, berkreasi, dan menyelesaikan masalah (Rahmaniar, 2022). Berdasarkan teori kognitif, Jane Piaget dalam Latifah (2017) mengemukakan bahwa pendidikan anak tahap operasinal konkret berada pada skala usia 6-12 tahun. Pengklasifikasian perkembangan intelektual anak dalam pendidikan dapat dilakukan sebagai bentuk pengamatan kemampuan kognitif yang dimiliki anak. Aspek kognitif merupakan kemampuan yang dimiliki individu untuk berpikir dan menyelesaikan masalah (Latifah, 2017). Setiap individu dalam tahap perkembangannya memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga pengamatan dilakukan secara kolektif berdasarkan kebutuhan peneliti dengan dasar teori yang ada. Terdapat empat aspek perkembangan kognitif pada diri anak, yaitu aspek kematangan (perkembangan susunan syaraf), aspek pengalaman (hubungan timbal balik dirinya terhadap lingkungan), aspek transmisi sosial (hubungan timbal balik dirinya terhadap sosial), dan aspek ekuilibrasi (kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan). Pengamatan terhadap empat aspek perkembangan kognitif tersebut menghasilkan karakteristik individual yang unik yang dipengarui oleh kecerdasan emosional individu anak. Kecerdasan emosional anak dapat diidentifikasi salah satunya melalui caranya bercerita atau berbagi pengalaman dengan temannya (Zulaeha, 2013). Cara anak dalam berkomunikasi dengan temannya merupakan salah indikator kemampuan kognitifnya melalui ranah bahasa. Kemampuan kognitif seorang anak dapat dianalisis melalui keterampilan berbahasanya. Sebagai bentuk kemampuan kognitif, bahasa berperan penting dalam mengantarkan anak dalam memperoleh makna dari hal baru yang diketahuinya melalui pengalaman dan informasi. Peran bahasa terdapat pada akhir tahapan setelah anak menerima informasi baru, memprosesnya, dan mengekspresikan dalam bentuk bahasa yang sesuai dengan tingkat kreativitasnya. Dari konsep perkembangan kemampuan bahasa anak perlu digunakan model pembelajaran kolaboratif dengan penyesuaian gaya belajar anak sebagai bentuk pemantauan perkembangan bahasa, khususnya anak fase operasional konkret. Selain


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 3 itu, model pembelajaran penting dipilih dan digunakan sesuai dengan kebutuhan masyarkat modern dalam mengelola informasi dan memecahkan masalah komunikasi (Zulaeha, 2013). TEORI KONSEPTUAL Analisis perkembangan kognitif anak fase operasional konkret telah diteliti oleh Ridho Agung Juwantara pada tahun 2019. Perkembangan yang diteliti oleh Juwantara fokus pada kemampuan kognitif pembelajaran Matematika. Penelitiannya menghasilkan perincian tahap usia pada fase operasional konkret menjadi kelompok usia 6-8 tahun, usia 9-10 tahun, dan usia 11-12 tahun. Pembagian tahap tersebut dilakukannya berdasarkan materi dan model pembelajaran, sehingga secara menyeluruh bisa didapatkan hasil yang optimal. Ditinjau dari sisi gaya belajar siswa, Mahmud Tri Wijayanto pada tahun 2021 meneliti kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan word Problem. Penelitiannya menghasilkan data yaitu (1) Siswa dengan gaya belajar visual mampu menghasilkan pemikiran lancar (fluency), luwes (flekxsibility), dan merinci (elaboration). (2) Siswa gaya belajar auditori dapat memunculkan hal yang sama dengan siswa bergaya belajar visual. (3) Siswa dengan gaya belajar kinestetik memunculkan pemikiran lancar (fluency), luwes (flekxsibility), merinci (elaboration), dan berpikir orisinil (originality). Prinsip pembelajaran kognitif berpusat pada belajar aktif, belajar melalui interaksi sosial, dan belajar melalui pengalaman sendiri. Berdasarkan teori serta hasil penelitian perkembangan kognitif anak fase operasional konkret dan pengaruh gaya belajar terhadap kemampuan berpikir, proses perkembangan bahasa dapat diperhatikan melalui aspek ekspresifitas. Aspek tersebut dapat dihasilkan melalui model pembelajaran berbasis proyek. Melalui pembelajaran berbasis proyek, peneliti dapat menilai tingkat perkembangan bahasa yang menjadi salah satu ranah kemampuan kognitif dari hasil karya siswa. Karakteristik Anak Fase operasional Konkret Pada fase operasional konkret, anak dapat menerapkan logika pengetahuan mereka dalam objek fisik. Penerapan logika pengetahuan anak dalam ranah berbahasa, akan mengalami perubahan yang sesuai


4 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar dengan perkembangan fisiknya. Tumbuh kembang fisik akan mempengaruhi caranya berkomunikasi di lingkungannya. Pemikirannya terhadap faktor eksternal yang ada di lingkungannya membuat ekspresi berbahasanya mulai menjadi berkarakter. Bahasa penilaian mengenai kesadaran perbedaan antara satu orang dengan orang lainnya membuat sisi egosentrisnya berkurang serta pemikirannya mulai terorganisasi secara konkret. Karakteristik yang dimiliki anak pada fase operasional konkret memperlihatkan keoptimalan kemampuan mereka melalui pembelajaran berbasis proyek sehingga informasi mengenai perkembangan kreativitas menuju tahap berfikir secara abstrak atau hipotesis dapat diperoleh. Anak pada tahap opersional konkret atau anak usia 6 sampai 12 tahun memiliki fokus yang baik. Fokus anak terhadap proyek yang diberikan untuk menghasilkan objek fisik dapat memancing kompetensi mereka secara dengan optimal. Proyek dalam pembelajaran bahasa indonesia bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan siswa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis. Pembelajaran berbasis proyek membiasakan siswa untuk berfikir sistematis dalam merencakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan proyek, dan akhirnya menciptakan suatu produk. Gaya Belajar Anak Diperkuat dengan gaya belajar anak fase operasional konkret yang diklasifikasikan menjadi belajar gaya visual, auditori, dan kinestetik, peneliti akan lebih mudah mendapatkan data berdasarkan proses dan hasilnya. Gaya belajar yaitu proses yang konsisten dilakukan saat belajar dalam menjangkau rangsangan atau informasi, dengan cara berfikir, menghafal, dan memecahkan masalah (Harahap, 2021). Penentuan gaya yang sesuai dengan kepribadian anak juga harus sesuai dengan bentuk analisis kriteria yang muncul pada anak (Wahyuni, 2020). Berdasarkan kriteria gaya yang telah dibuat, selanjutnya disesuaikan pemberian informasi dan proyek yang sama kepada siswa. Dalam pembelajaran bahasa secara umum gaya belajar anak ditafsirkan sebagai pendekatan untuk proses dan strategi untuk menerima dan meyimpan maklumat bahasa (Mahadi, 2022).


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 5 PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menguji siswa dengan model pembelajaran berbasis proyek dalam keterampilannya menulis surat undangan. Populasi penelitian ini adalah siswa sekolah dasar kelas lima yang berada pada tahun ajaran 2021/2022 dengan sampel penelitian berdasarkan pertimbangan dan kebutuhan tertentu. Penelitian ini dilakukan pada 28 siswa kelas V SD Negeri Gabus 01, menggunakan prosedur yang dilakukan mulai dari tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan penelitian, dan tahap setelah penelitian. Cara memberikan informasi dalam pembelajaran disesuaikan dengan gaya belajar anak dengan jumalah dan kriteria sebagai berikut, gaya belajar visual 6 anak, auditorial 13 anak, dan kinestetik 9 anak. Instrumen yang digunakan berupa perangkat pembelajaran menulis surat undangan, perangkat observasi, dan dokumentasi. Dalam mempersiapkan, memproses, dan mendapatkan hasil data penelitian yang optimal, memerlukan beberapa tahap pelaksanaan. Tahap pertama berupa persiapan dalam menyusun perangkat pembelajaran berbasis proyek menulis surat undangan. Tahap kedua yaitu penerapan perangkat dalam proses pembelajaran selama tiga kali pertemuan, setiap pertemuan dialokasikan dua jam pelajaran. Dan tahap ketiga adalah pengolahan nilai hasil pembelajaran yang digunakan sebagai bagian dari data penelitian. Nilai pretest yang diambil sebelum alokasi pertemuan, digunakan sebagai penanda awal kemampuan siswa dalam menulis surat undangan. Sedangkan nilai posttest digunakan sebagai hasil dari proses penerapan pembelajaran yang sudah direncanakan. Proses penilaian menulis surat undangan yang diberikan kepada siswa mencangkup aspek (1) kelengkapan menulis bagian-bagian surat undangan, (2) ketepatan menggunakan kalimat efektif, (3) ketepatan menggunakan ejaan, dan (4) ketepatan isi surat undangan. Dari empat aspek penilaian menulis surat undangan didapatkan hasil pretest sebagai berikut.


6 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Diagram 1. 1 Hasil Penilaian Pretest Empat aspek penilaian pretest menulis surat undangan yang dilakukan oleh siswa kelas V, dipaparkan sebagai berikut. (1) Aspek penilaian pertama mengenai kelengkapan bagian-bagian menulis surat undangan, terdapat 12 siswa yang mendapatkan nilai dengan kategori kurang, 14 anak dengan kategori cukup, dan 2 anak dengan kategori baik. (2) Aspek ketepatan penggunaan kalimat efektif terdapat 10 siswa dengan ketegori kurang, 14 siswa dengan kategori cukup, dan 4 siswa dengan hasil penilaian baik. (3) Aspek ketepatan penggunaan ejaan terdapat 10 siswa dalam kategori kurang, 6 siswa dalam ketegori cukup, dan 12 siswa dalam kategori baik. (4) Pada aspek ketepatan isi surat undangan terdapat 10 siswa dalam kategori kurang, 5 siswa dengan kategori cukup, dan 13 siswa dengan kategori baik. Selain empat aspek penilaian tersebut, proses kreativitas dalam kebahasaan juga menjadi perhatian dalam pembelajaran berbasis proyek untuk materi surat undangan. Menurut Gullford dalam Maulia (2019:36) kreatifitas merupakan konsep berpikir divergen yang berhubungan dengan proses perkembangan kognitif. Konsep berpikir kreatif yang diperhatikan adalah Penjelasan lebih lanjut mengenai faktor kreatif yang dapat dinilai adalah (1) pemikiran lancar (fluency) dilihat dari hasil produk yang sesuai dengan arahan, (2) luwes (flekxsibility) dilihat dari ide pemilihan diksi, merinci (elaboration) dilihat dari perincian bagian utama dalam surat undangan, dan berpikir orisinil (originality) dilihat dari kelengkapan bagian dan informasi yang diberikan. 12 10 10 10 14 14 6 5 2 4 12 13 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Kurang Cukup Baik


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 7 Selanjutnya hasil penilaian posttest menulis surat undangan sebagai berikut. Diagram 1. 2 Data Penilaian Posttest Dari diagram tersebut dapat diperhatikan pengenai hasil peningkatan di setiap aspek penilaian menulis surat undangan. (1) Aspek kelengkapan bagian, terdapat 3 siswa yang ada pada kategori cukup, 22 siswa pada kategori baik, dan 3 siswa pada ketegori sangat baik. (2) Pada aspek ketepatan dalam menggunakan kalimat efektif terdapat 4 siswa dengan kategori penilaian cukup, 2 siswa dengan ketegori nilai baik, dan 22 anak dengan kategori nilai sangat baik. (3) Aspek ketepatan penggunaan ejaan memiliki 2 siswa dengan ketegori cukup baik, 10 siswa dengan kategori nilai baik, dan 8 siswa dengan kategori nilai yang sangat baik. (4) pada aspek ketepatan isi surat undangan terdapat 3 siswa dengan kategori nilai cukup, 22 siswa dengan kategori nilai baik, dan 3 anak dengan kategori nilai sangat baik. Berdasarkan penyajian data pencapaian penilaian di setiap aspek menurut kategorinya, selanjutnya peneliti menyajikan rata-rata penilaian menulis surat undangan dengan perbandingan hasil pretest dan posttestnya. Tabel 1.1 Penilaian Pretest dan Posttest Kelompok Nilai Rata-rata Peningkatan %Peningkatan Pretest Posttest Eksperimen 54,21 80,82 26,61 49,08% 3 4 2 3 22 2 18 22 3 22 8 3 0 5 10 15 20 25 Cukup Baik Sangat Baik


8 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Rentan hasil penilaian kemampuan bahasa anak pada fase operasional konkret melalui pembelajaran berbasis proyek menulis surat undangan berada pada angka 54,21 hingga 80,82. Dengan menggunakan gaya belajar anak yang berbeda, menghasilkan data yang berbeda pula. Gaya belajar visual memperoleh rata-rata penilaian sebesar 73,8. Menggunakan gaya belajar auditori menghasilkan rata-rata nilai 85,3. Gaya pembelajaran terakhir yang digunakan adalah kinestetik yang menghasilkan rata-rata nilai 79. Berdasarkan klasifkasi nilai tersebut, menghasilkan data bahwa pada perkembangan anak usia 11 tahun atau tahap operasinal konkret akan lebih cocok menggunakan penyampaian informasi secara auditori. Berikut tabel dan rincian deskripsi hasil rata-rata penilaian berdasarkan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Diagram 1. 3 Penilaian Berdasarkan Gaya Belajar A. Gaya Belajar Visual Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan kolaborasi metode pembelajaran berbasis proyek, anak dengan gaya belajar visual menghasilkan nilai rata-rata 73,8. Peningkatan nilai siswa dengan gaya belajar visual merupakan peningkatan yang terendah dibandingnya dengan gaya belajar lainnya. Apabila dihubungkan dengan keadaan perkembangan bahasanya, metode pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan dengan gaya belajar visual. Namun, akan kurang optimal hasilnya karena dalam metode pembelajaran tersebut didominasi oleh kerjasama aktif terhadap interaksi anak terhadap faktor pendukung di luar dirinya ketika proyek dilakukan. Dalam tahap resptif, pengarahan informasi visual lebih membutuhkan penegasan perintahnya dibanding dengan lisan maupun tindakan. Sehingga dalam perkembangan bahasa anak fase operasional konkret dengan gaya belajar visual harus dioptimalkan 73,8 85,3 79 60 70 80 90 Visual Auditori Kinestik


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 9 dengan menghadirkan konten yang menarik secara wujudnya, agar penangkapakan informasi oleh anak juga lebih optimal. Perkembangan bahasa anak fase operasional konkret dengan gaya belajar visual (penglihatan) membantu siswa memusatkan perhatian dan konsentrasi terhadap materi yang dipelajari (Rambe. 2019). Dalam pembelajaran bahasa terdapat bentuk bahasa yang penyampaiannya secara visual, misal dengan menggunakan tulisan, gambar, dan simbol. Anak yang memilki kecenderungan belajar dengan gaya ini sangat tertarik dengan berbagai perpaduan unsur warna, garis, maupun bentuk. Sehingga dalam proses interaksi, anak tersebut lebih pasif secara lisan karena penangkapan informasi secara pengaruh kebiasaannya dalam mereseptif bahasa dan mengekspresikannya dengan bahasa tulis. Berikut contoh hasil menulis surat undangan anak gaya belajar visual dan korelasi hasil pemikirannya. Gambar 1. 1 Hasil menulis surat undangan anak gaya belajar visual Hasil menulis surat undangan oleh perwakilan anak dengan gaya belajar visual yang dikaitkan dengan teori kemampuan berpikir anak. Kemampuan berpikir yang dihasilkan anak dengan gaya belajar visual yaitu pemikiran lancar (fluency), luwes (flekxsibility), dan merinci (elaboration).


10 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Tabel 1.2 Hasil kemampuan berpikir gaya belajar visual Kemampuan berpikir Korelasi dalam teks Kesesuaian Berpikir lancar (fluency) √ Menghasilkan produk yang sesuai instruksi Berpikir luwes (flekxibility) √ Menghasilkan keberagaman dari produk berupa pemilihan diksi pencitraan visual Berpikir merinci (fluency) √ Rinci dalam kelengkapan bagian, namun belum termasuk isi B. Gaya Belajar Auditori Penilaian yang diperoleh siswa dengan gaya belajar auditori mendapatkan nilai yang signifikan pencapaiannya. Nilai rata-rata yang diperoleh dari proses pembelajaran dengan gaya ini adalah 85,3. Pencapaian nilai dengan menggunakan gaya ini paling tinggi dibandingkan dengan gaya visual maupun kinetik dalam pembelajaran menulis surat undangan. Jika dihubungkan penilaian tersebut dengan kemampuan bahasa anak fase operasional konkret, maka hubungan gaya belajar anak secara formal terhadap caranya berinteraksi menggunakan bahasanya akan lebih optimal apabila kita sampaikan secara langsung dengan lisan (Rambe. 2019). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tahap perkembangan bahasa anak pada tahap ini dapat digali, dievaluasi, dan dikembangkan secara optimal dengan menggunakan media auditori (suara/lisan). Dalam proses belajar bahasa pada anak fase operasional konkret, cara setiap individu dalam menerima informasi berbeda antara yang satu dengan lainnya. Cara ini anak lakukan berdasarkan kenyamanan dan kebiasannya dalam proses reseptif komunikasi sehari-hari. Cara atau gaya belajar Auditori dapat disebut juga gaya belajar dengan kompetensi utama mendengarkan. Anak yang belajar dengan gaya auditori dapat mengingat dengan baik apa yang telah orang lain informasikan. Proses reseptif yang dilakukan anak secara dominan bersifat simakan, sehingga kecenderungan penangkapan informasi menggunakan indera pendengaran akan semakin tajam.


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 11 Berbeda dengan gaya belajar visual dan kinestetik yang melibatkan indera lain dalam pelaksanaan reseptifnya. Penggunaan indera dalam belajar bahasa menjadi salah satu komponen utama yang mempengaruhi proses pengolahan informasi selanjutnya dalam diri anak. Pengaruh proses tersebut akan berpengaruh pada pemahaman yang selanjutnya diekspresikan dalam bentuk proyek yang telah ditugaskan kepada anak. Berdasarkan karakteristik anak dengan gaya belajar auditori yang suka berdiskusi dengan orang lain menjadi satu ketepatan kolaborasi dalam situasi pembelajaran. Kolaborasi antara pembelajaran berbasis proyek dengan gaya belajar auditori menghasilkan penilaian yang optimal dengan menghasilkan produk surat undangan. Penilaian diambil melalui experimen menulis surat undangan dengan empat kriteria berupa kelengkapan menulis bagian surat, ketepatan menggunakan kalimat efektif, ketepatan menggunakan ejaan, dan ketepatan isi surat undangan. Berikut salah satu contoh hasil menulis surat undangan siswa dengan gaya belajar auditori. Gambar 1.1. Hasil Menulis Surat Undangan Siswa Gaya belajar Auditori Hasil menulis surat undangan oleh perwakilan anak dengan gaya belajar auditori yang dikaitkan dengan teori kemampuan berpikir anak. Kemampuan berpikir yang dihasilkan anak dengan gaya belajar auditori yaitu pemikiran lancar (fluency), luwes (flekxsibility), dan merinci (elaboration).


12 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Tabel 1.3 Hasil kemampuan berpikir gaya belajar auditori Kemampuan berpikir Korelasi dalam teks Kesesuaian Berpikir lancar (fluency) √ Menghasilkan produk yang sesuai instruksi Berpikir luwes (flekxibility) √ Menghasilkan keberagaman dari produk berupa pemilihan diksi yang bersifat persuasif Berpikir merinci (fluency) √ Menghasilkan produk yang lengkap bagiannya, namun belum disertai kelengkapan informasinya. C. Gaya Belajar Kinestetik Gaya belajar kinestetik merupakan cara belajar dengan adanya keterlibatan fisik secara langsung, bisa berupa gerakan dan sentuhan (Rambe. 2019). Hasil eksperimen yang telah dilakukan dengan menulis surat undangan, merupakan bentuk keterlibatan langsung fisik siswa. Gaya belajar kinestetik mendapatkan nilai rata-rata 79 dan menjadi peringkat kedua setelah gaya belajar auditori. Kondisi anak pada tahap ini dinilai cukup baik dengan pencapaian tersebut dan dapat lebih dioptimalkan pada materi pembelajaran dan keterampilan bahasa yang lain. Berdasarkan hal tersebut, dapat ditarik benang merah antara pembelajaran berbasis proyek-gaya belajar kinestetik dengan perkembangan bahasa anak fase operasional konkret, menjadi opsi dalam mengupayakan optimalisasi perkembangan bahasa anak. Gaya belajar kinestetik dalam metode pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu opsi kolaborasi metode pembalajan yang sesuai. Kesesuaian tersebut ada pada proses interaksi dalam pembelajaran. Metode berbasis proyek memiliki dominansi terhadap proyek atau sisi luar dari diri anak. Proses reseptif yang terjadi pada


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 13 anak dengan gaya belajar kinestetik akan optimal apabila pemberi informasi menyampaiakannya dengan praktik atau peraga. Anak akan langsung mencoba kegiatan tersebut dan mengekspresikan apa yang telah dia terima secara kinastetik. Pembelajaran bahasa dalam gaya belajar kinastetik dibantu dengan bahasa tubuh dan kolaborasi audio visual. Gaya belajar kinestetik menggunakan lebih banyak indera pada prosesnya. Indera penglihatan, pendengaran, dan perasa, berkolaborasi menangkap informasi dan mengekspresikan apa yang diperolehnya dari informasi tersebut. Berikut contoh hasil menulis surat undangan anak gaya belajar kinestetik dan korelasi hasil pemikirannya. Gambar 1.2 Hasil Menulis Surat Undangan Siswa Gaya Belajar Kinestetik Berdasarkan contoh dari siswa dengan gaya belajar kinestetik, muncul pemikiran lancar (fluency), luwes (flekxsibility), merinci (elaboration), dan berpikir orisinil (originality) dari hasil karyanya yang disajikan dalam tabel berikut.


14 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Tabel 1.4 Hasil kemampuan berpikir gaya belajar kinestetik Kemampuan berpikir Korelasi dalam teks Keterangan Berpikir lancar (fluency) √ Menghasilkan produk yang sesuai instruksi Berpikir luwes (flekxibility) √ Menghasilkan keberagaman dari produk berupa pemilihan diksi yang bersifat persuasif Berpikir merinci (fluency) √ Menghasilkan produk yang lengkap dan sesuai perinciannya Berpikir orisinil (originality) √ Menghasilkan keterangan bagian dan isi yang sesuai dengan penerapannya SIMPULAN Dalam perkembangan bahasa anak fase operasional konkret, penggunaan kolaborasi model pembelajaran dengan gaya belajar anak dinilai mampu memberikan gambaran yang jelas. Jejak perkembangan kemampuan bahasa anak ditahap ini, secara optimal dituangkan melalui cara atau gaya belajarnya. Dengan konsep penjaringan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik dalam metode pemebalajran berbasis proyek menulis surat undangan, siswa dapat diketahui kemampuan bahasanya pada konsep kolaborasi pembelajaran bahasa tersebut. Titik keoptimalan kolaborasi model pembelajaran berbasis proyek dan gaya belajar anak fase operasional konkret ada pada kolaborasi pembelajaran berbasis proyek-gaya belajar auditori. Kolaborasi ini mendapatkan peningkatan nilai rata-rata 85,3, yang menjadi penyuplai nilai rata-rata tertinggi dalam pencapaian berdasarkan gaya belajar yang berbeda. Namun apabila dilihat dari sisi kemampuan kreativitas berbahasanya, anak dengan gaya belajar kinestetik lebih mampu menghasilkan produk yang optimal.


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 15 DAFTAR PUSTAKA Harahap, Z. H., Sugiharto, & yarifah. (2021). The Effects of Visual and Auditory Learning Styles on Students’ Learning Outcomes in Historical Social Studies. International Journal of Research and Review, 8(1), 72–76. https://doi.org/10.52403/ijrr.20210109 Juwantara, R. A. (2019). Analisis teori perkembangan kognitif piaget pada tahap anak usia operasional konkret 7-12 tahun dalam pembelajaran Matematika. Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 9(1), 27-34. Latifah, U. (2017). Aspek perkembangan pada anak Sekolah Dasar: Masalah dan perkembangannya. Academica: Journal of Multidisciplinary Studies, 1(2), 185-196. Mahadi, F., Husin, M. R., & Hassan, N. M. (2022). Gaya Pembelajaran: Visual, Auditori atau Kinestetik. Journal of Humanities and Social Sciences, 4(1), 29-36. Maulia, R. Hubungan Pola Bermain Gadget Dengan Kemampuan Kognitif Dan Berpikir Kreatif Pada Anak Usia Prasekolah (5-6 Tahun) Di Tk-Aisyiyah Bustanul Athfal 33 Cita Insani Malang. Nilawati. (2021). Keefektifan Pembelajaran Menulis Surat Undangan Menggunakan Model Project Based Learning Dan Model Ekspositori Berdasarkan Gaya Belajar Kelas V Siswa Sekolah Dasar. Tesis Magister Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Rahmaniar, E., Maemonah, M., & Mahmudah, I. (2022). Kritik Terhadap Teori Perkembangan Kognitif Piaget pada Tahap Anak Usia Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(1). Rambe, M. S., & Yarni, N. (2019). Pengaruh Gaya Belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA Dian Andalas Padang. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), 2(2), 291-296. Wahyuni, S. Analysis of Expert System Design Using Certainty Factor Methods in Determining Early Childhood Learning Styles. Zulaeha, I. (2013). Innovation models of Indonesian learning in multicultural society. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 103, 506-514. Zulaeha, I. (2013). Pengembangan model pembelajaran keterampilan berbahasa indonesia berkonteks multikultural. Litera, 12(1).


16 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar B PENGEMBANGAN E-MODUL UNTUK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS HURUF TEGAK BERSAMBUNG PADA SISWA KELAS II Panca Dewi Purwati Universitas Negeri Semarang [email protected] Abstrak Permasalahan pendidikan SD kompleks. Masih ditambah munculnya wabah coronavirus disease 2019 yang berdampak terhadap rendahnya hasil belajar keterampilan siswa kelas II (Fase A) menulis huruf tegak bersambung pada tahun 2021. Keterampilan motorik halus ini penting untuk membentuk karakter dan estetika siswa. Keterbatasan tatap muka dan media yang kurang mendukung kompetensi pembelajaran abad 21 menjadi pemicunya. Tinjauan ilmiah ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik elektronik modul menulis huruf tegak bersambung (selanjutnya disebut media e-modulis hutesa) dan desain pembelajaran dengan menerapkan e-modulis hutesa berbasis kompetensi belajar abad 21. Karakteristik e-modulis hutesa meliputi penggunaan, cara akses, dan isi. dapat digunakan siswa secara mandiri, selama pembelajaran, juga saat berkolaborasi belajar bersama teman atau lainnya. E-modulis hutesa dapat diakses secara virtual dan dapat dicetak, khususnya bagian lembar kerja “Ayo Berlatih Menulis.” Media e-modulis hutesa berisi materi teks tulis, video panduan menulis tegak bersambung, dan LKS. Desain pembelajaran keterampilan menulis tegak bersambung menerapkan model project based learning yang selaras dengan isi e-modulis hutesa. Ada dua jenis penilaian pada pembelajaran keterampilan ini: penilaian proses pembelajaran berdasarkan indikator 4K (sikap kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaborasi) dan hasil pembelajaran. Instrumen penilaian proses belajar berupa lembar observasi berdasarkan aktivitas siswa hingga menghasilkan empat lembar kerja siswa (LKS) berdasarkan indikator 4K. Kriteria keberhasilan siswa ditetapkan berdasarkan lima indikator (bentuk, tebal tipis, ukuranm tanda baca, kerpain) dan kriteria keberhasilan berdasarkan ketuntasan minimum. Berdasarkan hasil penerapan e-modulis hutesa diprediksi proses dan hasil pembelajaran siswa menulis huruf tegak bersambung meningkat. Kata kunci: keterampilan, menulis, tegak bersambung, e-modul Bagian 2


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 17 PENDAHULUAN Aktivitas siswa pada awal bersekolah memperoleh sajian utama belajar membaca dan menulis permulaan, disingkat MMP (Solchan 2014: 6.5). Pembelajaran MMP efektif dibelajarkan pada jenjang kelas rendah agar siswa mulai mengenal, memahami, belajar menulis teks singkat dengan huruf tegak bersambung, memperbaiki teks tulis tersebut, dengan tujuan menumbuhkan minat baca tulis. Hal ini penting karena survei PISA diketahui minat membaca bangsa Indonesia rendah, peringkat 60 dari 61 negara. Peningkatan literasi siswa merupakan kewajiban seluruh bangsa, juga pendidik. Namun munculnya wabah coronavirus disease 2019 (covid 19) ternyata berdampak terhadap turunnya capaian hasil belajar keterampilan siswa kelas II (Fase A), salah satunya menulis huruf tegak bersambung. Berdasarkan analisis hasil kebutuhan guru dan orang tua kelas rendah SD Gugus Bawana Alit Tembalang Semarang diperoleh data bahwa siswa belum bisa menulis tegak bersambung sesuai dengan target kriteria ketuntasan minimum(KKM). Keterampilan motorik halus ini penting sebagai dasar untuk membentuk karakter dan estetika siswa. Keterbatasan tatap muka dan media yang kurang mendukung kompetensi pembelajaran abad 21 menjadi pemicu utama. Siswa bermasalah pada pembelajaran menulis huruf tegak bersambung karena belum menguasai cara menulis yangbenar dan kurang menguasai tata letak menuliskan huruf sesuai dengan panduan. Media yang digunakan guru umumnya masih mengandalkan buku siswa. Maka konsep ilmiah ini menawarkan solusi mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan media inovasi e-modulis hutesa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Nastiti dan abdu (2020) diketahui bahwa pada permulaan pembelajaran daring (akibat wabah covit-19) sebagian guru yang aktif mengakses pembelajaran melalui jaringan teknologi dan informastika. Umumnya guru masih bergantung pada buku siswa sehingga kurang efektif saat memfasilitasi pembelajaran menulis tegak bersambung. Penyebab utama persoalan ini adalah pembelajaran berlangsung secara daring dan keterbatasan media penunjang pembelajarannya. Situasi ini membuat guru mencari solusi agar pembelajaran tetap berjalan efektif. Media pembelajaran elektronik diprediksi dapat


18 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar digunakan dalam pembelajaran daring maupun luring. Media berupa penyatuan modul, video, LKS, dan instrumen evaluasi yang disajikan secara elektronik dapat digunakan sarana untk belajar mandiri, belajar bersama di kelas, maupun belajar bersama di luar kelas menulis huruf tegak bersambung. Pelibatan media ini sesuai dengan tuntutan kompetensi belajar abad 21. Lebih dari itu cara mengatasi ketertinggalan (learning loss) tersebut perlu kebijakan pemulihan belajar yang diatur dalam kurikulum baru yang disebut Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memuka pembelajaran intrakurikuler beragam. Siswa lebih optimal mendalami konsep dan menguatkan kompetensi yang tertinggal karena ketidaksiapan saat pembelajaran daring kemarin, salah satunya masalah siswa kelas II dalam menguasai keterampilan menulis permulaan dengan huruf tegak bersambung. Kurikulum 2013 secara eksplisit mencantumkan kompetensi 4.6 di kelas II (menulis huruf tegak bersambung). Kompetensi tersebut juga muncul dalam capaian pembelajaran fase A (kelas 1- 2) pada Kurikulum Merdeka. Artinya solusi yang digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran menulis huruf tegak bersambung dapat digunakan guru pada waktu selanjutnya. Ada dua tujuan penulisan teks ilmiah ini: mendeskripsi karakteristik e-modulis hutesa dan mendeskripsi desain pembelajaran bermedia e-modulis hutesa berbasis kompetensi belajar abad 21. Pengembangan prototipe modul menerapkan prinsip kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif sebagai kompetensi pembelajaran abad 21. TEORI KONSEPTUAL Keterampilan Menulis Huruf Tegak Bersambung Pembelajaran bahasa Indonesia mendesain siswa terampil reseptif (menyimak, membaca, dan memirsa) dan produktif (berbicara, presentasi, serta menulis). Kompetensi berbahasa ini berdasar tiga hal yang saling berhubungan dan saling mendukung untuk mengembangkan kompetensi siswa: bahasa, sastra, dan berpikir (kritis, kreatif, dan imajinatif untuk membangun komunikasi dan kolaborasi). Ketiganya diharapkan membentuk siswa yang berkarakter Pancasila. Menulis termasuk


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 19 keterampilan produktif yang sangat penting menumbuhkan karakter siswa. Menurut Mumtaz (2019: 19) keterampilan menulis didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengekspresikan pikiran melalui simbol tulisan sebagai hasil mengolah. Susanto (2016:258- 259) menyatakan belajar menulis bagi pemula perlu memperhatikan beberapa langkah antara lain mengenal, menyalin, menulis halus, menulis nama, dan mengarang sederhana. Capaian belajar (Kurikulum Merdeka) untuk siswa Fase A, utamanya kelas II berupa sikap positif dalam menulis di atas kertas dan atau media digital. Salah satu materinya berupa beberapa kalimat sederhana tulisan tangan dengan huruf tegak bersambung. Hal ini menandakan bahwa keterampilan menulis huruf tegak bersambung dalam Kurikulum 2013 berkelanjutan pada Kurikulum Merdeka. Pembelajaran yang direncanakan pada kompetensi dasar ini menerapkan model project based learning. Sedangkan penyusunan bahan ajarnya berpedoman pada metode Struktural analitik Sintetik, atau yang lebih dikenal dengan metode SAS. Lebih lanjut diuraikan pada hasil penelitian dan pembahasan. Media Elektronik Modul (E-Modul) Media pembelajaran (Nurrita 2018:174) adalah alat bantu guru untuk memfasilitasi pembelajaran dalam menunjang model pembelajaran yang digunakan. Media digunakan menyampaikan informasi dalam proses pembelajaran agar dapat menstimulus minat dan motivasi siswa. Media pembelajaran berpotensi untuk mewujudkan interaksi langsung antara karya seorang pengembang mata pelajaran dengan siswa. E-modulis hutesa masuk kategori media yang dilengkapi modul. Modul merupakan bahan ajar yang dapat digunakan siswa secara mandiri (Buku 4 PKB edisi revisi 2019). Modul memuat bagian petunjuk, dilengkapi dengan tujuan, materi, soal untuk berlatih, dan evaluasi. Siswa diharapkan agar dapat mengakses bahan ajar berupa modul yang dikemas dalam media e-modulis hutega. Pembelajaran dengan media dan modul tersebut memungkinkan seorang siswa yang memiliki kecepatan tinggi menyelesaikan penguasaan kompetensi dibanding lainnya. Media berisi materi belajar, lembar kerja siswa, dan video cara


20 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar menulis tegak bersambung yang digunakan sebagai alternatif solusi. Media tersebut selanjutnya disebut e-modul tulis hutesa. Kompetensi Pembelajaran Abad 21 Paradigma pendidikan abad 21 telah mengalami pergeseran yang ditandai dengan perbedaan orientasi pembelajaran. Pembelajaran sebelumnya menekankan pada literasi baca, tulis, dan matematika. Ketiganya pada pembelajaran abad 21 dijadikan modal dasar untuk mengembangkan tiga literasi baru (manusia, data, dan teknologi) yang berguna menghadapi era globalisasi saat ini dan di masa yang akan datang. Pembelajaran inovatif di abad 21 (Rivolan 2020) berorientasi pada kegiatan untuk melatihkan keterampilan esensial sesuai framework for 21st century skills, yaitu keterampilan hidup dan karir, keterampilan inovasi dan pembelajaran, dan keterampilan informasi, media, dan TIK. Kompetensi pembelajaran abad 21 (kreatif, kritis, komunikatif, kolaboratif) diwarnai dengan pelibatan IPTEK yang mengakibatkan perubahan paradigma pembelajaran (Rahayu dkk. 2022) ditandai perubahan kurikulum, media, dan teknologi dalam pembelajaran. Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSN) merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dirumuskan dalam proses pendidikan abad ke21. Implementasi Kurikulum 2013 yang disederhanakan dalam empat prinsip. 1) Berpusat pada siswa. 2). Kolaborasi. 3). Pembelajaran dikaitkan kehidupan sehari-hari. 4). Siswa dilibatkan dalam kehidupan sosial. (Daryanto, 2017). Berdasarkan hal tersebut maka pembedayaan media e-modulis hutase menjadi penting agar pembelajaran berpusat pada keterampilan menulis siswa. Hasil belajar selaras dengan tuntutan kebutuhan keseharian siswa yang mulai aktif berkomunikasi dengan teks tulis, membangun kolaborasi sebagai individu berkualitas, dan warga negara yang berprofil Pelajar Pancasila. KAJIAN PUSTAKA Nugraheni (2019) melakukan penelitian pengembangan LKS untuk pembelajaran menulis huruf tegak bersambung. Hasil validasi produk pengembangan diperoleh rataan skor 5,00 dari validasi ahli materi dan


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 21 ahli bahasa, uji coba awal memperoleh skor sebesar 4,9. Uji coba lapangan utama 4,60, dan uji lapangan operasional skornya 4,54. Kondisi tersebut telah meningkatkan nilai rataan siswa pada siklus 1 sebesar 75 dan ketuntasan 55%. Penelitian Jannataka dan Sabatini (2019) berjudul Analisis Kesalahan Ejaan Siswa dalam Teknik Menulis Tegak Bersambung Materi Bahasa Indonesia Tema 6 Kelas II SDN 1 Gondang Tahun Ajaran 2018/2019. Hasil penelitian diperoleh informasi dari wali kelas mengenai sifat dan karakter yang dimiliki oleh siswa tersebut sinkron dengan target proses pembelajaran yang ditetapkan. Lismasari (2020) melakukan penelitian dengan menerapkan Course Review Horay (CRH) untuk meningkatkan keterampilan menulis kalimat tegak bersambung di kelas II SD Negeri 81 pada tahun 2018/2019. hasil penelitian diketahu bahwa model CRH dapat meningkatkan keterampilan menulis tegak bersambung. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengembangan E-Modelis Hutesa merupakan satu upaya inovasi yang baru, berbeda dengan penelitian-penelitian lainnya. Media ini diprediksi tepat untuk diterapkan dengan model pembelajaran berbasis projek pada kompetensi menulis awal. PEMBAHASAN Karakteristik E-Modulis Hutesa Karakteristik media e-modulis hutesa dirancang berdasarkan hasil kebutuhan. Data hasil wawancara, angket kebutuhan, dan berdasarkan hasil observasi dijadikan dasar merancang desain model media pengembangan yang dituju sebagai solusi permasalahan pembelajaran menulis huruf tegak bersambung. Empat aspek kebutuhan pengguna media, yaitu cara menggunakan, cara mengakses, isi, dan aplikasi yang digunakan. Media e-modulis hutesa dapat digunakan siswa secara mandiri, selama belajar bersama guru, juga saat berkolaborasi belajar bersama teman, bahkan dapat digunakan orang tua siswa untuk membantu belajar putra-putrinya. E-modulis memiliki kelebihan dapat digunakan oleh semua pihak yang berkepentingan tentang keterampilan menulis bersambung. Deskripsinya sebagai berikut.


22 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Gambar 2.1 Desain Prototipe Media Modulis Hutesa E-modulis hutesa berupa media elektronik. E-modulis hutesa dapat diakses menggunakan tiga moda pembelajaran: daring, luring, maupun penggabungan dua moda (hybrid learning). Siswa secara mandiri dapat memirsa, membaca, berlatih menulis secara aktif di semua tempat. Siswa bisa bertanya kepada siapa saja bila menghadapi kesulitan dalam pembelajaran daring. Prinsip semua orang menjadi murid dan semua orang menjadi guru dapat diterapkan melalui media ini. Pembelajaran luring maupun hybrid memungkinkan guru mencetak LKS dan asesmen bila akan digunakan untuk langsung melatih menulis huruf tegak bersambung di kelas. Lembar kerja dan asesmen dapat dicetak. Salah satu isi media bahan ajar berupa modul. Bahan ajar disusun sesuai teori modul (petunjuk penggunaan, materi, latihan soal, dan evaluasi). Materi modul untuk pembelajaran menulis huruf tegak bersambung disusun dengan menerapkan metode SAS (Struktural Analitik Sintetik). Siswa diperkenalkan struktur kalimat tunggal sederhana terlebih dahulu (bila perlu disertai gambar aktivitas dalam kalimat), diurai menjadi beberapa kata, suku kata, huruf, kemudian berbalik dalam bentuk suku kata, kata, dan kalimat). Seluruh isi modul sudah ditulis dengan huruf tegak bersambung agar siswa sudah terkondisi sejak awal pembelajaran. Media e-modulis hutesa disusun dengan bahasa yang memiliki tingkat keketerbacaan selaras dengan perkembangan bahasa siswa. Juga mempertimbangkan kegrafikaan dengan cermat. Aspek keterbacaan berkaitan dengan tiga ide utama: kemudahan membaca, kemenarikan,


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 23 dan kesesuaian. Sedangkan aspek grafika berkenaan dengan fisik buku (ukuran buku, kertas, cetakan, ukuran huruf, warna, ilustrasi, dan lainlain). E-modulis hutesa dikemas sebagai media elektronik berbasis android yang dapat digunakan siswa kelas II sekolah dasar. Android adalah sebuah sistem operasi yang dijalankan dalam perangkat yang berbasis Linux, meliputi sistem operasi, middleware, dan aplikasi (Erlinda dan Masriadi, 2020:31). E-Modulis Hutega sarana belajar mandiri siswa menulis huruf tegak bersambung dibuat menggunakan aplikasi Active Presenter pada perangkat komputer. Hasil luaran dari aplikasi e-modul adalah berbentuk apk. Pertimbangan luaran menghasilkan apk adalah agar dapat diterapkan di perangkat android. Aplikasi diinstal dahulu di perangkat android, kemudian dapat dioperasikan. Hasilnya kemudian diekspor menjadi HTML5 dan di-convert menjadi apk dengan bantuan aplikasi java dan website to apk builder pro. Sebelum media e-modulis hutesa digunakan wajib melalui tahap validasi ahli media dan ahli materi. Tahap validasi merupakan bagian penting agar media mantap diimplementasikan dalam KBM. Rancangan Implementasi E-Modul dalam Pembelajaran Memfasilitasi belajar siswa kelas rendah tidak semudah membelajarkan siswa kelas tinggi. Terlebih lagi tuntutan bahwa pembelajaran daring maupun luring (Absor 2022:34) harus tetap berfokus kepada ranah afektif, sehingga tertanam nilai karakter yang dapat diinternalisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini perlu disikapi dengan mencermati karakteristik siswa. Siswa berumur 6-8 tahun (fase A) kurang memperhatikan format, jarak tulisan, ejaan, dan tanda baca. Apabila salah satu segi diutamakan, segi lainnya memburuk. Misalnya ketika siswa mulai diajar menulis huruf cetak beralih ke huruf latin, maka ejaan dan struktur kalimat semakin banyak yang salah. Hal itu perlu dipahami guru agar tidak mudah putus asa bila proses menulis huruf tegak bersambung tidak berjalan efektif. Tujuan utamanya memiliki keterampilan menulis huruf tegak bersambung, tetapi guru tetap berkewajiban menanamkan kebiasaan menulis dengan memperhatikan


24 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar ejaan. Bahan ajar berupa modul sudah disusun dengan metode SAS sehingga pembelajaran menulis berjalan berjenjang. Bahan ajar tersebut akan digunakan siswa yang memiliki kekhasan sesuai usianya. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) telah didesain selaras dengan model pembelajaran dan tahapan penerapan e-modulis hutesa sebelum, selama, dan pascapembelajaran. Melalui perangkat pembelajaran menulis huruf tegak bersambung, guru diharapkan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang semakin bermakna, selaras dengan prinsip yang mengedepankan pembelajaran sesuai tahapan dan kebutuhan siswa yang memiliki kekhasan karakteristik sesuai dengan tingkat perkembangannya. Karakteristik siswa ini dapat menjadi pedoman saat guru mendesain proses pembelajaran menulis huruf tegak bersambung dengan menerapkan model project based learning. Pembelajaran menulis huruf tegak bersambung dirangkai berpedoman pada sintakmatik model project based learning. Model pembelajaran menurut Joyce dan Weil (2009:30) adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Unsur model pembelajaran (Joyce dan Weil 2009:135) meliputi unsur orientasi model, urutan kegiatan/syntax, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem penunjang, dan dampak intruksional, dan pengiring. Model pembelajaran project based learning terapkan dalam pembelajaran dilengkapi dengan emodulis hutesa. Ada enam langkah pembelajaran dalam pembelajaran project based learning sebagai berikut. (1) Menentukan pertanyaan mendasar. (2) Membuat desain projek. (3) Menyusun penjadwalan. (4) Memonitor kemajuan dengan melakukan observasi berdasarkan proses penyelesaian LKS. (5) Penilaian hasil belajar berdasarkan instrumen penilaian menulis awal. (6) Evaluasi pengalaman. Seluruh sintagmatik pembelajaran melibatkan E-Modulis Hutega berbasis kompetensi pembelajaran abad 21 (4K). Aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung ditandai dengan pengisian empat LKS yang dapat diunduh atau sudah disiapkan guru. Pengisian ke-4 LKS tersebut melibatkan sikap kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Aktivitas siswa tersebut diamati


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 25 sehingga diperoleh hasil pengamatan proses pembelajarannya. Instrumen penilaian proses berupa lembar observasi keempat nilai sikap tersebut. Setiap nilai sikap memiliki sejumlah indikator sebagai panduan pengamatan. Selanjutnya penilaian hasil belajar menulis huruf tegak bersambung (Sayekti 2019:81) meliputi lima indikator: (1) bentuk huruf, (2) ukuran huruf, (3) tebal tipisnya penulisan huruf, (4) tanda baca, dan (5) kerapian. Pembelajaran sebagai usaha yang dilakukan secara sengaja, terarah, terencana dengan tujuan yang telah ditetapkan, lalu dilaksanakan dan dapat diamati proses pembelajaran yang dilakukan siswa, dan diakhiri dengan penilaian. Sistem penilaian yang digunakan dalam pembelajaran menulis dongeng adalah sistem penilaian proses dan hasil pembelajaran. Menurut Slavin (dalam Trianto 2007) kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan hasil berpikir siswa sesuai zamannya (abad 21). BSNP menguatkan bahwa framework pembelajaran abad ke-21 (dalam Wijaya etc. 2016) memiliki kemampuan berikut: 1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, 2) kritis, lateral, dan sistemik, terutama dalam konteks pemecahan masalah; 3) berkomunikasi dan bekerjasama, dan 4) berkomunikasi berkolaborasi secara efektif. Proses dan hasil pembelajaran dapat berkualitas apabila seluruh atau setidak-tidaknya sebagian siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran secara aktif. Pembelajaran ditinjau dari segi hasil dapat dikatakan berhasil apabila ada perubahan sikap yang positif dari siswa seluruhnya atau sebagian besar. SIMPULAN E-Modul untuk panduan pembelajaran mandiri siswa menulis huruf tegak bersambung (disebut E-Modulis Hutega) berupa media digital yang berisi video, materi, tujuan, soal berlatih, dan soal evaluasi pembelajaran. Media tersebut dapat digunakan secara online maupun offline. Pembelajaran menulis huruf tegak bersambung didesain dengan menggunakan E-Modulis Hutega diprediksi efektif membantu siswa mencapai tujuan. Media tersebut didesain berbasis kompetensi abad pembelajaran 21 (kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif). Penerapan media tersebut dalam pembelajaran menggunakan model project based learning agar siswa kelas II benar-benar menjadi pusat belajar yang produktif dalam berproses meningkatkan keterampilannya.


26 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar DAFTAR PUSTAKA Absor, Fajar. 2022. Pembelajaran Sejarah Abad 21: Tantangan dan Peluang dalam Menghadapi Pandemi Covid-19. Chronologia: Journal of History Education (2020) vol. 2 no. 1 hal. 30 - 35 http://dx.doi.org/ 10.22236/jhe.v2i1.5502 E-ISSN: 2686- 0171. Daryanto, Karim S. 2017. Pembelajaran Abad 21. Yogyakarta: Gava Media. Erlinda, E., & Masriadi, M. (2020). Perancangan Aplikasi Mobile Kamus Istilah Komputer Untuk Mahasiswa Baru Bidang Ilmu Komputer Berbasis Android. Jurnal Teknologi Dan Open Source, 3(1), 30-43. Joyce, Bruce dkk. 2009. Models of Teaching. Model-model Pengajaran. Edisi kedelapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lismasari. 2020. Penerapan Model Pembelajaran Course Review Horay (CRH) untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Kalimat Tegak Bersambung di Kelas II II SD Negeri 81/IX Air Hitam T.P 2018/2019 Jurnal Literasiologi. 3(4): 101-115. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. 2019. Pembinaan dan Pengembangan Guru Buku 4 Pedoman PKB dan Angka Kreditnya. Jakarata: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Mumtaz, F. 2019. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: PT Pustaka Baru. Nastiti, F. E., & Abdu, A. R. N. (2020). Kajian: Kesiapan Pendidikan Indonesia. Chronologia: Journal of History Education 35 Volume 2 Nomor 1, bulan Juli, tahun 2020: hal 30 – 35. Nugraheni, D. 2019. Pengembangan Lembar Kerja Siswa Untuk Pembelajaran Menulis Tegak Bersambung. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 9(8): 837-848. Priyanti, Rivalon. Pembelajaran Inovatif Abad 21. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pendidikan Pascasarjana UNIMED ISBN : 978- 623-92913-0-3 482 s.d. 505. Rahayu, Restu, Sofyan Iskandar, Yunus Abidin. 2022. Inovasi Pembelajaran Abad 21 dan Penerapannya di Indonesia. JURNALBASICEDU Volume 6 Nomor 2 Tahun 2022 Halaman 2099 - 2104 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic.org/index.php/basicedu. Sayekti. 2019. Peningkatan Kemampuan Menulis Tegak Bersambung dengan Menggunakan Pembelajaran Model Jigsaw melalui Bukku Tulis Halus pada Siswa Kelas II SDN 02 Mojorejo Kota Madiun. Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya. 3(2): 80. Solchan, T. W., dkk. 2014. Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Banten: Penerbit Universitas Terbuka.


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 27 Susanto, Ahmad. 2016. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenanda Media Group. Wijaya, Etistika Yuni, Dwi Agur Sudjimat, Amat Nyoto. 2016. Transformasi Pendidikan Abad 21 sebagai Tuntutan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Global. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika~ Universitas Kanjuruhan Malang. 2016: 263-277


28 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar B E-MODUL BERBANTUAN GAMBAR BAHASA INDONESIA TEMA 1 HIDUP RUKUN KELAS II SEKOLAH DASAR Kurnia Selvyana Program Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang [email protected] Abstrak Permasalahan yang terdapat pada dunia pendidikan khususnya jenjang Sekolah Dasar adalah minimnya ketersedian bahan ajar yang menarik dan menyenangkan bagi peserta didik. Proses pembelajaran cenderung menggunakan buku guru dan buku siswa tanpa dianalisis kesesuaiannya terlebih dahulu sebelum digunakan. Berdasarkan hasil analisis pada buku siswa dan buku guru kelas II Tema 1 Hidup Rukun terdapat ketidaksesuaian pada materi Bahasa Indonesia sehingga diperlukan adanya sebuah inovasi bahan ajar berupa E-modul berbantuan gambar Bahasa Indonesia Tema 1 Hidup Rukun Kelas II Sekolah Dasar. E-modul dapat membimbing siswa untuk belajar mandiri dan terbimbing serta dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi Bahasa Indonesia pada tema 1 Hidup Rukun Kelas II SD. Pembelajaran Bahasa Indonesia melalui e-modul berbantuan gambar akan lebih mudah dipahami oleh peserta didik di kelas rendah. Hal tersebut dikarenakan peserta didik di kelas rendah masih pada tahapan belajar secara konkret. Kata kunci: e-modul, berbantuan gambar, Bahasa Indonesia Bagian 3


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 29 PENDAHULUAN Bahan ajar merupakan hal utama yang mendukung suatu pembelajaran. Guru dan siswa menggunakan bahan ajar pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dengan adanya Bahan ajar, pembelajaran yang dilakukan akan terarah serta tujuan pembelajaran mudah tercapai secara optimal. Bahan ajar dapat dijuluki sebagai sumber belajar bagi peserta didik. Kendala yang dihadapi saat ini yaitu belum tersedianya bahan ajar berbasis elektronik yang mendukung. Dalam kurikulum 2013 terdapat dua buku yang dipakai sebagai buku teks acuan dalam pembelajaran, yakni buku siswa dan buku guru. Buku siswa merupakan sumber pembelajaran utama bagi siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan kompetensi inti. Buku guru merupakan acuan yang mencakup metode, strategi, teknik pembelajaran serta penilaian untuk semua mata pelajaran atau tema pembelajaran. Beberapa aspek- aspek dalam pengukuran kedalaman buku teks diantaranya kesesuian muatan materi dengan kurikulum, keruntunan materi, kedalaman, dan keluasan materi. Apabila buku teks yang digunakan siswa terdapat ketidaksesuian materi dengan kurikulum maka kompetensi yang diharapkan sulit dicapai. Hal ini dapat terjadi jika guru menganggap keseluruhan buku itu layak dan menggunakan apa yang ada tanpa mendalami isi materi dalam buku tersebut terlebih dahulu. Bahan ajar yang tepat dipakai dalam pembelajaran berbasis teknologi salah satunya adalah e-modul. Tujuan e-modul yakni meningkatkan kemandirian peserta didik dalam belajar. Selain itu, hasil belajar kognitif siswa juga dapat meningkat dengan e-modul (Yulianti, 2017). Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendesain materi ajar e-modul berbantuan gambar Bahasa Indonesia tema 1 Hidup Rukun Kelas II dan mendesain E-modul berbantuan Gambar Bahasa Indonesia Tema 1 Hidup Rukun Kelas II Sekolah Dasar”. TEORI KONSEPTUAL Kajian tentang e-modul telah dilakukan oleh Farida Fitriani tahun 2020 tentang Pengembangan e-modul sebagai sumber belajar mata


30 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar pelajaran bahasa menunjukan bahwa hasil uji kelayaakan diperoleh bahwa ahli media dan ahli materi menyatakan e-modul layak digunakan. Kajian lainnya dilakukan oleh Wahyu Nuning Budiarti pada tahun 2021 tentang “Pengembangan Modul Elektronik (E Modul) Keterampilan Berbahasa dan Sastra Indonesia SD untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Mahasiswa PGSD” menunjukan bahwa keterampilan menyimak dapat ditingkatkan dengan penggunaan e-modul dan layak digunakan dalam pembelajaran. Selanjutnya, Ihsan Wizra pada tahun 2021 mengkaji tentang “Pengembangan Modul Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Inkuiri Pada Siswa Kelas III SD Negeri 31 Pasar Ambacang Kuranji Padang” menunjukan bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia SD, modul pembelajaran bahasa Indonesia dapat dipakai sebagai media pembelajaran. Berdasarkan kajian sebelumnya tentang inovasi e-modul, berikut teori yang mendukung penulisan artikel ini. Pengertian E-modul Perkembangan teknologi yang pesat juga berdampak pada dunia pendidikan, mengakibatkan bergesernya dari media atau bahan ajar cetak berubah menjadi teknologi komputer dalam kegiatan pembelajaran. Modul yang pada awalnya merupakan bahan ajar cetak, diubah ke dalam bentuk elektronik sehingga dikenal dengan julukan modul elektronik atau yang lebih populer dengan nama e-modul (Winatha, 2018). E-modul termasuk dalam jenis bahan ajar noncetak. E-Modul merupakan perubahan dari modul cetak dengan memanfaatkan teknologi sehingga menjadi modul yang lebih menarik dan interkatif karena penambahan multimedia seperti gambar di dalamnya. Pada masa pandemi, berbagai pihak seperti sekolah, guru, peserta didik dituntut siap dalam melaksanakan pembelajaran daring. E-Modul merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran secara daring. E-Modul merupakan sebuah modul yang dipublikasikan dalam bentuk digital, yang terdiri dari teks, gambar atau keduanya dan dapat di lihat melalui komputer atau perangkat elektronik lainnya (Shih B-Y, 2013).


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 31 Media Gambar Media gambar berguna untuk melancarkan proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai (Amir, 2016). Gambar adalah ilustrasi yang lebih lengkap untuk memberikan pengertian dan penjelasan dibandingkan dengan hanya membaca serta dapat memberi kejelasan pada masalah sebab sifatnya yang lebih konkrit (Karyati, 2017). Teori yang dikemukakan oleh piaget mengenai perkembangan kognitif untuk tahap operasional formal usia 7-15 tahun jenjang SD maupun SMP masih termasuk siswa yang masih sulit berpikir abstrak, selalu mengaitkan dengan hal-hal konkrit. Modul berbantuan gambar adalah modul yang didalamnya terdapat kegiatan belajar siswa yang dilengkapi dengan gambar sebagai ilustrasi konten materi. Pengembangan modul berbantuan gambar ini dibuat dengan modifikasi gambar tokoh kartun yang dapat menarik maupun memotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran, dilengkapi dengan uraian materi dan terdapat soal-soal sebagai latihan siswa. Karakteristik Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas II Kemampuan siswa dalam berkomunikasi dapat dilatih dengan mengaplikasikan pembelajaran bahasa, baik secara lisan maupun tulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil ciptaan manusia Indonesia (Zulaeha, 2013). Keterampilan berbahasa yang perlu diutamakan yakni keterampilan reseptif (mendengarakan dan membaca) dan keterampilan produktif (menulis dan berbicara). Menurut Zuleha (2012: 4) tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu: 1) Komunikasi baik lisan ataupun tulisan secara efektif dan efisien, 2) Memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. 3) Memahami dan dapat menggunakan Bahasa Indoesia dengan tepat dan efektif 4) Memakai bahasa Indonesia dalam meningkatkan kemampuan intelektual, dan kematangan emosional serta sosial 5) Menggunakan karya sastra 6) Mengagumi sastra Indonesia sebagai warisan budaya.


32 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Ruang Lingkung Materi Bahasa Indonesia Kelas II Tema 1 Berikut ini capaian pada pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas II SD pada buku siswa dan buku guru tema 1 Hidup Rukun dalam Kompetensi Dasar pengetahuan dan Keterampilan, yaitu sebagai berikut. Tabel 3.1 KD Kelas II tema 1 KD Pengetahuan (KD-3) KD Keterampilan (KD-4) 3.1. Merinci ungkapan, ajakan, perintah, penolakan yang terdapat dalam teks cerita atau lagu yang menggambarkan sikap hidup rukun 4.1. Menirukan ungkapan, ajakan, perintah, penolakan dalam cerita atau lagu anak-anak dengan bahasa yang santun Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia terdapat pada subtema 1 sampai subtema 4 yang termuat pada setiap pembelajaran 1 sampai 6 dengan KD 3.1 dan KD 4.1. Materi tema 1 pada setiap subtema adalah sebagai berikut. a. Subtema 1 berisi Ungkapan dalam teks cerita, lagu, dan percakapan serta memaknai ungkapan. b. Subtema 2 berisi Kalimat ajakan dalam teks cerita, lagu, dan percakapan serta memaknainya. c. Subtema 3 berisi Kalimat perintah dalam teks cerita, lagu, dan percakapan serta memaknainya. d. Subtema 4 berisi Kalimat penolakan dalam teks percakapan dan dongeng. PEMBAHASAN Desain Inovasi Materi Ajar E-modul Bahasa Indonesia Kelas 2 Tema 1 Pada buku tematik Kelas II Tema 1 terdapat ketidaksesuian antara standar isi dengan KI dan KD. Pada subtema 1 pembelajaran 3 terdapat ketidaksesuaian antara KD dengan materi. Seharusnya dalam buku siswa membahas mengenai kalimat ungkapan dalam sebuah lagu, akan tetapi lirik lagu tidak menunjukan kalimat ungkapan. Pada Subtema 2 pembelajaran 3 juga terdapat ketidaksesuian materi yakni tidak memuat materi kalimat ajakan. Seharusnya materi kalimat ajakan yang diberikan kepada siswa dijelaskan lebih detail pada teks


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 33 percakapan. Pada Subtema 2 pembelajaran 4 dan pada subtema 3 pembelajaran 3 juga terdapat materi menulis dengan huruf tegak bersambung pada buku siswa. Materi menulis tegak bersambung termasuk KD 4.7 tentang menggunakan tulisan tegak bersambung. Ketidaksesuaian antara materi Bahasa Indonesia pada buku siswa dengan KD dalam buku guru Tema 1 sehingga diperlukan adanya sebuah inovasi modul muatan pelajaran bahasa indonesia. Modul yang ingin dikembangkan adalah modul berbasis elektronik atau E-Modul yang disesuaikan dengan materi sesuai dengan KI, KD, dan tujuan pembelajaran. Dengan adanya inovasi e-Modul diharapkan dapat tercapai tujuan pembelajaran yang dinginkan. Materi pada e-modul seperti dalam kalimat ungkapan, kalimat ajakan, kalimat perintah, dan kalimat ajakan akan dikaitkan dengan teks percakapan. Teks percakapan yang digunakan yaitu teks percakapan antar siswa dengan teman sebaya dan siswa dengan guru, sehingga siswa dapat membedakan mana kalimat yang tepat digunakan ketika berbicara dengan orang yang seumuran atau dengan orang yang lebih tua. Teks percakapan dilengkapi dengan gambar yang menunjukan teks percakapan tersebut. Dengan menggunakan gambar, siswa akan lebih mudah dalam mencerna pengetahuan yang terdapat dalam materi yang diajarkan. Perbaikan materi lainnya yang akan dilakukan adalah menggunakan lagu lain atau teks cerita yang menunjukan adanya kalimat ungkapan. Menggunkan contoh-contoh kalimat ajakan, kemudian meminta siswa menuliskan teks percakapan yang menunjukan adanya kalimat ajakan. Menambahkan materi tentang kalimat perintah, contoh kalimat perintah dalam percakapan sehari-hari. Dan menambahkan serta mengaitkan dengan KD 4.7 tentang penggunaan tulisan tegak bersambung pada kalimat perintah.


34 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Tabel 3.2 Hasil Analisis Kesesuaian Materi Tema 1 kelas II Pembelajaran keMateri Ketidaksesuaian Perbaikan subtema 1 pembelajaran 3 Kalimat ungkapan Lagu yang digunakan buku siswa belum menunjukanmenggun akan kalimat ungkapan Menggunakan teks cerita dalam bentuk percakapan disertai dengan gambar yang menunjukan adanya kalimat ungkapan. Subtema 2 pembelajaran 3 Kalimat ajakan Belum menunjukan adanya materi kalimat ajakan, hanya meminta siswa membuat teks percakapan Menggunakan kalimat ajakan disertai dengan gambar, kemudian meminta siswa menuliskan teks percakapan yang menunjukan adanya kalimat ajakan. Subtema 2 pembelajaran 4 Kalimat Ajakan Adanya materi menulis kalimat dengan huruf tegak bersambung Menambahkan serta mengaitkan dengan KD 4.7 Menulis dengan tulisan tegak bersambung menggunakan huruf kapital (awal kalimat, nama bulan, hari, dan nama diri) serta tanda titik pada kalimat berita dan tanda tanya pada kalimat tanya dengan benar Subtema 3 pembelajaran 3 Kalimat Perintah Adanya materi menulis kalimat dengan huruf tegak bersambung Menambahkan materi tentang contoh kalimat perintah dalam percakapan sehari-hari.Dan mengaitkan dengan KD 4.7 Menulis dengan tulisan tegak bersambung menggunakan huruf kapital (awal kalimat, nama bulan, hari, dan nama diri) serta tanda titik pada kalimat berita dan tanda tanya pada kalimat tanya dengan benar.


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 35 Desain Inovasi E-modul Berbantuan Gambar Bahasa Indonesia Kelas II Tema 1 Pada e-modul yang memuat materi kalimat ungkapan, ajakan, perintah, dan penolakan dilengkapi dengan gambar yang mencontohkan penggunaan kalimat-kalimat tersebut. Pada kalimat ungkapan, kalimat ajakan, kalimat perintah, dan kalimat penolakan diberikan gambar dan teks percakapan dengan orang yang lebih tua dan sebaya. Tahap pembuatan inovasi bahan ajar E-Modul dilaksanakan melalui langkah-langkah berikut. a) merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran, b) analisis kesesuaian materi tema 1 kelas 2 SD c) pemilihan materi yang akan digunakan sebagai sumber belajar d) memilih langkah pembelajaran yang akan ditempuh, dan e) mendesain alat evaluasi pembelajaran. Desain e-modul terdiri dari 1) cover 2) kata pengantar 3) daftar isi 4) daftar menu 5) peta konsep 5) ayo belajar 6) latihan soal 7) penutup 8) daftar pustaka. Gambar 3.1 Tampilan e-modul berbantuan gambar Gambar 3.1 merupakan contoh tampilan menu pada e-modul berbantuan gambar. Pengembangan e-modul berbantuan gambar ini dibuat dengan modifikasi gambar tokoh kartun yang dapat menarik maupun memotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran, dilengkapi dengan uraian materi dan terdapat soal - soal sebagai


36 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar latihan siswa. Adapun keunggulan e-modul yang dikembangkan yaitu modul dengan bantuan gambar sangat cocok digunakan untuk siswa kelas II atau kelas rendah karena untuk siswa kelas rendah masih sulit untuk berpikir abstrak sehingga diperlukan gambar untuk mendukung proses pembelajaran selain itu gambar dapat meningkatkan konsentrasi siswa serta warna dari gambar yang bervariasi dapat memotivasi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran. Selain kelebihan, modul ini juga memiliki kekurangan yaitu tidak diujicobakan langsung kepada peserta didik sehingga belum diketahui keefektivisannya. SIMPULAN Pembelajaran pada masa pandemi, membutuhkan adanya modul berbasis elektronik yang dapat diakses oleh peserta didik dan guru dari mana saja. Hal tersebut mengakibatkan diperlukannya pengembangan modul berbasis elektronik atau e-modul. E-modul dengan berbantuan gambar dapat menarik minat siswa untuk membaca dan memahami isi dari modul tersebut dengan lebih mudah dan menyenangkan. Pada emodul yang memuat materi kalimat ungkapan, kalimat ajakan, kalimat perintah, dan kalimat penolakan dilengkapi gambar yang dibuat dengan modifikasi gambar tokoh kartun yang dapat menarik maupun memotivasi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran. E-modul yang dikembangkan dilengkapi dengan uraian materi dan terdapat soal - soal sebagai latihan siswa. DAFTAR PUSTAKA Amir, A. (2016). Penggunaan Media Gambar dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Eksakta, 2(1), 34-40. Budiarti, W. N., & Riwanto, M. A. (2021). Pengembangan Modul Elektronik (E Modul) Keterampilan Berbahasa dan Sastra Indonesia SD untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Mahasiswa PGSD. Elementary School: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran keSD-an, 8(1), 97-104. Buku Guru Tematik Kelas II edisi revisi 2017. Tema 1 Hidup Rukun. Jakarta: Kemdikbud Buku SiswaTematik Kelas II edisi revisi 2017. Tema 1 Hidup Rukun. Jakarta: Kemdikbud Fitriani, F., & Indriaturrahmi, I. (2020). Pengembangan e-modul sebagai Sumber Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas X MAN 1


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 37 Lombok Tengah. Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmu Pendidikan: e-Saintika, 4(1), 16-25. Karyati, F. (2017). Pengembangan Media Gambar dalam Meningkatkan Pembelajaran Matematika. Jurnal Al-Ulum Ilmu Sosial dan Humaniora. 3(1), 312-320 Shih B-Y, Chen T-H, Cheng M-H, Chen C-Y, and Chen B-W 2013 How to Manipulate Interactive E-Book on Learning Natural Catastrophe-An Example of Structural Mechanics Using Power Machine Nat. Hazardz 65 (3) 1637 Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Yulianti, D. (2017). Problem Based Learning Model Used To Scientific Approach Based Worksheet For Physicsto Develop Senior High School Students Characters. Journal Of Physics: Conference Series Dewi, M. S. A., & Lestari, N. A. P. (2020). E-modul interaktif berbasis proyek terhadap hasil belajar siswa. Jurnal Imiah Pendidikan dan Pembelajaran, 4(3), 433-441. Wizra, I., Hasnul, F., & Hidayati, A. (2021). Pengembangan Modul Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Inkuiri Pada Siswa Kelas III SD Negeri 31 Pasar Ambacang Kuranji Padang (Doctoral dissertation, Universitas Bung Hatta). Zulaeha, I. (2013). Pengembangan Model Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia Berkonteks Multikultural. Litera, 12(1). https://doi.org/10.21831/ltr.v12i01.1331 Zuleha. (2012). Pembelajaran Bahasa Indonesia Apresiasi Sastra Di Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya


38 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar PENGEMBANGAN E-MODUL BERBASIS PENDEKATAN STEAM PADA MUATAN PELAJARAN BAHASA INDONESIA TEMA 2 KELAS II Nur ‘Aini Alfi Ulyatin SD Islam Terpadu Al Firdaus Semarang [email protected] Abstrak Perkembangan masa yang mengharuskan untuk menguasai teknologi. Salah satu terobosan pendidikan di Indonesia yaitu diterapkannya pendekatan STEAM dalam pembelajaran yang dikolaborasikan ke dalam e-modul. Selain media, seorang pendidik juga harus memperhatikan sumber belajar yang digunakan. Isi materi pada buku siswa yang dijadikan sebagai sumber belajar dalam mengembangkan kemampuan berbahasa peserta didik perlu diperhatikan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memaparkan inovasi dari hasil analisis isi materi Bahasa Indonesia yang terdapat pada buku siswa kelas II tema 2 Bermain di Lingkunganku yang disediakan oleh pemerintah edisi revisi 2017. Hasil analisis kritis terhadap buku siswa kelas II tema 2 menunjukkan bahwa masih banyak kesalahan materi yang disajikan, mulai dari ketidak sesuaian materi dengan kompetensi dasar yang sudah disusun, tidak sesuainya materi dengan kondisi lingkungan peserta didik hingga tidak sesuainya materi dengan karakteristik dari peserta didik kelas II. Tindak lanjut dari hasil evaluasi tersebut adalah adanya inovasi materi berupa e-modul dengan pendekatan STEAM. Kesimpulan dari penulisan artikel ini adalah terdapat beberapa materi yang perlu diubah karena belum sesuai dengan kompetensi dasar dan karakteristik peseerta didik kelas II sekolah dasar. Inovasi yang dilakukan berupa perbaikan isi materi dengan menyesuaikan kompetensi dan karakteristik peserta didik. Dengan demikian, hasil inovasi dapat dijadikan sebagai salah satu media belajar bagi peserta didik. Kata kunci: inovasi, e-modul, STEAM Bagian 4


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 39 PENDAHULUAN Pembelajaran pada masa sekarang mengisyaratkan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar harus melibatkan teknologi. Situasi pembelajaran abad 21, khususnya dalam penerapan kurikulum 2013 yaitu peserta didik mempelajari materi melalui penerapan, kumpulan contoh, dan pengalaman nyata di kehidupan peserta didik. Tuntutan tersebut dapat terlaksana sebagai bentuk dari penerapan kurikulum 2013 (Yusuf, Irfan dkk, 2018). Salah satu keterampilan yang harus dikuasai peserta didik pada abad 21 yaitu keterampilan berpikir kritis untuk menyelesaikan permasalahan di kehidupan sehari-hari. STEAM dirancang untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 yang dapat digunakan di semua bidang kehidupan sehari-hari, termasuk penalaran, pemikiran kritis, pemecahan masalah, inkuiri, kreatif, mandiri, dan keterampilan lainnya. STEAM merupakan kependekan dari Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics. Pembelajaran STEAM dirancang untuk mengintegrasikan mata pelajaran yang berbeda ke dalam kurikulum yang terintegrasi (Siti Zubaidah, 2018). Salah satu media belajar yang melibatkan teknologi yaitu e-modul. Emodul merupakan sumber belajar yang berbentuk modul yang dapat digunakan peserta didik untuk menambah pengetahuan. Isi dari modul ini dapat berupa tulisan, visual, audio, animasi hingga video (Nugraha, 2015). Perbedaan yang mencolok dari modul biasa yaitu e-modul berbasis elektronik, sehingga dapat diakses melalui alat elektronik seperti smartphone, laptop, tablet, maupun alat elektronik lainnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merumuskan tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memaparkan hasil inovasi e-modul berbasis STEAM pada pembelajaran bahasa Indonesia yang terdapat pada buku siswa tema 2 kelas II SD. TEORI KONSEPTUAL Kajian tentang pengembangan e-modul dengan menggunakan pendekatan STEAM telah dilakukan oleh Yulia Maulida Mubarokah tahun 2022 pada kelas VI dengan muatan pelajaran IPA materi komponen listrik dan fungsinya dalam rangkaian listrik sederhana. Penelitian saudari Yulia dilatarbelakangi oleh adanya wabah covid-19 yang menuntut untuk pembelajaran secara daring. Tujuan penelitian tersebut untuk


40 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar meghasilkan produk berupa media e-modul dengan pendekatan STEAM pada materi komponen listrik dan fungsinya. Hasil penelitian berdasarkan penilaian dari ahli media dan ahli materi menyatakan media sudah layak dan efektif untuk digunakan. Kajian lain dari penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Gerits Albidillah tahun 2021 membahas tentang pengembangan modul menggunakan pendekatan STEAM materi panas dan perpindahannya yang terdapat pada tema 6 kelas V di SDN Durungbanjar. Penelitian saudara Albidillah dilatarbelakangi oleh banyaknya siswa yang mengalami kesulitan memahami materi yang terdapat pada buku. Tujuan penelitian tersebut untuk menghasilkan modul menggunakan pendekatan STEAM yang layak digunakan. Penilaian dari ahli media, ahli materi dan peserta didik menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan sudah layak digunakan sebagai salah satu sumber belajar peserta didik. Karakteristik Siswa SD Kelas II Karakteristik setiap anak pada jenjang tertentu memiliki perbedaan. Menurut Sekar Purbarini (2020) pada umumnya karakteristik anak usia dini cenderung meniru, aktif bermain, bergerak dan masih di tahap berkembang. Oleh sebab itu guru perlu memperhatikan karakterisitik tersebut kaitannya dengan proses pembelajaran di kelas. Realita bahwa anak-anak kerap meniru apa yang ditunjukkan gurunya di kelas. Di kelas, guru mengajar langsung dengan contoh, dan ketika anak mengulanginya, biasanya anak lebih mudah mengingatnya. Perlu diketahui bahwa perkembangan siswa kelas II masih di tahap bermain dan belajar, secara tidak langsung para siswa lebih tertarik belajar yang melibatkan unsur permainan dan hal-hal yang menarik perhatian untuk membantu mereka lebih mudah memahami informasi yang diberikan oleh guru. Karakteristik Materi Bahasa Indonesia Kelas II Seperti yang kita ketahui bahwa fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Untuk itu, pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi bukan dituntut lebih banyak untuk menguasai pengetahuan tentang bahasa.


Click to View FlipBook Version