Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 41 Pembahasan dalam artikel ini difokuskan untuk menganalisis materi bahasa Indonesia yang terdapat pada tema 2 Bermain di Lingkunganku. Kompetensi dasar bahasa Indonesia yang dijadikan dasar pengembangan materi tema 2 adalah KD 3.2. mendeskripsikan kosakata dan konsep tentang keanekaragaman benda berdasarkan bentuk dan bentuknya dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah melalui teks tulis, lisan, visual, dan/atau eksplorasi lingkungan, dan KD 4.2. melaporkan penggunaan kosakata bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang tepat sebagai hasil pengamatan tentang keanekaragaman benda berdasarkan bentuk dan bentuknya dalam teks tulis, lisan, dan visual (Permendikbud No 37 Tahun 2018 KI KD SD, SMP, SMA). E-Modul Menurut Imansari dan Sunaryatiningsih (2017) menjelaskan bahwa modul elektronik atau bisa disingkat dengan e-modul adalah salah satu sarana pembelajaran yang berisi materi berupa teks, visual, audio, maupun video yang dirancang berbantuan teknologi dan secara terstruktur dengan memperhatikan unsur kemenarikan agar tujuan kompetensi yang diharapkan dapat tercapai. Adapun menurut Diantri (2018) mengartikan e-modul sebagai bentuk penyajian materi pelajaran yang penyusunannya secara sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan dikemas dalam bentuk elektronik. Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa e-modul merupakan satu di antara media belajar peserta didik yang berisi materi yang sudah dirancang sedemikian rupa dengan tampilan yang menarik serta mudah digunakan karena berbantuan elektronik. Modul yang baik dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Menurut Daryanto (2013) pembuatan modul harus memenuhi karakteristik meliputi, (1) self instruction, melatih peserta didik untuk belajar mandiri dengan memasukkan tujuan pembelajaran dan materi yang jelas, terdapat iustrasi, latihan soal, bahasa sederhana, terdapat rangkuman materi, instrumen penilaian, umpan balik dari penilaian peserta didik dan terdapat informasi rujukan yang dijadikan materi dalam modul; (2) self contained, memberikan kesempatan peserta didik untuk mempelajari materi secara keseluruhan; (3) stand alone, tidak tergantung dengan bahan ajar lain; (4) adaptif, artinya isi modul mengikuti
42 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar perkembangan ilmu dan teknologi; (5) user friendly, memenuhi kaidah bersahabat dengan penggunanya. STEAM STEAM dapat diartikan sebagai bidang ilmu yang menghubungkan sains, teknologi, teknik, seni dan matematika membentuk sebuah pendekatan yang saling terkait atau terpadu sehingga dapat diterapkan ke dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Unsur seni dimasukkan ke dalam STEAM sebagai dasar untuk kebutuhan lain yang lebih baik dan lebih menarik, sehingga hasil atau produk dari pembelajaran berbasis STEAM akan berdampak positif bagi setiap pendidik maupun peserta didik. (Iik Nurhikmayati, 2019). Pada kurikulum 2013 sistem mata pelajaran dikonsep secara terpadu antara PPKn, IPA, bahasa Indonesia, SBDP, dan matematika yang kemudian dikemas menjadi sebuah tema. Oleh sebab itu pembelajaran yang berbetuk tema tersebut dapat diterapkan dengan pembelajaran berbantuan e-modul melalui pendekatan STEAM. Mengacu pada artikel Uswah (2019), komponen STEAM meliputi: (1) pemecahan masalah yang dikemas melalui desain dan inovasi; (2) kolaborasi antara penilaian, rencana dan standar pembelajaran; (3) keterpaduan subjek pada STEAM; (4) lingkungan belajar melalui proses based learning yang bersifat kolaborasi; (5) lebih menekankan pada realitas kehidupan. PEMBAHASAN Bagian ini menjelaskan hasil analisis materi yang terdapat pada buku tema 2 kelas II, kemudian hasil analisis tersebut dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan e-modul dengan pendekatan STEAM pada muatan pelajaran bahasa Indonesia tema 2 kelas II. Berikut pembahasan pada artikel ini. Analisis Materi pada Buku Tema 2 Kelas II Buku tema 2 kelas II terdiri dari empat subtema. Tiap subtema memiliki enam pembelajaran yang mencangkup kompetensi dasar Bahasa Indonesia. Materi yang dipaparkan dalam buku sudah memuat berbagai macam kosakata. Kosakata yang paling dominan adalah jenis
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 43 kosakata verba (kata kerja) dan nomina (kata benda). Pada buku siswa terdiri dari 4 subtema yang mencangkup 24 pembelajaran. Artikel ini hanya memaparkan hasil analisis pada bagian subtema dan pembelajaran yang perlu adanya perbaikan. Berikut hasil analisis kritis mengenai materi bahasa Indonesia yang terdapat pada buku siswa kelas II Tema 2. Subtema 1 pembelajaran 4 Pada pembelajaran 4 siswa diminta untuk melakukan percobaan untuk menentukan sifat-sifat benda. Namun yang diujikan hanya dua sifat, yaitu sifat benda padat dan benda cair. Selain itu terdapat bahan yang menurut penulis berbahaya untuk siswa, yaitu minyak. Seperti yang sudah penulis paparkan sebelumnya, bahwa anak usia kelas rendah masih suka bermain. Ketika melakukan percobaan, bahan yang diujikan rawan tercecer. Hal ini tentunya akan membahayakan siswa. Siswa dapat terpeleset karena tekstur minyak yang licin. Bahan yang digunakan untuk percobaan dapat diganti menjadi kelereng, air, pensil, sirup, dan teh kotak. Bahan yang digunakan tidak membahayakan peserta didik, mudah didapat dan sudah memenuhi unsur benda padat dan benda cair. Subtema 2 Pembelajaran 1 Disediakan teks bacaan yang berjudul “Memetik Jambu di Rumah Udin”. Namun isi bacaan tidak membahas mengenai konsep keragaman benda berdasarkan bentuk dan wujudnya. Isi teks hanya berisi sebuah cerita kegiatan memetik jambu. Perbaikan dapat dilakukan dengan menambahkan isi teks bacaan, namun tetap bertema tentang memetik buah agar tetap selaras dengan mata pelajaran lainnya. Isi teks dimodifikasi dengan mencantumkan kosakata baru yang masih berhubungan dengan konsep kosakata pada benda padat, cair dan gas. Subtema 2 Pembelajaran 5 Pada pembelajaran 5 terdapat teks bacaan yang berjudul “Kegunaan Benda”. Isi dari teks tersebut menjelaskan tentang setiap benda memiliki kegunaan masing-masing. Lalu siswa mengisi tabel pengamatan, menyebutkan nama benda sesuai dengan gambar yang ada dan menentukan wujudnya.
44 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Adanya perubahan pada tabel evaluasi agar sesuai dengan materi bacaan. Melalui tabel di bawah ini, para peserta didik mencari kosakata yang termasuk benda padat,cair atau gas, lalu disebutkan juga kegunaan dari benda tersebut. Subtema 2 Pembelajaran 6 Di buku guru dijelaskan bahwa salah satu tujuan pembelajarannya yaitu melalui kegiatan diskusi, peserta didik dapat menemukan kosakata yang berkaitan dengan keragaman benda berdasarkan wujudnya dalam teks pendek yang dibacakan dengan benar. Namun di buku siswa tidak ada teks pendek. Perbaikan dapat dilakukan dengan menyediakan ilustrasi gambar, kemudian ditambahkan teks bacaan yang berisi kosakata benda-benda, agar peserta didik terlatih untuk merangkai kalimat dari sebuah peristiwa. Kemudian peserta didik dapat memecahkan masalah melalui dalam permainan kosa kata. Subtema 3 Pembelajaran 2 Siswa memperhatikan cerita yang disampaikan guru tentang gambar-gambar yang tercantum di buku siswa. Di buku guru sudah disediakan teks yang akan dibacakan yang berjudul “Mengamati Benda”. Namun isi teks yang disediakan kurang lengkap. Isi teks hanya menceritakan yang dilakukan Beni dan Udin. Sementara di gambar masih ada Lani yang sedang memegang balon. Hal ini tentunya perlu diperbaiki dengan melengkapi isi bacaan yang dapat meceritakan peristiwa yang terdapat pada gambar secara lengkap. Subtema 3 Pembelajaran 3 Siswa diajak untuk melakukan pengamatan yang berjudul “Alat dalam Bermain Tenis Meja”. Untuk alat dan bahan yang diperlukan meliputi net, bet, meja, dan bola pingpong. Bahan yang diperlukan kurang sesuai, karena tidak semua sekolah memiliki peralatan untuk bermain tenis meja. Jika anak diperintahkan untuk melakukan pengalaman tersebut, pastinya akan menyulitkan anak dan orang tua. Mengingat harga bet dan net tenis meja mahal. Proses pembelajaran yang baik, kaitannya dengan bahan ajar yang digunakan hendaknya sesuai dengan kondisi lingkungan peserta didik.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 45 Bahan yang digunakan untuk pengamatan sebaiknya yang mudah didapatkan dengan tidak membebani peserta didik. Subtema 4 Pembelajaran 6 Disediakan teks bacaaan yang berjudul “ Menunggangi Gajah”. Isi teks hanya menjelaskan tentang cara menunggangi gajah. Belum menunjukkan kosakata tentang keragaman bentuk dan wujud benda. Selain itu siswa disuguhkan beberapa gambar peralatan untuk menunggangi kuda. Hewan yang ditunjukkan berbeda dengan teks bacaan sebelumnya. Lalu siswa diarahkan untuk melakukan pengamatan, sesuai dengan gambar-gambar (gambar-gambar) tersebut. Dalam kolom belum dilengkapi nama alat dan bahan, begitupun dengan gambar yang dipaparkan. Sementara gambar-gambar peralatan yang ditunjukkan menurut penulis masih asing bagi anak kelas II. Teks bacaan diubah menjadi cerita tentang kegiatan di perpustakaan dan dilengkapi dengan sebuah gambar. Kemudian para peserta didik melakukan pengamatan pada gambar dan mendeskripsikan beberapa sifat benda. Selain itu peserta didik juga dapat melakukan eksplorasi lingkungan dengan mendatangi langsung ke ruang perpustakaan yang ada disekolahnya. Hal ini akan memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Kesimpulan hasil analisis diatas dapat dijelaskan bahwa dari total 24 pembelajaran yang terdapat pada buku siswa tema 2 masih ada beberapa materi yang perlu diperbaiki karena materi yang disajikan tidak sesuai dengan KD, tidak sesuai dengan karakteristik siswa kelas II, serta belum mempertimbangkan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Oleh sebab itu perlu adanya inovasi materi agar sumber belajar yang digunakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Desain E-Modul Berbasis Pendekatan STEAM Berdasarkan hasil analisis mengenai buku tema 2 kelas II, maka perlu adanya inovasi materi melalui pendekatan STEAM agar sumber belajar sesuai dengan kompetensi inti dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik serta melibatkan perkembangan pengetahuan dan teknologi. Inovasi berupa pengembangan e-modul berbasis pendekatan STEAM yang berjudul “Aku Bisa Bahasa Indonesia: Tema 2”. Berikut hasil
46 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar desain e-modul yang memuat materi bahasa Indonesia tentang kosakata yang terdapat pada tema 2. Gambar 4.1 Sampul e-modul Bagian sampul diberi berjudul “Aku Bisa Bahasa Indonesia: Tema 2”. Hal ini menunjukkan pembahasan e-modul berisi materi bahasa Indonesia yang terdapat pada tema 2, yaitu tentang kosakata. Gambar 4.2 Isi Materi e-modul
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 47 Materi pada e-modul dapat dimodifikasi dengan berbagai bentuk baik secara tulisan, gambar, audio, maupun video. Seperti yang penulis cantumkan pada e-modul berupa video yang dapat dilihat oleh pengguna dengan cara mengklik gambar atau link yang sudah disediakan. Gambar 4.3 Isi Kegiatan Siswa pada e-modul Gambar diatas merupakan desain bentuk kegiatan yang dapat dilakukan menggunakan metode eksperimen atau pengamatan secara langsung. Melalui e-modul, peserta didik akan dipandu untuk melakukan pengamatan kaitannya dengan penambahan kosakata, sehingga akan memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Hasil pemaparan di atas merupakan bentuk inovasi materi bahasa Indonesia kelas II tema 2 berupa e-modul, yang sudah dipertimbangkan berbagai aspek kebutuhan dan karakteristik peserta didik melalui pendekatan STEAM sehingga dapat meningkatkan kosakata peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dicapai. SIMPULAN Dari hasil analisis materi pelajaran bahasa Indonesia yang termasuk dalam buku kelas II tema 2, disimpulkan bahwa materi bahasa Indonesia kelas II di tingkat sekolah dasar sangat berkaitan dengan aspek-aspek yang dianggap kompatibel. Namun, masih ada beberapa isi
48 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar materi dan bahasa yang perlu disesuaikan. Perbaikan dapat melalui inovasi materi yang dikemas dalam bentuk e-modul menggunakan pendekatan STEAM. DAFTAR PUSTAKA Daryanto. (2013). Menyusun Modul Bahan Ajar untuk Persiapan Guru dalam Mengajar. Yogykarta: Gava Media. Diantari, L. P., Damayanthi, L.P., Sugihartini, N.S., & Wirawan, I. A. (2018). Pengembangan E-Modul Berbasis Mastery Learning untuk Mata Pelajaran KKPI Kelas XI. Jurnal Nasional Pendidikan Teknik Informatika. 33-47. Iik, N. (2019). Implementasi STEAM dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Didactial Mathematics. Vol. 1, No.2. Imansari, N. & Sunaryatiningsih, I. (2017). Pengaruh Penggunaan -Modul Interaktif terhadap Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jurnal Ilmiah Pendidikan Teknik Elektro. 11-16. Irfan, Y. (2018). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika Modern Berbasis Media aboratorium Virtual berdasarkan Paradigma Pembelajaran Abad 21 dan Kurikulum 2013. Jurnal Pancaran. Vol.4, No.2. Maulida, Y. M. (2022). Pengembangan E-Modul Berbasis Pendekatan STEAM pada Pembelajaran IPA Materi Komponen Listrik dan Fungsinya dalam Rangkaian Listrik Sederhana Kelas 6 Sekolah Dasar. Artikel. Universitas Negeri Surabaya. Nugraha, A., Subarkah, C. Z., & Sari. (2015). Penggunaan E-modul Pembelajaran pada Konsep Sifat Koligatif Larutan untuk Mengembangkan Literasi Kimia Siswa. Prosidig Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains. 201-204. Purbarini, S. K. (2020). Karakteristik Siswa SD Kelas Rendah dan Pembelajarannya. Yogyakarta: PPSD-FIP UNY. Uswah. (2019). STEAM, Sebuah Pendekatan Pembelajaran Berbasis Seni. Articles. http://binus.ac.id/knowledge/2019/05/steam/ Zubaidah, S. (2018). STEAM (Science, Technology, Enginering, Arts, and Mathematics): Pembelajaran untuk Memberdayakan Keterampilan Abad ke-21. Jurnal FMIPA Universitas Malang.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 49 K PENGUATAN KARAKTER PROFIL PELAJAR PANCASILA MATERI AJAR BAHASA INDONESIA TEMA 3 KELAS II SEKOLAH DASAR Utik Puji Lestari SD Negeri Mangunsari 01 [email protected] Abstrak Materi Ajar Bahasa Indonesia yang terdapat pada buku siswa tema 3 kelas II mencakup ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan. Isi materi pada buku siswa hendaknya sesuai dengan kompetensi dasar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Nilai karakter merupakan salah satu aspek yang turut diajarkan kepada peserta didik. Terdapat beberapa ketidaksesuaian antara isi materi pada buku siswa dengan kompetensi dasar Bahasa Indonesia. Nilai karakter yang terdapat pada isi materi merupakan salah satu bentuk penanaman sikap pada peserta didik. Profil Pelajar Pancasila merupakan karakter yang dikembangkan pada peserta didik jenjang sekolah dasar sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Nilai Profil Pelajar Pancasila pada buku siswa masih minim dan belum menyeluruh pada setiap pembelajaran. Kajian ini menjelaskan tentang penguatan nilai Profil Pelajar Pancasila pada buku siswa tema 3 kelas II. Profil Pelajar Pancasila bertujuan untuk menumbuhkan nilai karakter pada diri peserta didik. Penguatan Profil Pelajar Pancasila materi ajar Bahasa Indonesia pada buku siswa tema 3 kelas II dilakukan dengan mengaitkan isi materi dengan nilai karakter yang hendak ditanamkan dan menambahkan teks Profil Pelajar Pancasila. Kata kunci: profil pelajar pancasila, materi ajar, karakter Bagian 5
50 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar PENDAHULUAN Salah satu komponen penting pembelajaran adalah materi ajar. Materi ajar mencakup bahan-bahan pembelajaran yang digunakan guru dalam merencanakan desain pembelajaran di kelas. Guru membuat perangkat pembelajaran yang memuat materi ajar sebelum melaksanakan pembelajaran. Kemdikbud telah menyusun buku guru dan buku siswa sebagai satu sumber materi dalam menyelenggarakan pembelajaran di sekolah. Isi materi yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa hendaknya sesuai dengan kompetensi dasar agar tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Pada buku siswa ditemukan beberapa ketidaksesuaian antara isi materi dengan kompetensi dasar. Pembelajaran di sekolah memuat berbagai ranah termasuk ranah afektif salah satunya yaitu pendidikan karakter yang diintegrasikan ke dalam pembelajaran. Pendidikan karakter merupakan wujud penanaman nilai karakter pada diri peserta didik. Nilai karakter yang terdapat dalam buku siswa belum tampak secara menyeluruh pada setiap pembelajaran di tema 3. Profil Pelajar Pancasila dilaksanakan pada pembelajaran sebagai bekal peserta didik menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. Pentingnya Profil Pelajar Pancasila pada diri peserta didik menjadi latar belakang kajian ini disusun. Kajian ini menjelaskan analisis nilai Profil Pelajar Pancasila, kesesuaian isi materi dengan kompetensi dasar dan penguatan nilai karakter Profil Pelajar Pancasila pada materi ajar Bahasa Indonesia tema 3 kelas II. TEORI KONSEPTUAL Kajian yang dilakukan oleh (Agustin et al., 2021) mendeskripsikan hasil analisis muatan karakter pada buku siswa tema 3 kelas II. Pada buku siswa memuat sepuluh nilai yaitu nilai religius, disiplin, santun, tanggung jawab, jujur, percaya diri, peduli, mandiri, kreatif, dan cinta tanah air. Nilai yang paling banyak muncul yaitu nilai tanggung jawab dan peduli. Kajian selanjutnya dilakukan oleh Rizkiviana (2019) yang mendeskripsikan karakter pada teks bacaan petunjuk bacaan dan tugas kerja pada buku siswa. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai karakter lebih banyak terdapat pada teks bacaan daripada tugas kerja.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 51 Karakter Siswa Kelas II Sekolah Dasar Setiap peserta didik memiliki karakter yang berbeda-beda. Segala hal yang berkaitan dengan peserta didik digunakan guru sebagai dasar menyelenggarakan pembelajaran di sekolah. Guru menyusun rencana pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Ardhana menjelaskan karakteristik peserta didik merupakan informasi mengenai latar belakang peserta didik termasuk segala informasi diri yang dimiliki seperti kemampuan akademik, pengetahuan umum, ciri jasmani dan rohani, dan segala riwayat diri yang dimiliki (Budiningsih, 2017). Peserta didik kelas II sekolah dasar berada pada rentang usia 7-10 tahun. Menurut teori perkembangan kognisi menurut Piaget, anak usia kelas II sekolah dasar termasuk pada tahap operasional konkret. Karakter anak pada tahap operasional konkret yaitu mulai berpikir secara objektif dan operasional (Marinda, 2020). Peserta didik menggunakan cara berpikir operasional untuk menggolongkan benda berdasar kelompoknya, membentuk keterkaitan hubungan aturan-aturan, menerapkan keilmiahan secara sederhana, dan mengaitkan hubungan sebab akibat. Proses berpikir anak beracuan pada sistem pemikiran yang didasarkan pada dasar-dasar yang logis. Karateristik Pembelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas II Bahasa merupakan alat yang digunakan sebagai sarana komunikasi antar manusia. Bahasa berfungsi sebagai perantara agar manusia bisa saling berkomunikasi. Pembelajaran bahasa di sekolah dasar bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi peserta didik. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar mengajarkan siswa dapat berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia yang benar (Zuleha, 2012). Peserta didik dapat mengapresiasi karya sastra Indonesia sebagai salah satu keberhasilan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia erat kaitannya dengan keterampilan menyimak, membaca, menulis dan berbicara (Susanto, 2013). Dengan demikian pembelajaran Bahasa Indonesia di SD bertujuan mengarahkan peserta didik untuk terampil berbahasa serta berpikir kritis dan kreatif. Pembelajaran Bahasa Indonesia mengajarakan etika cara berkomunikasi yang santun. Pembelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan secara tematik integratif yang mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan
52 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar dan penilaian. Rincian tahap perencanaan mencakup menganalisis SKL, KI, KD, menyusun perangkat pembelajaran dan menganalisis keterkaitan buku guru dan siswa. Perangkat pembelajaran yang telah disusun kemudian dilaksanakan dalam pembelajaran. Tahap penilian menyangkut penyusunan instrumen penilaian yang digunakan (Syaifudin et al.., 2017). Nilai Karakter Profil Pelajar Pancasila Ranah sikap merupakan salah satu aspek yang termasuk dalam penilaian kurikulum 2013. Profil Pelajar Pancasila merupakan manifestasi nilai yang ditanamkan dalam pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Profil Pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tujuan pendidikan nasional dan pemikiran Ki Hajar Dewantara untuk menumbuhkembangkan nilai karakter pada diri peserta didik (Zuchron, 2021). Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu wujud pendidikan karakter di sekolah dasar kepada kepada peserta didik. Nilai karakter yang ditumbuhkembangkan pada pada peserta didiik antara lain: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak Mulia, 2) berkebinekaan global; 3) bernalar kritis; 4) mandiri; 5) bergotong royong; dan 6) kreatif. Karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa memiliki makna pelajar Indonesia diarahkan menjadi pelajar yang berakhlak tentang ketuhanan sesuai kepercayaan yang dianut. Peserta didik diharapkan memahami ajaran agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kunci karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia yaitu nilai menganut kepercayaan, akhlak diri, akhlak hubungannya kepada sesama manusia, akhlak hidup berdampingan dengan alam dan berkehidupan bernegara. Karakter berkebinekaan global mengarahkan peserta didik untuk melestarikan budaya luhur, identitas dan kearifan lokal, serta berpikiran terbuka dalam menyikapi budaya lain. Peserta didik dibimbing untuk saling menghargai munculnya budaya baru yang memiliki karakter budaya berbeda. Karakter berkebinekaan global menumbuhkan nilai mengapresiasi budaya, menjalin berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama, melakukan refleksi diri dan bertanggung jawab dalam melaksanakan kebhinekaan. Karakter bernalar kritis mengarahkan peserta didik mampu berpikir secara objektif dalam mengolah dan
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 53 membangun keterkaitan antara berbagai informasi. Peserta didik mengolah, melakukan analis sampai membuat kesimpulan dari informasi yang diperoleh yang digunakan sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Karakter mandiri mengarahkan peserta didik melaksanakan proses dan hasil belajarnya secara bertanggung jawab. Pada diri peserta didik diharapkan mampu menghadapi segala tantangan dan regulasi diri. Karakter bergotong royong mengarahkan peserta didik untuk memiliki rasa kebersamaan dalam melakukan kegiatan dengan suka rela sehingga pekerjaan menjadi cepat dan ringan. Karakter bergotong royong menumbuhkan nilai kebersamaan, kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Karakter kreatif mengarahkan peserta didik mampu menghasilkan dan membuat inovasi karya yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan memiliki dampak bagi orang lain. PEMBAHASAN Pada pembahasan mendeskripsikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila pada buku siswa dan buku guru tema 3 kelas II dan penguatan nilai karakter Profil Pelajar Pancasila. Terdapat enam nilai yang ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik yaitu nilai beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak Mulia, nilai berkebinekaan global, nilai bernalar kritis, nilai mandiri, nilai bergotong royong dan nilai kreatif.. Nilai-Nilai Karakter Profil Pelajar Pancasila Pada Materi Ajar Bahasa Indonesia SD Tema 3 Kelas II Materi ajar Bahasa Indonesia sekolah dasar tema 3 kelas II salah satunya bersumber dari buku guru dan buku siswa yang telah disusun Kemdikbud. Buku guru dan buku siswa tema 3 kelas II (2017) terdiri dari dari empat subtema, dengan masing-masing subtema terdiri dari enam pembelajaran. Subtema 1 tentang tugasku sehari-hari di rumah, subtema 2 tentang tugasku sehari-hari di sekolah, subtema 3 menjelaskan tugasku sebagai umat beragama dan subtema 4 menjelaskan tugasku dalam kehidupan sosial. Nilai Profil Pelajar Pancasila mencakup karakter beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia (NBBKTYME), nilai berkebinekaan global (NBG), nilai bernalar kritis (NBK), nilai mandiri (NK), nilai kreatif (NK) dan nilai bergotong royong
54 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar (NGR). Materi ajar Bahasa Indonesia pada buku siswa tema 2 telah memuat nilai-nilai karakter Profil Pelajar Pancasila. Tabel 5.1 Nilai Profil Pelajar Pancasila Pada Buku Siswa Tema 3 Kelas II No Subtema Karakter Profil Pelajar Pancasila NBBKTYME NBG NBK NM NK NGR 1 1 1 0 2 4 3 1 2 2 1 1 0 3 2 1 3 3 3 0 4 4 3 2 4 4 0 0 5 2 2 2 Berdasarkan tabel 4.1, nilai karakter Profil Pelajar Pancasila yang terdapat pada materi ajar Bahasa Indonesia masih minim dan belum menyeluruh. Terdapat beberapa materi yang belum memuat nilai karakter Profil Pelajar Pancasila, antara lain: 1) Kegiatan siswa pada subtema 1 pembelajaran 1 yaitu siswa mengamati denah letak rumah. Siswa kemudian diminta menghubungkan garis denah letak yang sesuai sesuai dengan rumah tokoh. Kegiatan siswa pada materi ajar belum tampak nilai-nilai karakter Profil Pelajar Pancasila yang tersirat maupun tersurat pada pembelajaran. 2) Kegiatan siswa pada subtema 2 pembelajaran 1 yaitu siswa mengamati denah letak SDN Nusantara 01, kemudian siswa menjawab pertanyaan sesuai denah. Isi materi pada kegiatan siswa belum tampak nilai-nilai karakter Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan. 3) Kegiatan siswa pada materi subtema 4 pembelajaran 2, siswa melakukan checklist kata yang memiliki arti yang sama dengan soal. Isi materi pada kegiatan siswa belum tampak nilai-nilai karakter Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan. Kesesuaian Materi Ajar Bahasa Indonesia Tema 3 Kelas II dengan Kompetensi Dasar Kompetensi dasar merupakan hasil capaian yang hendaknya dikuasai peserta didik. Kompetensi dasar menjadi pedoman dalam menyusun indikator pembelajaran yang lebih lanjut akan dijabarkan dalam materi. Isi materi ajar Bahasa Indonesia ditinjau dari kata kerja operasional kompetensi dasar, KD 3.3 menggunakaan kko menentukan. Kata kerja operasional menentukan berada diranah berpikir level 2 aplikasi. Terdapat beberapa materi pada buku siswa yang belum sesuai,
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 55 antara lain a) Pada Subtema 1 Pembelajaran 1, terdapat denah letak rumah dimana siswa diminta untuk menghubungkan garis antara letak rumah tokoh dan nama tokoh yang sesuai. b) Pada Subtema 1 Pembelajaran 3 terdapat teks kegiatan Siti di pagi hari, kemudian siswa menghubungkan garis antara tokoh dan kegiatan yang dilakukan. Materi tersebut belum sesuai dengan KD karena siswa hanya sebatas memahami bukan menentukan kosakata yang sesuai, sehingga akan lebih baik jika diajak untuk bernalar kritis, mandiri dan kreatif menentukan sikap yang dimiliki tokoh. c) Pada Subtema 2 Pembelajaran 2 terdapat teks “Bermain Kendhi Gerl”, siswa diminta memasangkan gambar tokoh dengan sifat yang dimiliki ketika bermain. Kegiatan siswa akan lebih baik jika tidak hanya sekedar memasangkan tetapi siswa menentukan kosakata sifat tokoh ketika bermain dengan tepat agar sesuai dengan tuntutan KD. Penguatan Nilai-Nilai Karakter Profil Pelajar Pancasila Pada Materi Ajar Bahasa Indonesia SD Tema 3 Kelas II Materi ajar Bahasa Indonesia tema 3 kelas II masih ada ketidaksesuaian pada isi materi sehingga perlu adanya perbaikan materi ajar. Perbaikan tersebut berupa inovasi materi ajar Bahasa Indonesia dengan mengaitkan nilai karakter penguatan profil pelajar pencasila. Inovasi tersebut mencakup: 1) Materi ajar Bahasa Indonesia Subtema 1 Pembelajaran 1 memuat kegiatan siswa menentukan kosakata letak rumah tokoh yang sesuai, sehingga kegiatan siswa tidak sebatas melihat denah dan menjawab soal sesuai denah. Materi juga dikaitkan dengan nilai karakter Profil Pelajar Pancasila yaitu nilai bernalar kritis dan mandiri. Gambar 5.1 Perbaikan Materi Ajar Bahasa Indonesia Melengkapi Kalimat Rumpang
56 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Gambar 5.1 merupakan gambar kegiatan siswa sesuai kompetensi dasar yaitu menentukan kosakata dan mengaitkan dengan nilai Profil Pelajar Pancasila. 2) Kegiatan siswa pada Subtema 2 Pembelajaran 2 tidak sekedar memasangkan sikap tokoh yang sesuai dengan namun masih bisa kegiatan siswa dieksplorasi dan dikaitkan dengan nilai Profil Pelajar Pancasila. Gambar 5.2 Penguatan Nilai Profil Pelajar Pancasila Subtema 2 Pembelajaran 2 Gambar 5.2 merupakan kegiatan siswa menentukan kosakata yang sesuai dengan gambar. Isi materi juga dikaitkan dengan nilai Profil Pelajar Pancasila mandiri, kreatif dan bernalar kritis. 3) Mengaitkan materi Pada Subtema 4 Pembelajaran 2 dengan nilai karakter Profil Pelajar Pancasila pada materi Bahasa Indonesia. Kegiatan siswa melakukan checklist kata yang memiliki arti yang sama. Sebagai inovasi materi bisa menggunakan kosakata yang mengandung unsur nilai karakter Profil Pelajar Pancasila. Gambar 5.3 Penguatan Profil Pelajar Pancasila Subtema 4 Pembelajaran 2 Gambar 5.3 merupakan kegiatan siswa menentukan kosakata yang memiliki arti sama dengan soal. Kegiatan pada materi dikaitkan dengan nilai karakter Profil Pelajar Pancasila. 4) Penguatan nilai karakter Profil Pelajar Pancasila secara tersurat pada buku siswa dan pada petunjuk
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 57 kegiatan siswa sehingga siswa memahami dengan nilai yang dikembangkan oleh guru. Gambar 5.4 Penguatan Profil Pelajar Pancasila Materi Ajar Bahasa Indonesia Tema 3 Kelas II Gambar 5.4 merupakan wujud penguatan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila pada materi ajar Bahasa Indonesia tema 3 kelas II yang terletak dibagian petunjuk kegiatan siswa. Pada materi juga disajikan teks pengenalan Profil Pelajar Pancasila kepada peserta didik kelas II secara tersurat ditampilkan pada buku siswa tiap subtema. SIMPULAN Nilai Profil Pelajar Pancasila terdapat pada materi ajar Bahasa Indonesia buku siswa tema 3 kelas II. Nilai karakter sering muncul yaitu nilai mandiri. Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada buku siswa dilakukan denga mengaitkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila pada materi ajar Bahasa Indonesia dan menambahkan teks Profil Pelajar Pancasila pada buku siswa untuk menumbuhkembangkan nilai tersebut pada diri peserta didik. DAFTAR PUSTAKA Budiningsih, Asri. (2017). Pembelajaran Moral (Berpijak pada karakteristik siswa dan budayanya), Jakarta: PT Rineka Cipta. Piaget, J. (2020). “Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Dan Problematikanya Pada Anak Usia Sekolah Dasar” dalam Marinda, Leny. (Ed), Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M IAIN Jember. An-Nisa’: Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman. Permendikbud Nomor 20 tahun 2018 Tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah. Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018 tentang Tentang Kompetensi Inti
58 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah. Purnomosidi. (2017). BSE Buku Guru Kelas 2 Tema 3. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Purnomosidi. (2017). BSE Buku Siswa Kelas 2 Tema 3. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Rizkiviana, Revi Wily. (2019). Analisis nilai-nilai karakter pada buku siswa kelas II SD tema 3 "Tugasku Sehari-hari" edisi revisi 2017 / Revia Willy Rizkiviana. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang. Agustin, S.I., Mardiati, Y., Ningsih, Y.F. (2021). Analisis Muatan Nilai Karakter Pada Buku Siswa Kelas Sekolah Dasar Tema 3 Tugasku Sehari-Hari. Jurnal Ilmu Pendidikan Sekolah Dasar, 8(2), 88-98. Susanto, Ahmad. (2013). Teori belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenanda Media Group. Syaifudin, A., Rokhman, F., & Zulaeha, I. (2017). Pengembangan Startegi Pembelajaran Tematik Integratif Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Jenjang Pendidikan Dasar. Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (PJIK). 2(2), Juni, 2017. Zuchron, Daniel. (2021). Buku Tunas Pancasila. Jakarta: Direktorat Sekolah Dasar. Zuleha. (2012). Pembelajaran Bahasa Indonesia Apresiasi Sastra di Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 59 PENGEMBANGAN MODUL BELAJAR SISWA BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MATERI BAHASA INDONESIA TEMA 4 KELAS II SEKOLAH DASAR Livia Eunike Paut Program Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang [email protected] Abstrak Karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia sekolah dasar dapat diketahui dengan menganalisis muatan materi dalam buku teks yang dipakai peserta didik maupun guru. Pengetahuan akan karakteristik materi Bahasa Indonesia dapat menjadi pedoman bagi guru dalam memberikan pembelajaran Bahasa Indonesia yang baik lewat penyajian dan penyampaian materi yang inovatif yang dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Hasil analisis kritis materi Bahasa Indonesia dalam Buku Siswa tema 4 kelas II SD menemukan bahwa terdapat beberapa ketidaksesuaian materi Bahasa Indonesia dengan kompetensi dasar Bahasa Indonesia dalam Permendikbud No. 37 Tahun 2018. Ketidaksesuain yang ditemukan disesuaikan dengan kompetensi dasar yang ada kemudian dikembangkan menjadi modul belajar siswa berbasis kearifan lokal. Pengembangan ini tepat dilakukan karena sesuai dengan karakteristik materi Bahasa Indonesia pada buku siswa tema 4 kelas II SD dan juga karakteristik siswa baik aspek kemampuan berpikir maupun dari aspek lingkungan, sosial, dan budaya. Kata kunci: bahasa Indonesia, karakteristik materi, pengembangan modul, kearifan lokal Bagian 6
60 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar PENDAHULUAN Bahasa Indonesia adalah pelajaran wajib di sekolah dasar, yang harus diajarkan dengan sebaik mungkin dan memberi makna bagi peserta didik. Salah satu langkah menyiapkan pembelajaran yang bermakna adalah dengan mengetahui karakter dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diketahui dengan menganalisis muatan materi dalam buku teks yang digunakan oleh peserta didik maupun guru. Materi dalam buku teks yang dipakai peserta didik maupun guru harus sesuai dengan standar yang berlaku. Sebagaimana dijelaskan pada Permendikbud No. 65 Tahun 2013 bahwa pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah dasar harus sesuai dengan karakteristik kompetensi, maka materi buku teks yang dipakaipun harus sesuai dengan standar ini agar tercapainya kemampuan dan keterampilan berbahasa yang baik dan benar. Pengetahuan akan karakteristik materi Bahasa Indonesia dapat menjadi pedoman bagi guru untuk memberikan pembelajaran Bahasa Indonesia yang baik lewat cara penyajian materi dan penyampaian materi yang inovatif yang dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Dalam teori yang disampaikan Piaget (1950), anak SD memperoleh pengetahuan lewat interaksinya dengan benda nyata yakni yang bisa dilihat, dipegang, didengar, dibaui, diotak atik, dan lain sebagainya yang ada dilingkungan sekitarnya. Berdasarkan uraian di atas, maka artikel ini akan membahas mengenai “Pengembangan Modul Belajar Siswa Berbasis Kearifan Lokal Untuk Materi Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Tema 4”. Tujuannya sebagai berikut. (1) untuk mengetahui karakteristik materi Bahasa Indonesia pada buku siswa tema 4 kelas II SD; (2) untuk mengetahui analisis kesesuaian materi Bahasa Indonesia pada buku siswa tema 4 kelas II SD; (3) untuk mengetahui inovasi materi pelajaran Bahasa Indonesia pada buku siswa tema 4 kelas II SD. TEORI KONSEPTUAL Modul belajar siswa memuat materi dan konsep-konsep dari suatu mata pelajaran yang bisa dipelajari sendiri, sehingga peserta didik
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 61 aktif selama belajar (Deviana, 2018). Ditambah lagi jika modul belajar siswa dikembangkan dengan berdasarkan pada keadaan lingkungan sekitar peserta didik. Peserta didik akan mudah memahami pelajaran karena apa yang dijelaskan dekat dengan diri mereka (Widiya, Lokaria, & Sepriyaningsih, 2021). Pengembangan modul belajar siswa berbasis kearifan lokal mempermudah guru mengaitkan materi yang dijelaskan dengan situasi lingkungan daerah peserta didik (Meilana & Aslam, 2022). Selain itu penggunaan bahan ajar dalam hal ini modul belajar siswa berbasis kearifan lokal dapat membantu peserta didik dalam meningkatkan hasil belajarnya (Azizah & Alnashr, 2022). Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar pada dasarnya adalah tentang pelajaran tentang kecakapan berbahasa Indonesia. Belajar Bahasa Indonesia menjadi sarana untuk peserta didik mempelajari cara berkomunikasi dan meningkatkannya dengan baik dan berdaya guna lewat lisan maupun tulisan dengan adab dan kesopansantunan serta menumbukan rasa hormat terhadap hasil cipta manusia Indonesia (Atmazaki dalam Ali, 2020; Zulaeha, 2013). Pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas rendah, harus disesuaikan dengan tahap perkembangan berpikir anak. Peserta didik di kelas rendah memiliki ciri-ciri perkembangan berpikir yaitu konkret, integratif, dan Hierarkis (Zulvira, Neviyarni, & Irdamurni, 2021). Konkret artinya pembelajaran yang dilaksanakan harus bersifat konkret. Pembelajaran bersifat konkret menekankan pada penggunaan lingkungan sekitar anak sebagai sumber belajar. Integratif artinya peserta didik memandang pembelajaran sebagai satu kesatuan atau yang biasa disebut dengan proses berpikir deduktif. Hierarkis artinya peserta didik belajar dari sesuatu yang sederhana ke sesuatu yang luas dan terperinci. Pelajaran Bahasa Indonesia di kelas rendah khususnya kelas II SD memiliki kekhasan yang tampak dari ruang lingkup materi yang diajarkan. Jika melihat pada Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Muatan Bahasa Indonesia pada SD/MI/SDLB/Paket A, kekhasan itu nampak pada jenis teks yang dipakai yaitu teks faktual, teks tanggapan, teks cerita, dan teks cerita naratif dengan konteks budaya, norma, serta konteks sosial yang melatar belakangi jenis teks yang ada. Teks-teks
62 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar tersebut meliputi teks deskriptif, petunjuk/arahan, laporan sederhana, ucapan terima kasih, permintaan maaf, diagram/ tabel, narasi sederhana, puisi, cerita diri/ personal, dan buku harian. Paranguistik dalam hal ini lafal, kelantangan, intonasi, tempo, gestur, dan mimik juga menjadi bagian dari ruang lingkup materi yang ada. Kalimat yang digunakan sederhana tersusun dari dua kata pola SP. PEMBAHASAN Analisis kritis yang telah dilakukan pada materi Bahasa Indonesia Tema 4 kelas II SD menunjukkan bahwa materi tersebut memiliki karakteristik yang menonjol berbeda dengan tema lainnya pada buku siswa kelas II SD. Materi pada tema ini dilatarbelakangi oleh konteks lingkungan dan budaya yang ada pada masyarakat Indonesia. Terdapat beberapa ketidaksesuaian materi pada tema ini yang kemudian menjadi cikal bakal dari pengembangan modul belajar siswa berbasis kearifan lokal. Berikut penjelasan terkait karakteristik, ketidaksesuaian materi, dan juga pengembangan dari materi bahasa indonesia tema 4 dalam buku siswa kelas II SD. Karakteristik Materi Bahasa Indonesia pada Buku Siswa Tema 4 Kelas II Sekolah Dasar Buku Siswa Kurikulum 2013 Revisi 2017 Tema 4 kelas II SD Hidup Bersih dan Sehat, materi Bahasa Indonesia memuat 4 subtema dengan pemetaan kompetensi dasar pada setiap subtema ditunjukkan pada tabel berikut. Tabel 6.1 Pemetaan Kompetensi Dasar Materi Bahasa Indonesia Tema 4 kelas II Muatan pelajaran Kompetensi dasar Subtema Bahasa Indonesia 3.4 Menentukan kosa kata dan konsep tentang lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat di lingkungan sekitar serta cara menjaga kesehatan lingkungan dalam bahasa indonesia atau bahasa daerah melalui teks tertulis, lisan, visual, dan/ atau eksplorasi lingkungan. 1. Hidup Bersih dan Sehat di Rumah 2. Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 63 4.4 Menyajikan penggunaan kosa kata bahasa Indonesia yang tepat atau bahasa daerah hasil pengamatan tentang lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat di lingkungan sekitar serta cara menjaga kesehatan lingkungan dalam bentuk teks tulis, lisan, dan visual. 3. Hidup Bersih dan Sehat di Tempat Bermain 4. Hidup Bersih dan Sehat di Tempat Umum. Kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia pada buku siswa tema 4 kelas II SD dikemas dalam 4 kegiatan besar yaitu kegiatan Ayo Mengamati, Ayo Membaca, Ayo Berdiskusi, dan Ayo Menulis. Lewat kegiatan-kegiatan tersebut peserta didik diminta untuk mengamati lingkungan sekitar, membaca teks deskriptif dengan pelafalan dan intonasi yang benar, berlatih dengan menjawab pertanyaan, berdiskusi bersama teman menentukan kosakata dan makna dari kata tersebut yang berkaitan dengan lingkungan bersih dan sehat serta sebaliknya, kemudian menulis laporan observasi lingkungan sekitar berkaitan dengan lingkungan sehat dan tidak. Kalimat yang digunakan pada buku ini adalah kalimat dengan pola sederhana. Selain itu terkandung pula konteks budaya, norma, dan konteks sosial yang melatarbelakangi buku ini. Kesesuaian Materi Bahasa Indonesia pada Buku Siswa Tema 4 Kelas II Sekolah Dasar dengan Kompetensi Inti Kegiatan Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam buku siswa tema 4 kelas II SD membantu peserta didik untuk memahami pengetahuan faktual tentang lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat dengan cara mendengar, melihat, membaca, serta menanya, tentang dirinya, lingkungan sekitarnya baik itu di rumah, sekolah, tempat bemain, atau tempat umum lainnya, serta makhluk ciptaan Tuhan dan aktivitasnya, dan juga benda yang ditemui disekitarnya. Kemudian peserta didik dilatih untuk menyajikan pengetahuan yang dipunyai lewat kegiatan membuat laporan hasil observasi lingkungan sekitar. Peserta didik juga dilatih untuk kreatif, mandiri, kolaboratif, komunikatif, percaya diri, dan tanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang ada. Hal ini sejalan dengan Kompetenti Inti dan uraian Kompetensi Inti yang termuat
64 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar dalam Permendikbud No. 37 Tahun 2016. Dapat dikatakan bahwa buku ini telah sesuai dengan Kompetensi Inti. Kesesuaian Materi Bahasa Indonesia pada Buku Siswa Tema 4 kelas II SD dengan Kompetensi Dasar Berdasarkan hasil analisis kritis materi tema 4 kelas II SD, telah ditemukan ketidaksesuaian dengan kompetensi Dasar dalam Pemendikbud No. 37 Tahun 2018. Ketidaksesuaian ini dapat dilihat pada Tabel 6.2. Tabel 6.2 Perbandingan KD 3.4 dalam Buku Guru dan KD dalam Permendikbud No. 37 Tahun 2018 Buku guru Permendikbud No. 37 Tahun 2018 3.4 Mengenal kosakata dan konsep tentang lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat di lingkungan sekitar serta cara menjaga kesehatan lingkungan dalam Bahasa Indonesia atau bahasa daerah melalui teks tulis, lisan, dan visual. 3.4 Menentukan kosakata dan konsep tentang lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat di lingkungan sekitar serta cara menjaga kesehatan lingkungan dalam Bahasa Indonesia atau bahasa daerah melalui teks tulis, lisan, visual, dan/atau eksplorasi lingkungan. KKO pada KD buku guru adalah “Mengenal” sedangkan yang seharusnya adalah kata “Menentukan”. Terdapat juga kata yang dikurangi yaitu “dan/atau eksplorasi lingkungan”. Ketidaksesuaian ini tentunya berakibat pada ketidaksesuaian materi dalam buku siswa dengan kompetensi dasar. Beberapa ketidaksesuaian yang ditemukan diantaranya. 1. Kegiatan Ayo Berdiskusi. Pada kegiatan “Ayok Berdiskusi” peserta didik langsung diberikan kosakata atau makna yang berhubungan dengan lingkungan sehat, peserta didik hanya diminta untuk mencari makna dari kata-kata tersebut ataupun sebaliknya. Kegiatan ini lebih menekan pada pengenalan kosakata atau makna, sedangkan tujuan dari KD 3.4 Permendikbud No. 37 Tahun 2018 adalah agar peserta didik dapat menemukan dan “menentukan” kata dan makna dari kata tersebut melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan peserta didik.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 65 2. Kegiatan Ayo Menulis. Pada kegiatan ini peserta didik diminta menuliskan laporan hasil observasi hanya berdasarkan pengamatan gambar yang telah tersedia pada buku. Tentunya hal ini tidak sesuai dengan KD 3.4 dan juga KD 4.4 yang mana laporan hasil observasi harus ditulis berdasarkan pengamatan lingkungan sekitar. Ketidaksesuaian ini dapat ditemukan pada subtema 1 pembelajaran 2, 3, 5, 6, subtema 2 pembelajaran 1, pembelajaran 2, subtema 3 pembelajaran 3 dan 6, subtema 4 pembelajaran 1, 4, dan 5. 3. Kegiatan Ayo Mengamati dan Ayo Menulis pada subtema 4 pembelajaran 1. Kegiatan Ayo Mengamati dan Ayo Menulis dalam subtema 4 pembelajaran 1 ini kurang sesuai dengan KD 4.4. Laporan hasil observasi harus dilakukan berdasarkan pengamatan lingkungan sekitar sedangkan pada kegiatan ini peserta didik diminta untuk menulis laporan dengan judul “Kebun Raya Bogor” berdasarkan pengamatan pada gambar. Peserta didik membutuhkan sesuatu yang konkret sehingga memudahkan peserta didik untuk melakukan kegiatan pengamatan dan menulis laporan hasil pengamatan. Solusi terhadap Ketidaksesuaian Materi Bahasa Indonesia Tema 4 kelas II SD Solusi perbaikan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki ketidaksesuaian yang ada sebagai berikut. Tabel 6.3 Perbaikan Materi Materi Rencana Perbaikan Kompetensi Dasar 3.4 dalam buku guru tema 4 kelas II SD Disesuaikan kembali dengan Permendikbud No. 37 Tahun 2018 Kegiatan “Ayo Berdiskusi”
66 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Materi Rencana Perbaikan Kegiatan Ayo Menulis Kegiatan Ayo Mengamati dan Ayok Menulis subtema 4 pembelajaran 1. Pengembangan Modul Belajar Siswa Berbasis Kearifan Lokal Berdasarkan penjelasan tentang ketidaksesuaian materi dan perbaikan yang telah di jelaskan pada Tabel 6.3, maka inovasi yang tepat dilakukan untuk materi Bahasa Indonesia adalah pengambangan modul berlajar siswa berbasis kearifan lokal. Modul ini memudahkan peserta didik untuk mengikuti setiap kegiatan pembelajaran pada tema 4 karena konteks lingkungan, sosial, dan budaya dalam tema ini sangat kental. Peserta didik akan lebih mudah memahami tentang konsep dari lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat karena mereka secara langsung melakukan kegiatan pembelajaran dan juga pengamatan pada lingkungan sekitarnya yang sudah tidak asing lagi bagi mereka. Modul belajar siswa berisi kegiatan yang sama dengan yang ada pada buku siswa tema 4 kelas II SD. Kegiatan pembelajaran akan disesuaikan dengan hasil perbaikan yang telah dilakukan. Desain dan Isi dari modul belajar siswa ini dikaitakan dengan kondisi lingkungan dan kearifan lokal yang ada pada daerah masing-masing. Kearifan lokal yang dicantumkan dalam modul ini berupa pakaian adat, rumah adat, cerita
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 67 rakyat, syair, ataupun gambaran tentang kondisi lingkungan setempat. Rancangan modul belajar siswa yang dikembangkan sebagai berikut. Gambar 6.1 Sampul Modul Belajar Siswa Berbasis Kearifan Lokal Gambar 6.2 Isi dari Modul Belajar Siswa Berbasis Kearifan Lokal SIMPULAN Hasil perbaikan materi yang dilakukan memperoleh inovasi pembelajaran untuk buku siswa tema 4 kelas II SD yaitu pengembangan modul belajar siswa berbasis kearifan lokal. Modul ini tepat untuk diberikan kepada peserta didik karena sesuai dengan karakteristik dari materi Bahasa Indonesia buku siswa tema 4 kelas II SD dan karakteristik peserta didik baik dari aspek kemampuan berpikirnya maupun dari aspek lingkungan, sosial, dan budaya.
68 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar DAFTAR PUSTAKA Ali, M. (2020). Pembelajaran bahasa indonesia dan sastra (basastra) di sekolah dasar. Jurnal PAUD, 3(1), 35-44. Azizah, L & Alnashr, M. S. (2022). Pengembangan bahan ajar tematik berbasis kearifan lokal guna meningkatkan hasil belajar kognitif siswa. Dawuh Guru Jurnal Pendidikan MI/ SD, 2(1), 1-12. Deviana, T. (2018). Analisis kebutuhan pengembangan modul belajar berbasis kearifan lokal Kabupaten Tulungagung untuk kelas V SD tema bangga sebagai Bangsa Indonesia. Jurnal Pemikiran dan Pengembangan SD, 6(1),47-56. Faisal. (2017). Hidup Bersih dan Sehat: Buku Guru/ Kementerian Pendidikandan Kebudayaan– Edisi Revisi Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Untuk SD/ MI Kelas II. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Faisal. (2017). Hidup Bersih dan Sehat: Buku Siswa/ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan- Edisi Revisi Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Untuk SD/ MI Kelas II. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Meilana, S. F., Aslam. (2022). Pengembangan bahan ajar berbasis kearifan lokal di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(4), 05-5613. Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah. Salinan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik IndonesiaNomor 65 tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Widiya, M., Lokaria, E., & Sepriyaningsih. (2021). Pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis kearifan lokal kelas tinggi di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5(5), 3314-3320. Zulaeha, I. (2013). Pengembangan model pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia berkonteks multikultural. Litera: Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 12(1), 97-105. Zulvira, R, Neviyarni, Irdamurni. (2021). Karakteristik siswa kelas rendah Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(1), 1846- 1851.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 69 PENILAIAN AUTENTIK PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS II SEMESTER GASAL BERBASIS MEDIA QUIZIZZ DAN TEKNIK PORTOFOLIO Evy Sofianingsih SD Islam Terpadu Insan Mulia Semarang [email protected] Abstrak Instumen penilaian pengetahuan, keterampilan dan sikap pada panduan penilaian dalam buku guru untuk setiap pembelajaran tidak semua sesuai dengan kompetensi dasar yang dikembangkan. Kesadaran dalam pemilihan teknik penilaian perlu diperhatikan. Penulisan artikel ini untuk mengetahui desain penilaian autentik dengan media quizizz dan teknik portofolio, mengetahui instrumen kisi-kisi hasil belajar penilaian akhir semester gasal siswa kelas II dan mengetahui rubrik penilaian hasil belajar pada penilaian akhir semester gasal siswa kelas II. Penilaian yang mengukur keberhasilan siswa secara menyeluruh yaitu ranah keterampilan, sikap dan pengetahuan terhadap tujuan pembelajaran yang akan dicapai dengan berbagai teknik penilaian disebut dengan penilaian autentik. Inovasi penilaian autentik dapat dilakukan menggunakan media quizizz yang dapat diakses secara online untuk ranah pengetahuan dan teknik portofolio untuk ranah keterampilan. Ranah sikap dapat diambil ketika pengerjaan soal penilaian akhir semester gasal menggunakan media quizizz dan pengumpulan portofolio dengan catatan anekdot. Guru sebaiknya memahami teknik penilaian pada setiap pembelajaran, tidak hanya bertumpu pada buku guru dan buku siswa. Guru dapat melakukan inovasi pada pembelajarannya, terkhusus untuk pengambilan penilaian kepada siswa. Kata kunci: penilaian autentik, quizizz, portofolio, bahasa indonesia Bagian 7
70 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran di kelas meliputi kegiatan pembuka, inti dan penutup. Pada kegiatan penutup terdapat proses penilaian. Penilaian merupakan empat unsur utama yang ada pada proses pembelajaran (Supriyadi, 2013). Penilaian adalah upaya untuk mengetahui keberhasilan atau tercapainya tujuan pembelajaran. Menyeluruh dan berkesinambungan adalah salah satu prinsip penilaian. Guru sebaiknya menggunakan teknik penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar dan juga menyeluruh yaitu ranah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penggunaan teknik penilaian ini untuk mengetahui dan memantau perkembangan kemampuan siswa. Kesadaran dalam penggunaan teknik penilaian perlu diperhatikan karena setiap teknik penilaian memiliki keterbatasan. Kesulitan utama yang dialami guru dalam penilaian adalah merumuskan indikator, menyusun butir-butir instrumen, dan membuat instrumen penilaian (Ekoati, E. S., dkk, 2019). Kenyataannya, panduan penilaian dalam buku guru untuk setiap pembelajaran tidak semua terdapat instrumen penilaian pengetahuan, keterampilan dan sikap yeng sesuai dengan kompetensi dasar untuk dikembangkan. Beberapa temuan, antara lain penjelasan penilaian di buku guru tidak sesuai dengan buku siswa, terdapat rubrik penilaian keterampilan memperagakan teks percakapan tapi, pada buku siswa tidak ada teks percakapan, terdapat pada tema 1 subtema 2 Pembelajaran 4 dan 6. Selnjutnya pada tema 1 subtema 3 pembelajaran 6, indikator materi tentang kalimat perintah tapi, dirubrik keterampilan menyebutkan kalimat ajakan. Pada pembelajaran 2 tema 1 subtema 3 terdapat instrumen penilaian keterampilan memperagakan kalimat perintah tapi, di buku siswa tidak ada kegiatan tersebut. Pada tema 1 subtema 4 pembelajaran 5 tidak ada instrumen penilaian muatan pembelajaran Bahasa Indonesia, hanya keterangan lihat contoh rubrik pembelajaran sebelumnya. Penilaian pengetahuan berupa tes tertulis pada buku siswa juga sangat minimal di setiap pembelajaran, belum mampu mengukur hasil belajar siswa dengan maksimal. Pada setiap pembelajaran, indikator yang akan dikembangkan untuk penilaian sikap tidak sesuai. Beberapa temuan, antara lain pada tema 1 dan 3 penilaian sikap tertulis setelah instrumen penilaian pengetahuan dan keterampilan. Pada tema 2 dan 4 penilaian
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 71 sikap dilihat secara menyeluruh, tidak ditentukan secara rinci di setiap pembelajarannya. Guru sebaiknya mengembangkan sendiri teknik penilaian pada setiap pembelajaran, tidak hanya bertumpu pada buku guru dan buku siswa. Dari latar belakang permasalahan, maka tujuan penulisan artikel ini adalah mengetahui desain penilaian autentik dengan media quizziz dan teknik portofolio, mengetahui instrumen kisi-kisi hasil belajar penilaian akhir semester gasal siswa kelas II dan mengetahui rubrik penilaian hasil belajar pada penilaian akhir semester gasal siswa kelas II. Hasil dari penulisan artikel mengenai penilaian pembelajaran ini, diharapkan dapat menjadi sumber referansi inovasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran serta dapat menjadi acuan pada kajian selanjutnya yang berkaitan dengan inovasi penilaian pembelajaran materi Bahasa Indonesia. TEORI KONSEPTUAL Kajian tentang media quizizz telah dilakukan oleh Herlina Pusparani tahun 2020 pada kelas VI menunjukkan kegiatan penilaian pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan media quizizz. Penilaian pembelajaran menggunakan media quizizz membuat siswa merasa senang dan termotivasi. Peningkatan hasil belajar siswa juga ditunjukkan dengan penggunakan media quizizz untuk penilaian pembelajaran. Selanjutnya, kajian dari Eko Kuntarto dan Rahani Gustina tahun 2019 tentang penggunaaan teknik portofolio dengan judul Pelaksanaan Penilaian Portofolio di Sekolah Dasar bertujuan untuk memperkaya wawasan ilmu tentang penilaian pembelajaran dengan isi portofolio yang dikembangkan oleh guru. Berdasarkan kajian sebelumnya tentang media quizizz pada penilaian pembelajaran dan penggunaan teknik portofolio, berikut teori yang mendukung penulisan artikel ini. Karakteristik Siswa dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Semester Gasal Kelas II Siswa Sekolah Dasar memiliki tingkatan kelas dari kelas I sampai dengan kelas VI. Siswa kelas rendah yaitu kelas I sampai dengan kelas III memiliki perkembangan kecerdasan yang ditunjukkan dengan mampu mengelompokkan objek, sudah memiliki minat pada tulisan dan angka,
72 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar meningkatkan kosakata dalam berbahasa sehingga menyukai berbicara (Panca Dewi., dkk, 2021). Bahasa Indonesia adalah muatan pelajaran yang dipelajari dari kelas I sampai dengan kelas VI. Kurikulum 2013 untuk pembelajaran Bahasa Indonesia pada kelas rendah menggunakan pendekatan tematik (Khair, 2018). Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki tujuan agar seseorang dapat berkreasi, berpikir kritis, berimajinasi baik secara lisan maupun tulisan (Zulaeha, 2020). Pembelajaran Bahasa Indonesia kelas II semester gasal pada kurikulum 2013 memiliki kompetensi dasar yang dijelaskan melalui Permendikbud No 37 tahun 2018 mencakup ranah kompetensi pengetahuan (KI-3) dan keterampilan (KI-4), sebagai berikut. Tema 1 Hidup Rukun dengan KD yaitu, 3.1 Merinci ungkapan, ajakan, perintah, penolakan yang terdapat dalam teks cerita atau lagu yang menggambarkan sikap hidup rukun, dan 4.1 Menirukan ungkapan, ajakan, perintah, penolakan dalam cerita atau lagu anak-anak dengan bahasa yang santun. Materi tema 1 pada setiap subtema sebagai berikut. 1. Ungkapan dalam teks cerita, lagu, dan percakapan serta memaknai ungkapan. 2. Kalimat ajakan dalam teks cerita, lagu, dan percakapan serta memaknainya. 3. Kalimat perintah dalam teks cerita, lagu, dan percakapan serta memaknainya. 4. Kalimat penolakan dalam teks percakapan dan dongeng. Tema 2 Bermain di Lingkunganku dengan KD yaitu, 3.2 Menguraikan kosakata dan konsep tentang keragaman benda berdasarkan bentuk dan wujudnya dalam Bahasa Indonesia atau bahasa daerah melalui teks tulis, lisan, visual, dan/atau eksplorasi lingkungan, dan 4.2 Melaporkan penggunaan kosakata Bahasa Indonesia yang tepat atau bahasa daerah hasil pengamatan tentang keragaman benda berdasarkan bentuk dan wujudnya dalam bentuk teks tulis, lisan, dan visual. Materi tema 2 pada setiap subtema sebagai berikut. 1. Kosakata tentang keragaman benda pada teks dan maknanya. 2. Kosakata tentang keragaman benda pada teks dan maknanya. 3. Informasi dan makna kata pada teks atau gambar. 4. Ciri-ciri dan kalimat tentang keragaman benda.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 73 Tema 3 Tugasku Sehari-hari dengan KD yaitu, 3.3 Menentukan kosakata dan konsep tentang lingkungan geografis, kehidupan ekonomi, sosial dan budaya di lingkungan sekitar dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah melalui teks tulis, lisan, visual, dan/atau eksplorasi lingkungan, dan 4.3 Melaporkan penggunaan kosakata Bahasa Indonesia yang tepat atau bahasa daerah hasil pengamatan tentang lingkungan geografis, kehidupan ekonomi, sosial dan budaya di lingkungan sekitar dalam bentuk teks tulis, lisan, dan visual. Materi tema 3 pada setiap subtema adalah. 1. Kosakata tentang lingkungan geografis, kehidupan ekonomi dan sosial di rumah. 2. Kosakata tentang lingkungan geografis, kehidupan ekonomi dan sosial di sekolah. 3. Kosakata tentang kehidupan budaya di sekolah. 4. Kosakata tentang kondisi sosial di sekolah. Tema 4 Hidup Bersih dan Sehat yaitu KD 3.4 Menentukan kosakata dan konsep tentang lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat di lingkungan sekitar serta cara menjaga kesehatan lingkungan dalam Bahasa Indonesia atau bahasa daerah melalui teks tulis, lisan, visual, dan atau eksplorasi lingkungan, dan KD 4.4 Menyajikan penggunaan kosakata Bahasa Indonesia yang tepat atau bahasa daerah hasil pengamatan tentang lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat di lingkungan sekitar serta cara menjaga kesehatan lingkungan dalam bentuk teks tulis, lisan, dan visual. Materi tema 4 pada setiap subtema sebagai berikut. 1. Kosakata tentang lingkungan rumah yang sehat dan tidak sehat. 2. Kosakata tentang lingkungan sekolah yang sehat dan tidak sehat. 3. Kosakata tentang lingkungan yang sehat dan tidak sehat di tempat bermain. 4. Kosakata tentang lingkungan yang sehat dan tidak sehat di tempat umum. Penilaian Autentik Faktor penentu keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah penilaian. Penilaian idealnya dilakukan ketika proses pembelajaran berlangsung maupun diakhir pembelajaran, penilaian tersebut adalah penilaian autentik (Ekoati, E. S., dkk, 2020). Penilaian yang mengukur
74 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar ketercapaian siswa terhadap tujuan pembelajaran secara menyeluruh yaitu ranah keterampilan, sikap serta pengetahuan dengan berbagai teknik penilaian adalah penilaian autentik. Jurnal yang ditulis Ekoati, S. E., Fathur, Rokhman., Ida, Zulaeha., Subyantoro (2019) menyebutkan bahwa karakteristik model instrumen penilaian autentik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut. 1. Instrumen penilaian mencakup ranah keterampilan, pengetahuan, dan sikap. 2. Digunakan untuk mengukur kinerja siswa dalam pembelajaran maupun di luar kelas. 3. Menggunakan berbagai teknik penilaian. 4. Bahasa yang digunakan tersusun dengan tepat dan komunikatif. 5. Dibuat menjadi buku panduan model instrumen penilaian autentik dan dikemas dengan menarik. Teknik penilaian ranah keterampilan, pengetahuan dan sikap dijelaskan pula dalam panduan penilaian untuk SD tahun 2016. Saat proses pembelajaran berlangsung nilai sikap yang diamati adalah sikap sosial dan spiritual dapat menggunakan teknik wawancara dengan observasi, catatan kejadian tertentu ketika terjadi masalah dan catatan anekdot. Penilaian yang mengukur keberhasilan siswa mencapai KD-3 di setiap tema adalah penilaian pengetahuan dapat menggunakan teknik tes yaitu penugasan, tertulis maupun lisan. KD-4 dapat diukur dengan teknik penilaian proyek, portofolio dan kinerja. Hasil dari penilaian keterampilan maupun pengetahuan menggunakan angka yaitu rentang 0 sampai 100, terdapat deskripsi dan juga predikat. Untuk mengetahui hasil belajar siswa setiap tahunnya secara signifikan, sekolahan dapat melakukan dengan Ujian Sekolah (US), Penilaian Tengah Semester (PTS), Penilaian Akhir Semester (PAS) maupun Penilaian Akhir Tahun (PAT) (Panduan Penilaian untuk SD, 2016). Media Penilaian Quizizz Kegiatan penilaian pada pembelajaran dapat menggunakan media. Media penilaian yang dapat digunakan yaitu penilaian interaktif berupa kuis yang diselesaikan secara online, salah satunya adalah media quizizz. Pada media quizizz terdapat banyak pilihan kuis yang dapat dibuat guru dan diselesaikan siswa. Kuis tersebut berbentuk soal isian, pilihan ganda,
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 75 juga uraian (Pusparani, 2020). Dari penjelasan tersebut, media quizizz cocok digunakan dalam inovasi penilaian pembelajaran. Adapun kelebihan media quizizz adalah dapat diakses kapanpun dan dimanapun. Soal juga ditampilkan secara acak kepada siswa sehingga meminimalisir siswa berdiskusi tentang jawaban. Guru juga dipermudah karena tidak perlu mengoreksi jawaban siswa satu per satu karena media quizizz ini dapat mengoreksi jawaban siswa secara langsung. Media quizizz menyenangkan dan membuat siswa lebih semangat mengerjakan soal penilaian (Rajagukguk, 2020). Teknik Penilaian Portofolio Portofolio dinilai guru bersama siswa di akhir periode pembelajaran. Portofolio juga diserahkan kepada orang tua agar mengetahui perkembangan anaknya lalu diberikan lagi kepada guru kelas selanjutnya sebagai bukti autentik pembelajaran. Teknik penilaian portofolio adalah kumpulan penghargaan dan karya siswa pada File folder dalam beberapa waktu tertentu untuk mengetahui perkembangan siswa (Panduan Penilaian untuk SD, 2016). Beberapa hal yang dapat diamati sebelum menggunakan teknik penilaian portofolio sebagai berikut. 1. Hasil karya siswa tidak plagiat atau asli, tidak dibuatkan pula oleh orang lain (hasil tulisan atau karangan siswa, buku siswa maupun hasil penilaian harian siswa). 2. Guru dan siswa harus memiliki rasa saling percaya. 3. Hasil penilaian menjadi rahasia antara guru dan setiap siswa. 4. Hasil karya siswa menjadi milik bersama santara siswa dan guru. 5. Siswa memiliki rasa puas dengan hasil karyanya. 6. Penilaian sesuai dengan KD yang akan dicapai 7. Penilaian tidak hanya pada hasil, tapi juga proses siswa mengerjakan karya dan mengumpulkannya. 8. Penilaian portofolio ini tidak terpisah dari proses pembelajaran yang berlangsung. File folder adalah salah satu benda yang dapat digunakan untuk mengumpulkan hasil karya siswa untuk penilaian portofolio. File folder dapat diisi dengan prakarya siswa, hasil tulisan atau karangan siswa, buku siswa maupun hasil penilaian harian siswa. Kelebihan dari penilaian
76 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar portofolio ini adalah guru tidak hanya mendapatkan nilai ranah pengetahuan tetapi juga sikap dan keterampilan. Guru dan siswa dapat mengecek berulang kali hasil penilaian portofolio dan dapat dijadikan bahan perbaikan. PEMBAHASAN Pembahasan pada artikel ini menjawab tujuan penulis. Berdasarkan teori konseptual tentang media quizizz pada penilaian pembelajaran dan penggunaan teknik portofolio, berikut pembahasan pada artikel ini. Desain Penilaian Autentik dengan Media Quizziz dan Teknik Portofolio Media quizizz dapat dijelajahi melalui laman web quizizz.com tanpa menambah aplikasi lagi di HP dan tidak menambah memori, memiliki berbagai banyak fitur. Siswa dapat melihat soal secara langsung dan mandiri pada layar laptop ataupun HP-nya. Quizizz dapat dibuka melalui browser apapun pada laptop, komputer, hp, maupun tablet. Terdapat ribuan kuis dipublikasikan dan dapat dikerjakan siswa secara langsung. Guru juga mudah menggunakan media quizizz ini karena memiliki editor yang baik. Guru dapat membuat soal dan menambahkan gambar pada soal dengan mudah. Laporan kuis hasil pengerjaan siswa dapat otomatis ditampilkan secara terperinci maupun dicetak oleh guru, lalu dapat pula dikirimkan langsung ke orang tua siswa melalui alamat email. Guru juga dapat mengatur kuis sesuai tingkat kompetisi dan waktu pengerjaannya (Pusparani, 2020). Media quizizz membuat siswa termotivasi untuk menyelesaikan soal dengan tepat dan menarik perhatian siswa karena terdapat musik pengiring. Setelah mengerjakan soal juga muncul gambar ataupun meme untuk menyemangati siswa agar mengerjakan dengan tepat (Mulyati, S. dan Evendi, H., 2020). Berdasarkan uraian, media quizizz dapat membantu proses pembelajaran berjalan dengan baik khususnya pada penilaian pengetahuan. Kemudahan dalam menggunakan media quizizz ini perlu diperhatikan oleh guru. Guru dapat memberikan soal-soal penilaian pengetahuan secara bervariasi melalui media quizizz pada akhir pembelajaran, akhir subtema ataupun akhir tema. Pada artikel ini, penilaian pengetahuan dalam bentuk tes tertulis dibuat untuk penilaian
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 77 akhir semester gasal. Penilaian akhir semester gasal pada kelas II meliputi tema 1, 2, 3 dan 4. Berikut adalah akun sebagai guru pada media quizizz. Gambar 7.1 Akun Quizizz Sebagai Guru Penilaian KD-4 dilakukan dengan teknik portofolio. Guru menyusun secara teratur dan terarah untuk penilaian portofolio dengan tahapan menentukan tujuan, menentukan isi, membuat format penilaian, dan menentukan teknik pengamatan portofolio. Tahapan penilaian portofolio dapat dijabarkan sebagai berikut. 1. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang inti dari penilaian portofolio yang akan dilakukan. 2. Siswa bersama guru menentukan isi portofolio yang akan dikumpulkan dalam file folder, yaitu hasil keterampilan pada tema 1, 2, 3 dan 4 muatan pelajaran Bahasa Indonesia. (https://is.gd/QobHHK) 3. Siswa menyusun dan mengumpulkan hasil karyanya dalam file folder secara mandiri maupun dibimbing guru. 4. Siswa menyerahkan portofolionya kepada guru agar mendapatkan catatan yang disertai tanggal pengumpulan. 5. Siswa mendapatkan catatan tentang portofolionya dari guru kelas yang menilai dengan catatan anekdot dan lembar peniaian portofolio. Catatan anekdot dapat ditulis dengan tepat dan tidak terlalu luas dengan menentukan indikator sikap mengacu pada KI-1 dan KI-2.
78 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 6. Siswa menerima hasil penilaian dari guru. Jika terdapat waktu untuk membahas hasil penilaian, guru menjelaskan secara lisan kepada setiap siswa. 7. Umpan balik antara guru kepada siswa dalam penilaian portofolio ini perlu diperhatikan. Instrumen Kisi-Kisi dan Rubrik Penilaian Hasil Belajar Penilaian Akhir Semester Gasal Siswa Kelas II Media quizizz sebagai teknik penilaian pengetahuan siswa dapat dikembangkan dengan cara berikut. 1. Menganalisis Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi dasar yang digunakan adalah Kompetensi dasar di kelas II semester gasal dengan muatan pelajaran Bahasa Indonesia. 2. Kisi-kisi soal disusun sesuai dengan KD. Kisi-kisi soal diketik dalam word untuk panduan pembuatan soal. Kisi- kisi soal mengacu pada soal HOTS dan soal AKM. Kisi-kisi soal pengetahuan : https://is.gd/JcWQ42 Kisi-kisi soal keterampilan : https://is.gd/aIzW3S 3. Soal ditulis sesuai kisi-kisi dengan kaidah penulisan soal. Soal berjumlah 40 dengan 10 soal tiap tema dan menggunakan media quizizz. Siswa dapat mengerjakan soal dengan waktu yang ditentukan oleh guru maupun fleksibel sesuai pengaturan dari guru. 4. Pedoman penskoran atau rubrik penilaian disusun guru untuk melakukan penskoran pada setiap hasil pengerjaan siswa. Media quizizz dapat mengatur pedoman penskoran. Guru tidak perlu mengoreksi satu per satu, hasil pengerjaan siswa pada media quizizz dapat dilihat dan dicermati oleh guru. Hasil tersebut juga dapat diunduh dengan format excel. SIMPULAN Inovasi dalam pengambilan penilaian pembelajaran sangatlah diperlukan. Penilaian pembelajaran dilakukan secara menyeluruh, disebut dengan penilaian autentik. Inovasi penilaian autentik dapat dilakukan menggunakan media penilaian quizizz yang dapat diakses secara online untuk ranah pengetahuan dan teknik portofolio untuk ranah keterampilan.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 79 Ranah sikap dapat diambil ketika pengerjaan soal tes menggunakan quizizz dan pengumpulan portofolio dengan catatan anekdot. Instrumen kisi-kisi dan rubrik hasil belajar penilaian akhir semester gasal siswa kelas II dapat dikembangkan dengan empat langkah yaitu, menganalisis kompetensi dasar, kisi-kisi soal disusun berdasarkan KD, soal ditulis dengan kaidah penulisan soal serta sesuai dengan kisi-kisi, dan pedoman penskoran atau rubrik penilaian disusun untuk melakukan penskoran. DAFTAR PUSTAKA Ani, N. R. (2018). judul Implementasi Evaluasi Portofolio pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV di Mi Ma’arif Nu 01 Kalijaran Kecamatan Karanganyar Kabupaten Purbalingga. Skripsi, IAIN Purwokerto. Panduan Penilaian untuk Sekolah Dasar (SD). (2016). Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan. Buku Guru Dan Buku Siswa Kelas 2 Sekolah Dasar Semester 1 Tema 1, 2, 3, dan 4 Revisi 2017. Jakarta: Kemendikbud. Ekoati, E. S., Rakhman, F., Zulaeha, I., & Subyantoro. (2019). The Characteristics of Assessment Instrument Model In Learning Indonesian Language. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang, 20–21. Ekoati, E. S., Rakhman, F., Zulaeha, I., & Subyantoro. (2020). The Necessity of The Indonesian Language Authentic Assessment Model Development Based on The Teacher Interview Results. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 574. Khair, U. (2018). Pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra (BASASTRA) di SD dan MI. AR-RIAYAH : Jurnal Pendidikan Dasar, 2(1), 81-98. Kuntarto, E., & Gustina, R. (2019). Pelaksanaan Penilaian Portofolio Di Sekolah Dasar. Jurnal Gentala Pendidikan Dasar, 4(2), 190-200. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2018 Tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah. Purwati, P. D., Faiz, A., Widiyatmoko, A., Ngabiyanto., & Maryatul, S. (2020). Asesmen Kompentensi Minimum (AKM) kelas jenjang sekolah dasar sarana pemacu peningkatan literasi peserta didik. SOSIO RELIGI: Jurnal Kajian Pendidikan Umum, 19(1), 13–24.
80 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Pusparani, H. (2020). Media Quizizz Sebagai Aplikasi Evaluasi Pembelajaran Kelas VI di SDN Guntur Kota Cirebon Jurnal Pendidikan Dasar. Jurnal Tunas Nusantara, 2(2), 269-279. Rajagukguk, M. (2020). Inovasi Penilaian Pembelajaran Menggunakan Aplikasi Quizizz Pada Era Revolusi Industri 4.0. Prosiding Seminar Nasional PBSI-III. Supriyadi. (2013). Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Gorontalo: UNG Press Gorontalo. Zulaeha, I. (2020). Peran Bahasa Indonesia dan Pengajarannya Pada Era Merdeka Belajar. Prosiding Seminar Nasional PIBSI ke-42, 26–31.
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 81 PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KESANTUNAN DENGAN METODE METAKOGNITIF PADA TEMA 5 KELAS II SEKOLAH DASAR Muhammad Habib Ramadhani Program Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang [email protected] Abstrak Buku ajar yang berkualitas dapat dinilai berdasarkan standar tertentu atau kriteria tertentu, seperti adanya relevansi dengan kurikulum, kesesuaian antara metode dengan topik pembelajaran, serta isi buku. Tapi kenyataan menunjukkan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu dikritisi pada buku ajar materi Bahasa Indonesia yang digunakan, sehingga diperlukan adanya sebuah inovasi pembelajaran sebagai alternatif solusi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan analisis kritis kesesuaian materi ajar Bahasa Indonesia buku Kelas II Sekolah Dasar Tema 5 Pengalamanku dengan Standar Isi, ditemukan kenyataan bahwa secara umum, masih banyak diksi dan konteks yang perlu diperbaiki. Selanjutnya, disusun sebuah desain sintaks pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kesantunan dengan metode metakognitif. Berdasarkan teori-teori yang telah dikaji, pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kesantunan dengan metode metakognitif secara teoritis dapat menjadi alternatif solusi yang dapat diterapkan di kelas II Sekolah Dasar, khususnya pada materi Bahasa Indonesia Tema 5 Pengalamanku. Kata kunci: buku ajar, prinsip kesantunan, metakognitif Bagian 8
82 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar PENDAHULUAN Kurikulum 2013 menggunakan pembelajaran berbasis teks untuk materi ajar Bahasa Indonesia, baik berupa bahasa tulis, maupun bahasa lisan dan visual. Pembelajaran ini idealnya diawali dengan pemahaman, pengolahan, mendiskusikan, mengubah, dan memproduksi teks. Oleh karena itu, bahasa bukan sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan pengembangan kemampuan berpikir bagi peserta didik (Lestari dan Mulyani 2016). Materi ajar Bahasa Indonesia membutuhkan kemampuan komunikasi dan interaksi. Diperlukan kemampuan bahasa yang baik agar proses penyampaian mudah dimengerti. Sehingga, berbahasa dengan baik dalam berkomunikasi menjadi keharusan setiap individu. Kurikulum 2013 telah menyediakan buku ajar sebagai sumber belajar. Mulyasa (2014) mengemukakan bahwa buku menjadi salah satu sumber primer pada proses pembelajaran di lingkungan sekolah. Buku ajar tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya penerapan Kurikulum 2013 (Permendikbud No. 71 Tahun 2013 Pasal 1 Ayat 1). Namun demikian, buku yang disediakan oleh pemerintah juga memiliki kekurangan, baik dari konten isi buku yang disediakan tersebut maupun dari segi implementasi pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah, khususnya sekolah dasar. Masih banyak diksi yang perlu dikritisi terkait buku ajar yang disediakan. Menurut penelitian yang dilakukan Winiati, dkk. (2020) ditemukan beberapa ketidaksesuaian antara capaian kompetensi dalam pemetaan KD dengan buku ajar yang digunakan. Sementara itu, dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia, umumnya guru lebih banyak berpaku pada buku ajar tanpa mengaitkan kehidupan sekitar, dimana hal tersebut menciptakan pembelajaran yang cenderung bersifat top-down (Rahmawati, 2014). Sehingga, pemilihan buku ajar dan pemilihan metode pembelajaran merupakan salah faktor yang penting diperhatikan sebagai penunjang keberhasilan proses pembelajaran. Buku ajar harus relevan dengan kurikulum, dan metode pembelajaran harus sesuai dengan topik pembelajaran, serti memiliki relevansi antara teori yang digunakan di dalam buku ajar. Berdasarkan beberapa uraian tersebut, maka penulis melakukan analisis kritis pada buku ajar berdasarkan kompetensi yang diharapkan
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 83 oleh kurikulum 2013. Setelah melakukan analisis kritis terhadap buku ajar kelas II SD tema 5, penulis dapat merancang suatu inovasi dalam pembelajaran. Sehingga, artikel ini bertujuan untuk menganalisis relevansi buku ajar dengan Standar Isi dan mengembangkan sebuah metode pembelajaran, yaitu pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kesantunan dengan metode metakognitif kelas II SD Tema 5 Pengalamanku. TEORI KONSEPTUAL Pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kesantunan dengan metode metakognitif merupakan sebuah inovasi yang diharapkan dapat menjadi alternatif metode pembalajaran di kelas II SD tema 5. Kajian ini didukung oleh kajian Rohamdi (2016) dan Werdiningsih (2015). Berdasarkan hasil kajian Rohmadi (2016) diperoleh hasil yaitu penerapan pragmatik dan prinsip kesantunan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan hardskill dan softskill. Sementara itu hasil kajian yang dilakukan oleh Werdiningsih (2015) pada siswa SD di kota dan kabupaten Malang menunjukkan bahwa penggunaan strategi metakognitif memiliki interkorelasi satu dengan lain (r= 0,980, p<p0,05) dengan belajar keempat keterampilan berbahasa Indonesia. Adapun pengembangan metode pembelajaran tersebut didasarkan pada ruang lingkup pembelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas II pada tema 5. Ruang Lingkup Pembelajaran Bahasa Indenesia SD Kelas II Ruang lingkup materi Bahasa Indonesia kelas II tema 5 Pengalamanku mengacu pada Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018. Tabel 8.1 Kompetensi Dasar Materi Bahasa Indonesia Kelas II Tema 5 Pengalamanku KD (Aspek Pengetahuan) KD (Aspek Keterampilan) 3.5 Mencermati puisi anak dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah melalui teks tulis dan lisan 4.5 Membacakan teks puisi anak tentang alam dan lingkungan dalam bahasa Indonesia dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat sebagai bentuk ungkapan diri 3.6 Mencermati ungkapan permintaan maaf dan tolong melalui teks tentang budaya santun 4.6 Menyampaikan ungkapanungkapan santun (menggunakan
84 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar sebagai gambaran sikap hidup rukun dalam kemajemukan masyarakat Indonesia kata “maaf”, “tolong”) untuk hidup rukun dalam kemajemukan Buku Ajar Menurut Zulaeha (2013) pembelajaran pada materi Bahasa Indonesia berorientasi meningkatkan kemampuan komunikasi yang baik dan tepat (secara lisan maupun tulis), selain itu pembelajaran harus mendorong siswa untuk mengapresiasi hasil karya kesastraan manusia. Namun, kualitas pembelajaran khususnya materi Bahasa Indonesia, umumnya bergantung pada buku ajar. Penggunaan buku ajar sebaiknya mempertimbangkan beberapa alasan, antara lain: kebutuhan guru dan siswa, menarik, tersusun secara realistik, bukan memperbudak guru, apalagi membatasi kreativitas guru (Mudzakir, 2010). Oleh karena itu, Guru perlu memiliki sikap kritis dalam memilih dan menyusun buku ajar, serta mampu mengaplikasikan di kelas secara kreatif. Prinsip Kesantunan Berdasarkan ruang lingkup materi Bahasa Indonesia Kelas II Tema 5 Pengalamanku, dapat ditarik simpulan bahwa materi Bahasa Indoensia, Buku ajar Kelas II Tema 5 Pengalamanku, berorientasi pada materi puisi dan sikap santun. Sehingga, salah satu pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mendukung pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II tema 5 Pengalamanku adalah penggunakaan prinsip-prinsip kesantunan. Hal ini diperkuat oleh kajian Rohmadi (2016) bahwa pragmatik dan prinsip kesantunan dapat diterapkan dalam pembelajaran. Pembahasan tentang prinsip kesantunan, tidak lepas dari kajian pragmatik. Sebab, dalam pembahasan tentang prinsip kesantunan erat kaitannya dengan maksud dari tindak turur. Pragmatik merupakan kajian tentang maksud di balik tuturan seorang (Rohmadi, 2014). Hal tersebut sejalan dengan Subroto (2011) yang menambahkan bahwa pragmatik cenderung membahas tentang “arti” atau “maksud.” Berdasarkan teori tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pragmatik berhubungan dengan kesantunan berbahasa. Pendekatan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar dapat diterapkan dengan berbagai macam tindak tutur, baik secara langsung
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 85 maupun tak langsung. Empat keterampilan yang menjadi unsur penting dalam pembelajaran bahasa indoensia antara lain: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keberadaan penutur dan mitra tutur merupakan faktor penentu proses tindak tutur yang baik. Dalam tindak tutur, prinsip kesantunan menjadi hal penting yang perlu sebagai faktor keharmonisan interaksi. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Rusminto (2015) bahwa prinsip kesantunan berfungsi untuk menjaga keseimbangan interaksi sosial dan keramahan hubungan dalam percakapan. Adapun prinsip kesantunan dibagi menjadi beberapa maksim oleh Leech (dalam terjemahan Oka dan Setyapranata, 2011) antara lain: maksim kearifan (tact maxim), maksim kedermawanan (generosity maxim), maksim pujian/kemurahan (approbation maxim), maksim kerendahan hati (modesty maxim), maksim kesepakatan (agreement maxim), dan maksim simpati (sympathy maxim). Metakognitif Metakognitif merupakan kemampuan membentuk kesadaran kognitif, yaitu tentang cara kerja kognitif dan mengatur kognitif tersebut (Siregar, 2017). Yenti menambahkan bahwa metakognitif merupakan kesadaran seseorang terhadap kemampuan yang dimiliki, mulai dari proses memahami, kemudian mengontrol, hingga memanipulasi proses kognitif yang dimiliki (Yenti, dkk., 2012). Hal tersebut senada dengan Kramarski dan Zoldan (dalam Nurasyiyah, 2014) yang menyatakan bahwa pembelajaran metakognitif adalah pembelajaran dengan cara penanaman kesadaran untuk merancang, memonitor, dan mengontrol apa yang diketahui, serta bagaimana mengerjakannya (Nurasyiyah, 2014). Kegiatan metakognitif diawali dengan perencanaan, selanjutnya melakukan monitoring, kemudian memeriksa hasil. Sementara itu, metakognitif tersebut muncul melalui empat situasi kegiatan, antara lain: (1) siswa menjustifkasi suatu kesimpulan dan mempertahankan sanggahan; (2) merumuskan pertanyaan ketika mengahadapi permasalahan; (3) siswa membuat kesimpulan, mempertimbangkan dan mengambil keputusan yang tepat dimana hal tersebut memerlukan kehati-hatian ketika mengatur proses kognitifnya; dan (4) ketika siswa mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah juga dapat
86 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar memunculkan metakognitif (Ramadhani, 2020). Berdasarkan teori terebut, indikator kegiatan metakognitif dapat dilihat dari beberapa kegiatan, yaitu: mengeksplorasi dan merencanakan, menemukan cara untuk menyelesaikan masalah, serta memonitor dan mengevaluasi. PEMBAHASAN Analisis kritis dilakukan pada buku tematik terpadu Kelas II SD Tema 5 Pengalamanku Kurikulum 2013, yang diterbitkan oleh Kemendikbud Republik Indonesia. Analisis yang dilakukan mengacu pada Kompetensi Dasar Pengetahuan 3.5, 3.6 dan Kompetensi Dasar Keterampilan 4.5, 4.6 materi ajar Bahasa Indonesia yang diturunkan dari Standar Isi. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, ditemukan beberapa ketidaksesuaian antara buku tematik terpadu Kelas II SD Tema 5 Pengalamanku dengan Kompetensi Dasar. Halaman 2 dan 5 pada buku siswa tentang ilustrasi gambar “mengganti jam di ketinggian.” Bagi siswa kelas II SD, mengganti jam dinding yang tinggi menggunakan tangga cukup berisiko, sehingga lebih baik diganti ilustrasi menjadi “Ibu yang meminta tolong kepada anak untuk membelikan sesuatu di warung.” Sedangkan untuk poin minta maaf bisa diletakkan pada kondisi ketika anak salah membelikan bahan karena lupa. Dengan demikian, maksim kearifan dan maksim kerendahan hati tetap terpenuhi. Halaman 16 buku siswa tentang contoh ilustrasi, terdapat kalimat “Guci rebah dan hampir menyentuh lantai.” Kata rebah cenderung kurang familiar bagi anak, lebih baik diganti menjadi jatuh. Dalam hal ini, sebagiknya mempertimbangkan maksim kearifan untuk mengurangi kerugian kepada orang lain. Dimana pemahaman yang sulit akan melanggar maksim kearifan pada prinsip kesantunan. Halaman 24 buku siswa tentang percakapan pada ilustrasi, terdapat kalimat “Maafkan Beni, Kak! Beni sudah mengganggu. Kakak belajar terganggu oleh Beni.” Kalimat tersebut kurang lugas, sebagiknya diganti menjadi “Maafkan Beni, Kak! Karena Beni sudah mengganggu kakak.” Halaman 34 buku siswa tentang percakapan pada ilustrasi yang membahas tentang puisi. Terdapat pernyataan dari kakak: “Puisi ditulis dalam bentuk bait. Bait terdiri atas baris-baris. Bukan puisi bila bentuknya paragraf. Banyak barisnya tidak ditentukan. Pilihan kata dalam puisi kias,
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 87 padat, dan indah.” Dalam kontek menjelaskan puisi kepada anak kelas II SD, perlu diberikan penegasan kepada anak SD kelas II tentang maknamakna tersebut, sebab anak kelas II SD belum tentu memahami dengan baik makna bait, paragraf, dan kias. Halaman 40 buku siswa tentang tugas menjawab pertanyaan. Terdapat soal perintah “Sebutkan kata yang baik pada puisi tersebut!” Hal tersebut perlu diperjelas tentang kata baik yang dimaksud tersebut, atau diganti dengan kata indah atau bagus bila ingin menggambarkan keindahan. Halaman 42 tentang gambar terdapat inkonsistensi materi. Sebaikanya urutan materi yang dibahas disususn lebih sistematis. Halaman 76 tentang percakapan Beni dalam ilustrasi gambar. Beni mengatakan “Kamu dapat menggunakan untuk kerja gotong-royong.” Dalam percakapan tersebut, kata “Kamu” yang dimaksud itu ambigu, apakah ditujukan kepada teman atau guru? Jika itu ditujukan kepada guru sepertinya terkesan kurang sopan. Hal tersebut melanggar maksim kearifan. Secara umum, penyajian puisi pada buku Tema 5 kelas II ditemukan beberapa contoh puisi yang diadopsi dari sebuah lagu (seperti pada halaman 152 dan lainnya). Hal tersebut menimbulkan ketidakcocokan antara syair dengan intonasi puisi. Tidak semua lagu dapat dibaca dengan intonasi puisi. Berdasarkan analisis kritis terhadap buku ajar Kelas II SD Tema 5 Pengalamanku, ditemukan kenyataan bahwa secara umum masih banyak diksi yang perlu diperbaiki agar tujuan Kompetensi Dasar yang diharapkan dapat terwujud. Apabila mengacu pada Kompetensi Dasar 3.5 dan 3.6, serta kajian teori tentang prinsip kesantunan dan metakognitif, maka salah satu alternatif yang diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II SD Tema 5 Pengalamanku adalah penerapan metode metakognitif dengan prinsip kesantunan. Metode metakognitif dengan prinsip kesantunan merupakan pembelajaran dengan menggunakan metode metakognitif yang diintegrasikan prinsip kesantunan ke dalam langkah-langkah pembelajaran metakognitif. Intergrasi prinsip-prinsip kesantunan ke dalam metode metakognitif dapat melalui dua hal, yang pertama dari materi yang disesuaikan dengan prinsip kesantunan, atau penerapan
88 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar prinsip kesantunan dalam proses komunikasi dalam pembelajaran. Proses pembelajaran menggunakan metode metakognitif dengan prinsip kesantunan memperbanyak interaksi komunikasi. Menurut Ariyanti dan Zulaeha (2017) pola komunikasi interaksi dalam kegiatan pembelajaran memiliki pengaruh yang baik kepada siswa. Adapaun langkah-langkah metode metakognitif dengan prinsip kesantunan dapat dilihat pada gambar 11.1 tentang contoh desain pendekatan metakognitif dengan prinsip kesantunan. Gambar 8.1. Contoh Desain Pendekatan Metakognitif dengan Prinsip Kesantunan (Materi Bahasa Indonesia Kelas II SD Tema 5 Pengalamanku Subtema 1 Pengalamanku di Rumah Pembelajaran 1) Inovasi pembelajaran ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi siswa melalui metode metakognitif dengan prinsip kesantunan. Hal ini diperkuat oleh hasil kajian Werdiningsih (2015) yang menemukan bahwa terdapat interkorelasi positif antara penggunaan strategi metakognitif dalam belajar keempat keterampilan berbahasa Indonesia (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis). Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan Rohmadi (2016) bahwa penerapan pragmatik dan prinsip kesantunan dalam pembelajaran Mengamati Siswa diarahkan untuk menyimak dan mendengarkan teks percakapan antara Beni dan Ibunya. Contoh Teks yang disajikan Guru pada pembelajaran 1 Ibu : “Beni, Ibu ingin memasak tapi ada bumbu yang kurang, Nak!” Beni : “Ya, Bu! Bumbu apa yang kurang, Bu!” (Beni berkeinginanan untuk membelikan) Maksim Kearifan Ibu : “Maukah Beni membelikan Ibu bumbu di warung?” Beni : “Mau, Bu! Bumbu apa, Bu?”. Maksim Kesepakatan Ibu : “Kemiri dan ketumbar ya, Nak!” Beni : “Ya, bu!” Saat kembali ternyata yang dibeli Beni adalah merica dan kemiri Ibu : “Wahh, ini merica anak, bukan ketumbar.” Beni : “Maafkan Beni, Bu! Beni keliru, sehingga Beni salah beli.” Maksim kerendahan hati Ibu : “Ya, Nak! Kedepannya, Beni harus lebih fokus lagi ya! Terimakasih sudah membelikan Ibu bumbu. Maksim kemurahan Siswa diminta menuliskan kata maaf sesuai dengan kemampuan masing-masing Siswa bertanya Stimulus Metakognitif: -Perencanaan -Penentuan Strategi -Evaluasi Dalam Setiap interaksi, guru menciptakan suasana interaksi dengan bahasabahasa yang santun sesuai dengan prinsip kesantunan
Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar 89 Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan hardskill dan softskill. Berdasarkan kedua kajian yang relevan tersebut, maka secara teoritis pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kesantunan dengan metode metakognitif dapat diterapkan di kelas II Sekolah Dasar khususnya pada pembelajaran Bahasa Indonesia Tema 5. SIMPULAN Berdasarkan analisis pada buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Kelas II SD Tema 5 Pengalamanku yang diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menunjukkan bahwa terdapat beberapa konten yang tidak sesuai dengan standar Isi, baik dari konteks materi maupun struktur penulisan. Selain itu, pengembangan metode pembelajaran dilakukan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, khususnya pada aspek kesantunan. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, secara teoritis, pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kesantunan dengan metode metakognitif, dapat menjadi alternatif metode pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas II SD tema 5 pelajaran Bahasa Indoensia. DAFTAR PUSTAKA Ariyanti, L. D., & Zulaeha, I. (2017). Tindak tutur ekspresif humanis dalam interaksi pembelajaran di sma negeri 1 batang: Analisis wacana kelas. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 6(2), 111-122. Ramadhani, M. H., Caswita, C., & Haenilah, E. Y. (2020). Efektivitas Model Problem Based Learning Bersasis Metakognitif Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 4(2), 1064-1071. Kemendikbud. (2013). Permendikbud Nomor 71 Tahun 2013 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Buku Teks Pelajaran dan Buku Panduan Guru untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud --------------. (2018). Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud Oka, M.D.D. & Setyapranata, Setyadi. (2011). Prinsip-prinsip pragmatik (terjemahkan Karya Leech, G.N) Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
90 Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II Sekolah Dasar Lestari, Retno Dwi, Mimi Mulyani, dan Subyantoro. (2016). Pengembangan Model Pembelajaran Induktif dengan Media Gambar Seri yang Bermuatan Nilai Karakter untuk Meningkatkan Kompetensi Menulis Paragraf Peserta Didik Kelas III. Lingua, XII (1), 53-62. Mudzakir, A. S. (2010). Penulisan Buku Teks yang Berkualitas. Tersedia: online http://file.upi.edu. Mulyasa, E. (2014). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013: Perubahan dan Pengembangan Kurikulum 2013 Merupakan Persoalan Penting dan Genting. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nurasyiyah, Desy Ayu. (2014). Pendekatan Metakognitif Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Pencapaian Kemampuan Koneksi Dan Pemecahan Masalah Matematik Siswa SMA. JPM. Volume 6. Nomor 2. Halaman 115-125. Rahmawati, F. P., Magrifiani, U., & Noviati, M. D. A. (2014). Pembelajaran Bahasa Indonesia Yang Berkarakter, Aktif, Dan Menyenangkan di SD Muhammadiyah 10 Surakarta. Profesi Pendidikan Dasar, 1(1), 71- 77. Rohmadi, M. (2014). Kajian Pragmatik Percakapan Guru & Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Paedagogia, 17(1), 53-61. -------------. (2016). Implementasi Pembelajaran Pragmatik dan Prinsip Kesantunan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Profesi Pendidik, 3(2), 194-202. Rusminto, Nurlaksana Eko. (2015). Analisis Wacana Kajian Teoritis dan Praktis. Yogyakarta: Graha Ilmu. Siregar, N. (2017). Pendekatan Metakognitif Berbasis Masalah sebagai Pembelajaran Matematika. REKOGNISI: Jurnal Pendidikan Matematika, 2(2), 1–20. Subroto, Edi. 2011. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik (Buku 1, Pengantar Studi Semantik). Surakarta: Cakwala Media. Werdiningsih, D. (2015). Strategi Metakognisi Pembelajar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 34(1), 107-117. Winiarti, H. (2020). Analisis Kesesuaian Buku Teks Kelas II Sekolah Dasar (SD) dengan Kurikulum 2013. Spektrum Penelitian Pendidikan Dasar, 2(1), 9-15. Yenti, I. N., Afriyani, D., & Herawati, S. (2012). Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Penampilan Diri Berbasis Metakognisi untuk Statistika Elementer. Ta’dib, 15(2), 107-179. https://doi.org/10.31958/jt.v15i2.229 Zulaeha, I. (2013). Pengembangan model pembelajaran keterampilan berbahasa indonesia berkonteks multikultural. Litera, 12(1), 97-105.