The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini adalah buku panduan untuk guru PAUD untuk mengembangkan strategi pembelajaran karakter religius anak usia dini

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by atitaufiknur, 2021-12-12 08:06:50

Pengembangan Karakter Religius Anak Usia dini melalui Model Pembelajaran Konstruktif Berbasis Qur'ani

Buku ini adalah buku panduan untuk guru PAUD untuk mengembangkan strategi pembelajaran karakter religius anak usia dini

Keywords: Buku Panduan guru PAUD

Ringkasan Buku

Buku ini berisi tentang beragam teori yang mendasari tentang

pendidikan anak usia dini dan memfokuskan pembahasan pada

aspek perkembangan nilai-nilai agama dan moral terutama

Foto membangun karakter religius anak. Konsep karakter terbentuk
Penulis dari proses pendidikan dengan dukungan orang dewasa di
dalam proses stimulasi tersebut. Dalam buku ini dijabarkan

secara rinci tentang bagaimana mengembangkan dan

membangun karakter religius anak melalui model pembelajaran

Dra. Mulyati, M.Pd konstruktif dengan tahapan pemahaman, pemecahan masalah,

eksplorasi dan dilengkapi dengan contoh strategi pengembangan

dan materi serta kegiatan belajarnya. Buku ini merupakan

acuan untuk guru tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk

para orang tua dalam mengajarkan anaknya di rumah.

Semoga buku ini mampu menjawab pertanyaan tentang tahapan

pembelajaran yang tepat untuk anak usia dini dalam

mengembangkan karakter religius.



Pengembangan Karakter Religius
Anak Usia Dini melalui Model
Pembelajaran Konstruktif
berbasis Qur’ani

Penulis :
Dra. Mulyati, M.Pd

Penelaah Ahli :
1. Dr. Tjipto Sumadi, M.Si, M.Pd

2. Dr. Elindra Yetti, M.Pd
3. Prof Dr. Aziz Fahrurrozi, M.A
4. Prof. Dr. Zainun Kamal, M.A

5. Prof Dr. Fasli Djalal, Ph.D
6. Dr. Moch. Sukardjo, M.Pd

7. Dr. Rusmono, M.Pd

No. HAKI : 000232475





KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas selesainya pembuatan
buku panduan untuk guru berjudul “ Pengembangan Karakter Religius Anak Usia
Dini melalui Model Pembelajaran Konstruktif Berbasis Qur’ani” pada tahun
2020. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW
yang dengan bimbinganNya kita dapat menikmati manisnya iman dan Islam.

Panduan ini, merupakan penjabaran dari rancangan model pembelajaran baru
yang memberikan pencerahan tentang pengembangan karakter religius pada anak
usia dini dengan model pembelajaran konstruktif berbasis Qur’ani. Buku panduan
ini merupakan hasil dari disertasi penelitian dan pengembangan dengan judul
yang sama yang dilakukan oleh mahasiswa program Doktor pada program studi
Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta. Kajian yang cukup
mendalam atas fenomena tentang minimnya kreativitas guru dalam
mengembangkan model pembelajaran khususnya untuk pengembangan karakter
religius pada aspek pengembangan nilai-nilai agama dan moral anak usia dini
yang terpaku hanya kepada pembiasaan belaka. Selain itu kompetensi dasar nilai-
nilai agama dan moral yang dijabarkan pada kurikulum PAUD tahun 2013 lebih
sedikit dibandingkan dengan kompetensi dasar aspek perkembangan lainnya
seperti kognitif dan bahasa. Buku ini berisi tentang tahapan-tahapan pengembangan
pembelajaran yang dapat membantu guru mengembangkan strategi pembelajaran
yang disertai juga dengan acuan indicator yang dapat dikembangkan secara luas.
Keistimewaan dari buku ini adalah adanya contoh-contoh kongkrit yang bisa
diintegrasikan di setiap tema pembelajaran yang sudah berjalan dan juga contoh
RPPM dan RPPH yang disesuaikan dengan model pembelajaran yang ada di
lembaga. Ada 3 contoh RPPH yaitu RPPH yang dirancang sesuai dengan tahapan
konstruktif, RPPH sesuai dengan format STEAM dan RPPH satu halaman.

Tentunya, naskah dalam buku panduan ini ini telah dikaji secara mendalam,
walaupun tidak lepas dari kekurangan. Kedepan, perlu adanya buku panduan
baru yang juga mengembangkan model pembelajaran baru dengan aspek
pengembangan lainnya.

Wassalamualaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh

Jakarta, 12 September 2020

Penulis

Dra. Mulyati, M.Pd

ii

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kepada promotor Dr. Tjipto Sumadi, M,Si, M.Pd dan
Dr. Elindra Yetti, M.Pd selaku Co promotor yang telah membimbing penulis
hingga buku panduan ini bisa berada di sini saat ini. Dan tak lupa ucapan
yang tak terhingga kepada suami tercinta Drs. H. Achmad Taufik Nuh serta
anak-anakku terkasih Hj. Nadya Qudsiyyah Taufik Ch, AmD, Nizar Azmi,
Nawwal Maulida Fitria dan Nizaamul Haqq Ramadhan yang mendukung
dengan sepenuhnya atas buku ini serta pihak-pihak terkait lainnya. Semoga
buku ini bisa bermanfaat bagi pengembangan kompetensi para guru di
Indonesia. Adapun keberadaan buku ini masih jauh dari sempurna. Kami
akan sangat menghargai komentar dan saran dari para peninjau mengenai
isi dan penyususnan buku ini. Masukan yang bermanfaat sangat penulis
harapkan. Atas perkenannya saya ucapkan terima kasih.

Penulis

iii

DAFTAR ISI

PENGANTAR .............................................................................................. i
UCAPAN TERIMA KASIH ......................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
PENDAHULUAN ........................................................................................ iv

BAB I KARAKTER RELIGIUS DENGAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM 1
a. Konsep Karakter ........................................................................... 1
b. Religius sebagai sebuah Kebutuhan Hidup .................................. 5
c. Konsep Karakter Religius dengan Pendidikan Islam.................... 10

BAB II HAKIKAT PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN PADA
ANAK USIA DINI DARI BERBAGAI KAJIAN ILMU SEBAGAI
DASAR PEMBENTUKAN KARAKTER........................................ 12
a. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini ........................ 12
b. Karakteristik Perkembangan anak usia dini dari berbagai kajian ilmu 16
c. Dipandang dari segi ilmu Agama .................................................. 16
d. Dipandang dari segi Ilmu Psikologi .............................................. 25
e. Langkah-langkah simulasi perkembangan .................................... 39

BAB III MODEL PEMBELAJARAN PENGEMBANGAN KARAKTER 47
a. Hakikat Model Pembelajaran ....................................................... 47
b. Konsep Pengembangan Model ..................................................... 48
c. Jenis model pembelajaran ............................................................. 49
d. Model pembelajaran Konstruktivis dan model Pembelajaran
konstruktiv berbasis Qur’ani ........................................................ 52
Metode Pembiasaan ................................................................ 57
Metode Pemberian penghargan ............................................... 59
Metode Pemberian Hukuman ................................................. 60
Metode Ceramah ..................................................................... 61
Metode Tanya Jawab ............................................................... 62
Metode Kisah............................................................................ 63
Metode Pemberian Tugas ........................................................ 63
Metode Karyawisata ............................................................... 64
Metode Training /Latihan ....................................................... 66
Metode Sosiodrama/ Bermain Peran ...................................... 66
Metode Demonstrasi ............................................................... 67
e. Prosedur Model Pembelajaran Konstruktiv Berbasis Qur’ani ..... 68
f. Pengertian Strategi Pembelajaran.................................................. 69
g. Metode Pembelajaran…................................................................ 70

iv

PENDAHULUAN

Buku ini menyajikan beberapa pembahasan beberapa ahli anak usia dini dari
bebagai latar belakang, akademisi dari pendidikan tinggi, para psikolog, guru,
kepala sekolah dan pemimpin sekolah anak usia dini. Buku ini membahas tentang
filosofi model pembelajaran untuk anak usia dini yaitu konstruktivis yang
dimodifikasi dengan konsep Al Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam. Buku
ini terbagi 3 BAB yaitu :

BAB 1
Bagian 1 membahas tentang karakter sebagai wujud dari potensi diri
manusia.Karakter yang melekat merupakan proses panjang perjalanan pendidikan
anak yang dialami dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan
masyarakat. Secara keseluruhan pembahasan pada bagian ini merupakan
pembahasan tentang karakter yang diharapkan tumbuh pada manusia baik ketika
masih anak-anak maupun ketika dewasa. Karakter yang ditekankan pada bagian
ini adalah karakter religius serta konsep dasar pembentukan karakter melalui
ajaran Islam disertai dengan dalil-dalil dari Al Qur’an maupun hadist .Bab ini
juga memberikan perspektif tentang karakter sebagai tuntutan perkembangan
potensi diri karena manusia yang berkarakter merupakan generasi yang mampu
menjadi penerus bangsa.

BAB 2
Bab 2 menyajikan tentang pembentukan karakter dipandang dari hakikat
perkembangan dan pertumbuhan pada anak usia dini dari berberapa kajian ilmu,
faktor-faktor yang mempengaruhinya baik dari kajian ilmu agama, ilmu psikologi,
ilmu kesehatan, ilmu gizi dan langkah-langkah simulasi perkembangannya .

BAB 3
Bab 3 ini menjelaskan tentang model pembelajaran serta hakikat model
pembelajaran dengan langkah-langkah pengembangannya yang mampu
menumbuhkembangkan karakter, khususnya pada model pembelajaran konstruktivis
dan model konstruktif berbasis Qur’ani disertai dengan ragam-ragam metode
pembelajarannya dalam ajaran Islam dan juga jabaran implementasi model
pembelajaran dimulai dengan menyusun strategi pembelajaran, penjabaran
indikator standar tingkat pencapaian perkembangan anak dengan uraian tema,
materi dan media serta kegiatan pembelajarannya. Contoh yang diambil adalah
untuk anak usia 5-6 tahun. Bab ini adalah pengembangan program pembelajaran
konstruktif dengan modifikasi rencana pembelajaran berisikan tetang pembelajaran
konstruktif dengan modifikasi rencana pembelajaran berisikan tetang pengembangan
karakter religius yang dilakukan dengan tahapan pembelajaran menyusun RPPM,
RPPH dengan 3 variasi Rencana Pembelajaran harian yang sesuai.

v

TIU 1
Setelah mempelajari bab I ini diharapkan pembaca mampu membedakan tentang
karakter, religius dan karakter religius serta konsep dasar pendidikan Islam

Tujuan Instruksional Khusus
1.1. Menjelaskan arti karakter dan perbedaannya dengan moral
1.2. Menjelaskan religius dipandang sebagai sebuah kebutuhan dalam kehidupan
1.3. Menjelaskan karakter religius
1.4. Memadukan pembelajaran karakter religius dalam konsep pendidikan

Dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003, tentang UUSPN pasal 3
dijelaskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Pasal 1UU tersebut
juga menjelaskan bahwa pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara” (Depdiknas, 2003:3).

Undang-undang yang dicanangkan diatas merupakan sebuah kebutuhan dasar
bagi bangsa mengingat bangsa harus memiliki jati diri yang harus dipertahankan
agar bangsa tersebut ingin bertahan hidup. Dalam undang–undang tersebut hal
yang menjadi prioritas adalah pendidikan karakter. Proses pendidikan merupakan
proses pembentukan karakter yang dilakukan secara sadar dan terencana. Hal
tersebut dilakukan di dalam lingkungan yang mampu merangsang pembentukan
karakter oleh anak didik dengan baik. Dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan
juga tuntutan dari proses pembelajaran.

Menurut kamus Bahasa Indonesia pengertian karakter adalah tabiat; sifat-
sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan
yang lain; watak; berkarakter mempunyai tabiat; mempunyai kepribadian; berwatak.

1

Keadaan ini menunjukkan bahwa manusia yang berkarakter adalah manusia yang
mampu menunjukkan sifatnya tanpa instruksi dan juga tanpa perintah karena
dilakukan secara spontan.

Karakter adalah aplikasi terhadap nilai-nilai yang dipahami, diyakini dan
berlaku dalam masyarakat. Pengaplikasian terhadap nilai yang berupa perilaku
diyakini merupakan kayakinan terhadap pengetahuan, pengalaman, pemahaman
dan juga kebenaran terhadap nilai tersebut. (Mudlofir & Mudlofir, 2013). Konsep
karakter dalam hal ini merupakan perwujudan pemahaman terhadap nilai-
nilai,diyakini kebenaran terhadap nilai-nilai tersebut dan diwujudkan dalam
perilaku yang menetap sehingga menjadi kebiasaan yang tidak akan luntur
diterjang oleh waktu.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang
terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan
digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.
( Soedijarto, 2013 ). Karakter terwujud atas adanya keyakinan terhadap nilai-
nilai yang menjadi dasar untuk berbuat baik melalui perkataan maupun perbuatan.

Maskawih (1994:56) berpendapat bahwa karakter merupakan keadaan jiwa.
Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa dipikir atau dipertimbangkan
secara mendalam. Keadaan ini ada dua jenis: (1) alamiah dan bertolak dari watak,
misalnya pada orang yang gampang sekali marah karena hal yang paling kecil,
atau yang takut menghadapi insiden yang paling sepele, tertawa berlebihan hanya
karena suatu hal yang amat sangat biasa yang membuatnya kagum; (2) tercipta
melalui kebiasaan dan latihan. Pada mulanya keadaan ini terjadi karena
dipertimbangkan dan dipikirkan, namun kemudian melalui praktek terus menerus,
menjadi karakter.1

Thomas Lickona mengatakan karakter adalah kepemilikan akan” hal-hal
yang baik “. Sebagai orang tua dan pendidik, tugas kita adalah mengajar anak-
anak dan karakter adalah apa yang termuat di dalam pegajaran kita2. Karakter
berkaitan dengan konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling)
dan perilaku moral (moral behavior). Ketiga komponen itu dapat disederhanakan
dengan kalimat mengetahui, merasakan dan melakukan. Dalam gambar bisa
diilustrasikan sebagai berikut3 :

1 Maskawih. 1994. Menuju Kesempurnaan Akhlak.
Bandung: Mizan.

2 Thomas Lickona; Character Matters;
Jakarta,PT Bumi Aksara 2012 hlm 13

3 Thomas Lickona ibid hlm

2

components of good caharacter

MORAL KNOWING MORAL FEELING
1. Moral Awareness 1. Consciense
2. Knowing moral values 2. Self-esteem
3. Perspective-taking 3. Empathy
4. Moral reasoning 4. Loving the good
5. Decision-making 5. Self-control
6. Self-knowledge 6. Humanity

MORAL ACTION
1. Competense
2. Will
3. Habit

Dalam pidato terkenalnya “ I Have a Dream “, Martin Luther King, Jr,
berkata bahwa dia bermimpi datangnya hari ketika semua orang Amerika’ akan
dinilai bukan oleh warna kulit mereka tetapi oleh karakter mereka “ Apa isi dari
karakter ?. Isi dari karakter yang baik adalah kebaikan. Kebaikan-seperti kejujuran,
keberanian, keadilan dan kasih sayang adalah disposisi untuk berperilaku secara
bermoral. Karakter adalah objektifitas yang baik atas kualitas manusia, baik bagi
manusia diketahui atau tidak. Kebaikan-kebaikan tersebut ditegaskan oleh
masyarakat dan agama di seluruh dunia .4

Karakter adalah sifat yang melekat pada diri seseorang yang bereaksi terhadap
lingkungan dan menjadi ciri tertentu yang membedakannya dengan orang lain.
Karakter memberi ciri khusus pada diri seseorang.Orang yang berkarakter selalu
melakukan sikap sesuai dengan keyakinan dan kebiasaannya.

Dalam pendidikan sekarang, pemerintah mencanangkan banyaknya program
yang mengembangkan karakter bangsa yang mengarah pada pembentukan
masyarakat berkarakter. Arah pembentukan karakter ini merupakan upaya
mengembangkan nilai-nilai luhur yang mulai terkikis oleh banyaknya pengaruh
bangsa luar yang tidak mencerminkan budaya bangsa. Kurangnya makna terhadap
nilai-nilai yang terkandung pada budaya bangsa Indonesia dikarenakan kurangnya
pengetahuan orang tua serta pendidik menanamkan nilai tersebut sejak awal.
Nilai-nilai budaya yang tradisional dianggap kuno dan tidak sesuai lagi dengan
perkembangan zaman. Padahal makna tradisional tidak hanya mengandung nilai
budaya melainkan juga nilai religius.

Kementerian pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan 18 karakter yang
mesti ditanamkan dan dikembangkan dalam pendidikan. 18 pendidikan karakter
tersebut adalah : 5

4 Ibid Thomas hl. 15
5 Kementerian Pendidikan Nasional, dalam Suyadi. 2013. Strategi

Pemebelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal 8-9.

3

1. Religius, yakni ketaatan dan kepatuhan dalam memahami dan
melaksanakan ajaran agama (aliran kepercayaan) yang dianut, termasuk
dalam hal ini adalah sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama
(aliran kepercayaan) lain, serta hidup rukun dan berdampingan.

2. Jujur, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan kesatuan antara
pengetahuan, perkataan, dan perbuatan (mengetahui apa yang benar,
mengatakan yang benar, dan melakukan yang benar) sehingga menjadikan
orang yang bersangkutan sebagai pribadi yang dapat dipercaya.

3. Toleransi, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan
terhadap perbedaan agama, aliran kepercayaan, suku, adat, bahasa, ras,
etnis, pendapat, dan hal-hal lain yang berbeda dengan dirinya secara sadar
dan terbuka, serta dapat hidup tenang di tengah perbedaan tersebut.

4. Disiplin, yakni kebiasaan dan tindakan yang konsisten terhadap segala
bentuk peraturan atau tata tertib yang berlaku.

5. Kerja keras, yakni perilaku yang menunjukkan upaya secara sungguh
sungguh (berjuang hingga titik darah penghabisan) dalam menyelesaikan
berbagai tugas, permasalahan, pekerjaan, dan lain-lain d engan sebaik
baiknya.

6. Kreatif, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan inovasi dalam
berbagai segi dalam memecahkan masalah, sehingga selalu menemukan
cara-cara baru, bahkan hasil-hasil baru yang lebih baik dari sebelumnya.

7. Mandiri, yakni sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain
dalam menyelesaikan berbagai tugas maupun persoalan. Namun hal ini
bukan berarti tidak boleh bekerjasama secara kolaboratif, melainkan tidak
boleh melemparkan tugas dan tanggung jawab kepada orang lain.

8. Demokratis, yakni sikap dan cara berpikir yang mencerminkan persamaan
hak dan kewajiban secara adil dan merata antara dirinya dengan orang
lain.

9. Rasa ingin tahu, yakni cara berpikir, sikap, dan perilaku yang mencerminkan
penasaran dan keingintahuan terhadap segala hal yang dilihat, didengar,
dan dipelajari secara lebih mendalam.

10. Semangat kebangsaan atau nasionalisme, yakni sikap dan tindakan yang
menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi
atau individu dan golongan.

11. Cinta tanah air, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa bangga,
setia, peduli, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, budaya,
ekomoni, politik, dan sebagainya, sehingga tidak mudah menerima tawaran
bangsa lain yang dapat merugikan bangsa sendiri.

12. Menghargai prestasi, yakni sikap terbuka terhadap prestasi orang lain
dan mengakui kekurangan diri sendiri tanpa mengurangi semangat
berprestasi yang lebih tinggi.

4

13. Komunikatif, senang bersahabat atau proaktif, yakni sikap dan tindakan
terbuka terhadap orang lain melalui komunikasi yang santun sehingga
tercipta kerja sama secara kolaboratif dengan baik.

14. Cinta damai, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan suasana damai,
aman, tenang, dan nyaman atas kehadiran dirinya dalam komunitas atau
masyarakat tertentu.

15. Gemar membaca, yakni kebiasaan dengan tanpa paksaan untuk
menyediakan waktu secara khusus guna membaca berbagai informasi,
baik buku, jurnal, majalah, koran, dan sebagainya, sehingga menimbulkan
kebijakan bagi dirinya.

16. Peduli lingkungan, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya menjaga
dan melestarikan lingkungan sekitar.

17. Peduli sosial, yakni sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian
terhadap orang lain maupun masyarakat yang membutuhkannya.

18. Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan
tugas dan kewajibannya, baik yang berkaitan dengan diri sendiri, sosial,
masyarakat, bangsa, negara, maupun agama.

Tak jauh berbeda dengan kementerian, Ratna Megawangi membagi
9 pilar karakter yaitu : 6
1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya
2. Tanggung jawab, Kedisiplinan, dan Kemandirian
3. Kejujuran/Amanah dan Diplomasi
4. Hormat dan Santun
5. Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama
6. Percaya Diri, Kreatif, dan Pekerja keras
7. Kepemimpinan dan Keadilan
8. Baik dan Rendah Hati
9. Toleransi, Kedamaian, dan Persatuan

IHF telah membuat konsep 9 pilar karakter untuk dijadikan modul
pendidikan karakter, dan modul ini telah diujicobakan sejak tahun 2001
melalui kegiatan pra sekolah dan SD sejak tahun 2003. Sembilan pilar ini
juga sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam konsep Pendidikan
Kecakapan Hidup (Life Skill) melalui Pendidikan Berbasis Luas (Broad
Based Education) yang diluncurkan Depdiknas pada tahun 2002. Orientasi
life skill yang berkaitan dengan pendidikan karakter adalah untuk
mengembangkan general life skill anak dari jenjang pra sekolah sampai
sekolah menengah yang meliputi:”
(1) kesadaran diri meliputi: (a) keimanan sebagai makhluk Tuhan YME;

6 www.ihf-sbb.org

5

(b) tanggung jawab dan disiplin, saling menghargai dan membantu; (c)
belajar memelihara lingkungan;

(2) Kesadaran akan potensi diri meliputi belajar menolong diri sendiri dan
belajar menumbuhkan kepercayaan diri;

(3) Kecakapan sosial meliputi empati dan bekerja sama (Megawangi,
2004:103).

Seperti kita ketahui dari beberapa penelitian dimana ditunjukkan tentang
proses pembelajaran di AUD negara Jepang yang notabenenya merupakan
negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi, pondasi awal dicanangkan
bukan pada pengembangan kognitif anak melainkan tentang moral anak.Konsep
materi pembelajaran kognitif dimulai sejak anak menjelang remaja dan
dewasa. Pembelajaran tentang antri, kebersihan diri, hormat pada orang yang
lebih tua serta sopan santun diajarkan di awal anak memasuki proses sekolah.
Sementara di Indonesia, pembelajaran matematika dan sains sudah di berikan
sejak usia dini bahkan usia anak masih pendidikan dasar, anak-anak Indonesia
sudah mendapatkan materi yang begitu banyak namun pada hasil akhirnya
pendapatan per kapita penduduk Indonesia masih dibawah rata-rata negara
berkembang. Hanya saja perbedaan pada negara Jepang dan negara Indonesia
adalah angka bunuh diri yang cukup tinggi di Jepang akibat dari persaingan
yang begitu ketat yang menyebabkan mental mereka tidak siap menghadapi
kenyataan dan tuntutan hidup. Hal ini disebabkan karakter yang dikembangkan
sejak dini hanyalah karakter moral sesama manusia bukan karakter religius
yang mengedepankan Tuhan sebagai penentu hidup. Oleh karena itu dari
gambaran di atas maka karakter religius adalah pondasi awal penguat
kepribadian dan karakter-karakter lainnya dengan menghubungkan antara
hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia.

Istilah religiusitas berasal dari kata religion (Inggris) atau religi (Indonesia)
dan religio, relegere atau religure (Latin) yang berarti mengikat. Kata relegare
memiliki pengertian dasar berhati-hati dan berpegang pada norma atau aturan
secara ketat.

Menurut Daradjat (2005) agama adalah proses hubungan manusia yang
dirasakan terhadap sesuatu yang diyakininya, bahwa sesuatu lebih tinggi dari
pada manusia. Sedangkan Glock dan Stark mendefinisikan agama sebagai sistem
simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlembaga,
yang kesemuanya terpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang
paling maknawi (ultimate Mean Hipotetiking).7

7 Daradjat, Zakiyah. Ilmu Jiwa Agama.Jakarta : Bulan Bintang. 2005. Hal. 10

6

Cliffort Geertz mengistilahkan agama sebagai (1) sebuah sistem simbol-
simbol yang berlaku untuk (2) menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi
yang kuat, yang meresapi dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan (3)
merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum eksistensi dan (4)
membungkus konsep-konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas, sehingga
(5) suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak realistis.8

Dalam Islam religius disebut dengan dien ( agama ). Dalam Bahasa Arab,
agama di kenal dengan kata al-din dan al-milah. Kata al-din sendiri mengandung
berbagai arti. Ia bisa berarti al-mulk (kerajaan), al-khidmat (pelayanan), al-izz
(kejayaan), al-dzull (kehinaan), al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), al-
adat (kebiasaan), al-ibadat (pengabdian), al-qahr wa al-sulthan (kekuasaan dan
pemerintahan), al-tadzallulwa al-khudu (tunduk dan patuh), al-thaat (taat), al-
Islamal-tauhid (penyerahan dan mengesakan Tuhan).9

Dasar religius pendidikan karakter dalam Islam ditemukan sebagai berikut :
1. Kitab suci Al Qur’an
Bagi umat Islam Al Qur’an adalah firman Allah SWT yang disampaikan
melalui perantara malaikat Jibril kepada nabi Muhammad yang disusun
sesuai dengan petunjuk Allah SWT sebagai pedoman hidup bagi manusia.
Al Qur’an adalah falsafah hidup manusia yang beriman kepada Alah SWT
dan mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan Allah SWT,baik kehidupan
di dunia maupun di akherat. Al Qur’an merupakan ajaran universal yang
meliputi syariat, aqidah, akhlak dan muamalah dengan cakupan yang luas
dalam aspek ekonomi, sosial budaya, politik, pertahanan dan keamanan
ataupun aspek pendidikan manusia.
Hal ini sangat sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS Sad ( 38 )
ayat 29

Kitab (Alquran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka
menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat
pelajaran.

8 Cliffort Geertz. Kebudayaan dan Agama. (Jogyakarta: Kanisius:1992). Hal. 5
9 Dadang Kahmad. Sosiologi Agama. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 2002. Hal. 13

7

QS An Nahl 16 ayat 64

Dan Kami tidak menurunkan Kitab (Al qur’an) ini kepadamu (Muhammad),
melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka
perselisihkan, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman.

2. Sunnah Rasulullah SAW
Bagi umat Islam, Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir
yang membawa risalah Islam dan menyimpulkan semua ajaran-ajaran
Islam dengan contoh-contoh sikap yang terbaik yang seyogyanya dilakukan
oleh manusia yang beriman. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad selalu
dalam tuntunan Allah SWT.
Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an QS Al ahzab 33 ayat 21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Adapun konsepsi dasar pendidikan yang dicontohkan Nabi Muhammad
SAW adalah sebagai berikut 10:
a. Disampaikan sebagai rahmatan lil alamin, seperti yang dijelaskan

dalam firman Allah SWT dalam QS Al Anbiya 21 ayat 107

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi semesta alam.

b. Disampaikan secara universal

c. Segala sesuatu yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak,
QS Al Hijr 15 ayat 9

10 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,
Jakarta, Kalam Mulia 2006 hal 123

8

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan pasti Kami (pula)
yang memeliharanya.
d. Perilaku Nabi Muhammad merupakan figur indentifikasi (uswah hasanah)
bagi umatnya, Hal ini dijelaskan dalam QS Al Ahzab 33 ayat 21

5. Kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai evaluator atas segala aktivitas
pendidikan.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

3. Teladan para Sahabat dan Tabiin.
Para sahabat dan tabiin merupakan generasi yang pernah mendapatkan ajaran
langsung dari Rasulullah SAW. Dan mereka merupakan orang-orang yang
tingkah laku dan perkataannya selalu dlam pengawasan Rasulullah SAW
dan bisa dijadikan contoh bagi mereka yang melakukan tidak bertentangan
dengan Al Qur’an dan Sunnah.
Hal ini dijelaskan dalam firman Allah QS At Taubah 9 ayat 119

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah
kamu bersama orang-orang yang benar.

QS At Taubah 9 ayat 100

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari
golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah
dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai
sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah
kemenangan yang besar.

9

4. Ijtihad
Ijtihad adalah totalitas penggunaan fikiran manusia dalam menentukan
hukum yang tidak tercantum dalam Al Qur’an maupun sunnah. Hukum
ini dikaji lebih dalam atas ketidakadaannya penjelasan terhadap kasus
ataupun peristiwa yang tidak dialami ketika Nabi hidup maupun ketika
para sahabat maupun tabiin masih hidup. Hukum ini ditentukan oleh orang
yang memiliki kemampuan secara total baik dalam bidang ke-Islaman
maupun bidang lain yang mendukungnya.
Dalam hal ini dasar religiusnya adalah ajaran Islam dan pendidikan karakter
merupakan perintah Allah SWT yaitu QS Ali Imran ayat 104

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung.

QS an-nahl 16 ayat 125

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran
yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat
dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat
petunjuk.
Qs an nahl 16 ayat 64

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) ini, melainkan
agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan
itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Religius ialah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan
hidup rukun dengan memeluk agama lain.11

11 Muhammad Fadlillah, Lilif Muallifatul Khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 190.

10

Religius adalah perilaku seseorang yang mengikatkan dirinya pada sang
pencipta melalui ketaatan terhadap aturan yang diberlakukan dengan penuh
keyakinan dalam hubungannya dengan sesama makhluk dan sesama manusia.

Karakter religius menurut Anas adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan ajaran agama yang dianutnya (Alkrienciehie, 2017). Karakter
religius tidak bisa dipisahkan kaitannya dengan agama.Dan agama merupakan
kebutuhan pokok manusia yang bersumber dari 6 kebutuhan pokok yaitu kasih
sayang, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, rasa sukses dan rasa ingin tahu. (
Achmad Welson, 2017). Karakter religius dapat dibentuk dengan terpenuhinya
6 kebutuhan pokok tersebut.

Secara teoritis, karakter religius merupakan karakter yang memiliki peran
penting dalam membangun kematangan berkarakter bagi anak. Karakter religious
menjadi pondasi dalam menumbuhkan kebiasaan anak dalam mengimplementasikan
nilai-nilai yang diinternalisasi dari keluarga, sekolah maupun masyarakat di
kehidupanya sehari-hari. Anak-anak yang tumbuh dengan karakter religious yang
mapan, diharapkan akan memiliki keterampilan berakhlak mulia sehingga hal ini
perlu dikaji sedini mungkin.(Ekawati, Saputra, Tungkal, Negeri, & Hasil, n.d.)

Menurut Asmani (2011:36)12 karakter religius merupakan pikiran, perkataan,
dan tindakan seseorang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan
dan/ atau ajaran agama. Dalam spektrum Phenix, religi merupakan perspektif
sosiologis karena religi di pandang sebagai bagian dari makna sinoptik. Hal ini
menunjukkan kelemahan yang sangat mendasar karena religi dalam pengertian
agama merupakan prinsip dari segala prinsip dan asas dari segala asas (Shochib,
Moh. 1994) dalam Shochib (2010:2)13. Karakter religius adalah sikap dan perilaku
yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap
pelaksanaan ibadah agama lain, dan selalu hidup rukun dengan pemeluk agama
lain (Sulistyowati, 2012:30).

Al Ghozali menganggap bahwa dalam diri manusia ada 2 kecenderungan
yaitu sifat yang baik dan sifat yang buruk yang tercermin dalam 2 karakter yaitu
karakter lahiriah dan karakter batiniah .Karakter lahiriah terlihat dari sikap dan
perilaku yang terlihat dalam kegiatan sehari hari yang dapat terlihat dari proses
pendidikan, taat aturan, kebiasaan, memilih pergaulan dan perjuangan serta usaha

12 Asmani, Jamal Ma’mur 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah.

13 Jogjakarta: DIVA Press Orang Tua dalam Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri.
Shochib, Moh. 2010. Pola Asuh

Jakarta: Rieneka Cipta

11

dari manusia itu sendiri. Sementara karakter batiniah dibentuk dari proses sebab
akibat, penghargaan dan hukuman, menyadari kesalahan dan berusaha bertaubat
terhadap perbuatan buruk. Nilai religius mengandung makna pada kehidupan
yang disiapkan untuk kehidupan selanjutnya ( kehidupan akherat ). Dimana
kegiatan yang dilakukan di dunia merupakan bekal untuk kehidupan akherat yang
mengacu pada kecintaan kepada Allah SWT. Oleh karenanya karakter religius
merupakan karakter “ modal akherat “ dengan aplikasinya pada hubungan kepada
Allah dan hubungan kepada manusia.

Nilai dalam ranah pendidikan membantu peserta didik untuk mengembangkan
pribadi yang lebih manusiawi sesuai kodrat manusia, berguna dan berpengaruh
dalam masyarakatnya, bertanggung jawab dan bersifat proaktif, serta kooperatif.
(Sutarmin et al., 2014) Mengacu pada kodrat manusia sebagai makhluk social
dimana setiap manusia membutuhkan orang lain dalam menjalankan kehidupannya
dan memperlihat-kan nilai benar dan salah berdasarkan atas reaksi orang lain
terhadap perilakunya maka hal ini menunjukkan bahwa keberadaan manusia
diantara manusia lainnya adalah kebermafaatannya dalam lingkungan sekitar
ataupun negara secara luas yang ditunjukkan pada tanggung jawabnya atas
keputusan yang diambil dan juga kerjasamanya dengan orang lain .

Kementerian Pendidikan Nasional mendefinisikan karakter religius adalah
sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya,
toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dan hidup rukun dengan pemeluk
agama lain.14 Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan
yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan
kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap
toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain,hidup rukun
dan damai dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter religius ini meliputi 3
dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan Tuhan,individu dengan
sesama,dan individu dengan alam semesta ( lingkungan ) Nilai karakter religius
ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Sub
nilai religius antara lain cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama, dan
kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan
kepercayaan, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan
kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.15

14 Kementrian Pendidikan Nasional 2010 b, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter

15 Bangsa, Pedoman Sekolah, Jakarta Kementerian Pendidikan Nasional hal 9-10 Values Education;
Komalasari, Kokom dkk 2017; Pendidikan Karakter,Konsep dan Aplikasi Living

Bandung, Refika Aditama hal 9-10

12

Setelah mempelajari BAB ini diharapkan pembaca mampu mengetahui
tentang hakikat perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini ditinjau

dari berbagai kajian ilmu yang mendasari pembentukan karakter
Tujuan Instruksional khusus

2.1 Mampu memahami tentang perkembangan dan pertumbuhan anak
usia dini

2.2 Mampu mengenal karakterstik perkembangan dan pertumbuhan anak
usia dini dari berbagai kajian ilmu

2.3 Mampu memahami faktor negatif perkembangan dan pertumbuhan
anak usia dini

2.4 Mampu menjabarkan

Pendidikan adalah upaya orang dewasa memberikan pengaruh pada kehidupan
anak yang akan menjadi bekal hidupnya di masa depan. Pendidikan juga merupakan
proses panjang yang bertahap dan berkelanjutan yang terstruktur serta sejalan
dengan tahapan perkembangan dan pertumbuhan seorang manusia. Pendidikan
yang mengarahkan anak pada proses pertumbuhan dan perkembangan baik maka
akan menghasilkan anak yang berkembang dengan sikap dan sifat yang baik dan
menjadi dasar dalam menghadapi kehidupannya.

Usia dini adalah usia yang penting bagi proses tumbuh kembang manusia.
Karena usia ini menjadi ujung tombak perilaku kehidupan anak di masa yang
akan datang. Banyak ahli yang telah mengeluarkan berbagai macam teori tentang
proses perkembangan anak dan juga proses pendidikan yang sebaiknya diberikan
pada anak usia dini.

Pengetahuan tentang perkembangan anak sangat penting bagi semua pendidik
sebagai dasar acuan untuk membuat rencana pembelajaran yang akan dibuat dan
dilaksanakan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bahwa setiap
perkembangan anak yang satu dengan yang lainnya berbeda sesuai dengan
rangsangan yang di dapat anak pada masa tumbuh kembangnya, artinya stimulus
dari lingkungan sangat mempengaruhi proses perkembangan anak itu sendiri.

13

Menurut Elizabeth B Hurlock ada beberapa prinsip-prinsip perkembangan
yaitu : 16

1. Perkembangan melibatkan perubahan.
2. Perkembangan awal lebih kritis ketimbang perkembangan selanjutnya .
3. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar.
4. Pola perkembangan dapat diramalkan.
5. Pola perkembangan mempunyai karakteristik yang dapat diramalkan.
6. Terdapat perbedaan individu dalam perkembangan.
7. Periode pola perkembangan.
8. Pada setiap periode perkembangan terdapat harapan sosial.
9. Setiap bidang perkembangan mengandung bahaya yang potensial.
10.Kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode perkembangan.

Perkembangan adalah proses perubahan yang terjadi secara sistematis, progresif
dan kontinyu yang terjadi dalam diri individu dari sejak lahir sampai mati. Sifat
perkembangan adalah :

1. Sistematis : berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ber-
gantungan dan mempengaruhi antara bagian-bagian organisme (fisik dan psikis)
yang merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contohnya kemampuan berjalan
anak seiring dengan matangnya otot-otot kaki & kemampuan menulis seiring
dengan meningkatnya motorik anak.

2. Progresif : perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam
(meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun secara kualitatif (psikis). Contohnya
perubahan fisik dari kecil menjadi besar, perubahan pengetahuan dari yang
sederhana sampai yang komplek, dari hanya mengenal huruf sampai bisa membaca.

3. Berkesinambungan : perubahan pada bagian berlangsung secara berurutan,
contohnya untuk sampai bisa berjalan seorang anak dimulai dari merangkak,
belajar berdiri dengan berpegangan, kemudian berdiri dan melangkahkan kaki
untuk bisa berjalan.

Perkembangan fisik pada awal masa kanak-kanak adalah sebagai berikut 17:

• Tinggi .Pertumbuhan tinggi badan setiap tahunnya rata-rata 3 inci. Pada
usia enam tahun tinggi anak rata-rata 46,8 inci

16 Elizabeth B Hurlock, Perkembangan Anak, edisi ke enam Jilid 1, PT Erlangga, hlm 23-42
17 Elizabeth B Hurlock, Psikologi Perkembangan, suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan

Edisi ke lima PT Erlangga, hlm 110

14

• Berat. Pertambahan berat badan setiap tahunnya rata-rata 3-5 pon. Pada
usia 6 tahun berat anak harus kurang lebih 7 kali lipat pada waktu lahir
Anak perempuan rata-rata beratnya 48,5 pon sementara anak laki-laki
beratnya 49 pon

• Perbandingan tubuh. Perbandingan tubuh sangat berubah dan ” penampilan
bayi” tidak tampak lagi. Wajah tetap kecil tetapi dagu tampak lebih jelas
dan leher lebih memanjang. Gumpalan pada bagian-bagian tubuh berangsur
angsur berkurang dan tubuh cenderung berbentuk kerucut dengan perut
yang rata ( tidak buncit ), dada yang lebih bidang dan rata dan dahu lebih
luas dan lebih persegi. Lengan dan kaki lebih panjang dan lebih kurus.
Tangan dan kaki tumbuh lebih besar .

Sumber : Keperawatan Sarah Sahera Blogspot
• Postur tubuh. Perbedaan dalam postur tubuh untuk pertama kali tampak

jelas dalam awal masa kanak-kanak. Ada yang posturnya gemuk lembek
atau endomorfik, ada yang kuat berotot atau mesomorfik atau relatif kurus
atau ektomorfik.

Sumber : Everithingwithmike.wordpress.com
15

Sumber : pertumbuhan dan perkembangan anak. blogspot
l Lemak anak-anak yang cenderung bertubuh endomorfik lebih banyak

jaringan lemaknya daripada jaringan otot, yang cenderung mesomorfik
mempunyai jaringan otot lebih banyak daripada jaringan lemak dan yang
bertubuh ektomorfik mempunyai otot-otot yang kecil dan sedikit jaringan
lemak.

Sumber : dosenbiologi.com
l Gigi .Selama 4-6 bulan pertama dari awal masa kanak-kanak, empat gigi

bayi yang terakhir - geraham belakang-muncul. Selama setengah tahun
terakhir gigi bayi mulai tanggal digantikan dengan gigi tetap. Yang mula
mula lepas adalah gigi bayi yang pertama kali mulai tumbuh yaitu gigi
sari tengah. Bila masa awal kanak-kanak berakhir pada umumnya bayi
memiliki satu atau dua gigi tetap di depan dan beberapa celah dimana gigi
tetap akan muncul.

16

Sumber : www.dictio.id

“ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah “ itu merupakan salah satu
hadist yang sangat sering kita dengar. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa manusia
sejak dilahirkan sudah membawa potensi, yakni potensi dasar/naluri bertuhan,
sehingga dengan begitu, secara fitri manusia beragama, tetapi mengapa dalam
perkembangannya ternyata ada yang menjadi atheis, musyrik dan sebagainya.
Al-Qur’an menyatakan adanya faktor pembawaan, faktor keturunan, dan faktor
pendidikan secara bergantian. Contoh kisah Nabi Ibrahim AS. yang tumbuh dari
lingkungan keluarga paganis, dan si kafir Kan‘an putra Nabi Nuh AS. tumbuh
dari lingkungan yang salih. Sementara Nabi Muhammad SAW. dilahirkan dan
didewasakan dalam lingkungan yang menyimpang dari segalanya, yakni pagan,
musyrik dan sebagainya, namun demikian beliau tumbuh menjadi manusia yang
paripurna, karena adanya faktor X sebagai iradah (kemauan) manusia dan
hidayah (petunjuk) Allah SWT. Adapun menurut pandangan ilmu agama factor
yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini adalah :

Yang dimaksud dengan faktor pembawaan di sini adalah suatu keadaan pada
diri manusia dan telah ada sejak lahir tanpa adanya unsur ataupun pengaruh
dari manapun termasuk dari orang tuanya sendiri. Atau dengan kata lain,
suatu keadaan yang dibawa langsung berkat karunia Allah SWT. Berdasarkan
penelitian penulis terhadap ayat-ayat yang mengandung bahasan atau yang
dapat dikaitkan dengan faktor pembawaan, sedikitnya ada dua ayat dalam
surat yang keduanya dalam kategori ayat Makkiyyah, yaitu:

17

Surat al-A’raf : 172 :

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman) : “Bukankah Aku ini Tuhanmu ? “Mereka menjawab”: betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Surat al-Rum : 30

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan tunduk kepada agama (Allah), (tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada
perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui”.

Dari Surat Al-’Araf ayat 172 tersebut dapat dipahami bahwa sejak dilahirkan
bani Adam (semua manusia tanpa kecuali) bukan tidak membawa apa-apa,
bukan tidak berpotensi, bukan kosong sama sekali, melainkan telah memiliki
kecenderungan dasar atau naluri bertuhan, bahkan telah mengikat perjanjian
primordial dengan Allah SWT. Dengan demikian pada dasarnya semua
manusia itu monoteis sebelum datangnya pengaruh dari luar yang
membelokkannya.

Menurut Francois L. Patton yang dikutip oleh Mukti Ali, monoteis adalah
agama primitif atau agama fitrah manusia. Dia mengatakan : “ yang terlebih
penting untuk dicatat adalah, bahwa terlepas dari pernyataan kitab suci perihal
ini, terdapat alasan kuat bahwa politeisme, fetitisme dan keberhalaan merupakan
pengrusakan dari agama yang lebih penting sebelumnya. Lima ribu tahun
yang lalu, bangsa Cina adalah monoteis bukan henoteis, dan monoteis ini
ada dalam bahaya pengrusakan, seperti kita saksikan, lewat penyembahan
alam di satu pihak, tahayyul di pihak lain.18

18 Dawam Raharja, dalam Ulum al-Qur’'an [Jurnal Islam dan Kebudayaan,
Bagian Ensiklopedi al-Qur’an : Fitrah] (Jakarta : Aksara Buana, 1992), 41

18

Pengertian di atas, bahwa manusia terlahir dalam keadaan bernaluri Ke
tuhanan Yang Maha Esa lebih jelas dapat disimak dalam surat Al-Rum ayat
30 yang menyatakan bahwa:

1. Semua manusia itu diciptakan berdasarkan fitrahnya, yaitu naluri beragama/
tauhid. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘A1-’Adim, Al
Hafid Ibnu Katsir mengatakan : sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan
manusia dalam keadaan ma’rifat kepadaNya, mentauhidkanNya dan
bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, sebagaimana firmanNya : Dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “Bukankah
Aku ini Tuhamu ?, mereka menjawab : Benar (Engkau tuhan kami)”19.

2. Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah, bahwa semua manusia itu tanpa
kecuali terlahir dalam keadaan fitri (beragama/bertauhid). Al-Hafid Ibn Kasir
mengatakan : Ulama yang lain berpendapat mengenai ayat : La tabdila li
khalqillah adalah kalam khabar yang mengandung arti, bahwa Allah SWT.
menciptakan semua manusia (tanpa terkecuali) itu dalam keadaan fitri yang
berasal dari benih yang baik (lurus), dan tak seorangpun dilahirkan melainkan
dalam keadaan seperti itu, dan ini tidak berbeda antara manusia yang satu
dengan lainnya.20

3. Dan hal ini adalah termasuk ajaran agama (Islam) yang lurus, yang
disyariatkan sesuai dengan fitrah manusia. Dalam kerangka psikoanalisis
Eric Fromm menyatakan, bahwa manusia itu selalu ditarik oleh unsur
jasmaniah dan rohaniahnya sekaligus. Dengan kata lain, dua unsur kehidupan
manusia, jasmani dan rohani selalu tarik menarik. Inilah yang menimbulkan
ketimpangan (disharmoni).

Oleh karena itu, salah satu fungsi diturunkannya syari’at adalah untuk
memecahkan masalah ketidak seimbangan tersebut. Contoh yang jelas adalah
perintah puasa Ramadan. Dalam proses berpuasa itu manusia berusaha
mencari keseimbangan baru, baik pada tingkat individu maupun sosial. Pada
tingkat individu, puasa memberikan kesempatan bagi manusia agar mampu
mengendalikan dirinya. Di satu pihak, ia harus mengurangi kegiatan pemenuhan
hasrat seksual jasmaniahnya dengan menahan makan, minum, hubungan
seksual dan amarah. Di pihak lain, ia harus menyuburkan perkembangan
batinnya dengan meningkatkan peribadatan. Pada tingkat sosial, puasa diikuti
dengan pembayaran zakat fitrah (bagi yang mampu) diperuntukkan bagi fakir
miskin dan yang membutuhkan guna menciptakan keseimbangan sosial yang
mungkin telah rusak karena aktifitas bisnis dan pertumbuhan ekonomi.21

19 Imaduddin Ibn Kasir, Tafsir al-Qur’an al-'Adim, Jilid I (Beirut : Dar al-Fikr, 1970), 358.
20 Ibid., 359.
21 Dawam Raharjo, 43.

19

Itulah manusia secara fitri memang beragama (bertauhid), yang secara
alamiyah memang berpotensi baik. Adapun dalam kenyataannya ada (justru
cendrung banyak) yang tidak beragama (Islam) seperti atheis dan musyrik,
ataupun yang mengklaim dirinya beragama tetapi perbuatannya kosong dari
muatan nilai-nilai religius, cinta dunia dan takut mati, penipu, koruptor,
dikuasai nafsu-nafsu jahat dan lainnya, maka hal di atas perlu pembahasan
lebih lanjut.

Faktor keturunan adalah sesuatu keadaan yang ada pada diri manusia
sebagai akibat keterpengaruhan yang diperoleh dari orang tuanya atau orang-
orang yang secara genetik ada hubungan darah dengannya. Faktor heriditas
(keturunan) sendiri merupakan sesuatu yang tergolong dalam kelengkapan
dasar manusia, karena ia telah ada pada diri manusia sejak masih dalam
bentuknya sebagai plasma benih, yang kemudian menjadi salah satu dasar
di mana manusia di atas dasar itu mengalami suatu proses pertumbuhan.
Dasar ini tak dapat diubah untuk dijadikan bentuk lain. Namun yang diturunkan
bukanlah dalam bentuk tingkah laku melainkan strukturnya. Jadi keturunan
berlangsung melalui sel benih bukan sel badan. Kecakapan, pengetahuan,
sikap yang ada pada orang tuanya yang diperoleh melalui belajar, menurut
prinsip perkembangan tidak dapat mempengaruhi sel-sel benih, tetapi terjadi
dengan perantaraan proses-proses yang mengandung perubahan tertentu
dalam diri seseorang.22

Bagaimana kalau struktur itu kemudian mempengaruhi kepribadian atau
tipe seseorang, secara implisit hal ini menunjukkan bahwa faktor keturunan
memegang peranan pada pembentukan tingkah laku, hanya saja tidaklah
mutlak. Sejauhmana pengaruh keturunan dapat diukur dengan melihat bahwa
kita semua adalah keturunan Adam dan Hawa. Mereka baik-baik, namun
keturunannya tidak semua baik-baik. Sejauhmana pula sebenarnya batas
keturunan dapat dipertahankan kemungkinan pengaruhnya, hal mana
membutuhkan penelitian lebih lanjut. Dan ini problem yang masih
mengaburkan pembicaraan setiap masalah faktor keturunan hubungannya
dengan masalah perkembangan. Selebihnya memunculkan teori pentingnya
upaya pendidikan.

Kiranya untuk hal keturunan perlu kita melihat kisah-kisah nyata, semisal
kisah Nabi Ibrahim AS. dalam hubungannya dengan prilaku ayahnya. Dan
perlu pula melihat bagaimana kenyataan yang dikisahkan al-Qur’an tentang

22 Witheringthon, dalam MZ.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan Bintazng, 1976), 125.

20

Nabi Nuh AS. dan putranya. Hal ini membuktikan ketidakmutlakan faktor
keturunan. Dugaan kita mengenai masalah keturunan ini adalah pentingnya
memilih istri yang baik-baik. Artinya, al-Qur’an menawarkan kepada kita
dengan kisah itu untuk melihat siapa sebenarnya yang kurang patut disebut
keturunan baik-baik, ibunya atau ayahnya. Ibu Nabi Ibrahim tidak terkisahkan
sebagai wanita durhaka. Ibu Nabi Ibrahim melahirkan Nabi Ibrahim, sedangkan
istri Nabi Nuh melahirkan Kan’an sebagai anak durhaka. Asumsi kita adalah
ibu lebih erat, lebih dekat hubungannya secara mendasar sejak kecil dengan
anaknya ketimbang dengan ayahnya. Ibu lebih sering memungkinkan
mengadakan hubungan pendidikan dengan anaknya. Namun bagaimanapun,
hal ini menunjukkan bahwa keturunan tidak mutlak mempengaruhi
perkembangan individu seseorang.

Mengenai pentingnya faktor pendidikan, kisah Nabi Musa patut dikaji
secara cermat. Bahkan ia dibesarkan dalam keluarga Fir’aun yang lalim,
tetapi istri Fir’aun, ia justru sebagai penentang Fir’aun pelindung keimanan
dan bakat yang ada pada Nabi Musa. Bagaimana kedudukan ibu jika jasanya
dianalogikan dengan pendidikan. Di sinilah arti penting beberapa usaha,
mulai dari do’a sejak mengandung dan begitu anak dilahirkan. Semua
menunjuk pentingnya perhatian kita kepada penyelamatan, pemeliharaan dan
upaya pengembangan fitrah manusia.

Untuk memperjelas uraian di atas perlu dilihat ayat 10 surat al-Tahrim :

“Allah menjadikan istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang
orang kafir. Keduanya berada dibawah pengawasan kedua hamba Allah yang
salih, diantara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu khianat kepada kedua
suaminya; maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun
dari (siksa) Allah; dan dikatakan kepada keduanya; masuklah kedalam neraka
bersama-sama orang yang masuk (neraka).23

Ayat di atas menunjukkan kemungkinan kegagalan Kan’an adalah sebagai
akibat asuhan ibu durhaka. Kemudian mengenai kemungkinan terpeliharanya
fitrah dalam keluarga terdekat beriman, ditamsilkan pada ayat 11 dan 12 surat
al Tahrim:

23 Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, (Jakarta : 1989) hlm 952 24Ibid.

21

“Dan Allah membuat isteri Fir’aun (menjadi) perumpamaan bagi orang-orang
yang beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah
rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan (dari)
perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.

Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan
ke dalam rahimnya sebagian ruh (ciptaan) Kami; dia membenarkan kalimat
kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, dan dia termasuk orang yang taat.”24

Ayat di atas menunjuk pentingnya aspek bimbingan, sekaligus pentingnya
iradah (kemauan) sebagai taufiq-hidayah Ilahi. Ibu salihah yang menyusui
dan mengasuh anaknya lebih berpengaruh sebagai lingkungan efektif dalam
rangka penyelamatan awal bagi perkembangan fitrahnya. Musa AS disusui
ibunya dan diasuh oleh istri Fir’aun yang salihah, tumbuh menjadi anak baik,
bahkan sebagai rasulullah; demikian pula Isa AS disusui dan diasuh oleh
ibundanya Maryam) yang salihah, tumbuh menjadi pemuda yang hebat dan
juga menjadi rasulullah. Dalam kaitan ini surat al-A’raf ayat 58 menjelaskan:

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah;
dan tanah yang tidak subur, tanman-tanamannya hanya tumbuh merana.
Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran Kami bagi kaum yang
bersyukur.”25

Ali Abdul Adhim menjelaskan ayat tersebut sebagai analogi bagi pentingnya
lingkungan yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan individu seseorang.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. :
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, sampai dia bisa berbicara.
Sesudah itu, maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani
atau Majusi.”( Diriwayatkan oleh Ahmad, ad-Darimiy, an-Nasaiy, Ibn Jarir,
Ibn Hibban, at-Tabraniy dan al-Hakim dari al-Aswad bin Suwaid)

24 Ibid.
25 Ibid, 231.

22

Hadis di atas mempunyai sebab wurud yang menarik, yaitu: al-Aswad bin
Suwaid bercerita, dalam suatu peperangan dia bersama Rasulullah SAW.
Peperangan tersebut terjadi sangat dahsyat, hingga dua anak dari fihak kuffar
terbunuh. Karena semangat jihad yang tinggi, kemenangan berada di pihak
kaum muslimin. Namun dengan kabar terbunuhnya dua anak dari pihak
kuffar tersebut, Rasulullah SAW. dengan nada kesal bertanya: “Mengapa
mereka berlebihan sampai membunuh anak-anak ?” Salah seorang sahabat
menjawab: “Wahai Rasulullah, mereka adalah anak-anak orang musyrik
juga.”Lalu beliau bersabda: “Ingatlah jangan kalian membunuh anak
anak !” Kemudian beliau bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan
fitrah…

Dari hadis dan sebab wurudnya di atas dapat dipahami:
1. (Sekali lagi) bahwa semua anak (tanpa kecuali) terlahir dalam keadaan

berpotensi baik, bernaluri tauhid.
2. Bahwa fitrah tersebut bersifat terbuka, dapat dipengaruhi faktor dari luar,

dan pendidikanlah (yang dalam hadis ini dilambangkan dengan orang tua)
yang mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Faktor pendidikan
di sini dapat berupa pendidikan keluarga, pendidikan sekolah ataupun
pendidikan masyarakat/ lingkungan (atau yang lazim disebut dengan tri
pusat pendidikan).

Faktor intern sangatlah penting hubungannya dengan daya pembentukan
kepribadian menyesuaikan dengan pola-pola kepribadian menurut al-Qur’an.
Faktor itu meliputi fungsi jiwa rohani seperti akal, nafsu, roh, kalbu, dan
menurut Nabi SAW. yang terpenting di antara unsur-unsur itu ialah kalbu
atau hati, yang di dalamnya terdapat hasrat atau iradah.

Ternyata lingkungan tidak dapat mempengaruhi jiwa yang kuat sempurna
itu. Nabi Muhammad SAW. dilahirkan dan didewasakan di tengah lingkungan
segalanya, baik keluarga atau masyarakatnya yang sudah jauh menyimpang
dari tauhid atau fitrah manusia. Namun kenyataannya beliau justru yang
memperbaiki suasana kebobrokan itu. Di sini mudah dibaca adanya faktor
lain sebagai rahasia. Itulah faktor X sebagai iradah (kemauan) manusia dan
hidayah (petunjuk) Ilahi. Wa Allahu a‘lam.

Karena adanya hasrat dan niat itu maka manusia mencapai kemampuannya
dalam kebebasan iradah atau kehendak menyingkapkan tabir kegelapan untuk
menemukan cahaya iman. Karena iradah ini, Allah membebankan perintah

23

ibadah kepada manusia dan karenanya maka dijanjikan pahala dan ancaman
sebagai siksaan. Dan Allah tidak membebankan sesuatu kepada manusia di
luar kemampuannya. Niat kuat dari hamba Allah untuk berbuat sesuatu,
disertai iman kuat pula, akan dapat menyingkirkan krikil-krikil tajam yang
senantiasa ada di sekitarnya. Nabi Muhammad SAW. telah sukses sebagai
pendidik dalam tempo singkat, di antaranya karena adanya iradah (kehendak)
yang kuat, niat yang mantap, didukung oleh iman kuat pula. Ali Abdul Adhim
menyebut faktor iradah, sebagai tak kurang pentingnya dalam upaya mem-
pengaruhi kepribadian atau tingkah laku seseorang, memberi bukti dengan
menunjuk apa yang tertera dalam tingkah laku seseorang, memberi bukti
dengan menunjuk apa yang tertera dalam surat al-Balad. Ayat-ayat pada surat
tersebut berkesimpulan membuktikan bahwa Allah SWT. menyelamatkan
Rasul dari pengaruh lingkungan (paganisme, dosa, dan sesat), sejak beliau
kecil hingga dewasa. Diisyaratkan oleh Allah bahwa Dia memberi bekal
kepada manusia kekuatan material dan spiritual. Allah memberikan
kepada manusia pancaindra, akal, petunjuk, ilham akan jalan menuju kebaikan
dan kejahatan. Tak lain, faktor iradah atau kehendak dengan niat yang kuat
itulah yang mendorong Nabi beramal demikian gigih. Sabdanya : “Tiada lain
(bahwasanya) amal-amal itu tergantung pada (bagaimana) niatnya.”

Kehendak dari Allah pada hakekatnya adalah mengajar kepada manusia
untuk memilih dan membuat keputusan serta bertanggung jawab atas
pilihannya, atas keputusannya yang telah diambil. Sedangkan kehendak dari
manusia pada hakekatnya adalah belajar memilih, menentukan suatu keputusan
dengan penuh tanggung jawab. Kehendak yang dibarengi dengan niat, berarti
suatu tekad untuk melangkah menuju suatu proses dalam rangka memenuhi
tuntutan hatinya. Pada adanya niat itu pula letak penting dan keberartiannya
hati, hubungannya dengan kehendak atau iradah.

Jadi hubungannya dengan tingkah laku fitri manusiawi, nafsu dan akalnya
selalu bertarung berebut kekuasaan di hati, sangatlah membutuhkan kesehatan
akal yang tentu harus ditopang dengan ilmu, belajar dan pendidikan. Faktor
suasana hati kiranya lebih penting dan dominan dalam perkembangan
kedewasaan manusia dibanding dengan dua faktor lainnya, yaitu pembawaan
dan lingkungan. Demi pentingnya aspek intern ini, hampir saja dasar keturunan
dan lingkungan tidak berarti sama sekali. Faktor hidayah sebenarnya mengiringi
pilihan kebebasan dan ikhtiar manusia sendiri seperti telah disinggung di
atas. Hanya saja mana mungkin bagi manusia pada umumnya akal bisa sehat
tanpa melalui belajar dan pendidikan, meskipun hanya sekedar sebab, dan
bukan merupakan jaminan.

24

Yang jelas akal sehat turut menentukan suasana salihnya hati, sebagai sumber
salihnya amal.26

Dalam kaitannya dengan perkembangan usia anak dini ini merupakan
pendidikan awal bagi anak menerima berbagai aktifitas ibadah yang menjadi
dasar ketauhidan selanjutnya seperti mulai diajarkannya bacaan-bacaan sholat
dengan benar, doa doa harian, serta hadist-hadist yang berhubungan dengan
keseharian anak itu sendiri. Usia yang disebut sebagai usia “metamorphosis”ini
adalah usia pondasi untuk mengajarkan anak akan benar-salah, surga-neraka
dan berbagai perbedaan lainnya.

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan untuk mendorong keterlibatan
keluarga dalam proses pendidikan anak usia dini, termasuk didalamnya
pengembangan minat dan kemampuan anak. Brewerr27 mengidentifikasi
beberapa prinsip yang bisa dipakai sebagai acuan untuk mendorong partisipasi
orang tua dalam proses pendidikan anak usia dini. Prinsip tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Fokus kepada keberhasilan dan hal yang ingin dicapai anak.
b. Kirim informasi personal kepada orang tua berisi informasi tentang anak

yang langsung dikirimkan kepada mereka.
c. Jika mungkin manfaat keluarga besar untuk mendukung anak
d. Perbanyak jumlah pertemuan dengn orang tua.
e. Manfaatkan keluarga dan staf sekolah secara kreatif untuk meng-

organisasikan program.
f. Mengkoordinasikan perencanaan dengan administrator, guru, dan orang

tua.
g. Temukan cara-caranya yang membuat para orang tua merasa nyaman,

diterima oleh sekolah.

Terdapat banyak hal yang dapat dilakukan untuk membangun hubugan positif
antara sekolah dan orang tua. Kostelnik memberikan gambaran tentang hal
hal yang perlu diupayakan oleh sekolah untuk membangun hubungan yang
positif dengan orang tua. 28

a. Menunjukkan kepedulian terhadap anak
Keluarga menginginkan anak mereka diperhatikan,diperlakukan secara
baik.

26 http://rektor.unipdu.ac.id/
27 Joe Ann Brewer, Introduction to Early Childhood Education Preschool Through Primary Grades ( 6 Edition ),

( Boston: Pearson,2007 ) hlm 240-241
28 Marjori J. Kostelnik, Anne K. Soederman, Alice P. Whiren, Developmentaly Approach Curricullum”4 th ed

( New Jersey: Pearson Education, Ltd 2007) hlm 195-197

25

Untuk menujukkan kepedulian terhadap anak maka perlakukan mereka
sebagai individu yang penting, yang dihargai secara manusiawi melalui
kata-kata dan melalui perbuatan yang ditunjukkan kepada mereka.
Memberikan respon terhadap catatan yang diberikan oleh orang tua adalah
salah satu bentuk kepedulian terhadap anak. Menjaga kebersihan anak,
kerapihan berpakaian adalah menginformasikan kepada keluarga bahwa
sekolah peduli terhadap anak.

b. Menciptakan kontak personal dengan orang tua.
Hal yang membantu menciptakan kontak sosial adalah bila guru memiliki
kesempatan untuk berkomunikasi secara tatap muka. Kesempatan yang
baik untuk menciptakan hal demikian adalah ketika orang tua atau anggota
keluarga mengantar anak mereka ke sekolah. Penyambutan secara ramah,
pemberian salam dan pengajuan pertanyaan mengenai keadaaan keluarga
adalah bentuk kontak verbal secara tatap muka yang dapat membangun
hubungan positif dengan keluarga. Membaur dengan keluarga, anak pada
acara-acara tertentu yang diselenggarakan akan lebih bermanfaat jika
dibanding hanya berbaur dengan teman sejawat.

c. Memperlakukan orang tua sebagai individu.
Komunikasi secara individu bukan dalam suatu kelompok merupakan
salah satu bentuk perlakuan terhadap orang tua secara individu. Selain
itu, memberikan kesempatan kepada orang tua untuk berbicara secara
tatap muka tanpa kehadiran orang lain akan dianggap sebagai penghargaan
terhadap orang tua sebagai individu.

d. Menunjukkan perhatian yang tulus.
Hal yang paling mengganggu terciptanya hubungan positif antara sekolah
dan keluarga adalah bila keluarga memiliki kesan bahwa guru terlalu sibuk
dengan urusan mereka sendiri, menjaga jarak dengan keluarga sehingga
kurang menagkap hal yang dirasa atau dipikirkan oleh keluarga. Untuk
menghindari kesan yang demikian ada beberapa hal yang dapat dilakukan
oleh guru, yaitu antara lain :

• Berikan kesempatan kepada anggota keluarga untuk berbagi perhatian,
misal dengan menanyakan makanan, atau mainan yang disukai anak.
Hal yang paling menarik perhatian anak ketika diajak pergi, dan
sebagainya.

• Dengarkan secara sungguh-sungguh ketika anggota keluarga berbicara,
dan jaga kontak pandangan saat mereka berbicara.

• Ajukan pertanyaan yang sesuai dengan komentar yang diberikan
oleh keluarga. Beri kesempatan agar mereka memperjelas hal yang

26

telah mereka nyatakan misal dengan menanyakan : apa yang terjadi
kemudian?” dan sebagainya.
• Beri jeda waktu yang cukup agar mereka memiki kesempatan berpikir.
• Tanggapi pertanyaan mereka secara jujur dan langsung. Jika tidak
mengetahui jawabannya maka katakan secara jujur bahwa tidak tahu.

e. Berlaku santun terhadap orang tua.
Memperlakukan keluarga dengan penuh perhatian dan penghargaan
memberikan kesan bahwa guru bertindak santun pada orang tua. Selain
itu hal yang perlu dilakukan adalah menjaga bahasa non verbal yang
sopan dan penuh penghargaan, misal ekspresi wajah, gerak tubuh ketika
berbicara kepada orang tua.

f. Perhatikan pada kelebihan keluarga.
Hubungann positif antara sekolah dan keluarga dapat ditingkatkan bila
guru atau sekolah lebih memperhatikan kelebihan yang dimiliki oleh
keluarga daripada kekurangan yang mereka miliki. Hal demikian dapat
dilakukan misalnya dengan cara memperhatikan hal yang bisa dilakukan
oleh keluarga, bukan pada hal yang tidak dapat mereka lakukan. selain
itu, guru hendaknya mendengarkan secara penuh perhatian bila anak
berbicara tentang keluarga mereka.

g. Mengupayakan sebanyak mungkin keikutsertaan keluarga dalam
pendidikan anak.

Manshur Ali Rajab ( 1961:111-112 ) menyebutkan bahwa ada lima macam
yang dapat diwariskan dari orang tua kepada anaknya, yaitu :

1. Pewarisan yang bersifat jasmaniah, seperti warna kulit, bentuk tubuh,
yang jangkung atau cebol, sifat rambut dan sebagainya.

2. Pewarisan yang bersifat intelektual seperti kecerdasan dan kebodohan
3. Pewarisan yang bersifat tingkah laku seperti tingkah laku yang terpuji

dan tercela, lemah lembut atau keras kepala, taat atau durhaka.
4. Pewarisan yang bersifat alamiah, yaitu pewarisan internal yang dibawa

sejak kelahiran anak tanpa pengaruh dari factor eksternal
5. Pewarisan yang bersifat sosiologis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi

oleh factor eksternal.29

29 http://rektor.unipdu.ac.id/

27

Pandangan diatas mengacu pada aliran Nativisme. Sementara menurut
golongan empirisme lingkungan yang mempengaruhi tingkah laku terdiri
dari 5 aspek yaitu :30

1. Lingkungan geografis disebut juga lingkungan alamiah yaitu lingkungan
yang ditentukan oleh letak wilayah seperti di dataran, pegunungan, dan
pesisir pantai, kondisi iklim seperti panas di gurun sahara, tropis, sedang
dan salju; sumber penghasilan seperti wilayah industry, pertanian,
pertambangan dan perminyakan.

2. Lingkungan historis yaitu lingkungan yang ditentukan oleh cirri suatu
masa atau era dengan segala perkembangan peradabannya. Misalnya masa
klasik, masa kemundiuran, masa pencerahan dan kebangkitan, masa
modern, era industry dan sebagainya.

3. Lingkungan sosiologis yaitu lingkungan yang ditentukan oleh hubungan
antar individu dalam suatu komunitas sosial. Hubungan ini selalu dikaitkan
dengan tradisi, nilai-nilai peraturan dan undang-undang.

4. Lingkungan cultural yaitu lingkungan yang ditentukan oleh kultur suatu
masyarakat. Kultur ini meliputi cara berfikir, bertindak, berperasaan, dan
sebagainya.

5. Lingkungan psikologis adalah lingkungan yang ditentukan oleh kondisi
kejiwaan seperti kondisi rasa tanggung jawab, toleransi, kesadaran,
kemerdekaan, keamanan, kesejahteraan dan sebagainya.

Pada usia dini ( 2-6 ) tahun pada tahap yang diutarakan oleh Piaget masuk
ke dalam tahapan yang kedua yaitu tahap praoperasional yang mana ber-
langsung pada usia 2-7 tahun dan awal tahap operasional kongkret. Pemikiran
pra operasional dibagi pada 2 sub tahapan yaitu fungsi simbolis dan pemikiran
intuitif. Kalau subtahap simbolis terjadi antara usia 2-4 tahun sementara
tahap pemikiran intuitif berlangsung sekitar usia 4-7 tahun. Pada sub tahap
pemikiran ini anak mulai menggunakan penalaran primitive dan ingin tahu
jawaban dari semua pertanyaan. Piaget menyebut tahap ini sebagai “ intuitif”
karena anak anak tampaknya merasa yakin terhadap pengetahuan dan
pemahaman mereka, tetapi tidak menyadari bagaimana mereka bisa mengetahui
apa-apa yang ingin mereka ketahui. Artinya mereka mengatakan bahwa
mereka mengetahui sesuatu tapi mereka mengetahuinya tanpa menggunakan
pemikiran rasional.31

30 J Ibid Drs. Mubin, M.Ag hal. 35-36
31 John W Santrock, Psikologi Pendidikan, PT Kencana, Jakarta, 2008 hlm 48-49
32 Prof. Dr. H. Sunarto dan Dra. Hj. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik,

Penerbit Rineka Cipta tahun 2006 hlm 24-25 28

Sementara pada usia 8 tahun adalah masa konkret awal dimana anak mulai

mengembangkan 3 macam operasi berfikir yaitu :32

1. Identifikasi : mengenali sesuatu

2. Negasi : mengingkari sesuatu

3. Reprokasi : mencari hubungan timbal balik antara beberapa hal

Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada
rentangan usia dini. Masa usia dini adalah masa yang pendek, tetapi merupakan
masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu pada
masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan
berkembang secara optimal.

Karakteristik perkembangan anak pada masa ini biasanya pertumbuhan
fisiknya telah mencapai kematangan. Mereka telah mampu mengontrol tubuh
dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara
bergantian, dapat mengendarai seperti roda 2, dapat menangkap bola, dan
telah berkembang koordinasi tangan dan matanya untuk dapat memegang
pensil maupun memegang gunting. Dan perkembangan sosial anak pada usia
ini adalah mereka dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya
telah dapat berkompetensi dengan teman sebaya,mempunyai sahabat, telah
mampu berbagi dan mandiri.

Menurut Piaget, proses belajar dapat berlangsung jika terjadi proses
pengolahan data yang aktif di pihak pembelajar. Pengolahan data yang aktif
merupakan aktivitas lanjutan dari kegiatan mencari informasi dan dilanjutkan
dengan kegiatan penemuan. 33

Piaget berpendapat bahwa “ apa yang sudah ada pada diri seseorang siswa
( kapasitas dasar kemampuan intelektualnya atau dapat disebut dengan istilah
skema ) adalah dasar untuk menerima sesuatu yang baru “.

Dalam usia ini anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut :34

1. Mulai memandang dunia secara obyektif, bergeser dari satu aspek situasi
ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsure-unsur secara serentak.

2. Mulai berfikir secara operasional.
3. Mempergunakan cara berfikir operasional untuk mengklasifikasikan benda

benda.
4. Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip

ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat.

32 Prof. Dr. H. Sunarto dan Dra. Hj. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik,
Penerbit Rineka Cipta tahun 2006 hlm 24-25

33 Abdul Majid, Pembelajaran Tematik Terpadu, PT Remaja Rosda Karya, Bandung 2014, hlm 7
34 Abdul Majid, ibid hlm 9-10

29

5. Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang lebar, luas dan
berat.

Memperhatikan tahapan perkembangan berfikir tersebut ,kecenderungan
belajar anak usia sekolah dasar memiliki 3 ciri, yaitu :35

1. Konkret. Mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang
kongkret yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak
atik dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber
belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil
belajar yang bermakna dan bernilai sebab siswa dihadapkan dengan
peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga
lebih nyata, lebih factual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat
dipertanggung jawabkan.

2. Integratif. Anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu
keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai
disiplin ilmu. Hal ini melukiskan cara berfikir anak yang deduktif, yakni
dari hal umum ke bagian demi bagian.

3. Hierarkis. Cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-
hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan
hal itu, perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi
dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.
Sejak usia 6-9 tahun, rata-rata berat dan tinggi badan anak hampir sama.
Berat badan anak laki-laki dan perempuan cenderung sama hingga sekitar
usia 9 tahun, saat anak perempuan mengungguli anak laki-laki dalam hal
barat dan tinggi badan.

Tahun sekolah dasar awal merupakan waktu untuk menggunakan dan
menguji ketrampilan motorik yang berkembang. Kepercayaan diri dan
ketrampilan fisik anak yang sedang tumbuh terlihat pada permainan
permainan yang melibatkan gerakan lari,mengejar dan menendang.
Karakteristik anak yang hampir universal dalam tahap ini adalah aktivitas
fisik mereka yang hampir konstan. Ada beberapa perkembangan yang
dapat di jelaskan disini yaitu :36

1. Perkembangan moral : Jean Piaget dan Lowrence Kohlberg merupakan
penganjur utama teori tahap perkembangan pertumbuhan moral anak Hal
tersebut dapat dilihat pada table berikut ini :37

35 Ibid, hlm 10
36 Ibid, hlm 287-292.
37 Ibid, hlm 292

30

Teoretikus Tahap dan karaktersitik Implikasi bagi guru
Jean Piaget normal
• Memberi anak banyak
1. Hubungan batasan : kesempatan untuk
Kelas1-2. Konsep benar mengambil keputusan
dan salah ditentukan dan pertimbangan moral
oleh penilaian orang
dewasa –moralitas • Mencari kesempatan
berdasarkan penilaian setiap hari di kelas
orang dewasa untuk mengambil
keputusan moral
2. Hubungan kerja sama
: Kelas 3-6 tahun. • Berikan banyak contoh
Pertukaran sudut nilai dan keputusan
pandang dengan orang moral bisa melalui cerita
lain mem- bantu
menentukan baik/ buruk • Gunakan pengalaman
dan benar atau salah. anak di luar kelas
sebagai basis diskusi
mengenai nilai moral

• Berikan banyak
kesempatan pada anak
untuk berinteraksi
dengan anak dari
berbagai usia dan
budaya.

Lawrence Kohlberg 1. Level prakonvensional
: Usia 4-10 tahun
Moralitas adalah tentang
baik atau buruk yang
berdasarkan system
hukumaan dan
penghargaan yang diawasi
oleh orang dewasa yang
berwenang
• Tahap 1- hukuman dan
kepatuhan anak ber-
tindak dan merespons
terhadap konsekuensi
fisik dari perilaku
• Tahap 2 : Orientasi per-
bandingan instrumental
Tindakan anak
dimotivasi oleh
kepuasan akan
kebutuhan. ( kamu
mencakar punggungku,
aku juga akan mencakar
punggungmu )

31

2. Perkembangan motorik : Perbedaan antara ketrampilan motorik anak
laki-laki dan perempuan selama masa sekolah dasar awal hanya sedikit
kemampuan mereka hampir sama. Oleh karena itu, guru tidak perlu
menggunakan jenis kelamin sebagai dasar pembatasan keterlibatan siswa
laki-laki dan perempuan dalam aktivitas.

3. Perkembangan sosial. Anak usia kanak-kanak awal berada di tahap industry
vs inferioritas perkembangan sosioemosional berdasarkan istilah Erikson.
Periode ini, yang juga dikenal sebagai masa kanak-kanak menengah,
merupakan waktu anak memperoleh kepercayaan diri dan kepuasan ego
dari penyelesaian tugas sulit. Anak sangat bangga jika mampu menyelesai-
kan tugas dengan baik. Semua ini memperlihatkan sisi industry dari
perkembangan sosio emosional anak. Anak dalam tahap ini berada pada
berbagai level pencapaian akademik. Anak yang memiliki harga diri
akademik tinggi memperoleh keberhasilannya berkat atribusi berorientasi
penguasaan, seperti kerja keras ( sifat industry ), perhatian penuh, kebulatan
tekad dan ketekunan. Jika kesulitan mengerjakan tugas,mereka percaya
bahwa jika bekerja keras mereka akan berhasil. Pada waktu yang sam,
anak dalam tahap ini membandingkan kemampuan dan pencapaian mereka
dengan sesama siswa. Saat mereka merasa bahwa mereka tidak mengerjakan
tugas sebaik teman mereka maka mereka akan merasa kehilangan
kepercayaan diri dalam hal kemampuan dan pencapaian. Ini lah sisi
inferioritas perkembangan sosioemosional pada tahap ini.
Beberapa anak menganggap kegagalan mereka sebagai akibat kurangnya
kemampuan dan mengembangkan ketidakberdayaan yang dipelajari.

4. Perkembangan Emosi. Emosi merupakan bagian penting dari kehidupan
sehari-hari anak. Hurlock dan Lazarus ( 1991 )38 menyatakan bahwa per-
kembangan emosi pada anak dipengaruhi 2 faktor penting yaitu adanya
proses maturation atau kematangan dan belajar. Namun dari kedua factor
ini, Hurlock lebih menekankan pada pentingnya pengaruh belajar untuk
perkembangan emosi anak, karena belajar merupakan factor yang dapat
dikendalikan. Hurlock tetap memandang pentingnya factor kematangan
pada masa kanak-kanak terkait dengan masa kritis perkembangan ( Critical
period), yaitu saat ketika anak siap menerima sesuatu dari luar. Kematangan
yang telah dicapai dapat dioptimalkan dengan pemberian rangsangan yang
tepat ( Patmonodewo,1993)
Lingkungan dalam proses belajar berpengaruh besar untuk perkembangan
emosi, terutama lingkungan yang brada paling dekat dengan anak khususnya
ibu atau pengasuh anak, Thompson dan Lagatutta ( 2006) menyatakan

38 Riana Mashar, M.Si, Psi, Emosi Anak Usia Dini dan strategi Pengembangannya,
PT Kencana Jakarta 2015, hlm 19.

32

bahwa perkembangan emosi anak usia dini sangat di pengaruhi oleh
pengalaman dan hubungan keluarga dalam setiap hari, anak belajar emosi
baik penyebab maupun konsekuensinya. Goleman (1995 ), menyatakan
bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh lingkungan apa yang dialami
dan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari lebih menentukan tingkah laku
dan pola tanggapan emosi. Jika sejak usia dini anak mendapat latihan-
latihan emosi yang tepat maka kecerdasan emosinya akan meningkat.

Hurlock ( 1991) mengungkapkan proses belajar yang menunjang perkem-
bangan emosi terdiri dari 39:

a. Belajar secara trial and error
b. Belajar dengan meniru
c. Belajar dengan identifikasi
d. Belajar melalui pembiasaan
e. Belajar melalui pelatihan.

Ada beberapa ciri utama reaksi emosi pada anak yaitu :40:

a. Reaksi emosi anak sangat kuat, anak akan merespons suatu peristiwa
dengan kadar kondisi emosi yang sama. Semakin bertambah usia anak,
anak akan semakin mampu memilih kadar keterlibatan emosinya.

b. Reaksi emosi sering kali muncul pada setiap peristiwa dengan cara
yang diinginkannya. Anak dapat bereaksi emosi kapan saja mereka
menginginkannya. Kadang tiba-tiba anak menangis saat bosan atau
karena suatu kondisi yang tidak jelas. Semakin bertambah usia anak,
kematangan emosi anak semakin bertambah sehingga mereka mampu
mengontrol dan memilih reaksi emosi yang dapat diterima lingkungan.

c. Reaksi emosi anak mudah berubah dari satu kondisi ke kondisi lain.
Bagi seorang anak sangat mungkin sehabis menangis akan langsung
tertawa keras melihat kejadian yag menurutnya lucu. Reaksi ini
menunujukkan spontanitas pada diri anak dan menunjukkan kondisi
asli ( genuine) dimana anak sangat terbuka dengan pengalaman
pengalaman hatinya.

d. Reaksi emosi bersifat individual,artinya meskipun peristiwa pencetus
emosi sama namun reaksi emosinya dapat berbeda-beda. Hal ini terkait
dengan berbagai factor yang mempengaruhi emosi terutama pengalaman-
pengalaman dari lingkungan yang dialami anak.

e. Keadaan emosi anak dapat dikenal melalui gejala tingkah laku yang
ditampilkan Anak-anak seringkali mengalami kesulitan dalam
mengungkapkan emosi secara verbal. Kondisi emosi yang dialami anak
lebih mudah dikenali dari tingkah laku yang ditunjukkan.

39 Ibid hlm 23 33
40 Ibid Emosi, hlm 40

Reaksi emosi tersebut diatas terkait dengan 8 emosi yang ada pada diri
anak yaitu tertekan, marah, takut, sedih, terkejut, tertarik, kasih sayang
dan senang.

Goleman ( 2001 ) mengungkapkan ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan
emosi sebagai berikut :41

a. Mampu memotivasi diri sendiri.
b. Mampu bertahan menghadapi frustasi.
c. Lebih cakap untuk menjalankan jaringan informal /non verbal ( memiliki

3 variasi yaitu jaringan komunikasi, jaringan keahian dan kepercayaan ).
d. Mampu mengendalikan dorongan lain.
e. Cukup luwes untuk menemukan cara/alternative agar sasaran tetap tercapai

atau untuk mengubah sasaran jika sasaran semula sulit dijangkau.
f. Tetap memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa segala esuatu akan beres

ketika menghadapi tahap sulit.
g. Memiliki empati yang tinggi.
h. Mempunyai keberanian untuk memecahkan tegas yang berat menjadi

tugas yang kecil yang mudah ditangani.
i. Merasa cukup banyak akal untuk menemukan cara dalam meraih tujuan.

Menurut Menurut W.T Grant Consortium (dalam Goleman, 1995) kecerdasan
emosional meliputi :
a. Mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan.
b. Mengungkapkan perasaan.
c. Menilai intensitas perasaan.
d. Mengelola perasaan.
e. Menunda pemuasan.
f. Mengendalikan dorongan hati.
g. Mengurangi stress.
h. Mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan.

Namun dibalik hubungan positif ditemukan juga adanya pengaruh negative
terhadap perkembangan anak didik dimana hal ini berkaitan emosi dan
hubungan dengan masyarakat. Salah satu dari pengaruh negative itu adalah
adanya bullying antar peserta didik. Bullying (dikenal sebagai “penindasan/
risak” dalam bahasa Indonesia) merupakan segala bentuk penindasan atau
kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau sekelompok orang
yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, bertujuan untuk menyakiti
dan dilakukan secara terus menerus (Katyana Wardhana. 2015:9).42

41 Emosi, hlm 41
42 Katyana Wardhana. 2015. Buku Panduan Melawan Bullying. Jakarta: Sudahdong.com

34

Menurut Fitria Chakrawati bullying berasal dari kata ‘bully’ yang artinya
penggertak atau orang yang mengganggu orang lain yang lemah. Bullying
secara umum juga diartikan sebagai perpeloncoan, penindasan, pengucilan,
pemalakan, dan sebagainya. Kesimpulannya, bullying adalah tindakan,
sedangkan ‘bully’ adalah pelakunya Definisi bullying sendiri, menurut komisi
Nasional Perlindungan Anak adalah kekerasan fisik dan psikologis berjangka
panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang
tidak mampu mempertahankan diri. (Fitria Chakrawati, 2015:11).43 Masih
menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak, bullying dilakukan dalam
situasi dimana ada hasrat untuk melukai, menakuti, atau membuat orang lain
merasa tertekan, depresi dan tak berdaya.

Ada tiga ciri dari bullying sebagai bentuk spesifikasi dari perilaku agresif
antara lain: (1) dimaksudkan untuk membahayakan dan menganggu, (2)
dilakukan secara berulang dan dari waktu ke waktu (3) ketidakseimbangan
kekuatan, yang dominan terhadap lainnya. Tentang unsur atau ciri ketidak-
seimbangan kekuatan dalam definisi bullying juga diungkapkan oleh Ken
Rigby.44

Rigby menjelaskan bullying sebagai tekanan berulang secara fisik atau
psikis, oleh orang atau kelompok yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah
Ken Rigby: 1996).

Psikolog Ratna Juwita (2016)45 melihat bullying lebih bentuk perilaku
berupa pemaksaan atas usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis
terhadap seseorang atau sekelompok yang lebih lemah oleh seseorang atau
sekelompok yang mempersiapkan diri sebagai kelompok yang lebih kuat.

5. Perkembangan kognitif

Menyangkut masalah kognitif maka tidak terlepas dari perkembangan
otak, Maka dengan itu kita perlu amati perkembangan otak anak manusia
sebagai berikut :

43 Fitria Chakrawati, 2015. Bullying Siapa Takut?. Solo: Tiga Ananda
44 Ken Rigby. 1996. Bullying in School:And What to do it. London:Jessica Kingley, 2002.

Consequences of bullying in school. Kanada: Canadian Journal of Psychiatry.
45 Ratna Juwita, “Bullying: Kekerasan terselubung di sekolah,: http:// www.anakku.net (diakses

21 Maret 2016)

35

Sumber : harukurniawan.blogspot.com

Sumber : darmaccti.blogspot.com
Beberapa pertanyaan yang pokok dalam teori perkembangan kognitif adalah
dengan alat dan cara apa orang memperoleh pengertian, menyimpan dan
menggunakannya? Pada prinsipnya hal ini berhubungan dengan alat-alat
perkenalan dan bentuk-bentuk perkenalan. Kognisi adalah pengertian yang
luas mengenai berfikir dan mengamati,jadi tingkah laku yang mengakibatkan
orang memperoleh pengertian atau yang dibutuhkan untuk menggunakan
pengertian.
Teori Piaget banyak dipengaruhi oleh biologi dan epistemology (ajaran
tentang pengenalan) Biologi : Piaget banyak menggunakan pengertian
langsung diambil dari biologi Misalnya tentang pengertian intelegensi,

36

dipakainya pengertian-pengertian seperti adaptasi, organisasi, stadium,
pertumbuhan dan sebagainya. Epistemologi perhatian terhadap cabang ilmu
pengetahuan ini antara lain Nampak dalam penelitian empirical terhadap
timbulnya pengertian atau konsep mengenai waktu, ruang, kausalita dan
kesadaran akan aturan-aturan kehidupan. Piaget beranggapan bahwa
setip organism hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental
yaitu kecenderungan untuk adaptasi dan organisasi.46

Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organism
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kecenderungan adaptasi
ini mempunyai 2 komponen atau dua proses yang komplementer ( saling
melengkapi ) antara lain :

• Asimilasi yaitu kecenderungan anak mengubah lingkungan untuk
menyesuaikan dengan dirinya sendiri. Contoh makan, ketika anak
makan maka makanan menyesuaikan diri dengan pencernaannya. Dalm
lapangan psikologi prinsip asimilasi memegang peranan amat besar.
Anak usia 6-9 tahun dibeerikan suatu tugas verbal yang identik, tetapi
harus disadari bahwa anak hanya akan mengerti tugas tadi sepanjang
struktur kognitif, yaitu stadium perkembangan kognitifnya memung-
kinkan untuk hal tersebut.Anak mengasimilasikan tugas tadi dengan
struktur kognitifnya, ia mengerti tugasnya sepanjang ia mampu untuk
mengertinya.

• Akomodasi yaitu kecenderungan anak untuk mengubah dirinya sendiri
guna menyesuaikan diri dengan sekitarnya.Anak harus bersedia untuk
selalu memperoleh pengetahuan baru guna mengatasi masalah-masalah
yang baru.

Kecenderungan organisasi .Hal ini dapat dilukiskan sebagai kecenderungan
bawaan setiap anak untuk mengintegrasikan proses-proses sendiri menjadi
system-sistem yang koheren. Juga kecenderungan ini dapat ditemukan
dalam bidang biologis dan psikologis anak. Contoh paling gampang dalam
bidang biologis anak adalah berfungsinya system fisiologis sendiri sebagai
kesatuan yang terintegrasi. Bila ada gangguan dalam proses integrasinya
hal itu berarti“ penyakit “.

Ekuilibrium atau “ keseimbangan “ artinya pada masa usia 6-9 tahun ini
adanya keseimbangan antara proses asimilasi dan proses akomodasi yang
komplementer menyebabkan anak selalu berusaha untuk mencapai keadaan
yang seimbang dimana perkembangan ini berlangsung melalui proses
yang teratur.

46 FX. Dany H, SS dan Linda Murtihardjana, S Psi, Memaksimalkan Produktivitas Anak, panduan Memotivasi
Anak Meraih Prestasi Puncak dan Kemandirian, PT Prestasi Pustakaraya tahun 2009 hlm 16-20

37

6. Perkembangan Bahasa

Kemampuan bahasa dipelajari dan diperoleh anak usia dini secara alamiah
untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Sebagai alat sosialisasi, bahasa
merupakan suatu cara merespon orang lain.

Bromley (1992) menyebutkan empat macam bentuk Bahasa yaitu
menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Kemampuan berbahasa berbeda
dengan kemampuan berbicara. Bahasa merupakan suatu sistem tata bahasa
yang relatif rumit dan bersifat semantik, sedangkan kemampuan berbicara
merupakan suatu ungkapan dalam bentuk kata-kata. Bahasa ada yang bersifat
reseptif (dimengerti, diterima) maupun ekspresif (dinyatakan). Contoh bahasa
reseptif adalah mendengar dan membaca suatu informasi, sedangkan contoh
bahasa ekspesif adalah berbicara dan menuliskan informasi untuk
dikomunikasikan kepada orang lain.

Anak menerima dan mengekspresikan bahasa dengan berbagai cara.
Keterapilan menyimak dan membaca merupakan keterampilan bahasa reseptif
karena dalam keterampilan ini makna bahasa diperoleh dan diproses melalui
simbol visual dan verbal. Ketika anak menyimak dan membaca, mereka
memahami bahasa berdasarkan konsep pengetahuan dan pengalaman mereka.
Dengan demikian menyimak dan membaca juga merupakan proses pemahaman
(comprehending process). Berbicara dan menulis merupakan keterampilan
bahasa ekspresif yang melibatkan pemindahan arti melalui simbol visual dan
verbal yang diproses dan diekspresikan anak. Ketika anak berbicara dan
menulis, mereka menyusun bahasa dan mengkonsep arti. Dengan demikian,
berbicara dan menulis adalah proses penyusunan (composing process).

Mengembangkan keterampilan pemahaman dan penyusunan merupakan
dasar bagi kegiatan belajar anak secara umum. Cara anak dalam menggunakan
bahasa akan berpengaruh pada perkembangan sosial, emosional, fisik dan
kognitif. Keberhasilan anak dalam berbagai area seperti ilmu pengetahuan
alam, ilmu pengetahuan sosial dan matematika tergantung pada kemampuan
anak untuk memahami dan menyusun bahasa. Thaiss (dalam Bromley, 1992)
mengemukakan bahwa anak dapat memahami dan mengingat suatu informasi
jika mereka mendapat kesempatan untuk membicarakannya, menuliskannya,
menggambarkannya dan memanipulasinya. Anak belajar membaca dan
menyimak jika mereka mendapat kesempatan untuk mengekspresikan
pemahaman mereka dengan membicarakannya maupun menuliskannya untuk
diri mereka sendiri maupun ditunjukan pada orang lain. Belajar terjadi jika

38

ada diskusi antara guru dan anak, anak dan anak, anak dan buku, anak dan
lingkungannya. Bahasa dan belajar tidak dapat dipisahkan. Kemampuan
menggunakan bahasa secara efektif sangat berperan penting terhadap
kemampuan belajar anak.

Menyimak, berbicara, membaca dan menulis melibatkan proses kognitif
(berpikir) dan kosakata yang sama. Namun demikian, ada beberapa perbedaan
keempat bentuk bahasa tersebut sebagai berikut:
1. Anak menerima dan mengekspresikan bahasa dengan cara yang unik dan

bersifat individual. Perbedaan tersebut meliputi kosa kata dan intonasi
suara yang digunakan anak.
2. Penerimaan dan pengekspresian bahasa terjadi dengan kecepatan yang
berbeda. Menulis memakan waktu relatif lebih lama dibandingkan
menyimak, berbicara dan membaca.
3. Bentuk bahasa berbeda sesuai dengan daya tahan relatifnya. Membaca
dan menulis melibatkan tinta yang dapat dibaca kembali, diperbaiki dan
direflesikan dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan
berbicara. Menyimak dan berbicara bersifat sementara kecuali direkam
atau difilmkan untuk dapat dipergunakan lagi. Dengan demikian,
pemahaman terhadap bahasa ekspresif melalui menyimak berbeda dengan
pemahaman bahasa tertulis melalui membaca.
Bentuk bahasa berbeda dalam kandungan dan fungsinya. Bahasa yang
digunakan dalam diskusi secara verbal sering kali berbeda dengan bahasa
yang digunakan dalam tulisan. Pilihan kata yang dipakai dalam berbicara
akan berbeda dengan yang dipakai dalam menulis. Ekspresi wajah, bahasa
tubuh dan intonasi suara dalam berbicara dapat mengubah arti bahasa
yang akan disampaikan. Bahasa tertulis bersifat lebih permanen dibanding-
kan bahasa lisan, sehingga bersifat lebih formal. Sintaks dalam tulisan
juga dapat bersifat lebih akurat dari pada sintaks dalam bahasa lisan.
Dalam berbicara sering kali muncul gagasan baru di tengah kalimat yang
belum terselesaikan sehingga bahasa yang diucapkan merupakan kalimat
yang begitu panjang.

39

Ciri spesifik dari anak adalah ia selalu berubah baik jasmani maupun
fungsinya. Sejak lahir terdapat 4 masa pertumbuhan yaitu 47:
1. Pertumbuhan yang berjalan cepat sekali dalam tahun pertama, yang

kemudian mengurang secara berangsur-angsur sampai usia kira-kira 4
tahun.

Sumber : www.duniasehat.net
2. Pertumbuhan yang berjaan lambat dan teratur secara akil balik.
3. Pertumbuhan yang cepat pada masa akil balik.
4. Pertumbuhan yang kembali menngurang secara berangsur-angsur sehingga

pada suatu waktu berhenti.
Beberapa contoh factor lingkungan yang dapat menyebabkan kelainan adalah:

1. Obat-obatan: talidomid pada minggu pertama kehamilan menyebabkan
Amelia ( tidak ada ekstremitas ), fokomelia ( tidak ada bagian proksimal
ekstremitas ) Obat-obatan lainnya yang menyebabkan kelainan bawaan
adalah aminopterin, insulin, sitoksan ( endoksan) dan lain-lain. Patogenesis
nya belum diketahui sampai sekarang

2. Penyakit : rubella pada kehamilan 2-3 bulan dapat menyebabkan bayi
lahir dengan katarak dan kelainan bawaan lain.Penyakit lain yang dapat
menyebabkan kelainan bawaan ialah, Cyto megalic, inclusion disease,
toksoplasmosis, lues congenital.

47 Staf Pengajar Ilmu Kesehatan anak FK UI, Ilmu Kesehatan Anak, Pt. Infomedika Jakarta, 1985 hlm 169

40

3. Makanan : kekurangan makanan terutama protein hewani selama kehamilan
dapat menyebabkan abortus, prematuritas dan retardasi mental, terutama
pada kehamilan trimester II dan III.

4. Radiasi dan trauma mekanik dapat pula mempengaruhi pertumbuhan.

Anjuran yang dikemukakan adalah :

1. Meninggikan kualitas dan kuantitas BKIA, sehingga dapat mencapai para
ibu dan anak di rumah.

2. Memberi penerangan mengenai pendidikan kesehatan kepada orang tua,
terutama para ibu di BKIA dan lebaga-lembaga lain.

3. Menyebarluaskan pengertian mengenai keperluan jasmani dan rohani
kepada semua petugas yang berhubungan dengan anak.

4. Lembaga-lembaga yang mengasuh dan merawat anak hendaknya
memenuhi syarat-syarat yang memuaskan.

Melaksanakan pemberian makan yang sebaik-baiknya kepada bayi dan anak
bertujuan sebagai berikut :48

1 Memberikan nutrient yang cukup untuk kebutuhan : memelihara kesehatan
dan memulihkannya bila sakit, melaksanakan pelbagai jenis aktifitas, per-
tumbuhan dan perkembangan jasmani serta psikomotor.

2 Mendidik kebiasaan yang baik tentang memakan, menyukai dan menentukan
makanan yang diperlukan.
Nutrien adalah zat penyusun bahan makanan yang diperlukan oleh tubuh
untuk metabolism, yaitu air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan
mineral. Bahan makanan adalah hasil produksi pertanian, perikanan, dan
perternakan. Beberapa jenis makanan yang dapat langsung dimakan sebagai
makanan misalnya buah-buahan, susu telur dan lain-lain.

Berikut dilampirkan kebutuhan energi anak usia di atas 1 tahun :49

Golongan Kebutuhan energi ( Kal / kgbb / hari )
umur FAO ( 1971 ) Nelson ( 1969 )

1 tahun 112 110
1-3 tahun 101 100
4-6 tahun 91 90
7-9 tahun 78 80

48 Ilmu Kesehatan anak, Ibid hlm 313.
49 Ibid hlm 315.

41


Click to View FlipBook Version