Kecukupan gizi yang dianjurkan (menurut dan Departemen Kesehatan RI, 1968)
Gol Ca Fe Vit A Tiamin Ribo Niasin Vit C Vit D
Umur (g)
(g) sebagai ( mg ) Flavin ( mg ) ( mg ) U.I
Karotin ( mg )
( meg )
6-12 0,6 8 1200 0,4 0,5 6 25 ( 400 )
bln
1-3 thn 0,5 8 1500 0,5 0,7 8 30
4-6 0,5 10 1800 0,6 0,9 9 40
tahun
7-9 0,5 10 2400 0,8 1.0 13 50
tahun
Untuk pengaturan makanan anak usia 6-8 tahun adalah kebutuhan kalori
lebih banyak karena mereka lebih banyak melakukan aktifitas jasmani
misalnya olah raga untuk anak yang mampu dan bekerja membantu orang
tua di rumah atau di lading untuk di desa.
Gigi susu berangsur-angsur tanggal dan kemudian gigi permanen mulai
lengkap. Sebelum pergi ke sekolah perlu makan pagi yang cukup untuk
menghindarkan kemungkinan hipoglikemia. Mereka banyak mempunyai
perhatian dan aktifitas di luar rumah,kadang-kadang melupkan waktu makan.
Telah dapat jajan makanan di luar yang dapat engakibatkan gangguan
pencernaan. Akan tetapi mereka sudah dapat mempunyai daya tahan terhadap
penyakit gizi dan infeksi.
Selain hal yang menjadi perhatian sekarang tidak luput adanya fenomena
baru yang menghambat perkembangan anak usia dini yaitu stunting. Stunting
adalah masalah gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam
waktu lama sehingga pertumbuhan badan anak mengalami hambatan. Hal
ini dimulai sejak masih dalam kandungan dan akan tampak pada anak usia
2 tahun. Hal ini akan menyebabkan bukan hanya terhambat dari sisi tumbuh
kembang anak melainkan juga dari sisi sosial anak karena mengalami
hambatan belajar yang menyebabkan hasil belajar yang buruk.
Situs Adoption Nutrition menyebutkan, stunting berkembang dalam jangka
panjang karena kombinasi dari beberapa atau semua faktor-faktor berikut:
1. Kurang gizi kronis dalam waktu lama
2. Retardasi pertumbuhan intrauterine
3. Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori
4. Perubahan hormon yang dipicu oleh stres
5. Sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak.
42
Ranah psikologis siswa yang terpenting adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan
yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif adalah
sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lain nya yaitu ranah afektif
dan ranah psikomotor. Tidak seperti organ-organ tubuh lainnya, organ otak sebagai
markas fungsi kognitif bukan hanya sebagai penggerak aktivitas akal pikiran,
melainkan juga menara pengontrol, aktivitas perasaan dan perbuatan.50
Gardner dan Sternberg ( 1998 ) mengemukakan bahwa bagi guru untuk
memilih tekhnik yang tepat dalam pembelajaran ketika mempertimbangkan
kognitif anak murid adalah sebagai berikut : 51
1 Berharap bahwa murid memiliki perbedaan.
2 Mencurahkan waktu dan tenaga untuk mencapai kompetensi.
3 Menyadari bahwa kebutuhan siswa tidak hanya dalam area-area deficit.
Perkembangan potensi juga merupakan kebutuhan.
4 Mengetahui catatan-catatan prestasi yang terdahulu.
5 Mengetahui pengalaman terdahulu yang membentuk cara berfikir siswa.
6 Menantang siswa dengan tugas-tugas yang bervariasi dan mencatat hasilnya.
7 Menggunakan cara penilaian dan evaluasi yang bervariatif.
8 Terus mengubah kondisi belajar untuk mengungkapkan potensi.
9 Sewaktu-waktu menantang siswa untuk berprestasi melabihi yang
diharapkan.
10 Mencari sesuatu yang unik untuk dapat dilakukan masing-masing siswa.
Burden dan Bryd mengkategorikan pembelajar dalam dua bentuk yaitu :
1. Pembelajar lambat. Dianggap sebagai pembelajar lambat jika tidak dapat
belajar pada tingkat rata-rata sumber, teks, buku tugas, dan materi
pembelajaran yang dirancang bagi mayoritas di kelas ( Bloom, 1982 ).
Siswa ini banyak memiliki konsentrasi dan difiensi yang terbatas dalam
keahlian dasar seperti membaca, menulis dan matematika. Mereka perlu
diberikan perhatian lebih, instruksi, korektif, mempercepat pengajaran
khusus, variasi pengajaran dan mungkin materi yang lebih dimodifikasi.
Perlakuan yang harus diberikan guru di dalam kelas adalah :
Sering membuat variasi tekhnik pengajaran.
Mengembangkan pembelajaran yang menyangkut minat, kebutuhan,
dan pengalaman siswa.
Menyediakan lingkungan yang mendorong dan mendukung.
50 Muhibbin Syah, M Ed, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,
PT Remaja Rosdakarya Bandung tahun 2008 hlm 84
51 Abdul Majid, Ibid hlm 12-13
43
Menggunakan pembelajaran kooperatif peer tutor bagi siswa yang
membutuhkan pemantapan.
Menyediakan pembelajaran tambahan.
Mengajarkan materi dan langkah-langkah kecil dan sering melakukan
evaluasi pemahaman.
Menggunakan materi dan pengajaran individu jika memungkinkan.
Menggunakan materi audio visual unntuk pengajaran.
2 Pembelajar berbakat yaitu siswa yang mempunyai kemampuan diatas rata-
rata dan mereka membutuhkan pertimbangan pengajaran khusus. Hal-hal
yang harus dilakukan sekolah adalah :
Tidak mewajibkan untuk melakukan pengulangan terhadap materi yang
telah dikuasai oleh mereka.
Memberikan pengajaran dengan kecepatan yang fleksibel.
Merampingkan kurikulum dengan menghilangkan tugas-tugas yang
tidak perlu agar waktu beraktivitas dapat digunakan untuk aktivitas
yang lain
Mendorong siswa untuk lebih mandiri dalam belajar.
Menggunakan prosedur penilaian yang tidak menghambat siswa dan
tidak menghukum mereka jika memiliki aktivitas mengajar yang
kompleks.
Teori enam tahap perkembangan pertimbangan moral versi Kohlberg:52
Tingkat Tahap Konsep Moral
Tingkat I Moralitas prakonven- 1. Anak menentukan
sional ( usia 4-10 tahun ) keburukan perilaku berdasar-
Tahap I : memperhatikan kan tingkat hukuman akibat
ketaatan dan hukum keburukan tersebut.
2. Perilaku baik dihubung-
kan dengan penghindaran
dari hukuman.
Tahap 2: memperhatikan 1. Perilaku baik dihubungkan
pemuasan kebutuhan dengan pemuasan keinginan
dan kebutuhan tanpa
mempertimbangkan
kebutuhan orang lain.
Tingkat II Moralitas konvensional 1. Anak dan remaja ber-
( usia 10-13 tahun ) perilaku sesuai dengan
52 Muhibbin Syah, Med, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,
PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008, hlm 78-79.
44
Tingkat Tahap Konsep Moral
Tingkat II
Moralitas konvensional aturan dan patokan moral
Tingkat III
( usia 10-13 tahun ) Tahap agar memperoleh per-
3 memperhatikan citra “ setujuan orang dewasa,
anak baik “ bukan untuk menghindari
hukuman
2. Perbuatan baik dan buruk
dinilai berdasarkan tujuan-
nya. Jadi ada perkembangan
kesadaran terhadap perlunya
aturan.
Tahap 4 : memperhatikan 1. Anak dan remaja ber-
hukum dan aturan perilaku sesuai dengan
aturan dan patokan moral
agar memperoleh
persetujuan orang dewasa,
bukan untuk menghindari
hukuman
2. Perbuatan baik dan buruk
dinilai berdasarkan tujuan-
nya. Jadi ada perkembangan
kesadaran terhadap perlunya
aturan.
Moralitas pasca 1. Remaja dan dewasa
konvesional ( usia 13 mengartikan perilku baik
tahun ke atas ) dengan hak pribadi sesuai
Tahap 5 memperhatikan dengan aturan dan patokan
hak perseorangan sosial
2. Perubahan hukum dan
aturan dapat diterima jika
diperlukan untuk mencapai
hal-hal yang paling baik
3. Pelanggaran hukum dan
aturan dapat terjadi karena
alasan-alasan tertentu.
45
Tingkat Tahap Konsep Moral
Tahap 6: memperhatikan 1. Keputusan mengenai
prinsip-prinsip etika perilaku-perilaku sosial
didasarkan atas prinsip-
prinsip moral pribadi yang
bersumber dari hukum
universal yang selaras
dengan kebaikan umum dan
kepantingan orang lain.
2. Keyakinan terhadap moral
pribadi dan nilai-nilai tetap
melekat ,meskipun sewaktu-
waktu berlawanan dengan
hukum yang dibuat untuk
mengekalkan aturan sosial
Contoh seorang suami yang
tak beruang boleh jadi akan
mencuri obat untuk
menyelamatkan nyawa
istrinya dengan keyakinan
bahwa melestarikan
kehidupan manusia itu
merupakan kewajiban moral
yang lebih tinggi daripada
mencuri itu sendiri.
Sementara teori perkembangan sosial dan moral siswa menurut Albert
Bandura dan L Kohlberg adalah sbb :53
Aspek Albertr Bandura L Kohlberg
(Teori Belajar Sosial (Teori Psi Kognitif
1. Tekanan dasar Perilaku bergantung Pemikiran sebagai perilaku
pada pengaruh orang kualitatif dalam perkembangan
lain dan kondisi Berlangsung dalam tahap-tahap
tertentu. yang teratur dan berkaitan dengan
perkembangan kognitif.
53 Muhibbin, Ibid hlm 81-82
46
Aspek Albertr Bandura L Kohlberg
(Teori Belajar Sosial (Teori Psi Kognitif
2. Mekanisme Hasil dari Pemikiran sebagai perilaku
kualitatif dalam perkembangan
perolehan moralitas conditioning dan Berlangsung dalam tahap-tahap
yang teratur dan berkaitan dengan
modeling. perkembangan kognitif.
3. Usia perolehan Belajar berlangsung Proses belajar berkesinambungan
moralitas
sepanjang hayat dan sampai masa dewasa dan dapat
ada perbedaan usia ditetapkn dalam usia-usia tertentu
perolehan Nilai-nilai moral dalam tahapan
perkembangan bersifat universal
4. Kenisbian oralitas bersifat nisbi Orang-orang yang berada pada
kebudayaan
secara cultural tahap perkembangan yang lebih
tinggi dan memiliki pengaruh
yang sangat besar
5. Perilaku Model-model yang Guru harus berusaha merangsang
sosialisasi
sangat berpengeruh siswa agar mencapai tahap
,orang-orang dewasa perkembangan selanjutnya dan
dan teman-teman menjelaskan cirri-ciri perilaku
yang dapat moral pada tahap tersebut.
menyelurkan gajaran
dan hukuman
6. Implikasi untuk Guru harus menjadi
pendidikan teladan yang baik
dan mengganjar
setiap perilaku siswa
yang memadai.
Pendidikan dalam ranah afektif berfokus pada perasaan dan sikap.
Perkembangan emosional tidak mudah difasilitasi, tetapi terkadang perasaan
siswa mengenai kemampuan mereka atau kemampuan mata pelajaran yang
sama penting dengan informasi yang mereka pelajari. Beberapa hal yang
dapat dilakukan untuk mendorong kemampuan afektif adalah :
47
1. Mengetahui nama siswa sedini mungkin.
2. Menerima siswa apa adanya karena setiap siswa memiliki kualitas yang
menarik dan berharga.
3. Mengingat pengalaman terdahulu yag membentuk perasaan siswa.
4. Mengamati siswa; mengetahui suasana hati dan reaksi dari hari ke hari.
5. Melakukan pengamatan dalam jangka waktu tertentu.
6. Mengamati perubahan, stabilitas, dalam kondisi yang berbeda.
Terkait dengan kemampuan berkarya ini, hal-hal yang harus dilakukan
adalah:
1. Mendengar respons-respons kreatif.
2. Menghargai respons-respons kreatif dengan meminta siswa yang kreatif.
3. Menciptakan Susana belajar yang kreatif dan bukan konvensional.
4. Membolehkan beberapa karya menjadi open –end, mungkin berantakan,dan
tidak dapat dinilai untuk mendorong mereka agar mengeksplorasi.
5. Membangun lingkungan belajar yang fleksibel dimana siswa bebas
membuat pilihan dan melakukan minat-minat pribadi.
Selain hal–hal yang berkaitan dengan stimulasi positif diatas ada juga
langkah kongkrit yang perlu menjadi perhatian bagi para guru yaitu melibatkan
orang tua dalam pendidikan dan pengasuhan anak.Kegiatan ini disebut
parenting. Parenting asal kata dari parent. Parent dalam parenting memiliki
pengertian ibu, ayah dan seseorang yang akan membimbing dalam kehidupan
baru, maupun seorang pelindung. Parent adalah seseorang yang mendampingi
dan membimbing semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat,
melindungi, mengarahkan kehidupan baru anak dalam setiap tahapan
perkembangannya. 54
Menurut Thoha. parenting merupakan suatu cara terbaik yang ditempuh oleh
orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab
kepada anak.55 Sedangkan menurut Shohib, parenting adalah upaya orang tua
yang diaktuali-sasikan pada penataan lingkungan sosial, lingkungan budaya,
suasana psikologis serta perilaku yang ditampilkan.56 Megawangi menjelaskan
bahwa parenting merupakan proses menciptakan suasana kegiatan belajar
mengajar yang menekankan kehangatan bukan ke arah suatu pendidikan satu
arah atau tanpa emosi. 57
54 Jane Brooks, The Process of Parenting edisi ke 8 (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), h 54
55 ChabibThoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hlm 22
56 M Shohib, Pola Asuh Orang Tua (Jakarta, Rineka Cipta, 1998 ) hlm 21
57 Ratna Megawangi, Character Parenting Space, Menjadi Orang tua cerdas untuk Membangkitkan
Karakter Anak ( Bandung: Mizan Media Utama, 2007), hl 31
48
Hoghughi menyebutkan bahwa parenting ( pengasuhan ) mencakup beragam
aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat
bertahan hidup dengan baik. Prinsip pengasuhan menurut Hoghughi tidak
menekankan pada siapa ( pelaku ) namun lebih menekankan pada aktifitas
perkembangan dan pendidkan anak. Oleh karenanya pengasuhan meliputi
pengasuhan fisik, pengasuhan emosi dan pengasuhan sosial. 58
Parenting adalah proses mempromosikan dan mendukung perkembangan
emosional, sosial, intelektual dan fisik seorang anak dari bayi sampai dewasa.
Dalam hal ini orang tua memiliki satu tujuan yakni mensejahterakan anak dalam
mencapai tujuan tersebut orang tua menjadi fleksibel yakni sangat memperhatikan
karakteristik anak. 59
58 Hoghughi M, Long N, Editor, Handbook of Parenting Theory and Research for Practice
(London Sage Publication, 2004) hl 86
59 Ofra Mayseless (Editors), Parenting Representations Theory, Research and clinical Implications. ( New York
Cambridge University Press, 2006), h 100
49
Setelah membaca BAB ini diharapkan pembaca mampu mengidentifikasi model-
model pembelajaran yang selama ini telah diterapkan dan gambaran model
pembelajaran konstruktif berbasis Qur’ani
Tujuan Instruksional khusus
1. Mengenal hakikat model pembelajaran secara umum
2. Mengetahui konsep pengembangan model pembelajaran
3. Mengetahui macam-macam model pembelajaran
4. Mengetahui model pembelajaran konstruktif dan ciri yang melekat didalamnya
Model pembelajaran menurut Joyce, 1992 adalah suatu perencanaan atau
suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran
di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-
perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film, computer,
kurikulum dan lain-lain. 62
Model pembelajaran menurut Hasan Basri adalah disiplin yang berhubungan
dengan pemahaman dan perbaikan satu aspek dalam pendidikan yaitu proses
pembelajaran.63
Model pembelajaran menurut Jerrold E Kemp terdiri dari 4 unsur yang saling
terkait yaitu :64
SISWA METODE
TUJUAN EVALUASI
Gambar 2.1 Bagan Unsur model pembelajaran
62 Trianto, Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik, ( Jakarta: Prestasi Pustaka, 2009) hlm 74.
63 Hasan Basri, Paradigma Baru Sietem Pembelajaran, (Bandung : Pustaka setia, 2015) hlm 133
64 Martinis Yamin, M P d, Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan
(Jakarta, Gaung Persada Press, 2007) hlm 11
50
Unsur siswa, tujuan, metode dan evaluasi adalah kerangka acuan perencanaan
pembelajaran bersistem. Guru harus melihat, memperhatikan, mempertimbangkan
dan memprioritaskan tentang :
1. Ciri siswa, mahasiswa atau peserta didik.
2. Tujuan yang akan dicapai.
3. Metode dan kegiatan pembelajaran.
4. Evaluasi.
Model pembelajaran menurut Kemp (1995) adalah suatu kegiatan pembelajaran
yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai
secara efektif dan efisien .
Model pembelajaran menurut Charles M Reigeluth dan Alison A Carr
Chellman :instructional design is concered with understanding improving and
applying methods of instruction.65 (desain instruksional berkaitan dengan
pemahaman meningkatkan dan menerapkan metode pengajaran)
Ismail dalam Sofan menyatakan istilah model pembelajaran mempunyai 4
ciri khusus yang tidak dipunyai oleh stategi atau metode tertentu yaitu :
1. Rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya.
2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat
dilaksanakan secara berhasil.
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat
tercapai.
Model pembelajaran menurut Sofan adalah suatu desain yang menggambarkan
proses rincian dan penciptaan lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi
sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa. 66
Jadi model pembelajaran yaitu suatu kegiatan yang dirancang untuk
menciptakan kondisi belajar sehingga mendapatkan hasil pembelajaran yang
optimal sesuai dengan tujuan dan mengarah kepada perubahan tingkah laku.
Clarence Schauer (1971) menyebut pengembangan instruksional adalah
perencanaan secara akal sehat untuk mengidentifikasikan masalah belajar dan
mengusahakan pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan suatu rencana
terhadap pelaksanaan, evaluasi, uji coba, umpan balik dan hasilnya. Hamreus
(1971) menyebutnya secara singkat sebagai proses yang sistematis untuk
meningkatkan kualitas kegiatan instruksional dan Buhl (1975) menyebutnya
65 Charles M Reigeluth & Allison A Carr Chellman,Instructional-Design Theories and Models,
Buliding a Common Knowledge Base, ( London : Lawrence Erlbaum Ass, 1983) p 7
66 Sofan Amri, Pengembangan dan model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013,
(Jakarta Prestasi Pustaka, 2013) hlm 4 51
sebagai suatu set kegiatan yang bertujuan meningkatkan kondisi belajar bagi
mahasiswa. 67
An instructional design theory is a theory that offers explicit guidance on
how to better help people learn and develop.68
Teori desain instruksional adalah teori yang menawarkan panduan yang
eksplisit tentang cara untuk lebih membantu orang belajar dan berkembang.
Smith And Ragan’s (2005) dalam Rita C Richey menyebutkan Instructional
design is the systematic and reflective process of translating principles of learning
and instruction into plans for instructional materials,activities,information
resources and evaluation(p 4).69
Desain instruksional adalah proses yang sistematis dan reflektif menerjemahkan
prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran dalam rencana untuk bahan, sumber
daya instruksional, kegiatan informasi dan evaluasi .
Pengembangan instruksional adalah proses perencanaan,pelaksanaan dan
evaluasi pembelajaran yang dibuat dalam rangka meningkatkan kemampuan
peserta didik secara optimal.
Pemikiran dasar yang melandasi perlunya desain pembelajaran yang diarahkan
untuk membantu proses belajar secara individu dan membangun potensi yang
ada, maka dapat dijabarkan model pembelajaran yang dikembangkan antara lain
sebagai berikut :70
1) Model desain pembelajaran Gagne dan Briggs
Gagne and Briggs mengemukakan 12 langkah dalam pengembangan
desain instruksional yaitu :
1) Analisis dan identifikasi kebutuhan.
2) Penetapan tujuan umum dan khusus.
3) Identifikasi alternative cara memenuhi kebutuhan.
4) Merancang komponen dari system.
5) Analisis a) sumber-sumber yang diperlukan, b) sumber-sumber yang
tersedia c) kendala.
6) Kegiatan untuk mengatasi kendala.
7) Memilih atau mengembangkan materi pelajaran.
8) Merancang prosedur penelitian siswa.
67 M Atwi Suparman, Desain Instruksional ( Jakarta, Univ Terbuka 2004 ) hlm 35
68 Charles M Reigeluth, Instructional Design Theoris And Models ( A New Paradigm of instructional
Theory, ( London, Lawrence Erlbaum Associates, Publisher, 1999) p 5
69 Rita C Richey, James D Klein and Monica W Tracey, The Instructional Design Knowledge Base,
( Routledge New York,2011 ) p 2
70 Hasan Basri, Paradigma Baru Sistem Pembelajaran, (Bandung Pustaka Setia, 2015 ) hlm 136-141
52
9) Uji coba lapangan : evaluasi formatif dan pendidikan guru, cotyu.
10) Penyesuaian, revisi dan evaluasi lanjut.
11) Evaluasi sumatif.
12) Pelaksanaan operasional.
2) Model desain pembelajaran Wong dan Roulerson
Wong dan Roulerson (1974) mengemukakan 6 langkah pengembangan
desain instruksional,yaitu :
1) Merumuskan tujuan.
2) Menganalisis tujuan tugas belajar.
3) Mengelompokkan tugas-tugas belajardan memilih kondisi belajar yang
tepat.
4) Memilih metode dan media.
5) Menyintesiskan komponen-komponen pembelajaran.
6) Melaksanakan rencana,mengevaluasi,dan memberikan umpan balik.
3) Model Pengembangan Desain Sistem Instruksional PPSI
1) Perumusan tujuan atau kompetensi beserta indikator ketercapaiannya
yang harus memenuhi 4 kriteria berikut :
a) Menggunakan istilah yang operasional.
b) Berbentuk hasil belajar.
c) Berbentuk tingkah laku.
d) Hanya satu jenis tingkah laku.
2) Pengembangan alat penilaian
a) Menentukan jenis tes/instrument yang akan digunakan untuk menilai
tercapai tidaknya tujuan.
b) Merencanakan pertanyaan (item) untuk menilai tiap-tiap tujuan.
3) Kegiatan belajar
a) Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar untuk mencapai
tujuan
b) Menetapkan kegiatan belajar yang tidak perlu ditempuh.
c) Menetapkan kegiatan yang akan ditempuh.
4) Pengembangan program kegiatan
a) Merumuskan materi pelajaran.
b) Menetapkan model yang dipakai.
c) Alat pelajaran/buku yang dipakai.
d) Menyusun jadwal.
5) Pelaksanaan
a) Mengadakan pretest.
b) Menyampaikan materi pelajaran.
c) Mengadakan post test.
53
4) Model J. E. Kemp
Menurut Kemp (1977) pengembangan instruksional atau desain
instruksional terdiri atas 8 langkah, yaitu :
a) Menentukan tujuan instruksional umum (TIU) atau standar kompetensi.
b) Menganalisis karakteristik peserta didik.
c) Menentukan TIK atau kompetensi Dasar.
d) Menentukan materi pelajaran.
e) Menetapkan penjajagan awal (pre test).
f) Menentukan strategi belajar mengajar.
g) Mengoordinasi sarana penunjang,yang meliputi tenaga, fasilitas, alat,
waktu dan tenaga.
h) Mengadakan evaluasi.
5) Model Briggs
Model pengembangan instruksional Briggs bersandarkan prinsip
keselarasan antara :
(1) tujuan yang akan dicapai
(2) Strategi untuk mencapainya
(3) Evaluasi keberhasilannya.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
a) Identifikasi kebutuhan/penentuan tujuan.
b) Penyusunan garis besar kurikulum/perincian tujuan kebutuhan instruksional
yang telah dituangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujian-
nya harus diperinci, disusun dan diorganisasikan menjadi tujuan-tujuan
yang lebih spesifik.
c) Perumusan tujuan.
d) Analisis tugas/tujuan.
e) Penyiapan evaluasi hasil belajar.
f) Penentuan jenjang belajar.
g) Penentuan kegiatan belajar.
h) Pemantauan bersama.
i) Evaluasi formatif.
j) Evaluasi sumatif.
6) Model Gerlach dan Ely
Menurut Gerlach dan Ely (1971) langkah-langkah dalam pengembangan
desain instruksional terdiri atas :
a) Merumuskan tujuan instruksional.
b) Menentukan isi materi pelajaran.
54
c) Menentukan kemampuan awal peserta didik.
d) Menentukan tekhnik dan strategi.
e) Mengelompokkan belajar.
f) Menentukan pembagian waktu.
g) Menentukan ruang.
h) Memilih media instruksional yang sesuai.
i) Mengevaluasi hasil belajar.
j) Menganalis umpan balik.
7) Model Bela H Banathy
Menurut Banathy,secara garis besar pengembangan desain instruksional
meliputi 6 langkah pokok yaitu :
a) Merumuskan tujuan.
b) Mngembangkan tes.
c) Menganalisis kegiatan belajar.
d) Mendesain system instruksional.
e) Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil.
f) Merumuskan tujuan instruksional.
8) Model Dick And Carey
Dick and Carey memberikan langkah-langkah dalam model pembelajaran
adalah sebagai berikut :
a) Menganalisis tujuan pembelajaran.
b) Melakukan analisis pembelajaran.
c) Menganalisis siswa dan konteks.
d) Merumuskan tujuan khusus.
e) Mengembangkan instrument penilaian.
f) Mengembangkan strategi pembelajaran.
g) Mengembangkan materi pembelajaran.
h) Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif.
i) Merevisi pembelajaran.
j) Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif.
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan
baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.Filsafat konstruktivis
mulai digagas oleh Mark Baldawin dan dikembangkan serta diperdalam oleh
Jean Piaget yang menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya
dari obyek- semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subyek yang
menangkap setiap obyek yang diamatinya.(Wina Sanjaya, 2015).
55
Konstruktivisme merupakan salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan
bahwa pengetahuan merupakan buatan kita sendiri. Pengetahuan bukan tiruan
dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan
merupakan hasil dari kostruksi kognitif melalui kegiatan individu dengan membuat
struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk
pengetahuan tersebut (Agus N.Cahyo, 2013).
Konstruktivisme dikembangkan berdasarkan paham behaviorisme yang
memandang manusia berada dalam kotak hitam atau black box dan kognitivisme
yang memandang pikiran manusia merupakan hal yang penting dalam memahami
dan memaknai sesuatu yang dihadapinya. Perpaduan kedua pandangan yang
berbeda tentang manusia dari cara belajar manusia dalam pertumbuhan dan
perkembangannya membuat penerapan kedua teori itu menjadi lebih sempurna
(Martini Jamaris, 2012).
Pengetahuan itu berasal dari luar dan dikonstruksi oleh dan dari individu itu
sendiri yang didapat dari pengalaman yang dialaminya. Oleh karena itu pengetahuan
itu terbentuk oleh 2 faktor yaitu obyek yang menjadi bahan pengamatan dan
subyek yang mengintetprestasi obyek tersebut. Lebih jauh Piaget menyatakan
hakikat pengetahuan sebagai berikut (Wina Sanjaya, 2015):
1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka,akan
tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subyek.
2. Subyek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang
perlu untuk pengetahuan.
3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi
membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan
pengalaman-pengalaman seseorang.
Konstruktivisme mengacu pada teori pendekatan kognitif dimana dalam
pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal,
mental manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif tingkah laku manusia yang
tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti;
motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya (Syah, 2014)
Slavin berhasil mengidentifikasi 4 karakteristik belajar dengan pendekatan
konstruktivis yaitu :(Slavin, 1993)
1. Proses top-down ,yaitu peserta didik memulai pelajaran dengan masalah
masalah yang kompleks untuk dipecahkan dan selanjutnya memecahkan
atau menemukan ( dengan bantuan pendidik ) ketrampilan-ketrampilan
dasar yang diperlukan. Contohnya peserta didik dapat diminta untuk
menuliskan suatu susunan kalimat dan baru kemudian belajar dengan
mengeja, tata bahasa, dan tanda baca.
56
2. Pembelajaran kooperatif, yaitu peserta didik akan lebih mudah menemukan
dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan
masalah tersebut dengan temannya.
3. Generative learning ( pembelajaran generatif ) yaitu model pembelajaran
yang menekankan pada penyatuan secara aktif antara pengetahuan awal
dengan pengetahuan baru yang dimiliki peserta didik melalui peran
aktifnya dalam proses pembelajaran. Peserta didik selalu aktif berpartisipasi
dalam mengkonstruksi makna dari informasi yang ada disekitarnya
berdasarkan pengetahuan awal dan pengalaman yang dimilikinya.
4. Pembelajaran dengan penemuan, yaitu peserta didik didorong untuk
belajar melalui keterlibatan aktifnya sendiri dengan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip yang telah ditentukan.Sementara itu pendidik mendorong
peserta didik untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang
memungkinkannya menemukan prinsip-prinsip untuk dirinya sendiri.
Secara garis besar, prinsip-prinsip konstuktivisme yang diterapkan dalam
belajar mengajar ialah sebagai berikut : (Agus N.Cahyo, 2013)
1. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik sendiri.
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pendidik ke peserta didik
kecuali hanya dengan keaktifan peserta didik untuk menalar.
3. Peserta didik mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu
terjadi perubahan konsep ilmiah.
4. Pendidik sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses
konstruksi berjalan lancar.
5. Pendidik menghadapi masalah yang relevan dengan peserta didik.
6. Struktur pembelajaran ialah seputar pentingnya sebuah pertanyaan.
7. Pendidik mencari dan menilai pendapat peserta didik.
8. Pendidik mesti menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan
peserta didik.
Pembelajaran yang dikembangkan dalam teori konstruktivis merupakan
pembelajaran kreatif dan bermakna .Pembelajaran kreatif dan bermakna merupakan
pembelajaran yang erat kaitannya dengan konstruktivis pemikiran Vygotsky
( social and Emancipator Contructivism ). Paham ini berpendapat bahwa peserta
didik mengkonstruksikan pengetahuan atau menciptakan makna sebagai hasil
dari pemikiran dan berinteraksi dalam suatu konteks sosial. Teori belajar ini
merupakan teori tentang penciptaan makna. (Karim, 2017).
Dari uraian para ahli teori belajar diatas disarikan bahwa konstruktivisme
dalam proses belajar merupakan proses aktif siswa mengkonstruksikan arti,
wacana, dialog, pengalaman fisik dan lain-lain. Menurut Panen proses tersebut
bercirikan : 1) belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh sisiwa
57
dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi arti itu
dipengarruhi oleh pengertian yang telah ia miliki, 2) Konstruksi arti merupakan
proses yang terus-menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan
baru, siswa akan selalu mengadakan rekonstruksi 3) Belajar bukanlah kegiatan
mengumpulkan fakta, melainkan merupakan suatu proses pengembangan pemikiran
dengan membuat pengertian yang baru, Belajar bukanlah hasil perkembangan
melainkan merupakan perkembangan itu sendiri, suatu perkembangan menuntut
penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang, 4) Proses belajar terjadi
pada saat skema seseorang dalam kesenjangan yang merangsang pemikiran lebih
lanjut 5) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman siswa dengan dunia fisik
dan lingkungannya. 6) Hasil belajar siswa tergantung pada apa yang telah diketahui
siswa; konsep-konsep, tujuan dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan
bahan yang dipelajari.
Konstruktivisme dalam proses pembelajaran memandang bahwa pembelajaran
bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan
suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya.
Pembelajaran berarti partisipasi guru bersama sisiwa dalam membentuk
pengetahuan membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan mengadakan
justifikasi. Jadi pembelajaran adalah bentuk belajar sendiri. Dikatakan oleh Von
Glasefeld seperti dikutip Pannen, pembelajaran membantu seseorang berfikir
secara benar dengan membiarkannya berfikir sendiri. Berfikir yang baik lebih
penting daripada mempunyai jawaban yang benar atas suatu persoalan. Jika
seseorang mempunyai cara berfikir yang baik, berarti cara berfikirnya dapat
digunakan untuk menghadapi fenomena baru, akan dapat dapat menemukan
pemecahan dalam menghadapi persoalan yang lain. Sementara itu, siswa yang
sekedar menemukan jawaban benar belum tentu pasti dapat memecahkan persoalan
baru, karena mungkin ia tidak dapat mengerti bagaimana menemukan jawaban
itu.
Pembelajaran berlandaskan konstruktivisme menurut Mattews memiliki ciri.
1) orientasi, yaitu siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi
dalam mempelajari suatu topik, dan juga diberi kesempatan mengadakan observasi
terhadap topik yang hendak dipelajari. 2) Elisitasi, yakni siswa dibantu untuk
mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster
dan lain-lain. Ia juga diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa yang diobservasi
dalam bentuk tulisan, gambar maupun poster. 3) Rekonstruksi ide, meliputi (a)
klarifikasi ide yang dikonstraskan dengan ide-ide orang lain atau teman lewat
diskusi ataupun pengumpulan ide. Saat siswa berhadapan dengan ide-ide lain,
ia terangsang untuk merekonstruksikan gagasannya jika tidak cocok atau sebaliknya,
menjadi lebih yakin bila gagasannya cocok. (b) membangun ide baru yang dapat
58
terjadi bila dalam diskusi itu idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya
tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-teman dan
(c) mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen Jika dimungkinkan ada baiknya
bila gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan suatu percobaan atau persoalan
yang baru. 4) Penggunaan ide dalam banyak sistuasi. Ide atau pengetahuan yang
telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi
yang dihadapi, sehingga menjadi lebih lengkap dan bahkan lebih rinci segala
macam kondisinya. dan 5) Review, bagaimana ide berubah. Dapat terjadi bahwa
dalam mengaplikasi pengetahuannya seseorang perlu merevisi gagasan-
nya dengan menambahkan suatu keterangan ataupun mengubahnya menjadi lebih
lengkap.
Kebermaknaan menurut Piaget adalah pengetahuan tidak diperoleh secara
pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan (action). Perkembangan
pengetahuan anak tergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Pengetahuan ini sendiri merupakan proses
berkesinambungan tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan keseimbangan
(Karim, 2017).
Tasker mengemukakan 3 penekanan dari teori konstruktivistik. Pertama :
peran aktif peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna.
Kedua : pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian
secara bermakna. Ketiga : mengaitkan antara gagasan dan informasi baru yang
diterima.
Wheatley menyebutkan 2 prinsip utama dalam pembelajaran menurut teori
kontruktivis yaitu Pertama : pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif,
tetapi secara aktif oleh struktur kognitif peserta didik. Kedua : kognisi bersifat
adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki
anak.
Ausubel berpendapat bahwa belajar bermakna hanya terjadi bila peserta
didik menemukan sendiri pengetahuan. Hanburry mengemukakan sejumlah aspek
dalam kaitannya dengan pembelajaran yaitu : 1) peserta didik mengkonstruksi
pengetahuan dengan cara mengintegrasikan gagasan-gagasan yang mereka miliki
2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena peserta didik mengerti 3) strategi
peserta didik lebih bernilai 4) peserta didik mempunyai kesempatan untuk
berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan
temannya.
59
Tytler mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan
pembelajar menurut teori konstruktivis 1) memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri 2) memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir tentang pengalamannya sehingga
menjadi kreatif dan imajinatif 3) memberi kesempatan pada peserta didik untuk
mencoba gagasan baru 4) memberi pengalaman yang berhubungan dengangagasan
yang telah dimiliki peserta didik 5) mendorong peserta didik untuk
memikirkan perubahan gagasan mereka 6) menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif. (Karim, 2017)
Teori konstruktivis tentang pembelajaran sejalan dengan pandangan
Al Qur’an terhadap proses pembelajaran yang seharusnya diterapkan dan dijalankan
oleh pendidik dalam membentuk anak generasi bangsa yang berkarakter keagamaan
dan kebangsaan. Dalam nilai nilai yang termaktub dalam Al Qur’an sudah banyak
dibahas dan dijadikan rujukan penerapannya. Sebelum melangkah pada proses
pembelajaran maka kita perlu kaji dalam fase pertumbuhan dan perkembangan
yang telah tertulis dalam Al Quran.
Sebagai sebuah proses pembentukan yang mengarah pada proses pembelajaran
haruslah diperhatikan mengenai tahapan /fase dari pertumbuhan secara fisik dan
intelektual dari individu sebagai acuan untuk penyusunan konsep pembelajaran
yang akan diterapkan. Proses pembentukan itu bersumber dari pertumbuhan dan
perkembangan yang optimal dengan rangsangan yang sesuai dengan karakteristik
dari perkembangan itu sendiri. Pertumbuhan dirangsang dengan pemberian
amunisi untuk tubuh berupa makanan dan gizi yang sesuai dengan kebutuhan
dan halal. Sementara perkembangan ditentukan dengan rangsangan pendidikan
yang sesuai dengan karakteristik perkembangan yang diharapkan yang dikaji
dari teori-teori perkembangan dan penelitian-penelitian yang relevan. Perkembangan
ini dikaji dari 2 sisi yaitu fisik dan psikis. Tahapan oleh masing-masing tidak
sama ditinjau dari seberapa dalam mengkaji dan mengamati tahapan perekembangan
tersebut. Karena kajian dalam penelitian ini adalah dalam konteks syariat Islam
maka ditemukan gambaran perkembangan fisik dan intelektual untuk anak melalui
gambar sebagai berikut :
60
Gambar2.3 Fase pertumbuhan dan perkembangan anak versi Islam
Dalam gambar diatas dijelaskan tentang fase-fase perkembangan anak menurut
syariat Islam yang dimulai dari usia sejak lahir sampai 18 tahun. Fase tersebut dilalui
dengan periode Bayi/thufulah ( 0-2 Tahun ), periode anak-anak ( 2-7 tahun ), periode
Tamyiz (7-10 tahun), periode Amrad ( 10-15 tahun ) dan periode taklif ( 15-18 tahun).
Fase ini akan sangat berkembang dengan pesat apabila pendidik di lingkungan tempat
anak tinggal memiliki rangsangan yang tepat buat anak didiknya .Dan dalam hal ini
tentunya dikondisikan ke dalam lingkungan pendidikan yang sesuai.
Dalam pendidikan Islam, sesungguhnya banyak sekali metode pembelajaran
yang bisa dikembangkan. Karena pada prinsipnya pendidikan Islam adalah berusaha
menumbuh-kembangkan, mendidik, merawat, membesarkan setiap potensi yang
diberikan Allah kepada peserta didik. Metode dan pendekatan pembelajaran
dalam pendidikan Islam diantaranya adalah dialog Qur’ani dan Nabawi; kisah
Qur’ani dan Nabawi; mauizah; keteladanan; dan targhib dan tarhib. (Sri Mawarti,
n.d.).
Pembelajaran membutuhkan tahapan dalam pelaksanaannnya. Variasi kegiatan
merupakan langkah mencapai tujuan pembelajaran. Langkah –langkah ini
tergambar dari materi dan media yang akan digunakan. Materi dan media
disesuaikan dengan mengarah pada metode pembelajaran yang akan digunakan.
Oleh karenanya ada beberapa alternatif metode yang disesuaikan dengan tujuan
pembelajaran. Ada beberapa metode yang layak diterapkan pada kegiatan
pendidikan terhadap anak usia dini menurut pandangan Islam dengan dalil yang
jelas dalam Al Qur’an, yaitu:
61
Dalam kaitannya dengan metode pengajaran dalam pendidikan Islam, dapat
dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk
membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan
ajaran agama Islam. Pembiasaan dinilai sangat efektif jika penerapannya dilakukan
terhadap peserta didik yang berusia masih berusia 0-6 tahun, seperti pendidikan
sholat, agar anak terbiasa melakukan sholat sedini mungkin maka orang tua
dianjurkan untuk menyuruh dan mengajarkan anaknya melakukan sholat sebelum
masa balighnya. Pembiasaan bersifat pengulangan yang berguna untuk memperkuat
hapalan (Syafarudin Dkk, 2006) .
Dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 40 :
Artinya : Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap
menegakkan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku
Dalam Al Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 78
Kerjakanlah shalat sejak matahari tergelincir hingga gelapnya malam dan
(kerjakan pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh
malaikat).
Oleh karena itu, sebagai awal dalam proses pendidikan, pembiasaan
merupakan cara yang sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral ke
dalam jiwa anak. Nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya ini kemudian akan
selalu terwujud dengan perilaku dalam kehidupannya sejak ia mulai melangkah
ke usia remaja dan dewasa. Berbagai kebiasaan akan terbentuk pada diri
anak didik oleh para pendidiknya. Apabila sejak dini dibiasakan dengan hal-
hal yang positif, diharapkan akan memberi pengaruh positif pada diri anak
setelah dewasa. (Hall, 2016)
(1) Metode Keteladanan
Bila dicermati dari historis pendidikan di zaman Rasulullah Saw. Dapat
dipahami bahwa salah satu faktor terpenting yang membawa beliau kepada
keberhasilan adalah keteladanan (uswah). Seperti Hadis Nabi saw :
62
“Dan sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada tauladan yang baik bagi orang
yang mengharapkan (bertemu dengan) Allah dan hari kemudian dan yang
mengingat Allah sebanyak- banyaknya”. (Q.S. Al-Ahzab/33 : 21).
Rasulullah terlebih dahulu mempraktekkan selalu semua ajaran yang
disampaikan Allah SWT. sebelum menyampaikannya kepada umat, sehingga
tidak ada celah bagi orang-orang yang tidak senang / tidak setuju untuk
membantah dan menuduh Rasulullah Saw. Keteladanan memberikan kontribusi
yang sangat besar dalam pendidikan ibadah, akhlak, dan kesenian. Untuk
membentuk anak yang saleh, pendidik tidak cukup hanya memberikan prinsip
secara konseptual saja, karena yang lebih penting bagi siswa adalah model
teladan yang memberikan contoh nyata dalam menerapkan prinsip tersebut.
Allah mengingatkan dalam Qur’an S. al-Baqarah/2: 44:
“Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan sedang kamu
melupakan dirimu sendiri, dan kamu membaca kitab, tidaklah kamu pikirkan?”
Mendidik melalui keteladanan, dengan memberikan contoh langsung
perilaku kepada manusia lainnya, hal ini sangat berpengaruh terhadap
perkembangan, pertumbuhan serta pembentukan pribadi anak. (Zainuddin
Syarif, 2014).
Dalam bahasa arab “penghargaan ” diistilahkan dengan “tsawab”. Kata “tsawab”
bisa juga berarti: “Pahala, upah dan balasan”. Kata “tsawab” banyak ditemukan
dalam al quran, ketika kitab suci berbicara tentang apa yang akan diterima oleh
seseorang baik di dunia maupun di akhirat dari amal perbuatannya. Kata “tsawab”
tersebut terdapat dalam surah Ali Imran ayat 145, 148 dan 195, surah an-Nisa ayat
134, surah al-Kahfi ayat 31. Berdasarkan penelitian dari ayat-ayat tersebut, kata
“tsawab” selalu diterjemahkan kepada balasan yang baik. Jalaludin Al Mayally ,
(Imam Jalaludin al Mayally, 1996). Sebagaimana salah satu diantaranya dapat dilihat
dalam S. Ali Imron/3: 145:
63
Sesuatu tidak akan mati kecuali atas izin Allah sebagai ketetapan yang
telah ditentukan waktunya .Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya
Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki
pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami
akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Dalam ayat berikutnya S. Ali Imron:
Maka Allah Swt. berikan ganjaran kepada mereka di dunia dan di akhirat
dengan ganjaran yang baik, dan Allah Swt. cinta kepada orang-orang yang
berbuat baik.”
Dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah 269
“Allah menganugerahkan Al Hikmah ( kepahaman yang dalam tentang Al
Qur’an dan Al Sunnah ) kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Barang siapa
yang dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi karunia yang banyak.
Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang
berakal.”
Dalam pembahasan yang lebih luas, pengertian istilah “ganjaran/
penghargaan” dapat dilihat sebagai berikut :
a. Ganjaran/ penghargaan adalah salah satu alat pendidikan preventif dan
represif yang menyenangkan dan bisa menjadi pendorong atau motivator
belajar bagi murid.
b. Ganjaran/penghargaan adalah reward terhadap perilaku baik dari anak
didik dalam proses pendidikan. Sedikit berbeda dengan metode targib,
“tsawab”lebih bersifat materi, sementara “targib” adalah “harapan serta
janji yang menyenangkan yang diberikan terhadap anak didik dan
merupakan kenikmatan karena mendapat penghargaan”.
Berbagai macam cara yang dapat dilakukan dalam memberikan ganjaran/
penghargaan, antara lain:
1. Ucapan yang indah, baik dan membanggakan, diberikan agar anak lebih
bersemangat dalam belajar.
2. Imbalan materi/hadiah, karena tidak sedikit anak-anak yang termotivasi
dengan pemberian hadiah/ imbalan.
64
3. Do’a yang diucapkan, misalnya “Semoga Allah Swt. menambah kebaikan
padamu”.........
4. Tanda penghargaan ( berupa piala atau medali ), hal ini sekaligus
menjadikan kenang-kenangan /ingatan bagi anak atas prestasi yang
diperolehnya.
Dalam bahasa Arab “hukuman” diistilahkan dengan “iqab”, Jaza’ dan ‘uqubah”.
Kata “iqab” bisa juga berarti balasan. Alquran memakai kata “iqab” sebanyak
20 kali dalam 11 surat, yaitu: Q.S. Al-Baqarah/2: 196, 211, Ali Imron/: 11, al-
Maidah: 2, 98, al-An’am: 165, al-A’raf: 167, al-Anfal: 13, 25, 49, dan 52, ar-
Ra’d: 6 dan 32, Sad: 14, Gafir: 3, 5, dan 22, Fushilat: 27 : dan al-Hasyr: 4 dan
7. Bila memperhatikan masing-masing ayat tersebut, terlihat bahwa kata “iqab”selalu
didahului oleh kata “syadid” (yang paling, amat dan sangat), dan semuanya
menunjukkan arti “keburukan” dan “azab yang menyedihkan”.
Seperti firman Allah S. Ali Imran: 11 yang artinya:
“(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang
sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa
mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.”
Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,Engkau berikan kerajaan
kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang
yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala
kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu “.
Dalam Al Qur’an Surat Al An’am ayat 165
65
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-pemguasa di bumi, dan Dia
meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain beberapa derajat, untuk
mengujimu tentang apa yang diberikan Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu
amat cepat siksaanNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang “
Prinsip pokok dalam mengaplikasikan pemberian hukuman yaitu, bahwa
hukuman adalah alternatif jalan yang terakhir dan harus dilakukan secara terbatas
dan yang tidak menyakiti anak didik. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah
untuk menyadarkan peserta didik dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan. Oleh
karena itu agar pendekatan ini tidak terjalankan dengan leluasa, maka setiap
pendidik hendaknya memperhatikan syarat-syarat dalam pemberian hukuman,
yaitu: Jalaludin (Imam Jalaludin al Mayally, 1996)
a. Pemberian hukuman harus dalam bentuk jalinan kasih sayang.
b. Hukuman harus didasarkan kepada alasan “keharusan”.
c. Harus menimbulkan kesan/ makna di hati anak.
d. Harus menimbulkan keinsyafan dan penyesalan kepada anak didik agar tidak
mengulangi kembali kesalahan yang sama.
e. Diikuti dengan pemberian maaf dan harapan serta kepercayaan.
Dalam hal ini Rasulullah Saw. Bersabda: “Suruhlah anak-anakmu untuk
mengerjakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah bila ia
membangkang (meninggalkan salat) jika mereka telah berusia 10 tahun serta
pisahkan tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud).
Yang dimaksud dengan metode ceramah ialah cara penyampaian sebuah
materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai.
Ini relevan dengan defenisi yang dikemukakan oleh Ramayulis (Ramayunis,
1990), bahwa metode ceramah ialah “penerangan dan penuturan secara lisan
guru terhadap murid-murid di ruangan kelas.”
Sejak zaman para Nabi dan juga Rasulullah SAW, metode ceramah merupakan
cara yang paling awal yang dilakukan dalam menyampaikan wahyu kepada umat.
Karakteristik yang menonjol dari metode ceramah adalah peranan guru tampak
lebih dominan. Sementara siswa lebih banyak pasif dan menerima apa yang
disampaikan oleh guru.
Dalam sebuah Hadis Nabi Saw. bersabda:
”Sampaikanlah olehmu walaupun itu satu ayat.”
66
Dalam Al Qur’an surat Al Ma’idah ayat 67
“Wahai Rasul, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu,
dan jika kamu tidak melakukan berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya.
Allah menjagamu dari bahaya manusia, sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang kafir”
Dan juga dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 219
“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepadamu supaya kamu berpikir”.
Metode tanya jawab ialah penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan
pertanyaan dan murid menjawab. Atau suatu metode di dalam pendidikan dimana
guru bertanya sedangkan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya.
Dalam sejarah perkembangan Islam pun dikenal metode tanya jawab, karena
metode ini sering dipakai oleh para Nabi Saw. dan rasul Allah dalam mengajarkan
ajaran yang dibawanya kepada umatnya. Q S Al Baqarah 189 yang berarti :
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “Bulan sabit itu
adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.”Dan bukanlah
kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah
kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-
pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.”
67
Metode kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi
pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya
sesuatu kejadian atau peristiwa baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan
saja. Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang berpedoman pada Alquran dan
Hadits menghilangkan anggapan adanya kisah bohong/rekayasa , karena Islam
selalu bersumber dari dua sumber yang dapat dipercaya (Al Qur’an dan Hadist),
sehingga cerita yang disodorkan terjamin kesahihan dan keabsahannya. Dalam
mengaplikasikan metode ini pada proses belajar mengajar (PBM), metode kisah
merupakan salah satu metode pendidikan yang mashur dan terbaik, sebab kisah
itu mampu menyentuh jiwa jika didasari oleh ketulusan hati yang mendalam.
Dalam surat Yusuf: 3 yang artinya :
“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan
Alquran ini kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum (Aku mewahyukan)
adalah termasuk orang-orang yang lalai.” Kandungan ayat ini mencerminkan
bahwa cerita yang ada dalam alquran merupakan cerita-cerita pilihan yang
mengandung nilai paedagogis.
Metode pemberian tugas merupakan salah satu cara didalam penyajian bahan
pelajaran kepada siswa. Guru memberikan sejumlah tugas terhadap murid-
muridnya untuk mempelajari sesuatu, kemudian mempertanggungjawabkannya.
Dalam Al Qur’81fan Surat Az Zariyat ayat 56
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku”.
Makna dari ayat diatas adalah:
a. Allah SWT menciptakan jin dan manusia untuk menyembah dan beribadah
hanya kepada Allah SWT.
b. Menyembah kepada Allah adalah ibadah, baik berupa ibadah khusus (mahdah)
dan ibadah umum (ghairu mahdah).
c. Rukun Islam adalah komitmen umat muslim.
68
d. Mencari ridha Allah artinya adalah bahwa setiap perbuatan, pengabdian,
penyembahan harus diawali dengan basmalah dan niat memohon ridha Allah
SWT.
Dalam Al Qur’an Surat Al Ashr ayat 1-3
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran
dan saling menasihati untuk kesabaran “
Menurut Martinis Yamin, (Martinis Yamin, 2011) metode karya wisata adalah
suatu metode pengajaran yang dilaksanakan dengan melakukan kunjungan ke
suatu daerah/ obyek wisata dalam rangka memperluas pengetahuan .Karyawisata
dilihat dari psikologis lebih positif untuk mengkonstruksikan pengetahuan peserta
didik diantaranya ; pertama membuka cakrawala/wawasan peserta didik; kedua,
menambah pengalaman empirisnya; ketiga,peserta didik merasa fresh/segar yang
selama ini mereka dihadapkan dengan berbagai teori dan praktek di sekolah ;
keempat, mencintai alam dan lingkungannya; keenam, memupuk kebersamaan
dan kerja sama.
Dalam Al Qur’an surat Ali Imron ayat 190 dan 191 ;
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka."
Dalam Al Qur’an surat Al Mulk ayat 3
69
“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu
yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah
sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? “
(2) Metode Eksperimen
Ramayulis. ( 1990 : 46 ) mendefinisikan, metode eksperimen ialah suatu
metode mengajar yang melibatkan murid untuk melakukan percobaan
percobaan pada mata pelajaran tertentu.Metode eksperimen adalah cara
penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan, mengalami
dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari Djamarah, ( 2010 : 84 ).
Penggunaan metode eksperimen hendaknya mendapat perhatian serius dari
pihak guru, sebab metode eksperimen juga memiliki kelemahan-kelemahan
di samping ada kelebihan-kelebihan sebagaimana metode-metode lain. Oleh
karena itu kejelian seorang guru dalam memilih metode eksperimen pada
proses belajar mengajar sangat diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai sebagaimana yang diinginkan.
Dalam Al Qur’an Surat Fushshilat ayat 53
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda ( kekuasaan )
Kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri,hingga jelas bagi
mereka bahwa Al Qur’an itu benar. Tiadalah cukup bahwa sesungguhnya
Tuhamu menjadi saksi atas segala sesuatu ?.
Dalam Al Qur’an Surat Al Insaan ayat 2-3
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang
bercampur yang kami hendak mengujinya ( dengan perintah dan larangan ),
karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat .Sesungguhnya kami telah
menunjukinya jalan yang lurus: ada yang bersyukur ada yang kuffur “
70
Syaiful (Syaiful Bahri Djamarah, 2010) mendefinisikan bahwa metode training
adalah “suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan
tertentu juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasan-kebiasaan yang baik.
Selain itu metode ini juga dapat digunakan untuk memperoleh sesuatu ketangkasan,
ketepatan, kesempatan dan ketrampilan. Dalam pendidikan agama, metode ini
sering dipakai untuk melatih ulangan pelajaran Alquran dan praktek ibadah.
Menurut riwayat, setiap bulan Ramadhan Rasulullah saw. mengadakan latihan
ulang terhadap wahyu-wahyu yang telah diturunkan sebelumnya.
Dalam Al Qur’an Surat Al A’raaf ayat 42
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh,
kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar
kesanggupannya, mereka itulah penghuni surga;mereka kekal di dalamnya “
Dalam Al Qur’an Surat An Nisaa ayat 9
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (
kesejahteraan ) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada
Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar “
Metode sosiodrama ( role play ) adalah suatu metode mengajar dimana guru
memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan kegiatan memainkan
peran tertentu seperti terdapat dalam kehidupan masyarakat (sosial). Sosiodrama
adalah bentuk metode mengajar dengan mendramakan atau memerankan tingkah
laku di dalam hubungan sosial. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam ayat
Al Qur’an, pada surat al-Maidah ayat: 27-31, tentang kisah yang sangat
mengesankan antara Qabil dan Habil. Pada ayat tersebut memberikan gambaran
yang jelas, bagaimana lakon yang dikerjakan oleh Qabil dapat memberikan kesan
yang sangat mendalam sehingga menyesali perbuatannya, karena melihat secara
langsung perbuatan dirinya sendiri dari seekor burung gagak.
Dalam Al Qur’an Surat Al Maidah ayat 110 :
71
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah
nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan
ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam
buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis,
hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari
tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu
meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan
seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak
dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan
(ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup)
dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari
keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada
mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara
mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata".
Metode demonstrasi adalah salah satu metode mengajar dengan menggunakan
peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan
bagaimana melakukan sesuatu dengan jalan mendemonstrasikannya terlebih
dahulu kepada siswa. Metode ini seringkali digunakan ketika menyampaikan
materi-materi yang memerlukan praktek; seperti sholat, berwudhu, tayammum.
Sementara Abdul Qadir Jailani dalam kitab Fathu Ar Robbani menyampaikan
metode pembentukan karakter Islami adalah:(Suheri Sahputra Rangkuti, 2017)
A. Metode penggunaan bahasa emosional kekeluargaan (bahasa keakraban
antara anak dengan orang tua dengan sebutan ya Qaumi dan ya Ghulami)
B. Penahapan yang sistematis .Penguatan ketauhidan kepada Allah SWT dan
metode pendidikan dilakukan berdasarkan tingkat pengamalan dan
pengetahuan peserta didi.
Dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 43 :
72
“dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah berserta orang-orang
yang ruku”
Dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi ayat 60
“Dan ( ingatlah ) ketika Musa berkata kepada muridnya: Aku tidak akan
berhenti ( berjalan ) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku
akan berjalan sampai bertahun-tahun “
Pembelajaran tidak pernah lepas dari istilah model, strategi dan metode
pembelajaran. Hal ini karena untuk merancang kegiatan pembelajaran dibutuhkan
ketiga komponen tersebut agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Namun dari
ketiga istilah tersebut orang kadang sulit untuk membedakannya sehingga terkadang
disamakan baik pengertian maupun langkah-langkahnya.
1. Pengertian model pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Menurut Meyer ,W.J model adalah suatu objek atau konsep yang digunakan
untuk merepresentasikan sesuatu hal. 71
b. Menurut Joyce dalam Trianto (2017: 23 ) model pembelajaran adalah
suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial
dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk
didalamnya buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain.72
c. Adapun Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000: 10) mengemukakan
maksud dari model pembelajaran yaitu kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai
pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam
merencanakan aktivitas belajar mengajar.73
d. Model pembelajaran menurut Dr. Hasan Basri, M Ag adalah disiplin yang
berhubungan dengan pemahaman dan perbaikan satu aspek dalam
pendidikan yaitu proses pembelajaran.74
71 Myers, RJ & Botti, JA 2000, Exploring the Environment: Problem Based Learning in Action
http: //www.cet.edu/research/conference, html
72 Trianto Ibnu Badar al Tabany ; Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif dan Kontekstual
( Konsep, landasan dan implementasinya pada Kurikulum 2013 ) PT Kencana, 2017 hal 23
73 Nur, M dan Wikandari, P.R. 2000. Pengajaran Berpusat kepada Siswa dan Pendekatan konstruktivis dalam
pengajaran, Surabaya: PSMS Program Pascasarjana Unesa hlm 10
74 Hasan Basri, Paradigma Baru Sistem Pembelajaran ( Bandung : Pustaka Setia, 2015 ) hlm 133
73
e. Model pembelajaran menurut Sofan adalah suatu desain yang menggambar-
kan proses rincian dan penciptaan lingkungan yang memungkinkan siswa
berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri
siswa.75
f. Model menurut Rusman adalah suatu obyek atau suatu konsep yang
digunakan untuk mepresentasikan sesuatu hal. Sesuatu yang nyata untuk
sebuah bentuk yang lebih komprehensif dan lebih mudah dipahami. 76
g. Secara sederhana, Joice, Weil dan Calhoun menerangkan bahwa model
pembelajaran adalah gambaran suatu lingkungan pembelajaran, yang juga
meliputi perilaku kita sebagai guru saat model tersebut diterapkan. 77
h. Ismail dalam Sofan menyatakan istilah model pembelajaran mempunyai
4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh stategi atau metode tertentu yaitu:
1) Rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya .
2) Tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
3) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat
dilaksanakan secara berhasil.
4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat
tercapai.
Model pembelajaran yaitu suatu kegiatan yang dirancang untuk menciptakan
kondisi belajar sehingga mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal sesuai
dengan tujuan dan mengarah kepada perubahan tingkah laku. Sebagai sebuah
model yang dikembangkan merupakan rancangan dasar atas tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Oleh karena sebagai model maka rancangan
itu harus terkorelasi dengan tujuan dari lembaga yang dicanangkan sejak
awal yang diwujudkan dalam bentuk visi dan misi lembaga.
Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapatlah dipahami bahwa istilah
model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dibandingkan dengan
strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Karena penentuan ataupun
pengembangan model mengacu pada rasionalitas teoritis, cara siswa belajar
dan tingkah laku apa yang diharapkan muncul setelah proses pembelajaran
selesai.
75 Sofan Amri, Pengembangan dan model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013
( Jakarta Prestasi Pustaka,2013 ) hlm 4
76 Rusman, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi anak usia dini TK/RA dan anak usia dini
awal SD/MI Cet II Jakarta Kencana Prenada Media Group 2013 hlm 141
77 Bruce Joyce, Marsha Weil dan Emly Calhoun, Models of Teaching: model-model pengajaran Edisi VIII
Yogyakarta Pustaka Pelajar 2009 hlm 30
74
Istilah strategi berasal dari bahasa Yunani, yaitu strategos, yang artinya
keseluruhan usaha, termasuk pemahaman atas perencanaan, cara dan tekhnik
yang digunakan untuk mencapai tujuan. Strategi dapat dipahami sebagai
garis besar panduan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang
telah ditentukan. Strategi juga dapat dipahami sebagai rencana cermat
mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.78
Strategi merupakan serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan
untuk mencapai tujuan tertentu. Strategi masih berupa wacana perencanaan
kegiatan karena belum masuk ke dalam tahapan perlakuan. Strategi disusun
berdasarkan atas kebutuhan yang mengacu pada tujuan pembelajaran. Strategi
dalam konteks pendidikan diartikan sebagai rencana, metode atau serangkaian
kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Dalam dunia pendidikan strategi diartikan sebagai a plan, method, or
series of activities designed to achieves a particular educational goal ( J.R.
David, 1976 dalam Wina ).79 Jadi dengan demikian strategi diartikan sebagai
perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Ada 2 hal yang perlu dicermati dalam pengertian diatas yaitu : pertama
strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan ( rangkaian kegiatan )
termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan
dalam pembelajaran. Ini artinya penyusunan strategi baru sampai pada proses
penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi
disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya arah dari semua keputusan
penyususnan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian penyusunan
langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber
belajar semuanya mengarah pada pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum
menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur
keberhasilannya sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu
strategi. 80
78 Donni Juni Priansa,S.Pd,S.E M.M,QWP : Pengembangan Strategi dan Model Pembelajaran : inovatif,
kreatif,dan prestatif dalam memahami peserta didik : Bandung PT Pustaka Setia ;2017 hlm 88 79
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran,Berorientasi standar Proses Pendidikan Jakarta Kencana 2013 hlm 126
80 Wina : hlm 126
81 Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Jakarta Rineka Cipta 1999 hlm 8
75
Kemp ( 1995 ) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu
kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dick and Carey (1985)
juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan
prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk
menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Hurlock dalam Moeslichaton berpendapat bahwa pembentukan perilaku hendaknya
lebih banyak dalam perbuatan bukan hanya ucapan saja, dapat dilakukan dengan
cara : 81
a. Mendorong anak bertingkah laku sesuai yang diharapkan dan menghilangkan
tingkah laku yang tidak diharapkan.
b. Tingkah laku yang diharapkan apabila dilakukan anak akan memberikan
konsekuensi yang menyenangkan, sedangkan tingkah laku yang tidak
diharapkan akan menumbuhkan penyesalan pada diri anak.
c. Tingkah laku yang diharapkan apabila dibina secara terus-menerus pada
saatnya nanti akan terjadi dengan sendirinya, atas prakarsa anak sendiri
meskipun tidak ada pengawasan dari guru.
d. Anak perlu mendapat kesempatan untuk megubah tingkah laku yang tidak
diharapkan itu.
Metode pembelajaran menurut Mukhtar Latif, dkk adalah pola umum
perbuatan guru dan murid dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar.82
Metode pembelajaran adalah cara yang sistematis yang dirancang guru dengan
melibatkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan baik
perubahan perilaku, pengetahuan maupun ketrampilan.
Menurut Chusnul Chotimah,83 metode adalah cara yang digunakan guru
untuk mengimpelemtasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan
nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Nana, 84 metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan.
81 Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Jakarta Rineka Cipta 1999 hlm 8
82 Mukhtar Latif, dkk ; Orientasi Baru PAUD,Teori dan Aplikasi ; Jakarta, Kencana Group 2014, hlm 108 83
Chusnul Chotimah, dkk ; Paradigma Baru Sistem Pembelajaran Yogyakarta Ar Ruzz Media 2018 hlm 325
84 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar ( Bandung Sinar Baru Algesindo 2004 hlm 73
76
Metode menurut Rohani, 85 adalah suatu cara kerja yang sisitematik dan
umum yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan. Secara umum
metode diartikan sebagai cara melakukan sesuatu sedangkan secara khusus
metode pembelajaran diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam
memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai tekhnik dan
sumber daya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pembelajar.
86
Ketepatan ( efektifitas ) penggunaan metode pembelajaran tergantung pada
kesesuaian metode pembelajaran dengan beberapa faktor sebagai berikut :
1. Kesesuaian metode pembelajaran dengan tujuan pembelajaran.
2. Kesesuaian metode pembelajaran dengan materi pembelajaran.
3. Kesesuaian metode pembelajaran dengan kemampuan guru.
4. Kesesuaian metode pembelajaran dengan kondisi peserta didik.
5. Kesesuaian metode pembelajaran dengan sumber dan fasilitas yang
tersedia
6. Kesesuaian metode pembelajaran dengan kondisi belajar mengajar
7. Kesesuaian metode pembelajaran dengan tempat belajar. 87
Jadi secara keseluruhan metode pembelajaran merupakan upaya guru untuk
dapat menentukan variasi kegiatan berdasarkan sumber daya yang ada agar
dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Upaya ini merupakan
usaha kreatif dari guru dengan mempertimbangkan berbagai hal yang ada
di lingkungannya sehingga metode yang diterapkan mampu merangsang
dan memberikan kesan yang baik pada diri peserta didik sehingga timbul
perubahan perilaku. Hal yang diutamakan dalam pemilihan metode adalah
keterkaitan yang erat antara guru dengan anak didiknya sehingga timbul
interaksi edukatif dalam proses pembelajarannya.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari model pembelajaran digambarkan
sebagai berikut :
85 Ahmad Rohani, Pengelolaan Pembelajaran: Jakarta, Rineka Cipta 2004 hlm 118
86 Abdorrakhman Gintings, Esesnsi Praktis Belajar dan Pembelajaran Disiapkan untuk Pendidikan Profesi dan
sertifikasi guru Dosen, Bandung Humaniora 2008 hlm 42
87 Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran; Bandung Wacana Prima 2008 hlm 92
77
Sumber : Sugiyar, dkk ( 2009 ) Perencanaan Pembelajaran, Surabaya-Amanah Pustaka
Secara konseptual model pembelajaran konstruktif berbasis Qur’ani
memiliki tahapan-tahapan yaitu :
1. Tahapan persepsi dan introduksi pengetahuan awal siswa dimana titik
berat pada pengetahuan ini adalah Rukun Islam dan Rukun Iman.
Pembelajaran bukan hanya kepada mengingat urutan dari kedua Rukun
tersebut melainkan bagaimana mengeksplorasi lingkungan untuk
menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT. Hal ini dilakukan dengan
cara guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuka wawasan
siswa atas apa yang diketahuinya. Pertanyaan itu berupa apa rukun Islam
Bagaimana rukun Islam diterapkan? Mengapa Rukun Islam harus
ditegakkan ? Siapa yang harus menegakkan rukun Islam? Kapan Rukun
Islam diterapkan ? Dan sebagainya. Hal ini bias diintegrasikan kedalam
tema-tema pembelajaran anak usia dini secara keseluruhan. Contoh tema
tentang Diri sendiri. Pertanyaan bias diawali dengan apa yang membedakan
orang Islam dengan penganut agama lain ? Jawaban orang Islam mengawali
dengan mengucapkan syahadat dengan sungguh-sungguh dan pertanyaan
lain yang relevan.
2. Tahapan eksplorasi dan modelling dimana mengumpulkan dan meng-
organisir terhadap data yang di dapat dari pengalamannya dan pendidik
78
sebagai model bagi anak. Variasi materi dan metode dengan cara kooperatif,
generative dan penemuan merupakan upaya dalam tahapan ini. Materi
yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan juga metode yang
tepat akan dapat mudah dicerna oleh anak dan akan membekas pada
anak. Contoh Belajar tentang diri sendiri selain mengenal dirinya sendiri
juga mengenal perbedaan yang ada pada lingkungannya. Apa tanda-tanda
pada diri sendiri yang membuatnya berbeda dengan teman sekelasnya
? ( dari segi bentuk badan, tinggi badan, suara, jenis kelamin dan
sebagainya.
3. Diskusi dan pengembangan .Pada tahapan ini siswa mengkonstruk ide
ide baru berdasarkan atas pengetahuan awal yang dimilikinya sehingga
anak mampu mengintegrasikan pengetahuan baru dan pengalamannya
sebagai wujud dalam berinteraksi secara edukasi antara orang tua, sekolah
dan masyarakat
4. Disseminate dan aplikasi karakter religious anak usia dini merupakan
penerapan pengetahuan dan penerapan perilaku. Penilaian obyektif
terhadap karakter dilakukan sebagai indicator keberhasilan atas
pengetahuan dan pengalaman yang telah diserapnya yang diaplikasikan
ke dalam bentuk perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat. Adapun
secara konseptual digambarkan sebagai berikut :
Design konseptual Model Pembelajaran Konstruktif Berbasis Qur’an
untuk meningkatkan karakter religius anak usia dini
Persepsi dan introduksi Eksplorasi lingkungan
pengetahuan awal siswa untuk menumbuhkan
kecintaan pada Allah
l Pengetahuan tentang
Rukun islam
l Pengetahuan tentang
Rukun Iman
Eksplorasi dan modeling Variasi materi dan metode Karakter
dengan ciri kooperatif, Religius
l Mengumpulkan dan
mengorganisir data generatif dan penemuan
l Menjadi contoh Interaksi edukasi antara
berperilaku orang tua, sekolah dan
Diskusi dan masyarakat
pengembangan
l Mengkontrak ide baru
l Menintegrasi solusi
dan pengalaman
Disseminate dan aplikasi Penilaian obyektif
karakter religius anak usia karakter religius
dini 79
l Penerapan pengetahuan
l Penerpan perilaku
Adapun pembelajaran yang pertama kali harus dilakukan adalah menyusun
strategi pembelajaran konstruktif berbasis Qur’ani yang tergambarkan sebagai
berikut:
Aspek Indikator Sub indikator
Tahapan Proses Pembukaan
belajar • Persepsi awal siswa tentang materi ajar
nilai-nilai yang dipahami anak
• Introduksi terhadap pemahaman anak
dengan contoh-contoh kongkrit nilai-nilai
• Memotivasi anak tentang penerapan nilai
dengan membandingkan
Inti • Penerapan pembelajaran berbasis masalah
• Penerapan pembelajaran kooperatif
• Penerapan pembelajaran inquiry discovery
• Penerapan pembelajaran dengan metode
bercerita, ceramah, tanya jawab,
keteladanan, dan metode lain yang relevan
dengan karakteristik anak usia dini.
Penutup • Kesimpulan materi dan nilai-nilai yang
dipahami anak.
• Afirmasi terhadap nilai-nilai yang
diajarkan
Persngkat Materi • Kedekatan materi dengan kehidupan nyata
Pembelajaran anak.
• Keterkaitan lingkungan dimana anak
berada ( budaya ).
• Integratif dengan tema ataupun materi
yang relevan.
• Mampu dipahami oleh anak.
• Mampu diaplikasikan oleh anak.
• Memberikan pengalaman langsung
dengan lingkungan belajar.
• Mengembangkan kemampuan meng-
konstruksi pengetahuan berdasarkan
pengalamannya
• Mengembangkan kemampuan melakukan
intropeksi
Metode • Pembelajaran bersifat langsung dengan
metode keteladanan dan lain-lain
• Pembelajaran karakter dengan model
kooperatif, kolaborasi, kreatif dan
konstruktif
Media dan • Personal, audio visual, buku gambar,
gambar dan buku cerita
sumber
80
Evaluasi • Penilaian proses dan hasil
• Unjuk kerja
• Sikap diri
Prinsip Persepsi dan • Siswa diberikan berbagai macam
Konstruktif Introduksi pertanyaan tentang hal-hal baru yang
berbasis Qur’ani diketahuinya. Dengan ini guru akan
mengetahui seberapa dalam pengetahuan
siswa.
• Merangsang anak didik untuk mengingat
• Merangsang anak didik untuk melakukan
hal baik dan hal buruk
Ekplorasi dan • Siswa menyimpulkan berbagai macam
internalisasi data tentang materi kemudian memper-
hatikan contoh/sikap pendidik terhadap
materi tersebut
• Membentuk kelompok-kelompok kecil
untuk bekerjasama
• Mempunyai idola sebagai contoh dalam
berperilaku
Diskusi dan • Mendiskusikan dengan membedakan dan
develop membandingkan melalui pengamatan
kemudian membangun pengetahuan baru
• Fokus terhadap pilihan yang diambil.
• Mandiri dalam melakukan kegiatan.
• Konsentrasi terhadap penyelesaian tugas
tugasnya.
Pengembang • Mengembangkan pengetahuan anak
an dan terhadap konsep yang diberikan berbagai
aplikasi macam jawaban terhadap konsep tersebut
untuk dilakukan.
• Mengembangkan ide-ide baru dengan
melakukan perumpamaan.
• Memahami akibat yang ditimbulkan atas
perilaku baik ataupu perilaku buruk.
• Mampu melakukan perbuatan baik di
rumah, sekolah dan masyarakat.
81
Sementara untuk strategi pembelajarannya dijabarkan sebagai berikut :
Kemampuan Tujuan Pembelajaran Rencana Kegiatan
No. yang ingin
dicapai
1. Mengenal Allah 1. Anak mampu Memperlihatkan segala ciptaan
sebagai pencipta membiasakan diri untuk Allah beserta isinya melalui
Nya selalu mengingat Allah video.
dengan berdoa. Mengucapkan subhanallah,
2. Anak membiasakan alhamdulillah, masya Allah
untuk mengucapkan dengan situasi yang tepat
kalimat thoyibah atas
apa yang dialami dan Menyebutkan ciptaan Allah
dilihatnya. yang ada di lingkungan sekitar
nya.
2. Melakukan 1. Anak dapat 1. Melakukan kegiatan sholat
kegiatan ibadah bekerjasama dalam berjamaah.
agama Islam kegiatan pem- Melakukan pengucapan
belajaran. doa doa harian secara
2. Anak mampu bersama-sama sebagai
menyelesaikan pembiasaan.
masalah yang - Menyusun puzle-puzle
dihadapinya tentang tema kegiatan
dengan baik. ibadah.
- Melakukan kegiatan
menuangkan air ke dalam
botol dengan baik dan tidak
tumpah.
- Mengamati pertumbuhan
tanaman atau perubahan
bentuk katak.
3. Terbiasa 1. Anak mampu mem- 1. Melakukan kegiatan mencuci
melakukan biasakan selalu tangan sebelum dan sesudah
kebersihan diri mencuci tangan kegiatan pembelajaran.
dan lingkungan dengan benar.
- Merapihkan alat alat bermain
2. Anak selalu rapi kembali ke tempat semula
dalam berpakaian dengan baik dan menyusun
dan bekerja. kembali kursinya.
4. Berperilaku jujur, 1. Mampu bersikap 1. Kegiatan berlari kelinci dan
kucing
penolong, hormat jujur.
- Kegiatan berkelompok
dan sportif 2. Mampu menolong memasukkan air ke dalam
botol
teman di setiap
- Bergiliran dalam bermain
kesempatan. sesuai urutan.
3. Mampu bersikap
hormat pada orang
tua.
4. Bersikap sportif di
setiap kesempatan.
82
5. Menumbuhkan 1. Anak mampu 1. Menyebutkan ciptaan Allah
rasa cinta kepada membedakan ciptaan dan ciptaan manusia
Allah. Allah dengan ciptaan sebanyak 5 buah.
manusia.
2. Anak mampu - Mengamati keadaan diri
mensyukuri keadaan sendiri dan mencoba
dirinya mengucapkan syukur atas
kondisi diri dengan menjaga
3. Membedakan bentuk kebersihan diri sendiri.
sebagai anugrah dari
Allah SWT.
4. Selalu bersyukur atas
nikmat Allah dengan
ucapan thayibah
5. Melakukan ibadah
karena perintah
Allah.
Dalam teori konstruktivis, belajar merupakan proses aktif dimana siswa
membangun ide-ide baru atau konsep berdasarkan pengetahuan yang sudah
mereka peroleh. Pendekatan konstruktivis sangat relevan untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan membangun pengetahuan,
meningkatkan kemampuan, memecahkan masalah dan melakukan penalaran.
Peran guru sebagai fasilitator, mengidentifikasi peluang untuk menciptakan
lingkungan yang tepat di mana peserta didik dapat berpikir tentang topik
tertentu. Guru meminta siswa untuk bekerja secara kolaboratif dengan teman
sebangku atau teman sekelompok. (Rahardjo, Matematika & Malang, 2016).
Guru memfasilitasi pembelajaran aktif siswa agar siswa terarah dan fokus
dalam membangun pengetahuan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
diharapkan sehingga tercapai dengan baik dan dapat dimaknai dalam hasil
akhirnya.
Tujuan pembelajaran dalam pandangan konstruktivis adalah membangun
pemahaman. Pemahaman memberi makna tentang apa yang dipelajari. Belajar
menurut pandangan kontruktivis tidak menekankan untuk memperoleh yang
banyak tanpa pemahaman. (Ririn Widiyasari, 2015). Pembelajaran konstruktivis
merupakan pembelajaran yang memiliki makna atas proses belajarnya, tidak
berdasarkan atas kuantitas melainkan atas kualitas karena konstruktiv
membangun pengetahuan sesuai dengan pengalaman belajar yang dilalui
sesuai dengan tahapan pembelajarannya dan proses berlangsungnya
pembelajaran sehingga anak mendapatkan nilai belajar yang akan mengubah
pandangannya terhadap pengetahuannya.
83
Ajaran Islam ditujukan agar manusia mengenal Tuhan dan makhluknya
dengan nilai-nilai aqidah yang tercermin dari perilakunya (Ichsan, 2012).
Dalam Al-Qur’an banyak mengandung metode pendidikan yang dapat
menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan semangat. Metode
tersebut mampu menggugah puluhan ribu kaum muslimin untuk membuka
hati manusia agar dapat menerima petunjuk Ilahi dan kebudayaan Islam.
Diantara metode-metode itu yang paling penting dan paling menonjol
adalah:
1. Mendidik dengan hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi.
2. Mendidik dengan kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi.
3. Mendidik dengan amtsal (perumpamaan) Qur’ani dan Nabawi.
4. Mendidik dengan memberi teladan.
5. Mendidik dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan mau’idloh (peringatan).
6. Mendidik dengan membuat targhib (senang), dan tarhib (takut). (Taklimudin
dan Febri Saputra, 2018).
Ide utama dari model pembelajaran konstruktivis adalah tentang bagaimana
anak berperilaku dan berkembang yang merupakan kreatifitas spontan dan
perkembangan menyeluruh. Kreatifitas spontan merujuk pada hakekat
kreatifitas makhluk hidup. Anak spontan berkreatifitas menurut keinginan
dan inisiatif, tanpa diberitahu apa, bagaimana dan kapan harus dilakukan.
Anak otomatis menyalurkan energy dan usaha untuk membangun tubuh,
kepribadian, dan semua aspek kehidupan bahkan mengkonstruksi sendiri
pengetahuannya atas apa yang sudah diketahuinya. Inilah misi utamanya:
berkembang total.
Dan dijabarkan dalam contoh format untuk kemampuan nilai agama dan
moral dengan format sebagai berikut:
84
No Kompetensi Indicator Materi Kegiatan Lingkup
dasar Pengembangan
1 1.1. Mengenal Membedakan Makhluk Membandingkan Aqidah
Allah SWT ciptaan Allah hidup dan bentuk tumbuan
melalui dengan ciptaan makhluk hidup dengan
ciptaan Nya manusia tak hidup bunga plastik
Makhluk Perkembang Menguraikan Ibadah
Akhlak
ciptaan Allah an makhluk pertumbuhan
pasti mati hidup makhluk hidup
namun ciptaan seperti dan perubahan
manusia manusia bentuk
pasti rusak
Merawat Merawat Menyiram
ciptaan Allah tanaman dan tanaman dan
menyayangi memberi makan
binatang pada binatang
peliharaan
2. 1.2. Menghar- Mengucapkan Terbiasa Mengenal kalimat Aqidah
gai diri sendiri, kalimat- mengucap kalimat thoyibah
orang lain dan kalimat pujian kan kalimat yaitu hamdallah
lingkungan thoyibah basmallah
sekitar sebagai subhanallah
wujud rasa masyaallah
syukur kepada Mengucapkan Terbiasa Praktek dengan Ibadah
Allah kalimat yang mengucap kalimat-kalimat
baik kan kalimat thoyibah
thoyibah yaitu hamdallah
basmallah
subhanallah
masyaallah
Mengucapkan Terbiasa Praktek Akhlak
kalimat yang mengucap- mengucapkan
sopan kan kata kata maaf jika
maaf, salah, permisi bila
permisi, lewat, tolong jika
tolong dan meminta bantuan
terima kasih dan terima kasih
bila diberi sesuatu
3. 2.3. Memiliki Mengucapkan Kisah-kisah Menyampaikan Aqidah
perilaku yang kata-kata yang orang yang berita yang benar
mencermin- mengandung selalu ber- Aqidah.
kan sikap kebenaran. kata jujur
jujur. contoh
khalifah
Umar bin
Khattab
Menceritakan Perum- Bercerita Ibadah
tentang pamaan tentang keluarga
keluarganya orang yang dengan jujur.
dengan jujur. jujur dalam
Al Qur’an.
85
Menceritakan Perumpam Bercerita Ibadah
tentang aan orang tentang keluarga
keluarganya yang jujur dengan jujur
dengan jujur dalam Al
Qur’an
Selalu Jujur Menjawab Akhlak
berkata jujur membawa pertanyaan bu
di setiap berkah guru tentang
kesempatan bohong cerita keluarga
membawa Akhlak.
bencana
4. 3.1. Mengenal Menyebut kan Rukun Menyebutkan Aqidah
kegiatan rukun Islam Islam rukun Islam
beribadah dengan sempurna
sehari-hari
Mengucapkan Bacaan- Melakukan Ibadah
bacaan sholat bacaan Gerakan sholat
dengan baik sholat dhuha dengan
tuma’ninah
Berwudhu Wudhu Wudhu dengan Akhlak
dengan dengan tertib dan teratur
sempurna gerakan
yang teratur
5. 4.1. Menyebutkan Allah adalah Mengucapkan Aqidah
Melakukan Allah Maha Tuhan yang asmaul husna
kegiatan Esa wajib Aqidah
ibadah sehari disembah
hari dengan
tuntunan Tidak bersuara Gerakan Tertib dalam Ibadah
orang dewasa ketika sedang sholat Gerakan sholat
sholat
Hormat dan Mengucap- Praktek bicara Ikhlak
sopan kepada kan salam yang sopan
orang yang dan ber-
dengan bu guru
lebih tua salaman
dengan baik
6. 3.2. Mengenal Mengenal Surga dan Perbandingan Aqidah
perilaku yang imbalan surga neraka antara surga dan
baik dan sopan dan neraka neraka sebagai
sebagai imbalan manusia
cerminan dari Allah SWT
akhlak mulia
Selalu Perilaku Praktek
berbicara yang baik berperilaku baik Ibadah
baik
Membedakan Perilaku Membanding- Akhlak
perilaku yang baik dan kan gambar
baik dan tidak tidak baik perilaku baik
dan tidak baik
baik
86
7. 4.2 Menunjuk- Allah yang Sifat-sifat Menunjukkan Aqidah
kan perilaku Maha Rahman Allah keistimewaan
santun sebagai dan Rahim antara manusia
cerminan dengan makhluk
akhlak yang lainnya
mulia Membaca doa Doa-doa Membacakan Ibadah
doa dan surat- harian dan doa doa dan
surat pendek surat-surat surat-surat
dengan benar pendek pendek
Tertib dan Antri sesuai Berbaris yang Akhlak
teratur dalam aturan main rapih saat masuk
barisan kelas
Contoh kegiatan main konstruktif berbasis Qur’ani :
Kegiatan-kegiatan pembelajaran konstruktif berbasi Qur’ani untuk anak kelompok B
a. Nama agung Allah
Nama Tujuan Lokasi Alat dan Tahapan kegiatan
Kegiatan Bahan
Nama Mengenal Dalam Kartu • Anak menunjukkan nama-nama asmaul
agung
Allah asmaul ruangan asmaul husna yang ingin diketahui dari 99
husna dan husna dan nama /kartu
contoh - nampan • Anak menyebutkan nama asmaul husna
contoh tersebut beserta arti
• Guru menjelaskan nama tersebut beserta
contoh
• Anak mencari perbandingan sifat Allah
yang membuatnya berbeda dengan sifat
manusia
• Anak mengucapkan Allahu akbar pada
akhir pertemuan
Catatan : Kegiatan ini merupakan kegiatan
mengenalkan asmaul husna pada anak dengan
metode bercerita, berdemonstrasi dan juga Tanya
jawab
87
b. Makhluk hidup dan makhluk tak hidup
Nama Tujuan Lokasi Alat dan Tahapan kegiatan
Kegiatan Bahan
Makhluk Mengenal Luar Ayam • Anak memegang anak ayam hidup.
hidup dan ciptaan ruangan hidup • Anak meletakkan patung ayam
makhluk Allah dan dan mengamati pergerakan ayam.
tak hidup ciptaan celengan • Anak bersama guru menyimpulkan
manusia ayam bahwa makhluk hidup bergerak
makhluk tak hidup diam. Ayam
diciptakan Allah dan celengan
diciptakan manusia.
• Anak mengucapkan subhanallah pada
akhir pertemuan.
88
Catatan : kegiatan ini mengenalkan tentang
binatang ayam dan juga tentang gambar
ayam dilakukan dengan metode bercerita,
tanya jawab dan juga penugasan.
89
c. Mati dan rusak
Nama Tujuan Lokasi Alat dan Tahapan kegiatan
Kegiatan Bahan
• Anak mengamati tumbuhan yang layu
Mati dan Anak Luar Tumbuh ( tanahnya, daunnya, warna).
rusak
mengeta ruangan an yang • Anak mengamati benda APE yang
rusak ( patah, berubah warna).
hui layu dan
• Anak menyiram tanaman yang layu.
bahwa APE
o Anak mencoba memperbaiki yang
makhluk yang rusak.
hidup rusak o Amati perubahan bentuknya.
pasti mati o Tanaman disiram dan APE
diperbaiki /dicat
dan
o Bersama-sama menyimpulkan
makhluk bahwa apabila manusia tidak
merawat tanaman dan benda maka
hidup tanaman akan mati dan benda.
pasti o Akan rusak.
rusak o Anak mengucapkan masya Allah
pada penutupan pembelajaran.
Catatan : Kegiatan ini mengilustrasikan tentang ayam yang
hidup kemudian mati dan benda yang rusak
90
91