manajemen yang mencari keseimbangan. Menjalankan bisnis
dengan sukses sekaligus menghilangkan ketegangan.
Menurut Richard James Blue, para ecopreneur
memahami bahwa banyak tantangan yang harus dihadapi dan
diatasi, yang mana tantangan-tantangan tersebut pada
hakekatnya dapat dikelompokan kedalam dua kategori sebagai
berikut:
1. Tantangan-tantangan yang berhubungan dengan perusahaan
dimana entrepreneur bekerja, yang disebut dengan eco-chal
lenges, yang dipengaruhi oleh keadaan ekologisnya,
strukturnya, serta perkembangannya.
2. Sedangkan tantangan-tantangan yang kedua adalah
tantangan-tantangan yang berhubungan dengan diri
wirausaha sendiri. Anda dapat melihat bagaimana gaya,
pola laku, karakteristik dan keahlian-keahlian yang dimiliki
oleh orang-orang yang pandai mengelola lingkungan.
Menurut Richard James Blue pula, bahwa faktor
kepemilikan perusahaan merupakan tantangan yang utama oleh
bagi ecopreneur, karena sifat suatu organisasi ditentukan oleh
gaya kepemimpinannya. Masing-masing pemilik atau pihak
manajemen tingkat atas memiliki gayanya sendiri-sendiri. Para
ecopreneur menyadari sulit bagi mereka untuk dapat merubah
gaya tersebut secara radikal. Sehubungan dengan faktor
kepemilikan, tantangan yang dihadapi oleh organisasi adalah
bagaimana memberikan arah dan kepemimpinan yang tepat
yang dapat mendukung pegawai di dalam mencapai harapan-
harapan pemilik dan juga harapan-harapan pegawai itu sendiri.
Faktor-faktor teknologi berhubunganerat dengan jenis
barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Di sinilah
43
terdapat eco-challenge bagi perusahaan yaitu menetapkan ke
arah mana perusahaan akan memacu value creation.
Faktor pasar juga merupakan tantangan yang harus
diatasi oleh para ecopreneur. Di dalam hal ini, eco-challenge
yang dihadapi termasuk yang menetapkan suatu hubungan
yang jelas dengan para pelanggan dengan jalan menciptakan
suatu struktur perusahaan yang akan mendukung hubungan
perusahaan dengan pelanggan. Sedangkan eco-challenge-nya
adalah para ecopreneur harus memahami pentingnya hubungan
dengan konsumen, baik bagi pencapaian tujuan jangka pendek
maupun bagi pencapaian tujuan jangka panjang.
Faktor geografi juga memberikan tantangan-tantangan
tersendiri. Daerah A tentu saja sangat berbeda dengan daerah
B. Eco-challenge yang ada adalah bagaimana menempatkan
perusahaan di tempat yang dapat memberikan kontribusi
terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Faktor tenaga kerja menggerakkan eco challenge
sehubungan dengan bagaimana para entrepreneur
memperlakukan tenaga kerja. Apakah para wirausahawan
menganggap mereka sama seperi mesin, yang dapat dibuang
bila sudah tidak berguna, atau kita menghargai tenaga kerja
kita sebagai aset perusahaan yang sangat berharga, sehingga
setiap keputusan yang akan memberikan dampak negatif
terhadap para pekerja sedapat-dapatnya harus dihindari.
Selanjutnya, Stepen R. Covey mengatakan, bahwa kunci
dari the fire within adalah adanya kebutuhan spiritual untuk
meninggalkan warisan yang ada. Hal tersebut mengubah
kebutuhan-kebutuhan lainnya menjadi kemampuan utnuk
berkontribusi. Pikirkanlah pengaruh yangakan terjadi atas cara
44
kita menggunakan waktu dan atas kualitas hidup bila kita
mampu memenuhi kebutuhan kita secara efektif dan
mengubahnya menjadi kemampuan untuk berkontribusi.
Abraham Maslow, seorang Bapak psikologi modern,
mengembangkan sebuah “Hieraki kebutuhan” dimana ia
mengindentifikasi “aktualisasi diri” sebagai pengalaman
manusia yang tertinggi. Tetapi di tahun-tahun terakhirnya ia
merevisi teorinya dan mengakui bahwa pengalaman puncak
bukanlah “aktualisasi diri” tetapi “mentransendensi diri
sendiri” (self transcendence), atau hidup dengan suatu tujuan
yang lebih tinggi dari para diri sendiri.
Kekuatan seseorang ecopreneur adalah kemampuannya
membebaskan dirinya dan orang-orang yang bekerja
bersamanya dari ketegangan sehingga menimbulkan suatu
keharmonisan didalam melakukan proses bisnis dan
kelangsungan bisnisnya. Kemampuan manajerial yang
ditanganinya bukan berdasarkan semata-mata pertimbangan
ekonomi belaka, tetapi juga pertimbangan keseimbangan
ekologi. Ekologi disini bukan hanya teknis lingkungan, tetapi
mencakup juga human ecology dan social ecology yang ada
disekitar entrepreneur.
Ecopreneuring mengutamakan atau mengandalkan
perubahan, selama perubahan itu tidak mengganggu
keseimbangan lingkungan. Jika perubahan itu akan menggangu
lingkungan, dia tidak akan melakukan perubahan ecopreneur
adalah orang-orang yang dapat sukses didalam lingkungannya
meskipun lingkungannya itu lebih jauh dari sempurna.
Ecopreneur adalah pemimpin yang bisa mencapai hasil
yang baik dengan menimbulkan kesejukan dan keakraban
45
dengan lingkungan. Sehingga keberhasilan seorang ecopreneur
sangat didukung oleh orang yang bekerja bersamanya dalam
lingkungan kerjanya, karena perhatiannya terhadap
keseimbangan lingkungan yang semakin dipertajam dari waktu
kewaktu sebab dia sangat concern dengan daya dukung
lingkungan yang perlu ditingkatkan mutunya. Mereka adalah
orang-orang yang sangat piawai didalam menggunakan energi
yang terdapat didalam lingkungan bagi kemajuannya, baik itu
enegi positif maupun negatif. Yang dimaksud dengan
lingkungan di sini tidak hanya terbatas pada lingkungan fisik
dalam arti harfiah saja, tetapi juga menyangkut keadaan-
keadaan, tekanan-tekanan yang mereka alami didalam
lingkungan kerja mereka, yang dapat ditimbulkan oleh faktor
kepemilikan perusahaan, faktor teknologi, faktor pasar, faktor
geografis alam dan faktor tenaga kerja.
Para ecopreneur adalah orang-orang yang dapat
mengelola situasi yang ada dengan baik, sekalipun situasi yang
ada tersebut tidak mendukung bagi pencapaian tujuan usaha
mereka. Mereka menyadari bahwa kadang-kadang mereka
sedikit sekali memiliki kuasa atau bahkan tidak memiliki kuasa
sama sekali untuk mengubah lingkungan.
Untuk menjamin kesuksesan mereka, para ecopreneur
memiliki keahlian di dalam bidang management styles,
management stress, management conflict dan management
time. Keunikan seorang ecopreneur adalah dia sangat piawai
dalam menangani krisis menajemen. Dia mampu menciptakan
kesejukan dan kedamaian dalam kepanikan dan dia adalah
good shifter (pengubah yang baik). Ecopreneur selalu bisa
mengatasi strees dan konflik, sehingga orang yang bekerja
46
bersamanya tidak mengalami stres, karena ecopreneur mampu
menciptakan kedamaian dan kesejukan. Dia mampu mengubah
ketegangan kerja menjadi kerileksan kerja, memacu mengubah
waktu kerja, selalu create positive management, tetapi juga
sangat berorientasi pada pencapaian tujuan usaha yang
memiliki produktivitas kerja yang tinggi dan ketepatan waktu
yang handal (time management). Dengan menghilangkan stres
dia bisa menggerakkan rekan kerjanya untuk mencapai tujuan
kewirausahaan yang dicanangkan tanpa mengabaikan
kepeduliannya terhadap lingkungan dan etika bisnis yang
berproses dengan rasa kemanusiaan yang mendalam.
47
BAB IV
PROFIL WIRAUSAHAWAN
”di era pembangunan ekonomi dan manusia berkualitas
Memiliki kehidupan yang penuh arti bagi generasi muda dapat
didorong dengan rasa percaya pada diri sendiri etika, dan
profesionalisme, Kreativitas dan kewirausahaan…….”
Menjadi wirausahawan yang berhasil adalah dambaan
setiap orang. Namun demikian, untuk mencapai
tangga keberhasilan tersebut bukanlah pekerjaan
mudah, melainkan jalan panjang dan berliku. Setiap
kesuksesan yang diraih memerlukan daya juang tinggi,
memerlukan keyakinan kuat, memerlukan kesabaran yang tak
bertepi, serta memerlukan motivasi yang tak pernah berhenti.
Tampaknya, jika diamati lebih cermat, seseorang yang
sukses dalam dunia bisnis ditentukan oleh banyak faktor.
Kesuksesan seorang wirausaha tidak ditentukan oleh jenjang
pendidikan yang tinggi, oleh kecerdasan berpikir saja, tetapi
juga oleh kepribadian (personality), mentalitas, dan kecerdasan
emosional.
Wirausahawan yang berhasil adalah seseorang yang telah
memberikan kontribusi secara seimbang kepada diri sendiri,
masyarakat dan lingkungannya secara berkesinambungan
48
dalam proses kegiatan usahanya untuk menanggapi peluang
yang ada. Pada bagian ini, kita akan mendiskusikan
karakteristik apa saja yang sesungguhnya harus ada dalam
setiap wirausaha, sehingga karakteristik tersebut pada
gilirannya akan ikut menentukan sukses atau gagalnya
seseorang dalam menapaki tangga kewirausahaan.
A. Profil Wirausahawan
Dalam beberapa literatur, beberapa pakar yang
berkecimpung dalam dunia usaha menyamakan
makna kewirausahaan dengan kewiraswastaan,
terutama jika dilihat dari profil atau karakteristiknya. Menurut
Wasty Soemanto (dalam Riyanto, 2000:41), tanda manusia
wirausaha adalah memiliki kepribadian yang kuat. Sedangkan
kepribadian yang kuat di dalamnya akan dijumpai ciri-ciri: (1)
memiliki moral yang tinggi, (2) memiliki sikap mental
wirausaha, (3) memiliki kepekaan terhadap lingkungan, dan (4)
memiliki keterampilan/kecakapan wiraswasta
Manusia yang memiliki moral tinggi ditandai oleh sifat-
sifat sebagai berikut:
1. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;
2. Kemerdekaan batin;
3. Keutamaan berpikir positif;
4. Kasih sayang terhadap sesama manusia;
5. Loyalitas terhadap hukum; dan
6. Keadilan.
Kekuatan mental seorang wirausaha merupakan faktor
yang sangat penting. Seperti telah dikemukakan, bahwa sukses
atau gagalnya seseorang bukan hanya tertumpu terhadap
49
kecerdasan, melainkan diukur pula oleh seberapa besar ia
memiliki mental yang kuat. Ciri-ciri metal yang kuat,
diantaranya adalah:
1. Berkemauan keras
2. Berkeyakinan kuat atas kekuatan pribadi
3. Kejujuran dan tanggung jawab
4. Ketahanan fisik dan mental
5. Ketekunan dan keuletan
6. Pemikiran yang konstruktif dan kreatif
Kepekaan terhadap lingkungan dicirikan oleh unsur-
unsur sebagai berikut:
1. Memahami arti lingkungan
2. Rasa syukur atas segala yang telah diperoleh dan dimiliki
3. Memiliki keinginan yang besar untuk menggali dan
mendayagunakan lingkungan dan faktor-faktornya
4. Mampu menghargai dan memanfaatkan waktu secara
efektif
Sedangkan memiliki keterampilan/kecakapan dalam
berwiraswasta dicirikan oleh:
1. Keterampilan berpikir kreatif
2. Keterampilan dalam membuat keputusan
3. Keterampilan dalam kepemimpinan
4. Keterampilan manajerial
5. Keterampilan dalam bergaul (human relation)
Ciri yang lain tentang wirausaha disebutkan oleh
Meredith. Ia merinci profil wirausaha sebagai berikut:
50
No. Ciri-Ciri Watak
1. Percaya diri Keyakinan ketidaktergantungan,
individualitas optimisme.
2. Berorientasikan Kebutuhan akan prestasi,
tugas dan hasil berorientasi laba, ketekunan dan
ketabahan, tekad kerja keras,
mempunyai dorongan kuat,
energik, dan inisiatif.
3. Pengambil resiko Kemampuan mengambil resiko,
suka pada tantangan.
4. Kepemimpinan Bertingkah laku sebagai pemimpin,
dapat bergaul dengan orang lain,
menanggapi saran-saran dan kritik.
5. Keorsinilan Inovatif dan kreatif, fleksibel,
punya banyak sumber.
6. Beroriantasi ke Andangan jauh ke depan, perseptif.
masa depan
(Sumber: Meridith, 2002:5)
Thomas W Zimmerer memberikan rangkuman ringkas
tentang profil wirausahawan sebagai berikut:
1. Menyukai tanggung jawab, mereka merasa bertanggung
jawab untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya
untuk mencapai cita-cita.
2. Lebih menyukai resiko menengah, mereka berani
mengambil resiko yang telah diperhitungkan.
3. Keyakinan atas kemampuan mereka untuk berhasil, mereka
cenderung optimis untuk mengambil peluang yang ada
berdasarkan realitas.
51
4. Hasrat untuk mendapatkan umpan balik langsung, mereka
berusaha untuk menunjukkan keberhasilan atas usahanya.
5. Tingkat energi yang tinggi, kerja keras untuk waktu yang
lama adalah biasa bagi mereka.
6. Orientasi ke depan, mereka orang yang selalu berpikir ke
depan memiliki visi yang kuat untuk terus mencari dan
memanfaatkan peluang.
7. Keterampilan mengorganisasi, mereka memahami cara
mengumpulkan orang-orang yang tepat untuk
menyelesaikan tugas yang direncanakan dalam rangka
mencapai cita-citanya.
8. Menilai prestasi lebih tinggi daripada uang, prestasi
merupakan motivator yang utama, sementara uang
hanyalah cara untuk menghitung skor atas sasaran yang
dicapai atau ukuran prestasi mereka.
Alma (2004:48-49), mengemukakan 10 (sepuluh) konsep
tentang pribadi wirausaha, yaitu:
1. Dream
Seorang wirausaha mempunyai visi bagaimana
keinginannya terhadap masa depan pribadi dan bisnisnya
dan yang paling penting adalah dia mempunyai
kemampuan untuk mewujudkan impiannya tersebut.
2. Decisiveness
Seorang wirausaha adalah orang yang tidak bekerja lambat.
Mereka membuat keputusan secara cepat dengan penuh
perhitungan. Kecepatan dan ketepatan dia mengambil
keputusan adalah merupakan faktor kunci (key factor)
dalam kesuksesan bisnisnya.
52
3. Doers
Begitu seorang wirausaha membuat keputusan maka dia
langsung menindaklanjutinya. Mereka melaksanakan
kegiatannya secepat mungkin yang dia sanggup artinya
seorang wirausaha tidak mau menunda-nunda kesempatan
yang dapat dimanfaatkan.
4. Determination
Seorang wirausaha melaksanakan kegiatannya dengan
penuh perhatian. Rasa tanggung jawabnya tinggi dan tidak
mau menyerah, walaupun dia dihadapkan pada halangan
atau rintangan yang tidak mungkin diatasi.
5. Dedication
Dedikasi seorang wirausaha terhadap bisnisnya sangat
tinggi, kadang-kadang dia mengorbankan hubungan
kekeluargaan, melupakan hubungan dengan keluarganya
untuk sementara. Mereka bekerja tidak mengenal lelah, 12
jam sehari atau 7 hari dalam seminggu. Semua perhatian
dan kegiatannya dipusatkan semata-mata untuk kegiatan
bisnisnya.
6. Devotion
Devotion berarti kegemaran atau kegila-gilaan. Demikian
seorang wirausaha mencintai pekerjaan bisnisnya dia
mencintai pekerjaan dan produk yang dihasilkannya. Hal
inilah yang mendorong dia mencapai keberhasilan yang
sangat efektif untuk menjual produk yang ditawarkannya.
7. Details
Seorang wirausaha sangat memperhatikan faktor-faktor
kritis secara rinci. Dia tidak mau mengabaikan faktor-faktor
kecil tertentu yang dapat menghambat kegiatan usahanya.
53
8. Destiny
Seorang wirausaha bertanggung jawab terhadap nasib dan
tujuan yang hendak dicapainya. Dia merupakan orang yang
bebas dan tidak mau tergantung kepada orang lain.
9. Dollars
Wirausahaan tidak sangat mengutamakan mencapai
kekayaan. Motivasinya bukan memperoleh uang. Akan
tetapi uang dianggap sebagai ukuran kesuksesan bisnisnya.
Mereka berasumsi jika mereka sukses berbisnis maka
mereka pantas mendapat laba/bonus/hadiah.
10. Distribute
Seorang wirausaha bersedia mendistribusikan kepemilikan
bisnisnya terhadap orang-orang kepercayaannya. Orang-
orang kepercayaan ini adalah orang-orang yang kritis dan
mau diajak untuk mencapai sukses dalam bidang bisnis.
B. Falsafah Wirausahawan
Falsafah atau filsafat mengandung pengertian cinta
kebijaksanaan. Artinya, seorang wirausaha adalah orang
yang berpikir dan bertindak bijaksana untuk mencapai
kebaikan tertinggi. Beberapa falsafah seorang wirausaha adalah
terletak pada:
1. Seorang wirausaha adalah orang yang bertanggungjawab
atas pekerjaannya sendiri.
2. Seorang wirausaha adalah orang belajar banyak tentang diri
sendiri, jika menginginkan tujuan hidup sebagaimana
dipikirkannya.
3. Kekuatan wirausaha datang dari tindakan-tindakan dirinya
sendiri dan bukan dari tindakan orang lain.
54
4. Meskipun resiko kegagalan selalu ada, para wirausaha
mengambil resiko dengan jalan menerima tanggung jawab
atas tindakan mereka sendiri.
5. Kegagalan harus diterima sebagai pengalaman belajar.
C. Kaidah Kewirausahaan
Zimmerer mengemukakan beberapa kaidah atau
kebiasaan kewirausahaan (entrepreneur “rules to live
by”) yaitu:
1. Create, innovate, and activate
Yaitu ciptakan, temukan dan aktifkan. Wirausaha selalu
memimpikan ide-ide baru, dan selalu bertanya “apa
mungkin tidak “ dan menggunakan inovasinya kedalam
kegiatan praktis.
2. Always be on the lookout for new opportunities
Yaitu selalu mencari peluang baru. Wirausaha harus selalu
mencari peluang baru atau menemukan cara baru untuk
menciptakan peluang.
3. Keep it simple
Yaitu berpikir sederhana. Wirausaha selalu mengharapkan
umpan balik sesegera mungkin, dan berusaha dengan cara
yang tidak rumit.
4. Try it, fix it, do
Yaitu selalu mencoba, memperbaiki, dan melakukannya.
Wirausaha berorientasi pada tindakan. Bila ada ide,
wirausaha akan segera mengerjakannya.
5. Shoot for the top
Yaitu selalu mengejar yang terbaik, terunggul dan ingin
cepat mencapai sasaran. Wirausaha tidak pernah segan,
55
mereka selalu bermimpi besar. Meskipun tidak selalu
benar, mimpi besar adalah sumber penting untuk inovasi
dan visi.
6. Don’t be ashamed to starts mall
Yaitu jangan malu untuk dari hal-hal yang kecil. Banyak
perusahaan besar yang berhasil karena dimulai dari usaha
kecil.
7. Don’t fear failure: learn form it
Yaitu jangan takut gagal, belajarlah dari kegagalan.
Wirausaha harus tahu bahwa inovasi yang terbesar berasal
dari kegagalan.
8. Never give up
Yaitu tidak pernah menyerah atau berhenti karena
wirausaha bukan penyerah.
9. Go for it
Yaitu untuk terus mengejar apa yang diinginkannya.
Karena pantang menyerah, maka ia selalu mengejar apa
yang belum dicapainya. Sebelum tujuannya tercapai, maka
ia akan mengejarnya. Ia pantang menyerah dan tidak putus
asa serta terus mengejarnya.
D. Sifat yang Menghancurkan Wirausahawan
Seorang wirausaha, di samping harus memiliki sejumlah
ciri, watak dan karakteristik sebagaimana dikemukakan
di atas, ia pun harus menghindari sikap-sikap yang
sesungguhnya secara sistematis akan menghancurkan dirinya.
Sikap-sikap itu seringkali muncul dari sifat hedonistik,
materialistis, konsumeristik yang berlebihan, yang berujung
dengan anggapan bahwa kekayaan adalah segala-galanya.
Kekayaan telah menjadi “tuhan”, sehingga dengan kekayaan
56
tersebut lupa akan jati dirinya sebagai makhluk yang memiliki
keterbatasan.
Sebagai manusia yang beragama, hidup di dunia hanya
sementara. Hidup yang kekal tetap hanya diakhirat. Harta
dalam bentuk apapun tidak lebih hanya alat untuk hidup.
Hanya alat dan bukan tujuan hidup. Hidup di akhirat sama
sekali tidak membutuhkan harta atau materi. Karena itu tidak
ada materi yang akan dibawa untuk bekal hidup diakhirat.
Oleh karena itu setiap wirausaha wajar untuk menghindari
sifat-sifat sebagai berikut: (1) a moral (tak bermoral), (2) rakus,
(3) culas, (4) curang, (5) malas, (6) putus asa, (7) marah, (8)
sedih, (9) sesal, (10) dengki, (11) iri, (12) cemburu, (13)
sombong, (14) pamer, (15) takabur, (16) fitnah, (17) rendah
diri.
1. A Moral (Tak Bermoral)
Efisiensi (hemat) adalah suatu asas yang harus diamalkan
dalam setiap kegiatan bisnis. Tujuannya supaya komoditas
yang dihasilkan mempunyai daya saing dalam harga
dipasar. Jadi efisiensi adalah suatu keharusan dari setiap
usaha.
Namun efisiensi itu tidak boleh dicapai dengan cara yang
melanggar hak azasi manusia. Misalnya dengan cara
menekan upah buruh dan pekerja. Memperpanjang jam
kerja untuk tingkat upah yang sama. Memperpanjang masa
lembur diluar batas maksimum jam kerja mingguan.
Mempekerjakan anak-anak di bawah umur sebagai pekerja
tetap. Membiarkan kondisi kerja yang tidak manusiawi.
Mempekerjakan wanita diluar jam kerja yang layak (malam
hari). Mempersulit hak cuti haid dan cuti hamil.
57
Tindakan-tindakan semacam itu dapat dianggap sebagai
tindakan a moral yang harus dihindari. Tujuan usaha untuk
mencari untung dibenarkan, namun menghalalkan semua
cara dalam mencapai tujuan itu adalah a moral.
2. Rakus
Makan 3 kali sehari, kendatipun dengan lauk pauk yang
berlimpah boleh-boleh saja. Namun makan 7 kali sehari
sudah dianggap rakus. Menabung untuk keperluan hidup
masa depan anak-anak dan cucu adalah wajar dan
dianjurkan, tapi menumpuk harta kekayaan untuk 7 turunan
adalah sifat rakus yang keterlaluan. Apalagi menumpuk
kekayaan itu dengan cara melahap semua jenis barang dari
beras, ikan asin, terigu, gula, tapi juga semen, batu bata,
besi beton, gedung bertingkat, bahkan hutanpun ditelan.
Rakus adalah saudara kandung dari loba, tamak, serakah
yang sering dilakukan melalui cara kolusi dengan pejabat,
korupsi, koncoisme, percukongan dan nepotisme.
3. Culas
Culas artinya malas sekali, tidak tangkas, lamban bagaikan
keong. Sifat ini tidak sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai oleh seorang wirausaha, yang harus mampu berdiri
diatas kaki sendiri. Culas juga berarti curang, tidak jujur,
tidak lurus hati, licik. Pepatah mengatakan orang seperti ini
bagaikan “telunjuk lurus kelingking berkait, menohok
kawan seiring, menggunting dalam lipatan, lain dimulut
lain dihati. Mulut manis namun hati bagaikan empedu”.
4. Curang
Curang adalah saudara kandung dari culas, penipu dan
licik. Tujuan bagi mereka menghalalkan semua cara. Yang
58
penting berhasil, sukses dan menang. Halal dan haram
sama saja.
6. Malas
Malas adalah adiknya culas. Tidak merusak orang lain, tapi
menghancurkan diri sendiri. Apa yang bisa diharapkan dari
seorang pemalas. Sifat malas harus dijauhi oleh setiap
wirausaha.
7. Putus asa
Putus asa artinya tidak punya harapan lagi. Dalam dunia
bisnis kegagalan dan kesuksesan saling bergantian. Kini
berhasil, besok lusa bisa gagal. Sepandai-pandai tupai
melompat, saru waktu jatuh juga. Zaman beredar musim
berganti. Ibaratkan roda pedati nasib kitapun bisa begitu,
sekali berada dibawah, sekali berada diatas. Bila musim
kemarau tiba, kadangkala usaha kita mengalami nasib
serupa, kegagalan yang berkepanjangan.
Tiap kali dicoba gagal lagi. Besok dicoba ternyata gagal
lagi. Kegagalan yang berkepanjangan akan menyebabkan
orang putus asa, menyerah dan pasrah. Seorang wirausaha
pantang putus asa. Kendati sudah gagal 1000 kali,
janganlah berputus asa. Jatuh bangun dalam berwirausaha
hal yang sudah lumrah, sudah biasa. Yang penting setelah
jatuh, upayakan bangun kembali. Jangan sampai jatuh yang
tidak bangun-bangun lagi. Itu artinya mati. Tamat
riwayatnya sebagai seorang wirausaha. Jangan sampai
putus asa.
8. Marah
Melakukan bisnis berarti berhubungan dengan banyak
orang. Tiap orang punya tingkah laku yang berbeda. Ada
59
yang menyenangkan, namun banyak pula yang
menjengkelkan. Ada yang bisa saling menghormati, namun
banyak pula yang menghina dan merendahkan.
Menghadapi mereka yang menjengkelkan, menghina dan
merendahkan wajar dan manusiawi bila kita menjadi
marah. Marah adalah pernyataan perasaan hati yang tidak
senang. Seorang wirausaha sebagai manusia wajr pula
untuk marah. Namun yang lebih penting adalah bagaimana
bisa mengendalikan “nafsu amarah” ini demi kepentingan
tujuan usaha kita.
9. Sedih
Suatu usaha yang dibangun sedikit demi sedikit dalam
waktu yang cukup lama, kini porak poranda dilanda api
huru-hara reformasi. Siapa yang tidak sedih dan merasa
pilu dihati melihat kondisi yang semacam ini. Seorang
wirausaha sejati tidak boleh larut dalam rasa sedih dan
kesedihan. Dia harus kembali mengumpulkan puing-puing
kehancuran itu. Menyusun kembali bata per bata untuk
membangun fondasi yang lebih kuat bagi usahanya.
“Patah tumbuh hilang berganti”, kata pepatah. Yang lama
biarlah hancur, yang baru dibangun lagi. Satu hilang, seribu
datang. Wirausaha tidak boleh larut dalam kesedihan.
10. Sesal
Tidak ada manusia yang sempurna. Salah dan khilaf soal
biasa. “Khilaf mata, hilang duit” kata orang-orang tua.
“Salah hitung bisa buntung”, kata pedagang. Untung-
untung dalam bisnis biasa. Namun bila kerugian itu
disebabkan karena kesalahan sendiri, biasanya
menimbulkan rasa sesal yang luar biasa. Orang akan
60
cenderung menyesali dirinya sendiri. Dia akan rintang
mengutuk kebebalannya sendiri, tanpa henti. Tidak ada
manfaat menyesali diri sendiri. Yang sudah berlalu tidak
akan kembali lagi, nasi sudah menjadi bubur. “Sesal dahulu
pendapatan, sesal kemudian tidak ada gunanya”
11. Dengki
Ada orang yang senang membanding-bandingkan hidup
dan kehidupannya sendiri dengan tetangga atau orang lain.
Kebiasaan membanding-bandingkan ini lazimnya akan
menghasilkan dua hal yang negatif. Bila hidupnya sendiri
lebih baik dan lebih unggul dari orang lain, maka dia akan
merasa lebih dari orang. Rasa lebih dari orang lain ini akan
melahirkan sifat sombong.
Sebaliknya bila dia merasa lebih rendah atau merasa
bernasib lebih buruk dari orang lain, maka akan lahir sifat
“iri”. Bila rasa iri meningkat menjadi nafsu untuk
mencelakakan orang lain, maka lahir sifat “dengki‟. Dalam
persaingan dunia usaha, rasa dengki bisa meningkat
menjadi tindak kriminal. Pernah kita kenal kasus, permen
coklat merek terkenal karena dengki dari saingan
“dikerjain” menjadi permen cokelat „beracun”, sehingga
ditinggalkan pembeli.
Rokok merek terkenal,pernah di “kerjain” karena dengki
menjadi rokok penyebar “wabah flu”, sehingga kehilangan
pasar. Sifat dengki yang bersumber dari sifat iri,
seyogyanya dijauhi dalam bisnis, karena akan mengarah
pada tindak kriminal.
Persaingan yang sehat, bukanlah persaingan yang
berlandaskan pada “Free fight competition”, tetapi
61
persaingan yang berlandaskan pada philosofi “The
Customer is a king”.
Persaingan yang sehat bukanlah persaingan dengan tujuan
menghancurkan lawan seperti yang diajarkan Michael
Porter, tetapi persaingan dengan meningkatkan “daya
pesona” komoditas, dimata pelanggan. Pola persaingan
yang belakangan ini diyakini akan dapat mememangkan
persaingan diarena mancanegara dimas depan.
12. Iri
Iri artinya perasaan kurang senang melihat kelebihan orang
lain. Perasaan ini timbul karena kurang percaya diri sendiri,
pada martabat sendiri dan karena tidak percaya pada Takdir
Tuhan. Manusia yang percaya pada diri sendiri dan percaya
pada Takdir dan pada Keadilan Tuhan, tidak akan pernah
merasa iri. Perasaan iri adalah ibu kandung dari sifat dengki
yang dapat mencelakakan diri sendiri dan orang lain.
13. Cemburu
Cemburu adalah saudara sepupu dari sifat iri, dengki dan
sombong. Semuanya lahir dari hati yang tak bersyukur atas
pemberian Tuhan.
Seseorang secara diam-diam dalam hati kecilnya
menggugat Tuhan. Kenapa Tuhan memberikan orang lain,
lebih banyak lebih baik daripada yang diberikan kepada-ku.
Rasa cemburu sesuungguhnya berakar pada gugatan pada
Keadilan Tuhan. Suatu rasa dan sifat yang tidak pantas ada
pada manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia
dibumi ini. Sifat cemburu akan menjurus pada sifat dengki
yang akan bermuara pada tindakan kejahatan. Kejahatan
62
bukanlah tujuan yang ingin dicapai oleh seorang
wiraswasta.
14. Sombong
Seorang yang sukses dalam hidup misalnya berpangkat
tinggi, atau kaya biasanya suka lupa diri. Mereka lebih
hebat dari orang lain. Menilai diri sendiri jauh lebih wajar
untuk dihormati. Sifat semacam ini disebut dengan
sombong.
Sombong menjadi saudara kandung dari sifat takabur,
pongah dan congkak. Sifat-sifat ini akan selalu menjadi
cairan Tuhan untuk diberi hukuman yang setimpal,
ganjaran yang menghancurkan anak manusia, tak perduli
apakah dia Presiden ataukah hanya seorang waraswasta.
15. Pamer
Pamer artinya menunjukan (mendomantrasikan) sesuatu
yang dimiliki kepada orang banyak dengan maksud
memperlihatkan kelebihan atau keunggulan diri sendiri.
Tujuannya adalah menyombongkan diri atau
mengembangkan kekayaan dengan mengharapkan pujian
dan kekaguman.
Sifat pamer semacam ini pada dasarnya bersumber dan
berakar pada rasa rendah diri (Inferiority Complex) yang
mencari kompensasi dalam bentuk yang bertolak belakang
dengan cara menonjolkan materi atau pangkat untuk
memperoleh pengakuan atas keberadaannya dari orang lain.
Sifat pamer adalah sifat buruk yang menjijikan, yang akan
menjadi obyek pergunjingan, dan akan dijauhkan orang
dari lingkungan pergaulan. Kondisi semacam ini sangat
merugikan kita selaku pengusaha. Pamer yang dimaksud
63
disini berbeda dengan istilah “pameran” dalam pengertian
“promosi” yang pengertiannya justru untuk menonjolkan
keunggulan suatu komoditas, dengan tujuan untuk menarik
“minat” pelanggaran terhadap komoditas yang dipamerkan.
16. Takabur
Takabur artinya menilai diri sendiri lebih mulia, lebih
hebat, lebih pandai, lebih tahu dari orang lain sehingga lupa
bahwa yang serba lebih itu hanya milik Tuhan.Hanya
Tuhan yang Maha Mulia, Maha Kaya, Maha Tahu dan
sebagainya. Orang yang takabur biasanya “disumpahi”
banyak orang supaya mendapat hukuman dariTuhan. Sifat
takabur akan berakibat kita akan dijauhi orang, sehingga
akan merugikan diri sendiridan usaha kita sendiri.
17. Fitnah
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan, kata peribahasa
setelah peristiwa G30S/PKI. Fitnah artinya perkataan orang
bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan
maksud untuk menjelekkan orang atau buruk menjatuhkan
nama baik suatu komoditas dipasar. Tujuannya untuk
menyingkirkan saingan. Persaingan secara demikian tidak
sehat, licik, dan tidak jantan. Karena itu sifat memfitnah
harus jauh oleh setiap wiraswata.
18. Rendah diri
Rendah diri artinya merasa lebih rendah dari orang lain.
Dulu kalau seorang pejabat seperti Bupati bicara dengan
bawahan apalagi dengan rakyat sombongnya (arogannya)
bukan main. Tapi sebaliknya bila berhadapan dengan
atasannya seperti Gubernur, apalagi dengan Menteri,
64
sikapnya menjadi “kucing dibawakan lidi” atau “bagai
tikus melihat kucing”.
Begitu pula banyak pejabat kita bila berhadapan dengan
“bule” kendatipun hanya seorang wartawan biasa, beliau-
beliau pejabat yang gagah itu, sering nampak salah tingkah,
karena merasa rendah diri. Berbahasa Inggris, atau karena
merasa “bekas jajahan” dari “si bule” itu. Rasa rendah diri
pada orang asing ini disebut dengan penyakit Xeno-phobia.
Rasa rendah diri pada bangsa Indonesia, bersumber dari
akibat penjajahan Belanda dan Jepang. Ditambah lagi
dengan sifat Paternalistik dan Feodalistik yang
dikembangsuburkan selama Orde Baru dibawah
kepemimpinan Presiden Soeharto. Selama Orde Baru ini
bangsa Indonesia telah dibina menjadi bangsa penakut dan
penjilat.
Penyakit rendah Diri ini bila diteruskan dan tidak diobati
akan sangat merugikan bangsa Indonesia umumnya, dunia
wiraswasta khususnya terutama dalam menghadapi era
globalisasi.
E. Mengukur Kemampuan Diri Calon Wirausaha
Berikut pertanyaan bagaimana mengukur kemampuan
diri calon wirausaha.
1. Dalam struktur keluarga anda (dari kakek/nenek,
bapak/ibu, dan saudara/i), banyakkah diantara mereka
yang menjadi wirausaha?
2. Dalam catatan karier anda sebagai profesional,
punyakah Anda independensi dan keberanian
65
mengambil risiko yang tinggi?
3. Selama bekerja sebagai profesional, apakah Anda
menyukai pekerjaan dengan mobilitas dan tantangan
yang tinggi?
4. Apakah banyak dari rekan sehobi dan sepermainan
Anda, yang mengambil jalur sebagai wiraswasta?
5. Cukup luaskan jaringan Anda?
6. Dibanding wirausaha di bidang sejenis, memadaikah
pengetahuan dan keterampilan Anda?
7. Punyakah Anda hal unik dibandingkan pemain lain,
sebelum memulai bisnis?
8. Diantara sekian banyak waktu luang Anda dari dahulu
hingga sekarang, seringkah Anda mengisinya dengan
kegiatan yang berbau bisnis?
9. Tentang gambaran-gambaran masa depan, seringkah
Anda membayangkan diri sebagai wirausaha?
10. Dari sekian tokoh yang Anda kagumi, banyakkah di
antara mereka yang berprofesi sebagai wirausaha?
11. Bagaimanakah Anda melihat hari esok?
12. Haruskah hari esok harus lebih baik daripada hari ini
dan kemarin?
13. Bagaimana Anda memandang masa depan?
14. Akankah masa depan lebih banyak menghadirkan
peluang dibandingkan kesulitan?
66
BAB V
KREATIFITAS DALAM
KEWIRUSAHAAN
“Pemikiran kreatif penting untuk menggambarkan keadaan
masa depan dan memberi kemungkinan bagi setiap orang
untuk mencapai sesuatu serta membuat hidup menjadi lebih
menyenangkan dan lebih menarik”
A. Berpikir Kreatif dalam Kewirausahaan
Kreatifitas adalah kemampuan untuk membawa
sesuatu ke dalam kehidupan. mengapa orange
berpikir? Menurut Rakhmat (1994:68), berpikir
adalah suatu aktivitas untuk memahami realitas dalam rangka
mengambil keputusan (decision making), memecahkan
persoalan (problem solving), dan menghasilkan yang baru
(creativity).
Salah satu fungsi berpikir adalah untuk menetapkan
keputusan. Seluruh realitas dan kehidupan ini adalah terdiri
dari pilihan-pilihan (alternatif). Rasanya bagi orang normal, tak
67
ada seorang pun yang mampu menghindar dari proses
pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil beraneka
ragam. Tapi tanda-tandanya: (1) keputusan adalah hasil
berpikir, hasil usaha intelektual; (2) keputusan selalu
melibatkan pilihan dari berbagai alternatif; (3) keputusan selalu
melibatkan tindakan nyata, walaupun dalam kenyataannya
boleh ditangguhkan atau dilupakan.
Berpikir juga ditujukan untuk memecahkan masalah
(problem solving). Pemecahan masalah palingtidak melalui
lima tahapan, meskipun dalam kenyataannya tidak demikian.
Tahapan-tahapan itu adalah:
1. Pemecahan masalah yang rutin. Misalnya, jika mobil anda
mogok, maka anda akan menstarternya berkali-kali.
2. Menggali memori untuk menemukan masalah yang
dihadapi dengan cara yang efektif. Mobil mogok jika tidak
bisa distrarter, maka minta bantuan orang lain untuk
mendorongnya.
3. Memecahkan masalah dengan coba-coba atau disebut juga
dengan penyelesaian mekanis (mechanical solution).
Metode coba-coba juga sering disebut trial and ereor.
4. Anda mulai menggunakan lambang-lambang verbal atau
grafisa untuk mengatasi masalah. Anda akan mencoba
memahami situasi yang terjadi, mencari jawaban, dan
menemukan kesimpulan yang tepat. Anda mungkin akan
menggunakan deduksi, atau induksi, atau mungkin anda
menggunakan analogi.
5. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran anda suatu pemecahan.
“Aha, sekarang saya tahu caranya…….” Kilasan
pemecahan tersebut disebut Aha-Erlebnis (pengalaman
68
Aha), atau lazim disebut insight solution.
Berpikir kreatif (creative thinking), menurut James C.
Coleman dan Coustance L. Hammen adalah: “thinking which
produces new methods, new concepts, new understanding, new
invention, new work of art”. Berpikir kreatif harus memenuhi
tiga syarat. Pertama, kreativitas melihatkan respons atau
gagasan yang baru, atau yang secara statistik sangat jarang
terjadi. Kedua, kreativitas ialah dapat memecahkan persoalan
secara realistis. Ketiga, kreativitas merupakan usaha untuk
mempertahankan insight yang orisinal, menilai dan
mengembangkannya sebaik mungkin. Berpikir kreatif
berkaitan dengan penambahan nilai, penciptaan nilai serta
menemukan peluang.
Para pakar psikologi, menyebutkan lima tahap berpikir
kreatif, kelima tahap itu adalah:
1. Orientasi
Masalah dirumuskan, dan aspek-aspek masalah
diidentifikasi di alam pikiran.
2. Preparasi
Pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin
informasi yang relevan dengan masalah.
3. Inkubasi
Pikiran beristirahat sebentar, ketika berbagai pemecahan
berhadapan dengan jalan buntu. Pada tahap ini, proses
pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah
sadar kita.
4. Iluminasi
Masa inkubasi berakhir ketika pemikir memperoleh
semacam ilham, serangkaian insight yang memecahkan
69
masalah. Ini menimbulkan Aha Erlebnis.
5. Verifikasi
Tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai
pemecahan masalah yang diajukan pada tahap keempat.
Berpikir kreatif mutlak dibutuhkan bagi seorang
wirausaha, Dari berpikir kreatif inilah memungkinkan muncul
inovasi atau mengubah sesuatu yang tidak berharga menjadi
berharga. Menemukan nilai unggul suatu benda yang tidak
terpikirkan oleh orang lain. Misalnya, siapa sangka batok
kelapa akan menjadi barang mewah ketika diubah menjadi
kancing baju yang artistik, menjadi berbagai peralatan rumah
tangga yang kaya seni, dan sebagainya. Beberapa waktu yang
lalu, bekas serutan kayu dibakar begitu saja. Tapi kemudian
serutan kayu tersebut menjadi naik gengsinya setelah disulap
bunga yang indah.
Memasuki persaingan ekonomi yang semakin kompleks
dan mengglobal jelas memerlukan cara-cara berpikir kreatif,
penuh imajinasi serta intuitif. Menurut Zimer (1996:53),
kreativitas tidak hanya penting untuk menciptakan keunggulan
kompetitif, akan tetapi juga sangat penting bagi keseimbangan
perusahaan (survive). Artinya, bahwa dalam menghadapi
tantangan global, diperlukan sumber daya manusia kreatif dan
inovatif atau berjiwa kewirausahaan. Wirausahalah yang bisa
menciptakan nilai tambah dan keunggulan. Nilai tambah
tersebut diciptakan melalui kreativitas dan keinovasian, atau
“thinking new thing and doing new thing or create the new and
different”.
Pemikiran kreatif dibutuhkan untuk menggambarkan
70
keadaan masa depan, meskipun tidak mungkin memiliki
gambaran yang lengkap mengenai masa depan, tetapi tindakan
kita akan memiliki konsekuensi di masa depan. Pemikiran
kreatif membantu kita untuk melihat konsekuensi dari tindakan
kita serta untuk memberikan alternative tindakan. Melalui
pemikiran kreatif kita akan berusaha meramalkan keadaan
masa depan, dan mempersiapkan tindakan-tindakan yang
fleksibel untuk menghadapi beberapa kemungkinan masa
depan.
Pemikiran kreatif merupakan motivator yang sangat
besar karena membuat orang tertarik akan pekerjaannya.
Pemikiran kreatif dapat menyediakan kerangka kerja sehingga
kita dapat bekerja dengan orang lain sebagai satu tim.
Entrepreneur yang berhasil mempunyai visi yang tepat dan
dilihat dalam perspektif jangka panjang. Entrepreneur harus
bisa mencari inspirasi dan pada saat yang sama dia juga
menjadi inspirator akan kegiatan bisnis yang dipacu menurut
visinya. Entrepreneur ibarat menjadi kapten kesebelasan, dia
tahu kapan harus menjemput bola dan kapan harus melepas
bola, bahkan bagaimana memanfaatkan bola liar atau bola
muntah di depan gawang. Hal ini ibarat bagaimana
entrepreneur melakukan pendekatan dan lobby bisnis untuk
mendapatkan sumber daya, sumber dana, sumber informasi
seraya mengelola aneka sumber itu secara tepat dan pantas.
Lobby semakin diperlukan dalam melakukan outsourcing
strategy, insourcing strategy atau pun strategic alliance untuk
kelancaran dan ketepatan bisnis.
Menurut Amar Bhide dalam penelitian terhadap 100
perusahaan dengan volume pertumbuhan bisnis tinggi, untuk
71
mengetahui sumber munculnya ide-ide yang mereka peroleh
sebagai berikut :
a. Ide yang dimodifikasi dari pengalaman sebelumnya ketika
bekerja di tempat lain. (71%).
b. Penemuan kebetulan melalui ;
Merubah pekerjaan sementara menjadi sebuah bisnis. (7%)
Ingin menjadi konsumen individual. (6%)
Kebetulan membaca industri yang bersangkutan (4%)
Mengambangkan ide dari anggota keluarga (2%).
Ide muncul saat sedang bulan madu (1%).
c. Terpengaruh oleh revolusi personal computer (5%).
d. Penemuan peluang melalui riset yang sistematis (4%).
Berdasarkan hasil interview kepada 100 orang pendiri
perusahaan yang mempunyai kecepatan pertumbuhan
perusahaan yang tinggi terungkap bahwa para entrepreneur
pada tahap awal menggunakan sedikit sekali perencanaan
bisnis. Diantara mereka 41% tidak mempunyai rencana bisnis
sama sekali, 26 % memiliki perencanaan seadanya, 5%
membuat proyeksi keuangan dan hanya 28% membuat rencana
formal secara jelas.
B. Mengapa perlu kreatifitas? (Roe dan Raudsepp)
1. Keberhasilan dalam persaingan bias diperoleh dengan
mengembangkan daya kreatif.
2. Kreatifitas merupakan sumber yang berharga yang
harus dipelihara dan jangan disia-siakan.
3. Tantangan-tantangan baru selalu muncul dan harus
dihadapi dengan kreatifitas baru.
72
4. Kreatifitas adalah gagasan yang tidak dapat diramalkan
datang dan perginya dan mempunyai keunikan yang
tinggi.
C. Hal-Hal yang Merintangi Kreatifitas (Kao,1989)
1. Lebih menekankan pada perilaku dan struktur birokrasi.
2. Mengagungkan tradisi dan budaya yang dibuat.
3. Menekankan pentingnya prosedur yang kaku.
4. Mematikan suatu contoh.
5. Memperkecil ketersediaan sumber-sumber yang
dibutuhkan.
6. Komunikasi yang lemah.
7. Sistem pengendalian yang kuat/tidak lentur.
8. Menekankan pada nilai yang menghalangi pengambilan
resiko.
9. Mengawasi aktivitas kreatifitas.
10. Menekankan batas waktu.
11. Lebih menyukai spesialisasi.
D. Hal-Hal yang Mengembangkan Kreatifitas (Kao)
1. Menciptakan struktur organisasi terbuka dan
desentralisasi.
2. Mendukung budaya yang memberi kesempatan atau
percobaan.
3. Mendorong sikap eksperimental.
4. Memberitakan hal-hal yang berhasil.
5. Menekankan pada peran dari pemenang.
6. Memberi kebebasan untuk melakukan kesalahan.
7. Komunikasi pada semua tingkatan.
8. Tersedianya semua sumber atas suatu inisiatif baru.
73
9. Hindari mematikan ide-ide baru.
10. Singkirkan birokrasi dari proses pengalokasian sumber.
11. Beri penghargaan atas suatu keberhasilan.
12. Ciptakan budaya pengambilan resiko.
13. Kurangi hal-hal yang bersifat adminitratif.
14. Berikan kebebasan.
15. Tanpa batas waktu.
16. Delegasikan tanggung jawab untuk mulai aktivitas
baru.
Tantangan yang dihadapi adalah mengubah ide-ide
kreatif menjadi produk nyata atau proses yang akan
meningkatkan pelayanan kepada konsumen.
E. Intuisi yang Berproses
Intuisi meurut Leonardo secara umum didefiniskan sebagai
“pemahaman langsung” yang memiliki banyak konotasi.
Menurut Rorty intuisi adalah
1. Firasat atau keyakinan tanpa pembuktian yang tidak
didahului dengan penalaran atau penyimpulan.
2. Pengetahuan tanpa didasarkan pada penalaran dan
langsung mengenai kebenaran sebuah pernyataan.
3. Pengetahuan langsung mengenai sebuah konsep.
4. Pengetahuan tanpa pernyataan.
Pengetahuan ini berangkat dari intelek dalam
kemampuan yang murni dan hakiki, walaupun melalui
perasaan. Hal ini merupakan pendekatan psikologis mengenai
kebenaran. Ini tidak hanya merupakan sesuatu yang intuitif
tetapi juga kreatif. Berkembang pembicaraan tentang
74
kewirausahaan dan intuisi dan firasat praktis. Sebagian
menyebutkan indera keenam.
Apa sebenarnya firasat ?...kemampuan untuk mendapat
kesimpulan yang akurat dengan informasi yang terbatas
(Malcom W). Masih menurut Malcom komponen kunci dari
intuisi atau firasat adalah pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki sepanjang hidup seseorang, kita selalu membuat
keputusan-keputusan yang rumit tanpa sadar menyaring
sejumlah besar informasi yang diperoleh.
Dalam lingkungan kerja tak ada yang menghargai intuisi
kecuali pengusaha. Banyak penemuan-penemuan besar oleh
ilmuwan berdasarkan intuisi, tetapi setiap pertimbangan intuitif
harus ditelaah dengan realita, sebelum melakukan sesuatu yang
tergesa-gesa dan bodoh. Menurut Paul Bagne, firasat bukanlah
suatu tebakan yang untung-untungan, tetapi keterampilan
dengan sejumlah besar informasi pendukung. Mengembangkan
intuisi dimulai dengan data atau informasi yang mendukung.
Ketika jalan terbaik dari tindakan masih samara, mereka tetap
mengembangkan alternative tindakan. Sering sekali solusi
muncul ketika kita menjauh dari permasalahan yang dihadapi
untuk sementara. Seperti yang dikatakan Bowers “firasat saya
bahwa dengan menjauhkan diri anda dari dilema untuk sesaat,
anda dapat kembali dengan gambaran awal yang lebih banyak
dan memiliki kesempatan leibih baik untuk menghasilkan
solusi terbaru.
Memadukan analisis dan intuisi lebih baik sesuai situasi
dan konteks bisnis serta daya adaptasinya. Namun jika lembaga
bisnis yang memacu inovasi dan kreatifitas secara terus
menerus maka intuisi-intuisi bisnis dari pimpinan lembaga
75
akan semakin lebih banyak dimanfaatkan bahkan semakin
dipertajam.
76
BAB VI
ETOS KEWIRAUSAHAAN DAN
KEPEMIMPINAN
“Masa depan yang lebih baik tidak bisa diraih dengan cara
berpangku tangan dan menghitung bintang di langit,
melainkan dengan kesungguhan Doa, Perencanaan Untuk
Bertindak dan Bertindaklah dengan sepenuh upaya yang tak
kenal lelah“
A. Membangun Motivasi Kewirausahaan
Pada dasarnya pada diri setiap manusia selalu ada
dorongan yang kuat untuk maju, ingin lebih baik dari
orang lain, dan makin kuat imannya semakin menyadari
bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini. Persaingan untuk
menuju tangga sukses dalam berwirausaha bukanlah persoalan
yang mudah ditengah-tengah kompetisi yang semakin ketat dan
mengglobal. Susahnya membangun kewirausahaan disebabkan
oleh beberapa faktor, diantaranya: (1) banyaknya kompetitor
baik yang telah mapan maupun yang baru tumbuh dan
berkembang, (2) belum sepenuhnya dunia perbankan berpihak
kepada para calon pengusaha kecil dalam penyediaan dana
bersuku bunga ringan, (3) faktor mentalitas yang cenderung
77
lemah, dan (4) motivasi sebagian masyarakat yang belum
tinggi.
Salah satu faktor penting dalam kewirausahaan adalah
etos, yaitu sikap mental dan semangat yang mendorong
seseorang untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Etos ini harus
senantiasa ditumbuhkan dan digelorakan agar mampu menjadi
pemicu untuk bekerja dan berpikir yang lebih kritis. Masa
depan yang lebih baik tidak bisa diraih hanya dengan
berpangku tangan atau menghitung bintang di langit,
melainkan masa depan yang cerah harus direbut dan
diperjuangkan melalui usaha yang keras.
Salah satu ungkapan “orang lain bisa berhasil, kenapa
saya tidak, padahal sama-sama makan nasi” bisa jadi menjadi
daya dorong untuk berbuat sesuatu. Setiap keberhasilan sekecil
apapun harus diperjuangkan secara gigih, dan semua
keberhasilan bukanlah hadiah cuma-cuma.
B. Motivasi: Teori, Proses dan Implementasi
1. Teori-Teori Motivasi
Motivasi (Inggris/kb:Motivation), didefinisikan
sebagai niat, dasar, dorongan untuk berbuat sesuatu.
Secara bebas motivasi diartikan daya pendorong
yang mengakibatkan seseorang mau dan rela mengerahkan
seluruh kemampuan (dalam bentuk pengetahuan, keahlian dan
keterampilan) untuk mencapai cita-cita yang diharapkan.
Beberapa nilai yang seringkali menyertai motivasi yaitu
keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran, dorongan, dan
inisiatif. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa suatu motif
adalah keadaan kejiwaan yang mendorong, mengaktifkan atau
78
menggerakkan dan motif itulah yang mengarahkan dan
menyalurkan perilaku, sikap, dan tindak-tanduk seseorang yang
selalu dikaitkan dengan pencapaian tujuan individu maupun
organisasi. Maka, motivasi pada hakekatnya terdiri dari tiga
komponen, yaitu kebutuhan, dorongan, dan tujuan.
Kebutuhan sebagai sendi pertama dari motivasi timbul
dalam diri seseorang apabila ia merasa adanya kekurangan
dalam dirinya, baik dalam arti fisiologis maupun psikologis.
Usaha untuk mengatasi kekurangan melahirkan dorongan,
yaitu usaha pemenuhan kekurangan secara terarah. Sebagai
sendi kedua, dorongan berorientasi kepada tindakan tertentu
yang secara sadar dilakukan oleh seseorang. Dorongan yang
berorientasi kepada tindakkan itulah yang sesungguhnya
menjadi inti motivasi, sebab jika tidak ada tindakan, situasi
ketidakseimbangan yang dihadapi oleh seseorang tidak
mungkin dapat diatasi.
Sedangkan tujuan merupakan sendi ketiga dalam
motivasi, yaitu segala sesuatu yang menghilangkan kebutuhan
dan mengurangi dorongan. Jika tujuan tercapai, berarti
mengembalikan keseimbangan pada diri seseorang baik secara
fisiologis maupun psikologis.
Setiap langkah dan perbuatan manusia yang dilakukan
secara rasional pasti memiliki motivasi tertentu. Jika mereka
yang belum bekerja, maka motivasi utamanya dalam setiap
kesempatan adalah bagaimana mendapat pekerjaan. Jika
mereka telah berada pada dunia kerja, maka bagaimana
motivasi itu dapat meningkatkan karir, dan seterusnya. Sisi
kehidupan manusia demikian kompleks dan penuh persaingan,
79
dan untuk meraih keberhasilan demi keberhasilan dibutuhkan
motivasi yang tidak mengenal kata berhenti.
Secara teoretik terdapat beberapa teori yang dapat
dijadikan sebagai rujukan untuk mengetahui dan
membangkitkan motivasi atau betapa pentingnya motivasi
dalam kompleksitas kehidupan manusia. Di sini hanya akan
dibahas beberapa saja, yaitu:
1. Teori Kebutuhan Sebagai Hirarki
Abraham H. Maslow mengemukakan bahwa terdapat lima
tingkatan kebutuhan manusia, yaitu:
a. Kebutuhan Fisiologis
Perwujudan dari kebutuhan fisiologis ialah kebutuhan
pokok manusia seperti sandang, pangan dan
perumahan. Kebutuhan tersebut berkaitan dengan status
manusia sebagai insan ekonomi. Harus diakui adanya
perbedaan dalam kemampuan untuk memuaskan
berbagai kebutuhan tersebut. Gejala umum
menunjukkan bahwa meningkatnya kemampuan
seseorang untuk memuaskan berbagai kebutuhan
tersebut cenderung mengakibatkan terjadinya
pergeseran pendekatan pemuasannya dari pendekatan
yang sifatnya kuantitatif menjadi pendekatan yang
kualitatif.
b. Kebutuhan akan keamanan
Kebutuhan keamanan tidak hanya dalam arti keamanan
fisik – meskipun hal ini aspek yang sangat penting –
akan tetapi juga keamanan yang bersifat psikologis,
termasuk perlakukan adil dalam pekerjaan seseorang.
Karena pemuasan kebutuhan ini terutama dikaitkan
80
dengan tugas pekerjaan seseorang, kebutuhan
keamanan itu sangat penting untuk mendapat perhatian,
artinya, keamanan dalam arti fisik mencakup keamanan
di tempat pekerjaan dan keamanan dari dan ketempat
pekerjaan, seperti menyediakan sarana angkutan bagi
pegawainya. Demikian pula halnya selama seseorang
berada di tempat pekerjaannya. Pengecekan terhadap
alat-alat yang digunakan adalah contoh lain dari
tindakan pengamanan itu. Keharusan menggunakan topi
pengaman oleh mereka yang sedang membangun
gedung, larangan merokok di daerah-daerah tertentu
dimana terdapat bahan-bahan kimia atau bahan lain
yang mudah terbakar,serta asuransi para karyawan yang
melaksanakan tugas-tugas tertentu, terutama mereka
yang tingkat resiko tinggi.
c. Kebutuhan Sosial
1. Manusia adalah mahluk sosial. Dalam kehidupan
organisasional manusia sebagai insan sosial
mempunyai berbagai kebutuhan yang berkisar pada
pengakuan akan keberadaan seseorang dan
penghargaan atas harkat dan martabatnya.
2. Setiap orang mempunyai jati diri yang khas dengan
segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan jati
dirinya yang khas itu setiap orang merasa dirinya
penting. Tidak ada manusia yang senang bila
diremehkan. Artinya setiap orang memiliki “sense
of importance”.
3. Kebutuhan akan perasaan maju. Dapat dinyatakan
secara kategorikal bahwa pada umumnya manusia
81
tidak senang apabila menghadapi kegagalan, artinya
orang akan menyukai pekerjaan kalau memberi
kemungkinan yang besar untuk berhasil.
4. Kebutuhan akan perasaan diikutsertakan atau “sense
of participation”. Kebutuhan ini terasa dalam
banyak segi kehidupan organisasional, akan tetapi
mungkin paling terasa dalam proses pengambilan
keputusan yang menyangkut diri dan tugas
seseorang. Inilah salah satu alasan untuk
mengatakan bahwa gaya menajemen yang
partisipatif adalah gaya yang baik dan tepat
digunakan, juga untuk kepentingan pemberian
motivasi.
d. Kebutuhan “Esteem”.
Salah satu ciri manusia ialah bahwa dia mempunyai
harga diri. Karena itu semua orang memerlukan
pengakuan atas keberadaan dan statusnya oleh orang
lain. di dalam dan di luar organisasi. Dikaitkan dengan
kehidupan organisasional, pada umumnya dapat
dikatakan bahwa semakin tinggi kedudukan dan status
seseorang dalam suatu organisasi dan dilingkungan
masyarakat semakin banyak pula simbol-simbol yang
digunakannya untuk menunjukan status yang
diharapkannya diterima dan diakui oleh orang-orang
lain.
e. Kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Dalam diri setiap orang terpendam potensi kemampuan
yang belum seluruhnya dikembangkan. Adalah hal
yang normal apabila dalam meniti karier, seseorang
82
ingin agar potensinya itu dikembangkan secara
sistematik sehingga menjadi kemampuan efektif yang
akan mendorong kepuasan kerja secara penuh. Dengan
pengembangan demikian, seseorang dapat memberikan
sumbangan yang lebih besar bagi kepentingan
organisasi dan meraih kemajuan professional.
2. Teori Harapan
Teori ini dapat dikatakan teori yang paling maju dalam
menjelaskan motivasi seseorang dibandingkan dengan teori
motivasi sebelumnya. Inti dari teori ini adalah bahwa kuatnya
kecenderungan seseorang bertindak dengan cara tertentu
tergantung pada kekuatan harapan bahwa tindakan tersebut
akan diikuti oleh suatu hasil tertentu dan pada daya tarik dari
hasil itu bagi orang yang bersangkutan. Jika pekerjaan tersebut
menjanjikan nilai dan ekonomi yang tinggi, maka seseorang
tersebut akan dengan sendirinya termotivasi.
Memahami teori kebutuhan yang diungkapkan Maslow
paling tidak berfungsi sebagai "jembatan" untuk mengetahui
berbagai kebutuhan manusia yang normal dan sekaligus
memprediksi bagimana cara memperolehnya. Ternyata
manusia adalah makhluk yang sangat kompleks, makhluk yang
memiliki multi kebutuhan, makhluk yang memiliki sejuta
harapan, impian dan cita-cita untuk menjadi seorang yang
sukses.
Secara teoretik, manusia dalam hidupnya tidak akan
terlepas dari empat kebutuhan sebagai berikut:
83
1. The desire to live
Artinya keinginan untuk hidup merupakan keinginan utama
dari setiap orang; manusia bekerja untuk dapat makan dan
makan dapat melanjutkan hidupnya.
2. The desire for possession
Artinya keinginan untuk memiliki sesuatu merupakan
keinginan manusia yang kedua dan ini salah satu sebab
mengapa manusia mau bekerja.
3. The desire for fower
Artinya keinginan akan kekuasaan merupakan keinginan
selangkah di atas keinginan untuk memiliki; mendorong
orang untuk bekerja.
4. The desire for recognition
Artinya keinginan akan pengakuan merupakan jenis
terakhir dari kebutuhan dan juga mendorong orang untuk
mau bekerja.
Sangat disadari bahwa mengetahui teori motivasi saja
belumlah cukup untuk dapat terus bertahan ditengah-tengah
kompetisi yang semakin ekstrem. Manusia yang terampil
adalah manusia yang faham secara teoretik dan mempu
melaksanakannya dalam praktek.
3. Teori Motivasi Hawthorne
Pada tahun 1924, ahli efisiensi Elton Mayo mengadakan
penelitian di Hawthorne Illinois. Western Electric Coy
mengenai pengaruh lampu penerangan terhadap produktivitas
karyawan. Penelitian ini menemukan kombinasi yang terbaik
untuk memacu produktivitas maksimum dari karyawan. Mayo
dari Harvard University Graudate School of Busines
84
Administration menduga bahwa produktivitas akan meningkat
dengan meningkatkan penerangan, mengadakan perubahan
jadwal periode istirahat, makan siang di perusahaan, dan kerja
dalam seminggu diperpendek dalam perusahaan itu. Hasilnya
mencengangkan, produksi meningkat setiap waktu, Mengapa?
Setelah diteliti penyebab produksi meningkat, ternyata
bukan karena aspek yang dieksperimenkan, melainkan karena
“aspek-aspek manusia”. Mereka merasa diperlakukan seperti
seorang yang penting pada bagian percobaan itu. Mereka dapat
berhubungan satu sama lain, dan tidak lagi merasa terisolasi,
kompetensi dan berprestasi mulai bertunas dalam hati mereka.
Satu hal yang sangat berarti ditemukan bahwa untuk
meningkatkan prestasi kerja karyawan, diperlukan faktor
human relation. Jika karyawan mendapat perhatian khusus
secara pribadi terhadap dirinya dan juga terhadap
kelompoknya, maka produktivitasnya akan meningkat. Seorang
wirausaha harus pandai mendekati dan memperhatikan
pekerjaan yang sedang dikerjakan karyawan. Beri mereka
pujian spontan, atau tepuk bahunya, sebagai tanda kebanggaan
pimpinan memiliki karyawan seperti dia, hal ini dikenal
sebagai “manajemen tepuk” yang memberikan andil dalam
meningkatkan produktivitas.
4. Teori X dan Teori Y ( Douglas Mc. Gregor)
a. Teori X
1. Pekerjaan hakekatnya tidak disenangi orang
banyak.
2. Kebanyakan orang rendah tanggung jawabnya dan
lebih suka dipimpin.
85
3. Kebanyakan orang kurang kreatif.
4. Orang lebih suka memikirkan kebutuhan-
kebutuhan yang bersifat fisik saja, asal itu sudah
dipenuhi, selesai persoalannya.
5. Kebanyakan orang harus dikontrol secara ketat,
dan sering harus dipaksakan menerima tujuan
organisasi (dipaksa bekerja).
Manajer yang meyakini bahwa karyawannya
memiliki karakteristik teori X akan
mengembangkan sistem pengawasan dan disiplin
yang ketat terhadap para pekerja.
b. Teori Y
1. Pekerjaan itu sebetulnya sama dengan bermain,
cukup menarik dan mengasyikkan.
2. Orang mempunyai kemampuan mengawasi diri
sendiri guna mencapai tujuan.
3. Setiap orang mempunyai kemampuan kreatifitas.
4. Orang tidak hanya memiliki kebutuhan fisik saja
tetapi juga memiliki kebutuhan rasa aman, ingin
bergaul, ingin dihargai dan ingin menonjolkan
dirinya.
5. Orang harus diberi motivasi agar dapat
membangkitkan daya inisiatif dan kreativitasnya.
Semua orang sebenarnya bersifat kreatif, yang harus
dibangkitkan atau dirangsang oleh pimpinan. Inilah tugas
manajer, yaitu membangkitkan daya kreasi para pekerja. Teori
X dan Y hanya memberikan kira-kira arah atau kecenderungan
orang. Orang yang menganut teori Y untuk hal tertentu. Namun
86
ia juga harus memimpin dan mengawasi para pekerja menurut
teori X.
C. Proses dan Implementasi
Berdasarkan pemahaman kita tentang motivasi, maka
sebagai konsekunsinya, setiap orang perlu disadarkan
dan dibangkitkan motivasinya untuk meraih suatu
kehidupan yang lebih berkualitas. Proses pengungkapan jati
diri manusia untuk meraih hidup yang berkualitas ini disebut
proses penyadaran (awarenees). Secara sederhana, proses
penyadaran melalui dua tahapan:
Pertama, penyadaran akan tujuan hidup manusia di muka
bumi. Berdasarkan petunjuk agama tujuan hidup manusia
adalah meraih kebahagiaan di dunia dan akherat. Kebahagiaan
hidup di dunia tercermin dalam mapannya tingkat eknomi,
mampu menjalin hubungan yang harmonis ditengah-tengah
keluarga, masyarakat, dan seterusnya. Kebahagiaan di akherat
adalah mampu meraih surga dengan ridha Allah SWT. Jika
seseorang telah sadar akan tujuan hidupnya maka akan timbul
motivasi yang kuat untuk meraih kebahagiaan tersebut.
Manusia akan senantiasa berusaha untuk dapat hidup layak dan
tidak menjadi beban masyarakat.
Kedua, penyadaran akan potensi diri yang dimiliki.
Setiap manusia dilahirkan dengan membawa potensi
(kemampuan). Proses terjadinya potensi pada setiap individu
ada yang dibawa sejak lahir (bakat), tetapi potensi pun dapat
tumbuh dan berkembang melalui usaha sadar yakni melalui
pendidikan. Melalui pendidikan seseorang beri pengetahuan,
wawasan, diarahkan, ditempa, untuk mempunyai keahlian
87
tertentu sebagai bekal kehidupan. Pendidikan memiliki
orientasi menjadikan peserta didik memiliki kompetensi, di
mana kompetensi tersebut terdiri dari tiga wilayah, yaitu:
1. Knowing
Yaitu tahu. Tahu dalam pengertian teoretik dan berada pada
ranah kognitif.
2. Doing
Yaitu tahu cara melaksanakan tahu itu. Atau tahu
bagaimana bagaimana teori-teori tersebut dipraktekkan.
3. Being
Yaitu dalam arti "jadi". Atau dalam pengertian lain
seseorang tersebut profesional dibidangnya.
Jika setiap orang atau seseorang telah sadar akan tujuan
hidupnya, dan mampu mengenali potensi dirinya, maka
langsung maupun tidak langsung akan termotivasi untuk mulai
bekerja (tahap implementasi) dengan mencurahkan seluruh
daya dan kemampuan untuk meraih kehidupan yang lebih baik
(Tujuan hidup). Orang akan mulai menghitung kemampuan apa
yang dimiliki, peluang apa saja yang dapat dimanfaatkan,
kelemahan apa saja yang harus segera diatasi, rintangan apa
saja yang harus disingkirkan, dan seterusnya. Mulailah dari diri
sendiri, mulailah dari yang kecil dan mulailah dari sekarang,
demikian kata kiyai kondang Abdullah Gymnastiar.
Pengembangan diri untuk mencapai tangga sukses pada
dasarnya adalah sebuah manajemen hidup, yaitu bagaimana
cara mengelola diri sendiri, mampu mengetahui diri sendiri
dari berbagai kelebihan dan kekurangannya, mampu membaca
peluang dan tantangan yang terbentang, mampu mengelola
waktu secara efektif, mampu mengembangkan hubungan insani
88
dengan baik, dan seterusnya. Menurut orang bijak mengatakan:
"manusia sesungguhnya mampu mengubah hidupnya dengan
mengubah cara berfikirnya".
D. Kepemimpinan dalam Kewirausahaan
Kepemimpinan mutlak dibutuhkan bagi seorang
wirausaha. Artinya, seorang wirausaha yang baik
adalah seorang pemimpin dalam bisnis, haruslah
orang yang dapat menguasai dan mengembangkan dirinya
sendiri, dan juga mampu menguasai serta mengarahkan dan
mengembangkan para karyawannya.
Terdapat tiga variabel utama dalam kepemimpinan, yang
satu sama lain saling menopang, yaitu:
a. Kepemimpinan melibatkan orang lain seperti bawahan atau
para pengikut. Seorang wirausaha akan berhasil apabila dia
memimpin karyawannya atau pembantu-pembantu yang
mau bekerjasama dengan dia untuk memajukan
perusahaan.
b. Kepemimpinan menyangkut distribusi kekuasaan. Para
wirausaha memiliki otoritas untuk membagikan
kekuasaannya kepada para pegawainya pada bagian-bagian
tertentu dengan pertimbangan yang rasional.
c. Kepemimpinan menyangkut penanaman pengaruh dalam
rangka mengarahkan bawahannya.
1. Kepemimpinan Efektif
Menjadi pemimpin yang efektif dipengaruhi oleh banyak
faktor antara lain sifat dasar yang dimiliki dan sifat umumnya
yang akan mendorong ciri kepribadian universal dengan derajat
89
yang tinggi yang dimiliki oleh pemimpin daripada bukan
pemimpin. Sifat pemimpin yang ideal berikut ini sebagai salah
satu yang dapat dipelajari para wirausahan untuk meningkatkan
kemampuan memimpinnya.
2. Sifat-Sifat Pimpinan yang Ideal
Ordway Tead mengemukakan sepuluh sifat pemimpin
yang ideal, yaitu:
1. Memiliki daya tahan jasmani dan mental;
2. Kesadaran akan tujuan dan arah;
3. Antusiasme;
4. Keramahan dan kecintaan;
5. Integritas;
6. Penguasaan teknis;
7. Ketegasan dalam mengambil keputusan;
8. Kecerdasan;
9. Keterampilan mengajar; dan
10. Kepercayaan.
Seorang pemimpin juga dituntut untuk memiliki
keterampilan-keterampilan dasar yang dapat dipelajari yaitu:
1. Keterampilan Kepemimpinan (Leadership Skills)
Mendorong kemampuan kepemimpinan efektif dalam diri
seorang wirausaha dapat dilakukan dengan
mengembangkan empat keterampilan dasar kepemimpinan,
yaitu sebagai berikut:
a. Technical Skills
Yaitu suatu kemampuan yang dimiliki oleh seorang
pemimpin untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan.
Walaupun seorang wirausaha meruapakan pemimpin
90
yang dapat menyuruh orang lain untuk mengerjakan
suatu pekerjaan, namun sebaiknya ia mampu
mengerjakannya pekerjaan tersebut.
b. Human Skills
Yaitu kemampuan untuk bekerjasama dan membangun
tim kerja bersama orang lain.
c. Conceptual Skills
Yaitu seorang wirausaha harus mampu berpikir dan
mengungkapkan pemikirannya dalam bentuk model
kerangka kerja dan konsep-konsep lain dalam
memudahkan pekerjaan, serta kemampuan membuat
keputusan yang sulit.
d. Time Management Skill
Yaitu kemampuan untuk mengatur atau mengelola
waktu secara rasional. Mengatur prioritas dalam
memanfaat waktu untuk kegiatan-kegiatan usaha yang
memberi manfaat bagi diri sendiri dan organisasi
bisnisnya.
3. Tugas Kepemimpinan
Sebagai Pemimpin seorang wirausaha memiliki tugas
terutama yang berkaitan dengan kerja kelompok, atau
menggerakkan kelompok supaya mampu bekerja secara efektif
dan efisien. Diantara tugas-tugas kepemimpinan tersebut
adalah:
1. Memulai (initiating)
Usaha agar kelompok memulai kegiatan atau gerakan
tertentu yang berkaitan dengan perusahaan.
2. Mengatur (regulating)
91
Tindakan untuk mengatur arah dan langkah kegiatan
kelompok/perusahaan.
3. Memberitahu (informing)
Kegiatan memberi informasi, data, fakta, pendapat kepada
para anggota dan minta dari mereka informasi, data, fakta
dan pendapat yang diperlukan.
4. Mendukung (supporting)
Usaha untuk menerima gagasan, pendapat, usul dari bawah
dan menyempurnakannya dengan menambah atau
menguranginya untuk digunakan dalam rangka
penyelesaian tugas bersama.
5. Menilai (evaluating)
Tindakkan untuk menguji gagasan yang muncul atau cara
kerja yang diambil dengan menunjukan konsekuensi-
konsekuensinya dan untung ruginya.
6. Menyimpulkan (summarizing)
Kegiatan untuk mengumpulkan dan merumuskan gagasan,
pendapat dan usul yang muncul, menyingkat lalu
menyimpulkannya sebagai landasan untuk pemikiran lebih
lanjut.
92