The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MEDIVO PENGALAMAN 1 TAHUN COVID19 DI RSUD SIDOARJO

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by humas.rsudsda, 2021-08-11 22:48:48

MEDIVO PENGALAMAN 1 TAHUN COVID19 DI RSUD SIDOARJO

MEDIVO PENGALAMAN 1 TAHUN COVID19 DI RSUD SIDOARJO

Keywords: pengalaman,covid19

PENGALAMAN SATU TAHUN PENANGANAN

COVID-19
DI RSUD SIDOARJO

1INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

DAFTAR ISI 2
3
Tim Penyusun 5
Kata Pengantar 14
Pengalaman Satu Tahun Penanganan Covid-19 di RSUD Sidoarjo 20
Pandemi Ajang Melatih Diri dan Uji Kebersamaan 27
Tersenyumlah Sobat...Bersama Kita Mampu Menghadapi Era Pandemi Covid-19 31
Lonjakan Pasien Covid-19 Sempat Membuat IGD Tutup Sementara 39
Pengelolaan Logistik di Era Pandemi Covid-19 45
Taktik Perang Melawan Invasi Covid-19 51
Sarana Prasarana Dalam Percepatan Penanganan Covid-19 55
Coretan Seputar Covid-19 61
Kisah Unik di Balik Gerbang Isolasi GDH 67
Suka Duka Merawat Pasien Covid-19 72
Beragam Rintangan Kami Alami Pada Masa Pandemi 77
Kekhawatiran Tidak Menghalangi Perjuangan Kami 79
Tantangan dalam Perawatan Jenazah di RSUD Sidoarjo 83
88
People Behind The Desk 96
Sepenggal Cerita RSUD Sidoarjo Dianggap Mengcovidkan Pasien 102
Peran Rehabilitasi Medik Dalam Penanganan Pasien Covid-19 107
Donor Plasma Konvalesen Bagi Pasien Covid-19 111
Pengelolaan dan Pemeliharaan Elektromedik 117
Promosi Kesehatan di Era Pandemi Covid-19 121
Geliat Penyelenggaraan Berbagi Ilmu di Kala Pandemi
Profesionalisme Satpam di Masa Pandemi Covid-19
Kesan Para Penyintas Covid-19

TIM PENYUSUN
Penasehat : dr. Atok Irawan, Sp. P.
Penanggung Jawab : dr. Syamsu Rahmadi, Sp. S. | dr. Wasis Nupikso, Sp. OG.
Ketua Dewan Redaksi : Ahmad Zainuri, SH., MH.
Anggota Dewan Redaksi : M. Idham Adiwijaya, SH. | dr. Prima Dessy Kusuma R. | dr. Ivan Setiawan, Sp. EM.
dr. Liana Nurhayati, Sp. KJ. | Puji Andayani, S.KM., S.Kep.Ners., M. Kes.
Redaktur Pelaksana : Dennox Ayu Dewi Bastian, S. Ikom.
Redaktur : Hendra ahmad Yani, SH. | Wayan Diana Diputra | Satya Desana Hafid, SH.
Administrasi dan Publikasi : Sulasmijati, S. KM., M. Kes. | Maulana Singgih Setiyawan | Yuristanti, S. Sos.
Kontributor : dr. Atok Irawan, Sp.P | Puji Andayani, S.KM., S.Kep.Ns., M.Kes. | dr. Ivan Setiawan, Sp.EM
Dra. Agustin Sulistyowati, Apt. | Ari Siswanto Efendi, S.Kep.Ns | Ahmad Zainuri, SH.,MH
dr. Kakung Muhammad Yusuf, Sp.An | Khotimah Ulfa, S.Kep.Ns | Dewi Atiqoh, S.Kep.Ns
Rus Wendy Ariningsih, A.Md.Kep | Juli Catur, A.Md.Kep | Siti Nur Jannah, A.Md.Kep
Sri Yuliati, S.Kep.Ns | Tri Wahyuningsih, A.Md.KL | Pudji Astutik, S.KM.,M.Kes
dr. Evi Diana Fitri, Sp.F | dr. Prima Dessy Kusuma | Hendra Ahmad Yani, SH
dr. Inok Rochbita Harwiduri, Sp.KFR | Priyo Utomo, S.Tr.Kes | Akhmad Mukhlis, S.ST
Sulasmijati, S.KM., M.Kes | Ayok Luthfi Hidayat, S.Kom | Miftakhur Rahmad
Pracetak dan Cetak : Imam Suyuti

2INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah... Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
berkat rahmat serta karunia-Nya, kami telah berhasil menerbitkan buku
ini. Buku berjudul “Pengalaman Satu Tahun Penanganan Covid-19 di RSUD
Sidoarjo” ini mengangkat kisah-kisah yang dialami keluarga besar RSUD Sidoarjo
selama berjuang menangani pasien Covid-19.

Sejak Desember 2019, dunia dihebohkan oleh virus Corona yang pertama kali
ditemukan di Kota Wuhan, Cina. Dalam waktu yang relatif singkat, Covid-19 (Corona
Virus Disease 2019) menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga pada 2 Maret 2020,
pasien positif Covid-19 ditemukan pertama kali di Indonesia. Pemerintah pun
menetapkan status pandemi melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non Alam Penyebaran Corona
Virus Disease 2019 (Covid-19) Sebagai Bencana Nasional pada 13 April 2020.

Sebelum penetapan pandemi tersebut, kami telah mempersiapkan segala
kebutuhan dalam penanganan Covid-19 jika sewaktu-waktu pasien Covid-19 datang
ke RSUD Sidoarjo. Pembentukan Tim Covid-19 juga kami lakukan sejak 27 Januari
2020. Ruang isolasi bertekanan negatif yang sebelumnya diperuntukkan pasien
penderita SARS, flu burung atau flu babi ditambah kapasitasnya sesuai kebutuhan
dalam penanganan pasien Covid-19.

Pada 22 Maret 2020, RSUD Sidoarjo menjadi salah satu rumah sakit yang
ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan oleh Gubernur Jawa Timur melalui Surat
Keputusan Gubernur Jatim Nomor 188/125/KPTS/013/2020 tentang Penetapan
Rumah Sakit Rujukan Penyakit Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Jawa Timur.

RSUD Sidoarjo pertama kali menangani pasien positif Covid-19 yakni pada
tanggal 14 Maret 2020. Itulah awal mula perjalanan kami berjuang dalam
menangani Covid-19. Sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemi ini, RSUD
Sidoarjo melakukan berbagai upaya mulai penentuan zonasi/klusterisasi pelayanan,
peniadaan jam berkunjung, mewajibkan seluruh pengunjung serta pegawai
menerapkan protokol kesehatan, memaksimalkan penyediaan sarana dan
prasarana penanganan maupun pencegahan penularan, dan lain sebagainya.

3INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Tentu perjuangan kami tidak berjalan mulus. Tidak sedikit rintangan kami
lewati dalam penanganan pasien bahkan dalam manajemen rumah sakit selama
masa pandemi. Baik suka maupun duka kami lalui selama satu tahun menangani
Covid-19. Tak hanya itu, ada pula beberapa kisah unik yang dialami oleh para
tenaga medis dan juga non medis saat bertugas di ruang isolasi Covid-19.

Dalam buku ini, kami mengungkap sepenggal kisah perjalanan RSUD Sidoarjo
menghadapi pandemi Covid-19 untuk mengenang perjuangan kami serta dengan
harapan adanya hikmah yang bisa dipetik dari kisah yang kami tuturkan dalam buku
ini secara apa adanya sesuai fakta di lapangan.

Ucapan terima kasih kami sampaikan sebesar-besarnya kepada seluruh
narasumber yang terlibat dalam pembuatan buku ini baik jajaran manajemen,
dokter, perawat, staf penunjang serta staf lainnya di RSUD Sidoarjo karena telah
bersedia meluangkan waktunya demi terwujudnya pembuatan buku ini. Semoga ini
dicatat sebagai amal kebajikan kita di dunia.

Demikian buku ini kami persembahkan bagi para pembaca dengan
ketidaksempurnaan karena tiada kesempurnaan di dunia ini. Maka dari itu,
kami membutuhkan kritik, saran dan juga masukan. Akhir kata yang dapat kami
sampaikan, selamat membaca.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sidoarjo, Mei 2021
DIREKTUR RSUD SIDOARJO,

dr. Atok irawan, Sp.P

4INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama lengkap : dr. Atok Irawan Sp. P.
Jabatan : Direktur RSUD Sidoarjo
Usia : 55 Tahun
Masa Kerja : 25 Tahun

Pengalaman Satu Tahun
Penanganan Covid-19

di RSUD Sidoarjo

Persiapan Ruang dan Layanan Covid-19

RSUD Sidoarjo sudah mempunyai ruang isolasi 4 bed ruang tekanan negatif yang
sebelumnya dipersiapkan untuk perawatan pasien SARS, Flu Babi dan Flu Burung
sejak 8 tahun lalu yang digunakan untuk rawat inap pasien Tuberkulosis kebal obat
(TB MDR). Saat pasien pertama datang yaitu pasien TKI dari Hongkong yang diduga
terjangkit virus Corona dengan keluhan panas badan dan batuk pada tanggal 27
Januari 2020, ruang isolasi sudah siap untuk ruang perawatannya. Saat itu, belum
ada Pedoman Pelayanan Covid-19 dari Kemenkes saat pasien pertama tersebut,
memakai pedoman tata kelola pasien Flu Burung/Flu Babi sehingga sampel swab
dikirim ke Kemenkes dan hanya sekali pemeriksaan hasil negatif klinis membaik lalu
diteruskan rawat jalan. Demikian juga dengan pasien kedua diduga Covid-19 datang
pada tanggal 14 Februari 2020 yang baru datang dari Thailand dengan keluhan
panas badan sehingga dirawat di ruang isolasi khusus juga belum ada pedoman
tata kelola Covid-19, pemeriksaan Swab PCR satu kali negatif dengan klinis membaik
9 hari dipulangkan.

5INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Sejak 27 Januari 2020, RSUD Sidoarjo membentuk Tim Corona/Covid-19 yang
melibatkan manajemen RS, tim DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan)
yang meliputi Dokter Spesialis Paru, Dokter Spesialis Anestesi, Dokter Spesialis
Emergency, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis Anak, Dokter Spesialis
Patologi Klinik, Dokter Spesialis Mikrobiologi, Dokter Spesialis Radiologi, Dokter
Spesialis Rehabilitasi Medik, Dokter Spesialis Forensik, Kepala Instalasi dan Kepala
Ruangan Isolasi, serta Kepala Instalasi dan Kepala Ruangan IGD.

Dengan pertambahan pasien sejak 14 Maret 2020, dimana pasien pertama
Positif Covid-19 di wilayah Sidoarjo yang diikuti keluarga yaitu istri, anak dan
sopir keluarga tersebut yang semuanya positif Covid-19 dirawat di ruang isolasi.
RSUD Sidoarjo menyiapkan penambahan Ruang Isolasi bertekanan Negatif dan
Ruang Isolasi ICU Tekanan Negatif secara bertahap sampai menggunakan seluruh
bed Rawat Inap kelas III Mawar Merah Putih sejumlah 115 tempat tidur menjadi
seluruhnya bed isolasi Covid-19. Pasien makin bertambah dan menambah lagi
ruang isolasi Paviliun serta merubah lagi HCU lantai 3 IGD semuanya menjadi ruang
rawat inap Covid-19, sehingga jumlah keseluruhan bed Covid-19 menjadi 205 pada
akhir tahun 2020, bahkan menambah lagi 20 bed isolasi di Rawat Inap kelas I Tulip.
Tentunya menambah ruang isolasi ini merubah menjadi Ruangan Tekanan Negatif
dan Ruangan dengan Hepa Filter Sentral maupun mobile Hepa Filter. Diperlukan
juga penambahan alat penunjang seperti Ventilator, Bed Monitor, HFNC, serta
pengadaan Alat Habis Pakai juga APD sesuai kebutuhan zonasi pelayanan.

Saat ini total bed Covid-19 yakni sejumlah 225 bed yaitu 32% dari total 725 bed
di RSUD Sidoarjo, termasuk untuk pelayanan Maternal Neonatal di lantai 2 IGD yang
difungsikan untuk layanan Covid-19. Demikian juga dengan kamar operasi di lantai
4 IGD didedikasikan untuk layanan operasi pasien Covid-19. Hal demikian ditujukan
untuk mencegah penularan Covid-19 kepada pasien non Covid-19 disamping untuk
keamanan tenaga kesehatan dalam penularan Covid-19, sehingga untuk pelayanan
pasien operasi dan ibu melahirkan serta bayi non Covid-19 dilaksanakan di tempat
yang terpisah di gedung Bedah Sentral dan Peristi. Demikian juga untuk pelayanan
Hemodialisis/cuci darah pasien Covid-19 telah disiapkan sarana prasarananya di
gedung Hemodialisis.

RSUD Sidoarjo telah membagi zonasi area pelayanan Covid-19 dan non
Covid-19 dengan zonasi merah, kuning dan hijau. Alur petugas, pasien dan keluarga
juga telah diatur untuk mengurangi penularan, serta dilaksanakan kebijakan
tidak diberlakukannya jam berkunjung dan hanya satu orang yang diperbolehkan
mendampingi pasien di IGD, rawat jalan dan rawat inap kecuali rawat inap isolasi
tidak boleh ada penunggu pasien.

6INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Sejak pertama pandemi Covid-19 sampai tanggal 1 Maret 2021, RSUD Sidoarjo
telah merawat 6.442 pasien di ruang isolasi, 4.167 pasien tersebut positif Covid-19.
Puncak pasien yang dirawat terjadi pada bulan Juli 2020 dan Desember 2020. Bed
isolasi sejumlah 225 terisi semuanya sampai terjadi stagnan di IGD, serta puncak
tertinggi pada 1 Januari 2021 terjadi stagnan 38 pasien di IGD belum dapat bed
ruang isolasi. Dengan keterbatasan tersebut RSUD Sidoarjo sempat menutup
2 kali rujukan pasien Covid-19 yaitu pada bulan Juli 2020 selama 2 minggu dan
Januari 2021. Bahkan sempat menutup layanan Poliklinik Eksekutif selama 1 bulan
karena SDM diperbantukan di pelayanan ruang isolasi Covid-19 di lantai 3 IGD.
Sebenarnya bisa saja jika menambah bed ruang isolasi namun ketersediaan SDM
tidak memungkinkan karena perawatan pasien Covid-19 membutuhkan pelayanan
total care. Disamping itu tidak mungkin menambah SDM keperawatan dalam waktu
segera dan sulitnya mencari SDM yang mau bekerja untuk ruang isolasi Covid-19.

Perawat pasien Covid-19
dengan pelayanan
total care.

7INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Pengalaman saat dilaksanakan rotasi SDM dari tempat kerja non Covid-19 ke
ruang isolasi justru menolak dan 24 orang mengundurkan diri sebagai tenaga BLUD
RSUD Sidoarjo. Tidak mudah menyiapkan mental SDM dalam pelayanan pasien
Covid-19, Covid phobia tidak hanya dialami masyarakat namun juga dialami oleh
dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Meski begitu, manajemen RS menjaga agar
pelayanan tetap berjalan optimal namun juga mengemban misi keselamatan bagi
seluruh staf RS baik tenaga medis, tenaga kesehatan, penunjang dan non kesehatan.
Tidak semua dokter, perawat, bidan dan tenaga lainnya pada awal pandemi berani
memberikan pelayanan, sehingga manajemen terus menerus melakukan sosialisasi
serta pemenuhan APD (Alat Pelindung Diri) dan pemenuhan sarana prasarana yang
memenuhi persyaratan PPI.

Ruang isolasi

8INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Covid-19 tidak hanya menimpa masyarakat umum, SDM RSUD Sidoarjo pun
juga terinfeksi. Saat dilaksanakan pemeriksaan skrining swab PCR pada bulan Juli
2020 sebanyak 21% dari seluruh SDM sebanyak 1.804 orang dan skrining swab PCR
untuk seluruh SDM pada bulan Oktober 2020 sebanyak 10% terpapar Covid-19.
Pada bulan Maret 2021 ini sudah sangat sedikit SDM RSUD Sidoarjo yang terpapar,
hanya 0,06%, tidak ada yang mengalami gejala klinis berat sehingga harus rawat
inap. Saat 1 dokter jaga IGD dan 1 orang perawat meninggal positif Covid-19 pada
bulan Juli 2020, betul-betul menurunkan semangat dan berdampak psikologis
kepada semua SDM RSUD Sidoarjo dalam memberikan pelayanan pasien Covid-19.
Tugas manajemen terus mengawal dan menjaga motivasi positif semua SDM
dalam pelayanan pasien di ruang isolasi Covid-19 maupun di ruang kamar operasi
dan kamar bersalin dengan mengunjungi supervisi hampir tiap hari, menyediakan
asupan nutrisi tambahan, serta vitamin untuk SDM ruang isolasi Covid-19.

Syukur Alhamdulillah dengan keterbatasan SDM tersebut RSUD Sidoarjo
termasuk RS yang paling banyak merawat pasien Covid-19 terbukti dari data
nasional pada Juli 2020, RSUD Sidoarjo menempati urutan ketiga RS yang paling
banyak merawat pasien Covid-19.

Banyaknya pasien yang dirawat RSUD Sidoarjo sesuai tata kelola prosedur
Covid-19 adalah data riil, namun pernah ada tuduhan bahwa RS menggelembungkan
data pasien yang dirawat. Ini adalah fitnah kedua untuk RS setelah dituduh
mengcovidkan pasien. Sebagai upaya memberikan perlindungan pada tenaga medis
dan tenaga kesehatan lainnya, juga untuk pasien dilaksanakan prosedur skrining
serologis Covid-19, apabila hasil reaktif dilanjutkan dengan swab PCR terutama
untuk pasien yang akan dilakukan tindakan operatif dan persalinan serta pasien
yang diduga Covid-19 terutama kasus pneumonia. Seringkali pasien OTG (Orang
Tanpa Gejala) Covid-19 terdeteksi saat dilakukan skrining

Sebagai contoh kasus kecelakaan lalu lintas yang harus dilakukan tindakan
operasi, pernah kasus terkena mercon ternyata setelah skrining positif Covid-19.
Jadi bukan RS mengcovidkan pasien manakala sebelumnya tidak ketahuan positif
Covid-19, hal demikian karena belum optimalnya skrining testing dan tracing di
masyarakat.

Tidak semua pasien Covid-19 saat awal masuk IGD dengan keluhan umumnya
yaitu batuk, sesak napas dan panas badan. Pengalaman saya sendiri sebagai dokter
spesialis paru visite 28 pasien di ruang isolasi lantai 3 IGD, 70% pasien masuk ke IGD
dengan keluhan nyeri perut, diare dan panas badan setelah dilakukan swab PCR
ternyata positif Covid-19. Pembelajaran menangani kasus-kasus Covid-19 seperti ini
harus diketahui masyarakat bahwa RS tidak pernah mengcovidkan pasien.

9INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Pengalaman perawatan pasien Covid-19 jika ditulis seluruhnya bias menjadi
satu buku tersendiri karena sedemikian banyaknya yang telah kami catat. Saat awal
pandemi ketentuan pasien dipulangkan atau KRS harus 2 kali swab negatif apalagi
swab PCR belum bisa dilaksanakan di RSUD sendiri. Saat itu hasil swab harus dikirim
ke Surabaya dan hasilnya paling cepat 6 hari menyebabkan pasien dirawat 1 sampai
2 bulan. Banyak keluhan kejenuhan pasien lama dirawat di RS karena sudah tidak
ada gejala klinis. Tim keperawatan ruang isolasi pun membuat berbagai kegiatan
seperti senam bersama untuk mengurangi kejenuhan tersebut. Kebetulan di ruang
isolasi Mawar Merah Putih ada area tengah dan di sana terdapat joglo dan kolam
ikan sehingga pasien bisa refreshing berjemur sambil ngobrol sesama pasien. Sejak
akhir Mei 2020 ada perubahan regulasi meskipun swab PCR masih positif namun
jika sudah tidak ada lagi gejala klinis maka bisa dilanjutkan KRS dan rawat jalan.

Perilaku pasien Covid-19 selama dirawat menunjukkan Covid-19 tidak hanya
memerlukan perawatan fisik tapi juga pelayanan psikologis dan pelayanan total
care karena pada umumnya pasien yang terpapar Covid-19 mengalami depresi dan
panik di samping juga karena terjadi fenomena “pengkabutan otak” pada pasien
Covid-19. Ada pasien yang marah-marah tidak jelas, teriak teriak saat dirawat di
ruang isolasi dan setelah sembuh pulang dari RS telpon ke perawat minta maaf
selama dirawat tidak bisa mengendalikan emosi. Ada pasien yang minta semua
kebutuhan di luar emergencynya dipenuhi seperti motong kuku, lotion seluruh
tubuh, dll.

RSUD Sidoarjo semakin meningkatkan promosi terkait sosialisasi pencegahan
Covid-19 dengan membuat acara webinar tata kelola Covid-19, tata kelola
pemulasaran jenazah Covid-19 hingga masuk acara Mata Najwa dalam pengalaman
pelayanan Covid-19. Juga dalam menyiapkan tempat untuk vaksinasi Covid-19 telah
disiarkan Metro TV karena dianggap mempunyai tempat yang sangat representatif
untuk vaksinasi disamping didukung SDM, serta tata kelola yang memberikan
suasana nyaman selama proses vaksinasi.

Saat acara Mata Najwa
melakukan acara
dialog dengan RSUD
Sidoarjo.

10INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Ini adalah tulisan saya di akun Facebook yang sering dipertanyakan keabsahan
tulisan tersebut :

Jangan berpikir Rumah Sakit mengCovidkan Pasien

dr. Atok Irawan Sp.P

Saat ini beberapa orang menganggap Rumah Sakit selalu mendiagnosis Covid-19
untuk setiap pasien yang dirawatnya. Jangan berpikir demikian. Pengalaman kami
merawat sejak Januari 2020 sampai 8 Maret 2021, pasien Covid-19 di RSUD Sidoarjo
sebanyak 6.579 orang dengan jumlah 4,428 orang positif Covid-19 diantaranya. Ini
jawabannya dari pengalaman merawat pasien Covid-19 :

1. Covid-19 adalah virus dengan manifestasi 1.000 wajah penyakit dari yang tanpa
gejala (pada OTG), influenza ringan sampai yang menimbulkan kerusakan organ
vital tubuh hingga menyebabkan kematian. Bahkan dilaporkan juga sampai
ada manifestasi pada kulit. Saat ini Covid-19 yang menonjol menimbulkan
gangguan pernapasan/respiratorik, gangguan pencernaan dan gangguan
pembuluh darah/ vaskuler yang sering menimbulkan kematian mendadak
henti jantung.

2. Awal April lalu pernah menulis di group WA yang jadi viral dan minta klarifikasi
bahwa pasien yang kami rawat sudah lepas dari ventilator pneumonia membaik
keasadaran pulih, namun sehari kemudian pasien mengalami diare yang sulit
dikendalikan terjadi shock hipovolemik dan tidak tertolong jiwanya. Padahal
pasien tidak pernah sakit sebelum positif Covid-19 dan juga tidak mempunyai
penyakit penyerta atau komorbid

3. Virus Covid-19 hidup dan berkembang biak dalam sel epitel paru, endotel
saluran pencernaan, endotel pembuluh darah serta jaringan ginjal. Ini adalah
organ vital kita semua. Untuk bisa masuk ke dalam sel manusia virus Covid-19
butuh reseptor atau cantolan yang dinamakan ACE2 yang terdapat pada
permukaan sel tubuh manusia tadi. Sehingga manifestasi klinis yang sering
terjadi adalah infeksi paru atau pneumonia, diare, gagal jantung dan gagal
ginjal. Pada orang dengan hipertensi kronis, jumlah ACE2 nya lebih banyak
sehingga rentan terkena Covid-19.

11INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

4. Saya sendiri sebagai ahli paru sempat visite 28 pasien covid yang stagnan
di ruang isolasi IGD. Hampir 70% pasien MRS bukan keluhan utama karena
sesak napas, batuk dan panas badan. Akan tetapi datang dengan keluhan nyeri
ulu hati, mual muntah, diare sebagian disertai panas badan. Seluruh pasien
tersebut hasil serologis Covid-19 Reaktif dan dilanjutkan swab PCR Positif. Jadi
Gejala klinis gangguan pencernaan saat ini dominan menjadi pintu masuk
kewaspadaan ke arah Covid-19. Dalam observasi pasien hari ketiga mulai
nampak gambaran pneumonia pada pemeriksaan foto toraks.

5. Demiian juga dengan pasien yang datang dengan gejala panas badan disertai
hasil pemeriksaan trombosit turun dengan diagnosis Demam Berdarah atau
DHF. Setelah dilakukan pemeriksaan serologis Covid-19 reaktif dan PCR positif.
Ini dimungkinkan karena virus Covid-19 mampu menyerang pembuluh darah
sehingga terjadilah penurunan trombosit jadi bukan karena DHF karena
virus dengue. Pada umumnya pasien Covid-19 dengan trombosit yang turun
cenderung memburuk dan infeksi pneumonia menyusul menyebabkan
kematian.

6. Selain manifestasi pernapasan, gangguan vaskuler juga paling sering
menyebabkan kematian henti jantung mendadak. Pengalaman tersebut
dibuktikan dengan pemeriksaan Ddimer yang tinggi pada pasien Covid-19
menunjukkan terjadinya koagulasi atau pembuntuan pembuluh darah jantung
apalagi kalau pasien punya penyakit penyerta hipertensi.

7. Pengalaman lainnya pasien MRS dengan stroke setelah dirawat 3 hari terjadi
panas badan dilakukan swab PCR ternyata Positif Covid-19. Kasus seperti
ini stroke menyebabkan penurunan imunitas tubuh kemudian terinfeksi
Covid-19 atau Covid-19 yang menyebabkan stroke/CVA Infark dalam istilah
lainnya. Stroke adalah manifestasi dari Covid-19 karena pada Covid-19 terjadi
pembekuan darah yang massif. Kalau bekuan pada pembuluh darah otak
menjadi stroke, sedangkan bekuannya (tromnus) menyumbat pembuluh darah
jantung jadilah serangan jantung. Timbul pertanyaan dari keluarga pasien.
Neneknya sudah mengalami stroke puluhan tahun tidak pernah kemana mana
kenapa terjadi sesak napas batuk dan panas badan kemudian ternyata positif
Covid-19. Kenapa bisa terjadi padahal neneknya hanya di dalam rumah, tidak
pernah keluar rumah. Padahal, bisa saja virus nya terinfeksi dari keluarga yang

12INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

merawat yang bebas kemana mana tapi ternyata OTG positif Covid-19 sebagai
carier Covid-19 dan menimpa ke nenek tersebut yang imunitas tubuhnya
rendah.

8. Pada beberapa penelitian Virus Covid-19 juga bisa menyebabkan pasien
Diabetes Melitus berubah menjadi hiperglikemia ketoasidosis. Pada pasien
yang sudah lama DM tahu tahu tidak sadar atau koma ketoasidosis. Hasil PCR
positif Covid-19, ternyata patofisiologi Covid-19 mampu memicu DM menjadi
ketoasidosis yaitu kondisi gula darah melonjak tinggi secara mendadak dan
terjadi koma ketoasidosis.

9. Ada pasien datang di IGD saat Ramadhan terkena mercon pada telapak tangan
yang harus dilakukan operasi. Prosedur sebelum operasi di saat pandemi
Covid-19 ini untuk keselamatan tenaga medis dilakukan pemeriksaan serologis
Covid-19 sebelum operasi dan ternyata serologis reaktif dan swab PCR Positif.
Artinya kalau tidak terkena mercon tidak ketahuan pasien ini ternyata OTG
Covid-19 positif sama sekali karena tidak ada gejala klinis Covid-19.

10. Jadi, kesimpulannya kalau ada pasien datang ke Rumah Sakit karena stroke,
hiperglikemia DM, serangan jantung, sesak napas mendadak setelah dilakukan
Swab PCR hasilnya positif jangan berburuk sangka ini bisnis RS karena Covid-19
bisa bermanifestasi 1000 wajah, atau Covid-19 bisa menempel ke penyakit-
penyakit yang sudah ada sebelumnya sebagai misal DM, Hipertensi, Gagal
Ginjal atau Stroke.

Di era pandemi Covid-19 ini kita harus berpikir positif, merubah mindset,
tidak suudzon kepada Rumah Sakit dalam memberikan pelayanan kepada pasien
Covid-19. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dalam lindungan Allah SWT
dan segera selesai pandemi Covid-19 ini •

13INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama lengkap : dr. Syamsu Rahmadi, Sp.S
Jabatan : Wadir Pelayanan
Usia : 53 Tahun
Masa Kerja : 14 Tahun

Pandemi Ajang Melatih dan
Uji Kebersamaan

Panggilan tugas…

Rasa takut…

Rasa tanggung jawab pada kewajiban profesi…

Semua rasa kebersamaan itu diuji

Bulan Maret hingga April tahun 2020 merupakan puncak puncaknya gelombang

pertama Covid-19. Hal ini menumbuhkan rasa saling melindungi pada kami, SDM
RSUD Sidoarjo. Beberapa di antara kami ada yang juga terpapar Covid-19. Saat itu,
ada nakes yang dirawat di RS, ada yang menjalani isolasi mandiri di hotel atau di
rumah, bahkan ada yang meninggal dalam melaksanakan tugas sebagai pejuang
Covid-19. Inilah yang membuat rasa takut kami sering muncul bahkan semakin
memperkuat rasa takut kami.

Selama mas pandemi Covid-19, RSUD Sidoarjo berkali-kali melaksanakan rotasi
pegawai baik di bidang keperawatan maupun petugas admin. Rotasi pegawai terus
dilakukan ibarat mempersiapkan pasukan tempur melawan Covid-19. Pelaksanaan
rotasi ini dilakukan untuk menjaga stamina fisik dan mental nakes kami karena kami
memahami pandemi ini tidak berlangsung singkat. Rotasi tersebut menyebabkan
beberapa hal terjadi seperti adanya SDM yang resign karena berbagai alasan,

14INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

seperti rasa takut yang teramat besar karena ditempatkan di ruang isolasi. Inilah
dinamika perjuangan kami pada era pandemu Covid-19, akan tampak mana yang
benar-benar pejuang serta mana pecundang. Dalam penanganan Covid-19, Direktur
RSUD Sidoarjo memberikan dukungan dan komitmen penuh bahkan sangat rajin
turun ke ruang-ruang isolasi untuk memberi dukungan bagi nakes yang bertugas
maupun pasien agar semangat untuk sembuh. Bersama-sama kami merasakan
bagaimana perjuangan melawan Covid-19 ini sehingga membuat pasukan nakes
merasa mantab dan juga lebih tenang dalam bekerja.

Pelayanan di ruang isolasi Covid-19

Skrining pengunjung
RSUD Sidoarjo dan

layanan di Klinik Gigi

15INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Skrining-skrining reguler dengan swab PCR maupun swab antigen dilakukan
secara regular di RSUD Sidoarjo untuk mencegah penularan Covid-19. Rapat-rapat
sering dilakukan. Tim Covid-19 dibentuk dengan kegiatan meliputi pencatatan
penanggung jawab bantuan, kegiatan swab PCR, kegiatan rapid test, serta
pelaksanaan skrining pengunjung RSUD Sidoarjo. Evaluasi pelayanan dan klaim
terus kami lakukan secara rutin. Semua kami lakukan dengan sabar karena kami
sadar bahwa kami merupakan garda terdepan dalam melawan Covid-19 ini. Di
saat semua organisasi perangkat daerah menerapkan work from home (WFH)
atau instansi pendidikan menerapkan pembelajaran secara daring (online), RSUD
Sidoarjo tidak pernah melakukan itu. WFH bagi SDM rumah sakit merupakan work
from hospital.

Menyamakan Persepsi dan Pemahaman Bersama

Tim Covid-19 bersama bidang pelayanan, perparkiran serta keamanan menata
bagaimana skrining pengunjung dilakukan meliputi kebijakan peniadaan jam
berkunjung bagi pasien rawat inap, penjaga pasien hanya boleh maksimal satu
orang, penerapan cek suhu bagi semua pengunjung yang akan masuk ke lingkungan
RSUD Sidoarjo, penataan udara di semua ruang pelayanan, ruang rapat dan
pemakaian hepafilter sesuai tipenya.

Pertemuan juga kami lakukan dengan komite medik dimana kepala KSM
membahas tentang pola layanan OK dan HD, tindakan-tindakan di RSUD Sidoarjo,
serta terkait pemakaian APD yang sesuai standar. Semua pembahasan ini semuanya
membuahkan hasil. Alur layanan di OK dan HD diterapkan perubahan sehingga
RSUD Sidoarjo mempunyai layanan OK dan HD khusus bagi pasien Covid-19.

Awalnya, layanan HD dilakukan di luar jam kerja di ruang tersendiri HD, tetapi
ahirnya dengan bertahap layanan HD bisa diakukan pada jam kerja karena sudah
memiliki ruangan yang lebih sesuai dengan standar. Kesiapan SDM HD pun semakin
meningkat sehingga pada saat rumah sakit lain tidak siap melakukan operasi dan
tidak bisa memberikan layanan Hemodialisa bagi pasien Covid-19, RSUD sidoarjo
sudah siap memberikan layanan tersebut. Rujukan pun banyak berdatangan ke
RSUD Sidoarjo sehingga pasien kami tangani sampai rumah sakit yang bersangkutan
siap memberikan layanan OK serta Hemodialisa.

Tak kalah berperannya yaitu pasukan perang dari penunjang layanan baik
dalam segi sarana prasarana layanan Covid-19 seperti AC, monitor pasien dan
lain-lain mengharuskan teman-teman dari Instalasi Pemeliharaan Sarana (IPS),
Instalasi Pemeliharaan Elektromedik (IPE) untuk masuk ke ruang isolasi melakukan

16INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Penataan udara dengan
hepafilter di ruang isolasi

Covid-19

pemeliharan sekaligus pebaikan sarana-sarana tersebut. Pramusaji dari Unit Gizi &
cleaning service pun juga akhirnya harus berani terjun langsung ke ruang isolasi
Covid-19.

Pasien Covid-19 yang kami rawat tidak sedikit yang akhirnya meninggal.
Kecepatan dari Lab. Mikrobiologi serta Lab. Patologi Klinik untuk skriningnya dan
swab PCR sangat membantu dalam kepastian pemberian layanan bagi jenazah
Covid-19. Dengan cepat kami bisa mengetahui harus melakukan pemulasaraan
dengan cara bagaimana. Dengan adanya swab PCR maka keluarga lebih yakin dan
mendapat kepastian.

Dari Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM), ambulan jenazah
sibuk memberikan layanan bahkan saat desa belum siap melakukan prosesi
pemakaman, pengantar jenazah dari RSUD Sidoarjo sudah siap dengan membawakan
hazmat untuk digunakan oleh tim desa, kemudian bersama petugas rumah sakit
memakamkan jenazah Covid-19 tersebut. Pemahaman tentang pemulasaran dan
pemakaman jenazah Covid-19 ini tidak mudah sampai muncul regulasi regulasi dan

17INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

pada akhirnya petugas merasa lebih tenang untuk hal ini baik pemakaman di desa
maupun pemakaman di Praloyo, pemakaman di Sidoarjo yang saat ini diperuntukkan
khusus bagi pasien Covid-19.

Selain itu, era pandemi Covid-19 juga berdampak pada banyaknya limbah baik
itu obat, hazmat dan lain lain. Hal ini menuntut penggunaan incinerator lebih lama
dari biasanya sehingga ada penambahan shift pada pada petugasnya.

Penjaminan layanan Covid

Kejelasan diagnostik awal memang sangat diperlukan, disamping kelengkapan
berkas pendukung bahwa kasus ini adalah mengarah atau sudah pasi Covid-19.
Penyelesaian berkas klaim pasien Covid-19 sampai pengeklaiman clear
membutuhkan waktu yang cukup panjang. Terlebih jika tidak ada komitmen
bersama dalam melawan Covid-19. Maka akan berdampak pada jumlah pending dan
dispute yang akan mengalami peningkatan. Memadukan pelayanan, administrasi
serta penjaminan membutuhkan kesamaan pemahamam terhadap regulasi dan
semangat perjuangan yang utuh.

Seni Mendirigeni Pelayanan Covid-19 dan Klaim Kemenkes

Pandemi Covid-19 menimbulkan perasaan horor bagi semua pihak. Layani
dengan semaksimal mungkin sesuai kemampuan yang ada. Meski regulasi turunnya
belakangan, meski perubahan regulasi berlangsung cepat, di sini peran manajemen
rumah sakit perlu untuk terus mencermati perubahan regulasi demi menyamakan
pemahaman tentang layanan Covid-19 pada semua komponen SDM yang ada
di Rumah Sakit meliputi dokter, perawat, admin gizi, farmasi, CS, security, dan
seterusnya. Hal ini dilakukan demi terjaganya mutu pelayanan, terlindunginya
masyarakat dan petugas kesehatan juga harus menjaga layanan yang dilakukan di
RSUD Sidoarjo agar dapat diklaimkan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Garda terdepan rumah sakit berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan di
Poliklinik Rawat Jalan. Dua tempat ini berusaha melakukan skrining pada semua
pasien yang masuk ke rumah sakit. Security berusaha melakukan skrining pada
semua pengunjung yang masuk ke rumah sakit sehingga protokol kesehatan bisa
diterapkan dengan optimal. Pemahaman skrining ini saja tidak mudah diterima dan
dipahami oleh masyarakat sehingga muncul prasangka atau anggapan seakan-akan
rumah sakit mengcovidkan pasien. Istilah coinsiden tidak mudah untuk dipahami
bagaimana melayaninya, bagaimana pola penjaminannya dan bagaimana teknis
pengklaimannya.

18INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Pandemi Covid-19 jika boleh kami analogikan yakni seperti minuman dawet,
sudah diaduk, bercampur baur mana yang Orang Tanpa Gejala (OTG) tapi positif,
mana yang bergejala tapi dianggap seperti flu biasa, mana yang sudah confirm lalu
isolasi di rumah tetapi masih campur dengan keluarga lainnya yang tidak positif
karena berbagai kondisi. Istilah suspek pada pasien yang dicurigai Covid-19 benar-
benar harus memenuhi kriteria klinis. Pasien suspek akan dilayani dan ditempatkan
di ruang isolasi Covid-19 sampai terbukti bukan Covid-19 sehingga pasien dan
keluarga harus memahami dan bersabar tentang pola layanan seperti ini. Seringkali
masyarakat mengira bahwa pola seperti ini dikira rumah sakit mengada ada, sedikit
- sedikit dianggap Covid-19 padahal memang ini suasana seperti dawet, sudah
campur aduk. Mari semua pihak berhati-hati untuk kebaikan bersama •

19INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama lengkap : Puji Andayani, S.KM., S.Kep.Ns., M.Kes.
Jabatan : Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan
Usia : 56 Tahun
Masa Kerja : 25 Tahun

Tersenyumlah Sobat...
Bersama Kita Mampu Menghadapi

Era Pandemi Covid-19

Hingga saat ini, April 2021, sudah genap 12 bulan RSUD Sidoarjo melewati

perjalanan menghadapi Covid-19. Saya teringat pada awal Maret 2020 lalu, kasus
pertama positif Covid -19 yang menghampiri RSUD Sidoarjo. Hingga kemudian
terdapat 17 pasien rujukan yang suspect sejumlah 8 (delapan) orang dan confirm
9 (sembilan) orang. Ada pula salah satu kasus yang menarik perhatian. Saat itu,
ada seorang pasien rujukan dari rumah sakit swasta yang dinyatakan terinfeksi
virus Corona datang ke IGD dengan keluhan panas tinggi dan sesak. Pasien diduga
tertular karena sebelumnya melakukan rapat dan bersalaman dengan Menteri
Perhubungan yang saat itu juga dinyatakan confirm Covid-19. Setelah pulang,
beberapa hari kemudian ada keluhan dan pasien langsung ke rumah sakit, melalui
PSC (Public Safety Center) pasien dikondisikan untuk dicarikan ruang isolasi. Pasien
dijemput oleh ambulan rescue untuk dilakukan perawatan.

20INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Selain itu, istri dan anaknya pun turut serta dibawa ke RS karena ada kontak erat
dan keluhan yang sama pada anaknya. Sesuai prosedur maka dilakukan pemeriksaan
dan MRS (Masuk Rumah Sakit) di ruang isolasi serta dilakukan pemeriksaan
pengambilan swab PCR, pemeriksan lab dan foto Thorax. Saat itu, RSUD belum
memiliki mesin PCR sendiri sehingga hasil swab harus dikirim ke Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. Soetomo Surabaya. Setelah kurang lebih satu minggu, baru diketahui
bahwa hasil swab pasien tersebut positif. Pasien dirawat selama kurang lebih dua
bulan, sesuai regulasi bahwa pasien bisa dipulangkan jika sudah melakukan swab
dan hasilnya negatif sebanyak dua kali.

Sejak sekitar bulan Juni 2020, barulah Laboratorium Mikrobiologi RSUD
Sidoarjo sudah memiliki mesin PCR sendiri sehingga jika ada pasien yang dilakukan
swab maka lebih mudah dan hasil lebih cepat diketahui. Seiring dengan perubahan
regulasi dari Kemenkes RI yang terus berubah, maka sejak bulan Agustus 2020,
semua pasien rujukan Covid -19 juga dilakukan penanganan dan perawatan sesuai
dengan regulasi yang ditetapkan.

Persiapan Ruang Isolasi di Awal Menghadapi Pasien Covid-19
dan Perkembangannya

Pada awal bulan Maret 2020, untuk kesiapan ruang isolasi di ruang Instalasi
Mawar Merah Putih (MMP) hanya ada 4 TT (Tempat Tidur) yang terdiri dari 1 RIK
(Ruang Isolasi Khusus) dan 3 RIB (Ruang Isolasi Biasa). Seiring berjalannya waktu,
pasien semakin bertambah setiap harinya sehingga memerlukan ruang isolasi
tambahan. Akhirnya, per 1 April ruang isolasi bertambah menjadi 25 TT, lalu
bertambah menjadi 115 TT per 28 April. Peningkatan pasien yang sangat dinamis
terjadi pada bulan Mei 2020 dan jumlah TT bertambah lagi menjadi 141 TT dan
menjadi 161 TT pada bulan Juni 2020. Namun, dengan adanya kenaikan kunjungan
pasien Covid-19, yang makin hari kian bertambah banyak maka bapak Direktur
menyarankan untuk membuka ruang tambahan perawatan pasien Covid-19, serta
perbaikan sarana prasarana yang dibutuhkan di ruang isolasi, baik ruang isolasi
khusus maupun ruang isolasi biasa dan juga ruang ICU dengan ventilator, serta ruang
ICU non ventilator. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut pun juga diperhitungan
kebutuhan sumber daya manusianya khususnya pada bidang Keperawatan serta
semua support dari manajemen agar semua kebutuhan bisa tercukupi. Puncak
lonjakan pasien yang sangat signifikan terjadi hingga bulan Juli 2020 menyebabkan
penambahan TT lagi hingga mencapai 205 TT di 3 area isolasi. Akhirnya di bulan
Desember 2020 hingga saat ini, setelah berkali-kali dilakukan penambahan, tercatat
ada sejumlah 225 TT untuk ruang isolasi Covid-19.

21INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Pengaturan SDM RSUD Sidoarjo Khusus Tenaga Keperawatan

Dalam penataan SDM khusus tenaga perawat pada masa pandemi benar-benar
sangat memerlukan effort yang tinggi karena tidak dapat dipungkiri bahwa saat
itu banyak yang takut untuk dimutasi ke ruang isolasi, bahkan sampai ada seorang
perawat yang tidak bersedia dimutasi dan berujung pada pengajuan resign. Sejak
awal pandemi, tercatat total perawat yang resign yakni mencapai 28 orang. Alasan
yang diutarakan pun relatif sama yaitu dengan alasan kecemasan yang tinggi, takut
tertular dan ada pula alasan lainnya yakni diterimanya sebagai tenaga CPNS.

Padahal, pelaksanaan mutasi tenaga perawat yang kami lakukan pun melalui
pertimbangan-pertimbangan yang matang seperti dengan melihat riwayat
kesehatan petugas tersebut apakah memiliki penyakit penyerta (komorbid) atau
tidak. Namun, tetap saja ada petugas yang tidak dapat membendung ketakutannya.
Ada beberapa kasus pada perawat yang tergolong unik. Seorang pegawai yang baru
masuk beberapa bulan sudah merasa sangat takut bila dimutasi ke ruang isolasi
Covid-19. Lain lagi, ada tenaga perawat jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang
saat itu seharusnya jaga malam namun ia tidak hadir dengan alasan pulang ke
keluarganya di Jawa Tengah. Lalu dengan alasan pemberlakuan peraturan PSBB
(Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan tidak diizinkan untuk kembali ke Sidoarjo
oleh orang tuanya karena khawatir terpapar Covid-19. Atas dasar hal itu, ia tidak
masuk kerja dan akhirnya diproses sesuai dengan prosedur pembinaan pegawai.
Sejak bulan Maret 2020 hingga Maret 2021, jumlah tenaga perawat yang dimutasi
yakni sebanyak 237 perawat dengan 19 kali proses mutasi sebagai pemenuhan
kebutuhan tenaga tambahan untuk bertugas di ruang isolasi.

Pada Juli 2020, terjadi kenaikan jumlah kunjungan pasien Covid-19 hingga
mencapai 581 pasien. Peningkatan jumlah pasien ini menyebabkan kebijakan baru
ditetapkan yaitu Penutupan Poli Eksekutif selama satu bulan dengan tujuan untuk
mobilisasi tenaga yang ada agar dapat diperbantukan dan dimutasi ke ruang isolasi
sesuai kebutuhan. Namun, ternyata tidak semudah itu untuk mutasi tenaga perawat
ke ruang isolasi khusus Covid-19. Seorang perawat, ketika pertama kali mengetahui
bahwa dirinya dimutasi dan akan berhadapan langsung dengan pasien Covid -19,
dia khawatir, hari-harinya terus dihantui rasa cemas tertular Covid-19. Selama
pandemi Covid-19, tak dapat dipungkiri bahwa kecemasan dan khawatir selalu saja
menghantui setiap orang, terlebih perasaan takut akan tertular juga pasti ada.

22INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Kami dari jajaran bidang Keperawatan selalu memotivasi dan memberi (support)
kepada teman-teman perawat semua. Kami juga meyakinkan dan memastikan
bahwa dalam memberikan asuhan keperawatan pasien Covid-19 di ruang isolasi
dijamin aman karena kami menyediakan APD sesuai dengan SPO yang diberlakukan
dan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Kasus sempat menurun pada bulan
Oktober hingga semua orang menyambut dengan gembira karena jumlah kasus
berkurang. Namun ternyata terjadi kenaikan kembali pada bulan Desember. Meski
bulan-bulan terakhir ini sudah mulai ada penurunan lagi, kita harus tetap waspada
karena bisa jadi tiba-tiba terjadi kenaikan kembali.

Memang saat awal pandemi Covid-19 itu muncul, satu fenomena sosial yang
berpotensi memperparah situasi yakni adanya stigma sosial terhadap seseorang
yang mengalami gejala Covid-19 bahkan terhadap perawat yang bertugas di ruang
isolasi Covid-19. Perasaan bingung, cemas dan takut yang kita rasakan dapat di
pahami, tapi bukan berarti kita boleh berprasangka buruk kepada perawat yang
bertugas sedangkan mereka berusaha dan berjuang merawat pasien Covid-19. Hal
ini pernah dialami oleh teman kami yang bertugas di ruang isolasi. Ia mengalami
tindakan yang kurang baik dari masyarakat karena stigma tersebut. Pihak
manajemen pun menyediakan fasilitas mess bagi petugas yang tidak bisa pulang
ke rumah karena dengan alasan kos-kosan atau rumah yang tidak memenuhi syarat
bila kumpul dengan keluarga, misal memiliki anak balita, lansia yang sedang sakit,
rumah hanya ada satu kamar mandi dan kamar tidur. Perawat yang sementara shift
jaga ruang isolasi Covid-19 yang di kos atau di rumahnya tidak memenuhi syarat,
maka disarankan untuk tidak pulang ke rumah tetapi diminta untuk menginap di
mess yang terletak di ruang MMP selama masa tugas berlangsung.

Awal pandemi Covid-19 diterapkan perubahan jadwal bertugas di ruang isolasi
Covid -19 yakni setelah dinas selama dua minggu lalu dilanjutkan dengan dua
minggu hari libur. Namun sebelumnya dilakukan pemeriksaan kesehatan yang saat
itu diberlakukan rapid test dan untuk saat ini diterapkan swab PCR secara berkala.
Namun, untuk sekarang jadwal swab ditentukan dengan melihat situasi dan kondisi
dari jumlah pasien Covid-19.

Mutasi perawat dilakukan secara bergantian setiap dua bulan sekali selama
pandemi Covid-19, setelah mereka selesai bertugas di instalasi semula. Terkait
pengembangan kompetensi perawat dalam perawatan pasien icu yang memerlukan
ventilator, kami menjadwalkan kegiatan magang secara bergantian selama dua
minggu di ruang IPIT untuk memperlajari cara menggunakan alat tersebut. Ada pula
seorang tenaga icu yang di mutasikan ke ruang isolasi MMP setiap bulannya satu

23INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

orang secara bergantian sebagai upaya transfer knowlege kepada tenaga perawat
lainnya yang belum bisa.

Untuk kasus persalinan pasien covid, maka RSUD Sidoarjo menyediakan khusus
ruang di MNE IGD dan OK IGD. Di jadikan ruang khusus pelayanan pasien covid,
begitu juga dengan tenaga yang bertugas khusus untuk tenaga kebidanan difokuskan
di ruang isolasi perisiti dan juga tenaga OK IGD yang khusus untuk menangani pasien
terinfeksi covid -19.

Kepergian Seorang Sahabat yang Gugur Sebagai
Pejuang Covid-19

Tepatnya hari Sabtu, 20 Juni 2020 pukul 02:18 WIB, salah satu sahabat terbaik
kami berpulang ke Rahmatullah, Sri Agustin, S.Kep.Ns. Ia adalah tenaga perawat
yang meninggal dunia karena sakit terinfeksi Covid-19. Sebelumnya, telah meninggal
dunia dr. Gatot Pramono sebagai dokter jaga di IGD. Keduanya adalah sama-sama
teman seperjuangan dalam merawat pasien Covid-19. Suasana duka menyelimuti
kami semua. Dalam satu hari, kami kehilangan dua orang teman seperjuangan kami.
Pada saat pelepasan jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir yang dipimpin
oleh bapak Direktur, semua teman-teman pegawai berjejer di sepanjang halaman
depan IGD rumah sakit. Saat itu, semua terasa kehilangan dan berduka, tangisan
terdengar dimana mana, perasaan kami semua terpukul (down), sedih, perasaan
berkecamuk dan seketika itu juga menjadi ketakutan tersendiri bagi teman-teman
perawat. Kami pun tetap saling memberikan (support) agar tetap kuat dan sabar
karena memang saat itu juga ada beberapa teman yang merasakan keluhan
demam, sesak, batuk dan lain-lain, yang keesokannya diperiksa dan ternyata juga
terkonfirmasi positif sehingga dilakukan MRS.

Dukungan atau support datang dari semua lini baik dari bapak Direktur dan
semua manajemen serta sesama perawat. Masing-masing saling memberikan
support untuk memperkuat rasa persaudaraan dan kekuatan bersama agar tetap
bangkit dan tetap semangat untuk mengemban amanah dalam melaksanakan tugas
memberikan asuhan pelayanan keperawatan yang prima, terutama pada pasien
Covid-19.

Memang kondisi pandemi Covid-19 sampai saat ini belum berakhir, namun
kami percaya bahwa semua teman-teman perawat akan tetap semangat dan
menjalankan tugas dengan sebaik baiknya. Sobat, kau di mana? Apa yang kau
rasakan? Sakitkah engkau? Marahkah pada apa yang terjadi? Yang kau alami
mungkin terasa berat, sudah cukup sedihmu, kami paham harapan dan keinginan

24INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

kalian untuk dapat refresing. Namun kondisi belum berkompromi, maka bersabarlah
dahulu. Tersenyumlah sobat walau hati tak menerima. Do’aku selalu menyertaimu
di setiap sepertiga malamku. Roda selalu berputar. Badai ini pasti berlalu. Tetaplah
kuat sahabat. Kita bersama selalu berdoa. Bersama kita mampu. Untuk mereka
yang bertaruhkan jiwa raga, relakan waktu dan keluarga untuk selamatkan semua.
Berikan secercah harapan, napas kehidupan, yang rela berkorban, engkaulah
pahlawan

SDM Perawat yang Terpapar Covid-19

Perlu diketahui bahwa banyak tenaga yang juga terpapar Covid-19. Sejak bulan
Maret 2020 sampai dengan saat ini, sebanyak 542 orang pegawai yang terpapar dan
untuk tenaga di keperawatan berjumlah 307 orang. Namun, syukur Alhamdulillah
semua SDM tersebut sekarang sudah sembuh semua dan sudah menjalankan
aktivitasnya kembali seperti sediakala.

Saat awal mula ada pegawai yang terpapar maka akan kami tindak lanjuti
dengan melakukan penelusuran kontak (tracing) kepada orang-orang yang diduga
melakukan kontak di unit tempat asal pegawai yang terpapar. Bila ditemukan ada
yang berisiko dan ada keluhan maka dilakukan pemeriksaan rapid test awal atau
swab Antigen yang sekarang berlaku. Bila hasil reaktif atau pos maka ditindak lanjuti
dengan pemeriksaan swab PCR, foto thorax dan pemeriksaan laboratorium. Dan
Alhamdulillah juga, saat ini semua nakes sudah mendapatkan vaksin Covid-19.
Untuk memonitor kondisi dari teman-teman pegawai, kami melakukan supervisi
secara terus-menerus untuk memberi support kepada mereka dan berpesan agar
tetap mematuhi rpotokol kesehatan yang telah ditetapkan. Tak lupa pula, kami
berpesan bagi perawat agar meningkatkan komunikasi yang baik dan efektif dalam
memberikan asuhan pada Pasien covid-19.

Pembelajaran di Masa Sekarang Untuk Masa Mendatang

Masa adaptasi kebiasaan baru diartikan sebagai perubahan perilaku untuk tetap
menjalankan aktivitas normal di tengah pandemi. Masa adaptasi kebiasaan baru ini
dapat di definisikan sebagai suatu tatanan baru yang memungkinkan masyarakat
hidup “berdampingan” dengan Covid-19. Masyarakat dapat melaksanakan
aktivitasnya seperti biasa, tetapi dengan mengikuti protokol kesehatan demi
menghindari penularan dan penyebaran virus sehingga tidak memperparah
pandemi.

25INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Perawat dan tenaga kesehatan lainnya menjadi garda terakhir ketika seseorang
terpaksa terinfeksi Covid-19. Tetapi masyarakatlah yang menjadi kunci utama
melakukan pencegahan penularan. Maka dari itu, kita harus menerapkan langkah
pencegahan dengan baikdengan selalu menerapkan protokol kesehatan 5M meliputi
mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan handrub,
memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi
mobilitas.

Pemerintah Indonesia juga telah menyusun empat strategi yang secara
konsisiten dilakukan yakni menguatkan kebijakan “jaga jarak secara fisik” sebagai
strategi dasar di antaranya mengkampanyekan gerakan memakai masker saat
berada di ruang publik atau di di luar rumah, penelusuran kontak (tracing) dari
kasus posistif yang dirawat dengan menggunakan rapid test, edukasi dan persiapan
isolasi secara mandiri pada sebagian hasil tracing yang menunjukan hasil posistif.
Isolasi di rumah sakit perlu dilakukan jika fasilitas untuk pelaksanaan isolasi mandiri
tidak memenuhi standar seperti adanya tanda klinis yang membutuhkan layanan
definitif di rumah sakit.

Pasien Covid-19 yang memiliki semangat yang tinggi atau kondisi mental yang
stabil akan berusaha bangkit untuk melawan virus, sehingga bisa meningkatkan
daya tahan tubuh atau imun yang dapat mempercepat perbaikan kondisi pasien. Hal
ini menunjukkan bahwa pasien tidak saja membutuhkan bantuan atau dukungan
kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan psikososial baik dari keluarga,
tenaga medis maupun dari lingkungan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan
dukungan psikososial terhadap pasien Covid-19 pada fase penyembuhan dan pasca
terinfeksi harus dipenuhi melalui kerjasama antara petugas kesehatan dan keluarga
agar perawatan sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan pasien, maka perawat
perlu melakukan pengkajian untuk memberikan dukungan sosial terhadap pasien
Covid-19 yang dirawatnya •

26INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : dr. Ivan Setiawan, Sp.EM
Jabatan : Kepala Instalasi Gawat Darurat
Usia : 46 Tahun
Masa Kerja : 8 Tahun

Lonjakan Pasien Covid-19
Sempat Membuat IGD
Tutup Sementara

Pengalaman kami merawat pasien Covid-19 di RSUD Sidoarjo dimulai pada

tanggal 27 Januari 2020 di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Saat itu, kami kedatangan
seorang pasien yang merupakan TKI dari Hongkong dan dibawa oleh petugas PJ
TKI Sidoarjo dengan keluhan demam. Setelah mendarat di Bandara Internasional
Juanda, kami yang saat itu baru pertama kali kedatangan pasien suspect Covid-19
merasa was-was, takut tertular karena penyakit ini merupakan penyakit yang baru
dan sudah menyebabkan banyak kematian di Wuhan, China yang merupakan asal
muasal pertama kali virus penyebab penyakit ini ditemukan.

Perawatan
pasien
terduga
suspect
Corona
pertama kali

27INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Dengan persiapan seadanya dan berbekal APD level 3, kami memberanikan diri
untuk tetap menangani pasien ini dengan baik dan kemudian tetap melaporkan
kasus baru ini ke jajaran manajemen yang kemudian ditindaklanjuti dengan
pelaporan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan Kantor Kesehatan Pelabuhan
(KKP) Kabupaten Sidoarjo.

Kami kemudian menempatkan pasien tersebut di ruang isolasi IGD agar tidak
tercampur dengan pasien lainnya. Selain itu, kami juga melakukan pemeriksaan
kepada pasien tersebut serta mempersiapkan kelengkapan pemeriksaan penunjang
yang diperlukan. Selanjutnya, kami mengantar pasien ke ruang perawatan isolasi
yang ada di ruang rawat inap Mawar merah Putih (MMP) untuk proses perawatan
selanjutnya. Pasien TKI tersebut kemudian dirawat dan dilakukan swab/hapusan
tenggorokan. Setelah menunggu beberapa saat, ternyata hasilnya dinyatakan
negatif.

Setelah munculnya kasus pertama ini di Sidoarjo, Bapak Direktur RSUD Sidoarjo
beserta jajaran direksi dan manajemen membentuk suatu tim penanganan
Covid-19 yang terdiri dari petugas dari berbagai unit yang ada di RSUD untuk turut
berperan dalam penanganan lebih lanjut. Tim tersebut sebagai antisipasi jika terjadi
peningkatan kasus Covid-19 di Kabupaten Sidoarjo sehingga alur penanganan bisa
tersusun dengan jelas mulai dari awal penerimaan rujukan melalui SEMeS 119 RSUD
Sidoarjo, sampai dengan perawatan di IGD atau di rawat inap hingga pemulasaraan
jenazah pasien Covid-19. Semua direncanakan serta disusun dengan rapi mulai dari
alur masuk dan keluar pasien Covid-19 di RSUD Sidoarjo. Semua koordinasi bisa
dilakukan sewaktu-waktu lewat grup Whatsapp maupun pertemuan-pertemuan
lainnya yang diagendakan.

Berdasarkan pengalaman pertama ini, kami kemudian tetap melakukan
persiapan-persiapan lebih lanjut sehingga jika kemudian menghadapi lonjakan
kasus. Kami memulai persiapan dengan dengan menambah tempat perawatan
isolasi dari beberapa TT sampai 175 TT dikarenakan RSUD Sidoarjo juga ditunjuk
oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai salah satu dari 132 RS Rujukan Covid-19 di
Indonesia.

Tak berselang lama, kasus ke-2 kemudian muncul pada bulan Maret 2020 dimana
pasien yang dirawat merupakan salah seorang ASN Dinas Perhubungan Jawa Timur
yang pernah melakukan kontak langsung dengan Menteri Perhubungan RI saat
melakukan rapat dimana saat itu Menhub RI ternyata dirawat setelah agenda rapat
tersebut karena dinyatakan positif Covid-19. Untuk pasien kedua ini, kami sudah
mempunyai persiapan yang memadai dan koordinasi yang baik dalam penanganan
pasien ini sehingga bisa tertangani dengan baik.

28INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Setelah itu, mulai banyak pasien Covid-19 yang kami tangani baik yang berasal
dari Kabupaten Sidoarjo maupun rujukan dari kota-kota lain. Dengan semakin
banyaknya pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD Sidoarjo mengakibatkan penuhnya
ruang rawat inap isolasi. Hal ini pun menyebabkan penumpukan pasien Covid-19 di
IGD dan terpaksa harus bercampur dengan pasien non Covid-19 sehingga kemudian
dilakukan penyekatan IGD dimana pasien IGD yang dicurigai sebagai pasien
Covid-19. Kami menempatkannya di area tersendiri yang terpisah dari pasien non
Covid-19 sehingga tidak mengganggu pelayanan kepada pasien lainnya.

Pada bulan Juli 2020, kondisi IGD stagnan karena banyaknya pasien Covid-19
sehingga menyebabkan kami harus menutup/lockown IGD untuk sementara waktu.
Kurang lebih selama 2 minggu kami tidak menerima rujukan pasien Covid-19 dari
rumah sakit lain. Ini merupakan lockdown kedua yang diterapkan di IGD karena
sebelumnya telah dilakukan hal serupa namun hanya 2 hari saja. Untuk mengatasi
hal ini agar tidak terulang kembali maka jajaran direksi dan majemen kemudian
memutuskan bahwa IGD RSUD Sidoarjo mulai dari lantai 1 s/d 4 dipakai sebagai
tempat perawatan pasien Covid-19 sampai kemudian ruang definitif ada yang
kosong untuk kemudian pasien Covid-19 bisa dipindahkan.

Pengumuman
penutupan
sementara IGD
karena pasien
Covid-19
meningkat drastis
dan ruang isolasi
masih penuh

29INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Hal yang paling menyedihkan saat kami melayani pasien Covid-19 adalah
ketika satu persatu teman-teman di IGD mulai sakit karena tertular Covid-19.
Padahal, awalnya sudah banyak teman-teman dari unit lain yang terkena Covid-19
sedangkan teman-teman di IGD masih bertahan dan tetap sehat. Namun, pada
akhirnya ada juga yang tertular. Teman-teman IGD yang positif Covid-19 ada yang
melakukan isolasi mandiri di rumah dan ada pula yang harus menjalani perawatan
di rumah sakit selama beberapa waktu baik itu dokter, perawat, dan teman-teman
administrasi serta bagian farmasi sehingga menyebabkan terjadinya hambatan
pada pelayanan di IGD dikarenakan kurangnya SDM yang ada. Untuk mengatasai
permasalahan tersebut, pihak manajemen memutuskan untuk memperbantukan
teman-teman dari unit-unit lain untuk membantu di IGD dengan melakukan rolling
pegawai.

Kesedihan terbesar kami yaitu ketika salah seorang teman dokter di IGD yang
tertular Covid-19 dan mengalami kondisi kritis dan akhirnya meninggal dunia. Beliau
adalah dr. Gatot Pramono. Kami sama sekali tidak menyangka bahwa salah satu
anggota garda terdepan kami dalam penanganan pasien Covid-19 saat itu harus
mengalami sakit dan meninggal karena Covid-19.

Puncak peningkatan pasien Covid-19 terjadi pada bulan Juli dan Agustus 2020,
setelah itu jumlah pasien yang dirawat melandai dan mengalami puncak kembali
pada bulan Oktober-Desember 2020 sehingga kami harus kembali menerapkan
lockdown IGD untuk sementara waktu tidak dapat menerima rujukan pasien
Covid-19.

Memasuki tahun 2021 sampai saat ini, lonjakan terjadi pada bulan Januari
2021 dan saat ini sudah semakin berkurang. Tenaga kesehatan kami pun juga sudah
banyak yang diberikan vaksinasi Covid-19, dilakukan pula pemasangan hepafilter
secara menyeluruh untuk IGD dan kami tetap melayani pasien baik Covid-19
maupun pasien regular seperti biasa.

Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Direktur, Bapak Wadir
Pelayanan, dan jajaran direksi dan manajemen lainnya atas dukungan baik secara
lahiriah dan batiniah kepada kami sehingga tetap bersemangat untuk melakukan
pelayanan pasien-pasien di IGD seperti biasanya. Tidak lupa juga untuk semua
teman-teman Dokter IGD, Perawat IGD, serta teman-teman Non Medis yang tetap
semangat dalam melaksanakan pelayanan terus menerus dengan baik kepada
pasien-pasien kami di IGD RSUD Sidoarjo tercinta •

30INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : Dra. Agustin Sulistyowati, Apt.
Jabatan : Kasi. Penunjang Medis
Usia : 57 Tahun
Masa Kerja : 17 Tahun

Pengelola Logistik
Di Era Pandemi Covid-19

RSUD Sidoarjo merupakan salah satu rumah sakit yang ditunjuk sebagai rumah

sakit rujukan bagi pasien Covid-19. Pasien suspect Covid-19 pertama di RSUD
Kabupaten Sidoarjo ditemukan pada 27 Januari 2020. Pasien merupakan seorang
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hongkong. Selanjutnya, pada tanggal
15 Maret 2020 RSUD Kabupaten Sidoarjo menerima pertama kali pasien positif
Covid-19.

Pada awal pandemi Covid-19, RSUD Sidoarjo mengalami kesulitan untuk
memenuhi kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD). RS kesulitan mencari APD karena
atmosfer masyarakat yang pada saat itu ketakutan, sehingga banyak barang-barang
yang seharusnya untuk kalangan medis habis terjual untuk masyarakat umum.
Pada bulan Januari dan Februari 2020, pesanan RSUD untuk masker bedah, hand
sanitizer dan Maker N95 sudah tersendat, tidak terealisasi sesuai pesanan. Pada
bulan Maret 2020 harga masker bedah sudah berganti dari harga Rp 20.000/box
menjadi Rp 69.000 /box. Hal ini justru dijadikan bisnis oleh beberapa orang. Banyak
sekali di pasaran yang berjualan masker dengan harga Rp 150.000-200.000/box nya.

Setiap tahun, RSUD Sidoarjo selalu melakukan simulasi Hospital Disaster
Plan (HDP). Hal ini dilakukan agar RS selalu siap, tanggap dan waspada ketika
ada bencana. Tahun 2019, dunia dihadapkan pada pandemi Covid-19 dan RS
dihadapkan langsung pada bencana tersebut. RS dituntut untuk siap menghadapi
pandemi tersebut, salah satunya kesiapan dalam logistik APD karena pedoman
dalam merawat pasien Covid-19 dibutuhkan standar APD yaitu isolasi gown atau

31INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Serah terima bantuan untuk
penanganan pasien Covid-19

baju hazmat, topi disposable, masker bedah/masker N95, handscoon panjang,
handscoon pendek, kacamata goggle/face shield, shoes cover dan sepatu boots.

Pandemi Covid-19 tidak hanya dialami suatu daerah tetapi oleh seluruh
dunia. APD yang digunakan selain face shield, kacamata goggle dan sepatu boots
adalah disposable/sekali pakai. Bisa dibayangkan bagaimana RS kesulitan untuk
menyediakan kecukupan logistik khususnya APD yang dibutuhkan dalam merawat
pasien yang suspek ataupun terkonfirmasi Covid-19. Sebelum era Covid-19, RS
mempunyai persediaan paket APD standar tersebut yang dipergunakan untuk
melakukan pemulasaran jenazah infeksius, khususnya pasien HIV.

Pada bulan Januari 2020, RSUD Sidoarjo juga sudah antisipasi dengan menyiapkan
pembelian baju hazmat. Kami mendapatkan kuota 60 buah dengan harga Rp.
37.125/buahnya. Bulan Februari 2020, RS sudah tidak bisa mendapatkan baju
hazmat lagi. Pada bulan April 2020 dengan anggaran recofusing, RS mendapatkan

32INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Serah terima
bantuan yang
dilakukan di depan
gerbang RSUD
Sidoarjo

hazmat dengan harga semula Rp. 37.125 menjadi Rp. 165.000. Tim logistik Farmasi
harus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan semua lini terutama PPI agar standar
APD yang dibutuhkan tercukupi serta dituntut bergerak cepat untuk merencanakan,
menyediakan, mendistribusikan dan mengelola APD dan dan juga Bahan Medis
Habis Pakai (BMHP).

Tidak kalah penting adalah koordinasi dan sosialisasi terkait pemahaman
tentang penyebaran Covid-19, penetapan area mana yang perlu mengenakan APD
menyesuaikan dengan level atau zona yang berdampak pada pengelolaan dan
pengendalian persediaan APD. Bagaimana bagusnya suatu RS mengelola persediaan
farmasi tanpa ada dukungan dari seluruh unit layanan baik dari pihak manajemen,
instalasi, tim/komite dan seluruh unit yang ada di RS maka akan berdampak kepada
kecukupan stok dan biaya yang tak terkendali.

Tanpa kendali dari PPI dalam mensosialisasikan dan menetapkan APD yang
dipakai sesuai zona, maka pihak farmasi akan kesulitan melakukan efisiensi, karena
perilaku dari petugas RS yang juga mengalami ketakutan dalam menghadapi
pandemi Covid-19 ini. Semua petugas ingin mendapatkan APD yang aman sesuai
persepsi mereka. Dengan asumsi pakaian yang tertutup rapat, berlapis memakai
skort petugas, hazmat dan masker N95, hampir semua unit berharap difasilitasi
dengan APD tersebut. Tidak hanya sekali PPI melakukan sosialisasi standar APD yang

33INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

dibutuhkan. Setiap mendengar berita adanya tenaga RS yang meninggal dari RS
lain, maka ada beberapa unit yang was-was, takut dan minta dicukupi APD lengkap
dengan masker N95 tersebut. Maka dari itu, PPI harus berkali kali melakukan
sosialisasi terkait kebutuhan atau standar APD sesuai level/zona tersebut. Salah
satu upaya yang kami lakukan untuk memenuhi APD dan BMHP yang dibutuhkan di
era pandemi adalah membuat face shield dan membuat hand sanitizer.

Di samping sosialisasi tentang standar APD sesuai zona, cara memakai dan
melepas APD ketika di ruang isolasi, PPI juga menyampaikan tentang pentingnya
selalu melakukan cuci tangan, baik dengan handwash ataupun dengan handrub.
Pandemi yang menimpa seluruh wilayah di Indonesia juga menyebabkan penyedia
hand sanitizer kesulitan dalam memenuhi kebutuhan RS sehingga RS tidak dapat
mengandalkan supply dari penyedia/distributor. Setiap pesanan RSUD tidak
seluruhnya bisa dicukupi. Bahkan hand sanitizer yang biasanya tersedia dalam
kemasan 500ml dengan alat spraynya, kondisi yang ada justru hanya dalam botol
tanpa ada alat semprotnya. Bahkan di bulan Februari 2020 pesanan yang dikirim
hanya sebagian kecil saja, itupun akhirnya saling berebut karena semua ingin
mendapatkan hand sanitizer dalam jumlah yang cukup. Bersyukurlah RS sudah
secara rutin mengadakan penelitian yang diusulkan setiap tahun. Termasuk
penelitian yang dilakukan oleh PPI bersama dengan Farmasi dalam menguji
efektifitas hand sanitizer yang dibuat oleh RS dan dibandingkan dengan produk jadi
yang dijual di pasaran. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa hasil produk
hand sanitizer dari Instalasi farmasi efektif dan bisa dipergunakan. Dengan tidak
tercukupinya supply hand sanitizer tersebut dan juga dari hasil penelitian terhadap
uji efektifitas yang telah dilakukan RS, maka farmasi memutuskan untuk mencukupi
kebutuhan hand sanitizer dengan cara membuat produk sendiri dan mengendalikan
ketersediaannya di seluruh area RS. Dikarenakan hand sanitizer saat itu susah
didapatkan di apotek, toko obat dan minimarket yang biasa menyediakan hand
sanitizer, Instalasi Farmasi juga berencana untuk membuat hand sanitizer dengan
kemasan 100ml dan berencana akan dibagikan kepada seluruh pegawai, namun
ternyata untuk mendapatkan botol plastic pun susah. Pesanan RSUD sebanyak 2000
buah/botol @100ml ditolak karena kekosongan barang. Harganya pun melonjak,
semula Rp 2000/botol mengalami kenaikan harga menjadi Rp10.000/botol.

Selain memproduksi hand sanitizer, produk yang dibuat oleh Bidang Penunjang
Medis & Non Medis adalah membuat face shield. Dengan bekal tutorial di Youtube,
kami memproduksi face shield untuk dibagikan kepada semua petugas di RSUD
Sidoarjo. Dalam proses pembuatan hand sanitizer dan face shield kami dibantu

34INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Proses pencatatan
dan penataan
barang-barang
donasi di gudang
farmasi

oleh petugas dari unit lain yaitu dari hukmas, pengembangan SDM, administrasi
SDM, Instalasi Pelatihan Mandiri (IPM), pemasaran, diklit, bidang pelayanan,
bidang keperawatan dan juga staf dari wadir rendik. Kami secara tim bergotong
royong untuk membuat dan mendistribusikan hasil produksi face shield dan hand
sanitizer tersebut. Alhamdulilah hasil produksi face shield dan hand sanitizer sangat
membantu dalam mencukupi kebutuhan APD dan BMHP yang dibutuhkan oleh
SDM RS, khususnya yang terkait dengan pelayanan pasien Covid-19 secara langsung
sehingga mereka merasa aman dan terlindungi.

Kecukupan kebutuhan APD, BMHP dan obat selain diupayakan melalui
proses pengadaan oleh RS dan produksi sendiri, ada pula berbagai bantuan dari
Pemerintah, rekanan RS serta masyarakat yang memiliki kepedulian besar sehingga
turut berdonasi untuk penanganan Covid-19.

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang mempunyai jiwa tolong-
menolong yang sangat tinggi. Sejak bulan Maret 2020, RSUD Sidoarjo telah

35INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

menerima bantuan atau hibah dari masyarakat umum, baik dari komunitas, public
figure, maupun pribadi termasuk juga bantuan dari pegawai RSUD sendiri. Bantuan
juga didapatkan dari pemerintah meliputi BNPB, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Timur, Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo. Bantuan yang
diberikan berupa Alat Pelindung Diri (APD), alat kesehatan (monitor pasien, HFNC,
ventilator dan alat apresis), desinfektan, hand sanitizer, obat-obatan, vitamin,
masker, dan juga makanan.

Bantuan berupa susu, makanan, vitamin, atau buah sangat kami rasakan
manfaatnya bagi seluruh petugas di RS khususnya petugas yang ada di ruang isolasi,
IGD, dan tranporter yang termasuk petugas di unit penunjang. Selalu ada bantuan
yang diterima oleh RS setiap hari. Ada bantuan yang langsung dikirim ke RS, dikirim
melalui ekspedisi dan ada pula yang diambil oleh pihak RS. Ada beberapa donator
yang mengaku takut untuk datang ke RS sehingga meminta kami yang mengambil
donasi ke alamat yang mereka sampaikan. Alamat yang kami ambil area Sidoarjo
sampai Surabaya. Semua itu dengan senang hati kami lakukan mengingat tidak
mudah bagi kami untuk bisa mendapatkan APD yang kami butuhkan. Terkadang
para donatur juga menanyakan item APD apa yang di butuhkan sehingga mereka
bisa memberi bantuan sesuai dengan kebutuhan yang belum tercukupi. Masker N95
dan masker bedah menjadi item yang kami prioritaskan untuk disampaikan kepada
para calon donatur karena barang itulah yang memang sangat kami butuhkan saat
itu.

Kami pernah mendapatkan pengalaman yang unik ketika mendapatkan bantuan
dari Kantor Wilayah Pajak. Ketika mereka menghubungi kami untuk menyampaikan
bantuan tersebut, mereka diwanti-wanti oleh pimpinan untuk tidak masuk area
RS. Ketika mereka datang dan janjian bertemu di pintu tengah/Lobby RS, mereka
meminta penerimaan dilakukan di gapura depan RS. Jadi akhirnya kami membawa
bantuan tersebut keluar RS untuk dilakukan serah terima serta dokumentasi di
depan area RS. RS betul-betul dianggap sebagai tempat yang menakutkan dan
mereka takut terpapar Covid-19. Kadang ada juga beberapa donatur yang meminta
testimoni terkait bantuan yang diberika kepada kami. Ketika kami menyampaikan
testimoni tersebut, sering membuat kami terharu, tidak bisa berkata-kata, mengucap
syukur atas banyaknya partisipasi berupa donasi yang diterima RSUD Sidoarjo.

Semua bantuan tersebut selalu dilakukan pencatatan dan dibuatkan berita acara
serah terima yang berisi item bantuan, jumlah dan harga. Dari berita acara tersebut
kemudian dilakukan pengentrian data ke dalam SIM Farmasi untuk bantuan yang
terkait APD, BMHP, dan obat, lalu dilaporkan secara rutin setiap bulan ke BNPB

36INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

dan Inspektorat. Tidak semua bantuan yang bisa kami dapatkan informasi harga
nilai bantuan tersebut. Ketika donatur tidak bisa memberikan harga barang yang
didonasikan maka kami tawarkan untuk dipasang harga sesuai harga perolehan RS.

Ketika di awal pandemi, penyerahan bantuan dari pemerintah selalu dilakukan
secara seremonial dengan mengundang bapak direktur atau ada seseorang yang
mewakili ke gedung Grahadi di Surabaya. Jumlah dan jenis bantuan yang akan
diterima, pihak RS belum tahu dan tahunya ketika sudah di lokasi dan kadang tidak
cukup dengan 1 kendaraan, sehingga harus mendatangkan armada ambulance
rescue atau kendaraan lain. Jadi, total membutuhkan sampai 3 mobil dan itupun
ada yang kardusnya terpaksa kami lepas agar cukup dengan 3 kendaraan tersebut.
Dikarenakan seluruh RS Rujukan yang mendapatkan bantuan maka proses
pengambilan bantuan tersebut kadang baru selesai pada malam hari. Bahkan kami
pernah mendapatkan bantuan pada hari sabtu dan tiba di RSUD pukul 14:00 WIB,
sehingga pengecekan ulang terkait jumlah, jenis, pembuatan berita acara dan
pengentrian data ke SIM Farmasi dilakukan keesokan harinya.

Dengan banyaknya bantuan yang diterima oleh RS dimana untuk hazmat,
sepatu boots, handscoon termasuk jenis bantuan yang lumayan memakan tempat,
sehingga petugas gudang farmasi harus mencari tempat untuk menampung barang
bantuan tersebut. Salah satu tempat yang digunakan sebagai gudang adalah ruang
endoskopi di gedung HD dan juga ruang ESWL di sebelah ruang IDIK. Kesulitan yang
dirasakan oleh petugas gudang farmasi adalah ketika melaksanakan stock opname
karena harus melakukan penghitungan di 3 tempat tersebut yang stocknya sangat
banyak dan betul-betul memastikan stock sudah sesuai dan benar. Kami motivasi
petugas terkait pertanggung jawaban barang hibah /bantuan tersebut ketika nanti
diaudit oleh BPK. Aktivitas petugas gudang farmasi semakin bertambah sejak
adanya pandemi Covid-19. Setiap hari, gudang farmasi harus selalu membuat paket
APD sebanyak 100 – 150 buah untuk kebutuhan ruang isolasi termasuk mengontrol
pemakaian masker N95. Kebutuhan masker bedah pun sudah dihitung kebutuhan
per bulan per ruangan dan dievaluasi ketika ada permintaan yang diluar kebutuhan
tersebut.

Salah satu cara mendapatkan APD, reagen ataupun obat yaitu dengan
mengajukan bantuan kepada BNPB, Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur serta Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dengan mengajukan
surat permintaan bantuan kepada instansi terkait. Bantuan yang diajukan yaitu Alat
Pelindung Diri (APD) berupa hazmat, obat oseltamivir, chloroquin, remdesivir dan
reagen PCR. Biasanya pihak Dinkes Prov. akan menginformasikan terkait stock yang

37INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

ada dan pihak RS mengajukan dengan disertai jumlah pasien yang terpapar baik
positif Covid-19 maupun suspect.

Untuk kebutuhan golongan obat, ada beberapa jenis obat yang banyak
dibutuhkan oleh RS, sementara ketersediaannya terbatas sehingga banyak RS yang
tidak bisa mendapatkan obat tersebut saat dibutuhkan. Obat tersebut adalah
golongan tocilizumab dengan nama dagang actemra dan golongan immunoglobulin
(intratect dan gamaras). Kami selalu menerima permintaan untuk bisa membeli
atau pinjam actemra dari Rumah Sakit lain. Beberapa kali, kami mendapatkan
WA yang meminta tolong untuk bisa membeli produk tersebut dikarenakan ada
saudara, suami, istri, ayah atau ibu dari keluarga pasien atau nakes yang terpapar
Covid-19. Banyak sekali RS yang pernah membeli actemra dari kamu seperti RS Siti
Hajar, RS wilayah Malang, RS Soebandi Jember, RS Bangil, RSAL, RS Mitra Waru dan
RS wilayah Semarang. Tidak semua permintaan kami penuhi. Dari 25 vial yang kami
miliki, awalnya actemra kami berikan, tetapi ketika stock tersisa 9 vial, akhirnya
kami memutuskan untuk tidak menerima permintaan tersebut karena kamim tetap
harus safety stock untuk antisipasi apabila ada petugas atau pasien RSUD yang
membutuhkan. Kepada RS yang rencana membeli actemra dan tidak bisa kami
berikan, kami bantu dengan memberikan informasi distributornya serta contact
person yang bisa dihubungi.

Permintaan dan pemakaian yang cukup besar juga kami rasakan untuk golongan
immunoglobulin. Setiap intratect atau gamaras yang datang selalu langsung
habis. Dan juga mengingat dibutuhkan dalam jumlah yang besar menyebabkan
harga yang mahal yang secara total biaya per pasien cukup menyerap anggaran.
Maka penggunaan golongan immunoglobulin kami berlakukan persetujuan secara
berjenjang. Ketersediaan di distributor juga terbatas sehingga harus dilakukan
pemesanan jauh jauh hari, inden dan rebutan, bahkan kadang dilakukan verifikasi
terlebih dahulu dengan menyebutkan rencana peruntukan pasien oleh pihak
principle.

Bismillahirrohmannirrohiim, semoga pandemi Covid-19 segera berakhir, banyak
hikmah yang dapat kita petik. Terkait pengelolaan logistik Farmasi, kami tidak
simulasi saja tapi langsung dihadapkan pada pandemi Covid-19. Pengalaman yang
sangat berharga. Dulu kepatuhan melakukan cuci tangan dan kepatuhan untuk
penggunaan masker belum sesuai SPO, namun dengan adanya pandemi Covid-19
ini petugas akhirnya terbiasa dan sudah terpola untuk selalu melakukan cuci tangan,
memakai masker sekaligus menjaga jarak •

38INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : Ari Siswanto Efendi, S.Kep.Ns
Jabatan : Infection Prevention Control Nurse
(IPCN) Komite PPI
Usia : 44 Tahun
Masa Kerja : 24 Tahun

“Taktik” Perang RSUD Sidoarjo
Melawan Invasi Covid-19

RSUD Sidoarjo merupakan salah satu rumah sakit yang ditunjuk sebagai rumah

sakit rujukan Covid-19 sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor
188/125/KPTS/013/2020 tentang Penetapan Rumah Sakit Rujukan Penyakit Corona
Virus Disease 2019 (Covid-19) di Jawa timur, sehingga harus menyiapkan segala
sesuatu yang dibutuhkan guna memberikan pelayanan kesehatan yang optimal pada
pasien yang diduga atau konfirmasi Covid-19 terutama dengan gejala berat atau
kritis, memperlambat dan menghentikan laju transmisi/penularan, dan menunda
penyebaran penularan dan meminimalkan dampak dari pandemi Covid-19 terhadap
sistem layanan lain di rumah sakit.

Rumah sakit menyiapkan sumberdaya manusia yang kompeten, sistem
administrasi, ruang isolasi yang memadai dan penunjang lainnya. Kami menyadari
bahwa perang melawan Covid-19 ini baru dimulai dan belum dapat diketahui kapan
akan berakhir, sehingga strategi yang komprehensif (“taktik perang”) harus disusun
dengan baik dan bijaksana agar kami dapat memenangkan perang ini dan tentunya
tidak banyak jatuh korban. RSUD Sidoarjo menerima pasien pertama kali yang
diduga suspect Covid-19 yakni pada tanggal 27 Januari 2020, dan hasil pemeriksaan
RT PCR dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes)
Kementrian Kesehatan RI menunjukkan hasil negatif, sedangkan pasien yang
dinyatakan konfirmasi positif Covid-19 pertama kali yakni pada tanggal 15 Maret
2020.

39INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Strategi yang komprehensif (“taktik perang”) yang kami terapkan dalam
melawan invasi Covid-19 di RSUD Sidoarjo saat itu merujuk pada panduan WHO
sebagai berikut :

1. Triase, pengenalan dini dan kontrol sumber;
• Melakukan sistem untuk menilai semua pasien yang masuk (triase klinis)
• Pengenalan dini tanda dan gejala dini kemungkinan Covid-19
• Menempatkan pasien terpisah dengan pasien lain untuk menghindari
penularan pada pasien lain dan petugas (melakukan isolasi pada pasien yang
diduga Covid-19); .
• Memberikan edukasi kepada petugas untuk meningkatkan kewaspadaan
terhadap tanda dan gejala dini Covid-19;
• Menyediakan formulir skrining yang disesuai dengan definisi kasus dan
dipahami oleh seluruh staf;
• Menyediakan ruang isolasi khusus sementara di Instalasi Gawat Darurat
sebelum pasien ditrasfer ke ruang isolasi defenitif (Mawar Merah Putih);
• Membuat banner reminder tanda dan gejala Covid-19 yang harus diwaspadai.

2. Menerapkan kewaspadaan standar kepada semua pasien;
• Menerapkan kewaspadaan standar bagi semua pasien meliputi cuci tangan,
kebersihan pernafasan dan etika batuk, penggunaan alat pelindung diri yang
tepat sesuai dengan penilaian risiko, pembersihan lingkungan, pengelolaan
linen dan dekontaminasi peralatan perawatan pasien serta pengelolaan
limbah yang aman;
• Penggunaan APD yang rasional, benar, dan konsisten juga membantu
mengurangi penyebaran Covid-19;
• Efektivitas APD sangat tergantung pada persediaan yang memadai dan
teratur, pelatihan staf yang memadai, kebersihan tangan yang tepat saat
pelepasan APD dan perilaku staf yang sesuai SPO;
• Memastikan bahwa semua pasien dan petugas menutup hidung dan mulut
mereka dengan tisu atau siku saat batuk atau bersin (kebersihan pernafasan
dan etika batuk);
• Menganjurkan pemakaian masker medis untuk pasien dengan gejala
pernafasan atau yang diduga Covid-19 saat mereka berada di ruang tunggu/
tempat umum.

40INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

• Petugas kesehatan harus menerapkan cuci tangan dengan pendekatan 5
momen antara lain: sebelum kontak dengan pasien, sebelum prosedur
bersih atau aseptik, setelah terpapar cairan tubuh pasien, setelah kontak
dengan pasien, dan setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien).

3. Menerapkan kewaspadaan tambahan secara empiris (droplet, kontak dan atau
airborne) pada kasus yang diduga Covid-19;
Berdasarkan studi epidemiologi dan virologi saat ini membuktikan bahwa
Covid-19 utamanya ditularkan dari orang yang bergejala (simptomatik) ke orang
lain yang berada jarak dekat melalui droplet. Droplet merupakan partikel berisi
air dengan diameter > 5-10 µm. Penularan droplet terjadi ketika seseorang
berada pada jarak dekat (dalam 1 meter) dengan seseorang yang memiliki gejala
pernapasan (misalnya batuk atau bersin) sehingga droplet berisiko mengenai
mukosa (mulut dan hidung) atau konjungtiva (mata).
Penularan juga dapat terjadi melalui benda dan atau permukaan yang
terkontaminasi droplet di sekitar orang yang terinfeksi. Oleh karena itu,
penularan virus COVID-19 dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang
yang terinfeksi dan kontak tidak langsung dengan permukaan atau benda yang
digunakan pada orang yang terinfeksi (misalnya, stetoskop atau termometer).
Transmisi melalui udara (airborne) dapat dimungkinkan dalam keadaan
khusus dimana prosedur atau perawatan suportif yang menghasilkan aerosol
seperti intubasi endotrakeal, bronkoskopi, suction terbuka, pemberian
pengobatan nebulisasi, ventilasi manual sebelum intubasi, mengubah pasien
ke posisi tengkurap, memutus koneksi ventilator, ventilasi tekanan positif
noninvasif, trakeostomi, dan resusitasi kardiopulmoner.

Strategi yang dilakukan adalah :
• Pasien diduga Covid-19 ditempatkan di kamar tunggal bertekanan negatif,
dengan exhausfan atau berventilasi cukup;
• Jika kamar tunggal tidak tersedia, pasien yang diduga menderita Covid-19
dikelompokkan bersama (kohorting);
• Tempat tidur pasien setidaknya berjarak 1 meter;
• Pasien menggunakan masker bedah/masker medis;
• Melengkapi ruang isolasi dengan exhausfan yang disambungkan dengan
saluran pembuangan (ducting);
• Menunjuk tim petugas kesehatan untuk merawat secara eksklusif kasus-

41INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

kasus yang dicurigai atau konfirmasi Covid-19 untuk mengurangi risiko
penularan;
• Menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) yang cukup bagi petugas kesehatan
yang bekerja di ruang isolasi Covid-19 (seperti penutup kepala, masker
bedah/masker medis, masker N95, goggles atau faceshield, gaun/cover all,
sarung tangan, cover shoes dan sepatu boots);
• Hindari memindahkan pasien keluar dari kamar mereka kecuali diperlukan
secara medis;
• Gunakan peralatan rontgen portable di ruang isolasi untuk pemeriksaan
radiologi;
• Jika transportasi diperlukan, gunakan rute transportasi yang telah ditentukan
untuk meminimalkan paparan bagi staf, pasien lain dan pengunjung, dan
minta pasien mengenakan masker medis.

4. Melaksanakan kontrol admisnitrasi;
• Menetapkan kebijakan/prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi
terkait Covid-19;
• Memberikan edukasi (pendidikan dan pelatihan) kepada petugas kesehatan
yang akan menjalankan tugas di ruang isolasi;
• Memberikan edukasi cara penggunaan dan pelepasan APD yang tepat;

Sosialisasi kepada kepala
instalasi dan unit terkait

penggunaan APD
(Alat Pelindung Diri)
di awal pandemi Covid-19

42INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Sosialisasi dan pengarahan kepada tenaga
kesehatan yang bertugas di ruang isolasi
pada awal pandemi Covid-19

• Menyusun alur layanan dan rujukan pasien diduga atau konfirmasi Covid-19;
• Checklist monitoring kesehatan petugas yang bekerja di isolasi;
• Kebijakan tracing kontak erat dan penyelidikan epidemioligi bagi petugas

kesehatan;
• Memastikan rasio petugas kesehatan dengan jumlah pasien memadai;
• Sistem pengaturan jaga setiap shift untuk meminimalkan waktu kontak

dengan pasien;
• Pencatatan orang yang keluar masuk ruang perawatan Covid-19.

43INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

5. Melakukan kontrol lingkungan dan teknik (engineering);
• Persiapan infrastruktur ruang isolasi (pemasangan exhausfan fan, hepafilter
portable, AC, ducting exhausfan, dll);
• Pemasangan barrier/pemisah di ruang periksa dokter, pendaftaran , triase,
dan pelayanan penunjang lainnya;
• Mengatur jarak kursi penunggu, jarak kursi pasien dengan dokter dan posisi
di dalam lift untuk menerapkan physical distancing;
• Memastikan prosedur pembersihan dan disinfeksi area pelayanan secara
konsisten dan benar;
• Perbaikan sistem ventilasi di area pelayanan pasien untuk membantu
mengurangi penyebaran mikroorganisme.
Strategi yang komprehensif (“taktik perang”) harus dijalankan secara konsisten

guna mencapai hasil yang optimal. Selain itu, seluruh petugas kesehatan, pasien,
pengunjung dan masyarakat yang berada di lingkungan rumah sakit juga harus
menerapkan protokol kesehatan antara lain : mencuci tangan dengan sabun dan
air mengalir atau menggunakan hand sanitizer, memakai masker dengan benar,
menjaga jarak dengan orang lain, menghindari kerumunan dan mengurangi
mobilitas.

Semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan kita sebagai pemenangnya •

44INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama lengkap : Ahmad Zainuri, SH.MH
Jabatan : Kepala Bagian Umum
Usia : 57 Tahun
Masa kerja : 33 Tahun

Sarana Prasarana Dalam
Percepatan Penanganan

Covid-19

RSUD Sidoarjo menetapkan tim penanganan Covid-19 yang terdiri dari jajaran

manajemen dan tim DPJP, ketua gugus dan anggota serta petugas dari beberapa
seperti IGD, rawat jalan, rawat inap serta penunjang. RSUD Sidoarjo dalam
pemberian pelayanan kepada pasien Covid-19, khususnya wilayah Kabupaten
Sidoarjo, dilakukan dengan sungguh-sungguh. Meningkatnya pasien Covid-19
di RSUD Sidoarjo membuat kami juga harus turut serta melakukan peningkatan
percepatan penanganan. Salah satu percepatan penanganan pasien Covid-19
yang dilakukan oleh RSUD Sidoarjo yaitu dengan menambah sarana prasarana
yang memadai, mulai dari penambahan ruang isolasi, pemenuhan kebutuhan
fasilitas ruang isolasi, penyediaan alat kesehatan (alkes) serta alat pelindung diri
(APD). Regulasi penempatan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 akan langsung
ditempatkan di ruang isolasi biasa dan apabila terdapat komorbid lainnya maka
ditempatkan di ruang isolasi khusus yang menggunakan hepa filter.

1. Menyiapkan ruang isolasi biasa dan isolasi khusus dengan hepafilter
Sarana dan prasarana menjadi tanggung jawab bagian umum dan jajarannya

dengan kebutuhan yang sangat mendesak dan harus ditindaklanjuti. Berdasarkan
SK Direktur pada 11 Maret 2020 nomor 188/68/438.6.7/2020 tentang Pejabat
Pembuat Komitnen (PPK) kegiatan pengadaan barang/pekerjaan kontruksi/
jasa konsultasi/jasa lainnya pada rumah sakit umum Kabupaten Sidoarjo

45INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

dalam penanganan wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), saya Ahmad
zainuri ditunjuk sebagai PPK. Tentu, diperlukan adanya konsultan perencanaan
untuk melaksanakan renovasi pembangunan gedung Mawar Merah Putih yang
dijadikan sebagai ruang isolasi, menindaklanjuti Perpres No. 4 Tahun 2020
tentang refocusing kegiatan, relokasi anggaran serta pengadaan barang/jasa
dalam rangka percepatan penanganan Covid-19.

Kami, di jajaran penanggung jawab sarana dan prasarana bergerak cepat
melakukan rapat dengan mengudang konsultan perencana. Pada waktu
itu konsultan perencana ditunjuk oleh RSUD Sidoarjo untuk menyiapkan
penambahan ruang isolasi bertekanan negatif dan ruang isolasi ICU. Hasil
rapat dengan konsultan RSUD Sidoarjo yaitu melakukan penunjukan vendor
pelaksana kontruksi pembangunan ruang isolasi dengan anggaran APBD.

2. Dalam kegiatannya, PPKom menggunakan kertas kerja perencanaan
pengadaan penanganan darurat (pembangunan ruang isolasi)

• Identifikasi Kebutuhan
Kegiatan pembangunan ruang Isolasi yang harus dilakukan dengan uraian

sebagai berikut :
a) Penetapan darurat oleh presiden RI melalui Instruksi Presiden No. 4 Tahun

2020.
b) Melaksanakan pengadaan barang/jasa dalam rangka penanganan

kedaruratan berdasarkan Perpres No. 16 Tahun 2018 pasal 56 tentang
pengadaan barang/jasa
c) Peraturan LKPP No. 13 Tahun 18 tentang pengadaan barang/jasa dalam
penanganan darurat
d) Perpres No. 106 tahun 2007 tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/
Jasa Pemerintah [JDIH BPK RI]
e) Surat Keputusan Bupati Kab. Sidoarjo No. 188/241/438.1.1.3/2020 tentang
Status Keadaan Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Corona Virus
Disease 2019 di Kabupaten Sidoarjo

• Kebutuhan Pengadaan
a) Dengan ditetapkan pandemi Covid-19, RSUD Sidoarjo ditunjuk sebagai
rumah sakit rujukan bagi pasien Covid-19 dan tidak boleh menolak.
b) Pekerjaan fisik konstruksi dalam hal ini yaitu pembangunan ruang isolasi
Covid-19. Ruang tersebut dibangun di beberapa ruang Covid-19 yang
dilengkapi dengan fasilitas penunjang, antara lain : mekanikal elektronik

46INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

(exhaust fan, AC, dan cerobong ducting). Pembagian ruang tersebut dengan
menggunakan dinding pemisah partisi kalsibot rangka holo yang bersifat
permanen.
c) Untuk mewujudkan atau merealisasikan kebutuhan tersebut maka RSUD
Sidoarjo membutuhkan konsultan perencana dan pengawasan sebagai
berikut :
- Konsultan perencana yang bertugas membuat perencanaan anggaraan

yang biaya (RAB) dan membuat desain gambar.
- Konsutan pengawas melakukan pengawasan pekerjaan yang sudah

direncanakan oleh konsultan perencana.
• Dasar pertimbangan kebutuhan :

a) RSUD Sidoarjo ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien Covid-19
b) Diperlukan penambahan ruang isolasi Covid-19
c) Kunjungan pasien Covid-19 sangat cepat mengalami peningkatan (overload)
• Analisa Ketersediaan Sumber daya.
Personil RSUD Sidoarjo dalam hal pekerjaan konstruksi belum memadahi
sehingga melibatkan pihak ketiga yaitu kontraktor dan konsultan. Pada intinya,
pelaku usaha relatif cukup banyak tersedia akan tetapi dalam penunjukan
kontraktor, kami memilih yang berpengalaman dalam menangani kegiatan
tersebut yaitu kontraktor yang sudah pernah bekerja sama dengan RSUD
Sidoarjo dan memiliki kredibilitas yang baik.
• Penetapan Cara Pengadaan
Penetapan cara pengadaan dalam satu kegiatan terdapat beberapa cara :

a) Dilakukan dengan :
a. Pengadaan jasa konsultan perencanaan pembangunan ruang isolasi
b. Pengadaan jasa konstruksi pembangunan ruang isolasi
c. Pengadaan jasa konsultan pengawas pembangunan ruang isolasi
b) Dilakukan oleh penyedia:
a. CV Pancanaka Cipta Sejahtera
b. CV Menara Perkasa
c. CV Gusti Ayu
Pekerjaan persiapan, pekerjaan arsitektur terdiri dari memasang dinding partisi,
kusen jendela dan pengecatan, sedangkan pekerjaan mekanikal elektrik terdiri
dari pekerjaan tata udara, ducting dan tambah daya.

47INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Ducting

Pasien terus berdatangan sedangkan RSUD sidoarjo tidak boleh menolak pasien
Covid-19 dan juga sebagai rumah sakit rujukan, mau tidak mau harus menambah
sarana ruang isolasi tekanan negatif untuk pasien Covid-19. Proses penambahan
ruang isolasi dilaksanakan secara bertahap sampai menggunakan seluruh ruang
rawat inap klas III yaitu Mawar Merah Putih sejumlah 115 tempat tidur. Dari sekian
penambahan ruang isolasi yang dilaksanakan, pada akhir tahun 2020 telah tersedia
sejumlah 225 tempat tidur.

Penambahan ruang isolasi di rawat inap Mawar Merah Putih
Kendala yang kami hadapi dalam pengerjaan ruang isolasi yaitu dalam mencari
bahan baku. Saat itu terdapat kesulitan karena banyak sekali toko bangunan
yang biasanya kami jadikan langganan namun banyak yang tutup. Selain itu,
tenaga yang biasa kami gunakan juga tidak berani mekukan pekerjaan. Mereka
takut dan khawatir jika terjadi penularan Covid-19. Kami pun terus berusaha dan
berupaya agar mendapat tenaga yang berkenan mengerjakannya. Kami melakukan

48INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Penambahan ruang isolasi di rawat inap Mawar Merah Putih

pencarian tenaga atau tukang yang benar benar berani mengerjakan ruang isolasi
tersebut. Dalam waktu pengerjaan, kami tidak mengenal jam bahkan hingga larut
malam karena pimpinan terus menonitor terkait keberadaan ruang mana yang
bisa ditempati oleh pasien Covid-19 karena pasien Covid-19 terus mengalami
peningkatan. Sistem yang kami gunakan yaitu bergantian ruangyang akan dilakukan
renovasi, dengan dorongan dari bapak Direktur yang selau membina kami untuk
mewujudkan ruang isolasi Covid-19 yang diharapkan. Pengerjaan tidak dilakukan
satu vendor melainkan beberapa vendor. Ada yang mengerjakan pekerjaan
konstruksi, ada yang mengerjakan mekanikal listrik dan ada juga yang mengerjakan
ducting untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan ruang isolasi Covid-19.

49INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19


Click to View FlipBook Version