The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MEDIVO PENGALAMAN 1 TAHUN COVID19 DI RSUD SIDOARJO

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by humas.rsudsda, 2021-08-11 22:48:48

MEDIVO PENGALAMAN 1 TAHUN COVID19 DI RSUD SIDOARJO

MEDIVO PENGALAMAN 1 TAHUN COVID19 DI RSUD SIDOARJO

Keywords: pengalaman,covid19

Pasien Covid-19 terus berdatangan seperti air yang mengalir tiada henti-
hentinya. Rasa cemas dan panik masuk dalam sanubari manajemen RSUD Sidoarjo
yang akhirnya memutuskan untuk dilakukan penambahan lagi 20 TT pada ruang
Tulip, rawat inap klas I yang diubah menjadi ruang isolasi bertekanan negatif dengan
menggunakan hepa filter.

Penambahan ruang isolasi juga dilakukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) lantai
3 untuk memenuhi lonjakan pasien Covid-19 yang datang ke RSUD Sidoarjo dengan
menambah tempat tidur dari beberapa titik hingga mencapai 175 TT. Berbagai
upaya terus dilakukan oleh bapak Direktur untuk mencukupi kebutuhan ruang
isolasi pasien Covid-19. Ruang rawat inap Graha Delta Husada barat juga digunakan
sebagai ruang isolasi pasien Covid-19.

Selain pembangunan ruang isolasi, kami juga melakukan renovasi di
Laboratorium Mikrobiologi Klinik & Biomolekuler untuk proses pemeriksaan
Covid-19 yaitu swab PCR. Saat itu RSUD Sidoarjo mendapat bantuan anggaran BTT
dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk membeli alat PCR yang berfungsi untuk
pemeriksaan Covid-19. Mulai dari proses pengambilan spesimen swab nasofaring,
ekstraksi untuk mendapatkan RNA, analisis hasil hingga verifikasi hasil pemeriksaan
dilakukan di Lab. Mikro •

50INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : dr. Kakung Muhammad Yusuf, Sp.An
Jabatan : Dokter Spesialis Anestesiologi dan
Terapi Intensif
Usia : 42 Tahun
Masa Kerja : 2 Tahun

Coretan Seputar Covid-19

…dan badai pandemi itu pun datang menimpa kita.

Saya masih ingat saat pertama kali mendapat tugas untuk menjadi bagian dari Tim

Covid-19. Berbagai perasaan muncul saat itu, rasa waswas, khawatir, takut, dan lain-
lain bercampur aduk menjadi satu. Namun, semua perasaan negatif itu lambat laun
menghilang dan berganti dengan kebanggaan bahwa saya akan ikut ambil bagian
dalam perjuangan melawan Covid-19. Kebanggaan yang harus dijawab dengan kerja
keras, tanggung jawab dan keikhlasan dalam menangani serta merawat pasien.

Pertemuan saya pertama kali dengan teman-teman perawat di MMP adalah
saat saya diberi tugas untuk memberikan pengenalan tentang tata cara penggunaan
ventilator kepada teman-teman. Saya bisa melihat dari raut wajah teman-teman
saat itu yang menyiratkan kebingungan karena mungkin sebagian besar dari mereka
baru pertama kali berjumpa dengan makhluk bernama ventilator ini. Namun, saat
itu saya juga bisa merasakan antusiasme mereka untuk belajar mengenal alat ini.
Seperti pepatah yang mengatakan bahwa “tak kenal maka tak sayang”, maka dari
waktu ke waktu, bersamaan dengan seringnya teman-teman terpapar dengan
pasien yang menggunakan ventilator, semakin bertambah pula pengetahuan dan
pengalaman teman-teman perawat.

51INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Masih teringat jelas pengalaman pertama melakukan intubasi pada pasien
Covid-19 yang mengalami gagal napas. Saat itu sekitar ba’da isya, akhirnya saya
harus masuk ke ruang isolasi dan menggunakan APD level 3 untuk pertama
kalinya. Pasien tersebut adalah seorang yang saya nilai sebagai orang yang baik.
Beliau selalu meminta teman-teman perawat untuk mengingatkan apabila telah
masuk waktu sholat (ketika beliau sudah sadar). Setelah beberapa hari dirawat
dengan menggunakan ventilator, akhirnya pasien tersebut berhasil kami lepas dari
ventilator. Semuanya bahagia, mengingat ini adalah pasien pertama kami yang bisa
membaik setelah masuk ventilator. Bahkan, foto terakhir yang saya terima dari
perawat adalah foto saat beliau sedang menunaikan sholat. Kami berharap bisa
merawat beliau sampai sembuh, sampai beliau bisa pulang kembali dengan selamat
dan berkumpul kembali bersama keluarga. Namun takdir berkata lain. Kondisi beliau
tiba-tiba memburuk, sampai akhirnya beliau meninggal dunia.

Perawatan pasien
Covid-19 di ruang
isolasi Mawar Merah

Putih (MMP)

52INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Berbagai pertanyaan muncul di pikiran saya. Kenapa? Apa yang salah? Apa yang
seharusnya saya lakukan namun tidak saya lakukan? Atau sebaliknya, apa yang saya
lakukan namun seharusnya tidak saya lakukan?

Berbagai pertanyaan itu yang mendorong saya untuk lebih banyak berkonsultasi
kepada guru-guru dan senior-senior saya, mengikuti berbagai update keilmuan
melalui webinar-webinar tentang Covid-19, yang membuat saya semakin tersadar
bahwa masih banyak hal mengenai virus ini yang belum saya ketahui.

Pengalaman berbeda saya dapatkan saat harus merawat pasien yang juga
merupakan tenaga kesehatan. Betapa menguras emosi ketika saya harus melakukan
intubasi pada mereka. Betapa bahagianya perasaan saya bila dapat mengantar
mereka sampai lepas dari ventilator, lalu bisa pindah ke ruang isolasi biasa dan
akhirnya bisa bertemu lagi di rumah sakit saat dinas dengan keadaan sehat wal
afiat.

Namun, tidak semua cerita berakhir dengan tawa. Duka yang sangat mendalam
menerpa ketika kami tidak berhasil menyelamatkan rekan-rekan seperjuangan dari
infeksi virus ini. Dua orang tenaga kesehatan gugur dalam waktu yang berdekatan.
Alm. dr. Gatot Pramono berpulang saat senja dan disusul Almh. Sri Agustin, S.Kep.
Ns pada dini hari keesokan harinya.

53INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Kepergian dua orang pejuang Covid-19 yang juga merupakan rekan seperjuangan
kami dalam waktu yang berdekatan ini membuat saya begitu terpukul, sampai
saya tidak sanggup untuk sekedar mengikuti seremonial pelepasan jenazah untuk
memberikan penghormatan terakhir kepada beliau-beliau di rumah sakit. Perasaan
down ini juga saya rasakan di antara teman-teman, rasa sedih, rasa kecewa, rasa tidak
sanggup berbuat apa-apa begitu kentara selepas kepergian para pejuang Covid-19
ini. Namun, kejadian ini juga memperkuat kebersamaan kami, mempertebal rasa
persaudaraan dan juga mempersatukan tujuan kami untuk selalu memberikan yang
terbaik, terutama dalam merawat pasien yang terinfeksi virus Covid-19 ini.

Maret 2021, perjuangan kami melawan pandemi ini belum juga berakhir. Masih
banyak pekerjaan yang harus dilakukan, asih banyak nyawa yang harus diselamatkan,
serta masih banyak senyum yang harus dipertahankan. Namun, dengan kerjasama
tim yang kuat sebagai ikhtiar dan dengan selalu diiringi doa kepada Alloh SWT,
semoga kami semua bisa menyelesaikan tugas mulia ini dengan baik.

Dan semoga seluruh civitas RSUD Sidoarjo selalu mendapatkan perlindungan
serta rahmat dari Alloh SWT sehingga bisa menjadi manusia-manusia terbaik, yaitu
manusia yang memberi manfaat bagi orang lain, aamiin..•

54INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Khotimah Ulfa S., Kep.Ns |Usia 48 Tahun | Masa Kerja 26 Tahun
Dewi Atiqoh, S.Kep.Ns | Usia 44 Tahun | Masa Kerja 21 Tahun
Rus Weny Ariningsih, Amd. Kep | Usia 36 Tahun | Masa Kerja 14 Tahun
Juli Catur, Amd. Kep | Usia 31 Tahun | Masa Kerja 10 Tahun
Siti Nur Jannah, Amd. Kep | Usia 24 Tahun | Masa Kerja 2 Tahun

Kisah Unik Dibalik Gerbang
Isolasi GDH

Pagi itu langit tampak cerah seperti memberi kami semangat untuk bekerja.
Dalam pikiran, kami harus segera sampai di RS karena ada yang sedang menunggu
kami disana, tak lain adalah pasien. Tahun ini ada yang berbeda dalam memberikan
perawatan pada pasien. Kami dihadapkan dengan pandemi COVID-19 yang
sebelumnya kami tidak pernah menangani kasus tersebut karena memang penyakit
yang baru muncul sejak tahun 2019 dan berawal di Kota Wuhan, China. Meskipun
ada sedikit ketakutan dan kekhawatiran dalam diri kami, tapi semangat kami
tidaklah pernah padam. Maju terus pantang mundur.

55INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Sebelum memulai timbang terima pasien, kami biasakan untuk berdoa bersama
semoga apa yang kami kerjakan hari ini diberikan kelancaran, kemudahan dan
dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT, aamiin. Timbang terima pun dimulai,
saat itu tim dinas malam melaporkan bahwa ada pasien yang sulit sekali diajak
komunikasi, sering terdiam. Segera setelah timbang terima selesai, kami ganti baju
hazmat (baju kebesaran kami saat merawat pasien COVID-19) dan kami bergegas
menghampirinya. “Tok tok tok Selamat pagi bapak”, sapa perawat pagi itu, tapi
tidak ada jawaban.

Di kamar itu ada Tn. S, seorang aparatur negara dan masih aktif bekerja. Saat
datang, beliau tampak murung dan acuh tak acuh. Saat perawat menanyakan
keluhannya, Tn. S membuang muka dan raut wajahnya tampak sedih. Perawat
mencoba untuk menawarkan makanan dan minuman tapi ditolak dan pasien sering
memanggil sopirnya supaya membantunya dan tidak pernah mencari anak dan
istrinya.

Keesokan harinya, istri pasien sebut saja Ny. U juga masuk rumah sakit
karena juga terkonfirmasi positif COVID-19. Kebetulan Ny. U dirawat satu kamar
dengan suaminya dengan harapan mereka bisa saling menyemangati. Belajar
dari pengalaman pasien sebelumnya yang pernah dirawat satu kamar dengan
keluarganya dan bisa lebih cepat sembuh. Tak lama, kami dengar keluhan Ny. U
yang merasa terganggu saat sekamar dengan suaminya. Alasannya karena sering
dimarahi. Rasa penasaran kami pun semakin menjadi. Kami mencari cara agar Tn. S
mau berbicara dengan perawat dan membutuhkan waktu yang cukup lama, kurang
lebih 3 hari barulah Tn. S mau bercerita kepada kami, begitu pula dengan Ny. U.

Ternyata Tn. S kecewa dengan keluarganya terutama anak-anaknya, karena saat
sakit seperti ini mereka justru menjauh. Anaknya ada yang bekerja di luar kota tapi
tidak pernah telepon untuk menanyakan kabar ayah dan ibunya, padahal ayahnya
sudah menjadikannya sebagai seorang dokter. Begitu pula dengan istri Tn. S yang
tidak mau mengurusi suaminya saat sakit alasannya karena takut tertular dan
sempat minta pisah kamar padahal mereka berdua sama-sama positif COVID-19 dan
Ny. U yang bekerja sebagai tenaga kesehatan paling tidak tahu tentang penularan
COVID-19 tapi tetap menolak sekamar dengan suaminya. Sambil berlinang air mata
Tn. S berkata pada kami “Kenapa saya sakit COVID-19? Semua kini menjauhi saya”,
sesalnya.

56INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Di kamar yang berbeda kami temukan lagi pasien yang unik, sebut saja Tn.
B. Beliau datang dengan kondisi sesak dan terkonfirmasi positif COVID-19. Saat
datang, beliau hanya tergolek lemas dan terpasang oksigen. Semua kebutuhannya
dibantu oleh perawat mulai dari seka, makan, dan lain-lain. Tapi saat dirawat pada
hari ke 8 dan sesak sudah banyak berkurang, tingkah laku uniknya mulai keluar.
Beliau marah-marah apabila perawat terlambat datang saat beliau memanggil,
digedorlah pintu dan jendela, semua makanan yang dikirim keluarganya dibuang
dan berteriak sampai pasien disebelahnya terbangun dari tidur. “Susterrr saya mau
pulang!”, begitu lah teriakannya setiap hari sambil mengumpat-umpat kami. Setiap
apa yang kami kerjakan selalu salah di mata beliau. Dari hal tersebut, kami semua
akhirnya tahu bahwa hubungan pasien tidak harmonis dengan keluarganya. Dari
cerita istri pertamanya, beliau seorang pemarah dan mempunyai 2 istri. Yang sering
berkunjung adalah istri pertamanya. Meskipun sering dimaki-maki tapi sang istri
tetap datang ke RS untuk memberikan dukungan. Tn. B merasa keluarganya tidak
memedulikannya padahal sudah kami jelaskan saat awal masuk bahwa perawatan
diisolasi tidak boleh dijaga oleh keluarga, namun beliau tetap tidak menghiraukan.
Tn. B juga takut bahwa sakitnya diketahui oleh atasan dan rekan kerjanya. Pada hari
ke 10 dokter sudah memperbolehkan beliau pulang.

Lain lagi dengan kisah Tn. M, pasien yang satu ini saat baru datang ke ruang
isolasi sudah minta ditunggui istrinya meskipun sudah dijelaskan tetap menolak
dan sudah membuat surat pernyataan. Menurut cerita dari istrinya, pasien ini
dalam kesehariannya selalu dilayani oleh istrinya mulai dari makan, membersihkan
kacamata, memotong kuku dan lain-lain. Pada hari 3 kondisi Tn. M semakin sesak
dan indikasi masuk ICU MMP. Saat kondisinya sudah stabil Tn. M dipindah lagi ke
ruang isolasi GDH seperti biasanya pasien minta ditunggui istrinya tapi sudah kami
jelaskan bahwa tidak boleh ditunggu.

Ada pula kisah dari Tn. G yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis
orthopedi di sebuah RS swasta. Beliau mendapat ujian menderita sakit COVID-19
dari Allah SWT. Dalam kesehariannya di ruang isolasi, beliau sangat semangat untuk
sembuh. Beliau rajin untuk berjemur saat pagi, patuh dengan terapi yang diberikan
oleh dokter meskipun kami tahu dari raut wajahnya ada rasa cemas. “Selamat pagi
dokter, apa keluhannya pagi ini?” tanya kami. “Alhamdulillah baik, tapi kalau sore hari
kadang saya masih demam”, sahut nya saat itu. Pernah suatu hari kami melihat Tn.
G ini melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang tidak pernah beliau
tinggalkan disaat sakit. Tn. G adalah orang yang baik, santun, sopan dan menghargai
profesi kami. Pada hari ke-9 perawatan, kondisi beliau menurun dan perlu diambil

57INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

tindakan untuk pemeriksaan BGA. Saat proses pengambilan darah, beliau dengan
sabarnya berkata, “Suster, kalau masih kurang jangan sungkan-sungkan ambil darah
saya lagi.”, pintanya pada kami, padahal kami tahu pengambilan darah itu sangat
sakit. Ternyata Allah SWT lebih sayang dengan beliau. Saat ini beliau sudah kembali
ke pangkuan ilahi. Semoga Tn. G husnul khotimah, aamiin.

Dari beberapa pasien yang pernah kami rawat, rata-rata pasien dan keluarganya
terlihat cemas, mungkin karena ini adalah hal yang baru bagi mereka termasuk
kami tenaga kesehatan. Takut tertular sampai dengan kematian adalah yang paling
ditakuti. Ada beberapa cara pasien dan keluarga mengekspresikan rasa cemas,
contohnya seperti keluarga Tn. Sg.

Tn. Sg bersama sang istri dirawat di ruang isolasi selama kurang lebih 10 hari
karena positif COVID-19. Mereka berdua saling mendukung untuk kesembuhan
masing-masing. Lain lagi dengan anak Tn. Sg, meskipun ada yang berkeja sebagai
tenaga kesehatan, tapi mereka sangat takut tertular COVID-19 dari orang tuanya.
Ceritanya, saat itu Tn .Sg dan istrinya diperbolehkan pulang oleh dokter. Lalu Tn. Sg
dijemput oleh ketiga anakya, dua anak Tn. Sg mengendarai mobil dengan berpakaian
APD lengkap (hazmat). Satu anaknya lagi mengendarai sepeda dengan membawa
semprotan desinfektan di punggungnya atau yang biasa kenal hand sprayer (alat
semprot portable yang dioperasikan dengan tangan) biasamya digunakan pak tani
di sawah. Semua barang barang ayah dan ibunya disemprot dengan desinfektan
tersebut, baru satu persatu dimasukkan ke dalam mobil. Tak lupa Tn. Sg dan istrinya
juga disemprot baru diperbolehkan masuk ke dalam mobil. Setelah itu seluruh
permukaan mobil disemprot lagi dengan desinfektan.

Namun, tidak hanya cerita sedih yang kami temukan di antara para pasien. Ada
pula cerita yang menyenangkan. Saat itu, ada tenga kesehatan kami yang sedang
dirawat di ruang isolasi. Saat awal masa pandemi, pasien diperbolehkan pulang
bila hasil swabnya sudah negatif. Setelah selama kurang lebih 20 hari perawatan di
rumah sakit, ternyata hasil swab beliau negatif dan pasien diperbolehkan pulang.
Ada kisah unik saat kepulangan pasien, ternyata pasien sebelumnya pernah berjanji
apabila hasil swabnya negatif maka ia akan pulang dengan berjalan kaki sampai
rumah dengan jarak kurang lebih 7 km dan itu benar benar dilakukan oleh pasien
tersebut.

58INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Salam sehat dari tim isolasi GDH

Setiap individu adalah unik, artinya bahwa manusia yang satu berbeda dengan
manusia yang lain dan tidak ada manusia yang sama persis di muka bumi ini
walaupun dilahirkan kembar (Sunaryo, 2004).

Manusia sebagai makhluk holistik merupakan makhluk yang utuh atau paduan
dari unsur biologis, psikologis, sosial, spiritual dan kultural. Dukungan sosial akan
berhasil tergantung dari tingkat kecemasan pasien masing masing.

Menurut Feist, J. dan Feist (2006), kecemasan merupakan kedaan suasana hati
yang ditandai oleh efek negatif dan gejala gejala ketegangan jasmaniah dimana
seseorang mengantisipasi kemungkinan datangnya bahaya atau kemalangan di
masa yang akan datang dengan perasaan khawatir. Kecemasan mungkin melibatkan
perilaku dan respon respon fisiologis. Menurut Stuart dan Sundeen dalam Asmadi
(2008) ada 3 tingkatan kecemasan meliputi kecemasan ringan, kecemasan sedang,
dan kecemasan berat. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan sosial baik dari
keluarga, teman, tetangga, tenaga medis serta paramedis.

59INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang didalamnya berisi
pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek terdiri dari informasi, perhatian,
emosional, penghargaan dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui
interaksi dengan lingkungan (House Smet, 1994). Bentuk-bentuk dukungan sosial
ada 3, antara lain :
Human capital : penjelasan tentang proses perawatan selama masa isolasi dan

komunitas di lingkup keperawatan.
Isolasi capital : penjelasan tentang menjalin hubungan dengan komunitas

baru dan keluarga.
Cultural capital : penjelasan tentang aturan nilai norma di lingkungan.

Saran dari kami untuk kedepannya dalam merawat pasien agar :
• Dibuatkan buku panduan pemberian dukungan sosial dalam memberikan
asuhan kepada pasien COVID-19.
• Disediakan fasilitas SDM Rohaniawan untuk bisa memberikan dukungan
atau support.
• Disediakan ahli psikolog yang bisa menangani pasien dengan kecemasan
tingkat berat.

Kami bangga menjadi bagian dari Perawat Indonesia, bangga menjadi bagian
dari garda terdepan untuk kesembuhan pasien COVID-19. Semoga ke depan,
pelayanan kami semakin baik karena Kesembuhan Anda adalah Kebahagiaan Kami.
Demikian kisah yang dapat kami bagi selama merawat pasien COVID-19 •

60INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : Sri Yuliati, S.Kep.Ns
Jabatan : Kepala Ruang Rawat Inap
Mawar Merah Putih (MMP)
Usia : 52 Tahun
Masa Kerja : 31 Tahun

Suka Duka Merawat
Pasien Covid-19

Awal mulai diberitakan adanya penyakit Covid-19 yang berasal dari kota Wuhan.

Tidak terbersit sedikitpun di hati saya ini akan terjadi di Indonesia, terutama di kota
kecil kami, Sidoarjo.

Berawal pada bulan Januari dan kemudian bulan Maret di rawat inap Mawar
Merah Putih RSUD Sidoarjo, mulai ada pasien yang diduga Covid-19. Dan sangat
mengagumkan betapa bapak Direktur kami melakukan berbagai persiapan dan
perencanakan yang begitu sangat maksimal melangkah bersama jajaran direksi
kompak dan sangat antusias, termasuk juga kami di jajaran keperawatan. Semua
saling memberikan sumbangsih ide kreatif serta solusi dalam menghadapi pandemi
Covid-19.

Serasa berada di negeri dongeng karena dalam waktu sekejap, ruang kami
disulap menjadi ruang yang sangat sesuai standar untuk perawatan isolasi.
Hati saya serasa bergetar, ternyata ini kenyataan yang harus kami hadapi untuk
membangun ruang isolasi ini mulai dari bawah. Bapak Direktur dan seluruh jajaran
menejemen semua bergerak menyiapkan ruang yang bertekanan negatif mulai
dari AC, hepa filter, menyiapkan alat ventilator, perawat yang handal serta mampu
mengoperasionalkan ventilator, HFNC, juga pemasangan Jackson Rees. Ya Allah,
semua berjalan begitu cepat sampai pada perubahan metode penjadwalan dinas
para perawat dan lainnya.

61INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Kami sangat bersyukur karena kami dikelilingi dan didukung oleh pemimpin
dan atasan yang sangat baik dan perhatian kepada kami. Kami diberikan tenaga
bantuan dari seluruh penjuru ruangan yang ada di RSUD Sidoarjo. Saat itulah kami
mengalami banyak kisah yang cukup menguras tenaga serta pikiran kami.

Betapa tidak, banyak sekali teman sesama pegawai yang sangat ketakutan
bahkan berusaha menghindar dari ruangan kami yang kini menjadi ruangan isolasi
khusus pasien Covid-19. Semua yang berdinas di instalasi rawat inap Mawar
Merah Putih (MMP) mulai resah, ada yang takut, ada yang menolak, bahkan ini
menjadikan petaka bagi manajemen pelayanan di ruang tersebut. Bagaimana tidak,
dari petugas lantai 1 tidak mau ke lantai 2 karena awal mulanya hanya lantai 2 saja
yang dijadikan sebagai ruang isolasi. Perawat yang bertugas di ruang isolasi saat itu
merasa terisolir dari keluarga besar MMP, rasa sedih bahkan air mata keluar karena
teman sendiri tidak mau membantu.

Mulailah saya selaku kepala perawat instalasi mengajak seluruh petugas di
MMP untuk berkumpul, berdiskusi dengan semua kepala tim, perawat, petugas
transfer pasien, petugas administrasi sampai dengan petugas cleaning service
untuk bersama memerangi pandemi Covid-19. Ternyata suasana pandemi
memberikan pelajaran yang sangat berharga, bagaimana kami berjuang bersama
dan menjadi satu keluarga. Dari pertemuan tersebut, teman-teman menyampaikan
semua beban yang ada dalam hatinya, mulai dari petugas administrasi, yang saat
mengirimkan berkas semua petugas yang menerima berkas dari ruang isolasi berdiri
menghindar. Berkas disarankan untuk diletakkan di meja saja. Petugas bagian

Power Isoranger
dari rawat inap
Mawar Merah
Putih

62INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

penyedia alat ventilator tidak mau masuk ke ruang isolasi sehingga perawat yang
harus mengambil, petugas cleaning service tidak mau membersihkan ruang isolasi,
petugas yang memberikan makanan ke pasien tidak mau masuk ke kamar pasien,
petugas farmasi juga tidak mau masuk ke kamar pasien, petugas rehabilitasi medik
juga begitu, sehingga yang berani masuk hanya perawat, dokter spesialis paru dan
dr. Kakung Muhammad Yusuf, Sp. An. sebagai dokter spesialis anestesi.

Pada saat itu, kami merasa seolah-olah kami ini virusnya, karena saat kami
berjalan semua orang menghindari kami serta ketakutan melihat kami. Beban kerja
kami semakin banyak, semua pekerjaan mulai dari asuhan keperawatan (kebutuhan
pasien), pemberian makanan, pembersihan ruangan, memasukkan barang titipan
pasien hingga titipan makanan menjadi tugas perawat ruang isolasi.

Syukur Alhamdulillah, setiap hari bapak Direktur, jajaran menejemen dan
keperawatan selalu datang ke ruang isolasi memberikan dukungan kepada kami.
Banyak sekali yang beliau berikan baik moril maupun materil kepada kami mulai
dari makanan, buah-buahan, minuman (susu), snack, vitamin, serta alat pelindung
diri yang tidak pernah kehabisan bahkan peralatan mandi perawat juga sangat
diperhatikan.

Pada bulan Mei 2020, kami mulai mendapatkan tenaga perawat perbantuan
dari unit lain. Saya merasa sangat senang meskipun diberikan tenaga bantuan tidak
bisa menjamin bahwa masalah tidak akan ada dan telah terselesaikan. Perawat yang
diperbantukan di ruang isolasi ada yang belum siap psikologisnya, belum berani
melakukan perawatan kepada pasien Covid-19, bahkan ada di antara mereka yang
mengajukan resign menjadi pegawai RSUD Sidoarjo. Di sini loyalitas dan sumpah
sebagai seorang perawat, serta sebagai abdi masyarakat dipertaruhkan, hati nurani
kami diketuk untuk bisa mampu dan berani menyelamatkan pasien dengan kasus
tersebut. Kasus perawat yang berhenti bekerja mendapatkan penanganan oleh
bidang keperawatan dan jajaran menejemen RSUD Sidoarjo.

Berangsur-angsur kegiatan pelayanan ruang isolasi MMP mulai bisa berjalan
dengan baik. Tanggal 4 Mei 2020 merupakan hari yang sangat membahagiakan
bagi RSUD Sidoarjo karena pada hari itu diadakan acara pelepasan pasien Covid-19
yang telah sembuh, termasuk kesembuhan nakes RSUD sidoarjo yang juga terpapar
Covid-19. Terdapat 40 pasien Covid-19 yang saat itu berhasil dipulangkan karena
telah sembuh.

Semangat perawat dalam merawat pasien Covid-19 semakin bergelora hingga
muncul ide dan kreatifitas yang dapat meningkatkan imunitas kami tanpa sengaja.
Pada masa pandemi ini perawat banyak membuat video, konten yang menghibur

63INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

hingga mendapatkan perhatian dari masyarakat dan media TV. Pada tanggal 22
Mei 2020 kami mengunggah video yang banyak disukai, yaitu video bertemakan
Power Isoranger. Video ini membawa kami masuk dalam acara televisi yang sangat
populer yaitu “Mata Najwa“. Teman kami bagai seorang artis yang diwawancarai di
acara tersebut meskipun melalui sambungan siaran langsung.

Namun, banyak sekali kendala yang terjadi dari sisi pasien dan keluarga. Tidak
semua pasien yang didiagnosa confirm Covid-19 bisa menerima dan keluarga
juga sangat merasa terancam kehidupan sosialnya, karena saat itu masyarakat
masih takut dan mendiskriminasi keluarga pasien Covid-19. Penolakan masyarakat
terhadap pasien Covid-19 menjadi masalah yang sangat besar serta sangat ditakuti
oleh keluarganya, sehingga muncul banyak sekali permasalahan saat dokter dan
perawat memberikan edukasi tentang penyakit Covid-19. Sangat sulit bagi kami
untuk menyakinkan bahwa kasus tersebut benar ada dan nyata, banyak yang
menganggap penyakit tersebut hanya rekayasa.

Jenazah pasien Covid-19 tidak bisa dimakamkan di desanya karena warga
tidak mau menerima dan takut jika seluruh warga di lingkungan tersebut tertular.
Munculnya stigma yang negatif dari masyarakat terhadap layanan RS seperti RS
hanya mengambil keuntungan untuk bisa mengeklaimkan kasus Covid-19 karena
uangnya sangat besar sehingga semua pasien dicovidkan. Ini yang sangat menyakiti
hati kami. Hampir setiap ada pasien yang meninggal, perawat selalu mengalami
kesulitan untuk mengedukasi dan selalu mendapatkan makian bahkan pernah
sampai disumpahi oleh keluarga pasien dengan kalimat yang sangat kasar karena
mereka tidak terima dinyatakan positif Covid-19.

Kami pernah pula dikunjungi keluarga pasien yang telah meninggal dengan
kondisi confirm Covid-19. Keluarga menyampaikan minta uang santunan untuk
keluarga pasien Covid-19 yang meninggal sebesar Rp 30.000.000. Mereka
mengetahui berita tersebut dari berita yang tersebar di kalangan masyarakat
saat itu. Kami menyampaikan bahwa kami belum mendengar dan belum pernah
mendapatkan informasi tentang uang santunan tersebut .

Pada bulan Juni 2020, kami merasakan ujian yang sangat berat saat
merawat pasien Covid-19, beberapa teman sejawat kami juga terpapar Covid-19.
Hati kami hancur melihat teman kami mengalami sesak, sulit bernapas bahkan ada
yang mengalami masa kritis sehingga harus dipasang alat ventilator. Setiap hari,
jantung kami terasa terpacu kencang melihat penderitaan teman kami. Berbagai
upaya semua telah dilakukan oleh dokter, bapak Direktur dan semua pihak terkait
dalam menyelamatkan tenaga kesehatan di RSUD Sidoarjo. Namun, ternyata Allah

64INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

berkendak lain. Pada saat kondisi sejawat kami terjadi cardiac arrest , hati kami
hancur, air mata kami berlinang saat kami harus melakukan Resusitasi Jantung Paru.
Teriakan perawat yang menolong sambil mengucap di video call “ibu mbak Titin
arrest bu” sambil mereka menangis, hati saya terasa teriris-iris melihat perjuangan
teman-teman seperti ini “Sebesar apapun usaha kita tapi masih ada yang Maha
Besar Kuasanya yaitu Allah SWT”.

Pada tanggal 20 Juni 2020, kami kehilangan dua orang sejawat kami secara
bersamaan, yang pertama yaitu dr. Gatot Pramono, salah seorang dokter yang
bertugas di IGD dan yang kedua adalah mbak Titin (Sri Agustin, S. Kep. Ns.), perawat
yang bertugas di Poli Eksekutif. Beliau berdua berpulang ke rahmatullah dipanggil
Sang Kholid pada hari yang sama. “INNALILLAHI WA’INAILLAHI ROJI’UN …” Ya Allah
semoga beliau husnul khotimah. Saat itu hati kami sangat terpukul, tubuh terasa
lunglai tidak bertulang, kami tidak bisa mengucapkan apa-apa, hati kami hampa,
semangat kami hilang, musnah, dan kami tidak berdaya. Seluruh penjuru ruangan
di rumah sakit hening melepas kepergian teman kami tercinta.

Perasaan berduka dalam hati kami berlabuh hingga menurunkan semangat
kami dalam merawat pasien Covid-19 hingga satu minggu lamanya. Betapa berat
kehilangan sahabat. Betapa berat untuk tetap tegar melanjutkan perjuangan
melawan virus yang mematikan ini.

Dalam kondisi seperti ini, kami bersyukur bapak direktur dan jajaran
manajemen menyemangati kami kembali. Tugas kami belum selesai. Semua harus
bangkit kembali dan syukur Alhamdullah, Allah menolong kami semua untuk bisa
menata hati kembali, berjuang di garda depan untuk negeri ini.

“Ya Allah, kami memohon ridho-Mu, kami memohon pertolongan dan
perlindungan-Mu Ya Robbi” …. Allah SWT telah menjawab semua doa-doa kami.

Alhamdulillah lelah kami menjadi LILLAH. Allah telah memberikan kenikmatan
dari jerih payah kami. Kami yang dulu tidak bisa apa-apa menjadi perawat yang
lebih bisa. Betapa tidak, kami yang dulu hanya melakukan perawatan pasien biasa
kini harus bisa menangani kasus kritis. Kami dipaksa untuk bisa menyelamatkan
pasien Covid-19 dengan mengoperasionalkan alat ventilator yang tidak pernah
kami pelajari sebelumnya.

65INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Waktu berjalan semakin cepat, pasien Covid-19 sangat banyak sehingga ini yang
selalu membuat kami bersemangat untuk belajar dan belajar. Kami sangat bersyukur
ada dr. Kakung Muhammad Yusuf, Sp. An. yang tidak pernah lelah membantu kami
mengoperasionalkan ventilator dengan cepat. Kami selalu dipandu beliau 24 jam.
Bila kami mengalami kesulitan, beliau selalu bisa membimbing melalui video call.

Terima kasih kami yang tak terukur dan rasa syukur kami yang sangat dalam atas
segala rezeki serta kesehatan dari Allah SWT. Semoga pandemi ini segera berakhir
sehingga kami bisa melakukan pelayanan dengan normal dan bisa terlihat senyum
kami tanpa harus selalu memakai masker. Kebahagiaan kami yang sangat besar
adalah melihat pasien Covid-19 bisa sembuh dan kembali berkumpul bersama
keluarga. Kami bangga menjadi bagian dari rumah sakit ini. Terima kasih atas semua
yang diberikan kepada kami. Semoga kita selalu sehat dan sukses. Aamiin ya rabbal
alamin •

66INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : Tri Wahyuningsih, A.Md.KL
Jabatan : Kepala Instalasi Penyehatan
Lingkungan (IPL)
Usia : 41 Tahun
Masa Kerja : 12 Tahun

Beragam Rintangn
Kami Alami Pada Masa Pandemi

Semenjak Indonesia mengkonfirmasi kasus Covid-19 pertama kalinya pada

bulan Maret tahun 2020, semua orang panik karena Covid-19 adalah penyakit baru
dan kami tidak tahu bagaimana cara menghadapi penyakit ini. Sekolah diliburkan
dengan waktu yang tidak ditentukan dan fasilitas kesehatan mulai mempersiapkan
diri bila ada pasien Covid-19 yang datang. Hingga pada akhirnya pasien pertama
terkonfirmasi Covid-19 datang ke RSUD Sidoarjo.

Saat itu, kami dari Instalasi Penyehatan Lingkungan (IPL) diundang untuk rapat
persiapan bila ada pasien Covid-19 yang di rawat di rumah sakit. Kami dari IPL
diminta untuk menyiapkan bagaimana alur desinfeksi dan sterilisasi ruangan setelah
digunakan pasien Covid-19, serta bagaimana alur pengelolaan limbah Covid-19.

Saya selaku Kepala IPL, membuatkan jadwal serta alur sterilisasi dan desinfeksi
ruangan. Saya membuat jadwal untuk sterilisasi dan desinfeksi ruangan setiap hari,
yang sebelumnya hanya dilakukan satu bulan sekali atau sesuai dengan permintaan
ruangan. Sterilisasi dan desinfeksi ruangan kami lakukan setelah jam pelayanan
untuk poli rawat jalan dan pada hari libur untuk wilayah perkantoran. Selain itu,
kami juga melakukan sterilisasi dan desinfeksi ruangan-ruangan lainnya seperti IGD,
rawat inap dan ruangan penunjang pelayanan sesuai dengan permintaan ruangan.

67INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Awal pandemi, semua petugas di rumah sakit paranoid, mereka ketakutan.
Setiap setelah melakukan tindakan kepada pasien positif Covid-19, petugas
ruangan selalu telepon ke IPL dan meminta untuk segera disteril. Belum lagi jalan
yang dilewati pasien Covid-19 dan lift juga diminta untuk didesinfektan. Misalkan 10
kali lewat, maka 10 kali itu juga kami harus melakukan desinfeksi ruangan. Bahkan
ada ruangan yang minta kami mengikuti di belakang pasien pada saat pasien akan
pindah ruangan dari IGD ke ruang isolasi atau dari ruangan isolasi ke Hemodialisa.

Sterilisasi dan desinfeksi ruangan kami lakukan secara bergantian sesuai jadwal.
Rasa lelah mulai terasa karena kami setiap hari harus pulang melebihi jam kerja.
Saat orang lain di luar sana bekerja dari rumah (Work From Home), kami harus
tetap bekerja di kantor (Work From Hospital). Istilahnya sama-sama WFH namun
artinya berbeda jauh. Kami memang bukan tenaga medis, tapi kami adalah tenaga
kesehatan yang memiliki peran dalam menangani Covid-19. Kami tidak mengenal
istilah Work From Home. Hari libur pun kami ke rumah sakit secara bergantian.
Saat-saat terberat kami adalah pada saat bulan Ramadhan, karena kami harus tetap
melakukan pekerjaan sterilisasi dan desinfeksi ruangan dengan menahan lapar dan
juga haus.

Kami mulai merasa tidak percaya diri. Rasa takut tertular menghantui pikiran
kami karena saat itu APD (Alat Pelindung Diri) yang menipis dan hanya diperuntukan
tim medis saja. Kami hanya diberikan masker kain yang tidak sesuai standar untuk
sterilisasi dan desinfeksi ruangan. Selain masker, kami juga tidak diberikan baju
hazmat untuk sterilisasi ruangan isolasi dengan alasan yang sama, hanya untuk
tenaga medis. Setelah negosiasi yang cukup alot dengan petugas ruangan isolasi,
akhirnya kami diberikan hazmat. Untuk sterilisasi dan desinfeksi ruangan, kami
diperbolehkan menggunakan skort untuk ruang operasi. Tetapi lagi lagi, kami
menemui kendala karena stok skort ruang operasi menipis. Kami harus datang lebih
pagi agar bisa mendapatkan skort tersebut di ruang laundry.

Selain terkendala APD, kami juga memiliki kendala kebutuhan desinfektan
untuk sterilisasi ruangan yang mulai menipis dan barang di pasaran juga sulit untuk
didapatkan. Kami harus menggunakan chlorin untuk sterilasasi ruangan, yang
memiliki efek samping korosif dan sesak napas bila terpapar lebih dari 8 jam di
dalam tubuh manusia.

68INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Proses sterilisasi dan desin-
feksi ruang isolasi di Graha

Delta Husada (GDH)

Ini adalah salah satu dokumentasi kami saat melakukan sterilisasi dan desinfeksi
ruangan isolasi pada saat awal Covid-19. Kami juga merasakan bagaimana rasanya
menggunakan hazmat yang walau hanya 1 jam tapi membuat baju kami basah
dengan keringat karena panas.

Selain sterilisasi dan desinfeksi ruangan, kami juga menangani limbah Covid-19
yang memang menjadi trending topic dan sorotan oleh pihak yang berwajib. Limbah
infeksius rumah sakit meningkat semenjak pandemi Covid-19 dan insinerator kami
mengalami kerusakan selama 4 bulan perbaikan. Bisa dibayangkan bagaimana
paniknya kami dalam menangani limbah tersebut. Biaya pengolahan limbah sangat
tinggi karena seluruh limbah dikelola oleh pihak ke 3 yang berijin menteri. Kami
beruntung karena manajemen memberikan dukungan penuh kepada kami dengan
menambahkan anggaran pengelolaan limbah yang menjadi dua kali lipat dari

69INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

anggaran sebelumnya, dan juga tambahan anggaran untuk perbaikan insinerator.
Limbah pasien Covid-19 harus dimasukkan ke dalam box sterofoam yang diberi
label khusus “limbah pasien Covid-19”. Hal ini pun juga turut menjadi penyebab
biaya pengolahan limbah infeksius semakin meningkat.

Perbaikan insinerator selesai, kami pun mulai melanjutkan pengurusan ijin
insinerator sementara selama pandemi. Alhamdulillah kami diberikan kemudahan.
Ijin sementara kami keluar untuk melakukan pengolahan limbah Covid-19 dan
pengurusan ijin operasional kami juga di lanjutkan dengan verifikasi lapangan secara
daring. Lagi lagi kami diberikan kemudahan. Ijin kami disetujui oleh Kementrian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tidak sampai di situ, kendala lain juga terjadi pada psikis kami yang mulai
terganggu karena rasa takut tertular. Kami juga harus saling memberikan dukungan
dan saling menguatkan satu sama lain karena teman kami mulai ada yang

Proses
pengelolaan
limbah infeksius
dari perawatan
pasien Covid-19

70INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

terkonfirmasi virus Covid-19. Salah satu teman kami terkonfirmasi Covid-19. Dia
adalah anggota baru di instalasi kami yang merupakan anak perantauan dan tidak
ada saudara di sini sehingga kami bergantian membantu mengirimkan kebutuhan
selama isolasi mandiri. Kami menumbuhkan rasa persaudaraan satu sama lain. Sakit
satu sakit semua karena kami satu kesatuan yaitu IPL. Seperti halnya tubuh, bila kaki
sakit maka seluruh badan turut merasakan sakit.

Banyak hikmah yang dapat kami ambil dari pandemi Covid-19 ini. Rutinitas
yang biasa kami lakukan menjadi terbatas. Kami harus menjaga jarak, memakai
masker dan mencuci tangan. Kami juga tidak bisa dengan mudah bepergian seperti
biasanya. Buka bersama dan halal bihalal yang biasanya kami lakukan terpaksa
tidak bisa kami lakukan. Kami hanya bisa membeli makanan dan dimakan di rumah
bersama keluarga. Aktivitas di luar kami batasi agar kami tidak menjadi klaster baru
dan menularkan Covid-19.

Tetapi pandemi Covid-19 ini membawa hikmah tersendiri bagi kami secara
pribadi, karena pada saat pandemi, anak kami dapat diterima di SMA Negeri
dengan menggunakan surat keterangan sebagai tenaga kesehatan yang menangani
Covid-19 di rumah sakit rujukan.

Banyak cerita suka dan duka selama pandemi. Ini adalah sebagian cerita
pengalaman kami selama mengahadapi wabah Covid-19. Kami mengucapkan
banyak terima kasih kepada manajemen yang telah memberikan dukungan penuh
secara moral dan material kepada kami sehingga kami bisa tetap bertahan bersama-
sama memerangi pandemi Covid-19. Semoga wabah ini segera pergi dan kami bisa
bekerja seperti biasa tanpa harus was-was dan semua kegiatan kami tidak lagi
dibatasi •

71INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama : Pudji Astutik,SKM., M.Kes
Jabatan : Kepala Instalasi Gizi
Usia : 51 tahun
Mas Kerja : 25 tahun

Kekhawatiran Tidak
Menghalangi Perjuangan

Kami

Sejak awal Maret 2020, wabah virus Covid-19 yang meliburkan seluruh aktivitas

sekolah, perkantoran bahkan membatasi waktu pelaku usaha ini mulai merebak
di Indonesia hingga masuk ke Jawa Timur khususnya kota Sidoarjo. RSUD Sidoarjo
mulai bergerak cepat membentuk tim medis untuk menangani pasien yang
terjangkit virus tersebut.

Tantangan tak kalah berat, Instalasi Gizi juga harus memikirkan penatalaksanaan
asuhan gizi dalam pengelolaan asupan makan pasien psitif Covid-19, selain aspek
medis. Kekurangan gizi atau malnutrisi dapat dialami pasien Covid-19 ketika awal
pasien masuk ke rumah sakit, atau terjadi selama periode rawat inap. Padahal
diketahui bahwa aspek gizi juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh manusia.

Di saat yang sama, ahli gizi, pramusaji dan tata boga/pengolahan makanan
di rumah sakit juga harus berupaya agar tetap aman saat melayani pasien, dengan
melakukan berbagai inovasi untuk pelayanan gizi yang optimal kepada pasien
serta melakukan langkah pencegahan penularan. Salah satu inovasi tersebut
yaitu dengan pemberian makanan Tinggi Kalori, Tinggi Protein, juice, puding dan
minuman-minuman herbal yang kaya akan manfaat untuk membantu percepatan
kesembuhan pasien.

72INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Pertama kali kami lakukan pelayanan makanan pada pasien Covid-19 di ruang
isolasi masih menggunakan alat makan yang disposable berupa kotak makan kertas
dan penyajian makan dilakukan oleh perawat dengan menggunakan APD lengkap
berupa Hazmat. Jadi, pramusaji hanya mengantarkan makanan tersebut sampai ke
nurse station dan selanjutnya perawat yang mengantarkan langsung kepada pasien.

Tetapi, selang beberapa waktu ada kebijakan dari rumah sakit karena pada
waktu itu teman-teman perawat banyak yang jatuh sakit sehingga tenaga di
keperawatan kurang. Akhirnya pramusaji harus menyajikan makanan langsung ke
pasien Covid-19 di ruang isolasi. Instalasi Gizi juga sudah memiliki alat dishwashing
yang dilengkapi dengan air panas dengan suhu 800C, dan sudah dilengkapi dengan
chemical detergent sehingga tidak perlu menggunakan alat disposable lagi.

Pertama kali saya dipanggil untuk berdiskusi tentang kebijakan tersebut, saya
menangis, tidak bisa tidur satu malam, takut, berpikir sepanjang malam sampai
harus berdoa meminta petunjuk dari Allah. Rasa khawatir terus bergejolak karena
virus ini bukanlah main-main, tidak terlihat namun bisa menyebabkan kematian,
sehingga membuat dua kali lipat berpikir. Teman-teman di Instalasi Gizi khususnya
pramusaji juga menangis dan menolak kebijakan tersebut. Akan tetapi, berkat
kekuatan doa yang kami panjatkan, sepenuhnya berserah diri kepada Tuhan,

Pramusaji sedang mendistribusikan
makanan pasien di ruang isolasi
Mawar Merah Putih (MMP)

73INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

serta pendekatan kepada teman-teman dengan tak henti-hentinya bersosialisasi,
akhirnya pramusaji bersedia melayani sesuai dengan Standar Operasional Prosedur
(SOP) rumah sakit, untuk melayani pasien Covid-19 secara langsung.

Awal mula teman teman pramusaji menggunakan APD lengkap berupa hazmat,
mereka merasa tersiksa, ribet dan panas, ditunjang dengan mendorong beban
kereta makan yang berat serta bertepatan dengan bulan puasa, bahkan ada salah
satu dari petugas pramusaji yang pingsan ketika bekerja dengan menggunakan
hazmat.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ketakutan dan kecemasan teman-
teman baik pramusaji maupun ahli gizi sudah mulai hilang. Berkat semangat dan
kepedulian yang tinggi melihat kondisi pasien Covid-19 yang diisolasi tak ada
anggota keluarga yang menemani. Terlebih, pasien lanjut usia yang kesulitan
untuk berkegiatan sendirian. Hal inilah yang semakin membuat kami terenyuh dan
berdampak menjadi penyemangat kami dalam melaksanakan tugas.

Saat ini, teman-teman dari Instalasi Gizi sudah mulai terbiasa untuk menjalankan
tugas mereka dengan nyaman dan bahagia. Bahkan sekarang ahli gizi yang awalnya
dalam melaksanakan asuhan gizi hanya melalui media elektronik berupa WhatsApp,
sekarang sudah dilaksanakan dengan melakukan kunjungan langsung kepada pasien
Covid-19 yang ada di ruang isolasi. Mereka juga sudah familiar dengan pasien-
pasien di ruang isolasi, bahkan di antara mereka sudah tidak ada rasa canggung lagi
untuk menyuapi pasien serta membantu aktivitas kecil dari pasien. Dari beberapa
petugas pramusaji dan ahli gizi ada pula yang sering dinanti kedatangannya oleh
pasien Covid-19 karena sudah cukup akrab karena sering bertemu.

Untuk itu, saya mewakili teman teman petugas gizi menghimbau kepada
pembaca untuk tidak takut lagi memberikan pelayanan gizi kepada pasien Covid-19
secara langsung di ruang isolasi, asal kita tetap mematuhi protokol kesehatan
yang telah ditetapkan, menjaga kekebalan tubuh dan jangan lupa untuk selalu
berdoa agar senantiasa diberikan kesehatan oleh Tuhan. Saya juga merasa bahwa
bertugas melayani pelayanan gizi pasien Covid-19 di masa pandemi ini merupakan
pengalaman yang sangat berharga. Baru kali ini saya melihat kecemasan keluarga
saat saya hendak berangkat bekerja. Namun, saat ini keluarga saya sudah cukup
tenang setelah mengetahui berbagai fasilitas, kerja sama tim, dan perhatian
manajemen RSUD Sidoarjo kepada para petugas yang melayani pasien Covid-19
secara langsung. Saya pun optimis bahwa pandemi ini dapat segera berlalu.
“Tuhan pasti akan membantu kita dan mempunyai maksud baik mengapa kita
harus menghadapi ujian berupa adanya wabah Covid-19 ini”.

74INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Pramusaji sedang menyajikan
makanan kepada pasien Covid-19

Saat melakukan pelayanan kepada pasien Covid-19, terdapat beberapa cerita
unik yang dialami oleh petugas pramusaji ketika melakukan pelayanan kepada
pasien Covid-19 di ruang isolasi, seperti cerita-cerita berikut ini :

1. Pengalaman Pak Nanang

Petugas pramusaji bernama Nanang pada bulan September 2020 bertugas di
ruang isolasi Mawar Merah Putih Bawah. Saat itu, ada pasien anak berumur sekitar
dua tahun yang menderita Covid-19. Pasien tersebut sehari-harinya ditunggu oleh
ibunya yang post stroke pada tangan kanannya sehingga tidak bisa digerakkan,
jadi hanya tangan kirinya yang bisa dipakai untuk menyuapi, menggendong serta
memandikan anaknya.

Pada suatu hari ketika Pak Nanang bertugas, pasien tersebut menangis
minta keluar ruangan dan tanpa diduga anak tersebut malah dicubit oleh ibunya,
sehingga menangisnya semakin keras. Sambil menyajikan makanan, Pak Nanang
mencoba untuk berkomunikasi dengan ibunya. Ternyata ibunya bercerita bahwa
tangan kanannya sudah tidak berfungsi dan ibu tersebut sudah kelelahan untuk
menggendong dan mondar mandir ke taman. Dan karena kelelahan, makanan yang
sudah disajikan pun tidak disuapkan ke anaknya, justru makanan tersebut dibuat
mainan oleh anak tersebut.

Pak Nanang terharu melihat kondisi tersebut. Akhirnya Pak Nanang berkoordinasi
dengan ahli gizi ruang MMP dan petugas produksi. Oleh pihak produksi makanan

75INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

untuk anak tersebut dicetak dengan karakter boneka kelinci. Ketika bertugas pada
hari berikutnya, anak tersebut dibelikan mainan berupa pistol pistolan oleh Pak
Nanang dengan harapam agar pasien tersebut tidak rewel dan bisa anteng sehingga
tidak membuat ibunya kelelahan. Alhamdulillah setiap Pak Nanang bertugas di ruang
Mawar Merah Putih, ia melihat anak tersebut sudah anteng dan selalu membunyikan
mainan tersebut. Anak tersebut juga sudah mau menghabiskan makanannya sambil
didongengi ibunya tentang kelinci, karakter pada makanan tersebut. Tanpa diduga,
bunyi mainan tersebut menimbulkan pertanyaan pada pasien lansia yang berada di
sebelah kamarnya, karena pasien di sebelahnya menganggap bunyi tersebut adalah
bunyi sirine ambulance. Pasien sebelah bertanya kepada Pak Nanang, kenapa setiap
hari kok di ruangan ini ada bunyi ambulance?? Karena memang suaranya tiuung…
tiuung….mirip sirine ambulan hahahahaha …….. Selang tiga hari, pasien anak
tersebut dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang….... Betapa bahagianya Pak
Nanang dengan adanya kabar tersebut…..

2. Pengalaman Bu Wiwin

Petugas pramusaji bernama Wiwin pada bulan Februari 2021 bertugas di ruang
isolasi Mawar Merah Putih Bawah. Di sana, ada pasien lansia sehari harinya terlihat
murung dan seringkali terlihat sedih

Pada suatu hari ketika Bu Wiwin bertugas untuk mengambil alat makan, ia
melihat makanan pasien tersebut masih utuh tidak tersentuh sama sekali. Melihat
kondisi seperti itu, Bu Wiwin berusaha untuk mengajak berkomunikasi pasien
tersebut. Setelah terjadi percakapan, pasien mengeluh tidak bisa tidur dan tidak
ada nafsu makan karena merindukan anak perempuannya dan juga rumahnya.

Bu Wiwin pun memutuskan untuk memberikan motivasi kepada lansia tersebut
agar bersemangat untuk sembuh. Akhirnya,pasien tersebut mau menghabiskan
makanannya dengan disuapi Bu Wiwin dan setelah disuapi pasien tersebut memberi
syarat apabila ia menghabiskan makanannya maka harus Bu Wiwin haru mengelus-
elus keningnya agar bisa tidur. Bu Wiwin pun bersedia memenuhi permintaan pasien
tersebut dan setelah menghabiskan makanannya, Bu Wiwin langsung mengelus-
elus keninganya sebentar dan langsung pasien pun tertidur pulas. Tak disangka,
Bu Wiwin ketakutan karena pasien tersebut tidak berekspresi lagi. Ia kemudian
memanggil perawat dan oleh perawat dicek ternyata pasien tersebut tertidur
pulas. Akhirnya setiap Bu Wiwin bertugas, ibu tersebut hapal dengan Bu Wiwin
dan selalu menagih untuk disuapi serta dielus-elus keningnya sampai ia tertidur
hahahahaha……. •

76INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : dr. Evi Diana Fitri, Sp.F
Jabatan : Kepala Instalasi Kedokteran dan
Medikolegal (IKFM)
Usia : 49 Tahun
Masa Kerja : 5 Tahun

Tantangan dalam Perawatan
Jenazah di RSUD Sidoarjo

Pandemi sudah berjalan satu tahun lebih, banyak yang berubah dalam kehidupan

manusia dikarenakan Covid-19. Seluruh negara di dunia hampir tidak ada yang luput
dari pandemi ini. Tidak terkecuali Indonesia.

Banyak korban berjatuhan baik dari masyarakat biasa, pejabat maupun tenaga
kesehatan. Di RSUD Sidoarjo khususnya, sejak kasus kematian pertama pada tanggal
27 Maret 2020 an. Tn. HP (43 tahun) yang kemudian dimakamkan di Madiun, kami
dari Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM) RSUD Sidoarjo sudah
mempersiapkan banyak hal, terutama dari sisi kesiapan petugas pemulasaran
jenazah dan supir mobil jenazah. Sejak awal, kami menyadari di Instalasi ini, IKFM,
sangat berpotensi terjadi kekacauan maupun ketidakpuasan dari keluarga korban
Covid-19 ini, dikarenakan keberatan anggota keluarganya didiagnosa meninggal
akibat penyakit yang di anggap sebagai aib ini. Mengapa dianggap aib? Karena
terjadi beberapa kasus keluarga korban baik yang terinfeksi maupun terinfeksi
lalu meninggal mendapat perlakuan tidak biasa yang kurang menyenangkan dari
masyarakat sekitar. Mereka dikucilkan, bahkan tidak jarang pada awal-awal kasus
kematian merebak, masyarakat dan keluarga menolak jenazah dimakamkan di
tempat pemakaman sekitar rumah korban. Hal ini tentu membuat keluarga sangat
berduka, belum lagi keluarga tidak diperbolehkan melakukan upacara pelepasan
jenazah seperti lazimnya kebiasaan masyarakat selama ini. Sejak pasien Covid-19

77INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

dinyatakan meninggal, jenazah langsung diserahkan ke petugas kamar jenazah
untuk kemudian dirawat sesuai protokoler kesehatan yang sudah tercantum di
Permenkes, yang di kemudian hari sempat beberapa kali mengalami revisi. Mulai
dari memandikan sampai mensholatkan jenazah (bagi jenazah Muslim) dilakukan
oleh petugas IKFM, lalu mengantarnya ke peristirahatan yang terakhir juga dilakukan
oleh petugas supir mobil jenazah dari IKFM.

Beberapa kasus sempat terjadi di instalasi kami. Petugas IKFM melakukan
penggalian makam karena warga dan petugas pemakaman tidak bersedia
melakukannya. Selain itu, hal terberat yang kami rasakan selama satu tahun ini
adalah dimana pada sekitar bulan Juni sampai dengan bulan September 2020,
beberapa petugas kami dinyatakan positif Covid-19. Hal ini tentu mengurangi jumlah
SDM kami yang akhirnya berdampak kepada jadwal jaga dan pelayanan. Padahal,
pada bulan tersebut, angka kematian akibat Covid-19 sedang pada puncaknya.
Kami benar-benar sampai kewalahan saat itu. Hal itu juga menyebabkan beberapa
petugas harus jaga tanpa mengenal jadwal untuk menutupi teman jaga lain yang
sedang menjalani isolasi mandiri. Meski beberapa petugas saat itu sudah dalam
kondisi kesehatan yang juga kurang baik, tetapi tetap melaksanakan tugas sebagai
tanggung jawab dalam merawat jenazah Covid-19 maupun jenazah non Covid-19
lainnya.

Tidak jarang pula kami mendapat kata-kata dan perlakuan yang kurang
menyenangkan dari pihak keluarga. Di daerah lain tidak jarang kami mendengar
kabar bahwa terjadi perampasan jenazah maupun penghancuran kamar jenazah
oleh keluarga, tapi di IKFM RSUD Sidoarjo sejauh ini kami tidak pernah mengalami hal
yang demikian. Sejak awal, kami mengedepankan komunikasi dan edukasi kepada
keluarga dan masyarakat luas. Namun tetap saja kadang kami menerima anggapan
yang tidak benar. Saat itu sempat keluarga yang kemudian menggali makam kembali
setelah jenazah dimakamkan karena merasa jenazah tidak dirawat dengan baik.
Padahal, kami melakukan perawatan jenazah dengan tetap memandikan jenazah
sesuai dengan tata cara pada agama yang dianutnya.

Sudah genap satu tahun yang lalu sejak kematian jenazah Covid-19 pertama di
RSUD Sidoarjo dan kami sudah merawat lebih dari 1000 jenazah Covid-19. Semoga
pandemi ini segera berakhir dan kita bisa kembali beraktifitas seperti sediakala •

78INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : dr. Prima Dessy Kusuma
Jabatan : Kasi. Pelayanan Medis Rawat
Jalan & Khusus
Usia : 38 Tahun
Masa Kerja : 12 Tahun

People Behind The Desk

Akhir Desember 2019, berita tentang penemuan virus baru penyebab pneumonia

di Wuhan, China mulai lalu Lalang di pemberitaan media. Berbagai negara segera
beraksi mengevakuasi warga negaranya yang sedang di China, termasuk Indonesia
juga. Terlintas di angan saya saat itu, ehm…kira-kira sampaikah virus itu ke Indonesia.

Medio Januari 2020 masih terpatri di ingatan saya, saat itu Ketua tim siaga
bencana RSUD kontak saya untuk “prepare for a battle” di IGD untuk virus ini karena
RSUD Sidoarjo dekat dengan Bandara Juanda sebagai pintu gerbang masuknya
orang dari luar negeri. Berbagai skenario kami buat mulai dari tempat penerimaan
pasien di IGD sampai Standar Prosedur Operasional yang terkait dengan kasus
tersebut. Akhir Januari tiba-tiba kami kedatangan TKW asal Hongkong yang
diduga membawa “tamu” tersebut. Heboh…Yes… kalau dari sisi kesehatan, kami
sudah sedikit memiliki pengalaman dari persiapan kasus flu burung, tapi dari sisi
pemberitaan wow…amazing. Banyak wartawan dan kru stasiun TV yang meliput
sampai tim Humas kami bekerja dengan ekstra. Alhamdulillah hasil swab TKW
tersebut negatif….fyuh. Setelah kasus TKW tersebut The Journey is Begin. Pada 11
Februari 2020, WHO resmi memberi nama virus tersebut COVID-19. 2 Maret 2020,
Covid-19 telah mendarat di Indonesia. Dan akhirnya 15 Maret 2020 Covid-19 telah
menancapkan mahkotanya di Sidoarjo.

79INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Penularan yang mudah dari Covid-19 membuat pelacakan sumber penularan
tersebut harus segera dilakukan untuk memutus rantai penularan Covid-19. Laporan
dari berbagai fasilitas kesehatan akan adanya orang yang diduga maupun yang telah
terkonfirmasi COVID-19 harus segera disampaikan kepada Dinas Kesehatan agar
tim tracing Dinas Kesehatan segera beraksi. Saya dan tim pelayanan medis ditunjuk
oleh Bapak Wakil Direktur Pelayanan untuk membuat laporan tersebut. Laporan
dari tingkat Kementerian Kesehatan melalui RS online, tingkat provinsi melalui
Covid Jatim, tingkat kabupaten melalui email harus kami laporkan setiap hari, setiap
pasien, setiap detail data yang diperlukan. Belum lagi permintaan laporan insidentil
dari Dinas Kesehatan Provinsi, Polres, Kodim dengan berbagai format laporan
yang berbeda-beda dan sempat membuat tim kami kelabakan untuk memenuhi
permintaan laporan tersebut.

11 Maret 2020, WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global.
Peningkatan kasus di berbagai negara pun mulai tercatat. Demikian juga di RSUD
Sidoarjo, awalnya cukup 2 orang untuk menyelesaikan laporan tersebut tetapi
karena peningkatan jumlah kasus dan jenis laporan sampai saat ini My Super Team
terdiri dari 6 orang. Ketika mengerjakan laporan tersebut tim kami bisa 6 jam duduk
terus untuk menginput data seluruh pasien yang kami rawat tersebut agar kami
tepat waktu melaporkan. Bahkan pada hari libur pun kami juga dituntut untuk
melaporkan data tersebut. Laporan RS online diakses oleh seluruh rumah sakit di
Indonesia sehingga membutuhkan kualitas internet yang bagus. Tidak jarang ketika
hari libur tim laporan harus nongkrong di warung kopi dekat rumah agar tetap bisa

80INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

menyelesaikan laporan. Di saat pengunjung warkop lain nongkrong sambil ngobrol
atau main game, tim pelaporan kami nongkrong sambil mengupdate laporan.
Ketika kami terlambat mengupdate laporan, nama RSUD Sidoarjo dapat dipastikan
terpampang di Daftar Hitam rumah sakit belum update laporan yang bisa diketahui
seantero RS di Jawa Timur.

Banyak orang beranggapan laporan hanyalah sebuah pelengkap saja dalam
penanganan COVID-19 ini. Tetapi data bisa berbicara, data merupakan kumpulan
fakta yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan dan dasar
perencanaan untuk penanganan pandemi Covid-19 ini. Hal sederhana yang secara
mudah bisa kami simpulkan di awal pandemi dari laporan yang kami input salah
satunya adanya cluster keluarga dalam penularan Covid-19 ini, termasuk juga
cluster tetangga apabila kami melihat dari alamat pasien. Banyak hal menarik yang
bisa kita lihat dari data tersebut seperti pasien COVID rawat inap paling banyak
usia diatas 55 tahun, kecamatan “X” dan “Y” di Sidoarjo banyak pasien Covid-19,
Komorbid Hipertensi dan Diabetes ataupun Hiperglikemi paling banyak pada pasien
Covid-19 derajat berat dan kritis. Data tersebut bisa dijadikan sebagai dasar dalam
penanggulangan wabah ini salah satunya fokus tracing dinkes di kecamatan X serta
penentuan bahwa pasien lansia dan komorbid merupakan salah satu prioritas
penerima vaksin Covid-19.

81INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Untuk mempermudah koordinasi, Satgas Covid-19 Provinsi Jatim memberikan
bantuan handphone. Lewat hp tersebut, Satgas Covid-19 Provinsi Jatim dan
seluruh RS Se-Jawa Timur berkoordinasi melalui Whatsapp grup. Kami melaporkan
ketersediaan tempat tidur isolasi Covid-19 di RSUD Sidoarjo melalui grup tersebut,
dan awal sebelum terbentuknya aplikasi COVIDHUB melalui grup tersebut kami
menanyakan ketersediaan ICU dan ventilator antar rumah sakit di Jawa Timur.

Nomor hp tersebut juga dapat diakses oleh masyarakat umum sebagai contact
person yang dipampang di website COVIDJATIM. Berbagai cerita suka duka kami
dapatkan melalui HP ini. Sering kami harus mencari alamat domisili pasien agar
tim tracing Dinas Kesehatan dapat segera melakukan tugasnya karena pasien tidak
tinggal sesuai dengan alamat di KTP. Ternyata hal tersebut tidak mudah, tidak jarang
pasien enggan memberikan alamat domisili karena mereka takut akan dikucilkan
oleh masyarakat sekitar.

Selain itu, juga kami sering menerima curahan hati pasien yang telah pulang
setelah dirawat karena positif Covid-19. Mulai dari masih adanya berbagai keluhan
sesak, nafas belum plong, cemas yang belum hilang sampai keinginan bunuh diri
pasien. Beberapa kali di tengah malam kami ditelepon pasien sekedar bercerita
kalau tidak bisa tidur, cemas, berdebar-debar, masih dikucilkan oleh keluarga yang
membuat mereka ingin mengakhiri hidupnya. Bahkan ada yang sampai marah
karena dia belum bisa bekerja padahal dia menanggung biaya hidup keluarga serta
biaya kuliah adiknya. Tapi banyak juga lewat HP tersebut kami menerima ucapan
terima kasih karena telah merawat mereka.

Saat ini Covid-19 telah berulang tahun yang pertama, banyak orang termasuk
saya mendoakan semoga tidak panjang umur. Kami tim pelaporan saja sudah
lelah melaporkan, apalagi tenaga kesehatan yang langsung kontak dengan pasien
langsung. Saya yakin semua orang di luar sana juga sudah lelah karena Covid-19
mempengaruhi semua aspek kehidupan kita. Boleh LELAH tapi jangan LENGAH.
Protokol kesehatannya harus tetap diterapkan dengan baik. COVID…GO AWAY…..
NEVER COME AGAIN ANOTHER DAY. Salam sehat untuk kita semua •

82INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama lengkap : Hendra Ahmad, SH
Jabatan : Staf Subbagian Hukum & Humas
Usia : 30 Tahun
Masa kerja : 8 Tahun

Sepenggal Cerita RSUD Sidoarjo
Dianggap Mengcovidkan Pasien

Penetapan pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) oleh pemerintah

pada pertengahan bulan April 2020 merupakan awal dari kesiapsiagaan tenaga
kesehatan dalam berjuang menghadapi pandemi Covid-19.

Dalam perjuangan menghadapi pandemi ini, RSUD Sidoarjo sebagai salah satu
garda terdepan melaksanakan beberapa kegiatan awal dalam rangka kesiapsiagaan
mencegah penularan serta menangani pasien Covid-19, meliputi :
1. Sosilisasi terpadu oleh Komite PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) pada

masa Pandemi Covid-19
2. Pembentukan Tim Penanganan Covid-19 dan Tim Petugas Penegak Disiplin

Protokol Kesehatan yang disebut GASPOL
3. Peniadaan jam kunjung bagi keluarga pasien rawat inap dan pembatasan

penunggu pasien maksimal satu orang
4. Sosialisasi dan publikasi 3M secara menyeluruh di lingkungan RS
5. Penerapan APD sesuai dengan ketentuan kepada seluruh pegawai
6. Penempatan bilik disinfektan di semua titik pintu masuk serta penambahan

tempat cuci tangan
7. Penerapan sistem pengambilan karcis parkir secara otomatis
8. Kegiatan sterilisasi rutin pada sarana prasarana pelayanan serta perkantoran
9. Pembuatan rambu-rambu/garis pembatas pada setiap ruang pelayanan dan lift
10. Rekonstruksi susunan shift / jam masuk dan pulang pegawai
11. Pembuatan pembatas meja pelayanan untuk menjaga jarak

83INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Dari beberapa ketentuan atau kebijakan RSUD diatas, ada berapa peristiwa
yang benar-benar membuat semangat nakes turun dalam perjuangan berjuang
menghadapi pandemi ini. Mulai dari somasi dan tuntutan dari keluarga pasien
karena adanya perubahan ketentuan yang biasa dan menjadi ekstra luar biasa.

Beberapa peristiwa tersebut diantaranya datang dari pasien positif Covid-19
yang akan melaksanakan persalinan dan kedua yaitu adanya somasi dari seseorang
yang mengaku sebagai ketua dari Lembaga Sosial Masyarakat (LSM).

1. RSUD Sidoarjo Dianggap Mengcovidkan Pasien

Ada sedikit cerita yang menegangkan dalam hal ini. Cerita bermula pada
pertengahan Bulan Mei Tahun 2020, terdapat sepasang suami istri yang
mempercayakan persalinan anaknya di RSUD. Pasangan muda tersebut
merupakan keluarga yang berstatus positif Covid-19. Ny. D adalah ibu yang
akan melahirkan buah hatinya yang didamba-dambakan sejak sembilan bulan
sebelumnya dengan wajah sedikit pucat dan tatapan mata yang begitu bahagia.
Saat itu suasana langit begitu mendung, seorang ayah sedang memeluk
putrinya yang berusia tujuh tahunan menunggu di area parkir RSUD. Sang
ayah merasakan kekhawatiran sebagai seorang suami yang sedang menantikan
persalinan istrinya di Ruang MNE IGD RSUD. Pada hari tersebut, sambil
menantikan kelahiran anaknya, ia melakukan perbincangan secara virtual
melalui hp bersama Ny. D dan juga keluarga, karena saat itu seluruh keluarga
Ny. D dinyatakan positif Covid-19 dan melakukan isolasi mandiri dirumah. Ny. D
melahirkan di ruang persalinan dengan tindakan sectio caesarea karena kondisi
ibu yang lemah. Ny. D didampingi dokter dan perawat yang memakai APD level
3 sesuai SPO penanganan pasien Covid-19. Bayi Ny D. lahir secara prematur dan
langsung dirawat di ruang NICU RSUD. Setelah beberapa hari dirawat, kondisi
bayi Ny. D memburuk dan dinyatakan meninggal setelah dilakukan perawatan.

Mendengar kabar duka bahwa bayi Ny. D meninggal dunia, sang suami
merasakan amarah karena telah menanti buah hatinya untuk dapat dibawa
pulang namun berujung kekecewaan. Ia menganggap protokol yang diterapkan
RSUD tidak sesuai. Ia tidak terima dan menganggap tindakan yang dilakukan
oleh petugas tidak sesuai. Ia berpendapat bahwa tindakan persalinan yang
dilakukan oleh petugas saat itu tidak mendapatkan persetujuan dari keluarga.
Ia merasa buah hatinya meninggal tanpa alasan yang jelas dan ia tidak yakin
jika bayinya meninggal karena Covid-19. Sang ayah melakukan tindakan dengan
mengadu ke Subbagian Hukum dan Humas RSUD Sidoarjo dan menyatakan
tindakan yang dilakukan oleh RSUD tidak sesuai .

84INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Dengan adanya pengaduan dari suami Ny. D, Wakil Direktur Pelayanan
bersama Subbagian Hukum dan Humas melakukan tindakan responsif yakni
berkoordinasi dengan petugas medis yang menangani persalinan Ny. D. RSUD
pun mengadakan pertemuan untuk melakukan klarifikasi kepada Ny. D, suami
beserta keluarganya. Pertemuan yang dipimpin oleh Direktur RSUD Sidoarjo
ini melibatkan jajaran manajemen RSUD, keluarga Ny. D serta para nakes yang
terlibat. Pertemuan tersebut berlangsung menegangkan. Sang suami dengan
pandangan penuh amarah atas tindakan RSUD dan Ny. D dengan wajah lesu
tidak terima, mereka meluapkan emosinya di hadapan Direktur RSUD Sidoarjo.
Menanggapi luapan emosi dari pasangan suami istri tersebut, Direktur
menjelaskan bahwa RSUD Sidoarjo sudah berusaha keras dalam menyelamatkan
nyawa ibu dan bayi. Tim nakes pun juga berjuang sekuat tenaga mulai proses
persalinan hingga masa perawatan ibu dan bayi. RSUD Sidoarjo tidak pernah
ada niat untuk mencelakai pasien dan justru memperjuangkan keselamatan
nyawa pasien.

Dengan mendengarkan penjelasan Direktur, Ny. D masih tetap menyimpan
amarah dengan tatapan mata yang suram. Sayangnya, dalam pertemuan
tersebut tidak menemukan titik temu. keluarga Ny. D tetap bersikeras
menganggap tindakan yang dilakukan nakes saat persalinan tidak melalui
persetujuan pasien. Ia meyakini bahwa kematian bayinya bukan karena
terpapar Covid-19 dan justru menganggap RSUD mengcovidkan pasien.

Sela beberapa hari dari pertemuan tersebut, Subbagian Hukum dan Humas
melakukan mediasi dengan menghubungi suami Ny. D. Kami melakukan
pendekatan secara kekeluargaan dan memberanikan diri datang kerumah Ny.
D. Dalam mediasi melalui telepon, terdapat beberapa perbincangan dalam
mediasi yang membuat kami tercengang dimana keluarga pasien menyayangkan
tindakan yang dilakukan RSUD karena dianggap tidak sesuai.

Hasil dari perbincangan kami melalui telepon yakni kami diberi kesempatan
untuk datang ke rumah keluarga di Sidoarjo yang berbatasan dengan Surabaya.
Di sana, kami disambut dengan sangat baik dan ramah. Dengan sikap bijak dan
profesional kami melakukan pendekatan hangat dengan keluarga yang dimana
dalam pertemuan di rumah tersebut dihadiri juga oleh paman dari Ny D. Kami
melakukan pembahasan terkait kronologi yang dialami keluarga. Saat itu,
Kepala Subbagian Hukum dan Humas mengatakan “Bapak ibu, kami perwakilan
dari RSUD Sidoarjo memohon maaf jika tindakan yang kami lakukan menurut
bapak ibu tidak sesuai. Kami melakukan tindakan penyelamatan ibu dan bayi

85INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

sudah sesuai dengan standar dan ketentuan yang belaku. Keikhlasan hati dalam
melakukan tindakan yang dilakukan para nakes kami itu benar-benar hanya
semata-mata demi keselamatan ibu dan bayi.” Hasil dari mediasi secara tatap
muka ini pun tidak sia-sia pendekatan dan membuahkan hasil. Hasilnya yaitu
keluarga berharap agar mendapatkan pelayanan yang baik dan ramah serta
ingin pemantauan kesehatan terhadap Ny. D. Keluarga juga menginginkan agar
Ny. D ditangani oleh dokter khusus agar dapat Hamil kembali.

2. Miskomunikasi Sebabkan LSM Layangkan Somasi

Adanya pandemi Covid-19 merupakan awal dari perubahan perilaku dan
kebiasaan yang ada di masyarakat. Cerita ini bermula saat RSUD Sidoarjo
mendapat somasi yang dilayangkan oleh LSM dimana somasi tersebut berisi
pengaduan tentang pemakaman jenazah Covid-19 yang dilakukan oleh RSUD
dan dinilai tidak sesuai dengan protokol kesehatan.

Dengan adanya pengaduan tersebut, kami dari Subbagian Hukum dan Humas
dengan cepat tanggap melakukan koordinasi. Koordinasi tersebut melibatkan
jajaran direksi dan manajemen RSUD, Dinas Kesehatan, Satuan Gugus Tugas
(Satgas) Covid-19 dari kecamatan serta bidan desa. Dalam kebijakan Pemerintah
Daerah, satuan tugas dibentuk pada masing-masing wilayah dan mempunyai
tugas serta wewenang masing-masing.

Setelah pengaduan yang disampaikan ketua LSM tersebut. Manajemen RSUD
mengagendakan rapat pertemuan koordinasi bersama Satgas Covid-19 dari
desa serta menghadirkan pula ketua LSM tersebut. Dalam pertemuan itu,
semua tamu undangan hadir lengkap tanpa ada perwakilan. Saat itu, masing-
masing undangan melakukan klarifikasi dan menjelaskan kronologi peristiwa
yang diadukan. Peristiwa ini dimulai dari meninggalnya pasien positif Covid-19
dengan kondisi telah melahirkan seorang bayi. Ketua LSM merupakan keluarga
dari pasien. Ia melayangkan somasi karena merasa ada yang mengganjal
dengan prosesi atau prosedur pemakaman jenazah Covid-19 yang sebagaimana
disebut. Dalam pembahasan panjang lebar yang di bahas di ruang pertemuan
RSUD, Petugas dari RSUD Sidoarjo dianggap lalai dalam tugas pemakaman.

Pada pertemuan tersebut, Satgas Covid-19 dari desa menjelaskan dan juga
mengklarifikasi bahwa dalam peristiwa ini ada kekeliruan atau miskomunikasi
antara keluarga pasien dan satgas desa.

Saat itu keluarga pasien yang meninggal saat itu tidak memberikan laporan
kepada Satgas Desa bahwa anggota keluarganya meninggal karena Covid-19.

86INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Padahal, pada kondisi pandemi Satgas Pemerintah sudah mensosialisasikan
kepada seluruh warga dimulai dari kalang perkotaan hingga desa terpencil. Di
sini, kami dari pihak RSUD pun menjelaskan bahwa RSUD hanya bertugas dalam
pengantaran jenazah ke tempat pemakaman, tidak termasuk pada prosesi
pemakamannya.
Dari hasil pertemuan tersebut, seluruh audiensi mengklarifikasi bahwa ada
miskomunikasi antara Satgas Covid-19 Desa dan Keluarga. Masalah pun
terselesaikan dengan pemberian penjelasan bahwa sebagai instansi yang
melaksanakan pelayanan kesehatan, RSUD bukan suatu instansi yang hanya
melakukan itu. Kami dalam memberikan pelayanan dengan ketulusan hati
kepada pasien. Sesuai dengan moto kami yaitu ‘Kesembuhan anda adalah
kebahagian kami’. Jadi, sebagai timbal balik dari peristiwa tersebut, kami
membantu keluarga pasien yang meninggal tersebut dengan menguruskan
seluruh berkas kependudukan dan kematian di desa serta di dinas urusan
kependudukan •

87INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : dr. Inok Rochbita Harwiduri, Sp.KFR
Jabatan : Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran
Fisik & Rehabilitasi
Usia : 40 Tahun
Masa Kerja : 4 Tahun

Peran Rehabilitasi Medik
Dalam Penanganan
Pasien Covid-19

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama sekitar satu tahun dan dilaporkan

pertama kali pada 31 Desember 2019 di Wuhan Tiongkok. Covid-19 merupakan
sejenis penyakit infeksi virus yang disebabkan jenis Coronavirus baru yaitu Sars-
Cov-2. Infeksi virus ini umumnya menyerang sistem pernapasan, tetapi dapat
menyerang organ-organ lainnya seperti ginjal, usus, jantung, pembuluh darah, dan
organ lainnya. Virus ini sangat menular dan seluruh rentang usia dapat terjangkit
virus ini.

Gejala infeksi virus Covid-19 bisa bermacam-macam variasi, mulai dari yang
ringan hingga berat. Pada kasus ringan (sekitar 80% kasus) dapat bermanifestasi
tanpa gejala sama sekali atau hanya melibatkan gejala infeksi saluran pernapasan
atas. Pada kasus yang berat akan menyebabkan kerusakan yang luas pada organ
paru-paru sehingga menyebabkan gagal napas akut sampai pada kematian. Gejala
infeksi Covid-19 dengan pneumonia (radang paru) berat diantaranya adalah demam
tinggi, sesak napas berat, nyeri dada, dan dapat berujung pada kondisi gagal napas.

Rehabilitasi medik berperan dalam penanganan infeksi Covid-19, mulai dari
pasien tanpa atau dengan gejala ringan sampai gejala berat yang disertai dengan
gangguan napas dan atau gangguan mobilisasi, atau pemulihan pasca Covid-19.
Gangguan gerak dan mobilisasi bisa terjadi pada pasien Covid-19 dengan gejala

88INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

sedang sampai berat sebagai akibat dari beratnya gejala pneumonia. Pneumonia
yang berat menyebabkan asupan oksigen tubuh menjadi terganggu. Oksigen sendiri
dibutuhkan otot-otot tubuh agar bisa bekerja dan berkontraksi untuk menggerakkan
sendi-sendi tubuh. Kurangnya pasokan oksigen dalam tubuh akan berakibat tubuh
menjadi lemah, gerak dan mobilisasi tubuh terganggu karena adanya pneumonia
berat yang disebabkan Covid-19. Gangguan mobilisasi ini nantinya akan berdampak
pada efek imobilisasi lama, yang akan memperberat gejala yang sudah ada,
mengganggu fungsi organ-organ lain dan bisa menimbulkan infeksi lain karena tirah
baring lama.

1. Program Rehabilitasi Medik pada Fase Perawatan Akut
(Rawat Inap)

Pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di ICU (Intensive Care Unit)
selama berhari-hari bisa beresiko mengalami gangguan fungsi. Pasien tersebut
akan mengalami sindroma dekondisi, yaitu sekumpulan gejala yang menurunkan
kapasitas fungsional akibat imobilisasi/lama berbaring di tempat tidur. Gejala yang
ditemukan diantaranya gangguan dalam bersihan jalan napas, penurunan massa
atau ukuran otot, osteoporosis, kemampuan pompa jantung yang menurun, luka

Rekomendasi
posisi,

mobilisasi dan
latihan napas

untuk
meningkat-
kan kinerja
paru pasien

Covid-19

89INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

pada bagian kulit yang mengalami penekanan dan masih banyak fungsi lain yang
terganggu. Peran rehabilitasi medik disini adalah mencegah terjadinya komplikasi
akibat tirah baring lama, pernapasan yang lebih optimal dan meningkatkan
kapasitas fungsional atau kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sesuai
dengan potensi yang masih dimiliki oleh pasien.

Rehabilitasi medik pada Covid-19 merupakan tindakan terapi suportif
untuk pencegahan atau mengatasi perburukan gejala Covid-19. Tujuan dari
tindakan rehabilitasi medik ini untuk membantu mengatasi gejala, mempercepat
penyembuhan, dan mencegah dekondisi (berkurangnya fungsi tubuh akibat
kurangnya aktivitas). Tindakan rehabilitasi medik salah satunya berupa latihan fisik
dengan tingkat intensitas ringan-sedang, sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.
Bentuk latihan antara lain kontrol napas, latihan relaksasi, latihan pernapasan
dalam, latihan pengembangan dada, postural drainase, latihan batuk efektif,
latihan luas gerak sendi, dan latihan mobilisasi bertahap. Mobilisasi sedini mungkin
sangat dibutuhkan pasien untuk perbaikan kondisi paru-paru, tentunya disesuaikan
dengan kondisi pasien. Pada kasus pasien yang mendapat perawatan di ICU dan
harus menggunakan ventilator, program rehabilitasi dapat berupa positioning untuk
memperbaiki oksigenasi ke jaringan, terapi fisik dada untuk membantu bersihan
jalan napas, latihan luas gerak sendi aktif/pasif untuk mencegah kekakuan sendi
dan mencegah penurunan massa otot. Mobilisasi bisa dilakukan secara bertahap,
pasif atau aktif, dengan memperhatikan kondisi hemodinamik pasien. Mobilisasi
sedini mungkin akan membantu pasien lekas pulih dari gejala dan menghindari
timbulnya penyakit lainnya.

Peresepan latihan fisik disesuaikan dengan kondisi dan gejala yang dialami
pasien. Pasien dengan gejala ringan umumnya akan sembuh sempurna. Program
rehabilitasi pada pasien yang stabil dengan gejala ringan, dapat diberikan edukasi
untuk latihan mandiri dan aktif, seperti melakukan latihan pernapasan, latihan
pengembangan rongga dada, latihan batuk efektif, latihan endurance/ketahanan
otot dan kardiorespirasi. Seluruh latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan
kapasitas fungsional pasien dan mencegah pasien jatuh pada perburukan kondisi
akibat infeksi Covid-19. Peningkatan kapasitas fungsional akan membantu pasien
dapat berfungsi seperti kondisi sebelum sakit dan kembali berpartisipasi dalam
kehidupan di keluarga dan masyarakat.

Pada pasien dengan gejala berat seringkali sembuh dengan meninggalkan
kecacatan struktur paru-paru dan penurunan fungsi paru. Beberapa gejala yang
masih tersisa diantaranya adalah masih sering mengalami sesak napas, batuk,

90INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

dada berdebar, nyeri sendi atau otot dan cepat lelah. Berbagai gejala fisik tersebut
disebabkan oleh sisa infeksi Covid-19 berupa jaringan parut (fibrosis) pada area
paru-paru pasien. Program latihan rehabilitasi sangat diperlukan agar gejala sisa
infeksi Covid-19 bisa hilang sepenuhnya sehingga pasien dapat beraktivitas seperti
sediakala. Program rehabilitasi bertujuan untuk menguatkan otot-otot pernapasan
serta latihan ketahanan untuk meningkatkan stamina dan kebugaran tubuh. Latihan
pemulihan pasca serangan Covid-19 dengan gejala sedang sampai berat juga
diperlukan karena dapat membantu pasien mencapai kondisi fungsi tubuh secara
optimal.

2. Program Rehabilitasi Medik Paska Perawatan atau di Rumah

Rehabilitasi paska Covid-19 dilakukan secara bertahap, terencana dan teratur
sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing pasien. Beberapa pemeriksaan yang
dilakukan pada pasien paska Covid-19 diantaranya menilai kebugaran jantung, paru-
paru, otot, keseimbangan, gangguan fungsi dan pernapasan. Setelah dilakukan
pemeriksaan, dokter akan menentukan beberapa terapi latihan dengan modalitas
penunjang yang mungkin dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi pernapasan,
kebugaran dan fungsi tubuh pasien. Latihan dilakukan bersama tim rehabilitasi
medik dan diharapkan pasien bisa melanjutkan latihan di rumah dengan kontrol dan
petunjuk dari dokter ataupun terapis. Kepatuhan pasien dalam menjalani proses
rehabilitasi dapat mengembalikan kondisi pasien menjadi sehat dan produktif
melakukan aktivitas sehari-hari.

Edukasi kepada pasien pasca infeksi Covid-19 sangat penting dilakukan untuk
mempercepat pemulihan dan mencegah perburukan kondisi yang mungkin bisa

Posisi prone atau tidur tengkurap (Gbr. 2)

91INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

terjadi. Beberapa posisi bisa dilakukan di rumah untuk meningkatkan kinerja paru
pasien Covid-19, diantaranya posisi tengkurap (prone), duduk bersandar, duduk
disamping tempat tidur atau berjalan di sekitar tempat tidur sesuai tahapan
kemampuan pasien. Hindari berbaring lama di tempat tidur dan lakukan mobilisasi
sebanyak mungkin sesuai toleransi (gambar 2). Beberapa latihan dan olahraga dapat
dilakukan di rumah dengan panduan dokter dan terapis. Latihan bisa dilakukan
secara bertahap, di ruangan yang nyaman (tidak terlalu panas atau dingin), dan
pakaian yang nyaman dikenakan.

Lakukan pemanasan terlebih dahulu, dengan latihan napas, latihan
pengembangan rongga dada dan latihan luas gerak sendi/ peregangan seluruh

Latihan pernapasan dada (chest expansion exercise) Gbr. 3

Latihan pernapasan
dengan incentive
spirometry

(Gbr 4)

92INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

tubuh bila memungkinkan. Latihan bisa dilakukan dengan posisi berbaring, setengah
duduk, duduk atau berdiri sesuai kemampuan pasien, sebaiknya minimal pasien
posisi duduk bersandar atau duduk aktif. Latihan napas bisa didahului dengan
relaksasi bahu, dengan memutar bahu ke depan, bergantian ke belakang. Tarik
napas lewat hidung perlahan dan keluarkan lewat mulut perlahan dengan posisi
bibir berkerut seperti bersiul. Posisi punggung usahakan tidak membungkuk. Saat
latihan napas, bisa disertai dengan gerakan lengan ke atas saat menarik napas, dan
menurunkan lengan ke bawah saat menghembuskan napas perlahan melalui mulut
(Gambar 3). Latihan napas bisa juga dengan menggunakan insentif spirometri
(Gambar 4). Latihan peregangan dimulai dari leher, bahu, anggota gerak atas, dan
anggota gerak bawah. Latihan ini bisa dilakukan 2-3x/hari.

Setelah pemanasan, bisa dilanjutkan latihan endurance/kebugaran untuk
meningkatkan ketahanan tubuh pasien dan latihan penguatan (Gambar 5). Latihan
endurance bisa dilakukan dengan sepeda, sepeda statik, treadmill atau jalan kaki,
menyesuaikan kondisi pasien. Pada pasien yang belum mampu duduk dengan baik,
latihan endurance bisa dengan cara mengangkat benda ringan seperti gelas aqua
yang berisi air dan dilakukan secara berulang. Latihan endurance dilakukan dengan
lama durasi yang bertahap sesuai kemampuan pasien, bisa dimulai dengan dosis

Contoh latihan endurance/kebugaran dan latihan penguatan (Gbr. 5)

93INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Saturasi
oksigen dan
denyut nadi
(Gbr. 6)

durasi terbagi, 5-10 menit setiap latihan, bisa dilakukan sehari dua sampai tiga kali,
dengan peningkatan durasi bertahap bila tidak ada keluhan pada latihan sebelumnya.
Target latihan endurance inti diharapkan mencapai 20-30 menit dan bisa dilakukan
sehari sekali bila sudah mencapai durasi tersebut, dengan frekuensi 3-5x/minggu.
Setelah latihan inti, pasien melakukan pendinginan untuk menyesuaikan kondisi
tubuh seperti semula.Latihan pendinginan bisa berupa latihan luas gerak sendi dan
latihan pernapasan.

Selalu monitor saturasi oksigen dan denyut nadi saat istirahat,latihan dan sesaat
sesudah latihan (Gambar 6). Latihan yang dilakukan di rumah harus dihentikan bila
pasien mengalami mual, pusing atau nyeri kepala, sesak napas bertambah, keringat
yang berlebihan, nyeri dada atau nyeri otot yang berlebihan. Segera konsultasikan
pada dokter bila terdapat gejala tersebut saat latihan.

94INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Bernyanyi juga bisa membantu pernapasan untuk lebih baik, disamping tubuh
dan pikiran bisa menjadi lebih relaks. Usahakan pasien berada pada posisi duduk,
berdiri atau berjalan bila memungkinkan, karena posisi tersebut membuat paru-
paru bekerja lebih optimal. Hindari posisi tidur terus menerus. Terapkan posisi tubuh
yang baik (postur tubuh yang baik, tidak membungkuk). Lakukan latihan dengan
rutin sesuai petunjuk dokter dan terapis. Usahakan untuk relaksasi, tidur dengan
cukup, makan dan minum sesuai kebutuhan. Sesuaikan aktivitas pasien dengan
kemampuan. Lakukan aktivitas ringan terlebih dahulu, bertahap menyesuaikan
kondisi pasien, sampai pasien siap kembali beraktivitas seperti semula. Tetap patuhi
protokol kesehatan karena pasien yang telah sembuh dari Covid-19 bisa terinfeksi
corona kembali •

95INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Nama Lengkap : Priyo Utomo, S.Tr.Kes
Jabatan : Koordinator Instalasi Bank Darah
Usia : 43 Tahun
Masa Kerja : 16 Tahun

Donor Plasma Konvalesen
Bagi Pasien Covid-19

Terapi plasma darah atau terapi Plasma Konvalesen (PK) saat ini menjadi

terapi alternatif dalam mengobati pasien positif COVID-19 di sejumlah negara.
Prinsip pengobatan dengan terapi plasma konvalesen merupakan terapi antibodi
pasif dari pasien yang sudah sembuh dari COVID-19 yang banyak mengandung
antibodi untuk menetralisasi virus. Terapi PK diharapkan dapat bekerja sebagai
imunusupresan untuk menekan pertumbuhan virus dan sebagai imunomodulator
untuk membangkitkan respon imun resipien. Namun begitu, terapi PK ini masih
terbatas penggunaannya untuk uji klinik dengan tujuan untuk mengetahui efikasi
dan efektifitas pemberian terapi PK pada penderita COVID-19. Pemberian terapi PK
harus dilakukan dengan hati-hati penilaian manfaat tranfusi hendaknya lebih besar
dibandingkan dengan potensi resikonya.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu
pusat Rumah Sakit (RS) yang terlibat dalam penelitian multisenter uji klinik fase II/III
plasma konvalesen yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian Dan Pengembangan
Kesehatan, Kementerian Kesehatan. Ketersedian PK yang bermutu sebagai bahan
uji sangat dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan uji klinik.

Pada bulan Desember 2020 lalu, RSUD Sidoarjo mendapat bantuan alat Apheresis
“Terumo Optia” yang mempunyai fungsi pengambilan darah dari pendonor, dimana
hanya komponen yang dibutuhkan saja yang diambil menggunakan teknologi
pemisahan darah sedangkan komponen yang tidak dibutuhkan dikembalikan lagi ke

96INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

dalam tubuh pendonor. Atas arahan bapak direktur dan managemen RS, Instalasi
Bank Darah diperintahkan untuk segera memanfaatkan bantuan alat tersebut
dengan bekerja sama dengan Unit Tranfusi Darah, Palang Merah Indonesia (UTD-
PMI) Kabupaten Sidoarjo. Tentu saja perintah itu harus kami laksanakan dengan
penuh tanggung jawab.

Kami di Instalasi Bank Darah RSUD Sidoarjo tidak memiliki kewenangan untuk
penyelenggaraan donor darah, kewenangan tersebut hanya pada UTD-PMI/
RS (Berdasarkan PERMENKES Nomor 83 Tahun 2014) oleh karenanya UTD-PMI
mendelegasikan sebagian kewenangannya kepada RSUD Sidoarjo berdasarkan
perjanjian kerjasama yang dibuat bersama. Sebagai pelaksana kegiatan, Instalasi
Bank Darah berkomitmen untuk mematuhi protokol donor yang diatur dalam
protokol uji klinis PK dan Standar Prosedur Operasional (SPO) yang telah ditetapkan
oleh UTD-PMI. Tupoksi kami bertujuan untuk menjamin pelayanan darah yang
aman, berkualitas dan dalam jumlah yang cukup bisa tercapai.

Langkah awal kami lakukan dengan mencari data calon pendonor dari teman
teman kami di rumah sakit yang pernah terpapar COVID-19. Kami dibantu oleh
teman-teman dari bagian penunjang dan juga keperawatan. Selanjutnya melalui
telpon ruang atau lewat pesan Whatsapp, kami memotivasi calon pendonor

Pelaksanaan donor plasma konvalesen oleh penyintas Covid-19
yang juga merupakan pegawai RSUD Sidoarjo

97INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

untuk datang ke Instalasi Bank Darah untuk dilakukan seleksi calon pendonor PK.
Antusiasme cukup besar dari teman-teman penyintas COVID-19 untuk membantu
sesama membuat kami semua haru, bahkan beberapa orang dari luar rumah sakit
ada juga yang datang dengan keinginannya sendiri setelah mereka googling dari
internet dan media sosial mengenai Terapi Plasma Konvalesen.

Sebelum proses seleksi, informasi terkait tujuan dan persyaratan donor kami
sampaikan kepada calon pendonor :

Tujuan Donor : Untuk membantu pasien COVID-19 yang masih dalam perawatan
Persyaratan Pendonor :
• Pria atau wanita (Belum pernah hamil dan melahirkan)
• Berat badan minimal 60 Kg
• Pernah didiagnosis COVID-19 yang dibuktikan dengan hasil RT-PCR positif
• Dinyatakan sembuh + 14 hari bebas dari keluhan/ gejala subjektif
• Punya antibodi COVID-19 yang cukup
• Sehat dan memenuhi persyaratan donor sesuai ketentuan

98INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19

Calon pendonor bersedia selanjutnya kami data dan kami screening. Sampel
darah calon pendonor kami ambil untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pada
proses pengambilan darah ini kami ambil sebanyak 4 tabung sampel darah sebagai
berikut:
• 2 sampel ditampung dalam vacutainer EDTA untuk pemeriksaan : Golongan

darah ABO Rhesus, screening gizi calon pendonor (DL), uji screening antibodi
golongan darah dan uji IMLTD dengan metode Nucleat Acid Test
• 2 sampel ditampung dalam vacutainer plain untuk pemeriksaan : Screening
antibodi COVID-19 dan uji IMLTD secara CLIA/ECLIA

Pemeriksaan pertama yang kami lakukan adalah pemeriksaan total antibodi
COVID-19. Hasil yang reaktif dengan nilai yang tinggi secara kualitatif kami lakukan
pengenceran sampel kemudian kami periksa kembali untuk mendapatkan titer.
Pemeriksaan ini kami lakukan di Laboratorium Patologi Klinik RSUD Sidoarjo. Proses
ini memegang peranan yang paling penting karena banyak penyintas COVID-19
yang sudah terbentuk antibodinya namun titernya rendah dan tidak memenuhi
persyaratan sebagai calon pendonor titer antibodi COVID-19 sebagai prasyarat
donor PK ≥ 1:160, atau setidaknya 1:80 bila tidak ada alternatif lain.

Respon imun yang ditandai dengan terbentuknya antibodi para penyintas
COVID-19 berbeda beda. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang kami lakukan, kadar
antibodi tidak berkorelasi sebanding dengan berat ringannya gejala yang dialami
oleh para penyintas COVID-19. Demikian juga dengan waktu keterpaparannya,
beberapa orang yang baru sembuh antibodinya bervariasi, ada yang tinggi dan ada
yang rendah, begitupun sebaliknya. Namun itu baru temuan kami, perlu penelitian
dan pengamatan yang lebih mendalam untuk menyimpulkannya.

Bagi penyintas COVID-19 yang titer antibodinya tidak memenuhi persyaratan
pemeriksaan maka tidak kami lanjutkan, sedangkan bagi yang memenuhi kriteria
pemeriksaan dilanjutkan. Pemeriksaan status gizi calon pedonor selanjutnya kami
lakukan melalui pemeriksaan laboratorium Darah Lengkap (DL). Gambaran hasil
pemeriksaan yang masih dalam batas normal kami lanjutkan. Selanjutnya sampel
kami serahkan ke UTD-PMI untuk dilakukan pemeriksaan Infeksi Menular Lewat
Tranfusi Darah (IMLTD) untuk empat parameter penyakit yakni: Hepatitis B, Hepatitis
C, HIV dan Sifilis menggunakan dua metode CLIA/ECLIA dan secara Nucleat Acid Test
(NAT). Hasil pemeriksaan selanjutnya kami sampaikan kepada calon pendonor baik
itu yang memenuhi kriteria maupun tidak. Bagi pendonor yang memenuhi kriteria,
waktu pelaksanaan donor kami informasikan.

99INDONESIA BANGKIT MELAWAN COVID-19


Click to View FlipBook Version