Tahap
Akhir
241
TUTOR SURAKARTA, 19 November 2020
PRAKTIKAN
SITI LATIFAH, M.Pd
NIP. 197211051998022001 MUHAMMAD EFENDI
NIM. 857807197
242
LAPORAN PRAKTIKUM IPA SD
MODUL 9: BUMI DAN ALAM SEMESTA
(MANDIRI)
NAMA DISUSUN OLEH:
NIM : MUHAMMAD EFENDI
KELAS : 857807197
: 1 B PGSD SI (BI) Kelas B
UPBJJ SURAKARTA
2020
243
KEGIATAN PRAKTIKUM
PANAS MATAHARI
I. JUDUL PERCOBAAN
“Panas Matahari”
II. TUJUAN
Menjelaskan matahari sebagai sumber panas
III. ALAT DAN BAHAN
1. 2 buah tempat air yang sama ukurannya (panci, baskom, atau ember)
2. Termometer 0 – 1000
3. Lempeng plastik transparan.
4. Stopwatch
IV. LANDASAN TEORI
Perpindahan panas dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain melalui 3 cara yaitu :
konduksi. Konveksi dan radiasi. Contoh : bentuk perpindahan panas secara radiasi adalah
perpindahan panas dari dari matahari ke bumi dengan melewati gelombang hampa. Dalam
proses radiasi energi yang dibawa adalah gelombang elektromagnetik. Jadi panas dapat
merambat dengan cara memancar / radiasi. Pada peristiwa radiasi, panas memancar tanpa
zat antara atau menembus zat antara. Besar kecilnya panas suatu benda tergantung pada
suhu benda. Makin tinggi suhu benda makin besar pula radiasi panas yang dikeluarkan.
Makin panas air maka rambatannya makin tinggi .
Matahari adalah sumber energi yang memancarkan energi sangat besarnya ke permukaan
bumi. Permeter persegi permukaan bumi menerima hingga 1000 watt energi matahari.
Sekitar 30% energi tersebut dipantulkan kembali luar angkasa, dan sisanya diserap oleh
awan, lautan, dan daratan. Untuk melukiskan besarnya potensi energi surya, energi surya
yang diterima bumi dalam waktu satu jam saja setara dengan jumlah energi yang digunakan
dunia selama satu tahun lebih.
244
Kebutuhan sel surya dunia terus meningkat, terutama setelah permasalahan lingkungan
menjadi semakin parah akibat penggunaan energi fosil dan bencana nuklir.
Pemanfaatan sel surya dunia saat ini untuk membangkitkan listrik dengan skala besar, yang
membutuhkan lahan terbuka luas. Untuk membangkitkan listrik dari sel surya 1 MW
membutuhkan lahan sekitar 2 hektar.
Di samping pada lahan terbuka, peluang pemanfaatan sel surya lain adalah atap rumah
(rooftop) yang potensinya cukup besar. Apabila di atap rumah dipasang sel surya dengan
luas atap 20 meter persegi, dengan efisien 40 persen, dapat menghasilkan daya listrik sekitar
8000 watt (peak). Daya listrik tersebut sudah mencukupi kebutuhan sebuah rumah mewah.
Permasalahannya sekarang adalah harga listrik dari panel surya masih lebih mahal daripada
harga listrik yang berasal dari energi fosil.
Saat ini investasi untuk membangkitkan daya listrik sebesar 1 (satu) watt dari sel surya
sekitar 2 dollar AS. Harga energi listrik yang dihasilkan kurang dari 20 sen dollar AS per
kWh. Dunia memprediksi bahwa pada 2030 harga listrik dari sel surya akan lebih murah
dari harga listrik dari energi fosil.
Untuk pemakaian khusus, saat ini listrik dari sel surya sudah bisa lebih ekonomis, misalnya
untuk penggunaan di daerah terpencil, sebagai pengganti pembangkit listrik tenaga diesel
(PLTD).
Salah satu cara untuk memanen radiasi panas dan cahaya yang dipancarkan matahari
menjadi listrik adalah dengan memanfaatkan teknologi termal dan teknologi sel surya atau
sel photovoltaic. Teknologi termal biasanya digunakan untuk mengeringkan hasil pertanian
dan perikanan, memasak (kompor surya), dan memanaskan air. Sedangkan sel surya
merupakan alat untuk mengonversi cahaya matahari menjadi energi listrik menggunakan
efek fotoelektrik. Dengan teknologi sel surya (photovoltaic) energi surya diubah menjadi
energi listrik yang bisa digunakan untuk berbagai hal.
Dengan potensinya yang sangat besar tersebut, energi surya diyakini menjadi sumber energi
utama di masa depan. Apalagi dengan beberapa keunggulan energi surya seperti energi
surya merupakan sumber yang hampir tak terbatas dan ramah lingkungan. Yang hingga kini
masih menjadi kendala adalah teknologi sel surya dan media penyimpanan yang masih
sangat mahal dan memiliki kemampuan yang terbatas.
Penggunaan sel surya di Indonesia sudah dimulai lebih dari 20 tahun lalu, dikenal dengan
Program Solar Home System (SHS) yang dilakukan oleh BPPT dan beberapa kementerian.
245
SHS dipasang di puluhan ribu rumah di pedesaan sebesar 50 Wp (watt peak), dengan gratis.
Juga, Program Desa Mandiri Energi dan program PLN 1.000 pulau, telah dibangun
beberapa pembangkit listrik tenaga solar cell (PLTS), terutama di daerah atau di pulau
terpencil.
Di samping itu, sudah ada beberapa daerah yang menggunakan panel surya untuk
penerangan jalan. Jadi, kebutuhan (pasar) domestik panel surya sudah cukup besar untuk
dapat berkembangnya industri PV di Indonesia. Tetapi, saat ini sebagian besar kebutuhan
domestik tersebut masih dipasok dari impor.
Dalam Kebijakan Energi Nasional yang baru (KEN-2050) dinyatakan bahwa pembangunan
dan pemanfaatan energi terbarukan (termasuk energi surya) menjadi prioritas. Pada 2025,
target bauran energi nasional minimal 23 persen berasal dari energi terbarukan dan pada
2050 minimal 31 persen.
Jika dilihat dari potensi dan besarnya kebutuhan nasional, besaran target tersebut bukanlah
angka yang sulit dicapai, asal saja perencanaan dan penggunaan dana pemerintah dapat
dimanfaatkan dengan efektif dan efisien, tidak lagi terjadi kebocoran dana dan inkonsistensi
dalam kebijakan.
Sebenarnya sudah banyak yang dilakukan pemerintah untuk pemanfaatan sel surya, yang
sudah menghabiskan banyak dana dan upaya selama ini, tetapi belum berhasil seperti yang
direncanakan. Ke depan diperlukan komitmen yang lebih kuat dan fokus dari semua
pemangku kepentingan.
Dengan krisis energi dan listrik serta masih bergantungnya pada sumber energi
konvensional, padahal sumber bahan bakar fosil semakin habis, Indonesia seharusnya mulai
serius memanfaatkan energi surya. Mendorong penelitian-penelitian untuk meningkatkan
teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya sehingga potensi 112.000 GWp energi surya
yang dimiliki oleh Indonesia dapat dimanfaatkan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.
Memanen energi surya menjadi energi terbarukan yang murah, ramah lingkungan, dan
menjangkau seluruh pelosok negeri.
V. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Mengisi kedua tempat air dengan air dingin yang sama banyaknya.
2. Mengukur dengan thermometer suhu dingin air (Ti) terbut, mencatat dalam lembar
pengamatan.
246
3. Menempatkan kedua tempat air tersebut dibawah sinar matahari langsung.
4. Menempatkan lempeng plastik transparan diatas salahsatu tempat air dengan jarak sekitar
10 cm dari permukaan air dalam tempat air.
Menyusun alat dan bahan percobaan.
5. Mengamati temperatur air pada kedua tempat air tersebut (To) setiap 30 menit selama 10
kali pengukuran. Mencatat dalam lembar pengamatan.
6. Bila ada luks meter, mengamati dan mengukur kuat penerangan cahaya matahari tepat
diatas permukaan air setiap 30 menit. Mencatat dalam lembar pengamatan.
VI. HASIL PENGAMATAN
Hasil Pengamatan Panas Matahari
Keadaan Air
No Waktu (A)Tanpa (B) Dengan Keterangan
Lempeng Lempeng
1 10 menit Masih Dingin Masih Dingin Air masih tetap tidak berkurang
2 25 menit Hangat Hangat Air masih tetap tidak berkurang
3 40 menit Air mulai panas Hangat Air berkurang dipercobaan A
4 45 menit Air menjadi panas Mulai panas Air keduanya juga berkurang
5 60 menit Sangat panas Panas Air berkurang / menguap
Dari hasil pengamatan bahwa air yang tanpalempeng terasa panasnya lebih cepat
karena tingkat radiasi sinar matahari langsung tanpa penghalang. Berbeda dengan yang
menggunakan lempeng plastik, tingkat panasnya air sangat lambat dikarenakan adanya
penghalang (lempeng plastik).
VII. PERTANYAAN
1. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan panas dan cahaya matahari
sampai di permukaan bumi!
2. Dapatkah matahari disebut sebagai sumber energi panas? Jelaskan!
3. Dari percobaan, apakah pengaruh lempeng plastik transparan terhadap terhadap
penerimaan panas?
247
VIII. PEMBAHASAN
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan panas matahari sampai ke permukaan
bumi yaitu:
a. Jika di suatu tempat yang gersang, tidak ada tumbuhannya maka penerimaan panas
matahari di bumi akan terasa sangat panas.
b. Jika pada suatu tempat banyak tumbuh-tumbuhannya maka panas matahari akan
berkurang karena diterima dulu oleh tumbuhan, sehingga tidak langsung menuju
bumi.
c. Jadi faktor-faktor yang mempengaruhi adalah suhu udara, banyaknya tumbuhan
hidup, dan keadaan daerah (pegunungan atau pantai).
d. Jika udara di suatu tempat dingin, maka panas matahari juga akan terasa tidak
terlalu panas.
2. Matahari adalah sumber energi panas, yang memanfaatkan energi panas matahari di
bumi bukan hanya manusia tetapi juga hewan, dan tumbuhan.
3. Pengaruh lempeng plastik transparan terhadap penerimaan panas adalah mengurangi
atau menghambat cahaya panas matahari yang jatuh dipermukaan air.
IX. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa panas matahari dapat langsung memancar
dan menembus zat antara dan kemudian besar kecilnya radiasi panas suatu benda
bergantung pada suhu benda.
X. DAFTAR PUSTAKA
Rumanta, Maman dkk. (2019).Praktikum IPA di SD. Tangerang Selatan: PT. Gramedia
https://pendidikan.co.id/perpindahan-kalor/ Diakses pada tanggal 17 November 2020.
https://environment-indonesia.com/matahari-sebagai-sumber-energi-dunia/ Diakses pada
tanggal 17 November 2020.
XI. KENDALA
Tidak ada kendala yang berarti dalam percobaan panas matahari.
248
XII. LAMPIRAN Dokumentasi Panas Matahari
Tahap
Awal
249
Tahap
Kegiatan
Tahap
Akhir
250
KEGIATAN PRAKTIKUM
GERHANA
I. JUDUL PERCOBAAN
“Gerhana”
II. TUJUAN
Membuktikan terjadinya gerhana
III. ALAT DAN BAHAN
1. Bola ping pong
2. Statis berkawat runcing 3 buah
3. Bola plastik dengan diameter 10cm
4. Lampu senter/proyektor film
5. Spidol
IV. LANDASAN TEORI
Gerhana matahari terjadi ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, sehingga
menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan
Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata
jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai
jarak rata-rata 149.680.000 kilometer
Gerhana Matahari
Bumi beredar mengelilingi Matahari sedang Bulan beredar mengelilingi Bumi. Dalam
peredarannya mengelilingi Bumi, suatu saat Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari
(istilahnya bulan baru). Matahari-Bulan-Bumi tampak segaris seperti pada gambar berikut.
Nah, jika saat itu manusia di Bumi melihat ada bagian Matahari yang tertutup oleh Bulan
maka saat itu terjadi gerhana Matahari (baca terus tulisan ini untuk mengetahui kenapa
251
kejadian ini tidak terjadi setiap bulan baru). Bagian Matahari yang tertutup oleh Bulan bisa
seluruhnya atau sebagian saja.
Geometri yang memungkinkan terjadinya gerhana Matahari.
Peringatan: tidak setiap bulan terjadi.
A. Jenis gerhana Matahari
Jika matahari tertutup seluruhnya oleh Bulan berarti yang kita saksikan adalah Gerhana
Matahari Total (GMT). Pada GMT piringan Matahari sama sekali tidak terlihat. Yang
terlihat hanyalah bagian Matahari yang disebut korona.
Jika Matahari tertutup sebagian saja namun seluruh Bulan ada di depan Matahari maka
Matahari akan tampak seperti cincin. Karena tampak seperti cincin maka gerhana jenis ini
dinamakan Gerhana Matahari Cincin (GMC).
Apabila Matahari tertutup sebagian saja dan tidak seluruh Bulan berada di depan Matahari
berarti yang kita saksikan adalah Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Gerhana Matahari
sebagian biasa juga disebut Gerhana Matahari Penumbra.
B. Penyebab terjadinya gerhana Matahari
Matahari laksana bola api raksasa yang memancarkan sinar sangat tajam. Karena Bulan
disinari oleh Matahari maka akan terbentuk bayangan utama bulan yang berbentuk kerucut.
Bayangan utama ini dinamakan umbra. Di samping umbra terbentuk juga bayangan
tambahan yang dinamakan penumbra. Apabila umbra atau penumbra tersebut mengenai
Bumi maka terjadilah gerhana Matahari.
252
Bayangan benda langit akibat cahaya Matahari ada dua jenis: umbra (bayangan utama) dan
penumbra (bayangan tambahan)
Sekarang mari kita ikuti perjalanan Bulan mengitari Bumi. Perhatikan gambar berikut.
Geometri gerhana Matahari total (dilihat dari atas bidang Bumi mengelilingi Matahari yakni
bidang ekliptika).
Pada gambar tersebut, Bulan melintas tepat di antara Bumi dan Matahari. Nah, apabila kita
berada di daerah pertemuan umbra dengan permukaan bumi (yakni daerah yang ditunjuk
oleh panah U pada gambar) maka kita akan melihat GMT. GMT biasanya dapat disaksikan
selama kurang lebih 3 menit. Paling lama sekitar 7 setengah menit. Apabila kita berada di
daerah pertemuan penumbra dengan permukaan Bumi (yakni daerah yang ditunjuk oleh
panah P) maka yang kita lihat adalah GMS.
Gambar berikut ini barangkali bisa memberikan ilustrasi yang lebih baik.
Geometri gerhana Matahari total.
Sumber: http://images.yourdictionary.com
Sekarang perhatikan gambar berikut.
253
Geometri gerhana Matahari cincin (dilihat dari atas bidang ekliptika).
Pada gambar tersebut ada daerah yang disebut antumbra (yakni daerah yang ditunjuk oleh
panah A). Daerah ini merupakan perpanjangan umbra. Apabila kita berada di daerah
pertemuan antumbra tadi dengan permukaan Bumi maka yang kita lihat adalah GMC. Kalau
GMT paling lama dapat disaksikan tidak lebih dari 8 menit maka GMC dapat disaksikan
hingga 11 menit. Perhatikan bahwa pada GMC pertemuan penumbra dengan permukaan
Bumi lebih besar dibanding pada peristiwa GMT. Artinya lebih banyak daerah yang bisa
menyaksikan GMS ketika terjadi GMC dibanding ketika terjadi GMT.
Terkadang Bulan melintas tidak tepat di tengah Bumi dan Matahari sehingga umbra dan
antumbra Bulan tidak mengenai Bumi seperti pada gambar berikut.
Geometri gerhana Matahari sebagian (dilihat dari samping bidang ekliptika).
Pada gambar tersebut bayangan yang mengenai Bumi hanyalah penumbra. Jika begini
kejadiannya maka yang terjadi di Bumi hanyalah GMS. Tidak ada GMT dan GMC.
C. Beberapa faktor yang memengaruhi gerhana Matahari
1. Pengaruh jarak
Lintasan Bumi mengelilingi Matahari tidak berbentuk lingkaran melainkan berbentuk
lonjong (elips). Demikian juga lintasan Bulan dalam mengitari Bumi. Hal ini mengakibatkan
jarak Bumi dengan Matahari begitu juga Bumi dengan Bulan senantiasa berubah. Akan ada
jarak terdekat Bumi dengan Matahari dan jarak terjauh Bumi dengan Matahari. Akan ada
juga jarak terdekat Bumi dengan Bulan dan jarak terjauh Bumi dengan Bulan. Perhatikan
gambar berikut.
254
Bumi dan Bulan mengitari pusatnya masing-masing dalam lintasan yang berbentuk elips.
Perbandingan ukuran Bulan saat titik terdekat (perigee) dan di titik terjauh (apogee).
Sumber: http://www.starrynightphotos.com
Berbicara masalah jarak, ada hal menarik terkait dengan ukuran Matahari dan Bulan.
Perhatikan gambar berikut.
Perbandingan ukuran Bumi dan Matahari
Diameter Matahari kira-kira 109 kali diameter Bumi. Diameter Bumi kira-kira 3.67 kali
diameter Bulan. Dengan kata lain diameter Matahari 400 kali lebih diameter Bulan. Akan
tetapi jika kita melihat ke langit ternyata keduanya terlihat hampir sama besarnya. Itu
karena jarak Bumi-Matahari juga sekitar 400 kali jarak Bumi-Bulan. Inilah yang
memungkinkan Bulan menutupi seluruh permukaan Matahari ketika terjadi GMT.
Perhatikan kembali gambar lintasan Bumi dan Bulan di atas. Saat Bumi berada di titik
terdekatnya dari Matahari (sekitar 147 juta km) sedang Bulan berada di titik terjauhnya dari
255
Bumi (sekitar 400 ribu km) Bulan akan terlihat lebih kecil daripada Matahari. Nah, ini
memungkinkan terjadinya GMC. Sebaliknya, saat Bumi berada di titik terjauhnya dari
Matahari (sekitar 152 juta km) sedang Bulan berada di titik terdekatnya dari Bumi (sekitar
357 ribu km) maka Bulan terlihat lebih besar daripada Matahari. Ini memungkinkan
terjadinya GMT.
2. Pengaruh perbedaan bidang lintasan
Walaupun Bulan berada di antara Bumi dan Matahari sebulan sekali (tiap bulan baru)
namun tidak tiap bulan terjadi gerhana Matahari. Dalam setahun biasanya hanya terjadi 2
kali gerhana Matahari. Mengapa demikian?
Bumi mengelilingi Matahari dalam sebuah bidang. Bulan pun mengelilingi Bumi dalam
sebuah bidang. Ternyata bidang lintasan Bumi mengelilingi Matahari tidak berimpit dengan
bidang lintasan Bulan mengelilingi Bumi tetapi berselisih sekitar 5 derajat. Apa akibatnya?
Perhatikan gambar berikut.
Bidang lintasan Bulan memotong bidang lintasan Bumi (dengan selisih sebesar 5 derajat)
Gambar tersebut memperlihatkan dua kejadian bulan baru. Ketika terjadi bulan baru yang
sebelah kanan, Bulan berada jauh di bawah bidang lintasan Bumi sehingga tidak ada
bayangan Bulan (umbra maupun penumbra) yang mengenai Bumi. Akibatnya tidak terjadi
gerhana. Sekarang bulan baru yang sebelah kiri. Ketika itu Bulan berada di bidang lintasan
Bumi sehingga ada bayangan Bulan (umbra maupun penumbra) yang mengenai bumi.
Akibatnya terjadi gerhana.
Titik potong Bulan dengan bindang lintasan Bumi disebut titik simpul (node). Gerhana
Matahari hanya terjadi jika bulan baru terjadi di sekitar titik simpul tersebut. Perhatikan
gambar berikut.
256
Gerhana Matahari terjadi jika bulan baru terjadi di dekat titik simpul (node). Perhatikan
selisih bidang lintasan (orbit) Bulan dan Bumi (ekliptika).
Sumber: http://www.astro.virginia.edu
Gerhana Bulan
Gerhana Bulan dapat dianggap sebagai kebalikan dari gerhana Matahari. Ketika gerhana
Matahari, Bumi berada dalam bayangan Bulan; ketika gerhana Bulan, Bulan berada dalam
bayangan Bumi. Ketika terjadi gerhana Bulan total, Bulan yang sedang purnama secara
berangsur-angsur menjadi gelap (biasanya berwarna kemerahan).
Geometri yang memungkinkan terjadinya gerhana Bulan.
Peringatan: tidak setiap bulan terjadi.
a. Jenis gerhana Bulan
Apabila seluruh Bulan berada di dalam umbra maka yang kita lihat adalah Gerhana Bulan
Total (GBT).
Apabila sebagian Bulan berada di dalam umbra (sebagian lagi dalam penumbra) maka yang
kita lihat adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS).
Apabila seluruh Bulan berada di dalam penumbra atau sebagian saja (ada bagian Bulan yang
tidak mengalami gerhana) maka yang kita lihat adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP).
Perhatikan bahwa GBT selalu didahului dan diikuti oleh GBS dan GBP, sedang GBS selalu
didahului dan diikuti oleh GBP.
b. Penyebab terjadinya gerhana Bulan
257
Sama dengan yang terjadi pada peristiwa gerhana Matahari, ketika Bumi berada di hadapan
Matahari terbentuk bayangan Bumi yang terdiri dari umbra dan penumbra.
Berbeda dengan ukuran umbra Bulan pada gerhana Matahari yang amat kecil dibanding
ukuran Bumi, umbra Bumi pada gerhana Bulan dapat meliputi Bulan seluruhnya. Akibatnya,
apabila pada gerhana Matahari kita hanya bisa menikmati GMT tidak lebih dari 8 menit,
pada GBT kita bisa menikmatinya hingga lebih dari satu jam—tergantung dari seberapa
dekat Bulan dari pusat umbra.
Sekitar 35% dari semua gerhana Bulan adalah GBP yang sangat sukar diamati meskipun
dengan menggunakan teropong, sekitar 30% adalah GBS yang mudah diamati dengan mata
telanjang, selebihnya adalah GBT yang juga mudah terlihat dengan mata telanjang.
Perhatikan bahwa berbeda dengan gerhana Matahari di mana hanya kita yang berada di jalur
umbra yang bisa menyaksikan GMT, pada gerhana Bulan kita semua yang mengalami
malam hari saat terjadinya gerhana dapat menyaksikan GBT.
c. Beberapa faktor yang memengaruhi gerhana Bulan
1. Pengaruh jarak
258
Lain halnya dengan gerhana Matahari di mana variasi jarak Bumi-Matahari dan Bumi-Bulan
berpengaruh pada jenis gerhana, pada gerhana Bulan variasi tadi hanya memengaruhi
ukuran umbra maupun penumbra Bumi yang dilintasi Bulan. Hal ini berpengaruh pada
durasi (lama) gerhana. Jika Bumi berada di jarak terdekatnya dengan Matahari sedang Bulan
berada di jarak terjauhnya dari Bumi dan Bulan melintas tepat di tengah-tengah umbra maka
gerhana Bulan yang terjadi dipastikan lebih lama daripada gerhana-gerhana pada kondisi
jarak yang lain.
2. Pengaruh perbedaan bidang lintasan
Sama halnya dengan gerhana Matahari, perbedaan bidang lintasan mengakibatkan gerhana
Bulan tidak terjadi di tiap purnama. Faktanya gerhana Bulan biasanya hanya terjadi 2 kali
dalam setahun.
V. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Menuliskan bulan pada bola pingpong, matahari pada senter dan gambar bola plastik
sebagai globe (bumi)
2. Menusukkan bola pingpong tersebut dengan statis kawat runcing dapat berdiri tegak, dan
lakukan yang sama pada bola plastik.
3. Mengikatkan lampu senter pada statis kawat runcing
4. Menyusun diatas meja dalam ruang gelap (bila ada)
5. Menyalakan lampu senter, amatilah dan menggambar jalannya sinar lampu yang
mengenai globe, Mencatat dalam lembar pengamatan
6. Menyusun percobaan dengan merubah posisi bola ping pong dengan bola plastik (globe).
7. Menyalakan lampu senter dan mengamati dan menggambar jalannya sinar lampu yang
menimpa bola pingpong dan diterima oleh globe. Mencatat dalam lembar pengamatan
259
VI. HASIL PENGAMATAN
a. Percobaan Gerhana Bulan
b. Percobaan Gerhana Matahari
Lampu senter dinyalakan sinarnya akan mengenai bola pingpong (bulan) maka kedudukan
bulan berada pada bidang ekliptika, hampir kedudukan matahari, bulan dan bumi berada
pada satu garis lurus, lalu ayang-bayang bulan akan jatuh pada permukaan bumi dan sinar-
sinar matahari akan tersembunyi bagi pengamat dalam daerah bayang-bayang. Hal inilah
yang menyebabkan terjaidnya gerhana matahari yaitu posisi matahari, bulan dan bumi pada
garis lurus dimana bulan berada di antara matahari dan bumi sehingga bulan menutup
sebagian atau seluruh matahari. Biasanya gerhana matahari terjadi pada siang hari.
Terdapat empat jenis gerhana matahari, yaitu gerhana matahari total, gerhana matahari
260
sebagian, gerhana matahari cincin, dan gerhana matahari hibrida. Sedangakan Gerhana
Bulan dapat dibagi menjadi tiga yaitu: Gerhana bulan total, Gerhana bulan sebagian,
Gerhana bulan penumbra
VII. PERTANYAAN
1. Apa yang disebut dengan gerhana?
2. Bagaimana terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan? Jelaskan!
3. Apakah yang disebut dengan umbra dan penumbra? Jelaskan!
VIII. PEMBAHASAN
1. Gerhana adalah peristiwa tertutupnya sebuah objek disebabkan adanya benda/objek
yang melintas di depannya. Kedua objek yang terlibat dalam gerhana ini memiliki
ukuran yang hampir sama jika diamati dari Bumi. Contohnya gerhana Matahari dan
gerhana Bulan.
2. Proses terjadinya gerhana matahari adalah sebagai berikut: Bulan berada pada atau
dekat fase baru dan berada pada suatu garis lurus dengan bumi dan matahari sehingga
sinar matahari tertutup oleh bulan. Terjadinya gerhana bulan jika bulan berada pada
fase purnama dan pada satu garis lurus dengan bumi dan matahari sehingga bayangan
bumi menutupi sinar bulan sehingga bulan tampak gelap kemerahan.
3. Umbra adalah bayangan inti yang sangat gelap, sedangkan penumbra adalah bayangan
semu yang terbentuk disekitar bayangan inti
IX. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa Ketika senter dinyalakan, cahaya yang
terpancar dari senter ke bola tenis tertutup oleh bola pingpong. Akibatnya, ada bagian dari
bola tenis yang tertutup oleh bayangan bola pingpong. Saat bola pingpong digerakkan ke
kiri dan ke kanan, bentuk bayangan yang ada pada bola tenis akan tampak berubah-ubah.
261
X. DAFTAR PUSTAKA
Rumanta, Maman dkk. (2019).Praktikum IPA di SD. Tangerang Selatan: PT. Gramedia
https://rachmanabdul.wordpress.com/2011/12/07/gerhana-bulan-dan-matahari/ Diakses
pada tanggal 18 November 2020
XI. KENDALA
Tidak ada kendala yang berarti dalam percobaan gerhana.
XII. LAMPIRAN
Dokumentasi Gerhana
Tahap
Awal
262
Tahap
Kegiatan
263
Tahap
Akhir
264
TUTOR SURAKARTA, 19 November 2020
PRAKTIKAN
SITI LATIFAH, M.Pd
NIP. 197211051998022001 MUHAMMAD EFENDI
NIM. 857807197
265