The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah kisah dari balik layar, di mana langkah kecil, keraguan, dan keberanian bersatu dalam diam. Tentang seseorang yang awalnya hanya ikut karena keadaan, lalu perlahan menemukan pijakannya, hingga akhirnya berdiri sebagai pemimpin.

“Di Balik Layar” bukan hanya tentang organisasi. Ini adalah tentang tumbuh, tentang belajar menjadi dewasa, dan tentang menyadari bahwa cahaya sejati sering kali muncul dari tempat yang paling sunyi.

Bagi siapa pun yang pernah merasa tidak cukup layak, terlalu lelah, atau bertanya-tanya “apa aku bisa?”, buku ini adalah cermin. Sebuah pengingat bahwa kita tak sendiri dalam perjalanan ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rifahilman06, 2025-12-30 00:57:23

Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni

Sebuah kisah dari balik layar, di mana langkah kecil, keraguan, dan keberanian bersatu dalam diam. Tentang seseorang yang awalnya hanya ikut karena keadaan, lalu perlahan menemukan pijakannya, hingga akhirnya berdiri sebagai pemimpin.

“Di Balik Layar” bukan hanya tentang organisasi. Ini adalah tentang tumbuh, tentang belajar menjadi dewasa, dan tentang menyadari bahwa cahaya sejati sering kali muncul dari tempat yang paling sunyi.

Bagi siapa pun yang pernah merasa tidak cukup layak, terlalu lelah, atau bertanya-tanya “apa aku bisa?”, buku ini adalah cermin. Sebuah pengingat bahwa kita tak sendiri dalam perjalanan ini.

Keywords: Leadership,Organization,E-Book

RRiiffaa HHiillmmaann MMuubbaarrookk@@rriiffaahhiillmmaann


Rifa Hilman Mubarok@rifahilman


DI BALIK LAYAR ANTARA TRANSFORMASI DAN HARMONIDi Balik Layar Antara Transformasi dan HarmoniPenulis:Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanPenyunting:Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanPenyelaras Aksara:Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanDesain Sampul dan Tata Letak:Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Kata PengantarPuji syukur Aku panjatkan ke hadirat Allah SWT,karena atas izin-Nya, Aku diberi kesempatan untukmenuliskan perjalanan dan kisahku selama dua periodeberharga di BEM HIU, masa-masa yang penuh warnadan makna. Buku ini Aku persembahkan sebagai bentukrefleksi pribadi atas apa yang telah kulalui bersamaKabinet Aksi Transformasi dan Kabinet Cipta Harmoni.Dua periode kepengurusan ini bukan hanya sekadarcatatan sejarah, melainkan juga sebuah prosespembelajaran, pengembangan diri, dan pembentukankarakter.Melalui halaman demi halaman, aku ingin membawapembaca menelusuri langkah-langkah perjuangan,semangat kolaborasi, dan harmoni dalam menghadapiberagam tantangan. Semua pengalaman ini menjadi saksibahwa perubahan dan kebersamaan mampu menciptakanjejak berharga di hati setiap insan yang berjuang didalamnya. Selain itu juga, aku akan berkomentar seputarapa yang terjadi selama kepengurusan ini, yangsepenuhnya merupakan pemikiran pribadiku, denganharapan komentar-komentar tersebut dapat menjadimasukan untuk rekan-rekan yang akan memegangestafeta amanah selanjutnya di masa yang akan datang.Kuucapkan terima kasih kepada seluruh rekanseperjuangan di BEM HIU, serta siapa pun yang ikutmemberi warna dan makna dalam perjalanan ini. Tanpakailan, cerita ini takkan pernah utuh dan berkesan.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 3


4 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanSemoga buku ini bisa menjadi inspirasi dan semangatuntuk siapa pun yang kelak melanjutkan tongkat estafetperjuangan.Selamat membaca.Rifa Hilman


PrologSemua ini berawal dari satu keputusan sederhana:bergabung menjadi bagian dari tim sukses untuk salahsatu calon Ketua BEM. Awalnya aku hanya ingin belajardan melihat lebih dekat seperti apa dunia organisasikampus, sekaligus mendukung seseorang yang visinyamenarik perhatianku. Namun, siapa sangka langkah kecilitu justru menuntunku lebih jauh, bahkan hingga akuharus berdiri di sini, di awal periode baru, menyiapkandiri untuk benar-benar terjun. Aku tahu, mau tidak mau,tanggung jawab ini harus kuemban. Sebab rasanya anehbila hanya berjuang sampai kemenangan, lalu pergi begitusaja ketika pekerjaan baru saja dimulai. Dalam hati, akubertekad untuk membersamainya hingga periode iniselesai.Awalnya kupikir aku akan memilih divisi yang sesuaiharapan dan kemampuan. Namun entah kenapa, di saatsemua pilihan terbuka, aku justru yakin akan diterima diDivisi Komunikasi dan Informasi. Bukan divisi yangsejak awal kupikirkan, bukan pula divisi yang palingsering kulirik. Tetapi sesuatu dalam diriku berbisik bahwadi sanalah aku bisa belajar lebih banyak, merasakantantangan baru, dan memberi makna lebih dalamperjalananku di BEM HIU. Tak lama setelah pelantikan,kami langsung dihadapkan pada tugas pertama kami:menyusun rancangan program kerja untuk satu periodeke depan.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 5


Di sela-sela diskusi, entah bagaimana aku celetukkansebuah ide,“Adain GRADIENT lagi, yuk!”. Ide yangbenar-benar random dan tiba-tiba muncul di kepalaku,tapi entah kenapa aku sangat yakin bahwa kami bisamelakukannya dengan baik. Momen itu menjadi langkahpertama dalam perjalanan panjangku, perjalanan untukmemberi makna di balik layar, dan untuk menjawabpanggilan hati yang sejak awal sudah membisikkan bahwaaku memang harus di sini.6 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Daftar Isi04 Pemimpin05 Dewasa06 Rumah01 Pemimpin?00802 Capek02303 Selanjutnya042056079099


Pemimpin?


ku selalu merasa nyaman menjadi staf. Menjadi Abagian dari tim, bekerja dalam diam, membantudi balik layar. Rasanya aman, bisa berkontribusi tanpaharus berdiri di garis depan. Tapi rupanya semesta punyarencana lain. Di periode ini, tiba-tiba aku bukan hanyaseorang staf. Proker yang kucetuskan secara random itumembuatku secara otomatis menjadi ketuapelaksananya. Bukan hanya itu, di beberapa programlain, namaku juga tercatat sebagai koordinator. Dandisanalah aku berdiri, untuk pertama kalinya, di posisiyang bahkan belum pernah benar-benar kubayangkan:menjadi seorang pemimpin.Aku ingat betul malam pertama setelah SK kepanitiaandisahkan. Aku duduk di depan laptop, menatap layarkosong dengan daftar panjang yang harus kususun.Pikiran di kepalaku terus berputar.“Ketuplak tuh kerjanya ngapain aja sih? Aku harus mulaidari mana dulu? Gimana aku mimpin orang-orang disini?”Pertanyaan yang terus muncul di kepalaku.Dalam rapat pertama, jantungku berdegup keras.Suaraku sempat gemetar saat membuka pembicaraan.Aku berusaha menyembunyikan rasa gugupku dengantersenyum dan melontarkan candaan kecil. Untungnya,teman-temanku cukup suportif. Mereka mendengarkan,menimpali, bahkan membantu menyusun ide. Perlahanaku merasa sedikit lebih lega.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 9


Ada satu momen yang sampai sekarang masihmembekas di kepalaku. Saat itu, aku ditunjuk menjadikoordinator dalam sebuah kegiatan, bukan di biro yangbiasa ku jalani, melainkan di biro lain, tempat di manaaku biasanya hanya jadi staf. Hari itu, aku berdiri didepan orang-orang, mencoba membuka suara, mencobamemberi arahan agar mereka bisa bergerak lebih teratur,lebih rapi. Tapi aku tak tahu bagaimana mengondisikanorang-orang agar mau mendengarkan. Semakin kucoba,semakin kacau rasanya. Orang-orang mulai bergerak kesana ke mari, saling bertanya satu sama lain,menciptakan keributan kecil yang membuatku semakinpanik.Sampai akhirnya, seseorang yang bahkan bukan bagiandari panitia datang membantuku, dia mulai berbicara,suaranya lantang. Dalam hitungan menit, suasana yangtadinya ricuh perlahan menjadi tertib. Semua orangkembali ke posisi, mendengarkan instruksi yang jelas dantegas. Aku hanya berdiri di sampingnya, merasa sangatkecil. Aku merasa gagal. Malam itu, aku pulang denganlangkah pelan. Di perjalanan, aku memikirkan apasalahku.10 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 11Menjadi pemimpin itu bukan hanya soal memberiperintah. Tetapi soal menjaga semangat tim, memastikansemua merasa didengar, dan tak takut meminta bantuansaat tak tahu harus ke mana.Tapi kemudian, aku teringat sesuatu. Bahwa setiap orangselalu punya kali pertama. Aku masih belajar. Masihjatuh-bangun, dan aku mulai belajar satu hal penting:menjadi pemimpin bukan berarti harus tahu segalanya.Kadang, cukup dengan mendengarkan. Kadang, cukupdengan jujur mengakui bahwa aku masih belajar.


12 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanSemua pengen dipegang sendiri,Timnya disuruh ngapain?Katanya pemimpin, tapi kok ga bisa percaya?Jadi pemimpin itu bukan soal ngatur-ngatur.Tapi soal tau kapan harus turun…Dan kapan waktunya mundur dan percaya.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 13Ketika tim lagi chaos, bingung arah, saatnya turun bantuinKetika tim lagi stuck, gak ada yang inisiatif,kasih contoh dan doronganKetika tim belum paham tujuannya, perjelas dan beri arahan.Tapi…Kalo semua udah ngerti jobdesc,tim udah jalan, tinggal progres,semua udah bisa dikerjain sendiri,jangan malah turun tangan lagi, itu justrumalah nge-rem mereka buat berkembang.


14 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanPemimpin yang turun terus,tanpa sadar bikin timnya jadi gak mandiri,takut ambil keputusan, dan selalu nunggu perintah.Padahal, timnya gak butuh diselamatin terus,kadang mereka cuma butuh ruang buat belajar.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 15Ketua yang ngatur semua, dari desain, caption,sampe turun ke lapangan.Semua hal harus dia yang acc.Bayangin kalo kapten kapal yang ngurus layar,mesin, kemudi, sampai masak di dapur.Bukannya nyelamatin kapal, dia malah bikinkapal oleng karena semua hal dia sendiri yang atur.


16 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanKepemimpinan itu soal kepekaan.Peka kapan dibutuhkan,peka kapan harus percaya.Makin ngerti timing-nya, makin solid timnya.Gak harus dilibatkan dalam segala hal.Kadang, diam dan percayaadalah bentuk tanggung jawab yang paling dewasa.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 17Organisasi itu kayak kapal.Anggotanya kuat ngedayung,tapi kalo kaptennya gak tahu arah,ngambang aja di laut lepas.Mau sekuat apapun awak kapal,kalau kaptennya gak bisa mimpin,kapalnya cuma muter-muter di tempat.


Jadi pemimpin ga cuma tentang punya jabatan,tapi tentang jadi pusat pergerakan.Kalau pusatnya gak gerak,jangan heran kalau semuanya ikut diam.18 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Hidup Tanpa Pernah GagalAdalah Sebuah KegagalanDulu, kupikir kesuksesan itu adalah tentang bagaimanacaraku berdiri—tegak, sempurna, tak bercela. Tentangbagaimana aku bisa terus maju tanpa pernah berhenti,tanpa cela, tanpa celaan. Aku tumbuh dalampemahaman bahwa luka adalah sesuatu yang harusditutupi, bahwa kegagalan adalah sesuatu yang harusdihindari. Bahwa nilai seseorang ditentukan dariberapa banyak hal yang berhasil ia capai, bukan dariberapa dalam ia pernah jatuh.Dan aku, barangkali terlalu sibuk membuktikan bahwaaku mampu. Sampai tak sadar bahwa aku sedangkehilangan sesuatu yang lebih penting—rasa hidup itusendiri. Saat aku hidup tanpa merasa pernah gagal,disitulah aku benar-benar gagal. Gagal mengenal diriku,gagal memahami luka orang lain, gagal belajar rendahhati. Kini kusadari, bila kau hidup tanpa merasa pernahgagal, maka kau telah gagal dalam kehidupan.Saat banyak orang memujiku karena “selalu berhasil”,aku mulai merasa sepi di tempat yang tinggi. Aku mulaitakut jatuh, bukan karena sakitnya, tapi karena aku taktahu caranya. Karena aku terlalu lama berpura-purakuat, sampai lupa rasanya rapuh. Terlalu lama mengejarpencapaian, sampai tak sadar bahwa hatiku kosong—Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 19


Hidup yang tak pernah gagal, ternyata bukankeberhasilan, tapi kehilangan. Kehilangan ruang untuktumbuh, kehilangan peluang untuk mengenal sisirapuhku, kehilangan empati. Karena aku tak pernahmengerti bagaimana rasanya tersungkur dan tak tahuharus mulai dari mana.Aku baru menyadari bahwa kehidupan yang terus lurus,tanpa tanjakan, tanpa kerikil, tanpa patah adalah ilusi.Karena tidak ada perjalanan yang bermakna tanpatersesat, tidak ada kedewasaan yang lahir tanpa rasamalu, tanpa air mata, tanpa pengakuan bahwa “aku taktahu harus apa.” Dan disitulah titik baliknya, saat akutidak lagi ingin tampil sempurna, melainkan inginmerasa cukup. Saat aku tidak lagi mengukur diriku daripenilaian orang lain, tapi dari seberapa jujur akudengan diriku sendiri.Mungkin aku pernah gagal, bahkan sering. Tapi darisitulah aku belajar mengenal manusia. Aku belajarmenahan tangis di tengah keramaian. Aku belajarmenyembuhkan luka yang tak terlihat siapa-siapa. Akubelajar bahwa ada keberanian yang lebih besar darimengejar impian—yaitu keberanian untuk mengakuibahwa aku pernah hancur.kosong dari pengakuan, dari penerimaan, dari rasacukup.20 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Dan entah kenapa, saat aku menerima kegagalanku,aku justru merasa lebih hidup, lebih nyata, lebihmanusia. Aku mulai bisa melihat orang lain bukan daripencapaiannya, tapi dari caranya bangkit. Dari caranyabertahan. Dari caranya mencintai diri sendiri, meskibelum sempurna. Dari caranya tetap tersenyum, meskitak ada yang benar-benar tahu beban apa yang sedangia pikul. Sekarang aku paham, hidup ini bukan tentangbagaimana aku menjaga citra, tapi bagaimana akumengisi ruang dalam dada—dengan empati, denganmakna, dengan rasa syukur.Tak apa jika aku jatuh. Tak apa jika aku tak selalu tahuarah. Tak apa jika aku tak selalu kuat. Karena darikegagalan itulah aku mengenal versi diriku yang palingjujur. Versi yang tak perlu sorotan untuk merasa berarti.Versi yang tak takut gelap, karena tahu bahwa cahayasejati justru datang dari dalam.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 21Dan pada akhirnya, bukan keberhasilan yangmembuatku menjadi manusia seutuhnya, tapikegagalan. Kegagalan yang mengajarkanku untukmendengar lebih dalam, melihat lebih jernih, danmencintai tanpa syarat. Karena hidup yang tak pernahmerasa gagal, bukanlah hidup, melainkan pertunjukan.Dan aku tidak ingin hidup dalam panggung yang takpernah mengenal jatuh.


Aku ingin hidup sepenuhnya—dengan luka, dengantanya, dengan takut, dan dengan keberanian yang lahirbukan karena aku tak pernah jatuh, tapi karena akusudah memilih untuk bangkit. Dan dari sana, aku tahu—aku tidak gagal, aku sedang hidup, sedalamdalamnya, setulus-tulusnya, sepenuhnya.22 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Capek


Yang semangat, dong, yang semangat, dong!”. Ucaporang-orang yang tidak tahu apa saja yang sudahkulalui. Satu per satu proker mulai berjalan. KalenderBEM HIU yang sangat padat, seolah tak memberi napas.Setiap kali satu acara selesai, acara lain sudah menunggudi ambang pintu. Dan di hampir setiap kegiatan itu, akuada di sana, bukan hanya sebagai peserta, tapi sebagaibagian dari mereka yang bekerja di balik layar.Aku yang mungkin lebih kompeten di bidang desain,namaku selalu tercatat di tim PDDD. Tim yang, bagiku,adalah tulang punggung setiap acara, meski tak banyakyang benar-benar mengerti apa saja yang kami kerjakan.Kami yang membuat poster hingga larut malam demimemastikan publikasi tepat waktu. Kami yang sibukmengabadikan setiap momen lewat foto dan video, meskiharus berdiri berjam-jam sambil menembus kerumunan.Kami juga yang memeras otak membuat desain seindahmungkin agar acara-acara itu punya branding yangbagus di dunia maya. Tapi entah kenapa, kerja kamisering terasa seperti bayangan. Tak terlihat. Takdianggap. Orang-orang hanya ingat poster yang cantik,atau foto yang bagus. Padahal mereka tidak melihattangan-tangan yang bekerja hingga larut malam, ataubagaimana rasanya berpindah dari satu agenda keagenda lain tanpa sempat bernapas.24 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Ada hari-hari di mana aku pulang dengan tubuh yangseperti kehabisan tenaga. Ada saat di mana aku merasahanya aku yang masih excited, masih berusaha menjagasemangat, sementara yang lain mulai mengeluh lelahatau bahkan menghilang satu per satu. Aku ingin bilangaku baik-baik saja. Tapi sebenarnya aku capek. Akumulai bertanya pada diriku sendiri,“Kenapa aku di sini?Apa semua ini layak diperjuangkan?”. Tapi setiap kalilelah itu datang, aku teringat pada satu hal: aku pernahmemilih jalan ini. Aku pernah berjanji pada dirikusendiri untuk membersamai perjalanan ini sampai akhir.Aku tak jarang mendengar selentingan,“Ah, PDDD mahgampang. Cuma foto-foto, bikin poster.” Padahal yangmereka lihat hanya hasil akhirnya saja. Mereka takpernah tahu bagaimana rasanya menghadapi revisi yangtiada habisnya, atau bagaimana kami harus tetaptersenyum meski sedang kelelahan. Lebih dari itu, akujuga sering membantu teman-teman di biro lain. Adayang minta bantu menyiapkan barang, menghubungiorang, bahkan bantu bikin konsep acara. Aku senangmembantu, sungguh. Tapi di satu titik, aku bertanyadalam hati,“Terus, yang bisa bantuin PDDD Siapa?”.Rasanya capek. Bukan hanya fisik, tapi juga hati.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 25


Organisasi bukan soal siapa yang paling hebat,tapi siapa yang mau tumbuh barengKalau kamu aktif, jangan hancur sendirian.Kalau kamu pasif, jangan jadi beban terus.Keduanya punya tanggung jawab yang sama.26 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 27Yang bikin susah itu bukan kurang orang pintar.Tapi terlalu banyak yang “gak jelas”dan “suka ngilang”.Gak bilang hadir atau tidak,gak konfirmasi bisa atau enggak,dan seenaknya hilang saat dibutuhin.


28 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanOrganisasi itu kerja tim.Kalau kamu udah di-plot,itu berarti kamu dipercaya.Dan ketika kamu gak dateng, tanpa kabar…kamu lagi ngerusak satu-satunya modal utama:Kepercayaan.


Tim itu gak butuh kamu sempurna,tapi butuh kamu yang bisa diajak komunikasi.Bilang “iya” atau “enggak”,dua-duanya lebih baik daripada diem aja.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 29


Jangan remehkan konfirmasi,karena itu tanda bahwa kamu peduli.Tanda bahwa kamu menghargai waktudan usaha orang lain.Karena dalam kerja tim,komunikasi kecil bisa jadi kontribusi besar.Mulai sekarang, kalau gak bisa bantu banyak…minimal jangan menghilang.30 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Buat yang gak ngehargain,kalau kamu punya temen yang masih peduli,masih inisiatif, masih semangat mikirin proker…Jangan diem aja.Jangan nunggu dia tumbang dulu buat kamu sadar.Minimal, dukung. Minimal, bantu. Minimal, hargai.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 31


Kamu ikut semua rapat.Kerjamu cepat, responmu sigap.Dan perlahan… semua mulai mengandalkanmu.Tapi di balik itu semua, kamu mulaikehilangan ruang untuk bilang:“Aku juga capek.”32 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Kamu pernah kerja sendirian sampai larut malam.Bukan karena kamu mau…tapi karena yang lain diam,dan kamu ga tega lihat semuanya berantakan.Sampai kamu bertanya pada diri sendiri,“Kenapa harus aku terus yang bergerak?”Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 33


Kamu tetap tersenyum saat rapat,tetap aktif di grup,padahal kamu lagi capek banget.Karena kamu pikir,“Kalau aku hilang, mereka pasti repot”Tapi…Kalau kamu runtuh, siapa yang peduli?34 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Katanya, ini bagian dari proses belajar.Tapi, proses belajar harusnya ga bikin kamumerasa sendirian,kehilangan diri sendiri,atau takut jujur tentang perasaanmu.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 35


Organisasi bukan tempat untuk jadi sempurna.Tapi tempat untuk tumbuh,sambil tetap jujur pada diri sendiri.Kamu ga harus selalu kuat.Kamu juga berhak istirahat, didengar, dan dipahami.36 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Kita tumbuh dalam budaya “harus bisa semuanya”Padahal, belajar berbagi tanggung jawabjauh lebih dewasadaripada memikul semuanya sendirian.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 37


Organisasi bukan ajang pamer ketangguhan.Ini tentang bagaimana kita berjalan bersama,meski dengan ritme yang berbeda.38 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Meminta tolong tidak membuatmu lemah.Justru itu menunjukkan bahwa kamu tahu batasmudan kamu percaya pada orang lainKamu bukan mesin, kamu manusia yang punya batas.Dan kamu berhak untuk tidak selalujadi yang paling bisa diandalkan.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 39


Tidak semua yang terlihat aktif itusedang baik-baik saja.Beberapa sedang bertahan.Beberapa sedang menunggu dipeluk,bukan disuruh kerja lagi.40 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Untuk Diriku Sendiri, Terima KasihTelah Lahir dan BertahanMungkin tak ada yang tahu seberapa jauh langkah inidimulai. Tak ada yang benar-benar mengerti betapaberatnya beberapa pagi untuk dibuka, atau betapagelapnya beberapa malam yang harus dilewati tanpasuara. Tapi aku tahu, karena aku yang menjalaninya.Aku tahu bahwa tidak semua luka bisa terlihat dari luar.Beberapa hanya tinggal diam, mengendap di dada,seperti hujan yang tidak jadi turun, namun tetapmembuat langit terasa berat. Maka hari ini, aku inginmengatakan sesuatu yang jarang sekali kuucapkan:Terima Kasih.Terima kasih karena telah lahir, meski dunia tidakmenjanjikan pelukan di setiap persimpangan, meskitidak ada peta yang memandu kemana harus pergi. Kautetap datang, kau tetap tumbuh, dan kau tetap memilihuntuk menjadi ada.Terima kasih karena telah bertahan. Bahkan ketikasegalanya terasa patah, bahkan ketika tidak ada yangmenggenggam, bahkan saat satu-satunya teman yangtersisa hanya nafasmu sendiri. Aku tahu, ada hari-haridimana kau merasa tidak cukup. Tidak cukup baik, tidakcukup kuat, tidak cukup dicintai. Tapi lihatlah,Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 41


sampai detik ini kau masih disini, dan itu tidak pernahsederhana. Kau telah kehilangan banyak, namun tetapmemilih untuk percaya. Kau dikhianati, namun tidakmenjadi pahit. Kau jatuh, namun tidak tinggal di dasar.Dan itu, adalah jenis keberanian yang tidak semuaorang punya.Jadi, untuk diriku yang diam-diam menyimpansegalanya sendiri, yang menyapu air mata sebelumorang lain melihat, yang pura-pura baik-baik saja agartidak merepotkan siapa-siapa. Terima kasih, karenaterus hidup, karena memberi makna pada luka, karenatidak membiarkan gelap memadamkan cahaya kecilyang masih menyala dalam dada.Dan bila esok kembali sulit, jangan lupa: Aku pernahkuat, Aku masih kuat, dan Aku akan terus memilihuntuk tetap ada.42 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Selanjutnya


Pelan-pelan, riuh agenda mulai mereda. Satu demisatu proker yang dulu hanya berupa ide kini sudahberubah menjadi kenangan, tertulis di laporanpertanggungjawaban, terabadikan dalam foto dan videoyang kami susun dengan sepenuh hati. Grup chat yangbiasanya ramai notifikasi mendadak sunyi. Dan di tengahsepi itulah, muncul pertanyaan yang perlahanmenggangguku:“Periode depan bakal gimana, ya?Selanjutnya, giliran siapa?”Aku tahu, fase ini selalu datang. Masa-masa menjelangakhir periode. Masa di mana orang-orang mulaimenimbang: bertahan atau berhenti. Naik ke posisi yanglebih tinggi, atau mundur ke pinggir arena. Tapi mungkin,aku akhirnya jadi orang pertama yang memutuskan untukmelanjutkan perjalanan di DKI. Sesuatu dalam dirikuseperti berkata, aku belum selesai di sini. Masih ada yangingin kutuntaskan. Masih ada nyala yang belum padam.Sempat terbersit keinginan lain. Ada suara kecil dalamhati yang berbisik,“nyalon jadi Kabem gitu ya?” Bukankarena haus akan posisi. Bukan karena ingin diakui. Tapikarena rasanya aku punya banyak cerita yang inginkubawa lebih tinggi, lebih luas.Tapi akhirnya, kuurungkan niat itu. Bukan karena akutakut tantangan. Bukan karena tak percaya diri. Tapikarena aku sadar, tempat pertamaku bersinar layak dijagasampai nyala terakhir. Di saat yang lain sibuk naik gunungmencari mahkota, aku justru lebih memilih turun ke lembah44 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Bukan karena takut puncak. Tapi karena aku paham,kadang tempat paling tinggi justru ada di bawah—ditempat orang lain tak banyak menoleh, di ruang-ruangsunyi yang justru menjadi fondasi sebuah perjalanan.Aku ingin tetap disini. Tempat yang mungkin tak banyakorang pahami. Tempat yang sering hanya disebut sekilas,padahal menjadi penopang panggung besar. Tempat dimana aku merasa paling banyak belajar, paling banyakbertumbuh. Tapi aku tak ingin berjalan sendiri. Karenaaku tahu, sekuat apa pun satu orang, tak akan cukupuntuk menjaga nyala. Maka, aku mulai mencobaberbagai cara agar teman-temanku ikut menemaniku diperjalanan selanjutnya.Kuajak mereka bicara satu per satu. Aku ceritakanalasanku bertahan. Aku bujuk dengan harapan, dengancita-cita, dengan keyakinan bahwa apa yang kita lakukandi balik layar bukanlah hal kecil. Bahwa dunia mungkintak selalu melihat kita, tapi jejak kita akan selalu ada,menghidupkan panggung demi panggung. Ada yangmengangguk ragu. Ada yang tersenyum tipis. Ada pulayang tertawa sambil berkata,“Lihat nanti aja, ya.” Takapa. Aku tahu, setiap orang punya jalannya sendiri. Tapiaku ingin mereka tahu satu hal: Perjalanan ini belumselesai. Dan aku ingin kita menuntaskannya bersama.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 45


Dulu kita diajari cara berharap dan berekspektasi,selalu ditanya cita-cita dan juga mimpi,tapi kita malah belajar kecewa seorang diri.Dari asa yang tak pernah terjadi,dari harap yang cuma jadi “nanti”,juga dari mimpi yang terlalu tinggi.46 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Dulu kita diajari cara mendapatkan,mengusahakan, dan menemukan.Tapi diam-diam kita belajar kehilangan seorang diri.Dari yang kemudian tak pernah datang,dari yang ramai lalu membawa kesepian,juga dari yang tiba-tiba meninggalkan.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 47


Dulu kita diajari cara untuk menang,berlari lebih cepat, lebih baik lagi.Tapi kemudian kita belajar gagal seorang diri.Dari jatuh dan luka yang membekas di pipi,dari kalah yang tinggal sedikit lagi,juga dari “sampai” yang tak pernah terjadi.48 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Karena kita selalu diajari cara berjuang.Berjuang untuk mimpi yang kita cita-citakan,berjuang untuk mendapatkan yang diinginkan,berjuang untuk berlari dan memenangkan.Tapi sayangnya,kita lupa diajari cara untuk tetap bertahan.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 49


Click to View FlipBook Version