The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah kisah dari balik layar, di mana langkah kecil, keraguan, dan keberanian bersatu dalam diam. Tentang seseorang yang awalnya hanya ikut karena keadaan, lalu perlahan menemukan pijakannya, hingga akhirnya berdiri sebagai pemimpin.

“Di Balik Layar” bukan hanya tentang organisasi. Ini adalah tentang tumbuh, tentang belajar menjadi dewasa, dan tentang menyadari bahwa cahaya sejati sering kali muncul dari tempat yang paling sunyi.

Bagi siapa pun yang pernah merasa tidak cukup layak, terlalu lelah, atau bertanya-tanya “apa aku bisa?”, buku ini adalah cermin. Sebuah pengingat bahwa kita tak sendiri dalam perjalanan ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rifahilman06, 2025-12-30 00:57:23

Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni

Sebuah kisah dari balik layar, di mana langkah kecil, keraguan, dan keberanian bersatu dalam diam. Tentang seseorang yang awalnya hanya ikut karena keadaan, lalu perlahan menemukan pijakannya, hingga akhirnya berdiri sebagai pemimpin.

“Di Balik Layar” bukan hanya tentang organisasi. Ini adalah tentang tumbuh, tentang belajar menjadi dewasa, dan tentang menyadari bahwa cahaya sejati sering kali muncul dari tempat yang paling sunyi.

Bagi siapa pun yang pernah merasa tidak cukup layak, terlalu lelah, atau bertanya-tanya “apa aku bisa?”, buku ini adalah cermin. Sebuah pengingat bahwa kita tak sendiri dalam perjalanan ini.

Keywords: Leadership,Organization,E-Book

Biarkan dirimu merasakannya.Sesak di dada,kacau di kepala,kosong di jiwa.Memang terasa asing rasanya,tapi tak apa, biarkan dirimu merasa “oh, ini ya…”50 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Agar dirimu bisa belajar memahaminya,memaknai, dan mengingatnya.Kalau hidup itu ga cuma tentang berjuang,mewujudkan, mendapatkan, memenangkan.Tapi juga tentang sebaik-baiknya bertahan,dari kekecewaan, kehilangan, dan kegagalan.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 51


Izinkan dirimu merasakan semuanya.Kekecewaan dan kenyataannya,kehilangan dan dukanya,kegagalan dan kekalahannya.Agar nanti kamu bisa melaluinya,dan mulai lagi berjuang sebaik-baiknya.52 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Sebab, sebaik-baiknya berjuangadalah berjuang untuk tetap bertahan.dan sebaik-baiknya bertahanadalah untuk tetap berjuang.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 53


Padamu Kupercaya,Walau Tak Masuk Logika“Namun aku bingung, kenapa ku tak pergi. Akubingung, kalian masih di sini.” Aneh bukan? Ketikasegala alasan sudah cukup untuk membuat seseorangpergi, tapi kaki tetap menolak beranjak. Ada yangtertinggal, mungkin bukan hanya kenangan, tapikeyakinan samar bahwa luka ini bukan akhir darisegalanya. Bahwa meski tak lagi seperti dulu, adasesuatu yang masih layak diperjuangkan, meskibentuknya berubah. Dan aku tahu, aku bukan satusatunya yang merasakannya. Kita semua masih di sini,entah karena keberanian… atau karena takut.“Apa mungkin karena terlalu lama? Apa benar ‘tukberbagi derita?” Mungkin. Mungkin kita terlaluterbiasa dengan rasa sakit ini, sampai ia jadi sepertirumah: tidak nyaman, tapi familiar. Aku tidak tahu lagimana yang benar, pergi dan menyelamatkan dirisendiri, atau tinggal dan berbagi luka yang sama. Tapi dititik ini, perpisahan bukan hanya kehilangan, tapipengkhianatan terhadap segala yang pernah kitaperjuangkan bersama.“Mungkin nanti semua justru memburuk. Hati-hati,namun terjatuh lagi. Tapi luka adalah niscaya.Kutanggung denganmu, selama ku mampu.” Aku tidak54 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


menjanjikan segalanya akan baik-baik saja, tak adayang pasti. Tapi kalau luka adalah sebagian dari hidupini, maka biarlah aku menanggungnya. Selama akumasih punya tenaga, selama hatiku belum benar-benarmenyerah, aku akan tetap tinggal, meski hasilnyabelum tentu bahagia.“Namun aku bingung, kenapa ku tak pergi. Akubingung, kalian masih di sini.” Kebingungan ini bukantanda kelemahan. Tapi tanda bahwa yang kita jagabukan hal remeh. Aku tidak bertahan karena tidakpunya pilihan. Aku bertahan karena yang kita bangunbukan sesuatu yang bisa kita tinggalkan begitu saja.Kita semua tahu risikonya. Kita tahu luka ini nyata, tapikita tetap tinggal.“Apa mungkin karena terlalu lama? Apa benar ‘tukberbagi derita?” Aku tidak punya jawaban pasti, tapimungkin memang ini jalannya. Bahwa rasa sakit takselalu harus dihindari. Terkadang, rasa sakit adalahpengingat bahwa kita pernah mencoba dengansungguh-sungguh.“Mungkin nanti semua justrumemburuk. Hati-hati, namun terjatuh lagi. Tapi lukaadalah niscaya. Kutanggung denganmu, selama kumampu.” Aku tidak menjanjikan akan kuat selamanya.Tapi selama aku masih bisa menggenggam, aku takakan melepaskan.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 55


“Selalu menertawakan ramalan bintang, kartu tarot,orang pintar pembaca nasib. Namun…” Di balik tawakita, ternyata ada doa. Ada harapan kecil yang belumselesai. Kita pura-pura kuat, tapi sejujurnya kita hanyaingin dipercaya.“Padamu kupercaya. Tak masuklogika.” Kepercayaan ini bukan hasil dari perhitungan,ia lahir dari luka yang kita toreh bersama. Dan meskidunia menyebut kita bodoh, meski logika takmendukung apa yang kita perjuangkan, aku tetappercaya.“Padamu kupercaya. Tak masuk logika. Padamukupercaya. Tak masuk logika.” Mungkin keyakinan itubukan soal masuk akal atau tidak. Tapi soal siapa yangtetap menggenggam meski gemetar. Tentang siapayang memilih tinggal, meski semuanya terasa abu-abu.Dan jika kumaknai semua ini dengan satu kalimat, akutetap percaya padamu, meski tak masuk logika. Karenaterkadang, yang paling tulus… justru tak bisa dijelaskan.Lagu ini bukan soal kehilangan, tapi soal keberanianuntuk tetap tinggal, bahkan saat logika menyerah. Danaku… terlalu mengerti rasa itu.56 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Pemimpin


Tyang baru. Tapi bagiku, justru di sanalah beban barumulai terasa. Entah kenapa, sejak hari itu, ada rasa beratyang tiba-tiba hinggap di pundakku. karena aku tahu,divisi ini, rumahku, kini ada di tanganku untuk dijagadan diperbaiki. Aku sudah lama mempersiapkan diriuntuk kemungkinan ini. Sejak awal, aku tahu jikabertahan di DKI, cepat atau lambat akan tiba saatnyaaku harus berdiri lebih ke depan. Tapi ketika waktu itubenar-benar datang, aku mendadak dirundung keraguan.epuk tangan menggema di ruangan, seolahsemua beban telah selesai, terpilihlah Ketua BEM“Bisa ga ya? Gimana kalo gagal?” Aku bertanya padadiriku sendiri berkali-kali. Karena sejujurnya, akumerasa tidak punya petunjuk apapun tentang bagaimanamenjadi pemimpin yang baik. Aku bukan orang yangpandai berbicara di depan banyak orang. Kadang akumasih canggung, kadang aku masih banyak diam.Namun di tengah keraguan itu, ada satu hal yangakhirnya membulatkan tekadku. Aku sadar, akumungkin tak punya banyak teori. Tak punya sifatkepemimpinan yang sering dibicarakan dalam bukubuku motivasi. Yang kupunya cuma dengkul yang keras,nafas yang panjang, dan kepala yang nggak gampangmeledak. Karena bagiku, menjadi penting itu bukan soalposisi, tapi soal presensi.58 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Saat Ketua Divisi sebelumnya pergi, tak ada yangmenunjuk pewaris tahta, mereka memilih orang yangtidak meminta mahkota, tapi yang paham, menjadipemimpin bukan soal suara, tapi kehadiran. Aku inginmenjadi pemimpin yang seperti itu. Bagiku, menjadiKetua ini bukan sekadar simbol, tapi refleks. Refleksmenjadi orang pertama yang maju saat timnya goyah.Refleks untuk berdiri paling depan saat semua orangbingung arah. Refleks untuk menahan beban saat yanglain terlalu letih. dan refleks untuk berkata,“Tenang, akudi sini,” bahkan ketika diri sendiri pun merasa gemetar.Aku ingin menjadi pemimpin yang bisa membuat orangorang di belakangku merasa aman, hanya denganmelihat punggungku. Yang membuat mereka berpikir,“Selama dia masih berdiri, aku nggak perlu takut.” Akuingin menjadi pemimpin yang tidak melulu berbicara,tetapi yang mendengarkan. Yang tidak hanya memberiarahan, tetapi juga ikut mengerjakan hal kecil. Yangtidak hanya memimpin di panggung, tetapi juga tetapbertahan di balik layar. Mungkin aku akan banyak salah.Mungkin aku akan jatuh dan ragu di tengah jalan. Tapiaku tahu satu hal pasti: bahwa aku siap berjalan sejauhapa pun.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 59


60 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanMenjadi pemimpin ituantara dipukul 5 kali atau dipukul 10 kali.Tinggal kamu pilih mana yang paling kecilkemungkinan terburuknyaketika dihadapkan dengan 2 pilihan tersebut.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 61Kadang pilihan pemimpin itubukan antara benar dan salah,tapi antara luka dan luka yang lebih dalam.Bukan soal senang atau susah,tapi soal seberapa kuat kamu menanggung bebanyang tidak semua orang lihat.


Kamu bisa memilih keputusan A, lalu dibenciatau keputusan B, dan tetap dibenci.Tidak ada yang sepenuhnya benar,karena semua pilihan punya konsekuensi.Dan di tengah itu semua,kamu harus tetap tegas.62 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Timeline mundur, kamu disalahkan.Ada konflik internal, kamu dituduh kurang tegas.Masalah muncul, kamu dianggap tidak becus.Bahkan saat kamu berusaha sekuat tenaga,semua itu dianggap biasa,yang dilihat hanyalah kesalahanmu.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 63


Kamu kerja keras.Lembur, koordinasi, menjaga ritme tim.Tapi tidak ada yang bilang terima kasih.Yang datang justru komentar tajam,dan ekspektasi baru yang lebih berat.64 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Orang tidak tahu kamu sedang lelah,tidak tahu kamu sedang bingung,tidak tahu kamu juga ingin menyerah.Tapi kamu tetap berdiri, karena kamu sadar,kalau kamu jatuh, banyak hal ikut runtuh.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 65


Luka itu membentukmu, dan kritik itu menguatkanmu.Diam-diam, kamu sedang menjadiversi pemimpin yang lebih tahan uji.Pemimpin yang paham rasa sakit,dan tidak akan meneruskannya ke bawahannya.66 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Pemimpin itu tidak selalu berdiri paling depanuntuk disambut,kadang ia berdiri paling depanagar menjadi yang pertama kali terkena pukulan.Bukan karena ia kuat,tapi karena ia tahu,ada banyak yang perlu dilindungi di belakangnya.Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 67


68 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanPemimpin itu bukan pemimpi.Tapi mereka yang berani bangun lebih dulu.Karena perubahan tak lahir dari tidur yang panjang,tapi dari langkah pertama yang sunyi.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 69Mimpi itu nyaman, hangat, aman.Tapi dunia tidak berubah olehorang yang tidur panjang.Dunia berubah karena seseorang memutuskanuntuk membuka mata, dan mulai berjalan.


70 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanPemimpin tidak butuh aba-aba.Mereka membaca situasi,lalu mengambil tanggung jawab.Bukan karena mereka yakin akan menang,tapi karena tidak ada lagi waktu untuk menunggu.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 71Kamu mungkin hanya lihat hasilnya.Tapi kamu tidak tahu berapa kalimereka jatuh dalam diam.Berapa kali mereka bertanya:“Ini layak diperjuangkan, atau cukup sampai di sini?”


72 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanKepemimpinan sejati tidak haus tepuk tangan.Ia bekerja bahkan saat tak ada yang melihat.Dan justru karena itu,orang-orang percaya untuk mengikutinya.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 73Kalau kamu pikir pemimpin itu pemberani,mungkin kamu belum melihat air matanya.Bedanya, mereka memilih tetap melangkah,walau dalam hati masih ada gemetar.


74 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanKamu bisa dipanggil ‘ketua’Tapi apa kamu benar-benar hadir saat dibutuhkan?Pemimpin itu bukan tentang gelar.Tapi tentang siapa yang bisa berdirisaat keadaan mulai berantakan.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 75“Aku tidak akan menarik kata-kataku,Karena itulah jalan ninjaku.”- Naruto UzumakiKarena pemimpin sejati memegang janji,bahkan saat seluruh dunia meragukannya.


76 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanAku Yang AkanMemulai Langkah PertamaAku tak peduli siapa yang berjalan bersamaku. Jikalangkahku sepi, biarlah derap hatiku yang menggema disepanjang jalan ini. Ada yang bilang perjuangan adalahtentang menemukan tempat di tengah barisan. Tapibagaimana jika aku tak pernah melihat barisan itu?Bagaimana jika arah yang kupilih belum pernahditapaki? Maka biarlah aku jadi yang pertamamenggores jalurnya—meski hanya dengan luka dankeyakinan.Aku tidak tahu siapa yang akan tetap tinggal di sisikusaat jalan ini mulai sepi. Dan mungkin memang bukantugas siapapun untuk bertahan di sisiku. Aku tidakpernah menuntut kehadiran yang menetap, tidakmemaksa siapapun untuk memahami arah yangkupilih, sebab yang kumiliki sejak awal bukanlah peta,melainkan keyakinan yang sering kali tak terdengar dankeberanian yang terkadang tak sempurna. Tapi justrudisitulah aku belajar mengenali diriku sendiri. Saat takada suara yang menggema, saat tak ada tangan yangmenggenggam, aku mulai mendengar derap langkahkusendiri—pelan, tapi nyata. Sunyi, tapi jujur.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 77Ada kalanya aku bertanya, mengapa jalanku terasabegitu asing? Mengapa bayang-bayang orang laintampak begitu jauh, sementara aku harus terusberjalan sendirian diantara sunyi yang bahkan takmenoleh? Tapi lama-kelamaan, aku mulai memahami,tidak semua perjalanan diciptakan untuk dilaluibersama. Ada jalan-jalan yang memang harus dimulaisendiri, bukan karena kesombongan, tapi karenakesadaran. Karena ada keyakinan yang tak bisadiwariskan, ada pilihan yang tak bisa diwakilkan. Danketika semua orang menunggu arah, aku memilih untukmenjadi arah itu.Aku tahu banyak orang mencari tempat di tengahkerumunan, ingin menjadi bagian dari sesuatu yangtelah terbentuk. Tapi bagimana jika aku tidak pernahmelihat kerumunan itu? Bagaimana jika yang kulihathanya tanah kosong dan langit luas yang belum pernahdisentuh mimpi siapapun? Maka aku tak bisamenunggu. Aku tak boleh menunggu. Aku harusmenjadi awal dari sesuatu yang belum pernah ada. Danuntuk itu, aku harus siap menapaki jalan yang belumditapaki, meski harus melangkah dengan kaki yanggemetar, meski harus berdarah dalam sunyi yangpanjang. Aku tahu, akan ada banyak yang tidak paham.Akan ada yang tertawa pelan di belakang, menyebut


langkahku naif, menyebut mimpiku terlalu tinggi,menyebut keyakinanku seperti asap yang akan hilangtertiup angin.Aku tidak mencari sorak. Tidak menunggu ada yangbertepuk tangan saat aku berani. Yang kucari bukanpengakuan, tapi makna. Dan makna itu, seringkali takditemukan dalam keramaian. Ia hadir dalam malamyang panjang, dalam doa yang lirih, dalam tangis yangtak sempat dijelaskan, dalam keputusan yang diambilsaat tidak ada seorang pun memberi petunjuk. Akutahu, makna yang seperti itu tidak mudah. Tapi akujuga tahu, itulah yang membuat langkahku terasahidup. Setiap luka yang kuterima bukan sia-sia, setiapjenuh yang kualami bukan tanda kelemahan, tapi buktibahwa aku masih mencoba. Masih hidup. Masihpercaya.78 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Dewasa


Periode ini perlahan memasuki tengah jalannya.Aku duduk di depan laptop, memperhatikan anakanak yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masingmasing. Ada yang mengurus proposal, ada yang ngulikdesain, ada pula yang mendiskusikan konten media sosial.Dan aku hanya bisa tersenyum kecil. Sejauh ini, semuanyaberjalan cukup lancar. Tak ada badai besar, hanya rintikrintik kecil yang mudah kami atasi bersama. Yang palingmembuatku lega: program kerja eventual dari divisi inisudah terlaksana semua. Dan hasilnya… lebih dari cukup.Bahkan, aku puas.Padahal jujur saja, sebelumnya aku sempat ragu. Bukankarena mereka tidak kompeten, tetapi karena aku takut.Takut mereka tak sanggup meneruskan apa yang sudahkubangun bersama teman-temanku dulu. Aku takut,mereka akan menganggap ini hanya tempat singgah,bukan rumah. Aku takut, saat aku melepaskan kendali,semuanya akan goyah. Tapi ternyata, mereka bisa. Bahkanlebih dari itu, mereka berhasil membuatku menepatijanjiku pada diriku sendiri: bahwa suatu saat, aku inginmembuat divisi ini dalam jadi lebih baik daripada saatkuterima dulu. Dan sekarang, mereka sudah cukupmandiri. Mereka sudah bisa kulepaskan untuk menanganitugas-tugas mereka sendiri, tanpa harus selalukudampingi.80 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanNamun, ketika aku pikir semua sudah aman… Ketikaanak-anak di bawah tanggung jawabku sudah bisa berjalan


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 81sendiri… Ternyata yang bermasalah justru orang-orangdi atas. Entah karena mereka lelah. Entah karena merekapunya urusan pribadi yang belum selesai. Entah karenamereka sudah kehilangan rasa atas tanggung jawabnyasendiri. Tapi yang jelas, hubungan kami mulai renggang.Masalah yang muncul sebenarnya bukan karena besar.Tapi karena mereka sendiri enggan menyelesaikannya.Mereka mengeluh, curhat ke sana-sini, berharap adayang bisa menyulap semuanya jadi baik. Tapi ketikasolusi ditawarkan, mereka malah melempar kembalitanggung jawab itu… dan tidak mau bergerak samasekali.Aku paham, semua orang punya masa lelah. Semuaorang bisa merasa jenuh, bisa tersesat di tengah jalan.Tapi yang ingin kutekankan adalah: Kalian ada di posisiini karena dipercaya. Dipercaya bisa menyelesaikanmasalah. Dipercaya bisa jadi sandaran. Dipercaya bisamemikul sebagian beban yang dulunya mereka pikulsendirian. Kalau kalian tak berani bicara ke satu orang—karena takut, canggung, atau trauma—maka carilahpenengah. Carilah seseorang yang bisa menjembatani,bukan yang cuma mendengar lalu menghilang.Menjadi mandiri bukan berarti jalan sendiri. Tapi tahukapan harus bicara, tahu kapan harus minta tolong, dantahu kapan harus mengulurkan tangan, bukanmemalingkan wajah. Kalau anak-anak yang baru sajamulai bisa bertumbuh ini saja bisa belajar untuk saling


82 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmandukung dan saling dengar, Maka kita, yang katanyasudah “senior”, seharusnya bisa jauh lebih dari itu.Menjadi dewasa bukan soal umur atau jabatan. Bukansoal siapa yang paling lama, paling lantang, atau palingsering muncul di depan layar. Tapi tentang siapa yangtetap bertahan ketika semuanya mulai goyah, dan siapayang mau belajar untuk bertumbuh, meski tak ada yangmenuntut mereka untuk itu.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 83Banyak yang ngira“Diemin aja, nanti juga paham sendiri”atau “Udah gede, harusnya bisa mikir!”Padahal anggotamu itu bukan malaikat.Kalau kamu gak ngomong,ya mereka gak akan ngerti.


84 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanPemimpin itu bukan cuma ngasih arahanTapi tentang gimana cara kamujelasin sesuatu pas keadaannya gak ideal.Dan itu cuma bisa dicapai lewat komunikasi,bukan kode-kode yang gak jelas itu.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 85Kalau mulai kesal, jangan langsung meledak.Coba pikir dulu, salahnya di mana.Susun kata-kata yang enak didengar,lalu ajak ngobrol baik-baik.Bahas masalahnya, bukan saling sindir.Ingat, orang gak akan pahamkalau kita gak pernah jelasin.


86 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanSemua pemimpin bisa ngomong.Tapi gak semua pemimpin bisa nyampein kecewatanpa bikin tim ngerasa dijauhin.Dan pilihan itu di tanganmu,mau hobi ngambekan atau cobalebih wise sebagai pemimpin.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 87Ngambek itu bikin orang bingung.Tapi komunikasi yang jelas,bikin tim berkembang.Kalau kamu bener-bener caresama timmu, kamu akan ngomong.Bukan ngilang.Leadership itu dimulai dari keberanianbuat buka suara.Bukan pas enak doang, tapi justrupas lagi gak nyaman.


88 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanBanyak yang akhirnya mikir“Yaudah, aku memang begini.Mau kamu suka atau ngga, terserah.”Lalu mulai menutup diri,gak mau dengerin saran,gak nerima kritik, dan ngerasa dirinya paling ngerti.Padahal,“siap gak disukai” itubukan berarti bebas jadi keras kepala.Bukan juga jadi alasan buattutup kuping dan jalan sendiri.Dan yang jelas, bukan pembenaran buat egomu.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 89Siap gak disukai itu artinyaSiap ambil keputusan yang berat.Siap tanggung resikonyaTetap siap terbuka buat masukandan kritik, meskipun itu pahit.Karena kamu sadar,kamu gak selalu paling benar.


90 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanPemimpin bukan soal paling vokal ataupaling tahan dibenci.Tapi soal siapa yang paling tanggung jawabdan mau terus belajar.Karena leadership itubukan kekuatan tunggal, tapi kerja bareng.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 91Banyak orang ngira,makin jujur itu makin baik.Padahal konteksnya beda.Di tongkrongan mungkin fine-fine aja.Tapi di organisasi?Sekali kamu salah ngomong,kepercayaan bisa hilang.Dan pemimpin yang gak dipercayaitu gak akan punya pengaruh.


92 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanNgomong apa adanya itutidak sama dengan asal ngomong.Yang kamu bilang “jujur”,kadang cuma ego yang ingin dimengertiPadahal pemimpin itu butuh kendali,bukan sekadar nyampein isi kepala.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 93Jadi pemimpin bukan cumasoal nyampein isi kepala.Tapi juga soal bikin orang merasa aman dan paham.Komunikasi yang baik bukan cumamentransfer informasi,tapi juga transfer rasa dan tanggung jawab.Karena setiap kata yang kamu ucapkanbisa membangun kepercayaan,atau justru merusak kredibilitas.


94 Rifa Hilman Mubarok @rifahilmanMereka Menutup Mata Atas LukaYang Pernah Mereka Ciptakan PerlahanSunyi ini bukan jeda untuk menenangkan diri, melainkanlabirin tempat aku tersesat bersama ingatan yang terusberdengung bising di kepala. Aku masih bisa mengingatdengan jelas bagaimana awalnya semua terasa biasa,canda yang samar, komentar yang terdengar ringan,ucapan yang katanya “sekadar candaan”. Tapi perlahan,kata-kata itu jadi lebih tajam, lebih dingin, lebihmenusuk. Anehnya, bukan mereka yang terganggu saatmengucapkannya, malah aku dianggap salah karenaterlalu serius menanggapi. Apakah salah bila hati ini taklagi kebal, setelah ribuan kali tergores?Aku pernah mencoba memahami mereka, sampai lupabagaimana memahami diriku sendiri. Pernah terlalusibuk membenarkan kenapa mereka memperlakukankuseperti itu, sampai lupa bahwa kata-kata bisa menjadibelati jika diayunkan tanpa empati. Aku belajarmenyembunyikan getar bibirku setiap kali disebutberlebihan. Aku membungkam tangis agar tidak terlihatdramatis. Aku membiarkan diriku ditempa oleh tekananyang perlahan menjelma trauma, trauma karena setiaplangkah bisa memancing ejekan, trauma karena setiapsuara bisa menjadi alarm bahwa aku akan disudutkanlagi.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 95Lama-kelamaan, aku seperti boneka yang dibentuk agarcocok dengan sandiwara yang mereka mainkan. Jika akutersinggung, aku yang harus lebih dewasa. Jika akuterluka, aku yang terlalu sensitif. Jika aku mencobaprotes, aku yang dianggap pembawa masalah. Ironisnya,pada titik tertentu aku mulai percaya bahwa mungkinmemang aku yang bermasalah. Bahwa aku harusberubah agar mereka senang, harus dijinakkan agar tidakmembuat kekacauan emosional di hadapan publik.Tapi tahukah mereka, sekuat-kuatnya seseorangmenahan sakit, akan ada hari dimana luka yangditumpuk perlahan itu akhirnya pecah. Retakan-retakankecil yang selama ini tak pernah mereka pedulikan, kinimenjalar begitu cepat, memecahkan sisi hati yang dulumasih berusaha menyayangi sekalipun disakiti. Darisanalah lahir amarah sunyi, bukan untuk menyerang, tapiuntuk mempertahankan sisa-sisa harga diri yang selamaini kupaksa bertahan agar tidak lenyap.Aku mulai berhenti membela mereka di dalam pikirankusendiri. Mulai berhenti membuat alasan yangmerendahkan diriku membenarkan cara merekamemperlakukan aku. Salahkah jika aku kini memilihmenjaga jarak? Salahkah jika aku mulai mengatakan“tidak” walau mereka terbiasa mendengarku berkata


96 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman“iya”? Mungkin bagi mereka, aku sudah terlalu jauhberubah, tetapi tak satu pun dari mereka bertanya siapayang pertama kali menggoyahkan pondasiku hingga akuharus membangun diri dari reruntuhan.Pelan-pelan, amarah itu meledak di dalam. Bukandengan teriakan, melainkan dengan keberanian untukberbalik badan. Bukan untuk membalas, melainkanuntuk menolak kembali menjadi tumbal atas candaanyang dibungkus kepalsuan. Jika dulu aku menangiskarena tidak ingin kehilangan mereka, kini aku relakehilangan demi tidak kembali kehilangan diriku sendiri.Mengapa hanya ada dua pilihan: menjadi korban, ataudisebut egois ketika memilih menyelamatkan diri?Lucunya, saat aku dulu remuk, mereka memandangkudengan jijik, menganggapku tak kuat. Tetapi saat akumencoba bangkit, menyusun ulang kepingku satu persatu, mereka sibuk menunjuk dan berbisik “Dia sudahberubah.” Mereka menatapku seakan aku penghianat,padahal mereka sendiri yang membunuh versi dirikuyang dulu. Mereka menutup mata atas semua luka yangpernah mereka ciptakan perlahan, lalu terheran-heranketika luka itu melahirkan sosok baru yang tak lagi bisamereka kontrol.


Di Balik Layar Antara Transformasi dan Harmoni 97Dan di sinilah aku sekarang. Masih gemetar setiap kalimengingat perlakuan mereka, masih berjuangmenenangkan napas ketika kata-kata jahat itu tiba-tibaterlintas seperti gema di lorong kepala. Apa ini disebuttrauma? Ya. Luka yang tak kasat mata, tapi dampaknyamerembet ke seluruh hidup: caraku berbicara, carakumenilai diriku sendiri. Kadang aku membenci dirikukarena membiarkan semua itu terjadi begitu lama.Kadang aku bangga karena meski berdarah-darah, akutidak sepenuhnya hancur.Untuk pertama kalinya, aku memilih melawan. Bukandengan melukai balik, melainkan dengan memilih dirikusebelum memilih mereka, menolak mengulangi lingkaranpenerimaan semu. Mengangkat wajahku yang dulumenunduk, menatap mereka tanpa dendam, tapi jugatanpa keinginan untuk kembali seperti dulu. Bukankahmelepas adalah bentuk melawan paling sunyi? Bentukpembalasan yang tak menyisakan caci maki, hanyajarak… yang cukup kuat untuk membuat merekamenyadari bahwa sesuatu telah berubah selamanya.Jika pada akhirnya mereka ingin berkata,“kau tidak lagiseperti dulu” maka biarkan saja. Versi diriku yang dulutelah lama mati, dihabisi oleh lemahnya aku yang terusmencoba bertahan demi tidak disebut buruk. Versi diriku


yang sekarang mungkin tak lagi cocok berada di dalamkerumunan mereka, tapi dialah satu-satunya diriku yangberhasil selamat. Aku tak ingin kembali mengemispengakuan di tempat yang pernah menusukku dengankata-kata tajam, sambil berdalih mereka hanya bercanda.Jadi katakanlah sesukanya, bahwa aku berubah, bahwaaku tak lagi lembut, bahwa aku kini egois menjaga jarak.Aku tidak akan lagi membela sikap mereka yang selamaini menorehkan luka kecil di hatiku sampai bernanah, lalumenolak bertanggung jawab. Karena aku telah memilihuntuk berdiri. Untuk menatap dunia bukan dengan matayang ketakutan, tapi dengan hati yang tahu: merekaboleh menutup mata atas semua luka yang pernahmereka ciptakan perlahan… namun aku tak akan lagimenutup mata atas betapa bahagianya diriku untukdiselamatkan.98 Rifa Hilman Mubarok @rifahilman


Rumah


Click to View FlipBook Version