PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN FLIPBOOK DENGAN PENDEKATAN STUDENT CENTRE UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK KELAS V PADA MATA PELAJARAN IPS DI SD NEGERI BUKIT DURI 05 TESIS Disampaikan untuk memenuhi persyaratan Memperoleh gelar Magister Pendidikan Oleh: SOEHARTI 2109087096 SEKOLAH PASCASARJANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA 2023 LMBAR PERSETUJUAN
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN FLIPBOOK DENGAN PENDEKATAN STUDENT CENTRE UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK KELAS V PADA MATA PELAJARAN IPS DI SD NEGERI BUKIT DURI 05 TESIS Oleh SOEHARTI 2109087096 Pembimbing Tanda tangan Tanggal 1. Prof, Dr. Hj. Suswandari, M.Pd …………….. …………… 2. Prof. Dr. Hj. A. Suhaenah Suparno ……………. ……………. Jakarta, Ketua Program Studi Pendidikan Dasar Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA Dr. Yessy Yanita Sari, M.Pd
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI Yang brtanda tangan di bawah ini; Nama : Soeharti NIM : 2109087096 Program Studi : Pendidikan Dasar Sekolah Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka Judul Tesis : Pengembangan Media Pembelajaran Flipbook Dengan Pendekatan Student Centre Untuk Meningkatkan Krativitas Peserta Didik Kelas V Pada Mata Pelajaran IPS Di SD Negeri Bukit Duri 05 Menyatakan dalam dokumen ilmiah Tesis ini tidak terdapat bagian karya ilmiah lain Yang telah diajukan untuk memperoleh gelar akademik di suatu Lembaga Pendidikan Tinggi, dan juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang/lembaga lain, kecuali yang secara lengkap di Daftar Pustaka. Dengan ini saya menyatakan bahwa dokumen ilmiah ini bebas dari unsur-unsur plagiasi dan apabila dokumen ilmiah Tesis ini dikemudian hari terbukti meruakan plagiasi dari penulis lain dan atau dengan sengaja mengajukan karya atau pendapat yang merupakan hasil karya penulis lain, maka penulis bersedia menerima sangsi akademik dan atau sangsi hukum yang berlaku. Demikian Surat Pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Jakarta 13 Januari 2024 Soeharti NIM 2109087096 ABSTRAK
Soeharti. 2024. Pengembangan Media Pembelajaran Flipbook Dengan Pendekatan Student Centre Untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik Kelas V Pada Mata Pelajaran IPS Di SD Negeri Bukit Duri 05. Program Studi Magister Pendidikan Dasar Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA. Kata Kunci; Aplikasi Book Creator, Peningkatan Kreativitas Peserta Didik. Kemajuan teknologi sangat pesat terutama pada bidang pendidikan, sehingga guru dan peserta didik perlu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Media pembelajaran berbasis digital adalah salah satu pemanfaatan teknologi dalam pendidikan dengan harapan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil pengembangan produk berupa media pembelajaran berbasis Flipbook pada materi Kegiatan Ekonomi sehingga dapat digunakan oleh guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Model pengembangan pada penelitian ini menggunakan model ADDIE yang memiliki lima tahap yaitu Analysis, Design ,Development, Implementation, Evaluation. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik non tes dengan instrumen pengumpulan data berupa lembar validasi yang diisi oleh validator. Produk akhir yang dikembangkan dapat digunakan sebagai media pembelajaran dalam bentuk buku digital untuk meningkatkan kreativitas ABSTRACT
Soeharti, 2024. Development of Flipbook Learning Media Using a Student Center Approach to Increase the Creativity of class V Student in Social Sciences Subject at SD Negeri Bukit Duri 05. Basic Education Master’s Study Program Postgraduate School Muhammadiyah University Prof. DR. HAMKA. Technological progress is very rapid, especially in filekd of education, so teachers and student need to utilize technology in learning. Digital based learning media is one of the uses of technology in education with the hope of improving the quality of learning. This research aims to determine the process and results of product development in the form of Flipbook based learning media on economic activity material so that it can be used by teacher and students in the learning process. The development model in this research uses the ADDIE model which has five stages, namely Analysis Design Development Implementation Evaluation. The data collection technique uses in this research is a non test technique with the data collection instrument in the form of a validation sheet filled in by the validator. The final product development can be usd as learning medium in the form of a digital book to increase creativity. LEMBAR PENGESAHAN
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN FLIPBOOK DENGAN PENDEKATAN STUDENT CENTRE UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK KELAS V PADA MATA PELAJARAN IPS DI SD NEGERI BUKIT DURI 05 Dipertahankan di Depan Penguji Tesis Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA KATA PENGANTAR
Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, segala puji bagi Allah, yang telah memberikan kekuatan dan kemudahan dalam menyusun tesis ynag berjudul PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN FLIPBOOK DENGAN PENDEKATAN STUDENT CENTRE UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK KELAS PADA MATA PELAJARAN IPS DI SD NEGERI BUKIT DURI 05 Sholawat serta salam terlimpah curahkan kepada Nabi Besar Rasulullaah Muhammad Shalallhaahu Alayhi Wasalam. serta keluarganya. Tujuan penyusunan tesis ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan agar peneliti dapat menempuh ujian Magister Pendidikan yang diselenggarakan di sekolah Pascasarjana Program Studi Pendidikan Dasar di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA. Penulis menyadari bahwa tesis ini dapat terselesaikan atas bantuan berupa bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu selanjutnya ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada: 1. Prof. Dr. Hj. Suswandari, M.Pd, selaku dosen pembimbing I yang senantiasa memberikan masukan, arahan dan bimbingan kepada peneliti. 2. Prof. Dr. Hj. A. Suhaenah, selaku dosen pembimbing II yang senantiasa memberikanmasukan, arahan dan bimbingan kepada peneliti. 3. Dr. Hj. Yessy Yanita Sari, M.Pd, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Dasar yang telah dengan penuh kasih sayang dan kesabaran selalu membersamai, mengarahkan dan memotivasi kepada peneliti. 4. Prof. Dr. H. Ade Hikmat, M.Pd selaku Direktur Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka yang telah mengizinkan peneliti untuk melaksanakan penelitian ini. 5. Keluarga tercinta yang selalu memberi dukungan moril serta materil. 6. Ribka Mirjam Mahieu, S.Pd, selaku Kepala Sekolah SDN Bukit Duri 05, yang selalu memberi dukungan untuk menyelesaikan tesis ini. 7. Karyatmo, M.Pd, selaku Ketua Koperasi Keluarga Guru Jakarta, yang selalu memberi dukungan baik moril maupun materil. 8. Teman-teman komunitas belajar Pejuang Merdeka Mengajar yang selalu memberi dukungan. 9. Rekan-rekan guru SDN Bukit Duri 05 yang selalu memberi dukungan sehingga tesis ini dapat selesai. Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu kritik dan saran sangat peneliti harapkan untuk pembuatan tesis. Dengan harapan, semoga penulisan tesis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan rekan pendidik lainnya. Jakarta, Januari 2024 PENELITI
DAFTAR ISI ABSTRAK ………………………………………………………................................ ii ABSTRACT …………………………………………………….......................... iii LEMBAR PERSETUJUAN …………………………………….................... iv LEMBAR PENGESAHAN …………………………………….................... v KATA PENGANTAR …………………………………….............................. vi DAFTAR ISI …………………………………….......................................... vii DAFTAR TABEL ……………………………………................................ vii DAFTAR GAMBAR …………………………………….................... ix DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………............................ x BAB I : PENDAHULUAN ……………………………………….................. 1 A. Latar Belakang ……………………………………....... 1 B. Identifikasi Masalah ………………………………………... 7 C. Pembatasan Masalah ……………………………………….... 7 D. Rumusan Masalah ……………………………………….... 8 E. Manfaat Penelitian ……………………………………….... 9 BAB II : KAJIAN TEORI…………………………………………................................ 11 A. Deskripsi Konseptual ………………………………………… 11 1. Kreativitas …………………………………………. 11 1) Pengertian Kreativitas …………………………………….... 11 2) Ciri-ciri Kreativitas ………………………………………… 12 2. Konsep Pendekatan Peserta Didik (student centre) dalam Pembelajaran ................................................................................ 14 1) Pengertian Pembelajaran …………………………………... 14
2) Konsep Pembelajaran Berbasis Student Learning (pembelajaran berpusat pada peserta didik) ...................……………............ 15 3. Media Pembelajaran ………………………………………….. 19 1) Pengertian Media Pembelajaran ……………………………. 19 2) Ciri-ciri Media Pembelajaran ………………………….. 23 3) Fungsi Media Pembelajaran ………………………………... 26 4. Aplikasi Flipbook …………………………………………. 29 1) Pengertian Flipbook ……………………………………….. 30 2) Kelebihan Flipbook ………………………………………... 31 3) Kelemahan Flipbook ……………………………………..... 32 5. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan di Sekolah Dasar …………… 33 1) Hakekat Pembelajaran IPS ………………………… ……... 33 2) Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ………….... 35 6. Nilai-nilai Dalam Pembelajaran IPS ………………….... ……. 36 7. Flipbook Dalam Pembelajaran IPS …………………………. .. 38 8. Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran Flipbook ……….. 38 1) Pengertian Efektivitas ……………………………………..... 38 2) Pengertian Efektivitas Pembelajaran ………………………... 40 3) Efektivitas Penggunaan Flipbook Dalam Pembelajaran IPS ... 42 B. Penelitian yang Relevan ……………………………………………. 43 C. Kerangka Berpikir ………………………………………….. …….. 46 BAB III : METODOLOG PENELITIAN ……………………………............................. 47 A. Metode Penelitian ( Design-Based Research) …………………….. 47 1. Jenis Penelitian ………………………………………………….... 47 2. Prosedut Pengembangan ………………………………………… 47 1) Tahap Analisis ……………………………………………… 47 2) Tahap Desain (Design) ……………………………………... 52 3) Tahap Pengembangan ( Development) …………………..…. 53 4) Tahap Implementation ……………………………………… 54 5) Tahap Evaluation …………………………………………… 55 3. Uji Coba Produk ………………………………………………… 55
B. Waktu dan Tempat Penelitian ……………………………………. 56 1. Waktu Penelitian ………………………………………………… 56 2. Tmpat Penelitian …………………………………………………. 57 C. Objek Penelitian …………………………………………………….. 59 D. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………… 59 1. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data …………….... ……… 59 1) Wawancara ………………………………………………… 59 2) Angket ……………………………………………………… 59 3) Observasi …………………………………………………… 59 4) Dokumentasi ……………………………………………… 60 2. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………... 60 3. Jadwal dan Waktu Pengumpulan Data …………………………. 60 E. Teknik Pengolahan Data ………………………………………… ......................... 60 F. Analisis Data ………………………………………………………............................… 62 1. Analisis Deskriftif Kualitatif ………………………………………..................... 62 2. Analisis Kuantitatif ………………………………………………......................... 62 BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ………. .................... 64 A. Deskripsi Wilayah Penelitian ………………………………………. 64 1. Profil Sekolah ………………... ………………………………….. 64 2. Visi Sekolah ……………………………………………………… 64 3. Misi Sekolah ……………………………………………………… 65 4. Struktur Organisasi ………………………………………………. 66 5. Kondisi Pserta Didik dan Guru ………………………………….. 66 6. Sarana dan Prasarana Sekolah …………………………………… 67 B. Prosedur Pengembangan Media Pembelajaran Flipbook ……….. 68 1. Tahap Penelitian dan Pengumpulan Data …………………….... 68 2. Studi Literatir ………………………………………………….. 69 3. Penelitian Awal ………………………………………………… 70 C. Hasil tahap Perencanaan ………………………………………… 74
D. Proses Pembuatan Produk ……………………………………….. 74 E. Penerapan Langkah-langkah Pengembangan Media Pembelajaran Flipbook Berbasis Pendekatan Kepada Peserta Didik …………… 83 1. Sosialisasi Penggunaan Flipbook …………………………….. 83 2. Menentukan Desain Produk yang Dikembangkan …………… 84 3. Hasil Pengumpulan Data ……………………………………... 88 4. Revisi Produk Akhir …………………………………………. 91 5. Penyebarluasan dan Penerapan ……………………………….. 93 F. Tingkat Efektivitas, Efisiensi dan Kepraktisan Pengembangan Media Pembelajaran Flipbook Berbasis Pendekatan Peserta Didik ... 96 G. Hasil Pembahasan Pengembangan Media Flipbook ………………... 97 H. Keterbatasan Pengembangan ……………………………………...... 98 I. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan ………………….....……... 99 J. Keberlanjutan Pengembangan Media Pembelajaran Flipbook Pada Mata Pelajara Ilmu Pengetahuan Sosial ……………………... 100 BAB V : KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ……………....................... 102 A. Kesimpulan …………………………………………………… 102 B. Implikasi …………………………………………………….... 103 C. Saran …………………………………………………………... 104 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………….................................. 106
DAFTAR TABEL Tabel 3.1 : Lini masa penelitian …………………………………….... 58 Tabel 3.2 : Pengkategorian Kevalidan Media …………………….... 61 Tabel 3.3. : Kriteria Validitas ……………………………………….................. 63 Tabel 4.1 : Daftar Peserta Didik SDN Bukit Duri 05 …………..... 66 Tabel 4.2 : Uji Coba 1 Hasil Kreativitas Peserta Didik Dalam Penggunaan Flipbook …………………… 88 Tabel 4.3 : Uji Coba 2 Hasil Kreativitas Peserta Didik Dalam Penggunaan Flipbook ..................................... 88 Tabel 4.4 : Uji Coba 3 Hasil Kreativitas Peserta Didik Dalam Penggunaan Flipbook .............................................. 89 Tabel 4.5 : Uji Coba 4 Hasil Kreativitas Peserta Didik Dalam Penggunaan Flipbook ............................................ 89 Tabel 4.6 : Revisi Akhir Produk Hasil Validasi Ahli Media, Ahli Materi dan Ahli Kebahasaan ……………......…….. 93 Tabel 4.7 : Rangkuman Hasil Validasi Ahli Materi dan Ahli media .. 96 Tabel 4.8 : Keberlanjutan Pengembangan Media pembelajaran Flipbook Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial .. 100
DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 : Kerucut pengalaman ………………………….......... 21 Gambar 2.2 : Kerangka berpikir ……………………………........... 46 Gambar 3.1 : Tahapan Model ADDIE ……………………............ 48 Gambar 4.1 : Gedung SD Negeri Bukit Duri 05 …………......... 67 Gambar 4.2 : Diskusi guru ……………………….....……….............. 69 Gambar 4.3 : Penggunaan TIK dalam pembelajaran ……….. 70 Gambar 4.4 : Suasana saat kegiatan wawancara …………….. 70 Gambar 4.5 : Grafik penggunaan Smartphone ………………...... 72 Gambar 4.6 : Sosialisasi pengenalan media Flipbook ………. 73 Gambar 4.7 : Wawancara lanjutan penggunaan media Flipbook .73 Gambar 4.8 : Membuka aplikasi Flipbook Maker ……………. 75 Gambar 4.9 : Tampilan aplikasi Flipbook Maker ……………. ..... 75 Gambar 4.10 : Tampilan awal desain …………………………........... 76 Gambar 4.11 : Tampilan memilih desain ………………………........ 76 Gambar 4.12 : Persiapan mengambil gambar …………………... 77 Gambar 4.13 : Mengambil gambar dari laptop ………………… 77 Gambar 4.14 : Memilih gambar dari online …………………….... 78
Gambar 4.15 : Menuliskan judul buku …………………………...... 78 Gambar 4.16 : Menuliskan teks di Book Creator ………………... 79 Gambar 4.17 : Menyisipkan gambar dan tulisan di Book Creator.. 79 Gambar 4.18 : Menyisipkan border pada slide ………………… 80 Gambar 4.19 : Menyisipkan shape pada slide …………………… 80 Gambar 4.20 : Menyisipkan PDF atau link pada slide…………….. 81 Gambar 4.21 ; Menyisipkan hasil rekaman suata pada slide …….. 81 Gambar 4.22 : Menyisipkan PDF di slide baru ………………….......... 82 Gambar 4.23 : Publish online ……………………….………….................. 82 Gambar 4.24 : Kegiatan uji coba …………………………….................. 83 Gambar 4.25 : Kegiatan bersama pakar meminta pendapat ….. 84 Gambar 4.26 : Ujicoba produk secara terbatas ………………......... 85 Gambar 4.27 : Grafik penggunaan Flipbook ……………….............. 87 Gambar 4.28 : Uji coba produk skala besar …………………............ 87 Gambar 4.29 : Pelaksanaan desiminasi ………………………............. 94 Gambar 4.30 : Berbagi praktik baik …………………………............... 94 Gambar 4.31 : Desiminasi dengan seluruh guru di Indonesia … 95
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Kisi – kisi validasi materi dan kebahasaan ………… 111 Lampiran 2 : Kisi – kisi validasi ahli media ……………………….…. 112 Lampiran 3 : Daftar pertanyaan …………………………………….... 113 Lampiran 4 : Pedoman validasi ahli media ………………………… 114 Lampiran 5 : Validasi ahli materi ……………………………………. 115 Lampiran 7 : Petunjuk tugas …………………………………………. 116 Lampiran 8 : Indikator penggalian informasi tetenag kegiatan ekonomi 117 Lampiran 9 : Skala penggalian rubrik instrumen ……………………… 117 Lampiran 10 : Indikator kreativitas peserta didik ….…………………… 119 Lampiran 11 : Skala penilaian kreativitas peserta didik ………………. 120 Lampiran 12 : Hasil Validasi ahli media ……………………………… 121 Lampiran 13 : Hasil validasi ahli materi ……………………………… 122 Lampiran 14 : Hasil validasi ahli kebahasaan ………………………… 123
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kreativitas dalam pembelajaran mengambil peranan penting dalam menciptakan insan cendekia yang berkemajuan global. Kemajuan global ini tentunya diikuti oleh kreativitas sumber daya manusia. Peningkatan kreativitas sumber daya manusia pada abad 21, sangat diperlukan. Pembelajaran abad 21 mengacu pada pendidikan yang dirancang untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan dan peluang di dunia yang terus berubah. Salah satu pembelajaran di abad 21 adalah pengembangan kreativitas. Pengertian kreativitas menurut Conny R.Semiawan dalam Susi Andriati, kreativitas adalah kemampuan untuk memodifikasi sesuatu yang sudah ada menjadi konsep baru (Susi Andriati, 2017). Kreativitas dalam pembelajaran idealnya berpusat pada anak, artinya konsep berbasis pendekatan yang berfokus pada peserta didik. Konsep menghamba pada anak merupakan sebuah gagasan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa dan tokoh pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa guru harus mampu memahami dan memenuhi kebutuhan peserta didik agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien. Pada konsep ini, Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa guru harus mampu memahami dan menghargai peserta didik sebagai individu yang unik, dengan kebutuhan, minat, dan potensi yang berbeda-beda. Guru harus memahami latar belakang sosial, budaya, dan lingkungan peserta didik, sehingga
dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif. Menghamba pada anak bukanlah berarti guru tunduk dan menuruti keinginan peserta didik tanpa batas. Guru tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik, dengan memberikan bimbingan dan arahan yang tepat, serta mengajarkan nilai-nilai moral dan etika yang baik. Pada konteks ini, menghamba pada anak berarti memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan diri secara maksimal. Guru memberikan ruang dan waktu yang cukup bagi peserta didik untuk mengeksplorasi potensi dan minatnya sehingga dapat berkembang secara optimal. Pada dasarnya peserta didik mempunyai potensi yang besar mengembangkan kreativitasnya dalam semua pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran, contohnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang mempunyai tujuan umum diantaranya; pengenalan konsep ekonomi dasar, lingkungan sosial, budaya, geografis, pengenalan sejarah lokal dan nasional serta pemahaman lingkungan dan konservasi, Sedangkan tujuan khususnya pada materi kegiatan ekonomi meliputi tiga aspek, yaitu pertama aspek afektif. Aspek afektif yaitu peserta didik dapat mengilustrasikan dan mengimplementasikan pentingnya nilai-nilai dalam mempelajari kegiatan ekonomi. Aspek kedua pengetahuan, yaitu memperkenalkan peserta didik pada konsep dasar kegiatan ekonomi. Aspek ketiga ketrampilan, yaitu peserta didik dapat merangkum dan menceritakan contoh-contoh sederhana kegiatan ekonomi sehari-hari dalam bentuk rekaman dan mendesain gambar kegiatan
ekonomi dari fitur yang ada pada sebuah media pembelajaran.. Pada kenyataannya kreativitas peserta didik sebelum pembelajaran, saat pembelajaran dan setelah pembelajaran IPS dengan materi kegiatan ekonomi masih belum maksimal. Banyak yang belum menguasai materi, pemanfaatan teknologi smart phone lebih sering digunakan untuk hal-hal di luar pembelajaran seperti untuk bermain game, whatshap dan sebagainya, tidak banyak yang menggunakannya untuk pembelajaran. Pada saat peserta didik memberikan refleksi pembelajaran masih terlihat kurang mengeksplor materi sehingga kreativitasnya belum terlihat maksimal. Pengamatan peneliti, pemahaman materi kegiatan ekonomi yang diterima peserta didik masih monoton dengan yang ada di buku paket yang diberikan guru. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya masalah tersebut. Hambatan yang dialami peserta didik dalam mengembangkan kreativitas belajar Ilmu Pengetahuan Sosial antara lain; 1. Guru mendominasi pembelajaran, peserta didik hanya sebagai objek yang hanya mendengar penjelasan guru. 2. Fokus pada nilai akademik. Terkadang tekanan untuk mendapatkan nilai yang baik dapat menghalangi peserta didik untuk bereksperimen dan mengambil risiko dalam proses belajar, sehingga dapat menghambat perkembangan kreativitasnya. 3. Kurikulum dan metode pengajaran yang kurang mendukung kreativitas. Seringkali kurikulum dan metode pengajaran di sekolah dasar lebih berfokus pada hafalan dan penguasaan fakta-fakta daripada
mengembangkan kreativitas peserta didik. 4. Kurangnya sumber daya dan fasilitas. Banyak sekolah dasar yang memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya dan kreativitas seperti; perpustakaan, laboratorium dan bahan ajar yang memadai, yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran IPS. 5. Kurangnya kegiatan ekstrakulikuler terkait IPS, Kegiatan ekstrakulikuler seperti klub atau kegiatan lapangan dapat membantu peserta didik mengembangkan kreativitas dan minat terhadap IPS, namun banyak sekolah yang tidak memiliki kegiatan ekstrakulikuler yang cukup dalam bidang ini. 6. Kurangnya dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar. Dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar sangat penting untuk memotivasi peserta didik, membantu dan mengembangkan kreativitas serta minat terhadap IPS Adanya hambatan tersebut menyebabkan terjadinya masalah. yaitu kreativitas peserta didik kurang maksimal sebab peserta didik tidak diajak untuk mengembangkan kemampuan psikomotoriknya untuk menghasilkan karya, Oleh sebab itulah maka perlu adanya revolusi pembelajaran. Sebagai seorang guru, tentunya hal itu menjadi sebuah pemikiran untuk mencari solusi. Revolusi pembelajaran perlu dilakukan agar dapat menyelesaikan masalah. Sebagaimana kutipan ayat Al qur’an di bawah ini ه ل ِّ ٰب ت َ ُمعَق ِّن ِّ م ن َو ِّم ن بَ يَدَ ي ِّه ي ِّف ه َخل ونَ ه حفَظُ ِّ ُر َل ّٰللاَ اَ م ٰ ّؕللاِّ اِّ ن ِّر ِّم ن يَ َم يُغَي ا ِّقَ و م ِّ ب َحتٰى ُر وا َم يُغَي ا ِّس ِّهم فُ ِّاَن ب ؕ َواِّذَا ّٰللاُ قَ و م َرادَ ِّ اَ ب ًءا ُه م ِّ م ن دُ ونِّ ه ِّم ن وا ل َو َما لَ ۚه سُ و فَ َل َمَرد لَ
Al Qur “an surat Ar Rad: 11; Artinya, bahwa baginya (manusia) ada malaikat malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya yang menjaganya dengan izin Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, dan jika Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan tidak ada pelindung bagi mereka” (Wuryanano, 2009). Revolusi pembelajaran yang dimaksud di atas adalah melakukan suatu perubahan dengan memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran yang dimaksud adalah Flipbook. Flipbook merupakan media berbentuk buku digital interaktif yang dapat membantu peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dan menanamkan nilai- nilai kolaborasi yang menjadi sikap penting di era global. Pemilihan penelitian pengembangan media pembelajaran dengan menggunakan Flipbook memfokuskan pendekatan yang berpusat kepada peserta didik. Hal ini berbeda dengan penelitian pengembangan Flipbook sebelumnya. Peneliti lebih memfokuskan pada pengembangan media pembelajaran dengan menggunakan Flipbook berbasis pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Hal ini sekaligus ingin membuktikan hasil riset sebelumnya yang menyimpulkan bahwa media pembelajaran melalui Flipbook dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, sehingga mengantar peneliti untuk mencari kebenaran sendiri melalui
penelitian ini, yaitu apakah juga media Flipbook berbasis pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dapat meningkatkan kreativitas peserta didik. B. Identifikasi Masalah Adapun perumusan masalah dari penjabaran latar belakang di atas, diantaranya seperti di bawah ini; 1. Iklim akademik pembelajaran berbasis teknologi di SD Negeri Bukit Duri 05 masih belum optimal. 2. Pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi belum dikuasai oleh 100 % guru yang ada di SDN Bukit Duri 05. 3. Implementasi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menggunakan media teknologi masih belum menjadi budaya kerja. 4. Pemanfaatan media inovatif belum dikenal oleh sebagian besar guru di Sekolah Dasar Negeri Bukit Duri 05. 5. Kreatifitas peserta didik di SDN Bukit Duri 05 masih belum dikembangkan secara maksimal. C. Pembatasan Masalah Agar pembahasan dapat fokus dan mencapai apa yang diharapkan, maka permasalahan penelitian hanya pada; 1. Peneliti membatasi pada pengembangan media pembelajaran dengan menggunakan Flipbook (Book Creator) berbasis pendekatan peserta didik pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan materi kegiatan ekonomi kelas V di Sekolah Dasar Negeri Bukit Duri 05 T.P. 2023/2024.
2. Peneliti hanya melihat hasil belajar dari ranah psikomotorik/ketrampilan (kreativitas peserta didik dalam memanfaatkan teknologi digital). 3. Materi pembelajaran kegiatan ekonomi yang diberikan kepada peserta didik kelas V dalam bentuk digital. 4. Instrumen yang dikembangkan pada penelitian ini adalah pengembangan media pembelajaran dengan menggunakan Flipbook (Book Creator) berbasis pendekatan yang berpusat pada peserta didik agar dapat meningkatkan kreativitas. D. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana prosedur pengembangan media pembelajaran Flipbook di SD Negeri Bukit Duri 05 selama ini? 2. Bagaimana penerapan langkah-langkah pengembangan media pembelajaran Flipbook berbasis pendekatan kepada peserta didik kelas V di SD Negeri Bukit Duri 05? 3. Seberapa tinggi efektifitas, efisiensi dan kepraktisan pengembangan media pembelajaran Flipbook Berbasis Pendekatan Peserta Didik dapat meningkatkan kreativitas peserta didik di kelas V SD Negeri Bukit Duri 05? E. Manfaat Penelitian 1. Teoritis 1) Bagi Akademisi / Institusi pendidikan, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan informasi tentang pengembangan media pembelajaran Flipbook di
sekolah. 2) Bagi guru; penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan dalam hal strategi pembelajaran guru untuk menciptakan peserta didik yang kreatif digital dalam membuat bahan belajarnya sendiri serta meningkatkan rasa kepercayaan diri yang selanjutnya dapat terimplementasikan pada kehidupan sehari – hari. Selain itu diharapkan dengan adanya penelitian ini menjadi salah satu sumber inspirasi dan referensi bagi pembaca. 3) Bagi peneliti, hasil penelitian ini sebagai bahan masukan dan perbaikan dalam mengembangkan bagi penelitian selanjutnya 2. Manfaat Praktis 1) Bagi pihak sekolah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan evaluasi serta refleksi guru dan kepala satuan pendidikan pada proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sekolah. 2) Bagi guru, dapat membangkitkan motivasi guru untuk menciptakan revolusi pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan bermakna sehingga tercapai kualitas pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. 3) Bagi orang tua, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan informasi tentang kebutuhan dan gaya belajar peserta didik dewasa ini. 4) Manfaat bagi peserta didik dapat memberikan pengalaman baru belajar menggunakan media Flipbook serta dapat membantu peserta didik
memahami materi kegiatan ekonomi, sehingga menumbuhkan kreativitas. BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Konseptual 1. Kreativitas 1) Pengertian Kreativitas
Dunbar dan Weisberg (Matlin, 2003) menyatakan bahwa kreativitas adalah; penggunaan kemampuan berpikir dalam pemecahan masalah sehari-hari yang dapat dilakukan oleh individu berkemampuan biasa (Mahmudi, 2008). Kreativitas dalam proses belajar mengajar sangatlah berperan penting. Menumbuhkan kreativitas pada peserta didik memerlukan strategi pembelajaran yang konsisten dan berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar potensi peserta didik dapat tumbuh maksimal sesuai dangan karakternya. Tidak dapat dihindari kunci sukses seorang pendidik dalam mendidik adalah menumbuhkan kreativitas peserta didik sehingga pembelajaran dapat bermakna untuk kehidupannya di masa depan. Untuk memahami kreativitas, para ahli mendefinisikan kreativitas sebagai berikut; menurut Solso (1995) dalam Siswono menjelaskan kreativitas adalah suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan suatu cara atau sesuatu yang baru dalam memandang suatu masalah atau situasi (Siswono, 2007). Artinya kreativitas merupakan suatu bentuk aktivitas yang menghasilkan suatu cara baru untuk menyelesaikan sebuah masalah. Teori ini pun mempunyai kesamaan dengan teori Cropley yang mendefinisikan kreativitas adalah lemampuan untuk mendapatkan ide-ide, khususnya yang bersifat asli (original) dan berdaya guna. Kreativitas diartikan sebagai suatu kegiatan untuk mendapatkan ide-ide baru yang berdaya guna yang bersifat original (asli) (Siswono, 2007). Teori tersebut diperkuat juga oleh (Ruggiero, 11
1998; Evans 1991) yang mengartikan kreativitas adalah suatu kegiatan mental yang digunakan seorang untuk membangun ide atau gagasan yang baru (Siswono, 2007). Berdasarkan teori-teori yang telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mencipta sesuatu yang sifatnya original dan berdaya guna. 2) Ciri-ciri Kreativitas Karakteristik seseorang yang mempunyai kreativitas dapat terlihat dengan berbagai cara. Salahsatunya dari pendapat ahli berikut yang menyebutkan ciri seseorang itu kreatif, diantaranya pendapat dari Munandar (1999) menunjukkan indikasi berpikir kreatif dalam definisinya bahwa kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keberagaman jawaban (Siswono, 2007). Pengertian ini menunjukkan ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif seseorang, jika ia mampu menunjukkan banyak kemungkinan jawaban pada suatu masalah maka kreativitasnya tinggi. Semua jawaban itu harus sesuai dengan masalah dan tepat. Selain itu jawaban harus bervariasi. Misalkan anak diminta memikirkan penggunaan yang tidak lazim dari benda sehari-hari. Sebagai contoh “sapu ijuk”. Jika jawaban anak menyebut: untuk memukul ayam, main kudakudaan, untuk membuat rambut boneka, untuk menyumbat lubang,
untuk menyaring air, atau membuat hiasan. Jawaban itu menunjukkan variasi atau keberagaman. Jika ia menyebut untuk membersihkan lantai, menyapu halaman, membersihkan langit-langit, atau mengambil sampah, maka jawaban tersebut tidak menunjukkan variasi meskipun banyak, karena semua menyangkut sapu ijuk untuk membersihkan sesuatu. Teori sama juga dijelaskan oleh Evans (1991), bahwa karakteristik kreativitas seseorang terlihat pada kesadaran dan sensitivitas terhadap masalah, memori/ingatan, fasih (fluency), fleksibel, orisinal, disiplin dan tekun (persistence), mampu beradaptasi/terbuka, keingintahuan, humoris, tidak kompromi, toleransi pada ambiguitas, percaya diri, skeptis, dan mempunyai intelegensi yang cukup (Siswono, 2007). Selain itu teori diperkuat lagi dari Olson (1996) yang menjelaskan bahwa seseorang dikatakan kreatif apabila mempunyai dua unsur, yaitu kefasihan dan keluwesan (fleksibilitas). Kefasihan ditunjukkan dengan kemampuan menghasilkan sejumlah besar gagasan pemecahan masalah secara lancar dan cepat. Keluwesan mengacu pada kemampuan untuk menemukan gagasan yang berbeda-beda dan luar biasa untuk memecahkan suatu masalah (Siswono, 2007). Berdasarkan teori-teori tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kreativitas seseorang adalah apabila adanya keterbaharuan terhadap suatu konsep yang diciptakan sendiri oleh seseorang. Hal ini dapat berupa
ide / gagasan , aksi nyata yang berbeda dari yang sebelumnya serta mempunyai nilai guna yang dapat dimanfaatkan oleh semua orang. 2. Konsep Pendekatan Peserta Didik (student centre) dalam Pembelajaran 1) Pengertian Pembelajaran Pengertian pembelajaran menurut Gagne (1977) adalah “instruction as a set of internal events design to support the several process of learning which are internal”. Pembelajaran adalah seperangkat peristiwa-peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung beberapa proses belajar yang sifatnya internal. Lebih lanjut Gagne (1985) mengemukakan definisi pembelajaran adalah instruction is intended to promote learning, external situation need to e arranged to activate, support and maintain the internal processing that constitutes learning event (Yuberti, 2014). Pembelajaran dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, dimana situasi eksternal dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan, mendukung dan mempertahankan proses internal yang terdapat dalam setiap peristiwa belajar. Definisi lain dari pembelajaran menurut Kurdi (2009) dalam Yuberti; Pembelajaran adalah proses pengembangan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, serta dapat meningkatkan dan mengkontruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan dan pengembangan yang baik terhadap materi pembelajaran” (Yuberti, 2014).
Pendapat yang sama tentang pembelajaran juga diungkapkan oleh Huriah (2018) dalam Yuberti, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Yuberti, 2014). Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan pembelajaran adalah proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru untuk memberi bantuan kepada peserta didik agar dapat belajar dengan baik sehingga tercapai tujuan belajar. 2) Konsep Pembelajaran Berbasis Student Learning (Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik) (1) Pengertian Student Centre Learning (SCL) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 81A tahun 2013 Mohammad Nuh menjelaskan bahwa pembelajaran perlu menggunakan prinsip (1) berpusat pada peserta didik, (2) mengembangkan kreativitas peserta didik, (3) menciptakan kondisi yang menyenangkan, (4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika dan kinestetika, (5) dan menyediakan pengalaman belajar yang beragam (Teguh Prasetyo, 2021) Berdasarkan peraturan tersebut, pembelajaran pada prinsipnya berpusat pada peserta didik, bukan lagi berpusat pada guru. Hal ini diperkuat juga oleh Supriadi Panggabean yang mendefinisikan Student Centered Learning (SCL) adalah
Proses pembelajaran yang tadinya berfokus pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (learner centered) yang diharapkan dapat mendorong peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku” (Pangabean et al., 2021) Artinya proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik merupakan proses dimana peserta didik memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga memperoleh pemahaman yang mendalam yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitasnya. Pendapat yang sama dari O’Neill, Geraldine and Tim McMahon (2005:2) dalam Revalina mengatakan bahwa “student centred learning as focusing on the students’ learning and what students do to achieve this, rather than what the teacher does” (Rivalina & Siahaan, 2020). Pendapat O’ Neill menjelaskan tentang kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Peserta didik belajar dari apa yang dilakukan bukan dari apa yang disampaikan guru. Pendapat O’Neill, Geraldine and Tim McMahon, diperkuat juga oleh J.J Rousseau dalam Rivalina, menyatakan bahwa “kita jangan menekankan pada banyaknya pengetahuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh seorang anak, tetapi harus menekankan pada apa yang dapat dipelajari anak serta apa yang ingin diketahui anak sesuai dengan minatnya” (Rivalina & Siahaan, 2020). Pendapat J.J Rousseau menjelaskan bahwa student centered merupakan proses pembelajaran yang seluruh kegiatan dipusatkan
pada anak dan minat anak sehingga anak yang mendominasi proses pembelajaran. Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang berpusat pada peserta didik adalah suatu pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses belajar. Karakteristik Pembelajaran Berpusat Pada Peserta Didik. Inti pembelajaran berpusat pada peserta didik merupakan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses pembelajaran. Pada konteks tersebut, guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung peserta didik dalam mengeksplorasi, berpikir kritis dan membangun pemahamannya sendiri. Pembelajaran berpusat pada peserta didik berfokus pada kebutuhan, minat dan kemampuan peserta didik. Tujuannya untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran dan mendorong untuk menjadi aktif dan mandiri serta kreatif dalam mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan. Karakteristik pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menurut (Harry Yulianto, 2023) yaitu; (1.1) Kolaboratif. Pembelajaran berpusat pada peserta didik mendorong kolaborasi antar peserta didik, dimana peserta didik bekerja sama dalam kelompok, berdiskusi, berbagi ide dan belajar satu sama lain. Hal ini menunjukan kolaborasi, komunikasi dan ketrampilan sosial dalam kehidupan nyata.
(1.2) Aktif. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, mengakibatkan peserta didik aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat pada aktivitas fisik, praktik, dan eksperimen, sehingga membantu peserta didik mengaitkan konsep dengan pengalaman nyata dan mendorong pemahaman yang lebih mendalam. (1.3) Berbasis masalah. Pada kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, sering kali peserta didik dilibatkan dalam berbagai masalah. Dimana pesrta diidk dihadapkan pada masalah atau tantangan nyata yang harus dipecahkan. Peserta didik dapat menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang dipelajari untuk menemukan solusi yang kreatif dan memecahkan masalah secara kontekstual. (1.4) Mandiri dan tanggung jawab. Pada pembelajaran berpusat pada peserta didik, peserta didik didorong untuk mengambil tanggung jawab atas pembelajarannya sendiri. Dalam hal ini pesrta didik diberi kebebasan dalam mengambil keputusan, mengatur waktu, mengatur langkah-langkah pembelajaran dan mengeksplorasi minat pribadinya. Guru hanya berperan sbagai fasilitator dan mendukung kemandirian peserta didik. (1.5) Pembelajaran sepanjang hayat. Pembelajaran berpusat pada peserta didik membangun landasan untuk pembelajaran sepanjang hayat yang membantu peserta didik
mengembangkan ketrampilan berpikir kritis, kemampuan pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi dan kemandirian belajar sehingga memprsiapkan peserta didik untuk terus belajar dan berkembang di masa depan. 3. Media Pembelajaran 1) Pengertian Media Pembelajaran Dalam mendukung keberhasilan tujuan pembelajaran, media pembelajaran sangat berperan penting dan menjadi warna dalam dinamika pembelajaran. Keberhasilan atau kegagalan suatu proses belajar mengajar, pada praktiknya sangat ditunjang oleh penyediaan media pembelajaran yang dipilih dan digunakan oleh pendidik. Pendidik yang kreatif akan memanfaatkan media pembelajaran sebagai alat transformasi pembelajaran agar dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didik (Niken Vioreza, 2022). Untuk lebih mengetahui berbagai macam media pembelajaran, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian media itu sendiri. Kata media pembelajaran berasal dari bahasa latin ”medius” yang secara harfiah berarti ”tengah”, perantara atau pengantar. Media dalam bahasa Arab, artinya media perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Arsyad A, 2011). Media merupakan alat untuk memudahkan pendidik dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik. Berikut ini beberapa teori media pembelajaran yang mendasari penelitian yaitu;
(1) Edgar Dale Edgar Dale menyatakan media pembelajaran adalah peralatan yang dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan pesan ajaran kepada peserta didik melalui penglihatan dan pendengaran untuk menghindari verbalisme (TantoTrisno Mulyono, 2022), Media pembelajaran dapat berupa peralatan yang menunjang pembelajaran yang dapat dilihat dan didengar. Edgar Dale dalam Pusvyta Sari (Sari, 2019) pada tahun 1946 memperkenalkan bukunya yang berjudul “Audiovisual Methods in Teaching”, Buku itu berisi tentang media audiovisual dalam pengajaran yang selanjutnya direvisi hingga menjadi konsep terkenal yang bernama “Cone of Experience atau Piramida Pengalaman”. Konsepnya menggambarkan tingkat efektivitas pembelajaran berdasarkan jenis pengalaman atau media yang digunakan. Artinya; pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik akan semakin banyak, jika media yang digunakan semakin konkret. Sebaliknya jika peserta didik semakin abstrak, dalam mempelajari bahan pengajaran, maka semakin sedikit pengalaman belajar yang diperoleh (TantoTrisno Mulyono, 2022). Teorinya dapat digambarkan sebagai berikut; Cone of Learning (Kerucut Pengalaman)
Gambar 2.1 Cone of Learning (Kerucut Pengalaman) (Tanto Trisno Mulyono, 2022) (2) Oemar Hamalik menyatakan media pembelajaran adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan untuk mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Arsyad A, 2011). Media dapat berupa permainan yang berbentuk tradisional maupun modern (digital) yang sengaja dibuat pendidik baik dalam bentuk kongkret agar memudahkan peserta didik menerima pembelajaran. (3) Suprapto menyatakan media pembelajaran adalah suatu alat pembantu secara efektif yang dapat digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Arsyad A, 2011). Dalam hal ini media pembelajaran digunakan sebagai alat untuk membantu peserta didik memahami pembelajaran yang diberikan oleh pendidik. Alat pembantu yang digunakan pendidik dapat berupa bahan-bahan yang dibutuhkan oleh pendidik dalam memberikan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. (4) Rohani menyatakan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik (Rohani, 2019). Media pembelajaran dalam hal ini merupakan sesuatu yang mudah digunakan pendidik untuk mendorong terciptanya proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaan tercapai. Berdasarkan teori-teori tersebut, peneliti mengambil teori dari Edgar Dale dan Oemar Hamalik, karena alat yang digunakan sebagai media pembelajaran oleh peneliti adalah menggunakan alat digital sebagai penelitian untuk melihat keefektifan media tersebut dalam meningkatkan kreativitas peserta didik. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat yang memudahkan pendidik dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat tumbuh keinginan belajarnya dan muncul kreativitasnya. 2) Ciri-ciri Media Pembelajaran Pemilihan media pembelajaran yang tepat oleh seorang pendidik berdasarkan teknik dan langkah-langkah yang benar, dapat mensukseskan program belajar mengajar, sehingga tercapai perubahan tingkah laku peserta didik sesuai yang diharapkan pendidik. Akan tetapi pada kenyataannya masih ada pendidik yang belum memahami serta tidak melakukan teknik dan langkah – langkah pemilihan media belajar yang tepat. Masih banyak pendidik yang mengandalkan papan
tulis sebagai satu-satunya media pembelajaran. Untuk itu pemilihan media pembelajaran yang tepat berdasarkan ciri-cirinya haruslah dipahami peruntukannya oleh seorang pendidik. Berikut ini merupakan ciri-ciri media pembelajaran yang tepat menurut beberapa ahli diantaranya yaitu: (1) Gerlach & Ely (dalam Sari dkk), media pembelajaran ciri-cirinya sebagai berikut (Ani Daniyati et al., 2023). (1.1) Fiksatif. Ciri dari media pembelajaran fiksatif yaitu media tersebu menggambarkan kemampuan merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Dalam hal ini media pembelajaran dapat digunakan untuk merekam, menyimpan dan melestarikan sebuah peristiwa sehingga pembelajaran dapat dipahami oleh peserta didik, terlebih bagi peserta didik yang memiliki gaya belajar audio dan visual. (1.2) Manipulatif. Ciri manipulatif dapat diartikan bahwa media dapat menampilkan dan menayangkan ulang kejadian atau objek dengan berbagai macam manipulasi (perubahan) sesuai kebutuhan, contohnya diubah ukuran, kecepatan, warna, dan dapat disajikan secara berulangulang. (1.3) Distributif. Ciri ini menunjukkan bahwa media pembelajaran tidak mengenal adanya keterbatasan ruang,
namun dalam penggunaannya memperhatikan siapa serta sebesar apa kelompok peserta didik yang akan menggunakan media tersebut. Contohnya pada saat pembelajaran online, pembelajaran tidak hanya dalam satu kelas saja namun juga pada kelas lain, sekolah bahkan dapat secara global bisa mengikuti pembelajaran. (2) Arsyad Azhar (2005: 6–7) ciri-ciri umum yang terkandung dalam media yaitu (Cahya, 2005); (2.1) Media pembelajaran merupakan suatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera (hardware). Dengan media ini, maka menumbuhkan ketertarikan peserta didik untuk belajar lebih semangat lagi. (2.2) Media pembelajaran menampilkan pesan yang ingin disampaikan kepada peserta didik. Pesan yang disampaikan dapat berupa audio, vidio, gambar, atau tulisan animasi yang semuanya dapat menimbulkan semangat belajar peserta didik. (2.3) Media. Media pembelajaran lebih menekankan pada media visual dan audio. Karena dengan visual dan audio dapat menimbulkan keingintahuan peserta didik untuk mempelajari materi lebih dalam lagi.
(2.4) Media pendidikan digunakan sebagai alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas. Terkadang pembelajaran jika monoton dilakukan di dalam kelas dapat menjadi membosankan bagi peserta didik. Untuk itu alternatif pembelajaran di luar kelas, melalui media pembelajaran perlu dilakukan oleh seorang pendidik agar pembelajaran menjadi berwarna dan bermakna. (2.5) Media pembelajaran hendaknya dapat digunakan secara massal (misalnya radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalnya : modul, komputer, radio tape/kaset, video recorder). Hal ini bertujuan agar media pembelajaran pemanfaatannya dapat lebih efisien dan efektif. Melalui media pembelajaran, hendaknya dapat mempengaruhi sikap, atau perbuatan peserta didik, organisasi dan manejemen yang lebih baik. Hal ini dikarenakan media pembelajaran akan mewarnai setiap aktivitas di dalamnya. Berdasarkan teori tersebut, peneliti mengambil teori ciri-ciri media pembelajaran dari Edgar Dale. Hal ini dikarenakan ciri-ciri tersebut sesuai dengan pemilihan media pembelajaran dalam penelitian ini. Berdasarkan ciri-ciri media yang telah dijelaskan di atas, maka
peneliti menyimpulkan ciri-ciri media pembelajaran yaitu; dapat dilihat, diraba dan didengar oleh panca indra. Memiliki pesan yang membuat peserta didik menjadi bersemangat dalam belajar, mudah digunakan oleh pendidik dan peserta didik. Selain itu bentuknya menarik sehingga mempengaruhi sikap / perbuatan peserta didik serta merupakan sarana komunikasi bagi pendidik, peserta didik dan orang tua dalam memberikan umpan balik, evaluasi serta refleksi pembelajaran. 3) Fungsi Media Pembelajaran Dalam praktiknya terkadang pendidik mengalami kendala dalam menggunakan media pembelajaran, hal itu dapat disebabkan pendidik kurang memahami fungsi sebuah media pembelajaran sehingga salah dalam pemilihan media pembelajaran yang tepat. Berikut adalah fungsi media pembelajaran menurut para ahli, yaitu; (1) Wina sanjaya (2014) menjabarkan beberapa fungsi tersebut dalam beberapa jenis yaitu (Aghni, 2018): (1.1) Fungsi komunikatif. Media pembelajaran digunakan untuk memudahkan komunikasi antara penyampai pesan (pendidik) dan penerima pesan (peserta didik). Dengan menggunakan media pembelajaran, diharapkan peserta didik akan lebih termotivasi dalam belajar. Dengan demikian, pengembangan media pembelajaran tidak hanya
mengandung unsur artistik saja akan tetapi juga memudahkan peserta didik mempelajari materi pelajaran sehingga dapat meningkatkan gairah belajar peserta didik (1.2) Fungsi kebermaknaan. Melalui penggunaan media, pembelajaran bukan hanya dapat meningkatkan penambahan informasi berupa data dan fakta sebagai pengembangan aspek kognitif tahap rendah, akan tetapi dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menganalisis dan menemukan sebagai aspek kognitif tahap tinggi. Bahkan lebih dari itu dapat meningkatkan aspek sikap dan keterampilan. (1.3) Fungsi penyamaan persepsi. Melalui pemanfaatan media pembelajaran, diharapkan dapat menyamakan persepsi setiap peserta didik, sehingga memiliki pandangan yang sama terhadap informasi yang diberikan pendidik. (1.4) Fungsi individu. Pemanfaatan media pembelajaran berfungsi untuk melayani kebutuhan setiap individu yang memiliki minat dan gaya belajar yang berbeda. 2) Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad, mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu (Aghni, 2018):
(1) Fungsi atensi. Fungsi atensi diartikan bahwa media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian peserta didik untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. (2) Fungsi afektif. Fungsi afektif dapat terlihat dari tingkat kenyamanan peserta didik ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap peserta didik. Dalam hal ini media pembelajaran yang menggunakan lambang visual atau gambar dapat memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. (3) Fungsi kognitif. Media pembelajaran yang menggunakan lambang visual atau gambar dapat memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar (4) Fungsi kompensatoris. Dalam hal ini media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan peserta didik yang lemah dan lambat
menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal. Dari teori fungsi media pembelajaran tersebut, maka dapat disimpulkan fungsi media pembelajaran intinya adalah dapat memberi kemudahan bagi peserta didik dalam menerima materi pelajaran sehingga tumbuh minat belajar yang tiggi serta tumbuh keingintahuan terhadap suatu materi yang nantinya dapat mempengaruhi kreativitasnya. 4. Aplikasi Flipbook 1) Pengertian Flipbook Flipbook pertama diciptakan pada bulan September tahun 1868 oleh John Barnes Linnet (Febrianti, 2021). Flipbook adalah; lembaran-lembaran kertas menyerupai album atau kalender yang dilengkapi dengan kata-kata atau gambar dan disertai animasi dengan warna yang menarik (Juwati1, Syaiful Abid, Adi Rohman, 2021). Flipbook juga berarti buku yang memiliki efek flip (memutar atau membalik) sehingga media Flipbook membuat animasi seolah-olah membalik lembaran buku sungguhan. Adapun cara membalik setiap lembaran, jika penggunaanya melalui laptop atau komputer dapat dilakukan dengan mouse atau alat tertentu (Aulia, 2016). Tetapi jika penggunannya dengan smartphone, maka dapat menggerakkan tiap lembaran dengan tangan. Hasil akhir dari Flipbook berupa buku dengan file digital. Media Flipbook memudahkan pembacanya dapat
membuka lembar demi lembar halaman Flipbook layaknya membaca sebuah buku (Saputra, 2017). Media Flipbook dapat menciptakan suasana belajar yang menarik dan kondusif, menambah motivasi belajar peserta didik dan juga dapat mempengaruhi prestasi atau hasil belajar peserta didik (Dony Sugianto, 2013). Hal itu dikarenakan media pembelajaran Flipbook mempunyai fitur baik berupa teks, visual, gambar, dan animasi yang menarik sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat peserta didik dalam proses belajar. Secara umum untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis Flipbook perlu diperhatikan prinsip VISUALS, yang dapat digambarkan sebagai singkatan dari kata-kata: Visible: mudah dilihat, Interesting: menarik, Simple: sederhana, Useful: isinya berguna/bermanfaat, Accurate: benar (dapat dipertanggungjawabkan), Legitimate: masuk akal/sah, structured: terstruktur/tersusun dengan baik. (Nurseto, 2011). Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media Flipbook merupakan media belajar yang berbasis digital yang memiliki animasi membalikkan setiap halaman layaknya seperti membaca buku sungguhan dan dapat dikombinasikan dengan gambar, teks serta animasi menarik yang dapat menciptakan pembelajaran menjadi lebih menarik, sehingga meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik.
2) Kelebihan Flipbook Pemilihan Flipbook sangat cocok dengan pengembangan perangkat pembelajaran saat ini. Media Flipbook ini melengkapi buku elektronik yang sudah ada, sehingga mampu mempermudah semua kegiatan pembelajaran interaktif seperti mendengar, membaca menulis dan juga permainan (Dendik Udi Mulyadi, Sri Wahyuni, 2022) Media Flipbook yang digunakan dapat berupa gabungan teks, animasi, video, suara dan lain sebagainya sehingga memberikan stimulus dan visual yang akan meningkatkan daya ingat peserta didik. Penggunaan media Flipbook selain sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran juga dapat memberikan perubahan pada diri peserta didik. Flipbook merupakan software yang digunakan untuk membuat tampilan buku atau bahan ajar lainnya menjadi sebuah buku elektronik digital. Pemilihan media Flipbook dirasa cocok dengan pengembangan kurikulum saat ini. Flipbook juga memiliki beberapa kelebihan di antaranya yaitu aplikasinya dapat di dounloud melalui laptop atau komputer secara gratis, fitur yang ada dapat digunakan secara gratis. Selain itu membantu meningkatkan penguasaan peserta didik terhadap hal-hal abstrak atau peristiwa yang tidak bisa dihadirkan dalam kelas (Rahmawati, Desi and Wahyuni, Sri and Yushardi, 2017). 3) Kelemahan Flipbook
Selain terdapat kelebihan, Flipbook juga mempunyai kekurangan, yaitu; memerlukan jaringan intrnet yang stabil pada saat mengoperasikannya. Materi dalam Flipbook hanya dapat dibuat melalui komputer. Audio tidak secara otomatis terdengar, jika tidak diklik. Selain itu membutuhkan waktu yang bervariasi untuk memasukkan materi pdf ke dalam aplikasi Flipbook, fitur-fiturnya terbatas, Software yang digunakan pada penelitian ini yaitu Flipbook Creator . 5. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar 1) Hakekat Pembelajaran IPS Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar. IPS juga merupakan mata pelajaran memadukan konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu sosial yang disusun melalui pendekatan pendidikan supaya bermakna bagi peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari. Pengertian IPS di sekolah dasar menurut Gunawan, adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang diorganisasikan dari berbagia konsep geografi , sosiologi, antropologi dan ekonomi (Siska, 2016). Pada dasarnya IPS merupakan kajian tentang manusia dan dunia sekelilingnya. Pendapat lainnya, menurut Jhon E.Ord dkk dalam Djodjo Suradisastra menyatakan bahwa pendidikan ilmu sosial mengacu pada
keseluruhan kehidupan interpersonal peserta didik, yang meliputi pengajaran sosial (social learning) yang dialami peserta didik di rumah, di sekolah dan berbagai lingkungan tempat peserta didik bergaul (Frederikus et al., 2017). Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar sarat dengan nilai-nilai sosial baik di masyarakat, keluarga maupun di sekolah. Menurut Fitri Idatul, guru Ilmu Pengetahuan Sosial yang baik diharapkan memiliki dasar-dasar pembelajaran IPS karena membelajarkan IPS di SD bukan berarti mengajarkan ilmu-ilmu sosial, melainkan membelajarkan konsep-konsep esensi ilmu sosial untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang baik (Fitri, 2019). Dalam hal ini, pendidik dalam pemberian materi IPS di SD, lebih menekankan kepada konsep-konsep esensi ilmu sosial itu sendiri, agar peserta didik mempunyai landasan ilmu sosial. Fitri Idatul dalam Sugiyarti mengungkapkan bahwa “Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), bukanlah disiplin ilmu melainkan suatu program pengajaran atau mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang kajiannya mengintegrasikan bidang ilmu-ilmu sosial (ilmu sejarah, ilmu geografi, ilmu ekonomi, dan ilmu sosiologi) dan humaniora (aspek norma, nilai, bahasa, seni, dan budaya” (Fitri, 2019). Kemudian Somantri (2001) memaparkan juga bahwa Pendidikan IPS adalah suatu penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, ideologi negara dan disiplin ilmu lainnya serta masalah sosial terkait,
yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan tingkat dasar dan menengah (Saharuddin, 2020). Diperkuat juga oleh Sumaatmadja (2008: 9) dalam Siska Yulia (2016). IPS adalah mata pelajaran atau mata kuliah yang mempelajari kehidupan sosial yang kajiannya mengintegrasikan bidang-bidang ilmu sosial dan humaniora (Susanti, 2018). Pembelajaran IPS sangat berbeda dengan pembelajaran lainnya. Tujuan pembelajaran IPS untuk membina peserta didik menjadi warga negara dan warga masyarakat yang tahu akan hak dan kewajibannya, memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan bersama seluas-luasnya. Berdasarkan teori pembelajaran IPS yeng tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS adalah pembelajaran yang berhubungan dengan masalah sosial dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan adanya pembelajaran IPS, maka peserta didik mampu menjadi warga negara yang baik yang memahami dan bertanggung jawab akan hak dan kewajibannya di masyarakat. Unsur penting yang menjadi ruang lingkup mata pelajaran IPS di sekolah dasar yaitu; unsur pertama yaitu: kegiatan ekonomi penduduk Kegiatan ekonomi penduduk merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat sosial dalam kehidupannya sehari-hari agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya menjadi lebih layak. Unsur yang kedua adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dan pemenuhan