MOZAIK PUISI MENGENAL PUISI SEBAGAI SARANA BEREKSPRESI
Mozaik Puisi iii KATALOG PENERBITAN Mozaik Puisi Mengenal Puisi sebagai Sarana Berekspresi Copyright © 2023 Penulis: Diah Ayu Puji Lestari Hananto Sudarsono Kurnian Nur Cahya N Ahmad Fadhqul S Penyunting Diah Ayu Puji L Hananto Sudarsono Desain Cover Kurnian Nur Cahya N Tata Letak Ahmad Fadhqul S Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit viii+128 hlm, 14x21 cm Penerbit BINTANG PUSTAKA Karangmalang, Sleman, Yogyakarta Telp. 081358977121, E-mail: [email protected] Isi di luar tanggung jawab percetakan
iv Puisi sebagai Sarana Berekspresi PRAKATA Buku ini menyajikan materi seputar seluk beluk puisi. Sebagai-mana diketahui bersama, puisi merupakan salah satu cabang dari ilmu kesusastraan. Tidak lengkap bagi seorang pembelajar sastra apabila tidak mempelajari puisi dalam aktivitas belajarnya. Buku ini mengenalkan puisi kepada setiap pembaca mulai dari kemunculannya hingga sampai pada contoh-contoh puisi yang pernah eksis berkembang di Indonesia. Pembelajaran puisi diajarkan kepada para siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia hingga sampai pada program strudi sastra di perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan puisi tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan. Buku-buku yang membahas mengenai puisi sebenarnya sudah banyak beredar dan berkembang di masyarakat. Namun, buku ini membahas puisi dari tahapan yang paling dasar dan perlahan menuju kompleks. Selain itu, buku ini juga menampilkan contoh-contoh konkret setiap puisi yang disebutkan supaya memudahkan pemahaman para pembaca. Buku ini sangat direkomendasikan untuk bisa dibaca mengingat ilmu pengetahuan tidak akan pernah hilang dan akan selalu tumbuh berkembang. Hadirnya buku ini dapat menambah referensi bacaan yang melengkapi segudang buku seputar materi puisi. Namun, buku ini dibawakan secara ringkas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami sehingga memudahkan pemahaman pembaca. Yogyakarta, 29 Mei 2023 Penerbit
Mozaik Puisi v KATA PENGANTAR Puisi merupakan salah satu genre sastra yang terus menunjukkan eksistensinya. Sebagai karya sastra, puisi terus berkembang seiring berkembangnya zaman. Sejak awal kemunculan hingga saat ini, puisi memiliki beragam jenis dengan ciri khasnya masing-masing. Meskipun demikian, sejatinya puisi adalah karya sastra yang mengusung kebebasan. Selain itu, perlu diketahui bahwa puisi bukan sembarang karya sastra karena memiliki beragam manfaat. Urgensi menulis puisi juga perlu dipertimbangkan. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui hal tersebut sehingga kebanyakan orang hanya ingin menikmati puisi saja tanpa ada keinginan untuk mencoba membuatnya. Mozaik Puisi: Mengenal Puisi sebagai Sarana Berekspresi, merupakan sebuah buku yang dipersiapkan untuk mereka yang ingin mengetahui tentang puisi. Buku ini dirancang untuk menambah wawasan pembaca akan puisi dan mendorong pembaca untuk menulis puisi. Pembahasan tersebut tertuang ke dalam lima bab yang disajikan sedemikian rupa. Pada bab satu dan tiga pembaca dikenalkan terlebih dahulu dengan hakikat puisi dan unsur puisi. Selanjutnya, pada bab dua pembaca diajak untuk melihat eksistensi puisi dalam sastra Indonesia hingga masa kini. Pada bab empat, pembaca dikenalkan dengan jenis-jenis puisi. Kemudian pada bab terakhir akan dipaparkan seperti apakah puisi sebagai sarana berekspresi. Buku ini penting untuk dipelajari oleh para pembelajar, terkhusus mereka yang benar-benar memiliki tekad untuk mengenal puisi secara lebih mendalam. Keterampilan menulis puisi tidak muncul begitu saja, melainkan membutuhkan waktu dan jam terbang yang banyak. Namun, sebelum seseorang menuangkan buah pikiran mereka ke dalam bentuk puisi, maka alangkah lebih baik terlebih dahulu mereka berkenalan dengan puisi. Dengan mengetahui seluk
vi Puisi sebagai Sarana Berekspresi beluk puisi dari awal kemunculannya hingga perkembangannya di zaman modern seperti saat ini, maka wawasan mereka akan semakin luas. Selain itu, puisi tidak hanya tersusun atas rangkaian bunyi-bunyi bahasa saja, namun atas unsur-unsur pembangun yang perlu diperhatikan. Tidak ada ciptaan manusia yang sempurna, begitupun buku ini. Meskipun dalam prosesnya tidaklah mudah, penulis bersyukur atas terselesaikannya buku ini. Penulis berharap buku ini dapat mendorong pembaca untuk mengenal lebih dalam tentang puisi. Selain itu, harapannya dengan membaca buku ini maka lahirlah minat pembaca untuk menulis puisi. Yogyakarta, Mei 2023 Penulis
Mozaik Puisi vii DAFTAR ISI KATALOG PENERBITAN.......................................................... iii PRAKATA .....................................................................................iv KATA PENGANTAR.....................................................................v DAFTAR ISI ................................................................................ vii BAB I...............................................................................................2 Apa itu Puisi?...................................................................................2 A. Sejarah Puisi dan Perkembangannya di Indonesia ..........4 B. Hakikat Puisi....................................................................6 1. Puisi Menurut Pengertian Lama ......................................8 2. Puisi Menurut Pengertian Baru......................................10 C. Ciri Puisi........................................................................12 D. Keunikan Dalam Puisi...................................................13 BAB II ...........................................................................................16 Eksistensi Puisi dalam Sastra Indonesia........................................16 hingga Masa Kini...........................................................................16 A. Sekilas tentang Sastra Indonesia....................................16 B. Puisi dalam Sastra Indonesia .........................................28 BAB III..........................................................................................48 Unsur-Unsur Pembangun Puisi......................................................48 A. Struktur Batin Puisi .......................................................48 B. Struktur Fisik Puisi ........................................................52
viii Puisi sebagai Sarana Berekspresi BAB IV..........................................................................................64 Jenis-Jenis Puisi.............................................................................64 A. Berdasarkan Waktu Kemunculan ..................................65 B. Berdasarkan Cara Penyair Mengungkapkan Gagasan ...77 BAB V...........................................................................................90 MENGENAL PUISI SEBAGAI SARANA BEREKSPRESI.......90 A. Puisi sebagai Sarana Berekspresi...................................90 B. Urgensi Menulis Puisi ...................................................93 C. Pentingnya Pembelajaran Menulis Puisi .....................101 D. Langkah-Langkah Menulis Puisi.................................110 DAFTAR PUSTAKA..................................................................114 GLOSARIUM .............................................................................117 INDEKS ......................................................................................120 IDENTITAS PENULIS...............................................................125
Mozaik Puisi 1 Apa itu Puisi?
2 Puisi sebagai Sarana Berekspresi BAB I Apa itu Puisi? Dalam kesusastraan Indonesia ada 2 istilah, yaitu sajak dan puisi. Kedua istilah itu sering dicampuradukkan penggunaannya. Misalnya sajak Chairil Anwar disebut juga puisi Chairil Anwar; sajak Aku disebut juga puisi Aku. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh masuknya istilah puisi dari bahasa asing ke dalam sastra Indonesia. Istilah ini berasal dari bahasa Belanda poezie. Dalam bahasa belanda ada istilah lain gedicht yang berarti sajak, tetapi istilah gedicht tidak diambil ke dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia (Melayu) dahulu hanya dikenal satu istilah sajak yang berarti poezie ataupun gedicht. Poezie (puisi) adalah jenis sastra (genre) yang berpasangan dengan istilah prosa. Gedicht adalah indifidu karya sastra, dalam bahasa Indonesia sajak, misalnya sajak Aku. Jadi, dalam bahasa Indonesia hanya ada istilah sajak, baik untuk poezie maupun untuk gedicht. Dalam bahasa Inggris ada istilah poetry sebagai istilah jenis sastra: puisi, dan poem sebagai indifidunya. Oleh karena itu, istilah puisi itu sebaiknya dipergunakan sebagai jenis sastra: poetry, sedangkan sajak untuk individu puisi: poem. Dengan demikian, penggunaan istilah puisi dan sajak tidak dikacaukan. Misalnya, antologi puisi, puisi Chairil Anwar untuk menunjuk jenis sastranya, sedangkan untuk individu sajak Aku, sajak Pahlawan Tak Dikenal. Telah dikemukakan di depan bahwa puisi selalu berkembang dari periode ke periode. Oleh karena itu, pengertian mengenai puisi pun turut berubah.
Mozaik Puisi 3 Ada banyak jenis puisi yang dapat dikategorikan berdasarkan berbagai aspek, di antaranya: Berdasarkan bentuk: ➔ Puisi bebas (free verse): tidak terikat oleh aturanaturan tertentu, seperti jumlah baris, rima, dan irama. ➔ Puisi terikat (fixed verse): terikat oleh aturan-aturan tertentu, seperti jumlah baris, rima, dan irama. Berdasarkan tema: ➔ Puisi cinta: mengungkapkan perasaan cinta atau kasih sayang seseorang terhadap orang lain atau objek tertentu. ➔ Puisi alam: menggambarkan keindahan alam atau kejadian-kejadian di alam. ➔ Puisi keagamaan: berisi nilai-nilai keagamaan atau religius. ➔ Puisi patriotik: mengungkapkan rasa cinta dan bangga terhadap negara atau tanah air. ➔ Puisi sosial: menggambarkan isu-isu sosial dan kemanusiaan, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan diskriminasi. Berdasarkan gaya: ➔ Puisi naratif: bercerita atau mengisahkan suatu peristiwa atau tokoh. ➔ Puisi deskriptif: menggambarkan objek, tempat, atau situasi. ➔ Puisi reflektif: menyampaikan pemikiran, pandangan, atau perasaan seseorang tentang suatu hal. ➔ Puisi liris: menyampaikan perasaan atau pengalaman emosional, biasanya dalam bentuk metafora atau simbol.
4 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Berdasarkan aspek linguistik: ➔ Puisi prosa: ditulis dalam bentuk prosa, seperti narasi atau cerita. ➔ Puisi pantun: ditulis dalam bentuk pantun, yaitu puisi yang terdiri atas empat baris dan memiliki pola rima tertentu. ➔ Puisi syair: ditulis dalam bentuk syair, yaitu puisi yang terdiri atas dua baris yang saling berima. ➔ Puisi soneta: ditulis dalam bentuk soneta, yaitu puisi yang terdiri atas empat baris pada setiap kuatrain dan dua baris pada bait terakhir, dengan pola rima tertentu. A. Sejarah Puisi dan Perkembangannya di Indonesia Sejarah puisi dapat ditelusuri sejak zaman prasejarah, ketika manusia mulai mengungkapkan perasaan dan pemikiran mereka melalui suara dan ritme. Namun, puisi sebagai bentuk sastra yang lebih terstruktur dan terorganisir baru berkembang di berbagai budaya di seluruh dunia seiring berjalannya waktu. Di dunia Barat, puisi telah ada sejak zaman Yunani kuno, dengan karya-karya besar seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kemudian, puisi juga berkembang di zaman Romawi, dan pada abad pertengahan, puisi menjadi sarana yang penting dalam seni, agama, dan politik. Pada abad ke-14, terjadi kebangkitan puisi di Italia dengan munculnya gerakan Humanisme dan Renaissance, di mana para penyair seperti Dante Alighieri, Petrarch, dan Giovanni Boccaccio menulis puisi-puisi yang terkenal hingga kini. Di dunia Islam, puisi memiliki peran yang penting
Mozaik Puisi 5 dalam budaya dan sastra. Puisi Arab dianggap sebagai karyakarya besar dan menjadi inspirasi bagi banyak puisi di seluruh dunia. Dalam sastra Persia, puisi juga menjadi bagian penting dari kebudayaan dan terkenal dengan karya-karya seperti Rubaiyat karya Omar Khayyam dan puisi-puisi karya Rumi. Kemudian, pada abad ke-19 dan ke-20, puisi menjadi sarana penting bagi gerakan-gerakan sosial dan politik, seperti romantisme, modernisme, dan gerakan sastra avantgarde. Saat ini, puisi terus berkembang dan menjadi sarana yang penting bagi para penyair untuk mengekspresikan diri mereka dan mempengaruhi masyarakat. Di Indonesia, puisi telah berkembang sejak zaman prakolonial, dengan karya-karya seperti Kidung Sunda dan Carita Parahyangan yang ditulis dalam bentuk puisi. Kemudian, pada masa penjajahan Belanda, puisi berkembang sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan perlawanan dan nasionalisme, seperti karya-karya Chairil Anwar dan Amir Hamzah. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, puisi terus berkembang dan menjadi sarana penting bagi para penyair untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan mereka mengenai keadaan sosial dan politik di Indonesia. Salah satu gerakan puisi yang terkenal pada masa itu adalah Angkatan 45, di mana para penyair seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang, dan Rivai Apin menulis puisi-puisi yang penuh semangat dan idealisme. Kemudian, pada tahun 1960-an, muncul gerakan puisi yang lebih kritis dan sosial, seperti Gerakan Kebudayaan Baru dan Puisi Baru. Gerakan ini menekankan pada kebebasan berekspresi dan kritik terhadap kondisi sosial dan politik di Indonesia pada masa itu. Pada era Reformasi, puisi kembali menjadi sarana penting bagi
6 Puisi sebagai Sarana Berekspresi para penyair untuk mengekspresikan kritik mereka terhadap kondisi sosial dan politik di Indonesia. Beberapa penyair yang terkenal pada masa itu antara lain Joko Pinurbo, Taufik Ismail, dan Wiji Thukul, yang karyanya menjadi inspirasi bagi banyak orang dan memperkuat gerakan sosial di Indonesia. Saat ini, puisi terus berkembang dan menjadi sarana penting bagi para penyair untuk mengekspresikan diri mereka dan mengungkapkan perasaan, pemikiran, dan ide-ide mereka mengenai keadaan sosial dan politik di Indonesia dan dunia. Puisi juga semakin mudah diakses melalui media sosial dan festival puisi yang diadakan di berbagai kota di Indonesia. B. Hakikat Puisi Karena bahasanya yang estetis, padat, elok dan memiliki beberapa diksi yang berestetika tinggi, puisi dianggap sebagai jenis karya sastra yang memiliki kekuatan imajinasi tinggi (Isnaini, 2017). Diksi-diksi yang digunakan dalam puisi seakan-akan membangkitkan mitologi tentang kesucian puisi. Diksi-diksi seperti cinta, dendam, lembah, kematian, keabadian, sunyi, sepi, ilalang merupakan kata yang banyak ditemukan pada setiap puisi (A Teeuw, 1984). Sesuai dengan kemajuan ilmu sastra masa kini, pengkajian puisi menggunakan landasan teori sastra terbaru untuk mempelajari dan memahami puisi Indonesia modern dan puisi pada umumnya. Puisi dan karya sastra lainnya dapat ditelaah dengan menggunakan beberapa pendekatan. Salah satu pendekatan itu adalah pendekatan intertekstual. Intertekstual adalah pencarian makna suatu teks berdasarkan
Mozaik Puisi 7 hubungannya dengan teksteks yang lainnya (Hetami, 2010; Kuswarini, 2017). Dalam kesusastraan Indonesia, hubungan intertekstualitas antara suatu karya sastra dengan dengan karya lain, baik karya sezaman maupun zaman sebelumnya banyak ditemukan, misalnya, puisi karya Pujanga Baru, karya Angkatan 45, ataupun karya-karya lain (Putri, 2010; Inarti, 2016; Cahyadi, 2016; Mirantin, 2018; Yulianto, 2015; Perdana, 2017). Untuk memahami dan mendapatkan makna penuh sebuah sajak perlu dilihat hubungan intertekstualitas ini. Beberapa sajak Chairil Anwar, misalnya, mempunyai hubungan intertekstualitas dengan sajak-sajak Amir Hamzah. Hubungan intertekstualitas itu menunjukkan adanya persamaan dan pertentangan dalam konsep estetika dan pandangan hidup yang berlawanan (Teeuw, 1981) Berdasarkan prinsip ini, seorang peneliti dapat membandingkan puisi karya penyair tertentu yang dianggap sebagai transformasi dari puisi karya penyair lain, sehingga hubungan puisi karya penyair terdahulu menjadi jelas apakah menyimpang atau sekedar melanjutkan ide-ide penyair terdahulu, juga akan jelas bagaimana perbedaan atau persamaan ekspresi antara penyair pertama dan penyair kedua terhadap tema yang sama. Puisi adalah bentuk seni sastra yang menggunakan bahasa untuk mengekspresikan perasaan, pemikiran, atau pengalaman melalui pengaturan kata-kata secara khusus dan bermakna. Puisi bisa dikatakan sebagai bentuk tulisan atau bahasa yang memiliki ritme, irama, dan suara yang menyenangkan.
8 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Hakikat puisi sangat subjektif dan tergantung pada perspektif masing-masing individu. Namun, secara umum, puisi memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Mempunyai keindahan bahasa yang menggugah perasaan pembaca atau pendengar. 2. Mampu menggambarkan perasaan, pikiran, atau pengalaman secara mendalam. 3. Memiliki bentuk dan struktur yang khas, misalnya penggunaan baris, bait, dan rima. 4. Memiliki makna atau pesan yang tersembunyi dan bisa diinterpretasikan dengan beragam cara. Puisi juga bisa digunakan sebagai media untuk menggambarkan realitas sosial, budaya, dan politik yang terjadi di lingkungan sekitar. Meskipun demikian, puisi tidak selalu memiliki tujuan moral atau pendidikan. Terkadang, puisi hanya menggambarkan perasaan atau pengalaman pribadi seseorang. Secara keseluruhan, hakikat puisi adalah bentuk seni sastra yang memanfaatkan bahasa dan bentuk yang khas untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, atau pengalaman secara mendalam dan bermakna. 1. Puisi Menurut Pengertian Lama Dalam buku pelajaran kesusastraan untuk SMU, masih tampak adanya pengertian puisi menurut pandangan lama, salah satunya dalam buku Wirjosoedarmo (1984: 51) sebagai berikut. Puisi itu karangan yang terikat, terikat oleh (a) banyak baris dalam tiap bait (kuplet/strofa, suku karangan); (b) banyak kata dalam tiap baris; (c) banyak suku kata dalam tiap baris; (d) rima; dan (e) irama.
Mozaik Puisi 9 Kalau Anda perhatikan contoh syair dan sajak Rustam Effendi, penyair Pujangga Baru, tampaklah bahwa kedua sajak itu sesuai dengan pengertian atau definisi yang dikemukakan Wirjosoedarmo. Coba, perhatikan contoh sajak penyair Pujangga Baru berikut. Gembala Perasaan siapa/tidakkan nyala Melihat anak/berlagu dendang Seorang sahaja/di tengah padang Tiada berbaju/buka kepala Beginilah nasib/anak gembala Berteduh di bawah/ kayu nan rindang, Semenjak pagi meninggalkan kandang Pulang ke rumah/ di senja-kala. (Yamin, dalam Jassin, 1987: 323) Garis miring (/) dari penulis untuk memperjelas. Sajak M. Yamin itu sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Wirjosoedarmo. Sajak itu terikat oleh jumlah periodus, yaitu ada dua periodus tiap baris. Periodus adalah bagian pembentuk baris sajak. Satu periodus terdiri atas dua kata. Pada umumnya, baris terdiri atas empat kata. Tiap-tiap baris tampak adanya jumlah suku kata yang sama atau hampir sama, antara 9-10 suku kata. Dalam sajak itu tampak adanya pola sajak akhir yang tetap, yaitu a-b-b-a tiap baitnya. Dengan adanya susunan teratur, jumlah kata dan suku kata tetap dan pola sajak tetap maka tampak adanya irama yang tetap atau ajeg. Tampak dalam sajak contoh itu bahwa ikatan formal; bentuk yang dapat dilihat mata.
10 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Bentuk-bentuk formal itu adalah alat-alat atau saranasarana kepuitisan untuk mendapatkan nilai estetis atau nilai seni dengan bentuk formal yang ajeg atau tetap dan simetris (Seimbang). Akan tetapi, ikatan bentuk tetap itu tidak tampak dalam sajak Chairil Anwar, lebih-lebih dalam sajak Sutardji dan Damono. Jadi, ada perbedaan pengertian mengenai puisi menurut pandangan lama dan menurut pandangan baru. Hal ini tampak dalam wujud sajaknya seperti dalam contohcontoh itu. Slametmuljana (1956: 112) mengutip definisi A.W. de Groot mengenai puisi, diantaranya sebagai berikut. Di dalam sajak itu ada korespondensi dari corak tertentu, yang terdiri dari kesatuan-kesatuan tertentu pula, meliputi seluruh sajak dari awal sampai akhir. Maksud dari korespondensi (Slamet muljana, 1956: 113) adalah segala ulangan susunan baris sajak yang tampak di baris lain dengan tujuan menambah kebagusan sajak. Kebanyakan tiap baris sajak terdiri atas bagianbagian yang susunannya serupa. Bagian itu disebut periodus, jadi kumpulan jumlah periodus itu merupakan bagian sajak. Dengan kata lain, periodus itu adalah pembentuk baris sajak menurut sistem. Adapun periodisitas adalah sistem susunan bagian baris sajak atau sistem periodus. Untuk menjelaskan korespondensi dan periodisitas. Sebagai pemisah periodus digunakan garis miring (/). 2. Puisi Menurut Pengertian Baru Para penyair baru (modern) menulis puisi tanpa mempedulikan ikatanikatan formal seperti puisi lama. Akan tetapi, mengapa tulisannya atau hasil karyanya masih disebut sebagai puisi?
Mozaik Puisi 11 Hal ini disebabkan oleh pemahaman bahwa bentukbentuk formal itu hanya merupakan sarana-sarana kepuitisan saja, bukan hakikat puisi. Penyair dapat menulis dan mengombinasikan sarana-sarana kepuitisan yang disukainya. Sarana kepuisian dipilih dengan tujuan untuk dapat mengekspresikan pengalaman jiwanya. Para penyair Angkatan 45 memilih sarana kepuitisan yang berupa diksi atau pilihan kata secara tepat, pilihan kata yang dapat memberikan makna seintensitas mungkin, yang dapat merontgen ke putih tulang belulang, kata Chairil Anwar (Jassin, 1978: 136). Sarana kepuitisan yang berupa sajak akhir masih dipergunakan juga demi intensitas arti atau maknanya. Akan tetapi, sajak akhir itu harus berupa pola bunyi yang teratur dan tetap. Contohnya, seperti sajak Asrul Sani berikut. Anak Laut Sekali ia pergi tiada bertopi Ke pantai landasan matahari dan bermimpi tengah hari Akan negeri jauhan Pasir dan air seakan Bercampur. Awan Tiada menutup mata dan hatinya rindu melihat laut biru. ―Sekali aku pergi dengan perahu ke negeri jauhan dan menyanyi
12 Puisi sebagai Sarana Berekspresi kekasih hati lagu merindukan daku.‖ ―Tenggelam matahari Ufuk sana tiada nyata bayang-bayang bergerak perlahan aku kembali kepadanya.‖ Sekali ia pergi tiada bertopi Ke pantai landasan matahari dan bermimpi tengah hari Akan negeri di jauhan. (Jassin, 1969: 87) Coba Anda lihat, adakah korespondensi dan periodisitas dari awal ke akhir sajak Asrul Sani itu ? Tunjukkan kalau ada! Sajak itu mempergunakan sarana kepuitisan berupa sajak akhir, tetapi tidak berdasar pola yang tetap, tampak dalam bait pertama, kedua, dan ketiga. Sajak akhir itu terjadi secara spontan, tidak direkayasa, seperti tampak dalam bait ketiga. C. Ciri Puisi Ciri-ciri puisi dapat dilihat secara sederhana melalui tiga hal yang menentukan kelahirannya, yakni dasar ekspresi, teknik ekspresi, dan bahasa ekspresinya. Ketiga hal inilah yang menandai bahwa suatu teks kreatif tertentu adalah puisi, bukan prosa. Ketiga hal itu juga yang mampu menandai ciri khas seorang penyair dalam berkarya puisi Secara umum, ciri-ciri puisi adalah:
Mozaik Puisi 13 1. Tersusun atas kumpulan kata dalam bentuk baris 2. Tiap baris tersebut terkumpul menjadi beberapa bagian 3. Pada tiap baris terakhir berbunyi kata vokal, namun terkadang berupa huruf konsonan 4. Baris terakhir bunyi vokalnya merupakan kata teratur 5. Banyak menggunakan majas yang bermakna kiasan 6. Terikat oleh rima dan irama. D. Keunikan Dalam Puisi Puisi memiliki keunikan yang membedakannya dari jenis-jenis tulisan lainnya. Beberapa keunikan dari puisi antara lain: 1. Bahasa yang Digunakan: Puisi menggunakan bahasa yang indah, puitis, dan tidak biasa. Penggunaan bahasa ini membuat puisi lebih menarik dan dapat menyampaikan makna yang lebih dalam. 2. Struktur dan Pola: Puisi memiliki struktur dan pola yang khas. Beberapa jenis puisi memiliki pola yang sudah ditentukan, seperti soneta dan pantun, sedangkan jenis puisi lainnya tidak memiliki pola yang baku. 3. Imajinasi dan Ekspresi: Puisi memungkinkan pengarang untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara bebas. Ini memungkinkan pengarang untuk mengeksplorasi imajinasi dan kreativitas mereka. 4. Musikalitas: Puisi sering kali memiliki unsur musikalitas, seperti ritme, irama, dan rima. Unsur-unsur ini membantu membuat puisi lebih menarik dan enak didengar.
14 Puisi sebagai Sarana Berekspresi 5. Makna Tersirat: Puisi seringkali memiliki makna yang tidak langsung dan tersirat. Makna tersebut dapat diartikan oleh pembaca secara berbeda-beda tergantung pada interpretasi masing-masing. 6. Kombinasi dari keunikan-keunikan ini membuat puisi menjadi jenis tulisan yang unik dan menarik bagi banyak orang.
Mozaik Puisi 15 Eksistensi Puisi dalam Sastra Indonesia hingga Masa Kini
16 Puisi sebagai Sarana Berekspresi BAB II Eksistensi Puisi dalam Sastra Indonesia hingga Masa Kini A. Sekilas tentang Sastra Indonesia Sastra telah lama tumbuh dan berkembang di Indonesia tetapi tidak semua sastra tersebut dapat dikatakan sebagai sastra Indonesia. Sastra Indonesia merupakan seni hasil cipta, karya, dan karsa berbahasa Indonesia, yang diiringi dengan aspirasi, kultur, serta roh keindonesiaan. Penentuan awal kelahiran sastra Indonesia hingga saat ini masih kontroversial karena terus menjadi perdebatan. Para ahli, khususnya pengamat sastra memiliki perbedaan pendapat dengan berbagai pertimbangan masing-masing mengenai lahirnya sastra Indonesia. Meskipun demikian, sejatinya kita dapat melihat kelahiran sastra Indonesia dengan menjadikan kemunculan Balai Pustaka sebagai acuan. Sastra Indonesia terus berkembang bahkan sebelum Bahasa Indonesia itu sendiri diresmikan pada 28 Oktober 1928. Menilik hal tersebut, banyak ahli yang berpendapat bahwa sastra lahir sekitar tahun 1920-an. Kelahiran tersebut diikuti dengan kemunculan penerbitan pers dan buku. Meskipun sebagai produk yang dibentuk kolonial pada masa itu, Balai Pustaka dianggap sebagai tonggak penting sejarah sastra Indonesia. Lahirnya sastra berkorelasi dengan karakteristik setiap periode sastra Indonesia. Karakteristik tersebut secara langsung berfungsi sebagai pembeda atau pembanding dengan periode sebelum dan sesudahnya. Setiap periode sastra memiliki ciri khas yang mengangkat isu atau urgensi
Mozaik Puisi 17 tertentu pada waktu bersangkutan. Dalam sejarahnya, sastra Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua masa, yaitu masa kelahiran (awal) dan masa perkembangan. Kedua masa tersebut terdiri atas beberapa periode dengan ciri khasnya masing-masing. Dilansir dari laman kemdikbud.go.id (2016), terdapat beberapa pakar sastra yang telah menentukan periodisasi sejarah sastra Indonesia, antara lain H.B. Jassin, Buyung Saleh, Nugroho Notosusanto, Bakri Siregar, Ajip Rosidi, Zuber Usman, dan Rachmat Djoko Pradopo. Meskipun terdapat perbedaan kecil mengenai batas waktu dan ciri-ciri pada setiap periode, periodisasi yang telah dikemukakan menunjukkan persamaan dalam garis besarnya. Sejak kelahirannya hingga saat ini, perkembangan Sastra Indonesia menunjukkan adanya kesinambungan sejarah. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai pembabakan atau periodisasi sastra yang dikemukakan oleh berbagai pakar. Rene Welek (via Pradopo, 2008) mengemukakan bahwa pembabakan merupakan bagian waktu yang dikuasai dan dikendalikan sistem, norma, dan konvensi sastra yang munculnya, meluasnya, keberbagaian, integrasi, dan lenyapnya dapat dirunut. Periodisasi sastra bertujuan untuk mempermudah proses dan upaya pengembangan sejarah sastra. Selain itu, periodisasi sastra penting dalam aktivitas penciptaan karya sastra baru oleh sastrawan. Sastrawan dapat melihat, memahami, dan menelaah sifat-sifat atau ciri-ciri setiap periode untuk menciptakan karya sastra dengan nafas baru. Karya-karya tersebut tentunya memiliki konsep tersendiri, ekspresi seni yang berbeda, struktur estetika yang berbeda, dengan bidang masalah, pandangan hidup, filsafat, pemikiran, serta perasaan yang tentunya berbeda.
18 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Istilah yang digunakan para ahli untuk menyebut periode sastra berbeda antara yang satu dengan lainnya. Istilah yang cukup familiar untuk dipakai yaitu angkatan. Mujiyanto dan Fuady (2014:5) mengemukakan bahwa angkatan-angkatan kesusastraan masa awal meliputi periode Angkatan Balai Pustaka (1920–1933), Angkatan Pujangga Baru (1933–1942), dan Kesusastraan Indonesia Masa Jepang (1942–1945). Sementara itu, Ajip Rosidi melalui Mujiyanto dan Fuady (2014:6) mengungkapkan bahwa masa perkembangan terdiri atas periode Angkatan 45 (1945–1953), Angkatan 50-an (1953–1961), Angkatan 66 (1961–1970), Angkatan 80-an, dan Generasi Sastra Mutakhir (1990– sekarang). Setiap periode tersebut tentunya mengusung konsepsi penilaian dan konvensi sastra yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Setiap periodenya menjadi kesatuan yang saling terikat dan tidak terpisahkan dari tipetipe genre dengan kekhasannya masing-masing. Sampai saat ini, periodisasi sastra Indonesia modern terus menjadi bahan perdebatan. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena selama ini penentuan sebuah angkatan sastra bertolak dari usia para sastrawan yang menulis dalam jangka waktu yang relatif sama. Ini berarti bahwa munculnya sebuah angkatan sastra baru yaitu dalam kurun waktu 10–15 tahun sekali. Setiap angkatan sastra terdiri atas sekumpulan sastrawan yang usianya hampir sama, gaya penulisannya hampir sama, dan dalam majalah atau penerbit yang sama. Berikut contoh angkatan pada masa sastra awal. ➢ Balai Pustaka : Sastrawan kelahiran 1985-an dan menulis pada 1920-an. ➢ Pujangga Baru : Sastrawan kelahiran 1910-an dan menulis pada 1930-an.
Mozaik Puisi 19 ➢ Angkatan 45 : Sastrawan kelahiran 1920-an dan menulis pada 1940-an. ➢ Generasi Kisah: Sastrawan kelahiran 1930-an dan menulis pada 1950-an. ➢ Gen. Horison : Sastrawan kelahiran 1940-an dan menulis pada 1960-an. Sebelum sastra Indonesia resmi muncul pada tahun 1920, berkembanglah sastra tidak resmi sejak 1870. Pada masa itu, sastra resmi memakai bahasa Melayu Tinggi, kemudian pada masa pujangga baru percampuran bahasa Melayu Tinggi dan Rendah semakin sempurna. Bahasa Melayu rendah berupa ungkapan pikiran dan perasaan pengarang yang bebas dari tekanan, sedangkan bahasa Melayu tinggi tumbuh diiringi dengan tekanan sehingga kurang bebas. Intinya, kemudian sastra Indonesia berkembang dari kebudayaan yang sejatinya tengah berakulturasi dengan kebudayaan barat sejak abad ke-17. Semenjak itu, terjadilah perubahan-perubahan dalam sastra sebagai berikut. ➢ Dalam drama, mulai dikenal bentuk tragedi, komedi, dan repertoar teater barat. ➢ Dalam karya fiksi, hikayat-hikayat yang istana sentris mulai ditinggalkan dan beralih ke roman/novel, novelet, dan cerpen. ➢ Dalam puisi, karya-karya seperti syair, pantun, bidal, dan sebagainya mulai tergantikan dengan soneta, distikon, dan lainnya. Pada masa penjajahan Belanda, sastra memiliki kedudukan yang berbeda pada setiap kalangan. Setiap kelas masyarakat memiliki jenis sastra tertentu. Di kalangan
20 Puisi sebagai Sarana Berekspresi masyarakat Belanda berkembang sastra Belanda, di kalangan masyarakat Tionghoa berkembang sastra Peranakan Tionghoa dalam Melayu Rendah, sedangkan di kalangan masyarakat pribumi, berkembang sastra Melayu, sastra Jawa, sastra Sunda, dan sebagainya. Seiring berjalannya waktu, kedudukan sastra pada masa pasca-kemerdekaan berada di masyarakat kota, kelas menengah sampai kelas atas, serta masyarakat terpelajar. 1. Balai Pustaka Jika dilihat dari sejarahnya, Sastra Balai Pustaka (BP) bukanlah gagasan murni bangsa Indonesia. Sastra Balai Pustaka memiliki maksud-maksud tertentu khususnya maksud praktis untuk memberikan pendidikan dan pembelajaran kepada bangsa Indonesia agar menjadi pegawai negeri yang tidak ambisius dan patuh pada orangorang Belanda. Pada September 1908, berdirilah Komisi Bacaan Rakyat dan Pendidikan Pribumi untuk memberi pertimbangan dalam pemilihan karya-karya yang dapat menjadi bacaan baik untuk sekolah maupun rakyat. Baru pada 1910, Komisi menghasilkan beberapa buku bacaan sebagai counter atas buku-buku anti-Belanda. Komisi Bacaan Rakyat ini kemudian berubah menjadi Balai Pustaka sejak 22 September 1917. Balai Pustaka kemudian mencetak buku bacaan untuk anak sekolah dan masyarakat, kemudian membentuk Taman Pustaka atau perpustakaan yang digunakan untuk menyebarkan bacaan-bacaan yang bersangkutan. Roman-roman yang muncul pada sastra Balai Pustaka sebenarnya secara kebetulan saja. Dalam Balai
Mozaik Puisi 21 Pustaka, karya terjemahan baru mulai berkembang sejak 1920-an dan 1930-an. Buku-buku Balai Pustaka tersebar dan dijual murah karena alasan politis yaitu untuk mengontrol jenis bacaan. Jenis-jenis penerbitan Balai Pustaka meliputi almanak, buku-buku baik sastra, kesehatan, pertanian, dan sebagainya, serta majalah yang berbahasa Melayu, Jawa, dan Sunda. Pada masa itu akhirnya penulis menerima dominasi kuat penerbit Balai Pustaka sehingga mereka pun tunduk terhadap syarat-syarat yang dikemukakan oleh Balai Pustaka. Berikut persyaratan yang dimaksud. a) Tidak mengandung unsur-unsur anti pemerintah Belanda. b) Tidak menyinggung perasaan golongan masyarakat dan suku tertentu. c) Tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Sastra Balai Pustaka meliputi sastra dalam bahasa Melayu, Jawa, dan Sunda. Mulanya, sastra Melayu Balai Pustaka didominasi oleh sastrawan asal Sumatera Barat sekitar tahun 1920–1930-an, kemudian muncullah para sastrawan nonSumatera yang menulis dalam bahasa Melayu. Pada tahun 1942, setelah Jepang masuk dan berkuasa di Indonesia, sastra Balai Pustaka pun berhenti. Meskipun demikian, beberapa tahun pasca kemerdekaan masih dijumpai beberapa karya hasil Balai Pustaka. Balai Pustaka kemudian diambil alih pemerintah Republik Indonesia pada 1 Mei 1948 sehingga badan tersebut sudah bukan bagian alat kolonial lagi. Sastra-sastra Balai Pustaka mengusung tema-tema seperti pertentangan kaum muda melawan adat, kesetiaan pegawai, anti-nasionalisme, dan tema sejarah. Sastra Balai Pustaka bercirikan memiliki sifat kedaerahan, sifat romantik-
22 Puisi sebagai Sarana Berekspresi sentimental, bergaya bahasa Balai Pustaka, dan bertema sosial karena jarang yang mengusung masalah watak, agama, maupun politik. Sastra terjemahan Balai Pustaka yaitu roman dan drama. Gaya bahasa yang digunakan pun mengikuti gaya sastra Balai Pustaka pada umumnya. Karya-karya utama Balai Pustaka yang dianggap bermutu diantaranya Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Surapati dan sebagainya. 2. Pujangga Baru Politik etis Belanda memunculkan sejumlah sekolah yang kemudian melahirkan golongan terpelajar kaum priyayi. Sejumlah penulis yang aktif dalam pergerakan pun lahir. Penulis-penulis ini berjiwa nasionalisme dan antikolonialisme. Pujangga Baru dapat dilihat sebagai pernyataan nasionalisme dalam bidang dan aspek kebudayaan utamanya kesusastraan. Pujangga Baru merupakan bagian dari pergerakan nasional Indonesia yang berdiri tahun 1933. Pujangga Baru dijiwai oleh semangat nasionalisme dan kebudayaan baru Indonesia berbeda dengan Balai Pustaka yang merupakan abdi pemerintah kolonial. Tidak seperti Balai Pustaka yang berakar dari daerah, Pujangga Baru merupakan induk sastra Indonesia modern. Pujangga Baru merupakan nama yang diambil dari majalah yang didirikan pada MEI 1933 oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane. Majalah Poedjangga Baroe (PB) didirikan dengan tujuan awal untuk memajukan kesusastraan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman, serta menumbuhkan rasa persatuan
Mozaik Puisi 23 sastrawan baru. Kemunculan majalah ini disambut baik oleh golongan elit nasional tetapi mendapat kritik dari guru-guru bahasa Melayu dan kurang disambut baik oleh para bangsawan, Meskipun demikian, pada hakikatnya majalah ini disambut secara intelektual dengan dikirimkannya berbagai naskah dari berbagai daerah di Indonesia untuk dimuat dalam majalah ini. PB sendiri mengusung semboyan yang kemudian berubah-ubah pada tahun tertentu. Berikut semboyan PB. a. 1933: Majalah kesusastraan dan bahasa serta kebudayaan umum. b. 1935: Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan, dan sosial masyarakat umum. c. 1936: Pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan Indonesia. Sastra PB memiliki dasar berupa kebudayaan baru yaitu kebudayaan Indonesia, yang dalam upaya untuk mewujudkannya terdapat landasan yang menjadi titik tolaknya. Berikut landasan tersebut. a. Pro Barat: Harus meniru negara barat dalam segala hal b. Pro Timur: Tidak boleh meninggalkan warisan kebudayaan sendiri, misalnya cara-cara Timur dalam pendidikan seperti yang dianjurkan oleh Ki Hadjar Dewantara dan Dr. Sutomo. Meskipun terdapat dua landasan tersebut ada juga yang justru ingin menyatukan budaya Barat dan Timur. Ada juga yang menganggap bahwa peradaban dapat diambil dari bangsa apapun, tetapi terkait kebudayaan atau culture
24 Puisi sebagai Sarana Berekspresi haruslah culture negeri sendiri, yaitu kebudayaan Indonesia. Sastra PB berciri: a. sastra majalah, b. aliran yang digunakan yaitu romantik, c. banyak digunakan lambang, kiasan, metafora, dan d. bahasa yang digunakan yaitu bahasa Indonesia. Berikut sastrawan pada masa PB. a. Sutan Takdir Alisjahbana b. Armijn Pane c. Amir Hamzah d. Sanusi Pane e. Rustam Effendi f. Asmara Hadi g. J.E. Tatengkeng, dan lain-lain. 3. Angkatan 45 Kemunculan Chairil Anwar dalam sejarah sastra Indonesia menunjukkan sesuatu yang baru karena sajaksajaknya bernilai tinggi dengan bahasa Indonesia yang berjiwa (Rosidi, 2013:100). Sajak-sajak Chairil Anwar berbeda dari sajak-sajak Amir Hamzah yang memberi kesan sebagai sastra Melayu. Chairil Anwar tidak menggunakan bahasa Indonesia baku dalam sajaknya, melainkan bahasa Indonesia yang biasa digunakan dalam percakapan seharihari. Meskipun demikian, bahasa percakapan itu lantas dibuatnya menjadi bahasa bernilai sastra dan sarat makna. Nafas sastra Chairil Anwar ini pun kemudian mengundang lahirnya para penyair dalam bidang penulisan puisi. Kemunculan penyair-penyair tersebut menjadi penanda lahirnya angkatan kesusastraan baru. Angkatan ini sejatinya
Mozaik Puisi 25 tidak serta-merta mendapatkan nama. Awalnya terdapat berbagai penyebutan untuk angkatan ini, hingga pada tahun 1948, angkatan ini disebut sebagai angkatan 45 oleh Rosihan Anwar. Nama inipun populer dengan sendirinya hingga menjadi nama resmi yang disetujui berbagai pihak. Rosidi (2013:101) mengemukakan bahwa meskipun nama sudah diperoleh, sendi-sendi dan landasan-landasan ideal angkatan ini belum lagi dirumuskan, hingga pada 1950, dibuat dan diumumkanlah 'Surat Kepercayaan Gelanggang', yang menjadi semacam pernyataan sikap atau dasar pegangan perkumpulan 'Gelanggang Seniman Merdeka'. Perkumpulan tersebut sejatinya didirikan semasa Chairil Anwar masih hidup, yakni pada 1947. Berikut penyair angkatan 45. a. Asrul Sani b. Rivai Apin c. Usmar Ismail d. S. Rukiah e. M. Akbar Djuhana f. Muh. Ali g. P. Sengodjo, dan lain-lain. 4. Angkatan 66 Bersamaan dengan munculnya majalah Horison yang murni menerbitkan tulisan tentang sastra, angkatan 66 muncul sebagai angkatan populer yang diakui oleh kebanyakan penulis sejarah sastra. H.B. Jassin adalah orang yang pertama kali mengenalkan nama ini dalam bukunya Angkatan 66: Prosa dan Puisi. Jassin menolak dengan tegas konsepsi angkatan 50 karena menurutnya angkatan tersebut
26 Puisi sebagai Sarana Berekspresi terlalu dekat dengan angkatan 45 yang memunculkan ketiadaan konsep esensial berlainan dari kedua angkatan tersebut. Angkatan 66 ini sejatinya lahir berlatar belakang perlawanan terhadap penyelewengan pimpinan negara salah satunya pelanggaran terhadap pancasila. Pelanggaran tersebut dapat dilihat ketika terdapat upaya memasukkan komunis sebagai sebuah nilai keindonesiaan yang tentunya sangat berbanding terbalik dan melanggar sila pertama Pancasila. Permasalahan politik di Indonesia pada waktu itu menimbulkan implikasi terhadap paham sastra yang berkembang. Waktu itu, terdapat dua kelompok pemikiran politik yaitu penulis yang terkumpul dalam Lekra dan para seniman yang menandatangani manifes kebudayaan. Berbeda dari kedua kubu tersebut, terdapat juga kubu sastrawan yang tidak berkumpul pada keduanya dan tetap netral. Lekra yang semula bukan lembaga kebudayaan PKI berubah agresif sebagai media penyerang orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak mau mendukung PKI. Puncak konfrontasi dalam bidang seni pun terjadi antara orang-orang Lekra dan para seniman penandatangan Manifes Kebudayaan. Manifes tersebut bertujuan untuk mempertahankan otonomi seni. Berikut Manifes Kebudayaan. Manifes Kebudayaan Kami para seniman dan cendekiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah Manifes Kebudayaan, yang menyatakan pendirian, cita-cita, dan politik Kebudayaan Nasional Kami.
Mozaik Puisi 27 Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya. Dalam melaksanakan kebudayaan Nasional kami berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di tengahtengah masyarakat bangsa-bangsa. Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami. Manifes tersebut ditandatangani oleh beberapa pengarang diantaranya H.B. Jassin, Goenawan Mohamad, dan Trisno Sumardjo. Manifes Kebudayaan kemudian dilarang, diserang, diusir dari setiap kegiatan, ditutup untuk tidak mengumumkan karya-karyanya, dan sebagainya. Parahnya, terbitan yang menjadi tempat menulis penandatangan Manifes Kebudayaan ini terus dituntut untuk ditutup. Puncaknya, media tersebut justru tutup dengan sendirinya karena banyak tekanan khususnya dari pemerintah. Berikut penyair angkatan 66. a. Taufiq Ismail b. Goenawan Mohamad c. Sapardi Djoko Damono d. W.S Rendra e. Ajip Rosidi f. Soewardi Idris, dan lain-lain.
28 Puisi sebagai Sarana Berekspresi B. Puisi dalam Sastra Indonesia 1. Eksistensi Puisi Salah satu genre sastra yang patut untuk dikenali yaitu puisi. Keunikan puisi dibanding genre sastra lainnya terletak pada bentuknya yang cenderung ringkas dengan penggunaan rima tertentu dan bahasa yang estetik, berbeda dari prosa maupun drama yang dominan menggunakan bahasa seharihari. Puisi dalam sejarah tradisi sastra Inggris bahkan dikatakan sebagai karya sastra tertua. Lalu, bagaimana dalam sastra Indonesia? Puisi dalam sastra Indonesia tidak serta merta muncul dan eksis dari masa ke masa. Puisi dalam sastra Indonesia mengalami berbagai pergolakan, perubahan, dan tentunya sejarah yang cukup panjang. Dalam sastra Indonesia sendiri, puisi bukanlah karya sastra pertama yang mendapatkan perhatian. Puisi ditulis oleh seorang penyair berdasarkan konvensi yang telah ada. setiap karya dapat menjadi batu loncatan untuk karya lainnya. Setiap karya dapat menjadi inspirasi untuk kelahiran karya selanjutnya. Dengan menilik uraian sebelumnya yang membahas sekilas tentang sejarah sastra, kita dapat mengetahui bersama bahwa dalam sejarahnya penyair tanah air mulai terlihat menunjukkan karyanya pada April 1920. Pada waktu itu, sajak Indonesia modern pertama kali muncul dalam Jong Sumatra, No. 4, Tahun III. Sajak tersebut berjudul ―Tanah Air‖ yang ditulis oleh M. Yamin. Tentu saja sajak M. Yamin ini merupakan bentuk respon atau tanggapan terhadap sajak-sajak yang telah ada sebelumnya, yakin sajak-sajak tradisional yang bernafaskan Melayu lama. Sebagian konvensi puisi lama pun
Mozaik Puisi 29 diteruskan dalam sajak-sajaknya. Sajak-sajak inilah yang kemudian diikuti oleh penyair pada zaman tersebut. Kelahiran sajak M. Yamin ini kemudian membentuk angkatan sastra atau periode sastra. Nantinya, salah satu periode dalam sastra dikenal sebagai Angkatan Pujangga Baru. Puisi-puisi pada masa Pujangga Baru kemudian juga akan direspon oleh penyair-penyair sesudahnya sehingga lahirlah karya-karya puisi yang baru. Begitu seterusnya setiap periode lahir dan merespon periode sebelumnya. Kelahiran puisi modern merupakan bentuk respon terhadap puisi lama. Puisi Indonesia modern berkembang pada tahun 1920-an dengan berbagai penyair terkemuka diantaranya M. Yamin, Sanusi Pane, dan Rustam Effendi. Ketiga pengarang tersebut bahkan membuat kumpulan puisi yang kemudian diterbitkan. Berikut antologi atau kumpulan puisinya. a. Tanah Air (1922) karya M. Yamin. b. Percikan Permenungan (1926) karya Rustam Effendi. c. Puspa Mega (1927) karya Sanusi Pane. d. Indonesia Tumpah Darahku (1929) karya M. Yamin. Konvensi penulisan puisi lama pun berganti dan dengan sengaja memang tidak diperhatikan lagi (dilanggar) dalam puisi baru. Puisi atau sajak baru kemudian memunculkan wajah baru. Puisi-puisi tersebut kemudian banyak yang menggambarkan perasaan individual atau justru menunjukkan semangat revolusioner. Mengapa demikian? Hal tersebut terjadi karena karya sastra hadir merespon realitas sosial. Ketika pada masa itu memang semangat revolusioner perlu dibangun, maka melalui puisi inilah salah satu caranya. Secara tidak langsung puisi justru menjadi
30 Puisi sebagai Sarana Berekspresi sarana untuk mempengaruhi perasaan ataupun pemikiran penikmatnya (pembaca atau pendengar puisi). Terlepas dari itu, perlahan tetapi pasti, ciri-ciri puisi baru pun berkembang seiring berjalannya waktu. Banyak perbedaan yang muncul antara puisi lama dan puisi baru. Puisi baru yang semakin modern pun terus berkembang dan terus menunjukkan eksistensinya hingga kini. 2. Karakteristik Puisi Menilik perkembangan puisi dalam sastra Indonesia, sejarah menunjukkan adanya perbedaan karakter puisi pada setiap masa atau angkatan. Setiap angkatan dalam periode sastra mengusung ciri khas berbeda mengenai puisi itu sendiri. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa hakikat puisi itu sendiri berubah. Berikut ciri khas atau karakteristik puisi pada setiap periode perkembangannya. a. Angkatan Balai Pustaka 1) Struktur Estetik a) Masih banyak ditemukan karya yang bercorak romantis sentimental. b) Perumpamaan yang klise menjadi gaya bahasa yang umum digunakan. c) Memiliki sifat didaktis. Hal tersebut dapat dilihat dari latar belakang penulis pada masa Balai Pustaka sebagian besar adalah guru ataupun aktivis pendidikan. d) Syair ataupun pantun banyak digunakan sebagai degresi atau sisipan dalam sebuah prosa.
Mozaik Puisi 31 2) Ekstraestetik → Nasionalisme dan rasa kebangsaan tidak dipermasalahkan. b. Angkatan Pujangga Baru 1) Estetik a) Konvensi puisi lama yaitu pantun dan syair mulai tidak lagi digunakan. Meskipun demikian, pada dasarnya dalam berbagai sisi gaya lama tetap melekat dan digunakan secara lebih fleksibel. b) Sarana utama puisi-puisi pada masa ini yaitu persajakan. c) Mulai dikenal dan ditulis puisi jenis soneta oleh sastrawan pada masa itu. d) Eksistensi puisi jenis balada tidak signifikan. e) Dominan menggunakan diksi-diksi yang estetik. f) Bahasa kiasan yang dominan digunakan yaitu perbandingan. g) Bentuk puisi pada masa ini simetris karena terdapat periodisitas atau pengelompokan dari awal hingga akhir sajak. Hal tersebut umum terlihat pada tiap barisnya yang terdiri atas dua periodus (yang juga terdiri atas dua kata). h) Puisi-puisi pada masa ini mengusung gaya ekspresi aliran romantik yang terlihat dari pelukisan perasaan, penggambaran kisah, dan sebagainya. i) Kebanyakan puisi menggunakan gaya sajak polos, tidak banyak ditemukan penggunaan
32 Puisi sebagai Sarana Berekspresi kata yang ambigu baik simbolik maupun metafora implisit. 2) Ekstraestetik a) Tidak terlepas dari gaya romantis idealis. b) Bersifat didaktis. c) Tidak menggunakan perumpamaan yang klise sebagai gaya bahasa. d) Pada masa ini, setiap puisi menggunakan bahasa Indonesia yang dikombinasikan dengan bahasa daerah yang ada di Indonesia. e) Permasalahan yang diusung seputar kehidupan masyarakat kota, ide nasionalisme, serta cita-cita kebangsaan. c. Angkatan 45 Pada hakikatnya, puisi angkatan 45 memiliki persamaan dan perbedaan dengan angkatan sebelumnya yaitu angkatan Balai Pustaka dan angkatan Pujangga Baru. Berikut karakteristik angkatan 45. 1) Tema a) Puisi pada periode 45 menyajikan kisah mengenai kehidupan lahir dan batin manusia yang dilihat dari sudut pandang individu si penulis puisi. b) Puisi-puisi pada periode ini banyak yang menggambarkan realitas permasalahan sosial masyarakat seperti ketimpangan sosial atau kemiskinan. c) Penyajian pandangan hidup atau pendapat pribadi individu sebagai pemecahan
Mozaik Puisi 33 masalah juga kerap diusung sebagai inspirasi tema puisi pada angkatan ini. 2) Struktur a) Struktur puisi bebas, tidak terikat apapun baik itu bait, jumlah baris, maupun persajakan. b) Aliran puisi yang diusung yaitu realisme. Sementara itu, gaya yang digunakan yaitu ekspresionisme dan realisme. c) Pada angkatan ini, kebanyakan diksi yang digunakan berasal dari bahasa atau kosa kata sehari-hari. d) Sebagai sebuah puisi yang tentu tidak terlepas dari penggunaan bahasa kiasan, puisi pada angkatan 45 didominasi oleh metafora dan simbolik. e) Puisi pada periode ini juga tidak terlepas dari penggunaan kata yang ambigu. f) Banyak ditemukan gaya ironi dan sinisme yang menonjol pada puisi angkatan 45 ini. 3) Karakteristik Pandangan Hidup a) Secara eksplisit, angkatan 45 mengangkat humanisme sebagai pandangan hidup. Hal tersebut didukung dengan adanya ungkapan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang. b) Dalam setiap karya puisi terpancar sifat individualisme yang merujuk pada keberadaan diri. c) Tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensialisme mempengaruhi periode 45 ini. d)
34 Puisi sebagai Sarana Berekspresi d. Angkatan 66 1) Berikut struktur estetik puisi angkatan 66. a) Model Bercerita. Gaya epik ini berkembang sejalan dengan berkembangnya puisi cerita dan balada. b) Dalam balada, gaya mantra mulai terlihat. c) Paralelisme atau gaya ulangan mulai berkembang. d) Gaya puisi liris pada umumnya masih meneruskan angkatan 45. e) Makin berkembangnya gaya slogan dan retorik makin berkembang. 2) Berikut struktur ekstraestetik puisi angkatan 66. a) Pada masa ini, puisi-puisi yang berkembang mengusung tema perlawanan terhadap pemerintah orde lama. Pada masa ini kita dapat dengan mudah menemukan puisi-puisi demonstrasi misalnya saja sajak-sajak milik Taufiq Ismail, Bur Rasuanto, Slamet Kirnanto, dsb. b) Tema lainnya yang banyak diusung yaitu tema tentang kesedihan karena kehidupan pada waktu itu penuh penderitaan. c) Puisi-puisi pada masa ini mengangkat isu-isu atau masalah-masalah sosial seperti kemiskinan. d) Pada masa ini, balada mengusung tema mengenai cerita-cerita rakyat.
Mozaik Puisi 35 3. Berkenalan dengan Puisi Masa Kini a. Pengenalan Awal Puisi Masa Kini Seperti apakah puisi pada masa kini? Sejak awal perkembangannya, puisi ikut andil dalam kehidupan salah satunya sebagai sarana pengung-kapan perasaan atau penyampai pesan. Dalam sejarahnya, puisi memiliki karakteristik atau ciri khas tertentu di setiap masa atau periode, begitupun pada masa kini. Karakteristik puisi pada masa kini salah satunya yaitu mengangkat berbagai tema mulai dari yang berkaitan dengan personal, isu-isu sosial, budaya, politik, dan sebagainya. Karakteristik lainnya yaitu keragaman bentuk puisi. Saat ini, banyak ditemukan bentuk puisi yang tidak konvensional seperti puisi bebas, puisi visual, dan sebagainya. Tidak berhenti di situ, penyajian puisi juga lebih bervariasi. Sering juga tercipta puisi dari hasil kolaborasi antara penyair dengan seniman lainnya salah satunya musisi. Kolaborasi tersebut menjadi sebuah keunikan dan mendorong pembaharuan bentuk puisi yang dapat menarik penikmat seni. Apakah perlu menarik perhatian penikmat seni? Mengapa? Jawabannya ya, karena disadari ataupun tidak, faktanya popularitas genre sastra lainnya lebih unggul dibandingkan dengan puisi. Jika dibandingkan dengan genre sastra lain misalnya novel, puisi seringkali dianggap sebagai karya sastra yang dihadirkan untuk kalangan tertentu saja dan susah dipahami. Padahal kenyataannya tidak demikian. Untuk itu, pentingnya upaya yang dapat mengubah persepsi masyarakat
36 Puisi sebagai Sarana Berekspresi sehingga puisi dapat diterima dengan senang hati dalam kehidupan masyarakat. Pada hakikatnya, puisi dapat dibuat oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun asalkan ada kemauan. Seperti apakah puisi pada masa kini? Pada era saat ini, sejatinya karya-karya puisi tersebar luas di masyarakat. Tentu saja puisi-puisi tersebut tidak terbatas pada karya penyair terkemuka. Mengapa demikian? Tentunya, hal tersebut dapat terjadi karena berbagai faktor, salah satunya aturan penulisan puisi yang bebas serta bantuan teknologi. Setiap karya puisi yang telah dibuat oleh seseorang dapat dibagikan kepada khalayak umum dengan mudah melalui media sosial. Media sosial memudahkan setiap orang untuk membagikan dan mengenalkan karyanya kepada orang lain di berbagai belahan dunia. Dengan demikian, sebenarnya peluang untuk membuat suatu karya terkenal menjadi lebih mudah. Terlepas dari keuntungan yang disuguhkan oleh media sosial, sebenarnya setiap penulis puisi menghadapi berbagai tantangan yang cukup sulit. Tantangan seperti apakah itu? Mari kita renungkan bersama! Oke, katakanlah media sosial membantu memudahkan untuk mengenalkan karya, bukannya hal tersebut juga menjadi sebuah tantangan karena berarti semakin banyak saingan yang sama-sama membagikan karyanya? Lantas, bukankah berbagai kemudahan yang ada justru meningkatkan lahirnya penulis-penulis puisi dengan berbagai karyanya? Jika dicermati, bukankah penyair-penyair terdahulu yang telah memiliki nama tetap menunjukkan eksistensinya dan terus menghasilkan
Mozaik Puisi 37 karya yang luar biasa? Hmm…, ternyata banyak PR untuk generasi sekarang, ya? Tetapi justru situasi seperti itulah yang menunjukkan eksistensi puisi pada masa kini. Jika diperhatikan, puisi-puisi yang bersebaran saat ini seakan dibuat seadanya, kurang berbobot, atau kurang bernyawa tidak seperti puisi-puisi karya penyair terdahulu. Meskipun demikian, karya-karya tersebut dapat dilihat sebagai karya pijakan dalam upaya menghadirkan karya yang lebih menarik, berbobot, dan bernyawa. Karya-karya tersebut menjadi acuan untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Perlu diingat juga bahwa, puisi memegang peranan yang cukup penting dalam kehidupan. Dalam hiruk-pikuk duniawi, puisi dapat menjadi media atau sarana untuk menyalurkan emosi, mengungkapkan perasaan, menyampaikan pesan, serta merespon fenomena dalam masyarakat. Menegaskan uraian sebelumnya, puisi sejatinya berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Puisi terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mengarah pada pembaharuan. Pembaharuan tersebut ditandai dengan adanya kreasi dalam penciptaan puisi, misalnya dalam hal bentuk maupun penyajian. Lahirnya antologi puisi yang tidak terikat dengan syair atau puisi tradisional berpola lainnya menunjukkan langkah pembaruan yang sejalan dengan kemajuan meskipun dari segi populasi hanya sedikit (Wahyudi, 2023:195). Bentuk puisi yang berupaya untuk melepas ikatan konvensional ini kemudian dikenal sebagai puisi kontemporer atau puisi masa kini.
38 Puisi sebagai Sarana Berekspresi b. Puisi Masa Kini: Hakikat, Ciri, dan Jenis 1) Hakikat Kontemporer dalam KBBI memiliki arti sewaktu, semasa, atau pada masa kini. Merujuk pemaknaan tersebut, puisi kontemporer berarti puisi yang diciptakan pada masa kini atau waktu sekarang. Puisi ini tidak terikat dengan bentuk atau irama seperti puisi-puisi terdahulu. Puisi kontemporer cenderung mengutamakan bentuk fisik atau grafis untuk menyalurkan atau menggambarkan ide, gagasan, pemikiran, dan perasaan si penulisnya. Puisi kontemporer berciri utama ‗kebebasan‘ baik dari segi penyairnya ataupun puisi itu sendiri. Maksudnya, puisi kontemporer tercipta atas kebebasan penyairnya. Penyair atau penulis puisi bebas untuk menghadirkan puisi yang seperti apa dan bebas bagaimana menyajikan puisinya itu. Karena kebebasan yang ada, tidak jarang ditemukan puisi-puisi yang penggunaan katanya kurang diperhatikan sehingga jika diperhatikan justru memberi kesan kurang santun. Tetapi sejatinya, puisi-puisi yang menggunakan kata kasar, ejekan, dan sebagainya yang dikemas sedemikian rupa tanpa terikat gaya atau kaidah-kaidah tertentu menjadi nilai keunikan puisi. Keunikan tersebut merupakan bentuk pembaharuan yang menjadi salah satu ciri puisi modern pada masa kini.
Mozaik Puisi 39 2) Ciri Berikut ciri-ciri puisi kontemporer a) Irama dan repetisi digunakan sebagai unsur bunyi. b) Tidak ada peraturan tertentu terkait penggunaan gaya dan rima dalam puisi. c) Tipografi bervariasi, mulai dari susunan baris atau bait sampai cara penulisan huruf. d) Pengaturan bait seperti pada puisi konvensiomal mulai berkurang bahkan cenderung tidak diperhatikan dan tidak digunakan lagi. Puisi kontemporer tidak memiliki bait atau baris yang beraturan. e) Terdapat pemotongan frasa atau kalimat pada akhir larik untuk dilanjutkan pada larik berikutnya (enjambemen). Maksudnya, terdapat peloncatan kesatuan sintaksis ke larik berikutnya sehingga terdapat dua larik yang sebenarnya satu kesatuan isi. f) Isi puisi mulai terang-terangan berupa kritik sosial karena fokus mengekspresikan apa yang ingin disampaikan penulis. g) Diksi digunakan secara maksimal dalam upaya menuangkan ekspresi diri. Diksi yang dipilih cenderung mengandung makna yang simbolis atau tersirat. Selain itu, diksi yang digunakan cenderung lebih informal, bahkan tidak jarang yang justru kurang santun.
40 Puisi sebagai Sarana Berekspresi 3) Jenis Berikut beberapa jenis puisi kontemporer. a) Puisi Tanpa Kata Puisi kok tanpa kata? Memang ada? Jawabannya ada. Bagaimana bisa? Seperti yang sudah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya, kebebasan dalam penciptaan puisi kontemporer tentu melahirkan puisi dalam berbagai bentuk, salah satunya jenis puisi ini. Puisi tanpa kata merupakan suatu jenis puisi yang tidak menggunakan kata-kata sebagai sarana pengungkapan ekspresi. Alat ekspresi pada puisi ini berupa titik-titik, garis, huruf, maupun simbol-simbol lainnya. Puisi tanpa kata menjadi salah satu jenis puisi yang unik pada masa kini. Berikut contoh puisi tanpa kata yang berjudul ‗Mati‘ (Umam, 2021). Mati ———————m—————- ———-a—————————- —————————-t———- —————i—————-i!!!!!!!!!! b) Puisi Mini Kata Puisi unik lainnya pada masa kini yaitu puisi mini kata. Puisi kontemporer jenis ini menggunakan kata dalam jumlah yang sedikit atau minim, terbatas, kemudian dilengkapi
Mozaik Puisi 41 dengan simbol-simbol lain seperti huruf, titik, garis, dan sebagainya. Berikut contohnya (Umam, 2021). Reformasi RR R RRRRR R RRRRRRRRR RRRRRRRRR RRRRRRRR !! REFORMASI !! c) Puisi Multilingual Puisi multilingual merupakan jenis puisi kontemporer yang dalam penulisannya menggunakan kata atau kalimat dari berbagai daerah, baik bahasa daerah maupun bahasa asing. Singkatnya, puisi ini terbentuk dari campuran berbagai bahasa. Berikut contoh puisi multilingual. Dunia Oh Dunia oleh: Diah Ayu Puji Lestari You know? Saat ini… Maksiat kian mewah, musibah tumpah ruah Daebak! Dunia gila, katanya Terus, piye?
42 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Entahlah… d) Puisi Idiom Baru Seperti namanya, jenis puisi kontemporer ini menggunakan idiom-idiom baru yang berbeda dengan puisi kontemporer. Dalam puisi ini, setiap kata dibentuk dan diungkapkan dengan cara baru sehingga memiliki kesan berbeda dengan nyawa yang baru. Tidak dapat dipungkiri bahwa puisi ini menggunakan idiom-idiom baru yang sebelumnya belum pernah dijumpai. Berikut contoh puisi idiom baru (Umam, 2021). Tidak keheningan bukanlah sepi kesepian bukanlah sunyi penderitaan bukanlah luka pertanyaan bukanlah ketidakpercayaan menghilang bukanlah ketakutan firasat jadi pertanda kau pergi tuk selamanya!