The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kelompok 2_Final Draft_Mozaik Puisi-Mengenal Puisi sebagai Sarana Berekspresi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Hananto Sudarsono, 2023-06-05 19:11:50

Kelompok 2_Final Draft_Mozaik Puisi-Mengenal Puisi sebagai Sarana Berekspresi

Kelompok 2_Final Draft_Mozaik Puisi-Mengenal Puisi sebagai Sarana Berekspresi

Keywords: Buku Puisi

Mozaik Puisi 93 lan ketika diterbitkan. Selain itu, puisi mereka juga dapat dinikmati oleh orang lain yang memiliki latar belakang masalah yang sama, sehingga dapat membantu meringankan perasaan mereka. B. Urgensi Menulis Puisi Upaya mengenal puisi tidak hanya berhenti setelah mengetahui puisi dan eksistensinya dalam sastra dan kehidupan. Penting bagi siapapun untuk mengetahui bahkan memafhumi urgensi menulis genre sastra yang satu ini. Mengapa demikian? Menulis puisi berbeda dengan aktivitas menulis kebanyakan. Menulis puisi merupakan bentuk ekspresi tulis dari seorang penulis atau penyair yang bersumber dari inspirasi maupun gagasan penyair itu sendiri yang sifatnya bebas. Sebagai salah satu genre sastra yang telah ada sejak lama, puisi sejatinya memberikan berbagai manfaat seperti pada pembahasan sebelumnya, termasuk manfaat bagi kesehatan mental dan fisik seseorang. Menilik perihal manfaat tersebut, perlu bagi setiap orang khususnya generasi muda untuk mengetahui urgensi menulis puisi. 1) Sarana Terapi Puisi dapat ditulis oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Tidak ada aturan yang mengikat dalam proses penulisan puisi sehingga setiap orang dapat dengan mudah menulis asalkan ada kemauan. Mengapa menulis puisi dinilai dapat menjadi bentuk terapi? Hal tersebut dikarenakan puisi menjadi sarana untuk mengekspresikan emosi atau perasaan seseorang. Melalui puisi, emosi yang


94 Puisi sebagai Sarana Berekspresi sulit diungkapkan dapat dicurahkan melalui kata-kata. Menulis puisi memungkinkan seseorang terdorong untuk memproses pengalaman yang membuatnya trauma, kemudian mengubahnya menjadi pijakan untuk meningkatkan keyakinan diri dan membangun keberanian. Melalui belajar menulis puisi, perasaan kurang baik yang dimiliki seseorang seperti cemas dan stres dapat mereda. Bagaimana bisa? Seseorang dengan perasaan kurang baik cenderung ingin melampiaskan emosinya dalam berbagai hal, baik itu perihal baik maupun perihal buruk. Salah satu hal yang dapat menjadi sarana pelampiasan emosi adalah menulis puisi. Emosi yang dirasakan dapat tersalurkan lewat kata-kata dalam puisi. Semakin sering seseorang menulis puisi ketika ingin meluapkan emosinya, maka seseorang tersebut semakin terhindar dari pelampiasan emosi yang buruk. Bukankah lebih baik menulis puisi ketika sedang sedih daripada menangis dan membanting-banting barang di rumah? Bukankah menulis puisi lebih memberikan manfaat? Jawabannya tentu saja iya. Untuk itu, perlu bagi setiap orang untuk mulai belajar menulis puisi. Tidak ada kata terlambat untuk memulai belajar menulis puisi. Apalagi, menulis puisi tidak sesulit menulis genre sastra lainnya yang memiliki berbagai aturan penulisan. Menulis puisi, khususnya puisi kontemporer tidak terikat aturan ketat apapun, sehingga aktivitas ini dapat dilakukan dengan mudah oleh siapapun dan kapanpun asalkan memiliki niat untuk menulis. Selain sebagai media untuk brainstorming pikiran, perasaan, dan pengalaman seseorang, puisi memiliki potensi untuk menjadi media terapi emosi. Pemilihan diksi, enjambemen, tipografi, dan susunan baris dapat dikatakan


Mozaik Puisi 95 mewakili jiwa penyair ketika mengalami emosi tertentu misalnya marah, senang, trauma, dan sebagainya. Seluruh isi puisi merupakan refleksi dari emosi yang secara alami dialami, dilihat, dan dirasakan oleh penyair yang kemudian dikemas dalam kata-kata tertentu yang sarat akan makna (Fatimah, Ngatmini dan Kurniawan, 2021:30). Benarkah puisi dapat menjadi sarana terapi? Jawabannya benar. Mungkin sudah banyak orang yang mendengar terkait Poetry Therapy atau Terapi Puisi. Terapi puisi merupakan bentuk terapi dengan seni ekspresif. Terapi Ini melibatkan media lisan maupun tulisan dalam serangkaian prosesnya. Kahmi (2022:31) mengemukakan bahwa terapi puisi untuk kesehatan mental atau jiwa telah diteliti sampai taraf tertentu dan banyak digunakan di seluruh dunia terutama AS, Eropa, dan Jepang. Terapi puisi diberikan melalui proses menulis dan membaca yang diberikan secara bertahap dalam rentang waktu tertentu. Ekspresi puitis dalam puisi yang ditulis memungkinkan interpretasi empatik sehingga cocok digunakan sebagai pendukung rehabilitasi kesehatan mental bersama terapi kreatif atau kognitif lainnya. Menulis dalam terapi puisi dapat digunakan sebagai saluran komunikasi serta bahasa metaforis yang menunjukkan pengalaman dan pemikiran tertentu yang sebelumnya terpendam. Apabila terapi puisi dipandu oleh psikiater maka hasil dari ungkapan emosi tersebut dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan bagaimana solusi yang sesuai. Terlepas dari itu, pada dasarnya terapi puisi dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa bantuan psikiater. Setiap orang dapat mengungkapkan emosinya melalui tulisan dalam bentuk puisi secara bebas. Dengan begitu, segala pemikiran atau emosi yang kurang


96 Puisi sebagai Sarana Berekspresi baik dapat terlampiaskan. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa menulis puisi merupakan salah satu bentuk terapi yang dapat dilakukan secara individu. 2) Sarana Penghibur Diri Pada hakikatnya hiburan merupakan kebutuhan penting yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan setiap orang. Dalam kehidupan, tentu saja setiap orang memiliki aktivitas, kesibukan, maupun permasalahannya sendiri. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan itulah, setiap orang memerlukan hiburan. Hiburan dapat membantu mengatasi rasa lelah yang dirasakan setiap orang. Dengan mendapatkan hiburan, perasaan seseorang menjadi lebih baik. Bahkan, bisa saja hiburan membantu seseorang untuk melupakan permasalahan yang dihadapi. Intinya, hiburan dapat menjadi solusi untuk mengatasi emosi yang kurang baik seperti perasaan sedih atau perasaan lelah. Semua hal yang mampu membuat perasaan menjadi lebih baik dan tenang dapat dikatakan sebagai hiburan. Hiburan dapat berupa apapun dan dapat didapatkan dari manapun. Tentunya, bentuk hiburan bagi setiap orang itu tidaklah sama. Misalnya, ada yang memerlukan aktivitas tertentu untuk merasa terhibur, ada yang cukup dengan menghabiskan waktu sendiri untuk merasa terhibur. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa setiap orang memilih bentuk penghiburan dirinya sendiri. Salah satu sarana yang dapat berfungsi sebagai penghibur diri adalah sastra. Sastra merupakan bentuk penghiburan diri yang saat ini mudah didapatkan oleh siapapun. Salah satu genre sastra yang mampu menghibur adalah puisi, karena puisi merupakan


Mozaik Puisi 97 wadah untuk menuangkan segala bentuk perasaan dan pemikiran. Oleh karena itu, menulis puisi menjadi salah satu sarana penghibur diri. Mengapa menulis puisi dapat menjadi sarana penghibur diri? Menulis puisi merupakan suatu aktivitas menuangkan pemikiran yang ada di benak kita dalam bentuk rangkaian kata-kata. Aktivitas tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya oleh penyair saja. Setiap orang memiliki kemampuan merangkai kata dalam upaya mengungkapkan perasaannya. Dalam hal inilah puisi menjadi sarana untuk mengungkapkan sebuah momen dengan cepat melalui diksi konkret yang mampu menggambarkan peristiwa di benak para pembacanya. Hanya saja, tidak berarti semua maksud dalam puisi dapat tersampaikan dengan baik kepada pembacanya. Meskipun demikian, ada kalanya imaji pembaca justru lebih tajam untuk menangkap dan mencerna diksi-diksi dalam setiap puisi. Tidak dapat dipungkiri bahwa, sebagian orang tidak terbiasa untuk menulis puisi. Akan tetapi, terlepas dari standar kualitas sebuah puisi, sebenarnya setiap orang dapat menulis puisi. Menulis puisi berbeda dengan menulis faktual. Dalam menulis puisi, seseorang tidak dipusingkan dengan aturan-aturan ketat yang harus ditaati, sehingga orang yang sebelumnya tidak pernah menulis puisi dapat menulis puisi. Jika sudah terbiasa, maka semakin memungkinkan untuk menciptakan puisi dengan memperha-tikan unsur keindahan bahasanya. Tentu saja hal ter-sebut tidak perlu dipusingkan oleh pemula atau oleh siapapun yang hanya bertujuan untuk menghibur diri karena yang terpenting emosi yang dirasakan dapat tersalurkan melalui puisi.


98 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Sebagai contoh, setiap orang tentu pernah menghadapi suatu permasalahan dan merasakan kesedihan. Daripada terus meratapi kesedihan dengan mengurung diri, menangis, dan sebagainya, salah satu langkah baik yang dapat dilakukan yaitu melampi-askan perasaan sedih tersebut dalam sebuah puisi. Tidak hanya itu, ketika seseorang merasakan emosi lainnya, puisi dapat menjadi sarana pelampiasan sehingga perasaan pun menjadi lebih baik. Ketika seseorang ingin mengenang momen yang sebelumnya dirasakan, puisi juga memainkan perannya. Tentu saja ketika mengungkapkan perasaan dan pemikiran tersebut, seseorang menjadi lebih terhibur karena puisi menjadi media yang dapat menampung emosinya. Dengan demikian, aktivitas menulis puisi dan puisi itu sendiri dapat menjadi sarana untuk penghiburan diri. 3) Peng-upgrade Diri Mengapa menulis puisi dapat menjadi sarana pengupgrade diri? Menulis puisi merupakan serangkaian aktivitas yang berkaitan dengan berbagai keterampilan diri. Tanpa kontribusi dari berbagai keterampilan tersebut, sebuah puisi yang baik akan sulit tercipta. Untuk menghasilkan puisi yang baik, diperlukan kemampuan untuk berpikir serta mengelola emosi. Kemampuan berpikir yang dimaksud berkaitan dengan berpikir kritis dan kreatif. Kemampuan mengelola emosi yang dimaksud berkaitan dengan upaya penyaluran emosi ke dalam sebuah puisi supaya puisi tersebut lebih bernyawa dan bermakna. Menulis puisi merupakan keterampilan yang memerlukan pengetahuan tentang bahasa. Dalam kaitannya


Mozaik Puisi 99 dengan aktivitas berbahasa, menulis dan berpikir memiliki keterkaitan yang kuat. Kegiatan berpikir kritis mendorong seseorang mengalami proses kognitif menulis. Misalnya, berbagai informasi atau pengetahuan yang dibutuhkan penulis puisi dengan cara mengungkapkan, menulis ide, mengorganisasikan, dan menulis dari hasil analisis. Melalui kegiatan menulis puisi, penulis dapat membagikan ide, gagasan, atau pemikirannya kepada pembaca. Sementara itu, melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan keterampilannya dalam menulis puisi. Dalam proses menciptakan sebuah puisi, pemikiran kritis diperlukan untuk menafsirkan suatu fenomena, menemukan alasan serta kesimpulan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas puisi. Selain itu, untuk menciptakan puisi diperlukan juga kreativitas, khususnya dalam mengolah kata. Untuk menulis puisi tentu saja diperlukan keterampilan memilih dan menyusun kata, rima, serta gaya bahasa yang tepat dan indah. Menulis puisi tidak terlepas dari kreativitas dalam merangkai kata-kata indah yang singkat tetapi sarat akan makna. Kualitas puisi dapat ditentukan oleh proses berpikir karena menulis puisi merupakan ekspresi dari ide kritis dan kreatif yang lahir dari proses berpikir. Apabila keterampilan berpikir kritis dan kreatif tidak diikutsertakan, maka kualitas puisi yang dihasilkan kurang baik. Maka dari itu, puisi sebagai hasil kreasi pikiran, tentunya dihasilkan dari proses pengungkapan ide, gagasan, dan perasaan dengan cermat serta bermediakan bahasa yang tepat. Otak setiap orang pun dapat menjadi lebih sehat jika terbiasa untuk memilah-milah kata. Semakin sering digunakan untuk memilah dan menganalisa, maka kinerja otak lebih meningkat. Dengan


100 Puisi sebagai Sarana Berekspresi demikian, menulis puisi membantu meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir seseorang karena menulis puisi membuat seseorang terbiasa mengungkapkan pemikiran dan perasaannya dalam karya imajinatif dan autentik. Puisi yang baik tentu tidak terlepas dari keterampilan seseorang dalam mengelola dan mengekspresikan segala macam emosi. Emosi yang dirasakan di dalam diri dapat disalurkan melalui puisi. Dengan menyalurkan emosi tersebut, secara tidak langsung membuat diri sendiri mampu menilai masalah yang dihadapi dengan lebih baik sehingga membuat mental dan jiwa lebih sehat. Menulis puisi sama halnya dengan menyajikan emosi dalam bentuk kata-kata yang sarat akan makna. Menulis puisi membantu seseorang untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola perasaan. Menulis puisi juga membantu seseorang untuk menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Apabila seseorang sering menulis puisi berdasarkan fenomena yang ada di lingkungan sekitar, maka perlahan tapi pasti, kemampuan untuk memaknai segala peristiwa menjadi lebih meningkat, sensitif, dan tajam. Perasaan yang dimiliki pun tidak mudah goyah atau terhanyut karena sudah terbiasa atau terlatih untuk berjarak dengan peristiwa yang ada. Pemaparan-pemaparan tersebut menegaskan bahwa menulis puisi dapat membantu meng-upgrade diri. Dengan menulis puisi, kemampuan berpikir serta mengelola emosi menjadi lebih terlatih, bahkan meningkat. Semakin sering seseorang menulis puisi, maka semakin meningkat pula kualitas keterampilannya. Oleh karena itu, menulis puisi menjadi salah satu aktivitas yang bermanfaat sehingga perlu dilakukan oleh setiap orang.


Mozaik Puisi 101 C. Pentingnya Pembelajaran Menulis Puisi Kemampuan untuk menulis puisi cenderung masih dikesampingkan oleh para pendidik terhadap seluruh peserta didik. Pembelajaran menulis puisi hanya sekadar beberapa kali pertemuan, sehingga sangat kurang untuk bisa menanamkan keterampilan menulis puisi bagi peserta didik. Pembelajaran di sekolah memiliki kecenderungan untuk memperkenalkan puisi sebagai karya sastra dengan mengkaji unsur-unsur yang membangunnya bukan ke arah mengajarkan peserta didik untuk aktif menulis puisi. Oleh sebab itu, pendidik juga perlu mempertimbangkan aspek pembelajaran tidak hanya sebatas mengenalkan puisi melainkan juga mengajarkan peserta didik untuk terbiasa menulis puisi. Sebagaimana dipaparkan di atas bahwasannya menulis puisi menjadi salah satu sarana bagi seseorang untuk meluapkan perasaan hati dan buah pikiran. Seiring dengan banyaknya latihan dan jam terbang, maka secara otomatis seseorang yang menulis puisi akan semakin terampil dalam mengolah bahasa dan menyusun puisi. Apabila keterampilan itu selalu dikembangkan dengan pendampingan guru pelajaran semasa di sekolah, maka peserta didik akan menjadi terbiasa untuk menulis puisi dengan hasil yang cukup maksimal. Memang butuh waktu yang panjang untuk bisa benar-benar menanamkan semangat menulis puisi kepada peserta didik. Butuh waktu ekstra di luar jam pelajaran yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk mendampingi peserta didik dalam menulis puis. Tagihan-tagihan yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk sekadar memaksa peserta didik dalam


102 Puisi sebagai Sarana Berekspresi menulis puisi, seperti tugas mingguan sepertinya perlu untuk diterapkan. Selain itu, pendidik juga dapat mengarahkan peserta didik untuk menulis puisi dalam satu buku khusus dan setiap beberapa hari dikumpulkan untuk diberi apresiasi juga merupakan cara yang dapat digunakan oleh guru. Berbagai momen yang berkenaan dengan hari-hari besar nasional maupun kegiatan ulang tahun sekolah juga dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat menulis puisi dengan diselenggarakannya lomba menulis puisi. Butuh perjuangan dan kesabaran untuk bisa menumbuhkan semangat menulis puisi pada peserta didik karena belum semua pendidik juga gemar menulis puisi. Pentingnya pembelajaran menulis puisi tidak dapat dikesampingkan oleh pihak sekolah maupun para pegiat literasi. Dalam hal ini pihak sekolah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan lebih bertanggung jawab untuk bisa mengarahkan peserta didik. Bayangkan banyak sekola dengan berjuta-juta peserta didik di dalamnya, apabila mereka semua diajarkan cara untuk menulis puisi maka harapannya paling tidak dari yang berjuta-juta akan muncul berpuluh ribu bahkan beratus ribu orang yang gemar menulis puisi. Mereka yang produktif menulis puisi nantinya juga akan memberikan keuntungan kepada dirinya sendiri, kepada sekolah, dan kepada para pendidik. Sebagaimana banyak dijumpai di kehidupan nyata bahwasannya orang-orang lebih memilih membuang perasaan hati mereka dalam bentuk luapan-luapan kemarahan, bualanbualan dalam postingan di media sosial, bahkan dalam bentuk-bentuk kekerasan. Bayangkan jika mereka melakukan itu semua tentu kerugian yang akan datang kepada mereka akibat ketidakmampuan diri dalam mengolah emosi dan


Mozaik Puisi 103 perasaan. Banyak dijumpai orang-orang yang secara eksplisit menguraikan perasaan melalui media massa dan menyinggung perasaan orang lain, sehingga terjerat UU ITE dengan ancaman hukuman yang berat. Selain itu, jejak digital di dalam media massa tentu akan terekam dengan sangat jelas dan mungkin akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari. 1. Menulis Puisi Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang terus ditumbuhkembangkan pada diri setiap orang. Menulis membutuhkan keterampilan yang perlu banyak berlatih supaya menghasilkan tulisan yang berbobot dan bermanfaat. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dengan cara mengekspresikan pikiran dalam bentuk rangkaian kata-kata yang disusun dengan mempertimbangkan aspek keberterimaan dan ejaan yang berlaku. Menulis dalam KBBI daring dapat diartikan sebagai kegiatan melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Menulis adalah kegiatan untuk melahirkan pikiran dan perasaan dalam bentuk rangkain huruf yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan diterima oleh pembaca. Menulis merupakan aktivitas seluruh otak, artinya otak kanan maupun otak kiri sama-sama bekerja dalam kegiatan menulis. Otak kiri sebagai logika akan bekerja untuk mengakomodir perencanaan, outline, tata bahasa, penyuntingan, penulisan kembali, penelitian, tanda baca. Kemudian otak kanan sebagai pengatur emosi menangani semangat, spontanitas, emosi, warna, imajinasi, gairah, unsur


104 Puisi sebagai Sarana Berekspresi baru, kegembiraan (De Porter dan Mike Hernacki via Karlos, 2012:10). Menulis membutuhkan koordinasi yang kuat antara otak kanan dan otak kiri. Otak kanan yang berfungsi sebagai pengatur emosi menjadi terarah ketika seseorang harus menulis puisi. Otak kanan akan berfungsi untuk menumbuhkan semangat dan motivasi pada seseorang untuk melakukan suatu hal dalam hal ini untuk menulis. Otak kiri juga akan bekerja dalam ranah logika yang akan mengarahkan seseorang untuk bisa berpikir kritis dalam menguraikan buah pikiran dalam bentuk tulisan. Oleh sebab itu, seseorang yang gemar menulis tentu keadaan emosi mereka akan tersalurkan dengan baik lewat tulisannya, sehingga tidak disalahgunakan pada hal yang tidak baik. Sebagaimana dipaparkan di atas bahwasannya menulis merupakan kegiatan yang harus selalu memperhatikan kaidah kebahasaan dan ejaan yang berlaku. Namun, hal itu sepertinya tidak mengikat dalam kegiatan menulis puisi. Puisi merupakan karya fiksi berupa sastra yang secara kaidah kebahasaan lebih bersifat fleksibel dan tidak terikat dengan kaidah-kaidah kebahasaan yang berlaku. Susunan bahasa yang dirangkai sedemikian rupa oleh seorang pengarang terkadang tidak berterima apabila dilihat dari sudut pandang kaidah kebahasaannya. Lagipula sifat bahasa antara karya nonfiksi dan fiksi juga berbeda karena karya nonfiksi harus eksplisit apa adanya dan jelas, sehingga tidak menimbulkan multitafsir yang membingungkan. Menulis merupakan keterampilan aktif produktif untuk menghasilkan karya dalam bentuk tulisan. Sebagai kegiatan yang menuntut produktivitas seseorang tentu menulis membutuhkan keterampilan yang perlu ditumbuh-


Mozaik Puisi 105 kan dan dikembangkan. Apabila tidak memiliki jam terbang yang cukup banyak dalam kegiatan ini, maka seseorang tidak akan menghasilkan tulisan yang berkualitas. Dalam kegiatan menulis puisi juga membutuhkan keterampilan yang perlu dikembangkan di setiap saatnya. Seorang penulis pemula tentu tidak akan bisa disandingkan dengan para penulis senior apalagi para penulis kanon, seperti Chairil Anwar, W.S. Rendra, dan pengarang-pengarang kenamaan yang lainnya. Suriamiharja (via Karlos, 2012:11) menulis merupakan keterampilan seseorang dalam melukiskan grafis yang mampu dimengerti oleh penulis dan orang lain dengan memiliki kesamaan penafsiran terhadap tulisan itu. Menulis membutuhkan keterampilan khusus supaya buah pikiran yang diuraikan dapat dipahami oleh orang lain dengan tanpa menimbulkan perbedaan penafsiran yang dapat mengarah pada salah paham. Seorang penulis akan membutuhkan kemampuan untuk memasukkan unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa menjadi sebuah tulisan dengan penuh kesungguhan dan memerlukan waktu hingga menjadi terampil (Karlos, 2012:12). Seiring dengan berjalannya waktu dan banyak berlatih, maka secara otomatis seseorang akan semakin terampil dalam mengolah bahasa dalam puisi yang mereka susun. Semakin unik bahasa yang disusun dengan mempertimbangkan bunyi, rima, dan irama, tentu akan semakin besar nilai estetika sebuah puisi. Pemahaman para pembaca yang cukup luas dan homogen terhadap satu judul puisi yang sama menunjukkan keterampilan seorang pengarang dalam menulis puisi. Hal itu dikarenakan puisi yang disusun dengan bahasa yang implisit sehingga menimbulkan


106 Puisi sebagai Sarana Berekspresi multitafsir antarpembaca mengandung nilai estetika tersendiri. Bahkan penafsiran puisi oleh seorang pembaca pun seringkali berbeda seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman pembaca. 2. Manfaat Menulis Puisi Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang seharusnya dikembangkan oleh setiap orang. Bagaimana tidak, manusia tentu akan selalu butuh kepada orang lain dan rasa butuh tersebut akan diungkapkan dalam bentuk komunikasi. Sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh manusia terbagi atas dua jenis, yaitu sarana lisan dan sarana tulisan. Sarana lisan merupakan media komunikasi secara langsung dari mulut ke mulut dengan atau tanpa menggunakan perantara alat komunikasi. Sarana tulisan merupakan alternatif kedua yang dapat digunakan oleh manusia untuk menjalin komunikasi dengan orang lain, seperti melalui media massa, surat, dan buku. Kedua sarana tersebut merupakan fasilitas yang diberikan oleh Tuhan kepada sebagian besar manusia, sehingga mereka dapat menjalin komunikasi dengan orang lain. Tarigan (via Karlos, 2012:12) menulis merupakan keterampilan berbahasa secara tidak langsung atau tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan seperangkat kegiatan aktif produktif yang menuntut seseorang untuk aktif memperoleh informasi, aktif mengolah informasi, dan aktif menyusun informasi dalam bentuk tulisan. Oleh sebab itu, menulis dapat diartikan sebagai seperangkat proses yang beranjak pada kegiatan-kegiatan lain yang mendukung terciptanya sebuah karya tulis.


Mozaik Puisi 107 Seseorang membutuhkan wawasan yang luas untuk bisa menguraikan informasi dalam bentuk karya tulis. Hal ini karena menulis merupakan kegiatan aktif produktif yang maknanya seseorang harus aktif memproduksi karya, berbeda dengan keterampilan pasif, seperti menyimak dan membaca. Keterampilan menulis puisi juga membutuhkan latihan yang ekstra untuk bisa mencapai hasil maksimal. Dibutuhkan waktu yang cukup panjang dengan intensitas latihan yang banyak supaya dihasilkan karya yang berkualitas. Sebagaimana fungsi utama tulisan yakni sebagai sarana berkomunikasi, maka penulisan puisi sejatinya ditujukan untuk menjalin komunikasi antara pengarang dengan para pembaca. Puisi disusun dalam bentuk tertulis dengan menguraikan berbagai tema-tema kehidupan yang menghubungkan dua unsur, yaitu penulis dan pembaca. Oleh sebab itu, menulis puisi merupakan sarana komunikasi yang perlu dikembangkan dengan tujuan mencapai keterampilan berbahasa yang lebih baik. Sebagaimana diuraikan di atas bahwasannya puisi merupakan sarana yang digunakan oleh seseorang untuk menunjukkan ekspresi diri kepada khalayak umum. Puisi menjadi sarana yang cukup menarik bagi mereka yang hendak meluapkan perasaan dengan baik dan bijak. Dengan demikian, puisi menduduki posisi strategis bagi semua orang dengan berlatar belakang kondisi pribadi yang berbeda-beda untuk bisa saling berbagi dalam bentuk susunan kata yang indah dan bermakna. Menurut Akhadiah dkk (via Karlos, 2012:12), ada beberapa keuntungan dari kegiatan menulis antara lain: (1) dapat lebih mengenali kemampuan dan potensi diri; (2)


108 Puisi sebagai Sarana Berekspresi mengembangkan berbagai gagasan; (3) menyerap, mencari, serta menguasai informasi; (4) mengorganisasikan gagasan secara sistematik dan mengungkapkan secara tersurat; (5) dapat meninjau dan menilai gagasan sendiri secara objektif; (6) lebih mudah memecahkan permasalahan; (7) mendorong diri belajar secara aktif; dan (8) membiasakan diri berpikir dan berbahasa secara tertib. Pembelajaran menulis puisi ditujukan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa yang tepat dan kreatif, meningkatkan kemampuan berpikir logis dan bernalar, serta meningkatkan kepekaan perasaan dan kemampuan murid untuk memahami dan menikmati karya sastra. Selain itu, pembelajaran menulis puisi dimaksudkan agar murid terdidik menjadi manusia yang berkepribadian, sopan, dan beradab, berbudi pekerti yang halus, memiliki rasa kemanusiaan, berkepedulian sosial, memiliki apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, berimajinasi, berekspresi secara kreatif baik secara lisan maupun tertulis (Zainudin, 2016:17). Perkembangan puisi dari waktu ke waktu hingga mencapai jenis puisi modern atau kontemporer menegaskan kepada kita bahwa kaidah penulisan puisi juga sudah berubah. Bentuk-bentuk puisi modern cenderung lebih bebas karena tidak terikat dengan berbagai aturan sebagaimana bentuk puisi lama. Oleh sebab itu, penulis dipacu untuk bisa menyesuaikan diri dengan memilih apakah akan tetap menggunakan kaidah penulisan puisi lama atau dengan menulis puisi modern dengan keunikannya sendiri. Hal demikian juga perlu disampaikan kepada peserta didik supaya mereka paham bahwa puisi selalu berkembang dan


Mozaik Puisi 109 bentuk yang paling nampak dari perkembangan puisi adalah dari segi aturan-aturan dalam menyusunnya. Dalam kegiatan menulis puisi tentu terdapat kegiatankegiatan yang merupakan rangkaian proses menghasilkan puisi. Sebagaimana diuraikan oleh Zainudin (2016:20) menulis puisi biasanya berkaitan dengan beberapa hal berikut ini: 1) pencarian ide (ilham); 2) pemilihan tema; 3) penentuan jenis puisi; 4) pemilihan diksi (kata yang padat dan khas); 5) pemilihan permainan bunyi; 6) pembuatan larik yang menarik (tipografi); 7) pemilihan pengucapan; 8) pemanfaatan gaya bahasa; 9) pemilihan judul yang menarik. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya menulis puisi merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang patut untuk dikembangkan pada diri setiap orang. Dalam hal ini sekolah dan pendidik memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam menanamkan semangat menulis puisi pada peserta didik. Sekolah dianggap memiliki kekuatan untuk menggerakkan semua potensi yang ada dengan sumber daya yang telah tersedia. Menulis puisi merupakan sarana yang digunakan untuk menyalurkan ekspresi dan perasaan hati yang memang harus diungkapkan. Bagi mereka yang benar-benar fokus dalam menulis puisi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa puisi mereka dapat diperjualbelikan dan mendatangkan keuntungan. Sekolah dengan berbagai fasilitas yang tersedia seharusnya mampu mengarahkan peserta didik untuk bisa gemar menulis puisi. Buktinya saat ini terdapat kegiatan literasi yang digunakan untuk menumbuhkan semangat literasi peserta didik. Lebih dari itu, sekolah memiliki potensi untuk mengerahkan segala sumber daya yang ada,


110 Puisi sebagai Sarana Berekspresi seperti pendidik, peserta didik, sarana dan prasarana sekolah, serta fasilitas yang lain untuk menggerakkan programprogram yang diusung. Menulis puisi menjadi potensi yang cukup strategis bagi seseorang untuk bisa ditumbuhkan mengingat keberadaan puisi akan mendatangkan keuntungan psikologis, keuangan, maupun kedudukan. D. Langkah-Langkah Menulis Puisi Setiap pekerjaan tentu membutuhkan langkah atau tahapan supaya pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan efektif. Tahapan-tahapan yang dikerjakan oleh seseorang dalam melakukan sesuatu ditujukan untuk memudahkan pekerjaan. Susunan tahapan tentu disesuaikan dengan urutan yang paling awal hingga paling akhir dalam melakukan sebuah pekerjaan. Langkah yang dikerjakan oleh seseorang adalah proses yang memudahkan kerja mereka, sehingga diperoleh hasil maksimal dengan pengorbanan waktu dan tenaga seefisien mungkin. Setiap jenis pekerjaan yang dilakukan dengan mempertimbangkan langkah-langkah kerja diharapkan benar-benar memiliki hasil yang maksimal. Tidak terkecuali dengan kegiatan yang berkenaan dengan keterampilan menulis puisi. Kegiatan ini tidak dapat dipandang sepele karena membutuhkan keterampilan yang perlu dilatih dan terus dikembangkan. Kemampuan menulis puisi tentunya akan semakin meningkat dengan patuhnya seorang penulis dengan langkah kerja yang harus dilakukan. Tujuan penyusunan langkah kerja adalah untuk memudahkan penulis dalam merumuskan puisi mereka. Selain itu, hasil akhir dengan patuh terhadap langkah-langkah kerja akan maksimal dan terarah.


Mozaik Puisi 111 Kurniawan (via Oktaviana, 2019:39-40) mengungkapkan bahwa proses menulis puisi terdiri atas tiga tahap, yaitu pencarian ide, penulisan, dan editing/revisi. Berikut ini akan dijabarkan mengenai masing-masing langkah kerja yang harus dilakukan oleh seseorang apabila ingin menulis puisi. 1. Pencarian ide Pada tahap ini penulis berusaha mencari ide terhadap puisi yang ingin ditulisnya, bentuk ide dapat berasal dari pengalaman empiris, seperti emosi, marah, kegelisahan, kebahagiaan, dan sebagainya. Bisa juga pengalaman yang dialami oleh orang lain. Selain itu, ide juga dapat berasal dari peristiwa atau kejadian tertentu yang menarik perhatian. Selain itu untuk mencari ide bisa dengan banyak membaca buku, berjalan-jalan melihat sekitar lingkungan, menonton pertunjukan, drama, iklan, berita, film, atau berdiskusi. 2. Penulisan Langkah kedua dalam menulis puisi adalah kerja penulisan dengan menuangkan segala konsep dan pikiran dalam bentuk rangkaian bahasa. Proses ini merupakan tahapan yang paling kompleks karena membutuhkan ketelitian dan curahan pikiran yang besar. Hal itu dikarenakan pada tahapan ini merupakan inti dari kegiatan menulis puisi. Pada tahap ini seorang penulis hendaknya mengungkapkan segala sesuatu yang ada di pikiran mereka dengan mengolah bahasa semenarik mungkin. Jangan membiarkan bayang-bayang imajinasi terhambat karena


112 Puisi sebagai Sarana Berekspresi enggan menuliskannya di media tulis. Hal ini ditujukan untuk bisa memaksimalkan langkah kerja pada tahapan inti ini. Sebagaimana telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya bahwa bahasa dalam puisi berbeda dengan bahasa pada jenis teks nonfiksi. Jenis bahasa dalam puisi terkesan santai dan tidak perlu mematuhi kaidah penggunaan bahasa yang ditetapkan oleh pemerintah. Bagian ini yang menjadi daya tarik tersendiri dari puisi, yakni bahasa yang indah tanpa memedulikan kaidah penulisan yang ada. Namun, kebebasan berbahasa ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi para penulis karena mereka dituntut untuk mengolah bahasa dengan indah dan penuh makna. Oleh karena itu, pada tahap ini membutuhkan keseriusan tinggi bagi para penulis karena merupakan tahap kerja paling inti dalam menguraikan buah pikiran dalam bentuk rangkaian bahasa. Ungkapkan saja segala apa yang mengganjal di pikiran tanpa harus membenahi yang tidak tepat. Uraikan saja apa yang ingin disampaikan dengan mempertimbangkan aspek keindahan bahasa dan makna yang terkandung di dalamnya. Hal yang paling penting adalah bahasa harus diolah dengan susunan yang menarik dan indah dengan berbagai pendayaan yang dibutuhkan. 3. Editing atau revisi Tahapan kerja yang ketiga atau final dalam kegiatan menulis puisi, yaitu kegiatan mengedit atau merevisi. Kegiatan ini merupakan aktivitas membetulkan bahasa yang telah diuraikan pada tahap yang kedua dengan mempertimbangkan penggunaan yang indah dan baik.


Mozaik Puisi 113 Editing berkaitan dengan aspek bahasa yang ditulis, meskipun bahasanya bebas, namun tetap harus mempertimbangkan keindahan dan diksi yang menarik. Revisi berkaitan dengan aspek isi puisi yang juga tidak dapat ditinggalkan karena isi merupakan bagian terpenting setelah aspek keindahan. Jangan sampai isinya mendatangkan berbagai masalah karena terlalu berlebihan dalam menguraikannya.


114 Puisi sebagai Sarana Berekspresi DAFTAR PUSTAKA Anwar, Chairil. (2015). Aku ini Binatang Jalang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Artika, I. W., Purnami, N. P., & Wisudariani, N. M. R. (2021). Puisi audio visual Youtube: Sastra digital dan industri kreatif. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha, 11(1), 103-115. Darma, Budi. (2021). Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Kompas. Djafar, Acil dan Eka Sartika. 2021. ―Analisis Unsur Intrinsik & Ekstrinsik Puisi Dalam Buku Antologi Puisi Merayakan Pelangi.‖ Diakses dari https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JBSP/article/view/ 11869/6323 pada 8 Mei 2023. Fatimah, S., Ngatmini, dan Kurniawan L. A. (2021). The Poetry‘s Potencies as Emotion Therapy Media in Society 5.0. Jurnal Diksi, 29(1), 30-40. Doi: 10.21831/diksi.v29i1.33204. Kahmi, K. (2022). Advances in Poetry Therapy. Scriptum : Creative Writing Research Journal, 2(4), 30-43. http://urn.fi/URN:NBN:fi:jyu-202207053812. Karlos, Brian Leon. (2012). Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas X SMA Kristen 1 Magelang dengan Menggunakan Metode Quantum Learning. Skripsi: Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses dari http://eprints.uny.ac.id/44163/1/Brian%20Leno%20K arlos_ 07201244010.pdf pada 1 Mei 2023. Kemdikbud. (2016). ―Periodisasi Sastra‖. Diakses dari http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Peri odisasi_Sastra pada 23 Februari 2023. Mahmud, A. (2011). Tema Puisi Indonesia Modern Periode Awal. Atavisme, 14(1), 41-50.


Mozaik Puisi 115 Mujiyanto, Y dan Amir F. (2014). Kitab Sejarah Sastra Indonesia: Prosa dan Puisi. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Oktaviana, Eva, Chrisnaji Banindra Y, dan Maria Ulfa. (2019). Pengajaran Menulis Puisi dengan Menggunakan Metode Picture and Picture. Jakarta: STKIP Kusuma Negara Publishing. Pradopo, R. D. (1978). Pengertian, hakikat, dan fungsi puisi. Modul, 1, 1-42. Pradopo, R. D. (2008). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ritonga, Amron. 2021. ―Analisis Penggunaan Teknik Resiprocal Terhadap Kemampuan Menelaah Unsur Teks Puisi Oleh Siswa Kelas Vii Smp.‖ Jurnal Ilmiah Kohesi. Vol 5. No 4. Diakses dari https://kohesi.sciencemakarioz.org/index.php/JIK/arti cle/view/314 pada 8 Mei 2023. Rosidi, A. (2013). Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Jaya. Sarah, Siti, Teti Sobari, dan Heri Isnaini. 2021. ―Analisis Unsur-Unsur Fisik Dan Unsur-Unsur Batin Dalam Puisi ―Isyarat‖ Kuntowijoyo.‖ Diakses dari https://journal.ikipsiliwangi.ac.id/index.php/parole/art icle/download/6932/pdf pada 8 Mei 2023. Sudarma, P. (2020). Mengupas Puisi. CV Media Educations. Suryaman, Maman & Wiyatmi. (2012). Puisi Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Umam. (2021). ―Puisi Kontemporer: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penerapan‖. Diakses dari https://www.gramedia.com/literasi/puisikontemporer/ pada 20 Maret 2023. Wahyudi, I. (2023). Eksistensi Puisi dan Kekontemporerannya sebagai Perintis Sastra Indonesia. Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal, 2(2):177 – 201.


116 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Waluyo, Herman J. (1987). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Wicaksono, A. (2014). Menulis Kreatif Sastra: dan Beberapa Model Pembelajarannya. Garudhawaca. Zainudin. (2016). Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Bagi Siswa Kelas IV SDN 1 Dongko Dengan Metode Praktek. Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 4 (9). Diakses dari https://media.neliti.com/media/publications/109111- ID -meningkatkan-kemampuan-menulis-puisi-bag.pdf pada 1 Mei 2023.


Mozaik Puisi 117 GLOSARIUM Citraan: Kesan atau gambaran visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi. Elegi: Syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian). Figuratif: Bersifat kiasan atau lambang. Gurindam: Sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat. Hiperbola: Ucapan (ungkapan, pernyataan) kiasan yang dibesar-besarkan (berlebih-lebihan), dimaksudkan untuk memperoleh efek tertentu. Intertekstual: Kajian yang memiliki prinsip untuk memahami suatu karya sastra baik yang berasal dari penyerapan maupun dari hasil transformasi dari teks-teks lain yang lahir sebelumnya. Kiasan: Perumpamaan atau kata yang bukan sebenarnya. Kritik: Kecaman atau tanggapan, atau kupasan kadangkadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Majas : Cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain; kiasan. Mantra: Jenis puisi lama mengandung daya magis. Membaca: Salah satu keterampilan berbahasa yang berupa aktivitas melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).


118 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Menulis: Salah satu keterampilan berbahasa yang berupa aktivitas membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya). Menyimak: Salah satu keterampilan berbahasa berupa akivitas mendengarkan (memperhatikan) baik-baik suara, serta apa yang diucapkan atau dibaca orang Metafora: Pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Metonimi: Majas yang berupa pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal sebagai penggantinya. Metrum : Ukuran irama yang ditentukan oleh jumlah dan panjang tekanan suku kata dalam setiap baris. Naratif: Bersifat narasi; atau bersifat menguraikan (menjelaskan dan sebagainya). Nonfiksi: Karya tulis yang sifatnya berdasarkan fakta dan kenyataan serta ada kebenaran di dalamnya yang ditulis berdasarkan kajian keilmuan dan atau pengalaman serta bersifat informatif. Personifikasi: Pengumpamaan (pelambangan) benda mati sebagai orang atau manusia. Prosa: Karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi). Puisi : Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Rima : Pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik sajak maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan. Ritme : Alunan yang terjadi karena perulangan dan pergantian kesatuan bunyi dalam arus panjang pendek


Mozaik Puisi 119 bunyi, keras lembut tekanan, dan tinggi rendah nada (dalam puisi). Sajak: Gubahan karya sastra yang sangat mementingkan keselarasan bunyi bahasa, baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan. Sastra : Bentuk karya seni yang menggunakan bahasa sebagai media penyampaiannya. Serenada: Puisi atau sajak tentang cinta kasih yang dapat dinyanyikan Simile : Majas pertautan yang membandingkan dua hal yang secara hakiki berbeda, tetapi dianggap mengandung segi yang serupa, dinyatakan secara eksplisit dengan kata seperti, bagai, laksana. Sinedoki: Bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal tersebut sendiri.. Soneta: Sajak yang terdiri atas empat bait (2 bait pertama masing-masing terdiri atas 4 baris, 2 bait terakhir masing-masing terdiri atas 3 baris). Syair: Puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat larik (baris) yang berakhir dengan bunyi yang sama Talibun: Bentuk puisi lama dalam kesusastraan Indonesia (Melayu) yang jumlah barisnya lebih dari 4, biasanya antara 16–20, serta mempunyai persamaan bunyi pada akhir baris (ada juga seperti pantun, dengan jumlah baris genap, seperti 6, 8, atau 12 baris). Tema : Pokok pikiran; dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar mengarang, menggubah sajak, dan sebagainya).


120 Puisi sebagai Sarana Berekspresi INDEKS A A Teeuw, 6 Ajip Rosidi, 17, 18, 27 Akhadiah, 107 almanak, 21 amanat, 48, 51, 53 Amir Hamzah, 5, 7, 22, 24 angkatan 45, 25, 26, 32, 33, 34 Angkatan 66, 18, 25, 34 AS, 95 Asrul Sani, 11, 12, 25 B bahasa figuratif, 56 bahasa kiasan, 33, 57, 73, 74 Bakri Siregar, 17 Balai Pustaka, 16, 18, 20, 21, 22, 30, 32 bangsawan, 23 Belanda, 2, 5, 19, 20, 21, 22 berekspresi, iv, 5, 45, 92, 108 budaya, 4, 5, 8, 23, 35, 108 buku, ii, iii, iv, v, 8, 16, 20, 21, 78, 102, 106, 111, 123, 124 Buyung Saleh, 17 C Chairil Anwar, 2, 5, 7, 10, 11, 24, 78, 79, 80, 105 ciri-ciri, 12, 17, 30, 39, 70 culture, 23 D Dante Alighieri, 4 Darma, 88, 114 De Porter, 104 deskriptif, 3, 85, 88 diksi, 6, 11, 31, 33, 39, 52, 53, 72, 73, 74, 77, 92, 94, 97, 109, 113, 114 dosen, 123 E editing, 111 ekspresi, 7, 12, 17, 31, 39, 40, 43, 52, 90, 91, 93, 99, 107, 109 ekspresif, 95 ekstraestetik, 34 elegi, 82, 83 emosi, 37, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 98, 100, 102, 103, 104, 111 Eropa, 95 estetik, 28, 31, 34 estetis, 6, 10 F Fatimah, 95, 114 fiksi, 19, 104 G Gelanggang Seniman Merdeka, 25 Gen. Horison, 19 Generasi Kisah, 19 genre, iv, 2, 18, 28, 35, 93, 94, 96 Giovanni Boccaccio, 4


Mozaik Puisi 121 Goenawan Mohamad, 27, 83 gurindam, 70 guru, 123 H H.B. Jassin, 17, 25, 27 Hetami, 7 hiburan, 64, 65, 67, 69, 96 humanisme, 33 I imajinasi, 6, 13, 52, 53, 54, 55, 56, 103, 111 individu, 2, 8, 32, 96, 123 Indonesia Tumpah Darahku, 29 intertekstual, 6 Islam, 4, 69 Isnaini, 6, 115 Italia, 4 J jenis-jenis puisi, iv, 64, 65, 71, 72, 77, 87 Jepang, 18, 21, 95 Joko Pinurbo, 6 K Kahmi, 95, 114 karakteristik, 8, 16, 30, 32, 35 Karlos, 104, 105, 106, 107, 114 kata konkret, 52, 53, 56 keagamaan, 3, 65 keindahan, 3, 8, 61, 90, 91, 97, 112, 113 kesusastraan, iii, 2, 7, 8, 18, 22, 23, 24 keunikan, 13, 14, 35, 38, 43 kolaborasi, 35 kolonial, 16, 21, 22 kompleks, iii, 92, 111 konotatif, 73, 74, 92 kontemporer, 38, 39, 40, 42, 44, 45, 75, 108, 115 korespondensi, 10, 12 kreatif, 12, 95, 98, 99, 108, 114 kritik, 5, 23, 39, 45, 85, 90 kritik ekspresif, 90 kritis, 5, 98, 99, 104 kualitas, 97, 99, 100 kultur, 16 Kuswarini, 7 L liris, 3, 34 logika, 103, 104 M M. Akbar Djuhana, 25 M. Yamin, 9, 28, 29 majas, 13, 52, 75 manifes kebudayaan, 26 mantra, 34, 66, 67 media sosial, 6, 36, 102 Melayu Rendah, 20 membaca, v, 54, 55, 95, 107, 111 menulis, 123, 124 menulis puisi, iv, v, 4, 5, 10, 74, 77, 91, 93, 94, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 102, 104, 105, 107, 108, 109, 110, 111, 112 menyimak, 107


122 Puisi sebagai Sarana Berekspresi merangkai, 65, 97, 99 metafora, 3, 24, 32, 33 metrum, 61, 66 Mike Hernacki, 104 Muh. Ali, 25 multitafsir, 104, 106 musisi, 35 N naratif, 3, 78, 88 naskah, 23 nonfiksi, 104, 112 norma, 17 novel, 19, 35 Nugroho Notosusanto, 17 O objektif, 108 ode, 82, 84 otak kanan, 103, 104 otak kiri, 103, 104 P P. Sengodjo, 25 Pancasila, 26, 27, 49 pantun, 4, 13, 19, 30, 31, 67, 68, 69 pasca-kemerdekaan, 20 patriotik, 3 pemerintah, 21, 22, 27, 34, 112 pemikiran, 3, 4, 6, 7, 17, 26, 30, 38, 54, 95, 97, 98, 99, 100 pendidik, 101, 102, 109, 110 pendidikan, 123 pengungkapan, 40, 57, 99 peng-upgrade diri, 98 penjajahan, 5, 19, 91 penyair, 4, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 24, 25, 27, 28, 29, 35, 36, 37, 45, 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 62, 77, 82, 84, 85, 86, 87, 88, 90, 93, 95, 97 perasaan, 3, 4, 5, 7, 8, 13, 17, 19, 21, 29, 31, 35, 37, 38, 48, 50, 52, 53, 59, 77, 82, 83, 86, 87, 88, 90, 92, 93, 94, 96, 98, 99, 100, 101, 102, 103, 107, 108, 109 perbandingan, 31, 58 periodisasi, 17, 18 periodisitas, 10, 12, 31 pers, 16 Persia, 5 perspektif, 8 pesan, 5, 8, 35, 37, 51, 67 peserta didik, 101, 102, 108, 109 Petrarch, 4 politik, 4, 5, 8, 22, 26, 35 poly interpretable, 73 pribumi, 20 produktif, 102, 103, 104, 106 profesional, 123 prosa, 2, 4, 12, 28, 30 psikiater, 95 puisi, iii, iv, v, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 19, 24, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 56, 57, 59, 60, 61, 64, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 77, 78, 80, 82, 83, 84, 85, 86, 87, 88, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 102, 105, 107, 108, 109, 110, 111, 112, 113, 115, 116 puisi balada, 78 puisi baru, 29, 72


Mozaik Puisi 123 puisi bebas, 33, 35, 38 puisi deskriptif, 78, 85, 86, 88 puisi diafan, 73, 74 puisi epik, 78 puisi idiom baru, 42, 75 puisi kontemporer, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 45, 75, 94 puisi lama, 10, 28, 29, 31, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 75, 77, 87, 108 puisi lirik, 78, 82, 88 puisi mbeling, 45, 75 puisi mini kata, 40, 75 puisi modern, 29, 38, 71, 72, 75, 77, 87, 108 puisi multilingual, 41, 75 puisi naratif, 78, 88 puisi prismatis, 73, 74, 92 puisi romansa, 78 puisi supra kata, 44 puisi tanpa kata, 40 puitis, 13, 95 Pujangga Baru, 9, 18, 22, 29, 31, 32 Puspa Mega, 29 R Rachmat Djoko Pradopo, 17 reflektif, 3 rima, 3, 4, 8, 13, 28, 39, 53, 60, 77, 91, 99, 105 ritme, 4, 7, 13, 43 Rivai Apin, 5, 25 roman, 19, 20, 22 Romawi, 4 S S. Rukiah, 25 sajak, 2, 7, 9, 10, 11, 12, 24, 28, 29, 31, 34, 54, 65, 67, 68, 69, 71, 83, 87 Sanusi Pane, 24, 29, 84 Sapardi Djoko Damono, 27, 74 sarana penghibur diri, 97 sarana terapi, 95 Sari, 124 sastra, iii, iv, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 28, 29, 30, 35, 56, 57, 61, 65, 71, 77, 88, 90, 91, 93, 94, 96, 101, 104, 108, 114 sastra Indonesia, iv, 2, 16, 18, 19, 22, 24, 28, 30 sastra Inggris, 28 sastra Jawa, 20 sastra Sunda, 20 sastrawan, 17, 18, 21, 23, 24, 26, 31, 51, 64, 65, 67, 72, 73, 75, 84 sekolah, 20, 22, 101, 102, 109, 123 seni, 4, 7, 8, 10, 16, 17, 23, 26, 35, 71, 95 serenada, 82, 83, 84 siswa, iii, 108 Sitor Situmorang, 5 soneta, 4, 13, 19, 31 sosial, 3, 5, 8, 22, 23, 29, 32, 34, 35, 36, 39, 45, 50, 85, 108 subjektif, 8 Surat Kepercayaan Gelanggang, 25, 33 Suriamiharja, 105 syair, 4, 9, 19, 31, 37, 69, 70 T talibun, 68, 69 Tanah Air, 28, 29


124 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Tarigan, 48, 51, 53, 54, 56, 106 Taufik Ismail, 6 tekanan, 19, 27, 55 tema, 3, 7, 21, 33, 34, 35, 48, 50, 51, 107, 109 Tionghoa, 20 tipografi, 52, 62, 75, 77, 94, 109 tradisi, 28, 65 tradisional, 28, 37 Tragedi Sihka Winka, 75 Trisno Sumardjo, 27 U urgensi menulis, 93 W W.S. Rendra, 84, 105 Waluyo, 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 56, 57, 61, 66, 74, 78, 116 Wiji Thukul, 6 Z Zainudin, 108, 109, 116 zaman, iv, v, 4, 5, 7, 22, 29, 37, 45, 64, 65, 67, 87 Zuber Usman, 17


Mozaik Puisi 125 IDENTITAS PENULIS Diah Ayu Puji Lestari, penikmat seni dan sastra, merupakan alumni SMA Negeri 1 Gombong, kelahiran Kebumen tahun 2002. Selama 3 tahun di SMA tergabung dalam Sastra Ningrat, sebuah komunitas sastra di SMA Negeri 1 Gombong. Pada tahun 2020 berhasil diterima di Universitas Negeri Yogyakarta, prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melalui jalur SNMPTN. Setelah resmi menjadi mahasiswa di UNY, ia menyibukkan diri sebagai pengurus inti HIMA PBSI UNY selama dua periode, yakni dari semester dua sampai semester lima. Pada semester enam ditawarkan tiga matkul konsentrasi, lalu ia memutuskan untuk mengambil konsentrasi penulisan buku. Selama perkuliahan di semester enam ia dibimbing oleh dosen-dosen profesional dibidang penulisan buku. Motivasi, arahan, dan bimbingan terus diberikan oleh Prof. Dr. Drs. Maman Suryaman, M.Pd., Prof. Dr. Dra. Wiyatmi, M.Hum., dan Dr. Esti Swatika Sari, S.Pd., M.Hum. Di bawah pengawasan dosen-dosen hebat tersebut, selama satu semester, Diah atau yang akrab dipanggil Ayu berhasil menyelesaikan penulisan dua buku yaitu Mozaik Puisi: Puisi Sebagai Sarana Berekspresi (2023) yang ditulis secara berkelompok dan Mahasiswa kok Kupu-kupu? (2023) yang ditulis secara individu.


126 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Hananto Sudarsono merupakan laki-laki kelahiran Klaten pada tahun 2002. Saat ini ia sedang duduk di bangku perkuliahan, tepatnya di Universitas Negeri Yogyakarta. Dia mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa Seni dan Budaya. Pada semester enam dia mengambil program peminatan penulisan buku, sehingga mengharuskan menyusun buku sebagai syarat kelulusan mata kuliah. Selama satu semester dia telah menulis sebanyak dua buku, yaitu buku Gemar Berliterasi di Era Digital (2023) yang ditulis secara individu dan buku Mozaik Puisi: Puisi Sebagai Sarana Berekspresi (2023) yang ditulis secara berkelompok. Sebelum mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta, Hananto menamatkan pendidikan di SDN 2 Kragilan. Kemudian melanjutkan pada jenjang sekolah menengah di SMPN 1 Gantiwarno. Setelah itu melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Jogonalana, Klaten. Hingga akhirnya diterima sebagai mahasiswa program S1 di UNY melalui jalur SBMPTN pada tahun 2020. Tepat di tahun 2023, ia menginjak semester enam dan mengambil mata kuliah peminatan seputar perbukuan. Selama berkuliah ia dibimbing langsung oleh guru besar dan dosen profesional yang telah banyak menulis buku, yaitu Prof. Maman Suryaman, Prof. Wiyatmi, dan Dr. Esti Swatika Sari.


Mozaik Puisi 127 Kurnian Nur Cahya Noviyanta merupakan mahasiswa kelahiran Klaten pada tahun 2001. Saat ini kuliah mengambil Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Pada Semester enam ia mencoba mengambil mata kuliah peminatan tentang penulisan buku. Dalam penulisan buku mengharuskan dalam satu semester untuk menghasilkan sebuah buku. Maka dari itu, dia ikut serta dalam penulisan buku berjudul Mozaik Puisi: Puisi Sebagai Sarana Berekspresi dengan berkelompok. Sebelum kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, Kurnian menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 1 Demakijo. Kemudian bersekolah di SMPN 1 Karangnongko. Kemudian melanjutkan studinya di SMAN 1 Jatinom di Klaten. Hingga akhirnya diterima sebagai mahasiswa S1 di UNY tahun 2020 melalui jalur Seleksi Mandiri. Pada tahun 2023 ia memulai semester enam dan menyelesaikan studi khusus penulisan buku. Selama kuliah dia dibimbing langsung oleh guru besar dan dosen profesional yang banyak menulis buku yaitu Prof. Maman Suryaman, Prof. Wiyatmi dan Dr. Esti Swatika Sari.


128 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Ahmad Fadhqul Sattiamar merupakan seorang pria kelahiran Bantul pada tahun 2000. Saat ini kuliah mengambil Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Pada Semester enam dia mengambil mata kuliah peminatan tentang penyusunan buku. Dalam mata kuliah tersebut, diwajibkan dalam satu semester membuat sebuah buku. Maka dari itu, dia ikut serta dalam penulisan buku berjudul Mozaik Puisi: Puisi Sebagai Sarana Berekspresi dengan berkelompok. Sebelum kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, Ahmad menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN Segoroyoso. Kemudian bersekolah di MTS Al-Mahali. Kemudian melanjutkan studinya di SMKN 1 Pleret di Bantul. Hingga akhirnya diterima sebagai mahasiswa S1 di UNY tahun 2020 melalui jalur Seleksi Mandiri. Pada tahun 2023 ia memulai semester enam dan menyelesaikan studi khusus penulisan buku. Selama kuliah dia dibimbing langsung oleh guru besar dan dosen profesional yang banyak menulis buku yaitu Prof. Maman Suryaman, Prof. Wiyatmi dan Dr. Esti Swatika Sari.


Mozaik Puisi 129


Click to View FlipBook Version