Mozaik Puisi 43 e) Puisi Tipografi Jenis puisi kontemporer ini menaruh perhatian terhadap bentuk atau wujud puisi yang dianggap dapat menguatkan ekspresi puisi. Pada puisi ini, wujud fisik puisi dianggap sebagai satu unsur puisi, sebagai suatu tanda dengan makna tertentu yang tidak terlepas dari makna keseluruhan puisi. Berikut contohnya. M a n u s i a oleh: Diah Ayu Puji Lestari h a i k a m u k e t i d a k s e m p u r n a a n m e n j a d i k a n m u m a n u s i a f) Puisi Supra Kata Puisi supra kata merupakan puisi kontemporer yang menggunakan kata-kata baru yang sebelumnya tidak ada dalam kosakata bahasa Indonesia. Puisi jenis ini memperhatikan aspek bunyi dan ritme sehingga dapat memberi kesan magis. Karena fokus itulah puisi ini mengabaikan kata-kata konvensional. Akan tetapi, hal ini justru menjadi keunikan tersendiri
44 Puisi sebagai Sarana Berekspresi dalam puisi kontemporer karena lahirlah puisi beritme menarik dengan kata-kata yang belum pernah ada. Contoh puisi supra kata: “Belajar Membaca” oleh: Sutardji Calzoum Bachri kakiku luka luka kakiku kakikau lukakah lukakah kakikau kalau kakikau luka lukakukah kakikau kakiku luka lukakaukah kakiku kalau lukaku lukakau kakiku kakikaukah kakikaukah kaiku kakiku luka kaku kalau lukaku lukakau lukakakukakiku lukakakukakikakukah lukakakukakikaukah lukakakukakakiku. g) Puisi Mbeling Puisi mbeling mungkin sudah lazim terdengar di telinga khalayak umum. Seperti apakah puisi ini? Puisi kontemporer jenis ini umumnya mengandung unsur humor yang juga
Mozaik Puisi 45 mengusung corak kelakar. Puisi mbeling sifatnya sangat bebas sehingga tidak mengharamkan penggunaan suatu kata tertentu. Bagi puisi jenis ini, semua kata memiliki hak yang sama sehingga semuanya dapat digunakan sebagai sarana berekspresi. Biasanya puisi mbeling mengusung kritik sosial untuk suatu pihak. Ada kalanya puisi mbeling juga mengarah pada bentuk sindiran terhadap penyair puisi lainnya. Selain itu, jenis puisi yang satu ini biasanya tidak memiliki unsur tersirat. Contoh puisi mbeling: Presiden oleh: Remy Sylado Presiden pertama bermain mata dengan komunis. Presiden kedua bermain mata dengan kapitalis. Presiden ketiga bermain mata dengan presiden kedua. Presiden keempat tidak mungkin bermain mata. Berbagai jenis puisi tersebut semakin menegaskan betapa bebas dan bervariasinya puisi kontemporer. Tentu saja tidak menutup kemungkinan variasi jenis puisi yang ada saat ini akan terus bertambah dan berkembang seiring perubahan dan perkembangan zaman. Puisi kontemporer menunjukkan eksistensinya
46 Puisi sebagai Sarana Berekspresi sebagai puisi yang tidak terikat aturan puisi konvensional dan terus mengalami pembaharuan sejalan dengan perubahan zaman.
Mozaik Puisi 47 Unsur-unsur Pembangun Puisi
48 Puisi sebagai Sarana Berekspresi BAB III Unsur-Unsur Pembangun Puisi A. Struktur Batin Puisi Struktur batin puisi atau struktur makna merupakan pikiran perasaan yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991: 47). Struktur batin puisi merupakan wacana teks puisi secara utuh yang mengandung arti atau makna yang hanya dapat dilihat atau dirasakan melalui penghayatan. Menurut I.A Richards sebagaimana yang dikutip Herman J. Waluyo menyatakan unsur batin puisi ada empat, yaitu : tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), amanat (intention) (Waluyo, 1991: 180-181). Berikut ini akan dibahas struktur batin puisi. 1. Tema Dalam sebuah puisi tentunya sang penyair ingin mengemukakan sesuatu hal bagi penikmat puisinya. Sesuatu yang ingin diungkapkan oleh penyair dapat diungkapkan melalui puisi atau hasil karyanya yang dia dapatkan melalui pengelihatan, pengalaman ataupun kejadian yang pernah dialami atau kejadian yang terjadi pada suatu masyarakat dengan bahasanya sendiri. Dia ingin mengemukakan, mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan caranya sendiri. Atau dengan kata lain sang penyair ingin mengemukakan pengalaman pribadinya kepada para pembaca melalui puisinya (Tarigan, 1984: 10). Inilah tema, tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh sang penyair yang terdapat
Mozaik Puisi 49 dalam puisinya (Siswanto, 2008: 124). Dengan latar belakang pengetahuan yang sama, penafsir-penafsir puisi akan memberikan tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tafsir puisi bersifat lugas, obyektif dan khusus (Waluyo, 1991: 107). Berikut ini dipaparkan macam-macam tema puisi sesuai dengan Pancasila. a. Tema Ketuhanan Puisi-puisi bertema ketuhanan biasanya akan menunjukkan religius experience atau ―pengalaman religi‖ penyair yang didasarkan tingkat kedalaman pengalaman ketuhanan seseorang. Dapat juga dijelaskan sebagai tingkat kedalaman iman seseorang terhadap agamanya atau lebih luas lagi terhadap Tuhan atau kekuasaan gaib (Waluyo, 1991: 107). Kedalaman rasa ketuhanan itu tidak lepas dari bentuk fisik yang terlahir dalam pemilihan kata, ungkapan, lambang, kiasan dan sebagainya yang menunjukkan betapa erat hubungan antara penyair dengan Tuhan. Juga menunjukkan bagaimana penyair ingin Tuhan mengisi seluruh kalbunya. (Waluyo, 1991: 108). b. Tema Kemanusiaan Tema kemanusiaan bermaksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembaca bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Perbedaan kekayaan, pangkat dan kedudukan seseorang tidak boleh menjadi
50 Puisi sebagai Sarana Berekspresi sebab adanya perbedaan perlakuan terhadap kemanusiaan seseorang (Waluyo, 1991: 112). c. Tema Patriotisme / Kebangsaan Tema patriotisme dapat meningkatkan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. Banyak puisi yang melukiskan perjuangan merebut kemerdekaan dan mengisahkan riwayat pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan atau melawan penjajah. Tema patriot juga dapat diwujudkan dalam bentuk usaha penyair untuk membina kesatuan bangsa atau membina rasa kenasionalan (Waluyo, 1991: 115). d. Tema Kedaulatan Rakyat Penyair begitu sensitif perasaannya untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat dan menentang sikap sewenang-wenang pihak yang berkuasa, di dapati dalam puisi protes. Penyair berharap orang yang berkuasa memikirkan nasib si miskin. Diharapkan penyair agar kita semua mengejar kekayaan pribadi, namun juga mengusahakan kesejahteraan bersama. e. Tema Keadilan Sosial Nada protes sosial sebenarnya lebih banyak menyuarakan tema keadilan sosial dari pada tema kedaulatan rakyat. Yang dituliskan dalam tema keadilan sosial adalah ketidakadilan dalam masyarakat dengan tujuan untuk mengetuk nurani pembaca agar keadilan sosial ditegakkan dan diperjuangkan.
Mozaik Puisi 51 2. Perasaan Penyair (Feeling) Perasaan (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkannya. Perasaan penyair dalam puisinya dapat dikenal melalui penggunaan ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam puisinya karena dalam menciptakan puisi suasana hati penyair juga ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca (Waluyo, 1991: 121). Hal ini selaras dengan pendapat Tarigan (1984:11) yang menyatakan bahwa rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya. 3. Nada dan Suasana Menurut Tarigan (1984: 17) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nada dalam dunia perpuisian adalah sikap sang penyair terhadap pembacanya atau dengan kata lain sikap sang penyair terhadap para penikmat karyanya. 4. Amanat (Pesan) Penyair sebagai sastrawan dan anggota masyarakat baik secara sadar atau tidak merasa bertanggugjawab menjaga kelangsungan hidup sesuai dengan hati nuraninya. Oleh karena itu, puisi selalu ingin mengandung amanat (pesan). Meskipun penyair tidak
52 Puisi sebagai Sarana Berekspresi secara khusus dan sengaja mencantumkan amanat dalam puisinya. amanat tersirat di balik kata dan juga di balik tema yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991: 130). Amanat adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan,pesan, tujuan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya. B. Struktur Fisik Puisi Struktur fisik puisi adalah unsur pembangun puisi dari luar (Waluyo, 1991: 71). Puisi disusun dari kata dengan bahasa yang indah dan bermakna yang dituliskan dalam bentuk bait-bait. Orang dapat membedakan mana puisi dan mana bukan puisi berdasarkan bentuk lahir atau fisik yang terlihat. Berikut ini akan dibahas struktur fisik puisi yang meliputi : diksi, imajinasi, kata konkret, majas, verifikasi, majas dan tipografi. 1. Diksi atau Pilihan Kata Salah satu hal yang ditonjolkan dalam puisi adalah kata-katanya ataupun pilihan katanya. Bahasa merupakan sarana utama dalam puisi. Dalam menciptakan sebuah puisi penyair mempunyai tujuan yang hendak disampaikan kepada pembaca melalui puisinya. Penyair ingin mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami hatinya. Selain itu juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Untuk itulah harus dipilih kata-kata yang
Mozaik Puisi 53 setepat-tepatnya. Penyair juga ingin mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat. Penyair harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, kompisisi bunyi, dalam rima dan irama serta kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. Dengan uraian singkat diatas, ditegaskan kembali betapa pentingnya diksi bagi suatu puisi. Menurut Tarigan (1984: 30), pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, nada suatu puisi dengan tepat. 2. Imajinasi Semua penyair ingin menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialaminya kepada para pembacanya melalui karyanya. Salah satu usaha untuk memenuhi keinginan tersebut ialah dengan pemilihan serta penggunaan kata-kata dalam puisinya (Tarigan, 1984: 30). Ada hubungan yang erat antara pemilihan kata-kata, pengimajian dan kata konkret, di mana diksi yang dipilih harus menghasilkan dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti yang kita hayati dalam penglihatan, pendengaran atau cita rasa. Pengimajian dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan (Waluyo, 1991: 97). Pilihan serta penggunaan kata-kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia dan energi tersebut dapat mendorong imajinasi atau daya bayang kita untuk menjelmakan
54 Puisi sebagai Sarana Berekspresi gambaran yang nyata. Dengan menarik perhatian kita pada beberapa perasaan jasmani sang penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga mereka menganggap bahwa merekalah yang benar-benar mengalami peristiwa jasmaniah tersebut (Tarigan, 1984: 30). Dengan menarik perhatian pembacanya melalui kata dan daya imajinasi akan memunculkan sesuatu yang lain yang belum pernah dirasakan oleh pembaca sebelumnya. Segala yang dirasai atau dialami secara imajinatif inilah yang biasa dikenal dengan istilah imagery atau imaji atau pengimajian (Tarigan, 1984: 30). Dalam puisi kita kenal bermacam-macam (gambaran angan) yang dihasilkan oleh indera pengihatan, pendengaran, pengecapan, rabaan, penciuman, pemikiran dan gerakan (Pradopo, 1990: 81). Selanjutnya terdapat juga imaji penglihatan (visual), imaji pendengaran (auditif) dan imaji cita rasa (taktil) (Waluyo, 1991: 79). Semua imaji di atas bila dijadikan satu, secara keseluruhan dikenal beberapa macam imajinasi, yaitu : a. Imajinasi Visual, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seolah-olah seperti melihat sendiri apa yang dikemukakan atau diceritakan oleh penyair. b. Imajinasi Auditori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar sendiri apa yang dikemukakan penyair. Suara dan bunyi yang dipergunakan tepat sekali untuk melukiskan hal yang dikemukakan, hal ini sering menggunakan kata-kata onomatope.
Mozaik Puisi 55 c. Imajinasi Articulatori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar bunyibunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian mulut waktu kita membaca sajak itu seakan-akan kita melihat gerakan-gerakan mulut membunyikannya, sehingga ikut bagian-bagian mulut kita dengan sendirinya. d. Imajinasi Olfaktori, yakni imajinasi penciuman atau pembawaan dengan membaca atau mendengar katakata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu. Kita seperti mencium bau rumput yang sedang dibakar, kita seperti mencium bau tanah yang baru dicangkul, kita seperti mencium bau bunga mawar, kita seperti mencium bau apel yang sedap dan sebagainya. e. Imajinasi Gustatori, yakni imajinasi pencicipan. Dengan membaca atau mendengar kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu kita seperti mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam dan sebagainya. f. Imajinasi Faktual, yakni imajinasi rasa kulit, yang menyebabkan kita seperti merasakan di bagian kulit badan kita rasanya nyeri, rasa dingin, atau rasa panas oleh tekanan udara atau oleh perubahan suhu udara. g. Imajinasi Kinaestetik, yakni imajinasi gerakan tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan badan atau otot-otot tubuh. h. Imajinasi Organik, yakni imajinasi badan yang menyebabkan kita seperti melihat atau merasakan badan yang capai, lesu, loyo, ngantuk, lapar, lemas, mual, pusing dan sebagainya.
56 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Imaji-imaji di atas tidak dipergunakan secara terpisah oleh penyair melainkan dipergunakan bersamasama, saling memperkuat dan saling menambah kepuitisannya (Pradopo, 1990: 81). 3. Kata Konkret Salah satu cara untuk membangkitkan daya bayang atau daya imajinasi para penikmat sastra khususnya puisi adalah dengan menggunakan kata-kata yang tepat, kata-kata yang kongkret, yang dapat menyaran pada suatu pengertian menyeluruh. Semakin tepat sang penyair menggunakan kata-kata atau bahasa dalam karya sastranya maka akan semakin kuat juga daya pemikat untuk penikmat sastra sehingga penikmat sastra akan merasakan sensasi yang berbeda. Para penikmat sastra akan menganggap bahwa mereka benar-benar melihat, mendengar, merasakan, dan mengalami segala sesuatu yang dialami oleh sang penyair (Tarigan, 1984: 32). Dengan keterangan singkat diatas maka dapat disimpulkan bahwa kata konkret adalah kata-kata yang dapat di tangkap dengan indra (Siswanto, 2008: 119). 4. Majas atau Bahasa Figuratif Penyair menggunakan bahasa yang bersusunsusun atau berpigura sehingga disebut bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis
Mozaik Puisi 57 artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang (Waluyo, 1991: 83). Bahasa kias merupakan wujud penggunaan bahasa yang mampu mengekspresikan makna dasar ke asosi lain. Kiasan yang tepat dapat menolong pembaca merasakan dan melihat seperti apa yang dilihat atau apa yang dirasakan penulis. Seperti yang diungkapkan Pradopo bahwa kias dapat menciptakan gambaran angan/ citraan (imagery) dalam diri pembaca yang menyerupai gambar yang dihasilkan oleh pengungkapan penyair terhadap obyek yang dapat dilihat mata, saraf penglihatan, atau daerah otak yang bersangkutan (1990:80). Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair karena: (1) Bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) Bahasa figuratif dalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang abstrak menjadi kongret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca, (3) Bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas, (4) Bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat (Waluyo, 1991: 83). Adapun bahasa kias yang biasa digunakan dalam puisi ataupun karya sastra lainnya yaitu: a. Perbandingan/ Perumpamaan (Simile)
58 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Perbandingan atau perumpamaan (simile) ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama, laksana dan kata-kata pembanding lainnya. b. Metafora Bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, laksana dan sebagainya. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan yang lain yang sesungguhnya tidak sama. c. Personifikasi Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia. Benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berfikir dan sebagainya. Seperti halnya manusia dan banyak dipergunakan penyair dulu sampai sekarang. Personifikasi membuat hidup lukisan di samping itu memberi kejelasan kebenaran, memberikan bayangan angan yang konkret. d. Hiperbola Kiasan yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca. e. Metonimia
Mozaik Puisi 59 Bahasa kiasan yang lebih jarang dijumpai pemakaiannya. Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat hubungannya dengan mengganti objek tersebut. f. Sinekdoki (Syneadoche) Bahasa kiasan yang menyebutkan sesuatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri. Sinekdoke ada dua macam, berikut penjelasannya. Pars Prototo : sebagian untuk keseluruhan Totum Proparte : keseluruhan untuk sebagian (Pradopo, 1990: 78). g. Allegori Cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengkiaskan hal lain atau kejadian lain. 5. Perlambangan Perlambangan yang dipergunakan dalam puisi : a. Lambang warna b. Lambang benda : penggunaan benda untuk menggantikan sesuatu yang ingin diucapkan.
60 Puisi sebagai Sarana Berekspresi c. Lambang bunyi : bunyi yang diciptakan penyair untuk melambangkan perasaan tertentu. d. Lambang suasana : suasana yang dilambangkan dengan suasana lain yang lebih konkret. 6. Verivikasi a. Rima Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalisasi atau orkestrasi sehingga puisi menjadi menarik untuk dibaca. Dalam puisi banyak jenis rima yang kita jumpai antara lain : 1) Menurut bunyinya : a) Rima sempurna bila seluruh suku akhir sama bunyinya. b) Rima tak sempurna bila sebagian suku akhir sama bunyinya c) Rima mutlak bila seluruh bunyi kata itu sama d) Asonansi perulangan bunyi vokal dalam satu kata e) Aliterasi : perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan f) Pisonansi (rima rangka) bila konsonan yang membentuk kata itu sama, namun vokalnya berbeda. 2) Menurut letaknya: a) Rima depan : bila kata pada permulaan baris sama
Mozaik Puisi 61 b) Rima tengah : bila kata atau suku kata di tengah baris suatu puisi itu sama c) Rima akhir bila perulangan kata terletak pada akhir baris d) Rima tegak bila kata pada akhir baris sama dengan kata pada permulaan baris e) Rima datar bila perulangan itu terdapat pada satu baris. b. Ritme Pertentangan bunyi, tinggi rendah, panjang pendek, keras lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan (Waluyo, 1991: 94). Ritma terdiri dari tiga macam, yaitu: 1) Andante : Kata yang terdiri dari dua vokal, yang menimbulkan irama lambat 2) Alegro : Kata bervokal tiga, menimbulkan irama sedang 3) Motto Alegro : kata yang bervokal empat yang menyebabkan irama cepat. c. Metrum Perulangan kata yang tetap bersifat statis (Waluyo, 1991: 94). Nama metrum didapati dalam puisi sastra lama. Pengertian metrum menurut Pradopo adalah irama yang tetap, pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu (Pradopo, 1990: 40). Peranan metrum sangat penting dalam pembacaan puisi dan deklamasi.
62 Puisi sebagai Sarana Berekspresi d. Tipografi atau Perwajahan Ciri-ciri yang dapat dilihat sepintas dari puisi adalah perwajahannya atau tipografinya. Melalui indera mata tampak bahwa puisi tersusun atas kata-kata yang membentuk larik-larik puisi. Larik-larik itu disusun ke bawah dan terikat dalam bait-bait. Banyak kata, larik maupun bait ditentukan oleh keseluruhan makna puisi yang ingin dituliskan penyair. Dengan demikian satu bait puisi bisa terdiri dari satu kata bahkan satu huruf saja. Dalam hal cara penulisannya puisi tidak selalu harus ditulis dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan seperti bentuk tulisan umumnya. Susunan penulisan dalam puisi disebut tipografi (Pradopo, 1990: 210). Struktur fisik puisi membentuk tipografi yang khas puisi. Tiprografi puisi merupakan bentuk visual yang bisa memberi makna tambahan dan bentuknya bisa didapati pada jenis puisi konkret. Tipografi bentuknya bermacam-macam antara lain berbentuk grafis, kaligrafi, kerucut dan sebagainya. Jadi tipografi memberikan ciri khas puisi pada periode angkatan tertentu.
Mozaik Puisi 63 Jenis-Jenis Puisi
64 Puisi sebagai Sarana Berekspresi BAB IV Jenis-Jenis Puisi Dalam perkembangannya, puisi terbagi ke dalam beberapa jenis. Pembagian jenis-jenis puisi tersebut berdasarkan beberapa kategori. Contoh kategori yang melatarbelakangi pembagian jenis-jenis puisi, seperti waktu, tujuan penulisan, dan bentuk tulisan. Tentunya kelahiran berbagai jenis puisi tersebut dikarenakan oleh perkembangan kebutuhan dan daya tarik di masyarakat. Perkembangan zaman yang semakin maju tentu akan berdampak pada keorisinalitas puisi dari awal kelahirannya. Hal tersebut bukan berarti puisi menjadi jauh dari fitrah awalnya sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Seiring dengan perkembangan puisi yang semakin beragam tentu unsur estetika dan nilai manfaatnya tidak hilang begitu saja. Oleh karena itu, puisipuisi yang telah terbentang dari masa ke masa tetap masih bisa dinikmati dan dijadikan hiburan. Di dalam berbagai literatur banyak ditemukan para ahli yang membagi puisi menjadi beberapa kategori. Namun, dari beberapa pendapat yang ada sebenarnya masih memiliki kesamaan sehingga dapat diambil benang merahnya. Bahkan dapat dikatakana bahwa masing-masing ahli sebenarnya telah menggolongkan puisi sama dengan pendapat ahli lain. Hal tersebut tentu disebabkan oleh konsep kesejarahan dan teori puisi yang jelas, sehingga dipahami oleh para sastrawan dan tercipta sebuah kesepakatan antarmereka. Bukti-bukti keberadaan setiap jenis puisi juga kuat dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga menjadi bahan pendukung pembagian puisi oleh mereka. Di bawah akan diuraikan jenis-
Mozaik Puisi 65 jenis puisi berdasarkan kategori yang melatarbelakangi kemunculannya. A. Berdasarkan Waktu Kemunculan Puisi merupakan sastra yang kemunculannya sudah sejak lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Seiring berjalannya waktu puisi mengalami perkembangan yang menyebabkan lahirnya jenis-jenis puisi baru. Perkembangan tersebut menyebabkan muncul contoh puisi yang berbeda dari awal mula kelahirannya. Jika kita mengenal dalam puisi harus terdiri dari beberapa suku kata dan diakhiri dengan bunyi sajak tertentu, maka di zaman modern ini sepertinya kaidah tersebut sudah tidak terlalu diperhatikan. Penulisan puisi di zaman sekarang terkesan lebih bebas sesuai dengan kreativitas pengarang. 1. Puisi Lama Puisi lama merupakan cikal bakal kemunculan puisi yang berisi permainan kata-kata yang disusun indah dan memuat berbagai petuah. Puisi lama awalnya berkembang di kerajaan-kerajaan atau kehidupan zaman kerajaan sebagai hiburan masyarakat zaman itu. Kemunculan puisi lama sebenarnya dapat memiliki hubungan dengan tradisi keagamaan dan kebudayaan tertentu. Ciri khas puisi lama adalah terdapat kaidahkaidah tertentu yang harus ditaati seorang sastrawan dalam merangkai puisinya. Selain itu, berbagai puisi lama dihubungkan dengan nilai tradisi bahkan magis, sehingga keberadaannya dihormati oleh masyarakat.
66 Puisi sebagai Sarana Berekspresi a. Mantra Mantra merupakan contoh dari puisi lama yang berisi tentang permainan kata yang dianggap memiliki kesaktian untuk mengusir hal-hal yang gaib. Djamaris (via Suryaman & Wiyatmi,:75) mantra diciptakan dalam kepercayaan animisme dan dinamisme untuk dibacakan dalam acara berburu, menangkap ikan, mengumpulkan hasil hutan untuk membujuk hantu yang baik dan menolak yang jahat. Dari pendapat tersebut terlihat bahwa mantra pada mulanya digunakan untuk mengusir hal-hal buruk yang disebabkan oleh makhluk gaib. Namun, pada beberapa contoh mantra dijumpai bahwa tujuan penulisan mantra juga sebagai sarana mengajarkan nilai-nilai agama. Waluyo (via Suryaman & Wiyatmi, 2012:77) mengungkapkan bahwa ciri khas mantra yang dapat kita jumpai antara lain: 1) pemilihan kata sangat seksama, 2) bunyi-bunyi diusahakan berulang-ulang, 3) banyak digunakan kata-kata yang kurang umum dalam kehidupan sehari-hari dengan maksud memperkuat daya sugesti kata, 4) jika dibaca secara keras menimbulkan bunyi yang bersifat magis, yang diperkuat oleh irama dan metrum yang hanya dapat dipahami secara sempurna oleh sang pawang. Kepada rimba sekampung Pulanglah engkau kepada rimba yang besar Pulanglah engkau kepada gunung guntung Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang
Mozaik Puisi 67 Pulanglah engkau kepada mata air yang tidak kering Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau (sumber https://dosenbahasa.com/contoh-puisi-lamamantra) b. Pantun Contoh lain dari puisi lama yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat adalah pantun. Istilah pantun sudah tersebar luas di telinga masyarakat dan dimaknai sebagai susunan kata yang bersajak. Berhubung pantun merupakan jenis puisi lama maka dalam menyusunnya perlu memperhatikan berbagai kaidah-kaidah. Ciri khas pantun dapat terlihat dari aturan kaidah-kaidah yang digunakan oleh seorang sastrawan. Aturan penulisan pantun adalah menggunakan sajak dan terdiri atas dua baris sampiran serta dua baris isi. Di dalam pantun sebenarnya terbagi lagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan tujuan penulisan pantun. Pantun nasihat, teka-teki, dan jenaka, mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Sebenarnya tujuan utama pantun diciptakan adalah sebagai hiburan bagi masyarakat tanpa meninggalkan pesan-pesan yang dapat dijadikan pelajaran. Oleh sebab itu, di zaman sekarang pun masih kerap bermunculan pantun-pantun yang digunakan untuk menghibur orang lain, seperti pantun teka-teki dan pantun jenaka. Kemumu di dalam semak Jatuh melayang seleranya Meskipun ilmu setinggi tegak Tidak sembahyang apa gunanya
68 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Asam kandis asam gelugur Ketiga asam riang-riang Menangis orang di pintu kubur Teringat badan tidak sembahyang Orang Bayang pergi mengaji Ke cubadak jalan ke Panji Meninggalkan sembahyang jadi berani Seperti badan tidak akan mati (Setyawati via Suryaman & Wiyatmi, 2012:77) c. Talibun Hampir sama dengan pantun, talibun merupakan contoh puisi lama yang berisi larik-larik, meliputi sampiran dan isi. Perbedaan utama antara talibun dengan puisi adalah bahwa jumlah larik di dalam talibun lebih dari 4 dan harus berjumlah genap, seperti enam, delapan, dan sepuluh. Penggunaan sajak juga ditemui dalam talibun yang disesuaikan dengan jumlah baris yang disusun. Kalau jadi pergi ke pekan Yu beli belanak beli Ikan panjang beli dahulu Kalau jadi engkau berjalan Ibu cari sanak pun cari Induk semang cari dahulu (Setyawati via Suryaman & Wiyatmi, 2012:78)
Mozaik Puisi 69 Dari contoh talibun di atas tampak bahwa terdapat 6 larik dengan sajak a-b-c-a-b-c. Sudah nampak jelas bahwa contoh di atas berbeda dengan pantun ketika dilihat dari jumlah larik yang menyusunnya. d. Syair Syair merupakan contoh puisi lama yang berjumlah empat baris yang kesemuanya isi dan bersajak a-a-a-a. Di dalam syair mengisahkan tentang cerita atau nasihat yang dapat diambil hikmahnya. Tujuan utama dari syair adalah untuk memberi hiburan kepada masyarakat dengan pembawaan yang lembut dan halus. Selain itu, tentu masyarakat dapat mengambil hikmahnya. Syair terbagi ke dalam beberapa jenis, yaitu syair panji, syair romantis, syair kiasan, syair sejarah, dan syair agama. Bismillah itu permulaan kalam, Dengan nama Allah Khalikul‘alam, Dipermulai kitab diperbuat nazam, Supaya ingat mukmin dan Islam. Sudah memuji Tuhan yang kaya, Salawatkan rasul Nabi yang mulia, Itulah penghulu segala Anbia, Sekalian Islam jin dan manusia. Barang yang maksiat beroleh bala, Kerana murka Allah Taala, Di dalam neraka ia tersula, Badannya hancur tiada terkala. Dijadikan dunia oleh Tuhanmu,
70 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Bukan di sini akan tempatmu, Sekadar ibadah dengan ilmu, Serta amalkan dengan yakinmu. Barang bercinta akannya mati, Tidaklah lupa berbuat bakti, Siang dan malam diamat-amati, Seumur hidup tidak berhenti. Harta itu cari olehmu, Sambil dengan menuntut ilmu, Serta amalkan dengan baktimu, Supaya jangan jadi selemu. (sumber https://www.liputan6.com/hot/read/4404553/syairadalah-puisi-lama-pahami-ciri-ciri-dan-contohnya) e. Gurindam Gurindam merupakan puisi lama yang terdiri atas dua baris dengan masing-masing baris merupakan isi. Pada baris pertama merupakan sebab dan baris kedua merupakan akibat. Tujuan dari penciptaan gurindam adalah untuk memberi nasihat kepada para pendengar. Sajak yang terdapat di dalam gurindam adalah a-a. Berdasarkan sejarah, gurindam dibawa oleh orang Hindu dan berasal dari bahasa India kirindam yang berarti perumpamaan. Barang siapa tiada memegang agama Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama Barang siapa mengenal yang empat
Mozaik Puisi 71 Maka ia itulah orang makrifat Barang siapa mengenal Allah Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah Barang siapa mengenal diri Maka telah mengenal akan Tuhan yang Bahari Barang siapa mengenal dunia Tahulah ia barang yang terperdaya Barang siapa mengenal akhirat Tahulah ia dunia mudarat (Djamaris via Surayaman & Wiyatmi, 2012:79) Dari pemaparan terkait jenis-jenis puisi lama di atas dapat dipahami bahwa terdapat ciri khusus yang melekat erat dengan puisi lama. Jenis-jenis puisi lama umumnya dibatasi dengan berbagai aturan yang harus dipatuhi. Jumlah baris di dalam puisi lama dibatasi sesuai dengan jenisnya, dapat terdiri dari dua, empat, enam, atau lebih dari itu. Jumlah suku kata juga diatur sebagai ciri khas dari puisi lama dan bunyi sajak juga harus ditaati. Aturan-aturan semacam itu sebenarnya tidak terlalu diperhatikan pada jenis puisi modern. Bahkan puisi modern tidak harus taat dengan kaidah-kaidah tersebut. 2. Puisi Modern Seiring dengan berjalannya waktu selera masyarakat terhadap seni sastra khususnya seni tentu mengalami perubahan. Pada awalnya masyarakat
72 Puisi sebagai Sarana Berekspresi disuguhi dengan berbagai jenis sastra lama yang sangat terkait dengan berbagai aturan yang mencirikannya. Selain itu, puisi lama sangat kental dengan nilai-nilai nasihat sebagai sarana untuk diambil hikmahnya. Munculnya jenis puisi baru atau modern merupakan tuntutan selera masyarakat. Apabila masyarakat disuguhi dengan berbagai bentuk puisi lama tentu selera mereka tidak lagi tergugah. Pembawaan puisi modern yang lebih bebas tentu membuat pembaca atau penyimak lebih merasa terbuka. Khususnya seorang sastrawan akan memiliki ruang yang lebih luas untuk mengungkapkan buah pikiran mereka. Di bawah ini akan dipaparkan terkait jenis-jenis puisi modern yang dikenal oleh masyarakat luas. Oktaviana, dkk (2019:25-28) menguraikan jenis-jenis puisi baru sebagai berikut. a. Puisi Diafan Puisi diafan juga dikenal dengan istilah puisi transparan. Sesuai dengan namanya tentu puisi ini akan mendayakan bahasa dengan diksi yang mudah dipahami atau bersifat eksplisit. Berbeda dengan kebanyakan puisi yang bagi pembaca sulit dipahami, pada puisi ini pembaca akan lebih mudah menangkap informasi yang disampaikan oleh pengarang. SAJAK SIKAT GIGI Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur Di dalam tidurnya ia bermimpi Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka
Mozaik Puisi 73 Ketika ia bangun pagi hari Sikat giginya tinggal sepotong Sepotong yang hilang itu agaknya Tersesat dalam mimpinya dan tak bisa kembali Dan ia berpendapat bahwa kejadian itu terlalu berlebihlebihan (Yudhistira Ardinugraha via Suryaman & Wiyatmi, 2012:.31) Pada contoh puisi di atas terlihat bahwa bahasa yang digunakan oleh pengarang cukup mudah untuk dipahami. Informasi yang disampaikan juga dapat dipahami oleh para pembaca dengan mudah. Penggunaan bahasa yang ringan inilah yang membuat puisi ini digunakan untuk menyampaikan nasihatnasihat ringan kepada anak-anak. b. Puisi Prismatis Berbeda dengan puisi diafan, puisi prismatis menggunakan diksi-diksi yang terkesan sulit untuk dipahami. Bahasa yang digunakan bersifat konotatif, banyak dijumpai bahasa kiasan, dan menimbulkan keragaman penafsiran oleh para pembaca (poly interpretable). Jenis puisi inilah yang banyak dirangkai oleh sastrawan-sastrawan modern yang bagi pembaca karya mereka sulit untuk dipahami. Selain itu, puisipuisi prismatis juga dijadikan sebagai objek penelitian, seperti skripsi atau dalam jurnal.
74 Puisi sebagai Sarana Berekspresi SAAT SEBELUM BERANGKAT mengapa kita masih juga bercakap hari hampir gelap menyekap beribu kata di antara karangan bunga di ruang semakin maya, dunia purnama sampai tak ada sempat bertanya mengapa musim tiba-tiba reda kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini di luar para pengiring jenazah menanti (Sapardi Djoko Damono via Suryaman & Wiyatmi, 2012:31) Pada contoh puisi di atas terlihat bahwa jenis puisi prismatis mendayakan bahasa dengan diksi yang sulit untuk dipahami. Penggunaan kata-kata kiasan dan bermakna konotatif menjadi daya tarik tersendiri dari puisi ini. Justru nilai estetika dari sebuah puisi sebenarnya terletak pada diksi yang banyak mengandung bahasa kias dan bermakna konotatif. Oleh sebab itu, banyak pembaca yang memberikan penafsiran berbeda dengan pembaca yang lain, bahkan berbeda dengan penafsiran dirinya sendiri. Oleh Waluyo (1991:140) puisi diafan dan puisi prismatis digolongkan berdasarkan hubungan langsung tidaknya makna dengan diksi dan bahasa kiasan yang dipakai. Puisi diafan umumnya digunakan dengan sasaran anak-anak karena maknanya mudah dipahami atau puisi ini biasanya ditulis oleh mereka yang baru belajar menulis puisi. Berbeda dengan puisi prismatis yang sulit untuk dipahami karena menggunakan diksi kiasan dan bermakna konotatif. Puisi prismatis ditulis
Mozaik Puisi 75 oleh sastrawan yang sudah berpengalaman yang mampu memadukan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa, sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan maknanya. c. Puisi Kontemporer Sekilas puisi kontemporer merupakan puisi yang muncul pada masa baru-baru ini sehingga dapat digolongkan sebagai puisi modern. Puisi kontemporer sesuai dengan masa kemunculannya tentu memiliki sebuah ciri khas, yaitu tidak terikat dengan berbagai aturan penulisan puisi seperti jenis puisi lama. Jenis puisi ini lebih berupaya mengutamakan variasi bentuk dan bunyi bahasa dan menekankan pada kesan yang dapat diambil pembaca melalui puisi tertentu. Contoh dari puisi kontemporer yang kerap muncul dan diketahui oleh masyarakat luas, yaitu puisi mbeling, puisi tipografi, puisi multilingual, puisi mini kata, dan puisi idiom baru. Tragedi Sihka Winka kawin kawin kawin kawin kawin ka win
76 Puisi sebagai Sarana Berekspresi ka win ka win ka win ka winka winka winka sihka sihka sihka sih ka sih ka sih ka sih ka sih ka sih sih sih sih sih sih ka Ku
Mozaik Puisi 77 https://jateng.tribunnews.com/2021/01/15/puisitragedi-winka-dan-sikha-sutardji-calzoum-bachri. Dari contoh puisi di atas terlihat bentuk puisi yang tidak jelas dan diksi yang digunakan juga tidak menunjukkan makna. Namun, sebenarnya puisi di atas memiliki makna yang dapat ditafsirkan. Puisi di atas dapat dimaknai sebagai bentuk pernikahan (perkawinan) seharusnya membawa pada kebahagiaan dan ketentraman, namun selalu saja terdapat lika-liku dalam pernikahan dengan hadirnya berbagai ujian hingga akhirnya berakhir tragis dengan perpisahan. Contoh puisi di atas termasuk dalam jenis puisi tipografi, yaitu mendayakan bentuk fisik puisi berupa susunan penulisan diksi. Terlihat bahwa puisi di atas tidak memperhatikan diksi, rima, irama, atau jumlah larik tertentu sebagaimana puisi lama yang begitu ketat mengatur itu semua. B. Berdasarkan Cara Penyair Mengungkapkan Gagasan Di atas telah dipaparkan terkait jenis-jenis puisi berdasarkan waktu kemunculannya dalam dunia sastra, yaitu puisi lama dan puisi modern. Pada bagian ini akan kembali dipaparkan materi jenis-jenis puisi dari segi cara penyair mengungkapkan atau menguraikan gagasan isi dalam puisinya. Tentu tujuan penyair dalam menulis puisi adalah untuk mengungkap buah pikiran dan perasaan dengan menguraikan dalam bentuk tulisan. Kegiatan menguraikan dalam tulisan tersebut memerlukan pendekatan berupa cara
78 Puisi sebagai Sarana Berekspresi menjabarkan, posisi penyair dalam puisi, dan peristiwa yang dianggap menarik oleh penyair. Oleh sebab itu, dalam bukunya, Waluyo (1987:135-137) menguraikan jenis puisi menurut cara penyair mengungkap gagasan menjadi tiga jenis, yaitu puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif. 1. Puisi Naratif Sesuai dengan namanya naratif diartikan sebagai cerita, yaitu jenis puisi di mana pengarang memilih bentuk penceritaan dalam mengungkap gagasan dalam puisinya. Pendekatan cerita ini digunakan pengarang untuk mengisahkan sejarah, hubungan percintaan, atau kepahlawanan seorang tokoh. Puisi naratif dibagi menjadi tiga jenis, yaitu puisi epik, puisi romansa, dan puisi balada. a. Puisi epik Istilah epik atau epos dapat diartikan sebagai kisah-kisah kepahlawanan seorang tokoh. Dalam puisi epik maka seorang pengarang akan menceritakan kisah heroik seorang tokoh. Diponegoro* Karya: Chairil Anwar Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri
Mozaik Puisi 79 Berselempang semangat yang tidak bisa mati. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti Sudah itu mati. MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api. Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas. Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup baru bisa merasai. Maju. Serbu. Serang. Terjang. Februari 1943 (Chairil Anwar, 2015:9) b. Puisi romansa Puisi romansa mengisahkan tentang kisah cinta seorang tokoh terkenal dan banyak diketahui orang-orang.
80 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Puisi ini menggunakan bahasa yang romantik dengan kisah seorang kesatria yang menghadapi berbagai tantangan dalam mengejar cintanya. Senja di Pelabuhan Kecil Chairil Anwar Kepada Sri Ayati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap (Chairil Anwar, 2015:71) c. Puisi balada Puisi balada merupakan puisi yang menceritakan tentang kisah orang-orang perkasa, tokoh pujaan, dan orang yang banyak diperhatikan masyarakat.
Mozaik Puisi 81 Lelaki yang Luka WS. Rendra Lelaki yang luka biarkan ia pergi, Mama! Akan disatukan dirinya dengan angin gunung. Sempoyongan tubuh kerbau menyobek perut sepi. Dan wajah para bunda Bagai bulan redup putih. Ajal! Ajal! Betapa pulas tidurnya di relung pengap dalam! Siapa akan diserunya? Siapa leluhurnya? Lelaki yang luka melekat di punggung kuda. Tiada sumur bagai lukanya. Tiada dalam bagai pedihnya. Dan asap belerang menyapu kedua mata. Betapa kan dikenalnya bulan? Betapa kan bisa menyusu dari awan? Lelaki yang luka tiada tahu kata dan bunga. Pergilah lelaki yang luka tiada berarah, anak dari angin. Tiada tahu siapa dirinya didaki segala gunung tua. Siapa kan beri akhir padanya? Menapak kaki-kaki kuda
82 Puisi sebagai Sarana Berekspresi menapak atas dada-dada bunda. Lelaki yang luka biarkan ia pergi, Mama! Meratap di tempat-tempat sepi. Dan di dada: betapa parahnya (https://www.sepenuhnya.com/2018/01/puisi-balladalelaki-yang-luka.html) 2. Puisi Lirik Puisi lirik merupakan puisi yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan pribadi pengarang. Pada puisi ini pengarang menempatkan dirinya sebagai aku lirik atau orang yang dikisahkan di dalam puisi. Seluk beluk kehidupan penyair menjadi nilai tersendiri sebagai bahan penulisan puisi lirik. Semakin banyak pengalaman berharga seorang penyair merupakan nilai tambah yang bermanfaat untuk diuraikan dalam bentuk gagasan puisi. Contoh dari puisi lirik adalah elegi, serenada, dan ode. a. Elegi Elegi merupakan puisi yang mengungkapkan perasaan duka pribadi seorang penyair. Tentu kehidupan penyair tidak selalu bahagia karena perasaan duka tentu akan datang menghampiri. Perasaan pribadi inilah yang menjadi nilai daya tarik tersendiri bagi pembaca. HARI TERAKHIR SEORANG PENYAIR, SUATU SIANG
Mozaik Puisi 83 Di siang suram bertiup angin. Kuhitung pohon satu-satu Tak ada bumi yang jadi lain: daun pun luruh, lebih bisu Ada matahari lewat mengendap, jam memberat dan hari menunggu Segala akan lenyap, segala akan lenyap, Tuhanku Kemudian Engkau pun tiba, menjemput sajak yang tak tersua Siang akan jadi dingin, Tuhan, dan angin telah sedia Biarkan aku sibuk dan cinta berangkat dalam rahasia. (Goenawan Mohamad via Suryaman & Wiyatmi, 2012:83) b. Serenada Serenada berbanding terbalik dengan puisi elegi karena puisi serenada akan mengungkapkan perasaan bahagia seorang pengarang. Serenada dapat diartikan sebagai nyanyian yang tepat dinyanyikan di waktu senja. Serenada Hijau Kupacu kudaku Kupacu kudaku menujumu Bila bulan menegur salam dan syahdu malam bergantung di dahan-dahan Menyusuri kali kenangan yang berkata tentang rindu dan terdengar keluhan dari batu yang terpendam Kupacu kudaku Kupacu kudaku menujumu
84 Puisi sebagai Sarana Berekspresi Dan kubayangkan sedang kautunggu daku sambil kaujalin rambutmu yang panjang (W.S. Rendra sumber https://jateng.tribunnews.com/2020/09/10/puisiserenada-hijau-ws-rendra ) c. Ode Ode merupakan puisi yang menggambarkan rasa kagum penyair dengan seorang tokoh. Seorang sastrawan seperti halnya manusia pada umumnya memiliki sosok yang dikagumi dan menjadi inspirasi. Sosok tersebut bisa jadi karena berjasa untuk dirinya atau dirasakan pengaruhnya bagi masyarakat secara luas. Melalui puisi ode, seorang pengarang akan menguraikan gagasannya untuk memuji tokoh tertentu. Di bawah akan diberikan contoh puisi karya Sanusi Pane berjudul Teratai yang diutarakan sebagai bentuk kekaguman kepada tokoh Ki. Hadjar Dewantara TERATAI Dalam kebun ditanah airku, Tumbuh sekuntum bunga teratai, Tersembunyi kembang indah permai, Tidak terlihat orang yang lalu. Akarnya tumbuh di hati dunia, Daun bersemi laksmi mengarang, Biarpun ia diabaikan orang,
Mozaik Puisi 85 Seroja kembang gemilang mulia. Teruslah, o Teratai Bahagia, Berseri di kebun indonesia, Biar sedikit penjaga taman. Biarpun engkau tidak dilihat, Biarpun engkau tidak diminat, Engkaupun turut menjaga Zaman. (https://jateng.tribunnews.com/2020/10/13/puisi-terataisanusi-pane) 3. Puisi Deskriptif Puisi deskriptif merupakan puisi yang digunakan penyair dalam mendeskripsikan, menggambarkan, atau menguraikan hal-hal yang dianggap menarik dalam kehidupan mereka. Penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap peristiwa yang dipaparkan. Puisi ini cenderung berisi tanggapan seorang penyair terhadap suatu hal. Tanggapan tersebut dapat berupa kritik atau sindiran. Satire merupakan jenis puisi deskriptif yang isinya menyindir suatu hal yang oleh penyair dianggap menyimpang atau ganjil. Kritik sosial merupakan puisi yang menyatakan ketidaksenangan penyair terhadap seseorang dengan cara membeberkan ketidakberesan orang tersebut. Puisi impresionik mengungkap impresi kesan seorang penyair terhadap suatu hal. MESJID I Mesjid di kotaku pintu-pintunya selalu ditutup jika
86 Puisi sebagai Sarana Berekspresi malam, sebab takut perabot-perabotnya yang mewah akan hilang apakah Tuhan terkurung di dalamnya, memandang kita dari kaca jendela sambil melambai-lambaikan tanganya? Bapak imam yang memimpin orang-orang sembahyang, seperti punya keinginan untuk menjadi malaikat Tuhan, sehingga ia enggan untuk bergaul dengan banyak orang Sehari lima kali kepalanya menggeleng-geleng dan mulutnya mengucapkan macam-macam doa, dan orang-orang pun sehari lima kali menyebut ‖Amin!‖ di luar kepala Air muka mereka yang kosong, menggambarkan perasaan yang aman, sebab mereka menyangka Tuhan cukup dilayani dengan upacara-upacara sembahyang (Emha Ainun Nadjib via Suryaman & Wiyatmi, 2012:85) Nampak pada contoh puisi deskriptif di atas bahwa penyair berusaha mengkritik sebuah fenomena yang menurutnya ganjil dan tidak tepat. Kritik tersebut terlontar kepada para pengurus masjid yang menutup rapat-rapat masjid mereka karena khawatir ada barang yang hilang. Padahal sebenarnya di waktu malam bisa jadi ada orang yang membutuhkan tempat untuk beristirahat, ada yang ingin menumpang tidur, atau ingin menunaikan sembahyang.
Mozaik Puisi 87 Para pengurus seakan menjadi malaikat Tuhan dengan bertindak sesuka hati mereka. Dari paparan materi terkait jenis-jenis puisi di atas dapat kita ketahui bahwa puisi akan selalu mengalami perkembangan mengikuti perubahan zaman. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan dan selera masyarakat terhadap puisi yang selalu berubah, sehingga mau tidak mau pengarang harus mengantisipasi perubahan tersebut. Ketika orang-orang modern disajikan jenis-jenis puisi lama dengan kesan yang khas untuk menggurui maka tentu ketertarikan mereka akan rendah. Sebaliknya ketika mereka disuguhi contoh-contoh puisi modern yang banyak bercerita tentang perasaan hati pasti mereka lebih tertarik. Hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi puisi sebagai ungkapan hati penyair dapat tersampaikan kepada pembaca. Buktinya banyak pembaca yang merasa senang dan tentram ketika menemukan puisi dengan uraian masalah layaknya apa yang sedang mereka hadapi. Dari perkembangan puisi menurut waktunya dapat diambil kesimpulan bahwa puisi dibagi menjadi dua, yaitu puisi lama dan puisi modern. Pembeda utama dari kedua jenis puisi tersebut terletak pada berbagai aturan yang melekat di tubuh puisi. Puisi lama cenderung harus patuh terhadap berbagai aturan yang menjadi ciri khas jenis puisi ini, seperti jumlah baris, jumlah suku kata, sajak, dan isi puisi. Berbeda dengan puisi modern yang memiliki kecenderungan lebih bebas dari berbagai aturan-aturan penulisan puisi seperti puisi lama. Puisi modern juga tidak terkesan mendikte pembaca untuk mengikuti apa yang disampikan karena puisi ini lebih berupa ungkapan perasaan dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai moral tertentu. Karena kadar estetika penafsiran
88 Puisi sebagai Sarana Berekspresi masyarakat modern bisa berkurang dengan hadirnya nilai moral tertentu. Darma (2021:50) dalam sastra lama penonjolan moral memang dapat dibenarkan, tetapi estetika sastra modern berusaha untuk tidak menonjolkan moral. Dilihat dari cara penyair mengungkap gagasan diketahui bahwa puisi terbagi atas tiga jenis, yaitu puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif. Puisi naratif, merupakan jenis puisi yang berisi cerita penyair terhadap sebuah peristiwa yang menarik dan pantas diketahui banyak orang, seperti kisah kepahlawanan, romantisme, dan kisah tokoh perkasa. Puisi lirik, merupakan jenis puisi yang berisi ungkapan perasaan pribadi pengarang terhadap berbagai pengalaman hidup yang dilaluinya, seperti rasa senang, sedih, dan kekaguman penyair terhadap seorang tokoh. Puisi deskriptif, merupakan jenis puisi yang berisi gambaran perasaan pengarang terhadap berbagai fenomena yang dianggap ganjil dan dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan kritikan.
Mozaik Puisi 89 MENGENAL PUISI SEBAGAI SARANA BEREKSPRESI
90 Puisi sebagai Sarana Berekspresi BAB V MENGENAL PUISI SEBAGAI SARANA BEREKSPRESI A. Puisi sebagai Sarana Berekspresi Sebagaimana dipaparkan pada penjelasan di atas, dapat dipahami bahwasannya puisi merupakan rangkain katakata yang disusun dengan mempertimbangkan aspek keindahan dengan memperhatikan makna yang terkandung di dalamnya. Puisi digunakan oleh seorang penyair untuk mengungkapkan perasaan hati yang dialami oleh penulis. Tidak dapat dipungkiri bahwasannya setiap pengarang tentu memiliki latar suasana hati yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, munculnya berbagai contoh puisi dari pengarangpengarang kenamaan Indonesia merupakan bentuk ekspresi hati mereka yang cukup banyak berpengalaman merasakan asam manis kehidupan. Di dalam dunia sastra sebuah karya disusun atas dasar ekspresi seorang pengarang, sehingga di akhir memunculkan sebuah kritik yang disebut kritik ekspresif. Karya sastra merupakan bentuk ekspresi seseorang yang menunjukkan perasaan hati, pikiran, dan pandangan dalam berbagai hal yang mereka jalani. Susunan kata-kata yang dibuat merupakan bentuk curahan perasaan yang mungkin mengganjal di dalam hati, sehingga perlu disingkirkan. Melalui karya sastra khususnya puisi maka perasaan seseorang yang sejatinya mengganjal dan mungkin hanya menjadi bualan di mulut-mulut akan menjadi karya yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.
Mozaik Puisi 91 Tentunya para pembaca sudah tidak asing lagi dengan berbagai contoh puisi yang disusun atas dasar pengalaman seseorang. Katakan misalnya puisi era penjajahan yang ditulis supaya membangkitkan semangat perjuangan masyarakat. Contoh yang lain misalnya dalam dunia religi maka seorang pengarang akan menyusun kata-kata yang dapat membangkitkan semangat masyarakat untuk gemar beribadah. Oleh sebab itu, keberadaan puisi merupakan bentuk ekspresi dari seorang pengarang yang tidak dapat dipisahkan dari ranah kehidupan di realitasnya. Bahkan tidak jarang dijumpai judul-judul puisi yang disusun sebagai bentuk penghormatan kepada pasangan yang telah meninggal. Di atas tentu sudah dibaca bahwasannya puisi terdiri atas beberapa jenis sesuai dengan cara pengarang mengungkapkan perasaannya. Disebutkan juga bahwa puisi merupakan sarana yang dapat digunakan untuk menceritakan suatu hal yang oleh pengarang dapat dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman. Rangkaian kata-kata yang disusun sedemikian menarik dan mempertimbangkan aspek estetikanya menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi seluruh pembaca. Tentunya dalam menulis puisi seorang pengarang selalu dituntut untuk mempertimbangkan aspek keindahannya. Hal itu dikarenakan tujuan utama penulisan karya sastra adalah dinilai dari segi keindahan atau estetika dan kemudian dengan tidak meninggalkan aspek makna yang terkandung di dalamnya. Susunan bahasa yang di indah dengan pendayaan rima, irama, bunyi, dan unsur pembangun yang lain tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembaca. Penggunaan bahasa yang imajinatif juga menjadi nilai tersendiri dalam
92 Puisi sebagai Sarana Berekspresi sebuah puisi yang menarik perhatian para pembaca. Seringkali dijumpai bentuk-bentuk puisi yang disusun dengan bahasa yang sulit sekali untuk dipahami seperti puisi prismatis karena digunakan diksi-diksi konotatif yang sangat sulit dimaknai. Tentunya susunan kata tersebut tidak hanya muncul begitu saja tanpa makna yang terkandung di dalamnya. Namun, susunan tersebut merupakan ilham bagi seorang pengarang dalam menguraikan perasaan hati yang dikandungnya. Keberadaan puisi sebagai sarana untuk berekspresi memang menempati posisi yang istimewa lantaran kebermaknaan puisi untuk menguraikan perasaan hati seseorang. Banyak dijumpai orang yang meluapkan emosi mereka dengan cara-cara yang salah dan dapat merugikan dirinya sendiri atau orang lain lantaran sudah tidak tahan menyimpan perasaan itu. Di sinilah puisi hadir untuk memberikan solusi bagi setiap orang yang tentu memiliki berbagai bentuk masalah pribadi yang cukup pelik dan kompleks sehingga perlu dikeluarkan supaya tidak mengganjal dan menjadi beban. Puisi hadir untuk memfasilitasi mereka yang membutuhkan sarana berekspresi daripada harus meluapkan emosi dalam hal-hal yang tidak berfaedah bahkan dapat merugikan dirinya maupun orang lain. Seseorang dapat menguraikan perasaan dalam bentuk rangkaian kata-kata yang disusun dengan indah sehingga rasa yang mengganjal di dalam hati perlahan mulai menghilang bersama jalinan kata yang disusun dalam puisi. Selain itu, siapa tahu puisi yang mereka susun juga dapat mendatangkan manfaat untuk dirinya dan orang lain. Bisa jadi kumpulan puisi yang mereka susun dapat dijadikan sebagai sarana memperoleh penghasi-