The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kisah Guru di Masa Pandemi.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by aminwibowo87, 2021-05-01 04:22:58

Sebatas Layar

Kisah Guru di Masa Pandemi.

Keywords: Dare to speak

Amin Wibowo, Dewi Saripah, Deyanatri Widanti,
Dinda Rahmayani, Diyah Kurnia Halim, Erna Sariningsih,

I'ah Sutiah, Kemsriyati, Kusmiati Umar Syarif,
Mardiani, Marwiaty Djafar, Mila Fauzi Amalia,

Nenden Hazrianthi, Ni Putu Asmaraningsih,
Nining Suryaningsih, Nur Arif Nurudin, Samroh,
Selfya Nugrahaeni, Siti Sa'adah, Tuti Suryati, Yuliawati Madu

SEBATAS
LAYAR

Kisah Kami di Masa Pandemi

Judul:
SEBATAS LAYAR
Kisah Kami di Masa Pandemi

Penulis:
Amin Wibowo, Dewi Saripah, Deyanatri Widanti,
Dinda Rahmayani, Diyah Kurnia Halim, Erna Sariningsih,

I'ah Sutiah, Kemsriyati, Kusmiati Umar Syarif,
Mardiani, Marwiaty Djafar, Mila Fauzi Amalia,
Nenden Hazrianthi, Ni Putu Asmaraningsih,
Nining Suryaningsih, Nur Arif Nurudin, Samroh,
Selfya Nugrahaeni, Siti Sa'adah, Tuti Suryati, Yuliawati Madu

ISBN: 978-623-7228-69-1

Editor: Ivananda Vayaz
Penata letak: ym_creator
Desain cover: trance_worker
Bahan Ilustrasi cover: google.com

Copyright © YM Publishing, 2021
145 hlm, 14,8 x 21 cm

Cetakan Pertama, April 2021

Diterbitkan oleh
Yayasan Mujaddid
Jl. Gabuswetan No. 129 Indramayu 45263
Email: [email protected]

Anggota IKAPI

Dicetak dan didistribusikan oleh
YM Publishing

Bandung Barat 40553
nulisbuku14.blogspot.com

WA 0856 2431 1544

Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19
PASAL 72 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

Kata Pengantar

Mengalami berbulan-bulan masa pandemi adalah
kenyataan. Dunia persekolahan terpengaruhi. Guru terjebak
dalam on line learning yang suka tidak suka harus dijalani. Walau
demikian untuk setiap kejadian pasti Tuhan sertakan sebuah
hikmah kebijaksanaan. Guru-guru pun berkreasi mengeluarkan
segenap kemampuan diri agar pembelajaran tetap menarik bagi
anak negeri.

Buku ini merupakan seri 2 dari seri antologi cerita dari 21
guru Bahasa Inggris Indonesia di berbagai jenjang tentang
bagaimana mereka mengakali pembelajaran saat pandemi
setelah seri 1 diluncurkan pada Februari 2021 dengan judul
MENOLAK MENYERAH.

Banyak pengalaman menarik dan unik yang dibagikan
agar generasi masa depan bisa tetap melakukan pembelajaran,
walau pertemuan dilakukan sebatas layar HP dan laptop. Itulah
sebabnya buku seri 2 ini diberi judul SEBATAS LAYAR.

Cerita dari berbagai penjuru negeri ini dibuat bukan
karena ingin terlihat bahwa guru itu hebat tapi bahwa guru tak
pernah bisa menyerah melihat keadaan. Semoga menjadi
inspirasi untuk para pembaca yang budiman.

31-03-2021
Koordinator Penulis,
Nining Suryaningsih

SEBATAS LAYAR | 3

4 | SEBATAS LAYAR

Daftar Isi

Kata Pengantar ..................................................................................3
Daftar Isi ............................................................................................5

BELAJAR MANDIRI - Amin Wibowo ..................................................7
MENDADAK JADI YOUTUBER - Dewi Saripah ................................15
PENGEMBANGAN KERANGKA ATAP - Deyanatri Widanti, S.E.......22
TENTANG OMAS - Dinda Rahmayani...............................................29
FOTO LEMBARAN TANPA NAMA - Diyah Kurnia ............................35
JADI PENYIAR RADIO, SIAPA TAKUT? - Erna Sariningsih ...............41
SENSASI BELAJAR DENGAN GAMBAR - I’ah Sutiah .......................48
TONJAMEKO, ALTERNATIF BELAJAR TELLING TIMES
DI ERA PANDEMI - Kemsriyati .........................................................55
READ ALOUD OBAT MUJARAB UNTUK MURID PEMALU -
Kusmiati Umar Syarif ........................................................................66
MENANTI VIDEO CALL-MU - Mardiani ............................................72
SENYUMANMU KURINDUKAN - Marwiaty Djafar .........................78
KELAS DARINGKU BEGINI - Mila Fauzi Amalia ...............................85
PENGALAMAN MENGAJAR BAHASA INGGRIS SAAT PANDEMI -
Nenden Hazrianthi............................................................................92
SALAH SETING JADI SALTING - Nining Suryaningsih ......................97

SEBATAS LAYAR | 5

PILAH PILIH KEGIATAN MENULIS, YAHHH DICOBA SAJA DULU -
Ni Putu Asmaraningsih ...................................................................103
BERDAMAI DENGAN PANDEMI, MEMANG BISA? -
Nur Arif Nurudin .............................................................................110
KASMARANKU PADA HP YANG MENGURAS HATI - Samroh ......117
SAPA TANPA JUMPA: KAMI DI MASA PANDEMI -
Selfya Nugrahaeni...........................................................................121
SEMANGAT BELAJAR DENGAN KETERBATASAN DI MASA
PANDEMI - Siti Sa’adah..................................................................128
KREATIVITAS: SATU KATA BERJUTA MAKNA -
Tuti Suryati, S.Pd.............................................................................134
BERBAGI LEMBAR BELAJAR - Yuliawati Madu.............................140

6 | SEBATAS LAYAR

BELAJAR MANDIRI

Amin Wibowo

Guru dan pendidik mencari tahu berbagai macam
tools untuk pembelajaran selama pandemi.
Mereka ingin menerapkannya sebaik mungkin
kepada siswanya. Bapak/Ibu guru juga telah mempelajari
berbagai jenis pengajaran dan pembelajaran online. Saya
seorang guru Bahasa Inggris di SMP 42 Semarang. Saya
menerapkan proses belajar mengajar online sebelum pandemi
melanda Indonesia dan seluruh dunia pada Desember 2019.
Awalnya, saya menggunakan kahoot, quizizz, Google Form
untuk memantau pemahaman siswa. Dengan aplikasi
tersebut penyusunan tugas, mendistribusikan tugas, memantau
serta menilai tugas siswa dapat dengan mudah dilakukan. Ada
keterlibatan siswa, laporan individu, perkembangan setiap kelas
dan analisis pertanyaan-pertanyaan secara individu dan rata-
rata kelas. Selain itu, saya selalu menggunakan pembelajaran
online karena menghindari pemborosan kertas dan menjaga
lingkungan. Saya memiliki pengalaman khusus di sekolah saya
terkait dengan platform pengajaran dan pembelajaran online.
Sebenarnya, tim kurikulum sekolah telah menetapkan
Microsoft Office 365 sebagai aplikasi yang digunakan. Namun
demikian, masih banyak kelemahan di sana sini dalam
penerapannya seperti hanya terbatas jumlah siswa yang bisa
mengakses soal online, terbatasnya tempat penyimpanan
karena menggunakan Ms. Office 365 standar. Hal itu menjadi

SEBATAS LAYAR | 7

kesempatan saya memperkenalkan sebuah pembelajaran
online yang bisa di desain dalam Learning Management System
Google Classroom di mana pemerintah telah memberikan akun
[email protected].

Pada bulan Maret 2020, Bapak/Ibu guru di Indonesia
terkejut karena harus mengubah rencana tatap muka
menjadi pengajaran online. Bapak/Ibu guru harus belajar
banyak cara untuk mengajar secara online. Banyak guru yang
berusia 50 tahun lebih mengalami kesulitan dalam
mengaplikasikan sebuah platform belajar online misalnya lupa
tentang instruksi platform, fitur-fitur, operasional, dan banyak
alasan yang sulit untuk diajarkan melalui online.

Sebagian besar Bapak/Ibu guru di Indonesia belum
menggunakan platform online seperti Quizizz, Kahoot,
Menti.com, Padlet, Ms. Teams 365, Ruang Guru, Rumah Belajar,
LiveWorksheet, Quizlet, Canvas dan lain-lain. Setiap platform
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, terutama
dari sisi kemudahan penggunaan, harga, kuota, dan lain-lain.
Banyak kursus bahasa Inggris dengan media sosial seperti
English 101.com, Interactive English, namun hanya sebagian kecil
siswa mengikuti kursus tersebut.

Tantangan selanjutnya sebagian besar siswa bosan
dalam proses belajar mengajar secara online. Banyak faktor
yang menyebabkan kebosanan belajar jarak jauh bisa
disebabkan faktor internal, misalnya siswa kurang memiliki
minat dan semangat belajar online dan faktor eksternal
kurangnya fasilitas belajar di rumah, kurangnya pendampingan
orangtua kepada putra-putrinya saat belajar online, Bapak/Ibu
guru belum menggunakan berbagai cara mengajar online,
Bapak/Ibu belum melibatkan partisipasi siswanya dalam
proses belajar mengajar. Sebagian besar Bapak/Ibu guru
mengajari siswa dengan satu aplikasi pembelajaran online.

8 | SEBATAS LAYAR

Mereka tidak memiliki alternatif platform yang lain, kurang
memotivasi siswa dengan menggunakan ice breaker untuk
mengajar, apersepsi, dan cara mengajar pembelajaran yang
menyenangkan.

Suatu hari, saya mendapat informasi pendaftaran
Language Improvement Course yang diselenggarakan oleh
Universitas Sheffield United Kingdom England bekerja sama
dengan Teaching English Foreign Language in Indonesia
(TEFLIN) British Council pada bulan Desember 2020. Kursus
akan dimulai bulan Januari dan akhir Maret 2021. Saya mendapat
email dari TEFLIN untuk mengikuti kursus online Language
Improvement Course. Saya mendapat username dan password
untuk bergabung dengan kursus online tersebut. Saya sangat
senang ketika belajar dan mengajar bahasa Inggris kepada siswa
melalui pelatihan online. Ada banyak pelajaran yang diperoleh
dalam kursus tersebut. Belajar dengan menyenangkan karena
diberi kesempatan belajar sesuai dengan kecepatan dan
kemampuan memahami materi, dapat mengulang materi yang
belum dipahami, diberikan waktu yang cukup untuk
mengerjakan semua pelatihan online. Language Improvement
Course memberikan pengenalan perbendaharaan kata,
memprediksi kata, menyusun kalimat, melengkapi kalimat
rumpang, menjodohkan kata, drag and drop, menganalisa kata,
phrase, berkolaborasi dengan Google Docs, whatsapp group,
merekam sampai melakukan dan melakukan refleksi.

Kursus Peningkatan Bahasa TEFLIN dimulai Unit O berisi
pengantar kursus. Halaman pertama bertuliskan, “Selamat
datang di kursus Language Improvement Course.“ Unit
perkenalan pertama ini sangat singkat untuk menyelesaikannya.
Di unit 0 kita belum mulai belajar bahasa Inggris. ” Unit ini
menanyakan hal-hal yang sering ditanyakan (Frequenlty Asked
Questions).

SEBATAS LAYAR | 9

Unit 1 berbicara tentang diri sendiri dan orang lain. Ini berisi 11
topik seperti mempersiapkan unit, menyapa peserta didik,
memulai pelajaran, berbicara tentang kegiatan sehari-hari kita,
dan lain-lain. Ada 8 unit yang berkesinambungan baik secara
konten atau konteks yaitu Unit 0, Introduction of the Course.
Unit 1, Talking about yourself and others. Unit 2, Education and
Works. Unit 3, Places and Travel. Unit 5, Food and Healthy Living.
Unit 6, Language. Unit 7, Telling Story. Dan unit 8, Future Plan.

Saya tertarik belajar menggunakan platform kursus
online tersebut karena dilengkapi materi dan instrukturnya
yang menarik. Setiap kelompok memiliki dua instruktur. Hal Ini
mengembangkan pengajaran online menggunakan
pengelompokan. Ada jadwal antara sinkronous dan
asinkronous. Minggu pertama peserta pelatihan mempelajari
tentang unit 0 sampai unit 2 setiap hari Selasa dengan
panduan instruktur melalui Zoom.

Pendampingan belajar online menggunakan WhatsApp
dan Zoom untuk berinteraksi satu sama lain. Peserta pelatihan
dapat mengulang dan melanjutkan, tergantung pada kecepatan
dan kompetensi peserta pelatihan. Ini adalah kurikulum yang
sangat adaptif, berbasis siswa. Kursus Peningkatan Bahasa
TEFLIN telah dirancang semudah mungkin. Hal Ini merancang
empat keterampilan bahasa: mendengarkan, berbicara,
membaca, dan menulis. Keterampilan mendengarkan adalah
penekanan pertama untuk mempelajari bahasa seperti ibu
mengulang untuk mengucapkan "ibu" setiap saat sehingga
anak akan selalu mendengar. Langkah selanjutnya dia dapat
mendengarkan kata "ibu" dengan baik dan sempurna. Bahasa
adalah pengulangan dan latihan setiap waktu dan setiap hari.

Tujuannya untuk memperkenalkan diri satu sama lain
menggunakan whatsApp group, memastikan kita tahu cara

10 | SEBATAS LAYAR

menggunakan situs web, dan juga memikirkan cara terbaik
untuk belajar online secara efektif. Anda dapat memulai unit
dengan mengklik, tujuan pembelajaran, topik pertama di bagian
bawah halaman Komunitas whatsApp Anda.

Saya mendapatkan inspirasi pengajaran dan
pembelajaran online selama pandemi. Ini menunjukkan kepada
kita bahwa pelatihan online berisi materi yang sangat
membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan bahasa
Inggris. Saya mencoba merancangnya ke dalam pelatihan online
saya sendiri untuk siswa saya. Ini terkait materi dan level
mereka. Https://amin-s-school-4ff5.thinkific.com/enrollments
adalah uji coba pengajaran dan pembelajaran online saya
dengan lebih lengkap. Dapat dihubungkan ke Google Docs,
Google Slide, LiveWorksheet,Google Meet dan Google
Classroom.

Beberapa siswa mencoba mengakses pelatihan online
sesuai jadwal. Setelah mereka mempelajari materi, saya juga
bergabung dengan Google Meet. Untuk ini, saya memandu
mereka menggunakan komunitas whatsApp group. Mereka
dapat membagikan presentasi atau rekaman mereka di sana
dan yang lainnya saling menanggapi. Saya menghargai belajar
berpusat pada siswa dan menggunakan beragam kegiatan
tugas yang mengembangkan cara berpikir kritis.

Guru dan pendidik tidak cukup memberikan tugas tetapi
juga mengajar dan belajar lebih penting karena memperhatikan
proses pembelajaran itu jauh lebih penting daripada dengan
sekedar menyelesaikan tugas. Guru tidak bisa digantikan oleh
teknologi, tetapi teknologi di tangan guru yang hebat akan
menjadi sebuah perubahan.

Https://amin-s-school-4ff5.thinkific.com/enrollments
adalah salah satu proyek saya untuk berkolaborasi dengan
platform lain agar dapat diterima dan mengembangkan belajar

SEBATAS LAYAR | 11

online yang variatif. Saya mengumpulkan semua

pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Saya

mengikuti banyak seminar online untuk menemukan cara

belajar yang demokratis yang berpihak pada siswa. Pengalaman

belajar ini sangat berguna bagi siswa dan guru karena ada

sebuah proses belajar meskipun dilaksanakan jarak jauh. Siswa

merasa bebas untuk belajar sesuai dengan kemampuan dan

kecepatan belajar melalui platform belajar online selama

pandemi. Sebagai orangtua dapat melihat platform ini untuk

mendorong siswa dalam meningkatkan kemampuan bahasa

Inggris.

Saya tidak perlu menyiapkan materi setiap minggu

dalam pengajaran online, tetapi sudah mencakup semua materi

satu semester. Saya hanya mengoreksi dan memeriksa kuis

kecil, tugas, dan materi. Pembelajaran Jarak Jauh yang

menyenangkan karena merujuk dengan program pemerintah

mengembangkan cara berpikir kritis siswa. Sesuai dengan

Asesmen Kompetensi Minimum yang memiliki berbagai macam

pertanyaan seperti checkbox, pilihan ganda, drag and drop,

uraian singkat dan lain-lain.

Saya juga menggunakan kolaborasi dengan platform lain

seperti kuis, Google Form, Google Slide, Google Site, Google Docs,

LiveWorksheet. Siswa sangat senang karena dapat dioperasikan

di laptop, ponsel atau komputer mereka.

Saya berharap siswa memanfaatkan platform ini dan

mereka belajar dengan senang hati. Tidak ragu-ragu untuk

belajar dan mempelajari kursus perbaikan bahasa Inggris yang

berkaitan dengan bahasa kontekstual. Saya merancang materi

berdasarkan profil, situasi, kebiasaan, dan budaya Bangasa

Indonesia seperti keterampilan hidup siswa dan mulai dari

materi yang lebih mudah ke materi yang sulit.

12 | SEBATAS LAYAR

Akhirnya untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya
menggunakan platform pengajaran dan pembelajaran online
sebagai sistem Manajemen Pembelajaran. Ini mencakup
konten, konteks, dan merangsang keterampilan berpikir kritis
siswa yang lebih tinggi dengan menggunakan berbagai jenis
pertanyaan.

SEBATAS LAYAR | 13

Profil Penulis

Amin Wibowo, S.Pd.

dilahirkan di Kota

Semarang. Tepatnya di

Desa Palebon RT 11 RW 27,

Kelurahan Palebon,

Kecamatan Pedurungan,

Jalan Soekarno Hatta,

pada tanggal 8 JuIi 1977.

Merupakan anak ke-2 dari

4 bersaudara dari

pasangan Soerdarso dan

Bardijem. Kini ia tinggal di

Jalan Syuhada Raya No14E

RT 1 RW 2 Kelurahan

Tlogosari Wetan

Kecamatan Pedurungan

Kode Pos 50196 Kota Semarang. Amin menempuh pendidikan

dimulai dari SD Negeri Tlogosari Kulon 04 (lulus tahun 1990),

SMP Al-Azhar Semarang (lulus tahun 1993), SMK Negeri 8

Semarang (lulus tahun 1997), IKIP PGRI Semarang (lulus tahun

2001). Ia adalah guru SMPN 42 Semarang yang mempunyai hobi

membaca dan berolahraga. Ia memiliki cita-cita agar

hidupnya bermanfaat bagi orang di sekitarnya, agama,

bangsa, dan negara. Juga bisa menjadi orang yang berani

membela yang benar untuk menjadi besar. Ia bisa dikunjungi

juga di https://aminthediary.blogspot.com/.

14 | SEBATAS LAYAR

MENDADAK
JADI YOUTUBER

Dewi Saripah

https://youtu.be/BW6XfXIFcmE

Awal pandemi Covid-19 melanda negeriku membuat
pikiranku benar-benar kalut. Apalagi setelah kubaca
beberapa artikel-artikel on line yang menyatakan
bahwa pandemi ini akan berlangsung sampai dua tahun yang
akan datang. Apa yang harus kulakukan saat ini? Bagaimana bisa
aku mengajar pada siswa-siswiku dalam kondisi seperti ini? Saat
ini aku bisa tenang karena materi Bahasa Inggris untuk kelas IX
telah selesai. Lalu, bagaimana dengan tahun ajaran baru nanti?

SEBATAS LAYAR | 15

Aku tidak begitu menguasai teknologi untuk dapat
melaksanakan PJJ dengan maksimal. Di tengah kebingungan
dan kejenuhan, aku menemukan informasi pelatihan dan
seminar daring tentang pembelajaran berbasis IT untuk masa
PJJ. Untuk memenuhi rasa ingin tahu aku memberanikan diri
untuk mengisi setiap link pendaftarannya. Melalui pelatihan
inilah aku menemukan betapa teknologi itu sangat
menyenangkan. Meskipun masih kaku dan baru dengan virtual
meeting melalui cisco webex atau Zoom. Namun aku sangat
menikmati proses pembelajarannya. Aku, di usiaku yang ke-40
tahun ini telah belajar mengenal desain canva, berbagai aplikasi
meeting on-line, Google Classroom, dan berbagai aplikasi ujian
on-line seperti Google Form ataupun Quizziz serta pemanfaatan
youtube sebagai media pembelajaran. Berbekal pengetahuan
baru yang kudapat, aku pun lebih percaya diri menghadapi PJJ
pada tahun ajaran baru.

Akan tetapi, pelaksaan PJJ ternyata bukan hal yang mudah
bagi kami yang bertugas di daerah. Apalagi mayoritas siswa-
siswiku berasal dari keluarga menengah ke bawah. Bukan hanya
masalah siswa yang tidak memiliki android, tapi lokasi rumah
mereka yang berada di perbukitan, tidak begitu bersahabat
dengan jaringan internet. Pantang berpatah arang, langkah
pertama kulakukan. Pada awal semester aku membuat 6 group
WAG English Class untuk kelas IX A sampai kelas IX F.
Kesimpulanku saat itu WA adalah satu-satunya aplikasi yang
telah dipahami oleh semua siswa, sehingga kami akan lebih
mudah berkomunikasi di sana. Lalu dengan penuh semangat
aku membimbing mereka membuat akun G-mail sendiri dan
menginstall aplikasi Google Meet. Mereka begitu antusias pada
saat aku mengumumkan bahwa materi pertama kelas IX
semester 1 mengenai Expressing Congratulation akan

16 | SEBATAS LAYAR

kusampaikan lewat Google Meet. Barangkali selama ini, kegiatan
video conference hanya mereka lihat lewat tayangan TV dan ini
benar-benar pengalaman pertama bagi mereka. Mereka
tercengang ketika paparan materi kusajikan lewat power point
yang kudesain dengan canva. Apalagi ketika contoh-contoh
dialognya ditayangkan dalam bentuk video. Semuanya takjub
karena seolah-olah berhadapan langsung dengan ibu guru dan
teman sekelasnya padahal jarak mereka berjauhan. Tiba-tiba
seseorang menyalakan microphone-nya dan berkata, ”Bu, suara
ibu tidak kedengaran.” Aku pun menjawab, ”Mungkin jaringan
di tempatmu buruk, Nak. Coba cari tempat yang sinyalnya lebih
bagus,” jawabku. Dia menjawab lagi, “Saya dari tadi pindah
terus, Bu. Sekarang sudah ada di teras loteng tetangga.”
Serentak kami semua tertawa mendengarnya. Pada virtual
meeting kelas berikutnya, tiba-tiba seorang anak berkata, ”Bu,
power pointnya tidak muncul di layar.” Tak lama sesudah itu
beberapa anak menghilang dari layar laptopku, raib entah ke
mana. Kejadian serupa terulang lagi di 5 kelas yang lainnya.
Kekecewaanku bertambah saat membuka link presensi yang
kubagikan. Dari rata-rata kelas yang dihuni oleh 38-40 siswa,
jumlah siswa yang bisa mengikuti pembelajaran virtual lewat
google meet hanya sekitar 26-28 orang. Ke mana siswa-siswiku
yang lainnya? Padahal nomer kontak mereka aku simpan di
androidku. Aku mencoba bertanya pada mereka di group.
Kebanyakan dari mereka tidak memiliki HP sendiri dan
menggunakan HP orang tua atau kakaknya. Pagi hari saat orang
tua atau kakak mereka bekerja dan membawa HP tersebut ke
tempatnya bekerja, maka mereka tidak bisa mengikuti
pembelajaran. Beberapa murid juga berkata, “Di rumah mereka
hanya ada 1 unit HP yang digunakan untuk 4 orang anak usia
sekolah.” Tak jarang mereka berebut karena masing-masing
memiliki kebutuhan yang sama pentingnya. Bahkan yang lebih

SEBATAS LAYAR | 17

menyedihkan dari sebagian muridku, di rumah mereka itu, tak
ada seorang pun yang memiliki HP.

Aku mencoba mencari jalan keluar dari masalah rumit ini
dengan berkonsultasi pada kepala sekolah. Beliau menyarankan
untuk membuat modul pembelajaran supaya siswa yang tidak
bisa belajar daring tidak kehilangan hak mereka untuk belajar.
Segala daya upaya akan kulakukan agar siswa-siswiku bisa
belajar. Penjelasan materi secara tertulis kucantumkan pada
modul pembelajaran, penjelasan materi secara audio
kusampaikan lewat voice note dan penjelasan materi secara
visual kusampaikan lewat power point.

Tetapi semuanya terasa belum cukup bagiku. Aku mulai
berpikir bagaimana caranya bisa menjelaskan materi secara
audio visual tanpa dibatasi oleh waktu. Akhirnya munculah ide
untuk membuat video pembelajaran. Dengan bantuan
beberapa rekan akhirnya aku memberanikan diri membuat
video pembelajaran dan menunggahnya ke youtube, supaya
dapat disaksikan oleh siswa-siswiku kapan saja dan di mana saja.

Pemaparan materi dari mulai kegiatan pembuka kegiatan
inti dan kegiatan penutup kuuraikan dalam sebuah story board.
Aku pun mencari beberapa bahan penunjang seperti animasi
dan mp3 yang kuambil dari berbagai sumber. Aku coba
mengatasi kegugupanku bicara di depan kamera. Sedikit demi
sedikit kukuasai aplikasi editing video Kine Master yang
membuat tampilan materiku lebih menarik. Aku mulai
mengeksplor kreativitasku agar channel youtubeku tak terlihat
membosankan. Karya pertamaku tentang Expressing
Congratulation, hope and wish telah terunggah. Alhamdulillah,
tidak hanya siswa-siswiku, rekan-rekan guru, dan sahabat-
sahabatku pun berkenan menjadi subscriber. Hal ini sangat

18 | SEBATAS LAYAR

memotivasiku untuk melanjutkan karya kedua, ketiga, dan
selanjutnya. Banyak juga dari mereka yang memanggilku
dengan ”Youtuber dadakan”. Entah itu pujian atau ledekan, tapi
kuabaikan saja dan terus melangkah menyiapkan video
berikutnya.

Pembuatan video pembelajaran sangat melelahkan,
seringkali kuhabiskan waktu sampai tengah malam pada saat
proses editing kulakukan. Akan tetapi aku puas karena dengan
video ini waktu belajar lebih fleksibel buat siswa-siswiku.
Mereka pun bisa mengunduhnya dan menyaksikan berulang-
ulang jika merasa ada materi yang belum dipahami. Meskipum
tak sedikit dari mereka yang mengeluh, karena aplikasi youtube
cukup menyedot paket datanya. Akhirnya kuyakinkan mereka
bahwa menuntut ilmu pun butuh pengorbanan. Sisihkan uang
jajan kalian untuk membeli paket data.

Aku meyakini benar firman Allah SWT dalam QS Al Insyirah
ayat 5 yang menyatakan bahwa sesungguhnya akan ada
kemudahan di balik semua kesulitan. Banyak hikmah, berupa
ilmu dan pengalaman serta sahabat guru Bahasa Inggris dari
seluruh Indonesia kudapatkan selama masa sulit ini. Begitulah
suka dukaku menjadi guru di daerah selama masa pandemi. Tak
ada rotan akar pun jadi. Tanpa tatap muka belajar tetap berarti.
Akan kuusahakan segala bentuk ikhtiar agar siswa-siswiku tidak
kehilangan masa belajar, meskipun aku harus mendadak jadi
youtuber.

SEBATAS LAYAR | 19

20 | SEBATAS LAYAR

Profil Penulis

Penulis memiliki nama
lengkap Dewi Saripah, M.Pd.
Lahir di Garut, 23 November
1979. Lulus dari Program
Studi Pendidikan Bahasa
Inggris STKIP Garut pada
tahun 2003, dan melanjutkan
studinya di Sekolah Pasca
Sarjana IPI Garut Program
Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia dan lulus
pada tahun 2018. Saat ini aktif
sebagai guru Bahasa Inggris
di MTs Al Rohmah Garut dan
menjabat sebagai ketua
MGMP B Inggris MTs Kabupaten Garut. Sejak kecil memiliki
ketertarikan yang cukup besar pada ilmu Bahasa dan Sastra,
karena itu penulis sangat menikmati profesinya sebagai guru
bahasa. Bagi pengagum Profesor Muhammad Surya ini, menjadi
guru bahasa adalah panggilan jiwa.

SEBATAS LAYAR | 21

PENGEMBANGAN
KERANGKA ATAP

Praktik Baik Pembelajaran

Deyanatri Widanti, S.E.

Have Fun dengan English Pioneer Application

Beragamnya latar belakang karakter, pekerjaan
dan ekonomi orangtua murid maka beragam pula
kendala yang dialami murid saat BDR, seperti
kendala jaringan internet dan perangkat yang tidak bagus.
Selain itu, kualitas peran pendampingan orang tua, perasaan
jenuh, dan takut bertanya juga menjadi tantangan. Belum lagi
bagi mereka yang tidak bisa mengikuti pembelajaran, karena
harus bergantian memakai laptop atau handphone.
Hal tersebut mempengaruhi semangat belajar murid
saat BDR. Murid mengalami penurunan hampir di setiap mata
pelajaran, jika dibandingkan saat belajar tatap muka. Ditambah
lagi pelajaran saya bahasa Inggris adalah pelajaran yang

22 | SEBATAS LAYAR

biasanya tidak disukai murid, sehingga pola pikir ini sering
mempengaruhi semangat belajar mereka saat di rumah.

Dari hasil diskusi saya dengan murid, mereka
mengungkapkan perasaannya selama melakukan BDR. Mereka
merasa jenuh saat menyimak penjelasan materi dari guru saat
Zoom Meeting, maupun hanya menonton video dan
mengerjakan soal di WA grup. Mereka pun lebih senang
menghabiskan waktu berselancar dengan gadgetnya daripada
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.

Setelah mengikuti pelatihan merancang media ajar di
Wardah Inspiring Teacher (WIT) saya baru memahami
pentingnya berempati. Saya mencoba memposisikan diri
menjadi murid, membayangkan apa yang membuat mereka
jenuh saat sekolah online. Tetapi, mereka lebih tertarik
berselancar dengan gadgetnya daripada belajar. Padahal kedua
kegiatan tersebut sama-sama online. Ternyata murid butuh
aktivitas yang melibatkan diri mereka ke dalam proses belajar
online, baik sinkronus dan asinkronus.

Hal tersebut menjadi tantangan bagi saya sebagai guru
bahasa Inggris yang berharap agar murid saya kembali antusias
belajar walau di rumah saja dan tanpa pendampingan. Saya pun
mendapat inspirasi dari rekan guru di Komunitas Guru Belajar.
Saat itu dia menggunakan platform Google Slide sebagai media
ajar yang diberikan saat BDR. Saya pun tertarik untuk
menggunakan media tersebut.

Saya pelajari selama berhari-hari dari channel YouTube
tentang Google Slide. Ternyata banyak sekali inspirasi yang saya
dapat dari channel YouTube. Hal yang paling menarik dari
tantangan merancang media ajar adalah saya menghabiskan me

SEBATAS LAYAR | 23

time saya untuk berselancar di YouTube setiap malam. Namun,
saya melakukannya dengan senang hati dan semangat.

Saya amati, tiru, dan modifikasi dengan ide-ide yang ada
dalam pikiran. Akhirnya, jadilah English Pioneer Application versi
saya. Nama Pioneer diambil dari judul buku Bahasa Inggris yang
dipakai di sekolah. Tujuan aplikasi ini adalah sebagai media
belajar murid saat PJJ online secara sinkronus dan asinkronus
yang melibatkan murid secara interaktif dengan minim
pendampingan orang tua dan guru di rumah.

Memanfaatkan Google Slide yang terhubung dengan
beberapa aplikasi/platform lain seperti video YouTube, game,
Quizizz, audio, link website ESL, Jamboard, puzzle, dan
infographic. Dari beberapa pilihan yang tersedia itu diharapkan
murid tergerak dan antusias untuk mengeksplor semua link
yang tersedia di dalamnya, sehingga semangat belajar bangkit
kembali.

Meski sudah saya siapkan sedetail itu, masih ada
tantangan lain yaitu murid yang tidak paham bahasa Inggris
tentu akan merasa sulit sekali memahami instruksi sebelum
melakukan aktivitas. Ada beberapa murid yang malas membaca
instruksi. Mereka tidak jarang melewati bagian pengantarnya
dan langsung ke bagian inti atau bagian lain yang lebih menarik.

Bersumber dari temuan tersebut, maka saya ciptakan
audio pada aplikasinya dengan 2 bahasa. Bahasa Inggris dan
bahasa Indonesia. Pada awalnya saya bersikeras menggunakan
audio dalam bahasa Inggris. Namun, setelah belajar berempati
dengan masalah yang murid hadapi, maka saya putuskan untuk
membuat audio dalam bilingual.

24 | SEBATAS LAYAR

Saat jadwal Zoom Meeting saya menyampaikan cara
penggunaan English Pioneer Application ini kepada murid.
Mereka tertarik, karena ini adalah hal baru untuk mereka. Saat
pertemuan lewat WA grup, mereka pun dapat melakukannya
sendiri tanpa pengarahan kembali, hanya melanjutkan tahap
berikutnya.

Aplikasi ini memiliki beberapa aktivitas yang harus
diselesaikan. Dalam aktivitas tersebut murid akan
mengeksplorasi ikon-ikon yang ada. Ada video materi,
permainan Quizizz, Wordwall, instruksi dalam bentuk audio,
infografis, diskusi lewat Jamboard, game via website ESL, dan
puzzle game. Murid diminta mengerjakan aktivitas 1 dan 2 dalam
1 sesi pertemuan, lalu mengisi form ketuntasan aktivitas serta
daftar hadir saat itu, dalam bentuk Spreadsheet. Bagian akhir
materi ada infografis dan review serta refleksi diri. Sebagai
bentuk apresiasi terhadap murid, saya juga menambahkan kata-
kata apresiasi, karena telah menyelesaikan materi dengan baik
di setiap akhir aktivitas.

Bagian paling seru dari aplikasi ini tentunya adalah game,
Quizizz, Wordwall, dan puzzle, karena mereka bisa berinteraksi
sambil belajar, bermain sekaligus berkompetisi dengan teman-
teman lain secara online. Bagian yang paling gereget buat
mereka adalah saat klik ikon-ikon yang ada. Hal tersebut
ditengarai karena susah mengkliknya ikonnya, sehingga mereka
geregetan. Belum lagi gangguan sinyal yang tidak stabil,
sehingga mengganggu konsentrasi atau kesenangan.

Perubahan yang saya amati setelah menggunakan
aplikasi ini di kelas online adalah murid jadi lebih aktif bertanya
tentang apa yang harus dikerjakan bagian selanjutnya setelah
bagian A, B, C, dst. Selain itu, tingkat kehadiran murid di Zoom

SEBATAS LAYAR | 25

Meeting untuk berpartisipasi aktif juga meningkat saat mereka
terlibat langsung menggunakan aplikasi tersebut.

Pengalaman yang paling berkesan saat menggunakan
aplikasi tersebut adalah saat kami memainkan puzzle bersama.
Awal permainan mereka dapat bekerja sama dengan baik.
Namun, pada permainan berikutnya mulai ada yang
mengacaukan permainan. Yah, mereka ingin menghibur diri dan
teman-temannya di sela permainan. Pengalaman yang tak kalah
menarik adalah saat saya menambahkan gamification di
Formative Test bertema game online Among Us suasana menjadi
lebih heboh, karena kaget dan antusias dengan Among Us versi
saya. “Seru, Ms!” kata mereka. Jadi suasana Formative Test lebih
menyenangkan dari biasanya.

Murid pun jadi lebih antusias saat ada penambahan
platform baru ke dalam aplikasi tersebut. Mereka jadi lebih aktif
bertanya atau penasaran lebih tepatnya, mengenai cara
memainkan/menggunakannya dibandingkan mengisinya. Pada
prinsipnya konsep sederhana tetapi cara penyampaiannya
menarik, maka akan mampu memberikan motivasi dan
menumbuhkan rasa antusiasme belajar mereka.

Berdasarkan masukan, kritik, dan saran dari angket yang
murid yang diisi secara online, pada umumnya mereka menyukai
aplikasi ini. Mereka menyukai hal-hal yang baru, mereka jadi
belajar hal-hal yang baru, tampilan yang menarik, serta senang
bisa berinteraksi satu sama lain. Maka rencana pengembangan
selanjutnya adalah penambahan secara bertahap platform
interaktif lainnya yang dihubungkan ke English Pioneer
Application, seperti Podcast, listening music, gamification,
Nearpod, dan Wakelet sebagai bagian dari materi dan
dokumentasi hasil kerja murid.

26 | SEBATAS LAYAR

Semoga aplikasi ini terus bermanfaat, baik saat
pembelajaran online maupun tatap muka dan dapat
diaplikasikan untuk mata pelajaran lain. Semangat berkarya,
berbagi, dan menginspirasi negeri untukmu, para guru!

Berikut tampilan English Pioneer Application
Link Google Slide https://bit.ly/Unit4_MyHouse

SEBATAS LAYAR | 27

Profil Penulis

Penulis adalah seorang ibu dari 4 orang
anak yang berprofesi sebagai Guru Bahasa
Inggris di SMPI Binakheir School, Depok.
Beliau juga seorang owner dari Rasharaz
Shop yaitu toko online di bidang fashion
ibu dan anak. Berlatar dari kedua orang
tua bersuku Jawa yang pindah ke Depok
sejak tahun 1981. Di tahun yang sama lahir
anak ketiga mereka bernama Deyanatri
Widanti, di tanggal 11 Januari.

Akrab dipanggil Ms Danti atau Teacher Danti oleh muridnya,
merupakan lulusan SMK Telkom Jakarta Barat tahun 1998, tepat
saat krisis moneter terjadi yang memaksa penulis untuk
melanjutkan kuliah tanpa persiapan maksimal. Namun berhasil
di terima di PTN UNSRI Palembang Jurusan Teknik Elektro tahun
1998.

Setahun kemudian penulis kembali ke Depok dan melanjutkan
pendidikan di Politeknik Negeri Jakarta (UI) Jurusan Teknik
Elektronika, selama 3 tahun. Penulis memilih mengajar di
sebuah kursus Nurul Fikri English Course di antara waktu
senggang kuliahnya. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas
Ekonomi UI Jurusan Manajemen Pemasaran, tahun 2002.

Saat ini penulis aktif di komunitas KGB Depok dan Read Aloud
Depok, serta rajin mengulik berbagai platform media ajar
seperti Google for Education dan Canva, serta
mempublikasikannya di medsos [email protected].

28 | SEBATAS LAYAR

TENTANG OMAS

Dinda Rahmayani

Aku melirik jam dinding, jarum pendeknya
menunjuk angka sebelas. Aku pun mulai
berkemas. Dari tadi, meskipun tatapanku tak
beranjak dari layar laptop, namun telingaku terus menangkap
suara dari mesin finger print yang mengucapkan terima kasih.
Pertanda teman-teman sejawatku sudah mulai beranjak pulang.

Yah, sejak awal tahun pelajaran baru kami para pendidik
yang bertugas di SMP Negeri 11 Prabumulih hadir di sekolah
setiap hari kerja dari pukul 07.30 WIB sampai dengan pukul 11.00
WIB. Kebijaksanaan Pemerintah Kota melalui Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan adalah agar lamanya kami di lingkungan kerja
tidak lebih dari empat jam. Tadinya pada awal tahun pelajaran,
pemkot merencanakan sekolah secara bertahap melakukan
pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol
kesehatan. Seluruh sekolah sudah dilakukan monitor dan
evaluasi tentang kelengkapan penerapan pembelajaran di masa
normal baru. Namun ketika zona daerah berubah menjadi zona
merah penyebaran Covid-19, maka pembelajaran tatap muka
pun ditunda.

Pembelajaran Jarak Jauh pun akhirnya masih tetap
berlangsung. Seperti saat ini, aku masih melaksanakan

SEBATAS LAYAR | 29

pembelajaran daring pada mata pelajaran Bahasa Inggris, subjek
yang kuampuh. Hari ini, aku memeriksa tanggapan pada link
google form yang kubagi tentang latihan pada Kompetensi
Dasar 3.7 yaitu membandingkan fungsi sosial, struktur teks, dan
unsur kebahasaan beberapa teks naratif lisan dan tulis dengan
memberi dan meminta informasi terkait fairytales, pendek dan
sederhana, sesuai dengan konteks penggunaannya. Dari dua
puluh empat orang siswa yang berada di kelas 9.2 tak
kutemukan tanggapan dari siswa yang bernama Omas Pratama.
Begitupun ketika aku menyapa anak-anak hari ini di WhatsApp
Group kelasnya. Beberapa anak tidak memberikan tanggapan
dan tidak ikut berdiskusi di WAG tersebut, pun anak yang
bernama Omas ini.

Sambil menyampirkan tas ransel yang lumayan berat ke
pundak, karena berisi laptop dan beberapa buku. Bayangan
anak tersebut jelas di benakku. Sosok yang lebih banyak diam di
kelasnya, ketika dulu pada pembelajaran tatap muka, sempat
mengundang tanya bagiku dulu. Ada apa dengan siswaku yang
satu ini? Mengapa begitu diam, tidak percaya diri, dan sering
terlihat menyendiri. Aku pernah bertanya pada teman
sekelasnya suatu saat. Pralingga namanya. “Mungkin dia malu,
Mam,” jawabnya. “Ada apa memangnya? Apa yang
membuatnya malu, Nak?” tanyaku lagi. “Dia, kan, waktu di SD
sering tidak naik kelas, Mam.”

Aku tertegun saat itu. Tidak bisa dipungkiri ketika
pembelajaran, aku tahu dia memang agak lamban. Bahkan
terkadang sangat sulit menguasai kompetensi yang sedang
kuajarkan. Namun aku tahu, dia sudah berusaha dengan sangat.

Hmm, tapi tidak berarti dia bisa bolos di kelasku apa pun
keadaannya, pikirku. Bukankah aku sudah membuat
pembelajaran yang kuampu ini sedemikian rupa, agar dapat

30 | SEBATAS LAYAR

dimengerti dan bermakna bagi anak-anak didikku. Selama
Pembelajaran Jarak Jauh ini aku merancang agar materi Bahasa
Inggris yang kuajarkan juga mampu mengembangkan
kecakapan hidup mereka. Misalnya ketika mengajarkan
Kompetensi Dasar mengenai The Procedural Text, setelah
berdiskusi di WAG kelas tentang fungsi sosial, struktur teks, dan
unsur kebahasaan teks tersebut. Aku mengajak anak-anak
untuk menuliskan teks prosedur singkat tentang kegiatan
mereka membantu orang tuanya. Yang putri boleh menuliskan
dan membuat video tentang cara-cara memasak nasi goreng
dan membuat segelas teh, misalnya. Atau yang putra melakukan
proyek menuliskan dan membuat video cara memperbaiki
pagar rumahnya atau kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya dapat
melatih kecakapan hidup mereka dan meringankan pekerjaan
rumahnya.

Sambil berjalan ke pintu gerbang sekolah, aku masih
menyempatkan diri mengirimkan percakapan di WAG kelas 9.2,
“Ingat yah, Nak. Kalian adalah pelajar. Jadi jangan sampai
pandemi ini menghilangkan jati diri kalian sebagai pelajar yang
kewajiban dan tugas utamanya adalah belajar!” Beberapa anak
menanggapi, “Okay, Mam. Yes, Mam. All right, Mam.” Namun
tak ada satu pun dari Omas.

Aku pun masuk ke dalam mobil jemputan yang
dikendarai suamiku. “Ayo, pulang,” kataku. “Ada apa, Ma. Kok
kusut, tuh, wajah?” sambil senyum suamiku bertanya. “Ini loh
pa, anak-anak didikku semakin kurang ajar saja. Seenaknya
mereka tidak mengirimkan tugas bahkan tidak aktif di
pembelajaran pada grup WA kelasnya,” jawabku sambil
bersungut.

Mobil kami terus berjalan melintasi perkebunan karet
yang memang membentang sepanjang perjalanan pulang. Yah,

SEBATAS LAYAR | 31

sekolah tempatku mengabdi ini terletak di sebuah desa yang
berjarak jauh dari pusat kota. Desa ini dikelilingi oleh
perkebunan karet, kebun sawit bahkan hutan.

Suamiku terus melajukan kendaraan kami, sampai
kemudian di depan mobil aku menangkap sosok seorang ibu
dengan jalan terpincang karena kakinya yang cacat dan tangan
kanan yang tidak sempurna. Namun sosok di depan ibu itu, yang
sedang mendorong gerobak berisi potongan karet alam hasil
sadapan yang membuat mulutku terlongo.

Dia adalah Omas. Siswa yang hari ini membuatku marah
dan emosi karena dia tidak mengirimkan tugas serta tidak aktif
di grup WA kelasnya. ”Stop!” kataku pada suamiku. Dia pun
menginjak rem mobil kami. Aku turun dan memanggil nama
anak itu. Dia kaget dan ketakutan. “Omas kenapa tidak
mengumpulkan tugasmu, Nak, dan tidak belajar daring hari ini?”
tanyaku. “Maaf, Mam. Aku membantu emak menyadap karet,”
jawabnya lirih.

Aku menatap mata ibunya, meminta penjelasan. “Iya, Bu
Guru. Omas membantu saya menyadap karet dan mengangkut
hasilnya pulang. Saya tidak bisa mendorong gerobaknya, Bu. Ibu
tahu sendiri, kaki saya pincang dan tangan saya juga tidak bisa
bekerja sempurna.” Ibu itu berkata sambil menunduk. “Sejak
bapaknya meninggal, hanya Omas yang bisa membantu saya
menyadap karet, Bu,” sambungnya lagi.

Hatiku seakan tertohok. Aku berusaha mengajarkan
berbagai kompetensi sesuai KD pada silabus dan kurikulum
pada anak ini dan terkadang dia tidak mampu menguasainya.
Namun kompetensi sesungguhnya dalam hidup sudah dia
kuasai dan dia lakukan nyata, yaitu membantu ibunya yang cacat
untuk mencari nafkah untuk bertahan hidup.

32 | SEBATAS LAYAR

“Tapi Bu, Omas tetap harus belajar. Meskipun sekarang
sedang Pembelajaran Jarak Jauh,” tukasku lirih. Keduanya
hanya memandangiku dengan sendu. “Tetap belajar yah, Nak.
Nanti di rumah setelah kau selesai makan dan beristirahat,”
pintaku pada Omas. Dia menganggukkan kepalanya dan tetap
menunduk tanpa menatap mataku. Kemudian aku membiarkan
dua sosok itu berjalan menyusuri jalan pulang mereka.
Sementara aku hanya mampu terdiam dalam perjalanan
pulangku.

SEBATAS LAYAR | 33

Profil Penulis

Dinda Rahmayani, S.Pd. lahir

di Lubuk Raman, 22 Januari

1982. Ia adalah guru Bahasa

Inggris di SMPN 11 Prabumulih

Sumatera Selatan. Sejak

tahun 2015 ia aktif menjadi

anggota MGMP Bahasa

Inggris Kota Nanas

Prabumulih. Ia pernah

mendapatkan amanah

sebagai salah satu Instruktur

Nasional untuk Mata

Pelajaran Bahasa Inggris pada

tahun 2016-2018 serta sebagai

salah satu Guru Inti Program

PKP pada tahun 2019. Selain mengajar, alumnus Universitas

Sriwijaya tahun 2006 ini merupakan salah satu penulis dalam

tiga buku antologi; Sekolahku, Rumah Keduaku (Dilema Suara

Nurani Bunda Guru terbitan MATsNUEPA Publishing, 2019),

Walau Cara Kita Beda (Antologi Cerita 24 Guru Bahasa Inggris

SMP/MTs se- Indonesia, terbitan YM Publishing, 2020), Mengajar

Daring Belajar Caring (terbitan Omera Pustaka, 2020) dan Satu

Murid Berjuta Inspirasi (terbitan Omera Pustaka, 2020). Ia bisa

dihubungi di alamat email: [email protected]

34 | SEBATAS LAYAR

FOTO LEMBARAN

TANPA NAMA

Diyah Kurnia

“Entah apa yang ada di pikiran anak ini,”
sungutku. Dari sekian banyak kiriman foto
tugas, aku hanya terpaku di foto tulisan satu
ini. Foto tulisan tanpa nama. Tulisan pun sulit kubaca. Deretan
huruf-huruf terlihat jelas membentuk satu kata tapi
kemampuanku membaca deretan kalimat yang ditulis perlu
bantuan. Bukan kacamata atau pun microscope. Tapi keahlian
khusus. “Ahh, orang tua anak ini mungkin kurang melatih
motorik halus anaknya,” tebakanku asal. Konon menurut ilmu
grafologi, tulisan tangan bisa mengungkap kepribadian
seseorang. Mulai dari ukuran, tekanan, kemiringan, atau jarak
huruf. Tapi Aku lagi tidak ingin mengungkap kepribadian yang
punya tulisan. Cukup tahu nama saja. “Ahhh…, lewatkan dulu
yang satu ini,” sambil tertawa. Memeriksa hasil tugas siswa
adalah hal biasa yang dilakukan guru dalam proses belajar
mengajar. Apalagi di masa pandemi, guru harus siap siaga
dengan mata yang jeli membaca tulisan tugas-tugas siswa lewat
foto. Meskipun proses memeriksa tugas bukan menjadi patokan
seorang guru memberi nilai akhir pada siswa. Tapi dari sini kita
bisa mengukur capaian kompetensi siswa sebagai evaluasi

SEBATAS LAYAR | 35

selama proses belajar mengajar. Penilaian sebenarnya bertujuan
untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengetahuan, sikap dan
psikomotorik dari siswa. Banyak proses penilaian yang
dilakukan seorang guru mulai dari ulangan harian, penilaian
tengah semester, penilaian akhir semester, penilaian afektif,
penilaian praktik, dan penilaian portofolio.

Aku pun melanjutkan dengan foto-foto lembaran tulisan
yang lain. Selasa, 28 Mei 2020 adalah jadwal pelajaran Bahasa
Inggris di kelas 8.1. Di awal materi aku bertatap muka dengan
mereka via google meet. Selain itu kami berkomunikasi via WA
group. Aku adalah guru Bahasa Inggris di semester ini yang
mendapat kesempatan mengajar di dua tingkatan. Kelas 8 dan
9. Mengajar di dua tingkatan sangat menyenangkan ternyata.
Awalnya kupikir akan rempong dengan menyiapkan 2 jenis
perangkat pembelajaran yang berbeda. Tapi lagi-lagi suntikan
motivasi Merry Riana menyadarkanku. “Aku akan mengalahkan
keraguan, rasa takut, perasaan minder, dan menukarnya
dengan keberanian”. Yup, keberanian menjajal hal baru penting
dimiliki agar kualitas hidup meningkat. Pada awalnya, mencoba
hal baru mungkin tampak menakutkan, tetapi kita pasti bisa
mengatasinya. Kita tidak akan selamanya berada di satu titik
saja. Kita harus bertumbuh, berkembang, dan mencoba
melakukan hal-hal baru sehingga memperkaya pengalaman
hidup kita. Dan, pengalaman baru telah kutemukan.

Sebuah foto lembaran kertas polio tanpa nama sempat
membuatku menjadi detektif. Bukan detektif Conan seri manga
Jepang yang memecahkan banyak kasus. “Terlalu hebat itu
mah,” sambil ngomong sendiri. Foto lembaran tugas siswa
akhirnya sampai ke lembaran TANPA NAMA. Lembaran dengan
tinta hitam berderet kata demi kata. Jangan membayangkan
ukiran khas di lembaran tanah liat zaman batu. “Itu
menggelikan,” pikirku. Ini juga bukan simbol-simbol dalam

36 | SEBATAS LAYAR

kebudayaan Harappa yang bertengger cantik di museum. Hanya
foto selembar kertas sedikit lecek di pinggiran. Mungkin karena
terlipat secara tidak sengaja atau basah karena keringat tangan
si penulis. Otakku mulai loading, kusave satu per satu foto
lembaran tugas siswa. Kucentang nama siswa sesuai lembar
tugas yang kutemui. Hampir setengah dari total 40 jumlah
siswa. Dan, akhirnya aku sampai di sebuah nama dengan urutan
14. Belum tercentang pertanda inilah aktor utama dari drama
“Tanpa Nama”. ARMAN. Nama yang simple dan tidak sepanjang
rel kereta api seperti kebanyakan nama di jaman now. Bahkan
nama seseorang mengalami perubahan berupa plesetan
supaya lebih gaul. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan tradisi
seperti itu bermula. Dan, Arman salah satu siswa korban
plesetan. Siswa yang akrab dipanggil “Ammang” oleh teman-
teman kelasnya.

“Maaf Mem, saya belum menyelesaikan tugas” suara
anak itu setengah berbisik. Kuputar kembali memoriku tentang
Arman. Flasback-lah istilahnya, di mana alur cerita diputar.
Sengaja kuputar karena ada banyak rahasia untuk kuungkap
perlahan sampai akhir cerita drama “Tanpa Nama”. Arman
kukenal sekitar 2 tahun lalu. Anak dengan postur tinggi sekitar
142 cm, dengan berat badan yang bisa kutebak, 47 kg. Dengan
kulit putih dan potongan rambut undercut. Istilah potongan
rambut yang paling banyak diminati karena terbilang
sederhana, simple, segar dan praktis. Awal pertemuanku, tidak
ada yang istimewa. Aku memperlakukan Arman seperti siswa
yang lain. Tapi hari itu tiba-tiba anak itu mendekat ke meja
tempatku duduk. Kata-katanya masih terngiang di telingaku.
Aku pun membalas dengan tanda tanya di kepala “Kenapa,
Nak?”. Dia terdiam sesaat. Perlahan tangannya bergeser ke
belakang pinggangnya seolah menyembunyikan sesuatu.

SEBATAS LAYAR | 37

“Saya agak lambat menulis.” Suaranya pelan. Aku
mengangguk tanda mengerti. Entahlah, aku yang sedikit lalod
atau kurang peka. Anak itu pun kembali ke kursinya dan
melanjutkan menulis. Hanya hitungan beberapa menit Aku
tersentak ketika melihat dengan mataku sendiri begitu kerasnya
usaha anak itu menyelesaikan tulisan di bukunya. Tangan yang
kurang sempurna. Aku tidak tahu pasti sejak kapan anak ini
mengalami gangguan yang membuat dia kesulitan
menggunakan tangan kanannya. Tapi pertemuanku dengan
Arman menjadikan anak itu spesial di mataku. Banyak kelebihan
yang kutemukan dari sosok anak itu. Beberapa kali pertemuan
dengannya sifat supel dan mudah bergaul terlihat jelas dari
Arman. Dari beberapa guru aku mengorek informasi bahwa
anak ini memiliki kemampuan otak yang lebih dari anak-anak
normal pada umumnya. Dia mampu menjawab pertanyaan
dengan cepat dan tepat secara lisan. Anak ini mampu
mengingat materi yang diajarkan dengan sangat baik. Tapi hal
yang paling menarik dari sosok Arman, dia mampu menahan diri
dari hal-hal yang mampu mengalihkan fokusnya seperti anak-
anak kebanyakan. Tiap pertemuanku selalu menjadi moment
yang menakjubkan untuknya. Terlihat jelas dari begitu banyak
pertanyaan yang kerap dilontarkan, mulai dari yang sederhana
sampai yang rumit.

Aku sangat senang berdiskusi dengan Arman. Darinya
Aku banyak mendengar suara anak-anak yang kuajar. Apa yang
membuat anak-anak bersemangat belajar. Apa yang menjadi
kendala mereka. Dan darinya aku dapat bocoran anak-anak yang
perlu penanganan khusus. Kadang pun aku bertanya apa solusi
untuk mereka. “Yahhhh…, belajar adalah proses alami manusia
untuk memahami sesuatu dan dorongan untuk belajar tidak
serta merta timbul harus ada keinginan, Mem.” Begitu katanya
sok dewasa. Seolah-olah cerita tentang anak ini seperti

38 | SEBATAS LAYAR

perumpamaan idiom kalimat metafora. “Don’t judge a book by
its cover”. Yup, tepat sekali. Begitu kusutnya aku kala pertama
kali melihat foto lembaran tugas darinya. Begitu banyak cercaan
di kepalaku kala itu. Sebuah foto lembaran tulisan tangan
“tanpa nama” menyadarkanku bahwa jangan pernah menilai
seseorang dari penampilan luarnya. Karena potensi anak ini
begitu luar biasa dengan melihat faktanya. Foto lembaran tugas
tanpa nama menjadikan aku lebih menghargai siswaku. Apa pun
mereka, mereka tetap istimewa. Kekurangan dari setiap siswa
yang kuajar bukanlah kutukan, melainkan suatu kelebihan yang
tersembunyi. Mereka butuh dukungan, jadikan mereka
istimewa maka mereka akan jadi luar biasa dengan
kekurangannya.

SEBATAS LAYAR | 39

Profil Penulis

Diyah Kurnia Halim

adalah salah satu penulis

buku antologi “Menolak

Menyerah”. Guru Bahasa

Inggris dari SMPN 3

Pallangga Kabupaten

Gowa Sulawesi Selatan,

lahir di Ujung Pandang

pada tanggal 16 Mei 1980.

Lulusan Sastra Inggris

Universitas Negeri

Makassar Tahun 2003 ini

pernah bekerja di BNI 46.

Namun takdir menjadi

guru tahun 2009

menggiring langkahnya

melanjutkan pendidikan

Magister Bahasa Inggris di Universitas yang sama. Hobi menulis

sejak kecil menjadikan IMPIAN VALENTINE dimuat di majalah

ANEKA Yess tahun 1998. Impian terbesarnya adalah

menerbitkan buku motivasi seperti Merry Riana dan Davit

Setiawan. “Jadilah diri sendiri dan berikan yang terbaik dalam

hidup Anda” adalah mottonya.

40 | SEBATAS LAYAR

JADI PENYIAR RADIO,

SIAPA TAKUT?

Erna Sariningsih

Maret 2020, awal diberlakukannya lockdown di
negara kita akibat pandemi Covid-19. Hal
tersebut berimbas pada semua lini kehidupan
termasuk dunia pendidikan. Tidak boleh berkerumun dan harus
menerapkan berbagai protokol kesehatan, menyebabkan
pembelajaran di sekolah tidak bisa dilakukan seperti biasa.
Pembelajaran tatap muka tidak diperbolehkan. Semua
dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk memutus rantai
penyebaran virus corona.

Agar kegiatan pembelajaran tetap berlangung pada
masa darurat Covid-19 ini, pemerintah melalui Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan surat edaran untuk
melaksanakan sistem belajar dari rumah melalui PJJ
(Pembelajaran Jarak Jauh). Pembelajaran bisa dilakukan secara
daring ataupun luring.

Pelaksanaan PJJ sendiri diserahkan pada satuan
pendidikan, akan memilih pendekatan yang mana. Tentu saja hal
ini disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah. Yang utama

SEBATAS LAYAR | 41

adalah menjaga semua warga pendidikan dari terdampak Covid-
19 dengan tidak mengurangi hak peserta didik dalam
mendapatkan layanan pendidikan di masa darurat Covid-19.

Satuan Pendidikan tempat saya mengajar memilih untuk
menerapkan pendekatan kombinasi daring dan luring.
Sebelumnya saya bersama rekan-rekan wali kelas lainnya
melakukaan pendataan pada siswa tentang kepemilikan gawai
dan akses internet. Data didapat. Sebanyak 62,7% siswa di
sekolah kami memiliki sarana untuk pembelajaran daring.
Sisanya lewat luring.

Untuk menambah fasilitas pembelajaran daring, kepala
sekolah berencana mendirikan stasiun penyiaran radio.
Fungsinya agar guru-guru dapat memberikan penjelasan
tambahan dari materi yang akan disampaikan. Jadi, selain
menyampaikan materi melalui Google Classroom, guru pun bisa
menjelaskan materi melalui radio. Keuntungan lain dari
pendirian stasiun radio ini yaitu bisa membantu siswa yang
sedang memilki kendala kuota.

Pada sosialisasi penyampaian materi lewat siaran radio,
respon siswa beraneka ragam. Kebanyakan mengeluhkan tidak
punya pesawat radio. Tak bisa dipungkiri, di masa sekarang ini
sudah jarang yang memiliki pesawat radio, itu yang saya amati.
Ketika kami sampaikan bahwa siaran radio bisa disimak melalui
gawai, baru mereka paham.

Namun, kendala tidak selesai sampai di situ. Keluhan
mereka selanjutnya adalah tidak memiliki headset atau
handsfree. Seperti kita ketahui, kalau ingin menyimak siaran
radio melalui gawai harus menggunakan handsfree atau
headset. Juga ada yang memiliki headset tapi ternyata siaran tak

42 | SEBATAS LAYAR

terjangkau dari rumah mereka. Pemancar radio sekolah tidak
sampai ke beberapa rumah siswa.

Untuk memastikan efektif atau tidaknya siaran radio ini,
akhirnya kami melakukan survey tentang siaran radio tersebut.
Kami ingin mengetahui berapa persen siswa yang bisa
menyimak siaran radio di rumah mereka dengan jelas. Setelah
semua wali kelas menyampaikan survey tersebut kepada
seluruh siswanya, didapatkan hasil bahwa lebih dari 50% siswa
dapat menangkap siaran radio sekolah di rumahnya.

Maka diputuskanlah untuk memasang pemancar dan
perlengkapan studio siaran radio. Di saluran 106,9 FM, radio
pendidikan sekolah kami bisa beroperasi. Selanjutnya,
pembantu kepala sekolah bidang kurikulum segera menentukan
jadwal untuk guru-guru melakukan siaran. Setiap guru mata
pelajaran diberi kesempatan untuk melakukan siaran satu kali
dalam seminggu dengan durasi 60 menit.

Saya, sebagai guru yang mengampu mata pelajaran
Bahasa Inggris mendapat giliran jadwal siaran setiap Kamis.
Karena kebetulan mengajar di 2 tingkat, yaitu kelas 8 dan 9.
Maka waktu yang saya dapat untuk menjelaskan materi adalah
selama 2 x 60 menit. Enam puluh menit pertama menjelaskan

SEBATAS LAYAR | 43

materi kelas 8. Dilanjutkan enam puluh menit berikutnya untuk
materi kelas 9.

Pertama melakukan siaran, agak kaku juga, hehe. Ketika
headset dipasang, agak deg-degan sih, “Saya bisa gak ya?”
Sebuah pertanyaan terbersit di pikiran saya. “Harus bisa!” Kata
hati merespon pertanyaan tadi. Dan ternyata alhamdulillah,
cuma awalnya saja saya merasa kaku, selanjutnya mengalir
bebas seperti air. Ternyata saya bisa. Menyenangkan sekali.
Meskipun ini komunikasi satu arah, tapi setidaknya saya bisa
memberi penjelasan secara lebih rinci dari materi yang sedang
dibahas.

Untuk menjadi sebuah pembelajaran yang komunikatif,
kami tidak hanya terpaku pada menjelaskan materi pelajaran
yang disampaikan oleh guru saja. Kami juga ingin mengetahui
atensi siswa terhadap siaran radio tersebut. Pun ingin
memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberi
komentar dan pertanyaan. Maka sekolah menyediakan fasilitas
lainnya yaitu nomor WhatsApp sekolah.

Siswa bisa mengajukan pertanyaan melalui nomor
WhatsApp tersebut. Bahkan yang lebih menarik dan
menyenangkan lagi mereka bisa request lagu kesukaan mereka.
Jadi, selain menyimak materi yang dijelaskan guru, siswa juga
bisa mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Nah apabila ada yang
meminta lagu, itu pertanda bahwa mereka menyimak siaran
kami.

“Bisimillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaikum

warahmatullaahi wabarakaatuh. Welcome to one ow six point

nine, radio pendidikan SMPN 5 Padalarang.” Itu kalimat pertama

yang biasanya saya sampaikan. Kalimat untuk membuka

44 | SEBATAS LAYAR

pembelajaran. Ah…, serasa menjadi penyiar sungguhan, he he.
Sungguh menyenangkan.

Berbekal ilmu yang telah saya pelajari, dan juga
membaca buku referensi sesekali, saya mencoba memberi
penjelasan semenarik mungkin. Diselingi alunan tembang yang
diputar, baik dari request siswa maupun tembang yang saya pilih
sendiri, suasana pembelajaran daring tidak terasa
membosankan.

Ya, mendirikan radio sekolah, adalah salah satu usaha
kami untuk melaksanakan kewajiban selaku pelayan
masyarakat. Semoga dengan ini kami bisa memberikan kepada
peserta didik hak mereka untuk mendapatkan pendidikan.
Menjadi seorang penyiar dadakan dalam upaya menyampaikan

SEBATAS LAYAR | 45

pembelajaran adalah sebuah pengalaman yang takkan
terlupakan.

Harapan saya semoga pandemic Covid-19 ini segera
berakhir. Saya rindu berkumpul kembali bersama peserta didik
di ruang kelas. Bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka,
menyaksikan sikap siswa yang beragam, ingin segera saya
dapatkan. Dan saya yakin, semua guru, pun siswa apalagi orang
tua pasti mendambakan hal tersebut. Semoga Allah Azza Wa
Jalla mendengar dan mengabulkan apa yang kita pinta. Aamiin
Allahumma aamiin.

46 | SEBATAS LAYAR

Profil Penulis

Erna Sariningsih, dilahirkan di

kota Tasikmalaya 45 tahun

yang lalu. Anak kedua dari 5

bersaudara ini menyelesaikan

pendidikan sarjana jurusan

Pendidikan Bahasa Inggris di

Universitas Pendidikan

Indonesia Bandung, pada

tahun 2000 silam.

Kini, ibu dari seorang putri dan
dua orang putra ini berprofesi
sebagai guru, mengikuti jejak
sang Ibu yang juga seorang
guru. SMP Negeri 5 Padalarang Kabupaten Bandung Barat
Provinsi Jawa Barat adalah sekolah tempatnya mengabdi.

Membaca dan menulis adalah hobinya. Beberapa buku telah ia
terbitkan, di antaranya ‘Yang [Tak] Terlupakan’ (2018), ‘Walau
Cara Kita Beda’ (2020), ‘Beda Cara Satu Asa’ (2020) dan
‘Bersama di Negeri Lima’ (2020).

Penulis bisa dihubungi di alamat surel sariningsih.erna
@gmail.com.

SEBATAS LAYAR | 47

SENSASI BELAJAR

DENGAN GAMBAR

I’ah Sutiah

Seiring dengan ditemukannya kasus Covid-19 di
bumi Indonesia tercinta dan angka yang terpapar
wabah corona semakin hari semakin meningkat,
maka pemerintah mengambil kebijakan untuk setiap satuan
pendidikan di negara tercinta Indonesia ini mulai dari PAUD
sampai dengan perguruan tinggi untuk melaksanakan
pemebelajaran jarak jauh (PJJ), atau ada yang menyebutnya
belajar dari rumah (BDR) atau ada yang menyebutnya dengan
belajar dalam jaringan (Daring).

Untuk menyiasati perubahan pola belajar tersebut
tentunya banyak penyesuaian-penyesuaian baru yang perlu
disikapi baik oleh guru, siswa dan orang tua. Penyesuaian yang
utama adalah penggunaan dawai yang mengharuskan guru-
guru untuk menguasai penggunaan IT sebagai media untuk
berinteraksi dengan siswa di rumah.

Mungkin saya pribadi adalah termasuk guru yang
kemampuan IT-nya biasa-biasa saja, sehingga masih perlu
banyak belajar dan bertanya kepada guru-guru yang muda bila
menemui kendala dalam pembelajaran daring tersebut. Bagi
saya belajar bisa dari mana saja, dengan guru-guru muda selain

48 | SEBATAS LAYAR

bertanya secara teknis, saya juga bisa langsung praktik.
Biasanya dengan langsung dipraktikkan akan lebih cepat
memahaminya.

Lalu bagaimana pelaksanaan PJJ di sekolah kami,
SMPN 12 Depok ini? Alhamdulillah, sekolah kami mempunyai
aplikasi belajar sendiri yang diberi nama aplikasi “SMART
SELOESIN“ yaitu aplikasi untuk pembelajaran on line, yang
menurut saya memang smart. Di sini semua guru bisa
berinteraksi dengan siswa masing-masing kelas sesuai dengan
jadwal yang sudah ditetapkan. Selain itu kita juga dapat
mengecek kehadiran siswa karena di sediakan format tanda
tangan siswa di setiap kehadiran tatap muka yang dapat
langsung direkap dan dilihat di akhir pembelajaran, bahkan di
akhir semester. Keunggulan lainnya yaitu guru dapat juga
membuat tugas dan ulangan melalui aplikasi ini yang nilainya
bisa langsung diketahui siswa melalui HP atau laptop masing-
masing.

Sementara untuk penilaian harian, penilaian tengah
semester, penilaian akhir semester sekolah kami menggunakan
aplikasi “CBT SELOESIN“ yang memungkinkan guru
mengupload soal-soal yang bisa di on line-kan dan membuat
kunci jawaban sesuai jumlah soal yang ada sehingga nilai siswa
yang sudah mengerjakan bisa langsung muncul tanpa perlu guru
melakukan pengoreksian. Sungguh aplikasi yang sangat cerdas
dan sangat membantu di masa pandemi seperti sekarang ini.

Lalu adakah pengalaman mengajar yang menarik atau
yang “sesuatu“ selama melaksanakan pembelajaran on line ini?
Kalau bicara kendala, pastinya jawaban kita akan seragam, yaitu
anak gak punya kuota, anak gak punya HP, orang tua ada yang
gak paham sehingga masa bodo dengan anaknya dalam PJJ,

SEBATAS LAYAR | 49

anak-anak kurang disiplin waktu, sebagian mengabaikan
kehadiran tepat waktu secara on line, banyak yang tidak
mengumpulkan tugas karena merasa gurunya tidak berada di
hadapan mereka, banyak yang merasa bosan dan jenuh dengan
banyaknya tugas-tugas yang saling bertabrakan dari tiap-tiap
mata pelajaran sehingga menimbulkan rasa enggan dan malas
untuk mengikuti PJJ ini.

Nah, dari semua kendala yang sudah saya sebutkan di
atas, saya ingin menuliskan pengalaman saya pribadi bagaimana
untuk menyikapi rasa jenuh dan keengganan siswa untuk
semangat mengikuti pembelajaran daring, khususnya dalam
belajar Bahasa Inggris.

Pada tahun pembelajaran 2020-2021 ini saya diamanati
untuk mengajar di kelas VIII. Pada semester ganjil di kelas VIII ini
ada materi penggunaan “there is dan there are”, dalam program
semester alokasi waktu untuk materi ini adalah 4 x 30 menit.
Artinya ada 2 kali tatap muka on line dengan siswa . Pada
awalnya saya merancang pembelajaran dengan menyampaikan
secara teoritis rumus dan contoh-contoh pemakaian “there is
dan there are“ lalu dilanjutkan dengan latihan pilihan ganda
sebanyak 10 soal. Namun responnya kurang greget. Dari 36
siswa yang kirim tugas hanya 10 sampai 17 siswa saja. Mereka
hadir pada awal pembelajaran dimulai, tanda tangan kehadiran,
namun pada saat penyelesaian tugas animonya masih kurang.
Mungkin pola pembelajaran yang saya rancang di atas monoton
dan kurang menantang, sehingga siswa menjadi boring dan
ogah-ogahan merespon tugas yang saya berikan.

Nah, di pertemuan berikutnya, saya ubah rancangan
mengajar saya dengan langkah-langkah sebagai berikut:

50 | SEBATAS LAYAR


Click to View FlipBook Version