1. Saya mengupload gambar kartun berwarna sebuah ruangan
di dalam rumah.
2. Siswa diminta mengamati gambar tersebut.
3. Siswa diminta menyebutkan nama benda-benda yang ada
dalam ruangan tersebut sebanyak-banyaknya, dalam Bahasa
Inggris tentunya. Hanya nama bendanya saja, belum
menggunakan “there is dan there are“ di kolom diskusi.
4. Kemudian guru memberikan contoh beberapa kalimat
berdasarkan gambar yang diawali dengan “there is dan there
are” sekaligus dapat dirangkaikan dengan pemakaian
preposition seperti in, on, at, near, beside, between, under,
next to, etc.
5. Siswa diminta melanjutkan sisanya sebanyak yang dia
mampu.
6. Siswa bisa mengupload jawaban di aplikasi, dan langsung
diberikan nilai.
7. Dan untuk tugas di rumah, mereka diminta memoto salah
satu ruangan yang ada di rumah mereka (misalnya kamar
tidur, ruang tamu, atau dapur) dan mereka diminta untuk
menuliskan benda-benda yang ada dalam foto yang mereka
ambil minimal 10 kalimat. Untuk tugas ini diberi waktu 2 hari
saja dengan batasan waktu sampai jam 4 sore.
SEBATAS LAYAR | 51
Gambar ini saya download dari internet, dari sekolah
Bahasainggris.com pada 20 Januari 2021.
8. Bagi siswa yang mengirim tugas di hari pertama akan diberi
reward berupa tambahan nilai 5 poin dari nilai yang didapat.
Misalnya siswa tersebut dapat nilai 80, ditambahkan 5 maka
nilai yang didapat menjadi 85.
9. Sementara bagi siswa yang mengirim tugas di hari ke-2 dapat
tambahan niai 3.
10. Dengan adanya reward ini, siswa berlomba-lomba untuk
cepat-cepat mengirimkan tugas tersebut kepada saya, dan
terbukti di hari pertama saja sudah lebih dari 50 persen yang
kirim gambar dan deskripsinya.
Alhamdulillah dengan rancangan belajar seperti ini
respon siswa meningkat. Bahkan di kolom diskusi banyak
pertanyaan yang masuk untuk tugas ini. Ada yang bertanya,
“Mom, boleh gak gambar hotel atau tempat wisata diambil dari
internet?” Jawab saya, tentu saja boleh. Karena dengan tugas
ini ternyata dapat mengeksplor kreativitas siswa. Bahkan ada
yang bilang, “Mom, kalau gambarnya buat sendiri, boleh
gak….?” Ya, tentu saja boleh. Ada juga yang tanya, “Mom, boleh
gak ambil foto di luar rumah? Misalnya, di mini market, taman,
atau di pom bensin?” Jadi, ternyata rancangan belajar bahasa
Inggris seperti ini bisa juga bisa menumbuhkan menggambar
dan yang hobi foto-foto .
Dengan foto dan gambar dari siswa ini masih dapat kita
kembangkan untuk melatih menulis descriptive teks sederhana
dengan menjelaskan gambar yang ada, tidak hanya kalimat-
kalimat yang berdiri sendiri.
Siswa bisa diarahkan untuk menuangkan ide dan
pikiran berdasarkan gambar atau foto tadi dengan tulisan yang
bermakna sesuai konteks.
52 | SEBATAS LAYAR
Contoh tulisan sederhana teks deskriptif sebagai
berikut:
Hai, guys…
Look I toke a picture of gas station yesterday, here
I want to describe it to you.
I found several motorcycles had quee at gas booth, and on
the other hand I also saw some cars did the same thing.
There were some people at the ATM boots, they got money
or something else.
Others enjoyed meal at the small cafe, others just
had been busy with their phone cell.
There were two people cleaned the area, too. So
many activities I found here.
Ternyata tidak perlu cara yang rumit dan aneh untuk
membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajara on line.
Cukup dengan gambar berwarna yang sederhana dapat
merangsang siswa untuk bereksplorasi di lingkungan sekitar
rumah dan tempat-tempat umum yang mereka senangi.
Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa menjadi
inspirasi dalam mengajar di era PJJ saat ini.
SEBATAS LAYAR | 53
Profil Penulis
I’ah Sutiah, M.Pd. lahir di
Cirebon, 16 Juli 1967.
Menyelesaikan S1 Pendidikan
Bahasa dan Sastra Inggris di
UNJ pada tahun 2004.
Kemudian menyelesaikan S2
Pendidikan Bahasa Inggris
pada Universitas Indra Prasta
Jakarta pada tahun 2016.
Hobby membaca dan
menyanyi. Saat ini mengajar di
SMPN 12 Depok Jawa Barat.
Mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris.
54 | SEBATAS LAYAR
TONJAMEKO,
ALTERNATIF BELAJAR
TELLING TIMES
DI ERA PANDEMI
Kemsriyati
Pada saat pandemi Covid-19, Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan menetapkan proses
pembelajaran dilakukan dari rumah
sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan Nomor: 36962/MPK.A/HK/2020 Tanggal 17
Maret 2020 tentang Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja
dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus
Disease (COVID-19).
Salah satu tugas guru adalah mengaktifkan peserta
didik dalam mengembangkan potensi dirinya. Meskipun di masa
pandemi seperti ini, pembelajaran tetap dilaksanakan yaitu
secara daring dalam rangka pencegahan penyebaran Corona
Virus Disease. Untuk melaksanakan ini guru harus memutar otak.
Bagaimana caranya, perencanaan pembelajaran ada, dapat
dilaksanakan dan dievaluasi, sehingga mutu hasil
SEBATAS LAYAR | 55
pembelajaran/lulusan peserta didik tetap terjaga. Untuk
mewujudkan ini penulis melaksanakan proses pembelajaran
yang sederhana semaksimal mungkin dan peserta didik pun
senang melaksanakannya. Tonjameko adalah alternative
solusinya.
Tonjameko merupakan akronim dari tonton, jawab,
monitoring, evaluasi dan konfirmasi. Penulis melaksanakan
pembelajaran model ini karena prosesnya sederhana dan
menyenangkan. Menonton adalah merupakan aktivitas melihat
objek karena didorong oleh rasa ingin tahu akan apa yang terjadi
sekaligus untuk hiburan. Di masa pandemic anak dilarang keluar
rumah. Hampir semua anak menyukai dan memiliki android.
Tonjameko bisa dilaksanakan dari rumah kapan saja.
Pelaksanaan proses pembelajaran Tonjameko daring
ini, pada awal dan umumnya berkendala dengan sinyal dan
quota. Alhamdulillah anak cepat menyesuaikan. Yang merasa
jaringannya lelet, keluar grup, ganti kartu dan minta dimasukkan
WAG kelas lagi. Untuk masalah quota, sebelum kegiatan daring
dimulai, khususnya untuk kegiatan virtual Google Meeting
konfirmasi, sudah diinformasikan terlebih dulu. Dengan
persiapan, pembelajaran dapat terlaksana dan tujuan
pembelajaran juga akan tercapai.
Tujuan pembelajaran di sini adalah melalui pendekatan
saintifik dengan Tonjameko (Tonton, jawab, monitoring,
evaluasi dan konfirmasi), peserta didik dapat:
1. Menanyakan dan menyatakan waktu kegiatan sehari-hari
secara benar.
2. Menyebutkan nama waktu (hari) sesuai dengan konteks
penggunannya secara benar dan lancar.
3. Membedakan urutan nama bulan sesuai dengan konteks
penggunaannya secara benar dan lancar.
56 | SEBATAS LAYAR
4. Menerapkan penggunaan ordinal dan cardinal number untuk
menyatakan waktu sesuai dengan konteks penggunannya
secara benar dan lancar.
1. Tahapan pembelajaran (sintak)
Kegiatan Pendahuluan
Pada awal pembelajaran, guru mengucapkan salam,
mengajak siswa berdoa bersama dalam bahasa Inggris dan
menyampaikan bahwa kehadiran siswa ditunjukkan dengan
membuat list daftar hadir di WhatsApp group. Dilanjutkan
menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan Inti
a. Menonton
Pertama, pendidik mengirim video pembelajaran kepada
peserta didik ke WhatsApp group
(https://youtu.be/jqwq1CGzWuc,
https://youtu.be/PFTu5AXNACc). Peserta didik mengklik
video “Telling Time–Daily Activities” dan menonton video
tersebut sesuai kebutuhan.
b. Menjawab
Pada tahap ini, siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan
berdasarkan video tersebut. (Task A). Siswa diberi
kesempatan di WhatsApp group untuk bertanya apabila
mengalami kesulitan setelah menyimak video. Siswa
menerima beberapa contoh penggunaan waktu dalam
kegiatan sehari-hari (menggunakan kosa kata di task A).
Siswa berlatih membuat kalimat menggunakan waktu
dalam kegiatan sehari-hari mereka. Siswa mengunduh
LKPD untuk dikerjakan (task B dan C) dan mengerjakan
LKPD tersebut. Siswa yang sudah selesai menyerahkan
SEBATAS LAYAR | 57
tugas yang sudah dikerjakan ke WhatsApp pribadi guru
atau ke Google Drive.
c. Monitoring
Monitoring adalah pemantauan rutin terhadap
pelaksanaan kegiatan program belajar, untuk
mengetahui perkembangan dan mengidentifikasi apakah
kegiatan berjalan sesuai perencanaan atau tidak. Jika
terjadi pelaksanaan yang tidak sesuai dengan
perencanaan, segera diatasi supaya tidak terjadi
kesalahan yang lebih fatal. Monitoring ini dilakukan ketika
proses sedang berlangsung. Guru membuat daftar
pemantauan dengan link di Google Form. Siapa saja yang
sudah menonton video bisa dilihat. Demikian juga siapa
yang sudah menjawab latihan bisa dipantau jawabannya
di WAG atau di Google Drive.
d. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian terhadap pencapaian indikator
keberhasilan. Evaluasi umumnya dilakukan ketika
kegiatan hampir atau telah selesai. Hasil evaluasi
digunakan untuk dokumentasi dan juga untuk
pengambilan keputusan. Di dalam bagian evaluasi ini,
p e n d i d i k menuliskan instrumen evaluasi di Google
Form, apa saja yang dievaluasikan disesuaikan dengan
indikator tujuan.
e. Konfirmasi
Pada tahap konfirmasi, melalui WA Group pendidik
menyampaikan link google meet,
https://meet.google.com/usb-mgpj-rhc. Siswa diminta
mengklik link untuk mengikuti kegiatan konfirmasi
tentang latihan soal yang sudah dikerjakan. Pendidik
mengkonfirmasi jawaban peserta didik dengan cara
diskusi dengan peserta didik dan juga share screen. Untuk
58 | SEBATAS LAYAR
sample diambil jawaban beberapa siswa yang salahnya
menyebar dari semua soal, sehingga konfirmasi jawaban
benar dapat diperoleh siswa dengan melihat pekerjaan
beberapa teman. Untuk mengkonfirmasi jawaban benar,
guru juga share screen materi-materi yang sesuai dan
dibutuhkan untuk penguatan pemahaman peserta didik.
Yang tidak bisa lewat Gmeet, guru share screen materi
penguatan ke WAG.
2. Materi Ajar
Materi ajar disediakan dalam bentuk PPT tentang
number (cardinal and ordinal), days, months and year, dan
juga dalam bentuk ringkasan materi yang disampaikan ke
peserta didik pada saat konfirmasi.
Cuplikan PPT materi untuk konfirmasi.
SEBATAS LAYAR | 59
Cuplikan ringkasan materi untuk konfirmasi.
Dalam membaca jam kita sering menemukan
penggunaan a.m. dan p.m. Perbedaan penggunaannya
adalah sebagai berikut:
AM merupakan singkatan dari Ante Meridiem, yang
berarti sebelum tengah hari, sedangkan PM merupakan
singkatan dari Post Meridiem, yang berarti setelah tengah
hari.
60 | SEBATAS LAYAR
Standar pembagian waktu malam dan siang hari.
use
A.M.
00.01 – 11.59
P.M.
12.01 – 23.59
12.00
NOON
24.00
MIDNIGHT
Penggunaan a.m. dan p.m. biasanya dilengkapi dengan
adverbial of time seperti in the morning, in the afternoon, in
the evening, at noon, at night dan at midnight.
Adv Morni No Aftern Eveni Night Midni
Time
ng on oon ng ght
01:0 12.0 12:01 – 18.01 Diguna 24.00
1 – 0 18.00 – kan /
11.59 a.m 23.59 ketika 00:00
akan
berpisa
h atau
selama
t tidur
SEBATAS LAYAR | 61
Contoh penggunaan Time dalam kegiatan sehari-hari
I get up at 5 a.m. in the morning
I have lunch at 12.30 p.m in the afternoon
Berikut adalah cuplikan instrumen evaluasi dengan
Google Form
62 | SEBATAS LAYAR
Berikut adalah gambar cuplikan hasil evaluasi dengan
Google Form
3. Penutup
Pada kegiatan belajar mengajar banyak sekali metode
belajar efektif yang dapat diterapkan, namun dalam
pembelajaran Telling Times di masa pandemi, saya
menggunakan Tonjameko (tonton, jawab, monitoring, evaluasi
dan konfirmasi) karena sederhana langkahnya dan
menyenangkan bagi peserta didik dan hasil belajarnya lebih baik
dibandingkan sebelumnya. Untuk video pembelajaran yang
disajikan, guru dapat membuat sendiri atau mencari di YouTube.
Penulis merasa cara belajar ini lebih efektif, terbukti capaian
hasil evaluasi belajar peserta didik meningkat dibandingkan
dengan sebelumnya. Peningkatan ini dapat dilihat pada gambar
cuplikan hasil evaluasi dengan Google Form yang grafiknya naik.
Pada akhirnya penulis berharap kepada para pendidik
khususnya di masa pandemi ini untuk memilih metode
pembelajaran yang simple, menyenangkan, dan efektif seperti
Menonjako.
SEBATAS LAYAR | 63
64 | SEBATAS LAYAR
Profil Penulis
Kemsriyati, dilahirkan di
Cilacap, 06 Mei 1971, bekerja
di Cilacap. Mulai mengenyam
pendidikan di SD Bojong pada
tahun 1979, lanjut ke SMP
Negeri 1 Kawunganten, SMA
Negeri 1 Cilacap dan IKIP
Yogyakarta. Awal mengajar di
SMP Al Irsyad Al Islamiyah
Cilacap hingga 1998. Menjadi
PNS pada tahun 1998 di SMP
negeri 1 Bantarsari selama 05 tahun, pindah ke SMP Negeri 1
Jeruklegi hingga sekarang. Melanjutkan belajar S2 konsentrasi
jurusan Bahasa di UNWIDHA Klaten, lulus tahun 2012. Pada
tahun 2016 mengikuti diklat Narasumber Nasional Guru
Pembelajar dan di tahun 2019 menjadi Guru Inti Program
Peningkatan Kompetensi Pembelajaran.
SEBATAS LAYAR | 65
READ ALOUD OBAT
MUJARAB UNTUK
MURID PEMALU
Kusmiati Umar Syarif
Satu tahun berlalu, doaku bukan malah panjang
umur dan bahagia, melainkan segera berakhir.
‘Hush ..., hush ..., sannnnaaaaaaa ...,’ kalo kata inces
Syahrini. Doa itu spesial teruntuk Covid-19, padahal sekarang
sudah 21, tapi masih bercokol virus itu di negaraku tercinta ini.
Walhasil bukti kota kelahiranku masih betah di zona merah
sehingga mengharuskanku tetap WFH, Work From Home atau
BDR, Belajar Dari Rumah.
Mengajar kelas 11 di sebuah SMA PGRI di kota Bogor,
walau tidak pernah sama sekali bertatap muka langsung, tapi
tanggung jawabku sebagai guru harus tetap menyediakan
pelayanan terbaik untuk peserta didik adalah wajib. Apalagi
sekolah swasta. Bilur-bilur itu adalah peserta didik itu sendiri.
Ya, tergantung dari jumlah mereka yang masuk ke sekolah kita.
66 | SEBATAS LAYAR
Ujung tombak kehidupan sebuah sekolah, boleh dibilang seperti
itu.
Jujur saja, setiap Cloud x diedmodo platform, adanya
peserta didik dirasakan hanya 70% keaktifan mereja berbahasa
Inggris. Itupun hasil yang paling optimal. Tidak dipungkiri,
memang sangat berbeda jauh dengan offline. Keaktifan di
kelasku tidak diragukan, karena aku mengajar dengan sense of
humorous yang tinggi, tapi tidak kampungan. Biasanya setiap
masuk kelas baru aku hanya butuh 7 menit saja untuk adaptasi
dan menghafal nana-nama peserta didik. Selanjutnya mereka
lumer dan kalut dalam pembelajaran, sampai-sampai ketika bel
berbunyi, “Yah Bel Miss.... Dikit lagi Miss.” Lagu lama kaset baru
itu dalil shahih peserta didik agar aku menunggu assesment
sheet mereka dengan tidak marah. Itulah sabarnya guru, masih
mau menunggu titah sang murid hanya karena kecintaannya
melebihi apa pun di dunia ini.
Hari itu Rabu bulan kedua di Tahun 2021, jam 09.45
materi yang akan disampaikan adalah Analytical Exposition, aku
pikir hanya dengan Reading atau Writing Skill aku sampaikan
materi ini. Ketercapaiannya lebih maknyus 100% absolutely great
nilainya, dibanding aku mengajarkan dengan speaking skill.
Setelah berdoa, menyalami mereka satu-satu adalah
gaya khas dari aku. Kemudian mereka diberikan stimulan. Nah,
di sinilah aku harus menstimulasi peserta didik supaya mau
membaca dan tidak gagap dalam membaca. Setelah itu berikan
sedikit ice breaking dalam brainstorming cukuplah membuat aku
semakin dekat dengan mereka dan menghasilkan strongly
chemistry untuk pembelajaranku adalah hal yang sangat wajib.
Sejatinya belajar itu adalah komitmen antara murid dan guru di
bawah janji suci sebuah RPP.
SEBATAS LAYAR | 67
Hal yang sering aku lakukan, menstimulan mereka
dengan reading text, short reading text berjudul “Plastik
Garbage“ lalu meminta murid yang paling aktif untuk membaca
supaya kondusif online class saat itu. Mengapa? Ketika anak
yang pintar membaca tanpa kesalahan maka peserta didik yang
lain akan respect dan mendengarkan dengan seksama. Benar
saja, tidak sampai 4 menit bacaan itu sudah dibacakan oleh
Dalilah, siswi cantik pintar bersahaja selalu menawarkan
kebaikan-kebaikan seperti, “May I explaine it, Miss?” Luar biasa,
berarti metode Computational Thinkingku tidak salar terapan.
Mereka bisa menerima dengan mudah. Kembali ke materi yang
kedua. Aku sajikan readaloud video dengan judul yang sama.
Tetapi sebelumnya aku warning peserta didikku dengan kalimat
”Attention to difficult words that you hear, write and let’s
disscuss it then“
“Allright, Miss,” jawab mereka.
Sampailah di bagian difficult word, sebelum ke generic
structure dan purpose, sedikit menyinggung isi bacaan di video
readaloud tadi. Untuk memahami makna bacaan baik secara
tersirat maupun tersurat. Dari mulai Affect, Effect, Bushes and
etc.... Sedikit pembahasan dan memahami makna paragraf
bacaan yang di video readaloud.
Barulah aku membahas purpose dan generic structure
dari Analytical exposition. Bukanlah Miss Mia kalau mengajar
tanpa rumus keledai. Rumus jitu yang sebenarnya tidak ada
mata kuliahnya. Namun itu dirasa perlu untuk memudahkan
peserta didik belajar. Karena dalih yang tepat untuk hal ini,
anak-anak selalu mengungkapkan, “Siapa yang mempermudah
urusan murid-muridnya maka guru tersebut akan dipermudah
urusannya oleh Allah.” Seolah dalil shahih ini sudah melekat di
68 | SEBATAS LAYAR
pikiran mereka dari zaman ke zaman. Bukanlah anak-anak kalau
mereka tidak menorehkan kelucuan dan membuat kita bahagia
bersama.
Pembahasan terlewati dengan baik. Maka saatnya pada
proses, berharap produk yang dihasilkan hari ini adalah produk
terbaik dari mereka. Setelah sadar waktu tinggal lima belas
menit lagi aku bergegas bertanya, “Have you finished class?”
Sepi dan diam. Tanda mereka sedang mengerjakan dengan
serius. Aku coba sekali lagi, “Shasha, Wisnu..., ready to read
one paragraph of your text?”
“I haven’t finished yet, Miss.” Wisnu bersuara. Ah
readaloud ini diperuntukkan seharusnya bukan untuk peserta
didik yang membacanya bagus dan sempurna, tapi ini adalah
tantangan untuk peserta didik yang pendiam dan nyaris tidak
pernah mengeluarkan suara untuk pembelajarannya. Ya, Iwan,
pasti. Anak yang pendiam padahal sebenarnya kemampuan
grammarnya bagus, harus dicoba. “OK, Iwan read your first
paragraph please!”
“No, Miss, belum....”
“Only first paragraph, only that you write. Ok, please
Iwan, slowly ....”
“Paragraf satu aja ya, Bu....”
“Yes, of course.... Do please.”
Akhirnya dia membaca walau sedikit perlahan, tapi
dengan sempurna. Paragraf satu dengan tanpa kesalahan.
Bedanya di video readaloud itu membacanya lantang. Tapi Iwan
membaca dengan perlahan dan suara yang sedang tapi tanpa
SEBATAS LAYAR | 69
kesalahan. Ternyata memberi contoh dengan video juga masih
berlaku dan manjur walau peserta didik sudah di usia lima belas
sampai tujuh belas tahun. Tak ada yang tidak mungkin.
Terkadang yang kita pikirkan lebih salah kalau tanpa percobaan.
Praduga itu ternyata salah. Yang aku pikir readaloud itu cocok
hanya untuk anak SD, ternyata salah besar. Iwanku hari ini
bukanlah introvert yang pelit suara, tetapi Iwan yang berani
mengungkapkan suara isi hati yang dia tulis tentang bahayanya
merokok untuk anak-anak baru gede atau ABG. Iwanku hari ini
tidak hanya pandai dalam grammar. Tapi pronunciation yang
fasih dan fluen itu tersembunyi di balik keintrovertannya. Ah,
sungguh anak-anak tidak dilahirkan bodoh ke dunia ini. Ternyata
tergantung dari perlakuan dan stimulan yang diberikan gurunya.
Tersenyum terus jadinya setiap ingat Iwan, muridku yang punya
nama biasa, bahkan nama ini selalu ada di buku Bahasa
Indonesia SD-ku dari kelas satu sampai dengan kelas enam.
Yuk sahabat-sahabat guru, ternyata tidak ada anak yang
terlahir bodoh. Berkreatiflah kita sebagai guru. Bagaimana pun
bahan material itu diolah akan menjadi barang yang
berkomoditi bagus dan berkualitas itu karena kita sebagai
gurunya. Contoh konkret, sama-sama diberi bahan dasar yang
sama, misal ubi jalar, dengan kreativitas yang jenius bisa jadi ubi
jalar menjadi bolu kukus yang enak dengan dipackage yang
cantik, ubi jalar itu memiliki daya jual yang tinggi. Apalagi
manusia yang memiliki multi talenta diasah secara benar dan
baik salah satu sisi talentanya. Yakin sukses itu ditangannya
dengan mengembangkan passionnya.
Kalau sudah begitu, lupa ya honor guru sebagai guru
honor itu terlupakan dengan senyuman. Sejatinya hidup indah
itu karena bermanfaat bagi orang lain.
70 | SEBATAS LAYAR
Profil Penulis
Penulis adalah seorang guru
yang mulai mengajar tahun
1996, saat itu semester 3 di
FKIP Pakuan University. Lahir
di Bogor tanggal 12 April 1977.
Menulis bukanlah hal yang
aneh. Karena penulis sudah
menjadi penulis cerpen saat
usia remaja. Bakat menulisnya terus digali sampai sekarang.
Hasil karyanya sudah banyak mengisi laman online media
sampai sekarang. Melanjutkan study dengan dana beasiswa.
Penulis berprinsip pendidikan itu sepanjang hayat. Ilmu itu
universal dan dapat dipelajari. Seperti yang dikutip pada saat
webinar tentang ParenTeach: “Ilmuku di langit. Hatiku tetap di
tanah. Robbku dalam Hatiku. Ikatlah Ilmu dengan tulisan, maka
tak akan lekang oleh zaman.“ Setinggi apa pun ilmu kita, tetap
kekuasaan dan kekuatan itu milik Sang Khaliq. Tapi dengan
menulis, sebagai makhluk-Nya kita mewujudkan tanda syukur
kita kepada-Nya. Dengan tulisan, kita dapat memberikan bukti
bahwa kita berada dalam peradaban modern. Menulis dengan
hati akan lebih banyak menghasilkan kreasi dan kepuasan
tersendiri.
SEBATAS LAYAR | 71
MENANTI
VIDEO CALL-MU
Mardiani
Di masa pandemi seperti sekarang ini,
pembelajaran daring menjadi pilihan utama
hampir di semua sekolah. Mulai dari jenjang
pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Berbagai jenis
aplikasi juga banyak digunakan untuk mendukung kegiatan
pembelajaran secara daring ini. Kreativitas guru dalam meramu
kegiatan pembelajaran pun makin berkembang sehingga
tercipta kegiatan pembelajaran yang tetap menyenangkan
meski dalam masa pandemi.
Namun tidak semua guru bisa menerapkan berbagai
kegiatan daring yang menyenangkan dengan berbagai aplikasi
dari perangkat android yang dimilikinya. Itulah yang saya alami
saat mengajar di masa pandemi ini. Mayoritas siswa dengan
latar belakang keluarga menengah ke bawah tidak
memungkinkan bagi semua siswa untuk memiliki perangkat
android yang diperlukan untuk kegiatan pembelajaran.
72 | SEBATAS LAYAR
Awalnya saya sudah menyiapkan aplikasi belajar untuk
kelas-kelas yang saya ajar. Google classroom sudah saya buat
untuk semua kelas dan informasikan kepada grup WhatsApp
kelas agar para siswa segera bergabung di classroom masing-
masing. Saya informasikan juga cara-cara bergabung dan
berinteraksi dalam pembelajaran melalui Google classroom ini.
Namun hingga pekan pertama kegiatan pembelajaran ada 6-8
orang yang bergabung tiap kelasnya. Saya berbaik sangka saja.
Mungkin masih adaptasi. Dengan sabar saya menanti dan
mengingatkan mereka untuk segera bergabung. Sementara
kegiatan pembelajaran dilakukan melalui grup WhatsApp untuk
sementara sambil menunggu semua siswa bisa bergabung di
Google classroom.
Hingga pekan ke-3, jumlah siswa yang bergabung tidak
mengalami peningkatan. Mereka merasa keberatan dan lebih
memilih belajar di grup WhatsApp saja dengan berbagai alasan.
Jadi selama tiga pekan saya mengajar dengan dua media, Google
classroom dan grup WhatsApp. Dipikir-pikir repot juga. Akhirnya
saya fokus ke grup WhatsApp saja. Apalagi kelas yang saya ajar
tidak hanya satu kelas, tapi 6 kelas.
Maka sejak saat itu kami belajar melalui grup WhatsApp.
Meskipun dalam banyak keterbatasan, saya tetap mencoba
memberikan alternatif pembelajaran yang lebih menarik. Saya
berikan video-video pebelajaran dari youtube untuk
mempermudah pemahaman mereka akan materi yang
diajarkan. Slide-slide juga saya coba buat untuk saya
presentasikan kepada mereka. Penjelasan materi berupa
gambar-gambar yang menarik dan lembar-lembar kerja yang
diharapkan membantu mereka dalam pembelajaran juga saya
berikan. Alhamdulillah sejauh ini mereka bisa menikmati
SEBATAS LAYAR | 73
kegiatan pembelajaran meskipun ada beberapa siswa yang
tidak dapat membuka link-link video atau file-file tertentu yang
saya berikan karena kuota data yang terbatas.
Ada satu hal yang menjadi ganjalan saya, yaitu saat akan
mengajarkan mereka keterampilan berbicara/speaking. Karena
komunikasi kita terbatas dalam grup WhatsApp maka kegiatan
listening-speaking sulit dilakukan secara interaktif. Saya hanya
bisa memberikan contoh-contoh pelafalan melalui video-video
atau rekaman audio. Dan untuk mengecek dan menilai sejauh
mana mereka memahami materi speaking ini saya minta mereka
untuk merekamnya dalm video singkat atau melalui voicenote.
Kadang-kadang saya melakukan videocall secara grup, namun
hanya terbatas hingga 4 orang saja yang bisa bergabung secara
langsung. Jadi saya lakukan beberapa sesi secara bergantian.
Jika ada waktu saya sempatkan videocall perorangan.
Latar belakang keluarga yang kental dengan bahasa
daerah yang mereka gunakan sehari-hari, sedikit-banyak
mempengaruhi keberhasilan mereka mencapai keterampilan
ini. Banyak siswa yang merasa kesulitan, karena lidahnya
terbiasa berbahasa daerah. Ada yang malu-malu dan yang malas
juga ada. Akhirnya, banyak dari mereka yang tidak mau videocall
secara kelompok. Mereka lebih suka dihubungi secara pribadi.
Dan ini sungguh menyita waktu. Waktu di luar jam kerja pun
tersita. Tidak apalah waktu saya tersita ke anak-anak didik saya.
Kebetulan di rumah hanya saya tinggal berdua dengan suami
saja, karena anak-anak tinggal di luar kota semua, ada yang
kerja, kuliah dan mondok. Jadi tidak terlalu banyak tugas rumah
yang tersita untuk mengurusi anak-anak didik saya.
Yang sangat disayangkan adalah semakin hari semakin
menurunnya minat mereka untuk belajar, khususnya jika sudah
74 | SEBATAS LAYAR
masuk ke keterampilan berbicara/speaking. Saya coba putar
otak mencari solusi alternatif agar mereka tertarik untuk belajar
kembali. Akhirnya saya berikan materi listening dan speaking
melalui lagu/song. Saya coba memilih lagu-lagu kekinian yang
saya pikir sesuai dengan usia dan masanya mereka. Saya tanya
ke anak-anak saya--yang kebetulan duduk di tingkat SMP--
tentang lagu-lagu yang sedang hit saat ini. Lagu-lagu berbahasa
Inggris yang kira-kira sedang digandrungi remaja saat ini.
Ada beberapa lagu yang saya pikir cocok untuk mereka.
Namun sayang, mereka memang tidak terbiasa mendengarkan
lagu-lagu berbahasa asing. Keseharian di masyarakat tempat
mereka tinggal mendengarkan lagu-lagu dangdut pantura
sangat melekat pada diri mereka. Jadi sulit untuk beralih
mendengarkan sedikit saja lagu-lagu berbahasa asing. Kalau
disuruh menyanyikan lagu dangdut pantura, jangan tanya,
sebagian besar siswa bisa menyanyikannya dengan baik. Namun
semangat tak pernah pudar. Meskipun banyak siswa yang
mengeluh merasa kesulitan dan menyerah begitu saja. Terlebih
saya sebagai guru harus terus mendorong dan memotivasi
mereka untuk tetap semangat berusaha sekuat tenaga.
Di tengah-tengah kelesuan pembelajaran, chat siswa
yang ingin berkonsultasi atau sekedar menanyakan materi
pelajaran rasanya seperti air sejuk di tengah padang gersang.
Walau jumlahnya bisa dikatakan sangat sedikit. Namun saya
menanggapinya dengan senang hati. Saya rela menjawab chat
mereka walau pada jam-jam di luar pembelajaran, bahkan di
larut malam. Saya rela menjawab panggilan telepon mereka
meski mengganggu waktu istirahat saya. Yang terpenting
semangat belajar mereka jangan sampai padam gara-gara tidak
mendapat balasan dari saya sebagai gurunya.
SEBATAS LAYAR | 75
Tidak bosan-bsannya juga saya hubungi siswa-siswa
yang mulai malas bergabung dalam pembelajar dan tidak mau
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Ada beberapa
yang datang ke sekolah dan mencurahkan keluh kesahnya
selama mereka belajar di masa pandemi ini. Tentu saja saya
berikan dorongan dan motivasi untuk terus berusaha mengikuti
pembelajaran, baik secara daring maupun luring.
Wali kelas dan guru BP/BK tidak kalah keras berusaha
memberikan motivasi dengan melakukan kunjungan ke rumah-
rumah siswa yang bermasalah (homevisit) untuk menyisir siswa-
siswa yang tidak respon terhadap pembelajaran. Peran orang
tua sangat diharapkan dalam masa pandemi ini dalam
mendampingi anaknya belajar di rumah.
Beruntung suami saya juga sama-sama pendidik, namun
bertugas di sekolah yang berbeda dengan saya. Jadi kami
seringkali berdiskusi mengenai masalah-masalah yang kami
temukan di lapangan. Saat ngobrol-ngobrol sambil berdiskusi
itu muncul ide-ide yang bisa kami terapkan dalam kegiatan
mengajar kami. Semoga apa yang kami lakukan bisa bermanfaat
untuk masa depan mereka. Dan semoga pandemi ini segera
berlalu, dan kehidupan kita bisa kembali normal seperti sedia
kala. Aamiin.
76 | SEBATAS LAYAR
Profil Penulis
Mardiani, S.Pd. yang lahir di
Bandung 17 Maret 1972 ini
adalah guru Bahasa Inggris
yang mengajar di SMPN 1
Lohbener Kabupaten
Indramayu. Pendidkan
terakhir ditempuh di IKIP
Bandung (sekarang UPI)
pada tahun 1992 dan lulus
tahun 1997. Setahun
kemudian menikah dan
dikaruniai 3 orang anak laki-
laki dan seorang anak
perempuan. Awal karirnya mengajar sebagai guru honorer di
SMA dan STM Kartika Candra Bandung serta di SMA Yasayan
Atikan Sunda (YAS) Bandung. Pada tahun 1999 mendapatkan SK
CPNS di SMPN 7 Sumedang sebelum mutasi ke tempat tugas
sekarang ini.
SEBATAS LAYAR | 77
SENYUMANMU
KURINDUKAN
Marwiaty Djafar
“Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain
ilalangnya”. Betul kata pepatah ini. Karena
kegiatan belajar mengajar kita di masa
pandemi ini beragam suka dan dukanya. Lain sekolah lain pula
problemnya. Bahkan lain kelas lain juga masalahnya. Namun
demikian tidak menyurutkan niat kita sebagai guru, sebagai
suluh untuk anak-anak didik kita. Dan tetap bersemangat
mendampingi mereka dalam mengarungi pendidikan mereka di
masa seperti ini. Walaupun hal ini tidak terlepas dari tanggung
jawab orang tua mereka masing-masing.
Seyogyanya tidak ada rasa jenuh. Apalagi kesal dalam
menghadapi mereka. Tapi, sebagai manusia biasa tentunya hal
ini tidak bisa terlepas dari diri kita sebagai seorang guru (yang
juga punya kehidupan pribadi, mengurus anak-anak sendiri, dan
tetek bengek kehidupan lain). Untuk mengobati perasaan ini
kita kembali menengok ke belakang pada saat kita masih di
masa-masa sekolah seperti mereka. Dan terlebih lagi sekarang
sebagai tanggung jawab moral yang harus betul-betul
dipertanggungjawabkan. Ini yang membuat saya selalu
78 | SEBATAS LAYAR
bersemangat dalam mengahadapi mereka yang tentunya
beragam latar belakang kehidupan, serta karakter mereka yang
pasti beragam juga.
Sebagai seorang guru saya berpikir sekarang,
bagaimana cara mereka tetap bersemangat dan termotivasi
untuk tetap mengikuti proses pembelajaran di masa sekarang
ini (pandemi Covid-19). Saya ingin mereka tetap menikmati
proses ini dengan segala liku-liku yang sangat kompleks di
dalamnya (termasuk kalau ada guru yang selalu menuntut untuk
menyelesaikan tugas-tugas mereka tepat waktu). Hal ini yang
membuat sang anak juga tidak kehabisan akal untuk
menyelesaikan tugasnya (walaupun mungkin hanya copy paste
saja) demi tidak dikatakan tidak ikut dalam pembelajaran ini.
Atau kata guru-guru seluruh Indonesia, “Hanya sekedar
menggugurkan kewajiban dengan absen saja, lalu menghilang...
hm...hm...hm).
Kita kembali ke masa sebelum pandemi, dengan belajar
tatap muka. Saya biasa menyaksikan mereka yang diantar oleh
orang tua mereka ke sekolah, naik ojek atau berkendaraan
sendiri, turun di pintu gerbang sekolah (yang jaraknya kurang
lebih 3 menit perjalanan ke ruang kelas mereka) dengan
tergopoh-gopoh (dengan berlari-lari kecil, dan berharap pintu
gerbang sekolah belum tertutup) takut terlambat atau berjalan
dengan penuh semangat (dengan langkah pasti) disertai
senyuman dan sapaan pada teman-teman mereka yang
kebetulan berpapasan di pintu gerbang atau searah “Hai...,
assalamualaikum.“ Atau karena takut dijemput oleh Kepala
Madrasah di depan gerbang sekolah (yang kalau lagi good mood
pasti dengan senyuman dan candaan ringan dengan kata-kata
yang penuh makna, “Assalamualaikum anak-anak, belajar yang
SEBATAS LAYAR | 79
rajin yah. Agguruko madeceng deceng anak-anak ....” Yang
terakhir ini bahasa Bugis-Makassar. Tapi kalau lagi bad mood...,
waduh anak-anak akan lari menghindar karena takut menerima
sanksi keterlambatan.
Begitu juga setelah masuk dalam kelas masing-masing.
Ketika itu saya mengajar di kelas putra (tentunya pelajaran
Bahasa Inggris), pada jam terakhir lagi. Yang entahlah, gurunya
yang sudah mulai mengantuk ataukah siswanya yang juga sudah
mulai mengantuk. Yang pastinya kedua belah pihak ada
problem masing-masing dalam hati. Tapi prinsip saya apa pun itu
tidak boleh seorang guru memperlihatkan bahwa dia tidak siap
mengajar. Maka saya mengadakan ice breaking sebelum
memulai masuk pada materi inti, walaupun sebelumnya selalu
mengadakan ice breaking di setiap kelas yang saya ajar sebagai
pembuka. Untuk di kelas ini (XII IPA 4) yang jumlahnya 34 siswa
dengan jenis kelamin laki-laki, saya merasa banyak tantangan
dan harus punya extra strategi untuk menghadapi mereka, agar
tetap minimal ikut dalam pembelajaran Bahasa Inggris dan aktif
dalam mengikuti prosesnya dan diharapkan akhirnya akan
memberikan respon yang baik (umpan balik) untuk kelancaran
selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas tersebut.
Selain itu untuk melatih pronounciation serta menambah
perbendaharaan kata-kata mereka.
“Assalamualaikum anak-anakku! Bagaimana kabar
kalian hari ini? Apakah kalian sudah siap dalam mengikuti
pelajaran kita kali ini?” Kata saya dalam bahasa Inggris. Ada yang
merespon dan ada juga yang setengah mengantuk tapi tetap
menjawabnya. “Siap, Bu!“ Saya mulai dengan menguji kesiapan
mereka dalam belajar. Setiap siswa harus mengucapkan sebuah
kalimat apa saja yang terlintas dalam benaknya, tentunya
80 | SEBATAS LAYAR
menggunakan bahasa Inggris. ”Sampaikan satu kalimat atau
minimal dua kata pada Ibu atau pada teman di sebelah kalian“.
Saya langsung menunjuk siswa yang duduknya paling pojok
kanan dari saya. (Saya tidak mengoreksi kesalahan struktur
bahasa mereka tapi mencoba memahami apa yang mereka
sampaikan). Dengan tidak memberi jeda waktu kepada mereka
antara satu dengan yang lainnya. Seru sekali ada yang langsung
mengatakan “I’m so hungry Mam.“ Maklumlah waktu makan
siang he...he...he. Dengan tersenyum saya menjawab: “I’m sorry
to hear that, saya prihatin dan sama juga dengan Ibu. Sangat
lapaaar.“ Mereka tertawa. Yang tadinya ngantuk matanya
sudah mulai redup langsung respon, “Saya juga, Bu...,” sambil
tersenyum malu dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak
gatal. Keseruan itu berlanjut dengan kalimat-kalimat yang lain
yang meluncur dari mulut mereka tentunya yang mereka
pahami dan mengerti artinya. Yang punya giliran agak lama
masih punya kesempatan untuk memikirkan kalimat apa yang
akan mereka sampaikan. Saya tiba pada siswa yang duduk
paling pojok sebelah kiri saya. ”Agung..., tolong sebutkan satu
kalimat yang terlintas dalam pikiranmu saat ini.” kata saya
sambil mendekati meja belajarnya. Agung tersenyum tapi belum
mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin masih sementara
berpikir. Karena belum ada jawaban dan kelihatannya kelas
sudah mulai siap untuk belajar, maka saya pun kembali ke meja
guru untuk duduk. Selang beberapa detik kemudian Agung
menghampiri saya sambil jongkok di depan meja guru dengan
tangan yang ditumpangkan di atas meja dengan wajah seperti
orang yang memelas dan tanpa rasa bersalah sambil
mengucapkan “I love you, I like your smile.“ Saya langsung
tersenyum dan meresponnya dengan mengatakan, “Terima
kasih, Nak.” Temannya yang lain merespon, “Agung lagi
pedekate pada seseorang di kelas IPA 2, Bu. Yang tiap hari lewat
SEBATAS LAYAR | 81
di depan kelas kami.” Kata salah seorang temannya yang belum
mendapat giliran. Masih dengan tersenyum karena memikirkan
tingkah Agung yang seperti orang bermain drama dalam
sinetron-sinetron di TV dengan akting orang yang sedang
menyampaikan perasaan hatinya pada seseorang.
“Agung pada siapa kata-kata itu pernah kamu
sampaikan, selain pada Ibu?“ Sambil tersenyum dia menjawab,
”Pada mamaku, Bu.” Dengan logat Bugis-Makassarnya yang
kental sambil nyengir. “Apakah dia mengerti apa yang kamu
katakan?” kata saya sambil memperhatikan wajahnya yang
seakan tiada beban. Dia menjawab, “Tidak, Bu....” Seluruh kelas
tertawa mendengarkan penjelasan Agung. Kesempatan ini saya
gunakan untuk masuk pada materi pembelajaran berikutnya.
Di masa sekarang yang belajarnya PJJ, hal itu sangat
saya rindukan yang selalu membuat gurunya tersenyum walau
sesulit apa pun kondisinya. Justru dari merekalah murid-murid
kita yang tetap memberikan semangat untuk selalu bersama
dengan mereka. Maka dari itu semangat itu yang saya tularkan
pada mereka di masa pandemi ini, walaupun hanya dengan
seuntai kata, sebaris kalimat, serta gambar-gambar dari emoji
yang sesuai atau dari video-video motivasi dan tentunya dengan
penyajian materi yang selalu bervariatif. Termasuk juga dengan
memberikan “E Englsih Book” sebagai buku pegangan yang
saya buatkan dengan menggunakan book creator.
82 | SEBATAS LAYAR
Sekilas tentang book creator, menurut saya bagus
karena bisa memasukkan materi ajar yang dibuat sendiri, baik
berbentuk PPT, Video, Audio termasuk materi Listening
(semoga menginspirasi teman-teman).
Salam hangat dan penuh semangat dari Kota Daeng.
Makassar, Februari 2021.
SEBATAS LAYAR | 83
Profil Penulis
Marwiaty Djafar, dilahirkan di
Kabupaten Enrekang dan
dibesarkan di kota Pare-Pare;
yaitu lahir di Matarin
kabupaten Enrekang Provinsi
Sulawesi Selatan, pada bulan
Desember 1968, alumni MAN 1
Pare-Pare (1987) ini
melanjutkan studinya di IAIN
UjungPandang (yang sekarang
sudah menjadi UIN Makassar)
dengan mengambil jurusan
Tadris Bhs. Inggris pada
fakultas Tarbiyah. Sebelum
menyelesaikan studinya di
kampus IAIN UjungPandang, ia mencoba menyalurkan bakatnya
di bidang broadcast di salah satu radio swasta di Makassar,
dengan memegang acara seni dan wisata nusantara, sambil
belajar nulis puisi. Mengajar di MAN 2 Pare-Pare (1993-2004).
Setelah itu mengajar di MTs.N Pare-Pare (2004-2008). Dan
mengajar di MAN 3 Makassar (2008-sekarang ).
84 | SEBATAS LAYAR
KELAS DARINGKU
BEGINI
Mila Fauzi Amalia
Kali ini saya sangat ingin sekali menulis tentang
pembelajaran daring atau pembelajaran dalam
jaringan. Pasti semua mengenal pembelajaran
seperti apakah ini. Daring sebenarnya sudah ada sejak lama
namun kata ini muncul kembali sejak dunia dilanda pandemi.
Tiba-tiba daring menjadi bahasa yang populer dan sering
diucapkan.
Ternyata banyak sekali keuntungan yang bisa kita
peroleh dari pembelajaran daring ini, sebagai guru atau sebagai
murid sebaiknya memang mengambil manfaat yang banyak.
Manfaat yang saya terima sebagai guru dari kelas daring ini di
antaranya:
1. Keleluasaan Waktu
Dari daring saya belajar banyak sekali melakukan hal
dalam sekali waktu, saya bisa mengajar sambil rebahan,
sambil dasteran, sambil ngasuh atau nyuapin anak. Hal yang
tidak bisa saya lakukan ketika saya harus berangkat ke
sekolah mengajar dari pagi hingga siang.
SEBATAS LAYAR | 85
2. Mempelajari Media Pembelajaran Daring
Jujur saja, mau tidak mau suka tidak suka sepertinya
semua guru dituntut untuk lebih melek teknologi di masa
pandemi ini. Webinar-webinar gratis bermunculan demi
mengembangkan dan meningkatkan kemampuan guru
dalam bidang teknologi pendidikan. Sebelum pandemi,
seminar-seminar tentang teknologi pendidikan berbayar dan
bahkan sepi peminat. Hikmah lain yang bisa kita ambil dari
pandemi ini guru menjadi tinggi semangat belajarnya.
3. Praktis
Tentu saja praktis. Guru tinggal memberikan materi
ajar dari rumah selama jaringan internet mendukung,
pembelajaran pun dapat berlangsung dengan lancar. Apalagi
kalau kerja sama antara guru dan murid berjalan baik.
4. Solusi di Masa Pandemi
Ketika tatap muka tidak dapat dilakukan, daring adalah
satu-satunya solusi agar proses pembelajaran dan
pendidikan tidak berhenti. Mau tidak mau semua
menerapkan media daring untuk pembelajaran di balik
banyaknya pro dan kontra tentang pembelajaran ini. Tentu
saja solusi ini dimanfaatkan oleh yang benar-benar mau
belajar.
Di balik manfaat pembelajaran daring ternyata banyak
cerita di baliknya. Yang membuat murid, guru bahkan orang tua
menjadi stress dan kewalahan. Daring bikin darting ada
benarnya juga. Saya sebagai guru dan orang tua dari dua anak
yang masih duduk di Sekolah Dasar mengalami hal yang sangat
86 | SEBATAS LAYAR
nyata dari dampak daring ini. Mungkin setiap orang tua
mengalami hal yang serupa seperti anak yang sulit diajak kerja
sama.
Bukan hal yang mudah mengajak anak kerja sama,
menjadi hal yang melelahkan ketika anak merasa jenuh dan
bosan dengan bahan ajar yang diberikan gurunya. Memaksanya
bukanlah hal yang tepat, karena mereka malah kadang penuh
drama. Bisa jadi karena materi ajar yang sulit, menjenuhkan atau
memang malas.
Selain itu, Gaptek atau gagap teknologi menjadi
kendala dalam pelaksanaan belajar secara daring, orang tua
yang tidak terbiasa memegang ponsel tiba-tiba harus pegang
ponsel dan membantu anak mengerjakan tugas, atau guru yang
malas belajar membuat materi ajar yang membosankan atau
mungkin juga anak remaja yang sudah mahir menggunakan
ponsel namun tak berminat belajar. Sangat menjengkelkan
memang. Tapi harus bagaimana lagi?
Saya mengajar Bahasa Inggris di kelas 8. Terlalu banyak
kendala yang kami hadapi. Entah itu benar atau hanya alasan.
Belajar bahasa Inggris dianggap belajar (yang sebenarnya) tidak
begitu sulit dimasukkan ke sistem daring ini. Namun pada
kenyataannya anak-anak banyak yang mengeluh. Mungkin
sebagian bukan mengeluh karena kesulitan memahami
pelajarannya tapi mengeluh dengan keadaan.
Banyak anak yang tidak memiliki kuota belajar
meskipun sudah disediakan sekolah, masih banyak yang
mengeluh tidak bisa aktif dan sebagainya. Tidak bisa membuka
tautan yang diberikan di grup kelas, ponsel yag rebutan dengan
SEBATAS LAYAR | 87
saudaranya, atau anak yang tinggal di pondok pesantren yang
fasilitas ponselnya sangat dibatasi.
Hmmmm, cape memang. Belajar daring tak seindah
yang dibayangkan. Bisa mengajar dari rumah jika masih banyak
kendala tetap tidak menjadi mudah juga. Ada seratus lebih siswa
yang tergabung di grup kelas dan hanya beberapa yang
semangat mengikuti pelajaran. Berbagai cara saya tempuh jika
memang link-link web menyulitkan mereka saya mengajar
dengan media WhatsApp yang sangat mudah dan semua orang
pasti tahu aplikasi ini. Mengajar melalui video, gambar, screen
record, voice note bahkan absensi melalui WA agar
memudahkan mereka. Tapi hasilnya memang tak sebagus yang
dibayangkan. Tapi ada kemajuan.
Sekolah kami memang ada di daerah tapi tak terlalu
terpencil juga, jaringan internet sudah masuk ke kampung-
kampung. Namun keinginan belajar masih rendah, apalagi
belajar Bahasa Inggris yang dianggap bahasa asing dan tidak
perlu didalami juga (sakit mendengarnya). Kadang saya sendiri
insecure melihat guru-guru lain di channel youtube mengajar
dengan anak-anak yang penuh rasa ingin tahu akan Bahasa
Inggris.
Ketika Luring pun mereka mengalami kesulitan, apalagi
daring. Tapi ini tidak mematahkan semangat saya untuk tetap
mengajar. Saya pikir semua guru mengalami hal yang sama
dengan sistem daring ini.
Kebanyakan anak didik saya tinggal di pesantren yang
sudah saya sebutkan tadi di atas penggunaan ponsel itu sangat
dibatasi. Sekolah, sebenarnya waktunya sebentar. Mungkin dari
jam 8 pagi hingga jam 11. Tapi entah kenapa waktu selalu saja
88 | SEBATAS LAYAR
tidak cukup dan orang tua banyak yang mengeluh kuota untuk
belajar kadang habis ratusan ribu dalam seminggu. Dan kami
tahu orang tua pun mengalami banyak kesulitan dampak dari
pandemi ini.
Akhirnya, kuota habis, belajar tidak, orang tua
mengeluh.
Untuk anak-anak yang tinggal di pesantren benar-
benar harus didampingi. Ternyata kuota data mereka habis
digunakan untuk gaming atau berselancar di sosmed. Ya tidak
salah juga sih. Mungkin mereka bosan. Menurut saya sih, itu
perlu sekali-kali. Tapi kalau sudah keterlaluan, mereka harus
diberi pelajaran juga.
Seminggu sekali setiap jam pelajaran saya mulai, saya
selalu koordinasi dengan ketua kobong (kobong: sebutan kamar
untuk orang yang mondok di pesantren) bahwa anak didik saya
harus sudah siap belajar pada hari senin jam 8. Kalau tidak
begitu, ah entahlah….
Alhamdulillah, ada peningkatan meski tidak seratus
persen. Jadi intinya mengajar daring itu butuh bimbingan dan
pendampingan apalagi untuk anak-anak yang tidak tinggal
dengan orang tuanya, karena semua anak didik belum paham
tanggung jawab sepenuhnya sebagai pembelajar.
Sebagi guru jangan bosan mendampingi mereka. Yang
terpenting dalam pendidikan adalah pendidikan karakter. Salah
satunya menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap dirinya
sendiri.
SEBATAS LAYAR | 89
Untuk menumbuhkan kecintaaan mereka terhadap
bahasa Inggris tanpa melupakan Bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional di sekolah saya, memang agak sedikit sulit.
Mereka belum paham seberapa untungnya memiliki
kemampuan berbahasa asing. Ini saya buktikan di kelas daring
saya. Mereka lebih suka mencatat daripada berbicara. Dan
mereka selalu memulai dengan kata “maaf” sebelum berbicara.
“Maaf, Bu, saya nggak bisa bahasa Inggris jadi
ngomongnya banyak yang salah.”
“Maaf ya, Bu, kalau banyak yang salah pengucapannya.”
“Maaf, Bu, saya ngga bisa jadi banyak yang salah.”
“Maaf, Bu, saya ga minat belajar Bahasa Inggris.”
“Maaf, Bu, saya mah orang Sunda, buat apa ngomong
Inggris.”
Mereka salah apa sampai harus meminta maaf? Seperti
itulah pengalaman mengajar saya selama pandemi yang tidak
terasa sudah mau menginjak satu tahun ini.
Betapa rindunya mengajar di kelas secara langsung.
Menyaksikan mereka yang rajin, yang semangat, yang malas,
yang cuek dan semua ekspresi ketika mereka belajar bahasa
Inggris di kelas secara langsung, secara luring.
90 | SEBATAS LAYAR
PROFIL PENULIS
Mila Fauzi Amalia adalah
penulis dan seorang ibu dari 3
anak perempuan, sekaligus
guru Bahasa Inggris yang
mengajar di MTs dan MA
Pulosari- Limbangan Garut.
Kegiatan menulis dilakukan
sebagai hobi. Beberapa kali
buku antologinya diterbitkan.
Termasuk buku Pendidikan
Karakter yang ditulisnya
bersama guru-guru dari
seluruh Indonesia. Antologi ini
merupakan buku keduanya
yang ditulis bersama para
guru, khususnya guru Bahasa Inggris.
Bebeberapa tulisan lainnya bisa dibaca di website pribadinya
www.milafauziamalia.com. Untuk mengenal lebih dekat
dengan penulis bisa diikuti di beberapa media sosialnya seperti
Instagram di www.instagram.com/milafauziamalia. Penulis juga
kerap membagikan video mengajarnya di channel youtube
www.youtube.com/milafauziamalia
SEBATAS LAYAR | 91
PENGALAMAN
MENGAJAR
BAHASA INGGRIS
SAAT PANDEMI
Nenden Hazrianthi
Izinkan saya menceritakan hal yang sedang saya
alami dan menyampaikan hal yang sedang terjadi.
Terus terang pembelajaran di masa pandemik ini
sangat mengganggu, karena biasanya saya mengajar masuk ke
kelas dan bertemu siswa-siswi SMP yang baru masuk dan baru
pertama kali belajar Bahasa Inggris, sementara di kelas yang
sekarang di google classroom banyak siswa-siswi saya yang
masih belum bisa bergabung dengan alasan belum punya hp
dan hanya beberapa siswa saya yang punya hp dan bisa
bergabung di google classroom.
Saya coba mencari solusinya, saya membuat grup
telegram dan saya share link grup telegram ke wali kelasnya.
Ada 8 kelas yang saya ajar dengan link telegram yang saya buat.
92 | SEBATAS LAYAR
Ada beberapa siswa yang sudah bergabung di grup yang saya
buat sekitar 210 siswa siswi saya sudah ada di telegram.
Lumayan daripada tidak ada group yang buat saya sangat
menghemat waktu dan tenaga, karena dengan group telegram
saya bisa memantau siswa-siswi yang sudah mau mengerjakan
tugas dan yang belum. Sekiranya ada siswa yang masih belum
install telegram di HP saya pun, minta tolong ke ketua kelasnya
untuk mengajak teman-temannya join di link telegram.
Yang sangat membuat saya makin terpacu untuk
mengerti masalah IT ada siswa siswi saya yang masih japri
dengan link WA. Akhirnya saya pun meminta ke ketua kelasnya
supaya saya diajak masuk di group WA juga. Maka jadilah saya
join dengan grup siswa-siswi khusus mata pelajaran Bahasa
Inggris. Duh, sangat dituntut kesabaran tingkat tinggi, karena
jadwal pelajaran saya setiap hari Rabu, saya pun harus siap
menerima japri WA dari hari Rabu ke Rabu berikutnya.
Saya pernah juga mencoba meminta siswa siswi saya
supaya bergabung di link google meet hampir seminggu
sekali,jadi setiap hari Rabu saya akan share tugas di link google
classroom, dan sesekali saya bertemu tatap maya di link
googlemeet. Pernah juga saya mengajak mereka join dengan link
zoom dan karena kapasitas zoom hanya seratus orang, akhirnya
saya sekarang konsisten menggunakan googlemeet yang ada di
akun belajar.id dari kemendikbud. Benar-benar saya dituntut
untuk kreatif. Apalagi saat meminta siswa-siswi saya untuk
mengerjakan tugas-tugas saya ingin sekali siswa-siswi saya tetap
semangat belajar Bahasa Inggris walaupun saya masih belum
mahir teknologi. Untuk bahan pelajaran saya mengandalkan
modul online dari kemendiknas dan buku when English rings the
bell yang berbentuk pdf dan bisa diakses oleh siswa-siswi saya
SEBATAS LAYAR | 93
yang baru kelas 7. Untuk mengecek kemampuan mereka
berbicara, saya meminta mereka untuk membuat video yang
isinya mendeskripsikan diri mereka sendiri dan rumah yang
mereka tempati dan anggota keluarga yang ada di rumah itu.
Ada beberapa orang tua murid yang menjapri saya
dengan WA dan meminta saya untuk menjelaskan pelajaran
berbentuk video. Akhirnya saya pun merekam pembelajaran
dengan bandicam. Saya upload ke youtube dan saya share link-
nya di google classroom. Sampailah pada saat penilaian. Saya
men-share soal-soal yang harus mereka kerjakan di google form
yang saya buat. Beberapa siswa-siswi saya ada yang mendapat
nilai 100 dan ada juga yang mendapat nilai di bawah kkm. Saya
berpikir, alangkah mudahnya. Seandainya saya mahir IT, saya
mencoba mencari di youtube video tentang bagaimana
pembelajaran yang menyenangkan. Saya juga bergabung
dengan komunitas guru bisa. Saya masih harus belajar lagi
bagaimana siswa-siswi saya, walaupun pandemik tapi mereka
bisa tetap teliti, sabar, terampil belajar Bahasa Inggris. Saya
merekap hasil nilai siswa-siswi saya dan saya menggunakan
aplikasi konversi nilai di youtube yang menurut saya lumayanlah.
Bisa membantu siswa-siswi saya untuk mendapatkan nilai yang
sesuai KKM. Nilai ketuntasan minimal di sekolah saya lumayan
tinggi juga, sekitar 76. Beberapa siswa-siswi saya bisa
memperoleh nilai di atas kkm yang ditentukan oleh sekolah. Ada
juga, sih, yang masih belum maksimal. Wajar sajalah, karena
siswa-siswi saya kelas 7 SMP masih baru belajar bertanggung
jawab dan masih harus selalu diingatkan untuk melaksanakan
kewajiban. Oh, iya. Saat saya mengetik pengalaman mengajar di
saat pandemik ini, besok hari Senin tanggal 15 Maret 2021, siswa-
siswi saya akan melaksanakan penilaian tengah semester
genap. Saya senantiasa berharap siswa-siswi saya akan
94 | SEBATAS LAYAR
mendapatkan hasil yang terunggul dalam prestasi mereka,
walaupun belum pernah bertemu dengan saya sebagai guru
Bahasa Inggris yang hanya bisa berharap dan berdoa. Semoga
bisa ada lagi pembelajaran tatap muka. Oh, iya. Siswa-siswi saya
akan melaksanakan penilaian tengah semester genap sekitar 5
hari ke depan gaes, Senin sampai dengan Jumat. Jadwal Bahasa
Inggris saya kebetulan hari Rabu sesuai dengan jadwal mengajar
saya. Pagi hari tadi saya sudah share link ke guru yang ditunjuk
untuk mengumpulkan link soal. Jadi lumayan lega. Saya sambil
menulis ini masih berharap saya akan semakin mahir teknologi.
Semoga bisa terus belajar dan mengajar dengan
menyenangkan. Semoga ke depannya siswa-siswi yang saya ajar
akan lebih mahir berbahasa Inggris dibandingkan saya sebagai
gurunya dan saya juga berharap siswa-siswi saya nasibnya
menjadi lebih baik dari saya. Sambil menulis ini pun saya
berharap e raport saya bisa tuntas juga.
Kebetulan e raport yang saya kerjakan hari ini adalah
khusus e raport penilaian tengah semester genap. Jadi saya
menginput nilainya hanya 3 nilai keterampilan dan 3 nilai
pengetahuan, sesuai Kompetensi Dasar di semester genap ini, 3
Kompetensi Dasar 3.1, KD 4.1, dan 3.2 dan KD 4.2.4.2.1 dan 4.2.2.
Semoga tulisan pengalaman mengajar di masa
pandemik ini bermanfaat.
SEBATAS LAYAR | 95
PROFIL PENULIS
Nama penulis Nenden
Hazrianthi, M.Pd. Lahir di
Cianjur tanggal 10 Desember
1969. Pernah menjadi guru
berprestasi tahun 2018, juara
2 di Kota Tangerang Selatan.
Mengajar di SMPN 3
Tangerang Selatan dari
Tahun 1995 sampai dengan
sekarang. Pernah menjadi
guru inti di kegiatan PKP yang
dilenggarakan kemendiknas
tahun 2019 sampai dengan 2020. Pengalaman pendidikan, SD
Ibu Jenab 1 di Cianjur lulus 1981, SMP negeri 1 Cianjur. Pernah di
SPG dan lulus 1987, dan SMA persamaan lulus 1987, pernah
kuliah di IKIP Bandung Lulus 1989. Pernah di UT Universitas
Terbuka lulus tahun 2001 sarjana Bahasa Inggris. Dan S2
UNINDRA pasar rebo lulus tahun 2017. Pernah berorganisasi dan
sekarang masih menjadi bendahara IGI Kota Tangerang Selatan.
96 | SEBATAS LAYAR
SALAH SETING
JADI SALTING
Nining Suryaningsih
T ak disangka tahuh ajaran baru Juli 2020 tetap tak
ada tatap muka. Pandemi ini membuat sekolah
belum bisa memfasilitasi guru dan siswa bertemu
di kelas untuk belajar seperti biasa. Empat bulan sudah, namun
tanda-tanda kehidupan normal belum bisa kami rasa. Sekolah
pun memutuskan siswa dan guru melakukan proses belajar
mengajar dari rumah.
Karena aku mendapat tugas mengajar di tiga kelas 8 dan
tiga kelas 9 maka aku berinisiatif membuat dua WAG khusus
pembelajaran Bahasa Inggris. Satu WAG kuberi nama 8ABC, dan
satu lagi kuberi nama 9ABC, sesuai kelas yang kuajari. Setelah
aku membuat WAG dua tingkat aku membagikan link WAG
tersebut kepada wali kelas 8A, 8B, 8C, 9A, 9B, dan 9C. Tak lama
kedua WAG itu pun ramai dengan notif. Maklum satu kelas
memiliki rata-rata 36 siswa maka dalam satu WAG ada sekitar
100 siswa.
SEBATAS LAYAR | 97
Melihat perkembangan WAG yang bikin telinga tak
beristirahat akhirnya aku putuskan membuat peraturan. Salah
satu yang kutekankan adalah tentang pembatasan komen yang
tak perlu. Aku juga melarang siswa mengirimkan sticker yang
alay dan lebay (bukan apa-apa, perang sticker itu bisa-bisa bikin
HPku nge-hang).
Baru kutahu dari anak bungsuku kalau sebagai admin
WAG aku bisa memilih setting “hanya admin yang mengirim
pesan”. Aha, inilah yang kubutuhkan.
Sebelumnya aku mengangkat satu siswa dari setiap
kelas untuk menjadi admin di WAG khusus pembelajaran Bahasa
Inggris itu. Andai pun admin yang kirim pesan di WAG pasti tak
akan sebanyak dan seramai bila aku setting “semua bisa
mengirim pesan”.
Saat jam pelajaran Bahasa Inggris tiba aku buka setingan
“pengiriman pesan” agar semua siswa dapat aktif berdiskusi
saat pembelajaran. Aku tak ingin hanya menyapa lalu memberi
tugas pada siswa. Aku ingin 45 menit waktu belajar yang
diberikan sekolah per tingkat per mata pelajaran dapat
dioptimalkan untuk siswa belajar.
Buatku, makna belajar adalah siswa berproses,
melakukan kegiatan, terutama berpikir, yang diwujudkan dalam
kegiatan bertanya, merespon, atau memberi jawaban dan
mengeluarkan pendapat mereka. Betapa pun sulitnya hal ini
kukondisikan aku tak menyerah. Aku tetap memancing mereka
agar aktif di WAG. Itu sebabnya setingan WAG kubuat “semua
dapat mengirim pesan” saat pembelajaran.
98 | SEBATAS LAYAR
Begitulah akhirnya, setiap Kamis aku selalu mengubah
setingan WAG untuk kelas 8ABC pada pukul 10.15 dan WAG kelas
9ABC pada pukul 11.00 ke moda “All can send message” dan
setelahnya aku kembali klik moda “Only admin can send
message”.
Walau setingan WAG sudah kubuka agar para siswa
dapat berdiskusi, keaktifan siswa masih menyedihkan. Hanya
dua atau tiga siswa yang sering merespon saat diskusi. Kalau
menjawab salam dan sapaan atau menulis basmalah sebagai
awal pembelajaran sih banyak, wkwkwk ....
Gundah hati tak terperi saat mendapati banyak siswa
hanya mengintip percakapan dan diskusi tanpa berusaha aktif
menimpali. Aku bisa tahu itu karena aku suka buka setingan
message di WA. Setelah satu menit pertanyaanku tentang
materi pembelajaran tak jua direspon siswa, aku sering mengklik
MESSAGE INFO. Banyak yang melihat pertanyaanku namun
entah mengapa tak banyak yang segera meresponnya. Aku
terus bertanya-tanya. Biasanya di menit ketiga setelah
pertanyaan kuajukan barulah ada satu atau dua siswa
merespon.
Sering aku mengeluhkan keadaan ini pada anak
bungsuku. Akhirnya aku menemukan beberapa alasan yang
mungkin menjadi penghalang mereka segera merespon
pertanyaan. Salah satunya adalah pertanyaan yang kuajukan
sering kubuat dalam bahasa Inggris. Niatku sih satu, agar
mereka terbiasa melihat penggunaan bahasa Inggris dalam
percakapan. Seiring dengan perkembangan yang tak
menyenangkan aku pun mengubah cara penyampaian. Kalau
dalam dua menit tak ada satu pun siswa merespon
pertanyaanku di WAG aku menuliskan ulang pertanyaan
SEBATAS LAYAR | 99
menggunakan bahasa Indonesia, bahkan kadang-kadang
bahasa Sunda biar bisa sedikit ditambah bercanda. Hahaha ....
Cara tersebut sedikit banyak membantu keaktifan siswa.
Walaupun begitu tetap saja jumlah siswa yang aktif merespon
hanya beberapa.
Sekali waktu aku mengajar di WAG menggunakan WA
Web, alih-alih di HP. Saat itu aku sedang dalam tugas membuat
modul dari Kemendikbud. Aku mulai duduk di depan laptop
sejak pagi, sekitar pukul 8.00. Jadi saat masuk jam pelajaran
Bahasa Inggris di kelas 8 yang dimulai pukul 10.15 aku tinggal
buka laman tambahan.
Seperti biasa aku awali dengan menyapa. Hanya dua
siswa yang menuliskan respon sapaan di WAG 8ABC. Aku sedikit
kesal. Aku menyandarkan punggung ke kursi, sekaligus
meregangkan persendian yang kaku. Setelah satu menit berlalu
aku masih tidak melihat penambahan jumlah komentar yang
merespon sapaanku di WAG itu. Aku mulai naik pitam. Aku
menggerutu. Pikiranku dipenuhi prasangka buruk kalau siswa
semakin lama semakin malas belajar. Bahkan untuk menuliskan
kalimat “Wa ‘alaikum salaam” atau “Good morning” saja mereka
enggan.
Tak lama kulihat sebuah pesan masuk di atas WAG yang
sedang kubuka. Aku tahu itu akun WA salah seorang siswa dari
kelas 8C. Aku tambah kesal. “Buat apa ngejapri gurunya saat
seharusnya mereka meresponku di WAG?” Untunglah yang aku
ingat siswaku ini salah seorang siswa yang rajin. Kalau ada tugas
yang kuberikan pasca pembelajaran pasti dia salah satu siswa di
kelas 8C yang duluan yang mengumpulkan. Akhirnya walau
sedikit enggan aku pun mengklik akun WA yang muncul di atas
100 | SEBATAS LAYAR