akun WAG yang sedang kubuka. Setelah mengucap salam, sang
siswa ini menulis bahwa dia tak bisa menulis apa pun untuk
merespon pertanyaan dikarenakan belum ada perubahan di
setingan.
OMG, aku baru ingat kalau setingan “only admin can send
message” belum kualihkan ke “all can send message”. Tapi
sedetik kemudian aku ragu karena ada tiga siswa yang
menuliskan kalimat basmalah. Sedetik kemudian aku tertawa
terbahak-bahak hingga anak bungsuku keluar kamar dengan
tergopoh-gopoh. Lha jelas hanya tiga yang bisa menjawab, kan
mereka juga admin di grup itu.
Kubilang padanya kalau aku sudah suuzhon pada siswa
dari tiga kelas yang kuajar. Aku hampir mau marah padahal aku
yang salah. Segera aku kembali menghadap laptop dan kubuka
setingan “all can send message”. Sesuai dugaan, kalimat-kalimat
sapaan pun bermunculan, plus kalimat mengucap basmalah
sebagai awal pembelajaran.
SEBATAS LAYAR | 101
Profil Penulis
Nining Suryaningsih lahir di Bandung
pada 5 Desember 1973. Selain sebagai
guru Bahasa Inggris di SMPN 2
Padalarang Kabupaten Bandung Barat ia
juga merupakan editor di YM Publishing.
Setelah lulus dari SMAN 10 Bandung
tahun 1991 ia melanjutkan studi di Fasa
D3 Unpad. Namun 1992 ia lulus Ujian
Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(UMPTN) dan masuk ke Jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Bandung (UPI sekarang) dan
meninggalkan Unpad karena lebih memilih menjadi guru.
Mulai menulis di awal Maret 2017, sudah sembilan buku karya
tunggal yang ditulisnya. Selain menulis buku tunggal ia juga ikut
membidani lahirnya sembilan antologi (dan menjadi salah satu
penulisnya).
Beberapa komunitas dan lembaga pernah memintanya menjadi
fasilitator pelatihan menulis. Beberapa di antaranya adalah
untuk workshop menulis yang diadakan Dirjen PAUDDIKMAS
Kemendikbud (Agustus 2017), Kantor Departemen Agama Kota
Tanjung Pinang (Mei 2018),
Ia bisa dihubungi lewat WA di alamat email di
[email protected].
102 | SEBATAS LAYAR
PILAH PILIH KEGIATAN
MENULIS, YAHHH
DICOBA SAJA DULU
Ni Putu Asmaraningsih
“Wow” adalah kata yang bisa aku ucapkan
untuk menggambarkan perasaanku
mengenai PJJ. “Wow kuadrat” karena
aku kebagian mengajar kelas 7 di tahun ini. Kenapa wow?
Karena mengajar kelas 7 sama dengan memulai dari awal. Baik
dari segi materi maupun karakter. Semua harus mulai dari dasar.
Banyak siswa baru (kelas 7) yang sama sekali belum pernah
belajar Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Jadi semua materi harus
dari dasar dan diberikan secara sistematis. Itu sebabnya aku pilih
kata “wow” untuk mendeskripsikan PJJ. Mengajar tanpa
bertemu muka bukanlah hal yang mudah. Guru harus dapat
menyusun materi yang padat, menarik, dan mudah dipahami.
PJJ juga dapat melatih kesabaran lho. Menghadapi siswa kelas
7 dengan banyak pertanyaan di chat pribadi tanpa melihat
waktu. Terkadang hal yang mereka tanyakan sudah tertulis jelas
pada forum kelas atau instruksi tugas ^-^. Jadi setiap
pengumuman atau suruhan yang aku berikan di forum kelas,
SEBATAS LAYAR | 103
aku beri terjemahan dengan harapan hal ini akan
mempermudah siswa dalam belajar. Namun, entah salah siapa,
guru atau siswa, selalu saja WA dibanjiri chat pribadi dari siswa
setelah mereka membaca pengumuman forum. Bahkan tak
jarang menanyakan hal yang sangat jelas telah diterangkan
dalam pengumuman di forum kelas. Bukan hanya siswa
terkadang orang tua pun ikut sibuk mengurusi anaknya dan
mengirimiku chat. Terkadang di malam hari. Yahh, maklumlah.
Mereka baru sempat mengurus anak sepulang kerja. Pernah
juga salah seorang siswa mengirimi aku pesan yang mengatakan
bahwa dia harus menunggu orang tuanya pulang dulu, baru
dapat mengerjakan tugas. Karena dia tidak punya kuota
internet. Dalam hatiku berpikir, nah ini nge-chat apa tidak pakai
kuota? Tentu saja aku tidak mengatakan hal itu padanya. Tetap
saja aku jawab “iya” plus emot wajah tersenyum.
Di sini aku ingin berbagi pengalaman tentang mengajar
menulis dan siswa selama PJJ. Pada saat siswa kuminta untuk
membuat paragraf sederhana terkait identitas diri maupun
orang lain, aku coba memberikan paparan melalui Google Meet.
Dari total 39 siswa, 19 di antaranya hadir. Sebenarnya pada
pertemuan melalui Google Meet tersebut, aku hanya
memberikan paparan ulang terkait materi yang telah aku
berikan sebelumnya. Tentang ungkapan-ungkapan perkenalan
diri, penggunaan possessive pronoun maupun personal pronoun
dan tata cara penyusunan paragraf tentang identitas diri sendiri
maupun orang lain sudah aku sampaikan melalui Google
Classroom. Materi aku buat di Canva.com. Tentu saja aku buat
materi terlihat cantik agar siswa tertarik membacanya. Karena
rendahnya kehadiran, maka aku putuskan untuk membuat
contoh paragraf. Paragraf pertama yang harus mereka buat
adalah tentang perkenalan diri dan perkenalan salah satu
104 | SEBATAS LAYAR
anggota keluarga. Jadi aku buatkan paragraf contoh tentang
identitasku, identitas saudariku, dan saudaraku. Lengkap sudah
contoh-contohnya, pikirku. Dari contoh-contoh yang kubuat,
kuminta mereka membuat juga paragraf yang sama. Tentang
diri mereka sendiri dan salah satu anggota keluarga. Setelah
waktu pengumpulan paragraf tiba, sebagian besar siswa masih
belum dapat membuat paragraf dengan benar, baik dari segi isi,
tata
bahasa, dan pemilihan kata. Kesalahan penggunaan Possesive
atau pun Personal Pronoun masih kerap terjadi. Dari sini aku
berpikir bahwa memberikan contoh paragraf tidaklah efektif
untuk anak-anak didikku. Padahal kupikir contoh-contoh
paragraf tersebut akan sangat membantu. Kesimpulanku waktu
itu adalah anak didikku tidak membaca contoh yang aku berikan
dengan cermat.
SEBATAS LAYAR | 105
Pada kegiatan menulis yang kedua, kuputuskan untuk
memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk memandu mereka
menulis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut aku buat dalam
bentuk Google Form. Kenapa Google Form? Aku ingin
memastikan semua siswa membaca dan menjawab pertanyaan
panduan sebelum mereka menulis paragraf mereka sendiri. Jadi
bisa aku bandingkan tulisan anak yang mengerjakan latihan
dengan yang tidak. Agar lebih menarik aku tambahkan header
yang aku buat di Canva.com. Besar harapanku bahwa dengan
melihat materi yang menarik, siswa-siswaku akan merasa
tertarik untuk belajar. Dalam instruksi aku tuliskan bahwa
pertanyaan-pertanyaan ini dapat mereka gunakan juga saat
menulis nantinya. Tugas menulis yang kedua mengenai
106 | SEBATAS LAYAR
describing people. Di sini aku minta mereka untuk
mendeskripsikan salah satu anggota keluarga. Tentu saja
kegiatan menulis aku berikan setelah perkenalan kosakata,
latihan mendengarkan, dan kegiatan membaca berakhir. Aku
berharap dengan cara ini mereka akan benar-benar siap dalam
menulis. Karena sebelumnya mereka telah memiliki bekal
berupa kosakata maupun contoh paragraf tentang describing
people yang mereka dapatkan saat kegiatan membaca.
Pada tugas menulis yang ketiga, aku ingin memberikan
sesuatu yang menarik bagi siswa. Sesuatu yang luwes dan santai
sehingga ketegangan dalam belajar dapat dikurangi. Kemudian
aku memutuskan untuk menggunakan video. Aku buka
YouTube, banyak video
tersedia di sana. Namun
sebelum memutuskan
menggunakan video yang
mana, aku mengubah
pikiranku. Kuputuskan
untuk mencoba membuat
video versiku sendiri. Segera
kubuat konsep video yang
akan aku buat. Ini
pengalaman pertamaku
membuat video
pembelajaran. Sebelumnya
aku hanya menampilkan
karikatur diriku dalam video
yang kubuat. Tapi kali ini
kucoba untuk menampilkan
diriku secara langsung. Dalam video ini aku ingin membuat
sesuatu yang menarik namun padat informasi dan tentunya
SEBATAS LAYAR | 107
mudah dimengerti. Konsep video yang kurancang adalah video
di mana aku memberi contoh menulis describing animal dan
kata-kata yang aku ucapkan dapat mereka baca di belakangku.
Suatu konsep video seperti saat kita melakukan karaoke. Aku
tidak terlalu mengerti cara mengedit video jadi kubuat video
sederhana dengan aplikasi yang mudah digunakan. Jadilah
video yang akan aku gunakan untuk memaparkan materi
tentang describing animal. Video ini fokus pada mendeskripsikan
binatang peliharaan. Aku unggah video yang kubuat di Google
classroom kemudian kuminta siswa membuat teks describing
pets versi mereka masing-masing. Tidak lupa kuminta mereka
memberikan tanggapan tentang belajar melalui video. Sebagian
besar siswa memberi tanggapan positif tentang video yang aku
buat. Teks yang mereka buat pun jauh lebih baik dari
sebelumnya. Terutama dari segi isi dan tata bahasa.
Itulah pengalamanku dalam mengajar menulis selama
PJJ ini. Untuk para guru di seluruh Indonesia, mari kita tetap
semangat mencoba-coba cara baru dalam mengajar jarak jauh
ini. Jangan takut gagal atau siswa tidak menyukai kegiatan yang
kita berikan. Yahhh…, dicoba saja dulu. Bisa jadi yang kita
anggap sederhana menjadi sangat berarti bagi anak-anak.
108 | SEBATAS LAYAR
Profil Penulis
Ni Putu Asmaraningsih, lahir
dan tumbuh besar di
Tabanan, Bali. Berprofesi
sebagai guru Bahasa Inggris
di SMP Negeri 1 Tabanan
sejak 1 Januari 2005.
Wanita kelahiran 7
September 1981 ini
menimba ilmu di tingkat
dasar di SDN 1 Dauh Peken,
SMP di SLTPN 1 Tabanan,
dan SMA di SMU Negeri 1
Tabanan, Bali. Kemudian
melanjutkan pendidikan
Perguruan Tinggi S1 di IKIP
Negeri Singaraja Jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris.
Melanjutkan pendidikan S2
jurusan Universitas Pendidikan
Ganesha (Undiksha).
Wanita yang bercita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa ini
berkeinginan terus mengembangkan diri melalui pelatihan
maupun ikut serta dalam berbagai lomba yang diperuntukkan
untuk guru.
SEBATAS LAYAR | 109
BERDAMAI
DENGAN PANDEMI,
MEMANG BISA?
Nur Arif Nurudin
PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) merupakan istilah
yang penulis anggap menjadi salah satu titik
perubahan dari pemikiran penulis tentang
makna "Pembelajaran". Semuanya dimulai ketika Covid-19
datang dengan tanpa ada pemberitahuan yang menyebabkan
semuanya harus berjalan penuh dengan pertimbangan tanpa
ada persiapan yang matang. Seluruh rangkaian rencana
pembelajaran yang sudah tertata rapih seketika sirna. Namun
kompetensi tetap kompetensi yang harus tercapai. Akhirnya
penulis mau tidak mau harus menyesuaikan pembelajaran dari
tatap muka ke pembelajaran model dalam jaringan (daring).
Awalnya penulis gagap dengan berbagai macam
teknologi terapan yang akan digunakan dalam PJJ
(Pembelajaran Jarak Jauh), karena banyak rekan yang
memberikan beberapa pilihan. Google Class Room (GCR)
merupakan teknologi terapan pertama yang penulis gunakan.
110 | SEBATAS LAYAR
Pada awalnya semua berjalan dengan cukup lancar, karena
antusias siswa pun cukup baik. Meskipun ada beberapa
masalah, semuanya bisa diselesaikan karena semuanya
bersumber dari belum pahamnya siswa tentang cara
pembelajaran yang digunakan dalam Google Class Room (GCR).
Penggunaan Google Class Room (GCR) hanya berjalan sekitar
dua bulan, dan tingkat partisipasi peserta didik pun semakin
menurun. Alasan yang paling sering muncul yaitu karena
kejenuhan dari peserta didik yang melakukan proses
pembelajaran yang monoton dan arah komunikasi yang hanya
searah dan menyebabkan para peserta didik gagal paham
dengan instruksi penulis sebagai tenaga pengajar.
Pada awal tahun pembelajaran, sekolah tempat penulis
bekerja membuat sebuah workshop, yaitu tentang PJJ
(Pembelajaran Jarak Jauh) yang menyenangkan. Penulis merasa
sangat antusias dengan harapan minimnya kontribusi peserta
didik dalam proses pembelajaran bisa teratasi. Penulis pun
merasa tambah berbahagia dan bersemangat ketika
mengetahui bahwa Mas Menteri mengeluarkan keputusan
terkait "Kurikulum Darurat" karena semakin memberikan jalan
kepada para pendidik untuk bisa membuat pembelajaran yang
tidak terbebani dengan jumlah kompetensi yang begitu banyak.
Namun dengan keadaan yang serba terbatas. Dalam workshop
tersebut pun disampaikan penggunaan teknologi tidak lagi bisa
dipisahkan. Kreativitas pendidik dituntut agar proses PJJ bisa
efektif dan tidak monoton.
Akhirnya penulis memberanikan diri untuk menjadi
"Youtuber dadakan" dengan harapan apa yang ingin
disampaikan oleh penulis sebagai pendidik bisa tersampaikan
dengan baik ke peserta didik. Gagasan untuk menjadi youtuber
SEBATAS LAYAR | 111
terbesit ketika pada pembelajaran ada peserta didik yang
menyarankan untuk membuat video supaya kegiatan
pembelajaran tidak monoton dan peserta didik pun bisa
mengulang video sehingga besar kemungkinan para peserta
didik bisa memahami materi yang akan disampaikan. Dalam
prosesnya hal ini cukup berjalan dengan baik, banyak peserta
didik yang merasa terbantu dengan penggunaan video di
Youtube dan juga bisa sesuai dengan target kompetensi yang
diinginkan. Menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan
video dengan durasi 5-10 menit menjadi tantangan tersendiri
bagi penulis. Dimulai dengan mencari informasi tentang
bagaimana cara membuat akun di Youtube, mengunggah video
dan mengatur pengaturan supaya video yang diunggah bisa
disimpan di gawai para peserta didik. Video pertama yang
diunggah pun hanya sebatas gambar yang diiringi dengan suara,
proses pembuatannya pun tidak terlalu lama. Respon para
peserta didik cukup baik namun intensitas komunikasi dua arah
yang diharapkan masih belum bisa berjalan dengan baik.
Saat sesi refleksi dari pembelajaran dengan
menggunakan media video di Youtube dibuka. Para peserta
didik dengan gencarnya menyampaikan perasaan mereka.
Hampir seluruh peserta didik menyampaikan rasa senang
karena bisa belajar dengan metode yang mungkin tidak asing,
yaitu dengan “menonton video”. Namun ada hal yang berbeda
ketika video yang ditonton adalah suasana sekolah yang sudah
cukup lama tidak dikunjungi oleh para peserta didik dikarenakan
pandemi. Hal ini semakin memotivasi penulis untuk membuat
video-video pembelajaran lainnya dengan harapan tentu tingkat
partisipasi peserta didik yang meningkat dan juga tercapainya
kompetensi minimal yang diinginkan.
112 | SEBATAS LAYAR
Setelah beberapa pertemuan, partisipasi peserta didik
pun kembali menurun. Meskipun penulis sudah merubah tema
dan alur video serta durasi yang lebih singkat, belum nampak
lagi semangat yang konsisten dari para peserta didik. Namun
ada sisi positif yang penulis rasakan, yaitu tingkat pemahaman
dari para peserta didik yang sudah berubah cukup signifikan.
Berdasarkan keadaan ini, penulis pun semakin terpacu dan
tertantang menemukan solusi dari keadaan ini. Para peserta
didik sebetulnya memiliki keinginan yang kuat untuk mengikuti
PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Namun ada yang hilang saat
mengikuti kegiatan tersebut, yaitu “suasana” sekolah. Dengan
kata lain para peserta didik bisa dengan bebas melakukan
komunikasi tidak hanya melulu membahas pembelajaran yang
sedang diajarkan. Namun juga terjadi komunikasi di antara para
peserta didik yang membahas hal di luar pelajaran. Para peserta
didik pun mengakui bahwa komunikasi mereka tidak sebebas
saat bisa bertatap muka, dan ini menjadi salah satu hal yang
membuat PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) ini terasa agak hambar.
Terlintas dalam benak penulis untuk menggunakan
aplikasi Zoom atau Google Meet dengan tujuan agar para peserta
didik bisa lebih leluasa melakukan komunikasi. Beberapa
peserta didik menyampaikan keberatan, karena kuota yang
digunakan cukup menguras. Pendapat ini kemudian menjadi
landasan bagi penulis untuk kembali mencari solusi terbaik bagi
peserta didik. Secara tidak sengaja penulis menemukan sebuah
aplikasi yang banyak mendapatkan respon positif saat
digunakan sebagai media komunikasi dalam pembelajaran, dan
aplikasi tersebut bernama “Discord”.
"Discord" merupakan aplikasi ringan yang kemudian
menjadi pilihan penulis. Awal penggunaan aplikasi ini para
SEBATAS LAYAR | 113
peserta didik merasa sangat nyaman, karena komunikasi dua
arah yang biasa terjadi saat pembelajaran tatap muka antara
peserta didik dan penulis sebagai pendidik bisa berjalan dengan
sangat baik. Konsumsi kuota yang sangat rendah menjadi nilai
tambah, karena hampir seluruh peserta didik dinaungi
kecemasan ketika diminta untuk menggunakan aplikasi baru
saat pembelajaran. Dan sekarang penulis merasa cukup puas
dengan kombinasi penggunaan Google Class Room (GCR)
sebagai aplikasi pengendali PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh),
Youtube sebagai media pembelajaran, dan Discord sebagai
media komunikasi saat PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).
Pendidik selayaknya bisa menjadi panutan di saat
pandemi ini. Para peserta didik yang dengan sangat bebas
mengakses dunia maya dan bahkan "lebih jago" dalam hal
penguasaan IT dibanding pendidik bisa menjadi motivasi pagi
seluruh pendidik agar bisa mengarahkan para peserta didik ke
arah yang positif. Dan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) akhirnya
memaksa dengan halus kepada seluruh pendidik untuk "melek"
teknologi agar tidak semakin tergerus. Pemerintah sebagai
pemangku kebijakan pun semakin bisa mengambil porsi yang
pas dengan meluncurkan progam “Guru Belajar”. Pemahaman
yang kurang terkait arti PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang
sebenarnya kembali “diluruskan” dengan sangat sopan kepada
para pendidik dalam program ini. Termasuk bagi penulis, saat
mengikuti program tersebut seperti ditabrakkan dengan
pemahaman sendiri tentang PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh)
yang cenderung agak melenceng.
Beberapa langkah-langkah penting namun dianggap
sepele sering dianggap lalu oleh penulis, seperti melakukan
diagnosis non akademik di awal persiapan proses pembelajaran.
114 | SEBATAS LAYAR
Sosialisasi dan pembuatan kesepakatan dengan orang tua/wali
murid baru dilakukan saat ada kendala dalam proses
pembelajaran. Semua hal tersebut kembali menggugah rasa
penulis untuk lebih memahami arti dari PJJ (Pembelajaran Jarak
Jauh) itu sendiri. Kompetensi memang orientasi utama dari
kegiatan tersebut namun sebenarnya proses untuk mencapai
kompetensilah yang menjadi pengalaman hidup yang
bermakna. Berbahagialah kita para pendidik yang
berkesempatan untuk meningkatkan kemampuan personal
dalam mendidik terlebih dalam keadaan pandemik seperti ini,
karena suatu saat nanti bukan menjadi sebuah kemustahilan jika
para pendidik akan mengajar tidak dengan metode tatap muka.
Dan pengalaman ini akan menjadikan para pendidik lebih awas
dengan keadaan para peserta didik sehingga tujuan pendidikan
yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa bisa tercapai, dan
sebagai pendidik setidaknya memiliki peran dalam hal tersebut
meskipun hanya dalam porsi yang kecil. PJJ (Pembelajaran Jarak
Jauh) bukan hanya tentang bagaimana cara “berdamai” dengan
teknologi tapi tentang bagaimana “memahami” peserta didik
secara utuh.
SEBATAS LAYAR | 115
Profil Penulis
Mr. Arif adalah nama panggilan
di lingkungan sekolahnya.
Tenaga pendidik yang kini
berusia 34 tahun sudah
mengabdi selama 10 tahun di
SMA Negeri 1 Anjatan
Kabupaten Indramayu Jawa
Barat. Di luar kerja, ia sangat
bersemangat untuk melakukan
aktivitas yang terkait dengan
olah raga, khususnya sepak
bola bersama “bRaya”, salah
satu komunitas sepak bola.
Berbagai kegiatan berskala nasional maupun regional pernah
diikutinya. Menjadi peserta Bimbingan Teknis Penyusunan Soal
HOTS yang diselenggarakan oleh Dirjen PSMA menjadi salah
satu kegiatan terakhir yang ikuti olehnya pada tahun 2019 lalu.
Anak pertama dari 2 bersaudara ini sering sekali mengulik
berbagai macam aplikasi pembelajaran kekinian yang bisa
diaplikasikan dalam pengajaran dengan tujuan agar peserta
didik dan tenaga pendidik bisa lebih “melek” teknologi dan
bukan “ditindas” olehnya.
116 | SEBATAS LAYAR
KASMARANKU
PADA HP
YANG MENGURAS HATI
Samroh
Sejak Desember 2019 wabah Covid-19 merebak di
Indonesia, yang mengakibtkan lemahnya berbagai
sektor dan tatanan di berbagai negara, termasuk
di Indonesia. Hingga pada sektor pendidikan sampai saat ini
mengharuskan semua proses KBM (kegiatan belajar mengajar)
untuk sementara waktu dilakukan di rumah. Hal itu dilakukan
guna untuk meminimalisir kontak fisik secara massal sehingga
bisa memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19 tersebut.
Dalam hal ini, sekolah diharuskan melakukan
pembelajaran secara Daring (dalam jaringan) bisa dikatakan
secara online. Ini adalah langkah strategi pemerintah yang
diambil untuk mengisi proses kegiatan selama di rumah melalui
media ponsel, PC, atau laptop. Media daring dirasa sangat
efektif sebagai solusi utnuk mencegah penyebaran virus di
lingkungan pendidikan. Di tempat sekolah saya mengajar, guru-
guru wajib membuat LK (lembar kerja) di mana di dalamnya
terdapat ulasan materi singkat dan disertai dengan tugas. Hal ini
SEBATAS LAYAR | 117
bertujuan untuk lebih efektif dalam mengirimkan tugas secara
terstruktur dan masif kepada peserta didik supaya tercapainya
kompetensi sesuai pembelajaran.
Permasalahan
Setelah pembelajaran daring dilakukan sekian lama
berjalan dengan lancar, kendati demikian seiring berjalannya
waktu, bermunculan masalah. Di antaranya tugas guru yang
terlalu banyak hingga keluhan soal anak yang tidak punya quota
dan tidak punya Hp. Namun hal ini bisa dikendalikan oleh
sekolah kami dengan cara pihak sekolah memprint-out semua
mapel bagi siswa yang terkendala tidak punya Hp dan quota
secara Luring (Luar jaringan) bisa diambil di sekolah dan
dikerjakan di rumah.
Namun, tidak semua siswa mengikuti daring ataupun
luring dengan baik. Sebagian dari mereka yang mempunyai
quota digunakan bermedsos dan main game, sehingga tugas
makin menumpuk, sehingga seringkali tugas dari guru menjadi
keluhan karena mengerjakan soal yang berjumlah banyak. Akan
berbeda belajar secara tatap muka bisa ada umpan balik, dan
tugas bisa dikerjakan secara berkelompok.
Terkadang ada di sela-sela proses daring anak, “Miss,
saya pusing belajar daring. Ingin sekolah aja biar dikasih jajan.”
Itulah salah satu cletukan anak yang secara spontan. Ada lagi
wali murid yang datang ke sekolah untuk mengambil tugas
anaknya. Dan sharing pada saya selaku wali kelasnya. “Tugase
bu angger bae kita sing ngerja aken. Anake kita sering beli
kiyeng.” (tugasnya tetap saya yang mengerjakan, anak saya
seringnya malas). Belum lagi anak-anak mengumpulkan tugas
118 | SEBATAS LAYAR
sering tidak tahu etika dan waktu. Pada jam 2 pagi dan saat libur
sering bunyi HP berdering notif masuk tugas.
Dan mirisnya lagi, saat saya di tempat toko buku ada
bapak-bapak membawa anaknya. Mengeluhkan pembelajaran
tentang daring pada pemilik toko itu. Di akhir obrolan
melibatkan saya untuk memberi pendapat terkait hal tersebut.
Saya hanya sedikit menjelaskan bahwa hal itu kita wajib ikuti
karena sudah menjadi langkah pemerintah untuk meredam
virus. Namun sepertinya respon saya kurang membuat bapak-
bapak itu ada di pihaknya. Di akhir percakapan beliau bilang,
berarti jelas gaji guru itu haram hukumnya, karena memakan gaji
buta. Pernyataan bapak-bapak itu sangat membuat dadaku
sesak. Namun apalah daya, kami guru hanya mengikuti aturan
yang dihimbau oleh pemerintah.
SEBATAS LAYAR | 119
Profil Penulis
Samroh, lahir di Indramayu 18
April 1988. Alumni S1 Fakultas
Keguruan Ilmu Pendidikan
Bahasa Inggris di Universitas
Wiralodra Indramayu. Selain
menjadi guru bahasa Inggris di
SMPN 1 Lohbener-Indramayu,
penulis juga sangat menyukai
dunia Art dan menjadi MUA
(Make Up Artis).
Saat ini penulis berdomisili di
Lelea-Indramayu. Pembaca
bisa lebih dekat dengan
penulis lewat akun sosial
media instagram dan Facebook miliknya di (FB: Shae Make Up
dan instagram: shasyahinata, email: [email protected]).
120 | SEBATAS LAYAR
SAPA TANPA JUMPA:
KAMI
DI MASA PANDEMI
Selfya Nugrahaeni
Virus Corona (COVID-19), sejenis virus yang tak
pernah saya bayangkan ada sebelumnya, sampai
akhirnya muncul di akhir tahun 2019 di kota
Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok dan menyebar ke seluruh
belahan bumi. Munculnya sang virus baru nyatanya
menghebohkan dunia karena merenggut banyak korban jiwa.
PERUBAHAN, mau tidak mau “dipaksa” ada karena keadaan
pandemi tidak terelakkan. Pun tanpa kenal batas wilayah.
Karena keadaan pula, interaksi sosial bisa sangat berubah, baik
bentuk dan intensitasnya, tidak terkecuali pada bidang
pendidikan.
Pertama kali saya mendapat kabar bahwa kami harus
bersiap untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ),
yang ada di dalam pikiran saya adalah semua kerepotan dan
kendala yang menghadang di depan mata. Bagaimana kami
SEBATAS LAYAR | 121
harus mempersiapkan materi pembelajaran daring, siswa yang
tidak mempunyai gawai dan atau ketersediaan kuota
internetnya untuk mengikuti PJJ. Bagaimana pelaksanaan
asesmen, dan lain sebagainya. Bagaimana pun juga, situasi yang
tidak mengenakkan ini tetap harus dihadapi dan dicarikan jalan
keluar. Beruntung saya berada di dalam lingkungan unit kerja
yang solid dan aktif sehingga secara bersama-sama kami (meski
sambil sedikit meraba-raba) mampu melaksanakan tahap demi
tahap PJJ. Mulai dari persiapan yang melelahkan hingga
bagaimana caranya kami menghadapi siswa yang mulai bosan
dengan PJJ.
Karena awal masa pandemi ini dimulai bulan Maret saat
menjelang akhir tahun pelajaran 2019/2020, maka kami
melaksanakan pembelajaran dengan langsung melanjutkan ke
materi selanjutnya. Saya pribadi cukup “shocked” bahkan bisa
dikatakan sedikit pesimis. Bagaimana bisa kami mengajar tanpa
bertemu langsung dengan siswa-siswi, sementara mereka tetap
diharapkan untuk paham? Terlebih karena saya mengajar kelas
IX, saya merasa terbebani. Bagaimana caranya agar semua
materi tersampaikan pada siswa, meski alhamdulillah
pemerintah pada akhirnya meniadakan Ujian Nasional karena
keadaan.
Sebagai seorang guru, tentu saya berkewajiban untuk
mengajar dan mendidik para siswa. PJJ di masa pandemi adalah
saat yang tepat bagi kami untuk mengasah kemampuan kami
untuk dapat tetap memfasilitasi para siswa secara daring, meski
dengan segala keterbatasan. Awalnya saya berusaha
memaksimalkan aplikasi media sosial WhatsApp (WA) yang
memang sudah dimiliki para wali kelas dan siswanya di sekolah
kami, pada saat itu untuk mempermudah komunikasi. Tak hanya
122 | SEBATAS LAYAR
grup WA kelas, saya sebagai guru mata pelajaran juga masuk ke
grup masing-masing kelas yang saya ajar. Konsekuensinya saya
bergabung di banyak grup WA. Beruntung saya sudah sempat
mengganti gawai lama saya ke gawai yang mempunyai daya
dukung lebih baik dan memadai (terima kasih pak suami ☺).
Untuk kegiatan pembelajaran, saya memanfaatkan
media sosial WA tersebut. Begitu juga untuk pengiriman tugas-
tugas siswa. Meski dengan terseok-seok, alhamdulillah
pembelajaran tetap bisa berlangsung dengan segala
konsekuensi yang tidak mudah. Salah satunya adalah
memeriksa tugas sewaktu-waktu saat siswa mengirimkan yang
kadang kala tidak mengenal waktu. Bahkan terkadang sampai
larut malam. Saya sebagai guru berpikir, tak masalah toh
mereka masih mau berusaha dan bisa mengerjakan. Saya
menghargai usaha mereka.
Dalam perjalanannya di masa awal PJJ, ada bentuk
aplikasi tambahan yang saya gunakan untuk pembelajaran
Bahasa Inggris dengan materi iklan meski tetap
pembelajarannya berbasis WA. Saya mencoba menggunakan
aplikasi Canva untuk mencontohkan pada siswa untuk membuat
iklan. Dan ternyata aplikasi itu cukup membuat para siswa
antusias karena mereka bisa berkreasi membuat iklan sesuai
dengan gaya mereka sendiri. Mengetahui hal ini memberikan
angin segar pada saya. Betapa ternyata mereka bisa
menyesuaikan diri dengan baik meski dengan suntikan motivasi
dari saya, salah seorang guru mereka yang seringkali saya pun
terheran-heran dengan kesabaran saya sendiri yang dimiliki saat
itu. Alhamdulillah.
Awal tahun ajaran baru yang sebelumnya didahului
dengan libur panjang, ternyata pada praktiknya tidak benar-
SEBATAS LAYAR | 123
benar “libur” yang kami rasakan. Banyak hal yang menyita
waktu, tenaga, dan pikiran yang harus kami lakukan pada tahap
persiapan tahun ajaran baru. Saat libur akhir tahun ajaran belum
lagi habis, kami para guru terutama wali kelas baru harus
mendata siapa saja anak didiknya yang mempunyai gawai dan
siapa saja yang tidak (bila ada). Pertama, kami berkomunikasi
dengan para siswa kelas melalui WA (wali kelas sudah terlebih
dahulu membentuk grup WA kelasnya masing-masing). Setelah
mendapatkan informasi yang diinginkan, selanjutnya saya
sebagai wali kelas mendatangi siswa yang tidak mempunyai
gawai, berbekal informasi yang kami dapatkan dari para siswa
dan bahkan mantan wali kelasnya terdahulu. Tujuan kami adalah
menyampaikan pada siswa bersangkutan dan orang tuanya agar
siswa bersangkutan tetap dapat mengikuti pembelajaran di
masa pandemi ini. Apakah dengan cara hadir langsung di
sekolah (pembelajaran yang difasilitasi sekolah) atau pun
dengan cara belajar bergabung dengan teman yang mempunyai
gawai yang berada di satu tingkatan kelas dan tinggal
berdekatan. Hal ini kami rasa efektif karena kebutuhan siswa
untuk belajar tetap bisa terpenuhi dan orang tua siswa juga
tidak harus terbebani untuk segera membelikan gawai baru
untuk anaknya--hal yang tentu dirasa memberatkan bagi
keluarga yang tergolong pra sejahtera.
Proses di atas tentu saja tidak semudah membalikkan
telapak tangan. Banyak yang harus kami lakukan menghadapi
perubahan yang begitu tiba-tiba. Tapi sekali lagi, perubahan ini
adalah sebuah keniscayaan, dan sayangnya memang tidak
cukup dilakukan dengan hanya mengeluh. Dengan suasana
kerja yang aktif dan saling mendukung, alhamdulillah tahun
ajaran baru PJJ dari awal sudah berlangsung sesuai kalender
akademik.
124 | SEBATAS LAYAR
Pekan pertama PJJ pada tahun ajaran baru diawali
dengan penyampaian video perkenalan para guru mata
pelajaran serta garis besar materi yang akan disampaikan
selama satu semester ke depan.
Materi pembelajaran Bahasa Inggris yang digunakan
pada PJJ kami putuskan untuk menggunakan format PPTX (PPT
video dengan suara). Media ini saya pilih karena saya bisa
menggunakannya. Juga untuk dapat memfasilitasi pembelajar
tipe auditory seperti saya, tanpa perlu menghabiskan banyak
kuota internet siswa.
Video dan materi-materi pembelajaran semuanya
berpusat pada aplikasi Google Classroom (GC), termasuk untuk
presensi siswa dan pengiriman tugas-tugas.
Kendala siswa dalam PJJ? Tentu tak lepas dari habisnya
kuota internet, cara penggunaan GC, gawai yang tidak
memadai, siswa yang tertidur dan tidak mengikuti
pembelajaran, lupa mengisi presensi, dan lain-lain. Di sinilah
maka peran kami sebagai guru terutama wali kelas, dituntut
untuk bisa memantau dan memberi solusi terhadap masalah-
masalah tersebut. Mengabari guru mapel bahwa siswa tertentu
kesulitan presensi, mengingatkan waktu pembelajaran, bahkan
terkadang juga membangunkan siswa yang belum bangun
untuk mengikuti PJJ melalui telepon.
Respon siswa terhadap PJJ sebagian besar aktif dan
antusias, sementara sebagian kecil lainnya merespon dengan
lebih lambat dan tidak serius mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Siswa berkomentar bahwa mereka lebih menyukai
pembelajaran tatap muka langsung karena lebih nyaman dan
bisa langsung bertanya pada guru bilamana menemui kesulitan,
SEBATAS LAYAR | 125
dan mendapatkan penjelasan dengan lebih mendalam dan
memuaskan. Sabar, Nak. Kami pun merindukan hal yang sama.
Semoga pandemi lekas berlalu dan kita bisa beraktivitas normal
kembali, semoga ….
126 | SEBATAS LAYAR
Profil Penulis
Selfya Nugrahaeni lahir di
Bandung tanggal 8 Juni 1979.
Pengalaman pendidikan
penulis yaitu: lulusan SDN
Ciujung 3 tahun 1991, SMPN 27
tahun 1994, SMAN 14
Bandung tahun 1997 serta
selesai menempuh
perkuliahan di jurusan Pend.
Bahasa Inggris Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI),
Bandung, tahun 2003. Ibu dari
dua orang anak yang sejak
2005 menetap di Haurgeulis,
Indramayu. Pernah menjadi
Guru Inti dalam kegiatan PKP
yang diselenggarakan
Kemendikbud tahun 2019. Pengajar di SMPN 2 Gantar,
Indramayu (2005-2008) dan SMPN 1 Haurgeulis, Indramayu
(2009-sekarang). Seorang guru Bahasa Inggris biasa yang gemar
menikmati kopi, baking, dan juga kegiatan kuliner.
SEBATAS LAYAR | 127
SEMANGAT BELAJAR
DENGAN
KETERBATASAN
DI MASA PANDEMI
Siti Sa’adah
Awal Maret 2020
Tahun baru, semangat baru, dan menghadapi
semester 2 di tahun pelajaran 2020/2021. Awal
bulan sudah marak diberitakan tentang Corona
Virus di luar negeri. Indonesia sendiri pada mulanya terbebas
dari penyebaran virus tersebut dan kegiatan belajar mengajar di
madrasah kami berjalan seperti biasanya. Walaupun jadi
perbincangan para guru di kala istirahat dan sebagian para
murid banyak yang tidak tahu dikarenakan mereka cenderung
jarang menonton dan mendengar berita. Kemungkinan....
128 | SEBATAS LAYAR
Kebetulan madrasah kami berlokasi di bawah kaki
gunung Cikuray dan agak jauh dari pusat Kota Garut. Walaupun
begitu sistem belajar kami bervariasi antara penggunaan IT
Teaching role model and Simple role model. Sejauh ini kami tidak
mengalami masalah yang begitu serius dalam kegiatan KBM,
dan murid-murid pun menikmati sistem pembelajaran di
madrasah kami.
Setelah perbincangan hangat di semua kalangan,
termasuk Indonesia, Covid dapat mengubah semua sistem
pembelajaran formal, informal, dan semua lini yang membuat
semua orang merancang dan merubah kebiasaan menjadi
sesuatu yang baru yang harus dibiasakan, termasuk dalam
proses KBM. Dan ini sangat berdampak sekali di madrasah kami.
Mengapa demikian?
Karena di madarash kami tidak semua guru familiar
dengan penggunaan aplikasi dan penggunaan laptop. Apalagi
para guru yang sudah sepuh (senior) dan para siswa pun tidak
semuanya mempunyai gadget yang memadai, dikarenakan
culture Masyarakat di sekitar madrasah yang tingkat
ekonominya kebanyakan rendah menengah, Sehingga di
madarash kami memilih luring, dikarenakan kebanyakan para
siswa banyak yang tidak mempunyai handphone.
Selanjutnya kami harus mendatangi kampung-
kampung mereka yang lokasinya cukup berjauhan. Yang paling
berkesan, ada sebuah kampung ketika tim kami datang, seperti
orang yang aneh, ketika sedang belajar pun mereka sering
mengintip di balik kaca jendela. Ketika biasa belajar
menggunakan seragam maka dengan adanya pandemi ini jadi
menggunakan pakaian bebas. Yang paling repot harus
menggunakan masker ke mana pun dan di mana pun.
SEBATAS LAYAR | 129
Sedangkan bagi kami, itu sesuatu yang jarang dilakukan
sehingga membuat kami jadi sering tidak nyaman. Apalagi bagi
para siswa yang katanya sedikit susah bernafas. Walaupun
begitu, kami harus melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.
Setelah dijalani beberapa kali pertemuan, kami pun seakan
menyerah dengan kegiatan ini, dan memutuskan untuk
mempertimbangkan kembali metode apa lagi yang cocok untuk
sistem pembelajaran di musim saat ini.
Kebijakan selanjutnya dengan menggunakan WA grup.
Jadi semua guru pelajaran mempunyai club dan komunitas
masing-masing dan dipandu oleh para wali kelas. Alhamdulillah,
sejauh ini masih terkondisikan walau tidak maksimal. Bagi siswa
yang tidak menggunakan handphone, belajar dengan teman
yang mempunyai HP. Saya sebagai guru mapel bahasa Inggris
harus mendesain sedemikian rupa agar materi tersampaikan,
walaupun simple yang penting para siswa memahami point-
point setiap KI/KD yang sesuai dengan materi.
Dan setiap kali ada pelajaran bahasa Inggris, saya pun
harus meringkasnya di karton besar lalu di-screen shoot atau
membuat file yang mudah dipahami oleh siswa. Kegiatan ini
dilakukan sampai saat ini. Walau sering muncul pertanyaan dari
anak-anak, “Kapan, Bu, belajar di Sekolah?” Dan sayapun hanya
bisa menghela napas dan menjawab, “Berdoa saja. Semoga
cepat berlalu Covidnya.
Sebulan dua bulan dan sampai sekarang hampir
setahun pandemi belum saja berakhir. Bahkan saya sendiri pun
mengalami kejenuhan yang tak berujung. Proses KBM seperti
yang asal-asalan dan kualitas kemampuan siswa pun cenderung
menurun dengan kondisi sekarang. Tetapi kita tidak bisa
berbuat banyak dengan menghadapi kondisi Covid ini. Datang
130 | SEBATAS LAYAR
ke sekolah tidak boleh. Belajar pun sama. Tapi yang menggelitik
dan membuat saya heran, mengapa semua sekolah ditutup, tapi
pusat pertokoan lainnya diperbolehkan buka? Tapi itu hanya
sebagian pertanyaan ganjil yang setiap hari ada di kepalaku.
Walaupun begitu, saya tidak boleh kelihatan jenuh di mata
murid-murid tercintaku.
Setiap pertemuan pelajaran bahasa Inggris di WA Grup
saya selalu say hallo dengan VN (voice note).
Me: Hallo, good morning! How are you today! I hope
you’re always keep healthy, using masker wherever and whenever
you go and doing social distancing with another and then I hope
you’re always spirit for studying English although we meet just
once in two week and always have fun learning english at home.
Dan sepertinya menjadi slogan ketika pelajaran Bahasa
Inggris tiba, beberapa bulan dilakukan yaitu dengan siswa mulai
merespon menggunakan Bahasa Inggris yang asal mengatakan
saja. Dan ada pula dengan bahasa mereka yang dipahami dan
disukai. Di lain pihak pengalaman belajar seperti ini seperti ada
dan tiada. Maksudnya, kalau kita menelisik ke beberapa bulan
bahkan tahun ke belakang, kita menghimbau pada siswa untuk
mengurangi penggunaan gadget terus-menerus berada di
depan mata kita. Tapi hari ini kita tidak bisa berbuat banyak
bahwa dari bangun tidur sampai mau tidur lagi kita pasti
berkutat dengan handphone. Takutnya ada informasi penting
dari madrasah atau ada tugas masuk dari murid-murid, dan
mungkin sebaliknya dengan peserta didik yang sampai saat ini.
Tidak tahu kapan akan berakhir.
Dan ini pengalaman yang tak akan pernah terlupakan
seumur hidup, disebabkan dulu kita berharap libur panjang
SEBATAS LAYAR | 131
sangat jarang terjadi. Tapi sekarang kita berada di rumah terus-
menerus dan hari demi hari kulalui dengan kegiatan yang sama,
dan itu-itu saja. Disebut libur tidak dan sebaliknya. Bahkan pada
suatu ketika saya sudah menyiapkan materi, disalin dari file, dan
langsung dikirim ke grup kelas. Ternyata banyak anak yang tidak
mengikuti kelas online dengan berbagai alasan. Tidak
mempunyai kuota dan sebagainya. Menyedihkan bukan?
Saya sendiri sebagai guru dan wali kelas harus
berupaya menyiasati dan menyemangati tanpa henti, agar para
siswa berkeinginan belajar walau kondisi tidak senyaman
seperti biasanya dengan pendekatan sikap dan emotional dari
hati yang bisa menumbuhkan rasa semangat belajar lagi dan
berkeinginan untuk mengerjakan tugas dari guru mapel lainnya,
yang sering dilakukan, saya mengajak peserta didik untuk
datang ke rumah dengan belajar sambil bergurau dan memasak
camilan. Jadi sambil belajar bisa ngobrol bareng, masak bareng,
dan makan bareng di antara mereka, dan saya selalu
menyarankan ngobrolnya sambil diselipkan bahasa Inggris,
supaya dari setiap ngobrol ada pelajaran yang kita dapat, yaitu
kita dapat menambah penguasaan vocabulary kita secara tidak
langsung. Karena dengan kata yang sering diungkapkan akan
mudah diingat, walaupun kegiatan tersebut harus berhati-hati
juga, dan tidak bisa setiap saat disebabkan pandemi juga tidak
boleh banyak berkerumun dan harus menjaga jarak. Jadi yang
ke rumah antara saya dan peserta didik harus sehat juga biar
tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Walau kondisi
terbatas, kita bisa belajar dengan suasana terbatas.
132 | SEBATAS LAYAR
Profil Penulis
Siti Sa’adah lahir di Garut, di
sebuah desa yang sangat
penuh warna dan penuh
dengan kesederhanaan. Sejak
kecil dia suka membaca
buku/artikel apa saja. Saat ini
dia sedang menikmati peran
sebagai ibu rumah tangga
dan tenaga pendidik di
sebuah lembaga yang Insya
Alloh Berkah untuk daerah
sekitar madrasah tempatnya mengajar. Dipersunting oleh orang
Bayongbong dan dikaruniai dua krucil yang membuatnya
bahagia, semangat belajar, dan menata masa depan lebih baik,
lebih berkah, lebih menikmati kebersamaan berempat, atau
bersama keponakan, jika touring.
Bagi yang ingin memperpanjang silaturahmi, boleh kontak di
medsos.
SEBATAS LAYAR | 133
KREATIVITAS:
SATU KATA
BERJUTA MAKNA
Tuti Suryati, S.Pd.
Kreativitas adalah sesuatu yang sangat penting
dalam kehidupan manusia. Dengan kreativitas
yang kita miliki, akan tercipta banyak aksi yang
luar biasa dan dapat mendatangkan manfaat yang tak kalah
hebatnya baik untuk diri kita atau orang lain. Setiap manusia
telah diberi kemampuan berkreasi yang sama oleh Tuhan.
Permasalahannya, apakah manusia itu mempunyai keinginan
untuk mengembangkan kreativitasnya atau tidak.
Kreativitas Dalam Islam
Allah telah memberi manusia akal pikiran yang menjadi
pembeda dengan binatang. Tujuan pemberian akal pikiran
adalah agar manusia dapat membedakan kebaikan dan
keburukan. Alam semesta beserta isinya adalah bentuk
kreativitas Allah yang tiada bandingannya. Kreativitas berasal
dari kata create yang artinya mencipta. Allah, sebagai The Great
134 | SEBATAS LAYAR
Creator, telah menciptakan itu semua dengan tujuan yang sama,
supaya manusia mau berpikir tentangnya.
Dalam Alquran, surat Al-Baqarah ayat 219, Allah
berfirman yang artinya, “Demikianlah, Allah menerangkan
kepadamu ayat-ayat-Nya, agar kamu berpikir.” Ayat ini
menerangkan bahwa kita sebagai manusia diharapkan mampu
berkreasi dengan akal pikiran untuk menyelesaikan setiap
persoalan dalam hidup. Itulah awal munculnya sebuah
kreativitas.
Dalam surat yang lain, Allah juga mengatakan,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum,
sampai mereka sendiri mengubah dirinya” (QS. Ar-Ra’d:11). Dari
ayat ini, dapat kita ambil benang merahnya bahwa kreativitas
adalah tuntutan Allah kepada hamba-Nya agar mampu
mengatasi masalah, ujian, dan cobaan yang menerpanya.
Dengan kreativitas, akan menghasilhan hal baru yang dapat
memudahkan jalan kita.
Kreativitas Menurut Ahli
Sebuah artikel yang ditulis oleh Royhanun Athiyyah
dalam blognya berjudul “Kreativitas” menyebutkan, definisi
kreativitas menurut Drevdahl (Hurlock;1978:3) adalah sebuah
kemampuan untuk memproduksi komposisi dan gagasan-
gagasan baru yang dapat berwujud aktivitas imajinatif atau
sintesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola baru
dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan
dengan yang sudah ada pada masa sekarang.
Selanjutnya, Guiliford (1970:236) mengarahkan
kreativitas pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang
kreatif:
1. Kelincahan berpikir dari dan ke segala arah
2. Kecakapan dalam banyak hal dan cekatan
SEBATAS LAYAR | 135
3. Orisinalitas
4. Fleksibilitas dan konseptual
5. Kemampuan kerja keras dan pantang menyerah
6. Berpikir mandiri dan mempunyai arah yang mantap
7. Kaya humor dan fantasi
Kreativitas sangat dibutuhkan dalam segala hal,
tentunya hal yang baik dan mendatangkan kemaslahatan.
Orang yang kreatif akan mampu menghasilkan ide-ide baru dari
hasil pemikirannya yang cemerlang. Kemudian, ide tersebut
dapat dituangkan dalam tulisan atau tindakan. Tulisan dan
tindakan yang kreatif akan berbeda dengan yang biasa-biasa
saja.
Dalam dunia pendidikan, kreativitas adalah syarat
mutlak yang harus dimiliki oleh seorang guru, jika menginginkan
hasil pembelajaran yang memuaskan. Guru harus mampu
berpikir kreatif untuk menciptakan desain pembelajaran yang
menarik dan menyenangkan bagi siswa. Ide kreatifnya akan
memunculkan tindakan kreatif siswa, sehingga kreativitas tak
hanya milik guru saja, siswa pun dapat menciptakannya.
Di masa pandemi yang sudah berlangsung 1 tahun ini,
kreativitas dalam mendesain pembelajaran sangat diperlukan.
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran online telah
mengubah kebiasaan belajar siswa yang lama dengan cara yang
baru. Setahun lamanya guru dan siswa terpisah oleh jarak,
ruang, dan waktu. Siswa bertahan belajar dari rumah dengan
bantuan gadget yang ada. Setiap hari guru dan siswa tak pernah
lepas dari hapenya. Pertanda teknologi digital menjadi sebuah
keharusan yang mesti dikuasai. Jika tidak, akan tertinggal
dengan sendirinya.
Beruntunglah mereka yang mempunyai keinginan kuat
untuk selalu mengasah kemampuan berpikirnya. Berbagai cara
mereka lakukan untuk menambah pengetahuan tentang
136 | SEBATAS LAYAR
mengajar secara kreatif di era corona ini. Sebagai contohnya
dengan mengikuti berbagai webinar pembelajaran kreatif, serta
membaca berbagai sumber literasi yang berupa buku maupun
media elektronik.
Di zaman digitalisasi sekarang ini, sumber bacaan sangat
banyak tersedia. Dengan mudah kita dapat berseluncur di
internet mencari tulisan yang kita inginkan. Tak ada lagi alasan
yang mendukung ketidakmampuan kita dalam berkreasi. Hanya
kemalasan, satu-satunya penyebab tumpulnya sebuah
kreativitas.
Pengalaman saya dalam menumbuhkan kreativitas
selama mengajar di masa pandemi bermula dari keikutsertaan
dalam sebuah komunitas pendidik seluruh Indonesia yang
bernama Kelas Kreatif asuhan Pak Dadan, M.Pd. Sebelumnya,
secara otodidak saya juga sering mengutak-atik beberapa
aplikasi yang sekiranya sesuai untuk saya terapkan kepada
siswa.
Dengan bergabung dalam Kelas Kreatif, maka
bertambah pula pengetahuan saya tentang alternatif media
pembelajaran yang dapat digunakan di dalam kelas. Tentunya,
media digital tersebut haruslah sepadan dengan kemampuan
siswa. Apalah artinya teknologi yang wah apabila siswanya
sendiri tidak sumringah.
Tujuan utama saya dalam menerapkan beberapa aplikasi
seperti Google Classroom, Google Meet, Google Form, Quizizz,
Padlet, Edpuzzle, dan LanguageApps adalah mengenalkannya
kepada siswa, menghindari kejenuhan, dan rasa bosan dengan
hanya menggunakan media WhatsApp saja.
Kelemahan WA di antaranya terdapat pada rekapitulasi
daftar hadir siswa. Setelah siswa menuliskan namanya dalam list
absensi, kelanjutannya tak dapat kita deteksi lagi. Kita tidak
mengetahui apakah siswa masih aktif menyimak pembelajaran,
SEBATAS LAYAR | 137
ataukah menghilang entah ke mana. Dengan kata lain, siswa
hanya menitipkan namanya saja supaya dianggap hadir dalam
pertemuan. Berbeda dengan Google Meet atau Zoom, di mana
siswa langsung berinteraksi dengan guru.
Seyogyanya, guru harus mampu mengkolaborasikan
beberapa media digital secara apik dan menarik. Salah satu
contohnya, perpaduan antara WA, Google Meet, dan Quizizz,
seperti yang pernah saya lakukan. Pertama, WA saya gunakan
sebagai wadah berbagi informasi. Kedua, Google Meet sebagai
alat pembelajaran utama untuk menyampaikan materi.
Sebelumnya, saya menyiapkan beberapa slide powerpoint
tentang materi yang akan saya sampaikan. Ketiga, Quizizz saya
gunakan sebagai alat penilaian. Ketiga media ini saya sebut
sebagai The Three Appeters. Trio aplikasi hebat yang banyak
manfaat.
Seperti yang pernah Pak Dadan sampaikan dalam
sebuah webinar, bahwa sejatinya penyajian pembelajaran
secara online atau online learning harus sama dengan
pembelajaran secara tatap muka. Yang terpenting adalah
bagaimana kita dapat mengemas sebuah pembelajaran
semenarik mungkin dan bermakna bagi siswa. Untuk
mendapatkannya kita butuh adanya kreativitas. Jika ingin
menghasilkan sesuatu yang baru dan menarik, be creative!
Guru yang kreatif akan menghasilkan siswa yang kreatif
pula. Jangan lupa untuk selalu membuat siswa tertawa. Karena
tertawa adalah bagian dari kreativitas itu sendiri. Seperti yang
Guiliford katakan tentang ciri-ciri orang kreatif, salah satunya
adalah “Kaya humor dan fantasi.” Berusahalah untuk menjadi
orang kreatif tiap hari dan hasilnya buktikan sendiri.
138 | SEBATAS LAYAR
Profil Penulis
Tuti Suryati lahir di Cirebon, 48 tahun
yang lalu, tepatnya tanggal 28
Januari 1973. Dari tahun 1999 ia
menetap di Subang dan hidup damai
dengan suami dan ketiga anaknya.
Pendidikan terakhirnya adalah S1
Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di
IKIP Bandung, lulus tahun 1997.
Pengalaman mengajarnya berawal di
sebuah kursus Bahasa Inggris di Kota
Bandung selama dua tahun setelah
lulus kuliah. Pada tahun 1999 dia
mengikuti tes CPNS dan
alhamdulillah diterima dengan mudah. Kemudian dia
ditugaskan di SMPN 2 Cijambe dan mengajar selama 18 tahun.
Tahun berikutnya, dia pindah ke SMPN 2 Subang hingga
sekarang. Pengalaman menulis alhamdulillah sudah bergabung
dalam 4 buku antologi tentang pembelajaran online dan aplikasi
digital untuk PJJ. Sebagai penulis pemula, dia sangat bersyukur
atas pencapaian ini. Belum lama mengikuti lomba tantangan
menulis blog setiap hari di bulan Februari 2021 yang diadakan
oleh PGRI. Mimpi yang belum terealisasi adalah menulis buku
tunggal. Semoga dalam waktu dekat akan menjadi kenyataan.
Motto: Teruslah berusaha menjadi lebih baik dan terbaik.
SEBATAS LAYAR | 139
BERBAGI
LEMBAR BELAJAR
Yuliawati Madu
“Celamat pagi, ibu guru. Mau kase tahu kalau
Kiram, murid di kelas sembilan belum bisa
masuk sekolah, karena masih sakit,” suara
wanita separuh baya, mengenakan kaos oblong sederhana
dengan bergambar buku. Di bagian gambar buku itu bertuliskan
‘ayo ke sekolah’.
“Selamat pagi, Mama Kiram!’ jawaban dari salah
seorang ibu guru yang ada di meja piket, lorong depan sekolah.
“Kiram sakit apa, Mama? Sudah dicek malarianya?” tanya sang
ibu guru dengan antusias. Ya, karena daerah bagian selatan
provinsi paling timur di nusantara ini, provinsi Papua,
merupakan salah satu daerah endemik penyakit malaria yang
masih terus berlangsungnya pencegahan, penanganan, dan
pengobatannya.
“Panasnya tinggi dari malam. Dia tidak mau makan,
hanya mau minum air saja. Itu yang bikin saya bingung juga, ibu
140 | SEBATAS LAYAR
guru,” jawab wanita paruh baya itu. Namanya tertulis dalam
catatan piket pagi ini, Mama Marcelina.
Hari ini, di meja piket, dalam barisan daftar nama,
laporan perkembangan siswa, ada sederet nama yang tidak bisa
hadir di sekolah untuk belajar seperti biasa. Dalam kolom alasan,
terbaca ada tiga atau empat alasan yang dominan, mengapa
anak-anak itu belum bisa hadir di dalam kelas untuk mengikuti
proses belajar dan mengajar dengan baik. Itu karena mereka
sakit. Atau sedang berada di luar kota. Ada juga yang memang
sengaja memperpanjang liburannya, barang sehari dua hari.
Riuh dalam keramaian. Ungkapan dalam kegembiraan
yang akan dilalui dan ekspresi wajah yang tak akan terlihat
dalam suasana kelas seperti ini lagi. Pendapat demi pendapat
disampaikan, tak melunturkan keputusan dari pemerintah
daerah setempat untuk ‘meliburkan’ para siswa dan juga guru
untuk hadir di sekolah, dengan alasan utama menghindari
kerumuanan orang banyak dan tentunya, memutuskan siklus
persebaran virusnya. Pandemik Covid-19 begitu mendesak di
pertengahan Maret 2020 lalu. Ini menjadi satu ‘keharusan’
untuk belajar dari rumah dan mengajar dari rumah, dalam topik
di berbagai suguhan mata pelajaran (yang akan dilalui dalam dua
hari terakhir menjelang penutupan sekolah sementara).
Beberapa raut wajah yang tergambar dengan setengah
senyum bahkan tak senyum sama sekali, mengisyaratkan tidak
bakalan belajar dengan apa yang disampaikan oleh bapak ibu
guru itu. Apalagi pelajaran bahasa Inggris yang nota bene
tulisannya berbeda, cara bacanya lain. Tentu menjadi tantangan
tersendiri ketika tidak ada pembimbingan dalam kelas, secara
interaktif langsung.
SEBATAS LAYAR | 141
“Akun-akun googleclassroom dan grup WhatsApp sudah
tersedia. Kalian boleh bergabung, dan selalu mengirim tugas.
Jangan meninggalkan tugas-tugas terbengkalai,” nasihat salah
satu bapak guru yang juga wali kelas sembilan dari kelas paralel
lainnya.
Raut muka mereka tak bergeming. Entah itu
menunjukkan ketidakmautahuan mereka, atau keingintahuan
mereka. Hingga ibu guru dan bapak guru mata pelajaran
menyampaikan tugas-tugas masing yang harus dikerjakan,
bahkan dikumpulkan secara dalam jaringan atau on line dengan
‘semi deadline’, atau waktu batas kumpul tugas yang diberikan.
“Lembaran-lembaran ini adalah bagian dari ‘stepping-
stone’ pembelajaran dan tugas bagi anak-anakku yang belum
berkesempatan belajar dengan Googleclassroom dan
WhatsApp.” Begitu kata Bu Yulia dengan perlahan. “Dari
perwalian di kelas kami, ada sekitar tujuh atau delapan siswa
yang dalam kesehariannya tidak berhubungan dengan telepon
genggam,” lanjut Bu Yulia dalam menjawab pertanyaan dari
salah seorang rekan tentang tumpukan kertasnya.
“Bu Yulia, selamat pagi. Ini ada dua nama siswa yang
tidak hadir di kelas Ibu. Mohon dicek lagi ya, Bu. Oh, iya, orang
tuanya Kiram tadi sudah datang ke meja piket untuk
memberitahukan kalau anaknya sedang sakit dan tak bisa ke
sekolah. Kalau yang satunya, Arfan, juga belum bisa masuk
sekolah karena masih berada di luar kota untuk berobat,” jelas
Bu Veronica, salah satu guru yang piket kepada Bu Yulia, wali
kelas IX-F. Kata ”Terima kasih” mengakhiri perbincangan kedua
ibu itu, dengan semangat yang begitu membara untuk berkarya
bagi anak-anak negeri Cenderawasih ini.
142 | SEBATAS LAYAR
Selang beberapa saat, setumpuk lembaran sudah
berada di tangan beberapa guru. Lembaran apakah gerangan?
Lembaran-lembaran dalam kumpulan modul dan tugas yang
akan dibagikan bagi beberapa siswa yang tidak bisa atau belum
mampu melaksanakan pembelajaran dalam jaringan saat
liburan lusa nanti. Mereka yang berkemauan menuntut ilmu itu
berada dalam ketidakmampuan penyediaan ‘gadget’ atau gawai
untuk belajar. Bukan saja karena telepon genggam mereka yang
android tak tersedia, namun karena mereka memang berada
dalam situasi yang memang tak memungkinkan untuk memiliki
gawai ber’android’ seperti para siswa yang lainnya. Ya,
lembaran-lembaran tugas dalam modul yang digandakan
dengan ‘inisiatif’ personal dari bapak dan ibu guru itu
menandakan salah satu keberagaman gaya belajar yang menjadi
pilihan, yang disesuaikan dengan konteks siswa itu sendiri.
Keputusan pemerintah daerah setempat sebagai salah
satu cara pemutusan rantai virus di masa pandemic Covid-19
saat itu, yang menyediakan salah satu pilihan dengan bekerja
dari rumah dan belajar dari rumah dalam jaringan. Telah pula
menyadarkan kita semua bahwa tidak semua siswa bisa untuk
belajar daring ketika keadaan siswa itu tidak memungkin untuk
memiliki gawai android yang sudah cenderung dimiliki oleh
setiap ‘orang tua’. Namun, masih ada yang belum bisa memiliki
itu, dan mereka itulah yang akan dibagikan lembaran-lembaran
materi ajar dalam bentuk lembar kerja siswa atau pun dalam
modul-modul pembelajaran. Situasi pandemik di awal Maret
2020 inilah yang membuat lembaran-lembaran itu harus
dibagikan dengan konsep ”No One Left Behind” atau tak satu
pun anak yang tertinggal. Semua harus tetap memiliki
kesempatan belajar, meskipun dengan moda atau wadah yang
berbeda, meskipun dengan jeda waktu yang bervariasi. Sebagai
SEBATAS LAYAR | 143
umpan baliknya dari inisiatif lembaran itu, mereka akan
disediakan kesempatan untuk bertanya kepada ibu guru Bahasa
Inggrisnya tentang materi–materi itu, bila mereka tidak
mengerti. Hal itu dilakukan dengan meminta waktu di pondok-
pondok halaman sekolah, tentunya dengan protokol kesehatan,
menjaga jarak, memakai masker, dan selalu mencuci tangan.
Hasilnya, diawal belum maksimal, namun paling tidak
ada sedikit perjuangan untuk tetap melayani hak-hak para siswa
untuk selalu belajar.
144 | SEBATAS LAYAR
Profil Penulis
Lahir dan dibesarkan di kota
Fakfak, salah satu kota tua
di Provinsi Papua Barat
(dulunya Irianjaya) dengan
nama Yuliawati Madu ini,
lebih dikenal dengan nama
singkat Ibu Yuli di kalangan
masyarakat sekolah dan
lingkungan sekitarnya.
Mengabdikan diri sebagai
guru Bahasa Inggris di
Kabupaten Mimika, Provinsi
Papua sejak Februari 1997 lalu. Ibu Yuli lebih bersemangat
untuk membagikan ilmu dan pengalamannya, tentu dengan
konteks selalu belajar, baik dari pengalaman diri sendiri maupun
dari pengalaman orang lain. Lebih senang membaca buku,
namun akhir-akhir ini lebih senang menuangkan ide-ide dan
pengalaman dalam menulis. Selalu belajar di setiap saat!
SEBATAS LAYAR | 145