The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by trirahayuapril, 2022-02-12 08:35:03

perahu layar

Perahu Kapal

PERAHU LAYAR

April Tri Rahayu

Dd Publishing
Agustus, 2021

Perahu Layar

Copyright © April Tri Rahayu, 2021
ISBN

………………….

Cetakan Pertama, Agustus 2021
14 x 20 cm, 164 halaman
Penulis: April Tri Rahayu
Penyunting: Sri Peni

Penata Letak: Lutfi Mega Asterina
Desain Sampul: Lutfi Mega Asterina

Diterbitkan oleh:

DD Publishing
Siak Sri Indrapura, Riau
Email: "#"$%&%'()*"+$,-)

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak
buku ini sebagian atau seluruhnya, dalam bentuk dan dengan cara
apa pun juga, baik secara mekanis maupun elektronis, termasuk
fotokopi, rekaman, dan lain-lain tanpa izin tertulis dari penerbit.

ii P! erahu Layar

Prakata

Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Illahi Robbi yang telah memberikan karunia yang
luar biasa, sehingga penulis bisa menyelesaikan buku
perdana ini. Buku tentang kisah hidup penulis, merupakan
karya perdana penulis selama bulan Ramadhan 1442 H,
dengan harapan buku ini bisa meninggalkan jejak-jejak
perjuangan sepasang suami istri dalam menggapai impian
bersama putra putrinya, dari impian dan cita-cita di dunia,
hingga keinginan menggapai kebersamaan sampai ke surge-
Nya kelak.

Pada kesempatan ini pula izinkan penulis
mengungkapkan rasa terima kasih kepada:

1. Ibunda tercinta, H. Saodah, yang senantiasa memberikan
motivasi dalam membesarkan putra putri kami.

2. Suami tercinta, Mas Budi Kurniawan, A.Md, yang selalu
setia dan sabar membersamai, baik dalam suka maupun
duka.

3. Mbakku tercinta, Yuli Dwi Lestari, S.Sos, yang selalu
membantu, baik moril maupun spiritual.

4. Seluruh Ustaz/Ustazah di Pondok Pesantren Al
Mukorobin, Al Islah, Al Hikmah 3 Sukabumi, yang
senantiasa memberikan bimbingan dengan sepenuh hati
kepada putra putri kami.

5. Sahabat-sahabat baik di lingkungan SMPN 16 Depok
maupun di Yayasan Sri Gading Indonesia, yang senantiasa
memotivasi dalam penulisan buku dari awal hingga akhir.

! Dd Publishingiii!

!

Semoga buku ini menjadi motivasi dan inspirasi buat
para orang tua yang bercita-cita mencetak generasi Qur’an.

April Tri Rahayu

iv P! erahu Layar

Daftar Isi

Dari Penulis..................................................................... iii
Daftar Isi ......................................................................... v

Aku ........................................................................ 1
Budi Family ........................................................... 9
Ta’aruf ................................................................... 14
Menjadi Ratu Sehari .............................................. 20
Rumah Kontrakan.................................................. 25
Menjadi Sosok Ibu................................................. 31
Setahun Dua........................................................... 36
Menempati Istana Baru.......................................... 41
Hadirnya Buah Hati Ketiga ................................... 46
Masa-Masa Sekolah Mbak dan Mas...................... 50
Survei Bareng ........................................................ 54
Mengawali Perjalanan di Pesantren....................... 60
Hadirnya Kakak Hebat .......................................... 65
Ombak dan Badai Itu Menguatkan Layar ............. 70
Badai Pasti Berlalu ................................................ 76
Perjuangan Hafizah Umi 1 .................................... 80
Perjuangan Hafizah Umi 2 .................................... 84
Mbak, Sang Juara Umi dan Abi ............................ 88
! Dd Publishingv!

!

Perjalanan Al Hafiz Umi 1 .................................... 92
Perjalanan Al Hafiz Umi 2 .................................... 97
Perjuangan Al Hafiz Umi 3................................... 102
Perjuangan Hafizah Yunior 1 ................................ 107
Perjuangan Hafizah Yunior 2 ................................ 112
Kakak Hebat, Pasti Bisa ........................................ 117
Calon Hafizah Umi dan Abi yang Luar Biasa....... 121
Hadirnya Shadow Buat Kakak .............................. 125
Calon Al Hafiz yang Intelek.................................. 129
Janji Setia Bersama ............................................... 133
Senandung Doa ..................................................... 137
Tentang Penulis .............................................................. 143

vi P! erahu Layar

! Dd Publishingvii!
!



Aku

A ku terlahir dari keluarga sederhana, Bapak bernama
Gimin bin Karyo, seorang purnawirawan ABRI
yang mempunyai karakter tegas, perfek dan disiplin.
Pokoknya, apa-apa kudu disiplin, sampai-sampai di tembok
rumah ada tulisan gede banget. Pengen tahu enggak
bunyinya?

“Jangan lupa disiplin!” Kalimat itu masih nempel di
otak ini.

Suara beliau masih teringang-ngiang. “Pokoke, Nduk,
yen biasa disipilin, wayahe mati lampu njikuk senter yo

nggak usah mikir. la wong apal nggone.”
(Pokoknya kalau sudah terbiasa disiplin,
saat mati lampu juga enggak susah ambil
lampu tempel, karena sudah hafal
tempatnya).

Beliau adalah idolaku. Selain disiplin,
Bapak pekerja keras, sehingga banyak yang
kagum, karena beliau pensiunan prajurit.
Meski begitu, alhamdulillah, rumah enggak
di asrama, anak-anaknya pada kuliah. Itu
berkat kemauan dan kerja keras beliau.
Banyangin deh, aku masih kelas lima SD,

! Dd Publishing1!

!

Bapak sudah pensiun, tetapi berhasil mendampingi wisuda
dua anaknya.

Membantu siapa saja dengan iklas, itu sifat yang
dominan ada di beliau. Suatu hari, ada tetangga yang
meninggal, karena enggak pernah srawung (enggak kenal
tetangga) akhirnya tetangga-tetangga enggak mau ngurus.
Lain dengan Bapak, tanpa ba bi bu be bo, langsung nyalain
speaker dengan suara lantang, mengumum-kan berita duka,
lanjut ambil keranda dan ngurus jenazah dan sebagainya
tanpa peduli ada teman yang membantu atau tidak. Akhirnya
tetangga yang tadinya cuma ngintip-ngintip dari gorden, ikut
partisipasi juga.

Saking disiplinnya, kalau sudah janji pergi jam 07.00,
maka kita harus sudah siap dari jam 06.45, yang lebih dari
itu, tinggal. Kedisiplinan terasa saat aku sudah masuk masa-
masa mahasiswa dan jauh dari Bapak. Betapa kedisiplinan itu
sangat penting dilatih sejak usia dini.

Hidup sederhana adalah mottonya. “Sak onone wae, ra
usah werno-werno.” (Nikmati saja seadanya, enggak usah
macem-macem).

Kebiasaan minum segelas air putih dan makan
singkong hasil rebusan sendiri menjadi agenda rutin Bapak
selepas lari pagi. Olahraga lari dan berenang adalah hobi
beliau, sampai-sampai istri dan dua anaknya menjadi maniak
juga. Sepekan sekali, beliau mengajak istri dan dua anaknya
jalan kaki menuju kolam renang yang jaraknya kurang lebih
sepuluh kilometer dari rumah. Setelah berenang, pulang pun

2 P! erahu Layar

diajak jalan kaki sampai rumah, tetapi asyik juga sih, selain
sehat menjadi arena berkumpulnya aku dan keluarga.

Ibu adalah istri kedua beliau setelah istri pertama dan
putra pertama Bapak wafat bersamaan. Ibuku bernama
Saodah binti Cokro Warsito. Di usia mendekati kepala empat,
Bapak mempersyuting Ibu yang baru berumur tujuh belas
tahun. Jadi, kalau lagi jalan-jalan bareng sama dua anaknya,
Ibu dikira anak pertama beliau, padahal istrinya, hehehe.

Walaupun masih belia, tetapi pola pikir Ibu sangat
dewasa, karena setelah nikah beliau harus sering ditinggal
tugas keluar kota. Saat usia anak-anak balita, Bapak harus ke
Timur Tengah, menjadi Pasukan Garuda VIII. Saat itu Ibu
harus berjibaku sendiri dengan dua balita yang masih kecil-
kecil. Namun itu tak menyurutkan Ibu untuk pulang ke rumah
Nenek untuk meminta bantuannya. Beliau bertahan di rumah,
menikmati kesibukan bersama dua anak balitanya.

Ibu seorang pekerja keras. Di saat Bapak harus pensiun
dengan kondisi anak-anak masih sekolah SD, membuatnya
harus berpikir keras untuk tetap bisa menyekolahkan hingga
tingkat mahasiswa. Ibu rajin membuat es lilin yang selalu aku
bantu untuk dititipkan di warung-warung. Sempat buka
warung di rumah, jualan kecil-kecilan, karena pensiunan
Bapak harus disubsidi, kalau memang anak-anaknya mau
melanjutkan kuliah.

Manajemen keuangan Ibu sangat patut dicontoh. Setiap
habis gajian, Ibu rajin pilah-pilah uang dan memasukkan ke
dalam amplop, diletakkan di atas meja sesuai pos yang sudah
ditentukan. Aku ya ambil bagianku sendiri, uang SPP dan

! Dd Publishing3!

!

uang jajan, yang lain demikian juga. Kami satu rumah sudah
tahu kebutuhan apa saja yang sudah dibayar dan kebutuhan
apa yang belum dibayar, di samping Ibu juga punya catatan
sendiri. Aku pernah menemukan buku catatan pengeluaran
saat aku masih belum sekolah. Luar biasa kan!

Semangat belajar Ibu yang luar biasa menjadi tauladan
buatku. Beliau hanya lulusan SD, tetapi dengan bimbingan
Bapak yang luar biasa dan kemauan belajar Ibu yang tinggi,
akhirnya banyak ilmu yang beliau dapat. Seperti belajar
menulis, berhitung sampai berorganisasi. Kemampuan
memanajeman keuangan itu juga hasil keras belajar Ibu
bersama Bapak untuk menjadi dewasa dan tidak tergantung
dengan orang tua.

Bahkan sampai usia hampir kepala tujuh, Ibu masih
rajin belajar. Tiap hari ada agenda tahsin, tausiah, kumpulan
haji, arisan RT, sampai-sampai beliau masih mengelola uang
sampah satu RW, warisan dari Bapak.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak
perempuanku bernama Yuli Dwi Lestari, usia kami hanya
selisi dua puluh dua bulan. Dua adikku laki-laki, ternyata
Allah lebih sayang kepada mereka, dua-duanya meninggal di
usia delapan bulan. Sehingga aku hanya berdua dengan
mbakku, kita berdua serasa kembar, karena selisih usia kami.
Selain alasan tadi, Ibu juga selalu memakaikan kepada kami
sesuatu yang sama, seperti baju, tataan rambut (kepang dua),
aksesoris rambut, sandal yang dipakai, semuanya harus sama.
Ukuran badan juga hampir sama, tak heran jika orang-orang
menganggap kami saudara kembar.

4 P! erahu Layar

Kehidupan keluarga kami sangat harmonis, kebiasaan
makan bersama diawali doa menjadi agenda rutin. Sebulan
sekali, Bapak selalu mengajakku jalan-jalan untuk menyan-
tap semangkuk bakso atau bersilaturahmi ke rumah kerabat.
Ketika Ibu sudah memberi kode kepada kedua putrinya.
“Yuli, Utri, nderek mboten, Paek kaleh bue arep tindak-
tindak?” (Yuli, Utri, mau ikut enggak, Bapak mau jalan-
jalan). Itu pertanyaan yang membuatku sangat senang.

Mbak Yuli mempunyai bentuk tubuh yang lebih kecil
dari tubuhku, pendiam dan tidak suka neko-neko. Mbakku
yang satu ini, rajin banget puasa Senin-Kamis dari duduk di
bangku SD dan alhamdulillah sampai sekarang masih rajin
puasa.

Mbak Yuli adalah putri kesayangan Bapak. Aku tahu
sih, walaupun enggak terucap, tetapi dari sikap Bapak kepada
Mbak Yuli, aku yakin beliau sayang banget sama putri
sulungnya. Mungkin karena sifat nrimomya.

Aku adalah sosok yang berbeda dengan mbakku. Kata
orang, sifat Mbak Yuli sangat ayu, lembut dan kalem.
Namaku April Tri Rahayu, biasa dipanggil Utri, hanya orang-
orang yang sangat dekat yang memanggilku dengan sebutan
itu.

Aku suka berbagai kegiatan dari macam-macam
organisasi. Misalnya, OSIS, Pramuka, PMR, termasuk semua
kegiatan ekskul di sekolah. Sampai akhirnya aku terpilih
menjadi ketua OSIS di SMPN 11 Magelang. Rasanya
bahagia banget bisa tiap hari ke sekolah naik sepeda.
Jaraknya lumayan jauh juga, sekitar lima belas kilometer dari

! Dd Publishing5!

!

rumahku. Saat SMP pun prestasiku melejit naik, karena
sering mengikuti lomba. Aktivitas itu berlangsung hingga
aku lulus SMA.

Selama menjadi mahasiswa, aku merantau di Kota
Semarang, kurang lebih tiga tahun, kuliah di Akademi Gizi
Muhammadiyyah Semarang. Banyak yang kudapatkan
selama masa kuliah, terutama tentang hakikat dan tujuan
kehidupan, sehingga banyak terjadi perubahan dalam pola
hidupku. Lingkungan tempat indekos yang sangat kondusif
buat belajar bersama terutama ilmu-ilmu agama membuat
aku tahu, apa tujuan hidupku.

Selepas lulus dari Akademi Gizi, keadaan memaksa
aku merantau ke ibu kota untuk mengamalkan ilmu yang
sudah kudapat dari sini. Selama merantau di ibu kota, aku
tinggal bersama Mbak Yuli yang sudah memiliki rumah
sendiri. Di situlah awal mula aku membuka taklim untuk
anak-anak dan mulai menyelami dunia anak-anak. Ini terasa
sangat mengasyikkan.

Lima tahun membersamai anak-anak, belajar Iqro di
sekitar rumah, mengadakan acara dari maulid, pentas seni
sampai buka puasa bersama. Pengisi acara, penggalangan
dana dan dekorasi panggung dilakukan oleh mereka semua.
Akibatnya ibu-ibunya pun dipaksa berpartispasi dalam hal
konsumsi. Alhamdulillah, setiap acara disambut oleh semua
pihak, baik anak-anak, orang tuanya maupun lingkungan
sekitar.

Allah memilihkan jalan terbaik, menjadikan aku
seorang guru di sekolah swasta. Perjalanan waktu diminta di

6 P! erahu Layar

beberapa sekolah, baik tingkat SMP maupun SMA. Dari
SMA Pelita menyusul SMK Perintis, kemudian SMP Setia
Negara lanjut ke SMP Dwi Guna. Jam tayang pun jadi penuh,
agenda menclok dari satu sekolah ke sekolah lain. Menikmati
perjalanan menjadi seorang pendidik sungguh sangat
mengesankan.

Awalnya beranggapan profesi ini sebagai batu loncatan
untuk mencari lowongan di rumah sakit sebagai Ahli Gizi,
tetapi panggilan dari rumah sakit tak kunjung datang. Profesi
yang selama ini aku pandang sebelah mata, sekarang menjadi
sesuatu yang harus aku jalani. Dari anak-anak yang alim
sampai anak-anak yang bertato menjadi santapan setiap hari.

Dari sekian ratus siswa, alhamdulillah sampai saat ini
masih ada siswa yang menyambung tali silaturahmi. Yang
begini jadi sesuatu banget buat sang guru, karena jarang
terjadi. Setelah sekian tahun lulus, datang dengan
keberhasilan dan meminta nasihat, menganggap aku sebagai
orang tuanya. Menjadi sedih, haru dan senang, ternyata ada
bekas-bekas nasihat yang masih terselip di hatinya.

Perlahan tetapi pasti, aku mulai menyelami dunia
pendidikan. Ternyata menjadi seorang guru adalah kesem-
patan emas untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya,
kesempatan mengantarkan ribuan siswa-siswinya masuk ke
dalam surga-Mu, ya Robb.

Perjalanan waktu juga yang mengajarkan aku
memaknai arti mengajar. Menjadi guru tidak hanya bisa
mengajar, tetapi juga harus bisa mendidik. Menjadi guru
harus bisa digugu lan ditiru. Mengajar tidak asal mengajar,

! Dd Publishing7!

!

mengajar dengan hati. Bagaimana bisa menjadi guru yang
ikhlas dalam mentransfer ilmunya, bagaimana bisa menjadi
guru yang bisa membuka hati murid-muridnya, bagaimana
bisa menjadi guru yang ikhlas dengan jumlah gaji yang
diterima. Semua itu butuh proses belajar. Belajar mensyukuri
dan memaknai arti keberkahan.

Nasihat Ustaz KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan
Pondok Pesantren Gontor yang sangat menancap di hati.
“Ketika melihat murid-murid menjengkelkan, melelahkan,
maka hadirkanlah gambaran bahwa di antara mereka kelak
akan menarik tangan kita menuju surga.” Nasihat yang sangat
menguatkan aku dalam menikamati perjalanan menjadi
seorang guru.

8 P! erahu Layar

Budi Family

B udi sosok laki-laki enggak banyak tingkah dan
enggak banyak bicara. Terlahir dari pasangan
Dartun bin Arsa Besari. Bapaknya seorang yatim
piatu yang mengembara ke Ibu Kota untuk mencari sesuap
nasi. Kehidupannya diwarnai dengan berbagai macam
pekerjaan untuk mencari sesuap nasi. Dari kerja di kebun raya
Bogor, jualan es mambo, menjadi kuli bangunan semua
dijalani untuk mencukupi kebutuhan. Setelah agak lama
tinggal di ibu kota, tawaran pekerjaan dari sesama buruh
datang juga, dari kuli bangunan nasib merubahnya menjadi
penjaga mercusuar. Berkat ketekunannya, ada seseorang
yang menawarkan kerja di BUMN sebagai tukang ketik.
Pekerjaan itu akhirnya menjadi pekerjaan yang paling lama

digeluti.

Sifat Dartun yang jujur, disiplin dan
tegas akhirnya menekuni karirnya sebagai
tukang ketik di BUMN sampai akhir hayat.
Di usia yang masih sangat muda, dua puluh
tiga tahun, memutuskan pulang ke kampung
halaman. Kebetulan bertemu pamannya,
diajaklah ke rumah dan dikenalkan gadis
yang akhirnya dipersuting. Gadis itu berna-
ma Wagiatun binti Ali Suparna.

Wanita pendiam yang cerdas punya
keinginan melanjutkan ke PGA tidak

! Dd Publishing9!

!

menda-patkan izin, karena kondisi ekonomi itu akhirnya
menerima lamaran yang datang. Usia perkawinan yang
dianggap sudah cukup matang menjadi tantangan sepasang
suami istri untuk menjalani kehidupan barunya di ibu kota.

Berbekal kemauan merajut kehidupan bersama,
akhirnya Dartun mengajak istrinya ke Jakarta, tepatnya di
Kampung Ambon. Bukan istana megah yang menjadi rumah,
tetapi sebuah tenda yang menjadi istana mengawali
kehidupan barunya, sementara istri harus memboyong adik-
adiknya juga ke Jakarta untuk mencari nafkah.

Bayangan hidup di Jakarta itu enak, hilang seketika,
karena kehidupan yang dijalani sungguh sangat menantang.
Berjalanannya waktu, ada teman menawarkan rumah
sederhana untuk ditempati. Rumah yang berada di lokasi
pemakaman umum itu menjadi saksi buat anak-anaknya
sekarang, bahwa di situ pernah ada sebuah perjuangan hidup.

Wagiatun hanyalah lulusan SMP, tetapi mempunyai
kemauan belajar yang tinggi diikuti berbagai macam kursus
seperti memasak, menjahit, potong rambut, sampai kursus
akuntasi Bon A, Bon B, walaupun statusnya sebagai ibu
rumah tangga.

Kesibukan sebagai ibu rumah tangga dan berbagai
macam kursus ditekuni setiap hari, sampai mempunyai tiga
anak yang lucu-lucu. Anak pertamanya bernama Budi
Kurniawan dengan dua adiknya Beti Kurniati dan Tri
Hadianty.

Kehidupan di Jakarta dengan adik-adiknya membuat
sepasang suami istri itu bercita-cita memiliki rumah sendiri.

10 P! erahu Layar

Akhirnya diboyonglah semuanya ke Depok dengan mencicil
rumah.

Takdir berkata lain, tahun 1989, Dartun dinyatakan
menderita kanker paru-paru yang akhirnya diakhir tahun
yang sama harus pergi selamanya. Istri dan tiga anaknya,
serta adik-adiknya mengawali kehidupan yang baru untuk
mencukupi segala kebutuhan hidup.

Dengan berbekal modal seadanya, memulai usaha
jualan sayuran, dibantu Budi anak laki satu-satunya. Budi
rajin mendampingi Ibu dari belanja pagi ke pasar sampai
melayani para pelanggannya. Keuletan Budi yang menjadi
penyemangat akhirnya sang Ibu bisa menyekolahkan anak
laki-laki sampai jenjang perguruan tinggi.

Kebutuhan sekolah Budi dan adik-adiknya semakin
membengkak saat harus kuliah, sehingga membuat sang Ibu
membuka dua usaha jualan dan buka salon untuk membiayai
anak-anaknya. Kehilangan seorang Ayah sebagai kepala
rumah tangga, membuat banyak tantangan yang harus
dihadapi. Dari keinginan menjual rumah, pulang ke kampung
halaman sampai keinginan bertransmigrasi menjadi pilihan.
Namun Wagiatun memilih bertahan tinggal di Depok
bersama adik-adik dan anak-anaknya, walaupun harus
berjibaku membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan.

Tiga anak-anaknya yang dididik dari kecil menjadi
tumpuan hidupnya. Kesabaran, ketekunan dan tekad yang
kuat akhirnya mengantarkan dua anak perempuannya
menjadi perawat di rumah sakit yang ada di Jakarta dan
Bogor.

! Dd Publishing11!

!

Dalam usianya yang semakin bertambah, Budi pun
semakin gelisah untuk mencari pasangan, ditambah ada
rencana adik perempuannya akan menikah dalam waktu
dekat. Ikhtiar dilakukan dengan berbagai cara, melalui biro
jodoh di radio, berkenalan dengan sahabat kerabat dan
sebagainya. Sampai pernah melakukan perlajanan menuju
Palembang untuk berkenalan dengan seorang gadis. Siapa
tahu itu menjadi salah satu ikhtiar untuk mendapatkan jodoh
yang diinginkan.

Usia dua puluh delapan tahun bukan lagi usia yang
muda untuk menikah, tetapi sudah diambang akhir usia.
Sehingga ikhtiar mendapatkan juga dilakukan dengan
sungguh-sungguh. Ajakan jalan-jalan dari kota satu ke kota
lain untuk diperkenalkan dengan sahabat atau saudara teman
selalu diikuti. Itung-itung, kalau enggak jadi istri, bisa
nambah tali silaturahmi.

Pekerjaan yang sudah mapan menjadi Accounting di
perusahaan PO Bis Mayasari dianggap sudah pantas untuk
menjadi sosok seorang suami. Di samping masih ada
keinginan untuk membahagiakan sosok ibu tercinta.
Renovasi rumah adalah wujud kasih sayang terhadap ibunya,
walaupun gaji bulanan tinggal Rp.350.000; tetapi merasa
senang bisa merenovasi rumah ibunya menjadi rumah yang
layak huni.

12 P! erahu Layar

! Dd Publishing13!
!

Ta’aruf

K etika usia sudah menginjak dewasa dan muncul
ketertarikan dengan lawan jenis dibarengi ber-
tambahnya usia kadang membuat orang menjadi
sedikit gelisah. Di usia yang sudah matang dan kondisi yang
dianggap sudah mapan, tetapi jodoh tak kunjung datang.
Perasaan itu yang terjadi pada diriku. Di usiaku yang hampir
menginjak kepala tiga menjadi keresahan dan kegalauan pada
diriku.

Sabar dalam penantian. Sabar pertanyaan yang
diajukan saat mendatangi resepsi teman sebaya.

“Ayo kapan nyusul?”

“Sudah ada belum calonnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu hanya
bisa kujawab dengan senyuman dan
lantunan doa. Sampai-sampai suatu hari
ada kelebihan rezeki, iseng-iseng aku beli
lemari dan meja rias, malah jadi rame.
Banyak orang bertanya-tanya.

“Wah, dikit lagi dong!”

“Wah, tinggal nunggu undangan
nih.”

“Wah, kapan dikenalin?”

14 P! erahu Layar

Berbagai macam pertanyaan. Aku hanya bisa
menjawab dalam hati, Calonnya aja belum ada, masak mau
bagi-bagi undangan sih.

Jodoh menjadi masalah utama yang kuceritakan kepada
sahabat-sahabat yang kuanggap sebagai saudara. Aku
berharap dengan bercerita, ditawarin siapa kek, saudara,
teman, kakak atau yang lain. Ternyata harapan tinggal
harapan. Penantian terasa begitu panjang.

Hari ini adalah saum Syawal terakhirku. Seperti biasa,
setiap pekan melingkar bersama teman-teman ngaji. Tiba-
tiba ada yang meminta bantuan ‘tuk mengantar ke suatu
tempat, karena yang bawa motor cuma aku waktu itu,
akhirnya aku dengan sigap menjawab, “Siap, Mbak Aam,
mau dianter ke mana? Ada yang perlu dibawa nggak, Mbak?”

Beliau menjawab, “Oh, ya, ini ada kain begron habis
ada yang sewa.”

“Sip, ayo naik, pegangan yang kenceng, jangan sampe
jatuh, ya.” Sambil kukendarai motor kes grand hitam, aku
ikutin petunjuk teman yang kuanggap sebagai kakak ini.
Muter-muter dari jalan satu ke jalan yang lain.

“Kayaknya nyasar deh. Mbak Aam, bener nih
jalannya?”

“Bentar deh, aku nanya, lupa aku, Pril?”

Setelah bertanya, ternyata benar dugaanku, nyasar.
Maklum, aku sendiri juga baru sekali ke wilayah ini.
Sampailah di Jl. Bogwonto D2 No 4, rumah Bu Dartun.

! Dd Publishing15!

!

Selayaknya sebagai tamu, aku duduk manis, dikenalkan
dengan Bu Dartun pemilik rumah. Romannya Mbak Aam ini
saudaranya, kataku dalam hati. Akrab dan dekat banget kalau
dilihat dari obrolan Bu Dartun dan Mbak Aam.

“Kenalin nih, Bude, April temen dari Citayam.”

Sosok Bu Dartun yang pendiam hanya memberikan
senyuman dan ngobrol-ngobrol seperlunya. Cuma karena
Mbak Aam-nya banyak ngobrol, akhirnya bersambut juga.

Setelah urusan selesai, perjalana pulang aku dikejutkan
dengan sebuah pertanyaan yang mebuatku membuka mata
lebar. Masih di atas motor, Mbak Aam memberikan sebuah
instruksi.

“April, sampai rumah langsung istiharoh, ya. Tau
nggak, kalo jodoh, itu tadi calon mertuamu.”

Sambil nyetir motor antara percaya dan tidak percaya.
“Coba Mbak Aam ulangi lagi, aku nggak jelas dengernya.”

Ternyata kalimat yang sama keluar dari ucapan beliau.

Sampai di rumah masih terngiang-ngiang kalimat itu.
Setelah kurang lebih dua tahun sebelumnya pernah diproses,
tetapi gagal, kali ini proes kedua harus kujalani sebagai
bentuk ikhtiar. Aku tersadar, ketika handphone berbunyi.
Ternyata ada panggilan masuk.

“Halo, Pril, gimana, lanjut?”

Aku hanya bisa menjawab, “Kan aku belum pernah
ketemu orangnya, Mbak.”

“Ya, sini, buat data aja dulu CV, nanti tukar data.”

16 P! erahu Layar

“Yo wis, terserah. Aku manut aja, Mbak.”

Akhirnya tawaran Mbak Aam aku sampaikan ke Mbak
Yuli, saudara satu-satunya, sebelum minta izin ke Ibu dan
Bapak di Magelang. Mbak Yuli bilang, “Yo wis, Dik, dijajal
wae kirim data, sopo ngerti iki jodohmu.”

Akhirnya, bismillah, aku memulai segala ikhtiar dari
salat Istiharoh, membuat biodata dan menyerahkan ke Mbak
Aam untuk diproses.

“Oke, April, data kuterima. Kalo lanjut, sepekan lagi
taaruf, ya, ketemu calonnya.”

Sambil melongo kujawab, “Secepat itu kah, Mbak?”

Menunggu waktu sepekan serasa setahun, waktu
berjalan sangat lambat. Yang ada cuma deg-degan mau
ketemu orang yang sama sekali belum kenal dan konon kalau
jodoh bakal jadi suami. Nano-nano rasanya, ada asin, asam,
pedes dan pahit, semua bercampur. Dari gelisah, senang dan
sedih, campur aduk pokoknya.

Akhirnya waktu yang ditunggu datang juga. Selepas
mengajar sore, aku kendarai motor ke Jl Sinabung, ke rumah
comblang yang menjadi orang ketiga proses taaruf awalku.

Dag dig dug …!

Sampai di depan rumah Mbak Aam, ada sesosok
berpakaian seragam kantor tertentu, postur badan tidak
terlalu tinggi tidak gemuk dan putih kulitnya. Setelah salam,
aku masuk ke ruangan sebelah ruang tamu, jujur enggak
berani berhadapan langsung. Akhirnya suasana dicairkan

! Dd Publishing17!

!

oleh Mbak Aam. Proses taaruf diawali dengan membacakan
data kita masing-masing

Saat membacakan data, aku menggaris bawahi pesan
dari Mbak Yuli, beliau pesan enggak usah minta mahar
macam-macam. Memasuki jenjang rumah tangga, Allah pasti
membuka jalan rezeki kita. Akhirnya aku menyampaikan
secara singkat data-dataku dan langsung kutembak, kalau
serius, secepatnya datang ketemu orang tua dan pastikan
tanggalnya.

Laki-laki separuh baya itu kaget enggak ketulungan.
Ternyata dia belum ada persiapan sama sekali, karena sedang
mempersiapkan pernikahan adiknya.

Laki-laki paruh baya putra dari Bu Dartun yang waktu
itu aku diajak Mbak Aam ke rumahnya, sekarang ada di
depan mata. Budi, nama sapaannya. Sukanya kedip-kedip
mata dan gosok-gosok tangan enggak jelas. Waduh, di
tantang itu supaya langsung khitbah.

“Siap, dijawab tiga hari lagi, ya,” kata beliau waktu itu.

Dalam perjalanan pulang ke rumah sambil berpikir, Ya
Robb, kalo ini adalah jawaban doa- doa hamba, mudahkan
urusannya ya Robb.

Sampai di rumah kusampaikan hal ini kepada Mbak
Yuli, Ibu dan Bapak yang kebetulan sedang di Depok dalam
rangka walimatul aqiqah ponakanku ketiga. Kusampaikan
hasil pertemuanku dengan Budi Kurniawan. Akhirnya
keluarga memberikan masukan untuk menunggu tiga hari ke
depan.

18 P! erahu Layar

Sebuah cerita lucu saat taaruf awal bersama Pak Larto,
suami Mbak Aam. Kebetulan datang berdua saja, ingin
bertemu dengan Kakak Ipar dan Mbak Yuli. Saat datang, Pak
Larto menggunakan peci, sementara Mas Budi polos saja.
Setelah ngobrol panjang lebar, ternyata Kakak Ipar baru tahu,
kalau yang mau melamar yang tanpa peci, dikira dari awal
yang mau melamar yang banyak ngomong dan berpeci.

Lantas Pak Larto berkata, “Saya mah anaknya sudah
dua, Mas.” Sambil mesam-mesem.

Setelah dua pekan dibicarakan dengan keluarga, maka
sepakat keluarga Mas Budi mau bersilaturahmi, bertemu
orang tuaku bersamaan dengan acara walimatul aqiqah.
Keluarga besarku menyambut rencana tersebut.

Hari yang dinanti-nanti tiba. Serombongan keluarga
Mas Budi hadir, bertemu di rumah dengan maksud
mengkhitbah atau melamar bahasa kerennya. Bapak, Ibu,
Om, Bulek, Mbak Yuli dan Mas menerima kunjungan
rombongan dengan senang hati. Dipilihlah waktu terbaik
menurut dua belah pihak, tanggal 22 Februari 2002, pas
banget hari raya Iduladha.

! Dd Publishing19!

!

Menjadi Ratu Sehari

P roses taaruf yang begitu cepat, secepat mengirim
paket menggunakan jasa ekspress, membuat
persiapan yang dilakukan juga harus cepat. Bapak
dan Ibu langsung meluncur pulang ke Magelang setelah
diputuskan tanggal 22-02-2002 acara nikahnya. Dari
mengurus adminitrasi, mengurus konsumsi, mengundang
kerabat dan tetangga dekat, semua dilakukan dengan segera.
Rencana acara akad dan resepsi dilakukan secara sederhana.

Posisiku di Depok pun disibukkan dengan mem-
persiapkan segala rupa, dari mengatur jadwal pengajian anak-
anak kapan libur, kapan cuti, menyusun tugas selama cuti,

menyewa gaun dan pelaminan pun
dilakukan di Depok, karena dekor yang
digunakan masih langka dipakai oleh
orang-orang.

Alhamdulillah saudara-saudara
mem-bantu selama proses persiapan, dari
mengatur jadwal kepulangan menjadi
beberapa kloter sampai kapan aku sendiri
harus berangkat pulang. Urusan tata rias
dan dekor sudah dihandle teman dekat.
Acara akad dan resepsi tidak menggu-
nakan undangan, hanya secara gethuk
tular (pesan lisan) memberi kabar

20 P! erahu Layar

sekaligus minta doa restu saja kepada saudara-saudara dekat
dan teman-teman. Tanpa undangan saja persiapan yang
dilakukan Bapak dan Ibu waktu itu diprediksi mendekati
jumlah seribu orang.

Kebetulan mendekati acara musim hujan yang cukup
ekstrim, banyak musibah banjir melanda di mana-mana,
sehingga waktu tempuh perjalanan pulang kampung yang
biasanya hanya dua belas jam bisa sampai dua puluh empat
jam. Hanya banyak doa yang kupanjatkan, Ya Robb kalo
memang ini terbaik buatku, mudahkan ya Robb.

Selama perjalanan menuju hari H, ada hal-hal yang
masih melanjutkan proses taaruf. Aku menanyakan, apa
sebenarnya niatan menikah. Ketika jawabannya untuk
menyempurnakan sebagian dari agama, legalah hati ini.
Berarti enggak salah aku memilihnya.

Gantian deh aku ditanya pihak calon pengantin laki-
laki. “Kamu mau mahar apa, April?”

Aku tak banyak komentar, hanya menjawab, “Mahar
yang tidak memberatkan. Ada satu mahar yang tidak perlu
diucapkan, tapi dilaksanakan sepanjang mengarungi bahtera
rumah tangga.”

“Maksudnya apa itu, April?” Mbak Aam sedikit
bingung.

“Bilang ke calon pengantin laki-laki, kalo masih lanjut
sampai akad, mahar tak tertulisnya, dia mau mengaji, itu saja
kok, Mbak Aam. Enggak susah kan.” Sambil berbisik dan
pergi meninggalkan beliau dalam kesendirian.

! Dd Publishing21!

!

Akhirnya disampaikan juga satu mahar yang tak perlu
diucapkan tadi. Alhamdulillah di ACC oleh pihak calon
pengantin laki-laki. Saat sang comblang tanya mau bawaan
apa saja, aku jawab, “Bawain apa saja, yang penting bisa
dipakai dan tidak mubazir.”

Ternyata persiapan yang dilakukan pihak calon
pengantin laki-laki juga super repot, karena yang diplaning
adalah resepsi pernikahan adiknya, tiba-tiba agrobromo
(lewat), malah dia yang nikah duluan. Hal ini yang membuat
terbengong-bengong saudara-saudara dekat, baik yang di
Depok maupun yang di Jawa.

Tak heran, banyak saudara yang bertanya-tanya.
“Modale nekat apa modal dengkul?”

Jawabnya sih gampang. “Modalnya Bismillah.” Karena
rencana tersebut menjadi rencana yang serba tiba-tiba, baik
dari pihak keluargaku maupun pihak calon pengantin laki-
laki.

Selain pertanyaan-pertanyaan tadi, dominan
pertanyaan, “April ngajar di Depok, Budi kerja di Mayasari
Cibubur, ketemunya di mana?”

Hayo siapa yang bisa jawab?

“Di bus Mayasari kali, atau di halte mungkin, atau
jangan-jangan di jalan,” isengku, tentu saja jawabannya tidak
ada yang benar.

Jawaban yang benar adalah dipertemukan oleh Allah.
Pada bingung, karena aku sendiri enggak punya pacar,
enggak punya teman dekat laki-laki, tiba-tiba dapat suami.

22 P! erahu Layar

Namun tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah
berkehendak, tinggal kun fayakun, jadi, maka jadilah.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, bertepatan dengan
hari Raya Iduladha yang diajukan satu hari. Tepat pukul
08,00, acara akad dikumandangkan dengan suara lantang,
seolah menyakinkah para saksi bahwa dirinya benar-benar
siap memasuki bahtera rumah tangga.

Acara dilanjutkan dengan resepsi. Aku merasa agak
aneh duduk berdampingan dengan seseorang yang baru
kukenal dan akan menjadi orang yang akan mengenal diriku
baik lahir maupun batin. Alhamduillah, kerabat Bapak, Ibu,
teman-teman SD, SMP, SMA dan beberapa teman kuliahku
hadir. Walaupu sudah lulus, tetapi alhamdulillah, silaturahmi
masih berjalan dengan baik. Hasil silaturahmi ini benar-benar
aku rasakan, hingga menapaki bahtera rumah tangga.

Acara akad dan resepsi memberikan kesan tersendiri,
karena di situ ajang bertemunya seluruh saudara dari garis
Bapak maupun Ibu, ditambah teman-teman dekat. Semoga
keberkahan senantiasa tercurah buat semuanya.

Kondisi saat acara ternyata sedang ada wabah sakit
mata, walhasil kakak dan ponakan pun foto menggunkan
kaca mata. Bukan maksud untuk bergaya, tetapi memang
kodisi sedang sakit mata. Tak ketinggalan, pasca resepsi pun
aku dan Mas Budi terjangkit sakit mata juga.

Acara resespsi yang sangat menguras tenaga itu
berakhir sudah. Anggota keluarga Gimin family bertambah
satu lagi. Dari dua orang putri, sekarang bertambah lima
anggota, keponakan ada tiga ditambah dua mantu. Semua

! Dd Publishing23!

!

berkumpul menjadi sembilan. Nikmat Tuhanmu mana lagi
yang akan kau dustakan? Keluarga kecil yang akhirnya
mengembangkan keturunan yang banyak, sebagai calon-
calon generasi penerus. Doa yang selalu aku panjatkan,
“Semoga Allah karuniakan kepada kami anak-anak sholeh
dan sholeha, yang bisa mengantarkanku ke surga-Mu kelak.”

24 P! erahu Layar

Rumah Kontrakan

G oresan sejarah mulai dituliskan di lembaran baru hidupku.
Proses taaruf hingga pernikahan akan menjadi catatan
tersendiri dalam hidupku. Ketika dua jiwa disatukan
dalam ikatan suci, maka urusannya bukan lagi doaku,
doamu, tetapi menjadi doa kita. Harapannya, doa kita bisa
menembus langit dan mengokokohkan ikatan cinta kita di
dunia hingga ke surga-Nya.

Dari awal taaruf sudah mulai dipasang di mindset
bahwa memilih pasangan tidak harus yang mempesona. Akan
tetapi, bagaimana setelah menikah nanti bisa bersama-sama,
memanajemen konflik secara tepat, sehingga pada akhirnya
konflik itu bisa memberikan keberkahan buat semuanya.

Aku menyadari bahwa pertemuanku
dengan Mas Budi dari Syawal hingga
Dzulhijjah adalah pertemuan yang semata-
mata disatukan oleh Allah. Dengan tujuan
yang sama-sama ingin menyempurnakan
setengah din, dan suatu saat pun kita akan
berpisah karena Allah. Dalam kebersamaan
menggapai cita, bertikhtiar untuk meng-
gapai keluarga yang sakinah mawaddah wa
rahmah.

Bertemunya aku dengan Mas Budi
dalam ikatan suci menyadarkan bahwa

! Dd Publishing25!

!

benih-benih cinta yang baru mulai ditanam harus dipupuk,
disiram, dijaga dan dirawat dengan rasa kasih sayang, dengan
semangat memberi dan menerima segala kelebihan dan
kekurangan masing-masing. Aku yakin, bismillah, dengan
tumbuh bersama, akan lebih menyenang-kan sampai Allah
mempersatukan tidak hanya di dunia, tetapi sampai kekal di
surga.

Ternyata banyak kebaikan yang Allah janjikan saat kita
niatkan semua aktivitas semata-mata hanya untuk ibadah,
termasuk di dalamnya adalah menikah. Setelah sekian hari di
kampung halaman, aku bersama suami kembali ke Depok
untuk memulai rangkaian hidup baru.

Sebuah kontrakan yang sudah aku urus sebelumnya,
enggak jauh sih dari rumah mbakku. Maksudnya, aku masih
mau membersamai anak-anak belajar ngaji. Rumah
kontrakan dengan satu kamar, satu ruang tamu dan dapur
sementara cukup hanya untuk berdua. Perabotan yang masih
sangat sederhana dan bisa dihitung dengan jari menjadi
modal kami. Enam gelas, enam sendok, enam piring, enam
kursi, dua ember, kompor dan peralatan rumah tangga hadiah
dari sahabat-sahabat tercinta aku bawa ke istana baruku.

Ruang kamar dan ruang tamu ternyata tak muat
menampung lemari baju yang sudah aku miliki sebelumnya.
Alhasil, begitu tamu datang sajiannya lemari baju. Namun
tidak menjadi halangan buat kami berdua. Aku kembali pada
rutinitas yang biasa kujalani, sebagai guru honor yang harus
kejar tanyang di beberapa sekolah setiap harinya. Kondisi
suami yang lebih jauh kantornya, akhirnya diputuskan motor

26 P! erahu Layar

dibawa oleh suami dan aku pun menikmati jalan kaki atau
berangkat bareng dengan Mbak Yuli.

Sebulan, dua bulan, mengarungi perjalanan hidup
bersama orang yang benar-benar baru buatku. Merenungi
sebuah nasihat bahwa menikah adalah menyempurnakan
sebagian agama, ternyata benar sekali. Menikah itu ibarat
puzzle yang saling melengkapi kekurangan kita yang akan
ditutup oleh kelebihan suami atau sebaliknya. Begitu juga
dengan menikah seharusnya kualitas ibadah kita atau suami
juga harus lebih baik. Seandainya setelah menikah tidak
menjadi baik, berarti ada yang salah pada kita atau suami.
Nasihat itu sedikit isinya, tetapi begitu dalam maknanya.

Ternyata, manyatukan karakter yang berbeda dan baru
dikenal bukanlah hal yang mudah. Lapang dada untuk bisa
saling menerima itu kata kuncinya. Egoku yang luar biasa di
cairkan oleh suami yang begitu sabar menanggapinya.
Kekakuanku yang kadang orang bilang prefek banget dilem-
butkan dengan bahasa yang manis dengan kesabarannya.
Banyak bicara, suka komen, harus berpasangan dengan suami
yang kalau enggak diajak ngobrol hanya diam saja. Kesukaan
jalan ke sana kemari dipasangkan dengan suami hanya hobi
duduk manis memasak di di dapur. Sungguh, nikmat mana
lagi yang akan kau dustakan?

Menyatukan dua keluarga dengan sosial dan budaya
yang sangat berbeda pun tidak semudah membalikkan
telapak tangan. Aku butuh bermain cantik di rumah bersama
suami, butuh bermain cantik ketika berada di rumahku
bersama keluarga dan butuh bermain cantik ketika berada

! Dd Publishing27!

!

bersama keluarga suami. Semua bertujuan untuk bisa saling
memahami dan saling menerima segala yang ada.

Taklim anak-anak yang masih aku pegang selepas
menikah menjadi sedikit terkendala, karena waktu. Kami
berdua pun memtuskan untuk pindah kontrakan dengan
rumah yang lebih luas, supaya lebih nyaman dalam segala
hal.

Mencoba mencari-cari kontrakan yang dekat dengan
maksud supaya taklim anak-anak masih bisa dipertahankan.
Berjalannya waktu, dengan kondisi keuangan yang ada,
dapatlah satu rumah lumayan besar dengan dua kamar, ada
kebun di belakang dan ada halaman di depan rumah,
harganya juga cocok dengan keuangan. Akhirnya, kami
sepakat pindah kontrakan dan taklim anak-anak dialihkan ke
kontrakan yang baru. Kontrakan yang baru dengan posisi
tidak jauh dari rumah Bulek dan tidak jauh dari rumah Mbak
Yuli. Alhamdulillah, anak-anak tidak keberatan untuk
dipindahkan taklimnya.

Ternyata kebiasaan silaturahmi bukan menjadi budaya
di keluarga suamiku selepas bapaknya meninggal. Hal ini
kadang membuatku menjadi mellow, merasa tidak diterima
oleh keluarga suami, padahal itu hanya perasaanku saja.
Menata hati, selalu berbaik sangka menjadi pelajaran
prioritas buat diriku. Memang butuh waktu dalam
perjalanannya, insyaallah, mencoba dan terus mencoba, maka
akan menjadi habbit yang akan menghilangkan karakter
jelekku.

28 P! erahu Layar

Karakter Ibu yang jauh berbeda dengan ibu mertuaku
juga melatih aku untuk bisa bermain peran di depan
keduanya. Prinsip menceritakan hal-hal yang indah kepada
orang tua dan menyimpan dalam-dalam hal-hal yang tidak
indah menjadi sesuatu yang kami terapkan. Tidak semua hal
bisa kita ceritakan ke orang tua, ada hal-hal yang harus kita
pilih-pilih, kita pilah-pilah lagi untuk disampaiakan ke
Ibunda tercinta.

Kondisiku yang juga harus pandai-pandai member-
samai Mbak Yuli setelah sekian tahun numpang hidup
bersama suami dan tiga ponakan. Tiga ponakan bagaikan
anak sendiri, karena dari baby sampai usia sekolah setia
menemaninya. Bukan hal yang gampang meninggalkan
orang-orang yang begitu dekat denganku, mereka pun merasa
berat saat aku katakana bahwa Amah mau menikah, ngotrak
rumah bersama Amih. Mereka seolah merasa kehilangan
sekali. Namun dengan tetap memberikan perhatian yang
cukup, insyaallah mereka akhirnya menerima dan
memahami.

Adaptasi dengan dunia kerja pasca menikah pun bukan
hal yang mudah. Harus lebih pandai mengatur waktu,
mensiasati PR yang harus dibawa ke rumah, lebih berlama-
lama di rumah, tidak lagi berlama-lama di sekolah, lebih
menikmati pekerjaan di rumah, lebih sering belajar untuk
menjadi istri yang saleha, tanpa harus mengurangi peran dan
mafaat kita di masyarakat.

Sebelumnya pergi ke mana-mana sendiri, sekarang
sudah ada ajudan yang setia mengantar, menunggu dan
menjemput. Dulu tidak ada yang bantuin saat koreksi, kini

! Dd Publishing29!

!

ada suami yang siap membantu koreksian yang menumpuk
tinggi. Koreksian yang dulu nyaman dikerjakan di sekolah,
kini lebih nyaman dibawa pulang untuk dikerjakan bersama
suami tercinta.

Pada hakekatnya, keluarga sakinah mawaddah wa
rahmah adalah keluarga yang bukan tanpa masalah, bukan
juga keluarga tanpa adanya perbedaan. Namun keluarga
sakinah mawaddah wa rahmah adalah keluarga yang
menjadikan masalah dan perbedaan itu sebagai ajang
memotivasi dan evaluasi untuk selalu memperbaiki diri bagi
anggota-anggota keluarganya. Bersama memantaskan diri
bahwa semua anggota keluarga layak dikumpulkan kembali
di surga-Nya kelak.

30 P! erahu Layar

Menjadi Sosok Ibu

W aktu pindah rumah pun tiba. Tidak banyak sih
barang yang harus diangkut, dua kali angkut juga
beres, maklum barangnya masih apa adanya.
Pindah rumah dilakukan mengingat setelah nikah Allah
langsung mempercayai aku menjadi calon ibu bagi janin yang
ada di perutku.

Di usia kehamilan memasuki bulan keempat,
Alhamdulillah Allah berikan rezeki berupa kontrakan rumah
yang lebih luas, lebih besar, lebih nyaman, sehingga
seandainya Ibu dari Magelang datang, atau Ibu mertua datang
menjadi lebih nyaman.

Rumah yang kami tempati cukup lama dikosongkan,
alias enggak ada penghuninya, mungkin
karena posisinya paling ujung dan enggak
ada rumah lagi, jadi orang iseng mau
ngontrak di situ. Bagiku suatu kebetulan
banget jauh dari keramaian, kebisingan
maupun lalu lalang orang. Orang-orang
bilang, di situ juga dulu dipakai buat buang
jin-jin, jadi orang iseng juga mau ngontrak.
Buatku sih enggak masalah, yang penting
selalu ngaji dan berzikir, lama-lama jinnya
juga bosan dan pergi sendiri.

! Dd Publishing31!

!

Kondisi aku hamil empat bulan mema-suki rumah
kosong yang sudah lama tak bertuan menimbulkan orang
bertanya-tanya. Mulai deh mitos mereka, yang ini, yang itu
dan sebagainya. Aku bilang, “Bismillah, insyaallah berkah.”
Akhirnya aku dan suami pun memasuki dan menjalani masa
kontrak di rumah tersebut cukup lama, sampai bisa
menempati rumah sendiri yang lokasinya di depan rumah
yang kita kontrak.

Kondisi kehamilan anak pertama membuatku mabuk
kepalang, dari mual, muntah dan rupa-rupa deh yang dirasa,
tetapi nikmat gitu, bingung kan? Ya, karena itu pasti sesuatu
banget bagi pengantin baru, enggak enak, tetapi selalu
ditunggu-tunggu. Di awal kehamilan itu juga harus mengikuti
resepsi adik ipar sebagai agenda bertemu saudara-saudara
dari suamiku, karena memang kita belum pernah
dipertemukan sama sekali. Dengan resepsi itu, aku mengenal
banyak saudara-saudara yang datang dari kampung. Mabuk
yang melanda dinikmati dan dijalani dengan rasa syukur.

Menjalani masa kehamilan selama sembilan bulan aku
pun tetap beraktivitas seperti biasa, mengajar, memegang
taklim anak-anak dan nambah taklim anak-anak muda.
Karena lokasi kontrakan yang agak jauh, taklim anak-anak
akhirnya berhenti, apalagi kalau kondisi hujan. Aku putuskan
fokus memegang anak-anak muda, biar jiwa mudanya
menempel terus pada diriku.

Hal paling berkesan saat kehamilan pertama adalah
Allah pertemukan aku dengan sosok bidan yang luar biasa.
Bidan Yusneli, beliau dinas di RSCM ini, bukan bidan
sembarang bidan, tetapi bidan yang sangat menginspirasi.

32 P! erahu Layar

Asal meluncur ke tempat praktiknya di Gang Bakti, ada
sesuatu yang bisa kami bawa pulang. Sosok bidan yang
memeriksa dengan hati, sehingga aku pun sebagai pasien
merasa tenang, nyaman dan tersiram ruhiyahnya. Kesabaran
dan keibuannya sangat menginspirasi aku dan suami,
walaupun tempat praktinya cukup sederhana, tetapi sosok
beliau sangat memotivasi kami, terutama dalam hal
kedekatan kepada Allah.

Pemeriksaan dimulai dari periksa tekanan darah sampai
pemberian obat dan konsul kehamilan, nasihatnya mengena
banget buat aku dan suami. Pulang periksa seperti pulang dari
pengajian, ada cashan ruhiyah yang luar biasa.

Pemeriksaan semakin rutin apalagi menjelang detik-
detik kelahiran dari sebulan sekali menjadi sebulan dua kali,
sampai akhirnya sepekan sekali. Kondisi emosional anak
pertama memang belum stabil, karena aku dan suami adalah
pasangan baru yang benar-benar baru, baru mengenal dan
bermesra-mesraan setelah menikah. Sehingga proses
menyelami karakter suami sangat mempengaruhi emosi
jiwaku. Di samping terjadi peningkatan hormon di masa
kehamilan itu sangat mempengaruhi aku menjadi sosok yang
sering menangis alias cengeng, sensitif. Dengan penanganan
Bidan Yusneli itu sangat berpengaruh banget buatku, untuk
kembali bangkit, kembali kuat dan kembali semangat
menghadapi kerikil-kerikil yang harus dilalui. Ternyata
dampak emosi dan kondisi psikologisku berpengaruh dengan
karakter putri pertamku. Masyaallah ….

Usia sembilan bulan kehamilan bertepatan dengan
pelaksanaan ujian di sekolah tempat aku mengajar, sehingga

! Dd Publishing33!

!

harus membuat planning untuk menyelesaikan setumpuk
koreksian, mengolah nilai dan merapikan administrasi
dengan cita-cita pas berasa mules tugas dan kewajiban sudah
kutunaikan.

Perkiraan dan planning-ku benar, di akhir merekap
nilai, tiba-tiba perut mulas semakin sering, sehingga
diputuskan segera ke bidan untuk ditangani. Ternyata hasil
pemeriksaan masih pembukaan satu dan aku harus pulang
dulu. Aku gunakan kesempatan itu untuk menyerahkan hasil
rekapan nilai ke sekolah sambil meminta doa dari teman-
teman semoga dilancarkan proses persalinannya.

Sesampainya di rumah, aku memakai sisa-sisa tenaga
untuk berbenah rumah. Eee … tiba-tiba ada seperti balon
yang pecah dari tubuh dan mengeluarkan cairan yang enggak
bisa ditahan lagi. Seperti pipis, tetapi banyak banget yang
keluar. Aku berteriak, memanggil suami dan dengan cepat
dibawa kembali ke Bidan Yusneli. Akhirnya bidan memberi-
kan induksi untuk merangsang bayi. Benar saja, mules
dengan durasi yang sangat cepat dan tidak bisa ditahan, aku
pun dibawa ke ruang tindakan. Suamiku ikut mendampingi
aku di ruang tindakan bersama asisten bidan.

Perjuanganku antara hidup dan mati mempertaruhkan
nyawa dengan dibantu suami di doronglah sang calon bayi
dari atas kepala dan ditarik dari bawah oleh bidan. Akhirnya
suara tangisan bayi itu keluar. Suamiku yang biasa melihat
darah tidak tahan, hari itu harus berhadapan dengan kondisi
istri yang harus mempertaruhkan nyawa. Sampai-sampai
kaos yang dikenakan basah kuyup, karena berusaha

34 P! erahu Layar

membantu dengan doa, dengan motivasi dengan segala usaha
merasakan apa yang aku rasakan.

Tepat tanggal 18 Desember 2002 lahir putri pertama
kami. Senang dan haru, rasa itu semua menghilangkan rasa
sakit seketika, setelah tangisan bayi menggema di ruangan.
Setelah dibersihkan, suamiku mengazankan dan menggen-
dongnya dalam pelukan. Dalam hati aku mengucap syukur
alhamdulillah, Allah mempercayaiku menjadi seorang ibu.
Di situlah aku menyadari perjuangan seorang ibu, pantas
Allah marah kalau kita tidak taat dan tidak patuh dengan
orang tua apalagi dengan ibu. Ternyata perjuangannya luar
biasa.

Kehadiran sosok suami, Allah sempurnakan kembali
dengan hadirnya seorang bayi mungil di tengah-tengah kami.
Menjadi seorang ibu adalah sesuatu yang diidam-idamkan
oleh setiap wanita dan menjadi seorang ayah pun menjadi
idaman setiap pria. Maka, nikmat mana lagi yang akan kau
dustakan?

! Dd Publishing35!

!

Setahun Dua

K ebahagiaan dengan hadirnya putri pertama kami
yang bernama Shafiyyah Muzdhalifah semakin
menambah hangatnya keharmonisan di rumah. Ibu
yang di Magelang, ibu mertua, adik-adik ipar dan saudara-
saudara menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke rumah
kami.

Tanpa kusadari ternyata selisih tiga bulan berikutnya
aku dinyatakan hamil lagi. Antara percaya dan tidak, karena
baru merasakan tiga bulan menjadi ibu dari satu putri
akankah menyusul anak kedua kami. Tetap positif thinking
bahwa Allah masih mempercayai kita untuk menjadi seorang
ibu dan seorang ayah.

Kehamilan kedua seperti tidak
merasakan hamil, aktivitas mengajar,
mengisi taklim, merawat bayi tidak
mengalami masalah dan tidak mengalami
kepayahan seperti kehamilan pertama.
Kehamilan kedua pun aku masih
mempercayakan pemeriksaan dan kon-
sultasi bersama Bidan Yusneli.

Bedanya, pada kehamilan kedua di
usia kehamilan sembilan bulan posisi
kepala janin masih di atas, sehingga
disarankan oleh Bidan Yusneli pemerik-

36 P! erahu Layar

saan dilanjutkan di rumah sakit. Dengan berbekal kartu BPJS
dari kantor suami, aku memulai pemeriksaan di RS Polri dan
ternyata sampai masa-masa akhir kehamilan posisi janin juga
tidak berubah. Akhirnya dokter memutuskan untuk kelahiran
kedua dengan operasi sesar. Tahap pemeriksaan aku ikuti
bersama suami dengan penuh kesabaran. Asal mau berangkat
periksa perbekalan selama sehari sudah aku persiapkan.
Tanggal operasi pun telah ditentukan.

Sehari sebelum operasi, aku sudah harus berada di
rumah sakit untuk menjalani berbagai pemeriksaan, pastinya
didampingi suami tercinta. Malam itu aku baru merasakan
menjadi pasien yang harus menginap di rumah sakit. Operasi
direncanakan pagi hari dengan nomor antrean dua, karena
memang hanya dua pasien kasusnya sama denganku.
Menjelang subuh, aku sudah mempersiapkan diri menuju
ruang operasi. Paien pertama sudah masuk ruang operasi
berharap tidak lama lagi aku akan masuk. Jam berjalan
hingga zuhur tiba. Beberapa saudara datang untuk
memberikan support, Ibu dan Bapak pun menyempatkan diri
menemaniku. Sampai ashar pun aku belum diminta masuk
ruang operasi. Suamiku bertanya, dijawab ada pasien
mendadak dari UGD sampai hampir lima pasien yang
menyela.

Kondisi capai, lelah, sedikit emosi dan rupa-rupa rasa
tanpa terasa baju bagian belakangku basah. Akhirnya suami
memberanikan diri masuk ruangan dan melaporkan kondisi-
ku saat itu. Ternyata air ketuban sudah pecah. Saat itu juga
aku diminta masuk ruang operasi mempersiapkan segala
sesuatunya.

! Dd Publishing37!

!

Proses operasi berjalan kurang lebih empat puluh lima
menit. Aku kemudian dibawa ke ruang perawatan. Sedikit
bingung saja, karena sampai di ruang perawatan semua bayi-
bayinya di letakkan di boks bayi yang bersebelahan dengan
ibunya, sementara aku tidak. Dalam hati bertanya-tanya, Ke
mana bayiku, kok yang lain ada aku nggak? Akhirnya aku
beranikan diri bertanya dan suami menjelaskan kalau bayi
kita ada di ruang khusus dan masih dalam penanganan. Rasa
sakit semakin menjadi-jadi mendengar kabar bayiku ada di
ruangan khusus, tetapi tetap mencoba bersabar dengan segala
kelemahan kondisiku saat itu. Aku hanya bisa pasrah,
kuserahkan semua kepada Allah.

Masa-masa pemulihan sangat merasakan begitu
nikmatnya pasca operasi, perlahan-lahan berlatih dari tidur
kemudian balik kanan kiri, duduk secara bertahap, berdiri
pelan-pelan dan berjalan sambil tertatih-tatih. Akhirnya
dalam kondisi seperti itu, aku paksakan mengajak Mas Budi
untuk melihat bayiku di ruangan khusus. Ternyata benar,
bayiku masuk ke incubator dengan sinar dan lampu yang
menyala-nyala, jarum yang ditusukkan di tangan oksigen
yang dipasang di hidung membuat aku semakin bertambah
sedih.

Efek dari keracunan ketuban yang sudah pecah dan
tidak segera tertangani. Mencoba menerima kenyataan
dengan tetap berikhtiar untuk memaksakan memberikan ASI
yang diperas dan dimasukkan botol untuk diberikan kepada
bayiku.

Kondisi di atas yang membuat bayiku tidak bisa dibawa
pulang akhirnya dengan dijemput Mas Supri, kakak iparku,

38 P! erahu Layar

aku pulang tanpa menggendong bayi ke rumah. Sedih sekali
rasanya, ketika bisa melahirkan, tetapi bayi yang dilahirkan
harus jauh dengan sang ibu.

Sesampainya di rumah, anak pertamaku, aku dan suami
mengadakan acara walimatul aqiqah di hari empat belas,
walaupun secara sederhana dibarengi dengan pemberian
nama dan pengguntingan rambut. Dengan harap-harap
cemas, saat acara aqiqah si bayi sudah bisa dibawa pulang.
Alhamdulillah, Allah maha mendengar doa-doaku,
menjelang H-1 di hari keempat belas, bayiku bisa diboyong
ke rumah. Selama bayiku di rumah sakit, aku hanya bisa
memeras ASI yang kemudian dibawa suami ke rumah sakit.

Di luar dugaan, saat acara aqiqah ternyata banyak tamu
yang hadir di luar yang diperkirakan. Anak kedua kami laki
laki dan kami beri nama Zaid Nashrullah. Maknanya Zaid
diambil dari nama anak angkat Rasullullah, Nashrullah
mempunyai makna mudah-mudahan Allah berikan perto-
longan kepada putra kami pertolongan dalam segala hal wa
bil khusus saat itu pengen banget punya anak laki-laki yang
saleh, sehat, kuat dan pintar.

Mempunyai dua anak kecil dengan selisih umur hanya
tiga belas bulan membuat aku dan suami harus pintar-pintar
membagi tugas, walaupun saat itu ada orang yang membantu.
Bagaikan memiliki anak kembar, karena tautan usia yang
hampir sama. Namun kondisi dua anak dengan dua karakter
dan dua perlakuan. Zaid berbeda dengan kakanya. Dalam
menjalani satu tahun usianya, aku dan suami diuji kesabaran,
karena Zaid harus diopname di rumah sakit di usia yang
masih tiga bulan. Saat pagi masih segar bugar menjelang sore

! Dd Publishing39!

!

hanya diam, enggak rewel, ternyata diamnya adalah sesak
napas. Akhirnya aku dan suami harus siaga satu, membawa
ke UGD, diopname selama lima sampai enam hari dengan
diagnosis Bronkho Pnemonia. Kasus itu berulang di usia lima
bulan, delapan bulan dan sebelas bulan.

Kesabaranku diuji di saat aku harus mngoreksi, mengisi
rapor dan tugas sekolah lainnya. Akhirnya memaksaku untuk
meyelesaikan semua tugas-tugas di rumah sakit, sambil
menunggu buah hatiku. Perjalan proses penyembuhan Zaid
harus sering konsultasi dan menjalani pemeriksaan di dokter
spesialis anak. Ternyata aku baru tahu, dokter spesialis yang
aku datangi untuk pemeriksaan Zaid memberikan resep dosis
yang cukup tinggi, sehingga selepas diberikan obat akan
sembuh, tetapi kendalanya akan susah ketika tidak bertemu
dokter spesialis maka obatnya pun tidak akan berdampak.

Menjalani proses pertumbuhan
dan penyembuhan aku berusaha
selektif dalam hal makanan dan
berusaha menurunkan dosis obat
yang diberikan oleh dokter spesialis,
supaya bertambahnya usia menjadi
semakin sehat dan semakin kuat.
Bertambahnya usia Zaid tumbuh menjadi si Bolang kecil
yang sehat dan suka berpetualang dengan alam. Kebiasaanku
dari kecil memberikan biscuit sebagai makanan yang
menurutku aman, menjadi habbit sampai Zaid tumbuh
dewasa, karena biscuit masih menjadi makanan favoritnya.

40 P! erahu Layar

Menempati Istana Baru

B egitu sayangnya Allah terhadapku, begitu men-
dapatkan pasangan dalam hidup ini langsung
mempercayaiku untuk mengemban amanah men-
jadi seorang ibu dengan dua anak yang selisihnya hanya satu
tahun, alias setahun dua. Dari awal pernikahan, aku sering
ngobrol bersama suami tentang visi dan misi rumah tangga
yang sedang dirintis bersama. Berharap diawali omong-
omong kosong akan menjadi cita–cita yang suatu saat akan
Allah ijabah.

Banyak anak banyak rezeki, pepatah itu benar-benar
aku rasakan berbekal modal seadanya. Setelah punya seorang

putri yang cantik dan mungil, Allah tambah
rezeki yang banyak dari kontrakan petakan
di kehamilannya saat lahir sudah di
kontrakan satu rumah yang lebih besar, yang
sebelumnya cuma ada satu motor grand
hitam sekarang bertambah satu motor lagi.
Jadi masing-masing bawa motor sendiri,
walaupun agak rewel, motornya kadan-
kadang mesti dorong.

Ketika Allah karuniakan amanah
berikutnya dengan seorang bayi laki-laki,
saat itu juga Allah tambah rezeki berupa
tambahan jam mengajar yang padat. Target-

! Dd Publishing41!

!

target sudah mulai aku bikin dengan musyawarah bersama,
karena berumah tangga ibarat sebuah perahu layar yang akan
mengarungi lautan yang berombak dan bergelombang. Suami
diibaratkan nahkoda, istri yang membantu mendayung.
Perahu layar yang akan menuju suatu tempat tertentu untuk
berlabuh. Kalau rumah tangga tidak punya visi dan misi, jadi
bingung mau dibawa ke mana ini para penumpangnya.

Target jangka panjang, jangka menengah dan jangka
pendek sudah dibuat, tinggal step by step aku dan suami
mencoba menjalaninya. Dari cita-cita punya rumah setelah
tiga tahun nikah, punya empat anak dan masa depan anak-
anak, kita rancang dengan sangat apik sampai-sampai jarak
usia kelahiran juga masuk di dalamnya.

Menjadi kontraktor alias mengontrak sana mengontrak
sini sudah dijalani kurang lebih dua tahun, sehingga program
utama adalah memiliki rumah sendiri dalam waktu satu tahun
ke depan. Survei dari satu tempat ke tempat lain sampai ke
ujung Bogor pun kita sambangi. Namun tidak ada yang
memuaskan, karena bayangannya kalau beli rumah di
komplek kecil banget baru masuk pintu sudah ada lagi pintu
keluar, sementara pengen punya anak empat. Mencari solusi,
bertanya-tanya harga tanah pun aku lakukan bersama suami
ke tempat-tempat yang cocok menurut kami.

Tak disangka-sangka, pemilik tanah depan rumah yang
dinas di Jawa menawarkan tanahnya untuk dijual, karena
beliau tidak kembali ke Jakarta. Singkat cerita, tanah seratus
meter persegi akhirnya terbeli. Merenung sambil ngomong
sendiri, Kalau Allah sudah berkehendak gampang banget, ya,
Ibarat sudah cari-cari sampai ke mana-mana ternyata tanah

42 P! erahu Layar


Click to View FlipBook Version