menghibur sambil memberikan sebungkus biscuit kecil dan
merayu supaya tidak menangis.
Setahun, dua tahun, Mas Zaid termasuk tipe anak yang
susah menghafal dan susah lupa, berbeda dengan Mbak Lifa
yang cepat hafal dan cepat lupa pula. Ternyata masing-
masing anak punya keunikkan sendiri-sendiri.
Di tahun ketiga, dari sepuluh santri tinggal tujuh yang
bertahan, harus meninggalkan AMQ untuk menuntut ilmu
Al-qur’an lagi. Pilihannya adalah mengikuti tes di Al
Hikmah. Ikhtiar dilakukan kembali dengan mengikuti tes
seleksi. Ternyata Mas Zaid dinyatakan gagal, tidak diterima.
Sedih, kecewa bercampur jadi satu. Aku dan suami mencoba
konfirmasi langsung ke Ustaz untuk menanyakan kekurangan
yang ada pada putra kami dan mencoba mencari solusi
terbaik. Alhamdulillah, Ustaz menjelaskan secara gamblang
alasana Mas Zaid tidak diterima di Al Hikmah 1 dan
memberikan solusi untuk mengikuti progam drilling atau
progam persiapan sebelum siap menghafal Al-Qur’an. Kami
pun sepakat, Mas Zaid mengikuti progam drilling selama
kurang lebih tiga bulan.
Setelah progam drilling dilalui, maka Mas Zaid mulai
masuk progam tahfiz yaitu progam yang siap untuk
menghafal Al-Qur’an. Hafalannya diulang kembali dari juz
awal, tidak melanjutkan hafalan yang sudah ada. Sebenarnya
tabungan hafalannya sudah di atas sepuluh juz, tetapi tetap
harus mengulang. Lingkungan yang kondusif di samping
teman-teman yang lebih banyak. Itu memberikan dampak
bangkitnya kembali motivasi menghafalnya, didukung lagi
! Dd Publishing93!
!
semua teman-temannya mempunyai tujuan yang sama, jadi
hawanya satu napas … menghafal Al-Qur’an.
Sarana dan metode yang praktis, membuat Mas
bertambah semangat menghafal. Kurun waktu setahun
delapan bulan, Mas sudah menyelesaikan progam
ziyadahnya. Masih ada waktu setahun untuk mengambil
progam mutqin. Karena aku dan suami enggak paham
akhirnya anak dikejar terus untuk mencapai target.
Berangsur, suami baru paham progam-progam baru, dari
ziyadah ke mutqin dari mutqin ke super mutqin lanjut sanad.
Terpikir, seandainya usia kita digunakan hanya untuk belajar
Al-Qur’an, rasanya juga masih kurang. Masyaallah.
Begitu banyak manfaatnya, ketika aku bertemu
komunitas orang tua yang punya tekad yang sama, mencetak
generasi Qur’an. Perjalanan berikutnya, Mas Zaid mengikuti
progam mutqin. Yaitu progam melekatkan hafalan-hafalan
Qur’an, ditambah di progam ini sebagai testimoni, sehingga
belum banyak santri yang mengikuti progam tersebut.
Alhamdulillah tempatnya masih sama, memudahkan kita
untuk sering menengok.
Di akhir tahun ketiga, target mutqin Mas Zaid tinggal
lima juz lagi. Aku dan suami penuh harap bisa selesai tiga
puluh juz, karena kami punya rencana menarik Mas Zaid
untuk dipindahkan ke sekolah umum, mengingat kondisi
keuangan yang tidak mungkinkan. Aku, suami, kakak dan
adik-adiknya memotivasi, supaya Mas Zaid segera
menyelesaikan program mutqin secepatnya dan mengikuti
agenda wisuda sebagai santri yang sudah menyelesaikan
progam mutqin.
94 P! erahu Layar
Satu bulan menjelang acara wisuda, seluruh santri
harus dipulangkan, karena terkena wabah hepatitis. Terma-
suk Mas Zaid, harus pulang untuk isolasi mandiri dan
pemulihan. Selama di rumah, aku melakukan pengawasan
ketat, masih berharap Mas bisa wisuda dengan selesai
progam mutqinnya. Detik-detik menjelang acara, seluruh
santri wajib kembali ke pesantren untuk menyiapkan acara.
Sampai hari H-nya pun, aku masih berharap Mas selesai
mutqin tiga puluh juz. Ternyata saat pemanggilan nama Mas
Zaid disebutkan hanya dua puluh lima juz yang berhasil
diselesaikan dengan predikat mumtaz.
Agenda wisuda selesai dan harus puas dengan hasil
pencapaian Mas. Masih berharap Mas Zaid bisa mengejar
lima juz lagi.
Ternyata rencana manusia berbeda dengan rencana
Allah. Ada kabar dari Ustaz bahwa per bulan Februari untuk
santri mutqin akan dipindahkan ke Sukabumi. Aku dan suami
semakin bingung mengambil keputusan, kalau harus
menyelesaikan progam mutqin di Sukabumi sangat tidak
memungkinkan, karena biaya akomodasinya besar. Aku coba
berdiskusi dengan suami, mencari jalan keluarnya.
Diputuskan suami menghadap Ustaz untuk meminta solusi,
apakah Mas Zaid bisa diperdayakan atau bisa untuk tidak
bertahan menyelesaikan progam mutqin. Suami dengan jujur
membeberkan permasalahannya. Sangat di luar dugaan,
ketika suami sudah menjelaskan secara detail kepada mudir
(Ustaz Agung). Suami menyampaikan kalau orang-orang
wakaf tanah, maka saya wakaf anak saya untuk dititipkan
! Dd Publishing95!
!
sepenuhnya kepada Ustaz dan jawaban Ustaz Agung akan
mendiskusikan hal tersebut kepada pihak yayasan.
Sehari sebelum kepindahan ke Sukabumi, wali santri
yang berdomisili di sekitar Jabodetabek berkumpul untuk
berdisdkusi. Menjelang pulang sampai di depan masjid,
suamiku dipanggil Ustaz Agung dan dijelaskan bahwa
beasiswa Zaid di ACC. Jadi Zaid harus ikut ke Sukabumi
untuk mengikuti progam selanjutnya. Kabar gembira dibawa
pulang dan disampaikan kepadaku, bagaikan mendapat
bintang dari langit. Sebuah rencana Allah yang sangat indah
masih bisa bergabung dengan santri Al Hikamh dengan para
ustaz dan asatidnya.
Tiga bulan setelah di Sukabumi, tiba-tiba dikejutkan
dengan kiriman tasmi tiga puluh juz sekali duduk yang
dilakukan Mas Zaid dengan durasi waktu 12 jam 25 menit.
Haru, bahagia, menyaksikan cuplikan videonya, hanya air
mata yang tidak bisa kutahan saat menyaksikan kembali
putaran video itu. Hadiah terindah Mas berikan buat Umi dan
Abi di saat bulan Ramadhan. Ya Robb, nikmat mana lagi
yang akan kau dustakan.
96 P! erahu Layar
Perjalanan Al Hafiz Umi 2
K epindahan pesantren Al Hikmah 3 ke Sukabumi
membuat air mataku berderai tiada henti. Setelah
dua bulan di sana, tasmi pertama di bulan
Ramadhan memberikan kesan mendalaam buat aku dan
suami. Kiriman video yang berulang-ulang kuputar, tetap saja
tak menghentikan air mata ini.
Kabar berikutnya, ternyata Al Hikmah 3 akan pindah
lagi di Mega Mendung Puncak, walaupun hanya setahun di
Puncak, tetapi kesannya mendalam banget. Sebuah villa yang
unik dan cantik, membuat para santri merasa nyaman belajar
di sana. Kenyamanaan belajar di Mega Mendung berakhir
dengan silaturahmi bersama orang tua wali santri. Bermalam
sehari semalam sangat memberikan kesan
yang sangat mendalam.
Di situlah awal bertemunya dengan
seorang doter gigi wali santri dari Ananda
Faith. Beliau bernama drg. Nurbaedah yang
akhirnya menjadi orang tua kedua buat Mas
Zaid. Entahlah, kenapa beliau begitu
bertanya secara detail tentang Mas yang
akhirnya beliau yang mengajak Mas Zaid ke
Lampung, untuk penanganan dan perawatan
gigi depanya yang patah saat masih di AMQ.
Sebenarnya waktu masih di AMQ sudah
! Dd Publishing97!
!
ditawarkan untuk ditanggung bersama, cuma aku berpikir
Mas Zaid juga berlebihan dalam bercanda. Aku pun
memutuskan untuk damai.
Melihat kondisi gigi yang akan mempengaruhi kualitas
bacaan, Bu dokter bermaksud membawa Mas Zaid ke
Lampung, untuk proses penambalan gigi. Awalnya aku
menolak tawaran itu, khawatir merepotkan. Ternyata
berlalunya waktu, tiba-tiba beliau memberi kabar untuk bisa
mengantar Mas Zaid dan bertemu di Bekasi, selanjutnya
dibawa ke Lampung.
Kurang lebih tiga bulan perawatan dan pembersihan
gigi dilakukan di Lampung. Selama di sana, tidak ada
aktivitas lain, selain murojaah, sehingga sehari bisa delapan
sampai sepuluh juz. Aku juga bingung, ucapan terima kasih
yang sangat banyak tak bisa terlukiskan, bentuk perhatian
beliau yang luar biasa diberikan kepada Mas Zaid, sampai
selesai terpasang gigi secara sempurna.
Alhamdulillah terpasangnya gigi secara sempurna
membuat percaya diri Mas Zaid semakin bertambah. Tidak
malu lagi ketika harus tersenyum lebar, tidak malu lagi ketika
bicara di depan banyak orang. Sepulang dari Lampung, Al
Hikmah 3 harus kembali ke Sukabumi, kampus sebelumnya.
Situasi di Sukabumi tergambar kembali, lingkungan yang
sangat kondusif untuk menghafal dan belajar dengan area
yang lebih luas dan lebih nyaman.
Setelah tasmi pertama, Mas Zaid mengikuti progam
berikutnya, progam super mutqin. Di progam ini, Mas
dituntut untuk menghafal ayat, halaman, juz yang ada dalam
98 P! erahu Layar
Al-Qur’an. Aku yakin, Mas bisa, karena melihat habbitnya
selama liburan, di mana setiap aktivitas dia tak lepas
melantunkan murajaah hafalan-hafalan Qur’annya. Sempat
bertanya target selesai hafal ayat, halaman dan juz butuh
waktu berapa lama. Mas Zaid menyanggupi dua tahun
selesai. Semoga Allah ijabah doa dan ikhtiarnya.
Selama pindah ke Sukabumi, ada yang unik memang
dibanding dengan sebelumnya. Kalau boleh saya bilang, Al
Hikmah 3 adalah pesantren dengan fasilitas hotel bintang
lima. Tidak seperti pesantren yang lain. Biasanya, pesantren
dalam hal makanan sangat minimalis, tetapi di Al Hikmah 3,
menu makanan bagaikan menu di hotel berbintang. Menjadi
kebahagian tersendiri bagi orang tua wali santri, karena
selepas menitipkan putra putrinya di sana, dua tiga bulan
berikutnya berat badan akan meningkaat tajam. Para santri
juga merasa nyaman dengan fasilitas yang sangat indah dan
mempesona. Keindahan alamnya membuat kangen, selalu
ingin berkunjung ke sana. Suasana yang sangat kondusif,
terutama untuk menghafal, sangat pas buat anak-anak yang
sedang mengikuti progam mutqin.
Di tengah perjalanan tahun ke dua Ramadhan, untuk
yang kesekian kali kiriman video selalu membuat diri ini
berderai air mata. Tas’mi kedua dikabarkan sehari
sebelumnya lewat Whatsapp, dengan harapan aku dan suami
bisa hadir, mendengarkan lantunan hafalan Qur’annya.
Kebetulan ibuku ada di Depok, aku menawarkan ke
Sukabumi bersama beliau. Kita pun berencana untuk
mengikuti bacaan juz akhirnya yang diperkirakan ba’da
magrib.
! Dd Publishing99!
!
Agenda tasmi dimulai ba’da subuh. Diperikirakan jam
14.00 sudah selesai. Jadwal keberangkatan pun kami ajukan
siang jam 13.00, karena jam 16.00 akan diadakan tasmi akhir.
Momen khusus, karena ibu dari Magelang rawuh ke Depok
dan mau ikut ke Sukabumi, menyaksikan cucunya tasmi
sekali duduk. Tasmi kedua diselesaikan lebih cepat 6 jam 25
menit. Beryukur banget bisa menyaksikan dan mendengarkan
bacaan Qur’annya. Derai air mata pun tak bisa ditahan.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga buat para ustad,
asatid yang sudah membimbing dan mengarahkan putra kami
dengan selalu melantunkan doa, semoga Allah karuniakan
anak cucu kami menjadi penghafal dan pengamal Qur’an di
sepanjang hidupnya.
Di tahun kedua, Mas juga dipercaya menjadi mudabir
untuk menerima setoran santri mutqin maupun santri drilling.
Entah dari mana rezekinya, setiap ada penelponan aku selalu
bertanya, “Ada duit enggak?”
Mas Zaid selalu menjawab, “Ada.”
Bahkan Mas Zaid sering berkata, “Umi, biarin aku yang
bayarin WiFi, listrik dan SPP Kakak.”
“Mas dapat duit dari mana?
“Dari Allah,” jawabnya
Aku sempat bingung, tetapi lama-lama, ya, sudah,
enggak usah dipikirin, malah jadi pusing.
100 P! erahu Layar
! Dd Publishing101!
!
Perjuangan Al Hafiz Umi 3
S elama proses menghafal ayat, halaman dan juz di
Ramadhan ini, tasmi kedua dengan durasi waktu lebih
cepat. Ada sebuah tantangan yang ditawarkan oleh
Ustaz Agung kepada Mas Zaid. Tantangan untuk
menyelesaikan progam 40 hari khatam 40 kali. Progam uji
nyali buat Mas Zaid. Dua santri yang diikutkan yaitu Ananda
Fadhil dan Mas Zaid. Ternyata kalau aku hitung, awal
Ramadhan selesai. Aku dan suami hanya bisa mendoakan,
semoga dimudahkan dan dilancarkan.
Dua hari masuk progam di atas, alhamdulillah berjalan
lancar dengan segala gaya, ada yang sedang duduk manis,
sambil di atas pohon dan itu yang paling
sering dilakukan. Saat dikirimin foto-
fotonya pertama kali agak kaget juga, ini
Mas kenapa nangkring di atas pohon?
Ternyata mulutnya komat-kamit, melan-
tunkan hafalan, tak ubahnya saat di
rumah.
Hari kedua juga harus ke sarang.
Ceritanya pengen survei di pesantren
Gus Baha yang di Rembang bersama
Faisal dan Ustazd Sulthon. Ini semua
dibiayai oleh drg. Nurbaedah yang
sangat perhatian dengan keinginan Mas
102P! erahu Layar
Zaid. Beliau selalu siap memfasilitasi cita-cita yang
diimpikan oleh Mas Zaid. Perjalanan ke Rembang
merupakan perjalanan jauh yang baru Mas jalani, apalagi
hanya sendiri, bersama teman dan ustaznya. Tiga hari
perjalanan pulang pergi untuk melihat secara langsung
pesantren Mbah Maimun dengan segala keunikkannya.
Memasuki awal Ramadhan, ada kabar bahwa Ustaz
Agung akan mendirikan pesantren baru di Ciawi yang
bernama Al Jazary. Rasa deg-degan pasti ada, terkait
kelanjutan Mas di Al Hikmah 3. Apakah bisa bertahan
ataukah harus pindah? Aku mencoba memberanikan diri
untuk menanyakan kelanjutan Mas Zaid, apakah bertahan di
Al Hikmah 3 atau harus ikut ke Al Jazary. Mendengar
keputusan yang disampaikan Ustaz Agung bahwa Mas Zaid
akan ikut ke Al Jazary, terasa lega di hati.
Sedikit ada gejolak, mencoba mengikuti kemauan Mas
Zaid dan senantiasa berdoa semoga Allah membukakan hati
Mas untuk bisa menerima masukan dari ustaz dan asatid, dari
maupun dari umi dan abinya. Semuanya pasti ingin
memberikan yang terbaik buat Mas Zaid. Jadi tak usah ada
yang mememutuskan, biarkan Allah yang memberikan
keputusan. Dengan terus istikharoh, memohon petunjuknya.
Di akhir progam 40 hari khatam 40 kali, Mas Zaid
diberi kesempatan untuk mendapatkan sanad Al Fatiha dari
Syekh Ammar dari Palestina. Syekh Ammar adalah Syekh
yang akan membersamai para santri di Al Jazari untuk
progam pengambilan sanad dan belajar Bahasa Arab serta
kitab. Harapanku semakin besar membujuk Mas Zaid untuk
! Dd Publishing103!
!
mau melanjutkan di pesantren Al Jazari. Semoga Allah ijabah
doa-doaku.
Qodarullah, progam 40 hari 40 kali khatam dapat
diselesaikan dalam waktu tiga puluh empat hari. Aku ikut
bersyukur, ketika Mas Zaid sudah menyesaikan progam ini,
walaupun sempat terhambat untuk progam hafalan ayatnya.
Selesainya progam tersebut membuat Ustaz Agung menulis
sebuah cerita tentang Mas Zaid yang berjudul “Biarkan Aku
Bercerita Tentangnya” kemudian tulisan itu dishare melalui
akun Facebook beliau.
Pagi itu aku sedang menjadi panitia di sebuah acara
Zoom, tiba-tiba beberapa teman memberikan ucapan yang
membuatku bingung. Setelah aku buka grup wali santri Al
Hikmah 3, masyaallah, membaca tulisan Ustaz Agung, tak
kuasa air mataku berderai-derai. Ternyata tulisan ini
dibagikan oleh sahabatku tercinta, Bu Widiana (uminya
Azzam). Di luar dugaan, dalam waktu sepekan, mendapatkan
5.000 like dan 3000 dibagikan. Bahagia, sedih, haru
bercampur jadi satu. Semoga Allah senantiasa menjaga
keikhlasanku.
Sejak selesainya progam 40 hari 40 kali khatam, Mas
Zaid sempat diundang di beberapa acara. Di awali di Masjid
Jatijajar simpangan Depok, kemudian diundang bersama
beberapa kepala sekolah SD di Depok dan di DKM Masjid
Jatijajar untuk yang kedua kali. Aku mencoba membiarkan
Mas Zaid menjawab semua pertanyaan yang diajukan.
Sebenarnya aku juga sedang menggali kemauan dan isi
hatinya, karena setiap agenda silaturahmi seperti itu, anaknya
104P! erahu Layar
tidak cerita jalannya acara, jadi aku sebagai uminya juga jadi
kepo.
Setahun selama pandemi memang Mas Zaid tidak
pulang, tetapi dalam waktu satu tahun ini, sejarah banget buat
Umi yang akan menjadi catatan tersendiri, baik buat Umi
maupun Mas Zaid.
“Terima kasih anak saleh al hafiz Umi. Engkau sudah
menjadi juara buat Umi dan Abi, walaupun orang lain
mungkin menganggap ini adalah hal biasa, tetapi buat kami,
prestasi Mas Zaid tahun ini sungguh luar biasa!”
Tetap nikmati prosesnya. Doa Umi dan Abi, semoga
Allah senantiasa memberikan keistiqomahan untuk menjadi
penghafal dan pengamal Qur’an yang silsilahnya sampai
pada Nabi Muhammad saw, hingga akhir hayat kelak.
! Dd Publishing105!
!
106P! erahu Layar
Perjuangan Hafizah Yunior 1
S eperti halnya sang juara sebelumnya, kali ini aku akan
melanjutkan kisah sang juara berikutnya. Shafuro
Fauziyyah, biasa kupanggil Teteh Roro, anak ketiga
kami yang mengukir tinta sejarah tersendiri. Tak mau kalah
dengan dua kakaknya, Teteh Roro mengukir sejarah
selangkah lebih awal di usia dini.
Sebelum masuk sekolah, Teteh Roro sudah terlihat
dewasa dibanding dua kakaknya. Dia lebih mandiri dalam
menghadapi setiap masalah. Ketika masuk TK di Nurul
Ikhlas, semakin terbaca sifat kedewasaannya. Sering kali
diantar dalam kodisi teman-temannya belum datang dan
jemputan datang saat teman-temannya sudah pulang semua.
Namun itu tidak dijadikan beban buat Teteh
Roro. Dia menikmati kesendiriannya itu,
bahkan sampai di rumah Teteh Roro tidak
langsung bertemu aku sebagai umi dan
suami sebagai abinya, tetapi lansung bisa
menyikapi diri. Pulang sekolah ganti baju,
makan dan main sambil menunggu kami
pulang, baru Teteh Roro akan bercerita
tentang kisah hari itu.
Sejak sekolah di TK, Teteh Roro
paling banyak memiliki koleksi piala dari
berbagai lomba, dilanjutkan saat sekolah di
MI, hampir tiap tahun bawa pulang piala,
! Dd Publishing107!
!
karena rangking tiga besar selalu diraih, dari kelas satu
sampai kelas enam. Kondisi di AMQ yang ekstrim sangat
membentuk karakter Teteh Roro selama enam tahun. Dari
kelas satu sampai kelas enam bersama Aisyah, Dodi, Najwa,
Izzah, Noval, Rosyid, Ahya, Hanif. Alhamdulillah, aku
merasa senang, karena teman seangkatannya banyak.
Walaupun di perjalanan waktu, beberapa memutuskan untuk
pindah ke tempat lain, yang bertahan sampai kelas enam
Azzah, Aiyah, Izza, Rosyid dan Noval.
Gemblengan di AMQ benar-benar menjadikan Teteh
Roro kuat dalam kodisi apa pun, sehingga saat usia dua belas
tahun, menjelang kelulusan, sudah terlihat matang dan
dewasa. Bahkan saat dia harus memiliki adik-adik lagi, aku
jarang datang ke pesantren, lebih sering abinya yang datang
saat penjengukkan. Setiap kali abinya datang, akan
memberikan uang jajan ke Teteh Roro. Hebatnya, uang jajan
itu tidak habis untuk jajan semua, tetapi disisihkan. Kadang
untuk membelikan mukena atau gamis adiknya di rumah.
Sesekali membelikan uminya sesuatu sebagai hadiah. Hobi
Teteh Roro memberikan hadiah kepada orang-orang terdekat
sering dilakukan.
Julukan baru saat di pesantren adalah si Ratu Dongeng,
karena paling hobi baca dan menceritakan kembali apa yang
dia baca ke teman-temannya sebelum tidur. Dengan mimik
yang berubah-ubah dan gaya bahasa yang cantik. Setiap dia
bercerita, aku yang mendengakan langsung tertawa dengan
memperhatikan mimiknya. Hal itu juga dilakukan Teteh Roro
saat di rumah bertemu kakak-kakaknya.
108 P! erahu Layar
Penggemar Tere Leye ini akan berkorban apa saja utuk
bisa menikmati novel-novel terbarunya sebagai bahan untuk
berdongeng. Kemampuan hafalannya memang sedikit lama,
dibandingkan dua kakaknya, karena perjalanan enam tahun
baru mendapatkan tiga belas juz yang dia hafal.
Di kelas akhir, Teteh Roro tidak mau kalah dengan
kakak-kakaknya yang saat itu mendapatkan beasiswa. Dia
juga mempunyai kemauan yang kuat untuk bisa mendapatkan
beasiswa. Abinya mengarahkan Teteh Roro untuk ikut
beasiswa di Darunnajah Cipining, khusus beasiswa tahfiz.
Setelah istikharah dan berpikri keras, akhirnya Teteh Roro
memutuskan ikut ujian beasiswa tahfiz. Alhamdulillah tidak
ketinggalan informasi, sehingga bisa ikut di gelomang
pertama.
Setelah survei lokasi dilanjutkan pendaftaran, sesi
berikutnya menunggu waktu tes. Waktu tes jatuh tanggal 1
Januari 2020. Waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya
datang juga Sore hari tanggal 31 Desember hujan lebat
diiringi angin dan badai tak henti-hentinya, sampai pagi
harinya tanggal 1 Januari 2020, keraguan muncul.
Saat itu, aku memberi tawarkan beberapa kali. “Jadi
ikut tes enggak, Ro?”
Jawabnya tegas. “Jadi, Umi!”
Aku jawab, “Karena masih hujan, naik kereta aja.”
Akhirnya diantar Mas Zaid ke stasiun bersama abinya.
Ternyata balik lagi, karena banjir dan kereta tidak jalan.
Sampai di rumah pun aku masih mengulangi pertanyaan yang
sama. “Jadi ikut tesnya, Ro?”
! Dd Publishing109!
!
Jawabannya pun masih sama. “Jadi, Umi.”
“Naik motor saja kalo begitu.”
Melihat niatnya yang sudah bulat, akhirnya aku
mengikhlaskan kepergiannya bersama Abi naik motor.
Terbayang jalan yang becek, pohon tumbang dan angin
kencang. Bismillah, semoga Allah mudahkan.
Setelah sampai di kampus, melihat ada biaya untuk
penginapan, akhirnya abinya disuruh pulang sama Teteh
Roro. “Abi pulang aja, biar nggak mahal bayarnya. Besok
Sabtu jemput lagi, saat pengumuman.”
Akhirnya Teteh Roro ditinggal tes sendirian, bersama
teman-temannya.
Masa ujian yang mengesankan ada yang dari Jambi,
Kalimantan, Papua, Bogor, Depok dan sebagainya. Mereka
sangat kompak, saling memotivasi. Ada ujian hafalan dari
durasi menghafal dan kemampuan menghafalnya. Tiga hari
dilalui acara pengumuman pun tiba. Abinya sudah dari pagi
berangkat dan mengikuti acara pengumuman hasil seleksi.
Aku di rumah, hanya bisa deg-degan, semoga diberikan yang
terbaik. Alhamdulillah, hasilnya dinyatakan diterima sebagai
santri di Darunnajah 2 Cipining.
110 P! erahu Layar
! Dd Publishing111!
!
Perjuangan Hafizah Yunior 2
H ari pertama masuk sekolah bagi Safuro, menjadi
santri baru di pesantren Darunnajah Cipining. Kali
ini beda dengan kakak kelas sebelumnya. Selepas
ujian MI yang dilaksanakan di rumah, karena kondisi
pandemik, maka saat hari pertama masuk juga masih
pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Kondisi pandemik ini membuat semuanya berubah
total, walaupun semua persiapan sudah dilakukan dan tinggal
berangkat, tetapi muncul maklumat baru bahwa kegiatan
belajar mengajar dilaksanakan secara online sampai batas
waktu yang tidak ditentukan. Akhirnya tahun ajaran baru
dengan segala aktivitasnya dilaksanakan secara online.
Hari pertama diawali dengan
kegiatan bersama santri dan orang tua
dalam kegiatan Khubatul Arsy, yang
menjabarkan seluruh civitas santri
Darunnajah dengan segala aturan-
aturannya. Sehingga santri dan wali
santri pun paham akan tugas dan
kewajibannya. Sebelumnya memang
sudah mendapatkan informasi dari
beberapa sumber yang menyampaikan
bahwa di pesantren tersebut disiplin dan
ketat, sehingga harus benar-benar siap
lahir maupun batin.
112 P! erahu Layar
Selanjutnya sekolah dilakukan secara da-ring melalui
Google classroom. Sementara seko-lah yang lain masih
meraba-raba, ternyata di Darunnajah sudah diterapkan
Google classroom meet dan teknolgi informatika yang lain.
Seperti layaknya sekolah biasa, berangkat jam 07.00, pulang
jam satu, bedanya dilaksanakan dari rumah. Berpakaian
seragam dengan aturan yang ketat juga.
Belum lagi kegiatan-kegiatan setoran hafalan selepas
salat Magrib atau Isya, setoran yaumiyyah jadi kegiatan baru
selesai sekitar pukul 21.00. Seluruh kegiatan baru selesai
sekitar jam 22.00.
Banyak kegiatan baru yang aku dan suami pahami,
seperti muhadaroh Bahasa Arab dan Bahasa Inggris,
Mahfudzon dan beberapa pelajaran yang baru lain. Hal ini
juga sesuatu yang baru buat Teteh Roro, karena selama di MI,
tidak mendapatkan mata pelajaran tersebut.
Bagi Teteh Roro sendiri, banyak hal yang baru yang
harus dia ikuti, dari peraturan yang ketat, mulai dari baju,
kerudung dan pernak-pernik lainnya, harus sesuai peraturan.
Tata tertib, peraturan yang sangat berbeda, membuat Teteh
Roro harus memiliki tekad yang kuat untuk mengikuti segala
aturan yang serba baru, beradaptasi dengan teman-teman
baru, diawali dengan pertemuan melalui meet maupun Zoom,
termasuk berkenalan dengan para ustazah yang masih muda-
muda.
Segala kebutuhan dari buku, seragam yang sudah
dipersiapkan dan tinggal dibawa ternyata muncul maklumat
baru yang isinya sama bahwa PJJ masih dilanjutkan sampai
! Dd Publishing113!
!
batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Keinginan untuk
masuk ke pesantren tertunda lagi, kegiatan PJJ kembali
dilanjutkan dengan sedikit kekecewaan dan kejenuhan.
Namun proses itu tetap harus dinikmati. Akhirnya PJJ
berlangsung satu semester.
Tepat tanggal 23 Januari 2021 hari yang dinanti-nanti
pun tiba. Saatnya mengantar Teteh Roro ke pesantren yang
baru. Dengan alur yang sangat ketat, di samping birokrasi
yang juga harus lengkap sudah dipersiapkan dengan matang
sebelumnya. Mulai dari surat kesehatan, isolasi mandiri di
rumah selama lima belas hari dan penerapan protokol
kesehatan selama pengantaran.
Rasa dag dig dug, aku mengantar dan melepas buah
hatiku, karena diawali dengan swab pertama. Kami yang
mengantar tidak boleh ada satu pun yang turun dari mobil.
Mulai masuk gerbang mobil sudah disemprot dan pengantar
tes suhu seluruhnya. Lanjut pos berikutnya, swab antigen
bagi calon santriwati dan menunggu hasil pun seluruh
pengantar tidak boleh ada yang turun. Rasa takut dan
khawatir menyelimiti aku dan suami, tetapi semua terjawab
saat ada pengumuman lewat corong besar yang meyebutkan
nama dan hasil swabnya. Seketika itu juga kita serentak
membaca, alhamdulillah. Lanjut ke pos berikutnya, ada
petugas yang menghampiri mobil untuk menurunkan barang-
barang yang akan dibawa, kita pun tidak boleh ada yang
turun. Akhirnya hanya melepas dengan ciuman dan pelukan
untuk mengantarkan Teteh Roro menuntut ilmu. Lambaian
tangan kami dengan derai air mata, mengikhlaskan buah hati
jauh dari pangkuan untuk menuntut ilmu.
114 P! erahu Layar
Hari ketiga, pemeriksaan swab diulang kembali.
Setelah menjalani karantina dilanjutkan dengan swab ketiga
di hari ketujuh dan karantina dilanjutkan sampai hari kelima
belas. Kegiatan selama karantina sangat membosankan,
karena berinteraksi dengan teman-teman yang baru dikenal
dan aktivitasnya dibatasi, hanya di satu ruangan saja. Selepas
karantina dipindahkan ke kamar baru untuk memulai
aktivitas kepesantrenan. Alhamdulillah santri beasiswa
dijadikan satu kamar, sehingga mempunyai suhu yang sama
dalam mencapai target-targetnya. Saling memotivasi dan
menyemangati untuk kemudian saling berkompetisi dalam
kebaikan dan ketakwaan.
Empat bulan di pesantren memberikan kesan yang
sangat mendalam. Dalam waktu yang singkat terjadi
perubahan habbit, baik dalam belajar, beribadah, maupun
kegiatan life skill lainnya. Sudah mulai terbiasa berbicara
dengan tiga bahasa, terbiasa antre, terbiasa lapang dada,
terbiasa disiplin.
“Semoga itu akan menjadi habbit sepanjang hidupmu,
Nak, di samping terus menambah hafalan-hafalan
Qur’anmu.”
Kepulangan di akhir Ramadhan, Teteh Roro berhasil
menyelesaikan dua novel terbaiknya yang siap diketik
uminya. Testitomi dari para pembaca yang minta kelanjutan
novel berikutnya, membuat Teteh Roro semangat untuk
menulis kembali kelanjutan novel karyanya. Bagaimanapun
juga, Teteh Roro juga “sang juara” buat Umi dan Abi di
samping Mbak Lifa dan Mas Zaid.
! Dd Publishing115!
!
116 P! erahu Layar
Kakak Hebat, Pasti Bisa
S ang juaraku berikutnya adalah Aleiza Nadhiroh
Yusroh, anak hebat Umi dan Abi. Pendampingan
untuk Kakak Aleiza sangat berbeda dengan
pendampingan yang sudah aku lakukan terhadap kakak-
kakaknya. Tiga anak-anak sebelumnya, seolah-olah mandiri
dan dewasa secara alamiah tanpa aku harus berjuang keras.
Yang satu ini sangat beda. Perhatian aku dan suami terhadap
Kakak harus lebih, dibandingkan sebelumnya. Kami yakin,
kalau Kakak pun juga bisa seperti yang lain.
Ikhtiar yang sudah kami lakukan dari usia delapan belas
bulan masih terus kami lakukan. Terapi di rumah sakit
berjalan sekitar tiga tahun yang akhirnya
disimpulkan oleh dokter di tumbuh kem-
bang terapinya dirasa sudah cukup, tinggal
dituntut kesabaran orang tua dalam men-
dapinginya. Akan tetapi, di akhir konsultasi
ada hal yang belum terjawab, yaitu kemam-
puan Kakak Aleiza tentang berbagai macam
warna. Masih sulit dipastikan, apakah
Kakak buta warna atau tidak, karena
kemampuan bicara juga masih belum sem-
purna.
Dari terapi yang sudah kami lakukan,
banyak perubahan yang terjadi pada Kakak.
! Dd Publishing117!
!
Namun hal yang sangat penting belum ter-capai, yaitu fokus
dalam suatu hal dan masih sering tantrum. Sementara
perkembangan di sekolah, tertinggal dengan teman-teman
sebayanya. Melihat kondisi tersebut, aku berminat melatih
tingkat konsentrasi Kakak Aleiza dengan memasukkannya di
rumah tahfiz balita (RUTAB), karena kalau mau masuk SD
pun kondisinya belum siap. Akhirnya diputuskan, Kakak
Aleiza masuk ke RUTAB bareng adiknya, Haidar, yang akan
mendampingi, walaupun dia sendiri belum masuk usia
sekolah.
Perjalanan selam belajar di RUTAB dengan metode
mendengarkan audio visual dari pukul 08.00 sampai 12.00
tanpa bicara. Aktivitas anak tidak dibatasi, tetapi tidak boleh
bicara, jadi telinga fokus memperdengarkan bacaan-bacaan
Al-Qur’an. Ini sangat membantu tingkat konsentrasi Kakak
Aleiza, karena dituntut diam dan fokus pada hafalan.
Sebelum masuk RUTAB, sebenarnya ada masukan dari
guru di TK Kebun Alam untuk Kakak Aleiza. Sebaiknya
jangan menggunakan metode diam, karena sedang masa
terapi wicara, boleh dicari metode yang lain. Cuma keyakinan
kami bahwa Al-Qur’an bisa menjadi obat, akhirnya Kakak
dan Dedek tetap diputuskan masuk di RUTAB.
Selama belajar di RUTAB, tingkat kefokusan menjadi
lebih baik, karena memang diuji kesabarannya. Cuma
kemampuan wicaranya tidak berkembang. Dan yang lebih
penting, Dedek menjadi tidak fokus belajar, malah fokus
perhatiaanya ke Kakak, sebagai bahan laporan buat umi dan
abinya di rumah. Jadi Dedek yang tidak fokus, karena sedikit-
118 P! erahu Layar
sedikit melihat kakaknya yang kurang kooperatif selama
proses pembelajaran.
Ustazah-ustazahnya luar biasa sabar dalam mendam-
pingi putra putri kami dalam belajar, sehingga mulai terbiasa
membaca, mengaji dan mulai belajar sosialisasi dengan
teman-temannya. Kakak juga mulai bersosialisasi dengan
teman-temannya yang notabene usianya di bawah dia. Ketika
bersama anak-anak seusinya, Kakak belum merasa nyaman,
karena belum nyambung dengan teman sebayanya.
Masa belajar di RUTAB hampir dua tahun, banyak hal
yang bisa diambil pelajaran oleh diriku dan suami. Kesabaran
Ustazah yang masih sangat muda dalam mendampingi murid-
muridnya yang masih di bawah umur patut diacungi jempol.
Saat anak rewel mencari orang tuanya, Ustazah siap
menghibur dan mengajak belajar kembali. Saat harus antre
membagikan susu dan kurma dengan keributan tanpa suara,
harus pintar mensiasati supaya anak-anak tetap fokus
mendengarkan murotal Qur’annya.
Kondisi pandemik memaksa belajar dilanjutkan secara
online, hal tersebut sangat tidak maksimal untuk anak-anak
usia di bawah lima tahun. Akhirnya aku memutuskan untuk
menarik Kakak dan Dedek dari RUTAB dan fokus belajar
sendiri di rumah. Kondisi pandemik ini menuntut aku dan
suami berpikir keras untuk mengambil keputusan terkait
pendidikan anak-anak. Kami tetap semangat mencari solusi
untuk Kakak, supaya dapat sekolah dengan biaya terjangkau,
tetapi sesuai dengan apa yang dibutuhkan, untuk Dedek
berusaha mencari sekolah yang bisa tatap muka, walaupun
hanya sepekan dua kali.
! Dd Publishing119!
!
Berdasarkan pengalaman yang dilalui, aku dan suami
memutuskan untuk memisahkan mereka dalam sekolah,
karena kalau disatukan, mematikan potensi Dedek Haidar.
Aku dan suami memutuskan, Haidar masuk ke TK Ainun
yang masuk sepekan tiga kali dan Kakak masuk di rumah
pintar Zedotopia, khusus anak-anak berkebutuhan khusus.
Sebelum masuk harus melalui proses wawancara secara
online baik aku, suami maupun Kakak Aleiza. Setelah itu
baru disampaikan SOP-nya. Alhamdulillah, aku dan suami
menetapkan di rumah pintar Zedotopia, karena sesuai dengan
kondisi keuangan dan kami menilai sangat cocok untuk
kondisi Kakak Aleiza bersama komunitasnya. Mengawali
masa observasi kurang lebih tiga bulan, dituntut sikap
kooperatif aku dan suami dalam mendampingi proses belajar
mengajar Kakak dengan tetap dipandu oleh ibu guru yang
profesional. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk
menggali potensi yang dimilik oleh Kakak Aleiza.
120P! erahu Layar
Calon Hafizah Umi dan Abi
yang Luar Biasa
S etelah masa observasi kurang lebih satu bulan, Kakak
Aleiza pun mulai KBM dengan pendampingan umi
atau abinya atau mungkin Teteh Roro yang masih PJJ
di rumah. Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan
sekarang beda dengan saat Kakak Aleiza menjalani terapi di
rumah sakit. Ketika di rumah sakit, orang tua tidak boleh
masuk ruangan, hanya menunggu di luar, nanti akan ada
waktu sepuluh menit untuk mendengarkan penjelasan dari
terapisnya. Di Rumah Pintar Zedotopia, Kakak Aleiza harus
belajar dengan suasana senang, tidak boleh dipaksa, tidak
boleh sambil menangis apalagi dengan suara keras.
Kegiatan belajar dimulai dari jam
09.00 sampai jam 12.00 dengan pendam-
pingan orang tua dan ibu gurunya. Diawali
kegiatan yang mengeluarkan energi besar,
yaitu senam pagi, baru kegiatan yang lain,
terutama melatih motorik kasar maupun
motorik halus. Dilanjutkan dengan belajar
berhitung, mengenal warna, abjad, angka,
menulis, menggambar, mewarnai, membuat
playdo, bermain bola. Semua diselang-
seling untuk menghindari kebosanan.
! Dd Publishing121!
!
Di sinilah PR besarku bersama suami, uji nyali melatih
kesabaran, ketelatenan dan kemampuan berkomunikasi
dengan Kakak Aleiza sebagai audiensnya. Aku yang
berprofesi sebagai guru juga masih harus banyak belajar terus
untuk bisa menyelami dan memberikan materi kepada Kakak
Aleiza dalam suasana yang menyenangkan. Yang paling
penting buat aku dan suami adalah mengulang, mengulang
dan terus mengulang tidak boleh ada kata putus asa.
Sebulan, dua bulan, hampir berada di titik keputus-
asaan, karena aku dan suami merasa apa yang kami ajarkan
tidak ada bekasnya buat Kakak Aleiza, tetapi lagi lagi
terbayang nasihat Bu Rilla untuk sabar mengulang, akhirnya
bangkit lagi. Mencari metode dan cara yang praktis serta tepat
bukan hal yang mudah buat aku dan suami.
Di tahap awal mengenal warna, hampir putus asa,
karena enggak paham paham. Konsep pemahaman warna
belum tersimpan di memori Kakak Aleiza, sehingga harus
diulang-ulang. Aku mencari metode permisalan, warna yang
kayak rambut, maka Kakak Aleiza ambil spidol warna hitam,
hijau Kakak Aleiza ambil warna hijau, tanah Kakak Aleiza
ambil warna cokelat sampai dua belas warna. Di bulan
keenam, konsep warna baru masuk ke memori Kakak Aleiza.
Senang banget rasanya, ketika sudah bisa menyebutkan dan
mengambil warna seperti yang kita inginkan. Rasa syukur
aku panjatkan kepada Allah, bahagia, senang, haru,
bercampur jadi satu. Ternyata Kakak Aleiza bukan buta
warna, hanya saja butuh konsep untuk mengenalkannya.
Kebahagianku dengan keberhasilan Kakak Aleiza
semakin memotivasiku dan suami dalam menularkan
122P! erahu Layar
semangat kepadanya dalam belajar. Tugasku berikutnya
adalah mengenalkan konsep berhitung. Dimulai belajar
berhitung satu sampai sepuluh, setelah paham lanjut sampai
dua puluh dan seterusnya. Dalam mengenal angka
dibutuhkan waktu kurang lebih empat bulan, Kakak Aleiza
sudah mulai bisa berhitung sampai angka tiga puluh.
Semakin hari semakin aku tambahkan materi belajar
seperti menulis, menggunting, senam jari untuk melatih
konsentrasi. KBM setiap hari Senin pagi memaksa setiap
siswa harus bisa presentasi dengan hasil karya terbaiknya.
Masyaallah, ternyata luar biasa anak-anak hebat, cuma
kemampuan yang kadang tidak terpikirkan oleh kita-kita.
Ada yang pandai membuat kue, pandai teknologi
informatika, pintar sains dan sebagainya. Ketika mengikuti
presentasi, kadang membuat diri ini menangis, menyadari
kesempurnaan yang Allah berikan yang tidak sebanding
dengan rasa syukurku.
Pengambilan rapor setelah belajar enam bulan, hasilnya
sungguh luar biasa, banyak kemajuan dialami Kakak Aleiza,
sehingga aku dan suami terpacu kembali untuk melatih
kemampuan akademiknya maupun kemampuan life skillnya.
Senandung doa yang senantiasa aku lantukan di ujung
malam dengan menengadahkan kedua tangan. “Ya Robb,
berikan kesembuhan buat putri kami, kesembuhan yang
sempurna, kesembuhan yang paripurna, sehingga bisa
tumbuh dan berkembang seperti anak-anak seusianya,
mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain
dan bisa memberikan mahkota buat kedua orang tuanya di
surga-Mu kelak.”
! Dd Publishing123!
!
Kegiatan belajar yang dilakukan secara online melalui
Zoom meeting sangat terasa banget manfaatnya, menjadi
buah simalakama juga saat nanti sudah tatap muka, karena
harus reschedule dengan aktivitas Kakak Aleiza yang
bebarengan dengan aktivitas Dedek Haidar sekolah secara
bersamaan. Semoga Allah senantiasa memberikan solusi
terbaik dalam melakukan pendampingan bersama Kakak
maupun Dedek.
Kata kunci selama pendampingan kegiatan Kakak
Aleiza, bahwa setiap aktivitas harus dimaksimalkan melatih
motorik dan perlu pengulangan sampai berkali-kali, yang
jelas membuat setiap aktivitas menjadi media pembelajaran
untuk melatih kemampuan life skill maupun kemampuan
yang lainnya. Itu semua tidak boleh menyurutkan semangat
aku dan suami untuk mencetak Kakak Aleiza menjadi
seorang hafizah yang nantinya bisa memberikan mahkota
buat umi dan abinya kelak di surga. Kakak Aleiza al hafizah
Umi dan Abi.
124P! erahu Layar
Hadirnya Shadow Buat Kakak
M elihat kondisi Kakak Aleiza, aku dan suami
berpikir kembali untuk bisa melahirkan putra
atau putri kembali di tengah-tengah kami. Kakak
Aleiza di rumah sendiri, semua kakak-kakaknya di pesantren,
sehingga kami berpikir, kalau tidak ada teman untuk sering
berkomunikasi, maka pertumbuhan dan perkembangan
Kakak akan berjalan sangat lama. Jadi menurut aku dan
suami harus ada kawan dan lawan bicara, sehingga
perkembangannya bisa lebih maksimal.
Secara kesehatan, aku sudah tidak memungkinkan
untuk melahirkan secara sesar, karena sudah tiga menjalani
SC. Biasanya, kalau sudah SC tiga kali, akan langsung
disteril, karena berisiko ketika kehamilan
berikutnya. Sementara kondisiku di SC
ketiga tidak ada alsan untuk steril,
kondisinya sangat baik, tidak ada keluhan,
tidak bermasalah. Jadi aku dan suami
memutuskan tidak mau menjalani steril.
Qodarullah, tiga tahun berikutnya ada
niatan untuk bisa mempunyai anak lagi,
sebagai pendamping Kakak nantinya.
Alhamdulillah, Allah ijabah doa kami.
Di kehamilan kelima aku pun
bertahan untuk konsultasi dan periksa ke
! Dd Publishing125!
!
Bidan Yusneli. Kalau ganti bidan lain, pasti akan banyak
ceramah yang enggak jelas menurutku. Itu pun aku agak takut
menyampaikan hal kehamilanku. Takut diomelin, dimarahi,
ternyata semua itu salah besar. Dengan karakter khasnya,
beliau menyampaikan nasihat, “Barakallah, masih dipercaya
Allah untuk mendapatkan momongan baru lagi semoga sehat
semuanya.”
Bagaikan disiram air di tengah kering kerontang. Rasa
takut yang mencekam hilang, berganti dengan ketenangan
dalam diriku.
Kehamilan kelima di luar dugaan, karena masih
ditanggung oleh ASKES, ini bisa terjadi karena memang
empat kali kehamilanku belum pernah menggunakan fasilitas
ASKES, sehingga kehamilan kali ini ditanggung oleh
ASKES. Birokrasinya aku ikuti dari kehamilan enam bulan,
mulai periksa ke rumah sakit. Pemeriksaan awal dimulai dari
fasilitas kesehatan satu, sampai mendapatkan rujukan dokter
spesialis di rumah sakit yang ditentukan. Birokrasi dan
pemeriksaan yang membutuhkan kesabaran bagiku dan
suami. Pernah suatu waktu periksa dari jam 17.00 pulang jam
03.00. Akan tetapi, ya, nikmati saja prosesnya. Waktu yang
ditentukan untuk SC pun sudah di depan mata, dan
diputuskan tindakan SC di RS HGA. Tiga hari sebelumnya
harus cek semua, dari jantung, darah dan rupa-rupa, sampai
pesan kamar. Sehari sebelumnya baru aku berangkat bersama
suami menuju rumah sakit jam 21.00.
Tepat tanggal 15 April 2015 pagi, lahir seorang bayi
laki-laki yang menangis, membuatku menjadi bahagia dan
menghilangkan rasa sakit. Di usia kepala empat, hamil dan
126P! erahu Layar
melahirkan akan terasa beda dengan saat usiaku masih
berkepala dua atau tiga. Faktor usia menyebabkan mudah
capai, tak berdaya, pokoknya nikmat banget deh. Namun
semua itu hilang, saat tangisan bayi terdengar di telingaku.
Bayi laki-laki, sesuai keinginan kami, karena baru ada Mas
Zaid saja, yang lainnya perempuan semua. Kebahagiaan bagi
kami dengan bertambahanya anggota keluarga baru dengan
harapan bisa menemani dan mendampingi Kakak Aleiza.
Akhirnya, seperti yang lain, hari ketujuh aku menga-
dakan walimatul aqiqah dan memberinya nama Haidar
Muntasir. Yang artinya seorang pemberani yang akan
membawa kemenangan dan kejayaan. Fasilitas yang
didapatkan dari anak kelima ini paling istimewa, karena dari
anak pertama sampai keempat hanya sederhana dan biasa-
biasa saja. Alhamdulillah, anak kelima mendapatkan fasilitas
di rumah sakit kelas satu dengan fasilitas yang bagus, nyaman
dan menyenangkan.
Walaupun fasilitas menyenangkan, tetapi kalau dita-
wari berlama-lama di rumah sakit, ya, pastinya menolak.
Baby langsung masuk ke ruangan baby show. Selama di
ruangan, anakku selalu menangis tiada henti, akhirnya aku
diminta tanda tangan pernyataan pemberian susu formula,
karena produksi ASI-ku sangat kurang. Ini memang terjadi
dari anak pertama kami. Produksi ASI harus ditambahkan
dengan susu formula. Setelah lima hari di rumah sakit, aku
pulang bersama baby baruku. Alhamdulillah, suasana rumah
menjadi semakin ramai dengan tangisan bayi baru yang akan
menemani Kakak.
! Dd Publishing127!
!
Sepekan pasca melahirkan, aku harus kontrol kembali
ke rumah sakit. Ini pengalaman yang paling tidak enak.
Dokternya sudah datang, pas giliranku masuk, ada panggilan,
terpaksa aku harus menunggu lama. Khawatir kemalaman,
aku putuskan enggak jadi kontrol dan pulang saja. Sambil
perjalanan pulang aku berpikir untuk periksa ke Bidan
Yusneli dan ternyata babyku kuning, kurang cahaya dan
kurang minum.
Bidan Yusneli berkata, “Silakan diterapi lampu saja di
rumah, kalau dibawa ke rumah sakit peluangnya akan
opname.”
Aku jadi panik. Akhirnya semangat memulihkan
dengan memasang lampu 60 watt di dekat si Dedek yang
sedang bobok dan lebih sering memberikan susu. Berangsur
sepekan, alhamdulillah, kondisi Dedek pulih kembali.
Kegembiraan Mbak, Mas
dan Teteh Roro yang di
pesantren saat punya adik lagi
sangat terasa. Dengan hadirnya
adik baru, masing-masing
punya sebutan yang berbeda-
beda, ada Mbak Lifa, Mas Zaid,
Teteh Roro, Kakak Aleiza dan
Dedek Haidar. Masing-masing
punya keunikan dan yang pasti
mereka adalah juara buat umi dan abinya.
128P! erahu Layar
Calon Al Hafiz yang Intelek
H aidar kecilku tumbuh sehat, lincah dan
menyenangkan. Layaknya anak-anak seusianya,
gemar berpetualang dan menjadi sosok pemimpin
di depan teman-temannya. Usia dua tahun, parasnya tak
tampak seperti orang Jawa, lebih mirip ke suku Batak. Itu
pendapat teman-temanku yang dari seberang sana. Sehingga
mereka menjulukinya dengan nama Ucok Jawa. Orang Jawa
wajah Batak, begitu kira-kira prediksi teman-teman di
sekolah. Namun aku lebih suka memanggil dengan harapan
dan cita-citaku, dengan sebutan Profesor Doktor Haidar
Muntasir Al hafiz Umi, Lc, M.Ag. Jadi, saat aku sudah
memulai dengan professor, maka Dedek akan melanjutkan
sendiri gelarnya.
Tetangga-tetangga di sebelah rumah
lebih cenderung menyapa Haidar petualang
lincah dan ulung, bagaikan kancil yang
lincah ke sana kemari. Kegesitannya dalam
bersahabat dengan alam dan teman-teman
sebaya, membuat teman-teman seusianya
merasa nyaman bermain bersamanya. Saat
teman-temannya berkumpul, jiwa kepemim-
pinnya mulai muncul untuk mengkomandoi.
Tak heran teman-temannya akan mengikuti
intruksi yang diberikan oleh si Ucok.
! Dd Publishing129!
!
Kepercayaan yang aku berikan bersama suami kepada
Dedek Haidar untuk bisa menjadi shadow buat Kakak Aleiza
juga sudah mulai dipahami dan tertanam dalam jiwanya. Jiwa
mengayomi, mendidik kakaknya terbaca saat Dedek bermain
bersama Kakak dan kawan-kawannya. Mungkin karena
kepercayaan itu, sampai sekarang Dedek Haidar menjadi
lebih cepat dewasa dan mandiri dalam kesehariannya.
Pilihan masuk di TK Ainun, karena memang lokasinya
dekat dengan rumah sehingga, suami setelah mengantar
sekolah Dedek bisa fokus mendampingi Kakak PJJ di rumah.
Harapannya, semua bisa didampingi secara maksimal dalam
belajar, baik Dedek yang harus luring di sekolah, maupun
Kakak yang masih daring.
Sifat kedewasaan itu terbaca ketika Dedek Haidar
sudah tahu jadwal kegiatan yang harus dikerjakan, mulai dari
persiapan sekolah ataupun kegiatan-kegiatan belajar di
rumah bersama umminya. Dedek sangat kooperatif, walau-
pun kemampuannya biasa saja seperti anak yang lain,
mungkin karena potensinya masih harus dicari dan digali.
Semangat belajarnya muncul dari dirinya sendiri, sehingga
waktu-waktu belajar juga minta dengan sendirinya.
Kemampuannya mendampingi kakaknya, Aleiz, baik
selama belajar di rumah maupun saat berinteraksi dengan
temannya sudah tidak diragukan lagi. Saat Kakak mau
tantrum, karena keinginannya tidak dituruti, maka Ucok akan
mengalah, memberikan mainannya dengan sabar. Saat Kakak
bermain dan membereskan mainannya, maka Dedek yang
membantunya. Saat Kakak suka ambil mainan temannya,
maka Dedek yang akan mengembalikan. Saat Kakak tiba-tiba
130 P! erahu Layar
menghilang ketika bermain, maka Dedek yang akan mencari
dan menyuruhnya pulang. Sehingga saat bermain pun
pertanyaan yang selalu aku ulang-ulang, Kakak ke mana?
Kakak di mana? Dua pertanyaan itu yang selalu aku
tanyakaan ke Dedek saat bermain.
Keunikan inilah yang dimiliki Dedek, tidak dimiliki
anak-anak yang lain, sehingga kadang umminya bederai air
mata. Kemauan dan tekadnya yang kuat kadang membuatku
terbengong. Seperti kisah akhir Ramadhan ini. Saat mbahnya
bercanda menyuruh sunat, ternyata langsung direspons oleh
Dedek. Dia langsung minta sunat pagi harinya, tepat tanggal
28 Ramadhan. Pagi-pagi sudah siap minta diantar Abi sunat.
Aku berpikir, kayaknya belum berani, tetapi, ya, antar
saja, Bi. Kalau mau, langsung disunat saja, kalau enggak
mau, ya, sudah, balik lagi saja. Ternyata enggak begitu lama
pulang dan benar-benar disunat. Masyaallah, tekad dan
kemauan yang besar terbaca dari peristiwa tersebut.
Agenda sunat adalah agenda yang tiba-tiba muncul di
akhir Ramadhan. Tidak terbesit rencana apa-apa sebelumnya,
ternyata rencana Allah indah, Dedek jadi sunat, sehingga
salah satu kewajiban Umi terselesaikan. Kemauan dan
tekadnya untuk sunat begitu besar, itulah yang menghilang-
kan rasa sakitnya. Tidak merasa sakit selam proses sunat
maupun setelahnya. Bahkan habis sunat pun langsung main
seperti biasa. Para tetangga hanya terheran-heran
menyaksikan Dedek Haidar.
Kemauan dan tekad memiliki kamar sendiri juga
contoh kemuan Dedek yang kuat. Satu ruangan dia bersihkan
! Dd Publishing131!
!
dan menyiapkan tempat tidur, meja belajar dan sebagainya
menjadi ruangan privasinya. Kamarnya didesain sedemikian
cantik, dihiasi dengan gambar-gambar hasil karyanya. Meja
belajar dirapikan dengan pajangan mainan-mianan miliknya
dan komitmen itu Dedek jalankan. Karena merasa sudah
punya kamar sendiri, resikonya Dedek tidur di kamar tanpa
minta ditemani umi atau abinya. Saat belajar pun Dedek akan
minta tertib, duduk di meja belajar ruangnya.
Semoga ini awal tekad kebaikanmu, ya, Nak. Umi
hanya bisa berdoa, semoga Allah senantiasa memantapkan
langkah-langkahmu untuk mau belajar dan menutut ilmu di
pesantren seperti kakak-kakak yang lain. Mengkaji kalam-
Mu, menghafal ayat-ayat-Mu, sehingga cita-cita dan harapan
untuk mencetak Dedek menjadi Prof. Dr. Haidar Muntasir,
Al Hafiz Umi, Lc, M.Ag, akan terealisasi di masa yang akan
datang, tidak hanya sebatas cita-cita saja. Tentunya itu semua
dengan izin, kekuasaan dan kekuatan-Mu, ya Robb, ya Mujib.
132 P! erahu Layar
Janji Setia Bersama
A llah memberikan rezeki kepada kita, tidak hanya
sebatas uang. Kadang penilaian kita, rezeki itu
diukur dengan banyaknya uang atau banyaknya
kekayaan yang ada. Padahal kesehatan juga rezeki, waktu
luang juga rezeki, kepandaian yang kita miliki itu juga rezeki,
termasuk anak anak yang lahirkan. Anak-anak yang
dilahirkan dari rahim kita adalah aset terbesar yang bisa
mengalirkan pahala jariyah sampai hari kiamat.
Anak-anak yang kita miliki bisa menjadi keberkahan
buat orang tuanya, tetapi bisa juga menjadi fitnah. Sehingga
saat seseorang mempunyai banyak anak dan berhasil
menjadikan anak-anaknya saleh dan salehah, Allah janjikan
surga buat orang tua. Bonus yang luar biasa,
karena pastinya perjuangannya juga luar
biasa. Dari harta benda, waktu bahkan
nyawa dipertaruhkan.
Pertaruhan nyawa saat mau melahir-
kan, kemudian mendidik sesuai usianya
hingga dewasa ini butuh keterampilan dan
manajemen khusus, tidak ada sekolah
khusus untuk mempelajari. Sekolahnya, ya,
terjun langsung saat menghadapi anak-anak
di rumah.
! Dd Publishing133!
!
Dua anak dengan dua karakter, tiga anak dengan tiga
karakter, semakin banyak anak semakin banyak karakter dan
penanganan khusus. Pastinya, doa-doa orang tua tidak kalah
penting dalam menghantarkan anak-anak pada kesuksesan-
nya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut orang tua itu
menjadi doa yang sangat mustajab, hal tersebut mengingat-
kan aku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga lisan, karena
mempunyai makna yang dalam terhadap putra putriku.
Hal tersebut seringkali aku rasakan saat berada dalam
kesendirian, sementara anak-anak ada di pesantren. Tak
jarang lantunan doa-doaku langsung tembus sampai langit ke
tujuh dan Allah langsung ijabah doa-doaku.
Asetku tiga putri dan dua putra harus aku maksimalkan
dalam mendidik. Walaupun yang tiga di pesantren, tetapi aku
dan suami tetap melakukan pengawasan dan pendampingan.
Apalagi masa-masa usia enam belas sampai dua puluh tahun.
Pola mendidik mereka seperti bermain layang-layang.
Ada saatnya diulur, ada pula saatnya perlu ditarik, sehingga
saat sudah bisa terbang bebas bukan berarti kita harus
lepaskan, kita tetap harus pegang benangnya dan tarik ulur,
supaya layang-layang itu bisa terbang di angkasa dengan
indah.
Masih menjadi PR besarku untuk tetap mendampingi
mereka, hingga menggapai cita-cita. Hambatan pasti ada,
tetapi saat proses itu dinikmati bersama anak-anak, yakinlah
Allah akan memberikan jalan terbaik. Pastikan dulu visi dan
misi kita bersama anak-anak, sehingga antara orang tua dan
anak bisa satu visi dan misi yang sama. Jikalau berbeda, tidak
134P! erahu Layar
akan ada titik temunya. Saat visi dan misinya sama, maka
ketika ada masalah yang harus diselesaikan baik dari anak
maupun orang tua akan bisa diselesaikan secara bersama-
sama.
Anak-anakku yang sudah memasuki masa ABG-nya
tahu dan paham masalah yang dihadapi di rumah, sehingga
mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik buat umi
dan abinya. Dengan proses yang dinikmati dan hasil terbaik
yang mereka berikan buat aku dan suami itu memberikan
dorangan spirit tersendiri buat kami. Prinsip yang selaluku
tanamkan bahwa perjuangan bukanlah suatu proses
penyengsarakan, tetapi perjuangan adalah proses menggapai
keridaan-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Pada akhirnya semua akan berbuah indah, walupun
perjuangan belum selesai, setidak-tidaknya sudah ada hasil
yang bisa membahagiakan aku dan suami dengan prestasi
yang dicapai. Keberhasilan Mbak Lifa masuk ke SEBI lewat
jalur beasiswa, kesuksesan Mas Zaid dalam menyelesaikan
progam 40 hari 40 khatam, kesuksean Teteh Roro yang bisa
masuk ke Darunnajah Cipining melalui jalur beasiswa,
kesuksean Kakak dalam mengikuti progam-progam di
sekolahnya dan kesuksesan Dedek Haidar dalam mendam-
pingi Kakak selama ini.
Kalian semua adalah juara-juara Umi dan Abi. Jangan
lupa niat kita bersama adalah berkumpul di dunia hingga ke
surga-Nya kelak. Masih tetap berjuang menikmati proses
pejuangan kalian sampai Allah memberikan yang terbaik
buat kalian, yakinlah janji Allah itu pasti. Umi dan Abi hanya
bisa mengikat kalian dari jauh, melalui untaian-untaian doa
! Dd Publishing135!
!
yang senantiasa dipanjatkan dengan penuh harpan, semoga
Allah senantiasa membimbing ke jalan yang Allah ridai.
136 P! erahu Layar
Senandung Doa
P erjalanan hidup rentang waktu 2002 sampai 2021
Allah karuniakan lima anak di tengah-tengah aku
dan suami, membawa banyak hikmah. Hikmah dari
satu peristiwa ke peristiwa lain, dari satu perjalanan ke
perjalanan yang lebih rumit lebih komplek dan lebih
menantang, semakin menambah keyakinan akan rahasia di
balik semua peristiwa yang ada
Sang Maha Kuasa, Sang Maha Agung, tempat aku
bersandar ketika sudah tidak ada lagi sandaran bagiku. Saat
hal ini terjadi, tak ada lagi sandaran selain aku akan
membentangkan sajadah dan mengangkat kedua tanganku
untuk memohon dan berharap hanya kepada-Mu. Aku yakin,
tidak ada daya dan kekuatan, kecuali
kekuatan dari-Mu.
Suatu peristiwa yang mungkin aku
merasakan sangat pahit dan sulit, Allah uji
kesabaran untuk bisa kujalani. Ketika proses
itu aku jalani bersama suami dan anak-anak
dengan penuh keikhlasan, Masyaallah,
balasan yang berlimpah dari Allah yang aku
rasakan. Ternyata semakin menyadari juga
bahwa dalam sebuah peristiwa atau kondisi
terburuk pun kita wajib tetap bersyukur
dengan kondisi tersebut. Memang menjadi
sesuatu yang sulit, ketika kita harus
! Dd Publishing137!
!
menikmati sesuatu yang sangat tidak kita sukai, sesuatu yang
sangat kita benci, tetapi harus dijalani dengan rasa syukur.
Sesuatu itulah yang tidak mudah. Godaan duniawi kadang
menjadi lebih dominan, egoisme kadang lebih menguasai
diriku, sehingga harus banyak-banyak istigfar selepas salat.
Hikmah ketika sebentar sebentar harus melahirkan
ternyata Allah masih memberikan kepercayaan untuk bisa
menjadi orang tua buat anak-anak kami. Malah ada yang
sampai bilang, “Enak, ya, punya anak terus gede dikit titipin
di pesantren, ada lagi titipin lagi.”
Telinga ini pura-pura tidak mendengar saja dan positif
thinking saja, bahwa setiap pasangan atau keluarga mem-
punyai visi dan misi sendiri-sendiri. Hikmah yang kurasakan
ketika banyak anak, maka peluang mengais pahala lebih
besar karena banyak yang harus dipikirkan dan dicarikan
solusi dengan keunikkan anak yang berbeda-beda.
Hikmahnya, ketika anak-anak harus meninggalkan aku
dan suami karena harus belajar di pesantrren. Jauh dari buah
hati ketemu hanya sebulan sekali kadang sangat menahan
rindu khawatir sakit, khawatir uang jajannya habis, khawatir
bentrok dengan teman atau Ustaz dan Ustazah dan kekha-
watiran yang lain. Hikmahnya, Allah menguji kesabaran buat
aku maupun anak-anak untuk sabar sampai batas waktu yang
tepat. Aku, suami dan anak-anak harus sabar menunggu
liburan lebaran, karena liburan itu membuat kita semua
berkumpul. Tidak semua liburan bisa mengumpulkan,
kadang kita liburnya berbeda- beda. Jadi lebaran adalah
momen yang sangat ditunggu-tunggu.
138 P! erahu Layar
Hikmah ketika harus gonjang-ganjing ekonomi
keluarga, membuat aku dan anak-anak harus bisa menahan
diri untuk mengatakan tidak dengan segala keinginannya.
Menguatkan tekad dalam belajar untuk tetap bisa berprestasi
dengan segala keterbatasan. Memotivasi kembali kepada
anak-anak tercinta, bahwa dengan prestasi maka keinginan
mencapai cita-cita tetap bisa dicapai, tentunya dengan
perjuangan yang lebih keras, harus pandai-pandai mencari
sela lewat link beasiswa. Jangan mencari beasiswa karena
tidak mampu dari segi keuangan, tetapi carilah beasiswa
karena prestasi yang kita punya. Alhamdulillah, anak-anak
memahami kemauan aku dan suami.
Hikmah saat Allah karunikan seorang anak cantik yang
sangat hebat dan luar biasa. Uji nyali kesabaran, yakin bahwa
Allah tidak akan membebani umatnya sesuai dengan kadar
kemampuannya. Jadi aku dan suami yakin, bahwa kita bisa.
Yang harus ditanamkan ketika kita ingin memiliki anak-anak
hebat, maka jadilah orang tua yang hebat.
Hikmah saat aku dan suami harus bertukar peran. Kami
mencoba menerima semua itu dengan lapang dada, kemudian
kita sosialisasikan ke anak-anak bahwa ini bukan aib, buka
cela. Ini adalah qodarullah yang harus dijalani dengan tetap
mengedepankan rasa syukur. Alhamdulillah, secara
psikologis anak-anak menerima kondisi tersebut.
Hikmah saat Allah beikan amanah momongan baru
dengan kondisi ekonomi yang masih belum stabil. Aku dan
suami yakin bahwa anak anak kita itu bukan numpang sama
kita sebagai orang tua, tetapi rezeki mereka sudah Allah atur
sedemikan rupa, orang tua hanya sebagai perantara.
! Dd Publishing139!
!
Hikmah-hikmah di atas membuat aku dan suami
bertambah dewasa, bertambah matang dalam membersamai
anak-anak. Selain senandung doa yang senantiasa aku
lantunkan dalam setiap langkah, kadang- kadang harus
dibarengi dengan tetesan air mata syukur, bahagia dan
harapan. Dengan keyakinan, bahwa setiap doa ibarat sedang
mengayuh sepeda, aku kanyuh dan kanyuh terus, entah
sampai kapan, yang jelas harus tetap semangat mengayuh
sampai pada titik tujuan, sampai Allah mendengar rayuan dan
mengijabah doa-doa terbaikku.
Ya Robb, jadikan anak-anak kami penghafal dan
pengamal Qur’an. Jadikan putra putri kami pemimpin bagi
orang-orang yang beriman. Jadikanlah aku dan suami orang
tua yang senantiasi memperbaiki diri untuk berakhlakul
karimah, sehingga layak mendampingi putra putri kami saat
Engkau angkat derajat mereka, baik di dunia maupun di
akhirat kelak. Berikan rezeki kepada kami, suami dan anak
cucu kami rezeki berupa kenikmatan membaca, mengkaji,
menghafal ayat-ayat-Mu, rezeki berupa kenikmatan
berkhalwat dengan-Mu, rezeki berupa kenikmatan berada
dalam jalan-Mu dan rezeki berupa kenikamatan syahid di
jalan-Mu. Sebgaimana Engkau kumpulkan kami di dunia,
kumpulkan pula kami di akhirat bersama anak cucu
keturunan kami, bersama orang-orang saleh, para Nabi dan
Rosulullah saw untuk bisa bertemu dengan-Mu, ya Robb. Ya
Robb Ya Mujibb, kabulkan segala permohanan kami yang
baik. Aamiin ya robbal’allamin.
140P! erahu Layar
! Dd Publishing141!
!
142P! erahu Layar